Issuu on Google+


Pengantar Redaksi Pasar keuangan masih dilanda kekhawatiran akan pelambatan ekonomi global sehingga menyebabkan aliran investasi banyak masuk ke instrumentinstrumen safe haven. Amerika Serikat yang sudah diturunkan peringkat hutangnya oleh S&P dan ketakutan pasar terhadap perekonomian Italia dan Spanyol yang menyebabkan yield obligasinya naik, menambah suramnya prospek ekonomi. Meskipun para pemimpin pemerintahan dan pemangku kebijakan moneter telah berusaha mencari solusi terhadap permasalahan yang ada, namun nampaknya usaha tersebut belum cukup menenangkan pasar. Simak selengkapnya dalam artikel Editor Focus. FUTURESMONTHLY 55th Edition September 2011

What Inside ?

_ Editor Focus________________________04 Safe Haven Atraktif di Tengah Krisis Forex Market Outlook________________07 Dollar AS Bukan Lagi Safe Haven Stock Index Market Outlook___________11 ‘Krisis Ganda’ Hantui Lantai Bursa! Gold Outlook_______________________16 Emas, Terbanglah TInggi! Commodity Focus___________________21 Periode Kelam Emas Hitam Multilateral Product__________________23 CPO Minim Sentimen Positif CFD Strategy_______________________25 Resesi Baru atau Peluang Beli? Famous Person_____________________28 Jesse Lauriston Livermore ‘The Great Bear of Wall Street’ Highlight Indonesia__________________30 Valuta Domestik Jaga Performa Trading Strategy_____________________32 Strategi Kobas FX Automated Trading__________________34 Mari Mengenal Cara Pembuatan Robot Meta Trader Invesment Clinic____________________36 Trail Your Stop. Run Your Profit Fundamental Analysis________________38 Chicago Purchasing Managers Index Central Bank Interest Rate Outlook_____41 Global Economic Calendar____________42 Mr. Smart Investment________________44 Info Emas

Informasi lain yang patut untuk disimak: 1. Forex Market Outlook

Standard and Poor’s menurunkan peringkat hutang Amerika Serikat untuk yang pertama kali dalam sejarah. Tapi dollar AS masih tetap solid dan tidak melemah terlalu jauh. Surat hutang AS pun terutama yang jangka panjang masih diminati para pelaku pasar. Apakah dollar AS masih akan menjadi mata uang yang aman? Baca ulasan yang menarik pada artikel “Dollar AS Bukan Lagi Safe Haven”. 1. Stock Index Market Outlook

Beberapa minggu belakangan ini pasar keuangan dilanda sentimen negatif dari dua kawasan perekonomian terbesar dunia yakni Amerika Serikat dan Uni Eropa. Kedua kawasan tersebut telah menjadi acuan bagi perdagangan saham dunia. Bagaimana pengaruh masalah di kedua kawasan ini terhadap bursa saham regional? Silahkan mengikuti ulasannya di artikel “Krisis Ganda Hantui Lantai Bursa!” 1. Gold Outlook

Emas menjadi sasaran beli para pelaku pasar di tengah kekhawatiran pasar terhadap perekonomian dunia. Harga emas bahkan telah mencapai level tertinggi baru di $1814.55 per troy ons dan masih berpotensi untuk terus melanjutkan penguatannya. Apa faktor penyebabnya? Dan berapa target harga emas selanjutnya? Simak terus dalam artikel “Emas, Terbanglah Tinggi!” 1. Highlight Indonesia

Rupiah sempat melemah akibat kecemasan para pelaku pasar terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. Namun guncangan terhadap rupiah tidak lama, rupiah kembali menguat. Ada faktor dalam negri yang mendukung penguatan rupiah. Apa sajakah itu? Berapa kira-kira target penguatan rupiah selanjutnya? Ikuti bahasan lengkapnya di artikel “Valuta Domestik Jaga Performa”.

Selviyani Putri

FuturesMonthly

DISCLAIMER Isi Artikel ditulis hanya untuk kepentingan edukasi, Setiap transaksi yang dilakukan untuk membeli, menjual, ataupun menahan posisi dan lainnya atas suatu jenis kontrak perdagangan apapun berdasarkan isi dari artikel di majalah ini adalah atas pertimbangan dan keputusan pembuat transaksi

3


4 FuturesMonthly


FuturesMonthly

5


Editor Focus Ariston Tjendra

Head of Research and Analyst Monex

Safe Haven Atraktif di Tengah Krisis K

Kejatuhan bursa saham AS secara beruntun pada bulan Agustus seakan mengingatkan kita pada kinerja Wall Street 2008 lalu. Ketika itu, bursa saham AS terjun lebih dari 50% hingga awal 2009. Pemicu utama adalah begitu banyak kredit perumahan yang gagal bayar. Prospek ekonomi terlihat suram pada saat itu, membawa ketidakpastian. Pelaku pasar panik dan segera membuang aset investasi berbasis resiko.

6 FuturesMonthly

ejadian nyaris serupa terjadi di tahun 2011. Kali ini pemicunya adalah penurunan peringkat hutang Amerika Serikat (AS) sebanyak satu tingkat dari AAA menjadi AA+ oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P). Downgrade S&P adalah kali pertama dalam sejarah sehingga menimbulkan pertanyaan di benak pelaku pasar: Apakah ekonomi AS akan terperosok lebih dalam? Apakah penguatan dollar akan sirna? Apakah surat hutang AS akan ditinggalkan pemegangnya?


Editor Focus Portugal akhirnya meminta bailout ketika imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun-nya mencapai 7% Semua pertanyaan tersebut berbuah pada kekhawatiran terhadap prospek ekonomi AS di masa depan. Kekhawatiran berujung pada pelepasan aset beresiko seperti saham dan peralihan dana ke aset yang lebih aman, seperti emas. Namun fenomena yang menarik adalah kinerja surat hutang AS, terutama dengan tenor jangka panjang, ternyata tidak ditinggalkan. Sedangkan kurs dollar juga tidak terlalu melemah. Kali ini kelihatannya pemegang kebijakan di pemerintahan dan pelaku pasar sudah mampu dan lebih cepat mengantisipasi sehingga pasar keuangan tidak berlama-lama tenggelam. Indeks Dow Jones ‘hanya’ turun sekitar 18% dan tidak membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk rebound kembali. Data ekonomi AS yang dirilis setelah penurunan peringkat tersebut langsung membaik. Ada kecurigaan bahwa ini adalah aksi pemerintah AS untuk meredam kepanikan pasar serta memberi alasan bagi pelaku pasar keuangan untuk kembali ke risky asset. Akan tetapi ancaman bukan hanya datang dari daratan Amerika, Eropa pun kini memberi tekanan negatif bagi pasar. Di saat AS bergelut dengan peringkat hutangnya, Eropa masih menghadapi ujian dalam krisis hutang yang menerpa sejak tahun 2010. Krisis hutang yang belum usai kini mulai menular ke negara-negara dengan kapitalisasi ekonomi terbesar ke-3 dan 4 di zona euro, Italia dan Spanyol. Tingkat imbal hasil (yield) surat hutang kedua negara tersebut meroket hingga mencapai lebih dari 6%, sekaligus menandakan bahwa resiko hutang tidak terbayarkan semakin tinggi. Portugal akhirnya meminta bailout ketika imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun-nya mencapai 7%. Beruntung bank sentral Eropa (ECB) segera mengintervensi pasar surat hutang dengan membeli surat hutang Italia dan Spanyol dari pasar sekunder, sehingga kepanikan mereda dan yield segera menurun.

dan Spanyol yang mencapai 3,458 triliun dollar atau hampir 5 kali lipatnya. Bayangkan juga berapa besar dana bailout yang harus dikeluarkan. Yunani yang lebih kecil bailout-nya saja membutuhkan pembicaraan yang sangat alot dan lama. Apalagi jika terjadi pada Italia dan Spanyol. Italia memiliki masalah dengan pertumbuhan yang melambat, diperkirakan hanya mencapai 1,3% sepanjang tahun 2011-2014. Sementara beban hutangnya juga terhitung besar dengan rasio hampir 120% dibandingkan GDP. Para investor skeptis dengan kemampuan pemerintah Italia saat ini untuk

Negara-negara zona euro yang sudah terlebih dahulu meminta bailout seperti Yunani, Irlandia dan Portugal, adalah negara-negara kecil dengan total GDP sebesar 735 miliar dollar. Bandingkan dengan total GDP Italia

Menurut catatan Reuters, hutang Italia dan Spanyol yang akan jatuh tempo kurang dari setahun berjumlah masing-masing 335,3 miliar euro dan 132,2 miliar euro FuturesMonthly

7


Editor Focus Franc Swiss telah masuk dalam tren penguatan karena gonjang-ganjing hutang di kawasan Eropa sejak akhir Mei 2010 mengurangi pinjaman publik. Italia juga memiliki tingkat pengangguran di kalangan muda sebesar 26,2% tahun 2011, meski total pengangguran hanya sebesar 8,2%. Sementara Spanyol juga mengalami hal serupa, pelambatan ekonomi dengan pertumbuhan GDP yang kurang lebih sama dengan Italia. Tingkat pengangguran tertinggi di zona euro bahkan di antara negara maju yakni sebesar 20,5%. Perbankan yang mulai kesulitan likuiditas akibat gelembung harga perumahan sehingga terjadi kredit macet yang besar, hampir serupa dengan yang terjadi di AS tapi perbankan Spanyol masih lebih kuat dibandingkan AS. Menurut catatan Reuters, hutang Italia dan Spanyol yang akan jatuh tempo kurang dari setahun berjumlah masing-masing 335,3 miliar euro dan 132,2 miliar euro. Sementara negara-negara kecil yang sudah meminta bailout seperti Yunani, Portugal dan Irlandia berjumlah total 90,7 miliar euro. Dengan kondisi yang ada sekarang, dimana yield obligasi Italia dan Spanyol masih stabil, kedua negara kemungkinan masih dapat

membiayai hutang-hutangnya tahun ini. Tapi ancaman krisis hutang masih membayangi kedua negara besar Eropa tersebut dan mungkin negara Eropa lainnya seperti Belgia dan Perancis. Jadi bersiap-siap terhadap guncangan ekonomi dunia kembali.

Agustus lalu kita melihat mata uang Jepang dan Swiss menguat tajam setelah peringkat hutang AS diturunkan. Franc Swiss telah masuk dalam tren penguatan karena gonjang-ganjing hutang di kawasan Eropa sejak akhir Mei 2010. Franc telah menguat sekitar 39% terhadap USD dan 33% terhadap euro. Emas, walaupun termasuk dalam komoditi, terus menguat di tengah kepanikan pasar karena statusnya di kalangan investor sebagai aset safe haven. Harga emas telah naik sekitar 28% atau senilai $400-an sejak awal tahun ini. Setiap koreksi harga yang terjadi pada emas, menjadi ajang beli bagi para investor.

Permasalahan hutang di negara-negara maju memberi ketidakpastian terhadap prospek ekonomi dunia. Ketika masalah-masalah ini timbul, para pelaku pasar langsung mencari aman seolah mendapat pengalaman dari krisis keuangan 2008. Pada bulan

Rontoknya aset-aset beresiko tidak melulu negatif bagi perekonomian global. Turunnya harga-harga komoditi telah menjadi angin segar karena dapat meredam kenaikan inflasi terutama di negara-negara emerging markets yang saat ini menjadi pusat pertumbuhan dunia.

