Issuu on Google+

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 165 Maret Tahun XXXVI 2013

1 www.profesi-unm.com

Tabloid Mahasiswa UNM

Pengemban Tri Darma Perguruan Tinggi

Transparansi HARGA MATI

Reportase Utama

Reportase Khusus

Wawancara Khusus

Cara Baru Lahirkan Jalan Baru

Fulus Tak Lagi Mulus

Beri Kesempatan Guru Menilai

Profesi FM - 107.9 MHz

Urai data, ungkap fakta, saji berita

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 165 Maret Tahun XXXVI 2013


Persepsi

2

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 165 Maret Tahun XXXVI 2013

www.profesi-unm.com

editorial

Jangan Ada Dusta JANGAN ada dusta diantara kita, istilah yang sering digunakan PR III di beberapa pertemuan. Sebagai Pengurus LK, katakata itu sering kita dengar waktu dialog lembaga kemahasiswaan, saat memberikan sambutan, maupun pada saat menjawab pertanyaan para aktivis mahasiswa persoalan keterlambatan pencairan anggaran. Pertanyaannya kemudian, apakah istilah itu masih ampuh? pasalnya, tujuh bulan periode kedua Arismunandar, hingga saat ini civitas UNM tidak pernah mendapat kejelasan soal anggaran. Parahnya lagi, sebagai penentu kebijakan, Pembantu Rektor III dan Pembantu Rektor II UNM sepertinya tak mampu berbuat apa-apa. Alhasil, masalah-masalah terkait anggara sudah menggerogoti UNM. Menumpuknya honor pegawai, hingga dana kemahasiswaan yang tidak mendapat kejelasan sampai saat ini. Tentunya patut diapresiasi mengenai niat PR III yang selalu memegang prinsip transparansi. Tapi nampaknya, untuk menjalankannya sangat sulit, pasalnya sistem yang sudah membudaya di UNM tak mampu di robahkannya. Sistem yang selama ini seperti main kucing-kucingan, beberapa kali sang pemangku jabatan ini berulang kali me-

nagih bendahara soal rincian alokasi anggaran lima persen untuk anggaran kemahasiswaan. Namun hingga saat ini tak kunjung mendapat kejelasan dari PR II maupun bendahara UNM. Ketakutan paling besarnya adalah, ketika kredibilitas birokrat runtuh akibat sistem lama. Karena pada akhirnya civitas akan muak dengan kalimat jangan ada dusta di antara kita. Entah dengan cara apa, yang jelasnya civitas sangat menanti realisasi kalimat tersebut. Sebenarnya masalah ini sangat mudah dipecahkan, jika saja semua elemen bisa bekerja sesuai tupoksinya dan ditopang oleh ketegasan dari birokrat. Rasanya terlalu cepat kita berbangga dengan adanya gedung phinisi jika sistem di dalamnya masih amburadul. Kejelasan dana kemahasiswaan, honor pegawai maupun dosen tentunya menjadi pekerjaan rumah untuk pembantu rektor yang baru menempati posisinya ini. Civitas akademika UNM tentunya berharap, bengkalai terkait sengkarut anggaran bisa ditasi. Jika tidak, tentunya mereka tidak akan rela jika haknya dirampas. Lagi-lagi, Transparansi Harga Mati. (**)

SMS Pembaca

?

081242617xxx Profesi, sy mau minta tlong untk tnyakan, bagaimana klo mau ambil beasisiwa bidikmisi yg gugur kmrin? Tlong di bantu krn sy btuh info itu. Thanks. Jawaban: Kepala BAAK, Kamaruddin. Calon mahasiswa pengganti penerima Bidik Misi ini dikhususkan untuk angkatan 2011. Akan ada tes wawancara kalau mau mengganti penerima bidikmisi, dan juga termasuk mahasiswa itu harus memiliki nilai standar 2,75 dan tentunya mahasiswa tersebut berekonomi rendah. Dan yang tidak datang mengikuti tes wawancara dianggap mengundurkan diri. 08991308xxx Kenp waktu z cek website UNM,knp hal-hal aneh yg z liat ? Mhon profesi bntu untk tnykan kpda yg berwenag cozx z risih melihat gmbar yg tertera. Makasih sebelmx pda profesi. Jawaban: Kepala ICT, Rusli Memang beberapa kali website kita dibobol oleh oknum. Kami juga masih berusaha untuk mengamankan website supaya tidak gampang dibobol. Tapi sekarang sudah bagus. Kita juga masih terus berupaya menyosialisasikan IT kepada civitas akademika UNM, supaya mahasiswa juga lebih tahu perkembangan informasi UNM melalui website resmi UNM.

Tabloid Profesi dapat juga dibaca di:

www.profesi-unm.com

Profesi FM 107.9 MHz Redaksi menerima saran, dan kritikan dari mahasiswa atau birokrat UNM. Kirim saran dan kritikan Anda ke: SMS Email Twitter Facebook

: 0852 9938 5780 | 0852 5592 7221 : profesi_unm@yahoo.com : @Profesi_Online : LPPM Profesi UNM

Nama di bawah ini tidak lagi tercatat sebagai pengelola LPPM Profesi UNM

Fatma Husni

Pelindung: Arismunandar Penasihat: Sofyan Salam, Nurdin Noni, Heri Tahir, Eko Hadi Sujiono, Kamaruddin, Baliana Dewan 足Pembina: Abdullah Dola, Asia Ramli Prapanca, Hazairin Sitepu, Anshari, Akbar Faisal, Mukhramal Azis, Uslimin, Ammas, F 足 acharuddin Palapa, Abdul Wahid Nara, Husain Rasyid, Syamsuddin Yoko, Rusli Siri, Makmur Abdullah, Fitriani Rachman. Pemimpin Umum: 足Sahrul Alim Sekretaris: Fajrianto Jalil Bendahara: Nurjanna Jamaluddin Divisi Penerbitan: Asri Ismail (Pemimpin Redaksi) Divisi Online: Imam Rahmanto (Kepala Divisi) Divisi Penyiaran: Andini Ristyaningrum (Station Manager) Divisi Penelitian dan Pengembangan: Fahrizal Syam (Kepala Litbang) Tabloid Mahasiswa PROFESI diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan dan Penyiaran Mahasiswa (LPPM) Profesi Universitas Negeri Makassar STT : 1635/SK/Ditjen PPG/1990. Penanggung Jawab: Sahrul Alim, Pemimpin Redaksi : Asri Ismail, Sekertaris : Fajrianto Jalil, Bendahara : Nurjanna Jamaluddin, Kepala Penyiaran: Andini Ristyaningrum, Kepala Online: Imam Rahmanto, Kepala Litbang: Fahrizal Syam, Redaktur: Sutrisno Zulkifli, Rukmana Mansyur, Muhammad Ilham, Reporter: Azhar Fadhil, Muhammad Yasir, Ary Utary Nur, Susi Amriani, Nur Lela, Yeni Febrianti, Syamsul Alam, Fadillah Dwi Octaviani, Fotografer: Rizki Army Pratama, Layouter/Grafis: Khaerul Mustaan, Manager Sirkulasi dan Iklan: Sugianto Rusli. Redaksi LPPM Profesi UNM : Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lt I Rektorat Lama, Gunung Sari Universitas Negeri Makassar (UNM) atau Kompleks Jl. Dg. Tata Raya, Kompleks Hartaco Indah Blok IV AB No.1, Telp. (0411) 887964, e-mail: profesi_unm@yahoo.com, website: www.profesi-unm.org

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 165 Februari Tahun XXXVI 2013

1 www.profesi-unm.com

Tabloid Mahasiswa UNM

Pengemban Tri Darma Perguruan Tinggi

Transparansi HARGA MATI

Reportase Utama

Reportase Khusus

Wawancara Khusus

Cara Baru Lahirkan Jalan Baru

Fulus Tak Lagi Mulus

Beri Kesempatan Guru Menilai

Profesi FM - 107.9 MHz

Desain Sampul: Khaerul Mustaan

FOTO BERSAMA. Wartawan detik.com, Muh Nur Abdurrahman berfoto bersama pengelola LPPM Profesi UNM setelah memberikan materi inhouse training tentang manajemen portal berita online (10/2).

Urai data, ungkap fakta, saji berita

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 165 Februari Tahun XXXVI 2013

Dalam proses peliputan, wartawan PROFESI dibekali tanda pengenal atau surat tugas dan dilarang meminta atau menerima pemberian dalam bentuk apapun.

Urai data, ungkap fakta, saji berita

Profesi FM - 107.9 MHz


Mozaik

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 165 Maret Tahun XXXVI 2013

3 www.profesi-unm.com

Bidik Misi

Snapshot

PR III: Ada Anak Kepala Dinas HASIL inspeksi yang dilaku­ kan terhadap penerima bea­ siswa pendidikan mahasiswa miskin (bidik misi) ternyata belum maksimal. Hal tersebut terlihat masih ditemukannya seorang mahasiswa, yang merupakan anak dari kepala sub bagian kemahasiswaan, Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) UNM yang mendapat­ kan beasiswa yang notabene­ nya untuk orang miskin itu. Saat dimintai keterangan terkait hal tersebut, Iskandar, yang merupakan kepala sub bagian kemahasiswaan, tidak menampik anaknya, Ria, yang juga menjadi mahasiswa FBS mendapatkan bidik misi. “Iya betul anak saya dapat, tapi saya tidak tahu menahu, karena sekolahnya yang me­ ngusul saat itu,” ungkapnya. Selaku Pembantu Rek­ tor bidang kemahasiswaan, Heri Tahir, mengungkapkan

bahwa kasus seperti ini sudah pernah terjadi. “Sudah ada dua pe­gawai UNM datang kesaya, saya langsung kasih keluar anaknya dari bidik misi, karena ketahu­an telah menerima beasiswa tersebut padahal sebenarnya tidak berhak,” tegasnya. Heri Tahir menambah­ kan, kasus penerimaan bidik misi yang tidak tepat sasaran seperti ini memang banyak terjadi, “Sebenarnya memang banyak yang tidak berhak, ada yang anaknya mantan kepala dinas, makanya juga kerja saya ganti cepat, ada juga yang penerima bidik misi tapi pakai motor mewah saya stopkan juga bidik misinya,”tambahnya. Pria asal Bone ini menye­ salkan adanya kecurangan-ke­ curangan dari dalam birokrat seperti kasus ini. “Inilah se­ benarnya, jangan sampai ada

dusta diantara kita, sudah tahu tidak berhak tapi pura-pura tidak tahu lagi,” kesalnya. Heri mengakui banyaknya kekurangan dari regulasi program bidik misi ini. “Me­ mang kita tidak ada waktu mengevaluasi secara total, kita juga butuh ahli untuk men­ deteksi hal itu secara dini, tapi paling tidak setelah kita veri­ fikasi tahun lalu pasti orang sudah hati-hati,” akunya. Di akhir, Heri meng­ harapkan pasrtisipasi dari semua pihak termasuk media untuk melakukan kontrol terhadap penerimaan dana bidik misi ini. “Jadi saya kira saya betul-betul harus me­ ngawal bidik misi ini dengan sebaik-baiknya, tentu kalau ada penyimpangan tolong sampaikan, saya itu sangat menerima sekali, karena itu kan salah satu fungsi media juga,” pintanya. (rap/pr20)

Maphan Ajak Siswa SMA Menulis AIDS MAHASISWA Peduli HIV/AIDS dan NAP­ ZA (Maphan) UNM kini menyentuh kalangan muda dalam mengurangi penularan HIV/AIDS dan penggunaan obat-obat terlarang. Hal ini dilakukan melalui Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) 2013.Lomba karya tulis Ilmiah ini akan melibatkan siswa tingkat SMA sederajat dari sekolah-sekolah yang ada di provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar). LKTI 2013 yang dimulai sejak 4 Februari lalu me­ ngangkat tema “Zero To HIV/AIDS & NAP­ ZA” sebagai ruang lingkup penulisan. LKTI menurut Ketua Panitia, Andi Parajai bertujuan untuk mengedukasi kalangan muda mengenai dampak HIV/AIDS dan NAPZA serta bagaimana pencegahannya. Mengurangi dam­ pak buruk dari HIV/AIDS dan NAPZA ini perlu dimulai sejak usia dini dan tidak cukup hanya dalam bentuk sosialisasi. Menurutnya perlu ada solusi-solusi lain yang harus dilakukan. “Mem­ buat lomba seperti ini misalnya, siswa secara langsung juga belajar membuat tulisan ilmiah,” ujar mahasiswa jurusan PPKN ini. Rupanya LKTI 2013 ini menarik perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) khususnya

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) untuk bekerjasama dalam menyukseskan keg­ iatan salah satu Unit Kerja Mahasiswa (UKM) UNM ini. Pemprov bahkan menyediakan hadiah berupa uang tunai dan Trofi Gubernur untuk tulisan yang berhasil menjadi juara. Se­ lain itu panitia LKTI juga bekerjasama dengan PT. POS dan beberapa instansi lainnya. Parajai berharap, LKTI ini mendapat respon yang positif dari sekolah-sekolah sehingga banyak karya yang masuk untuk dilombakan. Karya tulis ilmiah yang diker­ jakan secara berkelompok tersebut setelah melalui seleksi akan dipresentasikan di depan juri di Ruang Senat Rektorat UNM pada 23 Maret mendatang. Namun, sejauh ini menurut Mustamu Mustar, Ketua Umum MAPHAN, panitia pelaksana masih terkendala soal pendana­ an. Program kerja dari bidang II ini belum mendapatkan kucuran yang cukup dari pihak kampus untuk mendukung suksesnya LKTI. “kami hanya menggunakan sisa-sisa dana dari kegiatan sebelumnya,” ujar mahasiswa eks­ ponen 2010 Pendidikan Sejarah ini. (faj)

Aspura FIK UNM

AYAM KAMPUS. Sepasang ayam tampak bertengger di pagar Kantin Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Ayam tersebut adalah milik Dekan FIP, Ismail Tolla yang dipelihara di lingkungan kampus tersebut. Kantin menjadi tempat favorit ayam-ayam ini mendapatkan makanan. Potret ini pun menjadi pemandangan sehari-hari bagi sivitas yang berkunjung ke Kantin FIP.

Festival Teater Mahasiswa Nasional VI

Lipa Sikoi Bawa Pulang Tiga Medali DENGAN karya yang berjudul “Lipa Sikoi”, Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Universitas Negeri Makassar (UKM Seni UNM), membawa pulang tiga penghargaan pada ajang per­ lombaan Festival Teater Mahasiswa Nasional (FESTAMASIO) VI yang dihelat di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), di Surabaya, Jawa Timur(8-12/2). Festval ini diikuti oleh berbagai universitas yang ada di Indo­ nesia yang telah lulus seleksi.​Teater Titik Dua UKM Seni UNM membabat tiga penghargaan di antaranya, Penata Cahaya Terbaik oleh Fasial Abdullah, Penata Musik Terbaik oleh Ahmad Afandi, dan 3 Penyaji Terbaik selain Teater Lakon Bandung dan Teater Sirat IAIN Surakarta. Ketua umum UKM Seni UNM mengungkapkan kebanggannya atas pencapaian prestasi tersebut, dia merasa kerja keras mereka seakan terlunaskan walaupun dari awal ke­ menangan bukanlah tujuan utama mer­ eka. “Tentunya kami sangat bangga bisa mengharumkan nama UNM, kami lahir dan berdiri disini walau sekeras apapun tanggapan orang tentang UNM kami berusaha mengharumkannya den­ gan berkesenian,” ungkapnya. Mahasiswa PGSD FIP ini menceritakan pengalamannya saat di acara disana. “Jadi Acaranya dimulai tanggal 8 (Februari). Awalnya diada­ kan karnaval mengelilingi ITS dengan menggunakan baju adat,setelah itu ada pementasan kecil dari setiap kontingen disitu kami menampilkan

tari Mabella,dan setelah itu barulah pembukaan,” urainya. Ilman yang berperan sebagai aktor menjelaskan, karya yang berjudul Lipa Sikoi karangan Rahman Labaranjang dan disutradarai oleh Eros Luna itu bercerita tentang kehidupan manusia dan alam itu saling mengait. Selain itu didalamnya ditampilkan juga pengaruh budaya-budaya barat yang merasuki pemahaman orang di Indonesia. “Ada kutipan di awal mengatakan,wahai anak zaman kutitipkan selembar kain putih ini kepadamu baik buruk tergan­ tung rapi lusuh lipatannya, ini salah satu bentuk nasihat-nasihat kepada regenerasi bagaiamana mengelola yang telah diwariskann. Adanya pengaruhpengaruh budaya barat yang merasuki pemahaman-pemahan orang di Indone­ sia kami tampilkan juga dalam 4 unsur yang dipengaruhi yakni bebatuan, hewan, tumbuhan, manusia jadi untuk barat sampai ke Indonesia ada 4 yang dia jajah,” ungkapnya Ia menambahkan, prestasiprestasi yang dicapai UKM Seni seperti ini dapat ditingkatkan lagi dan semoga UNM bisa menjadi tuan rumah FESTAMASIO men­ datang. “Tidak harus sampai disini masih banyak tantangan kedepan yang harus dilalui, semoga juga kondisi kita memadai untuk men­ jadi tuan rumah di FESTAMASIO kedepan,”tutupnya. Pada Festamasio VI ini, UNM meloloskan dua peser­ tanya, yakni UKM Seni dan Bengkel Sastra BSI FBS UNM. (pr02/pr20)

Asramaku Sayang Asramaku Malang TAMPAK DEPAN. Aktivitas di Aspura FIK masih terlihat normal, birokrat FIK berencana akan merobohkan gedung tersebut demi keindahan kampus.

