Issuu on Google+

APRIL/MEI RP22,500.- (LUAR P. JAWA RP25,000.-)

THE OTHER SIDE OF:

NICHOLAS SAPUTRA THE FORGOTTEN: BERJIBAKU BERTAHAN HIDUP

LUCKY NO.7

NASIONALISME EASY BREEZE EDGE OUT

DONGENG NEGERIKU 1


2 FAR APRIL/MAY 2009


3


4 FAR APRIL/MAY 2009


content

ON THE COVER PERSON OF THE MONTH The Other Side Of: NICHOLAS SAPUTRA

ARTWORK BUNCH Eveline Tarunadjaja Ricky Malau Madness

FEATURES

ISSUE 1 COVER Photografer: Niki Yusuf Saputra Make Up: Tarita Kowara Clothes: Personal FAR Magazine

NATION ON A MISSION DONGENG NEGERIKU LUCKY NO. 7 FASHION ARTICLE THE FORGOTTEN

Berjibaku bertahan hidup

STREET SHOUT

SPECIAL FEATURES EVENT

Pray Untill Sundaze

IN MY CLOSET Rian & Nissa “Omelette” FOREIGN EXCHANGE: Brooklyn Baby

UPCOMING YOUNG: Mark Soetantyo

Editor Ade Kurnia Bungawati

HOT SPOT: Cheting

Art Director Dyane Bratakusumah

FAR THINGS

Marketing/Public Relations Aditya Gerhard Gya Anandini Hardono

QUIRK

Admin/Finance Gita Yudistari

RANT

ED’S LETTER

Finance Advisors Eddy Suherry

CONTRIBUTORS

Publishers 7 Warna PT. Farabi Centaur Chiron

5


JOVAN SYOFYAN

contributors

Pemuda asli kelahiran Padang yang sangat fashionable ini telah berhasil memperluas pergaulannya dan pendidikannya. Saat ini Jovan tengah disibukkan oleh kuliah bisnisnya di La Guardia College, New York. Supel serta memiliki cita rasa yang baik soal fashion dan seni membuatnya sangat disukai teman-temannya, hingga FAR sekalipun. Kami memintanya untuk menangkap berbagai keindahan di kota tempat tinggalnya sekarang untuk Foreign Exchange.

EDO DADYKA

Kreatif, sinting, abstrak dan juga memiliki pengetahuan yang luas akan nilai-nilai sosial kehidupan. Luas dalam arti yang sebenarnya, mungkin karena Eddo ini memiliki minat yang amat besar dalam ‘membaca’. Mantan redaktur pelaksana visual pada salah satu majalah seni rupa ini adalah orang yang bertanggung jawab dalam digital-imaging semua foto-foto hasil bidikan fotografer Ferdiriansyah di rubrik fashion spread. Saat ini ia bekerja sebagai art director pada sebuah agency iklan dan mulai merintis sebuah kedai kopi. (+62) 856.8989.2w27 kurodakampe.multiply.com dadyka.viewbook.com

NIKI YUSUF SAPUTRA

Niki yang dulunya menjadi seorang asisten fotografer kini memberanikan diri menunjukkan siapa dia sebenarnya dengan membuat sebuah brand atas namanya sendiri yaitu NYSphotography. Selain itu, Niki juga sering ditemukan sedang mengisi beberapa panggung underground ibukota sebagai gitaris bersama bandnya yang beraliran metal yaitu Jakarta Flames(JF). Penasaran atas nyali fotografinya, lihatlah hasil bidikan kameranya pada Person of the Month kami kali ini.

RICO BRADLEY

Ia adalah seorang penulis, aktor, sutradara dan produser yang bercita-cita ingin menjadi sumber inspirasi bagi anak muda Indonesia. FAR mengakui itu. “Kreativitas tidak mengenal batasan, namun tetap harus dapat dipertanggung jawabkan,” pesannya. Sosoknya yang rendah hati dan royal dalam membagi ilmu adalah caranya merangkul orang-orang yang punya passion. Pria yang mengidolakan Leonardo Da Vinci, Jihan, Picasso, Ernest Hemingway serta Pramoedya MT ini tengah mengajar penyutradaraan di Next Film Academy dan puisi-puisinya yang penuh makna tersimpan di notes Facebooknya. Dalam edisi ini, FAR mendapat kehormatan karena Rico telah ‘berbagi cara pikir’nya melalui “SEMAIL… (SMILE)”.

nikiyusufsaputra@yahoo.com +6221 937 15074 +6281 816 3738

TARITA KOWARA

NAMI TACHRIL

FAR langsung terperangah saat Tarita mengirimkan foto-foto hasil riasannya yang berdarah-darah. Sempurna sekali. Kami langsung menghubunginya saat itu juga untuk membuat pulasan babak belur diatas wajah tampan Nicholas Saputra. Wanita eksentrik yang menyukai musik-musik cadas seperti Iron Maiden dan Dubsteps ini adalah wanita yang tepat disaat yang tepat bagi seluruh penghuni FAR.

Gadis berusia 18 tahun ini adalah adik dari chief editor FAR. Saat ini ia sedang menuntaskan kuliahnya di New York Institute of Technology (NYIT) jurusan Bachelor of Science of Architectural Technology. Nami memiliki ketertarikan yang besar pada arsitektur, fotografi dan seni teater. Simak hasil tulisannya pada halaman Foreign Exchange. Dan Nami is Single and ready to Mingle!

FERDIRIANSYAH

FAR menghubunginya satu bulan setelah ia pulang dari berbulan madu bersama istrinya. Pria kelahiran 20 Agustus 29 tahun silam ini, menekuni fotografi secara otodidak sejak masih kuliah dan belajar langsung dari orang-orang yang sudah berpengalaman. Mengaku sangat menyukai fashion photography dan awal karirnya dilalui dengan menjadi fotografer fashion untuk beberapa majalah serta menjadi fotografer di acara-acara pernikahan. Dua tahun belakangan ini, Ferdi -panggilan akrabnya- mulai menyukai commercial photography dan sudah mengerjakan beberapa proyek iklan untuk bank-bank dan perusahaan ternama di Indonesia. Simaklah hasil kolaborasi imajiner kami dengan Ferdiriansyah pada laman fashion spread. (+62) 815.8201099 www.ferdiriansyah.multiply.com ferdiriansyah@yahoo.com

AYU PRAKOSO

Ayu adalah seorang pengembara di antara Timur dan Barat. Dikenal sebagai visual artist yang hidup di perkampungan sedikit kumuh di Brooklyn, New York. Pada hari-hari biasa, dia bisa ditemukan di tempat yang dikenal dengan sebutan”Jameson on the rocks,” dan mencoba belajar memainkan gitar. Simak pula hasil pengamatannya pada laman Foreign Exchange. 6 FAR APRIL/MAY 2009


7


family matters

8 FAR APRIL/MAY 2009


9


ed’s note

born to Revive!

Sebuah majalah tidak hanya dijalankan oleh satu orang saja, melainkan oleh beberapa orang yang mempunyai bakat seni dalam diri meraka masing-masing. Mereka adalah fotografer, desainer grafis dan juga seorang yang dapat memadukan bakat mereka dengan ide - ide kreatifnya. Kolaborasi diantara orang-orang berbakat tersebut berlandaskan azas kekeluargaan yang terbalut oleh sebuah perofesionalitas, dedikasi terhadap pekerjaan, dan keinginan kuat dalam memajukan suatu lambang yang telah mereka ikrarkan dalam diri meraka masing-masing. Saya tidak pernah melihat keakraban seperti ini, divisi kontributor, desain grafis, fotografer, kolaburator, sponsor dan seniman dapat melebur menjadi satu walaupun terdapat banyak perbedaan diantara mereka. Selama ini saya bergaul dengan banyak orang, dan saya melihat bahwa mereka semua sangat berbakat dan berkembang sesuai dengan dimana, apa, dan siapa. Indonesia adalah negara yang tradisional dan juga modern, oleh karena itu saya sangat mencintai Indonesia. Dengan hadirnya majalah ini, saya meminta kepada semua pembaca untuk mengamati dan memperhatikan setiap lembar halaman dari majalah ini dan mengajak anda untuk lebih mengenal seni dan kebudayaan dari Indonesia ketimbang kita berkaca pada negara-negara lain.

Rani Tachril Chief Editor

10 FAR APRIL/MAY 2009


11


The other side of

“We don’t live in Indonesia, We are surviving” - Nicholas Saputra. Ketakutan terbesarnya adalah jika tidak pernah mencoba hal baru yang disuguhkan kepadanya.

M

uncul lima menit setelah rombongan ‘FAR’ tiba di Casa Kemang, Nicholas Saputra terlihat menaiki tangga dengan santai ditemani Gaz Nauman, creative director FAR Magazine, yang didaulat menjadi pewawancara. Nico, begitu ia biasa dipanggil, masih sedikit kaku ketika memperkenalkan diri, namun tetap rendah hati laksana kami bukan hanya sebagai teman media namun juga teman barunya. Menghubunginya pun tanpa harus melalui manajer artis maupun asisten pribadi yang biasanya sangat merepotkan kami para jurnalis. Sehingga untuk majalah yang tergolong ‘bau kencur’ ini, keramahan itu rasanya bernilai dua kali lipat. Sebelum membuat janji temu dengan mantan penyiar radio Prambors ini, FAR mencoba mengenal sosoknya terlebih dahulu melalui berbagai artikel. Satu yang bisa kami simpulkan ialah Nicholas Saputra, seorang selebriti yang banyak menutup diri perihal masalah pribadi dan sepertinya bukan tipe yang menggunakan media sebagai sarana pendongkrak popularitas serta eksistensi. Yang ada dibenak kami sebelum wawancara ialah, “pasti orangnya dingin dan moody”. Tapi ketika bertemu langsung dengannya, kekhawatiran kami hilang seketika. Dia tampak sederhana dengan kaos warna kuning redup, celana jeans dan topi pet hitam terbalik khas tahun 90-an yang tidak pernah dilepasnya selama wawancara ini berlangsung. Sekilas sosoknya mengingatkan saya pada mendiang Jim Morrison dari The Doors. Berpostur tinggi, tidak kurus dan tidak pula kelebihan berat, rambut bergelombang serta samasama memiliki tatapan yang lurus. Menit-menit awal, Nicholas terkesan hati-hati dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Kata-kata yang diucapkannya pun ia pikirkan terlebih dulu sebelum diucapkan. Ia sadar konsekuensi dari tiap perkataannya ada harga yang harus dibayar. Pernah ada pengalaman yang tidak menyenangkan antara pemuda yang

12 FAR APRIL/MAY 2009


13


“Everyone has a choice of living and a choice of surviving.”

