Page 1

Tabloid Jubi Online

Wabah Muntaber di Lembah Kamuu Masih Berlanjut Contributed by Administrator Tuesday, 09 September 2008

JUBI—Walaupun wabah muntaber di Lembah Kamuu, Kabupaten Dogiyai dinyatakan sebagai Keadaan Luar Biasa (KLB), tapi korban meninggal makin bertambah. Penyebabnya: minimnya fasilitas kesehatan, seperti obat-obatan dan kekurangan tenaga medis. Sejumlah data menyebutkan jumlah korban muntaber yang meninggal dunia di Lembah Kamuu, Kabupaten Dogiyai sejak April hingga Juli sebanyak 90 orang. Namun data lain menyebutkan jumlah korban muntaber yang meninggal telah mencapai 125 orang yang tersebar di hampir sejumlah distrik di Kabupaten Dogiyai. Lantaran jumlah korban muntaber telah mencapai ratusan orang, maka pemerintah mencanangkan muntaber di Kabupaten Dogiyai sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Seorang tenaga medis yang selama ini bertugas di puskesmas Moanemani Robi Takemay kepada JUBI dikediaman Ir Didimus Tebay di Lembah Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Jumat (22/8) mengungkapkan wabah muntaber diduga berasal dari luar wilayah Papua. “Masyarakat melihat muntaber bukan penyakit, tapi virus yang disebarkan sekelompok orang tertentu,” tukasnya serius. Menurut data, jumlah korban muntaber di Kabupaten Dogiyai sejak April sampai Juli 2008 sebanyak 90 orang yang tersebar mulai dari Distrik Kamuu Utara, Kamuu Selatan, Kamuu Barat dan Kamuu Timur. Sedangkan wilayah yang tak terjangkit wabah muntaber adalah Distrik Mapia dan Topo. “Data jumlah korban muntaber di Dogiyai tersebut belum sahih karena ada pihak lain menyebutkan jumlah korban muntaber mencapai 125 orang,” urainya seraya menambahkan apakah betul korban meninggal karena muntaber atau penyakit lainnya. Ketika data ini di cek lagi ke lokasi-lokasi penyebaran virus muntaber, maka sejak April-Juli 2008 menyebutkan, korban meninggal akibat tertular muntaber sebanyak 125 orang. Jumlah korban ini kemungkinan makin bertambah karena hingga saat ini penanganan terhadap korban muntaber belum terlalu maksimal baik dari dinas kesehatan provinsi Papua maupun kabupaten Nabire. Sarang Virus Muntaber Informasi dari setiap kepala-kepala kampung di sekitar Lembah Kamuu menyebutkan wabah muntaber ini sampai saat ini masih terus berlanjut. Selama ini Kabupaten Dogiyai dikenal sebagai wilayah endemik penyakit muntaber. Sejak tahun 1980-an banyak korban meninggal akibat muntaber. Bahkan virus muntaber ini diperkirakan “berkembangbiak” dan “sarang virus muntaber” ditengah kehidupan masyarakat di Lembah Kamuu. “Virus muntaber masih bertebaran di sekitar tempat tinggal masyarakat. Bila tak segera dilakukan pencegahan, maka setiap saat virus muntaber muncul lagi,” ujar Takemay. Hingga saat ini masyarakat disana masih trauma dengan makin banyaknya jumlah korban yang meninggal akibat tertular muntaber. Apalagi pasca serangan penyakit muntaber ini pemerintah seakan-akan tak peduli dengan penderitaan yang dialami masyarakat. “Kalau memang ada tindakan pencegahan, tapi korban dari Ekemanida sampai Pona makin bertambah. Jadi kalau penanganan sudah dilakukan baru dibilang sudah dilakukan, tapi kalau belum dilakukan jangan bilang pelayanan sudah jalan,” tanyanya serius. Saat wabah muntaber mulai menyerang warga Dogiyai tindakan medis dari pihak terkait berjalan lamban. “Pemerintah bekerja sangat lamban sehingga tak ada pertolongan secara cepat kepada masyarakat saat muntaber menyerang warga. Walaupun sudah ada penyampaian secara lisan maupun tertulis dari pemerintah maupun dari lembaga-lembaga luar,” tegasnya. Sebelumnya, April 2008 beberapa petugas telah memberikan laporan perihal jumlah korban muntaber di Lembah Kamuu. Ironisnya, tak ada tindak-lanjut dari pemerintah setempat untuk melayani korban. Padahal beberapa petugas dari dinas kesehatan kabupaten Nabire sejak 7 Agustus 2008 lalu dikirim ke Lembah Kamuu untuk menangani korban muntaber. Karena itu, pelbagai pihak menyampaikan terima kasih atas kepedulian Caretaker Bupati Kabupaten Dogiyai yang telah mengalokasikan sejumlah dana untuk menolong korban muntaber. Melihat jumlah korban muntaber yang masih berjatuhan, maka ia minta kepada pemerintah setempat untuk segera melakukan pendataan ulang hingga ke kampung-kampung yang terisolir di Lembah Kumuu karena jumlah penderita makin bertambah. Untuk mencegah penularan muntaber, ujarnya, kedepannya pemerintah setempat mesti memprioritaskan pembangunan fasilitas penunjang kesehatan. Sebab, fasilitas kesehatan yang ada saat ini perlu ditambah. Fasilitas kesehatan di puskesmas induk Moanemani yang dibangun sejak tahun 1990-an kini tak memadai lagi untuk melayani masyarakat. Tak hanya itu, pencegahan terhadap penularan muntaber mesti diawali dengan prilaku hidup sehat. “Sudah saatnya masyarakat memulai hidup sehat karena penyakit muntaber ini bersumber dari lingkungan yang tak bersih, sampah berserakan dimana-mana, makan minum tak teratur dan lain-lain,”tukasnya. Selama ini masyarakat masih beranggapan, penyakit muntaber sengaja disebarkan oleh warga tertentu. “Anggapan ini sampai saat ini belum pernah teratasi. Tapi untuk menentukan benar-tidaknya anggapan tersebut harus dapat dibuktikan. Kalau selama belum ada bukti, maka anggapan itu tak bisa diselesaikan,” tandasnya mengingatkan. http://www.tabloidjubi.com

Powered by Joomla!

