Issuu on Google+

http://edulightmedia.uki.ac.id

Siswa NetGe n &Pembelajar an dengan Inter net

facebook.com/edulightmedia

@edulight_media

Obat Anti Galau: Bikin Blog

Instagram: dibeli atau disiasati?


edumedia light majalah edukasi online

Penanggungjawab Dekan FKIP UKI Pembina Sekretaris FKIP Pimpinan Redaksi Situjuh Nazara Redaktur Pelaksana Gita Ria Marissa Editor Parlin Pardede Reporter Berthon Silitonga Hengky Franklin Gultom Niko Maryadi Heilinda Esther Feddy Elyezer Pringgo Willy P. Advertisement Theresia Septiani

Diterbitkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Indonesia


berkata. “Luar biasa perkembangan teknologi Abad ke-21 ini. Dengan komputer ini aku bisa menikmati banyak bacaan. Semua jenis informasi tersedia dalam jumlah tak terbatas. Pengetahuan yang kuperoleh dalam dua hari melalui alat ini terasa lebih banyak dibandingkan dengan Karena sudah mahir menggunakan komputer tabletnya untuk memperoleh informasi mengenai objek wisata dan tempat lain untuk dikunjungi, Pak Tigor diberi hak untuk menentukan kemana saja mereka akan berkunjung. Setelah puas mengunjungi berbagai objek selama 10 hari, sang Malaikan bertanya: “Kesan apa yang Bapak peroleh tentang semua tempat dan objek yang sudah kita kunjungi?” “Semuanya menakjubkan. Walaupun para futurologis, seperti Edward Bellamy, H.G. Wells, Marshall Mcluhan, dan Archibald Low telah banyak memberikan gambaran kehidupan masa depan, tetap saja kami di tahun 1960-an tak pernah membayangkan kehidupan di awal abad 21 akan seperti ini. Tak pernah terbayang banyak gedung dengan tinggi lebih 200 meter namun kita tidak perlu berkeringat naik ke atas dengan tangga. Lalu alat-alat serba otomatis di pabrik-pabrik yang kita kunjungi…, luar biasa! Peralatan kantor yang serba modern. Bahkan, membayar belanjaan tidak lagi dengan uang, … cukup dengan kartu saja … itu juga tidak pernah terpikirkan olehku. “Kalau begitu, Bapak senang dapat bersentuhan langsung dengan semua tempat dan objek yang kita kunjungi?” si Malaikat bertanya. “Ya…sangat senang, kecuali….” “Kecuali apa, Pak?” “Kecuali setelah kita mengunjungi tiga sekolah tadi, saya jadi sedih.” “Mengapa sedih, Pak?” “Semua tempat, seperti perkantoran, jalan, pasar, tempat hiburan, pabrik, hotel, restoran, … semua berubah jauh lebih baik dibandingkan dengan yang 50 tahun lalu. Tapi sekolah yang kita kunjungi tadi sama saja dengan sekolah di zamanku. Mulai dari SD hingga SMA, masih didominasi metode pembelajaran yang sama. Dari awal hingga akhir jam pelajaran, siswa duduk, diam, dan mendengar penjelasan guru. Bahkan siswa SMP dan SMA hanya dilatih menulis—guru mendikte, siswa mencatat; atau guru menulis di papan tulis, siswa menyalin di buku. Yang terlihat berubah hanya papan tulisnya. Dulu papannya berwarna hitam, sekarang, putih. Mengapa sekolah tetap sama, padahal lingkungan sudah berubah?” Pak Tigor berguman dengan wajah getir. “Menurut Bapak, apakah sekolah harus juga berubah?” si Malaikat mencoba melanjutkan pembicaraan, setelah mereka berdua terdiam beberapa saat. “Harus! Sekolah justru harus jadi agen perubahan, karena fungsi utamanya adalah mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan yang pasti berbeda dari masa sekarang” Pak Tigor berkata lirih. “Bagaimana mungkin tujuan itu tercaai jika sekolah sendiri tidak berubah? Bagaimana mungkin lulusan sekolah dapat bekerja dengan baik di era modern kalau mereka belajar hanya dengan peralatan primitif? Bagaimana mungkin mereka dapat mengantisipasi segala perubahan kalau konsep-konsep yang mereka pelajari ketinggalan zaman?” “Menurut Bapak, sekolah sekarang harus berubah seperti apa?” si Malaikat bertanya. “Ayahku pernah bercerita bahwa mereka belajar dengan batu tulis. Di zamanku, kami menggunakan

Pada suatu malam di tahun 1962, dalam mimpinya, Pak Tigor, seorang guru SMA di Medan dikunjungi Malaikat. “Sebagai apresiasi atas dedikasi, kreativitas, dan inspirasi Bapak bagi siswa/i Bapak, aku diberi tugas untuk mengabulkan 2 permintaan,” kata sang Malaikat. Setelah rasa kagetnya berkurang, Pak Tigor bertanya, “Aku boleh mengajukan permintaan apa saja?” “Apa saja, yang tidak merugikan orang lain,” sahut sang Malaikat. “Malaikat yang baik, di antara berbagai buku yang pernah kubaca, salah satu yang paling berkesan adalah novel The Time Machine, karya H.G. Wells. Seperti tokoh dalam novel itu, aku ingin dapat berkunjung ke masa depan.” “Okay. Bapak mau berkunjung ke tahun berapa dan kemana?” “Aku dulu kuliah di Jakarta. Aku cukup akrab dengan kehidupan di sana di akhir 1950-an. Tapi aku pengen tahu kehidupan di sana 50 tahun mendatang.” “Baik. Bapak kutemani mengenyam kehidupan Jakarta tahun 2012,” kata si Malaikat. Begitu kalimatnya selesai, dia dan Pak Tigor sudah berada di sekitar Bundaran HI Jakarta tahun 2012 dan segera check in di salah satu hotel berbintang 5 di Jalan Sudirman. Setelah beristirahat, sang Malaikat membawa Pak Tigor ke sebuah mall. Pak guru ini diberi kebebasan membeli apapun yang disukainya. Namun beliau hanya membeli beberapa potong pakaian yang diperkirakannya akan dibutuhkan selama berada di Jakarta. Sebenarnya dia bermaksud membeli beberapa buku, novel dan majalah. Namun si Malaikat berkata: “Tidak usah repot-repot, Pak, membeli begitu banyak bacaan. Bapak ambil saja komputer tablet ini, dan Bapak bisa membaca jutaan buku, novel, majalah, koran, dan bacaan lainnya.” Walau terlihat ragu terhadap pernyataan si Malaikat, Pak Tigor setuju tidak jadi membeli buku, novel dan majalah yang sudah dipilihnya dan menggantinya dengan satu unit komputer tablet.yang kupelajari selama setahun yang lalu.” Setelah diajari cara mengoperasikan alat canggih tersebut beberapa menit, Pak Tigor langsung bisa mengakses situs-situs yang dia sukai. Dengan takjub, dia

* Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI Jakarta

May 2012 http://edulightmedia.uki.ac.id


http://nomadiceducation.blogspot.com/2012/01/magical-realm-of-learning.html

pulpen dan kertas. Masa 50 tahun kemudian, generasi cucuku belajar dengan cara dan alat yang sama denganku? Sekolah sekarang harus memfasilitasi pembelajaran dengan media dan metode yang sesuai dengan karakteristik siswa modern. Siswa harus di mampukan menggunakan teknologi modern. Informasi dari guru sangat terbatas dan mungkin sudah ketinggalan. Oleh karena itu, internet seharusnya digunakan sebagai sarana untuk memperkaya pembelajaran.” “Bapak tidak perlu begitu sedih. Toh tidak sedikit jumlah siswa yang mengakses internet melalui handphone. Yang asyik berinternet ria di berbagai warnet juga banyak”, sanggah si Malaikat. “Ya, benar. Tapi yang diakses para pelajar kebanyakan bukan materi atau informasi yang berhubungan dengan pembelajaran. Chatting, main games, atau membuka situs-situs jorok. Itu yang mereka lakukan. Lantas, apa yang bisa mereka andalkan kelak di masa depan mereka? Seharusnya sekolah jeli dan serius mengembangkan metode belajar yang pas untuk media ini” Kegetiran mendalam yang dirasakan Pak Tigor akhirnya memadamkan hasratnya melanjutkan petualangannya di abad 21. Dengan sedih, dia bertanya pada si Malaikat, “Boleh aku mengajukan permintaan kedua?” “Tentu saja, boleh. Apa permintaan Bapak?” “Kembalikan aku ke kehidupanku di Medan tahun 1962”, sahut Pak Tigor. -----:*:----Siapapun juga yang masih memiliki nurani kemanusiaan akan terenyuh melihat kekecewaan Pak Guru Tigor yang menurut si Malaikat sangat berdedikasi, kreatif, dan inspiratif. (Kalau yang menilai sesama manusia, mungkin masih bisa diperdebatkan. Namun karena yang menilai adalah malaikat—yang pasti tidak memiliki kepentingan atau naluri untuk menilai secara bias—kualitas dedikasi, kreativitas, dan inspirasi guru yang satu ini pasti murni). Bagaimana dengan Anda, wahai siswa Gen-Net Indonesia? Salah satu fenomena baru yang timbul selama peralihan abad 20 ke abad 21 adalah munculnya Generasi Net (disingkat Gen-Net) yang dalam bahasa Inggris disebut Net-Generation (disingkat Net-Gen) atau Millennials atau Millennial Generation (disingkat ME-Gen). Kelompok ini mengacu pada generasi yang akrab dengan penggunaan internet sejak dini, meski dalam rentang usia yang cukup variatif. Sebagai contoh, dalam Educating the

Net Generation (2005), Oblinger dan Oblinger mengatakan 30% Gen-Net di Australia mulai menggunakan komputer pada usia 5 hingga 8 tahun, dan hampir 100% telah menggunakan komputer pada usia 16 hingga 18 tahun. 96% mulai mengakses internet pada usia 8 hingga 18 tahun, dan 61% diantara mereka mengakses internet secara rutin tiap hari kerja. Data di atas menunjukkan periode kelahiran Gen-Net bervariasi sesuai dengan waktu pemunculan internet di daerah kelahiran mereka. Di negara maju seperti Amerika Serikat, Australia, dan mayoritas negara di Eropa, GenNet mengacu pada mereka yang lahir sejak 1982 (karena internet, jaringan yang menghubungkan seluruh dunia, mulai terpasang pada tahun itu). Karena internet mulai digunakan di Indonesia sejak tahun 1990, maka Gen-Net Indonesia adalah mereka yang lahir setelah tahun 1990. Pada umumnya Gen-Net Indonesia masih terbatas pada mereka yang lahir di kota-kota besar, dan jumlahnya meningkat pesat setelah tahun 2000, mengingat jumlah pengguna internet di negara ini meningkat tajam sejak tahun 2000 (lihat grafik berikut).

Hingga akhir tahun 2011, tercatat sebanyak 55 juta (22.4 % jumlah penduduk) pengguna internet. Dari 55 juta pengguna internet tersebut, sekitar 40.8 juta menggunakan facebook. Dari 40.8 juta pengguna facebook di Indonesia (2011) terdiri dari 32% kelompok usia 13-17 tahun; 40%, 18-24 tahun; 19%, 25-34 tahun; dan 9%, > 35 tahun). Karena facebook adalah salah satu fasilitas internet, dapat dikatakan bahwa lebih dari 13 juta (setara dengan 68% dari total sekitar 19 juta) siswa SLTP dan SLTA seluruh Indonesia adalah Gen-Net. Meskipun intensitas penggunaan internet di kalangan Gen-Net cukup variatif, tergantung pada daerah kelahiran masing-masing, yang jelas mereka sangat berbeda dengan generasi sebelumnya dalam penggunaan internet. Gen-Net berusia 8 tahun atau kurang bisa menghabiskan 2 jam sehari menggunakan media dijital (komputer, game video, game-online). Aktivitas ini bahkan bisa menghabiskan waktu yang lebih lama dengan kegiatan bermain di luar rumah atau membaca teks media cetak. Dalam Educating the Net Generation dinyatakan bahwa ketika seorang Gen-Net berusia 21 tahun waktu yang digunakannya untuk membaca media cetak (buku, Koran, majalah) hanya 1/10 dari waktu yang digunakan untuk media online. Menginjak usia 21 tahun, dia telah (1) menghabiskan 10.000 jam bermain game video; (2) mengirim dan menerima 200,000 e-mail; (3) menonton TV selama 20.000 jam; (4) menggunakan pon-sel selama 10.000 jam; dan membaca kurang dari 5.000 jam. Jika usia 21 tahun dikonversi ke dalam jam, diperoleh angka 183.960 jam. Karena telah menghabiskan 50.000 jam menggunakan media dijital, maka seorang Gen-Net menghabiskan sekitar 27% kehidupannya dengan

http://edulightmedia.uki.ac.id


dapat dianulir. Di banyak negara, praktik blended atau hybrid learning (memadukan kelas konvensional dengan kelas maya via internet) dapat berjalan dengan baik dan dengan hasil lebih memuaskan dibandingkan dengan hasil pembelajaran kelas konvensional saja.

teknologi ini. Jika waktu 183.960 jam tersebut dikurangi waktu tidur 61.320 jam (8 jam sehari), maka dia menghabiskan hamper separuh (40.7% dari 122.640 jam) waktu terjaganya dengan teknologi dijital! Jangan heran bila mereka sangat akrab, bahkan tidak terpisahkan dari teknologi dijital. Oleh karena itu, cara berpikir, berkomunikasi, dan belajar Gen-Net terlihat menyatu dengan teknologi dijital. Lihat saja dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit orang-tua yang kesulitan bearadaptasi dengan ponsel atau komputer baru. Tapi para Gen-Net mampu mengoperasikan alat-alat itu dalam waktu yang singkat. Dihubungkan dengan pembelajaran, terdapat banyak keuntungan dari penggunaan teknologi dijital, khususnya internet, dalam pembelajaran. Pertama, pembelajaran bermedia internet akan membuat aktivitas belajar menyenangkan (joyful) bagi siswa Gen-Net karena mereka melakukan sesuatu yang sangat sesuai dengan cara berpikir, berkomunikasi, dan belajar mereka. Oleh sebab itu, pembelajaran bermedia internet sangat mendukung pembelajaran yang berpusat pada siswa (students-centered). Kedua, dengan internet siswa dapat mengakses materi pembelajaran, menyerahkan tugas, atau berdiskusi dengan teman maupun guru setiap waktu dan dari mana saja. Hal ini memungkinkan siswa menyesuaikan kecepatan pembelajaran dengan kemampuan sendiri. Diskusi yang dilakukan melalui facebook atau blog, misalnya, memungkinkan siswa untuk memberi tanggapan tidak pada saat yang sama. Respon yang diberikan setelah melakukan refleksi jelas akan lebih berkualitas dibandingkan dengan respon seketika yang diberikan di kelas konvensional. Selain itu, jika fasilitas skype atau video conference tersedia, siswa juga dapat melakukan seminar dengan guru dan banyak siswa lain yang berada di berbagai tempat, termasuk yang berada di kota atau negara lain. Ketiga, internet menyediakan informasi (dalam bentuk teks, gambar, audio atau video) tentang hampir semua cabang ilmu dalam jumlah yang berlimpah dan sangat mutakhir. Situs www.scribd.com, misalnya, menyediakan jutaan buku teks, majalah, karya fiksi, dan dokumen lain yang dapat diunduh secara gratis. Ribuan jurnal online, youtube, dan ribuan blog pendidikan dengan berbagai informasi terkini juga dapat diakses secara gratis. Dengan mengakses informasi tersebut, siswa dapat belajar langsung dari banyak pakar di bidang yang dipelajarinya. Dengan demikian, dia akan memperkaya dan memperdalam pengetahuannya tentang topik yang dipelajari. Meskipun internet menawarkan banyak keuntungan bagi dunia pendidikan, hanya 7% pengguna internet di Indonesia, yang menggunakannya untuk tujuan akademis, jauh lebih dari kecil dari 40% yang menggunakannya untuk hiburan (Lihat grafik berikut). Data ini sangat menggelitik. Pembelajaran bermedia internet yang secara nyata memberikan berbagai keuntungan itu belum dioptimalkan dalam pembelajaran di sekolah-sekolah di Indonesia. Mengapa? Alasan yang sering diajukan terhadap tidak dilakukannya penggunaan teknologi internet dalam pembelajaran adalah kritik bahwa pembelajaran bermedia online itu kering dan impersonal. Hingga tahap tertentu hal itu ada benarnya. Namun jika pembelajaran bermedia internet digunakan sebagai pelengkap—tidak menggantikan—pembelajaran konvensional, pendapat ini

