Page 1

diffa SETARA DALAM KEBERAGAMAN

Retina

FREE

Audio a Versi f if d D C

School of Life Rumah Orang Terbuang

Pelangi

Anjing Pemandu untuk Tunanetra

Sosok

Pelindung dari Dunia Sunyi

Mendengar Tanpa Telinga Melihat Tanpa Mata

No. 03 Maret 2011 Majalah Keluarga Humanis diffa EDISI 03-MARET 2011

Edisi 3 Maret ok.indd 1

Rp. 21.500,1 2/17/11 5:42 PM


NET.WORK green your mind Kamu netizen yang peduli lingkungan? Suka menulis masalah-masalah lingkungan hidup di blog, forum, Facebook atau media online? Mari bergabung dalam kegiatan Net.Work. BeatBlog Writing Contest, ajang lomba menulis lingkungan hidup. Pemenang akan mendapat Blacberry dan uang tunai. Bagi 20 nominator, karyanya akan diterbitkan dalam buku “Blogger Bicara Lingkungan�. Offline Gathering, acara kumpul-kumpul para netizen. Pada kegiatan ini juga akan diumumkan pemenang Writing Contest.

Report from the Field, acara jalan-jalan sambil belajar dan membuat tulisan untuk blog maupun media online lain.

Key-worth, acara ngumpul, sharing pengetahuan dan pemberian penghargaan bagi netizen yang peduli lingkungan.

Informasi lebih lengkap di

Network.VHRmedia.com

2 Edisi 3 Maret ok.indd 2

EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:42 PM


M

diffa SETARA DALAM KEBERAGAMAN

Mendengar Tanpa Telinga, Melihat Tanpa Mata

Fx Rudy Gunawan

diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 3

Pelangi

Anjing menjadi Pemandu untuk Tunanetra

Sosok

Ratnawati, Pelindung dari Dunia Sunyi

Mendengar Tanpa Telinga, Melihat Tanpa Mata

No. 03 Maret 2011

Rp. 21.500,-

Majalah Keluarga Humanis diffa EDISI 03-MARET 2011

Ilustrator: didi purnomo

Y

ona meraba tangan Butet Kartaredjasa dengan jemari lentiknya. Anak perempuan 11 tahun ini tidak sedang iseng atau bercanda. Ia sedang berusaha mengenal Butet melalui sentuhan dan rabaan jemarinya pada kulit tangan Butet. Hanya itulah cara yang bisa dilakukan Yona untuk mengenal, merasakan, dan memahami semua hal di sekitarnya. Yona anak tunaganda. Ia tunanetra sekaligus tunarungu. Ia tak dapat melihat dan tak dapat mendengar. Dunianya adalah kesunyian yang hitam pekat. Kehidupan Yona adalah kegelapan tanpa secuil pun suara. “Mata” Yona hanya jemari lentiknya. Ia “melihat” dengan indera perabanya. Yona terlahir dengan kondisi tunaganda seperti itu. Ia harus bisa mendengar tanpa telinga dan melihat tanpa mata sejak lahir. “Dunia Yona hanya sebatas apa yang bisa disentuh dan dirabanya. Itu pun sangat terbatas, karena ia tak punya referensi bentuk benda apa pun,” jelas Sigid Widodo, Kepala Sekolah Dwituna Rawinala, tempat Yona belajar untuk berkomunikasi dan mengenal seseorang atau sesuatu. Untuk mengajarkan bahasa komunikasi yang paling sederhana seperti “makan” saja, diperlukan waktu sampai beberapa bulan. Mengajar anak tunaganda seperti Yona membutuhkan kesabaran luar biasa. Hanya para guru yang terpanggil hatinya yang akan bertahan untuk mengajar anak seperti Yona. Beruntung masih ada orang-orang yang terpanggil. Meski mungkin sedikit orang, tetap masih ada orang-orang yang punya hati untuk anak seperti Yona. Ya, urusannya lalu menjadi urusan hati. Hati. Itulah kata kunci dalam berbagai kekacauan hidup manusia. Saat ini, apa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia, secara sederhana bisa disimpulkan akibat semakin banyak orang yang tidak punya hati nurani lagi. Orang-orang tak lagi mendengarkan hati mereka. Orang-orang tak lagi memakai hati untuk melihat kenyataan hidup di hadapan mereka. Mereka tak pernah tahu bahwa ada anak seperti Yona yang bisa mendengar tanpa telinga dan melihat tanpa mata. Di mata orang-orang yang tak lagi punya hati, Yona tak lebih dari sekadar anak cacat yang tak mau mereka lihat. Yona bisa mendeteksi kondisi hati seseorang hanya melalui sentuhan dan rabaan jemari lentiknya. Ia bisa merasakan apakah seseorang masih punya hati atau sudah kehilangan hati. Ia bisa melihat apakah seseorang berhati jahat atau baik hanya dengan meraba lengan seperti yang dilakukannya pada Butet Kartaredjasa. Jika orang itu berhati baik, Yona akan membuka diri untuk berkomunikasi seperti yang dilakukannya kepada Butet. Apa yang terjadi kemudian antara Yona dan Butet adalah bukti bahwa manusia bisa berkomunikasi secara universal justru hanya dengan “bahasa hati”. Namun, untuk itu, yang perlu kita lakukan pertama-tama adalah menyelamatkan dulu hati kita dari kebinasaan. Dan untuk itu, kita sebenarnya hanya perlu belajar “bahasa hati” dari anakanak seperti Yona. Belajar untuk mendengar tanpa telinga dan melihat tanpa mata. n

FREE

o Versi Audi CD diffa

School of Life Rumah Orang Terbuang

1

Cover: Yona dan Butet Kartaredjasa Foto: Adrian Mulja

MATA HATI

Retina

Pemimpin Perusahaan/ Pemimpin Redaksi FX Rudy Gunawan General Manager Jonna Damanik Redaktur Eksekutif Nestor Rico Tambunan Konsultan Yunanto Ali, Handoyo Sinta Nuriah Wahid Mohamad Sobary, Jefri Fernando Redaktur Irwan Dwi Kustanto Aria Indrawati Mila K. Kamil Purnama Ningsih Kontributor Andhika Puspita Dewi (Semarang) Jerry Omona (Papua) Muhlis Suhaeri (Pontianak) Yovinus Guntur (Surabaya) Redaktur Bahasa Arwani Redaktur Kreatif Emilia Susiati Fotografer Adrian Mulja Ilustrator Didi Purnomo Pemasaran Sigit D. Pratama Administrasi Novita Rahmadhani Distribusi dan Sirkulasi Jonna Damanik PT Trubus Media Swadaya Jl Gunung Sahari III/7 Jakarta Pusat 10610 Telepon 62 21 4204402, 4262318 Fax 62 21 4269263 Diterbitkan Oleh: PT Diffa Swara Media Yayasan Mitra Netra Percetakan PT Penebar Swadaya Alamat Redaksi Jl. Salemba Tengah No. 39 BB Lt. 2 Jakarta Pusat 12430 Telepon 62 21 44278887 Faxs 62 21 3928562 e-mail redaksidiffa@gmail.com

33 2/17/11 5:42 PM


SAMBUNG RASA

Ilustrator: didot purnomo

C

diffa, media pembuka era baru bagi Indonesia Salut dan Sukses untuk diffa Kehadiran majalah diffa pasti akan memperkaya khazanah pembacanya, tidak hanya tentang disabilitas,Â

tetapi juga mengenai berbagai informasi dan pengetahuan lain yang bermanfaat. Kemasannya pun sangat menarik. Mudah-mudahan ini menjadikan diffa senantiasa dinantikan para pencintanya.

Khusus bagi para penyandang disabilitas di Indonesia, kehadiran diffa tentu membawa angin segar, karena

Salut dan terima kasih kepada Mitra Netra dan pihak yang bekerja sama yang berkomitmen menyuarakan hak-

menyajikan berbagai informasi bermanfaat tentang disabilitas, baik nasional maupun internasional.

hak penyandang disabilitas di Indonesia dengan menghadirkan diffa bagi kita semua. Juga apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung kehadiran diffa di Indonesia. Selamat dan sukses selalu. Maria Un Ketua Himpunan Wanita Penyandang Cacat Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan

diffa Mengungkap Realita Membaca diffa dua nomor penerbitan, saya jadi tahu dan tersadar, masih sangat banyak persoalan penyandang

disabilitas yang tersembunyi dan tidak tertangani. Tepatnya kurang mendapat perhatian pemerintah dan masyarakat. Padahal, negara kita memiliki Kementerian Sosial. Banyak pula organisasi dan LSM di bidang itu.

Saya sudah 17 tahun mengasuh sekolah nonformal untuk anak-anak dari kalangan kurang mampu, pemulung,

tukang becak, dan pekerja serabutan. Usia mereka ada yang sudah belasan, ada menyandang disabilitas, seperti

tunawicara. Mereka tidak sekolah karena ketidakmampuan orang tua. Saya mengajari mereka membaca, menulis,

dan berhitung, kemudian menyalurkan ke sekolah formal. Dalam pengalaman belasan tahun itu saya merasa banyak hal yang tidak tersentuh pemerintah dalam pendi-

dikan. Pemerintah mencanangkan Wajib Belajar, menyatakan sekolah gratis. Kenyataannya tidak ada yang sama

sekali gratis. Banyak anak masyarakat miskin yang tidak bisa masuk sekolah atau putus pendidikan di tengah jalan. Sekarang ini saja saya mendidik sekitar 40 anak usia pra-sekolah dasar.

Karena itu, saya mengucapkan selamat berjuang untuk diffa. Teruslah mengungkap lebih banyak persoalan

penyandang disabilitas agar menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat. Kita begitu banyak tertinggal dalam banyak hal. Pemerintah kita masih banyak meleset atau lalai, termasuk dalam hak penyandang disabilitas. Salam diffa! Tien Suryantini Ketua LSM Edukasi Dasar Jalan Balongsari 3, Depok, Jawa Barat

4 Edisi 3 Maret ok.indd 4

EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:42 PM


D

Ilustrator: didot purnomo

DAFTAR ISI

3

Mendengar Tanpa Telinga, Melihat Tanpa Mata

6

Memimpikan

18

Senyum Yona

Belajar dari 7 Rumah Orang 20 Kesungguhan School of Life

Terbuang

India

Tentang

Cerebral Palsy

23

24 Menyusuri 

Alam Indah Bantimurung

Bermain dan Belajar Cepat dengan Fast For Word

48 46 49

Media dan Penyandang Disabilitas Main Tenis di Atas Kursi Roda

Musikus Penyandang Disabilitas

50 52 54 56

Puisi

Pelajaran Hidup Louis Braille

58

Ragam

Lumpuh karena Kekerasan Politik

60 64 66 68

Inklusif (2)

28 30 32 35

 Kolom Kang Sejo

Konsultasi Pendidikan  Ratnawati, Pelindung dari Dunia Sunyi  Menyulap Gugatan Jadi Rasa Syukur

Edisi 3 Maret ok.indd 5

 Menjadi Pengusaha Pabrik Kata-kata (2)

Cermor

 Wawancara dengan Hari Pamudji

diffa EDISI 03-MARET 2011

 Ruang Hati

Cerpen

Sekolah kehidupan! Itulah yang istimewa dari bangunan seluas 300-an meter persegi itu. Di rumah itu Priskilla Smith Jully, yang biasa dipanggil Priska, menampung dan mencurahkan kasih sayang kepada 80-an orang penyandang disabilitas segala keterbatasan, dari tunanetra hingga tunagrahita, dari segala usia. Sebagian besar orang-orang yang dibuang keluarga karena keterbatasan mereka.

15

38 40 42

Bank Ramah pada Tunanetra

Kursi Roda yang Telah Kusam Belajar Notasi Musik Braille Bisikan Angin

70

Sahabat yang Lain

5 2/17/11 5:43 PM


C

CERITA SAMPUL

B

foto: Adrian Mulja

utet Kartaredjasa, aktor teater yang dikenal sebagai Raja Monolog, memperhatikan Yona dengan saksama saat pertama kali bertemu untuk pemotretan cover diffa. Yona sudah terkantuk-kantuk saat itu, karena seusai sekolah biasanya ia pulang dan tidur. Baru sekali ini sampai lewat tengah hari Yona masih berada di sekolah. Ia tentu tak mengerti mengapa tidak segera pulang seperti biasanya. Ia tak tahu apa itu pemotretan. Ia juga tentu tak tahu siapa Butet Kartaredjasa dan mengapa harus menunggunya. Yona menelungkupkan kepala di meja kelasnya. Tangannya mengetuk-ngetuk meja tanpa irama. Butet duduk di samping Yona. Guru pendamping memegang tangan Yona dan menempelkannya ke lengan Butet. Yona masih menelengkupkan wajah cantiknya di atas meja. Rambut ikalnya hanya menutup setengah leher, tak sampai ke bahu. Perlahan tangannya mulai merasakan kulit lengan Butet. “Ya, ini Pakde Butet,” kata Butet. Sedetik kemudian Butet baru sadar Yona tunarungu. “Dia tak bisa mendengar?” tanya Butet. Guru, orang tua Yona, dan fotografer diffa, Adrian Mulya, serentak mengiyakan. “Jadi, bagaimana kalau saya mau menyampaikan sesuatu?” tanya Butet. Ya, bagaimana kita berkomunikasi dengan anak seperti Yona? Tak bisa mendengar, pun tak bisa melihat. Bayangkan seperti apa rasanya hidup hanya dalam gelap dan senyap semata. Yona mulai bisa “merasakan” Butet. Ia mengangkat wajahnya dari meja dan mulai meraba lebih banyak lengan Butet. Sepertinya Yona mulai tahu Butet bukan orang jahat, bahkan mungkin ia juga mulai bisa “merasakan” Butet juga orang yang lucu. Melihat sudah ada interaksi positif antara Yona dan Butet, Adrian pun mengambil kesempatan untuk segera memulai sesi pemotretan. Butet dibantu bu guru menggandeng Yona untuk berpindah ke pojok kelas tempat bermain yang akan menjadi lokasi pemotretan. Target Adrian cukup berat: memotret Yona dengan senyum di bibirnya yang mungil. Bagaimana cara membuat Yona tersenyum? Ini tantangan buat Butet dan semua yang hadir pada pemotretan siang itu. Sebagai aktor, Butet tak sulit memeragakan berbagai ekspresi. Yang sulit baginya adalah bagaimana mengajak Yona turut berekspresi bersamanya. Di luar dugaan, Yona malah aktif meraba dan menyentuh Butet sampai ke wajahnya, membuat Butet senang karena merasa mulai bisa berkomunikasi dengan Yona. Tiba-tiba Yona juga sempat memeluk Butet seperti anak kecil yang minta dilindungi. Butet terkesima dan orang-orang pun kaget melihat Yona bisa langsung “dekat” dengan Butet. Tapi ia belum juga tersenyum. Oh, alangkah indahnya dunia jika kamu tersenyum, Yona. Harapan itu memenuhi hati semua orang di ruang kelas siang itu. Dan, keajaiban ternyata masih ada bagi orang-orang yang baik dan berhati tulus. Tiba-tiba saja, setelah entah berapa banyak jepretan kamera Adrian mengambil berbagai momen komunikasi antara Yona dan Butet, seulas senyum tersungging di bibir mungil Yona. Semua terkesima dan kemudian berteriak senang dan mengucap syukur. Senyum Yona telah menjadi kenyataan yang berhasil diabadikan Adrian. Sebuah senyum yang sungguh indah dan membuat dunia ikut tersenyum. n

Senyum Yona

Fx Rudy Gunawan.

6 Edisi 3 Maret ok.indd 6

EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:43 PM

foto-f


RETINA

foto-foto: Andhika Puspita Dewi

School of Life

Rumah Orang Terbuang EDISI 03-MARET 03-MARET 2011 2011 diffa EDISI

Edisi 3 Maret ok.indd 7

7 2/17/11 5:43 PM


8 Edisi 3 Maret ok.indd 8

EDISI 03-MARET 2011 EDISI 03-MARET 2011

diffa diffa 2/17/11 5:43 PM


RETINA

D

ari luar, rumah bercat putih di Jalan Bintoro Raya, Semarang, itu tampak biasa. Tak terlihat sesuatu yang istimewa. Pagarnya tertutup fiber dan selalu terkunci rapat. Satusatunya yang menarik perhatian hanya papan kayu bertulis ”The School of Life” yang terpasang di tembok. Sekolah kehidupan! Itulah yang istimewa dari bangunan seluas 300-an meter persegi itu. Di rumah itu Priskilla Smith Jully, yang biasa dipanggil Priska, menampung dan mencurahkan kasih sayang kepada 80-an orang penyandang disabilitas segala keterbatasan, dari tunanetra hingga tunagrahita, dari segala usia. Sebagian besar orang-orang yang dibuang keluarga karena keterbatasan mereka. Betapa!

Kumpulan yang Terbuang Sore itu Esther Eka, salah seorang pendamping di rumah penampungan School of Life, sedang menjahit di teras. Benyamin, bocah dua tahun, duduk murung di dekatnya. Seorang anak laki berusia belasan tampak menyeret langkah mendekati pagar dan mengintip keluar. Anak itu kegirangan melihat kereta kelinci yang melintas. Ia melonjak-lonjak dengan suara tak jelas. ”Agustinus dulu sama sekali tidak bisa berjalan. Dia juga  bisu. Setelah tiga tahun berada di sini, dia mulai bisa berjalan, meski masih diseret,” tutur Esther mengenai anak lelaki itu. Ester sudah empat tahun menjadi pendamping di School of Life. Keluarganya tinggal di pinggiran kota Semarang. ”Saya terpanggil bergabung setelah beberapa kali bertemu Cik Priska. Beruntung, keluarga saya mendukung, meskipun saya jadi jarang pulang,” ujar gadis 26 tahun ini. Menurut Esther, hanya sedikit penghuni yang dititipkan orang tuanya di ”rumah” ini. ”Prioritas School of Life menampung mereka yang dibuang keluarganya, termasuk Benyamin ini,” ujar Esther sambil menunjuk anak kecil berwajah murung di depannya. Benyamin ditinggal  kabur ibunya di rumah seorang bidan tak jauh dari School of Life, dua hari setelah dilahirkan. Sampai saat ini Benyamin menganggap Priska orang tuanya dan memanggil ”mami”. ”Sebentar lagi mami pulang, Nyamin mandi dulu, ya,” ujar Esther sambil menggendong Benyamin masuk rumah. Di dalam rumah, beberapa penghuni tampak asyik duduk atau EDISI 03-MARET 2011 diffa 03-MARET 2011 diffa EDISI

Edisi 3 Maret ok.indd 9

9 2/17/11 5:43 PM


foto-foto: Andhika Puspita Dewi

bercakap-cakap. Di dapur, Maria, 30 tahun, seorang tunanetra, sibuk menyiapkan nasi untuk makan malam mereka. Tiba-tiba seorang perempuan tunanetra muncul dari balik pagar. Inilah Priskilla Smith Jully alias Priska. Kedatangannya langsung disambut teriakan histeris para penghuni rumah. Mereka beramairamai mencium tangan perempuan itu. ”Mami...” Benyamin langsung memeluk Priska. Priska meraih tangan Benyamin dan meletakkan di pipinya. ”Ayo, sayang, pegang pipi mami. Nyamin sudah mandi?” ujar Priska. Benyamin tidak menjawab, hanya memandangi wajah Priska.

10 Edisi 3 Maret ok.indd 10

Keluarga Aneh yang Indah Bagi Priska, semua penghuni School of Life, yang dari tahun ke tahun terus bertambah adalah keluarga. Ia melakukan semua itu karena berkaca pada masa lalunya yang kelam. Priska lahir di Jambi, 8 Mei 1978, dari pasangan Bujung dan Tjien Ngo. Anak kedua dari lima bersaudara ini buta sejak lahir. ”Sejak dalam kandungan, saya tidak diinginkan. Entah apa yang dilakukan mami, sehingga ketika lahir saya menjadi buta,” kenang Priska. ”Tidak cukup sampai di situ, karena kekurangan saya, mami menganggap kehadiran saya tidak berguna.”

Priska mengaku tekanan karena penolakan orang tua dan kebutaan membuat dia lama frustrasi. Di usia remaja, beberapa kali dia mencoba bunuh diri dengan menyayat urat nadi pergelangan tangan. Namun nyawanya selalu terselamatkan. Di tengah keputusasan yang memuncak, pada Oktober 1992 seorang kawan mengajaknya ke gereja untuk berdoa. ”Di situ saya sadar, kasih Tuhan selalu ada untuk umat-Nya,” ujar ibu dua anak ini. Sejak itu Priska menjadi aktivis gereja. Kepercayaan dirinya meningkat. Pada tahun 2004 Priska memutuskan merantau ke Jawa, tepatnya ke Ungaran, Jawa Tengah. Suatu ketika ia mengikuti EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:43 PM


RETINA

pendidikan karakter di The School Acts. Di sana ia bertemu Tommy Barnett asal Amerika Serikat yang memiliki tempat penampungan untuk orang terbuang yang diberi nama Dream Center. ”Entahlah, begitu mendengar kisah tentang penampungan itu, saya langsung bertekad membuat penampungan yang sama di Semarang,” kata Priska. Keinginan itu terasa seperti mimpi, karena ia bukan orang yang mampu, bahkan bisa dibilang tak berpunya. Genap setahun anganangan itu, seorang teman penderita lumpuh dari Jambi mengabarkan kini sebatang kara karena sang ibu yang selama ini menghidupinya meninggal.

diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 11

Berbekal tabungan, Priska yang kala itu bekerja sebagai penyiar di sebuah radio, menjemput temannya itu dan mengajaknya tinggal di tempat kosnya. Priska juga mengajak seorang teman penyandang tunarungu. Namun, meski sudah membayar uang kos lebih besar, pemilik rumah tidak mengizinkan Priska menampung kedua temannya. ”Ibu kos mengatakan teman saya orang-orang aneh, dan meminta saya mencari tempat kos baru. Sedih rasanya,” kenangnya. Berkat niat baik dan bantuan gereja, Priska mendapat pinjaman sebuah rumah di kawasan Permata Hijau, Semarang. Selama setahun anggota ”keluarga aneh” Priska

meningkat menjadi delapan orang. Bak seorang ibu, Priska berjuang sendirian menghidupi keluarganya itu. Selain menjadi penyiar dan penyanyi, Priska pun rela bekerja sebagai pengupas bawang di sebuah restoran. ”Saya senang menjalani itu semua,” ujarnya. Menurut Priska, ikatan batinlah yang mempertemukan dia dengan teman-temannya itu. Ada yang datang sendiri kepadanya, ada yang dijemput atas informasi teman. Semua ia tampung, dengan catatan mereka memang terbuang, dan penyandang disabilitas. Tak terasa Priska dan keluarganya telah beberapa kali pindah rumah, hingga menemukan

11 2/17/11 5:43 PM


rumah kontrakan di lokasi yang nyaman di Jalan Bintoro Raya 13. ”Di sini keluarga kami semakin banyak, dari lintas usia, lintas agama, lintas suku, hingga lintas karakter,” ujar Priska.

Aneka Dinamika

...jika Tuhan sudah memulai, Dia akan memimpin hingga selesai...

