Page 1

ANGKA J R Website : http://sekarbumihk.multiply.com & http://sekarbumi.hk.blogspot.com

Vol. II, No.10, Maret 2009

Gelar aN

Media Alternatif Buruh Migran Indonesia

Buletin Bulanan

Perempuan Bisa Mengubah Sejarah

P

ada tahun 1917, dua juta tentara Rusia terbunuh dalam perang, perempuan Rusia turun ke jalan pada hari minggu terakhir di bulan Februari menyerukan “Roti dan Perdamaian”. Para pemimpin politik menentang unjuk rasa tersebut, tetapi para perempuan ini tetap bertahan. Dan sejarah mencatat bahwa empat hari kemudian, Tsar (raja) Rusia turun takhta dan pemerintahan sementara mengakui hak perempuan untuk ikut serta dalam pemilu. Hari bersejarah itu jatuh pada tanggal 23 Februari di Kalender Julian yang digunakan di Rusia atau tanggal 8 Maret menurut kalender Gregorian (kalender Masehi yang juga kita gunakan). Dan sejak saat itulah Hari Perempuan Sedunia diperingati pada hari yang sama oleh perempuan di seluruh dunia. Kebangkitan perempuan dunia pada upayanya menuntut persamaan dengan kaum laki-laki dimulai bertahun-tahun sebelum tahun bersejarah itu. Di Tanah Air, aspirasi emansipasi perempuan muncul sejak tahun-tahun RA Kartini menulis kegetiran dalam surat-suratnya. Kemudian perjuangan perempuan Indonesia dalam menuntut hak-hak persamaan sebagai manusia terus berlanjut tidak ada putusnya. Bahwa kemudian keluhan-keluhan Kartini bukanlah semata-mata keluhan seorang diri, maka atas perasaan senasib kemudian menjadi cambuk untuk para perempuan menyadari ada kekuatan dalam dirinya yang tidak terbantahkan. Kekuatan itu, ketika diikat oleh kesadaran untuk menjadikan keadaan perempuan umumnya menjadi lebih baik bukan tidak mungkin akan mengubah haluan sejarah. Pencapaian perempuan hari ini adalah hasil usaha perempuan di masa lalu. Perbaikan keadaan perempuan di masa yang akan datang, harus kita lakukan hari ini. Selamat Hari Perempuan! ***

Redaksi JANGKAR Penanggungjawab: Presidium Sekar Bumi, Koordinator: Etik Juwita, Redaksi: Yukee Muchtar, Zando Aurilia, Rida, Fotografer: Alip, Marketing: Tarini Sorrita Telepon : (852) 95858513, 9769 2569 Alamat Redaksi : Wan Chai, Hong Kong, Alamat Email: editorjangkar@yahoo.com, sekarbumi.hk@gmail.com Terbit Setiap Bulan

Diterbitkan Oleh Sekar Bumi Hong Kong

Solidaritas Sekar Bumi untuk aksi Peringatan Hari Perempuan Internasional di KJRI Hong Kong Minggu (8/3)

Peringati Hari Perempuan Internasional

KJRI Didemo Dua Kali

B

Etik Juwita/Rida

uruh Migran Indonesia (BMI) di Hong Kong menandai peringatan Hari Perempuan Internasional dengan menggelar demo pada Minggu (8/3) lalu. Demonstrasi berpusat di dua tempat, yakni Gedung Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Causeway Bay dan Central Government Office (CGO)di Central. BMI mendesak pemerintah Indonesia dan pemerintah Hong Kong untuk memperhatikan hak-hak pekerja perempuan migran, khususnya pekerja rumah tangga. Di KJRI, aksi berlangsung dua kali. Pagi, demonstrasi massa terdiri dari Persatuan BMI Tolak Overcharging (PILAR) dan Aliansi BMIHK Cabut UUPPTKILN No.39/2004, sedangkan siang terdiri dari massa Koalisi Organisasi TKI di Hong Kong (Kotkiho) dan Aliansi BMI-HK Cabut UU PPTKILN No.39/2004. Masingmasing aksi diikuti tidak kurang dari 300-an BMI. Sebagai anggota dari Aliansi 41 organisasi BMI yang menuntut pencabutan UU 39/2004, Sekar Bumi mengirimkan anggotanya bergabung dalam aksi ini Para BMI menuntut dicabutnya UUPPTKILN No.39/2004 karena dinilai hanya mengatur tentang penempatan BMI tanpa mengedepankan unsur-unsur perlindungan. Mereka juga mendesak pemerintah Indonesia segera meratifikasi Konvensi PBB Tahun 1990 Tentang Perlindungan Hak Buruh Migran dan Seluruh Anggota Keluarganya.

