Page 1

PORTOFOLIO

Esa Khairina Husen | esakhairina@gmail.com | +6289618518291


Daftar Isi Jelajah Wisata Minoritas Yunnan

2

Tapak Desa Transmigran

10

Menziarahi Pasar Seni

13

Profil Penulis

16

1


Jelajah Wisata Minoritas Yunnan

BAGAIMANA 25 ETNIS MINORITAS DI PROVINSI YUNNAN, REPUBLIK RAKYAT TIONGKOK, BERKONTRIBUSI BAGI AMBISI INTERNASIONALISASI DAN KETERBUKAAN EKONOMI.

P

ilar-pilar karst tegak berdiri, ujung lancipnya mengkilat di bawah sinar matahari. Formasi bebatuan ini lumayan ganjil: kebanyakan karst menjulang berhadap-hadapan, dengan beberapa bagian karst terjulur mendatar, menciptakan lorong kopong bagai labirin di bawahnya. Di lorong-lorong tersebut, turis berlalu-lalang, mengikuti pemandu yang merupakan warga lokal di Hutan Batu Shilin, provinsi Yunnan, Republik Rakyat Tiongkok. Para pemandu ini tidak dibekali pengetahuan geologi; mereka tidak menjelaskan bagaimana Hutan Batu Shilin

2


terbentuk. Yang mereka jual kepada pengunjung adalah kearifan lokal suku Sani, pemukim asli Shilin yang merupakan cabang dari etnis Yi. Mengenakan rompi dan hias kepala khas Sani, para pemandu mengisahkan formasi karst dalam legenda suku Sani, mengaitkan morfologi dengan mitologi. Aliran sungai mana yang penting dalam ritual ibadat, gua mana yang kerap dijadikan lokasi petapaan, hingga ceruk di dinding yang ditetesi air dari stalaktit tidak luput dari penjelasan. Di luar atraksi alam, para pemandu juga sengaja berhenti sejenak di kelokan-kelokan tempat orangorang Sani beraktivitas: menenun, menari, bernyanyi dengan siulan tinggi. Shilin adalah rumah mereka, sekaligus materi tur yang bisa dikomersialisasi. Walau Shilin sudah mulai dikembangkan sebagai taman bumi pada 1931 oleh pemerintah provinsi Yunnan, ia baru ditetapkan sebagai Taman Nasional pada 2001, menyusul naiknya popularitas Shilin di kalangan turis domestik dan mancanegara selama dekade 1990. Shilin menjadi satu dari sebelas taman nasional pertama yang ditetapkan. Pasca penetapan tersebut, pemerintah Tiongkok lanjut mengejar status sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Sebagai salah satu upaya, pemukiman suku Yi direlokasi ke luar kompleks Shilin.

menurun dari saat musim panas. Ini adalah dampak positif dari arus pariwisata: lebih banyak tenaga kerja Sani terserap ke dalam industri yang lebih “modern�. Guao menyenangi pekerjaannya sebab ia bisa mempromosikan budayanya secara langsung. “Kalau orang Han (etnis mayoritas Tiongkok) yang menjelaskan, barangkali informasinya tidak seakurat dari kami,� kata Guao. Di sisi lain, modernisasi ini menjadi tantangan bagi masyarakat Sani dalam menjaga eksotisme budaya mereka, yang merupakan nilai jual utama bagi turis.

G

uao, seorang pemandu, mengalami sendiri relokasi tersebut. Ia dan keluarganya sekarang tinggal kurang dari satu kilometer di luar kompleks Shilin. Baginya, pemindahan tersebut bukan masalah. Ia justru merasa lebih tenteram tinggal jauh dari ingar-bingar turis. Setiap hari, Guao berjalan kaki ke kantor pusat taman bumi untuk menunggu turis yang dilimpahkan kepadanya. Karena kemampuan bahasa Inggris-nya, Guao seringnya menangani rombongan turis mancanegara. Guao mengakui pendapatannya dari memandu lebih baik ketimbang pekerjaan musiman seperti bertani, berkebun, atau menenun. Di musim gugur, Guao tetap bisa bekerja walau jumlah pengunjung yang dipandunya tentunya

3

Guao, seorang Sani yang menjadi pemandu wisata Hutan Batu Shilin, dengan pengeras suara mininya.


