Page 1


AVANT GARDE

ISSN 2338-431X

Volume 1, Nomor 1 Juli 2013 Diterbitkan oleh Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Budi Luhur, dua kali dalam setahun. Penerbitan jurnal ini dimaksudkan sebagai media pertukaran informasi, pengetahuan yang berlandaskan perkembangan, dan kajian Ilmu Komunikasi serta keterkaitannya dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan lainnya.

Penasehat

: Direktur Riset dan Penjaminan Mutu Drs. Eko Polosoro, M.Eng. MM

Penanggung Jawab

: Dr. Hadiono Afdjani, MM., M.Si

Pemimpin Redaksi

:

Ketua Editor

: Dr.Umaimah Wahid

Dewan Editor

: Rocky Prasetyo Jati, M.Si

Ahmad Toni, M.Ikom

Nawiroh Vera, M.Si. Denada Faraswaycen, M.Si Imelda, M.Kom Tata Letak

: Arief Ruslan, S.Kom Hudan Alamsyah

Sekretaris

: Wenny Maya Arlena, M.Si.

Alamat Redaksi Lembaga Riset, Universitas Budi Luhur, Jl. Ciledug Raya, Petukangan Utara, Jakarta Selatan 12260. Tel. 021-5853753, Fax. 021-7371164, 5853752 Website : http://www.budiluhur.ac.id


DAFTAR ISI

AVANT GARDE

ISSN 2338-431X

Volume 1, Nomor 1 Juli 2013

JURNALISME DAMAI DALAM PEMBERITAAN KONFLIK DI MEDIA ONLINE (Analisis Isi Pemberitaan Kompas.com dan Republika.co.id tentang Konflik Kelompok Islam Syiah di Sampang) Indah Suryawati dan Ica Wulansari LAKI-LAKI SEBAGAI KORBAN DALAM PERKAWINAN POLIGAMI: (Analisis Semiotika Film Ayat-Ayat Cinta (AAC) Karya Hanung Bramantyo) Eriyanto PERANAN HUMAS KEMENTERIAN KEHUTANAN DALAM PELAKSANAAN EVENT INDOGREEN FORESTRY EXPO DI JAKARTA CONVENTION CENTER 2012 Rofiqoh Wulandari dan Linda Islami REPRESENTASI KEKUASAAN DALAM KONFLIK KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA 2008-2011 (Analisis Framing Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki Berita Kompas, Jurnal Nasional, dan Republika) Dudi Iskandar KONSTRUKSI TEORI KOMUNIKASI BERBASIS KEARIFAN LOKAL Turnomo Rahardjo STRATEGI MEDIA RELATIONS DALAM MENINGKATKAN CITRA PERUSAHAAN (Studi Kasus pada Media Relations di PT J.Co Donuts&Coffee) Denada Faraswacyen, Medya Apriliansyah, dan Tigor Morris Marpaung THE PRESIDENT SUSILO BAMBANG YUDHOYONO’S POLITICAL COMMUNICATION STYLES Nawiroh Vera, Eko Putraboediman, dan Linda Islami

1

25

46

62

77

90

100


AVANT GARDE ISSN 2338-431X Volume 1 Nomor 1, Juli 2013 Terbit dua kali setahun bulan April, Oktober berisi tulisan yang diangkut dari bidang Ilmu Komunikasi

EDITORIAL Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur Jakarta berhasil mempublikasikan E-Journal yang diberi nama Avant Garde yang mengandung filosopi bahwa artikel-artikel yang terdapat dalam jurnal ini menjadi salah satu arternatif diskursus bagi para pembaca dalam upaya dialektika keilmuan. Avant Garde Edisi Nomor 1, Volume 1, Juli 2013 adalah publikasi ‘pertama’ dan diharapkan mampu memberikan pencerahan bagi pembaca jurnal ilmiah kajian ilmu komunikasi khususnya kajian media massa dan media online. Redaksi menyajikan edisi pertama Avant Garde dengan tulisaan mengenai Jurnalisme Damai Dalam Pemberitaan Konflik di Media Online (Analisis Isi Pemberitaan Kompas.com dan Republika.co.id tentang Konflik Kelompok Islam Syiah di Sampang), karya Indah Suryawati dan Ica Wulansari. Dilajutkan dengan tulisan mengenai Laki-laki sebagai Korban Dalam Perkawinan, Analisis Semiotika Film Ayat-Ayat Cinta (AAC) Karya Hanung Bramantyo karya Eriyanto. Artikel Turnomo Rahardjo dengan Judul Konstruksi Teori Komunikasi Berbasis Kearifan Lokal, memperkuat isi e-journal ini. Kemudian tulisan mengenai Peranan Humas Kementrian Kehutanan Dalam Pelaksanaan Event Indogreen Forestry Expo di Jakarta Convention Center 2012, karya Rofiqoh Wulandari dan Linda Islami. Dilanjutkan dengan kajian mengenai ‘Representasi Kekuasaan Dalam Konflik Komite Nasional Pemuda Indonesia 2008-2011 ((Analisis Framing Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki Berita Kompas, Jurnal Nasional, dan Republika)’ karya Dudi Iskandar. E-journal dilengkapi dengan tulisan mengenai ‘Strategi Media Relations Dalam Meningkatkan Citra Perusahaan, (Studi Kasus pada Media Relations di PT J.Co Donuts&Coffee), karya Denada Faraswacyen L., Medya Apriliansyah, dan Tigor Morris Marpaung. Artikel penutup Avant Garde edisi pertama ditutup dengan tulisan yang sudah dipresentasikan dalam International Coneference Of language and Communication Di National Institute of Development Administration Bangkok, Thailand, yaitu; Gaya komunikasi politik presiden Susilo Bambang Yudhoyono Karya Nawiroh.vera, Eko Putra Boediman dan Linda.islami Redaksi Menyampaikan terima kasih kepada seluruh Mitra Bestari, penulis, Deputi 1 Bidang Akademik Direktur Riset dan Penjaminan Mutu, Dekan Fikom, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi dan Pengelola e-journal Avant Garde sehingga jurnal Nomor 1, Volume 1 Juli 2013 dapat kami hantarkan kepada pembaca. Sekaligus kami menenuggu respon dari seluruh pembaca baik berupa komentar, kritik, saran dan juga tulisan-tulisan untuk edisi selanjutnya. Terima kasih,

Dewan Redaksi


AVANT GARDE ISSN 2338-431X Volume 1 Nomor 1, Juli 2013 Terbit dua kali setahun bulan April, Oktober berisi tulisan yang diangkut dari bidang Ilmu Komunikasi

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih dan penghargaan diberikan kepada para pakar selaku mitra bestari yang telah bersedia menjadi reviewer dalam jurnal Avant Garde Volume 1 Nomor 1, Juli 2013 Daftar mitra bestari tersebut yaitu : Prof. H. Deddy Mulyana, Ph.D. M.A. (Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung) Prof. Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si. (Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten) Dr. Udi Rusadi (Dosen Magister Ilmu Komunikasi IISIP, Jakarta) Dr. Basuki Agus Suparno (Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi UPN, Yogyakarta) Dr. Andy Cory (Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Lampung)


Jurnalisme Damai Dalam Pemberitaan Konflik di Media Online (Analisis Isi Pemberitaan Kompas.com dan Republika.co.id tentang Konflik Kelompok Islam Syiah di Sampang) Oleh : Indah Suryawati indahsuryawati_2121@yahoo.com Ica Wulansari ica.wulansari3@gmail.com

Abstract

This study is to analyzed the characteristic of peace journalism message in the news Islamist Shiite conlict in Sampang, Madura on Kompas.com and Repubika.co.id in August 27 to September 27, 2012. The theory used is content analysis. The research method used was content analysis with a quantitative approach. The result showed that Kompas.com and Republika.co.id tend to substantially headline news. Type of coverage used is one-sided coverage by using a variety of sources. Kompas.com is mostly use of informant news are government and religion figure. Republika.co.id balanced use of type informant news. The characteristic dominant of the application visible peace journalismin reporting in Kompas.com is peace content (30%). Whereas the characteristic dominant of peace journalism in Republika.co.id is rightness content (35%). The technique dominant of the peace journalism in Kompas.com is persuasive technique (44%), whereas the technique dominant in Republika.co.id is argumentative technique (43%).

Keywords: Content Analysis, Online Media, Conflict, Peace Journalism.

Pendahuluan Peran media massa cukup besar untuk memberikan informasi dan menunjukkan fakta kepada khalayak. Melalui media massa, khalayak dapat mengetahui fakta penting yang telah terjadi, sedang terjadi dan yang akan terjadi. Tak heran jika sementara orang menyebutkan media (khususnya pers) sebagai the fourth estate dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam bidang sosial, ekonomi maupun politik. Kaum pluralis melihat media sebagai saluran yang bebas dan netral, di mana semua pihak dan kepentingan dapat menyampaikan posisi dan

pandangannya secara bebas (Barrat, 1994:51-52). Namun menurut Eriyanto, media bukanlah sekadar saluran yang bebas, media juga subjek yang mengkonstruksi realitas lengkap dengan pandangan, bias dan pemihakannya (2009:36). Oleh karena itu, memberitakan konflik bukan sesuatu hal yang mudah untuk dilakukan oleh media. Sebab khalayak kerap berharap agar media bertindak netral dan seimbang ketika memberitakan pihak-pihak yang terlibat dalam suatu konflik. Begitu pula dengan pemberitaan terkait SARA. Indonesia sebagai negara yang multikultural sering menghadapi

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

1


berbagai konflik terkait SARA maupun konflik yang bersumber dari masalah ekonomi dan politik. Potensi sumber daya alam yang melimpah dan pola kekuasaan yang menguntungkan kelompok-kelompok tertentu misalnya, dapat membangkitkan pertikaian (konflik) di masyarakat. Hadirnya kelompok-kelompok kepentingan yang berbeda dengan dimotori oleh kepentingan ekonomi, sosial dan politik juga dapat menjadi pemicu terjadinya konflik. Konflik adalah proses pertentangan yang diekspresikan di antara dua pihak atau lebih yang saling tergantung mengenai objek konflik, menggunakan pola perilaku dan interaksi konflik yang menghasilkan keluaran konflik. (Wirawan, 2010: 5). Donald Rothchild dan Chandra Lekha Sriram mengemukakan konflik antar kelompok dalam empat fase. (Wirawan, 2010: 38-39) 1. Fase potensi konflik. Dalam fase ini, konflik telah terjadi tetapi dalam level intensitas sangat rendah. 2. Fase pertumbuhan. Dalam fase ini, isu yang dipertentangkan dan kelompok-kelompok lebih didefinisikan. Ketika polarisasi di antara kelompok meningkat, kemungkinan terjadinya kekerasan makin tinggi dan insiden kecil bisa terjadi. 3. Fase pemicu dan ekskalasi. Persepsi perubahan yang nyata dalam kelompok-kondisi ekonomi, sosial atau politik-bisa memicu ekskalasi.

4. Fase pascakonflik. Sesudah deekskalasi kekerasan menurun, intervensi preventif dengan tujuan membangun kembali hubungan damai dan saluran komunikasi di antara kelompok-kelompok yang terlibat konflik untuk menghindari terulangnya kekerasan. Pemberitaan terkait konflik memiliki banyak dimensi yang dapat diperlihatkan kepada khalayak. Mengacu pada nilai berita, Brian S. Brook mengungkapkan sembilan hal, salah satunya yaitu konflik. Berita terkait konflik selalu saja mewarnai pemberitaan di media massa. Dimulai dari konflik yang sederhana seperti percekcokan rumah tangga seorang tokoh atau artis yang terkenal; konflik dalam skala sedang seperti penyerangan dan tawuran yang apabila berlangsung dalam skala besar mengakibatkan kerusuhan; hingga konflik dalam skala genting yaitu perang. Ironisnya, realitas konflik yang tertangkap mata kamera maupun yang tercatat dalam berita menjadi lakon drama yang menarik perhatian khalayak. Apalagi media tersebut sengaja mengemasnya sedemikian rupa sehingga menjadikan kasus konflik sebagai komoditas untuk menyedot perhatian khalayak. Bukan menjadikannya sebagai sarana penerapan jurnalisme damai (peace journalism) agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi di masyarakat. Salah satu konflik yang sempat ramai diberitakan media, termasuk media online, yaitu kasus penyerangan terhadap kelompok Islam Syiah di Dusun Nanggernang, Desa Karang

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

2


Gayam dan Desa Bluuran, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura. Penyerangan terjadi pada tanggal 26 Agustus 2012 yang dipicu kembalinya 30 orang pelajar kelompok Syiah ke beberapa pesantren di Jawa Timur. Para pelajar dihadang oleh sekelompok warga lainnya agar tidak kembali dan menetap di rumah. Aksi penghadangan berlanjut dengan aksi pembakaran rumah tempat tinggal kelompok Islam Syiah. Dalam kasus konflik yang sarat muatan kekerasan ini, menyebabkan satu orang korban tewas. Aksi serupa sebelumnya pernah terjadi pada 29 hingga 30 Desember 2011. Ketika itu rumah pimpinan Islam Syiah, mushala dan madrasah kelompok Islam Syiah diserang oleh massa anti-Syiah (http://oase.kompas.com/read/pesan perdamaian dari tragedi Sampang diunduh tanggal 01 september 2012). Demi eksklusifitas, media dituntut bekerja cepat dalam menaikkan berita terkait konflik. Akibatnya media dalam memberitakan konflik secara tidak disadari ternyata memperkeruh upaya resolusi konflik. Sehingga para jurnalis melalui media massa seperti dua sisi uang logam dalam pemberitaan konflik. Pada satu sisi, ia dapat menyulitkan proses perdamaian, namun di sisi lain ia justru dapat mengedepankan pentingnya proses penyelesaian konflik (Rusdi, ‘’Jurnalisme Damai dan Rutinitas Media’’, dalam buku Komunikasi dan Konflik di Indonesia, 2012:388). Kehadiran media online yang lebih mengedepankan unsur kecepatan, memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemberitaan konflik. Bahkan

telah mendorong berkembangnya pendekatan alternatif dalam praktek jurnalistik. Sebelumnya, media massa lebih banyak melakukan pendekatan konvensional dalam pemberitaan terkait konflik yakni penerapan jurnalisme perang. Jurnalisme ini lebih banyak menampilkan sisi kekerasan dan kemenangan salah satu pihak. Namun kini, penerapan jurnalisme perang mulai ditinggalkan dan muncullah pendekatan baru dalam pemberitaan konflik yaitu penerapan jurnalisme damai. Jurnalisme damai lebih mementingkan empati kepada korbankorban konflik daripada liputan kontinu tentang jalannya konflik itu sendiri. Dalam kasus konflik kelompok Islam Syiah, misalnya, jurnalisme damai akan cenderung untuk menceritakan penderitaan orang-orang yang kehilangan harta benda dan terusir dari pemukimannya; kisah traumatik anak-anak yang tinggal di pengungsian; dan lain-lain. Media online yang terbilang intensif mengangkat konflik kelompok Islam Syiah di Sampang hingga kurun waktu sebulan lebih adalah Kompas.com dan Republika.co.id. Keduanya merupakan media online yang memiliki khalayak pembaca yang terbilang banyak. Apalagi kedua media online ini merupakan bagian dari keberadaan Harian Kompas dan Harian Republika yang sebelumnya sudah dikenal khalayak sebagai media cetak nasional yang memiliki ideologi masing-masing dalam melaksanakan fungsi pers. Menurut Agus Sudibyo, Kompas dilihat sebagai representasi

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

3


media Kristen, sedangkan Republika sebagai representasi media Islam (2001:80). Tentunya faktor ini turut andil dalam menentukan corak pemberitaan terkait konflik kelompok Islam Syiah di Sampang. Oleh karena itu, penulis mengangkat rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana jurnalisme damai dalam pemberitaan Kompas.com dan Republika.co.id terkait kasus konflik kelompok Islam Syiah di Sampang. Tinjauan Pustaka/Kerangka Teori a.

Media Online Media massa saat ini mengalami revolusi dengan kehadiran media online. Bahkan televisi, radio maupun media cetak memiliki media online sehingga penerimaan informasi khalayak semakin dimudahkan. Istilah media baru (new media) menghubungkan antara teknologi dan komunikasi dengan konteks sosial yang berhubungan menyatukan tiga elemen: alat dan artefak teknologi; aktivitas, praktik, dan penggunaan; dan tatanan serta organisasi sosial yang terbentuk di sekeliling alat dan praktik tersebut. (McQuail. 2011:43). Media online merupakan media komunikasi yang pemanfaatannya menggunakan perangkat internet. Karena itu, media online tergolong media massa yang populer dan bersifat khas.

Oleh karena itu penggunaan media online bergantung pada adanya jaringan teknologi (internet), disamping pengguna media ini harus mahir menggunakan media tersebut. Keunggulan media online diantaranya (Suryawati. 2011:46) : • Informasinya bersifat up to date (senantiasa terbaru) Media online dapat melakukan upgrade informasi dari waktu ke waktu. Hal ini terjadi karena media online memiliki proses penyajian informasi dan berita yang lebih mudah dan sederhana dibanding jenis media massa lainnya. • Informasinya bersifat real time Media online dapat menyajikan informasi dan berita saat peristiwa sedang berlangsung. • Informasinya bersifat praktis Media online dapat diakses di mana dan kapan saja, sejauh didukung oleh fasilitas teknologi internet. Keunggulan media online dalam hal kecepatan penyampaian informasi menyebabkan media ini menjadi rujukan khalayak pada saat ini. Pada era kemajuan teknologi komunikasi, akses informasi dimudahkan dengan

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

4


kehadiran internet. Sayang media online memiliki keterbatasan. Faktor kecepatan yang melekat pada media online seringkali mengabaikan kedalaman (indepth reporting). Ini tampak jelas pada penyajian berita yang cenderung pendek dan tidak terperinci seperti halnya di media cetak. Namun, untuk mengetahui kronologis suatu kejadian, media online dapat menjadi rujukan karena adanya kebaruan informasi yang dilakukan secara terus menerus, bahkan dalam hitungan menit. Oleh karena itu, khalayak dituntut lebih kritis dalam memilih dan memilah informasi melalui media online. b.

Konflik Media massa berperan penting dalam merekonstruksi realitas konflik. Media dapat membuat konflik berujung pada perdamaian namun dapat pula mendorong menjadi konflik yang lebih besar. Media sangat berkuasa dan memiliki ideologi masing-masing. Dengan kata lain, wacana media tentang kasus konflik tertentu menunjukkan bahwa keterlibatan media dalam sebuah konflik menjadi suatu keniscayaan jurnalistik. Tak heran jika media tidak bebas nilai dan tidak independen. Bagi insan media, konflik bagaikan oase yang tak

pernah kering di padang pasir. Berita tentang konflik dapat menjadi sesuatu yang sangat laku dijual oleh media kepada khalayak. Daya pikat konflik terhadap ranah psikologis khalayak sangat besar, sehingga konflik selalu ditempatkan sebagai nilai berita yang penting. Meminjam katakata Georgette Wang, konflik adalah komponen penting dalam proses produksi berita. Tak sebatas itu saja, media sangat potensial melakukan praktik kekerasan dalam pemberitaan terkait konflik, seperti penayangan gambar kekerasan hingga gambar yang tergolong sadis. Pemberian stigma buruk, penghinaan, pemaksaan makna, label tertentu, sampai penistaan agama. Kalaupun diatasnamakan kebebasan merupakan bentuk dari kekerasan simbolis. Media menjadi sarana kekerasan simbolis karena media memiliki kemampuan untuk memproduksi pesan dan mengarahkan maknanya sekaligus (Idy Muzayyad, Kebebasan dan Kekerasan. Opini di Harian Republika, 6 Oktober 2012). Agama memiliki kapasitas untuk membawa kebaikan, namun dapat menimbulkan konflik yang buruk. Konflik yang lebih buruk apabila menunjukkan superioritas moral yang merasa

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

5


lebih tinggi dibanding pemeluk agama lain dan mendorong konflik untuk kepentingan identitas suatu pemeluk agama tertentu (Marshden& Savigny, 2009:9). Faktanya, dalam banyak liputan, kata ‘konflik’ sering digunakan untuk mengartikan ‘kekerasan’. Konflik bisa berarti positif dan konstrukstif serta membuka peluang untuk perubahan bila dikelola secara efektif. (Annabel McGoldrick dan Jake Lynch, 2001:3) Menurut McGoldrick dan Lynch, konflik muncul dalam situasi : • Sumber-sumber terbatas (kemiskinan, pekerjaan, perumahan dan air bersih) • Miskinnya dialog atau tidak ada dialog di antara pihak-pihak yang bertikai • Adanya ketidakpercayaan • Adanya hal yang tak terselesaikan di masa lalu • Pihak yang bertikai tidak menghargai hubungan di antara mereka • Kekuasan tidak terbagi dengan rata c.

Jurnalisme Damai Istilah jurnalisme damai pertama kali muncul dalam Kursus Jurnalisme Perdamaian

yang diselenggarakan di Taplow Court, Buckinghamshire, Inggris, pada tanggal 25-29 Agustus 1997. Jurnalisme damai merupakan kritik terhadap ‘’genre’’ jurnalisme perang yang dikembangkan media-media Barat. Dalam meliput perang di berbagai negara, media-media Barat terpola untuk menempatkan konflik yang terjadi sebagai persoalan ‘’menang, kalah’’, ‘’ditundukkan menundukkan’’. Pendekatan jurnalisme damai mulai dikembangkan oleh Jake Lynch dan Annabel Mc Goldrick. Dengan jurnalisme damai, pihak media didorong untuk berperan dalam menciptakan proses perdamaian dan lebih peduli pada dampak dari konflik tersebut kepada masyarakat. Bukan memperuncing penyebab terjadinya konflik tersebut di antara pihak-pihak yang bertikai. Jurnalisme damai merupakan pemikiran Prof. Dr. Johan Galtung yang banyak mengkaji studi perdamaian. Dalam sebuah lokakarya musim panas di Taplow Court, Buckinghamshire, Inggris pada Agustus 1997. Galtung berhasil merumuskan perbedaan ideologi antara jurnalisme perang dan jurnalisme damai. Perspektif Galtung bahwa jurnalisme seharusnya fokus

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

6


pada akibat konflik seperti kemiskinan, penggunaan kekerasan terhadap korban dan tidak hanya liputan di permukaan saja mengenai ketegangan politik saja. Jurnalisme damai mengacu pada empat orientasi diantaranya perdamaian, kebenaran, masyarakat atau korban dan solusi damai. Sedangkan jurnalisme perang mengacu pada orientasi diantaranya fokus terhadap perang atau konflik, propaganda, elit yang bertikai dan berfokus kepada sang pemenang perang (Jake Lynch. 2008:19-20). Inti dari jurnalisme damai adalah berupaya meminimkan konflik dan menawarkan solusi perdamaian. Berikut inti jurnalisme damai (Susan Dente Ross, Majid Tehranian. 2009: 12): 1. Kurangnya visibilitas perang 2. Penekanan pada masyarakat, korban perang. Sehingga tidak berfokus pada elit politik 3. Penekanan konflik fokus pada hasil negosiasi dan perjanjian damai 4. Penekanan untuk jangka panjang dan aspek yang luas

5.

Tidak ada upaya menjelekkan pihak yang bertikai 6. Framing pemberitaan dari semua pihak 7. Tidak berpihak 8. Win win Solution 9. Tidak ada bahasa tertulis mengenai yang dikorbankan dalam konflik 10. Tidak ada kosakata militer Jurnalisme damai mempunyai tugas utama yaitu memetakan konflik. Mengidentifikasi pihak yang terlibat, dan menganalisis tujuan-tujuan mereka dan membicarakan informasi yang mereka sediakan dalam agenda khusus mereka (Nur Zain Hae. 2000:63). Sehingga jurnalisme damai lebih mengutamakan empati kepada korban-korban konflik dibandingkan pemberitaan terus menerus mengenai jalannya konflik itu. Oleh karena itu, jurnalisme damai memberitakan konflik secara apa adanya dan memberikan porsi yang sama kepada semua pihak atau versi yang muncul dalam wacana konflik. Jurnalisme damai berusaha mengungkapkan ketidakbenaran di kedua belah pihak dan menghindari keberpihakan. Jika perlu, jurnalisme damai menyebutkan nama pelaku kejahatan (evil-

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

7


doerse) di kedua belah pihak, guna mengungkapkan ketidakbenaran atau kebohongan masing-masing pihak (Sudibyo, 2001:167). Fungsi media untuk membawa pengaruh atau membawa resolusi konflik, dengan cara memperlihatkan isu dari sejumlah perspektif dan terlibat dalam resolusi konflik. Peliputan media seharusnya diharapkan dapat memberi pemahaman dari berbagai sudut pandang, untuk mengatasi sangkaan negatif dari pihak yang berkonflik dan memberikan evaluasi perilaku yang baik (Coppel, 2006:200). Karya jurnalisme damai mempunyai efek memanusiakan semua pihak yang berkonflik. Jurnalisme damai senantiasa kritis mencari penyebab konflik hingga mencari jalan keluar penyelesaian konflik dari berbagai pihak diantaranya pemegang otoritas, pakar, para tokoh masyarakat dan terutama pihak yang bertikai. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode analisis isi. Penelitian ini bertujuan menggambarkan penyajian jurnalisme damai dari berita-berita tentang konflik kelompok Islam Syiah di Sampang pada Kompas.com dan Republika.co.id periode 27 Agustus hingga 27 September 2012 . Penelitian ini mengacu pada batasan yang dikemukakan Holsti (1969) tentang analisis isi yaitu suatu teknik penelitian untuk membuat inferensi yang dilakukan secara objektif dan identifikasi sistematis dan

karakteristik pesan (Eriyanto, 2011:15). Jadi, analisis isi yang digunakan hanya untuk menyelidiki isi yang tampak (manifest). Fred N. Kerlinger dalam Wimmer dan Dominick (2000:135:135) memberikan definisi untuk analisis isi dengan menyatakan bahwa analisis isi merupakan metode atau teknik mempelajari dan menganalisis komunikasi secara sistematis, obyektif, dan bersifat kuantitatif dengan tujuan mengukur variabel-variabel . Ruang lingkup penelitian ini adalah berita-berita konflik terkait kelompok Islam Syiah Sampang di Kompas.com dan Republika.co.id periode 27 Agustus hingga 27 September 2012. Penentuan waktu ini didasarkan pada pandangan bahwa masa-masa tersebut Kompas.com dan Republika.co.id terbilang intensif memberitakan tentang konflik kelompok Islam Syiah di Sampang. Populasi digunakan untuk menyebutkan serumpun atau sekelompok objek yang menjadi sasaran penelitian (Bungin, 2005:99). Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan berita yakni jurnalisme damai pada berita konflik kelompok Islam Syiah di Sampang yang dimuat dalam Kompas.com dan Republika.co.id periode 27 Agustus hingga 27 September 2012. Penelitian ini menggunakan dua jenis data yaitu (1) Data primer adalah data yang diperoleh dari penelitian langsung dari sumbernya pada saat penelitian dilakukan. Data ini berasal dari Kompas.com dan

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

8


Republika.co.id sedangkan objek penelitian ini adalah berita yang mengandung muatan jurnalisme damai terkait kasus konflik kelompok Islam Syiah di Sampang periode 27 Agustus hingga 27 September 2012; (2) Data sekunder adalah data yang diperoleh dari penelitian tidak langsung yang berasal dari sumber lain di luar objek penelitian. Data ini berasal dari studi pustaka yakni data yang diperoleh melalui buku-buku ilmiah, jurnaljurnal ilmiah, maupun literatur lainnya yang dapat digunakan sebagai landasan teori yang terkait dengan permasalahan yang hendak diteliti. Data yang diperoleh dalam penelitian ini dibuat ke dalam bentuk unit analisis terlebih dahulu. Unit analisis merupakan indikator yang ditetapkan sebagai konsep operasional penelitian ini. Unit analisis ditentukan sesuai dengan apa yang diketahui oleh peneliti terhadap isi pesan dalam proses komunikasi. Menurut Rachmat Kriyantono (2006:233), unit analisis adalah sesuatu yang akan dianalisis. Dalam analisis isi, unit analisisnya adalah teks, pesan atau medianya sendiri. Unit analisis dalam penelitian ini meliputi : 1) penulisan judul; 2) jenis/kategori berita; 3) tipe liputan; 4) pilihan narasumber; 5) bentuk pesan jurnalisme damai; dan 6) teknik-teknik pesan yang digunakan dalam jurnalisme damai. Adapun unit sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 item berita, di mana masing-masing media online diambil dan dipilih secara purposif

sebanyak 15 item berita. Pemilihan berita yang menjadi sampel dalam penelitian ini didasari pertimbangan yaitu berita konflik kelompok Islam Syiah di Sampang periode 27 Agustus hingga 27 September 2012 yang mengandung kaidah atau muatan jurnalisme damai. Sementara berita konflik yang tidak mengandung kaidah atau muatan jurnalisme damai tidak kami masukkan sebagai sampel penelitian. Berikut berita-berita di Kompas.com maupun Republika.co.id yang terpilih sebagai sampel penelitian : Tabel 1 Sampel Berita Konflik Sampang di Kompas.com Periode 27 Agustus – 27 September 2012 N O 1

JUDUL BERITA Budaya Intoleransi Semakin Berbahaya

ISI BERITA

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Hadjriyanto Y Thohari ketika Senin, 27 dihubungi pada Agustus 2012 Senin (27/8/2012) | 12:45 WIB menilai budaya intoleransi sudah berkembang di daerah. Menurut dia, hal itu terjadi bukan karena agama, melainkan menyangkut hukum. Kepolisian harus bertindak tegas atas setiap pelanggaran.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

9


2.

Bantuan Kemanusiaan Mengalir ke Sampang Senin, 27 Agustus 2012 | 14:19 WIB

3.

Menag Akui Dialog Keagamaan Kurang Maksimal Senin, 27 Agustus 2012 | 18:35 WIB

4.

Pemerintah Diminta Cepat Pulihkan

Derita 205 penganut Syiah Kabupaten Sampang, Jawa Timur yang kini tinggal di penampungan gedung tenis indoor Sampang, mendapat simpati dari sejumlah kalangan. Bantuan datang dari Jaringan Solidaritas Kemanusiaan (JSK) Malang dan dari Yayasan Lampitan Bogor, Jawa Barat. Bentrok dua kubu antara penganut Syiah dan warga yang mengatasnamakan Sunni di Desa Karang Gayam dan Desa Bluuran, Kabupaten Sampang pada Minggu (26/8/2012) salah satunya dilatarbelakangi kurangnya dialog keagamaan kedua belah pihak. Hal itu diungkapkan Menteri Agama RI Suryadharma Ali (SDA) saat mendatangi lokasi peristiwa bentrokan, Senin (27/8/2012).

Wakil Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Nasir Djamil

Sampang

menilai pemerintah seharusnya Selasa, 28 menggunakan Agustus 2012 Undang-Undang | 10:22 WIB Nomor 7 tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial untuk mengatasi konflik di Sampang, Madura, Jawa Timur. 5.

Anak-anak Pengungsi Syiah Bikin Pohon Harapan

Anak-anak pengungsi Syiah Sampang, Jawa Timur, mengalami kejenuhan di penampungan Selasa, 28 gedung tenis Agustus 2012 indoor. Padahal | 13:02 WIB mereka tentu membutuhkan kebebasan, bermain, belajar, dan perlu makan tentunya. Kebutuhan itu mereka tuangkan dalam tulisan pada secarik kertas, kemudian menggantungkanny a di sebuah ranting pohon yang diberi nama pohon harapan.

6.

Menag: Tokoh Agama Mediasi Konflik di Sampang

Menteri Agama Suryadharma Ali mengatakan, tokoh masyarakat dan tokoh agama di Sampang akan memediasi konflik Selasa, 28 kakak beradik di Agustus 2012 Sampang yang | 17:37 WIB sebelumnya

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

10


dipersepsikan konflik antara Sunni-Syiah. 7.

Penggalanga n Dana untuk Korban Sampang Rabu, 29 Agustus 2012 | 11:34 WIB

8.

Perlu Solusi Utuh untuk Kasus Sampang Kamis, 30 Agustus 2012 | 22:58 WIB

Pada Rabu (29/8/2012), puluhan aktivis mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Pamekasan, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Pamekasan, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Pamekasan, dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Pamekasan, melakukan penggalangan dana.

Kekerasan terhadap kelompok Syiah di Kabupaten Sampang, Pulau Madura, Jawa Timur, harus ditangani dan dicarikan jalan keluar yang lebih utuh dan permanen. Pendapat itu disampaikan pengamat sosial keagamaan sekaligus Direktur Program Yayasan Wakaf Paramadina, Ihsan Ali-Fauzi, Kamis (30/8/2012)

di Jakarta.

9.

Warga NU Hendaknya Introspeksi Sikapi Kasus Sampang

10.

Inilah Aktivitas Anak Pengungsi Sampang

11.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Slamet Effendy Yusuf mengajak warga NU untuk Jumat, 31 introspeksi Agustus 2012 (muhasabah), | 01:48 WIB khususnya untuk menyikapi dan mengambil hikmah dari peristiwa bentrok SunniSyiah di Kabupaten Sampang, Pulau Madura, Jawa Timur, beberapa hari lalu.

Puluhan anak-anak pengungsi di Kabupaten Sampang, Jawa Timur, terus diberi kesibukan supaya tidak jenuh. Komite Jumat, 31 Agustus 2012 Anak Sampang | 08:55 WIB mencoba memberikan bermacam kegiatan belajar yang dibalut permainan. Pesan Pesan perdamaian Perdamaian disampaikan Ketua dari Tragedi Dewan Syuro Sampang Ahlulbait Indonesia (Abi) Doktor Umar Sabtu, 1 Shahab selaku September khatib pada shalat 2012 | 11:25 Jumat (31/8). WIB

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

11


12.

Penyelesaian Konflik Sampang Kuncinya Ada di Kyai Madura Sabtu, 1 September 2012 | 14:08 WIB

13.

Kondisi Sosial Ekonomi Perkeruh Konflik Sampang Minggu, 2 September 2012 | 21:04 WIB

14.

Sampang

"Konflik Sampang itu bisa diselesaikan oleh para Ulama di Sampang dan Madura sendiri. Bukan oleh lainnya. Makanya, saran saya, para ulama di Madura, segera berkumpul bermusyawarah untuk menyelesaikan konflik itu," ujar mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi, saat ditemui wartawan di kediamannya, di Malang, Sabtu (1/9/2012). Selain disebabkan berbagai persoalan kompleks dari masalah aliran agama hingga keluarga, kasus kerusuhan Sampang juga dipicu faktor kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat yang masuk kategori jauh dari standar hidup layak dan sejahtera. Hal itu dikatakan oleh Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).

Butuh Kasih Sayang

Muhammad Nuh menilai bahwa warga Sampang, Senin, 3 Jawa Timur, September membutuhkan rasa 2012 | 18:03 saling menyayangi WIB yang dibangun oleh pihak minoritas Syiah dan mayoritas Sunni. Kasih sayang sangat dibutuhkan karena dari perasaan itulah akan timbul rasa untuk saling menghargai.

15.

Temukan Akar Masalah Sampang Jumat, 21 September 2012 | 12:56 WIB

Tim Temuan dan Rekomendasi Peristiwa Sampang diharapkan dalam tiga bulan ke depan dapat menemukan akar masalah kekerasan di Sampang berikut dampaknya sehingga ke depan persoalan yang sama tak akan terulang kembali.Hal tersebut dikemukakan Wakil Ketua Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Masruchah di Jakarta, Kamis (20/9/2012).

Menteri Pendidikan Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

12


Tabel 2 Sampel BeritaKonflik Sampang di Republika.co.id Periode 27 Agustus – 27 September 2012 NO.

1.

JUDUL BERITA

ISI BERITA

Waspadai, Konflik Sampang Bisa Timbulkan Dendam pada Anak

Kasus penyerangan warga komunitas Syiah di Dusun Nagkernang, Desa Karang Gayam, Kabupaten Sampang, Jawa Timur dikhawatirkan membawa trauma tersendiri, khususnya bagi anak-anak. Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi mengatakan trauma mendalam yang terekam alam bawah sadar bisa menyebabkan penyimpangan perilaku anak di kemudian hari.

Senin, 27 Agustus 2012, 18:52 WIB

2.

KPAI: Lindungi Anak-anak Korban Insiden Sampang Selasa, 28 Agustus 2012, 01:32 WIB

Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Asrorun Ni'am Sholeh meminta pemerintah memberikan perlindungan kepada anak-anak yang menjadi

korban insiden kekerasan di Sampang, Madura, Jawa Timur. 3.

ICMI: Masyarakat Jangan Terprovokasi Kerusuhan Sampang Selasa, 28 Agustus 2012, 12:02 WIB

4.

Konflik Sampang Cermin Umat Islam Masih Intoleransi' Selasa, 28 Agustus 2012, 15:53 WIB

Seluruh warga negara Indonesia diminta tidak terprovokasi dengan kejadian kekerasan yang diduga berlatar belakang konflik Sunni-Syiah di Sampang, Madura. Pernyataan Ketua Presidium Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Nanat Fatah Natsir saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (28/8). Ketua Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Din Syamsudin menyesalkan kerusuhan Sampang, Madura yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Menurut Din, ada tiga sisi yang bisa disoroti dari kerusuhan yang disebut-sebut karena konflik pengikut Syiah dan Sunni itu.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

13


5.

6.

Tragedi Sampang: Memalukan dan Memilukan

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah M. Adnan menilai aksi Selasa, 28 kekerasan Agustus 2012, terhadap pemeluk 20:08 WIB Syiah di Sampang, Madura merupakan tindakan yang memalukan dan memilukan. Penyelesaian Secara Kekeluargaan Berperan Penting dalam Kasus Sampang Rabu, 29 Agustus 2012, 14:17 WIB

7.

Kiai NU Disarankan Turun Tangan Soal Syiah di Sampang Rabu, 29 Agustus 2012, 19:39 WIB

Penyelesaian secara tuntas dan tidak berpihak ke salah satu kelompok menjadi kunci penyelesaian kerusuhan di Sampang, Madura. Hal itu dikemukakan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, GKR Hemas Sosiolog LIPI Endang Turmudi mengimbau agar pemerintah menggandeng para pemimpin informal agar diterjunkan ke Sampang untuk meredam suhu ketegangan antara dua kelompok yang bertikai

menyusul terjadinya kerusuhan Sampang beberapa silam. 8.

Tragedi Warga Syiah Sampang Bentuk Kinerja Polri Belum Optimal Rabu, 29 Agustus 2012, 20:30 WIB

9.

Dalam Pengungsian, Minat Belajar Anak-anak Syiah Tetap Tinggi Kamis, 30 Agustus 2012, 14:32 WIB

di hari

Sekretaris Fraksi Partai Gerindra DPR RI Ahmad Muzani di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Rabu (29/8) menilai aksi kekerasan yang terus terjadi di tengah masyarakat hingga aksi kekerasan di Sampang Madura menunjukkan kinerja aparat keamanan terutama Polri masih belum optimal. Meski tengah berada dalam pengungsian, minat belajar anak-anak Syiah korban penyerangan di Sampang, Madura, Jawa Timur, tetap tinggi. Mereka antusias mengikuti pelajaran yang diadakan Lembaga Swadaya

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

14


Masyarakat (LSM) yang memberi bantuan penanganan pendidikan. 10.

