__MAIN_TEXT__
feature-image

Page 1


2

Redaksiana

karikatur

KARYA: EKO FEBY HERMAWAN, MAHASISWA D3 DESAIN GRAFIS FBS UNESA ANGKATAN 2011

SUSUNAN REDAKSI PELINDUNG: Bambang Yulianto PENASIHAT: Subandi, Satria Dharma PENANGGUNG JAWAB: Slamet Setiawan PEMIMPIN REDAKSI: Syamsul Sodiq WAKIL REDAKSI: Eko Pamuji SEKRETARIS REDAKSI: Abdur Rohman REDAKTUR PELAKSANA: Yunanfathur Rahman, Mubasyir Aidi REDAKTUR: Prima Vidya Asteria, Zainul Aminin, Latif Nur Hasan, Joko Prasetyo, Arif Hidajad, Agung Ari Subagio, Dwi Didik, Suhartoko, Endah Emawati, Ami Haris, Eko Prasetyo, Rio Rahman STAF REDAKSI: Jack Parmin, Pratiwi Retnaningdyah, Roni, Suwarno Imam Samsul, Sri Sulistiani, M, Mintowati, Imam Zaini, Dody Doerjanto, Anik Juwariyah REPORTER: Arum, Fadya, Ayu, Dhea, Rizky, Nisa, Dani, Qoyum, Intan, Nurul, Nurika, Dewi, Siti Filda, Ela P, Aisyah, Adil, Tika, Hasna, Devi, Nelen, Aprilia, Farah, Umi Latifatus, Umiati, Reva A, Devi Nur F FOTOGRAFER: Masrur, Wahyu, Sismianto, Komarudin DESAIN & LAYOUT: Marsudi, Rois Abidin, Abdur Rohman DISTRIBUSI: Sugiarto, Toni Purwanto, Didik Pramono, Muh. Yasin, Somi Dwi Atmoko, Moch. Agung Adi Utomo, Abd.Rahman,Kumalasari, MusaropahADMIN:NenyDwiRetnowidowati,AliSidikALAMATREDAKSI:Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Gedung T2, Universitas Negeri Surabaya Kampus UNESA Lidah Wetan Surabaya 60213 TELP/FAX: 031-7522876 WEBSITE: http://fbs.unesa.ac.id EMAIL: info@fbs.unesa.ac.id

September - Desember 2018

EDITORIAL TIDAK terasa Tabloid Lidah Wetan (Liwet) Edisi 03 hadir kembali menyapa para pembaca setia. Ini sesuatu yang membanggakan, karena kami dipercaya sebagai bagian dari sivitas akademika Fakultas Bahasa dan Seni, yang sebentar lagi akan memiliki saudara kembar siam yakni Fakultas Seni dan Desain (FSD). Edisi kali ini kami hadirkan laporan utam tentang segera kesiapan FSD yang menurut Prof. Bambang Yulianto tinggal nunggu gedok SK dari Kemenpan RI. Sementara kesiapan sarana-prasana boleh dikatakan sudah 99 persen, sehingga nada tak sabar atas kehadiran fakultas baru ini Syamsul Sodiq sudah menjadi euforia tersendiri bagi Dr. Djuli Djatiprambudi, M.Sn, sebagai salah satu penggagas lahirnya Fakultas Seni dan Desain Unesa ini, juga bagi sebagai kalangan pejabat dan dosen yang selama ini aktif di Jurusan Seni Rupa, Desain maupun Seni Tari Drama dan Musik. Secara spesial, edisi 03 ini, tabloid Liwet menggeber sejumlah prestasi yang dicapai sejumlah mahasiswa yang berhasil menorehkan kebanggaan untuk FBS dan Unesa, baik di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. Ini tentu sesuatu banget, sehingga sayang untuk dilewatkan. Sementara sebagai inspirasi untuk kita semua, kami pilihkan kiprah alumnus FBS yang berhasil menjadi salah staf di Kemendagri sebagai inspirasi alumni. Tak ketinggalan feature human interest tentang sosok-sosok pegawai di lingkungan FBS maupun Unesa yang mampu memberikan teladan untuk kita. Akhirnya, kami masih terus berharap adanya saran dan masukan dari para pembaca, demi meningkatkan kualitas tabloid Liwet pada edisi-edisi selanjutnya. Selamat membaca! n

Redaksi

Tri Cahyo Kusumandyoko Delagasi Unesa ke Taiwan

Tri Cahyo Ku­su­man­dyoko, S. Sn., M. Ds

D

osen muda, Tri Cahyo Ku­ su­ man­ dyoko, S. Sn., M. Ds mewakili Unesa ke acara Interntional Cross Cultural Integrated Design Forum and Workshop di National Yunlin University of Science and Technology Taiwan pada 18 – 22 Oktober 2018 dengan topik Renaissance of Traditional Market. Acara tersebut dihadiri delegasi dari beberapa negara seperti Malaysia, China, Taiwan dan 5 peserta dari Indonesia. Hari pertama diisi acara perkuliahan dengan narasumber profesor dari bidang desain produk, antropologi desain, dan arsitektur. Selama mengikuti kegiatan tersebut ada banyak pengalaman yang didapat Tri Cahyo. Salah satunya, beliau mendapatkan pengalaman field trip di market tradisional untuk mengulas solusi dari permasalahan pasar tradisional di

Taiwan. Menurut beliau, permasalahan pasar di Taiwan mengalami penurunan. Para designer dan undangan yang hadir dari beberapa negara tersebut berjumlah 30 orang. Mereka dibagi menjadi 5 grup. Setiap grup dituntut memberikan solusi dan jalan keluar terhadap masalah pasar tradisional di Taiwan. Pasar Tradisional Taiwan semakin kehilangan pembeli dari waktu ke waktu, karena kalah bersaing dengan pasar modern seperti supermarket dan convenience store. Selain itu, banyak remaja atau mahasiswa yang tinggal di asrama namun mereka lebih senang mengonsumsi makanan atau minuman di swalayan daripada di pasar tradisional. Di forum internasional tersebut, Tri Cahyo menjelaskan bvahwa para designer diharapkan mampu membawa perubahan, khususnya bidang sub desain yang dapat memberikan ide-ide kreatif. Yang meliputi di dalamnya sub desain seperti desain komunikasi visual, desain produk, fashion, interior. Selain berkunjung ke pasar tradisional, dosen 36 tahun itu juga mengunjungi tempattempat sejarah dan di berkunjung ke kampus Internasional, di antarnya National University of Art yang di dalamnya mencakup ilmu seni rupa, seni musik, drama dan lainnya. Di Taiwan University Sciense & Technology, ternyata tidak hanya diisi mahasiswa dari ras China, namun ada juga dari Eropa dan Afrika. Menjadi delegasi di forum internasional itu, banyak member pengalaman bagi Tri Cahyo. Beliau bisa memahami betapa pentingnya pemahaman lintas budaya(cross - cultural) baik dalam sudut pandang orang lain karena setiap sudut kacamata orang memiliki perspektif berbeda. Grup beliau memberikan solusi “cooking idea” dimana pembeli bisa request bahan mentah dan meminta tukang masak di dapur untuk memasaknya dan kelompok beliau mendapatkan apresiasi yang bagus dari pihak juri. n

INSPIRASI HIDUP ALA TONY PURWANTO

Giat dan Disiplin Modal Raih Kesuksessan

S

abar, giat, dan disiplin itulah yang menjadi modal Toni Purwanto, dalam menjalankan pekerjaannya. Toni, begitulah sapaan akrabnya di kalangan sitivitas akademika Unesa, terutama di FBS kini beraktivitas sebagai staf TU di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bermodal itulah Toni menjalankan aktivitasnya sebagai karyawan hingga diangkat menjadi PNS. Sewaktu lulus SMU tahun 1997, Toni sudah mulai bekerja. Kali pertama, tahun 1997-2003, ia bekerja di Margomulyo Tandes Kalianak sebagai karyawan gudang. Setiap hari, pekerjaannya adalah mengirim sepatu dengan berbagai merek yang cukup terkenal. Tahun 2003, Toni terkena PHK karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Meski sempat shock, tapi Toni berusaha bangkit dan tak putus asa. Ia terus mencari berbagai macam informasi peluang bekerja. Tak lama kemudian, Toni mendapatkan pekerjaan di PT PAL (Perusahaan Pembuatan Kapal), sebagai karyawan serabutan pengangkut mesin.

Satu bulan, kembali mendapat ujian. Ia di PHK lagi. Tapi, tak lama kemudian, ia mendapatkan pekerjaan di pabrik pembuatan roda kulkas sebagai pengepakan roda kulkas. Pekerjaan itu ia jalani sekitar enam bulan, lagi-lagi karena kena PHK. Berbagai macam PHK telah dialami dari satu perusahaan ke perusahaan lain, hingga pada akhirnya pada n Juni 2004 ia diterima bekerja di Unesa sebagai staff TU JBSI. Awal bekerja di Unesa, ia sebagai karyawan honorer yang saat itu masih digaji sebesar Rp400.000. Namun, hal itu tak menjadikan masalah bagi Toni. Ia tetap menjalankan pekerjaannya secara maksimal. Ia jalani semuanya dengan sabar, giat, dan displin dalam bekerja. Kesabaran itu, akhirnya berbuah manis. Setelah berstatus cukup lama sebagai karyawan honorer, akhirnya pada tahun 2014, Toni diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil. Setelah diangkat menjadi PNS, tentu penghasilanya tentu lebih baik dibandingkan masih sebagai karyawan honorer. n (RIF’AH)


3

Laporan Utama

September - Desember 2018

MENENGOK INFRASTRUKTUR GEDUNG BARU FAKULTAS DESAIN DAN SENI

Dilengkapi Student Center, Galeri Seni dan Pertunjukan

Gedung Fakultas Seni dan Desain yang berlokasi di Kampus Unesa Lidah Wetan mulai nampak perwujudannya. Bangunan empat lantai tersebut berkonsep modern dan futursitik dengan masingmasing fungsi yang sudah ditata sedemikian rupa.

J

ika Anda menyempatkan diri berkunjung ke Fakultas Bahasa dan Seni di Kampus Unesa Lidah Wetan, tentu akan ada sedikit yang berbeda. Di belakang sisi kanan Gedung Jurusan Seni Rupa atau persisnya di belakang masjid Alhikmah FBS, anda akan menemukan bangunan baru yang berdiri megah dengan konsep modern dan futuristik. Ya. Bangunan itu adalah gedung baru Fakultas Seni dan Desain yang merupakan Fakultas baru hasil pemekaran/pemisahan dari Fakultas Bahasa dan Seni. Gedung dengan lima lantai itu memiliki konsep yang unik dan menarik. Dr. Djuli Djatiprambudi, M.Sn, salah satu penggagas Fakultas Seni & Desain mengatakan bahwa gedung yang dibangun melalui bantuan hibah dari IDB itu dikonsep dengan berbagai peruntukan. Lantai 1 akan dijadikan sebagai Student Center, yakni pusat organisasi kemahasiswaan dari dua fakultas, yakni Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) dan Fakultas Seni dan Desain (FDS). “Dengan adanya Studen Center di lantai 1, akan banyak sekali aktivitas setiap hari baik akademik dan nonakademik,

baik diskusi mahasiswa, interaksi dari lintas jurusan, undangan wali murid mahasiswa dan dari pihak kampus lain. Semuanya bisa berinteraski di lantai 1. Bahkan, waktunya bisa dari pagi hingga malam hari,” terang Djuli. Di lantai 2, merupakan lantai utama karena menjadi kantor Dekanat Fakultas Seni & Desain. Selain ruang dekan, wakil dekan, senat, dan senat akademik, lantai 2 juga dilengkapi dengan ruang rapat dan ruang tamu untuk istirahat atau guest house. Selain itu, lantai 2 juga dilengkapi dengan tempat beribadah dan perpustakaan dari 2 fakultas (FBS dan FDS). Bahkan, terbaru lantai 2 juga menghadirkan ruang galeri seni. Di galeri tersebut akan didihadirkan karya-karya baik mahasiswa dan dosen untuk memperindah ruang tersebut. Sedangkan lantai 3, difokuskan pada laboratorium dan ruang kuliah. Laboratorium tersebut dilengkapi fasilitas seperti fotografi, multimedia, komputer, musik dan teater. Semua laboratorium, terang Djuli, akan dikelola oleh wakil bidang 2 atau sumber daya fakultas untuk kepentingan bersama. Selain laboratorium, di lantai 3 juga ada ruang

PENGGAGAS: Dr. Djuli Djatiprambudi, M.Sn, salah satu penggagas lahirnya Fakultas Seni dan Desain Unesa.

menyimpan properti seni pertunjukan untuk perform. Kabarnya, juga akan ada mini store art untuk kebutuhan mahasiswa seni rupa dan desain baik dari kualitas medium hingga high quality yang harganya

SK Tinggal Tunggu Digodok Kemenpan

Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd

sesuai kantong. Sehingga, untuk keperluan seperti vas, cat, kertas dan lainnya dapat dibeli di mini store. “Lantai 2 dan 3 ini fokus untuk pembelajaran,” ungkap Djuli. Sementara itu, di lantai 4 akan

