Page 1

EXPEDISI MEMBANGUN BUDAYA KRITIS

EDISI IV | Juli 2010

Siap Tidak Siap Harus Siap Kesiapan Kelas Internasional UNY Masih Dipertanyakan TEPI UNY me­mi­li­ki U­nit Pe­la­ya­nan Bim­bing­an Kon­seling (UPBK), ya­itu tem­pat bim­ bing­an kon­se­ling ba­ gi ma­ha­sis­wa, kar­ya­ wan dan ma­sya­ra­kat u­mum. Ta­pi a­pa yang ter­ja­di, lo­ka­si UPBK ti­dak stra­te­gis.(hal.6)

EXPEDISI EDISI 4.indd 1

PERSEPSI O­to­no­mi da­erah ha­ri i­ni. Da­pat di­ka­ta­kan se­ ba­gai o­to­no­mi da­erah ke­ba­blas­an yang di­ man­fa­at­kan o­leh ka­um e­lit po­li­tik yang o­por­tu­ nis. Fa­se pro­ses o­to­no­ mi da­erah yang e­sen­si­al pun dihi­lang­kan.(hal. 5)

RESENSI Film ber­gen­re dra­ma de­ngan fo­kus ce­ri­ta pen­ca­ri­an Mayang a­tas a­dik­nya yang men­ja­ di TKW di hongkong. Film ini di­bum­bu­i ki­ sah per­cin­ta­an yang mam­pu me­nyen­tuh pe­non­ton­nya(hal.8).

14/07/2010 11:18:00


Enam program Studi bertaraf internasional telah dibuka di UNY. Akan tetapi, program tersebut di­se­ leng­ga­ra­kan dalam ketidaksiapan pihak universitas. Beberapa alasan dikemukakan oleh pihak rektorat lebih menerangkan PR I menerangkan bahwa tujuan didirikannya ke­ las ber­ta­raf Internasional adalah untuk memberikan ruang pada lulusan­ dari sekolah menengah yang bertaraf Internasional. Akan tetapi, tujuan tersebut banyak kelemahan yang dikatakan oleh beberapa narasumber tentang kesiapan dibukanya kelas internasional itu. Sa­lah sa­tu ma­ha­sis­wa ke­las In­ter­na­sio­nal me­nga­ ta­kan ti­dak me­ra­sa­kan ada­nya per­be­da­an yang cukup signifikan antara kelas reguler dan kelas internasional. Perbedaannya hanya pada penggunaan bahasa dan SPP nya yang 50% lebih mahal. Keistimewaan kelas Internasional hanya terletak pada tiga hal, yaitu, bahasa, biaya dan ‘nama’. Nama kelas Internasional dibuka hanya untuk menambah profit dari UNY dan untuk UNY sendiri. Terkait dengan perbedaan yang tipis tersebut, meng­a­ki­bat­kan tim­bul­nya ke­sen­jang­an dan ke­ cem­bu­ru­an so­si­al an­tar ke­las. Ter­buk­ti da­ri peng­ ada­an ke­las bi­li­ngu­al dan ke­las inter­nasional yang perbedaannya hanya menonjol pada biayanya. Universitas yang bertujuan untuk mencerdaskan ge­ne­ra­si pe­ne­rus bang­sa, ki­ni pu­nya tu­ju­an pengganti yaitu mencerdaskan cara mencari uang universitas. Bagaimana tidak, pihak universitas me­nga­takan bahwa dengan adanya kelas internasional akan menambah profit yang masuk ke universitas. Lagilagi profit. Pihak Universitas sebaiknya membuka program baru dengan persiapan dan perencanaan yang matang terlebih dahulu. Agar nantinya program yang dijalankan tidak dipaksakan. Agar tak terjadi kecemburuan sosial atau ketimpangan-ketimpangan lainnya.

REDAKSI Pimpinan Proyek| Mutayasaroh Sekretaris| Sandi Sukmawati Bendahara| Inas Nur Rasyidah Redaktur Pelaksana| Jaka Hendra Baittri Redaktur | Dindadari, Efendi, Mutayasaroh, Rista, Rima, Yuna Redaktur Foto | Indra S M Reporter|Aya, Indra, Rima, Delvira, Muhammad, Sandi, Septi, Yuna Artistik|Efendi, Dindadari, Azka Produksi| Rista R C Iklan| Septika Sirkulasi| Rizal Alamat| Gedung Student Center Lt. 2 Karang Malang Yoyakarta 55281 email : lpm_ekspresi@yahoo.com website: www.ekspresionline.com

POLLING UNY Masih Harus Berbenah

U

NY me­lakukan berbagai persiapan untuk menuju World Class University (WCU). Persiapan tersebut mencakup tidak hanya terdapat da­lam ben­tuk pembangunan fisik tapi juga akademik. Dengan begitu, di­harapkan kualitas UNY secara umum akan terus meningkat. Salah sa­tu u­saha yang dilakukan UNY tersebut adalah membuka kelas in­ter­na­sio­nal­. Bagaimanakah pendapat para mahasiswa terhadap keberadaan kelas internasional di UNY yang akan menjadi World Class University? Di­ada­ kan­nya poling ini untuk menjawab pertanyaan tersebut. Me­tode yang digunakan adalah kuantitative jenis stratified random sampling probability dan pertanyaan tertutup. Penghitungan sampel meng­gunakan rumus Slovin dengan sampling error 7%. Dari jumlah ke­seluruhan mahasiswa di enam fakultas UNY, 30.000 mahasiswa, di­ per­oleh sampel sebanyak 203 mahasiswa. Angket disebar dengan meng­ gunakan rumus penghitungan populasi heterogen karena jumlah ma­ha­ sis­wa di setiap fakultas berbeda. Angket terdiri dari 5 pertanyaan dan 8 per­nya­taan untuk mahasiswa kelas internasional dan 6 pernyataan un­tuk ma­hasiswa non-internasional. Da­ri pertanyaan tentang apakah UNY sudah siap membuka kelas in­ ter­nasional, 41,45% dari sampel menjawab ya, 53,7% menjawab tidak, dan 5,4% tidak men­jawab. Hal tersebut diikuti dengan jawaban dari per­ tanyaan penting atau tidak dilakukan peningkatan kualitas UNY se­cara u­mum se­­belum membuka kelas internasional. Hasilnya, 89,9% sam­pel men­ja­wab ya, 5,25% men­ja­wab ti­dak, dan 4,85% ti­­dak men­ja­wab. Ma ­h a ­s is ­w a se­t u ­j u (32%) bah­kan sa­ngat se­tu­ju (10,3%) bah­wa UNY ter­ge­sa-gesa mem­bu­ka ke­las inter­na­sional de­mi meng­ejar WCU. mes­ki­pun ada ju­ga yang ragu-ragu (33,7%), ti­dak se­tuju (17,7%) dan sa­ngat ti­dak se­tuju (1,7%) dan ti­dak men­jawab (4,6%) de­ng­an per­ nyataan ter­se­but. Me­reka sa­ngat tidak setuju (5,1%), tidak setuju (10%), ragu-ragu (54,3%), setuju (17,1%) dan sangat setuju (25,9%) dengan pernyataan bahwa kualitas dosen sudah layak untuk menjadi pengajar di kelas internasional sedangkan 4,6% tidak menjawab. Dari data tersebut, UNY masih harus berbenah lagi terkait de­ngan di­ bu­ka­nya ke­las inter­nasional. Sa­ngat ironis mengetahui bahwa mahasiswa merasa UNY mem­buka ke­las in­ter­na­sio­nal ha­nya un­tuk me­ning­kat­kan po­pularitas di te­ngah per­sai­ngan per­gu­ru­an ting­gi.