Generated: 27 September, 2008, 06:07


Tabloid Jubi Online

Dana yang diberikan pemerintah untuk membantu korban muntaber di Dogiyai hingga saat ini belum sampai ketangan petugas kesehatan atau LSM lokal yang bertugas di lapangan. “Dana-dana bantuan untuk masyarakat tersebut sudah diserahkan kepada pihak LSM lokal atau pihak gereja karena sampai saat ini belum disalurkan kepada masyarakat,” tanyanya. Sanitasi Lingkungan Senada dengan Robi Tekemay, tenaga medis lainnya di tempat yang samag, Philipus Mote menambahkan, walaupun jumlah korban muntaber telah berjatuhan, tapi petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan Nabire baru turun ke lokasi 7 Agustus 2008 lalu untuk memantau keadaan di lokasi muntaber, ternyata masyarakat disana jauh dari pola hidup sehat dan lingkungan dibiarkan tak terawat. “Setiap kepala keluarga belum memiliki fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang memadai. Bahkan di puskesmas induk di Moenemanipun tak ada fasilitas MCK. Karenanya, ujarnya, masyarakat mendesak agar petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan Nabire segera melayani korban yang tertular muntaber. Selain itu juga masyarakat dihimbau untuk berprilaku hidup sehat, seperti memperhatikan sanitasi lingkungan dan mengkonsumsi makanan bergizi. Kepala Dinas Kesehatan Nabire Dra Josephina Manuarong telah melakukan kunjungan pada tanggal 7 Agustus 2008 lalu. Saat tiba dilokasi ia didaulat untuk menyaksikan dari dekat sanitasi lingkungan yang telah dilakukan masyarakat dan tindakan yang harus dilakukan kedepan untuk mencegah penularan muntaber. Karenanya, Dra Josephina Manuarong menyarankan kepada masyarakat untuk memperhatikan prilaku hidup sehat dan memelihara sanitasi lingkungan agar tak tertular virus muntaber. “Memang perlu sosialisasi secara kontinyu perihal prilaku hidup sehat. Jadi yang terpenting itu apa yang sudah kita buat, kita sampaikan kepada masyarakat. Jangan kita persalahkan pemerintah,” ujarnya. “Tapi kita melihat dia sudah buat harus disampaikan. Begitu juga dengan masyarakat apa yang masyarakat sudah buat itu harus disampaikan. Apa yang belum dibuat juga harus disampaikan,” imbuhnya. Karenanya, Philipus Mote menyarankan kepada dinas kesehatan maupun masyarakat agar langkah ini jangan dilakukan sekali saja, tapi harus dilakukan secara terus-menerus sampai wabah penyakit muntaber ini musnah dari lokasi ini. Masyarakat harus dilibatkan dalam suatu komponen aparat pemerintahan agar mereka bisa mengenal dan bekerjasama melayani masyarakat, bila suatu saat terjadi situasi darurat yang membutuhkan penanganan cepat dan segera bagi masyarakat. Untuk mengawasi penularan muntaber, maka sudah ada instruksi pemerintah kepada masyarakat perihal prilaku hidup sehat, seperti pengelolaan sanitasi lingkungan, pola makan minum dan lain-lain. “Bila masyarakat memperhatikan sanitasi lingkungan, pola makan minum mustahil muntaber muncul,” tegasnya. Alhasil, instruksi pemerintah inipun mendapat dukungan dari sejumlah tokoh adat di Dogiyai Apabila seseorang mengabaikan prilaku hidup sehat sesuai instruksi pemerintah dan tokoh adat, maka ia mesti membayar denda sebesar Rp 50.000 atau denda lainnya. Masyarakat juga diwajibkan memberikan laporan, bila hendak bepergian dari Ekimanida sampai ke Moanemani karena dikwatirkan masyarakat yang bepergian jauh bisa membawa-masuk virus muntaber ke wilayah Lembah Kamuu. “Kalau kedapatan masyarakat pulang sampai larut malam, maka dia harus membayar denda. Masyarakat juga dilarang main judi. Setiap hari minggu tak ada kegiatan di masyarakat,” tandasnya. Cara ini dilakukan untuk mengawasi dan mencegah masuknya virus muntaber masuk ke wilayah-wilayah di Dogiyai karena dengan adanya instruksi pemerintah ini, maka diharapkan tingkat kesadaran masyarakat perihal pola hidup sehat makin bertambah. Sehingga di hari-hari mendatang Kabupaten Dogiyai dan sekitarnya bebas dari penularan penyakit muntaber. (Musa Abubar)

http://www.tabloidjubi.com

Powered by Joomla!

Generated: 27 September, 2008, 06:07

Tabloid Jubi Online  

JUBI—Walaupun wabah muntaber di Lembah Kamuu, Kabupaten Dogiyai dinyatakan sebagai Keadaan Luar Biasa (KLB), tapi korban meninggal...