12 12 Edisi 3 Maret ok.indd 12

Meski berada dalam perlindungan dan kasih Priska, kehidupan di School of Life tidaklah sederhana. Sebuah rumah dengan penghuni puluhan penyandang aneka disabilitas membuat situasi apa saja bisa saja terjadi tiba-tiba. Teriakan dan tangisan seakan

tidak habis-habisnya. Karena itu, pagar rumah itu dibuat tinggi dan dilapisi fiber, dan setiap ruangan dilapisi peredam seperti di studio. ”Kami tidak ingin kegaduhan di sini mengganggu warga sekitar,” ujar Esther. Kerumitan lain, rumah penampungan ini hanya memiliki dua ruangan, satu untuk perempuan dan satu lagi untuk laki-laki. Jika salah satu sakit, misalnya flu atau diare yang gampang menular, dipastikan yang lain tertular sakit. ”Saya sering membawa mereka berobat berombongan dengan mobil

EDISI 03-MARET 2011

diffa diffa 2/17/11 5:43 PM


RETINA sewaan,” tutur Priska. Untuk mengisi hari-hari, Priska memberikan berbagai kegiatan kepada penghuni rumah. Kegiatan rutin setiap hari adalah kebaktian, doa bersama, dan menyanyikan pujian kepada Tuhan. Selain itu, penghuni tunanetra diajarkan huruf Braille. Priska sendiri yang mengajar. Mereka juga diperkenalkan dengan tiga bahasa asing, yakni Inggris, Mandarin, dan Jepang. Mentor untuk bahasa adalah Fandi Kusuma, suami Priska. Priska dan Fandi menikah pada Desember 2006. Kisah pernikahan

mereka tak kalah unik. Fandi anak keluarga berkecukupan dan bekerja sebagai direktur sebuah perusahaan. Perbedaan itu membuat Priska menolak cinta Fandi. Apalagi kedua orang tua Fandi pada awalnya tidak menyetujui hubungan mereka. Bimbingan Tuhan membuat jalan mereka menjadi mudah. Orang tua Fandi kemudian merestui mereka. Fandi bahkan memutuskan keluar dari pekerjaan dan total membantu Priska. ”Banyak orang menyayangkan dan menertawakan keputusan ini. Tapi tampaknya Fendy sudah mendapat panggilan untuk mengabdi. Masalah penghasilan yang berkurang, saya yakin, jika Tuhan sudah memulai, Dia akan memimpin hingga selesai,” ujar Priska. Kini pasangan Priska - Fandi dikaruniai dua anak, Dika Aldiro, 3 tahun, dan Holi Covenant, 6 bulan. Mereka bahu-membahu menghidupi School of Life. Selain mengajar bahasa, Fandi berperan sebagai event organizer bagi Priska, untuk mendapatkan order menyanyi. Untuk mengisi acara hajatan, mereka biasanya memasang tarif Rp 1 juta - 2 juta.

Melakukan Apa Saja Dengan 80-an orang yang ditampung School of Life saat ini, setiap bulan Priska sedikitnya harus mendapatkan Rp 50 juta. Priska berhenti dari pekerjaan sebagai penyiar karena menyita waktu dan honornya tidak memadai. Ia kini berjualan berbagai makanan, mulai dari keripik pisang hingga balado teri, dari pintu ke pintu. Makanan dagangan itu diambil dari temannya. Priska juga menjadi perantara jual-beli apa saja. ”Karena bukan hanya keripik, dalam sehari keuntungan yang didapat antara

diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 13

lima ratus ribu hingga satu juta rupiah. Namun, pernah berhari-hari keuntungan saya tak lebih dari 50 ribu rupiah,” tuturnya. Jika dihitung-hitung, pemasukannya sangat kurang untuk kebutuhan sebulan. Tidak ada donatur tetap yang mendukung School of Life. Priska juga belum pernah mengajukan proposal bantuan ke mana pun, meski banyak yang menyarankan. ”Tidak sampai hati rasanya jika harus mengatasnamakan mereka untuk mengemis mencari uang. Selama tangan ini mampu, saya akan terus berusaha untuk menutup semua kebutuhan,” katanya mantap. Namun, Priska tak mengingkari banyak orang yang suka bermurah hati memberikan bantuan untuk School of Life. Pembayaran rumah kontrak saat ini, misalnya, berasal dari sesorang yang tidak dikenalnya. Satu hal yang sangat ia syukuri, Life Entertainment, event organizer yang dibentuk Fandi untuk menjual suara Priska yang merdu, tak pernah sepi order. Ya, jika Tuhan sudah memulai, pasti akan memimpin hingga selesai. Suasana berubah gaduh ketika seorang perempuan, salah seorang penghuni yang bukan penyandang disabilitas fisik, berteriak meminta semua penghuni masuk ruang ibadah. Sudah menjadi kebiasaan di sini, menjelang petang semua penghuni rumah harus berkumpul berdoa bersama sebelum makan malam. Kebaktian itu berlangsung gaduh. Suara-suara dan jeritan tak beraturan berbaur dengan dentuman drum, lolongan gitar listrik, dan raungan suara keyboard. Suasana yang mengundang haru. Meski paduan suara mereka tidak indah, Tuhan pasti tahu, mereka ingin memuji nama-Nya.

13 2/17/11 5:43 PM


Usai kebaktian, keluarga besar itu berkumpul di ruang serbaguna untuk makan malam. Getsy, 28 tahun, gadis Gorontalo penyandang autis sedang mengaduk teh untuk mereka. Setelah itu ia mendekati seorang bapak tua yang akan bertugas membagi makan. Getsy dengan terputus-putus meminta jatah telurnya separuh saja. Separuh lagi buat Mama Priska. Om Tan, si bapak tua, hanya memandang tajam pada Getsy. Om Tan seorang pengusaha yang jatuh bangkrut karena ditipu rekannya. Ia menjadi pemurung, pemarah, dan selalu mengomel. ”Dia dianggap gila. Padahal, hanya depresi. Nyatanya

14 Edisi 3 Maret ok.indd 14

setelah setahun menjadi keluarga kami, ia mulai bisa mengendalikan diri,” ujar Esther. ”Kami meyakini restored to restore. Dipulihkan untuk memulihkan. Nyatanya banyak yang menjadi mandiri seusai menjalani sebagai keluarga di sini,” ujar Priska. Ia memberi contoh, seorang mantan penghuni School of Life yang memiliki gangguan mental setelah ”lulus” dan diberi modal usaha kini berhasil menjadi pedagang. ”Mereka yang akan lulus, kita tanya apa yang diinginkan, sebisa mungkin kami mencarikan jalan keluar agar mereka mampu mandiri.” Makan malam keluarga hari itu

sederhana. Sepiring nasi dengan lauk mi goreng dan telur dadar. Namun, di balik kesederhanaan itu, ada semangat memulihkan anggota keluarga yang lain. Pesan Getsy kepada Om Tan untuk berbagi telur dadar buat Mami Priska menyiratkan potret harapan ”sesuatu yang indah” dalam ”keluarga aneh” ini. Senja menjemput malam. Seluruh anggota keluarga School of Life bersiap belajar. Malamnya mereka masih ada acara kebaktian. Kemudian tidur menjemput mimpi. n

Andhika Puspita Dewi

EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:43 PM


E

EMPATI

Hari Pamudji

Lumpuh karena Kekerasan Politik

S

Di pinggiran kota Solo, persisnya di seberang kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Surakarta, tanyalah nama Hari Pamudji kepada penjual koran dan majalah di situ, mereka pasti mengenalnya. Hari Pamudji, seorang lelaki korban kekerasan dalam kampanye Pemilu 1977 sehingga harus duduk di kursi roda sepanjang sisa hidupnya.

aat itu usia Hari masih 23 tahun dan ia sudah bekerja sebagai tenaga keamanan di Taman Mini Indonesia Indah. Hidupnya terbilang cukup dan masa depan masih membentang penuh peluang dan harapan. Hari juga disegani dan dihormati kawankawan karena keberanian dan kesetiakawanannya. Ia pendukung salah satu partai “oposisi� ketika itu. Sedikit pun Hari tak pernah menduga, gara-gara massa salah satu partai lain hidupnya kemudian berubah total. Berikut bincang-bincang diffa dengan Hari Pamudji yang kini menjadi Ketua Organisasi Motor Roda Tiga di Surakarta.

diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 15

15 2/17/11 5:43 PM


Waktu itu terjadi ketegangan antarmassa partai dalam kampanye pemilu tahun 1977, saya sedang cuti dan berada di Solo. Ketegangan itu kemudian berujung pada tindakan kekerasan yang membuat saya dikeroyok massa partai lain sampai babak belur dan terkapar. Senjata tajam dan tumpul di tangan puluhan orang menghajar tubuh saya bagian belakang sampai saya tak sadarkan diri. Dan ketika sadar, saya sudah tak dapat lagi menggerakkan kaki.

Anda pendukung salah satu partai oposisi? Partai mana yang Anda dukung dan massa partai mana yang menge­ royok? Ya, ketika itu kan hanya ada tiga partai. Tapi saya sudah tak mau mendendam lagi dan tak mau menyebut lagi massa partai mana yang menghajar saya sampai seperti ini. Saya sudah bisa berdamai dan menerima kenyataan bahwa saya adalah penyandang disabilitas akibat kekerasan massa satu partai politik.

Apa yang terjadi setelah kejadian nahas yang melum­ puhkan kedua kaki Anda? Saya merasa hidup saya sudah berakhir. Hancur seluruh harapan dan masa depan saya. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa dengan kondisi lumpuh. Padahal, tadinya saya bisalah dianggap sebagai jagoan berkelahi, kuat, dan sangat bangga akan diri saya. Tapi tiba-tiba bahkan berdiri di atas kaki sendiri pun saya tak bisa. Ini menghancurkan diri dan hidup saya. Selama bertahuntahun saya hanya terkapar dan

16 Edisi 3 Maret ok.indd 16

minum-minum sampai mabuk setiap malam agar bisa lari dari kenyataan.

Bagaimana Anda bangkit dari keterpurukan dan bisa menjadi Ketua Organisasi Motor Roda Tiga? Mungkin karena saya sudah capek mabuk setiap hari. Hahaha. Saya sekarang sama sekali tidak menyentuh minuman beralkohol lagi. Saya juga tidak main judi lagi, setelah bangkit dari keterpurukan itu. Bagaimana saya bisa bangkit? Hmm… saya tidak tahu persis. Tapi yang pasti, waktu itu saya sudah sampai pada titik jenuh dengan hidup saya. Saya lalu memutuskan untuk mulai menerima kenyataan, karena toh sudah tak mungkin saya sembuh, bisa berjalan lagi…. Itulah awal perubahan dalam hidup saya. Walau tak bisa berjalan, saya toh masih punya bagian tubuh lain yang berfungsi dengan baik. Mata, telinga, bibir, hidung, otak, dan tangan saya, semuanya masih bisa berfungsi dengan baik. Sejak saat itu, setelah mungkin 2-3 tahun saya terjerumus dalam ketakberdayaan, saya mulai berubah.

Kapan Anda mulai terlibat Organisasi Motor Roda Tiga hingga menjadi ketua? Ceritanya, dimulai dari rasa marah saya pada angkutan umum yang tak mau mengangkut orang berkursi roda seperti saya atau penyandang disabilitas lain juga. Jadi, awalnya saya ikut teman ke sebuah acara di daerah Boyolali, tapi kemudian teman itu harus pergi lebih dulu meninggalkan saya. Saya pikir tak apalah saya pulang sendiri naik angkutan umum. Tapi, ternyata

foto-foto: FX Rudy Gunawan

Bisa diceritakan kejadian nahas yang membuat Anda menjadi penyandang disabili­ tas seperti sekarang?

EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:43 PM


E

EMPATI semua bus yang saya coba stop tak satu pun yang mau berhenti ketika melihat saya berkursi roda. Saya marah sekali. Kurang ajar sekali busbus itu, batin saya. Akhirnya, setelah mencoba sampai satu jam lebih dan tidak berhasil, saya mengayuh kursi roda mencari kantor polisi terdekat dan meminta tolong polisi menyetopkan bus buat saya. Barulah bus itu langsung berhenti begitu yang menyetop polisi.

Saya akhirnya bisa menolak baikbaik pemberian orang-orang yang mengira saya pengemis itu. Namun, istri saya tetap marah sampai sekarang jika ada kejadian seperti itu. Saya sudah tak bisa marah lagi. Saya pernah jadi tukang pijat juga, sering ditolak orang begitu melihat saya di kursi roda. Jadi, akhirnya biasa saja.

Sejak saat itulah saya bertekad untuk tidak tergantung pada angkutan umum dan bisa memiliki kendaraan sendiri untuk jalan ke mana-mana. Itulah awalnya saya merakit motor roda tiga dan kemudian mulai kumpul bersama pemilik motor roda 3 lainnya di Solo sampai kemudian menjadi organisasi dan saya terpilih menjadi ketuanya.

Sekarang saya sudah berhasil berwirausaha, produksi sandal dari bahan tikar dan macam-macam lagi. Dari situ bisa membiayai kuliah anak saya sampai lulus. Saya merasa hidup saya sudah baik. Di organisasi pun saya berhasil menjadi ketua dan menjalankan banyak program yang mencoba membaurkan para penyandang disabilitas dengan masyarakat umum sehingga tak perlu ada kesenjangan lagi. Bagi saya, semua manusia sama saja. Tak ada manusia cacat, yang ada hanya manusia. Inilah yang seharusnya justru lebih dipahami oleh orang-orang yang sehat dan tak kurang suatu apa, sehingga tak memandang orang-orang dengan kondisi tubuh yang kurang sempurna sebagai lebih rendah dari mereka atau bahkan menganggap seolah-olah bukan manusia seperti mereka. Hal ini tak boleh kita biarkan terjadi. Itu saja yang penting buat saya sekarang ini. n

Apa saja cerita menarik yang Anda alami dalam perjalan­ an hidup sejak bangkit dari keterpurukan sampai kini berhasil menjadi ketua sebuah organisasi? Wah, banyak sekali pengalaman menarik saya. Bagaimana saya berjuang untuk mandiri dan bisa berhasil hidup mandiri seperti sekarang, semuanya pengalaman menarik. Apalagi istri saya juga jalannya kan pincang dan harus pakai tongkat. Jadi, ke mana-mana kami ini sering dikira pasangan pengemis. Ke pasar mau belanja sayur, malah sering dikira mau mengemis dan dikasih recehan sebelum saya ngomong. Hahaha‌ Atau tiba-tiba saja ada orang lewat di depan saya dan ngasih duit juga. Saya marah, sakit hati, tapi juga akhirnya geli sendiri. Hahaha. EDISI03-MARET 03-MARET2011 2011 diffaEDISI diffa

Edisi 3 Maret ok.indd 17

Bagaimana Anda melihat hidup Anda sekarang?

Fx Rudy Gunawan

17 2/17/11 5:43 PM


T

TAPAK

Saat ini bank telah menjadi bagian penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Layanan bank telah menyentuh hampir segala aspek kehidupan. Bank tidak lagi hanya tempat menabung, tapi juga melayani saat belanja, makan, bayar listrik, isi pulsa, bayar uang kuliah, berdagang/berbisnis, terima gaji atau honor, beli rumah, dan sebagainya. Untuk menikmati semua layanan itu, tentu terlebih dahulu harus menjadi nasabah bank.

P

erang iklan antarbank untuk menarik nasabah pun sangat gencar. Masyarakat dibombardir dengan iming-iming bonus, kemudahan, dan sebagainya. Tak jarang bahkan iklan-iklan tersebut mendorong masyarakat menjadi lebih konsumtif. Misalnya, jika kita belanja senilai minimal Rp 500.000 akan mendapatkan cash back berupa voucher belanja yang nilainya setara dengan uang yang kita belanjakan. Jadi, “ayo belanja

18 Edisi 3 Maret ok.indd 18

terus”, begitu pesannya. Namun, logika menarik sebanyak mungkin nasabah untuk mengeruk sebanyak mungkin keuntungan juga dibarengi “menolak” hadirnya sekelompok orang untuk menjadi nasabah bank. Sekelompok orang itu adalah “para tunanetra”. Beberapa bank besar melakukan ini, dengan tanpa merasa bersalah. Anehnya, saat para tunanetra yang diwakili Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) menyampaikan komplain ke Bank Indonesia (BI), respons bank sentral ini ringan saja: “BI tidak pernah membuat kebijakan seperti itu.” Jadi, itu kebijakan siapa? Apakah setiap bank diberi otoritas untuk menetapkan siapa yang boleh dan siapa yang tidak boleh menjadi nasabah, meski itu mendiskriminasi kelompok tertentu? Dan, BI melakukan pembiaran? Uniknya, alasan mereka menolak nasabah tunanetra. Tidak masuk akal dan mengada-ada. Bahkan, pada satu bank ada perbedaan di antara cabang pembantu. Ada cabang pembantu yang menolak dan ada cabang pembantu yang tidak menolak. Lebih unik lagi, ini terjadi hanya di Indonesia raya tercinta.

Tidak Cakap Hukum Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) mengkategorikan kelompok orang “tidak cakap hukum” adalah anakanak di bawah umur dan mereka yang terganggu atau hilang ingatan.

Mereka ini tidak berkompeten melakukan “perbuatan hukum”, yaitu perbuatan yang menimbulkan “akibat hukum”. Mengetahui kecenderungan bank tertentu menolak nasabah tunanetra, seorang teman tunanetra pun “mengujinya”. Dia mendatangi bank yang diketahuinya menolak tunanetra, seorang diri, tanpa didampingi orang yang tidak tunanetra. Setelah berhadapan dengan petugas customer service, ia menyatakan keinginannya untuk menjadi nasabah bank tersebut. Apa reaksi petugas? Benar, teman tunanetra ini “ditolak”. Alasan yang disampaikan adalah “tunanetra dikategorikan tidak cakap hukum”. Jika ingin menjadi nasabah bank, boleh saja, asal setiap kali akan melakukan transaksi harus “menguasakan” kepada orang lain yang tidak tunanetra yang dipercayai. Surat kuasa harus dibuat di atas meterai. Pertanyaannya, KUH Perdata EDISI 03-MARET 2011

Ilustrator: didot purnomo

Memimpikan Bank Ramah pada Tunanetra

diffa 2/17/11 5:43 PM


mana yang dipakai bank ini? Yang dengan sewenang-wenang mengkategorikan tunanetra tidak cakap hukum?

Mesin Lebih Ramah

Ilustrator: didot purnomo

Tak mau menyerah, teman tersebut datang kembali pada kesempatan lain ke bank yang sama, dengan ditemani pendamping yang tidak tunanetra. Kali ini ia tidak mendatangi petugas customer service, karena ada pendamping yang membantu mengisikan formulir untuk menjadi nasabah.

Dan, semuanya beres. Untuk melakukan transaksi, ia memilih menggunakan fasilitas internet banking. Ini dimungkinkan, karena dengan dukungan teknologi adaptif, tunanetra juga bisa menggunakan komputer dan mengakses internet. Saat melakukan transaksi via internet, tak ada penolakan. Mesin tak pernah bertanya, apakah

diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 19

orang yang sedang bertransaksi tunanetra atau tidak. Semua berjalan lancar. Jadi, berarti mesin itu lebih ramah daripada manusia. Mesin tidak membedakan dan tidak diskriminatif. Semua dilayani dengan baik.

Masalah Tanda Tangan Aku juga pernah melakukan hal “serupa” – menguji keramahan layanan perbankan -- tapi “tidak sama”. Aku menggunakan “strategi terbalik”. Kali pertama aku mendatangi bank yang ingin kuuji, aku datang bersama seorang teman yang tidak tunanetra. Ia membantuku mengisikan formulir, setoran awal kubayarkan, dan semuanya beres. Setelah beberapa lama aku menjadi nasabah bank tersebut, termasuk melakukan transaksi, aku datang kembali untuk membuka rekening baru. Kali ini aku datang sendirian. Aku mendatangi petugas customer service, dan menyampaikan niat membuka rekening. Petugas kemudian mendatangi teman di sebelahnya. Kudengar mereka berdiskusi. Dan, kemudian mereka mendatangiku. Petugas dari meja sebelah, yang mungkin lebih senior, lalu mengatakan bahwa untuk menjadi nasabah bank “harus bisa tanda tangan”. Kujawab aku bisa tanda tangan, jadi itu tidak masalah. Ia masih berdalih bahwa tanda tanganku “harus akurat” – maksudnya harus sama persis satu dengan yang lainnya. Bagaimana mungkin tunanetra yang tidak dapat melihat atau kurang dapat melihat dengan baik bisa melakukan serangkaian tanda tangan yang akurat 100 persen? Jika akurasi tanda tangan menjadi

masalah, masih dapat digantikan dengan “sidik jari”, bukan? Nah, jika menggunakan “sidik jari”, pasti akurat 100 persen. Masalahnya, bank menolak “sidik jari” sebagai pengganti tanda tangan. Aku tidak mau berlama-lama membuang waktuku berdebat dengan petugas customer service itu. Segera kubuka tasku dan kukeluarkan buku tabungan serta kartu ATM yang telah kumiliki dari bank tersebut. Dan, kukatakan aku sudah beberapa tahun menjadi nasabah bank ini. Tidak hanya itu, kukeluarkan amplop berisi uang yang ”cukup lumayan” jumlahnya, sambil berkata “ini setoran awal saya”. Petugas customer service dari meja sebelah pun meninggalkan aku dan temannya itu. Belum puas karena gagal menolak aku, si petugas customer service yang melayaniku menanyakan mengapa tidak ada pendamping yang menemani aku datang ke bank. Kukatakan, itu tidak perlu, karena ada petugas customer service yang seharusnya membantuku. Bukankah itu memang tugas mereka? Membantu dan melayani customer. Untuk itulah mereka dibayar. Memang tidak semua tunanetra bisa melakukan seperti apa yang aku dan temanku lakukan: menguji keramahan layanan bank. Sebagian besar memilih hanya mau menjadi nasabah bank yang tercatat belum pernah menolak tunanetra. Ironisnya, bank-bank yang menolak menerima nasabah tunanetra adalah bank yang beriklan dengan sangat gencar di masyarakat. Mereka adalah bank-bank besar. Bahkan, menerima penghargaan dengan predikat service exelent. * Aria Indrawati.

19 2/17/11 5:43 PM


J

JENDELA

Belajar dari Kesungguhan India

S

ALAH satu yang patut dicontoh adalah adanya Rehabilitation Commision of India (RCI). Lembaga tingkat nasional ini dibentuk pemerintah pada tahun 1980-an, beranggotakan tokoh-tokoh penyandang disabilitas dan tokoh-tokoh masyarakat seperti pendidik, pemerhati masalah sosial, dan pembela hak asasi manusia. RCI antara lain bertugas memberikan masukan kepada pemerintah untuk mengembangkan kebijakan yang berkaitan dengan penyandang disabilitas serta memonitor dan mengevaluasi pelaksanaannya. Progresivitas gerakan disabilitas di India tak dapat dilepaskan dari peran para aktivis gerakan disabilitas serta partisipasi elemen-elemen masyarakat pendukungnya, termasuk sektor usaha.

Foto: Adrian Mulja

India tidak hanya terkenal dengan film, tarian, serta musiknya. Negara yang memiliki populasi terbesar kedua di dunia ini juga dikenal dengan kemajuan di gerakan disabilitas.