8 FuturesMonthly


Forex Market Outlook Albertus Christian

Senior Research and Analyst Monex

Dollar AS Bukan Lagi Safe Haven M

Standard & Poor’s, satu dari tiga lembaga pemeringkat utama, telah memangkas rating kredit Treasury AS dari AAA menjadi AA+. Alasannya mengacu pada keraguan atas efektivitas, stabilitas dan peluang pembuat kebijakan untuk meraih kesepakatan reduksi anggaran pada jangka menengah. Edisi kali ini akan mengulas imbas downgrade rating kredit AS terhadap dollar AS, euro, aussie dan mata uang major lainnya.

ari berkaca pada sejarah di tahun 1998. Ketika itu terjadi penurunan rating triple-A Jepang menjadi Aa1 oleh Moody’s Investor Service. Namun langkah downgrade tersebut tidak segera diikuti oleh lembaga pemeringkat kredit lain. S&P tetap mempertahankan rating triple-A Jepang hingga akhirnya melakukan hal serupa pada Februari 2001, menurunkan rating kredit ke AA+. Reaksi market saat itu membuat mata uang yen anjlok 0.7%, namun 3 bulan kemudian yen kembali menguat 1.1% dibanding level sebelum downgrade. Bisa diartikan bahwa pada masa itu kondisi makro ekonomi Jepang masih lebih penting dibanding kabar downgrade. Sebaliknya dengan apa yang terjadi di Australia pada tahun 1986. Waktu itu Australia mengalami penurunan rating kredit dari status triple-A, namun dollar Australia justru rally hingga 12.6%. Negara tersebut akhirnya berhasil meraih kembali rating kredit AAA versi Moody’s dan S&P pada tahun 2002 dan 2003, seiring konsolidasi fiskal yang berjalan sesuai program pemerintah. Tahun 2011 ini downgrade terhadap AS seakan mengulang sejarah. Faktanya, hasil lelang obligasi AS senilai $9.4 triliun berjalan baik, membuktikan komitmen kebijakan Federal Reserve menopang perekonomian masih lebih dipercaya oleh pasar dibanding keputusan FuturesMonthly

9


Forex Market Outlook

Standard & Poor’s. Pembuat kebijakan mampu mengontrol daya rusak downgrade dengan cara mengkritisi akurasi penghitungan S&P, yang ternyata mengalami error sebesar $2 triliun. Regulator bank AS juga mengatakan downgrade tidak berdampak pada rating resiko perbankan. Untuk jangka panjang, imbas dari downgrade terhadap dollar sebenarnya masih terbilang cukup kondusif, karena pemerintah akan lebih serius mereduksi defisit anggaran. Aset Treasury AS juga masih dianggap safe haven oleh sebagian besar pelaku pasar. Sedangkan untuk jangka pendek, aksi jual dollar makin mereda dan mulai mempengaruhi pola pergerakan mata uang lainnya. Berikut ini adalah forecast untuk major currencies di bulan September: EUR/USD: Bias arah Bearish September bisa jadi bulan yang sangat menegangkan bagi euro/dollar. Mengingat kisaran trading harian bisa lebih lebar dibanding kondisi normal. Euro pulih dari titik terendah bulan Agustus (1.4102) namun masih akan tertekan oleh mata uang major karena ketidakpastian ekonomi global. Drama perbankan zona Eropa juga memiliki eksposur besar terhadap euro. Mata uang tunggal masih dalam jalur pelemahan untuk jangka menengah, seiring perubahan ekspektasi suku bunga ECB.

10 FuturesMonthly

Studi Teknikal: Bias arah beralih dari netral menjadi bearish. Setelah bulan lalu gagal menembus ke atas 1.4550, EUR/USD masih memiiki level krusial 1.4450 sebagai level buyer/seller penting. Level ini berpotensi menahan kenaikan harga lebih lanjut. Peak bulan November 2010 di area 1.4280 menjadi titik konfirmasi bearish. Jika konsisten bertahan di bawah area tersebut, EUR/USD masih menjaga keutuhan skenario bearish sepanjang bulan ini. Target bearish masih terletak di antara 1.4160–1.4100. Anjlok ke bawah area tersebut dapat memicu momentum bearish lebih lanjut untuk menguji area 1.4000 dan 1.3950. Bottom EUR/USD kemungkinan masih terletak di area 1.3838, level support kuat tahun lalu. GBP/USD: Bias tetap Bearish Setelah melalui bulan yang volatile, outlook Poundsterling akan dipengaruhi oleh data-data ekonomi. Di dalamnya termasuk tingkat keyakinan konsumen, produksi

Untuk jangka panjang, imbas dari downgrade terhadap dollar sebenarnya masih terbilang cukup kondusif, karena pemerintah akan lebih serius mereduksi defisit anggaran


Forex Market Outlook

manufaktur dan estimasi GDP NIESR. Semantara resiko ekonomi Inggris masih terpaut pada krisis hutang zona Eropa. Di saat bersamaan, Bank of England memangkas prediksi pertumbuhan Inggris. Jika ekonomi Inggris masih di bawah performa, otomatis target pengurangan defisit menjadi sulit dicapai. Dilema inilah yang menjadi faktor penekan poundsterling yang utama. Studi Teknikal: Bias arah jangka panjang kami masih tetap Bearish dengan peluang choppy range/perdagangan berombak naik turun dengan peluang turun lebih besar. Peak bulan ini bisa mencapai 1.6460 dengan bottom diprediksi pada area 1.5400. Level tertinggi akhir Mei 1.6550 akan menjadi penentu bearish trend, selama harga mampu bertahan di bawah level tersebut, maka GBP masih berpeluang membentuk lower low & lower high. Di sisi bawahnya, level 1.6160 dan 1.6000 menjadi support kuat. Anjlok ke bawah area tersebut berpotensi memicu momentum bearish lebih lanjut untuk mengincar area 1.5940, sebelum ke 1.5820 dan fresh low di bawah 1.5770. AUD/USD: Bias Menjadi Bearish Aussie terbukti menjadi korban kekacauan market selama bulan lalu. Setelah meroket ke rekor tertinggi, AUD/ USD terpuruk ke titik terendah 4,5 bulan dan kembali dalam range trading di awal tahun. Level paritas terha-

dap dollar bahkan makin dekat. Eskalasi krisis hutang Eropa yang sudah sampai ke Italia mungkin mereda bulan ini. Performa Aussie selanjutnya akan tergantung pada eskalasi ancaman resesi global yang ditandai oleh kinerja ekonomi China, partner dagang utama Australia. Resesi lambat laun akan menurunkan harga komoditas akibat permintaan makin berkurang. Dengan demikian,

Mata uang tunggal masih dalam jalur pelemahan untuk jangka menengah, seiring perubahan ekspektasi suku bunga ECB *** ekonomi Inggris masih di bawah performa, inilah yang menjadi faktor penekan poundsterling yang utama. *** Performa Aussie selanjutnya akan tergantung pada eskalasi ancaman resesi global FuturesMonthly

11


Forex Market Outlook prospek negara produsen bahan komoditas ini cenderung tertekan secara fundamental. Studi Teknikal: Di awal tahun 2011, AUD/USD diperdagangkan dalam range lebar, antara 0.9800 dan 1.0200. Pada bulan September, harga kemungkinan harga kembali mengulang pola di awal tahun dan tidak jauh dari level parity 1.0080. Jika berada di bawah area tersebut, support tampak pada kisaran 0.9940 sebelum area support kunci 0.9800. Jika harga berhasil rebound ke atas 1.0200 hingga peak tahun 2010 (1.0255), maka level resisten lanjutan masih kuat di area 1.0440. USD/CHF: Bias Bearish Katalis positif yang berpotensi melemahkan franc Swiss adalah peluang untuk pelonggaran moneter. Swiss National Bank/SNB dapat memilih langkah ini guna meng-counter apresiasi franc secara berlebihan, seperti yang dikatakan oleh Wakil Gubernur Thomas Jordan bulan lalu. SNB melihat sekitar 60% ekspornya menuju ke zona Eropa, dan euro kolaps ke rekor terendah terhadap Franc setiap pekannya telah mengakibatkan kontraksi industri manufaktur dan prospek pertumbuhan Swiss. Oleh karena itu SNB telah berusaha mengatasi dengan melakukan intervensi dengan cara membatasi apresiasi mata uang Franc dan mendorong kebijakan pelonggaran moneter ke batas baru sehingga mata uang Swiss Franc menjadi tidak menarik. Swiss kemungkinan akan menyesali keputusan mereka untuk mematok nilai tukar Swiss Franc terhadap Euro. Pematokan nilai tersebut akan mempengaruhi

SNB telah berusaha mengatasi dengan melakukan intervensi dengan cara membatasi apresiasi mata uang Franc

12 FuturesMonthly

kredibilitas dan independensi SNB di jangka panjang, berimbas pada serangan spekulatif mata uangnya lebih dahsyat dan mempengaruhi ekonomi pada bahaya inflasi. Studi Teknikal: franc Swiss mengawali bulan ini dengan penguatan terhadap dollar AS, dimana area 0.7060 masih menjadi rekor terendah. Resisten kuat di level atas masih terletak di area 0.8320, diikuti dengan area 0.8000 sebagai level pivot. Selama harga tertekan di bawah area tersebut, skenario bearish masih lebih dominan untuk setidaknya mengincar area 0.7700 sebelum menuju ke bawah area 0.7575. Di bawah area 1.7425 dan 0.7325 terdapat area yang belum pernah tampak di grafik sehingga level support menjadi tidak signifikan. Prediksi Harga Rata-rata Major Currencies di Bulan September:

Pair Forecast Value EUR/USD 1.3780 GBP/USD 1.5400 AUD/USD 1.0090 USD/JPY 80.00 USD/CHF 0.7830 .


Stock Index Market Outlook Daru Wibisono

Senior Research and Analyst Monex

‘Krisis Ganda’ Hantui Lantai Bursa! Musim laporan keuangan korporasi (earnings) telah berlalu, namun pasar tetap bersikap dingin. Padahal secara umum, hasil pendapatan perusahaan cukup baik dibandingkan catatan kuartal sebelumnya. Seakan tidak menggubris kinerja earnings, bursa saham dunia rontok akibat ‘badai jual’ yang terjadi di Wall Street dan bursa Eropa. Pelaku pasar mengklaim ‘krisis ganda’ sebagai pemicunya!

K

ejatuhan indeks saham dunia dipandang sebagai gejala awal resesi dunia. Krisis fiskal di Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara Eropa terus meluas. Gejolak baru ini justru hadir setelah pemerintah AS lolos dari jeratan isu plafon hutang. ‘Badai jual’ yang melanda bursa saham dunia dipicu akumulasi kecemasan terhadap kondisi fiskal AS dan Eropa. Negara Italia, Spanyol, Yunani, Portugal dan Irlandia sedang kesulitan membayar hutang masing-masing.

Bencana kian lengkap setelah lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) menurunkan peringkat hutang AS sebanyak satu level dari AAA menjadi AA+. Downgrade tersebut sontak menambah rasa khawatir para pelaku pasar terhadap gambaran ekonomi global ke depan. Dalam pernyataannya, Kepala Federal Reserve AS, Ben Bernanke, menyebut bahwa pertumbuhan ternyata jauh FuturesMonthly

13


Stock Index Market Outlook

lebih lambat dibanding harapan. Komentar Bernanke cukup beralasan, mengingat ekonomi AS belakangan ini terus melemah terutama pasca pemangkasan peringkat kredit. The Fed berjanji mempertahankan suku bunga acuan pada rekor terendah, setidaknya sampai pertengahan 2013. Meski AS tidak mengalami gagal bayar hutang, pertumbuhan telah melambat dan stimulan pengembangan korporasi juga berkurang. Dalam kondisi seperti itu, daya tarik produk saham untuk investasi dipastikan menurun. Para pelaku pasar tentu akan mencari instrumen atau aset yang dianggap aman di tengah situasi suram. Jika demikian adanya, bursa Wall Street akan terus tertekan, tidak terkecuali indeks Dow Jones. Studi teknikal: Setelah pecah ke bawah garis bullish trend channel, secara teknikal indeks Dow Jones masih dalam kondisi bearish. Tren tersebut didukung oleh

Intervensi pasar yang dilakukan bank sentral Jepang (BOJ) tidak mampu mengangkat indeks karena hanya menyebabkan koreksi yen sesaat 14 FuturesMonthly

sejumlah indikator seperti MACD, Stochastic hingga moving average yang menunjukkan tren penurunan. Namun karena saat ini pergerakan tengah konsolidasi di area oversold, potensi rebound akan terbatas. Bullish minor the Dow akan membawa indeks setidaknya menuju resisten 11295, Fibonacci 38.2%, kemudian 11570 (Fibo 50%) hingga 11850 s/d 12000. Sementara itu, sesuai dengan tren pada semua indikator, indeks akan melanjutkan koreksi ke area 10395 kemudian psikologis 10,000 dan level 9500 (terendah Juli 2010) atau bahkan hingga 9000.

