Page 1

Folk Music Festival

Newsletter

2018

WWW.FOLKMUSICFESTIVAL.ID

1


Folk Music Festival

Newsletter

2018

AGUSTUS

LITERASI HINTA S FEBRIANY . IFA ISFANSYAH . HARDINANSYAH PUTRA SIJI . NURAN WIBISONO . FUAD ABDULGANI MOHAMMAD ISTIQAMAH DJAMAD . IVAN MAKHSARA . SAYLOW . ARDYAN M.ERLANGGA . A.SAPTO ANGGORO FELIX DASS . AAN MANSYUR . MAHFUD IKHWAN . TOMI WIBISONO . GUNAWAN MARYANTO . PAPERMOON PUPPET SANCAYA RINI . THEORESIA RUMTHE & WESLLY JOHANNES . FOLKTIVALIST . BAYANGAN

2

KUSUMA AG


Folk Music Festival

GROWISATA

Newsletter

2018

BATU JAWA TIMUR

MUSIK TIGAPAGI . JASON RANTI . MONITA TAHALEA . BIN IDRIS . FOURTWNTY . POHON TUA . ADRIAN YUNAN . DANILLA SANDRAYATI FAY . GARDIKA GIGIH . WAKE UP IRIS! . PUSAKATA . EFEK RUMAH KACA . REDA . MONDO GASCARO GERALD SITUMORANG . DARAMUDA . WHITE SHOES & THE COUPLES COMPANY . ARAY DAULAY HOLASPICA . ARIEF S.PRAMONO . DIROAD . SEPERTIGAMALAM

3


Folk Music Festival

Newsletter

2018

OPENING NOTE.

Salam hormat, Nama saya Alek Kowalski, saya ucapkan selamat datang di perhelatan ke - 4 Folk Music Festival 2018.

COLOPHON. Kontributor: Anitha Silvia Fuad Abdulgani Nadia Maya Ardiani Mahfud Ikhwan Noverdy Putra Ilustrasi Line Up: Abraham Zoesa Desainer Grafis: Abraham Zoesa Tim Folk Music Festival 2018: Akbar Ardi Pramanda, Alek Kowalski, Angelita Ratna Giovanni, Anitha Silvia, Edbert William, Filicia Prayogo, Gagah Diorama, Ika Juwita Hadiria, Irsad Imtinan, Mayafiryal Sochmarisanda, Nadia Maya Ardiani, Niken Yunita, Novita Widia Rahayu, Stanislaus Oscar Tobias Njo Headquarter SATSCo HQ

Jalan Untung Suropati 82

Ketika masih kecil dulu, saya membayangkan bagaimana rasanya menjadi Huckleberry Finn, atau Tom Sawyer, bagaimana bertualang dan bermain - main dengan alam adalah kemewahan yang mengasyikkan. Membayangkan bagaimana serunya memetik buah berry dan bermain katapel di tepi sungai Mississippi. Ketika beranjak besar saya mulai berkenalan dengan buku - buku karangan yang lebih serius, membaca terbitan Balai Pustaka yang ada di perpustakaan sekolah. Favorit saya, antara lain adalah buku - buku seperti, Azab dan Sengsara, Salah Asuhan dan tentu saja Siti Noerbaja yang menjadi buku roman pertama saya (perlu anda ketahui bahwa serial sinetron adaptasi novel ini sangatlah populer pada waktu itu, dibintangi oleh Novia Kolopaking dan Gusti Randa dan tentu saja HIM Damsyik yang legendaris). Lalu yang terjadi selanjutnya adalah tiba - tiba saja buku - buku ini mengisi dunia fikir masa kecil saya sampai saya dewasa. Guru bahasa Indonesia saya waktu itu berpesan, “Lek, buku adalah jendela dunia”, terdengar sangat klise dan mungkin sudah tidak lagi relevan di zaman sekarang, tapi yang terjadi pada saya adalah sebaliknya. Melihat ke belakang, disela - sela membaca buku saya juga mulai diperkenalkan dengan musisi - musisi yang digemari oleh Ayah saya, Franky and Jane, Gombloh, Leo Kristi dan tentu saja Iwan Fals. Ayah saya jarang mendengarkan lagu dari musisi - musisi luar negeri. Cukup mengherankan mengingat beliau tumbuh besar di Surabaya, dimana identitas sebagai barometer kota rock Indonesia mulai melekat padanya di era ini. Lihat saja band - band seperti AKA yang terpengaruh Led Zeppelin awal dan Deep Purple. Tumbuh besar di kota kecil seperti Batu, dimana gunung - gunung dan bukit selalu menantang untuk didaki, dan sungai - sungai selalu tampak begitu misterius dan penuh rahasia, terlihat jauh lebih menarik untuk dijelajahi dan ditemukan setiap hari. Ditambah lagi dengan buku - buku yang kurang lebih menceritakan hal - hal yang serupa di belahan bumi dari negeri yang lain (Minangkabau dan Mississippi misalnya) menambah liar imajinasi saya mengenai masa depan. Lalu waktu pun bergulir, saya tumbuh dewasa dan mulai dihadapkan dengan realita - realita hidup yang nyata. Sampai akhirnya nasib membawa saya dengan pertimbangan yang tidak terlalu matang dan pengalaman yang apa adanya. Saya dan beberapa kawan - kawan pada tahun 2014 memproklamirkan Folk Music Festival untuk pertama kalinya di Surabaya! Saat itu saya mati - matian berusaha menemukan definisi musik Folk yang berbeda dengan pemahaman banyak orang mengenai genre musik yang satu ini. Belakangan saya sadar, saya hanya mencari pembenaran atas minimnya referensi dan ketidaktahuan saya.

Surabaya, Jawa Timur, Indonesia 60264 www.sats-co.com public.satsco@gmail.com Phone : +62 31 5677776 Instagram : @folkmusicfestival Line Official : @folkmusicfestival

Beberapa waktu yang lalu saya berbicara per telepon dengan salah satu kawan baik saya, Saleh Husein, yang juga merupakan pemain gitar dari White Shoes & the Couples Company, band kesayangan ibukota. Kami membicarakan beberapa hal terkait dengan bagaimana sebuah festival punya esensi yang lebih penting dari hanya hingar bingar atau keriaan sementara. Pembicaraan itu terjadi di momen yang menurut saya cukup ajaib, yaitu ketika saya sedang terbengong - bengong menikmati megahnya Lawang Sewu untuk pertama kalinya! Disitu kami berdua sepakat bahwa “pertemuan” adalah hal penting, dimana persimpangan - persimpangan nasib ini kadangkala harus diciptakan (salah satunya adalah dengan si Festival ini) dimana orang - orang desa seperti saya punya kesempatan untuk bertemu dengan orang - orang lain yang lebih kaya referensi dan lebih luas pengetahuannya. Tahun ini, dengan seizin Tuhan, kami akan kembali mengadakan Folk Music Festival. Dirancang akan kembali digelar di Batu, kota tempat saya tumbuh besar, kota kecil yang cantik di lembah gunung Panderman, Jawa Timur. Folk Music Festival 2018 rencananya digelar selama 3 hari, pada tanggal 3, 4, dan 5 Agustus 2018. Kenapa 3 hari?  Seperti yang sudah saya janjikan di Folk Music Festival tahun lalu, kami akan menambahkan esensi baru dalam festival ini. Folk Music Festival 2018 akhirnya tidak akan hanya berbicara mengenai pergelaran musik dan pertemuan - pertemuan indah (yang saya sampaikan di awal) di antaranya, tahun ini kami akan menambahkan Literatur dalam tema besarnya. Kami membayangkan akan ada perbincangan - perbincangan menarik mengenai karya sastra, mencipta puisi, deklamasi, pemutaran film, dan pertunjukan teater. Terbayang sudah nama-nama yang akan kami undang, musisi - musisi yang akan tampil, penulis-penulis yang berbagi cerita, mereka punya panggung yang pantas dan rasa rindu yang memuncak akan hal - hal sederhana, dan saya sungguh berharap anda semua punya perasaan yang sama.

Teriring doa, sesuai dengan janji dan ketidakperdulian pada konsep dan makna sia-sia. Hidup Musik dan Literasi! Semoga dipertemukan!

4


Folk Music Festival

Newsletter

2018

JADWAL ACARA / RUNDOWN Folk Music Festival 2018

FOLK MUSIC FESTIVAL THROUGH THE YEARS

TENTANG FOLK MUSIC FESTIVAL Folk Music Festival yang ke-empat ini akan diadakan selama 3 hari di Kusuma Agrowisata Batu- Jawa Timur pada tanggal 3, 4, dan 5 Agustus 2018. Folk Music Festival adalah festival alternatif tahunan untuk para penggemar kebudayaan (kesenian, musik dan literasi). Suasana yang sejuk dan pemandangan yang indah akan mengajak para penonton dari seluruh penjuru negeri untuk terhanyut dalam lantunan hangat setiap musisi dari Malang, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Palembang dan kota-kota Indonesia lainnya. Tahun ini Folk Music Festival mengusung tema “Musik dan Literasi”, dimana selain menghadirkan serangkaian sajian musik berkualitas juga akan menggelar Talk/conference dan Lokakarya yang terkait dengan prosa, puisi, dan pertunjukan teater. Folk Music Festival ini juga menjadi makin istimewa karena mengajak ikut serta secara aktif jaringan kolektif dari 2 negara, yaitu Indonesia & Malaysia.

