Page 1

Vol. 6 n No. 67 n Juli 2015

Apa yang Tengah Kita Kerjakan?

Selamat Hari Raya Mohon Maaf Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 Lahir juli 2015 & Batin 1


Isi Nomor ini

10

Ketika 80-90 persen pengunjung Kawah Ijen, wisatawan asing

14

Citra Tradisi di Tengah Modernitas

24

Hotel Internasional Menghadap ke Sungai

Di Yogyakarta, praktis di setiap hotel, di lobi atau konter resep­

Penanggungjawab: • Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara; • Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Wakil Penanggungjawab: • Asisten Deputi Strategi Pemasaran Pariwisata Mancanegara; • Asisten Deputi Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara Penerbit/Pemimpin Redaksi: Arifin Hutabarat Reporter: Benito Lopulalan Alamat: Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jl. Medan Merdeka Barat No.17, Lantai 3 Jakarta 10110 Telp Fax Email

: : :

021 383 8220 021 380 8612, jurnal@indonesia.travel

Jika Anda mem­punyai infomasi dan pendapat untuk Newsletter ini, s­ ilakan kirim ke alamat di atas.

www.newsletter-pariwisataindonesia.com

2

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

sionis, koran bentuk tabloid ini niscaya ditemui dan gratis diambil oleh siapa saja. Tentu saja pastinya oleh wisman, isinya ber­bahasa ­Inggris, informasi yang disajikan memang serba ­praktis untuk diketahui dan bisa se­ bagai ‘petunjuk’ hendak pergi ke mana berwisata di destinasi ini. Penerbitan ‘complimentary’ tipe ini, rasanya baru mampu di­ kerjakan oleh pegiat informasi di destinasi Bali dan Yogyakarta. Terbitnya periodik, ada dwi­mingguan, dan bulanan. Kalau mau dibandingkan dengan Singapura, misalnya, di sana lebih banyak ditemui terbitan informasi free ini. Yah, secara bisnis itu dimungkinkan oleh kondisi objektif volume bisnis pariwisatanya memberikan volume bisnis pula bagi banyak kalangan, pada ­hotel besar dan kecil hingga restoran, toko souvenir dan lainnya, sehingga punya kemampuan mengeluarkan umumnya 2,5–3% dari sales revenue untuk promosi termasuk memasang iklan. Antara lain di media informasi yang peng­ edarannya digratiskan ini. n


e d it o r ial

Wartawan Dari EurosportTV.

M

edia main stream yang cetak, televisi hingga online sekarang dan tahuntahun mendatang semakin diramaikan dan diperkuat oleh media sosial, facebook, twitter, WA dan sete­ rusnya, dalam membangun pengaruh, persepsi dan opini. Di bidang pariwi­ sata, media bahkan bukan lagi sekedar membawakan informasi atau hiburan, juga pada kegiatan ekonomi memper­ pendek jalur distribusi, ­memudahkan dan ‘memurahkan’ sampai mem­per­ cepat pengambilan keputusan bagi masyarakat, kemana dan kapan hendak berwisata. Yang ‘paling menarik’ bagi pembaca atau pemirsa, ketika media, para warta­ wan dan penulis menyiarkan fakta yang

Dari Jepang.

Dari Jakarta.

Sasaran Wisman dan Wisnus aktual. Karena itulah manakala ada peristiwa, seperti misalnya event Tour de Singkarak, di Sumatera Barat, ber­ adanya para penulis di lapangan peris­ tiwa merupakan keharusan ­untuk bisa menuliskan dan menyiarkan. Tulisan on-line media sosial pun di­ dominasi oleh cerita pengalaman, yang baik dan buruk, hingga mengandung

‘­advise’ yang to the point bagi konsumen jasa pariwisata. Itu pula mengapa hampir setiap des­ tinasi senantiasa punya program men­ datangkan para reporter, penulis, edi­ tor, fotografer, hingga blogger dan para ‘facebooker’, untuk menyaksikan serta mengalami sesuatu. Media sosial dengan akun pribadi dan dibaca followers, memang, meme­ ngaruhi langsung ‘konsumen’ untuk tertarik atau tidak terhadap sesuatu destinasi atau produk wisata. Dalam perkembangannya setiap pe­ ngalaman, pendapat dan saran pribadi ‘konsumen’ bahkan ditampung dan di­ siarkan secara ‘lembaga’ menjadi on-line trip advisor. Bagi kita, tinggal memper­ hatikan sasaran: wisman atau wisnus. n

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

3


utama

P

Apa yang Tengah Kita Kerjakan?

royeksi lebih penting dari Itulah yang dialokasikan untuk kegiat­ nya rampung lengkap tahun 2019, performansi, kata Menpar an promosi melalui Branding (50%), namun sebagian diharapkan juga ram­ Arief Yahya. Nah, kita telah Advertising (30%) dan Selling (20%). pung sebelumnya, tahun 2017–2018. memasang proyeksi mencapai Pariwisata pada akhirnya berwujud Ada juga yang lebih awal dari itu. 20 juta jumlah wisman di tahun 2019. pada kegiatan bisnis, maka pendekatan­ Atau dari sisi sebaliknya akan berarti Semua digerakkan ke arah itu. infrastruktur yang dibangun itu akan nya business approach. Untuk mengelolanya, bagi mendapat dari pariwisata— Kemenpar, perlu memasang yang—­niscaya berkembang program prioritas demi pri­ karenanya. oritas. Merujuk marketing Adalah penulis terkenal mix 4P dalam pemasaran di AS, ­Clifton Fadiman (Product, Place, Promotion, suatu ketika meng­ingatkan Price) diambil fokus ­utama warga AS: When you travel, salah satu P, yakni Promosi. remember foreign country not Tugas utama Kemenpar da­ designed to make you comfortlam hal pengembangan pe­ able. It is designed to make its masaran pariwisata, adalah own people comfortable. Menpar Arief Yahya (tengah) ketika acara peluncuran TDS 2015 di Jakarta, promosi. Para wisman jangan ‘­ge-er’, bersama Irwan Prayitno (kiri) Gubernur Sumbar, dan Sapta Nirwandar Tapi lalu diperlukan (kanan) Penggagas dan Ketua OC TDS 2015. Pada kesempatan itu pun karena tiap negara mem­ mengambil fokus-fokus Menpar menjelaskan apa yang sedang dan akan dilaksanakan oleh bangun ­infrastruktur dan Kemenpar dalam mengembangkan pariwisata Indonesia. ­tertentu, maka ditentukan­ fasilitas-fasilitas sesungguh­ lah fokus memilih DOT, nya de­ngan orientasi untuk yakni Destinasi, Originasi (sumber Infrastruktur masyarakatnya sendiri, bukan diperun­ Ketika kembali melihat pada arah tukkan orang asing. pasar wisman) dan Timing atau jadwal musim-musim utama perjalanan wis­ dan prospek, Menpar memang meng­ Tapi justru ketersediaan dan kualitas ingatkan tengah berlangsungnya di infrastruktur tersebut, sebagai konse­ man. Ketika prioritas dan fokus tersebut negeri ini kegiatan pembangunan kuensi logis, menjadi pendukung daya dikombinasi dalam melaksanakan pe­ infra­struktur. Bukan oleh Kemenpar, tarik sehingga wisman datang dan me­ ngelolaannya, berlaku hukum Pareto: lantaran bidang tersebut merupakan manfaatkannya. mengutamakan yang utama. Data his­ Tusi (Tugas dan Fungsi) dari kemente­ Yang tengah berlangsung di pariwisa­ toris menunjukkan, 90 persen wisman rian yang lain. ta Indonesia dewasa ini, adalah proses Mulai tahun 2015 ini juga tengah pengembangan dari 3 the great, akan masuk ke Indonesia ternyata melalui 3 pintu. Maka ditemukanlah tiga The intensif dan riil dilaksanakan oleh tumbuh the great lain yang kelak ­saling kementerian lain sesuai Tusi masing- ‘setara’, dan masuk dalam kategori Great yaitu Bali, Jakarta dan Batam. Kondisi obyektif itu tentu bermakna masing: jalan darat dan tol di setiap ‘fokus-prioritas-promosi’, lalu mening­ bahwa diketiga destinasi tersebut ­paling pulau besar, rel kereta api, pelabuhan katkan lagi BA (Branding-Advertising) laut termasuk pelabuhan singgah dan dan SELLING. Produk-produknya siap dalam penjualan alias selling. Kemenpar untuk strategi lima tahun titik labuh yang akan bermanfaat bagi sung­guh siap jual. ke depan ini, telah menetapkan dan wisata bahari, bandara, dan lain-lain. Semua itu dinyatakan Menteri men­ Di situ Menteri Pariwisata menekan­ jadi Grand strategy yaitu ­sustainable menerapkan konsep BAS dalam meng­ gunakan anggaran promosi pariwisata. kan: kendati hampir semua proyeksi­ growth. Harus bertumbuh terus. ­Tahun

