Issuu on Google+

EDISI 3 Harga Eceran Harga Langganan

Minggu I Mei 2013

Rp. 8.000 Rp. 27.500/Bulan

Elma Nur fazrina

Koswara., SH. MH

N I K S I M

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Cover Story

FAKTA GARUT

2

Banyak Warga Tidak Menyekolahkan Anaknya

I N I K S MI

ronis, semaraknya Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei, ternyata tidak sesuai dengan fakta dilapangan soal pendidikan. Di Kabupaten Garut sejak lama masyarakatnya banyak yang tidak bisa menikmati dunia pendidikan yang layak. Berdasarkan pemantauan Fakta Garut, di satu desa saja terdapat ratusan anak yang putus sekolah. Berbagai alasan yang dikemukakan sebagian warga masyarakat, ketidakmampuan untuk menyekolahkan anak-anaknya disebabkan faktor ekonomi. Sehingga, tidak bisa dipungkiri jika banyaknya warga Garut yang tidak mengenyam pendidikan yang layak, membuat Kabupaten Garut secara tidak langsung sangat miskin pelajar. Hal tersebut bisa diukur dari banyaknya warga Garut yang berada dibeberapa wilayah di Kabupaten Garut. Khususnya di wilayah pinggiran, mereka hampir mayoritas penduduknya tidak sekolah. Sementara, perhatian dari pemerintah setempat pun seakan-akan tidak ada. Keadaan yang melanda masyarakat ekonomi rendah mengharuskan, anak-anak mereka tumbuh menjadi seorang pekerja sejak usia dini. Salah satu contoh anak-anak di Desa Mulya Mekar Kecamatan Pasirwangi. Puluhan dari ratusan anak dari satu daerah itu terpaksa menggantungkan sepatunya di sudut pintu rumah, mereka tak bisa lagi memakai sepatu itu untuk pergi menuntut ilmu pendidikan di bangku sekolah. Setiap pagi mereka terbangunkan oleh suara kokokan ayam. Kemudian setelah itu mereka pun harus membawa telapak kakinya ke lahan perkebunan milik saudagar-saudagar yang ada dilingkungannya. Dengan menggunakan pakaian seadanya, tanpa harus menenteng buku mereka berangkat hanya untuk menjadi “buruh” tani. Melihat kondisi anak-anaknya ini, sejumlah orang tua mengaku hanya pasrah dengan keadaan yang mereka terima. Walaupun jeritan hati mereka sangat kencang, namun semua itu hanya menjadi sebatas penderitaan pahit yang harus dijalani dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Salah satu kepala keluarga yang mengadukan hal ini adalah Pak Dulloh (61) dan istrinya Ny Entin (45). Pasangan suami istri yang telah di karuniai satu orang putri (Nurlela, 12 tahun) dan (Fahmi, 2 tahun) ini dengan terpaksa harus membawa anak-anaknya pergi ke ladang untuk mencuil “rupiah”. Hati mana yang tak menangis apabila melihat buah hatinya harus mengeluarkan keringat hanya sekedar untuk bertahan hidup. Namun, beginilah kehidupan masyarakat di Kota Garut. “Saya sedih tidak bisa menyekolahkan anak-anak. Tetapi kami memang tidak memiliki biaya untuk menyekolahkan mereka,” ungkap Dulloh saat berbincang dengan Fakta

Garut, beberapa hari lalu di kediamannya. Ia dan istri beserta kedua anaknya saat ini menempati rumah yang sudah tidak layak. Dengan beralaskan tanah dan berdinding anyaman bambu, mereka menghabiskan waktu kesehariannya. Sempat terbesit di benak mereka untuk membuka usaha dengan berjualan, tetapi niatnya itu tak pernah terwujudkan karena modal yang tak kunjung terkumpul. “Setiap hari saya dan anak-anak harus bekerja ke ladang milik majikan saya. Upah yang saya terima hanya Rp15 ribu perhari. Sedangkan anak yang bungsu saya pun mengalami gangguan kesehatan karena kekurangan gizi. Dengan kondisi ini mana mungkin saya menyekolahkan anak saya,” ujarnya. Enis selaku ketua Rukun Tetangga (RT) di Desa Karya Mekar menambahkan, selain keluarga Pak Dulloh, didaerahnya ini masih banyak keluarga miskin, mereka hampir memiliki nasib yang sama. Selaku ketua RT iapun merasa sedih dengan kondisi ini, namun karena dirinyapun hanya sebatas penarik ojek, rasa sedihnya tidak bisa mengurangi kepahitan yang dialami warganya. “Mau tidak mau mereka harus bekerja dan tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya. Pendapatan mereka yang sangat kecil

Mau tidak mau mereka harus bekerja dan tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya. menyulitkan mereka untuk menyekolahkan putra-putrinya,” terangnya. Sementara itu,kepala Desa Mulya Mekar H Mumuh saat dikunjungi Fakta Garut tidak ada di kantornya. Begitupun dengan aparat desa tersebut. Waktu yang menunjukan pukul 13.30 Kantor Desa Mulya Mekar sudah tidak berpenghuni. Sehingga Fakta Garut belum bisa mendapatkan informasi apapun terkait perhatian desa terkait pendidikan didaerah itu.“Pak Kades jarang ada di kantornya, karena rumahnya bukan di daerah sini. Tadi ada pegawai seorang perempuan dan laki-laki, tetapi mereka sudah pulang ,” ujar beberapa anak yang sedang berkumpul di halaman Kantor Desa Mula Mekar dengan menggunakan bahasa Sunda.(asep ahmad)

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Cover Story

FAKTA GARUT

3

Kinerja Pemkab Garut Amburadul Terkuak dalam Kegiatan Reses Dewan

S

e j a k tanggal 23 hingga 30 April, seluruh anggota DPRD Garut melakukan kegiatan reses ke daerah pemilihannya masing-masing. Selama itu, mereka berkewajiban menyampaikan program-program yang telah mereka lakukan selama satu tahun anggaran kebelakang. Selain itu, selama reses mereka harus menampung dan mendengarkan aspirasi dari masyarakat untuk kemudian menjadi program tahun sebelumnya. Usai melakukan kegiatan reses, beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) mengaku kecewa dengan kinerja Pemerintah Kabupaten Garut. Pasalnya, selama kegiatan reses tersebut, mereka banyak menemukan keganjilan yang terjadi di lingkungan konstituennya. Hasil penelusuran mereka (anggota DPRD,red) ke lapangan menunjukan persoalan yang cukup kompleks. Satu persoalan memiliki keterkaitan dengan persoalan lain,yang pada akhirnya menjadi sebuah dilematika yang harus dipecahkan secara serius dan sungguh-sungguh. Salah persoalan yang dihadapi DPRD adalah bidang pendidikan. Banyak masyarakat di Kabupaten Garut tidak bisa merasakan bagaimana rasanya duduk di bangku sekolah. Selain dikarenakan berbagai faktor ekonomi, juga dipengaruhi salah satu program pemerintah di bagian pencatatan sipil yang menjadi kendala bagi masyarakat untuk sekolah.

Tiktik Widawati salah seorang anggota Komisi D DPRD Kabuaten Garut mengaku bahwa reses kali ini menjadi pengalaman baru bagi dia. Politisi yang berangkat dari Partai Demokrat ini baru duduk sebagai anggota DPRD mengisi kursi almarhumah Euis Komariah, anggota DPRD yang meninggal dunia. Tiktik masuk sebagai anggota dewan setelah melalui Pergantian Antar Waktu (PAW) yang dilaksanakan sekitar empat bulan lalu. “Empat bulan yang lalu saya baru dilantik sebagai anggota DPRD mengisi kursi almarhumah ibu Euis Komariah. Dan reses kali ini adalah pengalaman pertama selama hidup saya,” ungkap Tiktik saat ditemui Fakta Garut di kediamannya, Komplek Cempaka Blok 3, Desa Suci, Kecamatan Karang Pawitan, Kabupaten Garut. Tempat yang menjadi wilayah reses Tiktik adalah dapil empat, s eperti Malangbong, Leles, Cibatu, Kadungora, Selaawi, Cibiuk, Lewi Goong, Limbangan, Kersamanah. Di beberapa tempat ini Tiktik mengaku mendapat pemandangan yang mengagetkan. Selain jalanannya rusak parah, berbatu dan terjal, kondisi masyarakatnya pun banyak yang memperihatinkan. “Saya benar-benar kaget. Ternyata kondisi Garut seperti ini,” ungkap Tiktik dengan nada penuh keheranan. Untuk menempuh setiap perjalanan, Tiktik mengaku resah dan khawatir, terlebih saat lututnya terbentur batu saat terjatuh. Tetapi, iapun mulai menikmati perjalanan selama resesnya, karena banyak masyarakat dengan langsung dan lel-

H. Dadang Johar Aripin, MM (Kepsek SMKN 1 Garut)

P

uasa menyampaikan unek-uneknya. “Saya berangkat ke partai ini karena ingin mengetahui kinerja pemerintah, baik eksekutif dan legislatif. Setelah melakukan reses saya merasa heran, sekaligus bangga. Karena saya menjadi tahu kondisi masyarakat yang sesungguhnya,” ujar Tiktik. Beberapa persoalan yang harus menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah Garut berdasarkan pantauan Tiktik Widawati membuktikan kinerja pemerintah Garut memang kurang profesional. Untuk itu, iapun berjanji akan menyampaikan pandangannya tersebut ke rapat paripurna DPRD. “Yang harus di kaji lagi oleh pemerintah adalah pembuatan akte kelahiran. Selain itu, sarana pertanian, air bersih dan sarana infrastruktur juga harus ditingkatkan. Setiap persoalan yang dihadapi masyarakat sangat kompleks, sehingga ini harus menjadi perhatian pemerintah secara serius,” ujarnya. Menurut Tiktik, pembuatan akte kelahiran di Kabupaten Garut sangat tidak rasional. Gara-gara tidak bisa memiliki akte kelahiran, sebagian masyarakat tidak bisa mengakuti sekolah. Sedangkan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) itu bisa terwujud melalui pendidikan. Pembuatan akte kelahiran di Garut, sambung Tiktik sangat memberatkan masyarakat dan pasti menjadi beban yang sangat serius. “Masa harga pembuatan akte kelahiran ada yang mencapai dua juta, ini aturan apa,” ungkap Tiktik penuh tanda tanya. Ketidaktahuan masyarakat tentang

aturan hukum juga menjadi salah satu kasus yang harus diselesaikan secepatnya. Karena, lanjut Tiktik,

ketidakpahaman mereka tentang hukum adalah titik awal dari setiap persoalan yang terjadi di masyarakat. “Banyak masyarakat yang menikah siri, akhirnya tidak bisa membuat akte kelahiran. Ketika anaknya tidak memiliki akte, merekapun tidak bisa sekolah. Banyak pernyataan yang saya serap mereka tidak menikah resmi karena biaya nya mahal,” ujar politisi Demokrat ini membeberkan. Dari sekian banyak kasus di masyarakat, Tiktik berpendapat semua disebabkan kinerja yang kurang maksimal. Padahal, pemerintah se-

benarnya sudah mengetahui persoalan ini. Hanya saja, kenapa mereka sepertinya tidak cepat tanggap. “Kultur budaya kerja Pemerintahan Garut harus diperbaiki. Saya sebagai politisi dari Demokrat akan bekerja sesuai dengan kinerja pak Presiden SBY sebagai Ketua Umum partai Demokrat. Karena dia mampu menegakan aturan dan membongkar korupsi, walaupun harus berbenturan dengan partainya sendiri. Dalam hal ini saya akan membuka setiap persoalan yang ada di Kabupaten Garut secara transparan, agar masyarakat menjadi paham,” ujarnya. Sementara itu, Muhammad Toha salah satu warga Kampung Cirumampa, Kecamatan Cihaurkuning Kabupaten Malangbong mengatakan, pemerintah Kabupaten Garut harus peka melihat wilayah terutama di daerah. Saat ini, sambung, Muhammad Toha masih banyak masyarakat yang membutuhkan sentuhan pemerintah, tetapi seakan terabaikan. Salah satunya akses jalan Desa Cihaurkuning. Untuk membangun jalan mereka harus melakukan swadaya dan kerja bakti, sedangkan jarak dan kondisi jalan sangat rusak dan terjal. “Desa Cihaurkuning ini memiliki jumlah penduduk yang sangat banyak, tetapi jalan menuju ke masing-masing daerah seperti ke Citiru, Cimande dan beberapa kampung lain sangat buruk. Padahal jalan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan perekonomian. Kami sangat membutuhkan perhatian pemerintah agar nanti daerah kami bisa maju dan sejahtera,” pungkasnya.(asep ahmad)

Otda Pendidikan

eran pemerintah sangat dibutuhkan dalam memperbaiki sitem pendidikan di Indonesia. Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei lalu, banyak pihak mengharapkan pemerintah bisa memperbaiki sistem penyelenggaraan UN, supaya kejadian memalukan tahun ini tidak terulang lagi, sehingga ke depan dunia pendidikan di tanah air ini akan lebih baik dan maju. "Saya berharap terjadi proses reformasi dalam pendidikan dengan benar dan terukur, serta profesional. Sebab yang saya lihat sekarang mulai dari tingkat mentri, sampai ke bawah, lebih mengedepankan masalah materi bukan kualitas dari pendidikan itu sendiri, " papar Kepala SMKN 1 Garut, Drs. H. Dadang Johar Aripin, M.M. Menurutnya UN itu jangan menjadi satu-satunya alat ukur kelulusan siswa dan seharusnya pemerintah memberikan kewenangan kepada pihak sekolah untuk menentukan lulus tidaknya siswa. Kare-

na sikap prilaku anak didik juga harus dijadikan pertimbangan. Carut marutnya penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) tahun ini sungguh sangat mencoreng dunia pendidikan di tanah air, mulai dari terlambatnya pendistribusian soal UN, kesalahan cetak soal ujian, hingga terjadinya kasus jual beli soal dan kunci jawaban di kalangan guru dan murid. Hal itu membuktikan, ketidak profesionalan dan ketidaksiapan penyelenggaraan UN, mulai dari tingkat pusat sampai ke daerah. Yang pada gilirannya anak didik banyak yang menjadi korban dari sistem penyelenggaraan UN dari tahun ke tahun, sehingga menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Dikatakannya pula, pemerintah tidak boleh melupakan tiga kriteria dasar yang harus digunakan dalam bidang pendidikan, yakni psikomotor, apektif dan kognitif. "Sekarang pemerintah itu hanya memperhatikan aspek kognitifnya atau pengetauannya saja, sedangkan yang

lainnya diabaikan, kan prilaku anak sehari hari itu hanya sekolah yang tahu," ujarnya. Oleh karena itu, lanjut Dadang otonomi daerah bidang pendidikan harus benarbenar dijalankan, sesuai dengan undang undang no 32 tentang otonomi daerah, dimana pendidikan termasuk di dalamnya.(jay)



