Issuu on Google+


Bayangkan waktu sore hari pada hari Minggu, dengan hujan turun dan tiupan angin yang kencang. Kegiatan apa yang dapat kita lakukan? Dengan minat mengetahui yang kuat, saya mulai membaca ulang buku yang berjudul “Kita telah menyepakati menjadi berbeda” tentang sejarah kongregasi mulai tahun 1960 hingga 2000, yang terbit tahun 2005. Selama waktu empat puluh tahun ternyata Kongregasi mengalami begitu banyak perubahan! Buku ini menguraikan sejarah perkembangan dari sudut pandang para suster, namun selama waktu itu juga terjadi beberapa perubahan organisasi secara bersamaan dengan pembubaran bagian-bagian kongregasi tertentu dan pertumbuhan bagian kongregasi lain yang terus meningkat. Saya juga terkesan atas keberanian dan keyakinan para suster yang tetap teguh, disertai oleh hal yang ingin saya sebut pengharapan. Ada hal yang saya perhatikan dari sebuah wawancara dengan Paus Fransiskus yang baru (yang saya baca pada publikasi yang lain), karena beliau menegaskan adanya perbedaan antara pengharapan dengan optimisme. Dikatakannya, “Saya tidak menyukai kata ‘optimisme’ karena lebih bermakna keadaan berpikir bersifat psikologis. Saya lebih menyukai kata ‘pengharapan’ sesuai yang diulas dalam Surat Ibrani pasal 11. Para bapa leluhur selalu terus berjuang walaupun menghadapi berbagai kesulitan. Namun seperti dikatakan dalam Surat kepada Jemaat Romawi: Pengharapan tidak mengecewakan. Pengharapan Kristiani bukan khayalan, juga bukan usaha tipu daya. Melainkan merupakan suatu kebaikan ilahi karena itu pada hakekatnya adalah karunia Tuhan yang tidak patut menjadikan kita hanya sekedar optimis, yang hanya merupakan keadaan pemikiran manusia saja. Tuhan tidak menipu kita dengan memberi harapan, karena tidak dapat menyangkal Diri-Nya. Tuhan dalam segalanya menjanjikan. Dengan cara ini saya bisa memahami berbagai evolusi termasuk yang terjadi di dalam kongregasi. Begitu juga kita dapat merenungkan masa lalu dengan penuh suka cita dan rasa syukur sambil menyaksikan berbagai perkembangan masa kini. Dalam edisi majalah kita ini, Anda dapat membaca tentang ucapan selamat jalan oleh masyarakat

Surinam pada perpisahan dua suster terakhir yang selama ini berdiam dan berkarya di negara tersebut. Dengan menghormati suster-suster tersebut, anggota masyarakat ini juga memberi hormat dan mengucapkan syukur atas kehadiran semua suster yang ada sebelum mereka, meskipun keberangkatan ini menandai berakhirnya babak sejarah SCMM di negara tersebut. Dalam sejarah lama terdahulu ada tiga anggota komunitas Beguine (wanita-wanita saleh) yang pindah dari Belgia ke Belanda dan menjadi suster pertama kongregasi kita. Sangatlah menarik untuk membaca kisah ini lagi. Anda dalam edisi ini dapat membaca tentang Roma dan Brazil, sehingga bisa ikut berziarah sekalipun tidak berangkat ke luar negeri atau bahkan dari rumah sendiri! Majalah ini juga berisi kumpulan kisah singkat tentang pengalaman pembinaan di berbagai negara sepanjang waktu. Berbagai kisah ini dikumpulkan dalam konteks penyelenggaraan ICC tentang pembinaan dan mendapatkan inspirasi dari edisi Compassion yang terakhir tentang pembinaan. Anda juga dapat menemukan sebuah renungan visual dan berbagai laporan berita lain tentang kongregasi. Isi dan materi ini secara keseluruhan sudah cukup banyak untuk dibaca. Namun hidup terus berjalan dan kita masih mendapatkan berita tragis tentang negara Syria dan juga krisis ekonomi yang tidak kunjung berakhir. Apakah kehidupan mungkin dapat kembali seperti zaman dulu? Ataukah kita benar-benar dituntut melakukan perubahan, walaupun hanya dengan langkah sedikit demi sedikit. Dan kadangkala sepertinya kita tidak mengalami kemajuan yang nyata. Dan apakah dengan hal yang demikian, kita barangkali juga memerlukan pengharapan? Nah, dengan pemikiran ini kita kembali lagi ke topik awal. Bagi pembaca, saya mengucapkan selamat dan banyak nikmat membaca majalah ini, juga selamat Natal yang sangat berbahagia dan Tahun Baru 2014 dengan kebaikan dan berkat yang berlimpah serta penuh sukacita. Sr. Rosa Olaerts, overste umum


Suriname termasuk salah satu daerah misi pertama dari Suster-Suster Cintakasih SCMM. Para suster hadir di Suriname sejak tahun 1894. Tetapi bulan Agustus tahun ini, kedua suster yang terakhir pulang kembali ke Negeri Belanda: Sr. Corrie Langermans (lahir tahun 1937) dan Sr. Lidewijde van Doorn (lahir tahun 1933). Hingga dengan demikian berakhirlah 119 tahun kehadiran Suster-Suster Cintakasih di Suriname. Artikel ini menawarkan suatu rangkuman tentang karya-karya cinta kasih suster-suster kita di Suriname.

Tentang negaranya

Republik Suriname adalah negara yang terletak di Amerika Selatan bagian utara. Di sebelah timur ia berbatasan dengan Guyana Prancis, di sebelah barat dengan Guyana, di sebelah selatan dengan Brasil dan di sebelah utara dengan Samudra Atlantik. Negara ini mempunyai iklim hutan tropis. Suriname mula-mula dijajah oleh bangsa Inggris, lalu pada tahun 1667 direbut oleh Belanda yang memerintahnya di bawah nama Guiana Belanda hingga tahun1954. Negara Suriname memperoleh kemerdekaannya dari Kerajaan Belanda pada tanggal 25 November 1975. Suriname, Antilla dan Kerajaan Belanda sendiri tetap bekerja sama atas dasar kesetaraan sejak tahun 1954. Bahasa Belanda tetap salah satu bahasa utama, tetapi sebagian besar penduduk menguasai dua bahasa. Agama utama negara ini adalah agama Kristen, baik dalam bentuk Katolik Romawi maupun Protestan. Suku bangsa ‘Creool’ dan juga suku ‘Maroon’ - walau tidak sebanyak yang disebut pertama - keduanya keturunan budak Afrika dan mulai memeluk agama Kristen waktu masa penjajahan, tetapi mungkin masih mempertahankan kepercayaan Afrika-Amerika mereka yang dikenal dengan nama ‘Winti’. Suku Indian beragama Hindu, Islam atau Kristen. Suku Jawa menganut agama Islam atau Kristen. 19.6% dari penduduk Suriname menganut agama Islam.

Suatu permohonan

Kehadiran awal para Suster Cintakasih merupakan akibat langsung dari permohonan yang diajukan oleh mgr. Wulfingh. Setelah Peerke Donders

meninggal pada tahun 1887, beliau menyadari betapa jeleknya perawatan para penderita lepra. Penyakit lepra atau kusta ini, yang juga dikenal sebagai ‘penyakit Hansen’, adalah suatu infeksi bakterial yang kronis. Kalau tidak diobati, penyakit lepra bisa progresif dan menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, urat saraf, anggota badan dan mata. Berbeda dengan apa yang dikatakan orang, penyakit kusta tidak menyebabkan rontoknya anggota badan, walaupun anggota badan tadi bisa menjadi mati rasa. Tetapi infeksi-infeksi sekunder bisa menyebabkan jari tangan dan kaki menjadi pendek dan mengalami deformasi. Pengobatan yang efektif bisa diberikan mulai akhir tahun 1940-an. Tahun 1890 Mgr. Wulfingh menyadari bahwa kualitas perawatan untuk orang-orang ini perlu ditingkatkan, dan beliau meminta para Suster Cintakasih untuk membantunya. Kami tidak tahu dari mana Mgr Wulfingh kenal para suster, mungkin beliau mempunyai seorang

Para lansia di Yayasan Gerardus Majella, Agustus 2013

kerabat di antara mereka. Rupanya waktu itu di Negeri Belanda dari setiap delapan keluarga ada satu orang yang menjadi misionaris, dan kongregasi SCMM berkembang bagus. Mungkin Mgr. Wulfingh mendengar bahwa suster-suster ini mula-mula bermaksud untuk mengucapkan kaul


