Issuu on Google+

Edisi 17 >< Juni 2013


Edisi 17 >< Juni 2013


SAMBUTAN KETUA PELAKSANA BULAN KEPRIHATINAN KORBAN NARKOBA 1 JUNI 2013 Assalammu allaikum wr wb Salam sejahtera buat kita sekalian. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, dimana pada pagi hari ini kita masih diberikan nikmat kesehatan, sehingga dapat bersillahturahmi dalam rangka bulan keprihatinan korban narkoba. Perlu kami sampaikan kepada Kepala BNN dan segenap hadirin yang kami muliakan, bahwa di tengah-tengah kita ini hadir sekitar 3.000 orang yang terdiri dari berbagai komponen bangsa, baik dari Pemerintahan, TNI, Polri, kampus, swasta, LSM, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, selebritis dan lebih khusus lagi para orang tua yang putra/putrinya pernah menjadi korban penyalahgunaan narkoba, serta para pengguna maupun pecandu narkoba yang sudah pulih, maupun yang sudah beraktivitas, bahkan yang telah mendirikan yayasan peduli korban narkoba. Ini adalah bukti wujud nyata, bahwa mereka semua telah berperan untuk menyelamatkan anak bangsa dari korban penyalahgunaan narkoba. Brigjen Pol Drs. Siswandi

Hadirin yang berbahagia. Perlu kami informasikan, bahwa korban penyalahgunaan narkoba di indonesia saat ini mencapai lebih kurang 4 juta jiwa, akan tetapi hanya sekitar 18 ribu jiwa yang tertampung di panti rehabilitasi. Pelaku kejahatan narkoba yang telah menjalani hukuman di lapas/rutan DKI, data terakhir s/d tanggal 23 April 2013 : Jumlah tahanan kejahatan seluruhnya: 14.666 orang, dimana diantaranya Jumlah tahanan narkoba : 10.434 orang Berarti 71% penghuni lapas / rutan merupakan tahanan narkoba dari 10.434 tahanan narkoba, sebagai pengguna sebanyak 3.746 orang atau sekitar 35,9 %. Jadi, jelaslah pengguna narkoba yang saat ini sedang menjalani hukuman sebanyak 3.746 orang, yang seharusnya para pengguna korban narkotika tersebut, bukan ditempatkan pada rutan/lapas, melainkan harus dilakukan rehab di panti rehabilitasi. Hadirin yang kami muliakan. Menyongsong HUT HANI 2013 yang tepat jatuh pada tanggal 26 Juni 2013, yang Insya Allah akan diperingati di Istana Negara, sangatlah tepat momentumnya untuk menetapkan sebagai Bulan Keprihatinan Korban Narkoba, yang dilaksanakan 1 bulan penuh dimulai dari tanggal 1 Juni s/d 30 Juni 2013. Perlu kami sampaikan juga, bahwa pada acara hari ini akan menampilkan beberapa kegiatan antara lain, cipta lagu-lagu tentang narkoba, baca puisi, dan sebagainya, serta penandatanganan 1 juta tanda tangan dispanduk yang telah disediakan, dengan maksud sebagai dukungan moral bagi korban narkoba. Hadirin sekalian, Demikian sambutan saya selaku ketua pelaksana, semoga hari ini merupakan momentum yang baik bagi semua komponen bangsa, baik pemerintahan, TNI, Polri, swasta maupun seluruh komponen masyarakat untuk sadar dan prihatin terhadap bahaya narkoba, serta diharapkan dapat berperan aktif dalam, menyelamatkan anak bangsa dari bahaya narkoba. Saya selaku Ketua Pelaksana banyak menghaturkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga acara ini dapat diselenggarakan. Namun apabila ada kekurangan dalam pelaksanaannya kami selaku panitia menghaturkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, dan saya akhiri dengan ucapan Wabillahitaufik Walhidayah Wassalamualaikum Wr Wb. Jakarta, 1 Juni 2013 Direktur Peran Serta Masyarakat BNN Selaku Ketua Pelaksana Drs. Siswandi Edisi 17 >< Juni 2013


DAFTAR ISI LAPORAN UTAMA 9 ...... Akhirnya, MA Jatuhkan Hukuman Mati bagi Penjahat Narkoba BERITA UTAMA 20 .... Kolonel AL pun Keblinger Shabu 22 .... 15 Kg Shabu Diselundupkan dalam Kotak Susu 24 .... 6,6 Kg Shabu Terendus Anjing Pelacak

16 BERITA UTAMA

Rumah Mewah Jadi Pabrik Shabu Menghilang selama empat tahun, diam-diam penjahat narkoba ini membangun pabrik shabu di kawasan perumahan mewah. Para tetangga tak menyangka lelaki misterius itu, buronan polisi sekaligus penjahat kelas kakap di dunia narkotika. Hasil produksinya bukan hanya dijual ke pasar, tapi juga dikonsumsi sendiri.

LIPUTAN KHUSUS 28 .... Bukan sekedar Wacana 33 .... Ciptakan Lingkungan Bersih Narkoba 38 .... Setulus Hati Bantu Korban Narkoba KOMUNITAS 40 .... Lingkungan Sekolah Wajib Berrsih Narkoba 42 .... Steril Narkoba Gaya Mahasiswa Pamulang 44 .... Narkoba, Masyarakat Kian Kritis APA KATA MEREKA 47 .... Dukung Bulan Kepriahatina Narkoba 48 .... Sadarlah Para Korban Narkoba 49 .... Korban Narkoba Jangan Takut Melapor 50 .... Langkah Tepat BNN Pro Korban Narkoba KAMPUS 52 .... Kompolnas Dukung BNN Berdayakan Kampus 53 .... Tanpa Dukungan Kampus Akan Sia-sia 55 .... Mahasiswa Al-Azhar Prihatin Korban Narkoba 56 .... Peran Serta Mahasiswa Perangi Narkoba 58 .... BNN Rangkul Mahasiswa Wujudkan Kampus Bebas Narkoba REHABILITASI 60 .... Sisi Penting Pasca Rehabilitasi Narkoba KESEHATAN 62 .... Upaya Penyembuhan HIV Melalui Pengobatan Herbal METROPOLITAN 64 .... Warga Tolak Jenazah Bandar Heroin KORUPSI 66 .... Pemberantasan & Penegakan Hukum Korupsi 67 .... Korupsi BLBI Dibuka Lagi

3 4 LIPUTAN KHUSUS

Satu Juta Tanda Tangan Sambut Bulan Keprihatinan Korban Narkoba Berjuang melawan Narkoba tidak harus melalui pengungkapan kasus, tetapi dapat dilakukan dengan memiliki kepedulian yang tinggi, berperan Aktif dalam berbuat, serta berkomitmen membuat lingkungan bersih dari narkoba. Bahkan menginformasikan kepada semua lapisan masyarakat bahwa narkoba memiliki dampak negatif yang luar biasa. 4 2 KOMUNITAS

‘Amit-amit Jangan Sampai Anak, Cucu, Cicitku Pakai Narkoba’

NUSANTARA 70 .... Polisi Diraja Malaysia Bawa Shabu ke Indonesia 72 .... Narkoba tak Bertuan Ditemukan di Bandara Batam 73 .... Haaa!!!, Kamar Hotel Jadi Pabrik Shabu

“Aku itu sangat prihatin lho, anakanak jaman sekarang suka pakai Narkoba”, ujar nenek rohani (yang lahir tgl 3 Agustus 1943) yang saat ini telah mempunyai 5 orang anak dan memiliki cucu 13 orang, serta cicit 8 orang, alhamdulilah semua nya tidak ada yang menggunakan narkoba. Hal tersebut disampaikan saat warga Jagakarsa melakukan Ikrar Anti Narkoba pada Hari Kartini, Minggu 21 April 2013.

SOSIALITA 74 .... BNN Dorong Daerah Bangun Tempat Rehabilitasi 75 .... Waspadai, NTT Jadi Daerah Transit Narkoba PENGADILAN NARKOBA 76 .... Turis Jerman Divonis Seumur Hidup 77 .... Terdakwa Kasus Narkoba Divonis Bebas LINTAS NARKOBA 78 .... Dua Wartawan Terjerat Narkoba 79 .... Galau Usai UN Pelajar Pesta Pil Koplo CRIME STORY 84 .... Overdosis, Sederet Musisi Meregang Nyawa INTERNASIONAL 86 .... Basuco, Racuni Warga Kolombia 87 .... Narkoba di Bus Trailer Justin Bieber 88 .... Narapidana Bandar Narkoba Hamili Empat Sipir REALITA 90 .... Laos Jalur Transit Penyelundupan Narkotik yang Eksotik KRIMINAL 98 .... Polisi Korban Sindikat Narkoba TEROPONG 100 .. Rehabilitasi sebagai Solusi bagi Pecandu Narkoba

4

Edisi 17 >< Juni 2013

5 4 KAMPUS

Menggugah Kreativitas Mahasiswa Gaung kampus bersih narkoba terus dikumandangkan. Kini, Direktorat Peran Serta Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN) menggugah kreativitas mahasiswa, dengan menggelar Lomba Kampus Bebas Narkoba 2013. Langkah ini, bagian dari peran serta serta partisipasi mahasiswa agar menolak keberadaan narkoba. Sambutan positif pun menggaung.


REDAKS I

Ultima Ratio Eksekusi Mati

S

uryadi Swabhuana, Jurit dan Ibrahim, tiga terpidana mati kasus pembunuhan, pada Jumat 17 Mei 2013, dieksekusi mati di Pulau Nusakambangan. Sebelumnya eksekusi mati dijatuhkan kepada Adam Wilson, warga negara Malawi yang didor di Kepulauan Seribu. Kini masih ada 6 terpidana mati kasus narkotika, yang sudah punya kekuatan hukum tetap untuk segera eksekusi. Namun kapan? Yang menyedihkan, penjahat narkoba itu sudah hidup terlalu lama di balik jeruji. Memang, eksekusi mati bagi terpidana narkotika tetap menjadi salah satu bentuk sanksi pidana. Di Indonesia, legitimasi eksekusi mati terhadap penjahat narkoba, diperkuat penolakan Mahkamah Konstitusi (MK) pada 30 Oktober 2007, tentang permohonan judicial review atau pengujian materiil sejumlah pasal dalam UU No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Namun, prosedur hukum yang panjang tetap merupakan salah satu kendala pelaksanaan eksekusi. Eksekusi mati sebagai ultima ratio atau terminologi etika artinya upaya jalan terakhir, menurut pandangan Joseph H. Gunawan, Peneliti Reformed Center for Religion Society dijatuhkan untuk melindungi kepentingan individu sekaligus mengayomi masyarakat. Juga, diberlakukan agar ditegakkannya asas perlindungan kepada masyarakat dan pemeliharaan komunitas. Ultima ratio dapat diberlakukan bagi produsen, bandar, dan pengedar narkoba kelas kakap yang semuanya dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan yang bertujuan membunuh, memusnahkan suatu bangsa dan negara secara perlahan namun pasti. Kejahatan jenis ini dikategorikan â&#x20AC;&#x153;sangat luar biasaâ&#x20AC;?, sehingga penanganannya harus dilakukan secara extra keras. Mengingat begitu luasnya dampak yang ditimbulkan akibat narkoba, maka perang terhadap narkoba haruslah menjadi kebijakan negara yang integral dan komprehensif dengan melibatkan seluruh institusi negara baik aparatur negara dari yang tertinggi sampai yang terendah, bahkan seluruh unsur elemen masyarakat. Tak bisa dipungkiri, eksekusi terhadap terpidana mati kasus narkoba merupakan salah satu upaya konsistensi penegakan hukum dan tegaknya kewibawaan hukum di Indonesia. Konsistensi pemerintah ini tentunya bukan persoalan mudah di tengah begitu maraknya perlawanan terhadap eksekusi mati. Tapi, apapun juga, pilihan terhadap keselamatan generasi masa depan bangsa, haruslah menjadi pertimbangan utama. ****

Redaksi menerima artikel/tulisan dari pembaca, semua naskah yang dikirim ke redaksi harus dilampiri fotocopy KTP atau identitas lainnya yang masih berlaku dan diketik dua spasi.

PENGGAGAS Drs. Siswandi DIREKTUR UTAMA Martian Tanesia WAKIL DIRUT Abie Wijaya PEMIMPIN REDAKSI Endy Poerwanto REDAKSI R. Adia Widiasmoro SEKRETARIS REDAKSI Safitri SIRKULASI/DISTRIBUSI Yuly Muhammad (Kupak), MARKETING/IKLAN Lina Widjaja, Freddie, DESIGN & LAYOUT Pranoto ALAMAT REDAKSI/TU/IKLAN Jl Taman Surya III, Blok J2 No. 7, Cengkareng-Jakarta Barat HP: 021-93600789, 021-99910405 Fax: 021-7218042 E-mail: majalahungkap@yahoo.com BIRO BANTEN Johanda Fadil, SE, M.Si Jl. Maulana Yusuf Gg. Beringin I No. 44 Rt 01/01, Kel. Babakan, Kec. Tangerang Telp: 021-92292888, Fax: 021-29062345 email: ungkap.birobanten@yahoo.com BIRO BANDUNG Anthony Herawan Jl. Sukawarna II 52 A, Bandung Telp: 0817615115 Guan Rahardja Jl. Sudirman 46, Bandung 0817613082 Ramanda Malik 088802332641 BIRO SURABAYA Ebet Djulianto BIRO MEDAN Amir Tanjung DICETAK OLEH Panca Warna Edisi 17 >< Juni 2013

5


FOTO-FOTO : MAJALAH UNGKAP/STATIK.TEMPO.CO

LAPORAN UTAMA

Mr. Frank (USA) & Mr. Frank (Afrika)

6

Edisi 17 >< Juni 2013


LAPORAN UTAMA Hingga kini sembilan terpidana mati kasus narkoba, menunggu giliran dieksekusi pada tahun 2013. Kapan pelaksanaannya?, memang belum ada keterangan resmi dari Kejaksaan Agung selaku eksekutor.

D

santai. Kemungkinan sang istri sudah menyadari dan mengetahui kondisi Frank, yang akan berhadapan dengan maut. Apalagi selama berada di dalam tahanan, Frank tidak pernbah memberi nafkah dan jalan pisah merupakan jalan terbaik bagi sang istri yang namanya dirahasiakan. Ditanya apa pesan saat ini yang diminta? "Ada empat yang saya mau. Saya ingin pulang, diantar ke bandara, perempuan cantik dan minuman wine," jawabnya sambil menambahkan juga menyediakan makanan kesukaannya steak ayam. "Jangan lupa kalau datang lagi bawakan wine dan steak ayamnya," sambung Frank dengan tertawa.

ua dari sembilan terpidana papar Frank Amando, dengan mati, nampak santai, penuh senyuman yang khas. Karena memiliki dan menyimpan canda, tetap bersemangat, hal tersebut diperlihatkan oleh Mr. 5,6 Kg shabu, Frank Amando dibekuk Frank (USA), Mr. Frank (Afrika) Kasudit II Direktorat Reserse saat diwawancarai secara Eksklusif Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Majalah Ungkap di Lapas Cipinang, Drs. Siswandi pada Senin, 19 Oktober pada Rabu 10 April 2013, sekitar 2009 jam 15.30 Wib di Apartemen pukul 09.30 WIB. Dengan wajah â&#x20AC;?Park Royaleâ&#x20AC;? Tower 1 Lantai III ceria Mr. Frank (USA) memakai Kamar No.0331, Jl. Jenderal Gatot kaos biru, celana panjang coklat dan Subroto Kav. 35-39 Jakarta Pusat. Mr. Frank (Afrika) memakai kaos Perbuatan itu melanggar pasal 114 jo training hitam dan celana training 132 UU no. 55 tahun 2009. "Saya disini (LP Cipinang) merasa hitam. Ingin Kwaci Bagi setiap orang Beda dengan Frank tidak pernah berpikir Harapan kedua terpidana mati kasus narkoba Chidebere. Lelaki kapan akan meninggal. kelahiran Nigeria Bahkan, setiap orang Frank Amando (USA): Afrika ingin pulang ke selalu beranggapan negaranya. Namun debahwa urusan Meminta jalan-jalan keliling jakarta mikian, ada perasaan kehidupan dan Meminta ke bandara untuk pulang ke negaranya takut dan khawatir, kematian merupakan Meminta wanita cantik karena harus urusan Yang Maha Meminta wine berhadapan dengan Kuasa. Anehnya, para sindikat narkoba terhadap dua terpidana yang akan menamati dalam kasus Frank (Afrika): yanyakan sekaligus narkotika, tidak Tidak mau pulang ke negaranya karena takut bertanggungjawab merasakan juga tidak Meminta wanita cantik terhadap barang haram pernah memikirkan yang diseludupkan ke kapan eksekusi mati Meminta kwaci (makanan ringan) Indonesia. Memang bakal dilaksanakan. untuk pulang ke Dua terpidana mati itu, Frank Amando bin Frank (49), happy. Saya tidak pernah stress. kampung halamannya, resikonya warga negara Amerika berkulit putih Memang saat pertama kali ditangkap sangat besar yakni mati. "Tapi nggak dan Frank Chidebere (37), warga dan ditahan sempat terkejut, stress apa-apa, akan saya hadapi jika benarnegara Nigeria Afrika berkulit hitam. sehingga berat badan sempat turun. benar bisa pulang," harapnya dengan Kedua lelaki yang sama-sama Saat ini berat badan saya turun lagi 3 penuh semangat. Frank berkulit hitam dibekuk bernama Frank, kini menjadi sahabat kg (dari 96 Kg menjadi 93 Kg)," jelas akrab, teman bercanda, teman lelaki yang sebelumnya bekerja Dirserse Narkoba Polda Metro Jaya berolahraga, teman dalam suka dan sebagai Web Design, Real Estate, karena menyelundupkan 3,72 Kg heroin pada 19 Desember 2009. duka di balik terali besi Lembaga dan seorang guru. Penghuni blok tipe 3 IIIA2 kamar Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Pemasyarakatan Cipinang Jakarta. Frank kelahiran Maryland, USA, 317 mengaku mempunyai istri warga menghukum mati dan vonis mati 01 Februari 1964, yang bahasa negara Indonesia, namun tidak diperkuat putusan kasasi, sesuai Indonesianya, tidak lancar selalu mempunyai anak. "Saat ini saya nomor putusan : 572/2011/ meminta bantuan translater kepada sudah pisah dengan dia, ya biasa S.279.TAH.SUS/PP/2011/MA. Diakuinya, sempat merasa stress Frank Negro, yang lancar berbahasa karena ribut. Sudah lama dia tidak Indonesia. "Saya sudah belajar pernah datang kemari (LP Cipinang berat saat ditangkap dan hidup bahasa Indonesia, namun susah juga," - Red)," ucap Frank dengan nada ditahan. Namun lama kelamaan Edisi 17 >< Juni 2013

7


LAPORAN UTAMA menjalani hidup di tahanan sudah dianggap biasa. Selama berada di LP Cipinang, Frank mengaku aktifitas sehari-hari banyak melakukan fitnes, olahraga dengan main sepakbola dan aktif di gereja yang ada di dalam penjara. "Saya punya istri orang Indonesia dan satu anak yang berusia 3,5 tahun. Dia masih aktif datang ke sini (LP Cipinang) untuk membesuk saya,

komunikasi kami masih aktif," paparnya sambil menambahkan di negaranya tidak punya istri. Alasannya, untuk mencari wanita Nigeria harus punya uang yang banyak. Memang, sambung Frank, sangat beda dengan wanita Indonesia, yang cantik-cantik, tidak mata duitan dan enak diajak ngobrol. "Saya pernah kenalan dengan seorang wanita yang tinggal di aparetemen Rasuna, dia

baik, penuh perhatian, dan saya sering diajak ke diskotik di hotel mewah di kawasan Jakarta Selatan. Kalau membayar minuman pakai kartu, tapi sudah lama saya nggap pernah ketemu dia lagi," tandasnya. Ditanya apa pesan saat ini yang diminta? "Saya ingin makan kwaci. Sudah lama saya tidak memakanya," jawabnya singkat dengan muka menunduk. *endy

Proses Penangkapan Frank Amando 19 Oktober Tahun 2009 di Jakarta

8

Saat penangkapan tsk frank amado wn amerika, Hari senin, 19 okt 2009, jam. 15.30 wib di park royal

Tsk frank amado saat menunjukan barang bukti shabu disaksikan wadir iv, ka unit II dan ptgs satpam

DirTipid Narkoba saat menginterogasi Tsk Frank Amado

Pada hari selasa tgl 20 oktober 2009 jam 14.30 wib saat consul embassyof the united states of america mr. Paul howard mengunjungi tersangka frank armado setelah ditangkap kasus shabu dengan barang bukti 5.668 kg Di ruangan kanit II disaksikan oleh staf embassy Bp. Hary s. Roosman

Edisi 17 >< Juni 2013


LAPORAN UTAMA

Akhirnya, MA Jatuhkan Hukuman Mati bagi Penjahat Narkoba Sempat diguncang kasus pemalsuan putusan perkara peninjauan kembali (PK) penjahat narkoba Hanky Gunawan, kini Mahkamah Agung (MA) membuat sejarah baru dengan menjatuhkan hukuman mati kepada warga negara Malaysia, yang menyelundupkan narkoba ke Indonesia. Perbaiki citra atau tepati janji?

J

umat, 19 April 2013, ketukan palu hakim agung bergema di gedung MA Jakarta, karena menjatuhkan hukuman mati terhadap Kweh Teik Choon alias Ken, warga negara

Malaysia yang tinggal di Malaysia 603 J Tanjung Bungah, 11200 Pulau Pinang Malaysia, yang menyelundupkan sekaligus memiliki 358.000 butir pil ekstacy dan 48,5 Kg Shabu. Vonis mati terhadap Lelaki kelahiran Pulau Pinang, 27 Juni 1976 pemegang passport A 18729566 ini, bisa jadi merupakan vonis pertama kali sejak Januari 2013 dalam kasus narkotika. Atau sejak MA diguncang kasus pemalsuan putusan perkara PK Hanky Gunawan yang menyebabkan jatuhnya korban Hakim Agung Achmad Yamanie, yang diberhentikan pada tahun 2012. Kasus pemalsuan putusan, hingga kini masih diselidiki Komisi Yudisial

(KY) terkait dugaan keterlibatan dua hakim agung lain yang turut memutus perkara kasus narkotika yaitu Hakim Agung Imron Anwari dan Hakim Agung Nyak Pha. Polisi juga mengusut dugaan pemalsuan putusan tersebut, namun hingga kini belum ada perkembangan informasi yang berarti. Meski demikian, vonis hukuman mati terhadap penyelundup barang terlarang mendapat apresiasi positif. Bahkan, dengan putusan hukuman mati ini, diharapkan MA tetap konsisten dalam menerapkan hukuman mati terhadap penjahat narkoba, yang kian gencar menghancurkan masa depan generasi muda dan masyarakat Indonesia. Dalam kasus Ken, Pengadilan Tinggi (PT) Banten sebelumnya menjatuhkan hukuman 12 tahun penjara,

FOTO: STORYZA.WORDPRESS.COM

Edisi 17 >< Juni 2013

9


LAPORAN UTAMA FOTO: WWW.LENSAINDONESIA.COM

vonis PT ini lebih ringan dibandingkan hukuman yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Tangerang yang menghukum 20 tahun penjara. Padahal Jaksa penuntut umum menuntut Ken dengan hukuman mati. "Hukuman mati yang dijatuhkan kepada Ken, karena terpidana membawa narkotika dalam jumlah yang sangat banyak. Apalagi, Ken tengah memperjualbelikan ekstasi sebanyak 1.600 butir dan 8,7 Kg shabu. Ini berarti narkoba sudah dijualbelikan," papar Ketua Kamar Pidana Artidjo Alkostar di Jakarta, Jumat 19 April 2013. Selain itu, di tempat tinggal Ken di Apartemen Taman Anggrek Tower 7 Kamar 46H Jakarta Barat, ditemukan 194 kantong berisi Narkotika Golongan I jenis Ekstacy sebanyak 380.000 butir dengan berbagai logo, dan 46 kantong berisi Narkotika Golongan I jenis Shabu seberat 48,5 Kg. "Karenanya vonis mati sangat kayak, mengingat perbuatan Ken membahayakan masyarakat Indonesia khususnya generasi muda," sambung Hakim Agung Artijo sambil menambahkan Ken dikenai dengan pasal 114 ayat (2) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Putusan perkara nomor 483 K/ PID.SUS/2013, diadili majelis kasasi yang dipimpin Dr Artidjo Alkostar, Sri Murwahyuni dan Prof Dr Surya Jaya. Vonis ini dijatuhkan ini diambil secara bulat, tanpa dissenting opinion (pendapat berbeda). Vonis ini sesuai tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri Tangerang yang menuntut hukuman mati. Di tempat terpisah, Kepala Biro Hukum dan Humas MA, Ridwan Mansyur menilai janji MA akan memberikan vonis yang setimpal bagi penjahat narkoba. Upaya aparat pengadilan di tingkat kasasi dalam mengadili kasus narkotika, tidak bermain-main dengan perkara narkoba. MA sudah menabuh genderang perang terhadap bandar narkotika. Langkah ini untuk mencegah bertambahnya korban dari generasi muda akibat penyalahgunaan narkotika. MA sangat konsen terhadap anti 10

Edisi 17 >< Juni 2013

Ridwan Mansyur, Kepala Biro Hukum dan Humas MA,

narkoba dan melakukan perang candu, kata Ridwan di Jakarta, Senin 22 April 2013. Diakuinya, untuk menyelamatkan bangsa dari bahaya narkoba, MA tidak bisa seorang diri berperang. MA menghimbau seluruh elemen penegak hukum untuk mempunyai aksi nyata yang sama. Dengan UU Narkotika yang sudah sangat baik, seharusnya tidak ada hambatan dan alasan untuk tidak bisa memberantas narkoba. "Masyarakat dan penegak hukum harus merapatkan barisan dan menyamakan persepsi memerangi narkoba," harapnya. Jadi Momentum Komisi Yudisial (KY) menyambut positif perang terhadap narkoba yang dilancarkan MA. Untuk mewujudkan niat luhur itu, KY juga siap menindak tegas hakim yang memutus janggal kasus narkoba. "Masyarakat yang mengetahui ada hakim memainkan perkara narkoba segera lapor saja ke KY dan akan cepat ditindaklanjuti dan diprioritaskan penanganannya," kata Wakil Ketua KY, Imam Anshori Saleh. Vonis mati yang dijatuhkan MA terhadap warga negara Malaysia, Kweh Teik Choon juga mendapat apresiasi dari anggota DPR RI. Apalagi hingga Mei 2013, belum pernah penjahat narkoba yang dijatuhi hukuman mati di tingkat kasasi. "Langkah MA ini sangat tepat

dan layak para penjahat narkoba, yakni penyelundup, bandar serta pengedar dihukum sangat berat," papar Indra, anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS),di Jakarta, Rabu 1 Mei 2013. Menurutnya, kejahatan narkoba merupakan kejahatan yang luar biasa, mengingat daya rusaknya lebih berbahaya dari korupsi dan terorisme. Bahkan kejahatan kemanusiaan yang akan menghancurkan bangsa. Buktinya, banyak anak bangsa jadi korban. "Selayaknya, tidak boleh lagi ada kompromi bagi penjahat narkoba dan harus diberi sanksi seberat mungkin," harapnya. Indra menilai ketegasan MA melalui putusan hukuman mati terhadap bandar narkoba, perlu dijadikan momentum bagi lembaga tersebut untuk benar-benar menabuh genderang perang atas kejahatan narkoba lewat putusan-putusan para hakim di semua tingkatan. "Para hakim harus berani menjatuhkan hukuman maksimal bagi kejahatan narkoba, jika benar-benar yakin terbukti.". Mengingat kebiasaan sebelumnya, di tingkat kasasi atau peninjauan kembali (PK) ada hakim agung yang suka meringankan hukuman bagi bandar narkoba atau mengkorting hukuman mati. "Mulai kini langkah ini harus dihentikan," tandasnya seperti dilansir laman suarakarya-online. Namun demikian, ujar Indra, semangat perang terhadap kejahatan


LAPORAN UTAMA narkoba harus didukung oleh seluruh elemen bangsa. Artinya, kata dia, harus ada komitmen bersama untuk tidak berkompromi terhadap kejahatan narkoba. "Jadi, jangan lagi ada praktik pem-

berian fasilitas khusus kepada tahanan narkoba di rutan dan lapas. Selain itu, pemerintah juga harus mendukung melalui penghapusan kebijakan pemberian remisi dan pembebasan bersyarat bagi para bandar narkoba.

Dan Presiden SBY jangan lagi mengulangi kebijakan yang melukai rasa keadilan masyarakat yang sempat heboh dengan memberikan grasi bagi bandar narkoba," sambungnya. *MU02

Kronologis Penangkapan Bandar Narkoba Ken

P

embuka tahun 2012, Polresta Bandara Soekarno Hatta mengukir prestasi luar biasa, dengan membongkar Narkotika Golongan I jenis Ekstacy sebanyak 358.000 butir pil ekstacy dengan berbagai logo dan 48,5 Kg Shabu. Barang terlarang itu, diungkap dari hasil penggerebekan di kamar 46 H Tower 7 Apartemen Taman Anggrek Jalan S. Parman Jakarta Barat, Minggu 8 Januari 2012, sekitar pukul 11.30 WIB. Kamar apartemen itu, juga dimanfaatkan sebagai gudang narkoba. Polisi juga menangkap penghuni kamar apartemen itu, Kweh Teik Choon alias Ken, warga negara Malaysia yang beralamat di Malaysia 603 J Tanjung Bungah, 11200 Pulau Pinang Malaysia. Lelaki kelahiran Pulau Pinang, 27 Juni 1976 pemegang passport A 18729566 ini, ditangkap saat menunggu petunjuk akan ada tawaran pembelian inex dalam jumlah besar. Sementara Big Bos di Malaysia atas nama Jhons alias Ah Peek dan Denny alias Foo, hingga kini ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO). Pengungkapan jaringan ini berawal dari penangkapan pengedar shabu jaringan Jakarta-Banjarmasin melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta. Dari penangkapan, dibongkar pula sindikat ekstasi Medan Surabaya. Juga jaringan Jakarta Pontianak, serta ganja yang dibawa dari Aceh menuju Jakarta. Dari pengungkapan kasus Pontianak, Banjarmasin, Surabaya dan Aceh, diketahui ada jaringan lebih besar di Apartemen Kalibata City di Kalibata Jakarta Selatan. Pada Sabtu, 7 Januari 2012, ada informasi akan diadakan transaksi. di Tower F Kamar F 18 AD dan Tower E Kamar E 08 AB. Saat digeladah, petugas malah mendapatkan petunjuk akan ada tawaran pembelian Narkotika jenis Ekstacy dalam jumlah besar, dilakukan seorang bandar di Mal Taman Anggrek (MTA) yang barangnya sudah disiapkan. Minggu, 8 Januari 2012, petugas menjaga ke apartemen Mal Taman Anggrek Jakarta Barat. sekitar pukul 12.30 WIB, muncul seorang laki-laki dengan membawa tas kresek warna orange yang

FOTO: DOK MAJALAH UNGKAP

mencurigakan. Lelaki itu langsung diamankan. Di dalam tas kresek ditemukan 2 bungkus XTC warna merah totalnya sebanyak 10.000 butir, sebungkus klip plastik berisi inex warna putih dan biru sebanyak 20 butir. Lelaki itu, Kweh Teik Choon alias Ken ternyata tinggal di Apartemen Taman Anggrek Tower 7 Kamar 46H. Saat digeledah di kamar itu ditemukan 194 kantong berisi Narkotika Golongan I jenis Ekstacy sebanyak 360.000 butir dengan berbagai logo, dan 46 kantong berisi Narkotika Golongan I jenis Shabu seberat + 50 Kg. Selain Shabu dan XTC, barang bukti lainny yang disita dari tersangka Kweh Teik Choon alias Ken berupa pasport Malaysia atas nama tersangka, 3 Handphone sebagai alat komunikasi, timbangan digital dan berbagai macam SIM Card. Dari rangkain penangkapan, diamankan tersangka lainnya antara lain AH, NA, RD, F, dan BR yang ditangkap di tempat berbeda. Dari rangkain penangkapan, ditangkap pula empat anggota jaringannya yaitu BR (26), warga Aceh anggota jaringan Aceh-Jakarta, AH (41), jaringan ekstasi Medan Surabaya, RD (20), jaringan shabu Jakarta- Banjarmasin dan F alias R (35), jaringan shabu dan ekstasi Jakarta Pontianak. *** Edisi 17 >< Juni 2013

11


BERITA UTAMA FOTO: ISTIMEWA

Jasad tersangka Ramadhan Puda Kesuma setelah dilumpuhkan dengan timah panas oleh Tim Direktorat Narkoba Bareskrim Polri karena berusaha melawan pada saat di tangkap dalam penggrebekan shabu-shabu dan xtc. INZET: tersangka Selly Satria Aprianto yang ditembus timah panas karena berusaha melarikan diri.

PENGGEREBEKAN BERDARAH

Dua Bandar Narkoba Tewas di Dor Tak ada kata menyerah dalam perang melawan peredaran gelap narkoba. Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri kembali 'perang' dengan menggelar operasi penggerebekan di Banjarmasin dan Medan. Hasilnya 5 anggota sindikat dibekuk, dua diantaranya tewas karena berontak.

A

wal Maret 2013, Dirtippid Narkoba Bareskrim Polri menerima informasi dari masyarakat adanya peredaran gelap Narkotika jenis Shabu dan Ecstasy, yang diselundupkan dari Malaysia melalui Tanjung Balai Asahan, kemudian dibawa ke Medan untuk diedarkan dibeberapa kota di Indonesia. Info berharga itu pun ditindaklan12

Edisi 17 >< Juni 2013

juti dengan menguji kebenarannya. Ternyata info itu bukan tong sampah. Hasil analisa disimpulkan, Fredy Miming beberapa kali mengendalikan dua Mahasiswa Medan, Ramadhan Puda Kesuma dan Selly Satria Aprianto untuk menerima penyerahan Narkotika dari Mursal alias Ever, warga negara Malaysia yang tinggal di negeri Jiran. Barang haram itu dibawa ke Medan oleh para kurir. Dari Medan

diserahkan kepada Denny Mantiri, Encek dan Wandar untuk dibawa dari Medan ke Banjarmasin serta beberapa kota lainnya di Republik ini. Setelah melalui proses penyelidikan yang intensif, Kamis 18 April 2013, sekitar pukul 10.00 WITA Tim Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menangkap Denny Mantiri di Hotel Amaris Jl. A. Yani, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dari tangan lelaki kelahiran Jakarta, 17 November 1980 yang tinggal di Jl. KH Hasyim Ashari IV/15 RT.04 RW.05 Malang, Jawa Timur, petugas menyita 3 Handphone yang digunakan untuk komunikasi transaksi Narkotika dan 1 korset warna hitam yang digunakan oleh Denny Mantiri


BERITA UTAMA untuk menyembunyikan barang terlarang. Shabu itu, diletakkan dalam selangkangan kemudian dilapisi dengan korset (Bodypack) agar tidak terdeteksi oleh pemeriksaan X-ray di Bandara. Sekitar pukul 15.00 WITA, petugas kembali melakukan penangkapan terhadap Rizal Hadi warga Jl. Veteran Gg V/Sejati RT 25 RW 009, Kelurahan Melayu, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, yang diringkus di Kamar 320 Hotel Jelita Jl. Ahmad Yani Km 2, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dari tangan lelaki kelahiran Banjarmasin, 9 Januari 1984, petugas menemukan tas hitam merk Polo berisi kantong Ramayana, yang berisi plastik dengan bungkusan narkoba jenis shabu sebanyak 1,5 Kg Shabu. Pengakuan Rizal Hadi barang terlarang ini diterima dari Denny Mantiri. Petugas juga menyita 4 buah Handphone yang digunakan untuk komunikasi transaksi Narkotika. Sekitar pukul 17.30 WITA, petugas juga menangkap M. Rama warga Jl. Bumi Handayani IV RT 02 RW 01, Kelurahan Perumus Baru, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin. Lelaki kelahiran Banjarmasin, 2 Maret 1980 dibekuk disebuah rumah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan atau gudang Narkotika di Komplek Mandiri Permai No.74 B Kota Banjarmasin. Dari gudang itu, disita 4 buah Handphone yang digunakan untuk

komunikasi transaksi Narkotika. Juga menyita 5,491 Kg shabu, 21 butir Ecstasy berlogo TM, 6.785 butir Erimin 5 (Happy Five), timbangan digital, alat press dan platik klip. "Dari hasil pemeriksaan ketiga tersangka yang ditangkap di Banjarmasin itu, ternyata Denny Mantiri sudah 3 kali menerima shabu dari Encek, Ramadhan dan Selly di Medan. Kemudian dibawa ke Banjarmasin dan diserahkan kepada Rizali Hadi dan M. Rama atas instruksi Fredy Miming dan diberi upah sebesar Rp 25.000.000 dalam setiap pekerjaan," papar Brigjen Arman Depari, Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Mabes Polri, di Jakarta, Rabu 1 Mei 2013.

