Page 36

KOLOM

Memperingati 1000 Hari Wafat Gus Dur

Memahami Norma “Langit” Gus Dur OLEH

DR. H. UNTUNG S RADJAB, SH.

(Sahabat Gus Dur, Khodim Sema’an Alquran Mantab dan Dzikrul Ghofilin)

Pekan lalu, peringatan 1000 hari wafatnya Gus Dur diperingati di kediaman keluarga almarhum di Ciganjur, Jakarta Selatan. Ribuan kaum Nahdliyin, termasuk para tokoh bangsa, hadir dalam gelar tahlil penuh khidmat itu. Semasa hidupnya, hampir semua komponen

36 ‹ DUMAS

masyarakat Indonesia mengenal tokoh kelahiran Jombang ini. Perkataannya yang ceplas-ceplos, menohok, dan sikap kontroversinya, kerap menjadi soroton publik. Gus Dur hampir tak pernah absen memberi sudut pandang berbeda dan nuansa baru. Berpengaruh besar. Itulah salah satu kelebihan Gus Dur yang tidak dimiliki tokohtokoh nasional lain. Tak hanya berpengaruh bagi banyak kalangan, tak sedikit kalangan NU menganggapnya ”manusia setengah dewa”. Gus Dur juga diterima berbagai kelompok agamawan dan kalangan

EDISI XVII OKTOBER 2012

nasionalis. Gus Dur menjadi sosok pemersatu, sekaligus tempat nyaman bagi kedua kalangan itu untuk merapat. Di masa Orde baru, gerakan kembali ke Khittah dan penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal yang dipelopori Gus Dur telah menyelamatkan jam’iyah NU dari tekanan birokrasi sipil atau militer di berbagai daerah. Penerimaan asas tunggal Pancasila merupakan sumbangsih Gus Dur yang tak ternilai bagi NU. Berbagai kalangan menyebut Gus Dur sosok kiai yang cerdas, karismatik, dan jenaka. I’tisar, menyenangkan orang lain dengan selalu bersikap akomodatif dan demokratis, serta mampu mengalahkan dirinya sendiri, adalah sikap yang selalu dikedepankan seorang Gus Dur. Bahkan, tak sedikit yang menyebut Gus Dur selalu “aneh”. Tetapi, ketika seseorang menilai pernyataan Gus Dur selalu “aneh”, justru saya melihat pernyataan Gus Dur wajar saja. Ketika kebanyakan orang menggunakan norma manusia yang logis, justru Gus Dur menggunakan norma “langit”, sudah menyentuh ranah hakekat. Boleh jadi, melihat sosok Gus Dur yang tepat, tidak hanya dengan satu angle, tetapi seharusnya melihat dengan multi-angle. Yaitu, Gus Dur sebagai seorang ulama, sebagai joker, sebagai seorang teman, bahkan sebagai seorang kepala

DUMAS EDISI OKTOBER 2012  

JASMERAH PKI

DUMAS EDISI OKTOBER 2012  

JASMERAH PKI