Sr. Fereria membalut luka para pemuda penderita penyakit kusta, sekitar tahun 1915

keempat: bahwa mereka bersedia untuk merawat orang yang menderita penyakit menular, walaupun akhirnya Vatikan tidak memberi izin untuk kaul ini. Namun, jelas bahwa Mgr. Wulfingh bertekad untuk meminta Suster-Suster Cintakasih untuk tugas ini, karena beliau berulang kali mengajukan permohonan kepada dewan pimpinan umum. Dewan mengirim surat kepada setiap suster yang pada waktu itu berjumlah 1.800 orang, menanyakan siapa di antara mereka bersedia untuk menerima tugas yang begitu berbahaya. Berbeda dengan kebiasaan waktu itu, dewan berpendapat bahwa setiap suster harus mengambil keputusannya sendiri tentang hal ini. Luar biasa, 300 suster maju dengan sukarela! Tahun 1894 Mgr. Wulfingh tiba di Suriname dengan enam suster pertama. Kiranya wanita-wanita ini tidak mempunyai bayangan tentang situasi yang bakal mereka hadapi. Mereka berangkat untuk menghabiskan sisa hidup mereka di sebuah negara asing, hampir tanpa peluang untuk berkomunikasi dengan anggota keluarga di rumah. Dan mungkin sekali mereka hampir tidak mempunyai pandangan tentang negara ini atau pun penduduknya. Mereka merasa terkejut ketika memasuki pelabuhan Suriname karena disambut oleh begitu banjak orang dan dari berbagai jenis suku, yang menyambut mereka dengan sangat hangat. Kontak pertama dengan para penderita penyakit kusta mungkin menantang juga: waktu itu lepra di Belanda sudah hampir lenyap.

Karya-karya kasih

Setiba di tempat ternyata para suster mendapatkan bahwa perangkat para penderita lepra belum selesai. Mereka segera mulai merawat beberapa orang lanjut usia, dan dengan demikian mengembangkan bidang perhatian yang kedua. Tetapi dalam tahun-tahun pertama, para suster berfokus pada perawatan lepra. Ketika Yayasan Majella untuk perawatan penderita lepra merayakan HUT-nya yang ke-50, ternyata bahwa waktu itu sudah 83 orang suster bekerja atau pernah bekerja di sana. Memang suatu keajaiban bahwa hanya dua di antara mereka yang tertular

oleh bakteri itu, walaupun mereka setiap hari mencuci dan membalut luka-luka para pasien. Suster-suster itu tetap tinggal di antara pasienpasien mereka, dan merawat mereka selama masih bisa. Yayasan Majella juga memperjuangkan profesionalisasi: seorang dokter spesialis penyakit lepra dihadirkan, para suster mengambil tindakan-tindakan lebih lanjut untuk mencegah penularan, dan mereka selalu ingin menggunakan cara pengobatan yang mutakhir. Tahun 1964 yayasan ini ditutup, karena obat-obatan yang efektif sudah mula tersedia. Di samping merawat para pasien lepra dan orang jompo, para suster menanggapi berbagai permintaan untuk bantuan. Pemerintah meminta mereka untuk membantu di rumah sakit militer bagian wanita, keuskupan mengambil inisiatif untuk mendirikan rumah sakit Katolik St. Vincent dan mengundang para suster sebagai staf perawat, dan keuskupan meminta para suster untuk menampung gadis-gadis muda di rumah pondokan putri Rajpur. Di samping itu para suster

Ahli bedah dr. Nassy berikut timnya, di kamar operasi rumah sakit (menjabat sebagai direktur dari tahun 1916 hingga 1938)

merawat pasien di rumah, mengisi lowongan pospos medis di daerah pedalaman Suriname, menjadi guru, khususnya untuk anak-anak yang sulit belajar, menampung anak-anak tuna rungu, membantu pencari suaka, memberi pelajaran agama dan bahkan membantu seorang ayah untuk mendirikan fasilitas retret untuk orang awam! Mereka terus-menerus menyesuaikan aktivitas mereka dengan kebutuhan saat itu. Setelah bagian penderita penyakit lepra ditutup, para suster meningkatkan karya mereka untuk orang jompo, juga dengan nama Majella. Dalam bidang ini pun mereka meningkatkan standar yang ada dengan mengundang sesama suster mereka


dari Negeri Belanda yang terlatih baik. Kemudian mereka mendirikan fasilitas pelatihan di lokasi yang sama, agar para gadis Suriname juga bisa menjadi profesional. Akhirnya gadis-gadis ini terlatih dengan begitu baik hingga mereka dengan mudah bisa mendapatkan pekerjaan di negeri Belanda dengan gaji yang lebih tinggi. Itu juga berlaku untuk gadis-gadis Suriname yang dilatih menjadi perawat di rumah sakit St. Vincent. Hanya sedikit dari gadis-gadis ini yang bergabung dengan kongregasi, karena persyaratan bahwa mereka harus dilahirkan dalam pernikahan yang sah, bertentangan dengan realitas kehidupan bermasyarakat di Suriname.

Para suster

Para suster yang tiba di Suriname hampir tidak ada bayangan tentang apa yang bakal harus mereka hadapi, itu sudah dikatakan di atas ini. Mereka pasti bingung menghadapi soal-soal besar dan kecil dalam kehidupan keseharian. Di mana bisa mencari kelambu? Memang benar-benar perlu untuk memandikan orang setiap hari? Apa maksudnya wanita itu kalau ia berkata bahwa ia tidak bisa makan hidangan tertentu karena ia mempunyai ‘treef’ (tabu untuk makanan tertentu)? Di tambah lagi dengan panas yang terik dan begitu banyak penyakit tropis yang asing! Walaupun demikian sejumlah besar suster senang hidup di Suriname, bahkan hingga merasa sulit untuk beradaptasi kembali dengan kehidupan di Negeri Belanda! Mereka merindukan sinar matahari, cara hidup yang simpel, kontak hangat dengan masyarakat pada umumnya, dan buah-buahan yang lezat. Posisi para suster yang relatif terisolasi, memberi mereka semacam kebebasan. Di mana waktu itu ‘pengotakan’ sosial-religius di Negeri Belanda mencapai puncaknya, para suster di Suriname merasa bebas untuk membuat pilihan-pilihan yang tidak lazim. Misalnya, mereka mengangkat seorang direktur non-Katolik untuk rumah sakit: kemampuan profesional lebih dipentingkan daripada apakah ia penganut agama Katolik. Dalam semangat yang sama, berbagai fasilitas para suster terbuka untuk orang dari semua agama. Dan kepala Rajpur kadang-kadang bahkan berfungsi sebagai ‘mak comblang’! Untung saja bahwa dewan pimpinan jauh dan tidak sering datang berkunjung. Yang memberi banyak kebahagiaan kepada para suster adalah kontak baik dengan kaum religius dari kongregasikongregasi lain, ini pun suatu kebiasaan yang berbeda dengan istiadat Belanda. Untuk beberapa suster terasa sulit untuk menerima kehidupan berkeluarga Suriname yang kompleks itu, dengan banyak ‘broken home’ dan pasanganpasangan yang tidak menikah. Para suster menyadari bahwa mereka hidup dalam dunia yang

agak kecil. Satu di antara mereka berkata: ‘Kami melihat dunia luar melalui tirai jendela.’ Integrasi mereka dalam masyarakat Suriname lebih terhalang lagi karena para suster tidak diharuskan belajar bahasa kedua. Hanya beberapa suster saja yang berusaha belajar bahasa Sranan Tongi, Hindi atau Jawa. Ada desas-desus bahwa pernah seorang suster sewaktu makan malam yang formal, meminta gula untuk ditaburi di atas nasinya, karena tanpa gula ia tidak bisa makan nasi. Dan suster ini sudah bertahun-tahun lamanya hidup di Suriname!

Paramaribo dan Groningen

Bulan Agustus ini, kedua suster terakhir oleh dewan pimpinan umum dipanggil pulang ke Negeri Belanda. Sr. Lidewijde sudah lebih dari 40 tahun hidup di Paramaribo. Paramaribo adalah ibu kota dan kota terbesar di Suriname, dan terletak di bantaran sungai Suriname. Penduduk Paramaribo terhitung kira-kira 25.000 orang, hampir separuh dari populasi Suriname. Sr. Lidewijde memelihara kontak-kontak generalat di Paramaribo dan bertanggung jawab untuk keuangan dan arsip. Tempat di mana ia hidup dahulu disebut ‘Majella’. Di belakang tempat tinggalnya terletak jembatan tersohor itu, yang menjadi garis pemisah untuk orang dengan diagnosa lepra, untuk mengurangi bahaya infeksi. Barang siapa telah menyeberangi jembatan itu, tidak bisa kembali.

