Page 1


Begitu banyak topik yang ada kaitannya dengan spiritualitas, bisa dikatakan musiman. Kita semua masih ingat akan gerakan New Age, yang agaknya sekarang sudah lewat puncaknya. Menurut perasaan saya - mungkin saja saya keliru - perhatian untuk mindfulness sangat besar. Bahkan dalam pemberitahuanpemberitahuan yang disebarkan oleh KNR (Komisi Religius Belanda), topik ini tetap termasuk daftar. Beberapa waktu yang lalu, saya mendengarkan beberapa CD berisi ceramah dari beberapa orang pakar dari Belgia tentang topik-topik penting. Misalnya ceramah rekaman dari Rik Torfs, seorang ahli hukum gereja sekarang juga menjabat sebagai rector universitas Katolik di Leuven, mengenai sejarah gereja. Yang sangat menarik bahwa dalam kuliah itu beliau juga menghimbau agar kita hidup dengan perhatian. Rupanya waktu kuliah-kuliah itu diberikan, istilah mindfulness masih belum populer. Bagaimanapun penilaian kita tentang gejala ini, fakta adalah bahwa kita kurang sekali hidup dengan perhatian yang sungguhsungguh. Kita tidak hidup dalam waktu kini, melainkan dalam pikiran senantiasa sedang merencanakan ini atau itu, mengevaluasi apakah yang kita lakukan sudah benar atau tidak. Saya bahkan sering menyadari bahwa makan dan cuci piring sudah tidak saya lakukan secara sadar; bahwa saya dalam pikiran sudah melangkah ke aktivitas berikutnya, atau memikirkan rasa bersalah tentang sesuatu yang kulakukan dengan kurang benar, atau apa yang seharusnya saya katakan atau tidak katakan. Saya kira tidak

perlu diterangkan lagi apa yang kulakukan sewaktu masa meditasi.... Akhir tahun ini, kongregasi kita akan menyelenggarakan I.C.C. di Roma tentang tanda-tanda jaman. Dalam terbitan ini kita masih belum membahas pertemuan ini, namun anda bisa membaca tentang Vinsensius dan karismanya, mengenai penziarahan Zwijsen dan bagaimana Brasil merayakan terbitnya buku sejarah yang menguraikan 50 tahun perubahan kehidupan religius di Brasil. Di samping itu Brasil juga memberitakan tentang Gerakan Belaskasih Orang muda. Salah satu suster kita dari provinsi Belanda mendapat tanda jasa dari kerajaan dan satu lagi suster yang lain, yang pernah temu muka dengan Pendiri kita, dalam terbitan ini mengisahkan tentang perjumpaan itu, di masa yang sudah begitu lama lampau, dan bahwa ia begitu terkesan olehnya. Pada halaman foto anda bisa melihat di mana gambar-gambar Vinsensius yang akhirnya menang sehingga dimuat dalam majalah kita. Dan semoga meditasi gambar juga berkenan di hati anda. Jadi, seperti anda lihat, gambar dan artikel yang disajikan sungguh beraneka ragam sehingga masing-masing dari kita bisa mencari sendiri mana yang cocok dengan seleranya untuk dibaca atau dilihat sebentar, di tengah-tengah begitu banyak rangsangan yang melanda setiap hari. Bisa dijadikan latihan dalam mindfulness‌. Selamat membaca dan salam hangat dari kami di Den Bosch. Sr. Rosa Olaerts, pemimpin umum


Terbitan Compassion yang lalu memberi Anda peluang untuk mengunjungi tempat-tempat yang disinggahi dalam penziarahan Vinsensius. Akhir tahun yang lalu, di pusat pertemuan di Tilburg telah diselenggarakan sejumlah kuliah tentang Vinsensius, di mana beberapa pakar mengemukakan pandangannya tentang Vinsensius. Siklus yang terdiri dari 5 pertemuan ini, sudah pernah diadakan di Pusat Vincentius de Paul di Nijmegen. Franneke Hoeks menghadiri pertemuan-pertemuan di Tilburg tadi, dan ia terinspirasi untuk meneliti perkembangan spiritual Santo ini, yang hasilnya ia uraikan di bawah ini.

Pemburu karier

Barang siapa membaca biografi Vinsensius, mau tidak mau akan merasa heran melihat perubahan besar yang terjadi dalam pribadi pria ini. Vinsensius dilahirkan pada tahun 1581; di dalam sejarah Prancis suatu masa penuh gejolak. Orang tuanya kurang mampu, dan dalam usia muda Vinsensius sudah harus ikut membantu orang tuanya yang mempunyai usaha pertanian. Ia ternyata seorang murid yang berbakat, dan orang tuanya berusaha agar ia bisa mengikuti pendidikan imam. Dengan menjadi imam, Vinsensius mendapat peluang untuk mengentaskan diri dari situasi kemiskinan orang tua. Pada usia 19 tahun, Vinsensius ditahbiskan menjadi imam di Chateau-l’Eveque. Selama masa mudanya, baru sedikit yang tampak dalam pribadi Vinsensius, orang yang kelak akan menjadi pejuang nasib orang miskin. Pada usia lebih lanjut, Vinsensius mengenang kembali kehidupannya dan menulis bahwa ia seringkali merasa malu melihat ayahnya yang berpakaian jelek dan pincang itu. Waktu itu respeknya untuk orang miskin, belum ada. Andaikata Vinsensius harus kita lukiskan dalam bahasa zaman kini, maka cocok kiranya ia disebut pemburu karier. Vinsen menjadi imam terutama untuk mengamankan masa depannya dari segi finansial. Penempatan sebagai imam bisa menghasilkan pemasukan (prebende) yang

lumayan. Berulang kali Vinsen berusaha untuk memperoleh posisi yang ‘basah’, tetapi setiap kali penempatan-penempatan itu hanya lewat di depan hidungnya. Tahun 1608 Vinsensius menetap di Paris: kecewa, miskin, dengan dililit oleh cukup banyak hutang. Sekitar tahun 1610 kehidupan Vinsensius rupanya berubah ke arah yang lebih positif. Ia menjadi imam tentara dan bekerja di istana ratu Margaret dari Valois. Dan Vinsen juga memperoleh ‘prebende’-nya yang pertama, yang sudah begitu lama ia idam-idamkan, yaitu hasil dari biara Sint-Léonard-deChaumes. Vinsensius, putera seorang petani miskin, pada usia tiga puluh tahun akhirnya mencapai sukses yang ia impikan.

Tiga pengaruh

Dalam istana raja, Vinsen berkenalan dengan Pierre de Bérulle. Imam ini menjadi pembimbing rohani si Vinsen muda. Melalui de Bérulle ia berkenalan dengan gerakan pembaharuan spiritual di Prancis. Para pendukung gerakan ini menempatkan Tuhan dan Yesus pada posisi sentral, dan meminta perhatian untuk pentingnya imam-imam yang terdidik baik. Karena kontaknya dengan Bérulle, Vinsen mulai merenungkan posisinya sendiri; makna dari jabatannya sebagai imam. Sebelumnya, kedudukan itu terutama ia kejar untuk mendapatkan pemasukan yang lumayan. Juga secara praktis de Bérulle penting bagi Vinsen. Berkat usaha beliau Vinsen menjadi pastor di Clichy dan beliau memperkenalkan Vinsen dengan keluarga de Gondi, di mana ia diberi jabatan. Melalui de Bérulle, Vinsen berkenalan dengan André Duval, yang bakal menjadi pembimbing spiritualitasnya. Dan André Duval sendiri, terinspirasi oleh Benoît de Canfeld (Benet of Canfield). Dari André Duval Vinsen belajar untuk tidak memaksakan sukses dan mencari keinginan sendiri. Melainkan yang penting adalah untuk bisa mengerti apa yang dikehendaki Tuhan. Sumber inspirasi penting yang ketiga untuk Vinsensius adalah Franciscus dari Sales. Berkat beliau Vinsen menganuti pandangan bahwa setiap orang mempunyai peluang untuk menjadi suci. Untuk menjadi suci tidak perlu untuk mengikuti bermacam-macam aturan yang sulit dan muluk, seperti diajar oleh mantan gurunya Pierre de Bérulle. Yang dibutuhkan adalah sikap hidup yang


sederhana dan lemah lembut, sebagaimana diuraikan oleh Frnciscus dari Sales. Vinsensius menimba nilai-nilai kehidupan dari ketiga sumber inspirasi ini, yang kelak akan terpantul dari hidup dan karyanya di kemudian hari.

