Page 1

UKT BKT

Kian Mencekik Hal

13

Salah Ketik, Camaba Batal kuliah


2 Menjadi kuli tinta dalam dunia kampus sebagai pers mahasiswa, tidak mengenal kata libur. Setiap hari sama, karena begitulah tugas kami untuk selalu memberikan informasi aktual dan faktual bagi masyarakat kampus UIN Alauddin Makassar. Selama masa libur dalam mempersiapkan penyambutan mahasiswa baru, UKM LIMA selalu hadir di tengah-tengah pembaca setianya. Tak terlepas dalam menghadirkan tabloid untuk pemenuhan informasi awal tentang kampus bagi mahasiswa baru. Selalu menghadirkan tabloid, bukan berarti tidak ada kendala. Biaya terbitan yang mencekik dan waktu terbit yang molor tak membuat kami menyerah. Hal ini demi kepuasan dari pembaca setia dari tabloid Washilah. Kali ini, Washilah kembali hadir dengan suguhan berita yang dirangkum secara menarik dalam edisi penerimaan mahasiswa baru tahun 2016. Bukan tanpa hambatan, tim redaksi kami harus merelakan masa liburnya untuk tetap menyajikan berita bagi mahasiswa yang haus akan informasi. Tim redaksi UKM LIMA mengambil headline yang membahas tuntas tentang UKT BKT. UKT BKT selalu menjadi perbincangan hangat, terutama bagi mereka yang ditetapkan pada kategori yang tidak sesuai. Tak ketinggalan juga, pada liputan khusus kami merangkum informasi seputar KKN bagi mahasiswa akhir.

DAPUR REDAKSI

Edisi 98 | Dzulhijjah 1437 Hijriyah | September 2016 Masehi

Tak Kenal Lelah

Mahasiswa yang berada pada program UKT BKT, merasa simpang siur karena tidak adanya kejelasan terhadap KKN pada bulan November terutama mengenai pembayaran. Tak hanya itu, kami juga menyuguhkan gambaran awal tentang profil UKM bagi mahasiswa baru. Beberapa sambutan pun melengkapi edisi kali ini dari Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas dengan sambutan hangat untuk mahasiswa baru.

Terlepas dari itu semua, kami tim redaksi dari UKM LIMA Washilah akan selalu hadir di tengah-tengah pembaca setianya. Memberikan informasi aktual dan menarik yang menjadi polemik di kalangan masyarakat UIN Alauddin Makassar. Kami segenap tim redaksi UKM LIMA mengucapkan selamat datang mahasiswa baru di kampus peradaban dan selamat menikmati sajian informasi kami.

Suasana rapat yang digelar UKM LIMA di Redaksi lantai tiga Gedung PKM. Rapat ini merupakan persiapan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) yang akan berlangsung pada bulan Oktober mendatang.

www.

washilah .com

Tajuk

Salah Sasaran Penetapan sistem UKT BKT pada tahun 2013 lalu sudah menjadi pertanyaan banyak pihak. Sejauh mana subsidi silang yang katanya membantu mahasiswa miskin ini bisa memberi dampak yang jelas. Pun setelah beberapa tahun berjalan, aksi protes terkait penetapan kategori yang tidak sesuai juga mulai terdengar. Tak sedikit perguruan tinggi menganggap sistem ini tidak efisien sebagai penentu besaran SPP tingkat universitas. Kenaikan UKT tiap tahun juga menjadi keresahan tersendiri oleh banyak pihak. Tak tanggung-taggung, antara tahun 2015 hingga tahun 2016 kenaikan UKT mencapai 100%. Lalu untuk apa UKT-BKT diberlakukan?, jika pada akhirnya hanya menyulitkan banyak pihak. Penggolongan kategori juga tidak tepat sasaran. Mahasiswa miskin yang semestinya diberi kemudahan dalam pembiayaan kuliah malah disodor dengan nominal tinggi. Mekanisme pengkategorian juga berbeda dari tahun sebelumnya. Jika tahun lalu pemilihan dengan metode wawancara, kali ini hanya melalui online dengan sejumlah berkas yang dikirim. Evaluasi efektifitas seharusnya mulai dilakukan pihak kampus. Antisipasi demi menekan inflasi sudah semestinya menjadi pembahasan penting di tingkat universitas. Kendati pun pemegang dan perombak aturan adalah pemerintah, penetapan kategori yang sesuai adalah tugas wajib universitas.


3

TOPIK UTAMA

www.

washilah .com

Edisi 98 | Dzulhijjah 1437 Hijriyah | September 2016 Masehi

UKT BKT

Kian Mencekik Washilah - Besaran SPP melalui sistem UKT-BKT dengan penetapan kategorinya, kini dinilai tak tepat sasaran. Sejumah mahasiswa bahkan mengklaim, jika penggolongan tidak rasional dan seakan mencekik mahasiswa.

M

uhammad Asfar, Mahasiswa baru Jurusan Perbandingan Hukum Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) ini bercerita perihal penetapan kategori Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dinilainya salah dan terlalu memberatkan. “Saya di kategori empat, SPP 1,6 juta per semester tapi penghasilan orang tua cuma 435.000 sebulan,” ujarnya. Aturan tersebut lantas membuat kedua orang tua memintanya berhenti kuliah, melihat latar belakang ekonomi yang tak seberapa. Asfar mengaku sulit untuk melanjutkan kuliah pada awalnya. “Kata orang tua tidak usah kuliah, cukup memberatkan pembayarannya, untung ada om yang bisa membantu tapi semoga kategorinya bisa berubah karena tidak sesuai dengan ekonomi keluarga,” lanjut pria asal Bone ini dengan nada yang menggebu. Tak banyak yang bisa dilakukan Asfar, penetapan kategori yang sebelumnya diharapkan dapat membantu pendidikan, nyatanya tidak sama sekali. Namun hal berbeda justru diutarakan Kepala Biro Akademik dan Kemahasiswaa Dra

Nuraeni Gani. Baginya, tak sedikit mahasiswa yang sebenarnya cukup tapi mengaku miskin agar ditempatkan pada kategori yang rendah. Mekanisme penggolongan juga sedikit berbeda. Jika tahun sebelumnya berdasar hasil wawancara, di tahun ini dilakukan dengan menyetor berkas secara online berupa foto rumah serta penghasilan orang tua. Penetapan kategori UKT-BKT, belakang ini tengah ramai dibicarakan. Sistem subsidi silang yang dianggap memudahkan dan membantu mahasiswa miskin, malah sebaliknya. Peraturan Menteri Agama (PMA) Republik Indonesia nomor 96 tahun 2013 tentang Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal kala itu resmi dikeluarkan dengan tiga kategori. Namun di tahun 2016, sistem yang mengatur besaran biaya kuliah ini mengalami penambahan hingga lima kategori, dimana penentuan diambil dari hasil wawancara bagi kategori II hingga V, sedangkan kategori I rata sebesar 5%. Bagian Perencanaan Andi Gustang mengatakan, pada PMA memang ditetapkan minimal 5% tapi sebenarnya bisa lebih. Karena 5% tersebut hanya syarat minimal saja, tergantung kebijakan masing-masing fakultas dan universitas. “Kalau yang kategori I sebanyak 5% maka yang kategori paling tinggipun harus sebanyak yang kategori I agar dapat mensubsidi biaya operasional kategori I,” jelasnya. Rabu (10/08)

Rektor UIN Alauddin Prof Musafir Pababbari yang ditemui saat pertemuan orang tua di Gedung Auditorium (29/08) menjelaskan, bahwa penetapan kategori tidak dapat diubah, karena data tersebut telah dilaporkan kepada Menteri Agama dan Menteri Keuangan. Kenaikan UKT Tiap Tahun Inflasi universitas yang tidak menentu menjadi hal utama yang menentukan kenaikan biaya UKT-BKT setiap tahunnya. UKT ditentukan berdasarkan BKT Perguruan Tinggi. BKT merupakan besaran yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan pendidikan untuk mahasiswa per semester. Perhitungan BKT didasarkan pada Biaya Langsung (BL) dan biaya Tidak Langsung (BTL) setelah dikurangi Biaya Nonoperasioan l (investasi) dan biayan rutin. Berdasarkan hasil perhitungan dari berbagai komponen yang termasuk dalam BL dan BTL diperoleh persamaan untuk menentukan BKT. Adanya biaya-biaya tambahan menjadi salah satu tolak ukur penambahan nominal tiap tahunnya. Kendati demikian, Muh Ilyas salah satu mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) menyayangkan tidak adanya sosialisasi kepada mahasiswa dalam hal penentuan nominal UKT. Menurutnya, dalam menentukan jumlah nominal tiap kategori UKT, dibutuhkan pertimbangan yang rasional agar tidak timbul kecurigaan bagi mahasiswa. “Kalau memang biaya kuliah naik,harus dengan pertimbangan rasional dan sebelum dinaikkan harusnya dilakukan sosialisasi terlebih dahulu,” jelasnya via ponsel. *Isna, Nurul Indah, Kurniah, Fadhilah Azis, Ridha Amalia, dan Fahri*Isna, Nurul Indah, Kurniah, Fadhilah Azis, Ridha Amalia, dan Fahri

