Page 1

NEC 2014

NATIONAL ALUMNI CONFERENCE & STAR CONFERENCE

APRIL2014

EASE JAVA JAZZ FESTIVAL 2014

INDONESIAN ELECTION 2014:

“Pesta Yang Butuh Usaha” EASE MAGAZINE | APRIL 2014 1


A LETTERFOR YOU Back again with us, EASE reader. It’s been a while, how are you? Hope you read EASE magazine with healthy and happy condition!  EASE Magazine kali ini akan membahas informasi seputar pemilu April nanti. Hampir semua spot di jalanan pasti berisikan ‘iklan’ para calon-calon pemimpin dari berbagai macam partai. True, semua advertising ini dilakukan untuk pemilihan umum April nanti. Sebagai anak muda generasi penerus bangsa, kita perlu banget untuk care dan aware sama pemilu nanti. Pemilu merupakan ajang anak muda untuk menentukan siapa yang akan memimpin mereka selama beberapa tahun ke depan. Pemuda harus lebih aktif berpartisipasi dalam gelaran pemilu di Indonesia. Tidak hanya menjadi peserta, tapi pemuda harus menjadi tonggak perubahan untuk masyarakat Indonesia. EASE Magazine edisi ini akan kasih tahu ke kalian seputar apa itu pemilu, opini tentang pemilu, serta apa aja sih yang bisa pemuda lakuin untuk menyukseskan pemilu. This will be so beneficial for you, so keep reading! Move to another corner, we have a review about Java Jazz Festival 2014 yang dilaksanakan pada 28 Februari - 2 Maret 2014 lalu. Konsep yang dihadirkan Java Jazz selalu unik dan menarik dari tahun ke tahun. Dan EASE Magazine akan mengupas tuntas reviewnya. Tidak hanya itu, kami pun juga mengulas tentang sebuah coffee shop baru di Bandung dengan konsepnya yang unik, yaitu Two Cents. Buat kalian yang suka explore tempat baru di Bandung, harus banget nyobain tempat yang satu ini. EASE Magazine kali ini juga akan menceritakan kisah Carien yang melakukan life changing experience ke Polandia, wah seseru apa ya kisah dari Carien ini? Again from us, what are you waiting for? flip the pages to find out more, happy reading!

COVER RIZKY & TISSA

2 EASE MAGAZINE | APRIL 2014

AIESECly yours, Chacu


Contents

EASE EDITORIAL STAFF

CEO Afifa Urfani

Letters from Editorial

2

Contents

3

Contributors

4

Day to Play

5

AIESEC Alert

6

What’s Going On?

10

Blast Off

12

Editor in Chief

AIESECer of the Month 16

Khoirunnisa Chacu

Insight

18

Focus

20

Wanderlust

22

Managing Director Damianus Andreas

Creative Director Jonathan Adrian

Fotografer Jazman Barizi

CONTENT

AIESEC LC Bandung Jalan Tubagus Ismail No. 40, Lt. 2 Bandung, Jawa Barat 40132 www.aiesecbandung.org @aiesecbandung EASE MAGAZINE | APRIL 2014 3


CONTRIBUTORS

Contributors

Damianus Andreas (@_omii)

Annisa Alawiyah (@annisaalawiyah_)

Tammy Benjamin (@tammy_benjamin)

Micky Andrea (@mckyandrea)

Ascariena Rafinda (@ascariena)

4 EASE MAGAZINE | APRIL 2014

Rahmad Wandi Putra (@rahmad_poetra)

Hani Fauzia Ramadhani (@hunijabberwocky)


Two Cents:

Antara Quotes dan Kopi Bandung memang kota yang sangat kreatif, terutama di bidang kuliner, baik kuliner pinggir jalan, restoran, maupun tempat sekedar nongkrong macam kafe. Salah satu kafe baru di Bandung yang menyebut dirinya sebagai ‘coffee speciality’ adalah Two Cents. Kafe yang berlokasi di Jalan Cimanuk ini tidak terlalu luas namun memiliki dekorasi yang sangat eye catching. Indoor maupun outdoor tidak membuat perbedaan yang terlalu berarti, karena pihak pengelola mampu membuat keduanya menjadi spot yang asyik dan nyaman. Salah

cara memesan dan membayar pesanan. Sebagai customer, kita wajib mendatangi kasir untuk memesan dan langsung membayar pesanan kita.

satu hal yang tidak umum dengan kafe pada biasanya adalah tata

Potato Chip tentu juaranya! Kentang ini memiliki tekstur yang

Two Cents menawarkan banyak menu makanan dan minuman terutama kopi. Salah satu minuman yang harus dicoba adalah Orange Latte yang bisa disajikan hot atau cold. Rasa kopinya cukup kuat namun memiliki aroma dan sedikit campuran rasa jeruk yang menjadikan minuman ini unik. Untuk menu light meal, Cheese

crispy dan juga tipis, namun saus kejunya adalah bagian yang terbaik dari hidangan ini. Two Cents menyuguhi customernya dengan beberapa quotes yang dipajang, dua diantaranya adalah ‘please recycle and and save the earth. It’s the only place with coffee’ yang dicetak di cup plastik. Quotes tersebut mewakili pencitraan mereka sebagai ‘coffee speciality’. Selain itu ada lagi quotes yang cukup menarik, yakni ‘men to the left, because women are always right’ yang ditulis di dekat pintu masuk toilet. Kreatif bukan?

* Annisa Alawiyah

‘‘Rasa kopinya cukup kuat namun memiliki aroma dan sedikit campuran rasa jeruk yang menjadikan minuman ini unik.’’ EASE MAGAZINE | APRIL 2014 5

Day to Play

DAY TO PLAY


AIESEC ALERT

Satrio Wiavianto: THE PRESIDENT OF AIESEC BANDUNG 2014/2015

6 EASE MAGAZINE | APRIL 2014


What’s Going On

Sebulan yang lalu, tepatnya pada 1 Februari 2014, AIESEC Bandung mengadakan acara tahunan yang ditunggu-tunggu oleh setiap member-nya, yaitu pemilihan presiden AIESEC Bandung untuk kepengurusan tahun berikutnya. Acara ini bertempat di Aula Fakultas Ekonomi, Gedung 9, Universitas Katolik Parahyangan. Acara dimulai dari pukul 10.30 WIB hingga 17.00 WIB.

Satrio, sebagai calon presiden untuk kepengurusan 2014/2015 diberikan berbagai macam pertanyaan diantaranya dalam hal AIESEC Knowledge, Personal and Motivation, Strategic, and External Panel. External Panel dihadiri oleh dua pembicara eksternal di tempat dan satu pembicara luar melalui conference call. Pembicara eksternal itu adalah Azolla Degita Azis (Local Committee Vice President Finance AIESEC Bandung 2012/2013), Herry Hudrasyah (Board of Advisor AIESEC Bandung), dan melalui conference call, ada Raghav (President AIESEC Delhi University, AIESEC India 2013/2014).

