Issuu on Google+

 

 


Ka ata a

 

Puji Syu ukur kita panjatkan p k kepada Dzzat Yang Maha M Memiliki Ilmu, Allah Swt. yang han nya denga an Rahma at dan Karunia-Nya a, tugas in ni bisa pe enulis   aikan. Sha alawat serrta salam semoga s se enantiasa tercurah t k kepada Ba aginda selesa Muha ammad Sa aw. Yang jika tanpa ridho-Nya a serta keiikhlasan b beliau, mun ngkin kita tidak t bisa merasakan n kenikma atan Islam hari ini. Tugas ini i diajuk kan untuk k memen nuhi salah h satu ttugas ma akalah pengg ganti Stud dy Tour yang y karen na satu da an lain ha al, saya tidak meng gikuti romb bongan bes sar Study Tour T 2008 8 SMAN 5 Bandung. B Tempat yang saya a pilih seb bagai pen ngganti Jog gja adalah h Laborato orium Penerropongan Bosscha, di daerah h Bandun ng Utara. Tidak ad da alasan yang spesiifik menga apa Saya memilih m Bosscha ke ecuali Saya a memang g belum pe ernah ke sa ana. Selain n itu, pen ndapat tem man-teman n saya yan ng cukup membuat saya penas saran. ebuah peru ubahan ke e arah keb baikan, sa aran dan kritik pem mbaca Demi se sanga at saya tunggu seba agai introsp peksi. Sem moga maka alah ini me emberi ma anfaat bagi pembaca. p

Ba andung, 18 Januari 2009

mmad F. Amhar A Muham


Bermula dari ajakan teman saya untuk pergi ke Bosscha bersama-sama, lalu ide untuk mencari tempat yang cukup menarik sebagai isi makalah ini,. Akhirnya Saya segera mencari tahu tentang bagaimana caranya ke Bosscha. Walaupun sebelumnya saya telah ditawari teman saya untuk memilih Museum Sri Baduga. Karena museum merupakan tempat yang tidak begitu menarik bagi saya, tanpa pikir panjang lagi, Sabtu tanggal 10 Januari, Saya langsung menelepon pihak pendaftaran kunjungan Laboratorium Bosscha. Sayangnya, karena pemberitahuan yang mendadak (ini sesuai dengan syarat pendaftaran kunjungan yang tertera pada website Bosscha: http://bosscha.itb.ac.id/, yang melarang dilakukannya pendaftaran secara tiba-tiba), sayapun harus menunggu hingga hari selasa. Hal yang lebih mengecewakan saya adalah bahwa kunjungan dilakukan pada SIANG HARI. Dari cerita teman-teman saya tentang indahnya langit bila dilihat melalui teleskop di Bosscha dan hal menarik lainnya, kali ini, Saya hanya bisa menikmatinya ketika siang hari. Namun apa boleh buat, Saya harus tetap mengunjungi Bosscha.

Tepat pada hari selasa, 13 Januari 2008, saya berkunjung ke Bosscha. Dalam perjalanan ke tempat ini, saya mengalami banyak halangan dan rintangan. Sangat jauh dari perkiraan Saya setelah melihat peta jalan dari rumah saya hingga Bosscha melalui GoogleEarth. Di GoogleEarth, saya harus menelusuri Jl. Sersan Bajuri, melewati suatu tempat bernama “Elephant Squad”, lalu ke Cihideung. Setelah itu, saya bisa menanyakan kepada warga Cihideung untuk tahu lebih jelasnya ke Bosscha. Tepat di jalan Sersan Bajuri kilometer 2, saya mendapat panggilan telefon genggam yang ternyata panggilan tersebut berasal dari Ayah saya yang memberitahukan bahwa jalan menuju ke Bosscha bukan melalui rute Cihideung. Padahal saya sudah yakin-se-yakinyakinnya, bahwa jalan menuju Bosscha melalui Cihideung. Terpaksa saya memutar balik perjalanan saya dan kembali ke daerah terminal Ledeng, dan melaju lurus ke Lembang, sesuai perintah Ayah saya. Ternyata, jalan yang harus saya tempuh adalah jalan yang saya kenal. Setelah cukup pusing berbelok-belok melewati jalan raya Lembang, saya sampai di perbatasan kota Lembang. Setelah bertanya kepada warga sekitar tempat itu, Saya harus memutar balik lagi kira-kira 300 meter ke belakang, karena saya sudah melewati Bosscha itu. Gara-gara sifat saya yang tidak bisa mengenal suatu jalan atau tempat, total pertanyaan yang saya tanyakan kepada orangorang yang kebetulan sedang menjaga toko bahkan sedang menunggu seseorang adalah 4 kali pertanyaan yang sama yaitu, “A, punten, upami jalan bade ka Bosscha, ka palih mana nya?” (bhs. Sunda: Kak, maaf, kalau jalan menuju ke Bosscha, ke sebelah mana yah?). Akhirnya saya sampai di depan pintu masuk Bosscha, sambil bergumam dalam hati :”Ooh, ini bosscha teh..”. Belum selesai juga dari halangan dan rintangan menuju tepat ke laboratoriumnya, saya mengambil jalan yang salah karena ceroboh. Saat itu pula total pertanyaan saya tentang cara menuju ke Bosscha adalah lima, karena saya berpapasan dengan warga sekitar yang cukup sabar melayani pertanyaan saya, di jalan menuju jalan yang bukan menuju