20 Edisi 3 Maret ok.indd 20

EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:43 PM


Ian Cardoza, tokoh RCI yang mengetuai council tersebut pada pertengahan tahun 2000-an, mengatakan bahwa dalam upaya memberdayakan penyandang di­ sabilitas ada tiga pertanyaan yang menjadi landasan pemikirannya. Pertama, apakah kita mengangap ke­ beradaan penyandang di­sa­bilitas sebagai masalah atau prioritas? Kedua, pem­berdayaan penyandang disabilitas itu kesempatan ataukah pilihan? Ketiga, pemberdayaan pe­nyandang disabilitas — termasuk langkah-langkah afirmatif – tanggung jawab siapa? Masyarakat saja? Atau pemerintah saja? Ataukah keduanya? Pemberdayaan penyandang disabilitas harus dilakukan secara “sistemik”. Hal ini harus didukung kebijakan pe­merintah yang bersifat multisektoral. Meliputi bidang kesehatan, pendidikan, fasilitas dan layanan publik, ke­ tersediaan alat bantu yang dibutuhkan, perbankan, dan sebagainya. Pada tataran implementasi, semua hal yang disebutkan itu harus melibatkan pemangku peran yang luas. Dan, India telah membuktikannya. Kurang lebih enam tahun lalu, aku berkesempatan belajar di Tamilnadu, negara bagian di ujung selatan India. Sebagian besar penduduknya etnis Tamil yang berbahasa Tamil. Selama delapan minggu aku tinggal di kota kecil Coimbatore. Dua minggu selebihnya melakukan studi lapangan dan berkunjung ke berbagai tempat di negara bagian tersebut. Tamilnadu adalah negara bagian yang rata-rata pen­ duduknya hidup sederhana. Pengemis pun da­pat dijumpai di mana-mana. Namun, yang sangat me­ngesankan, ne­ gara bagian ini dipakai sebagai proyek percontohan saat pemerintah India mengujicobakan penerapan ke­ bijakan terkait pemberdayaan penyandang disabilitas. Sistem jaminan sosial, pendidikan untuk se­mua, sistem pendidikan inklusif, serta skema kredit khusus untuk penyandang disabilitas.

Foto: Adrian Mulja

Jaminan Sosial Khusus Di India, jika ada bayi lahir dan dideteksi memiliki kelainan pada fungsi-fungsi organ tubuhnya, akan di­ rujuk ke layanan medis terkait untuk menjalani re­ habilitasi medis. Jika kelainan fungsi organ tubuhnya diperkirakan bersifat permanen, rumah sakit tempat menjalani pemeriksaan dan tindakan medis akan me­ rekomendasikan untuk mendapatkan “sertifikat” yang menyatakan si bayi mengalami “disabilitas”. Pemberian sertifikat ini merupakan bagian dari layanan “pengadilan”. Untuk mereka yang tinggal di daerah terpencil, pemerintah menyediakan mobile court. Pada sertifikat

diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 21

ini tertera juga di tingkat sosial ekonomi mana keluarga si bayi penyandang disabilitas. Berbekal sertifikat inilah keluarga kemudian mengakses layanan khusus bagi penyandang disabilitas dan keluarganya, yang disebut disability pension. Bagi keluarga tidak mampu, disability pension men­ cakup layanan rehabilitasi medis, transportasi gratis un­tuk menjalani rehabilitasi medis, dana pendidikan, transportasi gratis untuk pulang pergi ke sekolah, serta alat bantu yang diperlukan untuk kemandirian hidup sehari-hari. Terhadap penyandang disabilitas berat yang sepanjang hidupnya harus tergantung pada bantuan keluarga atau orang yang mengurusnya (care giver), tunjangan sosial juga diberikan kepada keluarga atau orang-orang yang mengurus penyandang disabilitas berat tersebut.

Langkah Afirmatif Di India, pemberdayaan penyandang disabilitas di­ lakukan secara proaktif, baik oleh pemerintah maupun elemen masyarakat terkait. Langkah-langkah afirmatif pun dilakukan demi akselerasi pencapaian tujuan. Langkah ini diawali sejak tahap “identifikasi”, yaitu mencari dan menemukan warga negara yang menyandang disabilitas dari berbagai kelompok dan tingkatan. Iden­ tifikasi ini kemudian diikuti dengan langkah sertifikasi seperti diuraikan di atas. Untuk melakukan identifikasi, pemerintah distrik – tingkat pemerintahan di bawah pemerintah negara bagian — adalah ujung tombaknya. Pada umumnya mereka mengerahkan pekerja sosial, spe­cial teacher atau guru pendamping khusus siswa penyandang disabilitas, serta tenaga relawan. Sebagai anggota PBB yang turut menandatangani pen­canangan Pendidikan untuk Semua di Thailand tahun 1989, pemerintah India telah secara kreatif menempuh langkah-langkah afirmatif untuk mengakselerasi pen­ca­ paiannya. Sadar bahwa pendidikan untuk semua harus men­ cakup anak-anak dengan disabilitas. Disadari pula India adalah negeri yang sangat luas, dan sebagian keluarga pemilik anak dengan disabilitas tinggal di daerah terpencil, dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Dalam kondisi seperti ini, pendidikan untuk anak disabilitas belumlah menjadi prioritas keluarga. Untuk memotivasi keluarga dengan tingkat ekonomi rendah yang tinggal di daerah terpencil agar mau mem­ bawa anak dengan disabilitas ke sekolah, pemerintah India memberikan “insentif khusus” kepada keluarga tersebut.

21 2/17/11 5:43 PM


Pada praktiknya, banyak orang tua dari keluarga tidak mampu menyekolahkan anak dengan disabilitas mereka hanya karena ingin mendapatkan “insentif khusus” tersebut. Ini tak jadi soal. Lebih penting adalah “hasil akhir” yang dicapai. Secara perlahan, India berasil meningkatkan jumlah anak penyandang disabilitas yang memenuhi wajib belajar pendidikan dasar. Guna menampung anak-anak penyandang disabilitas di sekolah, tak cukup hanya di sekolah khusus atau sekolah luar biasa, yang sudah tentu biaya penyelenggaraannya mahal. Untuk mengatasinya, sistem pendidikan inklusif yang memberikan hak kepada anak dengan disabilitas menempuh pendidikan di sekolah umum pun dikembangkan. Mulai dari sistem layanan utama di sekolah, sistem layanan pendukung oleh lembaga yang disebut “pusat sumber”, hingga sistem “layanan tambahan“ yang biasanya diberikan oleh lembaga rehabilitasi sosial dan lembaga medis. Konsekuensi dari ini semua, kebutuhan akan guru khusus atau special teacher pendamping anak-anak dengan disabilitas di sekolah umum pun meningkat. Ini menjadi lapangan kerja baru bagi generasi muda India, yang pada praktiknya lebih diminati kaum perempuan. Lembaga pendidikan yang menghasilkan guru khusus pun mendapatkan dukungan sepenuhnya dari pemerintah, baik anggaran maupun fasilitas. Dengan langkah afirmatif semacam ini, keberadaan anak disabilitas di sekolah umum menjadi pemandangan biasa di India. Tidak hanya di kota, tapi juga di desadesa. Meski dengan fasilitas yang masih terbatas, guru-guru sekolah umum tetap bersemangat mengajar anak-anak dengan disabilitas dalam satu kelas bersama anak-anak lainnya. Pada kunjunganku di beberapa desa di sekitar kota Madurai, yang masih sangat kekurangan guru, bahkan ada seorang guru yang harus mengajar beberapa kelas sekaligus, dan di antara murid-murid di kelasnya ada anak dengan disabilitas, tunanetra, dan tunarungu.

Skema Kredit Khusus Langkah afirmatif juga dilakukan untuk mengentaskan penyandang disabilitas dari kemiskinan. Dan kewirausahaan adalah solusinya. Untuk mendorong tumbuhnya wirausahawan dari kalangan penyandang disabilitas, pemerintah India menciptakan “skema kredit khusus” untuk mereka. Sebuah bank pemerintah ditunjuk untuk menyediakan kredit khusus ini, dengan bunga yang sangat rendah. Lembaga swadaya masyarakat yang akuntabel dipercaya membina penyandang disabilitas untuk merintis usaha. Umumnya mereka berkelompok, beranggotakan beberapa kategori disabilitas; tunanetra, tunarungu dan tunadaksa. Bidang usaha yang ditekuni adalah sesuatu yang dekat dengan keseharian mereka. Misalnya keperluan beribadah. Setelah mendapatkan pembinaan dari lembaga pemberdaya penyandang disabilitas, kelompok usaha ini dapat memulai usaha, dengan memanfaatkan skema kredit khusus tersebut, di bawah pengawasan lembaga yang membina mereka. Bunga yang dibayarkan dari angsuran kredit ini oleh bank sebagian didedikasikan kepada lembaga pembina penyandang disabilitas untuk biaya operasional mereka. Upaya pemerintah India mungkin belum sepenuhnya sempurna. Namun, Indonesia patut belajar dari “kesungguhan” mereka. n Aria Indrawati

22 Edisi 3 Maret ok.indd 22

EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:43 PM


BERANDA

B

Tentang Celebral Palsy

D

isabilitas Celebral Palsy (CP) atau lumpuh otak adalah suatu kondisi terganggunya fungsi otak dan jaringan saraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaran, penglihatan, kemampuan berpikir. Istilah lainnya, spastic paralysis, spastic hemiplegia, spastic diplegia, atau spastic quadriplegia. Penyebab lumpuh otak sampai saat ini belum dapat dipastikan. Ada yang beranggapan CP karena bayi lahir prematur, sehingga bagian otak belum berkembang dengan sempurna. Penyebab lain, bayi lahir tidak langsung menangis sehingga otak kekurangan oksigen (hypoxia). Kemungkinan lain, adanya cacat tulang belakang dan pendarahan di otak.

Ciri-ciri

Gejala lumpuh otak sudah bisa diketahui saat bayi berusia 3-6 bulan, yaitu saat bayi mengalami keterlambatan perkembangan. Ciri umum dari anak lumpuh otak adalah perkembangan motorik yang terlambat. Refleks yang seharusnya menghilang masih tetap ada, seperti refleks menggenggam yang mestinya hilang saat bayi berusia 3 bulan, atau bayi yang berjalan jinjit atau merangkak dengan satu kaki diseret.

Jenis-jenis

Secara umum lumpuh otak atau CP dikelompokkan dalam empat jenis, yaitu: Spastik (tipe kaku-kaku) Biasanya dialami saat penderita lemah. Ini jenis yang paling banyak ditemui. Sekitar 65 persen penderita lumpuh otak masuk dalam tipe ini. Atetoid Kondisi penderita tidak bisa mengontrol gerak ototnya. Biasanya gerakan atau posisi tubuh mereka aneh.

Hipotonis Otot-otot sangat lemah sehingga seluruh tubuh selalu terkulai. Biasanya terjadi pada anak-anak, dan umumnya berkembang menjadi Spastik atau Athetoid. Lumpuh otak juga bisa berkombinasi dengan epilepsi, gangguan mental, penglihatan, pendengaran, bicara, atau belajar.

Terapi

Sampai saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan lumpuh otak. Namun tetap ada harapan untuk mengoptimalkan kemampuan anak lumpuh otak dan membuatnya mandiri dengan terapi. Terapi yang diberikan pada penderita lumpuh otak biasanya disesuaikan dengan usia anak, berat/ ringan penyakit, dan jenis atau bagian area pada otak mana yang rusak. Meski ada bagian otak yang rusak, sel-sel yang bagus akan bisa menutupi sel-sel yang rusak, dengan cara mengoptimalkan bagian otak yang sehat. Caranya dengan memberi rangsangan agar otak anak berkembang baik. Rangsangan/ stimulasi otak secara intensif bisa dilakukan melalui panca indera. Salah satu cara dengan Compensatory Dendrite Sprouting yaitu rangsangan agar dendrit tersebar dengan berimbang. Beberapa orangtua yang memiliki anak penderita CP mengaku berhasil mengoptimalkan kemampuan anaknya lewat metode Glenn Doman. Metode ini digunakan untuk anak dengan cedera otak berupa patterning (pola) untuk melatih: Gerakan kaki dan tangan (merayap, merangkak). Menghirup oksigen (masking) untuk melatih paruparu agar membesar. Sejak tahun 1998, lebih dari 1.700 anak cedera otak mengalami perbaikan cukup berarti setelah melakukan terapi ini. n Nestor - dari berbagai sumber

Kombinasi Campuran antara Spastik dan Atetoid.

diffa EDISI 03-MARET 03-MARET 2011 2011 diffaEDISI Edisi 3 Maret ok.indd 23

23 23 2/17/11 5:43 PM


J

JEJAK

Menyusuri Alam Indah B

2424 Edisi 3 Maret ok.indd 24

EDISI 03-MARET 2011

Foto-foto: Aria Indrawati

Sesuai janji sebelumnya, setelah menyelesaikan seluruh agenda pertemuan merencanakan ­ke­giatan pemberdayaan generasi muda tunanetra di Makassar, kami memutuskan jalan-jalan. Cari udara segar! Tempat yang kami tuju adalah… Bantimurung. diffa 2/17/11 5:43 PM


h Bantimurung

K

ami pergi berenam, tiga orang tunanetra dan tiga pendamping non-tunanetra. Jadi, setiap tunanetra didampingi seorang yang di kalangan tunanetra lazim disebut “orang awas”, orang yang dapat melihat. Orang awas inilah yang berfungsi sebagai “mata” bagi tunanetra, menjelaskan apa saja yang perlu diinformasikan. Begitulah seharusnya kebersamaan orang awas dengan teman-teman tunanetra.

Foto-foto: Aria Indrawati

Sekilas Bantimurung

Tidak seperti kunjungankunjungan sebelumnya, kali ini udara Makassar tak terlalu panas. Selama beberapa hari di sana, udara bersaput mendung. Ya, memang, kunjungan kali ini saat musim hujan. Perjalanan ke Bantimurung kami tempuh dengan mobil. Hanya memakan waktu kurang lebih satu jam. Cukup dekat.

diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 25

Nama Bantimurung diambil dari nama seorang raja yang berkuasa di wilayah Maros, yang memerintah di sana setelah masa kekuasaan Sultan Hasanuddin. Nama lengkap raja itu Karaeng Bantimurung. Begitu memasuki lokasi wisata Bantimurung, kami disambut patung kupu-kupu dan monyet. Sangat besar! Konon, lokasi wisata ini dulu kerajaan kera. Sedangkan kupu-kupu, ya, Bantimurung terkenal dengan populasi ratusan ribu jenis kupu-kupu. Bahkan tempat ini disebut sebagai salah satu lokasi populasi kupu-kupu terkaya di dunia. Sayang, saat kami berkunjung sedang musim hujan. Jadi, hanya sedikit kupu-kupu yang keluar. Jika datang saat musim kemarau, wah… akan menyaksikan ratusan ribu kupu-kupu menari-nari diiringi gemuruh air terjun. Karya alam yang luar biasa! Selain kupu-kupu dan air terjun, panorama alam yang bisa dijumpai

di Bantimurung adalah gua batu sepanjang seratus meter. Konon, gua itu tempat Karaeng Bantimurung bertapa untuk mendapatkan kesaktian.

Menikmati Air Terjun Setelah memarkir mobil dan membeli karcis masuk, kami mencari tempat yang nyaman di pinggir sungai. Kemudian menggelar tikar dan membuka perbekalan. Memang begitulah rencana kami: makan siang di pinggir sungai! Duh, nikmat sekali. Mengisi perut yang lapar di tengah alam yang asri, ditemani gemericik air sungai. Wah! Tapi sayang, kenikmatan mendengar irama sungai terganggu suara musik dari kafe dekat taman bermain anak-anak. Menurutku, suara musik buatan manusia itu tidak perlu. Siapa pun yang datang ke sini pasti ingin menikmati irama musik ciptaan alam. Irama sungai dan air terjun, hembusan angin dan gemerisik dedaunan, paduan kicau

25 2/17/11 5:43 PM


burung-burung, dan… tarian kupukupu yang indah! Sesudah kenyang, kami langsung berhamburan menuju air terjun. Masing-masing berpasangan, seorang tunanetra dan seorang pemandu. Bagi kami tunanetra, menjadi tantangan tersendiri berjalan di atas bebatuan sungai yang licin. Ke mana kaki harus melangkah sangat tergantung pada instruksi pemandu. Jika instruksi kurang tepat, atau kami salah mengartikan instruksi, sangat mungkin terpeleset. Tapi, itu tidak membuat kami takut. Keinginan untuk merasakan cipratan air terjun dan mendengar deru suaranya jauh lebih besar daripada rasa takut terpeleset atau jatuh. Dan benar, aku sempat terpeleset saat berusaha mendekati kaki air terjun. Begitu tiba di sana, aku yang masih memiliki sisa penglihatan berusaha memaksimalkan fungsi pandangan, menikmati warna putih air terjun Bantimurung. Jatuhnya air ternyata tidak terlalu vertikal, hanya kurang lebih 45 derajat. Lama aku berdiri di sana, hingga seluruh badan basah. Segar sekali. Polusi suara musik yang berdentum-dentum tak terdengar lagi, kalah oleh gemuruh deras air. Bagiku, ini momen langka yang sangat mewah. Jadi, kunikmati sepenuhnya, sambil diam-diam bersyukur.

Menyusuri Keheningan Gua

Setelah puas menikmati air terjun, kami melanjutkan langkah menuju Gua Batu Bantimurung. Untuk mencapai gua, kami harus menaiki tangga, lalu berjalan sejauh 800-an meter. Jalan menuju gua batu ini tak kalah menantang. Jadi, tetap harus hati-hati. Menjelang gua, kami disambut seorang laki-laki bertubuh kekar.

26 Edisi 3 Maret ok.indd 26

Ia menawarkan sewa lampu senter. Senter memang diperlukan untuk penerang berjalan di dalam gua. Kami setuju menyewa tiga lampu senter, masing-masing Rp 10 ribu. Setelah itu si lelaki kekar menawarkan jasa menjadi guide ke dalam gua. Kami pun setuju. Dan ia pun berjalan di depan. Beberapa saat sebelum memasuki gua, di sisi kiri jalan tampak sebuah makam. Kata pemandu, itu makam Karaeng Bantimurung. Sesaat sebelum memasuki gua, pemandu berhenti dan mengingatkan bahwa di dalam gua jalan sangat basah serta licin, karena itu harus hati-hati. Oke. Siapa takut? Satu langkah, dua langkah… wah, memang benar dia. Rasanya seperti berjalan di dalam rumah yang habis kebanjiran, berlumpur dan licin. Dan, pada langkah ketiga, ups… hampir saja aku terpeleset. Karena pemanduku ukuran badannya sama denganku, kami tidak bisa saling menahan dengan baik jika jatuh. Karena itu, kukatakan kepada pemandu agar jangan berjalan terlalu cepat, karena sebagian dari kami tunanetra. Untuk mencegah dia tidak melangkah terlalu cepat, sekalian kupegangi saja tangan kirinya, Semakin dalam kami berjalan, semakin terasa aroma gua yang lembap. Deretan stalaktit dan stalakmit mengiringi langkah kami. Tak putus-putus tanganku meraba. Kadang dengan satu tangan, kanan atau kiri, sambil berpegangan pada tangan pemandu. Jika ingin lebih puas meraba, aku minta berhenti dan meraba dengan kedua tanganku. Rasanya seperti meraba relief candi atau monumen buatan manusia. Namun, yang ini ciptaan alam. Dahsyat! Ada yang menyerupai gajah. Ada yang bergaris-garis jatuh seperti

tirai. Ada yang berdiri kokoh seperti tiang. Ternyata itu adalah stalaktit yang bertemu dalam satu titik dengan stalakmit. Baku jodoh, begitu istilahnya. Terbentuknya stalaktit dan stalakmit ini membutuhkan waktu sangat lama. Konon, satu centimeter saja memerlukan 60 tahun. Jika ujung stalaktit dan stalakmit itu masih terasa basah, itu berarti masih akan tumbuh lebih panjang. Jika sudah kering, berarti tak akan tumbuh lagi. Saat meraba tetesan kapur di gua batu ini, aku mendapati masih banyak ujung stalaktit dan stalakmit yang basah. Tak terasa kami hampir mencapai pintu luar gua. Gua batu ini hanya punya satu pintu. Kami masuk dan ke luar dari pintu yang sama, namun dari sisi berbeda. Tiba-tiba, ups… kali ini aku jatuh betulan. Kaki dan tangan kiriku benar-benar berada di dasar gua yang berair dan berlumpur. Pemandu segera membantu aku berdiri. Ia kemudian meninggalkan aku sebentar dan kembali dengan sekaleng air bersih, yang diambilnya dari tong di sisi mulut gua. Air memang disediakan bagi pengunjung untuk membersihkan diri jika jatuh saat menyusuri gua. “Mbak, jika kita masuk ke gua seperti ini dan jatuh di dalamnya, itu berarti berkah,” kata pemandu. Hehehe. Mungkin pemandu itu mau menghapus rasa bersalah karena aku jatuh. Maka, kujawab saja, “Amin….” Sebelum meninggalkan Bantimurung, kusempatkan mampir ke “surau batu”. Unik juga bentuknya. Di sana kusampaikan terima kasihku kepada-Nya, yang telah melukis keindahan alam begitu rupa dan indah. n Aria Indrawati

EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:43 PM


Opa Mentu (67) di Tanawangko malah bilang rokok membuatnya lebih bersemangat dan bertenaga bekerja di kebun cengkehnya. “Rokok itu seperti batubara...,” katanya beramsal, “...abis batubara, kereta api nyanda bisa jalan”. Nah!

Kajian Ekonomi & Budaya 4 Kota

BETA PET TAWARANIE

n Syarief Hidayat & Andre Gusti Bara

K RETE K

warisan budaya & kesejahteraan

Bukan hanya Oma Timkuan perempuan yang merokok di Kombi. Seperti umumnya di seluruh Minahasa, terutama di pedesaan, perempuan merokok adalah hal biasa, bahkan juga para ibu muda dan gadis-gadis. Dari total 143 penduduk perempuan dewasa di Dusun Selolongan (salah satu dusun Desa Kombi, dusun kediaman Oma Timkuan), ternyata tidak kurang dari 81 orang (65,8%) adalah penghisap kretek. Untuk seluruh Desa Kombi, dari 526 orang warga perempuan dewasa, 347 orang (65,9%) adalah juga pengepul asap kretek.“Oma nyanda sakit?” Nenek itu menjawab sigap: “Oooo,,,sehat terus sampe sekarang... Nyanda pernah ada parangpuang marokok disini yang sakit parah... sakit-sakit yang biasa saja...”

Rezim kesehatan dan perdagangan bebas dunia kini menekan pemerintah Indonesia untuk membatasi ketat industri rokok. Mereka juga mempengaruhi satu organisasi keagamaan terbesar negeri ini untuk mengeluarkan ‘fatwa haram’ atas rokok. Bagi Indonesia, ini adalah genderang perang terhadap kretek, satusatunya industri asli Indonesia yang mampu bertahan lebih satu abad terhadap gelombang krisis perekonomian dunia. Bahkan, merupakan salah satu penyumbang cukai terbesar ke kas negara, menjadi tumpuan hidup utama jutaan petani tembakau, petani cengkeh, pedagang kecil, dan buruh pabrik besar maupun rumahan. Akankah kretek --warisan sejarah dan budaya unik nusantara-- nantinya benarbenar hanya akan dijumpai di museum?

KRETEK

Oma Timkuan (76) (GAMBAR BAWAH), seorang warga Desa Kombi, daerah penghasil cengkeh terbesar di Minahasa, adalah juga seorang penghisap kretek ‘kelas berat’. Nenek tua ini mengaku sudah merokok sejak usia 15 tahun, sejak tamat Sekolah Rakyat (SR) masa itu. Oma Timkuan berkisah bahwa sejak itu dia sudah menjadi seorang petani cengkeh, setiap hari berjalan kaki 7 kilometer dari rumahnya ke kebun. Kalau capek, dia berhenti di tepi jalan dan mulai menggulung kreteknya (menggunakan daun cengkeh, karena kertas sulit sekali waktu itu), lalu mengepul...!

