Issuu on Google+

Rida K Liamsi

PERJALANAN

Kelekatu (sebuah kumpulan sajak)

Yayasan Sagang Pekanbaru,2008


Perjalanan Kelekatu (sebuah kumpulan sajak) Pengarang: Rida K Liamsi Pelaksana penerbitan, setting dan illustrasi : Armawi KH Penerbit : Yayasan Sagang, Pekanbaru Komplek Riau Pos, Jalan Soebrantas, KM 10, Pekanbaru, Riau, Indonesia

Cetakan pertama: Oktober 2008

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengutip dan memperbanyak seluruh atau sebahagian isi buku ini tanpa izin tertulis dari Pengarang.

Kutipan Pasal 72: Sanksi Pelanggaran Undang-undang Hak Cipta (Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002) 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dengan Pasal 2 ayat (1) dipidana penjara masing-masing palin g singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta Hak Terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,- (lima ratus milyar rupiah).

(vi)


Rida K Liamsi

PERJALANAN

Kelekatu (sebuah kumpulan sajak)

Yayasan Sagang Pekanbaru,2008

(vii)


Untuk : Ayahanda Abdul Kadir bin Samad (alm) dan Ibunda Zainab binti Usman (alm), yang telah menjadi simbol Karang dan Samudera dalam hidupku, serta mereka yang aku sayangi yang kini menjadi Kedidi yang terus mencari jalan untuk pulang

(ix)


Daftar isi

Daftar isi Dari Penulis 1. Nguyen 2. Mengingat Kalian (1) 3. Suatu Siang di Jakarta 4. Asam Paya 5. Kasturi 6. Sanghay Baby 7. Di Great Wall 8. Seekor Lumba-lumba yang Ngembara 9. Surat Kepada GM 10. Percakapan Akhir 11. Aceh Suatu Hari Sesudah Tsunami 12. Di Tebing Lauttawar 13. Di Tapaktuan, Mereka Takut Menunggu Malam 14. Di Masjid Amir Hamzah 15. Perjalanan 16. ROSE Tiga 17. Ada Suara Sauh 18. Aku telah Menangkap Isyarat Itu 19. Kelekatu 20. ROSE Empat 21. Kedidi Kini Sendiri Pergi Mencari

xi xiii 1 2 6 7 8 9 11 15 17 20 22 36 40 43 44 45 48Š 49 51 54 55

(xi)


22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29.

(xii)

Di Jabbal Rahmah Di Masjidil Haram, setelah Menara Zamzam Dayang Ku Laut Aku Menunggu di Stasiun Cinta Dan Sejarah pun Berdarah ROSE Lima Tentang Penulis

59 63 66 72 74 75 86 88


Dari Penulis

Alhamdulillah, kumpulan puisi ini akhirnya berhasil diterbitkan. Kumpulan ini adalah kumpulan puisi saya yang ketiga, yang pertama “Ode X� (stensilan-1971), kedua TEMPULING terbit tahun 2003. Kumpulan ketiga ini diberi nama PERJALANAN KELEKATU, yang diambil dari judul dua puisi yang ada di dalamnya, PERJALANAN dan KELEKATU. Nama ini dipilih, karena memang hampir sebagian besar puisi-puisi dalam kumpulan ini adalah hasil renungan dan catatan-catatan perjalanan. Baik perjalanan fisik saya ke berbagai negeri, termasuk perjalanan ke Nangroe Aceh Darussalam, 10 hari setelah tragedi dahsyat Tsunami di penghujung tahun 2004, maupun perjalanan bathin. Puisipuisi perjalanan itu, lebih merupakan rekaman seorang jurnalis, rasa yang bangkit dari terkaman kenyataan dan (xiii)


gelombang cemas dan empati yang menyertai. Mungkin bukan sebuah perenungan yang dalam, dan karenanya belum tentu menyisakan puisi-puisi yang kekal. Menumental. Renungan dan catatan perjalanan itu, mungkin beberapa waktu kemudian, sudah sangat berubah. Kecemasan dan kegelisahan yang tertangkap dalam lanskap puisi-puisi ini mungkin sudah tidak lagi seperti itu. Di Tapaktuan, misalnya, suatu waktu kelak, tidak lagi terasa kecemasan penghuninya atau sesiapapun yang sampai di sana, saat-saat menunggu malam. Hidup telah mengubahnya, dan waktu membuat bathin mereka menjadi lebih tangguh. Akhirnya puisi hanyalah sebuah catatan sejarah, catatan suatu ketika, catatan sebuah luka. Kesadaran lain pada sebahagian lain puisi dalam kumpulan ini, adalah perjalanan hidup yang semakin capas dan kehilangan pesonanya. Bagai seekor kelekatu yang terbang dari satu cahaya ke cahaya lain, kita pergi mencari makna, mencari suatu tempat untuk pulang. Tetapi gemuruh waktu dan hidup, membuat kita berjalan sendiri, mencari sendiri, dan mungkin tak lagi saling perduli. Kita memang akhirnya seperti seekor Kelekatu yang pergi mencari jalan pulang, mencari makna keberadaan kita. Pertanyaan visioner tentang menjadi apa kita, menjadi siapa kita, adalah pertanyaan seekor Kelekatu yang menembus waktu. Menunggu resa angin, menjadi isyarat musim. Atau kita seperti seekor burung Kedidi, berlari sepanjang pantai, tak tahu kapan akan sampai, atau ke mana akan sampai. Puisi-puisi dalam kumpulan ini memang ada yang berasal dari beberapa puisi di tahun-tahun awal kepenyairan saya, yang belum dimasukkan dalam kumpulan pertama. Masih ada yang ditulis tahun 80-an. Saya juga ternyata masih tetap kurang konsisten, dan terus menerus menyempurnakan sajak-sajak yang ditulis. Menambahnya dengan renunganrenungan baru, membuang bagian-bagian yang terasa kurang utuh, dan memberikannya sentuhan-sentuhan diksi yang lain, saat saya membaca ulang, dan merenungkannya kembali. Karena itu, beberapa sajak mempunyai tahun (xiv)


penulisan lebih dari satu, dan jaraknya kadang-kadang cukup panjang. Saya memang terkadang menulis ulang, menyempurnakannya, dan berharap sajak-sajak itu akan menjadi lebih baik. Lebih terasa geliat putikanya. Kumpulan ini, seperti kumpulan pertama, hanya berisi sekitar 30 puisi. Saya masih tetap kurang produktif. Banyak ide, banyak sketsa-sketsa yang sudah disiapkan, terutama di sela-sela perjalanan dan kerja sebagai pengusaha surat kabar, tapi sulit sekali menyelesaikannya sebagai sebuah puisi. Beberapa puisi akhirnya kembali masuk ke dalam file, dan menunggu resa baru, kalau-kalau kelak akan selesai dan menjadi puisi-puisi baru. Di dalam kumpulan ini, memang terdapat sejumlah puisi yang sudah pernah dipublikasi di dalam majalah budaya Sagang, sebuah majalah sastra dan budaya yang terbit di Pekanbaru, Riau, terutama pada edisi khusus ulang tahunnya. Tetapi, beberapa yang lainnya memang belum pernah dipublikasi, meskipun beberapa di antaranya ada yang sudah pernah dibacakan di berbagai event baca puisi. Saya kembali sangat berterimakasih kepada sahabat saya Armawi KH, yang pada kumpulan inipun menjadi perancang artistiknya. Baik isi, kulit, tipographi, dan melengkapkannya dengan vignet yang seperti buku puisi yang pertama, telah menjadi puisi-puisi sendiri, dan berbicara dengan indah dan menggetarkan. Untuk itu saya sangat berhutang budi atas apa yang sudah dia lakukan, dalam semangat persahabatan sangat tulus ini. Saya juga ingin berterimakasih kepada semua pihak yang telah ikut serta membantu hingga kumpulan ini dapat diterbitkan. Mereka telah membantu mengelola waktu yang saya miliki, sehingga dapat memenuhi jadwal penerbitan. Kepada Yayasan Sagang, yang kembali menjadi penerbit kumpulan puisi saya ini, saya menyampaikan terimakasih yang dalam, terutama kepada saudara Kazaini Ks, Ketuanya, yang telah menyiapkan banyak hal pada saat-saat terakhir proses penerbitan ini. (xv)