Representasi dan pertumbuhan ekonomi merupakan keuntungan yang harus ditukarkan Guao dan sukunya dengan bergesernya budaya mereka. Preservasi budaya sulit dilakukan dalam keterbukaan yang menjadi kondisi mutlak pertumbuhan ekonomi. Belakangan ini, budaya Sani dilestarikan secara superfisial untuk terus menarik pengunjung dalam buai eksotisme, alih-alih dihayati sebagai bagian dari identitas. Menjadi sebuah ironi, ketika Guao dan generasinya meninggalkan praktik tradisional mereka untuk mengenalkan budaya kepada masyarakat luar. Generasi setelah Guao menjelajah lebih jauh lagi: banyak dari mereka yang berurbanisasi ke kota-kota besar di Yunnan seperti Kunming, menjadi representasi dari salah satu etnis minoritas Yunnan. Provinsi Yunnan memiliki proporsi demografis yang unik: 40% penduduknya tercatat sebagai bagian dari kelompok etnis minoritas yang hidup saling terpisah dan masih mempertahankan tradisi leluhur. Sebanyak 25 kelompok etnis minoritas hidup di Yunnan, yakni Yi, Bai, Hani, Dai, Zhuang, Miao, Hui, Lisu, Lahu, Wa, Naxi, Yao, Jingpo, Tibetan, Bulang, Buyi, Achang, Pumi, Mongolian, Nu, Jinuo, Deang, Shui, Manchu, dan Drung (diurutkan berdasarkan populasi terbesar hingga terkecil). Lima belas di antara kelompok etnis tersebut hanya hidup di Yunnan. Pemerintah provinsi Yunnan menyadari betul keistimewaan ini dan memanfaatkannya demi geliat pariwisata.

H

ingga dekade 1970, provinsi Yunnan terseok-seok mengejar ketertinggalan mereka di bidang ekonomi. Agrikultur menjadi penopang ekonomi Yunnan, satusatunya industri yang paling memungkinkan, mengingat 94% dari wilayah Yunnan adalah pegunungan terpencil. Pada 1979, Tiongkok mulai membuka diri secara ekonomi dan berusaha mendiversifikasi industri Yunnan. Momen itu membawa kesadaran bahwa etnis minoritas yang tinggal secara terasing, tanpa akses ke dunia luar, merupakan batu sandungan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, keterasingan mereka

lama berabad-abad lamanya telah menjaga kemurnian tradisi para etnis minoritas, sesuatu yang dianggap atraktif di mata wisatawan. Maka akses dan infrastruktur dibangun untuk memudahkan mobilisasi fisik, sosial, dan ekonomi dari dan ke luar pemukiman para etnis minoritas. Pemerintah Yunnan mengupayakan integrasi etnis minoritas ke masyarakat urban dengan segala modernitas mereka. Akhir Perang Dingin menyadarkan Tiongkok akan pentingnya Yunnan sebagai provinsi yang perlu dikembangkan, mengingat lokasinya di garis terluar Tiongkok. Pemerintah provinsi Yunnan lantas berupaya mendiversifikasi sektor industri sehingga tidak dependen pada agrikultur yang musiman. Industri pariwisata menjadi pilihan yang dikembangkan, dan desa-desa etnis minoritas dibuka untuk wisata. Nilai strategis Yunnan memuncak ketika Presiden Xi Jinping membuka proyek OBOR (One Belt One Road Initiative) pada 2013, dan Yunnan menjadi jalur strategis sebab berbatasan langsung dengan tiga negara ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) sebagai kawasan dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat, yakni Myanmar, Laos, dan Vietnam. Implementasi OBOR pun melibatkan pembangunan jalur transportasi yang menghubungkan tiga negara ini dengan Tiongkok via Yunnan. Diversifikasi industri yang dilakukan pemerintah provinsi Yunnan justru menggeser ketergantungan Yunnan kepada sektor industri jasa. Zhou Guanqi dari Fakultas Ekonomi Universitas Yunnan mengungkapkan, pada 2017, industri jasa di Yunnan menyumbang sekitar 780 miliar yuan kepada provinsi tersebut, menjadi sektor paling kontributif dengan mengisi sekitar 47% dari pendapatan provinsi. Jasa pariwisata mendominasi sektor industri jasa. Di titik ini, pariwisata Yunnan begitu kritis dalam menopang ekonomi provinsi tersebut, sekaligus memastikan pembangunan infrastruktur terus dilakukan untuk memudahkan akses para turis serta menyokong implementasi OBOR. Jantung dari pariwisata tersebut tentu saja adalah wisata budaya yang dilakukan oleh etnis minoritas.

