Page 1

WARTA FKKM VOL. 9 NO. 12, DESEMBER 2006

1


WARTA FORUM KOMUNIKASI KEHUTANAN MASYARAKAT

Volume 9 Nomor 05, Mei 2006 ISSN : 1410-8550 Pemimpin Umum Didik Suharjito Pemimpin Redaksi Muayat Ali Muhshi Dewan Redaksi Haryadi Himawan Arief Budimanta Bestari Raden Nana Suparna Sih Yuniati Said Awad Redaktur Muhammad AS Tata Letak Muhammad AS Sirkulasi Totok Sadianto Alamat Redaksi Jl. Cisangkui Blok B VI No. 1 Bogor Baru, Bogor 16152 Telp./Fax. (0251) 323090, E-mail: fkkm_jog@indo.net.id seknas-fkkm@indo.net.id http:// www.kehutananmasyarakat.com www.fkkm.org Gambar Cover Depan : Riaupulp Gambar Cover Belakang : CNN PHOTO

2

Dari Kami Pembaca yang budiman, Bencana bertubi-tubi datang di tahun 2006. Awal Januari, banjir dan longsor menerjang kabupaten Jember, Jawa Timur. Kejadian ini membuka lembaran baru awal tahun 2006, banjir itu terjadi saat malam tahun baru. Bencana kembali datang seminggu kemudian. Kali ini kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah yang terkenal. Longsor dari bukit Pawinihan menenggelamkan kampung berpenduduk lebih dari 500 orang. Pada Juni 2006, banjir badang dan longsor kemudian menerjang desa-desa di sembilan kabupaten di Sulawesi Selatan :Sinjai, Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto, Bone, Soppeng, Selayar, Wajo dan Luwu Utara. Banjir juga menerjang wilayah Sumatera dan Kalimantan. Organisasi lingkungan WALHI mencatat, selama kurun waktu 2006, Indonesia mengalama bencana sebanyak 60 kali. Faktor penyebabnya lebih besar karena ulah manusia. Kerusakan hutan yang terjadi di seantero negeri telah menimbulkan gelombang bencana tanpa henti sepankang tahu: banjir, longsor, kekeringan. Di luar banjir, gempa berkekuatan dahsyat masih menguncang di tahun 2006. Pada 27 Mei, gempa berkekutan 6,7 skala richer menguncang kota gudeg, Jogjakarta. Lebih dari lima ribu orang meninggal, dan ratusan rumah hancur. Gempa diikuti tsunami seperti di Aceh pada 2004, juga kembali terjadi tahun 2006. Kali ini terjadi di kawasan wisata Pangandaran dan pesisir pantai selatan Pulau Jawa.

WARTAFKKM VOL.9 NO.12,DESEMBER 2006


Yang Tersisa di 2006 OLEH MUHAMAD AS

Hanya dalam hitungan hari, 2006 akan pungkas, lalu teronggok ditumpukan kalender masa silam,. Yang teringgal adalah sejumlah peristiwa, sejumlah momen bersejarah. Kami mencatatnya kembali untuk Anda. Selama kurun waktu 2006 berbagai bencana melanda negeri ini. Longsor, banjir, lumpur. kekeringann, asap juga gempa berkekuatan dahsyat. Tangis pilu menjadi pemandangan keseharian di tenda-tenda pengungsian. Pada 2006, di negeri bencana terus mengintai. Pembalakan liar juga masih terjadi. Lima puluh orang cukong kayu kelas kakap masih berkeliaran dan siap menghabisi hutan-hutan kita. Jumlah lima puluh itu adalah data yang diserahkan Menteri Kehutanan MS Kaban kepada kepolisian. Ada juga sih pembalak liar mulai tertangkap. Adelis Lis, buron yang dituduh menebang hutan di Taman Nasional Mandailing Natal, Sumatera Utara dibekuk. Namun ada yang bikin kita sedikit lega. Lihatlah tahun ini reformasi agrrian mulai menemukan bentuk kongkritnya. Pemerintah menganggarkan lahan 6,15 juta hektar untuk diserahkan kepada rakyat yang lapar lahan. Tahun ini, para rimbawan juga mengelar kongres kehutanan Indonesia. Sebuah dewan kehutanan nasional (DKN) terbentuk di kongres itu. Tekadnya DKN akan menjadi mitra sejajar dengan pemerintah, semua orang boleh mengadu. Juga tak kalah pentingnya adalah perjuangan para pembela kehutanan masyarakat. Di tahun ini, upaya mereka tak pernah surut, mesti nyatis tak ada hasil. Ya, Warta mencatatnya kembali untuk Anda.