Polisi Upayakan Komunikasi Kultural di Sampang Kamis, 30 Agustus 2012, 16:40 WIB

11.

Cegah Kasus Ala Sampang Dinilai Perlu Rekonstruksi Sosial Jumat, 31 Agustus 2012, 23:56 WIB

Selain melakukan upaya penanganan secara hukum, yaitu mengupayakan penangkapan terhadap pelaku aksi kekerasan di Sampang, Madura, Jawa Timur, polisi juga melakukan pendekatan kultural. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri, Brigadir Jenderal Polisi Boy Rafli Amar, mengatakan petugas bekerja sama dengan tokoh-tokoh agama dan masyarakat di Sampang.

Pemerintah dinilai perlu melakukan rekonstruksi sosial, hukum dan politik untuk menghindari konflik sosial seperti yang terjadi di Sampang,

Madura, Jawa Timur. Mengupas pernyataan cendikiawan muslim, Azyumardi Azra di Beijing, Jumat (31/8) malam.

12.

Vonis Ringan Berpotensi Terulangnya Kekerasan di Sampang' Sabtu, 01 September 2012, 23:00 WIB

13.

Polri: Satu Akar Konflik Sampang, Warga Enggan Direlokasi Senin, 03 September 2012, 16:09 WIB

Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Abdul Haris Semendawai, menilai lemahnya proses hukum dan vonis yang ringan terhadap pelaku kekerasan di Sampang Madura memicu berulangnya kekerasan di daerah itu. Hingga kini Polri masih terus mendalami proses hukum kasus tindakan anarkis antarwarga bermotif isu agama yang terjadi di Sampang, Madura. Mengupas pernyataan Kapolri Jendral Timur Pradopo pada rapat kerja dengan Komisi III DPR RI, di Gedung

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

15


MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Senin (3/9). 14.

Kak Seto: Anak Pengungsi Sampang Masih Trauma Selasa, 04 September 2012, 23:50 WIB

15.

Kiai, Kunci Penyelesaian Kasus Sampang Kamis, 06 September 2012, 15:17 WIB

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Seto Mulyadi mengatakan, sebagian anakanak korban penyerangan kelompok massa di Sampang yang kini tinggal di pengungsian, masih mengalami trauma. Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof Dr Samsul Arifin mengemukakan perlu solusi berkeadaban untuk mengatasi konflik Syiah dengan Sunni di Kabupaten Sampang, Madura. Menurutnya, solusi berkeadaban itu agar tidak ada salah satu pihak yang dirugikan.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Pemberitaan terkait konflik kelompok Islam Syiah di Sampang pada Kompas.com dan Republika.co.id sebagian besar merujuk kepada penggunaan jurnalisme damai. Di mana genre jurnalisme damai lebih mengedepankan harapan dan hasrat untuk berdamai daripada mengedepankan aroma dendam dan kebencian kedua belah pihak yang sedang terlibat konflik. Di sinilah peran media yang sejalan dengan Teori Tanggung Jawab Sosial. Menurut Hikmat dan Purnama Kusumaningrat, pers tanggung jawab sosial bukan saja akan mewakili mayoritas rakyatnya tetapi juga memberikan jaminan atas hak-hak golongan minoritas atau golongan oposisi untuk turut bersuara lewat medianya (2009: 24). a. Penonjolan jurnalisme damai dalam struktur pemberitaan konflik Penelitian ini berusaha mengamati kecenderungan media online dalam menyajikan jurnalisme damai dalam pemberitaan terkait konflik kelompok Islam Syiah di Sampang. Berikut perbandingan corak pemberitaan Kompas.com dan Republika.co.id dalam tabel di bawah ini : Tabel 4 Penonjolan Jurnalisme Damai Dari Aspek Struktur Berita Kompas.c Republika. om co.id Penulisan Bersifat Bersifat

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

16


judul

substansial substansial (14 item (14 item berita) berita) - legislatif

Jenis berita

Didominasi berita opini (11 item berita)

Didominasi berita opini (13 item berita)

Tipe liputan

Satu sisi Satu sisi (7 item (11 item berita) berita)

Sumber berita

- pemerint

- LSM

- pemerinta

Sumber : Olahan hasil penelitian, 2013

- akademisi - tokoh

- kepolisian

- kepolisia

- legislatif (17 %) - tokoh agam (11 %) - LSM (11 %

Hasil penelitian menunjukkan, penulisan judul pada Kompas.com lebih banyak bersifat substansial dengan jumlah 14 item berita. Sisanya, 1 item berita menggunakan penulisan judul bombastis. Sama halnya dengan pemberitaan Republika.co.id yang sebagian besar menggunakan penulisan judul substansial yaitu sebanyak 14 item berita. Sisanya, 1 item berita penulisan judul bombastis. Kedua media ini minim membuat berita konflik dengan menggunakan judul bombastis. Bila dicermati, pemilihan penulisan judul bombastis oleh kedua media online ini hanyalah intisari dari pemaknaan yang dibuat penulis (wartawan online) dari pernyataan narasumber.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

17


Penulisan judul bombastis yang dimaksud : Budaya Intoleransi Semakin Berbahaya (Kompas.com) dan Waspadai, Konflik Sampang Bisa Timbulkan Dendam pada Anak (Republika.co.id). Penggunaan judul ini dalam konteks seruan kepada semua pihak agar memikirkan hikmah konflik. Yaitu dengan menggarisbawahi sumber penyebab konflik ‘’budaya intoleransi’’ (Kompas.com) dan menggarisbawahi kerugian psikologis dari kelompok masyarakat yang menjadi korban konflik ‘’...timbulkan dendam pada anak’’ (Republika.co.id). Berdasarkan jenis/kategori berita, Kompas.com dalam penyajian berita konflik yang merujuk pada jurnalisme damai lebih banyak menggunakan jenis berita opini yaitu sebanyak 11 item berita. Berita opini pada Kompas.com terkait akar konflik, penyebab konflik hingga upaya mencari solusi perdamaian. Sedangkan 3 item berita merupakan kategori berita langsung (straight news), seperti memaparkan fakta di lapangan, terkait penggalangan dana dan bantuan kemanusiaan terhadap korban dan pengungsi dari kelompok Islam Syiah di Sampang. Sisanya, 1 item berita merupakan jenis berita feature. Sementara pemberitaan

konflik Sampang di Republika.co.id juga lebih banyak merupakan jenis berita opini sebanyak 13 item berita. Sisanya, 2 item berita merupakan jenis berita langsung (straight news) karena memaparkan keadaan di lapangan pasca konflik. Ini menunjukkan Kompas.com maupun Republika.co.id dalam pemberitaan konflik lebih mengutamakan pendapatpendapat narasumber terkait akar konflik, pernyataan solusi untuk perdamaian atau penyelesaian konflik hingga pernyataan bagaimana agar peristiwa serupa tidak terulang kembali. Sementara pemberitaan konflik terkait fakta di lapangan dalam bentuk straight news, kedua media online ini cenderung tidak memuat pesan jurnalisme damai. Hasil penelitian menyangkut tipe peliputan menemukan pemberitaan konflik di Kompas.com yang menggunakan liputan satu sisi sebanyak 7 item berita. Sedangkan 6 item berita menggunakan liputan dua sisi dan sisanya yaitu 2 item berita menggunakan liputan banyak sisi. Berbeda dengan Republika.co.id yang lebih banyak menggunakan tipe liputan satu sisi yaitu 11 item berita. Sedangkan 3 item berita

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

18


menggunakan tipe liputan dua sisi dan sisanya, 1 item berita menggunakan tipe liputan banyak sisi. Ini sejalan dengan temuan penelitian menyangkut jenis/bentuk berita, di mana Kompas.com maupun Republika.co.id sama-sama didominasi oleh bentuk berita opini yang hanya menggunakan satu narasumber saja. Padahal, dalam berita opini sah-sah saja jika menggunakan lebih dari satu narasumber, meski pendapat/pernyataan di antara kedua narasumber tentang kasus tersebut berbeda satu sama lain. Pemilihan satu narasumber oleh Kompas.com maupun Republika.co.id dalam berita opini dengan maksud untuk mengedepankan prinsip kredibilitas dalam memilih narasumber. Sehingga opini narasumber yang terkait peristiwa konflik ini merupakan alternatif solusi bagi penyelesaian konflik. Pada analisis berdasarkan narasumber, Kompas.com lebih banyak menggunakan narasumber dari pihak pemerintah dan tokoh agama, masing-masing sebanyak 26 %. Diikuti penggunaan narasumber dari pihak legislatif, akademisi dan LSM, masing-masing 16 %. Sementara itu, Republika.co.id lebih banyak menggunakan narasumber dari pihak pemerintah dan akademisi,

masing-masing sebanyak 22 persen. Selanjutnya penggunaan narasumber dari pihak kepolisian dan legislatif, masing-masing 17 %. Sisanya, penggunaan narasumber dari pihak LSM dan tokoh agama, masing-masing 11 %. Ini menunjukkan Republika.co.id berusaha menyeimbangkan unsur berbagai pihak yang terkait. Sedangkan Kompas.com lebih menyeimbangkan unsur dari pemerintah dengan tokoh agama terkait pesan jurnalisme damai mereka yang termuat dalam pemberitaan konflik kelompok Syiah di Sampang. Sebab kedua pihak tersebut lebih banyak memberikan pernyataan terkait solusi perdamaian atau penyelesaian konflik hingga menawarkan solusi agar bagaimana peristiwa serupa tidak terulang kembali. b. Penonjolan isi pesan jurnalisme damai dalam pemberitaan konflik Tabel 5 Penonjolan Isi Pesan Jurnalisme Damai Dalam Pemberitaan Konflik Kompas Republika.co .com .id Perdamaia 30 % 32 % n Kebenaran 22 % 35 % Masyarak 22 % 13 % at atau korban

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

19


Menawark an solusi damai

26 %

Kompas.com merupakan media yang disebut-sebut representasi media Kristen. Bahkan Kompas.com melalui pemberitaan konflik ini, lebih menyoroti upaya perdamaian bagi pihak yang berkonflik. Genre jurnalisme damai yang dimaknai Kompas.com adalah lebih mengedepankan harapan dan hasrat untuk berdamai daripada mengedepankan aroma dendam dan kebencian kedua belah pihak. Sedangkan Republika.co.id lebih mengutamakan karateristik pesan jurnalisme damainya dari sisi kebenaran. Artinya, jurnalisme damai yang dipraktikkan oleh Republika.co.id adalah dengan memberitakan konflik secara apa adanya dan memberikan porsi yang sama kepada semua pihak atau versi yang muncul dalam wacana konflik. jurnalisme damai menyebutkan nama pelaku kejahatan (evildoers) di kedua belah pihak, guna menungkapkan kebenaran. Republika.co.id dalam beberapa beritanya berdasarkan sumber kepolisian melakukan penyebutan namanama pelaku yang diduga sebagai pihak-menyulut terjadinya konflik.

20 %

Sumber : Olahan hasil penelitian, 2013

Berdasarkan penelitian menyangkut bentuk pesan jurnalisme damai dalam pemberitaan konflik, Kompas.com lebih mengutamakan memuat pesan perdamaian (30 %). Sementara itu pesan jurnalisme damai yang memuat solusi sebesar 26 %. Porsi yang sama adalah memuat pesan terkait penderitaan masyarakat atau korban (terutama wanita dan anak-anak) pasca konflik dan pesan yang memuat unsur kebenaran yaitu sebesar 22 %. Berbeda halnya dengan Republika.co.id yang lebih mengedepankan pesan kebenaran dalam jurnalisme damainya (35 %). Kemudian berturut-turut pesan perdamaian (32%), pesan yang memuat solusi damai (20%) dan pesan yang terkait penderitaan masyarakat atau korban (13%). Ini menunjukkan bahwa Kompas.com berusaha netral dengan tidak menonjolkan kekerasan dalam pemberitaan terkait kasus konflik kelompok Islam Syiah di Sampang. Seperti pemberian stigma buruk, penghinaan, pemaksaan makna, label tertentu, sampai penistaan agama. Padahal,

b.

Penonjolan sifat pesan jurnalisme damai dalam pemberitaan konflik

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

20


Tabel 6 Penonjolan Sifat Pesan Jurnalisme Damai Dalam Pemberitaan Konflik Kompas Republika. .com co.id Informatif 7% 17 % Deskriptif 12 % 10 % Argumentati 40 % 43 % f Persuasif 44 % 30 % Sumber : Olahan hasil penelitian, 2013

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dari sisi sifat pesan Kompas.com mengutamakan teknik persuasif (44%). Selain itu, media ini juga menggunakan tehnik argumentatif (40%). Namun untuk penggunaan tehnik deskriptif dan informatif masing-masing hanya sebesar 12 % dan 7 %. Sedangkan Republika.co.id lebih banyak menggunakan teknik argumentatif (43 %). Berbeda sedikit dengan penggunaan teknik persuasif yaitu sebesar 30 %. Sedangkan teknik informatif dan teknik deskriptif masing-masing sebesar 17 % dan 10 %. Ini menunjukkan bahwa Kompas.com maupun Republika.co.id lebih dominan menggunakan teknik persuasif maupun teknik argumentatif. Sebab pemberitaan yang memuat pernyataan narasumber terkait pendapat mereka dalam

memberikan solusi perdamaian (argumentatif) seringkali disertai dengan upaya persuasif. Kompas.com dan Republika.co.id cenderung menerapkan praktik jurnalisme damai yang bersandar pada pernyataan-pernyataan narasumber --- baik dari pihak pemerintah, kepolisian, tokoh agama, akademisi maupun LSM --- kepada semua pihak agar memikirkan hikmah konflik bagi entitas kemanusiaan. Yaitu dengan senantiasa menggarisbawahi kerusakan dan kerugian psikologis dan struktur dari kelompok masyarakat yang menjadi korban konflik, terutama pihak anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Berdasarkan hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa Kompas.com maupun Republika.co.id yang dikenal sebagai media online dengan jumlah khalayak yang besar ini bisa menjalankan fungsi sosialisasi terhadap nilai-nilai jurnalisme damai, terutama dalam pemberitaan terkait konflik yang bermuatan SARA. Bukan dengan memuat pesanpesan yang isinya saling menyalahkan atau memperkeruh suasana hingga menjadi lebih rumit. Peran kedua media online ini akan efektif jika didukung pula oleh peran pihak

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

21


aparat keamanan, pemerintah, tokoh agama maupun elemen lainnya. Kerjasama semua unsur ini sangat penting dalam penyelesaian konflik kelompok Islam Syiah di Sampang. Selanjutnya pihak-pihak yang dirugikan oleh terjadinya peristiwa konflik yang berujung pada kekerasan tersebut dapat keluar dari permasalahannya, baik itu melalui jalur hukum maupun secara psikologis. Dengan demikian, terjadinya kasus ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat sehingga mereka nantinya dapat berperan aktif dalam mencegah terjadinya kasus serupa di kemudian hari.

Simpulan Pemberitaan konflik kelompok Islam Syiah di Sampang yang disajikan oleh Kompas.com maupun Republika.co.id pada periode 27 Agustus hingga 27 September 2012 tergolong penting untuk disampaikan kepada masyarakat. Ini terlihat dari pemilihan judul yang bersifat subtansial, artinya antara judul mencerminkan isi berita. Meski pemilihan jenis berita oleh kedua media online ini didominasi bentuk berita opini dibanding berita langsung (straight news) atau feature. Hal ini tampak pada tipe peliputan yang mengutamakan tipe peliputan satu sisi. Meski demikian kedua media online senantiasa

berusaha fokus pada upaya penyelesaian konflik tersebut dengan menawarkan solusi damai yang disampaikan oleh pihak-pihak terkait yang dianggap layak sebagai narasumber. Langkah penerapan jurnalisme damai dalam pemberitaan konflik pada kedua media online ini semakin jelas dengan pemilihan narasumber. Jika Kompas.com lebih didominasi narasumber dari pihak pemerintah dan tokoh agama, sementara Republika.co.id berusaha memberikan ruang pada semua pihak untuk dijadikan narasumber. Adapun karateristik pesan jurnalisme damai dalam pemberitaan konflik pada kedua media online ini adalah Kompas.com lebih menekankan pada pesan yang bermuatan perdamaian, sementara Republika.co.id lebih menekankan pada pesan yang bermuatan pada kebenaran. Meskipun berbeda dalam hal penekanan bentuk pesannya, namun Kompas.com maupun Republika.co.id dari sisi teknik pesan lebih menggutamakan teknik persuasi dan teknik argumentasi dalam menyajikan pemberitaan yang merujuk pada jurnalisme damai. DAFTAR PUSTAKA Barrat, David, 1994, Media Sociology, London and New York: Routledge. Bungin, Burhan, 2001, Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

22


Bungin, Burhan, 2005, Metodelogi Penelitian Kuantitatif: Komunikasi, Ekonomi dan Kebijakan Publik serta Ilmu-ilmu Sosial lainnya, Jakarta: Kencana. Coppel, Charles A (edited by), 2006, Violent Conflicts in Indonesia Analysis, Representation, Resolution, New York: Routledge.

Sudibyo, Agus, 2001, Politik Media dan Pertarungan Wacana, Jakarta: Lkis. Suryawati, Indah, 2011, Jurnalistik Suatu Pengantar Teori dan Praktik, Bogor: Ghalia Indonesia. Wirawan. 2010. Konflik dan Manajemen Konflik. Jakarta: Salemba Humanika.

Hae, Nuz Zain dkk., 2000, Konflik Multikultur, Panduan Bagi Jurnalis, Jakarta: Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) dan The Asia Foundation.

Wolfsfeld, Gadi. 2004, Communication, Society and Politics: Media ant the path to peace. UK: Cambridge Univ Press.

Ishak, Aswad, dkk, 2011, Mix Methodology Dalam Penelitian Komunikasi (Dilengkapi Dengan Aplikasi Metode Penelitian), Jakarta, Aspikom.

PUBLIKASI ILMIAH

Lynch, Jake, 2008, Debates in Peace Journalism, Sydney : Sydney University Press. Marshden, Lee & Heather Savigny, 2009, Media, Religion and Conflict, Great Britain, UK: Ashgate. McQuail, Dennis, 2011, Teori Komunikasi Massa (Edisi 6), Jakarta: Penerbit Salemba Humanika. Kusumaningrat, Hikmat dan Purnama, 2009, Jurnalistik: Teori dan Praktek, Bandung: Rosdakarya.

Universitas Tarumanagara, Pusat Studi Komunikasi dan Bisnis Program Pasca Sarjana Universitas Mercu Buana Jakarta, Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komunikasi, 2011, Komunikasi dan Konflik di Indonesia, Jakarta: PT Showcase Indonesia Dotcom. JURNAL Annabel McGoldrick & Jake Lynch. What is Peace Journalism? Activate. The quarterly journal of IMPACS, the Institute for Media, Policy, and Civil Society. From Headlines to Front Lines: Media and Peacebuilding. Winter 2001. Canadian Department Foreign Affairs an International Trade, Peacebuilding Unit.

Kriyantono, Rachmat, 2006, Riset Komunikasi, Jakarta: Kencana Prenada Media.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

23


WEBSITE http://regional.kompas.com/read/2012/ 08/26/19183127/Inilah.Pemicu.Bentro kan.di.Sampang?utm_source=WP&ut m_medium=Ktpidx&utm_campaign= http://oase.kompas.com/read/2012/09/ 01/1125250/Pesan.Perdamaian.dari.Tra gedi.Sampang http://www.kpi.go.id/component/conte nt/article/14-dalam-negeriumum/30848-kebebasan-dankekerasan www.kompas.com www.republika.co.id

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

24


LAKI-LAKI SEBAGAI KORBAN DALAM PERKAWINAN POLIGAMI Analisis Semiotika Film Ayat-Ayat Cinta (AAC) Karya Hanung Bramantyo

Oleh: Eriyanto Peneliti senior di Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Alamat Email : eriyanto2001@yahoo.com

ABSTRAK

This paper would like to see how polygamy featured in film, in this case Ayat-Ayat Cinta, directed by Hanung Bramantyo. The method used to interpret the film is semiotics. Ayat-Ayat Cinta films featuring women as the source of problems in polygamy. Polygamous marriages occur not due to lust or desire of men. Polygamy is a marriage that can not be avoided to save the woman. Woman is described as being fragile, easy to get carried away and emotions. Otherwise, men described rational, strong and logic . Polygamous marriages happen to save a woman, not because of the desire of men.

WANITA YANG BODOH KARENA MENCINTAI DIAMDIAM Film AAC berpusat pada tokoh Fahri. Kepintaran dan kepribadian Fahri yang baik, membuat ia banyak dikagumi dan dicintai wanita. Ada tiga wanita sekaligus yang mencintai Fahri: Nurul, Noura dan Maria. Ketiganya mempunyai kesamaan, yakni tidak pernah berani secara terus terang mengungkapkan perasaan secara langsung kepada Fahri. Nurul secara diam-diam kerap memperhatikan Fahri. Dalam berbagai shot ditampilkan bagaimana Nurul selalu memandang Fahri dengan penuh kekaguman ketika berbicara. Shot lain memperlihatkan bagaimana Nurul menulis perasaannya dalam sebuah buku harian. Shot ini bisa dimaknai Nurul mencintai Fahri diam-diam.

Hal yang sama terjadi pada Maria. Seperti Nurul, Maria juga kerap memandang kagum pada Fahri. Ia sering curi-curi pandang ketika ada kesempatan. Maria juga tidak pernah mengungkapkan perasaan ketertarikannya pada Fahri secara langsung. Ia menuliskannya lewat sebuah buku harian. Noura juga diamdiam mengagumi dan mencintai Fahri. Tetapi berbeda dengan Nurul dan Maria, Noura digambarkan tidak pernah menulis perasaannya dalam buku harian.

Nurul menatap diam-diam Fahri

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 25


Noura menatap diam-diam Fahri, kalau ada kesempatan

Nurul menulis cintanya pda Fahri lewat buku harian

Kekaguman Noura pada Fahri

Nurul menatap diam-diam Fahri

Maria menulis cintanya pada Fahri lewat buku harian

Meski dicintai oleh tiga wanita sekaligus, Fahri tidak digambarkan sebagai seorang playboy. Ia justru digambarkan sebagai orang yang lugu, sehingga tidak tahu kalau dicintai oleh tiga orang sekaligus. Fahri akhirnya menikah bukan dengan ketiga orang tersebut, tetapi dengan Aisha. Fahri menikah setalah melalui proses taaruf, lewat bantuan kyainya, Syaikh Ustman. Lewat taaruf itulah, Fahri diperkenalkan dengan Aisha, wanita yang secara tidak sengaja pernah ditemuinya di Metro (kereta) ketika Fahri menolong teman Aisha, yang kebetulan adalah wartawan asal Amerika. Fahri berpegang teguh pada ajaran Islam, yang tidak mengenal istilah pacaran. Aisha adalah jodoh Fahri, karena melalui proses taaruf. Meski kenal dan dekat dengan Nurul, Noura dan Maria, Fahri tidak menikah satu dari ketiganya karena tidak melalui proses taaruf. Setelah Fahri menikah, ketiga wanita yang mencintai Fahri itu digambarkan hatinya hancur dan kehilangan semangat hidup. Tetapi secara implisit, film ini hendak menyatakan kejadian tersebut bukan kesalahan Fahri. Nurul telah lama meminta bantuan pamannya, Ustadz Jalal, agar taaruf kepada Fahri. Tetapi karena kesibukan, proses taaruf tersebut tidak pernah dilakukan. Nurul sangat menyesal, mengapa tidak bilang secara langsung kepada Fahri mengenai perasaannya. Ustadz Jalal juga menyesal karena tidak segera melakukan taaruf pada Fahri. Secara implisit digambarkan bahwa yang salah bukan Fahri, tetapi Nurul dan keluarganya. Mengapa tidak secara terus terang mengungkapkan perasaan

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 26


pada Fahri. Fahri baru mengetahu bahwa Nurul menaruh hati padanya justru setelah menikah dengan Aisha. Jikalau kemudian Nurul patah hati karena Fahri menikah, itu semata karena kebodohan Nurul. Hal yang sama pada Maria. Maria tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya pada Fahri. Ia hanya berani menulsi lewat buku harian. Sama seperti Nurul, Fahri juga tidak mengetahui perasaan Maria, sampai Fahri membaca buku harian Maria. Sosok Fahri dalam versi novelnya digambarkan sebagai pemuda yang lurus, taat beribadah, dan tidak mempunyai hasrat atau nafsu. Ketika ia memilih wanita, semata karena percaya bahwa waniat tersebut telah dipilihkan oleh Allah. Yang menarik, Hanung membuat sedikit perubahan. Sosok Fahri ditampilkan tidak sesempurna seperti dalam novelnya. Dalam film misalnya, Fahri dalam beberapa shot menatap wanita---sebagai tanda kagum atau cinta dalam hati. Lihat misalnya dalam potongan adegan (scene) pertemuan Fahri dengan Aisha. Aisa mengenalkan dirinya dengan tatapan mata ke arah Fajri. Fahri mengenalkan dirinya, sambil tertunduk malu. Dalam beberapa shot digambarkan menatap Aisaha dengan sorot kekaguman.

Aisah mengenalkan diri

Fahri mengenalkan diri sambil tertunduk malu

Fahri menyerahkan barang milik Aisaha yang tertinggal di Metro

Fahri memandang Aisa dengan sorot kekaguman

Hal yang sama pada Maria. Dalam versi Film, Fahri digambarkan kagum dengan pengetahuan Maria yang luas atas Islam. Dalam potongan adegan (scene) ketika Fahri berbicang dengan Maria di Metro memperlihatkan hal itu. Maria secara panjang lebar menceritakan pengetahuan mengenai Islam dan pembelaan atas Al-Quran yang dinilai indah. Fahri mendengarkan penjelasan dan cerita Maria dengan sorot mata kekaguman. Shot menampilkan medium close, mata Fahri yang tertuju langsung ke arah Maria. Ini juga terjadi pada potongan adegan (scene) percakapan Fahri

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 27


dengan Maria di tepi Sungai Nil. Maria menceritakan filosopi dan kekagumannya akan Sungai Nil. Fahri beberapa kali dishot dengan tatapan mata kekaguman pada Maria.

Maria berbincang dengan Fahri di Metro. Maria dengan lancar menceritakan pengetahuannya mengenai Islam

Fahri memandang Maria dengan kekaguman

Maria dan Fahri berbincang di tepi sungai Nil

Fahri memandang Maria dengan kekaguman

WANITA YANG LEMAH DAN EMOSIONAL

Atas nasehat gurunya, Syaikh Ustman, Fakhri melakukan taaruf (perkenalan) dengan keluarga Aisha. Ketika Taaruf itulah, Fahri baru menyadari bahwa wanita yang dijodohkan oleh Syaikh Ustman itu adalah Aisa, orang yang sebelumnya telah dikenalnya. Ketika cocok, pernikahan pun digelar. Laki-laki (dalam hal ini Fahri) digambarkan sebagai sosok yang lurus dan tegus kepada ajaran Islam. Dalam Islam, tidak dikenal pacaran. Yang ada dalam Islam adalah taaruf, saling mengenal. Kalau pihak laki-laki merasa cocok dengan wanita, bisa langsung menikah. Kalau tidak cocok, bisa tetap menjalin silatuhami. Fahri menikah dengan Aisha, karena sebelumnya telah taaruf dengan keluarga Aisha. Wanita-wanita yang mencintai Fahri (Nurul, Maria dan Noure) digambarkan kehilangan semangat hidup ketika mengetahui Fahrfi sudah menikah. Film AAC menampilkan wanita yang lemah, rapuh dan tidak bisa mengendalikan emosinya. Baik novel ataupun filmnya, tokoh-tokoh wanita digambarkan sebagai sosok yang cantik, cerdas dan disukai banyak orang. Tetapi mereka semua patah hati dan kehilangan semangat hidup ketika Fahri menikah. Nurul adalah Ketua Wihdad, organisasi mahasiswi Indonesia yang belajar di Mesir. Ia pintar, pandai berpidato dan menjadi primadona mahasiswa Indoensia di Mesir. Nurul juga anak dari kyai besar di Jawa Timur. Ketika mendengar Fahri menikah, ia kehilangan semangat hidup. Dalam potongan adegan (scene) ditampilkan shot ketika Nurul menangis sejadi-jadinya di dalam kamar kosnya. Ia melepas jilbab, dan

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 28


merobek foto Fahri dan buku hariannya. Kecantikan, kepintaran Nurul dan keaktifannya dalam organisasi ternyata kontras dengan hatinya yang rapuh. Setelah Fahri menikah, perasaan cinta Nurul tetap tidak bisa dihilangkan. Dalam versi novel aslinya, Nurul menulis surat kepada Fahri. Isi surat tersebut, Nurul menyadari kebodohannya tidak mengungkapkan terus terang perasaan cintanya pada Fahri. Perasaan itu tidak bisa hilang dan membuat ia patah semangat. Jikalau Fahri bersedia dan Aisha mengijinkan, Nurul ingin menjadi isteri kedua Fahri. Dalam versi film, adegan ini diubah sedikit. Paman Nurul (Ustadz Jalal) dan isteri bertamu ke rumah Fahri. DI situ, Ustadz Jalal menceritakan kondisi Nurul yang kehilangan semangatnya setelah Fahri menikah. Ustadz Jalal memohon Fahri agar bersedia menikah dengan Nurul agar semangat hidup nurul pulih kembali. Fahri tidak bersedia memenuhi permintaan tersebut, dan yakin suatu saat Nurul akan mendapatkan jodoh yang lebih baik. Nasib Nurul mirip dengan Maria. Maria juga gadis yang cantik. Ia mahasiswa Universitas Cairo jurusan Ilmu Komunikasi. Sejak sekolah dasar, Maria selalu menjadi juara kelas. Ia pintar dan pengetahuannya luas. Tapi sosok ini juga ditampilkan rapuh dan lemah ketika patah hati. Dalam potongan adegan (scene) ditampilkan Maria menangis tersedu-sedu ketika mendengar Fahri sudah menikah. Ia megang salib dan kemudian memeluk salib tersebut sambil menangis. Gambar ini memperlihatkan kesedihan Maria yang sangat mendalam, dan

meminta Tuhan agar menguatkan hatinya. Noura juga digambarkan sama dengan Nurul dan Maria. Noura seorang gadis yang cantik, namun menderita ketika cinta bertepuk sebelah tangan. Tetapi berbeda dengan Nurul dan Maria, Noura menjadi dendam kepada Fahri. Akibat dendam itu, ia memfitnah Fahri telah memperkosa dirinya.

Nurul menangis ketika tahu Fahri menikah

Nurul kehilangan semangat hidup

Maria menangis ketika tahu Fahri menikah

Maria memegang salib untuk menguatkan hati. Maria menangis sambil memegang salib

Dari ketiga wanita yang patah hati karena Fahri, kondisi Maria yang

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 29


paling mengenaskan. Maria bukan hanya patah semangat, tetapi juga setengah gila dan jatuh sakit akibat memikirkan Fahri. Sakitnya Maria memang diantara disebabkan oleh kecelakaan yang diduga dilakukan oleh ayah angkat Noura (Bahadur), tetapi ini diperparah karena peraasaan sedih yang mendalam pada Fahri. Potongan adegan (scene) menampilkan perasaan Maria pada Fahri yang mendalam, hingga sakit. Shot awal menampilkan wajah Maria yang pucat dan terus menerus menangis. Di bagian depan, shot menampilkan foto Maria. Shot ini menampilkan kontras antara foto diri Maria (sebelum Fahri menikah) yang tersenyum, dengan kondisi saat Maria ditinggal Fahri. Shot selanjutnya menampilkan bagaimana Maria tidak bisa melupakan kenangan-kenangan bersama Fahri. Maria dulu sebelum Fahri menikah sering mengirim jus (ashir) mangga kesukaan Fahri. Maria meletakkan jus mangga itu ke keranjang, dan diterima oleh Fahri, yang kebetulan flatnya di bawah flat Maria. Shot menampilkan dengan dramatis, bagaimana Maria dengan wajah kaku dan pucat, menaruh jus mangga itu ke dalam keranjang dan mengirimkannya ke bawah---meskipun tidak ada Fahri. Maria juga sendirian ke tepi Sungai Nil, tempat dimana dulu sering bersama Fahri ke tempat tersebut. Shot menampilkan wajah Maria yang murung, pucat dan tanpa semangat. Di bagian lain, shot menampilkan sakit Maria yang makin parah.

Maria yang sedih, tidak bisa melupakan Fahri

Maria agak setengah gila, melakukan kebiasaan mengirim jus mangga yang dulu bisa dilakukan.

Maria datang ke tepi Sungai Nil, seperti dulu pernah dilakukan bersama Fahri

Close Up: Wajah Maria yang sakit dan tidak ceria.

Semua potongan adegan (scene) tersebut menampilkan hal yang sama, yakni wanita yang rapuh, mudah terbawa emosi oleh perasaan cinta. Perasaan cinta itu bukan hanya menimbulkan patah semangat, tetapi juga sakit. Ini yang dialami oleh Maria. Ia bukan hanya menjadi pemurung,

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 30


tetapi juga sakit-sakitan karena memendang perasaan kesedihan yang mendalam ketika ditinggal Fahri menikah. PERNIKAHAN KARENA PERMINTAAN ISTERI Bagian yang menceritakan mengenai pernikahan poligami, terjadi di pertengahan film. Sakit Maria digambarkan makin parah. Ibu Maria (Madame Nahad) membawa Maria ke daerah asal Maria, agar Maria bisa tenang dirawat dan bisa melupakan Fahri. Aisha berusaha menemui Maria, karena Maria adalah satu-satunya saksi kunci yang bisa membebaskan Fahri. Tetapi Maria terbujur tidak sadarkan diri. Menurut dokter, Maria bisa sadar jikalau mendengar suara Fahri karena Marie terus menerus menyebut nama Fahri. Aisha merekam suara Fahri untuk diperdengarkan kepada Maria. Tetapi usaha ini gagal, karena Maria tetap tidak sadarkan diri. Satu-satunya cara adalah membawa Fahri ke rumah sakit dan bertemu langsung dengan Maria. Setelah melalui negosiasi dan atas jaminan atase kedutaan Prancis di Mesir, Fahri bisa keluar dari tahanan untuk maksimal 1 hari. Fahri berusaha membuat Maria tersadar. Fahri mengingatkan kenangan ketika meraka masih menjadi tetangga di flat, dimana Maria biasa memberikan jus mangga kesukaan Fahri. Mata Maria mulai bergerak, tetapi masih lemah. Fahri tidak bisa mengucapkan kata-kata lain selain cerita soal kenangan atau memegang tangan Maria, karena Maria bukan isterinya. Tanpa diminta Aisha kemudian mendatangi Fahri dan meminta agar Fahri menikahi Maria.

Shot Visual (1) Maria MS terbujur. Di dalam kamar ada Fahri, dokter, Aisha dan Madam.

Dialog Dokter: Dia butuh bantuanmu Fahri. Bicaralah dengan Maria. Fahri: (sambil memandang Maria) Kau ingat sirup mangga yang sering kamu buatkan. Atau kau yang sering minta tolong dibelikan CD. Atau tas kamu yang sering jatuh ke tanah karena terlalu berat membawa bukuku yang kamu pinjam. Bangun Maria. Dokter: gerakan matanya mulai aktif. Tapi masih lemah.

(2) MS

Fahri menarik kursi dan duduk di dekat Maria yang terbujur.

(3) MS

Maria menggerakka n matanya, kemudian dokter memeriksa Maria Fahri bingung Aisha: apa lagi yang (dalam bisa bahasa Arab)

(4) MS

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 31


dilakukan. Aisa mendatangi Fahri.

Katakan kamu akan menikahinya.

Gambar menampilkan kontras antara kondisi Maria yang tidak sadarkan diri dengan upaya Fahri melakukan segala cara agar Maria bisa sadar kembali. Fahri telah berusaha agar Maria bisa mengingat kembali kenangan saat dulu menjadi tetangga di flat. Wajah Fahri tampak kebingungan ketika dokter mengatakan Maria belum sadar. Fahri bingung upaya apa lagi yang dilakukan untuk membuat Maria sadar. Aisha datang dan memeluk Fahri dari belaknag dan meminta Fahri agar menikahi Maria. Pelukan dari belakang ini menandakan persetujuan dan permintaan Aisha. Rangkaian gambar-gambar tersebut menunjukkan bahwa keinginan untuk poligami bukan datang dari Fahri, tetapi datang dari Aisha. Pernikahan itu adalah terjadi karena kondisi yang memaksa, bukan sesuatu yang diharapkan. Semula Fahri dan Aisa menduga, dengan kedatangan Fahri, Maria bisa sadar. Tetapi ternyata Maria tetap tidak bisa sadar. Pernikahan adalah jalan untuk menyelamatkan kehidupan Maria. Ia butuh bantuan, dan pernikahan itu adalah jalan agar Maria bisa sadar dan hidupnya selamat.

Fahri berusaha menyadarkan Maria

Kondisi Maria yang tidak sadarkan diri.

Dokter memeriksa Maria, dan mengatakan kalau Maria belum sadar. Hanya matanya yang mulai bergerak, tetapi sarafnya belum bergerak.

Aisaha (dalam bahasa Arab) meminta Fahri menikahi Maria.

Gambaran bahwa pernikahan poligami itu bukan terjadi karena keinginan atau nafsu Fahri, lebih ditekankan pada potongan adegan (scene) selanjutnya. Fahri tidak mau menikahi Maria. Karena ia sudah ber janji akan bersama Aisa selamanya, dan poligami tidak semudah yang dibayangkan. Aisha berusaha

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 32


menekankan Fahri bahwa jodoh dan pernikahan adalah rahasia Allah. Adegan ini secara jelas menggambarkan bahwa bukan Fahri yang meminta poligami. Poligami itu terjadi karena kondisi yang terpaksa, dan atas dorongan isteri (Aisha). 1 Shot Visual Dialog (1) Fahri Fahri: Aisha, MS berdebat poligami dengan Aisha. tidak Madam semudah itu. mendengarka Kamu yang n dari kamar aku pilih pembicaraan dengan nama Fahri dan Allah. SatuAisha. satunya yang aku pilih. Kamulah jodohku Aisha. Aisha: (2) MS

1

Aisaha menarik Fahri agar berbicara lebih jauh dari kamar dimana Maria

Aisha: Jodoh itu rahasia Allah, Fahri. Ada diri Muslimah dalam diri

Ada perbedaan antara film AAC dan novel aslinya. Pada novel aslinya, permintaan agar Fahri menikahi Maria datang dari ayah dan ibu Maria, Boutros Rafael Girgis dan Nadame Nahad. Girgis tidak tegas dengan kondisi Maria yang tidak sadarkan diri dan terus menerus menyebut nama Fahri. Girgis menyimpulkan hanya Fahri yang bisa menyelamatkan Maria. Ini setelah Girgis membaca buku harian Maria, dan menemukan betapa Maria sangat mencintai Fahri. Girgis pula yang meminta ijin kepada pengadilan agar membolehkan Fahri keluar dari tahanan. Dalam novel, Girgis dan Nahad meminta Aisha agar merelakan Fahri menikah dengan Maria. Aisha menyetujui karena iba dengan kondisi Maria. Meski antara novel dan film berbeda, keduanya sama dalam hal permintaan pernikahan poligami tidak datang dari Fahri, tetapi dari orang lain.

dirawat

(3) MS

Aisaha berusaha meyakinkan Fahri

Maria. Dia butuh kamu. Dan bayi dalam kandunganku butuh Ayah. Aisha: Nikahi Maria

Aisha bukan hanya meminta Fahri menikahi Maria, tetapi juga memimpin prosesi jalannya pernikahan. Potongan adegan berikut memperlihatkan hal tersebut. Aisha menempelkan tangan ke dada Fahri. Ini menandakan dukungan dan harapan agar Fahri yakin untuk menikah. Shot berikutnya menampilkan close up, Aisha menyerahkan cincin pernikahan ke Fahri, agar cincin tersebut dipakai dalam proses pernikahan dengan Maria. Aisha menggenggam tangan Fahri yang menandakan bahwa keputusan untuk menikah (poligami) sudah bulat. Shot kemudian menampilkan kesibukan pernikahan yang dilangsungkan secara singkat karena Fahri hanya diberikan waktu sehari untuk keluar dari tahanan. Aisaha sendiri yang merias wajah Maria. Shot berikutnya menampilkan Madame Nagad yang mencium kening Maria, sebagai tanda persetujuan atau restu atas pernikahan Maria dengan Fahri. Adegan-adegan tersebut memperlihatkan bagaimana Fahri sebenarnya tidak aktif. Yang aktif dan terlibat dalam pernikahan adalah Aisha dan Madame Nahad. Ini secara implisit menandakan bahwa pernikahan poligami itu bukan keinginan dari

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 33


Fahri. Karena yang sibuk mempersiapkan pernikahan itu bukan Fahri.

