Page 1

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PENGIRIM UANG DALAM HAL TERJADI KESALAHAN PENULISAN NOMOR REKENING PIHAK YANG DITUJU/PENERIMA Oleh: Rizka Fadhilla Siregar , SH Lulus Tanggal 17 September 2013 di Bawah Bimbingan Arfiana Novera, S.H., M.Hum dan H. Amrullah Arpan, S.H.,S.U.

ABSTRAK Dewasa ini instrument untuk pengiriman uang semakin canggih. Dengan menggunakan alat elektronik sampainya uang ke rekening yang dituju dapat sampai dalam hitungan detik. Berkaitan dengan hal tersebut, di tuntut ketelitian nasabah maupun bank pengirim dalam menuliskan atau mengimput nomor rekening pihak yang dituju. Betapapun kecermatan telah dirancang, sebagai perbuatan manusia ada kemungkinan timbul kesalahan. Persoalan pokok dari skripsi ini adalah pengkajian tentang tanggung jawab bank maupun nasabah pengirim bila terjadi kesalahan tersebut. Melalui penelitian empiris dengan diawali pembahasan dengan peraturan maupun literatur, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: hubungan hukum antara bank dengan nasabah pengirim adalah perjanjian; bank dapat dimintakan tanggung jawabnya apabila kesalahan penulisan nomor rekening itu adalah kesalahan bank, dengan demikian kalau kesalahan tersebut berasal dari si pengirim maka bank tidak bertanggung jawab. Kata kunci : pengiriman uang, salah nomor rekening

1


A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Salah satu bentuk kemajuan suatu negara adalah terpenuhinya segala kebutuhan masyarakat dibidang ekomoni.1 Sejalan dengan itu, peranan lembaga keuangan semakin dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Satu diantara banyaknya jasa –jasa yang ditawarkan oleh lembaga keuangan adalah jasa pengiriman uang. Hal ini diasumsikan untuk melancarkan seluruh aktivitas masyarakat dalam bertransaksi tanpa harus bertatap muka langsung dengan pihak yang dituju dan dalam rangka melancarkan peredaran uang serta pembayaran di dalam negeri. Disamping itu juga, dengan adanya jasa pengiriman uang lewat bank ini akan memberikan kemudahan dalam melakukan pengiriman uang, efisiensi terhadap waktu, biaya yang lebih terjangkau dan terhindar dari perampokan serta kehilangan . Pada umumnya perintah pengiriman uang ini dilakukan di bank yang sama maupun bank yang berbeda sebagai perantara untuk melakukan perintah pengiriman uang. Akan tetapi dalam pelaksanaanya kemungkinan kesalahan dapat saja terjadi. Baik itu disebabkan oleh pengirimnya sendiri maupun petugas yang diperintahkan untuk melakukan pengiriman uang. Suatu bank dapat melakukan kegiatannya, apabila masyarakat “percaya� untuk menempatkan uangnya, pada jasajasa bank yang ditawarkan pada bank tersebut. Satu diantara beberapa jasa-jasa yang ditawarkan bank umum adalah jasa pengiriman uang atau pemindahan uang yang dikenal dengan transfer 2. Kegiatan pemindahan uang baik untuk kepentingan bank sendiri maupun untuk kepentingan nasabah ini, di atur 1

Kasmir, Dasar-Dasar Perbankan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2008, hlm. 13 2 Ibid.,hlm. 148.

2


dalam Pasal 6 huruf e Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 perubahan atas Undnag-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan. Disamping itu juga, menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana, yang dimaksud dengan transfer dana adalah rangkaian kegiatan yang dimulai dengan perintah dari pengirim asal yang bertujuan memindahkan sejumlah dana kepada penerima yang disebutkan dalam perintah transfer dana sampai dengan diterimanya dana oleh Penerima. Transfer (remittance) merupakan jasa pengiriman uang lewat bank baik dalam kota, luar kota maupun keluar negeri.3 Pengiriman uang yang dimaksudkan dalam hal nini adalah pengririman uang dalam negeri. Kegiatan pemindahan uang atau transfer dana dalam kegiatan perbankan dimaksudkan untuk memberikan kemudahan bagi nasabahnya. Pengiriman uang dapat dilakukan melalui bank apa saja. Pengiriman uang pada umumnya banyak dilakukan di bankbank umum. Pengiriman uang dapat dilakukan oleh nasabah yang memiliki nomor rekening maupun nasabah yang tidak memiliki nomor rekening pada bank bersangkutan melalui jasa bank. Tata cara yang dilakukan untuk melakukan pengiriman uang di bank pada umumnya harus mengisi dan menandatangani aplikasi pengiriman uang. Kemudian membayar nominal kiriman uang dan biaya propisi (jika ada). 4 Dalam pelaksanaan transfer dana di bank, remitter atau yang dikenal dengan pengirim, yang mengirimkan uangnya melalui bank pengirim, yang dalam hal ini nasabah pengirim untuk melakukan perintah transfer dana kepada pihak yang di tuju biasanya menggunakan formulir pengiriman uang dengan melengkapi identitas penerima yang di sertai dengan nomor 3