FOTO: RIZKI ARMY PRATAMA - PROFESI

Bangunan itu masih tampak sepi, hanya ada satu dua orang yang tampak sibuk berlalulalang disana. Bangunan yang masih terli­ hat asri dan tenang, meski sedikit terlihat ‘mistis’. Berdinding lu­ Profesi FM - 107.9 MHz

FOTO : RIZKI ARMY PRATAMA

mut dengan jejeran pohon-pohon besar di sekitarnya menambah ‘kemistisan’ bangunan yang ter­ letak di area kampus FIK ini. Aspura (Asrama Putra) UNM, seperti itulah tulisan yang terpampang di depan bangunan itu, tulisan yan masih menanda­

*Andini Ristyaningrum kan bangun itu masih terpakai, bangunan yang sudah tidak muda lagi tentunya. Belasan penghuni yang menggantungkan nasib dari bangunan tua itu, namun tinggal menghitung hari bangunan itu se­ bentar lagi akan dirobohkan. Arman salah satu penghuni Aspura mengaku belum lama menempati Aspura tersebut, tapi tempat itu sudah ia anggap sebagai rumah keduanya yang kabarnya akan dijadikan taman baca. “Ka­ lau saya belum cukup satu tahun disini kak, tapi kan saya sudah ter­ biasa disini,” ungkapnya. Mahasiswa jurusan Ilmu Ke­ olahragaan (Ilara) ini melanjutkan

ceritanya, ia pasrah dengan kepu­ tusan Birokrat untuk merobohkan bangunan yang sudah beberapa ta­ hun lamanya menjadi rumah para mahasiswa yang memilih menja­ dikannya istana. “Kalau saya kak, mungkin akan cari tempat kost yang dekat dari kampus juga,” ujarnya pasrah. Kesunyian masih mengusai bangunan itu, hanya terdengar kicauan burung-burung yang mungkin seperti menjadi bentuk protes mereka, tak rela atap ban­ gunan yang juga menjadi tempat tinggal mereka akan dirobohkan. Arman kembali menambah­ kan bahwa Pembantu Dekan bi­

dang Administrasi Umum (PD II) pernah menjanjikan sebuah ge­ dung untuk dijadikan Aspura baru, namun saat ini gedung tersebut sudah lebih dulu ditempati peserta Program Pendidikan Guru (PPG). Tak hanya Arman yang perlu bergegas mencari tempat tinggal baru, belasan penghuni lainnya juga sudah bersiap-siap meninggalkan paksa Aspura tersebut. Menanggapi hal itu Arifuddin Dekan FIK me­ nyatakan bahwa Aspura yang terle­ tak di area kampus hanya mengang­ gu pemandangan. “Aspura itu hanya menggangu pemandangan, jadi ren­ cananya nanti akan kami buat taman baca mahasiswa FIK,” paparnya. (*) Urai data, ungkap fakta, saji berita


Inovasi

4

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 165 Maret Tahun XXXVI 2013

www.profesi-unm.com

Sulap Kotoran Sapi Jadi Biogas Peduli Masyarakat dengan Sistem Penjernihan Air

LIMBAH (kotoran) ternak terkadang digunakan sebagai pupuk (penyubur tanaman). Selain itu, kotoran ternak kadang pula dijadikan sebagai pakan ikan. Namun kini, kotoran ternak (sapi) dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar gas (biogas). Inovasi terbarukan ini dilakukan oleh eks PD III bidang Kemahasiswaan Fakultas Teknik (FT), Andi Muhammad Idkhan. Idkhan mencoba mengembangkan kotoran sapi karena mayoritas penduduk di Desa Parigi, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa beternak sapi. Selain itu, kotoran sapi menjadi kendala utama di sekitar rumah warga dikarenakan tempat pengolahan kotoran sapi belum ada sehingga sanitasi di lingkungan daerah peternakan sapi tersebut kurang. Ditambah dengan keadaan warga yang masih menggunakan kompor minyak tanah dan kayu bakar. Hal inilah yang mendorong Idkhan memanfaatkan kotoran sapi menjadi bahan bakar gas (biogas). “Saya melihat mengembangkan limbah sapi untuk membantu rumah tangga terbuka luas, jadi saya mengambil biogas,” ungkap Idkhan. Alat penghasil biogas (digester biogas) yang dibuat oleh Idkhan terbuat dari bahan yang murah dan mudah didapat. Digester biogas ini terdiri dari dua komponen utama yaitu

tangki pencerna (digester) dan tangki penampung gas. Digester biogas ini bekerja dengan cara memasukkan bahan isiannya, yakni kotoran sapi, air, dan EM4 dengan perbandingan kotoran sapi dengan air adalah 1:2 melalui saluran pemasukan. Campuran bahan ini kemudian diaduk terlebih dahulu secara merata (homogen) agar pemasukan bahan ke dalam reaktor dapat berlangsung dengan baik. Produksi gas yang dihasilkan dari fermentasi bakteri di dalam reaktor dimulai pada hari ke-enam atau sekitar 10 hari. Tekanan biogas selama fermentasi cenderung mengalami perubahan. Besarnya produksi biogas dipengaruhi oleh jumlah bahan isian reaktor untuk proses fermentasi. Temperatur lingkungan pun harus terjaga sehingga produksi biogas dapat berlangsung secara kontinu. Temperatur yang baik untuk fermentasi bakteri ini adalah di atas 20˚C. Selanjutnya, gas yang dihasilkan ini dengan sendirinya mengalir ke tangki penampung gas. Dengan memanfaatkan tekanan dari tangki pengumpul, maka gas dapat dialirkan ke kompor biogas. Di samping itu, nyala api dari kompor harus diperhatikan karena dipengaruhi oleh kandungan gas metan. Gas yang dihasilkan dari proses fermentasi ini mengandung

45% gas metan jika terbakar dengan nayala api yang besar dan biru. Pengujian biogas untuk memasak ini dilakukan dengan menggunakan kompor gas yang telah dimodifikasi yaitu dengan menutup rongga pada bagian inlet kompor gas. Penggunaan biogas ini dapat mengurangi penggunaan minyak tanah. Selain itu, bahan bakar biogas tidak menghasilkan asap dan bersih dari jelaga. Menurut Idkhan, bahan bakar biogas ini hemat karena selama 4 bulan, pengisian biogas ini baru dilakukan 2 kali. Selain itu, 1 tabung biogas bisa melayani hingga 4 rumah tangga. Bau gas yang dihasilkan dari fermentasi ini sama dengan gas lainnya. Masyarakat tak perlu khawatir dengan kebocoran gas karena tabung ini dicor dan menggunakan bahan plastik sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh faktor keasaman tanah dan tahan selama 5 tahun. Berkat usahanya, Idkhan memenangkan hibah dari DP2M Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti). Lebih lanjut dirinya berharap, kegiatan seperti ini lebih banyak melibatkan mahasiswa. “Bidang pengabdian masyarakat seperti lebih banyak melibatkan mahasiswa karena jika mahasiswa banyak terlibat maka mereka mendapatkan pengetahun selain dari bangu kuliah,” ungkapnya. (Dwi)

BERAWAL dari kondisi realitas di masyarakat yang bermukim di daerah pinggiran sungai dan danau yang selalu tergenang air akibat luapan air dan banjir. Membuat dosen dari pendidikan teknik sipil dan perencanaan, Bakharani Rauf, mengeluarkan ide untuk membantu mereka. Ide itu diberi nama Sistem Penjernihan Air yang Praktis dan Ekonomis. Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Teknik (PD III FT) ini menjelaskan, sistem penjernihan air yang dibuatnya merupakan konstruksi sederhana. Karena bahannya tidak sulit didapatkan dan memanfaatkan limbah. “Bahannya itu mudah didapatkan di lokasi. Ember besar yang dipasangi keran dan diisi bahan penyaringan . Yaitu, ijuk, kerikil, arang, pecahan batu merah, dan ram. Setelah siap wadahnya, kemudian air keruh dimasukkan ke dalam ember yang sudah diisi dengan bahan penyaringan dan setelah itu akan keluar air yang jernih dan dapat dikonsumsi,” ungkap pria yang juga aktif di LPM UNM ini. Sistem penjernihan air ini dibuat agar masyarakat yang sulit mendapatkan fasilitas air bersih terkhusus di daerah pedalaman tidak lagi memikirkan hal itu. Karena telah ada cara untuk menjernihkan air tersebut. “Agar masyarakat yang berada di pinggiran sungai dan danau juga bisa memanfaatkan air bersih untuk keperluan sehari-harinya,” tuturnya. Menurutnya, penemuan tersebut telah sekian kali diuji coba dan hingga saat ini telah didanai oleh Dikti. “Penemuan ini sudah sejak lama diterapkan dan Dikti pun telah mendanainya,” tukasnya. Lebih lanjut, ia menambahkan, penemuannya tersebut telah diterapkan diberbagai daerah pinggiran sungai dan danau. Misalnya, di kabupaten Soppeng, Wajo, Sidrap, dan Polman. “Sudah diterapkan di daerah-daerah itu,” jelasnya. (Dwi)

Tape Pisang Kepok BIASANYA tape dibuat dari beras ketan hitam maupun putih. Kadangan pula tape dibuat dari singkong. Tapi, ada tape dari pisang dan rasanya luar biasa. Yakni tape pisang kepok. Inovasi tape dari pisang kepok ini dilakukan oleh Andi Hudiah, dosen Jurusan PKK Fakultas Teknik (FT). Andi Hudiah memilih pisang kepok karena pisang kepk sangat baik untuk pencernaan yang bermasalah. Dalam pisang kepok terkandung antasida alami yang mampu menetralkan gangguan pencernaan. Keunggulan lain pisang kepok mampu menambah energi otak. Sebab kandungan vitamin B6 pisang tersebut cukup tinggi sebesar Urai data, ungkap fakta, saji berita

0,5 miligram per 100 gram yang berperan sebagai koenzim untuk beberapa reaksi metabolisme. Vitamin B6 juga mempengaruhi sintesis dan metabolisme protein. Khususnya serotonin yang diyakini berperan aktif sebagai neurotransmitter dalam kelancaran fungsi otak. Vitamin B6 juga memengaruhi metabolisme energi dari karbohidrat dan berperan mendukung ketersediaan energi bagi otak untuk aktivitas sehari-hari. Pembuatan tape dari pisang kepok ini sangat mudah dan bahannya pun mudah diperoleh. Yakni pisang kepok, ragi tape, daun pisang, dan daun katuk. Pisang yang dipilih untuk membuat tape adalah pisang yang mengkal

dan ragi yang kering. Pisang yang telah dipilih dikupas. Setelah itu dikukus hingga matang dan didin-

ginkan kerat-kerat. Kemudian ragi dihaluskan dan ditaburkan pada pisang. Pisang kemudian dibung-

kus dengan daun pisang kemudian dimasukkan dalam panci dan diperciki air rebusan daun katuk. Terakhir dilakukan fermentasi selama 2-3 hari dalam tempat yang kedap udara. Praktik pembuatan tape pisang kepok ini dilakukan Andi Hudiah selama 3 hari. Berkat inovasinya ini, Andi Hudiah berhasil memperoleh hibah Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti). Dirinya berharap, program pengabdian masyarakat seperti ini tidak sampai disini saja, tetapi berlanjut kontinu. “Kegiatan seperti ini jangan sampai di sini saja tapi terus dikawal dan dikembangkan,”harapnya. (Dwi) Profesi FM - 107.9 MHz


Reportase Utama 5

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 165 Maret Tahun XXXVI 2013

www.profesi-unm.com

SNMPTN 2013

Cara Baru Lahirkan Jalan Baru Diterapkannya mekanisme baru tersebut sesuai keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Dikti Kemendikbud) bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia mengubah seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2013 Diberlakukannya aturan baru itu dikarenakan UU No.12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi mengatur seleksi yang bersifat nasional mengharuskan pemerintah menggratiskan biaya pendaftaran. Lantaran pemerintah hanya menyanggupi menggratiskan satu jalur saja, maka SNMPTN Terulis pun dihapuskan dari SNMPTN dan menyisakan SNMPTN PPA sebagai ganti SNMPTN Undangan dengan penyeleksian yang berbeda. Hal itu dibenarkan Ketua Majelis Rektor Perguaruan Tinggi Indonesia, Idrus A. Paturusi. Ia mengatakan SNMPTN tahun ini memang mengalami perubahan utamanya pada sistem penjaringannya. Menurtnya, perubahan itu disesuaikan dengan perundangan-undangan yang berlaku. “Yang lalu namanya SNMPTN, ada yang tulis dan undangan. Namun untuk tahun ini hanya ada SNMPTN PPA,” ungkap Rektor Universitas Hasanuddin ini. Akibatnya, peserta SNMPTN tidak melibatkan lagi tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat 2011 ataupun 2012. karena pendaftarnya mesti lulusan tahun ini yaitu siswa terbaik yang mendapat rekomendasi kepala sekolah. Pada pelaksanaannya, format baru SNMPTN ini juga terbilang cukup rumit. Sekolah tidak bisa serta merta merekomendasikan siswanya sebab sekolah yang boleh hanya yang telah memiliki Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) dan telah menyelesaikan pengisian informasi rekam jejak sekolah dan prestasi akademik siswanya di Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS). “Tidak mengisi PDSS berarti tidak bisa ikut SNMPTN,” terang Idrus. Pengisian PDSS ini telah berakhir 9 Februari lalu yang dimulai sejak 17 Desember 2012. Setalah itu, siswa selanjutnya mengantongi Nomor Induk Siswa Nasional Profesi FM - 107.9 MHz

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun ini hanya menyisakan satu jalur saja. Sebutan SNMPTN Undangan dan Tertulis kini ditiadakan dan berganti menjadi Penjaringan Prestasi Akademik (PPA). Namun, format baru tersebut justru membuka lubang menganga terjadinya kecurangan yang lebih besar. FOTO: RIZKI ARMY PRATAMA - PROFESI

BERGANTI. Sejumlah peserta SNMPTN Tertulis 2012 mengikuti tes di Ruang Seminar Program Pasca Sarjana UNM. Kini, SNMPTN Tertulis ini telah ditiadakan dari SNMPTN dan berganti nama menjadi SBMPTN.

