Page 1

Page |0

Guruku Punya Cerita 2

oleh Yaz Muttaqin


Fi Silmi Kafah oleh Yaz Muttaqin pada 24 September 2012 pukul 13:01 · Berislam secara kaffah itu maknanya kita dituntut untuk selalu berpegang pada prinsip-prinsip Islam dalam segala hal; i’tiqad, ibadah, muamalat, munakahat, siyasah dan sebagainya. Ketika aku menunaikan ibadah haji bersama istri aku harus berjalan jauh untuk menuju Maktab dari Masjidil Haram. Semetinya aku sudah sangat haus dan butuh untuk segera minum meski satu dua teguk. Istriku menyarankan untuk membeli minuman di counter-counter yang banyak berada di sepanjang jalan. Counter itu menjual minuman dengan hanya memasukkan jumlah uang ke dalamnya, lalu secara otomatis akan keluar minuman yang dikehendaki; tanpa penjual tanpa transaksi. Aku menolak saran istriku. Karena bagiku model jual beli seperti itu tidak pas dengan apa yang diajarkan oleh agamaku. Mesti ada penjual dalam akad jual beli jual, mesti ada ijab kabul dalam tiap transaksi. Maka biarlah

Page |1


aku menahan haus hingga sampai di Maktab nanti, atau aku akan membeli di toko minuman yang melakukan transaksi sesuai ajaran agama yang kupelajari. Belum aku sampai di Maktab di tengah jalan seorang anak kecil menghampiriku. Kepadaku ia memberikan dua buah semangka besar yang sudah dipotong-potong siap untuk dimakan. Alhamdulillah, dengan semangka itu aku dan istriku terbebas dari kehausan dan kelaparan. Saat aku sampai di rumah di Brebes satu keunikan terjadi. Kamar tidur yang aku tinggal berhaji selama 40 hari dalam keadaan terkunci dan kuncinya aku bawa ke tanah suci, saat aku membukanya di dalamnya tergeletak 2 buah semangka besar yang sama persis dengan buah semangka yang aku terima dari seorang anak kecil di jalanan Kota Makkah. (KH. Subhan Makmun, Brebes)

Page |2


Menerima oleh Yaz Muttaqin pada 26 Agustus 2012 pukul 8:40 · “Nak, aku doakan semoga kelak istrimu adalah orang yang seperti ibumu,” begitu kata Bapakku satu ketika. “Memangnya mengapa, Pak?” tanyaku. “Ibumu itu punya satu keistimewaan yang saat ini jarang dimiliki oleh kaum perempuan. Ibumu itu keturunan orang kaya, sangat kaya malah. Bayangkan saja, orang tuanya memiliki ratusan hektar sawah. Sedangkan aku, bapakmu, menikahi ibumu tanpa membawa harta apapun karena memang aku orang miskin. Tetapi selama berumah tangga dengan bapakmu ini ibumu tak pernah meminta uang nafkah. Ia menerima saja berapapun yang aku berikan kepadanya. Bahkan ketika sedang paceklik ibumu rela makan makanan yang layaknya dimakan oleh orang-orang miskin.” Aku terus mendengarkan petuah bapakku. “Seorang istri yang demikian ini, yang menerima dengan ikhlas seberapapun nafkah dari suaminya, yang menjadi sebuah rumah tangga penuh keberkahan dan

Page |3


melahirkan keturunan yang diberkahi. Semoga kelak istrimu adalah perempuan yang seperti ibumu, Nak.� (KH. Subhan Makmun, Brebes. Diceritakan pada penulis pada tanggal 7 Syawal 1433 H)

Page |4


Tombak Trisula Gus Dur oleh Yaz Muttaqin pada 19 Juli 2012 pukul 8:53 ·

Page “Mas Rozaq, saya ingin mengakhiri safari saya dengan | 5 Pak Beny di Pesantren Al-Muayyad. Bagaimana?” Begitu kata dan tanya Gus Dur kepada saya di tahun 1987-an.

