Page 1


Taofiq ‘12


Diterbitkan Oleh : Lembaga Pers Mahasiswa PENDAPA Tamansiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Pelindung : Drs. H. Pardimin, M.Pd. (Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa) Penasehat : Drs. Hadi Pangestu R., S.T., M.T. (Wakil Rektor III UST) Pemimpin Umum Wakil PU Sekretaris Umum Bendahara Umum Pemimpin Redaksi Wakil Pemimpin Redaksi Sekretaris Redaksi Redaktur Pelaksana Layout dan Artistik

: : : :

Wahyu Zulfiansyah Seno Dwi Sulistyo Ana Kusumaning Wardhani Maryani

: Ahmad Mustaqim : : : :

Desi Sri Rahayu Tikha Novita Sari Wayahdi, Ernawati Subyanto Dwi Santoso, Enggar Pujana, Desi Sri Rahayu, Taofiq Tri Yudhanto, Maryani Reporter : Rahma, Supriyanti, Wahyu, Subyanto, Desi Sri, Mustaqim, Ana, Erningsih, Eko Budiono, M. Efendi, Ernawati, Seno, Taofiq, Aisyah, Nur Romdlon, Umi Lailatun N, Fak Izin, Lili, Maryani, Yutin, Tikha N, Sigit, Wulandari, Wayahdi, Hironimus, Ofirisha, Eva, Hanung, Fiqhi, Arman, Citra, Putri, Hafidz, Fitri, Suratmi, Niswa, Indra Leviana, Subekti, Fajar, Fadhiel, Wulandari S Editor : Sigit Pambudi, Wayahdi, Supriyanti

Dokumentasi dan : Wakhidatun Aisyah RA, Darmiati, Umi Kepustakaan Lailatun Ni’mah, Lili S. Kepala Penelitian : Syarifatur Rahma dan Pengembangan Staf Penelitian dan : Eko Budiono, Nur Romdlon, Pengembangan Wulandari S. Pemimpin Perusahaan : Fadhiel Wiza Munabari Staf Perusahaan : Sigit Pambudi, Wulandari Jaringan Kerja : Taofiq Tri Yudhanto

Alamat : Jl. Batikan No.02, Kompleks Perpustakaan Pusat UST E-mail : lpm_pendapa@yahoo.com Website : lpmpendapa.com Izin Terbit : SK Rektor Nomor 021/SW/Kep/Pim/IV/1988 ISSN : 0215-8868

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

P

Kunthi

ertengahan tahun 2012 lalu, sekitar pukul 4 pagi, sesosok wanita berambut hitam panjang berpakaian serba putih terlihat di tengah pintu masuk sebelah selatan, pintu masuk-keluar unit kegiatan mahasiswa (UKM). Dengan warna matanya yang merah menyala, makhluk tersebut berada di hadapan salah seorang anggota LPM Pendapa ketika hendak ke kamar mandi. Seketika, ia berbalik arah dan masuk kembali ke dalam kantor redaksi LPM Pendapa. Ia pun kemudian menyebutnya sebagai “Nona Kunthi”. Lantas, ia menceritakan kejadian tersebut kepada kawan-kawan yang ada di LPM Pendapa. Selang beberapa hari, anggota LPM Pendapa lainnya juga menemui hal serupa. Bukan melihat di luar, melainkan di salah satu ruang redaksi LPM Pendapa. Terkadang, pada malam hari, bau wangi yang menyengat juga sesekali muncul. Dapat dikatakan mitos jika dikaitkan dengan tanda-pertanda mengenai hal seperti itu. Namun, ada yang mengatakan, mungkin kawan-kawan kurang terlihat geliatnya untuk beraktivitas di kantor redaksi LPM Pendapa. Kebebasan menempati ruang redaksi seolah kurang cukup menumbuhkan kembali rasa kebersamaan untuk berkarya. Terkadang semangat kami berapi-api. Tak jarang pula semangat itu seolah hilang ditelan bumi. Pada awal terbentuknya kepengurusan, semangat besar cukup terlihat. Beberapa program dicanangkan sebagai modal awal untuk melangkah. Belum setengah perjalanan, dinamika kehidupan di LPM Pendapa kian memprihatinkan. Semangat berkarya sebagai cerminan geliat LPM Pendapa, seolah menjadi “penyakit” yang mutlak untuk disembuhkan. Istilah “seleksi alam” pun mewarnai hilangnya satu-persatu anggota di tengah perjalanan. Rasa semangat yang sebelumnya ada, kini bagai kemunculan “Nona Kunthi” yang hanya sesekali menampakkan diri. Dengan sisa semangat yang masih tersimpan, kami terus berjalan. Termasuk halnya menghidupkan kembali atmosfer kegiatan dan menerbitkan Majalah Pendapa Edisi 54. Pada awal penggarapan majalah, sempat muncul konflik. Perlahan, konflik tersebut mampu kami atasi. Penambangan batu kapur (karst) di Kabupaten Gunungkidul akhirnya terpilih menjadi tema utama atau Fokus. Untuk Laporan Khusus (Lapsus), kami mengangkat perihal Pendapa Agung Tamansiswa. Sebuah benda cagar budaya Tamansiswa yang bersejarah, namun disewakan untuk acara pernikahan. Selain itu, rubrik lain dengan tema yang tak kalah menariknya dapat sidang pembaca telusuri halaman demi halaman dalam majalah kami. Itulah hasil dinamika kehidupan dan perjuangan kami. Semoga tak hanya sampai di situ. Tabik![p] Penjaga Lorong Pojok

3


Fokus 10 Hidup, Berani untuk Bekerja dan Hutang 13 Geliat Pengusaha Pertambangan di Gunungkidul 17 Membaca Potensi (Kawasan) Karst 20 Peraturan Pemerintah Dilanggar, Surat Edaran Tak Menghentikan Wawancara 24 Tawuran Antarpelajar Itu Tradisi Kampung Lapsus 26 (Museum) Pendapa Agung Tamansiswa 28 Pendapa Agung Dikomersilkan, Salahkah? 30 Fungsikan Sebagaimana Mestinya

13

English Corner 32 Rasulan, A Unique Costum from Gunungkidul Blitz 33 Permainanku, Wahana Edukasiku Opini 37 Operasi CIA dalam Pertambangan di Indonesia 39 Universitas Minus Ikatan Alumni Ekonomi 42 Kalirejo Gelap di Antara Kilauan Emas 45 Perhiasan Emas Lesu, Pengrajin Emas Tradisional Beralih ke Perak Pertanian 47 Bertani Bunga Krisan, Ribet yang Prospek

47 Sastra 49 Keberfungsian Karya Sastra Cerpen 52 Wasti Budaya 56 Keris Menjaga Empu Tetap pada Trahnya Profil 59 Pahlawan yang (Mesti) Hidup Sederhana Resensi 61 Kiai di Era Global Pojok Jogja 62 “Monumen“ Kebangkitan Petani Indonesia

59 4

Pendapa Selintas 65 Kampus Resmi, Namun Belum Ada Mahasiswa

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


Edisi 54, 2012 Cover : Enggar Pujana P.

WIDYA MANDALA, NASIBMU KINI Ketika saya menjelajahi kawasan wisata Kaliurang, Yogyakarta beberapa waktu yang lalu, secara tidak sengaja saya melihat sebuah bangunan pesanggrahan/wisma yang sudah tidak dipakai dan tidak terawat oleh pemilik wisma tersebut. Saya kaget saat mengetahui bahwa wisma yang bernama ‘Widya Mandala’ itu ternyata milik Univeritas Sarjanawiyata Tamansiswa setelah membaca sebuah papan plakat tua yang berada di teras wisma. Lokasi Wisma Widya Mandala bersebelahan dengan Goa Jepang, sehingga cukup mudah jika hendak berkunjung ke sana. Wisma Widya Mandala masih tetap berdiri kokoh meskipun bangunannya sudah tampak kusam dan kotor karena sudah terbengkalai dan tidak dirawat dengan baik. Kesan angker pun muncul ketika saya mencoba mendekati bangunan bertingkat ini untuk melihat dengan jelas serta mengambil beberapa foto. Sebagian atapnya sudah dipenuhi lumut tebal yang semakin menunjukkan bahwa wisma ini sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya, dalam hal ini pihak kampus UST. Saya prihatin melihat kondisi wisma milik UST saat ini. Saya berpandangan bahwa sebenarnya wisma ini merupakan sebuah aset berharga yang seharusnya dapat

dikelola dengan baik oleh pihak otoritas kampus. Hal ini dikarenakan kampus memiliki peran vital guna menunjang kegiatan segenap sivitas akademik UST. Contohnya seperti makrab maupun kegiatan rutin lainya yang dilaksanakan tiap tahun oleh unit kegiatan mahasiswa (UKM) dan lembaga kemahasiswaan UST yang terkadang harus dilaksanakan di luar kampus. Apalagi jika melihat situasi dan kondisi kampus saat ini yang sedang berkembang seiring dengan jumlah mahasiswa yang semakin banyak dari tahun ke tahun. Di samping itu, memiliki sebuah wisma di kawasan wisata Kaliurang merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi kampus UST. Tidak semua sekolah, yayasan pendidikan ataupun universitas di Yogyakarta yang mempunyai aset berharga seperti ini. Dalam hal ini, hanya pihak otoritas kampus yang mengetahui secara pasti dan detail mengenai sejarah dan faktor-faktor yang menyebabkan ditutupnya Wisma Widya Mandala UST. Saya hanya bisa berharap kepada otoritas kampus agar segera merenovasi dan membuka kembali wisma ini sehingga aset berharga tersebut dapat digunakan lagi sebagaimana mestinya. Bahkan saya yakin pihak UST mampu membeli lagi sebidang tanah di sekitar wisma guna memperluas area wisma agar dapat meningkatkan fungsi dan kapasitasnya sebagai pesanggrahan yang nyaman dan bernilai lebih. Biaya yang akan dikeluarkan guna memperbaiki kembali wisma ini pasti tidak sebesar biaya pembangunan dua gedung baru bernilai miliaran rupiah yang baru saja diresmikan oleh kampus UST. Tulisan ini merupakan sebuah ungkapan dan wujud nyata akan rasa handarbeni, sense of belonging atau perasaan memiliki sebagai mahasiswa UST. Tulisan ini juga bukan bermaksud untuk menyudutkan pihak otoritas kampus sebagai satu-satunya penanggung jawab atas terbengkalainya salah satu aset berharga UST ini. Rekan-rekan

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

sesama mahasiswa UST pun pasti akan merasa prihatin jika melihat dan mengetahui salah satu aset penting milik kampus kebanggaanya saat ini sedang berada dalam suatu kondisi yang sangat menyedihkan.[p] Dionisisus Dani Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris 2009

PREMANISME, KEJAHATAN PENINDAS KEBENARAN Kekerasan, seperti premanisme adalah tindakan yang melanggar HAM dan tentu saja akan berdampak buruk. Bukan hanya korban, si pelaku juga akan mengalami kerugian dari lingkungan maupun segi lainya. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya kekerasan. Salah satu lubang besar yang menjadi pokok dari permasalahan yang timbul yaitu pengendalian emosi. Sebesar apapun masalahnya, pasti dapat dikomunikasikan dan diselesaikan dengan duduk bersama untuk mencapai titik temu permasalahan. Dewasa ini, sering kita dapati berita kasus-kasus kekerasan melalui surat kabar dan televisi. Ironisnya sebagian kasus tersebut dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa. Jika dilihat dari perspektif kedewasaan dan jenjang usia, wajar saja hal itu terjadi. Hal tersebut dikarenakan masa remaja adalah masa labil di mana seseorang belum berpikir panjang dalam mengambil keputusan dan masih mengedepankan emosi semata. Namun, ketika kita lihat dari segi etika dan moralitas, tentu saja ini sangat memprihatinkan. Pelajar dan mahasiswa melakukan tindakan kekerasan bahkan pada sesama teman di lingkup sekolah maupun kampus. Pelajar atau mahasiswa merupakan kaum terpelajar. Kaum yang dididik dalam lembaga pendidikan formal yang seharusnya mengedepankan aspek-aspek norma dan budi pekerti. Namun, apa yang terjadi malah bertolak belakang dengan nilai-nilai

5


norma yang diajarkan. Otot lebih diutamakan ketika dihadapkan pada problema yang ada. Permasalahan tidak dibicarakan secara baik yang terjadi hanya memaksakan kehendak. Bahkan kekerasan dijadikan tameng untuk menutupi kebusukan sendiri dan kebenaran orang lain. Apalagi ketika masalah ini disandarkan pada lembaga pendidikan kita yang berlatar belakang Tamansiswa. Perguruan yang tidak hanya mementingkan aspek akademik namun lebih kepada budi pekerti serta nilai-nilai luhur kemanusiaan sesuai dengan ajaran founding father kita, Ki Hajar Dewantara. Memayu hayuning bebrayan (membuat harmonisnya masyarakat) adalah satu dari sekian ajaran Ki Hajar yang bertentangan dengan adanya premanisme. Entah itu dilingkungan perguruan, maupun masyarakat demi tercapainya tertib damainya masyarakat. Mahasiswa sebagai penerus tongkat estafet bangsa, kaum intlektual muda serta pengawas bagi kebijakan-kebijakan negara. Pantaskah kita masih mengedepankan premanisme belaka? Marilah kita berkaca.[p] Ardy Syihabuddin Kepala Urusan Penelitian dan Pengembangan Resimen Mahasiswa Dewantara UST

Electronic Library

K

eberadaan perpustakaan di kampus sepertinya masih dinomorduakan oleh pimpinan perguruan tinggi kita tercinta ini. Padahal keberadaan perpustakaan sangat berguna bagi mahasiswa. Perpustakaan merupakan jendela dunia dan sumber referensi yang sangat mendukung untuk menunjang pembelajaran di kampus. Selain urusan peningkatan mutu kampus, pembangunan gedung atau penambahan fasilitas, UST juga harus memfokuskan pada sektor perpustakaan. Kemudian dilakukan

6

berbagai langkah pengembangan yang sejalan dengan perkembangan zaman, misal e-library resmi UST yang bisa diakses secara online. Namun, dapat kita rasakan sendiri bagaimana keadaan perpustakaan kita saat ini. Jelas keadaanya belum seperti yang diharapkan dan belum memiliki manajemen yang memadai sebagai pendukung mahasiswa. Saya sendiri tersenyum kecil saat mendengar salah satu jurusan di FKIP membuka kelas manajemen perpustakaan. Memang kita tidak dapat membandingkan perpustakaan yang ada di kampus kita dengan keadaan perpustakaan di PTN/ PTS besar yang ada di Yogyakarta. Namun, setidaknya kita bisa meniru manajemen dan fasilitasnya. Semoga dengan mulai dibukanya kelas ini, kualitas perpustakaan di UST semakin membaik. Sekali lagi ini bukan merupakan masalah yang harus disepelekan oleh pihak UST. Perlu dipikirkan bagaimana agar perpustakaan di UST bisa benar-benar bisa memfasilitasi mahasiswa. Bukan hanya sebagai hiasan pelengkap suatu perguruan tinggi. Dalam angan saya, akan bagus bila perpustakaan kita dapat membangun sebuah manajemen atau program pembelajaran yang berguna bagi sivitas akademik dalam menyelenggarakan pembelajaran secara online. Baik dosen maupun mahasiswa dapat menggunakan fasilitas tersebut untuk mengunggah atau mengunduh bahan belajar yang juga berasal dari dosen atau mahasiswa sendiri. Bahan belajar tersebut bisa berupa jurnal, karya ilmiah atau sekedar tugas makalah dan artikel. Kegiatan penelitian mahasiswa juga harus mendapatkan dukungan dari sumber-sumber yang bisa didapatkan di perpustakaan. Dengan semakin banyaknya kegiatan penelitian, maka saya yakin UST juga akan semakin bermutu dan lebih dikenal. Dalam International Conference On World Class Education di Kualalumpur yang saya hadiri pada

5-6 Desember 2011 lalu, Prof. Dr Muhammad Ali (UPI, Indonesia), dan Prof. Jinwoong Song (Seoul National University, Korea), mereka yakin bahwa suatu universitas akan menjadi berkelas saat mereka memiliki banyak kegiatan dan hasil penelitian. Penelitian bisa menjadi sangat efektif jika perpustakaan mendukung untuk itu. Perpustakaan juga diharapkan bisa mengupayakan suatu kegiatan yang sekiranya bisa membuat sivitas akademik gemar menulis. Sebagai langkah awal, harusnya para dosen dan mahasiswa sudah mulai menyicil “mendigitalkan� bahan ajar serta karya-karyanya, yang kemudian disumbangkan ke perpustakaan. Digitalisasi tersebut sudah banyak dilakukan di dunia internasional dan berbagai perguruan tinggi di dunia. Berlatih untuk membuat tulisan dan diunggah kedalam internet akan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menulis. Kemudian nantinya bisa dimasukkan kedalam e-library yang akan dibangun. Hal ini didukung dengan adanya edaran dari Dikti beberapa waktu lalu mengenai pempublikasian jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan mahasiswa S1, S2, dan S3. Perpustakaan merupakan hal yang sangat urgent dan senjata bagi mahasiswa. Apakah UST sudah melakukan hal yang mengarah pada kerjasama dengan perguruan tinggi lain agar bisa memajukan perpustakaan UST? Karena, dengan kerjasama itu, diharapkan terjadi simbiosis mutualisme dengan perpustakaan lain di wilayah Yogyakarta khususnya, agar dapat saling mengisi dan bertukar ilmu dalam mengelola perpustakaan. Dengan berbagai pembenahan dan peningkatan mutu perpustakaan, termasuk koleksi buku yang up to date, niscaya khazanah perpustakaan akan semakin bagus.[p] Singgih Try Prasetyo Mahasiswa PGSD UST 2009

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


Waiting For English Corner Bahasa Inggris yang semakin mengglobal sebagai bahasa Internasional, ternyata juga direspon bagus oleh para konseptor pendidikan di negeri ini. Anak-anak PAUD mulai dikenalkan pada bahasa yang nantinya akan mereka pakai saat mereka berkiprah di dunia pendidikan lanjut dan kerja. Maraknya bisnis pendidikan yang dikemas dengan apik dan memakai kurikulum ‘luar negeri’ semakin mengukuhkan lagi peran bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi. Sayangnya, bisnis semacam ini juga semakin membuat jurang tajam antara ‘the haves’ dan ‘the haves not’ yang hanya mampu menyekolahkan anak-anaknya di sekolah ‘Inpres’ yang konon seperti ‘sekolah angka loro’ (sekolah untuk penduduk pribumi) di zaman penjajahan Belanda. Upaya untuk menyetarakan mutu pendidikan sekolah ‘Inpres’ dengan sekolah-sekolah swasta bergengsi ‘Internasional’ akan menjadi tantangan bagi para calon guru yang saat ini sedang bergelut dengan segala macam ilmu pengajaran. UST sebagai salah satu penghasil guru, tentu juga memikirkan hal ini. Kalau kemudian timbul pertanyaan dari mana harus memulai? Jawaban akan terasa ‘klise’ meskipun memang itulah kenyataannya. Calon guru yang dididik di universitas, seharusnya dipilih dari mereka yang memang benar-benar berhasrat menjadi guru ketika mereka lulus. Saya kemukakan hal ini karena, pernah iseng-iseng suatu hari saya

mengadakan kuesioner pada satu kelas yang saya ampu (di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris) untuk sekadar ingin tahu keinginan mahasiwa bekerja setelah lulus. Hasil mentah yang saya peroleh ternyata hanya 25% (11 orang) dari 44 responden yang menyatakan ingin menjadi guru. Selebihnya saya memperoleh jawaban yang bermacammacam antara lain, mereka ingin bekerja di biro pariwisata, di hotel, menjadi penerjemah, bekerja di Bank di bagian money changer, di kedutaan, di kapal pesiar, bahkan ada yang bercitacita menjadi wirausahawan yang bergerak di bidang boga! Fenomena ini sungguh aneh. Saya jadi teringat ‘joke’ yang pernah dilontarkan teman yang mengajar di IPB, yang mengatakan bahwa alumni IPB ada di sektor pekerjaan apapun kecuali di pertanian. Teman yang kemudian menyatakan keprihatinannya bahwa sektor pertanian di negeri agrikultur ini semakin tidak populer, kemudian berandai-andai, alangkah indahnya bila akademisi dapat bekerja sesuai mainstream-nya masing-masing. Pendapa, yang namanya menyiratkan tempat orang berkumpul untuk bersosialisasi, dapat menjadi ajang bagi civitas akademik UST dan masyarakat pada umumnya, guna mengungkapkan pendapatnya. Majalah yang cantik ini saya rasa dapat lebih menarik lagi kalau saja ada upaya para redaksinya menghadirkan satu ‘corner’ yang disajikan dalam bahasa Inggris. Lebih baik lagi bila mengarah pada varietas pengajaran bahasa Inggris. Mungkin hal ini

hanyalah upaya kecil untuk membuka kembali wawasan pembaca (para mahasiwa UST utamanya), betapa bergunanya bahasa Inggris, dan betapa menarik sebenarnya profesi yang bersinggungan dengan bidang pendidikan. Guru bahasa Inggris dapat menjadi kunci pertama pintu pembuka wawasan anak didiknya. Kegemaran membaca teks berbahasa Inggris dapat dipicu dari guru-guru yang berbakat dan berkomitmen penuh. Saya hanya dapat berharap, setidaknya ada satu artikel yang dikemas dalam bahasa Inggris di Majalah Pendapa dalam setiap penerbitannya. Sebab saya yakin, ibarat setetes air yang jatuh di dedaunan yang akan mampu memberi kesegaran, demikian pun sebuah artikel yang tampil beda.[p] Nyi Sri Mulyani Darmastuti Pengajar PBI - FKIP, UST Jawaban: Terima kasih atas surat pembacanya. Di dalam rubrik Majalah PENDAPA Tamansiswa sudah terdapat rubrik “English Corner”. Jika pada suatu terbitan tidak terdapat rubrik tersebut, itu merupakan kekurangan dan keterbatasan dari SDM kami. Harap maklum.[p] Redaksi

Redaksi menerima tulisan berupa: surat pembaca mengenai seputar kampus dan kemahasiswaan, pendidikan, pertanian, ekonomi, psikolgi, kolom, opini, cerpen, sastra, dan english corner. Tulisan dapat dikirim melalui email: lpm_pendapa@yahoo.com atau datang langsung ke kantor redaksi Majalah PENDAPA Tamansiswa dengan menyertakan foto dan identitas penulis. Redaksi berhak mengubah tulisan sepanjang tidak mengubah makna dan esensi tulisan.

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

7


Harmoniskan Manusia Dengan Alam

A

pakah semua masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi penambangan kondisi sosial-ekonominya menjadi lebih baik? Seberapa besar pemasukan pemerintah dari hasil usaha penambangan yang mereka izinkan? Apakah secara signiďŹ kan dapat mambantu kekayaan negara? Apakah ini bentuk dari tindakan pemerintah yang mengatasnamakan kepentingan rakyat? Jika pengusaha pertambangan semakin kaya, sudah barang tentu. Semakin hari semakin bertambah perbendaharaan rupiah yang mereka dapatkan. Berbagai macam hasrat dan keinginan mereka kian banyak dan semakin mudah untuk diwujudkan. Sebaliknya, masyarakat yang direkrut sebagai karyawan hanya mandapatkan secuil rupiah dari peluh keringat yang mereka keluarkan. Lebih dari itu, masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi penambangan, alam yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka menjadi rusak. Ekosistem yang sejauh ini menjadi kekayaan terpendam yang bisa mereka manfaatkan kian musnah. Bagi mereka yang berkepentingan (red: pemerintah), hanya mengesahkan peraturan dan menerima sekian persen dari hasil yang didapatkan para pengusahan pertambangan. Contoh, PT Freeport, sebuah perusahaan penambangan yang sudah sekian tahun beroperasi di Bumi Cendrawasih, Papua. Ikrar Nusa Bhakti, Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs, LIPI, menuliskan dalam opininya, dari sisi saham, Freepot McMoran menguasai 90,64 persen saham dan hanya 9,36 persen yang dimiliki pemerintah Indonesia (Kompas, 9 Agustus 2012). Bagaimana dengan perusahaan penambangan lainnya? Tentu tidak jauh berbeda. Pertambangan seolah menjadi komoditas para pengusaha. Inikah bentuk dari tanggung jawab pemerintah kepada rakyatnya? Janji manis para pengusaha pertambangan kepada pemerintah untuk turut menyejahterakan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi penambangan hanya sebatas pepesan kosong belaka. Perjanjian itu hanya menjadi jalur masuk guna memuluskan para pelaku bisnis untuk menjalankan usaha pertambangan. Pemerintah kini tampak membiarkan masyarakat kian menderita dan terdesak oleh kaum kapitalis yang terus menggerogoti hak mereka. Pro-kontra dilakukannya aktivitas pertambangan tentu sering menyertainya. Masyarakat yang sadar akan efek kerusakan alam jika dilakukan aktivitas pertambangan, mencoba untuk berkumpul, membentuk opini publik, hingga aksi langsung turun ke jalan. Padahal, UUD 1945 Pasal 33 menjelaskan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat Indonesia. Hal ini menyiratkan, seharusnya pemerintah bertanggung jawab penuh atas terjaminnya kehidupan dan kesejahteraan rakyat

8

lewat kekayaan alam yang dimiliki. Akan tetapi, realitas pelaksanaan UUD 1945 berbanding terbalik dengan yang seharusnya. Tidak hanya itu. Perihal pengolahan sumber daya alam yang terkandung juga diatur tersendiri. Mulai dari emas, tembaga, perak, nikel, minyak, hingga karst (batu kapur). Dalam hal pengelolaan karst, pemerintah mengatur melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 1456 Tahun 2000, tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Karst. Ditambah lagi dengan PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Namun, masih terdapat kemungkinan adanya celah untuk melakukan aktivitas pertambangan yang memungkinkan adanya penyelewengan hukum. Sudah banyak sekali peraturan yang dibentuk dan diundangkan oleh pemerintah. Namun, hanya sedikit peraturan yang bisa dirasakan dampak positifnya oleh rakyat. Dengan mangatasnamakan kepentingan rakyat, mereka (pemerintah) menge-goal-kan ratusan usaha pertambangan. Rakyatlah yang merasakan efek kerusakan alam dari pertambangan. Negara yang mengedapankan nama demokrasi hanya menjadi pelengkap “sandiwara� kehidupan yang dilakukan. Suara masyarakat seolah bisikan yang masuk dan terlewatkan. Mereka yang berkepentingan akan selalu dikedepankan. Kini, pemerintah Indonesia lebih mencerminkan sebuah institusi yang membiarkan terus berlangsungnya pelanggaran hukum atas nama kepentingan ekonomi, dan desakan politis yang menggambarkan digdayanya kuasa korporasi. Pemerintah semestinya mengambil langkah yang bijak dalam hal mengurusi pertambangan, termasuk halnya penambangan batu kapur (karst) di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Hal ini bertujuan agar berjalannya kesinambungan hubungan antara masyarakat dengan alam yang ditempati. Alam, begitu halnya manusia, juga membutuhkan perhatian. Jika potensi alam dieksploitasi terus menerus tentu mereka akan rusak, bahkan bisa punah. Apabila tidak disertai langkah yang tepat, seperti pemulihan pasca tambang, bukan tidak mungkin alamlah yang akan memberikan balasan secara langsung sebagai akibat dari perbuatan yang dilakukan manusia. Bukti konkret, saat musim kemarau tiba, sebagian wilayah Kabupaten Gunungkidul selalu dilanda kekeringan. Sudah selayaknya pemerintah bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Kepentingan rakyat yang diamanatkan dan mereka wakili, semestinya dilaksanakan dan dikedepankan. Perlakukanlah alam dengan baik jika tidak ingin alam menunjukkan kemarahannya.[p] Pemimpin Redaksi

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


POLEMIK PEMANFAATAN KARST BUMI HANDAYANI

Tim Fokus: Ahmad Mustaqim (Koordinator), Ana Kusumaning W, Desi Sri Rahayu, Eko Budiono, Maryani, Wahyu Zulfiansyah, Wayahdi, Wulandari.

Enggar/PENDAPA

Penulis: Ahmad Mustaqim, Desi Sri Rahayu, dan Wahyu Zulfiansyah

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

9


Nasib (50):

“Hidup, Berani untuk Bekerja dan Hutang” Ahmad Mustaqim/PENDAPA

Sepuluh tahun lalu, salah satu bukit di Dusun Karang, Desa Karangsari, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul masih berdiri kokoh. Tingginya lebih kurang lima meter. Namun setelah masyarakat mengetahui kekayaan yang terkandung di dalamnya, bukit tersebut akhirnya ditambang dan dieksploitasi. Kini yang terlihat hanya dataran rendah biasa, malah sudah menjadi lahan persawahan.

S

atu bukit habis, penambangan berpindah ke bukit sebelahnya. Yang semula tinggi, kini hanya tersisa kurang dari satu meter. Lokasi tersebut awalnya milik perseorangan, kemudian dikontrak secara perorangan. Siang itu, Senin (2/4), tampak Aris Susanto (56), warga Dusun Karang, Desa Karangsari, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul bersama beberapa rekannya sibuk menggali bebatuan yang masih rekat dengan bagian bebatuan yang lain. Terlihat pula bongkahan batu kapur, baik yang berukuran besar hingga serpihan berada di sekitarnya. Peralatan yang mereka gunakan untuk menambang pun masih terbilang manual dan tradisional. Di antaranya cangkul, linggis, palu, pacal (bethel), dan dhandang. Dulu sempat akan menggunakan alat berat, tetapi warga tidak memperbolehkannya. Warga menganggap, kalau penambangan menggunakan alat berat akan ada makhluk yang mengamuk di tempat penambangan tersebut. “Itu setannya lagi ngamuk,” ujar Aris, meniru perkataan warga waktu itu. “Itu ilmiahnya kan nggak ada,” lanjutnya.

10

Aris, bersama dengan penambang lain, biasanya melakukan penambangan mulai dari pukul 06.15 hingga sore hari pukul 16.00. Dalam waktu sehari, Aris bersama 10 hingga 15 penambang lainnya mendapatkan batu kapur sebanyak 4 kali angkut dengan truk. Itu pun masih tergantung dengan cuaca. “Kalau cuacanya nggak hujan bisa dapat banyak. Tapi, kalau hujan ya bisa kurang dari itu,” tutur Aris. Satu truk biasanya bermuatan kurang lebih 7 ton. Sedangkan, untuk 1 truknya dihargai sebesar Rp 125.000,00. Hasil yang didapat sehari tersebut musti dibagi bersama penambang lainnya. “Kalau untuk penghasilan setelah dibagi, satu orang paling dapat Rp 30.000,00,” ujarnya. Aktivitas penambangan biasanya libur pada hari Jumat. Bagi Aris, libur menambang bukan berarti libur beraktivitas. Hari Jumat ia gunakan untuk mengurus pembukuan hasil penambangan selama satu minggu. Pasalnya, ia yang dipercaya mengurusi administrasi dan keuangan kelompoknya.

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


Prayitno, 56 tahun (kiri) dan Sutino, 23 tahun, saat melakukan penambangan batu kapur di Desa Nangkasepet, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul.

Untuk makan, para penambang biasanya membawa bekal dari rumah masing-masing. Jika tidak membawa, mereka pergi ke warung yang jaraknya tidak begitu jauh dengan lokasi penambangan. Untuk membayar makan, mereka potong dari gaji yang didapat setelah gajian. Batu kapur yang ditambang dapat diolah menjadi beragam hasil. Mulai dari keramik, pupuk, makanan ternak, hingga menjadi beragam produk kosmetik. Penambangan yang dilakukan pada saat itu merupakan pesanan dari Surabaya. Persaingan penjualan hasil tambang seperti ini, lanjut Aris, sudah luar biasa. Ketika nanti masuk pabrik ketemunya hampir dipastikan dengan orang yang sama seperti di pabrik lain. “Kuasa mafia-mafia perusahaan yang seperti itu.” “Kalau sekarang, ya, yang penting anak-anak bisa bersekolah. Sekolah tinggi itu penting. Meskipun nanti harus jadi buruh juga pasti ada manfaatnya,” keluh dan harap bapak beranak empat ini. Kini, keempat anak Aris sudah berkeluarga dan semua berdomisili di Jakarta. Kondisi penambang di Dusun Pudak, Desa Pudak, Kecataman Tepus, Kabupaten Gunungkidul, lebih memprihatinkan. Setiap rit batu kapur dibeli dengan harga Rp 50.000,00. Bahkan, terkadang beberapa rit hanya Rp 50.000,00. “Masyarakat kami juga kekurangan pekerjaan. Untuk makan sehari-hari berasal dari hasil menambang batu,” tutur Sugiyanto, Kepala Dusun Pudak.