Prosesi pernikahan

Aisha meyakinkan Fahri agar menikahi Maria.

Close Up. Aisha mengambil cincin nikah dan diberikan ke Fahri

Aisa merias wajah Maria

Berbeda dengan versi novelnya, dalam film AAC ditampilkan bagaimana perasaan Aisha yang cemburu ketika Fahri mencium tangan dan kening Maria dan mengatakan mencintai Maria. Bagian ini tidak terdapat dalam novelnya. Adegan dimulai dari shot ketika Fahri mencoba untuk menyadarkan Maria. Karena sudah resmi menikah, Fahri boleh memegang dan mencium tangan Maria. Aisha memandang dengan perasaan cemburu. Maria menjadi tersadar. Ketika Fahri mengatakan mencintai Maria, Aisah tidak kuat menahan perasaannya, keluar ruangan sambil menangis. Shot kemudian menampilkan ibu Maria (Madame Nahad) menyusul Aisha dan mencium tangan Aisha. Ini merupakan tanda dari perasaan kagum, sayang dan terima kasih karena telah mengijinkan Fahri menikah dengan Maria.

Madame Nahad (ibu) mencium Maria, restu atas pernikahan

Fahri mencium tangan Maria dan bilang mencintainya

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 34


Aisha memandang cemburu

Fahri mencium kening Maria.

Maria tersadar (bangun)

Maria ke luar ruangan sambil menangis.

Madame Nahad mencium tangan Aisha.

UPAYA BERLAKU “ADIL� Setelah menikah, Maria sembuh dan bisa memberi kesaksian di

pengadilan. Dengan kesaksian Maria, Fahri bisa dibebaskan dari tuduhan pemerkosaan. Bagian selanjutnya dari film AAC adalah romantika mengenai kehidupan Fahri setelah memiliki dua isteri. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi, susahnya berbuat adil untuk kedua isterinya dan sebagainya. Bagian ini tidak ada di dalam novel AAC. Di novel, setelah Fahri dibebaskan, Fahri dan Aisha langsung merawat Maria. Tidak digambarkan masalah dan konflik pernikahan poligami. Bagian ini merupakan upaya Hanung untuk memberikan gambaran yang lebih “manusiawi� mengenai poligami. Dalam versi novel, sama sekali tidak diceritakan masalah dan konflik pernikahan poligami. Maria, Fahri dan Aisha digambarkan menerima dengan ikhlas pernikahan poligami. Hanung memberikan tambahan adegan untuk menekankan betapa sulit berlaku adil bagi pelaku poligami. 2Shot awal menceritakan Fahri yang kikuk di malam pertama berhadapan dengan dua isteri. Fahri duduk di ruang tamu dengan tangan 2

Bagian ini nampaknya adalah kompromi antara isi novel dengan keyakinan Hanung Bramantyo. Novel AAC sama sekali tidak menyinggung dampak negatif poligami, sama sekali tidak menggambarkan kesulitan perkawinan poligami. Sementara Hanung sendiri, tidak setuju dengan pernikahan poligami. Dalam salah satu wawancara, Hanung mengatakan tidak setuju dengan poligami karena tidak yakin bahwa seorang suami bisa berlaku adil pada isteri-isterinya. Dalam poligami pasti terjadi kekerasan, karena tidak ada wanita yang rela suaminya berbagi perasaan dan hati dengan orang lain. Hanung melakukan kompromi antara keyakinan pribadinya dnegan novel AAC. Pada film ini, poligami tidak digambarkan secara buruk (seperti keyakinan pribadinya), tetapi juga tidak digambarkan secara baik seperti dalam novel. Kompromi itu dilakukan dengan membuat scene dan adegan tambahan, betapa sulitnya pernikahan poligami.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 35


yang memegang tasbih. Aisa bertanya kepada Fahri mau tidur dimana malam ini. Shot kemudian menggambarkan Aisha dan Maria yang tidur sendirian di kamar. Di masing-masing kamar, terdapat dua bantal yang menunjukkan bahwa kamar tersebut sebenarnya disediakan untuk dua orang. Shot selanjutnya menunjukkan Fahri yang tidur sendirian di atas karpet di ruang tamu. Shot yang menampilkan Fahri tengah memegang tasbih bisa ditafsirkan sebagai kebingungan Fahri untuk berbuat adil kepada dua isterinya. Ajaran agama mengenai berlaku adil ternyata mudah diucapkan tetapi tidak mudah dipraktekkan. Adegan Fahri yang duduk di ruang tengah bisa ditafsirkan sebagai kebingungan dan kekikukan Fahri.

Aisha bertanya Fahri akan tidur bersama siapa

Aisha tidur sendirian di kamar

Maria tidur sendirian di kamar.

Fahri tidur di ruang tamu

Adegan selanjutnya menggambarkan sisi “manusiawi� lain dari poligami, yakni perasaan cemburu. Hanung menggunakan gambar untuk memperlihatkan perasaan cemburu di antara Aisa dan Maria. Shot menampilkan Fahri yang tengah membantu Maria berdiri dari kursi roda, dan kemudian menampilkan tatapan tidak senang Maria. Shot selanjutnya menampilkan Fahri yang memegang perut Maria yang tengah mengandung. Shot ini kemudian diiringi dengan adegan Maria yang secara tidak sengaja melihat kebahagiaan Fahri melihat kehamilan Aisha yang makin besar. Ada perasaan cemburu kepada Aisha bukan hanya karena Fahri tampak lebih sayang kepada Aisha tetapi juga karena Aisaha memiliki sesuatu yang tidak dipunyai oleh Maria, yakni kehamilan. Deegan kondisi yang sakit-sakitan, Maria tidak mungkin bisa hamil. Tatapan Maria yang kosong dan hampir menangis menandakan bukan hanya cemburu tetapi juga kesedihan

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 36


karena tidak mampu memberikan sesuatu yang berharga kepada Fahri seperti yang diberikan oleh Aisha.

Fahri dengan mesra membantu Maria berdiri

Tatapan Aisha menandakan tidak senang

versi novel. Adegan-adegan tersebut ingin menunjukkan bahwa poligami tidak semudah yang dibayangkan, karena pasti ada perasaan wanita yang disakiti. Salah satu adegan yang bagus untuk menampilkan tersebuit adalah kecemburuan Aisha yang merasa tidak diperhatikan oleh Fahri. Shot awal menampilkan Fahri yang bermesraan dengan Maria. Aisha secara tidak sengaja memergoki kemesraan tersebut. Shot selanjutnya menampilkan Aisha yang datang sendirian ke toko baju anak-anak untuk membeli perlengkapan kelahiran. Secara tidak sengaja pula Aisha melihat seorang suami yang memanjakan isterinya yang tengah hamil. Sang suami dengan telaten memilihkan baju untuk calon anak mereka. Shot ini dibuat kontras untuk menggambarkan suasana hati Aisha yang merindukan Fahri seperti orang tersebut---memanjakan Aisha, meluangkan waktu sepenuhnya untuk Aisha dan belanja keperluan calon anak bersama-sama.

Fahri memegang perut Aisha, bahagia dengan kehamilan Aisha

Fahri bermesraan dengan Maria Tatapan kecemburuan Maria

Hanung memakai bahasa gambar untuk menampilkan perasaan cemburu, tidak senang dan sebagainya. Semua adegan ini tidak terdapat dalam Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 37


Aisha secara tidak sengaja memergoki kemesraan Fahri dan Maria

Seorang suami yang memanjakan isterinya yang tengah hamil dengan membelikan baju untuk calon anak

Aisha memilih baju sendiri untuk calon anaknya

Meski telah berusaha menampilkan sisi lain dari poligami yang tidak terdapat dalam novel aslinya, film AAC tidak berusaha menampilkan gambaran yang berbeda mengenai poligami. Konflik digambarkan hanya sebagai awal dari pengertian yang lebih baik di antara pasangan poligami. Film AAC terjebak dalam pandangan bahwa dalam perkawinan poligami, seorang isteri yang harus rela, mengalah dan ikhlas berbagi perasaan dengan isteri yang lain. Konflik bukan dikarenakan suami, tetapi akibat kesalahan wanita (isteri) yang tidak mau mengalah dengan isteri yang lain. Hal ini terlihat dari adegan Aisha yang pemit menenangkan diri ke Turki. Shot diawali dengan Aisha yang memasukkan baju ke koper, lalu

meminta ijin kepada Fahri hendak ke Turki menenangkan diri. Fahri berusaha mencegah kepergian Aisha. Shot selanjutnya menampilkan Maria yang membuka pintu dan dengan perasaan sedih mendengarkan percakapan Fahri dan Aisa. Wajah sedih Maria bisa ditafsirkan bahwa Aisha merasa ketidaknyamanan Aisha akibat kehadiran dirinya. Maria yang salah dan bukan Fahri. Shot kemudian menampilkan Aisha yang meyakinkan Fahri bahwa dirinya akan baik-baik saja, dan meminta Fahri agar menjaga Maria yang sedang sakit. Shot sekali lagi menampilkan ekspresi kesedihan Maria. Ini juga bisa ditafsirkan bahwa pertengkaran antara Fahri dan Aisha terjadi akibat kehadiran Maria. Wajah sedih Maria bisa ditafsirkan sebagai perasaan bersalah telah membuat Fahri dan Aisha bertengkar. Potongan adegan tersebut memperlihatkan bagaimana secara halus film AAC menampilkan kesalahan ketidakharmonisan keluarga poligami akibat wanita. Bukan karena laki-laki (Fahri) yang tidak bisa menjaga perasaan kedua isterinya.

Aisha meminta ijin pada Fahri hendak menenangkan diri ke Turki

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 38


ikhlas menerima kondisi yang telah diberiakan oleh Tuhan. Secara tidak langsung, adegan ini meminta agar Aisha bisa ikhlas menerima kehadiran Maria, meski itu kondisi yang tidak ideal. Medium Close Up, kesedihan Maria mendengar Maria hendak pergi

Shot Visual (1) Fahri sholat MS dan kemudian mengikuti pengajian

Fahri melarang Aisha pergi, tetapi Aisha bersikeras tetap akan perlu

Medium Close Up, kesedihan Maria ada pertengkaran kecil antara Fahri dan Aisha

Adegan selanjutnya menggambarkan upaya Fahri untuk mengembalikan Aisha, dan memulai kehidupan baru dengan saling pengertian antara Fahri, Aisha dan Maria. Shot menampilkan Fahri yang tengah mengikuti ceramah agama, dimana penceramah menekankan agar umat selalu berusaha dan tidak pantang menyerah. Fahri kemudian datang ke rumah Eqbal untuk menjemput Aisha, agar pulang ke rumah. Fahri berjanji untuk lebih baik dan menekankan agar

(2) MS

Paman Eqbal berbicara dengan Aisha

Dialog Penceramah: (dalam bahasa Arab), dimana terjemahannny a adalah “Tidak pernah ada orang minta susah. Tetapi ketika kesusahan itu datang ke kita, apakah kita harus marah? Capek sekali hidup kita jadinya. Sebagai muslim kita tidak boleh menyerah. Allah selalu bersama orangorang yang berusaha. Paman Eqbal: Saya bukannya tidak mau mengantarkan kamu ke Turki. Tetapi waktunya, apa harus sekarang? Aisha: Aku butuh waktu

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 39


untuk memahami semua ini. (3) MS

Fahri datang, dan menghampi ri Aisha dan paman Eqbal

Fahri: Ikhlas Aisha. Itulah yang sekarang aku coba jalani. Aku tidak ikhlas menerimamu lebih kaya dari pada aku. Aku tidak ikhlas menerima kondisi kita bertiga dengan Maria. Hingga aku tidak tahu adil itu apa dan bagaimana. Aku akan belajar lagi. Tetapi untuk itu aku butuh kamu.

(4) MS

Aisha mencium tangan Fahri

Fahri: Aku akan belajar lagi. Tetapi untuk itu aku butuh kamu.

Konflik di awal perkawinan poligami itu diakhiri dengan kembalinya Aisha ke rumah. Shot awal menampilkan Maria yang gembira dengan kedatangan Maria ke rumah. Ini menandakan bahwa beban Maria telah terlepas. Maria bisa bebas dari perasaan bersalah. Shot kemudian menampilkan Maria dan Aisha

berpelukan, yang disaksikan oleh Fahri. Pelukan ini adalah tanda saling menerima di antara Maria dan Aisha. Shot-shot selanjutnya menampilkan bagaimana pengertian di antara Aisha dan Maria, dari mulai kegiatan bersama-sama (makan), hingga saling bantu----Maria membantu proses kelahiran Aisha, sementara Aisha membantu merawat Maria yang sakit. Adegan-adegan tersebut secara implisit menekankan bahwa masalah yang timbul dalam poligami (peraasaan cemburu, tidak diperhatian, tidak bisa adil dan sebagainya) bisa diatasi dengan perasaan ikhlas dan saling menerima di antara para isteri. Suami tidak salah, yang salah adalah isteri. Kalau isteri (dalam hal ini Maria dan Aisha) mau ikhlas, pengertian dan menerima kehadiran isteri lain, maka pernikahan poligami tetap bisa harmonis.

Maria gembira dengan kedatangan Aisha ke rumah

Aisha dan Maria pelukan, disaksikan oleh Fahri

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 40


Fahmi makan dan rekreasi bersama Aisha dan Maria

Maria membantu Aisha yeng tengah hamil

POLIGAMI DAN MITOS WANITA Film AAC menampilkan banyak tema. Tulisan ini memfokuskan pada penggambaran poligami dalam film AAC, lebih spesifik melihat bagaimana wanita digambarkan dalam film AAC. Film AAC menggambarkan bahwa poligami bukanlah akibat nafsu dan keinginan laki-laki, tetapi karena terpaksa tidak punya pilihan lain. Dalam AAC, kondisi terpaksa itu adalah untuk menyelamatkan Maria. Laki-laki (fahri) tidak menginginkan poligami. Kalau poligami itu terjadi murni karena kondisi terpaksa, dan itu pun akibat desakan dari isteri (Aisha). Wanita dalam film AAC semuanya digambarkan sebagai sosok yang emosional, lemah, rapuh, sentimentil, dan lebih mengedepankan perasaan dibandingkan dengan logika. Nurul adalah ketua perhimpunan mahasiswi Indonesia di Mesir dan anak seorang kyai terkenal di Jawa Timur. Maria adalah gadis yang cantik, mahasiswi yang berpretasi dan pintar sejak kecil. Sementara Noura adalah

gadis belia yang cantik dan anak seorang kaya pembesar di Mesir. Meski semua tokoh wanita tersebut digambarkan cantik dan pintar, tetapi semuanya digambarkan tidak bisa mengendalikan perasaan cinta. Ketika cinta bertepuk sebelah tangan, harapan hidup mereka seakan hilang. Wanita secara implit digambarkan sebagai orang yang bodoh karena dibutakan oleh cinta. Noura menjadi dendam karena cinta bertepuk sebelah tangan, dan memfotnah Fahri telah memperkosanya. Nurul menjadi kehilangan harapan hidup, yang membuat pamnnya meminta Fahri agar meu menikahi Nurul. Sementara Maria jatuh sakit dan kehilangan semangat hidup sejak Fahri menikah. Sebaliknya laki-laki (Fahri) digambarkan rasional, kuat pendirian dan mengedepankan logika. Fahri bahkan digambarkan tidak punya keinginan dan nafsu, meski kesempatan itu ada. Poligami yang dilakukan oleh Fahri bukan karena nafsu dan keinginan Fahri, tetapi untuk menyelamatkan jiwa wanita. Maria tidak sadarkan diri, dan ia baru bisa sadar kalau mendapatkan sentuhan cinta dari Fahri. Keinginan untuk menikahi Maria juga tidak datang dari Fahri, tetapi dari Aisha. Aisha iba dengan penderitaan Maria, di samping alasan kesembuhan Maria penting agar Maria bisa bersaksi di pengadilan. Desakan untuk poligami karena desakan wanita, bukan oleh keinginan apalagi nafsu Fahri. Secara tidak langsung, film AAC justru menampilkan laki-laki sebagai “korban� dari poligami. Fahri melakukan perkawinan karena

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 41


keterpaksaan, bukan karana keinginan atau memenuhi nafsunya. Laki-Laki (Fahri)

Rasional Kuat pendirian Mengedepankan logika Dicintai

Perempuan (Noura, Nurul, Maria dan Aisha) Emosional Lemah pendirian Mengedepankan perasaan, cinta, sentimentil Mencintai

Film AAC memang menampilkan adegan kesulitan berlaku adil dalam perkawinan poligami, dimana bagian ini tidak terdapat dalam novel aslinya. Film menampilkan rasa tidak nyaman bagi isteri ketika harus berbagi---seperti perasaan iri atau cemburu. Tetapi film AAC tetap tidak bisa lepas dari gambaran yang menampilkan wanita secara buruk. Alih-alih menampilkan pembelaan terhadap wanita, film AAC justru menampilkan gambaran buruk terhadap isteri-isteri yang berpoligami. Ketidakharmonisan perkawinan bukan karena salah laki-laki, tetapi akibat kesalahan perempuan. Ini akibat isteri tidak ikhlas dan tidak pengertian dengan isteri lain. Aisha merasa cemburu karena Fahri lebih perhatian ke Maria. Aisha juga iri ketika Fahri tidak bisa memberikan waktu lebih banyak seperti umumnya suami kepada isterinya yang lagi hamil. Maria juga merasa isi pada Aisha, kareana Maria tidak memilik sesuatu yang dimiliki oleh Aisha, yakni kehamilan. Kesalahan tidak ditimpakan ke Fahri, tetapi akibat wanita yang tidak bisa

ikhlas dan menerima kekurangan. Film pada akhirnya menampilkan keluarga Fahri yang harmonis. Bagaimana Aisha dan Maria bisa saling membantu dan mendukung. Itu semua terjadi karena wanita ikhlas, dan mau mengalah. TAFSIR-TAFSIR YANG SERAGAM DAN SUARA PERLAWANAN Film AAC menampilkan wanita sebagai sumber masalah dalam poligami. Seperti telah diuraikan dalam analisis di atas, perkawinan poligami terjadi bukan akibat nafsu atau keinginan laki-laki, tetapi akibat keinginan perempuan. Poligami adalah perkawinan yang tidak bisa dihindari untuk menyelamatkan wanita. Wanita dalam film AAC digambarkan sebagai pribadi yang rapuh, mudah terbawa perasaan dan emosi. Seperti wanita yang kehilangan semangat hidup bahkan terancam meninggal akibat ditinggal laki-laki. Poligami adalah keadaan yang terpaksa untuk menyelamatkan wanita, bukan karena keinginan laki-laki. Film AAC memang berusaha menampilkan tafsir lain di luar isi novel, berupa kesulitan yang dihadapi oleh pasangan poligami. Tetapi seperti terlihat dalam tulisan ini, tafsir yang dihadirkan oleh film ini justru makin memperkuat gambaran buruk mengenai wanita. Masalah dalam perkawinan (cemburu, tidak adil dsb) bukan akibat kegagalan laki-laki, tetapi akibat wanita yang tidak bisa menerima kehadiran isteri lain. Keharmonisan sebagai akibatnya bisa dicapai kalau masing-masing isteri bisa ikhlas menerima, mengerti dan

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 42


menerima kehadiran wanita lain dalam perkawinannya. Pandangan yang menempatkan wanita pada posisi buruk dalam poligami, tidak hanya muncul dalam film AAC. Pada film lain, terutama film yang mengusung tema “Islam�, banyak ditampilkan gambaran tersebut. Sebagai misal adalah film Kehormatan di Balik Kerudung (sutradara Tya Subiakto), produksi tahun 2011. Sama seperti AAC, film ini juga diangkat dari novel laris----film ini diadaptasi oleh Amalia Putri dari novel laris dengan judul sama karya Ma’mun Affany. Film ini berkisah mengenai kisah cinta Ifan (Andhika Pratama), Syahdu (Donita) dan Sofia (Ussy Sulistiawaty). 3 Sama seperti AAC, 3

Film diawali oleh adegan ketika Syahdu berlibur ke rumah kakeknya untuk menenangkan diri. Dalam perjalanan menggunakan kereta, Syahdu bertemu pertama kali dengan Ifan, pemuda yang ganteng, sopan dan rajin shalat. Perjumpaan pertama kali itu menimbulkan bibit-bibit cinta di antara Syahdu dan Ifan. Setelah sampai di rumah kakek, Syahdu baru menyadari kalau Ifan ternyata satu kampung dengan kakeknya. Syahdu kemudian menjalin kasih dengan Ifan. Hubungan itu menimbulkan pergunjingan di desa. Di samping warga desa tidak mengenal pacaran, warga desa juga mengetahui kalau Sofia sejak lama menaruh hati kepada Ifan. Dalam salah satu adegan, teman Sofia menemui Syahdu dan memintanya agar tidak pacaran dengan Ifan karena tidak tega dengan Sofia. Untuk menghindari pergunjingan warga desa, Syahdu memutuskan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Syahdu mendapat kabar dari adiknya, Ratih, kalau ibunya sakit keras dan membutuhkan biaya besar berobat di rumah sakit. Syahdu dan Ratih bingung mencari uang untuk biaya rumah sakit. Dalam situasi genting itu, Nazmi, orang yang pernah mencintai Syahdu dan masih berusaha mendapatkan kembali cinta Syahdu, menawarkan bantuan dana guna membiayai operasi ibunya dengan satu syarat, Syahdu harus bersedia menikah dengannya. Demi cinta kasihnya dengan ibunda, Syahdu pun menerima tawaran lelaki itu untuk menikah.

meski dicintai oleh dua wanita sekaligus, Ifan tidak digambarkan sebagai playboy. Ifan adalah pribadi yang menarik dan taat beribadah sehinbgga menarik perhatian banyak wanita. Pernikahan poligami yang dilakukan oleh Ifan bukan karena nafsu, tetapi untuk menyelamatkan nasib Syahdu. Dalam film ini, Syahdu digambarkan sebagai wanita yang sangat mencintai Ifan dan menjadi sakit-sakitan ketika mengetahui Ifan telah menikah dengan Sofia. Ifan bersedia poligami ketika didesak oleh Sofia, bukan karena permintaan Ifan. Pada titik ini, alasan dan nmotivasi perniakahan poligami sama persis dengan AAC. Laki-laki ditempatkan sebagai pihak yang terpaksa melakukan poligami karena terdesak oleh situasi menyelamatkan wanita, bukan akibat nafsu laki-laki. Situasi Ifan sama persis dengan yang dihadapi oleh Fahri yang harus menyelamatkan nyawa wanita. Jika poligami tidak Ifan kecewa setelah mengetahui Syahdu menikah. Untuk mengobati kekecewaannya, Ifan menikah dengan Sofia. Setelah menikah, Syahdu tidak serta merta bisa melupakan Ifan. Suami Syahdu marah ketika mengetahui Syahdu masih mencintai Ifan, dan kemudian menceraikan Syahdu. Setelah bercerai, Syahdu sakit keras karena terus memikirkan Ifan. Tidak tega dengan penderitaan kakaknya, Ratih berkirim surat ke Sofia dan menceritakan kondisi Syahdu. Dengan keikhlasan luar biasa, Sofia mengijinkan Ifan mengunjungi Syahdu. Sofia bahkan meminta agar Ifan menikahi Syahdu. Film kemudian menggambarkan perselisihan, cemburu, dan persaingan Syahdu dan Sofia dalam mendapatkan perhatian Ifan. Karena rasa cemburu, Syahdu memilih pulang ke rumah orang tua. Syahdu yang melahirkan bayi laki-laki. Tetapi kesehatan Syahdu terus menurun hingga nyawanya tidak bisa diselamatkan. Film diakhiri dengan meninggalnya Syahdu didampingi oleh ibu, adik, Ifan dan Sofia.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 43


dilakukan, maka wanita bisa kehilangan jiwa dan hidupnya. Di sini, laki-laki seakan-akan ditempatkan sebagai “korban� dari poligami, bukan wanita. Laki-laki sebenarnya tidak menginginkan poligami, tetapi karena kondisi yang terpaksa, maka laki-laki setuju poligami. Pernikahan poligami juga digambarkan didorong oleh isteri pertama (Sofia), bukan karena Ifan yang membujuk Sofia agar merestui pernikahan poligami. Sofia mirip dengan Aisha yang rela dimadu dan mendorong suaminya agar berpoligami. Film Kehormatan di Balik Kerudung juga menceritakan sulitnya pernikahan poligami. Sulitnya lakilakiu berlaku adil di anatar dua isteri. Pernikahan poligami diwarnai oleh perselisihan, rasa cemburu, perasaaan tidak diperlakukan adil oleh suami. Tetapi sama seperti AAC, film ini juga menimpakan kesalahan kepada wanita. Wanita (Sofia dan Syahdu) digambarkan sensitif, mudah cemburu dan tidak siap kalau perhatian suami terbagi. Ifan telah berupaya keras berlaku adil dan membagi perhatian yang sama kepada kedua isteri. Sikap Ifan ini tidak diimbangi oleh wanita (Sofia dan Syahdu) yang lebih mengedepankan perasaan dibandingkan upaya untuk menjaga keharmonisan keluarga. Jikalau pernikahan poligami gagal, bukan karena kesalahan laki-laki tetapi kesalahan wanita karena tidak bisa menerima perhatian suami terbagi. Untung saja, gambaran poligami yang menempatkan wanita sebagai pihak yang bersalah, idak lah tunggal. Ada sejumlah film lain yang mengangkat poligami, menampilkan

wanita sebagai korban. Poligami ditampilkan sebagai akibat nafsu dan keinginan laki-laki. Wanita sebaliknya ditampilkan sebagai korban akibat nafsu laki-laki. Hanung Bramantyo membuat dua film lain yang menyinggung poligami, yakni Perempuan Berkalung Sorban (2009) dan Tanda Tanya (2011). Dalam Perempuan Berlakung Sorban, sosok wanita (Annisa) berani melawan suaminya yang melakukan poligami. Annisa menuntut perceraian dan mencari suami yang benar-benar dicintainya. Sementara dalam Tanda Tanya, tokoh wanita (Rika) memilih percereraian ketika suaminya meminta ijin untuk menikah lagi (poligami). Wanita tersebut bahkan akhirnya memutuskan pindah agama. Karakter wanita dalam kedua film tersebut, bertolak belakang dengan film AAC ataupun Kehormatan di Balik Kerudung. Wanita di kedua film ini, ditampilkan sebagai korban dari nafsu laki-laki. Tidak seperti AAC dan Kehormatan di Balik Kerudung, film Peremnpuan Berkalung Sorban dan Tanda Tanya menampilkan pernikahan poligami sebagai akibat nafsu laki-laki. Wanita dalam fil-film ini juga tidak lagi digambarkan melankolis, dan terbawa oleh perasaaan cinta. Wanita digambarkan melawan poligami dengan mengajukan perceraian. Film lain yang perlu dicatat adalah Berbagi Suami (2008, Sutradara Nia Dinata). Film ini secara jelas adalah pembelaan terhadap wanita yang menjadi korban dari poligami. Apapun motivasinya, laki-laki yang melakukan poligami (Haji Ali Imron, Pak Lik dan Koh Abun) lebih karena motivasi nafsu dibandingkan dengan

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 44


menyelamatkan kehidupan dan jiwa wanita sebagaimana digambatkan dalam AAC dan Kehormatan di Balik Kerudung. Film ini juga menggambarkan bagaimana wanita yang menjadi korban, melakukan perlawanan dengan cara yang berbedabeda atas perkawinan poligami. Kehadiran film semacam Perempuan Berkalung Sorban (2009), Tanda Tanya (2011) dan Berbagi Suami (2008) perlu diapresiasi sebagai perimbangan atas tafsir poligami seperti yang disajikan oleh film AAC.

Gaik Cheng dan Thomas Barker (ed), Mau Dibawa Kemana Sinema Kita: Beberapa Wacana Seputar Film Indonesia. Jakarta: Binus Publishing dan Salemba Humanika, pp. 57-80.

Daftar Pustaka Affany, Ma’mun. (2010). Kehormatan di Balik Kerudung. Jakarta: Sofia Publishing House. Elshirazy, Habiburrahman. (2004). Ayat-Ayat Cinta. Jakarta: Penerbit Republika. Heryanto, Ariel. (2008). Popular Culture in Indonesia: Fluid Identities in Post Authoritarian Politics. London: Routledge. Paramadita, Intan (2011). “Passing” dan Naratif “Pindah Agama”: AyatAyat Cinta dan Performativitas Muslim Indonesia Kontemporer. Khoo Gaik Cheng dan Thomas Barker (ed), Mau Dibawa Kemana Sinema Kita: Beberapa Wacana Seputar Film Indonesia. Jakarta: Binus Publishing dan Salemba Humanika, pp. 81-108. Sasono, Eric. (2011). Film-Film Indonesia Bertema Islam Dewasa Ini: Jualan Agama atau Islamisasi?. Khoo Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013 45


PERANAN HUMAS KEMENTERIAN KEHUTANAN DALAM PELAKSANAAN EVENT INDOGREEN FORESTRY EXPO DI JAKARTA CONVENTION CENTER 2012 Rofiqoh Wulandari Linda Islami Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur Vqo_4@yahoo.com linda.islami@budiluhur.ac.id

ABSTRACT Public relations is a management function to bridge between the organization and the community. Ministry of Forestry was instrumental in advancing, empowering communities through the organization of events IndoGreen Forestry Expo 2012. To be able to gain knowledge and insight about a healthy environment to the people. The purpose of this study was to determine the role of Public Relations of the Ministry of Forestry in the Implementation of event IndoGreen Forestry Expo 2012 at the Jakarta Convention Center. The problem formulation in this study is "How publicists role in the implementation of the Ministry of Forestry, forestry IndoGreen event at the Jakarta Convention Center Expo 2012?" The theory used in this study is the role of Public Relations Theory of Cutlip, Center & Broom who said there are four roles, namely the Council of Public Relations Expert (Expert Precriber Communication), ProblemSolving Process Facilitator (Problem Solving Process Facilitator), Facilitator Communication (Communication Facilitator), Communications technician (technician Communication). In this study the authors use constructivist paradigm, the approach taken in this study by using a qualitative approach. The method used by the author in this research is descriptive. The results showed that the role of public relations in the implementation of the Ministry of Forestry IndoGreen Forestry Expo 2012 event. To introduce a healthy environment to the people, the way through the event IndoGreen Forestry Expo is expected to increase public knowledge and insight about a healthy environment which is still a lack of awareness of healthy living environment by the Indonesian people. Keywords: The Role of Public Relations, Government Relations, Event, IndoGreen Forestry Expo.

PENDAHULUAN Hubungan masyarakat (Humas) mempunyai peran yang cukup penting di dalam langsungnya suatu kegiatan di perusahaan baik swasta maupun pemerintah. Humas dapat dikatakan memiliki andil yang besar dalam berjalannya suatu tujuan perusahaan.

Hubungan masyarakat sendiri merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menjembatani antara organisasi dengan masyarakat. Karena pemerintah memiliki tujuan dan kepentingan lebih kompleks dari sekedar menjaga citra yang baik pemerintahan. Kementerian Kehutanan Jakarta berperan penting dalam memajukan, memberdayakan

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

46


masyarakat dengan memberikan pelayanan informasi terkait seperti, pelestarian hutan dan keanekaragaman hayati, penyerahan bibit tanaman serta penanaman pohon, memberikan perlindungan untuk hutan dan memperbaiki ekosistem kawasan lingkungan hidup, dengan berpihakan kepada rakyat mengelola hutan secara berkeadilan. Dimana hal ini sesuai dengan komitmen presiden untuk menurunkan Gas Rumah kaca sebesar 26% dengan upaya sendiri atau sampai 41% dengan dukungan internasional dan serta upaya pertumbuhan ekonomi sebesar 7% pertahunnya melalui Event IndoGreen Forestry Expo merupakan salah satu program Humas yang dilaksanakan dalam bidang sosial. Kementrian Kehutanan Republik Indonesia memiliki peran yang sangat penting untuk memperkenalkan lingkungan hidup sehat kepada masyarakat, agar masyarakat dapat mengetahui apa yang telah dimaksud dengan lingkungan hidup sehat, serta menciptakan kesadaran terhadap tujuan dan kegiatan yang telah dilakukan. Oleh karena itu Kementrian Kehutanan berupaya melakukan kegiatan-kegiatan dalam memperkenalkan serta dapat menginformasikan manfaat lingkungan hidup sehat kepada masyarakat. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan masyarakat mengenai lingkungan hidup sehat yang terbilang masih kurangnya kesadaran terhadap lingkungan hidup sehat oleh masyarakat indonesia.

