Issuu on Google+

Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011

ISSN 2086 - 8421

Vol. II No. 2, OKTOBER 2011

1. Model Pembelajaran Integratif Bahasa Inggris Sebagai Bahasa Asing Berdasarkan Pendekatan Komunikatif di Sekolah Dasar. Oleh Prof. Dr. A. Halim Majid, M.Pd. 2. The Communicative Language Teaching Oleh Putri Dini Meutia 3. Kajian Indeks Pembangunan Manusia di Kabupaten Nagan Raya Oleh Irwan Safwadi, S.E. 4. Pengembangan Tanaman Kakao Rakyat di Kabupaten Pidie Jaya Oleh Ir. Syarifuddin, M.Si. 5. Perencanaan Pengembangan Ekonomi Masyarakat di Kabupaten Aceh Barat Daya Oleh Yusri, S.E. M.Si. 6. Permasalahan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Oleh Drs. Yusri, M.Pd. 7. Peningkatan Mutu Satuan Pendidikan Melalui Manajemen Berbasis Sekolah Oleh Drs. Zamzami, M.Si. 8. Analisis Perkembangan Ekspor dan Impor serta Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Oleh Yuliana, S.E. 9. The Contributions and Challenges for Educational Leaders Brought About by the Behavioral Science Approach, the Participatory Management Model and Deming’s Total Quality Management. Oleh Alfiatunnur, M.Ed. 10. Pengaruh Strategi Pembelejaran dan Kognitif Terhadap Hasil Belajar IPA Murid SD Negeri Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam Oleh Drs. Razali, M.Pd. 11. Tinjauan Yuridis Pelaksanaan UU No. 22 Tahun 2007 dan Qanun No. 7 Tahun 2007 (Studi Kasus Pembentukan Panwaslu Aceh Tahun 2009) Muhammad Nur, S.H. M. Hum.

1


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011

ISSN 2086 - 8421

JURNAL

ISSN 2086-8421

TASIMAK Media Sain dan Teknologi Abulyatama ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ Volume II, No. 2 – Oktober 2011 Pelindung/Pembina Penanggung Jawab

: Rektor Universitas Abulyatama : Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Abulyatama

Pemimpin Redaksi

: Drs. Yusri, M.Pd.

Redaktur Ahli

: Prof. Dr. H. Warul Walidin, A.K. M.A. (IAIN) Prof.H. Burhanuddin Salim, M.Sc. Ph.D. (Unsyiah) Prof. Dr. A. Halim Majid, M.Pd. (Unaya) Drs. Azwar Thaib, M.Si. (Unaya)

Redaktur Pelaksana

: Drs. Zamzami A.R., M.Si. Yuliana, S.E. Yulinar, S.Pd.

Dewan Redaksi

: Muhammad Nur, S.H., M.Hum Ir. Mulyadi Ir. H. Firdaus, M.Si. Dewi Astini, S.H., M.Hum. Maryati B, S.H., M.Hum. Drs. Tamarli, M.Si. Yulfrita Adamy, S.E. M.Si. Drs. H.M. Hasan Yakob, M.M. Drs. Bukhari, M.Si.

Distributor/Komunikasi

: Drs. Akhyar, M.Si. Drs. Muhammad, M.Si.

Bendahara

: Drs. Nasruddin A.R., M.Si.

Desain Cover

: aSOKA Communications (www.asoka.web.id)

Website

: www.abulyatama.ac.id.

Alamat Redaksi

: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Abulyatama, Jl. Blang Bintang Lama km 8,5 Lampoh Keude – Aceh Besar, Telepon 0651 21255

2


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011

ISSN 2086 - 8421

PERMASALAHAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH Oleh Drs. Yusri, M.Pd. FKIP Universitas Abulyatama

I. P E N D A H U L U A N Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terpenting di kawasan republik kita. Pentingnya peranan bahasa itu antara lain bersumber pada ikrar ketiga sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi: Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia dan pada undan-undang dasar yang kita di dalamnya tercantum pasal khusus yang menyatakan bahawa bahasa negara ialah bahasa Indonesia. Namun di samping itu masih ada beberapa alasan lain mengapa bahasa Indonesia menduduki tempat yang terkemuka di antara beberapa ratus bahasa Nusantara yang masing-masing amat penting bagi penuturnya sebagai bahasa ibu. Penting tidaknya suatu bahasa dapat didasari patokan yang berikut; (1) jumlah penuturnya; (2) luas penyebarannya, dan (3) peranannya sebagai sarana ilmu, susastra, dan ungkapan budaya lain yang dianggap bernilai. Jika kita menggunakan patokan yang perama, maka bahasa Indonesia, sebagai bahasa ibu, jumlah penuturnya mungkin tidak sebanyak bahasa Jawa 59

atau Sunda. Akan tetapi, jika jumlah itu ditambahkan pada penutu dwibahasawan yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama atau bahasa kedua, maka kedudukannya dalam jumlah deretan penutur bebagai bahasa di Indonesia ada di perinmgkat pertama. Lagi pula, hendakbya disadari bahwa jumlah penutur asli bahasa Indonesia lambat laun akan bertambah,. Pertambahan itu disebabkan oleh hal yang berikut. Pertama, arus pindah ke kota besar, seperti Jakarta yang merupakan pumpunan pendatang yang berbedabeda bahasa ibunya, menciptakan keperluan akan alat perhubungan bersama.Jika orang itu menetap, maka anak-anaknya tidak jarang akan dibesarkan dengan bahasa Indonesia, sebagai bahasa pertamanya. Kedua, perkawinan antar suku kadang-kadang mendotrong orang tua untuk berbahasa Indonesia dengan anaknya. Hal ini terjadi jika kedua bahasa daerah yang dipakainya banyak perbedaannya. Ketiga, yang bertalian dengan patokan ketiga di atas, generasi muda golongan warga negara yang berketerunan asing ada yang tidak ada lagi merasa perlu menguasai bahasa leluhurnya. Anaknya


