Page 1

1

BAB II KAJIAN PUSTAKA A.

Penelitian Tindakan Kelas Dalam modul Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dari Pusat Penerbitan UT dikupas tentang pengertian PTK. Ditegaskan bahwa, penelitian tindakan kelas itu adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan unfuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat. (Wardani, 2004: 13). Awalnya penelitian tindakan kelas merupakan terjemahan dari classroom action research, yaitu satu action research yang dilakukan di kelas. Action research, sesuai dengan arti katanya, diterjemahkan menjadi penelitian tindakan; yang oleh Carr dan Kemmis (McNiff, J,1991, p.2) didefinisikan; Action research is a form of self-reftective enquiry undertaken by participants (teachers, students or principals, for example) in social (including educational) situations in order to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational practices, (2) their understanding of these practices, and the situations (and intitutions) in which the practices are carried out. Penelitian tindakan (action research) menurut Carr dan Kemmis sebagaimana dirangkum oleh Wijaya Kusumah dan Dedi Dwitagama (Wijaya&Dedi,2012:8) adalah suatu bentuk penelitian refleksi diri (selfreflective) yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi sosial untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran: 1. Praktik-praktik sosial atau pendidikan yang dilakukan sendiri 2. Pengertian mengenai praktik-praktik sosial atau pendidikan tersebut 3. Situasi-situasi di mana praktik-praktik sosial atau pendidikan tersebut dilaksanakan

Ini artinya bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) itu merupakan kegiatan penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan cara (1) merencanakan, (2) melaksanakan, dan (3) merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meringkat.


2

Jadi yang punya kepentingan utama terhadap PTK ini adalah guru itu sendiri yang berkeinginan memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran atau kegiatan praktek belajar dan mengajar kelas pada sekolah dengan satu tujuan pokok untuk meningkatkan mutu pendidikan berkelanjutan. B. Motivasi Belajar Siswa

Berbagai kajian dari para ahli tentang motivasi selalu terkait erat dengan proses aktifitas prilaku dan bimbingan pada seseorang,sebagaimana dikutif dari (Baron, 1992:Schunk,1990 dalam Nur, 2003:2). “Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai suatu proses internal (dari dalam diri seseorang ) yang mengaktifkan, membimbing, dan mempertahankan perilaku dalam rentang waktu tertentu�. Dalam hal ini maka motivasi itu juga dapat menentukan penyerapan informasi dalam pembelajaran sebagaimana pendapat Graham & Golan, (1991) dalam Dasim, 2008: 3 yang menyatakan bahwa : “ Motivasi penting dalam menetukan seberapa banyak siswa akan belajar dari suatu kegiatan pembelajaran atau seberapa banyak menyerap informasi yang disajikan kepada mereka. Siswa yang termotivasi untuk belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi itu dengan lebih baik�. 1. Motivasi Belajar

Pentingnya peranan motivasi dalam proses pembelajaran perlu dipahami oleh pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada siswa. Motivasi belajar siswa penentu kadar kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran yang dialami siswa,sebagaimana pendapat Djamarah S.B, dkk, (1995) “Motivasi belajar siswa merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan belajarnya. Kadar motivasi ini banyak ditentukan oleh kadar kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaranyang dimiliki oleh sisya yang bersangkutan �(Djamarah S.B, dkk, 1995:70) Maka sebagai kesimpulannya, bahwa motivasi belajar siswa tersebut merupakan proses internal yang merupakan salah satu faktor utama yang menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.


3

Peran motivasi dalam proses pembelajaran, motivasi belajar siswa dapat dianalogikan sebagai energy atau bahan bakar untuk menggerakkan sebuah mesin, motivasi belajar yang memadai akan mendorong siswa berperilaku aktif untuk berprestasi dalam kelas, tetapi motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negatif terhadap keefektifan usaha belajar siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar siswa, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi / memuaskan suatu kebutuhan. ‌.“Motivasi ada dua macam yaitu motivasi yang datang dari dalam diri anak, disebut motivasi intrinsik, dan motivasi yang diakibatkan dari luar, disebut motivasi ekstrinsik â€?(Djamarah S.B, 1997:223). Adapun fungsi dari motivasi dalam pembelajaran diantaranya : a. Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan

timbul suatu perbuatan misalnya belajar. b. Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk

mencapai tujuan yang diinginkan. c. Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku

seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan. Pada garis besarnya motivasi mengandung nilai-nilai dalam pembelajaran sebagai berikut : a. Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya kegiatan belajar siswa. b. Pembelajaran yang bermotivasi pada hakikatnya adalah pembelajaran yang sesuai

dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat yang ada pada diri siswa. c. Pembelajaran yang bermotivasi menuntut kreatifitas dan imajinitas guru untuk

berupaya secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan serasi guna membangkitkan dan memeliharan motivasi belajar siswa. d. Berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan dan mendayagunakn motivasi dalam

proses pembelajaran berkaitan dengan upaya pembinaan disiplin kelas.