PENYUNTING

ROEM TOPATIMASANG n PUTHUT EA n HASRIADI ARY P E N G A N TA R

INDONESIA BERDIKARI

INDONESIA BERDIKARI

ISBN: 978-602-8493-11-6

MOHAMMAD SOBARY

n Gambar Atas: salah seorang peserta ‘Istighotsah (Do’a Akbar) Masyarakat Pertembakauan’ di alun-alun Kota Temanggung, 8 Mei 2010, menggulung koran bekas lalu menyulutnya ibarat rokok untuk menyatakan protesnya terhadap rencana pemerintah membatasi ketat industri tembakau dan rokok n Sampul depan: seorang kakek di salah satu desa di Klaten, Jawa Tengah, menyulut klobot, kretek tradisional dengan gulungan daun jagung kering yang merupakan cikal-bakal kretek modern saat ini, tetapi masih tetap diproduksi baik oleh pabrikan besar maupun usaha rumahan n Sampul belakang: patung di depan Museum Kretek, Kota Kudus, Jawa Tengah; dan satu patahan ranting daun serta bunga cengkeh di Desa Senduk, Minahasa, Sulawesi Utara. Foto-foto: Armin Hari, Beta Pettawaranie Rancang sampul: Rumah Pakem

BOOKS FOR MANKIND diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 27

27 2/17/11 5:43 PM


K

KOLOM KANG SEJO

U Mohamad Sobary

Ilustrator: didot purnomo

Pinter Tanpa Guru

ngkapan Jawa sekti tanpa aji, pinter tanpa guru menggambarkan suatu keunggulan istimewa seseorang —tapi bisa juga banyak orang— di dalam masyarakat. Kita bicara perkara keistimewaan. Dan kita tahu, apa yang istimewa tak terjadi pada semua orang. Kita juga bicara tentang kekaguman, yang kita ungkapkan: “Dia memang ibarat wong sekti tanpa aji, pinter tanpa guru.” Mungkin juga pujian, yang kita sampaikan pada orang per orang, yang memiliki kelebihan mencolok dibanding orang lain —orang-orang biasa— yang berusaha lebih keras, dalam waktu lebih lama, dan menghabiskan biaya lebih banyak. Menjadi orang biasa saja sudah sulit di masyarakat kita. Apalagi menjadi orang istimewa. Tapi kita pun tahu, orang-orang istimewa itu menjadi istimewa bukan karena memang begitulah tujuan mereka. Tak ada di sekitar kita orang yang bertujuan menjadi orang istimewa. Kita hanya tahu, keistimewaan itu muncul begitu saja, dan mungkin benar hal itu sudah merupakan bawaan alam, pemberian “langit”, dan bukan sesuatu yang bisa diprogram. Tetapi kita bisa meneladani, laku utama, yaitu tindakan nyata orang-orang istimewa itu dari segi yang dimungkinkan. Tiap orang istimewa punya sejarah. Dan tiap orang istimewa meninggalkan jejak. Dan jejak itu

28 Edisi 3 Maret ok.indd 28

diffadiffa

EDISIEDISI 03-MARET 20112011 03-MARET

2/17/11 5:43 PM


yang barangkali berguna kita pelajari, tanpa pretensi untuk menjadi istimewa. Dorongan kita untuk “menjadi” seperti itu mungkin merupakan kapital, yang dalam dirinya hanya biasa, tak menimbulkan daya tarik dan keheranan, tapi di dalam tatanan sosial yang malas, yang tak terlalu menilai tinggi “inisiatif” dan kegigihan usaha, mungkin tiba-tiba terasa sebagai modal besar. Orang biasa itu di mana-mana hidup bergerombol, “geng-gengan”, punya kelompok, punya rombongan, dan kelebihan dirinya selalu terletak pada gerombolan, geng, atau kelompoknya. Identitas diri orang per orang diletakkan pada identitas kelompoknya. Di sini secara pribadi identitas diri hampir tak ada. Orang-orang “istimewa” lain lagi gaya hidupnya. Mereka itu seperti makhluk soliter. Ungkapan eagle flies alone mungkin cocok bagi mereka. Keberanian, kemandirian, kebebasan, dan kecenderungan untuk melawan kemapanan dalil-dalil dan formula-formula hidup yang umum, baku, dan sudah usang, sangat besar. Mereka pendobrak kemapanan. Tapi di masyarakat kita sikap itu dianggap buruk. Orang tua, guru, kiai pesantren, kepala kantor, pejabat negara, semua menolak sikap tersebut. Di sekolah, anak nakal tak punya harga lain selain keburukan. Anak nakal yang pemberontak di sekolah dipecat, dikeluarkan dari sekolah, dan menjadi yang “terbuang”. Di masyarakat pun, dalam sistem kebudayaan seperti ini, dia juga terbuang. Dan terkutuk. Tak ada guru yang menyadari bahwa anak pemberontak itu bakal menjadi istimewa. Guru tahu segalanya. Dan bisa mengambil keputusan apa saja yang menyangkut nasib murid. Anak penurut, yang sopan, dan memfotokopi cara berpikir guru —juga dosen— dianggap anak yang baik. Staf yang taat dan patuh pada apa kata atasannya, dan “menelan” segala hal tanpa mengunyah, itu staf yang terhormat di mata atasan pada umumnya. Banyak anak berbakat —anak istimewa— tak tahan terhadap tata kehidupan macam itu. Mereka lalu hidup terisolasi di dalam tatanan mereka sendiri. Di sana mereka berkreasi. Dalam kemandirian yang memberikan kebebasan itu mereka tumbuh, membuktikan diri mampu berbuat lebih besar daripada anak-anak baik yang dipangku guru dan sistem sosial yang mengelilinginya, dan jadi istimewa. Mereka gigih. Tekun. Siap mencoba. Siap gagal. Tapi juga siap memanggul sukses. Ini penting direnungkan. Banyak pihak yang siap gagal. Banyak pihak yang siap

EDISIEDISI 03-MARET 20112011 diffadiffa 03-MARET

Edisi 3 Maret ok.indd 29

menjadi miskin, dan menurunkan generasi-generasi yang terus-menerus miskin. Tapi tak banyak orang yang kuat memanggul sukses. Apalagi sukses besar. Dan menjadi kaya raya. Sebelum sukses, sebelum kaya raya, tadi ada sikap gigih. Ini barang mahal di masyarakat kita. Gigih mempertahankan pendirian, di tengah gempuran pandangan normatif dan baku, bukan tanda keras kepala tapi tanda pembaruan. Ini pemberontakan terhadap apa yang tak bisa disebut lain selain kebekuan. Kita punya banyak contoh orang yang terusir dari sekolah —drop out— yang justru menjadi orang hebat. Mereka itu wong pinter tanpa guru. Mereka tak butuh sekolahan. Mereka tak memerlukan guru —yang normatif dan haus kepatuhan— karena bagi mereka guru itu orang bijak, orang pelindung, dan akomodatif dan bisa memberikan tempat pada anak-anak yang “berbicara” dalam bahasa “perbedaan”. Karena manusia jenis itu hampir tak ada, maka mereka —apa boleh buat— melangkah tanpa guru. Mereka mencari jawab atas pertanyaan hidup yang ruwet tanpa guru. Mereka mengurai sendiri teka-teki alam semesta tanpa guru. Tapi kegigihan membuat mereka tak merasa gentar. Dan dari satu persoalan ke persoalan lain, mereka menemukan rahasia hidup yang tak mungkin —atau belum akan— ditemukan oleh murid-murid “baik” yang disayangi guru-guru konvensional tadi. Dan mereka pun kemudian menjadi pintar. Inilah wong pinter tanpa guru itu. Bisa jadi mereka lebih guru dari para guru. Mereka itu guru sejati. Meskipun begitu, ketika pujangga AA Navis berkata, “alam terkembang menjadi guru”, kita harus mengubahnya secara kreatif: “alam terkembang menjadi buku”. Kita sedang tak buruh guru. Tapi kita tetap membutuhkan buku. Alam terkembang menjadi buku bukan hanya berarti hamparan tanah, savana, padi menguning, tembakau menghijau, melainkan juga alam sosial kita. Mungkin ini lebih penting karena orang-orang pinter tanpa guru itu hidup di sana. Mereka itu dulu menjadi pinter karena meniru. Peniruan dinggap kreativitas orisinal. Maka, apa salahnya kita tiru mereka. Peniruan kita bukan hanya menjadi kreativitas melainkan menjadi penemuan baru. Kita tak bosan-bosan meniru. Kita gigih meniru. Tapi meniru bukan tujuan hidup. Kita meniru untuk menjadi bijak, agar kita termasuk bagian dari mereka yang disebut wong pinter tanpa guru. n

29 2/17/11 5:43 PM


K

KONSULTASI PENDIDIKAN

Anak dengan Kesulitan M

K

Ibu Dorothy yang saya hormati, esulitan atau ketidakmampuan membaca pada anak secara umum bisa disebabkan dua faktor besar. Pertama, karena ada hambatan kecerdasan atau intellectual disability, yaitu mereka yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata, IQ di bawah 90. Jika IQ antara 70 dan 90, mereka disebut dengan istilah lambat belajar atau slow learner. Jika IQ di bawah 70, inilah yang kita kenal sebagai anak terbelakang mental (mentally retarded) atau dalam bahasa lain sering disebut tunagrahita. Tingkat kesulitan membaca pada anak-anak tersebut berkaitan dengan tingkat IQ. Artinya, semakin rendah kecerdasan (IQ) semakin berat ketidakmampuan membacanya. Mereka yang tergolong terbelakang mental sedang, yaitu dengan IQ antara 35 dan 50, hanya memiliki sedikit kemungkinan bisa membaca dan menulis. Sedangkan yang tergolong terbelakang ringan masih diharapkan bisa membaca dan menulis, walaupun pada tingkatan yang sederhana. Untuk mengetahui tingkat kecerdasan anak dalam arti yang formal atau berdasarkan angka IQ, kita memerlukan bantuan psikolog. Meskipun demikian, secara informal kita dapat memperkirakan tingkat kecerdasan anak kita. Bagaimana caranya? Secara umum kita dapat memperkirakan tingkat kecerdasan anak kita dengan cara membandingkan kemampuan anak dengan anak-anak lain seusianya. Misalnya dalam cara berbicara, mengerjakan tugas atau perintah,

30 30 Edisi 3 Maret ok.indd 30

Yth. Bapak Asep Supena, Nama saya Dorothy. Saya mempunyai anak umur lima tahun, namanya Tania. Dia ada gangguan penglihatan, melihat sesuatu harus dalam jarak yang dekat. Dia bisanya membaca tulisan dengan huruf yang agak besar. Seperti perlakuan kepada kakaknya, saya sudah mulai mengajari Tania membaca sejak ia berumur tiga tahun. Biasanya saya lakukan sambil bermain-main. Tapi Tania sepertinya berbeda dari kakaknya. Dia kesulitan belajar membaca. Saya pernah mendengar tentang anak berkesulitan membaca, kalau tidak salah istilahnya disleksia. Apakah Tania termasuk yang seperti itu? Apakah ini ada hubungan dengan gangguan penglihatan yang dialaminya? Bagaimana cara menga­tasinya? Saya khawatir nanti Tania kesulit— an di sekolah. Saya ingin Tania bisa bersekolah di sekolah biasa saja seperti kakaknya. Terima kasih.

mengingat sesuatu, dan menyesuaikan dengan situasi baru. Jika secara umum anak menunjukkan kemampuan yang

kurang lebih sama dengan anakanak lain seusianya, kita dapat memperkirakan atau menyimpulkan bahwa anak kita memiliki kecerdasan EDISI EDISI 03-MARET 03-MARET 2011 2011

diffa diffa 2/17/11 5:43 PM


Ilustrator: didi purnomo

n Membaca

rata-rata. Jika kemampuan anak kita di atas rata-rata anak-anak lain, boleh jadi anak kita tergolong anak cerdas. Demikian pula sebaliknya. Jika kemampuan anak kita secara umum jauh di bawah kemampuan anak-anak lain, mungkin kecerdasan anak kita di bawah rata-rata. Faktor kedua yang dapat menyebabkan terjadinya kesulitan membaca pada anak adalah adanya gangguan neurologis tingkat ringan pada otak. Gangguan ini menyebabkan terjadi gangguan persepsi pada anak, dan berujung pada gangguan ketika membaca huruf, kata, atau kalimat. Tingkat kecerdasan (IQ) anak-anak seperti ini “normal”, bahkan ada di antara mereka yang memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Anak-anak semacam ini mengalami kesulitan pada bidang membaca saja. Inilah yang dikenal dengan sebutan dyslexia atau disleksia. Jika kesulitan yang dialami anak khusus pada kemampuan menulis, disebut dengan istilah disgrafia. Jika anak mengalami kesulitan pada bidang berhitung, kita kenal dengan istilah diskalkulia. Siswa yang disleksia, disgrafia, ataupun diskalkulia secara

diffa EDISI 03-MARET 03-MARET 2011 2011 diffaEDISI Edisi 3 Maret ok.indd 31

keseluruhan dikenal sebagai anak yang mengalami kesulitan belajar, atau biasa disebut learning disability. Anak-anak yang mengalami kesulitan belajar ini memiliki tingkat kecerdasan “normal” atau bahkan ada yang di atas rata-rata, tetapi mereka mengalami kesulitan pada bidang akademik tertentu seperti membaca, menulis, dan berhitung, sebagaimana dijelaskan di atas. Karena itu, kasus kesulitan belajar umumnya dapat diketahui saat anak sudah berada di sekolah dasar, karena tugas membaca, menulis, dan berhitung berada pada tingkatan tersebut. Karena alasan itulah, agak sulit bagi saya untuk memastikan apakah anak usia di bawah 6 tahun, seperti anak ibu, mengalami kesulitan belajar atau bukan. Masih terlalu dini. Sekarang lakukan saja apa yang ibu anggap baik untuk mengenalkan membaca atau berhitung kepada Tania, asal jangan dilakukan secara formal. Lakukan melalui permainan atau sesuatu yang menyenangkan, sehingga Tania tidak menyadari jika dia sedang belajar. Bahwa anak kedua ini agak berbeda dari anak sebelumnya, ini kewajiban orang tua, karena setiap anak adalah berbeda, bahkan anak kembar identik sekalipun. Nanti setelah Tania masuk sekolah dasar dan duduk di kelas II atau kelas III, baru kita akan mulai bisa mengetahui dengan lebih jelas apa yang terjadi padanya. Jika matamata pelajaran lainnya relatif bagus, tetapi dia mengalami kesulitan ketika membaca, ada kemungkinan Tania

Dr. Asep Supena, M.Psi

Dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta

mengalami disleksia. Jika hampir pada semua mata pelajaran mengalami kesulitan, termasuk juga membaca, menulis, dan berhitung, boleh jadi masalahnya pada tingkat kecerdasan atau kemungkinan mengalami hambatan kecerdasan. Gangguan penglihatan seperti low vision yang dialami anak Ibu tidak secara langsung berhubungan dengan kesulitan membaca sebagaimana dijelaskan di atas. Sebab, gangguan penglihatan tidak secara langsung menyebabkan terjadinya hambatan kecerdasan atau hambatan neurologis. Jika anak low vision mengalami kesulitan membaca, mungkin penyebabnya pada aspek teknis atau metodik, seperti ukuran tulisan yang digunakan. Bisa pula karena kondisikondisi pendukung lainnya, seperti pencahayaan ruangan, tidak sesuai dengan kemampuan penglihatan anak. Jika Ibu ingin memasukkan anak ke sekolah umum atau reguler, saya anjurkan dimasukkan ke sekolah yang sudah masuk program sekolah inklusif, yaitu sekolah umum yang dipersiapkan untuk menerima anak-anak dengan kebutuhan khusus. Di DKI Jakarta sudah 164 sekolah ditunjuk sebagai sekolah inklusif, dari tingkat SD hingga tingkat SMA atau SMK. Sukses selalu untuk Ibu dan Tania. n

31 31 2/17/11 5:43 PM


S

SOSOK

Ratnawati

Pelindung d

R

uang kerja di lantai 3 sebuah gedung di kawasan Sunter Garden, Jakarta Utara, itu tampak sibuk. Puluhan orang sibuk bekerja membuat aneka kerajinan. Ada yang memotong bahan, ada yang menjahit, memasang payet, atau merangkai aksesoris Meski mereka sibuk, suasana terasa sunyi. Nyaris tak ada suara. Jika berkomunikasi, mereka menggunakan bahasa isyarat. Jangan kaget, karena seluruh pekerja di ruang produksi Precious-One itu memang penyandang tunarungu.

Membantu Berkarya

Precious-One, perusahaan yang memproduksi aneka ragam kerajinan dari tas, dompet, tempat tisu, sarung bantal, boneka, tutup galon air, hingga aneka hiasan dinding, memang khusus mempekerjakan penyandang disabilitas tunarungu. Ratnawati, sang pendiri dan pemimpin Precious-One, mendirikan perusahaan ini untuk memberikan lapangan kerja bagi orang-orang

32 Edisi 3 Maret ok.indd 32

EDISI EDISI 03-MARET 03-MARET 2011 2011

diffa 2/17/11 5:43 PM


Foto-foto: Nestor Rico Tambunan

g dari Dunia Sunyi berkebutuhan khusus seperti mereka. Karena itu pula, dalam setiap produk Precious-One selalu disertakan label dalam bahasa Inggris dan Indonesia: “Produk ini hasil karya terbaik mereka yang berkebutuhan khusus sebagai bukti bahwa hidup mereka sangat berarti dan bisa menjadi kebanggaan anak bangsa”. “Mereka sulit dapat kerja di tempat lain. Dengan bisa kerja, punya kegiatan, mereka bisa menemukan rasa berharga dalam hidup. Itu yang membuat hati saya bahagia,” ujar Ratnawati. Ratnawati memasarkan hasil karya insan-insan yang berada di dunia yang sunyi ini di sejumlah toko di Jakarta. Kadang mengikuti pameran. Juga ada beberapa beberapa perusahaan yang sering memesan hiasan atau suvenir khusus. Contohnya Kalbe Farma. Sejumlah sekolah juga suka memesan alat peraga. Ratnawati tidak mau menyebut omzet pasti Precious-One. Tapi yang jelas, usaha bermuatan amal ini terus berkembang. Jumlah pekerja

diffa EDISI EDISI 03-MARET 03-MARET 2011 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 33

kini 33 orang. Saat mulai berdiri, usaha ini hanya mempekerjakan seorang tunarungu. “Biasanya dibawa temannya,” ujar gadis kelahiran Semarang, Jawa Tengah, ini sambil tersenyum.

Kesadaran dari Sakit Pemikiran untuk berbuat sesuatu kepada penyandang disabilitas muncul ketika Ratna jatuh sakit pada tahun 2000. Saat itu fisiknya begitu tak berdaya hingga harus tergeletak di tempat tidur selama dua bulan. Sebelumnya, lulusan Jurusan Akuntansi Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta, ini cukup sibuk sebagai sekretaris. “Saat itu saya merasa hidup saya tidak berarti. Saya punya anggota tubuh lengkap, tetapi tidak bisa apa-apa. Bagaimana dengan orang-orang yang cacat?” kenang Ratna. Renungan saat tak berdaya itu mengantar Ratna berjanji dalam hati, jika diberi kesembuhan akan bekerja bagi orang-orang berkebutuhan khusus. Setelah pulih dari sakit, Ratna mulai belajar bahasa isyarat dari Bu Baron

Sastradinata. Ia juga membentuk komunitas anak-anak berkebutuhan khusus. Suatu hari di tahun 2004 dia bertemu seorang tunarungu yang sudah tujuh kali melamar pekerjaan dan ditolak terus karena alasan keterbatasan fisiknya. ”Saya sedih sekali. Tuhan menghadirkan dia, tetapi masyarakat menolak dan tidak memberinya kesempatan,” ujar Ratna. Ketika itu, Ratna sedang bereksperimen membuat aneka barang dari kain jok. Dia lantas mengajak gadis tunarungu tersebut. “Kamu mau nggak ikut, saya ajari bikin sesuatu,” kata Ratna dengan bahasa isyarat. Gadis itu mau. Ratna lalu mengajarinya membuat bermacam-macam barang, dari dompet hingga jepit rambut. Gadis itu ternyata cepat belajar. Hasilnya pun layak jual. Maka, berdirilah Precious-One. Murid pertama Ratna itu kemudian mengajak temanteman senasib. Dari hanya seorang tunarungu, kini Ratna menghimpun 33 orang tunarungu. Usaha ini secara formalnya berada di bawah Yayasan

33 2/17/11 5:43 PM


Sosial Karya Insan Sejahtera. Nama Precious-One bukan sembarang dibuat. Precious berarti berharga dan one seseorang, satu pribadi. “Siapa pun kita, dalam keadaan apa pun, semua berharga di mata Tuhan,” kata Ratna.

Berkembang ke Batik Menurut Ratna, tantangan dalam usaha kerajinan adalah kreativitas, terutama dalam hal desain. Sejauh ini dia dibantu pekerja yang sudah senior tidak terlalu kesulitan dalam membuat desain produk Precious-One. Bahkan kini Ratna mengembangkan divisi baru di bidang kerajinan batik, yang diberi label The Silent Art. Mengapa batik? “Batik produk khas kebanggaan Indonesia. Senang sekali kalau teman-teman berkebutuhan khusus ini bisa menunjukkan karya dalam produk

34 34 Edisi 3 Maret ok.indd 34

kebanggaan bangsa,” ujar Ratna. Kini dia melatih dua pekerja berkebutuhan khusus belajar membatik. Ratna sendiri sudah terlebih dahulu belajar membatik. Di atas semua itu, Ratna merasa senang dan bahagia karena berhasil memberikan kesempatan berarti kepada para penyandang tunarunggu. Mereka bangga karena dapat mencari uang sendiri, bahkan membantu ekonomi keluarga. “Mereka dilahirkan sebagai pribadi yang berharga. Kami menerima mereka untuk memunculkan rasa bahwa mereka berarti lewat bekerja,” ujar bungsu dari enam bersaudara ini. Dari pergaulannya dengan orang-orang penyandang tunarungu, Ratna melihat keterbatasan mereka bukan sebagai kelemahan dan penghalang. Bahkan mereka memiliki kelebihan yang

menyenangkan. Karena tidak bisa mendengar dan berbicara, mereka umumnya polos. “Karena biasa berkomunikasi dengan isyarat dan mimik, ekspresi mereka menyenangkan,” ujar Ratna. Satu hal yang selalu Ratna pesankan kepada anak asuhnya adalah agar mereka berhenti melihat kelemahan diri sendiri, mengasihani diri sendiri, dan berkeluh kesah. ”Karena banyak orang yang terus berjuang dengan keterbatasan fisik mereka untuk melewati kehidupan ini. Dan mereka bisa tetap tersenyum,” ujarnya. Betapa indah jika lebih banyak orang seperti Ratna. Menjadi berarti dan percaya diri lewat berkarya merupakan nyanyian indah bagi dunia saudara-saudara penyandang disabilitas yang sunyi. n Nestor

EDISI 03-MARET 03-MARET 2011 2011 EDISI

diffa diffa 2/17/11 5:43 PM


APRESIASI Judul : Anakku Karunia Tuhan? Penulis : Irma Koswara Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jakarta 2010 Halaman : 152 halaman

I

Menyulap Gugatan Jadi Rasa Syukur

Foto: FX Rudy Gunawan

rma menahan kepala anaknya yang terus-menerus, digerakkan ke belakang dan ke samping sampai lehernya memanjang dan tertarik jauh. Satu tangannya memegang mikrofon dan satu lagi sibuk menahan kepala anaknya. Ekspresi wajahnya tenang, lembut, sabar, dan penuh kasih. Tak ada lagi beban sebagai orang tua bagi anak penyandang ceberal palsy (CP) yang kini sudah berusia 11 tahun. Armando, begitu Irma menamai anak semata wayangnya itu. Tak pernah Irma, atau perempuan mana pun, membayangkan akan memiliki seorang anak penyandang disabilitas. “Apa yang seharusnya menjadi hari terindah dalam hidup kami berubah menjadi seperti upacara pemakaman,” tutur Irma saat acara peluncuran bukunya. Kalimat itu juga menjadi kalimat pembuka di bagian prolog bukunya. Sebuah buku kecil yang berasal dari kumpulan tulisan di buku hariannya sebagai ibu yang berjuang membesarkan anaknya yang menderita CP. Buku berisi 37 tulisan pendek ini berisi kisah luar biasa yang jujur, penuh konflik batin, keputusasaan, sampai akhirnya mulai proses penyadaran untuk bisa mensyukuri kenyataan. “Kisah ini bukan kisah mengenai manusia… melainkan cinta… merupakan kesaksian adanya cinta dan kehadiran Tuhan dalam jalan dan gulat hidup anak manusia….” (hal. 15). Pada momen-momen terberat, kerap Irma menggugat dan marah kepada Tuhan sehingga ingin EDISI 03-MARET 03-MARET 2011 2011 diffaEDISI diffa

Edisi 3 Maret ok.indd 35

A

berpaling saja dari Tuhan. Tak peduli dan kehilangan kepercayaan kepada Tuhan. Namun, proses mengurusi, membesarkan, dan mendidik Armando terus berjalan. Terus dilakukannya karena seberapa berat pun keadaan yang dialaminya, ia toh tetap harus mengurus anaknya. Tak mungkin ia meninggalkan Armando meski hanya untuk sesaat. “Mengapa Tuhan seakan membiarkan kita bergulat dalam penderitaan? Apakah benar penderitaan adalah sebuah bentuk hukuman? Ataukah… itu sebuah ajakan dan kesempatan yang diberikan-Nya kepada kita, agar kita dapat belajar dan mengenal

lebih dalam lagi arti cinta yang sesungguhnya dan dapat membagikannya kepada sesama? (hal.86). Pertanyaanpertanyaan semacam itu terus berkecamuk di benak Irma sepanjang waktu seiring tumbuh-besarnya Armando. Lewat proses yang begitu berat, berliku, penuh onak, dan mendaki, Irma menapaki jalan hidupnya sebagai ibu seorang anak penderita CP. Jatuh, bangun, jatuh, bangun, jatuh, bangun terus-menerus. Seperti seorang pesulap yang tengah berguru untuk mampu menyulap sebuah gugatan menjadi rasa syukur. Sangat berat proses belajar untuk menguasai ilmu sulap itu. Jika Anda membaca bukunya, Anda akan paham betapa susah menjadi sosok Irma. Sosok yang mampu menyulap gugatan menjadi rasa syukur. Seharusnya dalam mengarungi kehidupan ini, kita semua juga belajar kepada Irma agar selalu bisa mengubah kemarahan, kepedihan penderitaan, dan keputusasaan menjadi rasa syukur yang tulus. n Fx Rudy Gunawan.