2014 Surabaya Town Square, Maret 2014 Pertama kali diadakan di mall semi outdoor SUTOS, Folk Music Festival edisi perdana hadir dengan sederhana tapi antusias di tengah kawan-kawan penikmat musik di Jawa Timur. Di masa dimana band-band berskala sederhana masih jarang mendapatkan panggung, kehadiran Stars & Rabbit, Angsa & Serigala, Tigapagi terasa bagai kehadiran segelas es teh di siang bolong; dan makin dibikin greget dengan kehadiran duo biduan Prancis, Brigitte, plus bangkitnya Silampukau. 2016 Lembah Dieng, Mei 2016 Bergeser ke kota sebelah tapi masih dalam parameter Jawa Timur, Folk Music Festival edisi #2 digelar di Lembah Dieng, Malang. Venue yang berbentuk amphitheater membludak penuh sesak oleh penonton, Sari WSATCC turun ke tengah penonton, hujan yang mengguyur di tengah “Sementara”-nya Float yang tak berpengaruh pada posisi duduk penonton barang sesentipun, Aurette & the Polska Seeking Carnival kembali berdendang setelah sekian lama, Liyana Fizi datang berbagi nada jauh-jauh dari Malaysia, Christabel Annora sebagai tuan

rumah yang sedang meroket memperdengarkan materi album pertamanya secara live untuk pertama kalinya di panggung, dan masih banyak jutaan cerita lainnya. 2017 Kusuma Agrowisata, Juli 2017 Di seri ke-3 ini Folk Music Festival kembali bergeser, kali ini ke ruang yang lebih bisa menampung ledakan sukacita kawan-kawan penikmat musik semuanya. Dengan jumlah penampil yang semakin bertambah, para pengunjung FMF semakin dimanjakan dengan musik-musik berkualitas, disajikan di tengah dekapan bukit, pegunungan, dan udara nirpolusi. Jason Ranti, Bin Idris, Danilla, Iksan Skuter, Payung Teduh, dan masih banyak lainnya menjadi magnet bagi ribuan manusia untuk berbondong-bondong menuju Batu. 2018 Kusuma Agrowisata, Agustus 2018 You’re here.

5


Folk Music Festival

PETA AREA.

6

Newsletter

2018


Folk Music Festival

Newsletter

2018

1.

Gate

10.

Papermoon Puppet

2.

Panggung Musik

11.

Toilet

3.

Panahan

12.

Marketplace

4.

Leissure Area

13.

Polo Pendem

5.

Makan Sayang

14.

Marketplace

6.

Media Center

15.

Menulis Puisi

7.

Photo Booth

16.

Toko Buku Fatima

8.

Children Playground

17.

Panggung Literasi

9.

Biru Bercerita

18.

Toilet

DILARANG MEMBAWA

Makanan & Minuman

Senjata Api & Senjata Tajam

Obat-Obatan Terlarang

Bahan Peledak

Minuman Beralkohol

Rokok Dalam Keadaan Bungkus Terbuka

Laser Pointer

7


Folk Music Festival

Newsletter

2018

PROGRAM. FOLKTIVALIST FSTVLST merencanakan sebuah showcase dalam format akustik khusus untuk Folk Music Festival 2018. Jumat, 3 Agustus 2018, pukul 22.00.

MAKAN SAYANG Berkumpul bersama adalah hak setiap orang. Makan bersama, agar tumbuh rasa sayang. Pengunjung Folk Music Festival 2018 diberikan kesempatan untuk dapat bercengkerama bersama pengisi panggung Musik dan Literasi, sama rasa sama makna. Makan Sayang kali ini spesial karena untuk pertama kalinya ARUNA DAN LIDAHNYA, film besutan sutradara Edwin ini akan memutarkan trailernya di Folk Music Festival 2018. Makan Sayang akan dihadiri pula oleh para cast & crew Aruna dan Lidahnya.

FOLK INDONESIA TIMUR Lagu rakyat Indonesia Timur didominasi tema kerinduan akan tanah kelahiran yang diramu dengan lirik bahasa setempat bercampur dengan Melayu Pasar. Bagaimana pengaruh lagu rakyat Indonesia Timur dalam musik populer Indonesia saat ini? Fuad Abdulgani (Antropologi Universitas Lampung) M. Istiqomah Djamad (Pusakata) Moderator: Tomi Wibisono (Warning Magz) Sabtu, 3 Agustus 2018, 15.30 – 17.00

SEMESTA ONLINE MEDIA Warganet Indonesia adalah salah satu pasar terbesar di dunia. Menekuni bisnis online media menjadi tantangan yang menarik untuk diikuti dan dikembangkan. Mari kita membedah strategi bisnis online media di Indonesia.

Sabtu, 4 Agustus 2018, pukul 10.00

TOKO BUKU FATIMAH Terinspirasi dari sebuah drama berjudul sama karya Hoesin Bafagih, akan menyediakan buku-buku musik dan sastra Indonesia dari berbagai penerbit. Buku-buku indie dan buku-buku langka yang jarang ada di toko buku akan menghiasi lapak TB Fatimah. Selain itu, juga tersedia merchandise dengan tema buku, berupa t-shirt, notes dan pernak-pernik lainnya. Tak hanya sebagai tempat jual beli, TB Fatimah juga akan menjadi ruang bertemu pembaca dengan penulis atau pegiat literasi lain yang hadir di FMF. TB Fatimah dikelola oleh Warning Magazine. TB Fatimah beroperasi sepanjang FMF 2018. MUSIC TRADE oleh PASAR SANTA Bertandang ke festival musik tentu kurang lengkap rasanya jika tidak jajan rock barang satu-dua keping. Pasar Santa siap sedia memuaskan dahaga audio kita dengan menghadirkan lapak sarat rilisan fisik dan music-related merchandise lainnya di area Marketplace

Saylow (Co-Founder & Admin BaleBengong) Ardyan M. Erlangga (Managing Editor VICE Indonesia) A. Sapto Anggoro (CEO Tirto.id) Moderator: Felix Dass (jurnalis musik) Sabtu, 3 Agustus 2018, 18.30 – 20.00

LITERASI INDONESIA TIMUR Indonesia Timur dan Jawa Timur menjadi lahan subur inspirasi berkarya. Bagaimana proses dan kiat-kiat menggali tanah subur ini? Aan Mansyur (penulis. “Tak Ada New York Hari Ini”, “Melihat Api Bekerja”) Mahfud Ikhwan (penulis. “Dawuk”, “Kambing dan Hujan”) Moderator: Tomi Wibisono (Warning Magz) Sabtu, 3 Agustus 2018, 20.00 – 21.30

WORKSHOP

PASAR KEARIFAN LOKAL

MENULIS PUISI “Cara-cara Tidak Kreatif untuk Menulis Puisi”

DISKUSI MUSIK & LITERASI SEKELEBAT FESTIVAL Bagaimana suatu festival bisa menghidupi sebuah kota? Bagaimana memulai dan bertahan bahkan mengembangkan suatu festival? Makassar International Writers Festival (Shinta Febriany, Kurator MIWF 2018) Jogja-NETPAC Asian Film Festival (Ifa Isfansyah, Direktur Eksekutif JAFF) Rock in Celebes (Hardinansyah Putra Siji, Project Director RIC) Moderator : Nuran Wibisono (tirto.id) Sabtu, 3 Agustus 2018, 13.30 – 15.00

8

Sabtu, 4 Agustus 2018, pukul 09.00-12.00 dan 13.00-15.00

DRAMATIC READING bersama Gunawan Maryanto (penulis & sutradara teater, pemeran Widji Thukul di film “Istirahatlah Kata-kata”). Gunawan Maryanto adalah seorang penulis, aktor dan sutradara teater. Dewasa ini Gunawan makin dikenal luas oleh luar kalangan penikmat teater lewat perannya sebagai Widji Thukul dalam film Istirahatlah Kata-Kata (2017), peran yang kemudian diganjar penghargaan Usmar Ismail Award sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik. Gunawan juga mengelola Teater Garasi yang berbasis di Yogyakarta dan sejak 2010 rutin menyelenggarakan Indonesia Dramatic Reading Festival bersama sesama penggiat teater Joned Suryatmoko dan Lusia Neti. Semasa karirnya sejak 1990, karya tulis Gunawan berupa prosa, puisi, dan kritik seni telah banyak dimuat di berbagai media massa; salah satu bukunya Sejumlah Perkutut Buat Bapak (2010) memenangkan Khatulistiwa Literary Award; dan karya teaternya baik sebagai penulis, aktor, maupun sutradara telah banyak dipentaskan di berbagai negara. Jumat, 3 Agustus 2018, pukul 21.30

tanggal 4-5 Agustus 2018.