SUMBER:

Salinan Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2013, Nomor 30 Tahun 2014, Nomor 124 Tahun 2015 Nomor 289 Tahun 2016


4

SPESIAL MABA

Edisi 98 | Dzulhijjah 1437 Hijriyah | September 2016 Masehi

Dema Menyambut Selamat datang adik-adik mahasiswa baru di UIN Alauddin. Besar harapan kami agar kiranya nanti kalian menjadi orang-orang yang berprestasi, orang yang bermanfaat dan yang terpenting membanggakan almamater. Jangan mengecewakan orang tua yang telah memberi kepercayaan kepada kalian untut menuntut ilmu karna kesuksesan seseorang tergantung pada ridho orang tua.”

www.

washilah .com

Euforia Penyambutan Maba

Muhammad Haris

Ketua Dema Fakultas Syariah dan Hukum

Saya ucapkan selamat datang untuk mahasiswa baru Fakultas Sains dan Teknologi, kami menerima baik kedatangan kalian di fakultas kami, ada beberapa yang perlu kalian ketahui selaku keluarga baru di sainstek yaitu loyalitas, solidaritas dan senioritas.

Muhammad Suhaebar

Ketua Dema Fakultas sains dan Teknologi

Selamat datang adik-adik mahasiswa baru di kampus peradaban UIN Alauddin Makassar, langkah adik menentukan untuk berproses di kampus ini adalah langka dimana adik-adik meniti kesuksesan

Al Iksanul Muhabbah

Ketua Dema Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Selamat datang mahasiswa baru UIN Alauddin .jangan pernah menyianyiakan kesempatan yang berharga ini untuk selalu berkarya secara maksimal, baik dalam hal meningkatkan kemampuan akademik maupun peningkatan soft skill dan saya harap agar mahasiswa baru secepatnya menyesuaikam diri dan dapat berkarya secepatnya.

Sulfikar K

Ketua Dema Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Mahasiswa adalah sebuah identitas yang dimana kemudian perlu direfleksikan kembali, karena esensi dari mahasiswa hari ini telah jauh mngalami distorsi makna. Banyak menyandang status mahasiswa namun lupa akan identitasnya sebagai mahasiswa. Awal dari jadi mahasiswa adalah pengenalan  jati diri. Kenali diri anda, bukalah mata, pahami realitas dan ubahlah dunia

Andi Faisal Ketua Dema Ushuluddin dan Filsafat

Selamat datang para penggerak peradaban mahasiswa baru UIN Alauddin Makassar, silahkan berproses dalam bahtera dunia kampus hingga adik-adik berlabuh pada puncak kesuksesan yaitu dermaga peradaban. Dunia kampus tidak menginginkan adik-adik menjadi intelektual tinggi, tetapi ada hal yang adik harus tahu bahwa emosional dan spritual jauh lebih menopang adik menjadi pribadi yang sejati.

Rasyid Ridha

Ketua Dema Fakultas Tarbiyah dan Keguruan

Sejumlah pengendara motor melintas di depan spanduk penyambutan mahasiswa baru tepat depan Gedung Rektorat UIN Alauddin. Pemasangan ini merupakan tradisi tahunan yang rutin kala tahun ajaran baru datang. Rabu (31/08). Washilah/Sahi Al-Qadri

Washilah - Ada pemandangan berbeda kala memasuki kampus UIN Alauddin. Puluhan spanduk berisi ucapan selamat datang bagi mahasiswa baru banyak terpajang di berbagai titik. Sambutan ini merupakan tradisi tahunan setiap tahun ajaran baru. Bak ajang unjuk gigi, Lembaga Kemahasiswaan tingkat fakultas maupun Unit Kegiatan Mahasiswa berlombalomba memperlihatkan eksistensinya. Semua persiapan mulai dari tema dan desain atribut yang ciamik. Fakultas Sains dan Teknologi (FST) misalnya, tahun ini

mengambil tema born to be excellent yang berarti lahir untuk menjadi luar biasa. Aksen merah-hitam yang khas begitu terasa mulai dari gerbang masuk kampus hingga di fakultas. Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) FST Muhammad Suhaebar menyebutkan, jika warna merah-hitam sudah ada sejak fakultas tersebut didirikan. “Kita tak ingin kreatifitas mahasiswa itu dibatasi termasuk pelarangan soal atribut merah hitam ini, karena memang ini sudah menjadi ciri yang menonjol dari FST,” ujar mahasiswa Jurusan Peternakan

Selamat datang mahasiswa baru UIN Alauddin Makassar, melihat fenomena yang berlangsung di kampus ini. Sistem yang diterapakan oleh universitas ini, baik yang hadir dari eksternal maupun internal kampus, dinilai oleh teman-teman fakultas adab dan humaniora secara perlahan tapi pasti semakin mempersulit ruang gerak mahasiswa yang berdampak pada makin tumpulnya nalar kritis mahasiswa.

Muh.Akbar

Ketua Dema Fakuktas Adab dan Humaniora

Selamat datang adik-adik di kampus hijau, selamat berjuang, sesusah-susah memasuki dunia kampus dan yang pasti akan menghadapi rintangan baik itu mental maupun fisik namun di sinilah adik-adik berproses menjadi khilafah di dunia dan di sinilah teman-teman berproses menjadi hamba. Tetap tegar dan tabah kalian adalah masa depan bangsa, belajarlah baik-baik karena kalian adalah harapan orang tua kalian di kampung.

Syamsuardi said

Ketua Dema Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

ini. Senada dengan FST, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) turut memasang warna ungu yang menjadi ikon fakultas. atau Fakultas Ekonomi dan Bisnisa Islam (FEBI) dengan wana orange. “Spartan”, begitulah tema OPAK yang diusung fakultas yang berdiri sejak tahun 2013 itu. Spartan yang berarti kesatria dengan perisai dan pedang. “Ini sebuah gambaran tentang seorang mahasiswa harus menjadi kekuatan besar dengan buku dan pena yang diibaratkan perisai dan pedang pada maskot kesatria,” ujar Ketua Dema FEBI Syamsuardi Said. Sistem peyambutan di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) nampaknya sedikit bebeda. Hal tersebut terbukti dengan dikumpulkannya Maba sebelum hari penyambutan tanggal 1 September. “Kami sebenarnya mau melibatkan mahasiswa baru dalam tari kolosal ,makanya kami memohon ke Wakil Rektor Bidang Akademik untuk dipertemukan dengan maba FAH sebelum hari H,” ungkap Dema FAH Muhammad Akbar. Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan ini berharap agar OPAK dapat lebih banyak melibatkan mahasiswa. Pelaksanaan OPAK tahun ini tak berbeda dari tahun sebelumnya yang digelar tiga hari. Sehari di tingkat universitas dan dua hari di tingkat fakultas. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof St Aisyah pun meminta agar tiga hari tersebut digunakan sebaik mungkin sebagai ajang pengenalan yang baik utamanya pada tingkat fakultas. “Sekiranyapihak fakultas betul-betul mengoptimalkan untuk pegenalan bagi Maba sebagai proses menjadi mahasiswa yang berfikir kritis,” tutupnya. *Faisal Mustafa


5

UKM

www.

