EquatorSpace#03

Page 1

MAJALAH ANTARIKSA

EQUATORSPACE Edisi 3 | Februari 2017

SPACE X:

INOVATOR TEROBOSAN

INDUSTRI ANTARIKSA

SISTEM KEANTARIKSAAN UNTUK PENGGUNAAN

MILITER

INTERNET OF THINGS SEBAGAI ELEMEN

PERTAHANAN MODERN KEANTARIKSAAN DI PALAGAN

LAUT CINA SELATAN 40 TAHUN SATELIT KOMUNIKASI INDONESIA (3) BERPERAN MENJAGA DAN MEMPERKOKOH KESATUAN DAN PERSATUAN NUSANTARA

EQUATORSPACE.COM

0


pengantar redaksi Pembaca Yth

SISTEM KEANTARIKSAAN UNTUK PENGGUNAAN MILITER Mardianis

KEANTARIKSAAN DI PALAGAN LAUT CINA SELATAN Listyanto

Edisi ke-3 ini mengangkat tema “Keantariksaan dan Pertahanan�. Pemilihan tema ini didorong oleh perkembangan lingkungan strategis pertahanan yang menunjukkan perlunya penguasaan teknologi dan infrastruktur keantariksaan. Hal ini mudah dilihat dengan ancaman yang terus tumbuh di Laut Cina Selatan (LCS), disamping kebutuhan dalam mewujudkan konsepsi Poros Maritim Dunia yang telah dibahas pada edisi ke2 majalah ini. Perebutan hal-hal yang menyangkut survival bangsa, seperti wilayah teritorial beserta sumber daya alam di dalamnya, kadang mengabaikan norma-norma hukum dan bahkan kemanusiaan, sebagaimana perjalanan sejarah umat manusia selama ini. Sikap Cina dengan mengabaikan keputusan Permanen Court of Arbitration, dalam kasusnya dengan Filipina di LCS, adalah bagian nyata dari sejarah yang demikian. Esensi edisi ini mengingatkan bahwa aspek pertahanan negara perlu pembenahan postur secara mendasar, khususnya kebutuhan infrastruktur keantariksaan. Beberapa artikel membahas topik-topik yang relevan dengan tema, seperti Sistem Keantariksaan Untuk Penggunaan Militer, Keantariksaan di Palagan Laut Cina Selatan, dan Pengembangan Satelit Radar Ekuatorial Dalam Kerangka Pengembangan Sistem Nasional Pengamatan Wilayah. Beberapa artikel lainnya juga mengasyikkan untuk dinikmati, mulai dari yang membahas terobosan industri antariksa, prinsip kerja dan aplikasi satelit navigasi, keselamatan transportasi, internet of things, regulasi keantariksaan dan lanjutan serial 40 tahun Satelit Komunikasi Indonesia. Semoga sajian ES kali ini dapat me-refresh atau paling tidak men-trigger kita semua tentang kebutuhan mendasar dalam pertahanan negara yang perlu segera ditangani oleh pemerintah, serta menginspirasi aplikasi teknologi keantariksaan untuk berbagai hal yang bermanfaat. EQUATORSPACE

REDAKSI

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

1

1


daftar isi

03 FEB 2017

EQUATOR

Sistem Keantariksaan untuk Penggunaan Militer ... Keantariksaan di Palagan Laut Cina Selatan ... Angkatan Bersenjata Luar Angkasa... 40 Tahun Satelit Komunikasi Indonesia (seri ke-3)

SPACE

Internet of Things sebagai Elemen Pertahanan Modern

Pengembangan Satelit Radar Ekuatorial dalam Kerangka Pengembangan Sistem Nasional Pengamatan Wilayah SpaceX: Inovator Terobosan Industri Antariksa... Satelit Navigasi: Prinsip Kerja dan Aplikasi (bagian 1) Keantariksaan untuk Pertahanan Negara dan Wadah Regulasinya... Outer Space Treaty 1967 dan Persenjataan Antariksa Agar Transportasi Lebih Selamat Peluncuran Satelit Telkom 3S

Front Cover Picture Resource: commons.wikimedia.org/wiki/, by U.S. Navy photo by Photographer's Mate 3rd Class Jarod Hodge

EQUATORSPACE (ES) adalah majalah keantariksaan Indonesia untuk kalangan praktisi dan masyarakat yang ingin mendalami dan mengikuti perkembangan keantariksaan domestik dan global terkini. Artikel/ naskah atau foto yang dikirim ke majalah ES harus orisinal (asli). Penulis atau pengirim foto bertanggung jawab penuh atas orisinalitas naskah tulisannya atau orisinalitas foto yang dikirim ke Redaksi. Redaksi berhak menyunting artikel/ naskah dan memodifikasi/ membuang bagian-bagian tertentu dari foto bila diperlukan.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

2 2


EQUATOR SPACE SPACE MAGAZINE

INDONESIA

Arifin Nugroho Adviser Muhamad Sadly Adviser Dewayany S. Adviser Oni Bibin Bintoro Adviser Ketut Wikantika Adviser Suhermanto General Managing Leader Agustan Deputy General Managing Leader MS. Sebayang General Managing Editor Listyanto Deputy General Managing Editor Tonda Priyanto Senior Executive Editor Heramarwan Senior Executive Editor Jon K. Ginting Senior Executive Editor

EDITORIAL BOARD Muhamad Sadly Applications Leader Bambang Tejasukmana Space Policy & Regulation Leader Surya Witoelar Technology Leader Eddy Setiawan Space Business Leader Listyanto Defence Leader Dewayany S. Specialist, Applications Heri Budi Wibowo Specialist, Technology Robertus Heru Triharjanto Specialist, Technology Lilis Mariani Specialist, Technology Kanaka Hidayat Specialist, Applications Muharzi Hasril Specialist, Applications Mulyadi Specialist, Space Policy & Regulation Jon K. Ginting Specialist, Defence Yudi Ardian Specialist, Defence Dani Indra Widjanarko Specialist, Technology Tonda Priyanto Specialist, Applications Anggoro K. Widiawan Specialist, Technology Suroso Yulianto Specialist, Space Policy & Regulation Suleman Tampubolon Specialist, Space Business Indri Prijatmodjo Specialist, Technology Sigit Jatiputro Specialist, Space Business Hexana Tri Sasongko Specialist, Space Policy & Regulation Meiditomo Specialist, Technology Mardianis Specialist, Space Policy & Regulation Fahmi Amhar Specialist, Applications Syarif Budhiman Specialist, Technology Nani Hendiarti Specialist, Applications Heramarwan Specialist, Space Business Rizatus Shofiyati Specialist, Applications Abraham Auzan PR & SocMed Network Veronica Instagram SosMed Network Meuthia Djoharin Treasurer Genya Kotani Senior Executive Illustrator Futoshi Katada Senior Executive Illustrator EQUATORSPACE.COM Takashi Fujisawa Senior Executive Illustrator

equatorspace Email contact@equatorspace.com Website www.equatorspace.com Instagram EquatorSpace Facebook EquatorSpace

3 3


FOCUS

MARDIANIS Specialist Space Policy & Regulation

S

istem keantariksaan, secara tradisional, terdiri dari 3 elemen utama, yaitu elemen (i) antariksa (space) (ii) darat (terrestrial) dan (iii) hubungan (link). Elemen antariksa termasuk semua komponen aerodynamic yang menjadi prinsip utama dalam pengaturan pergerakan, seperti roket/pesawat ulang alik, satelit, stasiun antariksa internasional, wahana antar planet. Elemen darat termasuk semua peralatan darat, laut dan airborne seperti stasiun bumi, simpul-simpul komunikasi (stasiun penjejak dan pengendali) serta semua personil pengoperasian. Sedangkan elemen hubungan termasuk komunikasi antara elemen antariksa dan elemen berbasis darat seperti signal-signal hubungan data. Dalam rangka sistem keantariksaan untuk tujuan pengendalian kegiatan keantariksaan sistem tersebut dibagi dalam 6 segmen utama yaitu segmen bumi, segmen koneksi, segmen antariksa, segmen koneksi data, segmen pengguna dan segmen peluncur. Keenam segmen ini mampu melayani baik untuk kepentingan militer (pertahanan dan keamanan) serta kepentingan sipil (produk dan layanan). Mengingat banyaknya produk dan layanan yang dihasilkan dari sistem keantariksaan, terdapat pandangan yang menyatakan bahwa beberapa bentuk barang

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

dan jasa keantariksaan dapat dikategorikan unik adalah: • Kemampuan untuk melihat bumi secara keseluruhan; • Kemampuan untuk menyiarkan sinyal dari satu satelit ke berbagai titik di bumi; • Kemampuan untuk menggunakan lingkungan microgravity untuk penelitian dan produksi; • Kemampuan untuk memantau kegiatan manusia di berbagai wilayah yang luas; • Kemampuan untuk memantau aktivitas alam dan fisik secara global; dan • Kemampuan untuk mengeksplorasi alam semesta dan untuk memperluas pengetahuan ilmiah Di samping itu, dewasa ini, antariksa merupakan bagian integral dari operasi militer, perusahaan komersial dan bahkan kesejahteraan sosial di sebagian besar negara maju. Bahkan, banyak yang menganggap antariksa menjadi suatu slogan yang klasik yaitu "pusat gravitasi" karena peran sentralnya dalam masyarakat modern. Dari sisi kepentingan militer, teknologi keantariksaan dapat digunakan untuk tujuan C4ISR. C4ISR adalah singkatan teknologi untuk komando, pengendalian, komunikasi, komputer, intelijen, pengawasan, dan pengintaian (command, control, communications, computers,

4

4


FOCUS intelligence, surveillance, and reconnaissance technologies - C4ISR) yang merupakan jantung dalam peperangan modern. Teknologi untuk Komando, Kontrol dan Komunikasi (C3) menyediakan kepada tentara kualitas informasi real time di medan perang dan mengintegrasikan teknologi antariksa ke aplikasi taktis. C3 secara efektif menjamin kesadaran situasional dan memberikan kemampuan untuk mengendalikan pasukan darat, udara dan antariksa serta rudal di semua tingkat komando. Fungsi operasional kritis teknologi antariksa C3 memungkinkan untuk melakukan perencanaan otomatis dan alat keputusan kolaboratif, operasi satelit otomatis, integrasi sistem kedirgantaraan real-time untuk menghasilkan gambar situasional bersamaan, data yang terintegrasi dan medan perang, dan pemantauan secara real time dan penilaian situasi. Peningkatan ketergantungan pada komputer telah menyebabkan peningkatan semua pelaksanaan tersebut sehingga menjadi C4 (command, control, communications and Computer). Kombinasi intelijen, pengawasan dan pengintaian (intelligence, surveillance, and reconnaissance technologies-ISR technology), bertujuan untuk keberhasilan dalam mendominasi informasi. Kemampuan pengumpulan data intelijen berbasis antariksa telah menjadi mapan dan dapat diandalkan, serta mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan pengguna dari sebelumnya. Penelitian dan pengembangan sedang diupayakan dalam berbagai teknologi untuk meningkatkan pengumpulan data yang diperlukan dan menguji cara-cara baru untuk memproduksi dan menyebarluaskan informasi. Kegiatan ISR saat ini juga membantu dalam pemantauan penerapan perjanjian internasional. Dengan demikian, teknologi antariksa bertindak tidak hanya sebagai kekuatan pengganda untuk platform militer di mana mereka terintegrasi, tetapi juga sebagai

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

sarana untuk menghubungkan berbagai jenis kekuatan baik udara, laut, dan darat. Selain itu, mereka dapat menghubungkan kekuatan kebangsaan yang berbeda, yang memungkinkan interoperabilitas dan efisiensi penggunaan sumber daya militer. Berikut akan dijelaskan beberapa aplikasi sistem keantariksaan untuk kepentingan militer. Satelit Pengintaian (Reconnaissance Satellites) Satelit pengintaian, atau penggunaan satelit penginderaan jauh untuk pengintaian adalah satelit yang paling umum dan banyak digunakan dalam mendukung kegiatan militer. Mereka melakukan sejumlah fungsi yang berbeda. Dalam beberapa kasus, satelit penginderaan jauh ini didedikasikan sepenuhnya untuk kegiatan militer dan dioperasikan oleh badan keamanan militer atau nasional. Dalam kasus lain mereka adalah sumber daya guna ganda, yang melakukan dua fungsi yaitu keamanan militer dan nasional, dan fungsi sipil /ilmiah. Satelit pencitraan menggunakan dua sensor yaitu sensor optik, atau radar untuk pencitraan guna menangkap gambar dari permukaan bumi. Sistem menggunakan citra radar disebut sebagai sistem sintetis aperture radar (synthetic aperture radar-SAR). Sistem SAR mampu berfungsi pada malam hari, melalui awan, dan juga memiliki kemampuan untuk menembus ke dalam obyek. Sistem pencitraan militer yang khusus saat ini dilaporkan mampu mencapai resolusi 10 sentimeter atau lebih baik. Citra Satelit digunakan untuk berbagai tujuan termasuk pemetaan, pengumpulan intelijen, identifikasi sasaran dan penilaian kerusakan pertempuran. Sinyal satelit intelijen adalah kategori kedua dari satelit pengintai. Mereka dirancang untuk mendeteksi transmisi elektronik dari berbagai perangkat penyiaran termasuk sistem komunikasi dan radar. Sistem ini dapat mendeteksi pemancar daya yang sangat rendah dan mampu mengidentifikasi jenis dan lokasi pemancar yang terdeteksi. Amerika Serikat dilaporkan mengoperasikan empat konstelasi yang berbeda dari satelit untuk sinyal intelijen,

5 5


FOCUS

yang memungkinkan untuk intersepsi dan analisis informasi melewati systems nirkabel. Akhirnya, ada sistem satelit pengintai dirancang untuk memenuhi peringatan dini dan fungsi pengawasan laut. Satelit peringatan dini, digunakan untuk memantau peluncuran rudal, yang dilengkapi dengan sensor infra merah yang mampu mendeteksi panas dari mesin roket ini. Mereka memungkinkan negara yang mengoperasikan untuk memantau kepatuhan perjanjian, dan memberikan sistem peringatan dini jika terjadi serangan rudal. Sistem ini juga digunakan dalam situasi konflik untuk membantu dalam mengidentifikasi tempat peluncuran rudal. Satelit pengintai laut melakukan fungsi yang sama tetapi dioperasikan dalam pengelompokan tiga satelit. Hal ini memungkinkan untuk menunjukkan dengan tepat dimana tepatnya aset angkatan laut saingan dan analisis radar dan emisi elektronik lainnya dari kapal yang ditargetkan. Satelit Meteorologi Satelit meteorologi memberikan dukungan penting dalam pelaksanaan operasi militer. Mereka meningkatkan kemampuan peramalan, memungkinkan pasukan militer untuk menyesuaikan rencana operasional untuk bereaksi terhadap, atau mengambil keuntungan dari, kondisi cuaca yang diantisipasi. Mereka meningkatkan kemampuan pasukan melakukan operasi rutin untuk menghindari kondisi cuaca berbahaya yang dapat menempatkan mereka pada risiko. Pasukan militer mengandalkan kedua konstelasi satelit yang berdedikasi militer satelit dan satelit sipil, baik bekerja bersama-sama atau sendirisendiri, untuk memberikan dukungan dalam peramalan cuaca. Satelit Komunikasi Amerika Serikat dan Rusia telah mengembangkan sistem satelit komunikasi yang terpisah untuk melayani kebutuhan

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

militer mereka. Kapasitas sistem yang berdedikasi, terutama dalam kasus Amerika Serikat, belum cukup untuk memenuhi meningkatnya kebutuhan bandwidth militer. Ini karena tuntutan peningkatan untuk informasi kapasitas penanganan yang timbul dari kemajuan teknologi di bidang medan kesadaran situasional dan pengumpulan intelijen. Teknologi sekarang memungkinkan untuk gambar real time dan video dari medan perang yang akan dibuat tersedia untuk kantor pusat operasional dan strategis dan, dalam beberapa kasus, untuk prajurit di lapangan. Solusi untuk kekurangan kapasitas telah mengandalkan sistem satelit komersial untuk melengkapi kapasitas sistem militer. Sementara sistem komersial telah diandalkan untuk mendukung militer, pentingnya komunikasi untuk pelaksanaan operasi militer mengharuskan hubungan penting dipertahankan. Hal ini telah membuat survivability sistem komunikasi militer sangat penting. Sistem satelit militer ini, telah mampu meminimalkan risiko gangguan atau kerusakan dalam jangka waktu crisis. Satelit Navigasi / Penargetan Rusia dan Amerika telah mengembangkan konstelasi satelit yang digunakan untuk keperluan navigasi dan pengiriman senjata. Sistem Amerika dan Rusia, semula dikembangkan dan dioperasikan oleh militer, sekarang telah dibuat tersedia untuk penggunaan sipil. Setidaknya dalam kasus sistem Amerika, akurasi sinyal agak terganggu bagi tujuan sipil. Ketergantungan signifikan pada sistem ini dalam pelaksanaan operasi militer, namun relatif mudah untuk mengganggu sinyalnya karena sinyal tersebut bertenaga rendah. Karena sinyalnya sistem satelit navigasi bertenaga rendah, maka sinyal ini sangat rentan terkena gangguan. Sebagaimana dismapaikan oleh salah satu penulis dengan menyatakan: "Masalah pertama adalah bahwa sinyal GPS sangat lemah sehingga secara rutin terganggu oleh fenomena alam dan oleh transmisi radio lainnya. Dan siapa saja dengan $ 50 dan solder dapat membeli bagian komponen dari sebuah

6

6


FOCUS toko radio dan membuat jammer untuk menghancurkan sinyal GPS pada jarak seratus mil (The first problem is that the GPS signal is so weak that it is regularly wiped out by natural phenomena and by other radio transmissions. And anyone with $50 and a soldering iron can buy parts from a radio store and make a jammer to destroy the GPS signal for a hundred miles). Senjata Antariksa (Space Weapons) "Senjata antariksa" tidak secara resmi didefinisikan dalam hukum internasional; Namun, ada sejumlah definisi kerja, salah satu adalah: "Sebuah senjata antariksa adalah perangkat ditempatkan di antariksa (termasuk bulan dan benda langit lainnya) atau dalam lingkungan bumi yang dirancang untuk menghancurkan, merusak, atau mengganggu fungsi normal dari suatu obyek atau berada di antariksa, atau perangkat yang ditempatkan di antariksa yang dirancang untuk menghancurkan, merusak, atau mengganggu fungsi normal dari suatu obyek atau yang berada di lingkungan bumi. Perangkat lain dengan kemampuan yang melekat untuk digunakan sebagaimana didefinisikan di atas akan dianggap sebagai senjata antariksa. Sesuai definisi di atas menunjukkan, penggunaan kekuatan di antariksa tidak selalu sama dengan tindakan berbasis senjata baik di antariksa atau pada bendabenda langit. Senjata berbasis di permukaan dan di atmosfer juga dapat digunakan untuk menargetkan aset berbasis antariksa. Penggunaan kekuatan di antariksa dapat dicapai melalui penggunaan darat ke antariksa, udara ke antariksa, atau antariksa untuk sistem senjata antariksa. Penelitian dan pengujian teknologi antisatelit telah ditempuh sejak awal 1960-an, dan ada banyak metode yang tersedia untuk menghancurkan atau menonaktifkan sistem berbasis antariksa. Salah satu yang paling sederhana, namun pilihan yang paling merusak, adalah ledakan perangkat nuklir di antariksa. Karena karakteristik unik dari

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

lingkungan antariksa, ledakan nuklir akan menghasilkan pulsa elektromagnetik menghancurkan komponen elektronik satelit tanpa pelapis dalam beberapa ratus mil dari ledakan. Kemampuan ini membuat semua perangkat nuklir potensial menjadi senjata anti-satelit (ASAT). Bentuk umum lain persenjataan antariksa adalah senjata energi kinetik. Senjata-senjata ini mengandalkan kecepatan yang luar biasa di mana objek di antariksa, khususnya di orbit bumi rendah, untuk kekuatan merusak mereka. Senjata energi kinetik tidak membawa bahan peledak; mereka menghancurkan satelit sasaran hanya dengan bertabrakan dengan obyek itu. Senjata ASAT energi kinetik dapat diluncurkan dari lingkungan apapun termasuk antariksa. Tabel 1. berikut mengilustrasikan manfaat dan kerugian senjata antariksa. Mereka tidak disukai oleh militer Amerika Serikat karena dapat menimbulkan jumlah yang signifikan sampah antariksa yang juga akan menimbulkan kerusakan terhadap satelit. Senjata energi diarahkan, yang mencakup laser dan teknologi sinar partikel, juga telah diteliti untuk tujuan ASAT. Amerika telah memiliki beberapa keberhasilan awal dengan teknologi laser. Sistem Laser dan sinar partikel dapat menjadi senjata pilihan di masa depan, namun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum salah satu dari teknologi tersebut akan efektif baik sebagai ASAT atau sistem senjata berbasis antariksa. Persenjataan berbasis antariksa juga dapat digunakan untuk menargetkan benda di bumi atau di atmosfer. Kedua senjata energi kinetik dan senjata energi berbasis di antariksa bisa menyerang target di permukaan bumi. Sebagai contoh, telah diusulkan bahwa batang uranium atau tungsten (uranium or tungsten) mungkin berbasis di antariksa. Batang ini kemudian dapat dijatuhkan pada sasaran yang terpilih, menggunakan sistem bimbingan presisi, mengandalkan energi kinetik daripada bahan peledak untuk menyebabkan

7 7


FOCUS Tabel 1: Advantages and disadvantages of future space weapons (from Neuneck and Rothkiech, 2003)

DEW

KEW

Nuclear

Principle

Advantage

Laser

Direct Effect

Microwave

Invisible

Particle Beams: Xrays Homing Missiles/Kill vehicle Collision device

Invisible, fast

Electromagnetic guns Niiclear weapons

High closing speed Lethality, destruction redii

High closing speed Hard to identity

Disadvantege/ problems Energy, Line of signt, atmosphere, countermeasures Low resolution, countermeasures Propagation, energy production Acceleration, the collision mass, homing Space debris multipication Energy, technical problems Destroy own satellite

Warning time Second to minutes Second to minutes Second to minutes Minutes/Hour s/days Minutes/Hour s Minutes Seconds

Sources: David Webb, “On the Definition of a Space Weapon (When is a Space Weapon Not a Space Weapon?)�, 2006, hal 9.

kerusakan daerah sasaran. Memang sangat jelas bahwa banyak penelitian telah dilakukan tentang sistem senjata yang mampu berfungsi baik dalam dan dari antariksa. Tampak bahwa negara kekuatan antariksa menghindari penyebaran yang nyata senjata di antariksa. Namun, dengan perkembangan kemajuan program Rudal Balistik Pertahanan negara-

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

negara saat ini, sangat memungkinkan jika sebagian orang berpendapat bahwa AS akan berusaha untuk menempatkan senjata di antariksa. Namun demikian. setiap keputusan untuk melakukan penempatan senjata di antariksa akan bergantung pada kerangka hukum saat ini, mengingat bahwa penyebaran senjata di antariksa dalam pelaksanaannya harus konsisten dengan penggunaan antariksa yang diizinkan saat ini. §

8

8


FOCUS

KEANTARIKSAAN DI PALAGAN LAUT CINA SELATAN

Listyanto Pendahuluan

K

awasan Laut Cina Selatan (LCS) merupakan kawasan strategis bagi Indonesia dan bagi beberapa negara pantai (litoral) di sekitarnya serta bagi negaranegara maju yang melakukan perdagangan atau eksplorasi sumber daya alam secara intensif. Namun demikian diantara mereka, adalah Cina, yang paling getol dan serius melakukan klaim yang bertabrakan dengan klaim negara-negara pantai lainnya.

After the mission in the South China Sea and the East China Sea, the flotilla passed along crucial straits, including the Sunda Strait, Lombok Strait, and Makassar Strait to enter the Indian Ocean and the West Pacific Ocean for the drill. Focusing on anti-aircraft and anti-missile defense as well as antisubmarine action, the training enhanced the navy's far-sea combat abilities and capacity to safeguard marine rights and interests, said Commander of the Nanhai Fleet Jiang Weilie, who also serves as the flotilla's commander. CCTV.COM 02-11-2014 21:08 BJT.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

dari sisi pertahanan, maneuver Cina dapat dikatakan sebagai ancaman yang bertumbuh. Pertumbuhan itu dapat disebut secara berurutan sebagai berikut: • mulai dari nelayan yang dikatakan secara tradisional melaut sampai perairan Natuna, • kemudian nelayan tersebut di kawal oleh coast guard, • kemudian klaim perairan dengan 9 dottedlines dan mengabaikan counterclaim negaranegara pantai lainnya, • kemudian nelayan bukan hanya di kawal coast guard tetapi juga kapal militer,

9 9


FOCUS • kemudian kapal militer bukan hanya sampai di perairan Natuna tetapi bermaneuver sampai samudera Hindia di selatan pulau Jawa, dan melakukan maneuver-maneuver latihan tempur sebagaimana terlihat pada gambar di atas, • kemudian mengabaikan keputusan Permanent Court of Arbitration (PCA) yang mengadilinya atas counter claim Filipina, • dan seterusnya kedepan akan tumbuh seperti apa?

EQUATORSPACE.COM

Hemat penulis, ini akan mencapai klimaksnya pada saat posisi Cina paling tidak secara psikologis, dalam hal ini karena kekuatan ekonominya, melampaui rival utamanya yaitu Amerika Serikat. Dewan Nasional Intelejen AS meramalkan hal itu akan terjadi sebelum 2030. Demikian pula ramalan Arvind Subramanian, kepala penasihat ekonomi pemerintah India, yang tampaknya cukup banyak menjadi referensi berbagai kajian, juga mengatakan demikian sebagaimana digambarkan berikut ini.

Nah lalu kita sebagai salah satu negara pantai dari LCS yang wilayah perairannya juga kena terjang 9 dotted-lines harus bagaimana? Mari kita diskusikan secara singkat di sini. Kemungkinan kekuatan yang dikerahkan di Laut Cina Selatan bila harus terjadi perang. Bila harus terjadi upaya paksa di LCS, maka kemungkinan besar akan langsung melibatkan berbagai pihak yang selama ini

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

telah dan sedang ber-maneuver di kawasan tersebut. Mereka, di samping Cina itu sendiri, adalah Amerika Serikat, Rusia, negara-negara yang tergabung dalam Five Power Defence Arrangements (FPDA), India dan Jepang di samping negara-negara pantai itu sendiri. Negara-negara tersebut baik secara individu ataupun paling tidak terafiliasi, dalam konteks penguasaan teknologi, menguasai teknologi alutsista konvensional seperti yang kita miliki produknya, dalam wujud misalnya kapal, tank dan pesawat tempur. Namun mereka juga menguasai teknologi yang kita belum kuasai, yaitu teknologi keantariksaan dan siber, serta teknologi nuklir, baik yang diterapkan untuk persenjataan khusus maupun diterapkan melekat pada alutsista konvensionalnya.

8

Kombinasi antara yang konvensional dengan keantariksaan dan siber, sangat mendongkrak efisiensi dan efektifitas dari alutsista konvensional. Terlebih lagi bila ditambah dengan pengusaaan teknologi nuklir dalam triad (SLBM, ICBM dan bomber), maka tingkat efektifitasnya akan mencapai puncaknya yaitu langsung menentukan kemampuan survival bangsa, karena adanya kemampuan memukul dengan kepastian menghancurkan (assured destruction) kepada lawannya. Untuk menilai seberapa besar efektifitas ancaman nuklir tersebut, dapat diingat peristiwa Hiroshima dan Nagasaki pada perang dunia kedua, yang langsung melumpuhkan Jepang secara telak, padahal Jepang sangat perkasa secara konvensional pada saat itu. Atau betapa efektinya alasan Bush untuk menggerakkan pasukannya menggempur Irak dengan alasan adanya potensi ancaman nuklir dari negara tersebut. Serta betapa efektifnya ancaman nuklir Korea Utara selama ini terhadap kepentingan AS. Unsur-unsur Keantariksaan dalam kekuatan yang akan di gelar di Laut Cina Selatan Kekuatan yang mungkin di gelar di palagan LCS, mengingat sebenarnya bagi negara-

10 10


FOCUS negara besar terkait wilayah itu adalah merupakan extention saja, bukan main territory, maka kemungkinan besar tidak sampai kepada penggunaan nuklir, namun karena remote-nya kawasan itu, maka akan sangat intensif penggunaan teknologi keantariksaan, dengan infrastruktur utama berupa gugus satelit dan ground control-nya, baik untuk keterhubungan komunikasi, navigasi maupun penginderaan serta berbagai aplikasi-aplikasi lainnya di bidang persenjataan, komando dan kendali jarak jauh dalam rangka akuisisi dan pelumpuhan atau penghancuran sasaran. Aplikasi dari teknologi keantariksaan tersebut diantaranya dapat berupa: • Navigasi (GPS) dan komunikasi: baik untuk platform (kapal, pesawat, ranpur), maupun personil dengan cakupan yang sangat luas, bahkan dapat meliputi seluruh permukaan bumi. • Penginderaan: baik secara langsung dengan sensor yang dipasang di satelit, maupun dengan sensor yang lebih dekat dengan bumi, atau di bumi dan kemudian hasilnya dipancarkan melalui jaringan satelit. • Persenjataan: dengan mengkombinasikan aplikasi di atas (navigasi, komunikasi dan penginderaan), maka memungkinkan dibuatnya persenjataan jarak jauh dengan akurasi yang tetap tinggi. Nasib penguasa dan non penguasa teknologi keantariksaan Penguasaan teknologi keantariksaan butuh waktu panjang, dan butuh visi tajam kedepan. Untungnya sejak 1963 visi seperti itu sudah ada dan melembaga, yang kemudian mendasari didirikannya LAPAN. Namun sangat disayangkan implementasi di lapangan sangat kurang, sebagaimana pernah kami singgung pada edisi ES sebelumnya, yaitu bila kita bandingkan misalnya dengan India yang telah mampu meluncurkan satelit mendekati Mars atau Korea Utara yang programnya dimulai belakangan (tahun 1980an) namun telah berhasil mengorbitkan sendiri satelit observasi di tengah adanya sanksi dari PBB, Amerika Serikat, Masyarakat Eropa, Jepang dan Korea Selatan. Lalu apa keuntungan yang signifikan bagi negara-negara penguasa teknologi keantariksaan dibanding negara-negara yang belum menguasainya?

EQUATORSPACE.COM

EQUATORSPACE.COM

Maneuver militer Cina pada peta di atas, di tengah maneuver kekuatan militer lain saat ini di kawasan Pasifik dan Laut Cina Selatan, bisa menjadi efektif, hanya dan hanya bila menguasai teknologi keantariksaan. Karena maneuver itu membutuhkan kelancaran dan kejelasan koordinasi antara unsur-unsur yang di lapangan dengan pusat komando dan kendali di pangkalan utamanya yang terpisah ribuan kilometer, dan itu hanya dapat dilakukan karena mereka menguasai infrastruktur keantariksaan. Dengan kata lain, bagi para penguasa teknologi keantariksaan akan memungkinkan melakukan maneuver-maneuver jarak jauh, memungkinkan kekuatan konvensionalnya dioperasikan secara lebih efektif dan efisien. Selain itu, memungkinkan pula berbagai pengembangan aplikasi seperti pengendalian pesawat terbang atau kapal tanpa awak atau rudal jarak jauh. Di luar bidang pertahanan juga akan sama banyaknya peluang-peluang berbagai pemanfaatan, baik yang “serius” misalnya di bidang pengawasan dan eksplorasi sumber kekayaan alam, atau sekedar untuk ojek on-line seperti kami tulis pada ES edisi sebelumnya. Nah lalu bagaimana dengan negara-negara yang belum menguasai teknologi keantariksaan seperti Indonesia? Gampangnya bisa dikatakan bahwa pada dasarnya tidak dapat menikmati semua itu, khususnya di bidang pertahanan negara, karena itu menyangkut daya survival bangsa. Pengerahan dan proyeksi kekuatan pasti akan kalah cepat, efektif dan efisien. Peluang pengembangan pengendalian pesawat terbang atau kapal tanpa awak atau rudal jarak jauh akan mengalami kendala besar, karena tidak memungkinkannya pemanduan jarak jauh itu sendiri. Kalaupun kita sekarang bisa menikmati, seperti GPS yang terpasang di mobil atau HP kita, atau kita bisa menyelenggarakan ojek on-line, maka itu masih pada ranah komersil yang didapat melalui sewa. Dalam penyelenggaraan pertahanan negara yang professional, yang pada “tanggal mainnya” akan mempengaruhi survival bangsa kita maupun lawan, maka tidak mungkin kita mengandalkan jasa-jasa keantariksaan untuk komando dan kendali dengan cara sewa seperti itu.

11

11


FOCUS Di mana posisi Indonesia? Dapat dikatakan malang, karena dua hal, yaitu pertama secara komparatif dihadapkan dengan negara-negara yang ber-maneuver di kawasan strategis kita, maka kita sangat ketinggalan. Dalam kontek kemandirian, kita belum secara signifikan menguasai teknologi keantariksaan. Kedua, tanpa harus melihat kemampuan negara-negara sekitar, hanya dengan melihat dirinya sendiri sebagai negara, dengan konstelasi kepulauan yang terdiri dari belasan ribu pulau, luasan lebih dari 8 juta km2, dan posisi silang di antara dua samudera dan dua benua, maka sudah dengan sendirinya harus unggul dalam penguasaan medan dan jarak, yang jawabannya adalah melalui penguasaan teknologi keantariksaan, disamping penerbangan dan perkapalan. Maka sebenarnya sudah sangat tepat amanat pemerintah pada tahun 1963 dalam pembentukan LAPAN, yang mengamanatkan bahwa kita harus mengembangkan dan menguasai teknologi keantariksaan dan kedirgantaraan. Harapannya adalah bahwa pertahanan negara walaupun dengan kekuatan konvensional yang sama seperti sekarang, atau bahkan lebih kecil sekalipun, namun bila dikombinasi dengan penguasaan teknologi keantariksaan, maka akan menjadi jauh lebih efektif dan efisien, karena menjadi berkemampuan network centric warfare, sebagaimana terlukiskan dalam gambar berikut ini. Penyebab ketinggalan Semula penulis menduga bahwa hal ini kemungkinan terjadi karena kesibukan pemerintah pada awal kemerdekaan menghadapi berbagai pemberontakan bersenjata yang cukup banyak menguras energi pertahanan, sehingga perhatian lebih tercurah ke dalam negeri guna menjaga kedaulatan negara dan keutuhan wilayah, sehingga menjadi inward looking.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Namun kita bisa buka catatan sejarah bahwa outward looking juga kuat mewarnai kegiatan pemerintah sejak awal kemerdekaan, seperti adanya keaktifan pemerintah dalam menggagas dan menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika, atau perjuangan penegasan teritori perairan yang kemudian menghasilkan Deklarasi Djuanda dan UNCLOS, pengiriman pasukan ke misi PBB di Congo, dan operasi ganyang Malaysia.

Lalu mengapa kita dapat tertinggal begitu jauh? Hemat penulis paling kurang ada dua hal yang menjadi penyebab, yaitu: • Kurang sistematisnya implementasi amanat. Sebagaimana pernah penulis singgung pada edisi sebelumnya, bahwa pada 1963 telah terbit Keppres tentang pendirian LAPAN, yang di dalamnya mengamanatkan perlunya penguasaan dan pemanfaatan teknologi kedirgantaraan dan keantariksaan, dengan alasan yang sangat mendasar yaitu untuk kepentingan kesejahteraan dan survival bangsa. Amanat tersebut kemudian juga diteruskan secara lebih kuat pada tahun 2013 melalui undang-undang tentang Keantariksaan. Namun demikian, sampai saat ini belum terlihat ada langkah nyata sistematis yang signifikan menuju terwujudnya amanat

12 12


FOCUS tersebut, meskipun menurut hemat penulis sudahlah sangat mendesak. Untuk menilai keseriusan, atau ada tidaknya gerakan tersebut secara sistematis, dapat dilakukan dengan mengacu pada tatacara penyusunan rencana pembangunan nasional (PP/40/2060). Cobalah tengok terkait penguasaan dan pendayagunaan teknologi keantariksaan sudahkah: 1. tersusun pemikiran/ konsepsi visioner, 2. masuk dalam rencana pembangunan jangka panjang (RPJP), yang ditetapkan dengan undang-undang, 3. masuk dalam rencana pembangunan jangka menengah (RPJM), yang ditetapkan dengan perpres, dan

• Mental blocking. Mohon maaf kembali penulis sampaikan seperti pada edisi sebelumnya bahwa kemungkinan akibat penjajahan yang ratusan tahun lamanya, disertai rekayasa dari pihak penjajah itu sendiri, maka kita menjadi sangat kurang percaya diri untuk berinovasi atau berinvensi dalam bidang teknologi tinggi. Ada kecenderungan lebih mudah mengidentifikasi kendala ketimbang peluang, sebagaimana sebagian besar kita menyikapi Missile Technology Control Regime (MTCR) dalam bidang peroketan. Maka hingga saat ini, terminologi alih teknologi lebih popular diucapkan dan ditulis oleh birokrasi ketimbang penelitian, pengembangn dan rekayasa (litbangyasa). Bahkan setelah secara tegas misalnya tertulis baik dalam Keppres 1963 tersebut di atas, maupun Undang-undang tentang Industri Pertahanan tahun 2012. Rekomendasi.

4. masuk dalam rencana kerja pemerintah (RKP), yang ditetapkan dengan perpres. 5. Masuk dalam APBN yang ditetapkan dengan undang-undang. Bila tidak ada aliran lengkap dan sistematis dari nomor satu sampai lima, walaupun ada secara parsial, termasuk dianggarakan dalam APBN sekalipun, maka amanat visioner akan sulit tercapai, karena pelaksanaannya akan mudah goyah diperjalanan.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Agar dapat mengimbangi, sukur-sukur mengungguli, efektifitas postur (kekuatan, kemampuan dan gelar) pertahanan lawan, maka atas ketertinggalan anatomi postur, berupa belum terkuasainya teknologi keantariksaan, disarankan kepada pemerintah untuk segera merumuskan secara sistematis dan komprehensip, mulai dari konsepsi visioner, , masuk dalam RPJP, RPJM, RKP dan APBN, dan melaksanakannya dengan gigih dan konsiten, mengingat ada batasan waktu dan terkait dengan survival bangsa. Tentu dengan melibatkan semua pemangku kepentingan, mulai dari lembaga litbang, akademisi, praktisi, pakar, industri dalam negeri, pengguna dan berbagai pihak yang dapat berkontribusi mewujudkan amanat tentang keantariksaan. § Cibubur, Januari 2017

13 13


ANGKATAN BERSENJATA LUAR ANGKASA FOCUS

SURYA WITOELAR

S

emua angkatan bersenjata modern, baik Amerika Serikat (AS) dengan sekutu NATO nya, Rusia maupun Cina sangat bergantung pada penggunaan banyak satelit untuk dapat berfungsi. Satelit navigasi, satelit pengindraan, satelit telekomunikasi dan satelit mata-mata memainkan peranan penting dalam fungsi C4IFR - Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance and Reconnaissance dan menjadi tulang punggung semua perangkat militer modern. Mengingat pentingnya satelit bagi angkatan bersenjata modern, sangat logis bahwa untuk melemahkan sistem musuh, sistem satelit mereka perlu dirusak dan dihancurkan. Seiring dengan semakin pentingnya satelit untuk militer, semakin besar juga ancaman dari serangan musuh. Angkasa luar yang selama ini dipergunakan

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

secara damai, belum tentu akan selamanya damai, karena peperangan besar di bumi, pasti akan berdampak pada perang besar di luar angkasa. Amerika Serikat – Super Power di Bumi, Super Power di Luar Angkasa Sebagai kekuatan militer terbesar di dunia, AS sangat tergantung pada penggunaan satelit dan tentunya memiliki kekuatan ASAT – Antisatellite weapons terbesar di dunia. Seluruh kekuatan militer luar angkasa AS dikendalikan oleh US AFSPC - Air Force Space Command yang dipimpin seorang jenderal bintang 4. Bukan hanya mengendalikan aset-aset luar angkasa AS, US AFSPC juga memiliki kemampuan menghancurkan satelit-satelit musuh. Tanpa satelit, sistem navigasi rudal tidak akan berfungsi, drone tidak dapat dikendalikan,

14 14


FOCUS rudal Vought ASM-135 ASAT yang diluncurkan dari pesawat F15 yang dimodifikasi khusus. Pengembangan senjata anti-satelit terus dikembangkan dan pada tahun 2008 AS melakukan uji coba menghancurkan satelit yang tidak terpakai menggunakan rudal RIM-161 ABM yang diluncurkan dari kapal laut.

AFSPC sebagai kekuatan pertahanan luar angkasa Amerika Serikat memiliki anggaran tahunan lebih besar dari seluruh anggaran pertahanan Indonesia

Cina – Super Power Militer Baru Cina sebagai super power ekonomi dunia akhirakhir ini juga meningkatkan ambisi militernya dengan pengembangan kekuatan militer yang semakin besar dan semakin modern. Seperti kekuatan militer modern lainnya, Cina juga sangat bergantung dengan penggunaan satelit. Saat ini Cina adalah negara dengan jumlah satelit operasional kedua terbesar di luar angkasa setelah Amerika.

pasukan tidak dapat berfungsi sebagai satu kesatuan tanpa komunikasi, sistem peringatan tidak dapat mendeteksi ancaman. Bukan hanya militer, kehidupan masyarakat dan ekonomi AS sangat bergantung pada satelit-satelit. Transaksi perbankan, pengendalian lalu lintas maupun angkutan kereta api bergantung pada signal GPS untuk lokasi maupun signal waktu. Pilot pesawat tidak dapat berkomunikasi dengan darat, tanpa patokan posisi navigasi dan tanpa informasi cuaca dari satelit. Vitalnya fungsi angkasa luar bagi militer dan kehidupan Amerika, serta fatalnya apabila infrastruktur tersebut diserang membuat fungsi US AFSPC sangat penting. US AFPSC memiliki lebih dari 38,000 personil dengan anggaran tahunan lebih dari US$ 8.9 Milyar setara Rp. 120 Trilliun. Sebagai perbandingan anggaran tersebut setiap tahunnya dapat dipakai membeli lebih dari selusin sistem SatKomHan yang oleh TNI dan Pemerintah Indonesia akan digunakan selama hampir 20 tahun. Kemampuan menghancurkan satelit diorbit dimiliki AS sejak tahun 1985 menggunakan

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Orbit ribuan pecahan satelit Cina yang ditembak dalam uji coba rudal tahun 2007

Kemampuan perang anti-satelit Cina terbukti sejak 2007 menggunakan rudal SC-19 ASAT, Cina menghancurkan satelit cuaca tidak terpakai yang menyebabkan penyebaran ribuan serpihan berbahaya di orbit. Sejak 2013 Cina diperkirakan telah memiliki kemampuan untuk menghancurkan satelit di orbit GEO bukan hanya orbit LEO. Tindakan Cina melakukan uji coba penembakan ini mendapat kecaman Internasional karena dianggap melakukan militerisasi luar angkasa. Lebih lagi Cina menembak satelit yang sedang di orbit sehingga serpihannya tetap di orbit, berbeda dengan AS yang menembak satelit yang sedang proses jatuh sehingga serpihannya jatuh dan terbakar di atmosfir. Atas tindakan Cina tersebut,

15 15


FOCUS AS melakukan demonstrasi tandingan penembakan satelit setahun kemudian di tahun 2008.

Sampai dengan akhir 2016 sudah 5 satelit rusak tertabrak sampah luar angkasa.

Uni Sovyet, pendahulu Rusia memiliki program Anti-Satelit sejak 1960 dan diakhiri pada tahun 1983. Dengan teknologi luar angkasa yang dimiliki Rusia, tidak terlalu sulit mengembangkan sistem antisatelit.

Kessler Syndrome adalah keadaan dimana sampah angkasa berjumlah terlalu banyak dimana tabrakan angkasa menyebabkan pecahannya menabrak benda angkasa lain dan seterusnya sehingga menjadikan reaksi beranti tabrakan yang membuat sampah angkasa bertambah banyak secara eksponensial. Apabila hal ini terjadi, manusia tidak lagi dapat menggunakan angkasa luar, karena orbital bumi akan terlalu penuh dengan sampah.

Pada 2015 dan 2016 Rusia berhasil menggunakan rudal A-235 Nudol untuk menghancurkan satelit di orbit dan terus mengembangkan persenjataan perang luar angkasa.

Perang luar angkasa tentunya akan menciptakan banyak sekali sampah luar angkasa, sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi Kessler Syndrome. Hal ini adalah ‘Kiamat’ bagi penggunaan luar angkasa.

Rusia – Super Power Lama Dengan Teknologi Baru

Kessler Syndrome – ‘Kiamat’ Penggunaan Angkasa Luar Saat ini diperkirakan ada sekitar 170 juta obyek buatan manusia mengitari Bumi dimana sekitar 1 juta diantara berukuran lebih dari 1 cm. Serpihan-serpihan ini memiliki kecepatan yang sangat tinggi, lebih dari 10KM per detik sehingga memiliki energy kinetik yang sangat tinggi.

Lebih dari itu, negara pemilik kemampuan perang luar angkasa adalah AS, Cina dan Rusia yang ketiganya adalah negara berkemampuan perang nuklir. Apabila terjadi perang luar angkasa, sangat besar kemungkinan perang di Bumi berekskalasi hingga ke perang nuklir yang berarti juga ‘Kiamat’ di Bumi. Selain AS, Cina dan Rusia negara yang sedang mengembangkan kemampuan perang luar angkasa adalah India dan Israel. Semoga perlombaan adu senjata luar angkasa ini hanya untuk menakut-nakuti lawan dan tidak pernah digunakan. Semoga umat manusia dapat meredam ambisi kekuasaan dan kehausan akan perang, sehingga tercipta tidak hanya damai di Bumi tapi juga damai di luar angkasa. §

Visualisasi sampah luar angkasa buatan manusia dengan ukuran diatas 1 cm saat ini

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

16 16


FOCUS

40 TAHUN

SATELIT KOMUNIKASI INDONESIA (3) BERPERAN MENJAGA DAN MEMPERKOKOH

KESATUAN & PERSATUAN NUSANTARA

Bambang Tejasukmana Leader Space Policy & Regulation

Satelit Seri Garuda

S

atelit Garuda-1 beroperasi pada jalur frekuensi L-band. Garuda-1 melayani pengguna di wilayah-wilayah terpencil di darat dan laut yang sulit mendapatkan akses terhadap jaringan komunikasi biasa. Akses terhadap Garuda-1 bisa didapatkan dengan menggunakan perangkat yang diberi nama umum, Telepon Satelit. Operator Garuda-1 adalah perusahaan satelit telekomunikasi regional yang bernama Asia Cellular Satellite(ACeS). Pelayanan ACeS mencakup wilayah kerja di negara-negara: Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Srilangka, Vietnam, Cina dan India. ACeS merupakan perusahaan patungan dari PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN), Lockheed Martin Global Telecommunication (LMGT), Jasmine International Overseas Ltd of Thailand dan Philippine Long Distance Telephone Co. (PLDT).

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

17

1217


FOCUS

Pelayanan ACeS dipasarkan oleh penyedia jasa di enam negara yaitu: PT. Pasifik Satelit Nusantara di Indonesia, ACeS Regional Services di Thailand, Smart ACeS di Filipina, TMTouch/Celcom di Malaysia, AVCO di Nepal and Mobitel di Sri Lanka (sumber: Wikipedia). PT. PSN berusaha untuk mewujudkan visinya yaitu: "melayani yang belum terlayani". Dengan menyediakan jasa telekomunikasi di daerahdaerah terisolasi. PT. PSN memberi pelayanan telepon satelit dengan merek dagang Byru dengan menggunakan perangkat telepon Ericsson R190. Berapa lama kemudian, Ericsson R190 diganti nama menjadi Byru R190 setelah Ericsson menghentikan produksi Ericsson R190. Pengguna Telepon Satelit dapat menggunakan teleponnya untuk menerima dua jenis saluran yaitu saluran langsung ke satelit atau saluran GSM. Pada daerah yang dilayani jaringan GSM, telepon dapat mengakses jaringan GSM yang biayanya murah sementara di daerah terpencil atau di laut dan samudera yang tidak terhubung dengan jaringan GSM, perangkat dapat terhubung langsung ke satelit. Meskipun dioperasikan oleh perusahaan patungan regional, Satelit Garuda berbendera Indonesia dan dioperasikan oleh PSN. Satelit ini ditempatkan pada slot orbit 123o BT dan dikendalikan oleh sebuah stasiun kendali di Batam. Garuda-1 diluncurkan pada tanggal 12 Februari tahun 2000 dan berhenti beroperasi pada tahun 2015. Satelit Garuda-2 pernah direncanakan untuk dibangun dan dioperasikan untuk melanjutkan operasi Garuda-1 namun program tersebut tidak dilanjutkan karena jumlah pengguna telepon satelit ternyata jauh lebih kecil dari perkiraan awal. Untuk melanjutkan pelayanan telepon bergerak ACeS menjalin kerjasama dengan Inmarsat. Dengan kerjasama itu pelayanan telepon satelit Byru dari PSN masih dapat dilanjutkan. Satelit Seri PSN Satelit seri PSN dioperasikan oleh PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN). Bisnis PT PSN berawal

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

dari pemanfaatan satelit Palapa B1 yang operasinya digantikan oleh Palapa B4. Dengan pergantian operasi tersebut, slot orbit Palapa B1 diisi oleh Palapa B4. Palapa B1 sendiri pada dasarnya masih berfungsi, hanya saja volume bahan bakar yang diperlukan untuk mengendalikan satelit sudah jauh berkurang. Bahan bakar kimia (hidrazin) digunakan untuk mengendalikan satelit agar tetap berada pada slot orbitnya. Tanpa adanya pengendalian, satelit Palapa B1 akan bergerak dalam kondisi yang disebut “incline orbit”. Satelit dalam kondisi “incline orbit” masih dapat digunakan dengan mengendalikan antena stasiun bumi agar bergerak memposisikan arahnya mengikuti pergerakan satelit. Dengan mengoperasikan Palapa B1 dalam kondisi “incline orbit”, Palapa B1 masih bisa digunakan antara tiga sampai dengan empat tahun. Sisa bahan bakar yang masih tersedia di tanki Palapa B1 masih cukup untuk digunakan menggeser Palapa B1 ke posisi 136o BT yang saat itu slot orbitnya secara administrasi dipegang oleh Tonggasat. Setelah PT PSN mendapat ijin pemerintah Indonesia dan urusan slot orbit dapat diselesaikan dengan Tonggasat, satelit digeser ke slot orbit 136o BT dan diganti nama menjadi satelit Palapa Pasifik. Setelah bisnis pengaktifan kembali Palapa B1 memberikan keuntungan, PT. PSN berhasil mendapatkan izin untuk membeli masingmasing enam transponder extended C-band pada satelit Palapa C1 dan C2. Menurut Gunther Space, PT. PSN membeli juga satelit Sinosat-1 yang berada pada posisi slot orbit 110.5o BT dan diberi nama PSN-V. PSN terus meningkatkan kemampuan pelayanannya dengan membangun satelit komunikasi baru dengan transponder lebih banyak yang diberi nama PSN-VI. Tahun 2013 PSN menandatangani kontrak pengembangan satelit PSN-VI dengan Boeing. PSN-VI akan menggunakan model bus satelit 702SP hasil inovasi Boeing.

18

18


FOCUS Dalam kontrak dengan Boeing, PSN-VI akan diluncurkan dengan roket peluncur Falcon-9 bersama sebuah satelit lain yang lebih kecil. PSN-VI akan ditempatkan pada slot orbit 146o BT. Satelit PSN VI memiliki 56 transponder yang terdiri dari 36 C-band dan 18 Ku-band. Pada Tahun 2014, PSN membuat kontrak baru dengan Space Systems/Loral (SSL), Palo Alto, California. Kontrak baru dibuat karena kontrak dengan Boeing dibatalkan. Pembatalan dilakukan setelah Boeing gagal menemukan pengguna yang akan meluncurkan pasangan satelit PSN-VI. Pada kontrak dengan SSL desain satelit PSN VI akan menggunakan platform bus SSL-1300 dengan 56 transponder yang terdiri dari 38 C-band dan 18 Ku-band dalam high-throughput transponders. Kontrak dengan SSL mencakup kontrak peluncuran dengan roket peluncur Falcon9. Berdasarkan kontrak baru tersebut PSNVI rencananya akan diluncurkan pada awal tahun 2017. Satelit BRISat BRISat adalah satelit komunikasi baru yang berhasil dioperasikan untuk menunjang operasional Bank BRI. Sesuai dengan namanya, operator satelit ini adalah PT. Bank Rakyat Indonesia Pesero TBK (PT. BRI). PT. BRI menjadi operator satelit komunikasi nasional ke lima setelah PT. Telkom, PT. Indosat, PT. MCI dan PT. PSN. Satelit BRISat dan sistem stasiun buminya berhasil dioperasikan pada tahun 2016 lalu. Berdasarkan informasi dari Gunther Space dan PT. BRI (http://bri.co.id/news/163), PT BRI menandatangani MOU dengan Space System/Loral, LLC (SSL) dari Amerika Serikat dan ArianeSpace dari Perancis pada tahun 2014. BRIsat dibangun dengan platform SSL-1300 yang dilengkapi 36 transponder C-Band dan 9 transponder Ku-Band. Beberapa transponder secara khusus dialokasikan bagi kepentingan pemerintah Indonesia.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

BRIsat menjangkau wilayah layanan di seluruh Indonesia serta negara-negara di wilayah ASEAN, Asia Timur (termasuk sebagian Cina), sebagian Pacific (Hawaii) serta Australia Barat. Menurut informasi BRI, dalam mendesain BRIsat, BRI berusaha memaksimumkan filing satelit Indonesia di International Telecommunication Union (ITU). Dengan pengoperasian satelit BRIsat, filing satelit 150.5o BT ditingkatkan statusnya dari “Coordinated” menjadi “Notified”. Dengan status baru tersebut, pengoperasian BRIsat menjadi solusi untuk kesinambungan pengisian filing orbit 150.5o BT. BRIsat berhasil diluncurkan pada hari Sabtu tanggal 18 Juni 2016 jam 18.38 waktu Guyana. Peluncuran dilaksanakan di fasilitas peluncuran satelit Kourou, Guyana milik Perancis dengan roket Ariane. BRIsat diluncurkan bersama dengan satelit Echostar XVIII dan berhasil ditempatkan pada posisi geostasioner 150.5o BT. Dengan keberhasilan peluncuran ini, Indonesia telah meluncurkan 16 satelit komunikasi geostasioner dan sekaligus menyelamatkan filling satelit 150.5o BT. Dengan keberhasilan peluncuran dan pengoperasian BRIsat maka filling satelit 150.5 akan terjamin sampai dengan berakhirnya operasi BRIsat dan pemerintah Indonesia akan memiliki cukup waktu untuk membangun strategi dan kebijakan untuk mempertahankan seluruh filling satelit Indonesia. BRI menyampaikan pula bahwa sebagian transponder akan dialokasikan kepada pemerintah Republik Indonesia. BRIsat dimanfaatkan oleh pemerintah untuk komunikasi langsung dengan atau antar kantorkantor perwakilan Indonesia di negara-negara yang terjangkau komunikasi BRIsat yaitu Cina, Hong Kong, Jepang, Kamboja, Korea Selatan, Macau, Malaysia, Myanmar, Taiwan, Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam, Papua New Guinea, dan Australia. BRIsat dimiliki dan dioperasikan sendiri oleh BRI, sehingga seluruh proses enkripsi dan kontrol saluran komunikasi sepenuhnya

19

19


FOCUS dikelola oleh institusi Indonesia. Dari sisi keamanan informasi, SSL selaku manufaktur menyanggupi untuk sepenuhnya memenuhi spesifikasi khusus yang diminta oleh BRI dan menjamin tidak ada peralatan penyadapan yang dioperasikan pada satelit BRIsat. Dengan penambahan pembangunan dan NO

pengoperasian BRISat maka satelit komunikasi Indonesia yang telah, sedang dan akan dioperasikan dapat disusun seperti pada Tabel 1. PENGELOLAAN FILLING SATELIT INDONESIA Rangkaian informasi tentang satelit komunikasi Indonesia yang telah Operator disampaikan menunjukkan dinamika pengelolaan satelit Perumtel yang bergantung pada perkembangan situasi sosial, Perumtel politik dan ekonomi negara. Perumtel Dari rangkaian informasi tersebut, penulis Perumtel menggarisbawahi empat waktu penting dalam perkembangan Perumtel kebijakan tentang filling satelit PT Telkom komunikasi Indonesia yaitu: Perumtel

Satelit dan Slot Orbit Palapa A-1 o 83 BT Palapa A-2 o 77 BT Palapa B-1 o 108 BT Palapa B-2 o 118 BT Palapa B-2P o 113 BT Palapa B-2R o 108 BT Palapa B-4 o 118 BT Palapa C-1 o 113 BT

Peluncuran

Transponder

1976

12 C-Band

1977

12 C-Band

1983

24 C-Band

gagal

24 C-Band

1987

24 C-Band

1990

24 C-Band

1992

24 C-Band

1996

24 C band 11 ext C-Band 6 Ku-Band

9

Palapa C-2 o 150.5 BT

1996

24 C-Band 6 ext C band 6 Ku-Band

PT Satelindo PT Indosat

10

Palapa D o 113 BT

2009

PT Indosat

11

Telkom-1 o 108 BT Telkom-2 o 118 BT Telkom-3

1999

24 Cband 11 ext C-Band 6 KU-Band 24 C band 12 exC-band 24 C-band

PT Telkom

14

Telkom-3S o 118 BT

2017

15

Telkom-4 o 108 BT Cakrawarta1 o 107.7 BT Garuda-1 o 123 BT BRISat o 150.5 BT

2018 1997

32 C-Band 8 ext C band 10 Ku-Band 24 C-Band 8 ext C-Band 10 Ku-Band 48 C-Band 12 ext C 5 S-Band

2000

110 L-Band

PT PSN

2016

PT BRI

PSN-VI o 146 BT

2018

24 C-Band 12 exC-Band 9 Ku-Band 36 C-band 18 Ku-band (HTS)

1 2 3 4 5 6 7 8

12 13

16 17 18

19

2005 Peluncuran gagal

Tabel 1: Daftar satelit komunikasi Indonesia EQUATORSPACE.COM

EQUATORSPACE.COM

PT Telkom Perumtel PT Telkom Satelindo

PT Telkom PT Telkom

PT Telkom

PT Telkom PT MCI

PT PSN

1. Tahun 1973, ketika Presiden Soeharto menugaskan Direktorat jenderal Pos dan Telekomunikasi (Dirjen Postel) untuk meluncurkan dan mengoperasikan sistem komunikasi satelit domestik yang dapat mencakup seluruh wilayah kepulauan Indonesia. 2. Tahun 1993, ketika pemerintah memberikan hak pengelolaan satelit Palapa kepada PT. Satelindo. Pada saat itu pengelolaan filling satelit dialihkan dari BUMN kepada perusahaan swasta. 3. Tahun 2004, ketika pemerintah melakukan divestasi PT. Indosat sehingga kepemilikan mayoritas PT. Indosat dipegang oleh perusahaan asing. PT. Indosat pada waktu itu telah mengakusisi PT. Satelindo dan memegang pengelolaan satelit Palapa. 4. Tahun 2014 ketika PT. BRI diberi hak untuk mengoperasikan BRIsat pada slot orbit 150,5o BT. Pada saat itu pemerintah memberikan

20

20


FOCUS izin kepada BRI untuk menyelenggarakan satelit pada Slot orbit dan alokasi frekuensi di 150.5o BT. Pemerintah mulai menertibkan pengelolaan slot orbit Indonesia dengan menerbitkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 13/P/M.KOMINFO/8/2005 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi yang Menggunakan Satelit. Peraturan menteri Nomor tersebut kemudian diperbaiki dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 37/P/M.KOMINFO/12/2006. Tahun 2014 Kementerian Informasi dan Komunikasi menerbitkan peraturan baru yang lebih rinci dengan menerbitkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi Nomor Nomor 21 tahun 2014 tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio Untuk Dinas Satelit dan Orbit Satelit. Peraturan Menteri di atas memperjelas ketentuan tentang slot orbit sebagai aset negara. Pemerintah bertanggung jawab agar seluruh slot orbit yang dipegang atas nama negara Indonesia dapat dipertahankan dan karena itu pemerintah berwenang untuk mengatur para pemegang hak untuk mentaati seluruh peraturan yang telah ditetapkan. Hak atas penggunaan slot orbit dan alokasi frekuensinya akan dialihkan kepada penyelenggara satelit lain apabila penyelenggara yang memegang haknya tidak mampu membangun dan mengoperasikan satelit baru untuk menggantikan satelit yang telah habis masa operasinya. ยง

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

SUMBER INFORMASI/ DAFTAR PUSTAKA 1. Dr. A. Ph. Jiwatampu, BERANI MENGHADAPI TANTANGAN TEKNOLOGI SATELIT: TEROBOSAN NASIONAL DAN PERAN INDONESIA DI FORUMFORUM INTERNASIONAL, (http://spacejournal.ohio.edu/issue8/his_arnold 1.html) 2. Dr. Marwah Daud Ibrahim, PLANNING AND DEVELOPMENT OF INDONESIA'S DOMESTIC COMMUNICATIONS SATELLITE SYSTEM PALAPA, (http://spacejournal.ohio.edu/issue8/his_marwa h1.html). 3. Tonda Priyanto, PERJALANAN TELKOM DALAM MENGOPERASIKAN SATELIT KOMUNIKASI UNTUK MELAYANI KEPULAUAN INDONESIA, http://spacejournal.ohio.edu/issue8/his_tonda1. html 4. Chrisma Albanjar dan Hilman A. Rasyid, BAGAIMANA MEMBUAT INDONESIA TERHUBUNG: MELAYANI YANG BELUM TERLAYANI , http://spacejournal.ohio.edu/issue8/cur_psn.ht ml 5. Gunther Space Page, http://space.skyrocket.de/directories/sat_c_indo nesia.htm 6. Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum Kementerian Komunikasi dan Informasi, https://jdih.kominfo.go.id/ 7. http://www.telkom.co.id/en/ 8. Sejarah Indosat, https://indosatooredoo.com/id/aboutindosat/company-profile/history 9. http://www.psn.co.id/ 10. http://www.bri.co.id/news/163

21

21


Hal terpenting yang bisa kita lakukan adalah menginspirasi dan meningkatkan kemampuan pendidikan teknologi bagi generasi muda, untuk membawa kita kepada kemajuan antariksa.

equatorspace.com | technology satellites, rocketries, satellite bus, power systems, cameras, EQUATORSPACE.COM radar sensors, gyroscopes, antennas, engines, mux filters, attitude control, propellant

Equator SPACE.com 22


TECHNOLOGY

M

ungkin pembaca masih ingat berita di media nasional atas ditemukannya ‘barang’ ruang angkasa yang jatuh di Sumenep, Madura tanggal 26 September 2016 lalu, kemudian berita sebelumnya di media tentang meledaknya kendaraan peluncur (Launch Vehicle) Falcon-9 pada tanggal 1 September 2016 yang memuat satelit Amos-6 milik Israel dan didanai salah satunya oleh perusahaan media sosial terbesar, Facebook. Nah, yang menyediakan jasa layanan peluncuran satelit ini adalah SpaceX.

Apa dan siapa SpaceX itu?

TONDA PRIYANTO

ANGGA RISNANDO

Beberapa tahun belakangan ini, SpaceX telah membuat banyak pengamat dan pemain industri antariksa dibuat tercengang oleh kiprahnya yang ‘merusak’ harga pasar jasa peluncuran satelit, serta dengan program besarnya mengirim manusia untuk menjelajah antariksa. Tulisan ini mencoba menyampaikan rahasia atau inovasi teknik yang dilakukan oleh SpaceX.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Space Exploration Technologies Corporation atau yang lebih dikenal dengan SpaceX sebenarnya bukan perusahaan peluncuran satelit saja, tetapi mereka juga memberikan layanan transportasi antariksa serta mempunyai keinginan untuk mengkoloni antariksa, diawali dengan kolonisasi planet Mars. SpaceX didirikan pada tahun 2002, oleh Elon Musk yang bermarkas di Hawthorne, California, Amerika Serikat.

SpaceX pertama kali meluncurkan roketnya, Falcon 1 yang merupakan roket 2 tingkat (2 stage) pada September 2008 menggunakan 1 mesin dan kemudian dikembangkan menjadi Falcon 9. Falcon 9 juga roket 2 tingkat dimana tingkat pertamanya menggunakan 9 mesin. SpaceX pertama kali meluncurkan roketnya, Falcon 1 yang merupakan roket 2 tingkat (2 stage) pada September 2008 menggunakan

23

23


TECHNOLOGY 1 mesin dan kemudian dikembangkan menjadi Falcon 9. Falcon 9 juga roket 2 tingkat dimana tingkat pertamanya menggunakan 9 mesin. Jenis kendaraan peluncur SpaceX saat ini adalah Falcon 9 Full Thrust dan Falcon Heavy seperti gambar 1 di bawah dan dengan harga sangat kompetitif.

Yang luar biasa adalah rancangan peluncuran Dragon ini ditempatkan di ujung peluncur Falcon 9, yang juga akan membawa satelit komersial sebagai payload nya menuju orbit satelitnya, jadi sekali luncur 2 misi tercapai. Tentang Elon Musk SpaceX tidak bisa dilepaskan dari nama besar pendirinya, Elon Reeve Musk, dengan mimpi

Gambar 1. Jenis kendaraan peluncur SpaceX Produk SpaceX lainnya terus dikembangkan lebih jauh, salah satunya adalah layanan pengiriman kargo ke angkasa dengan nama Dragon (terutama untuk mengirimkan ke ISS – International Space Station) yang akan dikembangkan menjadi komersialisasi transportasi manusia ke luar angkasa. Dragon dirancang untuk membawa sampai dengan 7 astronot ke luar angkasa.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

dan inovasinya di bidang industri antariksa. Musk adalah pengusaha muda kelahiran 1971, lulusan fisika University of Pennsylvania dan ekonomi Wharton School of Business. Di usia 24 tahun, Musk pindah ke California mengikuti program doktoral fisika terapan dan ilmu material di Stanford University, tapi ditinggalkan untuk mengejar mimpinya menjadi seorang wirausaha di bidang internet, energi terbarukan, dan antariksa.

24

24 24


TECHNOLOGY Elon Musk, di tahun 1999, ikut mendirikan X.com sebuah Start Up Company di bidang Online Financial Services, yang kemudian bergabung dengan Confinity yang kini dikenal sebagai PayPal (system payment online terbesar dunia). Musk juga CEO Tesla yang merupakan perusahaan perakitan mobil listrik yang inovatif. Konsep kelistrikan yang diadopsi Tesla sebenarnya sudah lama ditemukan, namun Musk membuatnya sedikit berbeda dengan sentuhan kepedulian terhadap global warming melalui penggunaan energi berkelanjutan dan juga di ke-modern-an rancangan produknya. Inovasi yang dilakukan SpaceX dalam industri antariksa adalah di pabrikasi peluncur satelit dan transportasi antariksa, diantaranya: 1. Reusable Launch System Banyak yang bertanya kenapa peluncur (roket) dapat dipakai berulang-ulang karena selama ini jika sudah diluncurkan maka sebagian akan jatuh di laut (seperti yang di Sumenep, Madura), ada yang menjadi ‘sampah‘ di langit atau bahkan kadang bisa merusak dan mencelakakan manusia apabila jatuhnya ke kawasan berpenduduk. Akan tetapi, SpaceX berkeinginan untuk membuat roket yang dapat digunakan berulang-ulang. Bagaimana caranya? Peluncur SpaceX Falcon 9 yang memiliki dua tingkat, tingkat 1 (atau istilahnya first stage), dilengkapi 9 engine rocket (mesin roket), akan mengantarkan roket tingkat kedua pada ketinggian kurang lebih 100 km, dan kemudian roket tingkat satu ini dikendalikan untuk kembali didaratkan ke bumi. Sedangkan roket tingkat 2 akan mengantarkan payload yang biasanya satelit

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

untuk mencapai orbitnya dan atau kontainer ‘Dragon’ yang akan mengantarkan pasokan ke ISS. Roket tingkat satu didaratkan kembali ke platform yang berlokasi di laut dan berjarak kurang lebih 300 km dari lokasi peluncurannya, kemudian roket diperiksa dan diperbaiki untuk kembali layak diluncurkan (flight proven). SpaceX memulai program desain terobosan ini pada tahun 2011 dan percobaan dimulai akhir 2012 dengan ketinggian kurang dari 3000 meter dan kemudian di tahun 2013 untuk ketinggian diatas 91000 meter. Setelah melakukannya secara terus menerus hingga Agustus 2016 spaceX telah berhasil melakukan 6 kali pendaratan kembali ke bumi di launch pad dari total 8 kali percobaan. Namun, kedelapan percobaan tersebut masih digunakan tanpa ada “payload” di peluncurnya. Berita terakhir, tanggal 14 Januari 2017 SpaceX juga berhasil mendaratkan roket tingkat pertamanya setelah meluncurkan 10 satelit Iridium ke LEO (Low Earth Orbit) atau orbit rendah. Peluncuran satelit pertama yang menggunakan roket tingkat 1 yang pernah diluncurkan direncanakan pada triwulan pertama 2017, dengan SES-10 sebagai satelit/payload nya. 2. Tempat pendaratan roket (Platform Landing Rocket) Selain Inovasi terobosan yang dilakukan SpaceX dengan tetap dikendalikannya roket tingkat pertamanya dan didaratkan di bumi, adalah mendaratkan roket tingkat pertama tersebut pada platform di permukaan laut yang berjarak sekitar 300 km dari lokasi peluncuran. Teknik yang dilakukan adalah mengubah sudut thruster (roket) serta

25 25


TECHNOLOGY mengubah arah dan akselerasi, sehingga roket dapat turun menjadi lebih pelan dan dapat dikemudikan serta ditegakkan untuk mencapai platform yang di laut. Tahapan ini diperlihatkan dalam gambar 2 dibawah, dan telah terbukti pertama kali pada 21 Desember 2015.

Unik ? Ya, unik. Lagi lagi konsep gila dari seorang Elon Musk. Kalau tidak gila,(katanya) bukan Elon Musk namanya. Merakit peluncur seperti merakit mobil merupakan ide yang mungkin pernah terlintas dipikiran para pesaing SpaceX, namun mungkin mereka enggan menerapkannya. Karena apa ? Karena peluncur itu barang mahal, elit dan istimewa sehingga normal prosesnya pun semestinya juga eksklusif, tidak massive, apalagi asal-asalan.

Gambar 2. Tahapan mendaratkan kembali SpaceX tingkat pertama.

3. Pabrikasi model Ban Berjalan di dalam Hanggar Terdapat gosip, bahwa Musk merekrut karyawan-karyawan ex-BMW untuk ikut bergabung menuangkan ide-ide kreatifitas mereka di bidang teknologi antariksa. Walau tidak diperoleh informasi resmi, namun, sepertinya Musk belajar dan mengambil manfaat dari keahlian karyawan ex-BMW ini didalam merakit mobil yang konsepnya dapat dan berhasil ditiru dan diterapkan dalam perakitan roket peluncur. Konsep ini dikenal dengan “Ban Berjalan� akan tetapi diterapkan didalam hanggar.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Percaya tidak percaya, konsep ban berjalan-nya Elon Musk ini diakui mampu memangkas ongkos produksi roket sangat besar dari biaya sebelumnya. Kok bisa ? Bagaimana dengan kualitasnya ? Nah, konsep proses perakitan yang massive ini mampu mengurangi biaya produksi karena prosesnya dilakukan bersamaan sehingga

dapat memangkas waktu dan biaya. Suasana pabrik ban berjalannya diperlihatkan pada gambar 3. Quality assurance pada konsep ban berjalan memang diakui akan mampu memproduksi dengan penjaminan kualitas produknya yang sangat baik.

Gambar 3. Pabrikasi ban berjalan mesin roket.

26 26


TECHNOLOGY 4. Terobosan Sistem Transportasi Antar Planet (Interplanetary Transport System) Jenius! Apanya yang jenius ? Musk meletakkan Dragon-nya yang mampu membawa hingga 7 astronot ini diatas Falcon 9 yang diisi juga dengan satelit komersial. Apalagi jika menggunakan Falcon Heavy yang mampu membawa misi hingga 22 ton. Jadi, bukan mustahil nantinya migrasi umat manusia ke planet lain akan jadi kenyataan, tentunya dengan semua standar dan uji kualifikasi yang harus terpenuhi. Inilah yang membuat banyak orang terheran atas konsep inovasi biaya (Cost Innovation) ala Elon Musk. Ibarat peribahasa, sekali mendayung, dua tiga planet terlampaui. Gambar 4 memperlihatkan Dragon dengan Elon Musk.

Ruang kerja, anak muda dan Passion ! Berkesempatan untuk berkunjung ke kantor pusat SpaceX yang juga tempat pabrikasi peluncur SpaceX, membuat penulis merasa kaget, ternyata suasana pabrik peluncur tidak seperti di bengkel dengan barang berantakan, akan tetapi malah seperti masuk ke perusahaan start-up digital company (seperti halnya google). Hal ini wajar karena pendirinya juga adalah pendiri bisnis digital. Ruangan kantor yang terbuka (open space) ini membuat setiap pegawai akan terlihat sedang bekerja dengan komputernya dan dapat saling komunikasi tanpa sekat (gambar 5).

Gambar 5. Suasana kantor

Gambar 4. Dragon dan Elon Musk

5. Publikasi Harga Layanan SpaceX juga memang cerdas dalam menyikapi dan membuat kompetisi terbuka (open competition). Mengapa demikian? karena SpaceX memaparkan harga produknya di website mereka, dan dilengkapi dengan pernyataan "Modest discounts are available, for contractually committed, multi-launch purchases". Kompetisi pun sepertinya semakin memanas, hasilnya harga pesaing SpaceX mulai ada yang turun.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Setelah rapat, sebelum makan siang, penulis mendapat kesempatan untuk melakukan kunjungan pabrik, dan bagian pabrikasi yang dikunjungi adalah seperti gambar di bawah dan kemudian melihat bagaimana mesin roket tingkat 1 sedang diperiksa dengan konsep ban berjalan, pembuatan tutup kapsul paling atas roket, sampai ke integrasi roket lalu kemudian ditempatkan diatas truk menuju Texas untuk pengetesan terakhir dan kemudian diluncurkan di Cape Canaveral, Florida. Setelah melihat pabrikasi, kunjungan dilanjutkan dengan diskusi di kantin yang berlokasi di dalam satu gedung yang sama dengan pabriknya tetapi dapat menghasilkan peluncur satelit dan transportasi angkasa. Perkiraan posisi kantin dapat dilihat di gambar 6 dibawah

27 27


TECHNOLOGY dengan foto-fotonya diambil dari internet (karena foto di dalam gedung dilarang), dan sepertinya lokasi dan suasana kantin ini dapat memberikan makna tersendiri.

pegawai yang passionate, smart dan kerja keras. Dari pembelajaran berkunjung dan diskusi dengan staff SpaceX selama setengah hari, penulis coba mencari informasi di internet tentang karakter pegawai SpaceX,

dan memang ternyata 92% pegawainya merasa bahwa pekerjaannya sangat bermakna, walaupun secara umum pendapatan pegawai masih di bawah pendapatan di google, facebook ataupun linkedin. Akan tetapi kondisi kerja masih yang bermakna tersebut diikuti dengan stress yang tinggi yaitu sekitar 88% pegawai SpaceX [https://www.monster.com/care er-advice/article/techGambar 6. Gedung SpaceX dan posisi kantin didalam pabrik companies-salaries-compared] Kemudian pada saat diskusi dengan telah membawa SpaceX pegawainya, maka diketahui bahwa umur mencapai mimpinya. rata-rata pegawai SpaceX adalah 30an Masa Depan SpaceX tahun, dan dari diskusi dengan salah satu pegawai, beliau berbagi pengalaman bahwa SpaceX yang baru berdiri tahun 2002 tetapi untuk seleksi menjadi pegawai SpaceX sudah dapat membuat kejutan dengan dapat melalui wawancara 7 sampai dengan harganya yang hampir 50% di bawah dari 27 kali. Saat ditanya mengapa tidak mudah, harga peluncur satelit lain, dan menurut mereka, SpaceX mencari orang keinginannya untuk meluncurkan roket yang passionate (kecintaan) dan desire setiap 2 minggu serta ambisi untuk (gairah) serta gigih (persistence). Dengan mengirim orang ke angkasa tahun 2018. seleksi yang berlapis, maka dapat diketahui Dukungan ke Space_X juga muncul dari apakah calon pegawai tersebut sesuai Barrack Obama yang menyatakan bahwa dengan keinginan SpaceX. Ada yang tahun 2030 nanti akan mengirim orang ke menarik, salah satu pertanyaan yang Mars dan kembali ke Bumi. Bagaimana disampaikan saat seleksi adalah ‘di bumi SpaceX dan Elon Musk mengupayakan sebelah mana kalau jalan ke selatan satu mimpi-mimpinya ini sangat menarik untuk kilometer dan kemudian jalan ketimur satu menjadi inspirasi kita semua yang berharap kilo dan keutara satu kilo akan kembali ke akan kemandirian antariksa Indonesia. tempat yang sama’, jadi tidak hanya ditanya tentang hard skill, soft skill tapi juga Semoga artikel ini mampu menginspirasi kekuatan logikanya. kita semua. Salam inovasi, penulis. § Dengan pegawai saat ini yang berkisar 5000an, dan keinginan yang sangat ambisius untuk dapat membawa manusia pergi pulang ke Mars dengan hanya US$ 500.000 per orang, maka tentu dicari

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Rujukan utama : www.spacex.com, www.wikipedia.com dan www.youtube.com dengan kata kunci spacex.

28 28


TECHNOLOGY

PRINSIP KERJA & APLIKASI (bagian 1)

A

rtikel ini adalah bagian pertama dari 2 artikel mengenai satelit navigasi kami pada EquatorSpace. Pada artikel ini akan disampaikan mengenai prinsip kerja dan aplikasi teknologi satelit navigasi. Sementara pada artikel ke-2 (di penerbitan berikutnya) akan disampaikan mengenai argumentasi sistem navigasi berbasis satelit, dan beberapa aplikasi lanjutan dari teknologi tersebut.

ROBERTUS HERU TRIHARJANTO

Navigasi adalah kegiatan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia modern, terutama karena mobilitasnya. Navigasi adalah proses menentukan posisi kita relatif terhadap tempat yang akan dituju. Dengan diketahuinya informasi tersebut maka kita bisa mencapai tujuan dengan efisien. Sejarah navigasi sama tuanya dengan peradaban manusia, dimana secara tradisional orang menggunakan obyek-obyek visual. Saat berjalan manusia menggunakan bukit, gedung, pohon, dan sungai sebagai acuan. Saat berlayar di laut digunakan matahari, bulan, bintang, dan garis pantai untuk acuan. Dengan meningkatnya teknologi transportasi, alat bantu navigasi juga dikembangkan mulai dari kompas hingga satelit navigasi.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Navigasi berbasis satelit menggunakan teknologi komunikasi radio, dimana sinyal radio dimanipulasi agar bisa menjadi penunjuk arah dan jarak dari pemancar, relatif terhadap penerima. Sebelum era satelit navigasi dimulai oleh departemen pertahanan Amerika, teknologi radio untuk navigasi tersebut telah

digunakan untuk navigasi penerbangan, dengan memasang menara-menara pemancar radio di sepanjang jalur penerbangan. Teknologi tersebut telah membantu proses navigasi pesawat secara 2 dimensi, saat terbang di cuaca buruk atau malam hari (tidak dapat melihat obyek visual). Secara prinsip, teknologi satelit membuat lokasi pemancar-pemancar radio tersebut menjadi lebih tinggi, sehingga cakupan operasinya jauh lebih luas. Sistem satelit navigasi pertama yang beroperasi pada tahun 1994 dinamai Global Positioning System (GPS). Sistem ini terdiri dari 24 satelit yang mengorbit pada ketinggian 20 ribu km diatas permukaan Bumi. Satelit-satelit tersebut ditata dengan jarak yang sama pada 6 bidang

29 29


TECHNOLOGY orbit yang mempunyai sudut inklinasi 55o dengan bidang khatulistiwa (gambar 1). Sehingga kapanpun dan ditempat manapun di dunia, selalu ada kemungkinan untuk bisa menerima sinyal dari sedikitnya 4 ‘menara’ GPS.

Dengan berkembangnya teknologi pesawat tanpa awak (AUV/drone), GPS juga digunakan untuk memandu mereka saat terbang secara otonom. Salah satunya adalah UAV buatan LAPAN, yakni LSU-02 yang pernah melakukan penerbangan

Gambar 1. Orbit satelit GPS dan ilustrasi satelitnya di orbit (sumber gambar : wikipedia)

Prinsip kerja dari GPS ini adalah triangulasi, yakni perhitungan lokasi 3 dimensi berdasarkan jaraknya dari 3 satelit yang lokasi yang diketahui. Jarak tersebut didapat dari waktu yang diperlukan oleh gelombang radio (yang merambat dengan kecepatan cahaya) untuk sampai ke penerima. Karena lokasi satelit merupaka fungsi waktu, untuk menjamin akurasinya, diperlukan satelit ke4. Selain untuk aplikasi militer, mulai dari untuk mengetahui posisi pasukan hingga memandu bom dan rudal untuk bisa menuju tempat sasarannya, manfaat sistem ini bagi kehidupan masyarakat sipil dirasakan sangat besar. Jumlah penggguna sipil puluhan juta, untuk berbagai macam aplikasi mulai dari transportasi hingga pengukuran pergerakan kulit Bumi.

secara otonom dari Pameungpeuk, Garut, ke Nusawiru, Pangandaran, yang jaraknya sekitar 200 km. Potensi aplikasi satelit navigasi yang strategis dan luas membuat negara-negara yang mampu-angkasa (space-faring) lainnya juga menggelar sistem navigasi satelit sendiri. Saat ini, selain GPS, sudah ada 2 sistem satelit navigasi dengan cakupan global lain yakni GLONASS milik Rusia dan Beidu/Kompass milik Cina. Sedikit berbeda dengan GPS, konstelasi GLONASS mempunyai 24 satelit pada 3 bidang orbit, sementara Beidu terdiri dari 30 satelit dalam konsetlasi orbit dengan ketinggian 21 ribu km dan inklinasi 55o.

Gambar 2. GPS untuk navigasi di kapal (wikipedia) ); bom dengan pemandu GPS pada bagian ekor (foxtrotalpha.jalopnik.com)

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

30

30


TECHNOLOGY

Gambar 3. LSU-02 yang mampu terbang otonom dengan panduan GPS (lapan.go.id)

Konsorsium negara-negara Eropa barat, juga berprakarsa untuk membuat konstelasi satelit navigasi. Namun hingga kini sistem tersebut belum terwujud. Selain karena keinginan membuat aplikasi militer, kemandiriaan tersebut juga karena tidak ada jaminan bahwa GPS akan tetap memberikan pelayanan bagi sipil saat kondisi tidak menguntungkan kepentingan Amerika. Penggunaan satelit navigasi yang bernilai tinggi saat ini diantaranya adalah untuk AIS (automatic identification system) dan ADS-B (automatic dependent surveillance – broadcast). AIS adalah pemancar text singkat

melalui radio VHF dari kapal laut, yang memberikan data identitas kapal, posisinya (dari GPS), dan beberapa data lainnya secara otomatis. Sistem yang bertujuan untuk menghindari tabrakan, dengan bisa ‘melihat’ kapal-kapal lain disekitarnya, dan mempercepat bantuan saat keadaan darurat ini, wajib dipasang pada kapal dengan berat diatas 300 ton. Bagi otoritas maritime, data yang dipancarkan oleh AIS dapat digunakan untuk mengatur lalu lintas kapal, dan untuk mendeteksi aktivitas illegal. ADS-B adalah pemancar text singkat melalui radio VHF dari pesawat. Dengan perangkat tersebut pesawat bisa terlacak di tempattempat yang tidak terdapat radar.

Gambar 4. Antena satelit GLONASS dan konfigurasi satelit Beidou-II (sumber gambar : wikipedia)

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

31

31


TECHNOLOGY Mirip dengan AIS, perangkat ini bisa membuat pesawat mengetahui lalu lintas di sekitarnya. Bagi penerbangan di daerahdaerah terpencil yang tidak terdapat radar, ADS-B dapat membantu otoritas bandara untuk memandu pesawat-pesawat yang

akan mendarat. Lompatan teknologi yang terjadi pada beberapa tahun terakhir adalah digunakannya satelit untuk menerima sinyal AIS dan ADS-B, sehingga dapat dilakukan pengawasan lalu lintas kapal dan pesawat secara global. ยง

Gambar 5. Ilustrasi system ADS-B (www.kari.re.kr); lalu-lintas pesawat di wilayah Indonesia dari bacaan ADS-B (flightradar24.com); lalu-lintas kapal di dunia yang dibaca oleh satelit mikro Indonesia LAPAN-A2/ORARI

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

32 32


Pengembangan

Bisnis Antariksa adalah

Sebuah Potensi Kekuatan Yang Akan Meningkatkan

Perekonomian dan

Kesejahteraan

Bangsa Indonesia

Equator SPACE.com EQUATORSPACE.COM

equatorspace.com | space business satellite industry, rocket industry, terminal industry, mapping service, mining, fisheries, security, video contents, satellite based city planning

33


SPACEBUSINESS

Prof.Dr.-Ing. Fahmi Amhar Peneliti Utama Badan Informasi Geospasial

Dalam satu dekade terakhir, dunia

transportasi Indonesia menyaksikan sejumlah musibah kecelakaan kapal di berbagai daerah dan hilangnya pesawat yang cukup misterius. Timbul pertanyaan sejauh mana teknologi keselamatan transportasi mampu mencegah kecelakaan itu, dan kalau musibah sudah merupakan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa di luar lingkar kekuasaan kita, maka sejauh mana teknologi yang ada mampu meminimalkan dampak yang ada, termasuk menemukan lokasi para korban hingga mengevakuasinya dengan cepat dan tepat.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

34 34


SPACEBUSINESS

Secara umum, kejadian kecelakaan transportasi darat sebenarnya jauh tinggi frekuensinya dibanding kecelakaan di laut atau di udara. Hanya memang perhatian masyarakat lebih kuat ke kecelakaan di laut dan udara, karena moda transportasi ini lebih sarat teknologi dan lebih ketat secara regulasi. Setiap kendaraan laut dan udara dibatasi oleh tiga limitasi: equipment (peralatan teknologi), cuaca dan personal. Equipment baik mekanik maupun navigasi sangat vital. Hal ini karena kendaraan laut dan udara tidak boleh gagal dalam perjalanannya. Kalau mereka ”mogok” atau rusak di jalan, mereka tak bisa ”didorong” atau ketemu ”bengkel”. Karena itu, menjelang keberangkatan selalu ada petugas mekanik yang memeriksa kesiapan equipment, dan dia bertanggungjawab untuk menyatakan apakah kendaraan itu laik jalan atau tidak. Dewasa ini equipment permesinan sudah makin rumit. Perlu SDM yang lebih trampil lagi. Disinyalir meningkatnya volume pelayaran dan penerbangan akhir-akhir ini

belum terimbangi dengan penyediaan SDM yang handal melalui pendidikan dan pelatihan yang ada. Dan lebih rumit lagi adalah equipment navigasi. Peralatan navigasi ini tak cuma yang ada di dalam kapal / pesawat seperti alat Global Positioning System (GPS) atau Emergency Locator Beacon Automatic (ELBA), namun juga infrastruktur di luar. Kapal misalnya, memerlukan infrastruktur navigasi yang wajib disediakan otoritas pelayaran daerah yang dilewatinya, seperti peta-peta navigasi, mercu suar, bui-bui, radar, radio hingga AIS. Sedang pesawat wajib dilengkapi dengan aeronautical chart, peta lingkungan bandara, instrument landing system, air traffic control sepanjang jalur penerbangan, hingga prakira cuaca yang didapat dari satelit cuaca. Menjamurnya penerbangan murah akhirakhir ini menimbulkan tanda tanya, sejauh mana low-cost flight itu berdampak pada aspek keselamatan. Memang secara umum biaya perjalanan terdiri dari biaya operasi (bahan bakar, parkir, personil, leasing dan asuransi), biaya perawatan (maintainance), dan biaya pelayanan (service). Secara umum, kendaraan yang dirawat dengan baik akan menurunkan biaya operasional.

Area kemungkinan untuk lokasi jatuhnya AirAsia QZ 8501, mempersempit searching area.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Hanya saja, ini tergantung juga pada kesadaran operator dan pengawasan regulator. Pada operator yang terlalu berpikir jangka pendek, dia akan ambil risiko lebih tinggi dengan mengurangi biaya-biaya ini, karena

35

35


SPACEBUSINESS

akan meraup keuntungan lebih tinggi. Tak heran bila ada kasus pilot yang sampai mengundurkan diri karena tak tahan dari tekanan perusahaan yang memaksa terbang mendekati batas maksimalnya. Didapatkan juga beberapa pilot yang mengkonsumsi narkoba untuk mengurangi stress. Sejumlah perusahaan pelayaran juga pernah mendemo Menteri Perhubungan karena melarang berlayar selama cuaca buruk. Mereka mengeluhkan kerugian akibat tidak berlayar. Kapitalisme versus keselamatan manusia! Harusnya negara tak sekedar melarang berlayar, namun juga memberi solusi.

berawan, satelit pengamat bumi (earth observing satellite) yang berada pada orbit rendah serta berresolusi tinggi (60 cm – 1 meter) dapat membantu. Kendalanya sekarang adalah awan tebal dan hujan. Pada kondisi ini hanya satelit radar yang dapat berfungsi. Jejak pesawat yang jatuh di laut dapat terdeteksi dari jejak tumpahan sisa bahan bakar pesawat di permukaan air. Untuk pesawat yang jatuh di hutan-hutan juga dapat terdeteksi dari puing logam yang kontras pada vegetasi. Hanya saja resolusi citra radar sering masih jauh dari memadai untuk objek yang hancur dalam serpihan kecil.

Di sisi lain, penumpang pun harus ikut memiliki kesadaran keselamatan (safety awareness). Di kapal sering didapati jumlah pelampung yang jauh di bawah jumlah penumpang, dan ini pun banyak yang dikunci. Alasannya, banyak pelampung ini hilang dicuri orang. Lantas bagaimana bila kecelakaan terjadi juga. Dalam kondisi kritis, kapal atau pesawat akan mengirim sinyal darurat yang berisi koordinat lokasinya terakhir. Pada pesawat yang dilengkapi ELBA, sinyal ini otomatis akan terpancar bila pesawat jatuh ke air atau mengalami benturan keras. Berdasarkan koordinat ini kemudian dilakukan simulasi area kemungkinan hanyutnya penumpang kapal atau lokasi jatuhnya pesawat. Simulasi ini memasukkan data faktor-faktor alam seperti kecepatan angin atau arus laut. Di area kemungkinan ini kemudian dilakukan pencarian. Jika cuaca tidak

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Bercak hitam yang meluas pada citra satelit radar ini adalah jejak kecelakaan kapal atau pesawat yang nyaris stasioner (tidak terbawa arus).

Interpretasi citra radar juga tidak mudah, dan secara umum mencari bangkai pesawat atau penumpang yang terapung-apung di laut dengan citra satelit apapun itu tidak mudah. Akan banyak misinterpretasi dengan objek yang mirip. Walau demikian, �suspected object� ini dapat membatasi titik-titik pencarian agar lebih fokus. Di luar itu semua, harus disadari bahwa dalam semua teknologi ini, Indonesia masih amat tergantung asing. Akibatnya, selain infrastruktur teknologi keselamatan

36

36


SPACEBUSINESS

transportasi kita sangat kurang, responsetime kita bila ada kecelakaan juga sangat lamban. Sekarangpun kalau kita akan mencoba menggunakan citra satelit, kita harus pesan dulu ke luar negeri dengan biaya yang lumayan tinggi. Namun persoalan ini tidak semata-mata persoalan tiadanya uang untuk mengadakan teknologi ini. Ini juga persoalan kesadaran

umum atas safety pada masyarakat kita yang rendah. Di jalan raya saja, masih banyak orang baru pakai helm atau sabuk keselamatan kalau bakal ada polisi yang mengawasi. Kesadaran ini juga harusnya ada pada para penguasa negeri ini. Jangan menunggu ada musibah baru pikiran tercurah, dan setelah musibah berlalu maka teknologi keselamatan ini juga dilupakan. Mereka wajib menerapkan aturan-aturan dan SOP yang benar-benar pro keselamatan manusia, termasuk mengalokasikan anggaran yang memadai untuk mencegah kecelakaan, mendidik SDM yang handal, dan menghukum siapapun yang teledor dan melanggar. Bahkan mereka yang mabuk di perjalanan juga harus dihukum, termasuk pabrik yang memproduksi mirasnya beserta jalur distribusinya. ยง

Bercak hitam memanjang pada citra satelit radar ini adalah jejak kapal celaka yang sudah terbawa arus beberapa lama.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

37

37


Perkembangan lingkungan strategis menuntut segera dikuasai dan diimplementasikannya teknologi keantariksaan dan berbagai penjalarannya dalam postur pertahanan negara

DEPARTMENT equatorspace.com | defence communication, navigation, surveillance, siber, weapon guide, remote sensing & control

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

38

28


DEFENCE

37

EQUATORSPACE.COM

INTERNET OF THINGS SEBAGAI ELEMEN PERTAHANAN MODERN Abstrak Indonesia sebagai negara yang terletak pada posisi geografis yang strategis sebagaimana yang sering disampaikan dalam Wawasan Nusantara menjadi sasaran banyak kepentingan global, oleh karenanya Indonesia sesuai dengan doktrin pertahanan nasional, sektor pertahanan harus senantiasa di tingkatkan dan diperbaharui kemampuannya menuju ke sistem pertahanan modern. Internet of Things (IoT) adalah teknologi yang berbasis sensor yang terintegrasi berdasarkan kepada jaringan dan teknologi internet. Dalam konteks pertahanan IoT dapat dimanfaatkan menjadi elemen pertahanan modern menjaga kesatuan dan kedaulatan Negara Republik Indonesia.

EQUATORSPACE.COM

39


DEFENCE I. Latar Belakang Republik Indonesia, sebuah negara kepulauan terbesar dunia terletak di antara 2 benua (Asia dan Australia) dan 2 samudera (Indonesia dan Pasifik) menjadi perlintasan pelayaran dunia dengan membawa jutaan manusia dan barang. Indonesia sebuah negeri yang kaya sumber daya alam dan populasi terbesar ke-4 dunia. Sejak abad ke 12 Indonesia yang dulu dinamakan Nusantara telah menjadi rebutan dan incaran bangsa-bangsa serta berbagai kepentingan global. Sebagai sebuah republik maka sejak 1945 bangsa dan negara Indonesia senantiasa waspada akan rongrongan keamanan nasional yang dapat memecah belah dan merugikan bangsa Indonesia dan tetap menjalankan kebijakan bebas aktif. Sistem pertahanan modern menjadi landasan utama untuk tetap menjaga kesatuan dan persatuan Indonesia. Dalam konsep sebuah pertahanan nasional modern, maka penggunaan berbagai teknologi sangat dibutuhkan antara lain adalah pemanfaatan teknologi TIK yang diantaranya adalah Internet of Things (IoT). IoT adalah produk evolusi teknologi TIK yang saat ini dan kedepan akan banyak di butuhkan dan dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. IoT yang pada dasarnya adalah sensor dan actuator yang terintegrasi via jaringan internet dapat digunakan untuk menjadi indera pemantau antara lain di sektor pertanian, pabrikasi, cuaca dan iklim dan juga pertahanan. Dalam konteks pertahanan modern IoT dapat menjadi pengindera apapun yang diinginkan bahkan sebagai eksekutor dilapangan. II. Doktrin Pertahanan Nasional Setiap bangsa dan negara wajib menjaga tanah airnya dalam bentuk sebuah kekuatan pertahanan yang bertumpu kepada kekuatan militer. Hal ini

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

berlaku bagi Indonesia sebagaimana dikutip dari arahan Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo pada RAPIM TNI, 16 Desember 2015: “Hampir semua negara berlomba memajukan teknologi pertahanannya. Bangun postur TNI yang kokoh dengan alutsista modern�. [1] Pertahanan nasional Indonesia diatur dalam Undang-Undang No.3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Khususnya pada Pasal 20 ayat (2) dinyatakan “Segala sumber daya nasional yang berupa sumber daya manusia, sumber daya alam dan buatan, nilai-nilai, teknologi, dan dana dapat didayagunakan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan negara yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.� Selanjutnya diatur dalam Peraturan Presiden nomor 97 tahun 2015 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara tahun 2015-2019. Pada Pokok-Pokok Kebijakan Umum Pertahanan Negara dijabarkan juga mengenai Pembangunan Teknologi serta Sistem Informasi dan Komunikasi Bidang Pertahanan dimana: - Pembangunan teknologi serta sistem informasi dan komunikasi bidang pertahanan diarahkan untuk meningkatkan kualitas Sistem Informasi Pertahanan Negara, termasuk pertahanan siber yang dilakukan secara bertahap, berkesinambungan, dan terintegrasi dalam pengelolaan pertahanan negara. - Pengembangan teknologi dilakukan melalui penelitian dan pengembangan serta alih teknologi secara terpadu termasuk pemanfaatan teknologi satelit nasional yang melibatkan lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah, perguruan tinggi, dan industri yang terkait dengan bidang pertahanan negara.

40 40


DEFENCE

Pertahanan Negara selanjutnya dijabarkan oleh Peraturan Menteri Pertahanan nomor 19 tahun 2015 tentang Kebijakan Penyelenggaraan Pertahanan Negara Tahun 2015-2019. Terkait dengan tantangan dan ancaman negara, sampai dengan tahun 2019 terdapat beberapa potensi ancaman eksternal, internal dan gabungan baik militer maupun non-militer. Dengan luas wilayah NKRI yang sedemikian besar dan belasan ribu pulau maka beberapa ancaman nyata adalah a.l. penguatan militer Tiongkok di Laut Cina Selatan, infiltrasi gerakan separatisme di perbatasan Indonesia-PNG, penyusupan dan perkembangan gerakan-gerakan teroris seperti a.l. di Sulawesi Tengah, Maluku dan Jawa Barat. Sesuai dengan amanah Undang-Undang Pertahanan Negara maka didalam rangka menjaga kedaulatan NKRI pemanfaatan teknologi TIK untuk mengantisipasi dan menangkal berbagai ancaman dan hambatan mutlak dilakukan. III. Internet of Things (IoT) Internet of Things, atau dikenal juga dengan singkatan' IoT, merupakan sebuah konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus. Adapun kemampuan seperti berbagi data, remote control, dan sebagainya, termasuk juga pada benda di dunia nyata. Contohnya bahan pangan, elektronik, koleksi, peralatan apa saja, termasuk benda

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

hidup yang semuanya tersambung ke jaringan lokal dan global melalui sensor yang tertanam dan selalu aktif. Pada dasarnya, Internet of Things mengacu pada benda yang dapat diidentifikasikan secara unik sebagai representasi virtual dalam struktur berbasis Internet. Istilah IoT awalnya disarankan oleh Kevin Ashton pada tahun 1999 dan mulai terkenal melalui Auto-ID Center di MIT. Dalam hal ini Things dapat diartikan dengan “apapun�. Sesuai dengan Rekomendasi ITU-T Y.2060 bahwa IoT adalah: Sebuah infrastruktur global untuk masyarakat informasi, yang memungkinkan layanan canggih dengan cara menginterkoneksikan (secara fisik dan virtual) apapun berdasarkan kepada informasi yang dipertukarkan dan teknologi komununikasi saat ini dan yang akan datang. Catatan 1 – Melalui pemanfaatan kemampuan identifikasi, pengumpukan data, pemrosesan dan komunikasi. IoT memanfaatakan segala hal untuk memberikan layanan atas bebrbagai aplikasi dengan tetap memastikan keamanan dan privasi tetap terjaga.

Gambar-1. Gambaran Teknis Umum IoT

41

41


DEFENCE

Catatan 2 – Dari suduat pandang yang lebih luas, IoT dapat dilihat sebagai visi dengan implikasi teknologi dan sosial. Adapun karakteristik IoT (dalam bahasa Inggris) adalah: - Interconnectivity: With regard to the IoT, anything can be interconnected with the global information and communication infrastructure. - Things-related services: The IoT is capable of providing thing-related services within the constraints of things, such as privacy protection and semantic consistency between physical things and their associated virtual things. In order to provide thing-related services within the constraints of things, both the technologies in physical world and information world will change. - Heterogeneity: The devices in the IoT are heterogeneous as based on different hardware platforms and networks. They can interact with other devices or service platforms through different networks. - Dynamic changes: The state of devices change dynamically, e.g., sleeping and waking up, connected and/or disconnected as well as the context of devices including location and speed. Moreover, the number of devices can change dynamically. - Enormous scale: The number of devices that need to be managed and that communicate with each other will be at least an order of magnitude larger than the devices connected to the current Internet. The ratio of communication triggered by devices as compared to communication triggered by humans will noticeably shift towards device-triggered communication. Even more critical will be the management of the data generated and their interpretation for application purposes. This relates to semantics of data, as well as efficientdata handling.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Gambar-2. Model Referensi ioT

IV. IoT dan Pertahanan Modern Didalam doktrin militer komunikasi yang aman dan handal, termasuk dengan pasukan dilapangan sudah menjadi kewajiban. IoT militer sebenarnya dikembangkan dari doktrin militer namun dengan IoT lebih banyak keuntungan yang didapat. Konsep pemanfaatan IoT dalam pertahanan modern dikaitkan dengan sistem pertahanan modern yang berbasis Network-Centric dimana seperti halnya pada jaringan telekomunikasi modern, sistem pertahanan modern juga menggunakan jaringan terpusat (cloud) yang menjadi basis kewaspadaan situasi yang maju (Advanced Situational Awareness) dimana para petinggi militer dapat mengambil keputusan berdasarkan kepada analisa real-time yang dihasilkan dari menyatukan informasi berbagai sensor (di drone, tentara dll) dan laporan pengamatan lapangan yang kemudian diolah sedemikian rupa dan digunakan oleh petinggi militer untuk memutuskan serangkaian langkah aksi di garis depan. Konsep Network Centric adalah mentransformasikan doktrin tradisional ke doktrin militer dengan: - Membalikkan kebijakan gateway komunikasi yang luas, dan

42

42


DEFENCE - Menghubungkan aset-aset militer dengan markas utama.

akan mengetahui kegagalan bagian yang tak terduga atau penggantian bagian yang tidak perlu dalam kendaraan sebelum kerusakan terjadi. Dengan IoT, pemeliharaan prediktif peralatan secara real-time adalah mungkin. Sebagaimana dijelaskan bahwa semua data yang dikumpulkan oleh “device� IoT harus dikirimkan ke data center atau cloud dan untuk itu dibutuhkan koneksitas yang baik, dapat melalui jaringan serat optik, radio ataupun satelit.

Gambar-3. Network-Centric Warfare

Dengan menggabungkan data aset pertahanan yang ada dan yang baru akan memberikan keunggulan kemampuan militer dalam bentuk proyeksi kekuatan. Skenario militer tersebut memberikan peluang bagaimana IoT komersial saat ini dapat dimanfaatkan. Hal ini mengingat IoT ini menggunakan pengumpulan data yang sama, distribusi, umpan balik, dan teknologi analitis. Beberapa contoh pemanfaatan IoT untuk pertahanan/militer adalah: - Sebagai deteksi tingkat kesehatan pasukan yang akan berpengaruh kapada manajemen pasukan. - Membantu memahami kondisi medan perang dimana survei medan perang di laksanankan lebih awal akan membantu didalam mengambil keputusan yang tepat, pada waktu yang tepat. Penilaian tersebut dimungkinkan dengan pesawat udara berawak atau tanpa awak, di mana sensor IoT terpasang dan mendeteksi kondisi medan dan mengirimkan data ke pusat komando secara real-time. Dari pusat data dianalisis, dinilai dan berdasarkan situasi, untuk selanjutnya dieksekusi. - Pemeliharaan perangkat perang proaktif, dimana dengan IoT sistem

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency) membuat konsep pakaian tempur darat yang dilengkapi sensor (IoT) yang dapat membantu mengurangi cedera tentara dan meningkatkan performansi bertempur sebagaimana gambar berikut.

Gambar-4. Pakaian Tempur IoT

V. Kesimpulan dan Saran IoT sudah banyak dimanfaatkan di sektor non-militer, antara lain di sektor agrikultura sebagai sensor kondisi tanah dan cuaca, di sektor industri pabrikasi untuk memonitor peralatan kerja, serta di peralatan rumah tangga untuk memonitor alat-alat rumah tangga. Dalam sektor militer IoT memang belum

43

43


DEFENCE dimanfaatkan secara optimal, namun dalam masa-masa yang akan datang IoT banyak dibutuhkan untuk mendukung pertahanan modern. Dengan IoT jumlah data yang dikumpulkan akan lebih banyak dan lebih rinci namun juga dapat berdampak kepada peningkatan belanja data center dan saluran komunikasinya. Sesuai dengan amanah Undang Undang Pertahanan maka IoT sangat dibutuhkan, antara lain guna mengawasi wilayah NKRI. Penelitian dan pengembangan IoT sebenarnya dapat dilaksanakan di Indonesia, termasuk memanfaatkan link satelitnya. § VI. Referensi 1. http://nasional.sindonews.com/read/ 1069937/14/jokowi-minta-tni-bangunkekuatan-pertahanan-modern1450277581

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

2. https://www.credencys.com/blog/ internet-of-things-the-agent-of-changefor-the-defense-system/ 3. Rekomendasi ITU-T Y.2060 4. THE INTERNET OF THINGS FOR DEFENSE, Wind River at www.windriver.com VII. Bio Data Penulis aktif dalam industri telekomunikasi diatas 20 tahunan dalam hal satelit (FSS dan MSS), regulasi telekomunikasi, sistem komunikasi kabel laut dan wireless (5G). Penulis juga pendiri dan ketua Indonesia-ITU Concern Forum (IICF) dan konsultan Proyek Palapa Ring. Pendidikan S1 Elektro, Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta dan S2 Satcom Engineering, Ecole National Superieur de l’Aeronautique et de l’Espace (ENSAE)/ISEA Supaero, Toulouse, Perancis.

44

44 42 30


Perkembangan dan

Penguasaan

Teknologi Satelit Menuntut Rancang-Bangun Aplikasi dalam

berbagai sektor untuk mendukung percepatan

Pembangunan Nasional

Equator SPACE.com equatorspace.com | applications VSAT Networks, satellite backhaul links, IP Over satellites,broadcasting (DTH), distance learning, multiple access, image processing

EQUATORSPACE.COM

45


APPLICATIONS

Bambang Tejasukmana

egiatan pengamatan bumi dari Kantariksa atau pengamatan bumi dengan menggunakan satelit dilaksanakan untuk mengamati berbagai fenomena alam dan dampak kegiatan manusia yang terjadi di darat, laut dan atmosfer. Pengamatan tersebut mencakup antara lain pengamatan lingkungan dan cuaca, sumber alam, perkembangan perkotaan dan wilayah urban serta pengamatan laut, gunung api dan geologi. Kegiatan pengamatan tersebut menggunakan teknik penginderaan jauh melalui pengambilan citra dan pengukuran parameter geofisik. Bagi kita di Indonesia, terminologi pengamatan bumi yang sangat makro lebih tepat diganti dengan terminologi yang lebih sesuai dengan realitas

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

kegiatan yang kita lakukan yang terbatas pada pengamatan wilayah. Pada tulisan ini, penulis akan membahas sistem nasional pengamatan wilayah dari antariksa yang digambarkan secara makro pada gambar-1. Pada sistem tersebut, kegiatan pengamatan wilayah dari antariksa dibagi menjadi tiga kegiatan utama yaitu operasi satelit, operasi stasiun bumi dan kegiatan pemanfaatan yang dilaksanakan oleh kementerian, lembaga, perusahaan, perguruan tinggi dan masyarakat umum. Pada tulisan awal ini, dibahas operasi satelit dengan fokus pada ide pengembangan Satelit Pengamatan (SP) nasional yang akan mendongkrak kinerja sistem nasional pengamatan wilayah yang saat ini hanya ditunjang oleh pemanfaatan SP internasional.

46

46


APPLICATIONS Sistem Nasional Pengamatan Wilayah Dari Antariksa OPERASI SATELIT

Satelit Pengamatan Internasional

Satelit Pengamatan Radar Ekuatorial Nasional

OPERASI STASIUN BUMI Stasiun Kendali Satelit

Pusat Pengolahan Data

KEMENTAN

KKP BNPB KANTOR TNI KLHK BIG KANTOR

OPERASI PEMANFAATAN

PRESIDEN

PAJAK

Instansi Lain

Gambar-1 Sistem Nasional Pengamatan Wilayah

Pemanfaatan Satelit Pengamatan Internasional Amerika Serikat adalah inisiator pengembangan SP. Pada awalnya Amerika Serikat menggunakan SP sebagai bagian dari infrastruktur pertahanan, terutama untuk melawan Uni Sovyet pada masa perang dingin. SP yang dioperasikan pertama kali adalah satelit cuaca atau disebut juga satelit lingkungan dan cuaca. Amerika Serikat membangun seri satelit cuaca untuk kegiatan sipil mulai dari seri satelit TIROS dan NOAA yang dioperasikan tahun 1960an dan 1970an sampai dengan seri satelit NPP-NPOESS yang dioperasikan saat ini. Untuk kegiatan militer mereka membangun satelit militer yang disebut Defence Meteorological Satellite Program (DMSP). Setelah sukses dengan pengoperasian satelit cuaca, Amerika mengembangkan satelit sumber alam Landsat yang mampu mengamati tutupan lahan dengan ketelitian spatial lebih tinggi. Tahun 1972, masyarakat

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

ilmiah dunia dikejutkan ketika ERTS atau Landsat-1 berhasil merekam citra tutupan lahan dengan ketelitian spatial 80 m. Sukses pengoperasian Landsat-1 diteruskan dengan pengoperasian seri satelit Landsat berikutnya. Landsat adalah seri satelit yang telah merekam perubahan permukaan bumi secara konsisten sejak tahun 1972 sampai dengan saat ini. Masih pada tahun 1970an Amerika berhasil mengembangkan satelit cuaca geostasioner untuk mengamati cuaca di lautan Pacifik dan lautan Atlantik. Keberhasilan Amerika diikuti oleh pengoperasian satelit cuaca geostasioner Meteosat oleh Eropa, satelit GMS Himawari oleh Jepang dan satelit INSAT oleh India. Setelah satelit lingkungan dan cuaca dan satelit sumber alam sukses dioperasikan, Amerika bekerjasama dengan Perancis sukses mengembangkan operasi satelit untuk kelautan Jason-1, 2 dan 3. Satelit untuk kelautan dikembangkan dari keberhasilan operasi satelit NOAA dalam pengamatan temperatur permukaan laut. Satelit kelautan yang berhasil dioperasikan selain Jason-1, 2 dan 3 adalah Oceansat oleh India, NPP-Suomi oleh Jepang dan Amerika serta Haiyang-2 oleh Tiongkok.

47 47


APPLICATIONS Tahun 1990an Eropean Space Agency meluncurkan dan mengoperasikan SP sensor aktif, Synthetic Aperture Radar (SAR), ERS-1 dan ERS-2. Seri satelit ERS mendemonstrasikan pengamatan bumi tanpa terganggu oleh keberadaan awan. ESA melanjutkan operasi satelit SAR dengan mengoperasikan satelit Envisat dan Sentinel-1. Negara-negara lain yang mengoperasikan satelit SAR adalah Kanada yang mengembangkan seri satelit Radarsat, Jepang mengoperasikan JERS-1, ADEOS dan terakhir ALOS-1 dan ALOS-2. Kelemahan utama satelit SAR adalah terbatasnya waktu kerja (duty Cycle) sensor SAR pada saat akusisi. Kelemahan tersebut terjadi karena deteksi dengan SAR memerlukan daya listrik yang besar. Waktu kerja sensor SAR umumnya sekitar sepuluh persen dari seluruh waktu orbit. Mendekati akhir dekade 1990an Amerika Serikat berhasil mengembangkan SP resolusi tinggi IKONOS. IKONOS mampu menghasilkan citra dengan ketelitian spatial 1 meter. Sukses operasi IKONOS mendorong lomba pengembangan SP resolusi tinggi. Saat ini lebih dari 10 SP resolusi tinggi dioperasikan berbagai negara untuk menghasilkan citra dengan resolusi spatial kurang dari satu meter. SP internasional yang disampaikan di atas umumnya dioperasikan berbagai negara pada orbit polar yang sinkron dengan matahari. Jenis orbit itu dipilih karena satelit yang digunakan umumnya satelit yang membawa sensor optik yang harus dioperasikan pada pada lintasan orbit dengan kondisi iluminasi matahari yang konstan. Perlu dicatat pula bahwa penempatan satelit pada orbit polar memberi peluang satelit untuk mengamati seluruh permukaan bumi. Satelit berorbit polar hanya melewati wilayah Indonesia sekitar empat kali dalam 24 jam. Ditinjau dari sisi bisnis, komersialisasi SP dilaksanakan sangat terbatas. Data satelit cuaca seperti data NOAA, NPP, AQUA/TERRA-MODIS, GMS, INSAT, Meteosat

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

dan GOES didistribusikan secara tidak komersial atau gratis. Sementara itu data satelit resolusi menengah seperti data satelit sumber alam Landsat, SPOT dan satelit seri Sentinel dapat diperoleh melalui kerjasama akusisi langsung atau dengan cara mengunduh dari masing-masing penyedia data. Data satelit internasional yang perolehannya memerlukan biaya yang mahal hanya data dari SP resolusi tinggi yaitu data dengan ketelitian lebih kecil dari dari 4 m. Data SAR dikomersialkan juga secara global namun karena terbatasnya ketersediaan data, transaksi komersial data SAR sangat terbatas. Indonesia yang berada di wilayah ekuator dilewati oleh seluruh SP internasional yang berorbit polar. Untuk mendapatkan akses terhadap SP internasional, LAPAN sudah membangun kerjasama dengan USGS untuk akusisi langsung data Landsat melalui stasiun bumi di Parepare Sulawesi Selatan dan Rumpin Bogor. Kerjasama serupa dibangun pula dengan Airbus Perancis untuk akusisi langsung data satelit SPOT-6 dan 7 di Parepare. Data satelit lingkungan dan cuaca NOAA, Terra/Aqua, NPP dan GMS dapat kita akusisi langsung tanpa perlu ijin sedangkan data SP resolusi tinggi diperoleh LAPAN melalui pembelian dari distributor data internasional. Data satelit resolusi tinggi didistribusikan LAPAN secara gratis kepada kementerian, lembaga dan pemerintah daerah. Pengembangan Satelit Pengamatan Nasional Pengembangan satelit pengamatan nasional harus bertujuan untuk mengatasi kelemahan umum pengamatan wilayah yang dilaksanakan saat ini, yaitu a) terbatasnya hasil perolehan data bebas awan akibat tingginya liputan awan, b) terbatasnya frekwensi peliputan satelit serta c) terbatasnya perolehan data SAR akibat terbatasnya alokasi duty cycle satelit SAR internasional. Dengan mempertimbangkan tiga kelemahan tersebut maka pilihan jenis satelit yang bisa mendongkrak kemampuan

48

48


APPLICATIONS

pengamatan bumi nasional adalah SP yang secara teknis mampu menyajikan data bebas awan dan meliput wilayah Indonesia dengan frekuensi peliputan yang tinggi. SP yang memiliki kemampuan teknis seperti itu adalah SP radar atau Synthetic Aperture Radar (SAR) yang dioperasikan pada orbit mendekati ekuatorial. SP Radar Ekuatorial (SPRE) mampu mengamati wilayah Indonesia tanpa kendala awan sebanyak empat belas kali pada siang dan malam hari. Sebuah studi tentang pengoperasian SPRE di atas wilayah Indonesia menyatakan bahwa SPRE dengan resolusi 50 m dan lebar cakupan 350 km, akan mampu mempersingkat waktu pengulangan akusisi suatu wilayah di seluruh wilayah Indonesia menjadi hanya setiap 12 jam, apabila resolusi spatial ditingkatkan menjadi 30 m dan lebar cakupannya 125 km maka waktu pengulangan menjadi setiap 2 hari. Kemampuan SPRE tersebut dapat menutupi kelemahan SP internasional sensor optik yang waktu pengulangan untuk mendapatkan citra bebas awan bisa dalam hitungan bulan. Keberadaan SPRE dengan kemampuan teknis di atas akan mampu meningkatkan secara signifikan kualitas pemantauan objek yang bersifat dinamis atau objek yang kondisinya berubah sangat cepat. Contoh objek dinamis adalah tanaman padi. Pemantauan pertumbuhan padi dan luas panen sawah akan terdongkrak keakuratannya apabila data sensor optik bebas awan yang diperoleh setiap satu atau dua bulan diintegrasikan dengan data SPRE yang mampu mendeteksi dengan baik perubahan genangan air setiap dua hari. Contoh objek dinamis lain adalah kapal yang sedang berlayar.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

SPRE dengan kemampuannya untuk mendeteksi posisi dan pergerakan kapal akan mendongkrak keakuratan pengawasan terhadap kapal-kapal yang tidak kooperatif yang melakukan pelanggaran hukum di wilayah Indonesia. Integrasi data SPRE dengan data SP internasional akan meningkatkan secara signifikan pengawasan objek yang berubah cepat lainnya seperti kegiatan pembangunan infrastruktur, eksploitasi sumber daya mineral, wilayah terdampak kebakaran hutan dan daerah terdampak bencana alam seperti banjir, gempa bumi dan aktivitas gunung api. Kondisi nyata yang harus menjadi dasar pertimbangan dalam pengembangan SPRE adalah a) mahalnya biaya untuk mengembangkan dan mengoperasikan satelit SAR, b) umur satelit yang umumnya maksimal hanya lima tahun serta c) masih tertinggalnya kemampuan nasional dalam penguasaan teknologi satelit sehingga satelit yang kita kembangkan akan sangat bergantung pada dukungan teknologi dari negara-negara yang telah maju keantariksaannya. Kondisi nyata tersebut menjadi tantangan komunitas keantariksaan nasional. Pengoperasian SPRE adalah jalan untuk naik kelas menjadi bangsa yang mampu mengelola antariksa untuk pengawasan dan pengamanan wilayah Indonesia. Pengembangan operasi SP nasional hanya bisa terwujud kalau sudah menjadi program nasional dan mendapat dukungan biaya dari APBN. Untuk mengembangkan program dengan biaya pembangunan SPRE yang jumlahnya bisa mencapai orde trilyun rupiah, Kita harus mampu untuk meyakinkan pemerintah dan DPR tentang manfaat SPRE seperti dijelaskan di atas dan perannya yang signifikan dalam mendukung kemajuan ekonomi maupun sistem pertahanan nasional.

49

49


APPLICATIONS

Komunitas antariksa nasional pada dasarnya sudah mendapat kesempatan untuk menyampaikan program pengembangan satelit kepada pimpinan negara. Tahun 2015, komunitas keantariksaan bertemu Presiden pada saat Presiden meresmikan peluncuran LAPAN A2. Tahun 2016 bertemu wakil Presiden pada saat persiapan peluncuran LAPAN A-3. Pertemuan dengan pimpinan nasional merupakan kesempatan untuk memperkenalkan program pengembangan satelit nasional. Saya berkeyakinan Presiden dan wakil presiden dan pemerintah pada umumnya menunggu konsep komprehensif tentang pengembangan SP nasional. Tahun 2016 penulis berhasil mendorong dibentuknya program riset penugasan untuk membuat konsep pengembangan SPRE. Riset tersebut merupakan program Kemenristek Dikti yang dilaksanakan oleh LAPAN dan BPPT. Hasil pengkajian itu dapat

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

dijadikan modal awal untuk langkah lebih lanjut menjadikan pengembangan SPRE sebagai program nasional sebagaimana telah dijelaskan di atas. Sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan bahwa program pengembangan satelit nasional harus dikembangkan secara terintegrasi dalam satu sistem nasional pengamatan wilayah yang fokusnya adalah kegiatan pemanfaatan untuk kemajuan ekonomi dan pertahanan serta keamanan negara. Pengembangan secara kesisteman akan mendorong pembangunan sistem secara konsorsium oleh seluruh pihak yang terkait dengan pengembangan sistem nasional pengamatan wilayah. Pengelolaan secara konsorsium akan mendorong seluruh pihak terkait berperan aktif untuk suksesnya pengembangan subsistem kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing. Penulis akan membahas subsistem stasiun bumi dan subsistem pemanfaatan pada tulisan berikutnya. ยง

50

50


Antariksa adalah wilayah kepentingan yang hanya bisa dikuasai dengan mengoperasikan sebanyak mungkin satelit dan wahana antariksa lain yang berbendera Indonesia

Eddy Setiawan Specialist

EQUATORSPACE.COM

equatorspace.com | space policy & regulation geostationary orbits, spectrum planning, WRC, UB-COPUOS, ITU, ORM

51

Equator SPACE.com


SPACEPOLICY&REGULATION

LISTYANTO

KEANTARIKSAAN UNTUK PERTAHANAN NEGARA

DAN WADAH REGULASINYA Pendahuluan enyelenggaraan pertahanan negara merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam rangka survival bangsa, sehingga pemenuhannya harus dapat terlaksana secara memadai, terlepas dari kondisi regulasi yang sempurna atau tidak sempurna, bahkan ada atau tidak ada sekalipun. Pelaksanaan yang memadai adalah pelaksanaan yang dapat menghasilkan daya tangkal (deterrent effect) terhadap ancaman dan gangguan baik dari luar maupun dari dalam negeri, aktual maupun potensial. Dengan pemahaman demikian maka tidak ada alasan untuk menunda-nunda perform-nya penyelenggaraan pertahanan negara dengan alasan kurangnya regulasi yang mengatur.

P

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

52

52


SPACEPOLICY&REGULATION

Namun demikian dengan panjangnya masa damai yang kita nikmati selama ini, maka akan menjadi lebih baik, bila didukung dengan regulasi-regulasi, sehingga pelaksanaannya menjadi lebih terukur, efektif, efisien dan akuntabel. Dalam artikel ini akan diidentifikasi apa saja regulasi yang mewadahi kebutuhan keantariksaan untuk pertahanan negara, baik langsung maupun tidak langsung. Bisnis proses penyelenggaraan pertahanan negara. Penyelenggaraan pertahanan negara secara keseluruhan dapat dengan mudah dipahami melalui bisnis prosesnya, yang terdiri dari delapan tahapan, sebagaimana digambarkan di bawah ini. Dari bisnis proses tersebut, pada tahap ke dua, yaitu kebijakan strategis, di dalamnya terdapat postur, yaitu postur pertahanan negara yang lazimnya berisi tiga rencana

pokok, yaitu pertama: kekuatan, yang berisi personil, alutsista, infrastruktur dan fasilitas beserta pengorganisasiannya. Kedua: kemampuan, yaitu kemampuan baik individu ataupun teamwork yang harus dimiliki oleh kekuatan tadi. Ketiga: gelar, yaitu dimana kekuatan tadi akan digelar, baik dalam rangka pemangkalan (deployment) maupun operasi (employment). Dalam pengertian gelar ini terkandung pula faktor waktu (kapan), faktor tempat (di mana), dan faktor jumlah (seberapa banyak). Agak perlu ditekankan di sini bahwa penyusunan strategi dan postur yang dihadapkan dengan ketersediaan sumber daya mestilah ditempuh secara iteratif sampai ditemukan rumusan yang layak (feasible) dari semua aspek, sebagaimana gambar berikut ini. Bukan malah, misalnya, dibiarkan pada rumusan yang tidak dapat didukung sepenuhnya oleh sumber daya yang tersedia.

Catatan: Map’ dan anstra: mapping dan analisa strategis. Jakstra: kebijakan strategis. Anbut: analisa kebutuhan. Renbut: rencana kebutuhan. Litbang: penelitian dan pengembangan. P’adaan: pengadaan barang dan jasa, terutama alutsista. Rediklat: rekruitmen, pendidikan dan latihan personil. Bin: pembinaan. Hapus: penghapusan barang dan pemisahan personil (pensiun).

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

53

53


SPACEPOLICY&REGULATION Arrangement (FPDA), yaitu Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura. Mereka secara individu atau paling tidak terafiliasi dalam pakta pertahanan, dalam posturnya selain memiliki teknologi konvensional seperti yang kita miliki, juga menguasai teknologi keantariksaan dengan infrastruktur utama berupa gugus satelit, baik untuk navigasi, komunikasi maupun penginderaan, serta berbagai aplikasinya seperti untuk pengendalian rudal dan drone jarak jauh. Bahkan mereka juga menguasai teknologi pada dimensi lainnya yaitu teknologi nuklir.

Memang bisa menjadi tugas berat para pemikir strategis, namun itu harus ditempuh, sebagaimana negara juga memberikan posisi yang terhormat kepada para pemikir strategis, baik dalam bentuk tingkat jabatan atau pangkat yang tinggi dan atau penghargaan finansial yang memadai. Kebutuhan Penguasaan Teknologi Keantariksaan Postur pertahanan negara, yang merupakan bagian dari produk kebijakan strategis, sebagaimana terlihat pada bisnis proses di atas, disusun berdasarkan rumusan doktrin pertahanan dan strategi pertahanan yang dipilih. Strategi itu sendiri disusun selain berdasarkan doktrin juga berdasarkan hasil tahap sebelumnya yaitu mapping dan analisa terhadap lingkungan strategis. Tahap pertama tersebut akan mendefinisikan strength, weaknesses, opportunity dan threat (SWOT). Nah, dari identifikasi threat atau acaman inilah kemudian diketahui bahwa postur kita mengalami kekurangan secara anatomis, jika dibandingkan dengan postur pertahanan, khususnya militer, dari negara-negara yang ber-manuver di kawasan strategis kita. Mereka adalah China, Amerika Serikat, Rusia, India, Jepang dan negara-negara yang tergabung dalam Five Power Defence

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Unit-unit kekuatan konvensional yang bermanuver dengan infrastruktur terrestrial, dengan peralatan seperti radio, radar, sonar dan kamera yang melekat pada alutsista atau personil, maka akan kalah jauh efekifitas dan efisiensinya dibanding dengan unit-unit kekuatan yang sudah memadukan kekuatannya dengan teknologi keantariksaan. Unit-unit yang menggunakan teknologi keantariksaan akan bisa melihat, mendengar dan memukul lebih banyak, lebih jauh dan lebih efisien. Dengan demikian agar kinerja postur pertahanan kita lebih mendekati pada tuntutan tugasnya, yaitu mampu menghasilkan daya tangkal, maka mutlak dibutuhkan untuk meningkatkan anatomi postur dari hanya konvensional, menjadi sekurang-kurangnya ditambah penguasaan teknologi dan infrastruktur keantariksaan. Sedangkan untuk teknologi nuklir dimana kita telah meratifikasi pembatasan pengembangannya, maka hanya sebatas untuk keperluan damai saja (UU/9/1997 dan UU/1/2012). Pada semua level teknologi baik konvensional, keantariksaan maupun nuklir, tentunya terdapat lalulintas data dalam berbagai bentuk (kode, suara, gambar, dll) yang perlu diamankan baik jalur maupun isinya. Untuk itu maka penguasaan teknologi dan infrastruktur siber juga merupakan kebutuhan mendesak saat ini. Namun dalam artikel ini memang lebih menyoroti kebutuhan terkait keantariksaan.

54

54


SPACEPOLICY&REGULATION Masih terkait lalulintas data, kita juga membutuhkan jaminan ketersediaan spekrum frekuensi radio dan slot orbit. Maka dalam artikel ini juga dilihat bagaimana regulasi terkait frekuensi dan slot tersebut. Amanat Konstitusi dan Undang-Undang Pertahanan Negara Konstitusi kita mengamanatkan bahwa tiaptiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Kemudian kembali ditegaskan dalam Undang-Undang (UU) Pertahanan Negara bahwa segala sumber daya nasional yang berupa sumber daya manusia, sumber daya alam dan buatan, nilai-nilai, teknologi, dan dana dapat didayagunakan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan negara. Pasal-pasal dalam konstitusi dan UU tersebut adalah pasal sapu jagat dalam mendefinisikan sumber daya pertahanan, yang kemudian dapat dipastikan bahwa sumber daya keantariksaan nasional, baik manusia, alam, infrastruktur, fasilitas dan alat buatan adalah berada di dalamnya. Dengan kata lain konstitusi dan UU mengamanatkan bahwa kalau diperlukan dalam pertahanan, maka gunakanlah sumber daya keantariksaan. Dari uraian perkembangan lingkungan strategis di atas, dapat dipastikan bahwa itu diperlukan. Visi Keantariksaan Pada tahun 1963 Bung Karno menerbitkan Keppres nomor 236 dalam rangka pendirian LAPAN. Dalam konsiderannya tercantum visi pemerintah saat itu, yaitu bahwa LAPAN didirikan adalah untuk menguasai teknologi penerbangan dan keantriksaan. Penguasaan itu adalah untuk mewujudkan dan mensurvive-kan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, di tengah-tengah dunia yang telah sedemikan majunya (saat itu). Konsekuensi logis dari visi untuk mensurvive-kan bangsa, maka termasuk di dalamnya adalah upaya-upaya pertahanan negara. Visi itu masih sangat relevan saat ini,

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

bahkan sebagaimana perkembangan lingkungan strategis yang diuraikan di atas, sudah dalam taraf yang sangat mendesak untuk segera diwujudkan. Amanat tua yang tak kunjung terwujud secara signifikan tersebut, kembali ditegaskan oleh rakyat kepada pemerintah lima puluh tahun kemudian, melalui UU Keantariksaan pada 2013. Beberapa butir dalam UU tersebut yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan pertahanan adalah sebagai berikut: 

 

Tujuan: mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing bangsa dan negara dalam penyelenggaraan keantariksaan, yang menjadi komponen pendukung pertahanan dan integritas NKRI (ps 2 huruf a dan h) Dalam keadaan bahaya dan untuk tujuan pertahanan dan keamanan negara, Menteri Pertahanan dapat memanfaatkan seluruh sarana dan prasarana penyelenggaraan keantariksaan Indonesia (ps 10 ayat 2). Penguasaan teknologi keantariksaan wajib dilaksanakan oleh LAPAN, meliputi penguasaan dan pengembangan teknologi roket, satelit, aeronautika, penjalaran teknologi dan lain-lain. (pasal 24) Menkominfo wajib memprioritaskan penggunaan frekuensi radio untuk kegiatan keantariksaan (pasal 102 ayat 3). Eksplorasi dan pendayagunaan antariksa mutlak perlu ilpengtek keantariksaan yang bersifat teknologi canggih, biaya tinggi, risiko tinggi, serta dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kesejahteraan, pertahanan, dan keamanan. (penjelasan hal 2).

Satu tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2012, melalui UU Industri Pertahanan, rakyat telah memberikan koridor kepada pemerintah dan mitranya, terkait pengembangan teknologi untuk kepentingan pertahanan dengan pasal-pasal sebagai berikut:  Peningkatan kemampuan dan penguasaan teknologi industri pertahanan dilakukan melalui penelitian, pengembangan dan rekayasa (litbangyasa) dalam sistem nasional (pasal 28 ayat 1)

55

55


SPACEPOLICY&REGULATION 

Litbangyasa yang berkaitan dengan formulasi rancang bangun teknologi alat peralatan pertahanan dan keamanan, bersifat rahasia (pasal 30 ayat 1).

Terkait kerahasiaan dalam pelaksanaan Litbangyasa pertahanan, juga diikuti oleh pengaturan sanksi pidana bagi pembocornya. Namun perihal kerahasiaan dan sanksi pidana ini tampaknya masih banyak belum disadari oleh banyak pihak, sehingga alih-alih dirahasiakan, kadangkadang malah dipublikasikan. Adapun isi sanksi pidananya adalah sebagaimana table di bawah ini.

yang terdekat urusannya dengan keantariksaan, dimulai dengan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 52 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi. Pada PP tersebut disamping ada beberapa kutipan langsung dari UU Telekomunikasi, juga ada pengaturan yang lebih spesifik, diantaranya disebutkan bahwa pembinaan penyelenggaraan telekomunikasi khusus untuk keperluan pertahanan keamanan negara dilaksanakan oleh Menteri Pertahanan. Bahkan berbeda dengan pelayanan terhadap kepentingan lainnya, maka ditulis pula bahwa untuk itu tidak memerlukan izin prinsip dan izin penyelenggaraan (pasal 48 ayat 1 dan pasal 55 ayat 3). PP berikutnya adalah nomor 53 tahun 2000 tentang Penggunaan Spektrum Frekwensi Radio dan Orbit Satelit. Salah satu pengaturannya berbunyi bahwa dalam perencanaan penggunaan spektrum frekwensi radio, harus mendahulukan kepentingan pertahanan keamanan negara, keselamatan dan penanggulangan

Amanat mendukung kebutuhan pertahanan negara juga ditujukan kepada semua pemerintah daerah, sebagaimana tercantum dalam UU Pertahanan Negara tahun 2002, yang mengatakan bahwa pembangunan di daerah harus memperhatikan pembinaan kemampuan pertahanan (pasal 20 ayat 3). Demikian pula pada UU Telekomunikasi tahun 1999, yang menyebutkan bahwa dalam keadaan penyelenggara telekomunikasi khusus untuk keperluan pertahanan dan keamanan negara, belum atau tidak mampu mendukung kegiatannya, maka dapat menggunakan atau memanfaatkan jaringan telekomunikasi, yang dimiliki dan atau digunakan oleh penyelenggara telekomunikasi lainnya (pasal 31 ayat 1). Aturan pelaksanaan Aturan pelaksanaan tentunya harus segaris dengan amanat konstitusi dan be perundangannya. Kita lihat saja beberapa

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

keadaan marabahaya, pencarian pertolongan, kesejahteraan dan kepentingan umum (pasal 4 huruf e). Juga dikatakan pula bahwa penggunaan spektrum frekwensi untuk keperluan pertahanan keamanan negara, tidak dikenakan biaya (pasal 31 ayat 1). Sesuai PP 40 tahun 2006 tentang Tatacara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional, kebutuhan-kebutuhan strategis, seperti penguasaan teknologi dan infrastruktur keantariksaan, harus masuk ke dalam pemikiran visioner, yang akan menjadi referensi dalam penyusunan rencana pembangunan, mulai dari jangka panjang, menengah dan pendek. Dalam konteks pertahanan, maka pemikiran visioner tersebut adalah berupa produk kebijakan strategis sebagaimana diuraikan di atas, yang berupa doktrin, strategi dan postur pertahanan negara. Pembangunan infrastruktur keantariksaan juga akan membutuhkan lahan, seperti untuk lokasi pengendali stasiun bumi, pusat komando, lokasi

56

56


SPACEPOLICY&REGULATION

pabrikasi dan uji coba. Lalu bagaimana regulasi mewadahi kebutuhan itu? Hal ini diatur dalam regulasi tentang tata ruang baik UU Tata Ruang (2007), yang menegaskan diantaranya bahwa dalam penataan ruang diselenggarakan dengan memperhatikan pertahanan keamanan (pasal 6 ayat 1). Hal ini kembali ditegaskan dalam PP Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (2008), bahwa penetapan kawasan strategis nasional dilakukan diantaranya berdasarkan kepentingan pertahanan dan keamanan (pasal 75). Diskresi Terlepas dari keberadaan regulasi di atas, guna menjamin kelancaran penyelenggaran pertahanan negara yang sudah menyangkut daya survival bangsa, bila diperlukan pejabat yang berwenang dapat juga menggunakan diskresi. Beruntung bahwa hal ini telah pula diatur dalam UU Administrasi Pemerintahan (2014), yang diantaranya mengatakan bahwa ketiadaan atau ketidakjelasan peraturan perundangundangan tidak menghalangi badan dan atau pejabat pemerintahan yang berwenang, untuk menetapkan dan atau melakukan keputusan dan atau tindakan, sepanjang memberikan kemanfaatan umum dan sesuai dengan azas-azas umum pemerintahan yang baik (pasal 9 ayat 4). Khusus untuk proyek strategis nasional juga ditegaskan bahwa pejabat yang berwenang, dapat mengambil diskresi dalam rangka mengatasi persoalan yang konkret dan mendesak (Inpres 01/2016 dan Perpres 03/2016).

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Kesimpulan dan Rekomendasi. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:  Terdapat kebutuhan mendesak dalam bidang pertahanan negara untuk segera menguasai teknologi dan infrastruktur keantariksaan.  Regulasi telah menjamin keleluasaan penyelenggara pertahanan negara untuk memanfaatkan sumber daya nasional dalam berbagai bentuk, guna mewujudkan penguasaan teknologi dan infrastruktur keantariksaan.  Bila nantinya dalam upaya penguasaan tersebut mengalami kekosongan regulasi maka para pejabat yang berwenang telah pula dijamin untuk dapat menggunakan dikresi, tentunya paralel dengan upaya penyempurnaan regulasi agar lebih akomodatif. Dengan mengingat kemendesakan kebutuhan penguasaan teknologi dan infrastruktur keantariksaan untuk pertahanan negara, maka kepada pemerintah direkomendasikan agar jangan ragu, untuk segera secara definitive memasukkannya ke dalam konsepsi visioner, dalam hal ini postur pertahanan negara, dan selanjutnya memasukannya kedalam rencana pembangunan jangka panjang, menengah dan pendek, sehingga menjadi program yang berkelanjutan lintas periode pemerintahan. § Cibubur, Februari 2017

57

57


SPACEPOLICY&REGULATION

MARDIANIS Specialist Space Policy & Regulation

O

uter Space Treaty 1967 adalah nama singkat dari Treaty on the Principles

Governing the Activities of States in the Exploration and Use of Outer Space, including the Moon and Other Celestial Bodies, 1967 (Perjanjian Mengenai Prinsip yang Mengatur Kegiatan Negara dalam Eksplorasi dan Penggunaan Antariksa, termasuk Bulan dan Benda langit lainnya, 1967) yang dalam bahasa Indonesia ada yang menyebut dengan Traktat Antariksa 1967 atau Perjanjian Antariksa 1967, yang dalam tulisan ini selanjutnya disebut Perjanjian Antariksa 1967. Perjanjian Antariksa 1967 dipandang sebagai Magna Charta Hukum Antariksa atau disebut juga dengan Konstitusinya Hukum Antariksa.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Dari sudut pandang sejarah, penyusunan dan berlakunya Perjanjian Antariksa 1967 merupakan pencapaian luar biasa masyarakat internasional, terutama jika kita menganggap bahwa negosiasi Perjanjian ini berlangsung pada saat terjadinya Perang Dingin. Salah satu alasan di balik kesepakatan tentang ketentuan Perjanjian ini adalah adanya kebutuhan mendesak, yang diungkapkan oleh berbagai delegasi negara-negara selama sidang Sub-komite Hukum tahun 1965-1966, guna menyusun perjanjian yang mengandung prinsip-prinsip dalam melakukan kegiatan di antariksa sebelum pendaratan pesawat antariksa berawak yang mendarat di Bulan oleh Amerika Serikat atau Uni Soviet.

58

58


SPACEPOLICY&REGULATION

Perjanjian antariksa 1967, memuat ketentuan yang mencantumkan materi muatan tiga Resolusi yang disahkan oleh Majelis Umum PBB sebelumnya yaitu: 1. Resolusi 1721 (XVI), 20 Desember 1961, yang menyatakan antara lain : a. Menghimbau negara-negara agar dalam melakukan kegiatan eksplorasi dan penggunaan antariksa berpedoman pada prinsip-prinsip : a1) memberlakukan hukum internasional, termasuk Piagam PBB terhadap antariksa dan benda langit; a2) antariksa dan benda langit bebas untuk dieksplorasi dan digunakan oleh semua negara sejauh hal itu sesuai dengan hukum internasional dan tidak dijadikan pemilikan nasional. b. Mengundang Komite Antariksa PBB untuk mempelajari dan melaporkan tentang masalah hukum yang timbul dalam eksplorasi dan penggunaan antariksa. 2. Resolusi 1962 (XVIII), 13 Desember 1963, tentang Deklarasi tentang Prinsip-prinsip Hukum yang Berkaitan dengan kegiatan Negara-negara dalam Eksplorasi dan Penggunaan Antariksa. 3. Resolusi 1963 (XVIII), 13 Desember 1963, tentang Kerja Sama Internasional dalam Penggunaan Secara Damai Antariksa. Selanjutnya, materi perjanjian ini juga melangkah lebih jauh dengan memperluas beberapa materinya, serta dengan meletakkan aturan baru yang bertujuan untuk membuat eksplorasi dan penggunaan antariksa menjadi layak dan memastikan bahwa semua kegiatan antariksa akan dilanjutkan secara tertib. Saat ini telah terdapat 4 Perjanjian internasional keantariksaan lain yang merupakan tindak lanjut dari Perjanjian antariksa 1967, serta 13 Resolusi Majelis Umum PBB lain baik yang mengatur masalah khusus tertentu, atau menambahkan atau melengkapi ketentuan keantariksaan yang telah ada sesuai dengan perkembangan teknologi.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Sedangkan dilihat dari jumlah negara yang meratifikasi Perjanjian Antariksa 1967, sejak mulai berlaku pada bulan Oktober 1967 hingga data tahun 2016 telah diratifikasi oleh 106 Negara Pihak dan 25 negara penandatangan. Tulisan ini akan menjelaskan materi muatan ketentuan Outer Space Treaty terkait dengan persenjataan antariksa, yang juga bersinggungan dengan pemaknaan istilah “maksud damai’ yang dimuat dalam peraturan nasional dan pandangan kebijakan yang diterapkan oleh negara maju di bidang keantariksaan. Ketentuan dan Kebijakan Nasional Beberapa Negara tentang “Maksud Damai” Dalam ketentuan nasional negara-negara terutama negara Federasi Rusia, Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok, terdapat beberapa penerapan yang mengindikasikan perbedaan tentang perngertian “maksud damai” (peaceful purposes). Federasi Rusia Pasal 2 ayat 4 Piagam PBB 1945 merupakan ketentuan yang melarang melakukan tindakan mengancam atau menggunakan kekerasan terhadap integritas suatu wilayah atau negara. Pasal ini dapat ditafsirkan bahwa semua penggunaan militer diperbolehkan selama tidak ada ancaman dan penggunaan kekuatan. Ketentuan ini dimaknai dengan istilah NonAggressive. Dalam peraturan nasionalnya, Federasi Rusia tetap menolak terhadap peluncuran anti-satellite weapons (ASAT) ke antariksa (Vitaly A. Lukiantsev), hal ini bermakna bahwa senjata berbasis darat yang digunakan untuk menghancurkan satelit tidak dibenarkan. Pada tahun 2004 wakil tetap Rusia untuk Konferensi Perlucutan Senjata (Conference of Disarmament), membuat pernyataan bahwa Rusia berjanji untuk tidak menjadi pihak pertama yang menggunakan senjata di antariksa (No-First Uses) (Leonid a. Skotnikov, 2004). Pernyataan ini dapat dimaknai bahwa Rusia berjanji bahwa bukanlah negara yang pertama menggunakan senjata antariksa, atau semua kegiatan antariksa Rusia

59

59


SPACEPOLICY&REGULATION

tidak menggunakan senjata dimana senjata adalah alat untuk militer (Non-Military). Amerika Serikat Pada tahun 2003, angkatan udara AS mengeluarkan dokumen yang disebut “Transformation Flight Plan” yang memuat keseluruhan senjata antariksa pada masa depan secara ofensif dan defensif. Persenjataan ini mencakup ASAT, Hypervelocity Rod Bundles (dapat dilemparkan pada target yang berada di bawah dari antariksa), serta Son of Star Wars yang merupakan sistem pertahanan rudal (The U.S. Air Force Transformation Flight Plan, 2003). Dalam Kebijakan antariksa Amerika Serikat tahun 2006 menyebutkan tujuh prinsip program kegiatan antariksanya. Kebijakan baru tersebut menyebutkan AS berkomitmen untuk mengeksplorasi dan menggunakan antariksa untuk tujuan damai dan untuk kepentingan seluruh umat manusia. Akan tetapi dalam prinsip lainnya menyebutkan bahwa interferensi terhadap hak lalu lintas di antariksa dianggap sebagai sebuah pelanggaran dan AS akan menggunakan kekerasan jika diperlukan untuk membela diri serta juga menentang perkembangan hukum baru yang melarang atau membatasi akses AS dalam penggunaan antariksa. Dengan demikian pemahaman terhadap istilah Peaceful Purposes bagi Amerika Serikat adalah “Non-Aggressive”, sesuai dengan piagam PBB, dimana Amerika menganggap semua kegiatan militer di antariksa tidak dilarang selama tidak menggunakan kekerasan dan tidak mengganggu integritas suatu wilayah (Mc. Gill). Republik Rakyat Tiongkok Dalam White Paper on China's National Defense in 2002 (The Information Office of the State Council issued, 2002) dinyatakan bahwa RRT menerapkan Strategi Pertahanan Militer yang Aktif. RRT juga akan melakukan pengawasan perlucutan senjata dan non-proliferasi, serta secara

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

konsisten telah menganjurkan larangan terhadap senjata kimia, biologi dan nuklir. Selanjutnya, kebijakan antariksa RRT pada tahun 2006 (China's Space Activities in 2006) mengatakan salah satu tujuan dan prinsip pembangunan antariksa China adalah memanfaatkan antariksa untuk tujuan damai dan mendukung semua kegiatan yang memanfaatkan antariksa dengan damai. Namun, tahun 2006 China telah menguji energi laser tinggi terhadap satelit mata-mata Amerika ketika melewati wilayah RRT (Francis Harris, 2006). Dan pada 11 Januari 2007 China berhasil menembak jatuh salah satu setelit cuaca Fengyun-1C milik RRT sendiri dengan Rudal Balistik Jarak Menengah (Chinese anti-satellite missile test, 2007), yang menimbulkan kepanikan Amerika dan kecaman dari masyarakat internasional atas uji coba senjata di antariksa (BBC News (2007)). Menurut RRT tindakan ini bukan partisipasi dalam perlombaan senjata di antariksa dan tidak diarahkan ke negara manapun serta tidak mengancam bagi negara manapun. (China confirms anti-satellite missile test, 2012). Dari beberapa kegiatan China tersebut, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa China mendukung penggunaan teknologi ASAT. Hal ini juga dapat dilihat dari program pengembangan militer antariksa sebagai program penting dan dianggap sebagai Key Element in the Chinese Armed Forces Modernization Program (Hu Jintao, 2007). Maka dapat dikatakan, tindakantindakan RRT tersebut di atas tidak mencerminkan janji China terhadap prinsip Peaceful Purposes di antariksa sesuai dengan kebijakan nasional antariksanya. Meskipun pada kenyataannya tidak ada pengaturan perjanjian internasional yang melarang tindakan China tersebut. Ketidak konsistenan tersebut membuat RRT tidak dapat dikategorikan sebagai negara yang menganut pemahaman Non-Aggressive terhadap prinsip tujuan damai di antariksa. Dari pengaturan nasional dan kebijakan ketiga negara tersebut tercermin bahwa pengertian tentang maksud damai dalam Piagam PBB yang

60

60


SPACEPOLICY&REGULATION

secara umum dimaknai non-agresif, namun dalam aplikasinya khusus dalam Perjanjian Antariksa dimaknai secara berbeda oleh negara maju keantariksaan. Ketentuan Persenjataan Antariksa Dalam Perjanjian Antariksa 1967 Sebagaimana diungkap di awal Perjanjian Antariksa 1967 telah dinyatakan oleh para pakar hukum sebagai Magna Charta Hukum Antariksa (Magna Charta of Outer Space Law), atau "Konstitusi Untuk Antariksa" (constitution of outer space), dan "Landasan bagi Tatanan Hukum Internasional di Antariksa" (the foundation for international legal order in outer space). Dalam Pembukaan Perjanjian Antariksa 1967 mengakui "kepentingan bersama seluruh umat manusia dalam kemajuan eksplorasi dan penggunaan antariksa untuk tujuan damai," tetapi sebagaimana sebuah perjanjian internasional ketentuan yang dimuat dalam pembukaan tidak mengikat berdasarkan hukum internasional. Ketentuan kunci materi Perjanjian Antariksa 1967 yang melarang kegiatan militer atau terkait persenjataan antariksa dimuat dalam Pasal IV, yang terdiri dari dua paragraf yang menyatakan: States Parties to the Treaty undertake not to place in orbit around the Earth any objects carrying nuclear weapons or any other kinds of weapons of mass destruction, install such weapons on celestial bodies, or station such weapons in outer space in any other manner (Negara-negara Pihak Traktat berjanji tidak akan menempatkan di orbit sekeliling Bumi benda-benda yang membawa senjata nuklir atau senjata perusak masal lainnya, memasang senjata tersebut pada bendabenda langit atau menempatkan senjata tersebut dengan cara-cara lain di antariksa). The Moon and other celestial bodies shall be used by all States Parties to the Treaty exclusively for peaceful purposes. The establishment of military bases, installations

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

and fortifications, the testing of any type of weapons and the conduct of military maneuvers on celestial bodies shall be forbidden. The use of military personnel for scientific research or for any other peaceful purposes shall not be pro hibited. The use of any equipment or facility necessary for peaceful exploration of the Moon and other celestial bodies shall also not be prohibited.( Bulan dan benda-benda langit lainnya harus digunakan oleh semua Negara Pihak Traktat secara eksklusif untuk tujuantujuan damai. Mendirikan pangkalanpangkalan, instalasi-instalasi dan bentengbenteng militer, melakukan percobaan segala jenis senjata dan tindakan manuver militer pada benda-benda langit harus dilarang. Penggunaan personil militer untuk penelitian ilmiah atau untuk maksud-maksud damai lainnya tidak boleh dilarang. Penggunaan setiap peralatan atau fasilitas yang diperlukan untuk tujuan eksplorasi di Bulan dan benda-benda langit lainnya juga tidak boleh dilarang. Ketentuan Pasal ini membahas kegiatan militer di antariksa. Ketentuan ini membatasi kegiatan tersebut dalam dua cara. Bagian pertama, kegiatan non-militerisasi menyeluruh untuk kegiatan antariksa harus dicapai, dengan norma larangan dalam ayat 2 Pasal IV. Ketentuan ini menjamin penggunaan antariksa "secara eksklusif untuk tujuan damai" (exclusively for peaceful purposes) dan secara tegas melarang pendirian pangkalan militer, instalasi dan perbentengan termasuk pengujian semua jenis senjata, dan pelaksanaan manuver militer di planet lain. Status demiliterisasi juga termasuk terhadap Bulan dan benda langit lainnya. Namun ketentuan ini tidak melarang penggunaan personel militer untuk penelitian ilmiah atau untuk tujuan damai lainnya. Selain itu, penggunaan "peralatan atau fasilitas" (any equipment or facility) juga tidak dilarang, jika penggunaan yang "diperlukan untuk eksplorasi damai Bulan dan benda langit lainnya" (necessary for peaceful exploration of the Moon and other celestial bodies).

61

61


SPACEPOLICY&REGULATION Bagian kedua memuat ketentuan program pengendalian senjata yang dimuat dalam Pasal IV, ayat 1, berkaitan dengan perlucutan senjata parsial di antariksa secara umum. Paragraf pertama artikel yang menetapkan larangan menggunakan alat militer tertentu di wilayah antariksa termasuk zona orbit sekitar Bumi, yaitu: a) menempatkan di orbit sekitar Bumi benda yang membawa senjata nuklir atau jenis lain dari senjata pemusnah massal (the placing in orbit around the Earth any objects carrying nuclear weapons or any other kind of weapons of mass destruction); b) menempatkan senjata tersebut di antariksa dengan cara apapun (The stationing of such weapons in outer space in any manner), dan c) memasang senjata tersebut pada bendabenda langit (The installing of such weapons on celestial bodies). Otoritas substansial yang mendukung pandangan bahwa istilah "benda langit" (celestial bodies) meliputi Bulan, meskipun bulan itu tidak disebutkan dalam ayat 1 atau dalam kalimat kedua ayat 2 Pasal IV. Ini juga telah resmi diketahui bahwa "penempatan" di antariksa berarti juga" penggelaran atau penyebaran "sekitar bulan atau benda langit lainnya, dan cara-cara menempatkan pada benda di planet yang mengorbit atau pada benda antariksa yang jauh ("stationing" in outer space means also "deployment" around the Moon or any other celestial body, by means of orbital planetary objects or deep space probes). Roket balistik atau dikenal dengan Intercontinental Ballistic Missile (ICBM) dan Forward Operating Bases (FOBS), serta semua benda antariksa militer yang tidak membawa senjata pemusnah massal nuklir atau lainnya, tidak termasuk dalam ketentuan Pasal IV.1. Selanjutnya, untuk kegiatan-kegiatan yang dilarang, penegakan bisa menjadi ilusi, karena ketentuan larangan tidak digabungkan dengan langkah-langkah pemeriksaan atau penegakan. Meskipun dapat diragukan

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

bahwa mendeteksi sifat atau tujuan dari sebuah pesawat antariksa yang mengorbit melalui perangkat anti-satelit, atau dengan benda antariksa pengintai lainnya, akan mendapat hasil yang memadai untuk maksud perlucutan senjata yang tidak lengkap pada ketentuan Pasal IV (1). Inovasi nyata dari sistem larangan Pasal IV adalah ketentuan non-persenjataan dalam ayat 2. Namun, ketentuan ini berhubungan dengan daerah-daerah terpencil dan planet yang tidak berpenghuni seperti bulan dan benda langit lainnya. Aktivitas militer tidak dilakukan di sana pada waktu Perjanjian disahkan. Selain itu, salah satu aspek praktis menggunakan benda antariksa untuk tujuan militer, pengujian senjata nuklir, sudah dilarang oleh Perjanjian Larangan Uji Terbatas 1963 (the 1963 Limited Test Ban Treaty). Itu relatif mudah untuk mencapai kesepakatan umum untuk melarang penggunaan militer di daerah yang belum dimanfaatkan untuk tujuan tersebut dan yang menunjukkan kisaran yang agak sempit. Meskipun tidak ada kesulitan yang muncul dalam Sub-Komite Hukum Komite PBB tentang Penggunaan Antariksa secara Damai (COPUOS) ketika rancangan akhir Pasal IV dibahas, dengan bahasa yang terkandung dalam ketentuan pengendalian senjata bahwa pasal itu menimbulkan serangkaian pertanyaan. Pertama, Perjanjian berangkat tanpa respon hukum positif tentang masalah makna hukum dari istilah "tujuan damai" seperti yang digunakan tidak hanya dalam Pasal IV.1 tetapi juga dalam ketentuan lain dari Perjanjian internasional lainnya, serta di banyak Resolusi Majelis Umum PBB dan deklarasinya. Apakah terminologi kata "digunakan untuk tujuan damai" berarti dalam konteks suatu perjanjian hanya melalui perlucutan senjata parsial? Padahal tujuan awal Perjanjian adalah untuk melarang kegiatan militer di antariksa. Kedua, ketentuan utama tentang nonmiliterisasi menyeluruh pada Bulan dan benda langit lainnya dalam Pasal IV (2) berisi ungkapan "secara eksklusif untuk tujuan damai", sedangkan kalimat lain dari ayat yang

62

62


SPACEPOLICY&REGULATION

sama yang berkaitan dengan penggunaan personil militer diperbolehkan, fasilitas atau peralatan, dengan menyatakan semata-mata hanya untuk "tujuan damai", atau "eksplorasi damai". Dalam ayat 2 dari pembukaan Perjanjian ini, serta dalam Pasal IX dan XI, hanya istilah “peaceful" yang telah digunakan. Dalam hukum apabila terdapat perbedaan istilah yang digunakan maka hal itu dapat diartikan mempunyai interpretasi yang berbeda. Dengan deikian, Apakah ada perbedaan dalam arti hukum "semata-mata damai" (exclusively peaceful) dan "damai" (peaceful), bagi perancang ketentuan waktu itu, hal ini masih menjadi pertanyaan? Akhirnya, sebagai suatu prinsip perjanjian mendasar "kepentingan bersama" (common interests) Ketentuan Pasal I, ayat 1 menyatakan bahwa eksplorasi dan penggunaan antariksa harus dilaksanakan untuk kemanfaatan dan kepentingan semua negara. Sebagai konsekuensi dari ketentuan ini beberapa pertanyaan harus ditanyakan: Bagaimana status hukum semua yang tidak

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

dilarang, kegiatan militer "defensif" berdasarkan Perjanjian Antariksa 1967? Mungkinkah mereka dianggap keseluruhan adalah sah secara hukum (perfectly lawful), karena mereka berada di bawah hukum internasional klasik yang tidak memuat/ paham pemaknaan menyeluruh prinsip "kepentingan bersama"? Tanpa memperhitungkan ruang lingkup dan kewajiban tertentu yang tersirat oleh Pasal I (1) dari Perjanjian Antariksa 1967, hampir tidak mungkin untuk memberikan penjelasan yang memuaskan dari pengertian hukum asli dari bahasa yang digunakan dalam Pasal IV dan pentingnya langkah-langkah perlucutan senjata dalam hukum antariksa internasional saat ini. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa ketentuan Perjanjian Antariksa yang terkait persenjataan antariksa masih bersifat larangan terbatas bukan bersifat larangan menyeluruh, pembatasan ini disebabkan karena perbedaan interpretasi dari pengertian “maksud damai” dan jenis persenjataan yang dilarang ditempatkan di antariksa. §

63

63


P

ada tanggal 15 Februari 2017 pagi hari jam 04.39 WIB atau bertepatan dengan jam 18.39 waktu Kourou, Guyana Prancis, Telkom meluncurkan satelit kesebelasnya yang diberi nama satelit Telkom 3S yang akan mulai dioperasikan pada tahun 2017 ini, menggunakan Ariane 5 sebagai peluncurnya dengan nomor peluncuran VA235. Satelit pertama yang diluncurkan dan dimiliki Telkom adalah PALAPA A1 di tahun 1976, disusul dengan satelit generasi PALAPA B dan kemudian satelit Telkom 1 dan Telkom 2. Satelit kesepuluh Telkom yang diluncurkan adalah satelit Telkom 3 di tahun 2012 dan mengalami kegagalan.

Satelit Telkom 3S melalui test sebelum dipasang di peluncur sumber: satelittelkom3s.com Satelit Telkom 3S ini adalah pengganti satelit Telkom 3 yang mengalami kegagalan. Telkom 3S adalah buatan Thales Alineaspace dari Perancis, dan Ariane 5 sebagai peluncurnya juga dari Perancis. Dengan keberhasilan peluncuran satelit Telkom 3S, maka TELKOM di tahun 2017 akan mengoperasikan 3 satelit.

Peluncur Ariane V dengan nomor V235 sumber: satelittelkom3s.com

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Satelit Telkom 3S ini mempunyai kapasitas 24 transponder C band, 8 transponder extended C band (yang setara dengan 12 transponder equivalent atau TPE @36MHz), dan Ku band sebanyak 10 transponder (yang setara dengan 13 TPE). Dengan satelit ini, maka sesuai dengan pidato CEO TelkomGroup, Alex Sinaga, bahwa sesudah keberhasilan

64 64


peluncuran satelit ini akan menambah kapasitas transponder Telkom dan ini dikuatkan dengan pernyataan Menkominfo bahwa satelit Telkom 3S mengurangi ketergantungan terhadap transponder asing. Selain menambah kapasitas, maka dengan satelit Telkom 3S, Telkom sekarang mempunyai kapasitas transponder sendiri di frekuensi Ku band sebanyak 13 transponder equivalent (TPE). Dengan transponder Ku band ini, diharapkan penggunaan transponder KU band di Indonesia akan meningkat tajam. Satelit Telkom-3S akan ditempatkan di slot 118 BT yang sekarang ditempati oleh satelit Telkom 2 yang hanya memuat 24 transponder C band. Sedangkan satelit Telkom 2 akan menggunakan slot lain bekerjasama dengan operator lain. Sesudah diluncurkan, satelit Telkom 3S langsung dilakukan test platform selama transfer orbit ke geostationary orbit, serta melakukan deployment solar array dan reflektor antenanya. Sedangkan test transponder nya akan dilakukan di slot 135.5 BT untuk testing standard C band dan di 118 BT untuk Ku band dan extended C band.

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Satelit Telkom 3S dipasang di adapter peluncur Ariane V sumber: satelittelkom3s.com Satelit Telkom 3S diperkirakan akan selesai test pada pertengahan bulan April 2017 dan kemudian dilakukan serah terima dari Thales ke TELKOM, mengingat proses pengadaan adalah In Orbit Delivery. ยง

65 65


MASYARAKAT AHLI PENGINDERAAN JAUH INDONESIA (INDONESIAN SOCIETY FOR REMOTE SENSING) MASYARAKAT AHLI PENGINDERAAN JAUH INDONESIA (MAPIN) atau disebut juga INDONESIAN SOCIETY FOR REMOTE SENSING (ISRS) merupakan organisasi profesi nirlaba yang beranggotakan para professional dan pemangku kepentingan di bidang penginderaan jauh. Organisasi profesi ini didirikan pada hari Jumat tanggal 20 Juli 1990 di Jakarta dan dilegalkan dengan SK Kementerian Hukum dan HAM RI no AHU–31.AH.01.07–2012. VISI: “Mendukung terwujud insan profesional yang berintegritas tinggi di bidang penginderaan jauh” MISI: 1. Meningkatkan profesionalisme di bidang penginderaan jauh 2. Meningkatkan pemahaman penginderaan jauh kepada masyarakat luas 3. Menjembatani pemerintah, swasta dan akademisi dalam pemanfaatan teknologi penginderaan jauh 4. Mendukung penggunaan Penginderaan jauh dalam pengambilan keputusan , pengelolaan SDA dan pembangunan yang berkesinambungan Kegiatan MAPIN:  Pertemuan Ilmiah Tahunan  Workshop dan Seminar  Training untuk ilmuwan muda dan mahasiswa  Training untuk persiapan sertifikasi kompetensi sub bidang penginderaan jauh dan SIG  Kerjasama ilmiah antar organisasi, Kementerian Lembaga dan Perguruan tinggi.  Internasional Conference  FOCUS GROUP DISCUSSION  International workshop, International summer school dan International research cooperation  Sertifikasi profesi oleh LSTP

KONTAK

EQUATORSPACE.COM EQUATORSPACE.COM

Gedung S, Badan Informasi Geospasial (BIG) Jln. Raya Jakarta – Bogor Km 46 Cibinong, INDONESIA Telp. 021-8759481, 021-8757636 Fax. 021-8759481 66 email: sekretariat@mapin.or.id

62