Penambangnya berjumlah empat orang, mereka adalah Aris, Syawal, Sukidi dan Sadil. Ada yang menjadikan penambangan tersebut sebagai pekerjaan sampingan dan ada juga yang menjadikannya pekerjaan utama. Beberapa waktu lalu, ungkap Sugiyanto, ada penambang yang masuk salah satu program acara stasiun TV swasta, yaitu Pak Syawal. Acara tersebut mengangkat kehidupan sehari-hari Pak Syawal. Mulai dari kegiatannya njathil (salah satu jenis kesenian tradisional) pada saat ada pementasan hingga kegiatannya sebagai buruh tambang. “Tapi sekarang tinggal tiga orang. Pak Syawal berhenti setelah mendapat hasil dari syutingnya itu berupa lembu (sapi). Disuruh berhenti dan istirahat dulu,” ceritanya. Penambangan yang dilakukan warga Dusun Pudak berjalan hampir dua tahun. Cara penambanganya pun masih manual. Alat yang dipakai lebih dominan dengan palu dan linggis, karena batu yang ditambang sangat keras. Menurut penuturan Sugiyanto, lokasi penambangan tersebut sebelumnya hanya berupa gunung bebatuan yang tidak ada hasilnya. Lambat laun, ada warganya yang minta tolong untuk diberi pekerjaan. Akhirnya, ia mengorbankan tanah lungguh atau tanah kas desa setempat. “Saya mau memberikan, bukan punya saya pribadi. Kalau tidak, ya kasihan. Nanti, kalau Perda itu sudah datang kemungkinan ya berhenti,” tukasnya. Cerita serupa juga dikisahkan Prayitno (56) dan Sutino (23), penambang batu kapur di Desa Nangkasepet, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Mereka mengaku baru melakukan penambangan karst lebih kurang selama empat bulan. Pendapatan mereka rata-rata 8 ton batu kapur per harinya. Jika dinilai dengan rupiah, untuk satu tonnya dihargai Rp 22.000,00. Dengan menggunakan alat sederhana mereka bekerja dari pukul 07.00 sampai 16.00. Waktu yang mereka gunakan untuk istirahat sekitar hampir dua jam, pukul 11.00 sampai 13.00. “Batu kapur ini nanti diambil langsung oleh perusahaan pupuk dari Karanganyar, Jawa Tengah, mas,” kata Prayitno yang merupakan ayah dari Sutino. Di Dusun Ngrombo, Desa Bedoyo, Kecamatan Ponjong, Nasib (50), yang juga seorang penambang batu kapur pun mengalami hal yang tidak jauh beda. Hanya saja, kini, Nasib sudah mempunyai lahan untuk penambangan sendiri. Meskipun dahulunya, ia juga menjadi tenaga kerja atau buruh. “Hidup sekarang yang penting mempunyai keberanian untuk bekerja dan berani melakukan hutang,” papar Nasib. Tatkala diminta keterangan perihal aktivitas penambangan, ia enggan untuk menuturkan. Justru ia menceritakan kehidupannya beberapa tahun silam. “Pada zamannya Presiden Soeharto, anak saya, Vika Monica (2 tahun waktu itu) mengalami sakit epilepsi. Waktu itu saya minta bantuan dari RT, RW, Dukuh sampai Departemen Sosial. Itu saya lakukan dengan berjalan kaki. Tapi tidak digubris sama sekali oleh pemerintah,” cerita Nasib.

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

11


Sampai sekarang, lanjut Nasib, belum pernah saya dibantu pemerintah. Pernah dijanjikan pemerintah “Nanti saudara saya mau operasi di Yogyakata”. Akan tetapi akhirnya tidak terlaksana. Lebih dari itu, ia menyarankan agar pemerintah tidak memberikan bantuan langsung tunai (BLT), Raskin, dan bantuan sejenisnya kepada rakyat. Nasib beranggapan bahwa hal itu justru membuat rakyat menjadi bodoh dan malas. “Jika sudah dikasih pasti akan malas bekerja. Yang dibutuhkan itu seperti pembinaan dan mendidik, jangan memberikan BLT dan bantuan yang lain. Kalau tepat sasaran tidak apa-apa. Tapi di sini lebih sering tidak tepat sasaran,” ungkapnya. Belum Siap Solusi Pendapatan daerah Kabupaten Gunungkidul disumbang oleh sektor pertanian, dalam arti luas; perkebunan, perhutanan, dan perikanan. Namun, ada juga usaha lain yang turut menyumbang pendapatan daerah. Musim tanam, kebanyakan di daerah Gunung Sewu adalah musim tadah hujan (penghujan). Jika ada hujan, para petani bercocok tanam. Kemudian, jika tidak ada hujan mereka berhenti karena tidak ada pasokan air. Sistem irigasi, sungai dan sumur kebanyakan tidak bisa mengalirkan air saat musim kemarau tiba. “Ada beberapa sungai-sungai kecil tertentu, tapi kebanyakan tidak mempunyai air. Itu sepanjang tahun ada di kali Oyo. Tapi daerahnya lembah atau satu wagon. Sebagian ikut perbatasan Kabupaten Bantul. Pada musim kemarau, mereka tidak bisa bercocok tanam, padahal mereka harus memenuhi kebutuhan. Salah satu sumber pencaharian adalah tambang,” tutur A. Pat Madyana, Kepala Program Studi Ilmu Sosiatri, Universitas Gunung Kidul (UGK). Mengapa mereka menambang batu kapur? Karena, lanjut Pat Madyana, itu adalah potensi untuk sumber kehidupan atau sumber penghasilan. Namun, penambangan tersebut menimbulkan sebuah polemik. Pasalnya, tepat pada 7 Februari 2011, Bupati Gunungkidul, Badingah mengeluarkan Surat Edaran (SE). Adapun SE tersebut berisi tentang tidak akan dikeluarkannya izin penambangan dan melarang Wayahdi/PENDAPA masyarakat melakukan aktivitas penambangan di wilayah Kabupaten Gunungkidul. Sutino (23), mengangkat batu kapur (karst) menuju Menurut Pat Madyana, masyarakat terus melakukan tempat pengumpulan sebelum dijual. penambangan karena sumber penghidupan masyarakat dari penambangan tersebut. Jika pemerintah melarang adanya penambangan maka pemerintah harus memberikan lain yang terdapat di sana. “Dampaknya, terutama air. Kalau atasnya ditambang dan di bawahnya menjadi tempat solusi. “Sejauh pemerintah belum punya solusi, bagi saya, penampungan air maka debit airnya akan berkurang. I’m sorry. I have to be part the common people,” ujarnya. Belum lagi ekosistem bawah tanah dan peninggalan sejarah M. Afrizal Rais, Manager Penguatan Kelembagaan yang terdapat di dalamnya.”[p] Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) DI Yogyakarta mengatakan, penambangan yang dilakukan masyarakat Ahmad Mustaqim Gunungkidul secara perlahan akan mematikan potensi

12

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


GELIAT PENGUSAHA PERTAMBANGAN DI GUNUNGKIDUL

P

ada akhir bulan Juli lalu, matahari pukul sembilan terasa menyengat kulit. Begitulah hari-hari saat musim kemarau melanda DI Yogyakarta. Senin (30/7), tim Majalah Pendapa melakukan perjalanan menuju Kabupaten Gunungkidul. Pantulan terik matahari pada aspal di Jalan Yogyakarta-Wonosari seakan melelehkan ban kendaraan yang melintas, tak terkecuali ban sepeda motor kami. Baru beberapa kilometer dari Jalan YogyakartaWonosari, bukit-bukit yang tinggi tampak di depan mata meski jalanan masih terbilang datar. Namun, setelah memasuki daerah Piyungan, Bantul, perbatasan Kabupaten Gunungkidul, jalanan mulai menyesuaikan kondisi alam yang ada. Alam yang terkenal dengan sebutan Pegunungan Sewu. Sebuah wilayah yang mengandung kekayaan alam berupa batuan kapur. Kekayaan alam di sana menjadi magnet yang mengundang datangnya para pengusaha pertambangan karst. Pengusaha tersebut mendirikan perusahaan besar maupun perusahaan kecil. Mereka turut andil dalam mengeksploitasi kekayaan alam di Gunungkidul. Salah satu perusahaan itu adalah PT Sugih Alam Anugraha (SAA) yang berlokasi di Desa Bedoyo, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Perusahaan tersebut merupakan cabang dari PT SAA yang berpusat di Jakarta. Sesampainya di PT SAA, cahaya terang di lokasi perusahaan terasa menyilaukan mata. Sebab, hampir seluruh area perusahaan tertutup oleh batu kapur. Itulah yang menjadi salah satu ciri lokasi perusahaan pertambangan batu kapur di sana. Banyaknya debu yang mengendap di tanah maupun yang masih beterbangan di udara menjadi pertanda adanya aktivitas pertambangan dan pengolahan batu kapur di perusahaan ini. Diakui Siswo Saputro, Direktur Utama PT SAA, bahwa perusahaan ini melakukan segala aktivitas perusahaan mulai dari penambangan sampai pengolahan hasil akhir batu kapur. Semuanya dilakukan pada satu tempat, yaitu di Desa Bedoyo. Hal serupa juga disampaikan Moch Hasan Dulahim, Kepala Bagian Penambangan PT SAA. Ia mengatakan, atas izin penggilingan batu kapur dari pemerintah daerah dengan Nomor 186-KPTS-Kepda-1991 tanggal 31 November 1991, perusahaan menjadikan izin itu sebagai landasan untuk melakukan aktivitas penambangan hingga hasil akhir pengolahan di satu area tersebut. Di sisi lain, pemerintah setempat mengeluarkan

Surat Edaran (SE) dengan Nomor 540/0196 pada bulan Februari 2011. Dalam SE tersebut, salah satunya berisi larangan untuk tidak diperbolehkannya segala aktivitas penambangan. Akan tetapi, Moch Hasan mengatakan, pihak perusahaan tetap melakukan aktivitas pertambangan. Hal ini disebabkan PT SAA meyakini bahwa peraturan tersebut telah dicabut dan diganti dengan Peraturan Pemerintah (PP) yang terbit tanggal 10 Juli 2012 lalu, dengan catatan aktivitas penambangan harus bertanggung jawab pada alam dan lingkungan sekitar. Jika lahan yang dijadikan lokasi penambangan telah habis ditambang dan perusahaan membiarkan lahan tersebut, kata Moch Hasan, itu yang bisa merusak alam. “Dalam hal ini, masih banyak penambang di daerah ini tidak bertanggung jawab dengan alam,” ujar Moch Hasan. Tangan Moch Hasan menunjuk bukit lokasi pertambangan lain yang sudah berongga dari atas bukit milik PT SAA sambil berkata, “Seperti itu yang dapat merusak alam.” Untuk bahan baku produk kalsium karbonat PT SAA yang sudah berumur 21 tahun itu, berasal dari dalam area perusahaan. “Kami tidak membeli bahan baku di tempat lain. Bukan berarti kami tidak membuka lapangan kerja bagi penduduk setempat untuk mengirimkan bahan baku pada kami,” ungkap Siswo. Sebagai sumbangsih langsung dari perusahaan kepada masyarakat yang mendiami Desa Bedoyo, PT SAA membukakan lapangan pekerjaan. Dari data yang diterima oleh tim Majalah Pendapa, semua karyawan yang ada di PT SAA adalah penduduk lokal, dengan jumlah karyawan 138 orang, sebanyak 4 orang berjenis kelamin perempuan. Kawinnya CSR dan Reklamasi Dari balik area kantor dan pengolahan, tampak sebuah bukit yang sudah habis dikeruk oleh dua alat berat (ekskavator) milik PT SAA. Tiga perempat bagian bukit sudah ditambang. Data yang diterima dari PT SAA, luas area perusahaan secara keseluruhan beserta bukit-bukit yang kurang dari sepuluh bukit itu memiliki luas 25 hektar. Sejak pemberian rekomendasi izin prinsip pembangunan pabrik kalsium karbonat dengan Nomor 545-19-11-1991, baru satu bukit yang dieksploitasi. Moch Hasan menyampaikan bahwa sistem yang digunakan PT SAA untuk menambang adalah kwari (red: sistem tambang terbuka). “Karena kami menerapkan kwari, kami berusaha mengelolanya dengan good mining practice (tata kelola yang baik untuk penambangan) dan itu sesuai

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

13


HASIL INVENTARISASI DAN VERIFIKASI USAHA PERTAMBANGAN Tabel I Perusahaan Pertambangan Daerah Kabupaten Gunungkidul No. (1)

Nama Perusahaan (2)

1

PT Supersonic Chemcal Industry

2

Pb Sutrisno

3

UD Mineral Persada

4

Irwan Edhi Kuncoro

5

CV Bukit Batu Indah

6 7

Nomor Izin

Bahan Galian

Luas

Lokasi

Keterangan

126/KPTS/ KP/08050810 30-08—5 s/d 29-08-10 129/KPTS/ KP/10051010 11-10-05 s/d 10-10-20 014/KPTS/KP/ VIII/08070812 04-08-07 s/d 03-08-12 08/KPTS/KP/03060310 11-10-05 s/d 09-03-10 30/KPTS/KP/08060811

Batugamping

7891,65 m2

Bentar, Kenteng Ponjong

Eksploitasi

Batugamping

1,57 Ha

Klepu Karangasem Ponjong

Eksploitasi

Batugamping

24.975 m2

Bedoyo Wetan Ponjong

Eksploitasi

Batugamping

4,00 Ha

Eksploitasi

Batugamping

5,0 Ha

Pokrandu, Gombang, Ponjong Sawah, Girisekar, Panggang

Kaolin

13.440 m2

Jetak, Karangasem, Semin

Eksploitasi

Batugamping

4,25 Ha

Ngentak, Candirejo, Semin

Eksploitasi

(3)

30-08-06 s/d 29 -08-11 PT Selo Dwipo Nuswantoro 93/KPTS/KP/03050310 02-03-05s/d01-03-10 PT Sumber Alam Pratama 90/KPTS/KP/12041209 24-12-04 s/d 23-12-09

(4)

(5)

(6)

(7)

Eksploitasi

Sumber: Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan ESDM DI Yogyakarta

dengan Kepmen PE Nomor 1211K Tahun 1995,” ujarnya. Good mining practice dalam pengelolaan pertambangan ini mempunyai aturan tersendiri. Dimulai dengan pembukaan lahan yang harus sesuai dengan kebutuhan. Tanah pucuk dari bukit yang akan ditambang segera diamankan untuk revegatasi. Tanah penutup ditimbun dengan benar, disimpan pada tempat yang aman dan selalu diawasi secara teratur. Perlindungan terhadap air tanah dan yang terakhir disebutkan adalah menghindari pencemaran udara akibat pengangkutan dan kegiatan lainnya. Berkaitan dengan pasal 101 UU Nomor 4 Tahun 2009 pada tanggal 20 Desember 2010, Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 yang secara detail mengatur hal-hal mengenai kewajiban reklamasi dan kegiatan pasca tambang. Sebelumnya, hal tersebut diatur secara sederhana dalam pasal 99-100 UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Merujuk pada definisi yang tertuang dalam UU Nomor 4 Tahun 2009, reklamasi diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kondisi lingkungan dan ekosistem. Sedangkan, kegiatan pasca tambang diartikan sebagai kegiatan setelah akhir, sebagian atau seluruh kegiatan usaha pertambangan untuk memulihkan fungsi lingkungan alam dan fungsi sosial. Dengan dasar-dasar peraturan pemerintah, lanjut Moch Hasan, PT SAA berusaha semaksimal mungkin melakukan program reklamasi. Siswo menambahkan, bukti nyata reklamasi, yaitu pohon-pohon yang ada di lokasi bekas area penambangan sudah tumbuh lumayan besar. Di sana juga tercipta iklim mikro yang baik.

14

“Saat itu kami membuat program penanaman satu milyar pohon di lokasi bekas lahan penambangan batu kapur, bekerjasama dengan Kodim 0730 Gunungkidul. Bahkan, staf ahli pembangunan Kabupaten Gunungkidul pun turut serta dalam penanaman pohon ini,” kata Siswo mencoba menceritakan kegiatan reklamasi PT SAA tahun 2010 silam. Didampingi oleh Moch Hasan, tim Majalah Pendapa mencoba berjalan ke area lokasi yang telah direklamasi. Pohon-pohon yang baru ditanam tahun 2010 itu terlihat enggan untuk terus tumbuh di lingkungan pertambangan. “Sebelum kami melakukan reklamasi, kami meneliti terlebih dahulu mengenai pohon yang sekiranya pas ditanam di lokasi ini dan juga mengecek keadaan tanahnya,” ungkap Moch Hasan. Selain program reklamasi, perusahaan ini juga menerapkan kegiatan yang diberi nama Corporate Social Responsibility (CSR). Landasan hukum yang dipakai adalah Pasal 74 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang menyatakan bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. “Jadi, CSR ini merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan, baik secara eksternal maupun internal, terhadap aktivitas perusahaan. Bentuknya dalam berbagai bidang, di antaranya di bidang lingkungan, tenaga kerja, pendidikan, hak asasi manusia, pemerintahan, dan pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi dan sosial,” kata Moch Hasan. Moch Hasan menjelaskan, mengenai keterkaitan

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


HASIL INVENTARISASI DAN VERIFIKASI USAHA PERTAMBANGAN Tabel II Perusahaan Pertambangan Daerah Kabupaten Gunungkidul No.

Nama Perusahaan

Nomor Izin

Bahan Galian

Luas

Lokasi

Keterangan

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

01/KPTS/PR/06070609 12 -06-07 s/d 11 -06 - 09 02/KPTS/PR/06070609 12-06-07 s/d 11-06 -09 04/KPTS/PR/06070609 02-08-07 s/d 02-08 -09 005/KPTS/IPR/06070609 02-08-07 s/d 02-08-09 006/KPTS/IPR/06070609 02-08-07 s/d 02 -08 - 09 007/KPTS/IPR/06070609 02-08-07 s/d 02-08-09 008/KPTS/IPR/06070609 02-08-07 s/d 02-08-09 009/KPTS/IPR/06070609 02-08-07 s/d 02-08-09 010/KPTS/IPR/06070609 02-08-07 s/d 02-08-09 011/KPTS/IPR/06070609 02-08-07 s/d 02-08-09 012/KPTS/IPR/06070609 02-08-07 s/d 02-08-09 013/KPTS/IPR/06070609 02-08-07 s/d 02-08-09 09/KPTS/KP/03060308 14-3-2006 s/d 13-3-2008 10/KPTS/KP/03060308 14-3-2006 s/d 13-3-2008

Kaolin/feldspar

854 m2

Kweni, Karangsari, Semin

Eksploitasi

Batugamping Kalkarenit Batugamping Kalkarenit Batugamping Kalkarenit Batugamping Kalkarenit Batugamping Kalkarenit Batugamping Kalkarenit Batugamping Kalkarenit Batugamping Kalkarenit Batugamping Kalkarenit Batugamping Kalkarenit Batugamping Kalkarenit Batugamping

1000 m2

Eksploitasi

556 m2

Kulwo, Bejiharjo, Karangmojo Gondangrejo, Wonosari

Eksploitasi

735 m2

Gondangrejo, Wonosari

Eksploitasi

900 m2

Gondangrejo, Wonosari

Eksploitasi

1000 m2

Gondangrejo, Wonosari

Eksploitasi

171 m2

Gondangrejo, Wonosari

Eksploitasi

664 m2

Gondangrejo, Wonosari

Eksploitasi

687 m2

Gondangrejo, Wonosari

Eksploitasi

610 m2

Ngijorejo, Gari, Wonosari

Eksploitasi

130 m2

Gatak, Gari, Wonosari

Eksploitasi

370 m2

Kalidadap, Gari, Wonosari

Eksploitasi

2 Ha

Pakwungu, Sumberwungu, Tepus Bareng, Kemiri, Tanjungsari

Eksploitasi

1

Amperaharjo

2

Hemanto

3

Sugeng

4

Kasno Suprapto

5

Kiswo Suwanto

6

Tugiman

7

Mujiono

8

Suyatno

9

Karjiyo

10

Wening Susilo

11

Wening Susilo

12

Dwi Suryanto

13

PB. Sidomulyo

14

PB. Sidomulyo

Batugamping

2 Ha

Eksploitasi

Sumber: Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan ESDM DI Yogyakarta

antara reklamasi dan CSR, lingkungan harus saling bergandengan. “Reklamasi dan CSR merupakan sinergi, bagian kekuatan dari perusahaan. Seumpama pengusaha hanya enak mengambil untungnya saja, ya sudah tunggu kehancurannya,” ucap Moch Hasan dengan mantap. Menurut penuturan Siswo, saat PT SAA berdiri di Gunungkidul, waktu itu PT SAA pusat melakukan bakti sosial yang sekarang disebut CSR. Masyarakat memberi tanggapan positif. Justru, masyarakat meminta secara khusus kepada PT SAA untuk menciptakan lapangan pekerjaan di Desa Bedoyo. Oleh karena itu, dialog pun mulai terjadi antara PT SAA dengan masyarakat Desa Bedoyo, berlanjut PT SAA dan Kepala Desa untuk mengomunikasikan lagi kepada Camat, dan kepada Bupati Kabupaten Gunungkidul. Setelah bermusyawarah dengan warga dan pemerintahan, semua terlibat dalam menentukan area yang akan ditambang. Area tambang dan pengolahannya dahulu merupakan milik warga Bedoyo. Ada tawar-menawar

saat itu. Ketika harga sudah pas, PT SAA langsung membelinya. Siswo mengatakan bahwa Pakualam VIII juga terlibat dalam usaha pencarian tempat yang tepat untuk aktivitas pertambangan bagi PT SAA. “Beliau mendukung kami karena masyarakat sangat membutuhkan lapangan pekerjaan,” tuturnya. Suyanto (32), ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) untuk PT SAA menjelaskan bahwa di perusahaan ini setiap karyawan sudah terdaftar di Jamsostek. Oleh karena itu, perusahaan sudah dinilai memenuhi kewajiban dalam menyejahterakan karyawan. Standar gaji karyawan diberikan sesuai dengan upah minimum regional (UMR) Kabupaten Gunungkidul, sebanyak Rp 892.600,00. PT SAA memperoleh hasil sebanyak lebih kurang 55 ton setiap harinya. Setiap satu ton dijual sebesar Rp 500.000,00. Adapun total pendapatan perhari sekitar Rp 27.500.000,00. Hasil penjualan kalsium karbonat langsung dikirim ke PT SAA pusat sebanyak 80 persen, sedangkan 20 persennya dijual kepada perusahaan lain.

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

15


Supersonic, Perusahaan Pertambangan Lainnya Paparan di atas tadi merupakan sedikit gambaran PT Sugih Alam Anugraha, salah satu perusahaan besar pengolahan kalsium karbonat. Tidak semua perusahaan pengolahan kalsium karbonat terbuka dalam memberikan informasi. Seperti perusahaan milik Heri yang berada di daerah Bedoyo. Tim Majalah Pendapa sudah menyampaikan surat wawancara kepada Heri, namun sampai tulisan ini terbit belum ada tanggapan dari Heri. Hal serupa juga terjadi pada PT Supersonic, surat yang ditujukan kepada Direktur Utama PT Supersonic tidak ditanggapi. Surat kedua kembali kami ajukan dengan tujuan Sambudi Iryanto, HRD Manager PT Supersonic. Tidak seperti surat pertama, surat kedua langsung ditanggapi dan melakukan wawancara dengan Sambudi. Di lain waktu, surat ketiga pun dikirim dengan tujuan Direktur Utama PT Supersonic, tapi belum ada tanggapan sampai saat ini.

Beberapa saat setelah perusahaan menggandeng pihak asing, muncul peraturan mengenai kawasan yang ada di daerah Gunungkidul menjadi kawasan karst yang dilindungi. “Sejak saat itu izin pertambangan kami tidak lagi diperpanjang. Perizinan PT Supersonic ini habis pada tahun 2010. Oleh karena itu, kami tidak berani menambang sekarang,” terang Sambudi saat ditemui di kantornya. Sambudi melanjutkan, bisa dikatakan bahwa semua perusahaan pertambangan batu gamping di Gunungkidul tidak mempunyai izin untuk eksploitasi. “Sekarang ini Supersonic masih jalan, karena mendapatkan bahan baku dari pertambangan masyarakat.” Pembelian bahan baku dari masyarakat dihitung berdasarkan berat bahannya. Untuk satu tonnya, PT Supersonic membeli dari masyarakat sebesar Rp 55.000,00. Dalam satu bulan, perusahaan ini mampu menghasilkan gilingan halus batu gamping lebih kurang sebanyak 2000 sampai 2500 karung, dengan berat karung 25 sampai 40 kilogram. Perusahaan yang memiliki karyawan tetap sebanyak 110 orang ini, ternyata mendapat dukungan dari banyak masyarakat penambang. “Bisa dikatakan jumlahnya ribuan jiwa yang berada di belakang Supersonic,” ujar Sambudi. Ketidakjelasan Wahyu/PENDAPA pemerintah mengenai penataan Aktivitas pengemasan batu kapur yang sudah dihaluskan di PT Sugih Alam Anugraha kawasan karst Kabupaten Gunungkidul. ini, membuat PT PT Supersonic, perusahaan yang juga bergerak Supersonic berpikir dibidang kalsium karbonat ini berdiri di daerah Sidoarjo, ulang ketika akan mencoba meningkatkan kualitas Jawa Timur, pada tahun 1970, mempunyai cerita lain gilingan batu gamping dengan hasil yang lebih halus. mengenai aktivitas pengolahan batu gampingnya. Dengan “Jika kami mendatangkan mesin penggilingan baru, dan maksud mendekati konsumen di daerah Jabodetabek, ternyata peraturan pemerintah melarang segala aktivitas perusahaan ini pindah ke daerah Jampang Tengah, pertambangan yang ada di Gunungkidul, ya kami akan Sukabumi, Jawa Barat. Disebabkan kualitas batu gamping rugi,” kata Sambudi. yang ada tidak bagus, perusahaan ini lalu pindah ke daerah Sambudi menambahkan hubungan antara karyawan Gunungkidul pada tahun 1989. dan pejabat di PT Supersonic-lah yang menjadi kunci di Diakui Sambudi, bahwa di Gunungkidul kandungan balik kesuksesan perusahaan ini. Yang terpenting adalah batu gampingnya bagus, sehingga perusahaan pun cepat segera ada kejelasan mengenai aktivitas pertambangan di berkembang. “Bahkan pada tahun 2008 lalu, pengusaha daerah Gunungkidul.[p] asal Singapura ikut menanamkan modal kepada perusahaan kami,” ujarnya. Wahyu Zulfiansyah

16

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


Wayahdi/PENDAPA

MEMBACA POTENSI (KAWASAN) KARST

Museum Karst Indonesia (MKI) di Desa Gerbangharjo, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Berdasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional bahwa kawasan karst merupakan Kawasan Lindung Geologi.

K

awasan karst (batu kapur) di Kabupaten Handayani –nama lain Kabupaten Gunungkidul, yang meliputi kecamatan Wonosari, Ponjong, Panggang, Semanu, Purwosari, Paliyan, Saptosari, Rongkop, Tanjungsari, Tepus, dan Girisubo, seluas 807,040 km2. Hal tersebut berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral nomor 1659 K/40/ MEM/2004, tentang Penetapan Kawasan Karst Gunung Sewu dan Pacitan Timur. Meski pemerintah menetapkan bahwa seluruh kawasan karst sebagai kawasan lindung, namun prokontra perihal pertambangan hingga kini masih terjadi. Sampai saat ini, masih terdapat aktivitas penambangan, baik perusahaan maupun perorangan. Terlepas dari itu, belum banyak yang mengetahui lebih jauh perihal makna dan potensi karst itu sendiri. Karst terbentuk dari batu gamping yang mengendap di laut dangkal yang kemudian terangkat karena proses tektonisme. Setelah terangkat, kemudian terjadi sebuah proses pelarutan. Pelarutan ini yang kemudian membentuk lembah dan cekungan, yang kemudian meninggalkan bukit-bukit. Bukit itu menjadi sisanya. Proses ini terjadi kurang lebih selama 750.000 tahun. Di Gunungkidul sendiri, terdapat 3 macam morfologi yang bervariasi. Variasi yang pertama disebut dengan polygonal karst yang berada di Panggang. Kedua, berupa kerucut-kerucut yang terdapat di Bedoyo. Dan yang ketiga, berupa labirin-labirin panjang yang berada di Gua Maria.

Potensi karst, ujar Eko Haryono, Ketua Kelompok Studi Karst UGM Yogyakarta, pertama yang paling penting adalah air. Karst, walaupun ditemukan kering, terdapat banyak kandungan air di dalam permukaannya. Potensi yang kedua berupa keunikan bentang alam, bagian dalam gua, bukit-bukit, lembah kering, dan ornamen yang terdapat di dalam gua. Potensi keunikan bentang alam di dalam gua itulah yang biasanya dikembangkan untuk pariwisata. Bagus Yulianto, seorang peneliti gua, menyebutkan, sebelum diterbitkannya PP Nomor 26 Tahun 2008, yang diekspos dari batu karst selalu mengenai bahan galian C-nya. Yakni, kawasan karst yang di dalamnya boleh dilakukan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan perundangan. Akan tetapi mulai tahun 2000, dengan diterbitkannya Keputusan Menteri tentang klasiďŹ kasi sisi lingkungan karst, barulah muncul nilai lingkungan. Menurut evaluasi nilai ekonomi yang terdapat di dalam kawasan karst Gunungkidul lebih besar dibanding dengan nilai tambangnya. Sungai-sungai bawah tanah dan gua-gua yang terdapat di lingkungan karst dapat dimanfaatkan airnya. Gua Bribin, Gua Seropan, dan Gua Ngobaran adalah contoh sumber air yang telah dikelola PDAM. Meski belum bisa mengaliri seluruh daerah di Gunungkidul, sudah ada nilai eksploitasi dan konservasinya. Bagus berpendapat, “Bukan kita tidak setuju dengan penambangan. Realitanya, kita gosok gigi, nge-cat, kita bikin gelas, bahannya dari karst juga. Tapi

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

17 17


kalau ada pilihan yang lebih bijak dan menguntungkan untuk masyarakat, ya kita kembalikan ke mereka (masyarakat).” Bagi Bagus, di Kabupaten Gunungkidul terdapat banyak gua berpotensi air yang bisa digunakan untuk lokasi wisata yang mulai dieksplorasi, kemudian dapat dianalisa. “Hasil analisa akan disampaikan ke pihak pemerintah dan pihak terkait untuk ditindaklanjuti,” ujar Bagus. Senada dengan Eko tentang potensi kawasan karst Kabupaten Gunungkidul, Bagus menuturkan bahwa pengembangan wilayah potensial untuk wisata sudah mulai dicoba. Seperti halnya Gua Pindul. Potensi Gua Pindul tersebut bisa dikelola oleh masyarakat dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan secara ekonomi. Selain itu, pengelolaan wisata gua dapat dijadikan sebagai alternatif lain dari kegiatan penambangan. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya tidak sesederhana itu. Sebab, dalam pengelolaan satu lokasi akan dibutuhkan waktu yang cukup panjang. Di Bedoyo misalnya, masyarakat bisa dialihkan dari kegiatan menambang menuju pengelolaan wisata. Seperti yang dituturkan oleh Bagus, jika ada peraturan untuk tidak menambang harus memberikan solusi lain kepada masyarakat. “Sayangnya sekarang masih belum banyak inisiasi kepada mereka untuk bisa beralih profesi,” lanjutnya. Menurut Siswanto, Kepala Badan Arkeologi Yogyakarta, di Gunungkidul pada tahun 2003, terdapat Perda Nomor 11 Tahun 2003 tentang pertambangan, dan sudah memilih beberapa kecamatan yang boleh dan tidak boleh dieksplorasi pertambangan. Dengan disetujuinya peraturan daerah tersebut, beberapa gua yang memiliki potensi wisata akan terhindar dari pertambangan. Hal tersebut mengantisipasi agar gua tersebut tidak ditambang atau rusak. “Berbeda dengan candi, apabila runtuh dapat ditata kembali. Sementara, karst tidak bisa. Seperti halnya yang terjadi di Kebumen dan Gombong, di sana juga terdapat banyak gua (Gua Lawa dan Gua Jatijajar) yang termasuk jenis gua hunian. Penambangan fosfat membuat lantai guanya hilang, sehingga sulit untuk mengenali gua tersebut sebagai peninggalan,” cerita Siswanto. Sosialisasi Kepada Masyarakat Untuk meminimalisasi hilangnya peninggalan arkeologi di kawasan karst, Balai Arkeologi mengadakan sosialisasi kepada masyarakat, petugas daerah, pemerintah setempat, dengan dibantu delegasi dari perguruan tinggi dan dinas terkait, mengenai pentingnya konservasi kawasan karst. Siswanto menyebutkan, ada dua jenis konservasi karst, yaitu konservasi karst langsung dan konservasi karst tidak langsung. Konservasi langsung digunakan untuk sumber mata air dan biota-biota di dalam gua. Sementara konservasi tidak langsung adalah untuk arkeologi. “Masyarakat sendiri tidak menentang adanya sosialisasi yang diselenggarakan oleh Balai Arkeologi sehingga tidak

18

timbul adanya pro dan kontra. Sosialisasi tersebut berhasil membuat masyarakat berhenti menambang di area gua berpotensi wisata. Selama ini, masyarakat menambang karena tidak mengetahui potensi yang dimiliki gua tersebut. Gerabah, kreweng (pecahan genting), dan tulang dianggap sampah saja sama mereka,” tutur Siswanto. Tanggung jawab Balai Arkeologi adalah menyampaikan nilai penting dari “sampah” masa lalu tersebut. Gua Tritis dan Gua Braholo memiliki potensi, sehingga Balai Arkeologi mengajak warga setempat untuk menjaga gua tersebut. Siswanto menyebutnya sebagai juru pelihara. Hal tersebut dilakukan, supaya masyarakat peduli dengan potensi alam yang mereka miliki. Langkah lain yang diambil oleh Balai Arkeologi adalah pemanfaatan. Pemanfaatan yang dimaksud adalah bentuk dari pelestarian yang dikemas dalam bentuk wisata edukasi. Sehingga, kecil kemungkinan peninggalan berpotensi wisata tersebut dirusak, karena di sana terdapat nilainilai penting untuk pengetahuan. Nantinya masyarakat, pengunjung, dan pemerintah akan lebih peduli untuk menjaganya. Bagus Yulianto bersama Acintyacunyata Speleological Club (ASC), lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak dibidang speleology (ilmu yang mempelajari gua dan lingkungannya), melakukan sosialisasi kepada masyarakat pada 11-13 Maret 2008, di Dusun Blimbing, Desa Umbulrejo, Kecamatan Ponjong. Sosialisasi tersebut berupa pengenalan, pelatihan menelusuri gua hingga pelatihan menjadi pemandu wisata gua. Berbeda dengan hasil sosialisasi Balai Arkeologi, sosialisasi yang dilakukan oleh Bagus dan ASC awalnya muncul tanggapan pro dan kontra, karena pihak desa juga mendapatkan pemasukan dari pertambangan. Akan tetapi, penawaran untuk pengelolaan wisata gua tidak berhenti. “Gua yang cukup tinggi mitosnya memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Saya dan peneliti lainnya juga mengajak pihak desa untuk ikut masuk ke dalam gua dan melihat potensi tersebut,” ujar Bagus. Tanggapan serupa kembali muncul ketika masyarakat melihat potensi fosfat yang terdapat di dalam gua cukup besar. Namun, pilihan untuk menjadikannya lahan tambang atau wisata diserahkan pada masyarakat, karena mereka sebagai pemilik lokasi gua tersebut. Hasilnya? “Waktu itu, ada pihak yang menginginkan wilayah Dusun Blimbing dijadikan wilayah pertambangan. Sebagai masyarakat awam, saya bersikukuh tidak boleh ditambang fosfatnya,” kata Margiyo, tokoh masyarakat Dusun Blimbing, Desa Umbulrejo, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. “Saya juga diiming-imingi. Mau minta apa? Tapi saya tidak kepingin itu. Walaupun, sebetulnya saya banyak kekurangan,” tambah Margiyo. Memanfaatkan Bukan Berarti Merusak Pada zaman prasejarah, pemanfaatan karst hanya