Di tengah gempuran jajan ‘kekinian’ yang kian hari kian menjawab imajinasi kuliner terliar, kehadiran kudapan dengan citarasa nan woles menjadi begitu istimewa eksistensinya. Cenil, Angsle, Ketan bubuk, Tahu petis, Jagung bakar, Krupuk Telo, Kicir, Srabi Gantol, Wedang Pokak, Jamu Gendong--you remember the taste, just name it. Karena petualangan tidak selalu harus yang gegap gempita. Temukan mereka di area Marketplace sepanjang FMF 2018.

wida (yang dalam bahasa Kawi, berarti ‘warna-warni’) dan Kana Goods (yang dikenal dengan produk fesyen berwarna indigo), natural-dye batik brands. Berbasis di Pamulang, Tangerang, Sancayarini menghadirkan batik kontemporer dengan teknik pewarnaan alamiah yang tentunya lebih ramah lingkungan. Bahan dari pewarna alami yang digunakannya antara lain berasal dari kulit & daging buah, serta dedaunan. Beberapa bahkan berasal dari limbah rumahan yang tak terpakai lagi. Semua produk yang dihasilkannya merupakan buatan tangan, dan melalui 2 brandnya ini Sancayarini ingin mengajak generasi muda untuk lebih peduli dan aktif dalam pelestarian batik pewarna alam.

bersama Theoresia Rumthe “Perempuan Sore” (penulis, pengajar public speaking) & Weslly Johannes (penyair) Theoresia Rumthe & Weslly Johannes baru saja menerbitkan kolaborasi buku puisi kedua mereka yaitu Cara-Cara Tidak Kreatif Untuk Mencintai. Buku puisi ini merupakan sekuel dari buku Tempat Paling Liar Di Muka Bumi yang diterbitkan di tahun 2016. Puisi merupakan sukacita tersendiri bagi Theo dan Weslly untuk menemukan sebuah makna kecil bagi hidup. Dengan menulis puisi, Theo dan Weslly memelihara keyakinan keyakinan kecil untuk lebih mencintai sesama dan melakukan kebaikan. Di Folk Music Festival, Theo dan Weslly akan menggelar workshop: cara-cara tidak kreatif untuk menulis puisi, dengan sebuah tujuan sederhana yaitu: berbagi kepada peserta tentang cara-cara menulis/mencipta puisi yang sangat sehari-hari. Selain itu jika ada waktu luang di luar kegiatan workshop, Theo & Weslly juga akan membuka lapak puisi yang melayani pembuatan puisi kepada peserta yang hadir. Sabtu – Minggu, 4-5 Agustus 2018, pukul 10.00 – 12.00

PEWARNAAN KAIN NATURAL DAN INDIGO bersama Sancayarini (owner Kanawida & Kanagoods) Sancayarini adalah pengrajin batik dan pemilik Kana-

MEMBACA SAPARDI Membaca puisi – puisi pilihan Sapardi Djoko Damono pada tanggal 4 Agustus 2018 pukul 10.50 dan 5 Agustus 2018 pukul 18.45 di panggung utama.

PENJAHIT CERITA Papermoon Puppet Theatre adalah teater boneka kontemporer berkualitas dari Yogyakarta yang mengeksplorasi batas-batas teater boneka. Untuk Folk Music Festival 2018, Papermoon Puppet Theatre mempersembahkan pertunjukan bertajuk Penjahit Cerita (Story Tailor). Penjahit Cerita adalah sebuah pementasan teater boneka eksperimental yang sangat intim, yang terjadi di dalam sebuah tenda, dan hanya bisa ditonton 3 orang dewasa, atau 2 pasang orang dewasa-anak dalam sekali pertunjukannya. Dalam pementasan ini, penonton bisa menentukan sendiri tema pementasan yang diinginkan. Dua orang pemain boneka akan menjahit cerita yang diminta oleh penonton, dan cerita akan dibuat, dan dipentaskan langsung di hadapan penonton. Penjahit Cerita digelar 2 sesi per hari sepanjang festival, setiap pukul 13.00 dan 16.00

MODELLING OBJECTS Bagaimana boneka-boneka yang tampil di setiap karya Papermoon Puppet Theatre bisa begitu hidup? Bagaimana mereka melakukannya? Apa rahasia dibaliknya? Lokakarya “Manipulating Objects” akkan memberimu pengalaman menghidupkan objek dan juga berkola-


Folk Music Festival

borasi yang adalah praktek-praktek yang dilakukan oleh Papermoon Puppet Theatre selama 12 tahun terakhir. Sabtu, 4 Agustus 2018, pukul 09.00 – 12.00

PAPER PUPPET MAKING Lokakarya membuat boneka dengan material yang sangat sederhana, KERTAS. Dipandu oleh seniman-seniman dibalik Papermoon Puppet Theatre, lokakarya ini akan mengajak peserta (berpasangan – bisa anakorangtua atau 2 orang dewasa) untuk membuat sendiri toko imajinasi mereka berdua. Minggu, 5 Agustus 2018, pukul 09.00 – 12.00

MUSIK ADRIAN YUNAN Adrian Yunan adalah bassist Efek Rumah Kaca yang kini juga berkarya sebagai solois. Dalam absennya cahaya, musisi yang album perdananya, Sintas, diilhami oleh pengalaman Adrian sebagai seorang penyintas ini tidak berhenti menghadirkan komposisi musik yang eksploratif.

ARAY DAULAY Aray Daulay akrab di telinga penikmat musik sebagai punggawa band rock penting era 90’an Plastik, kolektif reggae Steven and the Coconut Trees, dan juga Ray D’Sky yang mengusung folk yang banyak mengangkat obrolan lingkungan hidup dalam karya-karyanya. Juni 2018 ini, Aray merilis album baru berjudul “Lagu Perjalanan”, yang mengandung beberapa lagu lama dari project yang dulu pernah Aray kerjakan, dan direkam ulang dengan aransemen baru.

BAYANGAN Bayangan adalah alter ego dari Fikri Fadzil. Mengusung neo-folk, musik Bayangan menyentuh permasalahan kehidupan urban kontemporer Malaysia, dari hubungan personal hingga isu sosial. Fikri juga dikenal sebagai pendiri The Wknd Sessions yang fokus mempromosikan musik alternatif Malaysia dan Asia Tenggara.

BIN IDRIS Bin Idris merupakan proyek solo Haikal Azizi, vokalis/gitaris Sigmun, yang memiliki nuansa musik yang berbeda 180 derajat dari band psych rock tempatnya bernaung itu. Seperti salah satu judul lagu andalannya, nomor-nomor yang dilahirkan Bin Idris sangat cocok didengarkan sambil rebahan, berkontemplasi.

DANILLA Kegemaran pada nada-nada minor dan tema gelap terpancar jelas dalam lagu-lagu perempuan bersuara alto ini. Cemas dan hangat di saat yang bersamaan, mungkin begitu cara paling tepat untuk mendefinisikan karya-karyanya.

DARAMUDA Daramuda adalah kolektif musik yang beranggotakan 3 musisi lintas arah : Danilla, Rara Sekar, & Sandrayati Fay. Proyek woles mereka ini hadir dalam wujud video karyakarya mereka, sendiri-sendiri, di lokasi yang terpisah--dan semuanya direkam secara live di alam terbuka maka suara-suara macam suara hembusan angin, air mengalir, kicau burung, atau gesekan rumput pun akan ikut terdengar.

Newsletter

EFEK RUMAH KACA Efek Rumah Kaca bukan hanya sebuah band, melainkan aksi protes damai yang membakar pelan-pelan. “Memotret zaman”, demikian band dengan personil inti Cholil Mahmud (vokal utama, gitar), Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar), & Poppie Airil (bass, vokal latar) ini mendeskripsikan diri.

FOURTWNTY Fourtwnty mencuri perhatian penikmat musik Tanah Air sejak lagu mereka yang berjudul “Zona Nyaman” menjadi lagu tema dari film laris “Filosofi Kopi 2 : Ben & Jody” (2017). Dengan mengandalkan musik santai dengan lirik yang menggelitik, Fourtwnty mengajak pendengarnya untuk melonggarkan pikiran dan mengamati hari dengan apa adanya.

2018

ditemani ukulele untuk mengiringi proses bertuturnya.

PUSAKATA Mohammad Istiqomah Djamad atau lebih akrab disapa Is telah kembali ke blantika musik Indonesia dengan bendera Pusakata. Nama ‘Pusakata’ yang dipilihnya merupakan pemberian dari anak pertama Is untuk adiknya yang ketika itu belum lahir, dan setelah diselidiki ternyata juga memiliki makna “harta karun milik Anda” dalam bahasa Bugis.

REDA Reda Gaudiamo adalah separuh dari AriReda, duo musikalisasi puisi yang banyak bersemayam di dalam memori hangat para penikmat musik Indonesia. Kini, Reda tampil dengan format baru, dan kali ini dia akan turut andil dalam memainkan instrumen.

GARDIKA GIGIH

SANDRAYATI FAY

Gardika Gigih adalah seorang komponis dan pianis asal Yogyakarta yang dikenal dengan gubahan-gubahannya yang melankolis. Album perdananya, Nyala, telah rilis 2017 silam melalui proses rekam secara live di sebuah ruang seminar di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Baginya cara seperti ini adalah jalan yang paling pas untuk menangkap energi asli dari komposisi musiknya yang sinematik.

TIGAPAGI

GERALD SITUMORANG Gerald Situmorang telah berkawan akrab dengan gitar sejak dirinya masih 13 tahun. Mengawali karir bermusiknya sebagai duo akustik instrumental Sketsa, seiring berjalannya waktu Gerald makin banyak terlibat di berbagai proyek musik antara lain Gerald Situmorang Trio, Hemiola Quartet, Monita Tahalea and The Nightingales, Barasuara, hingga tampil dalam format solo seperti di FMF 2018 ini.

JASON RANTI Bermodalkan gitar bolong, harmonika, dan sejumlah keresahan, Jason Ranti hadir dengan nomor-nomor slebor nan menggelitik tanpa didasari niatan menjadi komedik. Melalui nada-nada yang terkesan melompat-lompat seperti sedang meracau, pria Tangerang yang akrab disapa Jeje ini siap mengobrak-abrik ketenangan pemikiran pendengarnya.

MONDO GASCARO Mondo Gascaro dikenal dengan komposisi musiknya yang kaya akan detail. Album solo perdananya, Rajakelana, menjadi bukti bahwa Mondo adalah seorang virtuoso dalam hal meracik lapis demi lapis instrumen yang ramai menjadi sesuatu yang nikmat didengar.

MONITA TAHALEA Wanita bersuara teduh itu bernama Monita Tahalea. Musik yang dihadirkannya bersinonim dengan kata ‘damai’, dengan komposisi yang ringan namun berbobot. Album keduanya, “Dandelion”, semakin mengukuhkan pergerakan Monita yang tampaknya akan terus meniupkan angin sejuk bagi dunia musik Indonesia.