WARTA FKKM VOL. 9 NO. 12, DESEMBER 2006

3


LAPORAN UTAMA

Amuk Gajah Puluhan gajah mengamuk di wilayah Riau dan Aceh. Hewan-hewan bertubuh besar ini masuk perkampungan penduduk dan memporak-porandakan isi rumah dan kebun. Pertengahan Februari, kawanan gajah menganuk di Balai Raja, Bengkalis. Tiga Rumah Warga dan puluhan hektar kebun hancur. Warga yang ketakutan, mengungsi. Penduduk yang tak sudi kampungnya hancur lalu memburu hewan ini. Ada yang dilakukan dengan cara diracun, adapula yang sampai ditembak mati. Enam ekor gajah ditemukan di sebuah kebun sawit di bekas hutan Mahato, perbatasan Riau dan Sumatera . Konflik antar manusia dan gajah sejatinya sudah lama. Tapi tahun 2006 konfliknya makin terbuka. Konflik terjadi di Aceh, Sumatera terutama di propinsi Riau. Menurut organisasi WWF, konflik antara gajah dan manusia terjadi lantaran habitat gajah sudah terancam. Banyak habitat gajah di Riau kini berubah menjadi pemukiman, perkebunan dan HTI. Sejak tahun 2000, konflik antara gajah dan manusia telah menewaskan 16 orang dan 45 ekor gajah mati diracun atau ditembak.

4

WARTAFKKM VOL.9 NO.12,DESEMBER 2006


Kabut Asap Asap tebal lagi-lagi bikin jengkel negara tetangga : Malaysia dan Singapura. Singapura bahkan sampai mengancam dan melayangkan surat protes kepaa Presiden SBY. Di depan sidang kabinet, SBY lalu “marah-marah�. Pembakaran hutan di Kalimantan dan Sumatra yang tak bisa dikontrol menimbulkan asap tebal di sejumlah wilayah Indonesia seperti Jambi, Kilamtan Barat, Riau, Kalimantan Timur dan tentu saja negara tetangga kita. Pada Agustus 2006, kabut asap menyelimuti di propinsi Riau hingga jarak pandang hanya sekitar 50 – 100 meter. Sementar di Jambi jarak pandang hanya 300 meter. Tebalnya kabut asap sampai mengganggu jalur transportasi. Sejumlah bandara dinyatakan tutup sementara, banyak maskapai penerbangan juga membatalkan penerbangannya karena burunya cuaca. Di Kalimantan, kendaran roda dua dan empat harus menyalakan lampunya dan dibantu polisi untuk mengarahkan jalan. Satu dua kali terjadi kecelakaan akibat asap tebal.

Kongres Lagi Kongres kehutanan Indonesia digelar kembali pada bulan September. Lebih dari seribu orang menghadiri kongres yang berlangsung di Jakarta itu. Forum paling prestisius dunia kehutanan di Indonesia itu membicarakan berbafai persoalan kehutanan yang kini sedang menjangkit negeri ini dari soal tata pemerintahan, ekonomi, penanggulangan kemiskinan, hingga persoalan lingkungan yang kian hari makin menghawatirkan. Wakil Presiden Jusuf Kalla di kongres itu sempat menyingngung maraknya aksi pembalakan liar yang terjadi di hutan-hutan Indonesai. Kalla khawatir kalau setiap orang boros menggunakan kayu, pembalakan liar akan terus saja terjadi. Kongres itu juga membentuk Dewan Kehutanan Nasional (DKN), lembaga yang dipercaya akan mampu membongkar mandegnya persoalan-persoalan kehutanan di Indonesia. DKN beranggotakan komplit dari berbagai kalangan dari pemerintah, akademisi, LSM, pemerintah, juga masyarakat. WARTA FKKM VOL. 9 NO. 12, DESEMBER 2006