4


D

i tepi Danau Dianchi, gerbang megah terbuka sepenuhnya, menunjukkan jalan yang diapit jajaran kedai barbeku, toko teh, dan gerai suvenir. Jalan tersebut berujung pada museum interaktif yang menjelaskan sejarah dan perkembangan 25 etnis minoritas Yunnan. Di museum itulah Jingyi menemui rombongan tur yang telah mereservasi jasanya. Tur Jingyi dimulai dengan permintaan maaf karena tidak bisa berbahasa Inggris. Disusul dengan penjelasan pakaian tradisional etnis Miao yang dikenakannya: gaun merah jambu berlapis luaran biru, dipenuhi tenunan bunga dan manik-manik. Melengkapi buncah warna Jingyi adalah hias kepala dari perak yang sekilas tampak berat. Kalau Jingyi terbebani dengan hias kepala itu, ia tidak menunjukkannya. Sudah empat tahun ia bekerja sebagai pemandu wisata di Desa Etnis Yunnan, atribut tradisional tersebut adalah seragamnya sehari-hari. Adalah kewajiban para pemandu wisata berlisensi di Yunnan untuk mengenakan pakaian tradisional etnis mereka. Di Desa Etnis Yunnan, kompleks miniatur kehidupan minoritas, perempuan dan lelaki dengan pakaian tradisional berbeda saling menyapa ketika berpapasan.

Desa Etnis Yunnan dibuka untuk umum pada 1992, dan telah menarik jutaan pengunjung setiap tahunnya. Lokasinya strategis, kurang-lebih 10 kilometer dari pusat ibukota provinsi, Kunming. Berawal dari delapan miniatur kompleks budaya etnis, sekarang 25 etnis minoritas Yunnan sudah memiliki kompleksnya masing-masing. Setiap kompleks dijaga oleh orang asli etnis tersebut. Akan tetapi, karena jumlah mereka tidak sebanding dengan pengunjung, pemandu wisata yang bertugas menjelaskan kehidupan etnis kepada turis. Semua etnis memiliki bangunan rumah tradisional mereka, yang diisi dengan perabot rumah tangga, alat musik, senjata, pakaian tradisional, serta foto-foto kampung halaman. Etnis dengan populasi lebih besar bahkan memiliki arena pertunjukan, permainan, atau ikon upacara atau ritual. Dari satu kompleks ke kompleks lain, Jingyi menggiring rombongan turnya dengan kereta mini. Secara keseluruhan, pengalaman tersebut edukatif dan menyenangkan tanpa menggurui. Setelah semua kompleks etnis dikunjungi, Jingyi membawa rombongan tur ke area foto dengan pakaian tradisional. Ia menambahkan bahwa mereka bisa membeli pakaian tradisional itu di toko suvenir sepanjang jalan keluar.

Gerbang masuk Desa Etnis Yunnan

5


Jingyi, pemandu Miao.

Desa Etnis Yunnan merupakan garda terdepan dari wisata minoritas Yunnan, ringkasan dari aktivitas adat para kelompok etnis. Namun, Desa Etnis Yunnan bukanlah satu-satunya titik atraksi yang menjual eksotisme tersebut. Di sebuah teater di pusat kota Kunming, setiap malam pentas tari kolosal bertajuk Dynamic Yunnan Show digelar. Perpaduan dari performa seniman profesional, ulasan penuh bintang di situs pariwisata, dan strategi pemasaran ekspansif yang mengharuskan setiap hotel memajang spanduk promosi, membuat pentas ini terus berjalan dengan kursi yang sering terjual habis walau harga tiketnya tidak murah. Bagi turis dari luar Kunming, Dynamic Yunnan Show adalah salah satu indikator keabsahan kunjungan mereka ke kota tersebut. Bagi penduduk lokal, Dynamic Yunnan Show adalah pengalaman yang harus dirasakan setidaknya sekali seumur hidup. Dynamic Yunnan Show mengikuti alur mitologi dari penciptaan hingga tamatnya alam semesta. Alur itu dibagi menjadi tiga fase, dimulai dengan terciptanya alam semesta, dan kelahiran manusia pertama. Fase kedua menceritakan kehidupan manusia dalam buaian, integrasinya ke dalam masyarakat, perkembangan menemukan jati diri, perjalanan mencari cinta sejati, hingga terpisahnya ia dari

