Issuu on Google+

EXPEDISI EDISI II NOVEMBER 2011

MEMBANGUN

Dana Besar Sistem Tidak Jelas

B U D AYA

KRITIS


surat pembaca Mahasiswa Korban PLPG? Pelayanan yang baik sudah sepantasnya didapatkan mahasiwa, baik dari sisi akademik maupun non akademik. Kurikulum merupakan salah satu bagian terpenting, sekaligus sebagai parameter keberhasilan studi. Selama hampir 2 tahun kuliah, saya masih dibingungkan dengan sistem kurikulum jurusan. Nah, seperti apa kurikulum di jurusan saya? Saya berharap, semoga ke depan perbaikan kurikulum akan semakin ditingkatkan. Di Kampus III FIP UNY mulai muncul suara-suara mahasiswa. Para mahasiswa merasa pelayanan akademiknya terganggu, dengan adanya kegiatan Pendidikan Lanjutan Profesi Guru (PLPG) untuk guru SD. Apakah benar mahasiswa korban dari PLPG? Meskipun ada kegiatan PLPG, layanan akademik mahasiswa diharapkan tetap berjalan,

tidak lantas perkuliahan ditidakan, karena dosen lebih mementingkan PLPG. Alex Dwi Kurniawan PGSD 2009

Kapasitas Parkir Tak Mencukupi Jumlah Motor Tahun Ajaran Baru, semuanya serba baru. Mulai dari mahasiswa, sampai dengan perlengkapan yang menunjang perkuliahan. Dari sekian ribu mahasiswa baru UNY, hampir semuanya berkendaraan, terutama sepeda motor. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana ramainya parkiran motor, saat jam-jam kuliah. Ampun sudah…! Penuh sesak. Saya mengalami di parkiran Fakultas Ilmu Sosial (FIS), jika berangkat kuliah agak siang, yang terjadi motor terparkir sembarangan, terpanggang matahari, saling senggol, belum lagi kalau hujan.

editorial Portal Menjadi Ajang Komersialisasi KETIDAKAMANAN kampus me­ ru­pa­kan sa­lah satu masalah di Uni­ ver­si­tas Negeri Yogyakarta (UNY). Te­lah berulang kali, kasus pen­cu­ri­ an ken­da­ra­an bermotor terjadi. Hal ini me­la­tar­belakangi pihak bi­ro­krat me­ngu­pa­ya­kan sistem ke­am ­ a­nan yang lebih baik. Upaya tersebut yaitu dengan pengadaaan sistem par­kir e­lek­tro­nik atau yang awam di­se­but portal. Se­karang, kita dapat me­li­hat ada em­pat portal berada di empat titik, di an­ta­ra­nya di ja­lan ma­suk FMIPA, FIP, dan dua por­tal di gerbang utama rektorat. Ke­empat por­tal itu masih dalam rang­ka uji co­ba se­la­ma bulan November-Desember. Se­te­lah itu, portal-portal lain akan di­a­da­kan di setiap pin­tu masuk UNY dan di­fung­si­kan se­penuhnya pada tahun 2012. Pe­nga­da­an portal seperti ini ternyata tidak hanya ter­ja­di di UNY. Su­dah lebih dari satu tahun, Uni­ ver­si­tas Gajah Mada (UGM) ju­ga me­la­ku­kan hal yang sama. Ada apa ini? Jika dilihat ke­e­fek­ti­fan­nya, parkir elektronik memang lebih efektif di­ban­ ding parkir ma­nual. Dengan adanya sistem ini, ken­da­ra­an-ken­da­ra­an yang masuk di ka­wa­san kam­pus dapat dilacak melalui kom­pu­ter. Namun,

2

keefektifan ter­se­but juga harus di­i­ku­ti kebijakan yang tidak me­ru­gi­kan bagi pengguna jalan. Di UGM, mahasiswanya di­be­ba­ ni biaya Kartu Identitas Ken­da­ra­an (KIK) sebesar Rp50.000,- yang di­ ba­yar­kan per tahun untuk ken­da­ra­an roda dua, sedangkan Rp200.000,per ta­hun untuk ken­da­ra­an roda em­pat. Ji­ka mereka tidak me­mi­li­ki KIK, ma­ka akan dikenakan bi­a­ya parkir se­be­sar Rp1.000,- untuk se­ti­ ap ka­li ma­suk kawasan UGM. Dalam majalah Balkon, edisi Oktober 2011 yang berjudul "Komersialisasi dan Transportasi di UGM" pun mengulas adanya perbedaan pendapat antara mahasiswa dan birokrat. Se­men­tara di UNY, Wakil Rektor II UNY Sutrisna Wibawa, M.Pd. me­ nga­ta­kan akan me­ren­ca­na­kan pem­ ber­la­ku­an karcis masuk UNY un­tuk ken­da­ra­an yang tidak ter­daf­tar dalam kom­pu­ter UNY. Hal itu me­ngin­di­ka­ si­kan bah­wa sis­tem seperti di UGM ju­ga akan di­te­rap­kan di UNY. Apakah benar demikian? Se­baik­nya, UNY tidak menerapkan sistem bayar yang sama seperti UGM, karena ter­ke­san se­per­ti a­jang ko­mer­si­a­li­sa­si yang akan mem­be­rat­kan pengguna jalan. Redaksi

Saya kecewa terhadap pihak Universitas, yang hanya memikirkan bagaimana caranya menerima sebanyak mungkin mahasiswa, tanpa diimbangi fasilitas kampus, terutama tempat parkir. Sebagai sarana transportasi, motor juga layak mendapat fasilitas yang nyaman. Kalau seperti ini motor juga cepat aus. Puji Widodo Ilmu Sejarah 2010

Malam Keakraban Dulu saat saya mengikuti makrab terjadi peploncoan. Senior berhak membentak-bentak junior dengan alasan menguatkan mental. Disamping itu ada beberapa pasal yang aneh yaitu: • Pasal pertama Penegak Kedisiplinan (PK) atau senior selalu BENAR. • Pasal kedua, jika PK salah kembali ke pasal pertama. Sebelum peploncoan, diadakan stressing, yaitu maba dibangunkan secara paksa, lalu dikumpulkan di lapangan terbuka, untuk check list tugas yang dibawa. Kemudian, dilajutkan dengan jelajah malam. Tahun ini, perploncoan mulai dikurangi. Budaya tersebut tidak seharusnya dilestarikan, karena UNY sebagai pencetak lulusan guru. Seperti makrab Elektro, dengan dampingan Pembina dan pemberian pengarahan terhadap para alumni, serta materi kepada maba agar dapat termotivasi untuk kuliah. Selain itu, biaya untuk makrab sendiri dirasa kurang karena harus disisihkan untuk wearpack. Mirna Bunga Rofiyani Pendidikan Mekatronika

sempil +Bagi yang tak terdaftar harus membayar karcis. -Yuk! ketik REG (spasi) DAFTAR PORTAL kirim ke 888. Pimpinan Proyek Dwiningsih Afriati | Sekretaris Maria M.R. Fernandez | Bendahara Triana Sari Fadhilah | Redaktur Pelaksana Yulinda R Yoshoawini | Redaktur Ade, Dwi, Lynda, Ody, Rohhaji, Suly, Yulinda | Reporter Ade, Dwi, Lynda, Maulida, Ody, Ratih, Rohhaji, Sari, Suly, Yulinda | Redaktur Foto Maulida M. Nugroho | Artistik Rohhaji Nugroho, Irawan S. Adhi | Produksi Irawan S. Adhi | Iklan Ferlynda Putri S. | Sirkulasi Sulyanti | Alamat Gedung Student Center Lt. 2 Karangmalang Yoyakarta 55281 | Email lpm_ekspresi@yahoo.com | Web ekspresionline.com Redaksi menerima artikel, opini dan surat pembaca. Redaksi berhak mengedit tulisan tanpa mengubah isi.

edisi II | NOVEMBER 2011


sentra

Pro Kontra Pengadaan Portal Selama enam bulan portal free, selanjutnya ada kemungkinan untuk bayar. Maulida I Expedisi

Jumat (21/10) Seorang petugas pengadaan portal tampak sedang memeriksa kelengkapan portal di titik perempatan FMIPA

D

e­mi­ki­an di­ung­kap o­leh Ade, pe­tu­gas Perseroan Terbatas Pa­lang Parkir Indonesia. Pem­bang­un­an por­tal di UNY, di­mu­lai pa­da bu­lan Ju­ni 2011. Ber­da­sar­kan Ran­cang­an Ke­gi­a­tan dan Pe­ngang­ga­ran Ter­pa­du (RKPT), pem­ ba­ngun­an por­tal dianggarkan dengan dana sebesar Rp1.120.000.000,-. Ji­ka u­ji co­ba di­ang­gap ber­ha­sil, da­lam pe­lak­sa­ na­annya dan di­se­tu­jui o­leh se­nat ma­ka por­tal a­kan di­fung­si­kan se­ca­ra pe­nuh. Hal ini seperti yang di­sam­pai­kan o­leh Wa­kil Rek­tor II UNY, Sutrisna Wibawa, M. Pd., “Por­Gtal mu­lai 2012 ber­op ­ e­ra­ si, de­ngan ma­sa per­co­ba­an No­vem­berDesem­ber 2011.” Se­be­lum pem­ba­ngun­an di­ber­la­ku­kan di wi­la­yah kam­pus se­ca­ra ke­se­lu­ru­han, di­a­da­kan uji co­ba de­ngan mem­per­ke­nal­ kan sa­tu zo­na por­tal, yang difo­kus­kan pa­da ja­lan ak­ses ter­ha­dap wi­la­yah ge­dung rek­to­rat. “Per­ta­ma kan rek­to­rat i­ni du­lu, sun (zo­na-red) per­ta­ma sam­pai Fa­kul­ tas E­ko­no­mi (FE), te­rus nan­ti Fakultas Bahasa (FBS) ke­li­ling itu sun 2, te­rus sun ke 3 di FT”, je­las Pra­wo­to S.E, staf