“Let’s transform AIESEC Satu-satunya calon pres- Bandung to be iden yang berhasil lolos dalam bigger, tahap verifikasi booklet adalah Satrio Wiavianto, mahasiswa Teknik Geologi, Institut Teknologi Bandbetter, ung. Acara pemilihan presiden ini dihadiri dari representatif AIESEC and Bandung dari enam universitas Di akhir panel, Satrio memdan kepengurusan pusat. Enam berikan closing speech untuk meystronger!,” universitas, yang juga merupaakinkan kembali para representatif kan bagian dari AIESEC Bandung tersebut, diantaranya adalah Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Universitas Katolik Parahyangan, Telkom University, Universitas Pendidikan Indonesia, dan Maranatha Christian University. Selain dihadiri representatif dari masing-masing universitas tersebut, acara ini juga dihadiri oleh Ardian Widjaja, Presiden AIESEC Indonesia terpilih

untuk periode 2014/2015, sebagai pemegang keberlangsungan acara ini. Acara dibuka dengan opening speech dari Presiden AIESEC Bandung 2013/2014, Agung Bimo Listyanu dan dilanjutkan dengan peresmian pembukaan acara. Selanjutnya, calon presiden, Satrio, memberikan opening speech. Dalam acara ini,

masing-masing universitas untuk pemilihan ini. Masing-masing universitas diberikan hak suara dalam pemilihan ini. Di akhir acara, diumumkan secara resmi bahwa Satrio Wiavianto terpilih sebagai presiden AIESEC Bandung 2014/2015. “Let’s transform AIESEC Bandung to be bigger, better, and stronger!,” sahut Satrio di akhir acara. * Rahmad Putra

EASE MAGAZINE | APRIL 2014 7


AIESEC Alert

CONGRATU Bulan Januari yang lalu, tepatnya tanggal 24-27 Januari 2014, baru saja terpilih Member Committee President (MCP) AIESEC Indonesia periode 2014/2015 di National Election Conference 2014. Konferensi yang bertujuan untuk memilih MCP baru untuk AIESEC Indonesia ini memang berbeda dengan konferensikonferensi AIESEC yang lain. Karena memang fokusnya yang untuk memilih MCP baru, jadi inti dari konferensi ini adalah untuk mengenal lebih jauh para kandidat Presiden AIESEC Indonesia periode 2014/2015 tersebut. Konferensi ini diikuti oleh perwakilan-perwakilan dari seluruh Local Committee (LC)

8 EASE MAGAZINE | APRIL 2014

AIESEC yang ada di Indonesia. Event ini berlangsung selama 4 hari di Hom Hotel, Yogyakarta. Kegiatan di hari pertama dimulai dengan functional meeting. Di functional meeting ini dilakukan sharing pengalaman selama 6 bulan terakhir oleh seluruh peserta konferensi yang hadir. Yang dilakukan dalam sesi ini bisa dikatakan lebih ke selfreflection bagi masing-masing individu dan juga sharing antar LC akan kondisi functional mereka. Selanjutnya, ada sesi leadership yang dibawakan oleh MCP AIESEC Indonesia 2013/2014 dan Local Committee President (LCP) AIESEC Bandung 2010/2011, Soraya M. A. Rosadha. Bagi saya pribadi,

sesi ini adalah sesi yang paling menarik. Materi dalam sesi ini sebenarnya sederhana tapi sangat menyentuh. Mereka menjelaskan mengenai “how to handle team and handle people.� Contoh kasus yang digunakan oleh mereka adalah keadaan ketika Soraya M. A. Rosadha atau yang biasa disapa Momon menjadi LCP. Inti yang didapat dari sesi leadership ini adalah, kalau kita mau sukses menjadi leader bagi orang lain, maka kita harus menjadi leader bagi diri sendiri terlebih dahulu. Seperti ke lingkungan sekitar dan juga team. Kita harus paham betul dengan karakteristik masingmasing anggota team untuk bisa mencapai target yang maksimal.


National Election Conference 2014

Di hari kedua, kegiatan yang dilakukan terfokus pada pemilihan MCP periode 2014/2015. Ada 2 kandidat, yakni Fandi Thesia yang merupakan LCP AIESEC Universitas Indonesia 2013/2014 dan Ardian Widjaja yang merupakan MCVP AIESEC Indonesia 2013/2014. Di hari kedua ini para kandidat menjelaskan visi misi dan strategi masing-masing. Kedua kandidat memiliki sifat dan visi misi yang saling bertolak belakang. Fandi memiliki ide yang sangat kreatif dalam membawa AIESEC Indonesia untuk bisa mencapai AIESEC 2015, sedangkan Ardian lebih fokus dalam kegiatan operasional di AIESEC dan esensi dari AIESEC

itu sendiri. Setelah melewati proses pemilihan yang panjang, akhirnya terpilihlah Ardian Widjaja menjadi MCP AIESEC Indonesia 2014/2015. Setelah itu, kemudian tibalah hari terakhir konferensi ini. Pada hari ini ada panel untuk MCVP ICX GCDP operation dan MCVP OGX GCDP operation. Namun sayangnya kedua kandidat tidak mendapat confident votes yang memenuhi syarat dari para peserta konferensi yang hadir. Dengan mengikuti konferensi ini, saya merasa mendapatkan banyak pengetahuan baru. Selain itu, saya juga merasa semakin

bangga terhadap AIESEC LC Bandung. Kebanggaan itu tidaklah bisa digambarkan dengan kata-kata. Menurut saya pribadi, ikut konferensi AIESEC semacam ini penting, apalagi untuk mereka yang ada di manager level. Mungkin ada beberapa dari kita yang merasa selama ini kerja hanya untuk mengejar target. Namun sebenernya apa yang kita kerjakan itu lebih dari sekedar target. Konferensi yang diselenggarakan AIESEC seperti NEC ini bisa menjadi semacam pit stop bagi kita untuk merefleksi diri kita, tidak hanya urusan pekerjaan namun juga development apa sajakah yang sudah didapat.

* Tammy Benjamin

MCP of AIESEC Indonesia 1314, Dea Gendyna, with MCP of AIESEC Indonesia 1415, Ardian Widjaja EASE MAGAZINE | APRIL 2014 9

AIESEC Alert

ULATIONS ARDIAN WIDJAJA!


WHAT’S GOING ON?