D

ekan FBS, yang juga wakil rektor Bidang Akademik Unesa, Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd Dekan FBS, yang kini terpilih menjadi wakil rektor bidang Akademik Unesa, Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd angkat bicara perihal progres Fakultas Seni dan Desain. Guru besar jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia itu menegaskan bahwa pembentukan fakultas baru yakni Fakultas Seni dan Desain telah mencapai 80 persen. “Persiapan gedung sudah hampi rampung pemba­ ngu­ nan­nya. SK fakultas baru sudah keluar dari kemenristek dan se­ gera digodok Kemenpan karena menyangkut jabatan struktural,” papar Bambang. Menurut Bambang, Fakultas Seni dan Desain memiliki keung­ gulan karena akan mengelola SDM mahasiswa untuk mening­ katkan daya imajinasinya dalam mengembangkan kreativitas dan mengekspresikan melalui bentuk seni atau desain. Kon­ tribusi mahasiswa seni dan

ada perpustakaan bersama dan ruang pertunjukan yang mampu menampung 400 mahasiswa. Di lantai 4 juga, bisa digunakan kuliah tamu, seminar, pertemuan mahasiswa dan lainnya. n (ELLA P/ ARUM N)

desain, lanjut Bambang sangat dibutuhkan Unesa. Hal tersebut, jelas Bambang, sudah dibuktikan melalui pres­ tasi yang banyak ditorehkan oleh mahasiswa seni dan desain. Bahkan, belum lama ini, Unesa berhasil meraih juara tiga dalam seni tari, juara satu penyanyi dangdut dan juara dua desain komik strip. Bambang berharap dengan terwujudnya Fakultas Seni dan Desain dapat berkontribusi untuk kemajuan Unesa baik dalam hal akademik mau­ pun non-akademik. Serta, da­ pat menguatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam me­ nguatkan karakteristik fakultas menjadi fakultas yang hebat, cerdas, dan berintelektual. n (WAHYU)

Persiapan gedung sudah hampi rampung pemba­ngu­nan­nya. SK fakultas baru sudah keluar dari kemenristek dan se­ gera digodok Kemenpan karena menyangkut jabatan struktural.”


4

Laporan Utama

September - Desember 2018

FSD Bisa Kembangkan Karakteristik Seni

K

etua Jurusan Sen­ dra­­­tasik Unesa, Dr. Anik  Juwariyah, M. Si mengatakan bahwa pen­dirian bangunan Fakultas Seni dan Desain sudah hampir mendekati 80-90% walaupun surat keputusannya belum turun. Anik, demikian panggilan akrabnya, sangat se­ nang dan berharap banyak terhadap fakultas baru tersebut. Anik melihat ada beberapa hal yang sangat penting, terutama adanya pemusatan prodi sehingga dapat lebih mengembangkan karakteristik seni. Namun, Anik mengatakan ke depan Unesa memunyai tantangan baru yakni bagaimana cara berkolaborasi membangun kinerja dan kerja

Dr. Anik Juwariyah, M. Si

Pen­dirian bangunan Fakultas Seni dan Desain sudah hampir mendekati 80-90% walaupun surat keputusannya belum turun.”

sama baik antarfakultas agar tidak saling kompetitif. Mengingat Rektor Unesa baru, baik jajarannya maupun pola pikir dan kebijakannya. Beliau juga selalu positif thinking untuk ke depannya, dan selalu mendukung kebijakan kampus apalagi beliau sangat senang akomodasi untuk sendratasik, seni dan desain akan ada Gedung pertunjukan yang baru. n (ELLA P/ARUM N)

FSD Akan Percepat Perkembangan Rumpun Keilmuan Unesa akan menambah beberapa fakultas baru. Salah satunya Fakultas Seni dan Desain yang dulunya menjadi satu dengan Fakultas Bahasa dan Seni. Pembentukan fakultas baru itu sudah menjadi rencana sejak empat tahun lalu. Pembentukan fakultas baru itu bertujuan agar lebih terfokus dalam satu bidang yakni bidang seni dan bidang bahasa. Dengan demikian, diharapkan keduanya akan berkembang lebih baik dari sebelumnya.

W

akil Dekan Bidang Umum dan Keuangan FBS, Drs. Slamet Setiawan, M.A, Ph.D berharap adanya Fakultas Seni dan Desain akan mempercepat perkembangan pada konsentrasi atau rumpun yang ada di fakultas. Misalnya, ada 6 jurusan untuk bahasa dan sastra, serta 3 untuk seni dan desain. Slamet mengatakan, adanya fakultas baru akan memunculkan banyak prodi. Misalnya, sendratasik akan ada jurusan baru yaitu drama dan itu akan semakin fokus. Selain itu, dari segi fasilitas bangunan akan melebihi sebelumnya baik dari mobelair dan studio karena bangunan tersebut disponsori oleh IDB. Rancangan gedung Fakultas Seni dan Desain, lanjut Slamet, sangat menarik karena di lantai 1 nanti akan ada pusat Ormawa dari 2 Fakultas. Selain itu, 2 fakultas yakni FBS dan FSD juga dirancang untuk resource sharing. Itu karena meskipun berpisah namun fasilitas bisa digunakan bersama. “Jadi berpisah di sini tetap membangun fakultas yang baik dan diminati masyarakat. Harapannya, adanya fakultas baru ini dapat tetap bersinergi dan kerja sama sehingga menghasilkan mutu yang baik,” terangnya.n (ELLA P/ARUM N)

K “Rancangan gedung Fakultas Seni dan Desain sangat menarik karena di lantai 1 nanti akan ada pusat Ormawa dari 2 Fakultas.”

“Melalui Fakultas baru tersebut, Unesa bisa menjadi barometer perguruan tinggi di Jawa Timur dan di Indonesia.”

(Drs.Slamet Setiawan, M.A, Ph.D)

(Moh. Sarjoko, S.Sn, M.Pd)

etua Program Studi Seni Musik, Moh. Sarjoko, S.Sn, M.Pd mengaku senang dengan dibukanya Fakultas Seni dan Desain. Menurutnya, dengan adanya fakultas baru tersebur, Unesa akan menjadi lebih lengkap wadah dan kiprahnya sebagai perguruan tinggi. Melalui Fakultas baru tersebut, akan menjadi wadah untuk mengkaji dan mengembangkan berbagai disiplin ilmu sehingga ke depan Unesa bisa menjadi barometer perguruan tinggi di Jawa Timur, Indonesia Timur, bahkan nasional maupun Internasional. Sarjoko menambahka, dengan adanya Fakultas Seni dan Desain, displin ilmu akan menjadi pilah, linier, dan konsisten. Namun demikian tetap memunyai nilai fleksibilitas sehingga bisa bersinergi antar lintas disiplin. n (ELLA P/ARUM N)


September - Desember 2018

Bincang Utama

5

WAWANCARA DENGAN WAKIL DEKAN BIDANG MAHASISWA DAN ALUMNI

Hadapai Revolusi Industri 4.0, Mahasiwa FBS Dibekali Empat Kompetensi

Saat ini, Indonesia sudah mulai menyiapkan calon generasi bangsa menghadapi era baru yakni era revolusi industri 4.0. Dimana, di era ini menuntut segala macam kegiatan berbasis digital. Menyikapi hal tersebut, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa sudah menyiapkan berbagai hal. Apa saja? Berikut bincang-bincang dengan Wakil Dekan Bidang Akademik dan Alumni FBS, Dr. Syamsul Shodiq, M.Pd.

Bagaimana persiapan yang dilakukan Fakultas Bahasa dan Seni menghadapi era revolusi industri 4.0? Untuk pembekalan kepada mahasiswa, mengacu pada konsep paling mendasar adalah kompetensi personal yakni kejujuran, mengenal potensi diri kemudian bisa memahami kelebihan dan kekurangan yang dimilik. Jadi, kecakapan personalnya harus kuat. Kalau sudah itu, baru ke kompetensi komunikatif. Orang yang komunikasinya lebih bagus, pasti dia nanti akan bisa lebih eksis dan berpikiran lebih luas daripada orang yang komunikasinya kurang. Untuk mendukung kompetensi komunikatif, apa yang akan dipersiapkan? Di FBS ini kebetulan dari 9 jurusan, ada 6 jurusan yang terkait dengan bahasa. Di FBS ini, utamanya memberi bekal kepada mahasiswa agar memiliki pengalaman yang lebih luas, terutama pengalaman ke luar negeri. Apakah dalam bentuk magang atau dalam bentuk mengajar, minimal dalam bentuk seminar. Syukur-syukur ke luar negerinya dalam bentuk lomba. Pengalaman pergi ke luar negeri itu diyakini memiliki manfaat besar untuk menunjang kompetensi personal dan kompetensi komunikatif. Kalau masih di rumah masih belum bisa membedakan kita ini orang mandiri atau tidak Selain kompetensi personal dan kompetensi komunikatif, apalagi yang perlu dipersiapakan?

Selain kedua kompetensi tersebut (personal dan komunikatif ) yang ketiga adalah kompetensi akademik. Kompetensi akademik ini, misalnya, seseorang yang ingin mendalami bidang pendidikan, maka yang dimiliki adalah kompetensi akademik yang lebih tinggi di bidang pendidikan. Kemudian, yang keempat adalah Kompetensi Vokasional (kekhasan). Contohnya, sarjana bahasa Indonesia setiap tahun yang masuk 200, yang keluar juga 200. Tapi, dari 200 orang itu mungkin ada yang memiliki kekhasannya sehingga ada yang menjadi guru bahasa Indonesia dan ada yang mendalami masalah media yang khusus dalam aspek-aspek kebahasaan. Jadi, 4 kompetensi itu yang menurut saya harus lebih dikuatkan lagi dimulai dari kompetensi personal, lalu kompetensi komunikatif, kompetensi akademik, dan kompetensi vokasional. Yang paling menunjang dalam mempersiapkan era revolusi industry 4.0? Menurut saya, di bidang akademik sudah menunjang. Hal lain adalah di kegiatan ormawa. Di kegiatan kemahasiswaan ada sejenis komunitas yang kita kembangkan di antaranya berbasis digital. Misalnya, saat rapat PKKMB, ketika teman-teman panitia mempersiapkan yang pertama tugas itu harus terukur, ada juga tugas yang harus mengupload ke instagram. Itu kan satu sebagai salah satu media berbasis digital yang paling sederhana tapi bisa dimanfaatkan. Jangan

sampai anak-anak itu tidak paham digital apalagi hanya memanfaatkan sampahnya seperti film dan game. Jadi, itu yang menunjang yakni tugastugas berbasis digital. Sekarang, sudah masuk ke era menggali informasi yaitu kompetensi komunikatif. Jadi, mereka bisa mengolah mana informasi yang benar. Selain itu mereka juga bisa memilih informasi yang diyakini benar untuk mengomunikasikan secara bagus. Apa saja yang dipersiapkan FBS untuk membentuk kualitas mahasiswa menghadapi era revolusi industri 4.0? Yang kami harapkan, di wilayah kompetensi personal dan kompetensi komunikatif harus baik. Bolehlah mereka berasal dari wilayah tingkat dua. Di sini, teknologi sudah menjadi tuntutan, ya harus diwajibkan. Bagi mahasiswa yang masih belum mahir menggunakan teknologi akan dipandu dan dibimbing karena itu adalah alat utama. Apa tantangan terbesar mahasiswa FBS pada era revolusi industri 4.0? Salah satu ciri era revolusi industri 4.0 ialah logika. Semua serba logis, serba otomatis dan serba terukur. Tapi, kita ini kan seni jadi tantangannya di situ. Mahasiswa kita adalah mahasiswa seni tapi jangan sampai tidak paham digital. Sebaliknya, apabila mahasiswa kita berbasis seni dan bisa menguasai tekhnologi di era revolusi industri 4.0 ini akan bisa mewarnai. Era yang sebelumnya sangat

mekanik dan sangat matematis nanti akan memiliki warna dan gradasigradasi keindahannya. Saya kira itu tantangannya, seni kan terkesan non rasional. Nah, ini dipadukan dengan yang rasional. Meningkatkan vokasional itu perlu, tapi meningkatkan substansi di bidang digital ini juga sangat perlu. Seperti halnya saat ini, jarang mahasiswa seni yang mau membuat tulisan karya ilmiah, akan tetapi pada saat ini ada beberapa mahasiswa seni yang akan presentasi 6 judul karya ilmiahnya di Malaysia. Jadi, itu kita dorong dan kita bantu. Salah satu yang agak lemah di era saat ini ialah dalam pembentukan karakter. Karena dalam pembentukan karakter itu tatap muka langsung tetap menjadi yang lebih efektif. Apa harapan bapak untuk mahasiswa FBS dalam menghadapi era revolusi industri 4.0? Harapan saya untuk mahasiswa FBS adalah mereka dapat menguasai 4 kompetensi tadi dengan baik. Salah satunya yang paling penting ialah kompetensi personal. Karena jujur, disiplin, santun, dan tanggung jawab itu harus dimiliki oleh semua orang. Kedua adalah pandai mengomunikasikan ide, menggali informasi, mengolah informasi dan menyampaikannya secara bagus. Ketiga, akademisnya juga harus bagus. Terakhir, harus mengenali kekhasan yang dimiliki diri sendiri. n (IC/FBR)


6

Khas Jurusan

September - Desember 2018

KIPRAH SANGGAR BHARADA JURUSAN BAHASAN DAN SASTRA DAERAH UNESA

Awalnya Ketoprak, Kini Sudah Rambah Wayang, Campursari, Ludruk, dan Karawitan Bharada merupakan sanggar kesenian yang berada di bawah naungan jurusan Bahasa dan Sastra Daerah Unesa. Sanggar yang berdiri pada 1993 ini didirikan oleh mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Daerah atas keinginan dan kemauan sendiri. Nama Bharada merupakan singkatan dari Bahasa dan Sastra Daerah.