NOVEMBER 2011 | edisi ii

ba­gi­an U­mum Hu­kum Ta­ta Lak­sa­na dan Per­leng­ka­pan­ (UHTP) Bi­ro Ad­mi­ nis­tra­si U­mum dan Keuangan Kasubag Rumah Tangga. Me­nang­ga­pi uji co­ba por­tal yang mu­ lai ber­o­pe­ra­si pa­da a­wal bu­lan November 2011 ini, Sumarjo, H, M.T. , Wa­kil De­kan II Fa­kul­tas Tek­nik, se­be­lum­nya me­ni­lai bah­wa pem­ba­ngu­nan por­tal di UNY sen­ di­ri su­dah ti­dak e­fi­si­en. “UNY me­mang a­kan su­lit un­tuk pem­bangunan portal, dikarenakan UNY dibelah oleh dua jalan yang membuat kacau dan akan sulit jika diapa-apakan. Kalau pertanyaanya efisien atau ti­dak maka ya jawabannya kampus ki­ta itu ti­dak efisien. Apabila diportal, jalan yang membelah dari timur dan dari selatan itu akan memecah kampus kita menjadi 3, FIK, FBS-FT dan pusat. Kalau dibuat jalan melingkar juga kan nggak mungkin”, ungkap Sumarjo. Sumarjo me­nam­bah­kan bah­wa kri­te­ ri­a ke­e­fek­ti­fan pem­ba­ngu­nan por­tal itu mi­ni­mal sa­tu por­tal me­wa­ki­li 50 hek­tar lu­a­san wi­la­yah. “Ka­lau di UNY de­ngan lu­as wi­la­yah­nya, pa­ling eng­gak ya dua

por­tal cu­kup, ya se­harusnya satu portal itu melayani 50 hektar luasan dengan mesin”, ujarnya. Wahyu Andi, ma­ha­sis­wa Pendidikan Luar Sekolah (PLS) 2010, me­nga­ku sa­ngat ter­gang­gu dengan peng­a­da­an por­tal. “Itu sa­ngat meng­gang­gu se­ka­li, ka­lau mi­sal iya, ya di­ja­di­in, ka­lau eng­gak ya nga­pa­in. La­gi­pu­la itu kan ja­lan bu­at le­wat, ke­be­tu­lan di­si­ni kan ma­ha­sis­wa­ nya ber­tam­bah ba­nyak, ja­di itu sa­ngat meng­gang­gu se­ka­li. Ka­lau iya, si­lah­kan di­per­ce­pat, ka­lau eng­gak, ya ng­gak usah se­ka­lian. Alang­kah baik­nya ka­lau eng­ gak,” tegas Wahyu. Pembangunan Portal Menelan Biaya 1 Miliar Rupiah Lebih Prawoto meng­ung­kap­kan bah­wa peng­a­da­an por­tal te­lah di­se­pa­ka­ti dan di­tu­ang­kan da­lam RKPT ta­hun 2011. Da­na yang ter­can­tum da­lam RKPT, un­tuk peng­a­da­an sis­tem dan per­a­la­tan par­kir e­lek­tro­nik sa­tu pa­ket di­ang­gar­kan se­be­ sar Rp900.000.000,-, di­tam­bah de­ngan pen­ga ­ ­da­an me­sin pe­mo­tong ker­tas sa­ tu pa­ket se­be­sar Rp220.000.000,-. Hal ini di­be­nar­kan oleh Prawoto, “Da­na di RKPT me­mang se­be­sar itu, na­mun re­a­li­sa­si­nya un­tuk peng­ad ­ a­an par­kir elek­tro­nik a­dalah Rp750.000.000,-, se­ dang­kan pe­mo­tong ker­tas­nya a­da­lah Rp260.000.000,-.” Da­lam pe­lak­sa­na­ an­nya, peng­a­da­an por­tal ini ber­da­sar­ kan Ke­pu­tu­san Rektor UNY No­mor 411 tahun 2011 Tentang Tim Pokja dan Anggaran Biaya Pengadaan Mesin Pemotong Kertas dan Parkir Elektronik Rektorat UNY Tahun 2011. Ada kemungkinan pemungutan biaya masuk akan diberlakukan.Bi­a­ya ini a­kan di­ke­na­kan un­tuk me­re­ka yang ti­dak ter­ daf­tar da­lam databa­se UNY. Hal ini di­ung­kap­kan o­leh Sutrisna Wibawa. “Ja­di, nan­ti se­mu­a pe­mi­lik ken­da­ra­an di kam­pus a­kan di­da­ta. Se­mu­a da­ta­nya a­kan ter­sim­pan da­lam da­tabase kom­pu­ ter. Se­men­ta­ra, ba­gi yang tak ter­daf­tar ha­rus mem­ba­yar kar­cis,” ung­kap­nya. Peng­a­da­an por­tal ju­ga di­tang­ga­pi o­leh ma­ha­sis­wa. Nizar, ma­ha­sis­wa Bio­ lo­gi 2009 mengungkapkan bahwa peng­ a­da­an por­tal ku­rang ber­fung­si. “Ka­lau sa­ya pri­ba­di, ka­yak­nya cu­ma bu­ang-bu­ ang u­ang sa­ja, ma­sa­lah­nya itu kan ja­lan u­mum ju­ga, nga­pa­in ki­ta ha­rus me­ma­ sang por­tal se­per­ti itu, a­tau mung­kin 3


sentra

Keamanan dengan Mengurangi Tenaga Parkir Prawoto meng­ut­ a­ra­kan bah­wa per­ lu­nya peng­a­da­an por­tal di­lan­da­si ke­ bu­tu­han ke­a­ma­nan kam­pus. “Me­mang yang per­ta­ma da­ri se­gi ke­a­ma­nan, ki­ta itu ra­ta-ra­ta se­ta­hun itu kan 20 ken­da­ra­ an hi­lang, se­bu­lan bi­sa 1-2 ken­da­ra­an,” ujar­nya. Pra­wo­to ju­ga me­nam­bah­kan as­pek ke­te­r­at­ u­ran men­ja­di a­la­san ke­dua. Ia me­ni­lai par­kir di da­lam kam­pus ti­dak ter­a­tur. Se­la­in itu, peng­a­da­an por­tal se­ ka­li­gus ju­ga un­tuk meng­u­rang­i te­na­ga par­kir. “Par­kir­nya ya te­tep di lo­ka­si-lo­ka­si ya­ng su­dah a­da, ta­pi kan te­na­ga­nya cu­ ma me­na­ta sa­ja, dan nan­ti su­dah pa­kai kar­cis, ber­ar­ti kan ndak hi­lang?”, tegas Prawoto. Me­nangga­pi hal ter­se­but, Agus Purwoko, Sat­pam kam­pus FIP men­je­ las­kan bah­wa se­ha­rus­nya ti­dak ter­ja­di peng­u­rang­an te­na­ga par­kir se­te­lah peng­ o­pe­ra­si­an por­tal ber­ja­lan. “Ji­ka peng­u­ rang­an ma­lah mem­be­ri pe­lu­ang un­tuk pen­cu­ri­an helm-helm ka­lau pe­tu­gas­nya di­ku­rang­i, ka­re­na ku­rang ter­pan­tau. Li­hat si­kon lu­as area du­lu lah. Se­ha­rus­nya ya ka­lau a­rea par­kir­nya lu­as ya ma­lah pe­rlu di­tam­bah la­gi pe­tu­gas­nya. Mung­kin a­kan me­nam­bah kar­ya­wan ba­ru, dengan sis­tem outsourching,” jelas Agus. Ke­ti­dak­ef­ek­ti­fan pem­bang­u­nan por­tal ju­ga di­ra­sa­kan Ba­yu Ar­di­ka, ma­ha­sis­wa Ilmu Se­ja­rah 2011, “Ku­rang efek­tif me­ nu­rut sa­ya, ju­ga sia-sialah, nggak ter­la­lu di­pa­kai, a­da pa­ger-pa­ger dan pin­tu-pin­tu ger­bang­nya ju­ga kan?” Siti Nurbaya, M.Hum. Dosen ju­ru­ san PBSI me­nyam­pai­kan pe­ni­lai­an la­in ten­tang pem­bang­u­nan por­tal yang di­ ka­it­kan dengan ke­di­si­pli­nan. “Be­gi­ni, ter­ke­san UNY ti­dak di­si­plin, dan ha­rus di­di­si­plin­kan. Pa­da­hal, ke­di­si­pli­nan ti­dak 4

ha­rus di­te­gak­kan de­ngan a­tu­ran ju­ga.” jelasnya. Kesan yang terlihat justru lebih seperti unjuk kekuasaan. Hal itu diiyakan oleh Siti Nurbaya. Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK) Tidak Cukup Ke­ti­ka di­te­mui di ru­ang ker­ja­nya, Sutrisna meng­a­ta­kan bah­wa sis­tem ker­ja por­tal a­kan meng­gu­na­kan da­ta yang me­ nun­ju­kan pe­mi­lik ken­da­ra­an, se­hing­ga se­ mua ke­n­da­ra­an yang ma­suk ke UNY bi­sa ter­la­cak. “Se­la­ma ini de­ngan me­nun­ju­kan STNK sa­ja di­ra­sa ti­dak cu­kup,” ung­ kap­nya. Su­trisna me­nam­bah­kan bah­wa jam o­pe­ra­si­o­n­al ke­se­lu­ru­han por­tal a­kan mu­lai di­bu­ka pa­da pu­kul 06.00 WIB sam­ pai pu­kul 18.00 WIB. Se­men­ta­ra khu­sus un­tuk pin­tu ger­bang u­ta­ma rek­to­rat, akan di­tu­tup sam­pai pu­kul 21.00 WIB. Ham­pir se­ba­gi­a­n be­sar ma­ha­sis­wa me­mang ti­dak me­nge­ta­hui se­ca­ra pas­ti sis­tem ker­ja por­tal yang se­ring me­re­ka li­hat di tengah jalan itu. “Masih bingung juga, takutnya nanti kayak ada penarikan biaya, semacam untuk Kartu Identitas Kendaraan itu.” ujar Nizar. Prawoto me­ne­rang­kan, ca­ra ker­ja por­tal di­a­wa­li de­ngan peng­am­bi­lan kar­cis. Se­men­ta­ra un­tuk peng­gu­na­an kar­tu a­kan mel­a­lu­i pro­ses sen­sor. Ke­dua ben­tuk ca­ ra itu me­ru­pa­kan pi­li­han atau op­si yang akan di­ber­la­ku­kan. “Se­per­ti­nya pa­kai bar­co­de ka­yak yang di UGM mungkin nanti, se­ti­ap ka­li ki­ta ku­li­ah ki­ta ba­wa kar­tu un­tuk di­tun­juk­in ke pe­tu­gas, ba­ru se­te­lah itu bo­leh ma­suk,” ung­kap Arisandi Fardiono, ma­ha­sis­wa Ma­na­je­men Pen­di­di­kan 2010. Ade meng­ung­kap­kan bah­wa sis­tem ker­ja por­tal akan di­te­rap­kan dengan sis­ tem kar­cis dan member. “Ka­lau pe­ga­wai UNY pa­kai mem­ber, ma­ha­sis­wa pa­kai kar­cis, dan un­tuk peng­gu­na­an kar­cis sen­ di­ri, se­mi­sal ti­dak bi­sa me­nun­ju­kan pa­da sa­at ke­lu­ar ja­lur por­tal, ke­mung­ki­nan a­kan di­ke­na­kan den­da atau me­nun­ju­kan STNK”, terang Ade. Ade me­nam­bah­kan bah­wa sis­tem por­tal ya­ng ada se­ka­rang ini be­lum bi­sa di­ja­lan­kan oleh me­sin se­ca­ra o­to­ma­tis un­tuk ke­se­lu­ru­han, na­mun ma­sih mem­ bu­tuh­kan pe­tu­gas se­ba­gai o­pe­ra­tor. “Ke­ lu­ar da­ri pe­tu­gas por­tal, nan­ti di­be­ri­kan bar­code yang ter­can­tum di­da­lam ti­ket. Bar­code-nya akan di-scan, ke­mu­di­an di-­enter oleh pe­tu­gas dan por­tal akan ter­bu­ka sen­di­ri. Tan­pa izin da­ri pe­tu­gas ti­dak akan ter­buka,” ungkap Ade. Kurangnya Sosialisasi Penggunaan Portal Ter­ka­it so­si­a­li­sa­si pem­bang­u­nan por­