Sekarang pemerintah itu hanya memperhatikan aspek kognitifnya saja sedangkan yang lainnya diabaikan

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Peristiwa

FAKTA GARUT

HTI Garut Tolak Rencana Kenaikan Harga BBM

saya juga tidak setuju terhadap rencana pemerintah menaikan harga BBM

R

enacana pemerintah menetapkan dua harga berbeda untuk Bahan Bakar Minyak ( BBM ) jenis premium, Untuk motor dan angkutan umum Rp. 4.500/ liter dan Rp. 6-500/ liter untuk mobil pribadi, dengan tujuan untuk menghemat uang negara sebesar Rp. 30 tilyun. Rencana kenaikan BBM itu disebut sebut sebagai langkah untuk membatasi subsidi agar tidak membengkak dan melebihi anggaran subsidi pada APBN tahun 2013 sebesar Rp. 274,7 trilyun. Dari dana sebesar itu, subsidi BBM mencapai Rp. 193,8 trilyum. Tetapi dalam pidato kenegaraan Presiden SBY, pada Tanggal 30 April 2013 dikatakan kenaikan harga BBM itu malah akan satu harga, karena ada kesulitan tekhnis jika harus dua harga. Namun rencana tersebut, menurut Ormas Islam Hijbut Tahrir Indonesia ( HTI ), akan semakin membebani rakyat, sebab jika kenaikan harga BBM untuk mobil pribadi itu terjadi, dipastikan akan diikuti dengan kenaikan harga barang barang, lantaran banyak mobil plat hitam yang digunakan untuk usaha. Oleh karena itu ratusan anggota HTI Kabupaten Garut berunjuk rasa pada Selasa (29/04),dengan turun ke jalan menolak rencana pemerintah tersebut, karena dinilai hanya

akan menyengsarakan masyarakat kecil dan menguntungkan kapitalis. " Ini sejalan dengan salah satu kesepakatan IMF, dimana Indonesia yang tergabung di dalamnya pernah berkali kali terjerat utang IMF, sehingga IMF menekankan Indonesia untuk melakukan pivatisasi, seperti pengurangan subsidi BBM dansebagainya, " papar Rizki Rijal, Penanggung Jawab HTI Kabupaten Garut. Selain itu, kebijakan pemerintah untuk mengurangi subsidi BBM itu, dinilainya sebagai bentuk kedzoliman dan kemaksiatan terhadap aturan Islam. " Dalam Islam bahwa BBM yang bahan mentahnya dari alam itu adalah milik rakyat, bukan milik negara, apalagi milik asing, " tandasnya. Dikataka Rizki, sebetulnya masih banyak cara lain yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengurangi beban APBN, tanpa harus mengurangi subsidi BBM, diantaranya dengan cara menghemat belanja pegawai. Jika pemerintah tetap pada kebijakannya menaikan harga BBM, pihaknya tidak akan menggalang aksi masa yang lebih banyak, sebab Ia sadar betul, jumlah anggotanya tidak akan mampu merubah ketentuan pemerintah. Dalam aksi yang dilakukan dengan cara longmarch dari Kantor HTI di

Kecamtan Karangpawitan sampai Kota Garut itu, banyak yang mengikutsertakan anak anak di bawah umur, bahkan balita. Terlihat pula beberapa tukang becak ikut dalam aksi tersebut, " Saya tidak biasa ikut aksi demo, tapi karena saya juga tidak setuju terhadap rencana pemerintah menaikan harga BBM, terpaksa saya berhenti dulu narik becak, " ujar Agus, penarik becak warga Jalan Ciledug. Agus pun yakin, jika rencana pemerintah itu diwujudkan, akan diikuti dengan melonjaknya harha kebutuhan sehari hari, yang akan menambah beban hidupnya semakin berat. (Jay)

Ini sejalan dengan salah satu kesepakatan IMF, dimana Indonesia yang tergabung di dalamnya pernah berkali kali terjerat utang IMF

4

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Metrokrim

FAKTA GARUT

5

Melukai Mantan Istri Sang Duda di Kejar Polisi.

E

ntah apa yang terbesit dipikiran Hs (21) warga Kampung Cinisti, Desa Cinisti, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, sehingga tega melakukan penusukan terhadap wanita yang pernah dicintainya. Karena perbuatannyanya itu, akhirnya mantan istrinya Lina Natalia (21) warga Kampung Cibuntu, Desa Sukamanah, Kecamatan Bayongbong harus terbaring di rumah sakit. Sementara pria ini harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Setelah menjadi buruan polisi, HS akhirnya berhasil

dibekuk jajaran Polsek Cikajang di rumahnya, hari Rabu tanggal 15 Mei. Meskipun tempat tinggal pelaku dan korban, berada di wilayah hukum Polsek Bayongbong, namun karena Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Kecamatan Cikajang, maka pihak kepolisian pun membawa pelaku ke Polsek Cikajang. “ Alhamdulillah, tanpa ada perlawanan, Hs diduga pelaku penganiayaan sudah kami amankan, " ujar Kapolsek Cikajang, Kompol Basori kepada wartawan di Mapolsek Cikajang.

Pembobol ATM Apes di Garut

S

etelah sekian kali melakukan aksi kejahatannnya, dua orang tersangka spesialis pembobol ATM yakni Res (30) Warga Jatinangor, Kabupaten Sumedang dan Ag (35) warga Bontang, Samarinda, Sulawesi Selatan terkena apes di Kota Dodol. Kedatangan mereka ke Kabupaten Garut ini sudah tidak lagi disertai dewi fortuna, sehingga mereka pun harus meringkuk dibalik terali besi. Hari Minggu tanggal 28 April lalu menjadi hari yang nahas bagi kedua pelaku kriminal tersebut. Sebuah konter ATM Bank Central Asia (BCA) Garut yang berada di jalan Pramuka menjadi saksi bisu kesigapan Jajaran Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Garut, yang berhasil mengungkap dan menciduk tersangka spesialis pembobol anjungan tunai mandiri (ATM) yang selama ini aksinya sudah sangat meresahkan warga Garut. Kapolres Garut AKBP Umar Surya Fana melalui Kasat Reskrim AKP Dadang Garnadi dalam konfrensi persnya menyebutkan, kedua pelaku ditangkap saat melakukan aksinya di sebuah konter ATM BCA di depan pusat perbelanjaan Intan Binis Center (IBC) Garut pada hari Minggu tanggal 28 April lalu. Polisi juga masih melakukan pengejaran terhadap tiga tersangka lainnya yang berhasil melarikan diri yang identitasnya telah diketahui. "Sebenarnya jumlah tersangka seluruhnya ada lima. Hanya saja yang tiga orang yaitu DA, Abang dan Handoko berhasil melarikan diri. Kita masih terus melakukan pengejaran terhadap mereka," ujar Dadang, Senin (29/4). Dalam menjalankan aksinya, para pelaku menggunakan modus operandi dengan menyumpal lubang kartu ATM menggunakan batang korek api agar kartu ATM milik nasabah macet. Sebelumnya, para tersangka juga memasang "stiker call center" bank pada mesin ATM. Disaat nasabah kebingungan karena tidak bisa menarik uangnya, Ag menghampiri dan berpura-pura hendak menolong. Diapun menganjurkan agar pemilik kartu ATM menghubungi nomor petugas yang tercantum dalam call center yang mereka pasang. Menurut Kasat reskrim Dadang, terungkapnya kasus ini berawal dari peritiwa yang dialami seorang warga bernama Ani Nurhayati yang berniat menarik uangnya di sebuah ATM BCA di pusat perbelanjaan IBC. Namun Ani merasa bingung karena kartu ATM nya tiba-tiba macet, sehingga dia tidak bisa menarik uangnya. Disaat dia kebingungan, tersangka Ag masuk ke dalam

konter dan berpura-pura hendak menolong. Ag menyarankan agar Ani menghubungi tekhnisi bank yang tertera dalam stiker call center. Ani yang pada awalnya tidak merasa curiga kemudian menuruti saran Ag dengan menghubungi nomor telepon yang tertera dalam stiker call center yang disebut Ag sebagai teknisi bank. Tak lama kemudian, Handoko, tersangka lainnya datang dan langsung menanyakan nomor PIN dan nomor rekening milik korban. Disaat Handoko berkomunikasi dengan korban sekaligus mengalihkan perhatian, Ag berusaha mengeluarkan kartu ATM milik korban dengan menggunakan gergaji besi. Setelah berhasil, kartu ATM milik korban dia kantongi. "Namun ulah Ag itu bisa diketahui oleh korban sehingga diapun kemudian meminta Ag agar mengembalikan kartu ATM miliknya. Merasa aksinya ketahuan, Ag pun melarikan diri kemudian masuk ke dalam mobil Xenia silver D 1568 NX yang dikemudikan Res. Sedangkan Handoko yang berpura-pura sebagai tenaga tekhnis dan berhasil mengantongi nomor pin dan nomor rekening korban langsung menghilang," tutur Dadang. Korban berusaha mengejar tersangka yang melarikan diri dengan menggunakan mobil sambil berteriak minta tolong. Namun arus lalulintas yang sangat padat membuat laju kendaraan yang ditumpanginya tersendat-sendat. Teriakan Ani mengundang perhatian warga sehingga merekapun berusaha menghentikan mobil yang ditumpangi tersangka. Setelah ditangkap, kedua tersangka itu diserahkan ke polisi. Saat diperiksa petugas, salah seorang tersangka Ag mengakui perbuatannya. Operasi seperti itu menurutnya dilakukan hampir di semua ATM milik berbagai bank yang ada di kawasan Garut Kota. Sementara itu tersangka lainnya, Res, mungkin karena ketakutan karena harus berurusan dengan polisi, ketika dimintai keterangan malah terjatuh pingsan. Dari para tersangka, polisi menyita sejumlah barang bukti berupa kartu ATM No 6019001638179709 milik korban, tujuh belas lembar stiker call center berlogo beberapa bank, mobil xenia, tiga batang plat (gergaji besi), serta beberapa batang korek api. “Tersngka dijerat pasal 362 ayat 1 dan 5 KUHP tentang pencurian dengan ancaman hukuman lima tahun penjara,’ tegas Dadang. (agus somantri)

Lina di Tusuk Sepuluh Kali

L

ina Natalia (21) warga Kampung Cibuntu, Desa Sukamanah, Kecamatan Bayongbong harus terbaring dengan kondisi kritis di ruang IGD Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr slamet Garut. Entah cobaan apa yang diterimanya, sehingga dia harus menjadi korban penusukan oleh pria yang pernah menjadi tambatan hatinya. Lina mengalami sepuluh luka tusukan di sejumlah bagian tubuhnya, terutama dibagian leher. Menurut Kapolres Garut AKBP Umar Surya Fana melalui Kasat Reskrim AKP Dadang Garnadi, awalnya Lina ditemukan sejumlah warga telah tergeletak berlumuran darah di kawasan perkebunan teh Giriawas, Kecamatan Cikajang, hari Rabu tanggal 1 bulan Mei lalu. Petugas kepolisian yang datang ke TKP karena mendapat laporan warga saat itu juga langsung membawa korban ke RSUD dr. Slamet agar korban mendapatkan pertolongan. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, korban mengalami sedikitnya 10 luka tusukan diantaranya tujuh luka tusukan di leher, dua tusukan di bagian dada serta satu di tangan bagian kanan. Diakuinya, hingga saat ini pihaknya masih belum bisa memastikan motif dari perbuatan yang dilakukan tersangka Hs terhadap mantan istrinya itu. Namun diduga kuat, Hs marah karena ajakannya untuk rujuk ditolak oleh korban. Menurutnya, aksi yang dilaku-

kan tersangka ini terbilang sadis. Dia tega menusuk korban hingga sepuluh kali di daerah yang vital sehingga bisa mematikan korban. Namun beruntung, meski kondisnya kritis, saat ini korban masih bisa bertahan hidup bahkan bisa diajak bicara. "Bahkan kita bisa mengetahui identitas pelaku yang berinisial Hs yang tak lain mantan suami korban berdasarkan keteragan korban," ujarnya. Walau dalam keadaan kondisi memprihatinkan, namun korban sempat menerangkan kepada sejumlah wartawan dan polisi, kalau dirinya ditusuk suaminya karena menolak ketika diajak melakukan hubungan suami isteri oleh tersangka. Saat itu tersangka nampak sangat tersinggung hingga mengeluarkan gunting dan secara membabi buta menusukan gunting itu kepadanya. Masih menurut Lina, dia menolak melakukan hubungan suami isteri karena memang sudah bercerai dengan tersangka. Selama ini, tersangka memang sering memintanya untuk rujuk kembali namun selalu ditolak oleh korban. "Saat itu mantan suami saya mengajak saya untuk rujuk, bahkan mengajak melakukan hubungan suami isteri namun saya tolak. Dia sangat marah hingga akhirnya menyerang dan menusuk saya dengan gunting berulangkali," ujar Lina sambil menahan sakit ditubuhnya. (agus)

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Pesantren

FAKTA GARUT

6

Ponpes Sadang Lebak, Garut

Lahirkan Ahli Nahwu Sharaf

K

etenaran Pondok Pesantren Sadang Lebak Garut sudah tidak perlu diragukan lagi dikalangan dunia pesantren yang ada di wilayah Jawa Barat. Pasalnya, pesantren yang beralamat di Kampung Sadang Lebak, Desa Situ Sari, Kecamatan Karangpawitan, Garut ini sudah mampu mencetak puluhan ribu santri. Saat ini, para almuni pesantren Sadang Lebak tidak sedikit yang sudah berkiprah diberbagai sektor. Menurut informasi yang diterima Fakta Garut, bahwa saat ini banyak tokoh-tokoh besar baik di Garut maupun tingkat nasional merupakan alumni Pesantren Sadang Lebak. KH. Aceng Hasan, Pimpinan Pondok Pesantren Sadang Lebak Garut, kepada Fakta Garut menuturkan jika para santri yang pernah dididik di pesantrennya saat ini sudah tersebar diberbagai wilayah yang ada di Jawa Barat. Bahkan, tidak sedikit adapula para santri yang berasal dari peloksok tanah air. “Kalau bicara santri yang pernah belajar di Pesantren Sadang Lebak ini sudah tidak terhitung, karena pesantren kami ini sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Sehingga, kalau dihitung para alumni pesantren ini sudah mencapai puluhan ribu,” ujar KH Aceng Hasan.