4

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015


depan pertumbuhan kita mestinya ­le­bih tinggi. Pengembangan destinasi? Ya, me­ mang pada dasarnya mengembangkan 3A, yang lazim: aspek Aksesibilitas, Akomodasi/Amenitas, dan Atraksi. Perhatikanlah itu, dan kita akan men­ dorong pengembangannya sesuai TUSI Kemenpar dalam hal itu.

Dari lapangan atau daerah, telah ‘­berani’ diperkirakan oleh kalangan daerah tentang proyeksi jumlah wis­ man. Kepri di mana berlokasi The Great Batam, misalnya, memproyeksi­ kan tahun 2015 ini masuknya wisman sekitar 2,5 juta; Bali memperkirakan sekitar 4,25 juta wisman. Jika Jakarta bisa meningkat 10%

saja rata-rata tahun ini terhadap jum­ lah tahun 2014, maka akan berkisar 2.471.080 wisman. Jadi, tiga The Great ini akan kumulatif mencapai sekitar 9.221.080 wisman. Itu berarti sekitar 92% dari total 10 juta wisman yang di­ pasang sebagai target minimum ­tahun 2015 (target maksimum adalah 12 juta). n

Contoh Mengefektifkan Promosi Menpar Arief Yahya memvisualkan cara menghitung, menilai serta bagai­ mana suatu promosi pariwisata dilak­ sanakan dengan contoh satu sport event yang pada dasarnya bertujuan untuk menarik wisman. Selain untuk wisata dalam negeri. Dari laporan pelaksanaan Tour de Singkarak (TDS) 2014, media valuenya dinyatakan mencapai sekitar Rp 150 M, sedangkan biaya-biaya evennya Rp15 M. Dengan biaya Rp15 M, ber­

arti dihasilkan media value Rp150 M! Nah, dukungan pertama untuk even semacam olahraga ini, tentu datang dari Kemenpora. Maka, dukungan dari Kemenpar adalah mempromosikan TDS sebagai even pariwisata terbesar di Sumbar, bahkan sekaligus terbesar di Indonesia. Jangan lupa ini international sport tourism event. Oleh karena itu Kemenpar akan mempromosikan­ nya tentu secara internasional. Setelah dihitung-hitung, menurut

Menpar Arief Yahya, Kemenpar “akan memberikan (kampanye di TV) de­ngan sebanyak 1.000 TV spot, ­tampilannya akan ditayangkan setiap hari, isinya iklan TDS. Kalau untuk 1.000 spot itu biaya rata-ratanya Rp 25 juta, maka harga spotnya total mencapai Rp 25 M,” katanya. Ketika ditambahkan dengan dampak hasil dari harga spot yang Rp 25 M itu, praktis akan ‘balik modal’, ujarnya. Kita harapkan even dan venuenya ber­

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

5


utama langsung dengan baik. Dari tadinya nilai even ditaksir Rp 150 M, maka akhirnya akan bisa naik minimal men­ jadi 250 M. Hasil direct-nya di bidang pariwisata bisa diperkirakan 550 ribu pengunjung. 10%-nya diperkirakan dari wisman. Di Indonesia menurut statistik tahun 2014, pengeluaran per wisnus rata-rata Rp 750 ribu, maka akan berkisar (di­ bulatkan) Rp 500 M total direct value, itu merupakan tourism value-nya. Me­ ru­­pakan dampak hasil langsung kepada masyarakat. Ditambah dengan media value, maka nilai evennya bisa minimal menjadi Rp 750 M. Yang 500 M-nya dinikmati langsung oleh masyarakat di Sumbar. Yang nilai even 250 M bisa (lagi) dijual kepada sponsor. Menteri Arief Yahya mengilustrasi­ kan: “Ini ada even yang nilainya Rp 250 M. Kalau Anda ikut sponsor, Anda nanti akan diikutkan tampil di TV spot yang Kemenpar dukung. Jadi nanti Anda akan ikut dalam acara ini, dan se­ lalu ditampilkan disponsori oleh siapa. Tampilan ke publik itu tidak putusputus dilakukan sejak dari awal.” Bersamaan itu, terkait nilai hadiah ‘prize money’ untuk pemenang, menu­ rut Menteri, terasa kurang besar kalau hanya Rp 1,4 M. Berkemungkinan bisa bisa ditawarkan kepada perusahaan ko­ rporasi. Ditawarkan even yang nilainya Rp 250 M, siapa yang mau menam­ bahkan hadiah Rp 1 M? Diuraikannya singkat penghitungan­ nya. Menurutnya sponsorship perusa­ haan besar Rp 1 M untuk event dan media banner dan branding yang eventvalue-nya totalnya Rp 250 M, “sudah sangat murah,” ujarnya. Itu porsinya 1/250, sekitar 0,4%, kurang dari 1%. Kira-kira begitulah. Kita akan menda­ pat value yang lebih tinggi dan sponsorship yang lebih besar. Contoh lain, event sport dunia ­MotoGP. Event value-nya bernilai Rp 3 T. Itu akan bisa terus membesar. Tentu

6

akan masuk di siaran Eurosport. Hanya beberapa TV sponsor yang bisa masuk ke situ. Kalau kita bersama-sama me­ dia juga ikut, tentu semua akan di­ untungkan. Menpar memang telah memberikan pernyataan prinsipnya kepada penye­ lenggara even internasional tersebut, untuk menerima even MotoGP di­ selenggarakan di Indonesia tahun 2017. Dan Kemenpar akan ikut sponsorship, dengan akan mempromosikan pari­ wisata Indonesia melalui penyelengga­ raan even MotoGP yang namanya dan evennya sudah mendunia itu. Jadi TDS misalnya, nanti, akan menjadi even yang terjual dan akan me­ningkat nilainya. Yang ingin saya garis bawahi, dijelas­ kan oleh Menpar, bahwa dukungan dari Kemenpar tidak akan berupa uang. Sebaiknya jangan mengharapkan ­Kemenpar akan memberikan uang. Pada destinasi tertentu terdapat siaran dan program TV. Di situlah ditampil­ kan secara khusus dan diceritakan sebagai promosi tentang even yang

promosi­nya didukung oleh Kemenpar, justru sebelum even dilangsungkan. Maka sebagai destinasi, (dalam hal even TDS), Sumbar bisa tampil, seraya mempromosikan even itu sendiri. Dengan perhitungan sedemikian, lebih lanjut kita berupaya menetapkan 100 ribu jumlah wisman setahun yang berkunjung, maka setiap bulan ditar­ getkan rata-rata 10 ribu. Kita tetapkan Sumbar dengan kunjungan wisnus 10 juta, di antaranya wisman 100 ribu. Pengeluaran per wisman rata-rata $ 1,200. Itulah yang perlu dibiasakan, harus tahu persis berapa event value dari setiap even yang diselenggarakan. Berdasar­ kan nilai itu, selanjutnya bisa dihitung biayanya, termasuk biaya promosi. Ba­ gaimanapun setiap kegiatan pariwisata harus dengan perhitungan yang tepat. Kalau sport performance tanpa spon­ sor, tentu itu tidak mungkin bisa. Even sepak bola pada umumnya 70% hasil­ nya dari sponsorship. Setidaknya selalu ada dua nilai, yakni media value, dan, tourism value.