Akhirnya, kumpulan ini saya didikasikan kepada Ayah dan Ibunda saya yang telah lama mendahului saya sebagai bahagian dari cara saya mengingat mereka, dan berdoa agar apa-apa yang telah mereka lakukan, telah mereka berikan, mendapat balasan yang setimpal dari Allah yang Maha Pengasih. Didikasi yang penuh juga untuk Isteri, anak, cucu, dan keluarga saya yang selama ini telah memberi ruang bagi saya untuk tetap bekerja dan bekarya. Spesial untuk si bungsu, Shanti Novita, yang ketika catatan ini selesai ditulis, merayakan hari ulang tahunnya yang ke-26.

Pekanbaru, 11 September 2008

(xvi)


(xvii)


Nguyen

Selamat malam Aku mencium rambut mu yang masih bau mesiu Aku kecup dahimu yang masih rasa asin Aku lihat di matamu laut yang dalam dan mimpi yang kelam Dan aku tutup pintu tenda sambil melihat langit, menandai bintang Ke mana perahumu akan menyeberang? Di bibir pantai aku dengar nyanyian Getir dan sayup Mungkin dari sela-sela lunas perahu, Mungkin dari jerigen air, dan sisa layar yang koyak : Kebebasan itu hak Kebebasan itu mimpi Kebebasan itu harga diri yang berdarah jika menyerah Kebebasan itu lubang kematian yang menunggu saat kau kalah Kebebasan itu, burung elang yang terbang jauh,dan kau duduk di paruhnya Selamat malam, Kulihat kau tak pernah mengeluh

[1985]]

1


Mengingat Kalian (1)

Mak Mak kau adalah samudera, maka alangkah : Alangkah luas, alangkah dalam, alangkah biru, alangkah teduh Dan Aku berenang di dalamnya bagai seekor lumbalumba Berenang memburu pelangi, mengibas ekor mengejar angin Dan kau menggelitik punggungku: Teruslah! Kejar angin, Kejar Ingin! Jadilah Paus biru, karena bisa menjelajah lautan Melawan badai, menenggelamkan perahu

2


Ketika aku menyalip haluan, kau bilang : Tiang dan layar, tanda mereka akan sampai KE MANA Tapi harus ada angin, harus ada ingin Dan angin bisa mempermainkan ingin. Mengirim dingin, mengubah musim Jangkar melingkar, tanda mereka akan sampai Di MANA Tapi harus ada karang, harus ada pancang Dan karang bisa merubuh pancang. Menggendang arus, mengirim badai Aku lumbalumba manja. Terus bermain, mengejar angin. Memburu ingin Dan kau samudera alangkah, membasah punggungku, menatang ingin ku

3


Bah Mereka bilang Kau adalah karang, maka alangkah: Alangkah keras, alangkah tegar, alangkah kukuh Dan aku berdiri di pundak mu menatap musim Mendengar ombak, mengeram badai, meluruh sauh Dengarlah gemuruh gelombang, kata mu Karena gelombang mengajarkan arti bimbang Bimbang akan mimpi, bimbang akan sampai Bimbang akan jejak, bimbang akan cari, bimbang akan dapat Rasakanlah getaran badai, karena dia mengajarkan arti andai Andai mimpi kau berketai, andai jejak kau tak sampai Andai kau adalah teluk, andai kau adalah ceruk Andai kau adalah pasir, andai kau adalah desir Andai kan segalanya hanya pantai, hanya badai Hanya sansai

4


Dengarlah keletah laut Kadang laut sunyi dan ombak berdesir Kadang malam gelap, dan laut menggigil Kadang kau bilang, karang adalah mercu yang menjulang Suar kapal mengatur arah, mengemudi tuju, mengira sampai Kadang, malam kelam, dan maut datang tanpa memberi salam Tapi laut, tak pernah selesai disebut dengan rasa takut‌

[1996/2002]

5


Suatu Siang di Jakarta

Suatu siang di Jakarta Aku terperangkap dalam taksi Jalanan sesak dan kelakson tersedak Kereta beringsut Jam berlari Emosi menari Nyeri Lalu lelah Lelah Seseorang melintasi jalan : Air mineral? Atau lagu dangdut? Sialan, Di kota seperti ini Orang masih bisa memupuk mimpi

[2000]

6


Asam Paya

Asam paya Di dalam dulang Di tengah rumah Matari sepenggalah Ah! Mengapa dijamah Di ujung siang Burung terbang ke seberang Siapa bilang akan pulang?

Anak gampang

[2003]

7


Kasturi

Dang, ambilkan keris! Untuk apa? Akan kulimau! Cih! Berpuluh purnama diperam lupa masih berbisa? Phuih! Dendam tak mengubur suara! Sebab Tuah kata

Sebab Jebat pesan

Sebab Sultan masih

Temberang!

[2003]

8


Sanghai Baby *)

Di Nanjing Luk, ujung semi menyisakan gigil Plaza basah, sehabis renyai Dan kau datang dari sebuah sudut yang hiruk Dari balik trem dan kereta turis : Sir, Aku tawarkan sebatang rokok dan sejenak kehangatan Punyakah anda 100 yuan? Dingin memang membangkitkan rindu Denyar lampu di antara taman yang basah membangkitkan gairah Dan aku bayangkan kita berdiri di sisi jendela di puncak menara Dan memandang Pudong yang gemerlap dan Yang Tse yang gelap Wahai pualamnya tubuhmu dan berahinya parfummu 100 yuankah?

9


Di tong sampah, selembar koran siang tengadah : Ini sebuah negeri yang sedang berubah Harapan memang berdarah. Tapi jangan menyerah! Itu mungkin hanya suara angin pegunungan yang bergeser ke lembah Ayo terus melangkahlah! Kemarin, di balik kaca bus dari Su Zou Aku menyaksikan ladang sayur dan danau mutiara Berombak dan gelisah. Tour Leader cantik bersutera merah menyapa di ekor mata, : Jalan tol dan listrik melimpah, membuat cinta seperti sebuah sedekah. 100 yuan kah? Malam makin larut dan langit seakan keriput Dari balik patung sang Walikota yang berwajah baja Kudengar Shanghai bernyanyi: Jangan menangis Baby!