Anggota etnis Lisu bersama turis.

masyarakat untuk melebur bersama pasang-annya dalam kehidupan baru. Fase ketiga berkisah tentang utuhnya manusia dan kembalinya ia kepada sang pencipta. Ketiga fase terbagi menjadi beberapa babak, dan masing-masing babak dipentaskan oleh satu kelompok etnis minoritas. Kostum yang berwarna-warni dan distingtif membuat penonton dapat memastikan perubahan etnis minoritas di panggung. Penyelenggara pentas mengklaim 100% pemain merupakan etnis minoritas asli yang didatangkan ke Kunming. Pun mereka klaim 100% kostum dan properti, terutama alat musik, senjata, dan topeng, dibuat oleh etnis minoritas di kampung halaman masing-masing. Autentisitas menjadi jaminan tertulis para penyelenggara wisata kepada turis. Akan tetapi, dramatisasi juga dilakukan oleh para etnis minoritas guna menambah bumbu eksotisme untuk dijual. Ini tidak hanya dilakukan di atas panggung pentas tari, tetapi dilakukan pula oleh Guao dan Jingyi. Ketika budaya didramatisasi atau dilestarikan secara superfisial, yang terjadi selanjutnya adalah komodifikasi budaya. Tradisi para etnis minoritas memang masih eksklusif milik mereka, tetapi menjadi barang yang bisa diperjualbelikan selama ada uang. Dalam sistem ini, nama etnis mereka, baik itu Sani atau Mauo, menjadi merek dagang yang autentik, eksklusif, dan layak dipasarkan.

6


Seorang wanita Yi di Jianshui County, Yunnan. Ia masih bertani karena merasa usianya tidak lagi memungkinkannya bekerja di sektor pariwisata.

7


Penari Sani di Hutan Batu Shilin tampil disaksikan turis di belakang

M

embicarakan soal etnis minoritas, isu paling fundamental yang pada akhirnya dialamatkan adalah otonomi. Secara normatif, pemerintah Tiongkok, sejak era Mao Zedong, telah memberlakukan sistem dan hukum yang memastikan adanya representasi etnis minoritas dalam institusi pemerintah, serta otonomi dalam masyarakat etnis minoritas itu sendiri. Sistem Otonomi Etnis Regional memberikan status provinsi otonom, prefektur otonom, serta county otonom. Walau Yunnan bukan merupakan provinsi otonom sebab tidak ada konsentrasi etnis minoritas, Yunnan memiliki delapan prefektur dan 29 wilayah county otonom untuk etnis minoritas, jumlah terbanyak dibandingkan provinsi lain di Tiongkok.

Pada kenyataannya, sistem ini tidak berjalan mulus, terutama di daerah provinsi otonom seperti Xinjiang dan Tibet, di mana masyarakat yang menolak asimilasi mendapat represi dari pemerintah pusat. Liu Yongqing dari Fakultas Etnologi dan Sosiologi Universitas Yunnan, mengatakan hal tersebut tidak terjadi di Yunnan sebab pemerintah tidak pernah berupaya mengasimilasi para etnis minoritas. Hal serupa dinyatakan oleh beberapa mahasiswa Universitas Yunnan yang berasal dari etnis minoritas. Perbedaan perlakuan ini, tidak lain dan tidak bukan, terjadi karena nilai jual budaya para etnis minoritas Yunnan. Di tingkat masyarakat pun, hampir tidak ada tensi antara mayoritas Han dengan etnis minoritas. Yongqing mensyukuri hal ini, mengatakan, “Perpecahan akan berakibat buruk pada ekonomi Yunnan yang baru lepas landas.�

8


Perbedaan budaya etnis minoritas Yunnan dilindungi, bahkan begitu didukung melalui regulasi negara. Meski di atas kertas hal ini disebut otonomi, pada kenyataannya masyarakat minoritas masih tidak merasa pasti. Guao dan Jingyi harus mengenakan pakaian etnis mereka ketika memandu, sebab itu adalah kewajiban bagi para pemandu berlisensi, baik mereka menghendakinya atau tidak. Ritual etnis

Miniatur kuil Etnis Dai di Desa Etnis Yunnan

9

yang mereka sakralkan, harus dibuka selebar-lebarnya atas nama pengetahuan. Terbuai janji akan pemerataan ekonomi untuk etnis minoritas, para etnis minoritas menjual budaya mereka. Yang terjadi adalah transaksi antara etnis minoritas dengan masyarakat luar, di mana mereka menawarkan budaya yang eksotis namun kian superfisial, yang dihargai dengan modernitas.