Penggerebekan di Medan Berdasarkan hasil pemeriksaan, Tim melakukan pengembangan penyidikan, ketika mengendalikan alat komunikasi Denny Mantiri dengan mengontak Fredy Miming agar pada Selasa 23 April 2013 untuk pergi ke Medan menerima penyerahan Shabu dan Ecstasy dari Ramadhan Puda Kesuma dan Selly Satria Aprianto. Senin, 22 April 2013, Tim membawa Denny Mantiri dari Jakarta ke Medan. Dan melakukan check in di kamar 1218 Hotel Aston Medan. Denny Mantiri pun memberitahukan nomor kamar hotelnya kepada Fredy Miming. Denny Mantiri diminta menunggu karena nanti ada anak buahnya yang akan datang kekamar hotel untuk menyerahkan Shabu dan Ecstasy sesuai pesanan.

FOTO: ISTIMEWA

FOTO: ISTIMEWA

Mursal alias Ever pemilik Shabu dan Ecstasy FOTO: ISTIMEWA

Tsk Denny Mantiri

Ternyata, lanjut jenderal bintang satu, Rizal Hadi sejak 1 tahun lalu bersama dan M. Rama sejak 6 bulan lalu telah melakukan pekerjaan menerima penyerahan Narkotika dari Encek, Wandar dan Denny Mantiri untuk, menjaga Narkotika yang disimpan di Komplek Mandiri Permai No.74 B Kota Banjarmasin. "Bahkan melakukan pekerjaan mengantar narkotika kepada seseorang atas intruksi Fredy Miming, dalam melakukan pekerjaan itu, setiap bulannya menerima upah dari Fredy Miming sebesar Rp 35.000.000 untuk Rizal Hadi dan Rp 30.000.000 untuk M. Rama," ungkapnya.

Tsk Rizali Hadi

Tsk M. Rama Edisi 17 >< Juni 2013

13


BERITA UTAMA FOTO: ISTIMEWA

Barang bukti 2 kg Shabu dan 10.000 butir Ecstasy

Selasa, 23 April 2013 sekitar pukul 15.30 WIB, Ramadhan Puda Kesuma dan Selly Satria Aprianto datang ke kamar 1218 Hotel Grand Aston Jl. Balai Kota No 1 Medan, Sumatera Utara. Saat itu juga, keduanya digerebek. Dari tangan kedua pemuda itu disita 2 Kg shabu dan 10.000 butir Ecstasy. Saat ditangkap itu, Ramadhan Puda Kesuma melakukan perlawanan terhadap petugas yang menangkap dengan cara menyerang membabi-buta menggunakan senjata tajam. Petugas pun melumpuhkan dengan tembakan sehingga mengalami luka tembak di bagian dada kiri dan perut bagian kiri. Namun mahasiswa kelahiran Medan, 08 Mei 1987 meninggal dunia ketika diberikan pertolongan di Rumah Sakit Bhayangkara Medan. Petugas pun membawa Selly Satria Aprianto untuk menunjukkan tempat penyimpanan Narkotika di

Perumahan Bukit Hijau Regency Medan, namun mahasiswa kelahiran Medan, 04 April 1987 melarikan diri dan beberapa kali diberikan tembakan peringatan, tetapi tidak dihiraukan, sehingga dilumpuhkan dengan tembakan. Namun warga Jl. Danau Melintang No 94, Kel. Sei Agul, Kec. Medan Barat, Kota Medan itu meninggal dunia ketika diberikan pertolongan di Rumah Sakit Bhayangkara Medan, tambahnya. "Kita sudah bekerja sama dengan polisi Malaysia untuk mengejar tersangka Mursal alias Ever, warga negara Malaysia yang masih DPO. Rumah di Bukit Hijau Regency juga milik tersangka Mursal ini. Selain Mursal, kami juga memburu Fredy Miming, Encek, dan Wandar. Kami juga melakukan pengembangan untuk mengungkap jaringan ini di Lombok, Bali, Surabaya, Malang juga

Jakarta," sambung Arman. Mursal alias Ever warga Malaysia ditengarai sebagai pengendali peredaran narkoba di Indonesia. Mursal saat ini keberadaannya diduga di Malaysia. â&#x20AC;&#x153;Mursal alias Ever diketahui pengendali peredaran narkoba di Indonesia. Narkoba, jenis sabu-sabu dan ekstasi happy five berasal dari Malaysia, kemudian masuk ke Indonesia melalui Pelabuhan Tanjung Balai," tandas Arman. Setelah di Medan, lanjut dia, baru kemudian barang haram itu diedarkan kesejumlah propinsi di Indonesia, antara lain, Kalimantan, Pulau Lombok, Bali, Jakarta, Pekan Baru, NAD dan propinsi lainnya. "Medan sebagai jalur masuk, maka ibukota Propinsi Sumatera Utara ini menjadi pengawasan ketat Mabes Polri, apalagi Medan dan Sumut potensial bisnis narkoba," ucapnya. *MU02 FOTO: ISTIMEWA

5,4 kg Shabu, 21 butir Ecstasy dan 6.785 butir Erimin 5 & 1,5 kg Shabu 14

Edisi 17 >< Juni 2013


BERITA UTAMA

Edisi 17 >< Juni 2013

15


BERITA UTAMA FOTO: OKEFOOD.COM

Rumah mewah Vila Melati Mas, Blok G1, Nomor 16, Jelumpang, BSD Serpong, Tangerang Selatan yang dijadikan tempat pabrik shabu.

Rumah Mewah Jadi Pabrik Shabu Menghilang selama empat tahun, diam-diam penjahat narkoba ini membangun pabrik shabu di kawasan perumahan mewah. Para tetangga tak menyangka lelaki misterius itu, buronan polisi sekaligus penjahat kelas kakap di dunia narkotika. Hasil produksinya bukan hanya dijual ke pasar, tapi juga dikonsumsi sendiri.

T

iga bulan sebelum penggerebekan, terjadi perubahan yang menyolok di rumah mewah Vila Melati Mas, Blok G1, Nomor 16, Jelumpang, BSD Serpong, Tangerang Selatan. Perubahan itu, sang pemilik rumah yang berkepribadian tertutup tiba-tiba menutup diri. Pagar rumah yang 16

Edisi 17 >< Juni 2013

sebelumnya transparan, ditutup dengan plastic fiber gelap. Teras rumahnya juga dipasang closed circuit television ( CCTV). Bahkan, beberapa anjing doberman dipasang di halaman rumah dan menggonggong saat ada tamu tak dikenal. Juga ada senjata dua air soft gun. Hubungan dengan tetangga juga

M 1 Rp ri t e ha s Om per

kurang harmonis. Keluarga yang terdiri Pangelon Rusman (42) kepala rumah tangga bersama CT (35), isternya serta dua anaknya, DV serta KL memang tak pernah bersosialisasi. Setahun lebih, keluarga Pangelon Rusman tinggal di rumah berlantai dua . Para tetangga hanya mengetahui, jika rumah PG dijadikan gudang pakaian, karena setiap hari di depan rumahnya sering terlihat jejeran jemuran pakaian juga tumpukan karung goni. Kamis 2 Mei 2013, warga geger, karena puluhan polisi berpakaian seragan "Narcotic's Police" Dirserse Narkoba Polda Metro Jaya melakukan penggerebekan. Warga juga terkejut,


BERITA UTAMA menghasilkan sekitar Rp20 miliar yang bisa dikantungi Pangelon Rusman atau hasil penjualan diperkirakan Rp 1miliar per hari. Apalagi bahan baku itu bisa menghasilkan shabu kualitas nomor satu. â&#x20AC;?Ini luar biasa besar, karena dalam sehari bisa memproduksi setidaknya 0,5 Kg shabu atau senilai Rp 1 miliar. Pelakunya harus dihukum berat, karena sudah menjadi DPO dalam kasus yang sama â&#x20AC;? kata Wakil Kepala Polda Metro Jaya Brigadir Jenderal Sudjarno, di lokasi penggerebekan. Di rumah itu, ditemukan 0,5 Kilogram shabu yang sudah tuntas diproduksi. Juga ditemukan ruangan laboratorium mini sebagai tempat pengolahan shabu. Dalam lab itu, ada sebuah tabung pereaksi, alat penyulingan, perangkat kristalisasi shabu, hingga alat pengemasan. "Selain itu, disita dua pucuk senjaya jenis air soft gun," tambahnya. Juga, puluhan botol berisi cairan kimia untuk shabu, 6 stoples besar fosfor, 5 jerige aseton, 3 liter alkohol, 1 karung bubuk soda, 5 bong, serta 1 kg shabu siap jual dan 10 kg shabu setengah jadi. "Peralatan laborato-

rium kimia dan zat-zat kimia menjadi bukti bahwa rumah elite ini dijadikan pabrik memproduksi shabu. Rumah yang dijadikan pabrik pembuatan shabu itu berupa rumah bertingkat dua. Produksi shabu dilakukan di ruang lantai satu. Di dapurnya terpasang peralatan pembuat shabu, berupa rangkaian sejumlah tabung kaca dan selang plastik atau kaca, mirip sebuah laboratorium kimia. Rumah pabrik shabu ini, berdampingan dengan satu rumah yang ditempati Pangelon Rusman bersama keluarganya. Dua rumah itu hanya berjarak sekitar 20 meter dari pos keamanan. Ahli Racik Shabu Direktur Reserse Narkoba Komisaris Besar Nugroho Aji Wijayanto menjelaskan Pangelon Rusman ternyata ahli meracik shabu. Hasil pemeriksaan, tersangka membeli bahan shabu secara sendirian termasuk mengelola serta mengedarkan secara sendiri ke daerah Jakarta, Palembang dan Surabaya dan kota-kota besar lainnya. Untuk membuat shabu tersangka membeli bahan shabu seperti ephi-

FOTO: WWW.METRONEWS.COM

bahkan hampir tak percaya, jika rumah keren itu disulap menjadi pabrik narkoba jenis shabu. Lebih tak percaya lagi, Pangelon Rusman ternyata penjahat narkoba yang menjadi buronan polisi selama empat tahun. Tahun 2010, Pangelon Rusman pernah membuka usaha pabrik Shabu di kawasan Jelambar Jakarta Barat. Saat terjadi penggerebekan di rumahnya oleh Polres Metro Jakarta Barat, Pangelon Rusman lolos. Sehingga PG ditetapkan sebagai buronan. Lelaki warga keturunan ini, menghilang tanpa kesan. Polisi pun kehilangan jejaknya. Namun, Sepandai-pandai bersembunyi akhirnya ketahuan juga. Sosok Pangelon Rusman terdeteksi setahun lalu. " Pangelon Rusman, tertangkap basah sedang mengolah dan memproduksi barang haram itu. Pangelon Rusman ditangkap sendirian. Saat penggerebekan istri dan anaknya tidak sedang berada di rumah," tegas Wakil Kepala Polda Metro Jaya Brigjen Sudjarno di lokasi penggerebekan. Diperkirakan, seluruh cadangan bahan yang dimiliki Pangelon Rusman untuk bisa diolah menjadi 10 Kg shabu. Jika berhasil diproses semua,

Tsk Pangelon Rusman

Petugas Laboratorium dan Forensik Polda Metro Jaya sedang melakukan identifikasi barang bukti shabu di Perumahan mewah Villa Melati Mas, Blok G1, No 16, Jelumpang, BSD, Serpong, Tangerang Selatan. Edisi 17 >< Juni 2013

17


BERITA UTAMA FOTO: WWW.CIPUTRANEWS.COM

Barang bukti bahan-bahan dan alat-alat yang digunakan untuk membuat shabu.

dirin, fospor, aseton, alkhol, soda api dan bahan pembuat shabu lainnya serta peralatan membuat shabu seperti alat suling, tabung reaksi dan alat pemanas. "Prosesnya ephidrin dan bahan pembuat shabu lainnya dimasukan ke alat pemanas dan dipanaskan kemudian disuling dan dihasilkan shabu yang berkualitas baik," ungkapnya. Tersangka mengaku baru aktif membuat shabu lagi sekitar tiga bulan. Peralatan pembuat shabu itu dikatakan milik seseorang bernama Herman, yang berutang dua ons logam mulia padanya. â&#x20AC;?Ini barang Herman, saya ambil sebagai jaminan utangnya. Saya tidak tahu Herman ada di mana, ada yang bilang sudah ditangkap waktu pabrik di Jelambar digerebek. Saya sendiri juga mengonsumi sabu sejak 10 tahun lalu,â&#x20AC;? ungkap Pangelon Rusman. Diakuinya, ilmu memproduksi shabu itu didapat dari kawan-kawan sindikatnya. Ilmu itu pun dikembangkan bahkan melakukan pengadaan bahan dan alat sendiri, tanpa bantuan orang lain. Bahan bakunya biasa 18

Edisi 17 >< Juni 2013

dibeli di sejumlah toko bahan kimia. Mengenai jaringan penjualan? "Saya memakai sistem satu lajur. Juga hasil produksi saya untuk saya pakai sendiri," jawabnya sambil mengaku sudah 10 tahun mengkonsumsi shabu. Warga Anti narkoba Ibu Yati (51), warga Blok G1 yang berselang satu rumah dengan Pangelon Rusman mengaku kaget pagi-pagi rumah tetangga dikerubuti polisi. Tambah kaget lagi ternyata rumah itu dipakai pabrik narkoba. "Wah warga sekitar sini setiap rapat selalu gembar-gembor anti narkoba, kok malah ada pabrik narkoba. Kalau tahu dari awal yang saya usir," paparnya. Memang, lanjut dia, penghuni rumah (Pangelon Rusman - Red) tidak pernah bersosialisasi. Juga tidak pernah melihat ada aktivitas mencurigakan. "Sehingga selama ini ya kita anggap tidak ada masalah," tandasnya. Mario (37) tetangga dekat Pangelon Rusman juga tak menyangka tetangganya yang tak bergaul itu,

penjahat narkoba. Apalagi rumahnya dipakai pabrik narkoba. "Keluaga Pangelon Rusman PG sendiri sudah selama setahun tinggal di sini, Seharihari dikenal sebagai pribadi yang tertutup dengan tetangga dan jarang bergaul," ucap Mario. Mario juga tak aktivitas keluarga Pangelon Rusman. Hanya saja sering terlihat seorang pemuda kerap keluarmasuk rumah dengan kendaraannya jenis mobil Honda Jazz berwarna silver. "Saya kurang tahu pemuda tersebut saudara atau rekan pelaku, namun setiap hari sering mondarmandir. Kita juga tidak tahu apa aktivitas orang itu," sambungnya. Lurah Jelumpang, Dahlan, keluarga Pangelon Rusman memang belum menjadi warga di Villa Melati Emas karena sejak pindah ke perumahan itu tidak pernah melapor, apalagi menunjukkan surat pindah rumah. â&#x20AC;?Pak RT di sini sudah menemuinya untuk mendata identitas keluarga dan menanyakan surat pindah, tetapi dia menolak didata. Jadi, kami belum tahu keluarga itu pindahan dari mana,â&#x20AC;? jelasnya. *MU02


BERITA UTAMA

Edisi 17 >< Juni 2013


BERITA UTAMA

Kolonel AL pun Keblinger Shabu FOTO: ISTIMEWA

Narkoba menyasar siapa saja. Hakim, jaksa, polisi, bupati, pilot, dokter, pengusaha hingga penggangguran jadi sasaran. Kini oknum TNI Angkatan Laut berpangkat kolonel, yang menjabat Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Dan Lanal) terjerumus narkoba. Memprihatinkan memang.

S

Kolonel Laut ASB (dalam mobil), tersangka kasus penyalahgunaan sabu-sabu dibawa dari Kantor Badan Narkotika Nasional ke Markas Polisi Militer Angkatan Laut, Senin (29/4/2013) malam.

enin dinihari, 29 April 2013, sekitar pukul 01.00 WIB, Badan Narkotika Nasional (BNN) mengintai RS alias MM di kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng). Sudah lama RS - anggota polisi berpangkat Briptu yang bertugas di Direktorat Intelkam Polda Jateng, dicurigai sebagai seorang pengedar narkoba. Kecurigaan itu, setelah BNN menangkap bandar narkoba yang melibatkan oknum anggota Detasemen Markas (Denma) Polda Jawa Tengah berinisial Iptu H. Penangkapan tanpa melakukan perlawanan, terjadi Senin 25 Februari 2013. Pengakuan Iptu H akhirnya tertuju pada RS yang dicurigai sebagai pengedar lainnya. Tengah malam, RS bergerak menuju hotel Ciputra di kawasan Simpang Lima, Semarang. Petugas menduga RS tengah mengantar barang ilegal tersebut. Setelah masuk dalam hotel itu, RS menuju ke lantai 10 dan masuk ke kamar 1003. Beberapa menit di dalam kamar, RS lantas keluar. Saat berada di luar hotel, RS ditangkap dan diinterogasi. "RS mengaku mengirim narkoba 20

Edisi 17 >< Juni 2013

atas pesanan seseorang yang tengah menginap di kamar 1003. Saat itu juga, petugas BNN langsung menggerebek kamar itu," ungkap Inspektur Jenderal Pol. Benny Jozua Mamoto, Deputi Pemberantasan BNN usai Forum Group Discution antara BNN - TNI Polri di Jakarta, Rabu 1 Mei 2013. Di dalam kamar, petugas BNN mendapatkan seorang lelaki sendirian tengah mengkonsumsi narkoba jenis shabu. Lelaki itu mengaku bernama ASB berpangkat cukup tinggi dan punya jabatan yang strategis, tambahnya. Kolonel ASB yang menjabat sebagai Komandan Pangkalan Angkatan Laut diamankan sekaligus diperiksa. "Hasil pemeriksaan ASB mengaku sudah lama mengkonsumsi narkoba," ucap jenderal bintang dua. Petugas BNN juga menemukan dua kantong plastik berisi shabu seberat 1,5 gram, empat pipa penyedot, dua bong atau alat isap, tujuh korek api gas, satu lembar aluminium foil, dua botol kosmetik wajah yang digunakan untuk membakar shabu, serta barang bukti lain. ASB dan RS diamankan. BNN

meminta untuk menunjukkan tempat kos RS di Semarang kota. Dinihari, BNN menuju tempat kos RS dan melakukan penggeledahan. Di rumah itu, ditemukan delapan butir ekstasi merek Butterfly, satu paket kecil shabu seberat 0,3 gram, dan alat isap sa-bu. Juga, menciduk NN, wanita muda yang mengaku sebagai kekasih RS. Wanita itu, diduga terlibat sindikat narkoba. Mereka bertiga digiring ke BNN Jakarta untuk dimintai keterangan juga diperiksa tes urine. "Hanya ASB yang positif mengonsumsi shabu. "Untuk ASB, kami melanjutkan dengan assesment oleh tim ahli BNN. Selasa malam, penanganan ASB akan dilimpahkan ke Puspomal. Dan untuk oknum polisi akan dilimpahkan ke Provost Polda Jateng. NN, kekasih RS disidik BNN," jelasnya. Tak ada tolirer Komandan Pusat Polisi Militer Laksamana Pertama Gunung Heru menegaskan, ASB adalah perwira menengah pertama di lingkungan TNI AL, yang terjerat kasus penyalahgunaan narkotika. "Tidak pernah ada sebelumnya. Ini kasus yang pertama


BERITA UTAMA kali," kata Gunung saat ditemui wartawan di BNN Jakarta. Meski belum memiliki referensi kasus terdahulu, Gunung menilai TNI AL memiliki Undang-Undang Militer yang mengakomodasi anggotanya jika terlibat aktivitas penyalahgunaan narkotika. "Kita proses sesuai aturan. Kalau salah, kita ajukan ke pengadilan militer, pasti itu. Kita tidak menolerir prajurit bermasalah," tandasnya. Gunung mengatakan, terkait status tersangka ASB atas tuduhan penyalahgunaan narkotika jenis sabu, TNI akan bekerja sama dengan BNN untuk merehabilitasi ASB sambil proses penyidikan terhadapnya terus dilakukan oleh POM oleh AL. Kadispenal Laksma Untung Suropati mengaku TNI AL tidak akan memberikan toleransi bagi siapapun oknum TNI yang menyalahgunakan narkotika. “Kebijakan Kasal, tidak akan pernah mentolerir sedikit pun anggotanya, apalagi perwira bermain dengan narkoba,” jelasnya. Anggota Komisi III DPR Taslim Chaniago meminta pihak TNI AL agar

memecat perwira yang tertangkap menggunakan narkoba karena itu sudah sangat memalukan institusi dan negara. “Hal yang mengagetkan seorang perwira mengkonsumsi narkoba, sebaiknya itu dipecat. Kemudian dibawa ke pengadilan sipil,” tegasnya. Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini, mengapresiasi kinerja BNN yang berani menangkap perwira sebab keterlibatan aparat selama ini sulit disentuh oleh badan khusus narkoba. “Itu sangat kita apresiasi, dan berharap kedepannya BNN harus sikat siapapun terlibat,” harap Taslim Hal senaga juga dilontarkan anggota Komisi III DPR dari Fraksi PKS, Indra. "Peristiwa ini sudah melukai perasaan publik yang seharusnya perwira TNI bertugas menjaga kemanan, menjadi panutan bagi masyarakat, dan anak buahnya sendiri. Itukan berpangkat kolonel, bagaimana yang dibawahnya,” tegas Indra. Dia menilai, tertangkapnya perwira TNI mengkonsumsi narkoba sudah membuktikan sinyalemen selama ini terkait adanya dugaan oknum yang

menyalahgunakan obat terlarang. Terkait proses hukum selanjutnya, pihak peradilan militer harus memberikan hukuman yang lebih berat dari warga sipil biasa yang terlibat narkoba. Kalau diberikan hukuman yang ringan, justru akan menodai wibawa hukum karena dia merupakan alat negara yang berpangkat perwira dan sudah sangat jelas mengetahui tentang bahaya narkoba. “Seharusnya dia menjadi tauladan bagi masyarakat dan sekarang malah melanggar hukum,” papar Indra. Anggota Komisi I DPR, Susaningtyas Refo Handayani Kertopati, mengatakan kasus Kolonel nyabu harus ditindaklanjuti dengan proses hukum yang dapat memberi efek jera. "Menurut saya, ASB harus diproses, tidak usah tebang pilih," kata politisi yang akrab disapa Nuning itu. TNI AL-sudah setuju yang bersangkutan diproses dan dihukum yang setimpal karena tindakannya telah mempermalukan institusi. "Jangan ragu-ragu, bandarnya pun harus diburu," ujar Nuning - anggota Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). *MU02

Kolonel Nyabu Dicopot sebagai Danlanal Sehari setelah ditangkap, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) secara resmi mencopot jabatan Komandan pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) V Semarang, Kolonel ASB. Sanksi tegas pencopotan ini karena sang Kolonel AL mengkonsumsi narkoba jenis shabu di kamar 1003, Hotel Ciputra Semarang, Jawa Tengah, Senin 29 April 2013 dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB. "Pencopotan untuk jabatan Danlanal. Beliau (Kolonel ASB) belum dicopot dari Angkatan Laut karena menunggu vonis pengadilan. Inilah resiko jabatan yang tak diemban secara amanah, dan menyimpang dari perilaku budaya yang ada," papar Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Madya Untung Surapati usai Forum Group Discution antara BNN TNI - Polri di Jakarta, Rabu 1 Mei 2013. Selain itu, Kolonel ASB tak bisa mengikuti segala bentuk kegiatan yang sifatnya menunjang karir militernya. Juga dikenakan sanksi administrasi, tidak boleh mengikuti pendidikan, jenjang karir dan aktivitas lainnya yang sudah tertutup baginya, ucap Kadispenal. Dijelaskan, tersangka sudah dipindahkan dari tahanan BNN ke Puspomal di Jakarta. Bahkan sejak Selasa 30 April 2013 malam pukul 22.00 WIB, penyidikan dilakukan TNI AL. Mengingat, kasus ini tindak pidana narkotika, maka diajukan ke peradilan militer karena statusnya masih anggota TNI.

Hukumannya dipastikan akan lebih berat dibandingkan sipil karena merupakan aparat. Kolonel ASB akan dijerat Undang-Undang No 39 Tahun 2009 tentang Narkotika, tambah Kadispenal. "Jika beliau sudah diputus pengadilan, secara otomatis akan diberhentikan sebagai prajurit TNI, apakah secara tidak hormat atau bagaimana. Ya, kita tunggu saja ketuk palu majelis hakim," tandasnya. Jenderal bintang satu mengakui, kasus narkoba yang terjadi pada ASB merupakan kejadian yang sangat spektakuler bagi TNI AL. "Spektakuler karena dilakukan perwira senior. Kedepannya, TNI AL akan melakukan tes urine kepada semua prajurit. Hal ini untuk mencegah, jangan sampai kejadian serupa terulang lagi," sambungnya. Laksamana Madya Untung mengakui kalangan internal Angkatan Laut sangat terkejut dengan penangkapan Kolonel ASB. Selama ini, ASB dikenal sebagai perwira yang cerdas dan berprestasi. Dua kali diangkat jadi Komandan Pangkalan Utama, di Yogyakarta dan Semarang. “KSAL (Kepala Staf Angkatan Laut) terkejut bukan main,” jelasnya serius. Lebih mengejutkan lagi, Kolonel ASB ternyata disebutsebut menggunakan shabu sejak 2004. "Jadi selama ini tidak ada yang tahu jika Kolonel ASB menggunakan barang haram. Kami kecolongan,” akunya. *MU02 Edisi 17 >< Juni 2013

21


BERITA UTAMA FOTO: ISTIMEWA

Okto Irianto, Kepala Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta saat memperlihatkan barang bukti 15 kg shabu dan ketiga tersangka.

15 Kg Shabu Diselundupkan dalam Kotak Susu Seribu satu modus yang diterapkan sindikat narkotika internasional menyelundupkan narkoba ke Indonesia. Bahkan untuk mengelabuhi petugas, shabu dimasukkan dalam kotak susu. Namun sepandai-pandai menyembunyikan shabu, untungnya tercium juga.

P

esawat Garuda Indonesia dengan nomer penerbangan GA-873 rute Hongkong-Jakarta, mandarat di Bandara internasional Soekarno Hatta, Rabu 3 April 2013 sekitar pukul 14.30 WIB. Seluruh penumpang berjalan menuju Terminal kedatangan 2 D, untuk menjalani pemeriksaan dokumen maupun barang bawaan. Tak ada tanda-tanda mencurigakan terhadap seluruh penumpang. Semuanya berjalan normal. Saat barang bawaan diperiksa melalui pintu X-ray, petugas Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta curiga terhadap tas koper milik tiga orang. Ketiganya digiring ke ruang pemeriksaan, dan saat dibuka ternyata di dalamnya ditemukan 5 kotak susu bubuk formula 22

Edisi 17 >< Juni 2013

merek 'Premium Milk Gold'. Kota susu itu, sengaja diselipkan diantara makanan dan pakaian. Kotak susu yang mereka bawa sebanyak lima kotak dan dibawa oleh masingmasing pelaku. Totalnya jumlahnya ada 15 dus susu. Di dalam kotak susu bersisi berisi kristal bening. "Saat dilakukan narco tes juga dilakukan pengujian di Balai Pengujian dan Identifikasi Barang, ternyata positif methamphetamine atau shabu. Beratnya mencapai 15,33 kilogram,â&#x20AC;? papar Okto Irianto, Kepala Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta, kepada wartawan di Jakarta, Selasa 9 April 2013. Ketiga lelaki yang membawa koper langsung diamankan. Mereka Jillyco Alcudia Cuaycong (35),

Reynaldo Dadu Rebojo (47) dan Alejandro Devocion Caballes (61), ketiganya warga negara Filiphina. Mereka adalah anggota sindikat narkoba jaringan Hongkong - Brazil - Macau - Indonesia - Filipina. Selain menangkap tiga kurir narkoba, petugas juga menangkap dua orang penjemput, yakni A warga negara Tiongkok China serta Y seorang WNI. "Kelima orang langsung diamankan dan kita serahkan ke Polres Bandara Soekarno Hatta untuk dikembangkan kasusnya," lanjut Okto. Direktur Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai, Agung Kuswandono mengaku peristiwa penangkapan ini yang terbesar dalam sejarah penangkapan selama tahun 2013, sekaligus di kawasan Bandara Soekarno Hatta. Juga, kini mulai marak kembali menyelundupkan narkoba dengan mengerahkan kurir. Mengingat sebelumnya para sindikat internasional menyelundupkan narkoba dengan modus pengiriman melalui paket kiriman. "Petugas kita di lapangan, teru-


BERITA UTAMA lundupkan ke Indonesia, tambahnya. "Jadi sindikat ini merupakan jaringan baru di luar jaringan narkotika yang ada selama ini, yakni Nigeria, Iran, Eropa, India, dan Malaysia. Juga, Indonesia dianggap sebagai rute baru. Selama ini mereka mengirim narkoba ke negara lain selalu lolos, baru pertama kali ke Indonesia, langsung ketangkap," sambung Dirjen. Ketiga pelaku dikenakan UU nomor 35 tentang Narkotika 2009 karena merupakan kategori narkotika golongan satu. Penyelundupan narkotika melanggar pidana sesuai dengan pasal 113 ayat 1 UU NO 35 tahun 2009 dengan ancaman hukuman 15 tahun atau hukuman mati. Butuh Kejelian Di tempat terpisah, Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol. Benny Jozua Mamoto menambahkan menyelundupkan narkoba dengan mengemas secara rapi dalam produk makanan maupun dus susu, sudah kerap terjadi. Memang barang makanan yang lazim keluar masuk bandara, sehingga jarang menimbulkan kecurigaan. "Bila hanya dilihat sekilas, mungkin petugas dapat terkecoh sehingga barang haram tersebut dapat lolos. Karena kita punya background deteksi sehingga shabu yang dikemas dalam kotak susu dapat digagalkan. Namun jika petugas bea cukai tidak teliti dan jeli, ya bisa lewat,"

katanya. Menurutnya, setiap petugas di perbatasan seharusnya mempunyai sense of intelligence ekstra. "Biasanya para pelaku akan menunjukkan rasa gelisah dan takut ketika barang bawaan mereka diperiksa." tuturnya. Benny mengakui wilayah indonesia memiliki titik kerawanan di setiap perbatasan, karena dibeberapa tempat setiap speedboat melintas tidak dilakukan pemeriksaan. "Jaringan narkoba ini berasal dari Afrika, India kemudian masuk ke Tawau, Malaysia. Dari Tawau diselundupkan ke Sebatik, Nunukan hingga daerah Sulawesi," tuturnya. *MU02 FOTO: ISTIMEWA

tama di seluruh Bandara di Indonesia hendaknya terus meningkatkan kewaspadaan, kejelian dan kepekaan terhadap para penyelundup yang menggunakan berbagai cara untuk meloloskan niat jahatnya sekaligus mencari keuntungan semata," saran Dirjen. Dirjen melanjutkan 15,33 Kg shabu yang digagalkan masuk Indonesia ini, nilainya sekitar Rp 30 miliar lebih, dengan estimasi 1 gram Shabu seharga Rp 2 juta, apalagi shabu yang diselundupkan ini kualitasnya nomer satu karena warnanya masih bersih. Namun lebih dari itu, sambung Dirjen, sangat berbahaya jika sampai lolos dan beredar di tengah-tengah masyarakat. â&#x20AC;?Dengan digagalkannya penyelundupan 15,33 kilogram shabu ini bisa menyelamatkan 107.310 orang generasi muda Indonesia,â&#x20AC;? tegasnya serius. Berdasarkan pengakuan ketiga tersangka asal Filiphina, mereka sudah sering melakukan penyelundupan narkotika jenis Shabu ke berbagai negara dengan rute Hongkong-Brazil. Modusnya hampir sama yaitu narkoba dimasukkan dalam kemasan makanan untuk mengelabui petugas. Mereka mengaku mendapatkan imbalan USD 1.500 atau Rp 15 juta dari bandar narkoba bila berhasil menyelundupkan barang itu. Untuk wilayah Indonesia, Ketiga kurir itu mengaku baru pertama kali menye-

Ketiga tersangka yang bersala darii Filiphina.

Bandara Soetta Rawan Penyelundupan Bandara Internasional Soekarno Hatta (Soetta) sebagai pintu masuk Indonesia, sangat rawan aksi penyelundupan narkotika. Catatan Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta, selama JanuariApril 2013 berhasil digagalkan 31 kasus penyelundupan narkoba. Dalam kasus itu dibekuk 33 tersangka yakni 23 WNI, 1 WN Afrika, 5 WN China, dan 4 WN Filipina. Dari jumlah itu, barang bukti yang berhasil diamankan terdiri dari 30,560 gram shabu-shabu, 3. 772

gram ketamine, 289, 5 gram heroin dan 26,6 gram ganja. Kasus penggagalan penyelundupan narkotika terjadi pada Senin, 16 April 2013 yang dilakukan penumpang maskapai Singapore Airlines, yang membawa 1,560 Kg shabu. Pelakunya 3 orang yakni MD (22) wanita asal Afrika Selatan,UA (35) lelaki kelahiran Nigeria dan seorang perempuan WNI berinisial LW (34). Untuk mengelabui petugas, mereka menyembunyikan shabu di dalam dinding

palsu di dasar koper. Kamis, 18 April 2013, diungkap penyelundupan paket narkoba sejenis kristal bening (Methamphetamine) atau shabu asal Dubai-Uni Emirate Arab yang dikirim melalui PJT. Modusnya, tersangka menyimpan barang haram dengan cara dibentuk kapsul dan dimasukan kedalam sabun batangs ebanyak 9 kapsul seberat 100 gram. Petugas menangkap HS (32) warga Pamulang Tangerang yang menerima paket barang haram ini.**** Edisi 17 >< Juni 2013

23


BERITA UTAMA FOTO: ISTIMEWA

Iwan Hermawan Kepala DJBC Tipe Madya Pebean Juanda, Jawa Timur I saat memperlihatkan barang bukti 6,6 kg shabu dengan tersangka Abdul Wahab.

6,6 Kg Shabu Terendus Anjing Pelacak Sindikat Para sindikat narkotika internasional tak pernah lelah menyelundupkan barang terlarang ke Indonesia. Berbagai modus dicoba. Kini berkedok sebagai wisatawan. Untungnya, niat jahat menghancurkan anak bangsa Indonesia terendus anjing pelacak di Bandara Juanda Surabaya.

P

esawat Silk Air dengan nomor penerbangan MI 266 rute New Delhi-Singapura-Surabaya, Senin 29 April 2013, sekitar pukul 17.50 WIB mendarat lancar di Bandara Internasional Juanda Surabaya. Sekitar 150 penumpang 24

Edisi 17 >< Juni 2013

turun dari pesawat, menuju terminal kedatangan internasional. Satu persatu penumpang diperiksa dokumen serta barangnya. Saat tas koper warna cokelat tua diperiksa melalui X-Ray, ada keganjilan dari isi koper itu. Bahkan,

Berkedok Wisatawan

anjing pelacak milik CNT (Custom Narcotics Team) mengendus adanya ketidakberesan benda asing yang mencurigakan. Petugas Bandara membiarkan koper itu tergeletak sambil menunggu siapa si pemilik koper misterius itu.