Indeks Nikkei – Jepang Akibat kejatuhan bursa Wall Street, indeks Nikkei turut tertimpa dampak negatif. Mengawali bulan Agustus lalu, Nikkei terjerembab ke kisaran bulan Maret silam, bahkan mematahkan dua level psikologis (10,000 dan 9000). Penguatan yen turut menjadi penyebab kejatuhan Nikkei. Intervensi pasar yang dilakukan bank sentral Jepang (BOJ) tidak mampu mengangkat indeks karena hanya menyebabkan koreksi yen sesaat. Guna menyuntikkan sentimen positif ke pasar, the Fed berjanji mempertahankan suku bunga acuan pada rekor terendah, setidaknya sampai pertengahan 2013. The Fed juga membuka peluang kehadiran program baru untuk kembali menghidupkan perekonomian dalam negeri. Namun kalangan analis sekali lagi


Stock Index Market Outlook tampak konsolidasi dahulu sebelum melanjutkan tren bearish. Pola ini terutama didukung oleh sejumlah indikator penting yang menunjukkan tren penurunan, yaitu moving average, MACD dan Stochastic.

memperingatkan bahwa faktor eksternal dari luar AS dapat memicu aksi jual lanjutan untuk jangka panjang. Investor akan terus bereaksi terhadap performa lantai bursa saham di belahan dunia lain. Studi teknikal: Setelah terperosok tajam hingga ke kisaran terendah Agustus 2010, Nikkei (NK_JPK50)

Dengan demikian, koreksi Nikkei akan berlanjut setidaknya ke area 8725, Fibonacci 61.8% yang juga merupakan kisaran rendah Agustus 2010. Pecah level ini akan menuntun indeks melanjutkan bearish-nya menuju 8400 hingga psikologis 8000 atau bahkan 7785, area keterpurukan Nikkei saat bencana gampa dan tsunami. Sementara jiks konstan bergerak di atas psikologis 9000, Nikkei akan rebound, meski terbatas di area 9275 – Fibo 38.2%, 9625 - Fibo 23.6% hingga psikologis utama 10,000.

Indeks Hang Seng – Hong Kong Ekspektasi percepatan ekonomi mendorong investor untuk siaga menanti rebound bursa saham di semester ke dua. Namun harapan tersebut sirna karena AS dan Eropa tengah bergulat dengan masalah hutang dan tingkat kepercayaan, sementara China tengah menghadapi tekanan inflasi tinggi. Pelaku pasar cepat melepas posisi karena khawatir dengan prospek pertumbuhan.

Sekarang kekhawatiran terhadap China bukanlah hal utama karena fokus beralih ke perekonomian AS dan Eropa

Bursa saham Hong Kong anjlok hingga ke level terendah sejak lebih dari dua tahun lalu. Pengelola reksadana membuang saham-saham siklikal dan berorientasi pertumbuhan di tengah aksi jual investor global. Di samping itu, investor ritel juga banyak menjual saham sektor perbankan dan industri pasca penurunan peringkat hutang AS. Kemerosotan di lantai bursa telah menyeret indeks utama turun 11.7% hanya dalam tiga hari. Hang Seng FuturesMonthly

15


Stock Index Market Outlook tertekan hingga ke area oversold yang terakhir terlihat saat krisis keuangan Asia tahun 1997. Sekarang kekhawatiran terhadap China bukanlah hal utama karena fokus beralih ke perekonomian AS dan Eropa. Studi teknikal: Setelah merosot tajam, secara teknikal indeks Hang Seng (HK_HKK50) akan konsolidasi dahulu di kisaran krusial 19000 karena harga telah oversold. Area tersebut merupakan level penentuan apakah indeks akan melanjutkan koreksi atau reversal ke sejumlah tahanan di atasnya. Namun demikian, rebound Hang Seng akan terbatas mengingat sejumlah indikator berada di bawah tekanan bearish (moving average, MACD dan Stochastic). Maka resisten yang akan dihadapi indeks antara lain: 20330-Fibonacci

38.2%, 20800 - Fibonacci 50% dan 21290 - Fibonacci 61.8% atau bahkan level 22000. Namun bila tekanan jual terus berlanjut, Hang Seng akan terperosok tajam hingga ke bawah 19000 kemudian menuju 18000 dan 17000.

Amerika merupakan pangsa pasar utama bagi negara ginseng

16 FuturesMonthly

Indeks KOSPI – Korea Selatan Bulan Agustus menjadi periode kelam bagi indeks KOSPI, Korea Selatan. Pasalnya, baru memasuki enam hari perdagangan awal secara beruntun, indeks telah tumbang 17.1% dan menguras valuasi saham hingga 209 triliun won. Indeks mencatat level terendah dalam 13 bulan terakhir sejak Juli 2010. Keterpurukan indeks paling atraktif di Asia ini terutama akibat aksi jual masif pasca kabar downgrade AS. Padahal Amerika merupakan pangsa pasar utama bagi negara ginseng. Mengantisipasi hal tersebut, pihak regulator telah memperingatkan bahwa ‘pertumpahan darah’ di pasar dapat menular ke ekonomi riil. Pemerintah diprediksi

tidak akan tinggal diam. Sejumlah pelaku pasar menyebut pemerintah segera merilis langkah kebijakan stimulus guna mencegah krisis di pasar. Studi teknikal: Setelah terpuruk tajam, secara teknikal indeks KOSPI-Korea Selatan futures (KSc1) akan mengalami konsolidasi. Proses recovery kemungkinan akan terbatas mengingat indikator moving average dan Stochastic terkonfirmasi bearish. Berdasarkan Fibonacci retracement, rebound akan tertahan oleh beberapa resisten yaitu 245.55 (Fibonacci 38.2%) kemudian 253.90 (Fibonacci 50.0%) dan 262.25 (Fibonacci 61.8%). Meski penurunan akan lebih lambat, kondisi bearish masih berpotensi membawa KOSPI kembali ke area 218.50 dan 210.00 atau titik terjenuh di kisaran 201.85 (terendah Mei 2010).


FuturesMonthly

17


Gold Outlook Johannes Ginting Head of Education Monex

Emas,

Terbanglah Tinggi!

Amerika Serikat mencatat sejarah! Untuk kali pertama dalam kurun waktu 94 tahun sejak 1917, peringkat hutang AS dipangkas satu tingkat oleh Standard & Poor’s, dari AAA menjadi AA+. Dampaknya? Bursa global anjlok dan harga saham AS turun lebih dari 5%. Indeks Dow bahkan mencatat penurunan poin terbesar dalam satu hari sejak krisis mortgage 2008 sebanyak 600 poin. Adapun mata uang dengan yield tinggi seperti AUD, yang sebelumnya sudah melemah, bahkan sempat bertengger di bawah paritas terhadap USD. Para investor tampak sangat cemas sehingga melepas aset yang berbau resiko untuk kemudian memburu safe haven.

A

set lindung nilai yang paling diburu oleh investor adalah logam mulia bernama ‘emas’; aset yang kebal krisis, aset yang terus mencatat rekor tinggi dari waktu-waktu. Setelah Standard & Poor’s mengumumkan penurunan rating hutang AS Jumat bulan lalu, harga emas pada pembukaan pasar hari Senin (08/08/2011) sontak melambung tinggi. Kalau pada penutupan hari Jumat (05/08) harga emas ditutup pada level $1661.80/oz, maka pada pembukaan Senin (08/08), emas langsung terbang ke $1689.55/oz atau terjadi gap harga lebih dari $27, mengindikasikan permintaan yang sangat tinggi terhadap emas. Chart di bawah ini menggambarkan gap yang terjadi pada emas setelah penurunan rating AS. Hingga pertengahan bulan lalu, harga emas terus mencetak rekor dengan catatan level tertinggi di $1814.55/oz yang tercapai pada tanggal 10 Agustus. Hanya dalam 4 hari berturut-turut, emas berhasil membukukan kenaikan $125. Suatu

Bahkan emas masih bisa terbang lebih tinggi lagi, terutama jika isu hutang kembali meledak di pasar keuangan 18 FuturesMonthly

kinerja yang fantastis, menggambarkan betapa investor cemas dengan masalah hutang di AS dan perlambatan ekonomi global. Pertanyaan klasik kembali muncul, apakah harga emas sudah terlalu tinggi? Kapankah emas mengalami koreksi tajam? Mari Kita pertimbangkan beberapa fakta berikut : •

The Fed baru saja berkomitmen untuk mempertahankan suku bunga dekat level nol persen,


Gold Outlook

kemungkinan hingga pertengahan 2013. Keputusan ini makin menegaskan bahwa AS tengah berada dalam kondisi ekonomi yang cukup serius sehingga harus distimulasi dengan suku bunga rendah. USD masih akan terjebak dalam tren pelemahan untuk jangka menengah. Perlambatan kinerja ekonomi bisa jadi memaksa the Fed untuk merilis stimulus ke tiga (Q3). Fakta menunjukkan bahwa stimulus moneter melalui pencetakan uang pasti melemahkan USD. •

Beredar ancaman downgrade rating negara Prancis dan Inggris. Meski baru sekedar isu namun bukan suatu hal yang mustahil mengingat hutang kedua negara ini sudah berada di atas 80% dari angka PDB masing-masing. Jika salah satu negara perekonomian terbesar Eropa seperti Prancis saja bermasalah, maka bisa dibayangkan betapa kritisnya kondisi kesehatan moneter zona euro.

•

Masalah hutang di Eropa juga ibarat bom waktu. Italia dan Spanyol kemungkinan menjadi korban berikutnya setelah Yunani, Portugal dan Irlandia. Meski ECB telah membeli obligasi kedua negara, dampak dari langkah ini sepertinya hanya sementara. Pasalnya, hutang kedua negara ini juga sudah cukup besar.

•

AS tidak akan mudah untuk kembali meraih

predikat obligasi AAA karena konflik politik antara partai Republik dan Demokrat. Persaingan keduanya terlihat sewaktu perundingan batas hutang, yang harus melewati perdebatan panjang meski akhirnya kesepakatan berhasil dicapai satu hari sebelum jatuh tempo. Kondisi politik terkini akan membuat investor ragu pada kemampuan AS mengatasi masalah hutang. Berdasarkan fakta-fakta di atas, kenaikan emas rasanya belum akan berakhir. Bahkan emas masih bisa terbang lebih tinggi lagi, terutama jika isu hutang kembali meledak di pasar keuangan. Logam mulia favorit investor diperkirakan bisa menuju $2000/oz sampai akhir tahun. Isu hutang akan dengan cepat menggiring investor ke aset berbasis emas. Namun, perlu dicatat bahwa harga masih berpeluang mengalami koreksi karena valuasinya sudah cukup tinggi. Rekomendasi : Emas terlihat bergerak ranging pada chart 4 jam. Support kuat berada di 1720/30, titik ini mendorong investor beli emas sehingga harga kembali naik. Namun, kenaikan masih dibatasi resistance 1796. Investor sepertinya mencari trigger baru untuk mendorong pasar keluar dari range. Jika ranging ini berakhir, tembus resistance, maka emas akan menuju level tertingginya di 1814 dan menyentuh level 100% dari Fibonacci expansion di 1850. Koreksi masih berada di kisaran support 1720/30, yang jika tertembus emas masih akan bertahan di 1640.

FuturesMonthly

19


Liputan Khusus

20 FuturesMonthly


FuturesMonthly

21


22 FuturesMonthly


Commodity Focus Ariana Nur Akbar

Senior Research and Analyst Monex

PERIODE KELAM EMAS HITAM Pergerakan harga minyak mentah AS masih dalam taraf yang cukup menyedihkan. Pemangkasan rating kredit AS dan krisis hutang di Eropa membuat pasar investasi dunia, baik bursa saham maupun komoditas, terkoreksi cukup dalam. Harga minyak mentah yang sudah turun ke sekitar $78 per barel bulan lalu cukup mampu memberi gambaran negatif tentang prospek permintaan global untuk beberapa pekan ke depan.