Berbalik

Bagaimana bisa terjadi bahwa lelaki ini, yang agaknya berfokus total pada karier sendiri, akhirnya menjadi pelindung karya-karya kasih? Tahun 1617 membawa perubahan dalam kehidupan Vinsen. Waktu itu ia bekerja untuk keluarga de Gondi yang kaya raya. Di samping memberi pendidikan dan bimbingan rohani untuk keluarga de Gondi, Vinsen juga diminta untuk memberi bimbingan rohani kepada para buruh tani keluarga ini. Suatu malam Vinsen dipanggil untuk menemani seorang lelaki yang sekarat. Vinsen terkejut ketika menyadari bahwa lelaki ini hampir tidak tahu apa-apa tentang agamanya sendiri. Lelaki ini mengaku kepadanya dosa-dosa yang tidak pernah berani ia akui. Di dalam dirinya, Vinsen melihat seorang lelaki ‘miskin’ yang tidak pernah mendapat pengertian dari seorang imam atau mengalami cinta kasih Tuhan. Selesai percakapan, lelaki tadi bercerita betapa leganya ia karena sebelum meninggal bisa mencurahkan isi hatinya. Tersentuh oleh pengalaman ini, Vinsensius lalu berkhotbah tentang pentingya pengakuan dosa, dan bahwa ini sangat bernilai. Setelah itu sebagian besar dari umat parokinya datang untuk mengaku dosa sehingga Vinsen hampir tidak sanggup menangani mereka semua. Juga di tempat-tempat lain di mana Vinsensius berkhotbah, orang datang dengan berbondong-bondong untuk mengaku dosa. Ini membuat Vinsensius yakin bahwa masyarakat desa membutuhkan

pelayanan rohani yang memadai. Tetapi oleh pengalaman-pengalaman ini, Vinsen makin kurang betah dalam posisinya yang mapan di keluarga de Gondi. Ia merasa kurang nyaman dan ingin memberi muatan yang berbeda kepada posisinya sebagai imam. Berdasarkan advis dari penasehatnya de BÊrulle, Vinsen kemudian menjadi pastor di suatu paroki yang berantakan bernama Châtillon-surChalaronne.

Salah satu hal pertama yang Vinsen lakukan di sana adalah mengumpulkan para imam dalam parokinya membentuk semacam persekutuan. Dengan demikian ia ingin memperkokoh jabatan imam dan lebih bisa menggunakan tenaga mereka demi kesejahteraan para umat paroki. Cara yang dipakai Vinsen mengorganisir imam-imamnya untuk menjalankan pekerjaan mereka demi rakyat kecil, kelak akan bertumbuh menjadi Kongregasi Misi. Di Châtillon Vinsen sekali lagi diperhadapkan dengan kehidupan merana di daerah pedesaan. Dalam salah satu khotbahnya, Vinsen bercerita tentang suatu keluarga miskin yang tinggal di desa, yang waktu itu sama sekali tidak dihiraukan orang lain. Selesai perayaan hampir seluruh desa mendatangi keluarga ini untuk membantu.


Dalam salah satu konferensinya di kemudian hari, Vinsensius mengenang peristiwa ini dengan kata-kata: “Saya berjumpa dengan ibu-ibu baik hati ini yang waktu itu pulang dengan berbondong-bondong, dan Allah membuat saya berpikir: Mungkinkah ibu-ibu yang baik hati ini bisa didorong untuk secara bersama-sama menyerahkan dirinya kepada Allah dengan melayani orang yang miskin dan yang sakit?” (CCD IX:166) Pikiran simpel yang bakal mempunyai dampak yang luar biasa. Peristiwa ini mendorong Vinsen untuk mengorganisir bantuan untuk mereka yang miskin dan sakit. Ia yakin bahwa pada dasarnya orang bersedia untuk membantu, tetapi bahwa kerelaan untuk membantu ini harus disalurkan. Oleh karena itu ia lalu mendirikan “Confréries de la Charité” yang pertama, perkumpulan karitas wanita. Ini merupakan langkah pertama dalam mengatur bantuan untuk orang miskin, yang membuat Vincent de Paul tersohor hingga hari ini.

Bentuk hidup membiara yang baru

Ketika Madame de Gondi mengajak penasihatnya Vinsen untuk kembali ke Paris, Vinsen menyanggupi dengan syarat bahwa ia harus diberi cukup waktu untuk melanjutkan pekerjaan pastoralnya. Waktu itu Prancis berulang kali berada dalam situasi perang, dan dari pengalaman sendiri Vinsen tahu bahwa rakyat kecil yang terpukul paling berat oleh kekerasan perang. Vinsen ternyata mempunyai bakat organisasi yang luar biasa, dan ia mengerahkan

pengaruhnya untuk meminta perhatian untuk rakyat Prancis yang menderita. Dibantu oleh Louise de Marillac, janda dan putri dari suatu keluarga terkemuka dan berpengaruh, Vinsen berhasil mengumpulkan para wanita elit Prancis sebagai “Dames de Charité’. Perkumpulan-perkumpulan ini bisa berdiri berkat wanita-wanita kaya yang tergerak hatinya oleh Vinsen untuk menyediakan waktu dan khususnya uang bagi orang-orang di sekeliling mereka yang kurang mampu. Pekerjaannya sering mereka serahkan kepada pembantu mereka. Vinsen semakin menyadari bahwa ia membutuhkan tenaga untuk bisa mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk itu. Ibu-ibu kaya tadi, kalau bisa tidak mau turun tangan sendiri. Tahun 1633, bersama Louise de Marillac, ia mulai membina suster-suster cinta kasih yang pertama: beberapa dari para pembantu yang menjadi suruhan ibu-ibu kaya tadi, yang kelak akan bertumbuh menjadi Kongregasi PutriPutri Cinta Kasih. ‘Putri-putri’ ini setiap tahun ia suruh ucapkan kaul untuk masa satu tahun, dengan wanitawanita ini - berbeda dan kaum religius wanita zaman itu - hidup dalam rumah-rumah biasa. Dengan demikian Vinsensius ingin mengelak dar apa yang terjadi dengan Franciscus dari Sales dengan Suster Visitasinya, yaitu bahwa mereka diharuskan oleh Roma untuk tinggal dalam biara tertutup. Yang dikehendaki Vinsen adalah sesuatu yang baru: wanita-wanita religius yang tidak hidup di belakang tembok biara, melainkan


di tengah-tengah masyarakat ramai. Ia yakin bahwa dengan hidup di antara orang miskin, kita bisa menemukan Allah dan bahwa tembok-tembok biara hanya menciptakan jarak antara ‘putri-putrinya’ dan Allah. “Yang menjadi biara kalian adalah rumah saki; kamar-kamar kalian adalah rumah sewaan; kapel kalian adalah gereja paroki; dan gang-gang biara kalian adalah jalanan kota atau kamar-kamar rumah sakit; klausuur kalian adalah ketaatan; jeruji kalian adalah ketakutan akan Tuhan dan sebagai kerudung kalian adalah kesucian diri.” Vinsen dengan konsepnya mengenai kaum religius wanita yang hidup di antara orang-orang miskin meletakkan dasar untuk suatu kehidupan membiara bagi kaum wanita yang baru.