 

Bosscha itu.

 

Sampailah saya pada tempat di mana laboratorium yang orang-orang ceritakan pada saya itu berada. Cukup menarik, saya langsung mengeluarkan kamera saku saya dan mengambil gambar Bosscha. Terpaksa saya menunggu kira-kira setengah jam karena rombongan yang sedang ditunggu belum datang. Saat itu adalah jam 15.00 lebih beberapa menit. Padahal saya sudah berusaha kebut-kebutan dari rumah, untuk mencapai Bosscha tepat pada waktunya, yaitu sesi III, pada jam 15.00. Saya memaklumi hal tersebut sebagai introspeksi saya sendiri terhadap kebiasaan saya akan keterlambatan, atau biasa kita sebut ngaret. Lalu, inilah gambar hasil penelusuran kecil saya di kompleks Peneropongan Bosscha.


Tugu T u Bos sscha a

Pen ngunju ung lainnya: SMAN N 4 Cip putat


Perlu kita ketahui, bahwa lokasi peneropongan bintang yang resmi adalah Bosscha ini. Hebatnya lagi, Bosscha merupakan lokasi peneropongan bintang satu-satunya di asia tenggara, dan satu-satunya di dunia belahan bumi selatan. Kawasan ini mulai dibangun pada tanggal 1 Januari 1923. Sedangkan laboratoriumnya dibangun memakan waktu lima tahun sejak 1923. Tokohtokoh yang terlibat baik sebagai penyedia tanah, pendana, hingga “tim kreatif”nya adalah Dr. J. Voute, Johan Mauritz Mohr, Carl Zeiss Jena dan K. A. R. Bosscha. K. A. R. Bosscha dipilih sebagai nama laboratorium karena andilnya yang besar dalam hal pendanaan. Dokumentasi hasil penelitiannya, dulu dikabarkan melalui surat kabar, yakni Verhandelingen der Hall dan Philosophical Transaction, pada 1765. Dr. J. Voute adalah salah satu pegawai di dinas Magnetik & Meteorologi Batavia (sekarang Jakarta) yang juga pernah bekerja di Observatorium Capetown, Afrika. Beliaulah yang memilih kawasan seluas 7 ha ini, karena relief tanah yang stabil dan tempat paling ideal. Hingga sekarang, kita masih bertukarmenukar informasi setiap 2 tahun sekali dengan Belanda, tentang hasil penelitian masing-masing. Di kawasan ini, teleskopteleskopnya digunakan untuk banyak jenis penelitian, seperti Survey Lengan Bima Sakti, Bintang Ganda, Fotometri Bintang Variable, Katakris Variable Katalisme, Survey daerah pembuat bintang, hingga peneropongan planet Mars dan Komet Haley. Beberapa teleskopnya juga dilengkapi dengan detektor, yang berguna sebagai alat khusus untuk mencari “alamat” benda


di langit. Berikut adalah sedikit s ormasi ten ntang teles skop yang ada di info kaw wasan pen neropongan n bintang.