MANGGGUNG: Para aktor dan aktris panggung Sanggar Bharada Jurusan Bahasa dan Sastra Daerah dalam sebuah pentas. Awalnya hanya memainkan ketoprak, berkembang mementaskan wayang orang, ludruk, bahkan campursari dan karawitan.

M

ulanya, sanggar Bharada hanya memiliki 5 orang anggota yang biasa melaksanakan pementasan ketoprak karena mahasiswa bahasa daerah dulunya minim sekali. Hingga suatu saat, atas usulan dosen, sanggar tersebut berdiri dan diberi nama Bharada (Bahasa dan Sastra Daerah). Awalnya, kegiatan pementasan hanya ketoprak, terus merambah wayang, campur sari, ludruk, dan karawitan. Sama seperti ormawa pada umumnya, masa kepungurusan setiap tahun diadakan seperti pemira untuk memilih kepengurusan Bharada. Bharada berada di bawah HMJ bidang 2. Anggota Bharada lazimnya dari dulu sampai sekarang berasal dari jurusan Bahasa dan Sastra Daerah sendiri, namun Bharada terbuka untuk menerima anggota dari luar jurusan. Sehingga dapat dikatakan bahwa Sanggar Bharada bisa

membuka kesempatan untuk mahasiswa lain di luar jurusan yang ingin belajar bersama di sanggar. PRESTASI Berbicara tentang prestasi, sanggar Bharada sudah berhasil meraih banyak prestasi, namun sayangnya tidak terdokumentasi dengan rapi. Yusuf, selaku ketua sanggar Bharada menerangkan bahwa pada tahun 90an Bharada sudah sering menampilkan berbagai pementasan, dan membuat Gedung E6 yang bertempat di ketintang selalu penuh. Hal ini membuktikan bahwa pertunjukan ludruk dan ketoprak sangat diminati oleh masyarakat. Pada tahun 2013, Bharada ditunjuk sebagai perwakilan Surabaya untuk mementaskan ludruk di Taman Krida Budaya, Malang. Pementasan tersebut termasuk pentas periodik karena Bharada sudah dianggap sebagai sanggar yang

berhasil mengembangkan ludruk. Bharada juga pernah memenangi festival ludruk di Taman Budaya Jawa Timur dan meraih 3 nominasi. Bharada juga pernah masuk di juara 2 lomba tingkat nasional yang diselenggarakan di Jombang. Kegiatan yang paling besar yang pernah dilakukan Bharada adalah pementasan yang diundang oleh instansi-instansi besar seperti yang dilakukan di Taman Krida dan Taman Budaya. LATIHAN RUTIN DAN UJI PENTAS Menurut keterangan Yusuf, seperti sanggar-sanggar yang lain, sanggar Bharada memiliki proses latihan yang sedemikian rupa. Semua anggota sanggar Bharada selalu dimulai dari titik 0, karena pada umumnya mereka dianggap sebagai orang awam yang belum mengerti tentang karawitan, ludruk, dan pementasan lainnya. Oleh karena itu, semua anggota sangar harus

belajar giat setiap malam untuk latihan. Mungkin beberapa mahasiswa sudah memunyai dasar sebelum masuk sanggar Bharada, namun hal tersebut tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa lain yang belum pernah mengenal seni-seni tersebut. Proses latihan sanggar Bharada untuk pementasan maupun kompetisi lainnya kurang lebih membutuhkan waktu selama 1 bulan. Setiap semester genap sanggar juga melakukan uji pentas untuk menguji tingkat kemampuan pementasan bagi setiap mahasiswa di jurusan Bahasa dan Sastra Daerah. Sebagai ketua sanggar, Yusuf mengucapkan terima kasih kepada Unesa karena Bharada sudah dianggap ada. Hal ini terbukti dari Unesa yang mau mengundang sanggar Bharada di setiap even atau kegiatannya. Ia berharap Unesa terus mengapresiasi pementasan sanggar Bharada di setiap evennya, karena banyak pementasan yang bisa dilakukan oleh sanggar, seperti ludruk, campur sari, karawitan, dan lain sebagainya. Yusuf juga berharap agar seni tradisional bisa terus diapresiasi dan dijadikan minat di kalangan generasi muda Indonesia. Hal ini dilakukan agar seni dan budaya Indonesia tidak jatuh dan malah dihargai oleh orang asing yang bukan warga Indonesia. Kalangan muda Indonesia seharusnya menjadikan seni dan budaya Indonesia menjadi minat utamanya, bukan malah seni dan budaya asing. Berbicara tentang kelebihan dan keunggulan sanggar Bharada, menurut Yusuf tidak ada kelebihan khusus yang bisa diungkapkan. Hanya saja seluruh kawan-kawan sanggar memiliki tekad dan semangat yang kuat untuk latihan dengan maksimal. “Semua yang ada di dunia ini sudah memiliki bagiannya sendiri, jika temanteman memilih berkecimpung di sanggar Bharada, maka itu passion dari kami, karena semua hal yang dilakukan bergantung pada minat dan rasa suka yang dimiliki pada hal tersebut,” pungas Yusuf. n (TIKA/INTAN)

Berprestasi di Kompetisi Karawitan Internasional

S

anggar Bharada meraih prestasi sebagai tim terbaik kedua pada kompetisi karawitan tingkat internasional bernama Panen International Karawitan Competition 2018. Kompetisi itu berlangsung pada 29 Juli – 1 Agustus 2018 lalu di Dusun Brajan, Desa Senden, Kabupaten Boyolali. Diwakili oleh 15 mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah dengan waktu latihan intensif tidak sampai 10 hari, Sanggar Bharada sukses mengalahkan beberapa tim karawitan dari universitas lain. Di antaranya UGM, UNY, UB, dan sebagainya.

Latif Nur Hasan, S.Pd. M. Pd, pembimbing atau pelatih Sanggar Bharada mengatakan, yang ditampilkan dalam kompetesisi tersebut adalah gending klasik asmaradana dan gending kontemporer. “Gending kontemporer ini dikreasikan sendiri oleh mahasiswa. Pesan yang ingin disampaikan adalah saat ini, telah banyak muncul keburukan yang membuat terkikisnya iman. Kursi pimpinan menjadi rebutan, sumpah janji diobral. Namun pada akhirnya, yang menjadi korban adalah rakyat kecil. Kita harus menekankan kembali persatuan,” terang Latif.

Yang menarik, kompetisi ini digelar di lereng gunung merbabu. Sehingga, terlihat pula pemandangan gunung merapi yang indah. Udara yang dingin dan pemandangan yang indah, menciptakan kesan tersendiri bagi peserta. Terlebih lagi, mereka menginap di rumah warga yang membuat peserta semakin akrab dan berinteraksi dengan warga sekitar. Sanggar Bharada menginginkan karawitan sebagai salah satu budaya bangsa dapat dan harus tetap eksis. Mereka berusaha melestarikan karawitan dengan mengikuti semua event atau acara karawitan. n (DEWI S)

JUARA: Para mahasiswa dan pembina Sanggar Bharada Jurusan Bahasa dan Sastra Daerah Unesa saat memperoleh prestasi internasional di ajang Panen International Karawitan Competition 2018. Kompetisi itu berlangsung pada 29 Juli – 1 Agustus 2018 di Dusun Brajan, Desa Senden, Kabupaten Boyolali.


September - Desember 2018

Gita Pamawisesa Berjaya di Kompetisi Paduan Suara Internasional Bali Prestasi membanggakan di kancah internasional berhasil didapatkan Unesa. Melalui ajang Kompetisi Paduan Suara Internasional Bali International Choir Festival (BICF) 2018, paduan suara Gita Pamawisesa Unesa berhasil mengharumkan nama bangsa dengan meraih 2 medali emas di ajang bergengsi tersebut.

INTERNASIONAL: Tim paduan suara Gita Pramawisesa Unesa berprestasi di kancah internasional menyabet 2 medali emas serta lolos pada babak championship bersaing dengan 144 peserta lainnya dalam Bali International Choir Festival (BICF) yang ketujuh, 24-28 Juli 2018.

B

andung Choral Society kembali menyelenggarakan Bali International Choir Festival (BICF) yang ketujuh selama lima hari, 24-28 Juli 2018 bertempat di Bali. Sebanyak 144 group peserta festival berasal dari 16 negara yaitu Kanada, Jepang, Selandia Baru, Singapura, Venezuela, Amerika, Latvia, Lithuania, Polandia, China, Malaysia, Philipina, Korea Selatan, Thailand dan Indonesia sebagai tuan rumah dengan delegasi dari 26 provinsi untuk ikut berkompetisi. BICF tahun ini mengusung tema Wonderful BICF, Singing Together is Better. Dalam kompetisi BICF kali ini Gita Pramawisesa Paduan Suara Universitas Negeri Surabaya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat berlaga dan bersaing di Event paduan suara internasional dan berhasil mendapatkan 2 medali emas serta lolos pada babak championship bersaing dengan 144 peserta lainnya. Budi Darmawanputra S.Pd, M.Pd, selaku pembina serta pelatih tim paduan suara Gita Pramawisesa Unesa menuturkan persiapan yang dilakukan cukup kompleks. Ia menjelaskan bahwa tim paduan suara Gita Pramawisesa hanya mengikuti satu kategori saja yaitu folklore atau lagu dari daerah yaitu Seblang Subuh (Banyuwangi), Toki Tifa (Maluku) dan Marencong-rencong (Sulawesi), karena ini merupakana even kompetisi internasional pertama yang diikuti. “Kita belum pernah mengikuti even ini yang bertaraf internasional, ya nekat-nekatan saja.Karena baru ikut pertama kali maka melalui tahap kompetisi yang menyanyikan dua lagi kalau nilainya dianggap cukup bisa melanjutkan babak championship,” jelas Budi. Meskipun telah meraih dua medali emas dalam kompetisi paduan suara Internasional, Ia menjelaskan dalam prosesnya cukup memberikan tantangan bagi tim karena terkendala baik finansial pendanaan registrasi dan sebagainya yang tentu harus dibayar di awal serta harus mencari dan menyeleksi chorister atau penyanyi yang benar-benar sesuai kriteria yang tidak mudah. “Kelemahannya kita belum menemukan penyanyi yang ideal. Sebagai contoh penyanyi bersuara bas belum menemukan yang benar-benar pas, sehingga kurang mantap. Kita inginnya ‘berburu’ penyanyi terbatas waktu, sedangkan teman-teman kemarin yang suara bas bukan murni suara bas tapi saya paksakan di posisi bas, mungkin suaranya di bariton saja dan tidak sampai ke bas,” ungkap Budi.

7

Komunitas Paduan Suara

Paduan Suara Gita Pramawisesa Unesa sendiri dalam track recordnya telah memperoleh berbagai pencapaian prestisisus. Tahun 2017 pernah meraih Gold Medal di kompetisi Satya Dharma Gita National Choir Festival di UNDIP dan Festival paduan suara di UINSA yang keduanya bertaraf nasional dan sering mendapat juara satu di kompetisi paduan suara lainnya sehingga tidak diragukan lagi kualitas tim paduan suara Unesa ini. “Kemudian, hambatan kita terkendala biaya. Untuk mengikuti satu kategori saja perkategori membutuhkan biaya sekitar 3,5 juta dari 16 kategori paduan suara yang dinyanyikan. Belum lagi akomodasi tiap chorister serta biaya pendaftarannya sekitar 650 ribu per orang. Kendala lain, latihan juga harus intensif tapi kenyataannya sulit lengkap karena mahasiswa punya kesibukan masingmasing. Prosesnya kadang tersendat karena mahasiswa terkadang tidak lengkap,” ujar Budi. Budi berharap ke depan bisa mengikuti even lebih bergengsi minimal sama dengan ini. “Mungkin tahun depan ikut lagi di Bali. Apa saja yang memungkinkan baik dari materi maupun dari finansial, kemudian mengikuti even kompetisi paduan suara internasional di luar negeri skala Asean. Setidaknya bertahap lha,” tuturnya. Sementara itu, Supali Gunarno mahasiswa dari Sendratasik angkatan 2015 yang juga menjadi ketua Paduan Suara Gita Pramawisesa mengaku bersyukur telah meraih dua medali emas dalam kompetisi perdana di tingkat Internasional. “Kita bersyukur sekali karena mampu bersaing dengan 16 negara dan bisa lolos di babak championship. Ini juga pertama kali bersaing di tingkat internasional. Meskipun suasana lomba di sana banyak persaingan dan tim lain yang performnya bagus terutama dari luar negeri dan ada tantangan sendiri bagi GPW. Hal itu tentu membuat kita lebih keras lagi berlatih,” ungkap Supali. Ia berharap kedepannya ingin berperang di event internasional lagi maupun ke luar negeri kalau belum memungkinkan mungkin bersaing lagi di Bali dan menargetkan akan lolos di grand prix. Supali juga berpesan kepada timnya agar tetep solid dan jangan pernah lelah berjuang karena masih banyak yang harus diperbaiki dan dibenahi. Kemudian, fasilitas pendukung untuk latihan juga agar lebih dimaksimalkan. “Harus semangat buat semuanya, harus bisa berkembang tiap tahunnya, semoga tiap tahunnya, tetap maju untuk Gita Pramawisesa,” pungkasnya. n (QQ)

Lagi, Raih Emas USC se-Jatim 2018 “Tahun lalu, kami mendapat juara 1 gold medal, dan tahun ini kembali meraihnya.”