Tapak Desa Transmigran

AWAL 2000, PULUHAN PETANI DI PULAU JAWA DIPINDAHKAN KE SEBUAH DESA DI PULAU SULAWESI. DELAPAN BELAS TAHUN KEMUDIAN, BEGINI KEADAAN DESA TERSEBUT.

D

engan rumput dan semak terhampar bagai permadani di kanan dan kiri, jalanan berbatu, dan hewan gembala yang berlalu-lalang dari bukit ke bukit, Desa Tellulimpoe tampak seperti desa lainnya di Kecamatan Marioriawa. Terisolasi, hanya sedikit jaringan seluler yang bisa bekerja dengan baik. Sepi dan senyap, dengan jumlah ternak lebih banyak daripada manusia. Tapi, semakin dalam mobil membawa kami memasuki desa, perlahan-lahan mulai tersibak pemandangan yang lain dari biasanya. Kebanyakan rumah di Desa Tellulimpoe bukanlah rumah panggung yang terbuat dari kayu seperti di daerah lain Sulawesi Selatan, melainkan rumah satu lantai yang terbuat dari semen.

Tulisan ini merupakan hasil penugasan liputan oleh lembaga filantropi Aksi Cepat Tanggap dan pernah dimuat di laman mereka.

10


Atas:

Atas: Darsano, generasi pertama transmigran yang kini tinggal sendiri Bawah: Lihayah, Ana, dan Naila, tiga generasi transmigran

Tim Global Qurban - ACT Sulsel, turun dari mobil dan menemui seorang pria berkepala lima yang memperkenalkan diri sebagai Wasino, Kepala RT setempat. Alihalih mengucapkan banyak imbuhan khas Sulawesi seperti “ji” dan “mi,” justru dialek Jawa yang keluar dari bibirnya. Tipis, tidak medok, bukti bahwa Wasino sudah lama menetap di Tanah Celebes dan berbaur dengan masyarakat Bugis. "Saya memang asli Yogyakarta. Wates, lebih tepatnya,” ujar Wasino kalem saat ditanya perihal namanya yang bukan nama khas etnis Bugis atau Makassar. Wasino bukanlah satu-satunya orang Jawa di Desa Tellulimpoe. Setidaknya 42 keluarga tercatat dalam catatan sipil seba-

11

gai suku Jawa. Mereka adalah transmigran dari Pulau Jawa yang pindah ke Desa Tellulimpoe di Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan, pada tahun 2005 ke atas. "Mereka pindah atas program pemerintah Sulawesi Selatan. Dulu, awal tahun 2000an, warga lokal memiliki tanah yang begitu luas. Saking luasnya sampai tidak terurus. Belum lagi mereka juga kurang tahu cara bertani yang efektif dan efisien. Sebaliknya, di Jawa sana, para petani tahu cara bertani yang efektif dan efisien, tapi tidak punya lahan. Akhirnya, pemerintah membeli tanah mereka yang memiliki tanah minimal dua hektar, dan memberikannya secara cuma-cuma pada transmigran,” kata Darwis, Kepala Desa Tellulimpoe. Tahun 2004 menjadi tahun pertama penempatan transmigran. Dalam penempatan gelombang pertama tersebut, 100 keluarga dipindahkan ke Desa Tellulimpoe, terdiri dari 50 keluarga transmigran dan 50 keluarga lokal yang berasal dari desa lain. Para keluarga ini pun diberikan rumah dan tanah. Segala kebutuhan mereka diberikan secara gratis oleh pemerintah. Semua demi memungkinkan pembangunan. Darwis pun mengakui manfaat dari transmigrasi itu. Menurutnya, meskipun warganya masih hidup di bawah garis kemiskinan, taraf hidup mereka sudah lebih baik daripada sebelumnya. Sudah ada dana desa, PKK, dan juga pendampingan usaha dari pemerintah setempat. Para pendatang bisa mendapatkan tanah untuk digarap, dan warga lokal bisa belajar dari transmigran Jawa tentang bertani dengan baik, utamanya jagung dan kacang-kacangan. Listrik sudah mengalir lancar, sudah ada kantor pemerintah lokal yang layak, Pustu atau Puskesmas pembantu, lapangan, aula sentral yang terbuka, serta sekolah dasar untuk kelas 1-4. “Untuk SD kelas 5-6, hanya ada di SD inpres di daerah Panci. SMP pun ada di Panci, sedangkan SMA ada di Welange. Kalau pasar, adanya di daerah Batubatu,” Darwis menjelaskan. Ketika ditanya apa masalah yang masih menghantui desa mereka, para warga berebut menjawab. Salah satunya, “Babi di sawah, mengganggu sekali pertanian,” dan


