Page 1


2


3


Modul Training For Trainers: Waktunya Guru Beraksi!, 2016.— 2nd edition. MODUL; MUSI BANYUASIN; LALAN; BAYUNG LENCIR;

Ruang Berbagi Ilmu Musi Banyuasin rubimuba@gmail.com www.ruangberbagiilmu.org Design Graphic and Layouting by Yudho Bintoro Sandi © Ruang Berbagi Ilmu Musi Banyuasin All rights reserved © Cover Design , by Winda Nurjayanti © Colouring, by Enggar Sari Kesuma Wardhani

Second Edition, June 2016

4


Dedikasi. Kerja keras. Amanah. Ruang Berbagi Ilmu Musi Banyuasin merupakan gerakan sekelompok relawan yang dipertemukan atas satu cita-cita yaitu kemajuan pendidikan. Kami peduli bahwa kesuksesan pendidikan tidak luput dari kualitas pendidik. Berangkat dari Indonesia Mengajar, Ruang Berbagi Ilmu membentuk wahana aktivitas yang bertujuan meningkatkan kapasitas penggerak pendidikan daerah melalui pelatihan & pendampingan dari narasumber berlevel nasional yang kompeten. Suatu kehormatan Kabupaten Musi Banyuasin (Sumatera Selatan) menjadi salah satu tempat yang terpilih untuk penyelenggaraan Ruang Berbagi Ilmu di tahun 2016. Tercipta Ruang Berbagi Ilmu Musi Banyuasin menjadi tonggak dan pemicu pengembangan kapasitas pendidik daerah Kabupaten Musi Banyuasin. Kemasan Ruang Berbagi Ilmu Musi Banyuasin adalah Training For Trainers dengan judul besar “Waktunya Guru Beraksi�. Kami berfokus pada motivasi guru, memaknai kepemimpinan dan manajemen diri, serta pengenalan metode belajar kreatif. Pelatihan diselenggarakan secara serentak di 2 kecamatan Musi Banyuasin, yakni Lalan dan Bayung Lencir. Metode pelatihan hands-on¸ berkelompok, indoor outdoor, disertai komponen refleksi lengkap dengan kewajiban mewujudkan rencana tindak lanjut membuat kegiatan ini begitu spesial. Atas kerja keras ini, kami bermimpi setelah penyelenggaraan Ruang Berbagi Ilmu Musi Banyuasin akan tercipta semakin banyak penggerak pendidikan daerah yang mampu membuat ruang-ruang berbagi ilmu lainnya bagi rekan sejawatnya, yang tentunya dengan pergerakan inisiatif mereka sendiri. Amanah pendidikan dan pengabdian dari pemuda Indonesia menjadi cambuk pacu tersendiri bagi kami. Pemuda Indonesia yang rela membaktikan segala daya upaya demi kemajuan tanah air. Akhirnya, tiada hasil yang mengkhianati usaha. Training For Trainers Ruang Berbagi Ilmu Musi Banyuasin adalah satu lilin yang dapat kami nyalakan, membantu menerangi cahaya menuju kemajuan pendidikan bangsa. Tanggung jawab selanjutnya adalah kepada para peserta, apakah akan memilih tetap mempertahankan nyala lilin, mematikannya, atau membagikan cahaya tersebut kepada sumbu lilin lainnya, menciptakan jalan cahaya kemajuan pendidikan Indonesia. (YB)

5


Peningkatan kapasitas diri penggerak pendidikan dalam memajukan pendidikan di daerah merupakan harapan banyak pihak. Ruang Berbagi Ilmu (RUBI) lahir sebagai bentuk wahana aktivitas yang bertujuan meningkatkan kapasitas penggerak pendidikan daerah melalui pelatihan dan pendampingan untuk berbagai tema materi. Berbentuk seperti Training For Trainers, RUBI mengajak para profesional dan akademisi untuk mendaftar menjadi narasumber, hadir di daerah, dan berbagi ilmu dengan para penggerak pendidikan di daerah. Harapannya adalah ilmu yang diberikan ini akan diteruskan oleh penggerak pendidikan kepada rekan sejawat yang ada di sekitarnya. RUBI telah mulai menjejaringkan para penggerak pendidikan di daerah dan relawan dari kalangan profesional dan akademisi sejak tahun 2015. Dilahirkan dari kegiatan Festival Gerakan Indonesia Mengajar (FGIM) 2015, hingga akhir 2015 RUBI telah hadir di 12 kabupaten yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Pada semester 1 tahun 2016 ini kami bersyukur dapat kesempatan berkolaborasi dengan para penggerak pendidikan di Musi Banyuasin. Kami yakin bahwa kesuksesan kegiatan ini didasari oleh semangat dan komitmen masing-masing elemen yang terlibat. Ruang Berbagi Ilmu (RUBI) membuktikan bahwa setiap orang dengan latar belakang profesi yang bermacam-macam bisa ikut terlibat dalam memajukan kualitas pendidikan di daerah. Betapa semangat dan niat positif ini mampu meyakinkan setiap orang untuk bisa ikut ambil bagian, berkontribusi, dan bersedia mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan. Apa yang kita bersama lihat ini juga memberikan keyakinan kepada kita semua bahwa masyarakat sipil Indonesia sungguhlah kuat apabila mampu mengorganisasi diri dengan baik, bahwa masih banyak sekali orang yang siap repot-repot demi menemani saudara sebangsa kita –guru-guru, kepala sekolah, dan orang-orang hebat di berbagai penjuru Indonesia– untuk ikut menopang pendidikan Republik ini. RUBI juga kerap menjadi saksi penggerak miliki untuk dapat melihat masa depan pendaerah yang mengabaikan kondisi didikan Indonesia yang lebih baik. Bapak/Ibu, geografisnya yang saling berjauhan untuk selamat menikmati setiap proses yang ada dapat ikut serta terlibat, berkumpul, saling dalam kegiatan RUBI. Niat baik akan dijawab belajar dan berbagi melalui kegiatan ini. dengan hasil baik pula. Mari kita sebarluasPenggerak daerah yang harus siap dengan kan niat baik ini, kepada setiap elemen yang kurangnya apresiasi yang mungkin mereka ada di sekitar. Kita ajak bersama untuk berdapatkan dalam rangka memastikan kumpul membentuk kerumunan positif yang penyelenggaraan pendidikan berkeinginan untuk maju dan berkembang di setiap penjuru Indonesia bersama. Jadilah lilin di sudut negeri tetap dapat berjalan. Setiap yang sinarnya mampu menyalakan hambatan yang ada ternyata lilin-lilin lainnya. Kemudian majulah bersama tidak cukup kuat untuk meruntuhsebagai orang-orang yang paling tidak rela kan keteguhan hati yang Bapak/Ibu jika terangnya mulai redup. Muba Bisa !