Kementerian Kehutanan Jakarta, sebelumnya mengadakan beberapa event di antaranya pada tahun 2009 event" IndoGreen Forestry Expo ke-1, tahun 2010 event " IndoGreen Forestry Expo ke-2, IndoGreen Forestry Expo ke-3 tahun 2011, dan IndoGreen Forestry Expo ke-4 pada tahun 2012 yang di selenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC) dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya dalam penyelenggaraan event IndoGreen Forestry Expo 2012, yaitu menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, seperti bekerja sama dengan media relations, para sponsor event dan pemerintah. Event IndoGreen Forestry Expo 2011 telah dikunjungi oleh 10.000 ribu orang terdiri dari pejabat pemerintah, pengusaha, mahasiswa, aktivis pencinta lingkungan, pelajar dan masyarakat umum. Pada tahun 2012 event IndoGreen Forestry Expo mengalami peningkatan yang dikunjungi mencapai 25.000 ribu orang. Peneliti tertarik mengangkat judul “Peranan Humas Kementrian Kehutanan dalam pelaksanaan event IndoGreen forestry Expo di Jakarta 2012.� Karena Dengan di adakannya IndoGreen Forestry Expo 2012 di Jakarta Convention Center (JCC) peneliti ingin mengingatkan kepada masyarakat dan para pelaku industri sektor kehutanan agar selalu mengembangkan budaya ramah lingkungan dalam setiap kegiatannya. Melalui program pameran berharap dengan kesadaran dan kepedulian para pengembang industri kehutanan

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

47


terhadap lingkungan hidup yang semakin meningkat. “Pameran kehutanan ini sangat penting sebagai media sosialisasi yang mempertemukan para pengusaha yang bergerak di sektor kehutanan seperti usaha pertanian, perkebunan, dan pertambangan, sehingga mereka dapat membangun komunikasi untuk pengembangan industri ramah lingkungan. “Pameran Kehutanan ini adalah sarana promosi mengenai agenda tahunan Kementrian Kehutanan. Melalui program lingkungan hidup pihak Kementrian Kehutanan mencoba untuk melaksanakan suatu program pemerintah yang telah dijalankan. Pemerintah Indonesia memiliki peran yang sangat penting dan tanggung jawab terhadap permasalahan yang ada ditengah masyarakat terutama pemanasan global warming dan tingkat polusi yang semakin meningkat. Untuk Meningkatkan kesadaran masyarakat akan fungsi hutan sebagai paru-paru dunia dan Menyelamatkan hutan yang di Indonesia dari pembalakkan liar (illegal logging). Pada kantor Kementrian Kehutanan, Program ini menjadi bagian terpenting dari tugas bidang sosial, suatu syarat dari kegiatan kehumasan. Begitupun yang telah dilaksanakan dalam bidang sosial Kementrian Kehutanan, Jakarta. KERANGKA TEORI Public Relations memiliki beberapa peran yang dapat menunjang keberhasilan suatu perusahaan serta

mengangkat citra positif suatu perusahaan yaitu sebagai : 1. Penasehat Ahli Manajemen Seseorang praktisi Public Relations yang berpengalaman dan memiliki kemampuan tinggi dapat membantu mencarikan solusi dalam penyelesaian masalah hubungan dengan publiknya (Public Relationship). 2. Fasilitator Komunikasi Praktisi Public Relations bertindak sebagai komunikator atau mediator untuk membantu manajemen dalam hal untuk mendengarkan apa yang diinginkan dan diharapkan oleh publiknya. 3. Fasilitator Proses Pemecahan Masalah Membantu pimpinan organisasi sebagai penasehat hingga mengambil tindakan eksekusi dalam mengatasi persoalan atau krisis yang tengah dihadapi secara rasional dan profesional. 4. Teknisi Komunikasi Praktisi Public Relations sebagai journalist in resident yang hanya menyediakan layanan teknis komunikasi atau dikenal dengan methode of communication in organization. (Rosady Ruslan, 2005:1920) Fungsi Public Relations menurut Soleh Soemirat (2004:23) adalah : Membina hubungan baik dengan eksternal publik (dalam hal ini pers), karena Public Relations tidak hanya mengandalkan media internal dan semi eksternal (house journal) yang dimilikinya, tetapi juga memerlukan

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

48


media massa untuk mempublikasikan berbagai kegiatan perusahaan/organisasi. Pemeliharaan hubungan baik dengan pers tidak akan membuat kesulitan bagi Public Relations dalam menyebarluaskan informasi melalui media massa. Peneliti memahami pernyataan di atas, bahwa peran dan fungsi Public Relations adalah untuk kegiatan manajemen, membina hubungan harmonis antara organisasi dengan publiknya baik publik eksternal maupun internal, menciptakan komunikasi dua arah serta melayani publik dan menasehati pimpinan organisasi demi kepentingan umum. Kegiatan

Public

Relations Aktivitas dan kegiatan Public Relations harus disesuaikan dengan publik dan tujuan yang ingin dicapai. Terdapat dua macam publik sasaran dari kegiatan Public Relations yaitu publik internal dan publik eksternal. Sesuai dengan publiknya, kegiatan Public Relations pun terbagi menjadi kegiatan Public Relations ke dalam (internal Public Relations) dan ke luar (eksternal Public Relations). (F. Rahmadi, 1994:8) Menurut Cutlip, Center dan Broom dalam bukunya “Effective Public Relations� (2006:40) menyebutkan 10 tugas atau kegiatan yang menjadi kegiatan Public Relations, yaitu : a. Writing (Tulisan) Yaitu kegiatan membuat bermacammacam tulisan yang dibuat dalam

bentuk berita, surat berita, korespondensi, laporan, pidato, buklet, teks, naskah dan bulletin dagang iklan institusional, informasi produk, dan material teknikal. b. Editing Yaitu berbagai macam komunikasi internal maupun eksternal dalam bentuk publikasi, surat berita untuk karyawan, laporan untuk pemegang saham dan lain-lain. c. Media relations (Hubungan dengan Media) Yaitu melakukan kontak dengan media dan majalah untuk memberikan informasi terbaru tentang organisasi dan menanggapi permintaan informasi tertentu atau wawancara dari dan dengan media. d. Special event (Peristiwa atau Acara Khusus) Yaitu merancang dan menangani konfrensi pers, pameran, konvensi, perayaan ulang tahun perusahaan, acara pengumpulan dana pengamatan khusus, program kontes dan penghargaan. e. Speaking (Berbicara) Yaitu kegiatan mewakili organisasi atau merancang acara penampilan orang lain di hadapan publik. f. Productions Yaitu melakukan komunikasi dengan menggunakan keterampilan dan pengetahuan tentang multimedia, termasuk seni fotografi, lay out untuk brosur, buklet, laporan, iklan institusional, publikasi periodical, rekaman, dan auditing suara dan video tape, serta presentasi audio visual. g. Reseacrh (Riset)

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

49


Yaitu kegiatan mengumpulkan informasi sehingga memudahkan organisasi untuk merencanakan program sesuai kebutuhan dan masalah publik, monitoring efektif program Public Relations selama pelaksanaan dan evaluasi dampaknya. h. Programming & Conselling Yaitu kegiatan menentukan kebutuhan, prioritas, tujuan publik, sasaran dan strategi, bekerja sama dengan manajemen atau klien untuk proses memecahkan masalah. i. Training (Pelatihan) Yaitu bekerja sama dengan wakilwakil organisasi untuk membuat persiapan menghadapi media, presentasi dan pemunculan publik lainnya. j. Management Yaitu kegiatan administrasi operasi personalia, keuangan dan program. Dari pemaparan di atas, peneliti dapat menjelaskan bahwa Public Relations mempunyai tugas-tugas atau kegiatan untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan publik internal dan publik eksternal. Karena tanpa adanya hubungan yang baik dengan pihakpihak tersebut tujuan perusahaan tidak akan terpenuhi. Perlunya kegiatan media relations yang dilakukan praktisi Public Relations untuk membina hubungan baik dengan pihak media massa, karena media massa merupakan medium penyampai pesan dan pencitraan kepada publik. Semakin banyak akses yang didapat publik dari media massa berkaitan dengan produk atau layanan yang ditawarkan perusahaan, maka diharapkan semakin

besar tingkat kepercayaan terhadap perusahaan.

publik

Peran Humas Menurut (Ruslan,2006:hal.89)Peran Utama Humas, sebagai berikut : 1. Sebagai komunikator penghubung antara organisasi atau lembaga yang diwakili dengan publiknya. 2. Membina relationship, yaitu berupaya membina hubungan yang positif dan saling menguntungkan dengan pihak publiknya. 3. Peranan back up management, yakni sebagai pendukung dalam fungsi manajemen organisasi dalam perusahaan. 4. Membentuk corporate, artinya peranan humas berupaya menciptakan citra bagi organisasi atau lembaganya. Berkaitan dengan peran humas, Teori peran peneliti pilih untuk menjelaskan bahwa petugas humas dalam menjalankan kegiatannya, dapat memiliki peran lebih dari satu, diantaranya yaitu menurut Scott M. Cutlip, Center & Broom yang dikutip oleh Rosady Ruslan, terdapat 4 peranan Humas, yaitu : 1. Penasihat Ahli (Expert Pesciber) Seseorang praktisi Public Relations yang berpengalaman dan memiliki kemampuan tinggi dapat membantu mencarikan solusi dalam penyelesaian masalah hubungan dengan publiknya (publik relationship). 2. Fasilitator Komunikasi (Communication Fasilitator) Dalam hal ini, praktisi Public Relations bertindak sebagai komunikator atau mediator untuk membantu pihak manajemen dalam hal untuk membantu pihak manajemen dalam hal untuk mendengar apa yang diinginkan dan diharapkan oleh publiknya.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

50


3. Fasilitator proses Pemecahan Masalah (Problem Solving Process Facilitator) Peranan praktisi Public Relations dalam proses pemecahan persoalan Public Relations ini merupakan bagian dari tim manajemen. Hal ini dimaksudkan untuk membantu pimpinan organisasi baik sebagai penasehat (adviser) hingga mengambil tindakan eksekusi (keputusan) dalam mengatasi persoalan atau krisis yang tengah dihadapi secara rasional dan profesional. 4. Teknisi Komunikasi (Communications Technician) Dalam hal ini Public Relations berperan sebagai Journalist In Resident yang hanya menyediakan layanan teknis komunikasi dan sistem organisasi tergantung dari masing-masing bagian atau tingkatan (level), (Rosady Ruslan,2002:hal.21-22). Peran yang dimaksud dalam teori peran tersebut adalah bahwa individu dalam menjalankan kehidupannya dituntut untuk memiliki peran sesuai dengan eksistensi nya, budayanya bahkan juga sesuai dengan norma-norma yang ada, yang akan menentukan perilaku dari individu itu sendiri. Penulis menyimpulkan ada 4 peran Humas adalah sebagai berikut : 1. Penasihat Ahli (Expert Pesciber), 2. Fasilitator Komunikasi (Communication Facilitator), 3. Fasilitator Proses Pemecahan Masalah (Problem Solving Process Facilitator), 4. Teknisi Komunikasi (Communications Technician). Sedangkan Humas Pemerintah, lebih dapat ‘bergerak’ di level strategi untuk merancang sebuah program khusus kepada masyarakat agar masyarakat juga merasa dilibatkan dalam program pembangunan

pemerintah, yang berbasis pada perubahan pola pikir masyarakat dan transparansi publik. Untuk itulah selaku petugas Humas yang berada di instansi pemerintah, tentunya Humas harus dapat memberikan strategi-strateginya yang berdasarkan pada komunikasi persuasif, sehingga dapat terlihat lebih jelas peran yang telah dijalankan oleh pemerintah. Humas (Hubungan Masyarakat) Pengertian Humas menurut Institut Public Relations (IPR) adalah keseluruhan upaya yang dilakukan secara terencana dan kesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik (good will) dan saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap publiknya. Menurut Frank Jefkins (2002:hal.2), Humas merupakan segala bentuk komunikasi berencana ke luar dan kedalam antara sebuah organisasi dengan masyarakat untuk tujuan memperoleh sasaran-sasaran tertentu yang berhubungan dengan saling pengertian (mutual understanding). Menurut Cutlip-Center-Broom mendefinisikan Humas sebagai “usaha terencana untuk mempengaruhi pandangan melalui karakter yang baik serta tindakan yang bertanggung jawab, didasarkan atas komunikasi dua arah yang saling memuaskan” (Morissan,2008:hal.7-8). Menurut Webster’s New World Dictionary mendefinisikan sebagai berikut : “Hubungan dengan masyarakat luas, seperti melalui publisitas; khususnya fungsi-fungsi koperasi, organisasi dan sebagainya yang berhubungan dengan usaha untuk menciptakan opini publik dan citra yang menyenangkan untuk dirinya sendiri”. (Morissan,2008: hal.7-8). Humas merupakan fungsi manajemen yang mengevaluasi sikap publik, mengidentifikasi kebijaksanaan-

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

51


kebijaksanaan dan prosedur-prosedur seorang individu atau sebuah organisasi berdasarkan kepentingan publik, dan menjalankan suatu program untuk mendapatkan pengertian dan penerimaan publik. Humas adalah filsafat sosial dan manajemen yang dinyatakan dalam kebijaksanaan beserta pelaksanaannya, yang melalui interprestasi yang peka mengenai peristiwa-peristiwa berdasakan pada komunikasi dua arah dengan publiknya, berusaha untuk memperoleh saling pengertian dan itikad baik. Dari sekian banyak definisi humas, bisa kita lihat bahwa humas pada intinya kegiatan yang bermaksud untuk memberikan pemahaman melalui pengetahuan, dan melalui kegiatan tersebut diharapkan muncul suatu dampak yakni perubahan positif. Tugas-Tugas Hubungan Masyarakat (Humas) Setelah mengetahui pengertian dari Humas, maka selanjutnya penulis akan membahas mengenai tugas-tugas utama dari seorang Humas. Adapun tugas-tugas-tugas utama dari seorang Humas dapat dirinci antara lain sebagai berikut : a. Menciptakan dan memelihara suatu citra yang baik dan tepat atas organisasinya, baik itu yang berkenaan dengan kebijakan, produk, jasa, maupun dengan para personelnya. b. Memantau pendapat umum mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan citra, kegiatan, reputasi maupun kepentingan-kepentingan organisasi, dan menyampaikan setiap informasi yang penting ini langsung kepada pihak manajemen atau pimpinan pucuk untuk diangap atau ditindak lanjuti. c. Memberi nasihat atau masukan kepada pihak manajemen mengenai berbagai masalah komunikasi yang penting,

berikut dengan berbagai teknik untuk mengatasi dan memecahkannya. d. Menyediakan berbagai informasi kepada khalayak, perihal kebijakan organisasi, kegiatan, produk, jasa, dan personalia, selengkap mungkin demi menciptakan suatu pengetahuan yang maksimum dalam rangka menjangkau pengertian khalayak. (M.Linggar Anggoro,2005:hal.110) Dari penjelasan diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa secara garis besar, seorang Humas perusahaan mempunyai tugas secara internal dan eksternal. Adapun tugas internalnya berupa pemberian nasihat, masukan, dan bahkan solusinya kepada pihak manajemen guna memecahkan masalah yang timbul di perusahaan sedangkan, tugas eksternalnya yaitu memberikan informasi yang dibutuhkan oleh khalayak mengenai kebijakan organisasi, kegiatan, produk, jasa, dan personalia, selanjutnya seorang Humas pemerintah harus mampu menciptakan dan memelihara citra dengan yang positif di mata khalayaknya. Humas membuat adanya timbal balik antara perusahaan dengan publik yang bertujuan adanya saling pengertian. Fungsi Hubungan Masyarakat Fungsi Humas menurut Onong Uchjana Effendy sebagai berikut yaitu : a. Menunjang kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan organisasi. b. Membina hubungan harmonis antara organisasi dengan publik intern dan ekstern. c. Menciptakan kombinasi dua arah dengan menyebarkan informasi dari oranisasi kepada publik dan menyalurkan opini publik kepada organisasi.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

52


d. Melayani publik dan menasihati pimpinan organisasi demi kepentingan umum. (Onong Uchjana Effendy,1999:94) Kemudian menurut Edwin Emery fungsi Humas ialah “upaya yang terencana dan terorganisasi dari sebuah perusahaan atau lembaga untuk menciptakan hubunganhubungan yang saling bermanfaat dengan publiknya�. (F.Rachmadi, 1996:7) Dari beberapa definisi tersebut penulis menyimpulkan bahwa fungsi humas di dalam suatu organisasi yaitu Humas menyampaikan informasi mengenai perusahaan kepada publiknya dan juga membina hubungan yang baik terhadap publiknya sehingga adanya saling pengertian yang pada akhirnya tercapainya tujuan perusahaan. Dapat dipahami bahwa fungsi Humas ialah mengharmonisasikan hubungan di antara publiknya, Humas berfungsi menciptakan hubungan jangka panjang, yang dimana antara sesama publiknya tercipta rasa saling pengertian, saling kerjasama, dan kepuasan. Humas Dalam Institusi Pemerintahan Humas pemerintah merupakan salah satu bagian kajian hubungan masyarakat (Humas). Yang tidak kalah pentingnya dengan Humas perusahaan atau organisasi. Karena Humas pemerintah mempunyai tanggung jawab moral terhadap rakyat atau masyarakat luas, banyak kebijakankebijakan pemerintah yang perlu diketahui oleh masyarakat. Terkadang akibat dari kurang berfungsinya Humas pemerintah khususnya di departemen-departemen pemerintah membuat masyarakat banyak yang tidak tahu kebijakan pemerintah tersebut, tak terlelakan akan terjadi miscommunication (kesalahpahaman) antara masyarakat dengan pemerintah sebagai penentu

kebijakan. Untuk menghindari terjadinya miscommunication dengan masyarakat maka perlu peningkatan atau optimalisasi fungsi dan tugas humas itu sendiri. Perbedaan pokok antara fungsi dan tugas Humas yang terdapat di instansi pemerintah dengan non pemerintah (lembaga komersial), yaitu tidak ada sesuatu yang diperjualbelikan (aspek komersial), serta lebih ditekankan pada public service atau demi meningkatkan pelayanan umum, walaupun Humas pemerintah juga melakukan hal yang sama dengan kegiatan publikasi, promosi dan periklanan. (Rosady Ruslan,2002 :hal. 323) Menurut John D. Millet (2003 : 17) dalam bukunya, Management in Public Service the Quest for Effective Performance, artinya Humas dalam instansi atau lembaga kepemerintahan terdapat beberapa hal untuk melaksanakan tugas utamanya, sebagai berikut yaitu : 1. Mengamati dan mempelajari tentang hasrat, keinginan-keinginan dan aspirasi yang terdapat dalam masyarakat (Learning about Public desires and aspiration). 2. Kegiatan memberikan nasihat atau sumbang saran untuk menanggapi apa sebaiknya dilakukan oleh instansi/lembaga pemerintah seperti yang dikehendaki oleh publiknya (Advising the public about what is should desire). 3. Kemampuan untuk mengusahakan terjadinya hubungan memuaskan yang diperoleh antar hubungan publik dengan para aparat pemerintahan (Ensuring satisfactory contact between public and government official). 4. Memberikan penerangan dan informasi tentang apa yang telah diupayakan oleh suatu instansi/lembaga pemerintahan yang bersangkutan (Informing ang about what an agency is doing).

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

53


Dalam pemahaman peneliti, Humas pemerintah merupakan Humas yang bekerja di institusi pemerintahan, tugasnya adalah menjembatani kepentingan pemerintah dan jadi pengertian peran ganda Humas Instansi pemerintah tersebut di atas dalam upaya menunjang (Supporting of PR government activities) pelaksanaan tugas dan fungsi aparat keHumasan lembaga bersangkutan (Elvinaro Ardianto,2011:hal.130). Berdasarkan beberapa penjelasan sebelumnya mengenai pengertian Humas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Humas adalah kegiatan komunikasi yang bersifat dua arah, berkesinambungan dan terencana. Humas juga dapat diasumsikan sebagai seni serta ilmu, Humas sebagai seni maksudnya seni dalam berkomunikasi dan sebagai ilmu, bahwa komunikasi yang dilakukan humas dapat dipelajari. Dan sebagai seni dapat diterapkan sesuai kemampuan komunikasi masing-masing. Humas juga dikatakan sebagai kegiatan komunikasi yang terencana,yang berarti bahwa setiap kegiatan Humas memiliki tujuan baik bagi Humas maupun perusahaan, maka dari itu perencanaan menjadi bagian yang penting dalam setiap kegiatan Humas.

Menurut Rosady Ruslan dalam bukunya mengatakan, didalam menyelenggarakan suatu event, seorang Humas harus mampu menarik perhatian dari publiknya bahwa : Dalam hal ini, kegiatan event dari Humas akan mampu memuaskan bagi pihak-pihak lain yang terlibat atau terkait untuk berperan serta dalam suatu kesempatan pada acara khusus Humas atau Public Relations, baik untuk meningkatkan pengetahuan (knowledge), kesadaran (awareness), dan menarik simpati atau empati sehingga mampu menumbuhkan saling pengertian bagi kedua belah pihak. (Ruslan,2010:232) Dari uraian yang diatas, peneliti mengambil kesimpulan bahwa pengertian dari event adalah suatu kegiatan kehumasan yang diselenggarakan untuk tempat, waktu, dan publik yang ditentukan, demi terciptanya tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Untuk tujuan perayaan (celebration), bertanggung jawab mengadakan penelitian, membuat desain event, merencanakan, melakukan koordinasi, dan pengawasan terhadap pelaksanaan, kelangsungan, realisasi dalam keberhasilan sebuah event.

Event Menurut Effendy, event adalah kegiatan kehumasan yang terjadi dalam kerangka waktu yang sangat terbatas dan jelas kapan dimulai dan berakhir. Event ditujukan untuk satu atau beberapa tujuan, misalnya sebuah acara open house yang diadakan perusahaan. (Onong Uchjana, 1997:hal. 111). Sedangkan menurut Rosady Ruslan (2008:hal.13), event merupakan merancang acara tertentu atau lebih dengan peristiwa khusus yang dipilih dalam jangka waktu, tempat, dan objek tertentu yang khusus sifatnya untuk mempengaruhi opini publik.

Fungsi Event Ada beberapa fungsi event, antara lain yaitu : a. Untuk memberikan informasi secara langsung (bertatap muka) dan mendapatkan hubungan timbal balik dengan publiknya melalui program acara-acara atau kerja yang disengaja dirancang dan dikaitkan dengan event (peristiwa khusus) dalam rangka kegiatan serta program kerja kehumasan tertentu. b. Sebagai media komunikasi dan sekaligus publikasi, dan pada akhirnya masyarakat dengan target sasarannya akan memperoleh pengenalan,pengertian

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

54


mendalam dan pengetahuan. Diharapkan dari acara khusus tersebut dapat terciptanya citra positif terhadap lembaga/perusahaan, atau produk yang diwakili.(Elvinaro Ardianto,2009:hal.105) Dengan diadakannya suatu program event, Public Relations mengharapkan tanggapan yang sangat positif mengenai lembaganya serta informasi yang diberikan dapat berguna bagi publiknya. Jenis Event Biasanya event terdapat beberapa jenis dilihat dari berbagai macam jenis sesuai dengan tolak ukur masing-masing jenis kategori pelaksanaannya berdasarkan waktu, kesuksesan dalam mengemas dan berlangsungnya suatu acara serta keuntungan yang telah didapat. Ada beberapa jenis event, yaitu : a. Calendar Event Event yang rutin dilaksanakan pada bulan tertentu sepanjang tahun, seperti menyambut Tahun Baru, hari ulang tahun, hari raya Idul Fitri, dan sebagainya. b. Special Event Event atau acara ajang yang sifatnya khusus dan dilaksanakan pada momen tertentu di luar acara rutin dari program kerja Public Relations, misalnya peluncuran produk baru (product launching), pembukaan atau pabrik baru, jalan baru, gedung baru, dan sebagainya. c. Moment Event Event atau acara yang bersifat momentum atau lebih khusus lagi, misalnya menyambut pesta emas, pesta berlian,pesta perak, dan hingga menghadapi millenium. (Rosady Ruslan,2001:hal.14) Promosi Event Ada beberapa cara dalam melakukan promosi event, antara lain (Anne-Marie

Grey dan Kim Skildum-Reid,2006:62) yaitu : a) Above The Line Kegiatan promosi dengan menggunakan media massa, seperti : media cetak dan media elektronik. b) Below The Line Kegiatan promosi dengan menggunakan non media massa, seperti billboard, spanduk, banner, katalog, brosur atau selebaran. Analisis SWOT Menurut Sulyus Natoradjo (2011:hal.24) mengatakan bahwa SWOT adalah singkatan dari strengths (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunities (peluang) dan threats (ancaman). Analisis SWOT dilakukan sebelum event diselenggarakan, teknik ini digunakan untuk menganalisis dan mengurangi risiko kegagalan suatu acara. Melalui analisis ini variabel-variabel internal maupun eksternal yang ditentukan, yang mungkin dapat meningkatkan atau bahkan menghambat kelangsungan acara. Kekuatan-kekuatan ini menjadi peluang-peluang yang ada dalam mendukung penyelenggaraan event. Sebaliknya, kelemahan-kelemahan serta ancaman tertentu dapat menggagalkan sebuah event. Stakeholders Event Stakeholders event adalah semu pihak, baik perorangan, asosiasi, maupn organisasi internal atau eksternal, yang mempunyai kepentingan pada event. Kelompok ini tidak hanya terdiri dari orang-orang yang memang melakukan investasi secara finansial pada event, tetapi juga semua pihak yang terlibat secara politis maupun emosional dan memberikan dukungan, perhatian serta minat terhadap terselenggaranya event tersebut. Dan mereka dikelompokkan secara lebih

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

55


terperinci Menurut, (Sulyus Natoradjo, 2011:hal.20-21), sebagai berikut yaitu : 1. Penyelenggara Acara atau Penyandang Dana Klien atau sponsor (perorangan atau instansi) yang mempunyai hajat dan dana untuk menyelenggarakan event. 2. Pelaksana acara Event dan seluruh perangkat organisasinya yang melaksanakan dan mengelola kegiatan untuk menghadirkan event. 3. Peserta Perorangan atau instansi yang turut berperan dalam kegiatan, seperti peserta pameran, eksibisi, seminar, konferensi, dan acara-acara sejenisnya. 4. Penonton atau Publik Pengunjung (baik membayar atau gratis) yang menyaksikan event. 5. Penampil Presenter, Pembicara, artis, atlet atau pelaku pendukung dan pengisi acara. 6. Pemasok Mitra kerja event yaitu , penyedia barang atau jasa (fasilitas fisik atau operasional kebutuhan event, cathering, desain, dekor, dan lain-lain). 7. Pengamat Media, wartawan, politisi, pejabat, dan semua pihak yang memberikan perhatian pada event. Sponsorship Menurut Sulyus Natoradjo (2011:hal.110), Sponsorship adalah sebuah transaksi komersial dimana pihak pemberi dana mengharapkan balas jasa dari pihak penerima dana dan kedua belah pihak setuju untuk saling “memberi” dan “menerima”. Jenis-Jenis Sponsor

Ada beberapa empat tipe utama dari sponsor menurut, (Hoyle,2006) antara lain yaitu : 1) Sponsor Utama (Title/Presenting Sponsor) Sponsor yang menanggung hampir seluruh biaya kegiatan event. 2) Sponsor Pendukung (Host/Supporting Sponsor) Sponsor yang menanggung bidangbidang tertentu pada suatu event, misalnya makan malam, atau makanan dan minuman selama event. 3) Sponsor Partisipasi (Tiered Sponsor) Sponsor yang memberikan dana sesuai dengan tingkat kemampuan dan partisipasinya pada event, misalnya hak untuk menjual produk pada sebuah Stan, memasang iklan, dan lain-lain. 4) Sponsor Barter (In-Kind Sponsor) Sponsor yang menyediakan barangbarang dan jasa secara gratis untuk event yang nilainya setara dengan manfaat yang diterima sponsor tersebut.

METODOLOGI PENELITIAN Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma Konstruktivisme, Paradigma Konstruktivisme adalah Ilmu diperoleh melalui pengamatan langsung dan rinci terhadap perilaku sosial dalam suasana keseharian yang ilmiah,agar mampu memahami dan menafsirkan bagaimana para pelaku sosial yang bersangkutan menciptakan dan memelihara/mengelola dunia sosial mereka. Penelitian ini peneliti melakukan pendekatan dengan penelitian kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor dalam bukunya yang ditulis oleh Moleong (2005:hal.4) bahwa “kualitatif” ialah prosedur penelitian

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

56


yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati�. Metode penelitian yang digunakan untuk memperoleh jawaban atau hasil penelitian adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif adalah menitikberatkan pada observasi dan suasana alamiah (natural setting). Peneliti terjun langsung ke lapangan, bertindak sebagai pengamat. Ia membuat kategori perilaku, mengamati gejala, dan mencatatnya dalam buku observasi. Ia tidak berusaha untuk memanipulasi variabel (Elvinaro Ardianto,2010:hal.60). Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik pangamatan nonpartisipan. Observasi Non-Partisipan, yaitu observer tidak ikut serta dalam kegiatan individu yang di observasi. Observasi benar-benar berfungsi sebagai penonton, pengamat dalam mencatat tingkah laku individu yang di observasi. Metode analisis data Peneliti akan menjawab pokok permasalahan dalam penelitian ini secara kualitatif dengan menggunakan analisis data yang diperoleh melalui hasil obsevasi, wawancara, dan studi pustaka yang telah dideskripsikan. Menurut Lexy J. Moeleong (2005:6) bahwa, “deskriptif analisis adalah data yang dikumpulkan berupa kata-kata, bukan angka-angka dan gambaran. Selain itu dikumpulkan kemungkinan menjadi kunci terhadap apa yang sudah diteliti. Peneliti melakukan penelitian sejak awal bulan

Oktober 2012 sampai dengan akhir bulan November 2012. Validitas dan Otentitas Data Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi sumber, untuk membandingkan atau mengecek ulang derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh dari sumber yang berbeda. Dalam hal ini peneliti melakukan perbandingan antara hasil pengamatan dengan hasil wawancara yang dilakukan. Ini dilakukan untuk mendapatkan kepercayaan dari data yang diperoleh, yaitu apakah peranan Humas Kementrian Kehutanan dalam pelaksanaan event IndoGreen Forestry Expo di Jakarta sesuai dengan apa yang ia katakan saat wawancara bersama peneliti dengan pengamatan yang dilakukan peneliti. Hasil wawancara akan dilampirkan dalam bentuk transkip wawancara dan berupa dokumen yang dimaksud ialah berupa lampiran dokumen pendukung, seperti foto dan beberapa lampiran lainnya. Hasil Penelitian Dan Pembahasan 1. Expert prescriber communication Peranan humas yang pertama akan peneliti jelaskan yakni expert prescriber communication atau disebut sebagai penasehat ahli. Didalam menjalankan peranannya sebagai penasehat ahli di Kementerian Kehutanan, humas berupaya membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penghijauan dan menjaga kelestarian alam. Mengingat kondisi alam Indonesia yang sudah beralih fungsi untuk kegiatan bisnis seperti dibangunnya villa dan perkebunan maka

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

57


humas Kementerian Kehutanan memberikan nasehat kepada pimpinan untuk menyelenggarakan pameran penghijauan yang dikenal dengan sebutan IndoGreen Forestry Expo. Humas menilai bahwa pentingnya penyeleggaraan pameran penghijauan hutan kembali dikarenakan kondisi hutan di Indonesia sudah banyak yang rusak dan beralih fungsi untuk kegiatan bisnis seperti perkebunan kelapa sawit maupun untuk aktivitas pertambangan. Melalui kegiatan IndoGreen Foresty Expo inilah, citra Kementerian Kehutanan akan tercipta positif di mata publik eksternalnya karena ternyata instansi pemerintah menunjukkan sikap kepedulian pada lingkungan alam. Menjadi penasehat ahli atau expert prescriber communication bagi seorang humas tidaklah mudah karena dibutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang luas dibidangnya sehingga pesan-pesan komunikasi yang disampaikan kepada pimpinan dapat dimengerti dan dipahami dengan baik. 2. Communication facilitator Peranan humas di dalam suatu organisasi yakni sebagai fasilitator komunikasi antara organisasi dengan publiknya. Di sini humas menjadi jembatan komunikasi antara organisasi dengan publiknya mengenai apa yang menjadi keluhan publik eksternalnya maka akan diterima oleh humas, untuk selanjutnya akan disampaikan kepada pimpinan. Dalam hal ini, humas Kementerian Kehutanan menjalankan peranan kehumasannya sebagai fasilitator komunikasi yang terkait mengenai

pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hutan. Terkait pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hutan maka humas menyelenggarakan event IndoGreen Forestry Expo. Event tersebut sebagai ajang media fasilitator antara publik eksternal dengan kementerian kehutanan. Dimana masyarakat dapat mengutarakan pendapat seputar mengenai penghijauan sebagai upaya pengurangan dampak Global Warming. Konsep event IndoGreen Forestry Expo diciptakan oleh humas Kementerian Kehutanan dimana humas mempublikasikan kegiatan pameran ini melalui media cetak maupun elektronik. Dalam program event IndoGreen Forestry Expo itu tersusun materi acara yang akan disajikan untuk masyarakat sehingga masyarakat dapat mengetahui tema-tema dalam program talkshow. . Dengan adanya isu global warming, Pusat humas bermaksud memberikan pendidikan mengenai penghijauan yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat luas. Jika dilihat dari kegiatan event IndoGreen Forestry Expo yang digagas humas Kementerian Kehutanan tersebut maka peran humas sebagai media fasilitator komunikasi terlihat sangat penting karena humas akan mendengarkan apa yang disampaikan peserta talkshow dan akan dijawab langsung oleh narasumber sehingga permasalahan-permasalahan yang terjadi dapat diatasi secara baik. 3. Problem facilitator

solving

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

process

58


Kemudian peranan humas yang ketiga yakni humas sebagai mediator atau fasilitator untuk memecahkan permasalahan yang terjadi. Petugas humas dituntut harus mampu menyelesaikan problem-problem yang ada agar permasalahan yang terjadi tidak berlarut-larut sehingga opini yang terbentuk di masyarakat tidak negatif. Tujuan dari humas Kementerian Kehutanan menyelenggarakan event ini yakni untuk menciptakan citra positif dalam jangka panjang dan secara tidak langsung yaitu berupaya menyadarkan masyarakat akan pentingnya hutan bagi kehidupan. Hutan dinilai penting dikarenakan hutan dapat mengurangi dampak terjadinya pemanasan global bukan sebagai penghilang terjadinya pemanasan global. Solusi permasalahan mengenai pemanasan global dapat diatasi dengan melakukan penanaman pohon dan mengajak para investor untuk ikut berpartisipasi merawat tempat wisata alam Nasional agar lingkungan wisata alamnya tidak dirusak dan tetap terlestari. Dari adanya penyelenggaraan kegiatan event IndoGreen Forestry Expo akan diperoleh penilaian masyarakat mengenai citra institusi Kementerian Kehutanan. Jika penilaian masyarakat atau pengunjung mengenai event IndoGreen Forestry Expo belum memenuhi harapannya maka humas akan mencarikan solusi terbaik untuk menyelesaikan masalahnya agar kegiatan event IndoGreen Forestry Expo di masa-masa mendatang menjadi jauh lebih baik. Humas memahami apa yang menjadi problem di masyarakat

dan telah memberikan solusi terbaiknya seperti mengadakan event IndoGreen Forestry, lalu melakukan rehabilitasi, menanam 1 milliar pohon dan menyelenggarakan fun bike sebagai upaya membentuk citra positif di tengah-tengah masyarakat. 4. Technician communication Peranan petugas humas yang terakhir yakni sebagai pelaksana teknis komunikasi artinya humas berupaya menyampaikan informasi kepada masyarakat luas mengenai penguman akan diadakannya kegiatan IndoGreen Forestry Expo. Dalam hal ini, peran humas sebagai teknisian komunikasi yaitu mengumumkan tanggal berlangsungnya pameran 14– 17 April 2012 di Assembly Hall, Jakarta Convention Center (JCC), Acara dimulai jam10.00 – 20.00 wib, Tema dari IndoGreen Forestry Expo 2012 : Forest for People: Green Living Concept for Better Future. Adapun sasaran dari kegiatan event IndoGreen Forestry Expo yang harus humas lakukan yakni ditujukan kepada seluruh stakeholders kehutanan, baik instansi pemerintah, maupun instansi swasta, instansi pemerintah undang-undang mulai dari dinas kehutanan propinsi, kota, kabupaten seluruh Indonesia, setelah itu juga Upt kementerian kehutanan yang ada di propinsi, UptUpt Kementerian Kehutanan itu ada balai pengelola daerahan dinas sungai, Balai Reservasi Sumber Daya alam, Balai Pemantapan Hutan, Balai Penelitian Kehutanan, Pemerintah Daerah: Dinas kehutanan, Dinas

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

59


Perkebunan, BUMN sektor kehutanan dan perkebunan, Forum Reklamasi Pertambangan dan Perusahaan Oli dan Gas, Pertambangan, MIGAS serta asosiasi dan NGO peduli kehutanans dan lingkungan hidup. Kemudian, secara teknis juga dapat terlihat dari sikap panitia penyelenggara pameran yang ramah, dan manfaat dari adanya kegiatan ini dapat memberikan pengetahuan dan pendidikan khususnya bagi para siswa/siswi yang dimana mereka dapat lebih mengenal keberagaman budaya yang ada di indonesia. Dan juga mengajarkan anakanak mulai dari sejak dini untuk menanam pohon dari sekarang, rasa kepedulian terhadap hutan dan lingkungan harus sejak dini ditanamkan dalam diri anak-anak indonesia.

Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka penelitian dengan judul “Peranan Humas Kementerian Kehutanan Dalam Pelaksanaan Event Indogreen Forestry Expo di Jakarta 2012� yang menggunakan metode secara deskriptif dengan menggunakan teori peranan public relations yang meliputi : expert prescriber communication, communication facilitator, Problem solving process facilitator, dan technician communication, dengan hasil kesimpulan sebagai berikut: 1. Peranan yang dilakukan Humas Kementerian Kehutanan di pandang positif oleh masyarakat atau pengunjung dikarenakan humas menunjukkan

kepedulian pada lingkungan alam dan berusaha melestarikan hutan dengan cara menyelenggarakan event IndoGreen Forestry Expo sebagai wujud untuk mengurangi terjadinya dampak pemanasan global dan mengurangi polusi udara. 2. Dalam penelitian ini, peranan humas meliputi aspek penasehat ahli (expert prescriber communication), humas sebagai fasilitator komunikasi (communication facilitator), humas sebagai fasilitator untuk membantu memecahkan masalah (Problem solving process facilitator), dan technician communication. 3. Penyelenggaraan event IndoGreen Forestry Expo dapat memberikan nilai positif bagi masyarakat karena dalam program acaranya tersebut terdapat susunan program acara yang menarik untuk masyarakat ketahui secara adanya talkshow yang mana pembicaranya dari para pakar lingkungan hidup sehingga dapat memberikan pengetahuan bagi masyarakat. Pada program talkshow juga terdapat sesi tanya jawab sehingga masyarakat dapat bertanya langsung dan memperoleh jawaban yang memuaskan. 4. Untuk menyebarluaskan informasi penyelamatan hutan, dan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan fungsi hutan sebagai paru-paru dunia serta menumbuhkan gerakan untuk menanam dan memelihara pohon. DAFTAR PUSTAKA

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

60


Ardianto, Elvinaro. 2010. Metode Penelitian untuk Public Relations Kuantitatif & Kualitatif. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Astrid S. Susanto-Susanto. 1995. Globalisasi dan Komunikasi. Jakata:Pustaka Sinar Harapan. Dewi, Liza Dwi Ratna. 2008. Teori Komunikasi Pembahasan dan Penerapan. Tangerang: Renata Pratama Media. Effendy, Onong Uchjana. 2003. Ilmu Komunikasi : Teori dan praktek. Bandung:PT. Remaja Rosda Karya. Jefkins, Frank. 2002. Hubungan Masyarakat. Intermasa. jakarta Morissan. 2008. Manajemen Public Relations: Strategi Menjadi Humas Profesional. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Natoradjo, Sulyus. 2011. Event Organizing Dasar-Dasar Event Managment. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Lainnya :

Hasil Wawancara dengan Ibu Dyan, selaku Manager Event Organizer PT. Wahyu Promo Citra. Hasil Wawancara dengan Rizki Aditya, selaku Karyawan Swasta PT. MAZDA Jakarta. Official Website IndoGreen Forestry Expo: www.indogreen-ina.com

Hasil Wawancara dengan Bapak Ir. Sunarto MM, selaku Kepala Pusat Humas Kementerian Kehutanan atau Kepala Biro Komunikasi. Hasil Wawancara dengan Bapak Ihwan, S. Sos., M.Si, selaku Kepala sub Bidang Analisis Berita dan Publikasi Pusat Kementrian Kehutanan.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

61


REPRESENTASI KEKUASAAN DALAM KONFLIK KOMITE NASIONAL PEMUDA INDONESIA 2008-2011(Analisis Framing Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki Berita Kompas, Jurnal Nasional, dan Republika) Dudi Iskandar Magister Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana, Jakarta Email : dudisabiliskandar@yahoo.com

Abstract As a political conflict, Indonesia Youth National Committee (KNPI) 2008-2011 conflict was very interesting from news perspective. Therefore, Kompas, Jurnal Nasional, and Republika covered the conflict for news. Different news-coverage of KNPI 2008-2011 conflict caused by attitude of the reporters, editors, dan editorial policies. Presentation of KNPI 2008-2011 conflict in the form of news is known as representation. The power representation in KNPI 2008-2011 conflict shows how a ideology, vasted-interest, and value. The importantance of KNPI 2008-2011 conflict in news can be provided by framing, 5W + 1H, picture, graphic, and illustration. This research aims to know power representation of KNPI 2008-2011 conflict news in Kompas, Jurnal Nasional, and Republika. To reveal ideology, vested-interest, and value of KNPI 2008-2011 conflict news, researcher uses Zhongdan and Kosicki Framing Analysis model. There are four tools of Zhongdan and Kosicki Framing Analysis model, syntactic structure, script, thematic, and rhetorical. With four framing tools the power representation in KNPI 2008-2011 conflict news can know.Young readers is a power representation of KNPI 2008-2011 conflict in Kompas news which relevan with ist new tagline. President Susilo Bambang Yudhoyono’s political imaging is Jurnal Nasional power representation of KNPI 2008-2011 conflict, which correlated with its establishment. Then, idelogical is the power representation of Republika in reporting KNPI 2008-201 conflict, which relevant to its vision and mission. Keywords: representation, ideology, and framing, Abstraksi Sebagai konflik politik, kisruh KNPI 2008-2011 sangat menarik dari sudut pandang berita. Makanya Kompas, Jurnal Nasional, dan Republika menjadikannya sebagai berita. Perbedaan berita di tiga koran itu disebabkan beragam pikiran dan sikap reporter, redaktur, dan kebijakan redaksi. Penghadiran kembali konflik KNPI 2008-2011 dalam berita di surat kabar disebut representasi. Representasi kekuasaan dalam berita konflik KNPI 2008-2011 menunjukkan bagaimana ideologi, kepentingan, dan nilai kekuasaan ditampilkan. Munculnya ideologi, kepentingan, dan nilai pada berita konflik KNPI 2008-2011 dilakukan melalui pembingkaian (framing), selain kelengkapan 5W + 1H, foto, grafis, dan ilustrasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui representasi kekuasaan dalam konflik KNPI 2008-2011 pada berita Kompas, Jurnal Nasional, dan Republika. Untuk menguak ideologi, kepentingan, dan nilai yang mengkonstruksi berita konflik KNPI 2008-2011 di Kompas, Jurnal Nasional, dan Republika peneliti menggunakan metode analisis framing Zhongdan dan Kosicki. Ada empat perangkat framing Zhongdan dan Kosicki dalam membongkar tujuan tersembunyi berita, yakni, sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Dengan empat perangkat framing tersebut representasi kekuasaan dalam konflik KNPI 2008-2011 pada tiga media yang diteliti dapat diketahui. Dalam berita Kompas, representasi kekuasaan dalam konflik KNPI 2008-2011 lebih bersifat mencari pembaca muda sesuai dengan semboyan barunya. Representasi kekuasaan di Jurnal Nasional lebih berorientasi pada politis, tepatnya pencitraan Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

62


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sesuai dengan tujuan kelahirannya. Representasi kekuasaan dalam berita Republika bersifat ideologis sesuai dengan visi dan misinya. Kata Kunci: reprsesentasi, ideologi, dan pembingkaian A. Latar Belakang Penelitian Cikal bakal dualisme kepengurusan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) periode 2008-2011 bermula dari kegagalan Musyawarah Pimpinan Paripurna (MPP) KNPI di Pekanbaru, 2324 Oktober 2008 mencegah terjadinya penonaktifan Ketua Umum KNPI Hasanuddin Yusuf. Dihadiri 52 Organisasi Kepemudaan, 30 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) KNPI, 13 Organisasi Kepemudaan Peninjau. Ketika forum menginginkan adanya evaluasi terhadap kinerja Ketua Umum, Hasanuddin Yusuf, MPP gagal menjembati dengan kelompok yang menolak evaluasi kinerja ketua umum (www.knpi.org, 29 Desember 2009). Ketua Bidang Organisasi KNPI Sayid Muhammad Muliady dan Ketua Bidang Pertahanan dan Keamanan KNPI Hamka Hendra Noer (Panitia Pengarah MPP) mengambil alih pimpinan sidang sesuai dengan Tata Tertib MPP dan AD/ART KNPI untuk meneruskan sidang. Hasilnya forum meminta dan menyepakati penonaktifan Hasanuddin Yusuf sebagai Ketua Umum KNPI ditetapkan dalam ketetapan MPP yang dituangkan dalam Ketetapan Nomor 03/TAP/MPPKNPI/2008 dengan alasan Hasanuddin Yusuf banyak melakukan pelanggaran AD/ART, Pedoman Organisasi, dan Tata Kerja Organisasi. Forum menyepakati dan menyetujui Hans Havlino Silalahi, Ketua Bidang Luar Negeri DPP KNPI, untuk menjadi Penjabat Ketua Umum KNPI. Hans Havlino Silalahi ditetapkan sebagai Penjabat Ketua Umum KNPI hingga terlaksananya Kongres KNPI di Bali, yang tertuang melalui Ketetapan No. 04/TAP/MPP-KNPI/2008. Sidang diskorsing dan dilanjutkan esok hari (25 Juli 2008).