Ini prioritas pengembangan destinasi pariwisata periode 2015–2019

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015


Tahapan dan Implementasi Strategi Pengembangan Destinasi

Perhatikan pula, sport value-nya, me­ nyangkut pembinaan sport itu sendiri, hal-hal tekhnis even berada di bawah Kementerian Olahraga. Makanya 3 Oktober 2015 nanti, Menpora yang akan membuka Tour de Singkarak. Se­ suai tugas fungsinya, Kemenpar melak­ sanakan bagian promosinya, sebagai peristiwa pariwisata yang akan menda­ tangkan wisnus dan wisman.

TDS itu Sendiri

Adalah menarik mengelaborasi i­hwal ‘nilai hadiah’ pada sesuatu even internasional. Kenyataannya, bagi even olah raga, semakin tinggi hadiahnya akan semakin menarik di mata publik, selain tentu para peserta even. Untuk TDS 2015 ini, total hadiah yang sudah disediakan Organizer ber­ nilai Rp 1,4 M. Menurut Menpar Arief Yahya, “yang saya ajukan, seperti yang saya harapkan, adalah dukungan demi meningkatkan value even itu sendiri.” Semakin meningkat nilai even, mes­ tinya akan ada sponsor yang mampu memberikan dukungan untuk mening­ katkan lagi hadiah pemenang yang dise­ diakan. “Kalau EO-nya tidak bisa, saya

akan membantu. Mungkin dari jumlah hadiah Rp 1,4 M akan bisa ditingkat­ kan menjadi 2,5 M” ujar Menteri. Chairman TDS, Sapta Nirwandar langsung menyambut gembira. Diceri­ takannya salah satu dampak kemajuan, di kota Padang Panjang sekarang sudah beroperasi hotel, tadinya belum ada, sebelum digelarnya TDS. TDS ini tur yang menarik, kata Sapta. Para peserta maupun pengun­ jung sekaligus dapat melihat destinasi wisata. Untuk menentukan rute, juga diikuti oleh ASO dari Perancis untuk mengukur dan mengkalibrasi jalan rute yang hendak ditempuh, karena mereka memang sudah berpengalaman menye­ lenggarakan lebih 100 tahun even Tour De France. Tahun 2015 ini pun tim-tim peserta datang dari Jepang, Perancis, Jerman, Swiss, Filipina, Rusia, dan lain-lain. Ada 2 dari Brunei, dari Filipina. Spa­ nyol, Cina, Malaysia. Dari Thailand. Organizer memilih yang profesional. Kemudian Menpar mengingatkan, TDS ini adalah international sport tourism, sudah berjalan 7 tahun. Bisa di­ harapkan ini dapat menjadi even yang

akan menghasilkan 550 miliar, semen­ tara indirect value-nya yaitu dari media value-nya meningkat menjadi 250 M rupiah dari sebelumnya bernilai 150 M rupiah. Dari cara menilai, berhitung dan me­nentukan strategi promosi seperti itu, tentu diharapkan dapat diterapkan sebagai satu pola promosi pariwisata Indonesia. Promosi even internasional mestilah dilakukan lebih banyak langsung di luar negeri. Lagi pula, kegiatan pro­ mosi serupa itu mau tak mau sekaligus mengandung kegiatan selling, yakni peluang bagi para pelaku inbound business menjual paket-paket wisata untuk menyaksikan event. Ada yang lebih dari itu. Publikasi pada periode sebelum, selama dan setelah sesuatu even berlangsung, akan merupakan proses komunikasi pemasar­an, yang akan menggerakkan wisman akan mengunjungi destinasi, tak hanya terbatas pada hari-hari ber­ langsungnya even yang dipromosikan. Dengan kata lain, dihasilkan dampak ganda dari suatu proses komunikasi pemasaran yang berkesinambungan. n

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

7


utama

S

embilan pintu masuk ­utama saat ini dipersiapkan ­untuk menerima kedatangan wisata­ wan mancanegara dari 45 negara yang akan diberikan bebas visa. Lima Bandara untuk itu ialah Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Bandara Hang Nadim Batam, Bandara Kuala­ namu Medan, Bandara Ngurah Rai

Bebas Visa Denpasar dan Bandara Juanda Sura­ baya. Lainnya adalah empat pelabuhan yakni Batam Center, Sekupang, Tan­ jung Uban dan Sri Bintang, namun ini sedang diproses persetujuan akhirnya. “Imigrasi kita akan berbenah diri untuk bisa menyiapkan kedatangan wisatawan yang lebih banyak, ­utama­nya di lima pintu masuk terbesar. ­Entah itu

Contoh Pelaksanaan Konsep BAS

8

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

ditambah personelnya, dibuat sistem online atau misalnya tambah ­counter untuk mengurangi antrean,” kata Men­ ko Kemaritiman Indroyono ­Susilo, sebagai mana diberitakan Antara. Ia juga mengemukakan, ke depan, kebijakan penambahan negara bebas visa ke Indonesia bisa dilakukan de­ ngan cukup hanya Peraturan Menteri Hukum dan HAM. Tujuannya agar kebijakan tersebut bisa lebih dinamis dalam penerapannya. Di kesempatan lain Menpar Arief Yahya menegaskan, kesemua bebas visa tersebut akan efektif Juli 2015 ini. Terkait The Great Batam misalnya, Arief Yahya optimistis target Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) untuk menda­ tangkan 2,5 juta wisatawan mancane­ gara (wisman) pada tahun 2015 akan tercapai. “Bintan, merupakan salah satu desti­ nasi utama pariwisata di Indonesia. The next Bali itu Bintan,” kata Arief Yahya usai membuka Bintan ­Triathlon 2015 di Nirwana Gardens, Lagoi, ­Sabtu (23/5/2015). Yakin keberadaan Provinsi Kepri yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia akan mampu mengundang wisman dari negara te­ tangga itu ke Kepri. Singapura itu dikunjungi 16 juta wisman (per tahun), sebanyak 1,6 juta ekspatriat bertempat tinggal di sana. Apalagi Juli nanti pemerintah akan be­ baskan visa untuk 30 negara. Nantinya akan ada 6 titik di Kepri di mana wis­ man masuk bebas visa, katanya. Kelemahan kita, lanjut Arief adalah komunikasi. Oleh karena itu, Juli ­nanti komunikasi akan diperkuat melalui promosi di berbagai jaringan televisi internasional untuk lebih mengangkat lagi potensi pariwisata Indonesia ke pentas dunia. n


Ringkas 2015 dan bertemu Menpar Arief Yahya. PTM 2016 di Jakarta menargetkan 1.000 delegasi dari 60 negara. Dan tahun 2015 ini PTM akan diadakan di Bangalore,India pada bulan September mendatang. n

Menpar Arief Yahya (kanan) dan wakil dari Raid Amazone TV Program.