K

ontrak minyak mentah Amerika Serikat (AS) telah anjlok lebih dari 6% hingga ke level terendah dalam 8 bulan terakhir akibat aksi jual besarbesaran. Tindakan investor untuk melepas aset terpicu oleh penurunan peringkat hutang AS oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P). Kabar itu tentu tidak bersahabat bagi harga aset beresiko, apalagi pasar masih dibayangi ketakutan soal krisis keuangan eropa. Di samping terus memantau rilis data persediaan dari lembaga EIA, trader juga memonitor pernyataan bank sentral AS. Sesuai hasil survei analis Reuters bulan lalu, the Fed belum menunjukkan indikasi kenaikan suku bunga pada sidang terakhirnya. Pada Agustus silam, harga minyak mentah untuk pengiriman bulan September sempat ditutup pada level $81.31 per barel atau level penutupan terendah sejak 23 November 2010 ($81.25). Adapun rasio penurunan tersebut adalah yang terbesar sejak 5 Mei, sebagaimana dilansir oleh Departemen Energi AS. Berbicara tentang faktor persediaan, Saudi Aramco, perusahaan minyak terbesar dunia, tengah mempersiapkan suplai minyak mentah bagi sedikitnya dua pembeli dari kawasan Asia di bulan September. Kedua calon pembeli tersebut tidak meminta tambahan volume dari jumlah yang tercatat dalam kontrak. Sementara itu, perusahaan minyak dari Taiwan, Formosa Petrochemical Corp, dikabarkan menutup operasional kilang sehingga mengakibatkan

penurunan pasokan sebesar 540.000 barel per hari, yang berarti bahwa harga saat ini masih terjaga. Adapun Arab Saudi pada bulan Agustus telah menandatangani kesepakatan untuk menjual 3 juta barel minyak mentah lebih banyak ke India. Langkah itu dilakukan untuk mengisi kekosongan akibat pemangkasan suplai Iran ke New Delhi. Volume penjualan itu berhasil menutup sekitar Âź pengiriman minyak yang biasanya diekspor ke India oleh Iran. Proyeksi Permintaan OPEC dan AS Menurut sebuah proyeksi yang dirilis oleh AS dan OPEC pada 9 Agustus lalu, permintaan minyak global akan lebih lambat dibanding perkiraan. Kelesuan ekonomi di negara maju menjadi alasan dari hasil perkiraan tersebut. Pemangkasan ekspektasi permintaan oleh EIA dan OPEC juga sejalan dengan pandangan institusi lain seperti Barclays Capital. Lembaga keuangan ini menilai bahwa tingkat konsumsi pribadi dan sektor usaha sedang terpuruk. Indikasi utamanya adalah koreksi harga minyak mentah AS sejak pekan perdana Agustus yang sudah sebesar 15%. “Awan kelabu perekonomian berdampak pada arah pergerakan pasar saat ini,â€? demikian tulis OPEC dalam sebuah laporan bulanan. OPEC menilai bahwa semua pihak harus mewaspadai FuturesMonthly

27


Commodity Focus

potensi kemunduran ekonomi dalam beberapa bulan mendatang. EIA memangkas proyeksi permintaan minyak mentah sebesar 60.000 barel per hari menjadi 1.37 juta barel perhari. Adapun OPEC, yang memiliki kontribusi sebanyak 1/3 total konsumsi dunia, melihat adanya penurunan permintaan sebanyak 150.000 barel ke 1.21 juta barel per hari dibanding perkiraan sebelumnya. “Kita telah melihat serangkaian data yang makin buruk,� ujar Matt Smith, analis Summit Energy. Masih menurut Smith, data manufaktur dan prospek sektor tenaga kerja tidak terlalu bagus sehingga akan berdampak negatif terhadap permintaan minyak mentah. Terutama dengan mempertimbangkan peran AS sebagai negara perekonomian terbesar dunia. Meski demikian, baik EIA maupun OPEC masih berharap bahwa pasar minyak mentah akan stabil sepanjang tahun ini. “Pertumbuhan permintaan global, yang dipimpin oleh China, diharapkan mampu melampaui pertumbuhan suplai dari negara-negara di luar OPEC,� tulis EIA dalam laporannya.

Harga komoditas emas hitam masih dalam tekanan masalah hutang AS dan Eropa, yang memicu penurunan demand 28 FuturesMonthly

Untuk jangka panjang, harga komoditas emas hitam masih dalam tekanan masalah hutang AS dan Eropa, yang memicu penurunan demand. Ben S. Bernanke sudah meredam ekspektasi kenaikan suku bunga. Sementara presiden Barack Obama juga mengatakan bahwa pemerintah siap memangkas anggaran belanja negara dan memanfaatkan penyesuaian batas hutang. Dua sikap petinggi di pemerintahan itu menjadi pertanda bahwa harga minyak mentah akan mengalami masa kelam dalam beberapa pekan atau bahkan sepanjang tahun ini. Nada optimis dari EIA tetap sulit mengangkat harga ke kisaran $90 per barel. Harapan besar memang berada di pundak China, tetapi masalah pengetatan moneter menjadi kendala tersendiri. Studi Teknikal: berdasarkan indikator SMA, Parabolic SAR dan Stochastics, pergerakan harga masih cenderung bearish dengan target tidak jauh dari level $80-an. Hingga medio Agustus, harga masih menunjukkan level $82, tetapi diperkirakan bergerak turun ke level support pertama ($72) dalam beberapa pekan mendatang. Apabila level tersebut ditembus, harga akan bergerak menuju level $67 (S2), level psikologis yang bisa memberi harapan rebound. Namun kemungkinan tersebut belum cukup kuat. Sedangkan untuk pergerakan naik, harga mungkin mencoba meraih level $83 (R1), kemudian terbuka peluang kenaikan ke $98 (R2).


Multilateral Product Ariana Nur Akbar

Senior Research and Analyst Monex

CPO Minim

Sentimen Positif Prospek perkembangan harga minyak kelapa sawit (CPO) untuk beberapa pekan ke depan belum terlalu baik. Tampak indikasi kelesuan permintaan dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa, terutama di tengah isu krisis hutang dan pemangkasan rating kredit. Faktor persediaan juga berpotensi menahan harga di level rendah. Meski peluang kenaikan tetap eksis, CPO harus bersabar menanti sinyal positif.

M

alaysian Palm Oil Board (MPOB) menyatakan bahwa jumlah produksi CPO sudah menyentuh titik tertinggi sepanjang tahun 2011 pada bulan Juli. Peningkatan suplai minyak sayur di negara produsen terbesar ke dua dunia itu dipicu oleh cuaca yang kondusif dan penggunaan pupuk secara optimal. Otoritas kemudian meramalkan bahwa hingga akhir tahun nanti, volume produksi akan turun. Choo Yuen May, Direktur Jenderal MPOB, melihat ekspektasi penurunan produksi disebabkan oleh musim libur hari raya umat muslim. Pekerja asing akan pulang ke kampung halaman untuk jangka waktu tertentu sehingga hasil panen sawit belum bisa dipetik. “Tren akan berlanjut hingga bulan Desember, sesuai siklus normal tahunan,� ujar May dalam sebuah online seminar. Choo Yuen May tetap menaikkan ekspektasi hasil produksi minyak sawit menjadi 18.3 juta ton atau lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya, 17 juta ton.

Kontrak berjangka minyak sawit Malaysia bulan lalu sempat jatuh ke level terendah selama lebih dari 9 bulan (9 Agustus 2011). Ketika itu, pelaku pasar khawatir dengan pertumbuhan ekonomi global dan prospek permintaan komoditi setelah Amerika Serikat (AS) mendapat pemangkasan rating hutang. Kontrak CPO anjlok hingga mendekati level RM3,000, dibarengi oleh penurunan harga-harga komoditas lain. Investor langsung memangkas beberapa posisi, tetapi memang tidak ada berita gembar-gembor berlebihan karena minyak sawit adalah komoditas minyak dengan konsumen setia. Di saat bersamaan, bursa saham regional anjlok sepanjang 10 sesi perdagangan, sekaligus menandai koreksi indeks ekuitas sebanyak 20% sejak akhir Mei. Di wilayah Eropa, harga komoditi minyak sayur juga merosot karena isu serupa. Ketidakpastian soal kemampuan bayar hutang pemerintah AS masih berlanjut sehingga pasar cenderung defensif. Keputusan downgrade rating AS oleh Standard & Poor’s sudah memicu aksi jual besar di pasar saham dan komoditas. Pemodal berbalik mencari aset investasi safe haven, seperti emas dan obligasi. Tidak heran jika pada akhirnya harga emas terus melambung ke rekor baru dalam beberapa pekan terakhir. Pada bulan lalu, CPO bahkan sempat melemah antara $15 dan $22 per ton menyusul penurunan nilai kontrak CPO ke low 9 bulan. Pada 9 Agustus, harga minyak sawit telah turun sebanyak 3-6% di kawasan Asia. Kontrak CPO di Bursa FuturesMonthly

29


Multilateral Product Malaysia Derivatives ditutup minus 2,5% ke RM2,920 per ton (atau setara dengan $967.21) setelah sempat menyentuh rekor terendah sejak Oktober 2010 (RM2,917). Penurunan harga komoditas tersebut membuat volume perdagangan naik menjadi 35.313 lot atau lebih tinggi dibanding volume normal, yang berkisar 25.000 lot. Harga CPO berusaha mencari keseimbangan antara pengaruh krisis AS-Eropa dan optimisme bullish dari faktor supply-demand. Terlihat kecenderungan penurunan suplai di akhir bulan Agustus ke bawah 2 juta ton karena jumlah pekerja yang memanen buah kelapa sawit berkurang, menyusul peringatan hari raya Idul Fitri. Walau berbagai faktor tidak berpihak pada komoditas sawit, Oil World masih menunjukkan optimisme terhadap kenaikan harga lebih lanjut. Menurut badan analis yang berlokasi di Hamburg ini, harga CPO yang sedang murah dapat menarik permintaan besar dari China dan negara importir lain. “Kami melihat kenaikan impor dari China pada bulan Agustus dan September,� demikian opini dari Oil World. Tekanan terhadap CPO terbatasi oleh permintaan yang kuat dan potongan harga cukup besar dibanding jika membeli harga minyak kedelai (komoditas pengganti sawit). Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak sawit

Secara fundamental, prospek CPO belum membaik meski ada harapan dari pesanan negara China

terpantau lebih rendah hingga sekitar $75-$100 dollar per ton dibanding harga ekspor minyak kedelai. Meski demikian, proyeksi permintaan dari China tidak serta merta membuat prospek CPO cerah mengingat negara itu sudah menimbun banyak CPO. Sudah sejak lama China mengantisipasi penurunan stok minyak sawit dalam negeri. Secara fundamental, prospek CPO belum membaik meski ada harapan dari pesanan negara China. Volume permintaan akan menyusut selama negara AS dan kawasan Eropa belum mampu memecahkan masalah keuangan masing-masing. Pada akhirnya, korelasi antara persediaan dan permintaan memegang peran penting dalam pergerakan harga satu bulan ke depan. Secara teknikal sendiri, pergerakan harga, menurut indikator Stochastics, Simpel Moving Average (SMA) dan Parabolic SAR sebagaimana yang terlihat pada gambar di atas, masih menunjukkan sinyal bearish yang kuat. Sementara dari sisi indikator Fibonacci sendiri, potensi harga untuk rebound, mungkin masih ada walaupun mungkin akan terbatas ke kisaran RM3.200 sampai RM3.300 sebagai level R1 dan R2, sesuai tingkat Fibonacci Retracement di level 60.0% dan 61.8%. Kisaran resisten antara R1 dan R2 menjadi sempit karena potensi penguatan kecil kemungkinan akan terjadi. Level resisten psikologis atau tertingginya yang mungkin sulit tercapai, kemungkinan berada di RM3.800, tepatnya di level 100.0%. Peluang penurunan harga justru sepertinya masih menjadi kecenderungan harga saat ini dan mendatang. support terdekatnya (S1) berada dalam level 38.2%, tepatnya pada level harga RM2.977, untuk kemudian, apabila harga terus merosot, akan mencoba menyentuh tingkat Fibonacci 23.6%, di level harga RM2.781. Selebihnya level support terjauhnya mungkin akan tertahan di level sekitar RM2.464 atau RM2.500.