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011 aan didik dengan bahasa Indonesia atau yang sama tau yang berbeda latar budayanya, ada yang mengambil keputusan untuk menjadikan anaknya penutur asli bahasa Indonesia. Patokan yang kedua jelas menem-patkan bahasa Indonesai tadi baris depan. Sebagai bahasa setempat, bahasa itu dipakai orang di daerah pantai timur Sumatra, di pulau Riau dan Bangka, serta daerah pantai Kalimantan. Jenis kreol bahasa Melayu Indonesia didapati di Jakarta dan sekitarnya, di Manado.Tarnate, Ambon, Banda Larantuka, dan Kupang. Sebagai bahasa kedua pemencarannya dapat disaksikan dari ujung barat sampai ke timur, dari pucuk utara sampai batas ke selatan negeri kita. Sebagai bahasa asing, bahasa Indonesia dipelajari dan dipakai di antara kalangan terbatas di negeri Australia, Filipina, Jepang, Korea, Rusia, India, Ceko, Jerman, Perancis, Nerlandia, Inggris , Ameika. Belum lagi bahasa Malaysia dan bahasa Melayu di siongapura dan brunai, yang, jika ditinjau dari sudut pandangan ilmu bahasa, merupakan bahasa yang sama juga. Patokan yang ketiga mengingatkan kita akan seni kesusastraan yang meng agumkan yang dihasilkan dalam bahasa Jawa, Sunda, Bali dan Minagkabau misalnya. Akan tetapi di samping susastra Indonesia modern yang dikembangkan oleh sastrawan yang beraneka ragam latar belakang bahasanya, bahasa 59

ISSN 2086 - 8421

Indonesia pada masa kini berperan sebagai sarana utama, di luar bahasa asing, di bidang ilmu, teknologi, dan peradaban modern bagi bangsa Indonesia. Uraian di atas memberikan gambaran betapa pentingnya bahasa Indonesia bagi kita. Menurut tiap-tap patokan yang diajukan, bahasa itu mengatasi bahasa daerah yang lain. Harus dicatat di sini bawa kedudukannya yang penting itu sekalisekali bukan karena mutunya sebagai bahasa, bukan karena besar kecilnya kosa kata, atau keluwesan dalam tata kalimatnya atau karena daya ungkapnya dalam gaya. Dalam sejarah manusia pemilihan lingua franca, yakni bada perantara orang yang latar belakang budayanya berbeda, bahasa kebangsaan, atau bahasa internasional tidak pernah dibimbing oleh pertimbangan linguistik logika, atau estetika, tetapi selalu oleh patokan politik, ekonomi dan demografi. Dialek kota Athena, misalnya, yang menjadi pusat pemerintaan dan kebudayaan orang Yunani sebelum datangnya kekuasaan Romawi, menjadi bahasa umum bersama yang menggantikan dialek Yunani yang lain sebagai tolak ukur. Apa saja prinsip-prinsip pengajaran (umum dan khusus) yang digunakan dalam pengajaran bahasa Indonesia di tingkat sekolah menerngahj pertama atau sekolah menengahj atas di Indonesia? Pertanyaan ini sulit bahkan tidak


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011 mungkin dijawab dengan tuntas karena tiodak pernah diinformasikan, misalnya dalam kurikulum. Hal ini terutama berlaku untuk prinsip-prinsip khusus. Prinsip-prinsip umum ada kalanya diungkapkan dalam kurikulum yaitu dalam buku pedoman pembelajaran karena karena prinsip umum ini menyangkut pengajaran semua bidang studi di suatu sekolah. Cotoh prinsip umum pengajaran termasuk untuk bidang studi bahasa Indonesia yang dikemukakan dalam kirikulum dapat dilihat pada uraian terdahulu. Bagaimana mengetahui prinsip-prinsip khusus yang diguinakan dalam pengajaran bahasa Indonesia di sekolah lanjutan pertama? Agaknya jalan yang bisa ditempuh adalah melalui dugaandugaan kemunginan dan keharusan (seharusnya) atas dasar rasional dan kenyataan yang ada dalam pengajaran bahasa Indonesia. Caranya ialah dengan mengajukan contoh-contoh prinsip khusus yang yang mungkin digunakan atau yang seharusnya digunakan bagi pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-selkolah, terutama di sekolah lanjutan pertama atau sekolah lanjutan atas.

II. TEORI PEMBELAJARAN BAHASA Ciri dunia modern ialah munculnya dan berkembangnya teori-teori dalam semua bidang sebagai hasil pemikiran 60

ISSN 2086 - 8421

dan penelitian. Dulu nenek moyang manusia tidak pernah atau jarang berteori dalam menghadapi atau mengerjakan sesuatu. Mereka biasa langsung berpraktek dengan metode trial and error (coba dan gagal, lalu perbaiki). Kita hidup dalam dunia modern, karena itu berteori dalam hal pembelajaran bahasa bukanlah sesuatu yang mengada-ada. Walaupun berbahasa itu merupakan fitrah manusia, dalam dunia modern ini kemampuan berbahasa seseorang dapat ditingkatkan melalui pembelajaran bebahasa. Pembelajaran bahasa yang baik dalam menghasilan pembelajar yang baik yang sesuai dengn tujuan dan sasaran pembelajaran. Untuk mencapai hal itu, perlu diadakan proses belajar mengajar bahasa yang baik dan kalau mungkin ideal. Untuk mendapatkan model pem-belajaran bahasa yang baik itu perlu dicari rujukan teorinya. Dengan berbagai teori pembelajaran proses belajar mengajar bahasa yang baik dan tepat itu dapat diciptakan. Teori belajar bahasa adalah teori mengenai bagaimana manusia mempelajari bahasa, dari tidak bias berkomunikasi antara sesama manusia dengan medium bahasa, dari tidak bisa berkomunikasi antara sesama manusia menjadi bisa berkomunikasi dengan baik. Kegiatan ini dilakukan manusia dari segala usia; bayi, anak-anak, remaja dan orag tua. Bayi belajar bahasa pertama begitu pula anak-anak