4

Penggunaan asas motivasi merupakan sesuatu yang esensial dalam proses belajar dan pembelajaran. Dececco & Grwford, 1974 (dalam Slameto, 2003:175) menyatakan bahwa “dalam pemeliharaan dan peningkatan motivasi siswa ada 4 fungsi pengajar, yaitu: menggairahkan siswa, memberikan harapan realistis, memberikan insentif, dan mengarahkan�. Cony Semiawan mengatakan bahwa minat (interest), adalah keadaan mental yang menghasilkan respon terarah kepada sesuatu, situasi atau obyek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan kepadanya (statisfiers). Demikian juga minat dapat menimbulkan sikap yang merupakan suatu kesiapan berbuat bila ada stimulasi sesuai dengan keadaan tersebut. Slameto, (2003:180) menyatakan bahwa: Minat adalah satu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan suatu hubungan antara diri sendiri dan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat. Minat adalah keinginan jiwa terhadap sesuatu objek dengan tujuan untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan. Hal ini menggambarkan bahwa seseorang tidak akan mencapai tujuan yang dicita-citakan apabila di dalam diri orang tersebut tidak terdapat minat atau keinginan jiwa untuk mencapai tujuan yang dicita-citakannya itu. Dalam hubungannya dengan kegiatan belajar, minat menjadi motor penggerak untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan, tanpa dengan minat, tujuan belajar tidak akan tercapai. Penulis dalam hal ini bisa simpulkan bahwa minat belajar adalah keadaan mental atau kondisi jiwa yang menjadi motor penggerak dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Zakiah Darajat mengatakan titik permulaan dalam mengajar yang berhasil adalah membangkitkan minat belajar anak didik karena rangsangan melalui media pembelajaran. Rangsangan tersebut, membawa kepada senangnya anak didik terhadap pelajaran dan membangkitkan semangat belajar mereka. “Selain itu, guru harus mampu memelihara minat belajar siswa dalam belajar, yaitu dengan memberikan kebebasan tertentu untuk pindah dari satu aspek ke lain aspek pelajaran dalam situasi belajar �(Slameto,2003:176) Berbicara mengenai faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa, dapat ditemukan beberapa faktor yang mempengaruhi minat siswa itu sendiri. Namun pada dasarnya faktor tersebut dapat dikelompokkan ke dalam faktor intern (dalam diri) siswa yang belajar. Faktor ekstern (dari luar diri) siswa yang belajar dan faktor teknik atau pendekatan belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar kalau disarikan, yaitu : a.

Faktor-faktor yang berasal dari luar diri pelajar dan ini masih dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu : Faktor non sosial dan faktor sosial.


5 b.

Faktor yang berasal dari dalam diri pelajar dan ini pun dapat digolongkan dua golongan yaitu : faktor fisiologis dan faktor psikologis.

Mengembangkan motivasi dan minat belajar siswa yang pada dasarnya adalah membantu siswa memilih bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan untuk dipelajarinya dengan dirinya sendiri sebagai individu. Menurut Reojakkers bahwa untuk membangkitkan minat siswa dapat dicapai dengan cara menghubungkan bahan pengajaran dengan suatu media atau berita sensasional yang sudah diketahui kebanyakan siswa maka media yang full multidimetional sebagai mana facebook saat ini merupakan hal yang menarik. C.

Media Pembelajaran

1.

Pengertian Media Pembelajaran

Media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” atau “pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti:buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa; Media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandangdengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik. Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Pada mulanya, media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang digunakan adalah alat bantu visual.

Sekitar pertengahan abad Ke–20 usaha

pemanfaatan visual dilengkapi dengan digunakannya alat audio-vidio, sehingga lahirlah


6

alat bantu audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan, saat ini penggunaan alat bantu atau media pembelajaran menjadi semakin luas dan interaktif, didorong oleh semakin berkembangnya teknologi di bidang informasi lewat kombinasi perangkat komputer dan internet.

Manfaat dan Fungsi Media Pembelajaran

2.