14 FAR APRIL/MAY 2009


15


memiliki hobi bisbol ini dengan seorang wartawan infotainment. “Ketika saya berada di suatu premier film, seorang wartawan infotainment menanyakan kalau ada sumber yang mengatakan saya sudah menikah!, lalu saya balik bertanya, ‘Mbak, udah gila ya?” kata Nico sambil sedikit tertawa. Ia mengakui pengalaman-pengalaman seperti dipojokkan dan dilemparkan gosip kacangan memang sudah biasa ia dapatkan, dan Nico membenci hal itu. Ia menganggap pemberitaan tengik seperti itu sama sekali tidak mendidik, hingga ia merasa tidak perlu banyak berbasa-basi. Mengenai industri penyiaran Indonesia khususnya pertelevisian yang terjangkiti virus komersialisme dimana-mana ini, Nico memiliki keprihatinan tersendiri. Baginya, jika setiap kali kita menyalakan tv dan mendapati setiap channel hanyalah program-program hiburan semata maka ada sesuatu yang salah disitu. ”Kita tidak bisa menutup mata atau tidak menggubris hal-hal yang bisa mempengaruhi orang-orang disekeliling kita. Banyak orang menyaksikan acara televisi yang tidak mendidik. Sampai akhirnya saya mencoba mengamati dan mempelajari mengapa mereka bisa menyukai acara tersebut,” kata Nico. “Jadi itu bukan masalah lagi bagi anda?” tanya Gaz. “Jika semua stasiun tv hanya punya satu tujuan yaitu untuk hiburan saja, itu baru masalah besar!” jawab Nico cepat. Tahun ini usianya hampir seperempat 16 FAR APRIL/MAY 2009

abad. Rasa-rasanya tidak banyak artis seumurannya bisa bertransformasi sebaik dirinya. Berawal dari menjadi model catwalk untuk peragaan busana dan model sampul untuk sebuah majalah remaja, Nico, saat ini telah memiliki predikat sebagai sarjana arsitektur, aktor film kualitas tinggi, video jockey [V] channel, hingga sukarelawan organisasi sosial Kontras yang didedikasikan untuk almarhum Munir. “Saya hanya seorang pemuda biasa berusia duapuluh empat tahun, satu yang membedakan adalah saya memiliki pengalaman dan pekerjaan yang menyenangkan,” terang Nico. Apa yang membuatnya bisa berkarya sebaik itu? “Kita harus percaya dan menghargai diri kita terlebih dahulu. Itu langkah awal yang penting agar orang lain mempercayai kita,” jawabnya. Bisa dibilang momentum yang ia usahakan sempurna sekali, sehingga karirnya sebagai aktor dan model terus meningkat seiring berjalannya waktu. “Saya hanya berusaha terus membuka diri. Saya masih muda dan masih harus banyak belajar tentang banyak hal. Tapi saya bisa mengatakan kalau saya seorang aktor profesional,” tegas Nico. Pemuda bermata coklat ini menceritakan bagaimana pengalaman masa kecilnya begitu mempengaruhi hidupnya hingga kini, sejarah bangsa Indonesia yang menurutnya banyak yang disembunyikan, sampai caranya untuk tetap bertahan di zaman pelunasan hutang negara ini. Cukup sering disebutkan bahwa Nicholas, baik dalam film maupun diluar film, telah menorehkan tanda pada jaman. Tidak jarang pula kehidupannya banyak dikaitkan

dengan beberapa filmnya yang meledak. Banyak yang bertanya apakah aslinya ia memang seperti karakternya dalam film 3 Hari Untuk Selamanya. “Saya bisa mengerti banyak yang mengatakan film tersebut sangat realistis, hingga akibatnya saya dianggap seperti itu. Tapi itu memang benar adanya, anak kota terjebak dalam kultur budaya dan tradisi keluarga. Sekarang kita tidak bisa lagi mengatakan perempuan berjilbab lebih religius dari mereka yang memakai tank top atau rok mini,” ujarnya. Saya lupa menanyakan bagaimana film dan karakter Soe Hok Gie mempengaruhi hidupnya. Namun yang pasti saya bisa merasakan bagaimana kemudian Nicholas mendalami dan mencari sendiri faktafakta sejarah bangsa. “Persepsi yang masih rancu adalah bahwa bangsa kita itu tidak selamanya dijajah oleh negara, tapi sebagian oleh perusahaan yaitu VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Bedanya jelas, kalau negara yang dijajah oleh negara, kemerdekaan itu diberikan. Tapi kalau negara dijajah oleh perusahaan, ketika sudah tidak menguntungkan lagi, perusahaan itu bisa pergi kapan aja. Jadi dengan kata lain kemerdekaan kita tidak diberikan, baru pada tahun 1949, Belanda mengakui kemerdekaan kita,” jelas Nico panjang-lebar. Setelah menyimak perkataan Nico, saya jadi teringat film-film sejarah Indonesia seperti Si Pitung dan sebagainya. Ada istilah lazim dilafalkan yaitu kata kompeni sebagai sebutan untuk penjajah Belanda. Ternyata istilah kompeni tersebut berasal dari kata Compagnie atau dalam bahasa Inggris disebut ‘Company’ yang


berarti perusahaan. “Sekarang generasi kita yang harus melunasi hutang-hutang negara jaman dulu,” katanya ketika membicarakan tentang zaman reformasi. “Jaman orde baru kemarin kita dimanja pemerintah. Saat itu kita dibiasakan dengan harga bensin yang flat meski harga minyak dunia naik, harga dollar yang terus dipertahankan 2500 rupiah. Semuanya disubsidi. Akhirnya sekarang kita harus bayar hutang-hutang tersebut. Mau tidak mau kita harus commit dengan pilihan kita(reformasi),” seloroh Nico. Bisa diartikan, sekarang kita harus bekerja lebih keras daripada dulu ketika saat kita dimanja. Mungkin karena pemikiran itu pula, Nico tidak mengambil kuliah seperti kelas teater atau perfilman untuk menunjang karirnya sebagai aktor melainkan mengambil jurusan arsitektur. Berdasarkan disiplin ilmu S1-nya yang baru saja rampung dari arsitektur Universitas Indonesia, rasanya Nico tidak perlu khawatir akan kehilangan pegangan hidupnya ke depan. Namun di sisi lain, penggemar Nicholas Saputra yang mayoritas kaum hawa itu juga tak perlu mengkhawatirkan eksistensi sang idola dalam berkarya di industri film. “Bagi saya mempelajari arsitektur adalah belajar cara berpikir, bagaimana cara mengerti dan menciptakan sesuatu, bertanggung jawab atas keputusan yang kita buat, serta belajar memperhitungkan sebuah proyek sebaikbaiknya. Tapi saya juga tidak harus menjadi arsitek karena gelar ini. Ilmu arsitektur masih bisa saya gunakan dalam film”, ungkap Nico. Namun, kurang masuk akal rasanya jika hanya itu alasan yang membuatnya memilih arsitektur. “We don’t live in Indonesia, we

are surviving!” sahut Nico pendek. Seketika semuanya menjadi logis ketika kata-kata yang singkat itu keluar dari mulutnya. Setiap orang bisa memilih apakah ia akan tetap bertahan dengan terus belajar dan berusaha maju, atau tidak melakukan apa-apa sama sekali sepanjang hidupnya dan menjadi mati rasa. Sebagai seorang anak tunggal, terkadang Nico merasa menanggung beban yang amat berat untuk selalu berhasil menjadi sebuah bentukan keluarga. “Apa yang saya miliki sewaktu kecil dulu berbeda dengan teman-teman saya yang lain. Saya merasa harus menjadi sebuah produk orangtua yang berhasil,” kata Nico. Namun tak bisa dipungkiri jika peran orangtuanya juga diakui Nico telah memberikan cara berpikir yang paling berpengaruh. ”Ayah saya mengajarkan bahwa uang selalu datang dan pergi. Jadi, uang bukan satu-satunya yang bisa membuat hidup kita bahagia!. Saya tidak bilang kalau hanya mencari uang saja adalah kesalahan, itu pilihan masing-masing orang,” lanjut Nico. Banyak hal dari masa lalu yang selalu ia ingat dan jadi pelajaran hidup seorang Nicholas Saputra. “Waktu kecil saya sangat beruntung karena memiliki banyak sekali teman dari kelas sosial yang berbeda-beda. Rumah saya berada dalam sebuah kompleks perumahan yang di sekelilingnya adalah perkampungan warga,” Nico bercerita sambil seolah-olah membuat gambar diatas celana jeansnya dengan jari telunjuk. “Lalu apa yang anda pelajari?” tanya Gaz. ���Dari cara bersosialisasi teman-teman saya itu, saya bisa melihat bahwa anak yang lebih kaya cenderung berlagak sombong dan yang tidak kaya cenderung sinis,” jawabnya. Dengan kata lain, Nico kecil telah menyadari

bahwa hidup normal dan biasa-biasa saja lebih menyenangkan untuk dijalaninya kelak. Lalu ia menyalakan rokok dan bersandar sambil melihat sekeliling. “Hey, itu ada contoh yang bagus..!” tiba-tiba Nico berkata sambil menunjuk keluar jendela cafe. Di luar, cuaca siang itu terasa sedang panaspanasnya, sementara itu pandangan kami sudah tertuju pada sebuah mobil mewah tanpa atap yang berisi lima orang anak muda berkeringat sedang tertahan oleh macetnya jalan raya kemang. Entah apakah mereka sedang berusaha pamer atau tidak tahu bahwa memasang sun roof dan menyalakan AC mobil lebih baik saat hari sepanas itu.

17


artwork bunch

RICKY MALAU perupa wacana dalam sketsa

S

eniman muda berperawakan keras ini termasuk mahasiswa paling disegani di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan komunitas seni lainnya di Jakarta. Banyak band atau musisi dari kampus IKJ yang kini merajai panggung-panggung musik tanah air lahir berkat kerja kerasnya dalam mengkoordinir beberapa pertunjukkan berskala intern kampus namun gaungnya terasa hingga ke seantero Jakarta. Sampai hari ini, pria yang terkadang membintangi beberapa sinetron dan film ini masih produktif dalam mebuat sketsa-sketsa wajah dari beberapa artis, dosennya di IKJ hingga wajahnya sendiri dalam berbagai ekspresi yang koheren dengan tulisan-tulisannya yang satir dan absurd. Berikut ini kami tampilkan pandangan Ricky terhadap nasionalisme melalui karya tulis dan sketsa. Nasionalisme adalah darah “Indonesia..!! dung dung dung...Indonesia..!! dung..dung..dung..” Moment ini makin bertambah dahsyatnya saat didalam stadion, seluruh penonton bersorak-sorai bergemuruh saat terlihat bis pemain nasional kita memasuki stadion. Ini mengingatkan aku pada saat menonton film waktu kecil dulu, dimana seluruh penonton berteriak senang melihat sang jagoan datang tuk menyelesaikan masalah. Yang membedakan adalah di film semuanya

18 FAR APRIL/MAY 2009

skenario..tapi disini tidak...kami tidak terencana untuk bersorak!!! Semuanya seperti berjalan tanpa disadari, seakan ada aliran darah yang sama bergerak naik disetiap orang dalam stadion ini. Gilllaaaa!!!!!! Panggung macam apa ini, pertunjukkan belum mulai dan panggung masih kosong, sudah mulai terjadi peristiwa spiritual disini. Saat pluit panjang akhirnya dibunyikan -tanda pertandingan berakhir-, mataku dapat melihat kekecewaan mendalam para penonton yg hilir mudik menuju pulang, dan kebalikan kejadian tadi sore, kini semuanya seakan terdiam membisu dalam langkah yg mungkin sekarang terasa berat, karena kepala tertunduk dan pikiran mulai berkecamuk ‘...mungkin...yeah, mungkin...andai..yeah seandainya....’ Sebotol air mineral kubeli untuk melepas rasa dahaga setelah teriak-teriak tadi, mungkin karena efek dari kalah, sebotol kurang cukup jadi harus dua botol, dan tukang minuman di emperan ini yang kira-kira seumuran bapakku, melihatku tersenyum sambil berkata, “dulu kita macan Asia, stadion ini angker buat tim lawan..ga kaya sekarang. cuupuuu!!!!” Lalu perjalanan anganku pun mulai mulai bertualang dalam derap kaki menuju luar

stadion, seandainya timnas kita masih disegani seperti yang katanya jaman dahulu kala itu, mungkin saat ini timnas kita bisa mengikuti piala dunia di Afrika Selatan dan perjalanan kesana menurut kami yang menjadi penonton disini sangatlah mudah. Mudah dalam arti, kita para gelombang massa ini akan bertekad dan berjibaku untuk melihat langsung pasukan merah-putih kita bertarung atas nama bangsa di pentas sepakbola terakbar itu, jangan kau tanyakan bagaimana cara kami kesana, karena kelak kau kan melihat tekad kami bisa melayarkan kami jauh terus mengarungi samudra dengan sampan sampan yang jumlahnya ribuan akan bersabung nyawa di lautan demi memberi semangat bagi para pahlawan bangsa yg bertarung disana nanti. Saat kutengok tuk menoleh melihat kawankawanku, rupanya sudah tak ada lagi disitu. Mungkin rupanya nasionalisme adalah darah, tidak seberdarah yg mereka bayangkan. rickymalau.blogspot.com


artwork bunch

EVELINE TARUNADJAJA illustrator melankolis-romantis yang merantau

E

veline Tarunadjaja mengaku bahwa pada awalnya mengambar adalah kegiatan untuk bersenangsenang. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai designer demi kegemarannya terhadap menggambar. Pada awalnya, Eveline yang kini berdomisili di Australia, berkarir di bidang design. Namun seiring berjalannya waktu, menggambar yang menjadi kegemarannya itu justru mendatangkan rejeki tersendiri untuknya. Memang menyenangkan bukan, bekerja dengan hal yang sangat kita cintai. Pen on paper, dalam kesehariannya Eveline tidak perlu bersusah payah untuk menuangkan semua ide-idenya. Dia hanya membutuhkan pulpen dan kertas yang selalu dibawa kemanapun ia pergi. Dan café serta ruangan terbuka biasanya menjadi tempat favoritnya untuk mencari inspirasi. I have control of the pen, so I can be as tedious and perfectionist when I use it”,ungkapnya mengenai media yang selalu membantunya ini dalam berkreasi. Terciptanya gambar perempuan dengan tutup kepala tomat yang sangat besar ini, diakui Eveline terinspirasi dari sesuatu yang tidak masuk akal yang yang ada dipikirannya. “Something ridiculous that stuck in your head”, jelasnya mengenai pengertian dari gambar

tersebut. Pesan dari gambar ini pun cukup ringan yaitu terkadang kita bisa terlihat bodoh ketika kita berpikir terlalu banyak. Terinspirasi dari pria yang dijulukinya “Hamster Boys”, para pria ini dinilai tidak bisa mengontrol emosinya. “ The girl kept on giving and giving with nothing in return”, Eveline mencoba menceritakan kembali arti dibalik artworknya kali ini. Dan pesannya untuk tidak membuang waktu dengan pria yang dijulukinya dengan “ Hamster Boys” coba dituangkannya pada gambarnya ini.

