Issuu on Google+

SARGA

Volume XVII Edisi II Bulan Nopember Tahun 2010

Jurnal Ilmiah Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang

Pola Tata Ruang Desa Adat di Bali ~

Fakultas Teknik UNTAG Semarang

Ir. Anwar, MT.

Bentuk “Atap Rumah� Pada Seni Bangunan Jawa~ Ir. Budi Adi Slamet.

Penerbit : Lembaga Penerbitan Fakultas Teknik UNTAG SEMARANG

Eksotika Arsitektur Vernakuler Cina Lasem ~ Ir. Djoko Dharmawan, M.T.

Penataan Tata Ruang Wilayah Pesisir ~ Ir. Soemarwanto, MT. Memadukan Potensi Kota dan Sejarah Pada Malaka World Herritage ~

Ir. Eko Nursanty, MT.

ISSN : 0853-4748

Proses Perencanaan Desain Taman Kota dan Ruang Publik ~ Ir. Loekman Mohammadi, M.Sc. Pengaruh Rejim Aliran Terhadap Model Koefisien Pindah Massa Pada Proses Ekstraksi Cair-cair dalam Kolom Isian ~ Dr. Ir. Priyono Kusumo, MT.

Rekayasa Proses Pengering Endless Chain Vacuum (ECV) Sebagai Alternatif Peningkatan Senyawa Polifenol Pada Produksi The Hijau Berkatekin Tinggi ~ Ir. Mega Kasmiyatun, MT Pengolahan Limbah Cair Industri Tapioka Menjadi Sumber Energi Alternatif BioEtanol Menggunkana Zeolit Sebagai Molecular Sieve ~ Ir. Retno Ambarwati SL,MT., Santa Monica, Yanastri Putri.D

Foto by, Tim KKL Porsibeta. Lokasi : Forbidden City - BeiJing i


MAJALAH ILMIAH TEKNIK – VOLUME XVII - EDISI 2 - BULAN NOPEMBER 2010

SARGA merupakan Jurnal Teknik yang diterbitkan oleh Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang, sebagai media publikasi ilmiah. Sajian tulisan dalam Jurnal Teknik ini dimaksudkan agar komunikasi antar pakar ataupun insane akademik selalu terjadi dan terakomodasi, sehingga akan terwujud perkembangan IPTEK sesuai dengan tuntutan pembangunan. Ketentuan penulisan naskah;

1. Tulisan merupakan naskah asli dan belum pernah dimuat atau diterbitkan pada media lain, 2. Naskah ditulis dengan tata bahasa ilmiah menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris, 3. Naskah diketik rapi 1,5 spasi dengan model huruf “Times New Roman 12” atau “Arial 11”, 4. Jumlah halaman naskah minimal 15 halaman termasuk INTISARI atau ABSTRAK sekitar 200 kata, 5. Naskah dilengkapi dengan biodata penulis, yang memuat nama, tempat dan tanggal lahir, pendidikan tertinggi (S1, S2, dan S3) serta pengalaman pekerjaan,

6. Redaksi berhak untuk menolak atau tidak menebitkan naskah yang kurang memenuhi persyaratan sebagai tulisan ilmiah,

7. Redaksi dapat menyesuaikan, mengedit penggunaan istilah atau bahasa sepanjang tidak mengubah isi maupun pengertiannya tanpa memberitahu penulis. Redaksi akan menghubungi penulis jika dipandang perlu mengubah isi naskah.

Redaksi: Pelindung: Dekan Fakultas Teknik UNTAG Semarang; Pembina: Prof.DR. Sarsintorini, SH. Mhum: Penanggungjawab: Pembantu Dekan I FT UNTAG Semarang; Pemimpin Umum: Ir. St. Muryanto, MEng.Sc.Ph.D. Dewan Redaksi: Ir. FM.Roemiyanto.MS; Ir. Darwati, MSi; Ir. Loekman Mohamadi. MSc, Eko Nursanty. ST. MT. Distributor: Novi Hendriyanto, Supardi,SH A l a m a t : Fakultas teknik Universitas 17 Agustus 1945 Semarang Jl. Pawiyatan Luhur, Bendan Duwur, Telp: 024-8320920 Fax: 024-8310939 Semarang.


Dari Redaksi Pembangunan

IPTEK

diarahkan

agar

pemanfaatan,

pengembangan

dan

penguasaannya dapat mempercepat peningkatan kecerdasan dan kemampuan bangsa, mempercepat proses pembaharuan, meningkatkan kualitas, harkat dan martabat bangsa serta meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pengembangan dan penerapan IPTEK harus didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas melalui pendidikan dan pelatihan, penataan sistim kelembagaan serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai. Majalah Ilmiah “SARGA” merupakan salah satu sarana yang disediakan bagi para sivitas akademika Fakultas Teknik UNTAG Semarang dalam upaya mengembangkan IPTEK, sehingga Kampus sebagai wahana kehidupan masyarakat ilmiah akan selalu tercipta. Majalah Ilmiah ‘SARGA” terbit dengan menanmpilkan karya-karya ilmiah yang diangkat dari berbagai fenomena, sehingga materi yang disajikan pada terbitan kali ini cukup bermanfaat untuk dibaca dan dijadikan referensi. 1.

Ir. Anwar, MT, “Pola Tata Ruang Desa Adat Di Bali.”

2.

Ir. Budi Adi Slamet, “Bentuk “Atap Rumah “ Pada Seni Bangunan Jawa”

3.

Ir Djoko Darmawan, MT; “Eksotika Arsitektur Vernalular Cina Lasem”.

4.

Ir. Eko Nursanty, MT “Memadukan Potensi Kota Dan Sejarah Pada Malaka World Herritage”.

5.

Ir. Sumarwanto. MT. “Penataan Tata Ruang Wilayah Pesisir”.

6.

Ir. Loekman Mohamadi. MSc. ”Proses Perencanaan Desain Taman Kota Dan Ruang Publik”.

7.

Dr. Ir. Priyono Kusumo, MT. “Pengaruh Rejim Aliran Terhadap Model Koefisien Pindah Massa Pada Proses Ekstraksi Cair-cair dalam Kolom Isian”.

8.

Ir. Mega Kasmiyatun, MT, ”Rekayasa Proses Pengering Endless Chain Vacuum (ECV) Sebagai Alternatif Peningkatan Senyawa Polifenol Pada Produksi The Hijau Berkatekin Tinggi”.

9.

Ir. Retno Ambarwati SL, MT.*, Santa Monica**, dan Yanastri Putri**D, ”Pengolahan Limbah Cair Industri Tapioka Menjadi Sumber Energi Alternatif BioEtanol Menggunkana Zeolit Sebagai Molecular Sieve”.

i


Daftar Isi Dari Redaksi ............................................................................................................................................................... i POLA TATA RUANG DESA ADAT DI BALI .......................................................................................... 1 BENTUK “ ATAP RUMAH “ PADA SENI BANGUNAN JAWA ..................................................... 10 EKSOTIKA ARSITEKTUR VERNAKULAR CINA LASEM .............................................................. 18 MEMADUKAN POTENSI KOTA DAN SEJARAH PADA MALAKA WORLD HERRITAGE .. 26 PENATAAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR ............................................................................... 38 PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK ............................. 44 PENGARUH REJIM ALIRAN TERHADAP MODEL KOEFISIEN PINDAH MASSA PADA PROSES EKSTRAKSI CAIR-CAIR DALAM KOLOM ISIAN............................................................. 67 REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI ................................................................................................................................ 81 PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA MENJADI SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIO-ETANOL MENGGUNAKAN ZEOLIT SEBAGAI MOLECULAR SIEVE .. 99

ii


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

POLA TATA RUANG DESA ADAT DI BALI Disampaikan Oleh : Ir. Anwar, MT. ABSTRACT

Sejarah perkembangan peradaban manusia telah membuktikan bahwa sejak jaman dahulu manusia telah menyesuaikan diri terhadap alam lingkungannya , yaitu manusia hidup selaras dengan alam , termasuk didalamnya adalah aspek budaya dan tradisi. Bentuk penyesuaian diri berupa respons manusia yang membentuk perilaku yang kemudian membentuk budaya. Menurut Koentjoroningrat (1989:186) menyatakan bahwa wujud kebudayaan terbagi menjadi 3 yaitu berbentuk gagasan, perilaku dan wujud fisik / artefak. Salah satu artefak berupa kawasan permukiman / desa adat, dengan pola tata ruang yang memiliki konsep / filosofi yang berakar pada keyakinan masyarakatnya, sehingga hubungan manusia dengan alam benar benar telah menyatu . Kondisi demikian masih banyak dijumpai didaerah Bali , berupa kompleks permukiman tradisional yang sudah berdiri beberapa abad yang lalu, namun hingga saat ini masih digunakan untuk kehidupan bagi masyarakatnya dengan tanpa merubah pola maupun tata kehidupannya. Salah satu desa adat tersebut adalah desa bayung Gede yang terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

Latar Belakang Sejarah

atau tidak mau bergabung dengan Majapahit yang pada saat itu menjajah tanah Bali. Sedangkan Bali dataran adalah masyarakat asli bali yang bergabung dengan majapahit pada masa pendudukan Majapahit di Bali saat itu, adat istiadat dan budaya yang ada bercampur dengan kebudayaan

Dalam istilah yang sangat umum, Desa di Bali atas 2 type, yaitu Baliage dan Bali Dataran. Kampung Baliage lokasinya didaerah pegunungan atau perbukitan, sedangkan Bali Dataran berada ditanah datar bagian selatan Bali.

jawa. Desa Bayung Gede merupakan salah satu dari type Baliage. Ciri fisik yang paling menonjol dari Baliage adalah ruang terbuka umum bersifat linear, menuju arah kaja kelod.

Jenis Baliage adalah yang paling tua dan kampung yang paling sedikit jumlahnya dibandingkan dengan kampung Bali Dataran. Baliage adalah masyarakat bali asli yang pada jaman dahulu adalah masyarakat pelarian

POLA TATA RUANG DESA ADAT DI BALI

1


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

Desa Bayung Gede berdiri sejak zaman pra sejarah, Asal mula desa Bayung Gede berasal dari kata Bayu atau Tenaga . Gede atau Besar. Kemudian dapat diartikan dese Bayung Gede yaitu Dengan kekuatan yang besar bisa merombak hutan. Pada mulanya lokasi desa Bayung Gede ini adalah hutan yang lebat. Kemudian orang orang asli dari

mana yang kaya mana yang miskin karena semua masyarakatnya semua besar wilayahnya merupakan hutan yang dimanfaatkan untuk perkebunan oleh sulit untuk membedakan status penduduk yang rata-rata sama. Jumlah pekarangan yang ada di desa ini mencapai 250 pekarangan rumah. Dalam hal kepemilikan tanah, untuk tanah desa di Bayung Gede tidak

pegunungan yang selanjutnya bersama sama menyusun kekuatan untuk merombak hutan menjadi sebuah perkampungan. Penduduk yang mendiami perkampungan ini kemudian sepakat menamai perkampungan ini menjadi sebuah desa yang dinamakan desa Bayung Gede.

boleh diperjualbelikan kecuali tanah milik yang rata-rata letaknya berada diluar desa baru boleh diperjualbelikan karena tanah pekarangan rumah merupakan milik desa. Pola Pekarangan Desa. Pola pemukiman Desa Bayung Gede terpusat pada poros jalan utama desa yang berada di tengah tengah desa, dimana fungsi jalan ini terlihat jelas sebagai pengikat dari lingkumgan desa. Jalan utama ini berpotongan dengan jalan raya menuju gunung Kintamani. Pada kiri kanan jalan utama terdapat loronglorong yang merupakan jalan lingkungan pemukiman yang sedikit melengkung. Pada sisi jalan ini terdapat pintu pintu masuk menuju halaman rumah penduduk. Orientasi utama lingkungan desa ini adalah puri Puseh dan balai desa yang terletak di kanan dan kiri

Desa Bayung Gede terletak sekitar 30 kilo meter dari kota Denpasar. Termasuk dalam kecamatan Kintamani, dan berkabupaten di Bangli. Bayung Gede termasuk salah satu desa dimana kondisi dan adat istiadatnya masih sangat kuat mempertahankan tata nilai tradisionalnya. Desa Bayung Gede merupakan satu komplek perumahan yang berdiri diatas tanah seluas 1034 ha. Pada mulanya desa ini sebagian kemudian setelah dirombak banyak masyarakatnya. Dalam perkembangannya Bayung Gede

POLA TATA RUANG DESA ADAT DI BALI

2


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

jalan utama menuju perkampungan. Dan tempat ini pula yang menjadi pusat lingkungan seperti pada pusat desa. Dibeberapa bagian lain dari desa ini terdapat sarana seperti pada pusat desa namun tidak seramai

pusat desa. Di Balai Desa ini pun terdapat sebuah kantor kelurahan yang menjadi ternpat pelayanan kependudukan baai masyarakat Bayung Gede.

Gambar 1.: Site pembagian daerah Desa Adat Bayung Gede Sumber : Data KKL „07 Kepala desa Bayung Gede mempunyai sebutan Perbekel atau kepala dusun yang mempunyai tugas mengatur desa dengan peraturan adat yang berlaku pada desa tradisional di Bali.

Fungsi dari pusat lingkungan atau Bale Banjar desa Bayung Gede ini adalah : -

Wadah komunikasi masyarakat

POLA TATA RUANG DESA ADAT DI BALI

3

bagi


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

-

Tempat pertemuan penduduk sekitar pendatang

tanah ini adalah tanah perkebunan jeruk, selain itu kuburan merupakan tanah milik Negara o Pembagian lahan di desa Bayung Gede berdasarkan pada Triangga yaitu falsafah agama Hindu tentang tiga tingkatan kehidupan. Sedangkan pembagianya adalah : 1. Swah loka lahan untuk bangunan pura

antara dengan

-

Sebagai pengikat seluruh warga dalam kehidupan sehari-hari maupun keagamaan. - Sebagai tempat untuk melak sanakan upacara adat yang dilaksanakan setiap 6 bulan sekali. Diatas tanah seluas 1024 ha dan berpenduduk kurang lebih 2000 jiwa ini, mempunyai sistem kepemilikan tanah yang dibedakan menjadi 4 bagian yaitu : o Tanah Labe Pure : yaitu tanah yang tidak dikenai pajak oleh pemerintah dan digunakan untuk bangunan Pure. o Tanah Ayuhan Desa : yaitu tanah yang tidak boleh dijual atau dibagi bagi, karena tanah ini diberikan oleh kelurahan kepada warganya yang sudah menikah. o Tanah milik : tanah milik pribadi warga yang boleh dijual, dan kebanyakan tanah ini terletak diluar wilayah desa. o Tanah Negara : adalah tanah milik Negara yang dipakai untuk

2. Bhur loka lahan untuk kuburan 3. Bwah loka lahan untuk massa atau pemukiman Sedangkan pembagian lahan menurut penggunaanya dibedakan menjadi 5 bagian sbb : a. Area untuk pura, b. 2.Area pemerintahan, c. Fasilitas umum, d. Pemukiman penduduk, e. Area pekuburan. Hal unik selain adat istiadat yang masih kental didesa Bayung Gede ini adalah adanya pekuburan ari-ari yaitu suatu kuburan tempat mengubur ari-ari tetapi hal yang istimewa disini adalah bahwa ari – ari tersebut tidak dikubur di tanah melainkan digantung di pepohonan yang sebelumnya ari- ari tersebut diletakan di tempurung kelapa.

penghijauan dan pengelolaanya dilakukan oleh warga. Kebanyakan

POLA TATA RUANG DESA ADAT DI BALI

4


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

- Pura Pasek Gel - gel Digunakan untuk memperingati Catur Wangsit dan dapat digunakan untuk 4 kasta - Pura Penyimpanan Mempunyai ruang penerima yang Iuas dengan bangunan dikiri kanannya. - Pura Panti Kayu Selem

Gambar . 2 Kuburan Ari – ari Sumber : Data KKL „ 04 Tata Letak Bangunan

Dipakai nggung.

untuk

pacara

Usaba

- Pura Ibu Terdapat sebuah pura Ibu yang merupakan pura pribadi sesepuh desa ini.

Penataan tata letak bangunan desa Bayung Gede ternyata tidak sesuai dengan Nawasanga seperti pada konsep rumah adat di Bali. Perletakan bangunan terbagi dalam 5 bagian atau type bangunan yaitu : 1 . Bangunan Pura 2 . Bangunan Bale 3 . Bangunan Perumahan 4 . Bangunan Umum 5. Area Pekuburan 1.BANGUNAN PURA.

- Pura Tangkas Digunakan untuk upacara adat desa mengangkat kedewasaan anak. - Pura Puseh Pingit Digunakan untuk melakukan upacara pingit terhadap penduduk yang sedang menjalani masa pingitan.

- Pura Bale Agung Digunakan untuk memuja nenek moyang yang mendirikan desa tersebut.

- Pura Pelampuan Digunakan untuk upacara adat desa dalam melakukan persembahan bumi atas berkah yang diberikan kepada

- Pura Puseh Digunakan untuk upacara adat yang diadakan setiap 6 bulan sekali . Juga untuk memuja nenek moyang pendiri desa tersebut dan dewa Wisnu. Pura ini lebih ditinggikan dari kontur tanah sekitar dan mempunyai 9 tingkat meru.

masyarakat desa. - Pure Dalem Pura yang rumah.

POLA TATA RUANG DESA ADAT DI BALI

5

ada

ditiap

tiap


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

- Sekolah 2.

BANGUNAN BALE.

Didesa Bayung Gede terdapat dua bangunan sekolahan yaitu SDN Bayung Gede dan SMUN 1 Kintamani. - Kantor Kelurahan Sebuah bangunan dengan model yang sederhana terletak di ujung desa atau

- Bale Desa Berorientasi kemuka dan membentuk atap limasan ini berfungsi sebagai tempat berkumpulnya warga desa bila sedang mengadakan rapat desa. Juga sebagai tempat menerima tamu dari luar desa untuk urusan

pintu masuk desa. Kepala desa atau lurah desa ini adalah I Wayan Polos.Bangunan ini merupakan pusat pemerintahan dan pelayanan terhadap masyarakat dalam pengurusan surat surat atau KTP. - Puskesmas Puskesmas merupakan tempat

pemerintahan. -

Bale Agung Fungsinya hampir sama dengan bale desa namun bale agung ini cenderung untuk kegiatan adat atau keagamaan. Juga sebagai tempat untuk upacara Sasih Nasa atau upacara penghormatan terhadap hasil pananen.

pelayanan kesehatan dari pemerintah bagi masyarakat desa. - Pemandian

3. BANGUNAN PERUMAHAN. Bangunan perumahan terletak memanjang kearah kangin kauh . Sepanjang lorong sempit ini terletak bangunan perumahan penduduk yang tertata berjajar rapi. Namun lorong jalan ini sedikit melengkung sehingga ujung yang satu dengan

Aliran air melalui pancuran yang terletak di belakang desa dan digunakan oleh masyarakat sekitar. Dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu untuk pria dan wanita. Bagi perumahan yang telah memiliki kamar mandi sendiri pemandian merupakan milik pribadi, biasanya bangunan ini

lainya tidak terlihat. Rumah yang satu dengan yang lain saling bertolak belakang menghadap lorong didepanya .Arah selatan desa lebih padat perumahannya. 4. BANGUNAN UMUM.

POLA TATA RUANG DESA ADAT DI BALI

6


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

telah tersentuh oleh modernisasi. - Kantor BPD Bank Pemerintah Daerah terdapat didesa ini sebagai pelayanan perbankkan bagi masyarakat desa. - Toilet umum -

Hanya terdapat satu toilet umum yang letaknya ditengah tengah desa. Sebagai toilet bersama untuk semua warga.

masyarakat Bayung Gede yang meninggal secara wajar dan telah mencapai kedewasaan sampai yang berusia lanjut dan meninggal secara wajar dan keadaan yang sehat. - Setra Anak – anak Area pekuburan ini khusus bagi anak – anak yang meninggal pada saat usianya

5. AREA PEKUBURAN - Setra Pangerancap Yaitu area pekuburan bagi masyarakat desa yang meninggal secara tidak wajar. Seperti bunuh diri, kecelakaan, meninggal karena sakit dan

-

yang baru dilahirkan. Keistimewaan dari pekuburan ini adalah ari - ari ini tidak dikuburkan melainkan di bungkus dengan tempurung kelapa yang selanjutnya digantung pada dahan pohon Bukak. Setra Ari – ari Adalah area pekuburan bagi

kematian kematian penduduk yang bagi masyarakat sekitar adalah belum saatnya. Setra Ari - ari

masih anak anak. Bisa juga diartikan bahwa area pekuburan ini adalah area pekuburan bagi masyarakat Bayung Gede yang belum dewasa.

Adalah area pekuburan yang paling unik ,karena yang dikubur adalah Ari ari bayi

POLA TATA RUANG DESA ADAT DI BALI

7


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

STRUKTUR BANGUNAN.

liat. Sedangkan bangunan yang telah tersentuh modernisasi menggunakan bahan dari batu bata atau papan kayu

Struktur pada umumnya terbagi atas tiga bagian, yaitu kepala ( atap ) , badan ( dinding ), dan kaki (pondasi dan lantai ).

-

1. BANGUNAN PURA. - Atap : Atap untuk bangunan pura dari bahan ijuk atau dari genteng dan daun kelapa yang dianam lalu di keringkan. - Dinding : Sedangkan untuk dinding menggunakan batu bata , namun hanya sedikit. Pemakaian batu bata lebih banyak untuk pagar karena bangunan pura kebanyakan adalah bangunan bukaan yang tidak memakai dinding. - Lantai : Bahan untuk lantai adalah batu alam atau batu kali demikian pula dengan pondasinya.

Kosali dan Aweg - aweg atau aturan setempat. POLA PERUMAHAN 1. SKALA Secara keseluruhan lingkungan pedesaan cenderung memiliki skala lingkungan yang kecil, intim dan menyesuaikan skala tiap-tiap penghuninya. Lorong-lorong yang sempit, kusen pintu yang rendah menegaskan kesan akrab antara manusia dengan tempat tinggalnya.

2. BANGUNAN PERUMAHAN. -

-

Lantai : Sedangkan untuk pondasi menggunakan bahan dari batu kali yang diikat dengan tanah liat. Lantai pada umumnya masih dari tanah, kecuali untuk bangunan bale lantai dari papan kayu. Bagi rumah modern menggunakan tegel atau keramik rumah berdasarkan konsep Kosale

Atap : Untuk atap perumahan memakai bahan dari ijuk dan bambu yang telah dikeringkan ataupun dari daun kelapa yang telah dikeringkan pula. Sementara untuk bangunan yang telah tersentuh modernisasi memakai genteng dan asbes sebagai atapnya.

2. PROPORSI. Antar bangunan yang satu dengan yang lain terdapat kesatuan yang tidak salaing menonjol, demikian pula dengan pemukiman dan bangunan pura. Bale dan bangunan umum terdapat kesatuan yang erat. 3. KESAN TAMPAK.

Dinding : Untuk dinding bagi rumah yang masih kuno menggunakan bahan dari bambu atau tembok dari tanah

POLA TATA RUANG DESA ADAT DI BALI

8


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

Penggunaan bahan bahan alami menunjukan keserasian bangunan dengan alam sekitarnya. Bentuk bentuk POLA PEKARANGAN. 1.PEMBAGIAN HALAMAN. Pembagian halaman dalam satu pekarangan rumah mempunyai nilai sendiri sendiri yaitu : a. Timur laut (pojok) Untuk pamerajan. Sanggah atau sekelompok tempat pemujaan bagi keluarga. b. Timur untuk bale kangin atau tempat persyratan bila ada yang meninggal disimpan terlebih dahulu dibale kangin hingga menunggu datangnya hari baik

bangunan pada umumnya sangat sederhana dengan bentuk dasar segi empat. c. Selatan untuk dapur atau tempat lain seperti gudang peralatan dsb. Dapur juga dipakai untuk upacara adat seperti melahirkan, pernikahan, dan upacara sebelum ngaben. d. Utara untuk bale dafe atau umah meten. Yaitu tempat untuk pemersatuan bila ada upacara adat. e. Barat untuk bale daun atau tempat interaksi sosial seperti menerima tamu tempat istirahat. f. Barat daya untuk bangunan bebas.

untuk upacara pemakaman selanjutnya.

POLA TATA RUANG DESA ADAT DI BALI

9


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

BENTUK “ ATAP RUMAH “ PADA SENI BANGUNAN JAWA Oleh: Ir. Budiadi Slamet ABSTRAKSI

Bentuk rumah dengan puncak yang rata atau datar banyak sekali macamnya. Misalnya : bentuk joglo, bentuk limasan, bentuk kampung, bentuk panggang pe dan lain-lainnya. Bentuk-bentuk atap yang didasarkan pada puncak yang lancip atau puncak yang rata juga menggambarkan dunianya orang Jawa. Disini yakni dunia batiniah dan dunia badaniah yang dilambangkan pada bentuk atap bangunan.Maka dari itu dengan melihat bentuk atap, kita bisa menyebutkan apa guna dari masing-masing bangunan tersebut.

Bentuk bangunan di tanah jawa, bila diteliti, jelas sekali bedanya antara bangunan yang termasuk Agung dan Suci dengan bangunan yang biasa di pakai untuk kebutuhan sehari-hari. Bagi bangunan yang termasuk Agung dan Suci bentuk atapnya mempunyai bentuk yang puncaknya lancip, disebut bentuk atap “ Tajug “. Sedangkan bangunan yang biasa untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya : rumah, gapura beratap, lumbung ( gudang padi ), kandang hewan dan sebagainya. Atapnya mempunyai bentuk puncak yang datar atau rata. Bentuk rumah dengan puncak yang rata atau datar banyak sekali macamnya. Misalnya : bentuk joglo,

Bentuk-bentuk atap yang didasarkan pada puncak yang lancip atau puncak yang rata juga menggambarkan dunianya orang Jawa. Disini yakni dunia batiniah dan dunia badaniah yang dilambangkan pada bentuk atap bangunan.Maka dari itu dengan melihat bentuk atap, kita bisa menyebutkan apa guna dari masingmasing bangunan tersebut.

bentuk limasan, bentuk kampung, bentuk panggang pe dan lain-lainnya.

siapa saja yang telah meninggal,

Bentuk “ T A J U G “. Bangunan dengan bentuk tajug mempunyai sifat yang khusus. Karena bangunan dengan bentuk tajug digunakan untuk bangunan yang kegiatan di dalamnya berhubungan dengan Yang Maha Agung dalam hal ini Tuhan. Atau

BENTUK “ ATAP RUMAH “ PADA SENI BANGUNAN JAWA

10


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

yang dianggap tokoh / pemimpin masyarakat. Oleh karena itu wujud dari bentuk bangunan diusahakan supaya dapat mempunyai sifat yang agung dan suci, demikian pula bahan bangunannya tidak boleh sembarangan. Bentuk atapnya menjulang keatas / seperti kerucut, dan tidak boleh digunakan untuk sembarang bangunan. Dan

juga tata rakitnya / tata letak harus sesuai. Banyak contoh yang bisa di ketengahkan di sini misalnya : bentuk atap dari masjid Demak, masjid Kudus dan masjid-masjid lainnya ataupun langgar. Demikian pula bentuk atap di makam Bung Karno dan Bung Hatta, tempat-tempat pemujaan di Bali. ( lihat gambar. 1. bentuk atap tajug ).