BERITA UTAMA Tak lama kemudian, seorang lelaki tua berkewarganegaraan asing yang mengenakan tas punggung warna hitam, dengan santai, penuh percaya diri bahkan sikap perilakunya tidak mencurigakan, mendekati lantas mengambil tas coklat. Petugas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Tipe Madya Juanda, Jawa Timur I, langsung mengamankan lelaki gaek itu. "Kecurigaan kami semakin kuat, saat melihat reaksi anjing pelacak milik petugas CNT terhadap warga negara asing itu sehingga kami melakukan penangkapan," papar Kepala DJBC Tipe Madya Pebean Juanda, Jawa Timur I, Iwan Hermawan kepada wartawan di Surabaya, Rabu 8 Mei 2013. Lelaki itu, bernama Abdul Wahab Bin Muhammada Taher (64 tahun), warga negara Singapura yang menggunakan paspor wisatawan. Saat koper dibuka berisi pakaian, dan tidak ditemukan barang mencurigakan. Petugas tak menyerah. Saat memeriksa dinding koper, tangan petugas menyentuh adanya keganjilan. Dinding koper pun dibuka, ternyata ada lempengan berbentuk alumunium foil dipipihkan, yang dilapisi plastik. Panjang lempengan disesuaikan dengan luas koper. Saat lempengan dibuka ternyata terdapat serbuk kristal putih. Setelah diuji laboratorium hasilnya ternyata methampethamin alias shabu. "Jumlah lempengan itu sebanyak empat buah. Jadi setelah ditimbang berat total shabu mencapai 6,64 Kilogram shabu dan harganya senilai Rp 13,2 milyar sesuai dengan harga pasaran perdagangan bisnis gelap narkoba," lanjut Iwan Hermawan. Modus penyelundupan dengan lempengan alumunium foil ini, lanjut dia, merupakan modus baru. Memang tujuannya untuk mengelabui petugas. Namun karena kekuatan petugas di lapangan yang semakin jeli mengendus ketidakberesaan barang milik penumpang, ditambah bantuan anjing pelacak, membuat petugas

FOTO: ISTIMEWA

Iwan Hermawan Kepala DJBC Tipe Madya Pebean Juanda, Jawa Timur I

DJBC Tipe Madya Juanda, Jawa Timur I, kian semangat untuk mencegah aksi penyelundupan narkoba. Menurutnya, jika dilihat dari penampilan Abdul Wahab memang sangat meyakinkan, profesional dan anggota sindikat jaringan internasional. Apalagi jalur yang ditempuh sampai ke Surabaya melewati perjalanan yang panjang. "Pengakuan sementara Abdul Wahab, barang terlarang ini titipan dari rekannya berinisil AB saat dia berada di New Delhi India. Namun untuk pengembangan lebih lanjut kita serahkan ke pihak kepolisian," tandasnya. Selanjutnya, 6,64 kilogram shabu dan A b d u l Wahab Bin Muhammada Taher diserahkan ke pihak Direktur Reserse Narkoba Polda Jawa Timur untuk penyelidikan lebih lanjut. Iwan Hermawan menambahkan penggagalan aksi penyelundupakan narkoba ini adalah penemuan terbesar kedua, setelah pada tahun 2008 berhasil mengamankan narkoba jenus shabu seberat 8 kilogram dari seorang penumpang yang datang melalui Bandara International Juanda Surabaya. Jaringan Terputus Kasubdit I Direskoba Polda Jawa Timur, AKBP Sudirman mengatakan, pengungkapan penye-

lundupkan shabu kualitas satu dari jaringan sindikat narkotika internasional ini, terus dikembangkan sampai tuntas. Memang kesulitan dari pengungkapan kasus narkoba karena sindikat menggunakan jaringan terputus. Dengan kata lain, satu sindikat dengan sindikat lainnya tidak kenal. "Karena itu, kami sudah menghubungi pihak Mabes Polri melalui email, agar segera dilakukan pengejaran terhadap tersangka AB, anggota jaringan yang mengendalikan penyelundupan ini dari India. AB sudah ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO)," papar AKBP Sudirman. DPO AB mengontak Jakarta agar mengirim barang haram ini ke Surabaya. Rencananya setiba di Su-rabaya, Abdul Wahab dijemput seseorang di Bandara Juanda. Diduga penjemput di Surabaya keburu kabur setelah mengetahui Abdul Wahab ketangkap. "Nah, sampai kini masih kami selidiki dan dikejar sang penjemput itu," sambungnya. Kepada petugas, tersangka Abdul Wahab mengaku baru sekali ini menjadi penyelundup narkoba jenus shabu. Namun berdasarkan riwayat paspor yang dimilikinya, Abdul Wahab kerap datang ke Indonesia dengan visa kunjungan wisatawan. Selain di Surabaya, Abdul Wahab juga pernah singgah di Jakarta, Solo, Batam, Aceh, dan Padang. "Ini menunjukkan tersangka Abdul Wahab sudah berulang kali diduga menyelundupkan narkoba ke Indonesia. Ya saat di Surabaya lagi apes ketangkap," tambahnya. Abdul Wahab dijerat dengan UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Pasal 113 ayat 1 dan 2, dengan ancaman pidana 15 tahun dan denda Rp 10 miliar. Karena shabu yang dibawanya lebih dari 5 gram, maka hukumannya akan ditambah dengan pidana mati, seumur hidup, atau paling lama penjara 20 tahun, dengan denda Rp 10 miliar ditambah sepertiga. *MU011 Edisi 17 >< Juni 2013

25


BERITA UTAMA FOTO: ISTIMEWA

Direktur Tindak Pidana Narkoba Kepulauan Riau Kombes Pol Agus Rohmat saat memperlihatkan barang bukti 2053 gram shabu dengan tersangka Ahmad Zainuddin.

TKI Selundupkan Heroin & Shabu via Pelabuhan Tikus Batam Nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI) selalu menyayat hati. Selain resiko yang dihadapi sangat besar, juga tak semua pekerja menerima gaji besar. Lantaran gajinya rendah, tawaran mengantarkan barang haram dari Malaysia ke Indonesia pun dijalani. Demi menambah pendapatan, meski resiko hukumannya mati.

S

uasana Pantai Tanjung Bemban Kel. Batu Besar Kec. Nongsa - Kota Batam, nampak lenggang. Pelabuhan tikus ini, memang kondisinya jauh berbeda dengan pelabuhan umum. Selain tak ada petugas pengawas, juga rawan penyelundupan. Kamis 25 April 2013, sekitar pukul 26

Edisi 17 >< Juni 2013

09.30 WIB, Direktorat Reserse Narkoba Polda Kepulauan Riau (Kepri) mendapat informasi dari masyarakat bahwa di pantai tanjung Bemban, ada seorang Laki-laki dengan gerakgerik yang mencurigakan dengan membawa sebuah Tas ransel warna hitam merk Fenzdy. Lelaki itu, datang dari Johor Baru Malaysia dengan

menumpang spead boat. Tim Reserse Narkoba yang dipimpin Subdit 1 Ditresnarkoba Polda Kepri Kompol. Arif Bastari meluncur ke pelabuhan illegal di wilayah Nongsa, dan mendekati lelaki yang mencurigakan. Tim memariksa identitas lelaki itu, bernama Ahmad Zainuddin alias Ahmad bin Syakirun warga Sumenep Madura. Pemegang paspor No. A0234650 yang dikeluarkan Kantor Imigrasi Tanjung Perak Surabaya ini, juga diperiksa tas rangselnya. Semula menolak diperiksa dengan berbagai alasan. Akhirnya Ahmad menyerah. Saat tas rangsel dibuka ternyata berisi bungkusan kecil kemasan kopi


BERITA UTAMA Malaysia. Ternyata didalam bungkusan kopi itu berisi narkoba jenis heroin dan shabu. Hasil pemeriksaan narkoba itu terdiri, sebungkus besar plastik merk KOPI O didalamnya berisikan 10 bungkus kecil kemasan Malaysian Coffe AIK CHEONG, yang didalamnya terdapat serbuk kristal diduga shabu, yang dibungkus dengan plastik bening berat sekira 354 gram. Sebungkus besar plastik merk KOPI O didalamnya berisikan 11 bungkus kecil kemasan Malaysian Coffe AIK CHEONG, yang didalamnya terdapat serbuk kristal diduga shabu, yang dibungkus dengan plastik bening berat sekitar 424 gram. Sebungkus besar plastik merk ALICAFE, didalamnya berisikan 9 bungkus kecil kemasan Malaysian Coffe AIK CHEONG, yang didalamnya terdapat serbuk kristal diduga shabu, yang dibungkus dengan plastik bening berat sekira 317 gram. Sebungkus besar plastik merk KOPI PUTIH, didalamnya berisikan 12 nungkus kecil kemasan White Coffe yang didalamnya terdapat serbuk kristal diduga shabu yang dibungkus dengan plastik bening berat sekira : 424 gram. Sebungkus besar plastik merk KOPI PUTIH, didalamnya berisikan 13 bungkus kecil kemasan White Coffe, yang didalamnya terdapat serbuk kristal diduga shabu, yang dibungkus dengan plastik bening berat sekira : 536 gram. Sebungkus besar plastik merk SNIKERS, didalamnya berisikan 2 bungkus kecil kemasan Malaysian Coffe AIK CHEONG, yang didalamnya terdapat serbuk warna coklat diduga heroin, yang dibungkus dengan plastik bening berat sekira 68 gram. "Narkoba yang kami amankan totalnya seberat 2.053 gram shabu dan 68 gram heroin. Jika diuangkan barang terlarang ini totalnya Rp 3.3 miliar. Ahmad Zainuddin langsung kita tangkap dan ditahan di Polda Kepri," papar Direktur Narkoba Polda Kepri, Kombes Pol Agus Rohmat didampingi Kepala Subdit 1 Ditresnarkoba Polda Kepri Kompol.

FOTO: ISTIMEWA

Kompol Arif Bastari, Kasubdit i Dit Naarkoba Kepri

Arif Bastari dalam keterangan di Jakarta, Senin 13 Mei 2013. Pengakuan tersangka Ahmad Zainuddin, lanjut Kombes Pol Agus Rohmat, sudah berulangkali keluar masuk Malaysia sebagai pekerja bangunan dengan gaji yang rendah. "Tersangka kembali ke Malaysia dua minggu lalu, karena butuh uang untuk membantu perawatan ibunya yang sedang sakit di Sumenep Madura," ungkapnya. Karena bekerja bangunan dianggap gajinya tidak mencukupi, Ahmad Zainuddin mencari pekerjaan tambahan. Hingga bertemu dengan Haris, warga negara Indonesia yang tinggal di Malaysia, untuk membawa barang dengan imbalan Rp 10 juta dari Malaysia ke Madura. Pesan Haris sesampai di Batam, Ahmad Zainuddin diminta mengontak temannya bernama Sudir sekaligus diberi nomor handphone untuk diberi tiket dari Batam ke Surabaya sekaligus imbalan uang antar barang sebesar Rp 10 juta. Sesampai di Ba-tam, A h m a d Zainuddin pun mengontak Sudir. Namun lama tidak datang hingga akhirnya dia dibekuk polisi. Menurut pengakuan Ahmad Zainuddin, terpaksa melakukan peker-

jaan sebagai kurir untuk menambah penghasilan sebagai tenaga kerja Indonesia di Malaysia, yang gajinya sangat rendah. Saat bekerja sebagai buruh bangunan di Malaysia, dia dikenalkan sesama teman buruh bangunan kepada Haris, dengan ditawari pekerjaan mengantarkan barang dengan bayaran yang sangat tinggi. "Karena saya butuh uang, orderan membawa narkoba saya jalankan. Namun lagi apes malah ketangkap. Padahal saya butuh uang karena ibu saya di desa Sumenep Madura sedang sakit," katanya polos. Tersangka Ahmad Zainuddin dijerat pasal 112 ayat (2) yo pasal 113 ayat (2), yo pasal 114 ayat (2) yo pasal 132 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman seumur hidup dan pidana denda paling banyak Rp10 miliar. Sejak Januari hingga awal April 2013, Direktorat Reserse Narkoba Polda Kepulauan Riau mengungkap 31 kasus narkoba dengan jumlah tersangka 42 orang. Barang bukti yang diamankan sebanyak 23.007,23 gram ganja, shabu 3.604,55 gram, 31 butir ektasi, 68 gram heroin, serta 20 butir happy five. *MU02 Edisi 17 >< Juni 2013

27


LIPUTAN KHUSUS

BULAN KEPRIHATINAN KORBAN NARKOBA

Bukan Sekedar Wacana Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam menyambut Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) tahun 2013, yang mana puncak acara akan dilaksanakan 26 Juni 2013 di Istana Negara. Dalam menyambut HANI tersebut BNN telah menetapkan Bulan Juni sebagai Bulan Keprihatinan Korban Narkoba, yang dilaksanakan selama sebulan mulai 1 Juni hingga 30 Juni 2013, yang bertajuk "Bulan Keprihatinan Korban Narkoba", Ujar Direktur Peran Serta Masyarakat BNN selaku Ketua Palaksana Drs. Siswandi.

P

pereda-ran narkoba yang masih terus melonjak. Lebih memprihatinkan lagi, kesadaran masyarakat terhadap korban narkoba sangat rendah. Dari sisi pengguna narkoba, berdasarkan data BNN saat ini diperkirakan mencapai 4 jutaan orang, yang umumnya generasi muda, termasuk pelajar dan mahasiswa. Mencermati jumlah sebanyak itu, bisa disebut sebagai situasi gawat darurat narkoba. Apalagi jika membaca data prevalensinya dari tahun ke tahun selalu mengalami grafik yang cenderung bergerak naik. Hasil penelitian BNN dan Puslitkes UI (2011), menyebutkan tahun 2011, angkanya sebesar 2,2 % dari jumlah penduduk Indonesia. Bahkan diperkirakan naik menjadi 2,56 % pada tahun 2013, juga melonjak 2,80 % pada 2015. Juga, setiap hari tidak kurang dari 50 orang meninggal akibat over dosis mengkonsumsi narkoba. Data Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham), mengungkapkan saat ini ada 19 Lapasustik (Lapas Khusus Drs. SIswandi Narkotika) menampung Dir Peran Serta Masyarakat BNN

rihatin, lantaran jumlah pengguna narkoba yang grafiknya kian naik. Prihatin karena penanganan terhadap korban narkoba masih sangat terb a t a s . Prihatin terhadap dampak serta efek yang ditimbulkan. Prihatin mengingat

28

Edisi 17 >< Juni 2013

58.000 orang tahanan kasus narkoba juga korban penyalahgunaan narkoba. Dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) maupun Rumah Tahanan (Rutan) di daerah yang tidak punya Lapasustik, maka mencampurkan para tahanan korban narkoba dengan para bandar, pengedar narkoba juga napi kriminal seperti kasus pembunuhan, perampokan, dan kejahatan lainnya. Selain itu, sekitar 18.000 pengguna narkoba yang tertangani rehabilitasi. "Masih ada 3,920.000 korban narkoba yang belum bisa ditangani panti rehabilitasi. Banyak faktor penjebatnya keterbatasan jumlah panti rebah, termasuk Pusat Rehab milik BNN di Lido Sukabumi sudah penuh, folentir dokternya masih kurang untuk menangani korban narkoba, termasuk penjaranya sudah penuh," komentar Drs. Siswandi, Direktur Peran Serta Masyarakat BNN Anggota DPR RI Di tempat terpisah Anggota DPR RI dari Komisi VIII, Marwah Daud Ibrahim menilai bahwa permasalahan narkoba harus menjadi tanggungjawab kita semua. Narkoba dapat mengancam generasi muda serta kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, tanpa kepedulian terhadap korban narkoba yang terus berjatuhan dan saya sangat senang bila dapat bekerjasama membantu Badan Narkotika Nasional dalam mensosialisasikan bahaya narkoba demi menyelamatkan masyarakat dari bahaya narkoba. Disamping itu saya akan mengajak masyarakat untuk berperan aktif membantu pemerintah di dalam upaya Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) Ketua Umum Gerakan Mencegah Daripada Mengobati (GMDM) mengatakan, penanganan korban narkoba, tidak mudah serta tidak sesimple yang dibayangkan. Pasalnya, pengguna narkoba tidak bisa dipulihkan. Maksudnya dipulihkan itu mereka yang


LIPUTAN KHUSUS

Marwah Daud Ibrahim Anggota Komisi VIII DPR RI

Jefri Tommy Tambayong Ketua Umum GMDM

Azhar Soerjobroto Sekjen GRANAT

usai menjalani perawatan, tiba-tiba rasa kangen untuk make lagi masih ada. Apalagi, komunitasnya salah pasti make lagi karena tidak ada pendampingan mentoring dan vadering. "Jadi mentoring untuk anak yang pakai narkoba, harus mentoring seumur hidup harus diawasi. Malah, mereka yang udah nikah aja harus diawasi karena dikhawatirkan tiba-tiba dia make lagi. Kita punya klien yang sudah lepas tapi dikomunitas yang salah, ternyata dia pake lagi," jelasnya. Karena itu, keprihatinan terhadap korban narkoba harus terjalin jaringan kerjasama sinergi lintas struktural, lintas suku, agama untuk berjuang bersama untuk pencegahan bahaya penyalangguanan narkoba. "Tugas ini jangan hanya diserahkan ke BNN atau Porli, namun harus berbergerak bersama tokoh-tokoh agama sampai ke grassroot," paparnya. Jadi bukan hanya Say No To Drugs, namun Fight Again Drugs (perang terhadap narkotika). Mengingat bagian prihatin terhadap korban narkotika, bukan sekedar omongan namun harus dilanjutkan dengan perbuatan nyata. "Jangan hanya omdo (ngomong doang), tapi perlu ada suatu amat perhatian yang amat sangat serius," sarannya. Menurutnya, selama ini fokusnya hanya ke penindakan namun korban barang terlarang perlu ada kepedulian seluruh masyarakat. Jangan korban narkoba itu dikucilkan, jangan dijauhi, dan harus diperhatikan, diajak ngomong. Juga jangan hanya bulan Juni saja untuk merasakan kepriha-

tinan. Dan jangan hanya prihatin atau kasihan saja, tapi harus bertindak. "Jadi ada prihatin, ada tindakan," ujar Jefri Tommy Tambayong selaku Ketua GMDM. Jefri mengaku sedih dengan korban narkoba yang tidak semuanya bisa tertampung di panti rehabilitasi. Kapasitas lembaga rehabilitasi baik yang dikelola pemerintah maupun masyarakat, hanya mampu menampung 0,4% dari seluruh penyalah guna narkoba yang berjumlah 4 juta orang hanya 18.000 orang yang tertampung dalam rehabilitasi. Untuk itu, kata dia, diperlukan keterlibatan seluruh komponen masyarakat dan pemerintah daerah, Kementerian terkait , lembaga pemerintah lainnya untuk mendorong terbentuknya tempat atau pusat-pusat rehabilitasi di seluruh Indonesia, sehingga program rehabilitasi untuk penanganan korban penyalahgunaan narkoba dapat berjalan secara optimal dan efektif, harapnya.

bagi penyalaguna narkoba. Saya kira jumlah rehab yang menggunakan banyak metode non medis, atau penyembuhan tradisional jumlahnya cukup banyak. Kenapa mereka tidak dirangkul, diberdayakan asalkan tujuannya sama untuk penyembuhan korban narkoba," saran Azhar. Selama ini, sambung Azhar, rehab dengan metode non medis bagi penyembuhan korban narkoba memiliki peranan strategis dalam membantu korban narkoba. Niat penyembuhan yang diterapkan mereka, patut dihargai dan mereka butuh dukungan terhadap upaya yang dilakukan. "Yang penting upaya mereka bukan untuk tujuan komersial saja, namun saya kira tujuan mereka murni untuk menolong umat yang terjerumus narkotika," paparnya. GRANAT menilai di perusahaan pemerintah maupun swasta ada anggaran khusus program CSR (Corporate Social Resposibility) yang digunakan untuk kepedulian sosial masyarakat. "Nah anggaran CSR ini, bisa dialihkan untuk mendirikan panti rehabailitasi, kan niatnya sama untuk menyelamatkan anak bangsa," sambungnya. Hal senada juga diutarakan Mohammad Edi Santoso, Ketua Umum Gerakan Anti Narkoba dan Kriminalitas (Gandakrim). "Dalam bulan keprihatinan korban narkoba, prioritas utamanya adalah penanganan rehabilitasi. Panti Rehab yang ada, ternyata daya tampung sudah tak mencukupi, apalagi panti rehab swadaya masyarakat juga sudah penuh," tandasnya.

Penyembuhan Tradisional Sekjen Gerakan Anti Narkotika (GRANAT) Azhar Soerjobroto mengakui masalah keprihatinan korban narkoba, adalah terbatasnya panti rehab. Apalagi daya tampung yang ada saat ini sudah tidak mencukupi dengan jumlah korban narkoba, yang jumlahnya terus bertambah. Sehingga korban narkotika tidak tahu harus kemana untuk berobat. "Saya harapkan BNN untuk merangkul seluruh pihak yang bergerak, dalam upaya penyembuhan

Edisi 17 >< Juni 2013

29


LIPUTAN KHUSUS

Mohammad Edi Santoso Ketua GANDAKRIM

Anny Murniyati Sekjen DPP FPPI

Nafi'satul Khoiriyah Pengurus Pusat Lembaga Daâ&#x20AC;&#x2122;wah PBNU

Dikatakan, jika melihat kondisi panti rehab yang ada sudah tak menampungnya, maka kedepan pemerintah harus mempunyai anggaran khusus untuk membangun panti rehab yang baru. Apalagi di setiap kementrian, selalu ada program Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). "Inikan mubazir. Masak kementrian ada anggaran untuk P4GN, kan lebih baik dimasukan ke BNN. Jadi untuk keuangan negara ini untuk pemberantasan ya, percayakan saja semua sama BNN. BNN yang kelelolah satu pintu. Dan untuk pertanggung jawabannya lebih gampang, dimana BNN yang bertanggung jawab," sarannya. Prioritas kedua, tambah dia, seluruh Ormas dan LSM anti narkoba harus mendukung program ini, Juga memiliki komitmen yang kuat untuk bersatu mendukungnya. "Saya yakin, para gembong narkoba akan takut sama rakyat yang sudah bersatu. Penjahat narkoba itu, tidak takut dengan kekuatan senjata, kekuatan militer. Jadi takutnya dengan kerbersatuan para Ormas, LSM dan rakyat yang bersatu," jelas Edi.

Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) didampingi Dra. Hj. Utari Soekanto, Bendahara Umum FPPI. Memang, lanjut Anny, korban narkoba kini sudah menyerang kepada para pelajar mulai SD hingga SMA. Lebih menyedihkan lagi para pelajar sudah memakai narkoba kelas berat. Ada yang main suntik, ada yang mencapur minuman dengan narkoba, juga berbagai macam cara pemakain lainnya. "Melihat kondisi itu, FPPI sudah melakukan pergerakan dengan sosialisasi bahaya narkoba ke pelajar SMP 1 Jakarta, pengajian wanita, ibuibu rumah tangga di beberapa daerah di penjuru nusantara. Tujuannya jangan sampai mereka menjadi korban narkoba yang sudah merasuk pelosok Indonesia," harapnya. FPPI menyarankan hendaknya genarasi muda banyak melakukan kegiatan positif, dan menghindari kevakuman kegiatan karena dengan tidak ada kegiatan maka gampang dimasuki niat jahat untuk mengkonsumsi narkoba. "Bagi korban narkoba hendaknya melakukan aktifitas yang lebih, mendatangi pengajian atau kegiatan kerohanian. Kegiatan spiritual ini sangat penting untuk mencegah pemakaian lebih jauh lagi," katanya. FPPI juga menyarankan kepada orang tua selalu merangkul anaknya yang menjadi korban narkoba. "Tidak malah menghindari, menjauhi. Lebih baik rangkul dan menasehati, ajak komunikasi. Juga menyalurkan bakat anaknya ke kegiatan positif," sarannya. Sementara Pengurus Pusat Lembaga Da'wah Pengurus Besar Na-

dhatul Ulama (PBNU) Nafi'satul Khoiriyah menambahkan kegiatan Bulan Keprihatinan Korban Narkoba harus dijadikan momen yang sangat baik, dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memberikan perhatian seditel mungkin terhadap hal-hal yang akan memincu potensi menuju banyaknya pengguna narkoba. "Sekarang ini kita miris, karena sudah masuk kepada komponen anakanak sekolah. Hal ini sudah menjadi keprihatinan kita. Artinya pemandangan umum ya mungkin dari BNN bukan saja tataran kegiatan itu pada hal-hal yang sifatnya seremonial, tetapi langsung kepada teknis, bagaimana sesungguhnya program yang tepat bisa diarahkan untuk memiminize munculnya korban-korban pengguna narkoba," ungkapnya. Pihaknya prihatin dengan kondisi korban narkoba yang sudah melanda seluruh daerah pelosok di Indonesia. "Bayangkan saya pernah datang di Lapas Brebes, ternyata hampir 80 persen penghuninya terkait kasus narkoba. Padahal itu daerah sangat agamis tetapi pengguna narkobanya. Ini kan sangat luar biasa," ucapnya. Juga pernah mendatangi daerah terpencil, ternyata juga banyak yang menjadi korban narkoba. "Intinya masalah narkoba sudah marak di pelosok daerah. Masalah ini harus menjadi perhatian bersama, juga yang menjadi perhatian kita bagaimana pengobatan atau rehabilitasi terhadap mereka. Inilah korban narkoba yang ada di daerah," katanya sambil prihatin. *MU02

Perempuan Indonesia Mendukung Program Bulan Keprihatinan Korban Narkoba juga mendapat dukungan dari organisasi perempuan Indonesia. "Saya sangat setuju dengan digelarnya Bulan Keprihatinan Korban Narkoba oleh BNN. Karena ini menunjukkan rasa kepedulian, solidaritas dan keprihatinan terhadap para korban narkoba," kata Anny Murniyati, Sekjen DPP 30

Edisi 17 >< Juni 2013


LIPUTAN KHUSUS

KETUA UMUM GANNAS, NYOMAN ADI FERI

Apakah Grasi Narkoba Hanya Untuk Bandar Korban narkoba di republik ini, kurang diperhatikan. Mereka dipenjarakan, padahal bukan pelaku kriminal. Mereka juga takut melaporkan ke polisi sebagai pengguna narkoba, alasannya takut ditangkap. Mereka juga tidak pernah mendapat grasi dari presiden. Justru yang dapat grasi adalah para gembong narkoba. Inilah nasib korban narkoba. Ketua Umum Gerakan Anti Narkoba Nasional (GANNAS) Nyoman Adi Feri mengungkapkan kondisi korban narkoba kepada majalah UNGKAP di Jakarta, pekan lalu. BNN bikin program Bulan Keprihatinan Korban Narkoba, sejauhmana manfaatnya? Program ini memang baik. Banyak manfaatnya. Bahkan langkah seperti itu yang kita harapkan bersama. Karena mereka yang menyalahgunakan ujungnya pasti menjadi kecanduan. Dari kecanduaan larinya akan menjadi pengedar, bandar. Nah sebelum terjerumus lebih jauh, perlu diantisipasi sejak dini. Dicarikan solusi karena korban narkoba juga manusia. Terus terang, awal 2009, GANNAS sudah melakukan penjangkauan terhadap korban narkoba. Kita kerjasama dengan Lido, yang ditandatangani Kombes Agus agar korban narkoba bisa direhab. Juga, pra Undang-undang Narkotika 35 tahun 2009 disahkan, kita sudah peduli terhadap penyalahguna, peduli dengan pecandu. Karena kita menilai, korban narkoba tak perlu diproses pemidanaan, juga tak perlu diadili. Tapi, diberikan waktu dan ruang agar mereka tidak dipenjara melainkan direhabilitasi.

sebagain negara sudah tak memberlakukan lagi mempidanakan korban narkoba, namun diberikan waktu dan ruang yang ada kurun waktunya. Nah, cara seperti kan bisa diterapkan di Indonesia. Namun, itu terserah pemerintah apakah setelah 2 kali tertangkap baru ketiganya diproses pidana atau ada solusi lain yang penting jangan dipidanakan. Memang, pemidanaan ada efek fungsinya agar jera dan tak mengulangi perbuatannya lagi. Kenyatannya jika pecandu dipidana dia keluar dari penjara, namanya pecandu jelas make lagi, lalu ketangkap lagi, dipenjara lagi. Sampai kapan masalah ini berakhir. Padahal, penyalahguna narkoba bukan penjahat. Dia adalah orang yang mungkin terpengaruh dan lain sebagainya. Artinya penyalahguna bukan pecandu. Jika pencandu pasti pengguna dalam konten hukum kita. Kenyataannya, banyak korban narkoba yang Kenapa sih ga kita ampuni saja atau dikasih worning dipenjara... sampai dua kali, sekali pake lagi resikonya sangat berat. GANNAS pernah diundang dalam sidang internasional Juga kalau penyalaguna direhab, apanya yang perlu PBB tentang korban penyalahgunaan narkoba. Ternyata direhab, orang dia bukan pecandu. Contoh kasus Raffi Edisi 17 >< Juni 2013

31


LIPUTAN KHUSUS Ahmad. Jika kita berbicara rekam medis, maka hasil rekam medis Raffi Ahmad bukan pecandu. Terus dia dimasukan kepanti rehab, mau diapain kecuali panti rehabnya itu rehab sosial atau rehab religius. Selain itu, yang paling penting bagi kita penyalahguna, pecandu, pengedar, bandar, penyelundup narkoba harus dipisah kasus per kasusnya. Jangan dicampuraduk. Buktinya, sekarang ini pengedar, bandar, penyelundup, pecandu samasama dimata hukum, dimasukan kedalam penjara. Berarti kondisi penyalahguna narkoba tentu lebih parah lagi..... Ya, dong. Bayangkan jika sekarang penyalahguna ditangkep dimasukan penjara, penjara itu kan tidak stelir kalau pecandu dimasukan penjara dia seneng kalau ada barang apalagi komunitas dia ada, pasti mereka betah, happy. Namun jika penyalagguna maaf ngomong lagi soal Raffi Ahmad dimasukan kepenjara, nah apa akibatnya? bisa-bisa dia main di komunitas disitu. Apa tidak tambah parah?. Jadi artinya perlu pemisahan. Dan kita perlu melakukan evaluasi secara serius. Hasil pengumpulan data GANNAS, penyalahguna dan pecandu yang diproses hukum pengadilan dan divonis pidana dengan tidak mendapatkan hak rehab, jumlahnya sekitar 13.000 orang. Ini kan menyedihkan. Karena itu, ngapain mereka dipenjara. Saya pernah ketemu pak Anang (Kepala BNN). Dia bikin buku dan mengatakan kalau penyalahguna dan pecandu dimasukkan penjara, hati saya menanggis. Cuma beliau sebagai kepala BNN kan ga boleh ngomong terlalu vulgar. Nah nasab kami seperti itu. Karena itu, kami menunggu hasil dari pemerintah terhadap masalah pencandu dan penyalahgunaan agar mendapatkan rehab. Bayangkan, butuh waktu 200 hingga 250 hari seorang korban narkoba menjalani proses penahanan, yang dimulai dari penangkapan sampai persidangan hingga vonis pengadilan. Bayangkan untuk mendapatkan hak rehab apa butuh waktu yang lama seperti itu. Ini kan memakan waktu, tenaga bahkan uang APBN untuk makan mereka cukup besar. Bukankah undang-undang bagi penyalahguna dan pecandu sangat ketat? Begini, konsep Undang-undang 35 tahun 2009 tentang narkotika bahwa penyalahguna, pecandu yang tidak melaporkan dirinya, kemudian ketangkap, jelas dia adalah pelaku kriminal. Bahkan didalam Undang-undang 35 tahun 2009 yang dikaitkan PP 25 tahun 2011, jika penyalahguna, pecandu sudah melaporkan diri namun dalam perjalanannya dia ditangkap, maka dia tidak dipidana melainkan direhabilitasi. 32

Edisi 17 >< Juni 2013

Terus terang, kita kan tidak mau mengkriminalkan penyalahguna dan pecandu, tapi kenyataanya kenapa masih disamakan. Saya waktu rapat PBB hampir 50% hukum negara tidak lagi menggunakan hukum badan sebagai efek jera. Dikaitkan dengan PP 25 Tahun 2011, kan ada penjangkauan. Jadi lebih baik diumumkan saja ke halayak bahwa siapa sebagai penyalaguna maupun pencandu hendaknya agar melaporkan diri untuk diobati. Justru yang menjadi pertanyaan, jika nanti dia ketangkap, apa langkah seperti ini efektif atau tidak? Juga umumnya, korban narkoba takut lapor karena namanya dianggap sudah masuk dalam daftar hitam di kepolisian. Apalagi sekarang polisi sudah tidak lagi, yang namanya memberikan penyuluhan, bimbingan dan sosialisasi namun langsung pemberantasan, penindakan. Jadi nggak ada ampun. Karena itu, banyak korban narkoba tidak berani lapor..... Kenyataannya begitu. Undang-undang termasuk PP nya belum berpihak pada korban narkoba. Dengan kondisi keprihatinan korban narkoba ini, mungkin melatari BNN untuk menggelar program ini. Dengan sebuah harapan bisa menggugah kita semua untuk membuka mata dan hati beginilah kondisi korban narkoba di Indonesia. Terkait dengan masalah itu, GANNAS akan mengadakan seminar nasional judulnya "Grasi Bagi Terpidana Pecandu Narkotika", intinya penyalahguna dan pecandu yang sudah divonis pidana dan tidak mendapatkan hak-hak rehabilitasi, akan dimohonkan untuk mendapatkan grasi kepada presiden. Mengingat, banyak penyalahguna dan pecandu narkoba yang dihukum penjara selama 4 tahun, karena pengadilan selalu menyatakan mereka terbukti menguasai barang dan memiliki barang tanpa hak berupa narkotika, yang tidak dijontohkan pasal 127 pasti kena hukuman yang sangat berat. Padahal seharusnya penyalahguna dan pecandu narkoba itu dihukum rehab, malah dijebloskan ke penjara. Karena itu, kami mencoba akan melakukan pengajuan grasi kepada Presiden. Saat ini kami melakukan pendataan secara masal di tingkat nasional, yang kita pilih siapa-siapa aja yang berhak untuk mendapatkan grasi. Namun ada kriteria yang akan kami ajukan. Dan pertama kali kita ajukan dulu yakni mahasiswa dan pelajar untuk mendapatkan grasi. Terus terang, saya ini benar-benar prihatin, sekarang Presiden memberikan grasi kepada pengedar, bandar, penyelundup yang notabenanya membunuh dan menghancurkan anak bangsa. Lho kenapa justru korban narkoba yang tidak diberi grasi. Karena meraka adalah korban, yang seharusnya mendapat perhatian. (endy)


LIPUTAN KHUSUS

SADAR, PEDULI & KOMITMEN

Ciptakan Lingkungan Bersih Narkoba

B

erbagai cara dilakukan untuk menangani masalah narkoba. Dari upaya pencegahan, yang diharapkan masyarakat menjadi imun, mempunyai pertahanan diri untuk tidak mudah diajak melakukan penyalahgunaan narkoba. Juga, upaya terapi rehabilitasi yang bertujuan memulihkan pecandu agar keluar dari ketergantungan, serta upaya penegakan hukum agar ada efek jera bagi para bandar dan pengedar. Namun, ada hal yang luar biasa dalam menangani masalah narkoba yakni peran pemberdayaan masyarakat. "Peran aktif seluruh komponen masyarakat sangat diharapkan. Mengingat, korban narkoba terus berjatuhan, jika tak ada yang peduli. Pengedar dan bandar narkoba kian leluasa bermain, berkerja sama dengan sindikat. Juga oknum penegak hukum akan leluasa bermain dengan penjahat narkoba," kata Dik Dik Kusnadi Bc.IP S.Sos MM, Kasubdit Lingkungan Kerja dan Masyarakat BNN di Jakarta, pekan lalu. Hal ini bisa terjadi, lanjut Dik Dik, jika masyaraklat cuek, acuh tak acuh serta tak peduli, sehingga tak ada sosial kontrol. Tak ada yang berupaya menghambat atau menghentikanya. Kondisi ini jelas sangat memprihatinkan. Apalagi, korban narkoba terus berjatuhan per hari 50 nyawa melayang sia-sia. Kondisi ini, jelas sangat mengancam kita semua. "Sayangnya, masyarakat belum juga menyadari bahaya narkoba. Apalagi peduli. Untuk itu sangat tepat bila di Hari Anti Narkoba Internasional tahun ini, Kepala BNN menetapkan bulan Juni sebagai Bulan Keprihatinan Korban Narkoba," tandasnya. Paling tidak masyarakat dibuat sadar, narkoba mengancam kita semua. Kita harus terus meningkatkan kewaspadaan.Saatnya kita berbuat dan tidak lagi berpangku tangan menjadi penonton. Berbuatlah, jangan menunggu keluarga kita terkena baru berbuat, tambahnya. Dikatakan, peringatan HANI bukan ajang hura-hura, tapi mengingatkan masyarakat akan keprihatinan, kegetiran hati para ibu yang anaknya menjadi korban narkoba.

Dik Dik Kusnadi Bc.IP S.Sos MM Kasubdit Lingkungan Kerja dan Masyarakat BNN saat presentasi di PT. Garuda Indonesia, Jakarta.