6


Mewujudkan kemerdekaan bangsa yang hakiki melalui pencerdasan kehidupan bangsa Kepada Para Guru di seluruh Indonesia, Peserta Training For Trainers Ruang Berbagi Ilmu Musi Banyuasin yang budiman Visi pendidikan Indonesia telah disusun oleh pemuda terbaik negeri sejak awal negara ini mengikrarkan kemerdekaannya berpuluh tahun silam. Para pahlawan negara tersebut bercita-cita untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Selanjutnya giliran kita, pemuda terbaik negeri di era globalisasi ini yang menjaga bola kristal kemerdekaan tersebut, membawa bangsa ini hidup sama hormat dan sederajat dalam panggung kehidupan internasional dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Pendidikan sebagai hak asasi setiap individu anak bangsa telah diakui dalam UUD 1945. Merupakan tanggung jawab seluruh komponen bangsa sebagai rakyat terdidik untuk mendidik calon pemimpin bangsa. Tentu, calon pemimpin Indonesia tak hanya berasal dari kota saja, ada begitu banyak anakanak penuh semangat dan inovasi di pinggiran tanah air dan pelosok negeri ini. Anak didik yang terus berkembang menumbuhkan pula kesadaran perlunya pengembangan diri untuk sang pendidik. Penyelenggaraan Training For Trainers Ruang Berbagi Ilmu Musi Banyuasin berikut modul pelatihannya ini bertujuan menjadi jembatan ilmu antara para narasumber terbaik negeri, panitia relawan penyelenggara acara, dan peserta pelatihan, para guru inspiratif di Musi Banyuasin. Semoga modul ini dapat digunakan sebagai sumber pengetahuan yang dibutuhkan dengan konsep dan panduan yang benar,

penanda ikatan silaturahim yang tidak akan putus pasca penyelenggaraan pelatihan, dan amal jariyah yang bermanfaat hingga di masa yang akan datang. Besar harapan kami, pelatihan dan modul ini dapat berkontribusi mewujudkan kemerdekaan yang hakiki melalui pencerdasan kehidupan bangsa sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Tidak lupa, Saya juga memberikan apresiasi dan ucapan selamat kepada seluruh tim panitia Ruang Berbagi Ilmu Musi Banyuasin yang berkolaborasi dengan narasumber dan tim panitia Ruang Berbagi Ilmu Pusat atas kerja keras dan dedikasi sehingga modul pelatihan ini dapat tiba di tangan para guru inspiratif dan pelatihan ini dapat terselenggara. Musi Banyuasin dan Bangsa Indonesia akan terus menanti kehadiran produk-produk kerja keras dan inspiratif para relawan pendidikan seperti kalian.

7


Salam semangat untuk teman-teman pegiat pendidikan yang telah bekerja keras untuk RUBI Muba. Saya kagum dengan semangat dan kerja kolektif dari berbagai pihak untuk RUBI Muba ini. Uniknya, begitu banyak pihak terlibat di RUBI ini tanpa mementingkan embel-embel institusinya selain sebagai warga negara yang peduli dan mau ikut bekerja untuk pendidikan. Salut untuk panitia RUBI, baik yang di Jakarta maupun Muba, para pegiat yang akan berbagi ilmu di RUBI Muba, semua pihak yang mendukung yang telah memilih untuk ikut bekerja, serta para peserta yang antusias hadir di RUBI Muba ini. Sungguh RUBI Muba lebih dari sekedar kegiatan pelatihan, tapi bukti nyata gerakan mandiri masyarakat lintas geografis dan lintas peran untuk pendidikan di Muba dan bukti antusiasme saling belajar para pegiat pendidikan di Muba yang tidak ada habisnya. Selamat menikmati berbagai hal seru di RUBI ini: pertemanan baru, hal-hal baru untuk memperkaya proses belajar di berbagai ruang kelas di Muba dan berbagai kejutan lainnya untuk setiap yang terlibat. Selamat menikmati ikut bekerja untuk pendidikan yang terus lebih baik untuk anak-anak Indonesia di Muba. Salam, Evi Trisna

