Issuu on Google+


Materialisme pada Masjid Nusantara Š Galih Widjil Pangarsa, Januari 2010

Gambar sampul luar: interior Masjid Kampus UGM; sampul dalam: interior Majid Jami’ Kotagede (foto: Galih Widjil Pangarsa) Desain grafis: Galih Widjil Pangarsa ISBN [e-book] dalam proses E-book engine pada arsiteknusantara.blogspot.com, powered by ŠYou Publish 1. Teori arsitektur 2. Kritik arsitektur 3. Estetika Foto-foto ilustrasi yang tidak dicantumkan sumbernya berasal dari sumber bebas (open source), atau foto dokumentasi Galih Widjil Pangarsa. Jika tidak, sedang dalam proses pengizinan dari yang pihakpihak yang mengklaim memiliki hak atasnya (yang terkadang, tak lagi merawat website mereka). Jika mereka tidak berhasil dikontak, kami mohon dengan hormat untuk memahami bahwa para fotografer yang karyanya terpakai di dalam buku ini pun memfoto objek-objek arsitektur tanpa memberikan imbalan apapun kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan objek foto mereka. Kami berterimakasih kepada mereka, semoga amalnya bagi penerbitan e-book untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia ini, mendapat ganjaran yang lebih baik dan melimpah dari Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah.


Materialisme pada Masjid Nusantara

Galih Widjil Pangarsa Universitas Brawijaya, 2010


Prakata

Tulisan ini sebermula disiapkan atas permintaan dan untuk Panitya Penerbitan Buku Peringatan 50 Tahun Ikatan Arsitek Indonesia. Meski direncanakan terbit 2009, hingga kini buku tersebut tampaknya masih dalam tahap perampungan. Namun bagi saya, tulisan saya yang kini ada dihadapan para pembaca ini cukup penting untuk segera disebar-luaskan kepada masyarakat, mengingat ada substansi dan kandungan yang bermisi pendidikan masyarakat. Untuk itu, dengan mengucapkan terimakasihahuan kepada Panitya Penerbitan Buku Peringatan 50 Tahun Ikatan Arsitek Indonesia, saya memutuskan menyajikan tulisan itu sebagai e-paper. Perubahan sangat penting dibandingkan dengan naskah awal adalah, muatan tentang �ruko� saya buang, agar pembaca lebih terfokus. Gambar: Kompleks Makam Giri yang terletak di belakang Masjid Sunan Giri, tahun 1987. Tak hanya di kalangan muslim, di kalangan agama-agama lain pun, penyatuan antara tempat ibadah dan makam banyak dilakukan (foto: Galih Widjil Pangarsa) .


Saat tulisan ini pertama kali disusun awal Agustus 2009, tanah merah di bumi Depok, Jakarta, baru saja menerima pulang dua insan ciptaan Sang Maha Pencipta, Allah. Yang satu adalah WS Rendra, “Si Burung Merak” yang sudah berada di bagian atas piramida kalangan sastraMendahului Rendra beberapa hari sebelumnya, yang dikebumikan adalah “The Rising Star” Mbah Surip. Begitu pula ketika keputusan menyajikan tulisan dalam versi e-paper ini saya ambil, secara kebetulan dan seperti menutup kedukaan di sepanjang tahun 2009, Gus Dur dikebumikan di Jombang, 31 Desember 2009. Hampir pasti ada hikmah yang dapat kita petik di balik kedukaan karena kepergian mereka. Bersama rekan Arsitek Darwis Khudori (peraih IAI Award 93 bersama YB Mangunwijaya), ada sedikit kenangan bersama Gus Dur yang menurut hemat saya, mudah-mudahan bermanfaat bila diungkap. Tak berhubungan dengan arsitektur, tapi dengan rasa kemansiaan dan kebijakan menjaga kesatuan bangsa. NKRI harga mati. Inna lillaahi wa inna ilaihi roji’uun. Akhirnya, saya mohon kritik dan saran Anda semua. Malang, 1 Januari 2010, Galih Widjil Pangarsa galih.wp@gmail.com


Suasana ziarah di Makam Ampel, Surabaya. Manusia yang telah wafat mustahil hidup kembali. Yang hidup dan dapat dihidupkan kembali ialah nilai-nilai yang pernah diperjuangkannya (foto: Galih Widjil Pangarsa, 2006)


Apakah nilai-nilai luhur dalam arsitektur —jika nilai-nilai itu memang telah tiada— mesti diperlakukan seperti jenazah-materijasad manusia yang tak dapat dihidupbangkitkan kembali?

Isi Prakata… 2 Memahami Kemerdekaan, Kesahajaan, dan Kebijakan… 9 Globalisasi: Mitos Kebaharuan dan Kemajuan … 18 Penutup: Nusantara Materialistik? ... 34


WS Rendra. Bagi saya dan banyak rekan-rekannya sesama budayawan, ia adalah seorang perindu dan pecinta kemerdekaan bagi kesejatian manusia. Sikapnya terhadap siapa pun sama, bersahabat (foto http://taufanhidayat.files.wordpress. com/ 2008/04/rendra.jpg)


1.