Sumber: Koran Jakarta, Senin 16 April 2012, hal. 9

Alasan kedua yang sering diajukan (dalam konteks Indonesia) adalah kenyataan bahwa walaupun 90% SMU dan 95% SMK telah memiliki komputer, yang telah terhubungan dengan Internet kurang dari 25% SMU dan 10% SMK. Akan tetapi, bukankah pengaksesan internet dapat dilakukan dari mana saja? Data bahwa 68% siswa SLTP dan SLTA menggunakan facebook mengungkapkan penetrasi penggunaan internet di kalangan siswa jauh lebih besar dari pada sekolah. Pemerataan kesempatan mengakses internet bagi seluruh siswa di Indonesia memang harus tetap diupayakan. Namun, pada saat yang sama, optimalisasi penggunaan internet sebagai media pembelajaran harus dimulai di kalangan siswa yang sudah memiliki akses. Memulai optimalisasi ini setelah tercapainya pemerataan sama sekali tidak bijaksana. Alasan ketiga, yang kemungkinan besar merupakan alasan utama, adalah kurangnya pemberdayaan guru untuk mengelola kelas maya sebagai pendamping kelas konvensional yang diasuhnya. Hal ini bisa diakibatkan oleh berbagai hal, seperti minimnya waktu, kurangnya keterampilan teknis, dan sebagainya. Dengan adanya peningkatan anggaran pendidikan di Indonesia, sebenarnya persoalan pemberdayaan guru mengelola kelas maya dan belum meratanya kesempatan siswa mengakses internet dapat diatasi secara bertahap. Namun, sambil menunggu masalah-masalah itu berhasil diatasi, apa yang dapat dilakukan oleh siswa Gen-Net? Pertama, secara proaktif, para siswa Gen-Net dapat memulai aktivitas mengakses informasi (teks, gambar, audio atau video) yang sesuai dengan materi yang sedang dipelajarinya. Kedua, mereka dapat membentuk kelompok atau komunitas diskusi tentang topik atau mata pelajaran tertentu melalui blog, facebook atau jejaring sosial lainnya. Ketiga, di internet juga tersedia berbagai bimbingan belajar online yang dapat diikuti secara gratis maupun berbayar. Secara langsung dan tidak langsung, aktivitasaktivitas tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, keilmuan, dan keterampilan siswa Gen-Net (yang sesuai dengan kehidupan masa depan) tetapi juga akan mengurangi (dan mungkin saja, menghapus) acara gossip murahan dan pengaksesan situs-situs bermuatan negatif. Dengan demikian, kekecewaan Pak Guru Tigor (dan guru-guru lain seperti beliau) tidak akan terulang lagi. Semoga.

‌ cara berpikir, berkomunikasi, dan belajar Gen-Net terlihat menyatu dengan teknologi dijital. Mei 2012

http://edulightmedia.uki.ac.id


Hendrikus Male (Pelatih) dan Heilinda Esther (Moderator) pada Pelatihan Penulisan Karya Tulis Ilmiah pada hari ke-III)

foto: c7

Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Bahasa Mandarin, dan Pendidikan Agama Kristen.

Beredarnya Surat Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 tentang wajib publikasi ilmiah bagi S1/S2/S3 mengenai ketentuan publikasi untuk program S1/S2/S3 yang merupakan salah satu syarat kelulusan, yang berlaku terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012, Senat Mahasiswa FKIP UKI melaksanakan pelatihan penulisan karya tulis ilmiah untuk mahasiswa FKIP UKI.

Pada hari pertama dilatih oleh Parlindungan Pardede, dengan topik “Format dan Unsur-Unsur Karya Ilmiah”. Beliau memaparkan struktur artikel ilmiah yang lazim digunakan untuk mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian, yang dikenal dengan AIMReDCaR (Abstract, Introduction, Methodology, Result, Conclusion, dan References) dan menguraikan fitur-fitur dan pedoman penulisan bagi masing-masing bagian tersebut. Topik yang kedua pada hari kedua adalah “Pengutipan dan Penulisan Referensi dalam Karya Ilmiah”, dilatih oleh Situjuh Nazara. Beliau melatih mahasiswa bagaimana cara pengutipan dalam teks dan penulisan referensi dengan menggunakan gaya APA. Disamping itu, beliau juga melatih mahasiswa bagaimana menuliskan referensi dengan menggunakan Ms. Word dan memberikan petunjuk bagaimana mencari referensi online.

Selain menyambut surat edaran Dikti itu, pelatihan ini bertujuan untuk melatih dan membina serta meningkatkan kemauan, bakat serta kemahiran mahasiswa/i untuk berkomunikasi melalui tulisan khususnya dalam bentuk karya tulis ilmiah serta mampu menyampaikan idenya secara sistematis.

Pada hari yang ketiga dilatih oleh Hendrikus Male, dengan topik “Delivering the Presentation of Final Paper in A Seminar”. Beliau melatih mahasiswa bagaimana mempersiapkan dan mempresentasikan karya tulis ilmiah pada sebuah acara seminar.

Pelatihan ini dilaksanakan selama 3 hari (02-04 April 2012) di Ruang Seminar Lt.3 UKI Cawang Jakarta Timur, yang diikuti oleh 60 mahasiswa/i. Peserta adalah perwakilan dari 8 program studi (Prodi) yang ada di FKIP UKI, yaitu Prodi Pendidikan Bimbingan Konseling,

Mei 2012 http://edulightmedia.uki.ac.id


Peserta Lokakarya Pembuatan dan Penggunaan Media media pembelajaran yang kreatif dan inovatif bagi Sekolah Minggu sedang membuat alat peraga

Foto: Metha

Peserta sangat antusias mengikuti acara ini. Pastinya hal ini disebabkan karena acara ini sangat menarik. Apalagi diisi oleh pembicara-pembicara yang kompeten dibidangnya. Pembicara pertama adalah Pdt. Janse Belandina dan Pdt. Stepanus M.Th., membawakan tema mengenai “Revolusi & Evolusi Media Pembelajaran”. Topik yang kedua disampaikan oleh Pdt.Yupneli Hulu M.Th, melatih para peserta bagaimana memanfaatkan multimedia seperti video dari youtube dan bagaimana cara pemotongan film yang tepat untuk digunakan sebagai media pembelajaran. Sesi terakhir yang tidak kalah menariknya membahas tentang pembuatan dan penggunaan alat peraga secara kreatif dan murah meriah. Meskipun pelatihnya, Kristin Sihite, adalah mahasiswa Prodi PAK semester VI, dia dapat membawakan sesi dengan efektif dan menarik.

“Acara ini bukan hanya melatih guru-guru sekolah Minggu atau guruguru PAK agar mampu membuat dan menggunakan media saja tetapi juga agar mampu menyampaikan materi dan isi pembelajaran secara kreatif dan inovatif”. Demikian Tertiara, Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Kristen FKIP-UKI, yang sekaligus sebagai pelaksana menandaskan tujuan pelaksanaan lokakarya pembuatan media pembelajaran yang kreatif dan inovatif bagi Sekolah Minggu, pada hari Sabtu, 28 April 2012, di FKIP UKI Jakata Timur.

Pdt. Stepanus M.Th., ketua Prodi PAK FKIP UKI mengatakan “Lokarya ini merupakan program tahunan Prodi PAK, namun karena animo para guru peserta yang sangat besar, kegiatan ini akan dilaksanakan lagi pada bulan September atau Oktober tahun ini. Kegiatan ini dilaksanakan sebagi wujud kasih kepada aset terpenting gereja, yaitu anak-anak Sekolah Minggu, dengan melengkapi guru-guru mereka keterampilan membuat dan menggunakan media yang kreatif dan inovatif.”

Kegiatan ini adalah yang ke-IV kalinya dilaksanakan oleh Prodi PAK UKI yang dilaksanakan setiap tahun. Pelatihan kali ini diikuti oleh 83 peserta, terdiri dari 8 mahasiswa UKI yang memang adalah guru Sekolah Minggu, dan 75 guru-guru Sekolah Minggu dan guru-guru PAK se-Jabodetabek.