Kalau bentuk tajug di belah menjadi dua sama besar, maka perkembangan bentuknya berubah seperti

gapura yang disebut : “ Candi Bentar “. ( lihat gambar. 2. bentuk candi / gapura bentar ).

Dengan

sendirinya

tetapi dari batu atau dari batu

gapura ini pada umumnya tidak dibangun dari kayu, akan

bata. luar

Mengingat letaknya di dan tidak beratap

BENTUK “ ATAP RUMAH “ PADA SENI BANGUNAN JAWA

11


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

sehingga dicarikan bahan yang tahan cuaca. Di sini candi bentar mewujudkan tanda adanya kompleks bangunan suci yang ada di belakangnya. 

dari bentuk atap tajug yang di belah dua sama besar, dan kemudian diantara ke dua belah diberi bentuk atap lain yaitu bentuk atap rumah kampung yang tidak begitu panjang. ( lihat gambar. 3. bentuk atap joglo ).

Bentuk “ J O G L O “. Bentuk atap joglo merupakan perkembangan

Sedang kemiringan atap rumah kampung harus sama dengan kemiringan atap bentuk tajug yang di belah dua sama besar. Dari gabungan antara bentuk tajug yang di belah dua sama besar dengan

Bentuk joglo ini kedudukannya di bawah bentuk tajug dan masih termasuk bentuk atap yang mempunyai sifat agung. Terbawa dari sifat yang agung itu maka bentuk joglo tidak

bentuk kampung di tengahnya, terbentuklah apa yang dinamakan atap joglo. Bentuk kampung disini adalah bentuk rumah yang kebanyakan dihuni oleh masyarakat ekonomi rendah.

bisa di terapkan pada sembarang bangunan. Oleh karena itu kebanyakan hanya untuk ruangan pendopo atau bangsal agung di keraton.

Bentuk “ L I M A S A N ”.

dari

Bentuk limasan ini merupakan perkembangan

bentuk atap kampung yang terletak diantara bentuk tajug

bentuk

BENTUK “ ATAP RUMAH “ PADA SENI BANGUNAN JAWA

12

joglo,

dimana


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

yang dibelah dua sama besar di perpanjang kurang lebih 3-4 kali dari panjang atap kampung pada bentuk joglo. Dari gabungan antara bentuk tajug yang dibelah dua sama besar dengan bentuk kampung yang puncaknya diperpanjang tadi akan terbentuk bangunan baru yang disebut bentuk bangunan limasan. Bangunan limasan ini tingginya tidak melebihi tinggi atap joglo. Bila melihat dari panjangnya puncak dari bentuk limasan, maka sifatyang suci dan agung

Bentuk atap limasan ini banyak ditemui / di jumpai di rumah-rumah jawa, gunaya untuk atap / ngayomi bagian dalam dari suatu rumah. Misalnya : ruang keluarga, kamar-kamar dan sebagainya. Atau lebih dikenal di masyarakat Jawa dengan istilah : ruang keluarga ( ndalem ), kamar-kamar yaitu : ada sentong kiwa, sentong tengah, sentong tengen. Dilihat dari bentuk, bangunan limasan ini merupakan bangunan yang lebih mahal dari bentuk kampung. Juga bentuk atap

sudah banyak berkurang. Bahkan yang timbul mempunyai sifat yang ayom dan ayem. ( lihat gambar. 4. bentuk atap limasan ).

limasan ini secara tidak langsung dapat dijadikan tanda bahwa yang mempunyai rumah termasuk orang yang mampu / kuat sosial ekonominya.

. 

Bentuk “ K A M P U N G A N “. Yang disebut bentuk atap Kampung yaitu : bentuk

atap seperti yang diletakkan di tenga-tengah belahan dari bentuk atap tajug. ( lihat

BENTUK “ ATAP RUMAH “ PADA SENI BANGUNAN JAWA

13


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

gambar. 5. bentuk atap kampung ). Kegunaan bentuk kampung ini tidak berbeda dengan bentuk limasan, yaitu

untuk kegiatan badaniah. Bentuk kampung ini tidak mempunyai sifat yang agung dan suci seperti bentuk-bentuk sebelumnya.

Bentuk “ P A N G G A N G P E “. Bentuk yang terakhir yaitu : bentuk panggang pe. Dimana bentuknya hanya berujud separo dari bentuk kampung. ( lihat gambar. 6. bentuk atap panggang pe ). Bentuk-bentuk ini waktu dulu tidak biasa dipakai sebagai atap rumah. Karena

bentuk panggang pe ini hanya sebagai atap bangunan yang tidak mempunyai dinding misalnya : gubug di sawah, kandang hewan dan sebagainya. Karena bentuk ini bisa digunakan untuk menambah ruangan atau emperan, maka sekarang banyak rumah mempunyai bentuk panggang pe.

PRALAMBANGNYA “ BENTUK ATAP “.

BENTUK “ ATAP RUMAH “ PADA SENI BANGUNAN JAWA

14


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

Membicarakan masalah lambang bentuk, yang bisa mewujudkan manunggalnya kehidupan rohani dan jasmani atau batiniah dan badaniah yang serba selaras, yaitu bentuk joglo dan limasan. Pada bangunan bentuk joglo, bisa dilihat kalau yang ayomi itu lebih banyak yang bersifat hidup batiniah, tanpa meninggalkan sifat hidup badaniah. Adanya pertemuan, rembug desa, perayaan dan pegelaran-pegelaran yang diadakan di pendopo berbentuk

sebagai Pemimpin yang dapat memberi pengayoman dan ketentraman pada para tamu. Pada bangunan limasan sudah bisa ditebak bahwa di sini hiidup badaniah yang lebih besar pengaruhnya. Adanya sentong ( kamar ) untuk dan juga ndalem atau ruang keluarga yang di gunakan untuk tempat pertemuan keluarga setiap harinya. Semua itu tadi mewujudkan dari perilaku hidup badaniah, walaupun hidup bataniahnya tidak di tinggalkan sama sekali. Hal ini bisa dilihat dari adanya sentong tengah ( kamar tengah ), ysng disebut

joglo, memang sudah sesuai. Karena semua tadi bersifat olah rasa, olah keindahan, dan olah kebudayaan. Rembug desa itu merupakan usaha menciptakan hidup bermasyarakat, walaupun ujud kegiatannya bersifat badaniah, tetapi hasilnya menuju kepada ketentraman batiniah. Selain itu kegiatan badaniah yang diadakan di pendopo,mempunyai : suasana yang agung, suasana yang selaras antara hidup batiniah dan badaniah. Suasana yang demikian memang dikehendaki oleh

juga krobongan yang di anggap di hormati, dimana biasanya tempat meletakkan hasil bumi / hasil pertanian. Bentuk limasan tidak menonjol sekali sifatnya yang suci dan agung, tetapi keselarasan hidup badaniah dan batiniah masih tetap nampak atau terwujud di tempat yang di ayominya. Tidak menonjolnya sifat agung dan suci, karena di sini gerak hidup yang bersifat resmi sudah tidak nampak lagi, hanya ada tata krama / susila antara Ayah, Ibu dan Putra-putranya. Suasana yang intim dan

mempunyai rumah karena disini mereka tidak hanya bertindak sebagai Ayah tetapi juga

akrab di bagian badaniah lebih terasa. Sifat yang ayom dan tenteram itu semua di

BENTUK “ ATAP RUMAH “ PADA SENI BANGUNAN JAWA

15


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

lambangkan dengan puncak atap bangunan yang rata dan lebih panjang dari puncak atap bentuk joglo. Untuk bentuk Kampung dan Panggang Pe, memang tidak banyak yang dapat di ketengahkan di sini. Kecuali pada bentuk Panggang Pe melambangkan hidup badaniah, dalam hal ini bisa kita lihat dan banyak di lingkungan kita. Sedang bentuk kampung mengandung pra lambang hidup badaniah yang bersifat pribadi keluarga. Semua yang dilambangkan di atas tadi

itu di buat. Atau dalam pengertian lain “ Bentuk mengikuti fungsi “. 2. Adanya perkembangan bentuk atap yang bermacam dan mengandung lambang, terjadilah fungsi / guna dari bangunan. 3. Dalam hal membangun rumah para pendahulu kita / leluhur sudah mempunyai pikiran / angan-angan tentang : cipta, rasa, dan keras. 4. Masing-masing bentuk melambangkan :  Tajug Melambangkan hidup

mempunyai tingkatan sendirisendiri, seperti ada bentuk tajug yang paling suci dan agung, bentuk limasan yang lebih melambangkan hidup batiniah dari pada badaniah. Tingkatan ini juga di lambangkan dengan wujud bentuk atap yang di olah dari bentuk poko tadi. ( Tajug, Joglo, Limasan, Kampung, dan Panggang Pe ).

batiniah, bentuknya mengarah ke atas seperti kerucut menuju kepada Sang Pencipta Alam Semesta ( Tuhan Yang Maha Kuasa ).  Joglo Banyak melambangkan kehidupan yang bersifat batiniah tanpa meninggalkan kehidupan yang bersifat badaniah.  Limasan Melambangkan kehidupan badaniah lebih besar pengaruhnya, walaupun hidup batiniahnya tidak

Kesimpulannya : 1. Pada jaman dahulu para leluhur kita sudah mengenal bentuk bangunan dan menciptakan / membuat bentuk atap untuk suatu bangunan. Semua sudah mengandung makna / faedah, untuk apa bangunan

ditinggalkan sama sekali.  Kampung

BENTUK “ ATAP RUMAH “ PADA SENI BANGUNAN JAWA

16


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

Melambangkan hidup badaniah yang bersifat pribadi keluarga.  Panggang Pe Juga melambangkan hidup badaniah. 

Kepustakaan : 1. Arya Ronald, Manusia dan Rumah Jawa 2. Galih Widjil Pangarsa, Merah Putih Arsitektur Nusantara 3. Josef Prijotomo, Arsitektur Jawa 4. Suchianto Aly : Ngawangun Ki Nusantara

BENTUK “ ATAP RUMAH “ PADA SENI BANGUNAN JAWA

17


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

EKSOTIKA ARSITEKTUR VERNAKULAR CINA LASEM Oleh : Ir Djoko Darmawan, MT

Abstrak Daerah pantai Utara Jawa Tengah sejak abad VIII telah berperan sebagai bandar perdagangan internasional, oleh karena itu dengan terbentuknya permukiman Pecinan di daerah pesisir utara pulau Jawa maka terjadi pula akulturasi budaya Cina dengan budaya setempat. Demikian pula dengan perkembangan arsitekturnya, yang pada awalnya arsitektur rumah tinggal masyarakat pesisir utara hanya didominasi dengan arsitektur tradisional Jawa, maka dengan terbentuknya permukiman Pecinan tersebut ternyata juga memberi warna pada arsitektur rumah tinggalnya. Kecamatan Lasem adalah salah satu kota tua di pesisir utara pulau Jawa yang dikunjungi bangsa cina pada awal kedatangannya hal ini dapat diketahui dari sejarah kedatangan maupun sejarah pemberontakan masyarakat cina di mana Lasem merupakan benteng pertahanan terakhir dari masyarakat Cina sebelum ditumpas Kumpeni pada tahun 1743. Ramainya perdagangan di Lasem dengan pelabuhan dagangnya pada jaman Kolonial tidak terlepas dari peran masyarakat Cina yang sudah cukup lama bermukim di Lasem.

 Sebelah barat

Pendahuluan

: Kecamatan

Rembang

Lasem merupakan salah satu kota kecamatan di Kabupaten Rembang

 Sebelah selatan

: Kecamatan Pancur

Jawa Tengah yang terletak antara

 Sebelah timur

: Kecamatan Sluke

kota Rembang dan kota Tuban.

 Sebelah utara

: Laut Jawa

Menurut

Keadaan

adalah

data salah

penelitian satu

memiliki

potensi

selain

Semarang,

Welahan,

Lasem

Kecamatan

yang

Lasem terdiri atas dataran tinggi,

pecinan

dataran rendah dan wilayah pantai.

Rembang,

Di daerah dataran tinggi dengan

kota

wisata

Tegal,

geografi

wilayah

Pekalongan,

hutan

dan

perkebunan,

Kecamatan

dataran rendah digunakan untuk

Lasem terletak di jalur antara kota

persawahan dan tegalan sedangkan

Tuban dan kota Rembang, dengan

wilayah pantai berupa tambak dan

batas-batas sebagai berikut :

kolam.

Cirebon dan Tuban.

EKSOTIKA ARSITEKTUR VERNAKULAR CINA LASEM

18


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

Memasuki kota Lasem kita akan disambut oleh bangunan-bangunan tua yang tersembunyi di balik tembok tinggi. Bentuk atap khas arsitektur Cina

terlihat

diantara

ketinggian

dinding pagar bumi tersebut. Memang secara

historis Lasem merupakan

kota tua yang dikunjungi bangsa Cina pada

awal

kedatangannya

dan

lamanya orang Cina bermukim di Lasem. Jadi tidak heran jika di Lasem masih banyak terdapat bangunan dengan arsitektur tradisional Cina.

Gerbang Rumah Tinggal Tradisinal Cina. Sumber : Data lapangan Keindahan arsitektur vernakular Cina

modern bak gadis desa yang lugu,

terlihat

itulah

pada

desain

atap

yang

ungkapan

untuk

Lasem.

melengkung dengan ujung seperti

Sayang pesona klasik ini sekarang

ekor walet. Keindahan lain adalah

sudah mulai memudar karena adanya

bentuk struktur kayu yang diekspose

peristiwa G30SPKI dan penerapan

serta simbolisasi yang tersirat pada

Inpres no 14 tahun 1967. Pada era

ukiran

reformasi

di

bangunan

ibadahnya.

Presiden

Abdurahman

Cantik, klasik dan sederhana serta

Wahid mencabut Inpres no 14 tahun

terjaga dari coreng moreng make-up

1967, walaupun demikian Le Petit

EKSOTIKA ARSITEKTUR VERNAKULAR CINA LASEM

19


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

Chinois (Cina kecil) ini belum bisa

dibandingkan kelenteng yang ada di

memancarkan

Semarang

dan

sebuah

kelenteng

dahulu kala.

simbol

persahabatan

serta

Bangunan Arsitektur Vernakular Cina

nasionalisme

pesonanya

seperti

dalam

melawan

penjajah Belanda.

Bangunan tradisional Cina yang ada tinggal,

Kelenteng Cu An kiong yang terletak

dan

di jalan Dasun no 19, klenteng ini

makam. Seperti halnya di Semarang,

sudah ada sejak abad 16. Selain

Lasem mempunyai 3 buah kelenteng

kelenteng

yaitu Cu An Kiong, Po An Bio dan Gie

kelenteng ini mempunyai kekayaan

Yong

ukiran

di

Lasem

kelenteng,

Bio

mempunyai

yaitu

rumah

gerbang/Pailous

dimana usia

1

diantaranya lebih

dan

tertua

dinilai

di

Indonesia

terindah

di

Indonesia.

tua

Kelenteng Cu An Kiong. Sumber : Data lapangan Sedangkan kelenteng Po An Bio yang terletak di jalan Karangturi VII/15 Lasem berdiri tahun 1740

(kelenteng tertua Semarang, Sioe Hok Bio th 1753).

Kelenteng Po An Bio. Sumber : Data lapangan EKSOTIKA ARSITEKTUR VERNAKULAR CINA LASEM

20


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

Kelenteng

Gie

Yong

Bio

adalah

Lasem

dan

merupakan

simbol

kelenteng termuda di Lasem yang

persahabatan antara raden Margono,

terletak di jalan Babagan no 7 Lasem

Oey Ing Kiat dan Tan kee Wie yang

yaitu berdiri tahun 1780. Kendati

bahu membahu melawan penjajah

demikian

Belanda.

kelenteng

ini

dibangun

untuk menghormati para pahlawan

Sementara

itu

bangunan

rumah

selain tinggal

Kelenteng Gie Yong Bio. Sumber : Data lapangan Architecture, kelenteng Cina

bahwa

bentuk

dasar

di

rumah tinggal arsitektur Cina dapat

Lasem mempunyai ciri khas yang

dibagi menjadi 5 tipe. Ke 5 tipe itu

berbeda dengan bangunan vernakular

adalah bentuk Box, bentuk I horisontal,

Cina dari asalnya. Menurut Ronald G.

bentuk L, bentuk U terbalik dan bentuk

Knapp pada buku China’s Vernacular

I vertikal.

EKSOTIKA ARSITEKTUR VERNAKULAR CINA LASEM

21


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

Bentuk denah I horisontal Sumber Ronald G. Knapp, 1989

Bentuk denah L Sumber Ronald G. Knapp, 1989

Bentuk denah Box Sumber Ronald G. Knapp, 1989

Bentuk denah I vertikal. Sumber Fletcher Sir, Banister, Knt,1954

Bentuk denah U terbalik Sumber Ronald G. Knapp, 1989 EKSOTIKA ARSITEKTUR VERNAKULAR CINA LASEM

22


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

Dari kelima bentuk tersebut bentuk arsitektur rumah tinggal Cina di

Lasem adalah menyerupai bentuk I vertikal. Akan tetapi diduga adanya

lontong

berbentuk

segitiga

yang

disajikan dengan kuah opor dan potongan ayam kampung, selain itu ada

mangut

khas

lasem,

sayur

merica, kue kedumbeg atau sate serepeh yang pasti akan menggugah selera para penikmatnya. Sementara itu kerajinan batik tulis Lasem juga tidak kalah uniknya, dengan warna yang dominan merah yang konon tidak bisa ditiru di daerah lain batik ini adalah sinkronisasi 2 akulturasi tinggal

budaya

masyarakat

antara

rumah

Cina

dengan

unsur budaya Cina dan Jawa. Oleh karena itu tata cara pengerjaan batik Lasem

masyarakat Jawa pesisiran. Hal ini

Solo

geladak yang tidak ada pada kelima

Maka dari itu pecinan di Indonesia yang

maupun

Witjaksono

tipe rumah arsitektur tradisional Cina.

nilai

lebih

rumit

dibandingkan batik-batik dari Jogja,

terlihat dengan adanya pendopo dan

mempunyai

dianggap

berbeda

pemilik

batik

Sigit Sekar

Kencono

sekaligus

salah

satu

sesepuh

masyarakat

Tiong

Hoa

terobosan

baru

Lasem

dengan China Town di negara lain.

Pekalongan.

membuat

dengan membubuhi kata-kata mutiara dengan aksara Tiong Hoa

yang

Makanan dan Kerajinan Khas Lasem

disambut baik oleh pasar. Kata-kata

Untuk

mempunyai

mutiara yang berarti harapan baik

sajian khas lontong tuyuhan yaitu

seperti yang tertulis pada pintu altar

kuliner,

Lasem

EKSOTIKA ARSITEKTUR VERNAKULAR CINA LASEM

23


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

rumah

tinggal

ataupun

adalah saudara , Negara kuat rakyat

pada

kelenteng yang artinya antara lain Di

tenteram,

empat

rejeki seluas samudra dan lain lain.

penjuru

samudra,

semua

Nama

setinggi

gunung

Membatik. Sumber : Data lapangan

Penduduk

kepercayaan pokok yang tidak lepas

Masyarakat

Cina

kebanyakan pusat

di

bermukim

di

Lasem

dari

daerah

Konfusianisme,

pemerintahan

perdagangan

seperti

Cina

sendiri

Taoisme

yaitu dan

Budhisme. Ketiga ajaran ini saling

dan di

filsafat

berkaitan erat dan sulit dipisahkan.

desa

Gedungmulyo, Dasun, Dorokandang,

Upaya Pemerintah Setempat

Sodetan, Karangturi dan Ngemplak.

Dalam upaya mencegah perubahan

Dalam

di

fisik bangunan karena perubahan

Kecamatan Lasem terdapat penganut

fungsi, salah satu usahanya dengan

agama resmi yang berbeda-beda,

memberikan

yaitu Islam, Kristen Protestan, Kristen

konservasi bangunan kuno. Langkah

Katolik, Hindu dan Budha. Disamping

ini

itu

penganut

masyarakat

kepercayaan terhadap Tuhan Yang

pemerintah

Maha Esa atau Tri Dharma.

Rembang

Untuk

kehidupan

juga

beragama,

terdapat

masyarakat

Cina

selain

pengertian

dapat

tentang

disosialisasikan Lasem

atau

pada khususnya

pada instansi

Kabupaten Kecamatan

Lasem.

beragama Protestan maupun Katolik

Dengan adanya otonomi daerah dan

mereka beragama Budha dan aliran

digalakkannya sektor wisata sebagai

kepercayaan “Sam Kouw� yang lebih

PAD (Pendapatan Asli Daerah), maka

dikenal dengan nama Tri Dharma.

kota

Pada masyarakat Cina ini ada tiga

pariwisata yang cukup unik yaitu

Lasem

EKSOTIKA ARSITEKTUR VERNAKULAR CINA LASEM

24

mempunyai

potensi


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

wisata religi atau wisata arsitektur.

Amen

Budiman

1978,

Semarang

Selain itu kawasan ini bisa dijadikan

Riwayatmu Dulu, Semarang,

tempat

Tunjungsari.

studi

penelitian

tentang

sejarah, arsitektur dan budaya. .

Bukkyo Dendo Kyokai, 1984, Ajaran Sang Budha, dicetak Kosaido

Yang menjadi pertanyaan bagaimana

Printing Co. Ltd. Tokyo, Japan.

sikap dan langkah apa yang telah Eko

diambil Pemerintah Daerah setempat

Budihardjo,1997,

Arsitektur

dan Dinas Pariwisata Jawa Tengah

Sebagai

Warisan

Budaya,

mengenai potensi wisata pecinan di

Penerbit Djambatan, Jakarta. Fletcher Sir, Banister, Knt,1954, A

Lasem tersebut? Kendala apa saja yang menyebabkan wisata di Lasem

History

belum bisa maju? Apakah mungkin

London, B.T. Batsford LTD

kelompok

masyarakat

Tiong

of

Fung Yu Lan, 1990 Sejarah Ringkas

Hoa

yang telah berhasil dapat sebagai

Filsafat

media untuk mempublikasikan potensi

Yogyakarta Liem

dan prospek wisata pecinan yang eksotis

ini

kekalangan

Architecture,

Thian

Cina,

joe,

1933,

Liberty,

Riwayat

Semarang, Boekhandel Ho Kim

investor?

yoe.

Semoga Siao Chung Kuo (tiongkok kecil) di Jawa Tengah ini dapat

Penjelasan UURI No.4 Th 1992 .

kembali bersinar seperti dahulu kala.

Ronald G. Knapp, 1989, China’s Vernacular

Daftar Pustaka

Architecture,

University Of Hawaii Press. UURI

No

4

Th

1992

tentang

Perumahan dan Pemukiman.

EKSOTIKA ARSITEKTUR VERNAKULAR CINA LASEM

25


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

MEMADUKAN POTENSI KOTA DAN SEJARAH PADA MALAKA WORLD HERRITAGE Oleh : Ir. Eko Nursanty, MT

Abstrak : World Herritage City adalah sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO dimana dia berupa tempat (seperti hutan, gunung, danau, gurun, monumen , bangunan , kompleks, atau kota ) yang terdaftar oleh PBB United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) khusus budaya atau fisik penting. Daftar ini dikelola oleh Program Warisan Dunia internasional yang dikelola oleh UNESCO Komite Warisan Dunia , terdiri dari 21 negara yang dipilih oleh Majelis Umum untuk jangka waktu empat- tahun an.

Program katalog, nama, dan melestarikan situs budaya atau alam penting bagi warisan kemanusiaan milik bersama. Dalam kondisi tertentu, situs yang terdaftar dapat memperoleh dana dari Dana Warisan Dunia. Program ini didirikan oleh Convention Concerning the Protection of World Cultural and Natural Heritage, yang diadopsi oleh

Konferensi Umum UNESCO pada 16 November 1972. Sejak itu, pihak 186 negara telah meratifikasi konvensi tersebut. Pada tahun 2010 , 911 situs terdaftar budaya, 180 alami, dan 27 campuran, properti di 151 negara. Italia adalah negara dengan jumlah terbesar dari Situs Warisan Dunia dengan 45 situs tertera pada daftar.

Gambar 1: Tabel tentang rincian situs world herritage Setiap Situs Warisan Dunia adalah milik negara di situs yang wilayahnya

berada, dalam

tetapi dipertimbangkan kepentingan masyarakat

MEMADUKAN POTENSI KOTA DAN SEJARAH PADA MALAKA WORLD HERRITAGE

26


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

internasional setiap situs.

untuk

melestarikan

Kriteria Seleksi World Herritage Sampai akhir tahun 2004, ada enam kriteria untuk warisan budaya dan empat kriteria untuk warisan alam. Pada tahun 2005, ini dimodifikasi

vi.

sehingga hanya ada satu set kriteria sepuluh. Kriteria Budaya i. Merupakan karya jenius kreatif manusia. ii. Menunjukkan suatu pertukaran penting dari nilainilai kemanusiaan, selama rentang waktu, atau dalam wilayah budaya di dunia, pada perkembangan arsitektur atau teknologi, seni monumental, kota-perencanaan, atau desain lansekap. iii. Detemukan kesaksian unik atau luar biasa untuk sebuah tradisi budaya atau peradaban yang hidup atau yang telah iv.

v.

penggunaan lahan, atau laut digunakan yang mewakili budaya, atau interaksi manusia dengan lingkungan terutama ketika telah menjadi rentan dengan dampak perubahan ireversibel. Secara langsung atau secara nyata dikaitkan dengan peristiwa atau tradisi yang hidup, dengan ide-ide, atau dengan keyakinan, dengan karya-karya artistik dan sastra signifikansi universal yang beredar.

Gambar 2: Kuliah Kerja Lapangan Prodi Arsitektur UNTAG Semarang, 2009.

Kriteria Alam vii. Berisi fenomena alam superlatif atau daerah yang keindahan alam yang luar biasa dan pentingnya estetika. viii. Merupakan contoh yang sangat mewakili tahapan utama dari sejarah bumi, termasuk catatan kehidupan, signifikan pada

hilang. Adalah sebuah contoh luar biasa dari tipe bangunan ensemble, arsitektur, atau teknologi atau lanskap yang menggambarkan suatu tahap penting dalam sejarah manusia. Adalah sebuah contoh luar biasa dari sebuah pemukiman manusia tradisional,

MEMADUKAN POTENSI KOTA DAN SEJARAH PADA MALAKA WORLD HERRITAGE

27


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

ix.

proses geologi berlangsung dalam pengembangan bentuklahan, atau fitur geomorfik atau fisiografi signifikan. Merupakan contoh yang sangat mewakili signifikan berlangsung proses ekologi dan biologi dalam evolusi dan pengembangan darat, air tawar, ekosistem pesisir

x.

dan laut, dan komunitas tumbuhan dan hewan. Berisi habitat alam yang paling penting dan signifikan untuk konservasi situs dari keanekaragaman hayati, termasuk spesies-spesies terancam yang mengandung nilai universal yang luar biasa dari sudut pandang ilmu pengetahuan atau konservasi.

Gambar 3 : Daftar Negara yang memiliki lebih dari 10 World Herritage Site

MEMADUKAN POTENSI KOTA DAN SEJARAH PADA MALAKA WORLD HERRITAGE

28


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

Gambar 4 : Penyebaran World herritage Site.