Masa itu mantan Ketua Tanfidhiyah PBNU itu memang sedang gencar melakukan safari keliling ke beberapa tempat dan pesantren di beberapa daerah. Itu beliau lakukan bersama LB Moerdani, seorang jenderal di masa itu yang biasa disapa Pak Beny. Perjalanan itu beliau lakukan bukan tanpa sebab dan alasan serta tujuan yang hendak dicapai. Saat itu Presiden Soeharto yang masa bhaktinya hampir habis akan mencalonkan diri kembali sebagai presiden di republik ini. Kali ini ia ingin menggandeng Pak Beny— yang nota bene beragama nasrani—sebagai wakilnya. Melihat kenyataan ini masyarakat Indonesia, umat Islam khususnya, bereaksi. Mereka menolak rencana Pak Harto yang akan menjadikan Pak Beny sebagai wakil presiden. Suhu politik meningkat. Gus Dur melihat hal ini bila dibiarkan dan tidak diambil langkah yang tepat akan membawa dampak yang serius bagi kelangsungan


kehidupan bangsa besar ini. Maka beliaupun cepat bertindak dengan caranya sendiri. Secara terang-terangan Gus Dur mempublikasikan Page bahwa ia mendukung dan mencalonkan LB Moerdani sebagai presiden menggantikan Soeharto. Sikap ini jelas | 6 mengundang reaksi panas. Umat Islam secara umum, termasuk warga Nahdliyin yang selama ini sendika dhawuh kepada Gus Dur, menolak mentah-mentah sikap Gus Dur. Mereka mencaci beliau sebagai orang yang berkhianat kepada umat Islam karena mencalonkan seorang nasrani sebagai presiden. Pun dengan Presiden Soeharto. Dukungan Gus Dur sebagai seorang tokoh dengan massa puluhan juta jiwa terhadap LB Moerdani jelas-jelas menohok Pak Harto. Pak Beny yang sedianya akan digandeng sebagai wakil kini justru diposisikan—dan mau—sebagai calon presiden sebagai pesaingnya. Jelas ini membuat Pak Harto marah besar dan pada akhirnya nanti tak jadi menggandeng Moerdani sebagai wakilnya. Namun bukan Gus Dur namanya bila reaksi panas itu menyurutkan langkahnya. Sengaja ia membawa Pak Beny bertemu dengan warga Nahdliyin di banyak tempat di seantero Indonesia. Ini menjadikan Pak Harto makin tak suka dan umat Islam makin membenci Gus Dur.


Akhir dari perjalan itu adalah di Pondok Pesantren AlMuayyad, Solo. Ketika Gus Dur meminta ijin pada saya untuk menggelar acara di sini saya menyetujui. Maka di gelarlah acara itu. Ratusan ulama se-Jawa Tengah hadir. Juga Rais Am PBNU saat itu yang dipegang oleh KH. Page |7 Ahmad Sidiq, Jember. Saat LB Moerdani akan memberikan sambutannya di atas panggung ia dikalungi sorban, kalau tidak salah oleh Kyai Sidiq. Lalu saat beliau menuju panggung Kyai Sidiq berbisik pada Gus Dur, “Kerbau kalau sudah dicucuk hidungnya pasti nurut.” Gus Dur terkekeh mendengarnya. Saat acara seremonial usai dan semuanya menikmati makan siang kami berempat duduk memisah; saya, Gus Dur, Kyai Sidiq, dan Pak Beny. Di tengah-tengah makan siang itulah semuanya diakhiri. Kyai Sidiq secara jelas dan tegas berkata kepada Pak Beny, “Pak Beny, Anda tahu tidak, dalam beberapa bulan terakhir ini Gus Dur dibenci dan dicaci oleh hampir semua umat Islam di Indonesia yang selama ini menghormatinya. Anda tahu apa sebabnya?” “Saya tidak tahu, Pak Kyai?” jawab Pak Beny. “Penyebabnya adalah Anda, Pak Beny. Pencalonan Anda sebagai wakil dan presiden telah mengundang kemarahan umat Islam. Itu artinya bangsa Indonesia


tidak mau dipimpin oleh orang nasrani. Maka, demi kebaikan bangsa ini, kami menyarankan Anda mundur dari pencalonan baik sebagai wakil maupun presiden!�

Page

Tak lama setelah itu melalui media massa LB Moerdani menyatakan mundur dari pencalonannya. Umat Islam di | 8 negeri ini menjadi lega dan suhu politik kembali normal. “Begitulah Gus Dur. Ia telah memainkan tombak trisulanya. Satu mata tombak ia arahkan kepada Pak Harto agar merasa disaingi Pak Beny sehingga ia batalkan niatannya untuk menjadikan jenderal itu sebagai wakil presiden. Mata tombak kedua ia arahkan pada umat Islam agar marah sehingga dapat dijadikan alasan dan bukti nyata bahwa mereka tak mau dipimpin oleh orang nasrani. Dan yang ketiga ia arahkan langsung pada Pak Beny agar mundur dari pencalonannya. Ini semua beliau lakukan demi keutuhan bangsa dan negara Indonesia, meski beliau harus menerima kecaman, cacian, dan kebencian dari umatnya,� pungkas KH. Abdul Rozaq Shofawi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta.

Diceritakan oleh KH. Abdul Rozaq Shofawi kepada penulis saat sowan ke rumahnya, 25 Juni 2012.


Di Balik Asas Tunggal Pancasila oleh Yaz Muttaqin pada 29 Juni 2012 pukul 8:36 · Di awal era 80-an Soeharto—presiden negeri ini saat itu—menghendaki Pancasila sebagai asas tunggal bagi semua organisasi yang hidup di negara Indonesia. Kebijakan ini langsung mendapat sambutan yang cukup panas dari masyarakat khususnya umat Islam. Mereka yang melandaskan kegiatan organisasinya pada “asas Islam” terang-terangan menentang kebijakan sang penguasa ini. Pegitu panasnya gejolak yang terjadi hingga hampir saja terjadi konflik horisontal di antara masyarakat Indonesia. Melihat kenyataan KH. Ahmad Shidiq sebagai Rais ‘Am PBNU merasa prihatin dan harus sesegera mungkin mengambil sikap. Maka diadakanlah Konferensi Besar Ulama NU di Asembagus, Situbundo, Jawa Timur. Ratusan ulama se-Indonesia diundang pada acara tersebut. Tak sedikit dari mereka yang menolak asas tunggal Pancasila dan berancang-ancang untuk membuat kesepakatan penolakan pada acara tersebut. Bahkan beberapa ulama dari Madura diketahui menyelipkan celurit di balik pakaian mereka. Dengan entengnya mereka berkata, “Bila sampai Kyai Sidiq

Page |9


menerima asas tunggal Pancasila akan aku penggal kepalanya.� Suasana memang begitu mencekam. Tak sembarang orang diijinkan masuk ke arena. Para wartawan tak diperbolehkan meliput. Aku sendiri semestinya tak menjadi bagian dari mereka yang akan membahas masalah besar bangsa ini. Namun aku beruntung, aku diperintah oleh Kyai Ali Maksum, Krapyak, Yogya untuk membawakan tas beliau. Artinya itu tiket bagiku untuk ikut masuk ruangan acara penting itu. Ketika semua telah masuk dalam ruangan Kyai Sidiq memulai pidatonya. Sebelumnya beliau menyampaikan pembukaan dengan meminta kepada semua hadirin, agar jangan ada satu orang pun yang menyela ucapannya sampai benar-benar selesai. “Biarkan saya menyampaikan semuanya sampai benar-benar selesai. Setelah itu silahkan bila mau berdebat tentang Pancasila,� katanya. Para hadirin menyepakati permintaan Kyai Sidik. Maka mulailah beliau menyampaikan pengetahuan dan pandangannya. Beliau sampaikan mulai dari sejarah bagimana Pancasila dibuat sebagai dasar negara, beserta intrik politik yang terjadi, perundingan yang cukup alot dan panas khususnya pada sila pertama, hingga betapa begitu kerasnya para kyai pada saat itu mencurahkan segenap tenaga dan pemikirannya agar dapat mencapai