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


sebatas penggunaan hasil hutan. Beberapa tahun terakhir, mulai ada ekstensifikasi pertanian, penebangan hutan, dan pembukaan lahan pertanian baru. Hal tersebut membuat tutupan vegetasinya rusak ataupun berkurang seperti yang terjadi di Gunung Sewu. Jenis perusakan selanjutnya adalah efek dari penambangan. “Dalam penambangan, yang berubah adalah morfologinya, hilangnya vegetasi menyebabkan hilangnya beberapa sumber air atau telaga, karena sedimentasi terus dari telaga berkurang, sehingga tampungan telaga berkurang dan cepat kering,” ujar Eko Haryono. Adanya Forum Karst Jogja diharapkan memberi alternatif lain dalam kegiatan ekonomi di luar kegiatan penambangan, yaitu pariwisata. Hingga saat ini mulai banyak pengembangan kegiatan pariwisata yang dikelola masyarakat, seperti Gua Pindul, Gua Cokro dan Gua Kali Suci. Menurut Siswanto, ada beberapa sanksi yang diterapkan jika masyarakat melakukan perusakan. Balai Arkeologi sudah menetapkan beberapa gua sebagai gua hunian atau Gua Arkeologi Cagar Budaya. Sanksi yang diterapkan telah tertera di UU Nomor 11 Tahun 2011, tentang cagar budaya. Ada beberapa macam sanksi yang disesuaikan dengan bentuk pelanggarannya, jika tempat yang dirusak tersebut termasuk sebagai cagar budaya. “Karst lain yang tidak termasuk cagar budaya, sanksi yang diterapkan sesuai dengan undang-undang dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul. Untuk detailnya, saya tidak tahu.” Belajar dan Lindungi Kawasan Karst Pemkab Gunungkidul harus lebih tegas dalam menyikapi hal-hal yang dapat merusak kawasan karst yang berpotensi. Polemik yang muncul berbenturan antara ESDM dengan lingkungan. Benturan yang muncul adalah adanya Peraturan Menteri (Permen) untuk ESDM, sementara Keputusan Presiden (Kepres) tentang karst. Menurut Bagus, selama ini sosialisasi yang dilakukan Pemkab Gunungkidul hanya sampai ke desa atau tingkat kelurahan. Bupati, sebagai pihak yang mengeluarkan Surat Edaran, harus bisa memonitoring staf-stafnya agar

lebih terkoordinasi. Dengan belum adanya batas kawasan karst yang harus dilindungi, menjadikan peraturan terlihat mengambang. Akibatnya, tampak adanya ketidaktegasan dari Bupati. Masyarakat selama ini meributkan peraturan yang melarang mereka untuk menambang. “Seandainya masyarakat tahu potensi dan nilai pentingnya, sudah pasti mereka tidak akan komplain. Ini yang menjadi ganjalan kita dari segi lingkungan,” kata Bagus. Untuk tahun ini, ujar Bagus, kegiatan yang diprogramkan adalah nonton film bareng. Pihaknya sudah menyiapkan beberapa film dokumenter tentang gua wisata. “Filmnya sedang diedit,” ujarnya. Menurut Bagus, ngobrol dengan masyarakat sambil menonton film untuk berbagi wawasan jauh lebih efektif dibanding ketika mengundang mereka di suatu tempat kemudian memberikan pengarahan. Masyarakat bisa melihat bahwa gua yang dimaksud bisa dijadikan tempat wisata dan melihat adanya sumber air. “Kalau pengen ya ayo, masuk gua bareng untuk melihat potensinya itu,” pungkas Bagus. Untuk melindungi kawasan karst, dapat pula melalui jalur edukasi (pendidikan). Seperti halnya yang ada di Museum Karst Indonesia (MKI), yang terdapat di Desa Gerbangharjo, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. MKI tersebut diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada 30 Juni 2009. Sebagai wahana pengetahuan dan pembelajaran, di MKI terdapat berbagai macam gambaran kondisi sosial budaya kehidupan masa lalu dan masa kini yang dilengkapi dengan maket-maket kawasan karst serta yang divisualisasikan. Pengunjungnya pun beragam. Mulai dari masyarakat biasa, siswa, mahasiswa, dosen hingga peneliti. Meski hanya berupa replikasi, MKI dinilai cukup efektif sebagai wahana edukasi. “Melakukan edukasi karst dapat dilakukan pada masyarakat dan siswa. Banyak di (kawasan) karst yang bisa dijadikan pembelajaran,” tutur M. Afrizal Rais, Manager Penguatan Kelembagaan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta.[p]

Ahmad Mustaqim/PENDAPA

Desi Sri Rahayu

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

19


PERATURAN PEMERINTAH DILANGGAR, SURAT EDARAN TAK MENGHENTIKAN “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”

B

egitulah bunyi salah satu ayat dalam pasal 33 UUD 1945. Segala potensi kekayaan yang terdapat di setiap wilayah Indonesia dikuasai oleh negara dan sudah selayaknya dipergunakan sebesar-besarnya guna kemakmuran rakyat Indonesia. Termasuk halnya kekayaan yang terdapat di wilayah Kabupaten Gunungkidul; kekayaan karst. Tentu, hal ini tak luput dari pembacaan masyarakat Kabupaten Gunungkidul sendiri. Sebagian masyarakat memanfaatkan dengan menambang batu karst tersebut. Hasilnya digunakan untuk menambah penghasilan guna mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Tak hanya masyarakat yang bermukim di Kabupaten Gunungkidul, para pengusaha pertambangan dan para investor pun turut berdatangan. Namun, pasca dikeluarkannya Surat Edaran (SE) Bupati Gunungkidul dengan Nomor 540/0196, pada 7 Februari 2011, penambangan batu karst di Kabupaten Gunungkidul masih terus berlangsung. SE tersebut berisi peringatan untuk tidak diperbolehkannya segala aktivitas penambangan, tidak akan dikeluarkan izin penambangan, serta penambangan akan diizinkan sesuai dengan lokasi yang diperuntukkan untuk penambangan dengan menyesuaikan tata ruang. Hal ini hingga kini masih menjadi polemik. Dampaknya, selama tahun 2011, lebih kurang terjadi dua kali unjuk rasa besar di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Aksi tersebut menuntut agar segera ada kejelasan mengenai izin pertambangan karst di Kabupaten Gunungkidul. “Ketika kita mau memproses izin permohonan baru atau perpanjangan, kan belum bisa diproses lebih lanjut, karena payung hukum yang terkait dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) belum ada pengesahan,” ujar Pramuji Ruswandono, Kepala Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Senin, 30 April 2012. Berdasarkan data hasil inventarisasi dan verifikasi usaha pertambangan Kabupaten Gunungkidul dari Dinas ESDM Provinsi DI Yogyakarta, izin pertambangan yang masih berlaku hanya izin Pb. Sutrisno yang berlokasi di Desa Karangasem, Kecamatan Ponjong, dengan

20

Nomor 129/KPTS/KP/10051010. Izin tersebut berlaku sejak 11 Oktober 2005 hingga 10 Oktober 2020. Selain Pb. Sutrisno, semua izin pertambangan di Kabupaten Gunungkidul sudah kadaluwarsa. Dilansir omahkendeng.org, Rodhial Falah dan Akhmad Zona Adiardi, anggota Acintyacunyata Speleological Club (ASC), lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang speleology (ilmu yang mempelajari gua dan lingkungannya), menjelaskan bahwa PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dinilai cukup ketat. Pasalnya, dalam Peraturan Pemerintah ini, tidak lagi dikenal Kawasan Karst Kelas I (kawasan lindung), Kelas II (kawasan karst yang di dalamnya boleh dilakukan aktivitas penambangan dengan disertai studi Amdal, UKL dan UPL), atau Kelas III (kawasan karst yang di dalamnya boleh dilakukan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan perundangan). “Dalam peraturan ini, semua bentang alam karst dan gua, termasuk dalam Cagar Alam Geologi (Pasal 60 ayat 2 poin C dan F),” tulisnya. Cagar Alam Geologi dalam peraturan tersebut, lanjut Rodhial Falah dan Akhmad Zona Adiardi dalam tulisannya, dimasukkan dalam Kawasan Lindung Geologi (Pasal 52 ayat 5), Kawasan Lindung Geologi sebagai bagian dari Kawasan Lindung Nasional (Pasal 51). Secara hierarki, kedudukan kawasan karst dalam PP Nomor 26 Tahun 2008 sangat jelas, yaitu merupakan bagian dari Kawasan Lindung Nasional. Ini berarti, segala aktivitas penambangan karst di Kabupaten Gunungkidul yang masih berlangsung, baik penambangan yang dilakukan perusahaan maupun perorangan, telah melanggar PP Nomor 26 Tahun 2008. Menanggapi hal tersebut, Pramuji mengatakan, “Kami telah berkoordinasi dengan Muspida untuk ditertibkan sampai ke penegakan hukum, Kejaksaan, Kodim, dan Polres. Sudah dikoordinasikan dengan Bupati.” Meski begitu, M. Afrizal Rais, pengurus Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta, menilai bahwa Pemerintah Kebupaten Gunungkidul selama ini kurang tegas dalam menindaklanjuti penambangan yang terus berlangsung. Berdasarkan hasil masukan dari pengamatan Walhi malah semakin parah. Seharusnya ada efek jera, harus

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


Tunggu Hingga Juni 2013 Untuk persyaratan perizinan pertambangan, sebelumnya Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mengacu pada Undang-undang (UU) Nomor 11 Tahun 1967, tentang pokok-pokok pengelolaan atau kegiatan pertambangan. Kemudian beralih pada Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2003 tentang usaha pertambangan bahan galian dan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara. Pramuji mengatakan bahwa, sampai saat ini sudah ada permohonan sebanyak 154, baik permohonan izin baru maupun perpanjangan. Baik itu dari perusahaan pertambangan maupun pertambangan rakyat. Semuanya belum bisa diproses, dan masih menunggu pengesahan RTRW 2010-2030. “Masa berlakunya RTRW Kabupaten Gunungkidul itu sampai 2010. Nanti kita menggunakan Perda RTRW yang baru, saat ini masih proses pengesahan,” lanjut Pramuji. Selasa, 10 Juli 2012, tim Majalah Pendapa menemui Antonius Hary Sukmono, Kepala Sub Bagian Sumber Daya Alam Kabupaten Gunungkidul, di kantornya. Waktu itu, kebetulan Ia selesai rapat untuk menindaklanjuti Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 17 Tahun 2012, yang berkaitan dengan penetapan kawasan bentang alam karst Kabupaten Gunungkidul. Rapat tersebut dihadiri pula oleh Pramuji Ruswandono dan Sri Agus (Kasubid Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Bappeda Kabupaten Gunungkidul). Hary –begitu Antonius Hary Sukmono dipanggil– menuturkan bahwa, dalam Permen tersebut, Kementerian ESDM meminta agar Pemerintah Kabupaten Gunungkidul

Wulandari/PENDAPA

ditindak pihak Polisi dan Pol PP. Mobil yang mengangkut hasil tambang (red: karst) seharusnya tahu. Tindakan seperti itu tidak boleh terjadi. Isi SE Bupati sudah sangat jelas. “Walaupun secara personal, tanah personal tapi penambangan tanpa izin itu tidak boleh. Personal juga harus punya izin, tidak hanya perusahaan. Itu ilegal dong!” kata Afrizal Rais. Namun, menurut Mukmin Zakie, Direktur Pusat Studi Agraria Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, menjelaskan, selain dilindungi PP Nomor 26 Tahun 2008, SE yang dikeluarkan Bupati Gunungkidul, Badingah, tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan aktivitas penambangan jika izin usaha penambangan yang dimiliki pihak penambang belum kadaluwarsa. “Secara legalnya, surat itu memang sah. Selama izinnya masih berlaku, SE itu dari siapa untuk menghentikan? Bupati? Seharusnya penambangannya yang dihentikan, maksudnya izin penambangannya yang dicabut,” kata Mukmin. “Kalau SE itu harus dipatuhi dan pemerintah tidak memberikan izin, ya memang harus. Tapi, SE itu tidak bisa menghentikan perizinan yang sedang berjalan atau masih berlaku,” lanjut Mukmin.

Pramuji Ruswandono, Kepala Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

menetapkan kawasan bentang alam karst Kabupaten Gunungkidul. Tentunya dengan berdasarkan RTRW Kabupaten Gunungkidul Tahun 2010-2030 yang sudah diundangkan tertanggal 18 Juli 2012. Proses mendelienasi (penggambaran) kawasan karst tersebut mencakup di mana saja tempat, luas, serta letak koordinatnya. Inilah yang nanti akan ditindaklanjuti. Sehingga, jika nanti Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sudah bisa menentukan kawasan bentang alam karst sendiri diharapkan ada kejelasan perihal wilayah atau daerah mana yang boleh untuk dieksploitasi (red: wilayah tambang). Sampai saat ini, belum ada izin penambangan baru atau perpanjangan izin penambangan yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Hal ini menunggu selesainya penentuan luas bentang alam kawasan karst yang mencakup; kawasan karst yang dilindungi dan kawasan karst yang akan dijadikan budidaya (red: penambangan). “Tapi ini langkahnya masih panjang. Masih harus kita komunikasikan dengan provinsi, dikomunikasikan dengan pusat untuk menentukan bentang alam karst di Kabupaten

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

21


Gunungkidul,” kata Hary. Dalam Permen ESDM tersebut, Pemerintah Kabupaten Gunugkidul diberi waktu paling lambat satu tahun untuk wajib mengusulkan penetapan kawasan bentang alam karst. Pelaksanaannya, dimulai dari tanggal turunnya Permen ESDM, 20 Juni 2012. Jika dihitung, usulan penetapan yang mesti dipenuhi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul maksimal hingga 20 Juni 2013. Akan tetapi, proses pembuatan kebijakan belum berakhir. Masih harus melalui penetapan-penetapan dengan mekanisme hukum yang cukup panjang. Pada prinsipnya, kata Hary, mudah-mudahan sebelum tanggal 20 Juni ini, semuanya bisa berjalan. Artinya, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul juga memberikan kepastian hukum semuanya, termasuk kepastian hukum orang yang akan melakukan usaha di Kabupaten Gunungkidul, khususnya masalah pertambangan. Mereka yang tidak berada di kawasan karst pun belum mempunyai izin, itu implikasi dari penetapan kawasan karst yang belum selesai. “Kan kegiatan penambangan tidak hanya di kawasan karst ini saja. Ada juga yang di utara sana, tambang andesit. Tapi, izinnya juga belum punya. Nanti kalau ini semua sudah selesai, ya mudah-mudahan izin tambang juga harus sudah keluar. Sebatas nanti menteri, dalam arti Pemerintah Pusat juga harus bisa mengeluarkan Wilayah Pertambangan (WP),” tutur Hary. SE yang dikeluarkan Kementerian ESDM, dengan Nomor 08.E/30/DJB/2012, tertanggal 6 Maret 2012, meminta agar pemerintah daerah untuk tidak menerbitkan Izin Usaha Pertambangan (IUP), baik Pertambangan Rakyat maupun Pertambangan Perusahaan. Sebab, untuk menerbitkan IUP harus ada WP terlebih dahulu. Penetapan WP inilah yang belum dilakukan oleh Pemerintah Pusat karena harus menunggu persetujuan dengan DPR RI. Menurut Mukmin Zakie, Pemkab Gunungkidul harus konsisten pada peraturan yang sudah dibuat. Penempatan zonanya harus tepat, mana yang memang untuk budidaya dan mana yang harus menjadi kawasan lindung, berdasarkan pada keadaan alamnya. Bukan sebaliknya. Jika suatu kawasan mestinya menjadi kawasan industri, maka harus menjadi kawasan industri. Jika kawasan hutan lindung, kawasan pemukiman, maka harus menjadikannya kawasan lindung dan permukiman. “RTRW kan gitu. Kalau itu memang sebagai wilayah pertambangan, ya memang harus menjadi wilayah pertambangan. Di situ tentunya sebagai aset, bukan komoditi,” ujar Mukmin. Solusi Bagi Penambang(?) Ada berbagai faktor mengapa sebagian masyarakat Gunungkidul masih tetap melakukan penambangan. Salah satunya adalah kondisi masyarakat yang tidak mampu. “Ini daerah minus. Karena bertani tidak mencukupi kebutuhan, akhirnya pekerjaan sampingan mereka

22

menambang. Di samping itu, masyarakat kurang sadar. Sudah dijelaskan tapi tidak mau tahu,” kata Sukamto (58), kepala Desa Kenteng, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Seperti halnya penuturan Sugiyanto, kepala Dusun Pudak, Desa Pudak, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul. “Karena masyarakat banyak yang meminta pekerjaan, lama kelamaan saya tidak enak. Tapi, nanti kalau Perda itu sudah datang kemungkinan ya berhenti.” Hary menuturkan, bahwa, SE Bupati Gunungkidul itu tidak semata-mata pemerintah melarang mereka melakukan kegiatan eksploitasi (red: pertambangan). Karena pemerintah sadar bahwa masyarakat -dalam hal ini yang berprofesi sebagai penambang- juga berkebutuhan memenuhi kebutuhan hidup. Salah satunya, bekerja sebagai penambang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pemkab Gunungkidul mencoba membuat program pemberdayaan masyarakat pasca tambang, yaitu mengalihkan profesi masyarakat yang sebelumnya sebagai penambang diarahkan untuk bekerja selain menjadi penambang. Tujuan pengalihan profesi tersebut memberi alternatif solusi untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup, meskipun itu tidak mudah. Pasalnya, masyarakat yang sebelumnya berprofesi sebagai penambang, jika pagi melakukan penambangan, pada sore hari mereka sudah mendapatkan hasil (red: uang). Sehingga mereka bisa langsung mendapatkan hasil setelah bekerja. Permasalahan yang timbul sekarang adalah alternatif solusi pengalihan profesi yang diberikan pemerintah tidak bisa dirasakan seperti ketika berprofesi sebagai penambang. Dalam hal ini, hasil dari pekerjaannya tidak bisa langsung menghasilkan uang. “Tapi mudah-mudahan dengan lambat laun mereka yang dulu bekerja di sektor tambang bisa beralih ke sektor-sektor lain,” ungkap Hary. Program pengalihan profesi tersebut salah satunya adalah Lele Lahan Kering Sistem Terpal, atau yang lebih dikenal dengan sebutan lelaki sintal. Teknik budidaya lele ini memakai terpal sebagai tempat untuk mengembangbiakkan lele. Kemudian, alternatif lain yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, kegiatan peternakan, pertanian, serta kegiatan padat karya juga sudah mulai dilakukan oleh masyarakat. “Memang, kalau dibilang kaitannya dengan ini tidak pragmatis, ya memang tidak pragmatis, karena susah. Susah dalam arti bukan seperti living coast korban bencana yang langsung dapat bantuan seperti beras atau bantuan uang tunai. Memang kita tidak dengan model itu. Modelnya ya dengan program-program kegiatan,” ujar Hary. Misal, lanjut Hary, yang lewat Dinas Peternakan ada kegiatan penggemukan, ada bantuan ternak dikelompokkelompok, ada bantuan bebek dan lainnya. Dari Dinas Kelautan dan Perikanan, ada budidaya lele. Dari Dinas Kehutanan, ada reboisasi hutan dan lahan. “Dari Pertanian, ada bantuan-bantuan lain. Seperti itulah yang

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


kita coba bangun bersama-sama.” Namun, program pengalihan profesi tersebut tak luput dari permasalahan. Misal, program yang sudah berjalan di Kecamatan Ponjong seperti beternak bebek. Program ini terkendala dalam hal pemasaran. “Kesulitan mesti ada, dalam hal pemasaran. Namun, untuk pemasaran saya buat pasar, namanya Pasar Wage di Gombang,” kata Haryo Ambar, Camat Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Kejadian hampir serupa juga terjadi di Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Beberapa program Pemerintah Kabupaten Gunungkidul belum berjalan begitu optimal. Selain kegiatan penambangan masyarakat yang sebelumnya menjadi pekerjaan sampingan, juga terdapat program yang tidak sesuai dengan kondisi daerah tersebut. “Harapannya agar segera ada kepastian. Izinnya ditolak atau diterima. Penanganan pasca tambang itu harus maksimal,” kata Wastana, Camat Semanu. M. Afrizal Rais menilai, program penanganan pasca tambang Pemerintah Kabupaten Gunungkidul di satu sisi bagus. Namun, di sisi lain, ia menilai kalau program tersebut merupakan program jangka panjang dan perlu

dipikirkan kembali. “Pengalihan masalah kerja, ini kan boleh-boleh saja. Tapi, ini tanamantanaman yang tahunan. Proses ekonominya itu, orang butuh uang kan per hari. Nah, mekanisme persoalan itu dipikirkan nggak?” kata Afrizal Rais. Yang lebih penting, lanjut Afrizal Rais, pengawasan di lapangan. Dalam konteks, tidak ada lagi perluasan (red: wilayah penambangan). Tingkat pengawasannya harus ketat. Bagus Yulianto, seorang peneliti gua yang pernah melakukan sosialisasi dan pelatihan penelusuran gua sebagai tempat wisata di Gunungkidul, merasakan sebuah kekhawatiran. Ia menuturkan bahwa pada era 1990-an, Kabupaten Gunungkidul menjadi tempat budidaya tempuyung. Apabila satu atau dua orang yang melakukan budidaya nilainya tinggi, tentu bisa menguntungkan masyarakat. Namun, jika semua program disamakan atau penyeragaman program tanpa ada pengelolaan atau manajemen pemasaran dan sebagainya, akhirnya harganya turun. Karena sudah cukup melimpah. “Pemerintah mau mengalihkan entah itu ke lele, peternakan, dan sebagainya, tapi tidak disertai master plan secara utuh nanti jadinya akan melimpah dipasaran. Dampaknya, harga dipasaran akan turun semua, dan tidak ada nilai strategisnya,” kata Bagus. Hary menyadari bahwa program pemerintah tersebut memerlukan dukungan serta komitmen dari banyak pihak. Sudah barang tentu untuk bisa konsisten, sehingga masyarakat yang dulu bekerja di sektor tambang lambat laun bisa dan mau bekerja di sektor lain. Terlepas dari itu, masyarakat butuh segera mendapatkan kejelasan perihal izin usaha pertambangan karst di Kabupaten Gunungkidul yang selama ini menjadi salah satu sumber penghasilan mereka. Hal itu tentu harus disertai pula peraturan yang mempertimbangkan perlindungan terhadap kawasan karst sebagai kekayaan yang dimiliki. “Jika penambangan tanpa perlindungan tetap dilakukan, anak cucu kita tidak akan tahu apa yang namanya fosfat, mana gua yang asli. Nggak akan ngerti. Mereka hanya akan mendengarkan cerita saja,” kata Margiyo, tokoh masyarakat Dusun Blimbing, Desa Umbulrejo, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul.[p]

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

Ahmad Mustaqim

23


Tawuran Antarpelajar Itu Tradisi Kampung

T

ahun 2012 ini, tawuran antarpelajar marak terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Dari pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga mahasiswa. Hal ini tak hanya merugikan diri mereka sendiri, tetapi juga orang lain. Ironisnya, tawuran pelajar tersebut terjadi hingga merenggut nyawa teman seperjuangan mereka sendiri. Sebuah tindakan yang tidak layak bagi kaum terpelajar. Hal tersebut bukanlah cermin asli budaya bangsa Indonesia yang selama ini diagungkan. Mengingat, merekalah generasi calon penerus perjalanan bangsa yang menjunjung tinggi nilainilai luhur Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Untuk mengawal hal tersebut, berikut hasil petikan wawancara reporter Majalah Pendapa, TaoďŹ q Tri Yudhanto, Wayahdi, dan Ahmad Mustaqim dengan Prof. Dr. Faruk, SU, Staf Pengajar Program Studi Kajian Budaya Media Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, di sela-sela kesibukannya menangani acara pembukaan Pekan Seni Budaya di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjo Soemantri (PKKH) UGM, Senin, 22 Oktober 2012.

Tawuran antarpelajar Indonesia marak terjadi di beberapa daerah. Apa yang menyebabkan hal itu terjadi? Itu tradisi lama, tradisi kampung istilahnya. Jadi, pada zaman dahulu tradisi antara kampung satu dengan yang lain bisa terjadi perang. Lalu, ganti solidaritas atau sentimennya menjadi di sekolah. Itu artinya dunianya belum luas. Jangankan solidaritas nasional ke-Indonesia-an, solidaritas yang melampaui batas kampungnya saja belum. Jadi, kampung satu dengan kampung yang lain belum bersaudara. Masih orang sana, orang sini. Orang sekolah sana, orang sekolah sini. Jiwa kita belum luas, masih sempit. Seperti halnya orang korupsi. Mereka tidak berďŹ kir kalau rakyat itu saudara mereka. Rakyat itu dianggap orang lain. Yang dianggap penting dia sendiri, bukan yang lain. Nanti kalau menjadi pejabat semua bisa seperti itu. Apa akar dari masalah tersebut? Saya kira ini hanya masalah harga diri yang berujung menjadi sentimen. Dulu itu ada namanya jago-jagoan. Ini jago-jagoan kampung ini, yang ini jago-jagoan sekolah ini. Tersinggung sedikit lalu berkelahi. Padahal nggak ada urusan apa-apa. Itu masalah yang sebenarnya. Masalah harga diri yang nggak mau disepelekan atau merasa terhina, merasa tersinggung, dan lain sebagainya. Bagaimana dengan pengaruh lingkungan? Lingkungan sangat mempengaruhi. Tapi, apapun namanya itu, berpangkal dari belum luasnya pandangan kita. Menurutnya, di rumah saja jago-jagoan, di kampung jago-jagoan, di sekolah juga seperti itu. Dunianya masih sempit.

24

Wayahdi/PENDAPA

Untuk mengatasi hal itu, langkah apa yang mesti dilakukan? Yang penting adalah bekerjasama. Jangan sekolah satu sekolah lain, tapi antarsekolah. Melakukan kerjasama dan kerja bareng-bareng. Membesar-besarkan diri boleh saja, tapi jangan menganggap rendah orang lain. Jadi, terkadang sekolah membesar-besarkan sekolahnya, kampung membesarkan-besarkan kampungnya sendiri. Hal terpenting yang perlu ditanamkan yakni pemahaman bahwa orang lain itu juga mempunyai kelebihan, dan kita bisa belajar dari mereka. Semuanya harus menghitung itu. Tanpa orang lain, kita nggak bisa hidup. Zaman dulu, kalau orang Jawa menganggap wong sabrang, lalu orang yang jauh dari keraton itu namanya buto atau minak jingo, atau bermacam-macam seperti itu. Sekarang sudah kelihatan bahwa semuanya itu manusia. Mereka bukan setan atau hantu, bukan pengacau, dan bukan apapun. Semua orang punya kebudayaan, punya peradaban yang berharga untuk dipelajari dan dibawa bersama-sama. Dalam hal ini tentu orang tua merupakan salah satu pihak yang berkaitan, langkah apa yang seharusnya dilakukan? Orang tua harus mengajarkan pada anaknya tentang segala hal, kepada siapa pun. Belajar banyak hal yang berharga dari orang lain, keluarga lain, dan di tempat lain di mana pun, yang bisa dipelajari. Untuk hidup, ditanamkan ketergantungan antarsesama. Tidak bisa untuk diri sendiri saja. Jangan sampai menciptakan pikiran bahwa orang lain sebagai pengganggu.[p]

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


PENDAPA AGUNG DALAM MASA “PERALIHAN” Tim Laporan Khusus: Syarifatur Rahma (Koordinator), Desi Sri Rahayu, Supriyanti, Maryani, Wulandari S, Eko Budiono, Ana Kusumaning W, Wulandari.

Suby/PENDAPA

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

25

Enggar/PENDAPA

Penulis: Syarifatur Rahma dan Desi Sri Rahayu


(Museum) Pendapa Agung Tamansiswa

B

angunan khas Jawa, berbentuk joglo, berdiri kokoh di Jalan Tamansiswa No. 25 Yogyakarta. Beberapa tiang yang kekar menyangga atapnya, menampilkan keagungan sebuah bangunan. Pelatarannya yang tak pernah sepi membuatnya terlihat hidup. Setiap pagi terlihat lalu lalang siswa, berlatih menari, juga beberapa mahasiswa yang melepas penat untuk sekadar menyambung rasa. Bangunan khas Jawa tersebut tidak seperti bangunan joglo lainnya. Inilah pendapa agung. Pendapa Agung Tamansiswa. Ruang publik yang didirikan atas cetusan dari Ki Hadjar Dewantara. Tempat di mana warga Tamansiswa dapat bermusyawarah, dan melestarikan budaya dan kesenian. Pendapa adalah rumah muka, balai atau ruang besar untuk berapat, untuk keperluan pendidikan, kesenian, dan kegiatan yang bersifat kemasyarakatan dan kekeluargaan. Hal tersebut tertera dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia. Sementara dalam Ensiklopedi Kebudayaan Jawa, pendapa adalah bangunan rumah Jawa yang terletak di depan rumah inti, biasanya berbentuk joglo/limasan, fungsinya sebagai tempat menerima tamu atau pertemuan. Hal ini didasari oleh tradisi dalam kehidupan masyarakat Jawa yang memiliki prinsip musyawarah untuk mufakat dalam sistem pengambilan keputusan. Sehingga Perguruan Tamansiswa pun memerlukan tempat yang luas untuk bermusyawarah. Sebab, bagi Tamansiswa, Pendapa Agung adalah sebuah tempat yang diliputi suasana keluhuran budi. Menurut pandangan budayawan Iman Budhi Santoso, seperti halnya dalam kebudayaan yang mirip pesantren, di mana pesantren adalah campuran antara ide islam dengan kebudayaan hindu di masa lalu. Lokasi yang dipergunakan sebagai pesantren dahulunya disebut mandala. Mandala adalah tempat di mana pendeta, guru, ustadz ataupun kiai yang tengah mengajar para murid. Pendidikan Tamansiswa tampaknya mengadopsi lingkungan ala mandala. Meskipun tempatnya tidak berada di puncak gunung, akan tetapi layaknya sebagai pondok pesantren. Konsep mandala yang seperti keraton mencirikan bahwa tidak sembarangan orang diperbolehkan masuk. Kalau di pesantren, pendapa berbentuk seperti masjid atau serambi. Akan tetapi, kalau Tamansiswa sebagai tempat pertemuan dan diseuaikan dengan visi mandala pada pendidikan modern.