Sr. Corrie hidupnya agak lebih masuk ke pedalaman, di Groningen. Lokasinya 40 kilometer sebelah barat Paramaribo, di tepi sungai Saramacca. Walaupun menjadi ibu kota daerah Saramacca, Groningen ini sebuah desa yang kecil dan sepi. Tahun 1996 penduduknya hanya 230 orang lebih sedikit. Hingga tahun 1920, Groningen mempunyai rumah perawatan untuk penderita penyakit framboesia tropica. Fasilitas ini ditutup setelah ditemukannya obat yang bisa menyembuhkan penyakit ini, dan dalam beberapa hari saja Sr. Corrie pindah dan bekerja di asrama, selama beberapa tahun, dan ia membantu banyak keluarga di Groningen. Tanggal 30 April 2011 ia telah merayakan pesta emas hidup membiaranya. Dua tahun sebelum ini, kedua suster ini telah mengadakan perayaan yang meriah dalam rangka peringatan 115 tahun hadirnya SCMM di Suriname.


Sr. Lidewijde dan Sr. Corrie

Berpisah

Berpisah dengan dan melepaskan sesuatu tidak pernah mudah, tetapi Suster-Suster Belaskasih SCMM menyimpan banyak kenangan indah. Dan mereka meninggalkan paling sedikit dua proyek yang berjalan lancar: rumah sakit St. Vincent dan Yayasan Majella. Rumah sakit mempunyai nama yang baik sekali, dan standarnya sama dengan standar rumah sakit Belanda. Yayasan Majella juga mempunyai fasilitas dengan peralatan yang memadai, dan menawarkan perawatan berkualitas untuk para jompo yang tidak terawat di rumah sendiri. Dalam perjalanan waktu ada 187 orang suster Cintakasih yang pergi ke Suriname. Banyak yang telah mereka sumbangkan, tetapi banyak pula yang telah mereka terima! Tiga belas dari mereka masih hidup saat ini, termasuk suster Lidewijde dan suster Corrie. Mereka semua masih berkata bahwa, sebagian dari hati mereka tertinggal di sana walaupun sudah lama pulang kembali ke Belanda. Kalau mengenang kembali masa mereka di Suriname, mereka berkata bahwa bagi mereka masa itu dirasakan sungguh bermanfaat, masa di mana mereka belajar untuk mempunyai sudut pandang yang berbeda dan, lebih penting lagi, untuk hidup lebih tenang, tidak selalu tergesa-

gesa. Orang-orang di Suriname mengambil waktu untuk saling memperhatikan dengan baik. Sambutan yang hangat dan keterbukaan masyarakat di situ sangat mengesankan bagi para suster. Mereka berhasil memupuk persahabatan seumur hidup dengan penduduk Suriname, di Suriname dan di Negeri Belanda. Misalnya, ketika tahun lalu Sr. Teresa van Schilt merayakan hari ulang tahunnya yang ke-90, tidak kurang dari 25 mantan siswa Rajpur merayakannya bersama dia, walaupun fasilitas itu sudah ditutup sejak tahun 1976! Para suster menimba inspirasi untuk misi mereka dari kehidupan St. Vinsensius, lelaki yang terbuka matanya untuk penderitaan di sekitarnya, lalu mengambil tindakan untuk meringankan penderitaan itu. Ia mempunyai banyak respek dan keprihatinan untuk orang-orang yang ia rawat. Semoga semangat yang sama akan tetap bisa ditemukan dalam perawatan yang ditawarkan oleh rumah sakit dan Yayasan Majella. Para suster Cintakasih menarik diri dari Suriname dengan hati ringan, dengan keyakinan bahwa hubungan yang akrab, solidaritas dan persahabatan antara para suster dan masyarakat Suriname akan hidup terus di masa depan, walaupun kedua suster terakhir telah meninggalkan negara ini.


Sudah sejak lima tahun atau lebih, Anda mendapatkan kabar setiap bulan Juli atau Agustus tentang penyelenggaraan ziarah Santo Vinsensius. Anda barangkali sudah berkali-kali membaca tentang ziarah Vinsensius tersebut, dan berbagai pengalaman suster yang ikut pada perjalanan ini. Tidak semua mendapatkan kesempatan sendiri untuk melakukan perjalanan seperti ini. Oleh karena itu, Anda dalam artikel ini akan kami antar ke Prancis.

Santo Vinsensius de Paul melalui pengabdiannya kepada kaum miskin menjadi inspirasi bagi Mgr Zwijsen, yaitu pendiri SusterSuster Cintakasih SCMM. Oleh karena itu, beliau menjadi salah satu santo pelindung kongregasi. Begitu pula bagi banyak orang dewasa ini, pengalaman berziarah mengikuti jejak Santo Vinsensius sama membawa inspirasi dan mengharukan. Sebelum mengikuti ziarah ini, para peserta ziarah tinggal selama satu minggu di negeri Belanda sambil melakukan kunjungan ke suster-suster di Belgia. Selain itu diadakan kunjungan ke suster-suster Belanda. Untuk itu biasanya peserta diundang oleh Vuurhaard (artinya: tungku perapian), yang merupakan komunitas Frater CMM dan kaum pengungsi. Persiapan untuk perjalanan ini memerlukan waktu empat hari dan pada kesempatan ini, para suster yang berziarah mengikuti perjalanan Monsignor Zwijsen. Mereka juga mengunjungi museum-museum di komunitas pusat dan generalat. Ziarah sendiri berlangsung selama waktu dua belas hari. Walaupun Santo Vinsensius hidup pada zaman yang cukup lama (tahun 1581-1660), masih dapat ditemukan cukup banyak yang mengingatkan akan berbagai tempat yang pernah didiaminya.

Rumah ini antara lain terdiri dari kamar anak laki yang sudah tua, berisi beberapa milik pusaka seperti altar kecil, sepasang sepatu, salib dan beberapa pakaian milik Santo Vinsensius. Disitu dapat dilihat salinan sebuah surat Vinsensius tertanggal 17 Februari 1610, yang dikirim kepada ibunya. Meskipun menjadi anak ketiga keluarga petani, Vinsensius diperbolehkan masuk sekolah pada umur 15 tahun. Orang tuanya harus menjual beberapa ekor lembu untuk membayar uang sekolahnya. Ayah Santo Vinsensius memberi dorongan agar menjadi romo.

Pohon ek dan patung Marianya

Rekonstruksi rumah kelahirannya

Santo Vinsensius lahir tahun 1581 di desa Ranquine yang tidak jauh dari Dax di bagian Perancis barat daya. Sekarang wilayah kota yang mencakup desa tersebut dikenal sebagai Saint-Vincent-de-Paul. Rumah asli tempat lahirnya tidak ada lagi, tetapi telah diganti dengan rumah yang dibangun ulang.

Dekat rumah ini di alun-alun desa, dapat kita temukan sebatang pohon ek yang ditanam sekitar tahun 1200 dan dengan demikian sudah berada dalam masa kecil Vinsensius, saat ia bermain di luar. Adapun sebuah patung kecil Bunda Maria yang ditempatkan di


dalam pohon tersebut. Menurut suatu cerita, Vinsensius menempatkan patung di situ untuk berdoa. Namun patung ini berasal dari abad kesembilanbelas dan dianggap sebagai lambang devosi Vinsensius kepada Bunda Maria.

Gereja pembaptisan

Pada 23 September 1900, Vinsensius yang masih berumur 19 tahun saja, di Châteaul’Eveque ditahbiskan sebagai romo oleh uskop Perigueux. Sebelumnya Vinsensius mempunyai rencana untuk mendapatkan pekerjaan yang layak di gereja dengan tujuan dapat berpensiun pada usia dini. Dia berpikir dapat mengurus keluarganya setelah masuk pensiun. Tetapi lima tahun setelah pentahbisan, Vinsensius menurut kisah menjadi tawanan pembajak laut dan dibawa ke Tunis untuk dijual sebagai budak kepada yang menawarkan paling tinggi. Setelah dua tahun sebagai tawanan, Vinsensius dibantu untuk melarikan diri dan akhirnya sampai di Paris. Disitu Vinsensius bertemu Pierre de BÊrulle yang beberapa waktu kemudian menjadi Kardinal. Di bawah bimbingan rohaninya, Vinsensius merintis karya di bidang sosial dan masyarakat.

Gereja paroki di Clichy

Di gereja tempat pembaptisan Vinsensius masih ada bejana pembaptisan yang digunakan pada waktu itu. Diduga bahwa diberi nama Vinsensius sebagai kenangan atas Santo Vinsensius de Xaintes, seorang martir dan uskop pertama di kota Dax.