gambarnya kali ini. Gambar indah ini diselesaikannya dalam waktu 7 jam hanya menggunakan pena dan kertas saja. Pesan yang disampaikan singkat yaitu hanya perpaduan dari anak kucing, burung, dan perempuan yang dikombinasikan menjadi satu. “ Optical illusions, patchwork and cats” ketiga hal tersebut menginspirasinya untuk membuat karya seperti ini. www.lovexevol.com

“I just would like to have a bath in a big giant cup one day ”, Eveline menyampaikan harapnya dalam gambarnya kali ini. Gambar yang mengkombinasikan cangkir besar dengan wanita di dalamnya ini memang terlihat aneh dan tak biasa. Secangkir kopi dan mandi adalah dua hal yang bisa membantunya menemukan ide-ide baru.“Try a cup of me” kalimat singkat ini menjelaskan sebuah pesan yang Eveline ingin sampaikan. “Popsicle” menginspirasi Eveline dalam gambarnya kali ini. Perempuan yang digambarkan sedang memakan es krim tangkai ini, sebenarnya memberi persepsi apakah anda termasuk perempuan nakal atau baik? “Promiscuous Innocence” kata ini dipilihnya untuk mewakili maksud dari judul 19


artwork bunch

MADNESS

DREAMS ABOUT WITCHCRAFT

M

adness adalah sebuah proyek fashion idealis dari tiga perempuan manis lulusan Lasalle College Jakarta. Mereka adalah Ajeng Dewi Swastiari, Bonnie Natasha Arif dan Vannie Astecat. Jika diperhatikan sekilas, ketiga fashionist ini sama sekali tidak memiliki tampilan karakter berbusana yang akur. “Kalau Ajeng dandanannya sedikit gothic, Vannie sukanya pakai aksesoris yang banyak warnanya, nah kalau gue yang paling netral diantara mereka”, kata Bonnie yang saat wawancara memakai kaos putih dan sebuah kalung madness cresent buatannya. Perbedaan tersebut tidaklah krusial karena yang menyatukan ketiganya dalam Project Madness ialah substansi alter ego mereka yang sinting, ide-ide surreal lazimnya sebuah mimpi sampai akhirnya menjadi suatu karya yang tak pernah bisa diduga. Mereka juga percaya bahwa setiap manusia memiliki dua kepribadian yang bertentangan, seperti yang tertulis dalam blog mereka bahwa sisi gelap seseorang pun bisa menghasilkan sesuatu yang 20 FAR APRIL/MAY 2009

“they cast a spell upon us” kreatif. Jadi jika anda berniat mendatangi sebuah pesta yang sepertinya akan membosankan, maka padanan up-to-toe aksesoris dari Madness ini akan seketika menyihir sisi gelap anda, dan mantra itu menjadi milik anda. Spring-Summer 2009 Collection. Meave Bonnie membayangkan cantiknya bulan sabit ketika menemani seorang penyihir mengaduk ramuan dalam tungkunya.“Jika bulan sabitnya dibuat kembar, pasti lebih cantik, lebih aneh, dan lebih misterius,” pikirnya. Maka diciptakanlah kalung berbentuk bulan sabit kembar dari kulit ular sintetis yang ekletik dipadukan dengan kulit sapi agar tetap kokoh, serta bulu-bulu sintetis dan manik-manik yang memantulkan. Powaqa Headband yang sangat keras dengan aksen bunga mawar matinya. “Dead roses dipakai karena ada beberapa spell dari penyihir yang memang butuh bumbu-

bumbu seperti tulang atau gigi binatang, bunga mawar, rambut sampai kecoa”, jelas Ajeng. Headband ini bisa dipadu-padankan dengan baju atau aksesoris yang sudah ada di lemari baju anda. “Jadi biarkan aksesoris itu berbicara sendiri dengan baju dan aksesories apa aja”, lanjut Ajeng. Morgan Le Fay Kalung bersisik dan melingkar ini dibuat menggunakan kulit ular sintetis, sedikit sentuhan manik-manik dan kulit sapi yang dipuntir. “Ini bisa dipakai dimana aja kok. Kalau merasa cukup kurus, ini bisa dipakai di pinggang”, imbuh Bonnie. Louohi Sepatu semi-boots hitam legam bertekstur ini dirancang oleh Vannie Astecat dan materialnya merupakan kombinasi dari kulit sapi, kulit kambing dan kulit ular sintetis. Orang-orang di sekitar anda pasti akan berpikir bahwa anda adalah seorang art lover sejati yang baru saja mengalahkan ular Anaconda besar jika memakai sepatu ini.


Diary LĂˆollĂˆ Alun-Alun Indonesia, Rp. 75.000

Cangkir Kedaung Alun-Alun Indonesia, Rp. 155.000 Piring Kedaung Alun-Alun Indonesia, Rp. 145.000

NA SIONALIS M E

Lucky No. 7

Dari warna-warna pop dalam bentuk celengan tanah liat, hingga cangkir bergambar ilustrasi tanah Jawa, nafas nasionalisme asik dihembuskan melalui pilihan ornamen dengan gerak nasionalisme yang kental pula dengan sisi ceria. Mug Toko Majju, Rp. 60.000

Celengan Toko Majju, Rp. 65.000

Sarung Bantal Beranda Alun-Alun Indonesia, Rp 165.000

Teks & Style by : Zia Baagil Picture by : Niki Yusuf Saputra & team

Soft Doll Bin House Alun-Alun Indonesia, Rp. 100.000 (elephant) Rp. 250.000 (puppy)

21


22 FAR APRIL/MAY 2009


Belum Larut Senja Ini Zaman Apa?

“Ucapkan salam dan kami akan membalas. Itu aturannya dan itu cara kita mendoakan orang lain dan diri sendiri�.

23


24 FAR FAR APRIL/MAY APRIL/MAY 2009 2009 24


Hari ini saya telah mendapat satu tambahan ilmu yang berguna!

25


Mereka memang terlihat indah. Kesederhanaan yang bukan berarti tak bisa gemerlap. Namun keindahan ini mungkiwn karena makian dan kekhawatiran sebagai bahan bakarnya.“Jika nanti tidak ada lagi tanah kosong yang tersisa, lalu kami harus bagaimana?�

26 FAR APRIL/MAY 2009


27


28 FAR APRIL/MAY 2009


“Ternyata kemiskinan memang tidak bisa dibicarakan, juga tidak bisa diperangi, kemiskinan hanya perlu dikasih makan,� damprat Bu RT. -petikan cerpen dari Putu Wijaya, Kemiskinan, 16 Juni 1993-

29


“Terkadang kami hanyalah sebuah simbol atau bahkan hanya sebuah tempelan di pinggir arena pekan raya. Namun kalian tidak perlu khawatir akan kehilangan budaya daerah. Masih ada kami yang peduli.� 30 FAR APRIL/MAY 2009


“Saya terus berjuang demi keluarga.Meskipun menyisihkan sebagian upah untuk tabungan masih menjadi anganangan. Setidaknya sampai hari ini saya masih bisa bekerja, semoga esok juga demikian.�

31


“Horee..horee..!! Gigi kami memang belum tumbuh sempurna, tapi nanti juga akan tumbuh sempurna seiring dengan cita-cita kami yang mulia. Maka dari itu, jadilah teladan bagi kami. Horee...!!!!!! 32 FAR APRIL/MAY 2009


33


upcoming young

Marky menunjukan kesukaannya dengan design sejak dari dulu. Bermula dari mengoleksi pamflet - pamflet acara dance party yang selalu di bawa pulang oleh kakaknya dan berakhir dengan gelar Visual Komunikasi dan Photography dari University of Technology Sydney. Dia menggunakan kolase sebagai tehnik utamanya dalam mendesain untuk menghasilkan desain yang abstark and sureal. Kecintaannya dalam mendesain pamflet, membuatnya sempat berkerja sama dengan salah satu dance promoter terbesar di Indonesia yaitu Future10 sebagai desain grafis mereka. Perjalanannya terus berlanjut di berbagai bidang desain, seperti berkeja sama dengan temannya membuat ‘More Often’, sebuah clothing line yang sudah berjalan beberapa tahun, dan juga membantu WhatNot (dailywhatnot. com), sebuah culture promoter Jakarta. Tidak hanya itu, dia juga ikut berpartisipasi dalam beberapa exhibisi art & desain baik di Sydney maupun di Jakarta. Profil dan juga karyanya telah di publikasi di beberapa majalah dan buku, baik lokal maupun international seperti ‘Frames Magazine #02’, ’After 10 Years, Friends Call Us Unkle by Unkl347’ dan ‘SemiPermanent 2009’ yang akan keluar di bulan April ini. Dunia desain adalah dunia yang dia yakin akan dia tetapi selamanya, karena hanya di situlah dia percaya dia dapat mengembangkan dan melimpahkan semua kreativitas nya. Keep checking his blog for news and updates about all kind of his recent projects!! email: markie@portfolio-7.com website: http://www.portfolio-7.com

34 FAR APRIL/MAY 2009


art attack

SEMAIL… (SMILE) “Assalam Walaikum, …Bapak. Ibu. Tante. Adik, kakak, kakek , nenek dan teman – teman sekalian, nama saya Samiudin Satrio Wonosobo, tapi pacar saya panggil saya dengan nama BO !.” Tangannya dengan gemulai memetik gitar. Jreng- Jreng Jreng Jreng Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-JesJes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes ..Tuiiiiiiittt.. Semua muka didalam kereta itu membalas sapaan pria santun,bawel dan berlogat jawa itu dengan pandangan tajam dan sinis. Namun, seperti kesurupan dengan cuek ia melanjutkan pidatonya. Sambil mengetukan jari – jemarinya diatas gitar kayu yang digenggamnya seperti mengikuti irama khayalan yang hanya terdengar dalam otaknya. Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-JesJes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes ..Tuiiiiiiittt.. “Saya bukan orang kaya, tapi saya bukan juga orang miskin , saya hanya seorang yang ingin berkarya, maaf… biarkan saya mencoba hibur saudara dengan lagu – lagu top forti, gubahan saya, sampai kita semua selamat tiba di Bandung nanti…YES ! “ Gerakanya mengagetkan para penumpang di gerbong itu . “AR AYU LONSAM TUNAIT.. AR YU BOSAN TUNAIT..” kata – kata yang dinyanyikan dengan penuh perasaan seakan mendengar lembu yang sedang mengunyah rumput bernyanyi di sawah, tidak menyakitkan telinga tapi membuat hati tergelitik. Beberapa penumpang mulai tersenyum memerhatikan Bo mengikuti gaya raja Rok en Rol ,Elpis Preslei. Selesai menyanyi, tepuk tangan dan suara kereta pun menyatu dengan meriah membakar semangat si pengamen yang mengenakan kaos oblong hitam bergambarkan bibir legendaris Mieke Jegger.

Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-JesJes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes ..Tuiiiiiiittt.. “Hei! kau ! beta ingin kau mainkan lagu, lagu lain. Tapi seng Indonesia” seorang lelaki ambon gondrong berkata dari belakang gerbong kereta itu. “iya dong lagu koes bersaudara” kata – kata manis dari seorang gadis membuat mata Bo melirik kearah asal suara itu..Pelan pelan Bo dengan langkah lebar selayak seorang musisi dalam konser gala mendekati gadis manis berambut hitam panjang itu. Ketika mata mereka beradu, perlahan tangan Bo terjulur kearah si wanita. Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-JesJes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes ..Tuiiiiiiittt.. “Duitnya dong !” ucap Bo dengan lemah lembut. Walau senyum si gadis manis sudah mnejadi upah tersendiri bagi jiwa Bo, tapi uang seratus perak pemberian si gadis, ditambah tiga ratus yang sudah didapatkannya dari beberapa orang di gerbong itu akan membelikan Bo nasi uduk untuk makan siang ini. Perut si pengamen ternyata sudah lapar. Jreng jreng jreng jreng “DARA MANISKU KU KAN SELALU SETIA KEPADA MU…DARA MANISKU” Bo bernyanyi sambil menggoyangkan pinggulnya. Anak seorang pedagang cina yang kebetulan ada dalam gerbong itu pun ikut berdansa mengikuti gerakan lucu Bo. Ale, pria ambon tadi pun, ikut bernyanyi ditemani oleh beberapa penumpang yang lain. Muka – muka kencang mereka pun sekarang sudah melemas, senyuman dan tawa meledak – ledak dari gerbong itu. Mereka, orang – orang yang tidak saling mengenal, berlaku bagai teman lama. Diiringi suara sumbang dan melodi komedi dari Bo, masalah dan problema mereka

hilang sesaat. Gitar yang tadi dipegang oleh Bo pun berpindah tangan ke Ale, dan si pedagang cina pun turut menyumbangkan sebuah lagu. “Wo Ai… Wo Ai ni ” Nyanyi si India, yang mengocok perut seluruh penumpang digerbong itu. Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jes-Jessss Tuiiiiiiittt..

Tuiiiit

“ Teng kiu Bo !” kata mereka saat turun dari kereta di tempat tujuan. Sambil berjabat tangan dengannya. Dalam jabatan penumpang kadang tersembunyi uang, mungkin nomor telepon atau alamat, entah dari pria atau wanita, tua dan muda. Reaksi Bo tetap sama, uangnya disimpan dan yang lain dibuang. Tanpa rasa risih Bo membadut. Tanpa malu dia mengelitik tawa di saat orang- orang Jakarta baru berkenalan dengan Duren Duren dan Ma Dona. Bo bukan penyanyi atau pengamen profesional, tapi dia tahu harga sebuah senyuman. Setiap orang di gerbong tadi dan berikutnya akan selalu memberinya uang, kadang lima puluh perak kadang seribu. Si komedian bergitar yang mampu membasmi kebosanan dengan guyonan dan lagu. Di hari lain dan dikereta lain : “Assalam Walaikum ! Bapak. Ibu. Tante. Adik, kakak, kakek , nenek dan teman – teman sekalian, nama saya Samiudin Satrio Wonosobo ! Pacar saya panggil saya dengan nama BO ! Saya bukan pengimis yang keren, saya cuman artis yang belum beken….okay SEMAIL” J e s -J e s -J e s -J e s -J e s -J e s -J e s -J e s -J e s JesssTuiiiit Tuiiiiiiittt..

35


BERJIBAKU BERTAHAN HIDUP Bertahan hidup di ibukota Jakarta bukanlah hal yang mudah. Pesaingan di kota besar melibas semua mimpi hidup sejahtera tanpa perjuangan. oleh : Bungawati

S

ore itu terasa biasa cuaca cukup cerah. Jakarta kembali hiruk pikuk, kesibukan terasa menelan semua kehidupan. Jalan telah dipadati kendaraan bermotor mengingat jam kerja telah usai dan semua ingin segera pulang. Namun tidak untuk sekelompok pekerja yang satu ini, sore hari adalah waktu dimulainya semua rutinitas pekerjaan. Persiapan yang tidak sebentar membuat mereka bersiap jauh sebelum jam kerja. Memang kerja mereka berbanding terbalik dengan orang kebanyakan, disaat yang lain baru kembali dari aktivitasnya mereka justru baru akan bekerja di malam hari. Tapi ini bukti dari sebuah perjuangan hidup yang tidak mudah untuk dijalani oleh semua orang. Mereka adalah sekelompok penari jaipong asal Karawang. Yang tergabung dalam salah satu Sanggar yang berdomisili di Jakarta. Tepatnya, dirumah kontrakan yang tidak besar bahkan cenderung kecil dengan ukuran 36 FAR APRIL/MAY 2009

berkisar 3x8 meter dihuni oleh sekitar 15 orang. Sungguh ironis tempat yang sekecil itu dipaksakan untuk menjadi tempat seluruh aktivitas para penari sehari-hari terkecuali saat pentas. TARI JAIPONG PADA AWALNYA Seni tari di Indonesia dewasa ini sudah berkembang sangat pesat. Mulai dari yang tradisional hingga yang moderen. Tari jaipong sendiri merupakan tarian moderen yang dikembangkan dari tari tradisional khas sunda yaitu Ketuk Tilu. Dari seorang seniman yang sangat kreatif asal Bandung, bernama Gugum Gumbira tari jaipong ini dihasilkan. Kecintaannya pada kesenian rakyat menggugahnya mengembangkan tarian ini dan memperkenalkannya pada masyarakat. Tanpa disangka tarian yang kental dengan nuansa Sunda ini diterima dengan baik oleh masyarakat. Terlebih setelah pementasannya di sebuah stasiun televisi TVRI untuk pertama

kalinya sekitar tahun 1980. Jaipong semakin diminati dan dinanti masyarakat. Tari yang identik dengan goyang pinggulnya ini memang cukup menarik perhatian setiap mata, karena goyangannya, pakaiannya, hingga alunan musiknya. Semua itu bisa memelekkan mata siapa saja terutama kaum adam. Melihat ketertarikan masyarakat yang cukup besar, hal ini dijadikan sebagai lahan untuk mencari uang oleh sebagian orang. Hampir disetiap acara penikahan, khitanan hingga acara kenegaraan tari jaipong selalu mempunyai daya pikatnya tersendiri. Jaipong memang hiburan yang murah meriah dan menyenangkan tak heran bagi mereka yang tidak mempunyai kocek berlebih tarian ini bisa dijadikan sebagai alternatif penghibur diri. BERJIBAKU UNTUK BERTAHAN HIDUP Jakarta kota yang menjanjikan sejuta harapan


dan keberhasilan untuk banyak orang. Namun pada kenyataannya tidaklah semudah itu menyambung hidup di Jakarta. Himpitan hidup tidak bisa dipungkiri masih terjadi di kota besar ini. Sanggar ini merupakan salah satu dari sekian banyak kelompok penari jaipong di Jakarta. Sanggar yang mempekerjakan sekitar 15 orang ini bertahan sudah puluhan tahun mencari uang dengan menggelar pertujukan tari jaipong. Pertunjukan yang digelar hampir setiap malam terkecuali malam jumat ini sangat digandrungi masyarakat. Panggung yang bertempat dibawah jembatan layang D.I Panjaitan ini selalu ramai disinggahi para pengunjung yang kebanyakan dari mereka ialah laki-laki. Para penari ini tidak lagi berpikir tentang image yang akan melekat pada dirinya sebagi penari jaipong, karena bagi mereka tujuan utamanya bukanlah itu tapi lebih kepada mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup ke depan. Nasib para penari jaipong ini bukanlah sebuah cerita sinetron tetapi kenyataan yang harus kita pahami dan mengerti. Apa yang mereka kerjakan dari dulu hingga saat ini tidak pernah lepas dari image negatif. Pilihan profesi yang tidak biasa ini rupanya masih belum bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat. Memang jam kerja mereka jauh berbeda dari biasanya, dimulai jam 22.00 dan berakhirnya pun sekitar jam 02.00-03.00 dini hari. Dari jam kerja yang tak biasa, gerakan pinggul yang terkesan erotis ditambah dengan kostum yang cukup terbuka, tidak heran opini yang terbingkai

di masyarakat pun cenderung negatif. Padahal bila kita coba untuk mengerti, pekerjaan mereka bukanlah merupakan hal yang mudah apalagi menyenangkan. “Yah, sebenernya capek tapi mau gimana lagi, kalau ngga kayak gini biaya hidup saya gimana”, keluh Ipah (23th) mengungkapkan isi hatinya. “Teteh” itu panggilan akrab yang biasa dipakai mereka untuk memanggil satu sama lain. Dalam segala bentuk cemoohan yang orang berikan kepada mereka, tak pernah menghentikan pekerjaannya sebagai penari “Jaipong Hot”. Karena salah satu niat mereka melakukan pekerjaan ini adalah membantu perekonomian keluarga. Terlebih untuk yang sudah memiliki anak, mereka akan bekerja

sudah diperhitungkannnya jauh sebelum menggambil keputusan untuk menjadi seorang penari jaipong. Selama ini mereka hanya berpikir menari jaipong hanyalah mediasi untuk mencari sesuap nasi dan persiapan masa depan, itu saja tidak lebih. Sawer, dengan cara itu biasanya mereka dibayar, kurang etis memang bila kita memikirkannya secara etika. Tapi mungkin itulah uniknya tari jaipong yang satu ini, menarik perhatian kaum adam dengan berbagai goyangan yang meliuk-liuk memberikan kesan erotis agar siapa saja semakin tertarik dan sawer yang diberikan pun akan semakin banyak. Setiap malam panggung berukuran tidak lebih dari 2x3 meter menjadi singgahsana mencari uang. Penghasilan mereka memang tidak menentu setiap harinya, tergantung dari banyaknya pengunjung yang memberikan sawer kepada mereka. “ Kalau penghasilan ngga selalu sama, kadang kalau rame bisa ampe 100 ribu perorang , tapi kalau sepi paling cuma 50 ribu”, jelas siti (18 th) yang selama 1,5 tahun menjalani profesi ini. Dengan harapan kian malam penonton semakin banyak hingga makin banyak pula sawer yang didapatkan. Para penari tidak sendiri, ditemani dengan para sinden yang menembangkan lagu, diiringi musik khas yaitu degung yang terdiri dari kumpulan berbagai macam alat musik seperti; gendang, go’ong, kecapi dan saron. Kolaborasi ini telah ada sejak lama kira-kira 11 tahun yang lalu. Waktu yang tidak sebentar untuk saling mengerti, toleransi dan menyamakan tujuan yaitu pemenuhan kebutuhan hidup.