26

Pendidikan Kebudayaan itu Tamansiswa Sejak berdirinya Perguruan Tamansiswa pada 3 Juli 1922, perguruan tersebut menarik perhatian umum. Pada saat berdirinya jumlah siswa berjumlah 25 anak. Itu pun hanya bagian Taman Indria (TK). Selang berjalannya waktu, jumlah siswa semakin meningkat. Tempat kelahiran Tamansiswa di Jalan Gajah Mada (Station Weg) 28 dan 30 Yogyakarta dianggap tidak mampu menampung jumlah siswa yang terus bertambah besar. Dicari lokasi yang lebih luas, kemudian diperoleh sebidang tanah di Jalan Tamansiswa 31 dan 33 (red: saat itu, sekarang No. 25) Yogyakarta. Perguruan pun secara berangsur-angsur pindah ke Jalan Tamansiswa. Ki Hadjar Dewantara sekeluarga belum bersedia pindah. Beliau menginginkan kepindahannya bersamaan dengan terwujudnya sebuah pendapa dalam kompleks baru. Bagi Tamansiswa, pendapa adalah sebuah tempat yang diliputi suasana keluhuran budi. Dengan suasana tersebut akan terciptalah kedalaman, kekuatan, dan keluhuran budi manusia. Perguruan Tamansiswa merupakan salah satu pendidikan lingkungan bagi bumi putra pertama di Indonesia sesudah dr. Wakhidin. Sebelum itu, belum ada pendidikan formal untuk masyarakat kita, hanya sekolah rakyat yang didirikan oleh Belanda. Keraton pun hanya menyediakan sekolah untuk pendidikan lingkungan istana. Maka muncullah beberapa sekolah, di antaranya adalah Boemi Poetera, Perguruan Tamansiswa, dan Muhammadiyah. Baik Muhammadiyah maupun Tamansiswa, mengarahkan pendidikan umum seperti pesantren, hal ini disebabkan belum bisa meninggalkan tradisi lama. Pendidikan di perguruan Tamansiswa adalah pendidikan modern. Ki Hajdar mengangkat model mandala sebagai pertimbangan, sementara Muhammadiyah menjadikan sekolah rakyat modern Islam. Struktur kinerja dan bentuk ďŹ sik Boemi Poetera yang dikelola dr. Wakhdin begitu sederhana karena meniru sekolah Belanda. Hal ini berbeda dengan Ki Hadjar yang menginginkan berdirinya pendapa sebagai tempat untuk belajar siswa. Pendapa yang merupakan ikon rumah Jawa tersebut dijadikan Pendapa Agung Tamansiswa. Meskipun sudah diadopsi oleh aristokrasi kerajaan, sebenarya adaptasi ini berasal dari padepokan Brahmana. Seperti menghidupkan kembali mandala semasa Majapahit, pendapa dibangun di

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


atas tanah lapang. Seolah-olah tanah lapang tersebut dapat digunakan oleh siapa saja yang akan memanfaatkannya. “Neng nggone kraton ki pasewakan agung itu (di keraton itu tempatnya berkumpul), mandala itu sakjane (sebenarnya) tanah kosong. Kalau pendeta memberikan dakwah atau pengajaran, murid-muridnya duduk berkumpul,” pungkas Iman. Cagar Budaya atau Budaya Cagar? Dengan dimaktubkannya Pendapa Agung Tamansiswa sebagai cagar budaya, sudah pasti ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk tetap menjaga keasliannya. Bukan hanya sekadar bentuk fisiknya, melainkan juga ruhnya. Yaitu, kegiatan yang berlangsung di dalamnya. Sebenarnya, tutur Iman, cagar budaya memiliki nilai eksternal. Nilai kecil yang kemudian menjadi nilai vital. Cagar budaya yang seharusnya membudayakan kebudayaan Jawa yang bercampur dengan kebudayaan Islam. “Kalau dijadikan cagar budaya harus dicari maknanya. Misalnya melalui rumah tinggal, supaya jelas cagar budayanya di posisi mana,” terangnya. Melihat fungsinya, di zaman yang sudah modern ini pendapa menjadi gedung pertemuan. Bukan hanya itu, bahkan terkadang menjadi tempat hajatan. “Kelihatannya Tamansiswa mencoba komersial. Kalau saya pahami, daripada nganggur lebih baik disewakan,” ungkap Iman. Hal tersebut masih bisa dipahami apabila niat yang ada adalah untuk berkegiatan, bukan semata karena uang. Berkaitan dengan ideologi Tamansiswa, kegiatan yang berlangsung di Pendapa Agung pun seharusnya masih berhubungan dengan kesenian dan kebudayaan. Diselingi diskusi dan latihan menari. Mengingatkan kembali pada konsep kebudayaan yang ruwet, bahwa realitas tidak sepenuhnya seperti yang diinginkan. Iman bercerita, suatu kali Sutan Takdir Alisjahbana pernah mengindikasikan Indonesia akan maju kalau mengadopsi kebudayaan barat, di antaranya intelektualisme, materialisme dan individualisme. Bukan berarti Sutan Takdir setuju, bahkan Ki Hadjar mengatakan tidak. Menurut Ki Hadjar pandangan barat harus dimesrakan dengan nilai-nilai timur, koleksi visual, dan ras kemanusiaan. Akan tetapi, realitasnya yang menang adalah kebudayaan barat. “Kolektivisme tidak ada. Saya sebagai mantan orang Tamansiswa mau latihan di situ, orang akan bilang urusan listrik gimana? Itu materialisme, individualisme, tidak lagi milik kalian.” Mengembalikan Ruh Pendapa Agung Menurut Wahyana Giri, Pendapa Agung sangat luar biasa sekali, hingga mampu menjadi magnet kota Yogyakarta. Selalu ada kegiatan dan tidak pernah sepi. “Ada orang nari, nggamel, teater, pencak silat, benar-benar seperti yang dikehendaki Ki Hadjar ketika mendirikan pendapa. Benar-benar menjadi ruang publik bagi rakyat yang memanfaatkan ruang itu,” ungkap budayawan yang

juga seorang sastrawan ini. Berdasarkan pengamatan Wahyana Giri, pada tahun 1980-an ada sistem pengelolaan yang bagus, sehingga kesenian Tamasiswa bisa hidup dan maju. Dari Pendapa Agung pula muncul kelompok musik yang sangat kreatif bernama Grup Watalita yang sangat kuat. Juga Teater Jeprik yang merupakan akronim dari jebolan pendapa rindu kesenian. Hal tersebut yang menjadi barometer teater Yogyakarta pada masa itu, yang menggunakan genre teater sampaan. Karena orang menggunakan proses kreatif di Pendapa tidak terganggu seperti saat ini, akhirnya lahirlah grupgrup kesenian yang luar biasa. Hingga tari dari SMA Taman Madya pun diperhitungkan. Melihat keadaan sekarang ini, Wahyana berpandangan, kisaran 5 sampai 10 tahun lagi Pendapa Agung akan menjadi museum. Menjadi tempat yang terasing hingga orang tidak akan tertarik lagi. Di Yogyakarta banyak tempat-tempat yang menawarkan diri untuk berucap selamat datang, sementara Pendapa Agung sekarang masih tertutup. Orang yang hendak berkunjung saja tersandung birokrasi berat. Sekadar mendirikan panggung dalam suatu acara seni pun terkadang sulit karena alasan cagar budaya. “Padahal orang-orang dekorasi, pekerja seni, lebih paham cara memperlakukan dan menata cagar budaya, menyinergikan, dan menjaganya,” keluh Wahyana Giri, “seandainya Pendapa Agung diserahkan pada suatu lembaga cerdas sehingga bisa menarik founding dari luar atau dalam.” Apabila Pendapa Agung bergerak secara mandiri, akan banyak sekali anggaran yang bisa diakses. Mulai dibangunnya Yayasan Pendapa Tamansiswa, kemudian diaktakan, lalu diadakan pelatihan semacam workshop, pelajaran budi pekerti dan ada pementasannya. Cara tersebut lebih anggun untuk mempertahankan Pendapa Agung sebagai ruang publik yang punya sejarah. Tidak berhenti hanya pada Pendapa Agung, Perguruan Tamansiswa pun akan runtuh jika dikelola oleh orang yang sangat tidak mengerti cara menyikapi konsep. Ki Hadjar tidak pernah meminta bantuan. Akan tetapi, ketika ada bantuan apapun yang bersifat kerjasama dan tidak mengikat atau tidak menyampaikan pesan-pesan tertentu yang membelenggu gerakan Tamansiswa, Ki Hadjar akan senang hati menerimanya. “Ada anggaran di APBD atau APBN yang bisa ditarik, dengan mengajukan proposal program membangun jaringan. Bukan hanya menunggu penyewa. Japan Foundation sebagai lembaga founding yang sangat konsen membangun seni tradisi di Indonesia tentu sangat tergiur dengan Tamansiswa,” cetus Wahyana Giri.[p]

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

Desi Sri Rahayu

27


Pendapa Agung Dikomersilkan, Salahkah?

Ahmad Mustaqim/PENDAPA

H

iruk pikuk kendaraan menjadi teman setia yang senantiasa mendampingi lengangnya suasana Pendapa Agung usai jam sekolah. Seperti biasa, menjelang malam, bangunan Joglo berukuran 17 meter x 17 meter ini seolah kehilangan nyawa. Tak ada keramaian layaknya ruang publik lainnya. Sejak ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Jero Wacik kala itu), pada tahun 2007, Pendapa Agung seperti belum bisa bangun dari mati surinya. Geliat kegiatan kebudayaan yang pernah berjaya pun kini tak ada gaungnya. Pada era tahun 1980-an, Pendapa Agung seolah menjadi magnet dibidang kesenian dan kebudayaan. Tak hanya itu, pada tahun 1990-an, Pendapa Agung menjadi saksi perkembangan luar biasa dalam bidang sastra. Pada masa itulah Pendapa Agung menjadi tempat diadakannya pengadilan puisi oleh komunitas sastra maupun mahasiswa yang cinta dengan sastra, dan melahirkan tokoh-tokoh sastra yang masih terus eksis hingga saat ini. Lesunya gairah Pendapa Agung pun diungkapkan oleh Sapto Cahyono, salah satu staf Museum Dewantara Kirti Griya. Pria yang sudah mengabdikan diri di Tamansiswa sejak sepuluh tahun yang lalu itu mengaku senang jika pada malam hari ada kegiatan. “Kalau ramai itu kan jadi gayeng, mbak,” ungkap Sapto. Bagi Tamansiswa, Pendapa Agung adalah sebuah tempat yang diliputi suasana keluhuran budi, sehingga dengan suasana tersebut akan tercipta kedamaian,

28

kekuatan, dan keluhuran budi manusia. Pada upacara peletakan batu pertama, Ki Hadjar Dewantara (KHD) berpesan bahwa Pendapa Agung Tamansiswa berstatus sebagai monumen keluarga Tamansiswa yang berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan alat pemersatu keluarga Tamansiswa yang penuh dengan suasana keluhuran budi. Akan tetapi apakah pesan KHD masih tetap dipegang teguh oleh keluarga besar Tamansiswa? Di lain sisi, ditetapkannya Pendapa Agung sebagai Benda Cagar Budaya disambut baik oleh berbagai pihak. Waskuri, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, mengungkapkan rasa bangga sebagai keluarga besar Tamansiswa. Ia mengataka bahwa Pendapa Agung Tamansiswa layak ditetapkan menjadi Benda Cagar Budaya, mengingat nilai sejarah yang tinggi dan merupakan museum sejarah lahirnya pendidikan Kebangsaan. Jemek Supardi, seniman pantomim dari Yogyakarta mengatakan, gelar Benda Cagar Budaya pantas disandang Pendapa Agung. “Selain merupakan bangunan tua, Pendapa Agung Tamansiswa itu punya sejarah yang besar,” ujarnya. Penetapan Pendapa Agung sebagai Benda Cagar Budaya didasarkan pada Peraturan Gubernur DIY Nomor 74 Tahun 2008, tentang tata cara penetapan dan klasifikasi kawasan cagar budaya dan Benda Cagar Budaya. Menurut ketentuan umum penetapan Benda Cagar Budaya tersebut, Pendapa Agung telah memenuhi kriteria. Kriteria tersebut di antaranya; pertama, benda buatan manusia, bergerak atau

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


tidak bergerak yang merupakan kesatuan atau kelompok atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 tahun, serta diidentifikasi mempunya nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan; kedua, benda alam yang diidentifikasi mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Perubahan status Pendapa Agung menjadi Benda Cagar Budaya mau tidak mau mempengaruhi nilai guna Pendapa Agung. Kini keluarga Tamansiswa harus rela berbagi dengan masyarakat. Widyastuti, Kepala Seksi Pelestarian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta menerangkan, Benda Cagar Budaya seharusnya dipergunakan sebagai ruang publik. “Tergantung pemiliknya, kalau mau dialihfungsikan seperti apa, monggo (silakan). Asalkan bentuknya tidak berubah,” kata Widyastuti. Berkenaan dengan ditetapkannya Pendapa Agung Tamansiswa sebagai Benda Cagar Budaya yang berada di bawah pengelolaan Yayasan Tamansiswa, Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa telah membentuk suatu tim khusus yang bertugas mengelola Pendapa Agung Tamansiswa. Seperti yang tercantum dalam Surat Keputusan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa Nomor KPU.004/SK-3/ SES-SP/2012 tentang Pembentukan dan Penetapan Personalia Badan Usaha Persatuan Tamansiswa, persewaan gedung berada di bawah tanggung jawab Tuju Marjono. Terkait tanggung jawab yang dibebankan, Tuju, begitu panggilan Tuju Marjono, memaparkan persyaratan pemakaian Pendapa Agung dalam wawancara tertulis kepada tim Majalah Pendapa. Persyaratan-persyaratan tersebut antara lain: sanggup menaati tata tertib penggunaan Pendapa Agung; tidak untuk kepentingan politik; tidak untuk promosi rokok/ minuman beralkohol; hari libur untuk kepentingan Persatuan Tamansiswa, seperti pentas seni, sarasehan/seminar, kunjungan siswa cabang-cabang Tamansiswa se-Indonesia, syawalan, khitanan, dan pengobatan masal. Selain itu, Tuju juga menjelaskan, penyewa Pendapa Agung harus membayar biaya kontribusi untuk perawatan, kebersihan, dan Pajak Bumi dan Bangunan. “Kontribusi bantuan perawatan, listrik, dan air untuk Pendapa Agung dirasa tidak menyalahi aturan pemerintah.” Iman Budi Santoso, budayawan dari Yogyakarta mengungkapkan, pihaknya merasa hal tersebut sah dilakukan jika Tamansiswa kekurangan biaya untuk perawatan Pendapa Agung. Sementara itu, Wahyana Giri menyayangkan kurangnya daya tarik terhadap Pendapa Agung Tamansiswa. Pengelola tidak mampu memanfaatkan Pendapa Agung menjadi ruh dan magnet yang mampu menyedot perhatian aktivitas seni di Yogyakarta, bahkan di Indonesia. Logikanya, jika Pendapa Agung bisa dijadikan magnet di bidang kesenian dan kebudayaan, sudah barang tentu para orang tua

akan berpikir untuk menyekolahkan anaknya di sekolah Tamansiswa. Selain itu,Wahyana juga menyayangkan jika pengelola menyewakan Pendapa Agung untuk hajatan yang tidak ada kaitannya dengan kebudayaan. “Tapi, masih bisa ditolerir jika setiap acara nikahan mengacu pada satu tradisi nikahan yang adi luhung bukan standing party,” ungkapnya. Tidak dapat dipungkiri, faktor ekonomi pun menjadi salah satu penyebab Pendapa Agung dikomersilkan. Tuju mengakui belum adanya dana bantuan khusus dari pemerintah. Bila dilihat perkembangannya saat ini, pemanfaatan Pendapa Agung baru sampai pada tataran penyewaan. Suharto, Ketua Harian Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, mengatakan Pendapa Agung disewakan untuk keperluan sosial. “Penyewa Pendapa Agung hanya harus memberikan bantuan listrik dan kebersihan,” ungkap Suharto. Ketika ditanya mengenai sumber dana perawatan Pendapa Agung, Suharto menuturkan bahwa sumber dana berasal dari iuran cabangcabang Tamansiswa dari seluruh Indonesia sebagian untuk perawatan Pendapa Agung. Pergeseran Fungsi Waskuri menilai telah terjadi pergeseran fungsi Pendapa Agung dari nilai-nilai budaya. “Penggunaan Pendapa Agung sebagai tempat yang disewakan untuk resepsi pernikahan merupakan penghinaan terhadap sejarah.” Ia menambahkan, sebenarnya pengelola Pendapa Agung masih bisa mencari sumber dana dengan cara yang lebih elegan. “Misalnya saja dengan mengadakan kegiatan yang aspek demonstratifnya tinggi, mengadakan lomba lukis atau kegiatan-kegiatan lain dengan tema kebudayaan atau pendidikan,” ujarnya. Sepaham dengan Waskuri, Wahyana Giri menyarankan agar penggunaan Pendapa Agung saat ini sudah mengarah kepada budaya kapitalis. Orang-orang yang hendak berkesenian di sana seolah kalah dengan fungsi-fungsi yang tidak ada kaitannya dengan pergerakan Tamansiswa atau tujuan didirikan. Kalau saja pengelola dapat memanfaatkan magnet yang ada pada Pendapa Agung, tentu pengelola tidak akan kesulitan lagi untuk memperoleh biaya perawatan. Seperti halnya Rumah Budaya Tembi dan Yayasan Bagong Kussudiardjo, Pendapa Agung pun memiliki daya tarik yang sama. “Hanya saja, kurangnya kegiatan kebudayaan yang dilakukan, menjadikan Pendapa Agung sedikit terasingkan,” katanya. Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, GBPH Yudhaningrat berharap, Pendapa Agung dapat dimanfaatkan oleh budayawan klasik maupun kontemporer untuk turut mengembangkan seni budaya bangsa. “Saya berharap tidak terjadi perubahan fungsi Pendapa Agung.”[p]

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

Syarifatur Rahma Budiarti

29


Fungsikan Semestinya

K

i Hadjar Dewantara pernah berpesan dalam pidatonya saat upacara peletakan batu pertama pembangunan Pendapa Agung Tamansiswa. “Pendapa Agung Tamansiswa merupakan monumen keluarga Tamansiswa, dan berfungsi sebagai tempat musyawarah dan alat pemersatu keluarga Tamansiswa yang penuh dengan suasana keluhuran budiâ€?. Pendapa Agung Tamansiswa kini bukan hanya sebagai monumen keluarga Tamansiswa saja, tetapi juga menjadi cagar budaya yang diakui oleh Indonesia. Untuk mengetahui pendapat dari keluarga Tamansiswa mengenai kondisi Pendapa Agung Tamansiswa saat ini, diadakanlah jajak pendapat oleh Litbang Pendapa. Jajak pendapat tersebut berlangsung dari tanggal 10 Juli hingga 28 Agustus 2012. Responden dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistemasis berjumlah 100 responden yang merupakan keluarga Tamansiswa. Responden tersebut berasal dari 8 instansi yang berlokasi di Yogyakarta, yakni pamong Taman Indria (TK), Taman Muda (SD), Taman Madya (SMP), Taman Dewasa (SMA), Taman Karya (SMK), pengurus Majelis Luhur Tamansiswa (MLPTs), pamong Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) dan mahasiswa UST. Tingkat kepercayaan jajak pendapat ini sebesar 95%, dengan sampling error (Âą 5%). Akan tetapi, kesalahan dalam pencuplikan sampling masih mungkin terjadi. Meski begitu, hasil jajak pendapat ini tidak dimaksudkan untuk mewakili pendapat seluruh keluarga Tamansiswa di Indonesia. Penetapan Pendapa Agung Tamansiswa sebagai benda cagar budaya, ternyata tidak semua responden mengetahuinya. Hasilnya, 80 persen responden mengaku bahwa mereka mengetahui penetapan Pendapa Agung Tamansiswa sebagai salah satu cagar budaya. Sisanya, sebanyak 20 persen responden menjawab tidak mengetahui. Dalam hal setuju tidaknya penetapan Pendapa Agung Tamansiswa sebagai cagar budaya, sebanyak 98 persen responden menyatakan setuju, sedangkan 2 persen renponden mengaku ragu. Kondisi yang terjadi pada Pendapa Agung Tamansiswa pun mulai beralih fungsi. Dari monumen keluarga Tamansiswa yang berfungsi sebagai tempat musyawarah

30

dan alat pemersatu keluarga Tamansiswa yang penuh dengan suasana keluhuran budi, kini menjadi tempat hajatan. Pendapat beragam ditunjukkan responden ketika ditanya perihal peralihan fungsi Pendapa Agung Tamansiswa. Sebanyak 36 persen responden menyetujui apabila Pendapa Agung Tamansiswa digunakan sebagai tempat hajatan dan resepsi pernikahan. Lainnya, 45 persen responden menyatakan bahwa mereka tidak setuju, dan 19 persen responden menyatakan ragu-ragu. Berkaitan penggunaan Pendapa Agung Tamansiswa sebagai tempat kesenian, berkebudayaan, dan penanaman nilai-nilai kebangsaan dan jiwa merdeka, sebanyak 98 persen responden mengungkapkan bahwa mereka setuju, sebanyak 1 persen responden menyatakan tidak setuju dan 1 persen responden lainnya menyatakan ragu-ragu.[p] Desi Sri Rahayu

1. Tahukah anda jika Pendapa Agung Tamansiswa sudah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya?

80

20

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


2. Setujukah anda jika Pendapa Agung Tamansiswa ditetapkan sebagai cagar budaya?

3. Setujukah anda jika Pendapa Agung Tamansiswa digunakan sebagai tempat hajatan, resepsi perkawinan, dan sebagainya?

lpmpendapa.com

4. Setujukah anda jika Pendapa Agung dipergunakan sebagai tempat berkesenian, berkebudayaan dan penanaman nilai-nilai kebangsaan dan jiwa merdeka?

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

31


RASULAN, A UNIQUE CUSTOM FROM GUNUNGKIDUL Syam Setyowati *

I

ndonesia is a special country. Indonesia usually called an archipelago because it is the only one country that has thousand Islands. Because of that, Indonesia has many cultures, ethnics and customs. They make Indonesia more colorful and full of uniqueness. So, every region serves their beautiful customs and culture. By the way, have you ever heard about Rasulan? It is one of the Indonesian customs. If you haven’t heard, I will give you some information about Rasulan. Rasulan or Bersih Desa is a traditional custom from Gunungkidul, Yogyakarta. The purpose of this celebration is to thank to God for the harvest and prosperity annually. But this celebration doesn’t hold in same time, because it depends on each village’s rule. Usually, people enjoy eating rempeyek (traditional chips), watching reog, jathilan (traditional dance), and wayang kulit (puppet), visiting family and friends’ house. The activities that have done in several days before Rasulan are: First, people are cleaning and clearing up the environment to welcome this event. Second, they send some food to family and friends. Besides that, Karang taruna (village youth organization) organizes sports and traditional games championship. The traditional games include balap karung, makan kerupuk, lari kelereng, etc. These championships are followed by all of people, from children to adults. Winning of the championship isn’t important for them, because they just want to strengthen brotherhood and friendship. After that, they will also hold praying together. When Rasulan comes, people serve their food in tenggok (bamboo basket) and then collect the food in chief RW’s house in early morning. People also made gunungan (imitation of animal, house, etc.) to support rasulan event. People made gunungan from the unused cement case or cardboard. Vegetables, fruits and other harvest also placed around of the gunungan. After the food and gunungan are ready, reog comes and guides the people to bring the food and the gunungan from chief RW’s house to Balai Desa (public hall). When the people arrived in Balai Desa, the food will be prayed together, and then the people will eat and also bring the prayed food to home for their family.

32

After that, reog performs until afternoon to amuse the people. In the night, wayang kulit will be performed all night to close this event, because wayang kulit is an obligation in Rasulan. Wayang kulit usually seems monotone. But in order to make it more interesting for young generations, wayang kulit performance is modified. So, wayang kulit is improved by joking or singing as the intermezzo in the performance. But it still defends the authenticity of wayang kulit. Rasulan has some point of views. From the myth side, the people believe that if they don’t celebrate and hold Rasulan, there will be a disaster and disease in their places. So, the people never forget to hold Rasulan. In the other hand, the people have a responsibility to celebrate and hold Rasulan because it is a cultural heritage that is done by the ancestor continuously. From the cultural side, Rasulan brings positive effects for the people. By conducting Rasulan every year, the people especially young generation will protect Rasulan and other pop art like reog, jathilan, doger, wayang kulit, etc. Young generations will learn and bequeath them to the next generation. So, they will be careful to accept foreign culture in globalization era. As good Indonesian people, they are responsible to defend their own culture and custom like Rasulan that should be introduced for public to balance the foreign culture with our culture. From the social side, Rasulan strengthens the brotherhood and friendship. It is because of the activities in Rasulan involves all of people to work or play games together for a supreme purpose, enliven Rasulan. From the economical side, Rasulan helps the people to improve their income. When Rasulan comes, people buy food materials and supplies like tofu, chili, chicken, eggs, chips, rice, flour, sugar, onion and other food from the shop around. The street vendors near the performance stages will also get money from the visitors. If you want to have experience and enjoy in Rasulan by yourself, you should go to Gunungkidul. But you should know when Rasulan hold in before. Happy reading and be proud of our culture, ethnic and custom.[p] *) Mahasiswa Pend. Bahasa Inggris ‘09

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


Fotografer : Taofiq TY/PENDAPA

PERMAINANKU WAHANA EDUKASIKU PENDAPA TAMANSISWA EDISI 53 TAHUN XXIV 2012

33


Pecut-pecutan Perang-perangan sederhana. Fotografer : Taofiq TY/PENDAPA

Lempar Batu Hampir selesai! Fotografer : Taofiq TY /PENDAPA

34

“Aku ingin semua budaya negeri manapun bertiup disekitar rumahku sebebas mungkin. Namun aku menolak tercerabut oleh budaya manapun.” (Mahatma Gandhi)

Sandal Gapyak “Aduh, kakiku kejepit!” Fotografer : Maryani/PENDAPA

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


Sandal Gapyak “Kanan, kiri...” Fotografer : Maryani/PENDAPA Sepatu Bathok “Tuk.. tuk.. tuk.. bunyi sepatuku.” Fotografer : Taofiq TY/PENDAPA

Pembuat dolanan anak Di usianya yang renta, Karjiem (70) tetap setia memenuhi pesanan pembuatan dolanan (permainan) anak. Fotografer : Wulandari/PENDAPA PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

Dakon Menunggu giliran bermain. Fotografer : Taofiq TY/PENDAPA

35


Wayang kardus Salah satu permainan anak yang mulai ditinggalkan. Fotografer : Taofiq TY/PENDAPA Egrang Membantu bermain egrang. Fotografer : Maryani/PENDAPA

Dingklik Oglak-aglik “Tunggu, kakiku belum masuk.” Fotografer : Maryani/PENDAPA

36

Replika Penjual Mainan “Ayo dipilih mainannya!” Fotografer : Taofiq TY/PENDAPA

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


OPERASI CIA DALAM PERTAMBANGAN DI INDONESIA Tommy Apriando*

C

entral Intelligence Agency (CIA) cikal bakalnya Indonesia dalam membuat kebijakan hukum tentang berasal dari OfďŹ ce of Strategic Services (OSS) yang pertambangan. Aksi-aksi lembaga dan organisasi AS dibentuk pada 1942. Tujuan dibentuknya saat ini didukung oleh sejumlah oknum di pemerintahan itu adalah untuk memberikan bantuan dukungan dan sejak Orde Baru. Emas dan tembaga di Tembagapura, support perlawanan di kawasan Eropa Timur atas serangan Papua disedot habis-habisan oleh PT Freeport ditengah Nazi. Pasca Perang Dunia II, OSS sempat dibekukan kemiskinan dan rendahnya pendidikan masyarakat Papua. dan dikerucutkan hingga sekelas Divisi di Departemen Kontrak migas pun dilelang seperti barang tidak berharga Pertahanan Amerika Serikat (AS). Pengerdilan itu akibat dan mengakibatkan Indonesia terkatung-katung tatkala dari adanya saran dari direktur harga minyak naik (Juli 2008) dan Federal Bureau of Investigation konsumsi meningkat di atas 1 juta (FBI) yang khawatir OSS akan barel/hari. berkembang jadi Gestapo AS di Berbagai tindakan kejam Bukan menjadi masa damai. Presiden AS ke-33, perusahaan dan kepentingan Amerika rahasia lagi jika kala itu di jabat oleh Harry S. mendapat legitimasi hukum lewat suatu negara yang Truman, mengakui kebutuhan beberapa UU (yang jelas melanggar sangat maju dengan akan sebuah organisasi intelijen UUD 1945). Kita tidak perlu bingung terpusat pasca perang. Untuk atas terbitnya beberapa UU (migas, paham kehausan membuat sebuah kantor intelijen pendidikan, dan ekonomi), karena materi dan berfungsi penuh, Truman kemudian produk hukum Indonesia merupakan kekuasaan, mereka menandatangani Undang-undang titipan pemerintah Amerika. Prof. akan berusaha Keamanan Nasional tahun 1947 dan Dr. Hubungan Internasional dari mendirikan CIA. Universitas Princeton, Bradley R. memperoleh apa Operasi-operasi CIA yang Simpson, mengatakan serangkaian UU saja dengan cara awalnya merupakan perang melawan yang dibuat rezim Soeharto disusun apapun. ideologi (komunis, sosialis, dan dengan pengaruh kuat AS. nasionalis), kini mereka bertugas Sejarawan Bradley R. Simpson, menguasai negara-negara yang memberikan contoh kasus UU kaya dengan sumber daya alam dan Nomor 1 Tahun 1967 tentang minyak di bawah kendali AS. Mereka Penanaman Modal Asing (PMA). terus memburu negeri-negeri yang kaya sumber daya Rangkaian UU dan kehadiran PT Freeport di Papua alam, dari Timur Tengah, Amerika Latin, Afrika, hingga merupakan langkah awal intervensi pemeritah AS saat Indonesia. Ini semua dijelaskan dalam buku, Confession Presiden Soeharto memerintah di Negara Kesatuan Economic Hitman dan A Game as Old As Empire. Republik Indonesia (NKRI). Hal ini terungkap dalam Bukan menjadi rahasia lagi jika suatu negara yang buku yang ditulis Prof. Dr. Bradley R. Simpson berjudul sangat maju dengan paham kehausan materi dan Economists with Guns : Amerika Serikat, CIA dan Munculnya kekuasaan, mereka akan berusaha memperoleh apa saja Pembangunan Otoriter Rezim Orde Baru, terbitan Gramedia dengan cara apapun. Kondisi ekonomi, politik, dan sosial Pustaka Utama. (Kompas, Sabtu, 22 Januari 2011.) masyarakat Indonesia saat ini tidak terlepas dari pengaruh Menyimak pendapat Prof. Dr. Bradley R. Simpson tangan-tangan CIA. tentang keterlibatan CIA di dalam rezim Orde Baru maka Di Indonesia, CIA terlibat untuk mengeruk sumber tak heran kalau banyak pihak, termasuk warga Papua mulai daya alam, terutama mempengaruhi pemerintahan menuntut dan menggugat kembali Penentuan Pendapat

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

37


Rakyat (Pepera) dan PT Freeport Indonesia. Pepera adalah referendum yang diadakan untuk menentukan status Papua Barat, antara merdeka atau tetap bagian NKRI. Bayangkan, UU Kontrak Karya 1967 dilakukan dua tahun sebelum pelaksanaan Pepera 1969 di Tanah Papua. Keterlibatan CIA di PT Freeport dan Pemerintahan Orde Baru pernah ditulis pula oleh Lisa Pease dalam artikelnya berjudul ‘JFK, Indonesia dan Freeport’, di Majalah Probe (1996) yang tersimpan di National Archieve, Washington DC. Tulisan ini jelas membukakan mata kita bahwa raksasa bisnis asing mampu mempengaruhi kebijakan politik dan ekonomi di Indonesia. Almarhum Guru Moses Kilangin, dalam kisahnya yang termuat dalam bukunya berjudul Moses Kilangin Uru Me Ki, menyebutkan, pada 5 April 1967, pemerintah Indonesia yang diwakili Menteri Pertambangan, Slamet Bratanata dan Perwakilan PT Freeport menandatangi kontrak karya untuk waktu selama 30 tahun (1967-1997). Sebuah kontrak karya pertama di atas tanah Papua yang masih menjadi sengketa antara pemerintah Belanda dan Indonesia. Bahkan kontrak karya

ini dilakukan sebelum pelaksanaan Pepera 1969. Namun sebelum kontrak karya itu berakhir, diperpanjang lagi untuk kontrak karya kedua selama 20 tahun (1997-2017). Bahkan areal yang akan ditambang semakin luas. Melihat kondisi investasi tambang di Indonesia, Fadjroel Rachman, Direktur Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara mengatakan, seharusnya Presiden SBY tidak takut untuk membicarakan renegoisasi kontrak PT Freeport yang sudah merugikan negara dalam pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. “Harus ada renegosiasi terkait persoalan Migas dan PT Freeport, terlebih pemerintah hanya menguasai 9,23% sementara Freeport sendiri menguasi 90,77% dari penguasaan saham di PT Freeport.” Bahkan, Fadjroel Rachman justru berpendapat kedatangan Obama ke Indonesia merupakan bentuk pengamanan investasi Amerika di Indonesia. Apabila pemerintah Indonesia adalah pemerintah yang sadar akan carut-marutnya kebijakan hukum yang merugikan warga negaranya, terutama kebijakan hukum tentang PMA ataupun tentang pertambangan, pemerintah dan DPR RI harusnya melakukan amandemen ulang terhadap kebijakan-kebijakan tersebut. Dalam Bab X, Pasal 53, UU Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan menyebutkan, “Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah.” Bahkan dalam tata tertib DPR RI, Bab VI, tentang tata cara pembentukan perundang-undangan, Pasal 114 menyebutkan bahwa, “Dalam penyusunan rancangan undang-undang, anggota, komisi, gabungan komisi, atau Badan Legislasi dapat meminta masukan dari masyarakat sebagai bahan bagi panitia kerja untuk menyempurnakan konsepsi rancangan undang-undang.” Namun dalam praktiknya, kedua hal ini tidak dilakukan oleh pemerintah dan DPR RI. Tindakan yang dilakukan oleh Pemerintah dan DPR RI tersebut telah melanggar perintah pasal 33 ayat 1, 2, 3, dan 4 UUD 1945. Saat ini penguasa negara cenderung hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri tanpa memikirkan kepentingan warga negara. Selama penguasa negara tidak segera melakukan perubahan kebijakan hukum, maka sangat mungkin kekayaan alam negara ini tidak akan pernah dinikmati oleh anak-anak penerus bangsa.[p]

*) Alumnus Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia dan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Taofiq ‘12

38

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


UNIVERSITAS MINUS IKATAN ALUMNI (Catatan Untuk Rekontruksi dan Reorganisasi Ikatan Alumni UST) Engkos Kosnadi*

K

ita patut membenarkan apa yang dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M. Nuh, bahwa kita semua harus bersyukur karena pada periode tahun 2010 sampai 2035, bangsa kita dikarunai oleh Tuhan Yang Maha Kuasa potensi sumber daya manusia berupa populasi usia produktif yang jumlahnya luar biasa. Jika kesempatan emas yang baru pertama kalinya terjadi sejak Indonesia merdeka tersebut dapat kita kelola dan manfaatkan dengan baik, populasi usia produktif yang jumlahnya luar biasa tersebut insya Allah akan menjadi bonus demografi (demographic dividend) yang sangat berharga. Di sinilah peran strategis pembangunan bidang pendidikan untuk mewujudkan hal itu menjadi sangat penting. Akan tetapi, sebaliknya, bukan mustahil kesempatan emas tersebut menjadi bencana demografi (demographic disaster) bila kita tidak dapat mengelolanya dengan baik. Sudah tentu hal ini tidak kita inginkan. Pada periode tahun 2010 sampai tahun 2035, kita harus melakukan investasi besar-besaran dalam bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM) sebagai upaya menyiapkan generasi 2045, yaitu 100 tahun Indonesia merdeka. Oleh karena itu, kita harus menyiapkan akses seluas-luasnya kepada seluruh anak bangsa untuk memasuki dunia pendidikan; mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai ke perguruan tinggi. Tentu perluasan akses tersebut harus diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan, sekalipun kita semua memahami bahwa pendidikan adalah sistem rekayasa sosial terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan, harkat, dan martabat seseorang. Tapi, capaian dari target-target yang telah ditetapkan secara nasional itu bukan berjalan tanpa kritik.Wakil Presiden Budiono memberikan catatannya beberapa waktu lalu, bahwa, “Semua pihak, terutama komunitas pendidikan, untuk melakukan introspeksi yang sungguh-sungguh mengenai kebijakan pendidikan dan pelaksanaannya secara menyeluruh.” Berikan bobot yang seimbang antara pengajaran (keterampilan lunak dan keterampilan keras) untuk semua jenjang pendidikan, sehingga anak-anak didik kita, generasi muda kita, nantinya menjadi pemimpin bangsa yang handal. Memang itu

sejalan dengan jabaran UUD 1945 tentang pendidikan yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Pasal 3 dalam UU itu menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Kita semua telah memahami bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan mobilitas fisik dan nonfisik (termasuk kebudayaan dan peradaban semakin tinggi). Mobilitasi yang tinggi tersebut memunculkan dominasi peradaban tertentu, benturan antarperadaban atau terbentuknya konvergensi peradaban. Berkaitan dengan inilah, peran dunia pendidikan menjadi penting dalam membangun peradaban bangsa yang didasarkan atas jati diri dan karakter bangsa. Alumni, Sektor Penting Jejaring Pendidikan Pada era otonomi universitas yang merupakan fenomena global ini, universitas dituntut untuk menyumbang secara produktif dalam upaya pengembangan peradaban bangsa dan kemanusiaan. Alumni (jamak; alumnus: satu atau tunggal), menjadi salah satu jawaban yang nyata melalui karya-karya mereka yang layak, penting, berkualitas tinggi, dan bermanfaat besar bagi peradaban dan kemanusiaan. Universitas selayaknya mempunyai kapasitas untuk menjadi motor peradaban dan kemanusiaan mencapai kemajuan yang ditandai dengan terciptanya kemajuan, keadaban, kemakmuran, keadilan, kedamaian, demokrasi, serta keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. Universitas tak hanya menghasilkan berlian-berlian yang kemudian terlepas dari rahimnya, universitasnya, dan menjalankan peran itu sendirian dalam masyarakat. Universitas yang terus berupaya dalam mengembangkan kultur penelitian di Indonesia, berharap untuk merengkuh alumninya sebagai modal penting untuk bersama-sama. Ini dilakukan semua universitas (Perguruan Tinggi/PT).