juga, “Masih suka kekeringan, walau kita sudah punya sumur bor. Kalau kering, kami terpaksa jalan 2 kilometer ke sungai.� “Sekarang, sekitar 7-8 keluarga transmigran sudah pindah ke luar desa. Tanah mereka dijual lagi. Tapi banyak yang tinggal, betah di sini,� kata Darwis yang merupakan warga dari desa sebelah sebelum program transmigrasi. Akibat program transmigrasi yang membaurkan warga lokal dengan warga pendatang, terjadi akulturasi di Desa Tellulimpoe. Misalnya, banyak dari transmigran itu yang jadi bisa bahasa Bugis, terutama para generasi kedua. Sementara generasi ertama juga gemar mencampurkan bahasa

mayoritas penghuni desa transmigran ini termasuk kategori prasejahtera. "Di tahun-tahun sebelumnya, memang ada kurban. Itu juga biasanya kambing, tidak pernah sapi. Tahun ini, tidak ada kurban sama sekali,� kata Lihayah (53), salah seorang penduduk. Berasal dari Surabaya, Lihayah pindah pada 2006. Lihayah dan penduduk lainnya bisa bergembira sedikit. Pasalnya, di hari ketiga tasyrik, Sabtu (25/8), Global Qurban - ACT Sulsel datang membawa sapi untuk disembelih. Sekitar 42 keluarga bisa menerima daging sapi yang diamanahkan rakyat Indonesia kepada Global Qurban ACT itu.

Jawa dengan bahasa Bugis. Tradisi pun menular ke suku Bugis di desa tersebut, di mana penduduk desa meng-adakan halal bihalal di Hari Raya Idulfitri dan Iduladha, serta menabuh bedug dan takbiran dari malam hingga pagi. Walaupun tradisi budaya Bugis dan Jawa bisa saling bertukar, tradisi saat Iduladha, yakni mengolah daging kurban, tidak selalu dapat diwujudkan. Tidak ada hewan kurban yang datang, tidak ada daging sapi untuk dimasak dan disantap dengan kerabat. Bisa dimaklumi, karena memang

Ungkapan terima kasih pun mengalir dari banyak warga. Mereka sangat bersyukur bisa kembali merasakan daging sapi. Ditanya soal olahan mereka nanti, jawaban mereka pun beragam. Mulai dari konro dan topalada yang merupakan makanan khas Sulawesi, sampai krengseng dan tongseng yang merupakan penganan Jawa. Bukti kedamaian, bukti bahwa penduduk Desa Tellulimpoe mampu hidup berdampingan tanpa memandang suku mereka, dan saling menguatkan di tengah keterisolasian desa mereka.

12


Menziarahi Pasar Seni

"Aku kangen Bali. Ada nggak, tempat di Jakarta yang mirip Bali?" Tanpa pikir panjang, saya menjawab, "Ada. Pasar Seni Ancol."

13

K

ebanyakan orang berasumsi saya akan menjawab Kemang. Tempat yang dikenal sebagai Bali-nya Jakarta dengan semua fasilitas hiburannya. Rama, orang yang meminta rekomendasi saya, juga berpikir demikian. Untungnya, dia menerima Pasar Seni Ancol sebagai jawaban, dan ke sanalah kami pergi untuk mengeksplorasi. Sabtu itu adalah kunjungan kedua saya ke Pasar Seni Ancol. Kali sebelumnya, saya menemukan pasar seni itu secara tidak sengaja, ketika saya tersasar setelah menjelajah Ocean Ecopark Ancol. Karena hari Jumat, suasana sepi. Saya penasaran apakah Pasar Seni Ancol sama sepinya di hari Sabtu.


