Page 1

diffa SETARA DALAM KEBERAGAMAN

Retina

Rumah Kampus Khusus Disabel

Tapak

Panti Multituna Jejak Sejarah

Jendela

Belajar Kesetaraan dari Ohio

E D U L I N C rsion e Audio V

Ketegaran Ibu Dua Anak Autis No. 04 April 2011

Majalah Keluarga Humanis diffa EDISI 04-APRIL 2011

Edisi 04 April ok.indd 1

Rp. 21.500,1 3/21/11 4:38 PM


2 Edisi 04 April ok.indd 2

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:38 PM


M Cover: Intan Nuraini dan Fabian Foto: Adrian Mulja

MATA HATI

Ketegaran Ibu Dua Anak Autis

L

INA Kurnia Dewi, ibu tiga anak lelaki, buah perkawinannya dengan Ramdhan. Tak ubahnya ibu muda lain di Jakarta, Lina adalah perempuan yang aktif, ceria, dan mandiri. Siapa pun tak kan mengira di balik keceriaan Lina tersembunyi kisah perjuangan ibu muda yang luar biasa. Kisahnya dimulai dari kehadiran anak pertama, 12 tahun lalu. Alva Savero Mardika Putra, anak pertama pasangan Lina dan Ramdhan ternyata menyandang autistik. Tak terbayangkan sedikit pun oleh Lina bakal dikarunia anak autis. Namun, Lina dan Ramdhan tetap percaya bahwa anak adalah karunia Tuhan yang harus diterima dengan rasa syukur walaupun anak itu autis. Menjadi ibu dari anak autis memerlukan energi dan ketegaran ekstra besar. Lina memiliki modal itu. Ia memang sosok yang energik, tegar, dan ceria melakoni hidupnya. Diperlukan totalitas perhatian dan pendampingan untuk membesarkan dan mendidik anak autis. Seorang wartawan teman saya, bahkan sempat meninggalkan pekerjaannya agar bisa mendampingi anaknya yang autis. Istrinya yang bekerja di sebuah perusahaan asing ikut meninggalkan pekerjaannya agar dapat total mendidik dan mendampingi anak mereka. Pasangan suamiistri ini sempat beberapa tahun tidak bekerja demi anak. Mereka bertahan hidup dari uang tabungan dan harta-benda lain yang mereka miliki. Dan hasilnya memang luar

biasa. Anak semata wayang mereka menjadi jauh lebih baik. Ramdhan dan Lina juga total mendampingi Alva yang kini bersekolah di Nurul Islam, Tangerang. Soal rezeki, mereka percaya, asal mau berusaha, Tuhan akan mencukupi. Persoalannya memang bukan itu. Persoalannya adalah anak kedua mereka yang lahir enam tahun kemudian, Fabian Ramdhan Putra, ternyata juga menyandang autis. Tidak hanya satu anak, tapi dua anak autis yang menjadi tanggung jawab Lina dan Ramdhan. Meski sudah memiliki bekal pengalaman membesarkan Alva, tetap saja sangat berat mengurus dan membesarkan sekaligus dua anak autis. Tahun demi tahun berhasil dilalui hingga Fabian kini memasuki usia 6 tahun. Dan Lina tetap ceria. Tetap tegar dan mandiri sebagai ibu dari dua anak autis. Bahkan mereka tak kapok mendapatkan momongan lagi. Dan, sekitar 1,5 tahun yang lalu Lina dan Ramdhan dikarunia seorang anak lagi. “Anak-anak kami adalah bagian dari kami berdua. Apa pun kondisinya, seberat apa pun perjalanan yang harus kami lalui, akan kami tempuh bersama-sama,� tegas Lina tanpa keraguan. Ketegaran Lina memberi kita satu pelajaran berharga yang kerap kita lupakan: dalam hidup ini, asal mau berusaha dan berjuang, kita pasti bisa membuat perubahan. Sesulit apa pun keadaannya, sebenarnya selalu ada jalan keluar. n Fx Rudy Gunawan

diffa

EDISI 04-APRIL 2011

Edisi 04 April ok.indd 3

Pemimpin Perusahaan/ Pemimpin Redaksi FX Rudy Gunawan General Manager Jonna Damanik Redaktur Eksekutif Nestor Rico Tambunan Konsultan Yunanto Ali, Handoyo Sinta Nuriah Wahid Mohamad Sobary, Jefri Fernando Redaktur Irwan Dwi Kustanto Aria Indrawati Mila K. Kamil Purnama Ningsih Kontributor Andhika Puspita Dewi (Semarang) Jerry Omona (Papua) Muhlis Suhaeri (Pontianak) Yovinus Guntur (Surabaya) Redaktur Bahasa Arwani Redaktur Kreatif Emilia Susiati Fotografer Adrian Mulja Ilustrator Didi Purnomo Pemasaran Sigit D. Pratama Administrasi Novita Rahmadhani Distribusi dan Sirkulasi Jonna Damanik Berliaman Haloho PT Trubus Media Swadaya Jl Gunung Sahari III/7 Jakarta Pusat 10610 Telepon 62 21 4204402, 4262318 Fax 62 21 4269263 Diterbitkan Oleh: PT Diffa Swara Media Yayasan Mitra Netra Percetakan PT Penebar Swadaya Alamat Redaksi Jl. Salemba Tengah No. 39 BB Lt. 2 Jakarta Pusat 12430 Telepon 62 21 44278887 Faxs 62 21 3928562 e-mail redaksidiffa@gmail.com

33 3/21/11 4:38 PM


C

SAMBUNG RASA

Pembuka Jalan Disabilitas Salut diffa Saya salut atas inisiatif pengelola diffa untuk mengabarkan kepada dunia tentang kerja dan karya nyata orang-orang yang selama ini dianggap tidak mampu untuk melakukan sesuatu yang berarti. diffa telah membuka pandangan bahwa penyandang disabilitas juga bisa berbuat. Selamat dan sukses atas penerbitan majalah diffa. Salam hangat dari Payakumbuh   Dewi Marza Kepala Pusat Sumber Pelayanan Anak Berkebutuhan Khusus Sumatera Barat

Salam diffa Saya membaca majalah diffa sejak edisi perkenalan. Saya pendidik di sebuah sekolah menengah pertama di Pulau Bangka. Semua rubrik diffa sangat menginspirasi saya. Terutama menambah pengetahuan saya tentang dunia disabilitas. Saya sangat tertarik pada semua cover diffa. Disitu saya dapat melihat senyuman dan harapan yang sangat memotivasi untuk berbuat bagi dunia disabilitas. Sekarang saya sedang perlahan-lahan memotivasi sekolah tempat saya bekerja agar membuka diri menerima anak didik penyandang disabilitas. Ini pun terinspirasi tulisan-tulisan di diffa, terutama rubrik Inklusif. Semoga berjuangan saya untuk sekolah inklusif tercapai. Teruslah jaya diffa dalam memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas. Novi Rianti SPd Guru Biologi SMP Negeri 4 Sungai Liat, Bangka

4 Edisi 04 April ok.indd 4

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:38 PM


D

DAFTAR ISI

3 6

Ketegaran Ibu Dua Anak Autis

Multituna 40 16 Panti Jejak Sejarah

 Melatih Anak Autis Berinteraksi Sosial



Gajah Kertas Untuk Fabian

7 Kampus untuk Rumah Kampus

Mahasiswa Berkebutuhan Khusus

“...untuk mengajar orang berkebutuhan khusus seperti mahasiswa Rumah Kampus. Apalagi mengajarkan ilmu yang tergolong sulit untuk mereka, seperti matematika. Tak heran, pada masamasa awal kuliah Rumah Kampus banyak dosen yang menyerah....�

42

 Pidato Raja Gagap Pemersatu Bangsa

44 46 48 51 Belajar 24 Menghargai Disabel dari Ohio 52 54

 Daur Ulang Sampah Plastik Mainan Sederhana untuk Anak Autis Makanan Sehat Anak Autis

Etika Membantu Tunanetra

Puisi, Cermor, Cerpen Biografi Ludwig Van Beethoven

Dan baca tulisan menarik lainnya...

28 Menyusuri 

Sudut Samosir

14

 Wawancara Ibu Dua Anak Autis

Ketegaran Lina Kurnia

34 36 38

 Kolom Kang Sejo Konsultasi Pendidikan  Basuki Sahabat Mata

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 5

5 3/21/11 4:38 PM


CERITA SAMPUL

foto: Adrian Mulja

C

Gajah Kertas untuk Fabian

A

NAK-ANAK umumnya terobsesi pada binatangbinatang kesayangan seperti anjing, kucing, kelinci, kura-kura, hamster, atau binatang peliharaan lainnya yang umum. Sedikit sekali anakanak yang terobsesi pada gajah, binatang bongsor berbelalai panjang itu. Tapi Fabian memang bukan anak berusia 5,5 tahun pada umumnya. Fabian seorang anak autis. Ia tak bisa disamakan dengan anak-anak lain yang bisa duduk manis dengan tenang dan berpose untuk sebuah pemotretan cover. Fabian terus bergerak dan mencari-cari gajah. “Gajah, gajah, gajah!” serunya terusmenerus seperti histeris. Ya, Fabian memang terobsesi pada gajah. Meskipun Intan Nuraini, gadis cantik pemain film dan sinetron, berusaha keras menenangkan Fabian agar bisa berpose bersamanya, Fabian tetap hanya bisa diam tak lebih dari 20 detik. Ayah-ibunya, Ramdhan dan Lina Dewi, juga kakak

6 Edisi 04 April ok.indd 6

dan adiknya, Alva dan Dhia, yang ikut menemani pemotretan, juga tak bisa menahan Fabian untuk berpose bersama Intan. Lina lupa membawa boneka gajah kesayangan Fabian. Adrian, fotografer diffa, memutar otak dan mengambil setiap momen singkat Fabian bersama Intan. Tapi baru satu-dua jepretan, Fabian sudah melepaskan diri dari Intan dan berlari berputar-putar tak tentu arah. Bola matanya berputar terus, bergerak dari satu objek ke objek lain dengan cepat. Intan mencoba menarik perhatian Fabian dengan memutar film-film lucu dari handphone-nya. Itulah Fabian Ramdhan Putra. Secara fisik tak ada perbedaan antara Fabian dan anak-anak seusianya. Meski tergolong anak kecil bertubuh kurus, Fabian sehat. Namun, wajahnya tak bisa menyembunyikan semacam energi kegelisahan yang tak terdapat pada wajah anak-anak lain seusianya. Sesi pemotretan cover pun terasa menegangkan karena kegelisahan

Fabian yang terus memenuhi seisi ruang pemotretan. “Sini, Fabian. Tante punya video lucu lagi, nih. Sini, ayo tante pangku,” bujuk Intan. Fabian terpancing, ia mendekat dan Intan segera memeluk tubuh kurusnya. Fabian tertawa-tawa melihat video di handphone Intan. Adrian segera mengambil kesempatan itu. Jepret, jepret! Tapi tak sampai 15 detik, Fabian sudah menghambur lepas dari pelukan Intan. “Gajah, gajah, Fabian mau gajah!” Tak ada boneka gajah siang itu. Tapi seperti kata pepatah, tak ada rotan akar pun jadi. Lina, sang ibu yang sudah banyak makan garam membesarkan dua anaknya yang autis (anak pertama Alva Savero Madika Putra juga autis) meminta seseorang untuk browsing mencari gambar gajah dan mencetaknya. Seekor gajah di atas kertas akhirnya bisa membuat Fabian bertahan lebih lama bersama Intan saat Adrian memotret mereka. Fabian malah membuat berbagai ekspresi lucu, mulai dari menyeringai sampai membelalak dan membuka mulut lebar-lebar seperti orang berteriak. Saat terlihat mulai bosan dengan gajah pertama, Fabian menghambur ke depan komputer dan mencari gajah lain untuk dicetak. Ramdhan, sang ayah, sibuk mengamati sambil menjaga adik Fabian, Dhia Wirasena Ramdhan. Setelah sekitar dua jam pemotretan berlangsung, akhirnya Adrian berhasil mendapatkan foto yang diinginkannya. Semua yang hadir siang itu menarik nafas lega. Ternyata seorang anak autis juga sebenarnya bisa diajak berpose. Tak ada yang tak mungkin selama kita mau. Impossible is nothing, begitu kata sebuah iklan sepatu. n Fx Rudy Gunawan EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:38 PM

foto-f


RETINA

RUMAH KAMPUS

foto-foto: Adrian Mulya

Kampus untuk Mahasiswa Berkebutuhan Khusus EDISI04-APRIL 04-APRIL2011 2011 diffa EDISI

Edisi 04 April ok.indd 7

7 3/21/11 4:38 PM


8 Edisi 04 April ok.indd 8

EDISI 04-APRIL 2011 EDISI 04-APRIL 2011

diffa diffa 3/21/11 4:38 PM


RETINA

R

UMAH lumayan besar dan berhalaman luas itu tersembunyi di belakang bangunan toko dan warung di Jalan Karet Asem Raya, Utan Kayu, Jakarta Timur. Di bagian atas teras terpampang selembar spanduk bertuliskan “Rumah Kampus”. Di salah satu ruangan dalam rumah itu Vilma Dewi Anggraeni, SSos MSi berdiri di depan papan tulis, dikelilingi sepuluh mahasiswa, beberapa di antaranya duduk di kursi roda. Dengan suara agak keras dan intonasi jelas, Vilma mengucapkan kalimat sapaan dan meminta mahasiswanya mengulang. Para mahasiswa menirukan dengan suara keras dalam nada aneka ragam, terdengar setengah teriak. Ada yang sambil bercanda dengan teman di sebelahnya. Begitulah suasana kuliah di Rumah Kampus. Terlihat santai dan tanpa beban. Maklum, para mahasiswanya adalah insan-insan penyandang disabilitas keterkelambatan berpikir atau yang biasa disebut tunagrahita, dari yang agak ringan hingga down syndrom. Vilma mengajar di Rumah Kampus sejak program pendidikan itu dibuka, Maret 2008. Master komunikasi lulusan Universitas Padjadjaran yang juga dosen Program Diploma Institut Pertanian Bogor ini mengajarkan Komunikasi Intrapersonal. Materinya, bagaimana berkomunikasi dan menempatkan diri di tengah orang banyak, seperti etika berbicara, meminjam atau meminta barang orang, atau meminta maaf. Vilma mengaku senang mengajar di Rumah Kampus, meskipun mahasiswanya berbeda dari mahasiswa umumnya dan harus mondar-mandir Jakarta - Bogor. “Mereka sangat polos, dan lucu,” ujar gadis cantik kelahiran Bandung ini sambil tersenyum. “Kuncinya, kita harus sabar, karena semua harus diulang-ulang.”

Perjuangan Panjang

foto-foto: Adrian Mulya

EDISI 04-APRIL 2011 diffa 04-APRIL 2011 diffa EDISI

Edisi 04 April ok.indd 9

Rumah Kampus resmi berdiri sejak Maret 2008. Awalnya bermula dari kegelisahan panjang Endang Rahayu. Ibu dua anak ini gelisah karena kesulitan mencari sekolah buat anak bungsunya, Enggar, yang terlahir dengan keterbatasan berpikir alias tunagrahita dan mesti memakai kursi roda. “Dari SD saja sudah susah. Di sini ditolak, di sana ditolak,” ujar Endang mengenang. Salah satu yang membuat Endang paling terpukul adalah pernyataan seorang psikiater yang memvonis kelak putranya tidak akan mampu masuk perguruan tinggi. Pernyataan psikiater itu membuat Endang terpukul sekaligus tertantang. “Saya mikir, terus bagaimana nasib anak saya dan anakanak lain yang memiliki keterbatasan seperti dia? Jumlahnya banyak, lho,” ujar ibu yang lama bergerak di bidang penerbitan ini. Endang mencoba mencari informasi ke Dirjen Pendidikan Tinggi. Jawabannya, tidak ada perguruan tinggi ataupun kurikulum untuk anak penyandang keterlambatan seperti itu. Sedangkan Kementerian Sosial

9 3/21/11 4:38 PM


foto: Nestor Rico Tambunan

menyatakan pendidikan bukan wewenang mereka. “Wah, bingung. Saya mendatangi perguruanperguruan tinggi. Saya ke Trisakti, ke Pakuan, dan macam-macam. Jawabannya sama. Capek, deh,” ujarnya. Hingga kemudian, lewat seorang kenalan, Endang mendatangi Program Diploma IPB Bogor. Pihak IPB juga mengatakan tidak memiliki program untuk mahasiswa berkebutuhan khusus seperti itu, tapi mereka bersedia membantu Endang membuat semacam lembaga pendidikan khusus. Endang pun

langsung bergerak mendirikan Rumah Kampus. “Nggak pake lamalama. Kurikulum, macam-macam, dirancang dan disusun sendiri sambil jalan,” ujar Endang sambil tersenyum. Maka, Rumah Kampus pun resmi berdiri pada Maret 2008.

Mencari Kurikulum Karena tidak mempunyai cukup biaya untuk menyewa gedung, Endang pun menjadikan rumah orang tuanya di Utan Kayu menjadi markas Rumah Kampus. Selain membantu membuat kurikulum, Program Diploma IPB membantu menyediakan pengajar. Formalnya, kerja sama dengan Rumah Kampus

10 Edisi 04 April ok.indd 10

ini menjadi kegiatan sosial Program Diploma IPB. Namanya Program Khusus Program Diploma IPB. Dalam menyusun kurikulum, Endang dan Program Diploma IPB berpatokan pada tujuan memberi bekal hidup bagi para mahasiswanya kelak. Karena itu, dipilih bidang kegiatan keterampilan dan ekonomi yang relatif praktis. Komposisinya, teori 20 persen dan praktik 80 persen. Lama pendidikan dua tahun atau empat semester. “Ya, disesuaikan dengan kemampuan anak-anak berkebutuhan khusus. Selesai pendidikan mendapat sertifikat diploma,” ujar Endang. Semester satu, mahasiswa belajar dan praktik mata kuliah budi daya ikan. Dalam mata kuliah ini mahasiswa diajari merawat, memberi makan, dan membersihkan kolam ikan. Semester dua tentang budi daya tanaman. Semester tiga produk olahan hasil pertanian. Dalam mata kuliah ini antara lain mahasiswa praktik membuat bakso, sosis, es krim, dan yang sejenis. Di semester akhir, mahasiswa belajar mata kuliah manajemen promosi dan pemasaran, praktik pertanian terpadu, dan praktik kerja. Mahasiswa Rumah Kampus juga dibekali mata kuliah pendukung lain seperti bahasa Inggris, matematika, pengetahuan komputer, fotografi, ilmu komunikasi, musik, praktik transaksi dagang, serta pendidikan moral (agama). “Ya, cukup memadai kalau mereka bisa menguasai,” kata Endang. Ibu yang periang ini mengakui bukan hal mudah mengajarkan sesuatu kepada orang berkebutuhan khusus seperti mahasiswa Rumah

Kampus. Permasalahannya mereka gampang lupa. Jadi, harus sabar menjelaskan, menjelaskan lagi. Dalam kuliah transaksi dagang misalnya, ada mahasiswa tidak mengenal uang dan mengerti jual beli. “Saya terpaksa membuat uanguangan seperti ini,” ujar Endang sambil menunjukkan segepok uang tiruan yang hanya dipakai untuk bahan kuliah. Mungkin itu belum seberapa. Keluguan mahasiswa juga kadang membuat kuliah terasa buyar dan tidak berarti. Contohnya dalam praktik budi daya ikan. Mereka mengerti memberi makan ikan, membersihkan akuarium. “Tapi, begitu ikannya mati, dia membawa kain kafan, menyiapkan penguburan seperti orang meninggal. Coba, mati nggak saya?” ujar Endang geli.

Harapan dan Keyakinan Endang mengakui, memang butuh kesabaran ekstra untuk mengajar orang berkebutuhan khusus seperti mahasiswa Rumah Kampus. Apalagi mengajarkan ilmu yang tergolong sulit untuk mereka, seperti matematika. Tak heran, pada masa-masa awal kuliah Rumah Kampus banyak dosen yang menyerah. “Bolak-balik ganti. Ada yang ganti delapan kali,” ujar Endang sambil tersenyum. Namun, memang tidak boleh menyerah. Buktinya, ada mahasiswa tunagrahita, Rendy, yang tergolong menonjol dalam matematika. Teman-temannya menjuluki Rendy “si jenius” dan “master matematika” karena menguasai hitungan hingga puluhan ribu. Dalam pelajaran ilmu komputer, mereka antara lain diajari mengetik rapid dan membuat blog. Di antara mereka ada yang memiliki blog yang tampilannya lumayan bagus. EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:38 PM


foto-foto: Adrian Mulya

RETINA

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 11

11 3/21/11 4:38 PM


Berusaha yang Terbaik Kini ada 12 mahasiswa, 11 laki-laki dan seorang gadis, yang sedang menuntut ilmu di Rumah Kampus, dengan beragam tingkat keterbatasan. Semua mahasiswa itu berasal dari dua angkatan dan berumur 20 – 30 tahun. Ada beberapa persyaratan agar diterima menjadi mahasiswa Rumah Kampus. Antara lain, calon mahasiswa sudah lulus sekolah lanjutan tingkat atas atau yang sederajat, belum menikah, mau mengikuti tes evaluasi minat dan kemampuan, serta melampirkan catatan kesehatan. Rumah Kampus menarik uang kuliah Rp 6 juta per semester. “Untuk bayar dosen-dosen aja sudah habis,” ujar Endang. Sering

12 Edisi 04 April ok.indd 12

dia menombok untuk kepentingan ini-itu. Namun, Endang mengaku senang dan tidak merasa terbeban. “Yang penting jalan,” ujarnya riang. Selain menerima ilmu, mahasiswa Rumah Kampus juga mendapatkan pelayanan fisioterapi dan cranio. Cranio adalah terapi penyumbatan pusat saraf otak akibat adanya cairan di otak. Terapi ini dilakukan dengan sentuhan tangan, tanpa menggunakan obat-obatan kimia. Proses terapi minimal 6 bulan hingga 2 tahun. Dengan terapi cranio ini memori hambatan dalam sendi dan sistem link syaraf pada otak akan membuka. Selain itu, terapi cranio juga bisa meningkatkan memori daya pikir atau tingkat IQ anak-anak down syndrome. Anak dengan tingkat IQ standar 45 bisa ditingkatkan hingga 70. Rumah Kampus memiliki ruang terapi, dengan tenaga terapis dan dokter langganan. “Ya, apa aja, untuk kebaikan anak-anak,” ujar Endang.

