Issuu on Google+

PRINSIP KOMUNIKASI DARI TAFSIR SURAT ALI IMRAN,AN-NISSA DAN AL-HUJURAT

DI SUSUN OLEH : ERIC FIRMANDA 11143101813

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU 2013


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Yaha Esa karena atas limpahan rahmat dan karunianya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Dalam penyusunan makalah ini,banyak terdapat tantangan dan hambatan,akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak semuanya dapat diselesaikan. Oleh sebab itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan makalah ini. Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materi didalamnya. Kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Demikian sebagai pengantar kata, denga iringan serta harapan semoga tulisan saya ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Atas semua perhatian penulis mengucapkan banyak terma kasih, semoga segala bantuan dari berbagai pihak mudah-mudahan mendapa amal yang baikoleh Allah SWT..

Pekanbaru, November 2013

Penyusun


Daftar isi Kata pengantar …………………………………………………………………………………….I Daftar isi ………………………………………………………………………………………….II

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ……………………………………………………………………………1 B. Rumusan Masalah ………………………………………………………………………..2

BAB II : PEMBAHASAN A. Tafsir surat Ali imran ayat 200 …………………………………………………………...3 B. Tafsir surat An nisa ayat 1 ………………………………………………………………..5 C. Tafsir surat AL Hujurat ayat 6 ……………………………………………………………8

BAB III : PENUTUP A. Kesimpulan ……………………………………………………………………………...12 B. Daftar pustaka …………………………………………………………………………...13


BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Surat Ali imran termasuk surat madaniyah yang panjang, mencakup dua sendi yang fundamental, yaitu : 1. Sendi akidah islam yang suci, disertai penyebutan beberapa dalil dan bukti keterangan tentang keesaan Allah. 2. Sendi syariat, khususnya yang berkaitan dengan hukum-hukum jihad fisabilillah Surat An-nisa adalah surat yang turun di Madinah. Dinamakan An-nisa karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta yang paling banyak membicarakan hal itu disbanding denga yang lain. Surat ini bekerja dengan serius dan sungguhsungguh dalam menghapuskan sifat-sifat jahiliyah yang darinyalah kelompok muslim ini dan mencabut akar-akarnya, dan dalam membentuk sifat-sifat masyarakat muslim,serta membersihkannya dari sisa sisa-sisa kejahiliayahan. Surat Al-hujurat ini diturunkan setelah fathu makkah(penakluk kota mekah). Sejak saat itu sukusuku yang ada di jazirah Arab Berbondong-Bondong masuk Islam. Termasuk di dalamnya suku al-Musthaliq, yang di pimpin oleh al-Haris Bin Dlirar. Meskipun masuknya islam al-harits diawali dengan sebuah peperangan, tokoh keislaman al-harits ini tidak diragukan. Apalagi putrinya yang bernama al-juwairiyah dinikahi oleh rasulullah saw

B. RUMUSAN MASALAH 1. Penafsiran surat ali imran ayat 200,An nisa ayat 1, dan Al hujurat ayat 6? 2. Apa-apa saja kandungan pelajaran yang terdapat dari ketiga ayat pada surat ali imran, An nisa, dan Al hujurat?


BAB II PEMBAHASAN

A. TAFSIR SURAT ALI IMRAN AYAT 200

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung�. (Qs. Al-Imran :200) Surah Aali’ Imraan ini di tutup oleh Allah SWT dengan ayat kesepuluh dari berbagai wasiat yang menggabungkan keterangan bahwa di dunia para musuh agamalah yang lebih menonjol, sedangkan untuk orang- orang yang beriman akan memenangkan kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat nanti wasiat ini ditutup dengan kesabaran akan keataan dan kesabaran akan syahwat keduniaan. Makna sabar adalah menahan atau memenjarakan yang ditegaskan dengan perintah Zaid bin Aslam menafsirakn bersabar akan musuh- musuh agama. Al hasan menafsirkan bersabar dalam kewajiban shalat yang lima waktu. Menahan diri dari syahwat karena syahwat akan tanggalkan dengan bersabar. Atha dan Al Qurazhi menafsirkan bersabar akan semua yang telah di janjikan : Janganlah berputus asa dan tunggulah saat datangnya kesenangan dan kebahagiaan.