Mei 2012 http://edulightmedia.uki.ac.id


Saat ini, pengguna instagram sudah mencapai angka lebih dari 30 juta dalam waktu dua tahun saja semenjak keluarnya pertama kali pada bulan Desember 2010, dengan jumlah kurang lebih 150 juta foto di unggah pada bulan Agustus 2011. Bahkan versi Android terbaru dalam google play mencatat, sebanyak satu juta foto di unduh dalam kurun waktu 12 jam saja satu harinya. Hal ini ternyata menarik perhatian Mark Zukerberg sebagai pemilik dari Facebook untuk membeli Instagram, sehingga pihak Facebook pun membelinya dengan harga yang fantastis, Rp. 9 triliun. Mengapa Facebook berani mengeluarkan uang dalam jumlah demikian besar hanya untuk aplikasi foto ini? Apakah alasannya karena Facebook takut tersaingi oleh gerak dua pesaingnya, yaitu Google dan Twitter? Kedengarannya masuk akal. Google yang memiliki dana yang tak terbatas memang disebutsebut tertarik untuk membeli Instagram. Dengan jumlah lebih dari 100 juta pengguna, Twitter pun tidak kalah tenar oleh Facebook. Nada sinis dari para pengguna twitter yang mengandalkan instagram juga muncul. Mereka khawatir instagram hanya akan menjadi pelengkap aplikasi saja dalam Facebook. Bahkan, seorang editor di Buzzfeed.com, John Herrman, juga sempat mengatakan bahwa 'Facebook mempunyai rencana untuk menghancurkan Instagram sebelum membelinya'. Menurutnya, Instagram adalah salah satu jejaring sosial yang kini prestasinya sedang menanjak, dan Facebook mempunyai kekhawatiran nantinya Instagram dapat menggeser peringkat Facebook sebagai pemimpin dalam dunia jejaring sosial. Facebook menjawab pernyataan-pernyataan ini lewat perkataan Mark Zukerberg yang mengatakan bahwa instagram tidak akan dilebur begitu saja ke dalam facebook. Instagram akan tetap bisa digunakan untuk berbagi foto melalui jejaring sosial lainnya dan tidak eksklusif di Facebook. Kalau demikian adanya, mengapa Facebook harus membeli Instagram? Mengapa Mark dan tim tidak membuat aplikasi baru saja yg dapat menyaingi instagram?

http://gadgetsin.com/uploads/2012/05/socialmatic_instagram_based_digital_camera_1.jpg

Kalau kita membuka Facebook atau Twitter, seringkali kita menemukan tulisan seperti updated via instagram. Kamu pasti langsung tahu kalau orang itu pengguna iphone, ipad, ipod touch versi apapun dengan sistem operasi iOS 3.1.2 atau yang terbaru dan telepon kamera Android apapun dengan sistem operasi 2.2 (Froyo) atau yang terbaru. Aplikasi ini tersebar melalui Apple App Store awalnya dan sekarang penggunaan Android dapat mendownloadnya di Google Play. Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto yang memungkinkan pengguna mengambil foto, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial, termasuk milik Instagram sendiri. Satu fitur yang unik di Instagram adalah memotong foto menjadi bentuk persegi, sehingga terlihat seperti hasil kamera Kodak Instamatic dan Polaroid. Sesuai dengan arti asli dari instagram yaitu 'insta' (instan) dan 'gram' (telegram), Instagram juga dapat menampilkan foto-foto secara instan, seperti polaroid di dalam tampilannya, serta mengirimkan informasi kepada orang lain dengan cepat layaknya telegram. Berdiri pada tahun 2010 perusahaan Burbn Inc. merupakan sebuah teknologi start up yang hanya berfokus kepada pengembangan aplikasi untuk telepon genggam. Pada awalnya Burbn, Inc. sendiri memiliki fokus yang terlalu banyak di dalam HTML5 mobile sehingga kedua CEO, Kevin Systrom dan juga Mike Krieger kewalahan dengan banyaknya fitur-fitur yang belum sempurna tersebut. Akhirnya mereka memutuskan untuk lebih fokus pada satu hal saja, yaitu pada bagian foto, komentar, dan juga kemampuan untuk menyukai sebuah foto. Itulah awal dari munculnya Instagram. Mei 2012

http://edulightmedia.uki.ac.id


Chit Chat

Sebagai salah satu upaya memperoleh pencerahan tentang pembelajaran online, EduLightMedia mewawancarai Bapak Parlin Pardede, dosen Pendidikan Bahasa Inggris yang dikenal sebagai penggagas dan sekaligus pelaku pembelajaran online secara konsisten. Wawancara yang berlangsung secara akrab ini benar-benar memperluas wawasan EduLightMedia tentang pembelajaran online. Apalagi jawaban-jawaban narasumber kita ini diuraikan secara jelas, mendalam, namun tidak rumit. Berikut ini adalah hasil wawancara tersebut. Semoga bermanfaat.

Berdasarkan informasi yang kami peroleh, Bapak dikenal sebagai pionir pembelajaran online di FKIPUKI karena sering menghimbau, mendorong, bahkan terlibat dalam pelatihan untuk bidang ini. Apa tanggapan Bapak? Istilah “pionir”, menurut saya, terlalu berlebihan. Istilah ini mengacu seseorang yang pertama kali melakukan sesuatu yang sebelumnya sama sekali asing. Wright bersaudara, yang mencoba membuat pesawat terbang yang sebelumnya tidak ada, adalah pionir. Demikian juga Columbus. Karena dia merupakan orang Eropa pertama yang menemukan benua Amerika, dia seorang pionir. Dalam konteks pembelajaran online di FKIP UKI, saya lebih menyukai istilah “pendukung” atau “penggiat”.

Parlindungan Pardede

foto: c7

Apa latar belakang yang memotivasi Bapak mempraktikkan pembelajaran online, dan Sejak kapan Bapak melakukannya?

Menurut Bapak, apa sebenarnya pengertian pembelajaran online?

Praktik pembelajaran online yang saya lakukan sebenarnya dipicu oleh pengalaman pribadi. Saya takkan pernah lupa pengalaman saya melakukan penelitian untuk menulis skripsi di Bandung pada tahun 1990. Beberapa referensi yang saya butuhkan untuk penelitian itu dapat saya pinjam dari perpustakaan British Council Bandung. Namun, satu buku yang wajib saya gunakan hanya terdapat di British Council Jakarta dan satu lagi di perpustakaan UGM Yogyakarta. Bayangkan, saya harus melakukan perjalanan ke Jakarta dan Yogyakarta hanya untuk memperoleh kedua buku itu! Remaja sekarang akan mengatakan “Cape, deh…).

Istilah ini memang cukup sering dicampuradukkan dengan berbagai istilah lain, seperti e-learning, digital learning, atau web based learning. Padahal keempat istilah itu memiliki perbedaan konseptual. E- learning merupakan sistem belajar yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan dijital. Digital learning merupakan praktik pembelajaran berbasis teknologi dijital, yang menuntut keberadaan sumber belajar berbasis internet, instalasi perangkat pendukung di kelas maupun perangkat lunak untuk guru dan siswa. Web based learning mengacu pada sistem belajar jarak jauh berbasis teknologi informasi melalui antar halaman web. Sedangkan pembelajaran online (online learning) mempunyai batasan yang lebih sempit. Istilah ini mengacu pada sistem pembelajaran yang menggunakan aplikasi internet seperti e-mail, blog, jejaring social (facebook, twitter), dan situs web tertentu sebagai media. Jadi, pembelajaran online sebenarnya merupakan bagian dari e-learning.

Hal ini sangat berbeda dengan pengalaman ketika melakukan sebuah penelitian di tahun 2008. Saya juga menemukan kesulitan memperoleh referensi terbaru untuk mendukung penelitian itu. Apalagi yang saya butuhkan adalah literatur berbahasa Inggris, yang harganya sangat mahal untuk ukuran dompet saya.

>>> Mei 2012 http://edulightmedia.uki.ac.id


twitter. Melalui jejaring sosial tersebut. saya dapat segera menyebarluaskan informas atau pengumuman tentang aktivitas terbaru dalam blog kepada mahasiswa.

Apalagi literatur itu harus dipesan dari luar negeri. Namun pengalaman berselancar di internet yang sering saya lakukan sejak tahun 2005 untuk memperbaharui materi kuliah yang saya ampu mendorong saya mencari referensi tersebut di internet. Hasilnya, saya menemukan banyak sekali artikel yang relevan di jurnal online. Saking banyaknya, saya seperti mabuk informasi. Yang tak kalah penting adalah artikel-artikel itu dapat diunduh secara gratis!