Page | 10


hasil final yang dapat diterima secara legawa oleh semua lapisan dan kalangan demi keutuhan dan bersatunya bangsa ini. Beliau jelaskan juga makna dan filosofi yang terkandung dalam setiap sila Pancasila, hubungannya dengan ajaran Islam, lengkap dengan ayat-ayat yang berkenaan dengan itu. Digambarkan juga bagaimana sejarah Rasulullah membentuk sebuah negeri madani dari sebuah bangsa yang jauh dari peradaban. Tentang bagaimana Piagam Madinah dihasilkan setelah sebelumnya terjadi tarik ulur kepentingan. LUAR BIASA! Semua itu disampaikan oleh Kyai Sidiq dengan begitu runtut, gamblang, sangat jelas dan sangat mudah dipahami. Semua yang hadir terpukau dengan penyampaian dan penjelasan beliau. Di hadapan mereka Kyai Sidik bukan saja memberikan penjelasan. Lebih dari itu beliau telah menghadirkan sejarah yang telah berlalu kembali terulang di ruangan tersebut. Beliau seakan membawa semua yang hadir ke masa di mana sejarah itu terjadi. Semua terdiam. Seisi ruangan hening. Begitu hening. Bahkan, kalau saja sebuah jarum terjatuh di lantai ruangan itu pastilah terdengar suaranya. Setelah Kyai Sidik menyampaikan semuanya beliau mempersilakan kepada hadirin untuk menyampaikan

Page | 11


pendapatnya. Masih hening. Tak satupun yang mengangkat tangan untuk bicara. Semua terdiam. Yang terjadi kemudian adalah semua ualama di dalam ruangan itu berdiri, bertakbir. Gemuruh takbir membahana mengisi seluruh ruangan. Sementara para Page | 12 ulama dari Madura yang sebelum acara mengancam akan memenggal kepala Kyai Sidik segera berhamburan ke atas panggung, menyalami dan memeluk Kyai Sidik, menyampaikan maaf dan terima kasih. Di ruangan itu telah terjadi kesepakatan besar untuk persatuan dan keutuhan bangsa besar ini. NU menyatakan diri menerima Pancasila sebagai asas tunggal, dan sebagai organisasi pertama yang bisa menerimanya dengan dasar pengetahuan luas tentang keagamaan dan kebangsaan. Menerimanya demi kemaslahatan bangsa besar yang hampir saja terpecah. Menerimanya sebagai bentuk bagian dari anak bangsa yang bertanggungjawab atas kemaslahatan tanah airnya. Dan semua itu dilakukan menharap ridlo Allah, tanpa harus diketahui penguasa dan masyarakat. Tanpa harus digembor-gemborkan di media massa. Tanpa harus membusungkan dan menepuk dada. Diceritakan oleh KH. Abdul Rozaq Shofawi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan Solo,-sebagai saksi mata—kepada penulis saat sowan ke rumahnya, 25 Juni 2012.


Page | 13

KH. Abdul Rozaq Shofawi, saksi mata, serius menceritakan sejarah itu


(Maaf) Cocot Pak Camat oleh Yaz Muttaqin pada 28 Mei 2012 pukul 0:40 路 Mbah Kyai Sun, atau masyarakat biasa memanggilnya MBah Sun, adalah seorang kyai sepuh yang sangat alim dan luas pengetahuannya. Beliau hidup di Kota Jombang, Jawa Timur, sekian puluh tahun yang lalu. Beliau memiliki beberapa puluh santri dari berbagai daerah. Satu ketika di bulan Ramadhan beliau diundang oleh Camat setempat untuk acara buka bersama. Beberapa orang santri beliau ajak untuk menghadiri undangan tersebut. Acara pun dimulai. Hingga waktu maghrib tiba semua membatalkan pauasanya terlebih dahulu sebelum shalat maghrib berjamaah. Usai santap berbuka puasa para undangan bersiap untuk shalat maghrib bersama. Namun sebelum shalat dimulai seorang santri yang berasal dari Indramayu melihat di pinggir mulut Pak Camat masih tersisa sebutir nasi yang menempel. Santri itu ingin sekali mengingatkan Pak Camat, namun ia sangat malu dan takut. Terlebih ia bingung bagaimana berkata dengan menggunakan bahasa halus. Apalagi kala itu pejabat setingkat Camat dan Bupati sangat-sangat disegani dan dihormati.