Branding & Advertising di Perancis

“Nilai media cover­age Raid Amazone men­capai US$ 200 juta atau seki­ tar Rp 300 miliar. Kita akan memanfaatkan mo­men­tum pembuatan program reality show Raid ­Amazone 2015 di Bali untuk mempromosikan great Bali serta awareness branding Wonderful Indonesia, sekaligus mendorong peningkatan kunjungan wisatawan ­mancanegara (wisman) dari Perancis,” kata Menpar Arief Yahya. Pengambilan gambar program reality show yang ber­ temakan ecotourism, culture, dan sport ini rencananya akan berlangsung pada 1–16 Oktober 2015 di Bali. Menpar te­ lah memberikan persetujuan dan dukungan pada perwakil­ an Raid Amazone, TV Program dari Perancis. Programnya dikemas dalam kompetisi olahraga, lari, renang, kayak, panah, panjat tebing, bersepeda, dan lainnya, akan diikuti oleh 240 peserta. n

Menteri Pariwisata Arief Yahya (tengah),menerima delegasi PATA yang dipimpin oleh CEO PATA Mario Hardy, (ketiga dari kiri). I Gede Pitana M.Si, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Wisata Mancanegara (kedua dari kanan) mendampingi Menpar dalam pertemuan, Rabu (24/6), di kantor Kemenpar.

PATA Mart di Jakarta

Indonesia kembali menjadi tuan rumah PATA Travel Mart (PTM) 2016, salah satu pasar pariwisata dan perjalanan utama di wilayah Asia Pasifik setelah ter­ akhir diselenggarakan di Bali tahun 2007. CEO PATA, Mario Hardy, mengunjungi Indonesia pada 24–26 Juni

Sarana TIK ke Desa-desa

Kemenpar dan

Kemkominfo men­ jalin kerja sama ­dalam penyediaan ­sarana dan prasarana telekomunikasi/teknologi infor­masi dan komunikasi (TIK). Kerja sama ini akan menyasar wilayah di 16 KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata), kon­ ktritnya di 113 desa pada tahun 2015 akan disambungkan layan­ an internet de­ngan kecepatan 1 sampai 2 Mbps. Jadi dari sekitar 2000 desa wisata, ­sampai tahun 2015 Dadang Rizki Ratman dan Kalamullah yang siap untuk me­ Ramli usai menandatangani disaksikan nerima bantuan TIK Ukus Kuswara Sekretaris Kemenpar. ada 500 dan ­bertahap akan dibantu setahun sekitar 100-an desa. Penandatanganan perjanjian kerja sama itu ­dilakukan Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Dadang Rizki Ratman dan Direktur Jenderal Pengembangan Pos dan Infor­matika Kem­ kominfo, Kalamullah Ramli, di Kemenpar, Jakarta Jumat (26/6). n

8,9 Juta Kita ke Eropa “Sektor perjalanan dan pariwisata Indonesia merupa­ kan sektor yang sangat dinamis, dan negara ini kerap men­ jadi salah satu target pasar kami mengingat meledaknya pertumbuhan kelas menengah serta potensi pertumbuhan yang semakin meningkat,” ujar Duncan Rutgers, Country Manager Indonesia, Air France-KLM. “Kami tengah melihat bagaimana permintaan akan wisata ke Eropa semakin digemari oleh warga Indonesia; setidaknya ada 8,9 juta orang Indonesia yang mengun­ jungi Eropa setiap tahunnya, dan angka ini diprediksi terus ­melesat.” n Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

9


jawa timur

Ketika 80–90 persen pengunjung Kawah Ijen,

wisatawan asing n Jawa Timur-kah The Great ke-4 Dalam Waktu Dekat? n Banyuwangi pada dasarnya masuk The Great Bali.

D

ari puncak Gunung Ijen, kita akan memandang hamparan hijau dan bukit-bukit kecil di bawahnya. Dataran rendah di sekeliling kaki Gunung Ijen dan Raung ditanami pohon kopi jenis arabika dan kacang makadamia oleh bangsa ­Belanda ketika masih menjajah negeri ini. Sekitar 1 jam dari Pal Tuding, pintu masuk ke TWA (Taman Wisata Alam)

10

Kawah Ijen, terhampar ­kawasan padang savana berbukit-bukit. Masyarakat lo­kal menyebut padang rumput itu Kawah Wurung. ‘Wurung’ dalam ba­ hasa lokal berarti ‘tidak jadi’. Kawah Wurung berarti kawah yang tidak jadi erupsi. Kawasan bukit savana tersebut berada di Dusun Curah Macan, Kali­ anyar, Sempol dan termasuk ke dalam wilayah PTPN XII. Ketinggiannya seki­

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

tar 1.600 mdpl, dan tinggi perbukitan di kawasan Bukit Megasari di Kawah Wurung berkisar 350–400 meter. Pemkab Bondowoso hendak me­ ngembangkan kawasan tersebut untuk mendukung obyek wisata Kawah Ijen. Saat ini digunakan menjadi tempat ber­ latih atlet paralayang. Disediakan juga beberapa unit ATV (All Terrain Vehicle) dan empat ekor kuda milik masyarakat


Antara Akomodasi dan Jumlah Tamu di Jawa Timur setempat yang disewakan bagi pengun­ jung. Jika sedang beruntung, pengun­ jung bisa merasakan terbang tandem berparalayang. Di sela-sela permadani rumput nan hijau, warga desa menanam kubis, jagung, stroberi dan tanaman sayurmayur dan buah-buahan lainnya. He­ wan-hewan ternak, sapi dan kambing dilepas untuk merumput di savana itu. Memang, fasilitas umum seperti toilet dan tempat beristirahat barulah dapat ditemui di beberapa penginapan lawas, tapi terawat baik berjarak sekitar 30 menit sampai 40 menit ­berkendara. Di penginapan-penginapan lawas itu umumnya tersedia kantin di mana pe­ngunjung bisa menyeruput kopi arabika Bondowoso, rasa asam dan aro­ manya cukup kuat, sambil mengemil kacang makadamia yang gurih, me­ nyantap menu dari daging sapi yang lembut, dan diakhiri dengan segelas jus buah stroberi segar. Kopi bondowoso dan kacang makadamia yang dikemas dalam stoples dapat dijadikan buah tangan.

2014 Wisatawan Mancanegara/ Wisman (Kunjungan) Tempat Penghunian Kamar/TPK (Persen) A. Hotel Bintang B. Hotel Non Bintang Malam Kamar Terpakai/MKT A. Hotel Bintang B. Hotel Non Bintang Jumlah Malam Tamu A. Hotel Bintang - Asing - Indonesia B. Hotel Non Bintang - Asing - Indonesia Jumlah Tamu A. Hotel Bintang - Asing - Indonesia B. Hotel Non Bintang - Asing - Indonesia

217 193 50 31 1 973 956 1 790 431 4 105 595 407 541 3 698 054 3 807 119 86 300 3 720 819 2 231 116 265 042 2 084 082 2 849 862 59 922 2 789 940

Total 2013 225 041 47 33 1 754 463 1 745 868 3 681 478 404 154 3 277 324 3 746 786 58 750 3 688 036 2 086 505 159 451 1 927 054 2 767 329 40 877 2 726 452

2012 197 776 48 33 1 779 420 1 403 574 3 893 460 477 520 3 415 940 3 068 142 72 401 2 995 742 2 128 074 215 033 1 913 040 2 345 719 49 316 2 296 404

Sumber: diolah dari BPS

Air Terjun Kali Pahit

Ada satu lagi potensi obyek wisata di sekitar Kawah Ijen. Pernahkah mende­ ngar atau membaca air danau di Kawah Ijen, merembes? Berjarak hanya sekitar lima menit ke arah kanan dari pintu Pal Tuding, sebuah air terjun mini di pinggir jalan mengalirkan air langsung dari danau Kawah Ijen. Air mengalir menyusuri bebatuan vulkanik setinggi sekitar 150 meter. Warga setempat ­menyebutnya Air Terjun Kali Pahit. Tertutup semak ­cukup lebat sehingga tidak bisa langsung dilihat dari jalan raya. Namun kala angin berhembus setengah kencang, bau belerang cu­ kup kuat akan menyeruak dari balik semak.