Harapan Rumah Kampus Rumah Kampus atau home college untuk anak-anak berkebutuhan khusus, khususnya keterlambatan berpikir, yang sudah lama menjadi impian Endang Rahayu kini menjadi kenyataan. Rumah Kampus memang baru seumur jagung. Namun, bagaimanapun manfaat keberadaannya sudah terlihat. Paling tidak, upaya mendirikan kampus ini sudah memberikan pelajaran dan bukti nyata negeri ini butuh lembaga pendidikan tinggi khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Endang berharap Rumah Kampus kian berkembang dan menjadi model sekolah alternatif

foto-foto: Adrian Mulya

Semua itu membuat Endang yakin, semangat dan sikap ngototnya mendirikan Rumah Kampus tidak sia-sia. Dia optimistis, dengan segala keterbatasan, lulusan Rumah Kampus bisa berkarya. Buktinya, ketika mahasiswa Rumah Kampus melakukan praktik kerja lapangan di Percetakan Negara, ada satu orang yang ditawari untuk direkrut. Endang berharap ada lebih banyak lagi perusahaan yang mempunyai perhatian terhadap mahasiswanya. Bukti lain, Angger, sang putra yang membuat Endang nekat mendirikan kampus, kini bisa menyetir mobil. “Waktu dia pengen, dan kita sampaikan ke orang, pasti ribet urusannya. Buktinya dia bisa,” ujar Endang tampak lega. “Mereka bukanlah orangorang yang tergolong cacat mental seperti yang sering kita lihat di SLB, karena mereka masih lancar dalam berkomunikasi antara sesama dan orang tuanya.”

bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Dia juga berharap pemerintah lebih memberikan perhatian terhadap kebutuhan pendidikan anak-anak penyandang disabilitas, khususnya yang mengalami keterlambatan daya pikir. “Pemerintah harus memberi wadah mereka belajar. Sebab, di sekolah umum tidak memungkinkan, di SLB juga tidak pas karena bukan penderita cacat permanen,” ujarnya.

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:38 PM


RETINA

Bayangan ibu dua anak ini Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Sosial bersinergi, berkolaborasi merumuskan kebijakan mengenai lembaga pendidikan tinggi bagi anak anakanak penderita keterlambatan daya pikir non-cacat mental. “Saya kira banyak sekali anak seperti mereka,” ujar Endang. Harapan dan bayangan Endang tidak mengada-ada. Rumah Kampus paling tidak sudah membuktikan

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 13

adanya kebutuhan itu. Dan Rumah Kampus setidaknya bisa dijadikan semacam model. Semoga mata hati pemerintah lebih terbuka. Karena anak-anak penyandang tunagrahita dan down syndrome pun berhak mendapat pendidikan tinggi. Karena mereka juga bagian dari anak bangsa. Bagian dari rumah besar kita Indonesia. n NESTOR

“Pemerintah harus memberi wadah mereka belajar. Sekolah umum tidak memungkinkan, di SLB juga tidak pas karena bukan penderita cacat permanen.”

13 3/21/11 4:38 PM


E

EMPATI

B foto-foto: Sigit D. Pratama

ERBINCANG dengan Lina Kurnia Dewi, ibu berusia 33 tahun, selalu terasa meriah dan menyenangkan. Beban berat sebagai ibu dengan dua anak penyandang autis (dari tiga anaknya), jarang terlihat di wajahnya. Padahal, sejak anak pertama, Alva, berumur 2 tahun, Lina dan suaminya, Ramdhan, sudah mulai berurusan dengan autis. Lina dan Ramdhan, dua-duanya sarjana planologi lulusan Institut Teknologi Indonesia, menikah pada tahun 1998 dan pada tahun itu juga Alva Savero Mardika Putra hadir dalam keluarga mereka. Berikut bincang-bincang diffa dengan Lina.

Ketegaran Lina Kurnia Bisa diceritakan bagaimana Alva teridentifikasi sebagai penyandang autis?

“Semua serba ekstra. Ekstra waktu, ekstra uang, ekstra kasih sayang, ekstra kesabaran, ketekunan, dan ekstra kegigihan.� 14 Edisi 04 April ok.indd 14

Alva lahir dengan kondisi normal dan awalnya tumbuh normal. Kami tidak menyadari ciri khas dari anak autis. Alva, misalnya, tidak bisa tidur dengan alas sprei atau lampinnya jika berantakan. Alva juga suka memainkan mainan dengan menjajarkan mainnya seperti kereta api, membentuk pola baris panjang. Kalau dirasakan sudah cukup panjang, dia akan mengamati mainan tersebut satu per satu tanpa memainkannya.

Sejak kapan menyadari kekhususan Alva? Kalau tidak salah saat Alva umur 2,5 tahun. Ketika itu Alva mengalami kejang ringan sebanyak dua kali. Sejak itu kami mulai “kehilangan� Alva. Dia

asyik bermain dengan dunianya sendiri. Bahkan, untuk memanggil namanya kami tidak bisa. Hanya dengan menyentuhnya baru dia menyadari keberadaan kami. Tahun 2000-an kami memeriksakan anak kami ke RSAB Harapan Kita dan dirujuk ke Klinik Tumbuh Kembang Anak. Alva sempat menjalani scan otak, dan beberapa tes untuk memastikan keadaannya. Hasilnya keluar dengan diagnosis ADHD. Kami shock. Penyakit apa itu? Apa penyebabnya? Bagaimana penyembuhannya? Waktu itu istilah autisme masih jarang didengar. Dengan kondisi tanpa bekal pengetahuan autisme, kami mulai menjalani terapi untuk Alva.

Persoalan apa yang paling berat dalam tahap pertumbuhan Alva selanjutnya? EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:38 PM


Menginjak usia sekolah, banyak TK menolak karena tidak mau menerima anak dengan kebutuhan khusus. Untunglah Alva diterima di TK Islamic Village dan gurunya sangat membantu. Awal Alva masuk sekolah, kami tidak tega melihat dia lari-lari sendiri di pekarangan, sedangkan teman-temannya belajar di kelas. Dengan kesabaran guru, Alva sedikit demi sedikit mau masuk kelas dan bisa duduk dengan tenang. Selama dua tahun dia sekolah dibangku TK. Kami hanya ingin dia berinteraksi layaknya anak normal lainnya. Masa-masa awal sekolah itulah yang kami rasa sangat berat. Alva baru mulai bisa menyusun kalimat setelah duduk di bangku SD.

Terapi apa yang dijalani Alva? Bermacam-macam terapi pada awalnya, tapi yang utama adalah terapi sensorik integrasi. Terapi inilah yang dijalani sampai sekarang dan cukup berhasil membuat Alva tumbuh dengan jiwa empati yang baik dan penuh kasih sayang.

Setelah Alva, anak kedua juga menyandang autis? Anak kedua kami, Fabian Ramdhan Putra, juga lahir normal. Pertumbuhan Fabian kami perhatikan dengan hatihati karena pengalaman anak pertama membuat kami khawatir. Saat Fabian dua tahun kami melihat pola yang sama dengan Alva. Ia juga selalu menjajarkan mainannya. Fabian pun kami periksakan di RS Harapan Kita dan hasilnya Fabian mengidap ADHD (autisme dengan multifungsi disorder) dan tingkatannya lebih dari Alva. Serasa disambar petir di siang bolong kami mendengar itu. Kami mengalami drop mental cukup parah saat itu. Satu anak autis saja sudah sangat berat, apalagi dua. Tapi kondisi ini kemudian membuat saling menguatkan agar kami bisa melewatinya sebagai keluarga.

diffa EDISI 04-APRIL 04-APRIL 2011 2011 diffaEDISI Edisi 04 April ok.indd 15

Apa perbedaan antara Fabian dan Alva? Seperti apa kategori lebih berat yang dialaminya? Fabian tumbuh tanpa rasa takut. Dia hiperaktif dan membuat kami kewalahan. Tidur di atas pukul 2 dini hari, suka memanjat ke tempat tinggi, memilih mainan atau benda-benda berbentuk bulat untuk dijajarkan. Ia juga selalu berlarian tak kenal lelah, meracau, tantrum dengan berteriak-teriak sendiri, echolila (lebih banyak menirukan bunyi), tidak dapat berinteraksi dengan baik. Bajunya terkena basah sedikit sudah sangat panik, sehari bisa berkali-kali ganti baju, tidak bisa pup di toilet, harus pup di diapernya. Minum susu tidak dapat diganti merek lain. Dengan mengendus botol susu, dia tahu mana susu yang biasa diminum atau yang tidak. Tangannya agak lemah memegang benda yang berat. Tidak dapat bertatap muka dengan baik. Lebih asyik di dunia dan kemauannya sendiri. Itulah Fabian.

Dengan kondisi seperti itu, terapi apa yang dijalani Fabian? Terapi yang harus dijalani Fabian terdiri atas terapi okupasi, terapi wicara, dan SI (Sensorik Integrasi). Ia juga mendapatkan obat penenang dari psikiaternya dan alat-alat terapi khusus yang dipakai tiap empat jam sekali (sikat badan, gel). Tetapi dengan ketekunan, hasilnya memuaskan, walaupun sampai detik ini, bicaranya sulit, masih tidak

nyaman dengan kondisi badan yang tidak bersih, masih echolila, tantrum. Kami terus berjuang sampai kapan pun. Sampai saatnya dia akan menemukan jati dirinya sendiri. Dibantu dengan kemauan kami sekeluarga, terapi di rumah kami terapkan.

Apa yang paling berat Anda rasakan sebagai ibu dua anak autis sekaligus? Kendala besar dan terberat yang kami hadapi adalah pada saat kami penat dan labil, capek dengan keadaan, stres berat, dan mau putus asa. Itulah tantangan terberat kami, yaitu melawan kondisi psikis kami sendiri sebagai orang tua.

Bagaimana Anda mengatasi keadaan itu? Dukungan seluruh keluarga, kerabat, sahabat, sangat penting dan berperan besar dalam menguatkan kembali kami di saat-saat terberat terjadi. Jadi, kami selalu berbagi dengan keluarga besar. Kami membagi informasi dan cara penanganan yang tengah kami jalani kepada keluarga besar sehingga mereka terlibat dalam penyembuhan dua anak kami yang autis. Selebihnya, ya‌ kami menyadari bahwa yang bisa kami lakukan hanya harus terus berjuang dan berjuang. Termasuk berjuang mencari materi untuk terapi dan treatmen anak autis membutuhkan kata “ekstraâ€?. Semua serba ekstra. Ya ekstra waktu, ekstra uang, ekstra kasih sayang, ekstra kesabaran, ketekunan, dan ekstra kegigihan. Tidak boleh menyerah dan terus berdoa, itulah kunci kami menghadapi keadaan ini. Berdoa agar Alva dan Fabian dapat tumbuh layaknya anak normal lainnya, berdoa semoga si bungsu Dhia Wirasena tidak mengalami kondisi seperti dua kakaknya. Itu saja. n Fx Rudy Gunawan

15 3/21/11 4:38 PM


T

TAPAK

16 Edisi 04 April ok.indd 16

foto-foto: Nestor Rico Tambunan

Panti Multituna Jejak Sejarah EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:38 PM


L

AGUBOTI, akhir Februari. Dari luar, kompleks Panti Karya Hephata di Desa Sintong Marnipi, tampak sepi. Kompleks luas dengan hiasan pohon-pohon tinggi dan tua itu terkesan tidak ada aktivitas. Seorang ibu dan seorang gadis remaja tunanetra melangkah bergandengan meninggalkan gerbang panti, berpegangan pada seorang gadis kecil yang awas. Agaknya mereka ada keperluan di luar panti. Di bagian dalam panti, di teras bangunan asrama yang tampak masih baru, seorang gadis remaja duduk termangu sendirian. Tak jauh dari tempatnya duduk, beberapa anak dan remaja tunarungu dan tunagrahita membersihkan sampah sambil bercanda. Tapi, gadis itu tampak tak hirau. Saurlina, nama gadis berusia 15 tahun itu, memang tunaganda, tunanetra dan tunarungu. Begitulah penggalan suasana Panti Karya Hephata. Penyandang berbagai disabilitas berbaur jadi satu, karena sejak awal berdiri panti ini memang multituna. Menampung semua jenis disabilitas, dari tunanetra, tunarungu, tunadaksa, hingga tunadaksa.

Panti Bersejarah

foto-foto: Nestor Rico Tambunan

Panti Karya Hephata berlokasi di tengah perkampungan Desa Sintong Marnipi, Laguboti, sekitar 350 kilometer dari Medan. Seperti tak ada yang istimewa di kompleks yang luas dan terlihat sunyi ini. Tapi sesungguhnya panti ini adalah panti multituna sangat bersejarah. Sebab, di sinilah awal perhatian terhadap para penyandang disabilitas di kawasan Tapanuli dimulai hampir seratus tahun lalu. Kehadiran panti ini tergolong unik. Saat itu, secara resmi Tanah Batak di bawah pemerintahan Belanda. Tapi sebagian besar struktur kehidupan masyarakat diurus oleh Zending Rijn, gereja zending yang dirintis Nommensen dan berpusat di Jerman. Hampir semua sekolah, rumah sakit, dan usaha sosial lain umumnya ditangani orang Jerman. Tahun 1920, Zending Rijn, yang kemudian berubah menjadi Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), mendirikan rumah sakit kusta di Huta Salem, karena pada saat itu banyak

EDISI 04-APRIL 04-APRIL 2011 2011 diffa EDISI

Edisi 04 April ok.indd 17

17 3/21/11 4:38 PM


orang Batak penderita kusta. Rumah sakit itu berupa kompleks besar, dikelola seorang dokter dan 2 suster dari Jerman. Sekitar 500 penderita kusta dari Tanah Batak dikumpulkan dan rawat di sana. Mereka dibuatkan rumah-rumah kecil, dirawat sambil bekerja membuat aneka kerajinan. Sebagai pemekaran dari pelayanan kusta, pada 3 Desember 1923 Robert Rigctig mendirikan panti Hephata di lokasi yang berdekatan. Sebagaimana Huta Salem, Hephata adalah bentuk konkret pelayanan gereja terhadap persoalan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas. Ratusan penyandang dari berbagai jenis disabilitas, ditampung di asrama sambil dididik berbagai keterampilan untuk bekal hidup mandiri. Dalam perkembangan berikut, Rumah Sakit Kusta Huta Salem kemudian diserahkan kepada pemerintah dan ditangani Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara. Sedangkan Panti Karya Hephata tetap dikelola HKBP.

Muara Berbagai Persoalan Berusia hampir seabad, panti Hephata sudah melayani ribuan penyandang disabi­litas. Sebagian dari mereka kembali ke masyarakat setelah mendapat keterampilan untuk bekal hidup mandiri. Menurut Pendeta Osten Matondang STh, yang saat ini ditugaskan pimpinan HKBP mengelola Panti Karya Hephata, saat ini ada 87 orang penghuni. Mereka terdiri atas berbagai usia dan berbagai jenis disabilitas, dari tunanetra, tunagrahita, tunarungu, tunadaksa, kecuali autis. Sebagian dari mereka menyandang tunaganda. “Yang sudah tuna dari lahir memang banyak yang cenderung ganda.” Ada 11 penghuni yang sudah berkeluarga. Mereka mempunyai pekerjaan sendiri, umumnya bertani. Penghuni tunanetra ada 16 orang, tunagrahita berat 3 orang, dan tunagrahita sedang dan ringan 40-an orang. “Hampir separo anakanak dan remaja,” ujar Pendeta Osten. Seperti sejak dari masa-masa awal berdirinya panti Hephata, para penghuni berasal dari keluarga jemaat yang direkomendasikan gereja. Sekarang penerimaan

18 Edisi 04 April ok.indd 18

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:38 PM


dibagi dua kategori, yaitu usia sekolah (6 - 12 tahun) dan bina karya (14 - 30 tahun). Mereka harus membawa pengantar dari gereja, kepala desa, fotokopi akta kelahiran dan kartu keluarga. Sebelum menerima, pihak panti biasanya melakukan pemeriksaan dan membangun komitmen dengan keluarga. Apa yang terbaik untuk si anak, apa yang bisa dilakukan panti, dan apa yang perlu dilakukan keluarga. “Tapi, namanya orang, banyak yang melanggar komitmen itu. Ada keluarga yang berjanji begini-begitu, janji akan datang sekali tiga bulan, tapi kemudian menghilang tanpa alamat yang jelas,” kata Pendeta Osten. Menurut ayah dua anak ini, panti seperti Hephata pada dasarnya memang menjadi muara dari berbagai persoalan sosial di masyarakat. “Contohnya, anak yang ditinggal orang tuanya di rumah sakit, karena anaknya menyandang cacat. Lembaga menyerahkan ke kita dan kita tidak mungkin menolak,” ujarnya.

Aneka Kegiatan Kegiatan utama panti Hephata adalah adalah pengasuhan rutin di asrama. Para penyandang disabilitas, terutama anak-anak dan remaja dilatih agar bisa mandiri dalam kehidupan sehari-hari, seperti membersihkan diri dan pakaian, memasak, dan merapikan tempat tinggal. Untuk anak-anak usia sekolah, dilaksanakan kegiatan belajar-mengajar di SLB milik panti. Mereka dilatih agar memiliki kemampuan baca tulis dan menggunakan alat bantu. Mereka juga diajari pengenalan diri, etiket, dan kesehatan lingkungan. Mereka juga dilatih perkembangan psikomotorik dan kerja fisik. Penyandang disabilitas yang sudah dewasa diberi pelatihan keterampilan agar memiliki keahlian yang dapat mereka gunakan untuk menopang kehidupan. Seperti membuat sapu, keset kaki dari sabut kelapa, menjahit, pertukangan, pertanian, dan seni musik. Belakangan juga dikembangkan peternakan, seperti beternak ayam petelur dan pertanian organik. Selain kegiatan di dalam panti, Hephata juga sempat mengembangkan Community Based Rehabilitation (CBR) atau rehabilitasi berbasis komunitas. Ini pelayanan kepada penyandang disabilitas di tengah keluarga dan masyarakat dengan sasaran rehabilitasi kesehatan, bina diri, bina usaha, dan pendidikan. Dengan 14 petugas lapangan, mereka melayani 563 orang orang yang tersebar di 4 kabupaten dan 1 kota madya di kawasan Tapanuli. Sayang kegiatan ini sementara terhenti, karena ketiadaan penyandang dana.

Serba Terbatas Pendeta Osten mengakui, persoalan utama panti Hephata saat ini persoalan dana dan tenaga kerja. Hingga saat ini Hephata lebih banyak mengandalkan bantuan donatur dan sumbangan orang yang berkunjung, perseorangan, keluarga, atau rombongan, baik jemat HKBP maupun yang bukan. “Sangat berat bagi kami. Pendanaan untuk kegiatan rutin saja tidak mencukupi,” ujarnya. Ketiadaan dana membuat infrastruktur yang sudah tua atau rusak dan perlu segera diganti atau direnovasi agar aksesibilitas bagi penyandang disabilitas terpaksa ditunda. Dua unit asrama baru di bagian belakang kompleks Hephata adalah sumbangan pemerintah Jepang. Asrama senilai Rp 830 juta dan berkapasitas 80 tempat tidur ini diresmikan pada November 2010.

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 19

...“ Pemekaran pelayanan kusta. Merawat 500 penderita kusta tanah Batak” Mereka dibuatkan rumah-rumah kecil dan dirawat sambil bekerja” 19 3/21/11 4:38 PM


Kini Hephata dikelola 24 staf. Mereka terdiri atas 3 pendeta, termasuk Pendeta Osten, seorang bibelvrouw (pelayanan gereja untuk wanita), 3 diakones, 5 guru SLB, 5 pegawai nonstruktural, 1 pegawai percobaan, dan 6 pegawai honorer. “Penggajian seluruh tenaga honorer ini juga mengandalkan bantuan dari donatur,” kata Pendeta Osten. Namun, yang terasa sangat kurang adalah tenaga terlatih yang memahami pengasuhan penyandang disabilitas. “Di sini kami sangat terasing dan ketinggalan dari di Jawa. Di sana banyak lembaga dan pelatihan, banyak tenaga terlatih. Seandainya kami bisa mendapat tenaga seperti itu,” ujar Pendeta Osten. Keprihatinan mantan pendeta jemaat di Sibolga ini sangat beralasan, mengingat tiap jenis dan tingkatan disabilitas, bahkan tiap penyandang, membutuhkan penanganan yang berbeda. Sedangkan di Hephata, tenaga psikolog cuma ada satu orang, itu pun sukarelawan yang hanya bisa datang sekali seminggu. “Beliau datang dari Prapat, yang jauhnya 40 kilometer dari sini,” jelas Pendeta Osten.

