Page 8

06 Festival Film Dokumenter dan Dokumenter Indonesia

Pengantar Direktur Festival Dokumenter adalah salah satu penanda awal sejarah sinema kita. Sekitar tahun 1911, orang Eropa mulai membuat film di Hindia Belanda. Mereka merekam keseharian di Hindia Belanda dengan maksud memperkenalkan kehidupan negeri ini kepada orang-orang di Belanda. Setelah itu, dokumenter bertumbuh dan berkembang seiring dengan kebutuhan penguasa. Di masa pendudukan Jepang, dokumenter menjadi alat propaganda yang efektif. Kondisi ini semakin dipertegas ketika Orde Baru berkuasa. Rezim ini aktif membuat propaganda, membatasi ekspresi pembuat film dan lembaga sensor memilah isu mana yang layak terbit dan mana yang tidak. Pengalaman sosial ini membuat penonton Indonesia trauma dengan dokumenter, atau setidaknya menjadi berjarak dengan dokumenter, sehingga dokumenter seolah berjalan di tepian sejarah sinema Indonesia. Pada bulan Desember tahun 2002, FFD digelar untuk pertama kali. Saat itu, FFD mencoba memberikan ruang alternatif bagi dokumenter, sebagai kritik atas terpinggirkannya dokumenter dalam sinema Indonesia. Perlahan tapi pasti, jumlah dokumenter yang diikutsertakan dalam Program Kompetisi Dokumenter Indonesia semakin meningkat. Peningkatan kuantitas ini belum diikuti dengan peningkatan kualitas dokumenter. Masih banyak dokumenter yang sebatas mengemas informasi dan berhenti pada perekaman faktualitas. Eksplorasi cari bertutur dalam merangkul penonton untuk memancing pembacaan yang lebih kritis belum banyak tergarap dengan baik, pada saat itu. Tahun ini, FFD menerima 95 dokumenter Indonesia. Jumlah ini mengindikasikan terjadinya peningkatan jumlah pembuat film baru dan mulai timbulnya kebutuhan untuk mengikutsertakan filmnya dalam festival film. Tentu saja ini adalah gejala yang baik. Penonton yang “traumatis� juga dapat membuktikan sendiri bagaimana dokumenter Indonesia saat ini melakukan perlawanan estetika dan gaya bercerita. Tahun ini kita akan bersama-sama membuktikan sejauh mana dokumenter Indonesia memberikan perlawan terhadap bentukbentuk yang sudah usang itu. Melihat estetika dan konten di dalam dokumenter Indonesia, FFD mengajak untuk tidak abai dengan sejarah pencapaian dokumenter Indonesia. Boleh jadi, dalam melihat pencapaian ini akan menciptakan pakem atau patron-patron dokumenter. Namun tentu saja pakem ini dapat disempurnakan atau dilawan untuk mencapai kualitas estetika baru dan penyampaian konten yang lebih baik. Kehadiran Festival Film Dokumenter yang diselenggarakan oleh Forum Film Dokumenter adalah sebuah upaya untuk menandai proses kesejarahan dokumenter Indonesia. Melalui festival ini, Forum Film Dokumenter ingin berkontribusi dalam memberikan deskripsi pencapaian film dokumenter Indonesia. Sehingga nantinya, setiap pencapaian dapat dijadikan acuan untuk disempurnakan atau dilawan kembali. Franciscus Apriwan Direktur Festival

Festival Film Dokumenter 2013

FFD 2013 Program Book  
FFD 2013 Program Book  
Advertisement