Singer-songwriter berdarah Filipina/Irlandia-Amerika yang lahir dan besar di Jawa-Bali ini baru saja merilis EP perdananya yang berjudul Bahasa Hati, sebundel karya yang direkam secara live nyaris dalam 1 hari saja di Rumah Topeng, Bali. Lagu-lagunya banyak berbicara mengenai alam, kemanusiaan, identitas, dan cinta.

Trio asal Bandung yang terdiri dari Sigit Pramudita, Eko Oktavianto, dan Prima Febrianto ini identik dengan nomor-nomor sendu dengan suntikan irama pentatonis Sunda yang kental. Bahkan petikan gitar yang ada terasa bagai kecapi, semakin mengukuhkan nuansa bumi Pasundan pada lagu-lagu mereka.

WAKE UP IRIS! Wake Up Iris! adalah Bie Paksi dan Vania Marisca, duo folk dari kota Malang yang selalu meriah di tiap aksi panggungnya, walau hanya berdua saja (Bie pada gitar, vokal, dan kick drum, Vania pada violin dan vokal). Musik mereka akan mengingatkan kita pada musik tradisional Irlandia, atau momen-momen menyenangkan saat berkumpul dan bercanda bersama orang-orang yang kita sayangi.

WHITE SHOES AND THE COUPLES COMPANY Musik WSATCC banyak terinspirasi dari soundtrack film layar lebar Indonesia era 1940an hingga 1970an, irama disko retro, dan karya-karya komposer ternama Indonesia seperti Ismail Marzuki, Guruh Soekarno Putra, dan Fariz RM. Karya-karya WSATCC adalah surat cinta malu-malu kucing bagi Indonesia : tanpa meneriakkan nasionalisme secara literal, WSATCC mengajak kita bertamasya ria menikmati keelokan Nusantara di album Vakansi, sementara di White Shoes and the Couples Company Menyanyikan Lagu-lagu Daerah pendengar dibawa untuk kembali mengakrabi lagu-lagu daerah Indonesia dalam sentuhan khas muda-mudi Cikini ini.

POHON TUA Pohon Tua adalah proyek solo Dadang Pranoto, gitaris band grunge Navicula dan vokalis/gitaris band folk Dialog Dini Hari. Dalam bermusik di bawah bendera Pohon Tua, Dadang mengambil jalur minimalis dengan hanya

9


Folk Music Festival

Newsletter

2018

Pulang Aleyo. 1

1

Oleh: Fuad Abdulgani

Salah satu citra yang melekat dengan orang Ambon

kreol.Orang Ambon percaya bahwa mereka, yakni

mungkinkan munculnya suatu bahasa untuk digunakan

adalah kepiawaian mereka dalam bermain musik. Ada

penduduk `asli` yang menghuni pulau Ambon, Saparua,

dalam pergaulan lintas-etnis sehari-sehari; suatu `bahasa

banyak sekali musisi di jagat musik nasional yang berasal

Nusa Laut, dan Haruku—atau disebut wilayah Am-

bersama` yang bisa menjembatani perbedaan bahasa

dari tanah Ambon. Sebut diantaranya, Glenn Fredly, Bob

bon-Lease, berasal dari satu nenek moyang yang sama

asal. Penduduk dari berbagai etnis dan bahasa tersebut

Tutupoly, Jopie Latul, Ruth Sahanaya dan masih banyak

yang berasal dari gunung Nunusaku di pedalaman pulau

kemungkinan menggunakan bahasa Melayu—yang me-

lagi. Selain orangnya, lagu-lagu daerah dari Ambon

Seram bagian barat. Dari gunung keramat inilah moyang

mang umum digunakan sebagai bahasa pasar—dalam

juga banyak dikenang dalam ingatan orang Indonesia.

orang Ambon beranak-pinak dan menyebar lalu mukim

bentuknya yang sudah terreduksi sebagai sarana komu-

Sebut lagu, seperti, Rasa Sayange, Ayo Mama, dan

di kampung-kampung yang tersebar di Ambon-Lease.

niksi. Bahasa tersebut kemudian berkembang menjadi

Sarinande—lagu-lagu yang kita kenal sebagai “lagu

Penduduk Ambon-Lease bertutur dalam bahasa lokal

bahasa ibu bagi generasi selanjutnya, terus berulang,

daerah”. Dalam bidang kajian folklor, lagu-lagu demikian

yang disebut “bahasa tanah”—tentu bahasa ini berbeda

hingga mencapai bentuk bahasa yang lengkap. Bahasa

dikategorikan sebagai lagu rakyat (folksong). Satu tema

dengan bahasa Melayu Ambon. Bahasa tanah kini

inilah yang kemudian dikenal sebagai bahasa Melayu

yang kerap muncul dalam berbagai lagu rakyat Ambon

digunakan terbatas pada momen upacara dan lagu

Ambon. Dalam riwayatnya, penyebaran agama Kristen

yakni kerinduan pada kampung halaman atau keinginan

tradisional saja.

dan meluasnya kesempatan memasuki pendidikan seku-

untuk pulang ke Ambon, perasaan berat hidup di negeri

Bahasa kreol hanya mungkin untuk muncul dalam kondi-

ler (modern) turut berperan dalam mengukuhkan bahasa

orang, juga rindu pada ibu dan kerabat. Pendek kata,

si-kondisi kemasyarakatan tertentu. Menurut Tahitu, ba-

Melayu Ambon untuk menggantikan bahasa tanah dalam

tema “migrasi”.

hasa kreol Melayu Ambon berkembang di pusat perko-

percakapan sehari-hari orang Ambon.

taan tempat orang-orang dari berbagai latar belakang Mendengar nyanyian seperti itu, benak saya

linguistik bertemu dan bermukim. Lantas, kondisi apa

Riwayat migrasi orang Ambon

bertanya-tanya, adakah orang Ambon memiliki pengala-

yang memungkinkan adanya penduduk berbagai daerah,

Satu kondisi yang mendorong orang Ambon untuk ber-

man bermigrasi? Seperti apa pengalaman migrasi mere-

etnis dan bahasa di kota Ambon?

migrasi yakni terkait kesempatan kerja. Di jaman prakolo-

ka? Kondisi-kondisi apa yang mendorong orang Ambon

Ambon adalah kota kolonial pertama di Asia Tenggara;

nial, orang Ambon adalah salah satu diantara masyarakat

bermigrasi? Atas dasar konteks sosial-historis seperti apa

daerah pertama di Nusantara yang dikontrol Belanda

pribumi kepulauan yang direkrut VOC sebagai serdadu

ungkapan-ungkapan kerinduan pada kampung halaman

sejak paro pertama abad 17 . Pada masa itu, kota Am-

(sebagai perusahaan, VOC dibolehkan untuk memiliki

itu diekspresikan oleh orang Ambon? Untuk memenuhi

bon juga termasuk salah satu kota pemasok budak untuk

angkatan bersenjata sendiri). Mereka pergi sebagai kaum

rasa penasaran ini saya mencari berbagai literatur

kawasan Asia Tenggara, di samping Malaka, pantai barat

migran ke Batavia, tempat kantor pusat VOC berada. Se-

tentang orang Ambon; guna mencari tahu, khususnya,

Sumatera, Jambi, Palembang, Banten, Batavia, pantai

lain orang Maluku, VOC juga mendatangkan orang Bugis

riwayat bermigrasi mereka.

utara Jawa, Makassar, dan Banda . Salah satu bukti yang

dan orang Bali. Tiap komunitas diberi sepetak wilayah

Dari sini, saya mengajukan jawaban bahwa lagu-lagu

menunjukkan Ambon sebagai kota pasar budak ada-

untuk bermukim yang masing-masing dipimpin orang

Ambon dengan tema “migrasi” itu muncul sebagai

lah data statistik total populasi budak di kantor-kantor

VOC dengan pangkat militer. Orang Ambon diberi tanah

ekspresi atas pengalaman migrasi mereka dalam konteks

dagang Belanda di perairan Hindia pada akhir abad 17.

di perbatasan timur dengan Krawang. Tiap pemukiman

babak sejarah pada masa kolonial akhir hingga periode

Diketahui bahwa tahun 1694, dari total populasi 5487

mesti mampu menopang hidup mereka sendiri dan siap

awal diakuinya kemerdekaan Indonesia oleh Belanda. Hal

penduduk di kota Ambon, 52,31% atau 2870 pen-

dimobilisasi untuk perang. Tahun 1773 tercatat ada 17

ini khususnya berkenaan dengan migrasi ribuan orang

duduknya adalah budak .

kampung yang dipimpin “opsir bumiputera”. Kampung

3

4

5

Ambon yang bertugas sebagai serdadu KNIL ke negeri

dinamakan sesuai latar belakang etnis: dua kampung

Belanda.

Budak-budak tersebut berasal dari beragam tempat dan

Jawa, lima kampung Bali, tiga kampung Bugis, satu

etnis di Asia Tenggara. Diperkirakan ada banyak budak

Makassar, satu Melayu, dan satu kampung Ambon .