Malayu S.P. Hasibuan, Dasar-Dasar Perbankan, cetakan kedelapan, Jakarta: Bumi Aksara, 2009. hlm. 123 4 http://www.bni.co.id/idid/bankingservice/consumer/jasajasa/kirima nuangdalamnegeribnitransfer.aspx, diakses pada tanggal 28 Juli 2013.

3


rekening yang akan menerima uang kiriman tersebut. Dalam menuliskan identitas dan nomor rekening penerima pada formulir pengiriman uang tersebut, kemungkinan pengirim (remitter) 5 melakukan kesalahan dapat saja terjadi. Akibatnya transfer tidak sampai pada penerima yang berhak, melainkan terjadi kesalahan transfer. Hal ini tentunya akan menimbulkan berbagai persoalan baik terhadap, bank pengirim, pengirim (remitter), penerima yang berhak (payee) maupun pihak yang menerima pengiriman uang dari kesalahan transfer tersebut. Berkenaan dengan kesalahan transfer tersebut untuk melindungi kepentingan pengirim sebagai konsumen pengguna jasa bank, terlebih dahulu harus diketahui bagaimana hubungan hukum antara pihak bank dengan nasabah pengirim. Sehingga dapat diketahui apakah bank dapat dimintai pertanggung jawaban atas kesalahan transfer dalam hal terjadi kesalahan penulisan nomor rekening pihak yang dituju/penerima oleh pengirim tersebut. Atas dasar itu, penulis tertarik untuk membahasnya dalam bentuk skripsi dengan judul: “Perlindungan Hukum Bagi Pengirim Uang Dalam Hal Terjadi Kesalahan Penulisan Nomor Rekening Pihak yang Dituju/ Penerima�. 2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka permasalahan yang akan di bahas ialah: 1. Bagaimana hubungan hukum antara bank dan nasabah sebagai pengirim uang? 2. Apakah bank dapat di mintai pertanggungjawaban atas kesalahan pengiriman uang dalam hal pengirim salah

5

Ibid

4


menuliskan nomor dituju/penerima?

rekening

pihak

yang

3. Tujuan Penulisan Untuk mengetahui hubungan hukum antara bank dan nasabah sebagai pengirim dan pertanggungjawaban bank atas kesalahan pengiriman uang dalam hal pengirim salah menuliskan nomor rekening pihak yang dituju/penerima. 4. Ruang Lingkup Mengingat begitu luasnya permasalahan yang timbul di bidang perbankan, maka ruang lingkup dari penulisan skripsi ini hanya dari aspek peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan hukum perjanjian, khususnya wanprestasi, dan undangundang perbankan. 5. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diperoleh dari penulisan skripsi ini adalah mencakup manfaat teoritis dan manfaat praktis, yaitu : Secara teoritis, hasil dari skripsi ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran dalam rangka pengembangan hukum sebagai ilmu pengetahuan, bagi semua pihak yang membutuhkan serta bagi mahasiswa –mahasiswa Fakultas Hukum selanjutnya. Secara Praktis, diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pedoman bagi nasabah khusunya bagi nasabah sebagai pengirim uang dalam melakukan transaksi perbankan. Bagi penerima uang salah transfer, dalam menentukan tindakan yang harus dilakukan apabila mengalami hal tersebut. Bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan nasabah pengirim uang dan peraturan lain di bidang perbankan.