kata-kata muluk dan niat yang bagus, melainkan situasinya betul-betul harus ditangani. Kesejahteraan spiritual dan material bisa tercapai dengan kata dan perbuatan. Bagi Vinsen, bekerja dengan orang miskin tidak hanya suatu aktivitas yang relevan

Pembela orang miskin

Vinsen sering digambarkan sebagai imam yang menggendong/menggandeng beberapa orang anak. Perhatian untuk anak-anak memang termasuk salah satu dari banyak hal yang ia tangani. Ia menyaksikan bagaimana perang dan kemiskinan mempunyai dampak yang menghancurkan, dan sadar bahwa anak-anak merupakan kelompok rentan. Di jalanan kota Paris ia diperhadapkan dengan anak-anak yang ditelantarkan dan bayi yang ditinggalkan, dan ia mengasuh mereka. Mungkin itulah kekuatan utama Vinsen: ia bukan seorang pembaharu spiritual yang besar, tetapi terbukti sebagai seorang lelaki yang praktis dan bisa memberi inspirasi. Kebutuhan orang tidak dipecahkan dengan

secara sosial, melainkan cara yang konkret untuk mengikuti Yesus, dan menyebarkan kabar gembira. Bahkan Vinsen yakin bahwa Allah bisa kita jumpai di dekat dan di dalam orang-orang miskin. “Kau tidak akan kehilangan apa-apa, Suster-Suster, kalau kalian terpaksa meninggalkan doa atau Ekaristi karena harus mengunjungi si miskin, karena dengan melayani orang miskin engkau akan pergi menyambut Allah.”

Bahan-bahan untuk tulisan ini, diambil dari buku-buku ceritra tentang Santo Vinsensius dalam bahasa Perancis.


Menyusul terbentuknya Gerakan Belaskasih di Brasil, sejak beberapa tahun timbul pula Gerakan Belaskasih Orang muda. Sr. Ursula van de Ven, misionaris Belanda di Brasil, dalam artikel ini mengulas gerakan orang muda ini.

Asal mula timbulnya Gerakan ini

Untuk ide pertama tentang apa yang lalu berkembang menjadi Gerakan Belaskasih di Brasil, kita harus kembali ke tahun 1987. Tahun itu para Suster Cintakasih SCMM dari provinsi ini, mulai berpikir tentang orang awam sebagai anggota asosiasi para suster. Semuanya bermula dengan Ana Elias. Ia menjadi novis para suster, tetapi terpaksa pulang untuk merawat orang tuanya yang sudah jompo. Selang beberapa waktu Ana Elias, yang tidak bisa kembali lagi sebagai religius, minta apakah ia boleh berdoa bersama para suster. Setelah itu setiap hari Senin pagi ia datang ke rumah para suster di Santa Rita untuk berdoa dengan mereka. Tak lama sesudah itu, berdasarkan advis pembimbing rohaninya, Orang dewasa saling sharing dalam kelompok

ia bertanya apakah ia boleh mengucapkan kaulnya sendiri sebagai awam dan bahwa itu ingin ia lakukan dalam keterikatan dengan kongregasi. Maka ia mengucapkan kaul pertamanya sewaktu Pantekosta tahun 1989. Ritual ini diulang setiap tahun, lalu ada orang lain yang merasa tertarik dan ingin melakukannya juga. Maka lambat laun terbentuk sekelompok orang di Santa Rita yang menamakan dirinya anggota asosiasi. Semuanya merasa tertarik pada spiritualitas dan karisma Suster-Suster Cintakasih SCMM. Juga di tempat-tempat lain di mana para suster hidup dan bekerja, ada pribadipribadi yang ingin mengikat diri pada karisma Suster-Suster Cintakasih. Dengan demikian kelompok anggota asosiasi ini bertumbuh menjadi suatu gerakan yang menamakan dirinya Gerakan Cintakasih. Ana Elias dianggap sebagai pendiri kelompok asosiasi, dan dengan demikian juga dari Gerakan Cintakasih. Tidak hanya para suster yang menjadi penunjang para anggota gerakan, pada gilirannya para anggota tadi menunjang para suster! Semua anggota mempunyai keterikatan dengan para suster, misalnya melalui kelompok-kelompok basis, pekerjaan


Sekelompok atau suku pemuda Brasil

pastoral, kesejahteraan ibu dan anak, atau tugas dalam Yayasan Dom Helder Camara. Yang menarik ialah bahwa saat ini ada beberapa orang yang mengutarakan keinginannya untuk terikat lebih erat dengan para suster dan sekarang benar-benar ingin menjadi anggota asosiasi kongregasi.

Perhatian untuk kaum muda

Para anggota Gerakan Belaskasih mendoakan panggilan dalam kongregasi kita, dan mereka juga selalu terlibat dalam promosi panggilan. Hingga tahun 2008 para suster masih percaya akan pastoral panggilan melalui pertemuan-pertemuan tradisional bagi para puteri yang menaruh minat pada kehidupan religius, tetapi lalu semakin nyata bagi mereka bahwa partisipasi dan minat semakin berkurang. Timbullah keinginan untuk mendekati kaum muda dengan cara lebih langsung. Para suster mulai memikirkan konsep baru, yang berbeda dari apa yang menjadi kebiasaan hingga sekarang. Di dalam Gerakan Belaskasih, ada cukup banyak orang muda yang ikut serta. Oleh karena itu suster-suster memutuskan untuk menyapanya secara langsung, khususnya mereka yang sudah cukup lama menjadi anggota. Dan dengan demikian tampak adanya perubahan dalam sejarah pastoral panggilan. Dalam triwulan kedua tahun 2010, para suster yang duduk dalam tim panggilan mulai merencanakan aksi dan mulai berpikir tentang Gerakan Belaskasih Orang muda. Mereka memutuskan untuk mendekati para orang muda dan meminta pendapat mereka. Langkah pertama berupa pertemuan dengan para orang muda di Varzea Nova untuk memancing pendapat mereka tentang usul-

usul itu dan bagaimana kiranya Gerakan itu harus didirikan. Menyusul pembicaraan yang lama dan menyenangkan, ada harapan bahwa akan bisa tercetus sesuatu yang menjanjikan. Dalam tahun yang sama para suster memutuskan untuk mencari bimbingan, lalu mereka mengundang seorang putri dari Gerakan Belaskasih di Santa Rita untuk membantu mereka. Setelah itu mereka mulai berpikir tentang tujuan, struktur, metoda dan, sudah jelas, nama untuk Gerakan ini. Nama yang terpilih adalah: Gerakan Belaskasih Orang muda; dalam bahasa Portugis Movimento Jovem da Miseric贸ridia (MJM).Tujuan MJM adalah menyebarkan karisma belaskasih di antara orang muda. Semboyan atau moto yang akan dipakai: pelayanan berdasarkan cintakasih.

Gerakan Orang muda

Gerakan orang muda MJM dibentuk oleh muda-mudi yang berasal dari empat tempat di mana ada Gerekan Belaskasih: Santa Rita, Varzea Nova, Heitel Santiago dan Bayueux.

Para suster kongregasi kita hidup atau pernah hidup di tempat-tempat ini. Gerakan terbuka untuk orang muda dengan usia minimal 15 tahun, tetapi dari usia 13 tahun mereka sudah bisa menjadi anggota aspiran.