Gereja pentahbisan sebagai imam

Pada tahun 1612, dibantu oleh BĂŠrulle, Vinsensius ditetapkan sebagai romo paroki Saint Medard di Clichy, yaitu sebuah paroki miskin di daerah pedesaan sebelah barat laut Paris. Meskipun pelayanan di paroki ini berlangsung hanya satu tahun saja, kesan dan wawasan yang diperoleh Vinsensius selama masa ini sangat menempa hatinya.

Mimbar kotbah di Folleville


Pada tahun 1963, Vinsensius menjadi pengajar dan pembimbing rohani untuk keluarga de Gondi di Paris. Vinsensius mendampingi keluarga ini pada kunjungan ke berbagai perkebunan yang dimiliki mereka. Di situ dia juga berkhotbah dan mulai lebih memahami tentang kesenjangan antara orang kaya dengan kaum miskin. Di salah satu perkebunan ini yang ada di Folleville, pada 25 January 1617, Vinsensius berkhotbah tentang pengakuan dosa umum. Secara kilas balik khotbah ini dianggap menjadi cikal bakal Kongregasi Misi yang didirikan pada tahun 1625 dan khusus mempedulikan keselamatan masyarakat pedesaan yang miskin.

Vinsensius ketika diminta oleh Madame de Gonde, menyetujui untuk kembali ke Paris dengan syarat dapat meluangkan banyak waktunya untuk pelayanan pastoral di masa yang akan datang. Selama waktu lima tahun, Vinsensius berkhotbah di berbagai keuskopan termasuk Chartres, sehingga didirikan berbagai kumpulan caritas di semua lokasi tersebut. Vinsensius mendirikan kumpulan induk caritas terdiri dari kelompok wanita, pria dan juga yang campur. Namun yang tetap dilanjutkan hanya dua kelompok pertama tersebut.

Rumah induk para Pater C.M.

Châtillon-sur-Chalaronne

Setelah berkhotbah di Folleville, Vinsensius merintis pelayanan di paroki Châtillon-surChalaronne dan mengembangkan kegiatan pastoral yang intensif. Vinsensius hidup dengan cara yang saleh dan tertib serta sederhana sesuai pembaharuan Katolik yang belum lama terjadi waktu itu. Ia menjadi inspirasi perubahan gaya hidup beberapa tokoh masyarakat yang terkenal. Namun yang lebih penting lagi ia memberi inspirasi bagi pendirian suatu kumpulan caritas oleh ibuibu tersebut. Vinsensius dalam khotbahnya juga menyampaikan bahwa seluruh anggota salah satu keluarga di paroki sedang sakit dan memerlukan pertolongan. Mereka yang mendengar pesan ini terharu dan mendapatkan inspirasi melakukan tindakan nyata. Karena itu, Vinsensius menata karya ini untuk menolong seluruh orang termiskin yang mungkin memerlukan bantuan di masa mendatang. Chartres

Vinsensius diangkat pada tahun 1625 sebagai kepala sekolah asrama College des BonsEnfants dan selanjutnya bersama enam romo lainnya yang dibiayai oleh keluarga de Gondi berkhotbah keliling di daerah pedesaan. ‘Kumpulan misionaris’ tersebut pada tahun 1633 diteguhkan oleh Vatikan dan selanjutnya dikenal sebagai Kongregasi Misi. Mengingat nama biara pertamanya (mantan panti St Lazare untuk penderita penyakit kusta), para anggota kongregasi ini juga dikenal sebagai Lazaris.


Suster-Suster Putri Kasih

pada tahun 1830, dengan menunjukkan sebuah medali yang menjanjikan rahmat ilahi berlimpah-limpah bagi wanita yang mengenakan medali tersebut. Awal mula tidak ada yang mempercayai kesaksian Suster Catherine. Namun pada tahun 1832 Medali Ajaib ini dicetak dan diedarkan secara luas.

Tempat peristirahatan akhir

Kumpulan wanita caritas yang dirintis pada tahun 1617 di Châtillon-sur-Chalaronne menjadi cikal bakal pendirian Kongregasi Putri Kasih pada tahun 1646. Kumpulan caritas dapat berjalan berkat ada bantuan dari ibuibu kaya yang secara teratur menyumbang dana dan mengirimkan pembantunya untuk mendukung Vinsensius dan membantu kaum miskin. Vinsensius dalam waktu yang cukup singkat menyadari diperlukan tenaga profesional. Bekerja sama dengan Louise de Marillac dari kelompok ibu-ibu yang membantu, Vinsensius merintis pelatihan pelayanan kesehatan. Perempuan muda yang belum lama mendapatkan pelatihan ini meminta persetujuan Vinsensius untuk mendirikan sebuah kongregasi. Biara pusat kongregasi ini masih dapat ditemukan di Rue de Bac, Paris. Jenazah Louise de Marillac dan Santa Catherine Labouré dikuburkan di sini. Catherine Labouré adalah Suster Putri Kasih yang menyaksikan penampilan diri Bunda Maria Perawan Suci

Keluarga Vinsensius seluruh dunia: www.famvin.org

Di biara pusat Lazaris tidak hanya ada museum St Vinsensius, tetapi juga kapel yang menjadi tempat peristirahatan jenazah St Vinsensius. Namun jantungnya diawetkan di tempat yang terpisah di kapel Suster-Suster Putri Kasih, yaitu di dalam tempat suci Medali Ajaib. 

Kesimpulan

Perjalanan ziarah ini juga termasuk kunjungan ke Lourdes. Bunda Maria juga merupakan santa pelindung kongregasi, tetapi pada zaman Santo Vinsensius belum ada tempat Lourdes sebagai tujuan ziarah. Perjalanan ini juga mencakup kunjungan ke berbagai tujuan lain yang penting di Perancis, baik karena makna religius maupun sejarah. Tujuan ini sebagian besar ada di Paris, yaitu Katedral Notre Dame, Sacré-Coeur Basilica, Place de la Bastille dan Hotel des Invalides.


Kongregasi Suster-Suster Cintakasih SCMM dari Tilburg, menurut kata orang mulai didirikan pada tahun 1832 oleh tiga wanita saleh dari Hoogstraten, Belgia. Tetapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan wanita saleh? Siapakah ketiga wanita in? Dari mana asal mereka, dan mengapa mereka pergi ke Tilburg? Dalam artikel ini Thessa Ploos van Amstel menjejerkan faktanya.

Wanita-wanita saleh

Mulai abad ke-12 hingga ke-14, Negeri Belanda ditandai oleh urbanisasi. Gejala ‘wanita saleh’ berkaitan erat dengan gejala ini. Wanita-wanita saleh tadi membaktikan hidup mereka kepada Allah, namun tidak menarik diri dari dunia ramai, seperti biasa dilakukan para suster zaman itu. Berbeda dengan para biarawati, para wanita saleh tidak mengucapkan kaul kekal atau kaul kemiskinan. Sebagian besar dari ‘perawanperawan suci’ ini tetap tinggal di rumah sendiri, tetapi mengenakan jubah yang khas. Ada juga yang tinggal berdekatan dalam kelompokkelompok kecil, dekat gereja, rumah sakit atau biara. Kelompok-kelompok wanita saleh itu hidup bersama dalam ‘rumah-rumah miskin’ atau ‘begijnhof’, semacam perkampungan kecil yang dikelilingi tembok, yang waktu malam hari dikunci pintunya. Para wanita saleh – bersama-sama atau sendirian – mendedikasikan hidupnya kepada doa dan perawatan orang sakit. Banyak di antara mereka juga menjadi buruh kasar, sering dalam industri tekstil. Walaupun sebagian besar catatan sejarah yang ada mengemukakan bahwa asal-usul para wanita saleh bersumber dari aliran-aliran rohani yang baru, kenyataan dalam praktek bahwa ada ‘kelebihan wanita’, pasti memegang peran yang sama pentingnya. Surplus wanita ini disebabkan oleh peperangan dan ekspedisi-ekspedisi militer. Di samping itu masih ada alasan sosial. Banyak gadis yang mas kawinnya tidak cukup, terpaksa tidak bisa menikah. Mereka berpaling kepada biara, tetapi tempat-tempat itu cepat penuh. Oleh karena itu timbul kebiasaan untuk mengucapkan kaul pribadi di tangan seorang imam. Cara bagaimana para wanita saleh tadi mengungkapkan kesalehan mereka kadangkadang berlebih-lebihan; ini sebabnya mengapa mereka dituduh sebagai penganut ajaran sesat. Untuk mencegah agar ajaran ini tersebar luas; untuk menjaga agar mereka

tetap terkontrol, para petinggi gereja mengambil inisiatif untuk mengumpulkan wanita-wanita ini - yang sebenarnya pribadi-pribadi yang cukup mandiri - di satu lokasi yang kemudian terkenal dengan nama ´begijnhof´. Untuk boleh tinggal di tempat seperti ini, seorang wanita harus tidak menikah (atau janda) dan harus bisa mencukupi kehidupannya sendiri. Para wanita saleh ini berjanji setia kepada para pemimpin dan untuk menjaga kesucian, selama mereka tinggal di ´begijnhof´ tadi. Seorang pemimpin mereka pilih dari kalangan mereka sendiri. Seorang wanita saleh bisa kapan saja, meninggalkan ´begijnhof’ itu dan menikah (kembali) kalau ia mau.