35 35 2/17/11 5:43 PM


36 Edisi 3 Maret ok.indd 36

EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:43 PM


diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 37

37 2/17/11 5:43 PM


R

RUANG HATI

Melatih Anak Autis B Yth. Ibu Frieda Mangunsong Nama saya Lisa. Saya memiliki anak autis usia empat tahun. Saya mengamati Dendy, panggilan anak saya, sulit menyesuaikan  diri dengan lingkungan yang berbeda, selain rumah sendiri. Hal ini terjadi antara lain jika dia saya ajak berkunjung dan menginap di rumah orang tua saya atau suami. Biasanya dia seperti ngambek dan tidak mau makan sama sekali. Karena Dendy tidak mau makan, saya jadi khawatir. Apalagi jika kami harus berada di tempattempat lain sampai beberapa hari. Apa sebabnya, ya? Apakah ini ada hubungan dengan kondisi autis yang dialaminya?Mohon penjelasan Ibu Frieda. Terima kasih.  

38 Edisi 3 Maret ok.indd 38

I

bu Lisa, mama Dendy yang penuh cinta kasih Ibu katakan anak ibu autis. Apakah memang diagnosisnya sudah dilakukan dengan asesmen yang tepat dan benar? Artinya, dilakukan oleh ahli yang berwenang atau kompeten dan menggunakan instrumen yang tepat? Sebab, usia anak ibu baru empat tahun. Biasanya, indikator yang ketat dilakukan setelah anak berusia tujuh tahun dan anak juga sudah melalui berbagai terapi, intervensi, ataupun latihan pengembangan sensori integrasi. Anak dengan gangguan spektrum autistik juga berbeda-beda karakteristik dan penanganannya. Ada yang tergolong low functioning, yaitu kelompok yang EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:43 PM


Ilustrator: didot purnomo

s Beradaptasi fungsi komunikasi, kemampuan berbahasa, interaksi, dan perilakunya sangat terbatas. Ada pula yang tergolong high functioning atau tipe asperger, yaitu kelompok autistik yang bisa berbahasa dan berkomunikasi serta berinteraksi, walaupun sangat terbatas dan berkecenderungan memiliki perilaku stereotipik, yaitu tindakan yang dilakukan berulangulang, yang muncul tidak terlalu sering, hanya bila anak merasa tidak nyaman. Jadi, bila Ibu ingin mengajak Dendy ke suatu tempat baru, yang berbeda dari tempat yang seharihari dialami, bertemu orang-orang berbeda, ada di situasi yang berbeda, dan membutuhkan penyesuaian diri yang berbeda dari kebiasaannya, sebaiknya Ibu melakukan persiapan terlebih dahulu. Ceritakanlah kepada Dendy dengan kalimat singkat, sederhana, dan berulang-ulang tentang rencana ke luar rumah untuk beberapa waktu. Gambarkan situasi yang berbeda dengan rumah, kamar, dan lainnya. Pastikan Dendy boleh membawa barang-barang yang biasa dia gunakan atau lihat sehari-hari, untuk membuat tempat baru tidak menjadi asing sama sekali baginya, dan membuat ia merasa sangat tidak nyaman. Sifat anak autis memang tidak menyukai perubahan, bersifat statis dan kaku, tidak fleksibel, dan tidak mudah menyesuaikan diri.

diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 39

Frieda Mangunsong, Guru Besar (Profesor) Fa­ kul­tas Psikologi Universitas Indonesia yang se­ jak tahun 1980 mengajar dan sejak tahun 1984 mendalami bidang Psikologi Pendidikan. Da­ lam bidang keahlian akademisnya, Frieda di­ ke­nal secara luas karena kepedulian yang kon­ sisten mengenai pendidikan anak de­ngan ke­ bu­tuhan khusus. Hal ini ditunjukkan dengan keterlibatan sebagai konsultan untuk program pendidikan berbagai sekolah dan ins­titusi. Bidang pemberdayaan pe­rempuan dan kesejahteraan terutama yang menyangkut anak-anak juga me­ rupakan bidang yang menjadi kepedulian dan la­ yan­an dalam hidupnya.

Saya sarankan juga Ibu membawa Dendy ke pusat asesmen dan terapi tumbuh kembang anak terdekat. Hal ini untuk memastikan pola pengasuhan yang tepat untuk Dendy, memberikan intervensi dan latihan-latihan atau terapi yang sesuai dengan apa yang dia perlukan saat ini, serta untuk mengejar beberapa tahap perkembangan yang belum cukup atau masih terhambat. Maksimalkan perkembangan fisik, motorik, bahasa, sosial, dan kognitif Dendy untuk mengurangi hambatan-hambatan yang bisa terjadi di masa usia sekolahnya mendatang. Selamat mencoba dan tetap lakukanlah dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Salam manis. n

39 2/17/11 5:43 PM


B

BINGKAI BISNIS

Ilustrator: didot purnomo

Menjadi Pengusaha P

K

ebanyakan wisatawan di Bali tak akan melewatkan sebuah tempat bernama Jogger. Di Jogger, para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, berebut membeli kaos oblong atau t-shirt yang sebenarnya sama seperti kebanyakan kaos oblong lain di seluruh jagat raya. Bedanya, kaos Jogger adalah wujud produksi pengusaha pabrik kata-kata yang sukses. Berbagai kalimat lucu, ungkapan konyol, dan sindiran ringan yang mengena dicetak di bagian depan atau belakang kaos produksi Jogger dengan desain yang juga unik dan menarik. Itulah kelebihan, keunikan, dan kekuatan kaos kata-kata Jogger, yang bisa membuat orang merasa belum lengkap mengunjungi Bali jika belum membeli kaos Jogger. Di Yogyakarta, beberapa tahun setelah sukses besar Jogger sejak tahun 1990-an, muncul pengusaha kaos kata-kata yang juga tak kalah sukses. Merek dagang

40 Edisi 3 Maret ok.indd 40

kaos Yogya itu adalah Dagadu yang didirikan oleh sekelompok anak muda Yogya yang masih kuliah. Konsep kata-kata yang dilekatkan pada kaos Dagadu juga kata-kata lucu bernuansa Yogya, mulai dari yang bertema halhal kecil dalam realitas keseharian masyarakat Yogya, tema kritik sosial yang lucu, hingga parodi budaya. Konsep ini bukan tak mungkin terinspirasi oleh Jogger sebagai pelopor. Semangat kecintaan pada Bali yang diusung Jogger mewujud menjadi semangat kecintaan pada Yogyakarta yang diusung Dagadu. Nilai jual kaos Dagadu adalah kata-kata seperti halnya kaos Jogger.

Beragam Produk Kata-kata Setelah selesai dengan proses produksi tahap I berupa pengumpulan bahan dasar untuk memasok otak kita dengan sebanyak mungkin buku bacaan dan informasi, kini saatnya mengolah bahan dasar tersebut menjadi produk nyata pabrik kata-kata. Jogger dan Dagadu adalah contoh sukses yang memerlukan modal uang cukup besar karena media produksi yang digunakan adalah kaos oblong. Media lain yang lebih murah adalah stiker. Stiker atau gambar tempel adalah media pabrik kata-kata yang mempunyai prospek bisnis kecil yang menguntungkan. Syaratnya, kita punya katakata yang unik, menarik, lucu, atau provokatif. Pilihan ada di tangan kita. Mau memproduksi stiker kata-kata lucu, kata-kata unik, kata-kata bijak, atau kata-kata provokatif? Contoh kata-kata untuk stiker provokatif: “dilarang kencing di sini kecuali monyet�, “rela mati demi cinta�, EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:44 PM


a Pabrik Kata-kata (2) “ganyang korupsi, gantung koruptor”, dan banyak lagi. Contoh stiker kata-kata bijak: “knowledge is power”, “hargai orang lain seperti menghargai diri sendiri”, “perbedaan itu indah”, dan sebagainya. Kita bisa memproduksi semua kata-kata menarik itu jika terus memasok bahan dasar ke otak kita. Hanya diperlukan kreativitas untuk mengolahnya setiap saat. Jika memilih media stiker sebagai wujud produksi pabrik kata-kata kita, proses selanjutnya cukup kita serahkan kepada tukang stiker. Soal desain, ada banyak contoh dan template di internet dan sumber lainnya. Kita tetap hanya memproduksi kata-kata. Modal utama memproduksi stiker kata-kata adalah kata-kata. Media lain yang juga serupa dengan kebutuhan dana relatif kecil adalah media pin. Untuk pin, ruang yang tersedia lebih kecil dan terbatas. Katakata harus lebih langsung, tajam, dan mengena. Kita tidak bisa berpanjang-panjang kata di atas media pin yang ukurannya lebih kecil dibanding stiker. Proses produksi media pin juga sama dengan stiker, kita hanya memproduksi kata-kata. Selanjutnya tukang pin yang mengerjakan produk kita. Contoh kata-kata untuk pin: “100% cinta Indonesia”, “gerakan peduli AIDS”, “satu untuk bangsa”, “peace on earth”, “gue anti kekerasan”, dan ribuan kata-kata singkat lain yang bisa diproduksi untuk pin. Masih banyak media lain yang bisa digunakan untuk produksi kata-kata. Bisa hiasan dinding, kartu ucapan selamat ulang tahun, selamat Idul Fitri, selamat Natal, selamat Waisak, dan media-media lainnya.

Produk Unggulan Pengusaha pabrik kata-kata yang serius harus merintis untuk memiliki produk unggulan di dunia usaha pabrik kata-kata. Apakah itu? Buku. Ya, produk unggulan pabrik kata-kata adalah buku. Menulis sebuah buku. Boleh buku tentang apa saja. Mengapa buku disebut produk unggulan? Karena membuat kata-kata untuk menghasilkan sebuah buku perlu waktu lebih panjang, perlu bahan dasar lebih banyak, perlu kreativitas lebih tinggi, perlu disiplin lebih kuat, dan perlu mengerahkan semua kemampuan otak kita

diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 41

yang luar biasa. Itulah mengapa buku adalah produk unggulan di dunia pengusaha pabrik kata-kata. Jika sudah berhasil memproduksi buku, maka kita resmi menjadi pengusaha pabrik kata-kata sekaligus penulis. Sampai saat ini saya sudah menulis setidaknya 25 judul buku yang diterbitkan berbagai penerbit di Indonesia. Modal tambahan yang menjadi syarat penting agar bisa memproduksi kata-kata untuk sebuah buku adalah disiplin, ketekunan, dan kerja keras. Hanya dengan disiplin kita bisa memproduksi halaman demi halaman setiap hari sampai jadilah sebuah naskah buku tentang apa saja yang kita inginkan. Kita bisa memulainya dengan tema-tema yang kita sukai, sehingga semangat untuk mengerjakan akan terus menyala, meskipun berbagai kendala menghadang. Bagaimana langkah-langkahnya? Gampang. Jika, katakanlah Anda suka musik dangdut, maka bisa mulai dengan merencanakan menulis buku tentang musik dangdut. Proses selanjutnya adalah menentukan informasi apa yang ingin kita tulis tentang dangdut. Kita, misalnya, bisa menulis sejarah grup atau penyanyi dangdut terkenal di Indonesia. Kita bisa menulis tentang perbandingan antara dangdut dan musik Melayu atau musik India. Kita bisa menulis kajian lagu-lagu dangdut penyanyi favorit kita, atau bisa saja menulis tentang kontroversi seorang penyanyi dangdut. Saya menulis buku Mengebor Kemunafikan; Inul, Seks dan Kekuasaan pada saat heboh kontroversi goyang ngebor Inul Daratista. Dan tentu saja buku itu laris manis karena ditulis pada momen yang tepat. Buku ini bahkan sudah dipesan oleh sebuah penerbit saat saya masih menulisnya. Buku saya hanyalah sebuah contoh dan bukti bahwa kita harus bisa membuat produk unggulan jika sudah menjadi pengusaha pabrik kata-kata. Ini bukan omong kosong. Bukan pepesan kosong. Bukan impian gombal. Menjadi pengusaha pabrik kata-kata sebagai penulis hanya memerlukan ketekunan, disiplin, dan kerja keras, ditambah semua syarat dan modal yang sudah saya sampaikan terdahulu. Cukup itu saja. Selamat mencoba! n

Fx Rudy Gunawan

41 2/17/11 5:44 PM


P

PIRANTI

Bermain dan Belajar C ­­­

Pengalaman belajar anak-anak berkebutuhan khusus dapat ditingkatkan agar memiliki pendengaran lebih tajam, daya serap yang lebih cepat, lebih mudah memahami, dan kepercayaan diri tinggi ketika berbicara. Salah satunya piranti lunak komputer bermain Fast For Word Neuroscience Approach to Reading Intervention. Game ini dapat menjadi pertimbangan untuk mengajak bermain anak-anak berkebutuhan khusus.

42 42 Edisi 3 Maret ok.indd 42

M

ungkin anak Anda atau salah satu anggota keluarga mengalami satu dari beberapa hal yang berhubungan dengan kata-kata, seperti kesulitan cara membaca, mengeja, menulis, atau memahami kata-kata. Gejala seperti itu disebut disleksia. Amati gejala-gejala berikut sehingga dapat segera menangani bila terjadi pada anak Anda. Sulit menyebutkan nama benda yang amat sederhana sekalipun, meski sehari-hari ia menggunakannya. n Gangguan bisa juga dalam kemampuan menuliskan huruf. Misalnya b ditulis atau dibaca d, p ditulis atau dibaca q, dan sebaliknya. n Bisa juga salah dalam mengeja atau membaca rangkaian huruf. Misalnya, gajah dibaca atau ditulis jagah. n   Kekurangan atau kelebihan huruf dalam menulis n   Sulit mengingat arah kiri dan kanan, sulit membedakan waktu (hari ini, kemarin, dan besok) n   Sulit mengingat urutan n   Sulit mengikuti instruksi verbal n   Sulit berkonsentrasi   Khusus pada hal yang terakhir, kita perlu mengkonsultasikannya kepada psikolog ataupun dokter anak. Perlu juga kita mengerti bahwa gejala tersebut kemungkinan pula diakibatkan anak kita mengalami n

gangguan Attention Deficit Hyperactivity Disorder, biasa disingkat ADHD. Gangguan ini terlihat sejak masa kanak-kanak dan dapat dianalisis langsung oleh ahli perkembangan anak (psikolog). Gangguan ini berdampak pada cara anak berpikir, bertindak, dan merasa. ADHD berawal dari hasil penelitian dokter Inggris Profesor George F. Still pada tahun 1902 terhadap sekelompok anak yang menunjukkan ketidakmampuan abnormal untuk memusatkan perhatian yang disertai rasa gelisah dan resah. Anak-anak itu mengalami kekurangan yang serius “dalam hal kemauan” yang berasal

diffa diffa

EDISI EDISI03-MARET 03-MARET2011 2011

2/17/11 5:44 PM


ar Cepat dengan Fast For Word

dari bawaan biologis. Gangguan tersebut diakibatkan sesuatu “di dalam” diri anak dan bukan karena faktor lingkungan. Di Indonesia, ADHD diartikan sebagai gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktif. Ciri-ciri manandai ADHD antara lain: n Selalu bergerak. Gerakan- gerakannya tidak beraturan, tidak terkontrol, serta tanpa sebab yang jelas n Sering lupa terhadap segala hal, disebabkan kekurangmampuan berkonsentrasi n  Sering bingung tanpa sebab yang

diffa EDISI03-MARET 03-MARET2011 2011 diffaEDISI Edisi 3 Maret ok.indd 43

beralasan n Emosi labil, cenderung gelisah, resah, dan tidak tenang n  Kecenderungan mengganggu teman-temannya   Baik disleksia maupun ADHD dapat menyebabkan permasalahan serius di rumah, sekolah, pekerjaan, dan interaksi sosial di masyarakat bila tidak ditangani sejak dini. Perhatikan ciri-ciri berikut pada anak usia sekolah yang belum memiliki kemampuan berbahasa dan menulis: n  Mengalami kesulitan membaca dan mengeja n  Salah menulis dan meletakkan gambar n  Sulit menghapal alfabet n  Menyebutkan huruf terbalik-balik, misalnya “b” dan “d” atau mengeja “tadi” dengan “tapi” n  Menggunakan jari untuk menghitung n  Konsentrasi buruk n  Tidak mengerti apa yang dibaca n  Menulis lama sekali   Ada baiknya memilihkan kegiatan bermain yang dapat menstimulasi otak anak untuk memperbaiki kemampuan berbahasa dan mengeja tulisan dengan teknologi yang memang dirancang untuk anak dengan disleksia dan ADHD. Fast For Word produksi Kidzgrow (www.kidzgrow.com) telah digunakan oleh 6.000 sekolah di Amerika Serikat. Piranti lunak ini menjadi pilihan tepat bagi anak-anak berkebutuhan khusus seperti disleksia ataupun ADHD untuk memacu akselerasi

(percepatan) belajar anak dengan cara meningkatkan efisiensi kerja otak. Program ini dibuat melalui serangkaian riset oleh ahli ilmu saraf selama 30 tahun. Chia Cheryl, Direktur Pendiri & Klinis KidzGrow, yang memprakarsai pembuatan dan menyebarkan Fast For Word ke seluruh dunia. Sarjana Fisioterapi (Hons) dari University of Queensland, Brisbane, dan Master Studi Fisioterapi (Paeds, Aus), MSPA dari Australia ini memiliki lebih dari 10 tahun pengalaman bekerja di Children’s Hospital dan praktik swasta di Singapura. Kidzgrow mengklaim kebanyakan anak secara alami belajar bahasa dalam tahun-tahun pertama kehidupan mereka, namun penelitian telah menunjukkan banyak anak gagal mengembangkan keterampilan ini. Sekitar 10 persen anak memiliki kesulitan tertentu dalam membedakan elemen-elemen perkataan. Padahal, setiap anak perlu memiliki keterampilan berbahasa itu. Fast ForWord adalah metode pertama yang terbukti mampu mengajarkan keterampilan itu untuk anak-anak yang tidak mampu belajar secara alami. Pada umumnya 5% - 7% dari semua anak memiliki ADHD. Sekitar 60% - 70% dari anak-anak tersebut akan membawa masalah ini hingga usia dewasa. Ketidakmampuan menyelesaikan tugas yang terorganisasi, mengingat hal-hal, atau mudah terganggu konsentrasinya, akan mengikuti anak-anak tersebut hingga menjadi dewasa. Diperkirakan miliaran dolar hilang akibat masalah ini.