P

aduan Suara Gita Pramawisesa Unesa kembali menorehkan prestasi. Seteleh sebelumnya, berhasil mendapatkan 2 Gold Medal di acara BICF (Bali International Choir Festival) Kategori Folklore Juli lalu, kini tim paduan suara itu kembali mengukir prestasi terbarunya dengan meraih juara 1 Gold Medal di ajang USC (Uinsa Student Choir) Festival se-Jawa T 2018 yang berlangsung di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Prestasi tersebut merupakan prestasi kedua kalinya berturut-turut dalam even yang sama karena pada tahun 2017 lalu, Gita Pramawisesa juga meraih juara 1. “Tahun lalu, kami mendapat juara 1 gold medal, dan tahun ini kembali meraihnya,” ujar Rr Rahmadiana Ramadhanty Official dan Pianis dalam perlombaan tersebut. Menurut Rahmadiana, cukup banyak proses yang telah dilalui sebelum mengikuti ajang tersebut. Salah satunya, dengan melakukan latihan rutin dan intensif untuk para chorister meskipun hanya beberapa hari sebelum lomba. “Chorister yang ikut lomba tidak fullteam seperti di BICF karena ada kegiatan lain, namun tidak mengurangi semangat berlatih,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Diana itu. Ia juga mengungkapkan tip yang diterapkan untuk menunjang tim paduan suaranya yakni dengan menjaga solidaritas tim chorister dan mengatur strategi dengan memakai conductor dan pianis dari salah satu official. Meski dalam proses latihan tidak bisa selalu fullteam, namun tetap dilakukan dengan giat dalam beberapa hari dengan niat yang tulus. “Tentu, kami bersama Pak Budi, selaku pembina Gita Pramawisesa Unesa,” terangnya. Sama halnya dengan Diana, Vanda Devia Rachmasari yang juga sebagai chorister menjelaskan ia dan tim selalu kompak, selalu solid dan ketika ada masalah diselesaikan bersama untuk menjaga kekompakan agar tim selalu bagus tidak hanya saat di depan panggung, tapi juga di belakang panggung harus tetap kompak. Diana juga memaparkan beberapa kendala saat berproses adalah karena lomba yang begitu dekat sehingga dalam mencari kostum jarit dan atribut cukup kerepotan. Namun, alhamdulillah semua dapat teratasi dengan bantuan tim artistik. Ia berharap ke depan tetap dapat meraih juara 1 gold medal dan tidak sombong serta tetap rendah hati. Sebab, di atas langit masih ada langit. Ia juga bersyukur karena sudah beberapa kali meraih prestasi di ajang regional, nasional, bahkan internasional. n (QQ)


8

Komunitas Sastra

September - Desember 2018

MERATA: Anggota Komunitas Sastra Rabo Sore eksistensinya diakui Balai Bahasa Jawa Timur dengan diraihnya penghargaan khusus Anugerah Sutasoma tahun 2018.

KOMUNITAS RABO SORE RAIH ANUGERAH SUTASOMA

Komunitas Sastra yang Berpengaruh di Jawa Timur Komunitas Rabo Sore terpilih menjadi komunitas sastra yang berpengaruh di Jawa Timur. Komunitas ini bergerak di bidang kesastraan. Kegiatannya meliputi diskusi tentang puisi, cerpen, esai, filsafat, bedah buku, dan sebagainya.

PENGAKUAN: Piagam penghargaan Anugerah Sutasoma Balai Bahasa Jawa Timur yang dianugerahkan kepada Komunitas Rebo Sore. Komunitas sastra Rebo Sore telah diakui di Jawa Timur.

K

omunitas Rabo Sore (KRS) meraih Anugerah Sutasoma sebagai Komunitas Sastra yang berpengaruh di Jawa Timur. Penghargaan diberikan pada Rabu, 17 Oktober 2018 di Balai Budaya Jawa Timur, Gedung Cak Durasim. Anugerah Sutasoma adalah sebuah penghargaan tahunan yang diberikan oleh Balai Bahasa Jawa Timur. Penghargaan ini diberikan kepada tokoh-tokoh yang terus melestarikan karya sastra, khususnya di Jawa

Timur. Tidak hanya itu, penghargaan ini juga mempertimbangkan keterpengaruhannya dalam kesusastraan di Jawa Timur. Komunitas Rabo Sore terpilih menjadi komunitas sastra yang berpengaruh di Jawa Timur. Komunitas ini bergerak di bidang kesastraan. Kegiatannya meliputi diskusi tentang puisi, cerpen, esai, filsafat, bedah buku, dan sebagainya. Yang terbaru, mereka membedah buku Dimas Indiana Senja dan Faisal Oddang. Tidak hanya itu, KRS memunculkan penulis nasional, seperti A Muttaqin, Rury Astuti Prabawanti, dan Didik Wahyudi. Lalu memunculkan pula penulis muda, seperti Rizky Amir, dan Adi Nugroho. Salah satu buku puisi anggota KRS, Rizky Amir, berhasil lolos menjadi 15 naskah terbaik dari 800 naskah di Ubud Writers and Readers Festival. Pencapaian ini tentu tidak didapatkan dengan waktu yang singkat. Ada perjalanan panjang yang harus ditempuh. Ada dukungan dan bimbingan dari para sesepuh KRS. Mengingat KRS telah berdiri sejak 2003, 15 tahun lalu. Fakultas bahasa dan Seni memang tempat lahir dan berkembangnya komunitas ini. Namun KRS bersifat independen, sehingga keanggotaannya terbuka untuk

umum. Ada banyak mahasiswa FBS, namun ada pula beberapa mahasiswa yang bergabung juga dari luar FBS. Saat ini, anggota yang aktif di KRS sebanyak 25 mahasiswa. “Kami mendapat dana sebesar 10 juta. Rencana kami dalam waktu dekat, dana tersebut akan kami gunakan untuk membuat konsep ruang literasi, seperti warkop literasi. Ini bisa menjadi ruang untuk membaca, berdiskusi tentang novel, puisi, cerpen, musik, dan sebagainya� Ungkap Hembing Kriswanto, Ketua Komunitas Rabo Sore. Selain Kategori Komunitas Sastra yang diberikan kepada Komunitas Rabo Sore, terdapat pula beberapa kategori lain dalam Anugerah Sutasoma. Diantaranya Kategori Sastrawan Berdedikasi (Suwignyo Adi atau Titiek SA), Kategori Karya Sastra Indonesia Terbaik (Antologi Puisi Mawar Gandrung karya Muhammad Iqbal Baraas), Kategori Karya Sastra Daerah Terbaik (Antologi Geguritan Kidung Langit karya Nono Warnoto), Kategori Guru Bahasa dan Sastra Daerah Berdedikasi (Lilik Rosida Irmawati, guru SDN Pabian 1 Kecamatan Kota Sumenep), dan Kategori Esai atau Kritik Sastra Terbaik (Buku Sastra Multikultural: Konstruksi Identitas dan Praktik Diskursif Negara dalam Perkembangan Sastra Indonesia karya Ahmad Taufiq). n (DEWI S)


September - Desember 2018

9

Akademik

PROGRAM PERTUKARAN MAHASISWA NUSANTARA (PERMATA) DAN KISAH MEREKA YANG MENJALANINYA

FBS Kirim Lima Mahasiswa Program Pertukaran Mahasiswa Nusantara (Permata) merupakan program transfer kredit LPTK selama satu semester dengan tujuan mewujudkan calon pendidik profesional. Sesuai namanya pertukaran, para mahasiswa yang terseleksi program ini akan dikirim ke universitas-universitas eks LPTK yang ada di Indonesia. GUSTI NOOR AMRU HAFIZHAH PENDIDIKAN BAHASA JERMAN, PESERTA PERMATA

PENGALAMAN MENYENANGKAN

P KAWAN BARU: Beberapa peserta Permata tampak bahagia mendapat kawan baru dan ilmu baru serta pengalaman baru selama menjalani dan mengikuti program.

S

atria wicaksana, salah seorang koordinator program Permata di FBS mengatakan bahwa pembukaan seleksi program Permata dilakukan pada bulan April 2018. Selanjutnya, pemberkasan dan pendampingan terhadap mahasiswa yang lolos seleksi dilakukan pada bulan Juni. “Untuk proses pembelajaran Permata pada bulan Agustus,” terang mahasiswa seni rupa semester 7 itu. Lebih lanjut, Satria menjelaskan bahwa persyaratan mengikuti program Permata ini harus memiliki IPK minimal 3.00, kemudian mendapatkan persetujuan dari kajur dan dekan, serta mampu menguasai setidaknya budaya di Unesa untuk diperkenalkan ke universitas yang ditempati. “Program ini sangat bagus karena dapat menambah wawasan, memperbanyak ilmu, teman, pengalaman dan dapat dijadikan perbandingan antarkampus sehingga mampu menjadi bahan untuk mengembangkan Unesa,” terang Satria. Saat ini, peserta yang berkesempatan mengikuti program Permata di Unesa berjumlah 45 mahasiswa. Rinciannya, 7 mahasiswa ke UNNES, 7 ke UNY, 4 ke UNJ, 7 ke UM, 4 ke UPI, 2 ke UNIMA, 2 ke UNG, 2 ke UNP, dan 3 ke UNIMED. “Peserta dari FBS berjumlah 5 peserta dari beberapa jurusan yakni Gusti Noor Amru dari Bahasa Jerman yang dipertukarkan ke UNIMED, Dimas Wijayanto dari Bahasa Indonesia yang dipertukarkan di UNJ, Tintin Kusumowati dari Seni Rupa yang dipertukarkan di UNY, Abriani Ori Ratnasari dari Bahasa Indonesia yang dipertukarkan di UNY, dan Yoga Rifqi Azizan yang dipertukarkan ke UM. PENGALAMAN MENARIK Mengikuti program Permata merupakan pengalaman menarik bagi mahasiswa. seperti yang dituturkan Dimas Wijayanto, mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia prodi pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia mendapatkan kesempatan mengikuti program Permata di UNJ. Kesempatan bisa mengikuti program itu, tentu menjadi kebanggaan dan prestasi tersendiri bagi mahasiswa yang aktif berorganisasi itu. Dorongan untuk membanggakan orang tuanya, merupakan motivasi kuat bagi Dimas dalam mencapai prestasi. Termasuk, keinginannya mengikuti program permata atau pertukaran mahasiswa. “Alhamdulillah, saya berkesempatan dan terpilih mengikuti program pertukaran di UNJ,” paparnya. Sebelumnya, selain di UNJ ada pilihan

di UPI. Namun, dengan pertimbangan banyak hal, Dimas akhirnya memilih UNJ. Menurutnya, proses pembelajaran di UNJ cukup menantang. Selama 6 bulan berproses di UNJ, ia mendapatkan banyak hal. Selain ilmu, juga suasana belajar yang kondusif. Setelah mengikuti pertukaran mahasiswa se-nusantara itu, ia berharap dapat melanjutkan ke pascasarjana di luar negeri. Ia juga member semangat kepada adikadik mahasiswa agar tidak ragu mengikuti pertukaran mahasiswa nusantara. Sebab, jika mau berjuang dengan sungguh0sungguh, kesempatan untuk mengikuti program tersebut tentu sangat terbuka lebar. “Yang penting dicoba. Tidak ada salahnya mencoba. Tapi, harus diiring demham perjuangan dan doa,” pungkasnya. Sementara itu, bagi Abriani Ori Ratnasari yang merupakan mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang terpilih menjadi peserta PERMATA tahun 2018. Dia memiliki kesempatan belajar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) selama satu semester. Sebenarnya, ada 12 pilihan Perguruan Tinggi Negeri, namun perempuan yang akrab dipanggil Ori itu lebih memilih UNY. Salah satu alasannya, ia ingin mempelajari sastra dan budaya serta mengunjungi lebih banyak kawasan wisata. Ori mengakui, syarat menjadi mahasiswa PERMATA cukup banyak. Ada seleksi dokumen, wawancara dan administrasi. Seleksi administrasi berupa membayar biaya pendaftaran. Syarat dokumen berupa mengisi formulir pendataran dan menjawab beberapa pertanyaan. Seleksi wawancara berupa tanya jawab tentang program pertukaran dan budaya dalam bahasa Inggris. Ori berangkat ke UNY pada akhir Februari 2018 lalu. Selama di UNY, ia mengikuti banyak kegiatan, di antaranya Teater KRS-J, Lomba Menulis Puisi tingkat ASEAN, Festival Budaya Ohanna, dan Global Culture Festival (GCF) 2018 bertema Merangkai Relasi antarmahasiswa Lokal dan Mancanegara. “Saya lebih sering mengikuti beberapa program tanpa memberitahu siapapun. Jika lolos, saya baru memberitahu orangtua dan teman dekat. Orangtua selalu mendukung pilihan saya,” katanya. Selama di UNY, Abrini Ori sangat menikmati proses pembelajaran dan berbagai kegiatan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan di UNY juga menarik. Bahkan, Abriani Ori juga ikut serta dalam penyusunan buku transfer kredit UNY dan UNESA. n (SITI FILDA)