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011 dan remaja belajar bahasa pertama, bahka meteka belajar bahasa kedua, bahasa ketiga dan seterusnya. Pokoknya hampir tanpa kecuali setiap manusia melakukan kegiatan ini. Ada beberapa pertanyaan yang mungkin timbul, seperti: a. Mengapa manusia yang dijadikan objek? b. Mengapa bahasa harus dipelajari? c. Untuk apa bahasa dipelajari? d. Bagaimana caranya mempelajari manusia belajar bahasa? e. Apa itu teori dan mengapa harus berteori? Melalui bebagai macam pengamatan, penelitian dan permikiran para ahli, pertanya anpertanyaan di atas dapat dijawab dengan kesimpulan-kesimpulan berikutl: 1. Hanya manusia yang berbahasa atau berkomunikasi dengan menggunakan bahasa. 2. Manusia tidak dilakhirkan langsung berbahasa. Manusia hanya diberi kemam puan untuk belajar nabaasa. Karena itu, untuk dapat berbahasa manusia harus belajar bahasa. Dengan kata lain, bahasa itu dipelajari, bukan diwarisi. 3. Bahasa adalah media utama bagi manusia untuk berkomunikasi dengan sesamanya, baik untuk berbagi rasa, berbagi informasi, bertukar 61

ISSN 2086 - 8421

pikiran, mencari dan menyebarkan ilmu serta mengembangkan budayanya, ilmu dan teknologi. 4. Mengenai bagaimana manusia belajar bahasa tentui melalui pengamatan dan penelitian terhadap tingkah lahku berbahasa yang dilakukan manuia dari tidak bisa sampai bisa. Pengamatan dan penelitian itu disimpulkan dalam teoriteori yakni teori belajar bahasa atau teori pembelajaran bahasa. 5. Teori artinya himpunan konsep, pengertian, hasil pemikiran dan penelitian untuk menjelaskan atau meramal sesuatu secara ilmiah dan diperoleh secara induktif deduktif. Batasan lain mengatakan, teori adalah sesuatu himpunan pengertian atau konsep yang saling berkaitan yang menyajikan pandangan sistematis tentang gejala-gejala jalan menetapkan hubungan yang ada di antara variabel-variabel dengan tujuan untuk menjelaskan serta meramalkan gejala-gejala tersebut (Kerlinger, 1993). Untuk memahami lebih jauh tentang teori, berikut ini akan kita tinjau cirri-ciri dan kegunaan suatu teori. Agar bermanfaat dalam mengembang kan ilmu, suatu teori memiliki teori-teori sebagai berikut ini:


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011 1. Harus dapat menerangkan fakta hasil pengamatan yanag ada hubungannya dengan suatu masalah, artinya dapat menerangkan mengapanya gejala yang sedag diselidiki; 2. Harus konsisten dengan fakta yang diamati dan dengan kerangka pengetahuan yang sudah mapan; 3. Harus memberi cara penmbuktian kebenarannya atau dapat dibuktikan kebenar annya, misalnya melalui deduksi dalam benuk hipotesis; 4. Harus merangsang penemuan baru dan menunjukkan bidangbidang baru yang diselidiki (Ary, 1982: 39-40). Kehidupan modern dan kemajuan di segala bidang tidak dilepaskan dari peranan teori-teori, di dalamnya tentu termasuk pula teori pembelajaran bahasa. Berikut ini disajikan beberapa kegunaan teori termasuk teori pembelajaran bahasa. 1. Teori yang benar akan lebih menyempurnakan suatu praktek. 2. Teori mempelajari sesuatu , membuat orang mengerti sesuatu, dan memberitahu bagaimana mengerjakan sesuatu. 3. Teori mampu merangsang pengetahuan baru dengan jalan memberikan bimbingan ke arah penyelidikan selanjutnya, 62

ISSN 2086 - 8421

midalnya dengan membuat deduksi tentang apa yang akan terjadi pada situasi dalam konteks tertentu. Dari teori pengautan (reinforcement) dalam mendidik dapat ditarik deduksi tentang pengaruh pemberi- an pujian secara teratur. Dari teorilah para ali ilmu perbintangan meramalkan adanya planet-planet yang paling jauh, lama sebelum planet-planet tersebut dapat diamati. Setiap kegiatan, apalagi kegiatan yang berencana, selalu dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. Agar tujuan ini tercapai maka tujuan itu harus dilakukan dengan baik. Untuk bias dilakukan dengan baik, perlu adanya pedomasn, aturan, prosedur, dan tata cara dalam melaksanakan kegiatan tersebut untuk mencapai tujuan. Pengajaran bahasa Indonesia adalah suatu kegiatan berusaha, bertujuan, dan dilakukan dalam runag lingkup suatu lembaga pendidikan formal. Oleh karena tu, pengajaran bahasa Indonersia memerlukan pula pedoman, aturan, prosedur, dan tata cara pelaksanaan kegiatan pencapaian tujuan. Pedoman, aturan, prosedur dan tata cara pelaksanaan inilah yang dalam istilah metodologi pengajaran disebut, prinsip, pendekatan, metode, dan teknik pengajaran yang kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai tujuantujuan pengajaran bahasa Indonesia.