penutup surah ini mengajak : hai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan semua yang diuraikan dalam surah ini, bersabarlah dalam melaksanakan tugas-tugas, berjuang dan berperang di jalan Allah, serta memikul petaka kamu dan kuatkanlah kesabaranmu saat mengahadapi lawan yang sabar, dan tetaplah bersiap siaga di perbatasan negerimu dengan kekuatan yang dapat menggetarkan musuh untuk menyerang kamu dan bertaqwalah kepada Allah dalam seluruh aktivitasmu supaya kamu terus menerus beruntung, yakni memperoleh seluruh apa yang engkau harapkan. Kata sabar terambil dari akar kata yang terdiri dari tiga huruf, yaitu shad, ba dan ra, maknanya berkisar pada tiga hal, yaitu pertama “menahan”, kedua “ketinggian sesuatu”, dan ketiga “sejenis batu”. Dari kata menahan, lahir makna “konsisten/bertahan”, karena yang bertahan itu menahan pandangannya pada satu sikap. Seseorang yang menahan gejolak hatinya, dinamai bersabar; yang ditahan dan dipenjara sampai mati dinamai mashburah. Dari makna yang kedua lahir kata shubr, yang berarti “puncak sesuatu” dan dari maknsa yang ketiga muncul kata ashshubrah, yakni “batu yang kukuh lagi kasar” atau “potongan besi”.

Prinsip komunikasi yang dapat di pahami dalam surat ali imran 200

Allah menyeru orang-orang beriman melalui ayat ini, memerintah mereka untuk sabar menghadapi segala hal yang menimpa baik kesenangan maupun kesedihan. Tidak hanya sabar saja. Tetapi juga menyabar-nyabarkan diri, lebih sabar lagi dalam menghadapi cobaan. Selain itu, Allah memerintah mereka untuk selalu siap siaga menghadapi musuh. Bukan untuk meminta musuh tapi untuk siap siaga menghadapi mereka. yang terakhir dari ayat ini, Allah memerintah untuk bertakwa kepadaNya. Takwa sering sekali Allah perintahkan kepada orang-orang


beriman karena dia adalah sesuatu yang sangat penting bahkan menjadi inti dari setiap amalan. Allah memerintahkan semua itu kepada mukminin supaya mereka beruntung dunia akherat. Penulis Akan menjelaskan kesabaran dalam berkomunikasi yaitu sabar dalam menyampaikan apa yang akan kita ucapkan menjaga perkataan kita misalnya dalam hal kita bermasalah dengan orang lain kesabaran kita dalam berkomunikasi membuat kita jauh lebih baik dan bijak dalam berbicara supaya permasalahan tidak semakin rumit.juga menjaga tutut kata kita saat berinteraksi , bersabar dalam berkomunikasi dakwah dalam menyampikan dakwah kita harus sabar dalam menyampaikan dakwah dalam kondisi apapun. Dari ayat tadi terdapat dua poin pelajaran yang dapat dipetik: 1. Jika musuh bertahan di jalan kesesatannya, kita harus tetap bersikukuh di jalan kebenaran. 2. Perlawanan akan bernilai bila untuk Tuhan dan di jalan takwa. jika tidak, hanya akan menyebabkan fanatisme.

B. TAFSIR SURAT AN NISA AYAT 1

1. Tafsir surat An-Nisa : 1

َّ َ‫ق ِم ْنهَا َزوْ َجهَا َوب‬ ‫ث ِم ْنهُ َما ِر َجاال َكثِيرًا َونِ َسا ًء َواتَّقُوا‬ َ َ‫اح َد ٍة َو َخل‬ ِ ‫س َو‬ ٍ ‫يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا َربَّ ُك ُم الَّ ِذي َخلَقَ ُك ْم ِم ْن نَ ْف‬ َّ ‫َّللاَ الَّ ِذي تَ َسا َءلُونَ بِ ِه َواألرْ َحا َم إِ َّن‬ َّ ‫َّللاَ َكانَ َعلَ ْي ُك ْم َرقِيبًا‬ Artinya : Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah


yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. Allah Swt, berfirman memerintahkan kepada mahluk-Nya agar bertakwa kepad-Nya. Juga mengingatkan mereka akan kekuasaan-Nya yamg telah menciptakan mereka dari seorang diri berkat keuasaan-Nya orang tersebut adalah adam a.s.