(NISN). Nomor itu yang kemudian digunakan untuk melakukan pendaftaran website SNMPTN dengan memilih dua program studi yang diinginkan di satu PTN, 1 Februari hingga 8 Maret mendatang. Maksimal PTN yang dipilih yaitu dua dengan salah satu PTN harus se-provinsi dengan sekolah asal. Namun jika hanya memilih satu PTN maka boleh memilih PTN dari provinsi mana saja. Sementara tahap seleksinya, PTN yang dituju mendaftar diberi wewenang sepenuhnya menentukan peserta yang lulus. PTN melihat prestasi akademik berdasarkan nilai rapor dan prestasi-prestasi lainnya sesuai yang tertera di PDSS dari kelas 10 sampai 12 atau dari semester I hingga semester V di SMA selain melihat hasil Ujian Nasional (UN). Tak tanggung-tanggung kuota mahasiswa baru yang diberlakukan bagi setiap PTN mengharuskan sebanyak 50 % dasi SNMPTN PPA ini. “PPA itu yg dibiayai secara nasional makanya yg nasional diberi porsi yg lebih besar,” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Unhas ini. SBMPTN Ganti SNMPTN Tertulis Sebagai ganti dihapuskannya tes tertulis dari

SNMPTN, Dirjen Dikti membuat jalan lain yang dinamai Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). “SNMPTN Tulis tidak masuk lagi di SNMPTN tapi menjadi SBMPTN,” ungkap Rektor Universitas Hasanuddin ini. Menurutnya SBMPTN tidak ada bedanya dengan SNMPTN tulis secara administratif pendaftaran dan tesnya namun yang berubah hanya persoalan namanya saja,” ungkap Idrus. Lanjut, Idrus mengatakan SBMPTN ini baru dimulai setelah hasil penjaringan SNMPTN telah diumumkan. “SBMPTN itu nanti setelah SNMPTN selesai,” katanya. Berbeda dengan SNMPTN yang biaya pendaftarannya ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Jalur SBMPTN ini mengharuskan peserta membayar. “Perbedaannya dari segi pembayarannya, SNMPTN dibiayai oleh pemerintah dan SBMPTN oleh peserta,” ungkapnya. Jalur ini menjadi kesempatan kedua masuk di PTN bagi peserta SNMPTN yang tidak lulus dan sekaligus pada jalur ini juga siswa tamatan 2011 dan 2012 bisa ikut serta. Untuk jalur lainnya, yakni Jalur Mandiri masih dengan format yang sama dengan tahun lalu. (tim)

Kemendikbud Anggarkan Rp100 Miliar untuk SNMPTN SESUAI Undang-undang No.12 Tahun 2012 UU No.12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi mengatur seleksi yang bersifat nasional mengharuskan pemerintah menggratiskan biaya pendaftaran. Kemendikbud pun menggelontorkan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013. Jumlahnya mencapai Rp100 Miliar. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhammad Nuh menyatakan, selama ini ada hambatan tersendiri bagi masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Peserta harus membayar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu untuk biaya pendaftaran SNMPTN, baik itu ujian tulis, jalur undangan, maupun ujian praktik kejuruan. Sementara itu, para rektor pun tidak bisa menjamin semua yang membayar biaya pendaftaran tadi diterima karena keterbatasan daya tampung dan harus melalui mekanisme seleksi yang sudah ditetapkan. “Hambatan-hambatan seperti itu dihilangkan saja. Kami putuskan biaya seleksi nasional ini tidak boleh dibebankan ke masyarakat, pemerintah saja yang menanggung,” ujar Nuh, seperti dikutip dari harian Kompas. Sementara itu, Ketua SNMPTN 2013 Akhmaloka mengimbuh, pembe-

basan biaya pendaftaran ini akan mencakup sekira 1,5 juta siswa SMA dan sederajat yang diprediksi akan mengikuti seleksi tahun depan. Pemerintah sendiri menyiapkan 150 ribu kursi di 61 PTN untuk mereka perebutkan berdasarkan seleksi nilai rapor sejak semester satu SMA dan mempertimbangkan nilai ujian nasional. “Peserta dan sekolah tidak perlu khawatir karena kami sudah memiliki sistem seleksi sendiri,” kata Akhmaloka di harian Kompas. Tentunya kebijakan tersebut mendapat sambutan yang baik dari pihak sekolah maupun siswa. Kepala Sekolah Madrasah Aliah Negeri 1 Barru, Mukhtar Lutfi, mengaku menyambut baik terobosan baru pemerintah ini. Ia mengatakan, dengan digratiskannya pendaftaran SNMPTN ini tamatan SMA akan lebih lebih dimudahkan lagi untuk masuk PTN dengan tidak adanya beban administratif. “Tinggal mendaftar online dengan NISN yang diberikan, mereka pun langsung terdaftar tanpa harus lagi ke Bank,” ujarnya. Salah satu siswa yang ingin mendaftar pada SNMPTN 2013, Diana, mengaku merasa sangat terbantu dengan tidak adanya lagi biaya yang dibeban kepada para pendaftar. “Senang karena biaya pendaftrannya tidak ada,” tutur siswa SMAN 1 Alla ini. (tim) Urai data, ungkap fakta, saji berita


6

Reportase Utama

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 165 Maret Tahun XXXVI 2013

www.profesi-unm.com

Nilai Rapor Sarat Manipulasi

PDSS Belum Siap Diterapkan TERCATAT, hingga penutupan pengisian PDSS, 9 Februari lalu, sebanyak 14.027 dari 28.714 SMA dan sederajat secara nasional belum mengisi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS). Untuk Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), masih ada sebanyak 645 dari 1.203 sekolah yang tidak mengisi PDSS. Data ini diungkapkan Kepala Humas UNM, Jalaluddin Mulbar, 9 Februari lalu. Dari data yang ia kemukakan, terjadi peningkatan pengisian PDSS menjelang penutupan dibanding harihari biasanya. “Hari ini ada 100 lebih sekolah yang baru terdaftar begitupun kemarin,” ungkap dosen Jurusan Matematika FMIPA ini. Walaupun demikian

tetap saja, sekolah yang tidak terdaftar lebih banyak bahkan mencapai lebih dari 50 persen. Padahal mengisi PDSS adalah syarat mutlak bagi sekolah mendapatkan Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) untuk bisa merekomenasi siswanya mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Akibatnya, jutaan siswa tahun ini dipastikan tidak dapat mendaftar SNMPTN karena tidak memiliki Nomor Induk Siswa Nasional (NISN). Data tersebut menunjukkan model baru SNMPTN belum layak diterapkan tahun ini. Dirjen Dikti seakan tergesa-gesa memberlakukan aturan baru ini. Buktinya, sosialisasi pengisian PDSS

sebagai syarat ikut SNMPTN di sekolah baru dilakukan pada 17 Desember lalu. Hal itu sontak membuat sekolahsekolah kelimpungan. PTN yang ditugaskan melakukan sosialisasi pengisisan PDSS di sekolah-sekolah pun dapat dinilai gagal. Sekolah maupun PTN jelas belum siap dengan waktu yang mepet menerima format baru ini. Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Mahmud BM, mengatakan memang perlu ada persiapan-persiapan sebelumnya untuk melakukan perubahan sistem. Memastikan sekolah sudah benar-benar siap pada penerapannya. “Kelalaian dan kesalahan bisa saja terjadi jika waktunya mepet,”

katanya. Menangapi hal ini, Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Indonesia, Idrus A. Paturusi, menegaskan, persyaratan melengkapi PDSS bagi sekolah pada SNMPTN sudah semestinya diterapkan. Adapun kendala yang dihadapi seperti ada sekolah yang tidak mengisi, itu bukan karena ketidaksiapan PTN yang dalam hal ini melakukan sosialisasi. “Sebenarnya siap karena ini hanya berkutat pada pengimputan data. Kalau rapor baru dibuat itu bisa tergesa-gesa tapi kan rapor itu sudah ada sejak dari semester I, jadi tidak ada masalah karena rapor sudah ada. Yang jadi persoalan hanya pada masalah IT mereka,” ungkapnya. (tim)

Sekolah Unggulan Bakal Dominasi Kelulusan

MELIHAT mekanisme model baru SNMPTN tersebut, diprediksi diskriminasi penjaringan bakal terjadi. Dominasi peserta yang lulus dari sekolah favorit atau unggulan akan mencolok ketimbang peserta dari sekolah biasa, apalagi sekolah dari daerah pelosok. Tentunya nilai rapor dan prestasi siswa dari sekolah biasa dengan sekolah favorit jauh berbeda. Terlebih, siswa dari daerah pelosok tidak memiliki standar nilai yang baik. PTN yang melakukan seleksi berdasarkan nilai dan prestasi ini jelas akan lebih memilih peserta dari sekolah faUrai data, ungkap fakta, saji berita

vorit. Akibatnya, perserta dari SMA berstandar rendah kurang diprioritaskan sehingga peluang untuk lolos dalam seleksi SNMPTN ini pun sangat kecil. Hal itu diakui Pembantu Dekan I Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Muharram. “Jelas peluang untuk sekolah unggulan lebih besar karena memang siswanya berkualitas,” terangnya. Namun, Ketua Majelis Rektor PT, Idrus Paturusi membantah perihal diskriminasi terhadap sekolah biasa atau swasta. Ia menegaskan Penjaringan para peserta SNMPTN melihat beberapa parameter yang ditetapkan bagi seluruh

PTN. “Bukan cuma sekolah unggulannya yang dilihat, tapi melihat ranking siswa dan prestasinya, dimana sekolahnya berada, dan berbagai parameter lainnya, ungkapnya. (tim)

Tim Reportase Utama Kordinator: Sugianto Rusli Anggota: - Khaerul Mustaan - Syamsul Alam

FORMAT baru SNMPTN dengan mengacu pada nilai dan prestasi siswa disadari merupakan bentuk penghargaan atas hasil karya guru dalam memberi penilaian siswanya. Akan tetapi, perlu dicermati potensi peluarng terjadinya kecurangan juga besar pula. Penerimaan siswa dengan hanya melihat dari nilai rapor siswa tentu saja sarat dengan kecurangan yang bisa saja dilakukan oleh pihak sekolah yang ingin memberikan nilai-nilai yang cukup baik bagi siswanya agar dapat masuk ke dalam suatu perguruan tinggi negeri favorit. Agar bisa lulus, pihak sekolah yang menyadari siswanya kurang kompeten dan takut kalah bersaing dengan siswa dari sekolah favorit bakal mendongkrak nilai anak didiknya. Salah satunya karena faktor fluktuasi nilai akademik siswa yang dapat mempengaruhi penilaian PTN untuk tidak meluluskan peserta. Mengatur nilai diyakini mampu memudahkan peserta menembus penyeleksian yang ketat di PTN. Memandang hal ini, Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Mahmud BM, menuturkan, kadang terdapat sekolah swasta yang melampaui sekolah pada umumnya bahkan yang sekolah unggulan. “Makanya yang kita lakukan pengawasan yang ketat. Sekolah dan siswa mesti betul-betul siap mengikuti SNMPTN dimana siswa-siswa ini memang mendapat nilai yang sepantasnya mereka dapatkan baik itu nilai ujian sekolah maupun nilai ujian nasional. Itu menjadikan penilaian SNMPTN lebih objektif dan murni,” terang Mahmud. Senada, Pembantu Dekan I FMIPA, Muharram, mengatakan, pihak sekolah bisa saja melakukan kecuranangan denga memanipulasi nilai rapar siswa. “Bisa saja pihak sekolah melakukan kecurangan dengan memasukkan nilai yang bagus-bagus”, jelas pria asal Pinrang tersebut. Namun, Muharram menegaskan apabila ada sekolah yang ketahuan melakukan kecurangan, sekolah tersebut akan diblacklist oleh pihak universitas dan siswa asal sekolah yang melakukan kecurangan tersebut tidak akan diterima di Universitas Negeri Makassar. Rawan Nepotisme Tahap seleksi yang dilakukan PTN dalam meluluskan pendaftar SNMPTN disinyalir juga berpotensi kecurangan. Pa­ salnya, setiap prodi bakal menentukan sendiri siapa yang behak lulus dengan melihat PDSS. Tentu saja, hal itu dapat memicu subjektivitas para penilai jika pihak prodi memiliki kedekatan dengan salah satu peserta. Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Indonesia, Idrus Paturusi, mengatakan, peluang nepotisme tersebut sangat kecil lagi sebab PTN memberi keterbatasan dengan merengking seluruh pendaftar. Selain itu sistem komputerisasi tidak akan membiarkan kecurangan terjadi. “Tidak ada nama kita hanya melihat nomor. Tapi kan perengkingan dia tidak bisa lewat. Komputer tidak bisa komporomi,” jelasnya. (*)

T

U UD

S

+ Fulus Tak Lagi Mulus - Sarat manipulasi + Nilai Rapor Sarat Manipulasi - Agar berjalan mulus + Ini Kampus Bukan Sirkus - Untuk menambah fulus Dg. Tata Profesi FM - 107.9 MHz


Info Akademik

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 165 Maret Tahun XXXVI 2013

7

Satu Beasiswa Satu Mahasiswa

www.profesi-unm.com

Ayo, Kirim Gagasan Tertulis dan Artikel Ilmiah ke Dikti DIREKTORAT Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) kembali membuka peluang kepada mahasiswa untuk berkarya melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Dua Bidang. Pendaftarannya dibuka sejak 11 Februari hingga 23 Maret mendatang. PKM 2 Bidang yang rutin dilaksanakan pada bulan Februari ini terdiri atas Gagasan Tertulis dan Artikel Ilmiah. Mahasiswa disyaratkan menulis Karya Ilmiah sesuai dengan kedua bidang tersebut. Mahasiswa juga dibebaskan untuk memilih tema yang akan diangkat dalam karyanya nanti. “Syaratnya tidak banyak, cukup menulis minimal delapan halaman, format penulisan bisa di download di website resmi Dikti,” ungkap Wahyuddin, Koordinator universitas untuk pengiriman PKM. Lebih lanjut menurut Wahyuddin, mahasiswa yang hasil karyanya dinyatakan lolos akan diberi dana hibah sebesar 3 juta rupiah untuk setiap judul dan berkesempatan untuk mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) di Banjarmasin. Untuk melakukan pengiriman karya harus memiliki password yang dapat diambil langsung coordinator pengiriman. Sebelumnya, PKM 5 bidang yang diadakan Dikti Agustus sampai September lalu, sebanyak 60 karya dari 100 karya yang dikirim UNM berhasil lolos dan mendapatkan dana bimbingan sekitar Rp 600 juta. Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, Heri Tahir mengaku senang dengan pencapaian PKM UNM yang semakin meningkat. “Tentunya ini adalah prestasi yang membanggakan dan harus ditingkatkan,” ungkapnya. Lanjut Heri, untuk PKM dua bidang ini, dirinya telah mempersiapkan surat rekomendasi kepada tiap jurusan maupun prodi, agar semua dosen bisa berpartisipasi dalam sosialisasi program kreativitas mahasiswa ini. “Agar semua mahasiswa di UNM tahu tentang program ini, ” harapnya (faj).

4000 Mahasiswa Telat Bayar SPP SEBANYAK 4000 lebih mahasiswa telat melakukan pembayaran Sumbangan Penunjang Pendidikan (SPP) semester genap tahun ajaran 20122013. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Bagian Administrasi Akademik dan Keuangan (BAAK) UNM, Kamaruddin, saat ditemui di ruangannya, Kamis (21/2). Menurut Kamaruddin, pihaknya telah melaporkan persoalan ini kepada Rektor UNM, Arismunandar. “Saya sudah menghadap ke pak Rektor perihal masalah ini, namun Menurutnya, mahasiswa yang telat membayar harus menerima konsekuensi yang telah ditetapkan oleh universitas,” tuturnya. Kamaruddin melanjutkan, Rektor pun tidak dapat berbuat apa-apa untuk menagani keterlambatan pembayaran SPP. “menurut Pak Rektor jika kita memasukan data baru mahasiswa yang telat membayar, akan merusak data yang telah membayar sebelumnya,”paparnya. Selaku kepala BAAK, kamaruddin hanya bisa membantu sebatas pemberian surat cuti kepada mahasiswa yang telat membayar. “Untuk mahasiswa yang membayar, kami berikan cuti. Namun mahasiswa tersebut juga harus menghadap dan meminta surat cuti,”ungkapnya. Kamaruddin pun menyarankan kepada mahasiswa yang telat membayar untuk segera meminta surat cuti, hal tersebut dikarenakan jika mahasiswa bersangkutan tidak meminta cuti, maka yang bersangkutan harus membayar kembali SPP semester yang lalu. (rap) Profesi FM - 107.9 MHz

DITEMUKANNYA Sembilan belas orang mahasiswa yang terindikasi memiliki lebih dari satu beasiswa, membuat Pembantu Rektor (PR III) Bidang Kemahasiswaan, Heri Tahir, mencabut salah satu dari dua beasiswa yang diterima mahasiswa tersebut. Menurutnya, peraturan yang ditetapkan UNM, hanya memperbolehkan mahasiswa memiliki satu beasiswa saja. Heri Tahir mengungkapkan, beasiswa yang disediakan oleh kampus harus terbagi dengan rata kepada seluruh mahasiswa yang berhak menerima uang tersebut. “Kalau ada yang dua dapetnya, nanti pembagiannya tidak merata,”ungkapnya.