“Kita ngga merasa kalau tarian ini merusak moral, yang kita tahu hanya menari untuk memenuhi kebutuhan hidup” lebih keras karena nasib yang sama tentunya tidak mereka inginkan untuk masa depan buah hatinya. “ Saya maunya anak-anak saya bisa sekolah setinggi-tingginya biar nasibnya ngga kayak saya”, jelas salah seorang penari yang telah memiliki anak. BAYARANKU DENGAN SAWERAN Dalam menjalani pekerjaannya sebagai penari jaipong, dengan segala resiko yang ditanggungnya mulai dari image negatif sampai pelecehan seksual tidak lantas menghentikan langkah mereka di dunia malam tersebut. Bagi mereka resiko itu

37


“Gotong Royong” Dalam Bersolek “Bersolek” itulah tuntutan para penari jaipong setiap malamnya. Mereka harus mempercantik diri agar menarik perhatian para kaum adam. Jangan meragukan keahlian mereka untuk pekerjaannya yang satu ini. Mungkin pepatah yang menggungkapkan “ Ala bisa karena terbiasa” memang benar adanya. Mereka mengaku bersolek tidak langsung mereka kuasai, tapi melalui tahap belajar. Dan karena terbiasa dilakukan setiap hari akhirnya mereka menjadi mahir dalam bersolek. Dalam berdandan mereka melakukannya sendiri. Mulai dari make-up sampai memakai konde pun dilakukan sendiri. Hanya saja untuk yang belum ahli dalam hal ini akan diberikan bantuan. Anggap saja ini sebagai bentuk “ Gotong-Royong ” dalam bersolek. “ Di sini penari yang masih baru biasanya belum bisa dandan, makanya harus diajarin dulu”, jelas salah satu penari senior di sanggar itu. Perlengkapan make -up yang mereka gunakan sangat sederhana, bedak, gincu, sampai eye-shadownya pun tidak bermerek. Tetapi itu bukanlah hal yang utama untuk mereka, yang terpenting adalah bagaimana caranya memoles diri agar terlihat cantik dan menarik sudah cukup untuk bisa menarik perhatian para lelaki. 38 FAR APRIL/MAY 2009

Jaipong Vs Moral Belakangan ketenangan para penari jaipong telah diusik isu tak sedap mengenai adanya pihak-pihak yang ingin agar tari jaipong diubah gerakan ataupun dari segi pakaiannya. Hal ini dilakukan karena menurut beberapa orang tari jaipong menyuguhkan sesuatu yang erotis dan mengesampingkan moralitas bangsa. Tarian jaipong dari dulu hingga saat ini memang sudah terkenal dengan gerakannya yang dianggap erotis, liukan pinggulnya, senyuman menawan, pakaian yang ketat, serta dandanan menor. Sehingga pemerintah merasa perlu mengatur untuk memperbaiki hal ini agar tidak mengancam moral bangsa. Namun, keputusan ini tidak serta merta diiyakan oleh para seniman tari jaipong mereka menganggap kalau tari jaipong hanyalah seni dan budaya Indonesia yang telah ada dan harus tetap dikembangkan sampai kapanpun. “Kita ngga merasa kalau tarian ini merusak moral, yang kita tahu hanya menari untuk memenuhi kebutuhan hidup”, ungkap penari jaipong sambil sibuk merapikan kondenya. Kontroversi ini dianggap banyak orang tidak perlu terjadi karena seharusnya pemerintah lebih memikirkan masalah yang lebih krusial dibandingkan mengacak-acak keindahan dari sebuah hasil karya seni yang telah ada.

Hidup Perjuangan Tanpa Henti Cerita para penari jaipong ini hanya sekelumit bentuk perjuangan hidup di ibukota Jakarta. Tanpa mengesampingkan orang-orang yang telah berhasil mengadu nasib di Jakarta, tapi inilah potret kehidupan yang ada di sekeliling kita. Apa kita harus tutup mata? Atau iba dengan nasib mereka?. Kedua hal itu tidak terlalu penting, yang terutama di sini adalah bagaimana kita dapat melihat sisi lain dari sebuah pilihan hidup seseorang. Bukan hanya melihat sisi gelapnya tetapi juga mencoba mengerti apa yang menjadi alasannya untuk memilih pekerjaan itu. Hidup memang perjuangan tanpa henti, selama ada keinginan, harapan, dan doa itu semua bisa menjadi satu kekuatan untuk tetap berdiri merubah nasib menjadi yang lebih baik. Foto: FAR


hit n miss Words by: Ade Kurnia Src:: www.coolhunter.com

POLAROID ANDROID

MIMOBOT Sejak tahun 2005, pusat desain Mimoco yang terletak di Boston, menciptakan personal data storage dengan karakter – karakter seni kontemporer. Hal ini telah menggemparkan dunia pop culture, karena Mimoco membuatnya dengan cara menggabungkan sisi teknologi dan underground art toy. Dengan misi untuk memberikan style and soul pada para pengguna elektronik, Mimoco ini kembali dikenal sebagai koleksi unik dari desainer flash drive MIMOBOT. MIMOBOT USB menawarkan kapasitas memori dari 1GB sampai 8GB untuk menampung semua dokumen anda, dari musik, gambar dan lainnya. Bukan hanya bentuknya yang unik, MIMOBOT juga mengeluarkan berbagai macam edisi seperti Star Wars, Halo, Japan’s Domo dan edisi –edisi unik lainnya dari desainer desainer khusus mereka seperti Gary Baseman, Jon Burgerman, dan Simone Legno. Refresh your memory, you enjoy mimobot!

Hasil gambar tangkapan kamera film polaroid terkadang memiliki cerita dan kepuasan tersendiri, contohnya seperti yang bisa anda lihat pada film horror Thailand, Shutter. Lalu bayangkan ini, kamera dengan fitur canggih digital yang bisa di zoom-in/out, shutter speed yang bisa disesuaikan hingga lensa be-resolusi tinggi dikawinkan dengan kesederhanaan ekletis a la kamera polaroid, maka lahirlah Fuji Film Instax Camera. Sesuai dengan namanya, kamera ini diproduksi oleh perusahaan Fuji film yang mengeluarkan berbagai macam type kamera instax. Mulai dari yang mini dan berwarna sangat remaja yaitu Instax Mini 55i dan Instax Mini 7, menggunakan film polaroid seukuran kartu kredit- sampai yang modelnya sangat dewasa seperti Fuji Film Instax 100 dan Fuji Film Instax 200 dengan film polaroid yang lebih besar dan gambar yang lebih besar tentunya. Hubungi gerai-gerai Fuji Film terdekat untuk info selengkapnya.

WALL ART FRENZY Manusia-manusia gua mendekorasi tempat tinggal mereka dengan lukisan-lukisan yang menggambarkan berbagai kejadian dalam kehidupan mereka. Bangsa Maya mengabadikan kisah-kisah hidupnya diatas dinding batu yang struktur bangunannya amat besar, dan senimanseniman handal dari bangsa pharaoh menghias dinding piramid dengan sentuhan seni yang memuja kemuliaan bangsa pharaoh. Pada harihari dalam hidupnya, Michelangelo melukiskan pandangan yang berbau religius di dinding dan langit-langit kapel. Kita bisa menyimpulkan – bahwa selama ribuan tahun, manusia tidak akan pernah bisa membiarkan permukaanpermukaan tembok disekitarnya menjadi tak tersentuh. Jadi mengapa kita masih bisa membiarkan dinding rumah kita terlihat membosankan, kosong dan makin pudar? Apakah kita takut untuk merefleksikan hidup dan hasrat kita di dinding? Apakah kita terlalu lemah untuk berpisah dari

TOY WATCH Tren warna-warna pelangi sepertinya masih terus menunjukkan eksistensinya di panggung-panggung peragaan fashion hingga segala bentuk dan rupa aksesori yang memiliki karakter bagai percikan kembang api. Seperti yang terdapat pada jejeran jam ‘Toy Watch’ dari Italia berikut. Jam yang dijuluki sebagai jam mainan dan hanya untuk kesenangan ini tampaknya memiliki pengaruh yang tidak main-main. Masyarakat dan media-media Eropa menyebutkan bahwa tren ‘toy watch’ ini bisa disejajarkan dengan tren kacamata rayban yang anda sendiri pasti sudah tahu seperti apa fenomenalnya. Warna-warna jam ‘toy watch’ didominasi oleh warna flurocampuran warna primer dengan warna sekunder. Jadi, jika anda adalah termasuk orang yang memiliki jiwa trendmaker, maka ‘jam mainan’ ini bisa membuat anda merasa seperti Dandy Warhol ketika menciptakan pop art.

dinding berwarna putih? Rasa-rasanya tidak ada jawaban yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan diatas, tapi saya yakin kita semua menyukai dinding-dinding bergambar yang dapat membuat kita berpikir dan tersenyum. Kita tidak menginginkan gambar-gambar tembok tersebut berada di rumah, tapi kita menyukai jika melihatnya di tembok restoran, salon, café dan pertokoan. Kami mengangumi karya dari banyak seniman dan desainer yang tidak takut melampaui batasan melukis hanya di kanvas. Mereka menciptakan pandangan baru yang menambahkan istilah ‘memandangi tembok’ dan ‘melihat gambar cat kering’. Semua itu tidak akan salah arah dan sia-sia. Bersama-sama kita bisa mempercepat perubahan tersebut. Beritahu kami dimana dinding seni terbaik berada sehingga kami bisa melakukan tugas kami. 39


fashion attack

Retrospeksi Mode Negeri by Cempaka Asriani

Sebuah perjalanan nostalgia akan keberagaman mode nusantara. Jika generasi tua tampil gaya bukan tidak mungkin waktu akan membawanya kembali di masa kini untuk kamu nikmati. Oh my grandparents were so chic, why can’t I? 1901-1920: Like Queen Marie Semenjak tahun 1909, wilayah dari Sabang sampai Merauke menjadi bagian dari pemerintahan Hindia Belanda, maka dari itu, kebudayaan Eropa menjadi salah satu nafas terbesar dalam dunia mode di negeri ini kala itu. Di periode ini, gaya berpakaian wanita Belanda masih dipengaruhi oleh gaya dan selera di abad sebelumnya yang kental dengan gaya Edwardian, yaitu gaya aristokrat Eropa. Korset menjadi fashion item yang penting sebagai faktor pembentuk tubuh. Gaun-gaun yang ada hadir dalam Siluet S yaitu gaun yang sangat sempit di bagian pinggang ke dada namun bagian roknya menjuntai seperti memiliki ekor yang saat dipakai berjalan maka rok tersebut akan menyapu lantai. Diperlukan sekitar 6-7 meter bahan untuk membuat bagian roknya, Sementara itu, warna-warna yang digunakan adalah warna lembut seperti pink dan biru muda. Aksesori yang melengkapi penampilan wanita kala itu adalah topi lebar berhias pita raksasa dan bunga-bunga. Selain budaya Eropa, budaya lokal juga nampak berkembang seiring dengan digunakannya setelah kebaya dan kain batik sebagai pakaian wanita Belanda di kala santai. Jika wanita Belanda lebih memilih warna putih untuk kebayanya, wanita Indonesia dan wanita Cina Peranakan justru lebih memilih kebaya dengan aneka motif dan warna. Kaum pria di kala itu mengenakan celana batik dan baju santai tanpa kerah dan di saat formal mereka akan berganti menggunakan celana panjang dengan jas tutup berwarna putih atau hitam 1921-1940: Art Deco Art Deco, yang dekat dengan jiwa kebebasan, merupakan gaya ornamental

40 FAR APRIL/MAY 2009

dimana semua desain dekoratif yang muncul di periode ini dapat ditafsirkan sebagai Art Deco. Gaya berpakaian di masa setelah Perang Dunia I ini menampilkan kostum yang bersiluet sederhana, agak longgar, bergaris pinggang rendah dan pendek. Rambut di potong pendek dan dilengkapi topi cloche, yang mirip bentuk helm. Benar-benar gaya yang muda,ringkas dan praktis. Coco Chanel menjadi desainer yang berjaya di kala itu. Ia mempopulerkan gaya berpakaian yang sangat praktis feminin dan tetap populer sampai saat ini. Di masa antara 1920-1930, kesuksesan perfilman Hollywood juga membawa pengaruh besar dalam dunia mode. Bintang-bintang seperti Greta Garbo, Marlene Dietrich, Joan Crawford, dan Rosalind Russel menginspirasi jutaan penggemar di seluruh dunia tak terkecuali Indonesia. Wanita non Eropa di Indonesia semakin ingin menunjukkan jati diri lewat pakaian yang dikenakan. Hadirnya sekolah kejuruan kepandaian putri di tahun 30-an semakin meningkatkan minat remaja putri untu menjahit bajunya sendiri dengan melihat inspirasi di modeblad. 1941-1960: The New Look Perang Dunia II memberikan pengaruh yang besar terhadap aneka lini kehidupan, tak terkecuali fashion. Pakaian tidak lagi bisa tampil sangat mewah dan cantik semata. Kali ini kreatifitas mode juga harus dibarengi dengan nilai praktikalitas. Desainer Christian Dior melansir koleksi di musim semi 1947 yang terkenal dengan sebutan The New Look. Gaya ini menghadirkan pakaian dengan pinggang yang ramping, rok-rok mekar panjang, kerah-kerah sportif dan sepatu bertumit tinggi. Rambut hadir dengan gaya potongan bob. Sedangkan di 50-an, gaya berkembang kearah yang lebih ceria. Rok yang sangat lebar dan mekar menjadi ‘bintang’. Lebarnya si rok dibantu dengan kehadiran rok dalam


Jacket Giffarini Alun-Alun Indonesia, Rp. 365.000

Kalung, Nikicio Rp 299.000

Sandal Io&Co Alun-Alun Indonesia, Rp. 225.000

E A SY B RE EZ E

Lucky No. 7

Untuk si pemuja baju santai tapi tetap berkesan gaya. Adanya penggabungan elemen batik serta bahan ringan dalam pilihan warna cantik seperti jingga dan hijau dapat pula memuaskan kesan bersantai yang tak kalah menjadi pusat perhatian .