Di sisi lain, sebagian peserta MPP menyatakan pengangkatan Pejabat Ketua Umum ini dianggap sebagai bentuk pelanggaran terhadap AD/ART KNPI khususnya Pasal 16 ayat (1) dan (2) huruf a dan b Anggaran Rumah Tangga tentang Musyawarah Pimpinan Paripurna dan Pasal 30 ayat (1), (2) dan (3) tentang Pergantian Antar Waktu. MPP dianggap bukan forum untuk membacakan laporan pertanggungjawaban ketua umum, dan penunjukkan pejabat ketua umum ada mekanisme tersendiri, bukan asal tunjuk (www.knpi.org, 20 Desember 2008). Artinya, setelah sidang MPP ada dualisme kepengurusan KNPI, yakni, yang dipimpin Ketua Umum Hasanuddin Yusuf dan Hans Havlino Silalahi sebagai pejabat ketua KNPI (Detiknews.com, 29 Oktober 2008) Sebelum kongres Bali dan Ancol inilah Kementrian Pemuda dan Olahraga dianggap berpihak kepada salah satu kubu karena Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault mengeluarkan surat keputusan nomor 3857/Menpora/10/2008. Isinya Kongres Pemuda/KNPI XII tetap di Denpasar Bali, 30 Oktober 2008. Menurut Adhyaksa Dault, konflik bermula dari manajemen internal KNPI yang kemudian dialihkan ke pemerintah sehingga tampak intervensi pemerintah (Gatra, 12 November 2008). Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah melalui Menpora pascaAdhyaksa Dault, Andi A. Mallarangeng. Konflik KNPI berakhir setelah kubu Aziz dan Doli menyepakati kongres bersama 25-28 Oktober 2011 di Hotel Sahid Jakarta. Dari Kongres Bersama tersebut, Topan Ekonugroho Rotorasiko terpilih menjadi Ketua Umum KNPI 2011-2014. Gaya kepemimpinan Menpora Adhyaksa Dault yang mirip Soeharto menjadikan KNPI sarana dan perpanjangan tangan kekuasaan. Pada era

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

63


Orde Baru, Kemenpora hadir untuk melakukan pengendalian dengan kamuflase “pembinaan.� Ia membatasi ruang gerak dan aktivitas KNPI. Pola itu harus diubah ketika era reformasi. Yakni, Kemenpora berfungsi sebagai institusi penyokong dan pemberdayaan KNPI. Perubahan inilah yang seharusnya dijalankan oleh negara ketika berkomunikasi dengan KNPI. Dengan pola pemberdayaan sebagai mainstrem, maka ada pergeseran pola komunikasi antara negara dan KNPI. Campur tangan Kemenpora dalam konflik KNPI 2008-2011 merupakan bentuk infiltrasi kekuasaan. Tindakan Kemenpora menunjukan indikasi mereka memiliki kepentingan terhadap eksistensi KNPI. Keberpihakan negara/pemerintah pada salah satu kubu KNPI merupakan pelanggaran fungsi negara sekaligus mencederai demokrasi. Negara atau pemerintah bisa mengintervensi organisasi yang didirikan masyarakat jika melakukan anarkisme atau melanggar ketertiban umum (Pelita, Selasa, 28 April 2009). Sebagai konflik politik, dualisme KNPI sangat menarik dari sudut pandang berita. Oleh sebab itu, layak dijadikan berita. Tentu saja sebagai sebuah berita konflik KNPI diberitakan secara beragam. Tergantung sudut pandang wartawan dan kebijakan redaksi. Berita konflik KNPI 2008-2011 di Kompas, Jurnal Nasional, dan Republika bukan hanya rangkaian fakta yang tersusun menjadi sebuah kalimat dan paragraf. Ia juga merupakan representasi dari pikiran dan sikap penulis serta editornya. Latar belakang budaya, ideologi, pergaulan, dan pendidikan wartawan ketiga koran tersebut sangat memengaruhi sebuah berita. Keterlibatan berbagai latar belakang wartawan Kompas, Jurnal Nasional, dan Republika dalam mengkonstruksi berita konflik KNPI 20082011 meniscayakan berita mereka bukan lagi realitas yang sebenarnya. Ia merupakan realitas kedua yang merupakan hasil proses penyaringan dan seleksi.

Penghadiran kembali peristiwa yang sudah terjadi ini dalam berbagai bentuknya, disebut representasi. Makanya representasi merupakan sebuah tanda yang tidak sama dengan yang sebenarnya. Hanya saja ia ditautkan melalui realitas yang menjadi referensinya. Dalam konteks berita konflik KNPI 2008-2011 di Kompas, Jurnal Nasional, dan Republika itulah bisa muncul representasi kekuasaan. Sebuah konstruksi berita konflik KNPI 2008-2011 di Kompas, Jurnal Nasional, dan Republika akan berbeda tampilannya meski temuan fakta dan sumbernya sama. Kompas, misalnya, sebagai pemimpin pasar akan menulis dengan gaya safety. Jurnal Nasional yang memiliki kedekatan dengan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono akan mengetengahkan fakta yang positif tentang tindakan Menpora Adhyaksa Dault dan Andi Mallarangeng. Sedangkan Republika yang terkenal kedekatan dengan komunitas muslim akan mengkonstruksi berita konflik KNPI 2008-2011 dengan sisi yang berbeda. Artinya, teks berita Jurnal Nasional, Kompas, dan Republika tentang konflik KNPI 2008-2011 bisa jadi diametral. Harian Kompas menulis berita tentang konflik KNPI 2008-2011 di dalam rubrik politik dan hukum, namun juga tergantung pada peristiwa yang ditemukan di lapangan. Jurnal Nasional menempatkan berita konflik KNPI 2008-2011 di rubrik politik dan hukum atau rubrik yang sesuai dengan peristiwanya. Sedangkan Republika menyimpan konflik KNPI 2008-2011 dalam rubrik nasional yang berisi peristiwa politik dan nasional atau menempatkan sesuai dengan kejadiannya. Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana representasi kekuasaan dalam konflik KNPI 20082011 pada berita Kompas, Jurnal Nasional, dan Republika selama tiga tahun (2008-2011)? Adapun tujuan penelitian adalah untuk mengetahui representasi kekuasaan dalam konflik KNPI 2008-2011 pada

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

64


berita Kompas, Jurnal Nasional, dan Republika. Dengan metode analisis framing Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki, peneliti bermaksud mengkatagori, menganalisis, dan menginterpretasikan representasi kekuasaan dalam konflik KNPI 2008-2011 yang tercantum dalam berita Kompas, Jurnal Nasional, dan Republika. B. Representasi Kekuasaan Sosiolog Emile Durkheim (Downing, 2005:41) adalah yang pertama kali menggunakan istilah representasi dalam konteks budaya dan konteks politik. Ia menggunakannya kata ini untuk collective representation dalam karyanya Elementary Forms of Religious Life. Kata ini kian mengemuka ketika media massa sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Dalam pandangan Judy Giles dan Tim Middleon (1999:56-57) represent mempunyai tiga pengertian, yakni, to stand in for (melambangkan), to speak or act on behalf of (berbicara atas nama seseorang), dan to re-present (menghadirkan kembali peristiwa yang sudah terjadi). Representasi merupakan sebuah tanda yang tidak sama dengan yang sebenarnya. Hanya saja ia ditautkan melalui realitas yang menjadi referensinya. Stuart Hall (1997:16-17) memiliki konsep tentang representasi ini. Ia mendefinisikan representasi dengan the production of the meaning of the concepts in our minds through language (penciptaan makna melalui bahasa). Representation means using language to say something meaningful about or to represent, the world meaningfully to other people. Representation is an essenstial part of the process by with meaning is produced and exchanged between members of culture. It does involve the use of language, of signs and images which stand for a represent thing. Representasi merupakan tindakan untuk menggantikan sesuatu yang tidak bisa terjadi atau tidak bisa menghadirkannya sendiri. Ada dua hal

penting dalam representasi, yakni, representative (yang merepresentasikan orang lain) dan represented (yang direpresentasikan). Ada dua sistem representasi yang ditemukan Hall, yaitu, mental representation dan makna yang terkandung pada bangunan yang sistem hubungan dalam konseptual dan sistem bahasa serta tanda yang merepresentasikan konsep tersebut. Representasi dalam teks berita berarti menunjukkan bagaimana seseorang, satu kelompok, atau gagasan ditampilkan. Ada dua bentuk representasi dalam teks berita. Pertama, apakah seseorang, satu kelompok dan satu gagasan tersebut ditampilkan sebagaimana mestinya. Kedua, bagaimana representasi seseorang, satu kelompok, atau gagasan tersebut ditampilkan melalui kalimat, foto, dan aksentuasi (Eriyanto 2001:113). Dalam temuan Hall (1997:25), ada tiga pendekatan dalam teori representasi, yaitu reflektif, intensional, dan konstruksionis. Secara jelas ia menjelaskan pendekatan reflektif memandang makna dari objek, manusia, ide, atau kejadian dalam dunia nyata. Dalam hal itu, bahasa berfungsi sebagai “cermin� untuk merefleksikan yang sebenarnya dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan intensional memandang makna berasal dari objek pembuatnya. Pendekatan ketiga, konstruksionis, melihat makna dari aspek karakter sosial bahasa. Makna berasal dari pembuat dan menghasilkan makna yang diinginkan. Hal itu merepresentasikan satu konsep dalam masyarakat. Oleh sebab itu, masyarakat pun bisa memberi makna sendiri berlandasakan budaya dan sistem representasi yang digunakan untuk berkomunikasi. Michael Foucault memberikan definisi kuasa berbeda dengan ilmuan lain. Pakar tentang kekuasaan lain memusatkan perhatian pada negara, sedangkan Foucault meneliti kekuasaan lebih pada individu, subjek yang kecil. Kekuasaan tidak bekerja karena represi atau penindasan tetapi terjadi dalam kondisi normal dan dengan regulasi. Kehadiran susunan,

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

65


aturan-aturan, sistem-sistem regulasi, meniscayakan kuasa ada. Ia bukan berasal dari luar tetapi dari dalam. Makanya kekuasaan ala Foucault bersifat menyebar dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam teks berita. Maka dalam pandangan ilmuan kelahiran Prancis 15 Oktober 1926 ini, kekuasaan tidak dimaknai dalam term “kepemilikan�. Kuasa tidak dimiliki tetapi dipraktikkan dalam suatu ruang lingkup tertentu (Eriyanto, 2001:65-67). Kekuasaan tidak senantiasa dipahami sebagai sesuatu yang menindas, melainkan produktif, kekuasaan menyusun wacana, pengetahuan, benda-benda, dan subjektivitas (Jorgensen dan Phillips, 2007:25). C. Ideologi dan Berita Ideologi, kata Raymond Williams seperti dikutip Fiske (2004: 228) digunakan dalam tiga perangkat, yakni : pertama, sistem kenyakinan yang menandai kelas tertentu. Kedua, suatu sistem kenyakinan ilusioner, dan ketiga, proses umum produksi makna dan gagasan. Pendapat Williams tersebut hampir sama dengan yang dikemukakan Syariati (1992:76-77). Menurutnya, pertama, ideologi sebagai cara memahami dan menerima alam semesta, kemaujudan, dan manusia. Kedua, cara memahami dan mengevaluasi segala benda dan gagasan yang membentuk lingkaran sosial. Terakhir, menyodorkan, usulan, metode, pendekatan, dan ideal untuk mengubah status quo yang tidak memuaskan. Dalam perspektif teoritis, ideologi sangat ideal-normatif. Ia mengusung nilai dan kebaikan dalam suatu kelompok masyarakat, budaya politik, atau negara tertentu. Namun, pada sisi praktis (historissosiologis), ideologi menyimpan wajah seram dan kejam. Atas nama dan untuk menyelamatkan ideologi, kelompok pengusung ideologi tersebut harus menindas, memberangus, dan mengorbankan nyawa pemilik ideologi lain. Makanya ideologi, kata Budiman

(1991:xv-xvii) adalah pengetahuan yang sudah disusupi kepentingan tertentu atau unsur subjektif. Ia secara sadar atau tidak dipakai untuk menipu kelompok lain. Ideologi adalah pengetahuan subjektif, dan karena itu salah. Ideologi tidak berdasarkan informasi faktual dalam memperkuat kepercayaannya. Ia cenderung menolak pikiran orang lain. Ideologi seseorang menyatakan pikiran orang lain adalah salah. Oleh sebab itu studi tentang ideologi adalah bagaimana menyingkap tentang penipuan yang dilakukan secara sadar tetapi disembunyikan. Ekspresi dari proyeksi sosial bagi pekerja di dunia jurnalistik salah satunya berbentuk tulisan (teks berita). Dengan demikian, setiap teks berita mengandung ideologi penulis atau editornya. Tulisan inilah yang kemudian membangun dalam relasi sosial antara pekerja di media dengan masyarakat sekitar. Relasi sosial, kata Marx Schulman, bagi seorang wartawan dengan orang lain di dalam medianya bertujuannya menyingkap kebenaran (2001: 42). Sebab teks berita untuk khalayak, baik yang dijual ataupun digratiskan yang akan membentuk makna tertentu. Oleh sebab itu, ideologi --dalam tiga ranah tersebut—sangat jelas tercermin dalam bentuk teks berita seperti dikatakan Volosinov yang dikutip Alex Sobur. Whereever a sign is present, ideology is present too. Everything ideological prosesesses a semiotic value (2001: 42) E. Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan analisis framing model Zhongdang dan Kosicki. Alasan penulis memilih framing Zhongdang dan Kosicki. Pertama, ia lebih komplet karena memiliki semua elemen penting dalam framing seperti disebutkan Ji Suk-woo, yaitu, makro struktur, mikro struktur, dan retoris. Dengan kelengkapan unsur framing, analisis terhadap teks berita Kompas, Jurnal Nasional, dan Republika dalam rentang tiga tahun (2008-2011) akan lebih mendalam dan komprehensif. Kedua,

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

66


perangkat framing ini diasumsikan mampu membedah kepentingan, ideologi, dan representasi kekuasaan dalam konflik KNPI 2008-2011 dalam teks berita Kompas, Jurnal Nasional, dan Republika dalam rentang tiga tahun (2008-2011). Hal ini berlandaskan analisis framing Zhongdan dan Kosicki memiliki perangkat analisis yang lebih lengkap dibandingkan model framing yang lain. Ada empat analisis framing Zhongdan dan Kosicki, yakni, sintaksis, skrip, tematik, dan retoris (Eriyanto, 2002:256). STRUKTU R

PERANGKAT FRAMING

UNIT YANG DIAMA TI

SINTAKSI S

1.

Skema berita

Headline, lead, latar informasi , kutipan sumber, pernyataa n, penutup

2.

Kelengkapan berita

5W + 1H (What, Who, When. Where, Why, dan How)

3. 4. 5. 6.

Detail Koherensi Bentuk kalimat Kata ganti

Paragraf, proposisi, kalimat, hubungan antarkali mat

7. 8. 9.

Leksikon Grafis Metafora

Kata idiom, gambar/f oto, grafik

Cara wartawan menyusun fakta

SKRIP Cara wartawan mengisahka n fakta

TEMATIK Cara wartawan menulis fakta RETORIS Cara wartawan menekanka n fakta

Berdasarkan deskripsi di muka, kerangka penelitian ini bisa digambarkan sebagai berikut

F. Hasil Penelitian Berdasarkan analisis framing pada setiap berita di tiga koran yang diteliti bisa digambarkan sebagai berikut: Pertama, frame Kompas dan Jurnal Nasional menjadikan Kongres Kembar (Kongres Ancol, 23-24 Oktober 2008) dan (Kongres Bali 30 Oktober 2008) sebagai pagenews (cantolan berita) untuk berita konflik KNPI selanjutnya, bentrok di sekretariat KNPI dan Kongres Bersama. Sedangkan frame Republika tidak hanya menjadi cantolan berita tetapi juga memuatnya sebagai awal bagi berita-berita konflik KNPI selanjutnya (bentrok di sekretariat KNPI dan Kongres Bersama). Ketiga koran tersebut mengakui ada kongres kembar yang menyebabkan dualisme dalam kepengurusan KNPI 2008-2011. Dengan demikian, unsur sintaksis dari Kompas dan Jurnal Nasional dalam kongres bersama ini adalah menjadikannya sebagai cantolan untuk berita konflik KNPI selanjutnya. Sedangkan unsur skrip, tematik, dan retoris Kompas dan Jurnal Nasional dalam kongres kembar ini tidak ada. Sedangkan sintaksis Republika untuk kongres kembar adalah dengan berisi wawancara Menteri Pemuda dan Olahraga (2004-2009) Adhyaksa Dault dari awal hingga akhir tulisan. Ia meminta hanya ada satu KNPI. Kedua KNPI yeng terpecah (Ancol dan Bali) harus segera rekonsiliasi. Tidak ada nara sumber pembanding. Sedangkan unsur tematiknya adalah rekonsiliasi KNPI, mekanisme rekonsiliasi, dan waktu rekonsiliasi. Ada penekanan waktu satu minggu untuk rekonsiliasi. Meski berita lintas (pendek)

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

67


namun disimpan di kiri atas yang memudahkan pembaca menangkapnya. Kedua, bentrok di sekretariat KNPI Kuningan, Jakarta Selatan (27 Februari 2009) Jurnal Nasional tidak memuatnya. Ia pun tidak menjadikan pagenews (cantolan berita) bagi berita-berita konflik KNPI selanjutnya. Berbeda dengan Jurnal Nasional, Kompas dan Republika menjadikan bentrok di sekretariat ini sebagai peristiwa yang memiliki nilai berita tinggi. Buktinya, kedua koran tersebut menampilkan foto kerusakan sekretariat KNPI akibat anarkisme. Frame Kompas dan Republika sama, yaitu, menekankan kerusakan sekretariat KNPI Kuningan, Jakarta Selatan. Tindakan anarkisme akibat dualisme KNPI. Sedangkan unsur sintaksis Kompas dan Republika sama, yaitu wawancara Ahmad Doli Kurnia (Ketua Umum KNPI Ancol) yang menguasai sekretariat KNPI di Kuningan, Jakarta Selatan, saksi mata, dan Polsek Setiabudi. Hanya saja Republika menyebutkan ancaman melalui short message service (SMS). Tidak mewawancarai polisi yang berwenang menangani pengrusakan kantor KNPI. Baik Kompas dan Republika dalam unsur skripnya menekankan pada pengrusakan yang dilakukan kelompok massa yang tidak dikenal. Kedua menempatkan kubu Doli sebagai korban dari pengrusakan ini. Unsur tematik Kompas dan Republika juga nyaris sama. Yaitu, jenis kerusakan, lima aktivis KNPI terluka, dan 10 orang perusuh yang ditangkap. Republika melengkapinya dengan munculnya pesat pendek ancaman. Unsur retoris Kompas dan Republika sama, foto kerusakan sekretariat KNPI dengan caption penyerangan diguga terkait dengan dualisme KNPI Ketiga, Republika dan Jurnal Nasional menjadikan Kongres Bersama dan rangkaiannya sebagai peristiwa yang menarik dan layak menjadi berita tersendiri. Bahkan, beberapa berita menjelang dan setelah kongres bersama menjadi berita sendiri bagi Republika dan

Jurnal Nasional. Sedangkan Kompas menjadikan sebagai cantolan berita. Ia memuat kongres bersama dalam pelantikan Ketua Umum KNPI terpilih, Topan Rotorasiko. Dengan demikian, frame ketiga koran tersebut sama, yaitu, sebagai ajang rekonsiliasi KNPI Ancol dan Kongres Bali. Unsur sintaksis Kompas adalah wawancara Ketua Umum KNPI 2011-2014, Topan Rotorasiko. Skripnya bercerita tentang proses pemilihan ketua umum KNPI dan harapan ketua umum terpilih di akhir berita. Hiruk pikuk kongres tidak terpotret. Tematik yang disajikan adalah proses pencalonan Ketua Umum KNPI, proses pemilihan Ketua Umum KNPI, dan penyelesaian dualisme KNPI di beberapa daerah. Jurnal Nasional menjadikan wawancara Marzuki Ali, beberapa kandidat Arif Mustopa, dan Topan Rotorasiko sebagai salah satu unsur sintaksis. Semua pendapat mendapat porsi yang seimbang. Menceritakan semua dinamika kongres bersama, termasuk aksesorisnya seperti dugaan politik uang. Unsur tematik yang diusung Jurnal Nasional adalah pertama, dugaan politik uang dalam proses pemilihan Ketua Umum KNPI. Kedua, adu gagasan sesama kandidat, dan akomodasi semua potensi pemuda Sedangkan unsur sintaksis Republika diawali dengan wawancara Topan Rotorasiko dan Oktasari Sabil (Ketua Umum Gemura). Menempatkan proses pemilihan sebagai lead dan sebagain besar dinamika kongres. Skripnya menyebutkan semua aksesoris diceritakan dengan berbagai sumber berita. Hanya saja berita ini didominasi dan penekanan pada pencalonan dan pemilihan Ketua Umum KNPI. Unsur tematik Republika aantara lain, pertama, proses pencalonan dan pemilihan Ketua Umum KNPI. Kedua, dinamika perebutan suara untuk menjadi Ketua Umum KNPI, dan ketiga komitmen Topan Rotorasiko sebagai formatur terpilih untuk menyatukan dan kembali ke khittah KNPI.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

68


Unsur retoris ketiga koran tersebut adalah KNPI yang sah adalah hasil kongres bersama di Jakarta karena sesuai dengan kesepakatan bersama dan AD ART KNPI. Hanya saja Republika memberi judul dengan menyebut panggilan akrab Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Ical. Judul “Menantu Ical Pimpin KNPI� menekankan pada Aburizal Bakrie (Ical), Ketua Umum dan kandidat presiden dari Partai Golkar. Konstruksi Peran Aktor dalam Konflik KNPI 2008-2011 Kompas Subjek

Peran

Jabatan

Konstruksi Teks

Jusuf Kalla

Mediat or

Wakil Presiden

Kongres Luar Biasa (KLB)

Ketua Umum Partai Golkar

1. Berpihak pada Aziz Syamsuddi n (KNPI Bali) 2. Kongres Luar Biasa (KLB) Menuduh KNPI Bali, Aziz Syamsuddin, sebagai kelompok yang menyerang dan merusak sekretariat DPP KNPI

Aburiz 1. Peny al ubur Bakrie 1 konf lik 2. Med iator

Ahmad Doli Kurnia

Aktor utama konflik

Ketua Umum KNPI Ancol

Selain representasi di media massa, representasi Aburizal Bakrie juga tecermin dalam surat bernomor B.34/MENKO/KESRA/II/2009 tentang Hasil Penyatuan KNPI. Surat ini merespon surat bernomor 0397.A/MENPORA/2/2009, tanggal 12 Februari 2009, tentang Laporan Hasil Penyatuan DPP KNPI yang dikirim Menpora. Dalam surat balasan ini, Aburizal Bakrie menegaskan dukungan terhadap langkah-langkang Menpora. Dengan begitu, Aburizal Bakrie sebagai Menko Kesra pun memihak KNPI hasil Kongres Bali, Aziz Syamsuddin. 1

yang dikuasainya. Topan Rotora siko

Aktor perdam aian

Ketua Umum KNPI 20112014 (Kongres Bersama)

Menyatukan semua DPD KNPI-termasuk mengusaha sembilan lainnya yang terpecah-dan Organisasi Kepemudaan

Ajun Komis aris Sunary o

Pereda m konflik

Personil kepolisia n sektor Setiabudi , Jakarta Selatan

Mengamanka n ruang publik yang dipakai salah satu bentuk konflik

Jurnal Nasional Subjek

Peran

Jabat an

Konstruksi Teks

Taufiq Kiemas

Pereda m konflik

Ketua MPR

Menghadiri dan memberi sambutan dalam Majelis Pimpinan Paripurna KNPI Bali (Aziz Syamsuddin )

Menteri Koordin ator Kesejaht eraan Rakyat (20092014) Agung Laksono

Mediat or

Ment eri Koor dinat or Kesej ahtera an Raky at

Memberi sambutan pada rapat pimpinan nasional (Rapimnas) bersama KNPI Ancol dan KNPI Bali. Rapimnas

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

69


ini cikal bakal kongres bersama Menteri Pemuda dan Olahrag a (20092014) Andi Mallara ngeng

Mediat or

Ment eri Pemu da dan Olahr aga 20092014.

Menghadiri dan memberi sambutan pada pelantikan Ketua Umum KNPI hasil kongres bersama, Topan Rotorasiko

Utut Pereda Ardianto m konflik

Angg ota Komi si X DPR

Aziz Syamsu ddin

Ketua 1.Meminta Umu Kementria m n Pemuda KNPI dan Bali Olahraga menyelesa ikan konflik KNPI. 2.Meminta Menteri Pemuda dan Olaharga, Andi Mallarang eng, tegas menentuka n KNPI yang sah versi

Aktor utama konflik

Menawarka n ke Menteri Pemuda dan Olahraga untuk kongres bersama KNPI

pemerinta h. Kandi Meminta dat dua KNPI, Ketua Ancol dan Umu Bali, yang m berkonflik KNPI duduk Kong bersama res untuk Bersa menyelesaik ma an perbedaan di antara kedua kubu.

Arif Mustopa

Aktor perdam aian

Topan Rotorisi ko

Aktor perdam aian

Kandi dat yang kemu dian terpili h sebag ai Ketua Umu m KNPI hasil Kong res Bersa ma

Menyelesai kan konflik dan dualisme KNPI

Twedy Noviadi

Aktor perdam aian

Ketua Presi dium Pusat GMN I

Menemui Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangen g untuk mengusulka n kongres bersama KNPI Ancol dan KNPI Bali.

Devi

Aktor

Peng

Menemui

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

70


Andita

Adib Alfikri

perdam aian

Salah satu aktor konflik

urus Gerak an Muda Foru m Kom unika si Putra Putri Purna wira wan TNI

Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangen g untuk mengusulka n kongres bersama KNPI Ancol dan KNPI Bali.

Ketua Umu m DPD KNPI Suma tera Barat

Memihak ke KNPI Ancol, Ahmad Doli Kurnia

Republika Subjek

Adhya ksa Dault 2

Peran

Jabatan

Konstruksi Teks

Pemicu konflik

Menteri Pemuda dan Olahraga

Menegaskan hanya satu KNPI

Selain mengeluarkan statement di media massa yang merupakan representasi, Menpora juga mengeluarkan surat bernomor 0397.A/MENPORA/2/2009, tanggal 12 Februari 2009, tentang Laporan Hasil Penyatuan DPP KNPI. Penyatuan ini dikemas dalam Forum Silaturahmi Organsiasi Kepemudaan di Hotel Savoy Homann, Bandung, 8-9 Februari 2009. Surat itu ditujukan kepada Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Aburizal Bakrie. Ada sembilan poin yang berkaitan dengan konflik KNPI 2008-2011. Yang terpenting adalah bahwa KNPI hasil Kongres Bali merupakan yang dipilih peserta 101 peserta Forum Silaturahmi Organisasi Kepemudaan. Sebanyak 58 peserta memilih produk KNPI Bali, satu memilih produk 2

20042009 Zulhen dri

Salah satu aktor konflik

Staf ketua KNPI Ancol

Mengancam KNPI Bali,Aziz Syamsuddin , untuk tidak menggunaka n aksesoris KNPI karena pengadilan memenangk an gugatan KNPI Ancol, Ahmad Doli Kurnia.

Ahmad Doli Kurnia

Aktor Utama Konflik

Ketua Umum KNPI Ancol

Aziz Syams uddin

Aktor Utama Konflik

Ketua Umum KNPI Bali

Menempuh jalur pengadilan untuk memperoleh pengakuan sebagai KNPI yang sah Bertahan dan mengaku sebagai KNPI yang sah dengan landasan pengakuan dari Kemenpora

AKBP Dahana

Peredam konflik

Kabag Operasio nal Polres Jakarta Selatan,

Menginsruk sikan anggotanya untuk menjaga sekretariat DPP KNPI

Kompo l Adjie

Peredam Konflik

Kapolsek Setiabudi Jakarta

Membawa delapan orang yang

KNPI Ancol, 25 peserta tidak menggunakan suaranya dan satu abstain.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

71


Indra

Menant u Ical atau Topan Rotora siko

Aktor perdama ian

Selatan

terlibat aksi anarkisme di sekretariat DPP KNPI

Ketua Umum KNPI 20112014

Terpilih sebagai Ketua Umum KNPI 20112014 atau hasil kongres bersama dan membereska n dualism KNPI

G. Pembahasan Kekuasaan Penentuan Berita Dalam memproduksi sebuah berita dan menghasilkan surat kabar yang siap dibaca masyarakat, banyak komponen dan personil yang terlibat seperti reporter, editor, editor bahasa, designer, dan layouter. Bahkan, kartunis dan redaktur foto juga menentukan sebuah berita, khususnya unsur menarik minat pembaca. Masingmasing memiliki kekuasaan dan kewenangan sendiri. Tabel di bawah ini menggambarkan proses produksi berita sehingga surat kabar siap dibaca khalayak. Alur Peristiwa hingga Menjadi Berita di Surat Kabar

Dengan demikian, berita yang berawal dari peristiwa merupakan hasil konstruksi bukan realitas sebenarnya. Berita adalah realitas buatan atau realitas kedua (second hand reality). 3 Bahkan, menurut penulis, berita merupakan realitas bayangan (shadow reality). Realitas bayangan mengandung pengertian realitas yang disodorkan media massa kepada masyarakat hanyalah bayangan dari suatu peristiwa. Yang namanya bayangan bukan atau bahkan jauh dari yang sebenarnya. Ia hanya mirip sebuah peristiwa tetapi tidak memiliki “ruh� peristiwa yang sebenarnya. Tidak semua peristiwa bisa dibuat berita. Ia mengalami seleksi dan konstruksi. Semua berita tergantung sudut pandang (angle) yang mau diambil oleh redaksi yang keputusannya ditentukan oleh kebijakan redaksi (Sudirman Tebba, 2005:150). Wartawan yang berada di lapangan (reporter) hanyalah mencari fakta dari sebuah peristiwa. Sedangkan editor hanyalah merapikan berita. Mereka tidak bisa menentukan berita yang dibuatnya ditampilkan dalam surat kabarnya. Sebab keputusan pemuatan berita ditentukan oleh kebijakan redaksi yang tercermin dalam rapat redaksi. Di sinilah kekuasaan rapat redaksi yang menentukan sebuah berita yang ditampikan atau tidak. Dengan demikian, kebijakan redaksi merupakan gabungan dari cita-cita institusi, di satu sisi, dan keinginan pembaca, pada pihak lain (Ana Nadhya Abrar, 2011:36). Mekanisme dan urutan-urutan tertentu sebuah berita bisa dimuat seperti digambarkan di bawah ini.

Anwar Arifin, Pencitraan dalam Politik, Pustaka Indonesia, Jakarta, 2006:5 3

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

72


Hierarki Kekuasaan Redaksi di Surat Kabar

Representasi Kekuasaan dalam Berita Konflik KNPI Dalam rentang tiga tahun konflik KNPI, Kompas hanya menurunkan empat berita. Namun yang menonjol adalah representasi dan keterlibatan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie dalam konflik KNPI. Dalam frame Kompas, keduanya sebagai mediator dengan solusi Kongres Luar Biasa untuk menyelesaikan konflik. Jusuf Kalla dan Aburizal Bakrie adalah dua fungsionaris Partai Golkar. Sedangkan Ahmad Doli Kurnia (Ketua Umum KNPI versi Ancol) dan Aziz Syamsudin (Ketua Umum KNPI versi Denpasar) merupakan dua fungsionaris Partai Golkar era Aburizal Bakrie. Doli

dan Aziz adalah wakil sekretaris di DPP Partai Golkar. Pada era Orde Baru, KNPI adalah anak emas Golkar (kini berubah menjadi Partai Golkar). KNPI dijadikan Golkar untuk menyatukan dan menyeragamkan suara organisasi kepemudaan. Makanya selama Orde Baru—ketika Golkar menjadi motor pengeruk suaranya--nyaris semua aktivis KNPI menjadi fungsionaris Golkar. Akbar Tanjung, Cosmos Batubara, Aulia Rahman dan masih banyak pentolan KNPI yang menjadi tulang punggung rezim Orde Baru untuk menguasai suara pemuda menjadi punggawa Golkar. Bahkan, melalu KNPI dan Golkar pulalah mereka menjadi pejabat negara pada era Soeharto. Sejak diberendel 1978 oleh rezim Orde Baru, 4 Kompas menjadi anak manis. Ia tidak pernah konfrontatif lagi dengan kekuasaan. Karena itulah ia kemudian menjadi pemimpin pasar dalam media massa, khususnya surat kabar. Untuk memelihara pasar itu, Kompas tidak mau terlibat konfrontasi dengan kekuasaan secara langsung karena terbukti merugikan seperti pada 1978. Makanya Kompas akan hati-hati menurunkan berita yang berkaitan dengan konflik, termasuk konflik KNPI 2008-211. Karena trauma itu pasti Kompas tidak akan berani melawan kekuasaan dengan membuat berita yang keras dan kontroversial. Meski rezim berganti, Kompas tampil lebih soft seperti karakter salah satu pribadi pendirinya, Jacob Oetama. Dalam pandangan Ibnu Hamad (2004: 117) dalam berita politik Kompas lebih menulis aman. Seraya mengutip ungkapan wartawan senior Kompas, Rikard Bangun, “Pasar itu kejam� yang bermakna Kompas tidak mau mengorbankan brand atau kedigdayaan dalam media cetak hancur karena keberpihakan ketika meliput hal yang sensitif atau konflik.

4

Kompas, Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, The Indonesian Times, Sinar Pagi dan Pop Sore dikenakan delik penyiaran kabar bohong.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

73


Sebagai pemimpin pasar yang mayoritas pembacanya berbeda dengan akar historis mereka, Kompas harus ekstra hati-hati dalam menulis satu berita, meskipun hal tersebut berita kilas/singkat/kecil. Sebab ketersinggungan pembaca membuat track record dan nama baik Kompas tercoreng. Akibatnya, laba perusahaan menurun karena kue iklan dan pembaca menurun. Inilah yang dihindari oleh Kompas dalam berbagai berita dan tampilannya. Ibnu Hamad (2004: 117) mengidentifikasi ada tiga strategi dan gaya Kompas dalam mengupas sesuatu yang sensitif (salah satunya berita yang berkaitan dengan konflik). Pertama, model jalan tengah (MJT); menggugat secara tidak langsung; mengkritik tapi disampaikan dengan santun, terkesan putar-putar dan mengaburkan pesan yang hendak disampaikan. Kedua, model angin surga (MAS); dalam mengupas Kompas bukan menggugat atau mempertanyakan hal-hal tertentu; tetapi lebih sekedar himbauan dan harapan. Gaya menulis Kompas ini tertera ketika menurunkan berita “Aburizal Bakrie Minta KNPI Rekonsiliasi.” Sebenarnya Aburizal Bakrie bisa saja memaksa dua KNPI bersatu, sebab keduanya adalah bawahannya dalam jajaran pengurus DPP Partai Golkar. Namun, Kompas hanya menyajikan berita ringan kepada pembaca. Ketiga, model anjing penjaga (MAP) yang bersifat terbuka dan menggunakan yang lebih berani. Model ketiga tersebut tecermin dalam berita “Tidak Ada Lagi Dualisme di KNPI.” Dalam berita ini Kompas mengutip Ketua Umum KNPI terpilih (hasil Kongres Bersama) 2011-2014, Topan Ekonugroho Rotorasiko. Ketegasan Kompas ini berlandaskan dan beriringan dengan hasil kesepakatan dua kubu KNPI yang berkonflik, Ahmad Doli Kurnia dan Aziz Syamsuddin dengan Menteri Pemuda dan Olahraga serta Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono.