Maulida I Expedisi

ter­ins­pi­ra­si sa­ma te­tang­ga se­be­lah (UGM -red),” katanya. Hal yang sa­ma ju­ga di­ung­kap­kan o­leh Sa­san, ma­ha­sis­wa ju­ru­san Sas­tra Ing­gris 2010, “Ka­lau sa­ya sih ku­rang se­tu­ju, ka­ re­na itu mem­be­rat­kan ma­ha­sis­wa ju­ga.” Sa­san me­nam­bah­kan bah­wa fak­tor yang mem­be­rat­kan itu pada ke­mung­ki­nan ma­ha­sis­wa un­tuk mem­ba­yar kar­cis dan a­da­nya ta­rif yang di­te­tap­kan. “Ka­lau ba­yar ya ti­dak a­pa-a­pa, ta­ pi pem­ba­ya­ran i­tu un­tuk pe­ning­ka­tan. Da­na i­tu di­gu­na­kan un­tuk ke­man­fa­at­ an ma­ha­sis­wa. Mi­sal, ka­lau a­da ke­hi­lang­an mo­tor, ya rek­to­rat gan­ti ba­ru,” ung­kap Sar­yo­no, S.Pd, M.Or. D­osen FIK ini me­ni­lai ha­rus a­da ja­mi­nan ke­a­ma­nan, se­te­lah a­da­nya por­tal.

Prawoto, S.E. bagian UHTP Admistrasi umum dan keuangan UNY saat ditemui di kantornya

tal di­ra­sa ku­rang. Hal ini dira­sa­kan oleh sa­lah sa­tu ci­vi­tas a­ka­de­mi­ka UNY. “Sa­ya ti­dak ta­hu ka­lau ada pem­bang­un ­ an por­ tal di UNY ma­lah, ti­dak a­da so­si­a­li­sa­si, sa­ya ma­lah ba­ru ta­hu se­ka­rang. Por­tal yang se­per­ti apa to nduk?” tanya Siti Nurbaya. Nurul Choiriyah, mahasiswa PLS, meng­ang­gap ke­be­r­a­da­an por­tal ti­dak ada kejelasan dalam penanganannya. “Kalau menurutku seumpama mau dimanfaatkan ya cepet dilanjutkan. Nggak cuma terkesan dibiarin gitu aja. Kalau kayak gitu kan malah jadi bahan pertanyaan. Sebenarnya mau dibuat dan digunakan untuk apa? Kapan beroperasinya? kadang ada petugas, kadang tidak. Semua seperti kurang sosialisasi”, tutur Nurul. Tanggapan lain juga disampaikan oleh Sudarman, Kepala Dukuh Karangmalang. Ia merasa belum tahu pasti pembangunan portal di UNY akan seperti apa jadinya. “Waktu saya ngobrol dengan beberapa karyawan Univ, memang untuk alasan keamanan tapi itu belum sosialisasi,” tutur Sudarman. Ia juga menambahkan bahwa kiranya perlu ada sosialisasi, mengenai pembangunan portal dan imbasnya kepada warga sekitar kampus. “Mau nggak mau kampus itu dengan Karangmalang juga ada ikatan batin, sejarahnya kan lahan-lahannya juga milik warga Karangmalang," terangnya. Irawan Sapto Adhi Ade, Dwi, Lida, Linda, Ratih, Sari, Suly, Yulinda

edisi ii | NOVEMBER 2011


polling

Ingin Aman Tak Harus Lewat Portal Rohhaji | Expedisi

Portal Menambah Keamanan

UNY Butuh Portal Rohhaji | Expedisi

T

ahun ini, Uni­ver­si­tas Ne­ge­ri Yog­ya­ kar­ta (UNY) mulai me­ngo­pe­ra­si­kan portal. Na­mun demikian, sis­tem ker­ ja­nya be­lum ter­so­si­al­i­sa­si dengan je­las. Nizar, ma­ha­sis­wa Pen­di­dik­an Bi­o­lo­gi me­ne­gas­kan bah­wa hampir se­ba­gi­an be­sar ma­ha­sis­wa tidak me­nge­ta­hu­i se­ ca­ra pas­ti sistem kerja por­tal yang se­ring me­re­ka lihat, masih mem­bi­ngung­kan, un­tuk apa pe­nga­da­an portal ter­se­but. Ter­le­bih, di­kha­wa­tir­kan akan a­da­nya pe­na­ri­kan biaya. Untuk me­nge­ta­hu­i respon ma­ha­sis­ wa pe­ri­hal portal di UNY, EXPEDISI me­ng­a­da­kan polling. Me­to­de yang di­gu­ na­kan adalah metode ku­an­ti­ta­tif, je­nis sam­pling ak­si­den­tal, yaitu mem­be­ri­kan ang­ket secara lang­sung pada res­pon­den. Tek­nik pe­ngum­pu­lan data yang di­la­ku­ kan meng­gu­na­kan angket, ter­di­ri dari sem­bi­lan pertanyaan tertutup. Per­hi­tu­ngan untuk pe­ngam­bi­lan sam­ pel meng­gu­na­kan ru­mus slovin de­ngan sampel error 5%, ber­da­sar­kan respon 395 ma­ha­sis­wa dari 30.163 ma­ha­sis­wa UNY, de­ngan pe­nye­ba­ran angket ke se­lu­ruh fakultas di UNY. Jika di­li­hat dari segi ke­bu­tu­han, UNY bu­tuh portal atau ti­dak, 58,2% ma­ha­ sis­wa me­nya­ta­kan tidak butuh portal,

38,5% me­nya­ta­kan bu­tuh, dan si­sa­nya ti­dak men­ja­wab. Per­nya­ta­an tidak mem­ bu­tuh­kan ter­se­but, di­ka­re­na­kan be­be­ra­pa per­nya­ta­an ten­tang ke­be­ra­da­an portal yang nan­ti­nya ha­nya akan meng­gang­gu lalu lintas dan mem­bu­at ma­cet. Hal itu ter­buk­ti de­ngan 32,9% ma­ha­sis­wa yang me­nya­ta­kan se­tu­ju ter­ha­dap per­nya­ta­an tersebut; 23,5% sa­ngat setuju; 19,7% ragu­-ragu­, 17,7% ti­dak se­tu­ju; se­men­ta­ra 5,6% sa­ngat ti­dak se­tu­ju, dan si­sa­nya tidak men­ja­wab. Be­be­ra­pa alasan ter­se­but me­mi­cu ke­ti­dak­se­tu­ju­an ma­ha­sis­wa de­ngan pe­ nga­da­an portal di UNY. Se­ba­nyak 59,5% ma­ha­sis­wa ti­dak se­tu­ju, sedang 38,5% se­tu­ju, dan si­sa­nya tidak men­ja­wab. Ke­ti­dak­se­tu­ju­an tersebut di­ka­re­na­ kan wi­la­yah UNY ter­la­lu sem­pit untuk pe­nga­da­an por­tal. Se­na­da dengan per­ nya­ta­an tersebut 34,9% ma­ha­sis­wa mengungkapkan se­tu­ju; 28,6% sa­ngat setuju, se­dang­kan 18,2% tidak setuju; 13,4% ragu­-ragu­; 3,8% sa­ngat ti­dak setuju, dan si­sa­nya tidak men jawab. Sutrisna, M.Pd., Wakil Rektor II me­ ngung­kap­kan bahwa pe­nga­da­an por­tal ter­se­but de­mi ke­a­ma­nan se­ka­li­gus ben­tuk pe­la­ya­nan bagi ma­ha­sis­wa, do­sen, kar­ ya­wan, guna dapat me­mar­kir ken­da­ra­an

de­ngan nya­man. Se­hing­ga, me­re­ka bi­sa me­ra­sa aman. Fak­ta ter­se­but di­ra­gu­kan dan di­buk­ti­kan de­ngan suara sebanyak 40,3% respon ma­ha­sis­wa yang me­nya­ ta­kan ragu­-ragu­; 26,3% se­tu­ju; 14,9% sangat tidak se­tu­ju; se­dang­kan 10,4% ti­dak se­tu­ju, dan 7,3% sangat tidak se­ tu­ju; serta si­sa­nya tidak menjawab. Ade, pe­tu­gas Per­se­roan Ter­ba­tas (PT) Palang Parkir Indonesia me­ngung­kap­kan bah­wa sis­tem kerja portal akan di­te­rap­ kan de­ngan sis­tem kar­cis dan mem­ber. Di ma­na pegawai UNY meng­gu­na­kan mem­ ber, ma­ha­sis­wa meng­gu­na­kan karcis. Untuk peng­gu­na­an karcis, ji­ka ti­dak dapat me­nun­ju­kan­nya pa­da sa­at ke­lu­ ar jalur portal, akan di­ke­na­kan den­da atau me­nun­juk­kan Su­rat Tan­da Nomor Kendaraan bermotor (STNK). Hal ter­se­but ber­lang­sung da­lam ma­sa per­co­ba­an se­la­ma enam bulan, dan un­tuk se­lan­jut­nya, ada kemungkinan bayar. Me­nangga­pi pernyataan tersebut, 58,2% ma­ha­sis­wa sangat tidak se­tu­ju jika ha­rus rela me­nge­lu­ar­kan untuk se­ ke­dar masuk UNY; 27,3% tidak setuju; 8,4% ragu­-ragu­, serta hanya 2,8% yang se­tu­ju dan sa­ngat setuju, si­sa­nya tidak menjawab. Tim Expedisi