Manfaat dan manfaat media pembelajaran berdasarkan identifikasi penulis, memiliki berbagai manfaat mengacu pada telaah Kemp Dan Dayton (1985) (dalam Badruli,2010:42), diantaranya sebagai berikut: a. Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan. Setiap guru mungkin

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

mempunyai penafsiran yang berbeda-beda terhadap suatu konsep materi pelajaran tertentu. Dengan media ini, setiap siswa dapat melihat atau mendengar uraian konsep materi/ informasi yang persis sama seperti yang diterima siswa-siswa lainya. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas daan menarik. Materi pelajaran yang dikemas melalui program media ini, akan lebih jelas, lengkap, menarik siswa. Suasana pembelajaran dapat menjadi lebih hidup dan tidak monoton. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif. Guru dapat melakukan komunikasi dua arah secara aktif selama proses pembelajaran. Karena guru dapat mengatur kelas sehingga bukan hanya guru sendiri yang aktif tetapijuga siswanya. Efesiensi dalam waktu dan tenaga. Tujuan belajar dapat tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin. Guru tidak harus menjelaskan secara berulang-ulang, sebab hanya dengan sekali sajian menggunakan media.ini, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran. Meningkaatkan kualitas hasil belajar siswa. Menggunakan media ini, siswa dapat menyerap materi pelajaran secara mendalam dan utuh. Karena siswa dapat melihat, menyentuh dan merasakan sendiri. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukaan dimana saja dan kapan saja. Siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara lebih leluasa,kapanpun dan dimanapun tanpa tergantung pada adanya guru. Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar. Dengan media ini, proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai mencari ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri dari sumber-sumber ilmu pengetahuan. Mengubah peran guru kearah yang lebih positif dan produktif. Dengan memanfaatkan media ini peran guru bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar. Guru tidak lagi harus menjelaskan seluruh materi pelajaran karena dapat berbagi peran dengan media ini. Sehingga guru dapat lebih member perhatian misalnya: membantu siswa yang mengalami kesulitan, memotivasi siswa dan membentuk kepribadian. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena : (1) obyek terlalu besar; (2) obyek terlalu


7

kecil; (3) obyek yang bergerak terlalu lambat; (4) obyek yang bergerak terlalu cepat; (5) obyek yang terlalu kompleks; (6) obyek yang bunyinya terlalu halus; (7) obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. i. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik. Dengan media memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya. Media juga dapat menghasilkan keseragaman pengamatan dan dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis. j. Media membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar sehingga memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak. 3.

Media Elektronik Dalam Pembelajaran Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)

penggunaan media, baik yang bersifat visual, audial, projected still media maupun projected motion media saat ini bisa dilakukan secara bersama dan serempak melalui satu alat saja lewat sebuah Gadget Multi Media via Internet Media Elektronik berbasis Internet (Online) dalam pembelajaran terus mengalami perkembangan yang sangat pesat dan sejauh ini kalau kita rinci akan kita temukan banyak istilah baru yang kemungkinannya tiap saat terus bertambah. sebagai berikut,diantaranya saja yang sudah sangat umum di dunia pendidikan sebagai berikut: a. E-Learning Teknologi informasi meliputi : internet, buku elektronik, jejaring sosial dan lain sebagainya. Kita semua tentu mengenal internet, salah satu pemanfaatn internet dalam pembelajaran adalah sebagai e-Learning. Victoria L. Tinio menyatakan bahwa elearning meliputi pembelajaran pada semua tingkatan, formal maupun nonformal, yang menggunakan jaringan computer (intranet maupun ekstranet) untuk pengantaran bahan ajar, interaksi, dan/atau fasilitasi. Untuk pembelajaran yang sebagian prosesnya berlangsung dengan bantuan jaringan internet sering disebut sebagai online learning. b. E-Book Buku elektronik atau e-book adalah salah satu teknologi yang memanfaatkan komputer untuk menayangkan informasi multimedia dalam bentuk yang ringkas dan dinamis. Dalam sebuah e-book dapat diintegrasikan dengan tayangan suara, grafik, gambar, animasi, maupun movie sehingga informasi yang disajikan lebih kaya dibandingkan dengan buku konvensional. Jenis e-book paling sederhana adalah yang sekedar memindahkan buku konvensional menjadi bentuk elektronik yang ditayangkan oleh komputer. Dengan


8

teknologi ini, ratusan buku dapat disimpan dalam satu keping CD atau compact disk , DVD maupun flashdisk. c. Jejaring Sosial Jejaring sosial adalah suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul(yang umumnya adalah individu atau organisasi) yang dijalin dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, keturunan, dll. Contohnya; Facebook, dewasa ini jejaring sosial ini mampu meramu semua jenis multi media elektronik dan bersifat interaktif, multitasking dan paling trend digemari hampir semua lapisan masyarakat, tak luput sampai ke pelosok daerah adalah Facebook, selainnya ada juga Twitter, Skype,Whatapps, dll. D.