Apakah prosedur penggunaan “cyber class” itu tidak merepotkan atau menambah beban kerja? Merepotkan? Jawabannya tergantung pada bagaimana kita memandangnya. Pada awal penggunaan blog ini, saya memang memerlukan beberapa hari untuk berlatih. Namun dalam waktu singkat, saya dapat mengoperasikannya dengan mudah. Perihal menambah beban kerja, memang harus diakui. Setelah menggunakan “cyber class” ini saya perlu menyediakan 30 menit hingga 1 jam tiap hari untuk membaca tugas-tugas dan komentar-komentar mahasiswa. Tapi, apalah artinya mengorbankan waktu 1 jam sehari jika hal itu dapat meningkatkan kompetensi dan memperkaya wawasan atau pengalaman mahasiswa?

Pengalaman melakukan kedua penelitian itu menyadarkan saya bahwa seandainya saya sudah dapat mengakses internet pada tahun 1990 seperti saya dapat melakukannya sejak 2005, saya tidak akan kelelahan pergi ke Jakarta dan Yogyakarta hanya untuk dua eksemplar buku. Hal ini mengungkapkan bahwa internet membuat kita dapat memperoleh informasi dengan cepat, mudah, murah dan dapat dilakukan kapan saja dan dari mana saja. Karena informasi merupakan salah satu unsur utama dalam pembelajaran, maka internet sebenarnya merupakan sarana yang luar biasa untuk mengefektifkan pembelajaran. Sejak tahun 2008 itulah saya mencoba menggali potensi internet untuk mengefektifkan pembelajaran di kelas-kelas saya.

Pembelajaran online terbukti efektif bagi mahasiswa. Apakah hal itu juga dapat berjalan baik bagi siswa SLTA, SMP, SD, atau TK?

Bagaimana gambaran pembelajaran online yang Bapak lakukan?

Seperti penjelasan saya sebelumnya, “cyber class” hanyalah media. Media itu dapat kita isi dengan materi pelajaran apa saja. Tapi, dibandingkan dengan media konvensional, seperti buku dan alat-alat peraga di kelas konvensional, pada “cyber class” ini dapat kita tambahkan sarana multi media. Sebagai contoh, untuk topik pelajaran tentang siklus air hujan kita bisa menambahkan links gambar-gambar siklus air (sebagian bahkan menggunakan animasi) yang banyak terdapat di internet. Pemahaman siswa akan terbantu oleh media seperti itu. Anda mau mengajarkan pelafalan bahasa Inggris melalui lagu pada anak-anak TK dalam “cyber class”? Dengan mudah blog Anda dapat dihubungkan dengan berbagai lagu yang relevan di youtube maupun blog edukasi lain. Bahkan, dengan fasilitas skype, guru dan murid bisa melakukan tatap muka (webinar) dari seluruh penjuru dunia. Jadi, pembelajaran online sebenarnya bisa digunakan di semua jenjang pendidikan.

Sangat sederhana. Pembelajaran yang saya terapkan menerapkan system “hybrid learning”. Artinya, pembelajaran online (yang saya namai “cyber class”) dipadukan dengan pembelajaran di kelas konvensional. Kedua kelas ini saling melengkapi dan merupakan satu kesatuan. Bedanya adalah, jika waktu untuk berinteraksi di kelas konvensional sangat terbatas, waktu berinteraksi di “cyber class” tidak terbatas. Aplikasi internet yang saya gunakan adalah blog. Blog ini saya bagi menjadi beberapa bagian yang dapat diibaratkan menjadi “kelas” dan “kantor”. Saya menyediakan satu kelas/kantor untuk satu mata kuliah. Setiap kantor/kelas saya bagi lagi menjadi beberapa space. Ada space [red: kategori] khusus untuk menempatkan silabus, yang lain sebagai tempat menuliskan konsep/materi untuk satu topik. Di space ini kadang-kadang saya siapkan juga alamat-alamat (links) web lain yang bisa dikunjungi mahasiswa untuk memperkaya materi yang sudah saya sediakan dan di bawahnya disediakan tempat bagi mahasiswa berdiskusi, atau sekedar menuliskan pertanyaan atau pendapat. Selain itu, disediakan juga space bagi mahasiswa untuk “menyetor” tugas. Karena kunci masuk ke kelas/kantor itu adalah koneksi internet, semua mahasiswa saya dapat masuk ke kelas itu untuk mengambil (mengunduh) silabus, “menyerahkan tugas” atau berdiskusi kapan saja dan dari mana saja. “Cyber class” ini juga terhubung dengan berbagai aplikasi jejaring sosial, khususnya facebook dan

Sekolah kita di Indonesia terkenal dengan jumlah mata pelajaran yang sangat banyak, baik di tingkat SLTA, SMP, maupun SD. Apakah penerapan pembelajaran online tidak akan menambah beban bagi siswa karena harus belajar bagaimana mengoperasikan alat-alat yang diperlukan? Bagi anak-anak dan remaja sekarang (khususnya yang lahir setelah tahun 1990 di kota-kota besar), mengoperasikan komputer, laptop, iPAD dan mengakses internet bukan hal yang sulit. Sarana seperti itu bahkan sudah menjadi bagian dari

>>>

Mei 2012 http://edulightmedia.uki.ac.id


logis dan mengada-ada. Apa bedanya, misalnya dengan penggunaan OHP dan LCD dalam pembelajaran? Saya yakin, masih banyak sekolah di daerah yang belum memiliki alat-alat seperti ini. Lantas, sekolah yang sudah memilikinya baru boleh menggunakan kalau semua sekolah juga sudah memiliki? Menurut saya, istilah “ketidakadilan” dalam konteks ini tidak relevan. Atau makna konsep itu perlu ditinjau ulang.

kehidupan mereka. Mereka ini bahkan disebut sebagai Net Generation (Net Gen) atau Millennial Generation (ME-Gen), karena sebagian besar waktunya (kecuali sewaktu tidur) dilewati bersama teknologi dijital. Ketika saya masih kanak-kanak, mobil-mobilan saya terbuat dari kayu. Saya belajar main catur dengan catur yang terbuat dari kayu. Saya bermain perangperangan di kebun bersama teman-teman saya dengan senapan atau pistol kayu. Tapi sekarang mobilmobilan yang dimainkan kedua anak saya (dan temanseman sebaya mereka) ada di internet. Mereka juga bermain catur di internet. Mereka bermain perangperangan di darat, di hutan, di laut, di rawa-rawa, dengan peralatan tank, pesawat tempur, dan meriam yang ada di internet. Hal ini membuat cara berpikir, berkomunikasi, dan belajar anak-anak dan remaja sekarang menyatu dengan teknologi dijital. Dengan demikian, sedikitpun mereka tidak akan kesulitan mengoperasikan peralatan yang dibutuhkan dalam pembelajaran online. Bahkan mereka sangat menikmatinya. Tidak ada alasan untuk mengatakan semua itu sebagai beban tambahan bagi siswa.

Kalau begitu, pembelajaran online ini sebaiknya segera diterapkan oleh sekolah dan pelajar yang sudah mampu mengaksesnya? Tepat sekali, karena selain mengefektifkan pembelajaran, pembelajaran online juga secara langsung melatih penggunanya untuk menguasai TIK (Teknologi informasi dan komunikasi). Kita sudah mengetahui bahwa agar mampu bersaing di abad 21, setiap individu tidak cukup hanya menguasai satu bidang tertentu saja. Dia juga harus mahir menggunakan TIK yang menjadi gaya hidup di abad ini. Mulai dari sistem perbankan, cara berbelanja, hingga cara berkomunikasi, semua dipengaruhi oleh TIK.

Tapi, harus diakui, masih banyak para pendidik di Indonesia yang menganggap praktik pembelajaran online justru mengurangi kualitas pencapaian belajar siswa karena perhatian siswa terbagi pada banyak hal lain di internet, seperti games, film, dan sebagainya.