Arsitektur Pariwisata Kebanyakan orang pergi ke sebuah

Jadi,

semata-mata

liburan atau tujuan wisata dalam upaya

studi

suasana baru, mungkin belanja dan

monumen

dan

negara

yang

menakjubkan.

memberikan

Hal

kesempatan

melihat

sejarah

dan

pada

gaya

berbeda

Arsitektur

pariwisata

mempromosikan

bentuk

pariwisata dalam bentuk arsitektur

penting dan bersejarah atau secara visual

untuk

sangat diminati saat ini dan banyak

beberapa

bangunan

yang

arsitektur.

Umumya wisatawan melihat -melihat ke

dilakukan

arsitektur , hal itu disebut wisata

umumnya memiliki waktu yang baik.

pergi

berlibur

monumen-monumen

mencari relaksasi, melihat

termasuk

ketika

khasnya.

ini untuk

melihat dan meneliti bangunan dan karya arsitektur lebih dekat dan memiliki melihat

kesempatan

lebih

baik

bangunan-bangunan

yang

tadinya hanya menatap di majalah dan televisi. Budaya dan sejarah Gambar 5: penunjuk spot arsitektur pariwisata.

suatu tempat yang dikunjungi dapat ditelusuri melalui jenis arsitekturnya.

MEMADUKAN POTENSI KOTA DAN SEJARAH PADA MALAKA WORLD HERRITAGE

29


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

Spot Arsitektur Pariwisata

seperti pergi untuk arsitektur ini pada

Pariwisata merupakan salah satu

perjalanan wisata yang mencakup

sektor yang paling cepat berkembang

monumen bersejarah dan bangunan.

dan arsitektur pariwisata telah benar-

Arsitektur memainkan peran penting

benar hadir dalam beberapa tahun

dalam menarik wisatawan ke lokasi

terakhir.

perjalanan tertentu.

Wisatawan

yang

ingin

mendapatkan nuansa budaya kota,

Malacca city

Meskipun lokasi dari salah satu kesultanan Melayu yang paling awal, monarki dihapuskan ketika Portugis menaklukkan nya pada tahun 1511.

Sejarah Malacca Sebelum Gambar 6 : Peta kota Malaka

pertama,

kedatangan Malaka

Sultan

adalah

sebuah

Malaka ( Melayu : Melaka, dijuluki

desa nelayan sederhana yang dihuni

Negara

Negeri

oleh Melayu lokal. Malaka didirikan

Bersejarah di kalangan penduduk

oleh Parameswara , Raja terakhir

setempat)

bagian

dari Singapura (Singapura hari ini)

terkecil ketiga negara Malaysia ,

setelah Majapahit serangan di 1377.

setelah Perlis dan Penang. Terletak

Ia menemukan jalan ke Malaka c.

di wilayah selatan dari Semenanjung

1400 di mana ia menemukan sebuah

Melayu , di Selat Malaka, berbatasan

pelabuhan yang baik diakses di

dengan Negeri Sembilan di utara dan

semua

negara

selatan.

tersempit terletak strategis dari Selat

Malaka.

Malaka.

Historis

adalah

bagian

Ibukotanya Pusat

kota

adalah

atau

negara

Johor Kota

bersejarah

ini

musim

dan

Karena

pada

lokasinya

titik

yang

strategis, Malaka adalah titik berhenti

telah

terdaftar sebagai UNESCO Situs

penting

bagi

Zheng

He.

Untuk

Warisan Dunia sejak 7 Juli 2008.

meningkatkan hubungan, Hang Li Po , diduga seorang putri dari Ming

MEMADUKAN POTENSI KOTA DAN SEJARAH PADA MALAKA WORLD HERRITAGE

30


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

Kaisar Cina, tiba di Malaka, disertai

petugas

dengan 500 petugas, untuk menikah

setempat

Sultan

besar di Bukit Cina ( Bukit Cina ).

Manshur

Shah

yang

nya

menikah

dan menetap

memerintah dari 1456 sampai 1477.

Gambar 2 : Peta Kota Malaka th. 1630

Gambar 3 : Malaka pada tahun 1726

Gambar 4 : Sungai Malaka kondisi saat ini. MEMADUKAN POTENSI KOTA DAN SEJARAH PADA MALAKA WORLD HERRITAGE

31

penduduk sebagian


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

Gambar 5 : Peta Arsitektur Pariwisata di Malacca

MEMADUKAN POTENSI KOTA DAN SEJARAH PADA MALAKA WORLD HERRITAGE

32


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

Arsitektur Pariwisata di Malacca Fort A Famosa : Dibuat oleh

Rencana

Portugis

itu

sebagai akibat dari intervensi dari

struktural

Sir Stamford Raffles pada tahun

pada

mengalami

tahun

1511,

kerusakan

oleh

Inggris

menghancurkannya

yang parah selama invasi Belanda.

untuk

dibatalkan

1808.

Gambar 6 : Fort of Famousa

St. John's Fort: direkonstruksi oleh

pada waktu itu, ancaman terhadap

Belanda pada kuartal ketiga abad

Malaka terutama dari pedalaman

ke-18, meriam di benteng ke dalam

laut.

menunjuk ke arah daratan karena

Gambar 7 : St John’s Fort

St. Paul's Church: Dibangun pada

barat arsitektur. St Paul's Church :

tahun 1710 di bawah pemerintahan

Dibuat oleh Portugis kapten , Duarte

Belanda,

Gereja

Coelho, gereja ini dinamakan "Our

Katolik di Malaysia. Fasad dan

Lady of The Hill", tetapi kemudian

hiasan

merupakan

berubah menjadi tanah kuburan

campuran dari kedua timur dan

oleh Belanda untuk mati mulia

gereja

dekoratif

tertua

MEMADUKAN POTENSI KOTA DAN SEJARAH PADA MALAKA WORLD HERRITAGE

33


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

mereka, dan berganti nama menjadi

Francis Xavier dikebumikan di sini

"Gereja St Paulus". Saat ini gereja

untuk sementara sebelum dibawa

adalah

ke Goa, India.

bagian

Malaccan

dari

Complex.

Museum Tubuh

St

Gambar 8 : St. Paul Church

Christ Church : Dibangun pada

,

1753,

mencerminkan

Alkitab , sebuah batu nisan yang

arsitektur Belanda asli. Bangunan

ditulis dalam bahasa Armenia , dan

rumah

replika dari " The Last Supper ".

struktur

kerajinan

tangan-bangku

sebuah

tembaga

replika

dari

gereja, langit-langit jointless skylight

Gambar 9 : Christ Church

Gereja Fransiskus Xaverius : ini

Fabre, pada tahun 1849, untuk

Gothic

gereja

oleh

memperingati

seorang

Perancis

Rev

yang juga dikenal sebagai "Rasul

dibangun imam

,

St

Francis

MEMADUKAN POTENSI KOTA DAN SEJARAH PADA MALAKA WORLD HERRITAGE

34

Xavier


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

dari

Timur".

St

dipersiapkan

Francis

untuk

Xavier

Katoliknya dan bekerja di Asia

misionaris

Tenggara

selama

abad

ke-16.

Gambar 10 : Gereja Fransiskus Xaverius

Stadthuys : Dibangun tahun 1650

dan Etnografi ". Museum pameran

sebagai

Gubernur

pernikahan tradisional pakaian dan

struktur

artefak Melaka, datang kembali ke

Belanda

kediaman dan

wakilnya,

mencerminkan arsitektur Belanda.

masa kejayaannya.

Sekarang adalah "Museum Sejarah

Gambar 11 : Foto Stadhuyst

inti dari Malaka Situs Warisan Dunia Cheng

Hoon

Teng

UNESCO.

Temple:

Ini

adalah

candi

berfungsi tertua di Malaysia dan

Terletak di sepanjang Jalan Tokong (sebelumnya Temple Street) di zona

MEMADUKAN POTENSI KOTA DAN SEJARAH PADA MALAKA WORLD HERRITAGE

35


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

candi

termegah

di

Malaka.

Gambar 12 : Cheng Hoon Teng Temple

Jonker Street (Jalan Hang Jebat): Jalan ini terkenal karena barangbarang antik . Hal ini juga terkenal dengan atmosfer karnaval seperti saat malam akhir pekan.

Gambar 13 : Jonker Street Night Market

MEMADUKAN POTENSI KOTA DAN SEJARAH PADA MALAKA WORLD HERRITAGE

36


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

Portugis Square : Terletak di dalam

adalah puncak dari budaya Portugis

Penyelesaian

dalam kemegahan penuh dan warna.

Portugis,

alun-alun

Gambar 14: Purtugis Square

Tranquerah Masjid : Masjid tertua di Malaka.

Gambar 15 : Tranquerah Masjid - Malaka

Daftar Pustaka World Heritage List, UNESCO World

De Witt, Dennis (2007). History of the

Heritage Sites official sites.

Dutch in Malaysia. Malaysia: Nutmeg

De Witt, Dennis (2010). Melaka from the

Publishing. ISBN 9789834351908.

Top. Malaysia: Nutmeg Publishing.

"Popular History of Thailand" by M.L.

ISBN 9789834351922.

Manich

Jumsai,

C.B.E.,

MEMADUKAN POTENSI KOTA DAN SEJARAH PADA MALAKA WORLD HERRITAGE

37

M.A


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

PENATAAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR Ir. Sumarwanto. MT.

ABSTRAK Tidak beda dengan wilayah daratan, wilayah pesisir pun juga mempunyai berbagai masalah seperti memiliki karakteristik open acces, multi use, dan rentan terhadap kerusakan serta perusakan dimana pengelolaanya mensyaratkan perlunya landasan keterpaduan. Sebagai salah satu unsur pembentuk ruang wilayah, keterpaduan pengelolaan wilayah pesisir tersebut dapat diselenggarakan dengan memanfaatkan instrument penataan ruang, baik pada tingkat Nasional, Propinsi, Kabupaten maupun Kota. Adapun tata ruang di wilayah pesisir dimaksudkan untuk memanfaatkan ruang secara harmonis dan optimal dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mensejahterakan rakyat dan melindungi ekosistem laut dan pesisir.

I. PENDAHULUAN 1. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, yang memiliki ± 18.110 pulau dengan garis pantai sepanjang 108.000 km. Berdasarkan Konvensi Hukum Laut (UNCLOS) 1982, Indonesia memiliki kedaulatan atas wilayah perairan seluas 3,2 juta km² yang terdiri dari perairan kepulauan seluas 2,9 Juta km² dan laut territorial seluas 0,3 juta km². Selain itu Indonesia juga mempunyai

strategis dengan berbagai keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya sehingga berpotensi menjadi primer mover pengembangan wilayah nasional. Bahkan secara historis menunjukan bahwa wilayah pesisir ini telah berfungsi sebagai pusat kegiatan masyarakat karena berbagai keunggulan fisik dan geografis yang dimilikinya. 3. Untuk mengoptimalkan nilai manfaat sumber daya pesisir bagi pengembangan wilayah secara

hak eksklusif untuk memanfaatkan sumber daya kelautan dan berbagai kepentingan terkait seluas 2,7 km² pada perairan ZEE (sampai dengan 200 mil dari garis pangkal). 2. Sebagai Negara kepulauan, wilayah pesisir merupakan kawasan

berkelanjutan dan menjamin kepentingan umum secara luas (public interest), yang diperlukan intervensi kebijakan dan penanganan khusus oleh pemerintah untuk pengelolaan wilayah pesisir. Hal ini seiring

PENATAAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR

38


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

dengan agenda Kabinet Gotong Royong untuk menormalisasi kehidupan ekonomi dan memperkuat dasar bagi kehidupan perekonomian rakyat melalui upaya pembangunan yang didasarkan atas sumber daya setempat (resourcebased development), dimana

sebagai wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang saling berinteraksi, dimana ke arah laut 12 mil dari garis pantai menjadi kewenangan provinsi dan sepertiga dari wilayah laut itu untuk kabupaten/kota dan ke arah darat batas administrasi kabupaten/kota. 2. Sebagai wilayah yang merupakan interface antara kawasan laut dan

antara proses-proses yang terjadi di daratan dan di lautan. Ke arah darat, wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan perembesan air asin; sedangkan ke arah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran. 3. Definisi wilayah pesisir seperti di atas memberikan suatu pemahaman bahwa ekosistem pesisir merupakan ekosistem yang dinamis dan mempunyai kekayaan habitat yang beragam, di darat maupun di laut serta saling berinteraksi antara habitat tersebut. Selain mempunyai potensi yang besar, wilayah pesisir juga merupakan ekosistem yang paling mudah terkena dampak kegiatan manusia.

darat yang saling mempengaruhi dan dipengaruhi satu sama lainnua, baik secara biogeofisik maupun sosial ekonomi, wilayah pesisir mempunyai kharakteristik yang khusus sebagai akibat interaksi

4. UU 24/1992 tentang Penataan Ruang menyebutkan bahwa ruang dipahami sebagai suatu wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan dan ruang udar sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia

sumberdaya pesisir dan lautan saat ini didorong pemanfaatannya, sebagai salah satu andalan bagi pemulihan perekonomian nasional, disamping sumberdaya alam darat. II. PENGERTIAN : Wilayah Pesisir dan Penataan Ruang 1. Secara sederhana, wilayah pesisir (coastal zone) dapat dipahami

PENATAAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR

39


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

dan mahluk hidup lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. Dalam konteks ini, wilayah pesisir dapat dipandang sebagai salah satu unsur pembentuk ruang wilayah. III. ISSUE dan pemasalahan pengelolaan wilayah pesisir 1. Potensi konflik kepentingan (conflict of interest) dan tumpang tindih antar sektor dan stakeholders lainnya dalam pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir. Kondisi ini muncul sebagai konsekuensi beragamnya seumber daya pesisir yang ada serta karakteristik wilayah pesisir yang “open acces” sehingga mendorong wilayah pesisir telah menjadi salah satu lokasi utama bagi kegiatankegiatan beberapa sector pembangunan (multi-use). Dalam hal ini, konflik kepentingan tidak hanya terjadi antar “users”, yakni sektoral dalam pemerintahan dan juga masyarakat setempat dan pihak swasta, namun juga antar penggunaan antara lain (i) perikanan budidaya maupun tangkapan (ii) pariwisata bahari dan pantai (iii) industry maritime seperti perkapalan (iv) pertambangan , sperti minyak, gas, timah dan galian lainnya; (v)

perhubungan laut dan alur pelayaran dan yang paling utama adalah (vi) kegiatan konservasi laut dan pesisir seperti mangrove, terumbu karang dan biota laut lainnya. 2. Selain itu, terdapat pula potensi konflik kewenangan (jurisdictional conflict) dalam pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir. Kondisi ini muncul sebagi konsekuensi tidak berhimpitnya pembagian kewenangan yang terbagi menurut administrasi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dengan kepentingan wilayah pesisir tersebut yang seringkali lintas wilayah otonom. 3. Sebagai “interface” antara ekosistem darat dan laut, wilayah pesisir (coastal areas) memiliki keterkaitan antara lahan atas (daratan) dan laut. Dengan keterkaitan kawasan tersebut, maka pengelolaan kawasan di pesisir, laut dan pulau-pulau kecil tidak terlepas dari pengelolaan lingkungan yang dilakukan di kedua wilayah tersbut. Berbagai dampak lingkungan yang terjadi pada wilayah pesisir merupakan akibat dari dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan pembangunan yang dilaksanakan di daratan, seperti pertanian,

PENATAAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR

40


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

perkebunan, kehutanan, industri, permukiman dan sebagainya. 4. Lemahnya kerangka hukum dalam hal pengaturan sumber daya pesisir serta perangkat hukum untuk penegakannya menyebabkan masih banyaknya pemanfaatan sumberdaya ini yang tidak terkendali. Juga tidak adanya kekuatan hukum dan pengakuan terhadap system-sistem tradisional serta wilayah laut dalam pengelolaan sumber daya pesisir. Dalam konteks ini, RTRW dalam berbagai tingkatan yang telah memiliki aspek legal berikut aturanaturan pelaksanaannya seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai “guidance” dalam pengelolaan wilayah pesisir. 5. Kenaikan muka air laut (sea level rise) sebagai akibat fenomena “global warming” memberikan dampak yang serius terhadap wilayah pesisir yang perlu diantisipasi penanganannya. Secara umum kenaikan muka air laut akan mengakibatkan dampak sebagai berikut : (a) meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir, (b) perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan mangrove, (c) meluasnya intrusi air laut, (d) ancaman terhadap kegiatan sosial-ekonomi masyarakat pesisir,

dan (e) berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulai kecil. 6. Tingkat kerusakan biofisik lingkungan wilayah pesisir sangat mengkhawatirkan. Adapun faktorfaktor yang turut mempengaruhi kerusakan biofisik wilayah pesisir adalah : 

Overeksploitasi sumberdaya hayati laut akibat pengankapan ikan yang melampaui potensi (overfishing), pencemaran dan degradasi fisik hutan mangrove dan terumbu karang sebagai sumber makanan biota laut tropis.

Pencemaran akibat kegiatan industry, rumah tangga dan pertanian di darat (land-based pollution sources) maupun akibat kegiatan dilaut (marinebased pollution sources) termasuk perhubungan laut dan kapal pengangkut minyak dan kegiatan pertambangan dan energy lepas pantai.

Bencana alam seperti tsunami, banjir erosi dan badai.

Konflik pemanfaatan ruang seperti antara pertanian dan kegiatan di daerah hulu lainnya, aquakultur, perikanan laut, permukiman. Konflik pemanfaatan ruang disebabkan

PENATAAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR

41


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

terutama karena tidak adanya aturan yang jelas tentang penataan ruang dan alokasi sumberdaya yang terdapat di kawasan pesisir dan lautan. 

Pada dasarnya kebijakan tersebut ditempuh untuk memenuhi tujuantujuan sebagai berikut : 

Kemiskinan masyarakat pesisir yang turut memperberat tekanan terhadap pemanfaatan sumberdaya pesisir yang tidak terkendali.

Salah satunya disebabkan oleh tidak adanya konsep pembangunan masyarakat pesisir sebagai subyek dalam pemanfaatan sumberdaya pesisir. 7. Walaupun telah menjadi common interest, proses pelibatan masyarakat sebagai subyek utama dalam pengelolaan wilayah pesisir masih belum menemukan bentuk terbaiknya. Persepsi yang berbeda mengenai hak dan kewajiban dari masyarakat seringkali menghadirkan konflik antar kepentingan yang sulit dicarikan solusinya, serta dilakukan dengan memperhatikan karakteristik sosial-budaya setempat (local unique). IV. Kebijakan Penataan Ruang Wilayah Pesisir

Mewujudkan pembangunan berkelanjutan pada kawasaan pesisir, termasuk kota-kota pantai dengan segenap penghuni dan kelengkapannya (prasarana dan sarana) sehingga fungsi-fungsi kawasan dan kota sebagai sumber pangan (source of nourishment) dapat tetap berlangsung.

Mengurangi (vulnerability)

pesisir dan para pemukimnya (inhabitans) dari ancaman kenaikan muka air laut, banjir, abrasi, dan ancaman alam (natural hazards) lainnya. 

Mempertahankan berlangsungnya proses ekologis esensial sebagai system pendukung kehidupan dan keanekaragaman hayati pada wilayah pesisir agar tetap lestari yang dicapai melalui keterpaduan pengelolaan sumber daya alam dari hulu hingga ke hilir (integrated coastal zone management).

PENATAAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR

42

kerentanan dari kawasan


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

Adapun sebagai landasan dari kebijakan penataan ruang wilayah pesisir tersebut adalah hasil Rakernas Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BKTRN) di Surabaya, 13-14 Juli 2003, ditegaskan pula bahwa penataan ruang wilayah pesisir merupakan mikro-operasional.

satu kesatuan ruang yang terintegrasi dalam RTRWN, RTRWP dan RTRW Kabupaten/Kota. Dengan demikian pengelolaan wilayah pesisir dapat menggunakan instrument rencana tata ruang yang ada, baik dalam skala makro-strategis maupun Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil ditinjau dari Kenaikan Muka Air Laut dan Banjir, Jakarta 30-31 Oktober 2002. Biodata Penulis Ir. Sumarwanto, MT, lahir di Semarang tanggal 20 Februari 1952. Pendidikan yang diselesaikannya adalah S.1 di Universitas Diponegoro Semarang, dan S.2 di Universitas Diponegoro Semarang bidang Studi Urban Design. Bekerja sebagi dosen di Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 Semarang, dengan jabatan akademik Lektor, mengajar pada mata kuliah Perancangan Arsitektur, Tata Ruang Luar dan Kota dan Permukiman.

DAFTAR PUSTAKA  BKTRN, Proceeding Seminar Nasional : Pengaruh Global Warming terhadap Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil ditinjau dari kenaikan permukaan air laut dan banjir, Jakarta, 30-31 Oktober 2002.  Dokumen Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional (BKTRN) tentang Rumusan Pokok-Pokok Hasil RAKERNAS-BKTRN, Surabaya, 14 Juli 2003.  Dirjen Penataan Ruang – Depkimpraswil, Antisipasi Dampak Pemanasan Global dari Aspek Teknis Penataan Ruang, Makalah pada Seminar Nasional tentang Pengaruh Global Warming, terhadap

PENATAAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR

43


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK Oleh: Ir. Loekman Mohamadi. MSc.

ABSTRAKSI Gambaran umum pentingnya keberadaan Ruang Terbuka Hijau dan Hutan/ Taman Kota bagi perkembangan wilayah perkotaan. Tahapan berikutnya adalah untuk mengetahui pentingnya keberadaan Ruang Terbuka Hijau dan Hutan/ Taman Kota di Kota yang bersangkutan. Analisa yang dilakukan adalah dengan mengkaji perkembangan kota yang bersangkutan yang terjadi saat ini terutama dampak yang ditimbulkan terkait dengan penurunan kualitas lingkungan. Dari tahapan ini dilakukan juga kajian mengenai keberadaan ruang hijau kota saat ini dan arahan kebijakan Tata Ruang terhadap ruang terbuka hijau dikota yang bersangkutan.

ditinjau 1. Pola Pikir

pula

Kebijakan

perundangan lain yang terkait

Proses perencanaan desain Hutan/ Taman Kota dan Ruang Publik ini dilakukan melalui suatu kajian ilmiah, dan dilakukan secara bertahap. Tahap awal dari rangkaian

dengan

kegiatan tersebut adalah mengkaji

gambaran

wilayah pengamatan berdasarkan

keberadaan Ruang Terbuka Hijau

data yang terkumpul. Wilayah

dan Hutan/ Taman Kota bagi

pengamatan

dikaitkan

perkembangan wilayah perkotaan.

dengan kebijakan Tata Ruang

Tahapan berikutnya adalah untuk

yang

mengetahui

ada

tersebut

(RTRW,

RTRKP)

yang

arahan

spatial

terhadap

diantaranya Terbuka

Taman

kebijakan

Hijau

dan

Kota Ruang

kebijakan

Hutan/ Taman Kota. Dari tahapan ini dapat dihasilkan

RTRHK,

umum

pentingnya

pentingnya

arahan

keberadaan Ruang Terbuka Hijau

(keruangan)

dan Hutan/ Taman Kota di Kota

wilayah

yang bersangkutan. Analisa yang

berisi

kondisi

Hutan/

dilakukan

pengamatan. Pada tahapan ini

adalah

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

44

dengan


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

mengkaji

perkembangan

kota

Dari tahapan ini dilakukan juga

yang bersangkutan yang terjadi

kajian

saat ini terutama dampak yang

ruang hijau kota saat ini dan

ditimbulkan

arahan

terkait

penurunan terhadap

dengan

keberadaan

kebijakan Tata

Ruang

kualitas lingkungan. ruang

terbuka

hijau

pembangunannya.

dikota yang bersangkutan. Dari

mengenai

kajian

Untuk

mencapai rumusan fungsi dan

tersebut

dapat

jenis hutan kota serta program

diidentifikasi

beberapa

lokasi

dan pengelolaan Hutan/ Taman

yang

dijadikan

Hutan/

Kota yang berkelanjutan, lokasi

dapat

Taman Kota. Sesuai kriteria yang

tersebut

ada di PP 63 tahun 2002 tentang

analisa SWOT.

Hutan Kota, kemudian dilakukan

Untuk lebih jelasnya Alur Pikir

kajian

penyusunan Studi Pembangunan

sehingga

didapatkan

dikaji

konsep kebutuhan luas Ruang

Hutan/

Terbuka dan Hutan/ Taman Kota

bersangkutan dapat dilihat pada

serta lokasi Hutan/ Taman Kota

diagram

yang

Taman

menggunakan

1.1

diprioritaskan

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

45

Kota

yang

berikut.


SARGA, Volume XVII, Edisi 2; Nopember 2010

Diagram 1. Pola Pikir Proses Perencanaan Desain Hutan/ Taman Kota dan Ruang Publik Perkotaan

CITA CITA

GAMBARAN UMUM PENTINGNYA KEBERADAAN RTH DAN HUTAN KOTA BAGI PERKEMBANGAN KOTA

KAJIAN PENTINGNYA KEBERADAAN RTH DAN HUTAN KOTA

INPUT

PROSES

KONSEP KEBUTUHAN LUAS RTH, HUTAN KOTA DAN LOKASI HUTAN KOTA YANG DIPRIORITASKAN PEMBANGUNANNYA

OUTPUT

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

46

GOAL


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

komponen fisik hutan/ taman

2. Pembangunan Hutan/ taman Kota Beberapa kota besar telah membangun

kota yang hendak dibangun

dan mengembangkan hutan/ taman kota

serta tata letaknya. (3)

untuk mengantisipasi masalah penurunan

Rencana

tahun

pertama

kualitas lingkungan hidup. Adapun Tahapan

kegiatan, meliputi rencana fisik

yang

dan biayanya.

perlu

dilalui

dalam

membangun/mengembangkan

hutan/

2).

taman kota adalah:

1).

dan Organisasi Pelaksanaannya

Tahap Perencanaan Dalam

studi

Tahap Pembentukan Kelembagaan

kajian

perencanaan

Organisasi

pembangunan

dan

aspek yang perlu diteliti meliputi:

pengelolaan hutan/ taman kota sangat

lokasi,

bergantung kepada perangkat yang

fungsi

dan

pemanfaatan,

aspek tehnik silvikultur, arsitektur

ada

lansekap, sarana dan

pengorganisasian

prasarana,

dan

keperluannya. di

suatu

daerah

dengan

daerah

tehnik pengelolaan lingkungan.

mungkin

Bahan informasi yang dibutuhkan

lainnya. Dalam hal ini

dalam

Bupati

studi

tahap

perencanaan

berbeda

sebagai

Sistem

Walikota atau

kepala

wilayah

meliputi :

bertanggung jawab atas pembangunan

a).

dan pengembangan hutan/ taman kota

Data fisik (letak, wilayah, tanah,

di wilayahnya. Bidang perencanaan

iklim dan lain-lain);

b).