Dalam statemen yang dikeluarkan PILAR dan Kotkiho juga disebutkan bahwa upaya menaikkan angka BMI yang dikirim ke luar negeri adalah sebuah upaya penjualan perempuan. Dan UUPPTKILN No.39/2004 adala UU yang mensyahkan Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) sebagai kaki tangan pemerintah dalam program penjualan tenaga kerja. PILAR bahkan menggaris bawahi bahwa UUPPTKILN No.39/2004 telah membuat PJTKI kebal hukum terhadap pelanggaran-pelanggaran hak BMI. Ketua Sekar Bumi Anggie, dalam orasinya mengatakan,UU No.39/2004 tidak menguntungkan BMI sama sekali.”UU No 39/2004 hanya untuk kepentingan PJTKI dan pemerintah saja, tanpa keselamatan, kesejahteraan ,dan perlindungan terhadap BMI,”ungkapnya.Ia juga menegaskan bahwa pembuatanUU yang mengatur BMI harus mengikutsertakan BMI. Aksi menuntut dicabutnya UUPPTKILN No.39/2004 ini menurut rencana juga akan digelar besar-besaran pada 5 April mendatang. “Kita akan aksi terus sampai UU dicabut”, kata Sringatin, ketua IMWU yang juga bertugas sebagai Tim Kerja Aliansi I kepada JangkaR pada Rabu (11/3) lalu. Sementara dalam aksi Minggu (8/2) lalu, para pengunjuk rasa membawa sejumlah spanduk yang berisi tuntutan dan meneriakkan agar pemerintah mencabut UU No 39/2004, menindak agen penahan paspor BMI, dan memangkas biaya agen yang sangat tinggi. ***

JANGKAR• 1


PanggunG

Sekar Bumi Juara 3 di Pinoy World

O

Ruby Setia

RGANISASI Seni dan Karya Buruh Migran Indonesia (Sekar Bumi) menyabet juara ke-3 dalam lomba menari modern yang diselenggrakan oleh salah satu komunitas warga Filipina di Hong Kong (Pinoy World) di Central, Minggu (22/2).. Perlombaan tari bertajuk Quela @ Saya itu diikuti oleh berbagai organisasi, baik dari kalangan buruh migran Indonesia maupun Filipina. Tari hiphop yang dibawakan oleh Deo, Ella, Dewo dan Ribby itu meraih juara 3 setelah juara 1 dan 2 masing-masing diraih oleh buruh migran dari Filipina. Ella, ketika dihubungi JangkaR menyatakan bangga meskipun hanya meraih juara 3. Sementara Dewo yang dihubungi JangkaR secara terpisah juga mengatakan hal senada, “Rasane seneng. Kalau bisa terus dijaga dan ditingkatkan lagi. Harapanku, teman-teman semakin punya

tanggung jawab dan terus menjaga kekompakan. Selain itu, Sekar Bumi juga ikut memeriahkan acara bertajuk pertunjukan seni dan budaya yang diselenggarakan oleh City University pada Minggu (1/3) di Mongkok. Acara bertema “Spirit of Love” yang digagas untuk kelompok minoritas di Hong Kong ini juga dimeriahkan oleh penari-penari dari negara-negara Filipina dan Nepal. Pada kesempatan itu, Sekar Bumi menampilkan dua tariannya yakni hiphop dan Tari Incling. Sekar Bumi sempat didaulat untuk mengajarkan Tari Incling di hadapan penonton yang hadir. Dwi Sapon, selaku koreografer tarian itu merasa bangga sekaligus senang bisa mengajarkan tarian tersebut kepada khalayak. Ia juga mengatakan bahwa apresiasi masyarakat itu merupakan bukti bahwa tari tradisional Indonesia tidak dipandang sebelah mata bahkan mendapat penghargaan tersendiri. ***