Sedangkan representasi kekuasaan Jurnal Nasional terkuak dari pernyataan redaktur Politik dan Hukum Jurnal Nasional, Jan Prince Permata. 5 Bahwa Jurnal Nasional mengakui kedekatan dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Yang paling terlihat dari representasi kekuasaan dalam konflik KNPI 2008-2011 versus Jurnal Nasional adalah nyaris semua berita berkaitan dengan penyelesaian konflik yang mengutamakan kedekatan dengan Aziz Syamsuddin (Ketua Umum KNPI Bali). Semua representasi kekuasaan berita Jurnal Nasional bergandeng Aziz Syamsuddin dengan Marzuki Alie (Ketua DPR) Agung Laksono (Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat 2009-2014), Taufiq Kiemas (Ketua MPR 2009-2014), dan Utut Ardianto (Anggota Komisi X DPR 20092014), dan Andi Mallarangeng (Menteri Pemuda dan Olahraga 2009-2014). Konflik KNPI 2008-2011 mencuat di akhir Adhyaksa Dault. Artinya, pernyataan Ketua Umum KNPI Bali, Aziz Syamsuddin mendominasi pemberitaan tentang KNPI. Sebaliknya, tidak ada satu pun peryataan dari kubu KNPI Ancol, Ahmad Doli Kurnia, yang pernah dimuat di Jurnal Nasional selama konflik berlangsung. Dengan periode penulisan selama 2011 seperti pada kesimpulan pertama berarti Jurnal Nasional hanya menulis pada era Kabinet Gotong Royong II ketika Menteri Pemuda dan Olahraga dijabat Andi Mallarangeng. Ia merupakan sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat dan mantan Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 2004-2009. Andi Mallarangeng (Menteri Pemuda dan Olahraga 2009-2014) tidak pernah mengeluarkan statement tentang konflik KNPI. Meski didesak Ketua 5

Wawancara di kantor Jurnal Nasional, Jalan Johar Nomor 9, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 5 Juni 2012

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

74


Umum KNPI Bali, Aziz Syamsuddin dan Organisasi Kepemudaan yang mendukung Aziz untuk mengeluarkan kebijakan seperti Adhyaksa Dault, (memihak KNPI Bali), Andi tidak pernah mau. Andi memahami jika ia mengeluarkan pernyataan tentang KNPI ketika berkonflik akan muncul berbagai penafsiran atau diindikasikan memihak salah satu kubu. Keberpihakan Andi pada salah satu pihak yang berkonflik dipastikan akan mencoreng reputasi dan citra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menjadi ‘pemilik’ Jurnal Nasional. Penjagaan terhadap citra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beririsan dengan nama baik Partai Demokrat. Andi baru mengeluarkan statement ketika konflik sudah usai dalam kongres bersama pada Oktober 2011. Oleh Jurnal Nasional, Andi digandengkan dengan Topan Rotorasiko (Ketua Umum KNPI 2011-2014). Klaim Andi dengan menyatakan “Salam dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono” dalam sambutan pelantikan KNPI 2011-2014 merupakan indikasi upaya kooptasi terhadap KNPI. Representasi kekuasaan dalam teks berita Republika tercermin dalam enam berita tentang konflik KNPI 2008-2011. Dalam berita ini redaktur dan reporter Republika menampilkan figur-figur yang berlatar belakang Islam. Menpora Adhyaksa Dault dipersepsikan Republika sebagai tokoh Islam. Ia berlatar belakang Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Selain itu, Republika banyak mengutip suara aktivis organisasi kepemudaan Islam (Himpunan Mahasiswa Islam) melalui Ahmad Doli Kurnia (Sekretaris Jendral Pengurus Besar HMI 1999-2001) dan Arif Mustofa (Ketua Umum PB HMI 20082010), Oktasari Sabil (mantan Ketua Umum Korp HMI-wati Cabang Bandung). Pengutipan nara sumber berlatar belakang Islam adalah salah satu karakteristik berita koran yang berideologi Islam. Nuasa ideologi Islam dalam berita konflik KNPI 2008-2011 terasa sejak awal. Republika adalah surat kabar yang

pertama memuat berita konflik KNPI 2008-2011 sejak perpecahan 2008 setelah kongres kembar, Ancol dan Bali. Hal yang paling mencolok dari pemberitaan Republika adalah penyebutan “Menantu Ical” (Topan Rotorasiko) yang menjadi Ketua Umum KNPI 20011-2014 di judul berita ketika konflik selesai dengan adanya kongres bersama. “Menantu Ical” bisa dimaknai sebagai keberhasilan Ical menyatukan dua KNPI. Doli dan Aziz adalah pengurus DPP Partai Golkar yang ketua umumnya adalah Aburizal Bakrie. Menurut Redaktur Nasional Republika, E.H. Ismail, Republika menempatkan suara aktivis berbasis Organisasi Kepemudaan Islam sebagai landasan utama berita konflik KNPI 20082011. Ini menjadi faktor internal Republika berupa ideologi. 6 Berdasarkan temuan Ibnu Hamad (2004:123), Republika merupakan surat kabar yang pembaca berpendidikan akademi ke atas paling tinggi (36.5%). Jumlah ini di atas Media Indonesia (34,55), Kompas (30,06%), dan Suara pembaruan (27.9%). Fakta itu meneguhkan berita Republika dalam konflik KNPI menyasar pangsa pasar anak muda. Sebab dalam dunia persuratkabaran saat ini mencari pembaca kelas menengah ke atas dalam bidang pendidikan sangat sulit karena kemudahan mendaat beritas dari internet. Karena itu wajar jika Republika menulis konflik KNPI 20082011 lebih banyak daripada Kompas dan lebih sedikit satu berita dari Jurnal Nasional. Sebab, ia harus mempertahankan pembaca yang berpendidikan akademi ke atas. H. Kesimpulan Dari hasil penelitian terhadap teks berita Kompas, Jurnal Nasional, dan Republika tentang konflik KNPI 20082011 dengan menggunakan analisis framing Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki, representasi kekuasaan di tiga 6

Wawancara di Kantor Republika,Jumat, 1 Juni 2012

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

75


koran tersebut hal yang berbeda. Representasi kekuasaan dalam teks Kompas adalah untuk menjaga pasar dan mencari pembaca muda. Kompas tidak ingin berita konflik KNPI menghancurkan pasar yang sudah dibangun dan dirawat selama puluhan tahun. Sedangkan representasi kekuasaan di Jurnal Nasional untuk memelihara citra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang merupakan salah satu ‘pemilik’ koran tersebut. Pun secara beririsan menjaga dan mengangkat citra Partai Demokrat. Sedangkan di Republika, terkuak faktor ideologi menjadi yang paling dominan dalam representasi kekuasaan berita konflik KNPI 2008-2011. H. DAFTAR PUSTAKA Abrar, Ana Nadhya, Analisis Pers; Teori dan Praktek, Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta, 2011 Alfian, M. Alfan. M, Menjadi Pemimpin Politik, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2009 Arifin, Anwar, Komunikasi Politik, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2011 Berger, Arthur Asa, Signs in Contemporery Culture; An Introduction on Semiotics, penerjemah M. Dwi Satrianto, Tiara Wacana, Yogyakarta, 2010 Burton, Graeme, Yang Tersembunyi di Balik Media; Pengantar kepada Kajian Media, Jalasutra, Yogyakarta, 2008 Downing, John, Representing Race ‘Race’, Sage Publications, London, 2005 Eriyanto, Analisis Wacana, LKiS, Yogyakarta, 2001. Fiske, John, Cultural dan Communication Studies; Sebuah Pengantar Paling Komprehensif, Penerjemah Josal Iriantara dan Idi Subandy Ibrahim, Jalasutra, Yogyakarta, 2004. Hall, Stuart (Ed) Representation; Cultural Representations and Signifying Practices, Sage Publications, London,1997

Hamad,

Ibnu, Komunikasi sebagai Wacana, La Tofi Enterprise, Jakarta, 2010 Hamad, Ibnu, Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa, Granit, Jakarta, 2004 Hardiman, Fransisco Budi, Kritik Ideologi, Kanisius, Yogyakarta, 1990 Jorgensen, Marianne W dan Louise J. Phillips, Analisis Wacana; Teori dan Metode, penerjemah Imam Suyitno dkk, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2007. KNPI, DPP, Pemuda Pembangunan dan Masa Depan KNPI; Catatan Singkat Kelahiran KNPI, DPP KNPI Press, Jakarta 1987. Maksum, Ali, Pengantar Filsafat, Ar Ruzz Media, Yogyakarta, 2008. Mannheim, Karl, Ideologi dan Utopia; Menyingkap Kaitan Politik dan Pikiran, Penerjemah F. Budi Hardiman, Kanisius, Yogyakarta, 1991. Sobur, Alex, Analisis Teks Media, Remaja Rosda Karya, Bandung, 2006. Sobur, Alex, Semiotika Komunikasi, Remaja Rosda Karya, Bandung, 2009. Syariati, Ali, Ideologi Kaum Intelektual, Penerjemah Farid Gaban, Penyunting Syafiq Basri dan Haidar Baqir, Mizan, Bandung, 1992. Tebba, Sudirman, Jurnalistik Baru, Kalam Indonesia, Jakarta, 2005

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

76


KONSTRUKSI TEORI KOMUNIKASI BERBASIS KEARIFAN LOKAL Turnomo Rahardjo Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro e-mail: turnomor@yahoo.co.id Abstrak Komunikasi sebagai sebuah disiplin ilmu telah dipelajari lebih dari setengah abad melalui lembaga-lembaga perguruan tinggi di Indonesia. Meski sudah lebih dari 50 tahun dipelajari, namun pemikiran teoritik yang menjadi bahan diskusi akademisi dan peneliti komunikasi selama ini merupakan produk dari sejarah intelektual Barat. Praktik intelektual yang dijalankan masih sebatas pada upaya melakukan verifikasi terhadap teori-teori komunikasi Barat, belum ada cukup upaya dari kita untuk menggali kearifan lokal guna mengkonstruksi pemikiran teoritik yang relevan dengan konteks persoalan komunikasi yang terjadi di sekitar kita. Para akademisi komunikasi China, Jepang, dan Korea telah melakukan aktivitas keilmuan guna membangun teori-teori komunikasi berbasis kearifan lokal. Praktik intelektual yang dilakukan oleh akademisi dan peneliti komunikasi dari Asia Timur tersebut bisa menjadi pendorong bagi akademisi komunikasi Indonesia untuk mengeksplorasi pemikiran filosofis, ajaran moral, dan kearifan lokal yang ada di sekitar kita melalui kegiatan penelitian. Kata kunci: konstruksi teori, kearifan lokal

Pendahuluan Dalam catatan sejarah (Littlejohn & Foss, 2005: 3), studi akademis tentang komunikasi di Amerika Serikat dimulai setelah Perang Dunia I ketika kemajuan teknologi dan literasi telah menjadikan komunikasi sebagai topik kajian.Setelah Perang Dunia II, ilmu-ilmu sosial diakui secara penuh sebagai disiplin ilmu, dan perhatian kepada proses-proses psikologis dan sosial menjadi semakin intensif. Kajian komunikasi dikembangkan pada paruh abad 20. Dalam perkembangannya sekarang, banyak peneliti mengakui komunikasi sebagai topik utama bagi semua pengalaman manusia. Karya-karya dari International Communication Association (ICA) dan National Communication Association (NCA) bersamaan dengan terbitnya sejumlah jurnal memperlihatkan apa yang sedang

terjadi dalam kajian komunikasi. Disiplin ilmu komunikasi sekarang ini telah menghasilkan teori-teori baru. Di Indonesia, ilmu komunikasi telah dipelajari lebih dari setengah abad melalui lembaga-lembaga pendidikan tinggi. Perguruan tinggi pertama yang menyelenggarakan pendidikan komunikasi adalah Akademi Ilmu Politik Yogyakarta pada tahun 1949 yang kemudian menjadi Bagian Sosial Politik dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM). Perguruan tinggi ini sekarang kita mengenalnya sebagai Jurusan Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM. Jika dilihat perkembangannya hingga sekarang ini, jumlah perguruan tinggi di Indonesia yang menyelenggarakan pendidikan komunikasi semakin meningkat secara kuantitas. Di berbagai wilayah, dapat dengan mudah dijumpai perguruan tinggi ilmu

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

77


komunikasi, Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Papua.

tidak saja di di kota-kota tetapi telah menyebar ke Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku hingga

Dibalik peningkatan secara kuantitas, ada persoalan yang perlu diperbincangkan bersama, yaitu selama lebih dari 50 tahun kajian tentang ilmu komunikasi di Indonesia masih terlihat “seragam�. Hampir atau mungkin semua perguruan tinggi melaksanakan kegiatan pendidikan komunikasi dengan fokus kajianyang kurang lebih “sama�, yaitu Jurnalistik, Hubungan Masyarakat, Periklanan, Penyiaran, dan Manajemen Komunikasi. Studi komunikasi di Indonesia belum beranjak dari arus utama tersebut. Persoalan kedua, pemikiranpemikiran teoritik komunikasi yang menjadi bahan diskusi komunitas pendidikan tinggi ilmu komunikasi maupun praktisi komunikasi di Indonesia masih sebatas atau bahkan berhenti pada upaya melakukan verifikasi atau pengujian terhadap teori-teori komunikasi yang merupakan produk dari sejarah intelektual Barat. Hingga saat ini belum cukup terlihat upaya dari akademisi dan peneliti komunikasi di Indonesia untuk menggali kearifan lokal (local wisdom) guna membangun gagasan-gagasan teoritik komunikasi yang relevan dengan lingkup persoalan komunikasi yang terjadi di Indonesia. Sebagai gambaran awal, Shelton A. Gunaratne (dalam Littlejohn & Foss, 2009: 47) dalam artikelnya menyebut secara gamblang apa yang ia namakan sebagai Teori Komunikasi Asia (Asian Communication Theory). Menurut Gunaratne, Teori Komunikasi Asia

merujuk pada kelompok literatur yang mencakup konsep-konsep yang berasal dari pembacaan kembali esai-esai klasik Asia, sintesis teoritis Timur-Barat, eksplorasi ke dalam konsep-konsep budaya Asia, dan refleksi kritis terhadap teori Barat. Teori Komunikasi Asia yang dimaksudkan dalam tulisan Gunaratne memberi perhatian kepada filosofi besar India dan China serta budaya dari kawasan diantara India dan China. Gunaratne tidak satu pun menyebut pemikiran filosofis yang tumbuh dan berkembang di kawasan Asia yang lain termasuk Indonesia. Dalam konteks diskusi tentang Teori Komunikasi Asia, para akademisi dan peneliti komunikasi Jepang, Korea, dan China telah melakukan praktik-praktik intelektual guna menghasilkan teori-teori komunikasi yang berbasis pada kearifan lokal. Salah satu contohnya adalah Chinese Harmony Theory yang diciptakan oleh Guo-Ming Chen. Teori yang dihasilkan pada tahun 2001 ini memiliki 4 proposisi, 23 aksioma, dan 23 teorema (dalam Littlejohn & Foss, 2009: 95). Teori ini menjelaskan bahwa harmoni merupakan nilai fundamental dalam budaya China. Harmoni, bagi orang China merupakan tujuan dari komunikasi antarmanusia dimana pihak-pihak yang berinteraksi mencoba untuk menyesuaikan diri satu sama lain guna mencapai suatu keadaan, yaitu interdependensi dan kooperasi. Kemampuan untuk mencapai harmoni dalam relasi antar manusia merupakan kriteria utama yang dipakai orang China untuk mengevaluasi kompetensi komunikasi. Meningkatnya kemampuan seseorang untuk mencapai harmoni akan meningkatkan kompetensi komunikasi.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

78


Guo-Ming Chen dalam membangun Chinese Harmony Theory menggunakan konsep-konsep yang berbasis pada kearifan lokal, yaitu pertama, menginternalisasikan jen (kemanusiaan), yi (kejujuran), dan li (ritual); kedua, mengakomodasikan shi (kemungkinan-kemungkinan dalam konteks waktu/temporal), wei (kemungkinan-kemungkinan dalam konteks ruang/spasial), dan ji (awal suatu tindakan); dan ketigasecara strategis menerapkan guanxi (antarhubungan), mientz (“wajah”), dan kekuasaan dalam tataran perilaku. Dalam konteks keilmuan dan filsafat, disadari atau tidak dominasi pemikiran Barat terhadap pemikiran Timur masih sangat besar. Pemikir Barat menetapkan kriteria-kriteria tertentu terhadap pemikiran yang berasal dari Timur. Foucault (dalam Takwin, 2001: 2526) mengajukan tesis tentang hubungan antara pengetahuan dengan kekuasaan. Ia melihat bahwa patokan keilmuan atau filosofi tertentu sangat dipengaruhi (“ditentukan”) oleh kekuasaan yang dimiliki oleh pihak-pihak penyampai patokan-patokan tersebut. Tesis Foucault ini dapat membantu kita untuk memahami mengapa Barat cenderung menolak filsafat Timur. Penentuan pemikiran Timur sebagai “bukan filsafat” tidak lepas dari pengaruh kekuasaan Barat yang menetapkan kriteria-kriteria mereka terhadap pemikiran Timur. Gagasangagasan yang berasal dari Timur sering dianggap tidak rasional, tidak sistematis, dan tidak kritis. Namun, kehadiran gagasan tentang Teori Komunikasi Asia danChinese Harmony Theory karya GuoMing Chen serta pemikiran teoritik komunikasi Asia lainnyaseperti Buddhist

Communication Theory, Confucian Communication Theory, dan Japanese Kuuki Theorybarangkali bisa menjadi jawaban atas “ketidakpercayaan” pemikir Barat selama ini terhadap pemikiranpemikiran yang berasal dari Timur. Dalam pandangan penulis, pemikiran teoritik (komunikasi) Timur lainnya termasuk di dalamnya pemikiran filosofis, ajaran moral, dan kearifan lokalyang tumbuh dan berkembang di negara kita perlu distimulasi kehadirannya, karena pada dasarnya gagasan-gagasan teoritik merupakan konstruksi, yaitu pemikiran yang merepresentasikan beragam cara yang dilakukan orang dalam memahami lingkungan mereka; dan upaya untuk memahami lingkungan tersebut dapat dilakukan tanpa mengenal batasbatas kewilayahan. Konstruksi Teori (Komunikasi) Teori tidak saja dipahami sebagai penjelasan, tetapi juga sebuah cara mengemas realitas, cara untuk memahami realitas (Littlejohn & Foss, 2005: 4). Orang selalu merepresentasikan realitas secara simbolis dan menjalankannya dalam wilayah teori. Teori adalah sebuah sistem pemikiran, sebuah cara melihat. Kita tidak pernah dapat “melihat” realitas secara murni. Kita perlu menggunakan seperangkat konsep dan simbol untuk mendefinisikan apa yang kita lihat, dan teori-teori memberikan lensa yang memungkinkan kita untuk mengobservasi dan mengalami realitas. Istilah teori komunikasi dapat merujuk pada teori tunggal, namun teori komunikasi dapat dipakai untuk memberi label pada kearifan kolektif (collective wisdom) yang ditemukan dalam

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

79


keseluruhan wujud dari teori-teori yang berkaitan dengan komunikasi. McQuail (2000: 12) menguraikan wujud nyata dari teori dan penelitian komunikasi dengan merumuskan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: o Who communicate to whom?. Siapa berkomunikasi dengan siapa? (sumber dan penerima). o Why communicate?. Mengapa berkomunikasi (fungsi dan maksud/tujuan). o How does communication take place?. Bagaimana komunikasi berlangsung? (saluran, bahasa, kode). o What about?. Tentang apa (isi, referensi, tipe informasi). o What are the outcomes of communication?. Apa hasil dari komunikasi (disengaja atau tidak disengaja) terhadap informasi, pemahaman, tindakan?. McQuail (2010: 18) melengkapi pemikiran sebelumnya dengan menguraikan pertanyaan-pertanyaan untuk teori dan penelitian tentang jejaring dan proses komunikasi sebagai berikut: o Who is connected to whom in a given network and for what purpose?. Siapa terhubungkan dengan siapa dalam suatu jejaring dan untuk maksud apa?. o What is the pattern and direction of flow?. Bagaimana pola dan arus komunikasinya? o How does communication take place?. Bagaimana komunikasi berlangsung? (saluran, bahasa, kode).

o What types of content are observed?. Tipe-tipe isi apa yang diobservasi?. o What are the outcomes of communication?. Apa hasil dari komunikasi, disengaja atau tidak disengaja?.

Dalam cara berpikir Barat, inti dari konstruksi teori atau bagaimana sebuah teori diciptakan adalah apa yang dikenal dengan process of inquiry, yaitu kajian pengalaman yang sistematis yang mengarah pada pemahaman, pengetahuan, dan teori (Littlejohn & Foss, 2008: 7). Orang terikat dalam inquiry ketika berupaya untuk memahami sesuatu dalam cara yang tertata. Proses inquiry yang sistematis akan mencakup tiga tahapan, yaitu: 1) Asking questions. Inquiry adalah proses mengajukan pertanyaanpertanyaan yang menarik, signifikan, dan memberikan jawaban-jawaban yang sistematis. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan memiliki beragam tipe, yaitu pertanyaan-pertanyaan tentang definisi (questions of definition) terhadap konsep-konsep sebagai jawaban, berupaya untuk menjelaskan apa yang diobservasi atau disimpulkan: Apa itu?. Pertanyaan-pertanyaan tentang fakta (questions of fact) menanyakan hal-hal (properties) dan hubungannya dengan apa yang diobservasi. Hal-hal tersebut berisi tentang apa? Bagaimana hal-hal tersebut berhubungan dengan halhal lain? Pertanyaan-pertanyaan tentang nilai (questions of value)

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

80


mengkaji tentang kualitas-kualitas estetika, pragmatis, dan etis dari hal-hal yang diobservasi. Apakah menarik? Apakah efektif? Apakah bagus?. 2) Observation. Para akademisi berusaha mencari jawaban dengan mengamati fenomena yang diteliti. Metoda-metoda observasi berbeda secara signifikan dari satu tradisi ke tradisi yang lain. Beberapa akademisi melakukan observasi dengan mengkaji catatan-catatan (records) dan artefak, akademisi lainnya melalui keterlibatan pribadi, dan beberapa akademisi lainnya menggunakan instrumeninstrumen dan eksperimentasi yang terkontrol, serta akademisi sisanya menjalankan observasi dengan mewawancarai orang. Apa pun metoda yang digunakan, peneliti menjalankan beberapa metoda yang direncanakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan (penelitian). 3) Constructing answers. Para akademisi berupaya untuk mendefinisikan, menerangkan, dan menjelaskan guna membuat penilaian dan interpretasi tentang apa yang diobservasi. Tahapan ini dikenal sebagai teori. Tahapan-tahapan dalam inqury tidak bisa dipahami secara linier, karena setiap tahapan akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh tahapan yang lain. Observasi sering menstimulasi munculnya pertanyaan-pertanyaan baru; teori-teori diperdebatkan melalui observasi dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

Teori-teori akan mengarah pada pertanyaan-pertanyaan baru; dan observasi sebagian ditentukan oleh teori. Dalam catatan Sarantakos (1993: 9), konstruksi teori didasarkan pada sebuah pendekatan sistematis yang menggunakan prosedur-prosedur yang jelas, tersurat, dan formal dalam semua aspek proses penelitian, yaitu dalam mendefinisikan konsep-konsep, variabelvariabel, sistem-sistem penggolongan; dalam mengembangkan proposisiproposisi; dalam membuat pernyataanpernyataan; dan dalam mengoperasionalkan dan mengukur konsep-konsep dan variabel-variabel. Maksud dari proses pemikiran metodologis ini adalah agar sampai pada seperangkat proposisi yang saling berhubungan secara logis yang menerangkan, menginterpretasikan, menjelaskan dan/atau memprediksi fenomena sosial, sehingga dapat diperkirakan dan diperkirakan kembali serta akhirnya mengarah pada pengembangan, penerimaan atau modifikasi sebuah teori. Proses konstruksi teori secara deduktif diawali dari pengembangan konsep-konsep sebagai bahan dasar dari teori, kemudian dilanjutkan dengan melakukan analisis, pengujian, dan pemahaman konsep-konsep serta mengklasifikasikan konsep-konsep tersebut ke dalam sistem atau kategorikategori. Langkah berikutnya dalam konstruksi teori adalah pengembangan proposisi-proposisi, yaitu pernyataanpernyataan umum tentang hubungan antara konsep-konsep. Proposisi-proposisi menjawab pertanyaan “mengapa� (why) dilawankan dengan konsep-konsep dan

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

81


sistem-sistem klasifikasi yang menjawab pertanyaan “apa� (what). Tahapan terakhir dalam proses konstruksi adalah dihasilkannya teori. Teori adalah seperangkat proposisi yang saling berhubungan secara logis yang disajikan dalam sebuah cara yang sistematis yang menjelaskan fenomena sosial. Teori adalah pernyataan-pernyataan yang dikonstruksikan secara logis yang meringkas dan mengorganisasikan pengetahuan dalam sebuah kawasan partikular, terbuka untuk diuji, dirumuskan kembali, dimodifikasi, dan direvisi. Berikut adalah sebuah contoh teori komunikasi yang proses konstruksinya menggunakan model atau logika hypothetico-deductive yang didasarkan pada asumsi bahwa kita dapat memahami dengan baik hal-hal yang komplek dengan menganalisis bagian-bagian atau elemenelemennya. Jenis teori yang dihasilkan dalam logika hypothetico-deductive adalah nomothetic yang didasarkan pada empat proses, yaitu 1) mengembangkan pertanyaan-pertanyaan; 2) merumuskan hipotesis; 3) menguji hipotesis; dan 4) merumuskan teori (Littlejohn & Foss, 2005: 23). Charles Berger dan Richard Calabrese mempublikasikan teori deduktif tentang interaksi awal antara individuindividu yang belum saling mengenal (Baxter & Babbie, 2004: 73). Teori ini dikenal sebagai Teori Pengurangan Ketidakpastian (Uncertainty Reduction Theory) yang memiliki peran penting dalam banyak penelitian komunikasi antarpribadi dan komunikasi antarbudaya. Meskipun lingkup teori ini adalah interaksi awal, namun kemudian diperluas dalam

konteks interaksi antarindividu tingkat hubungannya sudah mapan.

yang

Kedua teoritisi tersebut mencatat bahwa ketika individu-individu yang belum saling mengenal bertemu, maka mereka termotivasi untuk mengurangi ketidakpastian satu sama lain: apa yang disukai orang lain? akankah ia menyukai saya? topik-topik apa yang “aman� untuk dibicarakan?, dan topik-topik apa yang akan membuat tidak nyaman orang lain? Inti dari teori Berger dan Calabrese adalah asumsi bahwa komunikasi dalam interaksi awal diarahkan pada upaya untuk mengurangi ketidakpastian. Berger dan Calabrese merumuskan tujuh proposisi atau aksioma yang disajikan sebagai landasan proses penalaran deduktif, yaitu: Aksioma 1: Ketika jumlah komunikasi verbal antara individu-individu yang belum saling mengenal meningkat, maka tingkat ketidakpastian masing-masing individu akan menurun. Ketika ketidakpastian terus dikurangi, maka jumlah komunikasi verbal akan meningkat. Dengan kata lain, semakin sering dua individu berbicara bersama, maka ketidakpastian diantara mereka akan menurun. Aksioma 2: Ketika ekspresi non verbal tentang kesukaan (liking) meningkat, maka ketidakpastian akan menurun. Menurunnya tingkat ketidakpastian akan menyebabkan meningkatnya ekspresi non verbal tentang kesukaan. Dengan kata lain, ketika orang lain tersenyum kepada kita, maka kita merasa lebih pasti tentang orang lain tersebut dan sebaliknya.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

82


Aksioma 3: Tingkat ketidakpastian yang tinggi akan meningkatkan perilaku pencarian informasi (information-seeking behavior). Ketika ketidakpastian menurun, maka pencarian informasi juga akan menurun. Dengan kata lain, ketika kita merasa tidak pasti tentang orang lain, maka kita menanyakan banyak hal; sekali kita memiliki beberapa kepastian tentang orang lain, maka kita akan menghentikan rasa ingin tahu kita. Aksioma 4: Ketidakpastian yang tinggi terjadi pada menurunnya kedekatan (intimacy) dalam isi komunikasi. Tataran ketidakpastian yang rendah menghasilkan tingkat kedekatan yang tinggi. Dengan kata lain, ketika kita tidak pasti terhadap seseorang, maka kita tidak banyak mengungkapkan hal-hal pribadi dari kehidupan kita. Aksioma 5: Ketidakpastian yang tinggi dihasilkan dalam tingkat resiprositas yang tinggi. Ketidakpastian yang rendah dihasilkan dalam tingkat resiprositas yang rendah. Dengan kata lain, ketika kita tidak pasti tentang orang lain, maka kita cenderung bercermin pada komunikasi orang tersebut. Aksioma 6: Kesamaan-kesamaan antara individu-individu akan mengurangi ketidakpastian, sedangkan ketidaksamaanketidaksamaan akan meningkatkan ketidakpastian. Dengan kata lain, ketika dua orang merasa bahwa mereka berbagi sesuatu yang sama, maka akan mengurangi ketidakpastian mereka satu sama lain. Aksioma 7: Meningkatnya tataran ketidakpastian akan menurunkan kesukaan (liking); menurunnya ketidakpastian akan meningkatkan kesukaan. Dengan kata lain, jika kita merasa tidak pasti terhadap

seseorang, maka menyukainya.

kita

tidak

akan

Teori Komunikasi (Perspektif Timur) Gagasan tentang kemungkinan munculnya pemikiran teoritik komunikasi dalam cara pandang Timur disampaikan oleh Kincaid (dalam Littlejohn, 1999: 4-6). Ia mengemukakan pandangan yang cukup menguntungkan bagi munculnya gagasan konseptual tentang komunikasi dengan mengkontraskan pandangan Barat dengan pandangan Timur yang dapat disimak pada tabel berikut.

TABEL 1 TEORI KOMUNIKASI DALAM PERSPEKTIF BARAT DAN TIMUR Perspektif Barat Memberi perhatian pada pengukuran bagian-bagian dan tidak mengintegrasikannya ke dalam sebuah proses yang disatukan. Didominasi oleh visi individualisme. Orang dipertimbangkan aktif dalam pencapaian tujuantujuan pribadi.

Didominasi oleh bahasa.

Hubungan atau relasi muncul diantara dua atau lebih individu.

Perspektif Timur Cenderung memfokuskan pada keseluruhan dan kesatuan.

Memandang hasil komunikasi sebagai sesuatu yang tidak direncanakan dan merupakan konsekuensi yang bersifat alami dari suatu peristiwa. Lambang-lambang verbal, khususnya ujaran, tidak cukup mendapat perhatian dan dipandang secara skeptis. Hubungan bersifat lebih rumit, karena melibatkan posisi sosial tentang peran, status, dan kekuasaan.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

83


Sumber: Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communication, Sixth Edition, 1999: 4-6.

Dalam catatan Littlejohn (1999: 41), komunikasi dalam perspektif Timur memiliki kesamaan dengan Teori Sistem, karena cara pandang Timur tentang komunikasi menekankan pada keseluruhan (wholeness) yang menjadi inti (centerpiece) dari Teori Sistem. Dalam arti, sistem merupakan keseluruhan yang bersifat unik. Ia mencakup pola hubungan (relationship) yang berbeda dengan sistem yang lain. Keseluruhan lebih dari sekadar penjumlahan terhadap bagian-bagiannya. Sistem merupakan produk dari kekuatankekuatan atau interaksi diantara bagianbagiannya. Disamping adanya kesamaan tersebut, perspektif Timur dan Teori Sistem menghindari alasan kausal (sebabakibat) yang bersifat linier. Jika Kincaid masih sebatas menawarkan gagasan tentang kemungkinan munculnya pemikiran teoritik komunikasi dalam perspektif Timur, maka seperti yang telah dikemukakan di atas, Shelton A. Gunaratne dalam artikelnya menyebut secara lugas Teori Komunikasi Asia (dalam Littlejohn & Foss, 2009: 47-52). Menurut Gunaratne, tiga kata yang menyusun “Teori Komunikasi Asia” membutuhkan penjelasan lebih lanjut, sebab setiap kata memiliki makna yang beragam. Meskipun secara geografis Asia meliputi Timur Tengah, Asia Tengah, dan Rusia sebelah Timur, namun “Teori Asia” memusatkan perhatiannya kepada filosofi besar India dan China serta budaya dari kawasan diantara India dan China. “Teori Komunikasi Asia” menambah perbedaan makna “komunikasi” dan bertentangan dengan pandangan positivist tentang

“teori” yang merupakan sebuah artifak dari ilmu Barat. Teori Asia menekankan pada pada sistem, kelompok, jaringan, dan pendekatan makro. Karenanya, lebih mirip filsafat yang tidak dapat secara mudah diuji dalam cara ilmiah Barat. Pendekatan-pendekatan yang berbeda terhadap komunikasi dan produk teori dalam cara pandang Asia tidak sama dengan premis-premis Barat tentang diri, alam, ruang dan waktu, dan pengetahuan.Johan Galtung meringkas perbedaan-perbedaan tersebut seperti yang dapat disimak dalam tabel berikut. TABEL 2 TEORI KOMUNIKASI BARAT DAN ASIA Perspektif Barat Menekankan pada individualisme.

Menekankan pada kontrol terhadap alam. Melihat dunia terbagi ke dalam pusat (Barat), pinggiran (pendukung Barat), dan di luar pinggiran (sisanya). Memahami pengetahuan dalam lingkup atomisme dan deduktivisme (dan menggunakan bagianbagian tersebut untuk menciptakan kerangka teoritis yang bebas kontradiksi). Melakukan sub ordinasi manusia untuk “a supreme being”.

Perspektif Asia Menekankan pada tanggung jawab resiprokal antara individu dengan masyarakat. Menekankan pada harmoni dengan alam. Melihat dunia dan alam semesta sebagai satuan yang tunggal (keseluruhan yang saling berhubungan dan saling tergantung). Memahami pengetahuan dalam lingkup mirip teori sistem dimana aksiologi, epistemologi, dan ontologi menjadi bagian-bagian esensial dari teoritisasi.

Menempatkan keyakinan dengan mengikuti jalur kebaikan: dharma dalam Buddhisme dan Hinduisme, yi dalam

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

84


Konfusianisme, dan Supreme Reality yang suci dalam Daoisme. Sumber: Shelton A. Gunaratne (dalam Littlejohn & Foss, 2009: 48), Encyclopedia of Communication Theory.

Teori Komunikasi Asia, seperti yang telah diuraikan sebelumnya, merupakan hasil pembacaan kembali esaiesai klasik Asia, sintesis teoritis TimurBarat, eksplorasi ke dalam konsep-konsep budaya Asia, dan refleksi kritis terhadap teori Barat. Wujud nyata dari praktik intelektual yang dilakukan adalah pemikiran teoritik komunikasi yang berbasis pada nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang di kawasan Asia, khususnya Asia Timur. Buddhist Communication Theory merupakan gagasan teoritik yang disampaikan oleh Wimal Dissayanake; Chinese Harmony Theory adalah karya intelektual Guo-Ming Chen; Confucian Communication Theory merupakan pemikiran yang ditulis oleh Jing Yin; Japanese Kuuki Theory adalah gagasan konseptual yang disampaikan oleh Youichi Ito; dan Xiaosui Xiao menulis Taoist Communication Theory.Ada dua teori komunikasi dalam perspektif Timur, yaitu Hindu Communication Theory dan Indian Rasa Theory. Namun, kedua pemikiran teoritik ini ditulis oleh akademisi non Asia, yaitu Scott R. Stroud. Pemikiran-pemikiran teoritik komunikasi Asia di atas dibangun berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di kawasan budaya tersebut. Dalam Buddhist Communication Theory, Dissayanake (dalam Littlejohn & Foss, 2009: 83-85) mengatakan bahwa Buddha merupakan komunikator persuasif yang hebat. Ia

berdoa untuk para pengikutnya dengan bahasa yang dapat dimengerti. Buddha merancang pesan-pesan yang akan disampaikan dalam sebuah cara yang dapat memiliki daya tarik untuk orang kebanyakan. Ia menempatkan penerima (receiver) sebagai titik pusat model komunikasinya, tidak seperti kebanyakan model komunikasi Barat yang hingga sekarang masih memfokuskan pada pengirim (sender). Buddha menggunakan kiasan-kiasan dan cerita-cerita untuk memberi kesaksian terhadap fakta yang ada. Komunikasi menjadi aspek sentral dari pemikiran Buddhist. Lebih lanjut Dissayanake menguraikan bahwa pandangan komunikasi Buddhist adalah bahasa sebagai praktik sosial yang dibentuk oleh kebiasaan dan disetujui oleh orang yang menggunakannya. Bahasa dan komunikasi pada akhirnya harus mengarah pada suatu cara untuk menuju pembebasan. Karenanya, refleksi dan mawas diri merupakan esensi dari komunikasi intra pribadi. Refleksi diri dibangun melalui proses komunikasi verbal. Seseorang tidak hanya merangkai kata-kata, tetapi juga merefleksikan dan mengevaluasinya. Buddhisme juga mengembangkan model komunikasi antar pribadi. Tujuan Buddhisme adalah bagaimana hidup secara produktif dan harmonis dengan orang lain. Model komunikasi antar pribadi Buddhist tergantung pada ketetapan moral, yaitu memberi perhatian pada kepekaan dalam menggunakan bahasa, kemampuan melakukan verifikasi komunikasi, dan pencapaian harmoni melalui interaksi. Teori Komunikasi Buddhist bersifat komplek dan banyak sisi. Pendekatan Buddhist terhadap bahasa dan implikasi Buddhisme dalam komunikasi intra dan

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

85


antar pribadi merupakan contoh dari banyak implikasi Buddhisme terhadap komunikasi. Pemahaman Buddhisme tentang komunikasi sebagai tindakan sosial dan moral banyak menawarkan sesuatu yang perlu dikaji oleh para akademisi komunikasi. Contoh lain dari Teori Komunikasi Asia adalah Confucian Communication Theory. Jing Yin (dalam Littlejohn & Foss, 2009: 170-172) menjelaskanKonfusianisme merupakan sebuah pandangan (worldview), ideologi politik, etika sosial, tradisi ilmiah, dan jalan hidup. Ajaran Konfusian bergantung pada tiga manfaat utama untuk mendefinisikan hubungan antar manusia yang baik, yaitu ren (kemanusiaan), yi (kejujuran), dan li (kesopanan). Konfusius memahami tujuan komunikasi sebagai sesuatu yang etis, yaitu mematuhi dan menopang tatanan moral dari komunitas manusia. Komunikasi perlu bagi orang untuk belajar dan menyatukan diri mereka dengan orang lain. Karenanya, komunikasi merupakan usaha untuk mengembangkan kepekaan orang. Jing Yin lebih lanjut menjelaskan bahwa komunikasi bukanlah sebuah instrumen fungsional untuk mencapai tugas-tugas tertentu, namun lebih sebagai sarana untuk memfasilitasi dan merefleksikan kultivasi diri (selfcultivation) atau pengembangan moral seseorang. Komunikasi yang baik perlu mengikuti prinsip li (kesopanan) dan harus sesuai konteks. Ajaran moral Konfusianisme tidak memercayai katakata yang terpola yang tidak memiliki substansi dan tidak berhubungan dengan moralitas orang. Dalam pandangannya tentang integritas seseorang, Konfusius

lebih menekankan pada tindakan daripada kata-kata. Pengaruh Konfusianisme dapat diamati dalam pola-pola komunikasi budaya Asia Timur. Komunikasi dipahami sebagai proses interaksi dan interpretasi yang tidak pernah berakhir. Kompetensi komunikasi dalam budaya Asia Timur mencakup kemampuan untuk secara seksama memperkirakan dimana posisi seseorang dalam hubungannya dengan orang lain dan membuat pilihan bahasa yang sesuai. Perhatian kepada hubungan yang harmonis dalam ajaran Konfusian mengarahkan orang Asia Timur untuk keluar dari ketergantungan pada komunikasi langsung. Cara-cara komunikasi tidak langsung dinilai tepat, karena perhatian pada “wajah� orang lain. Komunikasi dalam budaya Asia Timur lebih berpusat pada penerima (receiver-centered) daripada pengirim (sender-centered) yang dominan dalam budaya Barat. Penggunaan komunikasi tidak langsung memungkinkan terciptanya banyak ruang untuk melakukan interpretasi. Komunikasi yang berpusat pada penerima mempersyaratkan pendengar untuk memberi perhatian pada situasi dan hubungan yang berbeda. Cara komunkasi ini merupakan praktik dari prinsip utama Konfusian, yaitu ren: kepekaan terhadap orang lain. Menggali Kearifan tentang Komunikasi

Lokal

(Jawa)

Pemikiran-pemikiran teoritik komunikasi Asia yang berbasis pada kearifan lokal seperti yang dijelaskan dalam Buddhist Communication Theory, Chinese Harmony Theory, dan Confucian Communication Theory seharusnya bisa

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

86


menginspirasi akademisi dan peneliti komunikasi Indonesia untuk menggali dan mengenali pemikiran filosofis, nilai-nilai moral, dan kearifan lokal yang ada di wilayah budaya kita. Menggali dan mengenali kearifan lokal ini merupakan upaya untuk menumbuhkan kesadaran dan kepekaan keilmuan akademisi dan peneliti komunikasi Indonesia tentang pentingnya memahami pemikiran filosofis, nilai-nilai budaya dan moral gunamembangun gagasan-gagasan teoritik komunikasi yang relevan dengan lingkup persoalan komunikasi yang terjadi di Indonesia. Teori-teori Komunikasi Asia banyak memberikan penjelasan tentang pentingnya menciptakan kehidupan sosial yang harmonis dengan memberi perhatian kepada “wajah” (face) orang lain. “Wajah” yang dimaksud adalah metafora tentang citra diri ((self-image). Chinese Harmony Theory memperkenalkan konsep meintz (“wajah”) dan Confucian Communication Theory menggunakan konsep ren (kepekaan terhadap orang lain). Dalam budaya Jawa ada kearifan lokal yang menekankan pada pentingnya kehidupan bermasyarakat yang harmonis, yaitu “sayuk rukun saiyeg saeka praya” (Pasha, 2011: 167), sebuah tekad untuk membangun kehidupan yang rukun guna bersama-sama mencapai tujuan. Dalam konteks menghormati “wajah” orang lain, ajaran moral dalam budaya Jawa menekankan pentingnya “ana catur mungkur” (Pasha, 2011: 172), yaitu menghindari pembicaraan yang tidak perlu. Perdebatan yang tidak berujung pangkal hanya akan membuang waktu, tenaga, dan pikiran serta bisa membuat suasana menjadi lebih keruh.