- Siap tidak siap harus siap!!

2 • EXPEDISI| EDISI IV| Juli 2010

EXPEDISI EDISI 4.indd 2-3

Idealnya, sarana prasarana yang baik menganut standar nasional pendidikan sarana prasarana, dan UNY belum siap

P

a­­da tah­un aja­ran b­aru 20­10 in­i, UNY te­lah mem­bu­ka ke­las in­ ter­na­si­o­nal di be­be­ra­pa program

studi, se­per­ti Pen­di­di­kan Ma­te­ma­ti­ ka, Pen­di­dik­an A­kun­tan­si, Pendidikan Bio­lo­gi, Pen­didik­an Fi­si­ka, Pen­di­dik­an Ki­mia, dan Pen­­di­­di­k­an IPA. Pada­hal, da­ri ke­enam pro­gram stu­di yang di­ buka ke­las in­ter­na­sional, sa­tu di­antara­ nya yakni pen­di­dik­an IPA ada­lah pro­ di yang akre­di­tasinya ba­ru di­aju­kan. Hal ini se­suai de­ngan per­nyata­an PD I FMIPA, Suyoso, M.Si. “Untuk Pen­didik­an IPA ta­hun yang la­lu me­ mang te­lah dibuka pro­gram ke­las bilingual, dan ta­hun ini me­nyu­sul ke­las in­ter­na­si­o­nal. Akreditasi­nya me­nyusul, ka­re­na ba­ru di­usul­kan,” te­rang­nya. Ber­be­da hal­nya de­ngan pen­­da­pat da­ri HM. Djazari, M. Pd Ke­tua Ju­ru­san Pro­gram Studi Pen­di­dik­an Akun­tan­ si, yang me­nyata­kan bah­wa nan­ti­nya akre­di­tasi men­jadi per­tim­ba­ngan khu­ sus ba­gi di­bu­kanya ke­las inter­na­sio­nal da­ri ke­bi­jakan pen­di­dikan na­sio­nal. Me­li­hat ke­nya­taan ter­se­but, Pem­ bantu Rektor I (PR I) Prof. Dr. Nurfina Aznam SU, A.Pt me­nya­ta­kan bah­ wa tu­juan da­ri di­bu­ka­nya ke­las inter­ nasional se­mata-ma­ta adalah un­tuk pa­ra sis­wa yang meng­enyam pen­didik­

Pelayanan fasilitas kampus belum siap menghadapi adanya kelas internasional

an di Se­ko­lah Me­ne­ngah A­tas yang ber­basis Inter­nasional ser­ta gu­na me­­

ha­sis­wa ke­las inter­nasional, Dessy R Fitriyani ma­ha­sis­wi ju­rus­an Pen­didik­an Ma­te­ma­ti­ka Inter­nasional 2009 ber­pen­ dapat bah­wa UNY be­lum si­ap mem­bu­ka ke­las inter­nasional ka­re­na do­sen yang meng­ajar ma­sih be­lum kon­se­kuen da­ lam meng­ajar. Fa­silit­as yang di­beri­kan pun ma­sih sa­ma de­ngan ke­las re­gu­ler yang biaya SPPnya le­bih mu­rah 50% da­ri ke­las inter­nasional ser­ta ja­lur pe­ nerima­an ma­ha­sis­wa­nya yang ter­ke­san ma­sih di­cam­pur de­ngan ma­ha­sis­wa lain­nya. Selain itu, ti­dak a­da spe­si­fi­ ka­si ke­mam­pu­an Ba­ha­sa Ing­gris yang men­ja­di po­in u­ta­ma pe­nilai­an un­tuk ca­lon ma­ha­sis­wa ke­las Inter­nasional. Ke­ti­ka hal ini di­kon­fir­ma­si­kan de­

tus World Class University (WCU).

Akun­tansi, be­liau meng­ungkap­kan bah­

yang

“Si­ap ti­dak si­ap ha­rus si­ap,“ be­gi­ tu­lah yang di­ucap­kan PR I gu­na men­ ja­wab per­tanya­an se­pu­tar ke­siap­an UNY mem­bu­ka ke­las inter­nasio­nal. Se­nada de­ngan PR I Pem­ban­tu De­kan II Fa­kul­tas MIPA, Dr. Heru Nurcahyo

TIM EXPEDISI

Me­­nanggapi da­ri per­nyata­an PR I dan PD II FMIPA, sa­lah sa­tu ma­

ber­sta­

uni­ver­sitas

Seharusnya Kesiapan Nomor Satu

UNY membuka kelas internasional untuk meningkatkan popularitas di tengah persaingan perguruan tinggi

salah satu fakultas yang membuka kelas internasional

ngan HM. Djazari, M.Pd se­la­ku Kaprodi

wujud­kan

+Bilang aja mau nyaingin UGM, Bu! -(hening)

Ke­siap­an Ke­las Inter­na­sio­nal UNY Dipertanyakan

mem­beri­kan ruang pen­didik­an ba­gi

Redaksi menerima artikel, opini dan surat pembaca. Redaksi berhak mengedit tulisan tanpa mengubah isi.