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011 Dalam dunia kemileteran, sesua siasat, kebijaksanaan, rencana untuk mencapai tujuan (misalnya mrebut daerah yang diduduki musuh) disebut strategi, yakni strategi pertempuran. Konsep dan istlah ini kemudian digunakan dalam dunia pendidikan, khususnya pengajaran, misalnya strategi perngajaran atau strategi pembelajaran atau strategi proses belajar mengaar. Jika kita kembali pada uraian pada paragraph 1 dan 2 di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa prinsip, pendekatan, metode, dan teknik pengajaran adalah komponen strategi pengajaran/pembelajaran/ belajar mengajar. Dengan kata lain, membicarakan strategi belajar mengajar adalah membicarakan prinsip-prinsip pengajaran, metodemetode pengajaran, dan teknik-trknik pengajaran di komponen-komponen pendukung. Pengertian Prinsip, Pendekaan, Metode, dan Teknik Pengajaran Prinsip pengajaran/Pembelajaran Dengan kata lain prinsip pengajaran/ pembelajaran tidak lain adalah kerangka teoris sebuah metode pengajaran/pembelajaran. Kerangka teoris itu maksudnya dalah teori-teori yang mengarahkan haus bagaimana sebuah metode dari segi-segi: a. bahan yang akan diajarkan; b. proses belajar mengajarnya (bagaimana siswa belajar dan bagaimana guru meng- ajarkan bahan), 63

ISSN 2086 - 8421

c. gurunya, d. siswanya, dan lain-lain Berdasarkan batasan singkat di atas dapat dirumuskan prinsip pengajaran bahasa. Prinsip (landasan) pengajaran bahasa adaah rngka teroris, petunjukpetunjuk teoretis bagi penyusunan sebuag metode pengajaran bahasa dalam hal: a. pemilihan dan penyusunan bahan pelajaran bahasa yang akan diajarkan; b. pengaturan proses belajar mengajarnya: bagaimana mengajarkan dan mempela-jarinya, hal-hal yang berhubungan dengan pendekatan, tknik, media, dan sebagainya. c. Guru yang akan mengajarkannya, persyaratan yang harus dimiliki, serta aktivitas yang harus dilaksanakan, d. Siswa yang mempelajarinya, berkenaan dengan aktivitasnya, e. Dan hal-hal lain yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Setelah meninjau hakikat prinsip pengajaran, berikut ini akan kita lihat, sumber, fungsi, dan jenisnya. 1. Prinsip-prinsip pengajaran, termasuik prinsip pengajaran bahasa, bersumber pada teori-teori yang berkembang pada bidangbidang yang relevan seperti: a. teori belajar, b. teori belajar bahasa, c. teori bahasa, d. teori psikologi, dan lain-lain.


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011 2. Prinsip-prinsip pengajaran berfungsi atau berperan sebagai keranga teori dan pedoman pelaksanaan bagi komponenkomponen pengajaran bahasa yang sudah disebutkan di atas. Sebagai pedoman/ kerangka teori, setiap butir prinsip pengajaran bahasa memberikan arah yang harus ditempuh pelaksana pengajaran. Misalnya ada prinsip yang memberi arah bagi materi pelajaran yang perlu diajarkan, ada yang memberi rah tentang bagaimana mengajarkannya. 3. Prinsip pengajaran yang digunakan dalam pengajaran suatu bidang studi, misalnya untuk pengajaran bahasa dapat dibagi ke dalam dua kelompok: a. Prinsip umum, yaitu prinsipprinsip pengajaran yang berlaku untuk semua bidang studi di suatu sekolah/program, contohnya: 1. Prinsip motivasi, yaitu bahwa dalam belajar dipelukan motif-motif yng dapat mendorong siswa untuk belajar. Dalam hal ini guru harus berperan sebagai motivator. 2. Prinsip belajar sambil bekerja, maksydnya bahwa dalam mempelajari sesuatu, apalagi yang berhubungan dengan keterampilan haruslah melalui pengalaman langsung, seperti untuk belajar menulis siswa 64

ISSN 2086 - 8421

harus menulis, untuk belajar berpidato harus melalui berpidato. 3. Prinsip pemecahan masalah, bahwa dalam belajar siswa perlu dihadapkan kepada situasi-situasi bermanfaat dan guru guru membimbing siswa untuk meme-cahkannya. 4. Prinsip perbedaan individual, bahwa masing-masing siswa memiliki perbedaan dalam berbagai hal, seperti intelegensi, watak, latar belakang, dan lainlain. Guru harus memperhitungkan perbedaan-perbedaan itu. b. Prinsip khusus, yaitu prinsipprinsip pengajaran yang hanya berlaku untuk satu bidang studi, misalnya prinsip-prinsip pengajaran bidang studi bahasa Indonesia Banyak sekali prinsip khusus untuk masing-masing bidang studi itu. Pendekatan Pengajaran Bahasa Indonesia di SLTP Sebagai salah satu bidang studi, tentu pengajaran bahasa Indonesia di sekolah lanjutan tingkat pertama didasarkan pula atas sejumlah pendekatan umum dan khusus. Pendekatan umum bagi pengajaran bahasa Indonesia yang baku pula bagi bidang studi yang lain, biasanya disebut dalam kurikulum, contohnya dapat dilihat dalam kurikulum sekolah. Pendekatan khusus untk pengajaran bahasa aIndonesia tidak disebutkan secara eksplisit namun dapat dilacak.