5


6. Metode Penelitian a. Tipe dan Pendekatan Penelitian skripsi ini dapat dikatagorikan sebagai penelitian empiris (penelitian lapangan). Dalam hal ini penulis menggunakan pendekatan sosiologis juriceprudence. Penelitian hukum empiris merupakan penelitian lapangan (field research) yang bertujuan mencari data primer atau lapangan. b. Teknik pengumpulan data Diperoleh dari penelitian lapangan . Teknik pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara (tanya jawab) dengan pihak-pihak yang dianggap memahami objek yang diteliti yaitu pimpinan maupun staff pada Bank Sumsel-Babel dan Bank BRI Unit Indralaya. Teknik pengumpulan data skunder diperoleh dari penelitian hukum kepustakaan (Liberary Reserch). c. sumber data Adapun sumber bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas; data hukum primer yaitu; peraturan perundang-undangan tentang perbankan, Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata; data hukum skunder yaitu buku-buku literatur; data hukum tersier yaitu internet serta informasi yang relevan sebagai penunjang.

6


B. PEMBAHASAN 1. Ananlisis Tentang Hubungan Hukum Antara Bank dan Pengirim Dalam Transaksi Pengiriman Uang

Hubungan hukum merupakan hubungan antara dua atau lebih subjek hukum. 6 Adanya hubungan hukum ini akan menimbulkan hak dan kewajiban yang saling berhadapan antara pihak yang satu dengan pihak yang lain. Setiap hubungan hukum mempunyai dua segi yang disebut bevoegdheid (kekuasaan/kewenangan atau hak) dengan lawannya plicht atau kewajiban. Kewenangan yang diberikan oleh hukum kepada subjek hukum (orang atau badan hukum) dinamakan hak.7 Hubungan hukum yang timbul antara pengirim dengan bank adalah hubungan kontraktual yang meninbulkan hak dan kewajiban bagi para pihak. Hubungan kontraktual yang dimaksud adalah hubungan yang timbul dari adanya perjanjian yang didasari atas kesepakatan antara bank dan pengirim. Ketentuan yang menjadi dasar hubungan bank dan nasabah sebagai pengirim uang bersumber dari ketentuan KUHPerdata yang mengatur tentang kontrak adalah ketentuan Pasal 1338 ayat 1 KUHPerdata, dengan tidak mengesampingkan syarat sah dari suatu perjanjian sebagaimana yang tercantum dalam pasal 1320 KUHPerdata. Dengan demikian pihak ketiga dalam hal ini ialah penerima dapat menuntut kepada pengirim terhadap apa yang telah diperjanjikan. Apabila pengirim tidak memenuhi kewajibannya untuk melaksanakan perjanjian berupa pengiriman jumlah uang yang diperjanjikan maka penerima dapat menuntut karena wanprestasi. 6

R. Soeroso, Pengantar Ilmu Hukum, cetakan keenam, Jakarta : Sinar Grafika, 2004, hlm. 269. 7 Ibid.

7


Disamping hubungan kontraktual antara bank dengan pengirim, Hubungan hukum antara pengirim dengan penerima juga didasarkan atas perjanjian. Dimana pengirim mempunyai kewajiban kepada si penerima untuk memberikan prestasi berupa uang yang diperjanjikannya. Meski dikatakan dalam ketentuan pasal 1340 KUHPerdata bahwa perjanjian hanya berlaku bagi mereka yang membuatnya, namun ketentuan tersebut terdapat pengecualiannya sebagaimana dalam Pasal 1317 KUHPerdata yang menyatakan dapat pula perjanjian diadakan untuk kepentingan pihak ketiga, bila suatu perjanjian yang dibuat untuk diri sendiri, atau suatu pemberian kepada orang lain, mengandung suatu syarat semacam itu. Pasal ini mengkonstruksikan bahwa seseorang dapat mengadakan perjanjian/kontrak untuk kepentingan pihak ketiga, dengan adanya suatu syarat yang ditentukan. Dengan demikian bank dapat dituntut oleh penerima apabila melakukan perbuatan melawan hukum. Disamping itu hubungan hukum antara bank dan pengirim juga didasarkan pada perjanjian untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu, Sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1601 KUHPerdata ; “Selain perjanjian-perjanjian untuk melakukan sementara jasa-jasa, yang diatur oleh ketentuanketentuan yang khusus untuk itu dan oleh syarat-syarat yang diperjanjikan, dan jika itu tidak ada, oleh kebiasaan, maka adalah dua macam perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk melakukan pekerjaan bagi pihak yang lainnya dengan menerima upah.�

8


Dengan adanya perintah untuk melaksanakan pekerjaan tertentu pada bank, maka ketentuan didalam pasal 1601 KUHPerdata berlaku. Bank mempunyai hak yang harus dipenuhi oleh nasabah sebagai pengguna jasa bank. Pekerjaan dimaksud memperjanjikan upah sebagai imbalan atau jasa atas suatu pekerjaan yang telah dilaksanakan. Dengan demikian maka seyogyanya tanggung jawab atas kesalahan ditanggung oleh bank dalam melaksanakan kewajibannya. Disamping perjanjian melakukan pekerjaan tertentu dalam perintah pengiriman ini juga terdapat alas hak lain yang mendasari pelaksanaan perintah tersebut yaitu berdasarkan pasal 1792 KUHPdt, bahwa untuk melakukan pengiriman uang melalui bank, pengirim tidak bertindak sendiri melainkan bertindak untuk dan atas nama si pengirim untuk mengirimkan jumlah uang yang diperjanjikan sebagai kuasanya. Maka secara yuridis, tanggung jawab atas kesalahan yang terjadi selama pelaksanaan kuasa tersebut menjadi tanggung jawab pemberi kuasa.

2. Pertanggungjawaban Bank Dalam Melakukan Pengiriman Uang Nasabah Dalam Hal Pengirim Salah Menuliskan Nomor Rekening Pihak Yang Dituju Dalam Transaksi Pengiriman Uang Dalam transaksi pengiriman uang melalui bank, pengirim uang harus memenuhi beberapa persyaratan agar pengiriman uang dapat berjalan dengan baik. Baik nasabah yang memiliki nomor rekening maupun yang tidak memiliki nomor rekening pada bank bersangkutan dapat saja melakukan transaksi pengiriman uang melalui bank asal mengetahui dengan baik nomor rekening pihak yang akan dituju. Untuk dapat melakukan pengiriman uang terlebih dahulu sebaiknya harus

9


mengikuti mekanisme pengirim dengan cara mengisi formulir aplikasi pengiriman uang yang disediakan oleh bank. Pengiriman baru akan dapat dilakukan apabila syaratsyarat tersebut telah dilengkapi. Kelengkapan data-data tersebut harus dipenuhi agar pengiriman dapat terlaksana dengan baik dan terhindar dari kesalahan. Dengan ditandatanganinya formulir pengiriman tersebut berarti secara otomatis pengirim ikut menyepakati ketentuan yang dibuat oleh bank. Meskipun syarat dan ketentuan pengiriman tersebut merupakan syarat yang diterbitkan oleh bank sendiri. Dengan tidak mengesampingkan ketentuan Pasal 1319 KUHPedata. Di samping itu juga oleh karena pengiriman uang merupakan salah satu bentuk perjanjian khusus yang terdapat dalam KUHPerdata, maka ketentuan Pasal 1320 KUHPerdata yang merupakan syarat sahnya suatu perjanjian berlaku. Bank dalam memberikan jasa pengiriman, tidak hanya nasabah yang memiliki nomor rekening pada bank yang bersangkutan saja yang dapat menggunakan jasa pengiriman ini, namun nasabah yang tidak mempunyai nomor rekening pada bank bersangkutan juga dapat menggunakan jasa pengiriman ini. 8 Asal mengetahui dengan jelas identitas penerima, nomor rekening bank yang akan dituju, serta mencantumkan nomor telpon pengirim untuk menghindari kemungkinan terjadi kesalahan pengiriman. Dalam pelaksanaan pengiriman uang melalui bank, betapapun kecermatan telah dirangcang, sebagai suatu perbuatan manusia kemungkinan terjadi kesalahan merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari. Kemungkinan kesalahan tersebut dapat disebabkan oleh si pengirim maupun pegawai bank yang melaksanakan proses transaksi pengiriman. 8

Berdasarkan hasil wawancara pada Kepala Bagian Unit Bank BRI Cabang Kayu Agung Unit Simpang Timbangan Indralaya, pada tanggal 4 September 2013

10


Adapun penyebab kesalahan pengirim dalam menuliskan nomor rekening pihak yang dituju, pada saat melakukan pengiriman uang di bank umum adalah sebagai berikut:9 1. Kelalaian dari Pengirim sendiri (Human Error) 2. Kesalahan dari Penerima dalam memberitahukan nomor rekeningnya pada pengirim10 Disamping kesalahan yang disebabkan oleh si pengirim sendiri, kesalahan dalam pengiriman nomor rekening nasabah, juga dapat disebabkan oleh pegawai bank yang melaksanakan proses transaksi tersebut. Beberapa penyebab terjadinya kesalahan bank dalam memasukkan nomor rekening penerima adalah sebagai berikut:11 1. 2.