“Untuk itu cukuplah satu mahasiswa satu beasiswa,”lanjutnya. Hal yang sama diungkapkan oleh Kepala Bagian (Kabag) Kemahasiswaan, Baliana, terkait penerima beasiswa double. Menurutnya saat ini pihak kemahasiswaan telah melakukan pengecekan data penerima beasiswa. “Setelah kami cek, memang ada beberapa mahasiswa yang terindikasi mendapat dua beasiswa, dan itu sudah kami hapus salah satu beasiswanya,”tuturnya. Selain itu Baliana berpendapat, karena telatnya pengumuman penerima beasiswa, membuat mahasiswa yang telah

mendaftar sebelumnya merasa tidak lulus, sehingga kembali mendaftar pada basiswa lain. “Saat itu memang ada beasiswa yang telat pengumumannya, jadi mungkin mahasiswa tersebut merasa tidak dapat, jadi mereka mendaftar lagi pada beasiswa lainnya, ternyata setelah pengumuman mereka lulus dua-duanya,”paparnya. Sekertaris Himpunan Mahasiswa Elektro (HME), Nursandi Hafid, mengungkapkan, pembagian beasiswa yang tidak merata dapat membuat kecemburuan. “Kalau ada yang dapat dua beasiswa, sementara ada juga yang berhak tapi tidak dapat, kan pasti yang tidak dapat cemburu,”tuturnya. (*)

PPs Buka Pendaftaran Hingga 21 Maret ANGIN segar buat para calon mahasiswa baru yang ingin mendaftar di Program Pascasarjana (PPs) UNM. Pasalnya, pihak PPs UNM telah memperpanjang masa pendaftaran mahasiswa baru hingga 21 Maret mendatang. Ihwal ini dilakukan agar para calon mahasiswa yang belum merampungkan kelengkapan administrasi mereka agar dapat memiliki waktu yang senggang. Direktur PPs UNM Prof. Dr. Jasruddin, M. Si mengungkapkan perpanjangan masa pendaftaran dimaksudkan agar para calon mahasiswa diberi kesempatan untuk memantapkan hatinya kuliah di PPs UNM. Selain itu, kata dia yang terpentingadalah karena animo pendaftar calon mahasiswa baru di PPs UNM sangat besar. “Sehingga wajar jika kita harus memperpanjang masa pendftaran Maba,” terang Jasruddin, (2/3). Untuk mekanisme pendaftaran sendiri, akan melalui sejumlah tahapan diantaranya, 21-22 Maret berupa identifikasi berkas oleh pihak panitia, 23-24 Maret identifikasi berkas oleh pihak Program Studi (Prodi). “Tanggal 25 Maret, merupakan akhir dari seleksi

berkas. Selanjutnya bagi calon mahasiswa yang dinyatakan lulus berkas, mereka akan mengambil nomor tes untuk mengikuti ujian tertulis pada 27-29 Maret,” jelas dia. Menanggapi rumor yang berkembang di masyarakat terkait adanya lonjakan pembayaran Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP) PPs UNM yang terlalu signifikan, Jasruddin membantah hal tersebut. Dia memastikan pembayaran SPP PPs UNM untuk tahun ini tidak akan jauh beda dengan tahun sebelumnya. Estimasinya kata dia, mahasiswa yang mengambil kuliah reguler untuk program magister (S2), SPP mereka adalah Rp 4,5 juta per semester, sedangkan untuk kelas non reguler, biaya SPP nya adalah Rp 7,5 juta. Sementara untuk progam doktor (S3), untuk kelas reguler dibebankan biaya Rp 9 juta. “Adapun untuk kelas non reguler bagi program doktor SPP mereka Rp12 juta per semester,” terang Jasruddin. (*)

Prof. Jasruddin

Aminef Buka Peluang Kuliah di Amerika AMERICAN Indonesian Exchange Fondation (Aminef) yang bekerja sama dengan Direktorat Perguruan Tinggi (Dikti), membuka peluang bagi mahasiswa UNM yang berprestasi untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, khususnya Amerika. Hal tersebut diungkapkan oleh salah seorang perwakilan Aminfef, Adeline Widyaastuti, saat melakukan sosialisasi yang di hadiri ratusan mahasiswa pada jumat (12/1). Adeline Widyastuti mengungkapkan, saat ini programprogram Aminfef berfokus pada peningkatan pendidikan Indonesia, dengan menyediakan beasiswa kuliah diluar negeri. “Saat ini kami menyediakan beasiswa Fullbrigrht untuk peningkatan pendidikan di Indonesia,”tuturnya. Adeline menambahkan yayasannya saat ini dikelola oleh dua pemerintah. “Yayasan kami juga dikelola oleh Kedutaan Besar Amerika dan Ke-

menterian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) RI, yakni Dikti beserta para alumni Fulbright,” lanjut Adeline. Selain itu Adeline menilai, pelajar Indonesia memiliki antusias dan minat belajar yang besar. Hal tersebut membuat Indonesia menduduki peringkat ke empat sebagai Negara dengan mehasiswa penerima beasiswa Fullbright terbanyak. “Minat belajar pemuda indonesia memang sangat besar,”pujinya. Pada tahun ini terdapat beberapa program beasiswa yang ditawarkan, diantaranya Fulbright Master’s Degree Program, Fulbright Master of Science and Technology Initiative Program (F.I.R.S.T), dan FulbrightFreeport Master’s Degree. Untuk Fulbright Master’s Degree Program dan F.I.R.S.T memiliki ketentuan minimal lulusan S1, IPK minimum 3,0 dan mencapai skor TOEFL Internasional 550. Sementara untuk

Fulbright-Freeport Master’s Degree sendiri minimal harus lulusan S1 dengan IPK minimum 3,0 dan memiliki skor TOEFL Internasional 525. Salah seorang mahasiswa yang juga mengikuti sosialisasi, Anwar, merasa senang dengan adanya beasiswa tersebut, menurutnya dengan kuliah diluar negeri dapat meningkatkan sumber daya manusia di Indonesia. “Ya kalau banyak mahasiswa yang kuliah disana, Indonesia pasti punya sumber daya manusia yang lebih berkompeten,”tuturnya. Adapun syarat umum dalam mengikuti seleksi beasiswa ini diantaranya berjiwa pemimpin, aktif dimasyarakat, nilai IPK dan bahasa Inggris, paham budaya bangsa dan budaya asing, serta berkomitmen pulang ke tanah air dan pada bidang studi. Pendaftarannya dapat dilakukan melalui www. aminef.or.id Tenggat waktu pendaftaran adalah 15 April 2013. (rap) Urai data, ungkap fakta, saji berita


Seni Budaya

8

Tabloid Mahasiswa Mahasiswa UNM UNM Tabloid Profesi Edisi Edisi 165 165 Profesi Maret Tahun Tahun XXXVI XXXVI 2013 2013 Maret

www.profesi-unm.com

Cerpen

Puisi

n a TitipPes Bapak

A

ku Fatimah. Aku mahasiswi tingkat tiga. Mahasiswi biasa yang jika dipandang sekejap mata tak ada apa-apanya, sama sekali tak istimewa. Aku mahasiswi yang datang jauh dari sebuah desa terpencil yang amat jauh dari hiruk pikuk kota Makassar. Desa Bakunge. Pernah mendengar nama desa itu? Desa kecil itu ada di Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng. Desa yang susah untuk dijangkau, kita harus yebrang sungai terlebih dahulu untuk bisa sampai ke sana. Sungguh butuh perjuangan keras untuk sampai ke desa itu. Di desa itulah aku belajar di sebuah universitas kehidupan, hingga sekarang ini aku mampu bertahan untuk tetap kuliah di Universitas Negeri Makassar yang sejak dulu kuimpikan. Universitas Negeri Makassar. Siapa yang tak kenal dengan universitas negeri ini, universitas yang konon katanya sejak dulu sudah berjaya, dan sungguh beruntung aku masih diberi kesempatan untuk bisa mengecap bangku pendidikan sampai perguruan tinggi. Tidak ada yang bisa menduga aku mempunyai takdir seberuntung ini, siapa sangka aku yang hanya seorang anak dari buruh tani yang penghasilannya setiap hari berkisar dua puluh ribu. Dua puluh ribu bagi kalian kaum borjuis tidaklah cukup untuk setiap harinya. Tapi bagiku sekeluarga dua puluh ribu sudah mampu membuat kami menangis haru karena sudah lebih dari cukup untuk memuaskan dahaga perut kami, ya perut bapakku, emakku, aku dan ketiga adik-adikku. Tapi, aku tak pernah sama sekali berontak, “Kenapa aku ditakdirkan menjadi miskin?”, TIDAK !! Tak pernah sama sekali. Karena aku tahu, Tuhan Maha Adil. Aku miskin harta, tapi tidak miskin hati. Aku dilahirkan di keluarga yang sungguh kaya akan hati. Kami tak pernah mengeluh sama sekali dengan keadaan yang serba kekurangan ini. Ah, aku selalu merindukan tempat itu. Tempat dimana aku dilahirkan, rumah kami yang masih beralaskan tanah, dan dinding-dindingnya yang bapak ambil dari sisa pembangunan orang-orang di kecamatan. Walaupun tiap malam kedinginan karena hanya bisa tidur diatas tikar pandan, kadang pula aku tidur di langgar bersama ketiga adikku diiringin nyanyian reog kodok di samping rumahku. Ah, kalian mungkin akan mengatakan aku bergurau dengan keadaan ekonomi keluarga seperti ini, tapi ketahuilah ini sesuai realitas dan sama sekali tak kubumbui. Di zaman modern seperti sekarang, kalian masih bisa menemui jutaan penduduk Indonesia yang bernasib sama sepertiku. Tapi, untuk kali ini pemerintah masih mengulurkan tangannya untuk membantu orang sepertiku, aku masih diberi bantuan untuk bisa merasakan indahnya bangku kuliah. Aku bisa menikmati kuliah seperti sekarang, kuliah ditempat ber-AC, dan ini karena program Bidik Misi. Bidik misi adalah beasiswa yang diperuntukkan untuk orang kurang mampu dan mampu dalam bidang akademik. Setidaknya orang tuaku dikampung tidak harus memikirkan darimana mereka mendapatkan uang untuk bisa membayar SPPku setiap bulannya, begitupun membiayai Urai data, ungkap fakta, saji berita

Aku Masih Belum Berani Menyebut Diriku Mahasiswa

Oleh: Nurul Inayah Zainuddin

kehidupanku selama disini. Karena setiap bulannya penerima beasiswa bidik misi ini akan mendapat uang enam ratus ribu setiap bulannya. Sungguh lebih dari cukup untukku, selain itu aku masih biasa mengirimkan seperdua dari uang yang kuterima itu untuk orang tuaku di kampung. Hidup di kota Makassar yang keras ini tidaklah mudah, terlebih aku harus bisa menahan gengsi dihadapan temanku yang sudah terbiasa dengan hingar bingar kota. Aku harus purapura tidak melihat semua yang mereka kenakan, mulai dari baju, celana, tas, gadget dan segala hal mereka yang bermerk. Aku hanya bisa menelan ludah melihat semua pernak-pernik yang mereka pakai. Aku benar-benar harus menelan pil pahit agar tidak memikirkan hal-hal semacam itu. Aku harus tetap memacu diri pada ambisi utama datang di kota nan keras ini, untuk membuktikan pada mereka, bahwa aku yang anak petani miskin ini bisa bersaing dengan mereka tanpa pernak-pernik yang seakan mereka pamerkan dengan jelas di pelupuk mataku. “Hanya ilmu yang dapat melepaskanmu dari kemiskinan, Nak!”, kata Bapak padaku waktu aku berangkat ke kota ini. Kata itu masih jelas terngiang-ngiang di pikiranku yang sebenarnya sudah dipenuhi dengan seonggok beban yang entah kapan akan lepas. Seperti yang terjadi sekarang ini, seakan batu besar berhasil dilempar indah mengenai kepalaku ini. Dua hari yang lalu aku menerima surat yang dikirim dari kampung, aku tak berani membukanya, entah kenapa, perasaan aneh seakan menghampiriku untuk membuka isi surat itu. Aku tahu itu ditulis rapi oleh adikku, karena bapak dan emakku buta huruf. Isinya serta merta mengguncangkan  perasaanku yang hari ini baru saja mendapat berita kalau mata kuliah Statistik yang cukup ruwetku mendapatkan nilai tertinggi.  Seketika perasaan senang dan haru itu berubah seratus delapan puluh derajat. Perasaan bangga seorang anak buruh tani terhempas begitu saja karena isi surat itu.

Oleh: Putra

di kota kak, salam manis dari Bapak, Emmak, aku, Siti, dan Rohmah J. Wassalam... Surat itu seketika membuat batin ini meronta, Bapakku yang selalu kubanggakan jatuh sakit, dan kami sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, bagaimana nantinya?  Keluargaku di kampung pasti sedang memutar otak untuk membiayai bapak. Bapak yang kulitnya sudah keriput dengan urat yang mulai timbul karena melawan arus panas dari matahari. Ah sungguh, tidak tega aku melihatnya. Hari ini aku segera pulang !! Harus segera pulang, kupersiapkan segala hal sebelum aku pulang, berpamitan dengan teman se-kost, dengan ibu kost dan bergegas menuju terminal. Tapi sesampainya di rumah, sungguh bagai halilintar yang menyambar kusaksikan orang ramai-ramai menuju rumah dan Bapak sudah terbujur kaku disana. Sungguh batin ini seketika terguncang !! Kenapa aku baru memutuskan pulang sekarang? Kenapa aku harus lama menunggu membaca surat itu?? Dan kenapa aku harus ada dalam lilit kemiskinan yang membuat orang tercintaku tidak bisa terselamatkan. Semua langsung kosong tak ada sama sekali. Aku pingsan diiringi delusi akan Bapak yang masih menari-nari.

INT.

Kata orang aku ini mahasiswa. Tapi alisku selalu berkerut jika berhadapan dengan buku-buku tebal. Tak ada minat untuk mebacanya. Kata orang aku ini mahasiswa. Tapi aku diam saja saat sedang kuliah. Tak mau berkomentar jika diberi kesempatan. Kata orang aku ini mahasiswa. Tapi aku rela melakukan apa saja yang penting dapat nilai A. Tak ada urusan dengan menuntut ilmu. Kata orang aku ini mahasiswa. Tapi aku malas berdiskusi dan mengkaji. Tak ingin ambil pusing terhadap misteri disekeliling. Kata orang aku ini mahasiswa. Tapi aku kosong jika harus menuliskan sesuatu. Tak punya ide jika harus berkarya. Kata orang aku ini mahasiswa. Tapi aku takut mengkritik. Tak berani bilang salah jika memang ada yang salah.

“Hanya ilmu yang dapat melepaskanmu dari kemiskinan, Nak!” “Hanya ilmu yang dapat melepaskanmu dari kemiskinan, Nak!”

Kata orang aku ini mahasiswa. Tapi aku acuh saja dengan tetanggaku yang kebetulan miskin. Tak peduli, yang penting aku masih bisa makan.

Aku harus tetap kuliah, begitupun dengan adik-adikku .. (*) *Pemenang cerpen terfavorit Lomba Cerpen Online LPPM Profesi UNM.

Kata orang aku ini mahasiswa. Tapi aku mencerca sesamaku yang menutup jalan. Tak tertarik berpanas-panasan bersama mereka. Kata orang aku ini mahasiswa. Tapi aku memalingkan wajahku ketika kebetulan melihat pengemis dipukul kepalanya sama petugas pake pentungan. Tak melirik sedikitpun bahkan sekedar mebantunya untuk berdiri.

Assalamu alaikum ..

Kata orang aku ini mahasiswa. Tapi aku mau saja dibayar untuk berteriak. Tak pikir suaraku harus serak dan tenggorakanku bengkak.

Salam hangat terendah semoga selalu teruntukmu seorang .. Kakakku yang lembut hatinya, sungguh kami sangat merindukanmu disini ..

Kata orang aku ini mahasiswa. Tapi aku sampai harus menjatuhkan sesamaku untuk berkuasa. Tak ada yang mampu menembus ketebalan mukaku.

Kak, Bapak sekarang sakit keras, kemarin bapak dibawa ke Puskesmas di Kecamatan, kata dokter disana, Bapak harus segera di opname, tapi kami tidak punya uang disini, kalau kakak punya uang lebih beasiswa, kakak tolong kirimkan yah, ini sudah seminggu bapak tidak ke sawah, kasian ibu, kak .. Doa senantiasa kami haturkan untuk keberhasilanmu

Kata orang aku ini mahasiswa. Tapi aku lebih memilih untuk menertawai kebobrokan duniaku. Tak mampu memberikan solusi untuk memperbaikinya. Kata orang aku ini mahasiswa. Ya, itu kata orang. “Tapi maaf, aku sendiri masih belum berani menyebut diriku mahasiswa sampai saat ini.” *Penulis adalah mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2010. INT.

Profesi FM - 107.9 MHz


Reportase Khusus 9

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 165 Maret Tahun XXXVI 2013

FULUS TAK LAGI MULUS www.profesi-unm.com

Dana Kemahasiswaan Semester Ganjil

1M (30 %)

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

SPP 3,1 M

2,1 M (70 %)

7 Prodi (4.728 mahasiswa)

105 jt (5 %)

FAKULTAS EKONOMI

500 jt (30 %)

SPP 1,6 M

8 Prodi (2.466 mahasiswa)

1,1 M (70 %)

UNM sekarang tak punya uang. Buktinya dengan belum dibayarnya honor pegawai dan dosen, dan belum cairnya dana kemahasiswaan.