REVISI DIAGRAM RUBIK POLLING BULETIN EXPEDISI EDISI I BULAN OKTOBER 52,9% Setuju

Ody | Expedisi

23,5% Raguragu 2,5% Sangat Tidak Setuju

7,8% Tidak Setuju

NOVEMBER 2011 | edisi II

3,8%

4,8%

Mengikuti UKM Itu Penting 12,4% Sangat Setuju

0,8% Tidak Menjawab

91,4%

Ya Tidak Perlu Tidak Menjawab

Stanisasi UKM Perlu Diadakan Ody | Expedisi

5


persepsi

Suara Rektor Penentu Dekan

T

iga hari berturut­-turut­ mu­la­i Hari Senin-Rabu, tanggal 19-21 September 2011 di­lak­sa­na­kan Pe­mi­li­han De­kan (Pildek) periode 2011-2015. Pe­mi­li­han di­la­ku­kan pada Ra­pat Senat Ter­tu­tup, yang se­be­lum­nya di­da­hu­lu­i Ra­pat Se­nat Ter­bu­ka, yang me­ru­pa­kan se­rang­kai­an a­gen­da Pildek. Wa­lau­pun na­ma­nya Ra­ pat Senat Ter­bu­ka, ta­pi ke­nya­ta­an­nya tidak se­ter­bu­ka yang di­ha­rap­kan oleh se­ge­nap ci­vi­tas a­ka­de­mi­ka UNY, na­mun ha­nya ter­ba­tas ke­pa­da ta­mu un­dang­an. Se­te­lah Rapat Se­nat Ter­bu­ka, di­a­da­kan Rapat Senat Ter­tu­tup yang me­ru­pa­kan a­jang ja­jak su­a­ra, un­tuk me­nen­tu­kan si­a­pa Calon Dekan (cadek) yang akan men­du­du­ki bang­ku ke­pe­mim­pi­nan fa­kul­ tas. Ra­pat ini ha­nya di­per­un­tuk­kan oleh Senat Fa­kul­tas dan Rektor UNY. Be­ri­ta me­nge­na­i pildek tidak sam­ pa­i ke te­ling­a se­mu­a ma­ha­sis­wa di Universitas ini. Sung­guh lucu sekali drama per­mai­nan ke­ku­a­sa­an, yang di­la­ ku­kan oleh Rektor. Mulai dari pem­be­ku­ an Ba­dan Ek­se­ku­tif Ma­ha­sis­wa (BEM) Uni­ver­si­tas, hing­ga ke­pa­da pe­nge­sa­han Sta­tu­ta UNY yang sa­ngat “men­de­sak”. Pem­be­ku­an BEM Uni­ver­si­tas, bu­kan ha­nya ka­re­na per­ma­sa­la­han Pe­mil­wa ka­la itu, akan te­ta­pi juga ber­tu­ju­an, a­gar pem­bu­a­tan statuta UNY ber­ja­lan de­ngan aman tan­pa ada yang meng­kri­ti­si. Ti­dak ha­nya itu, Rek­tor pun ma­sih ber­ma­nu­ver de­ngan mengulur­-ulur­pe­nge­sa­han sta­ tu­ta ter­se­but. Mung­kin de­ngan tu­ju­an, agar Pil­dek ter­ke­san “men­de­sak”, se­ hing­ga de­ngan be­gi­tu, Rektor mem­pu­ nya­i a­la­san untuk tidak me­lak­sa­na­kan 6

dan Se­nat Fakultas me­la­ku­kan Pil­dek da­lam Rapat Senat Ter­tu­tup. Di si­ni­lah pe­ram­pa­san su­a­ra oleh rek­tor nam­pak nya­ta, di­ma­na rektor me­mi­li­ki 35 % hak su­a­ra da­ri total yang me­ngu­a­sa­i pil­dek, tan­pa me­la­lu­i pen­ja­ring­an as­pi­ra­si. Su­ dah je­las, semua ini ha­nya­lah se­bu­ah alat ka­mu­fla­se, untuk me­le­gal­kan ke­ o­to­ri­te­ran dan ke­se­we­nang­an Rektor se­ma­ta. Se­men­ta­ra senat fa­kul­tas me­ mi­li­ki 65 % hak suara. Se­mi­sal, pil­dek de­ngan total se­nat fa­kul­tas 65 orang, maka masing­-masing­orang me­mi­li­ki 1% su­a­ra. Ban­ding­kan de­ngan su­a­ra Rektor yang me­mi­li­ki 35% suara. Ji­ka se­o­rang ca­lon yang di­du­kung Rektor, ia cu­kup men­da­pat­kan 15 su­a­ra Se­nat Fa­kul­tas dari 65 orang yang ada. Ki­sah nyata yang ter­ja­di ber­ka­i­tan so­si­a­li­sa­si secara ter­bu­ka ke­pa­da se­mu­a de­ngan hal ini, a­da­lah Pil­dek di FMIPA ci­vitas a­ka­de­mi­ka UNY, me­ngi­ngat sa­at UNY de­ngan jum­lah to­tal Se­nat Fakultas itu se­dang me­ngin­jak masa li­bu­ran. Ja­di, se­ba­nyak 27 orang. Maka 35% da­ri to­ me­mang per­mai­nan waktu yang ba­gus tal su­a­ra 100% adalah 15 su­ar­ a. Ha­sil da­ri Rek­tor agar Pildek ini ber­ja­lan se­ pe­ro­le­han su­a­ra saat Pildek FMIPA se­ su­a­i dengan kelicikannya. ba­ga­i berikut, Dr. Ariswan di­du­kung Pe­ra­tu­ran atau sis­tem yang di­gu­na­kan o­leh 13 suara, Dr. Suyanta di­du­­kung 7 dalam me­nen­tu­kan pemimpin­-pemimpin­ suara, sedangkan Dr. Hartono 6 suara, di UNY ini mu­la­i dari Rektor, Wa­kil dan hanya 1 suara Senat Fa­kul­tas yang Rek­tor, Dekan, Wa­kil De­kan, Di­rek­ gugur tur Program Pas­ca­sar­ja­na, dan A­sis­ten Akan te­ta­pi ka­re­na in­ter­ven­si Rektor Di­rek­tur Pro­gram Pas­ca­sar­ja­na, di­a­tur se­be­sar 35% (=15 suara) yang di­se­rah­ da­lam sta­tu­ta UNY. Da­lam sta­tu­ta ter­ kan pada Dr. Hartono, ma­ka su­dah da­pat se­but, bab 4 ten­tang or­gan UNY, ba­gi­an di­pas­ti­kan dia menang. Suara Rek­tor ke­du­a pasal 16 ayat 2, di­tu­lis­kan bah­wa ter­se­but ti­dak me­re­pre­sen­ta­si­kan as­pi­ra­ yang me­nyu­sun sta­tu­ta dan me­ngu­sul­ si dari ma­ha­sis­wa, dosen dan kar­ya­wan kan ke­pa­da menteri, a­da­lah we­we­nang di Fakultas MIPA, se­hing­ga pe­ro­le­han Rektor. su­a­ra Dr. Hartono se­be­sar 21 su­a­ra. Sistem Pil­dek yang di­a­tur da­lam Sung­guh ironis se­ka­li, se­se­o­rang yang sta­tu­ta UNY ini me­mi­li­ki be­be­ra­pa ta­ di­pi­lih oleh 13 orang dapat di­ka­lah­kan ha­pan, yaitu pen­ja­ring­an, pe­nya­ring­an, oleh tujuh orang. pe­mi­li­han dan pe­ngang­ka­tan. Da­lam Ini a­da­lah wujud o­li­gar­ki yang nya­ta. ta­hap pen­ja­ring­an, bakal calon pa­ling Ma­ha­sis­wa, dosen dan kar­ya­wan­lah yang se­di­kit harus men­da­pat­kan ti­ga orang. pa­ling ta­hu si­a­pa yang tepat me­mim­pin Ji­ka jum­lah pen­daf­tar hing­ga batas pen­ fa­kul­tas, di ma­na da­lam ke­se­ha­ri­an­nya daf­ta­ran yang di­ten­tu­kan panitia ku­rang me­re­ka selalu ber­in­te­rak­si de­ngan pe­ da­ri tiga, maka rek­tor mem­pu­nya­i ke­ mim­pin­nya. Begitu juga de­ngan Dekan yang di­ we­nang­an pe­nuh me­nun­juk satu do­sen pi­lih de­ngan sis­tem ini, akan ta­kut ke­ un­tuk mendaftarkan diri. Tahap pe­nya­ring­an me­ru­pa­kan u­pa­ pa­da Rektor dan me­nu­rut sa­ja de­ngan ya me­mi­lih tiga o­rang ca­lon me­nu­rut kebijakan­-kebijakan­ yang di­ke­lu­ar­kan per­tim­bang­an Rektor, yang te­pat un­tuk oleh Rektor. Ma­ka da­pat men­ja­di se­bu­ah men­ja­lan­kan tu­gas Dekan. Tahap se­lan­ rea­li­ta Rektor dan Dekan ha­nya men­ja­di jut­nya a­da­lah pe­mi­li­han. Se­be­lum pe­mi­ budak­-budak­par­ta­i politik yang akan me­ li­han, ketiga ca­lon wajib me­nyam­pai­kan ro­boh­kan In­de­pen­den­si pen­didikan. Visi­-Misi­dan pro­ker arah pe­ngem­bang­an Hasto Prastyo Ketua BEM FMIPA 2011 fa­kul­tas em­pat tahun ke­de­pan, da­lam Ra­pat Se­nat Ter­bu­ka. Se­te­lah itu, Rek­tor edisi II | NOVEMBER 2011


persepsi

Bisnis Jual Mimpi “Jika Anda mendapatkan downline, Anda akan naik ke bintang empat, dan mendapatkan uang jutaan rupiah per bulan. Tinggal duduk santai di rumah, Anda sudah bisa menikmati uang hasil kerja Anda.”