SEMPIL

SENTRA

Indra EXPEDISI

EDITORIAL Ke­si­ap­an Ter­le­tak Di­be­la­kang

ber­ujar, ”Ya ini da­lam pro­ses per­siap­ an, ta­pi ka­lau di­bilang siap ya be­lum”.

wa ke­siap­an ada­lah hal per­ta­ma yang men­ja­di mo­dal

a­wal mem­bu­ka ke­las

inter­nasional. ”Se­harus­nya suatu lem­ba­ ga ha­rus mem­per­ha­ti­kan In­stru­ment ke­ la­ya­kan ji­ka i­ngin mem­bu­ka ke­las inter­ nasional, ka­re­na tak se­pan­tas­nya ji­ka output-nya ti­dak ber­kom­pe­ten,” je­las­nya. Mengejar Status WCU A­da­nya wa­ca­na bah­wa di­bu­ka­nya

ke­las inter­nasional ha­nya me­nge­jar sta­tus WCU, di­be­nar­kan oleh Prof. Dr. Nurfina Aznam SU, A.Pt. Ia me­nya­ ta­kan bah­wa da­ri sta­tus World Class University ma­ka pi­hak uni­ver­si­tas ­pun a­kan men­da­pat pro­fit le­bih ka­re­na ke­ per­ca­ya­an mas­ya­ra­kat a­kan ber­tam­ bah dan pe­mi­nat­ pun a­kan me­ning­kat. Sta­tus ke­las inter­nasional yang di­ san­dang oleh UNY, se­be­nar­nya be­ lum la­yak un­tuk di­se­but se­ba­gai ke­las inter­nasional. Ke­ada­an yang a­da ba­ru me­nun­juk­an a­rah un­tuk me­nu­ju inter­ na­si­onal. Hal ini di­ung­kap­kan oleh Suyoso, M.Si yang me­nya­ta­kan bah­ wa ke­las inter­nasional di UNY tepat­ nya di­se­but se­ba­gai ke­las stan­dar inter­ na­si­onal, bu­kan ke­las inter­na­si­onal. Ma­sih me­nu­rut Suyoso, M.Si, ke­las inter­na­si­onal mem­pu­nyai ar­ti yang lu­as se­ per­ti ada­nya do­sen da­ri lu­ar ne­ge­ri, per­tu­ ka­ran ma­ha­sis­wa asing, dan la­in se­ba­gai­ nya. Padahal, do­sen yang meng­ajar ke­las inter­na­si­onal dan fasilitas yang ada re­la­tif sa­ma dengan kelas reguler maupun non reguler. Be­da­nya ha­nya ada be­be­ra­pa ma­ta­ ku­li­ah yang peng­antar­nya ba­ha­sa Ing­gris. Sedangkan menurut Dessy, de­ngan mem­ ba­yar le­bih ma­hal 50% ter­se­but ma­ha­sis­wa ke­las Inter­na­sional pun me­ra­sa di­ru­gi­kan. Se­la­in i­tu, Dessy ju­ga me­ngung­kap­

2010 Juli | EDISI IV | EXPEDISI • 3

14/07/2010 11:18:03


Dok.Istimewa

UNY membuka kelas Internasional untuk memberi ruang pada lulusan Sekolah Menengah bertaraf internasional

yang

RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Inter­

sem­pat mem­ buat ma­ha­sis­wa kelas internasional iri. Kecemburuan so­si­al

nasional) dan SBI (Sekolah Bertaraf

kan

ada­nya ke­las

Bi­lingual

ter­se­but di­se­bab­kan oleh ke­ba­nyak­an ma­te­ri peng­an­tar ba­ha­sa Ing­gris me­ re­ka yang sa­ma. Na­mun se­ca­ra te­gas Suratsih M.Si se­la­ku Ke­pa­la Pro­gram Stu­di Bio­logi me­nya­ta­kan bah­wa ke­las inter­na­sional dan ke­las bi­lingual ber­be­ da. Ke­las bi­li­ngu­al di­per­siap­kan un­tuk

Internasional) se­dang­kan ke­las Inter­ na­sional di­ha­rap­kan le­bih da­ri i­tu. Mau Dibawa Kemana? Menurut Prof. Dr. Nurfina Aznam SU, A.Pt, kon­se­kuen­si yang ha­rus di­la­ku­kan pi­hak uni­ver­si­tas dengan dibukanya ke­ las inter­na­sional ada­lah ba­gai­ma­na ca­ ra­nya agar da­pat men­ce­tak lu­lu­san yang

PERSEPSI

ber­kom­pe­ten dan da­pat di­se­rap pa­sar gu­na mem­per­oleh peng­aku­an pub­lik

Menjadi Mahasiswa !

yang mu­tlak. Menurutnya, ka­re­na ke­las Inter­na­sional di­bu­ka di ju­ru­san-ju­ru­san ke­pen­di­dik­an se­per­ti Pen­di­di­kan Ma­ te­ma­ti­ka, Pen­di­di­kan Akun­tan­si, dan Pen­di­di­kan IPA, ma­ka link akan di­bu­ka ke se­ko­lah-se­ko­lah yang mem­pu­nya­i ta­ raf inter­na­sional pu­la. Pem­bu­ka­an link ter­se­but dilakukan me­la­lu­i pro­gram uni­ver­si­tas PPL ma­ha­sis­wa yang ber­ tu­gas men­ja­di gu­ru di ­se­ko­lah ter­se­but. Pa­da­hal se­la­in link, kom­pe­ten­si da­ri ma­ha­sis­wa i­tu sen­di­ri ju­ga sa­ngat di­bu­tuh­kan, se­per­ti a­pa yang di­sam­ pai­kan Suratsih, M.Si se­la­ku Ka­pro­di Pen­di­dik­an Bio­lo­gi bah­wa, “Ke­siap­ an ha­rus men­ca­kup SDM, ke­siap­ an pen­du­kung da­ri di­bu­ka­nya ke­las inter­nasional se­per­ti sa­ra­na-pra­sa­ra­ na. Un­tuk SDM ada sya­rat a­ka­de­mik se­per­ti peng­alam­an pen­di­dik­an, jen­

P

jang pen­di­dik­an, dan ke a­rah ba­ha­sa“.