Bukan hanya karena barang-barang yang habis dijual, tapi perjuangan memeluk buah hati kembali pulih. Idealnya penanganan penyalahgunaan Narkoba seperti menangani kebakaran. Saat kebakaran masyarakat tak perlu dikomando. Tapi dengan penuh semangat berupaya semaksimal mungkin memadamkan api. Mereka tidak diam, meski mengetahui ada petugas pemadam kebakaran, mereka tidak menunggu pemadam kebakaran memadamkan api, namun segera bertindak, ucapnya. Tindakan itu dilakukan karena sadar betul jika mereka tetap diam, mereka akan terbakar. Dalam mengatasi masalah Narkoba di lingkungan sekitar, masyarakat harus proaktif dengan tidak tinggal diam. Bla tetangga jadi korban Narkoba, namun mencoba membantu menyampaikan, menginformasikan bahwa pecandu jangan takut untuk melapor. "Laporan akan diarahkan kepada Balai Rehabilitasi BNN dan mendapatkan penanganan secara gratis. Jangan menunggu ditangkap, karena apabila tertangkap dan diproses secara hukum maka proses akan menyita waktu, tenaga, pikiran bahkan materi," katanya. Karenanya masyarakat dapat melakukan upaya menciptakan lingkungan bersih dan bebas dari narkoba. Caranya mudah. Perlu komitmen dan kebersamaan niat yang kuat untuk menyelamatkan warganya, dengan cara mengumpulkan para tokoh agama, tokoh

masyarakat, tokoh pemuda, karang taruna untuk membuat komitmen. Komitmen antara lain mensosialisasikan tentang banyaknya korban Narkoba. Upaya itu hendaknya dilakukan dalam setiap pertemuan warga, seperti arisan dan pengajian. Dibutuhkan juga doa yang menggetarkan hati dari tokoh agama untuk senantiasa mendoakan bandar dan pengedar dalam setiap kesempatan agar mendapatkan hidayah untuk berubah. Mereka juga memiliki anak dan keluarga yang harus diselamatkan. Saya berkeyakinan cara ini cukup efektif untuk mengetuk hati para bandar dan pengedar. "Dari aspek pemberantasan, masyarakat bekerjasama aparat penegak hukum seperti Polsek atau Polres bila menemui masalah terkait Narkoba. Juga adanya sangsi social warga dengan membuat spanduk bertuliskan kesepakatan warga “Kami menolak adanya penyalah gunaan Narkoba di tempat kami!” Juga perlu diaktifkan kembali aturan 1x24 jam tamu wajib lapor," paparnya. Ditambahkan, kepedulian akan membuat lingkungan terjaga dan tidak memberikan ruang kepada bandar dan pengedar. Lebih baik menjaga lingkungan tetap ‘hijau’ terhindar dari penyalahgunann Narkoba. Jangan biarkan lingkungan menjadi ‘merah’ (sarat dengan peredaran Narkoba) karena sulit menanganinya, seperti yang terjadi pada Kampung Permata yang tak kunjung dapat diatasi. *** Edisi 17 >< Juni 2013

33


LIPUTAN KHUSUS

Turis asing saat membubuhkan tandatangan di Bundarah HI didampingi Dir. Pertamas BNN Drs. Siswandi

Satu Juta Tanda Tangan Sambut Bulan Keprihatinan Korban Narkoba B

erjuang melawan Narkoba tidak harus melalui pengungkapan kasus, tetapi dapat dilakukan dengan memiliki kepedulian yang tinggi, berperan Aktif dalam berbuat, serta berkomitmen membuat lingkungan bersih dari narkoba. Bahkan menginformasikan kepada semua lapisan masyarakat bahwa narkoba memiliki dampak negatif yang luar biasa. "Tak bisa dipungkiri, Narkoba itu barang laknat, menyesatkan, haram dan banyak mudarat ketimbang manfaatnya. Bagi pengguna yang terjerumus barang terlarang narkoba berarti ada tiga jalan yang ditempuh dengan penuh kesesatan, yakni rumah sakit, penjara dan kuburan menanti," papar Direktur Peran Serta Masyarakat BNN Drs. Siswandi dalam 34

Edisi 17 >< Juni 2013

acara tatap muka dengan Ormas Gerakan Mencegah Daripada Mengobati (GMDM) di Jakarta, Rabu (8/5). Saat ini, lanjut Siswandi, terdapat 50 orang meninggal dunia sia-sia setiap hari akibat narkoba. Kondisi ini sangat mengenaskan, mengingat korban yang meninggal mayoritas adalah generasi penerus pemegang estafet dari bangsa dan negara Indonesia. "JIka tidak diantisipasi sejak dini, korban yang meninggal grafiknya akan terus bertambah," tegasnya. Ketua Umum Badan Kordinasi Gerakan Mencegah Daripada Mengobati (GMDM) Jeffry Tambayong menyampaikan sangat mendukung BNN dalam mencanangkan Bulan Keprihatinan Korban. Mengingat korban narkoba saat ini sangat memprihatinkan. Prihatin dalam arti

jumlahnya sangat tinggi mencapai 4 juta orang Indonesia. "Juga prihatin karena dari jumlah itu yang masuk rehabilitasi sangat kecil, sekitar 200.000 orang sesuai data di BNN. Nah, ini butuh kepedulian semua pihak untuk menangani masalah korban narkoba," ungkapnya Selain itu, GMDM mengajak semua komponen masyarakat untuk membangun kepedulian bersama dengan melakukan SATU JUTA TANDA TANGAN, yang akan dimulai sejak Mei 2013 dan di Gebyarkan pada puncak acara Bulan Keprihatinan Korban Narkoba hari Sabtu tanggal 1 Juni 2013 di Lapangan Upacara Mabes Polri. "Dengan tanda tangan ini, menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menolak keberadaan narkoba,


LIPUTAN KHUSUS juga peduli dengan korban narkoba yang jumlahnya sangat besar. Kalau bukan kita yang peduli terhadap mereka para korban

narkoba, lantas siapa? karena mereka adalah anak bangsa, keluarga kita, saudara kita yang terjerumus dalam

jurang kesesatan akibat ulah sindikat narkoba yang hanya mencari keuntungan semata," sambung Jeffry. ***

Irtama BNN Drs. Sulistiyono M.Si saat tandatangan bersama dengan Direktur Advokasi Dr. Victor Pudjiadi, Sp.B.

Dirlantas Polda Metro Jaya KBP Dr. Chrysnanda, M.Si saat membubuhkan tandatangan di Bundaran HI. Edisi 17 >< Juni 2013

35


LIPUTAN KHUSUS

36

Edisi 17 >< Juni 2013


LIPUTAN KHUSUS

Edisi 17 >< Juni 2013

37


LIPUTAN KHUSUS

Setulus Hati Bantu Korban Narkoba

M

antan pecandu narkoba buka kartu tentang narkoba yang membelenggu kehidupannya. Bukan hanya hidup berantakan yang dialaminya, namun harus masuk program rehabilitasi berulang kali yang melelahkan, membuang waktu, tenaga, dan pikiran. Kini mereka sudah sembuh, dan keinginkan menggebu membantu korban narkoba dijalani setulus hati. Boy, salah seorang mantan korban narkoba yang kini bergabung dengan YKPI (Yayasan Keluarga Pengasih Indonesia) di Jalan Asia Afrika Stadion Tenis I Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta mengaku mulai terpelosok dalam lingkaran narkoba sejak tahun1994, saat masih duduk dibangku SMP di Jakarta. "Bagaimana pahitnya menjadi korban narkoba sudah saya lalui. Mulai dari rusaknya pendidikan sampai disekolahkan ke luar negeri oleh ortu saya. Namun pendidikan yang saya enyam menjadi berantakan," jelas Boy yang menjadi pecandu narkoba selama 20 tahun. Berantakan tidak hanya pada dunia pendidikan, bahkan hubungan dengan orang tua, pekerjaan dan rumah tangga. Untuk memulihkan kondisinya, bermacammacam pusat rehabilitasi sudah dijalaninya. Namun hasilnya tak ada perubahan. "Saya sadari kejatuhan hidup saya karena saya sendiri yang tidak mampu menghadapi tekanan hidup," tuturnya. 38

Edisi 17 >< Juni 2013

Kini Boy tetap menjaga kondisi pemulihan dari ketergantungan barang terlarang. "Memang dukungan keluarga, lingkungan teman-teman, masyarakat juga negara dapat membantu dalam pemulihan saya untuk menjadi manusia yang lebih baik," harapnya. Harapan yang diidamkan yakni rasa ingin membantu sesama korban narkorba, kini dijalani dengan sepenuh hati. "Saya ingin membagi pengalaman, sharing dengan korban narkoba, termasuk mengajak anak muda untuk menjauhi narkoba," sambung Boy. Sementara Andrea - seorang recovering addict atau mantan pecandu narkoba mengaku awalnya hanya cobacoba membuat pakai barang terlarang dari tahun 2002. "Saya mulai pakai narkoba, pada akhir pekan sekali. Ternyata malah menjadi pecandu aktif," jelasnya. Sejak menjadi pecandu aktif, kehidupan Andrea menjadi berantakan. Sekolah tidak kosentrasi, juga perilaku menjadi tidak terkendali. "Awalnya saya yakin pasti bisa menjalani hidup dengan tetap memakai. Ternyata keyakinan saya semu karena susah juga menjalani hidup dalam ketergantungan narkotika," tandasnya. Karena kondisinya semakin parah, tahun 2010, Andrea masuk rehabilitasi dengan tujuan untuk mengubah hidupnya. "Setelah keluar dari rehabilitasi saya bisa bertahan untuk tidak mengkonsumsi narkoba. Setelah berjalan satu tahun enam bulan, saya kembali pakai lagi," kenang Andrea. Namun kecanduan kedua kalinya, kondisi kehidupan Andrea semakin berantakan. "Dari segi apapun, saya kembali mengecewakan orang-orang yang sayang kepada saya," katanya. Tahun 2012, Andrea kembali masuk rehabilitasi. Perasaan sakit, pahit, getir bercampur malu, kecewa menyelimutinya. "Tengah malam saya sempat bangun tidur, saya berontak bahkan tidak terima dengan kondisi dan nasib yang sama alami. Saya berjanji harus mengubah hidup saya," ucapnya. Setelah menjalani peogram rehabilitasi, Andrea mengikuti training untuk menjadi staff counselor adiksi karena tetap ingin mempertahankan pemulihan, membahagiakan, membanggakan orang tua dan ingin membantu orang-orang yang menjadi korban narkotika. "Terus terang kehidupan saya setelah lepas dari belenggu narkoba, saya bisa beraktifitas, dan produktif lagi. Saya bisa kembali menjadi manusia yang bisa hidup normal. Bahkan, sekarang saya dapat menter-tawakan masa lalu saya. Juga memperingatkan kepada diri saya pribadi agar tidak jatuh ke lobang yang sama," sambungnya. *MU02


LIPUTAN KHUSUS

Edisi 16 >< April 2013

39


KOMUNITAS

“ Lingkungan Sekolah Wajib Bersih dari Narkoba “ Para Pelajar memandang perlu segera dibentuk gerakan pelajar anti narkoba. Dengan gerakan ini, para pelajar di seluruh Jakarta bahkan Indonesia, akan berperan aktif untuk ikutserta membantu menekan kasus penyalahgunaan narkoba, utamanya dikalangan pelajar SMP maupun SMA.

S

elain itu, gerakan ini akan me numbuhkan kesadaran di kalangan pelajar untuk tidak coba-coba mengkonsumsi narkoba. Mengingat, pengguna narkoba di kalangan usia pelajar masih cukup tinggi. Juga, pelajar sangat rentan kena narkoba. “Saya setuju lingkungan sekolah harus bersih narkoba. Memang kita harus melakukan upaya-upaya nyata agar pengguna narkoba di kalangan pelajar bisa ditekan serendah mungkin,” komentar Sherly Nofiani Mandah Dewi Fatah, pelajar SMK Perguruan Rakyat di Srengseng Sawah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Sherly yang menghadiri acara Ikrar Anti Narkoba bagi Masyarakat Jagakarsa, yang digelar di Situ Babakan, pekan lalu melanjutkan gerakan ini memiliki nilai strategis dan penting bagi para pelajar, yang menjadi sasaran empuk menjadi calon pengguna narkoba, yang menjadi penghancur masa depan pelajar. Pelajar kelas X Akuntan ini mengakui melalui gerakan ini, para pelajar akan memperoleh pengetahuan, pelajaran dan pengalaman banyak 40

Edisi 17 >< Juni 2013

tentang bahaya narkoba yang lebih mendalam. Mengingat, selama ini pengetahuan soal narkoba di kalangan pelajar masih sangat minim. “Terus terang, sosialisasi narkoba di kalangan pelajar jarang sekali. Saya dapat pengetahuan soal bahaya narkoba saat pertama kali masuk SMK, itupun hanya pengetahuan yang dasar. Juga baca media massa,” tambah Sherly yang ingin menjadi pelapor anti narkoba karena bisa

menyelamatkan banyak orang dari bahaya narkoba. Hal senada diutarakan Wisna Tania, pelajar SMK Perguruan Rakyat kelas X PSR2. “Gerakan Pelajar bebas dari belenggu narkoba harus digelorakan. Karena para pelajar semakin tahu dan menyadari betapa jahatnya narkoba terhadap kehidupan. Jadi menurut saya sangat penting dibentuk gerakan itu,” paparnya.


KOMUNITAS

Wisna mengaku tidak tahu siapa yang memulai pembentukan gerakan itu. “Ya, bisa BNN atau pemerintah, kalau sudah terbentuk maka disosialisasikan di seluruh sekolah SMP maupun SMA di Indonesia. Selama ini belum ada gerakan itu,” jelas Wisna, yang diamini teman sekolah Windi Dwi Juliana dan Shiva Risma Putri. Harapan Wisna, Windi dan Shiva dengan terbentuknya gerakan itu, para pelajar punya tekad yang besar untuk tidak bergaul dengan narkoba. Juga, yang lebih penting, para pelajar akan mendapatkan ilmu baru tentang bahaya narkoba. “Bagi saya dan teman-teman acara ikrar anti narkoba ini, baru pertama kali didapat. Dan saya benar-benar buta soal apa itu narkoba,” ucap Wisna. Rina Agustina, guru Akuntan SMK Perguruan Rakyat mengaku prihatin dengan data yang dilansir Brigjen Pol. Drs Siswandi, Direktur Peran Serta Masyarakat BNN bahwa saat ini terdapat 4 hingga 5 juta orang pengguna narkoba di Indonesia. Dari angka perkiraan itu, sebagian besar penggunanya adalah kalangan generasi muda seperti pelajar. “BNN juga memprediksi tak

kurang dari 50 orang meninggal akibat narkoba setiap tahunnya. Mellihat fakta itu, memang BNN, polisi atau pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian untuk mengatasi persoalan penyalahgunaan narkoba. Harus ada upaya yang serius dan masif dari seluruh masyarakat, termasuk para pelajar,” kata Rina. Diakuinya, selama ini penyuluhan, sosialisasi, diskusi tentang bahaya narkoba dikalangan pelajar masih

sangat kurang. Padahal, para pelajar sangat butuh informasi soal narkoba. Karena dengan informasi itu, para pelajar akan mengetahui lebih mendalam, mengenal dampak dan bahaya yang ditimbulkan juga akan menumbuhkan kesadaran untuk tidak coba-coba dengan narkoba. Apalagi saat penyuluhan sosialisasi maupun diskusi itu diselengi dengan testimoni korban narkoba, sehingga para pelajar akan sadar dan lebih memahami terhadap bahaya narkoba. “Terkait dengan gerakan antoi narkoba bagi pelajar juga sangat penting. Karena masalah narkoba di negeri ini sudah lampu merah, berbahaya dan harus terus digencarkan gerakan-gerakan anto narkoba,” sambung Rina. H Usmayadi Msi, Sekretaris Kota Jakarta Selatan mengakui acara ikrar anti narkoba bagi warga dan pelajar Jagakarsa sangat penting, strategis dan benar-benar bermanfaat. Karena masyarakat dan pelajar akan memahami bahaya narkoba, sehingga semakin sadar untuk tidak mengkonsumsi narkoba, “Event seperti ini memang baru pertama kali digelar, dan akan diadakan disetiap wilayah lain di kawasan Jakarta Selatan. Karena manfaatnya sangat besar sekali. Memang, Indonesia tidak akan bebas narkoba jika tidak didukung dengan berbagai kegiatan seperti ini, juga peranserta masyarakat ikut berperan memberantasnya,” tambah Usmayadi. *MU02

Edisi 17 >< Juni 2013

41


KOMUNITAS

Steril Narkoba Gaya Mahasiswa Pamulang

D

isela-sela pelaksanaan ujian tengah semester, sekitar 40 mahasiswa Universitas Pamulang (Unpam) Tangerang masih menyempatkan diri menggikuti Forum Group Discastion (FGD) yang digelar Subdit Lingkungan Pendidikan Direktorat Peran Serta Masyarakat Deputy bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN, di kampus Unpam Tangerang, Senin 6 Mei 2013. Diskusi yang berlangsung selama tiga jam, mengambil tema "Stop Narkoba" Narkoba telah Masuk Keseluruh Komponen Masyarakat, Bangsa dan Negara Indonesia, mendapat perhatian serius para mahasiswa Unpam dari jurusan Fakultas Hukum dan Fakultas Pendidikan. "Event ini memiliki nilai strategis, dan sangat penting karena mahasiswa mendapatkan pengetahuan bahkan 42

Edisi 17 >< Juni 2013

pengalaman berharga berkaitan dengan dampak buruk bahaya penyalahgunaan narkoba," papar Wakil Purek III Unpam Ir. Sewaka MM saat membuka Forum Group Discastion "Stop Narkoba". Selain itu, lanjut Sewaka, untuk mengatasi penyalahgunaan narkoba di lingkungan kampus diperlukan upaya serius dan masif tidak hanya dari pemerintah namun juga semua lapisan masayarakat, termasuk perguruan tinggi serta mahasiswanya. â&#x20AC;&#x153;Kita menyadari upaya pemberantasan narkoba oleh BNN dan aparat penegak hukum tidaklah cukup. Perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi swasta harus berkontribusi dengan melakukan upaya nyata diantaranya dengan gerakan kampus bersih narkoba dan mendirikan pusatpusat studi atau kajian narkoba," ucap

Wakil Purek III Unpam Ir. Sewaka MM didampingi Asisten Wakil Purek III Soebandrio. Karenanya gerakan kampus bersih narkoba dan pendirian pusat studi atau kajian narkoba diharapkan dapat membantu BNN dalam upaya pemberantasan narkoba. "Terus terang saya bangga dengan mahasiswa Unpam, yang punya komitmen besar untuk bersama-sama memberantas narkoba di lingkungan kampus, " sambungnya serius. Nurnaningsih SH, Kasubditlingdik mengatakan BNN selaku vokal point upaya P4GN tidak mungkin dapat bekerja sendiri tanpa partisipasi dan sinergitas dari seluruh komponen masyarakat, khususnya mahasiswa Unpam. Kami mendorong dan memberdayakan peranaktif civitas academica dalam kegiatan upaya P4GN seperti misalnya pelatihan, seminar narkoba dan pembuatan spanduk pagelaran seni budaya P4GN di lingkungan kampus, yang penting proses ke arah terwujudnya lingkungan kampus bebas narkoba yang harus diwujudkan. Dalam diskusi, Andrian dari Fakultas Hukum Unpam menyarankan agar zat-zat metilon baru seperti kasus Raffi Ahmad dapat dituangkan dalam peraturan perundang-undangan, sehingga punya payung hukum yang jelas. Karena hingga kini zat metillon belum tercantum dalam undang-undang. Syafruddin dari Fakultas Hukum meminta UU 35 tahun 2009 pasal 117 agar segera direvisi, dengan menambahan agar anak dibawah umur yang menggunakan narkoba supaya mendapat pembinaan. ****


KOMUNITAS

KEPRIHATINAN LANSIA TENTANG NARKOBA

‘Amit-amit Jangan Sampai Anak, Cucu, Cicitku Pakai Narkoba’ “Aku itu sangat prihatin lho, anak-anak jaman sekarang suka pakai Narkoba”, ujar nenek rohani (yang lahir tgl 3 Agustus 1943) yang saat ini telah mempunyai 5 orang anak dan memiliki cucu 13 orang, serta cicit 8 orang, alhamdulilah semua nya tidak ada yang menggunakan narkoba. Hal tersebut disampaikan saat warga Jagakarsa melakukan Ikrar Anti Narkoba pada Hari Kartini, Minggu 21 April 2013.

S

aya sangat setuju warga Jagakarsa telah melakukan Ikrar Anti Narkoba yang di pelopori oleh H. Joko Wiranto, semoga warga Jagakarsa baik anak remaja maupun ibu-ibu PKK serta tokoh Agama, tokoh Masyarakat maupun LSM semuanya komitmen menolak dan membantu BNN untuk memberantas peredaran gelap narkoba demi menyelamat kan nasib generasi penerus bangsa kita. Dalam Ikrar Anti Narkoba ini dihadiri oleh pelajar, mahasiswa, LSM, tokoh agama/masyarakat, serta seluruh komponen yang ada di Jagakarsa. Dalam kesempatan tersebut hadir juga wakil Walikota Jakarta Selatan, Camat Jagakarsa, Polsek Jagakarsa, serta anggota DPRD Jakarta Selatan. Direktur Peran Serta Masyarakat BNN, Brigjen Pol. Drs. Siswandi dalam sambutannya menyampaikan antara lain bahwa BNN mengucapkan terima kasih serta apre-

Nenek Rohani

siasinya terhadap panitia yang diketuai oleh H. Joko Wiranto yang telah peduli terhadap keselamatan anak bangsa dari bahaya narkoba. Diha-

rapkan muncul lagi tokoh-tokoh yang berikrar, menyatukan komitmen dalam membuat lingkungan bersih dari peredaran narkoba. MU003 Edisi 17 >< Juni 2013

43


KOMUNITAS

Kasubdit Lingjamas BNN Dik Dik Kusnadi, Bc.IP, S.sos, MM, saat diskusi dengan LSM Gandakrim.

Narkoba, Masyarakat Kian Kritis

F

orum Group Discastion (FGD) berkaitan bahaya narkoba yang digelar LSM Gerakan Anti Narkoba dan Kriminalitas (GANDAKRIM), didukung Direktorat Peran Serta Masyarakat BNN, mendapat sambutan luar biasa. Bahkan sangat antusias mengiku Sambutan itu dari sekitar 50 buruh PT NW industri, perusahaan yang bergerak di Industri Turbin di kawasan Bekasi. Juga digelar di kawasan Perumahan Pejuang Pratama serta Perkampungan Pejuang Kec. Medan Satria RW 06 Bekasi Kota, yang dihadiri sekitar 60 warga sekitar. "Masyarakat kian kritis terhadap permasalahan narkoba. Ini menunjukkan kesadaran terhadap bahaya narkoba sudah mulai tumbuh, bahkan penolakan terhadap peredaran barang terlarang sudah berkembang cukup bagus," papar Ketua LSM GANDAKRIM Muhammad Edi Santoso usai FGD di Bekasi Kota, Selasa (7/5). Sikap kritis itu muncul, lanjut Edi, saat terjadi dialog. Ada yang menanyakan kenapa di kafe-kafe atau tempat hiburan malam masih ada 44

Edisi 17 >< Juni 2013

Sisha, alat isap rokok gaya Arabia yang bisa jadi dimasukin narkoba. "Juga ada yang protes dengan kalimat Narkoba harus bisa dicegah mulai dari dini. Pengertian dari dini itu da dua makna. Dini dari sisi kesehatannya atau dini dari wilayah peredaran yang kian marak. Bahkan ada yang menanyakan masih beredarnya obat batuk yang mengandung bahan amphetamien yang bisa membuat kecanduan," sambung Edi. Selain itu, mempertanyakan tindakan aparat terhadap para pecandu lem Ibon, yang hingga kini belum pernah diamankan. "Menghirup lem Ibon berulang kali, dampaknya bisa kecanduan dan merusak otak syaraf. Sayangnya mereka tidak pernah ditindak, "katanya. Edi mengakui saat ini masyarakat sudah banyak yang tahu soal bahaya narkoba dan sudah tahu dampak negatif yang ditimbulkannya. Juga antusiasme buruh dan warga Bekasi kota dalam memerangi narkoba, membuktikan bahwa lingkungan wilayahnya ingin bersih dan bebas dari peredaran narkoba. Memang kawasan Pejuang, terutama di daerah pasar dan jalan raya,

selama ini dikenal sebagai daerah rawan kriminalitas serta peredaran gelap narkotika. Untuk mengatasi itu, LSM GANDAKRIM bersama masyarakat sekitar akan membangun PosSwadaya Terpadu, yang dibawahnya dipakai untuk Pos penjagaan dan diatasnya dipakai untuk tempat istirahat keluarga. "Pos swadaya ini untuk menekan angka kriminalitas sekaligus menghilangkan stigma bahwa kawasan ini sebagai tempat peredaran gelap narkoba. Sehingga program P4GN dapat terwujud dengan baik," sambung Edi. Direktur Peran Serta Masyarakat BNN Drs. Siswandi menilai sikap kritis masyarakat ini sudah menunjukkan adanya kesadaran serta peran serta masyarakat dalam memberantas narkoba. Meski demikian, kita tidak boleh berpuas diri karena masih banyak yang belum memahami bahaya narkoba, terutama kalangan generasi muda. "Untuk mengatasinya kita harus terus berjuang untuk mensosialisasikan bahaya narkoba, menyadarkan generasi muda untuk menjauhi narkoba dan menggugah generasi bangsa agar ikut serta memeranginya," harapnya. ***


Edisi 17 >< Juni 2013


Apa Kata Mereka

Dewi Yull

Narkoba Meracuni Keluarga P

enyanyi top era tahun 1990 an, Dewi Yull sedih dengan maraknya anak muda yang menjadi korban narkoba. Kondisi ini bukan hanya menyengsarakan serta merusak kondisi kesehatan

46

Edisi 17 >< Juni 2013

maupun masa depan anak itu sendiri. Namun orang tua (ortu) pun menjadi korban. "Narkoba itu seperti ular kobra yang meracuni keluarga. Artinya yang susah bukan hanya korbannya, tapi juga meracuni keluarga. Nama baik ortu dipertaruhkan, menghabiskan waktu, dana, tenaga dan pikiran agar anaknya bisa sembuh. Ini kan menyesarakan keluarga," tutur Dewi Yuli saat silahturahmi dengan Direktur Peran Serta Masyarakat BNN Drs. Siswandi di BNN Jakarta, Jumat (10/5). Solusinya, lanjut wanita kelahiran Cirebon, 10 Mei 1961, ortu wajib mengawasi pergaulan anaknya. "Jangan percaya kebaikan anak sesaat. Banyak kasus anak pura-pura baik di depan keluarga, ternyata pakai narkoba. Juga harus waspada. Dan jangan dididik secara ketat, karena hasilnya nggak baik, sang anak bisa berontak akibat stress, frustasi," saran ibu empat anak. Juga bagi anak muda disarankan jangan sekali-kali mencoba dekati, bergaul apalagi memakai segala macam jenis narkoba. "Jika sudah menggunakan narkoba, bukan hanya diri sendiri yang hancur berantakan namun keluarga mengalami kehancuran yang sama," tandas Penyanyi Pop Wanita Terbaik AMi Awards 2001. Pengamatan Dewi Yull, korban narkoba akibat kelemahan dirinya sendiri, kelemahan hatinya, personalitynya tak berdaya. Pasalnya korban kan punya sikap, punya nurani, punya pikiran, tahu efek dan dampak negatif jika memakainya. Juga kelemahan ortu yang kurang mengawasi, kurang memahami apa yang diinginkan anak, kurang mau mengajak ngomong dengan anaknya, kurang kurang memberi nasehat. "Umumnya orang tua streng kepada anaknya. Jangan ini, jangan itu, nggak boleh begini-begitu, tapi tak pernah memberi solusi jalan terbaik. Juga nggak mau dengar saat anak mengalami masalah. Akibatnya anak mencari pelarian ke teman, lingkungan dan orang lain, termasuk lari ke narkoba," tegasnya serius. *MU02


Apa Kata Mereka

Mpok Atiek

Dukung Bulan Keprihatinan Korban Narkoba A

rtis serba bisa Mpok Atiek tidak mau kalah dengan artis muda, yang akhir-akhir ini banyak yang tergelincir kasus narkoba. Apresiasi Mpok Atiek memang sangat beda. Bukan ikutikutan jadi korban narkoba, melainkan mendukung BNN dalam mendeklarasikan Bulan Keprihatinan Korban Narkoba, yang dilaksanakan BNN sebulan penuh, dari 1 Juni 2013 hingga 30 Juni 2013. Atiek Riwayati, nama asli Mpok Atiek mengaku prihatin dan sedih dengan kondisi korban narkoba sekarang ini. Apalagi menimpa

sejumlah selebriti, yang seharusnya sebagai publik figur menjadi contoh yang baik, bukan malah merusak diri dan karienya dengan modus yang salah yakni lari ke dunia narkoba. “Emang sudah parah dengan banyaknya pemberitaan soal selebriti jadi korban narkoba. Amitamit, yang belum terlibat narkoba jangan sampai menggunakan. Karena dampak buruknya dapat menghancurkan nama baik, karier juga keluarga yang tak ikut apa-apa kena getahnya,” papar artis kelahiran Cirebon 28 Februari 1956, di Jakarta, Minggu

(19/5). Pelawak wanita yang dikenal dengan kelatahannya menyarankan sudah saatnya para selebriti nasional menatap ke depan yang lebih baik lagi, dan tidak mencobacoba maupun ikut-ikutan ke jalan yang menyesatkan dengan memakai narkoba. Bagi para selebriti yang menjadi korban narkoba hendaknya insyaf, sadar, segera kembali ke jalan yang benar dan tidak jatuh ke lubang yang sama. “Buat apa beli narkoba, lebih baik uang ditabung untuk kebutuhan masa depan,” sarannya Terkait Bulan Keprihatinan Korban Narkoba, Mpok Atiek sangat mendukung kegiatan ini. “Para korban narkoba juga harus menjadi perhatian bersama. Karena mereka menjadi korban. Mereka butuh kepedulian dan perhatian kita agar tidak terjerumus lebih dalam lagi,” sambungnya dengan tersenyum. *MU01

Edisi 17 >< Juni 2013

47


Apa Kata Mereka

Bemby Putuanda

Sadarlah, Para Korban Narkoba P

emain film dan Pesinetron Bemby Putuanda tidak habis pikir dengan membaca data para korban narkoba di Indonesia, mencapai 4 juta orang. Lebih memprihatinkan lagi, sekitar 50 orang meninggal dunia setiap harinya. Masalah ini memang harus menjadi perhatian bersama. Bukan hanya pemerintah, namun masyarakat termasuk keluarga. "Sadarlah, para pengguna untuk tidak lagi menggunakan Narkoba. Mengkonsumsi narkoba bukan hanya merusak kesehatan, namun juga menghancurkan masa depan, karier, dan keluarga" tandas Bemby Putuanda usai silahturahmi dengan Direktur Peran Serta Masyarakat BNN Drs. Siswandi di gedung BNN Jakarta, Rabu 22 Mei 2015. Juga, lanjut lelaki kelahiran 6 Mei 1974, mengajak generasi muda yang masih mengkonsumsi barang haram segera berhenti, dan menjauhi narkotika karena jika tidak sekarang kapan lagi. "Dan korban narkoba merenungi untuk menyadari sepenuh hati bahwa apa yang dilakukan adalah perbuatan yang salah, nggak benar," tambah suami Lia Agustin. Bapak dua anak Saisabila dan Zulfikar Nurrahim Putuanda menambahkan selain direhab dan merenung diri, juga pemahaman ruang lingkup agama memang perlu terus ditanamkan. "Karenanya terkait dengan Bulan Kerpihatinan Korban Narkoba yang digelar BNN, saya menyambut baik dan mendukung program ini. Mengingat, korban narkoba adalah orang pesakitan yang perlu mendapat perhatian. Beda dengan gembong, bandar, pengedar narkoba yang tujuannya mencari keuntungan semata sekaligus merusak mental generasi muda, ini yang harus ditindak tegas," pesan Bemby Putuanda yang suka nasi dan ayam goreng. *MU03

40 48

Edisi 17 >< Juni 2013


Apa Kata Mereka

Verlita Evelyn

Korban Narkoba Jangan Takut Melapor K

orban narkoba grafiknya terus meningkat. Sayangnya para korban barang laknat itu, banyak yang menyembunyikan diri, tidak melapor, tidak berobat ke panti rehabilitasi dan tidak mau berkonsultasi dengan pakar maupun ahlinya. Hal ini disebabkan banyak faktor. Ada yang malu karena sebagai pengguna juga takut ditangkap. "Saya cuma bisa menghimbau agar para pemakai atau korban narkoba hendaknya jangan malu-malu, juga jangan takut untuk mengakui sebagai pengguna. Karena jelas akan merugikan diri sendiri," tandas Verlita Evelyn, bintang film, pesinetron dan model cantik usai silahturahmi dengan Direktur Peran Serta Masyarakat BNN Drs. Siswandi di gedung BNN Jakarta, Rabu 22 Mei 2015. Verlita Evelyn Raymond, nama sesuai KTP melanjutkan korban narkoba juga harus bisa mencari solusi agar bebas dari ketergantungan terhadap barang terlarang. "Berdasarkan info yang kami terima untuk pemakai narkoba jangan takut melaporkan diri kepada aparat terdekat, karena jika melapor tidak akan ditangkap dan akan direhabilitasi," tandas gadis kelahiran Surabaya, 3 Desember 1983. Pemain sinetron Cinta Fitri mengaku punya kerinduan melakukan sesuatu dalam memberantas narkoba. Bahkan ingin menjadi Duta Anti Narkoba, salah satunya aktif berperan serta dalam acara Bulan Keprihatinan Koraban Narkoba yang akan dilaksanakan oleh BNN tanggal 1 Juni 2013 di Lapangan Uacara Mabes Polri Jl. Trunojoyo Jakarta Selatan. "Terus terang, saya secara pribadi untuk memilih lingkungan dimana saya harus bergaul agak susah, karena profesi yang saya geluti imagenya identik dengan narkoba. Meski image itu tidak sepenuhnya benar, jadi sebisa mungkin saya memagari diri untuk tidak terpengaruh dengan hal yang berbau narkoba, kalau bisa kita yang memberikan pengaruh positif kepada lingkungan kita," pesan Mahasiswi jurusan Public Relation di Interstudy juga mantan cover girl majalah remaja saat usia 18 tahun. *MU03

Edisi 17 >< Juni 2013

49


Apa Kata Mereka

Ikang Fauzi

Langkah Tepat BNN Pro Korban Narkoba A

ktor dan musisi kawakan Ikang Fawzi menilai sangat tepat langkah Badan Narkotika Nasional (BNN), yang membikin program pro korban narkoba, dalam menyambut Hari Anti Narkotika Internasional 2013, pada 26 Juni ini. "Jumlah korban narkoba di Indonesia grafiknya kan naik. Butuh penanganan serius mulai hukumnya hingga rehabilitasi. Karena aku baca di media, ternyata banyak korban narkoba belum direhabailitasi. Nah, ini tugas BNN agar memperhatikan," saran Ahmad Zulfikar Fawzi, nama lengkapnya saat ditemui Majalah Ungkap pada peluncuran BebasBeser On-Clinic di Jakarta, pekan lalu. Namun demikian, lanjut suami Marissa Haque, jangan sampai ada skenario yang tidak baik. Maksudnya, harus benarbenar korban narkoba yang mendapat perhatian. Bukan pengedar, bandar atau gembong narkoba yang juga mengkonsumsi barang haram ini yang mendapatkan rehabilitasi maupun perlindungan hukum. Rocker kelahiran Jakarta, 23 Oktober 1959 menilai sebenarnya pengguna narkoba itu tindakan orang bodoh. Juga mereka ingin sesuatu yang lebih, namun malah keblabasan. "Penilaian aku hidup itu jangan berlebihlebihan terus. Kalau mau lebih, kan lebih baik soal kualitas saja. Bukan dengan cara tindakan bodoh memakai barang sesat seperti ini," tandas bapak dua anak Isabella Muliawati Fawzi, dan Marsha Chikita Fawzi. Ditanya apakah tidak khawatir jika suatu saat anaknya terjerumus narkoba? "Rasa khawatir itu jelas ada, namun aku optimis anakku terhindar dari berbagai hal buruk. Karena selalu menanamkan kebiasaan baik, berdialog, menasehati. Jadi Alhamdullilah gak punya pikiran untuk coba-coba," jawab Ikang yang populer sejak Merilis album "Selamat Malam" tahun 1985. Juga, tambah dia, membiarkan putri-putrinya belajar mengambil keputusan sendiri. "Privasi mereka aku nggak mau ganggu. Aku bilang ke istri juga begitu. Jangan sekali-sekali nggak percaya sama anak. Karena kepercayaan itu, anakku selalu jujur soal aktivitasnya. Aku bersyukur tak pernah konflik dengan anakku," katanya bangga. *MU02

50 44

Edisi 17 >< Juni 2013


Edisi 17 >< Juni 2013

51


KAMPUS FOTO : KOPRAL

Edi Hasibuan anggota Kompolnas saat diwawancarai media.