Perlu Bantuan dan Perhatian Dengan kondisi seperti itu, wajar jika pekerja sosial dari Selandia Baru yang pernah mengunjungi panti Hephata memberikan penilaian bahwa pengasuhan selama ini tidak dilakukan dengan standarstandar baku, karena ketiadaan staf yang terlatih secara khusus untuk menangani rehabilitasi orang berkebutuhan khusus. Ketidaan tenaga ini membuat segala bentuk pengasuhan menjadi tidak terukur. “Ya, memang itulah persoalan kami. Ketiadaan staf terlatih ini kadang menimbulkan frustrasi,” ujar Pendeta Osten. Gambaran pengasuhan tanpa standar itu terlihat di halaman asrama anak-anak sore itu. Anakanak dari berbagai jenis disabilitas bermain dengan gaya masing-masing layaknya anak-anak kampung. Sementara Saurlina yang tunanetra dan tunarungu termenung dalam dunianya yang sunyi dan gelap. Mestinya ada yang mengasuh mereka secara terpisah atau dengan cara yang berbeda. Sebagai pendeta yang ditugaskan HKBP, Pendeta Osten Matondang mungkin merasa tidak enak mengajukan tuntutan perhatian dan kucuran dana kepada HKBP. Tapi kita harus jujur, fasilitas dan cara pengasuhan di panti bersejarah ini sudah sangat jauh ketinggalan zaman, bahkan mungkin dengan panti-panti kecil di Pulau Jawa. HKBP sebagai organisasi gereja terbesar di Asia Tenggara, dengan jutaan jemaat, dana yang besar, dan sebentar lagi memperingati Jubileum 150 tahun, mestinya tidak mengabaikan pelayanan sosial seperti Panti Karya Hephata. Karena pelayanan bukan hanya berkhotbah di gereja-gereja, melainkan berbuat nyata kepada anak-anak Tuhan yang lemah, termasuk anak-anak penyandang disabilitas seperti di panti Hephata. Penanganan disabilitas kini semakin maju. Ironis, panti bersejarah yang sudah berusia hampir seabad seperti Panti Karya Hephata justru tertinggal sejarah. Ketidakpedulian HKBP dalam hal penyediaan staf dan dana bisa membuat jejak sejarah pelayanan gereja terbesar di Asia Tenggara ini hanya sisa puing-puing. * NESTOR

20 Edisi 04 April ok.indd 20

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:38 PM


IKLAN TRUBUS

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 21

21 3/21/11 4:38 PM


P

PERSEPSI

Dilema Hukum Ketenagakerjaan Penyandang Disabilitas

22 Edisi 04 April ok.indd 22

kerja.� Hal ini lebih dipertegas lagi dalam Pasal 33 Tap MPR No. XVII/ MPR/1998 tentang HAM bahwa “Setiap orang berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.�

Setengah Hati Fenomena tersebut merupakan hal yang sangat memprihatinkan sekaligus mengherankan. Sebab, secara yuridis, hak penyandang disabilitas dalam dunia ketenagakerjaan sebenarnya cukup banyak tersebar dalam berbagai ketentuan hukum. Namun, sangat disesalkan karena unsur-unsur pengaturan tentang tenaga kerja PD dalam berbagai peraturan hukum tersebut selain rumusannya kurang begitu tegas, juga berkesan setengah hati. Kita lihat misalnya UU 43/1999 tentang Perubahan atas UU 8/1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian, sama sekali tidak dijumpai

ketentuan mengenai hak PD untuk menjadi PNS. Sedangkan dalam UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan kita hanya menjumpai pengaturan tentang tenaga kerja PD pada Pasal 19 dan Pasal 67 dengan rumusan yang selain hanya mengulang penggalan redaksi dari ketentuan sebelumnya, yaitu UU 4/1997 tentang PD junto PP 43/1998 tentang upaya peningkatan kesejahteraan sosial PD, rumusannya juga semakin abstrak dan kabur. Anehnya, karena pada Bab III UU 13/2003 yang mengatur tentang kesempatan dan perlakuan yang sama bagi para tenaga kerja, PD sebagai salah satu tenaga kerja yang paling sering mengalami diskriminasi dan marginalisasi, justru tidak disebutkan secara eksplisit dalam ketentuan pasal. Pengaturan hak PD untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam ketenagakerjaan menurut UU ini hanya ditemukan dalam

foto-: Adrian Mulya

S

UDAH merupakan kewajiban umum setiap orang bekerja. Namun, kini begitu sulit memperoleh pekerjaan. Jenis pekerjaan yang layak, selain amat terbatas, juga harus melalui proses perekrutan panjang dan kompetisi ketat. Antrean panjang orang berebut formasi pekerjaan yang amat terbatas. Jika masyarakat umum saja sulit memperoleh pekerjaan, kaum penyandang disabilitas (PD) jauh lebih sulit lagi. Betapa tidak, karena citra PD mengalami degradasi nilai akibat stigmatisasi dalam bentuk stereotipe dan prejudisme dari kalangan otoritas kerja. Asumsi destruktif itu terkuak secara gamblang pada pemberitaan tabloid Nyata 11 Maret 2006. Tantri Maharani, tunanetra di Surabaya, mengaku sering putus asa lantaran lamarannya untuk bekerja sesuai bidang keahliannya selalu ditolak. Hal ini terjadi lebih karena Tantri tunanetra yang dipersepsikan tidak sehat jasmani sebagaimana dipersyaratkan PP 26/1977 Jo. Permenkes 143/1977 tentang pemeriksaan kesehatan CPNS. Tidak heran jika dunia kerja bagi PD saat ini masih sarat praktik marginalisasi dan diskriminasi, mulai dari tahap perekrutan hingga tingkat promosi. Padahal, konstitusi kita, khususnya Pasal 28 huruf D ayat (2) UUD 1945 hasil amandemen kedua menegaskan, “Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:38 PM


bagian penjelasan Pasal 5. itu pun diletakkan pada anak kalimat paling akhir, sebagaimana terlihat pada kutipan berikut: “Setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak tanpa membedakan jenis kelamin, suku, ras, agama, dan aliran politik sesuai dengan minat dan kemampuan tenaga kerja yang bersangkutan, termasuk perlakuan yang sama terhadap PD”.

Lips Service Untuk menindaklanjuti baik ketentuan ketenagakerjaan yang diatur dalam UU 4/1997 Junto PP 43/1998 maupun UU 13/2003, pemerintah melalui Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi telah mengeluarkan kebijakan, antara lain No. Kep-205/MEN/1999 tentang Pelatihan Tenaga Kerja dan Penempatan Tenaga Kerja PD tertanggal 30 September 1999 dan Surat Edaran No. 01. Kp. 15. 2002 tertanggal 26 Februari 2002 tentang Penempatan Tenaga Kerja PD di Perusahaan. Sayang sekali kedua kebijakan tersebut lagi-lagi menjadi lips service belaka mengingat persentase PD yang mengikuti pelatihan ataupun yang disalurkan ke bursa kerja jumlahnya terlalu kecil, jika tidak dapat disebut tidak ada sama sekali. Sebabnya, tentu karena ketentuan dan penerapan sanksi yang sangat tidak efektif. Lebih tragis lagi, dalam UU 4/1997 yang disebut-sebut sebagai legal umbrella bagi perlindungan hak PD di Indonesia ternyata hanya mengatur persoalan ketenagakerjaan pada Pasal 13 dan Pasal 14. Pasal 13: “Setiap PD mempunyai kesamaan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan sesuai

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 23

dengan jenis dan derajat kedisabilitasannya.” Pasal 14: “Perusahaan negara dan swasta memberikan kesempatan dan perlakuan yang sama kepada PD dengan memperkerjakan PD di perusahaannya sesuai dengan jenis dan derajat kedisabilitasan, pendidikan, dan kemampuannya, yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah karyawan dan/atau kualifikasi perusahaan.” Persoalan krusial yang muncul pada ketentuan tersebut adalah karena pihak yang diwajibkan memperkerjakan PD hanyalah lingkungan kerja yang berbentuk perusahaan, baik perusahaan negara maupun swasta. Sedangkan unit kerja yang tidak berbentuk perusahaan seperti departemen, badan, kantor pemerintah baik di pusat maupun di daerah, tidak termasuk pihak yang dilekati kewajiban menurut undang-undang ini. Tidak heran jika cukup banyak PD yang kecewa dan terpental kesemutan akibat sengatan pasal tersebut yang sengaja dijadikan pagar oleh otoritas unit kerja pemerintah non-company untuk menahan animo dan laju kaum PD mencari nafkah di instansinya. Kita ketahui Internasional Labour Organization (ILO) dalam mendefinisikan buruh sama sekali tidak membedakan antara buruh di perusahaan pemerintah dan swasta ataupun yang di sektor pemerintahan lainnya. Hal tersebut sangat berbeda di Indonesia. Karena yang dimaksud buruh hanyalah orang yang mempunyai hubungan kerja dengan sektor swasta, sedangkan PNS ataupun karyawan BUMN/BUMD secara teknis yuridis bukanlah bagian dari pengertian buruh. Dengan demikian sangat terang kita dapat mengidentifikasi

sistem ketenagakerjaan yang menghiasi UU 4/1997 sebagaimana tertuang dalam Pasal 13 dan 14 tidak lain masuk dalam kelompok lembaga ketenagakerjaan sesuai UU 13/2003 dan bukan lembaga kepegawaian sebagaimana diatur dalam UU 43/1999.

Inkonsistensi Yuridis Baik Pasal 13 maupun Pasal 14 Undang-undang PD mencantumkan pemikiran tentang kesamaan hak dan kesempatan bagi PD untuk memperoleh pekerjaan sesuai jenis dan derajat kedisabilitasan. Secara teknis yuridis, semangat kesamaan hak dan kesempatan yang tertuang dalam UU 13/2003 ternyata memperlihatkan gejala inkonsistensi. Sebab, di satu sisi ada upaya membangun dimensi kesamaan, namun pada sisi yang lain justru kedua pasal tersebut kembali mengaburkan, bahkan mencongkel makna kebersamaan dengan memunculkan kalimat: “sesuai jenis dan derajat kedisabilitasan”. Sungguh tidak dapat disimpulkan lain dari anak kalimat “sesuai jenis dan derajat kedisabilitasan” kecuali dengan pemahaman tunggal bahwa lembaga perekrutan dan promosi bagi PD dalam dunia ketenagakerjaan tidak berlaku umum, tetapi disesuaikan dengan jenis dan derajat kedisabilitasan. Jadi, sekalipun seorang PD mempunyai reputasi kerja yang kapabel dan kredibel, tetapi portopolio dan klasifikasi tidak sesuai dengan jenis dan derajat kedisabilitasan, maka tamatlah karier PD yang penuh talenta itu diterjang arogansi klausul “sesuai jenis dan derajat kedisabilitasan”. n Dr Saharuddin Daming SH MH, Komisioner Komnas HAM

23 3/21/11 4:38 PM


J

JENDELA

Belajar Mengharg

24 Edisi 04 April ok.indd 24

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:38 PM


argai Disabel dari Ohio

M

ENDAPATKAN kesempatan belajar ke luar negeri, bagi seorang tunanetra seperti saya, adalah anugerah sekaligus tanggung jawab yang luar biasa. Sebab, sejak kecil, proses pendidikan yang saya alami tidak selalu berlangsung dengan mulus. Saat itu kerap kali saya harus berhadapan dengan penolakan, kurangnya alat bantu pembelajaran di sekolah, kurang tersedia buku khusus untuk tunanetra, kurangnya pemahaman guru tentang keterbatasan saya, dan berbagai permasalahan lain. Belajar di luar negeri bagi saya adalah kesempatan untuk membandingkan pendidikan di dalam negeri sendiri dengan pendidikan negara orang lain. Pada tahun 2008 saya melanjutkan pendidikan ke jenjang strata 2, setelah mendapatkan beasiswa dari International Felowship Program Ford Foundation. Saya menjadi mahasiswa pada program Rehabilitation and Clinical Mental Health Counseling, College of Education, Ohio University, Amerika Serikat. Ohio University berada di Athens, kota kecil yang sangat kondusif untuk belajar, sekitar 120 kilometer dari kota Columbus, ibu kota Negara Bagian Ohio. Sebagian besar penduduk Athens adalah mahasiswa Ohio University, dan sisanya penduduk asli yang jumlahnya diperkirakan tidak lebih dari 5.000 orang. Kota ini tergolong masih alami, karena masyarakat setempat sangat peduli pada pemeliharaan pepohonan dan satwa liar. Setiap hari saya masih bisa menikmati riuh kicauan burung atau justru tidak sengaja menendang tupai yang sedang asyik makan biji-bijian tanpa takut kepada manusia di sekitarnya. Hari-hari pertama saya di Ohio menjadi hari yang cukup berat sekaligus menyenangkan. Sehari setelah tiba di Columbus, saya diminta untuk tinggal sementara di sebuah lembaga ketunanetraan Vision and Vocational Training Center. Saya menjalani serangkaian proses assessment untuk menemukan kebutuhan khusus saya dalam belajar. Hasil assessment adalah rekomendasi yang disampaikan kepada pihak universitas, antara lain cara efektif dalam belajar, kemampuan menggunakan komputer bicara, kemampuan orientasi dan mobilitas, serta rekomendasi mengenai proses pemberlakuan

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 25

oleh Tolhas Damanik M. Ed evaluasi belajar. Proses assessment berlangsung satu hari penuh, saat saya sebenarnya belum sembuh dari jetlack akibat perjalanan panjang dari Indonesia dan penyesuaian terhadap 12 jam perbedaan waktu antara Indonesia dan Ohio. Saya senang karena di lembaga ini bisa bertemu dengan beberapa tunanetra Amerika yang ramah dan mau bertukar pengetahuan tentang penggunaan teknologi dalam belajar. Selain itu, saya juga mulai betul-betul masuk ke dalam sebuah lingkungan yang “memaksa� saya untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Suasana Desa Setelah tinggal di Vision and Vocational Training Center selama dua hari, saya dijemput pihak universitas untuk dibawa ke Athens. Karena saat itu apartemen yang akan saya tempati belum selesai direnovasi, maka saya menumpang di kamar seorang rekan bernama Brian. Setiba di depan rumah Brian, saya sedikit bertanya dalam hati, apakah ini betul-betul Amerika? Pertanyaan ini muncul karena setelah turun dari kendaraan mewah yang digunakan untuk membawa saya, saya menangkap situasi seolah-olah sedang berada di sebuah padang rumput luas, dengan angin bertiup kencang, sepi, dan kicau burung yang saya dengar begitu ramai. Ini sangat berbeda dari kesan saya atau orang lain selama ini tentang kota-kota di Amerika yang selalu identik dengan

25 3/21/11 4:38 PM


foto-foto: www.ohio.edu

keramaian dan gedung-gedung tinggi. Brian menangkap kebingungan saya dan langsung mengatakan, “Selamat datang Mas Tolhas. Ya, beginilah Athens, mirip suasana desa. Apalagi saat ini sepi karena para mahasiswa sedang pulang untuk liburan musim panas.� Hari-hari selanjutnya di Athens saya isi dengan penyesuaian diri dengan lingkungan setempat. Saya sungguh beruntung, karena di Athens saat itu ada sekitar 25 mahasiswa Indonesia yang siap membantu jika saya

26 Edisi 04 April ok.indd 26

bepergian. Kampus Ohio University sebenarnya tidak terlalu luas, sehingga para mahasiswa seperti kami dapat menuju ke hampir semua tempat dengan berjalan kaki. Apalagi situasi tempat pejalan kaki memang sangat baik dan dinaungi banyak sekali pepohonan yang rindang. Sebagian besar trotoar memang cukup ramah bagi penyandang disabilitas, namun akses ke seluruh gedung belum semuanya tertata rapi dan nyaman bagi pengguna kursi roda. Ini karena posisi gedung yang pada umumnya EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:38 PM


dibuat mengikuti kontur tanah dan jalan masuk ke dalamnya dibuat bertangga. Ohio University memang secara bertahap terus membenahi hal ini. Di semua pintu ruangan telah tersedia informasi menggunakan huruf Braille, sehingga memudahkan tunanetra menemukan ruangan yang akan dituju.

Layanan Disabilitas Seperti kebanyakan kampus di Amerika, Ohio University memiliki sebuah lembaga di dalam kampus yang disebut Office of The Institutional Equity atau lebih dikenal sebagai Office of the Dissability Services. Tugas lembaga ini memberikan layanan pendukung bagi seluruh mahasiswa, karyawan, dan dosen penyandang disabilitas dalam proses belajar atau dalam mengikuti seluruh aktivitas di dalam kampus. Tugas lembaga ini antara lain menyediakan pendamping dalam membacakan ujian, mengadvokasi mahasiswa jika ada permasalahan dengan dosen, menyediakan buku yang ramah bagi penyandang tunanetra dan disleksia, membantu mengurusi keperluan administrasi, atau memberikan konseling bagi mahasiswa yang mengalami permasalahan dalam perkuliahan. Sebuah lembaga di dalam kampus lainnya yang erat dengan pelayanan bagi warga kampus yang menyandang disabilitas adalah Cat Cab. Cat Cab adalah layanan transportasi yang disediakan bagi penyandang disabilitas. Untuk mendapatkan bantuan transportasi, cukup menelepon lembaga ini, menyebutkan nama dan lokasi penjemputan dan tujuan pengantaran. Kemudian lembaga ini akan mengirimkan sebuah kendaraan yang akan mengantar-jemput. Saya sangat mendapatkan manfaat dari layanan kendaraan seperti ini, terutama ketika musim salju tiba. Saat musim salju, berjalan sendiri sangat riskan, karena jalanan menjadi sangat licin dan tumpukan salju tebal membuat saya kehilangan penanda jalan. Kondisi ini sangat memungkinkan tunanetra tersesat dan terperangkap cuaca dingin. Tempat yang paling sering saya kunjungi selain ruang kelas adalah perpustakaan. Di samping karena keperluan mengerjakan tugas-tugas yang datang silih berganti dan membutuhkan banyak sekali referensi buku, perpustakaan juga menjadi tempat belajar yang nyaman. Di perpustakaan, mahasiswa berkebutuhan khusus seperti saya mendapatkan ruangan khusus. Di ruangan ini tersedia berbagai fasilitas seperti komputer yang dilengkapi perangkat lunak untuk menjadikannya ramah bagi penyandang disabilitas, mesin cetak Braille, layar

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 27

besar untuk low vision, kursi argonomis yang nyaman untuk orang yang memiliki masalah dengan punggung, dan sambungan telepon untuk menelepon staf perpustakaan jika dibutuhkan untuk membantu. Semua staf perpustakaan sangat ramah dan siap membantu jika saya mendapat permasalahan dengan pencarian atau peminjaman buku. Saya juga dapat meminjam buku secara online atau dengan mengiril e-mail ke staf perpustakaan. Mereka akan segera menghubungi saya untuk mengambil buku pesanan di perpustakaan jika sudah tersedia.

Semua Membantu Proses belajar-mengajar di dalam kelas pun sangat menyenangkan. Setiap memulai pembelajaran mata kuliah baru, para dosen mengajak mahasiswa dengan disabilitas untuk berdiskusi agar dapat mengakomodasi kebutuhan mahasiswa di kelasnya. Khusus untuk saya, pada umumnya para dosen memberikan seluruh bahan presentasi yang akan mereka gunakan agar saya dapat menggunakannya dengan bantuan laptop. Tak jarang para dosen meminta mahasiswa atau asisten untuk duduk di sebelah saya dan membantu selama proses belajar dan pengerjaan tugas. Teman-teman mahasiswa lain pun sangat menyenangkan dan selalu siap membantu saya. Mereka selalu bertanya apa yang dapat mereka lakukan untuk membantu saya. Relasi di antara kami tak terbatas di dalam kelas atau dalam situasi belajar saja, tetapi juga dalam kehidupan sosial seharihari. Kami sering bepergian bersama untuk sekadar makan malam atau menghadiri pesta-pesta yang sangat populer bagi mahasiswa di sana. Kesempatan belajar di luar negeri bagi saya sesungguhnya tidak hanya kesempatan menambah ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, saya memiliki kesempatan untuk melihat negeriku sendiri dari arah luar. Teringat bagaimana untuk kali pertama menyanyikan lagu Indonesia Raya bukan di negeri sendiri. Rasanya lagu tersebut memberikan dorongan untuk kembali dan berbuat bagi perbaikan negeri tercinta. Bagi saya, kondisi pelayanan bagi orang dengan disabilitas yang lebih baik yang bisa saya rasakan di Amerika bukanlah kondisi yang terjadi begitu saja, tetapi melalui tahapan panjang. Paling tidak, itu pula yang terjadi dalam sejarah pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di sana. Kesempatan bersekolah di luar negeri telah memberi saya harapan bahwa pelayanan bagi orang dengan disabilitas di Indonesia pun akan lebih baik. Semoga n 27 3/21/11 4:38 PM


J

JEJAK

Menyusuri Sudut Sam

D

Foto-foto: Nestor Rico Tambunan

anau Toba dan Pulau Samosir sudah lama tersohor, bahkan hi足ngga mancanegara. Kawasan dengan panorama menawan di pedalaman Sumatera Utara ini pernah men足jadi salah satu tujuan wisata utama di Indonesia. Nestor Rico Tambunan dari diffa belum lama ini jalan-jalan ke sana.

28 Edisi 04 April ok.indd 28

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:39 PM


amosir

Lintasan Menuju Danau Jalur klasik menuju Danau Toba adalah lewat angkutan darat dari Medan, melalui kota Tebing Tinggi dan Pematang Siantar. Perjalanan memakan waktu 4 hingga 5 jam. Hingga Pematang Siantar perjalanan diwarnai panorama perkebunan karet dan kelapa sawit. Selepas kota Siantar, jalan mulai berkelok-kelok dan menurun di tengah hutan. Hingga sekitar satu jam, tiba-tiba tampak alam yang terbuka. Danau Toba terhampar luas di depan, bagai hamparan

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 29

sutera yang membiru. Di seberang sana tampak Pulau Samosir. Melalui jalan berliku di bibir tebing di atas danau, kita akan sampai di Prapat, kota wisata dan peristirahatan yang terkenal sejak zaman Belanda. Di kota ini tersedia banyak hotel dan penginapan, dari kelas bintang empat hingga homestay. Pelancong yang ingin menginap di Pulau Samosir tersedia feri penyeberangan menuju Tomok dan Tuktuk. Di Tuktuk banyak terdapat aneka kelas penginapan menghadap danau. Sementara Tomok terkenal dengan situs makam tua milik marga Sidabutar. Namun, perjalanan saya tidak menggunakan jalur klasik ini. Awal kisahnya saya dipercaya menjadi juri lomba karya tulis untuk pelajar dan menjadi pembicara dalam seminar pers di Pangururan, ibu kota Kabupaten Samosir. Saya memilih jalan darat yang langsung menuju Pangururan, melewati Tanah Karo. Dataran tinggi Karo adalah daerah penghasil buah dan sayuran utama di Sumatera Utara. Sepanjang jalan, melewati kota Brastagi dan Kabanjahe yang

dingin, tampak hamparan kebun sayuran milik petani. Melewati Tanah Karo, perjalanan memasuki kawasan hutan dan perkampungan sepi di Kabupaten Dairi. Di beberapa tempat, jalanan rusak memprihatinkan. Sampai kemudian, setelah menempuh perjalanan lima jam, tiba di Tele, kota kecil di atas tebing yang menghadap Danau Toba.

Alam Bagai Mimpi Perjalanan turun dari ketinggian Tele menuju Pangururan, kota di tepian pantai Danau Toba, tampak panorama indah bagai dalam mimpi. Jalan meliuk-liuk di bibir tebing yang curam. Danau Toba terhampar luas nun di bawah sana. Di sudut-sudut danau itu tampak lembah-lembah pertanian dan perkampungan dalam apitan tebingtebing bukit. Antara lain tampak lembah Harianboho, tempat asal penyair terkemuka Sitor Situmorang. Nun di sana berdiri tegak Pusuk Buhit, gunung yang disakralkan karena dipercaya sebagai Sianjur Mula-mula, tempat asal mula orang Batak.