Dindadari Arum Jati Yuna, Sandi, Delvira, Indra

EKSPRESPEDIA

4 • EXPEDISI| EDISI IV| Juli 2010

EXPEDISI EDISI 4.indd 4-5

ber­u­jung pa­da pe­me­ca­tan Dr. Pignier se­ba­gai ke­pa­la lem­ba­ga dan la­rang­an peng­gu­na­an tu­li­san braille. Ka­re­na sis­ tem i­tu di­ang­gap ti­dak la­zim, su­lit un­ tuk me­ya­kin­kan ma­sya­ra­kat me­nge­nai ke­gu­na­an­nya ba­gi tu­na­ne­tra. Sa­lah sa­ tu pe­nen­tang tu­lis­an braille a­da­lah Dr. Dufau, a­sis­ten direktur L’Institution Nationale des Jeunes Aveugles. Dufau ke­mu­di­an di­ang­kat men­ja­di ke­pa­la lem­ ba­ga ba­ru. Un­tuk mem­per­ku­at ge­rak­an an­ti-brail­le, se­mua bu­ku dan trans­krip de­ngan hu­ruf brail­le di­ba­kar dan di­si­ta. Ke­gu­na­an hu­ruf brail­le ter­buk­ti de­ngan per­kem­bang­an mu­rid-mu­rid tu­na­ne­ tra yang be­gi­tu ce­pat. Men­je­lang ta­hun 1847, sis­tem tu­li­san ter­se­but di­per­bo­ leh­kan kem­ba­li. Ta­hun 1851, hu­ruf brail­le di­aj­u­kan ke­pa­da pe­me­rin­tah Perancis a­gar di­a­kui se­ca­ra sah. Se­jak sa­at i­tu, peng­gu­na­an hu­ruf brail­le mu­lai ber­kem­bang lu­as. Pa­da ak­hir a­bad ke-19 sis­tem di­a­kui se­ ca­ra u­ni­ver­sal dan di­be­ri na­ma ‘tu­li­san braille’. Di ta­hun 1956, De­wan Du­nia un­tuk Ke­se­jah­te­ra­an Tu­na­ne­tra (The World Coun­cil for the Wel­fare of the

e­ru­ba­han a­da­lah ke­nis­ca­ya­an. Se­ti­ap ta­hun u­sia ki­ta se­ma­kin le­bih de­wa­sa. Se­ti­ap ha­ri ki­ta meng­ha­da­pi tan­ta­ngan-tan­ta­ ngan ba­ru. O­leh ka­re­na i­tu, se­ti­ap sa­at ki­ta me­nga­la­mi se­bu­ah pe­ru­ba­han. Ma­ka se­ja­ti­nya pe­nge­ta­hu­an ten­tang pe­ru­ba­han i­tu­lah yang a­kan mem­bu­at ba­gai­ma­na ki­ta men­ja­la­ni hi­dup. Ka­re­na se­sung­ guh­nya ca­ra ki­ta me­ma­ha­mi hi­dup sa­ma de­ngan ca­ra men­ja­la­ni­nya. Pe­ru­ba­han se­la­lu te­ra­sa ce­pat. Ka­lau ki­ta tak mam­ pu i­kut da­lam a­re­na pe­ru­ba­han a­tau men­ja­di ak­tor­nya, ma­ ka se­ja­ti­nya ki­ta ha­nya me­nung­gu wak­tu un­tuk ter­lin­das ro­ da pe­ru­ba­han. Ka­re­na be­gi­tu­lah kai­dah se­bu­ah pe­ru­ba­han. Pa­da ti­tik i­ni pe­ru­ba­han ra­di­kal ter­ja­di da­lam di­ri ki­ta. Pe­ru­ba­ han sta­tus da­ri ‘sis­wa’ ke ‘ma­ha­sis­wa’ se­ha­rus­nya di­i­ku­ti pe­ru­ba­han pa­ra­dig­ma ber­pi­kir ki­ta. Ka­re­na tak a­da gu­na­nya ji­ka sta­tus ma­ha­ sis­wa yang di­i­dam-i­dam­kan a­nak mu­da In­do­ne­sia bi­la si­kap dan ka­ rak­ter ki­ta ma­sih ber­men­tal a­nak SMA. Ma­ka mak­na da­ri ‘ma­ha­sis­ wa’ a­kan di­khi­a­na­ti. Kon­teks i­ni me­nya­ta­kan men­ja­ga i­si i­tu ti­dak bo­leh di­ab ­ ai­kan, mem­ba­ngun sub­stan­si ko­koh se­ba­gai ma­ha­sis­wa. Men­ja­di ma­ha­sis­wa bu­kan­lah men­ja­di ker­tas ko­song dan ti­ dak­lah men­ja­di se­ong­gok pa­tung yang du­duk di­am da­lam ru­ ang-ru­ang ke­las sa­ja. Te­ta­pi men­ja­di ma­ha­sis­wa ia­lah men­ja­di pe­na yang meng­go­res­kan ca­ta­tan se­ja­rah da­lam lem­bar-lem­bar ke­hi­du­pan dan o­rang yang me­nye­rap pe­nge­ta­hu­an da­lam ru­ ang ke­las un­tuk me­nya­lur­kan­nya da­lam me­dan re­a­li­tas so­sial. Men­ja­di ma­ha­sis­wa ti­dak­lah men­ja­di se­o­rang cer­das dan pin­ tar sa­ja. Bu­kan­lah men­ja­di o­rang yang me­me­nu­hi wak­tu­nya de­ngan be­ra­gam ak­ti­fi­tas hi­bu­ran me­le­na­kan.Te­ta­pi men­ja­di se­o­rang in­te­ lek­tu­al yang mem­pu­nyai ha­ti dan em­pa­ti un­tuk tu­rut la­rut da­lam rea­li­tas so­si­al yang ka­dang te­ra­sa ti­dak a­dil dan pe­nuh ke­tim­pa­ngan. Men­ja­di ma­ha­sis­wa a­da­lah men­ja­di o­rang yang be­ker­ja da­lam ru­ang-ru­ang ke­su­nyi­ an, dan mem­bu­ah­kan kar­yakar­ya besar. Dan bi­ar­kan­lah o­rang me­nge­nal kar­ya ki­ta, tan­pa per­lu ta­hu sia­pa ki­ta. Ma­ka pi­li­han­ku dan pi­ li­han­mu bu­kan­lah per­ka­ra ki­ta ‘bi­sa’ a­tau ‘ti­dak’ men­ ja­di ma­ha­sis­wa, te­ta­pi a­pa­ kah ki­ta ‘la­yak’ men­ja­di ma­ha­sis­wa. Se­bab ‘bi­sa ja­di ma­ha­sis­wa’ a­da­lah per­ka­ra yang be­ru­ru­san de­­ngan pro­se­dur ad­mi­nis­tra­si sa­ja, te­ta­pi ‘la­yak ja­ di ma­ha­sis­wa’ ber­tum­pu pa­da di­ri ki­ta sen­di­ri. Wallahu’alam.