Ambon masa prakolonial dan munculnya bahasa Melayu-Ambon

dari India dalam paro pertama abad 17 ketika VOC be-

Dalam catatan Vink diketahui pula kalau orang Ambon

lum begitu berpengaruh dalam jaringan niaga budak di

didatangkan ke Batavia sebagai budak. Seperti, antara

Satu petunjuk untuk mencari tahu konteks sosio-historis

Asia Tenggara. Kebanyakan budak berasal dari Sulawesi

tahun 1653 sampai 1682, penguasa Asia membawa

lagu-lagu rakyat Ambon yakni bahasa yang digunakan

Selatan dan Nusa Tenggara. Orang Makassar-Bugis dan

tidak kurang dari 10.000 budak ke Batavia. Budak-budak

dalam lagu-lagu tersebut: bahasa Melayu Ambon. Baha-

Bali terkenal sebagai pemilik budak karena kemampuan

tersebut sejumlah 41,66% (4086) datang dari Sulawesi

sa Melayu merupakan variasi linguistik yang luas mencak-

ekonomi mereka. Namun diantara budak-budak tersebut

Selatan, 23,98% (2352) dari Bali, 12,07% (1184) dari Bu-

up variasi standar dengan perbedaan

6 amat jarang budak yang berasal dari wilayah Ambon

ton, 6,92% (679) dari kepualauan Tenggara, dan 6,79%

stuktural (yakni antara Indonesia dan Malaysia), dialek,

sendiri . Tidak heran jika Knaap menyimpulkan kota

(646) dari Maluku (Ambon dan Banda) .

dan rantai dialek (seperti di sepanjang pantai barat Su-

7

Ambon pada abad 17 adalah kota yang penuh dengan

Pada masa kolonial, migrasi orang Ambon ke penjuru

matera, wilayah pesisir Borneo, dan semenanjung

kaum migran.

Nusantara terkait dengan perekrutan mereka sebagai

Malaysia), serta beberapa jumlah dari variasi pidgin (seperti bahasa Melayu Pasar) dan ‘kreol’ . Secara linguistik, bahasa Melayu Ambon digolongkan sebagai bahasa

10

2

8

9

anggota KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger), Banyaknya kaum migran multi-etnis dan bahasa dalam

tentara pemerintahan koloni Hindia-Belanda. Menurut

masyarakat kota Ambon jaman prakolonial me-

Cribb & Kahin, ambil bagian sebagai tentara kolonial


Folk Music Festival

Newsletter

2018

merupakan salah satu dari sedikit kesempatan kerja yang

kerabat terasa sangat relevan.

mata tumpa/Kalau kami bersama-sama pulang ke tanah

tersedia untuk orang Ambon. Di dalam tubuh KNIL,

Menyanyikan rindu pada kampung halaman

air kucinta/La la la la la la /La la la la la la la la la la

10 kategori orang Ambon atau Ambonezen mencakup pula

(Air Mata Tumpa)

orang-orang Minahasa dan Timor . Mereka ditugaskan

Beta berlayar jauh/Jauh dari Ambon… e/Sioh jauh di

ke sepenjuru kepulauan terutama di bagian barat (Jawa,

tanah orang/Beta menyesal… e/Mengapa beta mau/

Lagu ini dibawakan oleh grup Massada dalam album

Sumatera).

Buang diri begini/Jauh dari pangkuan mama/Sungguh

Pukul Tifa. Massada adalah grup musik yang ber-

asing lawang… e/Laapa tempo beta pulang ke Ambon…

anggotakan orang Ambon yang mukim di Belanda.

KNIL dibentuk oleh Gubernur Jenderal Johannes van

e/Lautan lebar gunung tapele/Mari mama gendong

Kemungkinan anggotanya berasal dari generasi kedua

den Bosch tahun 1830. Tujuannya agar pemerintah kolo-

beta/La bawa pulang dolo… e/Ke tanah yang kucinta

migran Ambon. Generasi ini masih lekat dengan

nial punya pasukan militer sendiri. Pada 1861, komposisi

Ambon manis… e

pengalaman dikapalkan ke Belanda yang dialami

pasukan KNIL yakni 46% orang Eropa dan 54% orang

(Beta berlayar)

orangtua mereka, menanti kepastian untuk pulang ke

Pribumi. Orang Eropa terdiri diantaranya dari Belanda,

Ambon, tapi urung terlaksana.

Jerman, dan sejumlah orang Afrika yang kemudian dise-

Lagu ini menyatakan penyesalan orang yang pergi dari

but blanda hitam. Orang Pribumi terdiri dari orang Jawa,

tanah airnya. Ia menyatakan perasaannya yang terasing

Lagu Air Mata Tumpa (air mata tumpah) di atas menya-

yang memiliki presentase terbesar, serta orang Ambon

saat hidup di tanah orang. Asing dalam lingkungan fisik

takan bahwa subjek yang bernyanyi berada di negeri

dan Minahasa. Tahun 1936, sekurangnya ada 4000 orang

dan sosial yang bukan tempat dimana ia lahir dan dibe-

orang dan ia tidak tahu apakah akan kembali ke tanah

Ambon dan 13.000 orang Jawa di tubuh KNIL .

sarkan. Perasaan asing, penyesalan, membawa subjek

airnya atau tidak. Lagu ini seperti dinyanyikan dari gen-

KNIL melakukan penaklukan negara-negara pribumi di

pada keinginan untuk pulang ke Ambon.

erasi yang lebih tua dan ditujukan pada generasi selanjut

pulau-pulau luar Jawa pada abad 19 dan awal abad 20.

Imigran Maluku yang tiba di Belanda tahun 1951 datang

nya, tentang perasaan rindu tanah air dan keinginan

Pasukan KNIL terutama dioperasikan di Jawa, Aceh, dan

dalam keadaan serba terbatas. Mereka membawa sedikit

untuk pulang. Hal itu bisa kita lihat dari lirik sudah terlalu

Sumatera Utara. Dalam misi menghancurkan Republik

koper sebab berpikir tak lama akan pulang kembali ke

lama di sini. Syair ini menyatakan keinginan agar

Indonesia yang baru berdiri, tahun 1948, komposisi KNIL

Ambon. Setelah berlayar selama satu bulan, setibanya

terdiri dari 15.500 orang Eropa dan 50.500 pribumi. KNIL

di Rotterdam mereka disambut musim dingin dengan

generasi tua maupun muda mengakhiri hidup di tanah orang dan bersama-sama pulang ke tanah air.

bubar 26 Juli 1950 setelah kerajaan Belanda mengakui

panorama reruntuhan bangunan pasca Perang Dunia 2.

kedaulatan Republik Indonesia. Sebagian anggota KNIL

15 Mayoritas dari mereka adalah tentara rendah di KNIL dan

dipindahkan menjadi anggota KL (Koninklijke Landmacht

beragama Kristen .

11

12

atau Angkatan Darat Belanda), anggota APRIS (Angkatan

1

Diambil dari judul lagu yang dibawakan Trio Aleyo dan Kapanya. Lagu ini bercerita tentang seruan untuk pulang ke Ambon. Album Trio Aleyo dan Kapanya diunduh dari www.madrotter-treasure-hunt.blogspot. com.

2

Tahitu, 1988: 267. Siegel menjelaskan bahwa kemunculan bahasa kreol didahului oleh ‘jargon’ atau ‘pra-pidgin’ yang penggunaannya masih terbatas dalam kelompok. Ketika kelompok-kelompok pengguna bahasa itu terus berkontak sampai menjadi lingua franca jadilah bahasa pidgin. Ketika orang-orang dalam komunitas multi-bahasa menggunakan bahasa pidgin dalam komunikasi sehari-hari, dan sebagian menjadikannya bahasa utama yang juga digunakan kepada anaknya, lalu generasi berikut tersebut menjadikannya bahasa ibu dan kemudian bahasa komunitas, dalam tahap ini bahasa itu telah menjadi bahasa kreol. Lihat Siegel, 2008: 1-3.

3

Knaap, 1991: 105; Manuhutu, 1991: 497.

Tahun 1954 bursa kerja untuk para imigran dibuka. Bursa

4

Vink, 2003: 147.

kerja ini dibuka atas keyakinan bahwa imigran Maluku

5

Vink, 2003: 148.

tidak mungkin kembali lagi ke tanah airnya. Kebanya-

6

Knaap, Kruidnagelen, hal. 128-133 dalam Knaap, 1991: 123.

7

Knaap, 1991.

Perang Republik Indonesia Serikat) atau didemobilisasi .

Generasi pertama imigran Maluku tinggal di bang-

Pasukan yang didemobilisasi berhak memilih dibebas-tu-

sal-bangsal bekas kamp konsentrasi NAZI. Kondisi

gaskan di tempat yang mereka pilih. Dalam kurun waktu

bangsal ini memprihatinkan. Hawanya lembab, fasilitas

tersebut beberapa tokoh Ambon mendeklarasikan RMS

listrik sering bermasalah, bangsal dikelilingi padang

(Republik Maluku Serikat) yang ingin merdeka terlepas

ilalang dan hutan. Jarak ke ibukota provinsi lebih dari 30

dari negara Indonesia. Tentara KNIL asal Ambon seba-

16 km. Mereka hidup sepenuhnya mengandalkan bantuan

gian besar bersimpati pada gerakan RMS ini. Mereka

pemerintah Belanda .

memilih pulang ke Ambon untuk bergabung dengan RMS. Namun pemerintah Indonesia tidak mengijinkan. Akhirnya, secara sepihak, pemerintah Belanda memutus13

kan untuk merepatriasi mereka, bersama keluarganya ke negeri Belanda untuk demobilisasi . Tahun 1951, sekitar

kan dari mereka bekerja sebagai buruh tak berkeahlian

8

www.goenawanmohamad.com/tag/batavia/feed/, diakses 25 Juni 2014.

4000 tentara KNIL, dengan total sekitar 12.500 orang

14

yang bekerja di pabrik dan pelabuhan. Untuk membantu

beserta keluarga mereka dikirim ke Belanda .

17 keuangan rumah tangga, perempuan bekerja di kawasan

9

Vink, 2003: 143-144.

Awalnya, keluarga-keluarga ini ditempatkan sementara

pertanian untuk membantu panen buah atau sayuran.