5


KOLOM

Badu dan Polpot Oleh Hery Santoso Nama lengkapnya Saloth Sar. Ia lahir pada 25 Mei 1928, di sebuah desa kecil, 135 Km sebelah utara Phom Penh. Ia berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Ayahnya memiliki lahan pertanian seluas 9 hektar, masih ditambah lagi dengan beberapa usaha peternakan. Keluarga Sar juga memiliki hubungan (koneksi) yang baik dengan keluarga istana (penguasa) di negeri itu. Karena itulah di masa tidak banyak anak bersekolah, Sar justru berpendidikan sekolah terbaik. Selepas dari pendidikan Lycee (SMA) pada 1949, Sar mendapat beasiswa untuk belajar di Ecole Technique, Perancis, tetapi tidak sampai tamat. Seperti kebanyakan mahasiswa, ia lebih tergiur pada kegiatan politik dibandingkan dengan studinya. Iapun lantas bergabung dengan sebuah partai komunis di Perancis. Bahkan pada akhirnya ia mendapatkan seorang jodoh -yang juga aktivis komunisdi sana. Singkat cerita setelah Sar menikahi wanita itu, ia dan istrinya pulang ke negeri asal. Di sana ia jadi guru; mengajar bahasa Perancis, sejarah dan ilmu bumi. Sementara itu istrinya – juga menjadi guru – mengajar sastra. Menurut cerita orang-orang yang pernah kenal, Sar adalah guru yang kalem, percaya diri (PD), berwajah lembut, jujur dan meyakinkan. Bahkan ia selalu mempesona ketika bicara di depan kelompok-kelompok orang. “Saya merasa bisa menjadi temannya seumur hidup�, demikian kata seorang pria yang pernah ketemu Sar pada 1950. Sampai di sini tak ada yang istimewa dari seorang Saloth Sar, kecuali ia berasal dari keluarga kaya dan berpenampilan kalem. Lainnya biasa-biasa saja. Tetapi tiba-tiba pada 1963, Sar dan keluarganya meninggalkan Phom Penh, berjuang dan bergerilya membina partai komunis di negerinya yang kemudian ia namakan Khmer Merah. Dan hasilnya bisa dilihat 12 tahun kemudian. Pada tahun 1975 ia berhasil menggulingkan pemerintahan resmi negeri itu. Itulah awal mula nama Polpot disandang oleh Saloth Sar.

6

WARTAFKKM VOL.9 NO.12,DESEMBER 2006


Sejarah (hitam) agaknya berawal dari sini. Segera setelah berkuasa, Polpot terobsesi oleh keinginannya untuk menjadikan Kamboja sebagai negeri super komunis, agraris dan tradisional murni. Segala sesuatu yang tidak komunis, tidak agraris dan tidak tradisional dibrangus. Kota-kota dibubarkan. Orang-orangnya diusir untuk kembali ke desa, mengerjakan sawah, beternak dan bergelut dengan hal-hal yang bersifat tradisional dan kolektif. Bahkan tidak hanya itu, demi obsesinya, iapun tidak pernah merasa bosan membunuh. Setiap yang dicurigai berakhir dengan dibunuhnya. Segala sesuatu yang tidak ia sukai berarti telah tamat riwayatnya. Ia menjadi seperti Hitler. Bahkan banyak yang menyebutnya lebih sadis dari seorang Hitler. Maka terciptalah apa yang dinamakan “Killing Field”. Ladang pembantaian. Sebuah ladang tempat terkuburnya jutaan nyawa rakyat Kamboja. Konon lebih dari dua juta manusia Kamboja mati hanya di tangan seorang Polpot. Dua juta; bukanlah angka yang sedikit. Hanya seorang “genocidal maniac” (orang gila yang pekerjaannya membunuh) sajalah yang sanggup melakukan itu. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah: di manakah Saloth Sar dalam diri Polpot ?. Adakah ia telah mengidap semacam penyakit pribadi yang mendua seperti Dr. Jackyl – Mr. Hide Personality ?. Atau ini semua sebenarnya hanya logika sederhana kekuasaan. Wallahualam. Hery Santoro, aktivis Javlec Jogja

WARTA FKKM VOL. 9 NO. 12, DESEMBER 2006

7


BERITA

Akhir Cerita Adelin Pelarian Adelin Lin berakhir sudah. Dia yang biasa dijuluki raja kayu Medan di bekuk empat staf Keduatan Indonesia di Beijing saat mengurus perpanjangan Paspor. Sempat terjadi baku hantam segala. Adelin dituding menjarah kayu diwilayah Taman Nasional Batang Gadis. Tiga perusahaan milik Adelin : PT Mujur Timber, PT Kaeng Nam Development Indonesia, dan PT Inanta Timber Trading terbukti membabat hutan tropis terkaya di Sumatera itu. Polisi juga menemukan PT Mujur Timber menampung kayukayu curian. Andelis juga tak melakukan reoisasi di bekas lahan areal konsesi PT Kaeng Nam. Adelin malah menjadikannya kebun sawir. Perusahaan Adelin juga melakukan kongkalikong dengan Dinas Kehutanan Mandaling Natal. Mereka misalnya, bisa mendapat blangko kosong SKSHH. Dengan blangko itu, Adelin “memutihkan� kayu-kayu hasul pembalakan dari sejumlah perusahaan lain dan para penebang liar. Badan pengawas Keuangan dan Pembangunan mencatat Adelis merugikan negara Rp 674 miliar karena tidak membayar setoran hasil hutan dan dana reboisasi sejak tahun 2000. Sejak Februari Adelin kabur. Pada 22 Februari Kepolisian Daerah Sumatera Utama menetapkan namanya sebagai buron dan memasukkannya dalam daftar pencarian orang (DPO). Tapi pelarian Adelin sepertinya sudah berakhir. Adelin kini meringkuk di tahanan polisi.