30 FuturesMonthly


CFD Strategy Vicky Amarnani Market Strategist Monex

Resesi Baru

atau Peluang Beli? Sejak April tahun ini, Dow Jones Industrial Average (DJIA) sudah anjlok 11 kali dalam 14 sesi terakhir. Secara akumulatif, indeks sudah kehilangan 16% sejak terakhir kali meraih level tertingginya. Valuasi saham terkini memang sudah terlalu murah di tengah volatilitas tinggi dan ketiadaan indikasi rebound. Namun gambaran tersebut justru menunjukkan bahwa harga sudah terlampau jenuh jual. Peluang untuk beli?.

G

ambaran umum dari kinerja indeks utama Amerika Serikat (AS) tercermin pada ilustrasi di bawah ini. Dapat terlihat bahwa S&P 500 sudah anjlok nyaris sebanyak 7% sejak awal tahun dan terkoreksi hampir 20% dari high bulan April. Meski demikian, tren ini tampak sudah tuntas walaupun gejala pemulihan belum akan stabil. Indikator sentimen sangat negatif dengan adanya kemungkinan koreksi terbatas. Adapun neraca keuangan dan tingkat keuntungan perusahaan terpantau sehat walau masih diperlukan katalis lebih untuk memperkuat rally. Patut dicatat bahwa tidak akan ada resesi baru! Suku bunga rendah dan kebijakan moneter terbaru sangat berpihak ke pasar saham.

Ilustrasi 1: Gambaran Indeks Saham AS per 11 Agustus 2011

Beberapa faktor yang berperan dalam pembentukan sentimen negatif di bursa saham antara lain: Kecemasan luar biasa investor terhadap krisis hutang Terdapat ketakutan bahwa Prancis akan mengikuti jejak AS. Negara ini bisa saja kehilangan rating kredit AAA meski predikat tersebut masih dijamin oleh lembaga rating besar seperti Standard & Poor’s, Moody’s Investors service dan Fitch ratings. Bursa saham dunia sudah kehilangan $4 triliun hanya dalam 2 pekan hingga Agustus lalu. Namun Prancis, Spanyol, Italia dan Belgia siap melarang short selling guna menciptakan stabilitas pasar. Apalagi sa-

FuturesMonthly

31


CFD Strategy ham perbankan Eropa sudah menyentuh level terendah sejak krisis kredit lalu. 1. Investor masih khawatir dengan prospek pertumbuhan ekonomi AS Komitmen the Fed untuk menahan suku bunga di level rendah hingga (setidaknya) medio 2013 tidak mampu mengimbangi pesimisme investor. Gross Domestic Product (GDP) negara AS hanya berekspansi 1.30% kuartal lalu. Pada gambar di bawah ini tampak bahwa neraca perdagangan bulan Juni melebar ke -51.1 dan indeks PMI index turun ke bawah 50. Di lain pihak, pasar tenaga kerja tengah membaik setelah angka Non-farm payrolls meningkat dan klaim pengangguran surut ke titik terendah dalam 4 bulan terakhir.

Ilustrasi 2: GDP Negara AS sejak Januari 2007

Sumber: http://www.tradingeconomics.com/unitedstates/gdp-growth 2. Inflasi China melaju pada percepatan tertinggi sejak Juli tiga tahun lalu Fenomena inflasi China membatasi kebijakan moneter pemerintah. Indeks Harga Konsumen di negara perekonomian terbesar Asia ini naik 6.5% dibanding satu tahun sebelumnya. Pemicu utamanya adalah lonjakan harga bahan pangan. Ilustrasi 3 menunjukkan bagaimana resiko terhadap aset beresiko turun ke titik terendah sepanjang masa (sejak 1981) pada 8 Agustus lalu. Indikator sentimen sangat negatif, namun juga sudah jenuh jual (mendekati -6). Level tersebut memberi rasio risk to reward menarik dan layak dijadikan entry points.

32 FuturesMonthly

Ilustrasi 3: Minat Beresiko Global pada Titik Terendah dalam Sejarah (8 Agustus 2011)

Beli ketika harga melemah, Jual saat rally! Di tengah maraknya berita negatif di pasar, Kita harus paham mengenai karakteristik pasar berikut: 1. Imbal hasil ekuitas AS lebih besar dibanding bunga dari produk saham, obligasi maupun deposito. 2. Dari sisi valuasi harga, Anda bisa membeli saham perusahaan besar dengan harga murah. 3. Suku bunga rendah dan kemungkinan Quantitative Easing 3 (QE3) sangat mendukung pasar saham. 4. Pasar sudah mengantisipasi soal perlambatan ekonomi AS dan isu hutang Eropa. Segala ke-

cemasan telah terjadi dan terlewati dalam beberapa pekan terakhir. 5. Pendapatan korporasi di wilayah AS dan Eropa berhasil melampaui harapan, bahkan sebanyak 60% perusahaan mencetak laba di atas ekspektasi. Faktanya, banyak saham perusahaan-perusahaan itu diperdagangkan secara murah sehingga memberi valuasi menarik.

Komitmen the Fed untuk menahan suku bunga di level rendah hingga (setidaknya) medio 2013 tidak mampu mengimbangi pesimisme investor.


CFD Strategy

Koreksi masih bisa berlanjut atau bahkan makin parah, khususnya bila pasar pendanaan tertekan dan data ekonomi memburuk. Akan tetapi, pasar saham bisa memberi peluang beli cukup bagus untuk masa transaksi 1-3 bulan. Koreksi kali ini kemungkinan tidak memicu siklus rally 6-12 bulan, mengingat proyeksi global masih penuh kewaspadaan. Bagi investor yang tidak memiliki eksposur besar ke produk saham,

saat ini adalah peluang untuk mengakumulasi aset untuk jangka panjang (secara bertahap). Analis memperkirakan tingkat konsumsi di Asia naik 11.3% pada 2011 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 10.5% selama 5 tahun ke depan. Proyeksi konsumsi Asia jauh lebih tinggi dibanding outlook konsumsi negara maju yang hanya 2-4%. Ilustrasi 4 menunjukkan tingkat pengeluaran konsumen di Asia, dimana China dan India memimpin kenaikan. Lebih lanjut, ketika memilih saham, sebaiknya mengamati terlebih dahulu eksposur perusahaan di negara berkembang. Hal ini menjadi persyaratan wajib guna mendapatkan saham dengan pertumbuhan atraktif. Ilustrasi 4: Proyeksi Pertumbuhan Belanja Konsumen (2011 – 2015)

Rekomendasi : Saham dengan bunga dividen berkualitas dari sektor defensif dan teknologi layak untuk dilirik. Demikian pula dengan saham perusahaan yang punya basis konsumen kuat di emerging markets. FuturesMonthly

33


Famous Person Vidi Yuliansyah R. Pratama

Research and Analyst Monex

Jesse Lauriston

Livermore ‘The Great Bear of Wall Street’ (26 Juli 1877 – 28 November 1940)

Hiruk pikuk dunia saham di Wall Street tidak bisa lepas dari kiprah beberapa trader fenomenal. Mereka yang berhasil meraih kekayaan berlimpah layak dijadikan sosok panutan bagi trader masa kini. Beberapa di antaranya bahkan menjadi legenda lantai bursa, seperti Jesse Lauriston Livermore. 34 FuturesMonthly

L

ahir di Shrewsbury, Massachusetts pada 26 Juli 1877, Jesse Livermore terkenal dengan julukan ‘Boy Plunger’ dan ‘Great Bear of Wall Street’. Ia adalah seorang pedagang saham di awal abad ke-20 yang populer bukan hanya karena kepiawaian dalam menghasilkan, tetapi juga menghilangkan dana jutaan dollar di pasar saham. Aksi short selling Livermore selama kejatuhan Wall Street tahun 1907 dan 1929 telah mengangkat pamornya sebagai trader handal. Jesse Livermore memulai karir trading-nya pada usia 14 tahun dengan memasang investasi saham pada


Famous Person sebuah broker bernama Paine Webber di Boston. Hal itu dia lakukan setelah lari dari rumah akibat menentang rencana sang ayah, yang menghendaki dirinya untuk mengurus lahan pertanian. Dalam keseharian, Livermore selalu menuliskan firasatnya tentang pergerakan harga di masa datang pada secarik kertas. Pada waktu tertentu, Ia memeriksa akurasi dari prediksi di kertas itu. Seorang teman meyakinkan Livermore untuk memasang taruhan di bucket shop, suatu jenis perjudian yang menjadikan harga saham sebagai bahan taruhan. Alhasil, Livermore kecil berhasil meraup keuntungan lebih dari $1000 (setara dengan $20000 saat ini) waktu usianya baru genap 15 tahun. Ia baru berhenti setelah sebagian besar bucket shop melarang keikutsertaannya karena sudah terlalu sering menang. Ia kemudian pindah ke New York City dan mencurahkan energinya ke dalam perdagangan pasar saham yang absah. Migrasi itu pula yang menjadi titik awal kelahiran teknik baru trading ala Jesse Livermore. Dengan lebih mengandalkan firasat dibanding analisa harga, Ia melakukan short selling cerdas saat terjadi kejatuhan pasar saham di tahun 1907. Ketika banyak trader harus menelan kerugian akibat kekurangan margin, Ia justru meraup keuntungan sebesar $3 juta sepanjang tahun itu. Peruntungan Livermore tidak bertahan lama setelah Ia bangkrut akibat melanggar aturan yang dibuatnya sendiri. Saran dari orang lain mempengaruhinya untuk menambah posisi kala pergerakan harga berbalik arah. Tidak hanya itu, usahanya untuk memulihkan kekayaan juga tidak berjalan mulus. Sepanjang tahun 1908 hingga 1912, Livermore terus mengalami kekalahan di lantai bursa hingga akhirnya dinyatakan bangkrut lagi pada tahun 1914. Jesse Livermore baru kembali lagi ke dunia saham pada tahun 1916. dia berhasil membalikkan keberuntungan

Tambah posisi saat berada dalam jalur yang benar dan segera pangkas kerugian kala berada pada posisi sebaliknya’ *** Aspek penting lain dari filosofi perdagangan Livermore dengan tidak menghiraukan tips-tips dari insider untuk dijadikan alat utama dalam membaca pergerakan pasar

dan membayar semua hutangnya ketika bullish pasar saat Perang Dunia I yang oleh aksi short selling-nya menyebabkan harga downtrend. Pada tahun 1929, Ia melihat kondisi pasar tengah bergejolak, serupa dengan apa yang pernah dialaminya pada tahun 1907. Namun kali ini situasi jauh berbeda, Livermore kembali melakukan antisipasi dengan short selling, yang pada akhirnya memberi keuntungan hingga $100 juta. Masa kejayaan Livermore tidak bertahan lama karena pada tahun 1934 dia bangkrut lagi. Sekitar 6 tahun kemudian, tepatnya pada 28 November 1940, Jesse Lauriston Livermore meninggal akibat bunuh diri. Terlepas dari sosoknya yang kontroversial, Livermore telah meninggalkan sebuah filosofi penting bagi para trader. ‘Tambah posisi saat berada dalam jalur yang benar dan segera pangkas kerugian kala berada pada posisi sebaliknya’. Para pedagang saham masa kini melihat sosok Livermore sebagai trader klasik yang gigih menerapkan idealismenya tanpa harus melalui program pendidikan atau jenjang kuliah yang mahal. Trader saham modern dapat mengambil pelajaran bahwa kerja keras, intuisi dan juga studi pasar tenaga kerja yang intensif dapat membuka kesempatan meraih laba. Aspek penting lain dari filosofi perdagangan Livermore dengan tidak menghiraukan tips-tips dari insider untuk dijadikan alat utama dalam membaca pergerakan pasar. Ia pernah mengalami kesalahan itu dan terpaksa menangguk kerugian. Oleh karena itu, trader masa kini harus sadar bahwa kesalahan adalah pembelajaran karena kesuksesan terkadang tidak cukup memberi hikmah berarti. Fakta Menarik tentang Jesse Livermore Time Magazine menggambarkan Jesse Livermore sebagai pelaku saham paling luar biasa yang pernah lahir. Perjalanan karirnya, dari seorang office boy hingga menjadi legenda mungkin merupakan cerita paling menarik sepanjang sejarah Wall Street. Hingga kini, banyak trader saham dan komoditas masih merasa berhutang budi kepada Jesse Livermore yang telah membagi pengalamannya dalam sebuah buku popular berjudul Reminiscences of a Stock Operator. Teknik-teknik yang dia perkenalkan ke publik sudah bertahan hingga beberapa dekade. Aturan trading-nya terbukti efektif menghasilkan jutaan dollar, selama diterapkan dengan konsisten. Livermore kehilangan seluruh kekayaan mengabaikan aturan trading-nya sendiri.

karena

FuturesMonthly

35


Highlight Indonesia Zulfirman Basir

Senior Research and Analyst Monex

Mata uang rupiah sempat bergejolak di tengah kecemasan terhadap outlook pertumbuhan ekonomi dunia. Namun sekali lagi, ketangguhan performa ekonomi Indonesia dan toleransi BI terhadap apresiasi valuta akan menjaga penguatan. Di lain pihak, komitmen suku bunga ekstra rendah dari Federal Reserve justru makin memperkuat outlook valuta domestik.