29 3/21/11 4:39 PM


Dari jalan melipir tebing curam, yang dibangun pemerintah Hindia Belanda dengan mengerahkan kerja rodi (diresmikan tahun 1936), panorama terasa bagai kemustahilan. Di bawah tampak hamparan danau dengan tebing-tebing berkesan misterius. Sedikit saja meleset, kendaraan akan meluncur terjun bebas ke dasar danau. Indah dan menegangkan. Betapa.‌ Tak terbayang bagaimana terjadinya, seperti terbayang dari tempat ini. Hampir setiap sudut sekeliling Danau Toba adalah panorama yang menawan, baik ke sisi Pulau Sumatera maupun sepanjang pesisir Pulau Samosir. Danau Toba adalah danau vulkanik terbesar di Indonesia, bahkan untuk ukuran dunia. Danau seluas 700 kilometer persegi dengan kedalaman 450 meter dan ketinggian 906 meter di atas permukaan laut ini terbentuk karena letusan super volcano (gunung berapi super) ribuan tahun lalu. Begitu besar, sehingga debu vulkanik letusan itu diperkirakan menyebar ke separo bumi, dari China hingga Afrika Selatan. Letusan itu juga diperkirakan menyebabkan kematian massal, sehingga mengurangi populasi manusia di bumi dan kepunahan beberapa spesies. Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi air dan menjadi Danau Toba yang dikenal sekarang. Tekanan magma menyebabkan munculnya Pulau Samosir. Kontur bekas letusan itu membuat panorama sepanjang Danau Toba dan Pulau Samosir terasa

30 Edisi 04 April ok.indd 30

dramatis dan indah dipandang dari sudut mana saja. Kini ada tujuh kabupaten yang mengelilingi sekaligus pemilik Danau Toba, yakni Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo, dan Samosir. Selain panorama yang indah, daerah-daerah ini juga memiliki banyak situs budaya khas Batak. Di masa lalu, keindahan panorama dan situs budaya itu mengundang banyak turis mancanegara dan memasukkan banyak devisa untuk kawasan ini. Di mana-mana tampak lalu-lalang turis. Namun, sejak krisis moneter, turisturis menghilang dan tak kunjung kembali hingga kini. Sayang.

Melongok Pedalaman Samosir Setelah acara penyerahan hadiah lomba karya tulis, seminar pers, dan penanaman pohon di Pusuk Buhit, saya dan beberapa teman bersepakat mengunjungi pedalaman Samosir. Kami berencana mengunjung Ronggur Nihuta, salah perkampungan asli penduduk Samosir, di ketinggian ke arah barat kota Pangururan. Kami berangkat berenam dengan dua kendaraan. Selain saya, ada Ir. Robert Naibaho MSc., pejabat senior Pertamina yang menjadi penasihat lomba karya tulis dan moderator seminar pers. Ada pula Suhunan Situmorang, pengarang novel Sordam, mantan wartawan yang kini

menjadi pengacara bisnis, yang juga jadi pembicara dalam seminar pers. Robert dan Suhunan sama-sama kelahiran Samosir. Teman lain adalah Desy Hutabarat dan Erwin Landy. Desy Hutabarat adalah mantan account executive sebuah surat kabar terbitan Jakarta yang kini menjadi manajer perusahaan konsultan investasi. Erwin adalah aktivis Landrover Club Medan. Desy dan Erwin sama-sama pencinta Samosir. Erwin sering menjelajahi Samosir dan bersama EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:39 PM


Foto-foto: Nestor Rico Tambunan

komunitasnya, Boemi Samosir, melakukan penanaman pohon di Sihusapi, Kecamatan Simanindo. Erwin datang langsung dari Medan pagi itu, bersama Anderi, sopir merangkap teknisi Landrover oranye-nya. Perjalanan menuju Ronggur Nihuta menanjak dan berliku-liku, diwarnai panorama bukitbukit dan lembah-lembah. Ronggur berarti petir. Ronggur Nihuta artinya perkampungan yang banyak petir. Di satu ketinggian, kami berhenti, untuk menikmati panorama. Kembali terasa Danau Toba dan Pulau Samosir memang indah ditatap dari sudut mana saja. Bayangkan, di depan mata tampak padang luas, dengan ternak-ternak

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 31

31 3/21/11 4:39 PM


yang asyik merumput. Sementara di kejauhan tampak Danau Toba, bukit-bukit, dan lembah permukiman. Wow! Ketika melanjutkan perjalanan, saya dan Desy pindah ke Landy– nya Erwin. Robert dan Suhunan tetap menunggang Kijang. Makin ke atas, jalan makin banyak yang rusak, aspalnya mengelupas dan berlubang, sehingga Landy kadang terlonjak kencang. Namun Desy malah menjerit senang dan tertawa merasakan petualangan ini. Gerimis turun ketika kami sampai di Danau Sidihoni. Danau di ketinggian ini terkenal sebagai danau di atas danau. Sayang, sejak gempa bumi beberapa tahun lalu, entah mengapa, danau ini menyusut dan menyempit. Selepas dari Sidihoni, hujan turun deras. Saya dan Desy basah. Jalanan jadi mirip aliran sungai. Landy makin sering terlonjak-lonjak, karena lubang tidak kelihatan. Desy justru tampak makin senang. Satu hal yang mengherankan, sepanjang jalan tidak ada warung. Satu-satu

32 Edisi 04 April ok.indd 32

nyawarung kopi yang ada juga sedang tutup. Wah! Akhirnya kami berhenti di sebuah perkampungan, di puncak ketinggian. Nama kampung ini Lumban Buttu, dihuni marga Naibaho. Seorang bapak menyambut kami dengan ramah. Dia meminta maaf tidak bisa menyuguhi kami, karena sudah tidak punya istri. Diam-diam Erwin menyalakan alat memasak dalam Landy-nya. Hanya dalam belasan menit kami sudah bisa menikmati coffe mix panas. Minum kopi panas di ketinggian yang dingin, dalam keadaan basah, hmm… sedap!

Tak Seindah Tatapan Mata Dalam perjalanan pulang, kami sengaja pelan-pelan dan beberapa kali berhenti untuk mengabadikan panorama. Kami berpapasan dengan anak-anak yang pulang sekolah dalam keadaan basah kuyup. Ada yang jalan kaki, ada yang naik kendaraan roda dua, ada yang berjejalan hingga di atap minibus. Seperti umumnya orang

Batak, semangat menuntut ilmu masyarakat Samosir terasa tinggi hingga ke desa-desa. Ketika berhenti di beberapa tempat, kami menyaksikan hamparan luas lembah-lembah yang bersemak. Dahulu Pulau Samosir terkenal sebagai penghasil padi, kacang tanah, dan bawang. Kini justru terlihat banyak tanaman kopi. “Orang Samosir sekarang lebih banyak yang merantau atau sekolah di kota, sehingga tanah-tanah kurang tergarap,” kata Erwin. Erwin juga prihatin atas kondisi lingkungan Samosir. Di banyak tempat terdapat lahan kritis karena penebangan pohon sembarangan. “Banyak sumber air yang mongering. Di kampung-kampung di ketinggian, orang menadah air hujan dari atap rumah untuk minum,” ujar Erwin. “Bahkan, 500 meter dari permukaan danau pun penduduk sudah kesulitan air.“ Erwin menganjurkan putraputra Samosir di perantauan tidak hanya asyik memuji-muji keindahan pemandangan alam Samosir. “Dari jauh kelihatan indah. Dari dekat, banyak yang memprihatinkan dan perlu dibenahi,” kata penasihat Landrover Club Medan yang hampir tiap bulan mengunjungi Samosir ini. Ucapan Erwin terasa benarnya. Melihat hamparan padang luas, mestinya kawasan Ronggur Nihuta bisa menjadi penghasil ternak dan hasil pertanian yang sangat besar. Namun, siapa memacu dan mengelola? Panorama pinggiran ataupun pedalaman Samosir sungguh luar biasa. Namun, bagaimana wisatawan datang, bahkan warung kopi pun tidak ada. Samosir sungguh indah tiada dua. Sayang…. n Nestor

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:39 PM


diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 33

33 3/21/11 4:39 PM


K

KOLOM KANG SEJO

Mohamad Sobary

kami menuntut, maka kami akan menuntut lima juta dolar.” Dan benar. Jumlah itu yang dituntut. Mereka adu strategi, adu argumen, adu kekuatan data, dan kelihaian serta kefasihan berbicara di depan pengadilan. “Lima juta dolar? Pernahkah Anda melihat uang sejumlah itu?” tanya Patrik kepada dewan juri. “Saya tak pernah,” katanya lagi. Dan ketika medapat kesempatan, Jennifer pun bertanya kepada dewan juri. ”Bila saya menawarkan kepada salah seorang dari Anda uang tunai lima juta dolar dan saya hanya meminta kedua tangan dan kaki Anda dipotong, maka saya rasa uang lima juta dolar tidak lagi kelihatan banyak,” katanya meyakinkan. Pendengar tersentuh.

Mereka yang Menuntut Hak

S

EORANG gadis remaja– Connie Garret – ditabrak truk milik perusahaan mobil besar dan kaya raya, National Wide Motor Corporation, di Amerika Serikat. Kecelakaan itu berakibat parah, sangat parah. Kedua kaki dan tangan gadis 24 tahun itu diamputasi. Dan gadis itu tak bisa berbuat apa-apa lagi. Untuk mandi, berpakaian, makan, minum, dan semua hal lainnya, dia dilayani, dan secara total bergantung pada orang lain, layaknya bayi. Terhadap nasib mengenaskan yang dialami gadis ini National Wide Motor Corporation tak menaruh peduli. Disewanya lawyer terkemuka, dan dingin tanpa perasaan, Patrick Maguire untuk membelanya di pengadilan. Kalau toh perusahaan harus membayar denda, usahakan membayar sekecil-kecilnya. Begitulah sikapnya. Tapi gadis malang itu dibela lawyer lebih hebat, Jennifer Parker, yang legendaris. Selain cerdik, dan tampil selalu mengesankan, Jennifer pun lawyer yang tak pernah terkalahkan. Begitu cerita Sidney Sheldon dalam Rage of Angels, yang diterjemahkan penerbit Gramedia menjadi Malaikat Keadilan, sejak tahun 1980-an. Patrick dan Jennifer bertarung sengit, seperti dua ekor singga di rimba belantara. Mula-mula Jennifer menemui Patrick, dalam pertemuan agak santai, sambil ngopi dan minta ganti rugi dua juta dolar. Patrick tersenyum. “Jumlah itu banyak sekali untuk orang yang tak memiliki dasar perkara,” katanya. Dan Jennifer menjawab, “Bila kami maju ke pengadilan, kami akan memiliki dasar perkara itu. Dan bila Anda memaksa

34 Edisi 04 April ok.indd 34

Dan apa yang terjadi kemudian? Sesudahsepuluh jam bersidang – yang terasa seperti tak ada akhirnya bagi Jennifer – ketua dewan juri memberikan selembar kertas kecil kepada hakim ketua. Isinya: enam juta dolar yang harus dibayar perusahaan, bukan lima juta dolar seperti dituntut Jennifer. Selama berpuluh-puluh tahun pemerintah kita percaya untuk mengatur dengan baik kehidupan kita, tapi tugas itu tak dilakukannya. Pemerintah silih berganti, rezim demi rezim berkuasa, tapi semua menabrak UUD 1945, yang melindungi dan mengatur hak semua warga negara. Juga hak para penyandang

diffadiffa

EDISIEDISI 04-APRIL 20112011 04-APRIL

3/21/11 4:39 PM


disabilitas. Di sini, apa yang sudah merupakan hak warga negara tidak dengan sendirinya mudah diperoleh. Hak harus diperjuangkan. Sering dengan titik darah penghabisan para syuhada. Untuk memperjuangkan hak para penyandang disabilitas di bidang pendidikan tinggi, semoga tak perlu disertai titiknya darah para syuhada. Namun, perjuangan mereka untuk memperoleh hak pendidikan harus digemakan secara luas. Publik harus tahu bahwa perjuangan macam itu ada, dan sedang berlangsung. Media harus menyebarluaskan perjuangan mereka untuk sekaligus menjadi sarana pendidikan politik bagi seluruh rakyat. Selebihnya, ini juga pendidikan politik bagi para penyelenggara negara, dari pejabat terendah hingga yang tertinggi. Kita, siapa pun yang memiliki komitmen membantu sesama warga negara yang sedang memperjuangkan hak-hak mereka, wajib membantu. Banyak cara harus ditempuh. Cara persuasif, yang lembut, dan tak membuat pihak lain tersinggung, diutamakan. Jika cara ini tak manjur, kita tempuh cara lain, menuliskannya di media cetak, atau menyuarakannya di media elektronik. Intinya meminta, dengan baik, dipenuhinya hak-hak tersebut. Kalau banyak cara telah kita tempuh tetapi tak ada hasil, kita tak boleh kehabisan akal. Pendek kata, dengan berbagai cara kita menuntut. Betul, dalam banyak hal pemerintah selalu memiliki alasan menghindar. Pejabat sering mengesankan sengaja bersikap lepas tangan. Ini menjengkelkan. Sejak kita merdeka, 60-an tahun lalu, hingga hari ini, rakyat dibiarkan telantar, dan para pejabat negara berfoya-foya mengkorup uang kita. Sekarang korupsi bahkan dengan sengaja dilegalkan. Parlemen sibuk membuat undang-undang untuk melindungi koruptor. Uang kita, juga uang para penyandang disabilitas, diganyang habis dan dibawa kabur ke luar negeri. Hak kita untuk memperoleh pelayanan pendidikan, hak yang paling mendasar dalam hidup, terlupakan. Kelompok penyandang disabilitas ini paling rentan. Mereka mudah diabaikan. Dan tak jarang tak bisa membela diri. Di negeri yang pemimpinnya durjana, golongan terlemah dalam masyarakat selalu diinjakinjak. Padahal, pengalaman di banyak negara, yang para pejabatnya merasa pelayanan publik dalam arti sebenarnya, rakyat menjadi raja. Rakyat dinaikkan ke atas tahta, dan dimuliakan. Kapan di negeri kita, rakyat – kita ini – menjadi raja? Kapan kita dihormati? EDISI 04-APRIL 2011 EDISI 04-APRIL 2011 diffadiffa

Edisi 04 April ok.indd 35

Secara khusus kita menanti penuh harap, kapan di suatu universitas milik negara – artinya milik rakyat karena dibiayai dengan uang rakyat – kelompokkelompok penyandang disabilitas dihormati? Kapan mereka diperhitungkan sejak masa perencanaan penerimaan mahasiswa baru, untuk diberi pelayanan khusus, dengan jatah khusus berupa beberapa persen untuk mereka nikmati? Penduduk negeri ini bukan hanya orang-orang yang disebut normal – tidak menyandang ketidakmampuan dalam corak apa pun – melainkan juga mereka yang disebut penyandang disabilitas. Tanpa dites? Itu bukan yang mereka minta. Mereka bersedia menempuh tes yang berhubungan dengan kecerdasan, yang diberlakukan pada kelompok lain. Mereka tidak gentar menghadapi tes seperti itu. Mereka minta agar tes terbuka, kesempatan dibuka sama adil, dan mereka bisa duduk di bangku perguruan tinggi sama seperti warga negara yang lain. Buat referensi kita, di negeri lain sistem pendidikan sudah begitu maju. Dan yang mencolok, yang penting dan relevan dengan pembicaraan ini, mereka adil dan manusiawi. Di Universitas Monash, Australia, pernah dibuka program khusus buat kaum Aboriginal, yang belum pernah duduk di sekolah lanjutan atas. Ini suatu keberanian yang bagus, dan dapat ditiru. Program disesuaikan dengan kapasitas para calon mahasiswa, yang akan memperlihatkan kepada kita bahwa pendidikan mampu mengantarkan kita menjadi manusia terhormat. Menjadi terhormat – bukan dianggap buangan – ini penting bagi pengembangan jiwa. Di Universitas Iowa, pada jenjang S2, ada program yang membolehkan penyair submit sebuah buku kumpulan puisi untuk memperoleh gelar S2. Puisi juga karya intelektual dan seni, yang memang layak diberi penghargaan semacam itu. Maka, bukakan di berbagai universitas negeri kita, program-program khusus, sesuai kapasitas para penyandang disabilitas. Sekali lagi mereka bersedia dites. Mereka tak mau dikasihani. Rencang suatu jenis program yang bisa membuat mereka menjadi manusia terhormat di dalam masyarakat, seperti sudah disebut di atas. Bukankah ini bagian dari gagasan nation building dan character building itu? Kita tak boleh menyianyiakan sumber daya manusia yang begitu mahal harganya.Universitas tak boleh selamanya menutup pintu bagi para penyandang disabilitas, yang kini mulai bicara, dan menuntut hak mereka. n

35 3/21/11 4:39 PM


K

KONSULTASI PENDIDIKAN

Anak Hiperaktif Ibu Kirana yang saya hormati,

D

ALAM khazanah pendidikan khusus kita mengenal ada istilah ADHD, singkatan dari attention deficit hyperactivity disorder. Anak ADHD memiliki tiga karakteristik utama. Pertama, perhatian yang pendek. Artinya, tidak bisa mencurahkan perhatian kepada suatu pekerjaan dalam waktu yang panjang. Dia akan cepat bosan dan cepat beralih perhatian kepada objek lain, sehingga umumnya tidak dapat menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas secara tuntas. Ciri kedua, tindakan impulsive, yaitu kecenderungan melakukan tindakan sekehendak hati. Dia cenderung melakukan apa saja yang diinginkan yang terlintas dalam pikirannya. Gampang bertindak tanpa berpikir panjang. Ketiga, hyperactive, yaitu adanya tindakan atau gerakan yang berlebihan. Indikasinya, sulit duduk atau diam dengan tenang dalam waktu yang relatif lama. Karena itu, para ahli sering mengartikan ADHD sebagai gangguan atau ketidakmampuan perkembangan yang ditandai dengan adanya satu atau lebih dari ciri-ciri di atas. Tiga ciri tersebut kadangkadang tidak muncul seluruhnya secara bersamaan dengan kekuatan yang sama. Ada anak yang memiliki kecenderungan satu atau dua dari tiga ciri di atas. Misalnya, hiperaktif tetapi tidak impulsif, atau mudah

36 Edisi 04 April ok.indd 36

Bapak Asep Supena yang terhormat, Nama saya Kirana. Saya punya anak lakilaki berusia empat tahun, namanya Josua. Dia sudah bersekolah di taman kanak-kanak. Josua anak yang nggak bisa tenang. Berjalan pun dia maunya berlari-lari. Kadang saya merasa agak kewalahan. Di sekolah, dia nggak bisa diam lama-lama mendengarkan guru mengajar. Sepertinya cepat bosan. Kalau sudah merasa bosan, dia lalu melakukan sesuatu, apa saja, misalnya mengambil buku atau alat tulis temannya, atau keisengankeisengan yang lain. Guru kelasnya pun kadang mengeluhkan hal itu kepada saya. Saya pernah membaca soal anak yang hiperaktif. Apakah Josua termasuk anak semacam itu? Mohon penjelasan Bapak Asep. Terima kasih.

EDISI 04-APRIL 04-APRIL 2011 2011 EDISI

diffa diffa 3/21/11 4:39 PM


bosan dan beralih perhatian tetapi tidak hiperaktif. Menurut beberapa kajian terbaru, jumlah anak ADHD diperkirakan tiga hingga lima persen dari seluruh populasi anak usia sekolah. ADHD lebih banyak terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan, dengan perkiraan satu berbanding empat hingga sembilan. Anak ADHD dapat dilihat dari beberapa cirri-ciri, di antaranya tidak bisa diam atau duduk dengan tenang dalam waktu hitungan detik atau menit. Tampak tidak mendengarkan pembicaraan orang, sulit diatur, kurang toleran terhadap kegagalan, mudah bosan dan mudah beralih aktivitas, kurang mampu berhubungan sosial dengan teman sebaya, dan perilaku yang cenderung kekanak-kanakan.    Walaupun cirri-ciri ADHD dapat muncul sejak usia taman kanak-kanak, umumnya baru dapat diketahui secara lebih jelas ketika sudah berada di sekolah dasar. Karena itu, jangan terlalu cepat dan mudah menyimpulkan seorang anak seperti Josua sebagai ADHD. Anak-anak usia TK seperti Josua, dan anak-anak SD pada tahun-tahun awal memang memiliki karakteristik dasar sebagai anak yang aktif. Mereka senang bermain, bergerak, bereksplorasi, dan terkadang sulit diatur. Gambaran tentang kadar aktivitas, konsentrasi dan impulsitas seorang anak tidak bisa digambarkan sebagai garis hitam dan putih, melainkan sebagai suatu garis kontinum yang terbentang EDISI 04-APRIL 04-APRIL 2011 2011 diffaEDISI diffa

Edisi 04 April ok.indd 37

dari titik kutub yang paling negatif ke titik yang paling positif. Ibarat sebuah nilai, ada anak yang memiliki nilai 1 tetapi ada juga yang memiliki nilai 10.  Di antara keduanya ada banyak nilai, mungkin 2, 3, 7, dan seterusnya. Seseorang dikatakan hiperaktif atau ADHD dan dianggap membutuhkan layanan pendidikan yang khusus jika kadar aktivitas dan impulsivitasnya telah mencapai titik yang ekstrem. Hal ini bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, dari sisi frekuensi. Artinya, seberapa sering ciri-ciri ADHD itu muncul pada anak. Jika kemunculannya sangat sering dan jauh di luar kebiasaan anak-anak lain seusianya, itu menjadi indikasi perlu dikonsultasikan kepada ahli seperti psikolog, dokter, atau ortopedagog (ahli pendidikan). Kedua, dari sisi dampak terhadap aktivitas dan prestasi belajar. Artinya, seberapa jauh kadar hiperaktivitasnya itu berpengaruh terhadap kegiatan belajar si anak. Jika kondisi ADHD itu menyebabkan anak tidak dapat belajar secara layak sebagaimana anak lainnya, bisa berakibat prestasi belajar anak sangat terpuruk. Ini kondisi yang perlu dikonsultasikan untuk memikirkan bagaimana layanan pembelajarannya. Saya pikir, label hiperaktif atau ADHD sebaiknya tidak terlalu dikedepankan, karena label tersebut hanya akan menimbulkan kecemasan dan kepanikan baik orang tua maupun guru. Selain itu, juga akan memberikan stigma yang

Dr. Asep Supena, M.Psi

Dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta

negatif, baik kepada anak maupun orang tuanya. Dan itu tentu saja kurang bermanfaat. Hal penting yang perlu kita pikirkan adalah pemahaman bahwa anak kita berbeda, sebagaimana anak-anak lain juga berbeda, karena tidak ada seorang pun di dunia ini yang sama. Kemudian mencermati dan mendiskusikan apa kebutuhan khusus yang dimiliki anak dan bagaimana memberikannya supaya mereka tetap dapat belajar seoptimal yang dapat mereka lakukan. Ingat, setiap anak berbeda, baik kemampuan, emosi, perilaku, gaya belajarnya, dan lain-lain. Dan tugas kita adalah memikirkan bantuan yang kita berikan agar sesuai dengan kondisi mereka. n

37 3/21/11 4:39 PM


SOSOK

K

Basuki “ Sahabat M

ERAP kita menemukan orangorang luar biasa di sudut-sudut kota, di pelosok daerah-daerah terpencil, di desa-desa miskin, atau bisa juga di jalanan. Di pinggiran Semarang, misalnya, kita akan menemukan satu sosok tunanetra yang luar biasa. Dialah Basuki. Lelaki 38 tahun ini mulai menjalani kehidupan sebagai tunanetra di usia dewasa, tepatnya saat usia 28 tahun. Saat itulah ia divonis buta karena salah satu syaraf penting di retina matanya terputus. Tak ada kejadian dramatis seperti di sinetronsinetron yang menjadi penyebabnya. Tiba tiba saja penglihatannya lenyap. Dunia mendadak diselimuti kegelapan. Operasi syaraf yang dijalani Basuki hanya membuahkan hasil semu sesaat. Setelah operasi, penglihatannya 20 persen pulih, bisa melihat sejauh 2-3 meter meski serba samar dan tak jelas. Namun kondisi itu beberapa saat saja dirasakan Basuki. Setelahnya dunia Basuki kembali sepenuhnya gelap gulita. Istrinya yang setia, Eva, juga merasakan dunia jadi gelap dalam hidupnya. Sejak disunting Basuki, Eva adalah istri yang dimanjakan suami, terbentuk untuk selalu bergantung pada suaminya. Lantas dunia pun jadi jungkir balik ketika suaminya tak bisa berbuat apa-apa

38 Edisi 04 April ok.indd 38

karena menjadi tunanetra. Dalam sekejap keadaan berbalik drastis. “Tadinya bahkan nyebrang jalan saja saya selalu digandeng suami, sampai rasanya tak berani nyebrang sendiri. Lalu dalam sekejap saya tidak hanya harus bisa nyebrang sendiri, tapi juga harus menuntun suami yang benar-benar tak bisa lagi nyebrang jalan sendiri,” tutur Eva mengenang masa-masa dunia jungkir balik itu.