55 jt (5 %) 500 jt (30 %)

SPP 1,6 M

1,5 M (70 %)

FAKULTAS ILMU SOSIAL 8 Prodi (2.508 mahasiswa)

75 jt (5 %)

FAKULTAS BAHASA DAN SASTRA

450 jt (30 %)

SPP 1,5 M

7 Prodi (2.306 mahasiswa)

1,05 M (70 %)

52 jt (5 %) 630 jt (30 %)

SPP 2,1 M

1,47 M (70 %)

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN 4 Prodi (3.246 mahasiswa)

73 jt (5 %)

FAKULTAS TEKNIK

660 jt (30 %)

SPP 2,2

15 Prodi (3.299 mahasiswa)

1,54 M (70 %)

77 jt (5 %) 630 jt (30 %)

SPP 2,1 M

1,47 M (70 %)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM 11 Prodi (3.177 mahasiswa)

73 jt (5 %) 120 jt (30%)

FAKULTAS PSIKOLOGI 15 Prodi (3.299 mahasiswa)

SPP 400 jt

280 jt (70 %)

14 jt (5 %) 314 jt (30 %)

SPP 962 jt

648 jt (70 %)

FAKULTAS SENI DAN DESAIN 6 Prodi (1.426 mahasiswa)

32 jt (5 %)

Keterangan :

• 70 % = Dana yang masuk ke kas fakultas. • 30 % = Dana yang masuk ke kas universitas. • 5 % = Hitungan penuh dari anggaran yang dialokasikan untuk fakultas. (dana kemahasiswaan).

Data ini merupakan hitungan dari tahun ajaran 2012/2013 semester ganjil. Belum termasuk dana PNBP yang lain seperti, DPP, PMB, dan wisuda. Sumber: BAAK UNM Profesi Profesi FM FM -- 107.9 107.9 MHz MHz

Persoalan sistem pengelolaan keuangan di UNM yang amburadur, berdampak sistemik pada terlambatnya pembayaran honorer dosen dan pegawai selama beberapa bulan terakhir. Belum lagi dana kemahasiswaan yang hingga kini belum dibagikan kepada fungsionaris LK. Ironisnya, para pemegang kebijakan malah saling menyalahkan terkait sengkarut sistem pengelolaan keuangan yang jauh dari prinsip transparansi dan akuntabel. Selasa pagi (12/2) lalu, civitas akademika Fakultas Ilmu Sosial (FIS) digegerkan dengan coretan di salah satu dinding gedung fakultas yang dipimpin Amiruddin ini. Di dinding gedung tersebut tertulis “Berikan Tunjangan Pegawai” dan “Pegawai Harus Lawan Pimpinan Yang Ambil Hak”. Hingga saat ini belum jelas siapa yang melakukan hal tersebut. Tidak hanya di FIS, hal serupa juga terjadi di FBS. Isi tulisannya, “Jangan korupsi dana kemahasiswaan kami, Aktifkan organisasai sekarang, Kemana dana kemahasiswaan kami Ganti PD III Pembohong. Turunkan Dekan Diktator” kalimatkalimat itu juga tertulis di dinding gedung FBS Rabu (27/2). Menanggapi adanya coretan tersebut, PD II FIS, Suriyani menduga, hal itu dilakukan oknum pegawai yang tidak dibayarkan honornya. Menurutnya, coretan tersebut merupakan kegelisahan pegawai yang sudah tidak sabar menunggu honor yang belum dibayar. Dia juga mengaku tak tahu menahu siapa yang melakukannya. Masih menurut Suriyani, protes yang dilakukan pegawai tersebut seharusnya langsung disampaikan ke pihak universitas selaku pengambil kebijakan. "Seharusnya kalau mau protes, langsung saja ke universitas karena semua fakultas juga merasakan hal yang sama,” sarannya. Persoalan adanya ketidakjelasan pengelolaan anggaran di UNM, dibenarkan oleh Heri Tahir. Menurut Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan UNM ini, bukan hanya persoalan honor pegawai yang tidak jelas, dana kemahasiswaan hingga saat ini menurutnya, juga tidak jelas. “Hingga saat ini rincian dana kemahasiswaan dari SPP dan DPP 2012 belum juga saya dapatkan,” ungkap Guru Besar FIS ini . Hal yang sama juga dikeluhkan Amir (samaran), salah seorang pegawai Rektorat. Menurutnya, selama beberapa bulan ini honornya di kepanitiaan wisuda Agustus tahun 2012 lalu belum dibayar. Padahal dia mengaku sangat membutuhkan dana untuk menghidupi keluarganya. “Hingga saat ini honor saya belum dibayar, katanya menunggu dana Dipa. Padahal, untuk saat ini saya

sangat butuh dana itu, selain gaji pokok saya untuk memenuhi kebutuhan seharihari,” keluhnya. Senada dengan Amir, salah seorang pegawai BAAK yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, selain honor, biaya operasional dan ATK saja sudah tidak ada. Untuk menalangi ketiadaan dana operasional dan ATK, dia mengaku harus merogoh kocek pribadi. “Kadang saya mesti pakai dana pribadi saya untuk beli ATK, karena kalau tidak pekerjaan tidak akan selesai," ujarnya. Persoalan keterlambatan pencairan anggara UNM yang berdampak sistemik ini, PR III UNM, Heri Tahir juga membenarkan hal tersebut. Ia menceritakan, dirinya didatangi salah seorang pegawai bagian Hukum dan Tata Laksana (Kumtala) untuk meminta uang untuk biaya fotokopi SK yang akan disebar. “Jadi memang saat ini keuangan di UNM sangat minim, jangankan ATK, honor pegawai saja belum dibayar, apalagi dana kemahasiswaan yang hingga saat ini belum jelas pengalokasiannya,” keluh Heri. Menjawab kegelisahan pegawai dan tenaga honorer yang hingga kini belum mendapatkan haknya, Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan (BAUK) UNM, Syatir Mahmud angkat bicara. Menurut Mantan Kepala BAAK ini, bukan kali ini saja , sebelumnya honor pegawai menunggak sejak bulan Oktober 2012 lalu. Masalah utamanya, menurut Syatir, selama ini universitas belum pernah melakukan evaluasi secara rutin. Selain itu, lanjut pria asal Bone ini, pimpinan universitas dan pejabat UNM hanya pasrah pada sistem pengelolaan keuangan yang tidak berdasarkan aturan baku. “Masalah utamanya, selama ini kita tidak pernah melakukan evaluasi. Kita terkesan hanya pasrah pada kondisi. Maksud saya, kita tidak melakukan evaluasi secara rutin. Padahal itu sangat penting agar kita bisa memproyeksi anggaran agar bisa mencukupi hingga tutup buku,” beber Syatir. Beberapa bulan terakhir, persoalan anggaran memang pelik, mulai dari honor pegawai yang belum dibayar hingga kejelasan dana kemahasiswaan. Aksi protes pun santer dilakukan oleh aktivis kemahasiswaan maupun pegawai di lingkup UNM, namun hal itu tidak membuat para pimpinan bergeming. Alih-alih memberikan kejelasan, mereka (Birokrat-red) pun mengkambing hitamkan dana dari Dipa (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) 2013 yang belum cair. Padahal honor pegawai yang belum dibayarkan seharusnya masuk dalam penganggaran tahun 2012. (*) Urai Urai data, data, ungkap ungkap fakta, fakta, saji saji berita berita


10 Reportase Khusus www.profesi-unm.com

Rektor Aja Ngutang MINIMNYA anggaran dari universitas beberapa bulan terakhir membuat para birokrat kelimpungan. Kegiatan-kegiatan yang tidak bisa menunggu waktu lagi terpaksa di carikan pinjaman, seperti yang di lakukan PD III FIS, Jumadi beberapa waktu lalu. Tak tanggung-tanggung kadang mereka (birokrat Fakultas) pun mesti memakai dana pribadi untuk menalanginya. Arismunandar, menanggapi santai hal tersebut. Melihat kondisi keuangan UNM yang menipis sekarang ini,

Arismunandar seolah menganggapi hal tersebut wajarwajar saja dilakukan. Arismunandar mengatakan anggaran UNM untuk tahun 2013 akan cair dibulan Maret mendatang. Hal ini disebabkan karena keterlambatan UNM mengirim berkas penganggaran UNM untuk tahun 2013 ke Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti). “Jangankan PD3 yang berhutang, saya sendiri pun juga berhutang. Tapi hutang saya hanya untuk mendanai hal-hal yang sifatnya prioritas,” jelas Guru Besar FIP ini. (*)

“Jangankan PD3 yang berhutang, saya sendiri pun juga berhutang. Tapi hutang saya hanya untuk mendanai halhal yang sifatnya prioritas,”

Rektor UNM, Arismunandar

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 165 Maret Tahun XXXVI 2013

Pimpinan Fakultas  Meradang

MEMASUKI bulan ketiga tahun anggaran 2013, honor dosen dan pegawai di sembilan fakultas belum dibayar. Para pimpinan fakultas pun kelimpungan. Mereka mempertanyakan perihal tersendatnya anggaran dari pihak rektorat. Sesuai aturan, masingmasing fakultas dijatah 70 persen dari total anggaran yang masuk ke rekening Rektor. Anggaran ini bersumber dari Biaya kuliah sekitar 25 ribu mahasiswa yang masih aktif kuliah di kampus yang dipimpin Arismunandar ini. Anggaran yang di perkirakan Rp74,7 Miliar lebih itu masuk ke rekening Rektor yang bersumber dari SPP, DPP, PMB dan Wisuda. Dari total anggaran yang masuk kerekening Rektor tersebut, jatah untuk sembilan fakultas sebesar Rp51,7 Miliar (lebih jelas, lihat grafis). Pembagian untuk masing-masing fakultas berdasarkan jumlah mahasiswa per fakultas. Sebagai bahan perbandingan, di FIP misalnya, dengan jumlah mahasiswa terbanyak yakni 8084 orang, maka dengan persentase jatah 70 persen, dana yang semestinya diterima oleh fakultas yang dipimpin Ismail Tolla ini sekitar Rp7,064 Miliar. Perhitungan ini juga berlaku di fakultas lainnya. Di FSD misalnya, dari data yang diperoleh Karta Jayadi selaku Dekan FSD, dana yang semestinya mengalir ke fakultasnya semester lalu adalah 1,3 miliar. “Dana 1,3 miliar bersumber dari pembayaran SPP mahasiswa FSD semester

lalu. Ini sudah pergantian semester, tapi saya tidak pernah melihat uang sebanyak itu. Ini ada apa?,” ujarnya seraya memperlihatkan bukti dana yang masuk ke rekening rektor yang diperolehnya dari salah satu Bank Konvensional. Menurut Karta, ada yang tidak beres dengan pengelolaan keuangan UNM. “Sejak saya menjabat Dekan FSD, saya tidak pernah menerima uang yang seharusnya diterima oleh fakultas dari universitas,” bebernya. “UNM sekarang tidak punya uang, buktinya dengan belum dibayarnya honorer dosen, pegawai, dan belum cairnya dana kemahasiswaan itu menandakan UNM tidak punya uang,” pungkas Karta. Tidak hanya di FSD, juga fakultas lainnya mengalami nasib yang serupa. Syamsul Bahri selaku Dekan Fakultas Phsicology juga mengatakan honorer para dosen dan pegawai di bawah naungannya juga belum dibayar oleh universitas. “Saya tidak tahu kenapa honor mereka belum diberikan. Kalau saya ndak apaapa kalau honor untuk saya belum diberikan. Tapi saya kasihan melihat yang lainnya kalau hasil kerja kerasnya belum terbayarkan beberapa bulan ini,” ujarnya. Syamsul juga menambahkan anggaran tahun 2012 yang semestinya dialirkan 70% ke fakultas nyatanya tak pernah dia peroleh. “Memang ada anggaran yang sudah digunakan, tapi belum semua yang dari 70% itu kita nikmati pada semester lalu,” ungkapnya. Senada, Ismail Tolla selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) juga melantunkan lagu yang sama dengan Karta. “Yah kalau didata saya, dana yang masuk tiap semesternya ke rekening rek-

tor itu sebanyak 6 miliar bahkan pernah 8 miliar. 70% dari dana itu berarti 4 atau 5 miliar yang seharusnya dialirkan ke FIP,” jelasnya. Sementara menurut Ismail Tolla, tiap semesternya FIP tidak pernah menghabiskan setengah dari dana yang seharusnya telah menjadi hak fakultasnya. Hal yang sama juga diungkapkan Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK), Arifuddin, yang mengiyakan honor dosen dan pegawai di fakultasnya juga belum terbayarkan oleh universitas. Sementara itu, Pembantu Dekan Bidang Anggaram/Sarana dan Prasarana (PD II) FMIPA, Abdul Rahman, hanya bisa bersabar menunggu proses pencairan dana tersebut. “Pencairan dana itu kan punya mekanisme dan prosedurnya, jadi kita hanya bisa bersabar menunggu kapan pencairan dana itu,” singkatnya. Tak ketinggalan, Pembantu Dekan II Fakultas Teknik, Syahrul juga berkomentar terkait dana dari universitas yang tak kunjung cair, menurutnya pihak FT hanya bisa bersabar menunggu. Ia juga mengaku tak adanya dana tak bisa jadi penghalang untuk melaksanakan program kerja. “Meskipun dana belum cair, tapi kita usahakan untuk tetap melaksanakan program kerja kita”. “Kalau ada dekan yang tidak pusing dan tenang-tenang saja melihat kerancuan anggaran UNM, maka berhenti saja jadi dekan. Percuma jadi dekan kalau tidak bisa memahami lingkungan sekitarnya. Pun hanya cari muka itu kalau ada dekan yang enggan berkomentar banyak soal anggaran UNM. Pemimpin harus bisa memahami dan mengawasi keadaan di luar dirinya,” pungkas Guru Besar FIK ini. (*)

PR II: Sistem Pengelolaan Keuangan UNM Lemah UNM Siapkan BLU MENANGGULANGI masalah keuangan selama ini, birokrat UNM siapkan sistem Badan Layanan Umum (BLU). Sistem ini diyakini Pembantu Rektor II, Nurdin Noni akan mampu menjawab semua masalah anggaran di UNM. “Kita sementara mengurus ke pusat untuk penerapan BLU,” ungkapnya. Lanjut Nurdin, BLU nantinya diharapkan mampu meningkatkan pendapat murni UNM sehngga mampu menambah pundi-pundi anggaran di UNM. “Kita akan mengupayakan penerapan BLU harus dikelola semaksimal mungkin dengan sumber daya yang Urai data, ungkap fakta, saji berita

dimiliki UNM, BLU ini juga harus didukung dengan penggunaan sistem IT, ” jelasnya . Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Hamzah Upu, juga sangat mendukung rencana UNM tersebut. “Akan dibentuk BLU untuk mengatasi keuangan yang ada di UNM, merubah nasib permasalah keuangan UNM,” ungkapnya Dekan mipa ini pun mengharapkan agar tahun ini BLU bisa dilaksanakan “ harapannya ya tahun ini bisa diterapkan, kalau tidak bisa, awal tahun 2014,” tambahnya.(*)

MENANGGAPI sengkarutnya sistem pengelolaan keuangan kampus eks IKIP ini, Pembantu Rektor II UNM, Nurdin Noni mengakui adanya titik lemah pada tata kelola keuangan universitas. Menurutnya, persoalan keterlambatan pembayaran honor dosen dan pegawai, juga anggaran kemahasiswaan terjadi lantaran adanya kepincangan antara penerimaan dan pengeluaran. Sistem pengelolaan anggaran UNM, kata Dosen Bahasa Inggris ini, tidak dijalankan sesuai aturan sehingga perencanaan anggaran berjalan tidak maksimal. “Memang idealnya kita menggunakan anggaran tahun 2012, hanya saja kita lemah pada pengalokasian anggaran, sehingga anggaran tersebut habis karena penerimaan dan pengeluaran yang tidak seimbang,” ungkap Nurdin Noni Masih menurut Noni, selaku pejabat Pembantu Rektor yang membidangi administrasi umum dan keuangan, dirinya tidak mengetahui secara teknis letak permasalan amburadurnya pengelolaan anggaran universitas. Namun dia menduga, persoalan ini terjadi lantaran perencanaan anggaran dan pengelo-

laan keuangan kampus yang dipimpin Arismunandar ini tidak akuntabel dan mengabaikan prinsip transparansi. “Makanya ke depannya, kita menginginkan sistem pengelolaan Anggaran di UNM harus dilakukan secara akuntabel dan menganut prinsip keterbukaan,” jelasnya. Selain itu, Noni juga mensinyalir, selama ini administrasi keuangan di UNM rawan manipulasi. Maka hanya dengan perbaikan, kata Mantan PR IV UNM ini, maka sistem keuangan UNM bisa diperbaiki,” ujarnya. Masalah lain, lanjut Nurdin, tidak adanya transparansi keuangan. Namun dia berjanji akan melakukan pembenahan administrasi keuangan dan mengedepankan prinsip akuntabel dan transparan agar musibah keterlambatan pembayaran honor dosen dan pegawai tidak lagi terulang. “Saya selaku PR II, akan berusaha semaksimal mungkin mengatur administrasi keuagan secara akuntabel, mengedepankan transparansi, agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi,” janjinya. (*) Profesi FM - 107.9 MHz