R

upiah tertekan seiring guncangan pada bursa saham Indonesia yang terserang sentimen perlambatan ekonomi global. Pertumbuhan di Amerika Serikat (AS) lesu, seperti terlihat pada penurunan penjualan rumah dan kontraksi gairah belanja konsumen. Pemulihan negara perekonomian terbesar dunia ini kian terancam oleh program pengetatan fiskal dan pemangkasan peringkat kredit oleh Standard & Poor’s. Di lain pihak, perkembangan krisis hutang zona euro belum menunjukan tanda membaik. Investor tidak hanya khawatir dengan kondisi Yunani, Irlandia dan Portugal, tetapi meluas sampai Italia, Spanyol, dan Perancis. Tekanan inflasi datang dari China. Meski Beijing telah gencar memperketat celah fiskal dan moneter, pasar khawatir performa negara ekonomi terbesar ke dua dunia itu segera melambat. Sebagaimana tergambar pada penurunan ekspansi sektor manufaktur. Di tengah kekisruhan situasi global, berbagai pihak mencoba langkah perbaikan. Anggota G-7 berkomitmen melaksanakan tindakan yang dbutuhkan guna menjaga

36 FuturesMonthly

Valuta Domestik Jaga Performa

stabilitas keuangan dan pertumbuhan. Bank-bank sentral juga bergegas melindungi perekonomian dari ancaman resesi. Suku bunga rendah belum akan diubah oleh Federal Reserve, setidaknya hingga pertengahan 2013. European Central Bank (ECB) kembali mengaktifkan program pengamanan pasar modal dengan membeli obligasi pemerintah Italia dan Spanyol. Bekal stimulus baru juga siap diluncurkan Bank of England seandainya kondisi memburuk. Swiss National Bank dan Bank of Japan bahkan sampai harus mengintervensi pergerakan mata uang masing-masing supaya daya saing dalam negeri tidak menurun. Faktor Pendukung Dalam Negeri Seperti diketahui bersama, kondisi Indonesia cukup tangguh dalam mengimbangi gejolak eksternal. Rasio defisit anggaran pemerintah hanya sebesar 2,1% dari GDP dan rasio hutang juga masih aman, hanya sebesar 26% dari GDP. Adapun surplus neraca perdagangan mencapai $15,05 miliar dan lini ekspor melonjak 36% pada semester I 2011. Sistem perbankan juga terpantau sehat, seperti tercermin dari rasio kecukupan modal yang jauh di atas 8% dan persentase kredit macet di bawah 5%. Kombinasi antara imbal hasil menarik, stabilitas politik serta kredibilitas fiskal dan moneter membuat Indonesia dijadikan tujuan investasi asing. Aliran dana jangka pendek mengalir deras ke instrumen Sertifikat Bank Indonesia (33%), Surat Utang Negara (35%) dan saham (55%). Tentu ada resiko besar manakala nanti hot money tersebut keluar dari tanah air. Bank Indonesia (BI) telah belajar banyak dari krisis keuangan


Highlight Indonesia 1997/98 dan 2007/08. Otoritas langsung menerapkan syarat masa kepemilikan minimum SBI selama 6 bulan, sekaligus memperpanjang durasi jatuh tempo SBI 1 bulan menjadi 6 bulan. Cadangan devisa $122,6 miliar lebih dari cukup bagi BI untuk dijadikan bekal intervensi apabila diperlukan. Secara keseluruhan, performa ekonomi Indonesia sangat mengesankan. Pertumbuhan kuartal II tercatat sebesar 6,49% meski dunia sedang dibayangi krisis hutang. Tingkat konsumsi domestik dan investasi menjadi benteng dari gejolak eksternal. Lebih jauh, BI meyakini perekonomian dapat tumbuh 6,6% pada kuartal III. Stabilnya makroekonomi membuat pemerintah urung menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Dengan jumlah penduduk mencapai 240 juta, Indonesia tentu dipandang sebagai pasar potensial. Alhasil lembaga pemeringkat Fitch Ratings kembali berjanji bahwa dalam 12 bulan ke depan, negara ini akan dihadiahi status investment grade. Penguatan rupiah tidak bisa lepas dari toleransi BI selama ini. Mata uang digunakan sebagai alat untuk meredakan inflasi, yang konsisten berada dalam target 4%-6%. Meski demikian, tekanan inflasi inti masih tinggi, mencapai 4,55%. Oleh karena itu, BI sepertinya harus kembali bertoleransi terhadap apresiasi valuta lokal.

Faktor terbesar dari prospek rupiah tak lain adalah pelemahan dollar. Kebijakan suku bunga rendah belum akan berubah, minimal dalam dua tahun ke depan. Belum lagi masalah defisit dan pemangkasan rating. Semua komponen ekonomi AS sangat tidak bersahabat dengan dollar saat ini. Bank Indonesia optimis rupiah akan stabil dengan kecenderungan apresiasi. Studi Teknikal: pada grafik mingguan, penguatan rupiah masih terjaga seiring harga masih diperdagangkan di dalam channel bearish dan berada di bawah Moving Average 50-100-200. Namun, kenaikan indikator stochastics mengisyaratkan kenaikan untuk sementara waktu. Level 8630 dan 8725 (harga tertinggi 28 Juni dan 24 Maret 2011) merupakan resisten. Sementara 8450 dan 8375 (harga terendah 31 Juli 2011 dan Februari 2004) akan menjadi support.

Kombinasi antara imbal hasil menarik, stabilitas politik serta kredibilitas fiskal dan moneter membuat Indonesia dijadikan tujuan investasi asing *** Penguatan rupiah tidak bisa lepas dari toleransi BI selama ini

FuturesMonthly

37


Trading Strategy Andri Lesmana

Education Monex Bandung

Strategi Kobas FX Terdapat begitu banyak pilihan indikator dalam platform MetaTrader4. Tanpa kustomisasi indikator, sesungguhnya indikator standar yang sudah ada cukup ampuh untuk membantu proses transaksi. Apapun caranya, selama giat menggabungkan beberapa indikator, bersimulasi dan melakukan riset, Kita dapat menemukan strategi trading yang ideal.

K

obasFX adalah salah satu strategi sederhana yang terdiri dari penggabungan indikator empat Moving Average (Exponential) dan MACD. Moving Average (exponential) yang digunakan yaitu periode 5, periode 10, periode 15 dan periode 65, sedangkan default setting diterapkan untuk MACD. Berikut ini adalah tampilan dari indikator tersebut.

Sumber grafik: Monex Trader

38 FuturesMonthly

Aturan mainnya sederhana, sama dengan cara membaca crossing MA. Timeframe yang digunakan adalah 15 menit ke atas dan MACD berperan sebagai filter untuk entry dan exit signal. Adapun hal-hal yang perlu di perhatikan sebelum masuk posisi yaitu sebagai berikut : 1. Cek ketiga EMA (5,10,15), memotong atau tidak 2. Apakah harga berada di atas atau di bawah EMA 65 3. Cek apakah MACD signal line berada di atas atau di bawah garis 0 4. Cek apakah MACD signal line berada di dalam atau di luar histogram (MACD cloud)


Trading Strategy Entry signals

Sinyal buy apabila EMA 5 memotong kedua EMA lainnya, lalu memotong EMA 65 sehingga berada di atas EMA 65. Kemudian diikuti dengan sinyal dari MACD. Untuk mendapat sinyal sell, berlaku sebaliknya.

Exit signals

Kita dapat melikuidasi posisi apabila garis MACD (MACD signal line) keluar dari histogram (MACD cloud) untuk

KobasFX adalah salah satu strategi sederhana yang terdiri dari penggabungan indikator empat Moving Average (Exponential) dan MACD.

jangka pendek atau apabila MACD signal line melewati garis 0. Berikut contoh pada grafik di bawah ini : Apabila diperhatikan, indikator EMA termasuk salah satu indikator yang terlambat atau lagging. Tetapi EMA cukup ampuh apabila digabungkan dengan beberapa EMA dan indikator lainnya seperti MACD. Demikian sekilas pembahasan tentang KobasFX. Memang aplikasinya cukup mudah dan sederhana, namun dapat menjadi alternatif untuk mencari strategy trading yang baik. Selamat mencoba!

Sumber grafik: Monex Trader

Sumber grafik: Monex Trader FuturesMonthly

39


Automated Trading Albertus Christian

Senior Research and Analyst Monex

Mari Mengenal

Cara Pembuatan

Robot Meta Trader Tertarik untuk belajar memprogram robot Anda sendiri pada platform Metatrader 4? Jika jawabannya ‘Ya’, maka Anda sudah membaca artikel yang tepat. Pada edisi kali ini, Kami mengulas step-by-step tutorial tentang seluk beluk bahasa pemrograman dengan MQl4 yang ditujukan untuk Metatrader versi 4.

K

ata ‘Robot’ lazim diasumsikan oleh nalar kita sebagai benda mekanik yang memiliki kemampuan seperti manusia. Tetapi dalam dunia trading, istilah ‘Robot’ yang dimaksud adalah sebuah

program bernama Expert Advisor atau biasa disingkat dengan EA. Robot EA melakukan aktivitas trading BUY atau SELL ketika mendapat sinyal berdasarkan analisa teknikal dan fundamental yang telah diprogram oleh programmer MQL4. Makna program di sini adalah sekumpulan baris perintah/ syntax yang dibuat dalam bentuk kode dan tersusun secara sistematis/algoritma. Dengan demikian, program mampu diterjemahkan ke dalam bahasa mesin yang dimengerti komputer. Mengapa menggunakan robot? Jawabannya tidak lain karena robot mampu menjalankan secara konsisten sistem trading yang telah kita rencanakan di pasar derivatif. Namun dalam penerapannya, tidak cukup hanya mengandalkan analisa fundamental dan teknikal. Dibutuhkan juga faktor kesabaran, ketelitian, disiplin dan kemampuan mengurangi keserakahan.

40 FuturesMonthly


Automated Trading MetaEditor cukup user-friendly bagi para pengguna awam. MetaEditor memantu kita untuk membuat, mengubah dan mengkompilasi syntax yang ditulis dalam MQL4. Dengan MetaEditor kita bisa membuat EA, Custom Indicator dan Scripts yang dapat digunakan dalam terminal ke client secara otomatis. Terdapat dua cara untuk membuka MetaEditor, langkah pertama adalah dengan membuka software MetaEditor di dalam terminal MetaTrader yang sudah di-download. Atau via MetaTrader melalui pilihan “Experts -> MetaQuotes Language Editor� yang terdapat pada menu utama MetaTrader.

Untuk mulai membuat robot, pertama kita harus mengenal lingkungan kerja MQL4 atau disebut dengan istilah IDE (Integrated Development Environment). IDE akan selalu digunakan untuk membuat program EA. Selanjutnya, lingkungan kerja ini kita sebut dengan MetaEditor.

Dengan MetaEditor kita bisa membuat EA, Custom Indicator dan Scripts yang dapat digunakan dalam terminal ke client secara otomatis.