Kelebihan yang dimiliki pesantren Sadang Lebak, seperti yang dituturkan Abah Acha, sapaan sehari-hari KH. Aceng Hasan oleh santri dan warga sekitar pesantren ini adalah para santri yang belajar di pesantren Sadang Lebak sejak dulu tidak pernah dibebani oleh biaya apapun. Para santri berkewajiban hanya belajar dan belajar saja. Urusan makan dan kebutuhan lainnya semua ditanggung oleh pesantren. “Inilah yang menjadi keberkahan bagi pesantren kami, selama ini para santri yang belajar di pesantren ini tidak pernah dibebani dengan biaya apapun. Mereka disini hanya fokus belajar dan belajar, urusan makan dan yang lain-lain itu kami yang tanggung,” tegas Abah. Setiap pesantren memang secara umum belajar tentang ilmu agama, namun ada kelebihan yang dimiliki pesantren ini adalah belajar ilmu Nahwu Sharaf. Hal itu disampaikan Eddy Zunaeddy, salah seorang santri yang juga Ro’is di Pesantren Sadang Lebak kepada Fakta Garut mengaku bahwa hampir ratarata para santri yang belajar di pesantren tersebut karena ingin lebih memperdalam ilmu nahwu sharaf yang merupakan salah satu ilmu dasar untuk mempelajari berbagai keilmuan dibidang

agama. “Memang pelajaran ilmu nahwu sharaf di pesantren ini menjadi primadona, banyak santri yang datang dari berbagai daerah di Jawa Barat maupun dari luar Jawa Barat ke pesantren ini ingin lebih memperdalam ilmu nahwu sharaf nya,” tutur Eddy. Selain itu, tidak hanya melulu belajar nahwu sharaf di pesantren Sadang Lebak. Tetapi, banyak pula keilmuan tentang agama yang diajarkan oleh para guru yang sangat berpengalaman dibidang masingmasing. “Kami para santri disini dididik juga berbagai ilmu keagamaan yang lainnya, bahkan tidak hanya belajar ilmu agama terus. Tetapi kami juga dididik oleh pesantren untuk menjadi santri yang siap menghadapi segala tantangan zaman. Salah satunya, kami diajarkan mencari uang lewat bekerja yang halal,” tegasnya. Saat ini, para santri selain mendapat ilmu juga mendapat penghasilan berupa uang dengan cara ikut bekerja pada perusahan yang memproduksi minuman berkhasiat. Dimana perusahaan tersebut merupakan perusahaan milik pimpinan pesantren. (hafidz)

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Pesantren

FAKTA GARUT

Bekali Santri dengan Budidaya Ikan Koi

K

ecantikan warna dan bentuk koi memang membuat setiap orang gemes. Corak warnanya yang beragam dan pasti berbeda satu dengan yang lainnya menjadi keistimewaan ikan koi tak terbatas. Bagi penggila jenis ikan ini uang ratusan ribu bahkan sampai ratusan juta rupiah menjadi hal yang dikesampingkan bilamana patron warna yang unik dan indahnya telah melekat di hati sang penghobi ikan samurai. Begitupun yang dirasakan oleh KH. Aceng Hasan (Abah Acha,red), Pimpinan Pondok Pesantren Sadang Lebak, Garut. Saat ini beliau tengah serius membudidayakan ikan yang tak pernah bosan untuk terus dilihat. Selain keindahan dan kecantikannya yang dimiliki oleh ikan

koi tersebut. Juga, menurut Abah Acha ikan tersebut juga bisa dijadikan lading bisnis bagi siapapun. Karena memiliki nilai jual yang sangat tinggi. “Ikan koi ini banyak menginspirasi saya dalam menjalani aktifitas sehari-hari, yang kemudian selain sekedar hobi, memelihara ikan ini juga meimiliki nilai bisnis yang luar biasa,” ujar Abah kepada Fakta Garut. Dirinya, sangat menginginkan dan bermimpi bagaimana caranya budidaya ikan koi khususnya di wilayah Garut bisa dilakukan oleh warga Garut. Sehingga, nantinya Garut tidak hanya terkenal dengan dodol dan dombanya saja. Tetapi, Garut juga bisa terkenal dengan ikan koi. “Mimpi ini akan saya wujudkan

dengan cara mengajak masyarakat Garut untuk bisa ikut membudidayakan ikan yang terkenaldengan keindahannya dan bernilai jual yang sangat tinggi,” tegasnya. Mimpi ingin mewujudkan untuk membudidayakan ikan koi di Garut ini, tentunya bukan isapan jempol belaka buat Abah Acha, dirinya siap membagi ilmunya kepada siapapun khususnya warga Garut yang ingin belajar memelihara ikan koi. Saat ini, Abah sudah melakukan pemberdayaan budidaya ikan koi kepada para santri yang mukim di pesantren miliknya. “Disini para santri selain dididik ilmu agama, mereka juga dididik menjadi santri yang unggul dalam segala bidang,”ujarnya. (hafidz)

7

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Telekomunikasi

FAKTA GARUT

8

Saatnya Banjir Tablet

D

unia telekomunikasi di Garut ternyata terlihat cukup signifikan perkembangannya. Termasuk saat merebaknya Tablet Android di jagat gadget dewasa ini. Salah satu gadget tablet Android yang tergolong ekonomis dengan fitur maksimal adalah Andromax yang dikeluarkan Smartfren. Penggunaan Android Tablet di Garut pun cukup tinggi, walau tidak sebesar atau sebuming di Surabaya atau kota-kota besar lainnya. Untuk surabaya contohnya, PT Smartfren Telecom Tbk. (Smartfren), penyedia layanan telekomunikasi berbasis teknologi canggih CDMA EV-DO Rev. B Phase 2, akan membagikan 100 tablet New Andromax Tab 7.0” secara gratis di Surabaya Town Square, Surabaya pada 27 April 2013 mendatang. Smartfren berharap pembagian tablet New Andromax Tab 7.0” secara gratis tersebut dapat membuat masyarakat semakin mengenal produk Smartfren beserta keunggulannya. "Dengan acara bagi-bagi tablet gratis di kota pahlawan ini, Smart-

fren ingin terus mendekatkan diri kepada masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Kami berharap masyarakat Surabaya dan sekitarnya dapat lebih mengenal Smartfren beserta produk dan keunggulannya melalui sejumlah kegiatan yang ada dalam program ini," ungkap Arinto Utama Regional Head East Java, Bali, Nusa Tenggara Smartfren. Untuk mendapatkan New Andromax Tab 7.0” secara gratis, para peserta harus mendaftarkan diri dengan follow akun Twitter Smartfren @ smartfrenworld dan like Facebook page Smartfren. Para peserta tweet menggunakan akun pribadi mengetik "daftar @smartfrenworld #Tabletgratis" dan mention 2 akun Twitter teman. Kemudian para peserta yang telah mendaftarkan diri bisa mengikuti berbagai permainan menarik oleh MC untuk merebutkan total 100 tablet New Andromax Tab 7.0” gratis. Acara pembagian tablet New Andromax Tab 7.0” gratis ini juga dilengkapi dengan kemeriahan yang meliputi berbagai permainan interaktif dan Kwik Dance. Selain itu acara

ini menyajikan penampilan musik dari Tangga, Gavin MJ, dan AmPm. Smartfren New Andromax Tab 7.0” merupakan tablet dengan layar 7 inci terbaru dari Smartfren yang diluncurkan pada akhir tahun lalu dan mendapat sambutan positif dari masyarakat dengan tingginya permintaan produk tersebut. Sebelumnya Smartfren juga mengadakan acara pembagian gratis 100 Smartfren Andromax U di Jakarta pada tanggal 9 Februari 2013 dan dilanjutkan membagikan 100 tablet New Andromax Tab 7.0” secara gratis di Bandung pada 30 Maret 2013 lalu yang disambut antusias oleh masyarakat setempat. (rls/edt)

New Andromax Tab 7.0”

Warga Garut Tunggu Gadget Baru Smartfren Smartfren sebagai salah satu perusahaan telekomunikasi yang saat ini terus melakukan gebrakan mampu memuaskan pelanggannya. Terbukti, setelah mengeluarkan produk-produk andalannya, pelanggan smartfren terus mengalami peningkatan. Salah atu produk Smartfren yang di buru masyarakat Andromax smartften. Rupanya setelah produk ini laris di pasaran, Smartfren berinisiatif menghadirkan penerusnya, Andromaz-i. Smartfren Andromax-i adalah sebuah ponsel Android dual SIM CDMA-GSM yang menggunakan sistem operasi Android 4.1 Ice Cream Sandwich. Andromax-i mengusung layar berukuran 4 inci dengan resolusi WVGA atau 480 x 800 piksel IPS (In-Plane Switch). Menurut beberapa pelanggan Smartfren di kota Garut, Andromax-i memiliki keistimewaan, karena menggunakan prosesor Qualcomm Snapdragon dual-core dengan kecepatan 1GHz yang didukung dengan memori RAM sebesar 512MB serta grafis dari Adreno 203. “Saya selalu menunggu produk dari Smarfren karena selalu berkualitas,” ujar Zaenal, salah seorang pengguna Smartfren yang menetap di Karangpawitan, Garut. Menurut Zaenal, Andromax-i memiliki fitur yang lengkap. Smartphone Andromax-i ini dilengkapi berbagai fitur seperti WiFi, GPS, microUSB, Bluetooth, kamera depan dengan resolusi 5 megapiksel dan kamera belakang dengan resolusi 1,3 megapiksel. Andromax-i ini dibekali baterai dengan kapasitas 1.630 mAh. “Bicara soal kepuasan, Smartfren ahlinya,” ujar pria yang tercatat sebagai mahasiswa salahs atu perguruan tinggi di kota Garut ini. (asep ahmad)

a n e m Indahnya Wisata Darajat o

Tata Ruang

Fen

B

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

FAKTA GARUT

9

Bukan Wilayah Industri Pariwisata

aru-baru ini masyarakat di Kabupaten Garut dan sebagian masyarakat di tanah air terkagum-kagum dengan keberadaan area wisata Darajat di Garut. Daerah pertanian di pegunungan ini tiba-tiba berubah menjadi daerah yang sangat indah dan tertata apik. Kultur tanah yang berbukit-bukit disertai dengan pemandangan alam yang eksotis menjadikan tempat ini sebagai sarana yang layak untuk melakukan perjalanan wisata. Tempat Wisata Puncak Darajat Garut sebagai sebuah objek wisata yang terletak di Desa Padawaas, Kecamatan Pasirwangi saat ini menjadi tempat wisata Garut yang terbilang cukup ramai dikunjungi oleh wisatawan. Baik itu wisatawan dari lokal, hingga wisatawan luar kota Garut, bahkan wisatawan asing sering menjadikan tempat ini sebagai tujuan rekreasi. Selain jalannya bagus, kondisi alam nyapun sangat bersahabat. Lekukan jalan disepanjang perjalanan dari pusat kota Garut menuju lokasi Darajat terlihat sangat elok dan indah, sehingga mampu menjadikan teman setia dalam menembus batas waktu. Suhu udaranya yang dingin memang bisa menembus tulang, akan tetapoi hal ini malah menambah nuansa Wisata Darajat sebagai lokasi wisata yang memiliki ciri khas yang unik. Tempat wisata yang menawarkan keindahan alam, pemandian air panas dari pegunungan dan pemandian air belerang mampu menarik jumlah pengunjung yang sangat tinggi. Karena ditempat inipun disediakan beragam penginapan yang natural dengan konsep minimalis nan ele-

gant sehingga mampu memanjakan setiap pengunjungnya. Selain itu, magnet lain yang terus menarik wisatawan dari daerah luar ke Wisata Darajat yaitu aneka kuliner yang bervariatif dan relatif murah. Dengan kondisi ini Wisata Darajat mampu memberikan jaminan rasa kenyamanan, sehingga membuat betah setiap pengunjungnya. Namun ada sesuatu hal yang cukup mencengangkan dibalik keistimewaan Wisata Darajat. Karena area Wisata Darajat ini bukanlah daerah industri pariwisata. Tempat ini telah ditetapkan pemerintah Kabupaten Garut sebagai daerah konservasi. Bahkan, dalam Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah (RTRW) Pemkab Garut, daerah Darajat sebagai lahan konservasi memiliki tingkat kerawanan yang cukup lumayan besar. Sebagai wilayah konservasi, ternyata daerah di wilayah Darajat tersebut membutuhkan penataan alam yang cukup serius, salah satunya dengan melakukan penanaman pohon besar. Pasalnya, kontur tanah dan areanya ini rawan longsor. Sementara pungsi penanaman pohon tersebut berguna untuk memperkuat ketahanan kontur tanah serta menjaga ekosistem tetap terjaga dengan sehat. Melihat kondisi tersebut, pihak Pemerintah Kabupaten Garut menyatakan bahwa lokasi Wisata Darajat tidak bisa mengantongi ijin usaha pariwisata, karena hal itu berbenturan dengan aturan yang ada. “Wisata Darajat Cipanas ini maju dan berkembang secara alami. Kami tidak menduga kawasan Darajat ini menjadi area wisata kunjungan dan