Page | 14


Setelah sejenak berpikir sang santri mendekati sang Camat dan pelan bertanya, "Maaf, Pak Camat, bahasa kromonya cangkem apa ya?"

Page

Melihat yang bertanya seorang santri muda sang Camat | 15 menjawab dengan meremehkan, "cocot!" Begitu jawabnya. Merasa pertanyaanya telah dijawab dengan serta merta sang santri berkata dengan sesopan mungkin namun dnegan suara cukup keras, "Oh, kalau begitu, maaf, cocot panjenengan wonten nasinya." Mendengar ucapan seperti itu sang Camat langsung memerah mukanya, menahan marah dan malu. Sementara undangan yang lain menahan senyum melihat dan mendengar peristiwa itu. Sesampai di pesantren Mbah Sun memarahi sang santri. Namun beliau segera mafhum dan maklum mendengar pembelaan sang santri, "Lah bagaimana, saya benarbenar ngga bisa berbahasa jawa halus, maka saya tanyakan pada beliau lebih dahulu sebelum saya mengingatkan tentang nasi itu. Trus beliau menjawab cocot, ya saya katakan itu juga pada beliau." Hmm.... benar juga kata Al-Qur'an; bila kalian berbuat baik, maka hakekatnya berbuat baik pada diri kalian


sendiri. Dan bila berbuat jelek maka berbuat jelek pada diri sendiri. (KH. Subhan Makmun, dalam kajian Tafsir al-Munir)

Page | 16


Menghormat Kuda oleh Yaz Muttaqin pada 20 Mei 2012 pukul 22:55 路

Page Imam Ali bin Abi Thalib pernah mengajarkan, "Bajumu | 17 akan memuliakanmu sebelum engkau duduk, sedangkan ilmumu akan memuliakanmu setelah engkau duduk." Seorang kyai yang sangat alim dari Kudus bernama Kyai Raden Asnawi berkeinginan membuktikan kebenaran ucapan Imam Ali tersebut. Satu saat beliau bertandang ke rumah salah seorang pemilik perusahaan rokok di kota itu. Ia bernama Turaikhan. Kyai Asnawi mendatangi rumah Turaikhan dengan pakaian biasa layaknya orang umum, tidak berpakaian yang seperti biasa beliau pakai. Saat sampai di sana beliau ditemui oleh seorang pembantu. Kepada pembantu itu beliau minta bertemu dengan sang juragan, Turaikhan. Maka sang pembantu masuk untuk menyampaikan keinginan tamunya. Sementara Kyai Asnawi duduk menunggu di ruang tamu. Namun hingga sekian lama sang pemilik rumah belum juga keluar. Maka Kyai Asnawi bangkit dan segera pulang. Tak berapa lama kemudian beliau kembali mendatangi rumah Turaikhan. Kali ini beliau berpakain rapi dan


mewah; berjas dengan rantai kecil menghias di dadanya. Beliau juga mengendarai seekor kuda yang besar dan gagah. Saat itu kuda adalah tunggangan kalangan papan atas. Sesampainya di depan rumah Turaikhan Kyai Asnawi tak segera turun. Sementara pemilik rumah yang mendengar ada suara kuda di depan rumahnya segera beranjak ke luar untuk menyambut tamunya. Dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui yang datang seorang kyai besar yang sangat dihormati. Maka dengan segera dan penuh senang hati Turaikhan mempersilakan Kyai Asnawi untuk masuk rumah. Namun di luar dugaan Kyai Asnawi menolak seraya berkata, "Aku tak mau, aku mau pulang saja. Tadi aku datang ke rumahmu dengan pakaian biasa ditemui seorang pembantu dan aku menunggumu lama tak segera keluar. Kini setelah aku berpakaian seperti ini dan menunggang kuda engkau segera keluar menemuiku. Tidak, aku tak mau. Engkau tidak menyambut dan menghormatiku, engkau hanya menyambut dan menghormati kudaku."