washilah .com

Edisi 98 | Dzulhijjah 1437 Hijriyah | September 2016 Masehi

UKM Olahraga, Belia, Berjibun Prestasi UKM Olahraga, merupakan UKM yang terbilang belia di antara yang lainnya. Tepatnya pada 8 Mei 2013, UKM Olahraga diresmikan menjadi UKM Intra kampus. Kendati demikian, lembaga ini memiliki daya pikat bagi mahasiswa yang ingin terlibat dalam berbagai cabang olahraga. Sejak berdiri, UKM Olahraga telah membuka delapan cabang olahraga yakni Bulutangkis, Futsal, Basket, Sepak bola Takraw, Tenis meja, Catur dan Voli. Menjalin komunikasi dengan setiap koordinator cabang olahraga dengan pengurus inti, sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan anggota dan menjaga kestabilan intra UKM Olahraga. Intensitas latihan yang cukup padat membuat angggotanya mampu meraih prestasi. Untuk di pioneer saja, yakni pertandingan

UKM Koperasi Mahasiswa antar tingkat universitas Islam, sepak Takraw berhasil menjadi Juara I, sedang catur mendapat juara, Juara I dan II. Sedang di event Paccelekang Cup 3 tim sepakbola UKM Olahraga ber-

UKM MENWA

Tempa Anggota Berwatak Ksatria

Resimen Mahasiswa (Menwa) adalah salah satu kekuatan sipil yang dilatih dan dipersiapkan untuk mempertahankan NKRI sebagai perwujudan Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). Menwa salah satu komponen warga negara yang mendapat pelatihan militer (unsur mahasiswa). Markas komando satuan Menwa bertempat di perguruan tinggi termasuk di UIN Alauddin Makassar. Menwa yang meru-

pakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) adalah komponen cadangan pertahanan negara yang diberikan pelatihan ilmu militer seperti penggunaan senjata, taktik pertempuran, survival, terjun payung, bela diri militer, senam militer, penyamaran, navigasi dan sebagainya. Semboyan Resimen Mahasiswa Indonesia adalah “Widya Çastrena Dharma Siddha”, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “Penyempurnaan Pengabdian Den-

hasil mendapatkan Juara ke III. Perlunya akal sehat, tubuh sehat dan prestasi hebat, maka UKM Olahraga membuka jalan untuk mendapatkan ketiganya. gan Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Keprajuritan”. Perjalanan Menwa dipenuhi dengan semangat heroism dan patriotisme membela negara. Sejarahnya dimulai saat kependudukanjepang tahun 1842. Keberadaan Menwa sendiri terbentuk sejak tahun 1980 dengan nama Batalyon tiga Instituti Agama Islam Negeri. Menwa Satuan 703 UIN Alauddin pernah menjadi pasukan cadangan negara. Dan UKM pertama yang terbentuk di UIN Makassar sebagai pelapis tentara. Sebelumnya, Menwa bernama Unit Kegiatan Khusus (UKK) yang langsung dibawahi oleh Menteri Pertahanan. Menwa UIN juga dibawahi keputusan bersama Menteri Pertahanan dan Menteri Pendidikan Nasional. Pembinaan Menwa dilatih agar berintelektual yang berwatak ksatria dan berbudi hati melakukan profesi dan statusnya sebagai kecintaan terhadap tanah air, bangsa, dan negara. UKM Menwa di UIN pernah menjadi pasukan pengamanan Presiden RI di Unhas pada tahun 2006. Menjadi relawan kemanusiaan saat terjadi tsunami di Aceh pada tahun 2005.

Bangkitkan Jiwa Wirausahawan Muda Memiliki bakat wirausaha, mampu menjadi insan yang mandiri, profesional dan terdidik sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. UKM Koperasi Mahasiswa berfokus pada dunia bisnis dan dibentuk sejak tahun 1987, Kopma mulai membuka usaha dan membangun mitra di dalam kampus. Tidak hanya berbisnis, Kopma juga aktif dalam mencetak prestasi. Pada tahun 2014 UKM Kopma UIN Alauddin berhasil mengharumkan nama almamater di tingkat nasional dengan menyandang gelar Juara Umum II pada Jambore Koperasi Nasional di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Tercatat juga, Kopma UIN Alauddin berhasil menjadi Juara Umum II dalam kompetisi Dimas Diajeng. Kopma UIN Alauddin dilahirkan oleh Drs. Ashabul Kahfi Jamal, pegawai UIN Alauddin Makassar kala itu pada 14 Oktober 1985. Tak sendiri, dia bersama rekan-rekannaya memulai gagasan tersebut guna memberikan kesejahteraan kepada masyarakat kampus. Rekannya tersebut menjadi tim pendiri Kopma yang terdiri dari Drs Muh. Denial Alwi,

Hairun Patty Bachaker, Muh. Anshar Ilyas, dan Lina Sandol T. Selanjutnya, Kopma resmi menjadi badan hukum sejak tanggal 18 Maret 1988 dengan nomor 4795/BH/IV/1988. Adapun Visi UKM Kopma adalah menjadi basic gerakan koperasi mahasiswa yang unggul dan dikelolah oleh sumber daya manusia berkualitas, mencerminkan keadilan, kesejahteraan, kejujuran, kesetiakawanan, dan kemandirian sehingga mampu memperjuangkan dan mewujudkan demokrasi ekonomi. Loyalitas dan kebersamaan yang terjalin antara sesama anggota adalah salah satu kekuatan pendukung berkembangnya Kopma UIN. Untuk selanjutnya, Kopma memiliki tujuan agar posisi Kopma UIN mampu menjadi gerakan ekonomi mahasiswa yang mengembangkan dan meningkatkan potensi sumber daya manusia. Dengan itu, Kopma ingin memperkokoh posisi sebagai salah satu pilar gerakan Koperasi Mahasiswa dengan peneguhan eksistensi dan pastisipasi aktif baik dalam skala lokal, regional, nasional maupun Internasional.

UKM LDK AL-JAMI’ Berdakwah Tak Harus di Mimbar Melihat kemerosotan pemahaman agama di kalangan mahasiswa UIN Alauddin Makassar, datang gagasan dari tiga mahasiswa untuk dalam menyebar dakwah. UKM ini menjadi bentuk dakwah dalam lingkup kampus, dan memiliki bagian syiar yang memiliki peran penting dalam menghidupkan media dakwah yang kreatif. LDK Al Jami dibentuk atas persetujuan Dr Azhar Arsyad yang menjabat sebagai Rektor

UIN Alauddin kala itu, hingga dibentuklah Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al Jami pada 16 April 2016. Kini LDK Al-Jami telah berusia 10 tahun. Terbilang belia di antara UKM lain, namun urusan prestasi UKM ini tak kalah gemilangnya. Beberapa kali membuat acara berstandar nasional, seperti mendatangkan penulis best seller, Asma Nadia. Tak heran, kini LDK Al-Jami menjadi salah satu lembaga dakwah

kampus terbaik dan menjadi percontohan di kawasan Indonesia timur. Walau aktif di luar, mahasiswi UIN Alauddin Makassar tak luput dari perhatian mereka sebagai sasaran dakwah. Setiap Jum’at akan ada Kelas Muslimah dibuka untuk seluruh mahasiswi UIN Alauddin Makassar. Selain itu, Sekolah Pengembangan Minat dan Bakat (SPMB) dibuka untuk seluruh mahasiswa/mahasiswi UIN

Alauddin Makassar yang ingin belajar di berbagai bidang. Ada kelas kepenulisan, desain grafis, kaligrafi, bahasa inggris dan arab serta kelas penghafal Alqur’an dan perbaikan tajwid. Banyak cara yang dikembangkan LDK Al-jami’ dalam berdakwah. Banyak cara untuk berdakwah, tak harus di mimbar. Terpenting adalah memberikan contoh dari perilaku sendiri. Kata ketua Umum LDK Al Jami’, Mukhlis Muhrim.


6

UKM

www.

washilah .com

Edisi 98 | Dzulhijjah 1437 Hijriyah | September 2016 Masehi

Berdiri sejak 31 tahun yang lalu, UKM Lembaga Informasi Mahasiswa Alauddin (LIMA) Washilah menjadi penyalur aspirasi sekaligus penyampai informasi bagi seluruh civitas akademika UIN Alauddin Makassar. Lembaga pers yang dibentuk pada tahun 1986 ini, didirikan oleh tiga mahasiswa yakni Waspada Santing, Laode Arumahi dan Hasanuddin. Kata Washilah sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti penyampai. Tak hanya pada bidang

UKM LIMA

Jembatan Informasi

kewartawanan, Washilah juga mewadahi dunia fotografi serta desain dan layout. Sebagaimana tujuan dari UKM LIMA yakni membina insan pers yang berasaskan Islam, maka Washilah berusaha menjadi informan yang terpecaya bagi masyarakat kampus. Lewat tabloid dan media online, semua informasi yang disajikan membuat pembaca lebih mengetahui fenomena yang terjadi di kampus. Baik pencapaian akan prestasi atau juga masalah-masalah yang patut

menjadi sorotan publik. Hal ini dianggap penting sebagai bentuk transparansi dan pelaksanaan sistem demokrasi di UIN Alauddin Makassar. Melestarikan budaya tulis, telah diajarkan kepada setiap anggota sebagai modal awal menjadi pers, pembobotan idealisme serta peningkatan kualitas ilmiah. Meski bukan sebagai media profesional, namun kader Washilah ditegakkan untuk bergerak secara profesional, pun dengan visi misi yang selalu dijunjung tinggi.