Begijnhof di Hoogstraten

´Begijnhof´ di Hoogstraten didirikan sekitar tahun 1380. Sayang sekali tidak ada peninggalan dari tahap pembangunan awal. ´Begijnhof´ di Hoogstraten sejak abad ke-17 terdiri dari 36 rumah kecil, sebuah gereja yang didedikasikan kepada Sint-Jan-de-Evangelist dan sebuah gudang. Keseluruhan kompleks dikelilingi tembok dengan dua pintu masuk. Di belakang gereja dan dua deretan rumah masih tampak apa yang dahulu disebut ‘bleyck’: lapangan rumput hijau di mana para wanita saleh zaman dulu itu suka menjemur pakaian putih mereka di terik matahari. Alun-alun kedua terletak di sebelah deretan (rumah) yang kedua dan sejak dahulu selalu ditanami pohon-pohon buah.

‘Perkampungan rumah miskin’ Hoogstraten di jaman dulu

Dalam abad ke-16, ´begijnhof´ empat kali dilanda kebakaran, dan ketika kebakaran di tahun 1506, bukan hanya gedung-gedungnya yang habis dimakan api, tetapi juga semua dokumen seperti akta bangunan dan akta-akta jual beli. Hasil penghitungan tempat perapian pada tahun 1553 menghasilkan 14 rumah tempat tinggal, tetapi karena Hoogstraten mulai tahun 1567 terletak di garis depan Perang 80-tahun, pada tahun 1604 hanya ada sembilan


Johanna van den Wijngaard

rumah dan dua orang wanita saleh yang tersisa. Masa pengembangan ´begijnhof´ terletak antara paruh kedua dan akhir abad ke-17. Di periode itu jumlah wanita saleh meningkat sampai 160 orang, hingga mereka terpaksa membangun rumah-rumah baru. Gereja dengan gaya ‘barok’ dibangun antara tahun 1680 dan 1687, oleh Libert Fabri, dalam masa jaya ´begijnhof´ ini. Mula-mula setiap rumah hanya mempunyai dua kamar yang kecil dan sebuah loteng, yang bisa diakses dengan tangga. Sesudah itu atap bagian belakang dipertinggi dan diperluas hingga bisa dibangun sebuah dapur, ruang bawah tanah dengan di atasnya sebuah ruang yang letaknya agak lebih tinggi, berikut tangga ke loteng. Mulai paruh kedua abad ke-18, jumlah para wanita saleh berangsur-angsur menurun. Tahun 1768 uskup dari Antwerpen memberi izin untuk menyewakan rumah-rumah yang kosong kepada orang awam; waktu itu masih ada 89 orang wanita saleh. Tahun 1972 wanita saleh yang terakhir, Johanna van den Wijngaard, meninggalkan ´begijnhof´ dari Hoogstraten. Wanita saleh yang paling akhir, yang merangkap sebagai pemimpin dari ‘begijnhof’ di kota Gent, meninggal pada tanggal 14 April 20131. Tahun 1992 sejumlah penduduk Hoogstraten memutuskan untuk memugar ´begijnhof´ dan sejak tahun 1997 seluruh kompleks ini ditinggali orang. Mulai tahun 1998 ´begijnhof´ dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia (World Heritage Site).

Permintaan dari Tilburg

Di Tilburg, imam Zwijsen (waktu itu), yang berusia 38 tahun, tersentuh hatinya oleh nasib anak-anak miskin setempat. Beliau bukan pastor Belanda pertama yang mengembangkan rencana untuk mengumpulkan sekelompok wanita untuk menawarkan, secara khusus dalam paroki sendiri, pengajaran, terutama untuk anak-anak yang ditelantarkan. Beberapa imam lain sudah mendahului beliau. ‘Mendirikan kongregasi’ sebenarnya perumusan yang terlampau muluk untuk inisiatif-inisiatif yang diambil oleh para penggembala paroki ini. Mereka hanya ingin melalukan sesuatu dalam paroki sendiri untuk memperbaiki situasi buruk yang dialami banyak anggota paroki mereka 1 Orang Belanda pun mengenal wanita saleh. Wanita saleh Belanda

yang terakhir, yang menghabiskan hampir seluruh masa hidupnya di ´Begijnhof´ di Breda, meninggal para tahun 1990.

(secara khusus dalam bidang gereja dan agama). Dalam surat Zwijsen yang ditujukan kepada Mgr. Den Dubbelden, vikaris apostolik di Den Bosch, tertanggal 23 Oktober 1832, kita bisa membaca sebagai berikut: ‘Secara khusus saya merasa sedih melihat nasib anak-anak miskin yang ditelantarkan sama sekali. Ketika mereka sudah berusia 12 tahun maka mereka didaftarkan untuk komuni pertama, banyak di antaranya hampir tidak tahu bagaimana membuat tanda salib. Saya sudah lama mempunyai rencana untuk memperbaiki nasib anak-anak malang ini. Dan akhirnya kami berhasil mendirikan sebuah sekolah orang miskin di mana para gadis, dalam suasana Kristen, bisa belajar pekerjaan tangan dan mendapat pendidikan. Beberapa orang Suster Hitam dari Engelen akan menangani tugas ini dengan cuma-cuma.’ Dari mana beliau berhasil menarik wanita-wanita ini? Di Engelen (dekat Den Bosch) ada seorang imam yang bernama van Hooff, yang ingin mendirikan yayasan pendidikan, lalu meminta temannya, yaitu imam dari Hoogstraten, untuk mengutus beberapa orang wanita saleh. Yang diminta itu tidak kunjung datang, sehingga van Hooff sekarang mengajukan permintaannya kepada pater Wolff, yang pada tahun 1822 telah mendirikan ‘kumpulan Yesus, Maria dan Yosef’, di Amersfoort. Wolff mengutus beberapa orang suster, yang di bulan November 1827 tiba di Engelen. Tidak lama sesudah itu, tiba pula dari Hoogstraten nona Leijsen dengan dua orang kemenakan perempuannya. Mereka mengantongi sejumlah uang yang tidak kecil untuk mendirikan yayasan baru. Mereka disebut ‘suster-suster hitam’ karena jubah yang mereka pakai. Mereka tidak dibutuhkan di Engelen, tetapi van Hooff mengatur sebuah rumah tempat tinggal bagi mereka, sebagai pangkalan untuk memberi layanan perawatan. Tahun 1832 mereka berkenalan dengan Zwijsen dan dalam tahun itu juga mereka berangkat ke Tilburg, bersama beberapa orang gadis yang telah bergabung dengan mereka.

Tiga orang wanita saleh

Dalam catatan-catatan kongregasi kita tidak ada yang diberitakan tentang para ‘wanita saleh dari Hoogstraten’. Yang ada adalah catatan Mgr. Zwijsen tentang ‘beberapa orang Suster Hitam dari Engelen.’ Catatan yang dimaksud di sini adalah buku (berisi fakta-fakta tentang kongregasi) yang oleh Mgr. Zwijsen pada tahun 1862 diserahkan kepada pemimpin umum, berikut pesan untuk dari saat itu melanjutkan catatan-catatan tadi. Betulkah bahwa para pendiri kongregasi adalah wanita-wanita saleh tadi, sesuai dengan tradisi lisan yang ada? Pada daftar nama para wanita saleh yang pernah tinggal di ‘begijnhof’ dari Hoogstraten, kami tidak berhasil menemukan nama dari tiga orang religius yang dikatakan ‘melahirkan’ Suster-Suster Cintakasih SCMM. Dalam catatan penghuni waktu itu, yang dicatat hanya nama wanita yang telah mengucapkan kaul, yang tidak berarti bahwa nona Leijsen dan kemenakan


‘Perkampungan rumah miskin’ Hoogstraten sekarang

perempuannya tidak pernah tinggal di situ. Untuk zaman itu tidak dianggap aneh kalau seorang bibi dengan kemenakan perempuan tinggal dalam rumah kecil seperti itu. Beberapa batu nisan dalam kapel dari ‘begijnhof’ di Hoogstraten bertuliskan nama orang yang masih berkerabat. Jubah religius yang dipakai para ‘suster hitam’, sesuai dengan jubah yang dikenakan para wanita saleh dari Hoogstraten. Sustersuster dari Amersfoort pada tahun 18261832 masih belum memakai pakaian religius. Dalam kronik para suster dari Amersfoort, kedatangan tiga wanita saleh di Engelen yang berasal dari Hoogstraten, telah dicatat melalui pemberitahuan bahwa imam Van Hooff dari Engelen telah memupuk kontak dengan konfraternya di Hoogstraten. Ini sesuai dengan catatan-catatan kongregasi kita.

