Page 1

Fragmen Edisi 2 Des 2013

Kumpulan penggalan, diusahakan terbit bulanan


Jodoh Enam tahun lalu dalam acara open house Natal di rumahku, seorang sepupu jauh yang baru sekali itu kenal dan bertemu, bermaksud mencomblangi temannya dengan kakakku yang berkulit putih bersih. Lewat sepupuku yang lain, sang sepupu jauh itu meminta nomor ponsel "si mbak yang putih itu". Tetapi rupanya karena salah terima, sepupuku malah memberikan nomor ponselku—yang saat itu sedang memakai baju putih. Jadilah aku dan lelaki yang dicomblangin itu bertelepon ria, sampai akhirnya kami pun jadian. Begitu sang sepupu jauh melihat fotoku yang ditunjukkan oleh temannya itu, ia pun kaget, karena ternyata ia telah salah mencomblangi! Hahaha... tapiiii, apa mau dikata? Kami tetap jadian, serius, dan dua tahun kemudian kami menikah. Pernikahan kami tetap bertahan hingga hari ini, dan semoga bertahan terus seumur hidup kami. Manusia bisa bilang ini kebetulan atau kekeliruan. Tetapi rencana Tuhan tidak pernah keliru, dan tidak pernah kebetulan. Tuhan adalah sutradara yang baik... sekaligus lucu! Terima kasih untuk sang sepupu jauh yang sudah menjadi mak comblang kami :) 22 November 2013


I Think, Therefore I Die Flesh on bone moribund man laying still on the ground lovelorn of the unborn utter randomness governed by determinism the golden age is now not back then we felt we have stray afar but the truth is backwards the truth doth reveal themselves naught we must beseech we must hyde from the jackal we are mortal coils shan't triumph over you lest us become limbic lambs of greed


Suci Si perempuan

: Gue mau nanya sesuatu, nih.

Si lelaki

: Opo?

Si perempuan

: Lo kalo nyari bini, tetep maunya yang masih perawan apa nggak?

Si lelaki

: Yang mana juga jadi. Asal bukan pecun.

Si perempuan

: Tschakeppp! Soalnya kan banyak juga yang munafik. Perjaka kagak, tapi maunya punya bini perawan. Menurut gue, itu sih nggak fair. Haha...

Si lelaki

: Lah, keperjakaan laki-laki kan selalu direnggut oleh tangannya sendiri.

Si perempuan

: HUAHAHAHAHAHA!!!

6 Desember 2013


Keep Running I certainly would never know what game were you give to me this time if I would lose or win someday? You have stolen yeah you for this small space in my heart maybe me and you have got the answer but we are in this game no one wants to quit or perhaps already planning for a grief that may be prepared rather than happiness itself for a time kept running for sadness and happiness that is still unknown


Pengalaman Kakak sedang hamil tua. Menurut perkiraan dokter, akhir bulan ini ia melahirkan. Akan menjadi November yang berat tampaknya... Aku* Kakak Aku Kakak Aku Kakak

: "Sakit ya, Kak?" : "Iya... kenapa kamu kok ngeliatinnya penasaran gitu?" [Sambil mengatur nafas dan mengelus perutnya] : "Nggak, kok... hehehe!" : "Kamu boleh 'ngalamin banyak hal selama ini..." [Ia mulai meluruskan kakinya] : "Maksudmu?" : "Tapi kamu nggak akan pernah 'ngalamin apa yang aku rasa saat ini. Sampai kapan pun."

*Tokoh Aku adalah seorang lelaki dewasa muda, yang bisa dibilang telah banyak mengecap asam-garam kehidupan—terutama kerasnya kehidupan di jalanan :) 12 November 2013


Kejutan Suamiku memang bukan orang yang 'pintar' dalam hal memberi kejutan, karena setiap kali bermaksud memberi kejutan, gerak-geriknya sudah mencurigakan dan akhirnya kejutannya ketahuan sebelum sempat diberikan :D Misalnya, saat ia ingin memberi kejutan dengan pulang mendadak; karena istrinya ini bagai ulat yang bisa menclok di kota sana dan dalam sekejap menclok di kota sini, akhirnya suamiku harus bilang dulu kalau mau pulang—daripada pas pulang nggak ketemu istri. Suatu ketika, suamiku diam-diam membelikan mawar. Tetapi karena aku sudah keburu curiga, akhirnya ia pun pasrah saat kejutannya ketahuan dan terpaksa langsung memberikan hadiahnya itu kepadaku sebelum perayaan ulang tahunku resmi diadakan. Lalu karena suamiku tahu selera istrinya ini selalu berubah sepanjang masa, maka menurutnya akan lebih

baik kalau aku langsung tunjuk saja ingin hadiah apa. Nanti ia akan diam-diam membelikannya, membungkusnya dengan rapi, dan aku disuruh terkejut. Itulah yang namanya kejutan, menurut suamiku ;) Hihihi... Dari sekian banyak hadiah, yang paling indah adalah saat menerima tiga hadiah utama darinya: mawar, cokelat, dan kartu ucapan yang tidak pernah sama setiap tahun—dan selalu dibuat tergesa-gesa sebelum keburu ketahuan olehku :) Sejak jauh-jauh hari sebelum istrinya ultah, suamiku sudah sibuk bertanya aku mau hadiah apa. Jujur, aku cuma ingin makan malam berdua dengan suamiku yang membawa kado yang sudah ketahuan isinya ;) 10 Desember 2013