Di Ijen seperti di Bromo, wisatawan menunggang kuda.

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

11


jawa timur Buih-buih putih bagaikan salju me­nutupi permukaan air Kali Pahit. ­Pemandu yang mendampingi mene­ rangkan, buih putih itu menandakan kadar keasaman air yang tinggi. Air yang mengalir di Kali Pahit sebe­

narnya bening, apabila dilihat lebih seksama. Air di danau Kawah Ijen me­ rupakan salah satu air terasam di dunia dengan kadar keasaman (pH) 0,6–0,8 (batas ambang aman keasaman da­ lam air bagi manusia 6,5–8,5). Kadar

Hmmm, Kali Pahit…

12

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

k­ e­asaman air di air terjun ini mencapai 33 persen! Atau sekitar 2,1 dari batas ambang aman bagi manusia. Pada wak­ tu-waktu tertentu, air di sini bisa men­ jadi panas sekali atau dingin sekali. Air terjun mungil ini berada di bawah naungan pohon-pohon pinus. Meskip­ un tidak ada tanda-tanda peri­ngatan di sekitarnya, pengunjung harus berhatihati dan tidak bisa menyentuh airnya. Namun ada saja tampak grafiti-grafiti pada bebatuannya. Sekitar 80–90 persen pengunjung TWA Kawah Ijen ialah wisatawan ­asing. Akhir-akhir ini, terutama pada saat libur akhir pekan panjang dan musim liburan, wisatawan ­domestik juga mulai ‘menyerbu’-nya. Itu setidaknya sebagai ‘modal dasar’ yang mengarahkan ‘prospek’. Siapa yang akan mengembangkan produk wisata dan ‘menjualnya’ ke mancanegara? Pintu masuk langsung dari luar ­negeri pun sudah siap: bandara ­Juanda di Surabaya. Bandara ini tersibuk ­nomor tiga kini se­telah Bali dan ­Jakarta, dalam hal jumlah penerbangan langsung dari luar negeri. Nah, tunggu apa lagi? Mulai berkembang wacana untuk mengendalikan jumlah pengunjung dan akan masuknya pihak swasta dalam pengelolaan kawasan wisata di sana. Kedua obyek wisata tersebut me­ mang punya potensi untuk dikem­ bangkan dalam kerangka mendukung TWA Kawah Ijen. Sebagai ODTW ‘kedua’ di Jatim setelah Bromo, men­ gelola jumlah pengunjung agar tidak terjadi over load dan menata kawasan sesuai dengan zonasi peruntukannya, itu mulai terasa mendesak. Dalam pengembangan dua obyek wisata pendukung di sekitar Kawah Ijen, memberdayakan dan menggali kreativitas masyarakat di dusun-dusun dirasa perlu mendapat prioritas. Kedua obyek tersebut berpotensi besar men­ jadi ODTW ekowisata, agriwisata dan eduwisata yang mana unsur komunitas/


Surabaya BROMO

KAWAH IJEN

masyarakat lokal tidak bisa diabaikan. Tetangganya kabupaten Banyuwangi telah tampak baru saja ‘berhasil’ mem­ bangun pariwisatanya. Di kabupaten lain, kawasan Taman Nasional Bromo-Semeru, toh sudah punya nama internasional. Ini pernah

Banyuwangi

juga menjadi spot wajib bagi grup grup wisman dari Eropa ketika dalam wisata overland Jakarta–Jawa–Bali. Bahkan juga Bromo sebagai spot tunggal yang dikunjungi kelompok-kelompok wis­ man yang dikirim oleh agen di Eropa dan Asia, jika destinasinya ke Jawa

Jumlah Wisman ke Jatim Melalui Bandara Juanda Surabaya Menurut Kebangsaan, Mei 2015

Timur dan masuk melalui bandara Juanda Surabaya. Sudahlah, Indonesia negeri yang ­indah. Yang perlu mendapat perhatian ekstra sekarang adalah belahan jiwa pariwisata, produk itinerary yang siap jual, dan, pelayanan. Bangsa ini sudah terkenal dengan keramah-tamahannya dan full senyum, tapi itu belum cukup apabila kita tidak memahami bagaimana membuat tamu senang dan terkesan karena merasa aman dan nyaman. Dan, uniknya pengalaman yang ­didapat. Cita-cita besar pariwisata ­adalah meningkatkan ­perekonomian dan memeratakan kesejahteraan masyarakat hingga ke akar rumput. Akar rumput itu hidup antara lain di sekitar kawasan Kawah Ijen, kabupaten Bondowoso, Bromo-Semeru-Tengger, dan seterusnya. Termasuk kota Sura­ baya sendiri. Bagaimanakah para business player setempat, yang besar, menengah, kecil bahkan para pemula, dan para pemda, mengantisipasi peluang itu? n

Sumber: diolah dari BPS

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

13


DESTINASI

Citra Tradisi di Tengah Modernitas

14

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

D

ari arah dan sudut manapun kita melihatnya, gedung ter­ minal di bandara Minang­ kabau International Airport (MIA), Padang, Sumatera Barat, ini, yang selalu tampak itulah ciri khas bangunan gaya arsitektur tradisional Minangkabau. Setiap ujung-ujung atapnya menju­ lang runcing ke atas, setelah meleng­ kung di bagian tengah. Legendanya menceritakan ujung meruncing itu ­citra dari tanduk kerbau, lambang kemenan­ gan dalam kisah tradisi mengadu ker­ bau. Melahirkan sebutan Minangkabau bagi masyarakat di Sumatera Barat. Ciri arsitektur tradisional yang ber­ akar kuat diwujudkan pada bentuk bangunan rumah-rumah penduduk hing­ga gedung-gedung pertemuan,


kemudian menjadi kenyataan kini di mana hampir setiap gedung milik pe­ merintah termasuk kantor-kantor pe­ merintah, ‘diwajibkan’ menampilkan ciri arsitektur tradisional itu. Jadi, begitu mendarat di ranah ­Minang, di bandara MIA ini, orang segera menerima satu kesan pertama: saya berada di tanah Minang. Kesan pertama kemudian ­berlanjut, ketika berkeliling di kota-kota hingga berjalan melintasi ­kampung-kampung manakala dalam perjalanan dari satu kota ke kota lain, kesan ­berikutnya: gaya tradisional itu memang me­ rupa­kan ba­gian dari living culture masyarakat ini. Tak hanya tampak di bandara ­se­bagai pintu gerbang, tetapi akan ­dijumpai sepanjang perjalanan di lem­

bah dan di gunung. Kekayaan Sumatera Barat ­sebagai ­destinasi pariwisata, semakin me­yakin­ kan wisatawan betapa di sini memang kaya akan keindahan alam, kaya akan seni budaya, dan masyarakat yang hidup kesehariannya berjalan ­dengan nilai-nilai tradisi adat serta kearifan

b­ udaya yang berjalan dengan suasana kekinian yang memajukan comfort. Dalam pariwisata, living culture me­ rupakan hakiki dari daya tarik utama yang menarik wisatawan ingin berkun­ jung dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Dan, merasakan atau mengalaminya.