(KH. Subhan Makmun, Brebes)

Page | 18


Simpanan oleh Yaz Muttaqin pada 12 Maret 2012 pukul 9:38 路 Satu ketika aku hendak pergi ke sebuah tempat untuk suatu kepentingan. Aku kendarai sendiri mobil Innovaku. Namun beberapa ratus meter dari rumahku terjadi masalah dengan mobilku. Mobilku mogok. Aku mencoba melihat kerusakannya dan ternyata harus membongkar beberapa bagian. Sayangnya, saat itu aku sama sekali tak membawa peralatan yang biasanya selalu ada di dalam mobil. Dalam kondisi kebingungan datang seorang tukang becak menghampiriku. Ia menanyakan masalahku. Kujelaskan semuanya kepadanya. Dan tanpa kuduga dan kupinta, tukang becak itu segera bertandang mengurusi masalah mobilku. Mulai dari mencari bengkel dan meminjam peralatan, membongkar ban mobil dan bagian-bagian lainnya, hingga memasangkannya kembali dan selesailah masalah mobilku. Sebelum melakukan itu semua ia sempat berujar, "Panjenengan duduk saja, saya usahakan semuanya beres." Ketika aku bertanya mengapa ia begitu semangat membantuku, dia bertutur, "Saya ini tukang becak yang pernah mengantar suatu barang ke rumah Panjenengan. Mungkin waktu itu Panjenengan melihat saya sangat

Page | 19


kelelahan, maka Panjenengan memberi saya segelas air putih. Saya sangat senang sekali karena saat itu memang saya sangat lelah dan haus. Hari ini, ketika saya melihat Panjenengan menghadapi masalah, saya sangat ingin membantu menyelesaikannya sebagaimana Panjenengan Page | 20 menyelesaikan masalah saya." Subhanallah! Aku tertegun mendengar penuturannya. Sejenak kuteringat ajaran agamaku; keridloan Allah pada seorang hamba akan disimpan pada amal baik yang dilakukannya, dan kemarahan Allah pada seorang hamba akan disimpan pada kemaksiatan yang dilakukannya.

(KH. Subhan Makmun, Brebes)


Tak Ada Dasar oleh Yaz Muttaqin pada 3 Januari 2012 pukul 12:50 路

Page Satu saat aku melaksanakan ibadah umroh di tanah suci. | 21 Aku ikut dengan sebuah biro perjalanan haji dan umroh bersama beberapa orang. Saat di Arab Saudi kami dipandu oleh seorang muthowwif. Olehnya kami dibimbing menjalankan ibadah umroh dari awal hingga akhir. Kami juga ditunjukkan tempat-tempat sejarah yang ada di tanah suci. Saat kendaraan yang kami tumpangi melewati Masjid Qiblatain sang pemandu menunjukkan dan sedikit bercerita tentang Masjid yang pernah digunakan Rasul shalat dengan 2 arah kiblat itu. Kami tertarik dengan penjelasannya. Maka kami memintanya untuk singgah mengunjunginya. Namun si pemandu menolak permintaan kami. Kepada kami ia beralasan, "Rasulullah tak pernah memerintahkan untuk beribadah di masjid itu. Masjid itu sama saja nilainya dengan masjid-masjid yang ada di Indonesia." Saya geleng-geleng kepala mendengar alasan itu. Aku berpikir, saat ini orang Islam sudah diajari untuk meninggalkan tempat-tempat bersejarah dengan alasan Rasul tak pernah memberi perintah. Pada saatnya kelak mungkin tempat-tempat itu sudah tak ada lagi di muka bumi ini, karena alasan tak ada perintah dari Rasul


untuk memeliharanya, bid'ah. Bukan tak mustahil sekian puluh atau ratus tahun yang akan datang Islam hanya tinggal dongeng saja. Tak ada bukti yang menjadi saksi akan keberadaannya. Bahkan makam Rasul pun dahulu Page hampir saja digusur oleh penguasa Saudi.

| 22

(KH. Subhan Makmun)

Catatan Penulis: Sama dengan di Indonesia. Akhir-akhir ini banyak yang mengharamkan ziarah (=berkunjung) ke makam para wali yang jelas-jelas telah berjasa dan menjadi bukti keislaman Indonesia. Namun, berziarah ke candi-candi yang nyata sebagai tempat ibadah agama lain justru dibiarkan dan digalakkan.