8


Selamat datang di RUBI guru-guru terbaik Musi Banyuasin! Saya mewakili rekan-rekan sesama Pengajar Muda ingin menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Bapak/Ibu penggerak pendidikan di kec. Lalan dan Bayung Lencir khususnya dan kab. Musi Banyuasin umumnya. Bapak/Ibu, Indonesia Mengajar kurang lebih sudah empat tahun belajar dan mengajar di bumi serasan sekate ini, empat tahun jualah waktu yang kami habiskan untuk menjadi saksi geliat dan pertumbuhan pendidikan di Muba. Semakin luas kami bergerak, semakin kami sadar telah tercipta kolaborasi yang apik antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muba, UPT Dikbud Kecamatan, Pengawas, Kepala Sekolah, guru-guru, dan penggerak-penggerak pendidikan lainnya. Kami menjadi saksi betapa siswa-siswi semangat dalam mengembangkan kapasitas mereka, guru-guru konsisten mengajar dan mendidik, kepala sekolah yang mendorong pengembangan sekolah, pengawas membina sekolah-sekolah binaannya, dan Dinas Dikbud Muba, UPT Dikbud beserta jajarannya senantiasa terbuka akan pergerakan dan perkembangan positif ini. Kami semakin percaya bahwa potensi kemajuan pendidikan di Muba sangatlah menjanjikan. Tapi bukan berarti minim tantangan. Dan bukan berarti tantangan-tantangan ini ada tanpa hadirnya jawaban. Menariknya, ada kata ‘tangan’ dalam kata ‘tantangan’. Tangan-tangan ini berarti kerjasama. Ker- “Mengajar bukan profesi. Mengajar adalah jasama yang apik antara jajaran pendidikan kegemaran. Aku telah mencapai sebuah kedi Muba, Indonesia Mengajar yang dalam simpulan yang menakutkan bahwa aku adahal ini diwakili oleh Pengajar Mudanya, dan lah unsur penentu di dalam kelas. Pendekarelawan pendidikan di Muba dan di Indo- tan pribadikulah yang menciptakan iklimnya. nesia, melalui Rubi ini contohnya adalah Suasana hatikulah yang membuat cuacanya. bentuk tangan-tangan yang saling bekerja Sebagai seorang guru, aku memiliki kekuatan sama dalam menciptakan ruang-ruang in- yang besar untuk membuat hidup seseorang teraksi positif yang hadir untuk menjawab menderita atau gembira. Aku bisa menjadi tantangan-tantangan yang ada. Kami yakin, alat penyiksa atau pemberi ilham, bisa berbara api semangat memajukan pendidikan canda atau memperlakukan, bisa melukai ini adalah jenis bara yang tak akan pernah atau menyembuhkan dalam semua situapadam. Bapak/Ibu guru terbaik Muba, hal si, reaksikulah yang menentukan, apakah yang mahal dewasa ini adalah inisiatif dan sebuah krisis akan memuncak atau mereda kerelaan. Inisiatif dan kerelaan untuk selalu dan apakah seseorang akan diperlakukan sebergerak, bekerja untuk perubahan yang bagai manusia atau direndahkan.” Bapak/Ibu, lebih baik setiap harinya. Dan sekecil selamat mencetak generasi terbaik Indoneapapun perubahan, patut dirayakan. Demi sia. Salam hormat. anak-anak generasi emas Musi Banyuasin Atas nama rekan-rekan Pengajar Muda Musi dan Indonesia. Untuk menutup Banyuasin, tulisan ini, ijinkanlah saya menyampaikan kutipan Gading Aulia dari Haim G. Ginott, seorang guru Sekolah Dasar, sama seperti Bapak/Ibu.

9


• • • • • • • • • • • • • • • • • •

10

Cover Halaman Dalam Cover ( Buku ini milik) Kata Pengantar Ketua Pelaksana Rubi Muba 2016 Kata Sambutan Perwakilan Rubi Pusat Kata Sambutan Plt Bupati Muba Kata Sambutan Direktur Indonesia Mengajar Kata Sambutan Pengajar Muda Daftar Isi Pendahuluan : Bagaimana menggunakan buku ini? Pengenalan Tim Rubi Muba Jadwal Kegiatan TFT Rubi Muba Materi 1: Motivasi Guru Profil Narasumber Materi 1 Materi 2: Memaknai Kepemimpinan dan Manajemen Diri Profil Narasumber Materi 2 Materi 3: Metode Belajar Kreatif Profil Narasumber Materi 3 Halaman Kosong (Kertas Catatan)


Halaman

1 2 5 6 7 8 9 10 13 14 16 18 22 25 30 34 46 47-100

11


12


Sudah berbuih rasanya kata-kata terbuncah mengucapkan kalimat mukjizat dunia pendidikan milik Pak Anis Baswedan, “mendidik adalah tugas orang terdidik�. Boleh dikatakan Ruang Berbagi Ilmu, teman-teman relawan, dan saya terlahir akibat mukjizat kata-kata itu. Sebagai relawan yang berjuang menyelenggarakan Training For Trainers Ruang Berbagi Ilmu Musi Banyuasin, jauh dalam lubuk hati kami menyadari betul, kami bukanlah pakarnya bidang pendidikan. Sebagai contoh, keseharian saya adalah sebagai dokter yang duduk dalam ruangan praktek, menunggu orang sakit datang berobat, memeriksa dan memberikan tatalaksana berikut edukasi kesehatan kepada si sakit. Namun ternyata, dokter merupakan bahasa serapan latin dari docere yang berarti guru. Kembali lagi kalimat itu terngiang, “mendidik adalah tugas orang terdidik�. Dokter adalah guru, kita semua makhluk terdidik. Sudah sepantasnya kita semua turut terjun langsung, mengerahkan tenaga membantu memajukan pendidikan negara tempat kita hirup udaranya, teguk airnya, pijak tanahnya ini. Modul ini disusun oleh para relawan pendidikan, para pemuda dengan kualitas terbaik negeri yang telah diseleksi nasional. Menggabungkan pengalaman kepesertaan berbagai pelatihan pengembangan diri, mutu, dan kepemimpinan, dengan tetap memberikan ruang gerak leluasa bagi peserta untuk mengekspresikan dirinya. Modul ini berfungsi pula sebagai buku alumni pelatihan, berisikan biodata peserta pelatihan yang dapat digunakan untuk berjejaring dan menyusun rencana pergerakan di masa depan. Adanya kolom-kolom tanpa spasi sebagai wahana menempel kenangan, dan guratan desain kartun menggugah jiwa muda nan segar peserta agar senantiasa bersemangat. Modul ini menyajikan dasar teori yang esensial bagi peserta, yang selanjutnya dapat peserta kembangkan sesuai situasi dan kondisi di wahana mengajar masing-masing. Tersedia kotak pada sudut setiap halaman teori untuk dapat ditulis oleh peserta mengenai bagian penting yang perlu ditanyakan

Tersedia pula halaman kosong di setiap topik agar peserta mampu menyusun mind map atas ilmu yang telah dibagikan. Modul ini dapat dimanfaatkan sebagai notebook di kemudian hari dengan tersedianya puluhan halaman kosong, untuk peserta dapat mencatat dan merumuskan hal-hal baru sepulang dari pelatihan ini. Sebagai penutup, modul ini diharapkan dapat melibatkan peserta semaksimal mungkin untuk berekspresi, berargumen, dan berkreasi. Peserta akan terlibat langsung dalam proses pembelajaran, menghasilkan dampak langsung dari materi yang disampaikan, dan menuliskannya dalam modul ini. Boleh jadi modul ini akan menjadi catatan sejarah peserta, menuju guru inspiratif nan mandiri (EW).