8

WARTAFKKM VOL.9 NO.12,DESEMBER 2006


Hore Pemeritah “Bagi-Bagi Lahan� Pemerintah bertekad akan melakukan reformasi Agraria di tahun 2006. Sebagai langkah kongkrit atas itikad ini pemerintah bakal membagikan lahan kepada petani. Jumlah lahan yang dialokasikan untuk program reforma agraria sebanyak 8,2 juta hektar, yang terdiri untuk pengembangan kelapa sawit dan tebu 2 juta hektar dan 6,2 juta hektar lahan milik perhutani. “Kita akan lakukan program reforma agraria. Yaitu tanah-tanah yang dikuasai negara bisa dimanfaatkan petani,� kata Menteri Pertanian Anton Apriyantono usai bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kantor presiden Jakarta, Kamis (28/9). Khusus di Jawa, pemerintah bakal mengevaluasi luas lahan milik Perhutani yang mencapai 2 juta hektar. Di lahan Perhutani ini, pemerintah menargetkan akan memberikan 1,5 juta hektar untuk dibagi-bagi kepada petani di pulau Jawa. Jadi praktis areal pengelolaan Perhutani bakal menjadi hanya 500.000 hektar saja. selebihnya akan diserahkan pengelolaannya kepada masyarakat. Skema penyerahan lahan pertanian dan hutan ke masyarakat memang belum terbentuk. Tapi yang pasti, lahan hutan yang ditawarkan pemerintah yang dijadikan target reformasi agraria adalah areal hutan produksi namun sudah tidak produktif lagi, yang tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Reformasi agraria yang ditempuh pemerintah ini diharapkan dapat menekan laju kemiskinan.

WARTA FKKM VOL. 9 NO. 12, DESEMBER 2006

9


SEKILAS Sebuah Maklumat dari Yogyakarta Sejumlah pihak yang berasal dari berbagai kalangan : akademisi, pengusaha, LSM, sampai petani mengeluarkan Dekalirasi Yogyakarta yang menyerukan semua pihak agar mendukung gerakan pengelolaan hutan lestari berbasis masyarakat. Deklarasi itu dibacakan di Kampus Universtas Gadjah Mada saat berlangsungya Pekan Raya Hutan dan Masyarakat pada September lalu. Dalam Deklarasi Jogjakarta itu disebutsebut gerakan pengelolaan hutan lestari berbasis masyarakat antara lain mencakup hutan rakyat, hutan kemasyarakatan, ‘social forestry‘, hutan adat, hutan desa, dan hutan tanaman industri eks hak pengusahaan hutan yang sudah dimanfaatkan masyarakat. Deklasrasi itu juga menyebut perlunya kerjasama dalam bentuk implementasi pola kemitraan serta kolaborasi antara pemerintah, pengusaha dan masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hutan. Selain itu perlu

10

penyelesaian secara bersama setiap masalah yang berkaitan dengan cadangan area serta izin definitif pengelolaan hutan lestari berbasis masyarakat seperti hutan kemasyarakatan dan hutan desa.

Orangutan Indonesia Pulang Kandang Thailand memulangkan 41 orangutan ke Indonesia pada pertengahan September 2006. Pemulangan satwa langka itu dilakukan setelah bertahuntahun tertunda. Ke 41 hewan nyaris punah itu termasuk dari 54 orangutan yang diambil dari sebuah kebun binatang di Bangkok, Thailand dua tahun lalu. Hewan-hewan tersebut terbukti telah dibawa ke kebun binatang itu secara ilegal. Sebanyak 7 orangutan lainnya mengalami masalah hati dan harus diperiksa oleh dokter hewan yang didatangkan dari Indonesia. Sisanya, 6 orangutan saat ini masih menjalani tes DNA untuk memastikan asal-usul mereka.

WARTAFKKM VOL.9 NO.12,DESEMBER 2006

Warta FKKM Desember 2006  

Bencana beruntun terjadi di 2006, apa yang tersisa dan dapat kita ambil hikmahnya dari bencana 2006 ?

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you