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

15


DESTINASI

Peran the Travel Trade People

16

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

Di luar dan di dalam gedung terminal citra ciri t­ radisional tampak tetap tampil. Comfort pun tersaji bagi masyarakat pengguna bandara dan penerbangan, penum­ pang yang baru tiba maupun yang hendak berangkat. Tentu saja bandara ini telah berstatus bandara inter­ nasional. Tapi operasi penerbangan internasional ke sini ­barulah terlaksana dengan bandara Singapura, pernah juga dihubungkan dengan Kuala Lumpur. Maka kini menuju tahun-tahun yang akan datang, ter­ buka peluang lebih banyak membuka penerbangan ke ­kota-kota ASEAN lainnya. Faktor 3-A sebagai unsur ­utama penggerak industri pariwisata, boleh dikatakan telah se­ makin lengkap: sarana dan prasarana untuk Aksesibilitas, Akomodasi dan Atraksi. Faktor Atraksinya demikian kuat bersumber dari living culture masyarakat setempat. Semua sejatinya terpadu menjadi bagian Wonderful ­Indonesia. Kita maklum, penggerak mesin ekonomi pariwisata, ­adalah para the travel trade people; di Sumatera Barat, ­Indonesia, dan di luar negeri. n


Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

17


Aksesibilitas

Atas-bawah: Wajah baru Terminal 1C di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Tampak lebih lapang. Penumpang bisa beristirahat, mengisi batere gawai, belanja, minum kopi hingga pijat refleksi di sini. Sebuah layar sentuh berisi aneka informasi mulai dari informasi mengenai bandara, jadwal penerbangan hingga tujuan-tujuan wisata di Jakarta dan sekitarnya.

18

Kini, Bagaimana

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

J

umlah pemudik Lebaran 2015 yang menggunakan ­transportasi publik diperkirakan sekitar 20 juta orang. Pengguna moda transportasi laut naik cukup sig­ nifikan sebesar 9,5%, moda transpor­ tasi kereta api naik 3,5% dan moda transportasi udara naik 2,5 persen. Data tersebut mrupakan hasil riset ­Kementerian Perhubungan yang di­


Kiri: Terminal penumpang di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, kini telah dilengkapi garbara. Saat ini belum bisa dioperasikan maksimal sebab masih perlu disesuaikan dengan tinggi gangway kapal. Kanan: Di Stasiun Cirebon, penumpang turun langsung menuju lorong peron di bawah tanah menuju pintu keluar. Penumpang naik masih menyeberangi peron. Petugas membantu kapan penumpang bisa menyeberang. Stasiun tua yang cantik, rapi dan tertib.

Kiri: Fasilitas tempat bermain anak di KM Kelud. Perjalanan lambat khas kapal laut pun jadi tidak membosankan bagi anak-anak dan membantu para orang tua. Kanan: Fasilitas toilet di KM Dorolonda sekarang.

Publik Merawatnya... keluarkan pada pertengahan Mei lalu. Ketersediaan infrastruktur, armada transportasi, fasilitas umum, sampai pelayanan aksesibilitas di darat, laut dan udara di negeri ini bisa dikatakan masih jauh dari sempurna namun bu­ kan berarti tidak terjadi sama sekali perbaikan baik secara kuantitas dan kualitas. Perbaikan dan peningkatan layanan publik di sektor transportasi

atau aksesibilitas kini mulai tampak dan mulai dinikmati oleh para penum­ pang di stasiun kereta, bandar udara dan pelabuhan laut. Moda transportasi kereta api dan kapal laut yang dahulu dicitrakan sebagai ‘transportasi wong cilik’ yang kumuh, dengan jumlah penumpang yang selalu berlebihan dan mengabaikan aspek keselamatan pe­ numpang, kini mulai bersalin rupa.

Tapi tentunya diharapkan perubah­ an-perubahan secara fisik yang per­ lahan tapi pasti itu juga mesti diikuti dengan perubahan pola pikir dan ke­ biasaan penumpang untuk menghargai dan menyayangi properti milik publik yang sebenarnya dibiayai oleh ­publik bersama. Pemerintah pun selaku fasili­ tator tidak berhenti untuk meng­ edukasi masyarakat dan menjalankan

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

19


Aksesibilitas

Suasana di dalam kereta kelas bisnis Cirebon Ekspres dari Jakarta menuju Cirebon. Satu orang satu tiket satu tempat duduk. Hanya penumpang kereta yang akan segera berangkat yang diperbolehkan memasuki peron. Di pintu, petugas mencocokan data dalam karcis dengan identitas diri penumpang. Naik kereta di kelas manapun kini terasa lebih nyaman dan aman. Atas-bawah: Kereta Listrik (KRL) Jabodetabek semakin hari semakin menuju tertib. Infogram seperti ini dipasang di setiap pintu dan jendela di setiap kereta. Selain itu, masinis kereta tak pernah lupa menyapa penumpang, menginformasikan tujuan kereta, dan mengingatkan penumpang melalui pengeras suara dengan jelas dan suara yang mengesankan keramahan.

komitmen menegakkan aturan. Tahun 2014 yang lalu, dari hasil riset Kementerian Perhubungan terungkap profil dari 27,9 juta pemudik: 28% karyawan swasta, 27% wiraswasta, 17% PNS/TNI/Polri, 10% pelajar/ma­ hasiswa, 9% Ibu Rumah Tangga, dan 9% lain-lain. Sebanyak 10% pemudik tahun lalu berpenghasilan Rp 5 juta– 10 juta. Dan 13,4 juta pemudik berasal dari kawasan Jabodetabek. Melihat profil tersebut, bisalah di­ harapkan tradisi mudik dan para pe­ mudik akan menjadi agen perubahan yang menyebarkan pola pikir dan ke­ biasaan baru untuk menghargai dan menyayangi properti publik, dalam hal ini properti terkait dengan aksesibilitas di darat, laut, dan udara. Salah satu pengalaman riil yang nyata dari destinasi wisata Anda adalah ketika wisatawan dapat menggunakan akses transportasi publik dengan mu­ dah, aman dan nyaman. n

20

Salah satu sudut di tempat peristirahatan KM 57 di jalan bebas hambatan Cipularang, sebuah perusahaan perjalanan mendirikan tenda menawarkan dan menjual paket-paket wisata.

Kiri-kanan: Ketersediaan toilet dengan WC duduk dan jongkok yang bersih, terang dan tersedia air untuk membersihkan menjadi krusial bagi pejalan yang memilih perjalanan darat baik dengan kendaraan pribadi maupun transportasi publik. Pengunjung tidak keberatan membayar untuk dapat menggunakan fasilitas umum seperti ini. Di negara maju seperti Jepang pun menyediakan pilihan WC, di beberapa tempat pengunjung harus membayar untuk tisu toilet.

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015


BISNIS

Benih Paket Wisata Islami Internasional Telah Tumbuh di Aceh

S

eorang praktisi wisata syariah, Mujiburrizal, dari ­Musafir Tour dan Travel di Banda Aceh berbagi pengalamannya dalam membuat dan menjual paket wisata Ramadhan. Alkisah, di tahun 2012, beberapa operator tur di Banda Aceh ­berinisiatif membuat paket wisata Ramadhan. Diawali dari tiga operator yang ­masing-masing sudah mempunyai link di ­Malaysia, mulai menawarkan dan menjual paket-paket perjalanan religi selama bulan Ramadhan. Malaysia me­ mang target utamanya. “Saya menjual paketnya ke seluruh negara-negara ASEAN, ke Malaysia, Singapura, serta Brunei, namun pemi­ nat dan pengunjung tertinggi tetap datang dari Malaysia. Alhamdulillah, sambutannya bagus. Bahkan kami bu­ kan hanya menangani tamu-tamu dari Malaysia saja, tetapi juga dari beberapa daerah seperti dari Jakarta, Banten dan Bandung,” ujar Mujiburrizal. Wisatawan dari Malaysia yang me­ nikmati wisata religi di Aceh, kota Banda Aceh khususnya, datang dari segmen keluarga terdiri dari 4–5 orang, dan grup besar yang diikuti oleh 20 sampai 60 orang. Rombongan besar umumnya terdiri dari kelompok-ke­ lompok pengajian atau majelis taklim. Tahun pertama 2012, Musafir Tour and Travel menangani 50 pax. Tahun berikutnya meningkat menjadi 65 pax. Peminatnya bertambah lagi menjadi 80 pax pada tahun 2014. Ramadhan tahun 2015 ini, lebih dari 100 pax. Semuanya wisatawan mancanegara ter­utama dari Malaysia. Biasanya me­reka datang pada