Berbulan-bulan, mungkin 12 atau 15 bulan, Basuki terpukul dan tak berbuat apa-apa. Ia menarik diri dari dunia dan mendekam di kamar tanpa berbuat apa pun. Ia menolak bertemu dengan semua teman, sahabat, dan sanak famili. “Saya ketakutan, saya tak berani menghadapi apa pun. Tak berani menjalani hidup dalam kegelapan. Semua itu membuat saya mengunci diri di kamar selama berbulanbulan. Saya tak melakukan apa-apa. Saya jadi manusia kalong, tidak tidur semalaman lalu tidur sepanjang

hari….” Tutur Basuki sambil tersenyum. Satu-satunya hiburan yang masih bisa dinikmati Basuki pada masa kegelapan hidup itu adalah radio. Ya, hanya radio yang menjadi temannya melewati malam-malam panjang dalam kegelapan total itu. Menjadi buta pada usia dewasa jelas tak pernah terbayangkan olehnya. Semua manusia bermata awas di muka bumi ini mungkin tak satu pun pernah membayangkan peristiwa yang dialami Basuki. Dari sehat wal afiat mendadak menjadi tunanetra. Dunia warna-warni yang indah seketika menjadi dunia gelap semata. Hanya suara-suara yang mengisi dunianya. Suara istrinya, suara tawa dan tangis ketiga anaknya, suara hiruk-pikuk kendaraan yang melintas, suara radio, dan suara-suara apa saja. Masa-masa keterpurukan itu sudah dapat diatasinya kini. Dan radio lalu menjadi pilihan bagi Basuki untuk berbuat sesuatu bagi sesama tunanetra yang ditampungnya untuk bersama-sama bangkit dari keterpurukkan hidup. Basuki mendirikan radio komunitas Sama FM atau Sahabat Mata FM. “Sama FM berdiri bulan Agustus 2010 sebagai upaya Sahabat Mata untuk membangun kepercayaan diri teman-teman tunanetra. Karena, yang paling penting untuk membuat tunenetra dan penyandang cacat lain bisa bangkit dan maju adalah adanya kepercayaan diri. Berbagai upaya EDISI EDISI 04-APRIL 04-APRIL 2011 2011

Foto-foto: FX Rudy Gunawan

S

diffa 3/21/11 4:39 PM


Foto-foto: FX Rudy Gunawan

t Mata�

yang kami lakukan di organisasi Sahabat Mata adalah dalam rangka menumbuhkan dan membangun kepercayaan diri,� jelas Basuki. Sudah puluhan tunanetra bergabung bersama Sahabat Mata. Mereka diarahkan dan dididik sesuai minat dan bakat masing-masing. Ada yang menjadi penyiar, ada yang menjadi operator, ada yang belajar servis komputer, membuat kerajinan dan suvenir, dan ada juga yang belajar dan memperdalam pijat. Basuki mendapatkan penghasilan untuk menafkahi keluarga dan

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 39

organisasinya dari usaha servis komputer yang kini sudah dibantu salah seorang anaknya. Setiap hari Sama FM siaran selama sekitar delapan jam dengan materi siaran yang memberikan banyak manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Materi siaran terutama adalah pendidikan, termasuk pendidikan agama. Manfaat langsung yang didapat para pendengar Sama FM sangat konkret. Sebut misalnya siaran “Guru Ajar� yang mengundang seorang guru sekolah siaran

membahas materi pelajaran sekolah secara interaktif. Para orang tua murid dan murid bisa langsung bertanya tentang kesulitan-kesulitan pelajaran yang mereka alami. Dengan cara ini, Basuki melalui organisasi Sahabat Mata tidak hanya berhasil membangun kepercayaan diri para tunanetra, tapi juga sekaligus berperan bagi masyarakat sekitarnya. Dan semuanya dilakukan Basuki secara independen, tanpa bergantung pada donatur atau bantuan pihak lain. n Fx Rudy Gunawan

39 3/21/11 4:39 PM


R

RUANG HATI

Ibu Farida yang terhormat, Saya Ammie. Saya memiliki anak berusia 9 tahun yang didiagnosis mengalami autistik. Namanya Yoga. Sebagai anak dengan autistik, Yoga memang memiliki kecenderungan untuk menyendiri. Apakah hal ini akan berlangsung terus hingga dia dewasa nanti? Apakah orang dewasa dengan autistik dapat membina hubungan pribadi? Pacaran, misalnya? Sebagai orang tua, saya menginginkan Yoga bisa hidup senormal mungkin, maksud saya, kehidupan sosialnya. Apa yang harus saya lakukan agar kelak dia bisa memiliki kehidupan sosal yang lebih baik? Mohon penjelasan Ibu Farida. Ibu Ammie yang baik. Salam kenal. Semoga Ibu dan keluarga selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebelum membicarakan lebih lanjut pertanyaan Ibu, ada baiknya terlebih dahulu kita memahami halhal seputar definisi Autistic Spectrum Disorder (ASD) dan karakteristik dari seseorang yang dinyatakan menyandang autisme. Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) edisi ke IV, semacam panduan berisi kriteria untuk menggolongkan gangguan mental (mental

40 Edisi 04 April ok.indd 40

disorders), penyandang ASD memiliki tiga golongan besar masalah, yaitu gangguan interaksi, gangguan komunikasi, dan gangguan perilaku. Autistik dengan gangguan interaksi mengakibatkan individu mengalami kesulitan dalam melakukan interaksi sosial. Ia lebih senang menyendiri dan enggan atau bahkan menolak untuk secara aktif menjalin hubungan sosial, misalnya menyapa atau berbasa-basi dengan orang. Kurangnya kemampuan untuk berempati dan memahami sudut pandang orang lain membuat ia semakin sulit untuk memberikan respons atau berperilaku sesuai dengan harapan orang-orang di sekitarnya. Pada individu autistik yang juga memiliki sensory abnormalities, misalnya memiliki sensitivitas tinggi terhadap suara/ kondisi yang berisik, berada di antara sekumpulan orang yang sedang berbincang hanya akan mendatangkan perasaan tidak nyaman. Mereka cenderung menghindari situasi ramai atau berisik semacam ini. Penyandang autistis dengan gangguan komunikasi akan mengalami kesulitan dalam mengekspresikan diri dengan baik. Bahkan ada yang cenderung membeo ucapan orang lain atau malah tidak mampu berbicara sama sekali. Penyandang autistik dengan gangguan perilaku ditandai dengan kebiasaan melakukan perbuatan yang stereotipe dan repetitif atau perilaku khas tertentu yang dilakukan berulang-ulang. Misalnya mengepakkan tangan dan melompat-lompat. Bisa terokupasi atau terpaku secara tidak wajar dalam waktu yang lama dan terus-menerus pada bagian tertentu dari suatu benda. Kembali pada definisi ASD di atas, sebagai suatu spektrum, terdapat perbedaan individual yang tinggi EDISI 04-APRIL 2011

Ilustrator: didot purnomo

Melatih Anak Autis Berinteraksi Sosial

diffa 3/21/11 4:39 PM


Ilustrator: didot purnomo

antara penyandang autistik yang satu dengan yang lain. Dari individu dengan gangguan yang berat pada satu, dua, atau ketiga jenis di atas, hingga individu dengan masalah ringan pada salah satu kriteria tersebut. Nah, menjawab pertanyaan Ibu tentang “kecenderungan� Yoga untuk menyendiri, berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan hal itu akan berlangsung terus hingga ia dewasa. Sejauh mana ia akan mampu menjalin hubungan pribadi, misalnya berpacaran, dipengaruhi oleh seberapa besar gangguan yang dialami Yoga pada ketiga kriteria di atas. Individu dengan autistik yang tergolong high functioning autistic memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mampu mengekspresikan emosi dan pikirannya serta belajar mengenal emosi dan keinginan orang lain. Hal ini mungkin, jika individu tersebut memiliki tingkat inteligensi yang lebih baik. Hal ini memudahkan ia belajar halhal baru, bekerja sama dalam menjalani proses pembelajaran dan bantuan yang diberikan oleh orang di sekitarnya. Ia akan lebih mampu menjalin hubungan sosial dengan orang yang lebih banyak, yang berasal dari kalangan berbeda dan dalam kualitas lebih intim atau pribadi. Keinginan Ibu Ammie membantu Yoga agar ia dapat memiliki kehidupan sosial yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari sangat mulia. Untuk mencapai hasil yang maksimal, ada baiknya Ibu berkonsultasi dan berkolaborasi dengan pihak-pihak lain seperti guru, psikolog, terapis, dokter, dan anggota keluarga yang lain. Amat penting untuk mengetahui kemampuan dan kekurangan Yoga pada aspek kecerdasan, emosi, sosial, fisik, dan yang lain. Di samping semua hal tersebut, masih ada aspek lain yang Ibu juga perlu ketahui. Pertama, ada-tidaknya masalah perilaku pada Yoga. Kedua, cara belajar terbaik untuk Yoga. Apakah auditif (belajar dengan bantuan suara) ataukah visual (belajar dengan melihat), atau kinestetik (belajar dengan menggunakan sensasi tubuh, misalnya dengan meraba)? Ketiga, hal atau aktivitas spesifik apa yang disukai Yoga? Berdasarkan pengetahuan yang lengkap pada aspek-aspek tersebut, Ibu bersama

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 41

Farida Kurniawati Yusuf

Psikolog anak, termasuk anak dengan kebutuhan khusus. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Master’s Degree Pendidikan Inklusif di Universitas Meulborne, Australia. Program Doctorate, Fakultas Behavioural and Social Sciences, Universitas Groningen, Belanda.

ahli yang mendampingi bisa menyusun program yang matang untuk membantu perkembangan Yoga. Program tersebut bisa berisi pengembangan pada aspek akademik, yang meliputi kemampuan baca, tulis, dan berhitung, serta kemampuan non-akademik, misalnya kemampuan melakukan interaksi sosial. Semakin dini dan baik program tersebut dijalankan, hasilnya akan semakin baik. Menjaga komunikasi yang baik dengan pihakpihak yang mendampingi perkembangan Yoga akan memudahkan Ibu dalam mendapatkan masukan atau dukungan serta merencanakan program sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan Yoga. Menurut teori, secara umum perkembangan sosial penyandang autistik usia kanak-kanak pertengahan, yaitu sekitar umur 9 - 12 tahun, ditandai dengan timbulnya ketertarikan yang cukup besar untuk menjalin hubungan dengan teman sebaya, lelaki dan perempuan. Namun biasanya ia amat canggung, kurang kontak mata, sulit berbasa-basi, dan cenderung memaksakan suatu topik pembicaraan yang sering kali kurang diminati oleh orang lain. Berdasarkan hal ini, memberinya kesempatan untuk mengeksplorasi dunia luar menjadi hal yang utama. Hal ini bisa dilakukan secara langsung, yaitu mempertemukannya dengan banyak orang, atau dilakukan secara tidak langsung, yaitu melalui media elektronik, media cerita, dongeng, dan sebagainya. Ibu bisa mengajak Yoga hadir pada acara keluarga atau ke tempat-tempat umum. Mengikuti kegiatan yang disukainya pada suatu sanggar juga dapat

41 3/21/11 4:39 PM


memberikannya pengalaman baru. Hal lain yang tidak kalah penting adalah memilihkan sekolah yang tepat untuknya, dalam arti ia merasa diterima dan diperlakukan dengan baik oleh guru dan teman-temannya. Sekolah yang memahami kebutuhan Yoga akan menyusun program yang memberinya kesempatan untuk berinteraksi dan berkomunikasi, baik melalui materi pengajaran maupun metode pengajaran. Dengan begitu akan terjalin kesinambungan pembelajaran antara rumah dan sekolah. Selain itu, sikap dan konsistensi pola asuh memegang peranan yang besar. Adanya penerimaan yang tulus dari orang tua atas kondisi Yoga dan kemauan orang tua untuk memberikan contoh perilaku yang baik dan mudah dipelajari Yoga merupakan kekuatan yang harus ada dalam keluarga. Libatkan selalu Yoga dalam kegiatan keluarg. Berikan penjelasan yang lebih konkret dan berulang-ulang agar ia mampu mengikuti hal yang sedang terjadi. Jangan biarkan Yoga hanya asyik dengan kegiatannya dalam waktu lama. Segeralah libatkan diri, dan pancinglah ia untuk berbicara. Manfaatkan hal yang disukai Yoga sebagai hadiah atas perilaku atau prestasi yang dicapainya. Cerita-cerita yang bersifat sosial (social stories) juga terbukti mampu meningkatkan kemampuan penyandang autistik untuk “membaca” situasi sosial tertentu dan mendapatkan keterampilan baru untuk menanggapinya. Misalkan cerita tentang berkenalan dengan orang baru. Cerita memuat hal-hal apa saja yang dilakukan pada saat bertemu orang baru, misalnya mengulurkan tangan, tersenyum, mengucapkan salam, dan seterusnya. Ibu bisa juga menunjukkan gambar anak yang sedang mengeluarkan air mata dalam cerita yang lain. Lalu mintalah Yoga memilih apa yang harus ia lakukan kepada anak yang sedang menangis tersebut dengan memilih salah satu dari jawaban yang telah Ibu siapkan. Misalnya a) memberikan tisu/sapu tangan, b) mengusap matanya dengan tangan, c) diam saja. Setelah selesai, berilah penjelasan lebih lanjut mengenai cerita tersebut dan doronglah ia untuk menanggapinya. Banyak cerita lain yang lebih menarik yang Ibu bisa buat. Atau, manfaatkanlah kejadian sehari-hari yang dialami Yoga. Untuk mendapatkan saran-saran yang lebih spesifik lainnya, Ibu dapat berkonsultasi lebih lanjut dengan psikolog atau ahli perkembangan anak berkebutuhan khusus. Semoga bermanfaat n Salam manis.

42 Edisi 04 April ok.indd 42

Pidato Raja G

Film : King’s Speech Pemain : Collin Firth, Geoffrey Rush, Helena Bonham Carter Sutradara : Tom Hooper

P

RESIDEN Yudhoyono tak diragukan kemampuan pidatonya. Mulai dari retorika, intonasi, mimik, gestur, sorot mata, dan ekspresi lainnya, semua oke. Kalau tak salah, SBY bahkan berhasil menyabet sebuah penghargaan khusus dari Hong Kong di bidang cuap-cuap di depan publik ini beberapa waktu lalu. Lazimnya, kemampuan cuapcuap di depan publik memang menjadi salah satu syarat penting bagi siapa pun yang ingin menjadi pemimpin. Sayangnya, kerap terjadi salah kaprah di masyarakat kita. Dari “salah satu syarat” bisa salah kaprah, terpeleset, atau tergelincir jadi “satusatunya syarat”. Atau menjadi syarat utama. Dalam kesalahkaprahan inilah kita bisa belajar banyak untuk mengoreksinya lewat film King’s Speech yang baru saja memenangi sejumlah penghargaan dalam ajang Academy Award. Mulai dari film terbaik, aktor terbaik, sutradara terbaik, hingga skenario terbaik. Diangkat dari kisah nyata kerajaan Inggris zaman Raja George III yang sudah sakit-sakitan dan harus segera mewariskan tahtanya, film ini membuktikan bahwa seorang putra mahkota gagap pun bisa menjadi raja yang bijaksana. Raja yang mampu mempersatukan

EDISI 04-APRIL 04-APRIL 2011 2011 EDISI

diffa 3/21/11 4:39 PM


APRESIASI

A

a Gagap Pemersatu Bangsa bangsanya saat krisis menjelang Perang Dunia I, ketika Hitler mulai ekspansi kekuasaan keluar dari Jerman. Collin Firth yang berperan sebagai putra kedua sang raja, mengidap penyakit gagap sejak kecil. Telah begitu banyak upaya terapi dilakukan ternyata tak membuahkan hasil. Istrinya, diperankan Helena Bonham Carter, tak putus asa sampai menemukan seorang terapis warga Inggris asal Australia yang eksentrik dan tak peduli tata krama kerajaan. Beberapa kali sang putra raja yang gagap ini harus tampil untuk berpidato di depan publik dan disiarkan langsung lewat radio. Yang terjadi sungguh mengenaskan dan mengiris hati semua orang yang mendengarkan. Tak ada satu kalimat pun yang bisa diucapkan dengan baik, apalagi lancar. Masalah muncul setelah ayahanda raja berpulang dan tahta kemudian diwariskan kepada anak pertama yang ternyata memilih melepaskan tahta itu demi cintanya kepada seorang janda dan kesukaannya berpesta-pora. Ia memang tak ingin dan tak pantas menjadi seorang raja. Karena sang raja hanya punya dua putra mahkota, otomatis ketika putra mahkota pertama melepaskan tahta secara sukarela, sang putra mahkota gagap yang harus menjadi raja baru. Dunia seakan runtuh di mata sang putra mahkota gagap ini. Sama seperti kebanyakan orang, ia pun beranggapan tak mungkin seorang gagap bisa menjadi raja. Namun, dengan dukungan istri dan orang-orang dekat yang tahu bahwa di luar kegagapannya, ia adalah orang bijaksana, pintar, memiliki jiwa pemimpin, dan berwibawa, tekad pun dibulatkan. Sang putra mahkota gagap bersedia menjadi raja. Berkat bantuan terapis nyentrik yang memang tulus membantunya, sang raja pun mengalami banyak kemajuan dan bisa berbicara lebih baik, meski tetap dengan susah payah. Dan ternyata ia mampu mengatasi kegagapannya ketika harus menyampaikan pidato-pidato penting kerajaan terkait situasi politik yang genting gara-gara ulah Hitler. Dengan didampingi terus oleh sang terapis, EDISI 04-APRIL 04-APRIL 2011 2011 diffa EDISI

Edisi 04 April ok.indd 43

pidato-pidato sang raja berhasil disampaikan dengan baik dan berdampak besar dalam mempersatukan bangsa dan mengobarkan semangat perjuangan rakyat. Jadi, yang penting adalah isinya, bukan kemasannya. Mau berpidato sehebat apa pun seorang pemimpin, jika tak ada bukti dari ucapannya, hasilnya tentu sia-sia belaka n Fx Rudy Gunawan

43 3/21/11 4:39 PM


B

BINGKAI BISNIS

Daur Ulang Sampah P

Foto: ilmci.com

kehilangan gengsi, ada solusi lain dari bisnis sampah. Jadilah produsen tas dari sampah plastik yang tak bisa di daur ulang. Contoh sukses pengolahan sampah plastik menjadi tas yang modis dan keren antara lain bisa kita dapatkan dari Nurhayati, seorang ibu rumah tangga di Pati, Jawa Tengah. Tas produksi Nurhayati berbahan sampah sachet plastik bekas apa saja yang dipilah berdasarkan pola dan warna, kemudian dipadukan dalam satu desain yang indah dan

P

ELUANG bisnis sebenarnya selalu ada di depan kita. Namun, , untuk menemukannya diperlukan kejelian insting bisnis, dan tentu saja kreativitas. Salah satu contoh adalah peluang bisnis pemanfaatan dan pengolahan sampah. Ya, sampah yang setiap hari kita hasilkan dan kita buang begitu saja sampai memenuhi tong sampah di rumah. Selain turut berkontribusi menyelesaikan masalah sampah, bisnis pengolahan dan pemanfaatan sampah juga terbukti memiliki peluang cukup besar bagi siapa saja yang mau menekuninya. Pertama-tama tentu kita harus mengesampingkan urusan gengsi, karena bisnis sampah dianggap rendah, jorok, dan bahkan memalukan. Padahal, yang lebih memalukan adalah bisnis kotor para pejabat yang menyalahgunakan kuasa. Bisnis sampah adalah halal dan sama sekali tidak perlu membuat pelakunya malu. Bahkan, seorang kepala sekolah di pinggiran Jakarta pun tak malu menjadi pemulung sampah sebagai bisnis sampingan untuk menutup kekurangan gajinya sebagai guru dan kepala sekolah. Dan dengan bisnis itu dia bisa hidup cukup.

Tas Limbah Plastik Jika menjadi pemulung masih membuat Anda

44 Edisi 04 April ok.indd 44

menarik. Caranya cukup dengan memilah-milah sampah plastik hingga terlihat sendiri paduan warna dan pola yang menarik. Setelah itu baru diterapkan pada kain dan kemudian dijahit sesuai model yang diinginkan atau model yang sedang tren. Jadilah tas plastik keren produksi Nurhayati. Bagaimana pemasarannya? Nurhayati tidak melakukan strategi khusus. Dia berjualan secara tradisional saja, cukup dari mulut tetangga ke tetangga lainnya, dari satu pelanggan ke pelanggan lain. Harga tas produksinya juga tak mahal, mulai dari 5.000 rupiah untuk ukuran dompet sampai di atas 15.000 rupiah untuk tas ukuran besar. Dari bisnis ini Nurhayati bisa menghidupi keluarga dan mempekerjakan dua karyawan.