Cerita Dari Star Conference

10 EASE MAGAZINE | APRIL 2014


Awalnya saya tidak menyangka “Congratulations Di hari kedua konferensi dibuka denbahwa saya terpilih sebagai star gan sesi How to be Successful as Student you has been member di antara ratusan memoleh Mas Bido Budiman, dimana dipaber AIESEC Local Committee CHOSEN as Star parkan bagaimana menilai kesuksesan (LC) Bandung dan mengikuti Star dan cara meraih hal tersebut. Kemudian Member of your Conference selama 2 hari. Pada dilanjutkan dengan sesi Project Managee-mail tersebut juga dijelaskan LC and get invited ment masih oleh Mas Bido Budiman. Ini bahwa pada konferensi nanti kita to attend Star adalah sesi favorit saya, karena pada sebagai delegasi tiap Local Comsesi tersebut kita dibagi-bagi menjaConference this mittee akan mendapatkan wadi kelompok dan mengatur hal-hal apa wasan dan edukasi dari pembicweekend, 15th- saja yang diperlukan dalam menjalankan ara eksternal, maupun dari alumni sebuah project. Ada 4 grup yang dibagi 16th February AIESEC Indonesia yang telah dan masing-masing mendapatkan projsukses. Tujuan dari berlangsun- 2014 in Jakarta!” ect yang berbeda, ada yang project-nya gnya acara ini antara lain memmengenai karnaval, project khitan masal, bangung kepercayaan diri untuk project nikah masal, dan project kelommenjadi role model bagi yang lain pok saya, yaitu project Aceh Idol. Saya dan menjadi ambasador di entity-nya masing-masing. dan teman satu tim mengatur hal-hal apa saja yang diperlukan untuk keberlangsungan project terse Delegasi yang hadir pun bermacam-macam, but, mulai dari pre-event sampai pada post-event. ada sekitar 5 LC perwakilan AIESEC dari tiap entity-nya, yaitu LC Universitas Indonesia, LC Bandung, Setelahnya, dilanjutkan sesi Effective ComLC Universitas Diponegoro, LC Universitas Pem- munication & How to be Good Ambassador oleh Mas bangunan Nasional Veteran Yogyakarta, LC Pra- Dacil. Dalam sesi ini kemampuan public speaking setya Mulya Business School, dan LC Universitas kita ketika di depan khalayak ramai dilatih, selain itu Brawijaya. Pada hari pertama dibuka oleh Ardantya diajarkan juga bagaimana agar kita bisa dengan sukSyahreza atau yang biasa dipanggil Mas Dacil, yang ses “menjual diri” kita kepada perusahaan. Kemudian merupakan Chairman AIESEC Indonesia Alumni Or- setelah makan malam, terdapat satu sesi lagi dari Mas ganization dan dihadiri oleh alumi-alumni AIESEC Ali yang merupakan MCP AIESEC Indonesia 2006 Indonesia yang telah sukses menjalani karirnya. membawakan Leadership Development. Pada sesi tersebut Mas Ali membuat sebuah permainan dima Pada kesempatan itu pula, diselenggarakan na kita harus membuat bangunan. Objektif dari perpemilihan Chairman AIESEC Indonesia Alumni Orgamainan tersebut adalah setinggi dan sebesar apapnization periode 2014-2016 dan terpilihlah Mas Bido un organisasi itu harus ada akarnya/inti valuenya. Budiman yang ditunjuk secara demokratis. Tidak lupa pula paparan dari Member Committee President Conference selama 2 hari yang saya jalaAIESEC Indonesia Dea Gendyna mengenai perkem- ni benar-benar membuka pengetahuan baru dan bangan AIESEC Indonesia kepada para alumni. belajar banyak dari mereka yang sudah berpenSemua yang hadir sangat terpukau oleh penjelasan galaman. Terima kasih kepada AIESEC IndoneDea Gendyna dan tim-nya. Pada malam harinya. Pada sia dan AIESEC Bandung yang telah memberikan malam harinya diakhiri dengan sharing dari beberapa pengalaman dan memberikan kepercayaan kepada alumni mengenai bagaimana kondisi ketika di dunia saya sebagai salah satu delegate Star Conference. kerja, bagaimana agar kita bisa “menjual” diri kita kepada perusahaan tidak hanya dari CV, dan beberapa cerita pengalaman alumni di tempat mereka bekerja.

* Micky Andrea

EASE MAGAZINE | APRIL 2014 11


Dekade Pertama Java Jazz Festival

Clear Jakarta International Java Jazz Festival 2014:

Blast Off

BLAST OFF

Festival musik jazz terbesar di Indonesia kembali digelar di tahun ini untuk yang kesepuluh kalinya. Acara tahunan yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut dan digelar oleh Java Festival Production ini, pada tahun ini mengusung tema “Batik, Wayang, dan Musik Jazz.” Dimana mereka menjadikan batik dan wayang sebagai ikon event Java Jazz tahun ini. Konsep itu sendiri merupakan harmonisasi dari budaya Indonesia dengan musik jazz. Perhelatan musik jazz akbar kelas dunia yang berlangsung pada 28 Februari - 2 Maret 2014 di Jakarta International Expo Kemayoran ini menghadirkan berbagai musisi ternama, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Nama-nama seperti Jamie Cullum, Afgan, Tulus, India. Arie, Allen Stone, Maliq & D’Essentials, Incognito, hingga Natalie Cole merupakan beberapa dari sekian banyak artis yang tampil. Meski begitu, seperti yang dikatakan oleh Program Coordinator Java Jazz Festival, Eki Puradiredja dalam jumpa pers pada 26 Februari 2014, porsi yang diberikan bagi musisi-musisi Indonesia untuk tampil memang lebih besar. “Inilah kenapa kita banyak kolaborasi setiap tahunnya. Setiap tahun banyak talenta Indonesia tumbuh, sudah waktunya kita tunjukkan,” jelas Eki. Pernyataan Eki dalam jumpa pers yang diadakan di Hotel Borobudur, Jakarta tersebut memang diperkuat dengan fakta bahwa pada tahun ini terdapat lebih dari 1.000 musisi lokal yang akan mengisi

12 EASE MAGAZINE | APRIL 2014


panggung Java Jazz. “Jumlah musisi Indonesia-nya 70 persen,” tambah Eki. Meskipun Java Jazz pada dasarnya merupakan festival musik jazz, namun festival ini tidak hanya melulu tentang musik jazz. Banyak genre yang bercampur menjadi satu dengan kombinasi musik jazz yang menarik. Karena konsep yang diusung itulah, dan juga artis-artis yang tampil juga tidak hanya dari kalangan musisi jazz murni, maka tidak heran apabila tiap tahunnya event ini dipenuhi oleh para penikmat musik. Yang mana penikmat musik tersebut tidak hanya penikmat musik jazz, namun juga penikmat musik aliran lain, seperti pop dan R&B/soul. Besarnya antusiasme yang ditunjukkan untuk event ini dapat dilihat sejak Jumat sore, dimana para penonton sudah memenuhi arena JI Expo Kemayoran. Bisa dipastikan ada ribuan orang yang hadir. Para penonton tersebut datang dari berbagai kalangan usia, mulai dari remaja hingga orang tua. Mereka datang untuk menyaksikan artis-artis seperti Jamie Cullum, Maliq & D’Essentials, Earth, Wind & Fire Experience, dan Afgan yang memang telah dijadwalkan untuk tampil di hari pertama Java Jazz tersebut. Jamie Cullum yang merupakan headliner pada hari itu tampil memukau di hadapan para penonton yang memenuhi Hall D2 JI Expo Kemayoran. Sebanyak 16 lagu ia bawakan selama penampilann-