Pouch Hashima, Rp. 54.000 Incubare, Rp. 99.000

Gaun Toko Majju, Rp. 350.000

Teks & Style by : Zia Baagil Picture by : Niki Yusuf Saputra & team

Atasan Toko Majju, Rp. 250.000

Celana Pendek Toko Majju, Rp. 150.000

41


yang lebar dan kaku, disebut Petticoat. Bagi kaum pria, gaya mereka kala itu banyak dipengaruhi oleh kesuksesan Elvis Presley. Rambut berjambul melengkapi paduan kemeja dan celana ramping semata kaki. Selain itu, baju tradisonal juga sangat berkembang di periode ini. Baju kurung dan baju bodo tampil atraktif dengan warna-warna cerah. 1961-1980: Youth Movement “Berpakaian seperti diri sendiri” menjadi seruan yag diusung kaum muda yang telah lelah dengan aneka aturan di masa lalu. Kehadiran t-shirt, jeans, rok mini menjadi bukti gerakan ‘anti mode’ yang mereka lancarkan. Gaya ini semakin dipopulerkan oleh bintangbintang di masa itu seperti seniman Andi Warhol dengan gaya Pop Art nya, selain itu booming-nya The Beatles juga sangat menginspirasi. Namun tidak semua gaya yang mendunia itu boleh dipraktekkan di Indonesia. Beatles yang di Indonesia populer dengan gaya ‘bitel’ tidak boleh dipraktekkan di negara ini, terutama gaya rambutnya, karena dianggap tidak sesuai dengan kepribadian bangsa, sebuah prinsip yang diusung pemerintahan orde lama. Wanita Indonesia juga dilarang menerapkan gaya rambut sasak atau populer disebut gaya bouffant. Setelah orde lama berganti orde baru di pertengahan 60an kemudian mode Indonesia dapat dengan bebas berasimilasi dengan dunia luar yang saat itu mengusung kebebasan. Panjang gaun dan menjadi semakin pendek, berkisar di lutut atau mini sekaligus. Rok kerap dipadankan dengan kemeja dengan lengan digulung. Sangat feminin namun klasik. Rok balon desain Pierre Balmain atau rok tulip karya Pierre Cardin cukup populer pula di Indonesia. Gaya wanita Indonesia sedikit banyak diinsipirasi dari gaya berpakaian Jackie O, istri Presiden Amerika John F Kennedy, yang terkenal dengan gayanya yang klasik elegan. Pria Indonesia juga akhirnya dapat menerapkan gaya ‘Bitel’. Kebaya nasional juga hadir dengan bahan yang semakin beragam seperti bahan renda. Di tahun 70-an rok mini diperkaya dengan pilihan rok midi (dibawah lutut) dan rok maksi (semata kaki). Motif bunga banyak digunakan. Boots juga menjadi pilihan alas kaki yang populer. Sangat seksi dan sensual. Denim juga menjadi 42 FAR APRIL/MAY 2009

bahan yang sangat populer di periode ini. 1981-2000: The Rising of Indonesian Fashion Di periode ini, perkembangan mode berlangsung amat pesat. Desainerdesainer lokal seperti Iwan Tirta, Susan Budiharjo, Harry Darsono, Ghea Sukasah adalah beberapa nama dari mereka yang menawarkan kreasi yang bercita rasa tinggi. Wanita Indonesia juga semakin sadar akan mode. Terlihat dari semakin hadirnya majalah-majalah wanita yang mengedepankan informasi fashion terkini seperti Gadis, Kartini dan Femina. Beragam pakaian siap pakai juga tampak mengisi etalase department store atau toko serba ada seperti Matahari, Kris Gallery, Sarinah, Pasaraya. Di periode ini, peran selebritis juga masih menginspirasi gaya berpakaian remaja putri. Boy band dan girl band seperti Boyzone, Backstreet Boys, New Kids On The Block, Spice Girls membius penggemarnya melalui lagu, gerakan dance serta kostum mereka yang seketika mendunia. Di periode ini, wanita semakin mantap menggunakan celana. Mereka tidak lagi malu-malu beraktifitas dengan menggunakan culotte, baggies, knickboxers, celana palazzo, dan model lainnya. Penggunaan celana oleh wanita semakin menunjukkan keinginan mereka untuk mendapatkan kesetaraan dengan pria. Wanita juga semakin percaya diri menampilkan gaya yang gagah dengan aneka dress dan atasan yang dilengkapi padding atau bantalan bahu. Di kisaran tahun 1990-2000, tren baju wanita bergerak ke pakaian dengan siluet yang bodycon atau mengikuti bentuk badan dengan detail yang minimalis. Kostum nasional juga tampil dengan sangat indahnya. Para desainer tidak ragu-ragu untuk memodifikasi aneka kebaya, baju kurung dan baju bodo agar nampak moderen namun tetap kental dengan nafas lokal. Hasilnya dress dengan model kebaya, lalu tunik-tunik melayang yang dipadankan dengan kain-kain tradisional seperti songket, ikat, dan tentunya batik. Sedangkan untuk pria, di periode ini


AARTI JEWELLERY Perhiasan adalah atribut yang tak terpisahkan dari seorang wanita. Perhiasan memberikan gairah bagi seorang wanita. Perhiasan melengkapi busana seorang wanita. Perhiasan menyempurnakan penampilan seorang wanita. Perhiasan menampilkan kekuatan seorang wanita. Perhiasan mencerminkan kepribadian seorang wanita. Perhiasan memancarkan kecantikan sejati seorang wanita. Perhiasan menjadi saksi kesuksesan seorang wanita. Perhiasan adalah manifestasi isi hati seorang wanita. -aarti, piece of art-

DIBALIK DUET MAUT AARTI AARTI bukanlah serupa nama seseorang dari tanah India seperti yang ada di pikiran saya sebelumnya. Nama AARTI sendiri diambil dari bahasa Sansekerta, di mana ‘AA’ artinya ‘kepada’ dan ‘RATI’ artinya ‘kecintaan yang mendalam kepada Sang Pencipta. Jadi sesuai dengan namanya, koleksi perhiasan AARTI menampilkan keindahan seni yang merupakan anugerah dari Sang Pencipta. Setiap perhiasan AARTI didesain sebagai sebuah karya seni yang mencerminkan kecintaan dari dua wanita yang berbeda genre ini kepada hasil kreasi-Nya. Kedua wanita berdedikasi tersebut adalah Agnes Budhisurya yang merupakan seorang fashion designer kenamaan yang terkenal karena gaun lukisnya serta Ariani Pradjasaputra, seseorang yang memiliki ketertarikan amat besar dalam dunia seni perhiasan. Tidak puas hanya menjadi seorang fashion designer, Agnes memutuskan untuk menjadi seorang style designer. Ia

berkeinginan kuat untuk menciptakan style yang hidup sepanjang masa dan berbeda dengan fashion yang bersifat musiman pada umumnya. “Walaupun saya telah berhasil mengukuhkan eksistensi

saya di dunia mode, saya masih memiliki obsesi untuk mendesain perhiasan yang merupakan manifestasi dari diri saya yang terdalam,” ujar Agnes.

Sementara bagi Ariani yang baru saja kembali ke tanah air setelah menuntaskan studinya di bidang Industrial Design Engineering di Delft dan di OXO Edelsmederij Rotterdam, berpikiran bahwa wanita yang memakai perhiasan bukan saja untuk terlihat indah namun lebih dari itu perhiasan juga harus dapat ‘berbicara’. “Ketika saya mendesain sebuah perhiasan, apa yang ada dalam bayangan saya adalah para wanita yang akan memakai perhiasan tersebut. Memang penting bahwa suatu perhiasan terlihat indah, namun yang lebih penting daripada itu adalah perhiasan saya membuat pemakainya ‘berbicara’ dan menyampaikan keindahan mereka yang sesungguhnya. Kita ingin orang yang memakai aksesori kita, ketika masuk ke suatu ruangan langsung menarik perhatian orang-orang sekitarnya,” jelas Ariani. Selain karena keduanya memiliki hasrat yang sama dalam perhiasan dan aksesoris, AARTI juga menangkap pengaruh signifikan dari terjadinya krisis global. Mereka menuturkan sebuah strategi yang layak dilakukan setiap orang agar 43


tetap dinamis dan stylist dalam hal fashion namun tetap memprioritaskan penghematan. “ Dan pada jaman ini yang kebetulan sedang resesi. Jadi seseorang itu bisa tampil gaya dengan baju yang sama tapi asesorisnya saja yang berbeda. Misalnya sorenya cocktail lalu malamnya dinner, itu bajunya bisa sama tapi asesorisnya saja yang dibedakan,” urai Agnes yang langsung disambut anggukan kepala oleh Ariani. Suatu hari ketika Ariani sedang mencari sebuah gaun pesta, secara tak sengaja ia menemukan butik milik Agnes dan langsung jatuh cinta terhadap gaungaun hasil kreasinya. Pada kunjungan berikutnya, Ariani mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Agnes secara langsung dan keduanya langsung menemukan kecocokan. Ternyata mereka memiliki mimpi yang sama untuk mendesain perhiasan yang berbeda dari yang lain dan serta-merta memutuskan untuk berkolaborasi. ”Kami sangat bersyukur menemukan satu sama lain. Ariani sungguh merupakan sosok yang telah lama saya cari,” imbuh Agnes. “Kami berdua memiliki gaya yang sama dalam merancang perhiasan.

44 FAR APRIL/MAY 2009

Lebih jauh, kami merasa bahwa kami menemukan titik temu dari semangat, gairah, dan impian kami masing-masing. Di dalam kolaborasi ini, kami saling melengkapi satu sama lain. Bersamasama kami bekerja untuk menciptakan perhiasan yang unik dan berkarakter,” tambah Ariani. Perjalanan AARTI Sejak Premier Launch di Mitra Hadiprana, Kemang tahun lalu. AARTI terus melahirkan berbagai kreasi yang terwujud dalam berbagai koleksi. ‘AARTI premium jewelry pieces’ dan ‘AARTI ready-to wear jewelry pieces’. Namun hingga saat ini proses pembelajaran dan penyesuain satu sama lain diakui mereka masih terus dijalani. “Kita masih banyak belajar juga sih. Belajar dari pengalaman. Karena kita cuma berdua biasanya kita saling mengisi, dari satu ide nanti yang lainnya mengembangkan lagi lalu kembali lagi, begitu seterusnya.,” kata Ariani. “Tiap orang kan punya kekurangan dan kelebihan masing-masing, dan kami rasa kami bisa saling berbagi,” lanjut Agnes. Seiring dengan berjalannya waktu, kedua designer ini terus bereksperimen dengan berbagai material dan teknik pengerjaan

untuk menciptakan kreasi yang semakin matang dalam design dan semakin tinggi dalam mutu. “Kita juga cari material itu kemana-mana, ada batu yang langka dari salah satu negara di Asia, dari pelosokpelosok Indonesia juga. Segala cara kita lakukan, misalnya beli sendiri atau titip teman. Komposisi pasti kita perhitungkan. Dalam merangkai itu kan masalah selera kita inginnya bagaimana. Cara jatuhnya seperti apa, lemasnya atau kakunya bahan, efeknya, warnanya, semua itu kita eksperimen. Jadi tidak semudah itu ditiru orang,” ungkap Ariani. Saat ini koleksi perhiasan AARTI dapat dijumpai di Hadiprana Jewelry, d’designers Pasaraya, Populo concept Store Senayan City & Seibu Grand Indonesia dan juga dalam acara-acara tematik seperti pagelaran busana. Pada bulan Maret 2009, produk AARTI akan tersedia di Fashion First Senayan City. Perhiasan koleksi AARTI juga tersedia di workshop Agnes di Jl. Minyak Raya no. 2, Jakarta. Dibulan April 2009, workshop AARTI yang kedua akan dibuka di Simprug Golf I/92, Jakarta. Workshop ini terutama ditujukan untuk melayani pesanan custom-made jewelry pieces.