Pertemuan resmi MJM yang pertama diselenggarakan pada tahun 2012; dalam pertemuan ini susunan dan struktur organisasi MJM ditetapkan. Pembinaan di dalam tubuh MJM terdiri dari empat unsur: spiritualitas cintakasih, pembinaan politis dan kultural, aksi berdasarkan karya-karya kasih sendiri, dan panggilan. Setiap bagian mempunyai koordinatornya masing-masing untuk memimpin dan memfasilistasi kegiatankegiatan. Agar organisasi bisa berjalan baik dan komunikasi antar kelompok lancar, masingmasing kelompok mempunyai nama dan contact person-nya sendiri. Para orang muda mengusulkan agar setiap kelompok memakai nama dari satu di antara antara kedua belas suku Israel. Sejak saat itu, kelompokkelompok itu dipanggil dengan nama ‘suku’. Suku-suku ini berkumpul setiap bulan. Kirakira setiap tiga bulan semua suku berkumpul, dalam sebuah pertemuan akbar dengan kirakira 40 orang.

Maknanya bagi para orang muda

Salah satu anggota MJM menceritakan bagaimana ia mengalami pertemuanpertemuan ini: “Gerakan Belaskasih Orang muda menjadi kekayaan besar dalam kehidupanku.Sewaktu salah satu pertemuan di bulan Juni 2012, spiritualitas yang menjadi pokok utama. Yang khususnya diulas waktu Gerakan Belas Kasih Pemuda

itu adalah membaca Injil sambil berdoa, dan waktu itu kami diberi kesempatan untuk mengalami doa dengan cara yang lain daripada biasa. Dalam pertemuan ini kami belajar bahwa dalam praktek membaca Injil sambil berdoa mengantar kami pada keheningan, renungan dan sesudah itu, aksi. Ceramah yang harus direnungkan, yang dipimpin oleh Roh Kudus, mengantar kita masuk dialog dengan Tuhan. Oleh karena itu baiklah untuk menrencanakan doa semacam itu dalam kehidupan kita, untuk benarbenar bisa mengalaminya. Bagi saya suatu pengalaman yang sungguh memperkaya yang belum pernah saya alami sebelumnya dalam kehidupan ini, dan yang mengantar saya lebih dekat kepada Tuhan�. Bagi muda-mudi ini penting sekali untuk bisa mengambil bagian dalam gerakan ini, yang memang dikhususkan bagi mereka, hanya bagi mereka. Ada peluang untuk renungan dan perjumpaan dengan temanteman sebaya, dengan siapa mereka mengalami belaskasih bersama, yang menjadi dasar untuk ingin melayani. Para suster, yang tentunya juga hidup dengan karisma belaskasih, senang melihat bagaimana kelompok-kelompok orang muda ini berkembang. Gerakan itu dari para orang muda sendiri: tempat mereka sendiri di mana mereka bisa mencari makna kehidupan dang panggilan mereka sebagai orang Kristen yang telah dibaptis.


Dalam terbitan Compassion yang lalu, anda bisa mengikuti penziarahan dalam bentuk foto, melalui berbagai tempat di Prancis yang berkaitan deng an Vincent de Paul. Tetapi para penziarah yang datang dari semua penjuru dunia untuk mengikuti penziarahan yang bertolak dari Negeri Belanda ini, berziarah dalam arti kata yang sesungguhnya. Cara berziarah yang kami tawarkan di sini, jauh lebih mudah dan bisa diselesaikan dalam waktu satu hari, walaupun harus mengunjungi dua negara. Dalam artikel ini anda bisa mengikuti perjalanan tadi dalam tutur dan gambar, dari kursi malas anda di rumah, di manapun anda berada.

dari De Reek dekat Ravenstein, yang menjadi tempat tinggal Jan selama dua tahun. Oleh karena Jan ingin menjadi imam, ia lalu belajar di sekolah Latin di Uden, kemudian di Helmond. Bulan Oktober tahun 1810, setelah menyelesaikan studi, Zwijsen memulai pendidikan imamnya di Sint-Michielgestel, di seminari besar Herlaer. Tahun 1817 Zwijsen ditahbiskan sebagai imam di katedral Rombouts, di Mechelen. Gereja ‘t Heike

Kerkdriel

Rumah tempat kelahiran Zwijsen, yang sayang sekali sekarang sudah punah

Kalau kita mau membuat perjalanan ini sesuai kronologi kehidupan Joannes Zwijsen, kita harus mulai di Kerkdriel. Di tempat inilah beliau dilahirkan, pada tanggal 28 Agustus 1794, sebagai putra seorang penggiling gandum. Kerkdriel letaknya di sebelah utara ’s-Hertogenbosch, di tepi sungai Maas. Ketika Zwijsen berusia 11 tahun, keluarga pindah ke Berlicum; di tempat ini Jan kecil menerima komuni pertamanya. Pastor setempat menilai bahwa ia mempunyai bakat dan mendesak ayahanda Zwijsen untuk menyekolahkan putranya itu. Yang akhirnya dipilih adalah sekolah Prancis berikut asrama

Tempat perhentian kedua dalam perjalanan keliling ini adalah Tilburg. Di kota ini Zwijsen bekerja, mula-mula sebagai pastor pembantu di lingkungan ‘t Heike. Setahun kemudian, pada tahun 1818, beliau diangkat sebagai kapelan di Schijndel, di mana beliau bekerja sepuluh tahun lamanya. Tahun 1832 Zwijsen kembali ke Tilburg, di tempat ini beliau menjadi pastor di ‘t Heike. Dalam tahun yang sama ia memutuskan untuk mendirikan ‘rumah belas kasih’, tempat pengajaran anakanak miskin dalam parokinya. Dengan tujuan ini beliau ingin menyediakan rumah untuk 13 orang suster. Tanggal 23 November 1832 tiga suster pertama mulai menjalankan tugas ini, dari sebuah rumah kecil yang sangat sederhana. Zwijsen menyuruh membangun pastoran di depan gedung gereja.


Hoogstraten

Bulan Mei tahun 1833 ketiga ‘suster’ (waktu itu masih berstatus wanita saleh) pertama ini, bersama tiga orang suster lainnya, pindah ke rumah yang lebih besar. Tanggal 5 Februari 1834 di gereja paroki ‘t Heike diselenggarkan upacara pengucapan kaul pertama. Tiga bulan sesudah itu para suster mulai tinggal di ‘rumah dengan tiga belas sel kecil’ yang Zwijsen suruh bangun untuk mereka di jalan Oude Dijk, berikut sekolah baru untuk para suster. Itu tempat perhentian yang ketiga dalam penziarahan Zwijsen. Kedua rumah pertama ini sekarang sudah punah, tetapi di Oude Dijk saat ini masih tetap berdiri sebagai rumah induk Kongregasi yang megah. Sebenarnya Zwijsen tidak ingin menambah jumlah susternya, tetapi menanggapi himbauan seorang imam dari Delft, beliau akhirnya mengalah. Selama masa hidupnya tidak kurang dari 76 biara yang didirikan. Meersel

Ketiga suster pertama ini, menurut kata orang, adalah tiga orang wanita saleh yang berasal dari Begijnhof di kota Hoogstraten yang letaknya 40 km. di sebelah selatan dari Den Bosch, di Belgia. Dalam Compassion 2013/3 telah dimuat artikel tentang siapa mereka ini, dan sejarah mereka hingga menjadi SusterSuster Cinta Kasih yang pertama. Rumah Induk Oude Dijk

Rumah dengan tiga belas kamar kecil’

Di samping kegiatan ini Zwijsen pada tahun 1844 mendirikan kongregasi Frater-Frater Bunda yang Berbelaskasih. Para suster, yang dalam rumah induk telah mulai mengelola rumah yatim piatu untuk anak lelaki dan perempuan, seringkali bingung mengatur anak pria yang mulai menginjak dewasa. Walaupun Zwijsen sebenarnya enggan untuk mendirikan sebuah kongregasi baru, beliau beranggapan bahwa ini sesuatu yang diminta Tuhan. Zwijsen berhasil mendapatkan tiga pria yang menyatakan kesediaannya, lalu mulai dengan mengutus mereka ke para Trapist di Meersel, Belgia. Di sana mereka menjalani masa novisiat mereka. Sementara itu di Tilburg Zwijsen mulai membangun rumah tempat tinggal untuk para frater pertama ini berikut anak yatim lelaki, yang mulai menempatinya pada tahun 1845. Kongregasi inipun berkembang dengan cepat, baik di dalam kota Tilburg maupun di luarnya. Biara di Meersel saat ini dihuni oleh para Kapusin, tetapi sampai sekarang pun masih ada satu sel dalam kondisi asli ketika ketiga novis pertama tinggal di situ.


