Page 56

RESENSU BUKU

Kemunafikan Politik Amerika Serikat dan Barat Agaknya penduduk sejagad ini sudah tahu kelicikan AS berserta keparatnya Barat yang kerap kali menetapkan standar hukum maupun gaya politik ganda. AS yang berlagak seperti ‘raja dunia’ kerap kali mengklaim sebagai kampiun demokrasi dan HAM, namun dengan kepongahan dan kecongkakkannya justru kerap kali melukai harkat dan martabat manusia. Dalam buku bertajuk HAM, Hukum dan Kemunafikan Internasional, Hamid Awaludin mengurai secara mendetail Kemunafikan Asasi Internasional yang kerap terjadi. Bukti dari kemunafikan AS sudah berkali-kali dicatat oleh sejarah. Dalam pada itu, dalam realitas kehidupan di dunia, AS dan sekutunya tidak ubahnya ular berkepala dua. Menyoal kepentingan internal, maupun warganya, AS tidak segan-segan menempuhnya dengan jalan kekerasan. Sekali pun ia harus melabrak HAM yang kerap didengunkan. Politik luar negeri AS kerap menjadi instrumen membangun hegemoni, tak pelak kerap diakhiri dengan penyerangan. Format politik yang sudah kuno itu, masih terus didengungkan AS untuk mencapai kepuasan atas keserakahannya. Afghanistan dihancurkan. Irak diacak-acak. Sementara AS dengan lincahnya terus menghela pongah menekan negara-negara lain. AS sama sekali tidak peduli dengan kesuraman hebat yang tengah menggerayangi negaranegara akibat agresi dengan berkedok kedamaian dan HAM yang ia tabuhkan. Negara-negara yang berdaulat pun, dilanggar kedaulatannya secara semenamena. Ulahnya tidak hanya mencabik-cabik nilai-nilai

56 ‹ DUMAS

EDISI XVII OKTOBER 2012

kemanusiaan, tapi telah membumi-hanguskan harapan manusia-manusia tidak berdosa. Akankah, HAM dan demokrasi selalu bernyanyi, sementara tuannya selalu menebar benci di permukaan bumi. Janji harus semerbak hanya digulung oleh puing-puing ilusi. Begitulah AS. Urgensitas nasional mereka lebih berharga dari apapun di permukaan bumi. Penulis buku ini memaparkan bagaimana alur dan sejarah politik diberlakukan. Dengan membaca buku ini, pembaca akan mudah memahami konsep realitas dalam politik Internasional yang kerap kali mengundang misteri. Pergumulan aliran yang terjadi pasca perang dunia I dan II cukup menarik diuraikan dalam buku ini. Implikasi yang dituangkan dari aliaran itu cukup menjadi pengaruh yang signifikan di kancah politik internasional. Idealis dan liberal bak kecambah liar bahkan benalu di tangan AS dan sekutunya. Bagi kaum realis, politik atau hubungan internasional ditentukan oleh pemeran utama yang bernama negara dengan agenda tunggal yang bernama kekuasaan dan pengaruh, baik sebagai tujuan maupun cara. Dengan itu semua, negara sebagai aktor utama selalu mengutamakan kepentingannya sendiri di atas kepentingan lainnya. Begitulah, AS dan sekutunya kerap bertindak-tanduk di kancah internasional. Negara-negara yang dianggap menghalangi kepentingannya nasional dan kemajuan mereka akan selalu diusahakan tersudut di panggung dunia. Pada titik terekstrem, agresi meliter pun diambil. Dalam buku ini pembaca akan mudah memahami bagaimana

psikologi politik yang tengah dimainkan olen negara-negara super power. Kemunafikan cukup kentara mewarnai, demi tercapai kepentingan-kepentingan yang sudah ditargetkan. Dengan demikian, AS dan Barat yang notabene adalah negara kuat bisa memainkan isu demokrasi, HAM dan kebebasan sesuai dengan kepentingan nasionalnya. Karena ada kepentingan nasional di dalamnya, maka tidak heran apabila kita menyaksikan kelunakan AS dan sekutunya terhadap pelanggaran HAM dan pemerintahan tidak demokratis di beberapa wilayah di dunia. Bahkan, AS menjadi pelaku aktif pelanggaran HAM dengan senjata yang dimilikinya. Terkadang ambisi pemimpin negara yang mengaku super power juga turut mendorong terciptanya politik internasional ‘sembarangan’. Akibatnya, lembaran sejarah sudah penuh dengan daftar dosa terkait pelanggaran HAM yang seakan tanpa henti dimotori AS dan sekutunya. Mahkamah Pidana Internasional sekalipun seakan mandul melihat kegarangan aksi kesombongan AS yang kerap ditebarkan di berbagai negara, terutama negara Islam. Kemunafikan internasional jelas menjadi batu sandungan penegakan dan perlindungan HAM di dunia. Menurut Hamid Awaludin, hal itu perlu menjadi agenda dan pekerjaan HAM ke depan Membaca buku ini, pembaca akan dapat melhat bagaimana suramnya masa depan HAM di dunia. Terlebih lagi, kesemenamenaan AS dan Barat selalu dipayungi legalitas kemunafikan hukum dan politik yang dimainkan. Bagaimana pun

DUMAS EDISI OKTOBER 2012  

JASMERAH PKI

DUMAS EDISI OKTOBER 2012  

JASMERAH PKI