Posisi oleh Yaz Muttaqin pada 12 Desember 2011 pukul 12:19 Page 路

| 23 Satu ketika, beberapa tahun yang lampau, aku melakukan ibadah umroh di tanah suci. Selain melakukan manasik yang menjadi kewajiban ibadah itu aku juga menyempatkan diri mengikuti pengajian yang digelar di Masjidil Haram. Salah satu pengajian yang aku ikuti disampaikan oleh seorang ulama yang cukup dikenal di Arab Saudi dan belakangan ini fatwanya menjadi "idola" bagi sebagian umat Islam di Indonesia. Dalam pengajian itu beliau menyampaikan materi di antaranya; bahwa di hari kiamat kelak seseorang tak akan bisa memberikan pertolongan kepada orang lain, berdasarkan ayat Al Qur'an dalam Surat Al-Baqarah wattaquu yauman laa tajzii nafsun 'an nafsin syaiaa (takutlah kalian kepada hari (kiamat) dimana seseorang tak akan bisa memberikan pertolongan pada yang lainnya." Mendengar penjelasannya itu aku ingin sekali menyampaikan satu pertanyaan. Namun demi menjaga kehormatan sang ulama maka pertanyaan itu aku tulis pada secarik kertas; pada ayat yang Anda baca apa makna kata NAFS yang pertama dan apa makna kata NAFS yang kedua? Saat menerima kertas itu beliau


bertanya, "Siapa yang menyampaikan pertanyaan dalam kertas ini?" Tak ada yang menjawab. Aku juga diam. Setelah pengajian itu usai aku menemuinya. Kepadanya Page aku sampaikan bahwa akulah yang menulis pertanyaan itu. Maka terjadilah perdebatan antara aku dan ulama itu | 24 seputra makna ayat di atas. Beliau bersikukuh pada pendapat bahwa tak ada yang bisa memberi pertolongan pada hari kiamat; berpegang pak teks ayat tersebut. Namun kepadanya aku sampaikan beberapa dalil pendukung dan kaidah bahasa yang akhirnya mencapai satu kesimpulan; kedua kata NAFS pada ayat tersebut memiliki makna yang berbeda karena keduanya menggunakan isim nakiroh. NAFS pertama bermakna NAFS MUKMINAH dan NAFS kedua bermakna NAFS KAFIROH. Artinya, di hari kiamat kelak seorang yang mukmin tak bisa memberikan pertolongan pada orang yang kafir. Mendengar penjelasanku itu sang ulama terdiam, lalu mengalungkang sorbannya ke kepalaku (sebagai tanda pengakuan dan penghormatan). Beliau mendekat kepadaku, lalu berbisik, "Saudaraku, sesungguhnya aku juga mengakui kebenaran apa yang engkau katakan itu. Namun hal itu jelas bertentangan dengan paham yang dianut di negara ini. Saudaraku, kini engkau telah mengetahuinya, kini aku meminta janganlah engkau terlalu keras menyampaikan apa yang aku katakan ini.


Sebab ini akan mengancam posisiku di Masjidil Haram."