13


14


15


16


17


18


Motivasi Guru

Rohanah, Riri Kristianawati, Linda Usmayanti, Beni Hernedi A. Definisi Guru menurut para ahli Pengertian Guru Menurut PP No. 74 tahun 2008 Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Kolom Catatan Penting

Peran Pendidik Menurut Undang Undang No. 20 Tahun 2003 dan Undang Undang No. 14 Tahun 2005 peran guru adalah sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pengarah, pelatih, penilai dan pengevaluasi dari peserta didik. 1). Guru Sebagai Pendidik Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik dan lingkungannya. Oleh karena itu guru harus mempunyai standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin. Guru harus memahami nilai-nilai, norma moral dan sosial, serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. Guru juga harus bertanggung jawab terhadap tindakannya dalam proses pembelajaran di sekolah. Sebagai pendidik guru harus berani mengambil keputusan secara mandiri berkaitan dengan pembelajaran dan pembentukan kompetensi, serta bertindak sesuai dengan kondisi peserta didik dan lingkungan. 2). Guru Sebagai Pengajar Di dalam tugasnya, guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi dan memahami materi standar yang dipelajari. Guru sebagai pengajar, harus terus mengikuti perkembangan teknologi, sehingga apa yang disampaikan kepada peserta didik merupakan hal-hal yang up to date dan tidak ketinggalan jaman. Perkembangan teknologi mengubah peran guru dari pengajar yang bertugas menyampaikan materi pembelajaran dan menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar. Dimungkinkan karena perkembangan teknologi menimbulkan banyak buku dengan harga relatif murah dan peserta didik dapat belajar melalui internet dengan tanpa batasan waktu dan ruang, belajar melalui televisi, radio dan surat kabar yang setiap saat hadir di hadapan kita. 19


Derasnya arus informasi, serta cepatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan telah memunculkan pertanyaan terhadap tugas guru sebagai pengajar. Masihkah guru diperlukan mengajar di depan kelas seorang diri? Untuk itu guru harus senantiasa mengembangkan profesinya secara profesional, sehingga tugas dan peran guru sebagai pengajar masih tetap diperlukan sepanjang hayat. 3). Guru Sebagai Pembimbing Guru sebagai pembimbing dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya yang bertanggung jawab. Sebagai pembimbing, guru harus merumuskan tujuan secara jelas, menetapkan waktu perjalanan, menetapkan jalan yang harus ditempuh, menggunakan petunjuk perjalanan serta menilai kelancarannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik. Sebagai pembimbing semua kegiatan yang dilakukan oleh guru harus berdasarkan kerja sama yang baik antara guru dengan peserta didik. Guru memiliki hak dan tanggung jawab dalam setiap perjalanan yang direncanakan dan dilaksanakannya. 4). Guru Sebagai Pengarah Guru adalah seorang pengarah bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua. Sebagai pengarah guru harus mampu mengarahkan peserta didik dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi, mengarahkan peserta didik dalam mengambil suatu keputusan dan menemukan jati dirinya. Guru juga dituntut untuk mengarahkan peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya, sehingga peserta didik dapat membangun karakter yang baik bagi dirinya dalam menghadapi kehidupan nyata di masyarakat. 5). Guru Sebagai Pelatih Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih, yang bertugas melatih peserta didik dalam pembentukan kompetensi dasar sesuai dengan potensi masing-masing peserta didik. Pelatihan yang dilakukan, disamping harus memperhatikan kompetensi dasar dan materi standar,

20

juga harus mampu memperhatikan perbedaan individual peserta didik dan lingkungannya. Untuk itu guru harus banyak tahu, meskipun tidak mencakup semua hal dan tidak setiap hal secara sempurna, karena hal itu tidaklah mungkin. 6). Guru Sebagai Penilai Penilaian atau evaluasi merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Tidak ada pembelajaran tanpa penilaian, karena penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran peserta didik. Sebagai suatu proses, penilaian dilaksanakan dengan prinsip-prinsip dan dengan teknik yang sesuai, mungkin tes atau non tes. Teknik apapun yang dipilih, penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut. Mengingat kompleksnya proses penilaian, maka guru perlu memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang memadai. Guru harus memahami teknik evaluasi, baik tes maupun non tes yang meliputi jenis masing-masing teknik, karakteristik, prosedur pengembangan, serta cara menentukan baik atau tidaknya ditinjau dari berbagai segi, validitas, reliabilitas, daya beda dan tingkat kesukaran soal.


Tujuan Pendidikan “Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

B. Pembahasan video inspiratif

Video menceritakan bagaimana upaya seorang guru mendorong muridnya agar melanjutkan sekolahnya sehingga dia mampu mewujudkan mimpi-mimpinya dan menjadi orang sukses di kemudian hari. Dalam video tersebut mengisyaratkan seorang murid yang mengalami masalah ekonomi sehingga sang murid harus rela meninggalkan sekolahnya untuk mencari nafkah. Dalam video ini mengajarkan kita bahwa, dengan memotivasi memberikan dorongan psikologis yang melahirkan suatu kekuatan yang tak terduga. Siswa akan mampu menggapai mimpi mereka dengan segenap jiwa dan raga melalui dorongan dan semangat yang diberikan seorang guru padanya. Inilah pentingnya motivasi guru terhadap para siswa. Kesimpulan yang dapat diambil antara lain: 1. Motivasi sebagai pendorong perbuatan 2. Motivasi sebagai penggerak perbuatan 3. Motivasi sebagai pengarah perbuatan

Kolom Catatan Penting

C. Bagian – bagian tubuh guru

Anggota tubuh pada seorang guru memiliki peran yang dapat mengantarkan anak didiknya kepada pintu gerbang “kesuksesan” 1. Mata : Untuk melihat pekerjaan siswa yang menakjubkan 2. Bibir : selalu tersenyum dan menyambut ramah siswa setiap harinya 3. Tangan : untuk menolong, membimbing dan memberikan pelukan hangat 4. Kaki : untuk berjalan bersama siswa menjelajahi hal baru di luar kelas 5. Pikiran : untuk mengetahui dan memikirkan cara mendidik setiap siswanya 6. Telinga : untuk mendengarkan setiap cerita dan keluhan dari setiap siswa

D. Design Thinking “Selami dan Jelajahi Kemampuan” : -Selami dan Jelajahi Kemampuan siswa berdasarkan Teori Taksonomi Bloom: /Create /Evaluate /Analyze /Apply /Understand /Remember

E. Motivasi guru melalui metode coaching

Coaching adalah: • Sarana untuk proses belajar dan pengembangan diri • Membimbing seseorang untuk mencapai tujuan • Proses berbagi pengalaman dan pendapat untuk mencapai hasil yang disepakati bersama • Sarana untuk memberi inspirasi dan dukungan Coaching diajarkan melalui simulasi langsung, peserta bertindak sebagai coach dan coachee.