*) Shanghai Baby, judul sebuah novel karya Wien Hui [2003/2005]

10


Di Great Wall

Akhirnya aku sampai ke negeri itu yang kata leluhurmu, di kaki Tiong San. Angin gunung yang lembab, dan dingin yang mengurung tahun, memang pantas membuat dirimu bak pualam. Lembut dan liat! Membuat kesetiaan dapat abadi bagai salju. Membuat laut rindumu seperti sungai yang liar dan menjelajah jauh sampai ke jantungku Katamu, di tembok raksasa itu, cinta dapat disucikan karena tiap kita menjenguk ke lembah, kabut akan memperdengarkan musik abadi tentang sepasang kekasih yang menuliskan kisah cinta mereka dalam genangan airmata, darah, dan salju kesedihan. Dan aku seakan mendengarnya.

11


:

12

O, hati yang luluh, masih adakah jalan bagiku untuk sampai ke kehilangan yang jauh. Yang jauh! Yang telah dirampas saat bunga kehidupan mulai tumbuh dan sisa berahi selesai dibasuh! O, kesetiaan yang dihunja m benci dan ketakutan, dapatkan cinta bertahan ketika airmata telah jadi salju, dan kerinduan telah jadi batu, ketika sebut telah jadi lumut?


Akhirnya, aku mendaki tangga demi tangga, menahan denyut demi denyut, mengepal gigil demi gigil, karena katamu, jika harapan yang sayup di kabut,dibancuh dalam panas gairahku, maka rindu yang terpendam akan bangkit dan mengalir bagaikan hawa Yang, dan membawa langkah kemanapun menuju Ying, yang tak akan pernah surut pun. Sebab rindu yang menggumpal jadi salju, akan abadi menjadi benci. Sebab luka yang berdarah, akan jadi sungai, mengalir jauh ke lubuk setia yang paling celah. “ Sir, anda berhak dapat medali ini, karena telah sampai ke gerbang yang terjauh “ suara penjaga kios souvenir berdesir bagai angin. Dingin. Ingin!

13


Akhirnya,aku merasakan rinduku padamu, kini jadi kabut yang melayap pergi melintasi lembah. Seperti tetes-tetes keringatku yang jatuh bersama lelah, menerpa tebing, menyentuh rumput, dan bersama lautan cinta yang lain, jadi sungai, dan mengalir jauh ke Yang Tze. Akankah sampai padamu?

[2004/2005]

14


Seekor Lumba-lumba yang Ngembara Kepada Idrus Seekor lumba-lumba yang ngembara dari beting ke beting, dari teluk ke teluk, satu ketika akan lelah dan mengapung di puncak alun. Angin timur, alangkah teduhnya. Saat bermain, mengibas ekor dan menyemburkan pelangi ke pucuk awan. Saat menikah dan menanam berahi. Saat langit membentang harap, saat mimpi membentang layar. Tapi apakah selalu harus berharap?

15


Di setiap teluk ada pelabuhan. Di setiap teluk ada perahu. Di setiap teluk ada yang berlabuh. Tapi apakah selalu harus mengeluh? Di laut tak selamanya ombak. Di laut tak selamanya karang. Di laut tak selamanya surut. Di laut tak selamanya segala mimpi hanyut. Ada yang tersangkut. Ada yang terdampar. Ada yang jadi lumut, jadi karang, jadi pasir, jadi badai. Seekor lumba-lumba yang ngembara, jika tiba masanya akan ngembara lagi. Bermain ombak, bermain angin, mengejar laju, memburu rindu. Tapi bilakah akan terdampar? Bilakah sayap kekar berhenti menampar? Bilakah ekor liar berhenti melayar? Seekor lumba-lumba yang ngembara, seperti musim, sekali datang sekali beredar. Tapi laut tak henti menunggu kembara membentang layar, kembara menurunkan layar. Dan kau seperti perahu-perahu yang lelah, kini saatnya melabuh jangkar.

[2004]

16


Surat kepada GM

Adakah kita masih percaya pada keniscayaan kata-kata? Di bendul pintu, setiap minggu kau letakkan kata- kata Dan aku memungutnya sambil beringsut ke jendela Di luar langit beragam warna, beragam makna Dan kata-katamu berubah jadi ribuan kata, ribuan makna, ribuan warna Jadi taman, jadi hutan, jadi kota, jadi kita, jadi KATA Tapi apakah kita masih percaya pada keniscayaan kata? Pada hanya sebuah kata?

17


Di luar orang membawa lembing, membawa belati, dan meluah kata-kata Dan kita tak bisa menegahnya dengan bilang: Jangan! Sabar! Istighfar! Seperti kampak, mereka harus menetak Seperti belati, harus ditikam berkali-kali Kita ternyata tak bisa bilang KUN! PAYAKUN! JABBARKUN! Kita tak punya kuasa Kita perlu beratus kata, beribu kata Pun untuk bilang YA!

18


Di bendul pintu, setiap minggu, kau letakkan kata-kata Dan aku memungutnya sambil menatap ke luar jendela Seperti helai-helai kelopak, aku taburkan kata-katamu Biar jadi beratus kata, beribu kata, jadi berkata-kata Hidup ternyata semakin niscaya, semakin tak percaya pada kata-kata Pun pada KITA !

[2005]

19


Percakapan Akhir Kepada: Z Kami telah melepasmu dengan talkin Ada Yasin Ada zikir Ada Fatihah Tapi suara trompet itu Meneteskan air mata : Di diri kita masihkah tersisa dendam purba? Di ruang intermediate Di antara slang dan jarum infus Kita bicara tentang berita dan hipertensi Tentang kantung kemih yang pedih dan bau obat yang menyengat : Di diri kita masihkah tersisa dendam purba?

Allahuakbar Subhannallah Kullunafsin zaikatul maut : Tuhan, dari hati yang purba, terima dia di sisi-Mu Sesiapnya, sesiapanya

[2005]

20


21


Aceh Suatu Hari, Sesudah Tsunami

1 Tuhan, adakah Engkau murka?

22


2

Di ujung Ulele, aku menyaksikan matahari bangkit dari busur waktu Perih dan ngilu. Kilatan jingga jatuh dan membangun kengerian di antara puing dan harapan yang lantak. Beribu-ribu lalat berzikir sebelum terbang ke langit Mengadu pada Mu Mungkin bersama roh dan kepedihan Mungkin bersama ketidakpercayaan dan rasa sesal Mungkin bersama beban sejarah dan kebebalan waktu yang panjang

23


3

Siapakah yang telah Kau hukum?

24


4

Di Baiturrahman, Di ujung gerimis, setelah hujan tangis Aku menyaksikan hamparan pualam yang muram di pucuk malam Sujud tahajjudku, terasa ngilu dan menulis beribu bisu : Ya Rahman Ya Rahman Adakah mereka yang kemarin menyusun bata di pagar altar Mu? Adakah mereka yang setiap subuh meneriakkan azan di puncak aras Mu? Adakah mereka yang membasuh debu, menjahit luka para Syuhada Mu? Aku menyaksikan kesunyian yang panjang, gaung yang sayup Di antara mimbar Senyap yang mendekap Debu yang mengendap Di dekatku serasa beratus-ratus roh tiarap meratap : Kamilah yang pagi itu hanyut bersama gelombang Bergulung bersama pohon papan beton dan sampah-sampah rumah Kamilah yang meregang nasib, melepas nyawa, menyelam lemas, menggapai tiang, melepas harap. Kamilah itu ‌

25


5

Adakah Kau mendengarnya?