Selama penampilannya itu, musisi asal Inggris tersebut tampil dengan sangat penuh energi. Selain itu, ia juga memperlihatkan kemampuannya ber-beatbox di hadapan para penonton yang hadir. Ia mengeluarkan bermacam suara lewat mulutnya yang dipadu dengan tangannya yang dengan ringan memukuli bagian atas pianonya, seolah-olah piano tersebut adalah gendang. Tidak hanya itu, ia juga menyentuh bagian snare piano dengan santainya, namun tetap menghasilkan nada-nada yang harmonis. Aksi beatbox-nya tersebut, sempat dimedley dengan lagu yang sangat terkenal di tahun 2013, yakni “Get Lucky” milik Daft Punk. Penampilan Jamie Cullum di Java Jazz Festival tahun ini bukanlah yang pertama, ia sendiri sempat tampil di Java Jazz Festival 2006. “Saya datang ke sini tujuh tahun yang lalu, lebih muda dari saat ini. Siapa yang saat itu juga hadir di sini? Bagaimana denganmu? Apakah merasa lebih muda juga?” Tanya Jamie Cullum yang kemudian mengundang tawa penonton. Jamie Cullum sendiri terlihat sangat puas dengan aksinya di penghujung hari pertama Java Jazz Festival 2014 itu. Itu bisa dibuktikan dengan kicauan di akun Twitter-nya. Di sana ia menuliskan, “The @JavaJazzFest show was crazy tonight. Heading home with the sound of your cheering ringing in my ears.” Rupanya tidak hanya Jamie Cullum saja yang puas dengan penampilannya malam itu, hal serupa juga dirasakan oleh para penonton yang hadir. Para penonton terlihat mengembangkan senyuman mereka saat keluar dari venue. Aksi panggung yang menarik dan tidak membuat jemu itu setidaknya mampu membuat para penonton lupa akan molornya jadwal tampil Cullum tersebut.

Hari Kedua Di hari kedua Java Jazz Festival 2014, jumlah penonton yang hadir tidak kalah banyak diband-

EASE MAGAZINE | APRIL 2014 13

Blast Off

ya yang berdurasi selama satu setengah jam di atas panggung. Dari lagu-lagu yang dibawakannya, tidak ketinggalan ia membawakan “Mindtrick” dan “Everlasting Love” yang merupakan lagu-lagunya yang sudah tidak asing di telinga para penonton.


ingkan hari sebelumnya. Di hari ini artis-artis seperti Incognito, Raisa, Tulus, dan Tohpati serta Dewa Budjana telah dijadwalkan untuk tampil. Bahkan Earth, Wind & Fire Experience pun tampil untuk yang kedua kalinya di hari Sabtu (1/3), setelah sehari sebelumnya mereka juga telah menghibur para penonton yang hadir dengan menyanyikan tembang-tembang mereka seperti “September,” “Boogie Wonderland,” dan “After the Love Has Gone.” Meskipun Earth, Wind & Fire Experience ini bukanlah Earth, Wind & Fire yang asli, namun grup musik ini masih diminati oleh mereka yang merupakan penggemar dari grup musik bergenre antara campuran jazz, R&B, dan funk tersebut. Proyek Earth, Wind & Fire Experience ini didirikan oleh Al McKay, gitaris yang merupakan personel asli dari Earth, Wind & Fire. Selama kurang lebih 1,5 jam mereka menyanyikan lagu-lagu hits dan tembang lawas Earth, Wind & Fire serta mengajak para penonton untuk bernyanyi dan berjoget bersama. Selain Earth, Wind & Fire Experience, grup musik Incognito pun juga tidak kalah enerjik dan menghibur para penonton yang hadir di Hall D2 JI Expo Kemayoran. Lagu-lagu seperti “It’s Just One of Those Things,” “Roots,” “Still a Friend of Mine” dan “Night Over Egypt” dibawakan oleh grup musik yang dimotori oleh Jean-Paul “Bluey” Maunick ini. Bahkan di tengah-tengah penampilan mereka, dihadirkan pula Dira Sugandi, penyanyi wanita asal Indonesia yang beberapa tahun lalu juga sempat bergabung dengan Incognito, untuk berduet menyanyikan “Where Do We Go From.” Penampilan Incognito yang memukau itu pun menjadi penutup di hari kedua Java Jazz Festival 2014. Incognito mengakhiri penampilan mereka itu pada sekitar pukul 01:30 WIB. Tepuk tangan yang meriah pun diberikan oleh para penonton yang hadir di sana sesaat setelah mereka mengakhiri penampilannya. Pada hari yang sama, musisi jazz Dave Koz pun juga tak kalah menuai perhatian penonton yang memadati Hall A3 JI Expo Kemayoran. Di Sabtu malam itu, Dave Koz tampil bersama empat pemain saxophone Summer Horns yang berhasil tampil dengan cemerlang dari awal hingga akhir pertunjukan. Untuk artis-artis dalam negerinya sendiri, di hari kedua ini ada Tulus, Raisa, hingga grup band

14 EASE MAGAZINE | APRIL 2014

Krakatau yang reunian setelah vakum selama 24 tahun lamanya. Artis-artis Indonesia yang tampil pun tidak kalah menyedot perhatian mereka yang datang ke Java Jazz hari kedua ini. Bahkan ada yang unik di hari kedua Java Jazz Festival 2014, yakni tampilnya grup musik JKT48 di hari itu. Mereka membawakan lagu-lagu mereka seperti “Aitakatta,” “River,” “Baby Baby Baby,” dan “Fortune Cookies,” Tampilnya grup musik tersebut menimbulkan berbagai pertanyaan, rasa penasaran, dan bahkan kritikan dari banyak pihak karena dinilai aliran musik grup musik tersebut sangat tidak mewakili musik jazz.