)١ : ‫ق ِم ْنهَا َزوْ َجهَا (النساء‬ َ َ‫َو َخل‬ Artinya : dan daripadanya Allah menciptakan istrinya (An-Nisa:1) Siti hawa a.s diciptakan oleh Allah dari tulang rusuk sebelah kiri bagian belakang Adam a.s. ketika Adam a.s sedang tidur. Saat Adam a.s terbangun, ia merasa kaget setelah melihatnya, lalu ia langsung jatuh cinta kepadanya. Begitu juga sebaliknya. Siti Hawa langsung jatuh cinta kepada Adam a.s.

َّ َ‫َوب‬ ً)١ : ‫ث ِم ْنهُ َما ِر َجاال َكثِيرًا َونِ َساء (النساء‬ Artinya ; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan. (AnNisa:1) Allah mengembangbiakkan banyak laki-laki dan perempuan dari Adam da Hawa. Lalu menyebarkan mereka ke seluruh dunia dengan berbagai macam jenis,sifat, warna kulit, dan bahasa mereka. Kemudian setelah itu hanya kepada-Nya mereka kembali dan dihimpunkan.

‫َهاُبحت ا ب‬ ( ‫ال ن ساء‬: ١) ‫ََ الب ن َُ َسا َءلت يَ َّا َهااوُ َقا َا‬ Artinya : Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. (An-Nisa:1) Maksudnya bertakwalah kamu kepada Allah dengan taat kepada –Nya . Ibrarhim,Mujahit, dan Al-Hasan mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya

)١ : ‫الَّ ِذي تَ َسا َءلُونَ ِب ِه (النساء‬ Artinya : yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, (AnNisa:1) Yakni seperti dikatakan “Aku meminta kepadamu dengan nama Allah dan hubungan silaturahmi.” Menurut Ad-Dahlak makna ayat adalah bertakwalah kalian kepada Allah yang kalian telah berjanji dan berikrar dengan menyebut nama-Nya. Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersilaturahmi. Dengan kata lain,janganlah kamu memutuskannya, melainkan hubungkanlah dan berbaktilah untuknya.


Salah seorang ulama membaca Al-arhama menjadi Al-arhami yakni dengan bacaan jer karena di atofkan kepada domir yang ada pada bihi. Dengan kata lain kalian meminta satu sama lain dengan menyebut nama Allah dan hubungan silaturahmi. Demikialah yang dikatakan oleh mujahid dan lain-lainnya

‫ال ن ساء ( ا بي ب‬: ١) ‫ََ َْايَ ََََ َُّ تن َُ َوَّللاَّنِا‬ Artinya : Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An-Nisa:1) Dia mengawasi semua keadaan dan semua perbuatan kalian,Allah swt. Telah menyebutkan bahwa asal mula makhluk itu dari seorang ayah dan seorang ibu. Makna yang dimaksud ialah agar sebagian dari mereka saling mengasihi dengan sebagian yang lain, dan menganjurkan kepada mereka agar menyantuni orang-orang yang lemah dari mereka. Pelajaran yang terkandung dalam suart An-Nisa : 1 1. Mengingatkan kepada kita agar senantiasa bertakwa kepada Allah dan mengingatkan akan kekuasaan-Nya yang telah menciptakan manusia dari satu iradah itu berhubungan dalam satu rahim, bertemu dalam satu koneksi, yang telah menciptakan manusia dari satu iradah ini niscaya akan sirnalah dalam perasaan mereka semua perbedaan-perbedaan golongan, ras, kasta,warna kulit, kebangsaan yag muncul dalam kehipan kita. 2. Menjaga kekeliruan-keliruan pandangan yang menyakitkan dan merendahkan wanita. Yaitu, pandangan yang menggambarkan wanita dengan aneka gambaran yang hina, dan menganggap mereka sebagai sumber kekotoran dan kenajisan, kebrukan dan bencana padahal dia juga berasal dari “diri” yang pertama itu dengan fitrah dan tabiatnya, yang diciptakan oleh Allah untuk menjadi “istri” baginya, dan untuk mengembangbiakkan laki-laki dan wanita yang banyak dari keduanya. Karena itu tidak ada perbedaan mengenai asal usul dan fitrahnya. 3. Menjaga keluarga dengan dipelihara kekeluargaan ini, dikokohkan tali-temalinya, dimantapkan bangunannya, dan dilindungi dari segala hal yang melemahkan bangunan tersebut, serta saling mengisi dan melengkapi sebagian terhadap sebagian yang lain didalam membangun keluarga yang terdiri dari laki-laki dan wanita .dan menjalin dan menjaga silaturahmi. Prinsip-prinsip komunikasi yang dapat di pahami dari surat an nisa 1