10

saja dengan maksud setelah ada kesepakatan antara

Sejak saat ini status mereka pun purna sebagai kaum

Cribb & Kahin, 2012: 15. Cribb, Robert & Audrey Kahin. 2012. Kamus Sejarah Indonesia. Depok: Komunitas Bambu.

11

pemerintah Belanda dan Indonesia, mereka akan dipu-

migran di Belanda.

Cribb & Kahin, 2012: 250-251.

12

Cribb & Kahin, 2012: 251.

langkan kembali ke Ambon. Namun hal ini tak kunjung

13

Cribb & Kahin, 2012: 251; Marselis, 2011: 50.

terlaksana hingga akhirnya mereka menetap di Belanda

Sio air mata tumpa/Kalau kami bersama-sama ingat

14

Kadir, 2012: 28.

sebagai satu komunitas migran. Pada konteks inilah lagu-

tanah airku cinta/Ibuku yang kucinta/Jangan takut ditana

15

Oostindie, 2010: 27 dalam Kadir, 2012: 29.

lagu Ambon bertema kerinduan pada kampung hala-

aii/sinanti anak bawaku nange/Anak muda berdiri… e/

16

Bartels, 1989; Wittermans, 1991 dalam Kadir, 2012: 28-32.

man, keinginan untuk pulang, serta rindu pada ibu dan

Jangan lupa orang tua/Sudah terlalu lama di sini/Sio air

17

Beckmann, 2008; Wittermans and Gist, 1961 dalam Kadir, 2012: 3

11


Folk Music Festival

Newsletter

Musik India Adalah Musik Kami.

2018

Oleh: Mahfud Ikhwan

Musik (film) India tidak datang kepada kami sebagai

Di paroh akhir ‘80an, Golkar, lebih khusus lagi dari

rock Melayu meleleh ala Isabella yang melanda televisi

salah satu hidangan di meja makan, lalu kami dipersi-

sayap militernya, secara sangat mencolok, mencoba

Indonesia, para imigran ini pulang dari Malaysia dengan

lakan memilih yang mana suka. Tidak begitu. Jika di

merebut hati dan suara masyarakat di tingkat paling

membawa barang-barang elektronik, dan tentu saja

antara kalian ada yang berpikir demikian, maka kalian

bawah Indonesia dengan budaya populer yang paling

kaset-kaset lagu rock Malaysia.

sebenarnya sedang memikirkan suatu kelompok

dekat dan mewakili mereka: musik dangdut. Yang paling

masyarakat sangat kecil, sangat beruntung, yang memili-

tampak adalah penggunaan musik (dan artis) dangdut

Nun di negeri Atas Angin, pembunuhan politik atas Rajiv

ki segala macam fasilitas dan semua akses untuk memilih

di panggung-panggung kampanye Golkar. Namun, cara

Gandhi (Desember 1989), praktis menandai berakhirnya

apa yang paling mereka sukai atau apa yang paling baik

yang lebih halus dan canggih juga dipakai. Eddy Sud,

sistem ekonomi proteksionis ala Nehru, yang diperhebat

untuk mereka. Musik India, sebagaimana nyaris semua

pengurus Golkar yang bekas pelawak dan suami seorang

di masa pemerintahan Indhira Gandhi. Uang IMF masuk,

kebudayaan populer, digelontorkan langsung ke mulut

penyanyi dangdut, di waktu yang lebih awal menginisi-

pasar India terbuka untuk dunia, dan—secara teori—de-

kami lewat tangan-tangan raksasa tak kasat mata, tanpa

asi hadirnya acara musik di TVRI yang didominasi oleh

mikian juga sebaliknya. Perubahan politik dan pergeser-

memberi kami banyak pilihan.

musik dangdut, Aneka Ria Safari. Lebih belakangan, TVRI

an kebijakan ekonomi ini kemudian punya dampak bagi

punya acara musik populer Album Minggu Kita, yang

perubahan dan perkembangan kebudayaan populer di

Ya, dalam beberapa kasus, tidak semua yang disorong-

lagi-lagi didominasi oleh lagu-lagu dangdut. Di jam lain,

India.

kan itu bisa tertelan. Tapi, siapa yang bisa memuntahkan

seingat saya Rabu sore, korp tentara punya acara musik

kembali budaya pop selezat musik India? Kecuali

bertajuk Kamera Ria, yang sajian utamanya juga dang-

Seperti dijelaskan oleh Jayson Beaster-Jones dalam

mungkin bocah-bocah snob di kota.

dut. Di luar acara musik, Moerdiono, Menteri Sekretaris

Bollywood Sound (2015), keterbukaan ekonomi India

Selama berdeka-dekade, masyarakat pantura Jawa, saya

Negara, bekas tentara, sekaligus salah satu orang dekat

segera diikuti oleh beroperasinya STAR, jaringan televisi

bayangkan setidaknya dari Indramayu sampai Pasuruan,

Soeharto, ditampilkan sebagai pejabat yang menyukai

satelit milik Rupert Murdoch, yang kemudian merintis

bersentuhan secara intim dengan kebudayaan populer

dangdut. Jika berita-berita di acara gosip bisa dipercaya,

apa yang sebelumnya tak pernah terjadi di India: industri

India. Bapak saya sering bercerita bahwa di saat muda

Moerdiono juga banyak dibicarakan karena hubungan

siaran televisi. STAR, yang kemudian disusul jaringan-

nya, ia biasa ke bioskop di kecamatan untuk menonton

nya dengan seorang penyanyi dangdut.

jaringan televisi internasional lain seperti CNN, MTV,

film India. Dalam satu-dua kesempatan, ia juga kedapa-

HBO, dst, membuat televisi resmi milik pemerintah,

tan memutar musik India tua di radio. Cerita-cerita di

(Pergeseran metode Golkar ini mungkin tidak berhu-

Doordarshan, yang selama berdekade-dekade menjadi

angkudes mengatakan, setidaknya sejak ‘80an, para

bungan langsung dengan apa yang ingin coba dijelaskan

satu-satunya sumber hiburan dan informasi layar kaca di

nelayan di kawasan Palang, Tuban, pada hari tertentu

esai ini. Tapi, bagi saya jelas sekali, booming dangdut di

India, memiliki pesaing.

di setiap pekannya, akan libur melaut dan berbon-

TVRI, juga di radio-radio, antara akhir ’80an hingga awal

dong-bondong ke bioskop kabupaten untuk menonton

‘90an, menjadi tanah empuk bagi tempat di mana nanti

Di India, televisi telah lama diwaspadai oleh industri film

film India. Sementara itu, seorang teman asal Pemalang

musik India mendarat.)

sebagai pesaing potensial bioskop. Menurut Mihir Bose,

bercerita bahwa nama Poonam Dhillon pernah sangat

penulis Bollywood: A History (2007), Indhira Gandhi bah-

tenar di daerahnya, meskipun ia tak kenal itu siapa dan

Sementara Golkar merebut nyaris semua suara di Pemilu

kan dengan sengaja membatasi perkembangan televisi

yang mana. Meski begitu, tampaknya, tak ada yang

dekade itu, sebagian boleh jadi berkat pengarusutamaan

demi melindungi industri film. Namun, banjirnya televisi

terpapar sedahsyat kami, anak-anak yang tumbuh di awal

dangdut, ia tetap tidak mampu menutup kebobrokan

satelit ini ternyata membawa dampak baik terselubung

‘90an, ketika uang bom minyak telah sama sekali habis

terbesar Orde Baru: ketimpangan ekonomi. Sistem

untuk industri film. Keberadaan TV satelit dan keharusan

dan kekuasaan Orde Baru mulai menunjukkan tanda-tan-

ekonomi merembes (trickle down effect) tak pernah

berhadap-hadapan dengan produk kebudayaan global,

da kerapuhannya.

benar-benar sampai ke bawah. Di daerah-daerah dengan

membuat orang film “mencoba lebih keras,” begitu jika

sumber daya minim, seperti sebagian besar wilayah di

meminjam frasa Tejaswini Ganti, dalam Producing Bolly-

Sebuah gejala lokal, yang beriring dengan perubahan di

sepanjang pantura Jawa, ketimpangan itu tak tertang-

wood (2012), baik di sisi isi maupun kemasan. TV satelit,

tingkat nasional, yang kebetulan berbarengan dengan

gungkan. Dan ketaktertangungan beban hidup ini

ternyata kemudian menjadi rumah baru, dan hidup baru,

guncangan di tataran global tampaknya turut ambil

menggiring orang-orang paling malang dan paling

bagi bagi film-film lama Bollywood. Ditayangkannya

bagian menyorongkan musik India ke mulut kami. Dan,

nekat di antaranya untuk bermigrasi ke negeri seberang.

film lama di televisi inilah yang disinyalir Bose memban-

tentu saja, kami yang kurang gizi dan kurang hiburan ini,

Malaysia, yang tengah giat membangun lewat visi Wa-

gkitkan kembali karir Amitabh Bachchan yang sempat

tak kuasa untuk menolaknya.

wasan 20-nya Mahattir, menjadi salah satu tujuan utama.

ambruk di awal ‘90an setelah memutuskan masuk ke

Beberapa tahun kemudian, bersamaan dengan bom

dunia politik.