21


22


23


24


25


Memaknai Kepemimpinan dan Manajemen Diri

Nilam Sari, Sukmawaty Syamsuddin, Dias Widya Ramadhan, Aloina Alberto Caesar Tarigan, Mira Tyas Annisa, Benny Martadinata A. Definisi Kepemimpinan Kepemimpinan adalah: “Mengkomunikasikan nilai diri dan potensi seseorang sehingga orang tersebut dapat melihatnya di dalam diri mereka sedemikian jelasnya”- Stephen R. Covey.

Kolom Catatan Penting

Menyadari bahwa setiap manusia adalah seorang pemimpin yang akan memunculkan pemimpin lainnya. Tidak perlu jabatan yang sangat tinggi dalam menjadi seorang manusia berjiwa kepemimpinan karena sudah hukum alamnya bahwa manusia dilahirkan sebagai pemimpin di muka bumi.

B. Pembahasan video inspiratif berjudul “Bilah Kecil” Dalam video dari Stephen R. Covey ini, diceritakan bahwa kepemimpinan bukanlah sebuah jabatan melainkan sebuah “contoh”. Stephen menyatakan bahwa seorang pemimpin adalah orang yang fokus dengan apa yang bisa dipengaruhinya, bukan tergantung dengan sistem yang ada. Video ini mengenai seorang tenaga pendidik di sebuah negara yang melakukan perubahan besar dengan hanya melakukan hal kecil yang bisa dia pengaruhi. Seseorang yang tidak menyerah dengan kondisi dan sistem yang sulit di sekolah barunya. Hikmah yang dapat diambil antara lain: 1. Menghargai pencapaian pribadi sampai detik ini 2. Menyadari bahwa setiap orang bisa melakukan perubahan 3. Fokus pada lingkaran pengaruh, bukan lingkaran kepedulian 4. Mulailah dengan hal yang kecil jika itu yang bisa kita lakukan terlebih dahulu C. Kepemimpinan Transformasional Kepemimpinan Transformational memiliki definisi: “Pola kepemimpinan yang bertujuan mengembangkan pihak lain lebih dari sekedar memenuhi kepentingan pribadi, dengan menggunakan kharisma, inspirasi, dan dorongan intelektual”- Bernard Bass, 1998.

26


Kolom Catatan Penting

Untuk menjadi pemimpin transformational, diperlukan pemahaman dan implementasi 4 elemen: 2. Mengkomunikasikan Visi: Bahwa memiliki visi yang jelas saja tidak cukup. Perlu ada komunikasi kepada banyak pihak agar terjadi sinergi dalam pencapaian visi tersebut.

1. Membuat Visi: Visi atau tujuan sangat penting untuk menentukan dan mempertajam arah dan pencapaian perubahan yang diinginkan.

3. Menjalankan Visi: Walk the Talk, agar membuat visi menjadi powerful, jalankanlah dan buat lah orang lain terinspirasi untuk menjalankannya. 4. Komitmen: Sebuah visi akan sulit tercapai tanpa ada komitmen dan konsistensi dalam menjalankannya.

D. Mengenal Karakter Pemimpin Transformasional dengan 7 Kebiasaan Manusia yang Efektif

Tujuh Kebiasaan Manusia yang Paling Efektif adalah hasil dari penelitian Stephen R. Covey dari referensi-referensi Dunia yang sudah ada sejak 200 tahun yang lalu. Tujuh kebiasaan ini sudah banyak dikenal dan menjadi referensi internasional terbaik untuk menjadi landasan karakter kepemimpinan. Teori ini dipermudah dengan dirangkum menjadi sebuah “Maturity Continuum� atau tingkatan kematangan manusia. Secara hukum alam, manusia tumbuh melalui 3 fase kematangan yaitu ketergantungan, kemandirian, dan kesalingtergantungan. Untuk beralih dari fase ketergantungan menuju fase kemandirian dibutuhkan 3 kebiasaan utama yaitu: 1. Jadilah Proaktif: 2. Mulailah dengan Tujuan Akhir: 3. Dahulukan yang Utama: Bertanggung jawab Seorang pemimpin perlu memiliki Seorang pemimpin perlu atas perilaku kita tujuan akhir terlebih dahulu. mendahulukan prioritas dasendiri dan memSebelum mendapatkan tujuan lam hidup. Mana yang lebih buat pilihan-pilihan akhir, terlebih dahulu buatlah tuutama, itu yang didahulukan berdasarkan prinjuan itu di pikiran kita dan tajamkan dan jangan menundanya. sip-prinsip serta dalam bentuk visual. Fokus pada Kebiasaan ketiga ini bernilai-nilai daripada keadaan yang ingin dituju, karena kaitan dengan manajemen suasana hati atau bisa jadi keadaan sekarang belum waktu. Kita juga diajak untuk keadaan. Orangmerupakan keadaan yang kita membuat perencanaan yang orang yang proaktif inginkan. matang dan menjadwalkanadalah pelaku-pelanya. ku perubahan. 27


Jika kita berhasil menjalankan 3 kebiasaan ini, maka kita berhasil mencapai kemenangan pribadi yang berujung pada fase kemandirian. Ternyata masih ada tingkat kematangan manusia yang lebih tinggi dari kemandirian yaitu kesalingtergantungan. Terdapat 3 kebiasaan yang menunjang pada fase tesebut, yaitu:

Kolom Catatan Penting

4. Berpikir Menang-Menang: Berpikir menang-menang adalah sebuah cara berpikir, dimana anda selalu ingin mencapai keuntungan bersama dan didasarkan pada sikap yang saling menghormati antara manusia. Berpikir menang-menang artinya anda tidak berpikir egois dan diharapkan dalam sebuah hubungan terjadi situasi yang saling menguntungkan. Jangan berpikir tentang “aku� tetapi berpikirlah tentang “kita�.