Media Pembelajaran PPKn Berbasis Network Facebook

1.

Network Facebook Facebook

menurut

versi

ensiklopedia

bebas

Wikipedia

(2013)

adalah

sebuah layanan jejaring sosial yang diluncurkan pada bulan Februari 2004, dimiliki dan dioperasikan oleh Facebook, Inc. Pada September 2012, Facebook memiliki lebih dari satu miliar pengguna

aktif,dan lebih

dari

separuhnya

menggunakan telepon

genggam.

Pengguna harus mendaftar sebelum dapat menggunakan situs ini. Setelah itu, pengguna dapat membuat profil pribadi, menambahkan pengguna lain sebagai teman, dan bertukar pesan, termasuk pemberitahuan otomatis ketika mereka memperbarui profilnya. Selain itu, pengguna dapat bergabung dengan grup pengguna dengan ketertarikan yang sama, diurutkan berdasarkan tempat kerja, sekolah atau perguruan tinggi, atau ciri khas lainnya, dan mengelompokkan teman-teman mereka ke dalam daftar seperti "Rekan Kerja" atau "Teman Dekat". Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg bersama teman sekamarnya dan sesama mahasiswa Universitas

Harvard, Eduardo

Saverin, Andrew

McCollum, Dustin

Moskovitz dan Chris Hughes. Keanggotaan situs web ini awalnya terbatas untuk mahasiswa Harvard saja, kemudian diperluas ke perguruan lain di Boston, Ivy League, dan Universitas Stanford. Situs ini secara perlahan membuka diri kepada mahasiswa di universitas lain sebelum dibuka untuk siswa sekolah menengah atas, dan akhirnya untuk setiap orang yang berusia minimal 13 tahun. Meski begitu, menurut survei Consumer Reports bulan Mei 2011, ada 7,5 juta anak di bawah usia 13 tahun yang memiliki akun


9

Facebook dan 5 juta lainnya di bawah 10 tahun, sehingga melanggar persyaratan layanan situs ini. Studi Compete.com bulan Januari 2009 menempatkan Facebook sebagai layanan jejaring sosial yang paling banyak digunakan menurut jumlah pengguna aktif bulanan di seluruh

dunia. Entertainment

Weekly menempatkannya

di

daftar

"terbaik"

akhir dasawarsa dengan komentar, "Bagaimana caranya kita menguntit mantan kekasih kita, mengingat ulang tahun rekan kerja kita, mengganggu teman kita, dan bermain “Scrabulous� sebelum Facebook diciptakan?"

Quantcast memperkirakan Facebook

memiliki 138,9 juta pengunjung bulanan di AS pada Mei 2011. Menurut Social Media Today pada April 2010, sekitar 41,6% penduduk Amerika Serikat memiliki akun Facebook. Meski begitu, pertumbuhan pasar Facebook mulai turun di sejumlah wilayah dengan hilangnya 7 juta pengguna aktif di Amerika Serikat dan Kanada pada Mei 2011. Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama oleh beberapa pihak administrasi universitas di Amerika Serikat dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain. Facebook memungkinkan setiap orang berusia minimal 13 tahun menjadi pengguna terdaftar di situs ini. Pemanfaatan social network Facebook sebagai Media Pembelajaran PPKn

2.

Pemanfaatan social network atau jejaring sosial ini sebenarnya menjadi peluang yang cukup menarik untuk dimanfaatkan dalam dunia pendidikan sebagai salah satu media pembelajaran,khususnya mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan(PKn). Dalam facebook kita sebagai pelajar atau siswa tidak hanya dapat bertegur sapa di chat facebook tapi juga bisa bertukar informasi. Atau bisa juga membuat grup perkumpulan sekolah untuk sekedar bertukar ilmu dan berkomunikasi secara luas dengan anggota lainnya. Jadi media social network tidak hanya berfungsi untuk forum berkomunikasi saja tapi juga bisa bermanfaat menjadi media dalam bertukar informasi antar anggota penggunanya dalam hal ini termasuk pengguna dari kalangan pelajar. (http:/edukasi.kompasiana.com/2012/09/26/pemanfaatan-media-teknologi-dalampembelajaran - diunduh 9 Sepetember 2013) Hal-hal yang bisa dilakukan lewat pemanfaatan media elektronik jejaring sosial facebook sebagai media pembelajaran efektif interaktif, misalnya : a.