Dari penjelasan-penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa apa yang terkandung dalam surat An-nisa : 1. Yaitu ; agar kita senan tiasa bertakwa kepada Allah swt, dan mengingat akan kekuasan-Nya yang telah menciptakan manusia dari satu iradah,yang bersumber dari satu asal usul. Dan menjaga kekeliruan pandangan yang menyakitkan dan merendahkan seorang wanita. Serta membangun keluarga dan memeliharanya serta menjalin silaturahmi dan menjaganya. Maka di dalam surat an nisa ayat 1 ini jelas tampak prinsip komunikasi menjaga kekeliruan pandangan yang menyakitkan dan merendahkan seorang wanita. Serta membangun keluarga dan memeliharanya serta menjalin silaturahmi dan menjaganya dengan berkomunikasi yang baik . C. TAFSIR SURAT AL HUJURAT AYAT 6

ٌ ‫يَا أَ ُّيهَا الَّ ِذينَ آ َمنُوا إِ ْن َجا َء ُك ْم فَا ِس‬ ‫صيبُوا قَوْ ًما بِ َجهَالَ ٍة فَتُصْ بُِحُوا َعلَ َما فَ َع ْلتُ ْم‬ ِ ُ‫ق بِنَبَإ ٍ فَتَبَيَّنُوا أَ ْن ت‬ َ‫نَا ِد ِمين‬ “Wahai orang-orang yang beriman, Jika ada seorang fasiq datang kepadamu dengan membawa berita, maka carilahberita itu supaya kamu (tidak) menimpakan tuduhan kepada suatu kaum dengan kebodohan, akibatnya kamu akan menyesal terhadap apa yang kamu perbuat”.(Q.S Al Hujurat: 6) Ayat ini turun, memberikan penjelasan bagi umat manusia semuanya untuk selalu tabayun dalam segala berita yang disampaikan oleh orang muslim maupun non muslim. Kemudian ayat ini menyuruh kita berhati-hati dalam menindakkan sesuatu yang akibatnya tidak dapat diperbaiki (perkataannya banyak menimbulkan kerusakkan), supaya tidak ada pihak atau kaum yang dirugikan, dtimpa musibah atau bencana ysng disebabkan berita yang belum pasti kebenarannya, sehingga menyebabkan penyesalan yang terjadi. Ayat ini menolak berita orangorang fasiq dan mensyaratkan keadilan,baik dia perawi ataupun saksi, dan membolehkan kita menerima khabar seorang yang adil. Secara historis, bahwa yang melakukan perbuatan fasiq dalam ayat tersebut adalah orang muslim, sehingga tidak ada jaminan bahwa jika seseorang telah memeluk agama islam telah berlaku baik dalam segala aspek.