Rumah Gerra

Tahun 1851 Zwijsen menjadi vikaris apostolis (sebenarnya pengurus) dari keuskupan Den Bosch. Tahun 1853 beliau juga menjadi uskup agung dari Utrecht. Dari Rumah Gerra bertahun-tahun lamanya beliau mengelola keuskupan Utrecht dan Den Bosch, tetapi juga selalu dekat dengan para suster dan frater. Beliau menjabat sebagai uskup agung dari Utrecht hingga tahun 1868 dan mengelola keuskupan Den Bosch sampai ia meninggal pada tahun 1877. Tahun 1879 di dalam katedral didirikan monumen tanda peringatan

Dua tahun sebelum itu, pada tahun 1842, sepuluh tahun setelah mulai berjuang di ‘t Heike, Zwijsen diangkat sebagai Uskup dari Gerra. Gerra itu suatu keuskupan tua sebenarnya tidak ada; gelar ini diberikan ketika beliau diangkat sebagai uskup pembantu di Den Bosch. Hingga tanggal yang tidak ditentukan, Zwijsen diminta untuk tetap menjabat sebagai imam dari ‘t Heike. Tahun 1853 beliau menyuruh membangun Rumah Gerra, yang lokasinya praktis sekali pada pertengahan jalan yang menghubungkan Tilburg dengan Den Bosch. Tahun 1863 Zwijsen berhasil menyelamatkan diri dari sebuah perampokan yang mengancam nyawanya di Rumah Gerra. Detilnya bisa anda baca dalam Compassion 2010/3, dalam terbitan ini termuat artikel tentang hidup dan karya Zwijsen. Setelah Zwijsen meninggal pada tahun 1877 oleh sebab-sebab yang wajar, bertahun-tahun lamanya rumah ini dipegang oleh kaum religius, tetapi pada tahun 2009 dibeli oleh sebuah perusahaan properti. Katedral St. Jan

Monumen tanda peringatan bagi Zwijsen

bagi Zwijsen. Surat kabar yang terbit di Roermond pada tanggal 15 Maret 1879 memaparkannya sebagai berikut: “Tanda peringatan ini dibuat dengan gaya gotik, sesuai gambar sang arsitek katerdral ini, yaitu bapak L. Hezenmans; patung-patung adalah karya seniman v.d. Geld, sedangkan `papan tembaga berlapis emas yang memuat tulisan, berasal dari studio bapak van Rijswijk dari Antwerpen. Di tengah tampak Yohanes Pembatis yang suci, pelindung Mgr. Zwijsen, dan dibawahnya lambangnya, di sebelah patung tersebut tampak dua malaikat dengan lambang dari keuskupan agung Utrecht dan Den Bosch, di sebelahnya lagi dua malakait kecil (cherubijn) yang melambangkan semboyan Mgr.: ‘mansuete’ berikut salib dan domba, ‘fortiter’ (kiri) dengan pedang dan singa.”


Begraafplaats Orthen Orthen adalah sebuah tempat pemakaman di Den Bosch yang - waktu itu – mempunyai pengurus sendiri. Pemakaman di tempat ini dibuat pada tahun 1858. Zwijsen meninggal pada hari Selasa, tanggal 16 Oktober 1877, dalam usia 83 tahun. Beliau dimakamkan beberapa hari setelah itu di Orthen dengan suatu upacara yang dilukiskan sebagai ‘megah karena kesederhanaannya, impresif karena keheningan suasananya.’ Mula-mula

tempat peristirahatan terakhir Zwijsen suatu makam batu yang sederhana, di tengahtengah makam para susternya. Tetapi pada tahun 1882 para suster menyuruh membangun suatu kapel untuk memperingati Zwijsen. Jenazah Zwijsen dipindahkan ke makam di bawahnya. Hingga hari ini para petinggi agama Katolik dimakamkan di sini. Disertai ucapan terima kasih kepada Peter van Zoest untuk foto dari Meersel.


Belum lama berselang redaksi menerima laporan khusus dari Sr. Lilian Turlings dan Lilianne Hecker dari arsip umum, yaitu teks yang dipetik dari ‘het Congregatieklokje’, pelopor awal Compassion, dari bulan Mei 1952. Dalam majalah ini seorang suster yang sudah sangat lanjut usia bercerita bagaimana di masa mudanya pernah bersua dengan Mgr. Zwijsen. Di bawah ini kami sajikan kisahnya (yang sudah diolah), berikut kata pendahuluan dari tahun 1952, mengenai kehidupan suster ini. Sr. Lilian Turlings dan Lilianne Hecker yang bekerja di arsip, Sr. Corneline Wouters dan Thessa Ploos selain itu telah mengumpulkan informasi pelengkap tentang data, pribaddipribadi dan tempat-tempat yang disebut oleh Sr. Anastasie ini. Tanggal 18 Maret 1952, suster tertua Kongregasi, yang tahun lalu merayakan pesta biara 60 tahun, naik ke surga. Beliau adalah suster M. Anastasie van Bers, yang wafat pada usia 95 tahun. Beliau satu-satunya suster yang masih sempat mengenal Pendiri kita yang agung itu, dan pernah bercakap-cakap dengan beliau. Bertahun-tahun lamanya suster Anastasie bekerja sebagai kepala sekolah di asrama di Oerle. Ia seorang pengajar yang wahid dan pendidik yang berbobot, sebagai anggota komunitas ia seorang suster yang periang yang pandai menyumbangkan talentanya sewaktu pesta-pesta biara. Setelah memasuki masa pensiun, ia tetap membantu di sekolah, selama masih bisa. Namun sudah patut ia menikmati masa istirahatnya sehingga ia dipindahkan ke Moergestel, di mana ia bisa mempersiapkan diri untuk perjalanan akbarnya. Semoga ia beristirahat dalam damai. Oleh karena kita menaruh minat kepada segala sesuatu yang bersangkutan dengan Pendiri kita, Muder Leonie kita yang tercinta, yang waktu itu menjabat sebagai Pemimpin Umum, waktu itu meminta suster Anastasie untuk mencatat hal-hal penting yang masih teringat tentang Monseigneur. Berikut ini kami berikan kisahnya, dengan beberapa catatan latar belakang dari redaksi dan arsip umum.