Bersama Rama yang street-smart, saya tidak pakai acara kesasar segala. Kami turun dari shuttle bus yang cukup padat, namun hanya kami yang berhenti di Pasar Seni. Hati saya tergelitik nostalgia melihat kompleks itu: bangunan toko suvenir beratap jerami, gantungan payung berwarnawarni, serta pot-pot bunga yang merambati dinding, berpadu dengan lukisan dan instalasi seni. "Sepi banget, kayak kuburan. Jadi serasa ziarah." Nostalgia saya terhenti. Opini Rama ternyata berbeda, disuarakan dengan gaya ceplas-ceplosnya yang biasa. "Dulu juga begini. Kukira karena hari Sabtu, bakal ramai." Kami terus berjalan, Saya mulai menemukan tanda-tanda kehidupan. Beberapa ekor kucing, burung, dan pekerja bangunan melintas lewat. Bila dulu banyak toko yang tak berpenjaga karena ditinggal salat Jumat, sekarang lebih banyak seniman yang mendiami kios mereka. Salah satunya, Pak Irwan, yang sudah 14 tahun membuat lukisan di Pasar Seni Ancol. Ruko yang ditempatinya dulu milik almarhum kakaknya—yang tidak rela garis artistik keluarga mereka terhenti pada dirinya. "Jadi, saya yang meneruskan," kata Pak Irwan, mengangkat gelas kopi hitamnya. "Waktu saya bujang, awal tahun 80-an, tempat ini jadi tongkrongan anak muda dan pecinta seni. Maklum, waktu itu Dufan belum buka." Butuh beberapa saat bagi saya untuk mencerna bahwa tahun 1980-an sudah lewat 30 tahun lalu. "Padahal Dufan bayarnya mahal ya, Pak. Tapi kenapa orang-orang lebih pilih Dufan daripada ke sini," kata Rama. Bagi dia yang lahir dan menghabiskan masa kanak-kanak di daerah sentra seni ukir di Gianyar, opsi itu tidak masuk akal. "Pesaing kami bukan cuma Dufan, tapi juga galeri-galeri modern. Tiap bulan ada saja yang baru buka." Pak Irwan membetulkan letak kacamatanya. "Tapi ya itu kan perkembangan zaman. Di galeri seni modern emang enak, kan. Adem, pakai AC, bisa foto-foto. Banyak generasi asal cekrek sekarang." Dia melirik kamera yang menggantung di bahu saya.

Kios-kios di Pasar Seni Ancol kosong tanpa penjaga

14


Entah mengapa, saya malu. Baru terlintas di benak saya betapa seringnya saya sembarangan memotret orang-orang dan seni sebagai objek, tanpa betul-betul berinteraksi dengan mereka atau berusaha memahami. Yang penting, ego saya akan foto cantik terpenuhi. Padahal, di balik seni dan seniman itu, tersimpan perjuangan yang tidak main-main. Banyak juga tetangga Pak Irwan yang lebih memilih untuk melukis di rumah, lalu memasarkan hasil seninya secara online. Ada juga yang bekerja sepenuhnya secara on-demand. Sekali lagi Pak Irwan mengulangi keluhan dan penerimaannya: perubahan zaman. "Kenapa Bapak bertahan?" tanya saya. "Ini keinginan kakak saya. Lagian, saya enjoy, kok, menjalaninya. Lihat saja tempat ini." Tangannya melambai-lambai ke gang yang melewati kiosnya. "Atmosfernya terbuka, nyeni sekali. Sejuk pula. Mau ke pantai, dekat. Saya lebih mudah mendapat inspirasi."