Kata yaa ayyuhal ladzina amanu merupakan kata panggilan (nida’), disini diartikan wahai orang-orang yang beriman, untuk menggugah mustami’nya (pendengarnya), bahwa sesudah panggilan itu ada hal-hal penting yang harus diperhatikan dengan serius. Sedang dipergunakan kata “alladzina amanu” (orang-orang yang beriman) sebagai sifat khusus, adalah untuk menyadrkan mereka akan keimanan mereka itu, sekaligus merupakan seruan supaya mempertahankan identitasnya sebagai mukmin, jangan sampai iman ini lepas dari hatinya. Demikian, sebagaimana dikatakan oleh al-‘allamah Abu Su’ud. Perkataan “Jika ada seorang fasiq datang kepadamu dengan membawa berita” itu merupakan isyarat yang lembut, bahwa seorang mukmin haruslah benar-benar sadar, jangan mudah menerima omongan orang tanpa diketahui terlebih dahulu sumbernya. Disebutnya kata “fasiq”, yang berasal dari kata fasaqa, biasa digunakan untuk melukiskan buah yang telah rusak atau terlalu matang sehingga terkelupas kulitnya. Seorang yang durhaka adalah orang yang keluar dari koridor agama. Disebutkan diatas dengan bentuk nakirah (tanpa alif-lam) untuk menunjukkan umum. Karena bentuk nakirah dalam konteks syarat adalah sama dengan nakirah dalam konteks nafi, yaitu menunjukkan umum.Sebagaimana ditetapkan oleh para ulama ushul fiqh. Jadi maksud kalimat tersebut ialah “siapa saja orang munafiq yang datang kepadamu......” Disitu dipergunakan kata “in” (jika) yang menunjukkan keragu-raguan (tasykik), tidak dipergunakan kata “idzaa” (apabila) yang menunjukkan kepastian (tahqiq), untuk memberi isyarat, bahwa terjadinya peristiwa ini agak langka, dianggap sebagai suatu kebetulan. Sebab prinsip seorang mukmin haruslah jujur (apalagi mereka adalah seorang sahabat, tentunya mempunyai keimanan yang lebih tinggi daripada generasi penerusnya), juga dikerenakan orangorang fasik mengetahui bahwa kaum beriman tidaklah mudah dibohongi dan bahwa mereka akan meneliti kebenaran setiap informasi, sehingga seorang fasik dapat dipermalukan dengan kebohongannya. Tetapi setelah terjadi kasus seorang sahabat Nabi memberitakan sesuatu dengan dusta seperti yang dilakukan oleh al-Walid bin ‘Uqbah, dan itu pun langka terjadi dikalangan para sahabat, maka diturunkanlah ayat tersebut dengan mempergunakan kata “in”, suatu huruf syarat yang berarti ragu-ragu. Kata naba’ digunakan dalam arti berita penting . Berbeda dengan kata khabara yang berarti khabar secara umum, baik penting maupun tidak. Dari sini terlihat perlunya memilah informasi. Apakah itu penting atau tidak, dan memilah pula pembawa informasi apakah dapat dipercaya atau tidak. Orang beriman tidak dituntut untuk menyelidiki kebenaran informasi dari


siapa pun yang tidak penting, bahkan didengarkan tidak wajar, karena jika demikian akan banyak energi dan waktu yang dihamburkan untuk hal-hal yang tidak penting. Kata bi jahalah dapat berarti tidak mengetahui, dan dapatjuga diartikan serupa dengan makna kejahilan yakni perilaku seseorang yang kehilangan kontrol dirinya sehingga melakukan hal-hal yang tidak wajar, baik atas dorongan nafsu, kepentingan sementara maupun kepicikan pandangan. Istilah ini juga digunakan dalam arti mengabaikan nilai-nilai Ilahi]. Ayat diatas merupakan salah satu dasar yang dietapkan agama dalam kehidupan sosial sekaligus ia merupakan tuntunan yang sangat logis bagi penerimaan dan pengalaman suatu berita Kehidupan manusia dan interkasinya haruslah didasarkan hahl-hal yang diketahui dengan jelas. Manusia sendiri tidak dapat menjangkau seluruh informasi, karena itu ia membutuhkan pihak lain. Pihak lain itu ada yang jujurdan memiliki integritas sehingga hanya menyampaikan hal-hal yang benar, dan adapula sebaliknya. Karena itu pula berita harus disaring , khawatir jangan sampai seseorang melangkah tidak dengan jelas atau dalam bahasa ayat diatas bi jahalah. Dengan kata lain, ayat ini menuntut kita untuk menjadikan langkah kita berdasarkan pengetahuan sebagai lawan dari kebodohan, disamping melakukannya berdasar pertimbangan logis dan nilai-nilai yang ditetapkan Allah SWT sebagai lawan dari makna kedua jahalah. Penekanan pada kata fasiq bukan pada semua penyampai berita, karena ayat ini turun ditengah masyrakat muslim yang cukup bersih, sehingga bila semua penyampai berita harus diselidiki kebenaran informasinya, maka ini akan menimbulkan keraguan ditengah masyarakat muslim dan pada gilirannya akan melumpuhkan masyarakat. Namun demikian, perlu dicatat bahwa bila dalam suatu masyarakatsulit dilacak sumber pertama dari suatu berita, sehingga tidak diketahui apakah penyebarannya fasik atau bukan, atau bila dalam masyarakat telah sedemikian banyak orang-orang yang fasik, maka ketika itu berita apapun penting, tidak boleh begitu saja diterima. Dalam konteks sayyidina Ali ra berkata: �Bilakebaikan meliputi suatu masa beserta orang-orang dalamnya, lalu seseorang berburuksangka terhadap orng lain yang belum pernah melakukan cela, maka sesungguhnya ia telah mendzalimnya. Tetapi apabila kejahatan telah meliputi suatu masa disertai banyaknya yang berlaku zalim, lalu seseorang berbaik sangka terhadap orang yang belum dikenalnya, maka ia akan mudah tertipu�. Perlu dicatat bahwa banyaknya orang yang mengedarkan informasi atau isu bukan jaminan kebenaran informasi itu. Banyak faktor yang harus diperhatikan.