Seorang pakar pembelajaran online pernah menganalogikan TIK dengan arus sungai yang semakin lama semakin besar dan deras. Terdapat tiga opsi yang bisa kita pilih. Pertama, bertahan melawan arus tersebut. Jika ini yang kita pilih, kita tidak akan lama bertahan. Kedua, hanyut bersama arus tersebut. Pilihan ini akan membuat kita lenyap. Ketiga, mengarungi arus tersebut untuk mencapai tujuan kita. Pilhan ketiga ini menuntut keseriusan kita mempelajari pola arus tersebut untuk menentukan di bagian mana seharusnya kita mengapung. Pilihan ini memang menuntut komitmen dan usaha, tapi inilah pilihan terbaik!

Ya…, tidak sedikit orang yang berpendapat demikian. Bahkan ada yang galau pada kemungkinan siswa bukan mengakses “cyber class' tetapi situs-situs porno. Permasalahannya sebenarnya terletak pada pribadi murid, siswa, atau mahasiswa yang bersangkutan. Tanpa kewajiban mengakses “cyber class” sekalipun, kalau pribadi si pelajar memang sudah tidak disiplin dan tidak menghargai dirinya, dia akan berselancar situs-situs negatif tersebut. Internet dapat diibaratkan dengan sebuah pisau. Kalai kita memegang gagangnya dan menekan bagian punggungnya untuk memotong sesuatu, kita berhasil melakukan pekerjaan tersebut. Tapi kalau yang kita pegang dan tekan adalah bagian yang tajam, kita akan celaka!

Apa pesan Bapak bagi siswa atau mahasiswa tentang pembelajaran online?

Sebagian pendidik berpendapat pembelajaran online menciptakan ketidakadilan karena pelajar atau sekolah mampu yang dapat mengaksesnya. Masih banyak siswa di Indonesia yang belum mampu mengakses internet. Pendapat Bapak?

Karena pembelajaran online membuat proses belajar lebih efektif, potensial meningkatkan hasil belajar, menambah wawasan, dan pada saat yang sama melatih penguasaan TIK, pesan saya tidak terbatas hanya pada siswa atau mahasiswa. Pihak sekolah, lembaga pendidikan, dan guru juga perlu mewujudkan pembelajaran online sesegera mungkin. Banyak pilihan aplikasi internet yang dapat digunakan sesuai dengan kondisi sekolah, guru, dan siswa. Jika sekolah atau kampus belum menerapkan pembelajaran online, siswa/mahasiswa juga bisa berinisiatif mengakses konten internet yang sesuai dengan topik pelajaran/mata kuliah yang sedang digeluti. Materi yang diperoleh via internet tersebut dapat dijadikan perbandingan bagi materi dalam buku teks yang diwajibkan guru/dosen. Paling tidak, praktik seperti ini akan meningkatkan pemahaman, mengasah kemahiran membaca dan berpikir kritis, serta memperluas wawasan.

OK. Menurut statistik, rakyat Indonesia yang sudah mengakses internet pada tahun 2011 masih sekitar 16%. Angka ini sangat jauh tertinggal dengan Korea Selatan yang sudah mencapai 89.9%, atau Malaysia, 58.8 %. Menurut informasi, pemerintah Indonesia berupaya keras agar semakin banyak warga kita dapat mengakses internet. Mudah-mudahan jumlah warga Indonesia yang dapat menngunakan internet segera meningkat tajam. Tapi, apakah penerapan pembelajaran online (yang terbukti memberi banyak manfaat) harus menunggu dulu hingga semua warga Indonesia dapat mengakses internet demi prinsip “keadilan” tersebut? Pemikiran seperti ini kan tidak Mei 2012

http://edulightmedia.uki.ac.id


menyampaikan informasi kepada pengakses yaitu ketika mendapatkan masukan dari komen para pengunjungnya. Dia juga sekaligus dapat membagi ilmunya dengan memposting bahan ajarnya sehingga siswanya dapat belajar melalui blog tersebut kapan dan dimana saja. Bahkan guru dapat memberi tugas kepada muridmuridnya dengan cara mengunduh soal-soalnya ke dalam blog. Wow… benar-benar menembus batas ruang dan waktu ya. Selain itu, ia juga bisa mendapatkan materi pembelajaran dari teman-teman sesama blog atau dari media internet lainnya. Bagi murid, media ini dapat dijadikan sebagai ajang pelatihan menulis dengan membuat catatan harian. Dan seperti halnya untuk guru, murid juga dapat mengunggah informasi atau menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru mereka lewat blog tersebut di dalam kotak komen. Tiap murid dapat ditugaskan untuk melihat dan mengkritisi komen temanteman lainnya sehingga pembelajaran yang tadinya ada diruang kelas dan agak membosankan atau waktu terbatas, akan berubah menjadi lebih menyenangkan. Selain itu, kita juga dapat mem-follow pengguna blog lainnya, sehingga pengetahuan dan teman pun semakin banyak. Intinya, pembelajaran akan menjadi lebih hidup kalau kedua pihak sama-sama menggunakan Blog sebagai media pembelajaran. Menarik kan? Edulighters, Blog pada awalnya dimotori oleh blogger.com. Namun sekarang ini penyedia layanan blog gratis sudah banyak, diantaranya seperti: wordpress.com, blogdrive.com, blogsome.com, multiply.com, blog.com, livejournal.com. Cara membuat blog juga sangat gampang. Kali ini, edulightmedia merekomendasikan sebuah modul sederhana dan mudah dimengerti bagaimana nge-Blog di wordpress.com oleh Situjuh Nazara, salah seorang dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI.

“Andriiiii…” “Iya maaa…” “Makan cepet! Seharian kerjaannya klo ga pegang BB, tablet, laptop. Itu-ituuu aja” “(-,-)__” Hayoo, ngerasa galau seperti Andri? Segala fasilitas untuk mengakses internet ada di sekeliling kamu, tapi hanya dimanfaatkan untuk bermain games, chatting, atau sekedar update status. Sebenarnya banyak sekali media internet yang menarik yang bisa digunakan bukan hanya untuk nge-update status, nge-twit, YM-an atau main games, tapi juga sebagai media pembelajaran. Salah satunya adalah dengan cara nge-BLOG. Kita dapat membuat blog sendiri di web blog sebagai media yang interaktif, dinamis dan mampu menambah wawasan dan eksistensimu. Kamu bisa menulis isi hatimu, cerpen, puisi, ide kreatif, dan kegalauanmu di blogmu. Bahkan edulightmedia menyarankan kamu menjadikan blog sebagai buku harian sekolahmu dimana kamu menuliskan catatan pelajaran di sekolah. Hal ini berguna bagi dirimu sendiri dengan menyediakan informasi kepada temantemanmu di sekolahmu sendiri atau anak-anak sekolah lain atau siapa saja yang mengakses blog kamu. Kamu juga bebas berekspresi dengan mengelola lay out dan theme blogmu dengan gaya kamu. Bagi guru, blog bermanfaat untuk meningkatkan kualitas diri dan kompetensi, sekaligus sebagai salah satu cermin untuk evaluasi diri karena melalui blog pribadi, guru dapat mengetahui kualitas kemampuannya dalam