Sosial ekonomi (aktivitas di

Keadaan

lingkungan

(lokasi

Rencana

pembangunan

Bahan-bahan

penunjang

studi

berupa

Rencana

Pembangunan Hutan/ taman Kota

Rencana jangka panjang, yang memuat hutan/

gambaran taman

dibangun,

tentang

kota

serta

yang

target

dan

Dinas

Dinas

Pekerjaan

Kesehatan,

Dinas

Kependudukan dan Lingkungan Hidup

Rencana detail yang memuat desain

fisik

atau

masing- masing kota atau daerah. Untuk pelaksanaannya dapat ditunjuk

Pengelolaan hutan/ taman kota pada areal

yang

dibebani

hak

milik

diserahkan kepada pemiliknya, namun dalam

pelaksanaannya

harus

memperhatikan petunjuk dari bidang

tahapan pelaksanaannya. (2)

Perkebunan,

dinas-dinas yang berada di wilayahnya.

yang terdiri dari tiga bagian, yakni: (1)

dan

dan yang lainnya menurut kebutuhan

lainnya. Hasil

oleh

oleh tim pembina yang terdiri dari Dinas

Umum,

wilayah (RUTR,RTK,RTH), serta

e).

dipegang

Kehutan/ tamanan, Dinas Pertanian

dan sekitarnya);

d).

pengendalian

Bappeda Kabupaten/Kota yang dibantu

wilayah bersangkutan dan kondisinya);

c).

dan

rancang

bangun untuk masing- masing

perencanaan dan pengendalian. Guna memperlancar pelaksanaannya kiranya perlu dipikirkan jasa atau imbalan apa

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

47


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

yang dapat diberikan oleh pemerintah

lingkungan hidup di perkotaan, jenis

kepada yang bersangkutan.

yang

ditanam

pembangunan

3).

dalam dan

program

pengembangan

hutan/ taman kota hendaknya dipilih

Pemilihan Jenis keberhasilan

berdasarkan beberapa pertimbangan

dalam mencapai tujuan pengelolaan

agar tanaman dapat tumbuh baik dan

Guna

mendapatkan

dapat

menanggulangi

masalah

-

lingkungan yang muncul di tempat itu. Beberapa

informasi

yang

Serbuk sarinya tidak bersifat alergis,

perlu

(5)

Persyaratan

untuk

pohon

diperhatikan dan dikumpulkan antara

peneduh jalan:

lain:

- Dahan dan ranting tidak mudah patah,

(1)

(2)

Persyaratan edaphis: pH, jenis

- Pohon tidak mudah tumbang,

tanah, tekstur, altitude, salinitas

- Buah tidak terlalu besar,

dan lain-lain.

- Serasah yang dihasilkan

Persyaratan meteorologis: suhu,

sedikit,

kelembaban

- Tahan terhadap pencemar dari

udara,

kecepatan

angin, radiasi matahari. (3)

Persyaratan

kendaraan bermotor dan industri, silvikultur:

kemudahan

dalam

hal

mudah sembuh,

penyediaan benih dan bibit serta

- Cukup teduh, tetapi tidak terlalu

kemudahan

gelap,

dalam

tingkat

pemeliharaan. (4)

- Luka akibat benturan mobil

Persyaratan

- Kompatibel dengan tanaman umum

tanaman,

lain,

antara lain: - Tahan terhadap hama dan penyakit, - Cepat tumbuh, - Kelengkapan jenis dan penyebaran jenis, -

Mempunyai umur yang panjang,

-

Mempunyai bentuk yang indah,

-

Ketika dewasa sesuai dengan ruang yang ada,

-

Kompatibel dengan tanaman lain,

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

48


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010 Tabel 1: Jenis, Fungsi, dan Tujuan Pembangunan RTH (Purnomohadi, 2001) JENIS RTH TAMAN KOTA (termasuk: Taman Bermain Anak / Balita), Taman Bunga, (Lansia)

FUNGSI LAHAN

TUJUAN

KETERANGAN

Ekologis, Rekreatif, Estetis, Olahraga

Keindahan (tajuk, tegakan pengarah, pengaman, pengisi dan pengalas), kurangi

Mutlak dibutuhkan bagi kota, keserasian, rekreasi aktif dan pasif, nuansa rekreatif,

(terbatas)

cemaran, meredam bising, perbaiki iklim mikro, daerah resapan, penyangga sistem

terjadinya keseimbangan mental (psikologis) dan fisik manusia, habitat,

kehidupan, kenyamanan.

keseimbangan eko-sistem.

JALUR (tepian) SEMPADAN SU-NGAI

Konservasi, Pencegah Erosi,

Perlindungan, mencegah okupansi penduduk, mudah menyebabkan erosi, iklim

Perlindungan total tepi kiri-kanan bantaran sungai (+/- 25-50 meter) rawan

dan PANTAI

Penelitian

mikro, penahan „badai‟.

erosi. Taman Laut.

TAMAN – OLAH RAGA,

Kesehatan, Rekreasi

BERMAIN, RELAKSASI

Kenikmatan, pendidikan, kesenangan,

Rekreasi

kesehatan, interaksi, kenyamanan.

prestasi, menumbuhkan kepercayaan diri.

aktif,

sosialisasi,

mencapai

TAMAN PEMAKAMAN

Pelayanan Publik

Pelindung, pendukung ekosistem makro,

Dibutuhkan seluruh anggota masyarakat,

(UMUM)

(umum), Keindahan

„ventilasi‟ dan „pemersatu‟ ruang kota.

menghilangkan rasa „angker‟.

PERTANIAN KOTA

Produksi, Estetika, Pelayanan Public

Kenyamanan spasial, visual, audial dan

Peningkatan

thermal, ekonomi.

tanaman pertanian.

produktivitas

budidaya

(umum) TAMAN (HUTAN) KOTA/

Konservasi,

Pelayanan masyarakat dan penyangga

Pelestarian,

PERHUTANAN

Pendidikan, Produksi

lingkungan kota, wisata alam, rekreasi,

pemanfaatan

plasma

nutfah,

produksi hasil „hutan‟: iklim mikro, oksigen, ekonomi.

keanekaragaman penelitian.

hayati,

pendidikan

perlindungan,

dan

TAMAN SITU, DANAU,

Konservasi,

Keseimbangan ekosistem, rekreasi

Pelestarian

WADUK, EMPANG

Keamanan

(pemancingan).

(budidaya ikan air tawar).

KEBUN RAYA, KEBUN BINATANG (Nursery)

Konservasi, Pendidikan,

Keseimbangan ekosistem, rekreasi, ekonomi.

Pelestarian plasma nutfah, elemen khusus Kota Besar, Kota Madya.

Reservasi, perlindungan situs, sejarah –

„Bangunan‟ sebagai elemen taman.

SD-air,

flora

&

Penelitian TAMAN PURBAKALA

Konservasi,

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

49

fauna


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

JALUR HIJAU

Preservasi, Rekreasi

national character building.

Keamanan

Penunjang iklim mikro, thermal, estetika.

PENGAMANAN TAMAN RUMAH sekitar bangunan Gedung tingkat „PEKARANGAN‟

Pengaman: Jalur lalu-lintas, Rel KA, jalur listrik tegangan tinggi, kawasan industri, dan „lokasi berbahaya‟ lain.

Keindahan, Produksi

Penunjang iklim mikro, „pertanian

Pemenuhan kebutuhan pribadi (privacy),

subsistem‟: TOGA (tanaman obat keluarga)/Apotik Hidup, Karangkitri (sayur

penyaluran „hobby‟ pada lahan terbatas,

dan buah-buahan).

mampu memenuhi kebutuhan keluarga secara berkala dan „subsistent’‟.

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

50


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

3. Kriteria Perencanaan,

Dalam perancangan kota dikenal adanya tiga kriteria disain, yakni kriteria terukur, kriteria tak terukur, dan kriteria generik. Kriteria terukur adalah kriteria yang secara kuantitatif dapat diukur dan biasanya

2).

berhubungan dengan ketinggian, besar, rasio ukuran luas lantai, setback, building coverage, dan sebagainya. Secara garis besar kriteria terukur dibagi menjadi dua, yaitu 1)kriteria lingkungan alarn, 2)bentuk dan massa bangunan, serta intensitas. Sedangkan kriteria tak terukur lebih menekankan pada aspek kualitatif di lapangan. Antara kriteria terukur dan tak terukur seharusnya dijaga kesimbangannya dan bekerja dalam kerangka kerja dari kriteria generik.

3).

a. Kriteria desain menurut Urban

4).

Design Plan of San Fransisco, ada sepuluh prinsip, yaitu 1). Kenyamanan (amenity comfort) Prinsip kenyamanan (amenity comfort) menekankan pada kualitas lingkungan kota dengan mengakomodasikan pola pedestrian yang dilengkapi

5).

dengan street furniture, tanam-tanaman, disain jalan yang terlindung dari cuaca, menghindari silau, dan sebagainya. Tampak yang menarik (visual interest) Tampak yang menarik (visual interest) menekankan pada kualitas estetis lingkungan, antara lain karakter arsitektur dan lingkungan bangunan yang menyenangkan. Kegiatan (activity) Menekankan pada pentingnya pergerakan dan dimensi kehidupan jalan di lingkungan kota, dengan mempromosikan pedagang kaki lima, arcade, lobby, dan menghindari dindingdinding yang kosong Berta ruang parkir yang terlalu luas. Kejelasan dan kenikmatan (clarity and convenience) Untuk menciptakan faktor kejelasan dan kenikmatan, dapat dilakukan dengan cars meningkatkan kualitas jalur pejalan kaki, yaitu dengan fasilitas pedestrian yang memiliki ciri tertentu. Karakter khusus (character

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

51


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

distinctiveness) Karakter (character distinctiveness)

6).

khusus

menekankan pada identitas individual yang berpengaruh dalam suatu struktur ruang kota. Ketajaman (definition) Prinsip ketajaman (definition) menitikberatkan pada interfacing antara

8).

diarahkan pada susunan bentuk model bangunan yang akan menjadi point of interest di lingkungannya.

bangunan dan ruang terbuka suatu kawasan

7).

dan massa bangunan akan memberikan karakter estetik serta petunjuk pencapaian bagi masyarakat. Variasi/kontras (variely/conlrast) Prinsip variasi/kontras

9).

Harmoni/kecocokan (harmony compatibility) Prinsip harmoni/kecocokan menekankan pada aspek arsitektural dan kecocokan estetika yang berkaitan dengan masalah topograli yang hares diantisipasi dalam perencanannya, baik masalah skala maupun bentuk massanya. 10). Integrasi skala dan bentuk (Scale and pattern integrated) Prinsip integrasi skala dan bentuk ini bertujuan untuk mencapai skala manusia di lingkungan kota, yang menekankan pada ukuran, bestir bangunan dan massa bangunan, demikian pula dimensi

yang dapat memperjelas dan memudahkan persepsi ruang luarnya. Ketajaman ruang ini sangat berkaitan dengan faktor-faktor pemandangan, karakter, serta pencapaiannya. Prinsip-prinsip pemandangan kawasan (the principle of views encompasses) Prinsip – prinsip pemandangan kawasan memperhatikan aspek estetik terhadap vista lingkungan (pleasing vistas), atau persepsi orang pada saat melakukan orientasi terhadap lingkungan kota. Misalnya layout jalan, penempataii bangunan,

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

52


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

(expression of identity) Untuk memberikan ekspresi identitas, status, dan nilai-nilai bagi penghuni dan masyarakat perlu penekanan disain terutama peranan warns,

estetika yang berhubungan dengan kepekaan dan efek tekstur bangunan dengan skala pemandangan dari arch tertentu. b. Sedangkan

konsep

Urban

System Research and Engineering, Inc.(1977) lebih

. material bangunan, dan ekspresi bangunan secara individual. 3). Pencapaian dan orientasi (access and orientation) Faktor penting yang harus

menekankan pada kualitas visual yang dikelompokkan dalam delapan kategori sebagai berikut. 1). Kelayakan hubungan (fit with setting)

diperhatikan adalah kejelasan dan keamanan dari pintu masuk, jalan setapak, dan ke arah lokasi fasilitas penting, sehingga semua orang tabu akan ke amana dan spa yang akan dilakukan. 4). Pendukung aktivitas (activity support)

Kelayakan hubungan. (fit with setting) ini menitikberatkan pada harmoni atau kecocokan rancangan antara perumahan dan kota yang berkaitan dengan faktor lokasi, kepadatan perumahan, warna, bentuk dan material. Di samping itu aspek lain yang hares diperhatikan adalah aspek historis, aspek budaya, komponen yang cocok dengan nilai bangunan, artefak jalan setapak yang unik sehingga dapat mengingatkan kembali bagi setiap orang. 2). Ekspresi dari identitas

5).

Kegiatan masyarakat akan memberi karakter perilaku mereka melalui tanda-tanda yang didisain khusus termasuk elemen fisik, ukuran, dan lokasi dari sebuah fasilitas yang disediakan. Pemandangan (views) Menekankan pada pencapaian bangunanbangunan ke arah ruang-ruang publik

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

53


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

(public spaces). 6). Elemen-elemen alam (natural elements) Menciptakan disain yang memanfaatkan unsurunsur alam yang ads di lokasi tapak, misalnya dengan pemanfaatan

a.

topografi yang terjal, tanaman penutup, pemanfaatan smar matahari, air, dan Tatar belakang pemandangan langit.

b.

7). Tampak

yang (visual comfort)

c.

nyaman

Pada prinsipnya tampak yang nyaman (visual comfort) menghindari gangguan dari silau, asap, debu, traffic light yang membingungkan, pemandangan yang menghalangi kendaraan yang melaju dengan cepat. 8). Kepedulian dan perawatan (care and maintenance) Memperhatikan pemilihan komponen dalam disain yang mudah perawatan dan pengelolaannya.

d.

e.

Vitalitas (vitality), Menitik beratkan pada suatu sistim keamanan, kecocokan ukuran atau kelayakan antara tuntutan manusia dalam hal temperatur, anatomi tubuh, dan fungsi tubuh, Kepekaan (sense), Dimensi kepekaan yang dimaksud disini meliputi bentuk, kualitas, dan identitas lingkungan, Kelayakan (fit), Menitik beratkan pada kelayakan antara ruang dan karakter bentuk yang ada, Pencapaian (access), Memperhatikan kemampuan orang menuju ketempat satu ke yang lain melalui ruang publik ini, Pemeriksaan (control), Diarahkan pada ruang kegiatan, rekreasi.

ruang tempat

4. Teknis Perencanaan

Dalam rencana pembangunan dan pengembangan RTH yang fungsional suatu wilayah perkotaan, ada 4 (empat) hal utama yang harus diperhatikan yaitu

c. Selanjutnya

menurut Kevin Lynch (1981), sebuah ruang publik harus mempunyai lima dimensi tampilan (Five performance dimension), yaitu:

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

54


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

a. Luas

e. Action Plan

RTH minimum yang diperlukan dalam suatu wilayah perkotaan ditentukan secara komposit oleh tiga komponen berikut ini, yaitu: 1) Kapasitas atau daya dukung alami wilayah 2) Kebutuhan per kapita

Pembangunan dan pengelolaan RTH wilayah perkotaan harus menjadi substansi yang terakomodasi secara hierarkial dalam perundangan dan peraturan serta pedoman di tingkat

(kenyamanan, kesehatan, dan bentuk pelayanan lainnya) 3) Arah dan tujuan pembangunan kota. RTH berluas minimum merupakan RTH berfungsi

nasional dan daerah/kota. Untuk tingkat daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota, permasalahan RTH menjadi bagian organik dalam Rencana Tata Ruang

ekologis yang berlokasi, berukuran, dan berbentuk pasti, yang melingkup RTH publik dan RTH privat. Dalam suatu wilayah perkotaan maka RTH publik harus berukuran sama atau lebih luas dari RTH luas minimal, dan RTH privat merupakan RTH pendukung dan penambah nilai rasio terutama dalam meningkatkan nilai dan kualitas lingkungan dan kultural kota. b. Lokasi lahan kota yang potensial dan tersedia untuk RTH c. Sruktur dan pola RTH yang akan dikembangkan (bentuk, konfigurasi,dan distribusi) d. Seleksi tanaman sesuai kepentingan dan tujuan pembangunan kota.

Wilayah dan subwilayah yang diperkuat oleh peraturan daerah. Dalam pelaksanaannya, pembangunan dan pengelolaan RTH juga mengikut sertakan masyarakat untuk meningkatkan apresiasi dan kepedulian mereka terhadap, terutama, kualitas lingkungan alami perkotaan, yang cenderung menurun. Beberapa action plan yang dapat dilaksanakan, a.l.: 1). Issues : Suboptimalisasi RTH Action

plan

yang

disarankan: (a) Penyusunan kebutuhan luas minimal/ideal RTH sesuai tipologi kota

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

55


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

(b) Penyusunan indikator dan tolak ukur keberhasilan RTH suatu kota (c) Rekomendasi penggunaan jenis-jenis tanaman dan vegetasi endemik serta jenis-

Action plan yang disarankan: (a)Pencanangan Gerakan Bangun, Pelihara, dan Kelola RTH (contoh Gerakan Sejuta Pohon, Hijau royo-royo, Satu pohon satu jiwa, Rumah

jenis unggulan daerah untuk penciri wilayah dan untuk meningkatkan keaneka ragaman hayati secara nasional 2). Issues : Lemahnya kelembagaan pengelola RTH Action plan yang

dan Pohonku, Sekolah Hijau, Koridor Hijau dan Sehat, dll) (b)Penyuluhan dan pendidikan melalui berbagai media (c)Penegasan model kerjasama antar stake holders (d)Perlombaan antar kota, antar wilayah, antar subwilayah untuk meningkatkan apresiasi, partisipasi, dan responsibility terhadap ketersediaan tanaman dan terhadap kualitas lingkungan kota yang sehat dan indah 4). Issues : Keterbatasan

disarankan: (a) Revisi dan penyusunan payung hukum dan perundangan (UU, PP, dll) (b) Revisi dan penyusunan RDTR, RTRTH, dll (c) Penyusunan Pedoman Umum : Pembangunan RTH, Pengelolaan RTH (d) Penyusunan mekanisme insentif dan disinsentif (e) Pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat.

lahan perkotaan untuk peruntukan RTH Action plan yang disarankan: (a) Peningkatan fungsi lahan terbuka kota menjadi RTH (b) Peningkatan luas RTH privat

3). Issues : Lemahnya peran

stake holders

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

56


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

(c) Pilot project RTH fungsional untuk lahanlahan sempit, lahanlahan marjinal, dan lahan-lahan yang diabaikan.

aspek fisik lingkungan dari daerah perencanaan. b). Metode

Pembobotan

(Skoring Likert) Metode ini dimaksudkan untuk menentukan tingkatan dari data yang ada baik data yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Metode ini digunakan untuk mengkompilasi data yang berjumlah banyak dan berlainan jenis menjadi data

5. Analisis

Metode yang biasa digunakan dalam proses penyusunan desain ruang terbuka hijau/ hutan/ taman kota adalah metode kuantitatif dan kualitatif yang penggunaannya tergantung pada tujuan dan hasil analisis dan ketersediaan data. Beberapa alternatif penggunaan metode analisis nya adalah sebagai berikut : a). Metode Superimpose (Sleve Map Analysis) Metode ini merupakan pendekatan analisis yang mempergunakan beberapa peta eksisting untuk mendapatkan tingkat kesesuaian lahan yang akan dipergunakan sebagai wilayah perencanaan. Analisis ini digunakan untuk menentukan daerah yang paling baik untuk Lokasi Hutan/ Taman Kota. Faktor penentunya adalah semua

yang terstruktur sehingga memiliki kualifikasi yang dapat digunakan untuk memudahkan proses analisis. Metode pembobotan dilakukan dalam 2 tahapan: 1. Untuk menemukan wilayah wilayah yang potensial untuk lokasi Hutan Kota 2. Untuk menentukan ranking calon Lokasi Hutan Kota yang akan diprioritasklan untuk perencanaan /pembangunan selanjutnya 3. Indikator dalam penentuan wilayah potensial untuk Hutan Kota disesuaikan dengan Ketentuan berdasarkan Peraturan Pemerintah No 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota.

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

57


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

c). Metode

Analisis

Deskriptif

perencanaan maupun dalam konstalasi regionalnya. Sedangkan terpadu mengindikasikan bahwa untuk menyelesaikan permasalahan tidak hanya dipecahkan secara sektoral saja, tetapi didasari oleh kerangka perencanaan

Kualitatif Analisis deskriptif kualitatif merupakan pengamatan deskriptif dengan sistem pemikiran interpretasi yang tidak sekedar berdasarkan fenomena saja namun diteliti hubungannya hingga memunculkan hipotesa serta adanya prediksi hingga mendapatkan masalah. Berdasarkan metoda yang digunakan analisis ini

yang terpadu antar sektor, yang dalam implementasinya dapat berujud koordinasi dan sinkronisasi antar sektoral. e). Analisa SWOT

mempunyai subyektivitas tinggi terhadap obyek yang dianalisis. Untuk itu diperlukan brainstorming (diskusi umum dan khusus, rapat koordinasi, dan presentasi).

Metode SWOT merupakan metode yang seringkali dipergunakan dalam suatu perencanaan strategik, dan sangat implikatif di dalam analisisnya. SWOT akan mencari faktor-faktor penghambat dan faktor-faktor peluang yang dihadapi. Sehingga seringkali disebut sebagai metode analisis situasi. Adapun Analisa dan Kajian menyangkut beberapa factor untuk menilai kondisi, kebutuhan, fungsi dan manfaat Hutan Kota secara:  Ekologis Analisis ekologis yang dilakukan mencakup: kualitas air tanah, bencana alam (banjir, tanah

d). Metode

Mixed Scanning Comprehensive Approach Metode ini merupakan pendekatan perencanaan yang menyeluruh dan terpadu serta didasarkan pada potensi dan permasalahan yang ada di wilayah perencanaan. Pendekatan tersebut menyeluruh, dalam arti bahwa peninjauan permasalahan bukan hanya didasarkan pada kepentingan wilayah perencanaan saja, tetapi ditinjau pada kepentingan yang lebih luas, baik antara wilayah

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

58


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

longsor), polusi udara dan suhu udara. Sosial Budaya Analisis sosial budaya mencakup interaksi sosial, sarana rekreasi, dan tetenger (landmark) kota. Arsitektural

Sebagai contoh, hasil penelitian di sebuah kota dengan luas 431 km2, jumlah penduduk 2,6 juta jiwa, jumlah kendaraan bermotor 200.000 bh, maka: Kebutuhan O2 = 5,352

Analisis menyangkut keindahan kenyamanan Ekonomi Analisis

X 10 gram atau setara 5.709 X 10 gram berat kering tanaman, Untuk memproduksi oksigen oleh kelompok tanaman sebesar jumlah

arsitektural nilai dan

ekonomi

menyangkut pemanfaatan lahan kosong menjadi lahan budidaya (urban agricultur) dan kontribusi sarana wisata Hutan Kota Regulasi / Peraturan Analisa regulasi/peraturan untuk mendapatkan hasil rekomendasi Rencana Hutan Kota yang kuat secara yuridis.

f). Analisa

Perhitungan

tersebut perlu dibuat: (5.709 X 10) : 24 = 105.7 km2 atau 24.6% luas kota adalah RTH Dengan catatan asumsi bahwa setiap meter persegi (m2) tanaman menghasilkan 54 gram bahan kering. 2).

Luas

RTH Kota Terdapat beberapa macam cara untuk menetapkan keluasan RTH kota, ditinjau dari berbagai kebutuhan penduduk kota. 1). Pendekatan Gerakis melalui Perhitungan Kebutuhan Oksigen (O2):

Perhitungan Berdasar Kebutuhan Air: Kebutuhan air dalam kota tergantung dari faktor: a. Kebutuhan air bersih per tahun b. Jumlah air yang dapat disediakan oleh PAM c. Potensi air saat ini d. Kemampuan hutan menyimpan air

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

59


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

PENGATURAN PROPORSI RUANG TERBUKA HIJAU PADA WILAYAH KOTA RUANG TERBUKA

RUANG TERBUKA NON HIJAU RUANG TERBUKA NON HIJAU PRIVAT RUANG TERBUKA NON HIJAU PUBLIK

RUANG TERBUKA HIJAU (MIN 30% LUAS KOTA) Ps. 29 ayat (2)

RTH PUBLIK (20% LUAS KOTA)

Ps. 29 ayat (1)

RTH PRIVAT

Ps. 29 ayat (3)

berdasarkan UU Tata Ruang No: 26 tahun 2007.

antara dan di dalam populasi spesies g). Analisa Ekologis 1).

yang sama, atau di antara komunitas

Ekologi dan Ekosistem

populasi

yang

berbeda-beda

dan

Makhluk hidup dalam perkembangan

berbagai faktor non hidup (abiotik)

dan

yang

pertumbuhannya

hidup

sendiri,

tidak

banyak

jumlahnya

yang

memerlukan

merupakan lingkungan yang efektif

makhluk lainnya dalam menjalani

tempat hidup jasad, populasi atau

hidup

Antara

komunitas itu. Lingkungan efektif itu

makhluk yang satu dengan makhluk

mencakup keterkaitan pada interaksi

yang lain selalu berhubungan dan

antara jasad hidup itu sendiri. Kaji

mengadakan

ekologi

dan

selalu

dapat

kehidupannya.

kontak

menguntungkan.

yang

Tetapi

ada

saling juga

itu

memahami

memungkinkan komunitas

itu

kita

secara

sebagian kecil mahkluk hidup yang

keseluruhan (Ewusie, 1990).

selalu

lain,

Adapun ekologi sendiri mencakup

biasanya makhluk ini disebut dengan

suatu keterkaitan antara segenap

parasit.

unsur lingkungan hidup yang saling

Ekologi

merugikan

adalah

makhluk

kajian

mengenai

mempengaruhi, sepeti tumbuhan dan

interaksi timbal-balik jasad individu, di

sinar matahari, tanah dengan air,

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

60


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

yang

pada

umumnya

dikatakan 2).

sebagai hukum alam yang berimbang dan

biasa

disebut

ekosisitem.