UKM SB eSA

Lestarikan Budaya Seni Lokal

UKM Tapak Suci Silat Tak Cukup, Iman dan Akhlak pun Perlu “Bangunlah di pagi hari menikmati kopi agar kau tahu pahit manisnya mencinta”. Sebuah penggalan kata dari Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Budaya eSA, Muh Kurniadi Asmi. Dia yang seorang penggila kata, membuat wawancara yang biasanya berisi kata-kata formal, kali ini penuh kata khas anak sastra. UKM yang berfokus pada seni ini memiliki tujuan melestarikan budaya kesenian daerah lokal. Menurut Kurniadi Asmi, orang yang paling sulit dihadapi adalah orang kesenian. “Karena mereka sering ingin berimajinasi, ingin bebas dan menganggap semua adalah keindahan. Jadi inilah yang berat mengontrol orang-orang seperti ini,” ucapnya.

Setiap hari Ahad, Senin dan Rabu selepas shalat Ashar, lapangan PKM akan ramai dengan warna merah-kuning. Karena UKM ini menggelar latihan rutin di hari itu. Menurut Muslim Nurdin, ini rutin dilakukan karena selaras dengan motto UKM Tapak Suci “Dengan Iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa Iman dan Akhlak saya menjadi lemah.” UKM Tapak Suci memiliki dua cabang yaitu cabang petarung (fighter) dan cabang seni. Para petarung di cabang fighter dibedakan berdasar timbangannya, juga berdasar tingkat kemampuan anggota. Di cabang seni lebih memfokuskan peragaan jurus, baik itu dengan tangan kosong atau dengan alat toya (Sebuah senjata menyerupai tongkat yang terbuat dari kayu atau rotan yang digunakan sebagai senjata dasar di perguruan tapak suci), golok maupun dengan kris. Tak hanya ilmu bela diri, UKM Tapak Suci

Dalam ber-eSA, Kurniadi Asmi mengajak anggotanya berkreasi akal dan rasa. Lepas dari kesibukan sehari-hari yang bisa-bisa menjadikan manusia hanya seperti robot belaka. Letak pembeda robot dan manusia menurutnya ada pada akal dan rasanya. Dan dalam berkesenian inilah rasa dan akal menjadi suatu yang nikmat di SB eSA. UKM yang memiliki cabang terbanyak di UIN Alauddin Makasaar ini berdiri sejak 29 Juli 1993 oleh delapan pendiri, diantaranya: Hadi Samampa, Muhammad Ihsan AR, Hamdan Darma Putra bersama kawan lainnya. Setiap tahun, anggota SB eSA yang telah berproses selama satu tahun harus melakukan Seleksi Calon Anggota Penuh (Escape), dengan menggarap sebuah karya sendiri untuk ditampilkan.

juga membekali setiap anggota dengan ilmu akhirat.“Walaupun kita pandai menendang dan memukul, tapi ketika iman tidak mampu mengontrol emosi maka lebih muda dijatuhkan lawan,” ujar Muslim Nurdin. Sejak 1963 perguruan bela diri ini mulai ada di Indonesia. Dari pendekar Drs.Arkham.T seni bela diri tapak suci masuk di UIN Alauddin Makassar tahun 1991 dan termasuk UKM tertua yang ada di UINAM. Dalam usianya yang cukup tua tersebut, Tapak Suci banyak mengukir prestasi, meraih Juara 1 pada Kejuaraan Pencak Silat se-Asia, Tingkat mahasiswa, Juara umum II pada kejuaraan pencak silat se-Sulsel, Juara III kelas A dan Juara kelas C pada Kejuaraan Nasional Pencak Silat antar perguruan tinggi, Juara Umum II dalam tournament pencak silat tahun 2013 dan baru-baru ini mendapat juara III di cabang seni tunggal.

Civitas Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat

Dalam Keragaman Kita Ciptakan Harmonisasi Berkeadaban

Mengucapkan

Mengucapkan

Civitas Prodi Perbandingan Agama

Selamat Datang

SELAMAT DATANG

Mahasiswa Baru

Kepada Mahasiswa Baru

Wahyuni S.Sos., M.Si, Ketua Prodi Dewi Anggaraini S.Sos., M.Si, Sekertaris Prodi

Tahun Akademik 2016/2017

Tahun Akademik 2016/2017

Dr. Indo Santalia, MA Sekertaris prodi Perbandingan Agama

Dra. Hj. A. Nirwana, M.HI Ketua prodi Perbandingan Agama


7

UKM

www.

washilah .com

Edisi 98 | Dzulhijjah 1437 Hijriyah | September 2016 Masehi

UKM KSR PMI

Kita Semua Sama dan Bersaudara

UKM Pramuka

Solusi Handal Meningkatkan Kemandirian Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR-PMI) diresmikan pada tanggal 18 Juni 1996 di bawah naungan Senat Mahasiswa Institute (SMI). Barulah pada tahun berikutnya, KSR PMI mulai berdiri menjadi UKM pada 2 April 1997. KSR PMI 07 banyak berpartisipasi dengan menurunkan anggota di wilayahwilayah bencana, dan aktif membantu tak hanya di daerah Makassar tapi juga di luar kota. Kini citra KSR PMI kian matang dengan persiapan posko kesehatan yang nantinya akan berada di samping Gedung PKM. Noy Siamo Tutty Fratelly memiliki arti “Kita semua sama dan bersaudara”. Begitulah motto KSR PMI, bahasa

yang berasal dari Negara Swiss. Atas dasar “kita sama” dan “bersaudara”, dirancanglah pendiksaran yang mengangkat nilai kebersamaan dan saling memiliki sesama. Tidak lupa pula menanamkan nilai disiplin dan ketahanan mental. Karena orang-orang PMI dasarnya adalah orang lapangan, dan di lapangan ketahanan fisik tidak kalah penting dengan ketahanan mental. Malikuddin Surgani Wahid sebagai Ketua Umum KSR PMI 07 saat ini, mengungkapkan bahwa tidak hanya aktif membantu namun mereka juga aktif mengikuti pelatihan nasional, seperti PSP Nasional, Tim posko Nasional, dan Pelatihan Pertolongan Pertama Nasional.

UKM Black Panther

Daripada Saya, Lebih Baik Kamu

UKM Black Panther merupakan organisasi bela diri dengan visi utama yang berdasar Tri Darma UIN Alauddin Makassar. Yakni, meletakkan landasan fundamental untuk mencapai etos integritas, intelektualitas dan profesionalisme pada lembaga khususnya mahasiswa UIN. UKM yang dipimpin langsung oleh Prof Dr Tengku Wahidin Syahrir bernama International Black Panther Karate. Sejarahnya, bela diri ini dilatih untuk melawan tentara khusus. Bela diri ini masuk di Indonesia pada 7 Agustus 1960, di bawah asuhan (Almarhum) Ambo Djetta, sebagai perintis dan pelatih utama International Black Panther Karate Indonesia Koordinator wilayah Indonesia Timur cabang Ujung Pandang (Makassar). International Black Panther Karate

Indonesia pada tanggal 26 Agustus 1977 didirikan di Ujung Pandang. UKM Black Panther masuk ke IAIN/UIN pada tahun 1978 yang dinaungi oleh senat Fakultas Adab. Kemudian, pada 20 maret 1990, Black Panther resmi dilantik sebagai UKM pada tahun 1990 oleh mantan Pembantu Rektor Bagian Kemahasiswaan Drs Gazali Suyuti M Hi dan Salehiti Enal. Tercatat, UKM Black Panther telah meraih berbagai piala dalam olimpiade. Pada tahun 2013, meraih delapan medali kelas komite dan 1 tropi kelas kata beregu di Kabupaten Bone. Pada tahun ini, dalam kejuaraan UIN Rektor Cup Skala Sesulselbar, mereka meperoleh empat medali emas, tujuh perak, satu perunggu serta satu tropi kata perorangan. Dengan juara yang didapat, UKM Black Panther keluar menjadi Juara Umum I.