Dok.Istimewa

M

un­cul­nya ins­pi­ra­si men­cip­ta­ kan hu­ruf-hu­ruf yang da­pat di­ba­ca o­leh tu­na­ne­tra ber­a­ wal da­ri se­o­rang be­kas per­wi­ra ar­ti­le­ ri Napoleon, Kap­ten Charles Barbier. Barbier meng­gu­na­kan sandi be­ru­pa ga­ris-ga­ris dan ti­tik-ti­tik tim­bul un­tuk pe­san a­tau pe­rin­tah ke­pa­da ser­da­du­ nya da­lam ge­lap ma­lam. Pe­san ter­se­but di­ba­ca de­ngan me­ra­ba rang­ka­ian kom­ bi­na­si ga­ris dan ti­tik yang me­nyu­sun se­bu­ah ka­li­mat. Sis­tem de­mi­kian ke­mu­ di­an di­ke­nal de­ngan se­but­an night wri­ ting a­tau tu­lis­an ma­lam. De­mi me­nye­suai­kan ke­bu­tuh­an tu­na­ ne­tra, Louis Braille meng­a­da­kan u­ji co­ ba ga­ris dan ti­tik tim­bul Barbier ke­pa­da be­be­ra­pa di­an­ta­ra me­re­ka. Ter­nya­ta ja­rija­ri ta­ngan me­re­ka le­bih peka ter­ha­dap ti­tik da­ri­pa­da ga­ris. O­leh ka­re­na i­tu, Braille ha­nya meng­gu­na­kan kom­bi­na­si ti­tik dan spa­si. Sis­tem i­ni per­ta­ma ka­li di­gu­na­kan di L’Institution Nationale des Jeunes Aveugles, Paris, un­tuk meng­a­jar sis­wa-sis­wa tu­na­ne­tra. Kon­tro­ver­si me­nge­nai ke­gu­na­an hu­ruf braille di Perancis sem­pat mun­cul yang

dok.Istimewa

Sejarah Huruf Braille

Koreksi Pilkada dan Otoda

Blind) men­ja­di­kan be­kas ru­mah Louis Braille di Coupvray, 40 km se­be­lah ti­ mur Paris, se­ba­gai mu­se­um. Ki­ni pe­man­fa­a­tan­nya se­ma­kin ber­ kem­bang. Mi­sal­nya pa­da 2006, pro­du­ sen a­lat ko­mu­ni­ka­si men­co­ba me­nga­pli­ ka­si­kan touch pad ber­hu­ruf braile pa­da te­le­pon geng­gam. Hal ter­se­but sa­ngat mem­ban­tu tu­na­ne­tra me­nik­ma­ti e­ra di­ gi­tal. (dari berbagai sumber)

Rima Sekarani I.N.

Fiqi Ahmad Presiden ReMa UNY Redaksi menerima artikel, opini, dan surat pembaca. Redaksi berhak mengedit tulisan tanpa mengubah isi. Tulisan dikirim ke: lpm_ekspresi@yahoo.com

P

il­ka­da (Pe­mi­li­han Ke­pa­la Da­e­rah) i­ba­rat dua ma­ta ko­in, meng­un­tung­kan dan me­ru­gi­kan. Di­ka­ta­kan se­ba­gai si­si yang meng­un­tung­kan ma­na ka­la Pil­ka­da di­gu­na­kan se­ba­gai a­jang pem­be­la­ ja­ran ba­gi ma­sya­ra­kat se­tem­pat meng­enai de­mo­kra­si dan peng­elo­la­an wi­la­yah­nya ma­sing-ma­sing. A­kan te­ ta­pi, Pil­ka­da jus­tru men­jadi bu­me­rang ba­gi ma­sya­ra­kat ke­ti­ka pe­nye­leng­ga­ra­an­nya ba­nyak ke­mu­dha­rat­an. Pe­ nye­leng­ga­ra­an Pil­ka­da di se­ti­ap ka­bu­pa­ten dan pro­vin­ si tan­pa a­da kon­trol se­ca­ra lang­sung dan te­gas a­da­lah dam­pak da­ri a­da­nya o­to­no­mi da­e­rah, di ma­na se­ti­ap da­e­rah te­lah me­mi­li­ki ke­bi­ja­kan di ma­sing-ma­sing wi­ la­yah­nya. Pa­da­hal ki­ta ta­hu bah­wa tak se­mua da­e­rah la­yak un­tuk meng-oto­no­mi da­e­rah­nya sen­di­ri, ka­re­na sum­ber da­ya ma­nu­si­a ya­ng ma­sih ter­ba­tas. Se­per­ti yang di­ka­ta­kan o­leh Bapak Desentralisasi, Prof. Dr. Ryaas Rasyid, “Ka­lau pe­mi­lih­nya ti­dak cer­ das dan mis­kin, me­re­ka di­be­li yang bi­a­sa ki­ta de­ngar se­ba­gai money politics (po­li­tik uang),” ung­kap­nya di Lombok Post. Ki­ta re­flek­sikan me­la­lui ke­nya­ta­an sa­at i­ni, ba­ga­i­ma­na Pil­ka­da men­ja­di sa­lah sa­tu ja­lan al­ter­ na­tif yang di­pe­re­but­kan ba­nyak pi­hak. Mo­tif kom­pe­ti­si yang ka­bur, mem­bu­at kon­sep de­mo­kra­si se­ma­kin u­to­ pis un­tuk di­te­rap­kan di Indonesia. Pa­da Orde Ba­ru, o­to­no­mi da­er­ ah sa­ngat eks­klu­sif dan mem­pu­nya­i da­ya ta­war yang ting­gi ka­re­na sya­rat ber­di­ri­nya cu­kup su­lit. Pa­da sa­at i­tu, e­fi­si­en­si dan ke­ sta­bil­an se­ba­gai ‘ideologi’ UU 5/74, sa­ngat me­non­jol. Hal ter­se­but me­mi­li­ki ar­ti bah­wa su­a­tu da­er­ ah o­to­nom, a­kan men­da­pat­kan sta­tus o­to­no­mi se­te­lah me­la­lu­i fa­ se per­si­ap­an atau tran­si­si. Con­toh, se­bu­ah wi­la­yah un­tuk bi­sa men­ja­di ko­ta­mad­ya o­to­nom, ha­rus me­la­lu­i fa­se se­ba­ga­i ko­ta ad­mi­nis­tra­tif ter­le­bih da­hu­lu se­la­ma be­­be­rapa ta­hun. Fak­tor te­re­but­lah yang di­hi­lang­kan atau ti­dak di­per­ha­ti­kan pa­da UU No.22/99 mau­pun UU No.32/2004. A­ki­bat da­ri ke­long­ga­ran da­ri pe­mim­pin e­lit o­por­tu­nis i­tu­lah, Pil­ka­da di­lak­sa­na­kan se­ba­gai wu­jud de­mo­kra­si o­to­nom jus­tru me­nim­bul­kan ca­rut-ma­rut, se­per­ti ka­sus Pil­ka­da yang meng­ang­kat ca­lon-ca­lon gu­ber­nur, wa­kil gu­ber­nur hing­ga bu­pa­ti dan wa­kil bu­pa­ti kon­tro­ver­si­al se­per­ti Julia Perez dan Eva Maria. Un­tuk itu­lah, per­lu ki­ta ko­rek­si kem­ba­li o­to­no­mi da­e­ rah yang se­la­ma ini te­lah ba­nyak me­nga­la­mi pe­nyim­ pa­ng­an da­lam pe­nye­leng­ga­ra­an­nya. Su­dah sa­at­nya, pe­me­rin­tah me­re­vi­si kem­ba­li un­dang-un­dang ten­tang o­to­no­mi da­e­rah. Bu­kan tak mung­kin a­­pa­bi­la o­to­no­ mi da­e­rah jus­tru bi­sa mem­bu­at dis­in­te­gra­si ke­u­tuh­an NKRI.