15

Pak Irwan lebih beruntung dari sebagian seniman rekannya, karena dia punya usaha sablon di rumah yang diurus beberapa karyawan. Istrinya sudah meninggal, dan melukis di kios Pasar Seni adalah sarana menghalau kesepiannya di rumah. Anaknya fotografer dengan penghasilan yang lebih stabil, sehingga bisa membantu Pak Irwan. "Echa juga pengin jadi fotografer nih, Pak!" Rama menyenggol saya. "Wah, sini, coba saya lihat. Gini-gini, saya lumayan ngerti foto, lho." Saya ingin menyepak Rama, tapi ada hal yang lebih penting dilakukan: menghapus foto Pak Irwan. Saya tidak ingin dipandang sebagai "generasi asal cekrek" yang disebutkannya barusan. Melihat apa yang saya lakukan, Rama bersiul meledek. Pak Irwan mengangkat kacamatanya untuk menelisik foto-foto saya. Manggutmanggut di sebagian foto dan tertawa di sebagian lainnya. Ia juga berseru senang ketika melihat kucing-kucing yang saya potret dan mengabsen mereka: si Cemong, si Ulil, si Bagong.


"Saya potensial nggak, Pak, jadi fotografer?" canda saya. "Dua puluh tahun lagi, ya, mungkin," kata Pak Irwan serius, lalu membaca raut muka saya "Lho, kenapa? Nggak ada yang memalukan dari itu. Namanya juga proses belajar. Saya jadi pelukis juga setelah belasan tahun belajar, padahal keluarga saya seniman. Kalau suka sesuatu, jangan setengah-setengah!" Bahkan Rama yang doyan mengguyon itu mengangguk takzim. Nasihat itu datang dari seorang pria setengah abad yang menyaksikan bangkit dan tenggelamnya sebuah imperium, ditinggalkan zaman dan koleganya yang percaya akan pembaruan. Semua karena kecintaannya pada lukisan, dan penghargaannya pada tradisi. Saya bertanya-tanya apa saya bisa membuat keputusan seberani itu—bertahan pada pekerjaan yang saya suka, ketika dihadapkan pada tuntutan kehidupan selepas kuliah kelak. Hari semakin sore. Pak Irwan mengisyaratkan dia ingin membuat sketsa lagi. Tiba-tiba dia mendapat ide. "Mau melukis kami, ya, Pak?" Pak Irwan mengibaskan tangan. "Rahasia. Kalau mau tahu, kalian ke sini saja lagi minggu depan, ya?" Kami tidak berjanji, dan Pak Irwan juga tidak menuntutnya. Saya dan Rama lanjut mengelilingi kompleks itu sekali lagi. Masih sepi. Meli-

P R O F I L

hat seorang seniman sedang memberi makan kucing, saya ingat belum makan siang. Kami memutuskan untuk pergi. Di ujung jalan, sayup-sayup saya mendengar lantunan biola. Tanpa kata, kami mengikuti asal suara. Seorang perempuan sedang duduk sendiri dalam kiosnya, matanya terpancang pada lembaran partitur. Saya tidak mengenali musik itu, apakah lagu populer atau diciptakannya sendiri, tapi terdengar begitu manis. "Nggak difoto?" Rama menyenggol saya, setengah berbisik. "Ingin kunikmati saja. Aku nggak mau kehilangan momen hanya untuk mengabadikan momen," jawab saya ringan. Bulu kuduk saya berdiri dan napas saya tertahan. Begitu si perempuan berhenti bermain, saya dan Rama bertepuk tangan. Ia mengangkat alis, tidak sadar ia punya penonton, lalu melambaikan tangan seperti para musisi di atas panggung. Ekstasi itu short-lived memang, tapi lebih membekaskan kenangan daripada foto-foto yang saya ambil dan tunjukkan pada teman-teman. Pada akhirnya, Rama benar: kami berziarah. Saya pulang dengan keyakinan baru, pemahaman baru. Saya diingatkan untuk lebih sering menghidupi momen-momen saya saat itu juga, alih-alih mengabadikannya untuk dilihat kembali.

Pada 2018, Esa Khairina Husen menerima beasiswa China Intercultural Program dari Universitas Yunnan, Kunming. Observasi, interaksi dengan lokal, dan pembelajarannya di kelas selama itu menjadi bahan utama salah satu tulisan di portofolio ini. Baru tiga bulan lulus dari Universitas Indonesia, jurusan Ilmu Hubungan Internasional, dan masih bercita-cita menjadi jurnalis dan fotografer alam bebas. Sesekali menjadi penulis lepas. Kini ia tinggal di Jakarta bersama keluarga dan dua ekor kucingnya.

Echa bisa dihubungi di esakhairina@gmail.com atau +6289618518291

16

Profile for Esa Khairina

Esa Khairina Husen - Portofolio  

Esa Khairina Husen - Portofolio  

Profile for esakh