Memahami Kemerdekaan, Kesahajaan, dan Kebijakan Publik Indonesia terutama megenang Mas Willy Si Burung Merak sebagai empu teater, “pangeran panggung� yang sangat piawai menarik, mencengkeram dan memainkan emosi penontonnya. Ia seperti tahu persis bagaimana menyalurkan energi penontonnya. Tetapi tampaknya, lebih sedikit yang melihatnya sebagai manusia perindu dan pecinta kemerdekaan bagi kesejatian manusia. Ia terkesan hendak membongkar jeruji penjara jamannya. Pengekangan tradisi teater dibongkarnya; seni Rendra bukan seni untuk seni; puisinya adalah puisi pamlet para demonstran. Dinding penjara politik budaya pun hendak dibongkar dengan pekik tulisan dan lisannya, dengan petir kreatifitasnya. Sangat boleh jadi, masyarakat di bawah otoritarianisme-militer semacam Rezim Soeharto, ibarat mendapat saluran “pemerdekaan jiwa� lewat pementasan karya-karya Rendra yang sarat protes sosial.


Mbah Surip adalah sebuah jejak kesahajaan. Tanggapan salah satu penggemar atas berpulangnya seniman ini ke alam baka: “Kesederhanaanmu jadi panutan kita Mbah… sekarang Mbah yang di gendong sama orang2 yang sayang sama Mbah… Merah Kuning Ijo selalu jadi filosofi kita mbah… Rest in Peace Mbah…” (foto http://xentala.files.wordpress.com/2009/08/ mbah-surip.jpg)

Menurut saya, karena itulah di kalangan mahasiswa dan intelektual era tahun 1970an Mas Willy pernah menjadi salah satu figur idola. Begitu pula dengan Mbah Surip sahabat Rendra. Muatan lirik lagunya yang “easy going” seperti hanya menjadi bungkus luar personalitasnya. Tak gendhong ke manamana: publik tak perlu tahu apa yang sebenarnya yang dimaksudkan. Juga tak peduli, betapa rambut gimbal ala rasta yang dipelihara si mbah ternyata sangat mirip dengan sandangan Buto Rambut Geni wayang orang Jawa. Publik seperti sungguhsungguh tak mau tahu persamaan dan beda rasta-global dan rambut-geni-lokal. Tak mau njelimet, perhatian masyarakat Indonesia tampaknya lebih terfokus pada kepribadiannya.


Si Mbah dikenal sebagai pribadi yang lugu, lucu dan baik. Namun demikian, masih agak jarang yang melihat figur Mbah “I love you full” Surip sebagai sosok yang mewujudkan kesahajaan hidup. Sahaja artinya mampu menahan diri, mengekang nafsu atau dengan perasaan suka-rela tampil sederhana meski dapat hidup lebih dari itu.

Gus Dur. Bisa jadi, adalah tokoh politik yang paling banyak mendatangkan sikap pro-kontra di Indonesia. Kata-katanya paling banyak direspon masyarakat luas, meski tidak sedikit pula yang sulit memahami sikap-sikapnya. Bagi sebahagian orang, justru itulah yang dianggap sebagai tandatanda kecerdasannya. Atau bahkan “kewaliannya”. Yang jelas ia seorang yang sangat berani menempuh resiko, betapa pahitnya pun resiko itu, demi apa yang diyakininya. Sebuah sikap yang saat ini sudah sangat jarang di dalam kehidupan politik kekuasaan “sluman-slumunslamet” (“asal diri sendiri selamat”) di Indonesia (sumber: menpan.go.id/.../0087-UmuBiogra.jpg)

Kata “sederhana” sendiri, sebetulnya lebih menyiratkan keadaan “terpaksa tidak dapat bermewah-mewah”. Dan karena ke-sahaja-suka-rela-an Mbah Surip, masyarakat di bawah tekanan kehidupan glamor masa kini seperti menemukan “sumber air” yang menyegarkan. Secara tersirat ada hikmah penting dari perjalanan roket karirnya. Hidup bersahaja sebetulnya lebih memikat, karena senantiasa memberikan orang lain kesempatan hidup. Kesahajaan selalu memuat nilai kepemurahan. Fitrah manusia sebetulnya bersikap bersahaja —dan karena itulah, menurut saya, si mbah demikian dan populer. Tokoh yang wafat tepat di penghujung tahun 2009 ialah Gus Dur. Apa hubungan Gus Dur dengan arsitektur? Hampir tidak ada. Kecuali dua hal: rasa kemanusiaan yang sangat tinggi dan rasa kesatuan terhadap kehidupan bangsa negeri ini.