Produk Lain Selain tas dari sampah plastik, masih banyak bentuk lain yang bisa diproduksi dari bahan sampah plastik ini. Asal mau kreatif, kita bisa membuat produk lain seperti kotak tisu, hiasan dinding berupa lukisan plastik, tempat pensil, atau pernik-pernik lain yang bahan dasarnya tetap memanfaatkan dan mengolah sampah plastik. Bayangkan saja sebuah lukisan plastik yang dibingkai sederhana akan menjadi penghias rumah yang menarik.

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:39 PM


Apalagi bila kita kreatif mendesain dan merangkainya. Tidak perlu modal apa pun untuk memulai bisnis ini. Cukup mulai dengan mengumpulkan dan mengakrabi. Mulai dengan mengumpulkan sampah di rumah sendiri, lalu di rumah tetangga, rumah saudara, hingga rumah teman. Sampah plastik sangat banyak tersedia di setiap rumah, jadi pasti tidak sulit mendapatkannya. Setelah terkumpul, mulailah dengan membuat sebuah tas. Selanjutnya, tawarkan kepada teman, kerabat, atau tetangga. Cukup dengan begitu, Anda sudah mulai menjadi pengusaha pemanfaatan dan pengolahan sampah plastik. n

tashfiyati.blogspot.com

Fx Rudy Gunawan

nanda-greentheearth.blogspot.com

h Plastik

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 45

45 3/21/11 4:39 PM


P

PIRANTI

Mainan Sederhan Lina Kurnia Dewi

S

EMUA anak suka dengan mainan. Mainan bisa dikatakan sebagai salah satu kebutuhan pokok anak-anak. Manfaat segala macam bentuk mainan pun sangat besar untuk perkembangan kognitif mereka, baik yang positif maupun negatif. Saat ini mainan yang beredar sangat bervariasi jenis, model, bahan, dan kegunaannya. Namun, untuk anak-anak yang menyandang autistik, mainan yang diberikan harus disesuaikan dengan kebutuhan tahapan perkembangannya. Biasanya mainan untuk anak autis adalah yang dapat merangsang syaraf motorik halus yang terdapat di permukaan kulit. Mainan tersebut dapat membantu dalam melatih konsentrasi, logika, motorik halus, pengenalan warna, pendengaran, dan lain-lain. Intinya, mainan

46 46 Edisi 04 April ok.indd 46

Foto: Vivanews.com

mediaindonesia.com

足足足

tersebut dapat merangsang anak untuk, antara lain: l Belajar berkonsentrasi l Mengikuti perintah / belajar berkomunikasi l Memahami kata l Mendengarkan l Mengenali warna Selama melakukan permainan, anak didampingi orang tua dengan memberikan instruksi-instruksi. Mainan edukatif ini dapat dibeli dengan mudah, karena mainan sejenis ini banyak dijual di pasar. Harganya pun bervariasi, namun masih bisa dijangkau, meski untuk kalangan masyarakat ekonomi bawah mungkin harganya masih terbilang mahal. Mainan anak zaman sekarang berbeda dari mainan anak zaman dulu, sama halnya mainan di kota berbeda dari mainan di desa. Mainan di kota cenderung bersifat atau berkaitan dengan tren, instan,

diffa diffa

EDISI EDISI04-APRIL 04-APRIL2011 2011

3/21/11 4:39 PM


Foto: Vivanews.com

ana untuk Anak Autis

monoton, dan praktis. Sedangkan jenis mainan di desa masih menggunakan bahan-bahan dari lingkungan sekitar, seperti pelepah pisang, karet gelang, gundu, dan batu. Faktanya, justru anak penyandang autis lebih banyak berdomisili di kota. Anak-anak di kota lebih berjarak dengan alam. Anak-anak yang tinggal di kota harus meluangkan waktu, tenaga, dan uang yang tak sedikit untuk bisa berinteraksi dengan alam. Banyak mainan yang mudah kita dapatkan di lingkungan rumah dan manfaatnya jauh lebih besar bagi perkembangan kognitif anak autis tanpa harus meluangkan waktu, tenaga, dan uang lebih. Mainan tersebut antara lain: Butiran kancing, butiran manik warna-warni berbagai bentuk. Caranya: bermain dengan melatih anak meronce butiran kancing 04-APRIL 2011 diffa EDISI 04-APRIL 2011 diffaEDISI

Edisi 04 April ok.indd 47

(besar, sedang, kecil), butiran manik warna-warni, manik berbagai bentuk (bintang, bola, kotak, segitiga, dan lain-lain). Benda-benda di kamar tidur. Caranya: bermain dengan melatih anak membersihkan tempat tidur dan kamarnya. Pakaian sehari-hari. Caranya: melatih anak menyimpan baju kotor ke tempatnya, mengajari mencuci bajunya sendiri. Benda-benda di kamar mandi. Caranya: bermain sambil melatih anak mandi sendiri (menyabun badan, keramas menggunakan sampo, menggosok gigi, dan sebagainya). Berbagai alat rumah tangga. Caranya: melatih anak dengan perintah-perintah kecil, seperti mengambil air di gelas, mengambil sayur di kulkas, atau mengambil botol susu. Membiasakan mereka dengan melakukan perintah kecil, melatih mereka mengingat dan belajar melatih otot pergelangan tangan serta syaraf motorik halusnya. Peralatan di dapur. Caranya: melakukan kegiatan di dapur seperti mengupas bawang putih, memotong tahu dengan pisau plastik, memetik sayuran, mengaduk adonan puding, membuat susu, atau membuat olesan roti. Benda-benda di halaman. Caranya: mengajak menyiram tanaman, menanam pohon,

mencabut rumput, menggosok lantai, membuang sampah pada tempatnya, menyimpan bekas mainan, dan lain-lain. Pemutar musik dan film. Caranya: mendengarkan musik dan mengajak berjoget, menonton film sambil memperagakan tokoh di dalam film. Alat tulis, buku tulis. Caranya: mengajar menulis, mencorat-coret buku, dan lain-lain. Memakai baju, menyisir rambut, memegang gelas, piring, sendok garpu, dan kegiatan sederhana lainnya. Masih banyak lagi kegiatan di rumah yang dapat kita terapkan untuk melatih perkembangan kognitif mereka. Libatkan anak autis dalam kegiatan kebutuhan mereka sehari-hari. Bahkan, sebenarnya tidak terbatas jam dan waktu untuk mereka belajar sesuatu dan sebagai proses terapi mereka. Kini banyak anak penyandang autistik, dan biaya terapi mahal, memberikan pelatihan sendiri di rumah sambil bermainmain akan sangat bermanfaat dan lebih murah. Terutama bagi orang tua yang tinggal di daerah dan sulit mendapatkan tempat terapi. Melakukan terapi sendiri, asal dilakukan dengan ketekunan, kegigihan, dan konsistensi yang kuat, pasti akan memberikan hasil luar biasa. Semoga bermanfaat. n

47 47 3/21/11 4:39 PM


B

BUGAR

Makanan Sehat A Autistik adalah gangguan perkembang足 an pada anak yang pervasive (luas dan berat) dan penanganannya melibatkan tim profesional (dokter anak, dokterrehab medis, neurolog,psikiater, dokter spesialis gizi klinik, psikolog, terapis, dan lain-lain). Salah satu terapi yang perlu diberikan kepada anak dengan autistik adalah pemberian makanan yang tepat.

Tri Gunadi OT S.Psi S.Ked Tri Gunadi, dosen Kedokteran Vokasi FK Universitas Indonesia, Dewan Pembina Autism Care Indonesia, dan konsultan berbagai lembaga pendidikan.

48 Edisi 04 April ok.indd 48

Makanan yang Tak Dianjurkan untuk Anak Autis Untuk mencapai perkembangan hasil terapi yang baik, membantu penyerapan informasi yang baik dari hasil terapi anak autis, dibutuhkan otak yang baik. Otak yang baik sangat didukung stimulasi yang dilakukan orang tua. Stimulasi yang harus dilakukan adalah: Memberikan gizi yang baik kepada anak. Memberikan gizi yang lengkap dan terpenuhi dengan baik sesuai porsi kebutuhan anak. Gizi yang terpenuhi dengan baik akan mendukung keberhasilan atau peningkatan hasil terapi. Gizi yang baik tersebut adalah karbohidrat 50%, protein 30%, lemak 10%, dan vitamin mineral 10%.

Memberikan stimulasi gerak yang mengaktifkan otak anak.

Brain games Aktivitas sensori integrasi Brain gym / gerak latih otak/ senam otak Memberikan stimulasi kognitif kepada anak supaya berkembang kemampuan pemahaman, konsep, dan pengetahuannya. Namun, anak autis harus melakukan diet beberapa jenis makanan tertentu, yaitu makanan yang mengandung kasein (susu sapi), mengandung gluten (terigu), mengandung gula, buah yang mengandung fenol tinggi, karena adanya gangguan pencernaan pada anak autis. EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:39 PM


t Anak Autis

(1)

Nutrisi yang Sebaiknya Dihindari Anak Autis

Foto: Adrian Mulja

Secara teori, gangguan pencernaan berkaitan dengan sistem susunan saraf pusat pada anak autis. Teori inilah juga yang dapat menjelaskan tentang salah satu mekanisme terjadinya gangguan perilaku pada anak anak penyandang autistik dikarenakan hipermeabilitas intestinal atau dikenal dengan Leaky Gut Syndrome. Hal ini terjadi akibat kekurangan enzim Dipeptidalpeptidase IV (DPP IV). Pada gangguan pencernaan ternyata menghasilkan zat kaseo morfin dan glutheo morfin (semacam morfin atau neurotransmiter palsu yang didapat dari kasein / susu sapi dan gluten / terigu) yang mengganggu dan merangsang otak. Hal itu disebabkan di dalam usus halus kedua jenis protein tersebut dipecah menjadi fraksi-fraksi molekuler yang kecil yang disebut peptida (gabungan dua asam amino atau lebih). Teori pelepasan opioid (zat semacam opium) ikut berperan dalam proses tersebut. Hal tersebut juga sudah dibuktikan penemuan ahli pada binatang anjing. Setelah dilakukan stimulasi tertentu pada anjing, ternyata didapatkan kadar opioid yang meningkat disertai perubahan perilaku pada binatang tersebut. n (bersambung) Baca lebih dalam tentang makanan sehat untuk anak autis pad dffai edisi Mei 2011.

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 49

49 3/21/11 4:39 PM


diffa SETARA DALAM KEBERAGAMAN

Redaksi PT Diffa Swara Media Jl. Salemba Tengah 39 BB Lt. 2 Jakarta Pusat 12430 Telp. 62 21 44278887 Fax. 62 21 3928562 email: sahabat_diffa@yahoo.com

FORMULIR BERLANGGANAN MAJALAH

Sirkulasi dan Distribusi PT Trubus Media Swadaya Jl Gunung Sahari III/7 Jakarta Pusat 10610 Telepon 62 21 4204402, 4262318 Fax 62 21 4269263

www.majalahdiffa.com

DATA PELANGGAN Nama Lengkap : No. KTP : Laki-laki Perempuan Tanggal Lahir : Alamat sesuai KTP : Kota : Kode Pos : Telp Ktr/Rmh: Hp: E-mail : Ingin berlangganan majalah :

q

6 bulan

q

12 bulan

q

q

Beri tanda pada pilihan

4

ALAMAT PELANGGAN Alamat : Kota : Kode Pos : Telepon :

Pembayaran dapat ditransfer ke Bank BNI cabang Cibinong Nomor Rekening: 0209611833 atas nama FX. Rudy Gunawan NOTE:

Setelah formulir ini diisi, harap di fax, email atau kirim langsung ke redaksi beserta bukti pembayarannya. Harga diatas adalah untuk biaya pengiriman dan hanya berlaku untuk wilayah Jakarta, silahkan hubungi kami untuk pengi足riman di luar Jakarta. Alamat Redaksi Diffa: Jl. Salemba Tengah No. 39 BB Lt. 2 Jakarta Pusat 12430 Telepon 62 21 44278887 Faxs 62 21 3928562

50 Edisi 04 April ok.indd 50

!

* berlangganan 6 bulan, cukup bayar 5 bulan tidak termasuk ongkos kirim ** berlangganan 1 tahun, cukup bayar 10 bulan tidak termasuk ongkos kirim

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:39 PM


BERANDA

K

Etika Membantu Tunanetra

ETIKA bertemu tunanetra yang sedang berjalan sendirian di jalan, mal, atau di tempat-tempat umum lainnya, dan ingin membantunya, apa yang harus kita lakukan dan bagaimana caranya? Pertama, sapalah dia terlebih dahulu. Caranya, sentuhlah lengan atau bahunya, agar ia tahu bahwa Anda sedang berbicara dengannya. Akan lebih baik jika Anda menyebutkan atau memperkenalkan siapa Anda. Misalnya, dengan menyebut nama Anda. Tanyakan “Apa ada yang bisa dibantu?” atau, “Mau ke mana, bisa saya bantu?”. Jika ia bersedia dibantu, misalnya ia mengharapkan Anda mengantarnya ke suatu tempat, yang harus Anda lakukan adalah: Izinkan ia memegang lengan Anda. Bisa lengan kanan atau lengan kiri. Caranya, bisa dengan mengatakan “Silakan pegang lengan saya”. Berjalanlah bersamanya menuju tempat yang ia inginkan, dengan posisi Anda berada satu langkah di depan si tunanetra. Dengan posisi seperti ini, si tunanetra akan dapat merasakan gerak-gerik tubuh Anda jika naik

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 51

B

atau turun tangga, berbelok ke kanan atau ke kiri. Tetaplah berkomunikasi dengan dia, termasuk menginformasikan jika ada halangan atau rintangan yang akan dilewati.

Jika si tunanetra akan duduk, bantulah ke tempat duduk tersebut. Untuk membantu duduk, cukup dengan menyentuhkan tangan si tunanetra ke tempat duduk kursi atau sandaran kursi. Selanjutnya biarkan si tunanetra duduk sendiri. Yang tidak boleh Anda lakukan, dan ini sering terjadi, adalah: l Memandu tunanetra dengan memegang tongkatnya.

Atau, Andalah yang memegang tangan si tunanetra. Cara ini sebenarnya tidak aman atau membahayakan si tunanetra. Dengan memegang tongkatnya atau dengan Anda memegang tangan si tunanetra, ia tidak akan dapat merasakan gerakgerik tubuh Anda. Hal ini berpotensi membuatnya menabrak atau bahkan jatuh. l Membantu tunanetra duduk dengan mendudukkan badannya ke kursi. Hal ini membuat si tunanetra merasa tidak nyaman. Cara membantu tunanetra jika ia akan makan pada suatu acara jamuan: Informasikan makanan apa saja yang disajikan. Tanyakan makanan apa yang ingin ia makan. Posisikan makanan-makanan tersebut di atas piring sesuai posisi jarum jam. Misalnya, nasi di posisi jam 6, daging di jam 12, sayur di jam 3, dan sambal di jam 9. Informasikan seluruh posisi makanan tersebut kepada si tunanetra. Dengan begitu dia dapat makan dengan nyaman dan tidak akan salah dengan langsung menyuap sambal, misalnya. n Aria Indrawati

51 3/21/11 4:39 PM


P

PUISI

Apalah Artiku Bagimu? Wijaya Apalah artiku bagimu? Ku hanya penyair buta Yang tak mengenal jutaan kata Namun aku punya cinta Cinta kepada alam semesta Apalah artiku bagimu? Ku tak mampu menghiburmu Burung pun tak ingin menyanyi Hingga hari terasa sunyi Apalah artiku bagimu? Sudahlah, ku tak perlu air mata! Aku benci air mata! Karenaku telah lama tenggelam di sana

* Wijaya penyandang tunanetra, lahir di Jakarta, 26 Januari 1990. Kini kuliah pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sayangkah Kau Padaku? Wijaya Kau tak izinkan aku menatap indahnya pelangi Kau tak izinkan aku bermain mata dengan kupu-kupu Kau pun tak izinkan aku bermain warna kehidupan Hingga rembulan pun marah, karena wajahnya tak pernah kutatap Apa yang Kau mau dariku? Mengapa Kau tak mengizinkan itu semua? Mengapa??? Mengapa...!!! Apakah Kau sayang padaku? Hingga Kau hanya izinkan aku menatap wajahMu Namun, apakah Kau izinkan aku untuk menatap wajahMu selamanya?

Catatan Redaksi: Khusus untuk karya puisi, cerpen dan cerita humor (cermor), Redaksi diffa mengutamakan karya penyandang disabilitas. Karena itu setiap pengiriman karya harap disertai identitas diri dan keterangan disabilitas.

52 Edisi 04 April ok.indd 52

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:39 PM


Ayam Goreng

Suatu saat, awal kerja di kantor baru, saya makan siang bersama beberapa teman dari departemen yang sama serta beberapa sekretaris dan karyawan dari divisi lain. Sejak sebelum pesanan makanan datang teman-teman terlibat percakapan ramai tentang berbagai topik. Salah satu topik akhir adalah awal mula penyebab kebutaan saya. Riuh rendah pembicaraan itu perlahan mereda setelah pesanan makanan. Tiap orang sibuk dengan hidangan sambil menyimak cerita saya, yang juga bercerita sambil makan. Ketika saya memegang ayam goreng yang akan saya masukkan mulut, salah seorang dari mereka bertanya, “Apa lo tahu apa yang lo makan?” “Ayam goreng,” jawab saya. “Kok tahu?” tanyanya lagi. Saya jawab, “Ya, tahulah. Saya hanya buta kan, tapi bukan bego.” n

Nama Saya Iwa

Agustus 2008, saya mengikuti seminar tentang ketenagakerjaan bagi penyandang disabilitas yang sudah bekerja atau magang bekerja. Seminar ini diikuti penyandang disabilitas dari berbagai kedisabilitasan dan profesi. Sebelumnya saya penasaran, bagaimana atau bisakah tunanetra bercakap-cakap dengan tunarungu. Dalam seminar itu saya mendapat kesempatan mencari jawaban atas pertanyaan itu. Saya berkenalan dengan Maliki, seorang tunarungu yang baik dan senang membantu

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 53

teman-teman disabilitas lain. Maliki masih memiliki kemampuan mendengar walau sedikit. Dalam berkomunikasi dia juga mengandalkan kemampuannya membaca gerakan bibir lawan bicaranya. Dalam satu kesempatan, saya dan beberapa teman yang tunanetra berbincang-bincang dengan Maliki. Kami duduk berjajar di hadapan Maliki agar dia lebih mudah membaca gerakan bibir kami. Ya, jadi mirip sidang skripsi gitulah. Karena Maliki masih memiliki kemampuan mendengar, jadi kami bicara dengan suara lantang. Kami bercakap-cakap dengan seru walau topik percakapannya sederhana saja. Maliki kemudian bercerita tentang temannya yang bekerja di pabrik kardus. Teman di sebelah kiri saya rupanya ingin membantu Maliki mengulangi ceritanya. Ia menghadapkan wajah ke saya dan dengan suara yang  keras mengulangi. “Mas Iwa, temannya Maliki bekerja di pabrik kardus!” Suara itu begitu keras, seolaholah saya berjarak 10 meter  darinya. Tampaknya teman saya yang tunanetra terhanyut dalam suasana percakapan seru sehingga dia lupa jika saya tunanetra dan bukan tunarungu. “Vina, saya Iwa, bukan Maliki, jadi bicaranya jangan keraskeraaass….!” jawab saya, menirukan cara dan gaya bicaranya. Dia tertawa terbahak-bahak setelah menyadari. Teman yang lain pun tertawa. n

Bukan Tunanetra

Suatu sore seorang mahasiswa tunanetra menumpang kendaraan umum, pulang dari pekerjaan sampingannya sebagai guru les bahasa Inggris. Saat menarik ongkos dari penumpang, kondektur tidak meminta, melewati saja mahasiswa

C

tunanetra ini. Sang mahasiswa tunanetra, yang merasa wajib menjaga nama baik dan harga dirinya serta penyandang disabilitas lain, ngotot membayar ongkos sebagaimana penumpang lain. Walau sang kondektur menolak, berkeras membebaskan ongkosnya, sang mahasiswa tunanetra tetap memaksa membayar dengan gigih. Akhirnya sang kondektur mengalah dan

menerima beberapa lembar uang kertas dari sang mahasiswa. Saat hendak turun, sang kondektur membantu si mahasiswa turun dari kendaraan. Sebelum kendaraan kembali melaju, sang kondektur mengembalikan uang kertas yang tadi diterimanya ke kantong kemeja sang mahasiswa. Sejenak mahasiswa tersebut terkejut dan terkesima. Ia tak mungkin lagi berkeras membayar, karena kendaraan sudah melaju. Saat terdiam itulah bahunya ditepuk. “Nggak apa-apa kok, Dik, diterima aja,” terdengar suara seorang ibu yang tampaknya berusaha menghibur kegundahan si mahasiswa. “Suami saya juga sering diperlakukan seperti itu.” Spontan sang mahasiswa tunanetra bertanya, “Suami ibu tunanetra juga?” Si ibu menjawab santai, “Bukan, suami saya polisi....” n

Ilustrasi: Didi Purnomo

Ilustrasi: Didi Purnomo

CERMOR

* Irawan Mulyanto, 36 tahun, tunanetra kelahiran Bogor, Jawa Barat. Kini bekerja di Metro TV. 