Klik disini untuk menguduhnya. Selamat nge-blog and say no to galau

Mei 2012 http://edulightmedia.uki.ac.id


Berdiri pada tanggal 18 Juni 2006, SMA MARDIWALUYA memiliki visi yaitu mengoptimalkan pencerdasan kehidupan bangsa secara professional dengan iman dan kasih, dalam semangat persaudaraan dan pengungsian bagi sesama. Untuk mensukseskan visi ini, SMA MARDIWALUYA menjalankan misi-misinya, salah satunya yaitu menjadi 'tempat pengungsian'. “Kami sangat terbuka sekali menerima murid-murid yang berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah. Kami ingin pendidikan bukan hanya menjadi 'konsumsi' para keluarga yang mampu, tapi juga murid-murid yang kesulitan dalam perekonomian. Bahkan beberapa murid berasal dari panti asuhan” ujar Bapak Agustinus Mujiya, S.Pd, kepala sekolah SMA MARDIWALUYA. “Oleh karena itu, SMA MARDIWALUYA memberikan keringanan biaya bagi mereka yang kurang mampu. Sistem ini kami namakan subsidi silang” Edulight sangat senang ketika tiba di sekolah ini karena kehangatan sambutan yang dirasakan baik dari guru maupun para siswa. Hal ini terjawab ketika Bapak Agustinus menyebutkan salah satu nilai yang ditekankan di sekolah ini ialah nilai kekeluargaan. “Saya tidak ingin ada gap di antara guru, murid dan karyawan. Oleh karena itu 'Senyum, salam dan sapa sepenuh hati' menjadi acuan bagi seluruh civitas”. Tegas Bapak Agustinus. “Terlebih saya menekankan kepada para guru muda yang berperan penting dalam proses pembelajaran, karena sekali murid sudah mengidolakan guru, pelajaran akan lebih mudah ia tangkap. Saya juga mengharuskan para guru dan karyawan untuk menjadi figur teladan. Karena guru adalah orang terdekat kedua setelah orangtua bagi murid, sehingga mereka akan mengimitasi kelakuan-kelakuan kita”. Tak heran kalau di sekolah, para siswa merasa seperti dirumah sendiri karena my school is my home. Nilai-nilai yang lain yang ditekankan di SMA MARDIWALUYA ialah kedisiplinan, kejujuran dan intelektual. Bapak Agustinus mengharapkan murid-murid dapat membawa karakter-karakter yang kuat ketika mereka lulus dari sekolah ini dan siap untuk mengaplikasikannya di era globalisasi ini. Untuk menegakkan kedisiplinan, SMA MARDIWALUYA memiliki 'super school' yang berisi peraturan-peraturan yang harus di taati oleh tiap murid seperti kerapian berpakaian, ketepatan waktu kehadiran, dll. “tiap murid yang bergabung di MARDIWALUYA diberikan 150 poin di tahun pertama mereka. Poin akan berkurang ketika mereka melanggar tata tertib yang ada, sebaliknya poin akan bertambah ketika mereka berprestasi”, sebut Bapak Agustinus. “Siswa-siswi yang berprestasi pastinya akan kami berikan reward”.

SMA MARDIWALUYA juga sangat menekankan keterampilan non-akademik para siswa. Kelas X diwajibkan untuk mengikuti ekskul pramuka dan memilih ekskul pilihan minimal 1. Kelas XI dan kelas XII juga diwajibkan untuk mengikuti minimal satu ekskul pilihan. Ekskul yang ada yaitu Paskibra, Paduan suara/koor, band, KIR, cheerleaders, pramuka, modern dance, traditional dance dan juga bidang sport seperti basket, voli dan futsal. Banyak lomba yang sudah diikuti dan dimenangkan oleh siswa-siswi ini. Bahkan, di hari Edulight datang untuk mewawancarai, tim Basket putra juga sedang dalam perjalanan menuju Cianjur untuk mengikuti Semi Final. Ada juga yang disebut dengan pembinaan siswa yaitu Studi Lapangan, Rekoleksi, Latihan Kepemimpinan dan Bimbingan konseling yang berfungsi untuk membangun spirit kepemimpinan para siswa. Adapun fasilitas SMA MARDIWALUYA sangatlah memadai, dengan laboratorium science seperti Fisika, Kimia dan Biologi, serta laboratorium bahasa dan komputer. Terdapat juga ruang band dang ruang perpustakaan yang luas dan tenang. Tak lupa juga ruang UKS dengan sarana peralatan yang memadai. Di depan kelas terdapat lapangan bola basket, bola voli dan futsal sebagai penunjang aktivitas berolahraga. Untuk mewadahi bakat-bakat para siswa, tiap tahun SMA MARDIWALUYA mengadakan lomba yang dapat diikuti oleh murid-murid MARDIWALUYA sendiri, juga SMP-SMP di sekitar Cibinong dan Bogor. Hal ini juga terlaksana dalam rangka merayakan HUT MARDIWALUYA. “semua ini kami lakukan guna memperkenalkan diri kami pada masyarakat di wilayah Cibinong dan Bogor, serta mewadahi dan mendorong para siswa untuk menyalurkan bakat-bakat mereka”, ujar Bapak Agustinus. SMA MARDIWALUYA terletak di Jl. Mayor Oking No.15 Cibinong Kab. Bogor. Untuk informasi lebih lanjut mengenai sekolah ini, silahkan menghubungi di no tlp/fax. (021)87907973. Edulighters juga dapat mengakses websitenya di www.mardiwaluya.sch.id atau email ke smawacib@yahoo.com

Kepala Sekolah SMA MARDIWALUYA. Bapak Agustinus Mujiya, S.Pd.

Suasana belajar di Lab Bahasa

Suasana belajar di kelas

Gita (edulight) bersama Bpk. Agustinus Mujiya, S.Pd.


Pernah gak kalian memformat flashdisk? Pada dialog box format removable disk terdapat beberapa tipe file sistem yang digunakan, yaitu NTFS, FAT32 atau FAT. Nah, pada saat memformatlah kita mengubah filesystem flashdisk kalian untuk mempercepat kinerjanya. Berikut langkah-langkah memformat + Mengubah Filesystem flashdisk:

1

Klik Kanan Pada Removable Disk

2

Pilih Menu “Format”.

33

Ubah Seting awal FileSystem Flashdisk kalian menjadi NTFS

4

Klik “Start” dan jika ada konfrimasi klik “oke” kembali. Dan tunggu hingga format selesai. Maka Flashadiks siap untuk digunakan

3

Hi.. edulighter, Jika pernah merasa kesal dan boring ketika menunggu pengcopyan data ke flashdisk. Kali ini saya berbagi tips untuk meningkatkan peforma flashdisk kalian.

1 2 4

Sebenarnya cukup mudah cara untuk mempercepat kinerja flashdisk kalian, hanya cukup dengan mengubah type file system yang digunakan. Standardnya, sebuah flashdisk memiliki typefile system yaitu FAT32. Maka untuk mempercepat kinerjanya, kita akan mengubah typefile flashdisknya menjadi NTFS.

4

Mengapa NTFS ? NTFS merupakan format file system Windows terbaru setelah FAT32, dan mempunyai beberapa kelebihan seperti kemampuan menyimpan tambahan informasi mengenai file/folder (metadata), fitur keamanan, kompresi data, struktur yang lebih baik dan lainnya.

Catatan Trik Ini hanya bisa berlangsung pada Flashdisk 2.0 dan Tidak terlalu berpengaruh pada Flashdisk 1.0. Ketika Format berlangsung, maka Semua data yang berada pada Flashdisk akan terhapus.

Selain itu, tipe NTFS bisa digunakan untuk mem-format ukuran yang lebih besar, Untuk FAT hanya 2 GB, FAT32 8 TB (8.000 GB), sedangkan NTFS bisa sampai 16 EB ( 16 juta TB ). Meskipun demikian, tetap saja NTFS ada kekurangannya, seperti tidak terbaca di Win9x dan proses baca tulis ke disk yang lebih sering.

Yg paling penting trik ini mempengaruhi umur flashadiks karena trik ini akan memfokuskan peformanya pada daya baca pada file yg di copy. Rata-rata flashdisk memiliki umur. 100.000 Baca/Tulis (http://ebsoft.web.id) sehingga semakin sering trik ini dipergunakan untuk membuka/mensave, maka semakin pendek umur flashdisk.

(Sumber: http://ebsoft.web.id)

Mei 2012 http://edulightmedia.uki.ac.id


In My First Sight oleh Putri Warinagia Peranginangin *

* Mahasiswa semester II Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI Jakarta

Mei 2012 http://edulightmedia.uki.ac.id


Mei 2012 http://edulightmedia.uki.ac.id


*Mahasiswi Semester IV Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI **Mahasiswa Semester VI Prodi Pendidikan Biologi FKIP UKI


Cobalah kerjakan soal matematika di bawah ini dan pilihlah jawaban yang benar. 1.

2.

Diketahui premis- premis seperti dibawah ini : I : Jika ada kerusakan mesin maka mobil tidak dapat bergerak II : mobil dapat bergerak Kesimpulan yang sah dari kedua premis diatas adalah ... a. Ada kerusakan mobil b. Ada kerusakan pada mobil c. Tidak ada kerusakan mesin pada mobil d. Tidak ada kerusakan roda e. Masih banyak bahan bakar Jika

6.

Misalkan a. -1 b. 1 c. 0 d. -2 e. 2

7.

Jika a. b. c.

maka 10 13 15

d. e.

adalah ...

17 19

8.

Tentukan batas nilai , agar definit negatif. a. 1/3 d. 4/3 b. 2/3 e. 5/3 c. 3/3

9.

Tentukan hasil dari

maka nilai n yang memenuhi

adalah .. a. 4 b. 5 c. 6 d. 7 e. 8

...

...

a. b. c. d.

3.