Saya punya sedikit kenangan pada Gus Dur. Suatu pagi di Paris di tahun 1990, setelah menghadiri seminar Prof. Mohamed Arkoun (budayawan asal Tunisia, tokoh Yayasan Aga Khan, pemberi award arsitektur khususnya untuk dunia muslim), kami —yaitu saya, Darwis Khudori (peraih IAI Award 1993 bersama YB Mangunwijaya, kini tinggal di Le Havre, Prancis), dan Gus Dur— sepakat untuk makan. Ide pertama ialah makan di tempat kos saya dan Darwis (kami satu kos). Namun ide berubah. Kami tawarkan kepada Gus Dur untuk makan di ”Restaurant Indonesia” di Paris, yang terkenal sebagai tempat berkumpul para mantan mahasiswa ”kiri”. Tanda tanya saya pada waktu itu, maukah tokoh ini mengunjungi mereka —yang konon, sejak tahun 1966, ditangkal untuk pulang ke Indonesia oleh pemerintah Orba-nya Soeharto. Usia mereka pada waktu itu rata-rata lima atau enam puluhan. Selama seperempat abad lebih mereka tak dapat berhubungan dengan sanak keluarga dan orang-orang kecintaan mereka di tanah airnya. Di Paris, mereka hidup dengan tunjangan ”pelarian politik” yang sangat minim untuk hidup wajar. Rata-rata mereka menunjang hidup dengan bekerja kasar —dengan kondisi tubuh yang makin menua. Akhirnya, terhadap usulan kami ternyata Gus Dur berkenan. Bahkan disampaikan dengan jawaban ringan dan spontan. ”Oke”, katanya. Maka kami mengabarkan rencana ini kepada teman-teman resto. Kesan yang saya tangkap, yang tergopohgopoh justru mereka. Setelah sejenak menunggu, jadilah acara dadakan makan bersama. Saya tak ingat persis, tetapi kira-kira hadir sekitar dua puluh orang. Setelah basa-basi penyambutan Pak Sobron (adik kandung D.N. Aidit), yang paling berkesan ialah ”pidato” singkat Gus Dur. Kata-kata persisnya saya lupa, namun garis besarnya Gus Dur memohon maaf kepada mereka. Tapi samar-samar saya ingat, Gus Dur


mengatakan bahwa semasa pergolakan politik 30 September 1965, �kelompok saya telah banyak membantai sahabat, saudara, bahkan orang tua dari saudara-saudara semua�. Setelah memohon maaf, selanjutnya Gus Dur mengajak untuk membangun kembali persaudaraan sesama bangsa. Suasana haru pun mencekam kami. Gus Dur dan mereka bersalaman dan bahkan berangkulan. Sebagian besar tak dapat menahan linang air mata keharuan penghapus dendam. Di kelak kemudian hari mereka diijinkan untuk pulang ke Indonesia oleh presiden saat itu: Gus Dur. Bagi saya, lama sesudah peristiwa itu berlangsung, saya baru dapat menarik pelajaran. Pertama, tentang pembelaannya pada rasa kemanusiaan dan keberaniannya menanggung resiko dalam mewujudkan keberpihakan itu. Kedua, bagaimana ia secara ajeg menjaga kesatuan republik ini. NKRI harga mati. Lalu, bagaimana menerapkan pelajaran itu untuk kehidupan ber-arsitektur? Saya pikir, sampai sekarang, hal ini masih menjadi persoalan sangat mendasar untuk Indonesia. Hal-hal yang menjadi pertanyaan misalnya sebagai berikut. Betulkah pandangan, konsep dan praksis keilmuan arsitektur yang kita bangun telah memihak pada kemanusiaan? Bagaimana melestarikan nilai-nilai lokal yang sangat majemuk di Nusantara dan sekaligus mengambil nilai-nilai universal yang terkandung pada setiap lokal? Bagaimana mewujudkan keduanya dalam satu kesatuanpandang kebudayaan bangsa? Masjid Bayan Bele’ di Lombok Utara (foto: Galih Widjil Pangarsa, 1987)


Masjid Dian Al Mahri, di Limo, Depok, Jakarta (arsitek: Uke Setiawan). Foto dari halaman dalam; dokumentasi salah satu pengunjung masjid pada hari libur. Apakah ini berarti fungsi masjid mulai beringsut ke arah “rekreatif�? (foto http://www.flickr.com/ photos/ rasyida/3696982016/)


Selain menerima kembalinya dua jasad seniman —Rendra dan Mbah Surip— Bumi Depok juga bisa dianggap penting bagi dunia arsitektur. Depok menjadi saksi tempat berdiri-kokohnya Masjid Dian Al Mahri, di Kecamatan Limo, yang terkenal dengan sebutan “Masjid Kubah Emas”. Pemrakarsanya adalah pengusaha asal Banten yang namanya diabadikan sebagai nama masjid megah ini, yaitu Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid. Masjid ini tiba-tiba menjadi populer segera setelah dibuka untuk umum pada akhir 2006. Setelah tujuh tahun masa konstruksi dan sebagian besar fasilitasnya selesai, masjid yang dapat menampung 20 ribu jama’ah itu juga memanen sejumlah prokontra pandangan. Ada yang terkagum-kagum dengan kemegahannya sebagaimana maksud pembuatnya, bahwa “…keindahan dan kemegahan yang dihadirkan dalam masjid ini ditujukan semata untuk menunjukkan kebesaran Allah swt dan sebagai wujud kebanggaan sebagai orang muslim” (http://www.dmi.or.id/MasjidKubahEmas). Tetapi ada pula yang sedikit banyak menyayangkan “ke-super-mewahan” masjid yang kubah utamanya —berdiameter 16 meter dan tinggi 20 meter— berlapis emas murni 24 karat setebal 1 milimeter itu. “Lebih baik uangnya dipakai untuk membuat panti asuhan, atau membantu kaum miskin”, kata sebagian dari mereka. Pro-kontra juga pernah tercatat berkaitan dengan boleh-tidak anak berumur 10 tahun ke bawah ikut masuk ke masjid yang mempunyai lahan seluas 70 hektar dan berhalaman dalam seluas 45x57 meter ini. Masjid Sultan Hasan di Maroko. Tidak memakai kubah emas, tetapi minaret setinggi 200m, yang dipuncaknya, dibidikan sinar laser ke arah kiblat.