6. Wujudkan Sinergi: Sinergi mengajarkan kita memanfaatkan perbedaan-perbedaan yang ada dalam mengatasi masalah dan memanfaatkan peluang. Sebuah kelompok masyarakat yang sinergis memanfaatkan kekuatan masing-masing individu sehingga bersama-sama memperoleh hasil yang maksimal. Jika kita berhasil menjalankan 3 kebiasaan ini maka sampailah pada fase kesalingtergantungan 5. Berusaha Mengerti Lebih Dahulu Baru ketika orang-orang yang mandiri berkumpul Dimengerti: dan bersatu. Demi menjaga ritme dan Kebiasaan ini akan membantu kita dapat kestabilitasan keenam kebiasaan tersebut, membangun hubungan yang baik dengan terdapat kebiasaan terakhir yaitu orang lain, mulai dengan menghargainya. Jika orang lain merasa dipahami, mereka 7. Asahlah Gergaji: merasa dihargai, sehingga peluang untuk Mengasah gergaji adalah cara kita memperberbicara secara terbuka serta dipahami ter- baharui diri terus-menerus dalam keempat jadi lebih alami dan mudah. Berusaha mema- bidang kehidupan dasar: fisik, sosial/emohami ini menuntut kemurahan dan berusaha sional, mental, dan rohaniah. Kebiasaan dipahami menuntut keberanian. Keefektifan inilah yang meningkatkan kapasitas kita unterletak dalam keseimbangan di antara kedu- tuk menerapkan kebiasaan-kebiasaan efektif anya. lainnya.

28


E. Memulai dengan Tujuan Akhir (Penyusunan visi hidup pribadi dan profesional) Apakah Bapak/Ibu telah memiliki visi dalam hidup? Jika iya, Apakah sudah menuliskan visi tersebut baik di agenda pribadi atau di tempat lain? Menurut Mark McComarck - What they don’t teach you at Harvard Business School yang menyimpulkan: “ketika punya visi dan menuliskannya maka pendapatan kita akan 10 kali lipat dari yang tidak menuliskan bahkan tidak memliki visi”. Bayangkan 10 tahun kemudian kita ingin menjadi orang seperti apa, orang di sekitar kita, anak murid, keluarga ingin mengenal anda seperti apa? • Pembuatan life plan • Pembuatan work plan • Pembacaan work plan F. Wujudkan Sinergi (Aktualisasi diri dan kelompok dengan studi kasus dan permainan kelompok) Ketika mewujudkan work plan, kita tidak bisa mewujudkannya seorang diri, butuh orang lain untuk kontribusi di dalamnya. Aktivitas 1: DOMINO Aktivitas 2: ANGKAT SEDOTAN Aktivitas 3: SCRABBLE

Kolom Catatan Penting

29


30


31


32


33


34


Metode Belajar Kreatif (MBK) IPA Johan Hadi Pranoto, Astri Imaniar Suryadi, Yustika Irianita Fanty METODE BELAJAR KREATIF

Pembelajaran merupakan proses transfer ilmu yang mengubah perilaku dan sikap seseorang. Merupakan usaha sadar dan proses mendewasakan, menjadikan diri pribadi tanggung jawab dan dorongan untuk berpikir kreatif, mampu menganalisis permasalahan, membentuk opini dan mengimplementasikan dalam hidup. Namun dewasa ini ada begitu banyak kendala dalam proses pembelajaran. Kendala tersebut antara lain keterbatasan sumber (waktu, media pembelajaran, kemampuan personalia), materi yang kurang variatif, perangkat ajar yang sering rusak, dan lainnya. Untuk itu diperlukan suatu metode pengajaran khusus yang bersifat kreatif, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Metode pembelajaran kreatif, berbeda dengan pembelajaran aktif.

Belajar aktif kreatif perlu diberikan mengingat berbagai alasan berikut: 1. Karakter dan Potensi Anak 2. Hakikat Belajar 3. Lulusan yang dikehendaki 4. Memori jangka panjang & jangka pendek Metode Belajar Kreatif merupakan metode belajar aktif, kreatif, konstruktif serta kolaboratif dan kooperatif. Karakteristik penting dari setiap pendekatan tersebut diintegrasikan sehingga menghasilkan satu model yang memungkinkan siswa mengembangkan kreativitas untuk menghasilkan produk yang bersumber dari pemahaman mereka terhadap konsep yang sedang dikaji.

35


Terdapat beberapa jenis Metode Belajar Kreatif, diantaranya: 1. Take and give 2. Make a match 3. Picture and picture 4. Mind mapping 5. Think pair and Share

6. Talking stick 7. Snowball throwing 8. Time Token 9. Course Review Horay 10. E-learning

A. Picture and Picture Model pembelajaran Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan/diurutkan menjadi urutan logis. Pembelajaran ini memiliki ciri Aktif, Inovatif, Kreatif, dan menyenangkan. Model pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai media dalam proses pembelajaran. Langkah-langkah dalam model pembelajaran Picture and Picture adalah sebagai berikut: 1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai Di langkah ini guru diharapkan untuk menyampaikan apakah yang menjadi Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian maka siswa dapat mengukur sampai sejauh mana yang harus dikuasainya. Di samping itu guru juga harus menyampaikan indikator-indikator ketercapaian KD, sehingga sampai dimana KKM yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh peserta didik. 2. Menyajikan materi sebagai pengantar Penyajian materi sebagai pengantar merupakan sesuatu yang sangat penting. Dari sini guru memberikan momentum permulaan pembelajaran. Kesuksesan dalam proses pembelajaran dapat dimulai dari sini. Karena guru dapat memberikan motivasi yang menarik perhatian siswa yang selama ini belum siap. Dengan motivasi dan teknik yang baik dalam pemberian materi akan menarik minat siswa untuk belajar lebih jauh tentang materi yang dipelajari.