kebanggaan masyarakat Garut dan Jawa Barat. Tetapi sampai saat ini, keberadaan Wisata Darajat belum belum berijin, ” ujar Kabid Perijinan BPMPT Kabupaten Garut, Yudi Wahyudin saat berbincang dengan Fakta Garut di kantornya, jalan Patriot, Garut. Kendati demikian, Badan Penanaman Modal Pelayanan Terpadu (BPMPT) Kabupaten Garut mengaku tidak bisa memberikan sangsi tegas terhadap para pelaku usaha di area Wisata Darajat. Pasalnya, pengembangan area wisata di area itu terjadi secara alami dan menjadi daya tarik wisata yang luar biasa. Dari berbagai keadaan tersebut, pihak BPMPT mengaku secepatnya akan melakukan rapat koordinasi antar dinas terkait, untuk membahas keberadaan wisata Darajat. “Secara geografis dan rencana Tata Ruang Tata Wilayah (RTRW) Kabupaten Garut, daerah Darajat bukan wilayah industri pariwisata, akan tetapi sebagai lahan observasi,” katanya. Banyaknya tudingan yang dialamatkan kepada sejumlah pengusaha wisata di darajat, bahwa dalam pelaksanaan pembangunannya mereka tidak mengantongi Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) yang sesuai menjadi kekhawatiran terhadap resiko yang akan di hadapi masyarakat nanti. Dari sekelumit persoalan di Wisata Darajat, maka pihak BPMPT akan melakukan pembahasan luar biasa. “Tempat-tempat besar di kawasan Wisata darajat, hanya dimiliki beberapa orang yang berhasil di daerah itu. Mereka petani sekaligus pengusaha yang sukses dalam memanfaatkan sumber daya a l a m

disekitarnya. Namun kemudian, ketika mereka menciptakan suatu usaha wisata dan membuka lapangan kerja, ijin yang mereka gunakan adalah ijin mendirikan rumah tempat tinggal. Sementara, bila dilihat dari sarana dan prasarana yang dibuat pemilik tempat wisata, seharusnya mereka mengantongi amdal dan ijin-ijin lain yang berkaitan dengan usaha mereka,” ungkap Yudi. Dalam kesempatan tersebut Yudi mengaku akan segera melakukan musyawarah, karena dalam hal ini peranan pemerintah harus mengatur semua hal yang berkaitan dengan sektor pariwisata. “Kalau sudah maju dan berkembang seperti saat ini, sepertinya kami tidak bisa bertindak tegas. Akan tetapi, kami akan mencari solusi yang terbaik. Yakni dengan berupaya agar tempat ini menjadi tempat yang sehat, aman dan nyaman. Dengan demikian kesejahteraan masyarakat di wisata darajat meningkat dan PAD Kabupaten Garut pun akan meningkat,” urainya. Yudi berharap, semua pelaku usaha dan masyarakat umum secara luas di Wisata Darajat dan Garut harus mematuhi aturan yang berlaku. Setiap melakukan kegiatan pembangunan dan mendirikan suatu usaha, maka harus menempuh proses perijinan yang benar. “Kami akan melakukan pengontrolan dan pengawasan secara rutin. Konstruksi setiap bangunan di daerah itu harus disesuaikan dengan kondisi tanah. Dalam hal ini secara administrasi Pemkab Garut akan memberikan teguran dan evaluasi sesuai dengan perkembangan yang ada,” tukasnya. (asep ahmad)

Yudi Wahyudin

DEWAN KECAM Pelaku Usaha Tanpa Ijin

S

ementara itu, anggota Komisi A DPRD Kabupaten Garut Dedi Kurniawan dan Wawan Kurnia mengatakan, lokasi Darajat bukan wilayah industri pariwisata, tetapi daerah ini daerah konservasi . Seharusnya dalam hal ini, darajat sudah menjadi asset bersama. Sehingga dalam pembangunannya pun harus memikirkan dampak negatif dan positifnya. “Saya yakin bahwa BPMPT tidak akan memberikan

ijin untuk Wisata Darajat. Karena daerah tersebut adalah daerah konservasi,”ujarnya. Namun demikian, kedua orang yang berasal dari partai berbeda inipun menekankan agar secepatnya Pemkab Garut segera mencari solusi untuk menangani kasus Wisata Darajat. Karena, di khawatirkan akan terjadi dampak yang negatif di kemudian hari. “Saya melihat langsung bangunan mewah tumbuh subur di Wisata Darajat. Begitupun dengan jum-

lah kunjungan wisatawan yang terus mengalami peningkatan. Tetapi secara kasat mata saja, lokasi tersebut memiliki potensi kerawanan yang cukup besar, “ ujar Dedi. Selaku anggota Komisi A DPRD Garut, Dedi menekankan, agar di lokasi Wisata Darajat dilakukan berbagai upaya reboisasi dan pembangunan guna memperkuat kontur tanah. Langkah inipun harus dilakukan secepatnya dan menjadi kesadaran semua pi-

hak. “Di daerah ini wajib ditanam tumbuhan besar yang berpotensi menjaga kesetabilan alam. Dan secepatnya Pemkab Garut men-

gambil langkah tegas terhadap pelaku usaha yang tidak menjalankan aturan dengan benar,” jelasnya. (asep ahmad)

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Politika

FAKTA GARUT

T

10

erdorong oleh keinginan untuk menjadikan Kabupaten Garut yang lebih maju dan siap menghadapi perkembangan jaman. H. Rd. Holil Aksen dengan tegas dirinya siap maju dalam pencalonan bupati di Kabupaten Garut yang akan digelar tahun 2013 ini. Berbekal pengalamannya diberbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) baik tingkat lokal maupun nasional, pria asal Limbangan ini merasa optismis jika dirinya dipercaya rakyat Garut untuk menjadi bupati. Maka, yang akan pertama dia lakukan adalah pembenahan sumber daya manusia (SDM) yang ada dilingkungan birokrat. Kenapa pembenahan SDM ditingkat birokrat didahulukan?, menurutnya, dengan pembenahan SDM dilingkungan birokrasi. Nantinya, akan memudahkan dia melakukan pengawasan dan pembinaan secara maksimal dalam menjalankan roda pemerintahan. “Hal yang pertama yang akan saya lakukan ketika saya dipercaya rakyat Garut menjadi bupati adalah pembenahan SDM dilingkungan birokrasi. Knapa hal itu dilakukan, karena dengan pembenahan tersebut akan memudahkan saya menjalani roda pemerintahan. Yang kemudian akan berdampak positif terhadap pelayanan untuk masyarakat,” ujarnya. Terlebih, lanjut suami dari Hj. Ratna Yuliani ini mengaku jika kondisi Garut saat ini sangat membutuhkan sosok pemimpin yang betul-betul mengetahui tentang Garut. “Tidak ada yang sulit untuk melakukan perubahan terhadap Garut yang dinilai sebagian banyak kalangan, bahwa Garut saat ini dalam kondisi memprihatinkan diberbagai sektor,” tegas Holil. Secara kasat mata, kondisi Garut sejak 10 tahun terakhir mengalami berbagai kemunduran berbagai aspek. Mulai aspek hukum, ekonomi, budaya dan sosial. Sehingga, akibat kondisi Garut yang sudah mengalami kemunduran dari berbagai sektor, Holil merasa terpanggil untuk melakukan langkah nyata dengan ikut terlibat dalam proses pemilihan bupati di kota yang terkenal dengan Domba Garut nya. Hanya saja, lanjut Holil, untuk melakukan perubahan di Kabupaten Garut ini diperlukan sebuah kerjasama yang sangat solid antara pemerintah dengan masyarakat Garut. “Tentunya tidak mudah untuk membuat Garut berubah dari kondisi yang sudah terpuruk saat ini. Namun, itu semua bisa dilakukan dengan cara bersama-sama rakyat yang merasa cinta terhadap Garut ini untuk menjadikan Garut jauh lebih maju. Yakni, lakukan yang terbaik untuk Garut,” imbuhnya. Selain itu, langkah yang akan dilakukan pria yang dikenal aktif dalam kegiatan pelestarian alam ini adalah untuk terus mencoba memaksimalkan potensi-potensi yang ada di Garut. Mulai dari potensi alam, potensi wisata serta potensi SDM masyarakat Garut. “Garut ini sangat kaya akan segala potensi yang dimilikinya, harus diakui oleh kita Garut memiliki sumber daya alam yang sangat luar biasa. Salah satunya adalah potensi yang dimiliki Garut adalah tempat-tempat yang bisa dijadikan sebagai kekayaan alam yaitu potensi wisata,” katanya. Dengan memaksimalkan potensi wisata tersebut nantinya mampu mendongkrak PAD untuk Garut dengan cara mampu menarik para investor luar. Hadirnya para investor, lanjut Holil, secara langsung akan berdampak terhadap kemajuan Kabupaten Garut.(hafidz)

H. Rd. Holil Aksan Umarzen

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Politika

FAKTA GARUT

Biodata Nama Alamat

: H. Rd. Holil Aksan Umarzen : Limbangan, Garut

Keluarga 1. Hj. Ratna Yuliani (Istri) 2. Ainun Marhamah (Anak) 3. Rahma Gania (Anak) 4. Fahri Ziaurrahman (Anak) 5. Rosyefa Qotrunada (Anak) Pengalaman Organisasi 1. Ketua Bidang Urusan Haji dan Hub. Luar Negeri Asphurindo 2. Ketua KPI Jawa Barat 3. Bendahara Umum IPHI Jawa Barat 4. Ketua Umum PM Gatra 5. Ketua Komite Penyelamat Kabupaten Garut

11

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Talenta

FAKTA GARUT

Nilai UN

Elma Nur fazrina

Harus Bagus S

eperti anak baru gede ( ABG ) pada umumnya, gadis cantik pemilik nama lengkap Elma Nur Fazrina memiliki cita-cita yang tinggi. Diusianya yang relatif masih muda, elma berharap suatu saat nanti bisa menjadi orang terkenal, sukses dalam belajar dan mendapat karir yang cemerlang. Bagi wanita berkulit mulus ini, untuk mengejar impiannya itu tentu harus dengan kerja keras dan mengeluarkan pengorbanan. Satu hal yang bisa menjadi kunci sukses bagi dia adalah dengan mengorbankan waktu bermainnya. Prinsipnya belajar dan belajar menjadi hal utama dalam hidupnya. Elma Nur Fazrina yang kini sudah menginjak usia ke 18 ini bercita cita menjadi pegawai negeri sipil ( PNS ). Selain itu, Elma yang me-

miliki senyuman manis inipun berharap bisa menjadi model terkenal. Untuk bisa mewujudkan mimpinya itu, gadis cantik yang masih duduk di bangku kelas 3 SMKN 1 Garut ini, telah belajar menjadi model, di salah satu modelling agency, sejak masih SMP. “Alhamdulillah sejak SMP kedua orang tuaku memberikan support terhadap cita-cita yang aku dambakan,” ujar Elma kepada Fakta Garut. Sesuai dengan prinspinya, putri dari pasangan Dedi Sutardi (50) dan Ny. Alin (45) ini berpandangan, bahwa tiada hari tanpa belajar demi masa depan yang gemilang. “ Pokoknya tiada waktu untuk berleha leha,” ujarnya, sambil tertawa renyah. Sesuai prinsipnya itu, gadis penyuka kuliner bakso dan juice strowbery itu, nyaris tak ada kegiatan yang dilakukannya di luar rumah saat ujian nasional (UN) berlangsung, kecuali ada keperluan yang sifatnya urgen. Demikian pula dengan aktifitas di dunia model, sedikit ia lupakan, terutama di akhir semester agar persiapan UN nya tidak terganggu. “Pokoknya UN wajib lulus dengan nilai memuaskan,” katanya, mantap. Selepas dari SMK, dara cantik yang tinggal bersama kedua orang tuanya di Gang Al Ikhlas Jalan Guntur itu, akan melanjutkan pendidikannya

B IIODATA ODATA Nama : Elma Nur fazrina Orang Tua : Dedi sutardi & Alin Pendidikan : SMKN 1 Garut Cita-cita : PNS dan Model Profesional Prinsip : Utamakan Belajar

Yang pasti aku harus kuliah di perguruan tinggi negri.

ke jenjang yang lebih tinggi. Meski belum bisa menentukan perguruan tinggi mana yang akan menjadi pilihannya, yang jelas perguruan tinggi negeri menjadi pilihan utamanya. “Yang pasti aku harus kuliah di perguruan tinggi negri,” ujar Elma sambil mengurai rambut panjanganya. Cita-citanya untuk menjadi PNS dari anak muda asli Garut ini patut diacungi jempol. Alasannya pun tidak neko-neko. Ia mengaku hanya ingin mengabdikan dirinya untuk membangun kota kelahirannya, yang hingga usia 2 abad ini masih tergolong daerah tertinggal. “Pokoknya kalau aku jadi PNS, akan berupaya berbuat yang terbaik demi kemajuan Garut. Garut ini kan potensinya melimpah, tapi kok susah maju, tapi kalau aku jadi model, gak janji deh,” papar gadis berkulit putih penuh percaya diri . Elma yang ditemui di lokasi peragaan busana Domba Catwalk Alun-alun Garut, nampak anggun dan cantik. Iapun merasa bahagia karena dilibatkan menjadi umbrella girl pada peragaan busana domba yang dicatat muri itu, diapun mengajak warga Kota Intan untuk memperhati-

kan Garut. “Domba catwalk ini salah satu potensi Garut yang digagas masyarakat Garut. Ini artinya terdapat potensi yang besar dari generasi bangsa yang harus di budidayakan, dan aku sangat bangga dengan inovasi ini,” pungkas Elma mengakhiri percakapannya. (Jay)

12

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Tokoh

FAKTA GARUT

13

Wujudkan Masyarakat Jujur Bersih dan Religius

DR. H. AHMAD KOSASIH, SH, M.Mpd

M

enjelang pemilihan bupati dan wakil bupati Garut periode 2013-2018, sejumlah bakal calon bupati mulai menampakan diri dan melakukan sosialisasi dengan memasang baligho disejumlah tempat yang dianggap strategis yang bisa dilihat oleh masyarakat umum. Bahkan para bakal calon pun kini mulai mencari dukungan agar bisa terpilih dalam pilbup Garut mendatang. Seperti halnya yang dilakukan bakal calon Bupati Garut yang satu ini. Pria kelahiran Garut, 01 April 1956 yang memiliki nama lengkap DR. H. Ahmad Kosasih, SH, M.Mpd. Suami dari Yati Haryati SE yang dikaruniai empat anak, yakni Fani Silviani SE, Vina Ratnasari Spi, Luki Lukmanulhakim, SH, MM dan Arini Hapsari Spi yang saat ini bekerja sebagai Asisten Manager Bank Niaga Kuala Lumpur, Malaysia. Pria jebolan S-3 Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Bandung Program Doktor manajemen Pendidikan ini, bertekad untuk mengabdikan diri dalam pemilihan bupati dan wakil bupati September nanti dengan partai Demokrat sebagai

roda pengusungnya. Keinginan untuk menjadi orang nomor satu di kota dodol ini lebih diakibatkan karena melihat kondisi Garut yang akhir-akhir ini seakan tak lepas dari berbagai macam persoalan, yang terus menjadi sorotan publik hingga di tingkat nasional, bahkan sampai internasional. Sebagai seorang akademisi dan lama menjadi birokrat di Garut dirinya yakin bisa mengabdikan diri untuk masyarakat Garut, agar Garut kedepan lebih maju dan berkembang. "Insya Allah dengan niat ibadah, apalagi sekarang sudah resmi sebagai bakal calon bupati dari partai Demokrat, saya akan membangun Garut kedepan dengan komitmen moral. Pendekatan berdasarkan nilai-nilai agama, nilai kecerdasan, kejujuran, bersih dan sejahtera. Lima komitmen ini akan saya terapkan bilamana nanti saya terpilih menjadi bupati, karena bupati merupakan pejabat publik yang diatur oleh undang-undang otonomi daerah nomor 32 tahun 2004," ungkapnya. Ditambahkannya, dalam menyikapi dua kali kepemimpinan Bupati