12


Folk Music Festival

Newsletter

2018

Di sisi lain, mengutip kembali Beaster-Jones, banyaknya

lagu ratapan macam ‘Jeeta Ta Jiske Liye’ (OST Dilwale,

saling menyayangi lebih dari saudara, mereka ahlinya;

pemain baru di industri televisi membuat para produser

1992)? Sementara Pandes nyaris sendirian menyimak

tentang beratnya hidup dan pahitnya kemiskinan, mere-

kesulitan mengisi slot siaran yang mudah diterima kha-

dan berkirim kartu atensi ke acara rock kesukaannya,

ka tak ada bandingnya.

layak pemirsa India. Lagu (film) India—tentu dalam for-

saya dan banyak teman sekampung mengalami histeria

mat asalnya sebagai bagian dari film—kemudian menjadi

massal berkirim kartu atensi ke acara-acara musik India di

Betul bahwa lagu-lagu Bollywood diproduksi jauh di

pengisi acara yang meriah sekaligus murah; klip-klip lagu

radio.

balik kelambu studio-studio musik di Bombay sana,

film, yang sering bertindak sebagai iklan bagi filmnya,

dengan lirik yang sama sekali asing, dengan Indone-

bisa didapat televisi dengan harga nyaris gratis.

Kami tak mengenal bahasa Hindi. Tapi kami tak

sia tak masuk sebagai tujuan pasarnya. Bahkan, jika

Saya belum pernah menemukan bahasan soal apakah

mengalami persoalan sama sekali dengan lirik asingnya

perkiraan saya benar, boleh jadi booming film dan musik

liberalisasi di industri siaran India ini berhubungan

itu. Sampai sekarang, lagu-lagu yang paling kami cintai

India di Indonesia tahun ‘90an merupakan efek yang

dengan membanjirnya film (dan lagu) nehi-nehi ini di

tetap tidak diketahui apa arti judulnya, lebih-lebih isi

tak diperhitungkan dan tak disengaja dari liberalisasi

televisi Indonesia—Bettina David (2008) yang mencoba

liriknya. (Bahkan, orang yang memiliki kebebalan bahasa

ekonomi yang terjadi di India, yang kemudian menjadi

menelusuri hubungan musik film India dengan dangdut

macam saya, tetap tak bisa mengingat atau menyebut-

tangan-tangan tak tampak yang menyorongkan secara

menyebut-nyebut soal demam dangdut dan acara-acara

kan judul lagu-lagu India yang saya putar setiap hari.)

paksa budaya pop itu ke mulut kami sebagai komodi-

berbau India di televisi Indonesia pasca-Kuch Kuch Hota

Kami hanya... merasakannya. Tak perlu tahu apa maksud

tas. Tapi, seperti banyak sekali perjumpaan (dan cinta),

Hai, tapi ia sama sekali tak menyinggung hal ini. Tapi

liriknya, suara musik yang menderu-deru dan vokal An-

tak penting lagi dipersoalkan bagaimana hal itu terjadi,

saya menduganya ada.

uradha Paudwal yang mengiba di lagu ‘Jaane Jaa’ (OST

kecuali sebagai sebuah cerita yang menyenangkan. Dan

Anari, 1992), misalnya, jelas menceritakan derita seorang

itulah yang terjadi antara kami, anak-anak keluarga TKI di

Saat kelas dua SMA, dan sedang ada di tahap belajar

gadis yang dipisahkan dari kekasih yang dicintainya.

pantura Jawa, dengan musik India.

menyesuaikan diri dengan selera anak-anak kota, saya

Itu dari segi bahasa. Secara musikal, seperti yang telah

pernah memutar ‘Bohemian Raphsody’-nya Queen di ru-

saya singgung sebelumnya, lagu India “mendarat mulus

Saya, dan teman-teman segenerasi saya, juga genera-

mah. Emak saya marah besar, dan menghardik: “lagune

di sanubari” kami. Tentu saja kuping dangdut kami—

si-generasi lebih baru, yang mengikatkan diri dengan

wong edan!” Di waktu yang lebih awal, Najik, seorang

dan politik kebudayaan Orde Baru—berperan besar

musik India, mungkin saja tetap tak becus mengeja

bocah kaya di desa saya, sering memutar keras-keras

atas hal itu. Meski baru belakangan saya tahu bahwa

nama-nama penyanyi India yang kami puja, atau

lagu-lagu Scorpion dari rumahnya. Bocah-bocah yang

raksasa-raksasa musik Melayu macam OM Sinar Kemala

mengerti arti judul lagunya, lebih-lebih maksud keseluru-

mencuri dengar lagu-lagu itu biasanya akan menirukan-

dan OM Awara, juga beberapa lagu awal Soneta, tapi

han lagunya; saya sendiri, sampai sekarang, tetap kesu-

nya—tentu dengan pengucapan yang salah—sambil

terutama lagu-lagu karya Mansyur S., meminjam secara

litan menyusun daftar putar lagu India yang saya sukai,

tertawa-tawa, karena lirik Inggrisnya yang asing dan ter-

besar-besaran musik (film) India, kami tahu bahwa musik

karena tak pernah bisa menghapal judul-judul lagu itu.

dengar lucu. Pandes, seseorang lain yang menggilai rock

India sangat dekat dengan musik yang kami dengar

Tapi musik India, tak bisa diperdebatkan, adalah musik

‘80an macam Metalica dan Halloween, dikenal karena

sehari-hari.

kami. Saya tegaskan: musik yang diciptakan untuk kami.

dengan nama-nama band rock yang berleter rumit dan

Di luar musik, nyaris semua hal tampaknya dipersiapkan

Musik India sama asyiknya dengan musik dangdut, meski

sangar itu. Ia boleh jadi dianggap pemula bagi “seni”

untuk mempertemukan kami dengan musik India. Lagu-

yang kedua bisa lebih dimengerti lirik dan maksudnya.

grafiti kecil-kecilan di kampung kami, tapi seingat saya

lagu itu seperti diciptakan untuk kami. Secara de facto,

Ia terasa akrab, tak berbeda dengan lagu-lagu Rhoma

selera musiknya tetap terlalu nyentrik untuk diikuti.

akibat menghebatnya gelombang migrasi (baca: TKI-sasi)

Irama. Ia menyertai kami tumbuh, sebagaimana musik

Hal yang sama sekali berbeda terjadi ketika lagu India

di kawasan pantura Jawa, kami adalah para bocah bro-

kasidah dan lagu-lagu pop ciptaan Obbie Messakh dan

menggema dari rumah ke rumah di desa kami, baik lewat

ken home, dengan anggota keluarga yang tidak lengkap.

Pance Pondaag. Untuk beberapa alasan, ia lebih dekat

siaran radio maupun dari kaset-kaset. Saya tak pernah

Sebagian dari kami terpisah dari bapak, emak, saudara,

dengan kami dibanding dengan sebagian besar dari apa

mendapat hardikan dari emak ketika memutar lagu India,

teman, kekasih, atau semuanya sekaligus. Dan yang per-

yang selama ini kita sebut sebagai musik Indonesia.

meskipun ia juga tak pernah menunjukkan kesukaan-

lu lebih digarisbawahi: kami miskin. Untuk bocah-bocah

nya. Bocah-bocah menirukan suara Kumar Sanu atau

yatim, tak lengkap, dan miskin macam kami ini, lagu (dan

Alka Yagnik dengan pengucapan lirik yang kacau balau,

film) India nyaris memberi semua: tentang dua kekasih

tapi mereka sama sekali tidak tertawa—bagaimana bisa

yang terpisah, mereka gudangnya; ratapan seorang anak

mereka tertawa, sementara yang mereka tirukan adalah

kepada ibunya, mereka jagonya; kisah dua sahabat yang

suka menggambari tembok-tembok di sekitar rumahnya

13


Folk Music Festival

Newsletter

Surabaya: Djiwa Manis Indoeng Disajang

2018

Sebuah pengantar untuk buku “The Komedie Stamboel: Popular Theater in Colonial Indonesia (1891 – 1903)” dan “Djiwa Manis Indoeng Disajang: Moesik dan Tempat Hiboeran di Indonesia Tempo Doeloe akhir abad 19 hingga 1945”.

Oleh: Anitha Silvia

Surabaya was also a ramai theater city, a center for komedi, amusement, and leisure. There were a skating rinks, merry-go-rounds, brass bands, and entertainments in public places that appealed to all language and ethnic groups.

kita mudah untuk menikmati buku Djiwa Manis Indoeng

kalimat dan terbebas dari kata-kata “jiwa manis” dan

Disajang karya Haryadi Suadi yang diterbitkan tahun

sebagainya. Kusbini dengan lagu “Kewajiban Manusia”

2017. Menyaksikan pergerakan Surabaya melalui dua

diperdengarkan pertama kalinya lewat NIROM Surabaya

buku ini adalah suatu keheranan.

pada 1936 dan mendapat sambutan luar biasa. Abdullah

Djiwa Manis Indoeng Disajang adalah buah karya

nya keroncong” yang diedarkan dalam format piringan

– Matthew Isaac Cohen

Haryadi Suadi yang dipersembahkan untuk almarhumah

hitam oleh HMV.

mencipta lagu keroncong modern, “dari mana datang-

ibunda Emah Suadi, penggemar musik pop tempo doeCohen menggambarkan dengan baik Surabaya di akhir

loe yang telah mengilhami penulisan buku ini. Haryadi

Tatkala dia (Abdullah) harus meninggalkan kota Suraba-

abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Sebagai kota kela-

bertahun-tahun dengan tekun membuat kliping me-

ya yang dicintainya, dia sempat mengubah sebuah lagu

hiran The Komedie Stamboel, Surabaya menjadi pusat

ngenai keroncong dengan rentang waktu akhir abad 19

yang berjudul “Selamat Tinggal Surabaya”. Lagu itu sen-

pertumbuhan seni pertunjukan (modern) seperti tonil,

hingga 1945. Buku ini turut memperkaya pengetahuan

gaja diciptakannya sebagai ungkapan rasa sedih ketika

keroncong, sandiwara radio, dan film.