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011 Bila dikaji, kurukulum 1994 dan GBPP bidang studi bahasa Indonesia, ada dua pendekatan khusus bagi bidang studi ini yang dijadikan pegangan, yaitu pendekatan komunikatif dan pendekatan integrative. Berikut ini akan diuraikan satu per satu untuk dapat dijadikan pedoman dalam pengajaran bahasa Indonesia di kelas. Pendekatan komunikatif Pendekatan komunikatif (communi-cative approach) bermula di Inggris pada tahun 1960-an untuk pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang disebut juga dengan istilah National Functioal approach atau functional Approach. Pendekatan komunikatif adalagh ancangan kebijaksanaan) pengajaran bahasa dengan cirri-ciri utama sebagai berikut: 1. Tujuan pengajaran bahasanya adalah: a. mengembangkan kompetensi komuni-katif siswa yaitu kemauan menggunakan bahasa yang dipelajarinya itu untuk berkomunikasi dalam bernagai bentuk situasi tau konteks; b. meningkatkan penguasaan keempat keterampilan berbahasa yang diperlukan dalam berkomunikasi. 2. Bahan pelajaran utamanya adalah: a. keempat keterampilan berbahasa. b. Fungsi-fungsi bahasa yang disesuaikan dengan kebutuhan 65

ISSN 2086 - 8421

siswa seperti fungsi bertanya, menjawab, menyangkal, dan mengajukan pendapat. Siswa dilatih menggunakan bahasa untuk berbagai fungsi tersebut karena sebagai alat komunikasi, bahasa digunakan untuk berbagai fungsi yang wujud penampilannya bias berbeda-beda. c. Variasi-variasi bahasa, di samping variasi baku/formal, untuk memungkin-kan siswa berbahasa sesuai kontaeks. d. Sistem bahasa (struktur, kosa kata, dan lain-lain) tidak dijadikan bahasa berdiri sendiri, tetapi diintegrasi dengan keterampilan berbahasa.

III. PENGAJARAN BAHASA INDONESIA, HASIL, DAN PERMASALAHANNYA Sudah tidak mengherankan apabila masyarakat mengatakan bahwa pelajaran bahasa Indonesia (BI) di sekolah hasilnya kurang memuaskan. Juga apabila perguruan tinggi yang menerima lulusan SLTA mengatakan bahwa BI mahasiswa yang diterima di perguruan tinggi itu kurang baik karena kebanyakannya belum dapat menyatakan pendapatnya dengan BI yang baik dan benar. Tuduhan semacam ini sering kita dengar atau kita baca di surat kabar. Apakah tuduhan di atas ini, Saudara-saudara


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011 guru tentu dapat memberikan jawabannya. Kalau itu benar, kita harus dapat melihat faktor-faktor yang menjadi penyebabnya. Faktor yang menyangkut pelajaran dan hasilnya antara lain ialah guru, murid, metode, buku yang digunakan, kurikulum termasuk silabus, dan khusus untuk pelajaran bahasa Indonesia yang penting juga perpustakaan. Permasalahan tersebut akan diuraikan berikut ini satu per satu. 2. Faktor Guru . Yang memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan pengajaran adalah guru. *) Bagaimanapun baiknya sarana pendidikan yang lain, bila guru tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka pengajaran pastilah tidak akan memberikan hasil yang memuaskan *) Ada ahli pendidikan yang menolak pendapat ini dan mengatakan bahwa siswa itu sendiri yang penting dan guru hanyalah pengarah. . Mari kita tinjau siapa yang melakukan tugas sebagai guru BI sekarang? Kebanyakan guru kita sekarang ini terutama guru SLTP dan SLTA adalah lulusan FKIP. Di SD masih besar sekali jumlah guru lulusan SPG. Kadang-kadang, ada juga lulusan fakultas sastra yang 66

ISSN 2086 - 8421

menjadi guru bahasa Indonesia di SLTA. Dalam kenyataannya berdasarkan hasil penelitian tim peneliti UNPAD - sebagian besar guru BI di SMP Jawa Barat adalah guru yang sebenarnya tidak berwenang untuk mengajarkan BI di sekolah itu. Mereka itu adalah guru mata pelajaran lain yang merangkap menjadi guru BI karena guru yang berwenang tidak tersedia di sekolah itu. Seorang yang baik adalah guru yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang bidang yang digelutinya. Oleh karena itu, dia harus mengetahui semua materi/bahan pelajaran yang akan disuguhkannya kepada muridmuridnya, karena bahasa Indonesia mencakup bidang-bidang pengetahuan bahasa umum (kosakata, ungkapan, peribahasa), tatabahasa termasuk pengetahuan terhadap wacana, dan kesusastraan, maka mau tidak mau seorang guru BI haruslah membekali dirinya dengan pengetahuan yang cukup tentang semua bidang itu. Dia harus membagi dan memberikan perhatiannya terhadap setiap bidang itu. Seorang guru yang hanya menguasai bidang pengetahuan bahasa dan tatabahasa, tetapi kurang menguasai bidang kesusastraan, bukanlah guru yang baik. Demikian juga sebaliknya. Seorang guru yang baik haruslah kreatif dan berusaha agar murid-muridnya juga kreatif, Dia juga harus selalu mencari cara yang


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011 terbaik untuk menyajikan pelajarannya sehingga dapat menimbulkan minat murid kepada pelajaran yang diasuhnya itu. Guru yang baik itu tidak akan puas dengan memberikan pelajaran dari satu sumber saja (misalnya hanya dari buku paket), tetapi senantiasa mau mencari bahan lain yang up to date sehingga dapat memikat muridmuridnya. Dia selalu akan berusaha agar murid-muridnya tidak hanya pasif mendengarkan "ceramah"nya, tetapi selalu bersikap kritis sehingga selalu akan mengajukan pertanyaan yang tidak ragu-ragu dan takut terhadap apa yang diterimanya dari gurunya, namun kurang disetujui. Dia selalu akan berusaha agar murid-muridnya tidak hanya menerima saja, tetapi mau juga memberikan sesuatu kepada guru atau teman-temannya dari hasil kreasinya seperti sajak, cerpen, atau hasil karyanya yang lain. Guru yang baik selalu akan berusaha agar kelasnya hidup karena murid-muridnya bersemangat dan mengikuti pelajaran yang diberikannya dengan perhatian. Ada tanya jawab dan diskusi yang hangat dan menggembirakan. Kelas boleh ribut sedikit, tetapi ribut yang menyenangkan, bukan hampa diam, tetapi kediaman yang mematikan. Guru itu itu sendiri harus selalu mau bertanya kepada teman atau orang lain yang lebih tahu tentang apa yang belum dikuasainya benar, tentang arti kata atau istilah baru, tentang struktur bahasa, dsb. Dia harus rajin membaca 67