Tawanan Si lelaki

: Apa kabar di sana? Air laut masih asin? Ombak masih basah?

Si perempuan: Hahahahaha, kalo sampe aer laut nggak asin lagi dan ombak nggak basah lagi, itu berarti gue mau kawin! Si lelaki

: Lah... itu berarti sama artinya dengan: kalo lu mau kawin, dunia kiamat...

Si perempuan: Hahahahahahaha... Si lelaki

: Jeng... masa sih nggak ada pemuda yang menawan hati, yang bisa lu tawan juga hatinya? Sekarang kan lu udah bisa dandan...

Si perempuan: BWAHAHAHAHA... Seandainyaaa semudah itu menawan hati pemuda yang menawan hati! 1 Desember 2013


Schatzi Kemarin gue demam, padahal hari ini seharusnya gue mulai probation di kantor. Gue kesel! Dalam keadaan demam dan meriang, gue nangis-nangis teriak gini, "HARUS BANGET YA DEMAMNYA HARI INI—DI SAAT GUE AKHIRNYA DIKASIH KESEMPATAN BUAT MULAI KERJAAA???" [Iya, ceritanya gue marah sama badan gue sendiri]. Setelah nangis kesel, terus gue pusing. Terus gue bilang gini ke suami gue, "Schatzi, aku pingin bubur..." [Padahal waktu itu udah jam 12 malam, dan suami gue bule, gitu... mana pernah dia masak bubur?!] Tapi dia langsung Googling dan langsung bikinin bubur buat gue, sambil terus bolak-balik dari dapur ke kamar untuk mengompres kepala gue. Sorenya juga begitu. Waktu dia baru pulang kerja banget, gue udah nangis-nangis meriang carey dan akhirnya dia langsung masak buat gue, soalnya gue pengen makan sup. Habis makan, gue nggak mau minum obat, karena merasa eneg. Eh... terus dia ke supermarket beli cheesecake, padahal saat itu di Offenburg sini lagi hujan. Katanya, kalau gue minum obat, nanti dikasih cheesecake. Akhirnya hari ini gue sembuh! Gue merasa beruntung banget punya suami kayak schatzi :') 12 Mei 2011


'Ngeluh? Taik, Luh! Rahmat menjalani profesi sebagai sekuriti sebuah hotel bertingkat di kota ini. Ia memiliki 2 orang anak dengan istri seorang ibu rumah tangga. Ia bekerja hampir 8 jam sehari, dengan shift berbeda, namun sering mendapat giliran di malam hari. Selama 8 jam bekerja, sebuah warung langganan di lingkungan itu sering mempertemukan kami. Kami akrab, sering main catur di sela istirahat shift-nya, dan kedekatan itu membuatnya tak jarang mau mencurahkan masalah hidupnya. Mungkin karena emosiku tidak stabil malam itu, Rahmat mulai belajar menolerir salah satu sifatku. Rahmat : “Enak ya single kayak kamu!” Aku : “'Ngeluh nih ceritanya, cie... cie...” Rahmat : “Aku cemburu aja. Kamu nggak kerja, tiap hari bersenang-senang terus. Sementara aku harus lembur. Biaya rumah tangga, dapur, sekolah anak, semuanya harus kupikirkan.”

Aku : “Aku kesal sama kamu. Percaya deh, 'ngeluh itu nggak efektif!” Rahmat : “Belum lagi kalau anak sakit, istri minta ini minta itu, lah... lalu tagihan listrik, sewa rumah, sampai permintaan anak yang juga aneh-aneh. Mau nggak mau, harus dipenuhi.” Aku : “Ya udah, besok bawa sini anak lu, biar gue yang ngurus...” Rahmat : “Cepet ya kamu marah, padahal aku kan...” Belum sempat ia membalas dan karena terlalu kesal dengan sikapnya yang menjadikan tanggung jawabnya sendiri sebagai alasan keluhannya, aku langsung memotong ucapannya: Aku

: “Jangan lupa, ranjang istri lu pindahin ke kamar gue!”

Desember 2013


Ironi Tadi ketika mengisi sharing di Akademi Berbagi [Akber] Balikpapan, ada dua gadis cilik yang ikut mendengarkan dengan serius. Padahal aku tahu persis bahwa mereka nggak paham.