43 43 2/17/11 5:44 PM


Play Attention (salah satu fitur software ini) dapat mengajarkan dan meningkatkan daya ingat, melatih anak menyelesaikan tugas, dan tidak selalu merasa terganggu. Keterampilan ini sangat penting untuk kesuksesan anak di sekolah ataupun nanti di tempat kerja. Tujuan Fast For Word untuk meningkatkan: n Proses auditory  n Kemampuan menerima instruksi  n Membaca, mengeja, dan memahami   n Perhatian dan memori   n Keterampilan menerima dan mengekspresikan bahasa   n Kecepatan belajar   n Level akademis   

Cara Kerja

Berdasarkan lebih dari 30 tahun penelitian mengenai cara kerja otak, aktivitas membaca, dan bahasa, produk adaptif belajar interaktif ini menggunakan teknologi yang telah dipatenkan untuk membidik keteram­ pilan membaca dan bahasa yang secara luas diakui sebagai kunci untuk semua kegiatan belajar. Dengan menerapkan prinsip-prinsip neuro­ science, Fast ForWord® sangat unik dalam kemampuan untuk mendukung kemampuan belajar dan intelektual, mencakup: n n

Memori Atensi Kecepatan memproses Mengurutkan   Suara yang secara khusus diproses, kata-kata dan kalimatkalimat, program mainan berbasis komputer ini membantu mengaktifkan area kerja di otak yang terhubung dengan proses fonologis. Melalui reproduksi suara yang dahsyat, perbedaan akustik ditekankan sehingga otak mampu menangkap n n

44 Edisi 3 Maret ok.indd 44

perbedaan suara yang halus seperti “b” dan “d”. Semakin meningkat level permainan, suara akan terdengar seperti ucapan yang alami, sehingga memungkinkan persepsi komunikasi verbal lebih mudah. Ketika jalur syaraf auditory menjadi lebih aktif, pencapaian kemampuan berbahasa dan berbicara dapat dicapai hanya dalam 6 - 8 minggu!  Fast For Word terbagi dalam dua kategori, yaitu Fast For Word Reading Series dan Fast For Word Language and Literacy Series. Fast For Word Reading Series diberikan kepada anak-anak yang membutuhkan pelatihan pengetahuan fonologi, fonemik, kefasihan, kosakata, pemahaman, penyusunan kode data atau penguraian sandi (decoding), memori, tata bahasa, dan keterampilan lain yang diperlukan untuk belajar membaca dan pemahaman baca yang lebih baik. Program ini mampu menghubungkan otak agar lebih peka dengan suara. Program ini juga dapat membuat apa yang dipelajari anakanak lebih komperhensif. Stimulus yang diberikan dari software ini bisa mempercepat kinerja otak, karena membuat anak lebih peka terhadap suara. Fast For Word Language and Literacy Series merupakan software yang dirancang untuk membantu anak-anak yang mengalami kesulitan belajar (children with learning difficulties) seperti autisme, ADD, ADHD, serta disleksia. Prinsip kerja piranti lunak ini adalah mampu membangun jaringan baru di dalam otak, yang bisa menguatkan Memory-AttentionProcessing-Sequencing (MAPS) anakanak. Piranti ini dirancang menyerupai permainan komputer yang sangat menarik bagi anak ataupun siswa sekolah. Prinsip kerja kedua piranti lunak ini sangat ilmiah. Software

ini memberikan stimulus secara terstruktur, bukan secara random seperti mainan anak biasa. Anak diajak bermain, tanpa menyadari permainan itu menstimulasi otaknya untuk bekerja. Kuncinya adalah efisiensi dalam memproses informasi. Apa pun bahasa yang dipakai, siswa seluruh dunia menggunakan program Fast For Word untuk mengembangkan keterampilan kognitif untuk keberhasilan akademis. Software dengan teknologi yang dirancang secara scientific ini awalnya dibuat untuk anak autis dan disleksia, namun kini juga bisa digunakan untuk membantu mempercepat anak-anak lainnya agar bisa membaca dengan lebih baik. Prinsipnya, program Fast For Word digunakan dalam satu sesinya selama 50 menit. Sepanjang waktu tersebut, anak mulai dirangsang kemampuan pendengarannya serta ingatannya. Selama kurang dari satu jam program ini akan menghubungkan otak agar lebih peka dengan suara yang mereka dengar. Sedangkan suara yang didengar secara bersamaan akan mempercepat kemampuan otak mengingat apa yang mereka lihat. Selama dua hingga tiga bulan pemakaian, anak-anak yang mengikuti Fast For Word dipastikan mengalami perubahan pattern otak. Pola otak itu yang akan menguatkan kekuatan membaca. Stimulus yang diberikan software ini berbeda dari software game lain. Game yang mencerdaskan anak ini sudah tersedia di Indonesia dan bisa didapatkan di The Citywalk, Jalan Darmawangsa VI - IX Jakarta Selatan. Video demonya dapat diintip di http://www.kidgrow.com.my/en/ home/programmes/fast-forword/ video.html n Irwan Dwikustanto Disarikan dari beberapa sumber

EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:44 PM


diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 45

45 2/17/11 5:44 PM


B

BUGAR

Main Tenis di Atas Kursi R

T

Paraplegia Indonesia (Perpari). Mereka bermain dan berlatih secara rutin setiap Sabtu dan Minggu. Ada sekitar 15 orang, laki-laki dan perempuan, tergabung di klub ini. Beberapa di antara mereka atlet dan mantan atlet yang pernah menjuarai berbagai turnamen olahraga khusus penyandang disabilitas, baik di dalam maupun luar negeri.

Perbedaan Tenis Kursi Roda Secara teknis hanya sedikit perbedaan permainan tenis bagi pengguna kursi roda. Karena

pemainnya duduk di kursi roda, yang berakibat berkurangnya kecepatan bergerak saat mengejar bola, tenis untuk pengguna kursi roda diperbolehkan memukul bola yang memantul dua kali. Sedangkan pada permainan tenis biasa, pemain hanya boleh memukul bola dengan satu kali pantulan. Perbedaan lain, saat mereka memukul bola dengan punggung tangan atau yang dikenal dengan backhand. Karena posisi pemain yang duduk di kursi roda lebih rendah dari net, biasanya harus

Foto-foto: Adrian Mulja

enis adalah olahraga permainan yang membutuhkan tenaga dan gerak dinamis, baik dilakukan di dalam ruangan maupun di lapangan. Namun, jangan salah, olahraga tenis bukan hanya milik mereka yang bisa berjalan dan berlari. Tenis juga dapat dilakukan oleh para pengguna kursi roda. Salah satu komunitas pengguna kursi roda adalah Klub Tenis Kursi Roda Fatmawati, yang berada di bawah naungan Persatuan

46 46 Edisi 3 Maret ok.indd 46

diffa diffa

EDISI03-MARET 03-MARET2011 2011 EDISI

2/17/11 5:44 PM


i Roda mengangkat raket hingga sejajar atau bahkan sedikit di atas kepala saat melakukan pukulan backhand. Selebihnya, permainan tenis untuk pengguna kursi roda sama dengan tenis yang dilakukan bukan menyandang disabilitas, baik fasilitas maupun teknik permainan.

Foto-foto: Adrian Mulja

Roda Khusus dan Sabuk Pengaman Pengguna kursi roda harus menggunakan kursi roda khusus untuk bermain tenis. Perbedaan utama kursi roda untuk bermain tenis ada pada kedua roda besarnya. Bagian bawah roda kursi roda untuk bermain tenis dibuat lebih melebar ke samping. Ini untuk menjamin petenis dapat menjaga keseimbangan saat bergerak mengejar bola. Saat mengejar bola, petenis kursi roda sering kali harus berbelok ke kanan dan ke kiri secara cepat, kadang harus membelok dengan tajam. Dengan bentuk roda melebar ke samping, petenis terhindar dari kemungkinan terguling. Kekhususan lain adalah sabuk pengaman. Sabuk pengaman kursi roda untuk pemain tenis dipasangkan pada paha pengguna. Ini untuk mencegah pemain berdiri, yang mungkin dilakukan secara tidak sadar karena keinginan yang kuat untuk mengejar atau memukul bola.

EDISI03-MARET 03-MARET2011 2011 diffaEDISI diffa

Edisi 3 Maret ok.indd 47

Mestinya Semua Bisa Seperti pemain tenis pada umumnya, petenis kursi roda menjalani tahapan latihan yang sama. Latihan memukul bola dengan baik, baik forehand maupun backhand, latihan serve, smes, pukulan voli, dan sebagainya.

Saat bermain tenis, kekuatan pengguna kursi roda bertumpu pada tangan dan pinggang. Karena itu, pada prinsipnya semua pengguna kursi roda dapat bermain tenis. Namun, kekuatan pemain tenis kursi roda sangat tergantung pada tingkat disabilitas yang disandang.

47 47 2/17/11 5:44 PM


Jika menggunakan kursi roda karena amputasi, biasanya tidak ada masalah dengan pinggang. Begitu pula bagi yang menggunakan kursi roda karena polio. Tantangan lebih bagi mereka yang menyandang paraplegi, yaitu kelumpuhan akibat kelainan pada saraf punggung atau tulang belakang. Pada kelompok ini, umumnya mengalami kelemahan pada bagian pinggang. Namun, dengan latihan yang baik, bukan tidak mungkin seorang paraplegi juga menjadi juara tenis. Pelatih tenis pengguna kursi roda tentu harus memahami cara berpikir dan kondisi pengguna kursi roda yang dilatih bermain tenis. Jauh lebih baik dan memudahkan jika pelatih juga sesama pengguna kursi roda.

48 48 Edisi 3 Maret ok.indd 48

Sehat, Segar, dan Ceria Seperti olahraga pada umumnya, bermain tenis bagi pengguna kursi roda sangat menyehatkan. Antara lain, baik untuk kesehatan jantung, karena aktivitas memukul bola tidak hanya menguatkan otot tangan dan dada, tapi juga memberikan kesempatan pada jantung untukmelakukan exercise. Yang pasti, dengan berolahraga juga akan terjadi pembakaran kalori yang besar, sehingga mencegah pengguna kursi roda dari kegemukan. Seperti olahraga lain, bermain tenis akan meningkatkan metabolisme tubuh, yang berakibat pada peningkatan daya tahan tubuh dari penyakit. Bermain tenis juga dapat membantu menghilangkan ketegangan akibat tekanan hidup

sehari-hari. “Aktivitas memukul bola merupakan kenikmatan tersendiri,� kata mereka. Persatuan Paraplegia Indonesia menjadikan permainan tenis sebagai salah satu metode untuk melakukan rehabilitasi mental bagi anggota, khususnya bagi mereka yang masih belum dapat menerima dengan baik kondisi disabilitas yang dialami. Salah satu contoh adalah Cindy, penyandang paraplegi yang baru saja menyelesaikan kuliah di kedokteran gigi. Menurut ibunya, sebelum bergabung di Klub Tenis Kursi Roda Fatmawati, Cindy sering marahmarah di rumah. Namun, setelah belajar tenis dan ternyata menyukai, Cindy jadi lebih ceria. Jika rajin berlatih secara rutin, bukan tidak mungkin Cindy menjadi juara tenis. n

Aria Indrawati

EDISI03-MARET 03-MARET2011 2011 EDISI

diffa diffa 2/17/11 5:44 PM


BERANDA

B

Musikus Penyandang Disabilitas Kemampuan manusia sering tak kenal batas. Sering orang menyangka penyandang disabilitas tidak mungkin mengukir prestasi. Namun, kenyataannya banyak penyandang disabilitas berhasil meraih sukses, bahkan melebihi insan normal. Hal ini terbukti di bidang musik. Banyak musikus yang meraih sukses meskipun menyandang disabilitas. Blantika musik Indonesia pernah diwarnai kehadiran penyanyi tunanetra Ramona Purba, yang terkenal dengan lagu “Terlena”. Di blantika musik dunia, banyak musikus penyandang disabilitas. Sering, bahkan orang tidak tahu keterbatasan itu. Ini beberapa di antara mereka.

Tony Iommi Ludwig van Beethoven

Penggemar musik klasik pasti mengenal komposer hebat ini. Sesungguhnya, prestasi Beethoven diwarnai persoalan dilematis. Sedikit demi sedikit Beethoven kehilangan pendengaran hingga akhirnya tuli sepenuhnya. Untuk meneruskan kerja di bidang penciptaan musik, Beethoven membuat sebuah tongkat di papan suara pianonya. Ujung tongkat itu ia gigit. Tiap kali tongkat itu bergetar, dia menangkap setiap nada-nada yang keluar. Kerja unik dan luar biasa, menghasilkan komposisi-komposi musik kelas dunia… musik tanpa pendengaran!

Stevie Wonder

Semua warga dunia tahu Stevie Wonder, musikus, pencipta lagu, penyanyi, sekaligus produser musik rekaman yang hebat. Semua orang juga tahu Stevie buta sejak lahir. Stevie Wonder salah satu sosok yang berhasil membuktikan dan meyakinkan dunia bahwa kebutaan bukan halangan untuk berkarya dan berprestasi. EDISI03-MARET 03-MARET2011 2011 diffaEDISI diffa

Edisi 3 Maret ok.indd 49

Tony Iommi salah satu gitaris yang dikagumi di dunia. Banyak orang tidak tahu gitaris band Black Sabbath ini sebenarnya memiliki kekurangan pada jarinya. Tony kehilangan ujung jari tengahnya saat berusia 17 tahun karena kecelakaan saat bekerja di pabrik. Untuk mengatasi kekurangan tersebut, Tony membuat jari palsu dari plastik yang ditutup dengan kulit. Dan, jadilah Tony gitaris yang dihormati dunia.

Rick Allen

Tahun 1980 Rick Allen bergabung dengan band Def Leppard, sebagai drummer. Malang, tahun 1984 Allen mengalami kecelakaan mobil yang membuat kehilangan tangannya. Tapi Allen tidak menyerah. Untuk mengatasi keterbatasan lengan itu, ia membuat drum kit yang dirancang khusus. Dan Allen bisa terus memukul drum meski dengan satu tangan. “Mungkin, jika bukan karena kecelakaan itu, saya tidak akan seperti sekarang ini,” katanya. Potret semangat tak mau menyerah. n Nestor – dari berbagai sumber

49 49 2/17/11 5:44 PM


P

PUISI

Katakanlah A Itu A Kang Yayat  

Ketika kata terucap, ungkapkan isi hati

Aku tak sanggup berkata-kata apa kata hatiku

Dikemas sedemikian rupa

Lirik kiri tengok kanan mencari aman

Lontarkan maksud yang terkandung dalam kalbu

Aku diperbudak perasaanku sendiri

Sehingga dapat disampaikan

Malu kalau-kalau orang menganggapku begitu

Ketika kata-kata diucapkan

Takut apabila orang memperlakukanku begini

Merambati gelombang merangsang sinyal di otak

Kata-kataku mengabdi kepada perasaan yang syarat

Masuk menembus relung hati

dengan kebimbangan

Merasuki jiwa pikiran yang diselimuti akal dan rasa

Aku berkhianat terhadap diriku sendiri

Tempat bersemayamnya nafsu yang berkolaborasi

Dusta atas suara hati nurani

dengan setan pembisik

Kerap terjadi konflik

Kata-kata penghias bibir meluncur

Timbul perdebatan sengit antar nurani yang

Ada kata-kata yang manis keluar dari hati yang

beralaskan kebenaran dengan nafsu yang

manis

mengusung gejolak kebatilan

Ada kalanya kata-kata yang manis sebagai topeng

Acap kali kata-kataku mewakili nafsu durjana

dari hati yang busuk

Berbasa-basi penuh tipu-daya

Membius meracuni mangsanya mabuk kepayang

Meloloskan kebatilan di bawah bimbingan setan

Tunduk takluk dalam pelukan si angkara murka

Aku sering menjadi sosok yang tidak utuh lagi

Dalam kepura-puraanku, aku bersandiwara dengan

Tercabik-cabik dalam bagian-bagian

kata-kata

Nurani yang kukuh dengan kebenaran sering

Berkilah dari fakta yang ada

dibungkam

Mencari dalil untuk berargumentasi

Disumpal dengan bualan yang kebak dengan

Demi tercapainya ambisi

kebohongan

Aku melacurkan diri atas orang-orang

Kata-kataku banyak bertolak belakang dengan

Yang mungkin menganggapku begitu, begini

sanubari

Dalam kedunguanku, kadang aku tolol

Berpihak atas kepentingan ambisi

Diombang-ambing gelombang ke mana lari

Suara nurani dari lubuk hati parau

50 Edisi 3 Maret ok.indd 50

diffa diffa

EDISI03-MARET 03-MARET2011 2011 EDISI

2/17/11 5:44 PM


Lewat Sebuah Puisi Mutia Diintimidasi oleh emosi yang kokoh mendominasi Mulutku yang bau busuk telah mengingkari fitrahnya Sebagai hulubalang pembela jiwa kebenaran Pancaran diri yang paripurna  Mulut, mata, telinga, panca indera adalah satu kesatuan Tangan, kaki merupakan bagian yang tak terpisahkan dari raga yang jadi sarana jiwa  Seharusnya aku berkata-kata apa adanya Apa yang diucapkan itulah kata hati dan itu pula yang diwujudkan dalam perbuatan nyata Sekalipun harus meneguk empedu Sekalipun pedang menghadang akan menebas batang leherku  Aku harus mengatakan A itu A Karena itu kemenangan, keselamatan, kemerdekaan Dari atas mimbar, di jalanan, di kolong jembatan Harus kuteriakkan ke seluruh penjuru mata angin

Duniaku memang gelap, tapi bukan kelam. Langitku memang tak bercahaya, tapi bukan tak bersinar. Bibirku memang kelu, tapi aku bukan tak mampu berkata. Lidahku memang kaku, tapi aku bukan tak sanggup bicara. Aku memang lemah, tapi aku pantang menyerah. Aku bukan patung, yang hanya bisa diam membisu. Aku bukan boneka, yang bisa dipermainkan begitu saja. Aku manusia, sama seperti mereka. Aku punya karsa, punya cita-cita, sama seperti mereka. Aku punya jiwa, punya hati, sama seperti mereka. Lewat puisi ini, ingin kusampaikan pada duniaku.

Katakan A itu A         

Aku ingin seperti mereka, menerangi alam negeriku, sebagai pencerah bagi isinya.

* Yayat Rukhiat, tunanetra yang mengabdikan diri di Balai Penerbit­ an Braille Indonesia, Departemen Sosial, di Bandung. Ketua Umum Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia. Pernah meraih juara II Lomba Cipta

* Mutia Ayu Rahmania, tunanetra sarjana Pendidikan Luar Biasa, asal Agam, Sumatera Barat. Bergiat di  Persatuan Tunanetra Indonesia (Per­ tuni) DPC Bukit Tinggi.

dan sampai di Penguasa Jagat Raya

Puisi Tingkat Nasional. Catatan Redaksi: Khusus untuk karya puisi, cerpen dan cerita humor (cermor), Redaksi diffa mengutamakan karya penyandang disabilitas. Karena itu setiap pengiriman karya harap disertai identitas diri dan keterangan disabilitas.

EDISI03-MARET 03-MARET2011 2011 diffaEDISI diffa

Edisi 3 Maret ok.indd 51

51 2/17/11 5:44 PM


C

CERPEN

Ibuku, Pahlawanku

“

Rachel Stefanie Halim

Mata anak ini akan buta. Jadi, sebaiknya Ibu menyekolahkannya di SLB-A saja!� Ini dokter spesialis mata ketujuh yang kami datangi. Semua kelihatan angkat tangan atas kasus mataku. Saat itu aku baru berusia enam tahun. Aku masih bisa melihat cukup jauh dan masih bisa berjalan sendiri. Hanya kalau melihat wajah orang atau menonton televisi, aku harus melihat dengan jarak kurang dari satu meter. Kalau ibu mengajariku membaca, aku harus mendekatkan buku ke wajahku agar bisa melihat tulisannya dengan cukup jelas. Setelah hari itu, aku sering mendengar ibu menangis sendirian di kamar. Sementara ayahku tidak bisa menerima keputusan dokter yang berkata bahwa mataku akan menjadi buta. Kelihatannya hal itu merupakan pukulan yang sangat hebat baginya. Suatu ketika ibu menemukan ayah sedang membentur-benturkan kepala ke tembok sambil berkata, �Dosa apa saya, sampai anak saya yang harus menanggungnya?� Seperti biasa, ibu selalu berusaha menghibur ayah agar tidak terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Padahal, dari nada suaranya, ibu juga sedih dan hancur lebur. Ayah tetap tidak setuju aku dimasukkan ke sekolah khusus untuk anak-anak buta, sekolah luar biasa tipe A. Akhirnya ibu mendaftarkan aku di sekolah umum yang sama dengan kakakku. Pada hari pertama masuk sekolah, ibu menempatkan aku di deretan bangku paling depan. Tetapi saat harus melihat tulisan di papan tulis, aku mesti tetap berlari ke dekat papan tulis, kemudian kembali ke tempat dudukku untuk menuliskannya ke buku catatanku. Begitulah yang

52 Edisi 3 Maret ok.indd 52

terus kulakukan sampai semua tulisan di papan tulis selesai kusalin. Sedangkan untuk membaca tulisan di buku, aku menggunakan alat bantu kaca pembesar, sehingga membacaku menjadi lambat. Sering, saat pulang sekolah, ibu menemukanku sedang menangis di dekat papan tulis karena belum bisa menyelesaikan catatanku, sementara teman-temanku sudah pulang. Banyak sekali tantangan dan hambatan yang harus kulalui. Baik dari teman-teman yang sering mengejekku karena tidak bisa bermain selincah mereka, maupun dari sistem pengajaran yang memang tidak dikhususkan buat anak tunanetra seperti aku. Mau tidak mau aku harus berusaha lebih keras agar tidak ketinggalan pelajaran. Tidak jarang nilai-nilai pelajaranku menjadi buruk karena saat ujian aku sering tidak bisa menyelesaikan soal. Waktu yang disediakan sangat terbatas, sedangkan aku membaca sangat lambat. Meski langkahku seakan tertatih-tatih melewati semua itu, aku bersyukur karena tidak pernah tinggal kelas. Diam-diam aku sering malu dan sedih atas keadaan mataku, sehingga mencoba menutupi dengan menyembunyikan kesulitan-kesulitan yang kuhadapi. Aku tidak mau diperlakukan berbeda dari teman-teman, karena itu aku berusaha sekuat tenaga agar tetap sama dengan kondisi mereka. Jika temanku bermain lompat tali atau benteng-bentengan, atau petak umpet, aku tetap ikut walaupun akhirnya pasti kalah dan hanya menjadi anak bawang. Jika guru menyuruh membaca bergiliran, aku pun harus membaca seperti teman-teman yang lain dan menjadi bahan tertawaan teman-teman karena

EDISI EDISI 03-MARET 03-MARET 2011 2011

diffa diffa 2/17/11 5:44 PM


bacaanku sangat lambat dan salah-salah. Hal itu sering membuat tanganku menjadi gemetaran dan berkeringat dingin. Buat aku, membaca adalah kegiatan yang sangat menakutkan dan melelahkan. Saat sedang mencatat, jika aku sudah lelah mondarmandir dari meja ke dekat papan tulis, aku sering meminta tolong teman sebangku untuk membacakan tulisan di papan. Namun, bantuan itu aku harus kutebus dengan memberikan sesuatu yang dia minta. “Aku mau bacain asal penggaris kamu itu buat aku, ya?” Begitu temanku itu memaksa aku. Akhirnya ibuku mengetahui perlakuan temanku itu. Ibu marah. Keesokan harinya, saat pulang sekolah, ibu sudah menunggu di depan ruang kelas. Ketika teman sebangkuku keluar dari kelas, ibu langsung mendekati dan memegang bahunya dari belakang. Temanku menoleh dan terkejut melihat wajah ibuku. “Kamu jangan suka ambil barang-barang Rachel, dong!” tegur ibu pelan, tapi terdengar tegas. Temanku langsung cepat-cepat melarikan diri dari hadapan ibu. Setelah itu, dia tidak berani lagi meminta sesuatu dari aku. * Saat di kelas VI dan akan mengikuti ujian kelulusan, tiba-tiba Kepala Sekolah melarang aku untuk mengikutinya. Alasannya, takut peringkat sekolah menjadi rendah di antara sekolah-sekolah lain karena ada anak seperti aku. Ibu tidak bisa menerima pernyataan itu. Dengan berani dia mendatangi Kepala Sekolah dan meminta mengizinkan aku mengikuti ujian akhir. Tidak hanya sekali, tapi berulang kali. Kadang ibuku datang bersama temannya yang kelihatannya ikut mendukung aku. Suatu sore, ibu menjemputku di tempat les dengan wajah pucat. Ibu bercerita kepada guru lesku, tadi hampir saja mengalami kecelakaan di jalan. Mendengar itu, guru lesku langsung menasihatiku. “Lihat, mami kamu sampai hampir kecelakaan karena mikirin kamu. Makanya, kamu harus lebih rajin belajar supaya lulus ujian,” ujarnya. Aku sangat sedih mendengar itu. Aku tidak mau ibu celaka karena aku. Aku sayang ibu. Ibu sangat sayang padaku. Suatu hari aku menemukan ibu sedang berdoa. Aku mendengar ibu mengucapkan doanya sambil menangis. Ibu memohon Tuhan melunakkan hati Kepala Sekolah agar mengizinkan aku mengikuti ujian. Aku benarbenar sedih menyaksikan air mata ibu yang jatuh untuk

diffa EDISI 03-MARET 03-MARET 2011 2011 diffaEDISI Edisi 3 Maret ok.indd 53

mendoakan aku. Mulai saat itu, setiap malam aku memohon kepada Tuhan agar memberiku kesempatan mengikuti ujian akhir dan lulus. Guru lesku berjanji, jika aku berhasil lulus dengan nilai rata-rata 6 saja, akan memberi aku 3 pulpen sebagai hadiah. Jika nilai rata-rata 7, dia akan memberi 2 kali lipat, dan seterusnya. Namun, tidak, aku berdoa bukan untuk mendapatkan hadiah. Aku berdoa agar ibuku tidak sedih. * Setelah pihak sekolah mengadakan rapat yang dihadiri semua guru, akhirnya aku diizinkan mengikuti ujian akhir. Aku mendapat dukungan dari banyak guru. Terima kasih bapak-bapak dan ibu-ibu guru yang baik hati. Saat mengikuti ujian, aku tetap menggunakan kaca pembesar sebagai alat bantu membaca. Membacaku masih lambat, tapi aneh, aku bisa menyelesaikan semua soal sebelum waktu habis. Bahkan aku masih punya waktu untuk mengoreksi kembali jawabanku dari soal nomor satu. Ketika ujian berlangsung, sering sekali guru-guru dari sekolah lain yang bertugas mengawasi ujian di sekolah kami berdiri lama di samping mejaku untuk memperhatikan cara membacaku yang dibantu kaca pembesar. Sebenarnya hal itu sangat mengganggu konsentrasiku. Tapi apa mau dikata. Aku tak mungkin menyuruh mereka pergi. Mungkin mereka baru melihat murid sepertiku. Atau barangkali mereka hanya penasaran melihat alat pembesarku dan ingin juga mencobanya. Entahlah. Aku hanya bisa berdoa agar mereka tidak berlama-lama dan cepat-cepat berlalu dari dekatku. Ketika pengumuman hasil ujian akhir dan NEM keluar, aku sungguh terkejut. Aku hanya memohon kepada Tuhan agar bisa lulus dengan NEM rata-rata 6 saja. Tapi Tuhan memberiku rata-rata 8, hanya selisih 2 poin dengan NEM tertinggi yang diperoleh teman sekelasku. Begitu senangnya aku, sampai lupa pada janji guru lesku yang harus memberiku 9 pulpen. Dia kalah. Tapi aku sudah tidak lagi mempedulikan pulpen-pulpen itu. Aku berlari memeluk guru lesku yang tampak tersenyum senang. Kemudian aku berlari memeluk ibu. Ibuku… pahlawanku yang sesungguhnya. * n * Rachel Stefanie Halim, seorang low-vision (lemah penglihatan), sarjana pendidikan lulusan Unika Atmajaya Jakarta. Kini staf HRD di PT Mulia Keramik Indah Raya.