B

isnis dengan kerja yang tak ba­nyak pe­ngor­ba­nan, cukup du­duk san­tai di ru­mah dan me­nik­ma­ti uang ju­taan ru­piah, sering di­ke­nal de­ngan istilah bis­nis Multi Level Marketing (MLM). Men­deng­ar kata MLM, ma­ka yang ter­ be­sit a­da­lah dua pi­li­han, yaitu me­nu­ju ke­suk­ses­an atau menghindar. Seluruh ahli e­ko­no­mi du­nia se­pen­ da­pat bah­wa direct selling atau pen­ ju­al­an lang­sung se­per­ti MLM a­da­lah cara bis­nis pa­ling sem­pur­na, karena me­ngu­rang­i bi­a­ya promosi, se­hing­ga dapat lang­sung di­be­ri­kan pada pa­ra pelaku MLM ter­se­but. Na­mun, cara pe­ la­ku MLM kon­ven­si­o­nal (offline) dalam me­re­krut ang­go­ta su­dah di luar ke­wa­ja­ ran. Mereka bu­kan la­gi men­ju­al produk, me­la­in­kan men­ju­al dan me­ngo­bral mimpi dengan no­mi­nal uang ju­ta­an, milyaran rupiah, bah­kan dari motor, mobil, hingga kapal pesiar. Bila di­ta­nya apa tujuan pe­la­ku MLM me­nga­jak ber­ga­bung di bisnis MLM, ma­ka ja­wa­ban me­re­ka adalah me­nga­jak un­tuk menuju ke­suk­ses­an bersama­-sama­. Pa­da­hal, ke­suk­se­san tidak bi­sa di­u­kur dari nominal keuangan saja. Pelaku MLM me­nye­but­kan bah­wa

bis­nis MLM sa­ngat mu­dah. Ca­ra­nya a­da­lah mendaftarkan diri, men­ca­ri teman, du­duk san­ta­i, kemudian me­nik­ma­ti uang. A­nehnya, jika me­la­lu­i bis­ nis MLM mu­dah men­da­pat­kan uang, la­lu ke­na­pa di Indonesia masih saja di­lan­da ke­ mis­ki­nan dan ke­n a­p a

Rohhaji | Expedisi

korupsi masih me­ra­ja­le­la? Dalam prakteknya, men­daf­tar­kan diri pun juga meng­gu­na­kan modal (uang) yang no­mi­nal­nya ti­dak se­di­kit. Jika tidak sanggup men­daf­tarkan ka­re­na biaya yang ma­hal, maka pelaku MLM tidak akan ber­ di­am di­ri. Me­re­ka akan mem­ban­tu calon downline-nya untuk men­da­pat­kan mo­dal agar ber­ga­bung. Itulah wujud ke­pe­du­li­an dari pe­la­ku MLM. Tapi di­ba­lik itu, sa­at pe­la­ku mampu me­nam­bah downline, ma­

ka pe­ma­su­kan­nya ber­tam­ bah. Bantuan ter­se­but bi­a­sa­nya ber­wu­jud saran, yang me­ngan­jur­kan agar ber­hu­tang pada si­a­pa sa­ja yang dikenal, meng­ga­dai­kan barang­-barang­ apa saja yang di­pu­nya­i, seperti sepeda motor, perhiasan, sertifikat rumah/tanah bah­kan tidak tanggung­-tanggung­ untuk menggadaikan ijazah. Saking ne­kat­nya, surat ta­nah dan su­rat motor mi­lik orang tua juga i­kut di­ga­dai­kan. Ini a­da­lah cara yang kotor, ti­dak ta­hu ma­lu. Ca­ra inilah yang men­ja­di­kan orang­-orang­ a­ler­gi dengan pe­mi­ki­ran pe­la­ku MLM, yang ke­le­wat per­ca­ya di­ri hing­ga tak tahu diri. Bi­la hu­tang da­pat di­ba­yar, barang yang di­ga­dai­kan da­pat di­te­bus, maka ke­a­da­an akan baik­-baik­saja, lalu ba­gai­ma­na jika se­ba­lik­nya? Ber­ga­bung dengan bisnis MLM ha­ rus di­aw ­ a­li de­ngan ni­at yang baik, pu­ nya prospek yang cerah, ke­sung­gu­han, dan ta­hu dasar­-dasar dalam ber­bis­nis, bu­kan ha­nya ni­a­tan ingin ka­ya dengan mu­dah dan terkesan mendadak. Ka­re­na, MLM bukan me­to­de bis­nis kaya men­da­ dak, me­lain­kan di­bu­tuh­kan skill un­tuk me­la­ku­kan pen­ju­a­lan dan pe­ma­sa­ran. Pa­da da­sar­nya, setiap orang me­mi­li­ki ke­ter­ba­ta­san dalam ber­bis­nis dan ca­ra yang berbeda untuk meng­ga­pa­i mim­pi dan cita­-citanya. Ade Rakhma N.S

INFO KAMPUS Semnas Kebudayaan dari Komunitas Budaya FBS

Peringatan Porprov Dengan Pertandingan Pencak Silat

Kamis (27/10), Komunitas Budaya FBS mengadakan Seminar Nasional (Semnas) Kebudayaan, di Ruang Auditorium UNY. Acara tersebut berlangsung mulai pukul 08.00-13.00 WIB dan dihadiri oleh mahasiswa, dosen, pelajar, juga umum. Acara dengan tema “Menemukan Kembali Esensi Kebudayaan Indonesia dalam Rangka Membentuk Karakter Kebangsaan,” juga dihadiri sastrawan Indonesia yang sekaligus bertindak sebagai pembicara utama, yaitu Taufik Ismail. Jalu Nugraha sebagai peserta mengungkapkan bahwa materi yang disampaikan Taufik tidak sesuai dengan tema yang diusung. Namun, lebih membahas pengajaran bahasa, yaitu membaca dan mengarang. “Tapi, dari peserta yang bertanya, kebanyakan menyinggung tentang budaya, jadi seminar masih bisa nyambung dengan tema,” tambah Jalu.

Tanggal 23-26 Oktober 2011, diadakan pertandingan Pencak Silat dalam rangka Pekan Olah Raga Provinsi (PorProv). Pertandingan Porprov tahun 2011 ini bertempat di Hall Tenis indoor Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNY. Pertandingan pencak silat ini, hanya untuk kategori dewasa dengan batasan umur antara17 sampai 27 tahun. Acara ini diikuti oleh 153 peserta dari empat Kabupaten dan satu kota se-provinsi Yogyakarta. “Setiap kategori kelas akan diambil masing-masing tiga juara, yaitu juara 1, 2 dan 3 yang akan dipersiapkan untuk mengikuti ajang Pra Pekan Olahraga Nasional (PON),” ungkap Bambang selaku panitia. Lebih lanjut, Bambang menyampaikan harapannya bahwa pemenang dari seleksi PorProv ini, akan dapat mengikuti PraPON dan mengharumkan nama Indonesia.

Ade

Suly

NOVEMBER 2011 | edisi II

7


tepi

Prestasi Di Tengah Keterbatasan Fasilitas Setiap hari dia melajukan Jengki hitamnya, dengan tujuan untuk dapat menduduki singgasana, yang bernama kursi mahasiswa.

8

Na­ma ini (Isdiono-red) pas­ti­lah ti­dak a­sing la­gi di te­li­nga be­be­ra­pa ma­ha­sis­wa di FIP. Dia a­da­lah pe­nya­bet juara per­ta­ ma ma­pres ting­kat fakultas di FIP ta­hun 2011. Su­lung dar­i dua ber­sau­da­ra ini a­da­lah so­sok yang lebih se­ring ter­li­hat pen­di­am, se­der­ha­na, namun hu­mo­ris. Ke­ti­ka di­te­mu­i, dirinya ber­ba­gi se­di­ kit ce­ri­ta ten­tang per­ju­a­ngan­nya un­tuk masuk ku­li­ah di UNY. De­ngan ta­wa­nya yang khas, dia me­nu­tur­kan saat akan ma­suk ku­li­ah. Kala itu un­tuk me­min­ta tan­da ta­ngan, sebagai sya­rat men­ca­ri bea­sis­wa, dia di­hi­na oleh pe­tu­gas ke­ lu­ra­han, yang me­ra­gu­kan dia mam­pu mem­ba­yar untuk ma­suk di per­gu­ru­an ting­gi, ka­re­na dia be­ra­sal dari ke­lu­ar­ga yang se­der­ha­na. ”Bah­kan sa­ya wak­tu mau ma­suk ku­li­ah sa­ma pak du­kuh di­ ka­ta­i bahwa di ke­lu­ra­han itu ti­dak ada bea­sis­wa, mas,” u­jar­nya. Na­mun hal itu tidak di­hi­rau­kan oleh Isdiono, ka­re­na yang pen­ting a­da­lah tanda tan­dan un­ tuk sya­rat bea­sis­wa, buka hi­na­an yang di­lon­tar­kan ke­pa­danya. Namun dari semua hi­na­an yang di­ tu­ju­kan pa­da­nya itu, jus­tru be­ru­bah men­ja­di se­ma­ngat untuk mem­buk­ti­kan bah­wa hi­na­an orang­-orang­ter­ha­dap di­ ri­nya itu sa­lah. Isdiono me­nga­ku bah­wa tetangga yang selalu menghina dirinya justru menjadi semangat terbesar untuk me­wu­jud­kan im­pian­nya.” Jus­tru te­tang­ga sa­ya lah pem­be­ri mo­ti­va­si ter­be­sar sa­ya,” ujar­nya de­ngan ta­wa­nya yang khas. Keterbatasan fasilitas Fa­si­li­tas bu­kan sya­rat mu­tlak un­tuk ber­pres­ta­si ba­gi orang ma­cam Isdiono. Ke­ada­an ru­mah yang ke­ti­ka i­tu be­lum ter­ja­mah lis­trik, ti­dak me­nyu­rut­kan niat­nya un­tuk gi­gih ber­ju­ang. Dia te­ tap be­la­jar mes­ki­pun ha­nya meng­gu­na­ kan­ se­bu­ah lam­pu sen­tir y­ang ter­bu­at da­ri bo­tol mi­nu­man ber­energi, se­ba­gai pe­ne­rang ke­ti­ka dia mem­ba­ca. Kon­di­si yang de­mi­ki­an ti­dak mem­buat­nya ter­ ting­gal da­ri te­man-te­man­nya da­lam hal aka­de­mik. Lis­trik ba­ru me­ram­bah di

