Issuu on Google+

Lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis atas hak-hak industrial, Mayday diperingati setiap tahun pada tanggal 1 Mei sebagai hari raya-nya para buruh! Aksi buruh dengan turun ke jalan dalam jumlah besar, aksi teatrikal yang dramatis, long march penuh gemuruh, orasi yang menggetarkan dan lain-lain, adalah hal yang selama ini galib dilakukan para buruh dan publik untuk memperingati hari sakral kelas pekerja tersebut. Menonton film, adalah alternatif lain yang kami tawarkan pada para buruh dan publik Indonesia untuk memperingati Mayday tahun 2013 ini!


PEKAN MAYDAY BERSAMA DI BALIK FREKUENSI! adalah ajakan untuk bersama melakukan pemutaran secara serentak film Di Balik Frekuensi di seluruh Indonesia selama pekan Mayday (H-3 menjelang 1 Mei dan H+3 setelah 1 Mei | 28-30 April, MAYDAY, 2-4 Mei 2013) yang dimaksudkan untuk mendukung dan menularkan virus solidaritas untuk setiap permasalahan perburuhan serta apapun yang dialami oleh kelas pekerja pada semua level di Indonesia, apa dan siapapun buruh tersebut, tak terkecuali buruh media.

Di Balik Frekuensi adalah film dokumenter yang berbicara tentang sedikit dari

banyak kisah atau cerita besar mengenai apa yang terjadi di balik media di Indonesia dan di balik penggunaan frekuensi publik di negeri ini oleh para pemilik media. Banyak layer dalam cerita film Di Balik Frekuensi, di antaranya adalah tentang isu buruh media yang diusung melalui salah satu cerita tokohnya: Luviana – seorang jurnalis, seorang asisten produser di MetroTV yang di PHK-kan secara sepihak dan sampai saat ini masih berjuang untuk penyelesaian kasusnya.

Sejak pemutaran perdananya pada 24 januari 2013 lalu, sampai saat ini Di Balik Frekuensi telah diputar di 51 tempat melalui distribusi independen di beberapa kota di Indonesia (pemutaran keliling resmi: Jakarta – Bandung – Yogyakarta – Solo – Semarang- Malang – Sidoarjo - Surabaya - Bali | Pemutaran keliling di luar schedule resmi: Lampung & Padang) dengan penonton yang ter-registrasi resmi sejumlah: 5064 orang (ratusan lainnya tak ter-registrasi).


Ada sedikitnya 7 Alasan kenapa Anda tak boleh melewatkan Di Balik Frekuensi dan harus bergabung secara serentak menonton film ini dalam PEKAN MAYDAY BERSAMA DI BALIK FREKUENSI! :

1. Karena Nonton TV tak akan sama lagi setelah nonton Di Balik Frekuensi.

2.

(Joshua Oppeneimer – Sutradara The Act Of Killing | JAGAL. Di akun twitter : @JoshuaOppenheim)

Karena kita akan diajak untuk melihat sambil belajar melawan serta mengetahui kalau melawan adalah perkara biasa dan memilih untuk tetap melawan pada sistem yang korup adalah perkara lain yang telah dilakkukan oleh banyak buruh dan manusia lainnya di dunia. “Kita tinggal mengikuti saja. Perlawanan saya adalah perlawanan biasa”, itu yang selalu diungkapkan Luviana dan justru hal tersebut menjadikan perlawanannya sebagai kelas pekerja di dunia industri media, jadi terasa istimewa. (Luviana – Buruh media,

Jurnalis MetroTV yang di PHK sepihak, Tokoh dalam film Di Balik Frekuensi )

3. Kita akan tahu landscape media di Indonesia dan pengetahuan akan hal ini penting

karena bahkan seorang Jim Morrison pun mengakui : “Who ever controls the media, controls the mind!” – Anda harus tahu siapa yang sekarang mengontrol informasi dan media di Indonesia, juga termasuk di kepala Anda!

4.

Karena hanya dalam waktu kurang dari 2,5 jam, selain melihat kisah perjuangan Luviana sebagai buruh media, kita juga akan mengetahui apa itu konglomerasi media. Dengarlah kesan Ignatius Haryanto – seorang researcher senior sesaat setelah menyaksikan

Di Balik Frekuensi:

“Saya menulis topik soal konglomerasi media sejak tahun 1997 tapi film DiBalikFrekuensi menggambarkan soal ini dalam 2,5 jam secara konkrit. Materi film DiBalikFrekuensi sangat kuat, gamblang dan menunjukkan betapa media yang sering teriak demokrasi di dalam dirinya mereka tidak demokratis”. (Ignatius Haryanto - Direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan)

5.

Karena Di Balik Frekuensi adalah film dokumenter layak simak! : Film ini menguji, bagaimana reformasi politik di Indonesia yang melahirkan kebebasan, berpengaruh pada industri media. Sebuah dokumentasi yang hidup, dinamis, kuat dan mengesankan. Membuat kita seperti sedang menyaksikan film petualangan detektif yang mendebarkan, mengaduk emosi. (DETIK.COM http://hot.detik.com/movie/read/2013/01/25/163853/2152345/22 9/di-balik-frekuensi-kuasa-media-dan-pengkhianatan-pengkhianatannya )

6. Kamu akan mendapat pemahaman baru sebagaimana seorang street art artist di

Jakarta mengakui: Di Balik Frekuensi ’ memberi pemahaman baru tentang media dan social activism. (Andi RHARHARHA – street art artist)

7. Karena Luviana memang layak sebagai tokoh dalam peringatan hari buruh! : Dalam

‘Di Balik Frekuensi ’ Luviana berhadapan dengn MetroTV mengingatkan saya pada rakyat berhadapan dengan rezim Suharto. Perjuangan keadilan dianggap pembangkangan. Luviana sangat pas sbg tokoh di peringatan Hari Kartini atau Hari Pers Nasional bahkan Hari Buruh. (Ayu Utami – Penulis, Pendiri Aliansi Jurnalis Independen)


masih punya alasan untuk melewatkan PEKAN MAYDAY BERSAMA DI BALIK FREKUENSI??!!

Pikir lagi! Segera kirim email untuk ikut bergabung ke: behindthefrequencyfilm@gmail.com dengan subject atau judul email : #pekanmaydaybersama_DBF


#pekanmaydaybersama_DBF