Atas: Mengunjungi situs-situs tsunami termasuk di dalam program city tour paket wisata Ramadhan di Banda Aceh. Bawah: Wisatawan non-muslim dari Eropa pun dapat menikmati berwisata di Aceh meskipun di bulan Ramadhan. Bagi mereka ini sangat menarik.

bulan Ramadhan, tentunya ­dengan ­mengikuti kebiasaan dan kultur ma­ sya­rakat di Aceh. minggu kedua Ramadhan. Terus ber­ datangan sampai akhir puasa. Ada pula yang tibanya di akhir Ramadhan lalu merayakan Idul Fitri di Aceh. Sama seperti durasi paket tur umum, wisata Ramadhan pun umumnya un­ tuk 4 hari 3 malam. Beberapa memi­ lih tinggal 5 hari 4 malam. Waktu itu ­cukup mendapatkan city tour dan aktivitas yang lazim dilakukan ­selama

Apa yang paling menarik?

Ada pawai, ada tradisi meugang, me­ nyembelih lembu dan memasaknya bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga. Sampai sekarang tradisi itu masih hidup. Wisatawan yang datang menjelang atau di awal Ramadhan, dapat turut mengikuti atau menyak­ sikan pawai dan meugang yang meng­ gambarkan suka cita masyarakat Aceh menyambut Ramadhan.

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

21


BISNIS Paket itu tetap mengajak wisman mengunjungi obyek wisata kota, mu­ seum, obyek-obyek lokasi peninggalan tsunami, mesjid-mesjid, pesantren atau panti yatim, dan bertadabur alam di pantai-pantai di sekitar kota. Wisata kota cukup setengah hari, dari pagi berakhir saat shalat Dzuhur. Program akan dilanjutkan kembali setelah shalat Ashar. Sambil menunggu waktu ­berbuka puasa, mereka diajak melihat kemeriah­ an suasana. Antara lain bazaar yang digelar hanya selama bulan puasa di banyak tempat, pengunjung dapat menemukan kue-kue tradisional khas Aceh, di antaranya bubur kanji. Nah, ketika program mengunjungi mesjid-mesjid bersejarah, wisatawan di­ ajak shalat Dhuha. Setelah berbuka, di­ lanjutkan dengan shalat Magrib hingga tarawih di Mesjid Raya ­Baiturrahman atau di mesjid-mesjid tertentu. Kemu­ dian dilanjutkan dengan bertadarus. Bagi yang berminat bisa dilanjutkan hingga melaksanakan shalat malam, shalat tahajud, berjamaah. Setelah bersantap sahur (di hotel masing-masing), diajak ke Mesjid Raya Baiturrahman untuk shalat Subuh ber­ jamaah dan mendengarkan ceramah subuhnya. “Wisatawan ingin merasakan ber­ buka puasa ala Aceh, serba tradisional. Makanya kami tawarkan beberapa pilih­an, ada berbuka puasa di restoran, di mesjid, di warung kopi, di pondok pesantren atau di panti asuhan. Misal­ nya, hari pertama di restoran atau di kedai, hari kedua di mesjid, hari ketiga di pesantren atau di panti asuhan. Ada juga yang meminta selama tiga hari ber­ buka puasa di pesantren atau di panti asuhan yang berbeda-beda. Itu tidak masalah bagi kami,” ­Mujiburrizal menerangkan. Salah satu yang ditunggu oleh turis pada waktu berkunjung ke Aceh di bu­ lan puasa adalah peringatan ­Nuzulul

22

Mengunjungi obyek wisata alam dalam program wisata religi untuk mengingatkan betapa besar kuasa dan rahmat-Nya yang diberikan kepada umat manusia.

Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal, Walikota Banda Aceh.

Quran yang jatuh pada 17 Ramadhan. Puncak acaranya di Mesjid Raya. Semua mesjid pun turut memperingatinya. Selain diisi ceramah-ceramah spiritual, setiap mesjid melaksanakan kenduri dengan kuliner khas yang disajikan, kuah beulangong. Mulai dari tanggal 17 Ramadhan hingga hari akhir puasa setiap kampung menggelar kenduri. Selain melaksanakan ritual ibadah, wisatawan sejak awal sebenarnya te­ lah mempersiapkan zakat, infak dan sedekah untuk disalurkan ke mesjid, pesantren ataupun ke panti asuhan. Dari pengalaman, total jumlah zakat usaha/harta, infak dan sedekah yang disalurkan oleh wisman dari Malaysia bisa mencapai Rp 30 juta sampai Rp 50 juta per grup di satu pesantren. Penyalurannya dilakukan saat mereka berkunjung ke sana.

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

Mujiburrzal (kiri), bersama salah seorang wisatawan dari Eropa yang pernah mengikuti paket wisata religi bersamanya. Sepulang dari Aceh, dia menjadi mualaf. Tahun ini dia kembali datang ke Banda Aceh untuk menikmati berpuasa di bulan Ramadhan.

”Bagi mereka yang utama adalah kegiatan menyantuni. Kecuali zakat fitrah yang mereka bayarkan di negara­ nya. Makanya minimal ada satu hari mengunjungi panti asuhan atau pesan­ tren,” lanjutnya. Selaku praktisi wisata syariah, ­Mujiburrizal mengungkapkan, ­ketika mereka menggagas wisata syariah itu bukan hanya ditujukan bagi orang muslim saja, tapi non-muslim pun da­ pat mengikutinya. Aceh sebenarnya ter­ buka bagi siapapun. Jadi bagi ­wisman non-muslim ini ibarat bonus paketnya.


Atas: Ada di antara wisman non-muslim tertarik mencoba ritual ibadah Islam setelah dijelaskan filosofi dan maknanya. Dibantu warga lokal, mereka mempraktikannya di halaman Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Bawah: Selain beribadah bersama dan saling berbagi, wisatawan disuguhi pertunjukan seni tradisi saat mengunjungi pesantren.

Dia contohkan: Ada beberapa orang turis dari Aus­ tralia dan Jerman mau melihat Mesjid Raya Baiturrahman, ikon Aceh. ­Mereka melihatnya dari halaman sambil men­ dengarkan kisah sejarahnya. Dari sana mereka bertanya-tanya mengenai gerak­an-gerakan shalat dan wudlu. Setelah dijelaskan, tak jarang pula ada yang ingin mencoba mempraktikan­ nya. Praktik itu dilakukan di halaman Mesjid Raya. Dari pengalamannya sendiri, ada beberapa di antara wisatawan nonmuslim yang mengikuti paket wisata Ramadhan yang dikelolanya kemudian berinisiatif sendiri menjadi mualaf. Mereka katanya merekomendasikan kepada keluarga dan kawan-kawannya agar datang ke Aceh khususnya pada bulan Ramadhan.