1. Setelah Tampilan MetaEditor muncul, silakan pilih File --> New, maka akan muncul form seperti berikut : Di sini ada beberapa pilihan untuk membuat program dengan MetaQuote. Jika kita ingin membuat EA, maka silakan pilih Expert Edvisor. Kemudian tekan Next. 2. Setelah itu muncul form seperti berikut : Masukkan nama EA, Author (programmer) dan Link (bisa berupa alamat e-mail, blog maupun website). Diperbolehkan juga memasukkan parameter (nama, type dan initial value). Kemudian klik Finish. 3. Maka akan muncul tampilan berikut (MQL 4) yang siap ditambah dengan script pemrograman. Fitur-fitur utama dari MetaEditor berguna untuk menulis teks bahasa program. Selain itu, MetaEditor memungkinkan untuk melihat dan menggunakan kamus referensi MQL4 dan mencari kesalahan kompilasi program dengan mudah. Lebih lanjut, penggunaannya juga bisa menghasilkan program executables. Pada edisi Futures Monthly berikutnya, kami akan mengulas Tutorial Pengenalan Bahasa Programming. Pembahasan ini akan bergunan untuk mengenali fungsi-fungsi pada bahasa program, indicator, strategy advisor dan bagaimana menulis fitur tersebut ke dalam MetaEditor. FuturesMonthly

41


Investment Clinic Iswardi Lingga

Senior Education Monex

Trail Your Stop, Run Your Profit Begitu banyak pertanyaan tentang strategi teknikal yang masuk ke kotak redaksi Futures Monthly. Salah satu subjeknya adalah tentang penggunaan trailing stop. Untuk memenuhi permintaan tersebut, Kami mengulas seluk beluk trailing stop, berikut dengan implementasinya. Semoga dapat berguna dalam pengambilan keputusan trading Anda. Trailing stop Untuk memahami trailing stop, bayangkan Anda membeli emas di harga $ 1,750. Setelah emas berhasil menguat, misalnya ke harga $1,800 dan Anda melihat floating profit telah mencapai $5,000, Anda kemudian pergi berlibur. Pada saat kembali, ternyata harga telah turun ke level $1,730 sehingga Anda menanggung floating loss $2,000.

Kejadian seperti itu sebenarnya sangat mudah di antisipasi dengan menggunakan stoploss yang bergerak aktif mengikuti pergerakan harga. Stop inilah yang dikenal dengan ‘trailing stop’. Dengan trailing stop, Anda akan mendapat dua manfaat sekaligus; keuntungan yang terkawal dengan baik dan ruang untuk peningkatan keuntungan tetap tersedia. Tipe-tipe Trailing stop Ada banyak teknik dalam menerapkan trailing stop, di antaranya bisa dengan cara manual yakni menggunakan kelipatan poin setelah harga bergerak sesuai dengan harapan. Atau, dengan menggunakan level-level penting pergerakan harga, seperti pada gambar 2. Ketika harga bergerak sesuai harapan, maka stop dapat dinaikkan berdasarkan poin tertentu dari harga. Hal serupa juga dapat dilakukan secara manual dengan memakai titik-titik penting harga. Misalnya significant low terakhir digunakan sebagai stoploss posisi buy atau significant high untuk posisi sell. Trailing stop pada MonexTrader Intinya sangat sederhana. Trailing stop ini akan mengelola order stop loss Anda pada ukuran poin tertentu di bawah harga pasar (atau di atas harga pasar untuk sell) dan akan terus disesuaikan secara bertahap sesuai dengan fluktuasi harga. Cara penggunaan trailing stop; klik kanan pada posisi yang terdapat pada tab trade di terminal window, trailing stop. Tentukan poin yang Anda inginkan

42 FuturesMonthly


Investment Clinic Dengan trailing stop, Anda akan mendapat dua manfaat sekaligus; keuntungan yang terkawal dengan baik dan ruang untuk peningkatan keuntungan tetap tersedia Mekanisme kerja trailing stop pada MT4 Setelah memilih poin pada trailing stop, maka sistem akan bekerja dan aktif jika posisi transaksi mengalami keuntungan dengan jumlah lebih besar dari poin trailing stop yang sudah ditentukan. Poin pada trailing stop tersebut adalah poin pemicu dan menjadi tolok ukur bagi sistem untuk menyesuaikan stop lama Anda ke level yang baru. Pada gambar 3, Anda membeli emas pada harga $1,630 dan menempatkan trailing stop sebesar $20 (2,000 poin). Ketika harga menguat ke $1,650, sistem trailing stop akan aktif dan langsung menempatkan stoploss pada level entri $1,630 (jika menggunakan initial stop loss, trailing stop akan bergerak dari level stop loss yang di-input). Demikian juga ketika harga kembali, menguat ke level $1,660 maka stop loss pun menyesuaikan diri sebesar $20 dari level harga tertinggi. Selanjutnya trailing stop akan bergerak naik poin-per-poin seiring dengan kenaikan harga. Namun tentunya stop ini tidak akan mengalami penurunan (untuk buy) ketika harga melemah. Terakhir, ketika harga mencapai puncak $1680, maka stop loss pun bergerak menjadi $1,660 (konsisten 20 dolar di bawah harga tertinggi).

FuturesMonthly

43


Fundamental Analysis Azhar Fauzi Noor

Research and Analyst Monex Medan

CHICAGO PURCHASING MANAGERS INDEX Ulasan data fundamental penting pada edisi bulan September masih terkait erat dengan pembahasan bulan Agustus lalu. Setelah mengupas peran dari data ISM Manufacturing Survey, kali ini kami akan membahas laporan Chicago Purchasing Managers Index (PMI). Fund Manager melirik data tersebut untuk memastikan gambaran ISM Manufacturing yang akan datang, berdasarkan survei terhadap para manajer pembelian. Mengapa lokasi pengambilan sampel terpusat di wilayah Chicago (negara bagian Middle -west AS)? Jawabannya semata karena jantung industri dan produksi otomotif Amerika Serikat (AS) terkonsentrasi di wilayah ini. Geliat industri Chicago memiliki peran besar dalam kinerja ekonomi AS. 44 FuturesMonthly

H

asil survei Chicago PMI didapat dari penilaian sekitar 200 manajer pembelian di beberapa negara bagian wilayah Barat Tengah. Kemudian data dikompilasi dalam format indeks dan digolongkan ke dalam beberapa bagian: New Order (35%), Production (25%), Order Backlogs (15%), Employment (10%) dan Supplier deliveries (15%). Selain itu ada tambahan data lain, yakni nilai barang yang dibayar dan perubahan persediaan. Beberapa poin yang terlampir dalam dokumen penjelasan PMI antara lain:

1. Business Barometer

Bagian ini menunjukkan level persentase dari indeks rata-rata PMI atau serupa dengan rilis data ISM. Pada business barometer, jika persentase ISM dan Chicago PMI sama besar dan di atas level 50%, maka proyeksi bisnis hampir bisa dipastikan. Mengingat tingkat signifikansi cukup tinggi dan korelasi keduanya positif.


Fundamental Analysis

Seperti terlihat pada gambar di atas, rilis data terakhir (Juli) menunjukkan kenaikan 62.9% dibandingkan data sebelumnya (62.7%) dan juga lebih baik dibanding perkiraan (58.8%). Namun angka ratarata sepanjang 3 bulan menunjukkan penurunan kinerja bisnis.

2. New Orders and Backlogs

Jumlah pesanan baru dan masih belum terealisasi. Tingkat pesanan barang baru lebih terfokus pada produk otomotif dan suku cadang. Perhatikan pada kolom pertama, nilai agregat 3 bulan menunjukan penurunan angka index.

3. Supplier Deliveries and Prices Paid

Bagian ini bisa dijadikan tolok ukur laju inflasi di sektor industri. Jika indeks harga barang yang dibeli naik selama lebih dari 3 bulan beruntun dan para manajer pembelian tetap melanjutkan repeat order kebutuhan bahan baku, maka sektor lain akan turut mendapat imbas dari inflasi di sektor industri.

REAKSI PASAR:

Perlu digarisbawahi bahwa Chicago PMI merupakan data fundamental dengan reaksi volatile, karena beberapa hari kemudian data ISM segera dirilis. Jika memang demikian, maka data mana yang seharusnya dijadikan tolok ukur prioritas? ISM merupakan data berdasarkan survei terhadap seluruh negara bagian, sedangkan ruang lingkup Chicago PMI hanya terfokus di wilayah middle-west AS. Sejatinya, data ISM adalah parameter

Sejatinya, data ISM adalah parameter utama dan Chicago PMI berperan sebagai penunjang. utama dan Chicago PMI berperan sebagai penunjang. Namun sangat berbahaya apabila kedua data memiliki korelasi negatif, karena pasar menjadi sulit diprediksi. Apabila menghadapi situasi seperti ini, teknik trading terbaik adalah dengan menggunakan Resistant-Flat to Support Technique. Sebaliknya jika korelasi ISM dan Chicago PMI positif, teknik paling tepat bagi portofolio trading adalah Trending Market (Long on Bull & Short on Bear).

Bursa Saham

Kenaikan angka pada indeks ISM dan PMI dapat diartikan sebagai kabar positif bagi produk saham. Namun jika perekonomian dalam masa ekspansi, respon saham bisa sedikit aneh dengan kecenderungan negatif. Meski demikian, dampak tersebut patut dikaji lebih lanjut dengan menyertakan ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed.

Bursa valuta

Pada umumnya, trader tidak mengambil posisi karena rilis data PMI walaupun media menilai impact dari Chicago PMI adalah Medium to High. Aspek fundamental dan kondisi perekonomian terkini tetap menjadi pertimbangan utama bagi pelaku pasar mata uang. FuturesMonthly

45


Trading Rule

USD/JPY Product USD/JPY Specification Contract Size 100.000 Mata Uang Minimum Fluctuation 0.01 MARGINS Necessary Margin US$1000 / Lot Fee $ 15 / Lot / Side Spread Market Price Trading Hours 05.00 WIB – 03.30 WIB (Summer), 05.00 WIB -04.30 WIB (Winter) Fix Rate 1 US$ = Rp. 10.000

Contoh transaksi Seorang nasabah membeli USD/JPY sebanyak 1 lot di harga 78.00 1. Jika USD/JPY menguat ke harga 80.00 dan nasabah berhasil melikuidasi posisinya di harga tersebut. Perhitungan transaksi: P/L = ( Harga Jual-harga Beli ) x kontrak x lot Harga Jual = (80.00 – 78.00) x 100.000 x 1 lot 80.00 = US$ 2500, Maka keuntungan nasabah tersebut dari transaksi di atas sebesar Rp. 25.000.000 2. Jika ternyata USD/JPY mengalami pelemahan dan nasabah sudah menempatkan stop loss atau membatasi kerugian di level 77.00. Perhitungan transaksi: P/L = (Harga Jual-Harga Beli) x kontrak x lot Harga Jual = (77.00 – 78.00) x 100.000 x 1 lot 77.00 = - (US$ 1298.70) Maka kerugian nasabah tersebut dari transaksi di atas sebesar Rp 12.987.000 *Perhitungan di atas tidak termasuk komisi

National Holiday September 2011

Date 1-2 National Leave 5 Labor Day 11-13 Full Moon Festival 12 Mid-Autumn Festival 13 The day following Chinese Mid-Autumn Festival 19 Respect for the Aged Day 23 Autumn Equinox Day

46 FuturesMonthly

Country: Indonesia Country: USA, Canada Country: South Korea Country: China Country: Hong Kong Country: Japan Country: Japan


Central Bank Interest Rate Outlook Dwi Aviono P

Research and Analyst Monex Bandung

Central Bank

Last Meeting

9 Agustus 2011/unchanged (perubahan terakhir pada 4 Februari 2011: 25 bps hike

Next Meeting

OutLook

8 September 2011

Sampai akhir 2011, BI optimis tekanan inflasi dapat dijaga sesuai target pemerintah di kisaran 5% plus minus 1%, dengan catatan tidak ada kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga (administered prices) dan terjaganya pasokan bahan makanan. Sementara level inflasi saat ini masih berada di 4.61%

20 September 2011

FOMC akan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga rendah 0-0.25 minimal sampai dengan tahun 2013 untuk membantu perbaikan yg lebih signifikan terhadap pasar tenaga kerja yang sedang membaik.