Reportase Khusus 11

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 165 Maret Tahun XXXVI 2013

www.profesi-unm.com

Sistem Keuangan UNM

Masih Tradisional

DI zaman serba moderen seperti saat ini, seharusnya sistem administrasi keuangan UNM sudah mampu menggunakan e-administration. Mencermati hasil rapat kerja daerah (Rakerda) UNM bulan Juli 2012 lalu pada saat rekomendasi komisi II mengenai pelayanan administrasi secara elektronik. Namun kenyataannya hingga saat ini UNM masih saja memakai sistem lama yang kemudian mulai dikeluhkan oleh para pimpinan fakultas. “Rakerda tak ada gunanya, hanya menghabiskan uang, lebih baik digunakan untuk standar akademik, lagi pula hasil rakerda tidak diinfokan, kalau pun akan dilanjutkan rakerda lebih baik dilakukan dimakassar, tidak perlu keluar daerah,dan hasilnya pun perlu diterapkan,” ujar Hamzah. Dekan FSD, Karta Jayadi, juga menyarankan penggunaan Information Tekchnology (IT) dalam transaksi keuangan. “Seharusnya kita sudah memakai sistem IT yang canggih untuk proses transaksi keuangannya. UNM ini akan menuju World Class of University yang berbasis IT, jadi

tidak usah lagi ada yang mengantri di ruangannya,” terang Karta. Karta menambahkan, jika persuratan tentang anggaran sudah berjalan dengan baik, maka tidak perlu pimpinan fakultas menemui bendahara UNM secara langsung. “Lagi-lagi persoalan administrasi yang berjalan amburadur. Ketika surat-surat itu masuk ke ruangannya maka tak usah lagi pimpinan-pimpinan fakultas datang ke ruangannya,” ujar Karta. Berbeda dengan Karta, Dekan Fakultas Phsicology, Syamsul Bahri, mengaku kecewa bila berurusan dengan Bendahara UNM, Nasri. Dia mengeluhkan, menemui Nasri hanya membuat dirinya naik pitam. Pasalnya, kata Syamsul, Bendahara UNM ini dinilai tidak transparan dalam hal pengelolaan keuangan universitas. “Selain pengelolaan keuangan yang cenderung tidak transparan, bikin naik tensi kalau bertemu dengan bendahara UNM di ruangannya,” ungkap Syamsul sambil menepuk jidatnya. Inginkan Rekening Sendiri Sementara itu, dari pada harus bersitegang dengan Bendahara UNM

KATA MEREKA

terkait keuangan, Dekan FIK, Arifuddin, menginginkan agar rekening keuangan UNM tidak hanya dimiliki Rektor saja tapi juga masing-masing fakultas juga mestinya punya rekening sendiri agar lebih mudah mengelola keuangan fakultas ketimbang harus melalui prosedur yang berliku. “Iya, keinginan saya itu adalah sembilan fakultas plus pascasarjana masing-masing seharusnya punya rekening keuangan sendiri. Ini supaya pengawasan keuangan menjadi lebih efektif,” terang Pria Asal Sinjai ini. Menurut Arifuddin, selama ini UNM hanya bisa merencanakan dan melaksanakan sementara pengawasan tidak ada. “Wajar kalau pak Karta berkoar-koar soal anggaran UNM yang tidak jelas adanya, itu kan alat kontrol. Nah, kalau alat control difungsikan berarti ada memang yang tidak beres perihal keuangan UNM,” ungkapnya. Olehnya, menurut Arifuddin, ada baiknya kalau seluruh dekan di UNM merencanakan untuk membuat surat permohonan pengajuan atas kepemilikan rekening keuangan fakultasnya masing-masing. (tim)

Aktivis Bosan Dijanji TAK hanya honor dosen dan pegawai, keterlambatan realisasi anggaran juga berimbas pada molornya anggaran dana kemahasiswaan. Ironisnya, ditengah desakan para fungsionaris LK yang menuntut pencairan dana kemahasiswaan lantaran dapur organisasi tak lagi mengepul, PR III dan Bendahara UNM malah saling lempar tanggung jawab. Menanggapi tuntutan pengurus LK, sebelumnya Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, Heri Tahir mengatakan, pencairan dana kemahasiswaan akan direalisasikan pada tahun anggaran 2013 ini. Masih menurut Heri, pihaknya telah dijanjikan oleh Bendahara UNM, Nasri, untuk secepatnya merealisasikan pencairan dana kemahasiswaan. Namun, kata Heri, hingga bulan Februari kemarin, janji itu tak kunjung direalisasikan. “Munurut bendahara, dia akan cairkan dana itu pada tahun anggaran yang berarti bulan Januari kemarin seharusnya pencairan sudah dilakukan. Tapi ini sudah bulan Februari (7/2) belum ada tanda-tanda dana itu akan dicairkan,” ungkap Heri Mantan Asisten Direktur II PPs UNM ini beralasan hingga saat ini, Bendahara UNM Nasri, belum pernah memperlihatkan total dan rincian anggaran kemahasiswaan yang seharusnya menjadi kewenangannya. “Saya sebenarnya merasa kasihan dan berdosa ketika hak mereka (fungsionaris LK, red) tidak dapat dipenuhi, apa boleh buat saya sendiri juga tidak pernah lihat itu uang,” sesal Heri. PR III Lempar Handuk Sesuai aturan, besaran dana kemahasiswaan yang menjadi jatah LK sebesar 5 persen dari total anggaran biaya kuliah 25 ribu mahasiswa UNM. Sayangnya jatah ini tak kunjung diberikan kepada pihak LK yang Profesi FM - 107.9 MHz

berhak mengelola anggaran tersebut. Hingga kini, para fungsionaris LK terpaksa terseok-seok mencari anggaran guna merealisasikan Program Kerja (Proker) lembaga. Menurut Presiden BEM FMIPA, Muhammad Taufik, saat mengajukan pertanyaannya kepada Rektor dalam aksi LK yang dimediasi Rektor UNM di gedung rektorat lantai 3, Rabu (6/2) lalu, kalau mahasiswa berhutang itu hal yang wajar. Namun, lanjut Taufik, jika seorang PD3 yang berhutang untuk mendanai kegiatan LK yang berada di fakultasnya itu adalah hal yang tidak wajar. “Dimana uang kami? Di mana anggaran yang semestinya diperadakan untuk LK? Kenapa seorang PD3 bisa sampai berhutang?” tanya Taufik, saat mengungkap kasus piutang PD III FMIPA, Kamaruddin. Selain PD3 FMIPA, kasus yang sama juga dialami PD III FIS, Jumadi, yang juga berutang demi menambal kekurangan dana kemahasiswaan di fakultas yang di pimpin Amiruddin itu. Ditemui di ruangannya, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, Hery Tahir, mengatakan, dana LK memang mutlak adanya dan perlu diadakan negosiasi. Setiap LK, kata Heri, berhak menerima sumber dana kemahasiswaan yang berasal dari SPP. Namun anehnya, Hery malah mengaku sama sekali tak tahu menahu perihal total anggaran kemahasiswaan, terkhusus dana LK yang semestinya dikelolanya. “Sejak saya menjabat sebagai PR III, saya sama sekali tidak pernah diperlihatkan berapa total anggaran yang sebenarnya harus saya kelola,” ungkap Heri dengan nada yang tegas. Meski demikian, Hery mengaku telah beberapa kali memanggil bendahara UNM, Nasri, untuk ke ruangannya guna menjelaskan duduk persoalan dana kemahasiswaan. “Saya sudah tiga kali panggil itu bendahara ke ruangan saya,

untuk menjelaskan berapa dana kemahasiswaan yang seharusnya saya kelola, dan saya beritahu juga kalau saya tidak mau kalau hanya di atas lembaran kertas saja,” tutur Heri kepada Profesi. Masih menurut Heri, pemanggilan bendahara UNM ke ruangannya agar menyerahkan dana kemahsiswaan, namun hanya untuk meminta kejelasan sistem pengelolaan administrasi keuangan. Menurutnya, prinsip transparansi sangat diperlukan guna memetakan berapa jumlah anggaran yang seharusnya diterima pengurus LK di UNM “Saya mengatakan seperti itu bukan berarti saya mau pegang itu uangnya mahasiswa, biar bendahara yang pegang. Saya hanya ingin pengelolaan administrasinya jelas, dan transparansinya jelas, juga kita bisa mudah petapetakan berapa anggaran yang dimiliki setiap LK,” ujar guru besar FIS ini. Masih menurut Hery, salah satu alasan susahnya pencairan dana karena terjadi stagnasi antara universitas dan fakultas. Dan itu sudah terjadi sebelum dirinya dinobatkan menjadi PR3. Ketidaktahuan PR III soal dana kemahasiswaan ditanggapi serius oleh Dekan Fakultas Seni dan Desain, Karta Jayadi. Menurut Karta, sangat tidak masuk akal jika seorang PR III tidak tahu menahu soal dana yang seharusnya dia kelola. “Masa’ PR3 tidak tahu soal dana kemahasiswaan, betul-betul tidak beres ini UNM,” tutup Karta. (tim)

Tim Reportase Utama Kordinator: Susi Amriani

Memang idealnya kita menggunakan anggaran tahun 2012, hanya saja kita lemah pada pengalokasian anggaran, sehingga anggaran tersebut habis karena penerimaan dan pengeluaran yang tidak seimbang.

Nurdin Noni PR II UNM

Kita tidak melakukan evaluasi secara rutin. Padahal itu sangat penting agar kita bisa memproyeksi anggaran agar bisa mencukupi hingga tutup buku.

Syatir Mahmud Kepala BAUK

Seharusnya kita melakukan perubahan sistem dari akarakarnya, sistem sekarang sudah tidak jaman lagi, mengingat semakin bertambahnya fakultas dan jumlah mahasiswanya.

Heri Tahir PR III UNM

Selama ini UNM hanya bisa merencanakan dan melaksanakan sementara pengawasan tidak ada.

Arifuddin Usman Dekan FIK

Anggota: - Asri Ismail - Fahrizal Syam

Urai data, ungkap fakta, saji berita


12 Wawancara Khusus

Tabloid Mahasiswa Mahasiswa UNM UNM Tabloid Profesi Edisi Edisi 165 165 Profesi Maret Tahun Tahun XXXVI XXXVI 2013 2013 Maret

www.profesi-unm.com

SNMPTN 2013

Beri Kesempatan Guru Menilai

TIDAK hanya kurikulum pendidikan yang akan terganti di tahun 2013 ini, namun Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) juga mempunyai format baru pada Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Mengapa Mendikbud harus merombak format SNMPTN di tahun ini. Inilah petikan wawancara salah satu wartawan Lembaga Penerbitan dan Penyiaran LPPM Profesi UNM, Rizki Army Pratama, dengan Wakil Mendikbud Bidang Pendidikan, Musliar Kasim, saat melakukan sosialisasi kurikulum di Program Pascasarjana UNM. Mengapa Mendikbud kembali membuat format baru pada SNMPTN ditahun ini? Perubahan format SNMPTN kami lakukan karena kami ingin memberikan penghargaan kepada sekolah. Jadi nanti untuk diterima di perguruan tinggi tidak hanya ditentukan pada tes yang dua hari saja, jadi kita memberikan kepercayaan juga kepada guru untuk ikut menilai. Mengapa harus demikian ? Disini kita ingin memberi-

kan penghargaan kepada guru untuk ikut menentukan kelulusan dengan memberikan penilaian, jadi nanti penilaian guru yang berdasarkan rapor akan dihitung bersama hasil Ujian Nasional (UN) untuk menentukan kelulusan SNMPTN.

tanian Bogor (IPB). Kalau jalur undangan di IPB hanya dilihat dari nilai rapor, tapi untuk yang sekarang akan kami berlakukan nilai rapor akan dikombinasikan dengan hasil UN, jadi kalau rapor bagus tapi UN jelek ya itu akan menjadi perhitungan.

Apa yang menjadi perbandingan, mengapa format seleksi SNMPTN yang baru ini harus diterapkan? Format yang baru ini sudah lama diterapkan di Institut Per-

Apakah Mendikbud tidak khawatir akan terjadi kecurangan terhadap format yang baru ini, melihat sekolah memiliki otoritas lebih untuk ikut campur tangan dalam SNMPTN?

Kami tidak takut terhadap hal itu, jika terjadi kecurangan maka sekolah terkait akan kami blacklist. Kecurangan akan terlihat karena disini tidak hanya satu aspek yang menjadi penilaian. Rapor dan nilai UN akan diperhitungkan, kalau nilai rapor bagus tapi UN-nya jelek ya ngga k bisa diterima juga. Tapi saat ini kecurangan bisa terjadi saat pelaksanaan UN? Untuk itu kami lebih memperketat pelaksanaan UN, mungkin dulu hanya satu jenis soal jadi rawan kecurangan, namun mendatang kami telah siapkan dua puluh jenis soal. Bagaimana dengan otoritas Universitas ? Universitas melakukan pengawasan saat ujian UN nanti-

nya. Setelah itu pihak rektorat melakukan seleksi dari hasil nilai UN dan rapor. Bila terjadi kecurangan pada saat penyeleksian yang dilakukan oleh universitas? Ya hal itu menurut saya tidak lah. Penilaian kan dilakukan berdasakan dua aspek itu, jadi kalau salah satu aspek tidak terpenuhi, tapi siswa tersebut lulus ya universitas itu bermasalah. Pesan bapak untuk sekolah maupun birokrasi kampus nantinya? Semoga sekolah dan kampus dapat memberikan penilaian sebaik mungkin. Karena nilai itu nantinya akan menjadi penentu kelulusan untuk masuk di universitas. (*)

Data Diri : Nama Lahir Jabatan

: Prof. Dr. Ir. H. Musliar Kasim, MS : Padang Ganting, Sumatera Barat, 5 Mei 1959. : Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia bidang Pendidi- kan sejak tanggal 19 Oktober 2011.

Pendidikan - Alumnus Pascasarjana University of The Philippines, Los Banos - Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Padang, tahun 1983 - Alumni SMA Negeri 2 Padang angakatan 1977 Karier - Rektor Universitas Andalas, 2006-2009, 2009-2013 - Pembantu Rektor Bidang Administrasi dan Keuangan Universitas Andalas, 2002-2005 - Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Andalas, 2000-2002 - Sekretaris Lembaga Penelitian Universitas Andalas, 1994-2000 - Dosen di Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, 1984 - Ketua Majelis Tinggi Rektor Perguruan Tinggi Negeri (MTRPTN) - Wakil Komite Tetap Pengembangan Mutu & Industri Pendidikan, Kadin Indonesia Prestasi - Sebagai PTN Terbaik II Nasional di luar Pulau Jawa (Hasil Akreditasi BAN PT) - Peringkat 14 Nasional, kriteria alumni perguruan tinggi yang paling diminati perusahaan atau Peringkat I di luar Pulau Jawa (versi Pusdata Majalah Tempo tahun 2006) - Universitas dengan jumlah guru besar terbanyak (130 Guru Besar/Profesor) di Sumatera (2010) - Peringkat 26 dari 100 perguruan tinggi terbaik di ASEAN dan peringkat 8 di Indonesia (terbaik di luar pulau Jawa) berdasarkan survey WebomeÂŹtric per Januari 2011

iklan

Urai data, ungkap fakta, saji berita

Profesi FM - 107.9 MHz


Lensa Orange

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 165 Maret Tahun XXXVI 2013

13

www.profesi-unm.com

Gemerlap Pinisi

P

royek mega gedung UNM sudah memasuki tahap perampungan. Pinisi yang selama ini menjadi angan-angan sudah bisa untuk digunakan walaupun belum sepenuhnya. Pembenahan dan perbaikan pastinya perlu untuk selalu didengungkan oleh birokrat. Bukan hanya Pinisi yang mesti mendapatkan perhatian yang lebih, tapi masih banyak bangunan-bangunan tua yang merasa dianaktirikan. Semoga saja kokohnya gedung pencakar langit ini tak mengkerdilkan gedung-gedung lain yang sempat menjadi tumpuan UNM.