Hari Ketiga Di hari terakhir Java Jazz Festival 2014, antusiasme penonton yang datang ke JI Expo Kemayoran belum surut rupanya. Meski jumlah penonton yang hadir di hari Minggu ini tidak sebanyak sehari sebelumnya, namun Java Jazz hari terakhir ini rupanya masih menjadi hari yang ditunggu-tunggu. Bagaimana tidak? Di hari pamungkas ini sejumlah nama seperti Jamie Aditya, Adhitia Sofyan, Ruth Sahanaya, Agnes Monica, India. Arie, hingga Natalie Cole telah dijadwalkan untuk tampil. Sore itu, yang menjadi sorotan perhatian di Java Jazz Festival 2014 adalah Hall D2 JI Expo Kemayoran. Di hari-hari sebelumnya, panggung di Hall D2 tersebut adalah tempat Jamie Cullum, Earth, Wind, & Fire Experience, dan Incognito tampil. Namun sore itu, giliran Agnes Monica yang tampil di sana untuk menghibur para penonton yang telah memenuhi Hall D2 sejak 30 menit sebelum jadwal Agnes Monica tampil tiba. Sepanjang penampilannya, Agnes Monica lebih banyak menyanyikan lagulagu berbahasa Inggris. Sehingga jadi tidak banyak penonton yang bisa ikut bernyanyi bersama. Tidak ketinggalan dalam penampilannya itu pula, ia pun menyanyikan single “Coke Bottle” yang merupakan single internasionalnya, hasil kolaborasi dengan musisi Timbaland. Selain itu ada yang unik juga dari hari ketiga ini, yakni tampilnya Addie MS beserta kedua anak dan istrinya di atas panggung Hall D1 Simpati. Keluarga pemusik ini menampilkan kekompakan mereka melalui lagu-lagu instrumental yang mereka


bawakan. Tidak hanya itu, mereka pun juga membawakan lagu-lagu seperti “Roman Picisan” milik Dewa, “Terlanjur Sayang,” hingga “Stay the Night” milik Zedd, yang diaransemen ulang oleh Kevin Aprilio dan Tristan dengan gaya jazz. Dalam penampilan mereka kali ini, tidak seperti biasanya, yang bertindak sebagai konduktor adalah Kevin bukan Addie MS. Menuju penghujung hari ketiga Java Jazz Festival 2014, kembali lagi Hall D2 menjadi sorotan. Berturut-turut di sana tampil Natalie Cole dan kemudian India. Arie. Penyanyi wanita legendaris peraih Grammy Awards ini tampil memukau di hadapan para penonton yang hadir. Meski untuk menonton penampilan putri legenda musik jazz Nat King Cole ini penonton harus membeli tiket lagi, namun itu rupanya tidak menjadi masalah. Arena Hall D2 tetap dipenuhi oleh para penonton yang ingin bernostalgia, menyaksikan Natalie Cole menyanyikan lagu-lagu hits-nya. Sepanjang kurang lebih 1,5 jam, Natalie membawakan lagu-lagu seperti “Starting Over,” “Fever,” “Miss You Like Crazy,” “This Will Be,” dan “L.O.V.E.” Tidak hanya tampil sendiri, pada penampilannya di Java Jazz ini, ia pun juga berduet dengan mendiang ayahnya Nat King Cole yang dihadirkan lewat teknologi rekaman yang diputar. Duet anak-ayah ini dilakukan saat mereka menyanyikan “Unforgettable,” “When I Fall In Love,” dan “Quizas, Quizas, Quizas.” Suara Nat King Cole yang khas itu pun kemudian menggema dan membuat para penonton hanyut dalam nostalgia. Aura seorang diva dari diri Natalie Cole memang tidak terbantahkan. Sepanjang penampilannya, semua mata penonton tertuju padanya yang mengenakan gaun panjang hitam bergaris-garis putih di atas panggung. Ia tampil dengan diiringi band yang dibawanya sendiri dari negaranya. Tata panggung saat Natalie Cole tampil pun juga terlihat sederhana, ditambah dengan adanya sorotan lampu warna-warni, dirasa semakin mendukung penampilannya yang sederhana namun sangat berkelas itu. Setelah Natalie Cole selesai menghibur para penonton di Hall D2, kemudian giliran penyanyi wanita lainnya asal Amerika Serikat, India. Arie yang telah dijadwalkan untuk tampil. Para penonton sudah

berdesakan, tak sabar menunggu pintu Hall D2 dibuka sejak 45 menit sebelum akhirnya India. Arie muncul di atas panggung. Dalam penampilannya di Java Jazz tahun ini, India yang lagu-lagunya banyak mendefinisikan mengenai cinta, motivasi serta kedamaian tampil dengan penuh penjiwaan dan bernuansakan spiritual, membawakan lagu-lagu hits-nya seperti “Video,” “Little Things,” “Brown Skin,” “I Am Not My Hair,” serta “Cocoa Butter.” Di tengah-tengah penampilannya, tepatnya setelah India membawakan lagu “I Am Not My Hair,” tiba-tiba ia membuka selendang di kepala dan rambut palsunya untuk memperlihatkan kepalanya yang plontos ke hadapan para penontonnya. Aksi India. Arie itu sontak membuat kaget para penonton, dan ia pun langsung dihujani oleh tepuk tangan karena aksi dan kepercayadiriannya itu. Di tengah-tengah penampilannya, ia pun juga mengajak ibunya, Joyce Simpson untuk berduet bersamanya menyanyikan lagu “Soulbird Rise.” Di lagu itu juga, ia pun meminta masing-masing anggota band-nya untuk menyanyikan lirik “I Believe In Open Door.” Meski lagu-lagu hits lawasnya seperti “Chocolate High” dan “Can I Walk With You” tidak dibawakan, namun aura positif yang ditebarkan oleh India rupanya dapat diterima oleh penonton. Mengakhiri penampilannya dengan lagu “Ready for Love,” India. Arie dengan sukses menutup hari terakhir sekaligus rangkaian Java Jazz Festival 2014 dengan indah.

* Damianus Andreas

EASE MAGAZINE | APRIL 2014 15


RIZKY AMBARDI

AIESECer of the Month

“AIESEC BANYAK DAYA TARIKNYA”

Selain sibuk berkuliah di Fakultas Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB), pria bernama Rizky Ambardi atau yang biasa disapa Kimbar ini adalah seorang AIESECer yang aktif. Saat ini ia rolenya di AIESEC LC Bandung adalah sebagai stakeholder relations manager, di bawah functional External Relations. Pada awalnya sendiri, ia mengenai organisasi AIESEC ini dari seorang temannya. Kemudian setelah itu, muncullah motivasi untuk melakukan program exchange dengan AIESEC. Karena menurutnya program semacam itu dapat menambah pengalaman internasionalnya dan juga bisa menambah wawasannya mengenai culture. Saat itu, ekspektasi awalnya saat masuk AIESEC, hanyalah pada program exchange-nya saja. Namun ternyata pengalaman exchange-nya tidak sesuai dengan ekspektasinya. Meski begitu, ia menganggap itu semua sebagai sebuah pembelajaran dan bukan merupakan masalah yang sangat mengganggu. “Dari awal saya sudah dipersiapkan untuk worst case yang bisa saja terjadi saat exchange, oleh karena itu ketika ekspektasi saya akan program exchange mungkin tidak sesuai, saya pun menjadi melihatnya dari sisi positifnya saja. Menurut saya, organisasi ini adalah wadah dengan segala sistem yang ada, sehingga sebenarnya semuanya yang terjadi dalam organisasi ini yang berkaitan dengan development diri kita, dapat dilakukan dalam bentuk apa saja. Oleh karena itulah, banyak daya tarik yang saya suka dari AIESEC,” jelas Kimbar. Role model-nya di AIESEC tak lain adalah LCVP External Relations AIESEC LC Bandung 2013/2014, Maria Hattya, yang merupakan team leader-nya. Menurutnya, sebagai seorang pemimpin Hattya sangat bertanggung jawab, dan ia juga bisa mengembangkan kepribadian serta karakteristik para anggota AIESEC di LC Bandung. “I learned many things from her idealism and the way she act,” kata Kimbar.