Cerpen “Mrs. Employer” Diakui Komunitas Penulis Hong Kong

C

ERITA pendek “Mrs. Employer” karya Tarini Sorrita diakui komunitas penulis Hong Kong, saat Rabu (11/3) lalu, bersama sejumlah cerpen karya perempuan penulis di Hong Kong lainnya, cerpen tersebut diluncurkan dalam jurnal Imprint 2009. Tarini merupakan satu-satunya penulis dari Indonesia dan satusatunya penulis dari komunitas buruh migran yang karyanya masuk dalam jurnal tersebut. “Saya bahagia,” ujar anggota Sekar Bumi ini saat ditemui di sela-sela acara peluncuran jurnal tersebut yang berlangsung di lantai 6, Kee Club, di Central, Rabu (11/3) malam lalu. Selain cerpen milik Tarini, jurnal berbahasa Inggris tersebut juga memuat 14 cerpen penulis lainnya. Juga puisi dan karya foto dari komunitas On Women in Publishing (Wips). Menurut Tarini, melalui bantuan seorang anggota

2 •JANGKAR

Wips yang tertarik dengan cerpennya, “Mrs. Employer” akhirnya bisa masuk dalam penerbitan jurnal Imprint 2009. Anggota parlemen Hong Kong dari Civic Party Audrey Eu turut memberikan kata pengantar dalam jurnal ini. Ia menyambut baik peluncuran jurnal tersebut dan mengatakan bahwa perempuan memiliki sensitivitas yang berbeda dengan laki-laki.Dan perbedaan inilah yang membuat perempuan lebih peka dalam mengamati situasi yang terjadi di sekelilingnya. “Mrs.Employer” sendiri merupakan terjemahan dari cerpen “Nyonya Majikan” yang ada dalam kumpulan cerpen Tarini “Penari Naga Kecil” yang sudah terbit sebelumnya. Selain kumcer “Penari Naga Kecil”, karya Tarini lainnya juga masuk dalam antologi cerpen Nyanyian Imigran dan antologi puisi Lima Kelopak Mata Bauhinia. ***

KroniK Sekar Bumi)menyabet juara ke-3 dalam lomba Tari Modern yang diselenggrakan salah satu komunitas warga Filipina di Hong Kong (Pinoy World) pada Minggu (22/2) di Central.

Solidaritas Sekar Bumi dalam peringatan Hari Perempuan Internasional. Bersama organisasi BMI lainnya menggelar aksi di depan KJRI Hong Kong, Minggu (8/3)

Anggota dan Pengurus Sekar Bumi foto bersama dengan Piala yang baru diraihnya, Minggu (8/3)

Sekar Bumi mengisi acara bertajuk DangDut Idol BMI. Diselenggarakan di Yuen Lonng Town Hall pada Minggu (28/12/2008)

Sebagai sarana menjalin keakraban antar anggota, pengurus Sekar Bumi mengadakan acara BBQ di Shek O, Minggu (18/1)

Anggota Sekar Bumi Tarini Sorrita memegang Jurnal Imprint 2009, di acara peluncuran Jurnal tersebut di Central, Rabu (11/3) mala. Karya cerpennya masuk dalam jurnal ini bersama karya para penulis perempuan Hong Kong.


HorizoN

Aku Diperas di Negeriku Sendiri

R

Tiyan

ABU, 11 Juni 2008, aku sangat bahagia karena akan cuti pulang, setelah empat tahun aku meninggalkan kampung halaman Ah, akhirnya, aku duduk juga di bangku burung besi, terbang ke Tanah Air, setelah sekian lama ini hanya ada dalam angan-anganku. Ketika samar kudengar pengumuman dari pengeras suara pesawat akan segera mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, sekali lagi aku merasa seperti sebuah mimpi. Aku telah sampai di Tanah Air. Aku tahu aku berada di Terminal 2 waktu semua barangku telah ada di tanganku. Kucari-cari jalur keluar. Ketika akhirnya kutemukan jalur keluar bandara, yang kukira akan membawaku langsung di pemberhentian bis ke Jawa Tengah, yang kutemui justru bus khusus yang akan mengangkutku ke terminal yang satunya lagi. Sebelum bus dijalankan, seperti biasa para “pemerkosa” memintaminta uang yang katanya “seikhlas-