Dongeng Negeriku PHOTOGRAPHY FERDIANSYAH

FASHION AGNES BUDHISURYA

45


Keong Emas 46 FAR APRIL/MAY 2009


47


Jaka Tarub 48 FAR APRIL/MAY 2009


Bawang Merah & Bawang Putih 49


Roro Jonggrang 50 FAR APRIL/MAY 2009


Sandal Gladiator Madness, AOD Rp. 550.000 (Louhi) Aromatherapy LĂˆollĂˆ Alun-Alun Indonesia, Rp. 95.000

Kalung Madness, AOD Rp. 425.000 (Meave) Rp. 425.000 (Morgan Le Fay)

ED GE OUT

Lucky No. 7

Melabur dalam desain edgy nan klasik sebagi pemanis, desainer dalam negri terus memuncukan pilihan padu padan yang tak luput menarik perhatian.

Gaun hitam, Nikicio Rp. 899.000

Teks & Style by : Zia Baagil Picture by : Niki Yusuf Saputra & team

Faded Denim Skirt, Nikicio Rp. 379.000

Shirt Dress with Attached Shawl, Nikicio Rp 729.000

Clutch Brianstone Alun-Alun Indonesia, Rp. 775.000

51


street shout

OLIVIA/ANDINI // 15 // Dinosaurus : Brontosaurus

GLINKA // 22 // Pahlawan : R.A. Kartini

RANA // 17 // SMAK Penabur

RAISHA // 20 // Institut Teknologi Bandung

JAZZY CRAZE, JAKARTA Festival musik jazz terbesar di Asia Tenggara ini memang selalu dinanti seluruh masyarakat di Indonesia. Kota Jakarta menjadi tempat berlangsung acara ini yang diselanggarakan pada 6, 7, 8 Maret 2009. Antusias terbesar memang datangnya dari kaula muda khususnya yang berdomisili di Jakarta. Java Jazz ini memiliki daya magnet yang besar untuk memikat para penonton, ini terbukti dari penonton yang hadir tidak hanya dari Jakarta tapi ada juga uang dari Bandung bahkan Surabaya. Rupanya festival ini juga menjadi ajang para remaja untuk berpenampilan semenarik mungkin. Mulai dari sepatu, tas, baju, aksesoris yang dipakai pun beraneka ragam.

NADYA // 14

VERO // 17 // Role Model : Alexa Chung

Teks&Photo : Bungawati “Bungki�

ASHA // 19 // Pahlawan : Soekarno

52 FAR APRIL/MAY 2009

IRFAN RIADHI //19 // Inspirasi : Ras Muhammad

FADIL // 15 // Nasionalis : Pendukung persepak bolaan Indonesia


hit n miss

Oren Lavie

Her Morning Elegance “Kasur tidur yang indah” Video klip ini bercerita tentang alam mimpi seorang perempuan yang begitu detail dalam memvisualisasikan tiap-tiap kalimat pada lagu Her Morning Elegance yang liriknya sendiri sarat akan perjuangan hidup wanita pada umumnya. Video ini sungguh layak dijadikan referensi jika anda seorang pecinta dan pembuat video stop-motion. Bagian favorit saya adalah ketika sang penyanyi, Oren Lavie, tiba-tiba muncul dari balik pakaiannya dan berusaha mengejar sang model perempuan.

“GLOBAL WARMING”

Kita selalu ingin dicintai, diperhatikan, dan disayangi. BUMI pun demikian, dalam video ini menceritakan bahwa bumi yang kita tempati kini sudah dalam keadaan yang tidak baik. Hal ini disebabkan oleh ulah dari tangantangan manusia sendiri yang melakukannya. Kita sebagai “Pengontrak” di bumi ini haruslah menjaga keseimbangan hidup dan lingkungan. Agar kita dan generasi berikutnya dapat tetap hidup aman, nyaman dan tentram di Bumi ini. Tidak perlu berharap merubah kebiasaan buruk seluruh manusia di dunia, namun cukup lakukan mulai dari diri sendiri, dari hal yang paling mudah dan dimulai saat ini. Seperti 3R (Reduce,reuse,recycle) adalah tiga hal mudah yang bisa kita terapkan dalam hidup kita mulai saat ini, agar BUMI kita kembali tersenyum.

Benyamin. S and Bing Slamet- Tukang Sayur

Sepenggal adegan duet antara Bing Slamet dan Benyamin. S yang sedang bernyanyi dalam video berdurasi 2 menit ini diambil dari film drama komedi musikal lawas berjudul Ambisi. Beberapa figur panutan dalam bidang musik seperti Koes Plus, Bimbo dan Ahmad Albar turut terlibat dalam satu alur cerita. Ambisi memperlihatkan betapa dulunya perfilman Indonesia bukan hanya industri tapi lebih daripada itu adalah sebuah seni yang murni.

53


SAHID SAHIRMAN MEMORIAL HOSPITAL Oleh : Dr.Siswanto, SpM., SpKl.

S

AHID SAHIRMAN MEMORIAL HOSPITAL [SSMH] merupakan pengembangan bisnis dalam bidang pelayanan kesehatan yang didirikan oleh Sahid Group yang telah lebih dahulu mendirikan Sahid Sahirman Medical Centre (SSMC) yang terletak di Apartemen Istana Sahid 5 tahun yang lalu. Sahid Group dikenal dalam industri pariwisata Nasional dalam bisnis perhotelan melalui Hotel Sahid Jaya sebagai salah satu hotel bintang lima yang memiliki jaringan tersebar di beberapa kota di Indonesia. Pendiri dari Sahid Group adalah Prof. DR. H. Sukamdani Sahid Gitosardjono yang dikenal sebagai salah satu putra bangsa yang terkemuka dalam dunia wirausaha dan juga dunia pendidikan dengan mengembangkan Universitas Sahid dan Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid. Sedangkan nama dari rumah sakit ini berasal dari Bapak R. Sahid Djogosentono (Ayah dari Bapak Sukamdani) dan Bapak R. Sahirman Sastrowardojo (Ayah dari Ibu Juliah Sukamdani). Sahid Sahirman Memorial Hospital (SSMH) merupakan rumah sakit yang berupaya menjadi rujukan terbaik bagi layanan UROLOGI, FEMALE HEALTH, DIAGNOSTIC, MEDICAL CHECK UP dan Spesialis lainnya. SSMH terletak di Jalan Jendral Sudirman No 86 Jakarta Pusat, di tengah pusat bisnis Jakarta yang strategis. Demi meningkatkan kualitas SDM dan layanan, SSMH telah menandatangani kesepakatan dengan Medizinische Hochschule Hannover (MHH, atau Hannover School of Medicine – Germany) untuk pengembangan kerjasama dalam bidang pembinaan SDM, alih teknologi, dan sistem layanan. Serta dengan ParkwayHealth Singapore dalam bidang transfer of knowledge dan quality service. Layanan utama bidang Urologi untuk kasus-kasus, antara lain, Batu saluran kemih, Pembesaran prostat. Dengan tindakan Extracorporeal Short Wave Lithotrypsi (ESWL), Endourology (Trans Urethral Resection Prostate /TURP, Green Laser, Ureteronoskopi, Percutaneuous Nephrolithotomy, Laparoskopi) dan Open Surgery. Unggulan kedua adalah Female Health yang memiliki layanan tunggal dan komprehensif untuk Kulit seperti Mikrodermabrasi, Peeling, Laser CO2, Botox, Mesotheraphy. Bedah Estetika, Female Urology (Overactive Bladder, Fistula, Incotinentia Urine), Ginekologi (Kista, Patensi Tuba terganggu, Bedah Estetika, Fistula) serta Female Sexual Dysfunction. Adapun unggulan ketiga adalah Diagnostik, yang layanannya meliputi Radiologi Konvensional, C-Arm, Mobile X-Ray, Mammografi dan USG. Dilengkapi pula dengan Multi Slices Computerized

54 FAR APRIL/MAY 2009

Tomography Scan (MSCT)-128 dengan jenis pemeriksaan seperti: Urography, Heart/Cardiac, Head/Cranial, Neck/Carotid vascular, Abdomen, Whole Body. Untuk bidang Kardiologi dan pembuluh darah dilengkapi dengan Angiografi / Cath-Lab meliputi Angiografi Kranial, Koroner, Perifer dan Pemasangan Stent, Balon, Rotablation (Mengebor Kerak), Directional Atherectomy (Pengerokan Kerak) Layanan dalam laboratorium Klinik meliputi: Patologi Klinik: Darah lengkap, Kimia darah, Imunologi, Serologi, Gas darah, Tumor marker/Cancer screening. Patologi Anatomi & Mikrobiologi. Unggulan berikutnya adalah layanan Medical Check Up yang menyesuaikan dengan kebutuhan peserta, baik Perorangan / Perusahaan maupun Kelompok. Untuk layanan Spesialis Lainnya terdiri dari: Penyakit Dalam & Nephrologist, Jantung-Pembuluh Darah (Treadmill, Echocardiografi), THT (Endodiagnostik, Audiometri), Mata (Non contact Tonometri, Foto Fundus), Anestesi, Neurologi, Dental klinik, Hemodialisa, Tiga Kamar Operasi, Anti aging dan Gizi yang menerapkan pembuatan makanan dengan bahan organik. Bagi layanan Fisioterapi yang tersedia adalah: Manipulative, Therapeutic Exercise, Massage, Chest physiotherapy (Heating, Inhalasi, Breathing exercise, Clapping, Vibrasi, Coughing/Huffing, Postural Drainage), Pelvic Floor Exercise, Pre & Post Exercise. Fasilitas Layanan Rawat Inap yang dimiliki adalah: Suites (Sahid dan Sahirman Suite), VIP, Standard (2-bed and 4-bed) dan ICU : 6 TT. SSMH juga menyediakan layanan Unit Gawat Darurat (UGD) 24 jam yang memiliki Mobile X-Ray, Minor Surgery serta Ambulance.


55


event

PRAY

UNTIL SUNDAZE “Sundaze” menggempar Jakarta akhir pekan 29 Maret 2009 lalu. Acara yang dinanti para kawula muda ini berlokasi di Waterbom Pantai Indah Kapuk. Sundaze kali ini mengambil tema “ SUNDAZE PARK” dengan dua area Sundaze dan Jazzed Dub. Turut dimeriahkan oleh Jhudeth, Ade Ferdian, Johannes Taufan (Adroitz Music), DJ Lay (Pure/Mansion, Norman P (inflight), and MC P Double. SUNDAZE stage, SURPRISE SPECIAL GUEST DJ Alongside: Jhudeth, Ade Ferdian, Johannes Taufan (Adroitz Music), DJ Lay (Pure/Mansion), Norman P (inflight), MC P Double. JAZZED DUB stage: Sister Duke feat. Bima Isman, Orbeat, Four On The Floor, DJ Kulki, DJ Chillink. “Come and show your love in green” kalimat ini mewakili sebagian besar warna pakaian yang dikenakan oleh para pengunjung. SUNDAZE berhasil menjadi pusat acara di long weekend kali ini.

56 FAR APRIL/MAY 2009


In My Closet Tjut Faranissa Bachrumsyah (20), perempuan kelahiran Jakarta ini sangat menggemari sepatu kets. Saat saya berkunjung ke rumahnya, terlihat benar kalau perempuan tomboy ini pecinta kets sejati. Di dalam kamarnya yang didominasi warna hitam dan merah ini, Nissa memiliki lemari khusus untuknya menyimpan sepatu-sepatu kesayangannya itu. Bassis dari Omelette Band ini punya banyak cerita tentang koleksi sepatunya. Namun bukan hanya kets yang dia koleksi ada juga beberapa barang seperti CD, Miniatur tokoh, dan masih banyak lagi yang bisa kamu tahu dari perempuan yang lebih suka bergaya casual ini.

D

ari koleksi sepatu yang kamu punya mana yang paling kamu suka? Sepatu nike yang motifnya bunga-bunga, karena sepatu ini Limited Edition, yang baru bisa ditemukan di Singapura. Selain itu, sepatu ini pemberian dari ibu aku.

M

erek sepatu yang paling kamu suka? Aku paling banyak dari NIKE, tapi ada juga beberapa merek lain seperti: Adidas, Melissa Jelly Shoes.

S

elain koleksi sepatu, barang apalagi yang kamu koleksi? Aku suka banget dengerin lagu jadi koleksi CD aku lumayan banyak. Seperti : Bon jovi, Queen, The Killers, Red Hot Chili Peppers, Muse, Alanis Morissette, Rush, The Script dan masih banyak lagi.