Keberadaan Pramuka di UIN Alauddin Makassar menjadi refleksi dari keinginan beberapa mahasiswa yang ingin menyalurkan minat dan bakat kepramukaan yang dimiliki dalam bentuk perwujudan hobi secara luas. Berangkat dari hal tersebut, Pramuka kemudian lahir. Dalam perjalanannya, Pramuka di UIN Alauddin Makassar beberapa kali mengalami perubahan. Berawal dari nomor Gugus Depan (Gudep) 525 dan 526 pada 8 November 1980 dengan nama Rancana Alauddin dan Maipa Deapati, dan pada tahun 2006 berubah menjadi 10-073 dan 10-074 hingga saat ini. Sebagai wadah kreatifitas, Pramuka UIN tentu tak lepas sebagai wadah untuk meningkatkan ukhuwah antara sesama anggota. Khususnya anggota Pramuka, Penegak dan Penggalang yang berada di Kota Makassar dan sekitarnya. Sejalan dengan kegiatan ukhuwah itu, Pramuka UIN rutin menggelar kegiatan Almaida Creativity Event (Active). Kegiatan ini memperebutkan piala bergilir ketua Mabigus 10-073 - 10-074 Pangkalan UIN Alauddin.

Sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Pramuka menjadi telah aktif dalam partisipasi kegiatan baik di tingkat regional, nasional, hingga internasional. Dalam skala regional pramuka menjadi peserta tetap dalam pelakasanaan upacara Parade Senja Prasetya setiap tanggal 17. Di samping itu kegiatan Nasional Gudep Makassar 10-073 - 10-074 adalah pelopor Perkemahan Wirakarya (PW) IAIN se-Indonesia Timur, Raimuna Nasional, Kursus Pengelolaan Dewan Kerja (KPDK), Perti Saka Naional, Search and Rescue (SAR). Dalam perwujudan pengabdian kepada masyarakat dan Tri Darma Perguruan Tinggi, UKM Pramuka ikut serta dalam berbagai kegiatan kesakaan. Tak hanya itu, pramuka juga aktif dalam pembinaan pramuka di sekolahsekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Dengan mengedepankan visi dan misi, UKM Pramuka hadir memberi solusi handal bagi mahasiswa dalam peningkatan kemandirian.

UKM Taekwondo

Siapkan Atlet Profesional dan Berjiwa Sportif

Bela diri yang berasal dari Negeri Ginseng Korea ini telah hadir melengkapi UKM yang ada di UIN Alauddin Makassar. Bela diri ini merupakan salah satu seni memainkan tangan dan kaki dalam pertarungan. Selain bela diri, UKM Taekwondo juga melatih fisik agar mampu menjadi atlet yang profesional. Organisasi kemahasiswaan ini dibentuk pada 4 Maret 1986 oleh Sabeum Syahrir Utuh (Alm). sebelum menjadi UKM, pada tahun 1993, bela diri ini hanya menjadi Unit Mahasiswa (UM) hingga tahun 1996 yang dilatarbelakangi oleh Rektor saat itu, Prof A Rasdiyanah, UM berubah menjadi UKM Taekwondo. Saat ini, UKM Taekwondo dipimpin oleh srikandi ke-4 dalam sejarah Taekwondo yaitu Fitria Hasan. Menjadi salah satu tempat pembinaan, minat, bakat, dan mental mahasiswa serta menjadi atlet dari segi bela diri, berprestasi dan berorganisasi yang diselenggarakan dalam proses pembinaan mulalui latihan secara fisik dan berbagai kegiatan lainnya. Itulah visi dari UKM Taekwondo. Sementara

misi dari Taekwondo adalah mengembangkan dan membentuk peran serta mahasiswa yang tergabung di dalamnya untuk dibina menjadi atlet-atlet profesional dan berakhlak untuk berprestasi dalam taraf lokal, regional, nasional, hingga Internasional. UKM Taekwondo memiliki tujuan untuk mempersiapkan anggota menjadi atlet yang berprestasi di bidang olahraga seni bela diri secara profesional dan memiliki jiwa sportifitas yang tinggi.


8

LIPSUS

www.

Edisi 98 | Dzulhijjah 1437 Hijriyah | September 2016 Masehi

washilah .com

DEMA-U Masih Tak Dapat Restu Washilah – Keinginan untuk mengaktifkan kembali Dewan Mahasiswa Universitas (Dema-U) setelah dinonaktifkan sejak 2014 lalu tidak mendapat restu dari pimpinan kampus. Kekhawatiran akan munculnya polemik serupa penyebab lembaga ini dibekukan, menjadi alasannya. Niat untuk mengembalikan lembaga kemahasiswaan ini tak lepas dari fungsinya yang dinilai cukup penting. Merujuk pada buku saku mahasiswa UIN Alauddin Makassar pada bab V pasal 5, fungsi Dema-U disebutkan sebagai pelaksana program organisasi kemahasiswaan, koordinator dan pelaksana kegiatan kemahasiswaan tingkat universitas. Makanya, ketidakhadiran lembaga ini selama dua tahun dituding sebagai penyebab tingginya sekat antar lembaga kemahasiswaan di setiap fakultas. Jika diibaratkan, kehadiran Dema-U, sama dengan kepala dalam organ tubuh manusia. ”Ibarat tubuh, kami (Dema-Fakultas) ini badan yang tidak berkepala. Kami mau bekerja, tapi kami ini hanya kaki dan tangan-tangan yang tidak tau mau kemana. Tidak ada yang bisa mengarahkan harus seperti apa dan bagaimana kami seharusnya,” terang Ketua Dema Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Al Ikhsanul Muhabbah sangat menyayangkan keputusan tersebut. Begitu pula yang dirasakan ketua Dema Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Periode 2015/2016 Ilham Ashari Said. Dia melihat, hilangnya Dema-U sama dengan menghilangnya penyalur komunikasi. Makanya kata dia, pimpinan sudah seharusnya mengambil kebijakan akan hal ini. Gayung bersambut, keinginan sejumlah ketua lembaga tingkat fakultas didukung oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof Aisyah Kara. Usulan itu pun kemudian dibawa ke rapat pimpinan. Sayang, usulan tersebut ditolak dengan alasan

Fajar SSos MSi “Belum ada jaminan sebagai bahan untuk pertimbangan pengaktifan. Tapi perlu, karena Dema Universitas adalah bagian dari kualitas kampus kita,” perlu pengkajian ulang. Bukan hanya soal pengkajian ulang, sejumlah pimpinan yang menolak pengembalian Dema-U saat Rapim juga khawatir, jika polemik yang terjadi dua tahun lalu kembali terulang. Hal inilah yang mendasari penolakan pengaktifan hingga dua kali dalam pertemuan tersebut. Sekadar diketahui, sebab penonaktifan Dema-U atau yang disebut Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) kala itu, karena terdapat dua kandidat menyatakan diri sebagai pemenang dalam Pemilihan Mahasiswa (Pemilma). Persoalan ini berbuntut panjang, hingga Rapat Pimpinan (Rapim) digelar.