Perumahan di Tilburg

Kronik dimulai dengan catatan bahwa pada tanggal 23 November 1832, tiga orang suster mulai meninggali sebuah rumah di kawasan ‘het Heike’ di Tilburg. Ini tidak sesuai dengan data lain, yang berbicara tentang ‘enam suster pertama’. Mungkin ketidakcocokan ini terjadi karena Zwijsen rupanya telah menulis kronik pertama tentang kongregasi 30 tahun sekaligus, jadi bertahun-tahun sesudah kejadian. Dalam rangkuman tentang 30 tahun pertama, Zwijsen mungkin saja menganggap ketiga pelopor dari Hoogstraten tadi sebagai pendiri.  Perihal perumahan mereka kami mempunyai lebih banyak pegangan. Rumah di kawasan ‘het Heike’ pada tahun 1832 disewa untuk masa enam bulan. Alamat lengkapnya: ‘het Oerle 19’. Para suster sendiri dengan bantuan pertugas pertanahan telah menemukan bahwa rumah ini berdiri di lokasi yang sekarang dikenal sebagai jalan Piusstraat 375, di mana sekarang berdiri sebuah rumah bertingkat dua. Satu kamar dari rumah ini ditata menjadi sekolah yang pertama. Beberapa memoar kongregasi menyebutnya ‘rumah sederhana, yang biasa dihuni tukang tenun’. Namun menurut para pejabat pertugas pertanahan di Tilburg yang telah dimintai pendapatnya oleh para suster, rumah tadi

sebenarnya sebuah rumah yang cukup besar. Secara resmi sekolah tadi bernama: ‘Sekolah untuk gadis-gadis yang miskin dan kurang mampu’. Yang diajarkan adalah ‘kerajinantangan wanita, berdoa, pendidikan Kristen dan tata krama’. Sr. Felicitas Zohlandt menjadi guru kongregasi yang pertama. Ia mulai mengajar pada tanggal 25 November 1832 (dua hari setelah kedatangan para suster dari Engelen di Tilburg). Kurang jelas apakah ia juga seorang ‘suster hitam’ atau apakah ia datang di Tilburg langsung dari desa kelahirannya Well (di provinsi Limburg). Catatan penduduk kota Tilburg(mulai tahun 1809 ia dinamakan ‘kota’), pada tahun 1832 masih belum dilengkapi setiap hari. Dalam Arsip Regional Tilburg kami menemukan catatan tentang ‘orang-orang yang masuk kota Tilburg antara tahun 1822 dan 1832’. Dan di situ kami membaca: ‘Oerle 19, nona Maria Leijsen, pekerjaan: swasta, dilahirkan di Herenthals, dan Anna Janssens, Maria Zohlandt dan Cornelia Verstijnen, tempat tinggal terakhir Engelen, telah menerangkan bahwa mereka tinggal di rumah ini sejak tanggal 11 April tahun 1833 ini’. Wanita-wanita yang disebut namanya itu adalah muder Michaël Leijsen, Sr. Catharina Janssens, Sr. Felicitas Zohlandt dan Sr. Jozefa Verstijnen. Dengan catatan bahwa Sr. Catharina adalah kemenakan perempuan dari nona Leijsen; yang disebut terakhir ini sementara itu telah diangkat sebagai pemimpin umum kongregasi dan disapa sebagai ‘muder Michaël’.

Muder Michaël


Rumah pertama kongregasi

Kemenakan perempuan yang lain, Sr. Theresia Smits, tidak tercantum pada daftar orang yang masuk, walaupun ia tiba di Engelen bersama bibinya pada tahun 1827. Harus diingat bahwa waktu itu pendirian ordo biara masih tetap dilarang. Pendaftaran sebagai orang ‘swasta’ juga kami temui di tempat-tempat lain.

Masa awal

Maria Leijsen dilahirkan pada tanggal 25 Januari 1779 di Herenthals, Belgia. Bulan Februari 1834, pada usai 53 tahun, ia mengucapkan tiga kaul dan menjadi Sr. Michaël Leijsen. Pada hari yang sama ia menjadi pemimpin umum pertama kongregasi. Sr. Felicitas dipilih sebagai wakil pemimpin. Dua tahun sesudah itu Suster Michaël, Sr. Felicitas dan Sr. Josefa juga mengucapkan kaul yang keempat, dengan mana mereka menjanjikan untuk ‘pergi ke mana saya aku diutus, untuk merawat penderita penyakit menular, walau dengan bahaya untuk nyawa sendiri’. Kedua kemenakan perempuan muder Michaël baru mengucapkannya pada tahun 1839. Tetapi Roma, dalam prosedur

tahun 1839. Tetapi Roma, dalam prosedur pengesahan Tata Tertib, menyatakan keberatannya atas ‘kepahlawanan yang dipaksakan’ ini, dan oleh karena itu pada tahun 1844 kaul keempat ini diperlemah. Para penulis biografi memuji ‘keberanian, wawasan luas dan semangat kerja’ muder Michaël. Seorang wanita perkasa yang dengan sederhana melaksanakan apa yang dicitacitakan Zwijsen. Pada tanggal 13 Januari 1852, waktu itu beliau berusia 73 tahun, ia berterima kasih untuk ‘pelayanannya’. Ia meninggal sepuluh tahun kemudian. Mengenai Josefa Verstijnen diketahui bahwa pada tahun 1839 ia berangkat ke Amsterdam, dengan tiga orang sesama susternya. Menanggapi undangan beberapa tuan-tuan Katolik, suster-suster ini mulai mengelola sebuah rumah perawatan di kota ini, yaitu Rumah Bernardus. Sr. Felicitas Zohlandt sekitar tahun 1843 menjadi overste pertama dari komunitas di Maaseik, di mana beberapa orang suster memulai sebuah lembaga untuk gadisgadis tuna netra dan tuna rungu.

“It all began with three beguines”, Sr. Alix van de Molengraft,1992 (Tilburg) “Cities of ladies. Beguine Communities di the Medieval Low Countries, 1200-1565”, Walter Simons, Philadelphia, University of Pennsylvania Press, 2001 Lihat situs web: http://whc.unesco.org/en/list/855


Sewaktu ICC bulan Juni yang baru lalu di Vught, sekelompok suster dari mancanegara berkumpul bersama untuk mendiskusikan pembinaan. Pembinaan adalah proses di mana wanita-wanita muda mulai hidup dalam dan berusaha untuk menyerap karisma kongregasi. Setelah kaul kekal pun pembinaan tadi berjalan terus. Dalam rangka ICC tentang pembinaan, masing-masing suster oleh generalat diberi brosur, ajakan untuk merenungi pembinaan, dengan teks dan foto. Para suster bisa merenungi isi brosur bersama-sama atau secara individual, dan setelah itu mengirim kembali reaksi mereka ke generalat. Juga selama ICC, khususnya sewaktu mengunjungi para suster di Belgia dan Tilburg, banyak yang telah di-share-kan tentang masa pembinaan sendiri. Di bawah ini Anda jumpai beberapa dari kisah itu.

Saya juga melihat-lihat di kongregasi lain. Tetapi bagi saya para suster kongregasi kita yang menyambut dengan paling hangat, paling terbuka. Mereka bisa didekati dan saya tersentuh olehnya. Jadi saya memilih kongregasi ini. Dan untuk sebagian besar saya tidak merasa dikecewakan.

Para postulan dan novis berjalan bersama, dan suasana dalam kelompok kami baik. Waktu merayakan hari ulang tahun, kami boleh duduk di sebelah pembina. Kalau kami berlaku kurang baik, kami harus minta maaf di depan umum, jadi kami berusaha untuk berlaku baik.