Kompolnas Dukung BNN Berdayakan Kampus P

rogram BNN melalui Direktur Peran Serta Masyarakat, Drs. Siswandi, yang melakukan Rapat Koordinasi di Wisma PKBI Kebayoran Baru Jakarta Selatan dengan 47 Kampus se-Jabotabek dalam upaya menciptakan kampus bebas narkoba sangat mendapat apresiasi dari Kompolnas. Kompolnas sangat mendukung bahwa kampus harus berperan aktif dalam menciptakan lingkungan kampus bebas narkoba. “Saya sangat mendukung bila kampus dapat berperan aktif dalam 52

Edisi 17 >< Juni 2013

menciptakan kampus bebas narkoba, BNN maupun POLRI tidak bisa berjalan sendiri dalam pemberantasan narkoba tanpa adanya keterlibatan semua komponen masyrakat tentunya. Salah satunya adalah komponen akademis yaitu melalui kampuskampus. Acara ini sangat tepat dan saya dukung.” Hal tersebut dikatakan oleh Edi Hasibuan dari Kompolnas. Dalam acara Rakor Kampus tersebut juga Drs. Siswandi mengatakan akan membuat acara

lomba kampus dalam menyikapi kampus bebas narkoba. “Seperti lomba karya tulis tentang peran serta kampus dalam mewujudkan P4GN, lomba cipta lagu yang bernuansa bebas narkoba, atau lomba karikatur yang menunjukkan bahwa civitas akademika memerangi narkoba, atau spanduk slogan, blender maupun baliho yang akan kita dilombakan,” ujar Drs. Siswandi dalam menyampaikan materi tentang pemberdayaan kampus dalam upaya mewujudkan P4GN. *MU04


KAMPUS

DIR. PERTAMAS BNN DRS. SISWANDI :

Tanpa Dukungan Kampus akan Sia-sia A

nak bangsa yang mati sia-sia akibat narkoba setiap harinya mencapai 50 orang. Korban tersebut mayoritas usia produktif (20-35 tahun). Hal tersebut disampaikan Direktur Peran Serta Masyarakat BNN, Drs. Siswandi dalam acara Rapat Koordinasi BNN dengan kampus di Wisma PKBI, Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Untuk meyelamatkan generasi muda yang berjatuhan akibat narkoba diharapkan kepada rekanrekan civitas akademika untuk mendukung dan berperan aktif dalam menciptakan lingkungan kampus bebas narkoba. Tanpa dukungan kampus, hal yang mustahil BNN maupun POLRI dapat mencegah maupun

memberantas peredaran gelap yang merambah ke seluruh pelosok tanah air. Mari kita berkomitmen dan bertindak bahwa kampus steril terhadap masuknya narkoba di dunia kampus, sehingga tidak ada peredaran gelap narkoba yang dilakukan oleh oknum mahasiswa maupun mahasiswi. *MU04 Edisi 17 >< Juni 2013

53


KAMPUS

LOMBA KAMPUS BEBAS NARKOBA 2013

Menggugah Kreativitas Mahasiswa

Drs. Siswandi Dir Pertamas BNN

Gaung kampus bersih narkoba terus dikumandangkan. Kini, Direktorat Peran Serta Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN) menggugah kreativitas mahasiswa, dengan menggelar Lomba Kampus Bebas Narkoba 2013. Langkah ini, bagian dari peran serta serta partisipasi mahasiswa agar menolak keberadaan narkoba. Sambutan positif pun menggaung.

L

ebih dari 29 perwakilan kampus di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek) menyambut positif even lomba kampus bersih dari Narkoba. Jumlah ini diharapkan terus bertambah, mengingat informasi lomba terus disebar ke seluruh kampus di wilayah ini. Lomba yang digelar dalam rangka pra HANI (Hari Anti Narkotika Indonesia) bertajuk “Pemberdayaan Kader Lingkungan Kampus Bebas Narkoba dalam upaya P4GN Se54

Edisi 17 >< Juni 2013

Jabotabek” ini, dilaksanakan mulai Senin 29 April 2013 hingga 29 Mei 2013. Selama satu bulan, mahasiswa diharapkan memberikan sajian performa yang terbaiknya. Lomba Kampus yang dilaksanakan ini, menyangkut : 1. Kreatifitas Branding AntiNarkoba di Lingkungan Kampus. 3. Kreatifitas Tembang dan tentang Narkoba. 3. Kreatifitas Seminar sehari Narkoba. 4. Kreatifitas Karya Tulis tentang Narkoba. Dan Kreatifitas Sajak tentang Narkoba. Kegaiatan bernuasa kreativitas ini, memiliki tujuan mulia. Bagi para mahasiswa akan menciptakan ide yang kreatif, positif dan aspiratif dalam memerangi bahaya narkoba. Juga, dapat menumbuhkan kesadaran sekaligus berperan serta untuk membantu BNN dalam memerangi narkotika. Bagi perguruan tinggi, menjadi pelopor utama sebagai kampus yang bersih dan bebas dari narkoba. Sehingga para mahasiswanya bisa merasakan rasa nyaman, tenang, damai, dan tentram dalam menuntut ilmu. Bagi Direktorat Peran Serta Masyarakat BNN yang mengajak seluruh Civitas Akademika untuk mewujudkan P4GN sesuai Inpres No. 12 thn 2011 dan UU Narkotika pasal 104-105, bisa terlaksana dengan baik. Memang, diperlukan upaya serius dan masif dari pemerintah dan semua lapisan masyarakat, termasuk perguruan tinggi dalam menolak keberadaan narkoba. “Kegiatan Lomba kampus bersih narkoba ini, sangat positif, banyak

manfaatnya juga memiliki nilai moral dan kreativitas yang tinggi. Kami dari Kampus Budi Luhur siap mensukseskannya," tegas Farid, perwakilan Universitas Budi Luhur Jakarta saat mengikuti rakor Pemberdayaan Kader Lingkungan Kampus Bebas Narkoba dalam upaya P4GN Se-Jabotabek” di Aula Bareskrim BNN Jakarta Timur, Senin 29 April 2014. Farid melanjutkan mahasiswa Universitas Budi Luhur Jakarta sudah menyiapkan beberapa kreteria yang dilombakan. "Mahasiswa kami masih merahasiakan apa yang akan disajikan terbaiknya. Tujuan kami ikut lomba ini menujukkan kampus kami sangat peduli untuk ikut dalam memerangi narkoba," tambahnya. Sementara perwakilan Universitas Indonesia Depok rencanannya menampilkan Paduan Suara “Paragita” yang akan digelar pada awal Bulan Keperihatinan terhadap korban Narkoba, yang digelar Sabtu 1 Juni 2013 di Lapangan Mabes Polri Blok M Jakarta. Direktur Peran Serta Masyarakat BNN, Drs. Siswandi menjelaskan rakor ini lebih membahas inti dari kegiatan lomba kampus bebas narkoba itu sendiri. Mulai dari pokok kegiatan perlombaan, tempat, jadwal kegiatan serta materi yang diperlombakan. Ini salah satu bukti dukungan dari Direktorat Peran Serta Masyarakat BNN dalam mengajak seluruh Civitas Akademika dalam mewujudkan P4GN sesuai Inpres No. 12 thn 2011 dan UU Narkotika pasal 104-105. *MU03


KAMPUS

Mahasiswa Al Azhar Prihatin Korban Narkoba Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang dilakukan lima mahasiswa Psikologi Universitas Al Azhar Jakarta, diluar kebiasaan. Mereka justru mendekati korban narkoba, yang berada di family support group Yayasan Keluarga Pengasih Indonesia (YKPI) Jalan Asia Afrika Stadion Tenis I Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta. Kelima Mahasiswa itu, Andrian Tama, Hapsari Amalina, Dya Adys Putri, Putri Devis dan Ulfah Abqoriyah hampir 3 bulan berada di lingkungan orang-orang terjerumus narkoba, yang ingin sembuh, bebas, lepas dari ketergantungan narkotika. "Sebelum mengikuti kegiatan YKPI, saya beranggapan orang-orang yang terjerumus narkoba adalah orang-orang yang bertindak kriminal, sehingga mereka harus dihukum seberat-beratnya. Bahkan perbuatannya dapat merusak generasi muda lainnya. Ternyata anggapan saya salah," komentar Ulfah Abqoriyah saat silahturahmi dengan Direktur Peran Serta Masyarakat BNN Brigjen Pol. Drs. Siswandi di gedung BNN Jakarta, Selasa 7 Mei 2013. Ternyata, lanjut Ulfah, para korban narkoba cenderung tidak bisa menata masa depannya. Bahkan selalu tergantung pada narkoba itu sendiri. "Kami juga merasa prihatin, saat ini banyak generasi muda yang terjerumus dunia narkoba," paparnya. Karena itu, kelima mahasiswa Al Azhar tertarik untuk lebih mengetahui tentang dunia adiksi. "Setelah kita mendapat banyak pengetahun dari korban penyalahgunaan narkoba," tandasnya. Perlahan-lahan sudut pandang para mahasiswa jurusan psikologi mulai berubah. "Ternyata narkoba bukan termasuk tindak kriminal karena ketergantungan narkoba merupakan suatu penyakit yang sewaktu-waktu bisa kambuh dan korban penyalahgunaan narkoba membutuhkan support agar mereka

Kelima Mahasiswa Universitas Al-Azhar Jakarta.

menjadi benar-benar pulih," sambung Hapsari Amalina. Ditambahkan dari kegiatan ini , kami menjadi mengetahui bahwa korban penyalahgunaan narkoba tidak seperti yang dipikirkan oleh masyarakat awan. Korban penyalahgunaan narkoba memiliki peluang sukses yang sama dengan orang lainnya. Para korban narkoba yang berada di YKPI, banyak yang mampu bangkit dari keterpurukan dan akhirnya mereka dapat berfungsi secara sosial. "Semua itu tidak terlepas dari dukungan orang tua, lingkungan dan masyarakat. Maka dari itu, kami mengajak generasi muda dan masyarakat untuk tidak hanya mencegah akan bahayanya narkoba. Namun juga peduli terhadap korban penyalahgunaan narkoba," sambungnya. Dinda, salah seorang korban narkoba yang bergabung dengan YKPI mengaku mulai terpelosok dalam lingkaran narkoba sejak tahun 1994, saat masih duduk dibangku SMP di Jakarta.

"Bagaimana pahitnya menjadi korban narkoba sudah saya lalui. Mulai dari rusaknya pendidikan sampai disekolahkan ke luar negeri oleh ortu saya. Namun pendidikan yang saya enyam menjadi berantakan," jelas Dinda yang menjadi pecandu narkoba selama 20 tahun. Berantakan tidak hanya pada dunia pendidikan, bahkan hubungan dengan orang tua, pekerjaan dan rumah tangga. Untuk memulihkan kondisinya, bermacam-macam pusat rehabilitasi sudah dijalaninya. Namun hasilnya tak ada perubahan. "Saya sadari kejatuhan hidup saya karena saya sendiri yang tidak mampu menghadapi tekanan hidup," tuturnya. Kini Dinda tetap menjaga kondisi pemulihan dari ketergantungan barang terlarang. "Memang dukungan keluarga, lingkungan teman-teman, masyarakat juga negara dapat membantu dalam pemulihan saya untuk menjadi manusia yang lebih baik," harapnya. *MU02 Edisi 17 >< Juni 2013

55


KAMPUS

Peran Serta Mahasiswa Perangi Narkoba Kian Marak

D

irektur Peran Serta Masyarakat BNN Drs. Siswandi sangat apresiasi terhadap peran serta mahasiswa di wilayah Jabodetabek dalam memerangi narkoba, yang kian marak. Hal ini terbukti dalam setiap Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di perguruan tinggi negeri maupun swasta, jumlah mahasiswa yang mengikuti grafiknya meningkat. Selain itu, universitas semakin banyak sekaligus menyadari perlunya digelar FGD berkaitan dengan masalah narkoba, karena citra kampus bebas narkoba semakin menjadi dambaan. Bahkan, kini muncul kepedulian yang tinggi terhadap mahasiswa(i) yang masih peduli terhadap korban narkoba. "Kami memberikan apresiasi kepada mahasiswa(i) yang masih peduli terhadap korban narkoba. Dengan kepedulian itu, akan tercipta rasa keharuan terhadap korban narkoba sehingga akan timbul kesadaran untuk tidak mencoba-coba atau berdekatan dengan narkoba. Karena mahasiswa (i) akan tahu dampak buruknya," papar Siswandi saat Focus Group Discussion (FGD) di kampus Bunda Mulia Jakarta, Senin (13/5). BNN menyadari, sambung Siswandi, upaya pemberantasan narkoba oleh BNN maupun aparat penegak hukum tidaklah cukup. Untuk itu, peranan Perguruan tinggi negeri maupun swasta harus memberikan berkontribusi dengan melakukan upaya nyata diantaranya dengan gerakan kampus bersih narkoba dan mendirikan pusatpusat studi atau kajian narkoba. Sekitar 60 mahasiswa Universitas Bunda Mulia masih menyempatkan diri menggikuti Forum Group Discution (FGD) yang digelar Direktorat Peran Serta Masyarakat BNN, di kampus Bunda Mulia Jakarta, Senin 13 Mei 2013. Diskusi yang berlangsung selama 56

Edisi 17 >< Juni 2013

FOTO: UNGKAP

Kasubdit Lingdik BNN, Nurnaningsih SH saat berdiskusi dengan mahasiswa Universitas Bunda Mulia.

Lima jam, mengambil tema "Stop Narkoba" Narkoba telah Masuk Keseluruh Komponen Masyarakat, Bangsa dan Negara Indonesia, mendapat perhatian serius para mahasiswa Bunda Mulia dari Jurusan Fakultas Hukum dan Fakultas Pendidikan. "Event ini memiliki nilai strategis, dan sangat penting karena mahasiswa mendapatkan pengetahuan bahkan pengalaman berharga berkaitan dengan dampak buruk bahaya penyalahgunaan narkoba," papar Kordinator bidang Kemahasiswaan Universitas Bunda Mulia Jakarta, Ronald Silalahi saat membuka Forum Group Discution "Stop Narkoba". Selain itu, lanjut Ronald, untuk mengatasi penyalahgunaan narkoba di lingkungan kampus diperlukan upaya serius dan masif tidak hanya dari pemerintah namun juga semua lapisan masayarakat, termasuk perguruan tinggi serta mahasiswanya. Karenanya gerakan kampus bersih narkoba dan pendirian pusat studi

atau kajian narkoba diharapkan dapat membantu BNN dalam upaya peran sertanya agar tidak bertambahnya korban Narkoba di Indonesia. "Terus terang saya bangga dengan mahasiswa Bunda Mulia, yang punya komitmen besar untuk bersama-sama memberantas narkoba di lingkungan kampus, " sambungnya serius. Nurnaningsih SH, Kasubdit Lingkungan Pendidikan BNN mengatakan BNN selaku vokal point upaya P4GN tidak mungkin dapat bekerja sendiri tanpa partisipasi dan sinergitas dari seluruh komponen masyarakat, khususnya mahasiswa Bunda Mulia Kami mendorong dan memberdayakan peranaktif civitas academica dalam kegiatan upaya P4GN seperti misalnya pelatihan, seminar narkoba dan pembuatan spanduk pagelaran seni budaya P4GN di lingkungan kampus, yang penting proses ke arah terwujudnya lingkungan kampus bebas narkoba yang harus diwujudkan. *MU03


KAMPUS

Edisi 17 >< Juni 2013

57


KAMPUS

BNN Rangkul Mahasiswa Wujudkan Kampus Bebas Narkoba Meningkatnya jumlah pengguna narkoba di berbagai kalangan setiap tahunnya menjadi perhatian khusus bagi Direktorat Peran Serta Masyarakat BNN, Drs. Siswandi untuk menindak lanjuti program kerjanya dalam mengajak seluruh komponen masyarakat dalam upaya P4GN.

K

ali ini di fokuskan untuk para mahasiswa dan staf perguru an tinggi se-Jabodetabek. ”Peran-peran akademik kampus tidak boleh ditinggalkan, oleh karena itu kita merangkul dari dunia kampus agar mereka ikut berpartisipasi aktif dalam rangka mengupayakan P4GN” , paparnya. Data hasil penelitian menyebutkan prevalensi anak bangsa yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba mencapai angka 4%. Penanganan narkoba yang komprehensif tidak serta merta dapat dilakukan dengan maksimal oleh BNN semata. Dibutuhkan kerja sama yang solid dan sinergi yang kuat antara BNN dengan elemen lainnya. Acara yang bertema “Rapat Koordinasi Lingkungan Kampus Bebas Narkoba Dalam Upaya P4GN SeJabodetabek” ini dihadiri kurang lebih 100 orang perwakilan, diantaranya purek 3, ketua senat, ketua bem, dan satgas anti narkoba kampus dari beberapa perguruan tinggi di wilayah Jabodetabek, bertempat di Gedung PKBI Jakarta. Adapun maksud diadakannya acara ini ialah untuk mengajak dunia kampus agar memiliki lingkungan yang bebas dan bersih dari narkoba. Contohnya dengan mengadakan perlombaan kampus bebas narkoba 58

Edisi 17 >< Juni 2013

Hanny Hendrany (Narasumber).

pada HUT HANI, seperti membuat spanduk narkoba, menciptakan lagu tentang narkoba, karya tulis ilmiah tentang narkoba, dan seminar tentang narkoba. Drs. Siswandi ingin menggali semua komponen bangsa ini dari mulai instasi pemerintah, instasi swasta LSM, maupun pendidikan untuk mengimplementasikan P4GN. “Tujuan kami hari ini untuk mendukung program inpres pemerintah No. 12 thn 2011 dan UU Narkotika pasal 57. Semua komponen masyarakat diberi kesempetan seluasluasnya dalam rangka mendukung P4GN” , tambahnya. “Kami sangat senang dan bangga sekali melihat BNN saat ini merangkul para mahasiswa dalam pemberantasan narkoba. Tentunya untuk pemberantasan narkoba kami yakin sekali, kalau hanya BNN dan polisi saja tidak mungkin narkoba dapat diberantas,

tetapi juga perlu peran serta dari seluruh kampus diseluruh Indonesia” , tutur salah satu perwakilan dari komponas. “Kami mengharapkan kedepan bukan hanya kampus di Jakarta saja, tetapi juga seluruh BNP yang ada di daerah juga ikut melakukan hal yang sama, sehingga pemberantasan narkoba diseluruh Indonesia bisa dilakukan secara merata” . tambahnya. Perwakilan mahasiswa dan para staf kampus yang hadir mengharapkan agar BNN juga turut membantu mensosialisasikan melalui seminar atau diskusi kampus dalam mengupayakan P4GN itu sendiri di lingkungan kampusnya. “Semoga dengan adanya perlombaan kampus bebas narkoba yang dilaksanakan BNN ini bisa meningkatkan peran serta mahasiswa dan warga kampus dalam membantu BNN” , tutur Ns. Mohamad Fandizul, S. Kep. salah satu staf dosen UPN Jakarta. *MU04


KAMPUS

Edisi 17 >< Juni 2013

59


REHABILITASI

DRS. SUYONO MM MBA , DIREKTUR PASCA REHABILITASI BNN

Sisi Penting Pasca Rehabilitasi Narkoba R

ehabilitasi berarti pemulihan kapasitas fisik dan mental kepada kondisi maupun keadaan sebelumnya. Bagi penyalahguna pecandu narkoba, rehabilitasi merupakan proses yang harus dijalani dalam rangka pemulihan total (total recovery) agar terlepas dari ketergantungan pada narkoba. "Sehingga penyalahguna atau pecandu narkoba yang telah menjalani proses rehabilitasi dapat hidup secara normal dan produktif ditengah masyarakat," papar Direktur Pasca Rehabilitasi BNN, Drs. Suyono MM MBA di gedung BNN Jakarta, Jumat 24 Mei 2013. Dijelaskan rehabilitasi berkelan60

Edisi 17 >< Juni 2013

jutan bagi penyalahguna atau pecandu narkoba diawali dengan tahapan rehabilitasi medis. Tujuannya untuk memulihkan kesehatan fisik, psikis dan mental pecandu narkoba melalui layanan kesehatan, pemberian alat bantu, dan terapi fisiologis maupun psikiatris. Tahapan selanjutnya yaitu rehabilitasi sosial yang bertujuan mengintegrasikan kembali penyalahguna dan/atau pecandu narkoba ke dalam kehidupan masyarakat dengan cara memulihkan perilaku dan kemampuan inte raksi sosialnya. Dilanjutkan dengan tahapan bina lanjut (aftercare) yang merupakan serangkaian kegiatan positif dan

produktif bagi penyalahguna atau pecandu narkoba pasca menjalani tahap pemulihan (rehabilitasi medis dan sosial). Kemudian, lanjut Suyono, tahapan bina lanjut merupakan bagian yang integral dalam rangkaian perawatan ketergantungan narkotika dan tidak dapat dianggap sebagai modalitas treatment yang berdiri sendiri. Hal ini berkaitan dengan pemahaman umum bahwa setelah pecandu menjalani program rehabilitasi primer di panti rehabilitasi, mereka masih memerlukan perawatan atau bimbingan lanjutan agar proses reintegrasi ke masyarakat dapat berlangsunglancar.


REHABILITASI Pasca rehabilitasi juga dikenal dengan istilah aftercare yaitu program yang terdiri dari pelayanan dan asistensi yang disediakan sehingga mantan residen memiliki keterampilan dan mampu menjadi manusia yang normatif, produktif dan mandiri. Dikatakan, ada tiga pendekatan yang dilakukan. Pertama, pasca rehabilitasi melalui pendekatan konservasi hutan. Kedua, pasca rehabilitasi melalui konservasi laut dan terakhir pasca rehabilitasi melalui dunia usaha. Sebelum kembali ke keluarga recovering addict, sambung dia, pecandu narkoba ditempatkan di sebuah rumah yang berfungsi sebagai rumah dampingan. Pelayanan yang diberikan terkait dengan program pencegahan kekambuhan antara lain Support Group, Konseling Kelompok, Konseling Individu, Konseling Keluarga, Pelayanan Medis, Pertemuan untuk Populasi Khusus dan Pelatihan Keterampilan Kerja. Pelatihan Wirausaha Teknisi HP Suyono mengakui salah satu permasalahan besar yang masih menjadi polemik saat ini adalah masih banyaknya mantan pecandu narkoba yang sulit mendapatkan pekerjaan

atau mata pencaharian. Para mantan pecandu narkoba terkurung dengan stigma negatif sehingga mereka kurang produktif dan tidak mampu bersaing dalam dunia kerja atau usaha. Dalam upaya membantu dan mendukung para mantan pecandu atau penyalahguna narkoba untuk bangkit dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri, BNN melakukan serangkaian terobosan dan program penting dengan menjalin kerjasama dengan beberapa pihak yang dapat memberikan pelatihan keterampilan kerja bagi para mantan pecandu narkoba. BNN menjalin kerjasama dengan Pusat Pelatihan Kerja Pengembangan Industri (PPKPI) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Pemda DKI Jakarta dan Community Development Center PT Telkom, mengadakan pelatihan wirausaha teknisi Handphone yang diselenggarakan di Rumah Dampingan Direktorat Pasca Rehabilitasi BNN, Jln Cipinang Besar Selatan 1 Jakarta Timur. Pelatihan ini dilaksanakan selama 6 minggu dari Senin sampai Jumat di Rumah Dampingan. Menurut Suyono, mantan pecandu narkoba bukan untuk dikucilkan. Mereka justru memerlukan

bantuan dan dukungan untuk bisa bangkit dan diterima di masyarakat, â&#x20AC;&#x153;Untuk itu kegiatan yang kami adakan ini bertujuan untuk memberikan bekal ketrampilan kepada mantan pecandu narkoba agar mereka punya keahlian dan penghasilan supaya tidak kembali terjerumus ke lingkaran narkoba,â&#x20AC;&#x2122;â&#x20AC;&#x2122; jelas Suyono. Sebenarnya pemerintah sudah menyiapkan pelatihan secara paripurna mulai dari makan, modal, alat alat teknik, pelatihan lanjutan, jaringan usaha, jaringan penyaluran tenaga kerja, dan jaringan penyediaan spare parts untuk mendukung terciptanya 10.000 lapangan kerja baru setiap tahunnya, yang dicanangkan oleh pemerintah. Pada dasarnya bentuk pendidikan yang dilakukan adalah pelatihan teknik terapan, pelatihan ini menumbuhkan semangat dan keterampilan sebagai modal. Setelah evaluasi berakhir dapat disaring untuk menjadi teknisi maupun instruktur. Peserta diberi kesempatan untuk mendapat pelatihan lanjutan dan diberi kesempatan untuk mengajukan pinjaman modal usaha Counter HP atau direkomendasikan untuk bekerja kepada perusahaan vendor gadget dan Handphone. ****

Rehabilitasi di Negara Vietnam dengan melakukan berbagai kegiatan. Edisi 17 >< Juni 2013

61


KESEHATAN

Upaya Penyembuhan HIV Melalui Pengobatan Herbal Oleh : Satya Graha, Yayasan Penata Budi Berkaitan gebyar Bulan Keprihatinan Korban narkoba, Yayasan Penata Budi optimis korban narkoba yang terinfeksi virus HIV, masih memilki harapan untuk sembuh, termasuk yang sudah resisten terhadap ARV. Pasalnya, Yayasan Penata Budi telah melakukan upaya penyembuhan terhadap relawan penderita HIV / AIDS, sejak tahun 2011. Hasil yang diperoleh sangat memuaskan. Terbukti adanya harapan membaik menuju non-reaktif. Bahkan, upaya penyembuhan masih terus berjalan, dengan indikasi menuju arah non-reaktif. Upaya ini, ternyata hingga sekarang ini belum pernah terjadi di dunia. Non reaktif yang kami pahami, adalah dari sisi serologi dengan metoda Elisa (CMIA dibawah 1,0 dan ELFA dibawah 0,25). Ini memang berbeda dengan non-rektif, yang dipahami oleh masyarakat luas ODHA, yaitu “undetact” yang menunjukkan jumlah copy virus HIV dalam darah sebesar nol atau tidak terlacak, setelah pemeriksaan Polimer Change Reaction (PCR). Hasil dari upaya penyembuhan terhadap relawan yang resisten terhadap ARV, dapat dilihat dari perkembangan angka serologi berdasarkan metode Elisa dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Dari tabel di atas, dalam kurun waktu 4 bulan angka CD4+ turun dari 119 menjadi 56, tetapi kondisi fisik dan 62

Edisi 17 >< Juni 2013

hematologi kian membaik secara signifikan (dari 10 kondisi “diluar range atau berbintang” menjadi hanya 2 saja yang tersisa, yaitu LED dan Limfosit). Dengan membaiknya kondisi fisik dan hematologi, diharapkan terjadi perubahan dari resisten terhadap ARV menjadi “dapat” menggunakan ARV kembali untuk menaikkan daya tahan tubuhnya. Dengan demikian diharapkan angka CD4+ yang turun dapat dinaikkan kembali. Hasil laboratorium yang lain di bawah ini, memperlihatkan perubahan angka CD4+ dari salah satu relawan HIV (38 th) yang masih menggunakan ARV (belum resisten).

Dari tabel di atas, dalam waktu 1 bulan angka serologi pada metode 1 turun dari 228,10 menjadi 33,91. hal ini menunjukkan angka serologi dapat diturunkan dengan angka yang relatif besar. Perkembangan kondisi fisik juga terlihat perbaikan signifikan, dari muka kuyu dan kulit kering menjadi muka segar, kulit bersih dan berat badan naik 3 kg. Hasil laboratorium yang memperlihatkan perubahan angka CD4+ atau CD% dari relawan lainnya (30 th), yang juga resisten terhadap ARV dapat dilihat dibawah ini:


KESEHATAN Hasil di atas membuka harapan, penderita pada tahap AIDS dapat membaik menjadi tahap HIV, dengan perbaikan kondisi fisik yang signifikan. Dengan demikian penderita dapat beraktifitas kembali dan biaya pengobatan menjadi lebih ringan. Ketiga contoh penyembuhan memperlihatkan penderita HIV / AIDS, yang resisten terhadap ARV menjadi “dapat” menggunakan ARV kembali untuk menaikkan daya tahan tubuhnya. Dengan demikian diharapkan angka CD4+ yang turun dapat dinaikkan kembali.

Pendekatan Penyembuhan Salah satu pendekatan penyembuhan HIV, yang dilakukan dengan cara mengembalikan sistem syaraf bawah sadar simpatik dalam tubuh menjadi sistem syaraf bawah sadar parasimpatik kembali, atau mengembalikan dari kondisi anaerobik ke aerobik (dari ATP 38 ke ATP 36). Secara bahasa sederhananya penyembuhan HIV, memperbaiki sel yang melemah, khususnya pada bagian mitokondria selaku pembangun ATP, yang fungsinya membangun energi untuk kehidupan.

secara berkala (setiap 1 bulan) Sejarah Penyembuhan HIV / AIDS HIV pertama kali ditemukan th 1981 di USA (dari 5 Homo Seksual). Jumlah penderita HIV di dunia th 2008 sebanyak 40 juta jiwa, 70% di Sub-Sahara, dimana ± 25 juta anak-2 meninggal dunia (statistik UNAID). Jumlah penderita HIV di Indonesia pada th 2012 sebanyak 98.390 jiwa dan AIDS 42.887 jiwa. (sumber : Ditjen PP & PL Kemenkes RI, tahun 2012) Tahun 1992 ditemukan ARV (anti retro viral) yang membuat laju penurunan kekebalan tubuh melambat sehingga pasien dapat bertahan hidup lebih lama. Magic Jhonson mantan atlet basket dunia merupakan personal yang tertib menggunakan ARV dengan angka CD4+ sebesar ± 1.000. Pengobatan HIV tergolong mahal untuk masyarakat kebanyakan. Subsidi PBB untuk dunia melalui UNAID sebesar ± Rp 7 Trilyun per tahun. Sedangkan di Indonesia untuk pencegahan dan penanggulangan ± Rp 1,25 T untuk 5 tahun. Ray Brown adalah kasus pertama di dunia yang sembuh non reaktif tidak menular (melalui cangkok sumsum u/ HIV Leukimia). Penderita HIV AIDS di Indonesia seperti gunung es. Hingga Desember 2012, jumlahnya untuk HIV mencapai 98.390 orang dan AIDS sekitar 42.887 orang. Lantas berapa jumlah penderita HIV & AIDS di Indonesia yang sebenarnya? Proyeksi ahli epidemologi Indonesia, jika tanpa penanggulangan, maka jumlah penderita AIDS pada th 2015 sebesar 1 juta orang dengan jumlah kematian sebesar 350.000 orang.****

Metoda Penyembuhan Metoda penyembuhan yang dilakukan antara lain terdiri dari : - Mengunakan bahan herbal dari tumbuhan - Pantang bahan kimia, minyak goreng dan tidak merokok - Karantina agar terkontrol dengan baik, menghindari pertemuan dengan pihak luar (mencegah masuknya patogen dan asupan dari bahan-bahan yang dipantang selama proses teraphy) - Olahraga rutin 2-3 kali dalam seminggu - Lingkungan berudara bersih banyak oksigen Sebelum menjalani therapy penyembuhan perlu dilakukan pemeriksaan darah secara lengkap. Selama proses therapy dilakukan pemeriksaan darah di lab resmi Edisi 17 >< Juni 2013

63


METROPOLITAN

Warga Tolak Jenazah Bandar Heroin

S

eorang lelaki jaringan bandar heroin, meregang nyawa setelah merebut senjata polisi saat mau ditangkap. Lelaki itu memang buronan yang sudah lama dicari. Warga menolak kehadiran jenazah, juga melarang dimakamkan di kawasan Jakarta Barat. Kembali, seorang bandar sekaligus pengedar narkoba jenis heroin tewas ditembak. Mikky Yusuf, nama sang bandar yang meregang nyawa. Lelaki warga Jalan Flamboyan RT006 RW02, Kembangan, Jakarta Barat ditembak petugas Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya karena melawan saat akan ditangkap di Jalan Hankam, Bambu Apus, Jakarta Timur, Sabtu 4 Mei 2013. Tersangka dihadiahi pelor panas di bagian dadanya oleh petugas lainnya, sebelum melakukan penembakan peringatan ke atas. Bahkan, dari tangan sang Mikky, petugas menyita 8 gram heroin. Mikky meninggal dalam perjalanan ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

"Bukan hanya melawan, tapi juga berusaha merampas senjata api milik petugas. Ya, daripada petugas yang celaka, menganggap situasi berbahaya atau pelaku yang sudah lama menjadi buronan kabur lagi, sehingga diambil tindakan tegas," tegas Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Nugroho Aji, di Jakarta, Senin 6 Mei 2013. Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya melanjutkan jaringan Mikky masih didalami. Mikky diduga anggota sindikat atau anggota jaringan besar. Mengingat heroin, memiliki jaringan yang besar, kuat dan sistematis. Selain itu, Narkoba jenis heroin merupakan barang terlarang yang nilainya sangat mahal, bahkan tergolong elite sehingga jaringan heroin sangat berbahaya. "Jadi heroin itu jenis narkoba paling tinggi. Sangat berbahaya. Apalagi 95 persen penggunanya kena HIV AIDS. Karena itu, saat ini kami masih mendalami secara serius," ungkapnya.

ISTIMEWA

Jenazah tersangka bandar heroin Mikky Yusuf, saat dibawa ke ambulans. 64

Edisi 17 >< Juni 2013

Kombes Pol Nugroho Aji Dir Narkoba PMJ

Selain berbahaya, tambah dia, harga heroin cukup tinggi. Untuk harga di Jakarta, 1 gram harganya bisa sampai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Karenanya tidak heran jika heroin merupakan jenis narkoba yang susah dipalsukan. "Heroin itu jenis narkoba yang susah dipalsukan. Di Indonesia sepertinya belum ada yang memproduksi, pasti berasal dari luar negeri," ungkapnya. Warga Tolak Jenazah Saat jenazah Mikky dibawa ke rumahnya di kawasan Kembangan, Jakarta Barat untuk disemayamkan, warga sekitar menolak kehadiran jenazah. Alasannya warga mengetahui bahwa Mikky merupakan seorang bandar narkoba, yang perbuatannya meresahkan masyarakat. Penolakan itu juga dikuatkan dengan keterangan dari RT dan warga sekitar. Polda Metro Jaya melakukan komunikasi dengan Pemda DKI Jakarta untuk membantu pemakaman Mikky Yusuf. Karenanya, Polda Metro Jaya berkordinasi dengan Pemda DKI Jakarta untuk membantu pemakaman Mikky Yusuf. Dengan pertimbangan warga menolak, bahkan isteri Mikky memohon bantuan Polri untuk koordinasi dengan Pemda DKI untuk pemakamannya. *MU02


METROPOLITAN

Edisi 17 >< Juni 2013

65


KORUPSI

HASIL SURVEI:

Pemberantasan & Penegakan Hukum Korupsi pada Titik Nadir

66

Edisi 17 >< Juni 2013

hukum itu, mengakibatkan masyarakat lebih setuju menghukum sendiri pelaku kejahatan. Hasil survei menunjukkan, 30,6 persen responden setuju menghukum sendiri penjahat sebab tak percaya proses hukum yang adil. 46,3 persen responden setuju diproses hukum secara adil. Sisanya, tak menjawab atau tak tahu. "Tak berlebihan dan mengherankan jika dikatakan maraknya kasus main hakim sendiri di beberapa daerah merupakan refleksi dari ketidakpercayaan terhadap penegakan hukum yang dilakukan negara," ujar Dewi.