Komponen-komponen

Tanam-tanaman

dalam

Lingkungan Kota

dalam

Penghijauan di lingkungan kota dapat

ekosistem telah dikelola oleh alam

meningkatkan

dan mereka saling berinteraksi. Ada

dalam kota, karena manusia dapat

komponen

hidup erat dengan alam (melihat

yang

bekerjasama,

bersifat

netral,

menyesuaikan

bertentangan

tumbuhan

tanaman,

kehidupan

burung

dan

saling

binatang lain serta dapat mengerti

pada

fungsi ekosistem). Kota yang memiliki

akhirnya antara kekuatan-kekuatan

keteduhan dengan banyak pohon

tersebut terjadi keseimbangan (Arief,

besar

1994).

mengurangi

Satu ciri mendasar pada ekosistem

(karena penduduk

adalah bahwa ekosistem itu bukahlah

berjalan kaki, dan berkurang untuk

suatu sistem yang tertutup, tetapi

mencari tempat beristirahat di luar

terbuka dan dari padanya energi dan

kota atau ditempat hiburan besar).

zat

(Heinz Frick, 1998)

menguasai.

bahkan

diri,

kualitas

Akan

tetapi

terus-menerus

digantikan

agar

keluar

sistem

dan

itu

terus

yang lalu

di

dengan struktur, ekosistem secara

produksi

khas

menguntungkan

biologi,

yaitu;

tiga

komponen

produsen

lintas

dapat bermotor

lebih bersedia

Disamping hal tersebut penghijauan

berjalan. Sejauh yang berkenaan

mempunyai

rindang

(jasad

lingkungan

bagi

kota

meningkatkan

oksigen

yang

kehidupan

manusia,

sehat

mengurangi

autotrof) atau tumbuhan hijau yang

pencemaran

mampu menambat energi cahaya;

meningkatkan kualitas iklim mikro.

hewan

atau

Tanam – tanaman menerima air

kosumen makro yang menggunakan

hujan, mengikatnya didalam tanah,

bahan organik; dan pengurai, yang

dan

terdiri

yang

kembali. Dengan demikian tanaman

dan

tersebut ikut dalam pengolahan air

terlarut

hujan dan melindungi tanah lereng

(jasad

heterotrof)

dari

jasad

renik

menguraikan

bahan

organik

membebaskan

zat

hara

(Ewusie, 1990).

udara,

kemudian

dari longsor. PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

61

serta

menguapkannya


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Tabel 1: Tanaman Sebagai Peningkat Kualitas Lingkungan Kota 1 Pohon berumur Âą

Tanam tanaman

100 tahun

seluas 1 Ha

Produksi oksigen (O2)

1,7 kg/jam

600 kg/hari

Penerimaan karbondioksida 2 (CO )

2,35 kg/jam

900 kg/hari

Zat arang yang terikat

6 ton

-

Penyaring debu

-

sampai 85%

Penguapan air

500 liter/hari

-

Penurunan suhu

-

Sampai 4 C

0

Selain tanaman dapat memperbaiki

sumbernya (Living Planet Report,

kualitas

2004, hal 10).

kehidupan,

peningkatan

pendapatan (daun, kayu, akar, buah), penanaman dapat

tanaman

dan

berfungsi

juga

erosi,

mencegah

h). Analisa Teknis

semak sebagai

Sebagaimana yang tertuang

banjir,

dalam pasal 8 PP Nomor 63

menjaga sumber air, sumber bahan

Tahun 2002 Tentang Hutan

bangunan

Kota

penahan

dan

sumber

pangan.

disebutkan luas

bahwa

Disamping itu tanaman juga dapat

besaran

Hutan

Kota

mengurangi pencemaran debu.

dalam satu hamparan yang

3). Penelusuran Jejak Ekologis

kompak paling sedikit 0,25 Ha.

Dalam kaitannya dengan analisa

Persentase luas hutan kota

ekologis

studi

paling sedikit 10% dari wilayah

Kota

perkotaan

penyusunan

Pembangunan Kebumen dengan

Hutan

dilakukan

kajian

menelusuri

jejak

atau

disesuaikan

dengan kondisi setempat. Hutan kota merupakan bagian

ekologis.

dari keseluruhan RTH Kota

Jejak ekologis adalah mengukur

dan RTH merupakan bagian

konsumsi manusia pada sumber-

dari Ruang Terbuka

sumber alam dalam kaitannya

space)

dengan keberlanjutan lingkungan.

Dalam rencana pembangunan

Jejak ini harus dipertimbangkan

dan pengembangan RTH yang

dengan kemampuan alam untuk

fungsional

memperbaharui

perkotaan, ada 4 (empat) hal

sumber

wilayah

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

62

suatu

(open

perkotaan.

wilayah


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

(a)

utama yang harus diperhatikan

RTH luas minimal, dan RTH privat

yaitu:

merupakan

Luas

RTH

minimum

yang

RTH

pendukung

penambah nilai rasio terutama dalam

diperlukan dalam suatu wilayah

meningkatkan

perkotaan

lingkungan dan kultural kota.

ditentukan

secara

komposit oleh tiga komponen

(b)

berikut ini, yaitu: atau

daya

Kebutuhan

lahan

kota

per

dikembangkan

kapita

kualitas

yang

bentuk

(bentuk,

konfigurasi, dan distribusi)

(kenyamanan, kesehatan,

(d) Seleksi

pelayanan

tanaman

sesuai

dan

tujuan

kepentingan

lainnya) 3) Arah

dan

(c) Sruktur dan pola RTH yang akan

dukung alami wilayah

dan

Lokasi

nilai

potensial dan tersedia untuk RTH

1) Kapasitas

2)

dan

pembangunan kota. dan

tujuan

Standart

pembangunan kota

kebutuhan

RTH

diatas

berlaku umum di wilayah perkotaan,

RTH berluas minimum merupakan

dengan luasan RTH minimal yang

RTH

dibutuhkan

berfungsi

ekologis

yang

di

wilayah diatas

perkotaan.

berlokasi, berukuran, dan berbentuk

Perhitungan

pasti, yang melingkup RTH publik

kebutuhan per unit lingkungan dan

dan RTH privat. Dalam suatu wilayah

jenis ruang terbuka yang dibutuhkan

perkotaan maka RTH publik harus

serta lokasinya.

berukuran sama atau lebih luas dari

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

63

berdasarkan


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Tabel 2 STANDART RTH: KRITERIA UNIT UNIT LINGKUNGAN

Tabel 3. KEBUTUHAN AKAN RTH

kualitas i).

Analisa Sosial Budaya

sosial

masyarakat

yang

makin buruk dan tertekan

Tingginya tingkat kriminalitas dan

RTH kota merupakan sub-ordinat

konflik horizontal diantara kelompok

ruang

masyarakat perkotaan secara tidak

konstelasi perencanaan ruang kota

langsung juga dapat disebabkan oleh

secara

keseluruhan.

kurangnya ruang-ruang kota yang

sudut

manusia,

dapat

pengelolaan LH menjadi kompleks. Di

menyalurkan

interaksi

sosial

ketegangan

kebutuhan

untuk

yang

pelepas

dialami

satu

oleh

terbuka

pihak,

pandangan

kualitas lingkungan perumahan dan

contemplation),

penyediaan

ruang

(social

publik,secara

psikologis

dan

latar

berbagai belakang,

berperilaku

(cultural sosial

pertimbangan

(economicconsiderations),

bersikap

politik

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

64

dari

konsepsi

berbudaya

behaviour),

ekonomi

menyebabkan kondisi mental dan

itu

dalam

Ditinjau

maka

dan

manusia

telah

ada

dengan

masyarakat perkotaan. Rendahnya

terbuka

yang

(political


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

attitudes), semua terpadu sebagai

udara, air, tanah dan suara, banjir,

salah satu komponen pendukung

kebakaran, dan krisis air bersih,

pengembangan

berakibat

lingkungan

hidup

penurunan

kualitas

(Haeruman, et.al.1980).

kesehatan, produktivitas, dan kinerja

Manusia akan selalu memandang,

warga kota.

bahwa

sumber

itu

akan

Perencanaan tata ruang kota selalu

dan

jasa

tertinggal dengan laju kebutuhan fisik

berupa materi, informasi, dan energi,

dan psikis penduduk yang semakin

dalam

meningkat,

menghasilkan

daya

barang

siklusnya

masing-masing,

baik

dalam

jumlah

termasuk perhitungan antara daya

maupun kualitas. Ekspansi ruang

dukung atau kemampuan asimilasi

kota

serta dampak negatif lingkungan.

terkendali.

Penanganan

Sekarang, tergantung pada diri kita

lingkungan

hidup

masing-masing,

eksistensi RTH, masih bersifat parsial

bagaimana

menyadari eksistensi sumberdaya itu

ke

segala

penjuru

kota,

tanpa

masalah termasuk

dan temporal.

dan pemanfaatannya, terutama di lingkungan

perkotaan,

j).

sehingga

Analisa Arsitektur

dapat bermanfaat bagi kehidupan

Secara arsitektural RTH dapat

warga kota secara berkelanjutan.

meningkatkan nilai keindahan

Dilihat dari sebuah unit sosial terkecil

dan kenyamanan kota melalui

yaitu keluarga, maka ruang luar yang

keberadaan

ada sebenarnya dapat dimanfaatkan

kota, kebun-kebun bunga, dan

secara optimal, dengan tanaman pot

jalur-jalur

bunga, buah, sayuran, apotik hidup

kota.

minimal untuk kebutuhan keluarga.

Berdasarkan PP Nomor 63

Kota

akan

taman-taman

hijau

dijalan-jalan

selalu

menghadapi

Tahun 2002 Tentang Hutan

akibat

akselerasi

Kota Pasal 14 dan 15 tentang

pembangunan secara menyeluruh,

type dan bentuk hutan kota

sehingga terjadi degradasi kualitas

dengan fungsi yang ditetapkan

fungsi alami lingkungan. Kemacetan

dalam Rencana Tata Ruang

lalu-lintas yang semakin parah di

Wilayah

perobahan

Perkotaan

seluruh bagian kota, pencemaran PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

65

atau


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Rencana Tata Ruang Wilayah

World”, John Wiley & Sons, New

adalah:

York.

Tipe hutan kota antara lain:

Direktorat

Pembinaan

Jalan

“Petunjuk

Kota

Praktis

a. tipe kawasan permukiman;

(1992),

b. tipe kawasan industri;

Penataan

c. tipe rekreasi;

dan Lingkungannya” Direktorat

d. tipe

pelestarian

plasma

Penghijauan

Jalan

Jenderal Bina Marga.

nutfah;

Ir

M.

(1993),

”Urban

Methods

and

Robinson

e. tipe perlindungan; dan

Planning

f. tipe pengamanan.

Techniques”, Human Settlement

Bentuk hutan kota antara lain:

Development, Asian Institute of

a. jalur;

Technology, Bangkok.

b. mengelompok; dan

Melville

c. menyebar.

C.

Branch

”Comprehensive

City

Planning;

and

Introduction

Explanation”,

DAFTAR PUSTAKA

(1985),

The

Planners

Press of The American Planning Anthony J. Catanese, dkk (1989), ”Pengantar

Sejarah

Perencanaan sebuah

Association, Chicago. Menno S. dan Mustamin Alwi (1991), ”Antroplogi

Perkotaan,

kumpulan

(terjemahan)”,

karangan

Rajawali Pers, Jakarta. Paul D. Spreiregen (1981), ”Urban

Intermatra,

Bandung.

Design; The Architecture of Towns and Cities”,Robert E.

Arthur B. Gallion dan Simon Eisener ”Pengantar

Kreiger

Perancangan Kota, Desain dan

Florida.

(1992),

Perencanaan

Publishing

Academy Editions, London.

Jakarta. Diana Conyer and Peter Hills (1984), Introduction

Development

in

the

Company,

Rob Krier (1991), ”Urban Space”,

Kota

(terjemahan)”, Penerbit Erlangga,

”An

Perkotaan”,

to Third

PROSES PERENCANAAN DESAIN TAMAN KOTA DAN RUANG PUBLIK

66


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

PENGARUH REJIM ALIRAN TERHADAP MODEL KOEFISIEN PINDAH MASSA PADA PROSES EKSTRAKSI CAIR-CAIR DALAM KOLOM ISIAN Priyono Kusumo email : priyo330@yahoo.com

Abstrak Ekstraksi cair-cair merupakan salah satu metode pemisahan campuran yang melibatkan proses pemindahan massa solut antara fasa cair yang tidak saling melarut. Dalam proses ekstraksi cair-cair secara kontinyu salah satu cairan didispersikan ke cairan lainnya agar terjadi kontak yang intim antara kedua cairan tersebut. Perpindahan massa solut dari satu fasa cair ke fasa cair lainnya sangat dipengaruhi oleh karakteristik isian, luas permukaan kontak serta diameter gelembung. Untuk keperluan perancangan atau evaluasi unjuk kerja kolom isian, diperlukan informasi besarnya harga koefisien pindah massa baik di fasa dispersi maupun di fasa kontinyu. Saat ini korelasi untuk meramalkan besarnya harga koefisien pindah massa baik di fasa dispersi maupun di fasa kontinyu diturunkan untuk gelembung tunggal baik pada kondisi gelembung bersirkulasi atau tak bersirkulasi. Untuk dapat mengetahui korelasi yang dapat digunakan untuk meramalkan besarnya koefisien pindah massa proses ekstraksi cair-cair dalam kolom isian, dilakukan pengamatan ekstraksi sistem air–MEK–n-heksan. Dalam sistem ini air sebagai fasa kontinyu, MEK sebagai solut, dan n-heksan sebagai fasa dispersi. Pengamatan ekstraksi pada temperatur dan tekanan ruang, dilakukan dalam sebuah kolom berdiameter 5 cm, tinggi 126 cm yang berisi bola kaca. Hasil pengamatan menunjukan bahwa gabungan korelasi model Handloss-Baros (HB) – dan model Garner-Foord-Tayeban (GFT) memberikan hasil yang cukup sesuai pada rentang gelembung bersirkulasi (pada harga Re : 10-200). Berdasarkan model tersebut, penyimpangan terbesar dalam peramalan tinggi isian mencapai harga 1,53 kali dari tinggi sebenarnya. Kata kunci: ekstraksi cair-cair, kolom isian, koefisien pindah massa

Pendahuluan

kecil. Ekstraksi cair-cair saat ini telah

Ekstraksi cair-cair merupakan

digunakan

pada

komersial

salah satu cara pemisahan campuran

misalnya

cair

dimana proses ini dimanfaatkan untuk

yang

pada

kondisi

tertentu

pada

skala

industri petroleum

memiliki beberapa keunggulan bila

penghilangan

dibandingkan dengan menggunakan

aromatik, sulfur, lilin dan resin pada

cara pemisahan lain, seperti distilasi

pembuatan minyak pelumas.

atau adsorpsi. Keunggulan tersebut

senyawa-senyawa

Pemisahan campuran fasa cair

antara lain ialah proses pemisahan

dapat

dapat berjalan pada kondisi ruang

salah satu senyawa dalam campuran

dengan kebutuhan energi yang relatif

ke fasa cair lain yang kontak dengan

terjadi

akibat

perpindahan

PENGARUH REJIM ALIRAN TERHADAP MODEL KOEFISIEN PINDAH MASSA PADA PROSES EKSTRAKSI CAIR-CAIR DALAM KOLOM ISIAN

67


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

campuran cair tersebut. Agar proses

pindah massa yang dinyatakan dalam

pemisahan

besaran

berlangsung

dengan

koefisien

pindah

massa.

cepat dan sempurna, kontak antara

Besaran koefisien

kedua cairan tersebut harus intim

tersebut

yaitu memiliki luas area permukaan

mudah tidaknya senyawa yang akan

kontak sangat luas serta hambatan

diekstraksi (solute) berpindah dari

perpindahan massa antar fasa cair-

salah satu cairan ke cairan yang

cair sangat rendah. Hal ini dapat

lainnya.

dicapai

bila

salah

satu

Cairan

yang

menggambarkan

cairan

terdispersi di dalam cairan yang lainnya.

akan

pindah massa

Tinjauan Pustaka

terdispersi

Ekstraksi

cair-cair

atau

dalam bentuk tetesan disebut fasa

ekstraksi solven adalah ekstraksi dari

terdispersi, sedangkan cairan yang

larutan

lainnya yang mendispersi disebut

menggunakan pelarut fasa cair lain

fasa kontinyu.

sebagai

Dinamika

tetesan

sangat

berpengaruh

besarnya

luas

kontak

serta

fasa

media

cair

pemisah.

dengan

Secara

tersebut

sederhana peristiwa ekstraksi cair-

terhadap

cair dapat digambarkan dalam skema

area

permukaan

besarnya

hambatan

sebagai

Pelarut II

berikut:

Ekstrak

Rafinat

Pelarut I

Zat Terlarut Gambar 1. Skema Proses Ekstraksi Cair-Cair

PENGARUH REJIM ALIRAN TERHADAP MODEL KOEFISIEN PINDAH MASSA PADA PROSES EKSTRAKSI CAIR-CAIR DALAM KOLOM ISIAN

68


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Proses pemisahan zat yang

cair-cair terjadi berdasarkan pindah massa akibat kontak antara larutan yang dialirkan secara kontinyu (fasa kontinyu) dengan pelarut yang dialirkan secara terdispersi (fasa terdispersi). Fasa kontinyu dialirkan dari bagian atas kolom isian yang kemudian mengalir turun. Selama mengalir di sepanjang kolom, cairan mengisi celah-celah kosong dan membentuk lapisan tipis pada permukaan bahan isian. Fasa terdispersi dialirkan dari bagian bawah kolom isian yang selama mengalir di sepanjang kolom dimungkinkan mengalami prosesproses berikut :  Melewati celah-celah kosong  Menembus bahan isian  Mengalami perpecahan menjadi gelembung dengan ukuran yang lebih kecil akibat bertumbukan dengan bahan isian

ada dalam larutan asal ke dalam pelarut merupakan proses pindah massa

yang

memerlukan

luas

permukaan kontak yang besar, oleh sebab itu pelarut didispersikan dalam bentuk tetesan-tetesan kecil ke dalam larutan asal, atau sebaliknya pelarut asal

yang

pelarut.

didispersikan

Dengan

kedalam

demikian

dalam

proses ekstraksi cair-cair dikenal dua fasa

saling

kontak

yaitu

fasa

terdispersi yang merupakan cairan yang didispersikan dan fasa yang merupakan cairan yang bertindak sebagai medium dispersi. Mekanisme pemisahan digambarkan secara sederhana dalam Gambar 2, dengan ekstraksi Larutan/fasa kontinyu

Ekstrak

Pelarut/fasa terdispersi Rafinat Gambar 2. Ekstraksi Cair-Cair dalam Kolom Isian

PENGARUH REJIM ALIRAN TERHADAP MODEL KOEFISIEN PINDAH MASSA PADA PROSES EKSTRAKSI CAIR-CAIR DALAM KOLOM ISIAN

69


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Melalui

berbagai

proses

Laju perpindahan zat terlarut yang

tersebut terjadilah kontak dengan

terjadi antar larutan dibatasi oleh

fasa

adanya tahanan (resistance) yang

kontinyu

kebawah,

yang

kontak

mengalir

yang

terjadi

menghalangi

proses

perpindahan

menyebabkan zat terlarut berpindah

yang terjadi secara molekuler. Proses

dari fasa kontinyu ke fasa terdispersi.

perpindahan zat terlarut antar larutan

Zat terlarut dapat berpindah karena

dapat dirumuskan secara sederhana

adanya driving force antara pelarut

dalam persamaan sebagai berikut :

yang satu dengan pelarut yang lain.

Driving force pada laju perpindahan

driving force (1.) resistance resistance yang menghambat proses

massa zat terlarut adalah perbedaan

perpindahan

konsentrasi antar larutan, sedangkan

difusivitas zat terlarut dalam larutan.

Laju Perpindahan Massa 

adalah

invers

dari

Neraca massa zat terlarut dalam fasa kontinyu Fasa Kontinyu

Uc Ccin

Ud Cdout

Uc Ccout

Ud Cdin

Cdi Cd

Cc

Z Z+? z

Cci

Fasa Terdispersi

Gambar 3. Neraca massa zat terlarut dalam fasa kontinyu

Melalui

3

fasa terdispersi mengalir melintang

terjadinya

kolom pada tiap luas penampang

pindah massa dari fasa kontinyu ke

melintang kolom (m3/jam.m2), Cdout

fasa terdispersi dalam kolom isian.

konsentrasi

Uc adalah kecepatan zat terlarut di

terdispersi. Sedangkan a adalah luas

fasa kontinyu yang mengalir masuk

kontak antar fasa (interfacial area)

dari atas melalui luas penampang

antara fasa terdispersi dan fasa

melintang kolom (m3/jam.m2), Ccin

kontinyu per satuan volum kolom.

konsentrasi zat terlarut. Ud kecepatan

Bila diambil segmen kolom setinggi

diilustrasikan

Gambar proses

zat

terlarut

di

PENGARUH REJIM ALIRAN TERHADAP MODEL KOEFISIEN PINDAH MASSA PADA PROSES EKSTRAKSI CAIR-CAIR DALAM KOLOM ISIAN

70

fasa


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Δz, maka dapat disusun neraca

sebagai berikut:

massa pada segmen volum A.Δz Laju alir masuk – laju alir keluar + laju perpindahan massa = akumulasi

AU cCc z  AU cCc

z  z

 kc a(Cc  Cci )dZ  Az

Apabila sistem mencapai keadaan tunak maka akumulasi atau diperoleh persamaan (4.)

Perssamaan persamaan

Uc (4)

yang

(2.)

dCc dt

(3.)

dC c  0 , dievaluasi untuk Δz -> 0 dt

dCc  kc ai Cc  Cci  dz

merupakan

dari luas pindah massa (ai) dan

menggambarkan

koefisien pindah massa (kc). Dengan

perubahan konsentrasi zat terlarut di

cara

yang

sama

untuk

fasa kontinyu sepanjang kolom z.

terdispersi dapat dituliskan

fasa

Laju perpindahan massa tergantung

Ud

(5.)

dCd  kd ai Cdi  Cd  dz

Apabila persamaan (5) ini diintegrasikan maka akan dapat diperoleh tinggi kolom Z

U Z d kd ai

(6.)

cdin

 C

Cdout

dCd di  Cd 

Untuk memperoleh tinggi kolom Z,

ai dan koefidien pindah massa fasa

dipengaruhi

terdispersi

oleh

laju

alir

fasa

kd.

Koefisien

pindah

terdispersi Ud, konsentrasi zat terlarut

massa fasa terdispersi kd diperoleh

dalam

korelasinya

fasa

terdispersi

Cd,

luas

terjadinya kontak untuk pindah massa

dari

para

peneliti

terdahulu.

PENGARUH REJIM ALIRAN TERHADAP MODEL KOEFISIEN PINDAH MASSA PADA PROSES EKSTRAKSI CAIR-CAIR DALAM KOLOM ISIAN

71


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Model koefisien pindah massa Model koefisien pindah massa

lebih dari 200 

sangat dipengaruhi oleh rejim aliran. Rejim

aliran

dipengaruhi

bilangan

Reynoldnya.

keadaan

bilangan

Di dalam pergerakannya ke

oleh

atas, gelembung mengalami

tiga

kembang kempis.

Ada

Reynold

Bilangan reynold gelembung

yang

Mekanisme

pergerakan

menyebabkan perbedaan rejim aliran

gelembung

khususnya di fasa terdispersi yang

disebabkan

juga

vortex, yaitu ada gerakan ke

mempengaruhi

tetesan

didalam

pergerakan

kolom

1. Gelembung diam

yang

normal

Kecepatan

jatuhnya berosilasi

kecepatan turbulennya.

berdampak

pada

Pergerakan

gelembung

tidak

gelembung

gelembung

tidak

frekuensi

osilasi.

ke 

Fasa

dispersi

mempunyai

pengaruh yang kecil terhadap osilasi,

2. Gelembung bersirkulasi

kecuali

jika

viskositasnya sangat tinggi.

Bilangan reynold gelembung

antara 10-200.

Osilasi

oblate-prolate

menyebabkan

Laju pergerakannya di bawah

pecah

kecepatan maksimum 

Osilasi

gelembung bergerak di bawah

berotasi maupun berosilasi.

adanya

pecah.

bilangan reynold gelembung

atas diam tidak bergerak baik

oleh

menyebabkan

kurang dari 10 

berosilasi

arah .

isian.

Perbedaan itu dinyatakan dengan

yang

gelembung

Gelembung bergerak sambil

tidak

gelembung

ketika

ukuran

di

bawah

maksimum.

berotasi terhadap porosnya

Secara keseluruhan model pindah

3. Gelembung berosilasi

massa

berdasarkan

bilangan

Reynoldnya ditabelkan berikut ini

PENGARUH REJIM ALIRAN TERHADAP MODEL KOEFISIEN PINDAH MASSA PADA PROSES EKSTRAKSI CAIR-CAIR DALAM KOLOM ISIAN

72


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Tabel 1. Model koefisien pindah massa berdasar pada bilangan Reynold Keadaan tetesan

Reynold tetesan

Stagnan (diam)

Re < 10

Model koefisien perpindahan massa fasa terdispersi Treybal

 2 2 Dd kd    3d

Rowe

Shc  2,076Re 

  

0,5

Kroning dan Brink (KB)

k d  17,9Dd Sirkulasi

Model koefisien perpindahan massa fasa kontinyu

0, 5

c

Garner Foord Tayeban (GFT)

Shc  0,45 126  1,8Re 

0, 5

Handlos dan Baron (HB)

10 < Re < 200

S 

 S c 

0, 5

Higbie

    0,00375.U   kd   d   1  c  

 4 DcU  kc      dc 

Rose Kintner (RK)

k d  0,45Dd 

Garner – Tayeban (GT)

0, 5

Osilasi

Re > 200

penelitian

0, 7

Angelo – Lightfoot

k d

Pada

Shc  50  0,0085Re S c 

ini

4Dd 1   0

 dipilih

menghitung

tinggi

kolom

koefisien pindah massa gabungan

diperhitungkan

HB-GFT (Handloss-Baros – Garner

pindah massa secara keseluruhan.

Foord Tayeban), difasa terdispersi

Koefisien pindah massa keseluruhan

dan fasa kontinyu. Pemilihan ini atas

(Ko,

dasar

menggabungkan

kenyataan

bahwa

tetesan

over

all)

dengan

Z

koefisien

diperoleh kedua

dengan koefisien

tidaklah stagnant tapi terus bergerak

pindah

sepanjang

Dengan

Koefisien pindah massa keseluruhan

fasa

bisa dinyatakan dengan basis fasa

kolom

memvariasikan terdispersi gabungan

isian.

laju

alir

diharapkan ini

mampu

fasa

tersebut.

maupun

dikedua

basis

fasa.

model

kontinyu

untuk

terdispersi. Untuk basis fasa kontinyu

menghitung koefisien pindah massa dikedua

massa

fasa

dinyatakan dengan persamaan

Untuk 1 1 1   K oc kc mkd

PENGARUH REJIM ALIRAN TERHADAP MODEL KOEFISIEN PINDAH MASSA PADA PROSES EKSTRAKSI CAIR-CAIR DALAM KOLOM ISIAN

73

(7.)


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Sedangkan untuk fasa terdispersi dengan perssamaan

1 1 m   K od k d kc (8.) dengan

m

(9.)

Cci  Cc * Cdi  Cd

Eksperimen

Eksperimen model

yang

untuk

diusulkan,

validasi

fasa

dilakukan

dispersi

kontinyu.

maupun

Dalam

di

eksperimen alir

cairan

fasa ini,

dalam kolom berbentuk silinder yang

divariasikan

laju

diisi dengan bola kaca sebagai bahan

terdispersi

dan

isian. Kolom memiliki sampling port

(pengamatan pada berbagai rejim

pada jarak ketinggian yang pendek,

aliran). Variasi laju alir ditabelkan

sehingga dimungkinkannya diperoleh

berikut ini

fasa

kontinyu

profil konsentrasi zat terlarut baik di

Tabel 2. Variasi laju alir fasa kontinyu dan fasa terdispersi No Fc Fd Jenis Packing 3 3 Run (cm /s) (cm /s) 1 1,929 4,545 2 3,858 4,545 3 5,787 4,545 Bola Kaca 4 1,929 9,09 5 3,858 9,09 6 5,787 9,09 7 1,929 13,635 8 3,858 13,635 9 5,787 13,635

PENGARUH REJIM ALIRAN TERHADAP MODEL KOEFISIEN PINDAH MASSA PADA PROSES EKSTRAKSI CAIR-CAIR DALAM KOLOM ISIAN

74

fasa


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Hasil dan pembahasan Koefisien pindah massa fasa kontinyu kc 0.0900

0.0850

0.0800

0.0750

kc cm/s

0.0700

0.0650

0.0600

0.0550

0.0500

0.0450

0.0400 1

2.25

3.5

4.75

6

Fc cm3/s

Fd = 4,54 cm3/s

Fd = 9,09 cm3/s

Fd = 13,63 cm/s

Gambar 4. Pengaruh laju alir fasa kontinyu dan fasa terdispersi terhadap koefisien pindah massa fasa kontinyu kc

Koefisien perpindahan massa

kontak yang terjadi. Pengaruh laju alir

fasa kontinyu diambil dari model yang

kedua fasa dalam peristiwa pindah

dikembangkan oleh Garner Foord

massa fasa kontinyu disampaikan

Tayeban dengan penghertian bahwa

dalam Gambar 4.

di dalam kolom isian fasa kontinyu

Koefisien pindah massa fasa

akan mengalir mememenuhi kolom

kontinyu lebih dominan dipengaruhi

beserta

oleh

isiannya

dan

mengalir

laju

kebawah. Selama dalam perjalanan

Perubahan

mengalir

menyebabkan

kebawah

dalam

kolom

alir

fasa

kontinyu.

laju alir kedua fasa perubahan

pada

bertemu dengan fasa terdispersi yang

koefisien

mengalir naik dengan bentuk tetes-

Perubahan yang terjadi senantiasa

tetes

sama

fasa

terdispersi.