Silaukan Malam

Lindungi Mata Profesi FM - 107.9 MHz

Centre of Pinisi

Mengebor

Pinisi di Tellu Cappa Urai data, ungkap fakta, saji berita


Opini

14

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 165 Maret Tahun XXXVI 2013

www.profesi-unm.com

Almamater

Pustaka Bukan Pusaka

*Sultan, MPd SEBUAH studi terbaru yang mengukur kemampuan membaca pelajar di sekolah dasar dari berbagai negara baru saja dipublikasikan melalui Progress in International Reading Literacy Study Desember 2012 lalu. Hasilnya, pelajar Indonesia menduduki peringkat 42 dari 45 negara. Sebelumnya, di level sekolah menengah, studi internasional lainnya yang dilakukan oleh Organization for Economic Development Country melalui Programme for in International Student Asessesment (PISA) yang dirilis pada tahun 2010 menunjukkan bahwa kemampuan membaca pelajar Indonesia berada pada peringkat ke-57 dari 65 negara. Dua studi internasional ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca pelajar di negara ini tergolong sangat lemah. Secara umum, prestasi membaca pelajar Indonesia konsisten berada pada peringkat 15% terbawah pada tiga riset terakhir yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali oleh dua lembaga tersebut. Kemampuan membaca merupakan salah satu modal utama untuk dapat survive di abad ke-21 ini. Dengan membaca, setiap orang dapat mengembangkan wawasan dan mengasah keterampilan berpikir. Ken Kay (2006), President Partnership for 21st Century Skills menempatkan berpikir kritis (critical thinking) pada urutan pertama keterampilan yang harus dimiliki oleh generasi muda di abad ini. Keterampilan berpikir kritis tersebut hanya akan diperoleh melalui keterampilan dan sikap membaca yang baik. Kemampuan membaca memiliki korelasi dengan daya kompetitif. Prestasi dalam bidang membaca yang rendah berbanding lurus dengan daya kompetitif pelajar yang lemah. Pearson melalui The Learning Curve Report 2012 menempatkan Indonesia pada posisi juru kunci, peringkat terakhir dari 40 negara dalam Global Index of Cognitive Skill and Education Attainment (Pearson 2012 Report). Pelajar hanya akan kompetitif, jika memiliki sikap dan keterampilan membaca yang baik. Hasil riset prestasi membaca pelajar Indonesia yang rendah dan peran membaca yang sangat strategis semakin mengukuhkan pentingnya memberikan perhatian terhadap pengembangan minat baca. Termasuk, menumbuhkan sikap dan kecintaan membaca di lingkungan kampus. Bagaimana budaya membaca di lingkungan kampus (baca: Universitas Negeri Makassar)? Secara kasat mata, nampak bahwa kantin masih lebih ramai dibandingkan dengan perpustakaan. Kunjungan

Urai data, ungkap fakta, saji berita

ke warung-warung di lingkungan fakultas/universitas, masih lebih sering dibandingkan dengan kunjungan ke perpustakaan fakultas/ universitas. Di kalangan dosen, seringkali pula terdengar ungkapan yang mengeluhkan mahasiswa yang kurang membaca. Membangun budaya membaca tidaklah mudah. Fasilitas membaca yang memadai, seperti ketersediaan buku baru dengan jumlah yang cukup dan ruangan yang nyaman dapat membangkitkan minat baca masyarakat kampus. Namun demikian, fasilitas yang memadai tidaklah cukup tanpa dorongan motivasi yang tumbuh dari dalam diri setiap individu. Jadi, motivasi dan sarana adalah dua faktor utama yang berperan besar dalam hal ini. Layanan perpustakaan dan ketersediaan pustaka sangat dibutuhkan untuk mengembangkan budaya membaca. Perpustakaan juga menjadi ukuran kemajuan dan pengembangan atmosfir akademik setiap perguruan tinggi. Sayangnya, perpustakaan-perpustakaan yang ada lebih banyak menyimpan ‘pusaka’ (baca: buku tua) ketimbang pustaka (baca: buku baru). Cukup mengkhawatirkan jika sivitas akademik tidak disuplai dengan rujukan terkini. Skripsi tidak bisa lagi dijadikan sebagai koleksi terbanyak yang mengisi rak-rak perpustakaan. Jika tidak mengikuti perkembangan ilmu yang semakin cepat, institusi ini akan menghasilkan sarjana dengan ilmu yang kedaluwarsa sebelum mereka melangkahkan kaki meninggalkan almamater ini. Perpustakaan juga tidak bisa lagi bertahan dengan pola layanan konvensional yang serba manual. Ilmuwan Australia, Dan Pankraz (seperti dikutip Kasali, 2010) telah mengingatkan bahwa kampus-kampus kini telah kedatangan anak muda (mahasiswa) yang tumbuh dari budaya baru yang disebutnya generasi C (content, conected, cyber,curiosity, chamelon ‘cepat berubah’). Para generasi C ini merindukan digital library¸ perpustakaan dengan akses berbasis teknologi informasi. Dengan dukungan layanan perpustakaan, atmosfir akademik akan berkembang semakin baik, motivasi membaca meningkat, dan lulusan semakin berkualitas. Untuk kondisi saat ini, jika perpustakaan adalah rumah ilmu dan buku adalah jendela pengetahuan, maka rasanya kita masih menetap di rumah yang sangat sederhana dengan jendela yang retak pula! (*)

DPP: Haram dan Halal Jika berbincang soal DPP, phinisi bisa dijadikan kambing hitam. Ketika mahasiswa bertanya kemana DPP itu? Jawabannya ”Lihatlah gedung mewah di depan itu nak”. Seolah DPP mampu menghidupi kegagahan gedung phinisi. Mungkin ini hanya upaya Phinisisasi, kemudian lari dari terma esensi DPP itu sendiri. Sadar atau tidak, praktik komersialisasi pendidikan telah mengubah haluan layar pendidikan UNM. Corak pendidikan hanya dinikmati segelintir orang. Mereka yang mampu membayar upeti yang ditetapkan universitas. Implikasinya, UNM kehilangan jati diri. Gagal dalam mengelolah kampus. Tetapi tetap menikmati guyuran dana dari pemerintah. Maka muncul indikasi ada oknum yang sengaja memanfaatkan peluang memperkaya diri sendiri. Bila menoleh ke belakang, berbagai riak yang terjadi terkait kontroversi DPP, nampak berbagai tindakan represif dari pihak birokrat kampus mengamankan produknya (baca : DPP) dengan melakukan intervensi terhadap fungsionaris LK, hingga menyajikan konflik horisontal antar mahasiswa. Akibatnya darah sering tertumpah di kampus orange dengan menggunakan mahasiswa (baca : preman bayaran) untuk merusak dinamika LK sebagai poros perjuangan dan gerakan mahasiswa. Potret kampus sangat memperihatinkan. Ini menjadi tanggung jawab civitas akademika UNM untuk melihat lebih jauh berbagai kejahatan ”kerah putih” yang ditampilkan dalam bentuk yang lebih kompleks dengan menyendera pendidikan di kampus tercinta. Baik berbentuk komersialisasi pendidikan, atau pemenjaraan nalar. Hal ini tampak dalam aturan kemahasiswaan dengan melakukan tindakan mencegah beragam kemudhratan yang terus berlanjut dalam tubuh kampus. Semenjak tahun 2006 ada kenaikan SPP. Namun pihak birokrat belum puas, kemudian membuat kamuflase baru dengan metodologi subsidi silang. Ihwal kelahirannya pun, sampai saat ini menjadi “lintah pendidikan “ yang merambah di setiap tentakel rektorat atas dasar “kemandirian”. Ia pun menghisap di tiap titik darah dan keringat mahasiswa. Hal positif yang dapat dimaknai, kondisi birokrasi di UNM dari jurusan sampai universitas, mayoritas masih koop-

*Sudirman eratif mendukung kegiatan LK selama tidak terkait kerja-kerja advokasi dan investigasi. Mereka mendukung hal-hal yang berbau realisasi program kerja saja. Jika mempertanyakan masalah DPP, maka intervensi diluncurkan bagai peluru bagi para fungisionaris. Jika dalam prakteknya DPP berlandaskan konstitusi, maka kita akan berangkat pada transparansi. Sejauh mana transparansi terhadap semua stake holder termasuk mahasiswa sebagai elemen subjek dan objek dalam pendidikan. Parahnya sejak berubah nama IKIP Ujung Pandang menjadi Universitas Negeri Makassar, bangku kuliah yang di gunakan masih “IKIP/1994/”. Sungguh ironis realitas yang terjadi di kampus Oemar Bakrie ini. Menghancurkan yang sudah kokoh, dan membangun gedung mewah tanpa inisiatif memperbaiki yang tersisa. Saya bangga dengan hadirnya gedung mewah sekelas phinisi, tapi akan lebih bangga jika DPP bisa ditransparansikan. Birokrasi mesti peka terhadap persoalan ini. Berbicara DPP maka ada kontradiksi antara Birokrasi dengan LK. Sepertinya tidak akan berakhir. Bagi Birokrat, DPP hukumnya Halal, untuk LK, DPP jelas HARAM. Jika diartikulasikan, titik temu keduanya bisa dipastikan putus jika sistem keuangan UNM masih semrawut. Tak heran jika beberapa fungisionaris naik darah jika bertemu dengan penanggungjawab keuangan. Yang tak kalah pentingnya, mencerahkan kepada semua pihak mengapa sistem keuangan di UNM kacau balau seperti ini? Pertanyaan sederhana namun jawabannya akan berimplikasi luas. Jika ada regulasi baru, cerahkanlah semua pihak agar pertanyaan itu tak berujung pada penghakiman yang bisa menjauhkan jarak dari Visi Mulia Almamater yang kita cintai ini. Hal yang mesti disadari, birokrasi dan LK layaknya Ayah dan Anak. Jika ayah tak lagi

bertindak layaknya ayah, wajarlah Sang Anak bertanya-tanya. Hanya saja cara bertanya ini mesti lebih etis. Citra LK dan Institusi Pasca tragedi tawuran yang terjadi di kampus tercinta beberapa waktu lalu, persoalan ini tentu butuh perhatian lebih untuk coba kita retas bersama guna menghasilkan resolusi yang mengakomodasi para stake holder di masing-masing fakultas. Pecahnya Sembilan mata orange, merupakan kabar gembira bagi birokrasi kampus. Tak solidnya LK tentu menjadi lahan basah untuk dipolitisasi dan dikonflikkan sesama fakultas. Cita-cita perjuangan sulit di capai. Selain itu citra mahasiswa di masyarakat semakin negatif. Maka persatuan Sembilan mata orange menjadi prioritas yang harus di realisasikan. Ini menjadi bargaining power bagi para birokrasi kampus. Sehingga regulasi yang tidak pro mahasiswa yang coba direalisasikan akan menjadi warning. Demonstrasi adalah ciri khas LK mencapai cita-cita perjuangan. Pertanyaan, mestikah masalah mutlak teratasi dengan cara ini. Mari menjawabnya dengan realitas saat ini. Pencitraan institusi tidak kalah pentingnya diretas bersama. Unit Kegiatan Mahasiswa agar terus meningkatkan bakat-minat mahasiswa UNM. Begitupun LK Tingkat JurusanUniversitas harus menunjukkan eksistensinya demi kemajuan Instansi ini. LK UNM selain sebagai kiblat Pergerakan sosial di Makassar, mesti mampu berbuat untuk kemajuan instansinya. Sebagai penyulut api perjuangan kawan-kawan, kukutip kata-kata dari Marcello monsini: Tempatkanlah seorang pemuda mahasiswa ditengah barisan terdepan massa yang sedang memberontak, Engkau takkan pernah tahu kekuatan apa yang ada dalam diri mereka, daya pesona apa yang memancar dari diri mereka. Mereka bagaikan rasul-rasul yang membawa agama baru Sebab mereka mahasiswa hidup dalam pergerakan,tumbuh berkembang dalam gelora semangat dan keyakinan Maka tasbihkanlah tentang nilai-nilai kebenaran keadilan dan cinta kasih. (*) *Penulis adalah Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa UNM Periode 2013-2014

LPPM Profesi UNM menerima tulisan dalam bentuk opini dari civitas akademika UNM. Tulisan dibatasi maksimal 3000 karakter. Redaksi berhak mengedit atau memotong tulisan anda tanpa mengubah maknanya.

*Penulis adalah Pengelola LPPM Profesi Periode 1998-2001.

Profesi FM - 107.9 MHz


Profesiana

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 165 Maret Tahun XXXVI 2013

Sekolah Laboratorium Pangkep Mandek TIDAK jelasnya status kepemilikan tanah yang dijadikan area pembangunan Lab School atau sekolah laboratorium UNM di kabupaten Pangkep, membuat penyelesaian gedung yang akan dijadikan sebagai sekolah binaan UNM tersebut harus terhenti sementara. Pembantu Rektor (PRII) Bidang Sarana dan Prasarana, Nurdin Noni menyatakan, saat ini sekolah tersebut tinggal menuggu izin untuk dioperasikan. “Sekarang kami masih menunggu izin untuk oprasional,” tuturnya. Hal lain diungkapkan Direktur Program Pengembangan Profesi Guru(P3G), Abdullah Pandang, yang juga sebagai ketua yayasan dari sekolah laboratorium

Pangkep tersebut, menurutnya saat ini pihaknya masih menanti pemerintah kabupaten Pangkep untuk memberikan secara penuh kepemilikan tanah hibah tersebut. “Kami masih menunggu, kapan pemerintah pangkep memberikan tanah hibah tersebut secara sah, kalau sudah sah, enak untuk dilanjutkan,” jelasnya. Tak sampai disitu, selain status kepemilikan tanah yang masih mengambang, Abdullah Pandang juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap sekolah laboratorium tersebut. Dia mengungkapkan, sampai saat ini sekolah tersebut tidak memiliki sumber dana yang khusus untuk pembangunannya, sehingga hal tersebut menjadi salah satu faktor penghambat

terselesaikannya sekolah binaan itu. “Sumber dana kami juga tidak spesifik jadi, jadi untuk dananya masih kesana kemari,” paparnya. Ayah empat anak ini mengungkapkan, walau pembangunan gedung sekolah belum seratus persen rampung, pihaknya akan segera membuka pendaftaran di tahun ajaran mendatang. “Walau belum rampung rencananya kami akan buka dulu kelas SMP di tahun ajaran mendatang,” ungkapnya. Walau berjalan pelan, anak ke tiga dari tujuh bersaudara itu yakin pembangunan sekolah binaan itu akan rampung. “Kita berjalan pelan saja, sedikit-sedikit kita selesaikan pembangunannya,” tutupnya.(rap)

Pegawai Rektorat Tahan Beasiswa Bidik Misi PEMBAGIAN beasiswa bidik misi lagi-lagi tersendak. Hal ini dikeluhkan oleh para mahasiswa penerima bidik misi. Beasiswa bidik misi untuk 3 bulan terakhir, Oktober, November, dan Desembar belum juga terbayarkan. Padahal sekarang ini sudah memasuki akhir bulan Maret. Sebut saja, Ari (samaran) salah satu Mahasiswa penerima bidikmasi yang mengeluhkan hal tersebut. Dirinya merasa kecewa dengan pihak birokrasi. Padahal menuturnya, uang itu sangat Ia butuhkan untuk berbagai keperluan kuliah. “Banyak buku yang mesti saya beli di awal semster ini, belum lagi uang yang harus saya keluarkan untuk study lapang. Kalau dibulan Maret nanti uang ini masih belum cair saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Kemungkinan besar saya akan mencari pinjaman untuk pembayaran uang kos”. Beber Mahasiswa Fisika eksponen 10 ini. Ia merasa semakin

kesulitan menghadapi hal ini karena pihak keluarga tidak lagi memberikan uang saku padanya. Dirinya hanya mengharap pada uang beasiswa tersebut. Menanggapi hal tersebut Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, Heri Tahir membenarkan adanya keterlambatan tersebut. Menurutnya pengakuannya, Ia telah memerintahkan staf yang ada di keungan untuk segera ditindak lanjuti. “Semestinya memang sudah dibayarkan lagi Oktober, November dan Desember,” ungkapnya. Masih menurut Heri Tahir, dirinya memang tidak melakukan pengawasan seperti bulan-bulan sebelumnya dengan harapan pihak yang mengawal bidik misi ini dapat bekerja dengan baik. “Semestinya pegawai yang baik adalah pegawai yang tidak mesti disuruh, karena

mereka sudah tau tupoksinya masing-masing,” keluhnya. Ia mengatakan, yang biasa membuat bidik misi terlambat karena adanya kesamaan nomor rekening untuk dua nama. Ia menganggap bahwa hal ini hanyalah kesalahan teknis pada keuangan. Namun pegawai bidang

keuangan yang mengkoordinasi Bidik misi, Ilham mengatakan bahwa Ia tidak tahu menahu masalah pencairan dana beasiswa bidik misi. Dirinya hanya mengatur bagian administrasi. “Yang tahu keterlambatan pencairan dana itu bendahara UNM,” jawabnya dengan singkat. (tar)

Dekan Ekonomi Idap Penyakit Arogan APA jadinya kalau seorang pejabat menjadi antikritik dan bersikap arogan? Penyakit inilah yang sedang diderita Dekan Ekonomi Prof Munarfah. Munarfah mulai menunjukkan sifat kurang bersahabat akhir-akhir ini. Orang nomor satu di Fakultas Ekonomi itu beberapa kali membentak dan mengusir wartawan yang hendak mewancarainya. Seperti yang terjadi Jumat (15/2) lalu, seorang reporter Profesi yang hendak meminta wawancara terkait kegiatan hari lahir Fakultas Ekonomi ke5. Alih-alih menjawab pertanyaan sang reporter tersebut guru besar ini malah menggebrak meja lalu membentak tanpa alasan yang jelas. “Keluar! saya sudah bilang Profesi jangan datang ke sini lagi,” katanya dengan nada tinggi. Sikap seperti ini bukan pertama