53 3/21/11 4:39 PM


C

CERPEN

Secercah Harapan

S

emoga kelak kau bisa mengikuti jejakku, ujarku dalam hati sambil mengusap rambutnya. “Ya sudah, main lagi sana, temantemanmu sudah menunggu.” “Terima kasih, Kak.” “Lain kali kalau lari hati-hati ya, nanti jatuh lagi.” “Iya, Kak.” Bocah itu lari ke arah teman-temannya yang sudah lama menunggu di lapangan. “Terima kasih, Kak!” teriak bocah itu sambil melambaikan tangan. Aku tersenyum. Bima, bocak cilik itu, seorang pemain yang selalu kubangga-banggakan. Larinya cepat bagai kijang. Teknik dribling dan gocekannya lincah dan mengagumkan. Lebih dari itu, semangat bermainnya luar biasa. Kalau kehilangan bola, ia langsung mengejar, seperti tak kenal lelah. Karena itu, sore itu aku menyempatkan melihat dia dan teman-temannya. Itu hari terakhir aku bisa bertemu dengannya. Keesokan paginya aku dan teman-teman harus berangkat ke Brasil untuk menggali ilmu dan memantapkan teknik-teknik permainan sepakbola. Aku menaruh harapan besar kepada Bima kecil itu. Kuharap, ketika aku kembali, permainan bolanya sudah makin hebat. Aku bisa bermain dan membagi ilmu kepadanya dan teman-temanya satu tim. Ketika di bandara, saat akan meninggalkan Tanah Air, tak kusangka Bima kecil berlari ke arahku sambil membawa sebuah bola di tangan kanannya. Decit sepatunya terdengar nyaring ketika mendekat dan melemparkan bolanya ke arahku. “Kak, terima ini!” teriaknya. Aku menangkap bola itu dengan sigap sambil tersenyum. “Kakak bawa bola itu. Kalau kakak kembali ke sini dengan membawa bola itu lagi, Bima janji akan memasukkan bola itu ke gawang kakak.” Aku tersenyum lebar, maju selangkah dan sedikit menjongkok. Dan Bima pun memelukku. “Kakak janji. Berlatih yang rajin, biar kayak Kakak.” Aku tersenyum, mengusap-ngusap punggungnya yang penuh keringat. Aku berdiri dan melepaskan topi

54 Edisi 04 April ok.indd 54

kesayanganku bergambar logo Timnas Indonesia dan memakaikan di kepala bocah itu. “Jaga topi ini baik-baik. Nanti kalau kakak kembali, mungkin sudah tidak mengenali wajahmu lagi. Kakak akan kenal kalau kamu memakai topi ini.” Bima menatapku, lalu mengangguk haru. Wajahnya tampak bangga bercampur haru. Tapi akhirnya perpisahan harus terjadi. Terdengar pengumuman kami harus naik pesawat. Aku mengelus kepala bocah itu, kemudian mengayun langkah meninggalkannya. Ketika aku berbalik sejenak, kuliah ia menatap dengan wajah berat dan sedih. *** Selama lima tahun aku berlatih keras sambil mengikuti kompetisi. Bukan hanya untuk kemampuan diriku sendiri. Bukan hanya demi masa depan sepakbola nasional. Tidak hanya itu. Ada sesuatu yang membuatku selalu bersemangat. Yaitu kembali ke tanah air untuk melihat dan membuktikan janjiku kepada seorang bocah kecil yang mungkin sekarang sudah beranjak remaja. Bima! Bagaimana kabar dia sekarang? Mungkinkah dia sudah menjadi pemain sepakbola yang tangguh? Atau mungkin dia sudah bergabung di timnas usia di bawah 15 tahun? Jawaban pertanyaan itu akan kutemukan sebentar lagi. Pagi ini aku kembali ke tanah air. Kericuhan di bandara dan kesumpekan karena banyak orang yang kurang disiplin, membuat aku tersadar bahwa sudah berada di tanah air. Di sinilah aku lahir. Di sinilah aku pertama kali mengenal si kulit bundar. Ketika tiba di depan gang yang hanya cukup dilewati dua mobil, dengan wajah penuh keringat, aku merasakan bisingnya kendaraan bermotor dan bau busuk sampah di pinggiran gang. Aku harus berjalan kurang lebih 500 meter dari mulut gang. Selama berjalan aku membayangkan sebidang tanah lapang di depan rumahku. Masih hijaukah seperti dulu? Atau… ”Aduh!” Aku tersentak dan mengaduh kesakitan karena kakiku seperti terpukul sesuatu yang cukup keras. Kakiku itu masih sakit, karena sedikit cedera saat beradu

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:39 PM


Ilustrasi: Didi Purnomo

Oleh Rafik Akbar

dengan kaki lawan yang sekeras batu. “Hei, hati-hati, dong! Nggak tahu ya, kaki ini lagi sakit!” “Ma… maaf Mas, saya tidak sengaja. Saya tidak bisa melihat.” “Kalau pake tongkat, hati-hati dong… jangan nusuk sembarangan ke sana-sini!” Orang buta itu berdiri dengan kepala tertunduk dan muka memerah. Aku terdiam sambil menahan rasa sakit di kaki, lalu meneruskan perjalanan. Ketika sampai di depan rumah, aku tak langsung masuk. Aku berdiri memperhatikan tanah lapang itu. Kunikmati aroma di sekitar halaman rumahku. Ternyata tak begitu banyak perubahan. Antara lain banyak pepohonan besar yang sudah ditebang. Tapi itu tak mengurangi suasana asri dan artistik tanah lapang itu. Kulihat dari kejauhan segerombolan anak muda mendekati lapangan. Salah satu dari mereka berjalan menuju tanah lapang sambil men-drible si kulit bundar. Tiba-tiba aku tersentak. Bima! Di mana Bima? EDISI04-APRIL 04-APRIL2011 2011 diffa EDISI

Edisi 04 April ok.indd 55

Kuperhatikan anakanak itu dengan saksama. Tak ada seorang pun yang memakai topi berlogo timnas Indonesia. Di manakah dia? Apakah dia lupa memakai topi yang aku berikan kepadanya? Apakah dia sudah tidak tinggal di sini lagi? Hatiku terus bertanya-tanya. Akhirnya aku memutuskan mendekati anak-anak muda yang berkumpul di pinggir tanah lapang. Tapi sebelum beranjak, aku membuka tas dan mengambil sebuah benda yang selama ini selalu membuatku bersemangat. Benda yang pernah diberikan Bima kecil kepadaku. Kupegang erat si kulit bundar di tangan kananku. Walau lapisan luarnya sudah agak kasar, aku merawatnya dengan baik. Aku membayangkan apa yang pernah dikatakan bocah itu kini jadi kenyataan. Ada yang terasa aneh ketika aku mau menutup pintu pagar. Berkali-kali kututup, namun pagar itu tak pernah bisa rapat. Kuamati engsel pagar. Tampak selembar kertas terjepit pada engsel pagar itu. Kuambil kertas itu. Ketika akan membuang, aku terkejut melihat ada tulisan. Kubaca tulisan itu…. Untuk Kak Ronald…. Segera kubaca barisan kata-kata di atas kertas itu. Beberapa saat aku terpaku, seakan tidak percaya. Rasanya aku begitu terpukul dan sedih. Segera kumasukkan surat itu ke kantong celana dan melangkah mendekati gerombolan anak muda dan bertanya kepada salah seorang dari mereka. “Maaf, kamu kenal Bima? Di mana dia? Apakah dia….?”

55 3/21/11 4:39 PM


Sebelum aku meneruskan pertanyaan, pemuda itu menyela. “Saya tidak kenal Bima. Saya warga baru di sini. Mungkin orang yang duduk di bawah pohon itu kenal.” Aku menoleh ke arah yang ditunjuk dan segera berbalik mendekati pemuda yang duduk di bawah pohon itu. “Maaf, kamu kenal Bima?” Pemuda itu menoleh ke arahku. Memandangi perawakanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan dia pun tersenyum. “Bima? Oh ya, dia….” Sebelum pemuda itu meneruskan kata-katanya terdengar suara benda logam yang dipukul-pukulkan ke aspal. “Nah, itu orangnya…!” Pemuda itu menunjuk ke satu sosok yang membuatku terpaku. Rasanya seperti ada petir yang menyambarku di siang hari itu. Ya, dia menggunakan topi itu. Topi bergambar logo timnas Indonesia. Tapi benarkah dia Bima? Kenapa sekarang dia memakai tongkat putih? Kuperhatikan wajah itu dengan saksama. Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Kaki dan tanganku gemetar. Dia orang buta yang tadi aku marahi di mulut gang. Tanpa sadar bola yang kupegang di tangan kananku terlepas, dan menggelinding tanpa arah. Iya, dia Bima. Dia Bima kecilku yang dulu. Seketika aku teringat isi surat yang dijepitkan di engsel pintu pagar tadi.

Untuk Kak Ronald, Hai, Kak, apa kabar? Selamat datang kembali di tanah air. Gimana rasanya belajar sepakbola di Brasil? Pasti seru, ya Kak. Aku harap Kakak nggak kecewa dengan apa yang akan aku beritahukan melalui surat ini. Semua ini bukan kemauanku, Kak. Kecelakaan lalu lintas membuat kedua bola mataku tak lagi berfungsi. Aku tidak bisa lagi berman bola. Kaki-kakiku telah kaku karena tak lagi terpakai. Mungkin sekarang kakak sudah tidak lagi mengenali wajahku. Tapi topi yang pernah Kakak kasih untukku masih tetap kupakai. Aku rindu pada Kakak. Aku ingin menepati janji bermain sepakbola dengan Kakak. Tapi kini segalanya sudah tidak mungkin. Aku berharap Kakak tetap semangat meraih impianimpian besar Kakak. Aku ingin Kakak menjadi pemain sepakbola terbaik sedunia, walaupun aku tak lagi dapat melihat dan berlatih tanding dengan Kakak. Berlatihlah terus untukku. Raih impian yang pernah kita khayalkan sama-sama. Impian itu tak pernah hilang dari benakku, Kak. Karena, my love only you and ball. Aku tak tahu harus berbicara apa. Kutatap wajah Bima. Ya, dia Bima sahabat kecilku yang dulu. Tapi kenapa harus jadi begini? Gumpalan air turun deras dari kelopak mataku. Turun membasahi pipiku. n * Rafik Akbar, penyandang tunanetra kelahiran Jakarta, 21 tahun lalu. Mahasiswa S1 di Fakultas Pendidikan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sahabat adalah orang yang dapat membantu kita meraih impian. Impian adalah proses yang harus dijalani dan bagaimana kita keluar sebagai pemenang. Menang dalam setiap proses mencapai impian membuat kita benar-benar hidup.

56 Edisi 04 April ok.indd 56

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:39 PM


diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 57

57 3/21/11 4:39 PM


B

BIOGRAFI

O Freunde, nicht diese TĂśne! Sondern laĂ&#x;t uns angenehmere anstimmen und freudenvollere

Ilustrasi: Didi Purnomo

Oh teman-teman, bukan nada-nada seperti ini! Melainkan, marilah kita menaikkan suara bersama (Dengan nada) yang lebih baik dan penuh suka cita (Simphony No. 9 in D Minor)

LUDWIG VAN BEETHOVEN

Komponis Tunarungu yang Dahsyat

L

ARIK lirik di atas adalah salah satu bait dari Simfoni No. 9, komposisi yang diciptakan Beethoven dalam kondisi sudah menjadi tunarungu. Simfoni No. 9 juga merupakan lagu orkestra pertama yang memakai suara manusia, solis dan paduan suara, pada tingkat yang sama dengan instrumen sebuah simfoni. Begitu cintanya komponis besar ini kepada musik, sehingga dalam kondisi yang sudah menjadi penyandang disabilitas pun mampu menciptakan karya yang begitu hebat. Pendengaran adalah hal paling vital dalam profesi bermusik. Namun, kekurangan fisik itu tidak menghalangi Beethoven untuk berkarya. Hal itu menunjukkan tidak ada yang mustahil selama orang yakin dirinya mampu melakukan sesuatu yang dicita-citakan.

58 Edisi 04 April ok.indd 58

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:39 PM


t

Ilustrasi: Didi Purnomo

Johann van Beethoven mendidik Beethoven kecil dengan disiplin dan keras, karena ingin anaknya menjadi komponis hebat seperti Mozart. Gurunya, Christian Gottlob Neefe, juga melihat bakat musik Beethoven dan yakin muridnya itu mampu menjadi Mozart kedua. Ia membantu anak didiknya ini menerbitkan karya pertamanya pada tahun 1783. Awal karier Beethoven dimulai di Wina sebagai pianis virtuoso dan komponis, dengan murid-murid yang mayoritas berasal dari keluarga aristokrat. Pertengahan tahun 1801 Beethoven menyadari daya pendengarannya mulai berkurang akibat otoslerosis. Sebuah surat yang ditemukan di sebuah rumah Beethoven di Heiligenstadt, dekat Wina, yang dikenal sebagai “Warisan Heiligenstadt”, menuturkan betapa sedih Beethoven karena penyakitnya tersebut. Kesedihan itu sangat wajar, karena pada saat itu Beethoven sedang dalam puncak karier. Karena penyakit itu Beethoven menjadi depresi dan minder dalam pergaulan sosial. Beethoven semakin minder dan depresi karena tak berhasil mendapatkan teman hidup. Ia beberapa kali jatuh cinta, tapi cintanya selalu bertepuk sebelah tangan. Wanita-wanita bangsawan yang dicintainya selalu menolak cintanya. Tahun 1802 Beethoven berhasil keluar dari kemuraman. Dia melanjutkan membuat komposisi. Tahun 1803 dia mementaskan Piano Concerto in Eb Major, Op. 37 dan tampil sebagai solois. Pada tahun yang sama Beethoven juga

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 59

memainkan Violin Sonata, Op. 47 karyanya, dengan violinis virtuoso George Polgreen Bridgetower (17991860) dan mempersembahkan karya tersebut kepada Rudolph Kreutzer.

Simfoni untuk Napoleon Tahun 1805 Beethoven menggubah Symphony No. 3 in Eb ‘Eroica’, Op. 55. Menurut temannya, Ferdinand Ries, Beethoven merobek judul asli simfoni yang didekasikan untuk Napoleon Bonaparte itu. Beethoven sangat marah setelah tahu Napoleon mengumumkan dirinya menjadi kaisar Prancis. Beethoven mengubah judul simfoni asli ini, dan menulis Sinfonia Eroica… composta per festiggiare il sovvenire de un grand’ uomo’ yang artinya “Simfoni eroika, ditulis untuk mengenang seseorang yang agung”. Tulisan “Sinfonia Grande intitolata Bonaparte del Sigre” yang terdapat pada kopi manuskrip simfoni yang pertama dan kedua dihapus Beethoven secara paksa dan meninggalkan bekas lubang. Namun, kemarahan Beethoven hanya sebentar, karena beberapa bulan setelah penobatan Napoleon, Beethoven mengirim surat kepada Breitkopf & Härtel yang bertulis “titel simfoni itu sebenarnya Bonaparte”. Dan pada tahun 1810 dia menulis, “misa ini mungkin bisa juga didekasikan untuk Napoleon”. Simfoni tersebut dipentaskan di kediaman Pangeran Lobkowitz pada akhir tahun 1804. Dengan Simfoni Eroica, Beethoven memperlihatkan sikap yang mau berjuang dari masa depresinya dan tak mau kalah oleh

penyakit. Menurut Carl Czerny, muridnya, Beethoven mencoba gaya komposisi baru sewaktu mengerjakan tiga sonata piano, Op. 31. Hasilnya terlihat pada tiga sonata miliknya, Piano Sonata in C Major ‘Waldstein’, Op. 53, Piano Sonata in F Major, Op. 54, dan Piano Sonata in F Minor ‘Appasionata’, Op. 57. Namun, Beethoven pernah mengeluh kepada Czerny, ia agak kesal karena publik hanya menyukai sonata milik Moonlight, padahal dia bisa menciptakan lagu-lagu yang lebih bagus dari lagu itu. Simfoni kelima Beethoven dianggap sebagai simfoni yang memulai gaya baru. Pada simfoni ini terdapat tempo nada seperti mars. Hal ini tak pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya. Simfoni No. 5 dianggap sebagai cerita tentang kekalahan dan kemenangan, tentang pertarungan nasib manusia yang berlangsung seumur hidup, juga tentang penderitaan dan pembebasan dari kesengsaraan, yang dituangkan dalam musik. Seperti halnya Simfoni No. 9 yang berakhir dengan “Ode an die Freude”, Simfoni No. 5 juga memiliki ide dasar per aspera ad astra, atau melalui kegelapan malam menuju cahaya, yang maknanya: melalui kesulitan untuk mencapai kebahagiaan. Hal itu dituangkan dalam penggunaan tangga nada c-minor dan c-mayor, yang menjadi dasar pemikiran kebudayaan Eropa. n (Bersambung) Asrini

59 3/21/11 4:39 PM


RAGAM Foto-foto: Dok. PERTUNI

R

Pelatihan Tunanetra Payakumbuh

M

endorong lahirnya lebih banyak pemimpin dari kalangan tunanetra merupakan salah satu perhatian Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni). Pertuni tidak hanya menunggu lahirnya pemimpin secara alamiah, tetapi melakukan desain nyata.Melalui gerakan kampanye pendidikan tinggi bagi siswa tunanetra, Pertuni menyelenggarakan pelatihan bimbingan karier untuk tunanetra. Langkah pertama dimulai di Payakumbuh, Sumatera Barat, pertengahan Februari 2011. Penyelenggaraan kegiatan ini bekerja sama dengan Mitra Netra dan Agung Motivation Center (AMC). Kegiatan ini disponsori International Council of Education for People with Visual Impairment (ICEVI) dan The Nippon Foundation. AMC adalah penyedia pelatihan motivasi dari Semarang, yang dipimpin Agung Rejeki Yuliastuti, tunanetra yang berprofesi sebagai psikolog. AMC dan Mitra Netra yang diwakili Irwan Dwi Kustanto mendesain

60 Edisi 04 April ok.indd 60

Seminar Penanganan Emosi dan Perilaku Anak Berkebutuhan Khusus pelatihan bimbingan karier bagi tunanetra ini dengan sangat menarik, tidak membosankan, dan diharapkan dapat mencapai tujuan secara efektif. Pelatihan bimbingan karier selama tiga hari ini diikuti 17 tunanetra, terdiri atas 8 mahasiswa dan 9 siswa SMA. Para peserta belajar menghancurkan hambatan mental (mental block) yang selama ini menghambat keberhasilan mereka. Belajar mengenali diri sendiri serta membangun impian masa depan. Belajar mengatasi tantangan secara kreatif. Juga diajarkan bekerja dalam tim dengan efektif dan efisien, mengalahkan rasa takut, dan mendorong diri sendiri agar mampu melampaui keterbatasan. Semua topik disajikan dalam bentuk permainan menarik, di dalam dan luar ruangan, melalui permainan berkelompok dan permainan individu. Di antaranya enkering, yaitu menanamkan jangkar emosi ke pikiran bawah sadar bahwa tunanetra juga bisa meraih sukses. Juga permainan memindahkan

balon dengan kaki dari satu orang ke orang lainnya. Diajarkan pula strategi membungkus telur hingga tidak pecah, meski dijatuhkan dari ketinggian satu setengah meter. Berpindah dari satu papan ke papan lainnya secara berantai, menyeberangi kolam buaya, melewati halang rintang secara sistematis, mendorong bola plastik dengan air hingga keluar dari tabungnya, dan berjalan di atas kobaran api. Tokoh inspiratif pun dihadirkan. Irwan Dwi Kustanto, tunanetra yang menjabat Wakil Direktur Eksekutif Mitra Netra, memberikan gambaran tunanetra juga dapat meraih keberhasilan, menjadi pemimpin, dan membuat perubahan bagi negara. Semua itu diraih dengan komitmen dan kesungguhan kuat untuk berubah dan menciptakan perubahan. Juga mau bekerja keras dan kerja secara cerdas. n Aria Indrawati

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:40 PM


adalah anugerah Tuhan yang harus disyukuri. Walau labil kondisi emosional kejiwaannya, orang tua dan pendidik harus memahami mereka dan terus-menerus berupaya mencari cara baik seperti berkonsultasi kepada pakar, terapi, dan obat-obatan. Meski demikian, kasih sayang adalah yang utama. Seminar dilanjutkan paparan Vitriani Sumarlis Msi Spsi. Psikolog anak ini memberikan memaparkan cara menangani emosi anak berkebutuhan khusus. Acara ini juga dimeriahkan tarian dan nyanyian anak-anak didik

pendidikan di sekolah, guru dan siswa autis dapat berinteraksi, dan proses belajar-mengajar berjalan dengan baik. Dalam pembukaan pelatihan, Praptono, yang mewakili Pengawasan Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan Nasional, mengajak guru peserta pelatihan meyakini bahwa menerima peserta didik autis merupakan tindakan mulia. Sekolah reguler dan para guru tidak perlu khawatir menerima peserta didik penyandang disabilitas, karena payung hukum untuk hal tersebut sudah jelas, yaitu surat keputusan Kementerian Pendidikan Nasional tentang sekolah inklusif. Namun, diperlukan kesiapan aksesibilitas sarana dan prasarana sekolah bagi penyandang disabilitas,

begitu pula sumber daya manusia. Pelatihan seperti yang diselenggarakan LSPR diharapkan dapat menjadi dasar pandangan guru-guru dalam memahami peserta didik autis. Pemerintah, kata Praptono, akan terus mendorong terbentuk sekolah-sekolah inklusif dan siap bekerja sama dengan para pemerhati disabilitas dan pihak-pihak yang peduli terhadap dunia disabilitas. Sebagai dukungan pemerintah kepada sekolah inklusif yang menerima anak autis, Kementerian Pendidikan Nasional memprogramkan pada tahun 2011 membangun lima sentral sekolah inklusif sebagai prototipe pusat autistik di lima wilayah di Indonesia. Sebelum pelatihan dimulai, disuguhkan drama singkat Saudaraku Berbeda, yang berkisah

tentang perjuangan seorang anak autis pada sebuah keluarga. Drama yang diolah berdasarkan naskah karya Arswendo Atmowiloto ini membuka wawasan peserta pelatihan tentang pentingnya pemahaman yang benar dalam menangani anak autis. Anugerah anak autis bukan berarti kiamat bagi sebuah keluarga, hanya perlu menyikapi dengan baik. Anak-anak autis berhak mendapatkan kasih sayang keluarga, terlebih mendapatkan pendidikan bagi masa depan mereka. Sebab, mereka juga mempunyai talenta dan mampu meraih cita-cita. Selanjutnya paparan Dr. Tri Gunadi yang sangat interaktif dan lugas. Para peserta pelatihan terlibat aktif dan antusias membahas paparan dasar tentang anak berkebutuhan khusus autistik.