Akhirnya pro-kontra terhadap bentuk arsitekturnya pun muncul meskipun hanya terjadi di kalangan arsitek: mengapa mesti mengambil-kembangkan tipologi India-Moghul dan bukan Nusantara? Menyadari dan menanggapi iklim saja, saat ini sudah mulai sering dilupakan oleh para desainer masjid. Tampaklah bahwa hal yang paling sulit dalam merancang arsitektur —terutama bangunan pribadatan termasuk masjid— adalah mengetahui muatan nilai-nilai universal dan lokalnya.

Masjid Jami’ Isfahan, dengan pasangan batu khas Seljuk. Kanan: Masjid Jami’ Kotagede (foto: Galih Widjil Pangarsa). Yang dari Isfahan dengan ciri arsitektur perlindungan. Berkas sinar kuat didapat dari celah pada kubah. Sedangkan di Kotagede, bidangdalam atap, terdiri dari jajaran usuk, adalah reflektor cerlang langit yang jatud di lantai bagian tepi.

Pertanyaan mendasar muncul. Apakah Islam harus berarti Arab? Jika bukan, lalu apakah nilai-nilai universal Islam? Perlukah dan jika perlu lalu apa “simbol identitas bersama” masyarakat muslim dunia? Bagaimana karakter peradaban lokal muslim yang Nusantara? Bagaimana kaum arsitek dapat menyadari keikut-sertaan masyarakat dalam membentuk perkembangan arsitektur? Setelah dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, mungkin kita dapat memutuskan dengan lebih bijak,


struktur dan sistem yang dapat membangun keterpaduan nilainilai kesemestaan Islam dan kesetempatan muslim (baca: muslim Nusantara).

Masjid Rembitan di Lombok Selatan. “Dekorasi� cukuplah ranting pohon epel yang diikatkan dengan rotan. Sinar didapat dari transparansi dinding bambu (foto: Galih Widjil Pangarsa, 1987)

Lepas dari segala gaung pro-kontra wujud fisik dan pemakaian masjid itu, tampaknya ada yang lebih penting: yang utama dalam pembangunan suatu proyek adalah niat atau maksud– tujuannya. Dalam hidup, mengambil keputusan yang tepat sekaligus bijak bukanlah hal mudah. Maka, hal terpenting adalah menyadari kekurang-tepatan suatu langkah dan kemudian bertekad untuk memperbaikinya. Sifat hidup itu sendiri bukankah sebuah proses? Yang akhir atau hari esok mesti lebih baik dari yang awal, atau hari ini.

Sampai di sini, paling tidak ada empat butir pelajaran yang bisa kita ambil. Kesatu, bahwa manusia tak dapat meninggalkan sifat inti-dasar jiwanya yang serba bebas. Bebas bukan dalam arti bebas-liar yang hanya akan menghasilkan kebebasan menindas pihak yang lebih lemah. Tetapi kebebasan yang terpagari kesuka-relaan untuk mengekang diri sendiri, demi hak-hak hidup pihak lain — termasuk alam. Kedua, dengan kebebasan yang disertai kesuka-relaan mengekang diri itu, muncul kesahajaan. Paling tidak, kesahajaan memberi kesempatan pihak yang lebih lemah untuk tetap hidup. Ketiga, keputusan dalam perancangan arsitektur memerlukan kebijakan kultural, karena setiap manusia dan masyarakatnya pasti memerlukan simbol pembaharuan identitas yang memuat nilainilai kesemestaan dan kesetempatan. Keempat, ialah bahwa pengertian open ending


bukan hanya untuk sebuah bangunan karya seorang atau sekelompok arsitek saja. Tetapi juga untuk sebuah tipologi yang dibentuk masyarakat secara bersama secara spasio-temporal —bekesinambungan dari suatu ruang ke ruang yang lain dan berkelanjutan antargenerasi. Hal itu akan sangat nyata dalam tinjauan tentang arsitektur masjid dari tahun 1980-an sampai dengan sekarang. Sudah saatnya organisasi profesi semacam IAI mensponsori perubahan pandangan kalangan anggotanya, bahwa arsitek tidak selamanya duduk di singgasana “dewa perancangan” atau “seniman super-star” yang segala tuntutannya mesti terpenuhi. Tetapi arsitek juga mempunyai peran sosial. Ia sekaligus fasilitator yang bertugastanggungjawab memberikan saran-saran pengambilan keputusan atas sinergi-sinergi upaya budaya-sosial-ekonomi dalam berbagai skala, mulai dari bangunan, lingkungan sekitar, sampai kota. Untuk itu, tampaknya generasi mendatang memerlukan pengetahuan dan praksis keilmuan arsitektur dengan paradigma yang lebih terbuka —paling tidak, yang transdisipliner dan bukan monodisipliner kaku nan sempit.