(KH. Subhan Makmun)

Page | 25


Kyai Hamid dan Kyai Bisri, Antara Fiat dan Holden (Copas dari teronggosong.com) oleh Yaz Muttaqin pada 2 November 2011 pukul 10:39 · Kebanyakan suwuk (doa mantera) diterapkan dengan air: kyai membaca doa kemudian ditiupkan ke air. Air suwuk itulah yang nantinya menjadi sráná (sarana) bagi yang membutuhkan, misalnya dengan meminumnya atau mengoleskannya ke bagian tubuh tertentu sebagai ikhtiar pengobatan —ingat air yang dicelupi batu ajaibnya Ponari! Memasuki halaman kediaman Mbah Kyai Abdul Hamid Pasuruan rahimahullah pada suatu sore, Kyai Bisri Mustofa Rembang —Allah yarham— mendapati seorang santri sedang menyirami halaman itu dengan air dari selang untuk menekan debu agar tak berterbangan. “Sungguh sayang”, gumam Mbah Bisri, “sráná kok dibuang-buang…”

Page | 26


Pintu rumah Mbah Hamid tertutup. Sejumlah orang yang punya hajat hendak sowan, menunggu dengan khusyuk di sekitarnya. Tanpa sungkan-sungkan, Mbah Bisri meneriakkan salam, “Assalaamu’alaikum!” Tak ada jawaban. Orang-orang ngeri melihat kekurangajaran Mbah Bisri, tapi ragu-ragu untuk menegur. Mungkin mereka pikir, kalau usaha Mbah Bisri ada hasilnya, mereka akan ikut untung juga… “Assalaamu’alaikooom!” teriakan Mbah Bisri lebih keras lagi. Tetap tak dijawab. Santri yang menyirami halamanlah yang kemudian menegur, “Maaf, Pak”, katanya, “Mbah Yai sedang istirahat!” Tak menanggapi teguran si santri, Mbah Bisri malah semakin meninggikan suaranya dengan nada yang nelangsa,

Page | 27


“Yaa Allah Gustiiii….!” ratapnya, “beginilah nasib manusia kotor macam aku ini… mau sowan wali saja kok nggak ditemuiii…!” Suara berdehem dari dalam, disusul Mbah Hamid membuka pintu. “Jangan begitu lah, Nda…,” tegur beliau, “sampeyan ini kok mêsthi yang ênggak- ênggak saja…” ”Nda” adalah sapaan akrab antar teman. Beliau berdua memang sama-sama santrinya Mbah Kyai Kholil Harun rahimahullah di Kasingan, Rembang. Orang-orang —yang sejak lama menunggu— berebut menciumi tangan Mbah Hamid dengan riang-gembira, dan mereka semua dipersilahkan masuk. Tak ada yang ingat untuk mengucapkan terimakasih atas “jasa” Mbah Bisri. Di ruang tamu, Mbah Bisri pun menyampaikan hajatnya. “Begini, Nda”, katanya, “sampeyan ‘kan ngerti, aku ini muballigh…” “Hm…”

Page | 28


“Lha… aku ini belum punya mobil”, Mbah Bisri melanjutkan, “kalau terus-terusan kesana-kemari naik bis umum ‘kan bisa jatuh wibawaku…!” Mbah Hamid manggut-manggut. “Terus… maksudmu gimana?” beliau bertanya. “Yaah… sampeyan yang dekat dengan Pêngéran, mbok sampeyan mintakan mobil buat aku!” Mbah Hamid tersenyum. “Ya sudah… ayo…”, beliau mengajak semua orang, “’alaa niyyati Kyai Bisri… al faatihah!” Kemudian menadahkan tangan membacakan doa, diamini yang lainnya. Begitu doa selesai dibaca, Mbah Bisri langsung menyerobot, “Mereknya apa, Nda?”

Page | 29


_______________________________ Catatan tambahan:

Page 1. 2. 3.

Sumber cerita: Gus Mus | 30 Jawaban Mbah Hamid atas pertanyaan Mbah Bisri: “Kalau ’ndak Fiat ya Holden”. Tak lama sesudah didoakan Mbah Hamid, Mbah Bisri memperoleh uang min ĥaitsu laa yaĥtasib yang cukup untuk membeli mobil. Gus Mus, yang diperintah mencari mobil untuk dibeli, mengubek dari Jakarta sampai Surabaya, dan tidak menemukan mobil ditawarkan orang kecuali merek Fiat atau Holden. Akhirnya diperoleh mobil sedan Holden keluaran 1968.

Guruku Punya Cerita 2 (Kang Yaz)  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you