ISSN 2086 - 8421

buku dan belajar dari buku sehingga pengetahuannya luas. Guru yang tidak melengkapi dirinya dengan buku bukanlah guru yang baik. Hal yang juga saya anggap penting ilah bahwa guru harus dapat mengubah sikap muridnya yang negatif terhadap bahasa Indonesia menjadi sikap yang positif. Dia harus dapat menularkan kesadaran kepada anak didiknya akan perlunya kita mencintai bahasa Indonesia milik nasional kita yang sangat berharga itu dan menyadarkan murid-muridnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dlam semua situasi resmi. Oleh karena itu, bila mereka bercakap-cakap dengan guru, menyampaikan sesuatu kepada kepala sekolah, atau kepada ornag yang lain yang dihormati, haruslah mereka menguasai BI baku. Alangkah baiknya jika di antara para guru pengajar BI di sebuah sekolah selalu ada pertemuan secara periodik tentang masalah yang ditemukan yang belum dikuasai dengan baik. atau menyampaikan pendapat baru yang mungkin berguna bagi teman yang lain. 3. Faktor Murid Pada umumnya harus kita akui bahwa sikap murid-murid kita terhadap BI adalah negatif. Ini juga menjadi sikap hampir setiap orang bangsa Indonesia. Oleh karena itu, usaha pertama-tama yang harus dilakukan guru ialah membangkitkan


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011 minat murid terhadap BI itu dalam menimbulkan kecintaan terhadapnya. Kalau sikap positif itu telah dimiliki murid-murid, mejadi mudah bagi guru melakukan tugasnya mengajarkan BI itu karena si penerima memang bersedia apa yang diberikan oleh gurunya itu. Apabila sikap murid yang dari semula sudah negatif itu tidak dapat diubah, maka murid itu akan seterusnya tidak akan memberikan perhatiannya terhadap pelajaran yang diberikan gurunya, apalagi bila cara gurunya mengajar sangat tidak menarik. Kebiasaan berbahasa dengan baik dan benar harus dibiasakan. Guru jangan mau menerima bila murid mengunakan bahasa yang tidak teratur, tidak tepat, atau menggunakan dialeknya sedangkan situasi pembicaraan bukanlah situasi santai. Berbahasa dengan baik dan benar harus dibiasakan. Guru dapat danharus memperbaiki bahasa muridnya yang salah. Sebuah contoh, guru bertanya kepada murid yang kemarin tidak masuk sekolah. "Mengapa kemarin kau membolos?" "O, kemarin saya tak dapat masuk karena harus membantu orang tua. "Membantu orang tua? Ada apa?" "Rumahnya pindah. Pak. Jadi saya harus membantu-bantu mengangkat barang. Koreksi guru: 68

ISSN 2086 - 8421

"O, rumahmu bisa pindah? Bisa berjalan? Sepanjang pengetahuan Bapak, bukan rumah yang pindah, tetapi orang. Jadi, orang pindah rumah, dari rumah yang lama ke rumah yang baru. Begitu, bukan? Begitu juga dalam bahsa tulis. Semua kesalahan yang dibuat oleh murid-murid lebih-lebih kesalahan yang umum, harus dibahas oleh guru di depan kelas agar murid itu dan murid yang lain menyadari kesalahan yang dibuatnya. Diharapkan pada kesempatan lain mereka tidak akan membuat kesalahan yang sama. Pengalaman yang menunjukkan bahwa banyak sekali murid yang sampai di kelas-kelas tertinggi SMU masih belum dapat menulis dengan ejaan dan penggunaan tanda baca dengan benar. Ini membuktikan bawha latihan terhadap mereka sangat kurang, atau guru jarang membahas tentang kesalahan itu di depan kelas. Memang harus diakui bahwa mata pelajaran mengarang di sekolah-sekolah sering diabaikan guru. Padahal, melalui mengarang serta pembahasan kesalahan-nyalah bahasa murid diperbaiki. Kepada murid haruslah diberikan motivasi untuk mencintai BI sehingga mau mempelajarinya dengan kesukaan sendiri bukan karena terpaksa. Semua ini hanya dapat dicapai bila suasana ke arah itu diciptakan oleh guru.


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011 4. Faktor Metodologi Semua metode baik bila diterapkan dengan baik. Metode itu sendiri adalah benda mati yang tak dapat berbuat apa-apa. Guru yang menggunakan metode itu yang menentukan apakah metode yang digunakannya dapat memberikan hasil yang baik atau tidak. Metode yang jelek ialah metode ceramah tanpa didampingi oleh cara lain dalam mengajarkan bahasa. Metode ceramah 100% dapat dilakukan di perguruan tinggi, itupun harus diikuti dengan pertanyaanpertanyaan dari dosen sehingga dapat diperiksa apakah mahasiswa itu sudah memahami apa yang dijelaskan tadi atau belum. Dengan pertanyaan itu memancing diskusi dan diskusi selalu akan membuat perkuliahan hidup. Ingatlah akan tujuan pelajaran BI di sekolah yaitu "membuat siswa orang yang terampil berbahasa Indonesia baik lisan maupun tulisan." Jadi, guru tidak mengajar murid untuk menjadikannya orang yang ahli bahasa, yang tahu banyak tentang bahasa, tetapi mengajarnya agar dia dapat menggunakan bahasa itu dengan baik, dengan tepat, dan efektif, sehingga komunikasi berjalan lancar. Kalau guru berceramah saja, menjelaskan saja, tidak membiarkan murid aktif, berpikir dan menjawab serta mengemukakan pendapatnya, dengan demikian dia menggunakan, 69