Untuk karier ke depannya di AIESEC LC Bandung, Kimbar mengungkapkan bahwa ia ingin menjadi AIESECer yang tahu apa dan kenapa dia mengambil role yang dipilihnya di AIESEC. Kontribusi terdekat yang ingin dilakukannya adalah merapikan post delivery partnership yang ada di AIESEC Bandung. Selain itu ia juga ingin menanamkan “clarity of why” kepada seluruh anggota AIESEC, untuk membantu meningkatkan performa organisasi juga. Serta memperkuat brand AIESEC sebagai leadership organization mulai dari lingkungan terdekatnya, yakni kampus ITB.

16 EASE MAGAZINE | APRIL 2014


Perempuan bernama Tissa Riani, atau yang akrab disapa Tissa ini sudah menjadi anggota AIESEC di LC Bandung sejak 2011. Di tahun ketiganya sekarang ini, ia memegang role sebagai exchange quality manager Outgoing Exchange GCDP AIESEC LC Bandung. Sejak awal bergabung dalam organisasi ini, ia selalu berada dalam functional OGX GCDP.

“Selain aku yang memang interest untuk bergabung dengan organisasi internasional dan melibatkan diri dalam kegiatan sosial, AIESEC juga align sama major kuliahku. Dengan ikut AIESEC, aku yakin akan mendapatkan banyak skill serta pengalaman-pengalaman baru. AIESEC itu sangat berbeda dengan organisasi-organisasi lainnya,” kata Tissa.

Karena di AIESEC itu berbagai kesempatan yang ditawarkan tidak pernah ada habisnya, maka ia berpendapat, apapun posisi yang diambil, meski masih dalam functional yang sama pasti tetap ada pengalaman yang berbeda dibaliknya. Dalam AIESEC ini, menurut Tissa, begitu ekspektasi akan suatu hal sudah tercapai, maka akan ada ekspektasi baru yang muncul.

“Aku merasa mendapatkan banyak keuntungan dengan ikut AIESEC ini. Tidak hanya perihal soft skills, namun juga dari cara menyikapi suatu masalah, saya merasa lebih open minded, and see things in different perspectives. Selain itu para anggota AIESEC juga diharuskan mampu memberikan dampak positif terhadap masyarakat,” kata Tissa lagi.

Tissa mengakui bahwa di tiap term, ia selalu memiliki role model yang berbeda-beda. Untuk di term ini, ia melihat LCVP OGX GCDP AIESEC LC Bandung 2013/2014, Gratia Wirata Laksmi sebagai sosok role model-nya. Tidak hanya seorang teman, baginya Gratia juga adalah orang yang tegas, balance, detail, dan terstruktur. Selain itu menurut Tissa, Gratia juga adalah seseorang yang selalu berpikir positif dan juga hard worker.

“Selalu Ada Ekspektasi Baru” AIESECer of the Month

Alasan awal kenapa dulu tertarik untuk masuk AIESEC adalah karena pengaruh dari kakaknya. Sesaat setelah ia lulus SMA, kakaknya menyarankannya untuk bergabung dengan AIESEC karena banyak teman kakaknya yang saat itu aktif di AIESEC. Setelah mencari-cari banyak info mengenai AIESEC dan juga bertanya-tanya ke seorang teman yang juga anggota AIESEC saat itu, Tissa pun langsung mendaftarkan dirinya untuk bergabung dalam organisasi non for profit ini.

TISSA RIANI

Untuk ke depannya, ia ingin dapat selalu memberikan kontribusi yang sama terus ke AIESEC dalam bentuk apapun, selayaknya sebagaimana dampak yang telah diberikan dari AIESEC untuk dirinya. “Selama tiga tahun ini aku terus-terusan mengurusi hal-hal yang diperlukan dan dibutuhkan oleh exchange participants dari Bandung, maka selanjutnya aku juga ingin menjadi exchange participant dan memiliki pengalaman exchange juga,” jelas Tissa.

EASE MAGAZINE | APRIL 2014 17


INSIGHT

Pemilu 2014

PESTA YANG BUTUH USAHA Melirik kalender yang bertengger di dinding salah satu sudut rumah, saya baru sadar kalau waktu cepat sekali berlalu. Sekitar satu bulan lagi, negeri ini akan kembali menggelar hajatan besar. Hajatan yang so-called pesta demokrasi. Terlintas di benak saya spanduk, poster, dan iklan-iklan berbentuk lainnya tentang para calon pemimpin bangsa ini yang bertebaran di mana-mana. Ah, muka-muka itulah calon pemimpin Indonesia. Well, saya pribadi kurang sreg dengan istilah “pesta

18 EASE MAGAZINE | APRIL 2014

demokrasi”. I mean, come on... If this is a ‘pesta’, then where’s the fun? Pemilu, bagi saya justru frustating. Saya harus memberi suara untuk seseorang. Sama saja rasanya seperti mencurahkan segenap harapan ke tangan orang yang gambar mukanya saya coblos di bilik pemungutan suara. Bisakah saya percaya mereka? Pesta demokrasi yang sesunguhnya bagi saya adalah dahulu kala... Ketika saya di bangku SD dan ada sebuah reality show lomba nyanyi bernama AFI yang

saat itu sedang hits. Dari sekian banyak kontestan yang oke, saya punya satu jagoan. Tak lupa saya pakai telepon rumah untuk memberi dukungan berupa vote alias suara. Tak ingin jagoan saya tereliminasi, saya minta ibu dan bapak saya kirim vote melalui SMS. Pokoknya, kala itu pemandangan jagoan saya mendorong koper sembari bercucuran air mata adalah pemandangan yang paling tak mau saya lihat.Tapi kenyataan memang pahit. Suatu malam,


Siapa mereka? Apa yang pernah mereka lakukan? Apa yang (katanya) akan mereka lakukan? Percayalah, belum terlambat untuk mulai mencari tahu tentang semua itu. Sebagai generasi 2.0 tentu mencari tahu tentang informasi macam itu bukan perkara sulit.