nya”. Kupikir keadaan sudah berubah. Tapi nyatanya masih berlangsung. Aku ingat terakhir pulang dari Taiwan dulu, sekitar tahun 2002, “pemerkosa-pemerkosa” ini sudah ada di sini. Waktu itu aku melihat keadaan Terminal 3 begitu ruwet sampai-sampai aku mengeluarkan kata yang kasar, “Indonesia kere!” Aku ingat betul, waktu itu Pakdeku yang menjemputku harus mengeluarkan uang ratusan ribu sebagai uang sogok petugas hanya untuk mengeluarkan aku dari Terminal 3. Sementara itu, kulihat teman-teman yang lain, mungkin karena saking inginnya bertemu dengan sanak keluarga, berapapun “pemerkosa” bandara itu meminta uang, langsung saja dikasih. Ya Allah, mengapa keamanan di negeri ini berarti ini itu uang? Keadaan ini menurutku, sangat memalukan. Aku masih ingat, dulu, majikanku pernah cerita bertamasya ke Indonesia. Untuk melancarkan segala urusannya, ia sengaja menyelipkan lembaran uang

di sela-sela paspornya, katanya, biar tidak ada banyak pertanyaan. Kami lantas mengangkati barang-barang kami, menunggu antrean setelah kubayar uang sebesar HK$390. Kubayarkan dengan dolar Hong Kong karena aku memang tak memegang uang rupiah. Jam bergulir ke angka 17.30 ketika mini bus yang akan bertolak ke Jawa Tengah dan sekitarnya berangkat. Aku memilih duduk di deretan paling belakang. Belum lama perjalanan di waktu malam itu, tiba-tiba mobil dihentikan di sebuah warung makan. Sopir dan kenek berhenti untuk merokok dan minum kopi. Aku dan teman-teman menuju kamar kecil. Saat perjalanan dilanjutkan, seorang yang menurutku menyeramkan, yang tadi ditemui oleh sopir dan kenek di warung makan itu, turut serta. Aku tak suka. Tapi sopir bilang ia petugas bandara juga. Untuk jaga-jaga, aku catat nomor plat mobil yang kutumpangi.

PerspektiF

Pemerintah Tak Memanusiakan BMI Alif Putri

M

INGGU (8/3) lalu, ratusan buruh migran Indonesia di Hong Kong menggelar aksi untuk memperingati hari perempuan sedunia. Aksi digelar dua kali dalam sehari, pukul 11.00 dan pukul 13.00 di depan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong. Selain itu, aktivis BMI juga menggelar aksi di depan kantor Pemerintah Hong Kong di Central. Mereka menuntut Pemerintah Hong Kong tak memangkas upah pekerja migran dan mendesak pemerintah Indonesia mengurangi biaya penempatan yang super tinggi serta meninjau ulang sejumlah kebijakan yang merugikan BMI. Mereka juga menyoroti Undang-Undang Penempatan dan Perlindungan Tenaga

Kerja Indonesia di Luar Negeri (PPTKILN) No.39/2004. Mereka menilai UU ini memberikan peran terlalu luas kepada sektor swasta untuk penempatan BMI dan pemerintah mengabaikan kesejahteraan dan perlindungan BMI. Mereka mendesak UU ini dicabut. Terlebih baru-baru ini pemerintah mematok target pengiriman BMI sebanyak 1-2 juta orang pertahun dan target pemenuhan devisa buat Negara sebesar Rp. 150 Triliun. Rencana amandemen UU No.39/2004 yang tengah digagas pemerintah dikhawatirkan hanya untuk memuluskan target ini. UU No.39/2004 adalah penderitaan dan penindasan buat BMI. Sementara di sisi lain, menjadi keuntungan bagi pihak PJTKI dan pihak pemerintah yang korupsi. Di bawah UU ini, BMI hanya dipandang sebagai “sapi perahan”. BMI tak lebih dari

Sekali lagi, kami dihentikan di sebuah pos yang kata sopir milik pemerintah. Di situ ada kantin di mana kami bisa membeli jajan, makanan dan barang oleh-oleh buat keluarga. Ada juga seorang yang mengaku petugas menjelaskan ini itu sebelum kemudian perjalanan dilanjutkan lagi. Di sinilah kemudian, posisi duduk kami diatur. Temanteman yang sudah hendak turun didudukkan di kursi depan. Ketika kutanya, alasannya biar lebih mudah menurunkannya nanti. Ketika giliranku tiba, baru aku menyadari ternyata itu adalah taktik “pemalakan” berikutnya. Mereka, sopir dan keneknya, sekaligus minta amplop, tanpa malu sedikit pun. Aku bilang, aku akan kasih tapi nanti kalau telah sampai di rumah. Mereka bilang, tidak enak kalau ada orang lain yang tahu. Aku sungguh kesal dibuatnya. Ketika kubuka dompetku dan menyuruh mereka mengambil sendiri, mereka mengambil uangku Rp. 200.000,- plus angpao HK$500. Ampun! Apakah semua ini kalau bukan pemerkosaan? Duh, ternyata belum ada yang berubah di negeriku ***