Garut yang dilengserkan ditengah jalan. Yang pertama harus membangun insfrastruktur pemerintahan yang terbaik, memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan komitmen yang kuat dan tidak boleh keluar dalam menjalankan visi misinya. Mulai dari masalah undangundang otonomi daerah dan pembenahan birokrasi. "Intinya partai yang mengusung saya adalah partai yang besar. Untuk itu saya memilih berkiprah di partai demokrat dengan landasan menuju masyarakat yang agamis, cerdas, jujur, bersih dan sejahtera. Komitmen komitmen itu adalah komitmen yang harus dilakukan pemerintahan ditingkat Kabupaten Garut andai nanti saya pimpin," tegasnya. Diakuinya, melihat fenomena yang terjadi di Kabupaten Garut, kultur masyarakat Garut terletak pada pucuk kepemimpinannya. Dimana dengan kualitas pimpinan yang baik bisa memberikan keteladanan dan contoh baik terhadap masyarakat. "Tata kelola administrasi, perencanaan, evaluasi, haruslah dikelola dengan baik, sehingga tidak keluar dari aturan aturan yang sudah diatur oleh kebi-

jakan pemerintah. Kesempatan kepada para pegawai negeri sipil yang punya prestasi baik dan berkualitas, perlu ditempatkan pada posisi yang sangat strategis agar bisa menjadi penyemangat dalam menjalankan tugasnya. Jenjang pendidikan haruslah menjadi yang utama sebab, para pejabat seperti itu serendah rendahnya punya pendidikan S1. Contoh seorang guru misalnya, dalam undang undang guru nomor 14 thn 2005 sudah dijelaskan bahwa yang berhak menjadi guru adalah yang mempunyai kualifikasi akademik S1. Apalagi pejabat di struktural itu yang harus diarahkan pada sumber daya manusia yang berkulitas," terangnya. Sebagai seorang akademisi, visi dalam lima tahun kedepan bila ia terpilih menjadi bupati, akan melaksanakan wajib pendidikan dasar 12 tahun sampai dengan tingkat SLTA/sederajat dengan ditunjang insfrastruktur pendidikan yang berkualitas, juga melaksanakan undang-undang guru dan dosen nomor 14 tahun 2005 dalam membangun mutu dan kualitas guru yang bermutu dan teruji, serta mengembangkan guru dengan program pro-

gram beasiswa ke jenjang S2. Menurut pria yang telah berhasil mencetak keempat anaknya hingga menjadi sarjana itu, mengungkapkan Garut milik publik bukan milik perorangan. Visi bagaimana people power kekuatan rakyat harus dikedepankan dengan parameter undang-undang dan parameter hukum. "Melihat dari sumber daya alam yang ada, tidak ada alasan bila Kabupaten Garut sampai saat ini masih menyandang status sebagai daerah tertinggal, maka andai dirinya terpilih menjadi bupati Kabupaten Garut, maka ia akan menyiapkan infrastruktur, perencanaan, kemudian tata kelola yang terbaik. Tak hanya itu, dirinya juga akan membuat pemetaan yang sangat hebat, melakukan konsultasi dengan kalangan akademis, dunia profesional dan dunia praktisi yakni masyarakat yang bermartabat, masyarakat Garut yang bersih, mandiri, adil, sejahtera, bermoral dan sejahtera dalam arti bersih lingkungannya dan bersih pemerintahannya dari korupsi, kolusi dan nepotisme," pungkasnya.(agus)

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Laporan Khusus

FAKTA GARUT

Garut

K

eberadaan PT.Chevron Geothermal Indonesia, Ltd (CGI) di Kabupaten Garut yang semula memberikan angin segar untuk masyarakat di lingkungan sekitar perusahaan itu berdiri, sepertinya hanya menjadi sebuah wacana semata. Pasalnya, sebagai perusahaan besar multinasional, perusahaan ini masih dianggap masyarakat setempat sebagai perusahaan besar yang kurang memiliki managemen profesional. Pernyataan ini memang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun, sejumlah tokoh dan masyarakat umum di lingkungan PT.CGI memiliki banyak pertanyaan terhadap keberadaan perusahaan yang menjadi operator panas bumi terbesar di dunia tersebut. Sebagai perusahaan energi yang terintegrasi terkemuka didunia, PT.CGI dianggap tidak memiliki keberpihakan terhadap masyarakat sekitar. Pernyataan tersebut nampaknya bukan isapan jempol semata. Sejak PT.CGI hadir di Kabupaten Garut, masih terdapat puluhan anak yang

berada disekitar perusahaan tidak bisa mengenyam pendidikan. Tidak hanya itu, tingginya angka kemiskinan menjadi sebuah persoalan yang diterpakan pada perusahaan ini, karena PT.Chevron dianggap tidak bisa membantu mengurangi pengangguran. “Sampai saat ini keperdulian dari PT.Chevron saya nilai sangat kurang” demikian diungkapkan Dia (58), salah satu tokoh masyarakat Kampung Cibeureum Rt 02/03 Desa Karya Mekar Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut. Pria telah lama tinggal di desa tersebut menilai, perusahaan tidak memiliki kepekaan terhadap masyarakat sekitar. Hal ini, terang Dia, bisa dibuktikan dengan banyaknya persoalan sosial di masyarakat seperti pengangguran, kemiskinan serta persoalan lain yang seharusnya menjadi persoalan bersama yang harus segera dicarikan solusinya. “Sebagai perusahaan besar di Indonesia, seharusnya PT.Chevron bisa melakukan produksi dengan baik yang disertai dengan kepedulian yang baik juga terhadap masyarakat sekitarnya,” tegasnya. Sesepuh warga yang akrab

k u t n u

Tingginya jumlah pengangguran di Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut menunjukan kegagalan pemerintah dalam memberantas kemiskinan. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi persoalan ini adalah dengan mendatangkan investor ke Indonesia, salah satunya PT.Chevron dan beberapa perusahaan lain Tetapi langkah ini belum memberikan hasil yang maksimal, persoalan pengangguran di Kabupaten Garut, bahkan dilokasi berdirinya perusahaan Chevron masih terdapat masyarakat yang tidak bisa mengenyam pendidikan. Padahal, sebelum berdirinya perusahaan Chevron, sejumlah masyarakat sangat menyambut baik kehadiran perusahaan tersebut karena mereka mendapat informasi bahwa perekrutan tenaga kerja akan banyak melibatkan masyarakat setempat, tetapi pada kenyataannya kabar tersebut hanya isu belaka. Mendengar persoalan yang berkem-

Chevron

dengan sapaan Abah Ewon ini berpendapat, selama ini perusahaan mendapat berbagai penghargaan. Artinya, menunjukan bahwa perusahaan tersebut memiliki kualitas dalam melakukan segala aktifitasnya. Hanya saja, menurut pandangan Abah Ewon, sampai saat ini masih banyak persoalan yang harus dibenahi pihak perusahaan. “Nama PT.CGI mungkin tercium harum di luar sana, namun bagi kami perusahaan ini masih jauh dari profesional,” paparnya. Pernyataan pria berkumis ini mungkin cukup mengagetkan. Betapa tidak, sebagai perusahaan proyek energi panas bumi terbesar yang terdaftar dalam program Clean Development Mechanism (CDM) dan Certified Emission Reduction (CERs) yang pertama dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) masih mendapat kritikan tajam dari masyarakat . “Mereka melakukan aktifitas di daerah kami, sementara masyarakat disekitarnya tidak dilirik. Walau bagaimanapun kami sangat tahu, bahwa keberadaan mereka di daerah kami

Rekruitmen Tenaga Kerja PT.Chevron tidak Maksimal. bang di masyarakat, sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Garut mengaku sangat kecewa dengan kebijakan PT. Chevron. Bahkan, menurut beberapa anggota DPRD, berkembang isu bahwa pihak perusahaan melakukan rekruitmen dengan sistem outsourching. Sehingga kebanyakan karyawannya berasal dari luar Garut. Dedi Kurniawan anggota komisi A DPRD Kabupaten Garut mengatakan, keberadaan perusahaan di suatu daerah sudah seharusnya mengutamakan perekrutan tenaga kerja dari lingkungan sekitarnya. Ini, lanjut Dedi guna membantu perekonomian masyarakat. “Ketika perusahaan itu beroperasi, maka secara otomatis masyarakat setempat yang pertama akan merasakan dampak negatifnya. Untuk itu, seyogyanya perusahaan wajib memberikan perhatian lebih kepada warga disekitar prusahaan berada,” katanya. (asep ahmad)

14

jelas-jelas untuk mendapatkan keuntungan,” ujar Ewon. Ewon berharap perusahaan dan pemerintah dapat berjalan beriringan untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik. Tetapi, sambung Ewon, jangan sampai semua itu hanya menjadi wacana semata. Tunjukan agenda itu dengan memperhatikan masyarakat sekitar, terutama masyarakat miskin yang memiliki sentuhan dan keperdulian. “Perusahaan harus peka terhadap lingkungan disekitarnya. Disini masih banyak warga yang tidak sekolah, kekurangan gizi, pengangguran, sarana dan prasarana yang kurang layak,” tukasnya. (asep ahmad)

n rusahaa , e p i a g esia Seba i Indon besar d a PT.Chevron ny seharus melakukan baik bisa engan an d i s k u ng prod ertai de yang dis an yang baik li kepedu terhadap a jug kitarnya e s t a k a masyar Dia r a Meka esa Kary k ara at D y s a M Tokoh

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Laporan Khusus

FAKTA GARUT

15

Kemanakah CSR Chevron Disalurkan ?

Kok! Malah Buang Badan T

idak hanya itu, anggota gedung putih juga mendapat kabar bahwa perusahaan menggunakan air bawah tanah sehingga lahan pertanian dimusim kemarau jadi kekeringan. Isu lain yang berkembang dikalangan anggota DPRD bahwa pihak CGI harus ikut bertanggung jawab, karena diduga menjadi penyebab penggundulan lahan konservasi disekitar lahan. “Kabar ini memang belum tentu benar. Tetapi kenyataan di lapangan memang banyak pengakuan dari masyarakat bahwa PT. CGI tidak begitu banyak berperan untuk masyarakat sekitarnya,” ujar anggota DPRD Kabupaten Garut Dedi Kurniawan saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis tanggal 2 Mei lalu. Menurut politisi dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), apabila isu tersebut menjadi benar, maka pihak perusahaan harus bertanggung jawab. Mereka harus memperhatikan masyarakat serta ekosistem di lingkungannya. “Saya mendorong kepada Chevron untuk lebih terbuka kepada publik. Paling tidak kepada pemkab Garut. Mereka harus menginformasikan secara gamblang tentang mekanisme pendistribusian CSR, cakupan CSR dan rekruitmen pegawai jangan sampai didominasi oleh masyarakat dari luar Garut. Perusahaan pun harus bisa menjabarkan berapa jumlah listrik yang dihasilkan dari tiga sumur yang mereka operasikan. Intinya kapan Pemda Garut akan mendapatkan bagi hasil yang di isyaratkan undang-undang,” jelasnya. Sementara itu, Manager Policy, Government and Public Affair Chevron Geothermal and Power Opration Ida Bagus wibatsya saat di hubungi Fakta Garut melalui ponselnya mengatakan, program CSR Chevron berdasarkan usulan program (program driven) dan bukan berdasarkanbesa-

ran budget. Sementara program yang diusulkan pun harus mengacu pada fokus program Chevron dan harus ada unsur sustainability atau keberlanjutan yang mengarah pada kemandirian. “ Contoh program CSR yang salurkan PT.Chevron di Darajat Garut seperti Pengembangan LKM atau Lembaga Keuangan Mikro dan Usaha Kecil dan Mikro, program pengembangan sekolah SMK pertanian terpadu seperti ternak domba, Super Camp yakni penguatan Siswa SMA untuk menembusperguruan tinggi terbaik, ” ujar Ida Bagus melalui ponselnya. Lebih lanjut Ida Bagus juga menyatakan, PT. CGI selama ini sudah melakukan bantuan pendidikan kepada masyarakat sekitar. Tentu saja, kata Ida hal ini sesuai dengan kemampuan pihak perusahaannya termasuk program lainnya. “Yang perlu dilakukan dan disadari adalah bahwa pendidikan secara umum adalah tugas pemerintah Indonesia, dan itu harus diingatkan. Peran swasta hanya sebagian kecil dan pelengkap, tidak mungkin swasta bisa ambil alih peran pemerintah,” tandasnya. Sementara itu, Dia (58) mengaku proses yang terjadi di PT.CGI tidak profesional. Berdasarkan pengalamannya, permohonan yang diajukan masyarakat sesuai petunjuk perusahaan seringkali dipermainkan. Untuk satu permohonan pengajuan saja, biasanya pihak perusahaan seperti melempar-lempar pengajuan tersebut. “Untuk satu pengajuan proposal saja, prosesnya hingga bertahun-tahun. Padahal permohonan yang diajukan masyarakat untuk kebutuhan pendidikan, sara ibadah, pembangunan jalan lingkungan dan untuk membantu masyarakat yang tidak mampu. Sebagai perusahaan besar seharusnya perusahaan lebih paham dengan kondisi ini,” terangnya.(asep ahmad)