Pratina Ikhtyarini Jurnalis EXPEDISI

2010 Juli | EDISI IV | EXPEDISI • 5

14/07/2010 11:18:04


Peran UPBK Tidak Nampak Indra EXPEDISI

“Sosialisasi UPBK selama ini hanya lewat leaflet dan dari lisan ke lisan,” kata Sri Iswanti, M.Pd., kepala UPBK waktu ditemui di kantor jurusan. pa­car.” Sa­ma hal­nya de­ngan Gita, ma­ ha­sis­wa Pen­di­dik­an Se­ja­rah 2008 yang belum pernah berkunjung ke UPBK padahal fakultasnya dekat. Jika ada masalah, dia lebih memilih bicara dengan temannya. “Lagi pula tertutup terus kok,”tandasnya. Kurangnya sosialisasi ini diakui oleh Sri Iswanti, M.Pd. bahwa ketika OSPEK me­re­ka ti­dak di­be­ri­kan ke­sem­ pa­tan un­tuk bi­ca­ra mem­per­ke­nal­kan UPBK oleh panitianya, padahal PR III telah memberikan kesempatan un­tuk men­so­si­al­i­sa­si­kan­nya. Un­tuk al­ter­na­tif­ nya, pihak UPBK melakukan sosialisasi lewat leaflet dan dari mulut ke mulut.

A­tap­nya ter­lalu ren­dah se­hing­ga mem­berikan ke­san peng­ap. Pa­da­ hal du­lu­nya ruang UPBK terbuka UPBK tidak hanya melayani mahasiswa, tetapi juga karyawan dan masyarakat sekitar. namun letak UPBK yang tidak strategis membuatnya sepi pengunjung.

U

PBK (U­nit Pe­la­ya­nan Bim­bi­ ngan Kon­se­ling) ber­peran untuk menjadi tem­pat bim­bing­an ke­ ti­ka a­da ma­ha­sis­wa yang ber­ma­sa­ lah, mem­ban­tu me­nye­le­sai­kan­nya dan ber­kon­sul­ta­si bidang akademik serta mengembangkan potensi. Pernyataan tersebut terlontar dari kepala UPBK Sri Iswanti, M.Pd. Didukung oleh PR III, Prof. Dr. Herminarto S. yang me­ nga­ta­kan, “UPBK untuk memberikan pelayanan bim­bing­an pada mahasiswa yang mendapatkan masalah akademik.” Selain sebagai tempat bimbingan ma­ha­sis­wa un­tuk meng­kon­sul­ta­si­kan ma­sa­lah me­re­ka, Sri Iswanti, M.Pd menerangkan UPBK juga membuka pelayanan untuk karyawan dan keluarga beserta masyarakat umum. Mahasiswa dan karyawan yang berkonsultasi ke UPBK tidak dipungut biaya sedangkan un­tuk ma­sya­ra­kat u­mum di­am­bil se­ke­ dar­nya sa­ja. Sosialiasi UPBK Kurang Di­bu­ka pu­kul 08.00-13.00 Wib, UPBK Nam­pak se­pi setiap harinya. Pintu UPBK pun terkunci, ketika melongok kedalam lewat pintu akan terlihat ruang sempit yang berisikan almari berderet, tidak nampak adanya penjaga UPBK

6 • EXPEDISI| EDISI IV| Juli 2010

EXPEDISI EDISI 4.indd 6-7

didalam sana. Ketika di ketuk pintu pun tidak ada sahutan hal ini menandakan bahwa UPBK memang tidak dijaga, pa­ da­hal masih menunjukkan Pukul 10.00 Wib. Di­pin­tu ma­suk UPBK yang meng­ ha­dap ke utara akan terlihat menempel kertas bertuliskan jadwal piket UPBK, pergantian jaga dimulai Pukul 11.00 Wib. Keadaan sepi UPBK ini diklarifikasi oleh Sri Iswanti, M.Pd sebagai ketua UPBK bahwa, “Ya karena masih jam kuliah jadi me­re­ka me­nga­jar.” Hal ini di­mak­ lu­mi oleh PR III, Prof. Dr. Herminarto S. “Mereka tidak setiap hari ada disana, karena tugas utama mereka kan sebagai dosen, ya tugas mereka mengajar.” “Fikiran positif kami kan mahasiswa tidak punya masalah, ya negatifnya karena sosialisasinya kurang,” ungkap Sri Iswanti, M.Pd. Seorang mahasiswa dari FT (Fakultas Teknik) Andika Sapta PT. Elektronika, 2008, menyatakan tidak tahu keberadaan UPBK, alasannya karena tidak pernah dikenalkan tentang UPBK. Senada dengan Andika S, Seno Catur S. PT. Teknik Mesin 2008 mengatakan, “Tidak tahu UBPK ya karena tidak pernah mendengar, kalau a­da ma­ sa­lah men­ding ce­ri­ta sa­ma te­man atau

Terutama untuk sosialisasi ke­pada ma­ sya­rakat umum, pihak UPBK me­la­ku­ kan sosialisasi lewat pengabdian ma­ sya­ra­kat dan website. “Dulu pernah ada ke­sempatan masuk ke fakultas-fakultas te­tapi se­karang sulit, mungkin karena pro­ses pem­belajaran yang sudah padat,” tam­bah­nya. Kantor UPBK di Balik Gedung Museum Pendidikan Le­tak kan­tor UPBK di­be­la­kang Mu­se­ um pen­di­di­kan se­be­lum­nya a­da­lah tem­ pat re­gis­tra­si ke­ti­ka Sri Iswanti, M.Pd. menjadi mahasiswa dulu. Sebelumnya kantor UPBK adalah sebgaian dari ba­ ngun­an museum. Akan tetapi, museum meng­a­la­mi per­lu­asan ditahun 2008 sehingga kantor UPBK digeser di ruang dibelakangnya. Menurut cerita Sri Iswanti, M.Pd., pernah ada yang menanyakan, “UPBK di­ma­na tho?” ka­ta­nya me­ni­ru­kan ga­ ya bi­ca­ra peng­un­jun­gnya. Letak miliki pengaruh tersendiri terhadap peng­un­ju­ ng. Peng­un­jung ti­dak mudah me­ne­mu­ kan­nya. Dia lalu memberikan gambaran ru­ ang­an ter­sebut, atapnya terlalu ren­dah se­hing­ga memberikan kesan peng­ap. Pa­dahal dulunya ruang UPBK ter­bu­ ka, su­dah me­mi­li­ki se­kat-se­kat un­tuk ke­nyamanan pengunjung, “Privasi se­

seorang kan dibutuhkan ketika men­ce­ri­ ta­kan masalahnya,” katanya. UPBK juga tidak memiliki staf khu­ sus, hanya ada satu pegawai administrasi dan satu pegawai pembersih, itu pun merangkap kerja di rektorat. “Pernah minta, tapi belum diijinkan,” kata Sri Iswanti, M.Pd. PR III mengklarifikasi pula mengenai ketiadaan staf khusu ini, “Belum ada penggantian, karena semua tergantung dari pusat, kalau tidak ada informasi untuk itu ya belum bisa mengangkat pegawai,” katanya. Pembangunan Kantor Baru UPBK Sri Iswanti, M.Pd menerangkan pu­ la ten­tang pembangunan kantor UPBK yang su­dah di­ren­ca­na­kan di­ta­nah ko­ song an­tara Puskom dan Lemlit, dan a­kan berhadapan dengan aulan FT yang lama. “Kantor UPBK sekarang ini hanya ber­sifat sementara karena mulai tahun i­ni sudah merencanakan pembangunan ge­dung baru bersama pihak rektorat,” ka­ta Sri Iswanti. Pihak UPBK sendiri sudah membuat desain yang sesuai dengan keinginan me­ re­ka. Gedung ini rencananya terdiri dari dua lan­tai, lantai satu untuk koperasi a­tau minimarket dan kantor Darma Wa­ ni­ta UNY. UPBK akan menempati lantai dua deng­an alasan untuk menjaga pri­ va­si. Pe­ren­ca­na­an ini di­be­nar­kan oleh PR II, Drs. Sutrisna Wibawa, M.Pd

Indra EXPEDISI

TEPI

Letak UPBK di tempat registrasi lama dibelakang Museum Pendidikan. sepi tak ada pengunjung dan pintunya pun terkunci.

ketika ditemui dikantornya, “Ya, nanti kantornya akan di perluas di antara Puskom-Lemlit.” Perluasan program UPBK pun di tam­bah. UPBK akan mengaktifkan kon­ se­ler se­baya. Konseler ini akan di­am­bil da­ri ma­hasiswa UNY yang ber­mi­nat, mereka a­kan mendapatkan pe­la­ti­han untuk men­jadi seorang kon­seler. “Pro­ gram ini be­kerja sama dengan PR III, mung­kin ba­ru dilaksanakan se­ha­bis le­ baran karena se­karang terbentur de­ngan li­bur.” Ka­ta Sri Is­wanti, M.Pd., kepala UPBK. Sri Iswanti me­nambahkan pro­

INFO KAMPUS Teater Drama dan Musikal Unstrat

Ber­tem­pat di ge­dung la­bo­ra­to­ri­um ka­ra­wi­tan (10/7), unstrat meng­a­da­kan per­ tun­juk­kan dra­ma mu­si­kal. Di­mu­lai pu­kul 19.00 WIB, di­bu­ka de­ngan per­tun­juk­ kan mu­si­ka­li­sa­si pu­i­si o­leh grup mu­si­ka­li­sa­si Unstrat. Ke­mu­di­an se­rang­ka­i­an a­ca­ra pun di­lak­sa­na­kan, yak­ni: Dra­ma teater ber­ju­dul “Mandor”, di­lan­jut­kan mu­si­ka­li­sa­si pu­i­si, dan ter­a­khir mo­no­log ber­ju­dul “Demonstrasi”. A­ca­ra ini ber­te­ma “siluet Improvisasi unstrat”. Hing­ga se­le­sai a­ca­ra i­ni ber­ja­lan lan­car.

Mutaya

Orkestra di Auditorium

KAMIS (8/7) Auditorium UNY, Pukul 19.00 WIB di­mu­lai kon­ser mu­sik ber­ta­ juk “Tribute to Yuana Arifin”. A­ca­ra i­ni di­a­da­kan da­lam rang­ka me­nge­nang al­ mar­hum Yuana Arifin. A­ca­ra yang di­a­da­kan o­leh is­tri be­li­au Heni Kusumawati yang ju­ga se­la­ku Ke­pa­la Ju­ru­san Mu­sik FBS i­ni me­nam­pil­kan kar­ya-kar­ya mu­ sik Yuana Arifin. A­ca­ra ber­lang­sung de­ngan na­da-na­da in­dah da­ri kar­ya-kar­ya Yuana Arifin. Jaka

UpGrading HIMA PKnH SENIN (12/7) Camping Ground Garongan, Wonokerto, Turi, Sleman, digunakan mahasiswa jurusan PKnH untuk berkemah selama dua hari dari tanggal 12-13 Juli 2010. Acara Upgrading ini digunakan sebagai ajang menambah kesolidan anggotanya. Peserta ugrading ini selain pengurus HIMA diikuti juga oleh panitia OSPEK jurusan dan panitia MAKRAB.

Efendi

gram ker­ja la­in yang ma­sih di­lak­sa­ na­kan ialah program kerja hari senin untuk penulisan skripsi dan hari selasa untuk program percepatan perencanaan karir. Sayangnya program kerja ini masih di kampus FIP (Fakultas Ilmu Pendidikan).“Semestinya me­nye­lu­ruh, tapi masih agak kesulitan, jadi se­men­ tara di FIP dulu,” tambah Sri Iswanti, M.Pd.