26


6

Di muara Kruengraya, tangis nasib menyusun pilu di sisasisa rumah Di sisa-sia buku dan tas murid sekolah Aku menatapnya ketika warna coklat dan arus yang gelisah tak lagi terdengar bagai magis seudati berkisah Aku mencecah geliat paginya ketika dingin tak lagi sengilu kerinduan Inong Bale yang tumpah di sajjadah Pepohonan tegak, dengan pucuk yang retak Tak tercium bau mesiu Tak tertera bercak darah Kecuali gelombang semak dan hamparan sampah Apak! Semua sudah menuju muara tak berdaya Semua telah menyerah Kalah!

27


7

Adakah Kau yang menghendaki sejarah berubah?

28


8

Di punggung Leuser dan Seulawah Mereka yang selamat dan menyaksikan gelegak marah Mu Menulis catatan dan sajak-sajak kengerian Melukis sisa tarikan napas dalam warna-warna yang pucat dan tangan gemetar Mereka menyaksikan airmata yang tumpah di layar kaca Mereka menatap luka yang memar di lembar-lembar surat kabar Mereka termangu, Mereka tergagap, Mereka nanar Aku mendengar mereka bergumam di antara cangkir kopi dan bau sayur di warung-warung. Aku mendengar mereka berbisik di antara selisik para peziarah dan pembagi duka:

29


‘’Dulu, tiap malam kami mendengar bunyi peluru, tetapi kami masih bisa bernyanyi. Di balik pintu, di atas dipan, di ruang hotel dan kamar karaoke. Dulu, tiap siang kami menyaksikan truk serdadu, dan gemertak bunyi senapang, tapi kami masih bisa main catur. Di balik pintu, di beranda warung, dan pengkolan jalan. Dulu, tiap selesai azan, tiap selesai sujud, tiap selesai doa, kami masih mendengar gemuruh ombak Ulele bagai mozaik, bagai kidung kerinduan para perantau: Olele si Kutaraja, boleh tak boleh dibawa saja ... Dulu kami masih bisa pergi jauh, membawa rencong, membaca saman, dan mendendangkan keperkasaan si Inong Bale dalam cerita. Dulu…’’ Di punggung Leuser dan Seulawah Ketika hujan dan hutan basah, aku menyaksikan seluruh urat pohon berdarah

30


9

Adakah Kau yang menghendaki mereka berhenti menakar hari?

31


10

Di bawah tenda-tenda kanvas dan kain perca Di antara bungkus mie instan, pakaian bekas dan air mineral Aku masih mendengar suara zikir dan instigfhar Di barak-barak dan papan-papan peneduh Di antara suara para relawan, di antara suara tulus dan omongkosong kemanusiaan Di antara muslihat kekuasaan dan intrik politik Aku menyaksikan gadis-gadis sunti mengemas jilbab, menyambar buku, dan bersimpuh di bawah atap: “ Pak guru, masihkah kau bisa dipercaya? Masihkah kau mengajarkan harapan? Masihkah kau bernama masa depan? “ Di antara mesjid dan surau, di antara mushalla dan meunasah yang tersisa Aku masih menyaksikan bujang-bujang tanggung meluruskan kopiah, mengencangkan talipinggang, dan mengepal tangan: Ini negeri hukum! Ini negeri Syariah! Ini negeri demokrasi! Ini negeri Cut, Teuku, Rencong, G‌..

32


Ah! Punggung Sigli masih mendesah, tebing Langsa tetap gelisah, laut Lokhsumawe dan padang-padang kembara di Biruen‌, sesekali masih ada suara senapang dan berita televisi tentang hak azazi dan mimpi-mimpi utopi Ah! Tapi di jalan-jalan lengang Kutaraja, lampu-lampu mulai menyala, Ada deru pesawat dan suara kereta Di keremangan Meulaboh, pagi menyapa dengan harumnya Takengon mocca Di antara angit bau jasad dan deru traktor menghapus jejak yang luput dari sajak Di Tapaktuan, sisa gigil masih terasa, tapi suara-suara tak menyerah terus mendesah: Kami sudah dibesarkan sejarah, dan kami akan terus membangun meunasah!

33


11

Tuhan, Siapakah yang telah kau hukum? Tetapi mengapa di sini Di negeri yang katanya dengan seudati mereka membangun tradisi Dengan rencong mereka menulis sejarah Dengan saman mereka mengubah zaman

34


12

Aceh, suatu hari setelah tsunami Di antara ketakberdayaan dan rasa ngeri Hanya harapan dan cinta yang tak pernah mati!

[2005/2008]

35


Di Tebing Lauttawar

Di tebing Lauttawar, kita ternyata bisa menyaksikan hari bangkit dengan warna pagi yang berseri, meski ombak yang berdesir, dan angin gunung yang layap, seakan tetap menggugat: Sejarah apa yang ingin kalian tulis, dengan bedil dan bau mesiu? Kami telah mengusir penjajah dengan rencong, setelah mereka kami biarkan menanam teh di bukit-bukit kosong.

36


Di tebing Lauttawar, ternyata hari lewat dengan lebih hangat, karena uap kopi yang gurih, suara jaring yang ditebar, dan geliat ikan yang menggelepar, telah menyisihkan berita televisi dan keletah surat kabar. Di puncak Takengon, gempa masih kerap menggampar, tapi pucuk-pucuk pinus masih bisa berkelakar: Di sini Tuhan memang lebih sabar!

37


Di tebing Lauttawar, ketika bulan penuh, dan kabut malam mengendap, memang masih kerap terdengar bunyi panser dan peluru menyambar. Sesekali, di loby hotel para tamu disuguhi kisah Tengku Bantaqiyah di Beutong Bawah. Tapi di gelap malam, para hansip masih ronda dengan pentung dan rencong di pinggang. Dan di bibir pekebun teh dan pelancong Eropa, malam-malam menjadi lebih berona. “Di sini, kemerdekaan milik semua, dan bedil disimpan di bawah jendela“

38


Di tebing Lauttawar, warung nasi, tetap menggulai rendang. “Rasa Aceh, resep Padang“ dan sambil menonton liga Italia, si buyung melenggang : Ma baju Ronaldo tu? Di tebing Lauttawar, di bawah bayang-bayang potret Cut Nyak Din dan Teuku Umar, sebelum kabut menghilang, kita masih bisa berkelakar: Di sini, kerasnya rencong memang masih bisa ditawar .

[2005]

39


Di Tapaktuan, Mereka Takut Menunggu Malam

Tuhan, Di Tapaktuan kami kini takut menatap laut. Sebab biru yang membentang harap, seketika bisa jadi misteri: laut jadi hitam, laut jadi surut, laut jadi pekik kematian Sebab,di ujung tanjung, telah lesap beribu-ribu cinta, telah terkubur beribu-ribu mimpi. Sampai kini, tangisan kekanak, jadi belati menikam hati. Di Tapaktuan kami kini takut suara gelombang. Sebab, debur yang dulu membuai tidur, telah jadi guntur. Gelombang seketika jadi senyap, gelombang seketika jadi badai, gelombang seketika menerjang Sebab, telah punah beribu-ribu rumah, telah tenggelam beribu ladang. Sampai kini, asap yang bangkit dari tingkap, mengirim luka ke pelosok dunia.