K

alau aliran musik Omelette Band sendiri bagaimana?

Kalau untuk Omelette Band lebih ke Pop rock alternatif.

aku selalu pakai BB ini mulai dari komunikasi, sampai buka facebook.

K

D

D

A

alau sepatu yang paling nyaman kamu pakai walaupun sudah lama banget? Sepatu Converse aku yang warna putih, soalnya sepatu ini nyaman banget dipakai ke mana saja, walaupun bentuknya sudah jelek tapi sepatu ini masih jadi andalan aku buat sampai sekarang.

iantara koleksi sepatu kamu mana yang memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya? Sepatu aku yang Nike dunk bergambar Subasha, untuk mendapatkannya aku harus mencarinya sampai ke Amerika.

i kamar kamu terdapat beberapa lukisan, siapa yang memilih lukisan itu dan kenapa? Lukisan yang ada di kamar aku kebanyakan pilihan aku sendiri, biasanya aku pilih yang sesuai dengan warna dan dekorasi kamarku. pa saja variasi warna sepatu kets kamu? Untuk warna, aku punya yang warna unggu, orange, kuning, putih, dan masih banyak lagi. Kalau soal warna aku lebih suka warna-warna yang terang dan menyala.

B

enda apa yang tidak pernah lupa kamu bawa setiap hari? Aku tidak boleh ketinggalan benda yang satu ini yaitu handphone Blackberry aku, karena 57


Sejak kecil Teuku Bahriansyah (23), memang telah menyukai dunia musik. Niatnya belajar gitar karena melihat sang bunda yang dulunya merupakan gitaris dari “Aria Junior” Band. Pemuda yang biasa dipanggil Ryan ini, kini membangun mimpinya jadi kenyataan menjadi gitaris di Omelette Band. Sebagai seorang gitaris, gaya berpakaian tentunya harus tetap diperhitungkan. Ia mengidentifikasikan gaya kesehariannya dengan “Rock and Roll” style. Celana jeans, t-shirt, dan jaket merupakan ciri khasnya setiap hari. Maka tak heran kalau koleksi celana jeansnya terbilang banyak.

K

enapa kamu suka sekali memakai jeans? Jeans nyaman banget untuk dipakai seharian. Dan cocok untuk berbagai acara.

M

erek jeans yang sering kamu pakai? Nudie, Tsubi, Cheap Monday, Trigger, Seri Fontaine, dan sebagainya.

C

ara kamu merawat celana jeans kesayanganmu?w Aku jarang menyucinya, biasanya hanya di jemur lalu disetrika.

Biasanya kamu memakai celana jeans ukuran berapa? Ukuran pinggang aku kecil banget cuma 24’, karena itu aku biasanya beli celana jeans untuk perempuan.

S S

elain jeans, koleksi apalagi yang kamu punya? Aku suka koleksi topi, kemeja dan belt.

ebagai pemusik, apa kamu mempunyai banyak CD lagu? Iya, aku punya banyak CD, diantaranya: One public, The Academy, Alive, Slipknot, Metro station dan sebagainya. Punya cerita lucu tentang celana jeans kamu? Karena celana jeans aku jarang dicuci, jadi kalau mulai bau biasanya aku suka masukin ke dalam kulkas. Aneh, tapi itu bisa jadi cara alternatif buat aku.

58 FAR APRIL/MAY 2009


foreign exchange

BEDFORD AV, BROOKLYN.

Kota yang dipandang sebelah mata ini ternyata menyimpan banyak hal menarik yang perlu kamu tahu. Daerah ini memiliki banyak tempat yang menarik yang bisa kamu kunjungi. Ada beberapa tempat yang kita rekomendasikan buat kamu yang memang berniat mau jalan-jalan ke Brooklyn.

SOUND FIX Toko kaset ini bertempat di 110 Bedford Avenue Brooklyn, NY, 11211 USA. Di dekat pemberhentian subway L di Bedford Ave. Toko ini buka setiap Senin-Sabtu (mulai siang- jam 9 malam) dan Minggu (mulai siang- jam 8 malam). Toko ini menarik karena bukan sekedar toko kaset biasa tapi juga lengkap dengan lounge dilengkapi dengan panggung. Tempat ini biasanya memberi angin segar untuk tampilnya band-band baru, lokal, dengan berbagai aliran dari soul sampai electronica. Sound Fix yang buka diakhir April 2004 ini memang tempat yang nyaman untuk menonton pementasan band-band, selain itu tempat ini juga menjual Vinyl, CD dan juga menjual tiket untuk pertunjukan band lokal. Yang menarik di Sound Fix tidak hanya menjual tapi juga membeli Vinyl dan CD kamu yang sudah lama, asalkan masih bagus dan tidak banyak goresan dengan senang hati tempat ini akan membelinya. Tapi jangan berharap menemukan CD dari band-band yang baru karena tempat ini hanya menjual CD dari band-band lama yang masih disukai sampai sekarang. dan harga yang dipatok untuk CD baru sekitar $ 14. Pembayarannya pun bisa di akses melalui internet dengan menggunakan PayPal yang dianggap paling mudah dan juga aman. Berikut beberapa Top Sellers di akhir Februari adalah The Pains of Being Pure at Heart: s/t (Slumberland), Antony & The Johnsons: The Crying Light (Jagjaguar), Phosphorescent: To Willie (Nonesuch), Andrew Bird: Noble Beast (Fat Possum), Bon Iver: Blood Bank (jagjaguwar) 59


SHOE MARKET 160 North 6th street (Bedford Ave) Brooklyn, New York 11211. (718- 388-8495) Toko ini hasil kreatifitas dan kerjasama antar Dana Schwister dan Erika Vala dari hasil tangan merekalah sepatu-sepatu bagus itu tercipta. “The Tea” merupakan salah satu best sellernya yang terinspirasi dari sepatu Vintage milik Erika. Awalnya “Shoe Market” hanya menjual sepatu untuk wanita saja, namun melihat kurangnya toko yang menjual sepatu pria, maka pada February 2007 mereka membuka Shoe Market yang menjual sepatu pria. Beberapa best seller di Shoe Market, diantaranya Frye, The Worlshofer - 251, Jeffrey Campbel, Zurlick - Ake, RedWing - gentleman Traveler.

BUFFALO EXCHANGE Ini adalah sebuag toko baju yang mengambil trend dari gaya hidup masyarakat kota, mulai dari artis, seniman, samapai para hippie. Toko ini terkenal sangat murah pada saat cuci gudang dan barang-barang yang ditawarkan juga beragam; pakaian bekas, aksesoris, dan juga CD. Untuk para pembeli yang memiliki budget atau personil band terdapat beragam pakaian mulai dari Levi’s model vintage, kaos ironic, dress-dress murah yang menggoda, aksesoris, CD, mantel dan jaket pun ada.

SURF BAR & SEAFOOD RESTAURANT Alamat : 139 N, 6th street, Brooklyn, New York 11211. (718-302-4441) Profil : Restaurant ini lebih dikenal dengan nama Carmaya/Hurricane Hopeful. Tempat dengan gaya minimalis ini menyajikan makanan seafood bercitarasa Itali. Beberapa menu di tempat ini, diantaranya: remis besar dimasak tradisional, Bahama Monkfish pedas, Mahimahi Burger, lobster gulung dengan potongan daging yang lembut dengan sedikit mayo yang dicampur bersamaan.

NEW YORK MUFFIN 198 Bedford Ave (between 6th street & 7th st) Brooklyn, NY 11211 (718-599-0202), tempat transit terdekat: Bedford Ave (L) Tempat ini adalah toko kue yang menyajikan kue muffin sebagai anadalannya, dan kopi dan the sebagai pelengkapnya. Tempat ini biasanya dijadikan sebagai tempat sarapan unutk orang-orang seklilingnya. Muffin di sini banyak dipuji karena rasanya yang enak, ukurannya yang pas, dan harganya yang terjangkau.

60 FAR APRIL/MAY 2009

BEACON’S CLOSET Beacon Closet adalah sebuah toko pakaian yang memiliki koleksi yang unik dan juga koleksi beberapa desainer. Toko ini terletak di 88 North 11th street, Williamsburg, Brooklyn. Dari subway dilanjutkan dengan naik kereta L ke Bedfiord Avenue, lalu jalan kak kira-kira 5-7menit. Barang-barang yang dijual beraneka ragam, mulai dari kaos vintage, celana, sepatu, tas, jas, dan item-item terbaru untuk wanita. Untuk urusan harga pun sangat terjangkau dan biasanya waktu yang baik untuk berbelanja saat weekend di siang hari. Untuk kamu yang mencintai gaya vintage di sinilah tempatnya, tapi gaya modern juga tersedia. Beacon Closet,,dalam setiap membeli barang yang akan dijual selalu melihat dari beberapa faktor, diantaranya: musim, permintaan, dan juga keadaan. Jadi, semua barang yang ada di sini bukan asal saja,,tapi tetap mengikuti trend mode yang sedang in.


hot spot

“Cething� kini berinovasi menjadi Coffee & Resto. Tidak hanya makanan khas Kraton Jawa (Solo), untuk kepuasan pelanggan Cething menawarkan beberapa menu baru. Cita rasa yang ditawarkan makin bervariasi dengan adanya tambahan menu seperti kopi khas Sumatra dan Toraja, serta berbagai macam cake dengan taste Internasional. Restaurant bergaya minimalis ini didesign dengan ornamen kayu hampir disetiap sudut dan dikombinasi dengan sofa yang lembut dan beberapa lukisan yang menambah kenyamanan di tempat ini. Restaurant ini berkapasitas 50 orang dan 100 orang (standing party). Beberapa menu makanan tradisional Solo andalan Cething diantaranya: Tengkleng (kaki & kepala kambing dengan kuah gulai dengan rasa spicy), Bakmi Jawa (bakmi dengan kombinasi telor, sayur, bumbu kaldu dan daging ayam), Nasi Goreng Krukup (nasi goreng yang ditutup dengan telor dadar dan berisi lidah sapi), Sate buntel, bistik lidah dan sebagainya. Selain itu jajanan tradisional juga terdapat di sini, seperti: serabi, klepon, dan es lilin home made dari Njonja Besar. Harga yang ditawarkan untuk makanan mulai dari Rp. 7.500 – Rp. 30.000 dan untuk es lilin dari Rp. 4.000 – Rp. 4.500. Demi kepuasan pelanggan tempat ini menyediakan free Wi-Fi dan life music yang diadakan setiap 1 bulan sekali. Selain itu, tempat ini juga bisa digunakan sebagai tempat arisan, meeting, acara ulang tahun dan sebagainya. Bon a Petit (Selamat Makan).

61


hot spot

62 FAR APRIL/MAY 2009


BOUTIQUE & DESIGNER Agnes Budhisurya Jl. Minyak Raya No. 2 Duren Tiga, Jakarta Selatan Telp. 021 7987969

Alun-Alun Indonesia Grand Indonesia Shopping Town West Mall 3rd Floor Jl. MH. Thamrin No. 1 Jakarta 10310 Telp. 021 23580890 Association of Division (AOD) Jl. Panglima Polim V/38 Jakarta Selatan 12160 Telp. 021 72797515 Incubare Saberro House, 2nd Floor Jl. Kemang Raya No. 10A Jakarta Selatan 12730 Telp. 021 7195981

Nikicio www.nikicio.com Toko Majju Jl. Kemang Selatan VIII 64B No. 1 Jakarta Selatan Telp. 021 7190531 www.tokomajju.blogspot.com Voguexic by Adrian Hp. 081514392999

BEAUTY

PHOTOGRAPHER

Niki Yusuf Saputra Hp. 021 93715074, 0818163738 nikiyusufsaputra@yahoo.com Ferdiriansyah Hp. 0815.8201099 www.ferdiriansyah.multiply.com ferdiriansyah@yahoo.com

LOCATION

TM Studio by Rojak Jl. Gatot Subroto Kav. 67 Hp. 08151865541

W2 Salon Jl. H.O.S Cokroaminoto No. 52 Jakarta Pusat Telp. 3907568

GALLERY

Aarti Jewellery by Ariani Jl. Minyak Raya No.2 Duren Tiga, Jakarta Selatan Hp. 0818952529

63


64 FAR APRIL/MAY 2009


1st Issue