Saat

pindah

(berimpit).

massanya.

Keadaan

bertemunya fasa kontinyu dan fasa

disebabkan pada fasa

dispersi perpindahan

terdispersi

disitulah

terjadinya

tidak atau sedikit sekali mengandung

massa.

Perpindahan

sat yang bisa berpindah dari fasa

massa dari fasa terdispersi ke fasa kontinyu

ini

dipengaruhi

oleh

terdispersi ke fasa kontinyu.

waktu

PENGARUH REJIM ALIRAN TERHADAP MODEL KOEFISIEN PINDAH MASSA PADA PROSES EKSTRAKSI CAIR-CAIR DALAM KOLOM ISIAN

75


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Koefisien pindah massa fasa terdispersi 0.0224

0.0222

0.0220

kd cm/s

0.0218

0.0216

0.0214

0.0212

0.0210

0.0208

0.0206 1

2.25

3.5

4.75

6

Fc cm3/s

Fd = 4,54 cm3/s

Fd = 9,09 cm3/s

Fd = 13,63 cm3/s

Gambar 5. Pengaruh laju alir fasa kontinyu dan fasa terdispersi terhadap koefisien pindah massa fasa terdispersi kd

Koefisien pindah massa fasa

terdispersi. Koefisien pindah massa

terdispersi diambil dari model yang

fasa terdispersi sangat dipengaruhi

dikembangkan oleh Handlos-Baron

oleh laju alir kedua fasa dalam kolom

dengan asumsi bahwa di dalam tetes

isian. Semakin tinggi laju alir salah

terjadi sirkulasi penuh, yaitu kondisi

satu fasa atau bahkan keduanya

tetes mendekati tetes berosilasi. Oleh

membuat koefisien pindah massanya

karena itu perpindahan massa secara

menurun. Sebab pada laju alir yang

difusi

tinggi terjadi turbulensi pada aliran

jauh

lebih

perpindahan

besar

secara

daripada molekuler.

yang

menyebabkan

memperhitungkan

bilangan

parameter viskositas dan kecepatan

bilangan

tetesan sehingga keberlakuan model

perubahan rejim aliran, perubahan

ini

rejim

Korelasi

lebih

ini

tepat

pada

gelembung

Reynold.

perubahan

Reynold

aliran

Perubahan berarti

menyebabkan

terjadi

model

bersirkulasi dengan rentang bilangan

koefisien perpindahan massa dari

Reynold, Re :10-200.

Handlos-Baron

Pada Gambar 5 menunjukkan perubahan

laju

menyebabkan koefisien

alir

kedua

perubahan

pindah

massa

tidak

akurat

lagi,

sebab model ini hanya bisa akurat

fasa

pada rentang bilangan Reynold 10 â&#x20AC;&#x201C;

pada

200 saja. Laju alir yang lebih lambat

fasa

menyebabkan aliran yang laminer,

PENGARUH REJIM ALIRAN TERHADAP MODEL KOEFISIEN PINDAH MASSA PADA PROSES EKSTRAKSI CAIR-CAIR DALAM KOLOM ISIAN

76


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

aliran laminer bilangan Reynoldnya

perpindahan massa zat terlarut dari

kecil.

fasa kontinyu ke lapisan batas sama dengan

Koefisien

pindah

massa

massa

zat

terlarut dari lapisan batas ke fasa

keseluruhan Kod Koefisien

perpindahan

terdispersi. Keadaan ini bisa diikuti massa

pada Gambar 6 Pada laju alir fasa

keseluruhan dapat dinyatakan dalam

kontinyu yang lebih rendah koefisien

basis fasa kontinyu ataupun fasa

pindah

terdispersi.

Pada

besar, namun pada laju alir yang

dinyatakan

dalam

terdispersi, perpindahan

pindah

penelitian basis

ini fasa

Kod.

Koefisien

massa

keseluruhan

lebih

massa mempunyai nilai

cepat

koefisien

pindah

massanya menurun. Perubahan nilai kosfisien pindah massa

karena

merupakan gabungan model HB-GFT

perubahan laju alir fasa terdispersi

(Handloss Baros â&#x20AC;&#x201C; Garner Foord

hampir

Tayeban). Model ini berlaku akurat

disebabkan

pada rentang bilangan Reynold 10 â&#x20AC;&#x201C;

massa zat terlarut dari fasa kontinyu

200.

ke

Koefisien

keseluruhan

dapat

berdasarkan

teori

pindah

massa

didefinisikan dua

selalu

lapisan

berimpit

karena

batas

hal

ini

perpindahan

sama

dengan

perpindahan massa zat terlarut dari

lapisan.

lapisan batas ke fasa terdispersi

Berdasarkan teori dua lapisan, fluks

PENGARUH REJIM ALIRAN TERHADAP MODEL KOEFISIEN PINDAH MASSA PADA PROSES EKSTRAKSI CAIR-CAIR DALAM KOLOM ISIAN

77


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

0.0250

0.0240

0.0230

0.0220

Kod cm/s

0.0210

0.0200

0.0190

0.0180

0.0170

0.0160 1

2.25

3.5

4.75

6

Fc cm3/s

Fd = 4,5 cm3/s

Fd = 9,09 cm3/s

Fd = 13,63 cm3/s

Gambar 6. Pengaruh laju alir fasa kontinyu dan fasa terdispersi terhadap koefisien pindah massa keseluruhan Kod Perhitungan tinggi kolom, Z 4.50 4.00

Zhitung/Znyata

3.50 3.00 2.50 2.00 1.50 1.00 0.50 0.00 0

0.02

0.04

0.06

K(od) Re = 35 ; Run 1, 4, 7 Re = 350 ; Run 1, 4, 7 model Re = 175

Re = 70 ; Run 1, 4, 7 model Re = 35 model Re = 350

Re = 175 ; Run 1, 4, 7 model Re = 70

Gambar 7. Tinggi kolom Z pada berbagai bilangan Reynold

Tinggi kolom dihitung dengan

Garner

Foord

Tayeban)

untuk

menggunakan model koefisien pindah

berbagai rejim aliran yang dinyatakan

massa keseluruhan gabungan dari

dengan bilangan Reynold. Gambar 7

model HB-GFT (Handloss-Baros â&#x20AC;&#x201C;

menjelaskan

perihal

perbandingan

PENGARUH REJIM ALIRAN TERHADAP MODEL KOEFISIEN PINDAH MASSA PADA PROSES EKSTRAKSI CAIR-CAIR DALAM KOLOM ISIAN

78


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

tinggi

kolom

perhitungan

menggunakan model koefisien pindah massa gabungan HB-GFT (Handloss–

Baros

Garner

dengan

tinggi

Foord

nyata.

Daftar notasi

Tayeban) Perubahan

d

= diameter tetesan, mm

dvs

= diameter rata-rata tetesan,

bilangan Reynold atau rejim aliran

mm

menyebabkan

pada

Re

= bilangan Reynold.

fasa

Sc

= bilangan Schmidt.

terdispersi dan kontinyu serta koefisien

Sh

= bilangan Sherwood.

pindah massa keseluruhan. Sebagai

U

= laju alir, cm3/dtk

akibatnya

ε

= fraksi kosong packing dalam

koefisien

perubahan

pindah

pada

massa

perhitungan

tinggi

kolom memberikan hasil yang tidak

model angelo-light foot.

akurat.

Pada

kc

berkisar

35

bilangan sampai

Reynold

175

masih

= koefisien pindah masssa fasa

kontinu, cm/dtk

memberikan hasil yang sesuai namun

kd

pada

dispersi, cm/dtk

bilangan

Reynold

375

= koefisien pindah masssa fasa

perhitungan sudah melambung tinggi,

m

ini menunjukkan model gabungan HB-

kesetimbangan.

GFT (Handloss-Baros – Garner Foord

Koc

Tayeban) tidak cocok bila digunakan

keseluruhan basis fasa kontinyu,

pada bilangan Reynold diatas 200.

cm/dtk Kod

Kesimpulan

= koefisien distribusi

= koefisien pindah massa

= koefisien pindah massa

keseluruhan basis fasa terdispersi,

Untuk

meramalkan

atau

cm/dtk

mernghitung tinggi kolom dengan rejim

ω

= kecepatan angular.

aliran

v

= kecepatan fasa kontinu.

yang

relatif

laminer

model

koefisien pindah massa gabungan HB-

cm/dtk

GFT (Handloss-Baros – Garner Foord

ρ

Tayeban)

g/cm3

lebih

cocok

digunakan.

= massa jenis fasa kontinu,

Untuk rejim yang lebih turbulen perlu

μ

= viskositas cairan, cP

model koefisien pindah massa yang

σ

= tegangan antar muka,

lain.

dyne/cm PENGARUH REJIM ALIRAN TERHADAP MODEL KOEFISIEN PINDAH MASSA PADA PROSES EKSTRAKSI CAIR-CAIR DALAM KOLOM ISIAN

79


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

c

= fasa kontinu.

d

= fasa dispersi.

Z

= tinggi kolom, m

Bn

= konstanta model kronig-brink.

g

= percepatan gravitasi.

Daftar Pustaka Laddha,

G.S.

,

Degaleesan,

T.E.

“Transport Phenomena ini Liquid Extraction”, Mc Graw Hill, New York, 1978. Mansyur,

Y.

dan

Hervianto,

B.C.

“Hidrodinamika Kolom Isian untuk Proses

Ekstraksi

Cair-Cair”,

Thesis ITB, 2004. Putranto,

Aditya,

“Kajian

Hidrodinamika Ekstraksi Cair-Cair pada kolom Isian”, Thesis ITB, 2004. Treyball, “Liquid-liquid Extraction”, Mc Graw Hill, New York, 1950. Treyball, “Mass Transfer Operations”, Mc Graw Hill, New York, 1980

PENGARUH REJIM ALIRAN TERHADAP MODEL KOEFISIEN PINDAH MASSA PADA PROSES EKSTRAKSI CAIR-CAIR DALAM KOLOM ISIAN

80


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI Mega Kasmiyatun Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik Untag Semarang Jl. Pawiyatan Luhur, Bendan Dhuwur Semarang, tilp. (024)8310920

ABSTRAK Katekin (C6H6O2) dalam teh adalah komponen utama yang menentukan mutu, baik cita rasa, kenampakan, maupun warna air seduhan. Katekin merupakan kerabat tanin terkondensasi yang sering disebut polifenol, mempunyai manfaat bagi kesehatan manusia. Untuk menghasilkan teh hijau dengan kadar katekin tinggi perlu proses pengeringan pada suhu rendah supaya senyawa polifenol tidah berubah menjadi theaflavin dan isomer-isomernya. Jenis pengering Endless Chain Vacuum (ECV) merupakan alat yang dapat dipakai untuk tujuan ini. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Membuat rancang bangun alat pengering ECV yang dapat mereduksi kandungan air, menginaktivasi enzimatis, dan menghindari peristiwa epimerisasi katekin untuk produksi teh hijau berkatekin tinggi; (2) Uji eksperimetal alat pengering ECV untuk mengkaji pengaruh temperatur, laju alir udara panas, dan waktu tinggal terhadap kandungan air dan katekin dalam teh hijau yang dihasilkan; dan (3) Menyusun model empirik laju pengeringan dari pengering ECV. Langkah penelitian meliputi: Perancangan dan pabrikasi alat pengering ECV; Uji eksperimental alat pengering untuk mengetahui seberapa jauh kinerja pengering EVC melalui pengkajian pengaruh temperatur, laju alir udara panas, dan waktu tinggal terhadap kandungan air dan katekin yang dihasilkan; pemodelan dan uji model. Hasilnya menunjukkan bahwa rancang bangun alat pengering ECV mampu mengeringkan teh hijau dengan kadar katekin 14,57%. Temperatur dan lajualir udara pengering berpengaruh pada kurve laju pengeringan atau waktu pengeringan, sedangkan waktu tinggal berpengaruh pada proses pengeringan ECV dan hasil katekin yang didapat. Disamping itu, dihasilkan model matematis yang menunjukkan hubungan antara berat daun teh sebagai fungsi waktu pengeringan, dimana dari uji validasi model menunjukkan tingkat ketepatan yang cukup baik. Kata kunci : Endless Chain Vacuum, katekin, pengeringan, teh hijau.

I.

PENDAHULUAN

perkebunan besar negara, dan 22% perkebunan besar swasta. Pasar teh

Teh

sebagai

penyegar merupakan

bahan

dan salah

minuman

menyehatkan satu

dunia

dibayangi

gejala

kelebihan

pasokan dan biaya produksi yang

komoditi

cenderung meningkat, mengharuskan

unggulan perkebunan Indonesia. Areal

para produsen teh untuk meningkatkan

teh Indonesia seluas 157.000 ha terdiri

daya saing dan nilai tambah. Akhir-

atas 54% perkebunan rakyat, 24%

akhir ini, aspek kesehatan teh disorot

REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

81


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

tajam sejalan dengan kecenderungan

80%

masyarakat mengkonsumsi makanan

sedangkan sisanya diolah menjadi teh

atau

hijau.

minuman

imbangan

substitusi

diet

kaya

sebagai

lemak

dan

diolah

menjadi

Teh

mengandung

teh

hitam,

hitam

lebih

sedikit

katekin

daripada

teh

kolesterol (Yulianto dkk., 2005; Utami

hijau karena dalam proses pengolahan

dkk., 2005).

teh

Senyawa Katekin (C6H6O2) dalam teh

mengalami

merupakan komponen utama dalam

memperbaiki

teh yang mendominasi sekitar 30%

aromanya.

berat

Efek menyehatkan pada teh terletak

kering.

Skobeleva,

(Bokuchava

1969;

Lunder,

dan 1989;

hitam dirancang agar katekin

pada

oksidasi warna,

senyawa

untuk rasa,

dan

katekin

yang

Graham, 1992; Price dan Spitzer,

dikandungnya (Copeland et al., 1998;

1993; Wang dan Helliwell, 2000).

Wanasundara

Katekin

dan

Shahidi,

1998;

kerabat

tanin

Zandi dan Gordon, 1999; Nwuha et al.,

sering

disebut

1999; Wang dan Helliwell, 2000; dan

gugus

Sava et al., 2001). Penelitian dengan

dimilikinya.

teh hijau Jepang menunjukkan bahwa

Katekin merupakan senyawa utama

katekin mempunyai banyak manfaat

yang menentukan mutu, baik cita rasa,

yaitu

kenampakan,

terjangkitnya

adalah

terkondensasi polifenol fungsi

yang

karena hidroksil

banyaknya yang

maupun

warna

air

seduhan (Graham, 1992). Kandungan

katekin

tanaman

teh

varietas

assamica

dibandingkan

kesehatan

pada

(Camellia lebih

varietas

dapat

pucuk

mengurangi kanker,

jantung,

resiko menjaga

bersifat

anti

oksidan, anti mikroba, dan bahkan

sinensis)

mampu

memperpanjang

masa

banyak

menopouse (Oguni, 1993; Bruneman,

sinensis

1991; Chen, 1991; Fujiki, 1991; Fung,

(Yamanashi, 1995). Namun demikian,

1991;

varietas sinensis memiliki aroma yang

Bambang (1995, 1996) kandungan

lebih baik karena memiliki kandungan

katekin pada daun teh Indonesia lebih

asam amino lebih tinggi. Tanaman teh

banyak dibanding katekin daun teh

yang

Jepang,

sehingga

diduga

mempunyai

hampir

dibudidayakan 100%

di

merupakan

Indonesia varietas

assamica. Pucuk teh yang dihasilkan

Hayatsu,

1991).

teh daya

Menurut

Indonesia potensi

menyehatkan lebih tinggi. Keunggulan

REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

82


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

ini membuka peluang bagi industri teh

terbatas, tidak cocok untuk bahan

Indonesia

teh

yang mudah menggumpal (lengket),

hijau berkatekin tinggi sebagai bahan

dan produk teh hijau yang dihasilkan

baku preparat katekin dan functional

memiliki kadar air relatif tinggi. Kadar

food

air

untuk

memproduksi

yang

mulai

populer

yang

masih

tinggi

pemakaiannya dewasa ini.

memungkinkan

Pengolahan teh hijau pada prinsipnya

oksidasi

dilakukan

menginaktifkan

mengakibatkan kadar katekin teh hijau

enzim polifenol oksidase, yaitu dengan

yang dihasilkan relatif rendah. Untuk

cara steaming (pemberian uap panas)

itu

dan cara panning (penggarangan).

pengering

Teknologi inaktivasi enzim polifenol

menggunakan Endless Chain Pressure

dengan pemberian uap panas lebih

(ECP) Drier.

banyak

Studi fundamental tentang ECP telah

dengan

memiliki

Meskipun

keunggulan.

demikian,

untuk

terjadinya

ini,

enzimatik

perlu

dilakukan

proses

polifenol,

dicari

alternatif

lain,

yaitu

pada

skala

yang

jenis dengan

laboratorium

menghasilkan teh hijau yang siap

dengan kajian perpindahan panas dan

dikonsumsi

massa.

dengan

kadar

katekin

Hasil telaah menunjukkan

tinggi dan kadar air sekitar 2 â&#x20AC;&#x201C; 3%,

bahwa ECP sangat potensial dalam

masih

menginaktifkan

diperlukan

tahapan

proses

enzim

polifenol

lanjut yaitu pengeringan, di mana

oksidase dan mereduksi kandungan

selain mengurangi kadar air juga untuk

air,

menghentikan

berkatekin tinggi (Utami dkk., 2005;

enzimatik

proses

polifenol

oksidasi

apabila

masih

sehingga

Setiawan

dihasilkan

dkk.,

2007).

teh

hijau

Meskipun

terdapat enzim yang masih aktif (Utami

demikian, ternyata masih ada masalah

dkk., 2005).

yaitu terjadinya peristiwa epimerisasi

Selama ini untuk pengolahan teh hijau,

katekin menjadi isomer-isomer seperti

menggunakan

produk

jenis

pengering

intermediet

theaflavin

dan

fluidized bed drier (FBD). Pengering ini

degradasi termal katekin. Hal ini terjadi

masih bersifat konvensional, karena

karena temperatur pengering yang

memerlukan

udara

relatif tinggi, sehingga menyebabkan

pengering cukup tinggi (0,5 â&#x20AC;&#x201C; 0,75

senyawa-senyawa polifenol berubah

m/s), ukuran dan densitas bahan

menjadi

kecepatan

theaflavin

dan

isomer-

REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

83


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

isomernya. Akibatnya, kadar katekin

kondisi proses yang optimum, yaitu:

(senyawa polifenol) teh hijau yang

(1) Membuat rancang bangun alat

dihasilkan relatif berkurang. Atas dasar

pengering ECV ; (2) Uji eksperimetal

itulah proses pengeringan sebaiknya

alat pengering ECV untuk mengkaji

dilakukan pada temperatur yang relatif

pengaruh temperatur, laju alir udara

rendah

panas, dan waktu tinggal terhadap

dengan

cara

pemvakuman

atau merendahkan tekanan

operasi

kandungan air dan katekin dalam teh

alat pengering, sebagaimana yang

hijau yang dihasilkan; (3) Menyusun

bterjadi pada alat pengering jenis ECV.

model empirik laju pengeringan dari

Keunggulan pengering ECV adalah:

pengering ECV.

luas permukaan kontak bahan dengan udara

panas

lebih

besar,

laju

Model

Perpindahan

Panas

dan

perpindahan panas dan massa lebih

Massa pada Pengeringan Daun Teh

besar,

Perpindahan

medium

pengering

besar

panas

dalam

proses

sehingga kapasitas pengeringannya

pengeringan terjadi karena perbedaan

besar,

tekanan uap air dari tempat yang

suhu

seragam

sepanjang

sehingga

hamparan

peristiwa

case

berbeda. Proses tersebut mirip dengan

hardening pada teh jarang terjadi, dan

pindah

gesekan

temperatur

antar

partikel

teh

relatif

panas

akibat

(Hall,

perbedaan

1971).

Hasil

kecil.Selain itu, peristiwa epimerisasi

penelitian pada proses pengeringan

katekin

dalam

dan

degradasi

termal

pengolahan

kemungkinan dapat dihindari (Utami

menunjukkan

dkk., 2005; Setiawan dkk., 2007).

berstruktur

Atas

tembakau, kadar air kritis dimulai pada

dasar

tersebut, pengering

keunggulan-keunggulan

maka ECV

perlu

penelaahan

dalam

seluler

periode laju

mereduksi

cukup

bahwa

tembakau untuk

bahan

seperti

daun

pengeringan

tinggi,

sehingga

seluruh

kandungan air, menginaktivasi enzim

penelitian

polifenol,

peristiwa

hanya dilakukan pada periode laju

epimerisasi katekin serta degradasi

menurun, dengan perpindahan massa

termal, agar diperoleh produk teh hijau

yang dikendalikan oleh mekanisme

berkatekin tinggi. Kajian dititikberatkan

difusi (Legros, et al., 1994). Proses

pada perancangan pengering ECV dan

pengolahan teh hijau menggunakan

dan

mencegah

mengenai

menurun

pengeringan

REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

84


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

bahan dasar daun teh yang juga berstruktur

seluler,

diperkirakan

sehingga

fenomena

yang

(2)

akan

Persamaan

2

adalah

persamaan

terjadi pada proses pengeringan teh

diferensial parsial yang memerlukan

hijau

kondisi

juga

akan

didominasi

oleh

mekanisme difusi. Dalam

awal

dan

kondisi

Berdasarkan fenomena yang terjadi,

penelitian

ini,

teh

syarat batas dapat ditetapkan sebagai

diasumsikan berbentuk slab (lempeng

berikut:

dengan panjang tak berhingga) karena

Kondisi awal, M(x, 0) = Mo

tebal

(3)

teh

jauh

diameternya. berbentuk

lebih

kecil

Pengeringan

lempeng

tak

dari bahan

Kondisi batas  L  M  , t   0  2 

berhingga

dapat diterangkan dengan persamaan (4)

kontinuitas (1) dari benda berbentuk lempeng

dengan

koefisien

difusivitas

kerapatan yang

M(-x, t) = M(x, t)

dan (5)

konstan

Dengan

(Incropera dan DeWitt, 1990; dan

Mt  Me 8  Mo  Me  2

(1) Jika bentuk lempeng tak berhingga, hanya

variabel,

metode diperoleh

penyelesaian persamaan difusi:

 2M 2M 2M  M   D 2    x t y 2 z 2  

air

menggunakan

pemisahan

Sanjuan et al., 1999).

difusi

batas.

dianggap

kearah sumbu x, berarti

 1n1

 2n  1

2

n 1

Dt   ex p 2n  12 2 2  L  

(6)

terjadi

Penyelesaian persamaan (6) dalam

M M  0, y z

bentuk deret dinyatakan oleh Crank,

sehingga Pers.(1) dapat disederhana-

1975; Henderson dan Perry, 1976; Mc-

kan menjadi:

Cabe et al., 1993; Bird et al., 1994 sebagai berikut:

 2M  M  D 2   x  t  

(2)

2 2 2        Mt  Me 8  D  L  .t 1 9D L  .t 1 25D  L  .t   e  e  .......... e Mo  Me  2  9 25 

(7) REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

85

    


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Suku yang dominan dari Pers (7)

Perancangan dan pabrikasi prototipe

adalah suku pertama. Suku-suku lain

pengering ECV.

hanya akan berpengaruh pada nilai t

Uji eksperimental alat pengering ECV

yang sangat kecil, [ 4Dt 2

Pengembangan model empirik dan

L

 0,1

]

(Mc-

validasi model

Cabe, et al., 1993). Dengan demikian, hampir seluruh nilai t Persamaan 16 dapat disederhanakan menjadi, Mt  Me 8  2 e k .t Mo  Me 

Perancangan

Pabrikasi

pengering ECV.

(8)

Perancangan

dan

pengering

ECV

Workshop

Teknik

pabrikasi dikerjakan Mesin

alat di

UNDIP

Semarang. (Gambar 1). Rangkaian

(18)

alat pengering yang digunakan untuk

dengan :

proses

k = D(/L)2

inaktivasi

enzim

polifenol

oksidase dan de-epimerisasi katekin.

(9)

Rangkaian

Persamaan (8) diselesaikan dengan

menghitung

nilai

alat

ini

terdiri

dari

pengering dengan pompa vakum, yang

cara numerik dan dapat digunakan untuk

dan

dilengkapi

difusivitas

dengan

termokopel,

manometer yang terhubung dengan

massa D.

komputer dan alat pencatat waktu. II. EKSPERIMENTAL 2.1

Kerangka Penelitian

Penelitian tentang inaktivasi enzim polifenol

oksidase

dan

studi

de-

epimeriasasi katekin melalui proses pengering untuk menghasilkan teh hijau berkatekin tinggi diinvestigasi baik

secara

eksperimen

maupun

pemodelan, meliputi :

REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

86


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

pencatat (multipoint recorder) serta alat pencatat waktu.

Gambar

5.

Alat pengering tipe

Endless Chain Vacuum (ECV) n

panas

dan

pengeringan teoritis,

massa

proses

berdasarkan

kajian

studi

fundamental

pada

banyak penelitian sebelumnya, yang dilakukan di Laboratorium Komputasi

Tabel 1. Lubang trays pada pengering

Proses Teknik Kimia Fakultas Teknik

ECV

UNTAG. kemudian

Model

yang

dipostulasi,

diturunkan

LUBANG

untuk

TRAYS

Mesh

(mm)

memperoleh persamaan yang nantinya

ayakan

Tray

Tray

Tray

akan diuji dengan menggunakan data

basah

atas

tenga

bawa

h

h

3,0

2,8

2,2

2.2 Bahan Penelitian

No. 5 dan 2,2

2,0

1,8

Bahan utama untuk penelitian berupa

6

daun teh yang diperoleh dari Kebun

No. 6 dan 2,0

2,0

1,8

Teh

7

yang diperoleh dari eksperimental. No. 4

PT.

Rumpun

Sari

Medini-

Limbangan Kendal. Bahan bakar solar dibeli dari pom bensin di Semarang.

Peralatan

Bahan-bahan kimia untuk keperluan

analisa kadar air adalah oven. Alat

analisa diperoleh dari PT. Bratachem

High

Semarang.