ISSN 2086 - 8421

mempraktekkan bahasa, murid itu akan tak pernah menjadi orang yang terampil bebrbahasa. Bahasa hanya dapat dikuasai dengan baik bila digunakan. Belajar gramatika tidak membuat orang pandai berbicara dan menulis. Justru inilah penyebab kegagalan pengajaran bahasa Indonsia di sekolah karena pelajaran sifatnya gramatikasentris. Kegagalan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah disebabkan oleh beberapa hal berikut. a) Guru tidak pandai memilih bahan pelajar. b) Guru tidak pandai meruntun bahan pelajaran tersebut. c) Guru tidak pandai menyajikan dengan baik. d) Guru tidak tahu cara mengevaluasi pelajaran yang diberikannya dengan baik. Menjadi guru bahasa Indonesia tidak mudah. Berbeda dengan guru matematika misalnya. Ketika pelajaran matematika tiba, murid siap menerima pelajaran gurunya. Perhatiannya ditujukan secara penuh kepada materi yang akan dipaparkan atau dibahas oleh guru. Tanpa memberikan perhatian penuh terhadap pelajaran itu tidak akan dapat menguasainya. Murid menyadari hal ini. Tidak demikian halnya dengan pelajaran bahasa Indonesia. Dia menghadapi mata pelajaran itu tanpa perhatian sehingga bila pelajaran tidak berjalan menarik, hasil yang akan dipetik tentulah akan mengecewakan.


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011 Jangan berkecil hati jika ada pakar bahasa yang mengatakan bahwa keadaan para guru pengajar bahasa Indonesia sangat menyedihkan ditinjau dari segi kewenangannya sebagai guru bahasa Indonesia. Sejalan dengan apa yang disinggung tadi, hasil pengajaran bahasa Indonesia sebagian besar terletak di atas pundak para guru yang mengasuhnya. 5. Faktor Kurikulum Banyak para guru yang mengeluh karena kurikulum dianggap terlalu padat. Terlalu banyak yang harus diajarkan dalam setahun pelajaran sehingga seakan-akan semua harus diajarkan secara cepat. tidak sempat mendalam dan tidak dapat mengulang-ulangnya untuk memperbaiki penguasaan murid atas bahan pelajaran. Keluhan itu tidak seluruhnya berdasar, tetapi mungkin ada juga benarnya. Kurikulum 1975 tampaknya padat. Mengapa? Kurikulum setiap jenjang sekolah disusun tersendiri sehingga tiap kali kita melihat ada materi yang sudah diajarkan di tingkat yang lebih rendah dicantumkan lagi pada kurikulum jenang yang lebih tinggi. Contohnya, dalam kurikulum Bahasa Indonesia SMU masih disebut materi fonem. Apakah fonem itu baru akan diajarkan di SMU? Bukankah fonem sudah diajarkan di SD? Dalam kurilulum 1984, hal seperti itu sudah diperhatikan. Materi pelajaran dipandang sebagai satu garis 70

ISSN 2086 - 8421

lurus dari SD sampai SMU. lalu, materi yang terurai yang merupakan garis panjang itu dipotong-potong. mana bagian SD, mana bagian SLTP, dan mana SMU. Dengan demikian, materi tidak tumpang tindih. Itu tidak berarti bahwa apa yang sudah diberikan di tingkat bawah tidak disinggung lagi pada tingkat atas. Bahan itu dapat diulang, direntang lagi bila bertemu dalam pelajaran sehingga murid dapat mengingat kembali apa yang sudah pernah diajarkan kepadanya dan memahaminya lebih baik. Kurikulum 1984 sekarang dianggap masih kurang memenuhi kebutuhan pengajaran bahasa modern. Itu sebabnya dibuat lagi kurikulum baru yang disebut Kurikulum 1994 yang mulai dipakai tahun 1994, sekaligus dengan buku paket yang baru yang sesuai dengan tuntutan kurikulum baru itu walaupun belum semua kelas. Perbedaan kurikulum lama dengan kurikulum baru ini ialah pendekatannya yang mementingkan bahasa yang sesuai dengan konteks. Materi tidak lagi dibagi dalam delapan aspek seperti dalam Kurikulum 1984 dan aspek pragmatik tidak dinyatakan sebagai aspek eksplisit. Itu tidak berarti bahwa aspek pragmatik tidak ada dalam kurikulum baru serta dalam materi pelajarannya. Aspek pragmatik memang selalu harus selalu diperhatikan dalam semua segi penggunaan bahasa. Bahasa berfungsi


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011 sesuai dengan situasi, dengan topik pembicaraan, dengan orang yang berbicara danlawan bicara, dengan tempat di mana kita menggunakan bahasa itu. Pembicaraan mengenai struktur bahasa tidak boleh lepas dari konteks. Jadi tidak memberikan contoh kalimat yang lepas, tetapi memberikan contoh kalimat yang diambil dari teks bacaan. Penjelasan tidak ditekankan pada teori bahasa (gramatika), tetapi pada pemahaman atas struktur dan bagaimana menggunakan kalimat yang bermacam-macam bentuk itu. Imbuhan dijelaskan dalam penggunaan pada kata yang terikat dalam kalimat. Jadi, jangan menanyakan arti imbuhan lepas dari pemakaiannya. 6. Faktor Buku Pelajaran Menyusun kurikulum dan menyusun buku pelajaran (dalam hal ini buku paket) adalah dua hal yang berbeda. Buku yang ideal ialah buku yang isinya sesuai dengan apa yang dicantumkan dalam kurikulum/GBPP. Buku yang digunakan sebelum Kurikulum 1984, tidak sesuai dengan isi kurikulumnya (Kurikulum 1975) karena buku paket itu dibuat/disusun sebelum Kurikulum 1975 selesai disusun. Kurikulum 1984 lain lagi ceritanya. Namanya saja demikian tetapi buku paketnya baru selesai disusun beberapa tahun kemudian, yang harus diganti lagi. Dewasa ini banyak swasta yang 71