jagoan saya harus meninggalkan panggung AFI dilatarbelakangi potongan lagu “…percayalah pada diri, dengan harapan dan keyakinan...” Saya sedih waktu itu. Tak sampai menitikan air mata sih, karena gengsi. Namun tersisihnya jagoan saya tidak membuat saya berhenti menonton AFI. Pasalnya, saya tahu betul kontestan lain pun tak kalah oke. Saya percaya, siapa pun yang kelak jadi juara memang layak mendapatkannya. Nah, kemudian saya berpikir… Kenapa memilih sosok pemimpin di Pemilu tak semudah menentukan jagoan di AFI. Memandangi wajah-wajah para calon pemimpin yang terpampang di poster, saya benar-benar tak tahu harus pilih siapa. Saya pun tak tahu harus tidak memilih siapa. Pasalnya, saya tak kenal mereka. Apalagi rekam jejak mereka. Beberapa bahkan tak pernah saya dengar namanya sebelumnya. Itulah bedanya dengan AFI. Saat itu saya bisa dengan mudah menentukan jagoan saya karena saya menonton acara itu sejak hari pertamanya muncul di televisi. Saya lihat di episode-episode awal, bagaimana anak-anak muda biasa berjuang meraih mimpi mereka jadi penyanyi terkenal.

Mereka yang hanya mahasiswa, pebisnis, pekerja macam-macam, semua berlomba mewujudkan mimpinya. Episode-episode selanjutnya pun tak luput dari pengamatan saya. Saya menyaksikan satu per satu kontestan berguguran. Namun tak sedikit juga yang kian hari penampilannya kian membaik. Ada pula yang penampilannya bagus tapi sikapnya yang nyebelin. Hmm…Iya sih, saya hanya penonton polos yang menyerap segala yang tampil di layar kaca pada masa itu. Tapi tidak berarti saya bukan pengamat yang baik, kan? Saya rasa, menentukan pilihan di Pemilu nanti akan lebih mudah jika saya tahu tentang para kandidat pemimpin bangsa itu. Siapa mereka? Apa yang pernah mereka lakukan? Apa yang (katanya) akan mereka lakukan? Percayalah, belum terlambat untuk mulai mencari tahu tentang semua itu. Sebagai generasi 2.0 tentu mencari tahu tentang informasi macam itu bukan perkara sulit. Keputusan memilih siapa, tidak memilih siapa, bahkan memilih atau tidak, itu semua urusan belakangan. Yang penting kita nggak menyia-nyiakan amanat

yang diberi untuk berpartisipasi dalam pemilihan pemimpin bangsa. Yuk, mulai cari nama-nama para kandidat di search engine yang canggih-canggih itu. Mari lihat rekam jejak setiap individunya. Atau tanya pada orang tua, dosen, siapa pun yang lebih tahu soal figur mereka di masa lampau. Kalau setelah cari tahu tetap nggak menemukan sosok pemimpin ideal? Well, it’s your choice! But seriously, jangan buru-buru memutuskan untuk tidak memilih sama sekali sebelum mencari tahu secara mendalam. Sayang sekali satu jatah suara terbuang percuma hanya karena kemalasan seorang pemuda. Pun jangan asal pilih. Tak mau kan, punya Presiden yang ternyata penjahat perang atau penindas HAM (Hak Asasi Manusia) di masa lampau? Mari ramaikan pesta demokrasi ini dengan ikut terlibat di dalamnya. Feel the excitement, be a part of it. Tapi, sepertinya supaya pesta yang satu ini seru, dibutuhkan usaha ekstra. Tak apalah, energi yang kita pakai untuk scrolling lembar demi lembar lewat search engine dan tanya sana-sini soal sejarah masa lalu para kandidat kelak akan terbayar!

* Hani Fauzia Ramadhani

EASE MAGAZINE | APRIL 2014 19


FOCUS Hope for the Future

MEMOTIVASI ANAK-ANAK MENGGAPAI CITA-CITA Pada 20 Januari hingga 23 Februari 2014 lalu, AIESEC Bandung in ITB telah mengadakan project Hope for the Future. Dalam project ini, terlibat 5 exchange participants (EP) yang mana semuanya perempuan. Tiga orang EP tersebut berasal dari Taiwan, dan dua orang lainnya berasal dari China. Project ini sendiri dibuat untuk meningkatkan awareness dari para EP terhadap anak-anak melalui music & art. Para EP tersebut berinteraksi langsung dengan anak-anak dari berbagai latar belakang yang berbeda, seperti anak-anak di sekolah luar biasa, anak-anak jalanan, anak-anak di panti asuhan, dan juga di rumah belajar. Anak-anak tersebut diajarkan kesenian-kesenian, seperti tari-tarian, dan juga permainan-permainan yang berasal dari China dan Taiwan. “Sesuai judulnya, yakni Hope for the Future, kami berharap melalui project ini anak-anak yang menjadi target kami bisa termotivasi untuk mencapai cita-citanya. Kami berharap dengan telah berlangsungnya project ini, anak-anak tersebut bisa terus semangat untuk menggapai cita-citanya, dan para EP juga bisa terus menyebarkan hal-hal positif serta terus menginspirasi anakanak di luar sana,” jelas Dhafinta Saraswati, ketua pelaksana project ini. Selama project berlangsung, lokasi yang digunakan untuk project ini adalah di SLB C Sukapura, Rumah Mimpi (tempat anak-anak jalanan), Muhammadiyah (panti asuhan), dan Kampung Kreatif Taboo (rumah belajar). Di luar dugaan, saat project berlangsung, anak-anak pun menjadi sangat dekat dengan para EP. Ketika hari terakhir di SLB misalnya, seluruh anak dan bahkan kepala sekolah menangisi para EP yang akan segera kembali ke negara mereka masing-masing. “Dari semuanya, yang paling berkesan adalah saat di Taboo. Di saat project ini sudah hampir berakhir, kami membuat sebuah pameran. Di mana banyak warga sekitar yang datang. Di sana EP kita juga bernyanyi bersama anak-anak di Taboo itu, dan ada juga pemain kecapi serta seruling,” kata Dhafinta. ***