ERMATA merupakan program beasiswa kali pertama yang saya ikuti. Kali pertama pula, saya menginjakkan kaki di Kota Melayu Deli, Tanah Batak. Kebetulan, mata kuliah yang ditawarkan sesuai dengan mata kuliah yang saya ambil di Unesa. Saya berangkat dari Bandar Udara Internasional Juanda menuju Bandar Udara Internasional Kuala Namu bersama kedua teman baru saya dari dua fakultas yang berbeda, Khusnul dan Hanif. Saat hari keberangkatan, saya menggunakan koper cukup besar dan cukup berat. Banyak orang berkata, “wah, besar sekali kopernya. Mau kemana?” Sebelum check in, saya terbiasa untuk wrapping koper terlebih dahulu. Setelah wrapping, saya langsung menuju loket check in. Ketika koper diletakkan di penimbangan, koper saya melewati batas maksimum bagasi pesawat. Percayalah, selama packing dan membawanya ke bandara, saya yakin bahwa berat koper tepat di batas maksimum, yaitu 20kg. Tetapi penimbangan bagasi di loket check in berkata lain. Koper saya lebih berat 9kg dari batas maksimum dan mengharuskan untuk membayar denda sebesar Rp376.200,-. Setelah pengalaman yang cukup mencekik tabungan itu, pengalaman saya berlanjut sesampainya di Medan. Waktu jadwal sholat di Medan ternyata lebih mundur dari waktu di Surabaya. Selama dua minggu berada di Medan, saya tercengang karena matahari terbit pada pukul 06.25 WIB dan tenggelamnya pada pukul 18.41 WIB. Perkuliahan saya dimulai tiga hari setelah kedatangan di Medan. Perasaan gugup, senang, dan perasaan lain bercampur aduk di hari pertama kuliah. Perasaan tersebut berlangsung sekitar satu minggu. Penyesuaian diri saya mungkin terbilang cukup lama. 14 hari setelah hari kedatangan, saya menghadiri acara Penyambutan Mahasiswa PERMATA 2018 dari Rektor dan jajarannya serta dekan-dekan fakultas di UNIMED. Hal menantang yang masih berlanjut adalah jarak tempat tinggal menuju kampus. Dari asrama menuju Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) berjarak 1,3km. Tempat tinggal yang saya tempati adalah asrama kampus tetangga UNIMED, yaitu Universitas Medan Area (UMA). UNIMED

juga memiliki asrama, namun saat itu, asrama UNIMED tidak ada kamar kosong karena sudah penuh dengan mahasiswa PPG. Saya menantang diri sendiri untuk berjalan kaki dari asrama UMA menuju FBS selama berkuliah di UNIMED. Menurut saya, cukup berhasil menghadapi tantangan itu karena saya menggunakan angkutan umum menuju kampus hanya dua kali selama berkuliah di UNIMED. Saat ini, hampir semua PTN di Indonesia menggunakan kurikulum KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia). Tantangan kesekian yang saya hadapi selama berkuliah di UNIMED adalah 6 tugas wajib. 6 tugas wajib ini terkenal dengan sebutan tugas KKNI di UNIMED. Sesuai dengan namanya, mahasiswa wajib mengerjakan 6 tugas tersebut. 6 tugas tersebut terdiri dari Tugas rutin, Critical Book Review (CBR), Critical Journal Report (CJR), Rekayasa Ide (RI), Mini Research dan Project Hampir semua mata kuliah memiliki 6 tugas KKNI. 5 dari 6 tugas tersebut memiliki format yang sudah ditentukan. Tetapi, format tersebut dapat diubah oleh dosen masing-masing. Sebagai contoh, tidak semua jurusan memiliki format yang sama pada tugas CBR. Sebelumnya, saya tidak pernah membaca jurnal nasional maupun internasional. Namun dengan berkuliah selama satu semester di UNIMED diiringi dengantugas KKNI, saya berhasil mengumpulkan dan membaca 76 jurnal nasional maupun internasional. Tidak hanya berkuliah dan mengerjakan tugas KKNI, saya juga disibukkan dengan kegiatan yang dirancang oleh teman-teman PERMATA. PERMATA di UNIMED membuat tiga divisi yaitu budaya, olahraga, dan kerohanian. Divisi-divisi tersebut dibentuk agar dapat membuat program kerja yang bertujuan untuk mengenal lebih dekat teman-teman PERMATA yang datang dari universitas lain. Setiap divisi diisi oleh tiga komisaris yang bersedia untuk membuat kegiatan selama di Medan. Saya tergabung dalam divisi budaya. Salah satu motivasi saya untuk menjadi salah satu komisaris divisi budaya adalah membuat malam persembahan budaya. Dua komisaris lainnya untuk divisi budaya adalah dua mahasiswa dari UPI, Sifa dan Fadil. n

TORTOR: Gusti Noor Amru Hafizhah peserta Permata dari Pendidikan Bahasa Jerman Unesa (tengah) menari Tortor bersama mahasiswa nusantara lainnya.


10

Kabar Manca

September - Desember 2018

Kristin Novitasari Sukses Ikuti Program AIESEC

Wujudkan Ambisi, Student Exchange ke Jepang Man jadda wajadda, siapa yang bersungguh-sungguh pasti menuai hasil maksimal yang diperolehnya. Dan, itulah yang dialami Kristin Novitasari dalam menggapai mimpinya selama berkuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, FBS Unesa.

K

etika memulai kuliah, Kristin Novitasari sudah sangat berambisi bisa student exchange. Untuk memenuhi ambisi tersebut, mahasiswa angkatan 2014 jurusan Pendidikan Bahasa Inggris itu mengikuti berbagai program seperti program dari AIESEC, PCMI, dan Gotravindo. “Saya selalu aktif mencari info tentang exchange. Kebetulan, ada pencerahan dari salah satu dosen pendidikan Bahasa Inggris. Beliau menceritakan salah satu program exchange student yang hampir setiap tahuna ada perwakilan satu orang dari Unesa, yaitu NUPACE,” terangnya. Kristi mulai mencoba. Setiap tahun, iaa mencoba untuk apply. Alhamdulillah, hasil tidak akan pernah mengkhianati proses. Usaha dan doa yang dilakukan berbuah hasil. Ia mendapat beasiswa untuk student exchange saat harusnya sidang skripsi. “I should be really thankful,” ungkapnya. Ketika pengumuman, dan tahu menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia yang dapat student exchange scholarship, Kristin semula tak percaya. “Ngga percaya, bangga, takut, bingung, semua perasaan campur aduk saat itu,” paparnya. NUPACE (Nagoya University Programme for Academic Exchange) selalu dibuka setiap semester. Yang berminat bisa apply dan memilih, apakah mau satu tahun atau hanya 6 bulan. Setelah berhasil mendapat beasiswa itu, berbagai pertanyaan pun membanjiri Kristin. Mereka bertanya bagaimana caranya dapat beasiswa, apa saja persyaratannya, di sana nanti belajar apa, berapa beasiswanya, dan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan lainnya. Mengenai persyaratan mendapatkan beasiswa NUPACE adalah IPK minimum 3,5, writing (your study plan), dan TOEFL/ TOIEC/JLPT. Di Nagoya University, akan belajar sesuai jurusan. Mengenai beasiswa yang diterima, ada beasiswa JASSO dimana setiap bulan akan

mendapatkan 80.000 yen. It’s an amazing experience having a chance in Japan! Kristin merasa masih seperti mimpi bisa terpilih study exchange dengan beasiswa. Di tempatnya belajar dijamin bakal enjoy. “ 80 persen seneng, sedihnya 20 mungkin karena homesick aja,” paparnya. Pertama kali sampai di Jepang, Kristin sempat sedikit kaget. Subway track, misalnya membuat saya bingung sampai harus muter-muter di Meijo dan Higashiyama. “Tapi seru lah! If we never try we never know, iya kan?” ungkapnya. Di Nagoya, Krsitin tinggal di International Ohmeikan Dormitory. Ada banyak sekali welcome party dari dormitory dan juga dari NUPACE yap Jepang itu cultural never end, part never end. Mengikuti program itu, membuat Kristin semakin banyak dapat teman dari negara lain. Saling sharing tentang budaya, pengalaman, dan apapun itu dengan teman dari negara lain benarbenar menyenangkan. Yang paling seru, ketika ada di kelas bahasa Jepang karena masing-masing dari kita mempunyai cara pengucapan yang berbeda, terkadang ini terdengar lucu. Setiap weekend pasti ada saja aktivitas yang dilakan mulai main werewolf di lobby dormitory, explore Nagoya, pergi mencoba makanan makanan Jepang, main tenis, main truth or dare. “Ngga bisa bayangin kalau nanti waktu kita udah habis di Nagoya,” tutur Kristin. Selama di Nagoya, Kristin sangat enjoy. Orang Jepang ramah-ramah, disiplin tinggi, dan kreatif, untuk lunch saja mereka rela antre yang panjang. Jepang juga high technology. Selain itu, Jepang kaya akan budaya, cultural never end, party never end, ada saja pasti party, wawasan tentang bahasa dan even public speaking. “Kita bisa diimprove di sini karena akan ditrigger buat presentasi bahasa Inggris di depan sendirian, team work dengan berbagai teman dari berbagai Negara.” n(SIR)

ACTION: Kristin berpose di salah satu ikon Kota Nagoya, Jepang.

Forum Peneliti Profesional di Malaysia

Dua Mahasiswi Seni Rupa Go International Yuanda (kiri) dan Pipit Nurdiansyah (kanan) Berawal dari matakuliah Sejarah Seni Rupa Asia dengan dosen pengampu matakuliah Muchammad Bayu Tejo Sampurno pada semester 3, Yuanda Diea membuat jurnal kebudayaan. Kala itu, Pak Tejo memberi tahu Yuanda bahwa jurnalnya bagus yang mengulik tentang Jangkrik Genggong dan layak diikutkan lomba.