ISSN 2086 - 8421

beredar mengisi kekosongan buku pelajaran berdasarkan Kurikulum 1994. Tetapi guru yang tidak berhati-hati atau kurang mempunyai wawasan bahasa tidak dapat menilai materi yang ada dalam buku-buku itu, mana yang baik, mana yang cocok, yang tepat, dan mana yang tidak. Banyak penulis buku-buku "swasta" itu tidak dapat menyelami makna kurikulum sehingga yang ditampilkannya dalam bukubukunya meleset dari yang seharusnya. Tetapi mungkin dikatakan "Tak ada rotan akar pun berguna." Guru yang baik, sekali lagi guru yang baik harus mempelajari buku peganganya sebaik-baiknya sebelum dia menggunakan buku itu di kelas sehingga dia dapat membahas semua materi yang ada dalam buku itu dengan baik. Ini sangat perlu dilakukan. Agar pengetahuan guru cukup, jangan bersandar pada buku paket saja. Guru harus memiliki buku pegangan yang cukup sehingga dia menguasai pelajaran dengan sebaikbaiknya. 7. Faktor Perpustakaan Untuk pelajaran BI, perpustakaan merupakan sarana penunjang yang sangat penting. Bukubuku bacaan bermutu, terutama bukubuku wajib yang harus dibaca oleh murid sudah sewajarnya bila tersedia di sekolah sehingga wajib baca yang ditugaskan kepada murid dapat dilaksanakan karena bukunya tersedia.


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011 Bacaan yang baik sudah tentu dapat menambah pengetahuan murid dengan bahan bacan sastra yang perlu diketahuinya sesuai dengan ketentuan kurikulum. Di samping itu, seseorang yang banyak membaca, apalagi membaca buku-buku yang bermutu, baik isi maupu bahasanya, akan dapat meningkatkan apresiasi sastranya dan membina bahasanya karena bagaimanapun juga apa yang dibacanya itu besar pengaruhnya bagi dirinya. 8.

Hambatan Bagi Kemajuan Pengajaran Bahasa Indonesia Dalam membina bahasa murid, memang bamyak hambatan yang menghadang usaha guru bahasa Indonesia. Hambatan itu antara lain timbul dari beberapa pihak. a. Dari guru-guru mata pelajaran lain yang kurang memperhatikan penggunaan bahasa sehingga sering mengunakan bahasa Indonesia yang kurang teratur, karena menganggap bahwa pembinaan bahasa Indonesia murid menjadi tanggung jawab guru bahasa Indonesia. b. Dialek bahasa Indonesia (bahasa setempat) yang banyak mempengaruhi bahasa murid dan sering digunakan tanpa sadar. c. Pengaruh bahasa daerah yang sering juga muncul secara tidak disengaja karena baik pengertian kata yang agak berbeda tetapi bentuknya sama, maupun pengaruh 72

ISSN 2086 - 8421

struktur yang tanpa disadari digunakan dalam BI. Contohnya banyak. Bahasa yang digunakan dalam media massa (tulisan dan eletronika; RRI dan TVRI). d. Soal-soal ujian yang bermacammacam yang biasanya menggiring guru ke arah pola tertentu materi pelajaran karena ingin memenuhi tuntutan soal-soal ujian itu. e. Jumlah murid yang besar dalam satu kelas sehingga mungkin banyak di antara murid yang jarang mendapat giliran untuk mempraktekkan bahasanya (dalam bercakap-cakap, bercerita, berpidato, dan sebagainya). Guru sendiri yang banyak mengajar di luar sehingga tidak dapat mempersiapkan diri dengan baik (mendalami kurikulum, GBPP, membaca buku-buku perlu untuk menambah pengetahuan, dan sebagainya). Jalan keluarnya juga sukar karena kita hanyalah manusia yang harus hidup. IV. KESIMPULAN Apa yang dikemukakan di atas rasanya sudah cukup gamblang sehingga tidak perlu disimpulkan lagi. Pembaca sendiri dapat menyimpulkan apa yang perlu dilakukan dalam memperbaiki apa-apa yang kurang dalam pelajaran yang diasuh agar tujuan pengajaran bahasa Indonesia dapat tercapai; membina murid-murid agar dapat menggunakan


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011 bahasa Indonesia dengan baik dan benar; membina murid agar dapat menjadi putra Indonesia yang mencintai hasil-hasil karya sastra Indonesia. Itulah tujuan yang akan dicapai, bukan membina murid menjadi orang yang akan tahu bermacam hal tentang bahasa Indonesia.

73

ISSN 2086 - 8421


Jurnal Tasimak Vol. II, No. 2, Oktober 2011

ISSN 2086 - 8421

DAFTAR PUSTAKA

Badudu. J.S. 1981. Membina Bahasa Indonesia Baku. Seri 1 dan 2. Bandung: Pustaka Prima Badudu. J.S 1985. Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar. Jakarta: Gramedia. Badudu. J.S. 1986. Cakrawala Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Prima. Burhan, Yazir. 1971. Problema Bahasa dan Pengajaran Bahasa Indonesia. Bandung: Ganaco. Samsuri. 1982. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga Tarigan, Djago dan Henry Guntur Tarigan. 1992. Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

69


Permasalahan pembelajaran bahasa indonesia di sekolah