Sayangnya, mediasi dianggap gagal karena kedua kandidat yang tidak mau mengalah, menyebabkan Rektor saat itu Prof Qadir Gassing memutuskan penonaktifan Dema-U. Soal kemana anggaran lembaga tersebut selama dinonaktifkan, Prof Natsir Siola yang kala itu menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan menekankan bahwa dana lembaga tersebut tetap dialihkan. “Selama menjabat menjadi WR III saya tidak pernah mengintruksikan dana tersebut dipakai untuk hal lain, namun secara otomatis dana tersebut akan dialihkan ke bidang lain,” ungkap Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) itu saat ditemui di ruangannya. Harus Ada Gerakan Ideologi Penonaktifan ini, tak pelak memunculkan berbagai pandangan mengenai peran Dema-U baik sebagai pengontrol hingga penghubung antara pimpinan dan mahasiswa. Seperti halnya Fajar, salah satu Dosen Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) yang mengkritik Dema-U di UIN Alauddin sebelumnya. “Dalam undang-undang pendidikan, Dema Universitas memang harus ada. Cuman saya rasa tidak ideologis, ini kampus peradaban, maka bangunlah paradaban dengan penelitian, pengabdian masyarakat dan pembelajaran intensif versi aktifis,” ujarnya. Memang harus ada gerakan untuk pengaktifan kembali katanya. Hanya saja, gerakan lembaga perlu dibenahi terutama dalam hal prestasi internal. Mesti ada jaminan intelektual, memberi resolusi, kegiatan ilmiah, serta kegiatan sosial yang tak hanya megembangkan lembaga tapi juga universitas sebagaimana Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Belum ada jaminan sebagai bahan untuk pertimbangan pengaktifan. Tapi perlu, karena Dema Universitas adalah bagian dari kualitas kampus kita,” lanjutnya. *Rena Rahayu/Eka Reski

Sukseskan

KONFERENSI PERPUSTAKAAN DIGITAL INDONESIA 9

Kerjasama Perputakaan Nasional Republik Indonesia dengan UIN Alauddin Makassar

di Hotel Singgasana, tgl 8-11 Nopember 2016


SELAMAT

Datang MAHASISWA BARU Prof Dr H Ambo Asse M Ag Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Pimpinan dan Segenap Civitas Akademika FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

Mengucapkan

SELAMAT DATANG Kepada:

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Tahun Akademik 2016

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Selamat Datang

MAHASISWA BARU

TAHUN AKADEMIK 2016

Mahasiswa Baru Fakultas Adab dan Humaniora Dr H Barsihannor M Ag

Dekan Fakultas Adab dan Humaniora

Dr Nur Syamsiah M Pd I


10

LINTAS

www.

washilah .com

Edisi 98 | Dzulhijjah 1437 Hijriyah | September 2016 Masehi

PPLI Mahasiswa FTK di Thailand

warga Indonesia yang telah lama bermukim di sana. Ini kami jadikan ajang refreshing sebelum ak-hirnya kembali ke sekolah masing-masing

di Tengah Kultur Asing

Upacara 17-an di Songkla

JADI PENDIDIK OLEH: NUR ZAHRA AZIZAH Washilah-Sebanyak 14 mahasiswa Fakultas Tarbyah dan Keguruan (FTK) dari berbagai jurusan mengikuti Praktik Pengenalan Lapangan Internasional (PPLI) di Thailand Selatan sejak awal Agustus lalu. Mahasiswa yang ikut serta kali ini merupakan angkatan ke-II setelah FTK menjalin kerjasama dengan Majelis Thailand Selatan pada tahun 2015. Peserta dalam kegiatan ini terdiri dari 10 orang mahasiswa yang ditempatkan di wilayah Pattani. Empat orang mahasiswa di wilayah Songkhla serta enam mahasiswa FTK berkebangsaan Thailand. Para peserta yang mendaftar untuk program PPLI (kecuali mahasiswa Thailand) sebelumnya telah menjalani beberapa tes seperti tes pengetahuan umum, tes bahasa, dan tes kepribadian hingga akhirnya terpilihlah 14 mahasiswa

dari jurusan yang berbeda untuk turut serta.

Banyak Tantangan

Tak mudah mengajar di tempat dengan bahasa dan budaya yang berbeda. Belum lagi sistem kurikulum di Thailand Selatan berbeda dengan kurikulum yang diterapkan di Indonesia. Melakukan observasi selama satu minggu rasanya kurang cukup dijadikan sebagai pegangan untuk mengajar dengan materi yang cukup rumit seperti matematika, biologi, atau juga pelajaran bahasa. Kemampuan mahasiswa beradaptasi dan belajar hal yang baru serasa diuji. Bukan hanya karena masalah perbedaan budaya serta bahasa melainkan kerena perbedaan manajemen kelas saat mengajar. Siswa yang umumnya memiliki motivasi belajar rendah dan

10 mahasiswa Program Pengenalan Lapangan Internasional (PPLI) FTK UIN Alauddin Makassar foto bersama Ketua Konsultat di Songkhla, Thailand Selatan beberapa waktu yang lalu. perangai yang sedikit nakal membuat guru-guru di sekolah mengajar dengan membawa rotan di tangan. Ini tentunya berbeda dengan Indonesia yang memiliki undangundang perlindungan anak dari kekerasan bahkan dari guru yang mengajar untuk kebaikan.

Ajang Silaturahmi

Setiap peserta PPL ditempatkan di sekolah yang berbedabeda. Di wilayah Pattani sendiri terdapat sembilan sekolah yang menjadi tempat bagi mahasiswa PPL menerapkan ilmunya. Mereka dibagi ke tiap sekolah sesuai keputusan pihak Majelis Thailand Selatan. Beberapa ditempatkan bersama sesama mahasiswa UIN Alau-

ddin, ada juga yang ditempatkan di sekolah bersama dengan mahasiswa UII Jogjakarta yang juga sedang melakukan PPL di Negeri Gajah Putih itu. Berkumpul bersama sambil menceritakan keadaan sekolah masing-masing, kami lakukan di hari Jum’at tiap minggunya. Selain berbagi kisah dengan mahasiswa UIN Alauddin dan mahasiswa UII, hadir pula Pihak majelis Thailand Selatan untuk mendengar dan memberikan masukan serta wejangan bagi kami para mahasiswa PPL. Usai bertemu pihak majelis, kesempatan ini biasanya kami manfaatkan dengan makan bersama ataupun sekedar duduk berbagi cerita di sebuah kedai milik

Mesti Sukses Kuliah dan Organisasi Washilah - Memasuki jenjang pendidikan tertinggi sebagai mahasiswa jelas menjadi kebanggaan tersendiri. Sistem pembelajaran semasa SMA dan bangku kuliah yang berbeda, juga memiliki pengaruh yang besar terhadap pembentukan karakter si pelajar. Menjadi pemburu akademik, atau sebagai aktivis terdidik. Pihak kampus tentu meminta mahasiswa untuk fokus terhadap nilai akademik sebagai penyokong gelar sarjana, namun di sisi lain, iming-iming penggerak perubahan yang ditawarkan organisasi tak kalah menggiurkannya. Kata ‘Prestasi’, tak jarang menjadi ambisi sejumlah mahasiswa kala memasuki lingkungan yang baru. Apakah prestasi dari segi akademik, atau dari organisasi. Bersama Nadhifa Risfa dan Nurjannah reporter Washilah, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof St Aisyah membahas secara mendalam perihal gelar prestasi yang sebaiknya dimiliki oleh mahasiswa, serta kiatkiat menjadi mahasiswa yang berprestasi. Berikut kutipan wawancaranya. Apakah penting bagi Mahasiswa Baru untuk memprioritaskan akademiknya sejak awal semester? Ya, penting. Tapi Maba juga tidak bisa dipaksa untuk mendapat IP sampai 3.50 ke atas

atau semacamnya. Pada masa awal ini, Maba masih berada pada masa adaptasi dari model pembelajaran saat menjadi siswa di SMA ke model pembelajaran di perguruan tinggi. Pada masa ini, ada dua model adaptasi yaitu adaptasi melalui personal dan adaptasi melalui interaksi dengan senior. Maba bisa bertanya kepada seniornya bagaimana kiat-kiat agar bisa mendapat nilai yang baik sehingga terhindar dari ancaman Drop Out (DO). Bagaimana peran organisasi menurut anda dan pengaruhnya terhadap akademik? Organisasi memang penting, tapi mahasiswa dianjurkan untuk tidak berorganisasi pada saat semester satu dan dua karena mereka harus fokus dulu untuk menyelesaikan “masa genting” mereka. Para Maba bisa saja lupa tentang tujuan utama mereka untuk berkuliah jika terlalu cepat bergabung di dalam organisasi. Jika sudah semester empat ke atas, bagi saya mereka sudah bisa berorganisasi dan berprinsip. Karena kita lahir dari organisasi. Cara berpikir, berbicara, dan leadership bisa didapatkan dari organisasi. Apakah berprestasi dalam organisasi itu penting? Mengapa Mahasiswa juga harus berprestasi di organisasi bukan hanya di

akademik saja? Itu penting menurut saya, karena ada nilai tambah yang kita tidak dapatkan di kelas akademik. Biasanya para penggiat organisasi itu berani, pintar, karena mereka telah ditraining dan dibiasakan untuk mengkaji hal-hal seperti itu. Jika dipersentasikan, saya memberi 60% untuk akademik dan 40% untuk organisasi. Kita bisa melihat para pemimpin yang lahir dari organisasi, mereka lebih enak dalam berinteraksi dengan mahasiswa. Itu semua adalah hal-hal positif yang dapat kita ambil dari berorganisasi. Banyak para aktivis yang bisa mendapat IP bagus. Negatifnya adalah ada juga beberapa aktivis yang kebablasan, sehingga pada saat ia sudah semester sepuluh ia baru kaget dan sibuk mengurusi akademiknya. Organisasi dan akademik harus bisa berjalan dengan seimbang. Dengan begitu ia juga bisa menjadi bekal jika akan mencari kerja. Hal-hal yang harus dilakukan agar menjadi mahasiswa yang berprestasi? Pertama, menyesuaikan diri dengan model dan sistem belajar di kampus. Di sini peran Dema dan Sema sangat dibutuhkan. Mereka harus bisa mengenalkan Maba tentang bagaimana sistem pembelajaran di kampus