Dalam konteks menghormati “wajah” orang lain, ada sebuah pemikiran teoritik dalam kajian komunikasi antarbudaya, yaitu Face-Negotiation Theory dari Stella Ting-Toomey (dalam West & Turner, 2007: 481). Teori ini memberikan penjelasan bahwa dalam situasi konflik, kepedulian atau perhatian orang pada mutual face dan other face dalam budaya kolektivistik akan membuat mereka berusaha untuk memberikan face kepada orang lain. Cara yang digunakan adalah melakukan penghindaran, bersikap kooperatif atau melakukan kompromi. Sebaliknya, kepedulian orang pada selfface dalam budaya individualistik membuat mereka berusaha untuk memperbaiki face diri sendiri melalui caracara dominasi atau menunjukkan sikap agresif. Budaya Asia diklasifikasikan sebagai kultur kolektivistik, sehingga dalam konteks resolusi konflik lebih memberi perhatian pada “wajah bersama” (mutual face) dan “wajah orang lain” (other face) agar orang tetap terjaga citra dirinya dihadapan publik. Dalam konteks budaya Jawa, juga ada kearifan lokal yang barangkali dapat disepadankan dengan teori-teori komunikasi Barat tentang dialog, yaitu “yen ana rembug dirembug, nanging olehe ngrembug kanthi ati sing sareh” yang secara harfiah bermakna jika ada persoalan sebaiknya dibicarakan dengan hati yang tenang dan sabar. Dalam pustaka komunikasi dapat ditemukan teori-teori komunikasi Barat tentang dialog antara lain dari Martin Buber, Carl Rogers, dan Mikhail Bakhtin. Teori dialog dari Martin Buber (dalam Griffin, 2000: 202-203; Bertens, 2002: 176; Littlejohn & Foss, 2005: 206-

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

87


207; Littlejohn & Foss, 2009: 302) menjelaskan bahwa individu-individu dalam relasi dialogis tidak berusaha memaksakan pandangan-pandangan mereka satu sama lain. Setiap orang bersedia menerima orang lain tanpa syarat dan tidak ada keinginan untuk merubah orang lain. Mitra dialogis menunjukkan kesadaran bahwa orang lain itu unik dan semua orang memiliki genuineness dan authenticity. Carl Rogers (dalam Littlejohn, 2005: 204-206; Littlejohn & Foss, 2009: 302) mempopularkan istilah empathy sebagai kunci utama untuk memahami komunikasi yang bermakna. Komunikasi, menurut Rogers, harus berpusat pada perasaan manusia, hubungan antar manusia, dan potensi yang dimiliki manusia. Sebuah “ruang” dapat dibuka untuk melaksanakan dialog ketika hubungan antar individu ditandai oleh keinginan untuk mendengar dan masuk ke dalam relasi yang bermakna dengan orang lain, genuineness dalam berbagi perasaan dan gagasan dengan orang lain, dan menghormati orang lain.Sedangkan Mikhail Bakhtin (dalam Littlejohn & Foss, 2005: 196-199; Littlejohn & Foss, 2009: 303) menegaskan bahwa dialog akan menghasilkan realitas yang mengekspresikan “banyak suara” (many voices) yang ia sebut dengan heteroglossia. Bakhtin mengkontraskan antara dialog dengan monolog. Monolog terjadi karena hilangnya “banyak suara”, tema-tema menjadi dogmatis, dan tidak ada pengayaan bersama (mutual enrichment) dari pihak-pihak yang berinteraksi. Kearifan lokal “yen ana rembug dirembug, nanging olehe ngrembug kanthi ati sing sareh” mengajarkan kepada setiap orang untuk menyelesaikan perselisihan

atau konflik dengan kepala dingin, hati yang tenang, dan pikiran yang jernih. Kebencian dan kekerasan seharusnya tidak perlu terjadi apabila mereka bersedia untuk “rembugan” atau membangun dialog. Kebencian dan kekerasan dapat dihilangkan dengan kelembutan hati. Dalam kearifan lokal budaya Jawa dikenal dengan suradira jayaningrat lebur dining pangastuti. “Aja tumindak grusa-grusu, nanging tumindak kanthi landesan pikiran kang wening”. “Tumindak iku kanthi duga lan prayoga” (Pasha, 2011: 33). Kearifan lokal ini bermakna bila kita sedang menghadapi masalah, maka jangan bertindak reaktif dalam menangani persoalan secara emosional, namun perlu menghadapinya secara proaktif, menangani persoalan secara bijak dengan pikiran yang jernh. Dalam cara berpikir Barat, tumindak kanthi landesan pikiran kang wening (bertindak dengan pikiran yang jernih) atau tumindak kanthi duga lan prayoga (tindakan yang didasari oleh pertimbangan yang memadai) merupakan wujud komunikasi yang mindful, sebuah kompetensi atau kecakapan komunikasi (communication competence) yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang. PENUTUP Wujud kearifan lokal dalam budaya Jawa yang diuraikan di atas merupakan contoh sederhana untuk menggugah kesadaran keilmuan akademisi dan peneliti komunikasi bahwa di sekitar kita ada pemikiran filosofis, ajaran moral, dan kearifan lokal yang perlu untuk dieksplorasi guna membangun gagasangagasan teoritik komunikasi yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat kita. Kesediaan kita untuk melakukan

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

88


penelitian merupakan langkah nyata untuk membangun teori-teori komunikasi yang berbasis pada kearifan lokal. Selalu ada keterkaitan yang erat antara teori dengan penelitian. Pada satu sisi, teori memandu penelitian dengan memberikan panduan dan asumsi-asumsi dasar; pada sisi yang lain, penelitian memberikan suatu cara untuk menciptakan, memformulasikan, memperkuat, dan merevisi teori.

DAFTAR PUSTAKA Bagus Takwin (2001). Filsafat Timur, Sebuah Pengantar ke Pemikiranpemikiran Timur. Yogyakarta: Jalasutra. Baxter, Leslie & Earl Babbie (2004). The Basic of Communication Research, Canada: Wadsworth a division of Thomson Learning, Inc. Griffin, Em (2000). A First Look At Communication Theory, Fourth Edition. New York: McGraw-Hill. K. Bertens (2002). Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Belmont, California: Publishing Company.

Wadsworth

Littlejohn, Stephen W. & Karen A. Foss (2005). Theories of Human Communication, Eighth Edition. Belmont, California: Thomson Wadsworth. Littlejohn, Stephen W. & Karen A. Foss (2008). Theories of Human Communication, Ninth Edition. Belmont, California: Thomson Wadsworth. Littlejohn, Stephen W. & Karen A. Foss (2009). Encyclopedia of Communication Theory. Thousand Oaks, California: SAGE Publications, Inc. Lukman Pasha (2011). Butir-butir Kearifan Jawa, Sumber Inspirasi Kearifan Lokal. Yogyakarta: IN AzNa Books. McQuail, Denis (2000). Mass Communication Theory, Fourth Edition. Thousand Oaks, California: SAGE Publications, Inc. McQuail, Denis (2010). Mass Communication Theory, Eighth Edition. Thousand Oaks, California: SAGE Publications, Inc.

Littlejohn, Stephen W. (1999). Theories of Human Communication, Sixth Edition. Sarantakos, Sotirios (1993). Social Research. South Melbourne: Macmillan Education Australia. West, Richard & Lynn H. Turner (2007). Introducing Communication Theory, Analysis and Application. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

89


STRATEGI MEDIA RELATIONS DALAM MENINGKATKAN CITRA PERUSAHAAN (Studi Kasus pada Media Relations di PT J.Co Donuts&Coffee) Denada Faraswacyen L. Gaol, M.Si. Medya Apriliansyah, S.E., M.Si. Tigor Morris Marpaung, S.Sos. Program Studi Ilmu Komunikasi FIKOM Universitas Budi Luhur Jakarta yenlgaol@yahoo.com delithsyahtengku@gmail.com morris_paung@yahoo.com

ABSTRACT J.Co Donuts&Coffee success in competing in local and global business market is not obtained in an easy way. Before it went on to become one of the top franchises in Indonesia, this brand has struggled through several stages times of crisis, whether it is directly attacked the company's financial management and quality of products that attack. As a company engaged in the production of food and beverage business, J.Co will never be able to break away from the role and influence of the media. This study uses a qualitative approach to research that uses scientific background, with the intention of interpreting phenomena and conducted by involving the various existing methods. To get the depth information in this study, researchers used a case study on PT J.Co Donuts&Coffee. This study aims to determine the patterns of cooperation and communication strategies that are built by PT J.CO through media relations activities in an effort to build a positive image of the company, find out the factors that become an obstacle in the implementation of communication strategies and patterns of cooperation through media relations activities in an effort building a positive image of the company, knowing things are done in support of the work function of media relations to be more effective in building a positive image of the company.

Keywords: strategy, public relations, media relations, image, franchise PENDAHULUAN Globalisasi menghadirkan banyak pengaruh pada berbagai sendi kehidupan manusia, salah satunya dalam bidang bisnis. Persaingan bisnis menjadi lebih ketat dengan adanya transparansi atau keterbukaan dan hilangnya batas-batas negara, yang merupakan ciri dari globalisasi. Salah satu indikasi persaingan bisnis dapat dilihat dari banyaknya merek yang mewakili satu buah produk, baik itu produk barang

maupun jasa. Hilangnya batas antarnegara membuat banyak merek luar negeri yang berasal dari berbagai jenis industri diperkenalkan kepada konsumen lokal, seperti yang sekarang dapat kita saksikan sedang berlangsung di Indonesia. Di dalam negeri sendiri, lahir pula berbagai macam merek baru yang tidak kalah banyaknya. Merek-merek baru tersebut sebagian besar muncul dalam wujud bisnis waralaba.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

90


Dari data Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), salah satu asosiasi waralaba di Indonesia, terdapat lebih dari 1000 waralaba lokal maupun asing yang beroperasi di Indonesia, dengan omzet mencapai lebih kurang 144 triliun per tahun. Pertumbuhan bisnis waralaba ini juga tetap tinggi dalam empat tahun terakhir. Sejak tahun 2008 sampai dengan kuartal pertama tahun 2012, terdapat 53 izin waralaba asing yang sudah memiliki Surat Tanda Pengenal Waralaba (STPW) yang diterbitkan pemerintah (kontan.co.id, “Saatnya Membendung Waralaba Asing”, 12 Juni 2012). Salah satu waralaba lokal yang cukup fenomenal karena berhasil memenangkan kompetisi dalam waktu yang relatif cepat adalah merek J.Co Donuts&Coffee, yang dikelola oleh PT J.Co. Waralaba yang didirikan pada tahun 2005 ini hanya butuh dua tahun untuk memantapkan posisinya dalam papan atas bisnis makanan dan minuman di Indonesia, dengan kesuksesannya membuka 30 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia. J.Co Donuts&Coffee bahkan mampu melakukan penetrasi di pasar luar negeri dengan membuka dua gerai di Malaysia dan Singapura. Tahun ini J.Co Donuts&Coffee diperkirakan akan memiliki 100 gerai di dalam dan luar negeri (fajar.co.id, “Dari Donat J.Co ke Property”, 1 September 2012). Keberhasilan J.Co Donuts&Coffee dalam bersaing di pasar bisnis lokal maupun global tidak diperoleh dengan cara yang mudah. Sebelum akhirnya sukses menjadi salah satu waralaba teratas di Indonesia, merek ini harus berjuang keras melewati beberapa kali tahapan krisis, baik itu

yang secara langsung menyerang finansial perusahaan pengelola maupun yang menyerang kualitas produk. Krisis ekonomi yang melanda dunia sejak tahun 2007 disikapi manajemen PT J.Co dengan cukup berani. Tidak seperti layaknya sebuah perusahaan yang terkena dampak krisis ekonomi, PT J.Co merespon krisis ekonomi dengan melakukan penyesuaian pada harga dan penetrasi pasar domestik maupun luar negeri (beritadaerah.com, “Gerai J.Co Donut Tahan Krisis”, 20 Desember 2008). Di samping itu, manajemen PT J.Co juga dengan berani melakukan variasi produk dengan memunculkan donat mini (kontan.co.id, “Meraih Hati Pasar melalui Donat Mini”, 20 Januari 2009) dan donat dengan rasa teh (kontan.co.id, “Hadang Krisis J.Co Luncurkan Donat Rasa Teh Thailand”, 3 April 2009). Selain dampak dari krisis ekonomi global yang mendatangkan gangguan pada sisi finansial, citra J.Co juga pernah terganggu akibat isu negatif yang menyerang kualitas produk. Produk donat dari J.Co diisukan menggunakan bahan pengawet yang berlebihan, yang membuat bentuk, warna dan rasanya mampu bertahan dalam waktu sembilan bulan. Isu ini disebarkan oleh salah satu pelanggan J.Co yang menemukan bahwa donat yang dibelinya mampu bertahan dalam sembilan bulan di tong sampah kamarnya (tribunnews.com, “Merebak Isu Donat Bisa Awet 9 Bulan”, 26 Oktober 2012). Berbagai bentuk isu negatif yang menyerang produk J.Co ini sempat membuat penjualan produk J.Co menurun. Hal ini berdampak pula pada

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

91


menurunnya pendapatan PT J.Co, serta ditundanya pembukaan beberapa outlet J.Co Donuts&Coffee baru. Sebagai reaksi atas isu-isu negatif yang dapat menyerang citra positif merk dan perusahaan, manajemen PT J.Co menerapkan beberapa strategi komunikasi yang dianggap paling efisien dan efektif. Salah satu bentuk strategi komunikasi yang dilakukan oleh manajemen PT J.Co adalah menjalin hubungan dengan media, atau dikenal dengan strategi media relations. Manajemen J.Co sendiri selama ini telah menjalin hubungan yang cukup baik dengan media, khususnya yang memberi perhatian pada pemberitaan makanan dan minuman, bisnis waralaba, serta gaya hidup. Jenis media yang termasuk dalam strategi media relations J.Co bukan hanya media massa, akan tetapi juga meliputi media baru (new media) seperti social media. Jenis media yang terakhir ini menjadi salah satu penentu keberhasilan J.Co dalam memperkenalkan produk sekaligus melakukan konfirmasi terhadap isu negatif yang menyerang produk. Kejelian manajemen J.Co dalam membedakan perlakuan terhadap media massa dan social media ini membawa J.Co mampu mengatasi persaingan di bisnis makanan dan minuman, khususnya di segmen atau kategori donat dan kopi. Berdasarkan pemaparan latar belakang masalah di atas, maka peneliti mencoba untuk merumuskan masalah yang akan diteliti ke dalam beberapa poin pertanyaan penelitian sebagai berikut: 1. Bagaimana strategi komunikasi dan pola kerjasama yang dibangun PT J.Co melalui kegiatan media relations dalam

2.

3.

1.

2.

3.

upaya membangun citra positif perusahaan? Faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dalam penerapan strategi media relations dalam upaya membangun citra positif PT J.Co? Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh PT J.Co dalam mendukung fungsi kerja media relations agar lebih efektif dalam membangun citra positif PT J.Co? Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: Mengetahui strategi komunikasi dan pola kerjasama yang dibangun PT J.CO melalui kegiatan media relations dalam upaya membangun citra positif perusahaan. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi penghambat dalam penerapan strategi komunikasi dan pola kerjasama PT J.Co melalui kegiatan media relations dalam upaya membangun citra positif perusahaan. Mengetahui hal-hal apa saja yang dilakukan oleh PT J.Co dalam mendukung fungsi kerja media relations agar lebih efektif dalam membangun citra positif perusahaan.

KERANGKA TEORITIS Strategi Komunikasi Strategi pada hakikatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen (management) untuk mencapai suatu tujuan. Tetapi untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjuk arah saja, melainkan harus menunjukkan bagaimana operasionalnya (Effendy: 2003). Strategi dapat diartikan sebagai perencanaan organisasi yang menyeluruh

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

92


(Smith:2005). Proses strategi merupakan proses integrasi dan saling terkait untuk pencapaian sasaran yang bersamaan, menentukan keputusan strategis dan taktik apa yang harus dikerjakan untuk pencapaian peluang ataupun penyelesaian suatu permasalahan. Sedangkan strategi komunikasi merupakan tindakan yang tangible, perbuatan yang konkret oleh organisasi demi mencapai tujuan. Strategi komunikasi mengacu pada tiga langkah strategi, yaitu publisitas, nilai informasi dan komunikasi yang transparan. Strategi merupakan pendekatan program menyeluruh yang merupakan koordinasi dari tema, acuan pada prinsip dasar yang merupakan gagasan besar dan merupakan rasional untuk aktivitas taktikal. Dari objektif, tujuan dan sasaran, kemudian dipikirkan strateginya untuk dijalankan dengan taktik yang sesuai (Anne Gregory:2000). Jika direncanakan dengan sungguh-sungguh, strategi merupakan rancangan yang menyuluruh bagi aktivitas tindakan. Strategi berfokus pada usaha-usaha untuk menghasilkan pencapaian tujuan yang berpandangan jangka panjang ke depan. Strategi komunikasi merupakan paduan dari perencanaan komunikasi (communication planning) dan manajemen komunikasi (communication management) untuk mencapai suatu tujuan. Untuk mencapai tujuan tersebut strategi komunikasi harus dapat menunjukkan bagaimana operasionalnya secara taktis harus dilakukan, dalam arti kata bahwa pendekatan (approach) dapat berbeda sewaktu-waktu bergantung dari situasi dan kondisi (Effendy: 2003). Media Relations

Untuk menjalin hubungan dengan media, diperlukan suatu pemahaman media (media understanding). Media understanding adalah bagaimana seorang PR memahami suatu media yang akan digunakan untuk “menjual” atau membuat image positif dari suatu perusahaan atau organisasi kepada publik. Oleh karena itu salah satu fungsi yang dilakukan oleh PR adalah media relations. Definisi Media Relations menurut PRSSA (Stanley J Baran: 2004) adalah: “…the public relations professional maintain good relations with professionals in the media, understand their deadlines and other restraints, and earn their trust (PR profesional menjaga hubungan baik dengan para profesional di media, mereka memahami deadline dan hambatan lain, dan mendapatkan kepercayaan mereka)”. Dalam konteks yang berbeda, media relations diartikan sebagai hubungan dengan Media komunikasi untuk melakukan publisitas atau merespon kepentingan media terhadap kepentingan organisasi (Philip Lesly: 1991). Media relations juga diartikan sebagai bagian dari public relations eksternal yang membina dan mengembangkan hubungan baik dengan media massa, sebagai sarana komunikasi antara organisasi dengan publik untuk mencapai tujuan organisasi (Yosal Iriantara: 2005). Salah satu pernyataan Frank Jefkins yang dikutip oleh Wardhani (2008) tentang media relations, yaitu:

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

93


“Usaha untuk mencapai publikasi atau penyiaran yang maksimum atas suatu pesan atau informasi humas dalam rangka menciptakan pengetahuan dan pemahaman bagi khalayak dari organisasi atau perusahaan yang bersangkutan� Citra Citra adalah refleksi dari realitas organisasi, merupakan pandangan terhadap korporasi yang dilihat dari sudut pandang publik (Paul Argenti:2007). Citra dari satu korporasi dapat berbeda tergantung dari sudut pandang publik. Karena citra bisa memberikan berbedabeda sudut pandang, maka Argenti menganjurkan identitas korporasi atau lembaga haruslah tidak berubah-ubah. Identitas perusahaan merupakan manifestasi visual dari realitas perusahaan atau lembaga. Argenti juga berpendapat citra adalah fungsi dari bagaimana konstituen melihat organisasi tersebut berdasarkan atas semua pesan yang disampaikan organisasi itu melalui nama, logo, dan melalui presentasi diri, termasuk ekspresi-ekspresi dari visi korporatnya. Berdasarkan definisi public relations (humas) sebagai semua bentuk komunikasi yang terencana, baik ke dalam maupun ke luar, antara suatu organisasi dengan khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian, maka tujuan spesifik tersebut dapat menimbulkan citra positif bagi keseluruhan suatu organisasi atau lembaga (Jefkins: 1995). Citra adalah tujuan utama dan sekaligus merupakan reputasi dan prestasi yang hendak dicapai bagi dunia masyarakat atau public relations. Pengertian citra itu sendiri abstrak dan tidak dapat diukur secara sistematis, tetapi wujudnya bisa dirasakan dari hasil penilaian baik atau buruk, seperti penerimaan dan tanggapan baik positif maupun negatif khususnya datang

dari publik (khalayak sasaran) masyarakat luas pada umumnya.

dan

METODOLOGI Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang menggunakan latar ilmiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada (Denzin&Lincoln:2000). Penelitian kualitatif juga dimaksudkan untuk memahami tentang apa persepsi, tindakan dan lain-lain secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada konteks yang alamiah dengan metode ilmiah. Untuk mendapatkan kedalaman dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode studi kasus. Menurut Robert K. Yin (2008), studi kasus secara umum adalah strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian yang berkenaan dengan how atau why, bila penelitian ini hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang diselidiki, dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan nyata. Objek dalam penelitian ini termasuk dalam kategori non-individu, karena merupakan sebuah organisasi atau lembaga. Objek penelitian yang dimaksud adalah PT J.Co yang berada di kawasan Puri, Jakarta Barat. Untuk menjawab pokok masalah di dalam penelitan ini, maka key informan yang dipilih dalam penelitian ini adalah PR PT J.Co yang mengetahui dan melaksanakan strategi media

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

94


relations dari perusahaannya. Di samping itu yang ditentukan sebagai informan adalah staff Public Relations PT J.Co yang turut membantu dalam melaksanakan strategi media relations dari perusahaan. Peneliti melakukan teknik analisis data yang umum dilakukan dalam penelitian kualitatif dengan mengadopsi teknik analisis data yang biasa dilakukan dalam metode studi kasus, yaitu berdasarkan langkah-langkah sebagai berikut: a. Kategorisasi dan reduksi data. Di sini, peneliti mengumpulkan informasi-informasi yang penting yang terkait dengan masalah penelitian, dan selanjutnya mengelompokkan data tersebut sesuai dengan topik masalahnya. b. Sajian data. Data yang terkumpul dan telah dikelompokkan itu kemudian disusun sistematis sehingga peneliti dapat melihat dan menelaah komponen-komponen penting dari sajian data. c. Penarikan kesimpulan. Pada tahap ini, peneliti melakukan interpretasi data sesuai dengan konteks permasalahan dan tujuan penelitian. Dari interpretasi yang dilakukan, maka diharapkan akan diperoleh kesimpulan dalam menjawab masalah penelitian (Huberman dan Miles dalam Bungin:2003). Pada penelitian ini, tim peneliti menggunakan Triangulasi Sumber karena penelitian menggunakan wawancara mendalam dan observasi untuk mendapatkan data dari sumber informasi objek yang diteliti. Dalam buku Rachmat Kriyantono menurut Dwidjowinoto Triangulasi Sumber ialah membandingkan atau mengecek ulang derajat kepercayaan informasi yang diperoleh dari sumber yang berbeda. Triangulasi Sumber dapat dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu

teknik pengumpulan mendapatkan yang sama.

data

untuk

HASIL DAN PEMBAHASAN Strategi Komunikasi dan Pola Kerjasama Media Relations PT J.Co Berdasarkan pemaparan hasil temuan, dapat dinyatakan bahwa kegiatan strategi komunikasi konvensional dalam kegiatan media relations seperti press release, press conference, media gathering dan media visit merupakan kegiatan komunikasi utama yang dilakukan oleh Manajemen PT J.Co dengan tujuan membangun hubungan baik dengan para awak media massa sekaligus sebagai bentuk promosi bagi merek J.Co. Melalui berbagai kegiatan media relations, manajemen PT J.Co berusaha untuk membangun relasi dengan pihak media massa. Pada akhirnya pihak manajemen berharap agar relasi yang telah terbangun dapat dioptimalkan untuk menjangkau publik guna meningkatkan pencitraan, kepercayaan, dan tercapainya tujuantujuan perusahaan dalam hal ini adalah adalah citra positif bahwa produk-produk J.Co memiliki kualitas internasional. Strategi komunikasi melalui kegiatan media relation ini diterapkan secara berkesinambungan meskipun tidak secara berkala. Kegiatan media relations seperti yang telah dipaparkan pada hasil temuan, hanya dilakukan oleh pihak Manajemen J.Co pada saat-saat tertentu yaitu pada saat adanya kegiatan eksternal perusahaan sehubungan dengan pengembangan produk dan ekspansi usaha. Hal ini dikarenakan manajemen J.Co memang lebih fokus membina hubungan dengan media massa dalam

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

95


konteks pengembangan produk hal ini bertujuan agar kegiatan media relations yang dilakukan juga dapat menjadi peluang promosi dan usaha pembangunan citra produk J.Co itu sendiri. Sementara untuk penerapan pola kerjasama yang dilakukan oleh PT J.Co dengan media dalam kegiatan media relations dilakukan dengan cara menyertakan awak media sebagai bagian dari anggota acara yang mereka adakan, misalnya dengan melakukan kegiatan media visit yang mengundang para awak media ke dapur J.Co. Hal ini dimaksudkan agar pihak media tidak datang semata-mata hanya untuk meliput saja, namun juga agar para awak media memiliki pengalaman sehubungan dengan produk J.Co. Melalui kegiatan media visit ini, pihak manajemen J.Co mengharapkan media massa dapat memahami proses produksi produk donuts dan coffee yang dihasilkan oleh J.Co. Jurnalis juga diharapkan memiliki pengetahuan positif mengenai proses produksi produk-produk tersebut. Pada akhirnya, para awak media memiliki pengalaman yang baik dalam benak mereka sehubungan dengan produk J.Co dan mampu memberikan ulasan yang sesuai dengan harapan pihak manajemen. PT J.Co memahami bahwa media memiliki kemampuan yang kuat dalam hal mempengaruhi pikiran masyarakat. Faktor-faktor Penghambat Penerapan Strategi Media Relations Meskipun terbilang cukup sukses dalam pelaksanaan strategi komunikasi melalui kegiatan media relations guna membangun citra positif PT J.Co, pihak manjemen ternyata masih menemukan

beberapa faktor penghambat yang dirasa mengurangi efektivitas penerapan strategi komunikasi tersebut. Salah satunya adalah faktor periode pelaksanaan kegiatan media relations seperti press release, press conference, media gathering dan media visit yang tidak terjadwal secara berkala. Faktor penghambat berikutnya adalah standarisasi pelaksanaan kegiatan media relations. Selama ini kegiatan media relations yang dilakukan oleh pihak manajemen PT J.Co sangat dipengaruhi oleh event dan situasi tertentu yang mungkin berbeda-beda pada tiap gerai J.Co. hal ini dikarenakan kegiatan media relations yang dilakukan oleh PT J.Co disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing gerai di berbagai wilayah sehingga misalnya suatu kegiatan media relations tengah dilakukan di kota X namun di kota Y belum tentu ada kegiatan serupa mengingat kebutuhan masing-masing gerai berbeda-beda. Selain masalah waktu, hambatan berikutnya adalah faktor geografis tempat gerai J.Co berada. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, PT J.Co kini melakukan ekspansi usaha tidak hanya di berbagai wilayah di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Hal ini membuat tidak semua kebijakan mengenai kegiatan media relations, dapat diberlakukan sama rata di berbagai tempat dikarenakan kebutuhan lokasi serta faktor konsumen di daerah yang berbeda-beda. Hal-hal yang Dilakukan PT J.CO dalam Mendukung Fungsi Media Relations

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

96


Dalam usahanya mendukung fungsi media relations, manajemen J.Co Donuts&Coffee tidak tanggung-tanggung memanfaatkan sumber daya dari pihak luar manajemen, guna ikut mendukung dan memaksimalkan fungsi media relations yang dijalankan oleh pihak management J.Co sendiri. Salah satu bentuk usaha yang dilakukan adalah dengan memberikan perhatian penting terhadap ruang lingkup kegiatan media relations yang ingin dibangun oleh PT J.Co, dalam hal ini PT J.Co memberikan perhatian terhadap strategi hubungan media massa di tempat-tempat yang segmentasi khalayaknya belum terlalu dipahami oleh pihak manajemen J.Co Untuk memaksimalkan fungsi media relations yang akan dilakukan ditempat yang belum dipahami konsepnya, salah satu strategi yang dapat digunakan adalah dengan melakukan kerjasama dengan konsultan media lokal, yang memiliki pengetahuan dan penguasaan yang tinggi terhadap media massa setempat Usaha berikutnya yang dilakukan oleh J.Co untuk memaksimalkan fungsi media relations adalah dengan mengikuti perkembangan media terbaru (new media) atau lebih sering disebut dengan istilah media sosial. Media sosial yang saat ini kian beraneka ragam, sebut saja kaskus, milis, Facebook, twitter, blog, adalah bentuk-bentuk media baru yang saat ini ikut menentukan citra J.Co di kalangan masyarakat. Maraknya perkembangan new media berbasis internet saat ini membuat siapa saja, dan di mana saja dapat memberikan pemberitaan terhadap brand J.Co, tidak hanya pihak media massa online, tetapi

public pun dapat memberitakan sesuatu tentang brand J.Co baik itu pemberitaan positif, ataupun negatif. Usaha lain yang dilakukan oleh PT J.Co untuk membangun citra positif brand adalah dengan memanfaatkan masyarakat sebagai target kegiatan secara langsung, hal ini dilakukan untuk menarik simpati media dalam hal peliputan, karena umumnya kegiatan yang melibatkan masyarakat dan bersifat sosial memiliki news value tersendiri bagi pihak media. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, serta wawancara kepada PR PT J.Co selaku narasumber utama, dan didukung dengan sejumlah literatur baik cetak maupun online, dapat disimpulkan bahwa manajemen J.Co menggunakan kegiatan media relations sebagai salah satu strategi komunikasi guna membangun citra positif PT J.Co di benak masyarakat. Kegiatan media relations dipilih oleh manajemen PT J.Co sebagai salah satu strategi komunikasi dalam usaha membangun citra positif karena media sebagai unsur utama kegiatan media relations dinilai memiliki kemampuan untuk membangun mindset masyarakat melalui pemberitaan seputar kegiatan serta distribusi informasiinformasi positif seputar PT J.Co. Manajemen PT J.Co juga memanfaatkan kegiatan media relations untuk meng-counter issu-issu negatif terhadap kualitas produk-produk J.Co yang dapat berdampak negatif pada citra PT J.Co karena media memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pemikiran masyarakat melalui berbagai

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

97


tulisan yang bersifat informatif maupun edukatif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan media relations adalah salah satu strategi yang dilakukan oleh manajemen PT J.Co dengan memanfaatkan media sebagai partner untuk membangun citra positif J.Co di benak masyarakat melalui pemberitaan positif karena media dipercaya memiliki kemampuan mempengaruhi pemikiran masyarakat terutama dalam hal membangun suatu citra dalam benak tiap-tiap individu. DAFTAR PUSTAKA Ardianto, Elvinaro. 2004. Public Relations: Suatu Pendekatan Praktis. Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Argenti, Paul A. 2007. Corporate Communication. Boston Massachusetts: McGraw-Hill International Edition. Baran Stanley J. 2004. Introduction to Mass Communication Media Literacy and Culture. New York: McGraw-Hill Companies. Bungin, Burhan. 2010. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Cangara, Hafied. 2003. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Cutlip, Scott M., Allen H Center, Glen M. Broom. 2006. Effective Public Relation. New Jersey: Pearson Education International. Denzin, Norman K., Yvonna S. Lincoln. 2000. Handbook of Qualitative Research. California: Sage Publication Inc.

Effendy, Onong Uchjana. 2000. Komunikasi: Teori dan Praktik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Gregory, Anne. 2004. Kampanye Public Relations. Jakarta: Penerbit Erlangga. Iriantara, Yosal. 2005. Media Relations; Konsep, Pendekatan, dan Praktik, Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Jefkins, Frank, Daniel Yadin. 1998. Public Relations. Jakarta: Penerbit Erlangga. . 2004. Public Relations. Jakarta: Penerbit Erlangga. Kriyantono, Rachmat. 2009. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Kusumastuti, Frida. 2004. Dasar-Dasar Humas. Bogor: Ghalia Indonesia. Lesly, Philip. 1991. Lesly’s Handbook of Public Relations and Communication. Chicago: Probus Publishing Company. Moleong, Lexy J. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Ruslan, Rosady. 2000. Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations. Jakarta: Raja Grafindo Persada. . 2001. Etika Kehumasan : Konsepsi&Aplikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. . 2005. Manajemen Public Relations&Media komunikasi: Konsepsi&Aplikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Smeltzer, Larry R. 2002. Managerial Communication: Strategies and Applications. New York: McGraw-Hill.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

98


Smith,

Ronald D. 2005. Strategic Planning For Public Relations. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc. Sugiyono. 2009. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Penerbit Alfabeta. Sunarto. 2003. Humas Pemerintahan dan Komunikasi Persuasif. Jakarta: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Departemen Kehakiman dan HAM. Yin, Robert K. 2008. Studi Kasus: Desain dan Metode. Jakarta: Rajawali Pers.

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

99


GAYA KOMUNIKASI POLITIK PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Nawiroh.vera@budiluhur.ac.id Eko.putraboediman@budiluhur.ac.id Linda.islami@budiluhur.ac.id Fakultas ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur-jakarta

ABSTRACT The success of a leader, including a president determined by his skill in communicating both verbally and non-verbally. In the context of the communication as head of state by the president can be categorized as political communication and is closely associated with leadership communication. The President Susilo Bambang Yudhoyono in the second period of his tenure as the President of the Republic of Indonesia has a lot of political communication both with the ministers presidential aide as well as its people. The president SBY Communications quite steal the show as research material, this is because during his reign many events going on interesting and controversial, both positive and negative seen from point of view of the people of Indonesia. The theory behind the study is the three communication styles by Christopher L. Heffner. According to Heffner, it is Passive, Assertive and Aggressive seen from verbal and non-verbal communication. The research is descriptive qualitative approach, the study explains extensively about communication styles of the President Susilo Bambang Yudhoyono during the two periods of his tenure. The research method use semiotic analyzes. Through the early stages of data analysis based on interviews with the informants and both verbal and nonverbal meaning, it was explained that the President Susilo Bambang Yudhoyono uses assertive communication style. Whereas the nonverbal communication style is aggressive. Keywords: style of communication, political communication, verbal and non-verbal. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai pemimpin Negara, seorang presiden sudah pasti menjadi perhatian masyarakat. Segala tingkah laku dan komunikasinya selalu menjadi pusat perhatian publik, serta menimbulkan reaksi baik positif maupun negatif. Keberhasilan seorang pemimpin termasuk seorang presiden antara lain ditentukan oleh keahliannya dalam berkomunikasi baik secara verbal maupun

non verbal. Dalam konteks sebagai kepala Negara maka komunikasi yang dilakukan oleh presiden dapat dikategorikan sebagai komunikasi politik dan berhubungan pula dengan komunikasi kepemimpinan. Komunikasi politik antara presiden dengan rakyatnya tentu memiliki tujuantujuan tertentu, seperti memperoleh dukungan atas berbagai kebijakan yang akan dilakukan, memulihkan kepercayaan terhadap pemerintahannya, meredakan konflik, membentuk citra diri dan pemerintahnya, dan lain sebagainya. Intinya komunikasi politik dalam hal ini

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

100


komunikasi presiden dapat memberi kontribusi atas tercapainya tujuan si komunikator. Komunikasi politik presiden dapat juga dijadikan alat bagi pencitraan diri. Jika komunikasi presiden direspon positif oleh khalayak maka tentunya citra sang presidenpun menjadi baik begitu juga sebaliknya jika komunikasi presiden direspon negatif oleh khalayak maka citra presidenpun menjadi buruk. Hal ini sejalan dengan teori komunikasi politik empati, yaitu: “komunikasi politik diukur dari keberhasilan komunikator (subyek komunikasi) memproyeksikan diri dalam sudut pandang orang lain. Komunikasi politik berhasil apabila dapat menanamkan citra diri si komunikator dalam suasana alam pikiran masyarakat, atau secara ringkas, membangun empati masyarakat�. (Berlo,1960 & Daniel Lerner, 1978) Dalam berkomunikasi politik terdapat dua strategi yang dapat dilakukan komunikator politik, yaitu; Pertama, komunikasi terbuka dan eksplisit atas ideology yang dimilikinya. Kedua, pesanpesan ideologi disembunyikan dalam isu politik atau aktivitas yang kasat mata. (Firmanzah, 2008: 333). Dengan demikian komunikasi politik berarti mengkomunikasikan sesuatu yang bersifat simbolik, karena pesan-pesan politik sarat dengan makna-makna tersurat. Disebut komunikasi simbolik karena menekankan aspek konotasi dari setiap kata, objek, dan gambar yang muncul. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam 2 periode masa jabatannya selaku Presiden Republik Indonesia telah banyak melakukan komunikasi politik baik pada menteri-

menteri selaku pembantu presiden maupun kepada rakyatnya. Komunikasi presiden SBY menarik untuk diteliti karena selama masa pemerintahannya banyak terjadi peristiwa-peristiwa yang menarik, baik yang positif maupun negatif di mata rakyat Indonesia. Komunikasi yang dilakukan tentunya mempunyai tujuan-tujuan tertentu, tetapi paling tidak tujuan utamanya adalah pembentukan citra baik citra diri selaku kepala Negara maupun citra partai yang menaunginya. Citra diri diperlukan seorang pemimpin karena sesuai dengan konsep dalam komunikasi organisasi mengatakan bahwa: “perkembangan suatu organisasi, apakah baik atau buruk, tergantung pada pemimpinnya. Organisasi itu akan menjadi baik jika dipimpin oleh seorang pemimpin yang memiliki citra diri yang baik. Sebaliknya jika pemimpinnya memiliki citra diri yang buruk, maka akan menampilkan citra organisasi yang buruk� (Hartono, 2011). Jika dikaitkan dengan komunikasi seorang presiden maka organisasi dimaksud adalah Negara yang dipimpinnya, juga partai yang menaunginya. Ketertarikan meneliti gaya komunikasi presiden SBY karena dalam dua periode kepemimpinan beliau mengalami masa pasang surut dalam pencitraan. Periode pertama citra SBY cukup bagus sedangkan periode kedua citra SBY semakin menurun terutama setelah muncul kasus-kasus korupsi yang melibatkan petinggi partai demokrat, partai yang pernah dipimpinnya. Berdasarkan fakta tersebut penelitian ini ingin mengetahui gaya komunikasi presiden SBY selama dua

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

101


periode pemerintahan. Gaya komunikasi yang akan diteliti meliputi komunikasi verbal maupun non verbal dalam berbagai konteks dan situasi. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di muka, maka rumusan masalah yang menjadi focus penelitian adalah: Bagaimana gaya komunikasi politik dan citra Presiden SBY?