Andaikata aku harus mengulang kembali masa pembinaanku, tidak ada yang ingin aku ubah. Aku mendapat begitu banyak kesempatan untuk belajar, dan memang belajar banyak sekali, misalnya tentang Kitab Injil dan Kristologi waktu sekolah novisiat, tetapi juga tentang interaksi sosial. Aku merasa sulit menaati peraturan dan tata harian. Tidak ada waktu bebas. Dan kami tidak boleh memegang uang sendiri. Tetapi aku pikir: aku tidak menyerahkannya semua, sebaiknya aku simpan sedikit untuk jaga-jaga, sedikit saja, dalam nilai sekarang hanya beberapa Euro. Aku lihat bahwa postulan lain juga melakukannya. Tetapi kami begitu saling menakuti, lalu kami takut ketahuan dan diusir. Jadi akhirnya kami bersama-sama mengakuinya.


1960- 2000 Masa dalam kongregasi yang sarat perubahan dan sensasi. Kehidupan kami waktu itu, (walau penuh cinta kasih), tiba-tiba harus dimodernisasi. Maka dicarilah bentuk dan struktur baru yang dibahas dengan mendalam, lalu ada yang berkata; ‘kita harus mengikuti jaman’, (Tetapi apakah itu suatu perbaikan?) Dan walaupun semua lalu disesuaikan Tidak ada postulan yang datang, itu kenyataan. (Apakah terlalu radikal barangkali? dan dampaknya kurang diselami?) Sekarang, dengan tiga rumah jompo biara di negara ini Puji Tuhan, kita tidak menghadapi kepunahan: Jauh di negeri seberang lautan, karya kami akan dilanjutkan. Dan kami begitu bersyukur! Bahwa dalam usia lanjut ini bisa tetap memberi Itulah yang menjadi doa kami, demi kehidupan religius yang abadi. P.S. Andaikata para suster tetap memakai jubah, dan tidak perlu membuat anggaran pribadi, apakah di negara-negara yang jauh dari sini kongregasi akan tetap berdiri?’

Para pembinaku sangat baik, mereka memberi contoh yang baik. Mereka mengajar aku bagaimana menhadapi perbedaan, bahkan untuk menganggapnya sesuatu yang memperkaya. Memang sulit untuk menerima orang yang sifatnya lain, aku kira bahwa seumur hidup itu akan tetap sulit bagiku. Kami kadang-kadang sedikit nakal. Dalam masa pembinaanku, kami pernah menghabiskan buah mangga. Kami tertangkap basah oleh suster pembina, tetapi ia tidak menghukum kami. Kalau saya boleh mengulang masa pembinaanku, aku lebih senang kalau tanggung jawab sendiri lebih ditekankan, bukan ketaatan. Dan saya begitu saja diutus ke misi, walaupun tidak menguasai bahasanya. Saya kira bahwa terlebih dahulu kita harus merasa mampu untuk tugas yang diberikan, untuk apa yang disumbangkan.

Sr. Lucine Masselink, 90 jaar

Aku tidak perlu melakukan hal yang aneh-aneh selama masa pembinaanku, itu lebih di masamasa sebelumnya. Memang aku mendengar cerita para suster yang harus membersihkan kapel setiap hari, walaupun sudah bersih sekali. Atau suster yang harus makan sambil berlutut, sebagai hukuman. Tetapi aku masuk sesudah Konsili Vatikan II, dan waktu itu semuanya menjadi agak lebih supel.

Saya selalu sedih dan kecewa kalau ada suster yang keluar, khususnya kalau mereka sudah mengucapkan kaul kekal mereka. Dan sebagai pembina itu terasa makin sulit, walaupun terkadang saya bisa mengerti alasannya.

Yang paling berharga yang pernah kupelajari selama masa pembinaanku, adalah untuk hidup berkomunitas. Itu bermanfaat sepanjang hidupku. Saya mencoba untuk menjaga kesegaran kehidupan imanku, melalui doa bersama dan doa pribadi. Dan saya berusaha keras untuk hidup sesuai kaul.


Setahun yang lalu kami memulai perutusan kami di suatu daerah terpencil di Brasil. Kami hidup di daerah gurun yang selalu sangat kering dan gersang, dan kelompok masyarakat di sini kecil dan terisolasi, jadi semua saling mengenal. Apa yang perlu kami perhatikan di sini? Yaitu dampak dari kekeringan, keterbelakangan dalam pendidikan dan perawatan kesehatan, kekhawatiran tentang pusat tenaga nuklir yang ingin dibangun dekat sini dan sudah tentu, pesta-pesta. Pesta-pesta itu biasanya bersifat religius. Pesta peringatan para Pelindung yang berlangsung selama sembilan hari, dirayakan dengan meriah. Masyarakat sudah lama sebelumnya mengharapkannya, dan semua penduduk terlibat di dalamnya. Pesta dimulai di dalam gereja dengan doa dan lagu, lalu di bawa keluar untuk acara makan-makan, musik dan tarian. Di belakang rumah kami masih tampak sisa-sisa pesta St. Jan: tenda beratapkan daun nyiur yang kering. Masih ada beberapa bendera kecil yang tampak berkibar. Saya semakin yakin bahwa masyarakat membutuhkan pesta-pesta itu untuk bisa melupakan penderitaan mereka. Dan sudah pasti mereka mencoba untuk memberi sedikit warna kepada kehidupan itu, apa lagi kalau kita tinggal di tempat yang langka hiburan seperti Ibó. Kami misalnya sering diundang untuk mengikuti tarian Santo Gonçalo. Masyarakat menari berjam-jam lamanya sebagai ucapan terima kasih untuk berkat yang diberikan. Seluruh desa datang menyaksikan tarian yang sudah begitu dikenal ini. Semua wanita dan lelaki mengenakan baju putih dan berdoa, bernyanyi dan menari. Kadang-kadang diselingi dengan masa istirahat yang singkat di mana semua mencicipi hidangan yang disediakan oleh pihak yang mengucap syukur itu. Persahabatan yang bertumbuh di antara orang-orang ini, suatu kekayaan besar. Kami mengenal hampir semua dari mereka, dan mengetahui apa yang menjadi kekhawatiran dan harapan mereka. Keprihatinan mereka tentang ternak yang tidak bisa diberi makan dan tidak menghasilkan susu untuk anak-anak, apalagi untuk membuat

keju dan mentega seperti dahulu. Mereka mengkhawatirkan kesehatan keluarga sendiri: perjalanan jauh ke rumah sakit, biaya dokter yang tinggi dan dokter gigi yang sekarang praktek lagi setelah absen selama empat tahun, namun masih sering tidak hadir karena tidak ada bahan atau transpor. Akhir-akhir ini penduduk negara ini sering berdemonstrasi: untuk perbaikan dalam bidang pengadaan sosial, pelayanan kesehatan dan pendidikan. Oleh karena itu pemerintah terpaksa harus menangani penyalahgunaan yang ada. Ada kekurangan tenaga dokter misalnya, khususnya di tempat-tempat terpencil seperti di tempat kami ini. Sekarang mereka menarik dokter dari Kuba untuk mengisi kekosongan tadi, sebagai solusi darurat. Untung saja mereka termasuk dokter yang mampu, yang bisa membantu masyarakat miskin. Pemerintah memperhatikan pendidikan, namun demikian masih tetap ada banyak kekurangan. Anak-anak dalam tahun-tahun pelajaran pertama misalnya, selalu harus naik kelas. Seorang guru yang menjadi teman kami, mengalami kesulitan karenanya, karena dari 22 orang murid dalam kelasnya – kelas 5 – ada 6 orang yang tidak bisa membaca dan menulis. Ia mencoba sekuat tenaga untuk membantu mereka, tetapi hampir tanpa hasil. Banyak orang tua tidak menaruh perhatian, anak-anak sekolah dengan tidak teratur, dan tenaga guru yang ada, tidak bisa mengatasi beban tugas. Kami yakin bahwa kami harus mulai dengan anak-anak. Proyek Suara-suara dari Sertão, yang mengajak anak untuk menyanyi dan membuat musik, sudah membawa perubahan. Ada orang tua yang menceritakan bahwa anak mereka sudah berubah. Mereka lebih saling memperhatikan, saling memedulikan, lebih rapi dan lebih menurut kata orang tua mereka, dan mulai menyadari pentingnya sekolah. Itu boleh kami anggap sebagai suatu sukses. Harapan kami agar ini bisa berkembang terus hingga akhirnya ikut menghasilkan masa depan yang lebih baik. Sr. Ursula van de Ven (79 tahun) menceritakan dalam tajuk perihal mendirikan pos baru di Ibó, Brasil.