komoditas barang dagangan. Aturan turunan di bawah UU ini membuat BMI harus membayar biaya penempatan kepada agen sebesar HK$21.000 dalam masa potongan gaji 5-7 bulan lamanya. Lucunya, Surat Keputusan No.186/2008 yang mengatur penurunan biaya penempatan dari HK$ 21.000 menjadi HK$ 15.000 yang seharusnyaa berlaku sejak bulan Juli 2008 ternyata tak direalisasikan sampai saat ini. Ini menjadi bukti bahwa selama ini pemerintah Indonesia masih menutup mata terhadap kondisi BMI. Mayoritas, dari 122.000 BMI yang ada di Hong Kong, adalah perempuan. Mereka adalah aset negara karena merupakan penyumbang devisa No.2 setelah hasil minyak bumi. Mereka mestinya mendapat perlindungan dari pemerintah, karena

keuntungan yang diperoleh negara dari keringat BMI sangat besar. Sayangnya, kita tahu, pelayanan yang diberikan pemerintah terhadap para pahlawan devisa sama sekali tak memadai. Perlakuan pemerintah Indonesia terhadap BMI selama ini sama sekali tak manusiawi. Sejumlah peraturan yang dibuat masih sangat merugikan BMI. Dalam kondisi seperti ini maka BMI harus menggalang solidaritas seluas mungkin agar bunyi butir kelima Pancasila : “Keadilan Sosial Bagi Seluruh rakyat Indonesia“ bisa terwujud. Praktik yang terjadi dan pengalaman yang dirasakan BMI menunjukkan bahwa para pejabat negara hanya mementingkan kebutuhan golongan para pemilik modal peduli pada perlindungan dan kesejahteraan kaum buruh. Tanpa perjuangan dan semangat dari dalam diri kita, sebagai BMI, maka kita takkan bisa meraih segala apa yang kita cita-citakan. ***

JANGKAR• 3


BuritaN

Gerimis & Hujan Tragedi KK

S

UDAH hampir tiga bulan sejak kepulanganku bulan Desember tahun lalu dari Hong Kong. Sudah pula kurasai musim hujan yang basah hingga banjir yang menjalar ke mana-mana. Bapak mengeluh karena sawah yang hanya sepetak kecil itu mesti terendam air, ditambah harga benih dan obat-obat pertanian yang mahal. Bapak putus asa. Menghitung-hitung sambil berharap hujan segera reda. Kata bapak,ia hanya punya sawah.Bagaimanapun buruk dan tidak menguntungkannya, hanya menyangkul dan bercocok tanamlah yang ia bisa. Di tengah kegalauanku menanti visa kerjaku dikabulkan Departemen Imigrasi Hong Kong, terharu juga aku karena kebersahajaan bapakku itu. Sementara ibuku, hampir tiap hari mengeluhkan harga bahan pangan yang terus meningkat. Minyak goreng, beras, cabai, kelapa, kian hari kian mahal. Sayursayuran yang dulu setahuku selalu berlimpah di pasar, juga menyusut, baik ukuran takaran maupun jumlahnya Yang bengkak justru harganya. Kadang, bahan pangan seperti tempe dan tahu pun harus lenyap dari pasaran. Bukan karena orang semakin rakus kukira, tapi karena minimnya persediaan barang remeh tapi sangat penting itu. Sementara bebarengan dengan itu, spanduk-spanduk Pemilu bertebaran di setiap jengkal pinggir jalan. Banyak sekali permintaan doa restu dengan foto-foto close up ala model dadakan. Gambar yang laki-laki dibikin sedemikan gagah dan berwibawa, sedang gambar perempuannya dibikin menarik ala artis dengan make up dan dandanan menor, rambut dibikin pirang melambai-lambai dengan senyum menawan aduhai. Padahal, di sudut desa di Jombang sana, masyarakat miskin sedang menaruh harapan hampir mendekati tindakan tidak rasional, mempercayai bocah kecil bertuah yang mempunyai batu ajimat penyembuh segala sakit. Duh. Melihat semua yang ada di Tanah Air kini, aku sering teringat sewaktu beberapa bulan lalu masih berada di Hong Kong. Tentu musim semi sekarang. Sebentar lagi pasti ramai badai dan topan, juga hujan. Di mana-mana, sepertinya memang tidak memungkinkan lagi untuk mendapatkan ketenangan.