36


3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi. Dalam proses penyajian materi, guru mengajar siswa ikut terlibat aktif dalam proses pembelajaran dengan mengamati setiap gambar yang ditunjukkan oleh guru atau oleh temannya. Dengan Picture atau gambar kita akan menghemat energi kita dan siswa akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Dalam perkembangan selanjutnya sebagai guru dapat memodifikasikan gambar atau mengganti gambar dengan video atau demontrasi yang kegiatan tertentu. 4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis. Di langkah ini guru harus dapat melakukan inovasi, karena penunjukan secara langsung kadang kurang efektif dan siswa merasa terhukum. Salah satu cara adalah dengan undian, sehingga siswa merasa memang harus menjalankan tugas yang harus diberikan. Gambar-gambar yang sudah ada diminta oleh siswa untuk diurutan, dibuat, atau dimodifikasi. 5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut. Setelah itu ajaklah siswa menemukan rumus, tinggi, jalan cerita, atau tuntutan KD dengan indikator yang akan dicapai. Ajaklah sebanyak-banyaknya peran siswa dan teman yang lain untuk membantu sehingga proses diskusi dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) semakin menarik. 6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. Dalam proses diskusi dan pembacaan gambar ini guru harus memberikan penekanan-penekanan pada hal ini dicapai dengan meminta siswa lain untuk mengulangi, menuliskan atau bentuk lain dengan tujuan siswa mengetahui bahwa hal tersebut penting dalam pencapaian KD dan indikator yang telah ditetapkan. Pastikan bahwa siswa telah menguasai indikator yang telah ditetapkan. 7. Kesimpulan/rangkuman Di akhir pembelajaran, guru bersama siswa mengambil kesimpulan sebagai penguatan

37


B. Mind Mapping Mind mapping merupakan cara untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambilnya kembali ke luar otak. Bentuk mind mapping seperti peta sebuah jalan di kota yang mempunyai banyak cabang. Seperti halnya peta jalan kita bisa membuat pandangan secara menyeluruh tentang pokok masalah dalam suatu area yang sangat luas. Dengan sebuah peta kita bisa merencanakan sebuah rute yang tercepat dan tepat dan mengetahui kemana kita akan pergi dan dimana kita berada. Mind mapping, disebut pemetaan pikiran atau peta pikiran, adalah salah satu cara mencatat materi pelajaran yang memudahkan siswa belajar. Mind mapping bisa juga dikategorikan sebagai teknik mencatat kreatif. Dikategorikan ke dalam teknik kreatif karena pembuatan mind mapping ini membutuhkan pemanfaatan imajinasi dari si pembuatnya. Siswa yang kreatif akan lebih mudah membuat mind mapping ini. Begitu pula, dengan semakin seringnya siswa membuat mind mapping, dia akan semakin kreatif.

Langkah-langkah pembelajarannya : 1. 2. 3. 4. 5.

Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa. Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang. Menugaskan salah satu siswa dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatancatatan kecil, kemudian berganti peran. Begitu juga kelompok lainnya. 6. Menugaskan siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Sampai sebagian siswa sudah 7. Menyampaikan hasil wawancaranya. 8. Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang 9. Kiranya belum dipahami siswa. 10. Kesimpulan/penutup.

38


C. Make A Match Teknik metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut: 1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. 2. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban. 3. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang. 4. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan bela negara akan berpasangan dengan kartu yang bertuliskan soal “sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada negara dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara� . 5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. 6. Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang telah disepakati bersama. 7. Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya. 8. Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok. 9. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran. Pada penerapan metode make a match, diperoleh beberapa temuan bahwa metode make a match dapat memupuk kerja sama siswa dalam menjawab pertanyaan dengan mencocokkan kartu yang yang ada di tangan mereka, proses pembelajaran lebih menarik dan nampak sebagian besar siswa lebih antusias mengikuti proses pembelajaran, dan keaktifan siswa tampak sekali pada saat siswa mencari pasangan kartunya masing-masing. Hal ini merupakan suatu ciri dari pembelajaran kooperatif seperti yang dikemukan oleh Lie (2002) bahwa, “Pembelajaran kooperatif ialah pembelajaran yang menitikberatkan pada gotong royong dan kerja sama kelompok.�

39


D. Talking Stick Talking stick termasuk salah satu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini dilakukan dengan bantuan tongkat, siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya. Pembelajaran Talking Stick sangat cocok diterapkan bagi siswa SD, SMP, dan SMA/SMK. Selain untuk melatih berbicara, pembelajaran ini akan menciptakan suasana yang menyenangkan dan membuat siswa aktif. Langkah-langkah penerapannya dapat dilakukan sebagai berikut. 1. Guru membentuk kelompok yang terdiri atas 5 orang. 2. Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm. 3. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran. 4. Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana. 5. Setelah kelompok selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan anggota kelompok untuk menutup isi bacaan. 6. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu anggota kelompok, setelah itu guru memberi pertanyaan dan anggota kelompok yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru. 7. Siswa lain boleh membantu menjawab pertanyaan jika anggota kelompoknya tidak bisa menjawab pertanyaan. 8. Guru memberikan kesimpulan. 9. Guru melakukan evaluasi/penilaian, baik secara kelompok maupun individu. 10. Guru menutup pembelajaran. Kolom Catatan Penting

40


E. Snowball Throwing Model Snowball Throwing merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pendekatan kontekstual (CTL). Snowball Throwing yang menurut asal katanya berarti ‘bola salju bergulir’ dapat diartikan sebagai model pembelajaran dengan menggunakan bola pertanyaan dari kertas yang digulung bulat berbentuk bola kemudian dilemparkan secara bergiliran di antara sesama anggota kelompok. Dilihat dari pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran siswa PKn, model Snowball Throwing ini memadukan pendekatan komunikatif, integratif, dan keterampilan proses. Langkah-langkah kegiatan Snowball Throwing: 1. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan. 2. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi. 3. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya. 4. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kerja untuk menuliskan pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok. 5. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama kurang lebih 5 menit. 6. Setelah siswa mendapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian. 7. Guru memberikan kesimpulan. 8. Evaluasi. 9. Penutup.