40


Mengapa kami jadi nestapa? Kini sukma berhenti menyanyi. Kini tidur seperti siksa panjang di ujung ranjang. Kini angin laut Simulue seperti kawanan gergasi menebar ngeri Kini kami berzikir dalam diam, menunggu malam Adakah kami pernah hianat?

41


Di Tapaktuan, kami masih tetap membentang sajjadah, Menabuh beduk, Meneriakkan azan Meratip doa Membasuh dosa Membaca saman Adakah kami memang alpa? Di Tapaktuan, Kelong Betawi masih berlampu Masih bergolek perahu cadik Berdebur ombak beranjak musim Tapi jam yang berdetak, seperti kelewang yang siap menetak Dan kami takut berkata tidak Tuhan, Di Tapaktuan, kami takut hari menjadi malam

[2005/2008]

42


Di Masjid Amir Hamzah

Sehabis maghrib Aku ratib dan meletakkan setangkai bunga di nisannya Tuhan, singkirkan rasa benci dan aniaya Tak ada daya, tak ada daya, tanpa kehendak Mu Dan maut menjemput, pun saat jiwa bersujud Dan maut wangi bagai setanggi dibakar lumut

[2005]

43


Perjalanan

Inilah Besitang! Tak ada suara senapan dan tak ada hardik menjelang sarapan Tapi mengapa gelisah? Hutan karet dan sawit diam dalam kelam. Ada sisa hujan Dari pos jaga wajah letih dan mata yang waspada saling menyapa : Apa kabar Jakarta ? Di arah tikungan yang menajam, Di antara meja teh panas dan kue bolu Ada puluhan bekas peluru. Seperti lukisan perahu : Di sini, kemarin, seorang letnan ditembak. Tak sempat berteriak Di sini maut singgah seperti jejak seekor biawak Inilah Besitang! Ada papan nama dan bendera-bendera Ada penjaja surat kabar dan kartu telepon genggam Ada suara kereta dan truk yang lewat Ada suara senapang dikokang Ada nasehat: Malam memang bisa sangat kelam.

[2005]

44


ROSE Tiga

ROSE Sudah berapa lama kita disini Begini Aku sudah semakin lelah Meski takkan pernah menyerah Aku sudah semakin pasrah Meski takkan pernah kalah Aku sudah terlanjur dalam tenggelam lumat dilumat ombak remuk diremuk karang terkubur di kubang lumpur Tapi takkan pernah tersungkur

45


Maka kini kubiarkan kau yang memutuskan Apakah akan terus begini Disini Apakah kau masih seperti dulu : Membiarkan hari mencatat desah rindumu pada sisa-sisa ombak musim timur Agar kau dapat selalu datang dan merasakannya saat musim tiba dan membiarkan rinduku hanyut dan menyentuh jemari kakimu dan aku hanya merasakan ngilu ! Mungkin kau yang tetap ingin seperti dulu : Membiarkan derai pasir sehabis badai tersadai, dan melukis rinduku di biru pantai, dan kau membacanya sambil mengilai ! Atau kau mungkin tetap ingin seperti dulu: Membiarkan waktu yang mencatatnya di karang sehabis pasang, dan membiarkan semuanya menyimpan rindu dalam lubuk luka kita yang dalam. Biar tak ada yang tahu selaut rindu Biar tak ada yang duka sedalam luka Biar tak ada yang percaya, bahwa waktu ternyata adalah nestapa dan kita tak berdaya

46


ROSE, Kini kubiarkan angin yang mencatat Sudah berapa lama kita begini Di sini Kini kita biarkan waktu mencatat Bahwa cinta mengalahkan hianat

(2004/2006)

47


Ada Suara Sauh

Ada suara sauh Jatuh Luruh Jauh Ada isyarat kapal berlabuh Tapi siang menjauh Dermaga melenguh Kecipak ombak isyaratkan mimpi yang luluh Hasrat yang melepuh Aduh! Kapalmu tak pernah melabuh sauh

[2004]

48


Aku telah Menangkap Isyarat Itu Kepada OBA *) Aku telah menangkap isyarat itu, bahwa kau akan segera pergi jauh melintasi waktumu ketika selesai kubaca ngilu requim aduhaimu Maka ketika sunyi yang senyap itu menyergap, aku membayangkan kau baru saja membacakan sajak-sajakmu di antara rindang pohon, di antara zaal dan kerudung putih, di antara kesunyian hati yang tak berhenti gelisah. Di antara kengerian suara burung tartar melintas gelap

49


Aku telah menangkap isyarat itu, bahwa geliat sungai airmata yang mengalir dalam sajak-sajakmu, adalah kenangan panjang akan persahabatan, adalah kerinduan dalam akan cinta dan kehilangan. Bahwa sajak-sajakmu telah berkata: Sebuah perjalanan yang jauh, yang senyap, akan membawa semua ke sana, dan meninggalkan sajaksajak di semua tebing, di semua simpang, di semua buku tamu. Aku telah menangkap isyarat itu, ketika gumpalan sepi sajak-sajakmu berkata: Hidup, adalah batu cadas tempat kita memahat cinta dan kegelisahan. Alanglah keras, alangkah melelahkan. Tapi kita harus menyiapkannya. Kita harus meninggalkan jejak. Kita harus membuka pintu, meski maut telah menggantungkan kapak. Aku telah menangkap isyarat itu, ketika kuterima sms-mu dan membacanya dengan seribu sembilu.

*) Ode Berta Ananda [200/2006]

50


Kelekatu Kepada : Thab Ada ketika kita menjadi seperti kelekatu Terbang dari lampu ke lampu Dari pintu ke pintu Dan akhirnya terdampar di bawah bangku Tapi tak ada yang menyapa Tak ada yang bertanya Kesepian seperti degup maut yang berdetak di ujung stateskop Hanya kita yang merasa Aduhai Aduhai Aduhai Hanya kita yang tahu, apa yang tak pernah sampai

51


Ada ketika kita menjadi seperti kelekatu Memandang kilap air dan terhunjam ke batu Tapi tak ada yang menyapa Tak ada yang bertanya Keterasingan seperti sebuah lemari masa lalu tercuguk di balik pintu Hanya kita yang merasa kepedihan yang mengalir dalam kabel lampu-lampu Hanya Senyap Senyap Senyap Hanya kita yang tahu, apa yang tak sempat terucap

52


Ada ketika kita menjadi seperti kelekatu Menunggu resa angin, menjadi isyarat musim Memburu cahaya, dan gugur saat gelap tiba Tapi kita tak tahu Bila Bila BILA

[2006]

53


ROSE Empat

Alangkah pedihnya. Alangkah pedihnya. Kerinduan yang panjang seketika luluh hanya karena sebuah kata: Tak Bisa! Dinding ruang yang jingga, dan suara biola yang membara, tak dapat menegakkan nadi Menegakkan janji. Menyudahkan mimpi. Seperti segelas racun, meneguknya, meski dengan rasa sesal dan takut, menjadi keputusan keputusasaan. Mengapa terjadi ketika rindu sudah sampai ke ujung tunggu? Alangkah pedihnya. Alangkah pedihnya Hanya sebuah kata telah jadi jembia cinta. Tak bisa!

[2007]

54


Kedidi Kini Sendiri Pergi Mencari

Kedidi Kini sendiri Pergi Mencari Mencari jalan pulang Mencari jejak datang Mencari tanda musim Mencari arah angin

55


: Rasanya dari sini aku datang Tapi pantai semakin landai Rasanya ke sini aku pergi Tapi desir ombak semakin derai Rasanya di sini berahiku hanyut gairahku luput Tapi hari hanya menyisa lupa menyisa alpa menyisa luka Ke mana suka Ke mana dahaga Ke mana sukma

56


Rasanya di sini aku menawar waktu memaku mauku memeta jalanku menyedu mimpiku Tapi jam sedingin batu Hari sepedih sembilu

57


Kedidi Kini sendiri Pergi Mencari Mencari sisa-sisa musim Mencari sisa-sisa mimpi Mencari sisa-sisa berahi Kedidi Kini sendiri Pergi Menyusur pantai, menyisir ombak, mencari jalan pulang Akan sampai? Sampai lepai Sampai sansai Sampai pada wahai? Kedidi Kini sendiri Pergi Mencari Mencari!

[2007 /2008]

58


Di Jabbal Rahmah

1. Sehabis tawaf, aku ingat pesanmu, sebelum panggilan terakhir pesawat berangkat: Singgahlah di Jabbal Rahmah. Tulis nama Kita dan berdoalah. Tentang kesetiaan, tentang cinta, tentang harapan yang akan dibawa sampai ke akhir usia. Sekarang dari Jabbal Rahmah aku kirimkan cerita ini: Aku sudah menulis nama Kita di pilar kesetiaan itu yang aku tak tahu apakah Adam dan Hawa juga menuliskan nama mereka di sana. Tapi seorang Habsyi, memakaikan aku kapiyeh putih, dan memotretku saat kupahat nama Kita dengan spidol hitam. Syukron! Sekeping polaroid dan seratus riyal bertukar dengus, dan aku akan menyimpannya sebagai ingatan. Sekarang aku memandang ke puncak pilar yang menembus langit dan berharap dia akan kekal di sana, seperti sebuah jejak, seperti sebuah perhentian, tempat kita membukukan waktu. Tapi aku tak tahu adakah besok nama kita masih ada di sana. Mungkin segera lesap bersama hujan, mungkin terhapus cuaca, mungkin ditelan debu, mungkin ditindih oleh nama-nama baru yang datang bagai deru serdadu yang ingin mencacat gelora rindu mereka di sana.

59


2.

Sekarang aku juga berdoa, sambil memandang langit yang pucat dan siang yang kehilangan cuaca: Tuhan, peliharalah cinta Kami sampai ke batas yang kami bisa menjaganya. Meski aku tak tahu doa apa yang dipanjatkan Adam dan Hawa di sana dan adakah cinta mereka tetap terjaga menjadi sukma di puncak pilarnya. Karena aku masih mendengar suara zikir, suara ratap, suara desah sedih dan rintih yang tertindih. Juga suara gemetar lutut yang bersujud di teras keras yang bagai tak haus dimakan maksud. Adakah doa yang luput ?

60


3.

Sekarang aku memandang ke arah bebatuan hitam yang bertumpuk menyusun jenjang, tempat beribu-ribu harapan dan cemas pergi pulang. Aku dengar desah angin kering yang menyambar padang gersang dan belukar rendah. Suara gesekan dedaunan yang gelisah seakan tak pernah dijamah musim basah. Aku melihat berpuluh puluh un ta yang berjubah sedang menggendong harapan, mimpi, dan kesiasiaan berhelah mengelilingi Jabbal Rahmah dan sepasang cinta terduduk di atasnya, seakan tak bersalah

61


4.

Sekarang, dari Jabbal Rahmah, aku ingat perjalanan bathin ku: Tuhan, di bentangan padang seluas pandang, aku pernah wukuf. Pernah bersujud. Pernah meratap. Pernah pasrah. Pernah menyerah. Tuhan, aku malu‌

[2007/2008]

62


Di Masjidil Haram, setelah Menara Zamzam Labbaika allahuma labbaik‌

Di suatu penghujung musim panas, aku kembali ke sini, Baitullah. Bulan terapung di langit isya. Alangkah panjangnya siang. Alangkah teduhnya hamparan pualam dan seluruh sujudku luruh. Tapi dari celah dua menara di mana Kaabah bagaikan sebuah benteng zaman tertancap di altar nya, aku melihat Zamzam menjulang, melintas langit dan bayang-bayangnya seakan menelan seluruh hamparan pualam. Aku tiba-tiba cemas membayangkan sekiranya kelak Rumah Kerinduan ini akan jadi hanya sebuah hamparan sejarah di sebuah lembah, dan para jamaah akan lebih banyak memandangnya dari bilik-bilik Zamzam yang gemerlap, dengan suara berdesah. Aku cemas akan kebesaranmu. Aku cemas akan keajaibanmu. Masih adakah o... negeri kerinduan rasa teduh dan keluluhan sujud ku‌ Tapi elang gurun masih mengepak. Masih terbang berkawan, meski suaranya serak dikepung zaman. Masih bagaikan kuas melukis langit malam dan menyilang bulan dengan kerinduan. Tapi masihkah kelak elang terbang menanda petang? Masih adakah lagi bayang-bayangnya di bias bulan dan kami menatapnya menari menyongsong musim?

63


Getaran azan masih terasa. Masih bersembilu menunggu waktu. Hitam Kaabah menyongsong malam, masih mencekam dan menekuk lututku terus bersujud dan berseru. Subhanallah... Tapi masih adakah kelak be n dang langit musim semi memanjang di antara hamparan pualam yang suam dan tenggelamkan sujud resahku. Masih akan sampaikah denyar bulan yang jatuh bagaikan lukisan kerinduan di bentangan pualam yang sejuk dan membujuk aku mengubur dendam. Di penghujung musim panas, ketika sisa siang masih panjang, aku menyimpan cemas: adakah kelak perjalanan batin ini masih tetap menggetarkan, dan masih akan luluhkan sujudku di pangkuan-MU. Labbaikka ‌ Allahumma‌

[2007/2008]

64


65


Dayang Ku Laut

1 Selagi laut bernama laut O, Dayang Ku Selagi masih boleh kita menyimpai kail Mengasah tempuling Mengencang sauh Memakal sampan Masih boleh kita menyimpan mimpi Mencacak pancang Melepas umpan Menanda arus Mencium musim Menunggu kemejan datang Menunggu kail mengejang Menunggu bulan mengambang Menunggu punggung biru menderu Menunggu hulu melepas tikam

66


: Tikam ngidam Dayang Ku, Tikam geram berahimu Tikam harap kemejanmu Tikam angit daging salaimu Tikam rindu, saat kau selak kainmu dan gemuruh malam Menyambut deraikilaimu O, Dayang Ku Laut

Selagi laut bernama laut Selalu ada yang hanyut tersangkut luput tak tersebut

67


2

Selagi laut bernama laut O, Dayang Ku Selagi ada surut Selagi masih boleh kita mengemas ambung Menajam serampang Menunggu karang mengerang Menunggu kisar angin Menunggu gerak arus Menunggu saat menikam jejak Jejak hendak Jejak tidak

68


O, Dayang Ku Laut Dengarlah ratap panjang pepohon setu menunggu pasang Dengarlah derai camar mencari pantai Dengarlah kisah si peri bersirip kaki dan berambut gerai Menyadai dada di tebing aduhai Wahai, menatap rindu ke bumbung petang ke kepedihan berahi tak berpantang O, Dayang Ku Laut Selagi laut bernama laut Selalu ada surut Selalu ada yang hanyut Luput Tersangkut Tak tersebut

69


3

o, Dayang Ku Selagi Laut bernama Laut Selalu ada pasang Selalu ada beribu mimpi hanyut Beribu kata luput Beribu harap lesap Beribu haru biru Maka pasang pun membawa gelombang Maka pasang pun merendam pancang Maka pasang pun mengubur jejak, merubuh cacak Maka hanya ada suara angin hanya ada desir pasir, menyindir : Ini lagu Serampang Laut Layar dikembang, kemudi dipaut Hidup ibarat pasang dan surut Ke mana angin, ke situ hanyut

70


4

O, Dayang Ku Laut O, pasang O, surut O, musim yang kini penuh ingin Jangan biarkan angin berhenti bermain Biarkan kami bercakap seperti kerap di tingkap Tentang karang Tentang kerang Tentang setu Tentang gonggong Tentang gamat Tentang segalanya yang segera akan tamat Akan Tamat ! O, Wahai O, Wahai Ku Jangan biarkan Laut Ku kehilangan pasang karena Pasang Jangan biarkan Laut Ku kehilangan surut karena s-u-r-u-t Jangan biarkan Laut Ku kehilangan LAUT Jangan biarkan Laut Ku Kehilangan DAYANG KU O, Dayang Ku Laut

[2008]

71


Aku Menunggu di Stasiun

Aku menunggu di stasiun Di bangku dingin subuh yang luruh Sampai kereta terakhir Sampai gerbong terakhir Sampai embun selesai menulis sisa-sisa sansai Tapi tak ada kau Tak ada kresek suara rok Burberry Klebat blus Prada Dan wangi Estee Lauder Cuma kabut Cuma suara perincit Cuma sisa-sisa azan yang layap ke balik bukit Tak ada Kau?

72


Aku menunggu di stasiun Memungut sepi Membalut luka Menunggu cuaca Ada suara berbisik meski mengejek : Menunggu? Tidak! Lalu? Ah! Sunyi tak bertepi? Rindu tak berbatu! Ha Ha Ha?! Ya, hanya luka? Ya memang menganga! Ya waktu mengubur setianya? Setianya!

[2008]

73


Cinta

Ha ha ha ha Luka yang menganga Siapa yang melumur cuka Siapa yang membalur candu Siapa yang bilang pedih Siapa yang bilang rindu Siapa yang mengeram dendam Siapa yang memendam kasih Siapa yang bilang Ah! Sampah! Enyah! Siapa yang bilang Hai! Aduhai! Wahai! Ha ha ha Luka yang menganga Kita bilang biasa Mereka bilang Iyalaah! Anugerah! Kita bilang hanya berahi Mereka bilang Enggaklah! Suci! Kita bilang Cinta! Ya? Kalian bilang Cinta Ya? Mereka bilang Cinta Ya HA HA HA! [2008]

74


Dan Sejarah pun Berdarah : Soneta Cinta untuk H 1. Phuih! Aku telah dizalimi sejarah

(Mentari lebam. Pagi menghisap sisa embun. Tanah basah, habis dilapah. Kau berkacak segak, menghala haluan. Memandang daratan, menatap langit, mengira angin, menakar musim. Nakhoda, bentangkan layar, tinggalkan negeri penuh dengki!)

75


2.

Andaikan Aku Tun Teja Andaikan Aku Tun Fatimah Andaikan Aku Putri Retno Dumilah Adakah mereka akan mencampakkan Aku bagai lampin buruk Melengos Aku bagai serampin busuk Menista Aku bagai janda tua di katil tersuruk

(Perahu berlayar. Selatan mengerang. Renyai tiba dan siang meratap: Wahai Peri Sejarah! Telah Kau tumpahkan seluruh asa agar marwah bangsa tercacak gagah. Telah Kau kerat bentang usia agar adat negeri tersurat indah. Telah kau sekat bara cinta, agar garis zuriat tak bertumpah darah. Telah Kau humban dengki, telah Kau peram luka, agar Sang Raja, tegak memerintah. Mengapa kini Kau menyerah? Mengapa kini Kau rela mengalah?)

76


3.

Tak pernah Aku menyerah. Tak pernah Aku mengalah. Karena telah kusauk pusaka. Telah kupeti nafiri. Telah kusambar Sirih Besar. Telah kuputus jejak tamaddun Raja bertegak. Phuih ! Tak sehelai selendang boleh dipegang. Tak seulas pinang boleh dikenang. Tak selipat sirih boleh dipilih. Tak akan adat boleh merempat Biarkan mereka menurunkan bahtera. Biar mereka mengarak meriam. Biar mereka menghela lela. Aku takkan berganjak! Biar hulubalang berhulu jembia. Biar dukun menyedu racun. Biarkan mereka mengasah siasah mengalahkan sejarah Takkan pernah aku boleh disergah!

(Camar melintas. Buih putih menindih perih. Kecapi Parsi mencakar hati: Engku bijak, Engku Perkasa, Engku ranggi berhati besi, adakah negeri berdiri dengan hati? Adakah tahta tegak dengan cinta ? Adakah sejarah ditulis dengan madah?)

77


4.

Aku tahu tak ada tahta tanpa serdadu Aku paham, tak ada Raja tanpa meriam Aku ingat, tak ada Menteri tanpa hianat Aku sadar, tak ada permaisuri di balik kelambu, tanpa tersedu. Tapi hidup mewariskan rasa, mengekalkan resa: Tentang cinta, tentang setia, tentang rela, tentang pasrah, tentang padah. Maka sejarah menyisakan luka, maka siasah menumpahkan darah Maka sejarah selalu hitam , maka cinta mengham parkan dendam

(Petang berpendar, elang menukik, dan lelumba berselancar. Angin mati, menurunkan layar: Cinta bukalah cinta jika hanya tahta memenuh resa. Setia bukanlah setia, jika cinta bertahan dengan jembia. Maka, wahai kerelaan yang lapang, rebahkanlah perihmu, di lengan kesendirian. Biarkan gerai rambutmu, dibelai angin. Biarkan musim mendingin bahang bencimu. Biarkan laut mendendangkan gazal, menaut kenangan kembali ke surut)

78


5.

Mereka m emang telah mera m u racun, agar kasih dan kehormatan tak beralih. Mereka memang telah meracik fitnah, agar jejak dan kekuasaan tak tergoyah. Tapi Aku telah menyulam cinta, menjelujur setia, mengelim rela, agar Sang Raja, selalu tegak di atas singgasana. Agar bila berkata Ya, maka Ya lah negeri. Bila berkata Tidak, maka selamatlah negeri, Agar, saat malam tiba, dan kelambu diselak, Baginda memunggah rindu seluas samudera, dan berdesah rindu bagai gelombang Selat Malaka. Mereka memang telah menyemai dendam. Mereka memang telah menulis dengki. Mereka memang telah menyelak kain dan menghunus belati. Tapi, ya Rabbi, tak Kau beri aku jerat cinta, tak Kau beri aku zuriat tahta. Tak Kau beri aku semangat untuk melumat hianat. Tak Kau beri aku waktu menguras racun, melebur dendam, meluruskan sejarah. Padahlah!

79


6.

Phuih ! Angin mati, pasangkan dayung. Rempuh Barat, taklukkan tanjung Tambatkan pencalang, sebelum rembang

(Samudera kasih, biarkan beribu sedih menumpahkan perih di riba mu. Junjungan telah pergi, tetapi negeri perlu Seri. Kuasa memerlukan kata. Kata mesti dikota. Tahta ternganga tanpa daya. Raja tegak tanpa mahkota. Sejarah berdarah. Istiadat diludah ) Phuih! Aku telah berjaga separuh usia Aku telah mencatat seluruh isyarat Tapi mestikah tahta tegak dengan dusta Mestikah kuasa tegak tanpa Regelia Padahlah !

80


7.

(Indrasakti sunyi. Pekik bayan seperti gering. Tingkap ke selat, meratib nasib: O, Engku yang ranggi! Telah kau tegah angin agar tak mengirim ingin. Telah kau cacak ijuk, isyarat menghapus semua bujuk. Tapi dapatkah kau tahan waktu yang bagai sembilu mengerat urat ,menyimpul tahan marah mu ) Mengapa Aku yang harus bijak, bila mereka yang berkata tidak? Men gapa Aku mesti men arik langkah, padahal mereka mendedah barah? Ah! Padahlah! Ja n gan biarkan tangga berderak karena data n g yang berkehendak Jangan biarkan tirai terselak, karena datang bujuk yang tak mau ditolak Biarkan para serdadu berbaris di pintu Biarkan hulubalang lelah bersila Biarkan panglima tewas berjaga Biarkan Raja Muda, mencabut keris, mengacung jembia Aku tak akan berganjak ! Sebab Akulah panglima. Sebab Akulah laksamana. Sebab Akulah kuasa Akan kutiup nafiri bagi Pelindung isi Negeri Akan kuhantar Sirih Besar, bila tahta layak bergelar Akan kupadan persalinan, bila mahkota layak bercogan Karena Akulah kehendak, yang berkata Ya, yang melaung Tidak Karena Akulah yang menabuh tambur, yang memukul ketawak

81


8.

(Wahai Engku, Sri segala permaisuri. Dengarkan gemuruh langkah para Menteri. Menegak destar, meluruskan kaki : Punai terbang menyongsong angin Elang hinggap membuat sarang Sang Raja datang, memohon ingin Apakah disambut genderang perang ?) Padahlah! Sebab Akulah Engku Puteri Sebab Akulah penyangga marwah, penjunjung Negeri Berlututlah! Jangan acungkan pedang kalian Jangan tembakkan peluru kalian Jangan kuakkan durhaka kalian Sebab takkan ada marwah bagi kuasa yang diraih dengan paksa Sebab takkan ada tuah, jika Panji ditegak dengan salah Berlututlah!

82


9.

Maka sejarah pun berdarah, karena mereka datang dengan perang. Maka sejarah pun memendam amarah karena mereka menyambar Sirih Besar dengan pedang. Maka seluruh nadi negeri pun mengerang, karena Tahta ditegakkan dengan senapang. Maka Negeripun tenggelam dalam lautan benci, karena Nafiri dicuri dengan belati. Maka para syuhada pun berkabung, karena mereka datang mengantit perabung dengan beliung. Maka sejarahpun penuh dusta, karena mereka telah menista sang penjaga Regelia, wanita ranggi berhati besi, wanita tua yang menjaga marwah sejarah dengan hanya Seribu Kata.

83


10.

Phuih! Rampaslah segalanya, tapi Kalian hanya merampas dusta Rampoklah segalanya, tapi Kalian hanya menggenggam nista Dan berpalinglah! Maka Kalian akan menyaksikan petaka datang bagai badai dan akan menenggelamkan semua Bahtera, semua Tahta! Semua Negeri punya Seri Semua Marwah punya Tuah Semua Tahta punya Bala Semua janji punya benci Semua benci punya sumpah Padahlah!

84


11.

(Di tingkap menghadap selat, angin terkesiap dan tirai tersingkap menangkap luka Cinta yang telah berhenti berharap) Nakhoda, naikkan layar. Bongkar sauh, dan biarkan Kita berlayar jauh! JAUH!

( 2006/2008 )

85


ROSE Lima

Telah kau tutup Satu-satunya celah Tempat aku menghembuskan Rindu dan berahiku Setelah pintu Setelah tingkap Setelah percakapan terakhir yang resah yang lelah yang nyanyah Aku di luar sekarang Tercampak Di antara mabuk dan kebencian Di antara sesal rindu dan alpa Di antara rasa yang pepat resa yang penat

86


Awan petang yang berarak jadi gergasi Menyeringai tawa berderai : O, mampuslah kau Akhirnya kalah Tak lagi mencacak pancang Tak lagi menggelinyang pasang Tak lagi menggelenyar gelombang Siapa yang bisa melawan Sang kala Sang lelah Sang lejuk Sang hianat

87


Awan petang yang berarak gergasi waktu menelan gelegak dahakmu menggergaji mimpimu mengiris-iris najis berahimu tausal yang membuat kau jadi dajal majal melawan ajalmu Telah kau tutup satu-satunya celah Dan aku kini menyerah Padahlah!

[2008]

88


foto: M. Yoesoef/Batam Pos

RIDA K LIAMSI Lahir di Dabosingkep, Provinsi Kepulauan Riau, 17 Juli 1943. Pernah lama menjadi guru Sekolah Dasar, sebelum terjun menjadi jurnalis. Delapan tahun jadi wartawan Tempo, lima tahun di Harian Suara Karya, sebelum pindah ke Riau Pos, sebuah koran harian yang terbit di Pekanbaru. Kini Rida menjadi CEO Riau Pos Group (RPG) yang mengelola kelompok bisnis media di bawah bendera Jawa Pos. RPG yang dipimpinnya memiliki bisnis media di Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Nangroe Aceh Darussallam (NAD), termasuk televisi lokal. Sudah menulis sajak sejak di sekolah menengah pertama. Sajaknya dimuat di Majalah Sastra Horison, beberapa surat kabar dan majalah budaya lainnya. Kumpulan sajak pertamanya, Ode X, terbit dalam bentuk stensilan tahun 1981. Bersama Hasan Junus dan Eddy Mawuntu menerbitkan kumpulan esai dan puisi yang diberi judul Jelaga, di Tanjungpinang. Tahun 2003 menerbitkan kumpulan sajak keduanya, Tempuling. Berselang dua tahun

89


kemudian, 2007, menerbitkan novel pertamanya, Bulang Cahaya, dan mendapat sambutan luas dalam dunia sastra Indonesia. Rida juga sering menulis artikel budaya dan menjadi pembicara dalam berbagai forum sastra dan kebudayaan, baik di Riau, Sumatera Barat, Kepulauan Riau maupun nasional, terutama tentang sastra dan kebudayaan Melayu. Tanda komitmennya terhadap perkembangan sastra dan kebudayaan, Rida juga mendirikan sebuah yayasan budaya, yakni Yayasan Sagang. Melalui yayasan ini, sejak tahun 1997 telah menerbitkan Majalah Budaya Sagang. Yayasan ini setiap tahunnya –sejak tahun 1996— telah memberikan penghargaan kepada para seniman dan budayawan, karya-karya budaya, institusi budaya, penelitian budaya serta jurnalisme budaya yang bernafaskan budaya Melayu, dengan angerah yang diberi nama Anugerah Sagang.***

90


Perjalanan Kelekatu