2.

Globalisasi: Mitos Kebaharuan dan Kemajuan

Apakah globalisasi? Berulang-ulang di berbagai kesempatan tulis dan lisan, saya menyatakan bahwa globalisasi adalah bukan universalitas. Tetapi pulasan politik kebudayaan —yang bisa saja sangat halus alias cukup sulit disidik (lihat terutama artikel saya “Eurocentricm: Kebuntuan Keilmuan [Arsitektur]� lewat http:// arsiteknusantara. blogspot.com/). Bahkan, barangkali dampak kebudayaan dari politik-ekonomi dunia sejak abad XV sampai kini pun belum banyak disadari oleh kalangan arsitek. Dampak itu padahal sangat nyata. Bahwa dalam segala aspek kehidupan, yang diposisikan sebagai tolok ukur kebaharuan dan kemajuan


peradaban masyarakat dunia jaman ini adalah Eropa (atau kultur yang berpangkal dari peradaban Eropa). Manusia dan waktu tidak dapat dipisahkan, karena manusia adalah pejalan waktu; dalam hidup ia berkeadaan serba dinamik, dan beraktifitas menempuh waktu secara pasti. Karena itu fitrah manusia selalu merindukan kebaharuan. Bagi fitrahnya, kebaharuan itu adalah pencapaian harkat dan derajatnya menuju yang lebih sempurna, ke arah Yang Maha Sempurna: Allah. Maka, ketika tolok ukur kebaharumajuan itu didominasi dan kemudian dimitoskan oleh politik kebudayaan dan peradaban Eurocentric sebagai Modernisme, seluruh umat manusia kini bagaikan membebek di belakangnya. Bagi kalangan yang belum dapat melihat keberbedaan budaya sebagai kesepasangan, pasti muncul semangat bernuansa dialektis terhadap Eurocentrism. Karena itu, dapatlah dimaklumi bila masyarakat muslim dunia kini memerlukan simbol bersama untuk “keluar dari barisan bebek� di belakang Eurocentrism. Tetapi sayangnya, muncul mitos baru: bahwa Islam sama dengan Dunia Timur Tengah atau Arab, termasuk IndiaMoghul. Maka kita dapat melihat gejala baru tersebut —yang saya sebut Arabocentrism, agar ringkas. Padahal, bukankah yang diperlukan masyarakat muslim dunia tak lain adalah membangun simbol nilai-nilai keislaman dengan kesamaan pemaknaan yang hakiki, dan bukan menguniversalkan karakter budaya lokal Arab? Bagi masyarakat muslim miskin di Indonesia, betapa mahal memaksakan diri membangun kubah berkonstruksi beton atau minaret yang menjulang tinggi.


Hiasan berlafaz �Allah� pada puncak atap Masjid Muhammad Cheng Ho, Surabaya (arsitek: Abdul Aziz). Eksperimen dengan langgam Beijing; di bawah atap tritisan digantungkan sebuah bedug layaknya yang dipakai pada masjid-masjid lama (foto Ristyad http://www.flickr.com/ photos/ 29898094@N02/3639388901/)

Arabocentrism yang sangat kuat tampaknya sedang berlangsung pada arsitektur masjid di Indonesia sejak tahun 1980-an sampai dengan kini. Hal itu agak berbeda dengan


yang terjadi pada kalangan masyarakat muslim keturunan Tionghoa, khususnya yang tergabung di dalam PITI (Pembina Iman Tauhid Islam). Pada dekade pertama tahun 2000-an berturut-turut di Surabaya, Pandaan (Jawa Timur), dan Palembang, didirikan masjid-masjid bernama Masjid “Muhammad Cheng Ho”, untuk mengenang jendral angkatan laut Kerajaan Ming awal abad XV sekaligus tokoh penyebaran Islam dari Cina itu. Kesejarahan itu dipakai sebagai argumentasi mengapa ada semacam “keharusan” untuk secara memakai langgam arsitektural Beijing abad X. “Fanatisme” itu itu dapat saja dilihat sebagai bentuk dari Sinocentrism dalam perkembangan masjid Indonesia. Pada abad XVI, hal serupa pernah terjadi di daerah Pesisir Jawa, yaitu pada Masjid Jepara yang dirancang sangat mirip dengan pagoda Cina Tenggara. Tampaknya, baik pada masa peradaban kota-kota perdagangan di pesisir maupun di masa informasi zaman kini, kita dapat mengurutkan suatu perkembangan tektonika. Yang terbesar terjadi pada masjid berskala-pelayanan kota. Selama dua puluh tahun terakhir, masjid agung (jami’), masjid kampus-kampus besar, atau masjid pribadi berskala kota seperti Masjid Dian Al Mahri yang diketengahkan di atas, berkembang sangat dinamik dengan garis tebal Arabocentric. Masjid-masjid yang berskala lingkungan umumnya berdinamika lebih kecil. Dinamika itu makin berkurang pada masjid-masjid yang berskala lebih kecil lagi —yaitu masjid-masjid di kompleks realestat dan kampung. Dari segi langgam, reaksi berbagai kalangan masyarakat terhadap global stream selama dua puluh tahun terakhir itu, dapat dipakai untuk menggolongkan arsitektur masjid di Indonesia. Ada empat kelompok sebagai berikut.