Chromatography

2.3

untuk

Peralatan Penelitian

Peralatan

yang

digunakan

yang

digunakan

Performance

keperluan

untuk

Liquid

(HPLC) digunakan analisa

katekin.

dalam

Higrometer digunakan untuk mengukur

penelitian adalah pengering tipe ECV,

kelembaban sistem. Peralatan lain

yang

pada

yang digunakan adalah cawan kecil,

Tabel 1. Alat ini dilengkapi dengan

erlen meyer, pipet, buret, labu ukur,

termokopel yang dihubungkan dengan

serta timbangan analitis.

karakteristiknya

tersaji

REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

87


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

2.4

Variabel Proses

input untuk membangun model dalam

Variabel penelitian yang divariasikan

bentuk persamaan empiris dengan

adalah suhu (80, 85 dan 90oC), laju alir

menggunakan program Matlab.

udara panas (15, 20, dan 30 l/menit). Suhu

divariasikan

tersebut,

karena

pada

rentang

merupakan

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

suhu

Pengeringan adalah penurunan kadar

inaktivasi enzim polifenol oksidase.

air

Tekanan ditetapkan, 60 mmHg, karena

sehingga bahan tersebut bebas dari

merupakan

serangan mikrobia, enzim, dan insekta

epimerisasi termal

kondisi katekin

katekin.

tidak dan

terjadi

degradasi

Kecepatan

bahan

yang

belt

sampai

merusak.

pembawa

panas

batas

Sebagai dan

tertentu

media

massa

uap

pengering ECV divariasi antara 4,2

biasanya digunakan udara dengan

sampai 9,2 cm/menit.

entalpi dan tekanan uap tertentu. Udara yang dipanaskan menyediakan

2.5

Prosedur Penelitian

panas untuk memenuhi kebutuhan

Daun teh yang berasal dari proses

panas

steaming

penguapan air dari bahan. Panas yang

serta

penggilingan,

sensibel

dan

panas

latent

dimasukkan kedalam pengering ECV

dibutuhkan

dan dipanaskan dengan udara panas

bertujuan

dalam keadaan vakum dengan tujuan

bahan (panas sensibel) dan untuk

mengurangi kadar air, menginaktifkan

penguapan massa uap air (panas

enzim

de-

latent penguapan). Panas dipasok dari

epimerisasi katekin dan mencegah

udara panas dengan entalpi tertentu,

degradasi

berbagai

dan uap dihantarkan ke udara dengan

pengeringan

tekanan uap parsial tertentu, kemudian

variabel.

polifenol

katekin

oxidase,

pada

Proses

berlangsung selama 20 menit. Sampel

dibawa

tiap interval 2 menit diambil,

konveksi.

diukur

kadar

katekin

serta

dan

dalam untuk

oleh

pengeringan

menaikkan

aliran

udara

suhu

secara

kadar

airnya. Hasil pengukuran digunakan

3.1 Pengaruh Lama Pengeringan

sebagai data untuk memvalidasi model

Gambar 2. menunjukkan hubungan

yang telah disusun. Dari data-data

waktu pengeringan terhadap kadar air

yang telah diukur, digunakan sebagai

teh hijau pada berbagai suhu. Semakin

REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

88


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

lama pengeringan, kadar air teh hijau

adalah berat air (kg) yang diuapkan

semakin menurun. Hal ini terjadi,

setiap satuan waktu (jam), setiap

karena

satuan

semakin

pengeringan

lama

menyebabkan

waktu kontak

luas

menunjukkan

(m2).

Gambar

hasil

kurve

3 laju

udara panas dengan teh hijau lebih

pengeringan dari daun teh hijau pada

lama,

perpindahan

suhu 80, 85, dan 90 oC, dengan laju

panas meningkat, akibatnya air yang

alir udara tetap sebesar 15 liter/menit.

berada dalam daun teh relatif banyak

Ketiga kurve tersebut mempunyai pola

yang menguap. Begitu pula dengan

yang sama yaitu mempunyai constant

suhu

drying rate dan falling drying rate

sehingga

laju

pengeringan,

semakin

besar

suhu menyebabkan persentase kadar

periods.

air semakin menurun. Hal ini sesuai

pengeringan, makin besar harga laju

pernyataan Leniger dkk (1975), yang

pengeringan konstan, makin pendek

menyebutkan bahwa laju pengeringan

periodenya, dan makin besar harga

teh dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu

critical moisture content nya. Hal ini

suhu,

dapat dipahami karena makin tinggi

kelembaban

dan

kecepatan

aliran udara.

tinggi

temperatur

suhu media pengering maka lebih kalor

atau

panas

sensibel

yang

dikandungnya, sehingga lebih banyak

60

Kadar air (%)

Makin

80 oC 85 oC

50 40

panas yang dipindahkan ke bahan

90 oC

30

basah

untuk

menguapkan

airnya

20

(sebanyak panas latennya). Akibatnya

10 0 0

10

20

30

40

50

harga laju pengeringannya menjadi

60

Waktu Pengeringan (menit)

besar.

Gambar 2. Grafik perubahan kadar air terhadap waktu pada berbagai suhu

80 oC

85 oC

90 oC

Laju pengeringan (kg/jam.m2)

4

3.2 Kurve Laju Pengeringan Kurve laju pengeringan merupakan hubungan antara laju pengeringan (N)

3 2 1 0 0

dan fraksi moisture (X) dalam bahan

0,1

0,2 0,3 0,4 Kadar moisture (X)

0,5

0,6

(dalam basis kering). Laju pengeringan REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

89


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Gambar 3. Kurve laju pengeringan pada berbagai temperatur (laju alir udara pengering 15 liter/menit)

dikandungnya juga semakin tinggi. Kurve laju pengeringan untuk laju udara 20 liter/menit dan 30 liter/menit

Dari kurve laju pengeringan ini juga

hampir berimpit, sehingga

laju alir

dapat diketahui kadar air pada kondisi

udara 20 liter/menit merupakan laju alir

kesetimbangan (equilibrium moisture

yang optimum.

content) untuk daun teh hijau sebesar 0,02 %, di mana harga ini sama untuk temperatur

Laju pengeringan (kg/jam.m2)

ketiga

15 l/menit

percobaan.

Perbedaan kurve laju pengeringan o

o

untuk suhu 80 C dan 85 C cukup signifikan, sedangkan untuk suhu 85 o

30 l/menit

3 2 1 0 0

0,1

o

C dan 90

20 l/menit

4

C perbedaannya tidak

0,2 0,3 0,4 Kadar moisture (X)

0,5

0,6

begitu nyata. Oleh karena itu suhu 85 Gambar 4. Kurve laju pengeringan pada berbagai laju alir udara pengering (temperatur 85 oC).

oC merupakan suhu yang optimal. Gambar 4 menunjukkan hasil kurve laju pengeringan dari daun teh hijau pada laju alir udara pengering 15, 20, dan 30 liter/menit, dengan suhu tetap

3.3. Kadar Katekin dan Kadar Air

85 oC. Sebagaimana seperti Gambar

Gambar 5 menunjukkan hubungan

5.3, ketiga kurve juga mempunyai pola

antara waktu tinggal bahan di dalam

yang sama yaitu mempunyai constant

pengering ECV terhadap kadar katekin

drying rate dan falling drying rate

dan kadar air teh hijau yang dihasilkan.

periods. Makin tinggi laju alir udara

Kadar katekin terbesar dicapai pada

pengering, makin besar harga laju

waktu tinggal 3000 detik yaitu sebesar

pengeringan konstan, makin pendek

14,6 %. Makin lama waktu tinggal,

periodenya, dan makin besar harga

kadar katekin mengalami kenaikan,

critical moisture content nya. Hal ini

dan

dapat dipahami karena makin tinggi

mencapai harga maksimum dimana

laju alir udara pengering pada suhu

apabila waktu tinggal ditambah maka

yang

kadar katekinnya justru mengalami

sama,

massanya

maka

panas

makin

besar

sensibel

yang

sampai

batas

waktu

tertentu

penurunan.

REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

90


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Nilai koefisien pengeringan dan faktor bentuk bahan diperoleh berdasarkan

Kadar (% w/w)

20 KATEKIN H2O

16

nilai kadar air awal bahan (%bk), kadar

12

air keseimbangan bahan (%bk), kadar

8

air bahan selama proses pengeringan

4

(%bk), dan waktu pengeringan (menit)

0 0

1000

2000 3000 Waktu tinggal (detik)

4000

dengan

menggu-nakan

metode

kuadrat terkecil, sehingga model laju pengeringan seperti pada persamaan

Gambar 5. Pengaruh waktu tinggal di pengering ECV terhadap kadar katekin dan moisture pada teh yang dihasilkan.

(8) dapat terbentuk. Nilai

koefisien

pengeringan,

faktor

bentuk bahan, dan model matematis Dengan makin lamanya waktu tinggal

laju pengeringan teh dapat dilihat pada

akan menyebabkan pemanasan lanjut sehingga

sebagian

mengurai.

Namun

tidak

dengan

kadar

airnya,

yang

waktu

tinggal

menunjukkan

kalau

katekin

Tabel 2. Dari Tabel 2 terlihat bahwa

akan

model

demikian

matematis

koefisien

memiliki

pengeringan

dan

nilai faktor

bentuk bahan yang berbeda pada masing-masing

diperbesar maka kadar air teh hijau

disebabkan

akan turun.

perlakuan. faktor

kelembaban

Hal

suhu

udara

ini dan

selama

pengeringan sangat berpengaruh pada 3.4 Model Matematis Pengeringan Teh Hijau

Laju

desorpsi

teh

sehingga

terjadi

perbedaan nilai tersebut.

REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

91


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Tabel 2. Model matematika laju pengering-an teh hijau dengan pengering ECV

SUHU KOEFISIEN

FAKTOR BENTUK MODEL MATEMATIS

(OC)

PENGERINGAN

BAHAN

80

0,6767

3,6451

Mt  Me  3.6451.e 0.6767t Mo  Me

85

0,6905

3,8318

Mt  Me  3.8318.e 0.6905t Mo  Me

90

0,8655

4,6776

Mt  Me  4.6776.e 0.8655t Mo  Me

Keterangan: *) 0 – 5 = sangat tepat, 5

Pengujian Terhadap Model Pengujian

terhadap

model

– 10 = tepat, 0 = tidak tepat

laju

pengeringan teh, dimaksudkan untuk mengetahui model formula

keabsahan

dalam untuk

Dari hasil pengujian, terlihat bahwa

(kesahihan)

kaitannya

model

sebagai

memprediksi

matematik

yang

diperoleh,

dapat memberi gambaran pengeringan

laju

pengeringan teh pada alat pengering

yang

sesungguhnya

tipe ECP drier Hasil pengujian dapat

pengering

dilihat pada Tabel 4.

digunakan untuk mengevaluasi setiap

ECV,

pada

sehingga

alat dapat

proses pengeringan teh hijau memakai alat pengering yang sejenis.

Tabel 4. Hasil pengujian terhadap model

V. KESIMPULAN Temperatur

R2

dan

lajualir

udara

SUH

MODUL

TINGKAT

U

US

KETEPATA

pengering berpengaruh pada kurve

(OC)

DEVIASI

N *)

laju

90

5,78

Tepat

0,95

pengeringan, sedangkan waktu tinggal

95

4,34

Sangat tepat

0,96

berpengaruh pada proses pengeringan

100

6,12

Tepat

0,94

ECV dan hasil katekin yang didapat.

pengeringan

atau

waktu

REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

92


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Secara Matematis laju pengeringan

(Telfairia

teh hijau dengan alat pengering ECV

Journal of Food Processing and

dapat diformulasikan sebagai berikut:

Preservation, 21. 21-32.

Mt  Me  3.6451.e 0.6767t Mo  Me

F. 2005, Kajian perpindahan panas

Mt  Me  3.8318.e 0.6905t ;untuk Mo  Me

o

Mt  Me  4.6776.e 0.8655t Mo  Me

C

leaves.

Ariwibowo, D.,Yulianto, M.E., & Arifan,

untuk suhu 80

o

C

occidentalis)

suhu 85

proses steaming inaktivasi enzim dalam

;untuk suhu 90

pengolahan

teh

hijau.

Majalah Teknik, ke XXVII, ISSN : 0852 – 1697.

o

C

Model matematis ini cukup tepat dalam

Bambang, K., dan T. Suhartika. 1995.

menggambarkan laju pengeringan teh

Potensi teh Indonesia ditinjau dari

hijau dengan ECV dan dapat dipakai

aspek

untuk

Penelitian

mengevaluasi

setiap

proses

kesehatan. dan

Lap.

Hasil

Pengembangan

pengeringan teh hijau memakai alat

Teknik Produksi dan Pasca Panen

pengering sejenis.

Teh dan Kina. TA. 1994/1995. Bambang, K., T. Suhartika., Supria, dan Tanjung, S. 1996. Katekin

UCAPAN TERIMA KASIH Pada

kesempatan

ini

pucuk teh segar dan perubahannya

Penulis

menyampaikan terima kasih kepada

selama

pengolahan.

Direktorat Penelitian dan Pengabdian

Penelitian

dan

Masyarakat

Teknik Produksi dan Pasca Panen

(DP2M)

Ditjen

Dikti

Hasil

Pengembangan

Teh dan Kina. TA. 1995/1996.

Depdiknas yang telah memberi hibah

Bambang,K., Abas, T., Affandi, A.,

untuk biaya penelitian ini.

Sumantri, S., dan Suryatmo, F. A. 2000. Rancang bangun proses teh

DAFTAR PUSTAKA Anonim.

2001.

Safety

data

hijau

for

berkadar

katekin

tinggi.

catechin.

Laporan Akhir. Proyek Pengkajian

http://phschem.ox.ac.uk./MSDS/.

Teknologi

Ariahu, C. C., Adekunle, D. E., &

Gambung.

degradation

Partisipatif.

Bhirud, P. R., & Sosulski, F. W. 1993.

NKPA, N. N. 1997. Kinetics of heat/enzymic

Pertanian

Thermal

of

inactivation

kinetics

of

ascorbic acid in fluted pumpkin REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

93


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

wheat germ Lipoxygenase. Journal

Daemen,

A.

destruction

of Food Science, 58. 1095-1098.

L.

H.

of

1983.

The

enzymes

and

Bird, R. B., Stewart, W. E., & Lighfoot,

bacteria during spray drying of milk

E. N. 1994. Transport phenomena.

and whey. 3. Analysis of the drying

John Wiley & Sons, Inc., London.

process according to the stages in

Brodkey, R. S., & Hershey, H. C. 1988.

which the destruction occurs. Neth.

Transport phenomena: A unified approach.

Milk Dairy J., 37. 213-28.

McGraw-Hill

Daemen, A. L. H., & van der Stege.

International Editions. New York.

1982. The destruction of enzymes

Bruneman, K. 1991. Teas and tea

and bacteria during spray drying of

components carcinogen

as

inhibibitors

formation

in

of

milk and whey. 2. The effect of the

model

drying conditions . Neth. Milk Dairy

system and man. Symp. Phs. And Pahrm.

Effects

of

J., 36. 211-29. Erkmen, O. 2000. Inactivation kinetics

Camellia

Sinensis. New York 3-5 March

of

Listeria

monocytogenes

in

1991.

Turkish White cheese during the ripening period. Journal of Food

Copeland, E. I., Clifford, M. N., & Williams, C. M. 1998. Preparation

Engineering, 46. 127-131.

of (-)-epigallocatechin gallate from

Ganthavorn, C., Nagel, C. W., &

commercial green tea by caffeine

Powers,

precipitation and solvent partition.

inactivation

of

asparagus

Food Chemistry, 61. 81-87.

lipoxygenase

and

peroxidase.

Crank, J. 1975. The mathematics of

A.

destruction

L. of

H.

R.

1991.

Thermal

Journal of Food Science, 56. 47-49.

diffusion. Clarendon Press. Oxford. Daemen,

J.

Geankoplis, C. J. 1983. Transport

1981.

The

processes: Momentum, heat, and

enzymes

and

mass.

bacteria during spray drying of milk

Allyn

and

Bacon,

Inc.

London.

and whey. 1. The thermoresistance

Graham, H. N. 1992. Green tea

of some enzymes and bacteria in

composition,

consumption,

and

milk and whey with various total

polyphenol chemistry. Preventative

solids contents. Neth. Milk Dairy J.,

Medicine, 21. 334-350.

35. 133-44. REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

94


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Gregory, R., & Bendall, D. 1966. The

Legros, R., Millington, M. A., & Clift, R.

purification and some properties of

1994. Drying of tobacco particles in

polyphenol

a

oxidase

from

tea.

Biochem. J. 101. 569-581.

mobilized

bed.

Drying

Technology, 12(3). 517-544.

Hall, C. W. 1971. Farm drying crops.

Lievense, L. C., Verbeek, M. A. M.,

The Avi Publ. Comp., Inc. Westport.

Taekema, T., Meerdink, G., & Riet,

Connecticut.

K.

V.

1992.

inactivation

Hanna, O. T., dan Sandal, O.C. 1995.

Modelling

of

the

Lactobacillus

Computational methods in chemical

Plantarum during a drying process.

engineering. Prentice Hall. New

Chemical

Jersey.

47(1). 87-97.

Incropera, F. P., & DeWitt, D.I. 1990.

Engineering

Science,

Luyben, K. Ch. A. M., Liou, J. K., &

Fundamentals of heat and mass

Bruin,

transfer. New York. Wiley.

degradation

Kerkhof, P. J. A. M. & Schoeber, W. J.

S.

1982.

Enzyme

during

drying.

Biotechnology and Bioengineering,

A. H. 1974. Theoretical modelling

XXIV. 533-552.

of the drying behaviour of droplets

Martens, M., Scheerlinck, N., Belie, N.

in spray driers. In Advances in

D., & Baerdemaeker, J. D. 2001.

Preconcentration and Dehydration

Numerical model for the combined

of Foods, ed. A. Spicer, Applied

simulation of heat transfer and

Science Publishers. London. 349-

enzyme

97.

cylindrical vegetables. Journal of

Kerkhof, P. J. A. M., & Coumans, W. J.

inactivation

kinetics

in

Food Engineering, 47. 185-193.

1990. Drying of foods: Transferring

McCabe, W. L., Smith, C. S., &

inside insights to outside outlooks.

Harriott, P. 1993. Unit operation of

Paper Prensented at the 7th Int.

chemical engineering. Mc. Graw-

Drying Symp., Praque.

Hill. Int. Book Co.

Kieviet, F. 1997. Modelling quality in spray

drying.

Eindhoven

PhD

Meerdink, G. 1993. Drying of liquid

Thesis.

food droplets: Enzyme inactivation

of

and multicomponent diffusion. PhD

University

Technology. The Netherlands.

Thesis.

Agricultural

University

Wageningen. The Netherlands. REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

95


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

individual flavanol in a range of

Meerdink, G., & Riet, K. V. 1991. Inactivation of a thermostable ď Ą-

green tea. Food Chemistry. 47. Riggs, J. B. 1988. An introduction to

Amylase during drying. Journal of

numerical methods for chemical

Food Engineering, 14. 83-102.

engineers. Texas Tech University

M. J., Sokhansanj, S., & Tutek, Z.

Press. USA.

1992. Determination of heat and mass transfer coefficients in thin

Roberts, E. A. H. 1961. The nature of

layer drying of grain. American

the phenolic oxidation products in

Society of Agricultural Engineers,

manufactured black tea. Tea Quart.

35(6). 1853-1858.

33. 190-200. Ruan,

Nunes, R. V., Swartzel, K. R., & Ollis,

J.

2005.

Quality

D. F. 1993. Thermal evaluation of

constituents

food processes: the role of a

sinensis(L) O. kuantze) as effected

reference temperature. Journal of

by the form and concenttration of

Food Engineering, 20. 1-15.

nitrogen and the supply of chloride.

Saguy,

Heat inactivation of lipase from

fluore-scens

or

ultra-high

(Camellia

1983. in

Computer-aided food

technology.

Marcel Dekker, Inc. New York and

Activation

Basel.

parameters and enzyme stability at low

I.

techniques

Pseudomonas P38:

tea

Disertation.

Owusu, R. K., & Makhzoum, A. 1992.

psychrotrophic

in

related

Sanderson, G. W. 1965a. On the

temperatures.

chemical basis of quality in black

Food Chemistry, 44. 261-268.

tea. Tea Qouart., 36. 172-181.

Popov, V. P. 1956. Oxidation of amino acids in the presence of tannins

Sanderson, G. W. 1965b. On the

and polyphenols of tea. Biokhimiya.

nature of the enzyme catechol

21. 383-387.

oxidase in Tea Plants. UART. 36.

Press.,

W.

H.,

Flannery,

B.

103-111.

P.,

Sanjuan, N., Simal, S., Bon, J., &

Teukolsky, S. A., & Vetterling, W. T. 1989. Numerical recipes in Pascal.

Mulet,

Cambridge Univ. Press.

broccoli stems rehydration process.

in

the

amount

1999.

Modelling

of

Journal of Food Engineering, 42.

Price, W. E., & Spitzer, J. C. 1993. Variations

A.

27-31.

of

REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

96


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Verhey,

Sava, V. M., Yang, S. M., Hong, M. Y.,

J.

P.

G.

1973.

Vacoule

Yang, P. C., & Huang, G. S. 2001.

formation in spray powder particles.

Isolation

3. Atomization and droplet drying.

an

characterization

of

melanic pigments derived from tea and

tea

polyphenols.

Neth. Milk Dairy J., 27. 3-18.

Food

Wijlhuizen, A. E., Kerkhof, P. J. A. M. & Bruin, S. 1979. Theoritical study of

Chemistry, 73. 177-184. Senin. Yulianto, M. E. & Ariwibowo, D.

the inactivation of phosphatase

2006. Model Perpindahan Panas

during spray drying of skim milk.

Teknologi

Chemical Engineering Science. 34.

Steaming

Proses

Inaktivasi Enzim Polifenol Oksidase Dalam

Pengolahan

Berkatekin

Teh

Tinggi,

651-60.

Hijau

Yamamoto, S., & Sano, Y. 1992. Drying

Laporan

droplet.

Setiawan, J.D. Yulianto, M.E. & Arifan, F. 2007. Model Perpindahan Panas Massa

Endless

Chain

Pada

enzyme

Chemical

Engineering

Science, 47(1). 177-183.

Pengering

Pressure

enzymes:

retention during drying of a single

Penelitian Fundamental DIKTI.

Dan

of

Yulianto, M.E., Ariwibowo, D., dan

(ECP)

Hartati, I.,2006. Model Perpindahan

Untuk Inaktivasi Enzim Polifenol

Panas dan Massa Pada Pengering

Oksidase,

Endless

Laporan

Sementara

Penelitian Fundamental DIKTI

A.

2000.

Pressure

(ECP)

Untuk Inaktivasi Enzim Polifenol

Sriwatanapongse, A., Balaban, M., & Teixera,

Chain

Oksidase, Majalah Ilmiah Dinamika

Thermal

Sains

Universitas

Pandanaran

inactivation kinetics of bromelain in

Semarang,

pineapple juice. Transaction of the

Agustus 2006, hal 35 -50, ISSN :

ASAE, 43. 1703-1708.

1412-8489.

Trautner, E. M. & Roberts, E. A. H.

Volume

3

No.

5,

Yulianto, M.E., Handayani, D., dan

1950. The chemical mechanism of

Setiawan,

the oxidative deamination of amino

Pengembangan Proses Inaktivasi

acids

Enzim Polifenol Oksidase Melalui

by

catechol

and

polyphenolase. Aust. J. Sci. Res.

Teknologi

Ser. B. 3. 356-380.

Produksi

J.D.,2007.

Steaming Teh

Hijau

Untuk Berkatekin

REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

97


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Tinggi. Penelitian

Laporan Terapan

Sementara Ristek.

REKAYASA PROSES PENGERING ENDLESS CHAIN VACUUM (ECV) SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN SENYAWA POLIFENOL PADA PRODUKSI TEH HIJAU BERKATEKIN TINGGI

98


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA MENJADI SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIOETANOL MENGGUNAKAN ZEOLIT SEBAGAI MOLECULAR SIEVE * ** Retno Ambarwati SL , Santa Monica , dan Yanastri Putri**D

*) Dosen Teknik Kimia, Fakultas Teknik **) Mahasiswa Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 Semarang; Jl. Pawiyatan Luhur, Bendhan Dhuwur Semarang Telp. (024)8310920, Email retnol@yahoo.com

Abstrak Pada industri Tapioka yang banyak terdapat di daerah Pati Jawa Tengah, selama ini air dari proses pengendapan langsung dialirkan ke selokan yang selanjutnya mengalir ke sungai. Padahal dengan masih adanya kandungan pati yang terdapat di dalam limbah cair tersebut, seharusnya dapat diolah kembali menjadi produk yang lebih bermanfaat , salah satunya adalah Bioetanol, yang mempunyai nilai ekonomis dan juga dapat menjadikannya sebagai salah satu sumber energi alternatif. Pengolahan limbah cair Tapioka menjadi bioetanol dilakukan pada berbagai kadar gula dengan cara memfermentasi limbah yang telah disterilkan dengan bantuan khamir atau yeast di dalam alat fermentor. Hasilfermentasi selanjutnya dipisahkan dari residu dengan cara destilasi I pada suhu 100o C. Bioetanol hasil destilasi ini selanjutnya ditingkatkan kadarnya dengan destilasi menggunakan alat HETP yang berlangsung pada suhu 80o C. Untuk meningkatkan kadar alkohol yang diperoleh selanjutnya dilakukan proses dehidrasi menggunakan zeolit. Dari hasil penelitian pengolahan limbah cair tapioka dari hasil fermentasi dan destilasi I diperoleh bioetanol dengan kadar tertinggi 35 % yang diperoleh dari limbah dengan kadar gula 17 %. Sedangkan dari pemurnian lebih lanjut terhadap bioetanol tersebut dengan destilasi menggunakan alat HETP diperoleh peningkatan bioetanol dari 35% menjadi 93 %. Dengan pemurnian lebih lanjut terhadap bioetanol hasil dengan cara dehidrasi menggunakan zeolit diperoleh bioetanol dengan kadar 97 %. Kata kunci : limbah zeolit,molekuler- sieve

cair

Tapioka.