1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan gaya komunikasi politik Presiden SBY baik secara verbal maupun non verbal selama dua periode masa pemerintahannya. Juga untuk mengetahui seperti apa citra Presiden SBY berkaitan dengan gaya komunikasinya. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini yaitu memperkaya kajian ilmu komunikasi terutama komunikasi politik, komunikasi kepemimpinan yang berkaitan dengan citra diri seorang kepala Negara. Juga menngetahui gaya komunikasi politik presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sehingga masyarakat Indonesia khususnya dapat memahami maksud dan tujuan komunikasi yang dilakukan oleh presidennya. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Komunikasi Komunikasi secara terminologis adalah proses penyampaian pernyataan atau pesan dari seseorang kepada orang lain. Dapat diartikan bahwa yang terlibat

komunikasi adalah manusia. Manusia sebagai mahluk sosial memerlukan manusia lain untuk berinteraksi. Dalam berinteraksi antara satu manusia dengan manusia lainnya memerlukan komunikasi. Komunikasi antar manusia (Human Communication) sering juga disebut sebagai komunikasi sosial. (Effendy, 1992:4). Beberapa definisi komunikasi menurut para ahli yaitu: Everett M. Rogers: “Komunikasi adalah suatu proses dimana ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih dengan maksud untuk mengubah perilaku mereka�. Shannon&Weaver menyatakan bahwa:�Komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya, baik sengaja maupun tidak sengaja. Tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni, dan teknologi� (dalam Cangara, 1998:20). Ruben&Stewart (1998:16) menyatakan bahwa komunikasi manusia adalah �Proses yang melibatkan individuindividu dalam suatu hubungan antar individu, kelompok, organisasi dan masyarakat yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan lingkungan satu sama lain. Dapat disimpulkan bahwa definisi komunikasi secara umum adalah suatu proses pembentukan, penyampaian, dan pengolahan pesan yang terjadi didalam diri seseorang dan atau diantara dua atau lebih dengan tujuan tertentu. Bila dikaitan dengan penelitian ini bahwa setiap tindakan dan perilaku seorang presiden dapat dikatakan sebagai proses

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

102


komunikasi yang mengandung simbolsimbol baik verbal maupun nonverbal. 2.2 Bentuk-bentuk Komunikasi Berdasarkan bentuknya komunikasi dapat digolongkan menjadi komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. 2.2.1.Komunikasi Verbal dan Non Verbal . Komunikasi verbal menurut Arni Muhammad (1992: 95) adalah “komunikasi yang menggunakan simbol-simbol atau kata-kata baik yang dikatakan secara oral atau lisan maupun tulisan. Komunikasi verbal diartikan sebagai komunikasi yang menggunakan bahasa lisan maupun tertulis. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, entah lisan maupun tertulis. Komunikasi ini paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia. (M. Harja, 2003: 22). Menurut Alo Liliweri (1994: 89) “Komunikasi non verbal acapkali disebut komunikasi tanpa kata (karena tidak berkata-kata)�. Komunikasi non verbal biasanya menggunakan gerakan tubuh seperti isyarat tangan, gerakan kepala, postur tubuh, ekspresi wajah, tatapan mata, dan lain-lain. Sedangkan, menurut Deddy Mulyana (2006) secara sederhana, pesan non verbal adalah “semua isyarat yang bukan kata-kata.� kebanyakan isyarat non verbal juga tidak universal, melainkan terikat oleh budaya, jadi komunikasi non verbal harus dipelajari bukan bawaan. Bentuk-bentuk Komunikasi Non-Verbal Kode komunikasi non verbal dapat dikelompokkan dalam beberapa bentuk antara lain:

1. Kinesics Adalah kode non verbal yang ditunjukkan oleh gerakan-gerakan badan.Gerakan-gerakan badan bisa dibedakan atas: a. Fasial Menggunakan air muka untuk menentukan makna tertentu. b. Gestur Gerakan sebagai anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengkomunikasikan berbagai makna. c. Postural Berkenaan dengan keseluruhan anggota badan. Postur tubuh dapat menyiratkan: 1) Immediacy, yaitu ungkapan kesukaan atau ketidaksukaan terhadap individu lain. 2) Power, yaitu mengungkapkan status yang tinggi dari komunikator. 3) Responsiveness, yaitu bila ia bereaksi secara emosional pada lingkungan, baik secra positif dan negatif. 2. Pesan artifaktual Diungkapkan melalui cara berpakaian dan cara berkosmetik. 3. Pesan proksemik Disampaikan melalui pengaturan jarak dan ruang. Umumnya dengan cara mengatur jarak kita mengungkapkan keakraban kita dengan orang lain. 4. Pesan paralinguistik Pesan non verbal yang berhubungan dengan cara mengucapkan pesan verbal. 5. Pesan sentuhan dan bau-bauan

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

103


Alat penerima sentuhan kulit mampu menerima dan membedakan berbagai emosi yang disampaikan oleh orang melalui sentuhan. (Anugrah dan Kresnowati, 2008: 61-62). 2.3 Gaya Komunikasi Pengertian gaya dalam komunikasi adalah penggunaan bahasa untuk menyampaikan ide dengan cara tertentu. Menurut Aristoteles gaya komunikasi dalam retorika terutama juga dipengaruhi oleh pemilihan kata, penggunaan perumpamaan, dan kepantasan kata. (West&Turner, 2008: 13). Gaya komunikasi adalah cara bagaimana kita berkomunikasi, pola komunikasi secara verbal maupun non verbal meliputi cara memberi dan menerima informasi pada situasi tertentu. Jika isi pesan merupakan “what” dan komunikator “Who”, maka gaya komunikasi merupakan “how” (Saphiere et.al 2005: 5). Pengertian lain dari gaya komunikasi menurut Dianne Hofner saphiere dkk. adalah: “Bagaimana kita mengekpresikan diri kita sendiri mencerminkan nilai-nilai dan kepercayaan, dimana nilai-nilai dan kepercayaan itu ditentukan oleh budaya dan kepribadian” (Saphiere, 2005: 6). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gaya komunikasi tiap individu berbeda karena perbedaan budaya dan kepribadian masing-masing individu. Gaya komunikasi dimaksud baik dalam komunikasi verbal maupun non verbal. Menurut Christopher gaya komunikasi dibedakan menjadi 3 yaitu: - Passive style; Communication style in which you put the rights

of others before your own, minimizing your own self worth. - Aggressive style; Communication style in which you stand up for your rights while maintaining respect for the rights of others. - Assertive style; Communication style in which you stand up for your rights but you violate the rights of others. http://www.miami.edu/developmenttraining/Resources/PMParticipantfinalManual0 305.pdf

2.4 Komunikasi Politik Beberapa definisi komunikasi politik menurut para ahli yaitu: Fagen (1966), menjelaskan “Communicatory activity considered political by virtue of its consequences, actual, and potential, that it has for the funcioning of political systems”. Meadow (1980) membuat definisi komunikasi politik dengan “Political communication refers to any exchange of symbols or messages that to a significant extent have been shaped by or have consequences for the political system”(dalam Masayu, 2011). Political communication is communication (activity) considered political by virtue of its consequences (actual or potential) which regulate human conduct under the condition of conflict (Dan Nimmo, 1982). Komunikasi politik menurut Susanto 1985 adalah; “komunikasi yang diarahkan kepada pencapaian suatu pengaruh sedemikian rupa, sehingga masalah yang dibahas oleh jenis kegiatan komunikasi ini,

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

104


dapat mengikat semua warganya melalui suatu sangsi yang ditentukan bersama.� (dalam Muhtadi, 2008: 30). Sebuah pemerintahan dapat bertahan lama jika pemimpin secara intensif melakukan komunikasi politik yang sengaja diarahkan kepada masyarakat melalui proses akomodasi dan konfrontasi. 2.5 Komunikasi Kepemimpinan Inti dari kepemimpinan adalah mampu melihat apa yang dibutuhkan, dan kemudian menginspirasi orang lain untuk mengambil tindakan untuk menghasilkan perubahan. Kunci kepemimpinan yang sukses adalah komunikasi kepemimpinan yang otentik. Pearce menunjukkan bahwa membangun sebuah platform pesan lengkap untuk perubahan melibatkan 4 kegiatan 1. Menetapkan Kompetensi dan Membangun Kepercayaan (Kesiapan); Untuk menginspirasi orang lain, Anda harus membangun kredibilitas Anda sendiri dalam organisasi. Kepercayaan adalah penting karena hal itu merupakan sesuatu yang memungkinkan orang untuk mendengarkan Anda tanpa filter ketakutan atau kecurigaan, dan memberi mereka kepercayaan diri untuk mengikuti Anda. 2. Ciptakan Suasan Kondusif (Insight); Untuk berkomunikasi secara efektif, pertama Anda harus dapat melihat dengan jelas situasi dan tantangan yang Anda hadapi di organisasi. 3. Menyatakan dan Menjelaskan Masa Depan (Visi); Masa depan tidak berada di luar sana menunggu untuk terjadi – masa depan sebagian

besar diciptakan oleh apa yang kita lakukan atau tidak lakukan. Pemimpin memiliki peran penting dalam membentuk tindakan ini dengan menyatakan masa depan sehingga membuat apa yang sebelumnya tampak tidak mungkin terlihat mungkin dan nyata. Seperti Peter Drucker mengatakan "Cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya". 4. Berkomitmen untuk Aksi (Action); Komitmen pemimpin untuk tindakan adalah langkah memuncak dan mendefinisikan dari proses perubahan. Ini adalah tindakan yang menandakan kemenangan nilai lebih dari kebiasaan, makna atas keselamatan, dan kreativitas yang lebih sesuai. Komunikasi untuk seorang pemimpin menjadi suatu tindakan yang membuat pemimpin itu asli dan transparan. Anda dapat mencapai transparansi ini dalam tiga cara: berbicara, mendengarkan, dan belajar. Inti dari komunikasi kepemimpinan bermuara pada siklus tiga langkah yang bergerak terus-menerus. Tidak hanya siklus selalu bergerak, Anda akan menemukan diri Anda dalam salah satu dari langkah-langkah pada waktu tertentu dengan orang tertentu. Pada titik tertentu Anda akan berbicara kepada seorang rekan. Pada saat lain Anda akan mendengarkan kelompok. Dan pada lain waktu Anda akan berada di kantor atau di rumah Anda berpikir tentang apa yang Anda dengar dan

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

105


mencoba untuk memahaminya. (http://www.johnbaldoni.com/services/c omm.php). 2. 6 Citra Jika diartikan, Citra dapat didefinisikan sebagai kesan yang ditimbulkan menurut pengetahuan public berdasar kenyataan tentang produk atau perusahaan (Henslowe, 2000: 2). Citra adalah tujuan utama, dan sekaligus merupakan reputasi dan prestasi yang hendak dicapai bagi dunia hubungan masyarakat (kehumasan) atau public relations. Pengertian citra itu sendiri abstrak dan tidak dapat diukur secara sistematis, tetapi wujudnya bisa dirasakan dari hasil penilaian baik atau buruk (Ruslan, 2005: 75). Biasanya landasan citra itu berakar dari “nilai-nilai kepercayaan� yang kongkretnya diberikan secara individual, dan merupakan pandangan atau atau persepsi (Ruslan, 2005, p.76). Proses akumulasi dan amanah kepercayaan yang telah diberikan oleh individu–individu tersebut akan mengalami proses cepat atau lambat untuk membentuk opini publik yang lebih luas, yang sering dinamakan citra (Ruslan, 2005 : 76)

Frank Jeffkins mengemukakan ada beberapa jenis citra yang sering dihadapi, yaitu: 1. Citra Bayangan (Mirror Image) Citra ini melekat pada orang dalam atau anggota-anggota organisasi, biasanya adalah pemimpinnya mengenai anggapan pihak luar tentang organisasinya. Dalam kalimat lain, citra bayangan

adalah citra yang dianut oleh orang dalam mengenai pendangan orang luar terhadap organisasinya. Citra ini seringkali tidaklah tepat, atau bahkan hanya sekedar ilusi, sebagai akibat dari tidak memadainya informasi, pengetahuan ataupun pemahaman yang dimiliki oleh kalangn dalam organisasi itu mengenai pendapat atau pandangan pihak-pihak luar. 2. Citra yang berlaku (Current Image) Kebalikan dari citra bayangan, citra yang berlaku (current image) ini adalah suatu citra atau pandangan yang melekat pada pihak-pihak luar mengenai suatu organisasi. Namun sama halnya dengan citra bayangan, citra yang berlaku tidak selamanya,bahkan jarang sesuai dengan kenyataan karena semata-mata terbentuk dari pengalaman atau pengetahuan orang-orang luar yang bersangkutan yang biasanya tidak memadai. 3. Citra yang diharapkan (wish image) Citra harapan adalah suatu citra yang diinginkan oleh pihak manajemen citra ini juga tidak sama dengan citra sebenarnya. Biasanya citra yang diharapkan lebih baik atau lebih menyenangkan daripada citra yang ada. citra harapan ini sering juga disebut dengan citra keinginan yaitu seperti apa yang ingin dan dicapai oleh pihak manajemen terhadap lembaga/perusahaan, atau produk yang ditampilkan tersebut lebih terkenal (good awareness), menyenangkan dan diterima dengan kesan yang selalu positif diberikan (take and give) oleh publiknya atau masyarakat umum. 4. Citra Perusahaan (Corporate Image)

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

106


Citra perusahaan adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan, jadi bukan citra atas produk dan pelayanan. Jenis citra ini adalah yang berkaitan dengan sosok perusahaan sebagai tujuan utamanya, bagaimana menciptakan citra perusahaan (corporate image) yang positif, lebih dikenal serta diterima oleh publiknya, mungkin tentang sejarahnya, kualitas pelayanan prima, keberhasilan dalam bidang marketing, dan hingga berkaitan dengan tanggung jawab sosial (sosial care) sebagainya. Dalam hal ini pihak humas atau public relations berupaya atau bahkan ikut bertanggung jawab untuk mempertahankan citra perusahaan, agar mampu mempengaruhi harga sahamnya tetap bernilai tinggi (liquid) untuk berkompetisi dipasar bursa saham. 5. Citra Majemuk (Multiple Image) Setiap perusahaan atau organisasi pasti memiliki banyak unit dan pegawai (anggota). Masing-masing unit dan individu tersebut memiliki perilaku tersendiri, sehingga secara sengaja atau tidak, dan sadar atau tidak, mereka pasti memunculkan suatu citra yang belum tentu sama dengan citra organisasi atau perusahaan keseluruhan. Akibatnya, jumlah citra yang dimiliki suatu perusahaan boleh dikatakan sama banyaknya dengan jumlah pegawai yang dimilikinya. 6. Citra

Penampilan Image)

(Performance

Citra penampilan ini lebih ditujukan kepada subyeknya, bagaimana kinerja atau penampilan diri (performance image) para profesional pada perusahaan bersangkutan. Misalnya, dalam

memberikan berbagai bentuk dan kualitas pelayanannya, menyambut telepon, tamu dan pelanggan serta publiknya, harus serba menyenangkan serta memberikan kesan yang selalu baik. Mungkin masalah citra penampilan kurang diperhatikan atau banyak disepelekan orang. Misalnya, dalam hal mengangkat secara langsung telepon yang sedang berdering tersebut dianggap sebagai tindakan interupsi, termasuk si penerima telepon masuk tidak menyebut identitas nama pribadi atau perusahaan bersangkutan merupakan tindakan kurang bersahabat dan melanggar etika. III. METHODOLOGI 3.1 Jenis penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang menjelaskan secara menyeluruh tentang gaya komunikasi presiden SBY selama dua periode masa jabatannya. Adapun cirri-ciri penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif adalah sebagai berikut: Menurut Glesne & Peshkin (1992), penelitian kualitatif cenderung menggunakan data teks yang bersifat subyektif. Realitas yang dipelajari dikonstruksikan sesuai dengan nilai sosial partisipan (subyek penelitian), oleh karenanya pemaknaan realitas sesuai dengan pemahaman partisipan. Penelitian kualitatif memiliki jalinan variabel yang kompleks dan sulit untuk diukur. Sedangkan menurut Prasetya Irawan, penelitian kualitatif “Merupakan kebenaran “intersubjektif� bukan kebenaran yang dibangun dari jalinan berbagai faktor yang bekerja bersama-sama, seperti budaya dan

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

107


sifat-sifat unik dari individu-individu manusia� (Irawan, 2006: 4). Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian bila seseorang berusaha menafsirkan realitas dan berusaha membangun teori berdasarkan apa yang dialami. Pendekatan kualitatif menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan seharihari. Pendekatan kualitatif, lebih lanjut, mementingkan pada proses dibandingkan dengan hasil akhir; oleh karena itu uruturutan kegiatan dapat berubah-ubah tergantung pada kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan. Tujuan penelitian biasanya berkaitan dengan halhal yang bersifat praktis. Metode ini sangat cocok digunakan untuk menjawab pertanyaan apa, dimana dan kenapa atau bagaimana. Untuk keperluan analisis digunakan metode analisis semiotika.untuk memperdalam hasil penelitian, peneliti melakukan wawancara dengan orang-orang yang peneliti anggap mengetahui gaya komunikasi presiden, yaitu orang-orang yang pernah berkomunikasi secara langsung dan berhubungan dengan beliau. Sedangkan metode semiotika digunakan untuk memaknai baik secara verbal mapun non verbal dari gaya komunikasi Presiden SBY.

3.2 Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua sumber data, yaitu data primer dan data sekunder. 1. Data Primer

Dalam pengumpulan data, penulis melakukan observasi terhadap data primer, yaitu rekaman pidato SBYdengan membaca dan mendalami setiap narasi dan mengambil beberapa gambar atau foto yang dianggap penting. Juga akan melakukan wawancara dengan beberapa pihak yang dapat memperkuat hasil penelitian ini. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara yang mendalam (depth interview) yaitu mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan agar mendapatkan data yang lengkap dan mendalam. Pada wawancara mendalam ini, pewawancara relative tidak mempunyai kontrol atas respon informan, informan bebas memberikan jawaban karena itu periset mempunyai tugas agar informan bersedia memberikan jawaban yang lengkap, caranya dengan mengusahakan wawancara berlangsung informal. Adapun data informan yang berhasil kami wawancarai yaitu: 1. Hj. Sherisada Manaf, BA. (Anggota DPRD Banten dari partai Demokrat) 2. Lalu Viqran Sink Khan. (An international journalist, bekerja di RRI world service atau radio republic voice of Indonesia di Jakarta) 3. Martinus J Wahyudi (Pengamat Politik) 2. Data Sekunder Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan mencari berbagai referensi berupa buku-buku, literatur, bahan-bahan yang berasal dari internet, bahan-bahan yang terdapat di media, baik cetak maupun elektronik, serta berbagai

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

108


dokumen-dokumen yang mengacu pada penelitian serupa yang telah dilakukan sebelumnya. 3.4 Validitas data Teknik keabsahan data dalam penelitian ini adalah menggunakan triangulasi. Triangulasi data berusaha untuk mengecek kebenaran data yang telah dikumpulkan dan berusaha untuk mengecek kebenaran data tertentu dengan data yang diperoleh dari sumber lain. Definisi Triangulasi menurut Moleong adalah “Teknik pemerikasaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu� (1994:178). Adapun cara yang digunakan dalam triangulasi data penelitian ini adalah dengan menggunakan triangulasi sumber. Triangulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif (Moleong, 1994:178). Hal itu dapat dicapai dengan jalan: a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara b. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatan secara pribadi c. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu d. Membandingkan keadaan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat

IV. ANALISA DAN PEMBAHASAN Susilo Bambang Yudhoyono merupakan presiden Indonesia pertama yang terpilih secara langsung oleh rakyat. SBY terpilih menjadi presiden dua kali berturut-turut. Dalam dua periode masa jabatannya citra SBY berubah, jika periode pertama citra SBY bagus maka periode kedua citranya berkurang, hal ini karena banyak kasus korupsi yang menimpa orangorang terdekat yaitu pejabat-pejabat dari partai Demokrat, yang notabene sebagai partai yang didirikannya. Untuk memperoleh gambaran mengenai gaya komunikasi presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan ditinjau dari komunikasi secara verbal dan non verbal dari beberapa cuplikan pidoto maupun statement beliau di beberapa kesempatan. Secara verbal berdasarkan observasi, studi pustaka dan wawancara dengan beberapa informan diperoleh hasil bahwa SBY dalam berkomunikasi politik cenderung menggunakan gaya komunikasi konteks tinggi hal ini sesuai dengan karakter beliau yang orang Jawa. Menurut Edward T. hall (1976) gaya komunikasi seseorang dapat dilihat dari berbagai aspek, salah satunya adalah aspek konteks. Dari segi kultur, kebudayaan manusia secara global dibagi menjadi dua kategori yaitu kebudayaan konteks tinggi (high culture context) dan konteks rendah (low culture context). Indonesia terutama jawa menganut kebudayaan konteks tinggi, sehingga menghasilkan komunikasi konteks tinggi pula. Menurut Hofsteede dalam komunikasi konteks tinggi seorang komunikator biasanya menggunakan bahasa bersayap, dimana hanya bisa dimengerti

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

109


jika komunikannya memahami budaya sang komunikator. SBY dalam beberapa pidatonya cenderung menggunakan kalimat bersayap alias berputar atau tidak to the point ke inti permasalahan. Hal ini sering menimbulkan interpretasi yang salah dari pendengarnya, baik masyarakat luas, menteri-menteri di bawah naungannya, maupun lawan-lawan politiknya. Karena banyak dari masyarakat baik jawa sendiri apalagi luar jawa yang kadang tidak memahami budaya dari komunikator dalam hal ini gaya komunikasi presiden SBY. Dalam berkomunikasi dengan jajarannya, staf maupun menterinya Presiden SBY dapat dikatakan bergaya komunikasi Assertif. Gaya Assertif menurut Robert Kreitner dan angelo kinicki cirinya yaitu komunikator dalam berkomunikasi mendesak tanpa menyerang, membiarkan orang lain mempengaruhi hasil, ekspresif dan meninggikan diri tanpa menyerang orang lain. Sby dalam berkomunikasi cenderung menggabungkan antara dia sebagai orang Jawa dan dia sebagai Militer. Orang-orang terdekat beliau dalam hal ini anggota partai democrat yang sempat penulis wawancarai mengatakan bahwa: SBY tak pernah kasar dalam memberikan perintah atau teguran, tetapi dari non verbalnya terlihat ketegasan sebagai seorang militer. Berdasarkan model komunikasi kepemimpinan dari Jerikho yaitu: menciptakan Suasana Kondusif (Insight), menyatakan dan menjelaskan masa depan (Visi), dan berkomitmen untuk aksi (action), dapat disimpulkan komunikasi SBY secara politik dan kepemimpinan sudah sesuai dengan teori tersebut. SBY dalam berkomunikasi dengan bawahannya

maupun dengan masyarakat selalu berusaha berkomunikasi secara efektif. SBY melihat tantangan yang dihadapi di organisasinya (lingkup kepresidenan dan partai democrat). Selain itu SBY jelas dalam visinya terutama visi dalam menyelesaikan persoalan yang sedang terjadi dan beliau pun yakin akan segala keputusan yang diambil. Jika dikaitkan dengan model leadership communication cycle dimana komunikasi untuk seorang pemimpin menjadi suatu tindakan yang membuat pemimpin itu asli dan transparan dapat dilaksanakan dalam tiga cara: berbicara, mendengarkan, dan belajar. Inti dari komunikasi kepemimpinan bermuara pada siklus tiga langkah yang bergerak terus-menerus. Tidak hanya siklus selalu bergerak, Anda akan menemukan diri Anda dalam salah satu dari langkah-langkah pada waktu tertentu dengan orang tertentu. Pada titik tertentu Anda akan berbicara kepada seorang rekan. Pada saat lain Anda akan mendengarkan kelompok. Dan pada lain waktu Anda akan berada di kantor atau di rumah Anda berpikir tentang apa yang Anda dengar dan mencoba untuk memahaminya. Ini semua selalu dilaksanakan oleh SBY dalam berkomunikasi terutama dengan staf dan bawahannya. Seperti diungkapkan informan dari partai demokrat yang kami wawancarai, “SBY dalam setiap keputusannya selalu berunding dengan anak buahnya� Secara non verbal komunikasi SBY akan dianalisis berdasarkan potonganpotongan gambar yang diambil dari pidato SBY. Dalam beberapa kesempatan SBY secara non verbal lebih sering menampilkan gaya non verbal Kinesics yaitu komunikasil

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

110


yang ditunjukkan oleh gerakan-gerakan badan, gerakan badan yang sering ditampilkan oleh SBY yaitu Gestur gerakan anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengkomunikasikan berbagai makna.

Gambar 3

Gambar 1

Gambar 2

Gesture ini secara umum dapat dimaknai menekankan sesuatu sesuai dengan konteks pembicaraan yang dilakukan. Menunjuk jari dapat juga diartikan sebagai menunjuk orang atau objek tertentu, dalam beberpa hal bisa juga untuk menyalahkan orang lain. Pada gambar 1, komunikasi non verbal SBY bermakna bahwa apa yang dikerjakan sebetulnya sudah sesuai dengan sistem yang berlaku tangan membentuk huruf O bermakna bahwa segala sesuatu yang dilakukan sudah OK atau pekerjaan yang sempurna (perfect). Sedangkan jari menunjuk kebawah mengisyaratkan perintah yang harus dilaksanakan oleh semua pihak. Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

111


Pada gambar 2 dan 3 menunjukkan keramahan dan ketegasan yang menjadi sifat SBY,ramah terlihat dari senyuman, walaupun sambil menunjuk yang berarti menegaskan. Sedangkan tegas terlihat dari raut muka dan tangan yang menunjuk keatas yang berarti sikap tegas bahwa segala kebijakan yang dilakukan harus ditaati, karena sebagai seorang presiden yang bertanggung jawab pada seluruh rakyat Indonesia. Dari temuan-temuan yang didapat terlihat bahwa presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai seorang jawa dan militer dalam berkomunikasi politik memiliki gaya komunikasi asertif. Selain itu dalam berbagai pose secara non verbal SBY sering menggunakan kode nonverbal gesture, terutama jari telunjuk. Jari dalam falsafah jawa memiliki berbagai makna yaitu: Ibu jari bermakna kebanggaan, jari telunjuk berarti menunjukkan jalan yang baik, jari tengah berarti menjadi penengah di setiap kesulitan, jari manis melambangkan kesetian dan keyakinan, jari kelingking berarti dapat mendamaikan semua kesalah-pahaman. SBY lebih sering menggunakan jari telunjuk (lihat gambar) yang berarti beliau sebagai pemimpin Negara Indonesia yang masyarakatnya multietnis dan heterogen harus mampu memberi petunjuk kearah kebenaran dan kedamaian, jari telunjuk juga bermaknaSBY selalu memberi perintah dengan tegas sebagai cerminan seorang militer, tegas tetapi tidak arogan, karena budaya konteks tinggi sebagai orang Indonesia dan beretnis jawa, yang tidak secara terus-terang menampilkan kemarahan atau kekesalannya.

Dalam model gaya komunikasi dari Heffner dikatakan bahwa gaya komunikasi nonverbal yang menggunakan tangan dan jari menunjuk adalah gaya komunikasi Agresif. Tetapi dalam kaitannya dengan konteks komunikasi sesuai dengan kultur Indonesia maka seorang pemimpin yang tegas menggunakan gesture tersebut. jadi bisa saja SBY secara verbal masuk kategori gaya komunikasi asertif tetapi secara non verbal masuk kategori agresif. Inilah yang dimaksud sebagai ketegasan SBY selaku pemimpin yang berlatar belakang militer namun dalam budaya konteks tinggi. Citra Presiden SBY Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikenal sebagai sosok presiden yang sangat menjaga citra diri. Menurut hasil survey dari lembaga Survey Indonesia (LSI), SBY dijuluki sebagai homo politicus, yakni mahluk politik yang sadar menjaga citra dirinya dimata masyarakat. Hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh KOMPAS sebelum pemilu berlangsung pun menunjukkan hasil yang serupa. Setiap pertanyaan mengenai SBY yang diajukan ke publik langsung dijawab dengan pandangan mengenai kepribadian, tingkah laku, kemampuan memimpin dan sosok fisik SBY. Popularitas SBY tercermin dari pencitraan masyarakat mengenai tindaktanduknya yang serba santun (Garin Nugroho, 2010: 25). Merujuk pada konsep citra dari Frank Jeffkins tentang jenis-jenis citra, salah satunya citra penampilan, maka SBY secara penampilan baik fisik maupun komunikasinya sangat menjaga citra dirinya. SBY selalu berpenampilan rapi dari segi busana, ditunjang dengan bentuk

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

112


tubuhnya yang tinggi besar dan tegap (memberi kesan gagah perkasa). Sikapnya selalu tegak dengan wajah senyum yang memberi kesan teduh, sorot mata tajam tapi tidak garang. Dalam berkomunikasi tutur katanya jelas dan sistematis sehingga mudah dimengerti. Dalam keadaan marah sekalipun SBY berusaha tidak meledakledak tapi cukup tajam ke persoalan. Sedangkan merujuk pada jenis citra bayangan (mirror image) maka citra SBY berkaitan dengan citra organisasi dalam hal ini adalah partai Demokrat yang menaunginya. Citra partai Demokrat saat ini memudar seiring munculnya banyak kasus korupsi yang melibatkan anggota dan pengurusnya. Karena partai Demokrat yang mendirikan adalah SBY maka citra Partai demokrat yang menurun mengakibatkan turunya pula citra SBY. Soegianto menjelaskan konsep pemimpin dalam kerangka pemimpin perusahaan, tetapi hal ini dapat juga diadopsi untuk menjelaskan citra diri pemimpin Negara atau presiden, karena pada dasarnya Negara merupakan organisasi juga. Citra diri seorang presiden dapat dilihat dari dua sudut pandang utama yaitu body image (citra penampilan) dan self image (karakter). Seorang Presiden harus memiliki tubuh yang sehat, berpakaian bersih, rapi dan sopan. Selalu ceria dan bersemangat. Seorang presiden juga harus memiliki karakter yang baik seperti; a. b. c. d. e.

Integritas Kasih sayang Tanggung jawab Rasa percaya diri Sabar

f. Disiplin g. Mampu mengendalikan diri Karakter lebih penting dari penampilan, karena dalam memimpin diperlukan komunikasi dengan semua orang baik kepada menteri-menteri sebagai bawahannya, kepada rakyatnya, maupun kepada lawan politiknya. Citra diri presiden SBY jika dikaitkan dengan model tersebut maka baik penampilan maupun karakter sudah mencerminkan citra yang positif (Hartono, 2011). V. KESIMPULAN Dara hasil analisa dan temuan dalam penelitian yang telah dilakukan maka kesimpulan yang didapat adalah: 1. Gerakan non verbal yang sering dilakukan presiden SBY adalah kinsecs kategori gesture yaitu gerakan anggotan badan seperti mata, tangan, dan jari. Hamper setiap pidato SBY selalu menggunakan jari dan menunjuk baik keatas maupun kebawah yang berarti member perintah dan petunjuk kepada bawahan dan semua rakyat Indonesia. 2. Merujuk pada citra diri pemimpin yang terdiri dari penampilan dan karakter, SBY sudah mencerminkan citra yang positif. 3. Berdasarkan analisis keseluruhan maka gaya komunikasi politik presiden SBY cenderung ke gaya komunikasi assertif, dalam gaya tersebut komunikator membuat pernyataan langsung yang

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

113


disertai dengan berbagai pertimbangan seperti; perasaan, ide dan harapan yang terlihat dari gesture, senyum, kelugasan dan ketegasan. 4. Gaya komunikasi politik presiden SBY secara non verbal cenderung ke gaya komunikasi agresif, hal ini sesuai dengan model yang menjadi kerangka teori dalam penelitian ini yaitu model gaya komunikasi Christopher L. Heffner, M.S.

Mulyana, Dedy. (2005). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

DAFTAR PUSTAKA

M. Hardja, Agus. (2003). Komunikasi Interpersonal dan Intrapersonal. Yogyakarta: Kanisius.

Anugrah, Dadan dan Kresno Wati, Winny. (2008). Komunikasi Antar Budaya Konsep dan Aplikasinya, Jala Permata, Jakarta, Cangara, Hafied. (1998).Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo persada. Effendy, Onong Uchjana. (1992). Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosda Karya. Firmansyah. (2008). Mengelola Partai politik. Jakarta: Yayasan obor Indonesia. Liliweri, Alo, Komunikasi Verbal dan Non Verbal, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994. Moleong, Lexy J. (1994). Metodologi Penelitian Kualitatif. Cetakan ke-4. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.

Mulyana, Dedy dan Rakhmat, Jalaludin, (2006). Komunikasi Antar Budaya, Panduan Berkomunikasi dengan Orang-orang Berbeda Buday. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya McKay, Matthew. (2009). Messages; The Communication Skill Book. Oakland: New Harbinger Publications.

Nimmo, Dan. (1982). Komunikasi Politik. Bandung: Remaja Rosda karya. Nugroho, Garin. (2010). SBY Superhero. Yogyakarta: Galangpress. Ruben, Brent D. & Stewart, Lea. (1998). Communication; Human Behavior. Boston: Allyn and Bacon. Saphiere, Dianne Hofner et.al. (2005). Communication Highwire. USA: Nicholas Brealey Publishing. Soehartono, Irawan. (2006). Metode Penelitian Sosial: Suatu Teknik Penelitian Bidang Ilmu Kesejahteraan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Suprapto, Tommy. (2009). Pengantar Teori & Manajemen Komunikasi. Jakarta: Medpress

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

114


West, Richard, Lynn H. Tuner. (2008). Pengantar teori Komunikasi. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika.

Sumber Online http://id.shvoong.com/socialsciences/education/2253230-pengertiangaya-komunikasi/#ixzz1uRSeLeyF http://www.johnbaldoni.com/services/comm.ph p http://www.mentoringforchange.co.uk/leadershi p/leading_out_loud.php

http://www6.miami.edu/developmenttraining/Resources/PMParticipantfinalManu al0305.pdf

Avant Garde | Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 1 No. 1 Juli 2013

115


PEDOMAN PENULISAN JURNAL Beberapa hal yang harus diperhatikan penulis dalam penulisan jurnal adalah sebagai berikut: 

Maksud dan Tujuan

Jurnal Communication diterbitkan oleh Lembaga Riset Universitas Budi Luhur untuk media penyebarluasan hasil penelitian yang dilakukan para peneliti di lingkungan Universitas Budi Luhur maupun dari para peneliti lain. 

Ruang Lingkup

Jurnal ini memuat tulisan hasil penelitian dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan Ilmu Komunikasi yang menunjang pengembangan ilmu pengetahuan , Teknologi dan Pembangunan Nasional. 

Bahasa Tulisan yang dimuat dalam jurnal ini menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang baku dan baik. Penggunaan istilah hendaknya menggunakan pedoman dari lembaga Pembinaan Bahasa. 

Bentuk Naskah Naskah diketik pada kertas jenis A4 putih pada satu permukaan dengan jarak 1,2 spasi. Tulisan mempunyai jarak 3 cm dari Kanan, kiri, atas dan bawah kertas berjarak 2,5cm. Panjang naskah tidak lebih dari 20 halaman dan sekurang-kurangnya 10 halaman termasuk gambar dan tabel. Tulisan menggunakan jenis font Times New Roman ukuran 12, naskah diketik dengan bentuk satu kolom. 

Isi Naskah Naskah disusun dalam urutan: judul ( Bahasa Indonesia); Nama penulis: lembaga/instasi: Abstrak ( 100-150 kata) dalam bahasa Inggris berisi tujuan, metode dan hasil penelitian; Pendahuluan (berisi latar belakang; perumusan masalah; Tinjauan Pustaka; Tujuan penelitian); Metode penelitian ( alat, bahan, cara dan metode Analisis); Hasil dan pembahasan; Kesimpulan; Daftar Pustaka, lampiran ( kalau ada). Setiap Bab menggunakan angka 1 , 2 , 3 dst , sementara untuk Sub Bab menggunakan angka misalnya 1.1 , 1.2 , 2.1 2.2 dst . 

Judul Tulisan dan Nama Penulis Judul karangan berupa suatu ungkapan dalam bentuk kalimat pendek mencerminkan isi dari tulisan. Nama lembaga/Instansi pengarang harus jelas dicantumkan pada halaman pertama. Bila Penulis lebih dari satu orang, maka perlu diurutkan sesuai dengan kode etik penulisan. 

Tabel dan Gambar Tabel dan gambar diberi judul yang singkat dan jelas maksudnya. Judul tabel berada diatas, sedangkan judul pada gambar berada dibawah. Setiap tabel dan gambar diberi nomor urut (1,2,… dst) dengan menggunakan huruf Arial Bold ukuran 10 . 

Daftar Pustaka Penulisan daftar pustaka disusun menurut pedoman APA diketik 1 spasi untuk setiap pustaka dan berjarak 2 spasi untuk pustaka yang satu dengan yang lain. 

Alamat Redaksi Pelaksana Naskah dikirim dalam bentuk file (copy disket, copy CD) dan 1 print out ke: Redaksi Lembaga Riset Universitas Budi Luhur, Jl. Ciledug Raya, Petukangan Utara, Jakarta Selatan 12260, Telp. (021) 5853753 Ext. 251 . Kelengkapan naskah dalam bentuk soft dan hard copy tersebut diatas harus diserahkan oleh setiap Fakultas yang bersangkutan kepada Lembaga Riset Universitas Budi Luhur sehingga dapat diketahui proses editing naskah awal hingga naskah akhir sebelum masuk ke percetakan , hal tersebut diatas dilakukan demi kelancaran proses percetakan dan terhindarkan dari terjadinya kesalahan teknis pencetakan .


AVANT GARDE | Vol 1 No. 1 Juli 2013  
AVANT GARDE | Vol 1 No. 1 Juli 2013  

AVANT GARDE | Jurnal Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur

Advertisement