Page 67

LAPORAN KHUSUS

J

ANGAN sampai melupakan sejarah. Jangan sampai memelintir sejarah. Jangan sampai memutarbalikkan sejarah. Untuk kalimat pertama Bung Karno menyingkatnya, Jasmerah. Majalah Tempo, edisi 1-7 Oktober 2012 kemarin menurunkan liputan khusus, pengakuan algojo 1965. Karena itu, Tempo perlu menyediakan sebanyak 71 halaman. Isinya pengakuan jagal-jagal di ladang pembantaian. Pelakunya orang Islam. Inilah ‘dramatisasi’ episode terakhir peristiwa G-30S/PKI tahun 1965. Edisi ‘gelap’ Tempo itu dipertegas dengan kalimat; Kebijakan pemberantasan orang-orang PKI dan para simpatisannya telah menyulut api pembunuhan yang membakar Jawa dan Bali, dan terus menyebar ke daerah lain. Algojo bermuncul. Atas nama dendam pribadi, keyakinan, atau tugas negara, para algojo mengunus pedang menyembelih mereka yang dicap PKI. Mayat mereka dibuang begitu saja ke jurang, sungai atau luweng. Mengapa para pelaku tak merasa bersalah atas perbuatannya? Tempo melakukan pemenggalan sejarah dengan ‘nakal’. Jagal-jagal pembunuhan dan pembantaian itu, hanya disuguhkan pasca peristiwa G30S/PKI. Tidak ada dramatisasi pembantaian para ulama, kiai, santri, maupun guru ngaji oleh PKI. Akibat pemenggalan episode ini, umat Islam menjadi tertuduh. Pertanyaan Tempo menjadi benar; mengapa para pelaku (pembantaian) tak merasa bersalah atas perbuatannya? “Ini tidak fair. Ada kepentingan di balik semua ini, sehingga Tempo

berani melanggar jusnalitik. Saya melihat ini bukan sekedar pelangaran tetapi kejahatan jusnalistik. Rakyat akan menuntut Tempo,” demikian Direktur CICS, Drs Arukat Djaswadi kepada Dumas. Ya! Cukup dramatis. Dua halaman untuk dua kalimat. Saya sering membawa kampak panjang. Dari pada dibunuh lebih baik membunuh (Tempo halaman 50-51). Kalimat itu dipenggal dari pernyataan Burhan Zainuddin Rusjiman. Padahal, apa yang dilakukan Burhan adalah akibat dari kebiadaban PKI. Maka, tidak berlebihan, jika liputan khusus majalah Tempo ini, oleh Arukat dijuluki sebagai edisi provokasi. Dengan cara seperti ini, maka, semangat rekonsiliasi makin jauh panggang dari api. Rekonsiliasi itu baik. Dan, seperti diakui Tempo, rekonsiliasi tidak bisa dimulai dengan ingkar apalagi culas. Memaafkan bukan berarti melupakan. Ini kalau kita tidak mau terjatuh dalam lubang yang sama. Seperti pernah disampaikan Amelia Yani, putri sulung Jenderal Ahmad Yani yang menjadi korban Gerakan 30 September (G30S/PKI), bahwa memaafkan itu bukan berarti melupakan. Ia mengajak bangsa ini untuk memaafkan PKI, tetapi bukan berarti melupakan kekejamannya. Memaafkan itu memberi maaf, bukan berarti minta maaf. “Tuhan saja memberi maaf. Mengapa kita tidak bisa?” ujarnya dalam diskusi Komunisme dan Masyarakat Beragama di Indonesia yang diadakan MUI di Masjid Istiqlal beberapa tahun lalu. Diakui Amelia, bahwa mengajak masyarakat yang menjadi korban kekejaman PKI untuk menghapus

LAWAN: Drs Arukat Djaswadi terus bertekat melawan bangkitnya Komunisme di mana pun dan kapan pun.

dendam atas kekejamannya, tidaklah gampang. “Bisa hidup normal dengan mantan anggota PKI, memang butuh waktu lama. Begitu juga dengan sebagian saudara saya,” jelas Amelia yang ayahnya dibunuh pasukan elite Cakrabirawa itu. Masih kata Amelia, sekarang ini anak-anak mantan anggota PKI meminta kesetaraan dan dihormati hak asasinya. Sebab, selama ini mereka selalu dikucilkan. “Saya dekat dan bisa memaafkan mereka sejak kecil. Bahkan, ibu saya sering memperlihatkan rasa kasihan kepada mereka. Contohnya, memberi makan para tahanan politik,” ungkapnya. Amelia juga menyatakan sering mengunjungi anak-anak mantan tokoh PKI seperti Ilham Aidit (anak D.N. Aidit). Namun, yang dilakukan terhadap teman-teman yang berbeda ideologi tersebut hanya memaafkan, bukan melupakan sejarah dan peristiwa itu. Makanya, dia bersama keluarga Pahlawan Revolusi membuat buku KunangKunang Kebenaran di Langit Malam. Buku tersebut mengungkapkan kenangan dan perasaan anak-anak korban kekejaman PKI saat melihat kejadian tersebut di depan matanya. Fadli Zon, editor buku Kesaksian Korban Kekejaman PKI 1948, lebih menyesali upaya keluarga mantan anggota PKI dalam mengaburkan sejarah tersebut. Lewat propagandanya, mereka ingin mengesankan bahwa yang menjadi korban G30S adalah PKI. Padahal, yang terjadi waktu itu adalah upaya PKI merebut kekuasaan. Kemudian ulama, kiai, dan ribuan santri menjadi korban pembantaian. Fakta ini jangan diingkari. Kapan ada rekonsiliasi, bila fakta dipenggal sesuka hati? Jadi? Tempo tidak perlu susah payah mengajarkan pengakuan. Islam itu rahmat. Jangankan kepada komunis (anti-Tuhan), kepada Fir’aun yang mengaku Tuhan saja diperintahkan baik. Asal, jangan dimulai dengan ingkar! Pengaburan dan pemenggalan sejarah bisa berakibat fatal. Bukan saja salah tafsir, tetapi berimplikasi politik, hukum lebih-lebih sosial. ‹mokhammad kaiyis dari berbagai sumber

DUMAS EDISI XVII OKTOBER 2012 ‹

67

DUMAS EDISI OKTOBER 2012  

JASMERAH PKI

DUMAS EDISI OKTOBER 2012  

JASMERAH PKI