Kenangan-kenangan pertama

Sr. Anastasie dilahirkan di ’s-Hertogenbosch sebagai Anna Marie van Bers, pada tanggal 2401-1857. Ia tinggal di kota ini hingga bergabung dengan kongregasi, tahun 1876. “Monseigneur Zwijsen pernah datang bertamu ke rumah kami. Mgr. berkunjung ke keluarga Diepen1 yang tinggal depan serong rumah kami. Saya tidak tahu mengapa, tetapi Mgr. datang ke rumah kami untuk bercakap-cakap sebentar, lalu pergi lagi. Kalau di rumah ada pesan yang harus disampaikan kepada bapak Uskup, selalu saya yang disuruh, sehingga saya agak sering berbicara dengan Mgr. Pernah saya bertamu di keluarga van der Does de Willebois 2. Ibu van der Does de Willebois-Luyben, saudara perempuan bapak Menteri Luyben, adalah saudara misan Ayah. Jadi kami duduk berbincang-bincang, lalu ada yang mengetuk pintu. Pelayan datang menyampaikan: “Ibu, Mgr. saya persilakan masuk ke kamar depan.” Ibu meninggalkan kamar untuk mengantar Mgr. ke ruang keluarga. Putera mereka, Jozef 3, berseru: “Wah, susah nih, aku harus pergi rapat. Tapi aku punya akal!” Ia membuka jendela untuk meloncat keluar ke kebun. Tetapi ia tersangkut paku. Persis waktu itu Mgr. masuk dan langsung mengerti situasinya, dan berkata: “Jozef, Jozef, celanamu, celanamu!” Lulusan sekolah guru, tahun 1913

1

Mungkin yang dimaksud di sini adalah (para anggota) keluarga Diepen, dengan ayah yang bernama George, politisi, dan putranya Arnold Frans, imam sejak 1884 dan dari 1919-1943 uskup di Den Bosch. 2 Yang dimaksud di sini adalah Jhr. mr. Joannes Maria Benedictus Josephus van der Does de Willebois, direktur dari Maatschappij van Brandverzekering voor het Koninklijk der Nederlanden, “De Groote Bossche” dan istrinya Antoinette Cecile Marie Luyben. 3 Sang putera Jozef, lengkapnya Petrus Josephus Johannes Sophia Maria van der Does de Willebois, kelak akan menjadi walikota Den Bosch.


Maju ujian

Beberapa tahun kemudian saya masuk sekolah guru para suster. Muder Octavie (Sr. Octavie Dericks, red.) menjadi kepada sekolah guru itul 4 dan Sr. Céline (Latour, red.) dan sustersuster lain yang mengajar. Bapak de Vlam 5 dari Eindhoven juga datang beberapa kali seminggu untuk mengajar. Untuk bisa lebih menarik manfaat dari pelajarannya, menjelang ujian kami pergi ke Stratum 6. Kami belajar berdelapan untuk maju ujian, dua orang suster dan enam mahasiswi awam. Ketika masa ujian mendekat, bapak de Vlam berkata: Mereka tidak akan meluluskan delapan orang, separuh pasti digagalkan. Oleh karena itu diputus bahwa separuh dari kelompok kami akan ujian di Den Bosch, dan separuh lagi di Maastricht. Saya masuk kelompok Maastricht, bersama kedua suster lainnya dan bakal suster Celine

Verluyten. Kami, kedua mahasiswi, tidur di Maastricht di satu tempat tidur dan tertawa sepanjang malam. Kami berkata: “Apa jadinya, besok?” Tetapi walaupun sangat letih hasilnya ternyata bagus, dan saya diperbolehkan pulang kembali ke Den Bosch. Di kota ini tak lama kemudian empat orang mahasiwi yang lain harus maju ujian. Mereka pun lulus semua. Lalu semua pergi ke Hinthamereind 7. Biasanya Mgr. datang ke sana sesudah ujian. Tetapi sekarang ada pesan: Mgr. mengucapkan selamat, tetapi beliau kurang enak badan, jadi apakah kalian bisa datang ke tempat Mgr. Muder dari Den Bosch (mungkin pemimpin komunitas, red.) ikut dengan kami. Kami mendapat berkat disertai ucapan: “Bagus sekali hasil kalian. Ah nak, kaupun ikut ujian? Berapa angkamu untuk bahasa dan apa saja pertanyaannya? Lalu apa jawabmu?”

Kaul kekal, 1913

4

Tahun 1852 para suster mendirikan ‘educandaat’, agar bisa menjamin pendidikan guru yang berbobot. Sekolah pendidikan guru ini dimaksud untuk “anak-anak perempuan yang suka belajar dan berminat untuk biara”. Sr. Octavie dari saat pendirian menjabat sebagai kepala sekolah guru ini. 5 Bapak Jan Jozef de Vlam diserahi pimpinan dari rumah pendidikan yang didirikan pada tahun 1868 di Stratum. Suster-suster yang belajar menjadi guru dididik di Stratum; mahasiswi putri awam tetap di Tilburg, di bawahh pimpinan Sr. Octavie. Tahun 1881 para suster pun kembali ke Tilburg, di mana bapak de Vlam diserahi pimpinan untuk sekolah pendidikan guru ini.

6 Waktu itu Stratum suatu desa tani dekat Eindhoven, di Negeri Belanda bagian selatan. Baru pada tahun 1 1920 Stratum, bersama beberapa desa lainnya, digabung dengan Eindhoven dan sejak itu menjadi bagian dari kota ini. 7 Mungkin yang dimaksud Sr. Anastasie di sini komunitas yang pada tahun 1852 dimulai dalam lokasi generalat sekarang, Hinthamerstraat 164. Sebelum penggalian kanal ‘Zuid-Willemskanaal’ pada tahun 1825, bagian dari apa yang sekarang dikenal sebagai ‘Hinthamerstraat’ disebut dengan nama ‘Hinthamereinde’. Mungkin nama itu masih tetap dipakai oleh masyarakat di situ?


Tak lama sesudah itu pesuruh lelaki datang untuk menyampaikan bahwa semua telah tersedia. Mgr. ikut kami memasuki ruangan yang dihias indah. Mgr. duduk di ujung meja. “Muder”, kata Mgr., “buka saja tutupnya, sebab kalau tidak, tidak ada yang berani mulai. Ya Muder, sekarang tidak ada kesederhaan suci, isilah gelas-gelas itu sampai penuh.” Setelah hari itu kami boleh libur minggu, lalu pada (pesta) St. Stanislaus kami memakai jubah (masuk ke kongregasi sebagai postulan, pada tanggal 1311-1876, red.).

Masa novisiat

Ketika masih novis 8 pagi hari aku bekerja di sekolah dan pada pukul dua saya kadangkadang harus membantu di depan, di kamar pertemuan. Semua peralatan di situ harus dicuci. Ketika saya tahu bahwa Mgr. tinggal di situ, saya berpikir “senang juga kalau sekali waktu bisa berjumpa dengar Mgr.” Ketika saya dengan bunyi ‘srek, srek’, yang memang saya harapkan, saya seolah-olah tidak tahu bahwa itu beliau. Tetapi Mgr. berhenti di dekat saya, sehingga saya terpaksa menatap beliau dan saya minta berkatnya. Kaus kaki ungu itu masih membayang di depan mata. Beliau bertanya: “Siapa kau ini?” “Zuster Anastasie, Mgr.”, jawabku. Beliau berkata: “Betul, tapi saya tetap tidak tahu siapa.” Aku menjawab: “Marie van Bers, Mgr.” Lalu beliau berseru: “Yah ‘nak, kaulah itu? Tambah gendut kau ini, saya sampai tidak kenal lagi. Coba ikut ke kamar pertemuan.” Di sana saya dipersilakan duduk, dan Mgr. bertanya segala macam. Ketika lonceng berbunyi pukul tiga, aku berkata: “Saya harus pulang, Mgr.” Beliau menjawab: “Yang kau pikir pasti kuemu, karena sore hari ini waktu rekreasi. Saya akan menyuruh orang untuk menyampaikan di rumah bahwa kau sehatsehat.” Dengan muka merah padam aku masuk ke refter novis. Sr. Josepha bertanya: “Kau dari mana?” “Dari Monseigneur, Muder Josepha, dan saya boleh ikut ke …” “Duduk saja, Suster.” Tetapi sesudah itu saya boleh menceriterakan semua pengalamanku. Pertemuan ini kira-kira berlangsung sebelum tahun 1877, tahun meninggalnya Zwijsen. Tiga tahun setelah beliau meninggal, Sr. Anastasie mengucapkan kaul kekalnya, pada tanggal 13-06-1880. Setelah itu ia hidup dan bekerja mula-mula 13 tahun di rumah sakit Katolik Binnenziekenhuis di Eindhoven 9, lalu 11 tahun di Deventer, lalu berturut-turut di Zutphen, Oss dan Haarlem, sejak 1906 kembali di Deventer selama 13 tahun, disusul oleh 14 tahun di Oerle. Selama Perang Dunia II ia tinggal di Helmond