Adanya keadaan diluar kehendak Kesalahan pihak bank yang kurang cermat dan teliti dalam menyesuaikan dan mengimput data penerima (Human Error).

Hal ini tentunya akan menimbulkan persoalan yang dapat merugikan kepentingan pengirim sendiri. Agar pelaksanaan pengiriman uang dapat berjalan dengan baik sebagaimana mestinya, bank sangat memegang teguh perinsip kehati-hatian terutama yang berkaitan dengan kegiatan penyaluran dana.

9

Berdasarkan hasil wawancara dengan staff bagian pelayanan nasabah (costumer servis) pada Bank Sumsel-Babel cabang Indralaya, pada tanggal 4 September 2013. 10 Berdasarkan hasil wawancara dengan staff bagian pelayanan nasabah (costumer servis) pada Bank Sumsel-Babel cabang Indralaya, pada tanggal 4 September 2013. 11 Berdasarkan hasil wawancara pada Kepala Bagian Unit Bank BRI Cabang Kayu Agung Unit Simpang Timbangan Indralaya, pada tanggal 4 September 2013

11


Mengingat kecanggihan teknologi yang semakin maju, sehingga pengiriman uang dapat dilakukan dengan hitungan detik sehingga tidak menutup kemungkinan kesalahan pengiriman uang dapat terjadi. Jika ternyata uang telah dikirim, sesaat kemudian diketahui pengirim salah menuliskan nomor rekening maka bank pengirim asal mengkonfirmasi kepada bank penerima untuk menarik kembali atas permintaan si pengirim. Namun, jika ternyata uang telah diambil oleh pihak yang tidak berhak, sehingga mengakibatkan kerugian bagi pengirim dalam hal demikian bank tidak dapat dimintakan tanggungjawabnya atas kesalahan tersebut. Sebab kesalahan itu berasal dari kelalaian pengirim itu sendiri dalam menuliskan nomor rekening penerima. 12 Bank hanya menjalankan perintah sesuai dengan apa yang ditulis didalam lembar aplikasi pengiriman. 13 Pada perinsipnya secara yuridis uang hasil salah transfer itu wajib dikembalikan oleh si penerima kepada bank yang melakukan salah transfer. Dana bank penerima maupun bank pengirim wajib mengembalikan uang hasil salah transfer tersebut. Namun, sebelum mengembalikan uang tersebut, penerima harus melakukan cross-check kepada bank yang bersangkutan bahwa benar bank tersebut telah melakukan salah transfer dan juga mengenai jumlah uangnya. 14 Jika tidak dikembalikan maka bank telah melakukan pembayaran yang tidak seharusnya. Menurut teori pembayaran tak terhutang

12

Berdasarkan hasil wawancara dengan staff bagian pelayanan (costumer servis) pada Bank Sumsel-Babel Cabang Indralaya, pada tanggal 4 September 2013 13 Berdasarkan hasil wawancara dengan staff bagian pelayanan (costumer servis) pada Bank Sumsel-Babel Cabang Indralaya, pada tanggal 4 September 2013 14 Haruskah kembali dana hasil salah transfer, http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4d92c5577d161/haruskahkembalikan-dana-hasil-salah-transfer, diakses pada tanggal 4 September 2013.

12


(onverschuldijde betalingen) Pasal 1359 KUHPerdata mengatakan: “ Tiap-tiap pembayaran memperkirakan adanya suatu utang, apa yang telah dibayarkan dengan tidak diwajibkan, dapat dituntut kembali. Terhadap perikatan-perikatan bebas, yang secara sukarela telah terpenuhi, tak dapat dilakukan penuntutan kembali�.