WWW.KOMHUKUM.COM

H

asil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Indonesia Networking Election Survey (INES) mengungkapkan masyarakat belum puas bahkan tidak percaya, terhadap kinerja penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, yang dilakukan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), kejaksaan, kepolisian maupun lembaga peradilan. Kenapa? Hasil survei kepada 1.200 responden di 33 provinsi di Indonesia, ketidakpuasan masyarakat terhadap hukum berada pada titik nadir. Hal ini disebabkan sejumlah faktor. Di antaranya karena intervensi untuk kepentingan tertentu dan rendahnya efek jera. Ada empat faktor penyebab. Pertama, sebanyak 42,2 persen publik percaya aparat hukum bertindak adil dalam mengusut dan mengadili sebuah perkara. 46,7 persen tidak percaya aparat hukum akan bertindak adil. "Mayoritas mereka cenderung percaya proses hukum yang dilakukan aparat mudah diintervensi oleh kepentingan tertentu. Misalnya, kedekatan dan kompensasi materi," papar Peneliti LSI Dewi Arum di Jakarta, Senin 6 Mei 2013. Kedua, publik marah karena banyak politikus yang korupsi daripada mengurusi rakyat. Ketiga, pembiaran penegak hukum atas amuk massa isu primordial. "Di Indonesia sering kali terjadi kasus kekerasan oleh satu kelompok terhadap kelompok lain karena hanya perbedaan identitas atau keyakinan. Kesan ketidakberdayaan negara dalam menghadapi kekerasan komunal ini memunculkan pesimisme terhadap penegakan hukum," ujarnya. Keempat, lemahnya kepemimpinan nasional dalam menegakkan hukum secara konsisten. Sikap inkonsisten pemimpin nasional juga menjadi penyebab merosotnya wibawa hukum. "Publik merasa tidak

Dewi Arum, Peneliti LSI

nyaman, sehingga wibawa hukum perlu ditegakkan kembali. Sebanyak 48,6 persen publik menyatakan khawatir dengan masa depan penegakan hukum di Indonesia," sambung Dewi. LSI menyampaikan tiga rekomendasi untuk menegakkan kembali wibawa hukum di mata publik. Pertama, permasalahan profesionalisasi dan kesejahteraan aparat hukum harus lebih diperhatikan. Kedua, penegakan hukum yang keras kepada politikus dan penegakan hukum bagi yang korup serta tidak melakukan pembiaran. Ketiga, pemimpin nasional harus lebih tegas dan punya waktu mengurusi negara. "Namun, persoalan ekonomi menurut saya yang paling mendasar," urainya. Hasil survei LSI menunjukkan hanya 29,8 persen responden yang menyatakan puas terhadap penegakan hukum di Indonesia. Minimnya kepercayaan publik terhadap proses penegakan hukum itu berimplikasi pada tingginya masyarakat yang setuju aksi main hakim sendiri. Ketidakpercayaan terhadap penegak

Efek Jera Indonesia Networking Election Survey (INES) menilai ketidakpuasan masyarakat tersebut dilatarbelakangi oleh lemahnya efek jera dalam penegakan hukum kasus korupsi. Selain efek jera, integritas penegak hukum juga menjadi faktor terbesar dalam ketidakpuasan tersebut. Survei menunjukkan, 72,3 persen rakyat Indonesia tidak puas terhadap kinerja penegakan hukum dan pemberantasan korupsi oleh penegak hukum seperti KPK, kejaksaan, polisi dan lembaga peradilan," ungkap ujar Direktur Eksekutif INES, Sudrajat Sacawisastra, Praktik korupsi seperti pembekingan aktivitas ilegal, pemerasan, pungutan liar, setoran, suap-menyuap, jual beli kasus, jual beli besar kecilnya tuntutan dan penggunaan pasal tuntutan di KPK dan kejaksaan terhadap koruptor, menjadi alasan ketidakpuasan. Bahkan, karena begitu korupnya penegakan hukum, maka berbagai kasus korupsi yang ditangani, tidak jarang berujung pada SP3 (surat perintah penghentian penyidikan), kasus yang dipetieskan, atau bahkan berakhir damai, tambahnya.*MU02


KORUPSI

Demo Kasus BLBI

Korupsi BLBI Dibuka Lagi K

asus dugaan korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang mencuat saat krisis ekonomi 1998, kini dibuka lagi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meminta keterangan Kwik Kian Gie, bekas menteri koordinator perekonomian di era Presiden Megawati Soekarnoputri, dan Rizal Ramli bekas Menteri Keuangan era KH Abdurrahman Wahid. Selasa 2 April 2014 sekitar pukul 10.00 WIB, secara mengejutkan mantan politisi PDIP datang ke gedung KPK di Jakarta. Selama hampir 9 jam, mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional era Presiden Megawati dimintai keterangan KPK. "No comment. Undangannya rahasia, pertanyaannya juga rahasia. Jadi betul-betul rahasia," kata Kwik yang murah senyum sambil menuju mobil Alfard putih. Sepuluh hari kemudian, Jumat 12 April 2013, sekitar pukul 10.00 WIB,

Rizal Ramli, bekas Menteri Keuangan era KH Abdurrahman Wahid diperiksa KPK. "Saya sangat apresiasi langkah KPK membuka kembali kasus BLBI. Semoga KPK sungguhsungguh membukanya, dan mencoba mendapatkan apa yang seharusnya masih milik negara ini," tegas Rizal saat di gedung KPK Jakarta. Skandal BLBI, lanjut Rizal, membuat negara bayar bunga subsidi Rp60 triliun untuk 20 tahun ke depan. Padahal, Pemerintah kebingungan memberikan subsidi bahan bakar minyak. "Kok subsidi bunga BLBI masih terus berlanjut? Saya kira itu perlu diluruskan agar adil, jangan bankir kaya disubsidi sementara rakyat dipaksa menerima kenaikan harga BBM," tegasnya. Rizal enggan berkomentar saat ditanya apakah mantan Presiden Megawati Soekarnoputri perlu diperiksa dalam kasus ini. "Saya nggak jawab. No comment, pertanyaannya nakal

sekali," jawabnya yang datang ke KPK dengan mengenakan setelan jas. Rizal juga enggan berkomentar siapa yang bertanggungjawab kasus BLBI ini. Juru bicara KPK Johan Budi mengaku KPK memeriksa Kwik Kian Gie dan Rizal Ramli hanya sebagai saksi kasus BLBI berkaitan dengan Surat Keterangan Lunas (SKL). Dalam penyelidikan kasus ini, KPK belum menetapkan tersangka. "Jadi penyelidikan ini, untuk melakukan apakah dalam prsoes penerimaan SKL ada dugaan menerima atau tidak. Nah penyidikan itu tadi bisa berkesimpulan," jelasnya di Gedung KPK Jakarta, Senin 15 April 2013. KPK memiliki wewenang menyelidiki kendati kasus BLBI mengemuka sebelum KPK terbentuk. Mengingat terdapat beberapa pihak pengutang BLBI, yang membayar utangnya melalui mekanisme SKL pada tahun 2004. "Ada yang diusut Edisi 17 >< Juni 2013

67


KORUPSI pidana, ada juga dilakukan melalui surat keterangan lunas, debitur BLBI mau membayar melalui SKL. Ini tahun 2000 ke atas jadi KPK berwenang menangani. Ini masih penyelidikan, berkaitan dengan siapa belum ditetapkan." ungkapnya. Kasus ini, merupakan tindaklanjut saat kepemimpinan Antasari Azhar. Masa itu KPK menjalin kerjasama dengan Kejaksaan Agung, namun penyelidikanya belum tuntas, sambung Johan. Kronologis BLBI Seperti dilansir laman wikipedia.com, pada 11 Juli 1997, Pemerintah Indonesia memperluas rentang intervensi kurs dari 192 (8 persen) menjadi 304 (12 persen), dengan melakukan pengetatan likuiditas dan pembelian surat berharga pasar uang, serta menerapkan kebijakan uang ketat. Pada 14 Agustus 1997, Pemerintah melepas sistem kurs mengambang terkendali (free floating). Masyarakat panik, lalu berbelanja dolar dalam jumlah sangat besar. Setelah dana pemerintah ditarik ke Bank Indonesia, tingkat suku bunga di pasar uang dan deposito melonjak drastis karena bank-bank berebut dana masyarakat. 1 September 1997, Bank Indonesia menurunkan suku bunga SBI sebanyak tiga kali. Berkembang isu di masyarakat mengenai beberapa bank besar yang mengalami kalah kliring dan rugi dalam transaksi valas. Kepercayaan masyarakat terhadap bank nasional mulai goyah. Terjadi rush kecil-kecilan. Pada 3 September 1997, Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan serta Produksi dan Distribusi berlangsung di Bina Graha dipimpin langsung oleh Presiden Soeharto. Hasil pertemuan: pemerintah akan membantu bank sehat yang mengalami kesulitan likuiditas, sedangkan bank yang â&#x20AC;?sakitâ&#x20AC;? akan dimerger atau dilikuidasi. Belakangan, kredit ini disebut bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Skema bantuan BLBI dari bank sentral yang diberikan pada bank68

Edisi 17 >< Juni 2013

MAJALAHGANESHA.COM

WWW.REPUBLIKA.CO.ID

Rizal Ramli

Kwik Kian Gie

bank yang bermasalah saat krisis moneter 1997-1998. Totalnya ada 48 bank yang diberikan bantuan sekitar Rp 140 triliun lebih. Aset bank-bank bermasalah diambil alih Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Sebagian bank yang masih bisa diselamatkan kemudian disehatkan oleh lembaga ini. Sisanya dilikuidiasi dan dimerger. Total ada 16 bank yang dilikuidasi saat itu. Ketika bank sudah dianggap sehat menurut versi BPPN, maka bank itu pun dijual. Sayangnya, penjualan aset-aset bank tersebut kemudian hanya mampu menutupi 26 persen dari total utangnya. Sehingga terbitlah daftar debitur-debitur BLBI yang bermasalah, yang belakangan sebagian dari mereka menjadi buron. Bagi para debitur BLBI yang sudah lunas, pemerintah menerbitkan surat keterangan lunas (SKL). SKL saat itu diterbitkan di era Megawati Soekarnoputri dengan Menteri Keuangan Boediono. Informasi lain menyebut, selain SKL, juga ada program pemutihan di Kementerian Keuangan. SKL inilah, menurut juru bicara KPK Johan Budi, yang menjadi bahan awal penyelidikan. Namun, Johan tidak menyebutkan ada-tidaknya dugaan penyimpangan dalam penerbitan SKL tersebut. Yang jelas, kata Johan, â&#x20AC;?KPK sudah menyelidiki SKL sejak KPK dipimpin KPK Antasari Azhar, tepatnya Oktober 2008,"

sambungnya. Surat Keterangan Lunas (SKL) BLBI dikeluarkan pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri berdasarkan Inpres Nomor 8/2002 dan Tap MPR. Dalam kasus BLBI, SKL tersebut menjadi dasar bagi Kejaksaan Agung untuk menghentikan penyidikan (Surat Perintah Penghentian Penyidikan/SP3) terhadap sejumlah pengutang. Salah satunya adalah pengusaha Sjamsul Nursalim, pemilik Bank Dagang Nasional Indonesia, yang dihentikan penyidikannya pada Juli 2004. Tercatat beberapa nama konglomerat papan atas lainnya, seperti The Nin King, dan Bob Hasan, yang telah mendapatkan SKL dan sekaligus release and discharge dari pemerintah. Dalam hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dari dana BLBI sebesar Rp 144,5 triliun yang dikucurkan kepada 48 bank umum nasional, sebanyak Rp 138,4 triliun dinyatakan merugikan negara. Sedangkan dalam audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terhadap 42 bank penerima BLBI menemukan penyimpangan sebesar Rp 54,5 triliun. Sebanyak Rp 53,4 triliun merupakan penyimpangan berindikasi korupsi dan tindak pidana perbankan. Tim Khusus Ternyata, kasus KLBI terus bergulir. KPK kembali memperkuat


KORUPSI NASIONAL.NEWS.VIVA.CO.ID

lagi keberadaan tim khusus untuk menyelesaikan kasus BLBI yang sebelumnya ditangani oleh Kejaksaan Agung. Tim bertugas meneliti kasus BLBI yang telah dilimpahkan ke Departemen Keuangan (Depkeu) dan Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN). Penyelesaian melalui PUPN sesuai dengan Kepmenkeu No.184/KMK.06/2008 tanggal 8 Juli 2008 tentang Prosedur Operasi Standar Tim Bersama Penanganan Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham. Salah satu tim bertugas menangani perkara yang dihentikan kejaksaan karena telah menerima SKL, termasuk kasus Sjamsul Nursalim yaitu mantan pemegang saham Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) yang mempunyai utang sebesar Rp28,4 triliun. Berdasarkan hasil pemeriksaan penyelesaian kewajiban pemegang saham (PKPS) oleh Badan Pemeriksa Keuangan, nilai penjualan dari aset Salim yang diserahkan ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) untuk penyelesaian BLBI ternyata hanya 36,7 persen atau sebesar Rp19,38 triliun dari Rp52,72 triliun yang harus dibayar. Saat diperiksa di Kejaksaan pada 2007, Kwik mengatakan mekanisme penerbitan SKL Presiden Megawati berdasarkan Inpres No 8 Tahun 2002 mendapat masukan dari mantan Menteri Keuangan Boediono, Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjaradjakti, dan Menteri BUMN Laksamana Sukardi. Saat itu, Kwik mengaku dalam setiap rapat kabinet ia selalu memprotes rencana penerbitan SKL tapi kalah dengan meteri lain. Alasannya menolak penerbitan SKL adalah karena ada campur tangan International Monetary Fund (IMF) terkait penyelesaian BLBI sehingga berdampak pada proses penjualan aset bekas pengutang BLBI yang tergesa-gesa, bahkan tanpa tender, misalnya, kejanggalan penjualan Bank BCA pada 2004. Kwik juga mengatakan, penjualan BCA disebabkan Salim tidak mampu melunasi BLBI Rp53 triliun, BCA

Johan Budi, Juru bicara KPK

termasuk salah satu dari 108 aset Salim yang diserahkan yang saat dijual hanya laku Rp20 triliun karena proses penjualan BCA lebih banyak ditekan IMF. Proses penjualan dilaksanakan tanpa tender dan calon pembeli BCA sudah ditunjuk yaitu lembaga keuangan Farallon dan Standard charter padahal selang tiga tahun kemudian aset BCA meningkat berkali-kali lipat. Ternyata penyelesaian kewajiban delapan obligor BLBI dengan pola Akta Pengakuan Utang dinilai lambat. Sampai tahun 2009, baru beberapa obligor yang menyelesaikan kewajibannya. Obligor Adisaputra dan James S Januardy (PT Bank Namura Internusa) sudah melunasi seluruh utangnya, Rp303 miliar pada Januari 2009. Obligor Agus Anwar (PT Pelita Istimarat) diberi waktu membayar utang Rp5 miliar paling lambat 31 Maret 2009 yang sisanya dicicil selama 84 bulan. Untuk obligor Omar Putihrai (PT Bank Tamara) dengan kewajiban Rp159,1 miliar, Depkeu ketika itu sudah mempersiapkan pelaksanaan lelang agunan berupa saham.

Terhadap empat obligor lainnya, Ulung Bursa (PT Bank Lautan Berlian), Marimutu Sinivasan (PT Bank Putera Multi Karsa), dan Lidya Mochtar (PT Bank Tamara) dengan kewajiban masing-masing Rp424,65 miliar, Rp790,557 miliar, Rp159,1 miliar, Rp189,039, Depkeu mempersiapkan penyelesaian asset settlement. Selain di Depkeu, ada 16 obligor lain yang ditangani Polri dan Kejagung. Tercatat tujuh kasus yang telah disidik Kejagung, yaitu kasus Bank Deka, Bank Aken, Bank Centris, Bank Central Dagang, Bank Dewa Rutji, Bank Arya Panduarta, dan Bank Pelita. Anehnya, Kejagung mengaku kesulitan memperoleh dokumen pendukung. Dari hasil itu, Kejagung menyarankan agar penyelesaian kewajiban pemegang saham delapan obligor pemegang saham Bank Deka, Bank Centris, Bank Pelita, Bank Central Dagang, Bank Dewa Rutji, Bank Arya Panduartha, Bank Aken, dan Bank Orient dilaksanakan oleh Menteri Keuangan melalui gugatan perdata. Kini kasus BLBI dibuka lagi, ada apa ini? *MU02 Edisi 17 >< Juni 2013

69


NUSANTARA

Polisi Diraja Malaysia Bawa Shabu ke Indonesia

S

eorang personel Polisi Diraja Malaysia kedapatan membawa Narkoba jenis shabu, saat berkunjung ke Medan. Memang, jumlahnya tidak banyak cuma 0,5 gram shabu. Namun membawa barang terlarang ke Indonesia, adalah perbuatan melawan hukum dan wajib ditindak tegas. Siang bolong, sekitar pukul 13.00 WIB, Salim Bin Muhammad Yusof (49), warga negara Malaysia menginjak kakinya di Bandara Internasional Polonia Medan, Senin 13 Mei 2013. Setelah turun dari pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan QZ 8055 dari Kuala Lumpur, Malaysia dengan tujuan akhir. Saat melintas pintu kedatangan internasional, petugas Bea dan Cukai Polonis Medan curiga dengan penampilan serta gelagat Salim. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan ion scan. Tas kecil yang dipakainya pun digeledah petugas hingga akhirnya ditemukan barang haram yang dibungkus plastik kecil. Seketika itu, anggota Polisi Diraja Malaysia berpangkat lans koperal yang ketangkap tangan membawa 0,5 gram zat metapethamine alias shabu itu, digiring ke Kantor Bea dan Cukai Medan, Jalan Suwondo untuk diinterogasi lebih lanjut. Pria dengan paspor bernomor S 27298711, menjalani pemeriksaan selama 10 jam, dari pukul 13.30- 23.30 WIB di lantai 2 Kantor Bea Cukai Medan. Kasubsi Operasional dan Sarana Operasi Kantor Bea dan Cukai Pabean B Bandara Polonia, Henry Marthin Samosir membenarkan penangkapan itu. Namun pihaknya tidak berhak memberikan keterangan lebih rinci tentang kasus tersebut. â&#x20AC;&#x153;Yang berhak menjelaskan semua adalah kepolisian dan BNN,â&#x20AC;? katanya. Kepala Subdirektorat II Reserser Narkoba Polda Sumut AKBP RB 70

Edisi 17 >< Juni 2013

Komjen Pol Drs. Anang Iskandar Kepala BNN

Damanik membenarkan adanya penangkapan, namun belum bisa memberikan keterangan secara rinci kasus ini. Konsul Malaysia di Medan, Nor Azhar Hajis, kecewa karena pihak berwenang di Indonesia tidak memberitahukan informasi resmi terkait penangkapan Salim. "Terus terang saya mengetahui kejadian itu dari media massa. Saya belum dapat informasi dari pihak Bea Cukai dan polisi. Saya lagi mencari informasinya," kata Nor Azhar Hajis saat dihubungi wartawan di Medan, Selasa (14/5). Sepatutnya, tambah Nor Azhar Hajis, Bea & Cukai dan kepolisian memberitahu kepada Konsul Malaysia. "Pihak berwenang di Indonesia selayaknya lebih dulu mengikutsertakan perwakilan negara Malaysia, sebelum memberi tahu penangkapan itu kepada wartawan. Itu saja, saya belum boleh bicara apa-apa lagi sebelum mendapat informasi dari pihak berwenang," ucapnya. Sehari usai penangkapan, Salim dibawa ke BNN Jakarta. "Penyidik BNN masih terus melakukan pemeriksaan terhadap seorang polisi Diraja Malaysia berinisial S, yang ditangkap di Bandara Polonia Medan," papar Kepala Badan Narkotika Na-

sional, Komisaris Jenderal Anang Iskandar di Gedung BNN, Jakarta Timur, Jumat 17 Mei 2013. Pengakuan S hanya sebagai pemakai. Karena itu, hingga sekarang sedang dilakukan pemeriksaan oleh penyidik, termasuk asal muasal barang terlarang sekaligus tujuan S datang ke Medan. "Jadi semua masih proses, nanti akan kita ungkap jika jaringannya sudah ditangkap," sambungnya. Sepanjang Mei 2013, petugas Bea Cukai Bandara Polonia Medan menangkap tiga tersangka pembawa 11,5 Kg Shabu asal Malaysia. Diantaranya, Jumat, 3 Mei 2013, Sie Teck Soon (46) warga Selangor Malaysia ditangkap di terminal kedatangan Bandara Polonia Medan. Pemuda tinggi semampai pemegang paspor A 20390397, semula membantah bawa barang haram. Namun dari gerak-gerik yang mencurigakan, petugas Bea Cukai menemukan 1 gram Shabu dimasukkan dalam pena. Selasa 7 Mei 2013, Novita Dian, (35) janda cantik kelahiran Bogor warga Jalan Sunggal, juga ditangkap petugas Bea Cukai Bandara Polonia Medan, karena menyimpan 10 gram Shabu dalam kantong celana dalam warna hitam yang tersimpan di dalam tas pakaian. Novita mendarat dari Kuala Lumpur dengan penerbangan Air Asia QZ-8051 memegang paspor W 859082, kini ditahan di Polda Sumut. Selasa, 7 Mei 2013, Hasbi Abu Bakar, warga Pidie, Aceh, diamankan di terminal keberangkatan domestik Bandara Polonia karena kedapatan membawa 4 Kg Shabu. Barang terlarang dari Malaysia akan dibawa ke Jakarta. Hasbi mengaku membawa narkotika itu atas perintah seseorang dengan dijanjikan bayaran Rp 15 juta. *MU02


NUSANTARA

Salam hormat, Bapak dan Ibu serta saudara saudari sekalian yang kami muliakan, Dalam rangka membangkitkan Motivasi, Orientasi,Etos kerja, sikap dan mental yg smart untuk memicu semangat pengabdian dan kebanggan dalam melaksanakan kegiatan sehari - hari yang melekat sebagai identitas yang menguntungkan Bapak dan Ibu serta saudara saudari sekalian untuk mencapai keberhasilan dalam meraih keberhasilan serta tercapainya impian. Untuk menggapai semua itu tidaklah semudah seperti membalikan telapak tangan tentunya,di perlukan rasa tanggung jawab bersama serta keinginan untuk membangun karakter yang ihklas pada setiap individu. Salah satu karakter yang dibangun adalah Be sebuah kebiasaan yang harus melekat agar terbiasa dan merasakannya memiliki potensi ,Do juga demikian harus selalu fokus mendorong untuk menuntaskan kesuksesan impian yaitu berupa Have. Sebagai informasi,Mickot adalah Brand perusahaan kami telah berdiri sejak tahun 2008 dan telah memproduksi garment pendukung untuk promosi atau keperluan instansi pemerintah, sekolah, perusahaan swasta dalam dan luar negeri dengan Branch Mickot yang populer selain Visinya : Mickot menjadi Brand Image Produk yang dibutuhkan oleh semua orang serta memiliki kebanggaan yang prestise bernilai spiritual juga memiliki Misi yang Jelas :

1.Membangun sistem yang menguntungkan untuk kesejahteraan perusahaan karyawan dan mitra bisnis 2.Melakukan seluruh kegiatan bisnisnya berprinsip ahlaqul karimah 3.Meningkatkan Kualitas SDM untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan dan Mitra Bisnis. 4.Mengembangkan system dan technology untuk mempercepat proses bisnis dan terwujudnya Impian. Selain itu kami mempunyai Motto: H I R O sebagai Core Value yaitu, H : High Performance (Kami Berusaha keras dan Rajin untuk kreatif dan inovatif mencari cara yang terbaik untuk berhasil terbaik meraih impian) . I : Integrity (Kami Bertanggung Jawab,Jujur,Adil dan Peduli) R : Respect Others (Kami Setia dalam kinerja terbaik dengan saling menghargai satu dengan yang lainnya) O : Optimist Visionary( Optimis menata masa depan dengan selalu mengingat Allah SWT) Hormat kami, Samsudin Dakman President Mickot House Of Jacket Edisi 17 >< Juni 2013 71


NUSANTARA

FOTO: WWW.KEPRI.CO.ID

Narkoba Tak Bertuan Ditemukan di Bandara Batam

Kepala Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepulauan Riau, Raja Maenad Ahmad menunjukkan barang temuan berupa narkoba jenis amphetamine atau sabu sebanyak 1,1 kilogram di Batam. Bungkusan berisi sabu ditemukan oleh petugas keamanan Bandara Hang Nadim Batam dalam sebuah koper berwarna hitam yang tidak diambil pemiliknya setelah melalui alat pemindai sinar x.

B

atam masih menjadi pintu masuk utama bagi sindikat narkotik Internasional. Batam juga masih jadi tempat strategis narkoba, untuk persinggahan sementara sebelum diedarkan ke penjuru nusantara. Tak bisa dipungkiri, pasti ada yang lolos. Ada yang digagalkan. Ada juga yang ditinggalkan di Bandara. Petugas Aviation Security (Avsec) Bandara Hang Nadim Batam, Kepulauan Riau, Kamis 2 Mei 2013 sekitar pukul 09.30 WIB menemukan 926 strip atau 9.260 butir Happy Five. Juga sekitar 3.000 pil ekstasi berbagai warna dan logo yang akan diselundupkan ke luar Batam, ditinggalkan pemiliknya saat pil yang membuat 'fly' ini berada di peralatan X-Ray. Barang haram ini tersimpan di dalam tas hitam merek Polo, yang ditinggal begitu saja oleh pemiliknya di mesin pemindai (X-Ray) di pintu keberangkatan penerbangan domestik. Diduga kuat, psikotropika golongan 4 tersebut akan diselundupkan 72

Edisi 17 >< Juni 2013

ke Jakarta. Mengingat, jam pemberangkatan sesuai jadwal penerbangan ke Jakarta. Saat itu, suasana Bandara Hang Nadim Batam agak ramai. Sebelum menuju ruang tunggu, seluruh penumpang yang membawa barang, wajib diperiksa barang bawaanya melalui mesin pemindai. Sebuah tas hitam melintas di X-Ray, petugas curiga karena ada puluhan pil didalamnya. Petugas Avsec membuka tas dan menemukan 926 strip Happy Five. Selain Happy Five, ditemukan juga sebuah tiket maskapai Lion Air tujuan Jakarta, yang akan berangkat sekitar pukul 08.25 WIB atas nama Mr Widya. "Kami masih melacak pemilik tas melalui rekaman CCTv di bandara. untuk mengetahui siapa pemilik tas berisi ribuan Happy Five itu. Namun tidak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan," papar Kabid Bidang Kepatuhan dan Layanan Informasi (BKLI) Kantor Pelayanan Umum (KPU) Bea

dan Cukai Tipe B Batam, Susila Brata. Sementara hasil deteksi CCTv pemilik ekstasi adalah orang yang mengenakan topi, jambang palsu, dan berkacamata hitam. Dan wajahnya sulit dikenali secara transparan. Pelaku sengaja menutup wajahnya untuk menghilangkan jejak. Guna proses penyelidikan ribuan Happy Five ini dibawa ke kantor Bea dan Cukai Batam, kemudian diserahkan ke Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepri. "Kasusnya masih dikembangkan dengan koordinasi bersama Polda Kepri dan BNNP Kepri," sambung Susila Brata. Direktur Reserse Narkoba Polda Kepri Kombes Pol Agus Rohmat mengatakan sebulan terakhir, kasus barang terlarang tak bertuan merupakan kasus keempat kalinya, yang terjadi dari Bandara Hang Nadim Batam menuju pemberangkatan ke Jakarta. Sebelumnya, Sabtu (16/3) lalu petugas keamanan Bandara Hang Nadim menggagalkan penyelundupan shabu seberat 4 kilogram. Minggu (24/3) petugas bandara kembali menemukan shabu seberat 1 kilogram. Narkoba tersebut ditemukan di dalam tas berwarna hitam. Tas tersebut milik penumpang tapi tak diambil setelah melewati x-ray. Petugas bandara kembali menggagalkan upaya penyelundupan 5,467 kilogram shabu melalui ekspedisi dari Bandara Internasional Hang Nadim Batam menuju Jakarta pada Senin (25/3). Pemiliknya, R berhasil ditangkap aparat Polda Kepri bersama petugas Badan Narkotika Nasional di Jakarta. Sepanjang tahun 2013, lanjut Kombes Pol. Agus Rohmat menambahkan sudah beberapa kali menggagalkan upaya penyelundupan narkoba dari Malaysia dan pengiriman sabu dari Batam ke Jakarta. "Setidaknya sekitar 15 kilogram shabu yang hendak dimasukkan ke Batam atau dikirim ke Jakarta melalui Batam berhasil kami gagalkan bersama petugas BNN, Direktorat Pengamanan Badan Pengusahaan Batam dan Petugas BC Batam," ungkapnya.*MU02


NUSANTARA FOTO: INILAH.COM

Pihak Kepolisian Resort Kota Pekanbaru, Riau, berhasil membongkar pabrik ekstasi di kamar hotel dan menyita ratusan butir barang bukti serta menangkap pelaku berinisial HE (30).

Haaa!!!, Kamar Hotel Jadi Pabrik Ekstasi

P

enjahat narkoba kian nekad. Bahkan berani mengeluarkan dana untuk menyewa sebuah kamar hotel. Di dalam kamar itu, disulap menjadi pabrik mini untuk mencetak pil ekstasi. Selain pabrik, kamar hotel dijadikan pusat bisnis dan pemasaran ekstasi. Helmi Effendi (30), memang kreatif bahkan mampu membaca peluang bisnis. Selain bisnis ilegal ini menghasilkan uang yang melimpah, juga bila diproduksi sendiri hasil yang didapat tambah luar biasa. Karena itu, warga Jalan Tanjung Karang, Pekanbaru Riau, mengawali bisnis sesatnya dengan membaca dan mencatat cara membuat ekstasi di dunia maya. Pemuda yang akrab dipanggil Jimmy ini, mencoba membikin beberapa butir XTC lantas diujicobakan keteman dekatnya serta ditelan sendiri. Hasilnya dianggap sempurna. Jimmy pun mencetak lagi. Hasil penjualan dikumpulkan uangnya untuk membeli bahan baku, alat percetakan juga shabu sebagai bahan campurannya. Dana kian terkumpul, Jimmy pun

mengubah strategi. Sejak 12 April 2013, menyewa kamar 104 Hotel Trans Pekanbaru, yang lokasinya sekitar tengah kota. Dipilihnya hotel, selain dianggap aman juga polisi tak pernah meliirik hotel sebagai sarang narkoba. Juga, hotel itu sangat dekat dengan tempat hiburan malam. Sehari, Jimmy mampu mencetak hampir 300 butir ekstasi. Juga berhasil menjual sebanyak 200 butir dengan harga Rp 50.000 per butir. Pe-redarannya bukan hanya di tempat hiburan malam di Pekanbaru saja, namun ke daerah Bangkinang, hingga Kampar. Sabtu 27 April 2013, sekitar pukul 18.00 WIB, kamar 104 hotel yang terletak di Jalan Soebrantas, Pekanbaru, digerebek polisi. Penggerebekan itu tanpa adanya perlawanan. Di dalam kamar, Jimmy hanya seorang diri. "Dari kamar hotel, kami menyita 214 pil ekstasi, bahan baku mentah pembuatan ekstasi, alat-alat membuatnya seperti alat pres untuk mencetak pil. Juga menyita satu paket shabu dan enam kantong plastik tepung," papar Kepala Satuan Reserse Narkoba, Polresta Pekanbaru

Ajun Komisaris NE Banjarnahor dalam keterangan, Rabu 1 Mei 2013. Juga, menemukan alat cetak berupa dua logo mahkota, satu logo tombak, satu logo segitiga, juga uang sebanyak Rp 300.000. "Yang menimbulkan indikasi kuat kamar hotel dijadikan pabrik mini pembuatan ekstasi karena anggota juga menemukan tujuh bungkus tepung atau serbuk putih yang dicurigai sebagai bahan dasar pembuatan pil ekstasi," katanya. Penangkapan Jimmy setelah polisi mendapat informasi adanya penjualan ekstasi di sebuah hotel di Jalan Soebrantas, Pekanbaru. Ternyata setelah digeledah, dari lokasi itu polisi mengetahui Jimmy bukan hanya sekadar menjual, melainkan langsung meracik obat terlarang itu, lanjutnya. Menurut Jimmy, bahan-bahan pembuat ekstasi itu dibeli dari sebuah apotik di Pekanbaru. Adapun shabu dibelinya lewat seorang temannya. Ekstasi itu dibikin sendiri tanpa bantuan orang lain. Bahkan penjualan dan pemasarannya dijalani sendiri. *MU02 Edisi 17 >< Juni 2013

73


SOSIALITA

BERITAKAWANUA.COM

BNN Dorong Daerah Bangun Tempat Rehabilitasi Narkoba

Kepala BNN Drs. Anang Iskandar dan Gubernur Sulut Sarundajang SH.

MANADO - Badan Narkotika Nasional (BNN) mendorong provinsi, kabupaten dan kota agar memiliki tempat rehabilitasi dalam upaya pemberantasan narkoba. "Salah satu yang diperlukan dalam perang terhadap narkoba adalah tempat rehabilitasi bagi pencandu narkoba," tegas Kepala BNN, Komjen Anang Iskandar saat Sosialisasi Narkotika di Manado, Rabu, 24 April 2013.

BNN mengajak pemerintah daerah hendaknya dapat membangun tempat rehabilitasi di wilayahnya. Mengingat, hingga kini belum ada instansi pemerintah provinsi, kabupaten dan kota di Indonesia yang memiliki tempat rehabilitasi bagi korban narkoba. "Saat ini, ada empat tempat rehabilitasi yang dibangun BNN," tandasnya seperti dilansir laman Antara. Sampai saat ini, lanjut Anang Iskandar, jumlah pencandu ataupun pengguna narkoba yang direhabilitasi masih sedikit. Dari sekitar empat juta penguna narkoba, baru sekitar 18.000 yang direhabilitasi. Dari jumlah itu, 2.000 direhab di BNN sisanya 16.000 oleh masyarakat dengan berbagai cara. "Jadi ada yang secara individu mendirikan tempat rehabilitasi serta ada yang secara kelompok, LSM mendirikan tempat rehabilitasi, dan itu bisa membantu 16.000 pengguna," katanya. Berdasarkan data penelitian di Sulawesi Utara (Sulut) terdapat sekitar 36.300 orang terkontaminasi narkoba atau mengkomsumsi narkoba."Jika pengguna itu masuk tempat rehabilitasi, tidak ada satupun yang akan mengkomsumsi narkoba, meskipun peredarannya lewat Sulut," ungkap Kepala BNN. Gubernur Sulut Sinyo Sarundajang mengakui perkembangan narkotika, dewasa ini sangat mengkuatirkan karena merasuk sendi- sendi generasi bangsa. Hal ini nampak dengan meningkatnya kasus penyalahgunaan narkoba setiap tahun tanpa pandang usia.***

KKN Unand Canangkan Pendidikan Antinarkoba PADANG - Lembaga Penelitian dan Pengabdian penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba," Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas (Unand) ucapnya seperti dilansir laman Antara. Padang mencanangkan pendidikan antinarkoba melalui Unand harus menjadi pionir di Indonesia sebagai kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) 2013. Mahasiswa perguruan tinggi pertama yang mengadakan sosialisasi KKN 2013, diberi pengajaran tentang pemberanbahaya narkoba dengan target utama adalah tasan dan pencegahan narkoba yang akan mahasiswa disamping masyarakat umum. disosialisasikan pada daerah penempatannya. "Rencananya pada tahun ini Unand akan melepas "Bahaya narkoba di Indonesia sampai ke sebanyak 3.600 mahasiswa KKN, yang akan pelosok daerah. Ini terbukti banyaknya madisebar ke 200 nagari di kabupaten dan kota di syarakat di daerah terpencil yang terlibat kasus Sumatera Barat," katanya. narkoba. Saatnya Unand sebagai instansi Dengan banyaknya mahasiswa dan pendidikan ikut serta dalam pencegahan tempat yang berbeda, sosialisasi dalam dan pemberan-tasannya," papar Ketua bentuk pendidikan ini dapat mencapai LPPM Unand, James Helliward, di sasaran pada tahun 2013. Pendidikan Padang, Kamis 2 Mei 2013. dan sosialisasi antinarkoba meruUntuk mewujudkannya, Unand pakan perwujudan dari tri dharma menggandeng berbagai instansi dan perguruan tinggi, yakni upaya pemerintah daerah, Kepolisian meningkatkan peranan Unand Daerah, Badan Narkotika Nasional dalam pengabdian masyarakat. "Juga Provinsi, dan beberapa organisasi turut serta meningkatkan kemampuan masyarakat di Sumatera Barat yang sumber daya masyarakat guna mengajarkan berbagai hal berkaitan tercapainya pembangunan menyeluruh di James Helliward masalah narkoba kepada mahasiswa semua lapisan masyarakat," kata James. Ketua LPPM Unand Unand. "Terutama mengenai bahaya **** FOTO: WWW.UNAND.AC.ID

74

Edisi 17 >< Juni 2013


SOSIALITA

Waspadai, NTT Jadi Daerah Transit Narkotik KUPANG - Jaringan peredaran SP. Narkoba memanfaatkan Nusa Diakuinya, lolosnya penyelunTenggara Timur (NTT) sebagai pintu dupan narkoba dari Timor Lest ke masuk dari Malaysia dan negara NTT, karena banyaknya jalan tikus lainnya melalui Negara Republik yang dilewati kurir narkoba, Demokratic Timor Leste (RDTL) sementara peralatan deteksi petugas masuk ke NTT lalu dikirim ke Bali, bea cukai dan BNN tidak ada, Surabaya hingga Jakarta. sehingga barang haram itu dengan BNNP berupaya mewaspadai mudah masuk ke NTT. dan meminilisasi peredaran narkotika “Saya berharap dukungan di wilayah NTT. Maraknya barang pemerintah pusat kepada pemerintah haram yang masuk dari Timor Leste NTT, untuk memasang peralatan ke NTT, perlu dibuat Memorandum pendeteksi narkoba dan barang ilegal of understading (MOU) antara NTT, lainnya, yang sudah sangat mendesak RDTL dan BNN demi membasmi dilakukan. Juga membentuk Badan peredaran narkotika yang kian Narkoba Nasional Kabupaten FOTO: MORAL-POLITIK.COM meresahkan, kata Kepala Badan (BNNK) di Belu, TTU (Timor Narkoba Nasional Provinsi (BNNP) Tengah Utara), Manggarai Barat Aloysius Dando, Kepala BNNP NTT NTT, Aloysius Dando di Kupang, Sumba Timur dan Sumba Barat Data Selasa 23 April 2013. untuk memperkuat dalam ikut memberantas narkoba, " Pemerintah NTT, lanjut dia kini menempatkan petugas harapnya. bea cukai, anggota BNN serta dibantu anggota kepolisian Daerah itu perlu dibentuk satgas narkoba BNNK yang di semua titik rawan di wilayah perbatasan RI - RDTL. akan ditempatkan di daerah rawan narkoba seperti di "Hasilnya sindikan yang kita tangkap dari warga negara perbatasan Motain dan di kota Atambua (Belu) dan TTU, India, Kolombia, Malaysia, Singapura, Philipina, Korea, untuk mencegah masuknya narkoba secara besar-besaran dan Thailand,” papar Aloysius seperti dikutip dari laman ke Indonesia melalui Timor Leste, tegasnya serius. ****