Anggota Komisi A DPRD Garut

Miskin Dipusaran PT.Chevron

S

ementara itu, angka kemiskinan yang disebut-sebut sebagian warga Desa Mekarmulya Kecamatan Pasirwangi sebagai satu kasus yang tidak dihiraukan pemerintah dan PT.Chevron bukan kabar semata. Dari satu Rukun Tetangga (RT) saja, sudah terdapat puluhan anak yang tidak bisa melanjutkan pendidikan dari bangku Sekolah Dasar (SD) ke tingkat yang lebih tinggi. Ini disebabkan, ketidakmampuan masyarakat untuk membiayai anakanaknya. Sedangkan perusahaan sebesar Chevron yang memang nampak jelas berada di daerah itu seakanakan hanya menjadi tontonan untuk warga. Mobil mewah yang hilir mudik melintasi warga, gedung kokoh nan mewah serta pegawai yang gagah nan perlente menjadi pemandangan semata. Tetapi kontribusi untuk daerahnya terabaikan. “Perusahaan sebesar Chevron yang berdiri di daerah kami hanya menjadi tontonan,” ujar Yudi salah satu tokoh pemuda setempat kepada

Fakta Garut sambil menunjukan sebuah mobil mewah yang melintas saat itu, hari Rabu tanggal 1 Mei 2013. Selaku generasi muda, Yudi mengaku sangat prihatin dengan kondisi ini. Pasalnya, dengan berbagai pemandangan yang terjadi setelah adanya PT.Chevron, kesenjangan sosial di masyarakat menjadi semakin nampak. Satu sisi masyarakat berpenghasilan tinggi bisa tersenyum dengan lebar, akan tetapi tangisan masyarakat hanya menjadi sebuah pemandangan yang dianggap biasa. “Lihat saja masyarakat disekitar kami, mereka hanya buruh tani yang berpenghasilan Rp15

ribu perhari. Pada jaman ini, uang dengan nilai sebanyak itu cukup buat apa,” papar Yudi penuh tanya. Setelah berbincang cukup lama dengan sesepuh dan tokoh pemuda setempat, Fakta Garut mengunjungi satu daerah yang dikabarkan terasingkan. Baik itu oleh pemerintah, maupun oleh perusahaanperusahaan besar seperti PLN dan Chevron. Salah satu

ketua RT di desa Mekar Mulya pun menyambut baik kedatangan Fakta Garut . “Beginilah keadaan warga kami,” ungkap Enis selaku ketua Rt 09/02 Desa Karya Mekar.

Pria bertubuh sedang inipun menceritakan keadaan masyarakat dilingkungannya. Menurut dia, hampir seratus persen masyarakatnya memiliki profesi sebagai buruh tani. Setiap hari mereka harus pergi ke perkebunan untuk melakukan aktifitasnya. Keadaan mereka pun sangat memperihatinkan, namun sampai saat ini sepertinya tidak ada yang memperdulikannya. “Silahkan tengok keadaan masyarakat di wilayah kami. Mereka tidak memiliki rumah layak dan hidup dalam berbagai kekurangan,” ujarnya. Dikatakannya, dari sekitar 35 kepala keluarga (KK) terdapat anak yatim dan jompo. Keinginan mereka untuk hidup lebih baik sangat tinggi, akan tetapi dengan segala kekurangannya cita-cita itu terasa sangat berat dan susah untuk diwujudkan. Dengan adanya perusahaan-perusahaan besar disekitarnya sempat menjadi suatu harapan untuk dapat merubah keadaan yang selama ini mereka rasakan. (asep ahmad)

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Laporan Khusus

Madani Institute Garut

Prihatin Kondisi Warga Sekitar Kabupaten Garut sebagai daerah yang memiliki sumber daya alam dan kehutanan yang cukup luas, sudah menjadi incaran berbagai perusahaan, baik perusahaan berplat merah maupun swasta. Menyadari akan perkembangan serta pertumbuhan investasi di Garut, salah satu lembaga kajian yang konsern terhadap perubahan Garut, Madani Institute mengaku prihatin dengan kondisi ini. Dari sekian banyak perusahaan yang eksis di Garut masih harus terus didorong untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungannya, termasuk CSR (Coorporate Social Responsibility).

FAKTA GARUT

M

engapa harus terus didorong? Karena di Garut, berdasarkan kajian Madani angka kemiskinan masih tinggi. Hal ini tentunya menjadi tanggung jawab semua pihak, termasuk pemerintah dan perusahaan-perusahaan yang berada di Garut. Berdasarkan catatan Madani, banyak perusahaan besar yang belum bisa menyentuh wilayah sosial yakni kemiskinan masyarakat Garut. Padahal sesuai dengan UU yang ada, setiap perusahaan memiliki kewajiban untuk memberikan bantuan sosial kepada masyarakat miskin dan terisolir. Chevron misalnya. Sudah sejak lama, masyarakat khususnya yang berada di sekitar perusahaan panas bumi ini mendamba sentuhan nyata terhadap mereka. Hal ini ditekankan oleh Direktur Eksekutif Madani Institute Kabupaten Garut, Ujang Abdul Kohar. Menurutnya, di Garut ini masih banyak warga miskin di sekitar Chevron yang mengaku belum mendapatkan perhatian apa pun. Informasi ini jelas-jelas menjadi suatu berita yang mengundang tanda tanya, apakah benar perusahaan sebesar Chevron tidak menyentuh masyarakat miskin yang berada di areal perusahaannya. “Padahal UU sendiri sudah menyebutkan, bahwa setiap perusahaan yang memanfaatkan sumber daya alam wajib melakukan tanggung jawab sosial. Dari sekelumit persoalan kemiskinan dan pertumbuhan investasi di Kabupaten Garut, kiranya perlu dilakukan kajian-kajian tentang penyaluran CSR ini,” beber Ustad Ujang –begitu dia akrab disapa--. Dijelaskannya, Undang-undang tentang CSR (Coorporate Social Responsibility) di Indonesia tertuang dalam UU PT No. 40 tahun 2007 pasal 74 ayat 1. Dalam aturan ini disebutkan, perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab social (CSR) dan lingkungannya. Bagi pereseroan yang tidak

melaksanakan kewajiban dikenai sanksi, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Selain UU di atas, ada juga peraturan lain yang menyentuh CSR yakni UU No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Dalam Pasal 15 (b) disebutkan bahwa setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. Meskipun UU ini telah mengatur sanksi-sanksi secara terperinci terhadap badan usaha atau usaha perseorangan yang mengabaikan CSR, tetapi di pasal

16 ayat d mengatakan, setiap penanaman modal bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan. “Ini artinya perusahaan penanaman modal berkewajiban memprogramkan kegiatan CSR sehingga dapat meningkatkan jaminan kelangsungan aktivitas perusahaan,” ujarnya. Menurutnya, karena ada nya hubungan yang serasi dan saling ketergantungan antara pengusaha dan masyarakat. Dan Pasal 74, UU ini baru mampu menjangk a u i n vest o r asing d a n belum mengatur secara

16

tegas perihal CSR bagi perusahaan nasional. Peraturan Menteri Negara BUMN No.4 Tahun 2007 yang mengatur mulai dari besaran dana hingga tatacara pelaksanaan CSR. Seperti kita ketahui, CSR milik BUMN adalah Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Dalam UU BUMN dinyatakan bahwa selain mencari keuntungan, peran BUMN adalah juga memberikan bimbingan bantuan secara aktif kepada pengusaha golongan lemah, koperasi dan masyarakat. Dengan dasar-dasar hukum mengenai CSR maka parusahaan tidak bisa memandang sebelah mata tentang tanggung jawabnya dalam pengembangan masyarakat, selain kedaan masyarakat indonesia yang miskin dan tidak secara cepat dapat ditanggulangi oleh pemerintah, maka perusahaan yang hasil produksinya digunakan oleh masyarakat, harus memberikan kontribusi dalam kesejahteraan masyarakat karena walaupun perusahaan sudah membayar kewajibanya dalam bentuk membayar pajak, tidak jarang aliran dana yang dihasilkan dari pajak tidak langsung diterima oleh masyarakat miskin, maka dari itu perusahaan dirasa perlu mengembangkan tanggung jawab sosialnya dalam membantu masyarakat. Selain itu masyarakat saat ini sudah mengetahui berbagai informasi dan kritis terhadap hal-hal yang terjadi, maka dari itu masyarakat saat ini lebih cerdas, kritis dan variatif dalam memilih barang yang akan dibelinya. Meraka akan memperhatikan image yang diciptakan oleh perusahaan tersebut, misalnya, apakah perusahaan telah berkontribusi positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat atau apakah keberadaan perusahaan tidak menjadi bencana di tengah masyarakat? “Masyarakat sekarang sudah sangat kritis. Sebagai konsumen mereka akan melihat apakah suatu perusahaan tidak melakukan halhal tidak terpuji seperti perusakan lingkungan, eksploitasi sumberdaya alam, manipulasi pajak dan penindasan terhadap hak-hak buruh. Ini yang harusnya difikirkan oleh perusahaan-perusahaan besar yang ada di Garut,” pungkas Ujang Abdul Kohar. Apa pun itu, Madani berharap bahwa masyarakat Garut, khususnya yang berada di sekitar Chevron bisa mendapat perhatian dan perlakuan lebih dari perusahaan tersebut. (asep ahmad)

Direktur Executive Madani Institute Garut

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Transportasi

FAKTA GARUT

17

Jika kita lihat secara seksama, fenomena kemacetan di Kabupaten Garut ini terjadi akibat berbagai faktor. Seperti infrastruktur yang tidak memadai” Dayun Ridwan

Organda Bantah

Angkum Jadi Biang Kemacetan P ermasalahan kemacetan yang sebelumnya dilansir Fakta Garut pada edisi ke 2 bulan April, diduga diakibatkan oleh angkutan umum (angkum). Hal itu dibantah oleh Dayun Ridwan Ketua DPC Organda Kabupaten Garut yang ditemui Fakta Garut di kantornya Kamis (2/5) lalu. Menurutnya, dalam menyikapi suatu permasalahan ini hanya dititik beratkan pada salah satu pihak. Dalam hal kemacetan ini jangan sampai hanya angkum saja yang dijadikan sebagai biangnya. Lebih lanjut dia menjelaskan, jika angkutan umum yang hanya selalu disalahkan dia sangat tidak setuju. Sebab, jika angkum jumlahnya itu sangat mudah dikontrol sedangkan angkutan pribadi baik roda dua atau bahkan roda empat itu sulit untuk dikendalikan. “Coba kita lihat, angkum itu mudah untuk dihitung karena trayeknya sudah jelas bahkan jumlahnya pun dibatasi. Sedangkan kendaraan pribadi itu setiap bulannya terus bert a m -

bah. Tapi, infrastruktur tidak pernah dibenahi seperti perbaikan jalan rusak, pelebaran jalan di bahu jalan yang sempit. Atau bahkan dibuat jalur baru untuk mengurai kemacetan,” terangnya. Dijelaskannya, jika pemerintah benar-benar mempunyai itikad baik untuk membenahi lalu lintas di Garut, meraka (pemerintah, Red) harus benar-benar memasang ramburambu yang tepat baik baik untuk kendaraan umum atau pun pribadi. Hal ini menurut Dayun, harus terwujud dalam rencana tata ruang kota. “Semua itu jelas harus dibarengi dengan amdal lalu lintasnya,” imbunya. Pihaknya pun tidak mempungkiri bahwa ada sebagian sopir yang selalu menurunkan atau pun menaikan penumpang seenaknya. Tapi, hal itu bukan sepenuhnya salah sopir angkutan umum. Sebab, mereka itu

mempunyai alasan melakukan hal seperti itu. “Coba bayangkan jika dipinggir jalan berjejer mobil yang diparkir, maka sopir harus memberhentikan angkotnya di mana?” tanya dia. Dia pun berharap agar pemerintah daerah terus melakukan pembenahan dan penataan rambu-rambu yang ada agar dapat memberikan acuan yang jelas bagi angkutan umum ataupun angkutan pribadi. “Dan jika ada sopir yang melanggar aturan tersebut, tinggal diberi sanksi saja yang tegas,” pungkasnya. (zaenal muttaqien)

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Runing News

GGW

FAKTA GARUT

DESAK GUDANG DOLOG GARUT DITUTUP

Bongkar Lingkaran

S

Mafia Raskin

ekjen Garut Governance Watch (GGW), Agus Rustandi menduga telah terjadi penyelewengan serta adanya dugaan korupsi dalam penyaluran beras untuk warga miskin (Raskin) di Kabupaten Garut. Berdasarkan beberapa bukti yang telah dikantongi pihaknya, terdapat dua jenis bentuk penyelewengan. Pertama penyelewengan dalam distribusi, dimana pendistribusian Raskin tidak selalu rutin tiap bulan datang ke desa."Kalau dipukul rata, tiap desa rata-rata tiga sampai lima kali tidak ada. Atau, tiga sampai lima bulan beras Raskin tidak sampai ke desa. Jadi rata-rata hanya sekitar tujuh atau delapan kali saja dalam setahun Raskin nyampai ke desanya, dan yang tiga sampai limanya tak tahu nyangkut dimana?," ujarnya. Padahal menurutnya, didalam pedoman pembagian raskin mestinya 12+1. Jadi seharusnya setiap desa menerima sebanyak 13 kali pendistribusian dalam satu tahun, ditambah dengan beras ke 13. Sedangkan bila melihat hasil laporan dari bagian ekonomi, jelasnya, ternyata tiap bulan itu rutin ada, walaupun secara administratif semuanya telah dilengkapi namun pihaknya menduga dalam hal

ini

18

telah terjadi penyelewengan adanya indikasi praktek jual beli DO (Delivey Order). Sedangkan bentuk penyelewengan yang kedua yaitu dari segi tonase atau jumlah, ada susut. Dalam satu karung berisi 15 kilogram beras, rata-rata terjadi penyusutan antara 1 sampai 2,5 kilogram, penyusutan pun tidak hanya terjadi pada saat pendistribusian dijalan, tapi semenjak dari suplaiernya pun jumlahnya sudah berkurang, tidak 15 kilogram tapi sudah dikurangi.Maka tak berlebihan kalau selama ini, pihaknya melihat memang gudang Dolog di Garut sudah dikuasai oleh sekelompok orang yang melakukan kejahatan, melakukan penyelewengan terhadap program Raskin ini."Sumber daya manusia atau jumlah pegawai yang ada di Dolog Garut paling hanya ada sekitar tiga sampai empat orang saja, sedangkan mafia yang ada jumlahnya lebih besar, m a k a wajar kalau

sekelompok orang ini bisa mengendalikan program Raskin yang ada di Garut," jelasnya. Disisi lain, pihaknya pun sangat menyesalkan kinerja aparat kejaksaan dan kepolisian yang terkesan seakan tidak berani untuk mengungkap lebih jauh kasus-kasus penyelewengan yang terjadi di gudang Dolog Garut ini. Sebagai gambaran, misalkan dari contoh-contoh kasus yang diselidiki ataupun yang sedang disidik oleh pihak kejaksaan atau kepolisian, selama ini yang jadi korban hanya Kepala desa. Ketika D.O tidak sampai ke desa dua atau tiga bulan, sampai lima bulan yang dijerat selalu Kepala desa. Tapi pihak Kejaksaan ataupun Kepolisian tidak pernah berani mengembangkan kasus ini. Tidak berani mengembangkan bagaimana modus operandi yang dilakukan oknum kepala desa tersebut. Seharusnya pihak kejaksaan mempertanyakan kemana mereka (kades,red) menjualnya Raszkin tersebut, kepada siapa, dan itu tidak pernah diungkap."Kalau pihak Kejaksaan ataupun Kepolisian berani mengungkap itu, saya kira persoalan ini akan sedikit terbuka untuk mengungkappersoalan raskin yang selalu tidak tepat tiap bulan," tambah Agus. Agus pun mempertanyakan persoalan raskin yang tidak pernah terungkap. Dalam penyelewengan ini disinyalir banyak melibatkan aparat. Pasalnya, masyarakat awam saja secara jelas- jelas dan nyata sudah bisa melihat dan bisa merasakan adanya penyelewengan ini. Tetapi selama ini tidak pernah terungkap. "Kami menduga aparat pun ikut bermain dalam praktek penyelewengan ini, " tudingnya. Menurutnya, Persoalan i n i sudah