Dahulu ketika ulama menyeleksi informasi para perawi hadist-hadist Nabi salah satu yang diperbincangkan adalah penerimaan riwayat yangdisampaikan oleh sejumlah orang yang dinilai mustahil menurut kebiasaan mereka sepakat untuk berbohong, atau yang diistilahkan dengan mutawatir. Ini diakui oleh semua pakar, hanya masalahnya jumlah yang banyak itu harus memenuhi syarat-syarat. Boleh jadi orang banyak itu tidak mengerti persoalan, boleh jadi juga mereka telah memiliki asumsi dasar yang keliru. Di sini, sebanyak apapun yang menyampaikannya tidak menjamin jaminan kebenarannya. Kata tushbihu pada mulanya berarti masuk diwaktu pagi. Ia kemudian diartikan menjadi. Ayat diatas mengisyaratkan bagaimana sikap seorang beriman dikala melakukan satu kesalahan. Mereka, oleh akhir ayat diatas dilikiskan sebagai fa tushbihuu ‘alaa maafa’altum naadimiin yakni segera dan berpagi-pagi menjadi orang-orang yang penuh penyesalan. Prinsip –prinsip komunikasi yang dapat dipahami dari surat al-hujurat 6 Islam menyerukan dan mengadakan pengecekan setiap berita, serta selalu berhati-hati dalam setiap permaslahan yang menyangkut kaum muslimin, supaya mereka terhindar dari ketergelinciran yang sengaja dipasang oleh musuh-musuh islam, dan supaya persoalan mereka itu menjadi gamblang. Sebab berapa banyak fitnah yang dinyalakan oleh manusia-manusia sakit hati yang tidak senang melihat umat ini dalam kondisi yang baik, yang dalam hatinya selalu tersembunyi setiap kejahatan dan fitnah, guna menghancurkan kaum muslimin dan memprakporakandakan kesatuan mereka serta mengotori kejernihan kegembiraan mereka. Untuk itulah, maka islam memerintahkan suatu prisip yang agung dan mulia, yaitu penelitian dan mendeteksi setiap berita, lebih-lebih bersumber dari orang fasiq yang tidak mau menghargai kehormatan agama dan tidak menghiraukan akan akibat kedustaannya itu yang justru akan , membawa bahaya yang mengancam dan dampak yang mengerikan, yaitu dapat melumpuhkan dinamika masyarakat; dan kadang-kadang menjurus pada bala’ yang dahsyat yang pada gilirannya akan membawa kematian dan menghancurkan manusia-manusia baik, seperti yang terjadi dalam kasus al-Walid bin ‘Uqbah, seandainya tidak segera Allah memberi tahukan kepada Rasul-Nya melalui wahyu-Nya tentang duduk persoalan sebenarnya. Maka dengan adanya ayat ini, seharusnya menjadikan pelajaran bagi kita untuk selalu berhati-hati dalam menerima suatu informasi, iformasi adalah salah satu cara berkomunikasi


,agar selalu waspada dari bahaya orang yang mengaku muslim, tapi ternyata dia adalah orang yang akan merusak agama islam, serta merusak komunitas yang sudah terbangun dengan rapi.


Daftar pustaka As Shiddieqy, T.M Hasbi. 1974. Tafsir Bayan Jilid IV. Bandung: PT Al Ma’arif Katsir, Ibnu. 1992. Tafsir Ibnu Katsir Jilid IV. Surabaya: PT Bina Ilmu Shihab, M. Quraisy. 2002. Tafsir Al Misbah Volume XIII. Jakarta: Lantera Hati Ash Shabuni, Ali. 1987. Tafsir Ahkam Jilid 13. Surabaya: PT Bina Ilmu Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil-Qura’an, Darusy-Syuruq,Beirut, 1992 Al-Imam Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir, Sinar baru algesindo


Prinsip komunikasi dari tafsir surat ali imran