Perjalanan selama 1,5 jam dari daerah Pattani menuju Kantor Konsulat Indonesia di Songkhla kami tempuh untuk melaksanakan upacara 17 Agustus. Perlehatan upacara bendera pada 17 Agustus 2016 di daerah Songkhla, juga menjadi ajang kumpul bersama dengan teman-teman dari Indonesia yang menuntut ilmu dan bermukim di negara berbasis kerajaan itu. Mahasiswa FTK UIN Alauddin sendiri, baik yang mengajar di wilayah Pattani dan Songkhla kembali dipertemukan setelah berpisah sejak kedatangan mereka di Thailand. Di sini kami berbagi pengalaman mengajar dan saling melempar canda tentang murid-murid yang kami hadapi. Itulah sedikit dari pengalaman kami selama melakukan PPL di Negeri Gajah Putih. Meski ada perbedaan budaya, bahasa, bahkan cara dalam berperilaku semuanya kami jadikan sebagai pelajaran dan juga gambaran dari apa yang akan kami hadapi di dunia pendidikan nantinya. Penulis adalah bagian kaderisasi dan Sumber Daya Manusia (SDM) UKM LIMA

Wansus

dan bagaimana sistem tugas kuliahnya. Ada masa dimana Maba harus menerima dan menyelesaikan tugas-tugas yang tiba-tiba menumpuk. Pada saat itu, Maba tidak boleh stress. Maba bisa datang bertanya kepada seniornya untuk diberi arahan. Jika Maba bisa mengikuti sistem yang berjalan di kampus dengan baik, maka mereka pasti akan menghasilkan nilainilai yang bagus pula dan memiliki pola berpikir yang berbeda pada saat masih di SMA. Bagi para senior termasuk Sema dan Dema, mereka harus bisa memberi motivasi bagi adik-adiknya. Mereka juga bisa menceritakan pengalaman mereka ketika pernah jatuh dan bagaimana cara mereka agar bisa bangkit lagi. Itu jauh lebih penting. Kedua membentuk kelompok belajar agar jika ada kesulitan dalam belajar, mereka bisa saling membantu dan berbagi ilmu. Itu juga merupakan prestasi. Jangan hanya terpaku sendiri jika ada persoalan. Ketiga pribadi yang terbuka. Maba jangan sungkan untuk bertanya dan bercerita tentang kesulitan yang dialami. Karena orang yang gagal adalah orang yang stres sendiri dan pusing sendiri. Jika punya masalah, jangan hanya terpaku pada masalah itu saja. Kita harus keluar darinya


INSPIRASI

www.

washilah .com

Edisi 98 | Dzulhijjah 1437 Hijriyah | September 2016 Masehi

11

Nurafiaty Mursalim, Mahasiswi FKIK

Ke Jepang Jadi Peneliti Muda Washilah-Tak banyak orang dapat menuai sukses di bidang penelitian. Butuh keuletan, disiplin dan kerja keras untuk melakukan riset.

H

al inilah yang dilakukan Nurafiaty Mursalim, Mahasiswi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Alauddin Makassar. Ia tak menyangka dapat terpilih sebagai young researcher (peneliti muda) dalam kegiatan tahunan konferensi kesehatan masyarakat tingkat asia pasifik atau biasa disebut Asia pasific academic consortium for public health (Apacph) ke-48 di Tokyo University, Jepang. “Dalam kegiatan ini, praktisi kesehatan masyarakat tingkat dunia berkumpul untuk mendiskusikan isu-isu kesehatan masyarakat tingkat asia pasifik,” jelas Nurafiaty yang kerap disapa Pipit ini. Menjadi yang pertama di UIN Alauddin Makassar memberikan kebanggaan tersendiri bagi Pipit. Mulai dari melakukan penelitian, melewati tahap seleksi abstrak hingga pengumuman kelulusan dilaluinya sendiri. “Kalau di Indonesia, apalagi kampus-kampus ternama sudah sering ikut dalam kegiatan ini, malahan untuk program pascasarjana di beberapa kampus diwajibkan mengirim penelitiannya. Alhamdulillah, saya yang pertama di UIN dan sangat bangga karena saya lakukan itu sendiri,” kata perempuan kelahiran 26 November 1993 ini. Apacph yang akan berlangsung pada pertengahan September ini memberikan kesempatan bagi pipit untuk mempersentasekan hasil penelitiannya yang berjudul Efectiveness leaf beluntas extract as biolarvaside against aedes aegypti larvae instar III yang memfokuskan pada pemanfaatan ekstrak daun beluntas sebagai biolarvasida alami pengganti abate untuk menanggulangi nyamuk DBD. Tak ada kata gagal dalam kamusnya. Pengalamannya dalam mengikuti lomba

dibidang penelitian hingga ke tingkat nasional memberinya pelajaran untuk terus berusaha. Hasilnya, sangat berbuah manis. “Setelah berkali-kali trial error, tahun ini dapat keluar negeri,” serunya mantap. Kurang Mendapat Dukungan dari Pihak Kampus Memperoleh dukungan moril dari pihak pimpinan kampus tentu tidak cukup membawa Pipit terbang ke Negeri Matahari Terbit itu. Pihak kampus tentunya berkewajiban memberikan penghargaan dan dukungan materil atas prestasi yang diperolehnya. Bagi Pipit, meski dukungan yang diberikan pihak pimpinan masih sangat jauh seperti yang diharapkan, ia tetap bersyukur. “Alhamdulillah, dapat dukungan. Tapi, malah pas di keuangan yang sulit,” jawabnya saat ditanya terkait bantuan dana yang diberikan pihak pimpinan kampus. Kendala lain dalam penelitian Pipit adalah alat penelitian yang harganya tentu tidak murah. Ia mengaku beberapa kali meminjam alat dari Unhas. “Tapi saya sangat berharap, kegiatan seperti ini jangan cuma diapresiasi tapi juga di support dengan selayaknya. Toh, ini juga untuk kampus,” lanjut anak dari pasangan Mursalim dan Hj St Suarni ini. Melalui kegiatan ini ia berharap penelitiannya dapat dilanjutkan hingga ke tahap berikutnya dan dapat berguna bagi bangsa. Tak lupa dengan almamater, Pipit juga berharap langkahnya itu bisa menjadi pembuka jalan bagi mahasiswa UIN yang juga ingin berkecimpung di dunia penelitian. Ia ingin membuktikan bahwa mahasiswa UIN pun mampu bersaing di tingkat dunia, apalagi dalam bidang penelitian. “Saya risih dengan image UIN Alauddin sebagai kampus rusuh. Mari sama-sama buktikan ke dunia, UIN Alauddin mampu bersuara bukan hanya di jalan, tapi di forum-forum global. Semoga dapat memotivasi teman-teman dan adik-adik almamater,” tutupnya. *Nurfadhilah Bahar

Selamat Datang Mahasiswa Baru UIN Alauddin, dan Khususnya Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Tahun Akademik 2016

Semoga Menjadi Mahasiswa yang Berkarakter, Visionir, dan Bermartabat

FDK BERMARTABAT

Dr. H.Abd. Rasyid Masri., S.Ag, M.pd.,M.Si., M.M. Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi


12

MIMBAR

www.