Membuat forum diskusi dengan anak didik kita dan memberikan umpan materi diskusi yang berkaitan dengan materi pelajaran di sekolah.


10 b.

Sebagai tempat tukar pendapat antara siswa dan guru dengan memberikan suatu masalah yang berkaitan dengan pembelajaran di sekolah.

c.

Memberikan paparan materi pelajaran dan tugas pekerjaan rumah (PR) melalui facebook, sehingga siswa tidak hanya menggunakan facebook untuk hal-hal yang kurang bermanfaat tetapi sebagai wadah komukasi intensif, kreatif dan interaktif antara guru dan siswa di luar jam sekolah.

d.

Masih banyak ide-ide lain yanog bisa dikembangkan lewat Facebook dan bisa sharing dengan komunitas pendidik sehingga ide lebih baik lagi bisa bermunculan di pikiran kita. Yang pasti, kita tentunya tidak ingin anak-anak peserta didik kita disesatkan oleh keberadaan facebook yang bukan mustahil bisa saja memerosotkan mental anak bangsa,bila tidak dibimbing dan diarahkan ke hal positif. Hal yang demikian tentu perlu kita hindari maka dengan turut serta memanfaatkan facebook sebagai media pembelajaran bersama peserta didik, guru bisa sekaligus mengontrol dan mengawasi keselamatan mereka dari pengaruh arus globalisasi informasi yang negatif.

E.

Hasil Belajar

1.

Pengertian Hasil Belajar Untuk mengetahui sejauh mana proses belajar mengajar mencapai tujuan

pembelajaran yang diharapkan, maka perlu diadakan tes hasil belajar. Menurut pendapat Winata Putra dan Rosita (1997; 191 ) tes hasil belajar adalah salah satu alat ukur yang paling banyak digunakan untuk menentukan keberhasilan seseorang dalam suatu proses belajar mengajar atau untuk menentukan keberhasilan suatu program pendidikan. Adapun dasar-dasar penyususan tes hasil belajar adalah sebagai berikut: a. Tes hasil belajar harus dapat mengukur apa-apa yang dipelajari dalam proses

pembelajaran sesuai dengan tujuan instruksional yang tercantum dalam kurikulum yang berlaku. b. Tes hasil belajar disusun sedemikian sehingga benar-benar mewakili bahan yang

telah dipelajari. c. Bentuk pertanyaan tes hasil belajar hendaknya disesuaikan dengan aspek-aspek

tingkat belajar yang diharapkan.


11 d. Tes hasil belajar hendaknya dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar

mengajar. A. Tabrani (1992;3) mengatakan bahwa belajar mengajar adalah suatu proses yang rumit karena tidak sekedar menyerap informasi dari guru, tetapi melibatkan berbagai kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan , terutama bila diinginkan hasil yang lebih baik . Tipe Hasil Belajar Menurut Nana Sudjana (1988; 49), tujuan pendidikan yang ingin dicapai dalam suatu pengajaran terdiri dari 3 macam yaitu: bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiga aspek tersebut merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan yang harus nampak sebagai hasil belajar. Nana Sudjana (1988;50-54) juga mengemukakan unsur-unsur yang terdapat dalam ketiga aspek pengajaran, resumenya adalah sebagai berikut : a. Tipe hasil belajar bidang kognitif Tipe ini terbagi menjadi 6 poin,yaitu tipe hasil belajar : 1) Pengetahuan hafalan (Knowledge), yaitu pengetahuan yang sifatnya faktual. Merupakan jembatan untuk menguasai tipe hasil belajar lainnya. 2) Pemahaman (konprehention), kemampuan menangkap makna atau arti dari suatu konsep 3) Penerapan (aplikasi), yaitu kesanggupan menerapkan dan mengabtraksikan suatu konsep. Ide, rumus, hukum dalam situasi yang baru, misalnya memecahkan persoalan dengan menggunakan rumus tertentu. 4) Analisis, yaitu kesanggupan memecahkan, menguasai suatu intergritas (kesatuan ynag utuh) menjadi unsur atau bagian yang mempunyai arti . 5) Sintesis, yaitu kesanggupan menyatukan unsur atau bagian menjadi satu integritas. 6) Evaluasi, yaitu kesanggupan memberikan keputusan tentang nilai sesuatu berdasarkan pendapat yang dimilikinya dan kriteria yang dipakainya. 2.