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

39


Tentu betapa luar biasanya hasil yang bisa dicapai apabila alumnus yang telah tersebar menjadi berlian di berbagai sektor dapat dirangkul. Alumni memiliki kapasitas untuk membuka jalan ke lapangan, serta membangun rujukan ke dunia industri bagi mereka yang sedang atau masih bergiat di universitas. Pada saat yang sama, PT dapat memberi timbal balik. PT dapat menopang kegiatan-kegiatan akademik dan riset, yang dapat membantu industri dan pengambil kebijakan untuk menentukan strategi-strategi pembangunan di era masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based society) ini. Tridarma PT merupakan prinsip yang penting agar PT tak tercerabut dari akar sejarahnya, dari masyarakatnya, dan dari bangsanya. Kemajuan PT tak bisa dilepaskan dari inklusivisme (keterbukaan) terhadap semua lapisan masyarakat sebagai lambang Indonesia yang multikultural. Keterlibatan dan kerjasama dengan alumni merupakan aspek yang penting untuk menjaga filosofi Tridarma PT ini. Sehingga, meskipun operasionalisasi dari konsep itu sedikit banyak bergeser di era otonomi pendidikan, bukan berarti filosofinya tergerus oleh laju zaman. Meskipun konstruksinya berbeda, saya berharap itu juga terjadi pada Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), yang masih duduk di atas fondasi filosofis yang sama sebagai universitas yang inklusif dan benar-benar menjadi kampus kebangsaan yang mengamalkan semua ajaran Ki Hadjar Dewantara (KHD). Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat merupakan bentuk pelaksanaan tugas kebudayaan dan kemasyarakatan yang dibebankan kepada universitas. Penyelenggaraan universitas mengarah kepada penyiapan kepribadian yang tertuju kepada kematangan jiwa dan raga serta pengembangan ilmu pengetahuan. Kematangan jiwa dan raga dijadikan dasar untuk membentuk manusia susila yang mempunyai kesadaran untuk bertanggung jawab atas kesejahteraan Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya. Pengembangan ilmu pengetahuan bertujuan untuk memperoleh kenyataan dan kebenaran yang bersifat universal dan objektif, serta mencerdaskan bangsa agar tanggap terhadap perkembangan global. Oleh karena itu, Universitas mempunyai kebebasan dalam melaksanakan bawaan kodrat manusia untuk mencapai kenyataan dan kebenaran. Suatu kebebasan yang disebut kebebasan akademik. Sebab, kenyataan dan kebenaran ini mempunyai sifat universal dan objektif. Sudah seharusnya pula warga universitas yang telah mencapai kenyataan dan kebenaran ini memiliki kebebasan untuk menyatakan kenyataan dan kebenaran kepada pihak lain, yaitu yang disebut kebebasan mimbar akademik. Di UST sendiri, secara organisasi ikatan alumnus telah diakui oleh Statuta Universitas yaitu Ikatan Alumnus Sarjanawiyata Tamansiswa (Ikasata) yang tertuang hanya dalam satu pasal yaitu pasal 97. Pasal tersebut

40

menerangkan bahwa alumnus UST adalah seseorang yang telah menamatkan pendidikan di UST, melaksanakan kegiatan Ikasata, berkoordinasi dengan Wakil Rektor (Warek) III (Bidang Kemahasiswaan) dan Alumni (pengurus Ikasata) bertanggungjawab kepada Rektor. Saya memahami kerumitan yang terjadi antara universitas dan Ikasata. Aturan yang hanya satu pasal ini belum memberikan keleluasaan berekspresi, walaupun dapat dijadikan pembenaran bahwa ikatan alumnus untuk diam dan tanpa program yang tidak terasa manfaatnya, baik bagi alumni maupun universitas. Sejak menjadi mahasiswa dan lulus tahun 2005, banyak masukan, informasi, dan keluhan mengenai kondisi Ikasata. Sebagai alumnus, saya sebenarnya menaruh harapan yang banyak dengan ikatan alumnus ini. Ketersebaran alumnus di seluruh penjuru Indonesia adalah satu aset tersendiri seperti saya uraikan di atas. Beberapa hal yang dapat menjadi catatan, semua bertujuan demi kebaikan bersama, demi menjunjung nilai-nilai yang telah dikonsepsikan oleh KHD. Pertama, universitas dan Ikasata harus duduk bersama dalam merumuskan kondisi kelembagaan ke depan. Kedua, Ikasata harus berani terbuka baik terhadap universitas maupun alumni tentang program kerja yang telah dilaksanakan dan yang akan dilakukan, dengan mengedepankan program yang terukur dan progresif bagi kemajuan bersama. Ketiga, universitas harus melakukan rekonstruksi peran dan fungsi ikatan alumnus. Berkaca pada ikatan alumnus di beberapa PT lain yang sudah ditangani oleh sebuah direktorat/departeman khusus dan tidak hanya dikoordinasi oleh Warek III. Keempat, pembinaan hubungan antara alumnus dengan universitas dilakukan oleh organisasi alumnus, dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang dirumuskan secara partisipatif dan terbuka. Kelima, dalam menjalankan fungsi dan tugasnya, ikatan alumnus berpedoman juga pada kode etik yang menjunjung tujuan universitas dan ajaran Tamansiswa. Keenam, saya mengusulkan ikatan alumnus untuk berkonsentrasi dalam merencanakan strategi dan program kerja untuk lebih mengaktifkan dan meningkatkan peran alumni untuk ikut membangun UST, melakukan pembinaan alumni baik melalui kelembagaan organisasi ikatan alumnus secara langsung maupun tidak langsung, bertugas sebagai penghubung universitas (almamater) dengan alumni, mengoordinasikan keikutsertaan alumni dalam kegiatan-kegiatan di kampus, dan memberikan dukungan pelaksanaan kegiatan penghimpunan dana bagi pembangunan UST. Ketujuh, untuk menjalankan langkah dan ruang gerak tersebut saya juga mengusulkan Ikasata membuat subdirektorat/departemen/bidang yang mengurusi administrasi, pendataan, dan pembinaan alumni, fasilitas organisasi dan kegiatan alumni, pengembangan potensi peran serta dan pendanaan alumni, pusat pengembangan karir (career development center),

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


advokasi dan hukum, hubungan dalam negeri dan luar negeri, bidang pendidikan dan kebudayan, bidang politik dan sebagainya. Kedelapan, beberapa program nyata yang dapat dilakukan dengan berpatokan pada target jangka pendek, menengah, dan panjang dapat disesuaikan dengan kondisi sumber daya manusia yang tersedia. Misalnya, sebagai agen promosi terdepan (promotion leading agents) bagi keunggulan dan prestasi UST, melaksanakan penerbitan majalah, buku, jurnal, bekerjasama dengan beberapa pihak, mengelola website alumni, melakukan pembinaan alumni baru/muda, menyelenggarakan studi penelusuran alumni (tracerstudy), membuat iklan layanan masyarakat untuk memberikan pesan-pesan positif kepada masyarakat sekaligus sebagai media memperluas informasi tentang UST; Melakukan berbagai usaha yang memperlihatkan adanya perhatian almamater terhadap alumni; Menyelenggarakan kegiatan diskusi dan seminar berkala di kampus yang melibatkan alumni sebagai narasumber; Mengembangkan berbagai inisiatif untuk mengaktifkan alumni UST agar senantiasa terlibat dan terampil positif pada berbagai kegiatan di almamater dan masyarakat; Melakukan pemetaan mengenai prospek keterlibatan alumni dalam pengembangan UST; Membuat dan mendesain bentukbentuk kerjasama dengan alumni baik secara perorangan maupun kelembagaan; Memberikan dukungan pelaksanaan kegiatan penghimpunan dana membantu pembangunan UST; Memberikan informasi layanan bimbingan karir dan kerja; Menyelenggarakan bursa kesempatan kerja (UST Career Expo) secara rutin setelah wisuda pada setiap semester; Mengadakan seminar/pelatihan

pengembangan karir; Mengadakan berbagai tes persiapan kerja bekerjasama dengan institusi dan lembaga lainnya; Pengabdian dan partisipasi; Beasiswa, bantuan untuk perkembangan UST dan mahasiswa, bantuan/kegiatan untuk pemberdayaan masyarakat; Peningkatan prestasi dan peran alumni di kancah nasional dan internasional. Demikian langkah dan strategi untuk melakukan rekontruksi dan reorganisasi Ikatan Alumni UST. Semua demi satu tujuan, yaitu perkembangan UST sebagai Kampus Kebangsaan yang diperhitungkan baik lingkup pendidikan nasional maupun internasional. Sengketa dan perdebatan yang tidak perlu dan tidak konstruktif lebih baik diarahkan untuk mencari solusinya, mencari jalan terbaik bagi almamater. Ide, sumbang saran, dan solusi sebaik apapun jika tanpa kerjasama semua pihak, tentu tidak akan menghasilkan apapun. Alumni memang punya hal untuk terlihat langsung atau tidak langsung dengan Ikasata. Alumnus juga berhak berhimpun dalam organisasi alumnus lain, tetapi tidak elok jika dalam satu universitas ada dualisme. Ikatan alumnus fakultas pun tidak ada arahan berjenjang yang terkoordinasi dengan baik, bahkan cenderung liar karena statuta sebagai kitab hukum universitas tidak memfasilitasi hal-hal demikian. Saya berharap, Ikasata bangkit dan menata diri, tidak lagi eksklusif, karena perilaku dan cara demikian bertolak belakang dengan tujuan pendidikan Tamansiswa.[p] *) Alumnus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) dan Direktur Dewantara Institute

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

41


KALIREJO GELAP DI ANTARA KILAUAN EMAS “Lamun aya urat ngampar anu entos katingali di luhur taneh, tandana aya emas didinya.”

S

epenggal kalimat dalam bahasa Sunda meluncur dari mulut Indra (39), penambang emas tradisonal asal Tasikmalaya di Plampang II, Kalirejo, Kokap, Kulunprogo, Yogyakarta. Kalimat tersebut berarti jika di atas tanah terdapat pembuluh (red: jalur mineral) yang terlihat, pertanda ada emas di sana. Kepekaan Indra memahami pertanda urat ngampar sebagai tanda adanya kandungan emas di dalam tanah bukanlah kepekaan yang muncul begitu saja. Pengalaman menambang emas selama belasan tahun telah membuatnya belajar bagaimana memahami dan menerjemahkan berbagai pertanda yang membentang di alam. Untuk bisa melihat keberadaan pertanda seperti yang dikuasai Indra, juga penambang emas tradisional lainnya bukanlah hal yang mudah. Berkali-kali teman Indra sesama penambang memberitahu kepada tim Majalah Pendapa tentang urat ngampar. Akan tetapi, tetap sangat sulit untuk bisa memahami perbedaan antara tanah biasa dan tanah yang diduga mengandung emas. Seperti yang ditulis oleh Paulo Coelho dalam Sang Alkemis, membaca pertanda memang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, namun penting untuk kehidupan. Begitu juga pentingnya membaca pertanda bagi para penambang emas. Dengan setia terhadap kehidupan pertambangan emas, membuat mereka mampu melihat pertanda dan menerjemahkannya dengan tepat. Urat ngampar sendiri merupakan pertanda akan keberadaan kandungan emas di dalam tanah, yang bagi para pakar geologi sering disebut sebagai urat emas. Mereka, para penambang, mengetahui dan memanfaatkan pengetahuan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Perlu diketahui, semua itu mereka dapatkan bukan di bangku pendidikan pertambangan formal, melainkan dari proses hidup sebagai penambang emas. Sebuah pekerjaan yang menurut Indra adalah pilihan terakhir karena tidak ada pekerjaan lain. Jika dilihat dalam segi harfiahnya, urat ngampar dalam bahasa Indonesia berarti pembuluh yang terlihat. Pembuluh dalam hal ini adalah jalur emas, yakni jalur di mana terdapat kandungan mineral seperti emas, perak, tembaga, zircon, bijih besi, yang terbentuk oleh aktivitas perut bumi. Kalirejo yang terkenal dengan rocky hill karena tebing bebatuannya yang curam, tidak membuat niat para

42

penambang ciut demi mendapatkan emas. Tebing terjal kini telah disulap menjadi camp, tepat yang digunakan para penambang untuk berteduh sementara. Camp berukuran rata-rata tujuh kali empat meter tersebut dihuni empat sampai enam orang secara bersama-sama. Baru tiga bulan lamanya, Indra beserta kelompoknya membuka camp tambang di Plampang II. Sebelumnya ia mendirikan camp tambang di Banyumas, Jawa Tengah. Indra memutuskan menambang di Kulonprogo setelah ia mendapatkan informasi dari beberapa rekan yang sudah terlebih dahulu menambang daerah ini. Mereka mengatakan jika dilokasi itu masih terdapat banyak emas. Selama tiga bulan tersebut, Indra dan kelompoknya sudah menggali sedalam sembilan meter. “Kami baru masuk ke dalam tahap pengetesan atau masih mencari jalur emas di dalam tanah. Ini belum masuk ke dalam produksi. Setiap hari kira-kira material yang kami tambang mencapai 10 kg, itu masih mentah. Dari 10 kg emas tersebut, terdapat 3 sampai 6 gram emas dengan kadar kandungan 20 sampai 24 karat,” cerita Indra menemani hangatnya teh yang dihidangkan kepada tim Majalah Pendapa, sore itu, Kamis (7/6). Pada saat itu, harga emas di bursa global turun secara konsisten dan bergerak pada kisaran US$52,20/gram. Sedangkan harga emas dengan menggunakan acuan harga PT Aneka Tambang, Tbk. masih stagnan. BUMN Tambang itu mematok harga jual emas Rp 545.000,00/ gram. Aneka Tambang menetapkan harga emas secara regresif. Artinya, harga semakin turun untuk pembelian emas dengan ukuran yang lebih tinggi. Ibu, Berilah Anakmu Emas Penambang di daerah Kalirejo memang tidak hanya berasal dari wilayah setempat. Beberapa penambang dari luar daerah pun tampaknya tergiur untuk mencari emas di tanah Kalirejo. Kebanyakan penambang luar daerah berasal dari Jawa Barat. Alasan mereka memilih menambang sebagai pekerjaan pun beraneka ragam. Mulai dari memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga hingga disebabkan pasrah pada nasib yang telah membawa mereka ke Kalirejo. Seperti Wahyu (19) asal Tasikmalaya. Ia sengaja ikut menambang emas untuk membantu mendongkrak ekonomi keluarga di kampung. Baru pertama kali Wahyu turut serta menambang. Ia bergabung dengan kelompok Indra. Begitu pula dengan Eko (21), warga Sangon II, Kokap, Kulonprogo. Ia pun mengaku baru pertama kali menambang.

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


Seno Dwi S/PENDAPA

Eko yang berada di mulut lubang tambang ketika ditemui, Sabtu (9/6), sebelumnya bekerja serabutan. Baru satu bulan yang lalu ia beralih menjadi penambang emas. “Saya mulai belajar dari melihat-melihat orang yang sedang menambang. Karena saya mempunyai lahan, saya mencoba membuka lahan tersebut dan selama satu bulan ini kedalaman lubang baru 5 meter,” ungkap Eko. Harapannya tertumpu pada apa yang dilegendakan setiap orang di kampung Kalirejo; emas. Bermunculannya penambang lokal memang sangat diharapkan oleh para pendatang seperti Indra. “Saya senang jika ada masyarakat yang ikut menambang, karena tanah sebagai ibu pasti memberi makanan atau penghidupan kepada anaknya, yaitu manusia. Ada yang berada di atas tanah, ada pula yang berada di dalam tanah. Saya mencari penghidupan yang ada di dalam tanah,” kata Indra. “Ini ibu kita!” lanjutnya. “Bukan ibu milik pabrikpabrik tambang asing,” raut muka Indra tertangkap geram ketika menyebutkan pabrik-pabrik asing. Bagaimana tidak, hampir seluruh sumber daya alam di negara ini dimiliki asing. Siang dan malam mereka menambang, rolling merupakan cara kerja mereka. Sebagian berada di atas, sebagian berada di bawah tanah. Yang mendapat posisi di dalam tanah bertugas untuk menggali dan memasukkan material galian ke dalam karung lalu diangkat ke permukaan tanah. Material yang berada di dalam karung dimasukan ke dalam glondongan dan digiling. Glondongan itu mampu menghancurkan

Arif (40) sedang menambang emas secara tradisional di daerah Plampang II, Kokap, Kulonprogo. Para penambang telah diajari Kementerian ESDM Bandung, Jawa Barat untuk menjaga keselamatan dari longsoran tanah dengan menggunakan sekat kayu dan bambu sebagai penopang tanah.

batu dengan terlebih dahulu ditambahkan cairan kimia Aqua Regia, yaitu campuran HCL dan HNO3 agar bisa halus. Nantinya hanya emas yang tertinggal di dalam glondongan. Sedangkan sisa-sisa yang lain keluar glondongan menuju bak penampungan berupa kolam dari galian tanah. Tidak mengeluh, itulah semangat kerja yang dipancarkan oleh para penambang emas. “Kalau saya mengeluh, lebih baik saya pulang. Tidur di rumah, enak kan? Namanya juga bekerja, pasti akan lelah. Apa lagi mencari sesuatu yang belum jelas seperti ini,” kata Wahyu disela-sela menunggui rekannya yang berada di dalam lubang tambang. Tubuh menjadi lelah memang resiko yang sudah biasa ditanggung oleh para penambang emas. “Waktu rolling di atas ini mas, kami baru bisa beristirahat. Kalau nanti sudah ada material dari dalam tanah, baru saya dan Wahyu bekerja lagi dengan menggunakan glondongan yang diputar oleh diesel,” tambah Arif (40) yang saat itu juga sedang menunggu di mulut tambang bersama Wahyu. Wilayah Pertambangan Rakyat? Letak Desa Kalirejo persis di atas perbukitan Turgo. Sebuah desa di mana burung-burung masih bebas melayang di udara dan hinggap pada ranting pohonpohon besar untuk mendendangkan kicaunya. Pohonpohon besar itu menjulang tinggi. Daunnya yang rimbun mencipta teduh. Maka tak heran jika pepohonan di sana mampu menyajikan kesegaran bagi siapa saja yang tidak sengaja lewat maupun tengah berteduh. Di balik rimbun pepohonan dan curam lereng-lereng tebing, penduduk Desa Kalirejo yang sudah terbiasa hidup tenang dalam kesederhanaan, sontak terbangun kaget. Ketika tahun 1992 PT Aneka Tambang (Antam) datang meneliti, tanah tempat mereka hidup bergenerasi-generasi tersebut disinyalir mempunyai kandungan emas. Tidak ada satu masyarakat pun yang menduga sebelumnya. Agus (36) menuturkan, kala itu Antam tidak serta merta mengeksekusi rencana penambangan emas di Kalirejo. Ini disebabkan kandungan emas tidak memenuhi syarat pertambangan besar. Jika sampai dibuka sebagai lahan pertambangan oleh Antam dengan sifat pertambangan terbuka, masyarakat yang hidup di sana akan dipindahkan dari alam yang telah dikenalinya sejak generasi per generasi tersebut. Kenyataannya, alam tetap ingin bersama masyarakat Kalirejo dengan kesederhanaan dan ketenangannya. Kabar mengenai adanya emas langsung menyebar seiring berhembusnya angin di antara pepohonan di Desa Kalirejo. Angin yang membawa kesegaran dari Kalirejo berhembus jauh, hingga mendatangkan warga Tasikmalaya untuk menelusuri kebenarannya. Konon pendatang itulah yang kemudian mengamati kandungan tanah, kemudian mengajari masyarakat Kalirejo mengetes kandungan emas yang berada di tanah. Benar pula, hal itu bukan kabar

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

43


angin semata. Ia telah membuktikan adanya kandungan emas di tanah Kalirejo. Kisah yang digambarkan Agus, seorang koordinator penambang emas tradisional di daerah Kokap, Kulonprogo tersebut menjadi awal mula adanya aktivitas penambangan yang dilakukan masyarakat secara tradisonal. Tambang emas tradisional di Kecamatan Kokap berada di dua kelurahan, yakni Kalirejo dan Hargotirto. Jumlah penambang emas saat ini hampir mencapai 300 orang. Data ini diperoleh tim Majalah Pendapa dari Pemerintahan Desa Kalirejo, Kamis (7/6). Suwardi, sebagai perwakilan pemerintahan Desa Kalirejo, menyebutkan kebanyakan dari mereka adalah penduduk setempat dan ada pula pendatang dari Jawa Barat. Teknis penambangannya ada yang dilakukan secara perorangan dan ada pula yang dilakukan secara semikelompok. Untuk perorangan, dalam sehari bisa menghasilkan ½ gram emas sedangkan semi-kelompok bisa mendapatkan 3 gram emas. Perolehan emas tersebut terhitung masih berada pada seputar jalur emas. Jika mencapai inti jalur maka perolehan bisa lebih banyak. “Itu yang susah. Jika sudah mencapai inti emas bisa dapat lebih berat. Sekali panen bisa mencapai 1 kilogram emas,” ungkap Agus. Pada November 2011 yang lalu, Tribun Jogja memberitakan terjadi pergolakan antara warga penambang tradisional dengan pemerintah. Disebabkan adanya penangkapan warga Kalirejo yang sedang menambang oleh Polres Kulonprogo. Penambangan di Desa Kalirejo dapat dikatakan sebagai pertambangan ilegal, karena daerah tersebut belum ditetapkan sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR). “Ketika itu, Pak Samsi sedang menambang, tiba-tiba ada polisi menangkapnya. Padahal ia bukan maling, ia menambang di tanah sendiri,” cerita Agus. Itulah yang menyebabkan masyarakat geram terhadap pemerintah, tambah Suyitno, Kepala Dukuh Kaliharjo. Ada juga yang menjadi trauma akibat penangkapan tersebut. Masyarakat mengadakan aksi sendiri menuntut pembebasan Samsi. Kening Agus langsung mengernyut ketika bunyi kemretek dari rokok kretek yang terbakar berbunyi, dihisapnya dalam, dan diluncurkannya asap itu ke alam bebas. Ia langsung melanjutkan ceritanya bahwa pembebasan Samsi bukanlah satu-satunya tujuan dari pengadaan aksi. “Saya sampai jahit mulut agar pemerintah mau menetapkan wilayah ini sebagai wilayah pertambangan rakyat, karena jika tidak demikian, Kalirejo akan tetap gelap di atas emas yang berkilau,” tambahnya. Beda kesaksian dengan Agus, Suyitno yang juga mantan penambang emas ikut mengantarkan masyarakat kepada pemerintah Kulonprogo dan tetap memantau perkembangannya. “Sejauh itu, tidak benar jika ada orang yang melakukan aksi sampai jahit mulut, yang ada memang mogok makan,” tuturnya.

44

Seorang penambang emas tradisional tengah memecah bongkahan batu yang disinyalir mengandung emas, sebelum masuk tahap penggilingan di daerah Plampang II, Kokap, Kulonprogo. Hironimus/PENDAPA

Dari aksi tersubut, dihasilkan tiga perjanjian mengenai masalah penambangan di Kulonprogo. Di antaranya; tidak memakai bahan kimia berupa sianida, tidak memakai alat berat, dan kedalaman lubang tambang tidak boleh lebih dari 30 meter. Pemerintah sendiri, lanjutnya, sampai sejauh ini baru melakukan pemetaan wilayah tambang emas. Pemerintah memang tidak mengatakan tidak mengizinkan, juga tidak melarang. Pemerintah hanya berpesan agar selalu berhatihati selama menambang emas. “Dengan ketidakjelasan sikap pemerintah, baik Kulonprogo maupun Provinsi DIY, belum sama sekali membantu kami, misal dalam bentuk penyuluhan,” ujar Agus. Suyitno dan Agus merasa satu suara mengenai ketidakterlibatan pemerintah setempat dalam membina masyarakat untuk menambang. Sementara itu, menurut mereka yang memberikan penyuluhan adalah Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bandung, Jawa Barat. “Mereka datang ke sini dan mengajarkan kami bagaimana cara menambang yang baik agar keselamatan kami bisa terjamin. Mereka juga membagikan helm kerja dan lampu senter,” ujar Agus dan Suyitno. “Katakanlah, kita mandi di atas emas, makan di atas emas, meludah di atas emas, bahkan buang hajat pun di atas emas. Apa tidak kaya kita ini? Tinggal bagaimana pemerintah membina kita untuk bisa hidup di atas kekayaan alam ini,” harap Indra, mewakili doa-doa masyarakat Indonesia untuk lebih sejahtera.[p] Wahyu Zulfiansyah Tim: Eko, Leviana, Hironimus, Fitria, Seno

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


PERHIASAN EMAS LESU, PENGRAJIN EMAS TRADISIONAL BERALIH KE PERAK “Di negara-negara maju lebih mengutamakan desainnya, karena desain yang bagus dan unik akan memengaruhi nilai jualnya,”

S

iapa yang tidak mengenal emas? Logam mulia dengan nama kimia Aurum (Au) ini selalu menjadi daya tarik, khususnya bagi kaum wanita. Selain digunakan sebagai perhiasan, emas juga dapat menjadi simbol kemakmuran atau status sosial di masyarakat. Semakin banyak perhiasan yang dimiliki, menunjukkan semakin kaya seseorang. Untuk menjadikan emas sebagai perhiasan, tentunya tidak lepas dari peran serta pengrajin kemasan atau biasa disebut tukang emas. Mulai dari mendesain, membentuk, mengikir, hingga menghaluskan atau finishing. Pengerjaan secara tradisional seperti ini disebut handmade. Selain itu, ada juga yang dikerjakan secara pabrikan dengan menggunakan mesin. Bagi pengusaha toko emas, pengerjaan dengan menggunakan mesin tentu lebih menguntungkan dibanding cara tradisional. Selain dapat mencetak dengan cepat dan banyak, tentunya ongkos produksinya pun lebih murah. Di Yogyakarta, pengrajin emas tradisional dapat kita temui di Kecamatan Kotagede. Selain pengrajin emas, di kecamatan yang terletak sekitar 5 kilometer dari pusat kota ini juga dapat kita temui pengrajin perak tradisional. Hasil kerajinannya berupa cincin, gelang, anting hingga asesoris miniatur. Sutarno (51), salah seorang pengrajin emas asal Kotagede mengatakan, saat ini emas hasil pabrikan lebih diminati konsumen daripada hasil handmade. Selain harganya lebih murah, juga tidak ada biaya susutan dalam pembuatan. Biaya susutan merupakan biaya tambahan yang dikenakan bagi pemesan akibat adanya resiko saat pembuatan. Besarnya sangat bervariasi, tergantung berat emas yang akan dijadikan perhiasan. Adanya biaya susutan membuat pengrajin emas tradisional mengalami kesulitan menghadapi persaingan dengan produk pabrikan, sehingga tak jarang sebagian pengrajin emas beralih ke profesi lain yang dianggap lebih menjanjikan. “Sudah hampir setengah tahun tidak ada pesanan perhiasan berbahan dasar emas. Tingginya harga emas di pasaran membuat konsumen lebih memilih emas batangan untuk investasi daripada untuk perhiasan,” ujarnya ketika

ditemui tim Majalah Pendapa di kediamannya, Jumat (12/10). Untuk menopang perkonomian keluarga, selain bekerja sebagai pengrajin emas, Sutarno juga membuat desain perhiasan perak. Sebanyak 7 desain cincin untuk perhiasan perak sempat dijual ke Bali. Tiap desain yang dibuat dihargai Rp 200.000,00, sedangkan untuk pemasangan batu permata (sirkonia) dari desain tersebut ia mendapat upah sebesar Rp 12.500,00. Keahliannya sebagai pengrajin emas, ia peroleh sejak kecil dari orangtuanya. Setelah lulus sekolah dasar ia mulai belajar membuat perhiasan. Orangtuanya tidak mampu melanjutkan pendidikannya ke sekolah yang lebih tinggi akibat keterbatasan ekonomi. “Pertama kali saya belajar membuat subeng dari tembaga, permatanya saya ambil dari neon yang dipecah. Hasilnya bisa menjadi seperti intan. Orang Jawa biasanya menyebut dengan subeng atau widodaren,” katanya. Setelah menimba ilmu dari orangtuanya dan mempunyai pengalaman yang cukup, Sutarno mulai bekerja di sebuah toko perhiasan Anton Silver Jewelry pada tahun 1985. Saat bekerja di toko perhiasan tersebut, ia sempat mendapat pesanan dari salah satu perusahaan rokok yang memintanya untuk membuat liontin. Liontin yang akan digunakan untuk hadiah tersebut dibuat dengan berat 1 gram, 3 gram, dan 5 gram, totalnya lebih dari 1 kilogram. Tahun 1980-1990 merupakan kejayaan pengrajin emas di Kotagede. Seiring berjalannya waktu, harga emas terus mengalami kenaikan, mulai dari Rp 18.000,00 hingga Rp 100.000,00 per gram. Hal inilah yang menyebabkan pengrajin emas di Kotagede mulai terkikis akibat kekurangan modal. Salah satu kendala yang dialami pengrajin, menurut Sutarno, karena sulitnya mencari tuan. Dulu, tuan mencari pekerja, sekarang pekerja yang mencari tuannya. “Kita harus banting ongkos atau kualitas. Kalau kualitas, masih kalah dengan hasil produksi mesin. Sekarang pengrajin relasinya lebih ke pemesan-pemesan perhiasan yang dipakai sendiri,” pungkasnya. Sementara itu, menurut Rusman Mei (50) yang juga

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

45


bekerja sebagai pengrajin emas dan perak asal Kotagede mengatakan pesanan perhiasan yang ia dapatkan berasal dari toko dengan cara menjadi tangan kedua. Pemesan, ada pula yang langsung datang ke rumahnya di Jalan Ndalem KG III, Purbayan, Kotagede, Yogyakarta. Rusman bersyukur, pekerjaan yang ia jalani sejak tahun 1985 hingga saat ini tidak pernah berhenti. Selain menjual perhiasan secara konvensional, Rusman juga melayani penjualan melalui internet dengan memanfaatkan website dan media jejaring sosial. “Ada yang pesan melalui twitter, facebook, dan website. Sistemnya adalah kepercayaan,” kata Very, anak laki-laki Rusman. Harga perhiasan yang dijual melalui internet, kata Very, sedikit lebih mahal, karena adanya garansi. Kadar emas yang dilayani juga bervariasi, mulai dari 12 hingga 23 karat. Desainnya bisa menyesuaikan permintaan pelanggan. Sementara itu untuk pengerjaan emas biayanya Rp 350.000,00 sampai Rp 450.000,00 per gram. Proses Terbentuknya Emas Selain mempunyai keindahan, emas juga mempunyai beberapa keistimewaan dibandingkan dengan logam lainnya. Logam yang mempunyai nomor atom 79 ini tidak mudah teroksidasi (terkena proses penguraian mineral yang mengandung logam oleh oksigen dan menimbulkan karat yang merupakan satu bentuk pelapukan kimia) dan mudah dibentuk mejadi perhiasan karena mempunyai sifat yang lunak. Emas yang ada di alam pada awalnya terbentuk melalui proses hidrotermal, konsentrasi emas terjadi karena naiknya magma ke permukaan bumi. Emas biasanya berasosiasi (bergabung) dengan logam lain, seperti pirit, kloroid, epidot, kalkopirit, perak, tembaga, seng, dan sebagainya. “Untuk membedakan batuan yang ada emasnya atau tidak, banyak indikatornya. Biasanya batuan tersebut memiliki warna agak hijau, ada garis-garis putih, dan ada warna kuning-kuningnya,’ ujar Sutarto, Dosen Geologi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran”, Yogyakarta. Sutarto menjelaskan mengenai pengolahan emas yang dimulai dari batuan hasil tambang yang dihancurkan lalu digulung menggunakan mesin. Setelah halus, selanjutnya diberi air raksa agar emas terikat dan menjadi gumpalan. Gumpalan dipanaskan agar air raksa menguap, sehingga yang tersisa tinggal emas. Caranya cukup simple (mudah). Untuk membuat emas menjadi perhiasan dapat ditambahkan dengan perak, tembaga, nikel, krom, mangan, dan logam mulia lainnya agar dapat menjadi keras. “Selain untuk perhiasan, juga digunakan dalam bidang elektronika sebagai pelapis alat-alat elektronik,” jelasnya. Perhiasan masih sebagai investasi Sebelum dibentuk menjadi emas perhiasan, tentunya sebagai pengrajin emas harus sudah memiliki desain terlebih dahulu. Desain ini dimaksudkan agar, ketika