"Kakak, aku tidak bisa menulis. Aku tidak sekolah karena tidak punya surat pindah. Aku di sini mungutin sampah."

Turun dari panggung, dua anak kecil ini menghampiriku, "Kakak artis, ya? Kok itu ada gambarnya Kakak? [sambil menunjuk baliho]. Aku mau foto sama Kakak, tapi aku nggak punya hape..."

"Kakak, boleh minta tanda tangannya? Tapi aku nggak punya kertas..."

Dua gadis cilik itu namanya Desi dan Ririn. Rumahnya di Kilo Enam [keluar dari Balikpapan] dan mereka berjalan kaki menuju tempat ini.

Desi dan Ririn, gadis cilik berumur 11 dan 13 tahun, di kota makmur: Balikpapan.

Aku pun berfoto dengan mereka, lalu berjanji akan mencetakkan foto itu dan mengirimkannya ke rumah mereka. Aku kemudian meminta mereka menuliskan alamat rumahnya.

Aku terdiam.

"Nama Kakak siapa? Aku tidak bisa membaca..."

Aku kembali terdiam. 2 Desember 2013


Cita-cita Yogie dan Fadli adalah dua jagoan dari pamanku. Pamanku sendiri adalah anak ke-9 dari nenekku. Dengan kata lain, kedua cecunguk ini adalah anak adik ayahku yang paling bungsu. Apabila masih bingung, begini percakapan kami: Aku Fadli Yogie Aku Yogie

: "Bagus kan film Troy? Kalian pilih siapa?" : "Achilles, dong!" [Di dunia nyata, Fadli punya hobi berkelahi—selain makan nasi goreng, tentunya] : "Pilih Hector, lah! Pengorbanannya itu hebat banget!" [Anak ini memang bijak, terbukti saat ayah dan ibunya hampir bercerai, dialah yang menjadi sebab gagalnya rencana itu] : "Mantap! Jadi cita-cita kalian apa, nih?" : "Aku pengen jadi bupati, soalnya kalau presiden agak berat, Bang!" [Ia duduk di kelas 1 SMA, sebenarnya. Jadi, kurasa wajar bila ia memiliki perhitungan seperti itu]

Fadli Aku Fadli

: "Ah! Kejauhan kau! Aku sih yang pasti-pasti aja..." [Ia punya bakat tak ingin sama dengan kakaknya itu] : "Yang pastinya gimana, nih? Jadi apa, emang?" : "Kerja kantoran gitu aja. Gaji 3 juta udah cukup. Nggak usah tinggi-tinggi, kali. PNS boleh, lah. Hahaha..." [Ini realistis sekali tampaknya. Dulu saat SMP kelas 1 seusianya, aku bercita-cita menjadi pilot]

Fadli+Yogi: "Cita-cita Abang, apa?" Aku langsung ke dapur, mencari bubuk kopi dan gula, alias: berusaha menghindar. Pertanyaan yang berat, soalnya.... 11 Desember 2013


Fragmen adalah zine berisi kumpulan penggalan— bukan rekaan—yang diusahakan terbit bulanan. Terinspirasi dari terbitan berkala bertajuk Five Dials yang dapat diunduh secara cuma-cuma di http://fivedials. com/fivedials, sekaligus dari film karya Michel Gondry berjudul Is The Man Who Is Tall Happy? yang berisi animasi dari wawancara beliau dengan Noam Chomsky, zine ini mencomot penggalan dari sana-sini sebagai usaha merekam fragmen-fragmen dalam keseharian, lalu menyuguhkannya kembali secara sederhana dengan gambargambar penyerta dan penyuntingan seperlunya. Tidak ada tujuan istimewa dalam pembuatannya. Sekedar refleksi belaka, untuk menyegarkan isi kepala dan melonggarkan tawa, sambil mengingatkan diri sendiri untuk mengambil jeda, sebelum kembali tenggelam dalam keriuhan pikirannya. Yah... setidaknya ada yang bisa dibagi, tiap sebulan sekali ;)

Edisi 2 - Desember 2013 Secara berurut dari halaman sampul muka, menampilkan karya-karya visual yang dibuat oleh: Rezza Rainaldy Teguh Pandirian Brian Soejadi Genoveva Hega Putri Purnamasari Nesia Anindita

Darista Lebora Maya Toruan Arini Annisa Radhinal Indra Widi Priyanto Rinaldo Hartanto

Kirimkan tulisan dan karya visual untuk Fragmen edisi berikutnya ke:

zinefragmen@gmail.com

www.fragmen.net


Fragmen - Edisi 2 - Desember 2013  

Secara berurut dari halaman sampul muka, menampilkan karya-karya visual yang dibuat oleh: Rezza Rainaldy, Teguh Pandirian, Brian Soejadi, Ge...

Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you