Foto-foto: Chairul Akbar

pendidikan sekolahnya meliputi taman bermain, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah kejuruan multimedia. Mereka memilih sekolah multimedia sebagai sekolah lanjutan atas didasarkan akses pendidikan bagi anak disabel. Pada 12 Maret 2011

Sekolah Patmos mengadakan seminar “Masalah dan Penanganan Emosi dan Perilaku Anak Berkebutuhan Khusus� untuk orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus serta guru sekolah inklusif. Seminar ini diharapkan memberi bekal bagi orang tua dan pendidik memahami dan mengendalikan serta memperbaiki kondisi emosional anak berkebutuhan khusus. Seminar dibuka Dr. dr. Dwidjo Saputro SpKJ, ahli kedokteran jiwa yang juga pendiri Sekolah PATMOS. Dwidjo mengatakan, anakanak berkebutuhan khusus

S Foto-foto: Sigit D Pratama

ekolah Patmos di Jakarta Barat merupakan sekolah inklusif yang berdiri sejak tahun 1999. Sekolah ini sejak awal menerima siswa berkebutuhan khusus (disabel). Kini 70 persen siswanya anak disabel. Kepala SMP dan SMK Patmos, Santun Butar Butar SPd, mengatakan jenjang

Pelatihan Guru Siswa Autis

T

he London School of Public Relations (LSPR) mengadakan pelatihan bagi guruguru sekolah yang menerima siswa berkebutuhan khusus, tepatnya peserta didik autis. Pelatihan pada 10 Maret 2011 ini kelanjutan pelatihan pada 10 Februari 2011. Kegiatan ini sebagai salah satu bentuk kepedulian LSPR dalam program CSR London School Center of Autism. Pelatihan diampu pakar autistik Dr. Tri Gunadi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pelatihan ini penting bagi para guru agar mempunyai pemahaman dan penanganan yang benar terhadap anak berkebutuhan khusus autistik. Selanjutnya dalam menjalankan

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 61

Sekolah Patmos. n Jonna Damanik

n Jonna Damanik

61 3/21/11 4:40 PM


I

INKLUSIF

Berbeda Dalam Harmoni

M

Foto: Adrian Mulja

ASYARAKAT inklusif adalah masyarakat yang dapat saling menghargai, menerima dan mengakomodasi segala perbedaan. Kehidupan penuh harmoni seperti ini bukanlah impian semata, meski juga tidak mudah mewujudkannya. Kehidupan manusia memang penuh warna. Ada si kulit putih, kulit berwarna, dan kulit hitam. Ada orang Amerika, orang Inggris, orang Arab, Cina, India, Melayu, dan sebagainya. Indonesia pun memiliki ratusan, bahkan ribuan, suku dan etnis yang berbeda. Ada orang yang menyandang disabilitas, ada pula yang tidak. Jangan lupa juga, ada perempuan, ada laki-laki. Semangat inklusif ini dapat kita wujudkan di berbagai aspek kehidupan. Di sekolah atau universitas, di tempat kita bekerja, di lingkungan tempat kita tinggal, bahkan di dalam keluarga kecil kita. Alangkah indahnya jika “semangat inklusif� ini ada di hati dan pikiran setiap warga masyarakat dan warga dunia. Namun, itu tidak bisa terjadi begitu saja. Perlu proses belajar dan pendidikan sedini mungkin serta berkesinambungan. Proses belajar ini tentu tidak bisa hanya melulu teori atau wacana, namun benar-

62 Edisi 04 April ok.indd 62

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:40 PM


benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari hal-hal kecil hingga urusan besar dan penting yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Contohnya, mengajarkan bagaimana rasa saling menghargai antara saudara laki-laki dan perempuan di dalam keluarga. Menghargai perbedaan cara pandang atas suatu hal karena perbedaan budaya. Memahami, karena kondisi disabilitas yang dialami seseorang, ia harus melakukan hal yang sama dengan orang lain dengan cara yang berbeda. Misalnya, untuk mencapai tempat yang tinggi, penyandang tunadaksa pengguna kursi roda atau kruk harus menggunakan ram dan bukan tangga. Agar tunanetra dapat menggunakan lift secara mandiri, lift harus dilengkapi simbol Braille pada tombol-tombolnya serta audio display yang menginformasikan lift tersebut sedang naik atau turun serta berada di lantai berapa. Jika semangat inklusif telah ditanamkan sedini mungkin pada setiap anak, baik di keluarga maupun di sekolah, kelak saat mereka dewasa, “semangat inklusif� akan menjadi bagian dari dirinya, baik cara pikir maupun perilakunya. Jika mereka menjadi pemimpin, semangat inklusif ini akan mewarnai setiap keputusan dan kebijakan yang diambil.

Kantor yang Inklusif Lingkungan bekerja adalah tempat bertemu banyak orang, dari berbagai suku, ras, agama, bahkan berbagai bangsa. Tempat perempuan dan laki-laki bekerja bersama-sama dan bekerja sama. Jika pemahaman tentang “semangat inklusif� telah mencapai level yang baik, adalah pemandangan yang biasa melihat penyandang disabilitas bekerja bersama-sama mereka yang tidak menyandang disabilitas. Standard Chartered Bank (SCB) contohnya. Bank yang berpusat di Eropa ini memiliki statemen yang jelas tentang penghargaan pada perbedaan: Diversity & Inclusion. Mereka menyadari, sebagai bank multinasional, beroperasi di banyak negara. Di mana pun mereka berada, pasti senantiasa melibatkan warga masyarakat lokal dan ekspatriat, baik sebagai karyawan maupun nasabah. Agar semuanya dapat bekerja bersama-sama dalam harmoni, baik di antara mereka yang berada di kantor yang sama maupun antara kantor yang satu dan yang lain, termasuk yang berada di negara yang berbeda, semangat inklusif menjadi fondasinya. Dalam perkembangannya, Diversity & Inclusion juga menjangkau perbedaan antara mereka yang menyandang disabilitas dan mereka yang tidak menyandang disabilitas. Jika kita berkunjung ke kantor SCB, kita akan menjumpai penyandang disabilitas bekerja di sana. Ada tunanetra, tunadaksa, dan tunarungu. Dari staf administrasi, pengelola perpustakaan, pengamat pasar modal, petugas di call center, hingga agen tele-marketing. Mereka semua dilihat sebagai manusia yang memiliki kemampuan bekerja. Mereka pun ditempatkan di posisi-posisi sesuai kemampuan masing-masing, karena profesionalisme mereka, bukan karena belas kasihan. Sebagai karyawan, para penyandang disabilitas yang bekerja di bank tersebut juga dituntut dapat memenuhi semua tugas dan tanggung jawab mereka. Bahwa ada kebutuhan yang berbeda, itu disadari dan diupayakan pemenuhannya sesuai situasi dan kondisi yang ada. Saat SCB mempekerjakan tunanetra, mereka juga melakukan investasi

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 63

63 3/21/11 4:40 PM


berupa piranti lunak pembaca layar untuk membuat tunanetra dapat bekerja dengan menggunakan komputer. Saat karyawan tunanetra harus bekerja dengan mesin-mesin yang menggunakan fasilitas layar sentuh, karyawan tunanetra diberi kesempatan melakukan adaptasi teradap mesin tersebut agar dapat menggunakan secara lebih mandiri. Caranya, menempelkan tanda-tanda Braille pada titik-titik yang berfungsi sebagai tombol operasional mesin tersebut. Pada dinding bagian atas tempat berada peralatan tersebut dipasang tulisan “dilarang membuang tanda-tanda Braille di mesin ini”. Hal ini perlu dilakukan, mengingat mesin atau alat berlayar sentuh ini digunakan banyak karyawan. Saat menerima karyawan pengguna kursi roda, dan kantor mereka belum memiliki fasilitas khusus untuk mereka, penempatan dilakukan di tempat yang paling memungkinkan dan memudahkan pengguna kursi roda. SCB menjalin komunikasi dengan pengelola gedung tempat mereka berkantor untuk membangun ram, agar karyawan pengguna kursi roda dapat masuk ke gedung dengan lebih mudah. Lokasi parkir khusus pun disediakan bagi karyawan penyandang tunadaksa yang menggunakan motor khusus. Penempatan karyawan pengguna kursi roda di dalam ruangan juga dilakukan di posisi yang memudahkan mereka melakukan mobilitas, yaitu di awal deretan. Karena toilet umum berpintu sempit, karyawan pengguna kursi roda diberi prioritas menggunakan toilet eksekutif, yaitu toilet untuk para bos yang pintunya lebih lebar, sehingga pengguna kursi roda dapat masuk dan keluar toilet dengan mudah. Pengguna kursi roda membutuhkan tempat untuk sejenak berbaring setelah sekian lama duduk di kursi roda. Tempat itu pun disediakan. Karena pengguna kursi roda umumnya tidak dapat menggunakan fasilitas transportasi umum, sehingga harus menggunakan pengantar pribadi, biaya untuk keperluan ini pun dimasukkan dalam basic salary mereka. Admosfer “komunitas yang inklusif” sangat terasa di bank ini. Mulai petugas keamanan hingga level pemimpin memiliki semangat itu. Tentu hal ini tidak terjadi secara instan, tetapi melalui proses belajar dan kemauan yang baik untuk belajar memahami. Saat Mitra Netra, lembaga yang memusatkan aktivitas pada pemberdayaan tunanetra, menempatkan seorang tunanetra bekerja di SCB, sesi sensitivitas pada penyandang disabilitas atau disability awareness pun diadakan bagi karyawan di bank ini. Sesi itu diikuti karyawan yang berada satu divisi dengan staf yang tunanetra. Namun, kelompok kecil ini kemudian berfungsi sebagai “agen perubahan” dengan menularkan pengetahuan praktis yang dimilikinya kepada karyawan-karyawan lain. Selanjutnya, pihak bank juga mengadakan briefing untuk petugas keamanan, baik di level pengelola gedung maupun di internal perusahaan. Dampak dari itu semua terasa kemudian. Saat tim redaksi diffa datang meliput, dan di antara tim tersebut ada seorang tunanetra, mendapat pengecualian saat memasuki gedung. Ia tidak perlu melalui pintu sekuriti yang harus dibuka dengan menggesekkan kartu tanda pengenal pengunjung, tetapi masuk melalui pintu khusus yang memang disediakan untuk orang-orang yang membutuhkannya. Berbeda dalam harmoni. Tidak hanya indah saat diucapkan, namun juga indah saat diterapkan. Let’s make our world as a better place for everybody. n Aria Indrawati

64 Edisi 04 April ok.indd 64

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:40 PM


Foto: Emiliasusiati

Berbeda Dalam Harmoni

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 65

65 3/21/11 4:40 PM


P

PINDAI

Pengenalan Dasar Notasi Musik Braille Endah

P

ADA diffa edisi bulan lalu kita sudah mempelajari nama-nama not dan penulisannya dalam Braille. Sekarang kita akan mengenal nilai not dan tanda istirahat/tanda diam.

Nilai Not

Foto: Adrian Mulya

Nilai not menentukan seberapa panjang suara (not) akan dimainkan. Nilai not antara lain not penuh,

not setengah, not seperempat, not seperdelapan, not seperenambelas, dan seterusnya. Penulisan tujuh nada dalam notasi Braille adalah kombinasi titik 1-2-4-5 ditambah kombinasi titik 3-6 untuk menandakan nilai notnya. Sebagai pengetahuan dasar, mari kita mempelajari not-not berikut. Not seperempat, not seperdelapan, not setengah, not penuh, dan not seperenambelas

66 Edisi 04 April ok.indd 66

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:40 PM


(catatan khusus: berdasarkan buku Pedoman Sistem Simbol Braille Indonesia Bidang Musik [2002: 3], not penuh dan not seperenambelas memiliki bentuk not yang sama). Ingat, nama not ditandai dengan titik 1-2-4-5. Sedangkan harga not dengan titik 3-6. Rumusnya adalah: Not seperdelapan tidak memiliki penambahan titik 3 dan 6. Not seperempat hanya memiliki penambahan titik 6. Not setengah hanya memiliki penambahan titik 3. Not penuh (atau seperenambelas) memiliki penambahan titik 3 dan 6. Not Seperdelapan

C D

E

F

Tanda Istirahat/Tanda Diam Selain bunyi, kita juga membutuhkan tanda diam sebagai variasi pada musik yang kita mainkan. Seperti halnya nilai not, tanda diam pun memiliki nilai untuk menentukan seberapa lama kita perlu diam sejenak sebelum memainkan nada-nada kembali. Persis seperti nilai not, tanda diam juga bernilai penuh, setengah, seperempat, seperdelapan, seperenambelas, dan seterusnya. Namun, tanda diam memiliki rumus kombinasi yang berdiri sendiri.

Bentuk Tanda Diam Seperdelapan

G A

Simbol Braille Titik 1-3-4-6 (X)

Tanda Diam Seperempat

Titik 1-2-3-6 (V)

Tanda Diam Setengah

Titik 1-3-6 (U)

Tanda Diam Penuh

Titik 1-3-4 (M)

B

Not Seperempat

Gampang, kan? Jangan lewatkan diffa edisi bulan depan. Karena kita akan mulai menulis lagu dalam notasi Braille. Sampai jumpa! n

Not Setengah

C

D

E

F

G

A

B

Not Penuh (dan Not Seperenambelas)

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 67

67 3/21/11 4:40 PM


B

BISIKAN ANGIN

Agus Noor

D

pelatihan penulisan untuk tunanetra yang diselenggarkan majalah diffa, Lumbung Ide, dan Yayasan Mitra Netra di pendapa belakang kantor Mitra Netra, bulan lalu. “Ini sungguh penting dan menarik. Aku mau sekali ikut ngajar teman-teman tunanetra menulis prosa. Nanti akan kufokuskan ke teknis penulisan fiksi mini,” katanya bersemangat. Ya, tanpa banyak basa-basi, Agus Noor membuktikan ucapannya. Datang ke Jakarta dengan pesawat pagi, Agus langsung meluncur ke kantor Mitra Netra di kawasan

begitu banyak kejahatan dan kebusukan di depan mata pun tak terlihat di mata kita. frg

Foto: Adrian Mulya

i dunia sastra tanah air mutakhir Agus Noor tergolong sastrawan papan atas. Cerpen-cerpennya kerap memenuhi halaman budaya berbagai media massa. Naskah teater, monolog, dan sandiwara yang ditulisnya juga laris manis. Teater terkenal dari Yogyakarta, Gandrik, yang dipimpin aktor teater Butet Kartaredjasa, hampir selalu melibatkan Agus Noor untuk urusan naskah. Meski sibuk dengan berbagai kegiatan, Agus Noor dengan bersemangat mendukung

Lebak Bulus. “Luar biasa menyenangkan. Aku senang sekali bisa berbagi ilmu menulis untuk teman-teman tunanetra yang hobi menulis,” ujarnya di sela-sela istirahat mengajar. Agus mengakui kagum dan takjub pada kemampuan delapan anak muda tunanetra peserta pelatihan menulis. “Mereka sungguh membuat saya kagum. Tak pernah terpikir sebelumnya betapa tanpa indera penglihatan justru mereka jadi lebih peka, lebih kreatif, dan lebih unik dibanding kita yang selalu mengandalkan mata,” katanya. Ya, begitulah adanya. Orangorang yang bermata awas memang kerap justru tak awas lagi dalam melihat, sehingga

AYU UTAMI

Foto: Adrian Mulya

frg

68 Edisi 04 April ok.indd 68

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:40 PM

Foto: Adrian Mulya

K

etika masyarakat dihebohkan oleh kejadian ledakam bom di Jalan Utan Kayu 68 H, tempat novelis Ayu Utami sehari-hari bekerja, Ayu mengirim pesan lewat ponsel ke kawan dan kerabatnya. “Buat teman-teman yang baru dengar tentang bom di Utan Kayu, kantorku; just info, saya baik-baik saja. Yang terluka, 2 polisi, 1 satpam. 1 polisi putus tangan setelah dengan ceroboh menangani paket. Paket ditujukan pada Ulil Absar Abdalla, pendiri Jaringan Islam Liberal dan sekarang salah satu….” Begitu antara lain isi pesan Ayu yang saya terima di ponsel saya. Beberapa pekan sebelumnya Ayu sempat berkomentar soal majalah diffa. “Ini majalah luar biasa. Penggagas dan orang-orang yang mengerjakannya juga luar biasa. Tapi tantangannya tetap sama dengan majalah lain saat ini, yaitu berjuang untuk hidup dan tumbuh. Ini yang harus diperjuangkan dan didukung oleh masyarakat,” ujarnya. Ayu pun lantas menegaskan siap mendukung dan membantu diffa sesuai kapasitasnya sebagai novelis. Terima kasih Ayu.


S

Intan Nuraini berpuluh kali gagal menahan Fabian untuk difoto. Berkali-kali Intan berhasil merangkul Fabian, tapi tak berhasil membuatnya tenang di satu posisi. Belum lagi ekspresi wajah Fabian yang terus-menerus menyeringai dan membelalak, padahal maunya fotografer tidak seperti itu. Di sela-sela kesibukannya, Intan menepati janji menyempatkan waktu untuk pemotretan cover diffa sebagai salah satu wujud kepeduliannya kepada para penyandang disabilitas. Dan ia juga pantang menyerah, meski baru pertama kali berpose bersama anak autis. Selama hampir dua jam Intan terus berusaha dengan berbagai cara sampai akhirnya berhasil membuat Fabian mau berpose beberapa puluh detik dengan ekspresi yang cerah ceria. frg

Foto: Adrian Mulya

i cantik yang bersahaja, Intan Nuraini, datang ke tempat pemotretan cover diffa di Ragunan dengan tergopoh-gopoh. “Maaf, aku terlambat ya? Maaf, soalnya tadi harus nunggu Mama selesai masak. Kalau Mama masak, aku nggak mau ketinggalan makan soalnya. Untung jalanan tidak terlalu macet,” tuturnya sambil memasuki ruang pemotretan. Intan langsung menyapa dan menyalami semua orang yang sudah hadir di ruang pemotretan. “Oh, ini Fabian, ya? Halo, Fabian, apa kabar? Aku Intan….” Tentu Fabian tak tahu siapa Intan, ia hanya melihat sekilas dan kembali berlarian menjelajahi setiap sudut ruangan. Sarjana Sastra Indonesia Universitas Indonesia ini lalu berbincang dengan ibu Fabian untuk mengetahui lebih banyak tentang Fabian sebelum pemotretan dimulai. Artis sinetron yang satu ini memang bersahaja. Ia datang menyetir sendiri mobilnya dan masih membawa bekal rendang masakan mamanya. “Seharusnya ada yang menari-nari di depan Fabian, nih. Soalnya dia ketawatawa terus melihat video orang menari ini,” usul Intan setelah

diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 69

69 3/21/11 4:40 PM


PELANGI

S

Anjing Pemandu Tuna

EPERTI diceritakan pada diffa edisi lalu, anjing pemandu tunanetra atau guide dog biasanya dipilih jenis boxer atau labrador retriever. Kedua jenis ini ras paling unggul, cerdas, dan tenang. Dipilih anjing betina, karena lebih mampu mengendalikan diri. Usia minimum dua tahun dan telah cukup matang untuk dilatih. Anjing pemandu harus menjalani sekolah khusus selama kurang lebih satu tahun. Anjing pemandu bukan family dog atau anjing keluarga, melainkan one man dog. Artinya, anjing pemandu dilatih untuk taat hanya pada satu orang, yaitu tunanetra yang menggunakannya. Dalam pelatihan, ada materi umum dan materi khusus. Materi pelatihan umum, antara lain menghindari hal-hal yang secara umum membahayakan tunanetra. Karena salah satu fungsinya melindungi tuannya dari hal-hal yang membahayakan saat berada di luar rumah, anjing pemandu diajari mengenali bahaya lubang, tiang, portal, trotoar, dan sebagainya. Anjing pemandu harus dilatih mengenali traffic light. Namun, karena anjing tak mengenali warna, cara melatihnya dengan melihat situasi jalan. Jika di dekat traffic light lalu lintas berhenti, berarti situasi aman untuk menyeberangi jalan. Sebaliknya, jika di persimpangan jalan dan lalu lintas bergerak, berarti situasi tidak aman untuk berjalan dan harus berhenti. Masa pelatihan yang bersifat umum ini sekitar satu tahun. Materi pelatihan khusus secara spesifik dibutuhkan pengguna.

70 Edisi 04 April ok.indd 70

Misalnya, mengantar ke tempat aktivitas sehari-hari. Ke sekolah atau kampus, tempat kerja, dan lainlain. Pelatihan khusus ini setelah anjing pemandu diserahkan kepada tunanetra pengguna atau disebut tahap over handling, namun masih dalam periode transisi. Pada fase ini anjing pemandu masih di bawah pengawasan pelatih. Masa over handling sekaligus juga fase perkenalan antara anjing dan tunanetra yang menggunakannya.

Jika keduanya telah merasa nyaman, barulah masa pengawasan diakhiri. Periode over handling biasanya selama tiga hingga tujuh hari. Saat menjalankan tugas sebagai pemandu di luar rumah, si anjing diwajibkan menggunakan “baju dinas” yaitu harnes guide atau harnes handle, berupa kalung kulit yang dililitkan di antara punggung dan leher. Tunanetra memegang ujung harnes guide dan merasakan gerak-gerik anjing pemandunya. Di rumah, tunanetra telah mengenali dengan baik tempat tinggalnya, sehingga anjing pemandu tak dibutuhkan lagi. Di saat ini harnes guide dibuka dan anjing pemandu berubah fungsi menjadi “anjing

Ilustrasi: Didi Purnomo

P

penjaga”. Mungkinkah tunanetra di Indonesia dapat menggunakan anjing pemandu? Mungkin tidak. Sebab, hasil latihan anjing pemandu mungkin tak bisa diterapkan, karena kondisi lingkungan kita, baik lingkungan sosial maupun kondisi jalan raya, sangat berbeda. Masyarakat kita umumnya belum dididik untuk menyayangi dan menghargai binatang. Kita sering melihat anak-anak mengganggu anjing. Jika itu terjadi, bukan tak mungkin anjing pemandu marah karena diprovokasi dan itu membahayakan tunanetra penggunanya. Di jalan raya, hal-hal membahayakan tunanetra yang diajarkan pada anjing pemandu untuk dihindari ada di manamana. Lubang menganga ada di banyak tempat. Jika anjing pemandu berada pada situasi jalan semacam ini, ia akan diam tidak bergerak demi keselamatan tunanetra yang dipandu. Lalu lintas di Indonesia tak hanya padat, tapi juga tak berdisiplin. Anjing pemandu pasti kebingungan menghadapi situasi ini. Selain itu, melatih anjing pemandu membutuhkan biaya besar yang akan diganti pengguna. Di Jepang, misalnya, anjing pemandu tunanetra “dihargai” 1,5 miliar yen atau sekitar Rp 150 miliar lebih. Namun, secara umum yang dibutuhkan bukan sahabat istimewa anjing pemandu. Di negara-negara dengan sistem jaminan sosial yang baik, kebutuhan khusus warga negara ditanggung pemerintah, yang dihimpun dari pajak masyarakat. Itu lebih penting. * Aria Indrawati

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:40 PM


diffa EDISI 04-APRIL 2011 Edisi 04 April ok.indd 71

71 3/21/11 4:40 PM


72 Edisi 04 April ok.indd 72

EDISI 04-APRIL 2011

diffa 3/21/11 4:40 PM

Majalah Diffa Edisi 04 - April 2011  

Laporan Utama: Ketegaran Ibu Dua Anak Autis

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you