Agus Rustandi

Kami menduga aparat pun ikut bermain dalam praktek penyelewengan ini

komplek. Persoalannya sudah lama dan memang tidak pernah terungkap, untuk itu pihaknya merekomendasikan agar gudang Dolog Garut ditutup atau dipindahkan ke tempat lain. Karena keberadaan dolog memberikan pengaruh dan perbaikan yang signifikan untuk mensejahterakan masyarakat. Selain itu, untuk memutus mata rantai dari sekelompok orang atau sindikat Raskin yang memang selama ini melakukan persekongkolan jahat untuk merampas program raskin yang ada di Kabupaten Garut ini. "Misalkan gudangnya dipindahkan ke Tasik atau ke Ciamis,

karena pihaknya merasa yakin bahwa Bulog pun tidak akan mampu melawan sekelompok orang atau sindikat ini. Karena sudah dikendalikan kekuatan yang luar biasa dan sudah kuat karena didalamnya ada juga aparat yang terlibat,"tukasnya. (agus Solihin)

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Runing News

FAKTA GARUT

Keja Telisi

19

saan Teru Kasu

k s Raskin

S

ementara itu, Kepala Kejaksaan Negri (kejari) Kabupaten Garut Agus Suratno SH MH melalui Kasi Intelnya, Koswara SH MH menampik apabila disebut tidak melakukan pengungkapan kasus seputar Raskin. hal ini, sambung Koswara dibuktikan dengan kinerja jajaran kejaksaan dengan terus melakukan proses penegakan supremasi hukum, melalui penangkapan sejumlah oknum kepala desa yang sudah terbukti bersalah. "Kami akan terus melakukan pengembangan kasus ini. Keterangan dari oknum-oknum

kepala desa ini akan menjadi jalan menyusuri jejak pihak mana saja yang terlibat," ujarnya. Sebagai orang penting di Kejaksaan, Koswara mengaku akan terus menelisik mata rantai penyelewengan raskin. Tentu saja, hal itu ia lakukan sesuai dengan protap lembaganya. Iapun menampik apabila lembaganya disebut-sebut ikut terlibat dalam penyelewengan raskin di Kabupaten Garut. "Intinya Kejaksaan akan terus melakukan penegakan supremasi hukum. Selama ini Kejaksaan sudah bekerja secara optimal,' katanya.

Menyikapi, perkembangan kasus raskin yang selama ini terjadi di Kota Garut, pihak kejaksaan menilai kasus raskin memang cukup kompleks. Tetapi, sambung Koswara, sampai saat ini pihakpihak yang terbukti melakukan penyelewengan adalah kepala desa. Akan tetapi, bukan berarti persoalan ini berhenti sampai disini, karena kejaksaan pun sedang melakukan pengembangan, sehingga kemungkinan akan ada pihak lain yang terjerat dalam kasus ini. "Semua proses hukum kami tempuh sesuai prosedur," terangnya.(asep ahmad)

Jangan Kepala Desa Saja yang Ditangkap

K

Yusuf

S.

asus raskin yang tengah dikembangkan pihak Kejaksaan Negeri Garut, sudah menjerat satu oknum kepala desa yaitu kepala Desa Girijaya Kecamatan Cikajang. Namun, banyak pihak yang mendesak kejaksaan agar mengusut tuntas kasus yang jelas merugikan rakyat kecil itu. Jangan sampai kasus tersebut hanya bergulir pada oknum kepala desa saja yang mungkin saja mereka merupakn korban mekanisme. Hal tersebut diungkapkan oleh Yusup S, salah seorang pemerhati kebijakan publik yang juga mantan aktifis awal reformasi sekaligus warga Jalan Guntur Sari Kecamatan Tarogong Kidul kepada Fakta Garut, Rabu malam (1/5) lalu. Menurutnya, pembenahan pendistribusian raskin itu harus benar dilakukan khususnya oleh kepala daerah yang mempunyai wewenang khusus. Bahkan bapak Wakil Presiden RI Budiono pun telah mengintruksikan untuk membenahi pendistribusian raskin melalui runing teks di salah satu televisi swasta. “Dengan demikian saya sebagai masyarakat Garut berharap kejaksaan sebagai penindak hukum, agar mengusut tuntas semua oknum yang terlibat dalam penyalahgunaan pendistribusian raskin ini. Baik itu oknum kepala daerah, oknum pegawai Bulog, oknum aparat kepolisian

Koswara

., SH. M H

yang ikut berperan bahkan oknum kejaksaan sendiri. Jangan sampai tebang pilih dalam penindakannya,” tegas pria yang bergelut dalam dunia usaha proferti ini. Lebih lanjut Yusup memaparkan, oknum kepala desa yang tertangkap tangan menyalahgunakan kewenangannya ini mungkin saja sebagai korban dari sistem pendistribusian raskin yang dibuat oleh sang mafia. Dengan demikian, sekali lagi dia berharap agar kejaksaan dapat sejeli mungkin untuk menyidik semua mafia raskin yang terlibat. Sebenarnya, menurut Yusuf, kejaksaan itu sangat gampang untuk mengungkap kasus ini, itu pun jika kejaksaan masih berkomitmen untuk menegakan supremasi hukum setegaktegaknya. “Opini yang dibuat saat ini seakan-akan kepala desa lah yang paling bertanggung jawab dan yang paling disalahkan. Walaupun tidak menutup kemungkinan ada salah satu oknum kepala desa yang ikut berperan dalam mafia penyalahgunaan raskin,” imbuhnya. Dikatakannya, hal yang pertama harus dilakukan kejaksaan adalah menyelidiki rekanan mana yang paling banyak mendapatkan kontrak setiap bulannya dan ke beberapa daerah. Jika hal itu dilakukan, tidak menutup kemungkinan kepala Bulog Garut pun ikut berperan. Sebab, mata rantai pendistribusian raskin ini sangat jelas dan mudah untuk dilacak, baik oleh

penyidik kejaksaan maupun oleh intelejen. “Data itu pasti ada. Diangkutnya oleh mobil mana, didistribusikan oleh siapa melalui siapa. Dan pendiristribusian di tingkat desa atau RW pasti dapat dikontrol,” katanya. Jangan sampai tiba-tiba kepala desa menjadi sasaran kemarahan warga dan bahkan menjadi korban mekanisme yang ada dengan ditetapkannya sebagai tersangka. Padahal tidak menutup kemungkinan tandatangan kepala desa itu pun dipalsukan oleh mafia-mafia yang berperan dalam penyalahgunaan pendistribusian raskin ini. Sebenarnya, sambung Yusup, jika semua pihak memahami dengan jeli, kepala desa itu menjadi korban mekanisme yang ada. Jika mereka menjual raskin dengan harga yang sedikit tinggi merupakan seuatu kewajaran. Sebab, dalam setiap karung berasnya pasti mengalami penyusutan bahkan mereka (kepala desa, Red) harus menanggung biaya operasi seperti kantong kresek dan biaya pendistribusian lainnya. “Kalau ingin pendistribusian raskin ini berjalan sesuai dengan harapan kita semua. Pemerintah daerah melalui kepala bagian ekonominya langsung turun tangan untuk membenahi semua ini. Kalau perlu ada dana khusus dari APBD untuk memback up permasalahan ini,” tandasnya. (zaenal muttaqien)

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Milangkala

FAKTA GARUT

20

Gebyar Budaya Garut 2 Abad A

cara pembukaan Gebyar Budaya Garut 2 Abad yang berlangsung Kamis (25/04) dimeriahkan oleh seniman dari lima provinsi yang menampilkan seni budaya daerahnya masing-masing. Seniman-seniman dari Reog Ponorogo dari Jawa Timur, Papua, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan dan Bali ikut memriahkan HUT Garut ke 200 tahun. bahkan, kesenian dari kota tetangga seperti kesenian dari Tasik, Bandung, Cirebon dan Sumedang juga ikut memriahkan hajatan Kabupaten Garut. Gebyar Budaya Garut 2 Abad itu menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Garut, Yatie Rohayati juga selaku penanggung jawab kegiatan, acara tersebut akan berlangsung dari tanggal 25 April hingga 24 Mei 201. Adapun pengemasan budaya ini dalakukan dalam bentuk kirab budaya, helaran seni tradisional, devile, pagelaran dan pameran serta berbagai perlombaan. Menurutnya, acara tersebut dimaksudkan untuk menyediakan ruang bagi para seniman untuk mengekspresikan seni dan budayanya, serta memperkenalkan

produk lokal Kabupaten Garut supaya lebih dikenal luas. "Pertama menyediakan media ekspresi, yang keduanya agar Garut lebih dikenal tidak hanya di Jawa Barat, tapi lebih luas lagi. Tidak hanya keseniannya yang dikenal, tapi juga produk khas lainnya, yang pada gilirannya akan menarik wisatawan, sehingga kesejahteraan masyarakat akan meningkat," paparnya. Acara pembukaan di mulai dari jam 9.00 pagi itu, dihadiri Anggota Komisi 10 DPR RI, Ferdiansyah dan Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni Budaya Kementrian Pariwisata, Prof. DR. HM. Ahmansyah, perwakilan Gubernur Jawa Barat,serta unsur Muspida Garut. Ferdiansyah kepada Fakta Garut mengungkapkan rasa salut dan bangganya atas digelarnya perhelatan akbar memeriahkan Hari Jadi Garut ke 200 tahun. Dengan anggaran Rp200 juta untuk 200 macam kegiatan seni dan budaya serta yang lainnya itu, dengan mengikutsertakan seni dan budaya daerah lain. "Suatu kebanggaan dan sesuatu yang menarik karena Kabupaten Garut bisa membuka diri untuk seni budaya

yang ada di luar Garut, artinya masyarakat Garut ini ingin tetap mempertahankan seni dan budayanya. Tapi juga membuka diri untuk masuknya budaya dari luar, " katanya. Sementara itu Dirjen Ekonomi kreatif berbasis Seni Budaya Kementrian Pariwisata, Prof. DR. HM. Ahmansyah, dalam sambutannya mewakili Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DR. Marie Pangestu, mengharapkan kegiatan semacam itu bisa diagendakan oleh daerah lainnya di Indonesia. Karena melalui kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab terhadap budaya. "Tidak banyak daerah lain yang usianya sudah 200 tahun yang seperti Garut, yang telah menunjukan kematangannya dengan mengekspresikannya dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan yang bermanfaat. Semoga acara ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain," tandasnya. Ia pun menjelaskan, bahwa di kementriannya juga memiliki kegiatan yang serupa dengan Gebyar Budaya Garut 2 Abad, yang akan dilaksanakan tahun depan di wilayah Priangan Timur. (jay)

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Advetorial

FAKTA GARUT

Corporate Executive Officer (CEO) Muhamad Abu Bakar Siddiq

Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab

Asep Ahmad

Redaktur Pelaksana

Zaenal Muttaqin

Redaktur

Eden Kusnaedi Hasan Zaelani Ahmad H

Reporter

Asep Ahmad Agus Somantri Fitriana

Graphic Designer

Ivan “Barqah” Tyas Inos Beggy Pratama

Pemasaran/Sirkulasi

Dudi K. J. Gunawan

Marketing Iklan/Promosi

(Yusuf Akbar) Deden

Ekspedisi

Chardy Carly

PENERBIT PT. FAKTA GARUT MEDIATAMA

DIREKSI

Asep Irawan Syafe’i (Komisaris) Muhamad Abu Bakar Siddiq

(Direktur Utama)

Nana Ahmad Hanafi

(Direktur) Percetakan

PT. Aliansi Temprina Nyata Grafika Isi diluar tanggung jawab percetakan Redaksi : Jalan Gatot Subroto No 81 Komplek Cempaka Indah Blok 8 Karangpawitan Garut Tlp. 0262 - 236380 Office@faktagarut.com www.faktagarut.com

21

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Fenomena

FAKTA GARUT

22

Gunung Guntur Waspada !! Pemerintah Pilih Alun-alun Cilawu sebagai Lahan Evakuasi