Sebuah masjid di realestat mewah di Kota Malang (arsitek tak diketahui). Lihatlah bagian atas pintu masuknya. Masjid ini tak berjendelaangin, karena sedari awal memang didesain untuk ber-AC —di kota yang relatif masih sejuk, dengan lingkungan yang hijau dan segar pula (di belakang masjid itu adalah hamparan sawah; foto: Galih Widjil Pangarsa)


Kelompok kesatu, adalah masjid-masjid yang didominasi oleh langgam Dunia Timur Tengah (Arab/hypostyle/awal, Iran, Turki) dan India Moghul. Selain Masjid Dian Al Mahri di Depok yang dipaparkan di atas, termasuk di dalam kelompok ini ialah Masjid Agung Surabaya (MAS), Masjid Agung Makassar di Maros, Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang dan lain-lain. Dari jarak cukup dekat, disebabkan sangat dominannya dampak visual empat “minaret pinsil” di tiap ujung dataran puncak atap berkubahnya, Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang menjadi tampak berlanggam Turki — meskipun tetap menggunakan bentuk dasar atap tropis. Demikian pula dengan karya Ahmad Fanani yang lain, yaitu Masjid Moamar Qadafi di Sentul, Bogor. Perlu dicatat, masjid-masjid ini banyak ditiru oleh kelompok masyarakat di sekitarnya. Masjid Agung Surabaya (kiri; arsitek kepala: Murhaniono) yang menginspirasi beberapa masjid kampung di sekitarnya untuk memakai kubah “Iran” yang lebih tinggi dari tipe konvensional “kubah bawang ” ala tahun 1950-an. Halaman seberang kanan: Masjid Agung Makassar di Maros (foto: http://gallery.makassarkota.go.id/).


Masjid Agung Semarang atau Jawa Tengah (arsitek: Ahmad Fanani). Empat “minaret pinsil� di tiap ujung dataran puncak atap berkubahnya, membuat kesan langgam Turkinya sangat kuat —meskipun menggunakan bentuk dasar atap tropis. Ini adalah ekspeimen yang berani untuk mencari langgam kubah pada atap tropis yang sangat patut dihargai (foto http://www.potlot-adventure.com/).


Masjid Agung Tuban (arsitek tak diketahui). Renovasi sekaligus eksperimen pewarnaan yang “berani” dan meriah dari masjid lama yang dibangun abad XIX. Apakah masjid juga mesti didesain dan berdandanuntuk menyeru ”look at me”? (foto Arifngh, http://www.panoramio.com/photo/5628692)


Di perkampungan dan perumahan sekitar jalan tol Malang-Surabaya —di dekat jalan ini MAS didirikan sehingga mencolok bagi setiap penggunanya— kita dapat dengan mudah menghitung, ada sekitar empat atau lima masjid dengan atap berkubah gaya Iran yang dibangun segera setelah MAS selesai. Arabocentric itu tampaknya makin mudah terjadi pada kelompok masyarakat kaya. Sebagai contoh adalah sebuah masjid kecil pada perumahan mewah di Kota Malang, yang selain berkubah dengan atap beton datar, juga sedari semula didesain untuk ber-AC —di kota yang relatif masih sejuk, dengan lingkungan bersawah dan rindang berpepohonan pula.

Masjid At-Ta’awun, Puncak (arsitek: Danny Swardhani). Eksperimen untuk mendeformasi kubah (foto: Harsoyo http://www. flickr. com/ photos/39877567@N07/3767829521/)