Y

uanda percaya diri. Semester berikutnya, Pak Tejo memberikan informasi untuk IMPAC 2018 yang diadakan Fakultas Seni Pertunjukan di Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) di Tanjung Malim Malasyia. Kebetulan, saat itu, temannya Pipit ingin ikut. Akhirnya, Yunanda menggandeng Pipit Nurdiansyah sebagai rekannya. Mereka memberanikan diri satu paper berjudul “Seen the Unseen from Jangkrik Genggong as Indonesian religious Performing Art.” Kebudayaan

yang diambil adalah kota Pacitan dan lokasinya tepi pantai. Pada 2 Mei 2018, mereka mendapat email bahwa abstraknya lolos dan diterima. Awalnya, ia ragu karena bahasa Inggrisnya kurang bagus, tapi dengan tekad kuat mereka pun pergi ke Malasyia. Di forum tersebut, pesertanya berasal dari berbagai negara seperti Filipina, Australia, Thailand, Afrika, Kazagstan dan negara lainnya. Tantangan ke depan bagi Yuanda adalah mereka akan mempresentasikan papernya di Malasyia dengan Bahasa Internasional. Ke depan, ia akan

mengasah pengalaman dan akademis pendidikan mereka, mengikuti pemakalah baik nasional maupun Internasional dan bisa melanjutkan Yuanda studi S2 di luar negeri. Mereka diundang ke Malaysia pada 12-17 November 2018. Mereka dibiayai penuh oleh pihak kampus Unesa mulai transport, regristasi dan hotel. Pesertanya dari peseliti profesional berbagai negara. Yuanda dan Pipit, meksi belum lulus S1 mendapatkan kesempatan berkat motivasi mereka. Menurut Yuanda, tantangan tersulit ialah membentuk mental bagaimana

status mahasiswanya yang belum lulus mendapatkan gelar S1 harus mengahadapi ajang kompetisi makalah Internasional. Baik Yuanda Pipit Nurdiansyah maupun Pipit mengakui bahwa orang-orang penting dalam sukses akademisi mereka adalah orang tua. Ditambah lagi, saran penelitian tersebut dari ibunda Yuanda yang menyarankan agar lebih mengangkat budaya sendiri. Selain orangtua, yang berperan penting adalah dosen Pak Tejo yang terkenal good looking dan ramah di kampus Unesa. Ia sangat berjasa atas berhasilnya Yuanda dan Pipit. n (ELLA P/ARUM N)


11

Prestasi

September - Desember 2018

Shalihah Ramadhanita

Pemakalah Muda di Seminar Internasional Artesh di ITB 2018

S

Shalihah Ramadhanita

alihah Ramadhanita, perempuan kelahiran Madiun 29 Januari 1998 itu berhasil lolos sebagai pemakalah Nasional Kebudayaan II yang diadakan oleh UB. Ia akan mempresentasikan makalah pada 7 November 2018 di jurusan Antropologi Universitas Brawijaya. Selain itu, ia juga lolos seminar Internasional ArtEsh di ITB pada 2018 dan dipresentasikan pada 2 Desember 2018 mendatang. Tidak hanya itu, Salihah Ramadhanita pernah lolos seminar nasional di Universitas Negeri Surabaya di jurusan seni rupa tahun 2016. Untuk judul yang diambil juga sangat antimainstram. Di antaranya “Representasi kerakusan Indonesia dalam komik desain ilustrasi manga One Piece chapter 651 halaman 11 (Sebuah Kajian Semiotika), Deskruptive Eksistensi Perupa Perempuan Surabaya Dalam Wacana Seni Rupa Indonesia, Analisa Semiotika ketergantungan perempuan dalam animasi bawang merah bawang putih (Semiotic of the Dependence of Women on Men in the Animation of Story of Bawang Merah Bawang Putih ”. Ia mengambil tema-tema tersebut karena tertarik makna esensi gender dan semiotika.

Saat menulis makalah-makalah tersebut, kendala yang dialami adalah terkait referensi. Sebagai pemakalah muda dan aktif di bidang tersebut baginya kesulitan apalagi di perpustakaan terbatas waktunya. Mengenai sistematika penulisan, baginya perlu pembiasaan agar lebih bisa meningkatkan kualitas menulis. Mahasiswi penggemar animasi dan membaca komik itu sangat tertarik dengan sosial, psikologi, media seni dan proses seniman dalam berkaryanya. Menurutnya, jika sudah fokus menulis ide tidak masalah. Hanya kendala membiasakan membaca lingkungan, berkarya seni, peka terhadap karya, pameran, diskusi dengan seniman, kurator bahkan mahasiswa laina maka ide akan muncul dan banyak membaca buku referensi. Salihah berharap, Unesa tetap akan mendukung baik dalam penciptaan atau kajian seni baik dari akomodasi dan akses perpustakaannya. Ia berharap semoga bisa konsisten dan bisa lebih percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki. “Semoga bisa menginspirasi teman-teman untuk berkarya atau mengkaji karya seni,” harap mahasiswa yang memiliki motto terus berfikir, terus belajar itu. n (ELLA P/ARUM N)

PRESTASI-PRESTASI MAHASISWA FBS DI AJANG REGIONAL DAN NASIONAL Sederet prestasi baik regional, nasional, dan internasional berhasil ditorehkan para mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya. Prestasi-prestasi tersebut didapat dari sebuah proses dan perjuangan yang tidak mudah. Berikut prestasi-prestasi tersebut.

ANNISA NURUL KARIYMAH RAIH JUARA 3 DESAIN POSTER PEKSIMIDA

S BAGUS AJI PAMBUDI, JUARA SATU LOMBA POSTER PEKSIMIDA

B

agus Aji Pambudi menorehkan prestasi membanggakan pada ajang Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jawa Timur. Mahasiswa jurusan Seni Rupa itu berhasil menjadi juara 1 lomba desain poster di ajang yang diikuti kampus-kampus ternama di Jawa Timur tersebut. Mulanya, sebelum ikut lomba poster Peksimida, atas saran satu dosen Unesa yakni Indah Chrysanti Angge, M.Sn, Bagus Aji mengikuti lomba desain poster seleksi Peksimitas dengan Tema Hoax. Ia mengangkat bagaimana Hoax yang menyebar begitu masif ke masyarakat. Dari peksiminitas itulah, ia kemudian berlanjut mengikuti lomba

desain poster tingkat daerah. Bagus Aji menuturkan, ketika ikut lomba ia hanya fokus berkarya sepenuh hati, tidak memikirkan hasil apakah juara atau tidak. Apalagi, even peksimida diikuti peserta-peserta terbaik dari kampus-kampus di Jawa Timur seperti Petra, Ciputra, ITS, UNM, UB dan lainnya. Peksimida Jawa Timur mengusung tema Merajut Budaya Bangsa. Bagus Aji mengambil ide Nusantara. Menurutnya, nusantara itu luas. Hal yang sering dijumpai di Nusantara adalah budaya Jawa dan Bali. Kedua budaya tersebut sering ditonjolkan. Namun, Aji lebih memilih budaya Kalimantan Barat, Ponorogo dan Papua. Ia ingin masyarakat lebih luas cara pandangnya, termasuk memperkenalkan reog sebagai budaya asli Indonesia. Melalui karyanya itu, mahasiswa kelahiran Surabaya 10 September 1996 itu ingin masyarakat lebih menghargai budaya-budaya yang ada Indonesia dari history perjuangan pahlawan daerah.n (ELLA P)

elain Bagus Aji Pambudi, mahasiswa FBS lain yang berhasil menjadi juara lomba desain poster Peksimida adalah Annisa Nurul Karayimah. Mahasiswi jurusan Desain Komukasi Visual itu berhasil mendapat juara ketiga. Sebelum mengikuti Peksimida, Annisa sempat menjuarai lomba di Eco Campus yang bertemakan Limbah dan mewakili Unesa ke tingkat Jawa Timur dan berlhasil menjadi juara 3. Mahasiswi semester 5 itu mengaku tidak seberapa mahir dalam digital. Hanya bisa beberapa saja yang dikuasai. Namun, konsep dan kualitas karyanya mampu menjuarai ajang bergengsi itu. Terbukti, ia berhasil menjadi juara even eco campus. Setelah juara di ajang Eco Campus, atas saran salah satu dosennya, Pak Rois, Annisa pun untuk ikut Peksimitas Unesa bertemakan Hoax. Di ajang itu, Annisa meraih juara 3. Selanjutnya, ia mengikuti peksimida yang mengusung tema Merajut Budaya Bangsa. Mahasiswi kelahiran 22 Juli 1998 itu mengangkat tema Toleransi yang saat ini mulai memudar. Annisa mengakui tidak mudah menorehkan prestasi di ajang

Annisa Nurul Karayimah

Peksmida karea peserta yang ikut berasal dari kampus-kampus terbaik di Jawa Timur baik negeri maupun swasta. “Saya berharap ke depan bisa membuat karya yang diterima masyarakat, bermanfaat dan anti mainstream,” tutur mahasiswi yang suka hobi menonton film dan mendengarkan musik. n (ELLA)


12

Prestasi

September - Desember 2018

MUHAMMAD MAHRUS RAIH JUARA 4 DESAIN POSTER PEKSIMIDA

TIM TARI UNESA RAIH JUARA PERTAMA PEKSIMIDA JATIM

S

atu lagi perwakilan FBS Unesa berhasil meraih prestasi di ajang Peksimida 2018 dari tangkai Lomba Desain Poster. Ia adalah Muhammad Mahrus. Mahasiswa angkatan 2015 berhasil mendapatkan juara ke-4 lomba desain poster peksimida Jawa Timur. Sebelumnya, Muhammad Mahrus di tingkat Peksimitas Unesa mendapat kategori

5 terbaik. Mahrus mengatakakan, peserta berjumlah 42 berasal dari semua universitas di Jawa Timur. Baginya, di sana tidak ada halangan karena biaya akomodasi sarana dan prasarana sudah difasilitasi Unesa. Mahasiswa yang mempunyai hobbi bermain keyboard tersebut ingin mempunyai usaha di bidang seni rupa. n (ELLA)

E

mansipasi Wanita merupakan tema dalam lomba tari Tingkat Jawa Timur. Tim tari Unesa mengangkat nilai tayub yang ada di kota Pacitan. Dengan anggota yang semuanya dari jurusan sendratasik, konsentrasi tari mereka diantaranya Hapsari Mustikaningrum, Prameiswara Yulian Baskoro, Ayoga Indhon Mahardika, Nanda Cahya Ardiyanto dan Moh.  Robithoh Anshori berhasil memboyong piala juara 1 Jawa Timur di Peksimida Oktober lalu. Sarana dan prasarana baik tempat latian yang meminjam gedung, alat-alat musik mereka meminjam alat sendiri atau mempersiapakan dari anggota tim tersebut. Bagi mereka tim di peksimida kemarin, saingan terberat adalah Universitas

Brawijaya dan Universitas Negeri Malang. Untuk ke depannya tim mereka akan mengikuti lomba lagi, walaupun beberapa dari tim tersebut angkatan 2015. Mereka sangat semangat dan berjuang hingga luar biasa, yang hanya sebatas kenal tanpa pernah menari bersama dan pihak kampus yang menunjuk mereka. Dan jawaban dari ikhtiar mereka, menjadi juara. Dimana waktu yang dikorbankan untuk keluarga, kuliah demi suksesnya acara Peksimida 2018. Menurut Hapsari, salah satu peserta yang hanya perempuan sendiri. Ia merasa proses peksimida ini sangat berkesan baik kebahagiaan, kesedihan, keterpurukan dan sakit yang menjadi satu. Karena Ia percaya proses tidak akan menghianati hasil dan tidak ingin membuat kecewa akan kesempatan ini. n

DELLA TIARA PARAMITHA JUARA SATU LOMBA NYANYI DANGDUT

D PEKSIMINAS KE-14 DI JOGJA, UNESA BAWA PULANG MEDALI

M

ahasiswa Unesa yang mewakili Provinsi Jawa Timur hanya mewakili beberapa tangkai perlombaan yakni lomba tari, lomba dangdut, lomba seriosa, lomba seni lukis, lomba poster, dan lomba komik strip. Setelah diumumkan kontingen, mahasiswa Unesa berhasil menyabet gelar juara. Dalam tangkai dangdut putri atas nama Della Tiara Paramitha memperoleh Juara 1, tangkai lomba komik strip atas nama M. Irsyadul Masluchi memperoleh juara 2, dan tangkai lomba tari yang diwakili oleh Hapsari, Prameiswara, Ayoga, Robithoh dan Nanda memperoleh juara 3. Sedang­ kan, untuk BPSMI Jawa Timur meraih juara 2 umum. Muhammad Irsyadul Masluchi yang berhasil membuat bangga Unesa akan hasil karyanya berbagi tips saat diwawancara Liwet. “Lakukan apapun yg kamu mau, dan

ketika kamu sudah memilih jangan pernah sedikitpun menyesalinya,” tuturnya meyakinkan. Mahasiswa kelahiran asli kota Surabaya, 19 Juni 1996 ini mempunyai target ke depan akan lebih antusias mengasah kemampuan untuk menambah jam terbang dengan mengikuti kompetisikompetisi seputar komik atau ilustrasi. Ia tidak puas akan hasilnya menjuarai Peksiminas tahun ini. Di perlombaan kemarin, ia mengalami kendala internal yakni sering kesulitan ide atau konsep yang bagus. Hal yang tidak disangakanya. Ia baru mendapat ide sewaktu mau lomba dan itu berimpit detik-detik menit menuju Peksiminas Oktober lalu. Baginya, semua peserta kemarin saingannya berat-berat, karena peserta peksiminas kemarin mahasiswa terbaik dari seleksi kampus daerahnya masingmasing. n

ella Tiara Paramitha membuat kagum dan haru untuk Unesa. Betapa tidak, selain ia dinobatkan sebagai putra-putri fakultas kategori putri bersprestasi 2016, kini Ia mendapat juara 1 Peksiminas dalam tangkai lomba dangdut putri di ajang perlombaan bergengsi di tingkat nasional bulan Oktober lalu. Mahasiswi Seni Rupa semester 5 itu sempat menangis lantaran merasa tidak puas dengan penampilannya saat peksiminas berlangsung. Namun, ternyata sangat bertolak belakang dengan apa yang dibayangka. Ia justru berhasil mendapatkan juara 1. Mahasiswi kelahiran Banyuwangi 20 Januari 1998 yang mempunyai hobi jalanjalan itu, saat ini memunyai aktivitas terbaru shoot live di salah satu stasiun dangdut di Jawa Timut. Sesuai motto hidupnya yang menyatakan hidup ini harus bermanfaat seolah menjadi jawaban atas perjalanannya meraih juara. Sebelum berlaga di ajang peksimida, Della mengikuti seleksi melalui Peksimitas. Ia berhasil menjadi juara 1 dangdut

putri tingkat universitas. Berbekal juara yang diraih di ajang Peksimitas, Della berlanjut ke tingkat Jawa Timur atau Peksimida. Ia pun berhasil meraih juara 1. Selain kuliah, Della selalu mengikuti perlombaan menyanyi. Ia juga kerap tampil di acara kampus atau luar kampus, menjadi guru vokal dan mengajar di salah satu sekolah di Surabaya. Baginya, Unesa telh memberikan wadah yang sangat baik untuk mengembangkan bakat setiap mahasiswa. Oleh karena itu, ia berharap kepada adik tingkat dan mahasiswa yang ingin berprestasi untuk menekuni hobi karena bisa mengubah hidup. Pada ajang Peksiminas nanti, seluruh provinsi mengirimkan delegasinya. Ia mengaku peserta dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan adalah saingan terberatnya. Setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing. Ia terkesan dalam peksiminas kemarin yang sangat luar biasa. Tidak hanya pengalaman dan ilmu baru yang didapat, Della juga mendapatkan teman baru. Mereka semua, mahasiswa yang sama-sama berjuang untuk tujuan yang sama, ingin maju.