46

perhiasan tersebut sudah selesai dikerjakan oleh pengrajin, hasilnya sesuai yang diharapkan oleh pemesan. Selain itu, dalam membuat desain ada baiknya juga harus memperhatikan filosofinya. Seperti yang dikatakan Alvi Lufiani, Dosen Kriya Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Menurutnya, di Indonesia dan juga negara-negara yang berkembang masih menganggap perhiasan sebagai investasi dan simbol status. “Di negaranegara maju lebih mengutamakan desainnya, karena desain yang bagus dan unik akan memengaruhi nilai jualnya,” ujarnya kepada Pendapa di sela-sela mengajar salah satu mata kuliah. Alvi menjelaskan, untuk membuat desain harus memperhatikan tren dunia. Dari tren tersebut akan memengaruhi efek desain perhiasan dari waktu ke waktu. Di Indonesia, pengaruh perhiasan tradisional sudah kuat dan kaya dengan perhiasan tradisional terutama dari kerajaan. Para bangsawan banyak memperkenalkan budaya yang tinggi pada perhiasan. Perhiasan yang ada tidak lepas dari motif-motif tradisional. Banyak yang memengaruhi desain perhiasan, bisa dari lingkungan, budaya, flora, fauna dan juga dari tren global. Mengenai nilai seni yang ada pada perhiasan tradisional (klasik), menurut Alvi, dapat dilihat dari filosofinya, misalnya saja pada perhiasan yang dikenakan oleh anggota kerajaan. Mahkota (crown) yang dipakai oleh ratu dan raja dibuat dengan sangat hati-hati. Mulai dari warna, jumlah batu (berlian) yang dipakai, begitu juga dengan bentuknya. Alvi menambahkan, selain mahkota, contoh lainnya bisa dilihat di dalam kebudayaan suku Asmat, di Papua. Mereka menggunakan perhiasan saat acara-acara khusus yang dipakai di hidungnya. Perhiasan yang dikenakan tersebut merupakan lambang dari kejantanan, kekuatan, dan sebagai penolak bala. Ada juga perhiasan yang berasal dari Flores, yang dinamakan perhiasan Mamuli. Perhiasan ini sangat unik, jika dipakai wanita akan melambangkan kesuburan, sedangkan bila dipakai laki-laki akan melambangkan kekuatan. Sementara itu, lanjut Alvi, perhiasan modern (kontemporer) juga mempunyai nilai seni. Tidak hanya sebagai simbol status sosial, tetapi juga mempunyai maksud dari pengrajin dalam mengaplikasikan nilai seni pada perhiasan yang mereka buat. Seniman perhiasan menganggap perhiasan sama dengan, jika seorang pelukis melukis di atas kanvas. Keduanya mempunyai nilai filosofis dan nilai estetis. “Nilai estetis dapat dilihat dari bahan, ukuran, serta warnanya,” jelasnya.[p]

Eko Budiono Tim: Wayahdi

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


BERTANI BUNGA KRISAN, RIBET YANG PROSPEK

S

ore itu, mendung menggelayut namun enggan untuk turun hujan. Agus Imana, Ketua Kelompok Petani Bunga Udi Makmur, di Dukuh Wonokerso, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, mengikat dan membungkus bunga Krisan dengan tali dan koran, Jumat, 7 September 2012. Bunga tersebut merupakan pesanan pelanggannya. Udi Makmur merupakan salah satu dari 9 kelompok petani bunga Krisan yang ada di Kabupaten Sleman. Udi Makmur biasanya mendapatkan pesanan bunga untuk berbagai macam acara, mulai untuk pesta pernikahan, toko bunga, juga gereja. Ada pula konsumen langsung atau perseorangan. Harganya pun bervariasi. Satu ikat tanaman bunga Krisan, dijual kisaran Rp 10.000,00 hingga Rp 15.000,00. Sedangkan, perbatangnya dijual kisaran Rp 1.000,00 hingga Rp 1.500,00. Sementara, Udin, yang juga salah satu anggota sekaligus petani bunga Udi Makmur, sore itu, sedang sibuk mencabut bunga Krisan satu demi satu. Dengan tekun dan teliti, Udin melihat, memilih, dan mencabut satu-persatu tanaman yang ia nilai sudah layak untuk dipanen. Dari baris satu, setelah menurutnya tanaman yang layak panen habis, ia berpindah ke baris yang lain. Begitu seterusnya. Tanaman bunga bisa dipanen jika berumur 3,5 sampai 4 bulan setelah masa tanam. “Kalau musim kemarau kadang 3 bulan bisa sudah dipanen,” ujar Agus sambil menemani reporter Majalah Pendapa melihat proses panen bunga Krisan. Di atas tanah dengan luas sekitar 200 m2, Udin berada di dalam ‘rumah bunga’ yang terbuat dari kayu dan bambu dengan atap plastik dan dinding yang bisa diterawang. Bisa diterawang karena dinding bangunan terbuat dari jaring. Tujuannya, agar hama tanaman, termasuk jenis serangga; lebah dan kupu-kupu, tidak bisa hinggap pada tanaman bunga Krisan. Kendati tanaman sudah ‘dikurung’ dengan bangunan berbentuk rumah, namun tetap saja masih ada hama yang menyerang. Buktinya, pada beberapa tanaman bunga yang dibudidaya Agus bersama kelompok tani Udi Makmur sebagian terserang penyakit ‘karat daun’ dan jamur pada bagian daunnya. “Jika langsung hinggap pada tanaman bunga bisa menimbulkan penyakit. Misalnya ‘karat daun.’ Ya, nantinya

bisa berpengaruh pada penjualan,” ujar Agus sembari memegang salah satu daun tanaman bunga Krisan yang terkena ‘karat daun’. Selain sebagai pelindung dari hama tanaman, ‘rumah bunga’ juga berfungsi sebagai pelindung dari sinar matahari dan air hujan secara langsung. Dampak jika terkena sinar matahari secara langsung, warna bunga yang dihasilkan tanaman bisa pudar. Sedangkan, jika terkena air hujan secara langsung, tanaman hingga bunga bisa cepat rusak. Ada juga lampu. Lampu digunakan dengan tujuan, menghambat pembungaan jika tinggi pohon sudah sekitar 50 cm yang dinyalakan selama 4 jam pada waktu malam hari. Usaha budidaya bunga krisan dimulai Agus beserta petani Udi Makmur beberapa tahun silam, tepatnya tahun 2006. Hal itu bermula dari adanya penyuluhan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Setelah kelompok tani mengetahui dan merespon penelitian tersebut, kemudian mulai dibudidaya dan dikembangkan sampai sekarang. Tahun 2010, Udi Makmur memiliki 1,5 hektar yang ditanami tanaman bunga Krisan. Hingga kini, lahan yang dimiliki dan ditanami bunga Krisan sudah mencapai sekitar 2 hektar. Selain bunga Krisan, masih banyak jenis bunga yang dibudidayakan. Jumlahnya sekitar 18 jenis varietas bunga. Sore itu, tanaman yang sedang dipanen dan diikat ada dua jenis; Standar (satu batang, satu bunga) dan Sprei (satu batang, banyak bunga). Dua jenis tersebut termasuk jenis Krisan. Untuk bunga jenis Sprei sendiri memiliki berbagai varietas. Mulai dari Puma Putih, Puma Kuning, dan juga Regen Kuning. Budidaya bunga Krisan tidak dilakukan secara individu, karena jika dikelola seorang petani sendirian, sekali panen langsung selesai. Berbeda tatkala dilakukan secara kelompok, pola tanam dan perputaran penjualan bunga bisa terjaga. “Pasar tertata dan permintaan bisa rutin. Kadang malah sampai kelebihan. Jika pesanan banyak dan kami kekurangan bunga, pernah sampai ndatangin dari petani lain di luar daerah,” kata Agus yang merangkap seksi pemasaran kelompok tani Udi Makmur. Usaha budidaya bunga Krisan kelompok tani Udi

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

47


Makmur tak luput dari batu sandungan. Tahun 2010 lalu, bertepatan erupsi Gunung Merapi, Udi Makmur dan juga petani lainnya vakum selama 5 bulan. “Dulu juga saya sempat mengungsi, Mas. Malah pindah nyampe tujuh kali,” kenang Agus. Sementara, Kelompok Tani Sekar Arum, Dukuh Seloharjo, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman memulai budidaya tanaman bunga Krisan sekitar awal tahun 2011. Sebelumnya, para petani menanam tanaman daun hias. Hingga kini, anggota Kelompok Tani Sekar Arum masih ada yang menanam tanaman daun hias. Dalam usahanya membudidayakan tanaman bunga Krisan, pengelolaan lahannya dibuat sistem bergilir kepada anggotanya yang didasarkan pada kesiapan anggota. Menurut Supriyadi, Ketua Kelompok Tani Sekar Arum, jika dikelola secara kelompok langsung bisa menimbulkan rasa saling mengandalkan dan iri apabila ada anggota yang tidak ikut bekerja. Tahun 2012 ini, kebetulan Supriyadi yang mendapatkan giliran untuk menanam dan mengelola bunga Krisan di lahan Kelompok Tani Sekar Arum. Di atas lahan seluas 200 m2, Supriyadi menanam bunga Krisan. Hingga saat ini, kelompoknya memiliki keseluruhan lahan seluas 1.300 m2. Tampak siang itu, Rabu, 12 September 2012, tanaman Udin sedang memilih bunga Krisan yang siap panen.

bunga Krisan masih begitu segar. Akan tetapi, tinggi batang pohon bunga satu dengan yang lain tampak mencolok perbedaannnya. Ini lantaran ‘rumah bunga’ yang digunakan kurang begitu sempurna. Masih ada celah untuk hama dan hewan sejenis serangga yang dapat dengan mudah bisa masuk. Supriyadi berencana akan memperbaiki rumah bunga tersebut dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas bunga yang dihasilkan. Dalam hal penjualan hampir sama dengan yang diterapkan kelompok Udi Makmur. Supriyadi menjual bunga Krisan satu ikatnya dengan harga kisaran Rp 8.000,00 sampai Rp 14.000,00. Letak perbedaannya, saat panen Supriyadi menjual langsung kepada konsumen, meskipun sesekali ia juga menjualnya ke toko bunga. Supriyadi menaksir, jumlah keseluruhan hasil panennya sekali tanam sekitar 4 jutaan. Menurut Titik Retno Nurjanah, Kepala Seksi Bina Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, dirinya dan Dinas Pertanian Kabupaten Sleman akan selalu mendukung usaha budidaya tanaman bunga Krisan tersebut. Ia menuturkan bahwa selama ini pihak Dinas Pertanian Kabupaten Sleman telah melakukan pelatihan dan pembinaan pada kelompok tani dan asosiasinya, baik dari segi manajemen maupun organisasinya, bekerjasama dengan perguruan tinggi swasta di DI Yogyakarta. “Prospeknya semakin bagus. Kebutuhan bunga sekarang tidak melulu event-event besar saja. Akan tetapi, tidak bisa dibandingkan dengan tanaman lain, karena modal dan perawantannya juga lumayan,” ujar Titik Retno.

Menyongsong 2013

Pada tahun 2013 mendatang, Kota Yogyakarta akan menjadi tuan rumah Tanaman Hias Nusantara. Supriyadi berharap agar Dinas terkait selalu memantau para petani untuk mempersiapkan tanaman bunga Krisan untuk ikut berparsisipasi dalam acara tersebut. “Harapan saya, para petani yang membudidayakan bunga Krisan dan menyiapkan buat acara besok (2013),” kata Supriyadi. Titik Retno Nurjanah mengatakan bahwa pihaknya sudah mempersiapkan untuk terlibat dalam acara pada tahun 2013 di Kota Yogyakarta. Ia mengaku bahwasannya, Dinas Pertanian sudah melakukan sosialisasi kepada para petani bunga Krisan perihal acara tersebut. “Kami sudah melakukan sosialisasi kepada para petani agar melakukan persiapan untuk ikut serta dalam acara Tanaman Hias Nusantara,” aku Titik Rento.[p]

Wayahdi/PENDAPA

48

Ahmad Mustaqim Tim: Wayahdi

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


KEBERFUNGSIAN KARYA SASTRA Sebuah Pembicaraan Iqbal H Saputra*

K

arya sastra merupakan salah satu wujud dari ide, gagasan, ekspresi serta pemikiran yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang. Bentuk karya sastra dapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan kepada pembaca (baca: masyarakat). Sebagai sebuah karya, sastra juga dapat dijadikan sebagai alat reeksi serta pengontrol bagi kesimpang-siuran yang terjadi dalam proses berkehidupan saat ini. Seharusnya! Sebagai suatu hasil kebudayaan manusia yang menjadikan bahasa sebagai salah satu alat penyampaiannya, keberadaan sastra di tengah-tengah masyarakat (cukup) penting. Bahasa (baik verbal maupun nonverbal) merupakan jembatan yang dapat menghubungkan manusia satu dengan manusia lainnya. Sebab, bahasa merupakan salah satu pencapaian tertinggi yang diraih manusia dalam perkembangan ekosistem raksasa di planet yang bernama bumi. Dengan bahasa, seseorang atau sekelompok orang bisa mengenal dan memperkenalkan suatu kebudayaan wilayah tertentu kepada wilayah tertentu lainnya. Sebuah Catatan Setelah Indonesia mendapatkan pengakuan kemerdekaan oleh dunia pada tanggal 17 Agustus 1945, secara matematis, Negara Republik yang saat ini memiliki 33 provinsi sudah berusia 67 tahun. Usia 67 tentu bukan lagi usia yang muda bagi sebuah negara. Sebab, untuk mendapatkan hak merdeka, bangsa ini telah mempertaruhkan segala apa yang dipunyai. Lalu, bagaimanakah koherensi antara keberadaan karya sastra dengan makna dari kata merdeka dalam kehidupan masyarakat Indonesia? Tentu bukanlah sebuah kebetulan dan mengada-ada jika dalam tulisan ini saya menghubungkan antara karya sastra dengan kemerdekaan bangsa. Bagi saya, meskipun tidak bersinggungan langsung, keberadaan dan kedudukan keduanya cukup erat hubungannya. Sebuah karya sastra dapat menjadi salah satu media untuk menggambarkan keadaan sejarah di dalam bangsanya. Sehingga generasi berikutnya dapat membaca dan mengetahui apa yang pernah terjadi di masa sebelumnya tanpa harus ikut terlibat di dalamnya secara langsung. Dari pengetahuan itulah

diharapkan nantinya segala keterpurukan yang pernah terjadi di masa lalu tidak terulang kembali di masa yang akan datang. Karya sastra tidak lahir dalam kekosongan budaya (Teeuw, 1980: 11, 12). Banyak (bahkan hampir seluruh) sastrawan yang lahir di zaman pra sampai pasca perang menulis tentang apa yang terjadi di sekitar mereka. Sebagai salah satu hasil karya intelektual, karya sastra merupakan sebuah sumbangan penting yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Buah karya pengarang ini merupakan sesuatu hal yang menegaskan bahwa masyarakat tertentu telah mendapatkan kemerdekaannya. Kemerdekaan yang paling nyata adalah kemerdekaan individu. Benarkah demikian? Jelas jawabannya, ya! Karena seseorang pengarang yang menulis karya sastra sudah barang tentu harus tahu ketatabahasaan lengkap dengan segala aspek yang berhubungan dan bersinggungan dengannya. Dan, kemerdekaan semacam ini hanya mampu dicapai oleh mereka yang memiliki intelektualitas imajinasi penuh dan jiwa merdeka secara individu dan menyeluruh. Mengambil sebuah contoh; meskipun bukan seorang Indonesia, Ernest Douwes Dekker (1820-1887) merupakan seseorang yang mencapai titik kemerdekaan individunya secara utuh. Sebagai seorang berkebangsaan Belanda yang pada usia ke-18 sudah meninggalkan negaranya untuk bekerja di Indonesia, tentu tujuan utamanya adalah mengabdi pada negara. Namun, setelah melihat dan mengalami apa yang dilakukan oleh bangsanya itu menyimpang, tepatnya pada tahun 1856, pemberontakan pun lahir dalam dirinya. Ia mulai melakukan perlawan dengan cara keluar dari jabatannya (yang waktu itu asisten residen di Lebak, Banten) lalu memilih jalan menulis dalam bentuk karya sastra. Banyak tulisan-tulisan pengarang yang memiliki nama samaran Multatuli (yang artinya aku telah banyak menderita) ini mempengaruhi pola berpikir pemuda-pemudi yang sudah mampu membaca. Salah satunya adalah Max Havelaar, karya sang Multatuli ini memilliki pengaruh sangat besar dalam membangkitkan kesadaran kebangsaan dan keinginan merdekanya bangsa Indonesia pada saat itu. Di Indonesia sendiri, mulailah pada tahun 1900-an

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

49


karya sastra pengarang kita lahir di surat kabar Medan Prijaji yang berbentuk cerita-cerita roman bersambung. Masa kelahiran prosais Indonesia ini terus bermunculan pada abad ke-20. Di masa pra-merdeka, beberapa pengarang yang memiliki andil pada masa-masa awal tersebut adalah H. Moekti dengan Hikayat Siti Mariah, seorang pemimpin surat kabar Medan Prijaji, Raden Mas (Djokonomo) Tirto Adisurjo (1875-1916) dengan dua cerita romannya, Busono (1910) dan Nyai Permana (1912), serta Mas Marco Kartodikromo dengan romannya Mata Gelap (1914), dan Student Hidjo (1919) yang berkali-kali dijatuhi hukuman oleh pemerintah jajahan Belanda karena tulisannya juga andil dalam sejarah kemerdekaan bangsa ini. Karena perlawanan yang mereka lakukan, Mas Marco Kartodikromo pun meninggal dunia dalam pembuangan di Digu-Atas, Irian Barat. Selain itu, ada juga satu nama pengarang yang cukup penting di zaman itu tetapi karyanya dilarang beredar oleh pemerintah karena dia

Pane dengan Belenggu (1940) yang juga mendapat reaksi pro-kontra, dan disusul beberapa tahun kemudian prosais Blora dengan segala kekompleksitasannya (juga prokontra), satu-satunya sastrawan yang pernah masuk sebagai nominasi penerima penghargaan sastra Nobel, Pramoedya Ananta Toer, dengan karya-karyanya yang juga kental dengan “bau” sejarah bangsa. Dalam khazanah puisi, perlawanan pun dilakukan oleh beberapa penyair, seperti Muh. Yamin yang pada tahun 1920 karyanya dimuat dalam majalah Jong Sumatra. Pengarang sezaman dengan Muh. Yamin adalah Roestam Effendi. Roestam adalah seorang politisi yang juga gencar menulis sajak-sajak “berbau” perlawan yang dibukukan dalam kumpulan Percikan Perenungan. Setelah itu, lahir Chairil Anwar dengan segala kontroversinya banyak merekam wajah bangsa pada saat itu. Ada juga penulis, pembaca puisi, dramawan, sutradara, serta budayawan yang terkenal sepak terjangnya dengan sajak-sajak pamflet, W. S.

...beberapa pemuda bangsa yang mempunyai kemerdekaan individu dan terus berjuang menyebarkan semangat lewat karya-karyanya adalah Merari Siregar. Pada saat itu, roman Merari Siregar yang kedua adalah roman pertama yang menggunakan bahasa Indonesia, yaitu Azab dan Sengsara (1920).

seorang Ketua Partai Komunis Indonesia, yaitu Semaun dengan romannya Hikayat Kadiroen (1924). Setelah karya-karya penggugah itu bermunculan, kekhawatiran di kalangan penjajah pun mencuat. Belanda yang takut akan terganggunya politik etis (etische-politiek) yang mereka terapkan di tanah jajahan, akhirnya pada tahun 1908 mendirikan Komisi Bacaan Rakyat (Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur). Hal ini bertujuan untuk mengontrol segala jenis dan bentuk karya yang akan disebar di masyarakat. Seberjalannya waktu, komisi ini pun bermetamorfosis menjadi Kantor Bacaan Rakyat (Kantoor vor de Volkslectuur) atau Balai Pustaka. Di bawah kekuasaan Balai Pustaka, beberapa pemuda bangsa yang mempunyai kemerdekaan individu dan terus berjuang menyebarkan semangat lewat karya-karyanya adalah Merari Siregar. Pada saat itu, roman Merari Siregar yang kedua adalah roman pertama yang menggunakan bahasa Indonesia, yaitu Azab dan Sengsara (1920). Dua tahun kemudian menyusul Marah Rusli dengan Sitti Nurbaya-nya (1922) yang menggambarkan gejolak yang terjadi antara pribumi dengan penjajah (Belanda), Armijn

50

Rendra. Dalam khazanah drama, sebelum W. S. Rendra, kita sudah punya penulis naskah drama yang handal di zamannya, menyebut sebagian; Muhammad Yamin yang bersetia pada latar sejarah Jawa dalam naskahnya yang berjudul Kalau Dewi Tara Sudah Berkata, Ken Arok dan Ken Dedes (1934), Sanusi Pane dengan Airlangga. Semua pengarang di atas, sebagian adalah seorang pengarang puisi, prosa (roman), dan naskah drama sekaligus. Memang tidak runut pengambilan contoh nama-nama pengarang yang ada dalam pembahasan ini, karena tujuan dari tulisan ini bukanlah untuk membentuk atau memperkenalkan periodeisasi tertentu. Pembahasan di atas dititikberatkan pada contoh pengarang yang karya-karyanya bersinggungan dengan pembahasan di muka, yaitu bagaimana koherensi antara keberadaan karya sastra dengan makna dari kata merdeka dalam kehidupan masyarakat Indonesia? Dengan beberapa contoh di atas, jelas jawabannya adalah ada dan sangat erat. Para pengarang (rakyat Indonesia) tersebut di atas telah mencapai titik intelektualitasnya dan merdeka

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


(secara individu) untuk memerdekakan masyarakat (secara kelompok). Penjabaran ini memperjelas keberfungsian karya sastra pada masa itu, adalah sebagai alat perlawanan dan media rekam sejarah kebangsaan. Lalu, apakah keberfungsian karya sastra hanya berhenti di titik itu saja? Hal ini harus kita refleksikan seksama. Sebuah Kegelisahan dan Harapan Secara individu, tujuan mulia seorang pengarang adalah menyampaikan ide, gagasan, ekspresi serta pemikiran yang dimilikinya untuk orang lain. Biasanya, apa yang mereka sampaikan lewat tulisan merupakan refleksi atas apa yang mereka lihat atau alami dalam dunia nyata, meskipun pada hakikatnya sebuah karya sastra adalah hasil imajinasi pengarang. Namun, tidak menutup kemungkinan apa yang mereka tulis, selain hal itu pernah terjadi di masa lalu dan bahkan bisa terjadi di masa yang akan datang. Wallahuallam. Lalu apa fungsi sebuah karya sastra di zaman semacam sekarang ini? Pertanyaan ini tentu pertanyaan yang harus kita jawab secara objektif dan seksama. Melihat realita yang terjadi semacam sekarang ini tentu sangat mengkhawatirkan. Kenyataan-kenyataan yang terjadi sekarang ini seharusnya kenyataan-kenyataan yang hanya terjadi dalam dunia fiksi. Pembunuhan sadis (mutilasi), pembunuhan sedarah (anak bunuh ayah kandung, orang tua membunuh anaknya, dan sebagainya); pemerkosaan (tetangga memerkosa tetangga, ayah perkosa anak kandung, dan sebagainya); pencabulan (paman perkosa keponakan, kyai menyodomi santri, dan sebagainya); serta tawuran dan kekacauan yang terjadi di ranah pendidikan

(tawuran pelajar dan mahasiswa yang merenggut nyawa) belakangan marak meramaikan dunia keseharian kita. Mampukah sebuah karya sastra membendung hal ini? Kenapa tidak! Meski bukanlah perkara instan, kita harus optimis guna menyelesaikan perang yang sedang terjadi di negara ini. Dengan memperkenalkan karya sastra kepada pembaca dini (bisa dari play group atau taman kanak-kanak), saya meyakini bahwa peperangan ini mampu dihentikan (meski dalam kurun waktu yang tidak singkat). Saya yakin ide, gagasan, ekspresi serta pemikiran pengarang yang ada dalam sebuah karya sastra mampu meredam kekacauan ini. Perkenalan pun harus dimulai dengan karya-karya yang baik (berkualitas) dan tentunya disesuaikan dengan pembacanya. Sehingga sastra berfungsi secara menyeluruh, tidak hanya bagi masyarakat sastra (khusus) tetapi juga bagi masyarakat luas. Agar kekhawatiran Bung Karno dalam rumusannya – “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri” – mampu kita jawab secara seksama. Harapannya tentu agar keberadaan karya sastra tidak hanya menjadi artefak saja, tapi lebih berguna secara berkelanjutan demi kesejahrteraan seluruh rakyat Indonesia. Semoga![p] *) Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Sedang menempuh studi Pascasarjana Ilmu Sastra di UGM Yogyakarta.

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

51


WASTI Wahyana Giri MC*

Taofiq ‘12

M

eski masih gelap, sinar matahari pagi perlahan-lahan menerobos dinding rumah bambu sebuah kompleks perumahan kumuh di pinggir sungai. Sunyi. Wasti, seorang perempuan cantik setengah baya tiba-tiba mengendapendap. Tangannya menggendong bayi mungil berkulit merah. Sejenak perempuan muda itu ragu-ragu untuk melangkah. Kepalanya nampak menengok ke kiri dan

52

kanan, untuk memastikan tak ada seorang pun yang melihat kedatangannya. Setelah Wasti yakin tak ada orang di kompleks itu, iapun segera memasuki salah satu rumah dan menutup pintunya dari dalam. Persis ketika pintu itu ditutup, tiba-tiba bayi dalamgendongan Wasti menangis keras. Suaranya nyaring menerobos pintu-pintu rumah tetangganya. Wasti terhenyak. Ia gelagapan. Tangannya berusaha menutup mulut bayi itu agar suara tangisnya tidak menyebar ke mana-mana. Namun ia segera menarik tangannya kembali, ia takut bayinya akan kehabisan nafas karena lobang hidungnya tertutup tangannya. Wasti pun akhirnya memilih memukul-mukul pantat bayi itu perlahan, agar bayi itu tidur kembali. Bayi itu bukannya diam dan tidur lagi. Tangisnya meledak memecah keheningan kompleks itu. Wasti tambah panik. Iapun menggerak-gerakkan gendongan bayinya. Suara tangis bayi Wasti ternyata membangunkan tetangganya yang tengah tertidur lelap.. Salah satu pintu rumah disebelah Wasti terbuka. Seorang perempuan melongokkan wajahnya, mencari arah suara tangis bayi itu. Sejenak kemudian, pintu rumah yang lain juga terbuka. Seorang perempuan lain juga melongokkan wajahnya. Beberapa saat kemudian perempuan-perempuan itu keluar. Mereka segera saling menghampiri, menggerombol dan cerewet. “Wasti pulang…. Wasti pulang,” Darmi perempuan yang paling cerewet di kompleks itu berteriak lantang. “Ia membawa bayi lagi….,” sahut Jilah. “Sial. Kita tidak boleh diam seperti ini. Kalau kita diamkan terus, tempat ini bakal penuh. Masak sudah empat bayi dibawa pulang ke tempat ini. Mau dijadikan apa tempat ini?!,” teriak Sumi tidak kalah kerasnya. “Benar! Makin hari tempat ini bakal makin sumpek. Kita harus berbuat. Tidak bisa perempuan sundal itu seenaknya bawa-bawa bayi ke tempat ini,” ujar Darmi lagi. “Perempuan itu benar-benar tak tahu diri. Ndableg. Kita bangunkan para tetangga…!!!,” teriak Jilah memprovokasi. “Ayo!!!” “Bangunkan semua warga!!” “Pukul kentongan!!” Jilah, Sumi dan Darmi sibuk membangunkan para tetangga. Suaranya gaduh. Mereka menggedor-gedor pintu yang masih tertutup sambil memanggil nama penghuninya. Suara kentongan bertalu, berisik bersahutan dengan suara gedoran pintu.

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


Di dalam rumah, Wasti tambah panik. Bibirnya mengatup menahan tangis. Ia ingin berteriak sekeraskerasnya, namun kerongkongannya mengunci. Tubuhnya perlahan menjadi gemetar karena menahan sedih dan amarah dari dalam. Dadanya sesak. Pikirannya berkecamuk. Berjuta-juta pertanyaan satu persatu lalu lalang dibenaknya. Kenapa mereka selalu mempersoalkan setiap ia membawa anak-anaknya pulang ke rumah neneknya di kompleks ini? Kenapa mesti para perempuan itu yang mempersoalkan? Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa semua ini menimpanya? Mata Wasti menjadi menjadi basah. Pandangannya perlahan kabur. Angannya menerawang. Pikirannya mengembara, menerobos sekat-sekat ruang dan waktu, menyeruak wajah nan bisu. Ya. Wajah seorang laki-laki berambut klimis dengan dandanan perlente. Laki-laki yang selalu menyebut dirinya dengan nama Pandi. Bagi Wasti, laki-laki bernama Pandi ini memang sangat berkesan dan berhasil menorehkan kisah dalam perjalanan hidupnya. Bukan soal penampilannya. Kalaupun laki-laki itu selalu klimis dan perlentenya, tapi itu bukan laki-laki selera Wasti. Kisah buram kehidupannya dimulai ketika Wasti mengenal Pandi. Ia ingat benar ketika suatu pagi Mbok Surip, orang tua Wasti tengah menampi beras di teras rumahnya yang ada di bantaran sungai itu, tiba-tiba muncul sosok laki-laki bernama Pandi. Laki-laki necis itu menghampiri Mbok Surip sambil cengangas-cengingis. “Apa kabar Mbok Surip? Lho… lho…. Lho… kok mau menanak nasi jagung? Tidak baik. Kenapa? Nggak punya uang ya? Tidak bisa beli beras ya? He… he… he… Tenang. Tidak usah panik. Pandi akan membereskan. Mulai sekarang Mbok Surip tidak perlu repot-repot lagi masak nasi jagung. Simbok cukup ongkang-ongkang di amben. Cukup suruh orang untuk masak nasi, menanak beras alias ngliwet. Lengkap dengan sayur sekaligus lauknya. Beres,” kata Pandi persis ketika ada di depan Mbok Surip. “Masak beras apa tho Nak Pandi? Wong duwit saja tidak gableg kok mau beli beras,” keluh Mbok Surip sambil terus menampinya. “Woooo….. Mbok Surip nggak perlu khawatir. Kedatangan Pandi di rumah Mbok Surip ini sengaja untuk memuliakan Mbok Surip. Maksudnya, Pandi yang gagah ini ingin ngajak Wasti untuk kerja di kota. Neng Negara. Nah, mulai sekarang Mbok Surip bakal dapat gaji. Dapat kiriman duwit setiap bulannya,” ujar Pandi lagi. “Siapa yang mau ngirim duwit sama Simbok? Pemerintah po? Huuu… mbel thut. Pemerintah kok peduli sama wong cilik seperti saya. Nggak bakalan ada yang peduli,” jawab Mbok Surip tanpa sedikitpun mempedulikan tingkah Pandi. Mendengar jawaban Mbok Surip, Pandi tidak mau kalah. Wajahnya dijulurkan persis di depan raut muka Mbok Surip. Sambil berbicara, matanya dipelototkan untuk

meyakinkan lawan bicaranya. “Wah.. wah… wah… Mbok Surip nggak dong omongan Pandi ya? Wasti kan sebentar lagi jadi orang. Sebentar lagi Wasti bakal kerja, itu artinya setiap bulan Wasti akan mendapat gaji tetap. Lha sebagian gajinya nanti akan dikirim ke Simbok. Untuk beli beras, beli lauk, beli baju, beli……. Pokoknya beli apa saja sesuka Simbok. He…he…he…” Mbok Surip, orang tua lugu itu akhirnya kena bujuk rayu Pandi. Tanpa ba bi bu, Wasti yang ada di dalam rumah langsung dipanggilnya. Wasti pun segera menemui simboknya. Mbok Surip menceritakan niat baik Pandi yang ingin mengajaknya kerja ke kota. Mbok Surip minta Wasti untuk ikut Pandi. Alasannya, Mbok Surip ingin Wasti meringankan beban hidupnya. Beban hidup yang sudah ditanggungnya sejak Wasti lahir. Beban hidup seorang perempuan yang dipaksa menghidupi anaknya seorang diri tanpa campur tangan dan bantuan laki-laki. Sejak lahir, Wasti memang tidak tahu siapa bapaknya. Wasti lahir ketika Mbok Surip masih jaya. Sebagai seorang primadona Tayub, kecantikan dan kepiawaiannya menari sangat dikagumi banyak orang. Makanya, kehidupannya nyaris glamour. Bukan karena kekayaannya, tetapi kesehariannya Mbok Surip selalu berada di lingkungan orang berada. Dari Lurah, Carik, Juragan sampai Mandor perkebunan setiap harinya bergantian ada di sisi Mbok Surip. Meski menjadi primadona Mbok Surip justru sama sekali tidak memiliki harta benda apalagi rumah. Namun, kehidupan Mbok Surip boleh dikata glamour, karena selain gaya hidup, keinginan apapun yang muncul dihatinya pasti bakal terwujud. Setiap laki-laki yang mendengar keinginan Mbok Surip selalu berlomba untuk bisa memenuhinya. Sejak masih bayi dengan kulit merah sampai menjadi perawan, tidak sekalipun Wasti merasakan sentuhan tangan bapak. Gendongan dan senandung tembang dolanan bocah tak pernah dirasakannya sebagaimana anak-anak lainnya. Kering. Nurani kewanitaannya sama sekali tidak pernah diguyur dengan sifat nurani kelelakian yang biasanya ditaburkan oleh figur bapak agar muncul keseimbangan. “Kamu harus ikut Nak Pandi, lho Nok…,” desak Mbok Surip, “Kamu harus manut. Nak Pandi orangnya baik, sabar dan rela menolong wong cilik seperti kita ini.” Wasti tidak bisa menolak. Sejak kecil ia memang tidak terbiasa melawan apa yang menjadi keinginan simboknya. Wasti mengangguk. Setuju. “Nah… rak gitu… Nggak usah. Nggak perlu. Simbok nggak perlu berterima kasih pada saya. Wong itu sudah menjadi kewajiban saya he… he… he…,” kata Pandi buruburu ketika melihat Wasti menganggukkan kepala. Bla bla bla, Pandi makin nerocos menyakinkan ‘korban’nya. Mbok Surip makin tergila-gila. Ia ingin Pandi segera membawa wasti ke kota. Namun dada Wasti makin sumpeg. Dalam hatinya ia berucap, kenapa ia harus bekerja dengan orang yang kemlinthi seperti Pandi ini.