mengenai musik di Surabaya karena kota ini menjadi

dia harus meninggalkan kota yang telah dia huni selama

pusat pertumbuhan musik keroncong. Meskipun seorang

belasan tahun. Tentang betapa besar cintanya terhadap

The Komedie Stamboel –founded in Surabaya in 1891--

kenalan yang saya ceritakan tentang buku ini protes

kota Surabaya, sekali lagi Abdullah menciptakan lirik-lirik

was consideres naïve, sentimental, and populist by

karena tidak mencantumkan Cak Durasim.

yang menyanjung kota ini lewat lagunya berjudul “Bin-

cultural elites in its time and after, but stambul was argu-

tang Soerabaja” pada tahun 1938.5

ably the most important form of commercial culture until

Stambul had a significant role in shaping what Hildred

the arrival of film and the radio. The Komedie Stamboel

Geertz long ago described as Indonesia’s “metropolitan

Surabaya satu kota sangat besarnya

was the first theater that did not specialize in a defined

superculture”, an “integrating system” connecting cities

Penduduknya terdiri dari segala bangsa

dramatic repertoire but mined plays and stories from

and towns into a single network. A popular music sensa-

Pusat dagang paling penting di pulau Jawa

all over the world. Many other firsts can, and shall, be

tion such as the dangdut singer-dancer Inul Daratista can

Tempat mana si kaum buruh cari nafkahnya

enumerated. Komedi stambul began as a derivative of

ignite the passions of audiences around Indonesia. All

imported komedi culture, but as with so many things

speak to the integration of Indonesians in a shared struc-

Abdullah bersimpati dengan perjuangan kemerdekaan

entering Asia from Europe, it was “locally articulated” as

ture of feeling. Komedie Stamboel played in forming

melalui lagunya “Merdika Wals” dan “Berani karena

a self-mobilization or cultural movement “and absorbed

these localized popular traditions performed in regional

Benar”, kemudian Abdullah menjadi anggota Persatuan

into the very fabric of local affairs—causing wider ramifi-

dialects and languages. Kroncong singers are certain to

Arab Indonesia dan mencipta lagu “Mars PAI”.

cations of1 change.”

know stambul as a form of song, and the more experi-

Diverse audiences (of the Komedie Stamboel) attend-

6

enced singers are likely to know that these songs were

Huub de Jonge mengisahkan dalam pengantar buku

once associated with a genre of theater, now long gone.

“Fatimah: A Play by Hoesin Bafagih”, Abdullah--yang

ed—drunken European man, middle-income Muslim

adalah seorang peranakan Hadramaut--tampil di tonil

families, Chinese store owners, prostitutes, sailors and

Sama seperti stambul, keroncong langsung meraih hati

Fatimah di Solo dengan membawakan lagu irama keron-

soldiers, Eurasian desk, and nearly everyone else. Those

rakyat karena lirik Melayu dan lagu-lagunya bersifat

cong yang digubah berdasarkan narasi Fatimah. Tonil

who could not afford the price of a ticket might listen

sentimental. Jika kita menyimak bentuk lirik lagu-lagu

yang dirancang oleh jurnalis Hoesin Bafagih ini mer-

outside the tent or try to sneak in.2

yang berasal dari daerah Kepulauan Timor dan lagu-

upakan persembahan Persatuan Arab Indonesia untuk

lagu Melayu lama, ternyata ada beberapa kesamaannya

mendukung kemerdekaan Indonesia. Karya Abdullah

Stambul theater was integrated into the rhythms of

dengan lirik keroncong asli. Kesamaannya terletak dalam

pun masih relevan untuk disaksikan sekarang.

everyday life; it was an involving site of lively (rame)

penggunaan pantun atau syair/prosa liris, pengulangan

amusement and distraction realized in counterpoint to

kalimat, tambahan kata lah dan kata sisipan semacam

Terkenal juga ada paling padat

the city’s stores, post offices, and like sites associated by

nona, ya mama, jiwa manis, dan indunglah disajang.4

Jalan besar rumah baru bertingkat-tingkat

many with the drudgery of urban life.

Kalu ingat b’rapa tahun yang telah lewat

3

Buku The Komedie Stamboel: Popular Theater in Colo-

Haryadi menobatkan Kusbini dan Abdullah sebagai

nial Indonesia (1891 – 1903) karya Matthew Isaac Cohen

pelopor keroncong modern. Mereka menyusun liriknya

yang terbit tahun 2006 memberikan pengetahuan yang

dengan teratur, antara bentuk melodi dan lirik sudah

mendasar dan dalam tentang perkembangan industri

direncanakan sebelumnya agar benar-benar selaras.

musik di Indonesia (dan Surabaya pastinya), membuat

Maka di dalam lirik tidak perlu pengulangan kata dan

14

Surabaya punya p’robahan bisa terlihat


Folk Music Festival

Newsletter

Rekomendasi Musik

2018

Tahun ini program audisi penampil Gang of Folk kembali hadir di Folk Music Festival. Program kolaborasi dengan Siasat Partikelir tersebut mengumpulkan talenta-talenta baru dari berbagai penjuru Nusantara. Memberikan kita kesempatan untuk dapat mendengarkan nada-nada dari pulau seberang.

Oleh: Noverdy Putra

https://soundcloud.com/user-936066585 https://soundcloud.com/rimaumanmusic/diroad-pilumu-cinde

DIROAD (Palembang) Memisahkan pempek dan Palembang adalah sebuah kemustahilan. Begitu juga halnya dengan kolektif musik bertitel melayu yang kembali hadir dari tanah Sriwijaya. Masih dari label Rimauman Music yang diasuh Rian Pelor, kelompok DIROAD mencuat pertama kali melalui album kompilasi gerakan sosial “Stand with Cinde”. Dalam lagu “Pilumu Cinde”, Riyan Koeswara, Hendy Hidayat, Indah Rizky Heryana dan Hafiz Riswandi membalut musik mereka dengan nafas melayu yang kental, lengkap dengan penggunaan bahasa Besemah, bahasa tradisional Palembang. Jika bahasa yang digunakan DIROAD cukup asing terdengar bagi kita, coba saja dengarkan lamat-lamat kepiluan yang mereka sampaikan seperti dekat dan lekat. DIROAD seperti kejutan kuah pempek, manis diawal, tercekat cuka diakhir.

https://soundcloud.com/sepertigamalam_music

SEPERTIGAMALAM (Pontianak) Pontianak kembali mengirim perwakilan di Folk Music Festival melalui audisi Gang of Folk. Tahun 2018 giliran Sepertimalam, proyek solo pria pemalu paruh baya, Ferdy Ardian menjadi bukti selalu ada wakil kesejukan dari kota bersuhu panas ¬melekang ini. Dengan iringan gemericik suara air dan bambu, Sepertigamalam meracik instrumental manis nan optimis bersama gitarlele-nya. Seketika ingatan terlempar pada hamparan “Pasir Laut & Ombak”, salah satu judul lagu miliknya. Sepertigamalam memberikan kita kesempatan untuk melupakan kebisingan deru mesin, sahut-sahutan klakson, dan carut marut kota yang tak berkesudahan.

https://soundcloud.com/holaspica

HOLASPICA (Bandar Lampung) Jika anda pernah menyusuri jalur darat lintas Sumatera, maka acapkali Lampung kerap terlewatkan dari perhatian. Jalan lebar berisi truk-truk besar pemarah dan bus-bus lebar antar kota antar propinsi menjadikan kita ingin cepat-cepat saja melewati jalur tersebut. Namun jika kita coba berhenti sejenak dan berkenalan dengan kota Bandar Lampung, bukan tidak mungkin kita akan menemukan kedai-kedai kopi yang sedang tumbuh, mencicipi kopi robusta Lampung terbaik. Begitu pula halnya dengan menemukan Holaspica. Sebuah proyek solo pemudi asal Bandar Lampung, Virdyas Eka Diputri. Petikan gitar dan rangkaian kata berbau prosa yang ia tampilkan membawa pada suasana berbeda. Jika pada “Naik Ke Laut” ia gelisah tak karuan, pada single lainnya “Dying Sky” Ho1

Matthew Isaac Cohen. The Komedie Stamboel: Popular Theater in Colonial Indonesia. 2006. Center for International Studies Ohio University. Hlm. 21.

2

Ibid. Hlm 1.

3

bid. Hlm 2.

4

Haryadi Suadi. Djiwa Manis Indoeng Disajang: Moesik dan Tempat Hiboeran di Indonesia Tempo Doeloe akhir abad 19 hingga 1945. 2017. Jakarta: Pustaka Jaya. Hlm. 84

5

Ibid. Hlm. 278

6

Ibid. Hlm. 282

laspica terdengar bak sahabat terbaik yang telah berdamai dengan hidup. Holaspica adalah harapan diantara debur ombak pantai pesisir dan penawar diantara lenguhan truk-truk jalur lintas Sumatera.

https://soundcloud.com/ariefs_pramono

ARIEF S. PRAMONO (Parepare) Dari kota Parepare, Sulawesi Selatan, Arief S. Pramono akan mengajak kita dengan tembang-tembang folk balada yang ia bawakan. Mendengarkan suaranya seketika meluluhkan hati, melambungkan pandangan akan kota kelahirannya di timur sana menjadi dekat. Arief S. Pramono adalah nada dari timur jauh yang datang menghampiri kita di Folk Music Festival. Sebuah kesempatan yang tak mudah untuk dilewatkan. Ragam cerita ia coba angkat, dari percintaan hingga isu-isu sosial dan budaya. Arief adalah generasi baru dari folk balada.Yang semestinya mendapat kesempatan lebih luas, dan tidak hanya berakhir sebagai latar musik dikala bencana saja.

15


Folk Music Festival

Newsletter

Didukung Oleh

Media Partner

16

2018

Folk Music Festival 2018 Newsletter  
Folk Music Festival 2018 Newsletter  
Advertisement