Jangan Anggap Remeh Masalah Beser JAKARTA - Inkontinensia Urine atau yang kita kenal “beser”, merupakan pengeluaran cairan urine tanpa disadari dalam jumlah dan frekuensi yang cukup,. Kondisi ini berdampak pada gangguan kesehatan, ketidaknyamanan, bisa menurunkan kualitas hidup bahkan sosial, termasuk ganguan seksual. Hasil penelitian banyak terjadi pada wanita usia 35 hingga 65 tahun. Bahkan pria di usai 50 tahun sudah mengalami beser, yang setiap hari bisa kencing sampai 8 kali atau malam hari selalu balok-balik ke toilet. "Beser bisa diobati. Jika tidak diobati terjadi komplikasi yang menimbulkan infeksi kandung kemih, ginjal , mengganggu secara psikis,” kata Dr. Hindo, konsultan Metode Inkontinensia Urin On Clinic Indonesia dan Prof. Jack Vaisman dari On Clinic Internasional di Jakarta, Rabu 1 Mei 2013. Penyebab beser , lanjut dia, hilangnya kontrol buang air kecil yaitu saraf yang mengendalikan otot-otot kandung kemih menjadi lebih aktif, sehingga harus segera diobati. “Kini hadir pelayanan “Bebas Beser” di Indonesia untuk membantu mengatasigangguan beser dengan pengobatan yang memberikan tingkat keberhasilan tinggi dan relatif aman,” ungkapnya. Fithrie Firdaus, GM On Clinic Indonesia menambahkan beser pada perempuan lebih akibat stres. Artinya, keluarnya urine semata-mata karena melahirkan, batuk, bersin dan semua gerakan lain seperti olahraga. Hasil penelitian, pada perempuan yang belum pernah

FOTO: ENDY

menikah, didapatkan kejadian 5%, pada wanita dengan satu anak mencapai 10%, dan meningkat sampai 20% pada wanita dengan jumlah anak lebih dari satu orang. Penderita beser pada usia 35-65 tahun mencapai 12%. Prevalensinya meningkat sampai 16% pada orang usia lebih dari 65 tahun. "Selama ini, penderia beser tidak pernah berobat. Karenanya penderita beser perlu solusi yang tepat. Kami menyediakan pengobatan dengan kapsul yang diracik sendiri dari tim ahli On Clinic," tambah Fithrie. Hal itu juga dibenarkan oleh Dewi Hughes yang hadir sebagai telent Bebas Beser Indonesia bersama suaminya Roy Immanuel, dan talent on clinic Ikang Fauzi. *MU02 Edisi 17 >< Juni 2013

75


PENGADILAN NARKOBA

WWW.STRAITSTIMES.COM

Turis Jerman Selundupkan Hasis Divonis Seumur Hidup

Rolf Oskar Josef Schweikert

MATARAM - Rolf Oskar Josef Schweikert (57), turis asal Jerman yang menyelundupkan hasis seberat 3,7 kilogram, divonis hukuman penjara seumur hidup oleh majelis hakim yang dipimpin Pastra Joseph Ziralluo

dengan anggota Sari Sudarmi dan Jon Sarman Saragih, di Pengadilan Negeri Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu 1 Mei 2013. "Terdakwa Rolf terbukti secara sah dan meyakinkan memasok narkotika jenis tanaman lebih dari lima gram ke wilayah Indonesia tanpa hak atau tanpa sepengetahuan Pemerintah Indonesia, sehingga dipidana penjara seumur hidup," demikian amar putusan majelis hakim. Vonis ini sesuai tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Ketut Gede Eka Swara. Atas putusan itu, Roft menyatakan pikir-pikir. Dalam persidangan terungkap, terdakwa Rolf menyelundupkan hasis sebanyak 3,7 kilogram, yang disembunyikan dalam koper khusus. Aksi itu diketahui petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean C Mataram. Modus operandi kasus penyelundupan narkotika yakni 'false compartment' atau disembunyikan dalam dinding koper yang direkayasa sedemikian rupa. Rolf merupakan penumpang pesawat Silk Air nomor penerbangan MI 128, yang "inbound" dari Nepal transit di Bandara Changi Singapura, tujuan Lombok (Indonesia), yang tiba di BIL, Sabtu, 13 Oktober 2012 pukul 19.00 Wita. Bahkan, warga Jerman itu juga telah mengantongi tiket penerbangan keluar dari Indonesia, yang dijadwalkan 22 Oktober 2012, via Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, menuju Malaysia. *MU02

Selundupkan Narkoba, Dua WN Malaysia Divonis 30 Tahun SANGGAU - Abdillah (34) dan Colin Jong (41), dua Warga Negara Asing (WNA) asal negeri jiran Malaysia, divonis masing-masing 15 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Sanggau. Keduanya dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan penyelundupan narkoba jenis shabu seberat 46,2 Kg dan 350 inex. Vonis ini, lebih ringan dua tahun dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut 17 tahun penjara. "Kedua orang ini ditangkap pada 29 November 2012m sekitar 16.30 WIB setelah terjaring razia Kepolisian Sektor Sekayam," kata Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sanggau, Heni Kurniana, Selasa 30 April 2013. Heni mengungkapkan, awalnya kedua WNA asal Malaysia membawa barang haram dari Malaysia dengan menggunakan kendaraan roda empat. Apes yang dialamai keduanya. Saat membawa barang terlarang, anggota Polsek Sekayan tengah berpatroli. Setelah diperiksa ditemukan dua jenis narkoba yang tersimpan dibagasi mobil. "Pengakuan kedua terpidana barang bukti itu akan dibawa ke Pontianak. Mereka mengaku dihubungi Mr Low untuk membawa barang itu,â&#x20AC;? ungkap Jaksa yang 76

Edisi 17 >< Juni 2013

WWW.MERDEKA.COM

Foto Ilustrasi

baru menjabat sebagai Kasi Pidum Sanggau. Kedua warga negara tetangga mengajukan banding, karena hukumannya dinilai sangat memberatkan. Alasan lainnya, narkoba itu merupakan titipan seseorang yang seharusnya bertanggung jawab dalam masalah ini. *MU02


PENGADILAN NARKOBA

REGIONAL.KOMPAS.COM

Diganjar 12 Tahun, Bandar Shabu Serang Wartawan

Suasana sidang Nur Chalis alias Kolis.

MEDAN - Nur Chalis alias Kolis, terdakwa kepemilikan shabu marah. Kemarahan itu dilampiaskan dengan menyerang kameramen telivisi Nasional, serta wartawan foto yang mengambil gambar dirinya saat sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis 14 April 2013. "Apa kau. Hai, kamera itu. Jangan kau ambil gambar aku," teriak Kolis dengan nada berang. Emosi Kolis muncul, setelah keluar dari ruang persidangan. Kolis yang ngaku sebagai Direktur perusahaan ekspor pinang di Aceh, mencoba memukul wartawan yang mengambil gambarnya.Untungnya, serangan itu dihalau petugas kepolisian yang mengawalnya. Kolis pun dimasukkan

dalam ruang sel tunggu di dalam PN Medan. Dalam persidangan yang dipimpin majelis hakim I Dewa Gede, terdakwa Kolis diganjar selama 12 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar dan subsider enam bulan kurungan. Karena terbukti membawa shabu seberat 500 gram. Vonis itu lebih berat ketimbang tuntutan Jaksa penuntut umum (JPU) Dewi SH, yang menuntut 11 tahun penjara. Dalam persidangan terungkap, Lelaki asal Bireun Aceh datang ke Medan atas suruhan Syafrudin alias Abu Min, dengan uang saku serta tiket bus Kurnia. Sesampainya di Medan, Kolis diminta mengantarkan paket berisi celana jeans dari Nasir alias Abu Sir untuk diserahkan ke Abu Min. Sebelum paket diserahkan, Kolis ditangkap polisi di Jalan Pembangunan, Pasar 3 Sunggal Medan, Rabu 17 Oktober 2012 pukul 12.30 WIB. Penangkapan karena didalam paket itu berisi shabu seberat 500 gram. Kolis mengaku narkoba itu bukan miliknya namun milik Abu Min yang kini berstatus DPO. "Saya juga bilang sama polisi kalau Abu Min tinggal di komplek Bumi Asri, tapi polisinya tidak mau menangkap," kata Kolis dalam pembelaanya. Dalam amar putusannya, Majelis Hakim menyatakan, terdakwa terbukti memiliki narkotika jenis shabu seberat 500 gram yang melanggar Pasal 114 ayat (2) UURI No.35 Tahun 2009, tentang Narkotika. *MU02

PEKANBARU - Terdakwa kasus narkoba Dodi Irawan alias Dodi (37), tak kuasa menahan harunya, saat Majelis Hakim yang menyidangkan perkaranya menjatuhkan vonis bebas, Selasa 9 April 2013. Usai Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru yang diketuai Masrizal SH, menutup sidang Dodi bergegas berdiri dari kursinya dan maju kedepan sambil menyalami Majelis Hakim. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sabar SH yang semula tidak menyangka terdakwa akan divonis bebas, sempat kaget mendengar vonis itu. Sebab dalam sidang sebelumnya ia menuntut terdakwa Doddi dengan hukuman 7 tahun penjara ditambah denda Rp 1 miliar dengan subsider 1 bulan penjara. Atas vonis bebas, Jaksa Sabar langsung menyatakan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Majelis Hakim dalam amar putusanya menyatakan, terdakwa secara sah dan meyakinkan tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana tanpa hak melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan narkotika golongan I bukan tanaman. "Terdakwa tidak terbukti melanggar pasal 112 UndangUndang RI No 35 Tahun 2009 tentang narkoba," ujarnya. Putusan ini kata Hakim Ketua, diambil pihaknya sudah berdasarkan keterangan saksi-saksi dan alat bukti yang diajukan dalam persidangan." Untuk itu terdakwa kami nyatakan harus dibebaskan dari segala tuntutan. Dan memerintahkan jaksa agar mengembalikan harkat

RIAUAKSI.COM

Terdakwa Narkoba Divonis Bebas

Terdakwa kasus narkoba Dodi Irawan

dan martabak terdakwa seperti semula," paparnya. Dalam dakwaan JPU, terdakwa ditangkap Satres Narkoba Polresta Pekanbaru, di rumahnya Jalan Kurnia, Kelurahan Limbungan, Rumbai, Sabtu tanggal 1 September 2012, sekitar pukul 16.00 WIB. Dalam penangkapan ditemukan tujuh paket shabu seberat 18 gram yang ada dalam dompet. Serta satu timbangan digital dan pelastik bening diduga sebagai pembungkus shabu yang disimpan dalam laci meja tulis. Ternyata terdakwa menolak dakwaan jaksa. *MU02 Edisi 17 >< Juni 2013

77


LINTAS NARKOBA

Dua Wartawan Terjerat Narkoba .REGIONAL.KOMPAS.COM

GORONTALO - Dua wartawan media lokal di Gorontalo terjerat kasus narkoba. Polisi menangkap RL alias P (38) diduga sebagai pengedar, dan RWS alias A (26) diduga sebagai pemakai narkoba jenis shabu. Mereka bekerja di dua surat kabar yang berbeda. Keduanya mengaku sejak tahun 2011 memakai narkoba. Polisi pertama menangkap RWS dan MK alias U (22) saat keduanya sedang pesta shabu di sebuah hotel di jalan Kasuari, Kota Gorontalo, Kamis 02 Mei 2013. Dari tangan keduanya, polisi menemukan satu paket shabu seberat 0,5 gram. Keduanya mengaku dapat barang terlarang dari RL. "Saat dikembangkan, polisi menemukan 4 paket shabu di rumah wartawan senior RL dan satu paket di rumah MK, wartawan yunior. Enam paket shabu seberat 3 gram," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Gorontalo AKBP Lisma Dunggio, Jumat 03 Mei 2013. *MU02 Foto Ilustrasi TEKKOMSATBRIMOB.BLOGSPOT.COM

Budak Shabu, PNS Dinas Pendidikan Diringkus

Dir Narkoba Polda Sumut KBP Toga H Panjaitan

Gerebek Pesta Shabu Polisi Diteriaki Maling MEDAN - Inilah resiko yang dihadapi polisi, saat menggerebek pesta narkoba diteriaku maling. Teriakan itu tak mempan karena sudah tahu ada pesta narkoba jenis shabu di Aek Kanopan, Kecamatan Waluh Hulu, Kabupaten Labuhan Batu Utara, Sumatera Utara, Rabu 1 Mei 2013. Sembilan orang dibekuk, dua diantarnya pasangan suami-istri. "Mereka yang ditangkap ada bandar, pengedar dan pemakai. Mereka sudah lama diincar. Dan saat digerebek, kami sempat diteriaki maling. Bahkan ada yang berusaha kabur," kata Direktur Narkoba Polda Sumut Komisaris Besar Toga H Panjaitan, Jumat 3 Mei 2013. Roslina Nasution (47), menjadi bandar narkoba mengaku selama lima tahun, menyediakan rumahnya sebagai tempat transaksi dan pemakaian narkoba. Roslina dan suaminya, Azwansyah Munthe (51), yang juga ikut ditangkap. Polisi menyita 2,4 gram sabu, 1 ons ganja, sepucuk pistol softgun, dan uang Rp 18,8 juta. *MU02 78

Edisi 17 >< Juni 2013

MAGETAN - AK, pegawai negeri sipil (PNS) Dinas Pendidikan Magetan sudah tiga tahun menjadi budak shabu. Namun Kamis 2 Mei 2013 menjadi hari terakhir sebagai pemakai shabu, setelah dicokok petugas Kepolisian Resort (Polres) Magetan, Jawa Timur, usai membeli shabu di jalan Desa Mojopurno, Kecamatan Ngariboyo, Magetan. "Dari tangan warga Desa Bibis, Kecamatan Sukomoro, Magetan, kami menemukan shabu seberat 0,5 gram yang disimpan dalam plastik beserta alat penghisapnya (bong) dan korek api," papar Kepala Sub Bagian Humas Polres Magetan Iptu Iin Pelangi, Kamis 2 Mei 2013. Kepada petugas, tersangka yang biasa disapa Kancil mengaku mengonsumsi shabu sejak tiga tahun terakhir. Shabu yang dibawanya baru dibeli dari temannya di Malang seharga Rp500 ribu. â&#x20AC;&#x153;Kami masih mengembangkan kasus ini lebih lanjut. Saat ini petugas masih memburu teman tersangka yang menjual shabu itu,â&#x20AC;? sambungnya. *MU11 BERITA.YAHOO.COM

Tersangka AK.


LINTAS NARKOBA

JAKARTA - Tak pegang uang disaat ketagihan narkoba, berbagai cara jahat pun dijalankan. Handi Hidayat (32), sang pecandu narkoba nekad mencuri motor di Jalan Kramat Pulo Dalam, Jakarta Pusat, Kamis subuh, 11 April 2013. Namun, aksi itu ketahuan warga sehingga Handi jalan bulan-bulanan. "Saya sudah lima kali mencuri motor. Baru kali ini apes ketangkap. Memang gasilnya saya pakai buat beli shabu. Saat saya ketahian aja mencuri," papar warga Bogor di Mapolsek Senin Jakarta Pusat, pekan lalu. Kapolsek Senen Kompol Kartono,SH menilai dari cara beraksi, Handi sudah profesional dan mempunyai jaringan di Bogor. Pria ini termasuk licin karena kalau beraksi selalu gonta-ganti pasangan. "Diakuinya hasil dari pencurian untuk pesta narkoba, ini yang kita kembangkan kasus narkobanya," papar Kompol Kartono. *MU02

INDONESIANA.SERUU.COM

Curi Motor Buat Beli Narkoba

Foto Ilustrasi

Instruktur Senam Simpan Shabu di Celana Dalam

WWW.MERDEKA.COM

Kasat Sabhara Polrestabes Surabaya, AKBP Iwan Setyawan saat menginterogasi keenam tersangka pesta pil koplo, keempat diantaranya berstatus pelajar.

Galau Usai UN Pelajar Pesta Pil Koplo SURABAYA - Ujian Nasional (UN) 2013, yang carut marut berdampak pada anak didik. Usai ujian, empat pelajar Surabaya gelar pesta Pil Koplo dicampur minuman keras (Miras) di kawasan Jalan Banyu Urip Kidul, Jumat 26 April 2013. Mereka pun ditangkap, dua pelajar SMP swasta di Surabaya, DA (16) dan GR (16) dan dua pelajar SMA, AJ (17) dan AF (17). "Saya lagi sumpek, dan diajak teman pakai pil kopolo usai mengikuti UN. Waktu ada ajakan, ya saya terima saja," kata DA di hadapan penyidik di Mapolwiltabes Surabaya. AJ yang mengaku memiliki 20 butir pil koplo dari temannya yang bernama Faisol. Dan 20 butir pil tersebut dikemas dalam dua tik (tablet). "Saya beli seharga Rp 26 ribu dari Faisol. Sepuluh butirnya seharga Rp 13 ribu," aku AJ. Saat pesta berlangsung, mereka menegak dua butir pil koplo. Dan tersisa delapan butir yang diamankan petugas untuk barang bukti. *MU11

KARIMUN - Banyak cara sembunyikan shabu agar tak ketahuan. M (33) instruktur senam di Karimun, Kepulauan Riau (Kepri) menyimpan shabu dibalik celana dalam karet ketat, yang dikenakannya. M gelisah saat turun kapal Miko Natalia dari Batam. Saat digeledah di Pelabuhan domestik Tanjungbalai Karimun , kecurigaan polisi terjawab karena ditemukan lima paket shabu-sabu di celana dalamnya. Setelah digelandang ke Polres Karimun, M mengaku barang haram ini pesanan A, pengusaha mebel "Glory Furniture" di Karimum. Polisi langsung menangkap wanita yang juga pernah tersangkut kasus yang sama dan dihukum penjara selama tujuh bulan pada 2011. A diringkus di rumahnya, Baran III Kelurahan Baran Kecamatan Meral, Rabu malam 17 April 2013. Dari tangan M diamankan lima paket shabu seberat 25 gram senilai Rp25 juta. Sementara, A baru membayarnya ke sebesar Rp22,5 juta ""Kami masih melakukan pengembangan siapa bandar narkobanya di Batam," tegas Kasat Narkoba Polres Karimun AKP Fajar Widya Dharma SIk, *MU02

Foto Ilustrasi Edisi 17 >< Juni 2013

79


KISAH NYATA

Aku Kembali Menata Hidup Setelah Lama Tertidur This is my story, for you to know and learn.. For me to share and hope with all my heart, that your pain will be less than mine.. So Judge Me Not for My Past but for What I am Today - APK

80

Edisi 17 >< Juni 2013

A

ndaikan di waktu itu aku bisa membuat keputusan yang lebih baik dan menjauh, mungkin ceritanya akan berbeda sekarang... Melewati masa remaja dengan mendapat banyak kelebihan untuk ukuran saya. Anak terakhir dan perempuan satu-satunya dari 4 bersaudara yang mempunyai impian semenjak kecil untuk bisa mengambil psikologi di Universitas Indonesia dan itu sudah menjadi goal yang tersimpan semenjak kelas 4 SD, pertama kalinya menginjakan kaki di Universitas Indonesia untuk tes psikologi. Ingatan masa lalu itu masih tersimpan jelas, Namun setelah lulus SMA kenyataan bahwa diterima di Sastra Inggris, UI tidak memuaskan saya.

Maka saya meminta orang tua untuk cuti agar bisa mendapat kesempatan di tahun berikutnya. Tanpa saya sadari tahun 2000 ini ternyata akan menjadi persimpangan dalam hidup saya, berkenalan dengan lingkungan pergaulan baru, teman dengan dunia yang berbeda, segala sesuatu yang saya anggap bukan hal biasa pada akhirnya. Dan di saat inilah cerita dan perjuangan dimulai... Mempunyai fasilitas dan kebebasan ternyata terkadang bukan hal yang baik, i wish i could say that before.. Kepercayaan yang diberikan karena dianggap sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan tidak saya pergunakan dengan baik. Karena kosongnya waktu dan perbedaan


KISAH NYATA umur yang cukup jauh dengan kakakkakak saya membuat saya merasa sendiri, saya jadi banyak bermain diluar rumah untuk hal yang tidak penting dan hanya senang-senang. Mulai pulang malam, pulang pagi, dan karena kebetulan ikut perkumpulan klub mobil jadi nampaknya selalu ada waktu dan teman diluar. Seperti halnya waktu yang kosong, teman dekat pun mulai menjadi pilihanmengisi waktu. Yang pada saat itu adalah pacar ceritanya, adalah yang memperkenalkan pada narkoba pertama kalinya. Tanpa mengetahui efek yang diberikan, setiap hari dengan enaknya membawakan untuk digunakan bersama. Yang aku tau itu namanya ‘Putauw’, memberikan rasa tenang dan nyaman sesaat. Mungkin karena kurang dewasanya pemikiran saya pada saat itu, segala masalah tampak seolah hilang pada waktu itu, dan itu menjadi jawaban yang aku cari. Dengan dalih itu pun aku terus menggunakan narkoba. Perubahan perilaku yang semakin parah mulai terlihat oleh orang tua bahkan keinginan untuk meneruskan di UI pun sudah mulai terlupakan begitu saja. Peringatan yang tidak pernah aku gubris, sampai akhirnya dipisahkan secara paksa oleh orang tua saya. Dan disaat itulah aku mulai merasakan tidak enaknya, badan mulai

terasa sakit, linu, keringat dingin, mual, benar-benar sakit. Masuklah aku pada detoks pertama di Pondok Indah. Dikunjung semua keluarga dengan dukungan penuh agar aku semangat. Rasa ingin menggunakan itu masih menempel di kepala, namun semua dukungan itu yang membuat bertahan dan lebih kuat karena ingin segera keluar dari rumah sakit untuk bisa masuk kuliah. Hari pertama setelah keluar detox, aku langsung memasuki dunia perkuliahan “fresh start” walaupun akhirnya bukan di universitas idaman namun tetap Psikologi yang aku pilih. Semua berjalan baik selama kurang lebih setahun, sampai waktunya datang masalah dalam keluarga yang mebuat aku cukup terguncang. Merasa tidak bisa menceritakan masalah pada siapapun, semua aku pendam sendiri tanpa solusi sampai akhirnya lari dan menggunakan kembali. Mengulang kembali proses detox dari awal dan kali ini langsung ke Rehabilitasi Narkoba. Bahkan setelah keluarpun sakit dalam hati dan pikiran ini belum terobati, keinginan menggunakan masih terus lekat di ingatan. Berbagai masalah kian menumpuk tanpa terasa 10 tahun berlalu dari semuanya detox, istirahat, kuliah baru, pakau lagi, sampai semua jenis narkoba kini sudah pernah

Ketua Yayasan Keluarga Pengasih Indonesia Bapak Wayan Sutharta saat sedang diskusi dengan Direktur peran Serta Masyarakat BNN Drs. Siswandi

dicoba, jualan barang supaya keuntungannya bisa untuk pakau, selalu on off dan nampak tiada hentinya. Bahkan setelah menikah dan mempunyai anak, nampaknya aku belum jera. Keluarga yang terus berusaha mengobati dengan berbagai carabahkan dipindahkan keluar kota, nampaknya tidak berhasil, dan mulai jenuh melihat aku. Masalah dalam keluarga semakin parah, karena semua selalu berusaha aku selesaikan dengan caraku, narkobaku dan pertengkaran sudah menjadi hari-harianku. Sikap yang sudah tidak karuan nampak menjadi normal buatku sekarang, namun dalam hati ini lelah bukan main. Menjerit sedih ingin melepaskan diri tapi tak berdaya. Bagaimana cara aku berhenti?? Dalam doaku disaat tersadar, walaupun tidak pernah didengar orang lain, “Ya Allah, aku lelah melawan semuanya berikanlah aku jalan yang terbaik walaupun akhirnya kematian lah pilihan yang Kau berikan”. Berusaha berhenti Pada tahun itu disaat puncak lelahku dan waktu aku sedang berusaha berhenti, aku tetap berusaha mencuri waktu untuk mendapat barang. Dan kali ini nasib berkata lain, Orang yang membelikan barang buatku tertangkap dan dia meneruskan penyelidikan ke aku sebagai pemiliknya. 14 Februari tanggal BAP aku, antara tragis di hari kasi sayang merasakan dingin dan tidak manusiawinya sel tahanan. Yang terlintas pertama di pikiran aku adalah anak aku yang sedang tertidur dirumah, dan keluarga aku betapa aku sudah mengecewakan mereka. Baru tersadar dan membuat aku sedih tak terkira, karena di saat itulah setelah sekian tahun adalah pertama kalinya aku memikirkan tentang orang lain terlebih dahulu, bahkan disaat yang menyulitkanku.Justru yang membuat keluarga aku semakin terkejut adalah saat aku meminta untuk tidak diurus, biar aku jalani ini sebagaimana mestinya karena ini adalah kesalahanku. Namun keluarga tetaplah keluarga dan menginginkan yang terbaik, walaupun aku tetap pada keinginan ku. Ternyata berhenti dalam penjara Edisi 17 >< Juni 2013

81


KISAH NYATA bukanlah hal yang gampang, mudahnya barang tersedia dan terjaga juga menjadi godaan berat, berat pada awalnya tapi semakin mudah setiap harinya dan sampai akhirnya tidak terasa sulit lagi.Rupanya niat baik dan keteguhanku untuk tetap bertahan didengar Tuhan, ada orang yang berbaik hati dan mau menolong proses persidangan aku sampai selesai. Sampai akhirnya putuslah aku 1 tahun di sidang, dan menjalani 7 bulan masa tahanan. Herannya mendekati waktunya untuk bebas, aku malah kebingungan. Menjadi dilema bahwa konflikkonflik yang sering terjadi masih belum terselesaikan sepenuhnya, dilema nya aku ingin pulang tapi sadar bahwa bila aku pulang dan mulai tertekan dengan masalah yang ada, aku takut akan terdorong untuk mencari solusi singkat lagi dengan pakau. Maka bulatlah keputusanku untuk tidak pulang kerumah dulu sementara dan tinggal di luar, mungkin aneh untuk semua orang terlebih keluargaku sendiri. Bahkan keputusan untuk tetap berpisah dari ayah anakku pun juga sudah tidak tergoyahkan. Tapi itulah kenyataannya bahwa aku mengutamakan kesehatan dan kewarasan pikiranku dengan menjauh dulu, karena aku sayang diriku dan mereka. Mungkin sudah jalannya, dan akhirnya aku ditemukan oleh orang tuaku dengan seseorang yang mempraktekan CBT (Cognitive Behaviour Therapy), awal mereka mengenal pun dari seminar yang diadakan YKPI (Yayasan Keluarga Pengasih Indonesia) tempat aku bekerja sekarang. Dengan pemikiran bahwa aku akan mencoba apapun untuk memperbaiki diriku, aku lekas menekuni konselingnya sampai akhirnya aku tinggal sementara di bandung agar dapat intens mendalami CBT. Tidak disangka, pemikiranku mulai berubah, mood swing jauh berkurang, penerimaan aku terhadap suatu keadaan yang bahkan tidak aku sukai menjadi ringan. Hari demi hari terlewati dan tanpa aku sadari aku menjadi orang yang jauh lebih kuat, lebih dewasa, lebih bijak. Uniknya dari tekhnik ini adalah hanya dari “cara pandang”, di saat kita merubah bagaimana cara kita 82

Edisi 17 >< Juni 2013

Drs. Siswandi saat diskusi di Yayasan Keluarga Pengasih Indonesia (YKPI).

melihat suatu keadaan, ternyata itu merubah banyak hal termasuk membuat keputusan yang lebih baik. Yang bila diingat, keputusan yang lebih baik adalah yang aku sangat butuhkan disaat aku mulai menggunakan narkoba. Aku mulai belajar hidup sekarang, mengatasi masalah yang ada, berinteraksi baik dengan keluarga, semua hal yang pernah hilang, sekarang satu per satu kembali. Aku mulai menata kembali hidup aku yang sudah lama tertidur. Aku selalu ingin berbagi dengan sesama aku, teman-temanku, menunggu waktu yang tepat untuk melangkah dan sampailah pada penawaran dari BNN untuk berangkat dan mempelajari rehabilitasi di Amerika. Pada saat itu Deputi Rehabilitasi adalah salah satu orang yang sangat mendukung keberangkatanku ke Daytop, New York untuk suatu Internship Program selama 2 bulan. Semenjak itu semua berjalan tanpa terasa, walau hidup mustahil tanpa masalah namun semua bergulir dengan indahnya. New York, Paris, Bali, Bangkok, Sungguh seperti mimpi dan aku bersyukur setiap harinya kepada Tuhan. Beberapa tahun yang lalu aku bukan siapa-siapa, bahkan seorang tahanan negara. Tapi aku sekarang adalah sesuatu

yang berbeda, internship program di New York *done*, travelling ke Paris *done*, Pembicara di perhelatan Internasional WFTC *done*, Proses sertifikasi internasional dari Colombo Plan *done*, menjadi ibu yang lebih baik *done*, berusaha menjadi anak dan adik yang dapat dibanggakan *done*, membantu sesama *done*. Ya Allah besar hadiah yang Kau berikan terhadap satu keputusan yang ku buat dan ku pertahankan, Terima Kasih Ya Allah setiap hari aku bersyukur padamu. ***

With all my Heart APK – Yayasan Keluarga Pengasih Indonesia, Senayan Biografi: Universitas Paramadina – Psikologi Next Academy – Broadcast Interstudi – Public Relation Daytop International Internship Program, New York Speaker at World Federation of Therapeutic Comunities, Bali Member of Indonesian Federation of Therapeutic Comunities, Jakarta Sahabat Rekan Sebaya Dr. Aisah Dahlan, Jakarta Secretary at Yayasan Keluarga Pengasih Indonesia Program Development at Save House – Yayasan Keluarga Pengasih Indonesia‘


Edisi 17 >< Juni 2013


CRIME STORY

Overdosis, Sederet Musisi Meregang Nyawa Narkotika masih menjadi pelarian musisi dunia karena termakan istilah menyesatkan â&#x20AC;&#x153;Tak ada kata tak siap di atas pentasâ&#x20AC;?. Narkoba dianggap meningkatkan penampilan di panggung hiburan. Dengan narkoba, musisi menganggap kepercayaannya naik, inspirasi bertambah, kreativitasnya seni meningkat. Padahal itu anggapan semu, malah menghancurkan kariernya.

P

enggunaan narkoba, juga bisa dijadikan para musisi untuk lari ketika tekanan hidup menerpa. Apalagi gaya hidup artis yang glamor berdampak pada kehidupan keluarga mereka yang mudah retak. Belum lagi soal tuntutan karier, fans, dan konflik kehidupan lain yang sering menyelimuti mereka. Fenomena ini tidak hanya terjadi di

Edisi 17 >< Juni 2013

kalangan musisi Indonesia, namun di musisi seluruh dunia juga mengalami nasib sama. Artis paling rentan ketika bicara narkoba. Pusaran karier mereka pada dunia seni dan hiburan, dengan tuntutannya pada gaya hidup dan halhal yang menyenangkan dan kreatif, menjadikan narkoba sebagai pelarian yang menyesatkan. Mengingat banyak nyawa musisi melayang akibat overdosis (OD). Terakhir, Rabu 1 Mei 2013 waktu Amerika Serikat, rapper dunia Kriss Kross, Chris 'Mac Daddy' Kelly ditemukan tewas ID di rumahnya di Atlanta, Amerika serikat. Rapper dunia meregang nyawa dalam usia 34 tahun. Mengutip The Sun, Kamis 2 Mei 2013, penyidik Betty Honey mengatakan autopsi masih berlangsung

untuk menentukan penyebab kematian yang telah ditentukan Fulton County Medical Examiner. Tetapi, Billboard melaporkan Chris meninggal mungkin karena overdosis. Kematian Rapper muda juga dipertegas Juru Bicara Kepolisian Fulton County, Kay Lester kepada Associated Press yang mengakui kelebihan dosis penggunaan narkoba yang menyebabkan Chris Kelly meninggalkan kita semua. Seorang rekan Chris Kelly yang dimintai keterangan polisi mengaku, Kelly memakai narkoba campuran heroin dan kokain pada Selasa petang. Menurut sang paman, Kelly memang punya sejarah ketergantungan pada narkoba. Dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh perusahaan rekaman So So Def dan ibu Kelly, Donna Kelly Pratte, mengatakan Chris Kelly merupakan sosok yang baik, bijaksana dan penuh kasih. "Sangat sedih kami mengumumkan Chris Kelly yang kami cintai meninggal dunia pada tanggal 1 Mei," bunyi pernyataan itu. Selain itu, peninggalannya akan terus hidup melalui musik-musiknya. Bahkan, LL Cool J menulis via twitter. "R.I.P Chris Kelly. Lagu ini sekarang resmi didedikasikan untuk Anda. Semoga Tuhan merangkul jiwa Anda & menguatkan keluarga." Kelly saat aktif bersama Kris Kross mendapat panggilan 'Mac Dady', rekannya Chris Smith dijuluki 'Daddy Mac'. Kedua rapper ini memiliki gaya berpakaian terbalik. Duet mereka populer pada tahun 1992 lewat lagu hit mereka bertajuk, Jump. Lagu ini menduduki posisi teratas tangga lagu di AS pada tahun itu dan berada di posisi kedua tangga lagu Inggris pada bulan Mei tahun 1992. Empat tahun kemudian keduanyamerilis album ketiga dan terakhir, Young, Rich & Dangerous pada 1996. Album itu tak bisa menembus tangga


lagu AS di 10 besar. Kondisi ini membuat Chris Kelly lari ke dunia narkoba. Pada Februari 2013, Kris Kross sempat tampil merayakan 20 tahun label rekaman "So So Def ", yang telah mengontrak keduanya. Duo ini juga pernah dikenal karena menggunakan kaos secara terbalik serta celana model baggy ekstra besar. Kelly dan Smith ditemukan oleh pencari bakat di sebuah mall di Atlanta saat mereka berusia 13 tahun. Musisi Tewas OD Sebelumnya, Sabtu 11 Februari 2012, Whitney Houston, musisi yang mencapai puncak karirnya berkat kekuatan olah vokal, beberapa tembang hits serta filmnya yang mencapai box office, ditemukan meninggal dunia di bak mandi kamar hotel Baverly Hilton, Baverly Hills, akibat overdosis. Juga, Amy Winehouse (27), musisi jazz dan blues, ditemukan tewas OD di London, Sabtu 23 Juli 2011) pukul 4.15 waktu setempat. Penyanyi asal Inggris meninggal pada usia 27 tahun. Hasil otopsi : dalam darahnya ditemukan kadar alkohol dan narkoba lima kali lebih besar dari batas aman untuk mengemudi kendaraan. Winehouse diketahui berjuang melawan alkohol dan narkoba selama karirnya yang sukses meskipun sangat singkat. Michael Jackson, Raja pop meninggal di usia ke-50 pada Juni 2009 karena overdosis bius propofol dan obat penenang. Kematiannya terjadi selang beberapa minggu sebelum konser kembalinya ke dunia hiburan. James Owen Sullivan (Avenged Sevenfold), adalah seorang drummer berusia 28 tahun, dan biasa dipanggil The Rev. Dia ditemukan tewas di kediamannya di California Selatan, pada 28 Desember 2009 akibat overdosis obat-obatan terlarang. The Rev pernah 2 kali manggung di Indonesia Shannon Hoon (Blind Meloon), adalah satu pencandu obat dan memiliki perilaku aneh. Pada tahun 1995, Shannon mempunyai satu anak perempuan yang bernamaNico blue dari hubungan dengan pacar lamanya. Shanoon berusia 28 tahun sudah berupaya untuk membuat dirinya bersih dari drugs dan diaberusaha

Chris "Mac Daddy" Kelly ditemukan tewas di dalam rumahnya di Kota Fulton, Atlanta.