Latar Belakang

Bioetanol,

sederhana, tapioka

ini

energi

dapat dibuat

alternatif,

diartikan

bahwa

dengan

Tapioka adalah tepung yang dibuat

mengekstrak

dengan

singkong

singkong tersebut kemudian diambil

Secara

patinya sehingga diperoleh tepung

sebagai

menggunakan bahan

baku

.

sebagian

umbi

cara dari

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA MENJADI SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIO-ETANOL MENGGUNAKAN ZEOLIT SEBAGAI MOLECULAR SIEVE

99


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

tapioka. Tapioka ini merupakan salah

dikeluhkan keberadaannya antara lain

satu bahan untuk keperluan industri

limbah padat, limbah gas dan limbah

makanan,

cair.

industri farmasi, industri

Limbah

cair

industri

tapioka

tekstil, industri perekat, dan lain-lain.

dihasilkan dari proses pembuatan, baik

Dengan beberapa kegunaan itulah,

dari pencucian bahan baku sampai

peranan

pada

singkong

menjadi

sangat

di

besar

Indonesia baik

pada

proses pemisahan

airnya

atau

proses

pengendapan.

industri skala kecil/ rumah tangga

Penanganan

maupun industri dengan skala besar/

terhadap hasil buangan limbah padat

pabrik.

dan limbah cair akan menghasilkan

Industri tapioka di Indonesia mulai

gas yang dapat mencemari udara.

marak pada tahun 1980-an. Teknologi

Limbah industri tapioka apabila tidak

yang digunakan pada industri tepung

diolah dengan baik dan benar dapat

tapioka, dapat dikelompokkan menjadi

menimbulkan berbagai masalah yaitu :

tiga yaitu

tradisional, semi modern,

timbulnya penyakit gatal-gatal, bau

dan full otomate. Secara tradisional,

yang tidak sedap, dan bila masuk

pengolahan

tambak menyebabkan ikan mati.

tapioka

mengandalkan

yang

pati dari

kurang

tepat

sinar matahari dan produksinya sangat

Pada industri Tapioka yang banyak

tergantung pada musim. Sementara

terdapat di daerah Pati Jawa Tengah,

secara

selama

semi

modern,

di

dalam

ini

air

dari

proses

pengolahannya menggunakan mesin

pengendapan langsung dialirkan ke

pengering (oven) dalam melakukan

selokan yang selanjutnya mengalir ke

proses pengeringan. Sedangkan full

sungai.

otomate

adanya kandungan pati yang terdapat

pengolahannya

menggunakan mesin dari proses awal

di

sampai produk jadi.

seharusnya

Namun

seiring

dengan

masih

limbah

cair

tersebut,

dapat

diolah

kembali

semakin

menjadi produk yang lebih bermanfaat

seperti

, salah satunya adalah Bioetanol, yang

sekarang ini, semakin banyak pula

mempunyai nilai ekonomis dan juga

dikeluhkan

proses

dapat menjadikannya sebagai salah

dari

tapioka.

satu sumber energi alternatif. Dari

yang

sering

hasil pengolahan limbah cair tapioka

pesatnya

produksi

penanganan Beberapa

dengan

dalam

Padahal

tapioka

tentang limbah limbah

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA MENJADI SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIO-ETANOL MENGGUNAKAN ZEOLIT SEBAGAI MOLECULAR SIEVE

100


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

menjadi

bioetanol

dimungkinkan

dengan

cara

mekanis, saringan

yaitu

bioetanol yang diperoleh kadarnya

menggunakan

rendah, sehingga belum memenuhi

Saringannya

standart pasar. Untuk itu diperlukan

Diatas saringan bergetar tersebut air

suatu teknologi untuk memperoleh

disemprotkan melalui pipa-pipa kecil.

bioetanol dengan konsentrasi tinggi

Untuk memberikan tekanan yang tinggi

dengan menggunakan penyerap air

digunakan pompa yang digerakkan

berupa zeolit.

dengan mesin diesel.

berupa

bergetar.

kasa

halus.

Pengendapan pati dilakukan di dalam Tapioka

bak-bak

Tapioka

pengendapan.

Bak

adalah tepung yang

pengendapan biasanya terbuat dari

dibuat dengan menggunakan singkong

kayu, pasangan batu bata yang dilapisi

sebagai bahan baku pembuatannya.

porselin, pasangan batu bata biasa

Secara sederhana, dapat diartikan

atau

bahwa tapioka ini dibuat dengan cara

pengendap yang dasarnya diberi alas

mengekstrak

sebagian

dari

kaca atau kayu. Lama pengendapan

singkong

tersebut

kemudian

yang baik adalah empat jam dan

sehingga

pembuangan air tidak boleh lebih dari

memisahkan

umbi

patinya

beton,

bahkan

ada

bak

diperoleh tepung tapioka.

satu jam, karena setelah lima jam

Teknologi pembuatan tapioka pada

sudah mulai terjadi pembusukan.

industri kecil adalah sebagai berikut:

Setelah

Pengupasan

cukup, air yang di atas dibuang

kulit

dengan

tenaga

pengendapan

manusia, dengan menggunakan pisau.

sebagai

limbah

Pencucian

tapioka

basah

dengan

cara

cair

dianggap

dan

diambil.

tepung

Beberapa

menyemprotkan air bersih.

pengrajin menambah bak pengendap

Pemarutan dilakukan secara mekanis

lagi untuk mengendapkan limbah cair

yang digerakkan dengan mesin diesel.

sebelum dibuang. Hasil endapannya

Hasil parutan adalah bubur ketela.

dinamakan lindur atau elot yaitu pati

Pada tahap ini air ditambahkan agar

yang kualitasnya jelek. Cara ini dapat

proses pemarutan lebih lancar.

menekan beban pencemaran.

Pemerasan

penyaringan

Setelah pati diambil, diletakkan pada

dilakukan

tampi-tampi bambu, atau ditaruh di

(pengekstrakan),

dan dapat

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA MENJADI SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIO-ETANOL MENGGUNAKAN ZEOLIT SEBAGAI MOLECULAR SIEVE

101


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

atas

lantai

yang

diplester

untuk

dengan beberapa metode diantaranya

dijemur di bawah sinar matahari.

dengan hidrolisis asam dan secara

Pati hasil pengeringan masih kasar,

enzimatis. Metode hidrolisis secara

sehingga perlu digiling dan dilakukan

enzimatis

penngayaan

karena

tapioka

untuk

halus.

menghasilkan

Rendemen

lebih lebih

sering ramah

digunakan lingkungan

pati

dibandingkan dengan katalis asam.

biasanya berkisar antara 19% - 25%.

Glukosa yang diperoleh selanjutnya

(www.bppt.com/pengolahan

dilakukan

tepung

tapioka.htm)

proses

fermentasi

atau

peragian dengan menambahkan yeast atau ragi sehingga diperoleh bioetanol

Selain

menghasilkan

tepung,

sebagai sumber energi.

pengolahan tapioka juga menghasilkan

Bahan baku pembuatan bioetanol ini

limbah, padat maupun limbah cair.

dibagi menjadi tiga kelompok yaitu:

Limbah padat seperti kulit singkong

Bahan sukrosa, yaitu bahan - bahan

dapat

pakan

seperti nira, tebu, nira nipati, nira

ternak dan pupuk, sedangkan onggok

sargum manis, nira kelapa, nira aren,

(ampas) yang berkualitas baik selama

dan sari buah mete.

ini diambil oleh industri lain untuk

Bahan berpati, yaitu bahan - bahan

diolah menjadi saos makanan. Limbah

yang

cair

karbohidrat,

antara

tepung

ganyong,

dimanfaatkan

dapat

untuk

dimanfaatkan

untuk

pengairan sawah dan ladang.

mengandung

ubi

pati lain

atau

tepung

sorgum

â&#x20AC;&#x201C; biji,

jagung, cantel, sagu, ubi kayu, ubi Bioetanol

jalar, dan lain - lain.

Bioetanol

merupakan

cairan

hasil

Bahan berselulosa (lignoselulosa ),

proses fermentasi gula dari sumber

yaitu

karbohidrat

mengandung selulosa (serat), antara

bantuan

(pati)

menggunakan

mikroorganisme

(Anonim,

bahan

tanaman

yang

lain kayu, jerami, batang pisang, dan

2007) dan dilanjutkan proses distilasi.

lain-lain.

Produksi bioetanol dari tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat,

Proses destilasi dapat menghasilkan

dilakukan

konversi

etanol dengan kadar 95% volume,

karbohidrat menjadi gula (glukosa)

bietanol ini biasa digunakan untuk

melalui

proses

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA MENJADI SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIO-ETANOL MENGGUNAKAN ZEOLIT SEBAGAI MOLECULAR SIEVE

102


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

industri. Sedangkan untuk keperluan

fermentasi

menggunakan

sebagai bahan bakar (biofuel) perlu

mikroorganisme

lebih dimurnikan lagi hingga mencapai

2007).

tertentu

(Mursyidin,

99% yang lazim disebut fuel grade ethanol

(FGE).

Proses

pemurnian

Fermentasi

dengan prinsip dehidrasi umumnya

Proses

fermentasi

sering

sebagai

proses

dilakukan dengan metode Molecular

didefinisikan

Sieve, untuk memisahkan air dari

pemecahan

senyawa etanol. Dalam penelitian ini

amino secara aerobik, yaitu tanpa

digunakan zeolit sebagai molecular

memerlukan oksigen. Senyawa yang

sieve. ( Musanif

dapat

digunakan

J). Bioetanol yang

sebagai

mempunyai

bahan

beberapa

bakar

karbohidrat

dipecah

fermentasi

kelebihan,

dan

dalam

asam

proses

terutama

adalah

karbohidrat, sedangkan asam amino

diantaranya lebih ramah lingkungan,

hanya

karena bahan bakar tersebut memiliki

beberapa

jenis

nilai oktan 92 lebih tinggi dari premium

(Fardiaz,

1992).

nilai oktan 88, dan pertamax nilai oktan

fermentasi

94. Hal ini menyebabkan bioetanol

kegiatan

dapat menggantikan fungsi zat aditif

tujuan mengubah sifat bahan agar

yang

untuk

dihasilkan

suatu

memperbesar nilai oktan. Zat aditif

(Widayati

dan

yang banyak digunakan seperti metal

Perubahan

tersier butil eter dan Pb, namun zat

proses

aditif tersebut sangat tidak ramah

diperbanyak

lingkungan dan bisa bersifat toksik.

metabolismenya

Bioetanol

tersebut

sering

ditambahkan

juga

merupakan

bahan

dapat

difermentasi bakteri

mikroba

tertentu

yang

jumlah

dan

Tahap

kompetibel

mengkonversi glukosa

mobil

dalam

digiatkan

batas

karbon dioksida (CO2) dan relatif

1996).

mikroba

didalam

(Santoso, 1989).

mesin

bermanfaat

karena

bakar yang tidak mengakumulasi gas

dengan

dengan

Widalestari,

fermentasi

proses

dasar

mengaktifkan

tersebut

dalam

tertentu

Prinsip

adalah

oleh

fermentasi

bahan tertentu

untuk

(gula) yang

berbahan bakar bensin. Kelebihan lain

terdapat di dalam limbah cair tapioka

dari

cara

tersebut menjadi etanol dan CO2. Pada

pembuatannya yang sederhana yaitu

proses fermentasi ini, khamir yang

bioetanol

ialah

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA MENJADI SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIO-ETANOL MENGGUNAKAN ZEOLIT SEBAGAI MOLECULAR SIEVE

103


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

digunakan

adalah

cerevisiae.

Dan

Saccaromyces

pada

proses

disebut sebagai jasad sakarolitik, yaitu

ini,

menggunakan gula sebagai sumber

dilakukan proses pemeraman atau

karbon

penyimpanan selama 3 hari pada suhu

(Alexopoulus

o

o

untuk dan

kamar ± 25 C – 32 C. Sesuai dengan

Saccharomyces

reaksi berikut ini :

menggunakan

Reaksi :

C6H1206

2C2H5OH

+

metabolisme Mims,

1979).

cerevisiae

mampu

sejumlah

gula,

---------

diantaranya

2CO2

fruktosa, galaktosa, mannosa, maltosa

khamir

sukrosa,

glukosa,

dan maltotriosa (Lewis dan Young, 1990).

Saccharomyces

Yeast merupakan fungsi uniseluler

merupakan

yang melakukan reproduksi secara

banyak digunakan pada fermentasi

pertunasan

atau

alkohol

tidak

tinggi, tahan terhadap kadar alkohol

berklorofil, tidak berflagella, berukuran

yang tinggi, tahan terhadap kadar gula

lebih besar dari bakteri, tidak dapat

yang tinggi dan tetap aktif melakukan

membentuk miselium berukuran bulat,

aktivitasnya pada suhu 4 – 32oC

bulat telur, batang, silinder seperti

(Kartika

buah

alkohol dari gula dilakukan oleh khamir

pembelahan

jeruk,

(budding) (fission).

Yeast

kadang-kadang

dapat

mikrobia

cerevisiae

karena

dapat

et.al.,1992).

paling

berproduksi

Pembentukan

mengalami diforfisme, bersifat saprofit,

penghasil

namun ada beberapa yang bersifat

ditambahkan pada sari buah bertujuan

parasit (Van Rij, 1984).

untuk memperoleh kadar alkohol yang

Saccharomyces cerevisiae merupakan

lebih tinggi, tetapi bila kadar gula

yeast yang termasuk dalam kelas

terlalu tinggi aktifitas khamir dapat

Hemiascomycetes,

terhambat. (Galih, 2010)

ordo

Endomycetales,

Gula

yang

famili

Saccharomycetaceae, Saccharoycoideae,

alkohol.

yang

Sub dan

famili

Dehidrasi Air dalam Alkohol

genus

Zeolit adalah senyawa alumino-silikat

Saccharomyces (Frazier dan Westhoff,

hidrat. Secara umum, zeolit memiliki

1978).

cerevisiae

melekular sruktur yang unik, dimana

merupakan organisme uniseluler yang

atom silikon dikelilingi oleh 4 atom

bersifat

oksigen

Saccharomyces

makhluk

mikroskopis

dan

sehingga

membentuk

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA MENJADI SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIO-ETANOL MENGGUNAKAN ZEOLIT SEBAGAI MOLECULAR SIEVE

104


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

semacam jaringan dengan pola yang

METODE PENELITIAN

teratur.

Bahan dan Alat Penelitian

Zeolit juga sering disebut sebagai

Bahan :

'molecular sieve'/ 'molecular mesh'

1. Limbah cair tapioka, diambil dari

(saringan

industri Tapioka di daerah Pati Jawa

molekuler)

karena

zeolit

memiliki pori-pori berukuran melekuler

Tengah

sehingga

mampu

2. Ragi/ yeast, dibeli di toko Miskasari

memisahkan/menyaring

molekul

Semarang

dengan

ukuran

tertentu.

Zeolit

3. Glukosa, dibeli di toko Indrasari

mempunyai beberapa sifat antara lain :

Semarang

mudah melepas air akibat pemanasan,

4. Zeolit,

tetapi juga mudah mengikat kembali

Semarang

dibeli di toko Indrasari

molekul air dalam udara lembab. Oleh sebab sifatnya tersebut maka zeolit

Alat :

banyak

Alat Sterilisasi , dari bahan Stainlis Stell

digunakan

sebagai

bahan

pengering. Disamping itu zeolit juga

dengan kapasitas 10 Liter.

mudah melepas kation dan diganti

Alat

dengan kation lainnya, misal zeolit

diameter 3 cm, tinggi 1 m dengan

melepas

natrium

bahan isian

dengan

mengikat

dan

magnesium.

Sifat

menyebabkan

zeolit

digantikan

kalsium ini

Destilasi

dari

bahan

gelas

plastik

atau

Alat Fermentasi , berupa stoples dari

pula

bahan plastik, yang bagian

tutupnya

dimanfaatkan

diberi lubang kecil dan diberi selang

untuk melunakkan air. Zeolit dengan

untuk keluarnya karbondioksida hasil

ukuran rongga tertentu digunakan pula

reaksi fermentasi

sebagai

Alat ukur kadar gula dan alat ukur

katalis

untuk

mengubah

alkohol menjadi hidrokarbon sehingga

kadar alkohol

alkohol

dapat

sebagai

Termometer

bensin.

Zeolit

banyak

Ph meter

digunakan di

alam

ditemukan di India, Siprus, Jerman dan Amerika Serikat.(www.wikipedia.org)

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA MENJADI SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIO-ETANOL MENGGUNAKAN ZEOLIT SEBAGAI MOLECULAR SIEVE

105


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Cara Penelitian

berlangsung, kondisi operasi harus

Tahap Awal Proses Penelitian

dijaga sekitar 35o C, dengan pH= 4.5

Memanaskan limbah cair sampai suhu

â&#x20AC;&#x201C; 5.5. Selama 6 â&#x20AC;&#x201C; 24 jam akan muncul

100oC

,

gas CO2 dengan ditandai adanya

pada

gelembung di dalam larutan tersebut,

sambil

diaduk

mempertahankan

suhu

temperatur tersebut selama 60 menit.

ini berarti bahwa proses fermentasi

Kemudian didinginkan larutan hingga

sudah

mencapai suhu 34oC.

gelembung gas CO2 sudah habis atau

Membuat

starter

dari

limbah

cair

larutan

mulai

terjadi.

tersebut

sudah

tidak

berarti

bahwa

tapioka yang telah steril ( 10 % dari

bergelembung,

volume limbah cair yang akan diproses

proses fermentasi telah selesai dan

dengan kadar gula tertentu ditambah

larutan tersebut sudah siap untuk

ragi dengan jumlah tertentu, dicampur

didestilasi.

kemudian didiamkan selama 24 jam

ini

Apabila

Proses ditilasi I:

4. Menghitung jumlah mikrobia

Memasukkan larutan hasil fermentasi

dari starter ( mengatur supaya jumlah

ke dalam evaporator.

mikroorganisme minimal 6 juta/ml)

Memanaskan

evaporator

hingga

mencapai suhu 100oC. Langkah-langkah

proses

Setelah

mencapai

suhu

yang

fermentasi:

diinginkan, maka air dan alkohol akan

Setelah suhu larutan mencapai 34oC,

menguap keatas selanjutnya melewati

memasukkan larutan kedalam tangki

pendingin hingga mengembun dan

fermentor. Melakukan test pH larutan

menetes sebagai destilat.

dan

Dari proses distilasi ini akan diperoleh

pH

larutan

yang

diharapkan

sekitar 4,5 sampai 5.

etanol dengan

Menambahkan larutan ragi ( yang

rendah

memiliki

konsentrasi

106

Mengetes

kadar yang masih

kadar

alkohol

yang

mikroorganisme/ml ) ke dalam tangki

diperolah dengan alat alkoholmeter

fermentor dan diaduk hingga merata.

Dan untuk mendapatkan high purity

Membiarkan

dalam

ethanol product atau Bioetanol, maka

fermentor selama 40-58 jam, agar ragi

kita lakukan proses dehidrasi dengan

bekerja. Selama proses fermentasi

menggunakan zeolit.

larutan

di

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA MENJADI SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIO-ETANOL MENGGUNAKAN ZEOLIT SEBAGAI MOLECULAR SIEVE

106


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Proses ditilasi II: 1. Memasukkan larutan hasil destilasi I ke dalam evaporator. Memanaskan

HASIL

evaporator

hingga

DAN

PEMBAHASAN

o

mencapai suhu

100 C, dan suhu

puncak 80 o C. Setelah

PENELITIAN

A. Pengaruh Kadar Gula Air Limbah

mencapai

suhu

yang

terhadap Kadar Alkohol

diinginkan, alkohol menguap keatas

Dari

penelitian

pembuatan

selanjutnya melewati pendingin hingga

bioetanol dari limbah cair Tapioka

mengembun dan menetes sebagai

yang diambil dari pengrajin Tapioka di

destilat, sedangkan air tetap di bawah

daerah

Untuk

selanjutnya

ethanol

mendapatkan product

high

atau

purity

Bioetanol,

Pati

Jawa

Tengah,

diatur

kadar

yang

gulanya

dengan cara menambahkan glukosa

selanjutnya dilakukan proses dehidrasi

anhidrous,

dengan menggunakan zeolit.

fermentasi

Dehidrasi Bioetanol

dengan perbandingan tertentu dan

Bioetanol yang diperoleh dari proses

dilanjutkan pemurnian dengan destilasi

destilasi

I

II

selanjutnya

dengan

alat

dimurnikan

HETP dengan

setelah menggunakan

diperoleh

seperti

dilakukan

hasil

yeast

sebagai

berikut

tabel

1:

pada

dehidrasi menggunakan zeolit. Tabel 1. Kadar Alkohol hasil Fermentasi dan Distilasi I Kadar Gula

Kadar Alkohol

Air Limbah

Hasil Destilasi

%

I %

11

2

14

3

16

15

17

35

18

14

20

4

23

2

KADAR ALKOHOL HASIL DESTILASI I

GRAFIK HASIL FERMENTASI DAN DISTILASI I 40 35 30 25 20 15 10 5 0

Series1 Series2

1

2

3

4

5

6

7

KADAR GULA AIR LIMBAH

Gambar 1. Grafik Hubungan Kadar Gula dengan Kadar Alkohol

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA MENJADI SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIO-ETANOL MENGGUNAKAN ZEOLIT SEBAGAI MOLECULAR SIEVE

107


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Dari tabel 1dan gambar 1,

nampak

pengurai,

sehingga

alkohol

yang

bahwa pada kadar gula 11 % hingga

dihasilkan sedikit. Kadar gula optimal

17 % diperoleh alkohol dengan dengan

dicapai pada 17%, pada saat ini

kadar

ini

diperoleh alkohol dengan kadar 35%

dikarenakan semakin tinggi kadar gula

hal ini dikarenakan pada kondisi ini

dalam

kadar gula air limbah pada kondisi

yang

air

meningkat,

limbah

akan

hal

diperoleh

alkohol yang besar pula. Tetapi dari

optimal untuk proses

peruraian

tabel 1 dan gambar 1 juga nampak

aldehid menjadi keton oleh khamir.

bahwa pada kadar gula air limbah lebih

dari 17

%

B. Kadar Bioetanol setelah Proses Destilasi II

, alkohol yang

dengan HETP

diperoleh kadarnya menurun, hal ini

Bioetanol

yang

dihasilkan

dari

dikarenakan pada air limbah dengan

distilasi I, selanjutnya dimurnikan lagi dengan

kadar

dapat

destilasi II menggunakan alat HETP, dan dari

khamir

penelitian pada berbagai kadar alkohol yang

gula

yang

tinggi

menghambat pertumbuhan

diproses

atau yeast sebagai mikroorganisme

sebagai

Tabel 2. Hasil Destilasi II dengan HETP Kadar Alkohol

Hasil Destilasi Hasil Destilasi II I 3

21

berikut

peningkatan

seperti

pada

alkohol tabel

2.

GRAFIK HASIL DESTILASI II DENGAN HETP KADAR ALKOHOL HASIL DESTILASI II

Kadar Alkohol

diperoleh

100 80 60

Series1

40

Series2

20 0 1

2

3

4

5

KADAR ALKOHOL HASIL DESTILASI I

4

24

14

93

15

93

30

93

Gambar 2

Dari Tabel 2 dan gambar 2, nampak

masuk proses

destilasi tahap 2

bahwa kanikan kadar alkohol yang

dengan alat HETP

menunjukkan

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA MENJADI SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIO-ETANOL MENGGUNAKAN ZEOLIT SEBAGAI MOLECULAR SIEVE

108


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

bahwa

kenaikan

memberikan

kadar

hasil

alkohol

output

yang

C. Kadar Bioetanol setelah Proses

eksponensial, yaitu meskipun kadar

Dehidrasi dengan Zeolit

alkohol yang masuk proses destilasi

Bioetanol yang diperoleh dari hasil

HETP semakin tinggi , kadar alkohol

destilasi

output setelah mencapai 93 % akan

selanjutnya

konstan dan tidak naik lagi, hal ini

alkoholnya

dikarenakan kemampuan alat HETP

menggunakan zeolit, dan dari hasil

hanya dapat memprose pemurnian

penelitian dari bioetanol yang memiliki

maksimum sampai memperoleh kadar

kadar 93 % setelah didehidrasi pada

93 %.

berbagai

II

dengan

alat

HETP

ditingkatkan dengan

waktu

cara

kadar dehidrasi

diperoleh

hasil

sebagai berikut seperti pada tabel 3. Tabel 3. Hasil Alkohol setelah Proses Dehidrasi dengan Zeolit Kadar Alkohol

Waktu

Kadar Alkohol

Hasil Destilasi Dehidrasi

Hasil Destilasi

I

menit

II

93

60

95

93

120

95

93

180

96

93

240

97

93

300

97

KADAR ALKOHOL HASIL DESTILASI II

GRAFIK HASIL ALKOHOL SETELAH PROSES DEHIDRASI ZEOLIT 350 300 250 200 150 100 50 0

Series1 Series2

1

2

3

4

5

WAKTU DEHIDRASI MENIT

Gambar 3. Grafik Hasil Alkohol Setelah Proses Dehidrasi dengan Zeolit

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA MENJADI SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIO-ETANOL MENGGUNAKAN ZEOLIT SEBAGAI MOLECULAR SIEVE

109


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Dari tabel 3 dan gambar 3, nampak

Konsentrasi maksimal bioetanol yang

bahwa pada dehidrasi pada bioetanol

diperoleh dar pengolahan air limbah

menggunakan zeolit dari kadar alkohol

tanpa dehidrasi adala 35 % dengan

93 % dapat ditingkatkan kadarnya

destilasi I, dan 93 % dengan destilasi II

menjadi 97 %, hal ini menunjukkan

(HETP)

bahwa

Dengan penggunaan zeolit sebagai

proses

peningkatan

kadar

bioetanol diatas 95 % dapat dilakukan

penyerap

hasil

dengan dehidrasi menggunakan zeolit.

meningkatkan

destilasi

konsentrasi

dapat bioetanol

hingga 97 %

KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA Dari pengolahan menjadi

hasil

limbah

Bioetanol

cair yang

penelitian Tapioka

Suprapti,

dilakukan

Tapioka:

M.

Lies,

Pembuatan

dengan fermentasi air limbah yang

Pemanfaatannya.

diatur

Yogyakarta.

kadarnya

dengan

2005.

Tepung dan Kanisius.

menambahkan glukosa kering , dan

www.bppt.com/pengolahan

dlanjutkan proses pemurnian secara

tapioka.htm

destilasi I, destilasi II dengan HETP,

www.bppt.com/Departemen

dan

Lingkungan hidup(limbah tapioka).htm

dehidrasi

menggunakan

zolit

diperoleh hasil sebagai berikut :

Balai

Limbah cair Tapioka dapat diolah

2005. Kelayakan Tekno-Ekonomi Bio-

menjadi Bioetanol

Ethanol Sebagai BahanBakar Alternatif

Semakin tinggi kadar gula pada air

Terbarukan.

limbah, maka semakin tinggi pula

Galih,A.R.,

konsentrasi bioetanol yang dihasilkan,

Penambahan Gula Pasir Terhadap

hingga mencapai kondisi optimum,

Kadar Alkohol Dan Kadar Vitamin C

tetapi

Pada Pembuatan Sari Buah Belimbing

bila

kadar

gula

melebihi

Besar

Teknologi

tepung

2010,

Pati-BPPT,

Pengaruh

Manis (Averrhoa Carambola) Yang

optimum, kadar alkohol kan menurun

Difermentasikan PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA MENJADI SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIO-ETANOL MENGGUNAKAN ZEOLIT SEBAGAI MOLECULAR SIEVE

110


SARGA, Volume XVI, Edisi 3; November 2010

Alexopoulus, C.J and C.W. Mims.

Assegaf F.2009,

1979. Introductory Technology. John

Bioetanol

Wiley and Sons. New York. 632 PP.

(MusaParadisiacal)

Anonim. 2008. Bioetanol Bahan baku

Metode Hidrolisis Asam danEnzimatis,

Singkong.

makalah

The

Largest

Aceh

Prospek Produksi

Bonggol

Lomba

Pisang

Menggunakan

Karya

Tulis.

Community. Aceh.

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA MENJADI SUMBER ENERGI ALTERNATIF BIO-ETANOL MENGGUNAKAN ZEOLIT SEBAGAI MOLECULAR SIEVE

111


SARGA edisi november 2010