‐ ‐ ‐ ‐ ‐

‐ ‐ ‐ ‐ ‐ ‐

Zeiss (teleskop p yang boleh dikunjjungi, aliias yang saya dapatk kan dokum mentasiny ya,<<) Zeiss memiliki sebuah kunci yang berguna b se ebagai pen ngunci telesko op jika sud dah dipaka ai Teropo ong pencarri 40 cm Diame eter Lensa objektif=60 cm Titik api a 10,7 m Refrak ktor Diguna akan untu uk menerropong Planet, Bintang, bintang ganda, g b gerak bintang, Film nya n dari ka aca bias Hasil pengam matanyya ung lewat c computer langsu Beratn nya 17 ton Panjan ngnya 11 m meter 3 buah h teropong g pencari Kalau kita suda ah tahu “allamat” s b benda di langit dari sebuah (melalu ui sudut-s sudut), ad da alat yang bisa menggerrakkan telesko op berge erak men ngikuti pergerakan b benda langit tersebu ut secara o otomatis Hasil penero opongan bisa ung dillihat melalui m langsu PC, sambu ungan dengan kompu uter.

‐ ‐ ‐

ma Sakti S. Bim Mempu unyai Re eflektor, Lensa korekttor, Pris sma pe embias Wedge e Sensitom meter Baru ada a ketika tahun 196 60 Diame eter tabung g teleskop 71 cm Titik api a 160 cm m

‐ ‐ ‐

Casseg gtain Goto o Refrak ktor Diame eter tabung g teleskop 45 cm Titik a api 540 cm m


pemantul 900 garis/mm, Kamera elektronik CCD dan Fotometer fotoelektrik tipe Cacah Foton.

Mayoritas, pengunjung laboratorium ini adalah pelajar, masyarakat umumnya tidak terlalu tertarik. Mungkin masyarakat memahami peneropongan ini sematamata dilakukan untuk penelitian, alias hanya untuk kaum terpelajar. Padahal, setelah kita bisa melihat benda di luar angkasa, kita bisa menambah kadar keimanan kita, setelah mengintrospeksi diri kita sendiri bahwa betapa kecilnya kita dibandingkan benda-benda di langit. Alasan mengapa Saya hanya bsa mengunjungi Bosscha pada siang hari adalah waktu dan posisi bumi. April hingga Agustus, benda-benda di langit baru bisa terlihat. Selain itu, kadang-kadang karena gelap, atau bahkan terlalu terang karena bulan purnama. Selama ini mungkin kita tidak sadar akan hal ini. SK. Gubernur Jawa Barat 181.1/SK. 1624/Bappeda/82, digunakan sebagai rujukan tentang “Polusi Cahaya”. Polusi cahaya (yang saya sendiri, baru mengerti akan hal ini) merupakan “ulah” penduduk kota Bandung yang menggunakan listrik melalui penerangan (baik di jalanan maupun di rumah, apalagi di gedung-gedung) secara berlebihan. Padahal semua orang juga sudah mengerti bahwa suatu hari, listrik akan habis. Perspektif laboratorium, hal ini adalah hal yang menghambat peneropongan, karena cahaya yang menerangi atmosfer berlebihan, hingga terlihat  


 

 

sangat terang, bahkan serab (bhs sunda: silau) jika kita lihat dengan mata telanjang sekalipun. Sayangnya, banyak orang tidak sadar, akan pemborosan ini. Hal yang dapat menghambat peneropongan lainnya adalah Iklim mikro yaitu dampak daya pisah objek langit tidak dapat diperoleh, Polusi atmosfer yaitu dampak sukar memantau fluktuasi (variabelitas) cahaya objek langit dan Getaran sebagai dampak perubahan orientasi sumbu teleskop untuk ikutin gerak objek langit tidak berjalan dengan baik, sehingga kualitas hasil foto, buruk.


Dan beriku ut adalah hal h yang pa aling menyenangkan bagi saya s sebagai ora ang yang cu ukup laparr, waktu itu u. Pegalnya a kaki karena menden ngarkan pe enjelasan yang cukup panjang ke etika sesi di d dalam lab boratorium m, terbayark kan lunas oleh nikma atnya elinci. Jika Anda juga ingin mera asakan leza atnya sate kelinci, ma ampirlah ke k sate ke warung g sate kelin nci yang terrsedia di se epanjang ja alan raya Lembang. L

                   


Bosscha trip (180109)