masuk rehab obat terlarang. Namun malang bagi Shannon upayanya untuk bersih gagal, dan ia pun tewas overdosis pada 21 Oktober 1995. Kurt Cobain (Nirvana), penyanyi dan penulis semua liric lagu Nirvana berusia 27 tahun, tewas mengenaskan di rumahnya di Lake Washington dengan kepala hancur akibat peluru yang ditembakkan ke mulutnya. Diketahui ia tak kuat menanggung rasa sakit ditubuhnya dari ketergantungan narkoba yang makin menggerogoti tubuhnya. Dua minggu sebelum bunuh diri, Cobain berada di pusat rehabilitasi narkoba di LA, namun Cobain melarikan diri. Sampai saat ini masih simpang siur kabar tentang kematian Cobain, antara bunuh diri atau dibunuh pada 5 April 1994. John Bonham (Led Zeppelin), seorang drummer dari Britania Raya, Bonham saat berusia 32 tahun yang merengkuh kesuksesan pada usia muda membuatnya bersahabat dengan minuman keras terutama vodka, yang membawanya pada kematian akibat sesak nafas. Dan meninggal overdosis pada 25 September 1980. Elvis Presley, dinyatakan tewas di rumah sakit di Tennessee Agustus 1977. Saat itu usianya masih 42 tahun dan berada pada puncak karirnya sebagai musisi. Presley ditemukan tidak sadarkan diri, kemudian hasil autopsinya menyatakan penyebab kematiannya adalah overdosis narkoba. Tim Buckley, saat berusia 28 tahun nyawanya melayang. Drugs dan alkohol adalah salah satu pembunuh paling besar musisi saat ini, dan Tim Buckley adalah salah satu bakat hebat yang mengalah kepada drugs dan alkohol. Penyebab kematianya resmi dikarenakan "heroin akut /

morfin dan intoksikasi ethanol. Dia meninggal 28 Juni 1975. Jim Morrison (The Doors), merupakan vokalis 'The. Sejak bergelut di dunia musik, musisi kelahiran Melbourne, 8 Desember 1943 itu mengalami ketergantungan minuman keras, obat-obatan terlarang serta seks.Jim Morrison ditemukan tewas di apartemennya di Paris namun tidak ada otopsi yang dilakukan, untuk mengidentifikasi penyebab kematiannya pada 3 Juli 1971. Joplin Janis, penyanyi sekaligus pencipta lagu dan penulis aransemen asal Port Arthur, Texas, Amerika Serikat. Dia terlihat lebih tua dari usianya yang baru 27 tahun, dia memiliki gaya hidup rock nâ&#x20AC;&#x2122; roll, dia adalah pecandu obat-obatan terlarang dan alkohol dalam jummlah besar, Penyanyi soul blues kelahiran 19 Januari 1943 ditemukan tewas OD di lantai kamar hotelnya di Los Angeles akibat over dosis heroin dan minuman keras favorite-nya Southern Comfort, pada 4 Oktober 1970. Jimi Hendrix, musisi yang lebih dikenal dengan sebutan 'Dewa Gitar' meninggal karena drugs, sepanjang hidupnya penyanyi kelahiran London 18 Septembr 1970, mencoba berbagai obat-obatan terlarang, hingga akhirnya barang haram tersebut merenggut nyawanya pada 18 September 1970. Brian Jones, gitaris Rolling Stone adalah musisi cerdas yang mengajari Mick Jagger bermain harmonika. Sayang akibat kecanduan minuman keras dan narkoba, membuat kemahiran bermusik Jones menurun. Dia tewas tenggelam dalam kolam renang di Cotchford Farm akibat OD yang dtemukan pertama kali oleh teman wanitanya Anna Wohlin pada 3 Juli 1969. (berbagai sumber) **** Edisi 17 >< Juni 2013


INTERNASIONAL

INGGRIS - Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mendesak pengadilan Indonesia tidak menghukum mati Lindsay Sandiford (56) warga Inggris yang terbukti menyelundupkan kokain senilai Rp23,9 milir dari Thailand ke Bali pada Januari 2013. Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Minggu 7 April 2013, Menlu Hague menilai hukuman mati tidak beralasan dan sangat berlebihan. "Pemerintah Inggris menaruh perhatian serius pada kasus Sandiford. Kami minta pengadilan Indonesia mempertimbangkan hak-hak warga kami dan eksekusi sangat tidak sesuai," ujarnya. Menlu Haque juga menyorot tidak adanya perwakilan hukum dan penerjemah selama Sandiford ditahan dan diadili. "Jikan pengadilan Indonesia tetap pada pendiriannya menghukum mati warga Inggris, akan ada dampak dari hubungan diplomatik kedua negara," paparnya. *MU02

OKEFOOD.COM

Inggris Desak Indonesia Batalkan Hukuman Mati Warga Inggris

Menteri Luar Negeri Inggris William Hague

JAKARTA.OKEZONE.COM

Basuco, Racuni Warga Kolombia

Kartel Narkoba Meksiko Bentrok 14 Nyawa Melayang MEKSIKO - Otoritas Meksiko mengumumkan 14 orang tewas dalam sejumlah bentrokan antara polisi dan geng narkoba di wilayah barat Michoacan, Meksiko. Pejabat Kepolisian Meksiko menemukan sejumlah mayat di tiga kota Tierra Calienter atau biasa disebut "Hot Country", Selasa 30 April 2013. Laporan polisi yang dikutip AP dan ABC News menyebutkan, Februari 2013 kelompok bersenjata kartel narkoba Knights Templar menyerang kelompok preman yang berdiri menghalangi jalan. Saling baku tembak menyebabkan beberapa nyawa melayang. Maret 2013, pihak otoritas menangkap beberapa gerombolan preman yang diduga memiliki kaitan dengan geng narkoba. Bentrokan sengit kerap meletus antara anggota kartel narkotika. Korban jiwa pun jatuh. Sejak 2006, lebih dari 50.000 orang telah tewas dalam kekerasan yang berhubungan dengan narkoba di Meksiko. Bahkan, berbaga metode pembunuhan, seperti menggantung korban dan penyiksaan, menjadi strategi yang digunakan para anggota kartel narkoba yang berseteru untuk merebut wilayah kekuasaan dan penjualan. *MU02 86

Edisi 17 >< Juni 2013

KOLOMBIA - Narkoba jenis baru muncul di Kolombia. Basuco, sejenis zat bubuk yang merupakan sisa dari pembuatan heroin kini beredar dan meracuni warga di wilayah 'El Calvario', Cali, Kolombia. Memang nama El Calvario merupakan daerah yang kerap didatangi para pecandu untuk mengonsumsi narkoba. Seorang pecandu menghisap Basuco mengaku narkoba jenis baru ini, sangat berbeda jauh dengan narkoba yang sudah beredar seperti heroin dan morfin. "Banyak pecandu yang sudah mengkonsumi jenis narkoba ini, dan Basuco memang terbaik saat ini," papar Antony, sang pecandu seperti dilansir AP, pekan lalu. Pemerintah Kolombia berencana untuk melegalkan ganja untuk mengatasi kecanduan masyarakat pada Basuco, yang memiliki dampak sangat buruk. Dampak buruk itu, pengguna mengalami kerusakan otak yang parah, tingkat kesadaran terganggu hingga menyebabkan kematian yang tinggi. *MU02

WWW.KASKUS.CO.ID


INTERNASIONAL

Miley Cyrus Hisap Ganja di Kamar Hotel LOS ANGELES - Miley Cyrus, model dan selebriti Amerika tengah menikmati sebatang rokok aneh yang diduga ganja dari atas balkon kamar hotelnya di Miami Beach, Florida. Mengutip Showbizpy, Senin 8 April 2013, bintang Hannah Montana tertangkap basah kamera seorang fotografer saat sedang menikmati sebatang rokok aneh yang diduga ganja dari atas balkon kamar hotelnya di Miami Beach, Florida. Meskipun Miley memakai topi ski dan kacamata hitam serta beberapa aksesoris lainnya, namun ia tetap saja bisa dikenali oleh fotografer tersebut. Miley memang pernah terlibat dalam kasus serupa. Videonya saat sedang menghisap salvia dari sebuah bong beredar di internet. *MU02 WWW.CUMICUMI.COM

Konsumsi Ganja dan Viagra Wanita Mabuk Seks

Narkoba di Bus Tur Justin Bieber SWEDIA - Justin Bieber, penyanyi pop asal Kanada, kembali menarik perhatian masyarakat setelah Polisi Swedia menemukan narkoba di bus tour yang ditumpanginya. Justin Bieber berada di Stockholm, Swedia, dalam bagian dari tur konser dunia yang digelarnya. Juru bicara Polisi Swedia, Lars Bystrom seperti dilansir BBC, Jumat 26 April 2013 mengatakan, polisi menemukan beberapa butir narkoba dan pistol setrum ditemukan ketika petugas melakukan razia ke dalam bus kosong, yang diparkir di sekitar lokasi konser The Globen di Stockholm, tempat Justin Bieber akan tampil, pada Rabu 1 Mei 2013. Aparat kepolisian merazia setelah mencium aroma ganja berbau dari dalam bus ketika bus tersebut diparkir di luar hotel yang ditempati Justin Bieber. Polisi khusus narkoba bertindak dan mencari bus tersebut setelah diketahui membawa rombongan orang-orang menuju lokasi konser. Narkoba jenis ganja dikirim ke laboratorium untuk dianalisa lebih lanjut. Sejauh ini belum ada yang ditahan terkait penemuan narkoba di dalam bus sang penyanyi yang lagi naik daun. *MU02

WWW.DIKONES.COM

ARTIS.INILAH.COM

HARARE - Gara-gara menghisap ganja sambil menelan viagra, seorang wanita warga Zimbabwe mabuk seks. Wanita itu menuntut hubungan seks dengan pria-pria yang ditemuinya di pusat belanja Kota Mabelreign, Zimbabwe. Wanita yang tak disebutkan namanya itu diduga stres akibat dicampakkan kekasihnya yang diidentifikasi sebagai Brian Chidavaenzi di pusat belanja Mabelreign, Zimbabwe. Seperti dikutip MyZimbabwe, Jumat 26 April 2013, sejumlah pria muda terlihat bergerumbul setelah mendengar ada wanita yang membutuhkan 'penyelamat' untuk memuaskan nafsu seksualnya. "Ini pagi yang terburuk. Saya hampir telanjang dan memperlihatkan kakinya menirukan gerakan seksual. Dia memanggil saya ke mobilnya. Saya kabur setelah melihat kakinya terbuka lebar. Saya seperti harus mempercayai kalau dia seorang wanita yang ingin diperkosa," kata salah seorang pria. *MU02

Edisi 17 >< Juni 2013

87


INTERNASIONAL

Narapidana Bandar Narkoba Hamili Empat Sipir KASKUS.CO.ID

Inilah hebatnya narapidana yang menjadi bandar narkoba di penjara. Selain menguasai sipir lelaki agar membantu melancarkan bisnis penyelundupan narkoba, juga menghamili empat orang sipir hingga punya anak.

T

avon "Bulldog" White, namanya menjadi terkenal. Napi kasus percobaan pembunuhan pada 2009 yang dihukum selama 12 tahun, berhasil mengendalikan penjara Baltimore Amerika Serikat. Para sipir lelaki dan perempuan bertekuk lutut kepada Bulldog. Begitu juga sipir wanita. Bulldog juga diangkap sebagai pemimpin geng narapidana bernama "The Black Guerrilla Family". Geng ini bekerja sama dengan para sipir yang korup untuk menyelundupkan narkoba, obat-obatan terlarang, telepon genggam, dan barang-barang selundupan lainnya ke dalam penjara. The Black Guerrilla Family juga melakukan hubungan seksual dengan para sipir perempuan. Hasilnya, Bulldog menghamili empat sipir, malah salah seorang bahkan dua kali hamil dan menjadi bapak dari lima orang anak. Sistem dipenjara Baltimore ini sangat buruk. Buktinya seorang sipir akan berjaga saat sipir lain sedang berhubungan badan dengan seorang narapidana. "Ini penjaraku... Aku yang memutuskan semua di penjara ini. Aku sangat serius. ... aku membuat setiap panggilan terakhir di penjara ini ... dan tidak boleh melewati aku, semuanya wajib datang kepada aku, " papar Bulldog dalam sebuah pembicaraan telepon yang berhasil disadap aparat hukum, seperti dilansir news.com.au, Jumat, 26 April 2013. Sepandai-pandai menyembunyi88

Edisi 17 >< Juni 2013

Tavon "Bulldog" White kan niat jahat, akhirnya terungkap juga. Kebobrokan Pusat Penahanan Kota Baltimore, terbongkar. Kasus ini pun diungkap Jaksa wilayah Baltimore, dan dilimpahkan ke Pengadilan Baltimore. Jaksa menyeret Tavon "Bulldog" White, dengan tuduhan penyelundupan narkotika dan tuduhan tindak kriminal lainnya. Selain Tavon "Bulldog" White, juga 25 pejabat dan sipir korup dan bobrok diadili. Dengan rincian, 13 orang sipir perempuan - 4 diantaranya hamil. Juga tujuh narapidana, dan lima orang lainnya didakwa melakukan konspirasi, kepemilikan obat bius, pencucian uang, penjualan narkoba di dalam penjara juga penjualan narkotika di jalan-jalan kota. Berdasarkan dokumen pengadilan, Bulldog memberi hadiah mahal seperti mobil mewah, cincin berlian untuk semua sipir perempuan yang dikencaninya. Dua orang sipir perempuan bahkan merajah nama Tavon di tubuh mereka. Stephen E. Vogt, agen khusus yang bertanggung jawab atas kantor Baltimore FBI, menilai setelah pelaku kekerasan dikirim ke penjara, pekerjaan terberat penegak hukum harus di balik itu. Dalam menjalankan aksinya, lanjut dia, Bulldog sebagai pemimpin geng

diduga mengandalkan penjaga dan narapidana untuk tumbuh operasi jahat mereka di penjara kota. Bahkan memiliki kesepakatan informal dengan pejabat penjara yang memintanya untuk menjaga ketertiban dalam pertukaran untuk mereka mengubah "menutup mata" untuk beberapa kegiatan. Bulldog djuga memaksakan disiplin bawahannya dan membalas dendam terhadap narapidana yang tidak mau tunduk pada otoritas geng. Dalam percakapan rekaman yang dibuat Bulldog sebanyak $ 15.800 dalam selundupan menjual satu bulan di penjara, dan anggota geng pernah mengubah $ 1.000 dalam keuntungan pada satu ons ganja. Para pejabat dengan Departemen Maryland Keselamatan Publik dan Lembaga Pemasyarakatan, yang menjalankan pusat penahanan, mengutuk dugaan pelanggaran dan mengatakan penyelidikan internal akan bergerak maju sekarang bahwa dakwaan federal telah disegel. "Segala sesuatu yang terjadi di departemen ini adalah tanggung jawab saya," kata departemen sekretaris Gary D. Maynard. "Ini benar-benar pada saya. Kami sedang melihat kebijakan yang mempengaruhi penjara dan pusat penahanan," tambah Maynard.*MU02


INTERNASIONAL

Edisi 17 >< Juni 2013


REALITA

Rute Narkotika Dunia Menuju Indonesia (4)

Laos, Jalur Transit Penyelundupan Narkotik yang Eksotik Bandara Udara Internasional Wattay, di pusat kota Vientiane, ibukota Laos memang sangat lenggang, sepi. Ramainya hanya satu jam menjelang keberangkatan atau kedatangan pesawat saja. Ramainya pun oleh pengantar, penjemput saja. Setelah tak ada pesawat datang maupun berangkat Bandara Watty mirip kuburan.

L

aos memang salah satu negara tujuan wisata di Asia yang kini mulai didatangi turis. Sebagai wisata sejarah, Laos menyimpan eksotika sebuah negara dengan masa 90

Edisi 17 >< Juni 2013

lalu yang indah. Itulah yang tampak di depan Ms.N tentang Laos. Sayang gelapnya malam membatasi jarak pandang. Ms.N terus melaju bersama taksi

menembus gelapnya malam menuju hotel Mina di pusat kota Vientiane. Jaraknya hanya 500 meter saja dari kedutaan besar Republik Indonesia dan 300 meter dari sisi sungai Mekong yang legendaris. Di hotel ini, koper berisi heroin dimasukan. Sebagai hotel di pusat kota, Hotel Mina terbilang baik. Untuk menginap dua malam itu, Ms.N harus merogoh kocek sebesar 200 ribu Keff (mata uang Laos). Tentu uang yang dibekali oleh JEFF. Bila di convert dalam dolar maka 1


REALITA dolar sama dengan 9.500-an Keff. Laos merupakan salah satu negara yang menjadi pusat opium dunia, Golden Triangle. Negara berideologi komunis ini berbatasan langsung dengan lima negara, yaitu Thailand, Kamboja, Vietnam, Myanmar, dan Cina. Laos bersama Thailand dan Myamnar (dulu Burma) menjadi pemasok utama opium dunia sebelum kini dikuasai Afganistan. Wilayah Don Sao yang masuk provinsi Bokeo adalah wilayah yang di tepian sungai Mekong yang berhadapan langsung dengan dua negara anggota Golden Triangle lainnya. Tahun 2010, saat peringatan hari narkotika internasional, pemerintah setempat memusnahkan lebih dari 3 ton narkotika hasil sitaan. Sebanyak 9 kg heroin, 985.000 butir ekstasi, 2,8 ton ganja, dan 176 kg opium dimusnahkan bersamaan. Dalam kurun 10 tahun, antara tahun 1998-2007, Laos berhasil menekan produksi opium dan tingkat ketergantungan sampai 90 persen. Kini, berdasarkan pernyataan H.E Mr Soubanh Srithirath, Menteri Kepresidenan sekaligus Kepala Pengawasan ObatObatan Republik Laos seperti dikutip BNN, perubahan negara tertutup menjadi negara penghubung telah menjadikan negara ini sebagai jalur transit sindikat narkotika internasional. Walau hanya sebagai jalur transit, tak dapat dihindari bahwa kini penyalahgunaan obat-obatan juga terjadi di daerah-daerah yang dilalui sepanjang jalur perdagangan tersebut. Menurutnya keberadaan Laos di pusat Sub Kawasan Greater Mekong yang berbatasan dengan lima negara menjadi lokasi produksi dan pasar internasional yang menguntungkan. Untuk selanjutnya diedarkan ke berbagai negara yang menjadi pasar besar. Pemerintah Laos memperkirakan akan terjadi dampak buruk jangka panjang di bidang keamanan, stabilitas, dan pembangunan ekonomi nasional. Kembali ke Indonesia Setelah dua malam dan tiga hari di Laos, Jumat (15/02/2008), Ms.N kembali ke Indonesia dengan rute berbeda dengan rute yang sebelumnya. Bila saat kedatangan Ms.N

berangkat menggunakan Pesawat maka saat kembali dia menggunakan jalur darat. Ms.N menggunakan bus dari Laos menuju Bangkok yang memakan waktu 13 Jam lamanya. Perjalanan Ms.N terbilang lancar. Tak ada gangguan atau ketakutan selama perjalanan. Berbeda dengan perjalanan Buyung saat melintasi negara-negara di Afrika yang kehidupan masyarakatnya terbilang masih dibawah Asia mendapat gangguan. Sabtu (16/02/2008) Ms.N tiba di Hat Yai, yang merupakan kota kecil di perbatasan Thailand-Malaysia dan menginap di Hotel Asia. Kontak dengan jaringan sindikat narkotika di Jakarta terus dilakukan dengan seorang perempuan Indonesia yang merupakan isteri salah seorang anggota sindikat. Minggu (17/02/2008) perjalanan berlanjut menuju Penang, Malaysia. Karena dari Penang inilah Ms.N akan menyeberang menuju Indonesia. Perjalanan dari Hat Yai menuju Penang pun tak ada halangan yang berarti. Termasuk saat melintasi perbatasan Thailand-Malaysia. Bus yang dia tumpangi terus melaju. Dan pada hari itu juga Ms.N menyeberang ke Indonesia melalui pela-

buhan Belawan, Medan, dengan menumpang ferry. Disinilah aparat curiga terhadap koper milik Nino. Setelah digeledah ketahuan bahwa di koper tersebut berada 3,322 kg heroin. Hasil pemeriksaan terhadap Nino terungkap bahwa upaya masuknya heroin ke Indonesia dikendalikan dari dalam penjara. Mr. JS, warga negara Nigeria, yang menjadi otak sindikat sebenarnya masih menghuni di dalam LP Banceuy di Bandung. Dia bersama Mr.H, yang juga warga negara Nigeria dan berada di penjara yang sama, menjadi pengendali utama perjalanan heroin Laos tersebut. Satu nama lagi, Mr.J, yang juga sebagai narapidana di LP Cipinang dan warga negara Nigeria, ikut menjadi pengendali. Kontak diantara mereka terus terjalin. Sementara Mr. JEFF (Wn Nigeria), kekasih Ms.N menjadi operator diluar dan hingga kini masih menjadi buron. Heroin itu sendiri adalah milik Frank yang berada di Laos. Masingmasing pengendali di Indonesia berpatungan sebesar Rp 100 juta bila heroin tersebut berhasil masuk ke Indonesia. *MU01 (BERSAMBUNG) Edisi 17 >< Juni 2013

91


SPECIAL EVENT

STOP NAR

PENGGUNA NARKOBA DI INDO

90

Edisi 17 >< Juni 2013


SPECIAL EVENT

RKOBA !!! NESIA SUDAH LAMPU KUNING

Edisi 17 >< Juni 2013

91


SPECIAL EVENT

92

Edisi 17 >< Juni 2013


Edisi 17 >< Juni 2013

93


SPECIAL EVENT

Edisi 17 >< Juni 2013


Edisi 17 >< Juni 2013

75 95 89


KRIMINAL

Polisi Korban Sindikat Narkoba Inilah resiko pekerjaan polisi narkotika, yang selalu berhadapan dengan penjahat narkoba. Selain babak belur menjadi korban penganiayaan, pengeroyokan, penculikan, amuk massa bahkan gembong narkoba berani melakukan perlawanan hingga nekad melepas tembakan.

K

asus pengeroyokan terakhir menimpa Brigadir Ahmad Soeb, anggota Kasubdit I Direktorat Reserse Narkoba Bareskrim Polri. Saat pengembangan perkara narkoba, malah dianiaya tersangka. Anggota polisi berusia 27 tahun, mengalami kritis. Jumat 17 Mei 2013 pukul 19.00 WIB, saat Brigadir Soeb bersama dua anggota lain menggerbek tempat diduga sarang narkoba di Mess Cendrawasih Jalan Kebon Melati Tanah Abang, Jakarta Pusat. Penggerebekan hasil pengembangan kasus penangkapan terhadap pelaku MR, yang diringkus di kawasan Kebon Sirih Jakarta Pusat. Saat membawa MR ke sarang itu, tiba-tiba MR berteriak minta tolong. "Teman-teman tersangka keluar, dan melakukan penganiayaan terhadap ketiga anggota polisi narkoba. Memang terjadi perlawanan oleh pelaku, namun kalah kuat dengan jumlah teman tersangka," kata Kanit Reskrim Polsek Tanah Abang, Kompol Windarto, Sabtu 18 Mei 2013. Akibatnya, Brigadir Soeb mengalami luka yang parah pada tangan, perut dan dadanya disabet senjata tajam. Korban dilarikan ke Rumah Sakit Husada, Jakarta Pusat untuk mendapat perawatan sementara, lalu dirujuk ke rumah sakit Kramat Jati, Jakarta Timur. Sehari kemudian, Polsek Tanah Abang menangkap Abdul Hamid alias Kuba, pelaku penganiayaan. Juga diamankan sebilah pisau lipat. Polisi pun masih terus melakukan proses penyelidikan terhadap kasus untuk memburu pelaku penganiayaan. 98

Edisi 17 >< Juni 2013

Sepekan sebelumnya, Sabtu 11 Mei 2013 petang sekitar pukul 18.30 WIB, di kamar Hotel Tematik lantai 6 No. 619, Jl Raya Jembatan Tiga, Penjaringan, Jakarta Utara. Sepuluh personel Sub Unit 1 Direktorat Narkotika Polda Metro menangkap wanita bernama SR, karena terjerat kasus narkoba. Pengakuannya, SR mengkonsumsi shabu bersama BA - anggota TNI, yang sudah keluar hotel sejak pagi. Diduga ada pihak hotel yang membocorkan keberadaan polisi di hotel. BA pun mengontak rekan dinasnya berjumlah 10 orang agar menuju hotel serta membebaskan SR. Perlawanan pun terjadi. Kalah kekuatan, polisi narkoba minta bantuan Polsek Penjaringan. 10 Personel TNI pun diamankan. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, membenarkan kejadian itu. Dari tangan BA polisi menyita 1 pucuk senjata api jenis FN, 1 pucuk senjata api Revolver, 16 butir peluru Revolver, 7 butir peluru FN, dan satu buah bong sabu. "Pemeriksaan terhadap BA diserahkan ke Pomdam Jaya," kata Kabid Humas. Pengeroyokan di Medan Aksi pengeroyakan Narcotic Police juga terjadi di Medan. Saat anggota Ditserse Narkoba Polda Sumut melakukan penggerebekan di Kampung Kubur, yang dikenal sebagai kampung narkoba di Jalan Zainul Airifn, Medan, Sumatera Utara, dan menangkap Amran Ali yang memiliki 12 gram shabu, ternyata warga sekitar tidak menerima. Lantas mengeroyok anggota polisi sebanyak 8 orang. Beruntung puluhan personil

Brimob yang tidak jauh dari lokasi langsung turun dan menyelamatkan anggota polisi narkoba, kata Direktur Narkoba Polda Sumut Kombes Pol Toga Habinsaran Panjaitan kepada wartawan, Kamis 16 Mei 2013 Aksi penganiayaan secara sadis menimpa Briptu Joko Febianto, anggota Polresta Pekanbaru, Riau. Saat bongkar jaringan peredaran narkoba di wilayah Riau, justru dianaya, dikeroyok, ditembak pada Senin 12 November 2012. Pelakunya dua anggota polisi, empat anggota TNI-AD dan seorang bandar peredaran narkotika. Anggota polisi berusia 28 tahun ditemukan warga dalam kondisi pingsan. Tubuh penuh tusukan dan sayatan senjata tajam. Ketika ditemukan Joko tergeletak di teras sebuah masjid di Kubang Raya, Siak Hulu, Selasa (13/11) dini hari. Kisah penganiayaan berawal saat korban diminta temannya sesama anggota polisi untuk datang ke Jalan Kartama, Marpoyan Pekanbaru. Tanpa berfirasat buruk, polisi muda ini pun memenuhi panggilan. Sesampai di tempat itu, justru mendapat perlakuan yang sadis. Joko disekap, dipukuli dengan benda tumpul, lengan dan kaki ditusuk. Lebih sadis lagi, para pelaku memaksa Joko menenggak air shabu. Tujuannya Joko tewas akibat over dosis. Korban dinaikkan mobil Mitsubishi Grandis warna hitam nomor polisi BM 423 IN, menuju luar kota Pekanbaru. Didalam mobil penyiksaan kembali terjadi. Lantas dibuang di kolam ikan di kawasan rawa-rawa bersemak bahkan sempat ditembak. Mengira korban telah meninggal, para pelaku pulang. Namun Tuhan berkehendak lain, Joko masih diberikan kesempatan hidup. Polisi Jadi Sasaran Indonesia Police Watch (IPW) mencatat sejak Januari-Mei 2013


KRIMINAL sedikitnya 15 polisi yang menangani kasus narkoba, perjudian, pencurian dan perampokan menjadi korban amuk massa karena dikeroyok dan dibacok. Dua di antaranya tewas. Anggota polisi yang menjadi korban sepanjang 2013 terdiri dari enam polisi akibat dikeroyok dan tujuh polisi yang dibacok. Lima di antaranya adalah perwira, sedangkan tujuh orang lainnya merupakan polisi dari jajaran bawah, kata ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) , Neta S Pane dalam

keterangan tertulis. Dikatakan, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir terdapat fenomena sikap anarkis masyarakat terhadap anggota polisi. Berdasarkan data yang dimiliki IPW tercatat pada tahun 2011, 20 polisi tewas saat bertugas. Tahun 2012, 29 polisi tewas dan 14 luka. Menurutnya, terdapat beberapa faktor banyaknya aksi penyerangan terhadap aparat polisi yaitu, minimnya kesadaran hukum masyarakat, sikap aparat yang arogan, diskriminatif, represif, serta

minimnya pembekalan terhadap anggota polisi berupa pelatihan dalam mengumpulkan data sewaktu menjalankan operasi sehingga tidak dapat mengantisipasi kemungkinan buruk. Dengan kondisi ini anggota Polri sebaiknya meningkatkan kualitas latihan hingga bisa lebih profesional. Sebab ke depan, jumlah masyarakat yang makin nekat kian banyak, mengingat persoalan sosial ekonomi di masyarakat kian pelik dan sulit, sarannya. *MU02

Data Polisi Korban Penjahat Tahun 2013 Senin, 1 April 2013 Sebanyak 75 orang warga diamankan polisi terkait penganiayaan yang menewaskan Kapolsek Pardamean, AKP Andar Siahaan.[SP/Arnold] Sebanyak 75 orang warga diamankan polisi terkait penganiayaan yang menewaskan Kapolsek Pardamean, AKP Andar Siahaan.

Rabu 27 Maret 2013: AKP Suhardiman anggota Direktorat Sabhara Polda Aceh tewas ditikam tetangganya di Jalan Teuku Iskandar, Ulee Kareng, Banda Aceh. Saat itu korban singgah di warung kopi Nuri di Ulee Kareng. Pelaku yang mendatangi korban terlibat cek-cok. Korban yang berseragam polisi itu sempat lari ketika pelaku menggebrak meja. Tapi pelaku mengejar dan menikam korban.

Rabu 27 Maret 2013: Sekitar 100 orang mengeroyok Kapolsek Dolok Jumat 15 Maret 2013: Pardamean AKP Andar Siahaan hingga tewas. Briptu Amirullah anggota Lantas Polres Aceh Utara Pengeroyokan terjadi saat hendak menangkap bandar togel di Dusun Merek Raja Huta, Desa Butu Bayu yang sedang menggelar razia, kritis setelah ditabrak mobil Avanza pembawa ganja. Semula mobil itu melaju Panei Raja, Simalungun, Sumut. dengan kecepatan tinggi dan menerobos blokade razia. Amirullah lalu mengejarnya dengan moge polisi tapi Minggu 24 Maret 2013: Briptu ANL (31) anggota Polsek Wawaykarya, tiba-tiba mobil berbalik arah dan menabrak Amirullah. Lampung Timur babak belur dikeroyok massa, setelah Rabu 27 Februari 2013: digerebek saat menginap di rumah pasangan Bripka Sugianto yang sedang menilang pengendara selingkuhnya, Rus (40) di Desa Karanganom. ANL masuk ke rumah ibu tiga anak itu saat suaminya tidak sepeda motor di Pos Polisi Gayamsari, Joga tiba-tiba didatangi seorang lelaki, yang langsung membacoknya. ada di rumah. Korban mencoba menangkis dengan lengannya tapi pelaku terus membacok dengan membabi buta. Minggu 17 Maret 2013: AKP Maju Harahap, Kanit Lantas Polsekta Percut Akibatnya korban menderita luka di kepala dan jari. Sei Tuan, Medan, Sumut dikeroyok dua anggota ormas. Selasa 29 Januari 2013: Sehari kemudian kedua tersangka, Krismas Efendi Brigadir Anthoni (35) anggota Polantas Polresta Manado, Panggabean (28) dan Juniter Pandapotan Hasibuan (28) berhasil ditangkap. Kasusnya bermula ketika kedua Sulut dianiaya sejumlah orang yang merupakan bagian dari tersangka bersama sejumlah rekannya anggota AMPI iring-iringan pengantar jenazah yang melintas di di Jalan Sam naik sepeda motor dan mobil, melintas di Jalan Mandala Ratulangi. Saat itu korban yang menggunakan motor patroli By Pass. Merasa jalannya dihalang-halangi, tersangka hendak mengatur arus lalulintas. Tiba-tiba beberapa anggota rombongan protes dan mengeroyoknya. memukuli korban. Senin 18 Maret 2013: Anggota Polsek Sukmajaya, Briptu Eko Budianto dikeroyok dua pria misterius di Pos Laka Lantas di Jalan Juanda, Depok, Jabar. Akibat pemukulan Eko mengalami memar di perut sebelah kanan dan ada goresan di dada. Pengeroyok lelaki berambut cepak dan berjaket hitam.

Kamis 3 Januari 2013: Seorang polisi yang sedang mengamankan aksi demo di Kantor Menko Perekonomian dikeroyok tiga petugas keamanan dalam (Pamdal). Pengeroyokan terjadi saat polisi tersebut sedang berusaha merelai bentrokan antara demonstran dengan petugas Pamdal. Edisi 17 >< Juni 2013

99


TEROPONG

Rehabilitasi sebagai Solusi bagi Pecandu Narkoba

M

mendapatkan pelayanan rehabilitasi. asalah penyalahgunaan dan Undang-Undang ini memberikan keperedaran gelap narkoba sempatan bagi para pecandu yang sudah (P4GN), sudah tahap mengterjerumus dalam penyalahgunaan khawatirkan. Terbukti kian narkoba, agar dapat terbebas dari kondisi meningkatnya angka penyalah guna tersebut dan dapat kembali melanjutkan narkoba dari tahun ke tahun. Apalagi, hidupnya secara sehat dan normal. Kejahatan narkoba merupakan Memang diperlukan langkah strategis kejahatan lintas negara (transnational membebaskan Indonesia dari narkoba. crime), terorganisir (organized crime), Rehabilitasi sebagai salah satu pilar dan serius (serious crime), yang dapat P4GN difokuskan pada upaya mengmenimpa berbagai lapisan masyarakat intensifkan wajib lapor pecandu nardari tingkat bawah hingga tingkat atas. kotika yang pelaksanaannya tertuang Juga menimbulkan kerugian sangat dalam PP No. 25 Tahun 2011 dimana besar, terutama dari sisi kesehatan, sotujuan pelaksanaan wajib lapor pecandu sial ekonomi, dan keamanan nasional. narkotika sebagai upaya untuk memeNah, terkait dampak serius yang dinuhi hak pecandu narkoba dalam mentimbulkan dari penyalahgunaan narkodapatkan pengobatan, perawatan ba, perlu adanya keseriusan dan koBrigjen Pol Dra. Ida Utari layanan rehabilitasi medis dan sosial, mitmen semua pihak agar bersamasama melakukan upaya P4GN sesuai perannya masing- mengikutsertakan orang tua, wali, keluarga, dan masyarakat dalam meningkatkan tanggung jawab terhadap pecandu masing. Sebelumnya, pemerintah lebih cenderung kepada upa- narkotika yang ada di bawah pengawasan dan bimbingannya. Saat ini Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) jumya penegakkan hukum pidana dalam P4GN. Namun, upaya penegakan hukum belum mampu memberantas lahnya 264 institusi, sebanyak 182 institusi dibawah nauperedaran narkoba. Data Kemenkumham, saat ini ada ngan Kementerian Kesehatan, 40 institusi di bawah nau19 Lapasustik (Lapas Khusus Narkotika) yang menam- ngan Kemeneterian Sosial dan sisanya sebanyak 42 institusi berada di bawah naungan Polri. Dengan adanya pung 58.000 orang. Hal ini dapat berdampak pada meningkatnya jumlah IPWL diharapkan adanya peran aktif orang tua, wali, pengedar, karena selama menjalani hukuman di lapas an- keluarga, dan masyarakat, khususnya pecandu, untuk setara pengedar dan pengguna dijadikan satu sel, karena cara sukarela mendaftarkan dirinya untuk mendapatkan keterbatasan tempat. Pencampuradukan pecandu dengan fasilitas rehabilitasi Upaya memberikan pelayanan rehabilitasi medis dan rekasus lainnya menjadikan transformasi ilmu yang didapat habilitasi sosial kepada penyalah guna, korban penyalahgunaan, lebih ahli dari sebelumnya. Sehingga tujuan efek jera dengan pemenjaraan tak dan pecandu narkoba, upaya pembangunan kapasitas lembaga sesuai yang diharapkan. Malah pecandu setelah keluar rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial secara prioritas dari penjara, akan melakukan tindakan yang lebih dari berdasarkan kerawanan daerah penyalahgunaan narkoba, sebelumnya. Juga, dapat menambah tingkat statusnya jadi serta upaya pembinaan lanjut kepada mantan penyalah guna, korban penyalahgunaan, dan pecandu narkoba. pengedar, bandar, dan produsen. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional tahun Tak bisa dipungkiri ilmu-ilmu tindakan kejahatan yang diperoleh selama menjalani hukuman pemenjaraan, akan 2010, kapasitas lembaga rehabilitasi baik yang dikelola diterapkan pecandu setelah keluar dari balik terali jeruji. oleh pemerintah maupun masyarakat, hanya mampu meMemang telah dibuat payung hukum yang lebih menge- nampung 0,4% dari seluruh penyalah guna narkoba yang depankan pendekatan humanis dalam menangani masalah kurang lebih berjumlah 4 juta orang. BNN melalui pusat penyalahgunaan narkoba, seperti yang tertuang Pasal 54 rehabilitasinya hanya mampu menampung sekitar 2000 Undang-Undang No.35 Tahun 2009, dimana pecandu dan orang pecandu untuk direhabilitasi. Untuk itu, diperlukan keterlibatan seluruh komponen korban narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan sosial. Seharusnya, pecandu tidak dijebloskan ke dalam sel masyarakat dan pemerintah daerah, Kementerian terkait,, tahanan, tapi mendapat layanan terapi dan rehabilitasi. lembaga pemerintah lainnya untuk mendorong terbenPecandu narkoba diibaratkan sebagai orang yang sakit, tuknya tempat atau pusat-pusat rehabilitasi di seluruh sehingga hukuman yang tepat adalah hukuman Indonesia, sehingga program rehabilitasi untuk penangarehabilitasi. Pengguna narkoba yang divonis pengadilan nan korban penyalahgunaan narkoba dapat berjalan secara terbukti sebatas pengguna berhak mengajukan diri untuk optimal dan efektif. **** 100

Edisi 17 >< Juni 2013


Edisi 17 >< Juni 2013

101


Edisi 17 >< Juni 2013


Ungkap Edisi 17