Profesi FM - 107.9 MHz

kali ditunjukkan Munarfah terhadap wartawan. Dalam beberapa kesempatan dia menunjukkan sikap tak bijak terhadap pemberitaan yang mengkritik kepemimpinannya di fakultas tersebut. Penyakit Munarfah ini ternyata juga menjangkiti beberapa dosen dan pegawainya. Mereka kerap melontarkan perkataan kasar kepada awak media. Hingga saat ini tidak jelas motif yang mendasari beberapa birokrat FE melarang peliputan dan penyebaran tabloid atau weekly news profesi di fakultas tersebut. Kabarnya, Munarfah serta beberapa dosen berang dengan pemberitaan profesi mengenai nasib mahasiswa yang berbulan-bulan kuliah di masjid karena jumlah mahasiswa dan ruangan yang tidak seimbang. Selain itu, salah satu dosen eko-

nomi, Abdul Rahim, pernah disebut memukul mahasiswanya gara-gara berkomentar di profesi (lihat weekly news edisi 19). Menanggapi hal ini Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, Heri Tahir, sangat menyesalkan kejadian tersebut. “Kita sebagai pejabat kampus seharusnya mampu menjadi panutan. Jika kita dikritik, marilah kita introspeksi diri. Jangan selalu selesaikan masalah dengan emosi,” ujarnya saat ditemui di ruangannya. Heri berjanji akan mengkordinasikan hal ini dengan FE. “Kalau ada dosen yang melakukan pelanggaran kode etik, maka kita akan evaluasi dan kita serahkan ke komisi etik dosen, termasuk pemukulan yang dilakukan oleh oknum dosen terhadap salah satu pengurus LK di FE,” ungkapnya. (faj)

15

www.profesi-unm.com

Ini Kampus, Bukan Sirkus AKHIR-AKHIR ini, pemandangan yang begitu berbeda dengan kampus yang berdomisisi di area Tidung, Fakultas Ilmu Pendidikan. Kampus yang biasanya dijadikan sebagai ruang belajar para kaum terpelajar, kini juga dihuni oleh segerombolan hewan ternak yang merupakan peliharaan orang nomor satu di kampus bungsu UNM tersebut. Terlebih, ayam-ayam yang berlalu lalang di area kampus terkadang menjadi pusat perhatian bagi pengunjung. Sebut saja Roni, salah satu mahasiswa FIP mengakui bahwa ayam-ayam yang berkeliaran itu sangat mengganggu tatkala sedang bersantap siang di kantin. “Merusak pemandangan sih sebenarnya,” keluh Mahasiswa eksponen 08 ini. Akan tetapi Ia tidak mengetahui secara pasti siapa pemilik dari ayam-ayam itu. Senada dengan itu, Rio mengungkapakan, ayam-ayam tersebut tidak sepantasnya dipelihara di kampus apalagi dibiarkan berkeliaran begitu saja. “Biasanya malu juga sama teman dari fakultas lain kalau datang berkunjung, sering mengejek katanya masa di FIP banyak ayam, ini kampus atau peternakan” imbuhnya saat mengikuti ejekan temannya. Lebih lanjut Ia mengatakan, setaunya ayam-ayam tersebut adalah milik orang nomor satu di FIP ini. “Ayamnya Pak Dekan kayaknya ini,” terang mahasiswa PGSD eksponen 2011ini. Di pihak lain, salah seorang pedagang di kantin, Nani (samaran) membenarkan bahwa ayam tersebut adalah milik Dekan FIP, Namun dirinya takut mengeluhkan kondisi tersebut. “Siapa yang berani protes, nanti dilarangki lagi menjual sama pak Dekan,” cemasnya. Ia menambahkan, ayam-ayam tersebut sudah ada sejak dirinya mulai menjual dikampus. Menurutnya ayam-ayam itu sangat menganggu kebersihan kantin karena ayam itu membuang kotorannya di sembarang tempat. Bukan hanya Nani, rekan seprofesinya, Ria juga merasakan masalah yang sama. Ia mengakui ayam-ayam tersebut menjadi salah satu kendala dirinya menjalankan usaha di tempat itu. Tidak hanya itu, Ia juga mengeluhkan ayam tersebut sering merusak peralatan menjual miliknya. “Sering kali naik di atas meja, dan memecahkan gelas,” beber perempuan yang sudah berjualan di FIP sejak 2009 ini. “Memang harus ada kandangnya, kalau tidak pasti berkeliaran dan buang kotoran sembarangan,” ujar Ketua Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Syamsul yang ikut berkomentar terkait permasalahan ini. Menurutnya, merupakan hal yang wajar bila beberapa pihak mengeluhkan ayam-ayam milik dekan tersebut karena kantin seharusnya harus selalu bersih. Dekan FIP, Ismail Tolla selaku milik hewan ternak itu angkat bicara. Ia beralasan, selama ini belum ada pihak-pihak yang merasa diresahkan dengan ayam-ayamnya. “Belum ada itu mahasiswa atau siapapun yang merasa diresahkan,” dalihya. Ismail Tolla menjelaskan, alasan memelihara ayam tersebut tidak lain untuk membangun lingkungan yang cinta terhadap makhluk lain yang ada disekitar. Dirinya juga menginginkan kiranya lingkungan tidak hanya ada manusia saja, tapi harus juga ada makhluk lain. “Hewan dan tumbuhan yang ada disekitar kita itu memberikan rangsangan-rangsangan yang memiliki nilai positif,” ujarnya. Untuk masalah kebersihan dan pemandangan lingkungan sekitar yang terganggu dengan kondisi tersebut, Ia menyarankan agar ayam-ayam tersebut bisa diatur dengan mengusirnya.“Ayam-ayam tersebutkan bisa di usir biar tidak menggangu, jadi tidak perlu dibikinkan kandang,” tutupnya dengan enteng (pr26/pr28). Urai data, ungkap fakta, saji berita


16 Persona

Tabloid Mahasiswa UNM Profesi Edisi 165 Maret Tahun XXXVI 2013

www.profesi-unm.com

Drs. Andi Mas Jaya A.M., M.Pd. (Dosen FIK UNM)

Pilih jadi Pendidik Ketimbang Atlet MENJADI tenaga pendidik adalah cita-citanya sejak kecil. Meski lebih dikenal sebagai atlet yang mengusai hampir semua cabang olahraga darat, namun dia tidak ingin menjadi seorang atlet seperti teman-temannya kebanyakan. Keinginannya untuk mengamalkan ilmu yang dimiliki tetap menjadi tujuan utama. Dialah Andi Mas Jaya AM, dosen Penjaskesrek Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universi-

tas Negeri Makassar (UNM). “Saya masuk di UNM artinya saya memang dilahirkan dan bercita-cita untuk menjadi seorang guru. Saya tidak pernah membayangkan mejadi seorang atlet meski saya punya banyak prestasi di bidang olahraga,” ungkap pria asal Bone ini. Andi menuturkan, semasa kecilnya dia hanya iseng-iseng olahraga dan akhirnya ayah dari enam anak ini dipanggil mengikuti pertandingan. Hasilnya, banyak prestasi yang berhasil dia bawa pulang. Sejak saat itulah, dosen kelahiran Bone, 21 April 1960 ini mulai berlatih dan menguasai banyak cabang olahraga seperti tenis meja, tenis lapangan, bakset, lompat galah, volly, lompat jangkit, dan olahraga darat lainnya. Berbekal semangat juang

FOTO: NURJANNA JAMALUDDIN - PROFESI

yang tinggi, Andi mengikuti semua cabang olahraga yang ada. Bekal itulah menjadi modal baginya memenangkan banyak pertandingan dan perlombaan. “Saya tidak haus bertanding, semua cabang saya ikuti, bukan hanya satu tetapi semuanya, selama saya masih bisa, saya akan mencoba,” terangnya. Kesenangannya dengan dunia olahraga, membawa anak dari pasangan Andi Mangawiang dan Andi Sitti Sawiyah ini mencicipi berbagai perlombaan dan pertandingan, Baik di tingkat nasional maupun internasional. Tahun 1982 anak kedua dari enam bersaudara ini ke Jakarta ikut kejuaraan nasional. Selanjutnya dia mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON), Kejuaraan nasional di Surabaya, sekaligus pemilihan atlet di Surabaya untuk jangka panjang selama enam bulan. “Saya bersama keempat teman lainnya dipilih mewakili Sulsel untuk persiapan Sea Games di Singapura. Dan alhamdulillah kami bisa membawa medali perunggu di cabang olahraga Hokky,” ungkapnya bangga. Karena punya bakat yang luar biasa, para dosen dan mahasiswa di FIK UNM megakui kehebatannya menggunakan kedua tangannya (kanan dan kiri) ketika bermain tenis meja. Pelatih Kepala Cabang Atlet Se-Sulsel di Pusat Pelatihan Pelajar (PPLP) Sudi-

ang ini membuktikan bisameng- gus kalau saya di Makassar. Saya gunakan kedua tangannya dalam sudah lama di daerah, pendidikan bermain tenis meja. di daerah sangat minim, makanya “Saya bisa mengganti kapan saya ke Makassar untuk menamsaya menggunakan tangan kanan bah ilmu,” ungkapnya. ataupun tangan kiri. Ini cara saya Karena tekadnya ini, akhmengecoh dan menciutkan men- irnya tahun 2000 Andi memutustal lawan,” ungkapnya. Masih kan untuk kuliah di Pascasarjana menurut dosen yang juga men- UNM dan selesai di tahun 2002. gajar mata kuliah anatomi ini, dia Setelah mendapat gelar Magister bersyukur kepada Tuhan karena Pendidikan, Andi langsung ditatelah memberikan anugerah yang wari menjadi dosen oleh Anwar luar bisa ini. Pasau Dekan FIK UNM saat itu. Meski terlahir dengan bakat Andi Mas Jaya mengharapluar biasa, namun dirinya tetap kan agar mahasiswa bisa mengiberkeinginan menjadi seorang kuti jejaknya bukan hanya berguru atau dosen. Menurutnya, prestasi di lapangan dan juga di prestasi hanya bersifat semen- bangku pendidikan. (NJA) tara. Pendidikan jauh lebih penting dari segalanya. Data diri : “Saya pernah dipanggil menjadi atlet nasiRiwayat Pendidikan: onal di Jakarta, tapi saya - SPG Jurusan IPA (1976-1980) - Jurusan Penjaskesrek (1980-1985) lebih memilih tetap di - S2 Pendidikan Jasmani dan Olahraga (2000-2002) sini (Makassar,red) untuk melanjutkan pendidikan,” Karir: - Guru Olahraga di SMAN 1 Sinjai Selatan ungkapnya. (1986-2002) Setelah menyelesaikan - Dosen FIK UNM (2002-Sekarang) kuliahnya di UNM tahun - Pelatih PORDA Sinjai Cabang Basket - Pelatih Kepala Cabang Atlet Se-Sulsel di Pusat 1985, Pelatih Pekan OlahPelatihan Pelajar Sudiang (2009-Sekarang) raga Daerah (Porda) Sinjai Cabang Basket ini kePrestasi: - Juara I Basket Perguruan Tinggi Se-Sulsel (1980) mudian diangkat menjadi - Juara III Sea Games di Singapura (1983) guru olahraga di SMAN 1 - Juara III Kejurnas Hokky di Suarabaya Sinjai Selatan. “Dari awal - Juara III PON X Cabang Hokky di Jakarta - Juara II Lompat Tinggi Perguruan Tinggi Sesaya ingin menetap di sini Indonesia Timur (Makassar, red). Saya yakin - Juara I Kejurnas Hokky Se-Indonesia. prestasi saya akan lebih ba-

Ulyah Saini (Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika)

Biayai Kuliah Lewat Bisnis Online PERKEMBANGAN teknologi semakin pesat di kalangan masyarakat, maka internet menjadi kebutuhan sekunder bagi sebagian masyarakat bahkan menjalankan aktifitas bisnis melalui media online. Melihat perkembangan itu, Ulyah Saini mencoba memanfaatkan media ini sebagai sarana mempromosikan bisnisnya. Keinginannya untuk membiayai kuliah dan biaya hidupnya, perempuan kelahiran Makassar ini, mencoba berbisnis melalui online. “Saya pilih berbisnis lewat online karena tidak butuh modal yang besar, hanya mengandalkan jasa internet saja kita menghasilkan uang. Apalagi saat ini dunia bisnis online lagi buming, makanya saya memanfaatkan peluang ini,” ungkapnya. Selain itu lanjut Uly, dirinya ingin mencari pekerjaan yang tidak mengganggu kuliahnya. Di tahun 2010, bermodakan hanya Rp300 ribu, Uly mulai bisnisnya dengan membuat aksesoris dari bahan hamabeats. Dara kelahiran Ujungpandang, 3 Agustus 1991 ini mulai membuat cincin, kalung,

Data diri : Riwayat Pendidikan: - TK Islam Athirah Makassar 1995-1997 - Sekolah Dasar Negeri Mangkura II Makassar 19972003. - Sekolah Menengah Pertama Negeri II Makassar 2003-2006. - Sekolah Menengah Atas Kartika Wirabuana- I Makassar 2006-2009. Karir: - Penyiar di PT Sonata Radio Makassar (2009-2010) - Penyiar di PT Suara Angkasa Radio PLS FM (2012-Sekarang)

Urai data, ungkap fakta, saji berita

gelang, gantungan kunci, gantungan handphone, dan lainnya. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Elektronika ini kemudian mempromosikan produknya lewat online yakni melalui jejaring sosial seperti facebook, twitter dan blog pribadinya. Tak disangka, bisnisnya mulai berkembang, dan keuntungan yang terus bertambah, mahasiswa eksponen 09 ini mulai meninggalkan aksesoris dan mulai merambah bisnis hijab dan pakaian muslim. “Saya melebarkan bisnis saya ke dunia hijab, sesuai dengan permintaan pasar, karena setiap saat selera fashion itu berubah-ubah,” ungkapnya. Menurut mahasiswa yang punya citacita menjadi seorang dokter ini, produk yang ditawarkannya sesuai permintaan pasar. Selain itu, Uly juga menawarkan barang-barang yang relatif murah. Tak heran para pembelinya tersebar luas baik di Makassar, Surabaya, Medan, Papua, Bali, Monokuari, Balik Papan, Pekan Baru, Padang, Bandung dan bahkan sampai ke luar negeri yakni di Malaysia. Dunia bisnis memang tidak selamanya berjalan mulus. Ulyah mengaku pernah mengalami berbagai kendala ketika menjalankankan bisnisnya. Uly pernah ditipu pihak suplier. Barang yang sudah dipesan dan dibayar, tapi tidak sampai ke tangan. Selain itu, para custumer sering membuatnya jengkel lantaran sudah memesan dan barangnya sudah siap kirim tiba-tiba dibatalkan. “Barang-barang online harus kita habiskan, jika tidak maka tidak akan laku lagi, karena kita tahu setiap saat fashion itu berubah-

ubah, sebelum ketinggalan zaman makanya harus segera terjual habis,” ujar Uly. Selain menjalankan bisnis, anak pertama dari pasangan Saini Sennang dan Hj. Rasidah ini tergolong anak yang mandiri. Terbukti, di sela-sela kesibukan kuliahnya, dia meluangkan waktu untuk menjadi pemenyiar di salah satu radio swasta di Makassar. . Mahasiswa yang punya hobby foto ini juga mengaku, meski tidak mengetahui banyak dengan dunia fashion, tidak tahu menggambar dan desan, tetapi belajar otodidak tentang dunia fashion. “Walau saya tidak tahu desain, tetapi saya harus punya teste of fashion (selera) dan knowlegde of fashion (pengetahuan tentang fashion),” ungkapnya. Dengan semangat yang luar biasa, empat tahun menjalankan bisnis ini, akhirnya Uly yang juga punya hobby nonton film Naruto dan design fashion ini mampu menghasilkan keuntungan Rp3-5 Juta setiap bulannya. Walaupun cita-citanya ingin punya butik sendiri belum kesampaian, namun dia tetap berharap impiannya bisa segera terwujud di kemudian hari. Uly berharap teman-temannya juga bisa seperti dia. “Jangan hanya sekedar kuliah saja tetapi mampu memanfaatkan segala peluang yang ada di depan mata untuk mulai melakukan sesuatu yang berharga dan tentunya bisa menghasilkan uang yang bisa kamu nikmati,” pesan Uly. (NJA)

FOTO: NURJANNA JAMALUDDIN - PROFESI

Profesi FM - 107.9 MHz


Edisi 165