Terkait Halal Tourism

Halal tourism tengah berkembang sebagai tren dunia saat ini. Potensi pangsa pasarnya ditengarai lebih be­

sar daripada total outbound dari Cina sekalipun. Potensi wisata religi di Aceh cukup besar dan peluangnya pun ter­ buka lebar. Dalam perjalanannya, se­ perti selintas dicatat tadi, Mujiburrizal juga melihat paket-paketnya diminati pula oleh wisatawan non-muslim dari ­Eropa, Amerika, termasuk dari Cina dan Jepang. Dengan sebutan paket ‘Ramadhan di Aceh’, paket ‘Lebaran di Aceh’, paket ‘Kurban di Aceh’ dan paket ‘Maulid di Aceh’ yang dibuat oleh beberapa peru­ sahaan perjalanan/operator tur, dita­ warkan dan dijual langsung di sumber pasar ASEAN, Malaysia, Singapura dan Brunei. Itu merupakan paket wisata re­ ligi andalan. Melalui konferensi video jarak jauh di Jakarta pada pertengahan bulan Juni lalu, Walikota Banda Aceh Hj ­Illiza Sa’aduddin Djamal menegaskan, ­Pemerintah Kota menjamin keamanan dan kenyamanan bagi para wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh. Tidak ada pembatasan waktu bagi wisatawan

perempuan. Turis/pengunjung perem­ puan setelah shalat tarawih bisa ngopingopi di warung kedai kopi sampai malam. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Aceh meluncur­ kan program Amazing Ramadhan in Aceh pada bulan Mei 2015. Sejalan dengan itu, Pemkot Banda Aceh me­ luncurkan program Wonderful Ramadhan in Banda Aceh. Dalam program Wonderful Ramadhan tersebut ­sebanyak 15 hotel berbintang dan 10 travel agent turut berpartisipasi. Pada kesempatan yang sama, Wali­ kota Banda Aceh menyebut beberapa tantangan yang dihadapi ­industri pariwisata di Banda Aceh, yakni ­Sadar Wisata belum luas menyentuh masyarakat di ibukota Provinsi Aceh, frekuensi penerbangan kini dirasakan mulai kurang, dan Banda Aceh baru terhubung dengan Kuala Lumpur, Penang dan Johor di Malaysia. Tahun ini pemkot mempunyai pro­ gram untuk memperbanyak pelatihanpelatihan dalam rangka mempersiap­ kan SDM. Pelatihan-pelatihan tersebut akan dilakukan bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan PATA ­Indonesia Chapter. Dan sertifikasi pe­ laku usaha wisata yang direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Oktober mendatang. CEO PATA Indonesia Chapter, ­Poernomo Siswoprasetijo, mengata­ kan, “Apalagi selama Ramadhan tentu­ nya banyak kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat di Banda Aceh sehingga bisa jadi daya tarik un­ tuk belajar mengenai syariah dengan baik.” Dan PATA Indonesia Chapter begitu antusias untuk mendorong kota ini sebagai destinasi Islami dunia. Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) di Kuala Lumpur, Malaysia dan Singapura dapat juga memberikan dukungan terhadap pengembangan kegiatan ini. n

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

23


Akomodasi

Hotel Internasio

S

edang terjadi kini proses dimulainya perubahan pan­ dangan atas peran, fungsi dan manfaat dari sungai-sungai. Dari proses itu akan dengan sendi­ rinya membawa juga pandangan baru dan perubahan lebih baik dari caracara tradisional dalam memanfaatkan sumber daya alam sungai. Yaitu bukan saja sebagai prasarana tranportasi bagi manusia dan barang. Dan, selama ini ‘sungai’ difungsikan sebagai ‘bagian belakang rumah’ di mana penduduk menjadikannya tempat MCK. Dimulai dari tepian Sungai Musi, Palembang. Sebuah hotel berkelas ­internasional yang dibangun meng­ hadap ke sungai akan terwujud. Ren­ cana akan dinamakan Musi River View ­Hotel Palembang. Total investasi pro­ perti yang direncanakan 23 lantai itu sekitar Rp 210 miliar. Klasifikasi hotel­ nya akan jadi bintang 4 atau 5. Pada 9 Juni 2015 ditandatangani di Jakarta satu MoU antara Pihak

ITDC ( ­I n d o ­n e s i a Tourism Deve­ lop­­ment Corpo­ ration) dan Wa l i k o t a Palembang, yang bersepakat akan mem­bangun hotel Musi River View di Palembang. Direktur Utama ITDC,

24

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015


nal Menghadap ke Sungai

Atas: Lokasi hotel yang akan dibangun. Bawah: Hotel menghadap ke Sungai Musi.

Ida Bagus Wirajaya, dan Plt ­Wali­kota ­Palembang, H Harnojoyo, mem­ bubuhkan tanda­tangan, dan pada lampiran-lampiran­nya tergambar­ lah pros­pek dan peman­dangan ­artistik bagaimana kelak tam­ pilan hotel yang ‘menghadap ke ­sungai’. Selain tampak indah dan akan mem­ perindah pemandangan di sekitar jembatan ­Ampera ­Sungai Musi, kota empek-empek itu, ini akan menjadi yang pertama di Indonesia, bangunan tempat tinggal menghadap ke sungai. Ini ­bahkan tempat tinggal raksasa, sebuah ­hotel. Bukan sebaliknya, di

mana tradisi penduduk—di mana saja di ­Indonesia—rumah tempat tinggal selalu ‘­membelakangi’ sungai. “Direncanakan beroperasi tahun 2018,” kata Komisaris Utama ITDC, Sapta Nirwandar. Dan pariwisata di

kota Palembang khususnya, Sumatera Selatan umumnya, sebagai destinasi, memang sebaiknya ­mengantisipasi ­bagaimana memajukannya bukan ­hanya pada pasar wisnus, terutama ­justru pasar wisman. n

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

25


Indi

Jumlah Kunjungan Wisman Langsung ke Bali Menurut Kebangsaan Jan–Mei 2015

Sumber: BPS

Jumlah Kunjungan Wisman Langsung ke Jakarta Menurut Pintu Masuk Jan–Mei 2015

Sumber: BPS

26

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015


kator

Jumlah Kunjungan Wisman Menurut Pintu Masuk s/d Mei 2015

Sumber: BPS

Jumlah Kunjungan Wisman Langsung ke Bali Menurut Pintu Masuk s/d Mei 2015

Sumber: BPS

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

27


Produk Wisata ‘Halal’ Dimana-mana

D

ari Spanyol hingga ke Tiongkok, dari Australia, Singapura hingga Vietnam, semakin banyak negara-negara destinasi pariwisata interna­ sional dewasa ini memasarkan dan ‘berupaya men­ jual produk wisata halal’ atau Islamic Travel. Uniknya, itinerary maupun ODTW dan fasilitas serta pelayanan yang diberikan spesifik untuk memenuhi kebutu­ han wisatawan muslim, pada hakekatnya tak hanya ­semata bisa dikonsumsi oleh turis muslim. Wisatawan muslim di dunia nyatanya demikian besar, setidaknya dicerminkan jumlah 1,6 miliar pen­ duduk muslim di dunia, dan belakangan ini mencari wisata dan ‘life style’ yang Islamic. Indonesia pun jadi pasar di mana agen wisata dari Thailand, China, Ko­ rea, dan Jepang, belakangan ini rajin mempromosikan wisata halal mereka. Beberapa daerah destinasi kita berpotensi kuat untuk jadi destinasi wisata muslim dunia. Para pemain pariwisata perlu mengantisipasinya. Sehingga Indo­ nesia tak semata sebagai pasar konsumen belaka.

28

Pariwisata Indonesia Vol. 6 No. 67 juli 2015

Profile for Em Muslih

Newsletter Pariwisata Indonesia Edisi 67, Juli 2015  

Newsletter Pariwisata Indonesia Edisi 67, Juli 2015

Newsletter Pariwisata Indonesia Edisi 67, Juli 2015  

Newsletter Pariwisata Indonesia Edisi 67, Juli 2015

Profile for emmuslih
Advertisement