Tipe hasil belajar afektif Bidang afektif disini berkenaan dengan sikap. Bidang ini kurang diperhatikanoleh guru, tetapi lebih menekankan bidang kognitif. Hal ini didasarkan pada pendapat beberapa ahli yang mengatakan, bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya, bila seseorang telah menguasai bidang kognitif tingkat tinggi. Beberapa tingkatan bidang afektif sebagai tujuan dan tipe hasil belajar dari yang sederhana ke yang lebih komplek yaitu : 1) Receiving atau attending, yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan dari luar yang datang pada siswa, baik dalam bentuk masalah situasi dan gejala. 2) Responding atau jawaban, yakni reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulus dari luar . 3) Valuing atau penilaian, yakni berhubungan dengan nilai dan kepercayaan terhadap stimulus. 4) Organisasi, yakni pengembangan nilai ke dalam system organisasi, termasuk menentukan hubungan satu nilai dengan nilai lainnya dan kemantapan prioritas yang dimilikinya . 5) Karakteristik nilai atau internalisasi, yakni keterpaduan dari semua nilai yang dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya b.


12

Tipe hasil belajar bidang psikomotor Hasil belajar bidang psikomotorik tampak dalam bentuk ketrampilan, kemampuan bertindak individu. Ada 6 tingkatan ketrampilan yaitu : 1) Gerakan refleks yaitu ketrampilan pada gerakan tidak sadar. 2) Ketrampilan pada gerakan-gerakan dasar. 3) Kemampuan pesreptual termasuk di dalamnya membedakan visual , adaptif, motorik, dan lain-lain. 4) Kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan keharmonisan dan ketetapan. 5) Gerakan-gerakan skill, mulai dari dari ketrampilan sederhana sampai pada ketrampilan yang kompleks . 6) Kemampuan yang berkenaan dan komunikasi non decorsive seperti gerakan ekspresif, interpretatif. c.

Kompetensi Multi Dimensi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)

3.

Disandarkan

pada

kajian

Dasim

Budimansyah

tentang

Pembelajaran

Kewarganegaraan Multidimensional (2010: 2-6) dikatakannya bahwa “pendidikan kewarganegaraan abad ke-21 membutuhkan satu pendekatan yang lebih holistic yang ditandai kesempurnaan dan konsistensi pada isi dan cakupannya.� Para peneliti yang tergabung dalam Civic Education Policy Study (CEPS) merumuskan satu model konseptualisasi pendidikan kewarganegaraan yang kompleks guna mengatasi tantangantantangan yang akan dihadapi pada dekade abad ke-21 yang dinamakan Multi Domentional Citizenship (MDC) atau kewarganegaraan multidimensi. Karenanya, mengenalkan dimensi-dimensi tersebut merupakan satu kebutuhan yang penting saat ini. Maka dimensi-dimensi tersebut agar dipahami dan disajikan secara konseptual untuk dianalisis dan jadi bahan rekomendasi kebijakan setidaknya harus ditekankan pada pembentukan karakter kewarganegaraan berikut ini. Ada 8 karakteristik penting pendidikan kewarganegaraan yang membutuhkan perhatian penting dari para pendidik dan pembuat kebijakan ke depan agar PKn sebagaimana menurut Cogan & Derricott (1998) (dalam Budimansyah,2010:4-5) adalah: 1)

kemampuan untuk melihat dan mendekati masalah sebagai anggota masyarakat global;

2)

kemampuan bekerja sama dengan yang lain dengan cara yang kooperatif dan menerima tanggung jawab atas peran/tugasnya di dalam masyarakat;

3)

kemampuan memahami, menerima, menghargai dan dapat menerima perbedaanperbedaan budaya;


13 4)

kapasitas berpikir dengan cara yang kritis dan sistematis;

5)

keinginan untuk menyelesaikan konflik dengan cara tanpa kekerasan;

6)

keinginan untuk mengubah gaya hidup dan kebiasaan konsumtifnya untuk melindungi lingkungan;

7)

kemampuan bersikap sensitif dan melindung hak asasi manusia (misalnya, hak wanita, hak etnis minoritas, dan lain-lain);dan

8)

keinginan dan kemampuan untuk ikut serta dalam politik

9)

pada tingkat lokal, nasional dan internasional.

Kajian teori dan pustaka  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you