53 2/17/11 5:44 PM


C

CERMOR

Main Layang-layang

S

eperti anak-anak lain yang bukan tunanetra, aku juga ingin bermain layang-layang. Ketika mendapatkan layang-layang dari kakakku, aku pun mencoba menerbangkannya. Setelah beberapa saat berusaha menaikkan layang-layang, aku sangat gembira. Dari kencang tiupan angin dan keras tarikan benang yang sedang kupegang, aku merasa dan yakin layang-layangku sudah terbang. Aku memain-mainkan, menarik dan mengulur benang layaknya orang bermain layang-layang. Karena merasa senang, untuk mengungkapkan rasa gembira sebagaimana umumnya teman-teman, aku meloncat dan berteriak-teriak, “Horeee… layanganku sudah terbang tinggi!” “Dik…” Tiba-tiba terdengar suara kakakku. “Layang-layangmu tersangkut di dahan pohon itu!” Aku tersentak. “Bener, Kak?” “Dari tadi layang-layangmu nyangkut di ranting pohon di depan rumah,” jawab kakakku sambil ketawa kecil. Aku tersenyum kecut. Dasar buta, gumamku. Ternyata dari tadi layang-layangku tertidur di ranting pohon. * Ade Ismail

A

Tiang Besi

ku mau ke rumah kawan di kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Ia mengundang syukuran atas kelulusannya dari perguruan tinggi. Aku berangkat menggunakan angkutan umum. Karena dari rumahku tak ada angkutan jurusan Pulo Gadung, aku harus berganti kendaraan di Terminal Blok M. Untuk mencari angkutan jurusan Pulo Gadung, aku yang tunanetra sejak kecil harus meminta bantuan orang lain. Melalui hembusan angin yang tertahan dari gelombang suara yang agak tertutup, aku memperkirakan ada orang berdiri tak jauh dari tempatku. “Pak, tolong stopin mobil ke Pulo Gadung,” pintaku. Tak ada jawaban. Aku mengulangi permintaan itu hingga beberapa kali, tetap tidak ada jawaban. Karena penasaran tidak mendapat tanggapan, aku mendekati orang itu untuk menyapa. Mungkin dengan sentuhan orang ini akan mengerti bahwa aku berbicara dengannya. Saat mendekati orang itu, tiba-tiba tongkatku menyentuh sesuatu dan berbunyi, “ting”. Betapa malu aku. “Orang” yang kuajak omong rupanya manusia besi alias tiang listrik. * Ade Ismail

* Ade Ismail, sarjana Pendidikan Sejarah, lulusan Universitas Negeri Jakarta. Kini bergiat di Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) dan Yayasan Roudlatul Makfufin (Taman Tunanetra).

54 Edisi 3 Maret ok.indd 54

EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:44 PM


IKLAN TRUBUS

diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 55

55 2/17/11 5:44 PM


B

BIOGRAFI

Ilustrator: didot purnomo

Pelajaran Hidup

LOUIS BRAILLE

L

ouis Braille adalah anak Simon Braille, pembuat pakaian kuda terkenal. Louis lahir 4 Januari 1809 di Coupvray, sebuah desa di Prancis. Sejak menjadi buta di usia tiga tahun akibat kecelakan di bengkel kerja ayahnya, tidak semua hal mudah bagi Louis. Kala itu sangat sedikit yang bisa dilakukan orang-orang buta di Prancis. Sebagian besar hanya menjadi pengemis. Pada awalnya orang tua Louis pun sangat kasihan kepada anak lelaki mereka yang buta. Mereka cenderung melindungi secara berlebihan, bahkan memanjakan. Namun, kemudian mereka berpikir, Louis harus tumbuh seperti anak-anak lain. Mereka tidak ingin Louis seperti anak-anak buta lain yang takut melakukan hal apa pun.

Pelajaran Orang Tua Louis Kesadaran untuk membuat

56 Edisi 3 Maret ok.indd 56

Louis bisa seperti anak-anak bermata awas pun mulai diwujudkan. Mereka mulai mengajari Louis mengenali lingkungan rumahnya, hingga tidak lagi menabrak bendabenda ketika berjalan. Ayahnya mengajarinya bekerja menghaluskan kulit di bengkel. Louis memang tidak dapat melihat, tapi dia bisa merasakan kehalusan kulit dengan jarinya. Begitu pula ibunya. Setiap malam, Louis membantu ibunya menyiapkan meja sebelum makan malam. Louis tahu benar di mana harus meletakkan piring, mangkuk, dan gelas. Louis juga harus pergi ke sumur mengambil air untuk minum dengan ember melalui jalan kecil berbatu. Sering air di embernya tumpah karena ia tersandung batu-batu. Namun, Louis tetap harus kembali dengan ember berisi air. Ayahnya lalu membuatkan tongkat dan mengajari Louis

menggunakannya. Louis mengetukngetukkan tongkatnya ke tanah di hadapannya ketika berjalan. Dan, jika ujung tongkat menabrak sesuatu, tahulah ia, saatnya untuk berhenti dan minggir atau berjalan di sampingnya. Dalam perkembangannya, Louis juga berhasil menemukan cara sendiri agar tidak menabrak saat berjalan, yaitu dengan bernyanyi atau bersenandung. Dengan bersuara, Louis dapat merasakan jika ada benda-benda di hadapannya, dinding, pintu, atau lemari; gema suaranya akan terpantul kembali lebih cepat jika ada benda-benda di hadapannya. Ia belajar dari apa yang dilakukan kelelawar. Meski tidak dapat melihat dengan jelas, kelelawar dapat terbang di malam gelap karena terbang sambil bersuara. Begitu juga halnya dengan EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:44 PM


Ilustrator: didot purnomo

cara Louis mengenali lingkungan di sekitarnya. Ia senantiasa bisa menemukan cara untuk membuat dirinya semakin hari kian pandai mengenali dan membedakan; suara orang-orang, langkah kaki kuda, dan lain-lain. Ia hidup dengan mengandalkan tanda-tanda yang dia tetapkan sendiri. Ini semua tidak lepas dari peran orang tua yang sedini mungkin mengajarkan pada Louis segala hal yang dilakukan orang-orang yang tidak buta. Namun, Louis harus melakukannya dengan cara yang sedikit berbeda.

Pelajaran Perjuangan Louis Meski buta, Louis tetap tumbuh menjadi anak yang penuh rasa ingin tahu. Ia juga tidak ingin dikasihani. Saat menginjak usia enam tahun, kedua orang tuanya bingung, tak ada sekolah untuk anak buta di desa mereka. Namun, berkat pertolongan pendeta Jacques Palluy di desanya, Louis memulai kegiatan belajar. Awalnya sang pendeta yang memberikan pelajaran kepada Louis. Lambat laun sang pendeta mulai merasa kesulitan atas pertanyaan-pertanyaan Louis. Pendeta lalu mencoba menitipkan Louis belajar di satusatunya sekolah di Coupvray. Semula Louis bisa mengikuti semua pelajaran dengan baik, dengan cara mendengarkan. Louis pun senang karena bisa bersekolah. Namun, saat guru meminta murid-murid “membuka buku�, Louis sedih, karena tak ada yang bisa ia lakukan. Sesekali ia meraba-raba saja buku temannya, tapi tak ada yang bisa ia baca di sana. Untuk mengatasinya, kadang Louis meminta teman-temannya

diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 57

membacakan buku untuknya. Tentu saja ini sangat tergantung pada kesediaan mereka meluangkan waktu. Di saat seperti ini, satusatunya yang Louis pikirkan adalah betapa menyenangkan jika dapat membaca buku sendiri. Keinginan dan kesadaran akan pentingnya menulis dan membaca terus menuntun Louis, hingga saat Pendeta Palluy berhasil membantu menemukan The Royal Institute Of Blind Youth, sekolah untuk tunanetra di Paris. Sekolah ini kemudian menjadi tempat Louis belajar dan bekerja, serta menciptakan alfabet berbentuk titiktitik timbul untuk para tunanetra. Keberhasilan Louis memang tak bisa dilepaskan dari dukungan orang-orang di sekitarnya. Orang tua, pemuka agama di desanya, guru, serta teman-temannya saat bersekolah di Coupvray dan di Paris, teman sesama guru dan kepala sekolah sebagai pemimpinnnya saat telah bekerja, para pemuka masyarakat yang peduli pada pendidikan anak-anak tunanetra, dan yang merupakan keharusan adalah dukungan pemerintah Prancis dengan mengakui huruf Braille ciptaan Louis secara resmi. Itu semua bisa terjadi karena Louis juga menunjukkan keinginan luar biasa untuk mencapai kemajuan, bahkan membuat perubahan. Louis mengerti benar apa yang orang-orang buta pada umumnya butuhkan, dan ia berjuang untuk mewujudkannya. Ia terus mencoba dan berusaha. Bahkan, tidak putus asa meski semua buku hasil tulisan tangannya sempat dimusnahkan. Rasa sedih, marah, dan kecewa karena tidak atau belum mendapatkan tanggapan yang diinginkan juga sering dirasakannya. Namun, keinginannya

agar tunanetra di seluruh dunia dapat menulis dan membaca buku sehingga dapat menjadi orang-orang yang berpendidikan, mengalahkan segala perasaan yang tidak menyenangkan itu. Bahkan, rasa sakit akibat tuberculosis pun tak menghentikannya untuk terus melangkah. Kini, 185 tahun setelah Louis Braille menciptakan huruf Braille, cita-citanya masih belum sepenuhnya tercapai. Di negaranegara berkembang seperti Indonesia, masih banyak anak tunanetra belum bersekolah saat usia mereka sudah memasuki masa duduk di kelas. Mereka belum mengenal huruf, apalagi membaca. Mereka yang sudah dapat membaca pun masih belum dicukupi dengan buku-buku yang diperlukan. Masih dibutuhkan ratusan Louis Braille, ribuan Pendeta Palluy, Dr Pignier, Joseph Gaudet, bahkan orang seperti Dufau, di seluruh penjuru bumi. Louis Braille telah memberikan teladan kepada kita semua bahwa diperlukan kerja sama untuk mewujudkan impian. Di era dengan dukungan kemajuan teknologi seperti sekarang ini, seharusnyalah upaya meneruskan perjuangan Louis Braille agar para tunanetra dapat menjadi manusia berpendidikan bukanlah hal yang terlalu sulit. Diperlukan upaya bersama, kegigihan, ketekunan, serta komitmen dan konsistensi semua pihak, seperti yang dicontohkan Louis Braille. n (SELESAI) Sumber: Louis Braille, The Boy Who Invented Books for the Blind, Margaret Davidson, publikasi Scholastic Inc.

57 2/17/11 5:44 PM


R

RAGAM (Stikom LSPR) menyelenggarakan seminar tentang anak autis bagi guru sekolah umum Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) pada 10 Februari 2011, di kampus LSPR. Seminar ini diselenggarakan secara rutin dan telah berlangsung selama empat tahun terakhir. Bahkan, menjadi agenda tetap tahunan. Membangun kesadaran masyarakat tentang autistik merupakan fokus kegiatan

Mengajak Guru Pahami Autistik

D Foto-foto: Adrian Mulja

ewasa ini ada kecenderungan meningkatnya jumlah anak yang mengalami autistik. Diperkirakan 1 dari 150 kelahiran bayi mengalami autistik. Hal ini tentu harus disikapi secara serius dan membutuhkan perhatian banyak pihak, pemerintah, kalangan medis, pendidik, akademisi dari disiplin terkait, ahli gizi, ahli terapi, psikolog, keluarga dan orang tua, media, serta masyarakat. Menyadari kenyataan itu, Sekolah Tinggi Komunikasi London School Bidang Public Relations

corporate social

responsibility (CSR) LSPR. Hal ini diwujudkan dengan membangun dan mengembangkan pusat informasi tentang autistik London School Center for Autistic. Kegiatan CSR ini juga merujukkan anak-anak autis ke tempat-tempat terapi. LSPR memberikan donasi untuk biaya terapi anak autis dari kalangan tidak mampu. Seminar dibuka Direktur Pengawas Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan Nasional Dr Mujito. Mujito mengatakan, Kementerian Pendidikan Nasional mendorong lebih banyak jurusan

“pendidikan luar biasa� di fakultas ilmu pendidikan di seluruh Indonesia. Diharapkan jurusan baru ini melahirkan lebih banyak guru khusus untuk menangani anak-anak dengan autistik. Kepala Departemen Psikhiatri Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Dr Eka Widiawati, mengatakan sebagian anak autis memiliki kecerdasan normal, bahkan ada yang di atas rata-rata. Anak seperti ini dapat bersekolah di sekolah umum, setelah mendapatkan terapi dengan tepat. Karena itu, sangat penting guru sekolah umum memahami penanganan anak-anak autis. Guna memberikan pemahaman dasar tentang anak autis kepada guru, seminar ini menampilkan dr Tri Gunadi, ahli penanganan anak autis dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dokter Tri Gunadi yang juga memiliki anak autis berumur 9 tahun, menyampaikan presentasi dengan sangat menarik. Ia bahkan mempersilakan guruguru berkomunikasi langsung melalui email atau SMS jika ada pertanyaan yang tak terjawab karena keterbatasan waktu. Seminar juga dimeriahkan penampilan kelompok teater London School, yang mementaskan fragmen Saudaraku Berbeda. Drama singkat yang diolah oleh Arswendo Atmowiloto ini mengisahkan sebuah keluarga dengan anak autis. Seperti keluarga pada umumnya, mulanya orang tua tidak memahami cara menangani anak autis. Setelah mendapatkan bantuan dari seorang ahli dan menjalani terapi rutin, akhirnya anak tersebut dapat mengembangan diri dengan lebih optimal. n Aria Indrawati.

58 Edisi 3 Maret ok.indd 58

EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:44 PM


Pelatihan Menulis untuk Tunanetra

S

atu lagi langkah untuk mewujudkan impian memberdayakan dan meningkatkan kemandirian sahabat-sahabat penyandang disabilitas terwujud. Selama tiga hari, 21-23 Januari 2011, berlangsung Pelatihan Menulis Kreatif untuk Penyandang Disabilitas (Angkatan I untuk Tunanetra) di markas Mitra Netra, Lebakbulus, Jakarta. Pelatihan menulis hasil kerja sama Mitra Netra, Lumbung Ide, dan majalah diffa ini diikuti 8 sahabat tunanetra dari Jabodetabek, terdiri atas 6 laki-laki dan 2 perempuan. Hari pertama dimulai dengan materi penulisan fiksi. Mas Rudy Gunawan, Pemred diffa, mengawali dengan penjelasan dan contoh-contoh penting karakter dalam penulisan fiksi. Kemudian Bang Nestor Rico Tambunan, Redaktur Eksekutif diffa, menjelaskan unsur-unsur ekstrinsik dan intrinsik sebuah fiksi, seperti tema, konflik, alur, plot, setting, dan penokohan. Suasana pelatihan berlangsung santai, sambil duduk lesehan, disertai banyak canda. Peserta tampak antusias dan senang. Hari kedua diisi materi penguasaan bahasa, yang diberikan Mas Arwani dari VHRmedia. Dengan logat Jawa-nya yang khas, Mas Arwani membedah contoh-contoh tulisan peserta dengan gaya segar dan lucu, sehingga peserta tertawa-tawa dan mesam-mesem. Kemudian kembali dilanjutkan Bang Nestor dan Mas Rudy dengan materi yang lebih dalam dan detail tentang penulisan fiksi, disertai praktik langsung di tempat. Semua peserta memang membawa laptop. Hari ketiga diisi cerpenis/penulis naskah kondang Agus Noor, yang khusus terbang dari Yogyakarta untuk menyumbangkan ilmu kepada peserta pelatihan. Agus Noor membagi pengetahuan dan pengalaman dengan gaya yang tak kalah lucu sekaligus memikat, sehingga para peserta tertawa-tawa sekaligus terpesona. Setelah itu, Bang Nestor memberikan materi penulisan artikel non-fiksi. Selama pelatihan itu Mila Kartina dan anggota pasukannya dari Lumbung Ide, seperti Sakti Wibowo dan Amin Sabhana sibuk mengurus segala kebutuhan pelatihan. Begitu pula Bang Jonna, General Manager diffa, setia menunggui sambil sesekali terlibat dalam diskusi pelatihan. Semua peserta mengaku puas dan senang dengan materi pelatihan dan berharap ada kegiatan lanjutan. Sakti langsung menjanjikan membuat kelompok diskusi di internet. Kawan-kawan peserta pelatihan memang akan terus dibina, hingga, insya-Allah, menjadi penulis yang baik. Pelatihan menulis ini akan diteruskan di enam kota lain di Indonesia. Semoga banyak yang bersedia mendukung. n Nestor

diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 59

59 2/17/11 5:44 PM


I

INKLUSIF

Perkembangan Pendidikan Inklusif

60 Edisi 3 Maret ok.indd 60

adalah mendesak negara-negara agar menjamin pendidikan bagi penyandang disabilitas sebagai bagian integral dari sistem pendidikan umum. Pada tahun 1994 UNESCO menyelenggarakan konferensi tentang pendidikan kebutuhan khusus. Konferensi yang diselenggarakan di Spanyol ini untuk memperluas program Pendidikan untuk Semua (Education for All) dengan mempertimbangkan pergeseran kebijakan mendasar yang diperlukan untuk menggalakkan pendidikan inklusif agar sekolahsekolah dapat melayani semua anak, terutama yang berkebutuhan pendidikan khusus. Konferensi ini melahirkan Pernyataan Salamanca (Salamanca Statement) tentang prinsip, kebijakan, dan praktik-praktik dalam pendidikan kebutuhan khusus. Salamanca Statement antara lain, menegaskan kembali komitmen terhadap pendidikan untuk semua dan mendesakkan pendidikan bagi anak, remaja, dan orang dewasa berkebutuhan khusus dalam sistem pendidikan reguler. Meyakini dan menyatakan setiap anak mempunyai hak mendasar untuk memperoleh pendidikan dan harus diberi kesempatan mencapai serta mempertahankan tingkat pengetahuan yang wajar. Setiap anak mempunyai karakteristik, minat, kemampuan,

dan kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Sistem pendidikan hendaknya dirancang dan program pendidikan dilaksanakan dengan mempertimbangkan keanekaragaman tersebut. Mereka yang berkebutuhan khusus harus memperoleh akses ke sekolah-sekolah reguler yang juga harus mengakomodasi mereka dalam rangka paedagogi yang berpusat pada diri anak yang dapat memenuhi kebutuhankebutuhan tersebut. Mendorong partisipasi orang tua, masyarakat, dan organisasi penyandang disabilitas dalam perencanaan dan pengambilan keputusan menyangkut masalah program pendidikan kebutuhan khusus. Bagaimana di Indonesia? Pada dasarnya perundang-undangan di Indonesia sudah selaras dengan semangat tersebut. Di antaranya UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU 4/1997 tentang Penyandang Cacat, UU 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia, dan UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Komitmen pemerintah lebih jelas lagi setelah diterbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif. Pasal 7 menyatakan penyelenggaraan pendidikan inklusif menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang mengakomodasi EDISI 03-MARET 2011

Foto: Adrian Mulja

M

ari mencermati perkembangan konsep pendidikan inklusif di dunia internasional. Pada tahun 1948, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menerbitkan Deklarasi Hak Asasi Manusia. Deklarasi ini menjamin hak setiap orang untuk memperoleh pendidikan dan berperan secara penuh di masyarakat. Pada tahun 1989 PBB meluncurkan Konvensi Hak Anak (The Convention of The Right of Children). Indonesia telah meratifikasi deklarasi dan konvensi ini. Pada tahun 1989 di Bangkok diselenggarakan konferensi dunia “Pendidikan untuk Semua� (Education for All). Konferensi ini mendesakkan agar semua anak memperoleh pendidikan di sekolah dan layanan pendidikan sesuai kondisi anak. Desakan ini melahirkan benih konsep pendidikan inklusif. Namun, dalam implementasinya ternyata tidak memasukkan anak penyandang disabilitas atau berkebutuhan khusus. Untuk memperkuat konvensi tersebut, pada tahun 1991 PBB mengeluarkan resolusi berupa Standar Kesamaan Kesempatan bagi Penyandang Disabilitas (Standard Rules on Equalization of Opportunities for People with Disabilities). Salah satu resolusi

diffa 2/17/11 5:44 PM


Pendidikan Inklusif dan Hak Penyandang Disabilitas (2)

Tantangan dan Keberhasilan

satu SD dan SMP di tingkat kecamatan dan satu SMA di tingkat kabupaten/kota. Tugas lainnya adalah menjamin terselenggaranya pendidikan inklusif serta tersedia sumber daya pendidikan inklusif pada satuan pendidikan yang ditunjuk. Peraturan menteri ini juga mewajibkan pemerintah kabupaten/ kota menyediakan paling sedikit satu guru pembimbing khusus pada satuan pendidikan yang ditunjuk. Juga meningkatkan kompetensi di bidang pendidikan khusus bagi pendidik dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif. Dan pemerintah provinsi wajib membantu tugas-tugas tersebut.

Jika hanya melihat perangkat perundang-undangan dan kebijakan pemerintah mungkin kita akan optimistis akan keberhasilan penyelenggaraan pendidikan inklusif. Pertanyaannya, apakah amanat tersebut akan dilaksanakan pemerintah kabupaten/kota, sekolah reguler, dan pihak-pihak terkait lainnya. Jika dilaksanakan, apakah mereka melihat pendidikan inklusif sekadar program sesaat yang memberikan kesempatan penyandang disaabilitas dan anak berkebutuhan khusus mengikuti pendidikan di sekolah reguler terdekat.