Gambar doa Sr Anastasie. Berapa tanggai yang disebutkan di sini, tidak benar

selama dua tahun, di mana ia bekerja di ‘het Schoolhuis’10. Sesudah perang, di bulan September 1945, ia kembali ke Oerle, untuk satu tahun, dan setelah itu, akhir tahun 1946, ia menetap di Moergestel. Ia meninggal di kota ini pada tanggal 18 Maret 1952, pada usia 95 tahun. 8 Kaul sementara Sr. Anastasie (setelah itu ia menjadi novis) diucapkan pada tanggal 13-11-1877. Muder Begga van Haagen waktu itu menjadi pemimpin umum kongregasi. 9 Rumah sakit ini, sekarang rumah sakti Catharina, bisa berdiri berkat pelayanan untuk orang sakit yang didirikan Suster-Suster Cinta Kasih SCMM di Eindhoven pada tahun 1843. 10 Gedung ‘het Schoolhuis’ dahulu sekali dimulai sebagai sekolah pekerjaan tangan dan untuk memberi pelajaran membaca dan menulis kepada anak-anak. Mula-mula hanya untuk anak miskin, tetapi setelah itu Zwijsen mendorong para suster untuk juga memberi pelajaran kepada anak-anak dari keluarga mampu, untuk mencari pemasukan. Di pekarangan juga ada sebuah rumah kecil untuk orang sakit, di sini para suster mulai dengan perawatannya, dan dari tempat inilah pada tahun 1902, berkembang menjadi rumah sakit. Ketika Sr. Anastasie bekerja di sini sekitar tahun 1943, rumah sakit itu sudah ada.


Tanggal 11 Mei 1962 SusterSuster Cinta Kasih yang pertama menginjakkan kaki mereka di tanah Brasil. Untuk memperingati yubileum 50-tahun para suster Brasil, Sr. Ursula van de Ven mencatat sejarah provinsi ini. Ia bekerja sama dengan pengarang Ernando Luiz Teixeira de Carvalho, seorang imam Brasil. Buku ini, yang ditulis dalam bahasa Portugis, diluncurkan pada tanggal 24 November 2013 di Bayeux. Di bawah ini Sr. Ursula menjelaskan mengapa ia menulis buku tersebut.

Setelah hampir dua tahun mencari-cari data dalam arsip, laporan dan surat-menyurat, bekerja sama dan berbincang-bincang dengan para suster, dan sudah tentu menulis naskah itu sendiri, akhirnya karya itu selesai. Buku yang menguraikan sejarah lima puluh tahun hidup dan bermisi sebagai orang religius di dunia Amerika Latin yang senantiasa berubah, selesailah sudah.Tetapi mengapa aku begitu ingin menulis sejarah ini? Pertama-tama karena aku diminta untuk melakukannya berkenaan dengan perayaan 50 tahun keberadaan kongregasi di Brasil. Tetapi bagi saya pribadi masih ada alasan lain. Aku ingin membuka bagaimana dalam kurun waktu 50 tahun, kehidupan religius dan kehidupan bergereja berubah, khususnya pada awal periode ini. Orang yang dilahirkan setelah tahun 1960, hampir tidak bisa membayangkan masa awal ini, dan mungkin sekali banyak orang mengira bahwa orang religius waktu itu hidup sebagaimana kami sekarang di tahun 2013. Dan itu pasti tidak benar. Kaum religius dianggap harus hidup dalam biara, terpisah dari dunia ramai. Di dalam bukuku ini aku ceritakan bagaimana salah seorang uskup berangkat dari Brasil ke Roma untuk meminta ijin agar para suster boleh hidup dalam komunitas-komunitas kecil, di antara masyarakat ramai. Tujuannya untuk bersama-sama orang miskin membangun suatu persekutuan Kristen tulen. Beliau

mendapat izin lalu meminta para suster untuk tinggal di tempat-tempat di mana tidak ada imam, dan bekerja di situ sebagai ‘ pastores’. Uskup kami sendiri, Dom JosĂŠ Maria Pirez, yang sementara ini telah berusia 94 tahun dan yang menulis kata pengantar buku ini, sangat mendukung perubahan ini. Beliau berpendapat bahwa para religius harus menjadi tanda persaudarian di tengah-tengah masyarakat dan bahwa karya-karya besar di rumah-rumah sakit dan sekolah, harus diserahkan kepada para awam. Banyak kongregasi, termasuk kongregasi kita, menanggapi seruan beliau dan menyerahkan semuanya. Para suster mulai dengan kehidupan yang baru itu, di tengah-tengah rakyat miskin, dalam rumahrumah yang sederhana, menyediakan waktu dan tenaga bagi mereka. Inilah asal mula komunitas-komunitas basis gerejawi di Brasil. Dalam perjalanan waktu suster-suster kita menyaksikan penderitaan dari banyak orang yang mereka jumpai. Sebagai jawaban atas penderitaan ini mereka memperjuangkan kondisi hidup yang lebih baik dengan ikut unjuk rasa dan mengambil bagian dalam proses-proses penyadaran. Maka dengan demikian komunitas-komunitas basis tadi mulai berkembang.


Semua ini ingin aku ungkapkan, terutama demi para suster muda kita, yang sangat senang dengan buku ini. Buku ini pasti akan dipakai dalam pembinaan di masa postulat dan novisiat. Sudah tentu mereka hadir pada hari peluncuran buku ini. Ruang olah raga besar Yayasan Dom Helder Câmara dihias indah sekali untuk kesempatan ini, buku-buku dipamerkan, ada tersedia makanan kecil dan minuman, dan komisi penerima tamu siap sedia untuk menyambut 130 orang tamu. Banyak orang datang dari tempat-tempat yang disebut dalam buku ini; pertemuan yang

menyenangkan dan mengasyikkan. Menyusul kata pengantar dari salah seorang anggota komisi, ada empat orang yang menyampaikan pesan: Sr. Maria Lijnen dari provinsi kami Sr. Maria dos Anjos dari kongregasi Suster Fransiskanes, teman pengarangku Ernando Teixeira dan saya sendiri. Setelah itu sudah tentu ada kesempatan untuk membeli buku itu dengan dibubuhi tanda tangan kami. Saya sendiri sering ditanyai apakah buku ini akan diterjemahkan. Saat ini masih belum, tetapi siapa tahu?

Profesi dan pemakaian jubah

Bulan September tahun 2013, Sr. Rosa dan Mariana mengunjungi Filipina, di mana mereka ikut menghadiri upacara kaul kekal Sr. Josephine Corpuz. Perayaan meriah yang juga ikut dihadiri oleh keluarga Sr. Josephine. Menyusul masa postulan yang memakan waktu satu tahun, pada tanggal 24 November 2013 Kardenia Matias di Brasil mengenakan jubahnya. Dengan demikian provinsi ini diperkaya dengan seorang novis lagi. Kami meminta doa anda untuk kedua suster muda ini.