Mutayasaroh Rima, Muhammad, Septi

SURAT PEMBACA Apa Ada yang Diistimewakan? UNY mem­­pu­­nyai ba­­n­yak UKM. Ten­­tu­­nya ju­­ga mem­­pu­­nya­i ke­­wa­­ji­­ban me­­me­­nu­­hi fa­­si­­li­­tas UKM de­­mi ke­­lan­­ca­r­an ke­­gi­­a­t­an UKM sen­di­ri. Na­mun ter­nya­­ta a­da per­la­ku­an ber­be­da yang di­ra­sa­kan ter­ha­dap ma­sing-ma­sing UKM.Sa­lah sa­tu con­toh ada­lah UKM Catur yang su­dah la­ ma me­ngaju­kan pro­po­sal un­tuk pem­be­li­an sa­tu u­nit kom­pu­ter ter­nya­ta be­lum ju­ga di­pe­nu­hi o­leh pi­hak uni­ver­si­tas. Peng­aju­an kom­pu­ter ini di­ anggap sang­at pen­ting se­ka­li da­lam mem­per­lan­ car se­mua ak­tiv­itas dan ke­gi­at­an-ke­gi­at­an yang di­a­gen­da­kan UKM Catur. Ji­ka me­li­hat UKM la­in­nya, ham­pir se­mu­a su­dah men­da­pat­kan fa­si­li­tas kom­pu­ter . sam­pai sa­at ini be­lum ka­mi ke­ta­hui a­pa a­la­san yang te­pat da­ri pi­hak uni­ver­si­tas at­as ter­tun­da­nya per­min­ta­an ka­mi. Ka­re­na fa­si­li­tas kom­pu­ter di­ra­sa­kan sa­ngat pen­ ting se­tiap sa­at, ma­ka da­ri itu UKM Catur ber­ini­ sia­tif meny­isih­kan se­ba­gi­an uang kas yang di­am­ bil da­ri pe­mot­ong­an u­ang pem­bi­na­an a­tau se­ti­ap ka­li men­da­pat­kan ju­ara da­lam kom­pe­ti­si-kom­pe­ ti­si catur yang di­se­leng­ga­ra­kan oleh ins­tan­si lu­ar uni­ver­si­tas. Da­na urunan yang di­gu­na­kan un­tuk mem­be­li kom­pu­ter i­tu se­ha­rus­ny­a bi­sa di­alo­ka­si­kan un­tuk ke­gi­at­an a­tau fa­si­li­tas la­in UKM Catur. Ji­ka kom­ pu­ter da­ri rektorat di­ka­bul­kan.

Ali Faozi Mahasiswa AKP 2010 Juli | EDISI IV | EXPEDISI • 7

14/07/2010 11:18:08


RESENSI

F

ilm ber­gen­re dra­ma ga­rap­an Lola Amaria i­ni se­per­ti oase di te­ngah gu­run pa­sir per­film­an Indonesia. Film yang pe­nuh de­ngan in­for­ma­si ter­ ka­it ke­hi­dup­an TKW (Te­na­ga Ker­ja Wa­ ni­ta) i­ni meng­a­jak ki­ta ke da­lam pe­re­ nu­ngan men­da­lam ten­tang ba­gai­ma­na meng­har­gai dan meng­hor­ma­ti pro­fe­si TKW yang se­la­ma i­ni ki­ta pan­dang se­ be­lah ma­ta. Film ber­du­ra­si ku­rang le­bih 2 jam ini me­ngi­sah­kan ten­tang ke­hi­dup­ an pa­ra te­na­ga ker­ja wa­ni­ta Indonesia di Hongkong de­ngan fo­kus ce­ri­ta pa­ da ke­hi­du­pan TKW ber­na­ma Mayang (Lola Amaria) dan Sekar (Titi Sjuman). Mayang dan Sekar a­da­lah ka­kak ber­a­ dik a­sal Jawa Timur yang di­gam­bar­kan ti­dak har­mo­nis hu­bung­an­nya da­lam ke­lu­ar­ga. Per­la­ku­an a­yah me­re­ka yang meng­an ­ ak­e­mas­kan Sekar se­bagai a­dik ter­nya­ta meng­han­tu­i Mayang se­hing­ga mem­ben­tuk ka­rak­ter Mayang yang min­ der, di­ngin, dan se­la­lu me­ra­sa di­no­mor­ dua­kan. Mayang a­da­lah a­nak per­ta­ma da­ri pa­sang­an Sukardi dan Lastri, yang

di­suruh ke Hong Kong un­tuk men­ca­ri ta­hu ke­adaan a­dik­nya yang ti­dak la­gi meng­gam­bar­kan kon­di­si­nya se­la­ma be­ be­ra­pa bu­lan. Se­ca­ra e­mo­sional film i­ni mam­pu meng­ha­dir­kan de­rai­an air ma­ta pa­ra pe­ non­ton­nya. Be­ta­pa ti­dak, a­de­gan de­mi a­de­gan yang di­ba­wa­kan se­ca­ra a­pik oleh pa­ra pe­main­nya, di­tam­bah dialog cer­ das yang mam­pu mem­ba­wa pe­non­ton un­tuk se­men­ta­ra hi­jrah ke Hong Kong me­ne­lu­su­ri ke­hi­du­pan pa­ra TKW di­sa­ na. Ba­gai­ma­na ki­sah se­o­rang Mayang se­la­ku to­koh sen­tral ber­ge­lut di an­ta­ra ra­sa be­nci se­ka­li­gus sa­yang ke­pa­da a­dik kan­dung­nya sen­di­ri, Sekar. Ki­sah per­ cin­ta­an dan po­la hu­bung­an per­te­man­an di an­ta­ra se­sa­ma TKW di Hong Kong ini ju­ga men­ja­di sa­ji­an yang ti­dak ka­lah me­na­rik un­tuk di­je­la­ja­hi. Film i­ni­pun men­ja­di le­bih hi­dup de­ngan di­alog khas Jawa Timuran, dan se­la­lu ter­de­ngar di se­ti­ap ming­gu pa­gi di Victoria Park, Hong Kong. Film i­ni cu­kup ko­mu­ni­ka­tif dan be­ be­ra­pa a­de­gan­nya mam­pu meng­gu­gah

Doc. Istimewa

Kehidupan (Pahlawan Devisa) di Hong Kong Durasi Sutradara Produksi Pemain

: 120 Menit : Lola Amaria : Pic[k]lock Production : Lola Amaria Titi Sjuman Donny Alamsyah Imelda Soraya Permatasari H.

e­mo­si ki­ta. “Sari, bi­lang sa­ma Se Jun bah­wa ki­ta ha­rus me­nya­da­ri dan me­ne­ ri­ma ke­ku­rang­an ki­ta deng­an la­pang da­ da, su­pa­ya o­lok-o­lok o­rang la­in a­tas ke­ ­ ku­rang­an ki­ta ti­dak ki­ta si­kap­i dengan sa­lah, se­hing­ga ki­ta ti­dak di­han­tui o­leh i­tu se­mua se­pan­jang hi­dup ki­ta”. Be­ gi­tu­lah ki­ra-ki­ra di­alog meng­ena yang di­sam­pai­kan o­leh to­koh Mayang da­lam film Minggu Pagi di Victoria Park.

Rista Rahayu Cahayaningrum

2010 Juli| EDISI IV | EXPEDISI • 8

EXPEDISI EDISI 4.indd 8

14/07/2010 11:18:10

ekspedisi edisi 4  

ekspedisi angkatan 2009

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you