Dengan adanya ketentuan ini akan memberikan perlindungan secara perdata terhadap kepentingan pengirim yang mewajibkan bagi sipenerima untuk mengembalikan apa yang bukan menjadi haknya. Meskipun kesalahan pengiriman uang terjadi akibat kelalaian pengirim dalam menuliskan nomor rekening penerima, namun jika bank lebih teliti dalam mengimput data dalam komputer serta mengkonfirmasi kembali maka kesalahan yang mengakibatkan wanprestasi tersebut tidak akan terjadi. Terhadap kelalaian yang dilakukan oleh bank maka seyogyanya pengirim dapat meminta pertanggungjawaban bank atas tidak terlaksananya prestasi tersebut terhadap kerugian yang dialaminya berdasarkan Pasal 1239 KUHPerdta. Baik pengirim ataupun penerima oleh karena bank sebagai badan hukum adalah suatu kenyataan yuridis dan selalu dapat dipertanggunggugatkan atas perbuatannya baik langsung maupun tidak langsung, berupa wanprestasi atau perbuatan melawan hukum maka berlaku ketentuan pertanggung jawaban atasan yang didasarkan Pasal 1367 KUHPerdata atas kelalaian yang dilakukan petugas bank tersebut.

13


KESIMPULAN 1.

Ada dua ketentuan hukum yang menjadi landasan hubungan hukum antara bank dengan nasabah pengirim. Hubungan hukum itu adalah perjanjian untuk melaksanakan suatu pekerjaan tertentu (Pasal 1601 KUHPdt) dan perjanjian pemberian kuasa (Pasal 1792 KUHPdt). Kedua aturan ini sama-sama memberikan hak dan kewajiban bagi kedua belah pihak untuk terlaksananya perjanjian itu.

2.

Bank tidak bertanggung jawab terhadap kesalahan yang disebabkan oleh nasabahnya sendiri. Terhadap penerima uang salah transfer dapat di tuntut dengan Pasal 1359 KUHPerdta sebagai alas haknya. Pertanggungjawaban bank pada nasabahnya baru akan timbul jika terbukti kesalahan itu ada pada pihak bank. Tanggung jawab tersebut didasarkan pada ketentuan Pasal 1239 terhadap wanprestasi, 1366, 1367 KUHPerdta terhadap perbuatan melawan hukum.

SARAN Baik kesalahan pengirim ataupun bank sebaiknya ada sistem yang dapat melakukan pembatan pengiriman secara otomatis sebelum akhirnya uang sampai kepada pihak yang tidak berhak. Bagi penerima uang salah transfer seyogyanya mengembalikan apa yang bukan menjadi haknya. Bank sebagai penyelenggara pengiriman uang sebaiknya lebih teliti dalam menlaksanakan tugasnya sebab jika petugas bank lebih teliti hal tersebut tidak akan terjadi. Hal ini untuk mewujudkan asas kesamaan hak dan perinsip kehati-hatian dalam perbankan.

14


DAFTAR PUSTAKA BUKU :

Hasibuan, Malayu S.P. 2009. Dasar-dasar perbankan. cetakan kedelapan. Jakarta: Bumi Aksara.

Kasmir. 2008. Dasar-Dasar Perbankan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, R. Soeroso, 2004. Pengantar Ilmu Hukum. cetakan Keenam. Jakarta : Sinar Grafika.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN:

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2011 Tentang Transfer Dana INTERNET :

___________, “Bank lembaga keuangan dan jasa-jasa perbankan�, http://ocw.gunadarma.ac.id/course/economics/managemen

15


t-s1/bank-lembaga-keuangan-1/jasa-jasa-perbankan, diakses pada tanggal 4 September 2013

____________, “Haruskan kembali dana hasil salah transfer”. http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4d92c5577d1 61/haruskah-kembalikan-dana-hasil-salah-transfer, diakses pada tanggal 4 September 2013

_____________,” Jasa-jasa kiriman uang dalam negeri BNI transfer”, http://www.bni.co.id/idid/bankingservice/consumer/jasaja sa/kirimanuangdalamnegeribnitransfer.aspx., diakses pada tanggal 10 Juli 2013

WAWANCARA Hasil wawancara dengan staff bagian pelayanan (costumer servis) pada Bank Sumsel-Babel Cabang Indralaya, pada tanggal 4 September 2013 Hasil wawancara pada Kepala Bagian Unit Bank BRI Simpang Timbangan Indralaya, pada tanggal 4 September 2013

16

Rizka (perdata)  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you