Tanggal 7 September 1953 aku tiba di Italia, sekarang sudah 50 tahun yang lalu. Aku datang dengan pesawat terbang! Waktu itu aku tinggal di Oss dan muder Berendine (aku sudah lupa nama keluarganya) ketika itu menjabat sebagai overste. Beliau mengurus transportasi dengan bis kecil agar para suster muda bisa ikut mengantar ke bandara. Sudah tentu beliau sendiri juga ikut. Perhatian beliau itu bagi aku sangat menyenangkan, dan perpisahan itu pun terasa menyenangkan. Di Roma aku dijemput oleh Sr. Pauline Tesselaar dan pater H. Mondé (pemimpin umum dari para Pater Misi dari Cadier dan Keer, SMA). Pernah lama setelah itu, pater Mondé berkata kepadaku bahwa waktu itu ia berpikir: ‘Apa yang dicari anak ingusan ini di Roma!’ Aku akhirnya akrab dengan beliau, karena beliau datang setiap hari untuk mempersembahkan Misa di rumah kami, dan dari awal melindungiku. Begitu tiba aku langsung mulai belajar bahasa Italia. Tiga kali seminggu aku mengikuti kursus bahasa di sekolah khusus untuk orang asing. Hari-hari lain aku memasuki kawasan orang miskin di dekat rumah kami, untuk melatih penggunaan bahasa itu, dan untuk berkenalan dengan penduduk di sekitar situ. Sebagai juru rawat aku sempat membantu banyak orang jompo dan memberi vaksinasi kepada banyak anak. Pekerjaan yang sungguh menyenangkan. Tiga bulan setelah tiba, aku mulai bekerja di rumah sakit. Karena ijazah Belandaku diakui, aku harus studi kembali untuk mendapatkan ijazah perawat. Oleh karena itu aku tidak bisa pulang setiap hari, dan hanya mengunjungi suster-suster kita di akhir pekan. Sepanjang pekan aku menginap di rumah para ‘Suster Biru’. Bersama mereka aku melatih berbahasa Italia dan Inggris. Enam bulan kemudian aku sudah boleh maju ujian dan langsung lulus. Juga untuk suster kepala bagian; di sini untuk jabatan ini dibutuhkan ijazah terpisah. Setelah itu aku kembali bekerja sebagai perawat di kawasan sekitar rumah. Lalu kongregasi memintaku untuk menjadi bidan. Karena ada rencana untuk membangun klinik bersalin sendiri. Yang akhirnya tidak terlaksana, tetapi satu setengah tahun lamanya aku mengikuti

pendidikan bidan di Inggris. Sekembali di Italia ada gedung baru yang baru selesai dibangun, untuk para perawat yang bakal bekerja dalam klinik tersebut. Akhirnya ternyata bahwa klinik itu tidak dibutuhkan lagi, lalu dijadikan rumah jompo. Dan aku diminta untuk melayani orang jompo. Aku sendiri pun heran bahwa ternyata aku sangat menyukai pekerjaan ini. Begitu banyak yang bisa aku berikan kepada orang-orang tersayang ini! Tahun 1981 bagiku merupakan tahun mala petaka. Tahun itu telah diselenggarakan kapitel umum yang memutuskan bahwa dewan pimpinan umum akan dipindahkan ke Negeri Belanda, dan oleh karena itu generalat kita yang indah itu bakal dijual. Kami tinggal di Monte Cucco, tempat yang sangat bagus, di atas bukit setinggi tiga puluh meter, tenang tetapi dekat kota. Tetapi aku beruntung. Pater Mondé almarhum, sudah beberapa lama tinggal bersama kami di generalat. Beliau ingin sekali tetap tinggal di Roma dan minta pemimpin umumnya waktu itu apakah ia boleh tinggal di generalat SMA, bersamaku. Karena ia membutuhkan bantuan, dan aku bisa membantu. Permohonannya dikabulkan. Akhirnya pater Mondé meninggal 15 bulan kemudian. Setelah itu aku masih tetap meninggali tempat itu 18 tahun lamanya. Lalu aku diminta untuk pindah ke apartemen kita di Portuense, untuk mengelola rumah ini untuk kongregasi. Tahun 2003 aku pindah, dengan hati yang sangat berat, tetapi sekarang aku sudah betah. Aku masih tetap mengurus para ‘Pater Misi’ itu pekerjaan sehari-hariku. Aku mengatur obat mereka, para pasien dan kalau perlu, mengantar mereka ke dokter. Pekerjaan yang memberi banyak kepuasan. Sebagian besar ‘Pater Misi’ ini tidak menguasai bahasa Italia; para mahasiswa sama sekali tidak. Kebanyakan dari mereka berasal dari Afrika, karena panggilan di Eropa hampir tidak ada lagi. Setiap hari Minggu aku makan dengan mereka, selesai menghadiri ibadah di ‘Friezenkerk’. Aku tetap akrab dengan para ‘Pater Misi’ dan mereka selalu menyambut kedatanganku. Roma adalah kota di mana aku merasa betah. Sr. Cunera Borst


Regina Memorial Hospital (AS) berusia 60 tahun

Terhitung tanggal 21 November 2013 rumah sakit Regina Memorial Hospital di Hastings (AS) sudah 60 tahun lamanya membuka pintunya. Para peletak dasar pusat medis ini antara lain Suster-Suster Cintakasih. Mereka bekerja sama dengan para dokter dan juru rawat non-religius. Tahun 1989 rumah sakit ini disumbangkan kepada penduduk kota Hastings, dan ketika itu namanya diubah menjadi Regina Medical Centre. Yubileum yang ke-60 dirayakan dengan penerbitan sebuah buku masak berisi masukan dari semua pihak yang terlibat, termasuk kongregasi kita.

Hari Pemuda Dunia

Mulai tanggal 23 hingga 28 Juli tahun ini, di Rio de Janeiro, Brasil, telah diselenggarakan Hari Pemuda Sedunia.

Di antara 3,7 juta hadirin tampak pula suster Joanita, Elisângela, JoĂŠrica dan Paula, bersama empat orang pemuda dari Gerakan Belas Kasih Brasil. Sr. Paula bercerita: ‘Semua stasiun TV negara kami menyiarkan peristiwa penting ini, sepanjang hari. Seluruh penduduk Brasil: anak-anak, pemuda, orang dewasa dan orang lansia, mengikuti semuanya melalui TV. Suatu pertemuan yang luar biasa dari begitu banyak pemuda dengan

aneka ragam latar belakang, yang saling bergaul sebagai orang-orang yang setara dan yang berkomunikasi dengan bahasa hati. Hari-hari di mana para muda-mudi bersatu dalam doa dan ingin mendengarkan pesan paus kita Fransiskus. Di semua tempat di Rio tampak penziarah yang bernyanyi, berdoa dan bersyukur: di dalam bis, metro, kereta api atau sambil berjalan. Para pemuda menguasai semua bagian kota dan penduduk Rio antusias dan suka ria melihat orang banyak ini. Bagi kami pun merupakan saat-saat yang tidak terlupakan yang memberikan banyak kegembiraan, harapan dan keberanian untuk melanjutkan perjalanan kita sebagai orang muda. Kami benar-benar merasa diberkati karena boleh mengambil bagian dalam harihari yang indah ini penuh iman, cinta dan pengharapan’.

Dalam terbitan ini Anda bisa menikmati halaman foto dengan kandang-kandang natal. Bahan yang dikirim tidak terlalu banyak, tetapi jelas bahwa Anda menyayangi kandang natal Anda sendiri. Untuk terbitan yang berikut kami minta dikirimi foto Vinsensius. Boleh foto Vinsensius sendiri, atau sebuah patung atau gambar patung, tetapi juga suatu situasi yang bagi Anda melambangkan spiritualitas Vinsensius dan pembaktiannya kepada orang miskin. Makin jelas foto Anda, makin besar kemungkinan kami akan memuatnya. Kirimlah ke generalat di Den Bosch, melalui pos atau, lebih baik lagi, melalui e-mail. Seperti biasa kiriman Anda kami nanti-nantikan! Redaksi


‘Compassion’ merupakan terbitan berkala dari dewan pimpinan umum Suster-Suster SCMM dan terbit dalam bahasa Belanda, Inggris, Portugis dan Indonesia, dan satu versi lisan dalam bahasa Belanda. ISSN 1879-9957

Konstitusi

Banyak orang boleh datang kepada kita; dengan perhatian pribadi yang hangat satu bagi yang laindan bagi semua yang kita jumpai, dan dengan kebaikan yang spontan kita berharap untuk mewujudkan sesuatu dari aksihYesus. Dengan demikian komunitas kita akan menjadi tanda kerajaan Allah yang datang. (Pasal 55 - 56)


Ind2013 nr 3