Kolom Catatan Penting

41


F. Course Review Horay Model pembelajaran Course Review Horay merupakan model pembelajaran yang dapat menciptakan suasana kelas menjadi meriah dan menyenangkan karena setiap siswa yang dapat menjawab benar maka siswa tersebut diwajibkan berteriak ’hore!’ atau yel-yel lainnya yang disukai. Jadi, model pembelajaran course review horay ini merupakan suatu model pembelajaran yang dapat digunakan guru agar dapat tercipta suasana pembelajaran di dalam kelas yang lebih menyenangkan, sehingga para siswa merasa lebih tertarik. Karena dalam model pembelajaran Course Review Horay ini, apabila siswa dapat menjawab pertanyaan secara benar maka siswa tersebut diwajibkan meneriakkan kata “hore” ataupun yel-yel yang disukai dan telah disepakati oleh kelompok maupun individu siswa itu sendiri. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Course Review Horay: 1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2. Guru menyajikan atau mendemonstrasikan materi sesuai topik dengan tanya jawab 3. Guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok. 4. Untuk menguji pemahaman siswa disuruh membuat kartu atau kotak sesuai dengan kebutuhan dan diisi dengan nomor yang ditentukan guru. 5. Guru membaca soal secara acak dan siswa menuliskan jawaban nya didalam kartu atau kotak yang nomornya disebutkan guru. 6. Setelah pembacaan soal dan jawaban siswa telah ditulis di dalam kartu atau kotak, guru dan siswa mendiskusikan soal yang telah diberikan tadi. 7. Bagi yang benar, siswa memberi tanda centang ( √ ) dan langsung berteriak horay atau menyanyikan yel-yelnya. 8. Nilai siswa dihitung dari jawaban yang benar dan yang banyak berteriak horay . 9. Guru memberikan hadiah pada yang memperoleh nilai tinggi atau yang banyak memperoleh horay. 10. Penutup

42


G. Take and Give Model Pembelajaran Menerima dan Memberi (Take and Give) merupakan model pembelajaran yang memiliki sintaks, menuntut siswa mampu memahami materi pelajaran yang diberikan guru dan teman sebayanya (siswa lain). Media Model Pembelajaran Take and Give: a) Siapkan Kartu dengan ukuran 10 x 15 cm untuk sejumlah siswa. b) Setiap kartu berisi nama siswa, bahan belajar (sub materi) dan nama yang diberi informasi, kompetensi dan sajian materi. Contoh:

Langkah-langkah kegiatan metode take and give: 1. Guru menyiapkan kelas sebagaimana mestinya. 2. Guru menjelaskan materi sesuai kompetensi yang sudah direncanakan selama 45 menit. 3. Untuk memantapkan penguasaan siswa akan materi yang sudah dijelaskan, setiap siswa diberikan satu kartu untuk dipelajari (dihapal) selama 5 menit. 4. Kemudian guru meminta semua siswa berdiri dan mencari teman pasangan untuk saling menginformasikan materi yang telah diterimanya. Tiap siswa harus mencatat nama teman pasangannya pada kartu yang sudah diberikan. 5. Demikian seterusnya sampai semua siswa dapat saling memberi dan menerima materi masing-masing (Take and Give). 6. Guru mengevaluasi keberhasilan

model pembelajaran Take and Give dengan memberikan siswa pertanyaan yang tidak sesuai dengan kartunya (kartu orang lain). 7. Guru dan siswa membuat kesimpulan bersama mengenai materi pelajaran. 43 8. Guru menutup pelajaran.


H. Time Token Arends Model pembelajaran Time Token Arends merupakan salah satu contoh kecil dari penerapan pembelajaran yang demokratis di sekolah. Proses pembelajaran yang demokratis adalah proses belajar yang menempatkan siswa sebagai subjek. Mereka harus mengalami sebuah perubahan ke arah yang lebih positif. Dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari tidak paham menjadi paham, dan dari tidak tahu menjadi tahu. Sepanjang proses belajar itu, aktivitas siswa menjadi titik perhatian utama. Dengan kata lain mereka selalu dilibatkan secara aktif. Guru dapat berperan untuk mengajak siswa mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang ditemui. Adapun langkah-langkah dari model pembelajaran Time Token Arends ini adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4.

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/ KD. Guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi klasikal. Guru memberi tugas pada siswa. Guru memberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu Âą 30 detik per kupon pada tiap siswa. 5. Guru meminta siswa menyerahkan kupon terlebih dahulu sebelum berbicara atau memberi komentar. Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lain nya. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis. Demikian seterusnya hingga semua anak berbicara. 6. Guru memberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan tiap siswa (Pada RPP ini, tiap siswa maju ke depan untuk membacakan puisi secara bergiliran dan siswa yang lain mengomentari puisi yang dibaca siswa dengan menggunakan kupon berbicara)

44


I. Think Pair Share Strategi Think Pair Share (TPS) atau berpikir berpasangan berbagai adalah merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Langkah-langkah Think Pair Share: Langkah 1 : Berpikir (Thinking) Guru mengajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah. Langkah 2 : Berpasangan (Pairing) Selanjutnya guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban. Secara normal guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan. Langkah 3 : Berbagi (Sharing) Pada langkah akhir, guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif untuk berkeliling ruangan dari pasangan ke pasangan dan melanjutkan sampai sekitar sebagian pasangan mendapat kesempatan untuk melaporkan (Arends, 1997 disadur Tjokrodihardjo, 2003)

45


46


47


48


49


50


51


52


53


54


55


56


57


58


59


60


61


62


63


64


65


66


67


68


69


70


71


72


73


74


75


76


77


78


79


80


81


82


83


84


85


86


87


88


89


90


91


92


93


94


95


96


97


98


99


100


101


Profile for Enggar Sari Kesuma Wardhani

Modul Training For Trainers: RUBI Muba  

Ruang Berbagi Ilmu Musi Banyuasin (RUBI Muba) adalah sebuah wahana aktivitas bagi pengembangan kapasitas para guru SD Kecamatan Lalan dan Ba...

Modul Training For Trainers: RUBI Muba  

Ruang Berbagi Ilmu Musi Banyuasin (RUBI Muba) adalah sebuah wahana aktivitas bagi pengembangan kapasitas para guru SD Kecamatan Lalan dan Ba...

Advertisement