Musibah

Sejak bulan September 2013, gunung berapi Sinabung di Sumatra bagian utara, aktif kembali. Sejak saat ini hampir setiap bulan ada letusan, dan korban yang jatuh tidak kurang dari 16 orang. Sinabung letaknya tidak jauh dari Medan, tetapi para suster tidak merasakan dampaknya. Bulan November tahun 2013, Filipina tertimpa musibah yang besar sekali. Beberpa kota dan desa hancur oleh ulah tifun Haiyan, yang memakan korban beribu-ribu jiwa. Suster-suster kita hidup dan bekerja sekitar Manila. Keganasan tifun ini tidak sampai ke kota Manila. Kongregasi kita membantu para korban di daerah musibah.

Terbitan ini akan mengherankan anda karena kekayaan gambar dan kaitan-kaitannya dengan Vinsensius. Untuk terbitan yang akan datang, kami minta anda untuk mengirim foto tentang tanda-tanda jaman sekarang. Dengan demikian anda bisa mulai memasuki suasana pertemuan ICC tentang tanda-tanda jaman yang akan dilangsungkan di bulan September di Roma. Suatu tanda jaman bisa menjadi problem, tetapi juga perkembangan yang membawa harapan; persoalan global atau dampaknya pada tingkatan lokal. Coba lihatlah sekeliling anda dan rekamlah sesuatu yang bisa kami gunakan. Makin tajam foto yang anda buat, makin besar kemungkinan akan kami muat! Kirimlah ke generalat di Den Bosch, melalui pos atau lebih baik lagi, e-mail. Kami harapkan kiriman anda!

Redaksi


Tanggal 10 Juli 2013, Sr. Regine Noor (77 tahun) mendapat tanda penghargaan kerajaan yang disampaikan oleh walikota Apeldoorn, sehingga ia sekarang menjadi anggota dari ‘Orde van Oranje Nassau’. Ia diberi kehormatan ini karena bertahun-tahun bekerja sebagai sukarelawan untuk sekolah dasar Eloy di Ugchelen dan paroki di Hoenderloo. Di bawah ini ia bercerita tentang kegiatan-kegiatannya. Hari Senin saya pergi ke Arnhem; di sana saya mengatur keuangan dari tiga belas suster yang tinggal di Insula Dei. Suster yang melakukannya selama lebih dari 25 tahun, sementara ini telah berusia 90 tahun, dan membutuhkan bantuan. Saya membagian uang bulanan kepada para suster, membayar rekening-rekening yang ada, dan mengawasi anggaran. Pergi ke Arnhem cukup mudah, karena halte bis persis di tikungan dekat rumah. Hari Selasa dan Jumat saya libur, kecuali kalau dibutuhkan di sekolah, seperti pekan lalu, pekan ulangan. Dan sudah tentu saya harus menjaga kebersihan dalam rumah sendiri, pergi belanja dan memasak. Saya hidup sendiri di suatu rumah sewaan di Apeldoorn. Sebenarnya di tahun 1970 ada rencana untuk mendirikan komunitas baru di tempat ini, tetapi di mana saya langsung bisa bekerja, yang lain tidak bisa mendapatkan pekerjaan. Memang benar bahwa saya tinggal sendiri, tetapi saya tidak kesepian. Teman-teman cukup banyak berkat selama bertahun-tahun bekerja di sekolah. Kalau saya ke pasar, saya pergi pagi-pagi sekali, sebab kalau tidak, tidak bisa pulang karena terus disapa orang. Saya sudah menjadi ‘orang dalam’ di sini. Untung saya masih ada waktu untuk membina kontak dengan para suster. Saya ikut duduk dalam Badan Musyawarah provinsi Belanda. Dan saya mengambil bagian dalam kelompok percakapan dengan suster-suster dari Arnhem dan sekitarnya, yang dahulu dipimpin oleh pater Hollander. Kami membagi suka dan duka. Dengan demikian saya merasa menjadi bagian dari persekutuan. Hari Rabu dan Kamis saya bekerja di sekolah. Setelah memasuki masa pensiun sebagai guru, lima belas tahun yang lalu, saya langsung diminta untuk ikut membantu, mula-mula untuk mengelola lemari dokumentasi. Sekarang saya menjadi ‘remedial teacher’: saya membantu anak tertentu, atau sekelompok anak-anak dengan bahan pelajaran yang belum mereka kuasai. Di samping itu saya melakukan tes dan membantu di mana perlu. Yah, seorang guru membawahi 30 orang anak, dan untuk mengetes mereka satu per satu untuk kemampuan membaca, pasti

tidak sanggup, jadi saya membantu. Di samping itu sekali seminggu, pagi hari bersama 24 orang tua pembantu kami membaca dengan anak-anak kelas 1 sampai 3 yang kemampuan membacanya masih belum memenuhi syarat. Dari bulan April hingga Oktober, saya terlibat dalam paroki de Hoenderloo, dekat sini. Setiap hari Sabtu kami boleh menggunakan gereja Protestan di desa ini. Saat ini masih ada beberapa keluarga Katolik yang tinggal di Hoenderloo, tetapi waktu liburan musim panas banyak turis yang datang, dan mereka ingin ke gereja. Banyak dari mereka sudah menjadi turis langganan, sudah bertahun-tahun lamanya. Ada dari anakanak mereka yang di rumah tidak mau ke gereja, tetapi di sini mereka mau. Sudah sejak tahun 1970 aku diminta untuk bermain organ sewaktu pembaptisan, itulah asal mulanya. Saya sekarang juga menjadi dirigen dan pemimpin anak-anak, setiap minggu ikut membuat liturgi dan mengunjungi orang yang sakit dan jompo. Persaudaraan dalam paroki ini erat, dalam musim dingin kami berkumpul beberapa kali karena kalau tidak, rasanya terlalu lama kita tidak berjumpa. Sama seperti di sekolah, senang untuk bisa melihat bagaimana anak-anak tumbuh menjadi besar, lalu melihat anak-anak mereka masuk ke kelas kita, atau di gereja. Hari Minggu aku libur.

Untuk bisa memperoleh penghargaan, kita harus paling sedikit bekerja sebagai sukarelawan 15 tahun lamanya. Dan orang lain yang harus memintanya (tidak bisa meminta sendiri). Anakanak ingin agar pita penghargaan selalu kupakai, mereka rasa itu hebat, tetapi tentu saja aku tidak mau. Mereka hadir semuanya, karena upacara itu dilangsungkan di sekolah; para suster, keluarga dan masyarakat Hoenderloo juga ikut diundang. Bagi saya memang surprise betul dengan hari yang meriah sekali, tetapi untung saja suasanya tidak terlalu resmi karena ada banyak anak.


‘Compassion’ merupakan terbitan berkala dari dewan pimpinan umum Suster-Suster SCMM dan terbit dalam bahasa Belanda, Inggris, Portugis dan Indonesia, dan satu versi lisan dalam bahasa Belanda. ISSN 1879-9957

Konstitusi

Monsinyor Joannes Zwijsen, Pendiri kita, memiliki karisma kepekaan terhadap kabar baik belaskasih yang diwartakan di dalam Injil. Beliau melihat hal ini sebagai suatu misi yang ingin diwujudkan di dalam hidupnya sendiri dan di dalam hidup kongregasi yang didirikannya. Dengan mengandalkan kuasa Roh Kudus beliau dengan berani membuka jalan baru; dan siap menanggung risikorisiko sebagai akibat yang tak terelakkan. (Pasal 3 - 4)

Ind 4 2014 nr1 proef4  

Compassion is the international magazine of the Sisters of Charity SCMM