4 •JANGKAR

“Mbak...ada telepon. Ih melamun aja.” Adikku mengagetkanku tiba-tiba. “Thanks, Dear.” “Huuuu!!!” ejeknya seketika karena aku mengucap bahasa Inggris padanya. Aku acuh saja. Kuambil alih telepon yang disodorkan adiku padaku. Belum sempat kuucapkan salam ketika tiba-tiba, suara dari seberang menyambar telinga terlebih dulu. “Hai say, apa kabar? Pasti lagi melamunkan diriku. Enaknya dirimu sekarang, tinggal nunggu visa, mana majikan dapat sendiri lagi. Kapan visamu turun? Kapan sampai ke Hong Kong lagi?” Komsatun berucap beruntun seperti petasan. “Eh, ini anak. Ngomong kok nggak pakai titik koma.” sergahku. “Iya, iya Tun. Kabarku baik. News dari majikan baruku belum ada. Hanya aku seringsering telepon kepadanya, minta dia supaya menulis surat ke Imigrasi agar visaku dikabulkan secepatnya. Lha kamu sendiri bagaimana? Ada kabar dari Sarmila?” Kudengar Komsatun menarik napas dalam-dalam serasa ada berat di dalam suaranya, “Iya, ada. Kemarin aku telepon dia di Macau. Dirimu ingatkan, waktu itu kita bertiga diterminit hampir bersamaan. Sarmila memutuskan menunggu di Macau. Keadaannya tidak terlalu baik, Sun. Di sana ia terikat untuk mematuhi dua agen: agen di Hong Kong dan di Macau. “Bayangkan Sun, ia harus tinggal bersama 18 orang dalam satu atap Hanya ada satu kamar, dan tidur di lantai pula. Makanan sungguh sangat ala kadarnya, asal perut terisi. “Masih menurut Sarmila, di Macau banyak sekali BMI LB, kamu tahu artinya kan? Overstay dan pengangguran. Belum lagi, Pakde di Macau sekarang juga sedang agresif mejeng di gang-gang mencari mangsa di sekitar warnet, park, dan tempat lain yang sering dipakai BMI tak berdokumentasi. Miris ya, Sun? padahal aku pun kayaknya harus menunggu visaku di Macau. Tidak mungkin bagiku untuk pulang ke Indonesia. Kamu kan tahu itu. Aku sudah tak punya uang, sementara utang bank-ku juga harus terus dibayarkan. Entahlah Sun…” Untuk desahan berat yang berkali-kali itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain turut serta. Apakah arti cerita kehidupan ini kalau bukan petaka? ***

Puisi Karya Elmi A.

Hakekat Perempuan Hadirmu memercikkan bara Darimu terlahir generasi penerus bangsa Kau kokoh, tak kenal menyerah Andai kau persatukan suaramu Maka… Kita takkan menanggung beban Kita takkan tertindas Oleh orang-orang tak bertanggung jawab Oleh orang-orang perampas hak-hak kita Wahai perempuan… Mari kita terus maju berjuang Bebaskan kaum kita dari segala tindak penindasan Perempuan bukan barang untuk diperjual-belikan Perempuan juga punya hak Berpenghidupan layak dan mapan Wahai perempuan…. Ayo bersatu padu Tuk teruskan perjuangan tokoh-tokoh perempuan kita Karena sesungguhnya kita belum menang.

Karya Teksi Leny

Pemilu Seluruh rakyat menyambutmu Bersuka cita menantikan kehadiranmu Memilih wakil rakyat yang tepat Secara demokrasi seadil-adilnya Pemilu hampir tiba Mereka berkata Tapi apa jadinya Ternyata hanya jadi malapetaka Demo terjadi dimana-mana Saat kami menyadari Suara kami hanya dijadikan rekayasa Oleh mereka yang kilau akan harta 5 tahun sekali pemilu diadakan Apakah pemilu benar-benar sempurna? Apakah pemilu benar-benar dapat dipercaya? Jawabnya adalah “Tidak” ***

JangkaR edisi Maret 2009  

Buletin bulanan organisasi Sekar Bumi di Hong Kong.

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you