Della sangat bersyukur bisa mengikuti ajang tersebut dan berhasil menjadi juara. n (ELLA)


13

Event FBS

September - Desember 2018

SEMINAR NASIONAL SENI DAN DESAIN KONVERGENSI ERA 4.0 92 penulis. Seminar nasional tersebut dibuka Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, Prof. Dr. H. Bambang Yulianto, M.Pd. Dalam sambutannya, Dekan menyampaikan pentingnya sebuah literasi baru baik dalam literasi teknologi, data, manusia humanistik dan juga desain. Oleh karena itu, Dekan berharap, kurikulum FBS ke depan bisa dipadatkan mengikuti era 4.0. “Semoga acara ini berkah dan bermanfaat,” harap Dekan. Acara tersebut dimoderatori Dr. Djuli Djati Prambudi, M. Sn. Prof Dr Muchlas Samani, MPd menyampaikan bahwa teknologi baik penggunaannya dan penciptaan karya teknologi digital begitu sangat cepat. Oleh karena itu, dibutuhkan fast learning untuk mencari masalah dan

memvalidasi informasi, menganalisis dan berkolaborasi dengan baik. Sementara itu, Intan Rizki Mutiaz membawakan materi “Inovasi Desain Berbasis Budaya dan Nusantara.” Narasumber lainnya adalah I Wayan Kun Adyana yang juga seorang seniman dan dosen ISI Denpasar Bali yang memulai kiprahnya sebagai kurator dan seorang penulis. Narsum berikutnya adalah Husen Hendriyana sebagai penanggung jawab seni budaya kota Bandung dan juga reviewer jurnal di Malasyia. n (PENULIS : ELA PRASETIYA, PHOTOGRAPHER: ARUM NOVITASARI)

WAWASAN: Dekan FBS Prof Bambang Yulianto menyampaikan sambutan dalam seminar nasional seni dan desain konvergensi era 4.0.

SEMINAR: Para pembicara bersama pejabat FBS yang tampil dalam seminar nasional seni dan desain konvergensi era 4.0 yang diselenggarakan oleh Jurusan Seni Rupa FBS Unesa.

J

urusan Seni Rupa FBS Unesa menggelar seminar nasional Seni dan Desain Konvergensi Era 4.0 pada Kamis, 25 Oktober 2018 di Auditorim FBS Unesa. Seminar tersebut menghadirkan berbagai pakar, yakni Prof. Dr. Muchlas Samani, M.Pd (ahli bidang pendidikan teknologi dan vokasi dari Unesa), Dr. Intan Rizky Mutiaz, M.Ds (ahli desain media digital dari ITB), Dr. I Wayan Kun Adyana, M.Sn (ahli kajian dan penciptaan seni rupa dari ISI Denpasar) dan Dr. Husen Hendriyana, S.Sn, M.Ds (pengelola jurnal seni budaya, ISBI Bandung). Muhamad Rois Abidin, S.Pd, M.Pd, ketua pelaksana acara seminar nasional

mengatakan bahwa seminar tersebut diselenggarakan dalam upaya untuk memberikan wawasan, terutama kepada para mahasiswa agar menumbuhkan semangat memprovokasi mahasiswa, khususnya seni rupa dan desain untuk menjawab tantangan era 4.0 baik dalam disiplin ilmu atau persiapan bekal ke depan. Selain dihadiri mahasiswa Unesa, Rois menyampaikan bahwa seminar tersebut juga dihadiri mahasiwa lain seperti UPN, Telkom University, UK Petra, SMKN 12 Surabaya, Universitas Multimedia Nusantara, Universitas Negeri Semarang dan masih banyak lagi. Dalam seminar nasional, terkumpul 49 judul makalah dari

GELIAT FESTIVAL BAHASA INDONESIA 2018

MENJADI AJANG KREASI DAN PRESTASI SISWA SMA/SMK SE-JAWA TIMUR

F

estival Bahasa Indonesia (FBI) 2018 yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (HMJBSI) Universitas Negeri Surabaya sukses menjadi ajang kreasi dan prestasi siswa SMA/SMK se-Jawa Timur. Festival Bahasa Indonesia (selanjutnya disingkat FBI) merupakan acara tahunan yang diselenggarakan dalam rangka memeringati bulan bahasa. Bulan bahasa bertepatan pada bulan Oktober, sehingga acara FBI diselenggarakan pada 13 Oktober 2018. Acara ini dilaksanakan di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya. Tema FBI 2018 adalah “ciptakan inovasi, kembangkan kreasi, wujudkan insan berprestasi”. Sebagai generasi muda penerus bangsa, khususnya siswa SMA/SMK, harus mampu menciptakan inovasi dengan mengembangkan kreasi, selanjutnya dapat menjadi generasi yang berprestasi. Tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tapi juga bidang non-akademik. Lomba yang diadakan di FBI ini, diantaranya: lomba debat, baca berita, mendongeng, musikalisasi puisi, dan jurnalistik 3 Dimensi. Ada pula lomba yang baru diadakan pada tahun ini adalah lomba film pendek untuk siswa SMA/SMK. Selain itu ada pula lomba menulis cerpen dan lomba menulis esai untuk siswa SMA/SMK dan Mahasiswa. Jumlah peserta yang berpartispasi meningkat dari tahun lalu. Lomba yang dilaksanakan di Fakultas Bahasa dan Seni pada 13 Oktober ini dihadiri oleh 217 siswa

dan 42 pendamping. Lomba debat diikuti 72 peserta (24 kelompok), lomba baca berita diikuti 24 peserta, lomba mendongeng diikuti 15 peserta, lomba musikalisasi puisi diikuti 79 peserta (16 kelompok), dan lomba jurnalistik diikuti 27 peserta (9 kelompok). Ditambah peserta yang berpartisipasi pada lomba film pendek, lomba menulis cerpen, dan lomba menulis esai yang tidak perlu hadir di FBS. Karena pengiriman dan pengumuman pemenang melalui internet. Namun para pemenang tetap diundang untuk mengikuti pembagian hadiah pada akhir acara. “Harapan kami, siswa SMA/SMK semakin mencintai bahasa, seni dan budaya Indonesia. Selain sebagai ajang kompetisi dan mencari prestasi yang dapat meningkatkan kebanggaan diri, kami juga berharap siswa mendapatkan ilmu dan wawasan yang luas mengenai bahasa, seni dan budaya. Kita harus bangga dan menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan seperti dalam sumpah pemuda. Terlebih lagi, saat ini telah memasuki MEA dan Revolusi Industri 4.0. Sehingga kami berharap bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa yang digunakan di tingkat internasional” Ungkap Erlu Ficky Hariyanto, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Tidak hanya Festival Bahasa Indonesia, JBSI juga menggelar Seminar Literasi V untuk memeringati bulan bahasa. Seminar Literasi V bertema Literasi di Era Disrupsi yang diselenggarakan pada 28 Oktober 2018. n (DEWI SOFIA SUNARINGATI)

Semarak Festival Sendratasik

J

urusan Menururt Arif Sendratasik Hidayat, ketua Fakultas pelaksana sekaligus Bahasa dan pendamping Seni Unesa, kemahasiswaan tak mau ketinggalan Sendratasik dalam berkarya. Untuk mengatakan bahwa memupuk kreativitas Festival Sendratasik dan kompetensi, merupakan ajang digelar berbagai untuk menumbuhkan kegiatan kreatif dalam greget dan semangat rangkaian tema besar mahasiswa melalui Festival Sendratasik. kegiatan-kegiatan Ada berbagai produktif dan kreatif. kegiatan di ajang Arif menjelaskan, Festival Sendratasik kegiatan Festival yang berlangsung Sendratasik dibawahi mulai 13 s.d 26 Oktober langsung oleh HMJ Arif Hidajad, S.Sn., M.Pd 2018. Di antaranya, Sendratasik, yang di Pembina Kemahasiswaan lomba pantomin, lomba dalamnya mencakup Sendratasik Unesa baca puisi, festival teater KKM musik, tari, dan pelajar, festival tari teater. Mereka mencoba band, lomba keroncong dan berbagai untuk mengaktualisasikan diri dalam kegiatan seminar. kegiatan tersebut. Prodi tari membuat Festival Teater Pelajar 2018 Tingkat festival tari. Prodi musik membuat festival Nasional, misalnya, mengagendakan band dan keroncong. Dan, prodi teater tiga tangkai perlombaan yakni lomba membuat festival teater pelajar. teater, lomba puisi, dan pantomin Sebagai pembina kemahasiswaan, Afif yang diselenggarakan pada 16 sangat mengapresiasi para mahasiswa Oktober 2018. Untuk kegiatan lomba yang mampu mengelola even tersebut baca puisi dan pantomin dilaksanakan dengan baik. Arif berharap, selain di BG Junction Mall Surabaya. kegiatan tersebut dapat membangun Sementara untuk lomba teater, citra universitas, fakultas dan jurusan pelaksanaannya berlangsung sejak Sendratasik untuk mendekatkan ke tanggal 23 Oktober 2018, dan malam sekolah-sekolah, para mahasiswa juga puncaknya pada tanggal 26 Oktober bisa belajar menjadi entrepreneur 2018 di Gedung Sawunggaling melalui even organizer. Kampus Unesa Lidah Wetan. “Saya bahagia dan salut terhadap Tema yang diusung pada Festival semangat teman-teman KKM dan HMJ. Sendratasik adalah Ekologi Seni dalam Ke depan, saya ingin menyelenggarakan Industri Kreatif. Tema ini diambil sebagai festival sendratasik tingkat nasional bentuk penyesuaian seni dan budaya bekerja sama dengan asosiasi AP2 Seni di era modern, serta untuk menjaga (Asosiasi Pendidik Prodi Sendratasik eksistensi seni dan budaya, utamanya di Indonesia),” tandasnya. n (PENULIS : ELA kalangan pelajar. PRASETIYA, PHOTOGRAPHER: ARUM NOVITASARI)


14

Event FBS

September - Desember 2018

SEMARAK FESTIVAL BAHASA DAN SENI 2018

B

erbagai lukisan unik tergantung sudut ruangan. Dentuman musik membias di gedung pertunjukan. Beragam tarian dan teatrikal siap mengguncangpengunjung yang telah rela antri panjang. Segudang karya nampak, sejuta prestasi diapresiasi. Begitulah gambaran acara Festival Bulan Bahasa dan Seni yang digelar di Gedung Pertunjukan (GP) Sawunggaling pada Minggu (11/11). Bulan Oktober – November memberi kesempatan Fakultas Bahasa dan seni (FBS) untuk unjuk taring. Dengan mengusung tema “FBS Berkarya”, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dibuat membara karena disulut oleh beragam prestasi, potensi dan kreativitas mahasiswa bahasa dan seni. Acara ini menampilkan karya luar biasa mahasiswa FBS. Pengunjung festival tak akan bosan, karena penampilan memukau dari masing-masing jurusan di FBS siap memanjakan mata pengunjung. Diantaranya adalah Tari Yosakoi, Dramatisasi Puisi, dance, keroncong, wayang, pantomin, Tanzen, teatrikal live painting, dan tari Zhu Huan. Untuk menambah wawasan mengenai apa itu bulan bahasa dan seni, diadakan juga talkshow, yang terdiri dari tiga pemateri, yakni Bambang Yulianto (Dekan FBS), Slamet Setiawan (Wakil Dekan II), dan Syamsul Sodiq (Wakil Dekan III). “Serangkaian acara peringatan Bulan Bahasa dan

Seni ini dilatar belakangi oleh isi Sumpah Pemuda 1928 yang salah satunya menjunjung bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa. Karena Sumpah Pemuda jatuh pada bulan Oktober, maka bulan bahasa pun demikian”, Ujar Bambang Yulianto, selaku Dekan FBS Unesa saat menjadi pembicara Talkshow pada acara tersebut. Ia menambahkan bahwa pada mulanya peringatan bulan bahasa merupakan agenda tahunan Jurusan Bahasa Indonesia, yang kemudian ditularkan spiritnya ke lingkup fakultas. Sehingga konteks perayaan bulan bahasa meluas, menjadi Peringatan Bulan Bahasa dan Seni. Peringatan Bulan Bahasa dan Seni dimulai sejak tanggal 4 Oktober 2018 sampai dengan 30 November 2018. Hal ini membuat kampus FBS tiap akhir pekan tak pernah sepi. Tercatat ada 71 acara yang digelar dalam kurun waktu tersebut. Tempat pelaksanaannya pun tersebar di empat titik strategis FBS, yakni Auditorium, Joglo, Parkiran, dan Gedung Pertunjukan Sawunggaling.