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

53


“Nah, Wasti… Hari ini kamu segera berkemas. Tidak usah membawa baju banyak-banyak. Repot. Dan… kamu Mbok Surip, sambil menunggu Wasti gajian bulan depan, untuk sementara Mbok Surip tak kasih ‘pegangan’, lumayan bisa untuk beli beras dan lauknya. Jadi mulai hari ini nggak perlu lagi makan nasi jagung he he he…,” kata Pandi sambil menyerahkan beberapa lembar uang lima puluh ribuah. Sejenak laki-laki klimis itupun pamitan dan segera pergi meninggalkan Mbok Surip dan Wasti yang masih bengong melompong. Beberapa saat setelah Pandi lenyap ditelan kelokan jalan, Mbok Surip pun segera memandangi Wasti dalamdalam. Dalam hatinya ada rasa kasihan memikirkan nasib anak perempuannya itu. “Sudahlah Wasti….. keinginanmu untuk menjadi penari tayub seperti aku ini harus kamu kubur dalam-dalam… Simbokmu ini mestinya bisa kamu jadikan cermin. Kamu tahu, tayub itu sama sekali nggak menjanjikan masa depanmu Nak. Sebagus-bagusnya kamu main, paling banter cuma jadi penari utama. Jadi rol. Titik. Meski ribuan penonton mengagumimu, meski ribuan mulut berdecakdecak karena permainanmu, seusai pentas kamu tetap saja nggak bisa beli beras, beli baju, nggak bisa beli gincu, nggak bisa beli bedak. Paling banter cuma pakai sinwit dan jelaga lampu minyak. Kamu mesti menyadari itu Wasti…,” ujar Mbok Surip lirih. Meski mendengar apa yang diucapkan simbokmya, Wasti tetap saja berdiri mematung. Matanya memandang jauh ujung kelokan jalan dimana Pandi menghilang. Pagi itu serasa jadi gelap. Gesekan daun pepohonan di depan rumahnya karena terpaan angin, pagi itu terasa makin berisik. Suara itu berjejal meneronos kepala Wasti. Memakul-mukul dinding telinga. Menghentak-hentak pikirannya. Suara itu makin keras. Mendobrak pintu hatinya. Tapi, diantara gemuruh suara itu mulai terdengar teriakan Sumi, Jilah dan Darmi. “Wasti pulangggg…!!” “Usir perempuan sundal itu…!!! “Lonthe Bosok! Nyebar penyakit!!” “Usir Wasti…!” “Jangan biarkan perempuan itu mengotori tempat ini…!” Tubuh Wasti makin gemetar. Bibirnya perih karena giginya menggigit menahan sedih. Tiba-tiba, disela marah dan ketakutannya, Wasti dikejutkan suara pintu kamar rumahnya didobrak dari dalam. Seorang perempuan tua berdiri persis di tengah pintu kamar itu. Tangannya gemetar memegangi arit pemotong rumput. Mbok Surip. Ya Mbok Surip tiba-tiba muncul dari dalam kamarnya. Matanya nanar. Mukanya merah padam. Perempuan tua itu segera menendang pintu rumahnya. Sekejap pintu bambu itu terbuka. Orang-orang yang menggedor pintu rumah Mbok Surip terhenyak. Mereka kaget tidak menduga pintu itu bakal terbuka. Orang-orang itu pun segera mundur beberapa jengkal. Dari dalam

54

rumah Mbok Surip segera menghampiri orang-orang yang mengerumuni rumahnya. “Keparat!! Kalian tidak usah turut campur ususan orang. Urusan Wasti urusan saya. Perempuan-perempuan seperti kalian nggak usak ikut-ikutan mikir. Tidak usah sok kerepotan. Nggak bakal anak cucu saya ngrusuhi kaliankalian semua. Biar rumah saya segini, saya nggak bakalan mengijinkan cucu saya numpang tidur di rumah kalian,” teriak Mbok Surip seketika. “Tapi Mbok…. Kalau Wasti tiap tahun nitipkan anak sama Simbok, Simbok pasti kerepotan … Simbok pasti capek, sakit, terus …,” teriak Darmi pula. “Prek!! Itu urusan saya!! Kalian jangan sok peduli. Dulu pertama kali saya tempati tanah ini kalian juga belum ada. Saya susah payah membangun bantaran sungai ini menjadi sebuah rumah yang bisa ditempati. Dan ketika kalian satu persatu datang ke tempat ini, merengek-rengek minta diijinkan membangun rumah di sini, aku juga tidak merasa terganggu. Aku bahkan tidak merasakan tempat ini jadi sumpek. Bahkan, ketika satu per satu kalian bawa laki-laki dan tinggal di sini, tidak pernah aku seret kalian ke Kelurahan untuk dicek surat kawinnya.” “Maaf Mbok…. Sebenarnya kami cuma kasihan sama Simbok, kami nggak mau Simbok sakit gara-gara Wasti tidak tahu diri…,” ujar Jilah lirih mencoba menenangkan Mbok Surip. “Kalian nggak usah cangkeman. Aku dengar semua pembicaraan kalian. Tempat ini memang sampah. Tempat anak-anak kucing dibuang. Anak kucing yang tidak pernah tahu entah siapa bapaknya. Seperti aku……Seperti aku….. Se-per-ti a-ku……,” suara Mbok Surip tiba-tiba berubah. Ia tidak saja marah tapi mulai menangis. Wajahnya menerawang jauh. Sementara perlahan-lahan dari dalam salah satu pintu rumah itu Wasti muncul. Ia pandangi Mbok Surip. Matanya melelehkan air jernih. Mbok Surip menangis. Pilu. Tiba-tiba tempat itu jadi sunyi. Perlahan dari mulut Mbok Surip terdengar kata-kata lirih. “Aku sengaja memilih tinggal di tempat ini karena karena ingin mengubur lembaran hidup yang kelam. Tempat ini adalah pilihan. Dua puluh empat tahun lalu, setelah aku melahirkan Wasti, aku memutuskan untuk berhenti menjadi penari tayub. Aku harus rela meninggalkan decak kagum dan tepukan tangan penonton. Aku memilih untuk mengembara, memburu laki-laki yang telah menanamkan benih dalam kandunganku….. Tapi hingga Wasti lahir, ia tidak pernah mampu mengucap kata “ayah”. Entah. Entah, laki-laki itu telah pergi ke mana. Sampai akhirnya aku sadar. Lebih baik menuntun Wasti meniti hidup tanpa kelokan dari pada memburu laki-laki pendusta. Laki-laki jahanam. Jahanam! Laki-laki yang menganggap perempuan sebatas tempat penitipan sperma dan persewaan liang kehangatan …..Jahanam……..” Wasti yang sejak tadi memandangi simboknya, perlahan mulai mendekati perempuan tua itu. Ia ingin Mbok Surip

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


kembali masuk ke rumah. Namun begitu ia mendekat Mbok Surip, tangis perempuan tua itu justru makin menjadi-jadi. “Mbok….” “Wasti …. Maafkan Simbokmu nak…. Ini semua kesalahan Simbok. Simbok dulu terlalu percaya kepada Pandi, hingga kamu sekarang jadi seperti ini… Tapi, itu terpaksa aku lakukan karena aku tidak rela kamu menjadi penari tayub kelilingan seperti Simbokmu dulu… Aku tidak rela! Aku tidak rela kamu menjadi seniwati tayub. Aku tidak rela, karena kamu akan terlena. Aku tidak rela, karena kamu akan dipuja-puja dan diburu laki-laki penggemarmu. Mereka pasti tergila-gila sampai melupakan anak istrinya. Memburu sampai ketemu. tetapi begitu kamu luluh dalam dekapannya dan benih laki-laki itu menetes, laki-laki itu akan menghilang. Mereka lenyap tanpa bekas. Seperti bapakmu. Bapakmu Wasti…. Sampai sekarang tak ada yang tahu.” Mata Mbok Surip makin basah. Ulu hatinya direjam tangis pilu. “Sudahlah Mbok……. Semuanya sudah kadung terjadi. Kita cuma bisa menjalani. Nglakoni. Paling-paling kita hanya bisa pasrah. Pasrah pada Yang Kuasa. Simbok tidak perlu terlalu menyalahkan Mas Pandi. Dia itu cuma calo. Blantik. Dia juga orang miskin seperti kita. Pekerjaannya memburu perempuan-perempuan muda, kemudian disetor untuk dipekerjakan sebagai perempuan-perempuan penghibur. Bukan Mas Pandi saja yang salah, tapi perempuanperempuan seperti kita mestinya waspada. Waspada terhadap setiap laki-laki manis tapi tak ubahnya musang berbulu domba. Barangkali ini memang garis nasib kita. Nasib perempuan-perempuan yang senantiasa diburu laki-laki pengumbar syahwat….. “Oalah nasiiiib…. nasib. Kenapa justru petaka itu selalu menimpa orang-orang seperti kita? Kenapa?,” Mbok Surip merangkul erat tubuh Wasti. Anak-anak Wasti pun ikut mendekap kedua perempuan itu. “Sudahlah Mbok…… Sebaiknya Mbok Surip mulai memikirkan nasib keempat anak Wasti itu. Sebaiknya….,” tiba-tiba suara Darmi memecah kesedihan itu. “Apa??!! Dasar cangkem rusak!! Ini semua juga garagara kamu. Kamu mempengaruhi orang-orang di sini untuk menyingkirkan bayi-bayi Wasti. Kamu Cuma iri! Iri karena Nak Pandi tidak mengajak kamu kerja di kota seperti Wasti. Kamu cuma iri, karena kamu mandul. Gabug. Pranakanmu kering sehingga tidak bisa punya anak,” Mbok Surip yang sudah reda marahnya tiba-tiba kembali meledak. Tangannya kembali mengacungacungkan aritnya. “Maaf Mbok….. Maksud saya….. Kami cuma kasihan sama anak-anak Wasti…. Dari pada anak-anak itu nanti tidak terawat dan masa depannya jadi gelap, kami menyarankan anak-anak itu dititipkan ke panti asuhan

saja… Lagi pula, kalau sampai ada orang yang tahu, kalau anak-anak itu lahir tanpa bapak kan kasihan penghuni kompleks ini Mbok. Saya ….,” ujar Darmi ketakutan. “Keparat!!! Dasar perempuan sundal! Kalian tidak menyadari, selama ini pekerjaan kalian itu apa?! Apa?! Kalian kira, kalian itu perempuan baik-baik?!! Apa kalian kira, kalian bisa dapat duwit kalau tidak nglekar setiap malam??!! Apa kalian kira anak-anaknya Asih, Narti, Lasmi dan hampir seluruh perempuan di sini itu juga punya bapak?! Bapak-bapak mereka itu cuma status. Simbol, alias pe-leng-kap. Anak-anak itu lahir dari para lelaki malam yang membeli sepi,” Mbok Surip makin kalap, Ia kini mulai berdiri. “Mbok Surip mestinya tidak ngomong seperti itu. Itu sangat menyakiti hati orang-orang di sini. Sebagai orang yang dituakan di tempat ini, mestinya Mbok Surip bisa berbicara lebih sopan…. ,” Darmi yang sedari ketakutan tiba-tiba menjadi makin emosi dan berani. Ia tidak rela aibnya dibuka didepan para tetangganya. “Oooo..asu!!!! Aku muak menderang suaramu!!! Keparat!!!!” Mbok Surip menjadi kalap. Ia segera mengambil sepotong kayu penyangga jemuran yang ada di tempat itu. Kain jemuran berhamburan. Orang-orang terpana tidak bisa berbuat apa-apa. Mbok Surip yang sudah kesetanan segera mengangkat kayu itu dan dihantamkan ke tubuh Darmi. Orang-orang menjerit. Wasti menjerit. Bingung. Bersamaan dengan itu tiba-tiba terdengar suara tangis bayi Wasti dari dalam rumahnya. Wasti kebingungan. Ia masuk ke dalam rumah dan keluar lagi sambil menggendong bayinya. Sementara anak Wasti yang paling gede keluar rumah sambil membopong adiknya, diikuti anak Wasti nomor tiga. Anak-anak itu menyaksikan Mbok Surip yang tengah kalap. Orang-orang makin bingung. Para perempuan menjerit-jerit sambil berlarian menjauh. Sementara para lelaki mulai mendekati tubuh Darmi yang tergeletak. Mbok Surip makin kalap. Sambil berteriak-teriak ia memukuli tubuh Darmi habis-habisan. Para lelaki yang tadi berniat mendekati tubuh Darmi pun segera berlari menjauh. Sejenak ketika Mbok Surip berusaha mengejar Jilah dan Sumi, tiba-tiba dari ujung lokasi itu muncul beberapa polisi. Mbok Surip ditangkap. Ia digelandang menuju mobil patroli. Beberapa laki-laki mulai berani mendekat tubuh Darmi. Tubuh perempuan itu digerak-gerakkan. Di salah satu sudut rumah Mbok Surip, suara tangis bayi makin menghentak. Anak-anak Wasti menjerit, menyaksikan perempuan tua dinaikkan di bak belakang mobil patroli. Tangis mereka serentak meledak. Suaranya membelah angkasa, memprotes pada nasib yang tak pernah berpihak pada mereka.[p] Nyutran 2008

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

*) Sastrawan.

55


KERIS, MENJAGA EMPU TETAP PADA TRAHNYA

D

alam budaya Jawa, seseorang laki-laki baru bisa dikatakan sebagai kesatria jika memenuhi beberapa persyaratan, salah satunya curiga (keris). Dalam buku Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer dijelaskan bahwa curiga merupakan syarat terakhir dari kelima syarat. Selain itu, curiga juga dijadikan sebagai lambang kewaspadaan, kesiagaan, keperwiraan, dan alat untuk mempertahankan syarat sebelumnya yaitu wisma, wanita, turangga, dan kukila (rumah, wanita, kuda, dan burung). Tanpa adanya curiga, keempat syarat itu akan lepas bila mendapat gangguan. Dapat pula dikatakan bahwa keris sangatlah penting dimiliki oleh setiap kesatria Jawa. Setiap orang dengan latar profesi yang berbeda-beda memiliki jenis kerisnya tersendiri. Mulai dari Raja sampai pada kelas rakyat paling rendah sekalipun memiliki keris yang berbeda pula jenisnya. Keris memiliki ciri khas pada setiap zamannya. Sehingga bisa kita sebutkan bahwa keris menjadi simbol budaya yang diwujudkan dalam bentuk senjata. Keris merupakan mahakarya budaya Jawa yang turut mewarnai ragam budaya nusantara. Namun, apakah keris masih akan mampu bertahan dengan zaman yang selalu berkembang? Berikut adalah catatan tim Majalah Pendapa menelusuri senjata tradisional ini. Pagi itu, Kamis Legi (12/04), langit biru tampak begitu cerah. Awan tipis terlihat menggantung di angkasa. Padahal beberapa hari sebelumnya hujan lebat mengguyur Yogyakarta. Mungkin hal itu salah satu keberpihakkan alam pada kami untuk menelusuri garis per-empu-an keris di Godean, Sleman, yang jaraknya sekitar 15 km dari Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Empu merupakan sebutan bagi seorang ahli dalam bidang pembuatan keris. Masa sekarang ini, seorang ahli dalam bidangnya biasanya disebut profesor. Salah seorang yang kami temui adalah Empu Harum Brojo. Lelaki berusia 56 tahun ini, konon merupakan keturunan pembuat keris sejak zaman Majapahit. Hal ini terlihat dari silsilah empu keris yang tergantung di ruang tamunya. Perjalanan menjadi empu bermula dari nyantrik pada ayahandanya, Ki Empu Djeno Harumbrojo di tahun 1995. Kecintaan kepada budaya lokal menjadi latar keinginan untuk bisa meneruskan garis per-empu-an, agar keris tidak punah tergerus zaman. Saat kami bertemu dengan Empu Harum, ketenangan tampak menghias wajahnya. Tak mudah

56

untuk mendapatkan ketenangan seperti yang dimilikinya. Membutuhkan proses panjang, bisa diibaratkan seperti proses pembuatan keris itu sendiri. “Butuh ketelatenan, kesabaran, untuk bisa membuat keris. Prosesnya panjang,” cerita Empu Harum mengenai pengalamannya berproses dalam membuat keris. Keris, lanjut Empu Harum, merupakan bagian dari budaya Jawa. Pada masa kerajaan-kerajaan di Jawa masih berdiri, keris menjadi senjata untuk berperang. Namun pada perkembangan zaman saat ini, keris menjadi kageman (pegangan) oleh masyarakat. Bukan lagi untuk berperang. “Karena masyarakat merasa yakin dengan kagemannya, sudah otomatis membentuk sugesti positif bagi yang mempunyai keris. Nah, ndhilalah (kebetulan) bisa terjadi apa yang menjadi pengharapannya itu,” kata Empu Harum sambil tersenyum tidak berlebihan. Memang seperti itulah yang diajarkan oleh budaya Jawa untuk tidak berlebihlebihan dalam hal apapun. Empu yang ditemui oleh Pendapa ini, pasti telah matang dengan budaya Jawa yang dimilikinya. Budaya yang telah ditanamkan oleh nenek moyangnya sejak dahulu. Seperti salah satu jenis keris yang digunakan oleh para petani, yaitu keris dengan Dapur Tilang Upih (red: Dapur sama artinya dengan nama) dan Pamor Beras Wutah (red: Pamor merupakan corak yang ada di keris, bisa dibuat dari nikel maupun batu meteor) yang menggambarkan kemakmuran. Saat kepercayaan penduduk masih kuat, di samping sebagai simbol, keris juga merupakan alat pembangkit sugesti baik. Jika sudah percaya, ada sugesti yang akan terbentuk. “Sepertinya kelihatan baik, pikirannya pun menjadi senang, keluarga juga tenteram, sehingga rasa percaya diri menjadi kuat dan menambah semangat dalam bekerja,” ujarnya dalam bahasa Jawa menerangkan keris dengan Dapur Tilang Upih dan Pamor Beras Wutah. Keris jenis ini banyak beredar di masyarakat pada zamannya. Semakin lama bercerita dengan Empu Harum, wajahnya seakan bersinar. Seakan hal itu merupakan wajah peradaban bangsa sesungguhnya. Tidak mempunyai banyak topeng kepentingan dan menggambarkan jati diri bangsa yang besar. Empu melanjutkan ceritanya, bukan hanya digunakan untuk berperang saja, keris juga mempunyai filosofi. Seperti keris dengan Pamor Beras Wutah yang melambangkan kesejahteraan dan ketenteraman. Terdapat banyak jenis pamor keris, setiap jenis pamor mempunyai maknanya tersendiri.

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


Ada pula keris dengan Dapur Brojo. Keris ini biasanya digunakan oleh dukun bayi. Dengan maksud, agar dimudahkan dalam proses melahirkan. Keris bukan hanya lambang profesi, tetapi juga melambangkan status sosial pada zaman dahulu. Seperti keris Luk Telulas Pamor Udan Mas Tangguhnya Ngentoh-entoh (red: telulas artinya tiga belas, tangguh sama dengan model). Keris jenis ini biasanya dipakai oleh pejabat tinggi. “Keris Luk Telulas ini dimaksudkan untuk menambah kewibawaan, Pamor Udan Mas menggambarkan adanya unsur bisnis. Di samping kewibawaan, bisa juga untuk rezeki. Ada juga keris yang dibuat khusus untuk kewibawaan yaitu keris Luk Telulas Pamor Blarak Sineret,” terang Empu Harum. Selain membicarakan filosofi keris, Empu Harum juga menceritakan proses pembuatan keris pesanan, bukan berdasarkan pasaran. Biasanya Empu Harum menanyai maksud pemesan untuk memiliki keris, juga latar belakang pekerjaannya. Hal tersebut dilakukan agar keris yang nantinya dibuat cocok dengan apa yang diharapkan pemesan. “Tidak sembarangan saya membuat keris, tanpa mengetahui karakter dari sang pemesan. Jadi, ya hanya ketika ada pesanan saja, saya membuat keris,” terangnya. Proses Pembuatan Empat hari setelah kedatangan pertama ke rumah Empu Harum, kami kembali menyambangi rumah tersebut, Senin (16/4). Sebuah rumah di samping petak sawah yang masih terlihat hijau. Selain sawah, perkebunan masyarakat setempat turut serta merindangkan sekitar rumah Empu Harum. Rumah yang tidak bisa dibilang menengah ke bawah ini, didiami oleh Empu Harum dan keluarganya. Tepat di sudut wilayah rumah ada bangunan bercat putih dengan jendela terbuat dari bilik bambu. Lantainya masih beralaskan tanah. Di bagian dalam tembok bangunan, kesan susunan batu bata yang tidak ditutupi semen masih terlihat. Tampak pula sebuah lampu menggantung tepat di tengah-tengah bagian bangunan. Namun, lampu dalam kondisi padam, padahal keadaan di dalam ruangan membutuhkan cahaya. Di depan bangunan itu, dua orang lelaki berpakaian serba hitam. Salah satunya menggunakan udeng di kepalanya. Satu orang lagi mengenakan topi bundar, jika dilihat dari kejauhan seperti topi penggemar musik jazz. Ternyata, itulah Empu Harum dan rekannya yang menunggu kami untuk meliput proses pembuatan keris. Beberapa palu unik dengan salah satu bagiannya yang panjang dan tang yang gagangnya lebih panjang dari keadaan normalnya dipersiapkan. Arang, tungku pembakaran, pompa tradisonal yang berdiameter sekitar 25 cm telah siap pula. Ketika ditanya mengenai ruangan yang gelap, ia menjawab agar bara api dari bahan terlihat dengan jelas sehingga memudahkan bahan untuk dibentuk. Bahan yang dipakai untuk membuat keris adalah nikel, tosan

(besi), atau dapat pula dari batu meteor. Baja diperlukan untuk membuat pamor dan membentuk kekuatannya. Tak ketinggalan, bunga-bungaan juga turut dihadirkan oleh Empu Harum. Bunga-bungaan itu ditaburkan di atas arang dan tungku setelah Empu Harum memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan kelancaran dan keselamatan dalam membuat keris. “Sejak kecil, saya diajarkan orang tua agar berdoa terlebih dahulu ketika akan melakukan aktivitas,” kata Empu Harum. Beeessssss… Suara api keluar dari arang. Bunga yang ada di atas arang pun langsung terbakar beserta arangnya. Tak berapa lama, bara api terbentuk. Bahan keris mulai dimasukkan ke dalam bara sampai bahan berwarna merah membara. Suara percikan besi yang terbakar saling bersahutan dengan suara api yang dijaga suhunya menggunakan pompa tradisional. Setelah bahan dirasa cukup berwarna merah membara, lantas Empu Harum mengeluarkannya dari bara dengan menggunakan tang panjang. Kemudian dipindahkan ke atas baja yang telah disusun berdiri sebagai tempat penumpuan. Palu pun dilayangkan oleh rekan Empu Harum pada bahan keris yang sudah berada di atas baja. Thakkk… Percikan besar langsung meloncat dari bahan itu. Pastilah panas suhunya. Namun, kedua lelaki itu tetap berada pada posisinya untuk menumpu bahan keris. Dibolak-balik bahan itu, ditempa lagi, dibolak-balik lagi, ditempa lagi, begitu seterusnya sampai bara bahan dirasa meredup. Tak berhenti sampai di situ, bahan kemudian kembali dimasukkan ke dalam kumpulan bara arang dan dibakar. Proses selanjutnya masih sama, sampai pamor dan luk benar-benar terbentuk. Bahan awal, besi dan nikel, yang telah menjadi satu disebut saton (lapisan pamor). Lalu, saton dibelah menjadi dua membentuk trapesium. Di antara kedua belah saton tersebut dipasang baja tepat di tengah-tengahnya. Setelah merekat semua, namanya berubah menjadi kodoan. Proses selanjutnya dilengkungkan untuk dibentuk panjang kirakira 30 centimeter. Nama bahan ini kemudian disebut bengkep, sambil membuat luk. Bahan tersebut ditipiskan, dan mulai dihaluskan. Setelah itu, pamornya diperlihatkan. Terakhir, setelah semua bahan menjadi keris, dipasanglah gagang dan rangkanya. Proses pembuatan keris bisa memakan waktu berbulan-bulan. Pametriwiji Mengawal Zaman Jika tadi bercerita mengenai keris yang berasal dari seorang Empu, sekarang kita melihat keris dari pandangan para penggemarnya. Ya, keris di zaman seperti sekarang ini tetap mempunyai pecintanya, meski tidak terlalu banyak. Hampir bisa dipastikan, setiap individu yang mempunyai kesamaan baik hobi, kesukaan, atau apapun, biasanya membuat sebuah perkumpulan. Begitu pula dengan para pecinta keris yang berada di wilayah Yogyakarta, Pametriwiji hadir di kalangan para pecinta senjata tradisional ini.

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

57


Berdiri sejak 1983, Pametriwiji, yang merupakan akronim dari pahman memetri wesi aji, adalah perkumpulan pelestarian budaya keris, hadir untuk menjawab tantangan zaman. Berlatar dari keprihatinan tidak adanya perkumpulan pecinta keris seperti yang ada di Surakarta, KRT Hasto Negoro, seorang penggemar keris dan Ir. Suasono Luminto, seorang wartawan menjadi pelopor berdirinya paguyuban ini. Tak berapa lama setelah paguyuban ini berdiri, beberapa orang anggota menemui GBPH Pugeran, adik Sri Sultan Hamengku Buwono IX, untuk menjadikannya sebagai pelindung komunitas. “Beliau pun mau menjadi pelindung kami pada waktu itu,” ungkap RM Enggar Pikantoyo, Ketua II paguyuban ini. Kegiatan pertama yang dilakukan adalah mengikuti pameran keraton pada bulan Mulud tahun 1984. “Itu kegiatan tahunannya. Kalau kegiatan bulanannya, diadakan pertemuan setiap satu bulan sekali pada minggu ketiga,” tutur Enggar yang ditemui di kediamannya, tak jauh dari Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Setiap kali pertemuan, masalah-masalah seputar keris selalu menjadi bahan perbincangan. Membahas bidang per-empu-an, pamor, saton, tangguh, dan sebagainya. Konsep yang dilakukan pada saat pertemuan adalah presentasi dari pembicara, dilanjutkan dengan tanya jawab, dan diakhiri dengan membahas keris atau tombak yang dibawa oleh para peserta pertemuan. Saat ini belum ada matriks agenda pembahasan pada pertemuan. “Jika tahun ini membahas tentang seluk beluk keris, tahun depan misal ada anggota baru, pembahasan tentang seluk beluk keris lagi. Perserta lain yang sudah

58

pernah mendapatkannya akan bosan dan mungkin tidak aktif lagi,” ujar Enggar menceritakan kesulitannya dalam mengoordinasi para anggota Pametriwiji. Diakui Enggar, jarang ditemui anggotanya yang berasal dari kalangan anak muda. Jika ada, itu pun ketika mereka sedang menggarap tugas dari kampusnya. Cara yang dilakukan untuk menanamkan rasa cinta pada budaya, adalah dengan siaran di Radio Republik Indonesia (RRI). Melalui RRI, Pametriwiji mengajak anak muda turut melestarikan budaya bangsanya sendiri. “Kalau bukan mereka yang nanti menjadi penerus, lalu siapa lagi?” Di zaman baru ini, budaya luar menggempur budaya lokal Indonesia. Keris pun turut diserangnya, dengan pandangan bahwa orang yang mempunyai keris dianggap musyrik. “Cara kami mengatasi masalah itu dengan mendatangkan ahli agama untuk menjadi pembicara mengenai keris dari kacamata agama dan budaya,” terang Enggar. Tak hanya Enggar, Empu Harum juga turut diserang oleh orang-orang yang membawa agama dalam artian sempit. Dengan tertawa ia pun berkata, “Daripada nanti rame, mending saya diam saja,” sambil memegang dan memandangi keris buatannya yang sesekali didekatkan ke kepala sebagai rasa menghargai. Proses pembuatan keris, lanjutnya, memerlukan kedamaian dan ketenteraman dalam hati Empu. Jika tidak, karakter keris akan terbentuk menjadi tidak karuan. Oleh karena itu, Empu Harum memilih diam atas tanggapan-tanggapan negatif yang ditujukan kepadanya.[p] Wahyu Zulfiansyah

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


PAHLAWAN YANG (MESTI) HIDUP SEDERHANA

P

arasnya terlihat tua. Rambutnya berwarna putih. Dan untuk berbicara pun sudah kedengaran tidak begitu jelas. Ketika masuk ke rumahnya, nampak beberapa piagam dan penghargaan yang terpajang menempel

Seno Dwi S/PENDAPA

di dinding yang terbuat dari kayu. Mulai penghargaan dari Dinas Pendidikan, perguruan tinggi hingga beberapa stasiun televisi yang ada di Indonesia, Sabtu (31/3). Itulah sedikit gambaran sesosok Sartono dengan rumah yang ia tinggali puluhan tahun di Jalan Halmahera 98, Madiun, Jawa Timur. Mungkin sudah ada yang mengenal ataupun yang belum kenal dengan Sartono. Ia merupakan seseorang yang turut andil dalam perjalan dunia pendidikan di Indonesia. Apa sebenarnya yang sudah ia lakukan untuk dunia pendidikan? Sebagai guru? Memang, ia juga pernah menekuni profesi sebagai guru di salah satu sekolah di Madiun, Jawa Timur. Lalu, dari sisi apa sehingga ia patut disebut sosok “pahlawan”? Ya. Ia adalah pencipta lagu hymne guru. Bermula Dari Surat Kabar Pada tahun 1980-an, guru merupakan sosok yang dianggap sebagai pahlawan. Pahlawan yang berjasa mendidik dan mencerdaskan anak bangsa. Salah satu pahlawan tersebut ialah Sartono. Sebuah berita adanya sayembara dari secarik surat kabar yang ia baca saat menaiki bus umum, menggugahnya untuk menyusun deretan kata penuh makna. Hingga saat ini, sering dikumandangkan siswa diberbagai sekolah. “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.” Itulah tajuk sekaligus judul dari deretan kata yang ia buat dan kemudian ia kirim kepada panitia sayembara Departemen Pendidian Nasional, waktu itu. Lahir dari keluarga yang cukup berada pada waktu itu, tak membuat pria yang akrab disapa Pak Tono ini tinggi hati. Ayahnya adalah seorang Kepala Kecamatan pada masa penjajahan yang dilakukan negeri Samurai Biru, Jepang. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Sartono bergabung di TNI AD dan kemudian dikirim ke Irian Barat pada tahun 1963. Setelah dipulangkan dari Irian Barat, ia bertemu dan menikah dengan Damiyati. Berbekal ijasah SMA, Sartono menjadi guru honorer di SMP Kristen Santo Bernadus pada tahun 1978.