20 EASE MAGAZINE | APRIL 2014


Power Up MCU

MEMPERKENALKAN GAYA HIDUP SEHAT Pada winter lalu, AIESEC Bandung mengadakan sebuah project yang concern terhadap kesehatan. Project yang diselenggarakan oleh AIESEC Bandung in Maranatha Christian University pada 18 November - 29 Desember 2013 dan 6 Januari - 16 Februari 2014 tersebut dinamakan “Power Up.” Dalam project tersebut isu kesehatan dibagi menjadi 2 bagian, yakni kesehatan secara teori (pemberian edukasi mengenai kesehatan) dan healthy lifestyle. Jadi yang dilakukan oleh para exchange participants yang terlibat dalam project ini adalah diberi training oleh beberapa organisasi yang berhubungan dengan kesehatan seperti Asian Medical Student Association (AMSA), lalu mereka menyampaikan kembali hasil training itu ke para murid TK, SD, SMP, dan anak-anak di panti asuhan. Project yang dilakukan dua kali, dan masing-masingnya dilaksanakan selama 6 minggu tersebut melibatkan exchange participants dari beberapa negara. Pada project pertama, ada 4 EP dari Amerika Serikat, Portugal, Srilanka, dan India. Sedangkan pada project kedua, terdapat 7 EP yang di antaranya berasal dari Jerman, Brazil, China, dan Vietnam. Mereka memperkenalkan dan mempraktikkan olahraga khas dari negara mereka masing-masing, kemudian memperkenalkan gaya hidup vegetarian, memberi edukasi tentang kanker untuk orang tua penderita, melakukan tracking ke bukit-bukit di Lembang setiap minggunya, hingga bersepeda keliling Bandung untuk berkuliner. Semua kegiatan dilakukan di Bandung, seperti di TK High Scope, Yayasan Kasih Anak Kanker Bandung, Panti Asuhan Fajar Harapan, hingga Restoran “Kehidupan Tidak Pernah Berakhir.” “Tujuan dari project ini adalah untuk meningkatkan kesadaran diri tentang healthy lifestyle bagi masyarakat, terutama para generasi muda. Ketika project ini berlangsung ada banyak hal menarik dan menantang yang terjadi. Namun dari itu semua ada berbagai macam pelajaran dan hal-hal positif yang kami dapat seperti emotional intelligence, leadership, developing people, supporting each other, and creating family atmosphere,” jelas Cinantya Sutanto, ketua pelaksana project Power Up MCU ini. ***

EASE MAGAZINE | APRIL 2014 21


WANDERLUST LET’S GET OUT FROM OUR COMFORT ZONE !!! By: Ascariena Rafinda

22 EASE MAGAZINE | APRIL 2014


Mengikuti exchange untuk winter term dengan waktu yang terbatas sekaligus menjadi mahasiswa tingkat akhir bukanlah hal yang mudah. Penolakan lebih dari 5 kali tidak mematahkan semangatku sedikitpun untuk mengikuti GCDP Internship Program. Akhirnya aku berhasil mendapatkan project World of Knowledge di Gdansk, Polandia selama 4 minggu. I couldn’t believe anymore that they accepted an intern with limited time!!! World of Knowledge adalah project dengan siswa SMA sebagai target audience-nya. Saat melakukan project ini, aku mengunjungi sekolah-sekolah di kota Gdansk, Gdynia dan Sopot. Disana aku melakukan presentasi mengenai Indonesia, serta mengajarkan tarian daerah Indonesia. Hampir semua siswa yang aku ajar, sangat tertarik dengan tari Saman karena temponya yang cepat. Selain itu, aku juga mengajarkan cara menulis nama mereka dengan huruf aksara jawa. I was so surprised that it wasn’t only the students but also the teachers were really excited to learn ‘aksara jawa’. Selain itu aku juga membawakan beberapa cinderamata dan permen khas Indonesia kepada mereka. Keesokan harinya setelah aku memberikan cinderamata ke mereka, sekelompok siswa datang kepadaku sambil membawakan roti dan berkata “it’s for you, because yesterday you gave us those souvenirs and candies and also thank you for telling us about your wonderful country, Indonesia”. Balas budi dan sangat menghargai adalah dua hal yang aku lihat dari siswa di Polandia. Disana, tidak hanya mereka yang belajar mengenai Indonesia, mereka juga dengan antusias mengajarkanku tarian khas Polandia, yakni Polonez serta beberapa bahasa Polandia. Pergi ke Eropa merupakan salah satu mimpiku dari kecil, tapi tidak pernah terbayangkan untuk pergi ke Polandia. Kota yang aku kunjungi bernama Gdansk, yang terletak di utara Polandia, dekat dengan laut Baltik dan merupakan salah satu kota wisata. Gdansk merupakan bagian dari Tri City, dengan kota lainnya yakni Gdynia dan Sopot. Kota dengan nuansa arsitektur tua ini terlihat sangat berbeda bila dibandingkan dengan Warsaw yang lebih bernuansa modern dan metropolitan.

Old town merupakan tujuan utama wisata hampir di tujuh kota yang aku kunjungi di Polandia. Berhubung aku tidak mendapatkan visa schengen, aku memaksimalkan waktuku di Polandia untuk mengunjungi beberapa kota di Polandia, seperti Torun, Gdynia, Sopot, Warsawa, Krakow dan Rszeszow. Untuk bepergian dari satu kota ke kota lain, biasanya aku menggunakan polskibus, bis dua tingkat ini sangat nyaman karena memiliki wi-fi didalamnya, serta jika kita menempuh perjalanan dari Gdansk ke Warsawa (selama 5 jam) atau sebaliknya, kita akan mendapatkan roti, es krim dan jus apel/kopi/teh, dan semuanya diberikan secara gratis. Biaya polskibus dari Gdansk ke Warsawa adalah 50 PLN. Sedangkan didalam kotanya, transportasi yang digunakan adalah tram, bis atau kereta. International Student Identity Card atau kartu ISIC sangat berperan penting disini, karena kita akan mendapatkan diskon 50% setiap pembelian tiket. Selama tinggal di Polandia, aku belajar untuk beradaptasi dengan roti sebagai makanan sehari-hari. Salah satu makanan khas Polandia, adalah pierogi. Pierogi adalah pangsit dengan isi keju/kentang/brokoli/daging, biasanya direbus/dipanggang/digoreng dan disajikan dengan melted-butter atau sour cream. Untuk sayuran, orang Polandia biasanya mengonsumsi salad. Meskipun aku hanya exchange sekitar 4 minggu, namun aku sudah sangat menyukai Polandia. Udara yang bersih, tingkat polusi yang rendah , cara hidup yang teratur dan disiplin, serta suasana old-town adalah beberapa hal yang sangat aku suka dari Polandia. Selain itu, hal yang paling menyenangkan dari sebuah exchange adalah kesempatan kita untuk berkenalan dengan teman dari seluruh dunia serta mempelajari kebudayaan mereka. Meskipun diawalnya aku sempat merasakan culture shock yang kuat, namun seiring berjalannya waktu dan dengan terus mencoba beradaptasi, aku pun menjadi mulai terbiasa. Sebenarnya hidup di lingkungan yang berbeda sangatlah menyenangkan karena kita akan keluar dari comfort zone kita selama ini. Jadi apa lagi yang ditunggu? Selagi masih muda, tidak ada salahnya mencoba hal baru ! Let’s go exchange and get out from our comfort zone!

EASE MAGAZINE | APRIL 2014 23


24 EASE MAGAZINE | APRIL 2014

EASE Magazine - April Issue  

EASE Magazine is a youth magazine that help you update with recent issues about leadership, management, and other youth related topic. Also...

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you