8 September 2011

Level saat ini masih dalam kewajaran karena inflasi berada di level 2,5%, lebih rendah dari bulan lalu. Para analis memperkirakan jika inflasi melonjak di atas level saat ini maka akan ada kenaikan suku bunga pada bulan September.

8 September 2011

Para pelaku pasar mengharapkan Komite tetap mempertahankan tingkat suku bunga rendah sampai awal-awal 2012 karena lambatnya pemulihan ekonomi di Inggris sebagai akibat perlambatan ekonomi global.

15 September 2011

“Tidak ada kebutuhan untuk SNB untuk menaikkan suku bunga karena inflasi GDP 1Q moderat dan masih relatif mengecewakan,” kata analis Thu Lan Nguyen.

6 September 2011

Su Lin Ong, Senior Ekonom dari RBC Capital Markets di Sydney memperkirakan tingkat suku bunga akan dinaikan pada akhir kuartal ke empat.

7 September 2011

Menurut 11 dari 14 Ekonom yang di survei oleh Bloomberg,menyatakan BOJ akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga pada level sekarang hingga pertengahan 2013

7 September 2011

Kanada akan menaikkan suku bunga pada kuartal kedua, demikian menurut survei ekonom Bloomberg. Sementara Inflasi 3.3% (April) dan tingkat pertumbuhan 3.9%, menyebabkan Kanada masih tetap mempertahankan tingkat suku bunga pada level ini

15 September 2011

Ekonom Nick Tuffley memprediksi RBNZ kemungkinan besar akan menaikan suku bunganya pada bulan September dan kemudian dilanjutkan bulan Januari 2011

Bank Indonesia (BI) 6.75%

Federal Reserve (The Fed) 0.0%-0.25%

9 Agustus 2011/unchanged (perubahan terakhir pada 16 Desember ‘08: 75 bps cut)

4 Agustus 2011 / unchanged (perubahan terakhir pada 7 Juli ‘11: 25 bps cut) European Central Bank (ECB) 1.00%

Bank of England (BOE) 0.50%

Swiss National Bank (SNB) 0.25%

Reserve Bank of Australia (RBA) 4.75%

Bank of Japan (BOJ) 0.10%

4 Agustus 2011/unchanged (perubahan terakhir pada 5 Maret ‘09: 50 bps cut)

16 Juni 2011/unchanged (perubahan terakhir pada 11 Desember ‘08: 50 bps cut)

2 Agustus 2011/ unchanged (perubahan terakhir pada 2 November ‘10,25 bps hike)

4 Agustus 2011/unchanged (perubahan terakhir pada 19 Desember ‘08: 20 bps cut)

19 Juli 2011 (perubahan terakhir pada 8 September 2010: 25 bps hike) Bank of Canada (BOC) 1%

27 Juli 2011/ /unchanged (perubahan terakhir pada 10 Maret 2011: 50 bps cut) Reserve Bank of New Zealand 2.5 %

FuturesMonthly

47


Global Economic Calendar Adityawarman

Assistant Research & Education Monex Surabaya

September 2011 DATE 01 SEPTEMBER 02 SEPTEMBER 05 SEPTEMBER 06 SEPTEMBER 07 SEPTEMBER 08 SEPTEMBER 09 SEPTEMBER 12 SEPTEMBER 13 SEPTEMBER 14 SEPTEMBER 15 SEPTEMBER 16 SEPTEMBER 19 SEPTEMBER 20 SEPTEMBER 21 SEPTEMBER 22 SEPTEMBER 23 SEPTEMBER 26 SEPTEMBER 27 SEPTEMBER 28 SEPTEMBER 29 SEPTEMBER 30 SEPTEMBER

48 FuturesMonthly

TIME (WIB) 08.00 08.30 15.30 21.00 13.00 15.30 19.30 19.30 15.30 16.00 21.00 11.30 14.15 17.00 08.30 Tentative Tentative 15.30 17.00 01.00 01.00 08.30 08.30 18.00 18.45 19.30 19.30 08.30 15.30 15.30 20.55 09.00 09.00 11.00 06.01 14.15 15.30 06.50 14.15 15.30 19.30 19.30 15.30 16.00 19.00 19.30 21.00 20.00 06.01 13.00 15.00 13.00 15.30 16.00 17.00 19.30 19.30 01.15 15.30 21.00 09.30 14.30 16.00 All Day 17.00 21.00 06.50 13.00 16.00 21.30 19.30 06.30 14.55 15.30 21.00 06.01 06.50 15.30 15.30 16.00 16.00 19.30 19.30 20.45

DATA

FORECAST

CNY Manufacturing PMI AUD Retail Sales m/m GBP Manufacturing PMI USD ISM Manufacturing PMI EUR German Retail Sales m/m GBP Construction PMI USD Non-Farm Employment Change USD Unemployment Rate GBP Services PMI EUR Retail Sales m/m USD ISM Non-Manufacturing PMI AUD Cash Rate CHF CPI m/m EUR German Factory Orders m/m AUD Home Loans m/m JPY Overnight Call Rate JPY BOJ Press Conference GBP Manufacturing Production m/m EUR German Industrial Production m/m USD Beige Book USD Federal Budget Balance AUD Unemployment Rate AUD Trade Balance GBP Official Bank Rate EUR Minimum Bid Rate EUR ECB Press Conference USD Trade Balance AUD NAB Business Confidence GBP PPI Input m/m GBP Trade Balance USD Prelim Univ. Michigan Consumer Sentiment CNY CPI y/y CNY Industrial Production y/y CNY Trade Balance GBP BRC Retail Sales Monitor y/y CHF PPI m/m GBP CPI y/y JPY Core Machinery Orders m/m CHF Retail Sales y/y GBP Claimant Count Change USD Retail Sales m/m USD PPI m/m GBP Retail Sales m/m EUR CPI y/y CHF Libor Rate USD Core CPI m/m USD Philadelphia Fed Manufacturing Index USD TIC Long-Term Purchases GBP Rightmove HPI m/m EUR GfK German Consumer Climate EURGerman Ifo Business Climate EUR German PPI m/m GBP Public Sector Net Borrowing EUR German ZEW Economic Sentiment GBP CBI Industrial Order Expectations USD Building Permits USD Housing Starts USD Federal Funds Rate GBP MPC Meeting Minutes USD Existing Home Sales CNY HSBC Flash Manufacturing PMI EUR German Flash Manufacturing PMI EUR Industrial New Orders m/m ALL IMF Meeting GBP CBI Realized Sales USD New Home Sales JPY Retail Sales y/y EUR GfK German Consumer Climate CHFKOF Economic Barometer USD CB Consumer Confidence USD Durable Goods Orders m/m JPY Tokyo Core CPI y/y EUR German Unemployment Change GBP Net Lending to Individuals m/m USD Pending Home Sales m/m GBP GfK Consumer Confidence JPY Tankan Manufacturing Index GBP Current Account GBP Final GDP q/q EUR CPI Flash Estimate y/y EUR Unemployment Rate USD Core PCE Price Index m/m USD Personal Spending m/m USD Chicago PMI

PREVIOUS 50.7 -0.1% 49.1 50.9 6.3% 53.5 117K 9.1% 55.4 0.9% 52.7 4.75% -0.8% 1.8% 0.0% 0.1% -0.4% -1.1% n/a n/a 5.1% 2.05B 0.50% 1.50% -53.1B 2 0.6% -8.9B 54.9 6.5% 14.0% 31.5B 0.6% -0.7% n/a 7.7% 7.4% n/a 0.5% n/a n/a n/a 0.25% n/a n/a n/a -2.1% n/a n/a n/a n/a n/a ? n/a n/a 0.25% n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a


FuturesMonthly

49


Mr. Smart Invesment Johannes Ginting Head of Education Monex

Info Emas

Kantor Cabang Monex Jakarta

Bandung

Bogor

Yogyakarta

Menara Ravindo Lt. 8 Jl. Kebon Sirih Kav. 75, Jakarta 10340 Ph : (021) 315 0607 Fax : (021) 391 8866 email : sales.ho@mifx.com

Jl. Ir. H. Juanda No. 70 Bandung 40132 Ph : (022) 250 5770 Fax : (022) 253 4519 email : sales.bdg@mifx.com

Jl. Raya Pajajaran No. 1 Ruko V - Point Blok ZL, Bogor Ph : (0251) 833 4847 Fax : (0251) 831 9610 email : sales.bgr@mifx.com

Jl. Pasir Kaliki No. 25 - 27 Kompleks Paskal Hyper Square No. B/42 Bandung Ph : (022) 860 61 000 Fax : (022) 860 61 002 email : sales.bdg@mifx.com

1st Floor Jl. Magelang km 6.2 Yogyakarta 55184 Ph : (0274) 623 168 Fax : (0274) 623 352 email : sales.jogja@mifx.com

Cirebon

Menara Ravindo Lt. 12 Jl. Kebon Sirih Kav. 75, Jakarta 10340 : (021) 3190 2626 Ph Fax : (021) 3190 3322 email : sales.hayamwuruk@mifx.com Monex Sudirman Wisma Kiai, Lt. 20 Jl. Jend. Sudirman Kav. 3/4 Jakarta 10220 Ph : (021) 572 4377, 572 2345 Fax : (021) 572 4366, 572 4066 email : sales.kyoei@mifx.com

Monex Cikini Jl. Cikini I No. 5 Jakarta Pusat 1033 Ph : (021) 3900 561 Fax : (021) 3900 743 email : sales.cikini@mifx.com Monex Bintaro Jl. Cut Mutia No. 38, Bintaro Jaya Sektor VII, Tangerang Selatan Ph : (021) 7486 2929 Fax : (021) 7486 1729 email : sales.bintaro@mifx.com Monex Kelapa Gading Ruko Inkopal Block. C12B Jl. Boulevard Barat Raya, Kelapa Gading, Jakarta 10340. Ph : (021) 4585 1305 Fax : (021) 4585 1552

50 FuturesMonthly

Medan Uni Plaza Building West Tower, 2nd Floor Jl. Letjen MT. Haryono A1 Medan 20231 Ph : (061) 453 1015 Fax : (061) 453 1025 email : sales.medan@mifx.com

Surabaya Gedung Graha Pena Lt.19 Jl. Ahmad Yani 88, Surabaya 60234 Ph : (031) 827 1188 Fax : (031) 827 1177 email : sales.surabaya@mifx.com

Pontianak Kompleks Pontianak Mall Blok D 9-10 Jl. Teuku Umar, Pontianak 78117 Ph : (0561) 765 333 Fax : (0561) 743 980 email : sales.pontianak@mifx.com

Jl. Kesambi Raya Ruko Kesambi KR.7, Cirebon 45134 Ph : (0231) 233 010 Fax : (0231) 207 786 email : sales.crb@mifx.com

Solo Jl. Slamet Riyadi No. 312 Solo 57112 Ph : (0271) 7650 777 Fax : (0271) 7651 555 email : sales.solo@mifx.com

Purwokerto

Semarang

Ruko Permata Hijau No. 10 Jl. Dr. Angka, Purwokerto Ph : (0281) 622 502 Fax : (0281) 628 011 email : sales.pwt@mifx.com

Candi Plaza Building Ground Floor Jl. Sultan Agung No. 90 - 90A Semarang 50252 Ph : (024) 850 2121 Fax : (024) 850 2112 email : sales.semarang@mifx.com

Tegal Kompleks Nirmala Square Blok C No. 6 Jl. Yos Sudarso, Tegal 52121 Ph : (0283) 320 750 Fax : (0283) 320 794 email : sales.tgl@mifx.com

Batam Jl. Pembangunan Ruko Penuin Blok RB No. 3, Batam Ph : (0778) 450 734, 450 735 Fax : (0778) 450 656 email : sales.btm@mifx.com

Denpasar Jl. Teuku Umar No. 188 Denpasar 80113 Ph : (0361) 223 000 Fax : (0361) 248 950 email : sales.denpasar@mifx.com



Futures Monthly Sept 2011