Kelompok kedua, adalah yang sedang “menggeliat” keluar dari bayang-bayang Arabocentric dengan tetap mengambil kubah sebagai bentuk dasar atap. Dipelopori oleh Masjid Istiqlal Jakarta pada tahun 1960-an, atau Masjid Jami’ Jember di tahun 1970-an, masjid-masjid yang dibangun sesudahnya, yang dapat dimasukkan pada kelompok ini antara adalah Masjid At Ta’awun di Puncak, Bogor. Sebuah kecenderungan penting juga terjadi dengan “improvisasi” yang lebih mudah dilaksanakan —misalnya penggunaan warna-warna pastel di Masjid Agung Tuban yang merupakan hasil renovasi masjid lama (akhir abad XIX). Kelompok ketiga, adalah yang sedang “berjuang” mendeformasi ciri utama lokalitas masa lalu —dan boleh jadi, sedang mencari ciri “Nusantara kini”. Umumnya masih berupaya keras memakai atap tropis. Beberapa di antaranya, memakai ornamentasi “geometri islami” dengan memadukannya dengan langgam lokal. Termasuk pada kelompok ini adalah Masjid Al Markaz di Makassar, Masjid Agung Batam, Masjid Kampus UGM, Masjid Kampus ITS, dan lain-lain. Masjid Kampus UGM (arsitek:Tim UGM, Koord. Soewandi Indanoe, arsitek pelaksana: Ismudiyanto Ismail). Ada semangat untuk mendeformasi atap tropis. Juga eksperimen madukan ornamentasi arabik dengan unsur lokal (foto: Galih Widjil Pangarsa)


Masjid Al Markaz (arsitek: Ahmad Noe’man). Kombinasi yang bagus dan cermat dari langgam Turki pada minaretnya dan atap tropis lokal. Aktifitas di masjid ini pun cukup padat, masjid bukan hanya gedung, tetapi aktifitas dan pengarah perbaikan masa depan (foto: Halfian; http://gallery. makassarkota.go.id/)

Kelompok keempat, adalah kelompok yang terbesar, yaitu masjid-masjid kecil di tingkat rakyat. Ini adalah kelompok pragmatis. Jika jama’ah belum cukup dana untuk “merenovasi”-nya, masjid-masjid ini umumnya masih memakai tipologi atap


Sebuah masjid di kampung daerah Priok, Jakarta, satu-satunya bangunan yang didirikan utuh di atas air di kampung itu. Siapa yang mau berkorban lahan? Bahkan, yang diperlukan dari kita sebetulnya hanya “berkorban kepedulian� bagi kaum miskin. Dari kepedulian akan muncul kepemurahan (foto: http://www.pbase.com/image/ 68973952)

tropis berbahan penutup genteng terakota, asbestos, seng gelombang, dan sebagainya. Jika telah cukup dana, tak jarang “dandanan� yang pertamakali diupayakan masyarakat ialah kubah.


Di kelompok masyarakat miskin permasalahan lain yang cukup pelik ialah lahan. Bagi mereka, berkorban uang belanja pun sudah sulit. Namun kesederhanaan belum tentu bermuatan nilai kesahajaan. Kunci kesahajaan ialah kesukarelaan berkorban didorong oleh kesadaran bahwa dirinya hidup dalam kemahapemurahan Allah. Setidaknya kesahajaan adalah mengekang diri untuk memberi kesempatan pihak lain hidup dengan haknya Masalah lain pada masjid adalah pemasangan simbol identitas. Saya punya satu pengalaman kecil. Pada tahun 1980-an, di Desa Sesait di lereng Utara Gunung Rinjani, Lombok, saya pernah membantu masyarakat untuk merancang sebuah masjid. Dari beberapa pilihan yang saya berikan, komunitas desa adat itu secara aklamasi memilih rancangan masjid dengan atap “kubah bawang” dari seng. Saya pun maklum, bahwa desa adat yang tadinya oleh masyarakat Lombok pada umumnya dan para petinggi pemerintah daerah digolongkan sebagai “desa Islam Wektu Telu” itu, memerlukan simbol “perubahan dan kemajuan” (Pangarsa, 1992. Les mosquées de Lombok, évolution architectural et diffusion de l’islam, Archipel 44, Paris). Masyarakat muslim Nusantara memakai masjid untuk membentuk identitas. Kalangan pengurus, “arsitek” masjid (belum tentu berijazah formal), dan masyarakat muslim Indonesia tampaknya sedang mencari identitas lewat rupa. Mereka mencari tipologi yang dapat memuat nilai-nilai universal Islam dan nilai-nilai lokal kedaerahan masing-masing. Di samping itu, dihadapan Eurocentrism budaya, mereka juga seperti menanggung beban untuk memasang-pakai simbol identitas bersama “kemusliman dunia”. Dalam hal ini, yang tampak sangat kuat adalah kecenderungan pemakaian kubah dan minaret. Tetapi sebetulnya, pada jaman Nabi Muhammad saw pun, kubah dan minaret tak dipakai. Kecenderungan mencari


identitas muncul di seantero Asia Tenggara dan bahkan dunia. Waktu yang akan membeberkan fakta, putusan apa yang akan diambil oleh masyarakat muslim Nusantara.