Bentuk sederhana dari a.

adalah ...

e. 10. Diketahui titik A(4, -3, 7) dan B ( 1, 3, 1). Titik T membagi ruas garis AB sehingga AT : TB = 2:1. Tentukanlah koordinat titik T. a. ( 2,3,5) b. (1, 2, 3) c. (2, 1, 3) d. (3, 2, 5) e. (5, 3, 2)

b. c. d. e. 4. a. b. c. d. e. 5.

( 2x + y ) (x+y) ½ ( 2x + y ) ½(x+y) ½ ( 2x – y )

Tentukanlah nilai dari

Mau mendapatkan hadiah menarik dari edulightmedia? Silahkan kirimkan jawaban try out matematika dan bahasa Inggris edisi Mei ini kepada Edulight via email edulightmedia@hotmail.com dengan

a. b. c. d. e.

0

mengikutsertakan: Nama, NIS, Telp/HP, email, nama sekolah, alamat sekolah, dan

-1

tentunya pilihan jawaban. Paling lambat 10 Juni 2012


C. D.

Choose the correct Answer of English Test below. The Answer Key and Discussion is available in Edulightmedia June Edition. 1.

2.

3.

E.

New products …… in the electronic exhibition in Jakarta Expo Centre a week ago. A. display D. were displayed B. displayed E. have displayed C. was displaying

Reading [questions for #6-7) Tom! I am going to Anula supermarket to get some sugar. Would you like to turn the stove on when you are home? I have put some soup there. Just heat it for about 5 minutes and then take it out from stove before you have dinner.

Had the mall given more discounts to the new product, people would have bought it. From the above sentence, we may conclude that … A. People are still buying it. B. The mall gave discount to the new product. C. The mall didn’t give discount at all. D. People think the price of the product is good. E. People didn’t buy the new product.

6.

My uncle doesn’t earn much, … he can send his children to college. A. however C. therefore E. so B. and D. hence

What is the message about? A. Telling Tom to eat the soup B. Asking Tom to buy some sugar C. Asking Tom to go to supermarket D. Telling Tom to heat the soup E. Telling Tom to wait for about 5 minutes

7.

I’ve put the soup there. The word there refers to …. A. home B. kitchen C. the stove D. the supermarket E. Anula supermarket

8.

The badminton match … before I arrived at the sport hall. A. Begins B. Has begun C. Had begun D. Would begun E. Is begun

9.

They had their lawyer … their will. A. To change B. Changing C. Changed D. Changes E. Change

Reading [questions for #4-5) The polar bear is a very big white bear. We call it the polar bear because it lives inside the Arctic Circle near the North Pole. There are no polar bears at the South Pole. The polar bears live at the North Pole. There is only snow, ice, and water. There is not any land. These bears are three meters long, and weight 450 kilos. They can stand up on their back legs because they have very wide feed. They can use their front legs like arms. The Polar bears can swim very well. They can swim 120 kilometers out into the water. They catch fish and sea animals for food. They go into the sea when they are afraid. People like to kill the polar bears for their beautiful white coats. The governments of Canada, the United States and Russia say that no one can kill polar bears now. They do not want all of these beautiful animals to die. 4.

5.

A polar bear catches fish for food A polar bear goes into the sea when it is angry A polar bear can swim 120 km out into the water

What does the passage mainly discuss? A. The size of polar bears B. Where polar bears live C. The habitat of polar bears D. Why people hunt polar bears E. A brief description of polar bears. Which of the following statements is NOT TRUE about a polar bear? A. A polar bear weigh 450 kilos B. A polar bear is three meters long

10. X : Y: A. B. C. D. E.

‘’What do you think about the film we saw last night?’’ ‘’That’s great. I enjoyed … it. See Seeing To see Saw To have seen


1.

Kunci: E Pembahasan: Paragraf 2 baris 2 jelas menyatakan bahwa para ahli bekerja untuk menghasilkan perekat melalui hewan laut ini.

13. Kunci: B Pembahasan: Kata penghubung yang sesuai untuk kalimat ini adalah “meskipun” (although).

2.

Kunci: E Pembahasan: Pada paragraf 1 jelas dipaparkan bahwa kapal dapat dirusak oleh hewan ini

14. Kunci: B Pembahasan: Istilah untuk “tak terjangkau” adalah “isolated”.

3.

Kunci: E Pembahasan: Pada baris 14 dan 15 dinyatakan bahwa hewan ini mulai memproduksi semen cair pada tahap larva akhir, yang ditandai dengan kemampuannya berenang secara bebas.

4.

Kunci: E Pembahasan: Kuatnya daya rekat hewan ini dibuktikan dengan fakta bahwa gelombang laut yang kuat sekalipun tidak mampu melepaskan hewan ini dari tempatnya.

5.

Kunci: E Pembahasan: Ide pokok teks ini adalah kemampuan hewan ini menghasilkan perekat.

6.

Kunci: B Pembahasan: Ide pokok ini adalah perubahan gaya hidup penduduk Kalifornia akibat krisis air.

7.

Kunci: C Pembahasan: Pengaruh positif kekurangan air di Kalifornia adalah adanya pola pikir penduduknya mengenai pentingnya pelestarian air.

8.

Kunci: C Pembahasan: Ide pokok teks ini jelas diungkapkan, yakni dampak penggunaan obat aspirin pada anak.

9.

Kunci: D Pembahasan: Pada baris 3 – 5 dipaparkan bahwa aspirin dilarang dikonsumsi oleh anak di bawah umur 15 tahun.

10. Kunci: D Pembahasan: Kalimat ini menyatakan waktu, yang dapat diungkapkan dengan “of which” 11. Kunci: E Pembahasan: Pendudukan Jepang = Japanese invasion 12. Kunci: C Pembahasan: Posisi kata yang ditanyakan berada sebelum kata benda (development). Kelas kata yang berada sebelum kata benda adalah kata sifat, yang dalam hal ini adalah “technological”. Sufiks lain untuk kata sifat adalah: -ive, -y, -ic, -ful, -less, dan -ent.

Download Soal

15. Kunci: E Pembahasan: Kalimat ini membutuhkan penjelas (adjective), yang dapat direalisasikan dalam bentuk klausa (adjective clause) maupun frasa (adjective phrase). Pengubahan adjective clause ke dalam adjective phrase dinyatakan sebagai berikut: Adjective Clause

Adjective Phrase

Active:

N + Relative Pronoun + Predicate ------> N + V-ing N + Relative Pronoun + S + Predicate -> N + S + Predicate Passive: N + Relative Pronoun + be + V-3 --------> N + V-3

16. Kunci: E Pembahasan: Relative Pronoun dapat digunakan bersama dengan kata depan (preposition) tertentu. Penggunaan kata depan ini tergantung pada tipe predikat, apakah diikuti oleh kata depan atau tidak. Pola relative pronoun yang bergabung dengan kata depan harus mengikuti kaidah sebagai berikut: N + Preposition + Relative Pronoun + S + Predicate N + Relative Pronoun + S + Predicate + Preposition N + S + Predicate + Preposition 17. Kunci: E Pembahasan: Kalimat dalam soal ini berkaitan dengan klausa nomina (noun clause). Hal ini dapat diidentifikasi berdasarkan struktur sintaktisnya, yakni obyek. Untuk mengungkapkan klausa nomina, pola yang harus diikuti adalah sebagai berikut: Wh-/how/that + S + Predicate + Predicate S + Predicate/preposition + wh-/how/that + S + Predicate 18. Kunci: A Pembahasan: Frasa nomina (noun phrase) dapat menempati posisi subyek atau obyek dalam suatu kalimat. Frasa nomina dapat diidentifikasi melalui bentuk-bentuknya, yakni: sufiks (-ance/ -ence, -ion, -ness, -ity, -ment, -er/-or, -ing, dll); to-v1; noun of noun; (possessive) adjective + noun; such (a/an) + adjective + noun). 19. Kunci: C Pembahasan: Pola nomina frasa untuk memenuhi struktur kalimat ini adalah: such + (a/an) + adjective + noun. 20. Kunci: B Pembahasan: Kalimat ini mengandung penjelas terhadap nomina ‘ground water’. Ditinjau dari hubungan subyek dan predikatnya, predikat yang sesuai harus berbentuk pasif. Untuk mengungkapkan pasif sekaligus berfungsi sebagai penjelas dapat menggunakan pola Relative Pronoun + be + V-3; atau V-3.



Edulightmedia Mei 2012