Foto: Adrian Mulja

Foto: Adrian Mulja

kebutuhan dan kemampuan peserta didik sesuai dengan bakat, minat, dan potensinya. Pasal 8 menyebutkan pembelajaran pada pendidikan inklusif mempertimbangkan prinsip-prinsip pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik belajar peserta didik. Optimisme akan keberhasilan penyelenggaraan pendidikan inklusif kian menguat dengan dicantumkannya peran pemerintah dalam penyelenggaraannya sehingga tanggung jawab tidak semata-mata dibebankan pada sekolah penyelenggara. Pasal 4 mengamanatkan pemerintah kabupaten/kota menunjuk minimal

EDISI 03-MARET 03-MARET 2011 2011 diffaEDISI diffa

Edisi 3 Maret ok.indd 61

61 61 2/17/11 5:44 PM


Foto: Emiliasusiati

Pendidikan Inklusif dan Hak Penyandang Disabilitas (2)

Kesinambungan penyelenggaraan pendidikan inklusif yang bermuara pada terbukanya semua sekolah untuk setiap anak bangsa dengan segala perbedaan, yang mampu diakomodasi setiap sekolah, hanya akan terwujud jika semua pihak terkait sudah mengubah keyakinannya di bidang pendidikan. Mereka tidak lagi menganggap pendidikan hanya akan efektif jika peserta didik homogen, yang unggul dengan yang unggul, yang berbakat istimewa dengan yang berbakat istimewa, yang penyandang disabilitas dengan penyandang disabilitas. Pendidikan semacam ini akan mengkotakkotakkan dunia peserta didik dan akan menyuburkan perasaan superioritas dan inferioritas mereka. Peluang memperoleh pendidikan untuk memahami hakikat perbedaan dan cara menyikapinya tidak akan didapat. Hal lain yang dapat mengancam

62 Edisi 3 Maret ok.indd 62

keberlangsungan pendidikan inklusif adalah sistem penghargaan kepada sekolah. Masih banyak orang, termasuk pejabat di Kementerian Pendidikan Nasional, yang menganggap sekolah yang berhasil adalah yang seluruh atau sebagian besar peserta didiknya memperoleh nilai tinggi. Karena itu, sekolah-sekolah melakukan sistem penyaringan kemampuan akademik calon peserta didik. Celakanya, hal ini direstui pejabat dinas pendidikan setempat. Dalam hal ini, sesungguhnya yang unggul bukan sekolahnya, melainkan peserta didiknya. Dinas pendidikan seharusnya mengubah sistem penghargaan. Sekolah yang dinilai unggul adalah yang mampu mengakomodasi kebutuhan khusus setiap peserta didik dan dapat meningkatkan potensi menjadi kompetensi yang dapat digunakan menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan

berkualitas. Mewujudkan pendidikan inklusif merupakan proses berkelanjutan. Tantangan terberat adalah peningkatan komitmen, kualitas, dan profesionalisme tenaga kependidikan yang mampu menjawab kebutuhan individual peserta didik yang bervariasi. Juga penyediaan aksesibilitas lingkungan serta sarana dan alat bantu pembelajaran. Pemantapan program pendidikan terpadu yang merupakan jembatan menuju pendidikan inklusif dan pendekatan “Rehabilitasi Berbasis Masyarakat� perlu digalakkan dalam upaya pengembangan pendidikan inklusif di Indonesia. Berdasarkan pengalamanpengalaman negara peserta konferensi di Salamanca yang telah menerapkan pendidikan inklusif, ternyata sekolah reguler yang berorientasi pada pendidikan inklusif merupakan media yang paling efektif untuk memerangi sikap diskriminatif, menciptakan masyarakat yang ramah, membangun masyarakat yang inklusif, dan untuk mencapai “pendidikan bagi semua�. Sekolah semacam ini akan memberikan pendidikan yang efektif bagi mayoritas anak. Dan lebih jauh, akan meningkatkan efisiensi yang akhirnya menurunkan biaya bagi seluruh sistem pendidikan. n Bambang Basuki, Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra

EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:44 PM


diffa SETARA DALAM KEBERAGAMAN

Redaksi PT Diffa Swara Media Jl. Salemba Tengah 39 BB Lt. 2 Jakarta Pusat 12430 Telp. 62 21 44278887 Fax. 62 21 3928562 email: sahabat_diffa@yahoo.com

FORMULIR BERLANGGANAN MAJALAH

Sirkulasi dan Distribusi PT Trubus Media Swadaya Jl Gunung Sahari III/7 Jakarta Pusat 10610 Telepon 62 21 4204402, 4262318 Fax 62 21 4269263

www.majalahdiffa.com

DATA PELANGGAN Nama Lengkap : No. KTP : Laki-laki Perempuan Tanggal Lahir : Alamat sesuai KTP : Kota : Kode Pos : Telp Ktr/Rmh: Hp: E-mail : Ingin berlangganan majalah :

q

6 bulan

q

12 bulan

q

q

Beri tanda pada pilihan

4

ALAMAT PELANGGAN Alamat : Kota : Kode Pos : Telepon :

Pembayaran dapat ditransfer ke Bank BCA KCP Bona Indah Nomor rekening: 6080279441. Atas Nama Yayasan Mitra Netra NOTE:

!

Setelah formulir ini diisi, harap di fax, email atau kirim langsung ke redaksi beserta bukti pembayaran足 nya. Harga diatas adalah untuk biaya pengiriman dan hanya berlaku untuk wilayah Jakarta, silahkan hubungi kami untuk pengi足riman di luar Jakarta. Alamat Redaksi Diffa: Jl. Salemba Tengah No. 39 BB Lt. 2 Jakarta Pusat 12430 Telepon 62 21 44278887 Faxs 62 21 3928562 * berlangganan 6 bulan, cukup bayar 5 bulan tidak termasuk ongkos kirim ** berlangganan 1 tahun, cukup bayar 10 bulan tidak termasuk ongkos kirim

diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 63

63 2/17/11 5:44 PM


P

PERSEPSI

Kursi Roda yang Telah Kusam

64 Edisi 3 Maret ok.indd 64

kereta dorongnya, tak ada bedanya dengan anak-anak seumurnya yang juga memakai kereta dorong. Jarang yang bisa melihat Armando menderita cerebral palsy pada waktu itu. Tapi dengan semakin besarnya Armando, hal itu sudah tak mungkin “disembunyikan” lagi.

Namun, sungguh sulit menerima kenyataan itu sepenuhnya. Aku waktu itu masih merasa hidup dalam alam mimpi. Aku tak ingin bangun dan menerima kenyataan bahwa aku mempunyai seorang anak yang lahir “cacat”. Sungguh, saat itu aku menghadapi sebuah pertempuran batin. Pertempuran ego dari orang tua yang ingin anaknya menjadi apa yang diinginkan dan dibayangkannya, bukan menerima anak apa adanya. Setelah berperang batin

Ilustrasi: Didi Purnomo

H

ari ini aku mengajak Armando mengecat kembali kursi rodanya. Warna ungu terangnya telah pudar dan catnya mengelupas di sana-sini. Wah, Armando senang sekali kuajak ikut mengecat kursi rodanya. Biasanya, ia hanya bermain dengan cat saat kuajari menggambar. Ketika mulai mengecat, ingatanku menerawang ke beberapa tahun silam, saat pertama kali datang ke bengkel kursi roda di RS Fatmawati. Aku masih ingat betul bagaimana sehari sebelum aku ke sana, aku tiba-tiba gelisah dan ragu, jadi membeli kursi roda atau tidak? Yang membuatku gelisah waktu itu adalah pikiranku; membelikan Armando kursi roda maka sama saja aku terangterangan memberi tahu semua orang bahwa Armando “cacat”. Memberikannya sebuah kursi roda sama seperti mengetukkan palu dan mengakui kondisinya itu. Ketika Armando masih kecil, aku berusaha “menyembunyikan” kecacatannya. Bila ke mal atau tempat-tempat umum, Armando kubaringkan di

Irma Koswara bertahun-tahun, akhirnya aku menyadari bahwa anak-anak penyandang disabilitas dilahirkan bukan untuk kepentingan ego orang tua atau orang lain. Mereka dilahirkan karena kasih Tuhan. Tuhan tidak menciptakan mereka dengan tujuan agar mereka berguna bagi orang lain. Mereka bukanlah “alat” bagi orang lain yang bisa membuat orang lain bisa merasa “berguna” karena bisa merawat, memperhatikan, dan mencintai mereka. Armando tidak ingin dicintai karena ia bisa menghibur, bisa bermanfaat atau memberi nilai tambah bagiku. Bahkan Armando sebetulnya tak perlu “berguna” untuk bisa dicintai. Ia bisa dicintai karena ia sendiri adalah kasih, karena ia juga sama seperti aku dan orang lainnya, yaitu berasal dari Tuhan. Dan aku sering lupa bahwa Tuhan juga hadir dalam dirinya. Ternyata, bukan hanya kursi roda Armando yang perlu dicat ulang. Hatiku juga sudah begitu kusam dan kotor, mengelupas di sana-sini. Sudah saatnya aku juga mengecat kembali hatiku dengan kasih dan cinta yang baru. n Disadur dari salah satu tulisan di buku “Anakku Karunia Tuhan?” karya Irma Koswara

EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:44 PM


diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 65

65 2/17/11 5:44 PM


P

PINDAI

Belajar Notasi Musik Braille Endah

N

otasi musik tidak hanya bisa dibaca orang awas. Tunanetra pun dapat membaca not. Tunanetra bisa belajar notasi musik dengan menggunakan notasi musik Braille. Enam titik domino adalah kerangka utama penulisan simbol Braille. Simbol Braille ini dulu digunakan militer untuk mengirim kode-kode rahasia. Pada tahun 1834 Louise Braille bersama Kapten Barbier berhasil menyempurnakan simbol tersebut menjadi simbol baca tulis yang digunakan temanteman tunanetra hingga sekarang. Dari enam titik inilah tercipta banyak kombinasi titik yang menggambarkan penulisan simbol angka, huruf, lambang kimia, musik, dan sebagainya.

1

4

2

5

3

6

Gambar Domino Braille Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/ Braille, di akses 20 Agustus 2007

66 Edisi 3 Maret ok.indd 66

Contoh penulisan huruf abjad latin pada Braille:

Abjad a adalah titik 1

Abjad b adalah titik 12

Abjad b adalah titik 1245

Nah... yang ini abjad Braille:

a

n

b

o

c

d

e

f

g

h

p

q

r

s

t

u

EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:44 PM


Sekarang kita membandingkan penulisan huruf latin Braille dan notasi musik Braille. Pada notasi Braille, titik 1, 2, 4, 5 menentukan nama dari notasi yang dinyanyikan, sedangkan titik 3 dan 6 adalah harga notasi yang menentukan panjang atau pendek notasi yang dinyanyikan.

Titik Harga Not

1

4

2

5

3

6

Titik Harga Not

Seperti kita ketahui, solmisasi dari musik secara berurutan adalah do-re-mi-fa-sol-la-si-do. Standar solmisasi pada musik biasanya selalu dimulai pada kunci C Mayor. Urutan tangga nada C Mayor dalam penulisan huruf latin adalah: c - d - e - f - g - a – b. Sedangkan penulisan tangga nada tersebut apabila ditulis dalam huruf Braille berawal dari huruf d, yaitu: d - e - f - g - h - i – j. Mari mulai berlajar menghapal nama not terlebih dahulu dengan membiasakan membaca titik 1, 2, 4, 5. c

d

e

f

g

a

b

Berikut ini skema contoh perbandingan notasi musik awas, notasi musik, dan abjad latin Braille.

notasi musik awas

&

7 8

notasi musik Braille huruf abjad Braille

g

h

i

j

k

l

t

u

v

w

x

y

diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 67

m

z

d

e

Mari menyanyikan dan baca notasinya : c – d – e – f – g – a – b (Karena titik 6 terisi, maka kita menyanyikan not-not tersebut selama 1 ketukan.) Catatan untuk para pembimbing musik, ketika mendampingi siswa jangan lupa untuk selalu mengingatkan ketika menemukan susunan titik huruf “d” pada Braille dibaca “c”, dan seterusnya. Alasan memulai dari susunan titik huruf “d”? Hmm... sejauh ini belum ada yang tahu pasti. Namun, beberapa asumsi menilai dimulai

f

g

h

i

j

dari huruf “d” karena istilah “do” pada setiap not dasar sebuah musik. Untuk tahap awal latihan membaca notasi musik Braille adalah dengan membiasakan diri menyebutkan nama notasinya. Bisa dengan menulis dan menyanyikan lagu-lagu sederhana. Awas, jangan sampai keliru menyebut nama not-nya. Sampai jumpa pada Pengenalan Dasar Notasi Musik Braille di diffa edisi berikutnya. n

67 2/17/11 5:44 PM


B

BISIKAN ANGIN

BUTET KARTAREDJASA

S

Foto: Adrian Mulja

eusai pemotretan untuk cover diffa, Butet Kartaredjasa yang berpose bersama Yona, anak dwituna (tunarungu dan tunanetra), langsung menelepon Andi Noya, produser dan pembawa acara Kick Andy. “Ya, halo Andi. Aku baru saja difoto untuk cover majalah diffa, majalah tentang penyandang disabilitas. Kupikir kamu harus tahu majalah ini. Oh ya, aku usul untuk acaramu. Kurasa kamu harus mengangkat kisah seorang anak bernama Yona dan Sekolah Dwituna Rawinala di acara Kick Andy. Yona itu tunaganda….” tutur Butet lewat telepon siang itu, dengan penuh semangat. Butet sepertinya benar-benar terkesima atau terpesona oleh kekaguman dan ketakjuban sosok Yona. Ia langsung meminta nomor handphone ayah Yona dan mengirimkannya lewat SMS langsung ke Andi Noya. Ia juga mengirim nomor handphone Bu Abel, Public Relation Manajer Sekolah Dwituna Rawinala, kepada Andi Noya. Seakan masih tergerak untuk melakukan sesuatu bagi para penyandang disabilitas, Butet memasang status di Twitter-nya. “Hanya dengan bahasa hati, bisa berkomunikasi dengan anak tunarungu sekaligus tunanetra,” tulis Butet di Twitter-nya. “Wah, ini yang follow Twit aku langsung banyak sekali. Ratusan langsung merespons,” ujarnya sambil menyantap sate kambing di warung sate dekat Sekolah Dwituna Rawinala. Sebelumnya, ketika diminta untuk menjadi cover foto, Butet mungkin tak membayangkan seperti apa anak dwituna bernama Yona itu dan bagaimana kehidupannya. Namun, setelah bertemu langsung dan berbicara dengan “bahasa hati” dengan Yona, Butet langsung tergerak untuk berbuat sesuatu secara spontan. Semoga semakin banyak orang yang tergerak seperti Butet. n Fx Rudy Gunawan

Foto: Adrian Mulya

68 68

Edisi 3 Maret ok.indd 68

EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:44 PM


Foto: Adrian Mulya

D

alam film Minggu Pagi di Victoria Park yang disutradarainya, Lola Amaria sekaligus menjadi pemeran utama, seorang buruh migran Indonesia (BMI) asal Jawa Timur yang mencoba melacak jejak adiknya di Hong Kong. Lewat film ini Lola membuktikan betapa ia memiliki niat serius untuk memperjuangkan kelompokkelompok masyarakat yang tertindas atau termarjinalkan. Buruh migran Indonesia jelas merupakan salah satu kelompok masyarakat yang termarjinalkan dan kerap menjadi korban sistem. Sama halnya dengan para penyandang disabilitas yang dalam masyarakat kita selalu terpinggirkan dan nyaris tak digubris keberadaan mereka. Ketika mendapatkan majalah diffa, Lola langsung berkomentar antusias. “Wah, majalah ini sangat penting dan diperlukan masyarakat, baik kelompok masyarakat penyandang disabilitas maupun masyarakat umum seluasluasnya,” ujarnya. Lola pun mencermati halaman demi halaman diffa. “Selama ini kan para penyandang disabilitas tak pernah punya ruang untuk mengekspresikan dan berkomunikasi dengan masyarakat luas. Mereka seperti terkucil di masyarakatnya sendiri, bahkan mungkin di tengah keluarga sendiri. Itulah sebabnya mengapa aku bilang majalah diffa sangat penting dan diperlukan,” katanya lagi. Dengan adanya diffa, Lola berharap kondisi para penyandang disabilitas di tanah air berubah menjadi lebih baik dan masyarakat menjadi lebih paham dan menghargai mereka sebagai sesama manusia. “Teman-teman penyandang disabilitas juga bisa menyalurkan kreativitas dan aspirasi mereka melalui diffa, kan?” tanyanya. Tentu, Lola. n

LOLA AMARIA

Fx Rudy Gunawan

diffa EDISI EDISI 03-MARET 03-MARET 2011 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 69

69 2/17/11 5:44 PM


PELANGI

S

Sahabat yang Lain

ahabat adalah salah satu “harta” yang sangat berharga dalam hidup. Jika kita mendengar kata “sahabat”, yang terbayang adalah sosok yang setia, yang mengerti, yang ada saat kita membutuhkan, bahkan tanpa kita mengatakannya. Dan, jika kita bicara tentang sahabat, biasanya yang terbayang adalah sosok seorang sesama manusia. Namun, kali ini kita bicara tentang sahabat “yang lain”. Bukan manusia, melainkan seekor binatang, tepatnya anjing. Di negaranegara tertentu seperti kawasan Eropa, Australia, Amerika, dan Jepang, anjing dikenal sebagai “sahabat tunanetra”. Kekagumanku pada “sahabat yang lain” ini berawal saat mengikuti konferensi World Blind Union, enam tahun lalu, di Cape Town, Afrika Selatan. Sebagai tunanetra, aku sudah tahu di negara maju anjing dapat dilatih menjadi pemandu untuk tunanetra, yang biasa disebut guide dog. Namun, itu sebatas pengetahuan. Aku benar-benar mengalami saat mengikuti konferensi di Capé Town itu. Di ruang konferensi, anjinganjing pemandu duduk manis di “tempat parkir” mereka di sisi pemiliknya, saat tuan-tuan mereka tekun mengikuti konferensi. Tidak ada yang bersuara, berisik, berlarilarian, apalagi membuat keributan, meski berada di tengah kerumunan manusia. Aku sungguh kagum. Dan kekagumanku berubah menjadi rasa ingin tahu yang amat kuat. Seusai makan siang, pada hari pertama konferensi itu, sebelum kembali memasuki ruang konferensi, aku dan ketiga teman delegasi

70 Edisi 3 Maret ok.indd 70

Indonesia mampir di lokasi pameran. Karena ingin membeli sesuatu yang berbeda, aku memisahkan diri dari rombongan. Tiba-tiba aku merasa menabrak sesuatu yang “berbulubulu”, dan itu membuatku sangat kaget. Ups…! Sesuatu yang “berbulu” itu kurasakan menjauh dariku tanpa bersuara. Sesaat kemudian aku lebih memusatkan pandangan, dan… “Wah, aku menabrak anjing,” pikirku. Lalu kukatakan, “Sorry…. ” Seorang relawan yang bertugas di konferensi hari itu melihat dan

mendatangi aku. Ia menjelaskan bahwa aku baru saja menabrak anjing pemandu Michel, delegasi dari Belgia. Kusampaikan permintaan maafku kepada Michel. Sang relawan kemudian justru membantu aku berkenalan dengan anjing pemandu Michel yang kutabrak tadi. Ia mengambil tangan kananku dan menyentuhkannya ke punggung anjing itu. Agak takut-takut juga aku, besar sekali dia. Kubelai juga punggung anjing itu, sambil berpikir, untung dia tidak marah saat kutabrak tadi. “Sahabat yang lain” ini memang luar biasa. Mereka dipilih dari jenis anjing yang paling unggul, boxer dan labrador retriever. Kedua ras anjing ini memiliki tingkat intelegensi lebih unggul dari jenis yang lain.

Ilustrasi: Didi Purnomo

P

Penciuman mereka sangat tajam. Boxer empat ribu kali manusia. Bahkan, labrador retriever empat juta kali manusia. Kedua ras anjing ini juga dikenal sebagai anjing yang dapat mengendalikan emosi dengan baik. Bahkan, pakar anjing Jose Sualang menyebut kedua ras anjing ini “memiliki kestabilan emosi sempurna”. Mereka tidak mudah marah, tidak mudah bereaksi buruk atas kejadian yang tidak menyenangkannya, bahkan juga tidak merasa takut. Setelah dilatih kurang lebih satu tahun sebagai anjing pemandu tunanetra, kedua ras anjing ini dapat berperilaku sangat sopan, setia pada tuan yang dibantunya, disiplin, menjadi penjaga dan pelindung luar biasa bagi tuannya. Selain ras tertentu, anjing pemandu selalu dipilih anjing betina. Pertimbangan utamanya adalah perilaku saat anjing birahi. Anjing betina hanya birahi enam bulan sekali, dan masa birahinya pun sangat singkat, kurang lebih lima hari. Saat birahi, anjing betina lebih mampu mengendalikan diri. Mereka tidak akan meninggalkan tuannya sendirian di tempat-tempat berbahaya hanya untuk memenuhi “panggilan biologis” itu. Sebaliknya, baik boxer maupun labrador retriever jantan, lebih sering birahi. Dan, jika si jantan sedang birahi lalu mencium “aroma lawan jenis”, mereka sangat mungkin meninggalkan tuan mereka, bahkan di tempat yang berbahaya sekalipun. Nakal mereka! Keberadaan anjing sebagai sahabat tunanetra memberikan banyak makna dan renungan. Apakah tunanetra di Indonesia dapat dibantu anjing pemandu? Apa saja yang harus dilatihkan pada anjing agar menjadi pemandu bagi tunanetra? Tunggu “Pelangi” edisi mendatang. n Aria Indrawati EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:44 PM


diffa EDISI 03-MARET 2011 Edisi 3 Maret ok.indd 71

71 2/17/11 5:44 PM


Menyongsong Peringatan Dua Dekade Mitra Netra 14 Mei 2011 “Dari Setara Dalam Keberagaman Menuju Masyarakat Inklusif” Terima kasih kepada sahabat dan relawan yang telah “berbagi cinta” kepada tunanetra melalui Mitra Netra. Mari terus bergandengan tangan, agar senantiasa ada “cahaya” untuk mereka. Bergabung dengan “Gerakan Mitra Bercahaya” salah satunya. Gerakan kampanye yang dicanangkan Yayasan Mitra Netra guna mengajak partisipasi masyarakat untuk merenovasi ruang perpustakaan, agar kami dapat terus melanjutkan dan mengembangkan fungsi sebagai penyedia buku untuk tunanetra di Indonesia. Biaya renovasi perpustakaan yang semula berukuran 72 meter persegi menjadi 200 meter persegi dua lantai adalah Rp 300,000,000. Partisipasi masyarakat dapat dilakukan dengan memberikan donasi. Satu paket donasi senilai Rp 300,000 dapat ditransfer ke rekening atas nama Yayasan Mitra Netra ke: Bank BCA no 6080279441. Mohon informasikan partisipasi Anda ke Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi: Kontak & alamat:

Yayasan Mitra Netra Jl Gunung Balong II No. 58, Lebak Bulus III Jakarta Selatan, Telp. 021-7651386; Fax. 021-7655264; email: office@mitranetra.or.id; office_mitranetra@yahoo.com website: www.mitranetra.or.id 72 Edisi 3 Maret ok.indd 72

EDISI 03-MARET 2011

diffa 2/17/11 5:44 PM

Majalah Diffa Edisi 03 - Maret 2011  

Laporan Utama: Mendengar Tanpa Telinga, Melihat Tanpa Mata

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you