Ody | Expedisi

P

erawakan tinggi besar. Wa­jah­nya di­hi­a­si jam­bang yang me­ngun­cup ter­pu­sat di dagu. Si­ang itu, ke­ti­ka di­sa­pa di Unit Pe­la­ya­nan Pen­di­dik­an (UPP 1), dia me­nyung­ging­kan se­u­las se­nyu­man. Se­ra­gam biru hi­tam yang di­ke­na­kan o­leh­nya, me­nun­juk­kan i­den­ti­ tas sa­lah satu Unit Ke­gi­a­tan Ma­ha­sis­wa (UKM) yang di­ge­lu­ti­nya. “Sa­ya tidak ingin men­ja­di­kan fa­si­li­tas sebagai peng­ ha­lang,” ujar Isdiono. Fa­si­li­tas minim dan ke­a­da­an e­ko­no­ mi yang a­pa a­da­nya, bu­kan­lah a­la­san un­tuk ti­dak ber­pres­ta­si. Hal ini di­buk­ti­ kan o­leh se­o­rang mahasiswa ber­pres­ta­si (mapres) ting­kat fa­kul­tas, dari Fa­kul­tas Il­mu Pen­di­dik­an(FIP), Isdiono. Un­tuk men­ja­di ma­pres bu­kan­lah hal yang mu­ dah, ba­nyak per­sya­ra­tan yang ha­rus di­tem­puh. Se­per­ti yang di­ung­kap­kan oleh Bambang Saptono, M.Si. se­la­ku Wa­kil De­kan III, FIP. “Ke­is­ti­me­wa­an ma­pres i­tu kri­te­ri­an ­ ya ba­nyak. Di­a ten­ tu a­da­lah pintar a­ka­de­mik, tentu ha­rus mem­pu­nya­i ni­la­i yang le­bih da­ri yang la­in, ter­ka­it dengan pe­ngu­a­sa­an ten­tang bi­dang yang di­te­­ku­ni da­lam prodi, yang di­tun­ju­kan de­ngan In­deks Pres­ta­si Ku­ mu­la­tif (IPK). Mem­pu­nya­i ide­-ide­kre­at­ if i­no­fa­tif, ter­ma­suk dia bi­sa pe­ro­leh un­tuk me­me­cah­kan ma­sa­lah akademik ma­u­pun pri­ba­di­nya,” ungkap Bambang. Di lain pihak Dr. Herminarto Sofyan se­la­ku Wa­kil Rektor III (PR III), ju­ ga me­nga­ta­kan bah­wa stan­dar kri­te­ri­a ma­pres ti­dak ha­nya IPK, na­mun juga me­li­hat pres­ta­si di bidang pe­na­la­ran, mi­nat, bakat, olah raga, seni, ke­gi­a­tan eks­tra­ku­li­ku­ler, ke­pri­ba­di­an, ke­se­ha­ tan, dan ke­mam­pu­an ba­ha­sa inggris minimal 450. Sejak kecil Isdiono selalu me­nga­la­ mi peng­hi­na­an dan di­re­meh­kan, na­mun hal itu tidak mem­bu­at­nya me­nye­rah pa­da ke­a­da­an. Inilah yang di­a­la­mi oleh Isdiono. Ba­nyak yang me­ra­gu­kan dia bi­sa ma­suk ke Per­gu­ru­an Ting­gi Ne­ge­ri (PTN). Isdiono ter­ca­tat se­ba­ga­i ma­ha­sis­ wa ju­ru­san PGSD UNY, ang­ka­tan 2008.

Isdiono, mahasiswa berprestasi tahun 2011

ke­diaman­nya, se­te­lah gem­pa me­lan­da Yogyakarta 5 tahun silam. De­ngan ge­ lak dia ber­ki­sah ten­tang ke­nang­an ma­sa la­lu. Ba­gai­ma­na per­juangan­nya ke­ti­ka ber­u­sa­ha me­wu­jud­kan im­pi­an un­tuk bi­sa me­ra­sa­kan bang­ku per­ku­liah­an, me­nam­pak­kan se­ma­ngat dan op­ti­mis­me di wa­jah­nya. Se­ti­ap ha­ri, ke­ti­ka hen­dak be­rang­kat ku­li­ah, dia re­la me­nga­yuh se­pe­da se­ja­uh 25km, yang mem­bu­tuh­kan wak­tu sa­tu se­te­ngah jam, un­tuk sam­pai kam­pus PGSD di UPP II, Mandalakrida. Apa­la­gi dia be­rang­kat da­ri ru­mah­nya yang ber­ lo­ka­si di Bantul, sa­lah sa­tu kabupaten di Yogyakarta ba­gi­an se­la­tan. Pa­nas dan di­ngin yang meng­ha­lau­nya se­la­ma per­ja­ la­nan, tak me­run­tuh­kan se­ma­ngat­nya un­ tuk da­pat me­ngi­ku­ti per­ku­lia­han. De­ngan se­ga­la keterbatasan fasilitas, siapa sangka kini, berderet prestasi telah ia raih. Mulai dari mapres tingkat fakultas, mapres PGSD se-Jawa, juara lomba artikel Menpora, dan banyak artikel karyanya yang berhasil dimuat di media masa. edisi II | NOVEMBER 2011


tepi Maulida | Expedisi

Kamis (10/11) suasana kampus 2 FIP Mandala yang cenderung sederhana tempat Isdiono berkuliah

Prestasi yang tidak mudah untuk diraih tentunya. Meskipun deretan prestasi telah ia raih, dan pundi-pundi rupiah sudah ia dapatkan dari hasil karyanya, belum terpikirkan olehnya untuk meninggalkan sepeda kesayangannya yang selalu setia menemaninya, berangkat kuliah setiap hari. Isdiono lebih memilih utuk menyimpan hasil jerih payahnya, untuk cita-citanya yang lebih tinggi, yaitu melanjutkan kuliah S2. Walaupun kesibukannya dalam kuliah sudah menyita banyak waktu, namun rupanya Isdiono tidak mau jika menjadi mahasiswa yang hanya melakukan rutinitas, kuliah dan pulang. Di tengah kesibukan kuliahnya, ternyata ia juga menjabat sebagai ketua di salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) di FIP Karangmalang. Terbayang bagaimana dia menempuh jarak tersebut dengan menggunakan sepeda menuju karangmalang, dengan pertambahan waktu sekitar setengah jam. Sehingga bila ditotal ayau dikalkulasi waktu yang diperlukan menjadi dua jam perjalanan, jika dihitung dari rumahnya. Sosok Isdiono ketika masa SMA, sempat menekuni kegiatan karate. Namun kini beralih menjadi suka membaca dan menulis, sejak menginjak kuliah semester satu. Dia juga mempunyai niatan untuk membagi ilmunya melaluli UKMF yang diikutinya. Dia ingin membagi ilmu yang ia miliki khususnya dalam bidang menulis. Deni Hardiyanto, salah seorang NOVEMBER 2011 | edisi II

dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) menyampaikan pendapatnya terkait dengan pelayanan fasilitas untuk mapres. "Ya, gini mbak, fakultas itu tidak membeda-bedakan, pelayanan fasilitas yang diberikan itu sama, tapi ketika ada event apa dia (Isdiono-red) diiikutkan, pengiriman mahasiswa kemana dia yang dipilih untuk berangkat. Dosen yang mengampu mata kuliah Teknologi Pendidikan ini juga berpendapat bahwa support fakultas diwujudkan dengan memberikan peluang pada Isdiono.

Reward untuk mapres Prestasi bukan hal yang mudah untuk diraih, dibutuhkan perjuangan, kerja keras dan proses yang cukup panjang untuk mendapatkannya. Kendati sudah mendapatkan prestasi, belum tentu mendapatkan beasiswa. Menjadi mapres tidak selalu dapat dipastikan mendapat beasiswa. Akan tetapi ada reward tersendiri yang diberikan untuk mapres. Seperti yang diungkapkan Bambang Saptono, M.Si, “kalau beasiswa tidak ada, tapi kalau reward ada,” ujarnya. Bambang Saptono, M.Si, juga menambahkan, “ Kemarin Isdiono dikirim ke Thailand, dalam rangka Student Exchange.” Lebih lanjut Wakil Dekan III, FIP mengujarkan bahwa pengiriman tersebut merupakan salah satu penghargaan dari fakultas, Universitas. “Terus kemarin dikirim ke UI(Universitas Indonesia) untuk ikut keterampilan kepemimpinan se Indonesia yang diikuti oleh beberapa perguruan

tinggi di Indonesia,” tambahnya. Penghargaan yang diberikan kepada mapres tidaklah selalu berbentuk materi. Walaupun begitu dari Universitas terkadang ada penghargaan berupa materi, karena tidak semua mapres memiliki kemampuan ekonomi yang tinggi. Kadang kala,juga sudah ada beasiswa tersendiri meski pun bukan sebagai mapres, seperti halnya beasiswa PPA, BBM, atau yang lainnya. Menurut Dr. Herminarto sofyan adapun reward yang berbentuk uang itu pun masih dalam jumlah yang kecil. Hal senada disampaikan oleh Deni. Dirinya mengungkapkan bahwa bentuk reward yang diberikan pada Isdiono bisa berupa kesempatan beasiswa dan diikutkan dalam kegiatankegiatan kampus. Lebih lanjut dosen yang mengampu mata kuliah di Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) ini, menuturkan tanggapannya mengenai kelayakan pemberian reward untuk mapres. "Ya relatif, satu orang dengan orang lain mempunyai kriteria yang berbeda. Kalau dikatakan layak tidaknya mungkin menurut saya cukup. Menurut orang lain bagi Isdiono tidak cukup. Tapi kampus sendiri mempunyai standar. Beasiswanya ya yang ada dikampus, tidak ada beasiswa khusus yang lain. Sementara, untuk reward-reward yang lain kan juga tetap diberikan,"ujarnya. Tak ada jaminan setelah lulus untuk mapres Ma­ha­sis­wa, ba­ik ma­pres atau­pun bukan pastilah mempunyai motivasimotivasi dan kemampuan yang kuat, sehingga mereka berjuang sekuat tenaga untuk menembus keinginannya. Namun biarpun memiliki berbagai prestasi dan dinobatkan sebagai mapres, belum pasti setelah lulus mendapatkan jaminan dari fakultas ataupun universitas. Isdiono sendiri sebagai mapres, untuk mewujudkan cita-citanya meneruskan studi S2, harus menyisihkan hasil materi dari prestasinya. “Untuk mendapatkan beasiswa S2 kan, syaratnya harus cumlaude sedangkan saya kan belum pasti cumlaude,” ungkap Isdiono. Dr. Herminarto Sofyan menjelaskan bahwa, “ UNY menyediakan untuk 12 orang yang lulus cumlaude, untuk studi lanjut di pasca UNY.” Jadi dia haruslah bersiapsiap jika nantinya tidak lulus dengan predikat cumlaude, dia sudah punya persiapan untuk meneruskan studinya. Rohhaji Nugroho Hoho, Ratih, Sari, Yulinda