“Festival Bulan bahasa dan seni merupakan wadah kreativitas mahasiswa dalam mengembangkan potensinya, baik akademik maupun non akademik”, ujar Bambang yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik. Benar saja, prestasi mahasiswa FBS juga digaungkan dalam acara ini. Prestasi kancah Internasional dan Nasional disambut semarak oleh pengunjung, beberapa diantaranya ialah perolehan medali emas oleh Grup Paduan Suara Gita Pramawisesa pada festival paduan suara internasional di Bali, Kategori Presenter tebaik PKM-M di PIMNAS 31 Yogyakarta, Juara 1 Dangdut Putri PEKSIMINAS, dan juara 2 komik Strip PEKSIMINAS. Dengan diadakannya festival peringatan bulan bahasa dan seni ini diharapkan dapat memicu mahasiswa FBS khususnya untuk melahirkan karya dan prestasi yang gemilang dan membawa kebermanfaatan di masyarakat. Karena mahasiswa sepatutya banyak karya, bukan banyak gaya. Menorekkan prestasi, bukan haus sensasi. n (IIS SETYAWATI / JBSI 2016)

TALK SHOW: Dekan FBS Prof. Dr. Bambang Yulianto, M.Pd didampingi Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Dr. Syamsul Sodiq, M.Pd, dan Wakil Dekan II Slamet Setiawan, M.A., Ph.D. menjadi pembicara utama dalam Talk Show Festival Bahasa Indonesia, FBS Unesa. PANGGUNG: Searah jarum jam dalam foto bawah antara lain aksi musik dan bernyanyi, dilanjut tarian khas yang diperagakan oleh para mahasiswa lintas jurusan, dan pameran lukisan.


Human Interest

September - Desember 2018

15

Kisah ‘Pahlawan’ Pompa Air Unesa

Tujuh Tahun Mengabdi Tiada Henti, Diganjar Jadi Pegawai Namanya sederhana. Sahid. Ia lahir di Sumenep, Madura 21 Desember 1979. Sudah tujuh tahun, ia mendedikasikan hidupnya untuk melayani kebutuhan air se-Unesa sebagai petugas penjaga pompa air. Demi menjamin pasokan air di Unesa tetap lancar, bertahun-tahun Sahid tidur di rumah pompa Unesa. Seperti apa lika-liku kisahnya?

S

ahid masuk ke Unesa berawal dari perkenalannya dengan Pak Toha, salah satu satpam Unesa. Ia ditawari pekerjaan menjadi cleaning service cutting rumput di kampus Unesa Lidah Wetan. Tawaran itu, ia terima. Jadilah, Sahid bekerja sebagai karyawan lepas. Seiring berjalannya waktu, Sahid melihat Unesa ternyata belum punya orang atau pegawai tetap yang memantau dan mengurus perairan di kampus Unesa. Tanpa pikir panjang, dengan niat yang tulus ia pun bersedia mengurus pompa dan perairan. Setahun, dua tahun berjalan, ia memeperjuangkan asanya untuk profesi yang dijalankan kepada pihak kampus Unesa. Belum ada jawaban. Namun, Sahid tak patah arang. Meski banyak orang yang mencibirnya karena pekerjaannya tidak dihargai, Sahid tetap bekerja menjaga pompa air meski hingga bertahun-tahun nasibnya belum jelas. Bahkan, beberapa teman karibnya menyarankan agar tidak terlalu menggebu atau baik hati pada perairan kampus Unesa. Namun, di balik semua ungkapan itu, Sahid tetap saja kukuh dan menjalankan apa yang dilakukan. Ia yakin jika dijalani dengan hati yang tulus, keberkahan hidup akan didapat. “Kalau tidak menimpa saya, mungkin anak turun saya nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari saya,” paparnya.

DUKUNGAN KELUARGA Meski profesi yang dijalankan Sahid, hanya sebagai cutting rumput, namun ia tetap menjadi kebanggaan anak dan isterinya. Bahkan, agar perekonomian keluarga bias tetap terjaga, istrinya, Asih tak canggung-canggung membantu dengan bekerja serabutan sebagai penyedia keperluan kampus seperti acara seminar, kemahasiswaan dan lain-lain. Sahid, yang sudah dikaruniai tiga anak yakni Raudhotul Jannah, Duddin dan Yusron mengaku dukungan keluarga menjadi pilar penting dalam menjalani kehidupan. Karena dukungan keluarga itulah, meski bertahun-tahun belum mendapatkan kepastian terkait status kepegawaiannya, Sahid tetap menjalankan dengan tulus dan ikhlas tanpa berharap imbalannya seperti apa. Sahid mengakui bahwa bertugas menjaga pompa air Unesa bukan pekerjaan yang sepele. Dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan dalam menjalankan tugas tersebut. Dalam sehari, tak jarang Sahid harus bolakbalik ke suatu tempat untuk mengontrol pompa air dan mengecek pompa. Bahkan, kalau ada gangguan, dalam satu jam bisa lebih dari 7 Sahid harus mondarmandir ke lokasi yang sedang mengalami gangguan tersebut. Sahid mengatakan, walaupun ada orang yang bisa mengganti pekerjaannya itu, tapi tidak semua orang sanggup

JAGA AIR: Sahid di rumah pompa yang dijaganya siang-malam. Berkat ketelatenannya merawat dan menjaga pasokan air di rumah pompa, warga Unesa di Kampus Lidah Wetan tidak sampai kekurangan air.

menjalankannya. Sebab, menjadi penjaga pompa air dibutuhkan kesiapsiagaan pagi siang bahkan malam. “Jam 12 atau jam 1 malam hingga shubuh harus mengecek pompa di rumah pompa dan beberapa tempat sudut kampus,” teran Sahid. Hal yang pernah membuat Sahid terenyuh adalah saat pulang ke Kediri, ia ditelpon pihak asrama karena air mengalami kendala. Dengan agak berat hati, Sahid yang berada di Kediri langsung kembali ke Surabaya. “Melakukan suatu kebaikan asal kita ikhlas akan berkah,” tegasnya. DUKUNGAN WD II FBS

TELATEN: Sahid merawat dan mengoperasionalkan mesin pompa demi terjaganya pasokan air untuk warga Unesa di Kampus Lidah Wetan.

Sejak 2010 hingga 2018, keinginan Sahid untuk mendapat status kepegawaian yang jelas di Unesa mulai terwujud. Semua itu, tak lepas dari bantuan Wakil Dekan Keuangan dan Umum FBS Drs. Slamet Setiawan, M.A, Ph.D. Awal Januari 2018,������������������������������� Sahid mem��������������������� ������������������������ berani��������������� kan diri������� mengajukan asa ke WD II FBS. Tersentuh dengan perjuangan yang sudah dilakukan, Slamet

Setiawan pun berjuang agar Sahid segera mendapatkan pengakuan kepegawaian yang jelas. Akhirnya, dengan perjuangan itu, Sahid mendapat kebijakan kampus Unesa untuk tinggal di rumah pompa dan diangkat sebagai pegawai kampus Lidah Wetan Unesa. “Haru dan tidak menyangka bahwa penantian saya selama 7 tahun berbuah hasil manis. Saya semakin fokus dengan profesi saat ini. Mengontrol air dan rumah pompa untuk kebutuhan air di setiap sudut kampus,” paparnya. Selama menjadi penjaga pompa air, tak sedikit hambatan yang dialami. Ia kerap menjadi sasaran kesalahan jika terjadi kendala air mati di kampus. Namun, ia tetap berusaha untuk terus memperbaiki diri dan menmukan jalan terbaik. Sahid, yang Desember ini genap berusia 39 tahun berharap, Unesa khususnya FBS, dapat lebih baik sarana dan prasarananya sehingga semakin memudahkan sivitas akademika. n (ELLA P)


16

Alumni

September - Desember 2018

JALAN HIDUP DIDIK SUPRAYITNO, ALUMNI FBS UNESA, STAF AHLI KEMENDAGRI

Semua Bermula dari Tekad Kuat untuk Meraih Kesuksesan Orang sukses bukan yang tak memiliki rintangan dalam kehidupan. Justru, orang sukses adalah mereka yang berhasil melampaui banyak rintangan dan permasalahan sehingga membentuk jiwa yang kuat dan kokoh. Begitu pula yang dialami Dr. Didik Suprayitno, M.M, alumni Jurusana Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unesa yang kini sudah melalangbuana dengan berbagai jabatan yang

S

ejak tahun 1990, Didik, demikian panggilan akrabnya, sudah berkiprah di berbagai jabatan baik di TNI AU dan Departemen Dalam Negeri. Bahkan, staf ahli di kemendagri ini sempat ditunjuk menjadi Pjs Gubernur Lampung. Tentu, semua kesuksesan yang diraih itu tidak didapatkan dengan mudah. Butuh perjuangan yang kuat untuk meraihnya. Kisah perjuangan Didik hingga meraih sukses patut jadi inspirasi. Keterbatasan ekonomi, bukan jadi penghalang untuk meraih suskses. Beliau terlahir dari keluarga kurang mampu. Karena kondisi keluarga yang pasa-pasan, sewaktu hendak masuk perguruan tinggi negeri, beliau sempat tidak mendapatkan izin dari orang tua karena faktor biaya. Didik sadar akan keterbatasan orangtuanya. Namun, beliau tidak lantas putus asa. Didik mencari jalan bagaimana dapat mewujudkan keinginannya melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri. Usaha keras yang dilakukan Didik, berhasil. Dengan bekerja sendiri, Didik mendapatkan uang untuk biaya pendaftaran masuk perguruan tinggi negeri. Didik lolos seleksi dan diterima di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia pada tahun 1981. Bahkan, ia berhasil meraih beasiswa. TEKAD KUAT Selama kuliah, karena keterbatasan keuangan, Didik harus kuliah nyambi kerja sampingan. Itu dilakukan agar kuliah yang ditempuh dapat diselesaikan sehinga impiannya

disandangnya. menjadi sarjana bisa terwujud. Meski disibukkan dengan kerja sampingan, Didik senantiasa mengasa potensi dirinya dengan beraktivitas tidak hanya kulia, tapi juga ikut berbagai organisasi ekstra di antaranya kegiatan pramuka, paduan suara, dan drama. Unit Kegiatan Mahasiswa, lebih dipilih oleh Didik untuk meningkatkan potensi diri dibandingkan dengan mengikuti HMJ atau BEM. Didik beralasan kegiatan UKM tidak membutuhkan waktu banyak. Beda dengan HMJ atau BEM yang memerlukan waktu banyak karena kegiatan-kegiatan yang padat. UKM yang dipilih pun disesuaikan dengan yang sekiranya tidak mengganggu kuliah dan kerjanya. Semua itu dapat dilakukan oleh Didik lantaran dijalani dengan tekad yang kuat hingga lulus kuliah. Tekad kuat dan kegigihan Didik sewaktu menuai hasil begitu lulus kuliah. Lulus dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unesa tahun 1990, beliau diterima di TNI AU. Di kesatuan matra udara itu, beliau mendapatkan amanah mengajar Bahasa Indonesia. Selain mengajar, berbagai macam aktivitas di TNI AU dijalani semaksimal mungkin. Karena keaktifannya di berbagai kegiatan TNI AU, ketika dari Departemen Dalam Negeri Indonesia meminta beberapa anggota TNI AU untuk mendaftarkan ke Departemen Dalam Negeri, Didik salah satu orang yang ditunjuk mewakili TNI AU. Akhirnya, beliau menjadi anggota Departemen

ALUMNI: Dr. Didik Suprayitno, M.M, alumni Jurusana Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Unesa bersama Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaa dan Alumni FBS Unesa saat menghadiri Wisuda di GOR Bima Unesa Kampus Lidah Wetan Surabaya.

Dalam Negeri. Bahkan, pada 15 Februari 2018 beliau diutus menjadi Pjs Gubernur di Lampung. Hasil memang tidak akan bernilai manis tatkala tak ada

tekad kuat dalam menjalani hidup. Berani berubah dan berani melawan arus ritmen kehidupan itulah yang dijalani oleh Didik Suprayitno. Usaha tak akan menafikkan usaha.

Rintangan pasti ada. Namun, jika dijalani satu demi satu dengan diiringi doa, insyaallah kesuksessan akan datang mengiringi. n (RIF’AH)

Profile for FBS-Unesa

Lidah Wetan  

Advertisement

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded