Page 1

PILIH LEMBATA, JANGAN

Darimana Dana & Pembiayaaan Tambang di Indonesia ? EMAS

Para tokoh adat dan pemuka agama akan tersingkir dengan sendirinya ketika tidak mampu berkompetisi dalam dunia materialistis dan pluralistis. Saat perusahaan tambang sudah selesai beroperasi, penduduk bukannya bebas dari masalah, perusahaan bisa dengan sekehendak hati meninggalkan lokasi yang telah rusak dengan lubanglubang puluhan hektar menganga. Lahan dan air, jelas lebih berharga dari emas Lembata. Dengan demikian, pertambangan di Pulau Lembata dengan alasan peningkatan PAD, harus segera digagalkan.

6

Lahan dan Air, jelas lebih berharga dari emas Lembata. Dengan demikian, pertambangan di Pulau Lembata dengan alasan peningkatan PAD, HARUS SEGERA DIGAGALKAN.

Seri Baca Kritis? Seri Baca Kritis (BK) adalah Bahan bacaan tematik berseri untuk kebutuhan wilayah krisis JATAM, ataupun kelompok-kelompok yang sedang berjuang menghadapi industri keruk pertambangan. Bacaan ini bersumber dari informasi, hasil riset atau penelitian, juga tulisan mendalam dari lapang. Harapannya, para pembaca seri BK ini memahami bagaimana “cara� industri pertambangan membahayakan dan menghancurkan keselamatan orang. Dan upaya-upaya menghadapinya. Anda juga bisa menjadi kontributor, termasuk mengusulkan informasi apa yang harus dipaparkan seri BK berikutnya.

(Jakarta, Agustus 2008)

Pulau Lembata atau Lomblen, merupakan gugusan pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara Timur yang terkenal indah pantainya, berada dalam lingkaran sabuk api atau Ring of Fire, dengan gunung-gunung api aktif baik di daratan maupun di laut.

Menurut sejarahnya, Lembata bagian dari Lamaholot atau Kabupaten Flores Timur, yang 8 tahun lalu menjadi kabupaten otonom. Lembata dikenal unik, dibanding Pulau Flores yang hijau. Lembata cenderung gersang. Dua pertiga waktu dalam setahun pulau ini didatangi musim kemarau. Bahkan ada beberapa wilayah dimana budidaya pertanian sulit dilakukan, seperti di Lamalera - yang terkenal dengan budaya menangkap ikan paus dengan senjata tradisonal cara orang di sana bertahan hidup. Pangan terpenuhi dari menukar hasil tangkapan ikan paus dengan pangan di beberapa wilayah sekitar.

Kontributor : Heribertus Naif (Walhi NTT), Siti Maemunah & Andre S. Wijaya Editor: Siti Maemunah Staf Redaksi: Luluk Uliyah, Voni Novita, Ahmad Supiani, Anwar, Saji tata letak: nino foto: Ashido Aldorio Simatupang, Eka Tresnawan, koleksi JATAM Š 2008

Sebagian besar kawasan ini ditumbuhi padang rumput, sebagian kecilnya belukar. Ada juga hutan heterogen dengan tumbuhan Lontar dan kayu putih atau ekaliptus.

Lembata tak terlalu luas. Ia masuk kriteria pulau kecil. Luasannya dibawah 200 ribu ha. Tepatnya hanya 126.639 ha. Dihuni sekitar 107.199 jiwa yang tersebar pada 7 kecamatan dan 123 desa. Ada tiga kecamatan yang dikabarkan memiliki deposit emas tinggi, sehingga membuat PT Pukuafu Indah, milik Yusuf Merukh ngotot mendapatkan ijin menambang kawasan tersebut. Tepatnya di kecamatan Lebatukan, Omesuri dan Buyasuri, luasannya meliputi 50.808 ha atau 40 persen pulau yang tersebar dalam 54 desa. Penduduk di tiga kecamatan ini termasuk padat. Lebatukan memiliki kepadatan penduduk tertinggi di Lembata. Jumlah seluruhnya mencapai 49.119 orang. Sekitar 48 persen hutan di Lembata juga berada di 3 kecamatan ini.

1


2 Tabel Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Calon Korban Pertambangan Jumlah Penduduk Luas Wilayah (Ha)

Laki-Laki

Perempuan

TOTAL

Lebatukan

2.419

3.713

4.764

8.477

Omesuri

16.191

7.919

8.663

16.582

Buyasuri

10.426

8.535

10.525

19.060

29.306

20.167

23.592

43.759

Kecamatan

TOTAL

HUTAN, AIR, DAN PANGAN Pulau kecil memiliki sumber daya sangat terbatas, khususnya lahan dan air. Lahan bergantung pada luas pulau dan kesuburan lahan, sementara air bergantung pada keberadaan hutan. Hutan Lembata luasnya 48,6 ribu ha, 38 persen dari luas pulau. Tapi 40 persennya merupakan lahan kritis. Kawasan hutan ini menurut SK Bupati Lembata No. 10 Tahun 2004 adalah kawasan lindung. Anehnya, SK kemudian ditarik kembali oleh Bupati Duli Manuk di tengah hingarbingarnya pemilihan kepala daerah (Pilkada) tanpa alasan jelas. Apakah ada peran pelaku pertambangan dalam keputusan ini, sehingga kawasan yang semula dilindungi menjadi terbuka buat pebisnis? Mungkin hanya orang-orang dekat Bupati yang tahu. Tambang emas, membutuhkan lahan sangat luas. Jika ia dibiarkan masuk, maka sebagian besar kawasan hutan di Lembata terancam hilang fungsinya, begitu penggalian mulai dilakukan. Semua proyek pertambangan, terutama pertambangan terbuka, memerlukan lahan dalam jumlah luas untuk membangun lubang tambang, pabrik pengolah bijih, fasilitas penunjang seperti pelabuhan dan jalan, serta fasilitas lain seperti perumahan pekerja.

Untuk keperluan itu maka terjadi pembukaan hutan, lapis tanah dikupas dan digerus dari permukaan hingga kedalaman tertentu, tata air (hidrorologi) dirombak. Kegiatan ini menyebabkan terganggunya mata air setempat, resiko bencana longsor serta banjir. Disamping itu, tambang emas rakus air dan menghasilkan limbah dalam jumlah sangat besar. Hampir 98% batuan yang digali akan dibuang menjadi limbah. Itulah sebabnya, mengapa pertambangan akan sangat berbahaya bagi pulau sekecil Lembata. Tambang emas tak hanya akan merusak kawasan tangkapan air dengan menghilangkan kawasan hutan, tetapi juga kemampuan tanah menyimpan air. Mengingat lahan kritis yang jumlahnya mencapai 65,2 ribu di sini, lebih baik pemerintah Lembata memikirkan upaya pemulihannya. Maka keputusan untuk melindungi kawasan hutan adalah sebuah solusi yang dinilai bijak. Tambang yang rakus lahan dan air, juga akan mengancam mata pencaharian dan pangan. Saat ini, kawasan yang akan ditambang, setahunnya bisa menghasilkan paling sedikit 3.203 ton beras, 12.853 ton jagung, 514 ton ubi kayu dan 146 ton ubi jalar. Itu bahan pangan utama di sana.

PILIH LEMBATA, JANGAN EMAS

5

Tak hanya Lembata yang akan sengsara, begitupun nelayan di Pulau Adonara, Solor dan Alor. Sebab pulau tersebut berdekatan satu sama lain, hanya membutuhkan waktu 2 jam perjalanan dengan kapal motor laut mencapainya. Limbah ini jelas mengancam nelayan dan ekosistem perairan Lembata dan gugusan pulau sekitarnya. Jangan lupa, saat pembuatan lubang (pit) penambangan dan pembangunan pabrik serta instalasi lainnya, kegiatan pengupasan tanah, peledakan, serta pengoperasian alat-alat berat pengangkut tanah dan lalu lalang kendaraan berat dengan intensitas tinggi menjadi sumber pencemaran udara - akibat peningkatan volume debu.

JANGKA PENDEK Berbeda dengan lahan pertanian yang bisa ditanami terus menerus berkelanjutan, tambang berumur lebih pendek. Di Indonesia, meski umur perijinannya mencapai 25 hingga 50 tahun, tapi umumnya tambang skala besar hanya mencapai 4 hingga 12 tahun. Tentu ini tidak termasuk berlaku untuk Freeport di Papua dan INCO di Sulawesi Selatan yang cadangan mineralnya luar biasa besar. Meskipun pendek waktunya, datangnya industri tambang mampu merubah k o n d i s i s o s i a l w a r g a s e k i t a r. Perubahan-perubahan sosial yang terjadi terkait dengan besarnya aliran modal dalam waktu pendek dan serbuan pendatang. Misalnya, di hampir semua lokasi tambang harga-harga barang dan biaya hidup naik. Sementara bisnis hiburan, termasuk prostitusi berkembang subur. Kota Timika, salah satu contohnya. Di sini banyak prostitusi dan jumlah penderita HIV AIDSnya terbanyak di Indonesia.

Sementara itu, pekerjaan yang akan didapat warga dari pertambangan tak seperti yang diharapkan. Tak banyak yang bisa diterima bekerja di sana, apalagi sebagian besar memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Sebagian besar warga hanyalah tamatan Sekolah Dasar. Untuk kelas ini, lowongan yang mungkin ada di perusahaan biasanya sebagai buruh kasar, macam tukang kebun, tukang bersih-bersih, dan satpam. Sedangkan pekerjaan-pekerjaan penting lainnya, macam manejer atau setingkat itu, pasti akan jatuh kepada orang yang memiliki latar belakang pendidikan lebih baik. Umumnya akan didatangkan dari luar Lembata, bahkan dari luar NTT. Buruhburuh tambang dari daerah lain ini juga membuat perusahaan merasa lebih aman. Lembata yang dikenal berbudaya atau memiliki kearifan-kearifan lokal (lamaholot) dimana memiliki nilai keakraban dengan alam tentu hanya akan dikenang. Nilai-nilai kearifan lokal akan adanya ata dikhe, dalam bahasa Lamaholot artinya yang tertinggi,. Ata dikhe yang diyakini memiliki kekuatan religiusitas dan humanistis (vertikal-horisontal) pasti ditanggalkan begitu saja. Datangnya orang-orang baru, membawa budaya baru dan ditambah kebutuhan terhadap uang tunai yang makin meningkat, akan meningkatkan ketegangan sosial di kawasan itu. Interaksi sosial yang dulu dibangun atas rasa solidaritas dan nilai-nilai kemanusiaan akan berubah. Budaya Lamaholot akan dikenang sebagai budaya yang pernah ada.


4 Dengan bercanda salah seorang wartawan pertambangan menyebut pepatah “Berperahu ke hulu, mendapat durian runtuh” untuk menggambarkan cara Merukh mendapatkan saham emasnya. Naiknya harga logam dunia, khususnya tembaga dan emas, menjadi alasan utama pelaku pertambangan termasuk Merukh untuk membuka tambangtambang baru. Salah satunya di pulau Lembata. Tak tanggung-tanggung, seluruh luasan pulau ini - masuk dalam Kontrak Karya perusahaan yang luasnya mencapai 91,6 ribu hektar. Merukh melalui Merukh Enterprises (ME) mengklaim telah mengandeng investor tambang asing asal Jerman yaitu KPG Kupfer- Produkte GmbH. Dia juga mendapat dukungan penuh Bupati dan Ketua DPRD. Hal di atas terungkap dari pertemuan diam-diam, yang mereka lakukan di Jakarta, setahun lalu.

LIMBAH BERACUN Jika emasnya jadi ditambang, Lembata akan tersandung masalah besar. Sebab kawasan itu adalah pulau kecil dan tambang tambang emas menghasilkan jumlah tailing yang jumlahnya masif. Ada 3 jenis limbah utama pertambangan emas. Batuan limbah (overburden) adalah batuan permukaan atas yang dikupas untuk mendapatkan batuan bijih atau batuan yang mengandung emas.

Ta i l i n g b e r b e n t u k l u m p u r y a n g mengandung logam berat. Menurut Peraturan Pemerintah (PP) No 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) jo PP No 85 tahun 1999, disebutkan bahwa limbah yang mengandung logam berat seperti Merkuri dan Sianida termasuk dalam kelompok Limbah B3. Terakhir, air asam tambang limbah yang menyebabkan kondisi keasaman tanah, yang berpotensi melarutkan unsur mikro berbahaya dalam tanah sehingga berpotensi meracuni tanaman dan mahluk hidup sekitarnya. Umumnya, tailing dibuang ke daerah lembah dengan membuat penampung (tailing dam), dibuang ke sungai hingga ke laut biasa disebut Submarine Tailing Disposal atau pembuangan tailing ke laut. Caranya dengan membuat pipa panjang yang mengalirkan tailing ke dasar laut. Keduanya punya resiko yang berbahaya, apalagi dilakukan di pulau kecil seperti Lembata. Jika dibuang ke laut, bisa dipastikan akan menghancurkan mata pencaharian nelayan. Padahal tahun 2005 saja, ada 4.998 nelayan disana. Belum ditambah nelayan di Pulau Adonara, Solor (Flores Timur) dan Alor yang juga mengambil hasil laut di kawasan tersebut. Mereka mencari ikan jenis paperek, kerapu, kakap, cucut, ubur-ubur, rumput laut, nener dan kerang mutiara. Mereka akan menghilang begitu, limbah dibuang ke laut. Seperti yang terjadi di Teluk Buyat.

Selanjutnya ada tailing - bijih emas yang sudah diambil emasnya menggunakan bahan kimia diantaranya Merkuri atau Sianida. Tambang Yusuf Merukh di Sulawesi Utara, menggunakan Sianida.

Lembata (melalui citra Google Earth)

3

PILIH LEMBATA, JANGAN EMAS Jika tambang masuk, tanaman perkebunan juga terancam hilang. Di kawasan ini, sekarang terdapat 2.036,78 ha kebun kelapa yang menghasilkan 3.376, 5 ton kelapa ditahun 2005. Juga menghasilkan 135 ton kopi dari 823 ha kebun kopi dan 43,54 ton kakao dari 495 ha kebun kakao. Sementara jambu mete yang dihasilkan dari kebun seluas 8.975 ha mencapai 773,9 ton. Sumber-sumber pangan dan mata pencaharian warga tersebut akan rusak dan hilang, jika tambang diperbolehkan menggali kawasan tersebut. Akibatnya, kedepan akan terjadi alih profesi. Dari petani yang berdaulat atas lahan pertaniannya, menjadi buruh tambang yang bergantung pada sang majikan. Apalagi, pertambangan merupakan industri rakus air. Penggunaan air dari sumber-sumbernya dengan skala besar untuk menjalankan proses pengolahan batuan menjadi bijih logam.

MERUKH Tahun-tahun terakhir, pulau ini ramai dikunjungi pendatang Jakarta, Bandung, Singapura, Australia, Jerman bahkan Polandia. Kabarnya, mereka melakukan penelitian dan eksplorasi bahan tambang untuk PT Pukuafu Indah (PI) milik Yusuf Merukh. Sepak terjang PT PI sudah lama dikenal di tanah air, apalagi sejak Merukh memiliki saham emas (golden share) di beberapa pertambangan skala besar yang kontroversial di negeri ini Newmont Minahasa Raya di Minahasa Selatan, dan Newmont Nusa Tenggara di Sumbawa. Di kalangan wartawan pertambangan, Merukh dikenal sebagai “Raja KP” dia memiliki banyak pertambangan berijin Kuasa Pertambangan (KP). Biasanya, Merukh akan mencari mitra yang bersedia membiayai tambangnya, umumnya perusahaan tambang asing.

Luar biasa tingginya kebutuhan air untuk operasi industri tambang menyebabkan pemenuhan air warga setempat dikalahkan, sering mereka harus rela mencari mata air baru atau harus berhadapan dengan kekerasan untuk mempertahankan sumber air mereka.

Jika KP-nya diminati, mereka akan bermitra mendirikan perusahaan baru dan mengubah status perijinan menjadi Kontrak Karya (KK) ijin istimewa untuk perusahaan tambang asing. Untuk itu, dia cukup meminta pembagian saham di perusahaan baru tersebut.

Saat ini, warga disana mendapatkan air dari 2 sumber mata air, dengan kawasan hutan tangkapan mata air di atasnya. Sungguh bijaksana apabila kawasan hutan itu dilindungi dan dikonservasi agar sumber airnya mampu memasok kebutuhan masyarakat.

Ceritanya, itulah yang dilakukan Merukh untuk mendapatkan 20 persen saham Newmont di Minahasa Selatan dan Sumbawa. Tak heran jika Merukh mendapat julukan “Sleeping Partner” atau teman tidur. Mitra yang tak perlu bersusah payah untuk mendapatkan untung besar.

Infosheet Lembata  

lembata, NTT

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you