9


resensi

Angel Bocah Tunarungu

"A

yah me­nga­pa aku ber­be­da? Chapter: Moon” a­da­lah se­bu­ah ki­sah per­ju­ang­an hi­dup Angel, ga­dis ci­lik yang tu­na­rung­u se­jak di­la­ hir­kan. I­bu­nya me­ning­gal ke­ti­ka Angel ter­la­hir dan ayah­nya ke­mu­di­an men­ja­di o­rang tua tung­gal, yang me­ra­wat­nya de­ ngan tu­lus. Akan te­ta­pi, ayah­nya, Martin ber­u­sa­ha mem­bu­at­nya hi­dup man­di­ri dengan ke­a­da­an nor­mal se­per­ti anak lainnya. Me­re­ka ting­gal di Semarang dengan di­te­ma­ni ne­nek Angel, yang mem­ ban­tu me­ra­wat­nya. Martin me­mi­lih pin­dah ke Jakarta se­ te­lah ibu­nya me­ning­gal. Disana, Martin me­mu­tus­kan me­nye­ko­lahkan Angel, di se­ko­lah umum yang dekat dengan ru­mah­ nya. Bu­kan la­gi se­ko­lah luar biasa se­per­ti di Semarang. Awalnya, se­ko­lah dengan ba­ngu­nan be­sar itu me­no­lak, na­mun ke­se­ri­usan Angel yang i­ngin ber­se­ko­lah, mam­pu me­ner­bit­kan ra­sa i­ba dan me­lu­ luh­kan ha­ti Ke­pa­la Se­ko­lah. Angel yang di­ang­gap ca­cat ha­rus ber­ju­ang ke­ras, un­tuk da­pat di­te­ri­ma di se­ko­lah u­mum. Ia ha­rus meng­ha­da­pi ke­nya­ta­an, bah­wa ti­dak se­mu­a o­rang mau me­ne­ri­ma ke­ha­di­ran­nya. Angel te­tap meng­e­jar pen­di­di­kan, di tengah de­ri­ta ca­ci­an dan hi­na­an di se­ki­tar­nya. Se­per­ti ha­ri per­ta­ma ma­suk se­ko­lah ba­ru, Angel su­dah me­ne­ri­ma ulah na­kal da­ri Agnes, Fifi dan Maria te­man se­ke­las­nya. Me­re­ka­lah yang men­ja­di pe­ran an­ta­go­nis da­lam no­vel ini. Na­mun, ia pun me­ne­ mu­kan te­man ba­ik se­per­ti Hendra. Ia se­la­lu me­ne­ma­ni Angel ke­ti­ka di se­ko­lah. Mung­kin, di­a­lah sa­tu-sa­tu­nya sa­ha­bat Angel yang pa­ling tu­lus. Di­se­ko­lah itu­ lah Angel bi­sa meng­em­bang­kan ba­kat ber­ma­in pi­a­no, yang di­wa­ris­kan oleh ibu dan ayahnya. Ibunda Angel memiliki nama yang sama dengannya. Ia adalah pemain piano handal di salah satu sekolah musik. Di sekolah tersebut Martin bertemu dengan Angel sampai tumbuh benih cinta diantara mereka. Hubungan mereka pun ternyata tidak disetujui oleh orang tua Angel. Meskipun tanpa restu dari orang tua Martin tetap menikahi Angel dengan mengajaknya kawin lari. Tidak hanya sang Ibu, sang Ayah pun tidak kalah handal dalam bermain piano. Dalam novel ini, penulis (Agnes dan Davonar) melukiskan bagaimana Angel kecil bisa menemukan kesenangannya pada permainan piano. Sementara, Martin 10

Doc. Istimewa

Judul buku : Ayah Mengapa Aku Berbeda? Chapter Moon Penulis : Agnes dan Davonar Penerbit : Inandra / Inti Book Publisher Jumlah Halaman : 232 termasuk Cover Waktu Terbit : Juli, 2011 terutama tidak pernah mengajarkan anaknya bermain piano. Dan ternyata bakat bermain piano itu di eksplor sendiri oleh Angel selama di sekolah bersama dengan guru musiknya. Hal yang me­na­rik da­lam no­vel ini a­da­lah ba­gai­ma­na ca­ra Angel bi­sa me­ ma­in­kan pi­an ­ o se­men­ta­ra te­ling­a­nya tak mampu men­deng��ar. Dan, ba­gai­ma­na ki­sah se­o­rang Martin yang be­gi­tu sa­bar mem­bim­bing anak­nya hing­ga tum­buh men­ja­di ga­dis tu­na­rung­u yang mem­ bang­ga­kan? Ada hal yang me­na­rik, ada pu­la hal yang kurang me­na­rik. Ba­ha­sa yang di­ gu­na­kan pe­nu­lis sa­ngat bi­as­ a. Kli­maks yang se­h­a­rus­nya men­ja­di da­ya ta­rik pun ma­sih ku­rang. Setelah membaca, kli­maks da­lam no­vel ini a­da­lah ke­ti­ka Angel ber­ ju­ang un­tuk la­tihan piano se­men­ta­ra te­man-te­man sa­tu ke­lom­pok­nya ti­dak me­nyu­kai. Ce­ri­ta novel ini ku­rang mem­ bu­at pe­na­sa­ran ka­re­na ha­sil a­khir­nya bi­sa di­tebak dengan mu­dah. Alur ce­ri­ta yang pe­nu­lis gu­na­kan i­a­lah a­lur ma­ju. Ta­pi ada ba­gi­an yang men­ce­ri­ta­kan flashback ke­ti­ka Martin me­ngi­ngat kem­ba­li ma­

sa-ma­sa ke­cil­nya. Pa­da sa­at ia ber­te­mu de­ngan Angel (is­tri­nya) sam­pai pa­da ia me­ni­kah dan me­mi­li­ki anak. Ki­sah de­ mi ki­sah yang di­te­rang­kan ju­ga ku­rang des­krip­tif, a­pa­la­gi da­lam ka­rak­te­ris­tik to­koh­nya se­per­ti a­pa. Mes­ki­pun, Agnes dan Davonar me­ nu­lis ki­sah Angel da­ri ki­sah nya­ta yang per­nah me­re­ka jum­pai, me­re­ka ku­rang i­no­va­tif da­lam pe­nyam­pai­an yang meng­ a­ki­bat­kan ce­ri­ta itu da­tar, ti­dak se­per­ti novel me­re­ka yang lain. Se­be­lum pe­ nu­li­san novel ini, Agnes dan Davonar ju­ga te­lah sukses membuat kar­ya ba­gus dengan ju­dul “Surat Kecil Untuk Tuhan”. Novel ini meng­isah­kan so­sok Gita Sesa Wanda Cantika, yang te­gar men­ja­la­ni si­ sa-si­sa hi­dup­nya digerogoti oleh kan­ker di pi­pi­nya. Jika dibandingkan dengan no­vel “Ayah Mengapa Aku Berbeda?” ma­ka ce­rita dengan tokoh Gita ini ja­uh le­bih bagus. Selain men­da­pat­kan hi­bu­ran dan motivasi dari cerita Gita, ki­ta pun mem­pe­roleh informasi ten­tang apa itu Rhabdomysocorma. Se­men­ta­ra, ga­dis tunarungu dan bisu se­per­ti Angel itu ba­nyak dijumpai di Se­ko­lah Lu­ar Bi­as­ a di Indonesia. Da­lam ha­la­man co­ver no­ vel “Ayah Mengapa Aku Berbeda?” ini di­tu­lis­kan bah­wa ce­ri­ta ter­se­but akan di­pen­tas­kan da­lam se­buah tea­ter pa­da bu­lan November 2011. Se­karang ini, ba­nyak se­ka­li ce­ri­tace­ri­ta dalam novel yang difilm­kan a­tau di­pen­taskan dalam teater. Dari hal ini, bi­sa di­lihat adanya hubungan sim­bi­o­ sis mu­tu­alisme dari penulis dan pro­du­ ser per­fil­man. Novel dari penulis bi­sa se­ma­kin terjual. Sementara, pro­du­ser per­film­an bi­sa mem­per­ka­ya kar­ya filmfilm me­re­ka, be­gi­tu pu­la dengan teater. Me­na­rik me­mang jika novel yang me­mi­ li­ki ki­sah apik diangkat dalam se­bu­ah film. Ta­pi, untuk novel “Ayah Meng­a­pa Aku Ber­be­da” dengan cerita yang da­tar a­kan di­ra­sa ku­rang pas jika di­ang­kat da­ lam pen­tas teater. Akan men­ja­di ba­gus ke­ti­ka teater itu di­adakan adalah ke­ti­ka pe­me­ran Angel nantinya bisa me­main­kan piano. Jadi, se­benarnya yang me­na­rik dalam teater itu nantinya a­da­lah per­ma­i­ nan pianonya bu­kan pa­da ce­ri­ta si Angel yang piatu itu. Apa­la­gi, se­per­ti da­lam novel dicerita­kan bah­wa te­man-te­man Angel me­no­lak un­tuk pen­tas ber­sa­ma­ nya, hing­ga akhir­nya mem­bu­at Angel pen­tas tunggal. Dwiningsih Afriati

edisi II | NOVEMBER 2011


wacana

S

e­bu­ah pi­sau yang ta­jam bi­sa di­gu­ na­kan un­tuk meng­u­pas apel yang ma­nis, te­ta­pi ju­ga da­pat me­lu­kai se­se­o­rang ji­ka ti­dak di­gu­na­kan dengan ha­ti-ha­ti. Be­gi­tu pu­la de­ngan in­ter­net. Be­ri­bu man­fa­at yang bisa di­da­pat da­ri in­ter­net, ta­pi in­ter­net ju­ga da­pat “me­ ni­kam” peng­gu­na­nya. Du­lu­nya, in­ter­net di­cip­ta­kan un­tuk ke­per­lu­an mi­li­ter Amerika Serikat. Se­ men­ta­ra di Indonesia, ber­kem­bang­nya in­ter­net ber­awal untuk per­da­gang­an. Da­ri si­ni da­pat di­li­hat bahwa, in­ter­net dikem­bang­kan un­tuk hal yang baik. Ta­pi da­lam per­kem­bang­an­nya, banyak per­ma­ sa­la­han tim­bul da­ri internet. Am­bi­lah con­toh Prita Mul­yasari yang ter­se­ret kas­us a­ki­bat su­rat elektronik, yang di­ki­ rim­kan pa­da se­jum­lah te­man­nya, be­ri­si ke­lu­han­nya ter­ka­it pe­la­ya­nan Rumah Sakit Omni. Be­gi­tu ju­ga dengan ka­sus Nazril Ilham alias Ariel Peterpan a­ki­bat vi­deo pa­nas­nya di Hotel Prodeo, yang di ung­gah di internet. Se­men­ta­ra di China ting­kat kri­mi­na­li­tas re­ma­ja men­ca­pai 80% di­peng­a­ru­hi oleh in­ter­net. Hal ini per­nah di­ung­kapkan oleh Wu Heping, ju­ru bi­cara menteri ke­a­ma­nan Re­pu­ blik China. Ka­rena ke­ta­ja­m­an in­ter­net, be­be­ra­pa ne­ga­ra me­la­ku­kan peng­a­wa­san se­ca­ra ke­tat. Di Iran mi­sal­nya, adanya pe­ra­tu­ran bah­wa se­tiap blogger (pengguna blog) di­wa­jib­kan untuk mendaftar­kan si­tus­nya ke Ke­men­tri­an Se­ni dan Budaya. Bah­kan di Kuba, hanya pe­ja­bat dan or­ang-orang yang mem­pu­nyai hu­bu­ngan de­ngan par­ tai ko­mu­nis yang bi­sa meng­ak­ses in­ter­net se­ca­ra be­bas. Se­le­bihnya, ji­ka ma­sya­ ra­kat u­mum i­ngin meng­a­kses in­ter­net ha­rus mem­be­li voucher dengan har­ga ma­hal yang ha­nya di­se­di­a­kan di ho­tel dan

NOVEMBER 2011 | edisi II

wa­rung in­ter­net. Di Indonesia, a­danya un­dang-un­dang In­for­ ma­si dan Tran­sak­si E­lek­ tro­nik (ITE) me­nun­juk­ kan bah­wa pe­me­rin­tah me­l a­k u­k an kon­t rol ter­ha­dap peng­gu­na­an in­ter­net. Peng­o n­t ro­l an ini di­k ha­w a­t ir­kan bi­s a meng­in­di­ka­si­kan sa­lah sa­tu lang­kah pe­me­rin­ tah un­tuk meng­u­rang­i dam­p ak ke­k ri­t i­s an ma­sya­ra­kat. Se­per­ti yang di­la­ku­kan oleh Korea Utara yang me­ wa­ji­b­kan war­ga­nya un­t uk mang­a k­s es in­t er­n et me­l a­l ui si­tus pri­ba­di­nya, Uriminzokkiri. com. Da­lam si­tus ini me­nam­pil­kan ke­ gi­a­tan dan sem­bo­yan-sem­bo­yan pen­g­ ua­sa­nya se­ka­rang , Kim Jong II “great man”, se­ba­gai wu­jud pen­ci­tra­an. Akan te­ta­pi, ada hal la­in yang se­la­ yak­nya pa­tut di­per­hi­tung­kan da­ri in­ter­ net. Sa­ra­na komunikasi inter­na­si­onal ti­dak da­pat d­i­tam­pik se­ba­gai man­fa­at in­ter­net. Facebook, twitter, dan yahoo a­da­lah con­toh pro­gram yang me­nya­ji­kan so­cial networking. Se­la­in itu, in­ter­net bi­s­a me­nye­di­akan in­for­masi yang leng­ kap, de­ngan me­to­de pen­ca­ri­an yang mu­ dah. Ting­gal ke­tik ka­ta kun­ci­nya, ma­ka akan mun­cul in­for­ma­si yang di­ingin­kan. Internet juga mem­per­mu­dah du­nia pen­ di­di­kan. Mo­del belajar meng­gu­na­kan in­ ter­net atau E-learning bi­sa me­nye­di­a­kan ma­te­ri be­la­jar un­tuk pe­s­er­ta di­di­k yang bi­a­sa­nya ha­nya di­da­pat di da­lam se­ko­

Ody | Expedisi

Internet, Pisau Yang Tajam

lah sa­ja. In­ter­net juga mam­pu men­ce­tak ju­ta­wan-ju­ta­wan mu­da. Se­ba­gai con­toh Blake Ross, pem­bu­at program Mozilla Firefox, yang sejak usia 19 tahun mu­lai ber­ke­cim­pung di dunia ma­ya. Hing­ga usia 25 tahun, to­tal keu­nt­ ung­an­nya se­ ba­nyak 150 juta dolar. Se­ba­gai la­ya­nan yang mu­dah dan mu­ rah, In­ternet akan mem­be­ri­kan man­fa­at yang be­sar a­pabila di­gu­na­kan dengan ba­ik. Sebaliknya ji­ka di­gu­na­kan un­tuk ni­at bu­ruk, ma­ka in­ter­net a­da­lah se­ bu­ah mu­si­bah. Per­kem­bang­an in­ter­net memang mem­ba­wa dam­pak po­si­tif dan ne­ga­tif, ti­dak se­la­yak­nya per­kem­bang­an itu di­ham­bat, akan te­ta­pi di­arah­kan un­ tuk hal yang ba­ik. Me­nger­ti ba­gai­ma­na peng­gu­na­an in­ter­net yang ba­ik me­ru­pa­ kan kun­ci meng­gu­na­kan inter­net. Ferlynda Putri S

11


eksprespedia

Plastik Tak Selamanya Baik

S

am­pah plas­tik mem­bu­tuh­kan wak­tu ber­ta­hun-ta­hun un­tuk ter­u­rai da­lam ta­nah. Sam­pah plas­tik ti­dak ha­nya me­nyum­bat sa­lu­ran pem­bu­a­ngan, te­ta­pi juga mampu mem­bu­nuh biota laut dan ung­gas yang me­ne­lan­nya. Bioplastik Bioplastik da­pat di­ja­di­kan al­ter­na­tif. Bio­plas­tik di­pro­duk­si dengan ba­han da­sar pa­ti sa­gu atau le­mak sawit yang ter­go­long ba­han or­ga­nik, se­hing­ga dapat te­ru­ra­i oleh ling­kung­an dan ti­dak men­ce­ma­ri tanah. Se­la­in itu, sam­pah bio­plas­tik da­ pat di­ma­kan mi­kro­or­ga­nis­me dan han­cur da­lam waktu 80 hari. Namun, peng­gu­na­an dan pembuatan bio­plas­tik ini be­lum ter­la­lu ko­mer­si­al. Hal ini di­se­bab­kan ting­gi­nya biaya produksi, yang ber­ki­sar an­ta­ra em­pat sam­pa­i enam kali li­pat bi­a­ya plastik konvensional.

Plastik Hijau Biodegradable ter­ma­suk salah satu ka­te­go­ri plastik yang da­pat han­cur te­ru­ra­i da­lam hi­tung­an pekan. Plas­tik je­nis ini, ji­ka di­bu­ang di ta­nah, 60 per­sen plas­

12

tik da­pat be­ru­bah men­ja­di bio­mas­sa, da­lam waktu 90 hari. Jenis plastik lain­nya a­da­ lah Oxodegradable. Jenis plas­tik ini di­tan­da­i de­ngan ja­ ja­ran gambar kan­tong plas­tik di­ser­ta­i ma­sa u­rai­nya, yang di­klaim da­lam kurun wak­tu an­ta­ra 10 minggu sampai 2 tahun. Namun, hal ter­se­but be­ lum se­pe­nuh­nya be­nar. Alat uji­pun be­lum ada di Indonesia. Hing­ga ki­ni be­lum ada pe­nga­wa­san pe­ me­rin­tah dan stan­dar­nya masih dalam pe­nyu­su­nan. Tiga Metode Klasik Ada tiga me­to­de, dalam peng­gu­na­ an plas­tik, se­ba­ga­i u­pa­ya men­du­kung ‘Gerakan Hijau’. Per­ta­ma, me­ngu­rang­i peng­gu­na­an plas­tik. Ke­dua, meng­gu­na­ kan kem­ba­li. Ketiga, men­da­ur u­lang. Pada u­mum­nya, plas­tik da­pat di­da­ur u­lang an­ta­ra 5-6 kali. Le­bih da­ri itu tidak baik ba­gi ke­se­ha­tan dan ling­kung­an.

Doc. Istimewa

Kode Kemasan Plastik PETE 1 dan HDPE 2, aman di­gu­ na­kan, di­an­jur­kan un­tuk ti­dak di­pa­ka­i u­lang. V 3, se­baik­nya di­hin­da­ri, ka­re­na re­ak­si ki­mi­a­nya meng­ga­nggu hor­mon. LDPE 4 dan PP 5, aman di­pa­ka­i u­lang. PS 6, me­le­pas­kan styrene, yang di­du­ga me­ru­pa­kan zat karsinogen. Polycarbonat (PC),di­s im­b ol­kan OTHER 7 ter­su­sun dari bisfenol-A yang meng­gang­gu hormon. Jenis PLA, SAN, dan ABS, aman di­gu­na­kan. Yulinda R. Yoshoawini Dikutip dari berbagai sumber

edisi II | NOVEMBER 2011


edisi-ii-reguler