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

5959


Selama menjadi guru honorer, Sartono menjalani hidup dengan sederhana bersama istrinya. Gaji yang diterimanya hanya sebesar Rp 60.000,00 perbulan. Penghasilan yang sangat pas-pasan tak membuatnya menyerah dengan kehidupan. Selain menjadi guru honorer, ia juga mengajar musik dan koor di tempat lain. Terkadang, ia juga diminta untuk menjadi juri untuk lomba nyanyi. Hasil dari menjadi juri tersebut menjadi penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, seminggu sekali Sartono mengajar Kolintang di Nganjuk, Jawa Timur. Setiap pulang dari Nganjuk, Sartono menumpang bus ecrek menuju rumahnya. Kondisi busnya pun memprihatinkan, karena tanpa disertai kaca. Pada saat itu ia membaca sebuah surat kabar. Didalam surat kabar yang ia baca terdapat pengumuman sayembara membuat lagu hymne guru. Setelah menunjukkan isi surat kabar pada istrinya, ia bergegas mencari kertas dan memulai menulis. “Kalau selesai, dikirim siapa tahu menang, dapat duit,” ungkap Damiyati menirukan perkataan Sartono, waktu itu. Lantaran Sartono sudah tidak begitu jelas untuk berbicara, semua pertanyaan yang kami tanyakan dijawab sang istri, Damiyati. Tak cukup sekali Sartono menuliskan deretan kata penuh makna langsung selesai. Entah berapa kali ia harus mengulang kembali. Ia juga dibantu Damiyati, sang istri. Karena istrinya juga seorang guru, sepulang dari mengajar, Damiyati juga menceritakan kehidupan temannya yang juga seprofesi. Ia lakukan itu untuk membantu suaminya dalam menulis lirik lagu tersebut. “Saya ndak tahu bagaimana dia menuliskan kata-kata itu. Pulang sekolah saya cerita. Nggak tahunya kata itu muncul ‘terpujilah wahai engkau ibu bapak guru’,” ungkapnya. Setelah dianggap sempurna, Sartono mengirim naskah tersebut ke Jakarta. Namun, ia tak memiliki cukup uang untuk ongkos pengiriman. Akhirnya ia menjual jas untuk biaya pengiriman tersebut. “Nah, Pak Tono ini mau ngirim. Lha, saya ndak ngerti kalau ngirim itu pake perangko, bayar. Jadinya jual jas di pasar,” cerita Damiyati. Hasil dari menjual jas pun tak sia-sia karena lagu karangan yang ia kirimkan masuk tiga besar. Setelah disaring-saring tinggal lima. Kemudian tinggal tiga. Dari Manado, Bogor, dan Madiun. “Madiun itu Pak Tono,” kenang Damiyati. Lagu karangan Sartono dipilih dan kemudian ditetapkan menjadi lagu hymne guru. Setelah itu, ia pulang ke rumah sederhananya. Itu pun tanpa sambutan dan perhatian dari pemerintah setempat. Meski memenangkan cipta lagu hymne guru, tak ada yang berubah dari kehidupan Sartono dan keluarga. Ia menjalankan aktivitas kesehariannya seperti biasa. Tanpa ada perbedaan. Teman Setia Hidup yang serba pas-pasan tak membuat Damiyati, yang sudah menikah selama 41 tahun silam tersebut, mengeluh. Ia tetap setia menemani Sartono manjalani

60

“Hasil dari menjual jas pun tak sia-sia karena lagu karangan yang ia kirimkan masuk tiga besar.”

kehidupannya hari demi hari. Dulu, Damiyati merupakan seorang penyanyi keroncong. Saat menyanyi di markas militer, itulah awal pertemuannya dengan Sartono. Samasama bergelut dalam dunia seni tak sulit bagi mereka untuk saling mengenal. Selang tiga bulan dari pertemuan tersebut mereka menikah, tepatnya pada tahun 1971. Kini, di usia Sartono yang sudah 76 tahun, Damiyati tetap setia menemaninya. Mereka masih tinggal di rumah yang sama bersama adiknya. Sartono yang kini sudah mulai pikun hanya bisa duduk di rumah. “Biasanya, dulu setelah bangun tidur, menyapu halaman, memberi makan burung peliharaan. Sekarang, di pagi hari Bapak membeli makan untuk sarapan pagi, dan terus beraktivitas di rumah saja,” kata ibu paruh baya ini. Kendati Sartono tak lagi bisa memainkan alat musik seperti dulu, ia masih seorang seniman dan masih bisa menyanyikan lagu hymne guru karangannya. Memang sangat memprihatinkan jika melihat puluhan piagam yang terpampang di dinding rumahnya yang hanya sebagai penghargaan statis tanpa perhatian lebih. Terlebih, nama Sartono juga tercetak pada buku lagu wajib atas lagu hymne guru ciptaannya. Namun, kebutuhan untuk kehidupan anak sulung dari lima bersaudara dengan keluarga ini jauh dari tercukupi. Meski begitu, mereka sekeluarga tetap bersemangat menjalani kehidupannya. ‘Ana dina, ana sega’ (ada hari, ada nasi). Itu semboyan yang mereka pegang. Bagi mereka, itu cukup memberikan ketentraman dalam hari-harinya. Damiyati sendiri kini memiliki sanggar yang ia gunakan untuk membina anak-anak sekolah. Sanggar tersebut bernama Wido Tarmo. “Saya hanya membina cah sekolah SD, SMP, SMA, karang taruna, dan mahasiswa,” tambahnya.[p]

Supriyanti Tim: Wayahdi, Ana KW, Ernawati, Seno DS

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIII 2012


KIAI DI ERA GLOBAL Seno Dwi Sulistyo

D

alam tradisi masyarakat muslim Indonesia, kiai merupakan pribadi yang memiliki tempat istimewa. Kiai menjadi salah satu rujukan dalam proses pengembalian keputusan, bukan saja dalam masalah-masalah agama melainkan juga persoalan sosial, budaya dan politik, baik yang mengangkat kepentingan individu maupun kolektif. Pada perkembangannya, keshalihan seorang kiai pada umumnya tidak seperti kiai tradisional. Kiai tradisional hanya mengabdikan diri kepada kegiatan pengajaran. Sekarang, kiai juga sebagai penasihat atau pun ikut langsung dalam kepentingan politik. Belakangan ini telah terjadi pergeseran peran kiai. Pada dasarnya, ini hanya pergulatan ideologis antara kelompok kepentingan politik yang secara langsung atau tidak telah merasuk ke dalam kehidupan kiai dan pesantren. Konsekuensinya, peran kultural kiai kian lama makin memudar. Dalam buku ini, Muhibbin menjelaskan bahwasannya seorang kiai adalah panutan. Bahkan kiai sebagai pemimpin yang bisa memimpin bagi semua elemen masyarakat. Telah kita ketahui bahwa posisi kiai lebih tinggi dibandingkan seorang pejabat atau pun seorang yang berpangkat lebih tinggi lainya. Sebab, kiai sangat istimewa dan sangat disegani masyarakat karena ilmu yang dimilikinya. Salah satu faktor yang menjadikan kebesaran kiai adalah faktor teologis. Hal ini disebabkan pada kalangan masyarakat muslim, kiai dipandang sebagai pewaris nabi. Fungsi kiai dipandang sebagai pewaris nabi sebetulnya berasal dari struktur hierarkis kewenangan individu dalam penafsiran kitab suci. Bila dilihat dari segi sosial, kiai terletak pada dua hal, yaitu perasaan masyarakat yang dalam dan selalu melandaskan segala sesuatu dengan kesepakatan bersama. Kedua hal itulah yang mungkin saja menjadi alasan utama kiai diterima di masyarakat. Dengan demikian peran kiai dalam masyarakat tidak terbatas hanya dalam bidang keagamaan saja, tetapi juga dalam bidang sosial lainya. Itu sebabnya kiai menjadi figur yang cukup berpengaruh dalam dunia kepemimpinan, baik secara formal maupun informal. Muhibbin juga menjelaskan bahwa kiai adalah sebagai salah satu “korban” penjulukan yang sedemikian hebat. Sehingga pada akhirnya mereka tidak lagi mampu menahan akibatnya. Hal itu terjadi karena masyarakat terlanjur menjuluki kiai sebagai sosok yang paling tahu, paling shalih, dan beberapa julukan lainya. Di era sekarang, kita dapat melihat status kiai melalui dua hal. Pertama, melalui pemberian masyarakat itu sendiri yang tidak bisa ditolak. Kedua, dari hasil konstruksi media massa. Upaya dari media massa melakukan pencitraan kepada masyarakat sehingga masyarakat “terpaksa” menerima status ke-kiai-an seseorang.

Judul : Politik Kiai vs Politik Rakyat Penulis : Muhibbin Penerbit : Pustaka Pelajar Cetakan : I, Juni 2012 Pada realitasnya, kiai tidaklah selalu besifat statis. Kiai juga mengalami proses yang dinamis seiring dengan meningkatnya mobilitas vertikal para pengikutnya. Realitas ini juga tidak bersifat homogeni atau tidak sehomogen beberapa puluh tahun yang lalu. Dengan demikian kiai bukan lagi sebagai realitas yang secara alamiah diperoleh dari pengakuan masyarakat, melainkan dikonstruksi oleh media massa yang penuh dengan berbagai kepentingan; ekonomi, politik, sosial, dan ideologi. Selain itu, penulis juga menyertakan pandangan masyarakat tentang keterlibatan kiai di dunia politik. Sebagian (kecil) masyarakat setuju jika kiai ikut dalam dunia politik dengan alasan agar kiai bisa memperluas kegiatan dakwahnya. Dengan begitu kiai dapat dengan mudah menyampaikan nilai-nilai keagamaan sesuai dengan ajaran ahlussunnah wal jamaah, sebagai pedoman warga nahdliyin. Sedangkan sebagian masyarakat tidak setuju dengan terlibatnya kiai di dunia politik dengan alasan akan mengganggu tugas utamanya, yaitu dakwah. Oleh karena itu, hasil studi buku ini menunjukan bahwa kiai yang berpolitik dalam pandangan masyarakat mengalami degradasi ketokohannya sebagai pemegang otoritas keagamaan. Mayoritas kepemimpinannya sebagai taruhan. Kharismanya sebagai kiai semakin terkikis. Predikat sebagai teladan umat akan tercabut dari legitimasi sosial masyarakat. Hal demikian menjadikan politik sebagai media untuk mencapai kekuasaan bukan untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar (menjalankan perbuatan kebaikan dan menjauhi kejahatan). Seharusnya masyarakat sekarang tidak lagi memilih kiai sematamata karena “fatwa politik” melainkan berdasarkan pertimbangan yang rasional. Buku yang berjudul Politik Kiai vs Politik Rakyat ini merupakan sebuah tesis milik penulis pada Jurusan Ilmu Sosial Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya. Banyak ulasan-ulasan yang perlu dikaji lebih dalam tentang kiai dan juga masyarakat itu sendiri karena buku ini menjelaskan tentang kehidupan kiai di tengah-tengah masyarakat.[p]

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

61


Ahmad Mustaqim/PENDAPA

“MONUMEN” KEBANGKITAN PETANI INDONESIA

S

ejangkah dari sebuah jalan kampung, masuk di sebuah halaman rumah joglo yang cukup luas, lebih dikenal dengan sebutan Joglo Tani. Halaman tersebut berupa tujuh kolam yang masing-masing berbentuk persegi empat, satu kolam lagi berada di bawah rumah joglo. Di kolam tersebut bisa dijumpai berbagai jenis ikan, seperti ikan nila, gurame, dan bawal. Di samping kanan hingga belakang Joglo Tani, tampak beberapa kandang yang berisi berbagai macam jenis ternak. Antara lain; bebek, ayam, dan sapi. Untuk ternak bebek, terdapat berbagai jenis usia, mulai dari yang selesai menetas hingga yang sudah dewasa. Untuk ternak ayam, terdapat berbagai jenis ayam, di antaranya Ayam Serama (Gallus gallus Domesticus), habitat asli Negeri Jiran, Malaysia; Ayam Kate (Gallus gallus Bantam), habitat asli Banten; Ayam Bangkok (Gallus gallus Domesticus), habitat asli Negeri Gajah Putih, Thailand; serta Ayam Arab yang berjumlah 80 ekor. Dalam waktu dekat, rencananya akan ditambah lagi satu habitat ayam, yaitu; Ayam Kalkun.

62

Ternak sapi, terdapat 3 sapi beserta 1 anak sapi. Selain itu, masih ada sapi lain yang ditempatkan di lokasi yang berbeda. Di sebelah kiri, terdapat berbagai macam jenis tanaman. Mulai dari cabe, tomat, terong hingga daun bawang. Tampak juga tumpukan botol berisi minuman bersoda kadaluwarsa, yang akan dijadikan salah satu campuran pembuatan pupuk. Di samping kanan dan kiri di luar halaman Joglo Tani, terdapat hamparan persawahan. Selain di sekitar rumah Joglo Tani, masih ada beberapa lokasi yang digunakan untuk kegiatan serupa. Total luas tanah yang digunakan TO Suprapto untuk pertanian –dalam arti luas– sebanyak 8000 m2. TO Suprapto mengelola Joglo Tani dibantu anak dan anak didiknya. Itulah gambaran sekilas Joglo Tani yang bertempat di Dukuh Mandungan I, Desa Margoluwih, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Joglo Tani dibangun TO Suprapto dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X, pada Sabtu, 19 Januari 2008.

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


Sebelum Joglo Tani diresmikan, TO Suprapto menjadikan tempat itu sebagai wadah belajar petani, anakanak muda, dan paguyuban. Hal tersebut dilakukannya pada tahun 1989, sembari ia menekuni profesinya sebagai pengajar. Pada tahun 1991, peguyuban se-Kabupaten Sleman itu ia jadikan sebagai laboratorium pertanian. “Teman-teman Sleman di tempat ini, dulu. Maka namanya wadah belajar petani,” ujar TO Suprapto. Berawal Dari “Terjajahnya Petani” Joglo Tani didirikan berawal dari keprihatinan TO Suprapto sebagai petani yang merasa ada sebuah ketidakadilan yang dialami para petani. Ia mengatakan bahwa sebetulnya petani Indonesia, hingga saat ini sedang menghadapi 6 tekanan; pertama, tekanan dari kondisi ekonomi. Wujudnya, para petani mayoritas masih harus membeli benih, pupuk, hingga obat untuk hama/penyakit tanaman. Kedua, tekanan alam. Tekanan ini berupa kondisi tanah yang kini semakin miskin unsur hara, semakin rusak, sumber air semakin sulit, dan hama yang semakin banyak. Ketiga, tekanan sosial. Pada saat ini status petani dianggap sebagai kasta paling rendah. “Padahal, sebenarnya, petani itu orang paling mulia di Indonesia. Tanpa ada petani, orang Indonesia nggak bisa makan. Tapi nyatanya anak muda yang bangga jadi petani berkurang. Sementara, orang keluar dari rumah, apapun yang dia cari adalah makan. Yang bisa menyediakan makan, ya petani,” ujarnya. Tekanan keempat ialah dari sisi budaya. Menurut TO Suprapto, bertani itu budaya. Kini, orang menganggap bahwa pertanian itu identik dengan tanaman. “Pertanian itu ya ada tanaman, ada hewan ternak, unggas, ikan, dan hutan. Pertanian ya itu. Artinya campur tangan manusia terhadap budidaya apapun. Tetapi ini sudah dipotongpotong, jadi kalau bicara pertanian itu nggak bicara peternakan. Kalau bicara peternakan itu nggak bicara perikanan. Jadi seperti orang kuliah, mereka ego sektoral. Itu yang menjadi budaya nggak pas. Artinya, menjadikan kurang terintegrasinya sebuah ilmu. Karena, akhir pertanian itu menjadi awal peternakan. Akhir peternakan menjadi awal pertanian. Inikan simbiosis mutualisme. Ini yang diputus.” Kelima, adalah tekanan global; pasar bebas. Mau tidak mau, suka tidak suka sekarang semua sudah bebas. Akses pasar luar negeri sekarang sudah masuk bebas ke Indonesia. “Indonesia pun bebas, tapi nggak profesional. Akhirnya kita kalah terus,” katanya. Tekanan keenam yaitu, tekanan kebijakan. Kebijakan pemerintah belum berpihak kepada petani. “Jelas itu lho!” ujarnya. Akhirnya, keenam tekanan tersebut membuat petani kecewa. Dari situlah, TO Suprapto mencoba berangkat ingin mandiri, dan berdirilah Joglo Tani. Ia berharap agar para petani dapat bebas dan merdeka dari keenam tekanan tersebut serta bisa mandiri. Ia menjelaskan bahwa tujuan akhirnya adalah terpenuhinya seluruh kebutuhan lahir batin masyarakat Indonesia. “Konteksnya, kalau pemerintah itu ketahanan pangan, kalau kita pada kedaulatan pangan. Maka, ini (Joglo

Tani) kita buat. Lahan yang sempit tapi ada hasil harian, mingguan, bulanan, dua bulanan, tiga bulanan, empat bulan, enam bulan, dan satu tahun. Bahkan saya lengkapi dengan lumbung mataraman; ada yang ditanami umbiumbian, batang/kayu, ada gegodhongan (dedaunan), ada kekembangan (bunga-bungaan), ada juga woh-wohan (buahbuahan),” katanya. Menurut TO Suprapto, orang yang mempunyai hasil yang seperti itu pasti berdaulat akan pangan. Ia mencontohkan bahwa dalam bagian Joglo Tani yang dikelola, selain menghasilkan berbagai hasil kebun dan ternak juga mampu menghasilkan pupuk dan juga biogas. Sehingga, keluarganya besok makan apa tinggal memilih. Inilah yang disebutnya sebagai kedaulatan pangan. Akan tetapi, jika muncul pertanyaan, apa besok makan atau besok makan apa, menurutnya, ini disebabkan seseorang tidak profesional dan tidak punya optimalisasi lahan. “Lahan sempit, tapi ada optimalisasi lahan, pasti bisa. Di Jawa; Yogyakarta, kepemilikan (tanah) semakin sempit, karena hukum waris dan sebagainya. Tidak monokultur, akan tetapi multikultur. Sehingga anak-anak saya bangga jadi petani.” Selain enam tekanan di atas, TO Suprapto menambahkan harus adanya 4 pilar, yaitu penyehatan religi (agama); penyehatan ekonomi, sosial, budaya; penyehatan pekerjaan; dan penyehatan pendidikan. Hal ini yang mesti disiapkan. Maka, ia menyebut Joglo Tani menjadi salah satu simbol sebagai monumen kebangkitan petani Indonesia. Duduk Sama Rendah, Berdiri Sama Tinggi Setelah petani menghadapi enam tekanan tersebut, TO Suprapto mengatakan bahwa sekarang petani dirundung kekecewaan. Namun, jika petani mampu mengatasi keenam tekanan tersebut pasti tidak akan gelo (kecewa). Inilah salah satu filosofi yang ia pakai. Bahwa kata “Joglo” berasal dari istilah jarwo dhosok (akronim) kata ‘Ojo Gelo’ (jangan kecewa). Selain itu, yang disebut bangunan joglo adalah sebuah bangunan rumah adat yang terdapat di Jawa. Logikanya, jika seseorang membangun rumah tentu harus dimulai dari bawah atau yang disebut dengan pondasi. Sedangkan, jika akan membongkar, tentu dimulai dari atas. “Membangun pemerintahan itu mestinya dari bawah. Membongkar pemerintahannya, ya dari atas. Nah, yang namanya negara itu ada provinsi, provinsi itu ada kabupaten, kabupaten itu ada kecamatan, kecamatan ada kumpulan desa, yang namanya desa ada kumpulan dusun. Jadi, pondasinya adalah masyarakat. Lalu, kalau bisa jangan sampai dikotak-kotak. Kalau sampai dikotak-kotak yang terjadi adalah berantem (perkelahian). Ada bangunan joglo dikotak-kotak? Nggak ada. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi,” ujarnya. “Doktrin” ala Joglo Tani Joglo Tani seolah menjadi “kawahcandradimuka”nya bagi mereka yang belajar perihal pertanian di sana. Bagaimana tidak, dari masyarakat biasa, siswa taman kanak-tanak (TK), SD, SMP, SMA, mahasiswa, bahkan

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

63


dosen dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia juga belajar pertanian di Joglo Tani. Selain yang menempuh pendidikan formal, juga ada pihak lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang belajar pertanian di Joglo Tani. Baik secara individu maupun kelompok. Pembelajarannya tak hanya teori, praktiknya pun tak lupa disertakan. “Tidak hanya teori. Pertama kali itu mesti ‘bongkar’ pikiran; cuci otak. Kita adakan penyadaran dulu. Ngapain Anda datang kesini? Harus ada latar belakangnya,” ujar pria yang juga pernah penjadi wasit sepakbola ini. Siapa saja yang datang ke Joglo Tani untuk belajar pertanian terlebih dahulu akan diidentifikasi dan ‘didoktrin’ terlebih dahulu oleh TO Suprapto. Mulai dari mana asalusulnya, permasalahan apa yang dihadapi. Kemudian, dari masalah itulah yang akan menjadi dasar sebagai gurunya. Potensinya apa? Itu yang menjadi bukunya. Selain itu, juga ditanya perihal modal dasar yang dimiliki. Baginya, modal bukan hanya uang, melainkan juga sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA). Itulah modal dasarnya. “Ini yang coba kami bongkar dulu, tentang SDM dan SDA. Lalu, selanjutnya bagaimana? Modal, ada nggak? Sosial kerjasama? Atau di situ ego sektoralnya tinggi sekali. Lalu, tidak ada silaturahim, tidak ada perkumpulan. Setelah itu, fisiknya bagaimana? Terakhir baru finansial. Nah, kondisi saat ini seperti apa? Baik itu SDM, SDA, fisik, dan finansial yang dimiliki. Kalau dia punya itu, kondisi ini akan tetap seperti itu atau mau diubah. Hari esok akan seperti ini atau ada yang lain,” kata pria yang juga pernah menjadi pemimpin redaksi salah satu surat kabar di Surakarta ini. Kemudian, katanya, dilanjutkan untuk mempelajari modal dasar yang lain. Modal dasar tersebut terdiri atas; pertama, perubahan sikap. Dari yang sebelumnya sendiri (individualis), kini harus bersama-sama. Jika sebelumnya membeli, harus tidak membeli. Jika sebelumnya mencari harga, maka harus bisa menentukan harga. Semua menjadi satu pintu. Kedua, harus paham. Mengapa harus paham? Menurutnya, seseorang jika ingin belajar apapun, misalnya, harus mempunyai ‘N3’; niteni (memperhatikan), niroke (menirukan), nambahi (menambahkan atau modifikasi). Setelah paham, modal dasar yang ketiga, harus terampil. Sebab, lanjutnya, kalau ilmu tanpa praktik itu rabun. Itu pembohong. Tapi, kalau praktik tanpa teori, ngawur (asalasalan). Setelah terampil, keempat, manajemen/diatur. Qolbu, nafsu, dan waktu. Waktu harus diatur. Kapan bekerja, istirahat, silaturahim hingga kapan waktunya ibadah. Itulah konsep sekaligus prinsip dari Joglo Tani. Maka, kata TO Suprapto, kita akan membuat di beberapa provinsi di Indonesia. “Rencana 1500, beda tempat, beda isi tapi dengan cara yang sama.” “Filosofi Angka 7” Bagi TO Suprapto, 7 bukanlah sekadar angka. Angka 7 memiliki sebuah filosifi tersendiri baginya. Tujuh (7), merupakan angka yang dipakai TO Suprapto untuk memberikan motivasi dan pembelajaran pada anak didiknya. Tujuh hari, merupakan waktu yang ia gunakan

64

untuk menggembleng otak anak didiknya. Memisahkan mana yang ‘hitam’, mana yang ‘putih’. Lalu membuat ‘hitam’ di atas ‘putih’. Tujuh hari di tempat (belajar di Joglo Tani), 7 hari disuruh mimpi. “Kamu mau apa?” katanya. Ia menyuruh anak didiknya untuk membuat rencana. Rencana tersebut dibuat dengan berdasarkan mimpi yang dituangkan menjadi sebuah konsep dalam rentan waktu 7 minggu dan harus selesai. Setelah itu, dalam jangka waktu 7 bulan, mimpi tersebut harus sudah bisa diwujudkan. “Itu kalau ingin 7 tahun menikmati. Karena, kalau menanam padi, 7 bulan mesti sudah panen. Memelihara itik, 7 bulan mesti sudah bertelur. Menanam kacang, 7 bulan mesti sudah panen. Memelihara ikan, 7 bulan pasti sudah panen. Jika ingin menetaskan telur, 7 bulan sudah menetas,” ujarnya sambil menunjuk tumpukan telur asin yang sudah rapi yang ia hasilkan. Maka, lanjutnya, harus punya impian, iman, dan ikhtiar untuk bisa mewujudkan. Karena, hati, sikap, tindakan harus satu. Ati, lathi, pakarti, nyawiji (iqro/membaca, khatam, paham, lakukan). Ini yang dinamakan menyatu. Lalu, ikhtiar dilandaskan pada ibadah. Maka, anak-anak kita ini tidak boleh berkelahi disebabkan beda suku, agama, dan tinggal di satu tempat. Tahun ini, TO Suprapto berencana mengambil anak didik sebanyak 45 orang, dari seluruh Indonesia. Mereka, dalam proses menyelesaikan belajarnya tidak diperbolehkan menikah sebelum memperoleh gelar sarjana (S1). Selain itu, mereka tidak diperbolehkan mengambil milik orang lain walaupun seharga seribu. Juga dilarang untuk minum-minuman keras dan ekstasi. “Sekali mereka melakukan, saya coret! Tempatnya bukan di sini. Ini yang saya siapkan. Mereka akan bangga menjadi petani. Sarjana petani dan petani yang sarjana. Bukan sarjana pekok (bodoh),” ucapnya. Begitulah Joglo Tani. Di samping sebagai tempat belajar pertanian secara luas, hingga kini sudah ada warga asing dari 16 negara yang berguru di tempat tersebut. Menurut Nanang Suwandi, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Joglo Tani merupakan tempat yang bagus untuk belajar pertanian. Sebab, dalam pelatihannya dilaksanakan dengan berbasis budaya. “Sangat baik untuk menjadi teman guna membantu masyarakat dan pemerintah,” ujarnya. Di akhir wawancara, TO Suprapto berpesan agar generasi muda sekarang bangga menjadi manusia yang bermanfaat bagi alam dan isinya. “Saran saya, ora ono jongko kang kajangkah tanpa jumangkah (tidak ada keinginan yang tercapai tanpa kita melakukan). Pertanian itu tidak dibicarakan, tapi dilakukan. Peternakan itu tidak diomongkan, tapi dilakukan. Kalau ingin selamat itu melakukan kehati-hatian. Maka dikatakan, sing bener sing ora salah, sing salah sing ora bener (yang benar adalah yang tidak salah, yang salah adalah yang tidak benar),” ujarnya.[p] Ahmad Mustaqim Tim: Desi SR dan Wayahdi

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


KAMPUS RESMI, NAMUN BELUM ADA MAHASISWA

Seorang siswa tengah melintas di depan SMK Tamansiswa, Nanggulan, Kulonprogo. SMK Tamansiswa, Nanggulan ini merupakan lokasi kampus V Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) yang diresmikan pada 30 Juni 2012. Seno Dwi S/PENDAPA

M

emperlebar sayap, mengembangkan, dan meningkatkan kualitas maupun kuantitas sudah barang tentu menjadi tujuan sekaligus prioritas setiap perguruan tinggi, terlebih perguruan tinggi swasta. Hal ini pula yang dilakukan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta. Pada 30 Juni 2012 lalu, UST meresmikan Kampus Unit V yang bertempat di Desa Nanggulan, Kabupaten Kulonprogo, DI Yogyakarta. Lokasi kampus yang menjadi satu dengan SMK Tamansiswa Nanggulan ini diresmikan Wakil Rektor (Warek) IV UST, Widodo Budhi, M.Si, didampingi Staf Biro Pemasaran, Hubungan Masyarakat, dan Kerjasama (BPHMK) UST, Sri Adi Widodo, M.Pd. Menurut Widodo Budhi, dibukanya Kampus Unit V ini atas kerjasama antara UST, Kemendikbud DIY, Pemerintah Daerah Kabupaten Kulonprogo, serta Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Kulonprogo. Bentuk kerjasama ini pun sudah diteken dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) dan Memorandum of Agreement (MoA). Alasan awal dibukanya Kampus Unit V UST ini disebabkan adanya permintaan dari masyarakat Kabupaten Kulonprogo. “Agar mereka yang ingin kuliah tidak perlu pergi jauh ke Yogyakarta.”

Warek I UST, Hazairin Eko Prasetyo, M.S, saat ditemui tim Majalah Pendapa, menjelaskan bahwasannya untuk sementara sasaran utama mahasiswa Kampus Unit V UST ini adalah para pegawai di bawah naungan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo yang belum berkualifikasi pendidikan minimal strata 1 (S1). Hal ini didasarkan masih banyaknya pegawai yang belum berkualifikasi minimal S1 di sana. Namun, Widodo Budhi menyebutkan bahwa ke depannya Kampus V juga diperuntukkan untuk proses pendidikan S1 dan S2 reguler. Dipilihnya SMK Tamansiswa Nanggulan, Kulonprogo sebagai Kampus Unit V UST ini sebagai bentuk dari tindak lanjut kerjasama yang dijalin antara UST dengan pihak SMK Tamansiswa Nanggulan. “(Kita) ini melanjutkan pembicaraan yang dirintis untuk menjadi kerjasama. Dulu pernah ada, tapi tidak jalan. Tapi sekarang sudah ada kecocokan. Toh, kita juga sama-sama Tamansiwa,” papar Hazairin, Senin (15/10). Belum Beroprasi Hingga saat ini, belum ada aktivitas perkuliahan di Kampus Unit V UST tersebut. Padahal peresmian sudah dilakukan jauh hari sebelum bergulirnya semester gasal.

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012

65


Hal ini mengindikasikan kurangnya persiapan yang dilakukan pihak kampus UST dengan SMK Tamansiswa Nanggulan. Hazairin Eko mengungkapkan beberapa waktu lalu sudah diadakan rapat koordinasi. Pembukaan program studi paling cepat akan dilaksanakan semester depan. Itu pun kalau ada peminatnya. Lebih lanjut, Hazairin menjelaskan bahwa rapat terakhir membahas tentang penghitungan dana operasional di sana. Hal tersebut pun diakui oleh Rektor UST, Pardimin, M.Pd. Program studi yang akan dibuka pun belum ada keputusan yang jelas. Semua program studi (prodi) yang akan dibuka tergantung permintaan dari warga setempat. “Prodi menyesuaikan, tergantung peminat. Tapi kita punya standar, satu kelas minimal 15 orang,” ujar Hazairin. Mengenai rencana pelaksanaan kuliah di Kampus Unit V, lanjut Hazairin, sudah ditawarkan ke setiap prodi. Hal ini dilakukan agar prodi mempertimbangkan kesanggupannya untuk membuka perkuliahan di kampus tersebut. “Jangan sampai membuka di Kulonprogo tetapi malah mengganggu aktivitas di kampus pusat UST,” ungkap Hazairin. Meski sudah diresmikan, namun di kampus tersebut belum ada aktivitas perkuliahan. Pardimin, M.Pd, mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya cenderung menilik peminat terlebih dahulu, baru dibuka. Yang terjadi malah sebaliknya. “Dibuka dulu baru mencari peminatnya. Tapi tidak apa-apa, karena ini terkait kerjasama dengan berbagai pihak,” ungkapnya. Selain itu, ia juga mengungkapkan kalau peminatnya belum terlalu kelihatan. Beberapa ada yang menanyakan tetapi malah untuk program S2. Perencanaan Tak Matang Belum adanya mahasiswa di Kampus Unit V UST sejak diresmikan 30 Juni lalu, menandakan bahwa pihak kampus belum mempersiapkannya secara matang. Termasuk halnya pegawai Pemda Kabupetan Kulonprogo yang belum berkualifikasi S1 pun pada kenyataannya belum ada yang mendaftar. Kepala BPHMK, Sugiyamin, M.Hum, menuturkan, usaha yang pernah dilakukan adalah memasang iklan di koran lokal DIY. Selain itu, dari BPHMK belum ada usaha lain yang bisa dilakukan. Menurutnya, pihaknya tidak berani berinisiatif melakukaan promosi kalau tidak ada perintah. “Seharusnya dari pihak sana (red: SMK Tamansiswa Nanggulan) yang mencari mahasiswa baru. Nanti UST yang melengkapi fasilitas, bukan sebaliknya,” ungkap Sugiyamin. Lebih lanjut, Sugiyamin menjelaskan bahwa awal rangsangannya itu adalah kerjasama dengan program pascasarjana Magister Manajemen (MM) UST. Akan tetapi, melihat realitasnya, mahasiswa di MM UST sendiri belum begitu banyak, terlebih di Kampus Unit V. “Jadi diusulkan untuk Pascasarjana Magister Pendidikan juga. Tapi kalau

66

ada mahasiswa S1 yang di sana, ya tidak apa-apa.” Mengenai tempat, Sugiyamin mengungkapkan, BPHMK pada awalnya mengira bahwa tempatnya strategis di pinggir jalan. Akan tetapi, setelah agenda terlaksana, tempatnya ternyata kurang strategis. “Padahal kami berencana untuk membuat spanduk dan baliho di gerbang, tapi ternyata masuk dari jalan raya masih agak jauh,” ungkap kepala BPHMK tersebut. Mengenai rencana pelaksanaan kegiatan perkuliahan di Kampus Unit V UST, Mudjijono, B.A., S.E., Kepala SMK Tamansiswa Nanggulan tidak mau berkomentar banyak. Mudjijono mengaku kerjasama ini terjalin bukan permintaan dari pihak SMK Tamansiswa Nanggulan, akan tetapi keinginan UST sendiri. Menurut Mudjijono, sampai saat ini belum ada kesepakatan kerjasama secara tertulis dari pihak UST. “Selama ini kesepakantannya hanya secara lisan, itu pun belum terealisasi,” tuturnya. Sampai saat ini hanya ada satu surat yang menjadi pegangan Mudjijono. Yaitu, surat penugasan dari Rektor UST kepada Mudjijono selaku Kepala SMK Tamansiswa Nanggulan. Surat tertanggal 12 Juni 2012, Nomor 175/ UST/Rek/VI/2012 tersebut menugaskan Mudjijono untuk melakukan pembicaraan dalam rangka sosialisasi penerimaan mahasiswa baru S1 dan S2 UST di Kampus Unit V UST, Nanggulan. Bagi Mudjijono, ia tidak mempermasalahkan apabila tidak ada bukti kerjasama secara tertulis. “Bukti kerjasama tidak perlu dibuat karena kita sama-sama Tamansiswa. Tapi demi ketertiban administrasi, ya perlu juga,” ungkapnya. Sejauh ini, pihak SMK Tamansiswa Nanggulan sendiri sudah melakukan usaha pendekatan dengan pihak terkait. Akan tetapi, kuasa untuk melakukan promosi perihal telah dibukanya Kampus Unit V UST sepenuhnya berada dipihak UST. Rencana akan adanya kegiatan perkuliahan di SMK Tamansiswa Nanggulan ini, menurut Mudjijono, mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Saat ditanya mengenai adanya kegiatan perkuliahan di Kampus Unit V UST nanti akan mengganggu aktivitas di sekolah tersebut atau tidak, Mudjijono menjawab sebisa mungkin aktivitas UST tidak mengganggu aktivitas SMK. Begitu juga sebaliknya. “Saya berharap program ini bisa dilaksanakan secara tertib seperti informasi yang ditawarkan. Kalau tidak dilaksanakan secara tertib, SMK akan merasa malu,” ucapnya.[p]

Nur Romdlon Tim: Taofiq Tri Yudhanto, Ernawati, dan Seno Dwi Sulistyo

PENDAPA TAMANSISWA EDISI 54 TAHUN XXIV 2012


Indra/PENDAPA


Iklan layanan masyarakat ini dipersembahkan LPM PENDAPA TAMANSISWA

Suby/PENDAPA

KARST, YANG PEDULI DAN YANG MEMANFAATKANMU  
KARST, YANG PEDULI DAN YANG MEMANFAATKANMU  

Majalah Mahasiswa "PENDAPA Tamansiswa" Edisi 54

Advertisement