P

ertanyaan masyarakat di wilayah komplek wisata Cipanas sebagai daerah terdekat dengan Gunung Guntur perihal status gunung ini mendapat respon dari pemerintah setempat. Informasi status Gunung Guntur yang simpang siur beberapa bulan ini cukup meresahkan masyarakat. Tetapi, dengan alasan informasi aktifnya Gunung Guntur ini sudah pernah terjadi tahun 2004, tetapi tidak pernah terjadi aktifitas apa-apa dari gunung itu, akhirnya masyarakat menilai informasi saat ini hanya isu belaka. Untuk mendapat kejelasan, masyarakat pun mendesak agar pemerintah dari mulai tingkat Rukun Tetangga (RT) dan Rukun warga (RW) sampai dengan aparatur pemerintah tingkat desa, Kecamatan serta instansi pemerintah hingga tingkat dinas atau bahkan bupati, untuk melakukan berbagai sosilisasi terkait berita terbaru tentang status Gunung Guntur. Pasalnya, selama ini Pemerintah Garut dianggap acuh tak acuh dengan kondisi saat ini. Akhirnya, semua kalangan

pemerintah menjawab semua tanda tanya masyarakat tentang informasi Gunung Guntur yang selama ini membuat masyarakat resah. Status Gunung Guntur sebagai salah satu gunung terbesar di Kabupaten Garut akhirnya ditetapkan sebagai gunung aktif berstatus waspada. Pemerintah setempat pun langsung mensosialisasikan kabar tersebut ke masyarakat sekitar, terutama yang berada di daerah yang termasuk ke zona merah guna melakukan berbagai persiapan. Kendati demikian, pemerintah meminta masyarakat memang tidak harus panik dan resah. Namun, untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi, masyarakat diminta untuk melakukan persiapan. “Kami hanya meminta masyarakat untuk mempersiapkan surat-surat berharga mereka,” demikian dikatakan Kepala Desa dan Sekdes Cimanganten, Kecamatan Tarogong Kaler, Asep Zulgofar dan Agus Jaenudin. Desa Cimanganten sendiri merupakan salah satu desa diantara tiga desa yang paling dekat dengan keberadaan Gunung Guntur. Untuk itu, kepala desa setempat memang merasa harus segera melakukan berbagai persiapan. Walaupun status Gunung Guntur masih dalam tahapan waspada, akan tetapi pihaknya merasa wajib untuk menginformasikan k e -

pada masyarakat. “Yang pasti kami berharap masyarakat jangan mendengar atau menggubris informasi dari pihak luar selain pihak desa, kecamatan dan instansi pemerintah,” ungkapnya. Berkaitan dengan itu, Pemerintah Desa Cimanganten menekankan kepada semua kalangan masyarakat untuk menyiapkan atau mengamankan surat-surat berharga seperti Kartu Keluarga (KK) surat nikah, sertifikat tanah, ijazah, surat kendaraan dan urat-surat lain yang memang wajib di arsipkan. persiapan ini diharapkan suatu saat nanti masyarakat bisa dengan leluasa meninggalkan lokasi. “Ini bukan anjuran, tetapi kami menekankan kepada semua kalangan masyarakat untuk persiapan yang matang. Apa yang kami tekankan ini kepentingan masyarakat, jangan sampai nanti surat-surat mereka hilang,” katanya. Asep Zulgofar menambahkan, Gunung Guntur ini di apit oleh satu desa dan dua kelurahan, diantaranya Desa Pasawahan dan Kelurahan Rancabango serta Kelurahan Pananjung. Sementara Desa Cimanganten masuk pada titik zona merah dari Gunung Guntur. “Beberapa daerah

yang masuk pada zona merah pun harus melakukan persiapan evakuasi. Salah satunya masyarakat di Desa Cimanganten yang letaknya berada pada jangakauan lima KM dari Gunung Guntur,” paparnya. Ditempat yang sama, ketua BPD Desa Cimanganten Kusnaedi mengatakan, menyikapi kasus ini masyarakat harus waspada, tetapi jangan panik. Karena kasus ini sudah ditangani oleh pihak-pihak khusus yang sangat berkompeten. Masyarakat jangan terkena isu, mereka harus percaya hanya kepada pihak desa atau kelurahan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) dan pemerintah. “Sebagai persiapan, pemerintah sudah menunjuk lapangan Cilawu sebagai daerah evakuasi,” ujar Kusnaedi. Kusnaedi berharap, masyarakat beraktifitas

seperti biasa, karena sampai saat ini pihak terkait belum menginformasikan perkembangan apa-apa. “Informasi yang terbaru dari status Gunung Guntur akan terus di informasikan dan disosialisasikan. Masyarakat tidak harus resah, karena pemerintah akan memberikan yang terbaik untuk masyarakat,” ujarnya. Sementara itu, beberapa pedagang di bilangan Komplek Wisata Cipanas mengaku akan tetap menempati kediamannya. Namun, apabila pihak pemerintah benar-benar perduli dengan masyaraka, mereka harus cepat tanggapdengan kondisi ini. “Kami sebagai masyarakat yang berada di kaki gunung akan tetap menempati gunung ini selama belum terlihat aktifitas apa-apa diatas puncak gunung. Tetapi, kami sangat bersyukur, apabila pemerintah sudah memberikan informasi status Gunung Guntur. Kamipun akang mengikuti intruksi dari pemerintah,” ungkap Cucu Syamsu dan beberapa pedagang lainnya saat di temui Fakta Garut. (asep ahmad)

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Otomotif

FAKTA GARUT

23

Ertiga Mobil Keluarga

yang Syarat dengan Kenyamanan K

ali ini, Diler IB Mobil tengah sibuksibuknya melayani konsumen yang melakukan pemesanan semua jenis kendaraan Suzuki. Salah satu mobil keluarga yang paling banyak dipesan adalah Ertiga. Mobil ini dinilai memiliki banyak kelebihan, diantaranya suspensinya yang nyaman seperti mobil sedan, memiliki double blower serta di lengkapi dengan air bag dan pengereman dengan Sistem ABS (Antylock Breaking System). Mobil yang satu ini, selain memiliki penampilan yang cantik luar dalam juga memiliki harga yang lumayan terjangkau. "Mobil ini sangat cocok digunakan untuk aktifitas sehari-hari,' ujar Yuni menambahkan. Yuni berpendapat, saat ini banyak masyarakat Garut yang melakukan aktifitasnya dengan menggunakan mobil. Tetapi, tidak sedikit dari mereka yang memilih merental ketimbang

membeli mobil sendiri. Padahal, masih kata Yuni, harga jual mobil Ertiga mudah dijangkau. "Untuk Ertiga standar harganya OTR nya Rp151 juta sedangkan Ertiga GX Rp179 juta. Untuk masyarakat yan memiliki niatan menyicil bisa dengan uang muka sebesar 15 hingga 20 persen," paparnya. Untuk memanjakan konsumennya, IB Mobil juga memebrikan promo menarik. diantaranya program promo hadiah menarik. Setiap pembelian satu buah unit Ertiga akan mendapatkan hadiah langsung berupa GPS sesuai dengan pembelian faktur. Bahkan, setiap melakukan test drive akan mendapat undian untuk memperoleh satu unit sepeda motor dan satu unit mobil. "Program ini berlangsung sejak bulan Januari hingga bulan Maret 2013. Tetapi akhirnya program ini kami perpanjang hingga berakhir masa promo dengan batas waktu yang tidak ditentukan," pungkasnya.

Petani Garut Gandrungi Pick-Up Suzuki

K

emajuan dan perkembangan jaman yang serba modern menuntut setiap orang untuk mampu mengikuti setiap kebutuhan saat ini, tidak terkecuali dengan masyarakat di Kabupaten Garut . Kota yang didominasi dengan lahan kehutanan dan pertanian saat ini membutuhkan kendaraan bermotor roda empat untuk membantu segala aktifitasnya. Mayoritas masyarakat yang berpenghasilan dari hasil pertanian ini banyak melirik mobil niaga, dan untuk mendapatkan kebutuhannya tersebut mereka memiliki mobil-mobil produk Suzuki. Salah satu dealer resmi Suzuki terbesar di Kota Garut adalah IB Mobil. Tempat ini, selain dilengkapi dengan pelayanan 3S (sales, servis, sparepart) juga menyediakan berbagai promo. sehingga bukan hal yang mengherankan apabila, tempat ini selalu dipadati pecinta otomotif. Sales Coordinator (SC) IB Mobil, Yuni Marlina Dewi kepada Fakta Garut mengatakan, saat ini kebutuhan masyarakat Garut dibidang otomotif sangat tinggi. Tidak hanya mobil mewah seperti sedan, kebutuhan mobil niaga cukup digandrungi masyarakat Garut. Pasalnya, kendaraan ini mam-

pu membantu tingkat perekoniman masyarakat, tidak terkecuali dengan petani. "Sepertinya mobil sudah tidak lagi bagi petani. Untuk membantu usaha pertaniannya, mereka menjadikan mobil sebagai kebutuhan," ujarnya. Untuk memenuhi kebutuhan konsumennya, IB Mobil menyediakan semua jenis kendaraan produk Suzuki. Sedangkan kendaraan-kendaraan yang sangat digandrungi penduduk Garut terdiri dari All New Swift, Ertiga, Mega Carry X-xtra dan APV. Produk Suzuki lain seperti Pick-up 1500 CC menjadi salah satu produk yang diburu. "Produk Suzuki memiliki banyak keistimewaan. Selain mesinnya bandel, bahan bakarnya irit, penampilannyapun sangat elegant," ujar pemilik wajah cantik tersebut. Sebagai Diler terbesar di Kota Garut, IB Mobil yang berada di jalan Bratayudha Nomor 20 Kelurahan Regol Kecamatan Garut Kota tidak hanya dilengkapi dengan produk yang berkualitas saja. Pelayanan yang diterapkan perusahaan otomotif inipun sangat profesional. "Alhamdulillah kami sudah dikenal banyak masyarakat Garut. Kamipun selalu memberikan yang terbaik demi kepuasan pelanggan," terangnya. (asep ahmad)

Edisi 3 | Minggu I Mei 2013

Kuliner

FAKTA GARUT

24

Mie Baso M. Imu

M White Coffe Jus Anti Deg-degan Bikin Ketagihan

P

ria yang mengaku tuk memberikan servis yang sangat mencintai sempurna. Sopan, santun dan dan mengagumi so- karamahan menjadi hal yang sok bapaknya ini juga wajib di berikan kepada seterus mencoba membuat an- tiap pengunjungnya. eka menu minuman yang meBakso M Imu yang telah mang belum pernah ada. Ia menyebar ke beberapa daemempelajari semua hal yang rah seperti Jalan Pasundan, ada di lingkunganPapandayan, Cilenya, termasuk aneka dug, Bratayudha macam kuliner dan dan tempat lainnya minuman. memiliki rasa yang Inovasi yang Tendi sama. Untuk outlet buat adalah denyang berada di bigan membuat aneka Nama Outlet langan Bratayudha bakso dan minuman parkir yang Mi Baso M memiliki segar. Tujuannnya luas, lokasi yang Imu saya untuk memanjakan refresentatif dan ambil dari sarana ibadah yang setiap pelanggannya, karena baginya nama ayah bersih dan nyaman. konsumen adalah ‘Menjadi pedasaya raja yang harus gang harus pintarmendapatkan perpintar mencuri hati Kang Tendi lakukan istimewa. pembeli. Selain “Saya berusaha makanannya harus membuat minuman yang bisa enak, tempatnya harus bermembuat pecinta kuliner ket- sih dan pelayanannya harus agihan. Salah satu minuman baik, sayapun harus memitu yakni es teler dan White berikan kepercayaan. Dengan Coffe Anti Deg-degan,” imbuh demikian usaha saya akan Kang Tendi sambil menyodor- terus maju dan berkembang kan minuman andalannya itu. karena pelanggannya tiBerhasil membuat dak pernah merasa menu makanan dan bosan,” pungkas minuman yang sehat pria bertubuh dan enak tidak lansedang ini. tas membuat Tendi (asep ahmerasa puas dengan mad) pelayannya. Guna memberikan rasa aman, nyaman dan kesan yang baik kepada semua pelanggannya, tendi mewajibkan s e m u a karyawan n y a u n -

asyarakat di kota Garut tidak akan asing apabila di tanya tentang bagaimana rasanya bakso. Karena hampir diseluruh daerah di Kabupaten Garut terdapat pedagang bakso. Dari awal gerbang Garut hingga ke ujung kota dodol ini terdapat ratusan, mungkin ribuan pedagang makanan yang terbuat dari bahan daging yang disebut dengan nama Bakso. Namun, ada sesuatu yang beda apabila kita mengunjungi Outlet Bakso Mie Baso M.IMU yang berada di jalan Bratayudha No.45 A Talun Garut. Sepertinya sang owner outlet ini memiliki imajinasi yang tinggi terhadap kuliner yang satu ini. Inovasinya dalam membuat aneka macam bakso patut di acungi jempol, betapa tidak, dia mampu menciptakan aneka macam Bakso dengan rasa yang luar biasa. Salah satu Bakso andalan di tempat ini adalah Bakso Mercon. Siapapun yang menyantap Bakso ini akan merasakan sens a s i yang benarbenar beda. “Bakso Mercon ini memiliki bentuk yang sama dengan bakso lain pada umumnya. Tetapi saya secara sengaja mengolah bahan bakso ini dengan menggunakan daging terbaik diracik dengan cabe rawit pilihan,” ujar Kang Tend selaku Owner dari Mie B a s o M . Imu

AKRAB: Pemilik outlet Mie Baso M. IMU Kang Tendi berfoto bersama pelanggan basonya.

! a d e B g n a m e M

k e p a d a Fakt a G a rut. Pria ramah inipun sengaja membuatkan salah satu menu andalannya ini. Ternyata rasanya memang beda, rasa gurih dan nikmat dari bakso ini memiliki sensasi lain yakni rasa pedas yang mampu mengeluarkan keringat yang cukup banyak bagi penikmat Baso Mercon. “Rasa pedas itu hanya bersifat sementara, berbeda dengan rasa pedas sambal lain yang bisa membuat bibir kepanasan. Bagi pecinta rasa pedas belum lengkap kalau belum menikmati baso andalan saya,” ujar Kang Tendi. Tidak hanya ada

Baso Mercon, di sinipun terdapat aneka macam Bakso yang tidak kalah enaknya yaitu Baso Urat dan Baso Jando. Kedua jenis bakso ini banyak di buru pecinta kuliner dari masyarakat Garut, bahkan masyarakat dari luar daerah seperti Bandung, Purwakarta dan Jakarta. “Tidak hanya menyediakan cepat saji, kamipun menyediakan Baso kemasan. Bakso ini asli produksi keluarga Besar M.Imu yang sudah turun temurun dan dikenal masyarakat luas. Bagi mereka yang ingin belajar memasak bisa membaw bakso kemasan ini kemanapun,” katanya. (asep ahmad)


Edisi 3 Minggu I Mei 2013