Penutup: Nusantara yang Kian Materialistik? Lewat kilas balik singkat perkembangan masjid, tampak bahwa Nusantara kini adalah bahari kehidupan materialistik. Mudah-mudahan kesimpulan bahwa perancangan masjid makin cenderung terfokus pada simbol-simbol fisiknya saja adalah kesimpulan yang keliru. Juga kesimpulan yang salah bila kita mengamati fenomena sejarah perkembangan arsitektur di tanah air. Yaitu, pada masa lalu, puncak-puncak karya peradaban arsitektural —baik di Nusantara maupun di seluruh belahan dunia— adalah pada bangunan dengan fungsi keagamaan atau keruhanian. Contohnya, candi, kuil, gereja, masjid, dan sebagainya. Namun secara bertahap, semenjak Abad XVI dan terutama setelah Abad XIX, puncak-puncak karya itu telah beringsut ke bangunan yang mewadahi fungsi utama ekonomi. Artinya, fokus perhatian pengembangan peradaban manusia telah makin condong ke arah materialisme. Bangunan-bangunan termegah di Amerika atau Abu Dhabi yang terus bermunculan belakangan ini, yang hanya memperebutkan prestasi dan prestise serba “ter�-mewah, megah, tinggi, canggih teknologinya, adalah bukti tak terbantah. Sementara itu di Nusantara, dalam perancangan arsitektur masjid, memang tampak ada upaya pelestarian kenusantaraan. Tetapi sekali lagi, tampaknya baru sebatas penyelesaian rupa atau wujud fisik saja. Itu pun sudah sangat baik. Prof. Josef Prijotomo menggolongkan upaya pelestarian karakter Nusantara pada ranah rupa


dalam tiga kelompok: kesertaan wujudiah (kenusantaraan dihadirkan sebagai “copy”), kesertaan sosok (kenusantaraan “ditangkap” sebagai semacam siluet saja), dan kesertaan kenangan (wujud atau sosok Nusantara tidak tersaksikan, akan tetapi dengan menikmati penggunaan bahan, warna serta tekstur, dan lain-lain). Sebagai pendekatan, rupa sah-sah saja disetarakan dengan ruang, begitu menurutnya. (Participatory Writing: Arsitektur Nusantara Kini, http://arsiteknusantarabuku. blogspot.com/). Jika upaya melestarikan kenusantaraan arsitektur di negeri ini menukik lebih dalam dengan menemukan inti dasar karakternya dan kemudian menumbuhkembangkannya dengan wujud baru sesuai dengan konteks ruang dan jamannya, tentu hal itu akan lebih memberi harapan. Apakah inti dasar itu? Kemanusiaan. Karena fitrah setiap manusia adalah berkehidupan serba damai dengan masyarakat. Artinya, hidup tenteram, selaras dan serasi baik dengan masyarakat-manusia maupun masyarakat-alam. Kehidupan seperti itu memerlukan landasan keilmuan yang bersifat serba adil baik terhadap manusia maupun terhadap alam. Bukan hanya berpihak pada manusia saja. Karenanya, “green architecture” bisa menjadi slogan atau mode belaka. Begitu pula “sustainable architecture”. Bilamana? Tatkala yang diselesaikan hanya permasalahan yang ada pada bangunan tunggal saja. Sayangnya, saat ini justru konsepsi keilmuan arsitektur adalah “wujud ragawi bangunan tunggal”. Sedangkan pada kenyataan spasio-visual, arsitektur selalu mengada (exist) secara bersama dengan sesamanya dan dengan unsur lingkungan binaan yang lain. Jadi, yang mesti diperjuangkan sungguh-sungguh adalah langkah bersama menuju masa depan budaya (pola pikir dan mentalitas) arsitektur yang lebih baik.


Minimal, untuk meyadarkan masyarakat arsitektur bangsa ini bahwa arsitektur bukan bangunan tunggal. Dan terutama, mengembangkan arsitektur yang di masa lalu pernah hidup kokoh. Yaitu, arsitektur bagi keluhuran budi pekerti manusia, bukan arsitektur demi ketenaran seseorang individu arsitek yang berhajat menjadi "star-chitect", (super)-star di bidang arsitektur (Pangarsa, 2009. Arsitektur Rakyat di Nusantara, http://arsiteknusantara. blogspot.com/). Apakah inti dasar keluhuran budi pekerti manusia? Sederhana saja: mampu menjaga, mempertahankan, memulihkan, dan mengembangkan hak hidup fitrah diri dan sesamanya sesama manusia, sekaligus hak hidup sekalian makhluk alam, tanpa sedikit pun mengurangi hak-hak pihak lain. Itulah kesatuan pandangan keilmuan yang diperlukan dunia arsitektur di negeri ini. Super-star yang sesungguhnya adalah manusia yang merdeka mengembangkan bakat fitrahnya dan yang bersahaja sebagaimana ia diciptakan Yang Maha Pencipta, Allah.


Betulkah pandangan, konsep dan praksis keilmuan arsitektur yang kita bangun telah memihak pada kemanusiaan? Bagaimana melestarikan nilai-nilai lokal yang sangat majemuk di Nusantara dan sekaligus mengambil nilai-nilai universal yang terkandung pada setiap lokal? Bagaimana mewujudkan keduanya dalam satu kesatuanpandang kebudayaan bangsa?


www.ruangarsitektur.com 


Materialisme pada Masjid Nusantara (Materialism on Nusantara Mosque)