Edisi 98 | Dzulhijjah 1437 Hijriyah | September 2016 Masehi

Gratifikasi

Oleh: Sulkia Reski Kisah awal kemunculan gratifikasi yang tercatat dalam sejarah, dituliskan oleh seorang Biksu Budha I Tsing (Yi Jing atau Zhang Wen Ming) dari Campa pada abad ke 7. Saat itu Kerajaan Sriwijaya dikenal menjadi pusat perdaga ngan di wilayah Asia Tenggara sehingga China dan Campa datang untuk melakukan kerjasama dalam perdagangan. Akan tetapi, selama pelaksanaan kegiatan perdagangan yang berlangsung terjadi masalah dalam hal komunikasi, dimana prajurit yang menyambut mere ka menggunakan bahasa Melayu Kuno dan Sansekerta, sedangkan pedagang Campa dan Cina menggunakan bahasa Cina dan Sansekerta. Selain itu, perbedaan penggunaan alat tukar yakni kerajaan Sriwijaya telah menggunakan emas dan perak yang dibentuk butiran sederhana. Sementara pedagang dari Campa dan Cina telah menggunakan emas, perak dan tembaga yang dibentuk menjadi koin sebagai alat tukarnya. Untuk melancarkan kerjasama dengan kerajaan, atau saat akan bertemu dengan pejabat kerajaan mau pun keluarga kerajaan maka perdagangan Cina dan Campa akan memberikan emas bagi para penjaga untuk memperlancar kepentingan masing-masing. Lambat laun hal ini menjadi kebiasaan sehingga prajurit justru merubah bentuk gratifikasi yang mulanya pemberian menjadi “pemaksaan” agar pedagang dapat memasuki gerbang kerajaan dan keluarga kerajaan yang bersangkutan. Hingga pedagang Arab masuk ke Sriwijaya melakukan hal yang sama dengan memberikan lembaran-lembaran dan kepingan kepingan uang untuk memperlancar kapal mereka berlabuh di dermaga untuk berdagang. Gratifikasi lambat laun menjadi hal yang lumrah dilakukan dalam masyarakat, termasuk di Indonesia. Siapa yang menyangka jika gratifikasi mendekati atau

washilah .com

bahkan menjadi bentuk suap yang merupakan salah satu korupsi di kalangan birokrasi untuk memuluskan suatu kepentingan yang tentunya tidak jauh dari kegi atan perdagangan. Di era modern sendiri bentuk gratifikasi dilakukan masyarakat untuk memeperlancar jasa yang diberikan lembaga pemerintahan tertentu guna pemenuhan administrasi. Pasal yang mengatur tentang tindak pidana korupsi jelas terekam pada Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 juncto Undang-Un¬dang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, ada 30 jenis tindak pidana korupsi. Dan pasal yang mengatur tentang gratifikasi jelas pada Pasal 12B.“Yang dimaksud dengan

”gratifikasi” dalam ayat ini adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik”. Lantas siapa pihak yang tidak bisa menerima pemberianpemberian manis yang sarat akan konflik kepentingan ini? Mereka adalah para Penyelenggara Negara dan Pegawai Negeri. Perlu ditekankan bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan tinggi, disebutkan dalam salah satu poin bahwa,“Pegawai

dan Perguruan Tinggi” tidak diperbolehkan menerima gratifikasi dalam bentuk apapun. Sebagai akademisi, selayaknya kita memahami apa saja bentuk gartifikasi yang terjadi di dalam kampus. Bagaimana dengan pemberian ”parsel” pasca ujian bagi mahasiswa starata satu, starata dua dan starata tiga yang akan menyelesaikan studinya. Setiap tahunnya bentuk pemberian yang dianggap sebagai bentuk penghargaan bagi dosen mau pun pegawai ini terus saja berlangsung, meski telah dila-

rang oleh Kementerian Pendidikan. Pemberian parsel bagi dosen, staf dan pegawai di kampus nyatanya memakan banyak biaya. Bayangkan jika seorang mahasiswa harus membagikan puluhan parsel ke pihak-pihak di fakultasnya. Anggap saja 10 buah parcel, dengan beragam isi di dalamnya, dari makanan kecil, kue kering, minuman, permen, coklat, pa kaian, mukena, hingga kain batik brand ternama yang harganya selangit itu. Anggap saja seluruh paket parsel tersebut menghabiskan dana hingga Rp.1.000.000,00. Lalu setiap tahunnya akan ada 3.000 mahasiswa yang melakukan hal serupa dalam sebuah perguruan tinggi saat menghadapi wisuda. Hitungan sederhana ini memperlihatkan dana melayang hingga Rp 3 Miliar tiap tahunnya. Jika praktik gartifikasi ini berlangsung selama puluhan tahun? entahlah. Pemakluman dan pembiaran menjadikan tradisi pemberian parsel yang nyatanya adalah bentuk gratifikasi ini terus saja berlangsung. Harga jasa dari pendidik tak sebanding dan tidak semestinya dihargai pemberian berupa parsel semata. Apalagi pemberian tersebut diberikan saat seseorang masih berstatus mahasiswa. Sudah jadi rahasia umum, mahasiswa adalah makhluk “kere” yang masih bergantung pada orang tua. Apalagi jika mahasiswa yang bersangkutan hanya berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Tidak bisakah pemberian itu menunggu hingga seseorang menjadi sukses. Ironi, jika saja ada tenaga pendidik dalam perguruan tinggi yang menyinggung mahasiswa yang tidak memberikan parsel. Nilai dan didikan tak ternilai harganya, justru dengan menerapkannya dalam kehidupan untuk memperbaiki pribadi mahasiswa itu sendiri atau bahkan berdampak bagi masyarakat banyak justru menjadi penghargaan yang nilainya tidak mampu menandingi nilai tabungan dan bunga bank, manisnya gula dan coklat atau bahkan kilauan permata. Bahkan akan lebih baik jika ilmu tersebut menjadi cahaya penerang di hari kemudian, di hari dimana manusia dimintai pertanggung jawaban akan perbuatannya selama hidup di hadapan Tuhan. Penulis adalah mahasiswa jurusan Jurnalistik semester VII

Media Mahasiswa Washilah menerima tulisan beruapa opini, esai, cerpen dan puisi. Naskah dikirim ke washilahonline@gmail.com atau diantarkan langsung ke redaksi di Gedung Pusat kegiatan Mahasiswa (PKM) UIN Alauddin lantai tiga.


SOROT

www.

washilah .com

Edisi 98 | Dzulhijjah 1437 Hijriyah | September 2016 Masehi

13

Informasi Keliru, Camaba Batal Kuliah

Mahasiswa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa peduli maba menyampaikan orasi di depan gedung Rektorat UIN Alauddin Makassar. Sebanyak 36 Calon mahasiswa baru yang lulus seleksi jalur Ujian Masuk Mandiri (UMM) dan Ujian Masuk Khusus (UMK) tidak melakukan pembayaran sumbangan pelaksanaan pendidikan (spp), mereka batal lanjutkan study. Kamis (01/09). Washilah / Rosida Ibrhim

SALAH KETIK, Camaba Batal Kuliah

Sebanyak 36 calon mahasiswa baru tahun 2016 harus menelan kekecewaan. Pasalnya, keinginan mereka untuk menyandang predikat sebagai mahasiswa UIN harus gagal, lantaran terlambat membayar SPP pada jalur Ujian Masuk Mandiri (UMM) dan Ujian Masuk Khusus (UMK). Sempat memprotes perbedaan informasi, pihak kampus malah berdalih salah ketik. Aliansi Peduli Mahasiswa Baru Selasa (30/08) datang menemui Kepala Biro Akademik

dan Kemahasiswaan Dra Nuraeni Gani di Gedung Rektorat. Mereka kemudian memprotes hasil Rapat Pimpinan (Rapim) yang menyatakan tidak ada perpanjangan pendaftaran ulang (registrasi) dan dinyatakan tutup pada Sabtu (27/08). Rahman Hidayat, mahasiswa angkatan 2012 yang mewakili Mahasiswa Baru menyatakan jika map yang dibagikan keliru. “Dari map yang dibagikan untuk jalur UMM pembayaran SPP itu dari 24—16 Agustus, tapi

kenyataannya batas pembayaran untuk semua jalur sampai 26 Agustus,” ujarnya. Mendapat pengaduan tersebut Nuraeni Gani menyangkal jika hasil Rapim merupakan kebijakan pimpinan dan tidak dapat diganggu gugat, ada pun pengambilan keputusan tidak berada di tangannya. Berdasar hasil Rapim yang digelar Senin (29/08) resmi diputuskan jika tidak ada perpanjangan pendaftaran ulang (registrasi) dan dinyatakan tutup

UPDATE INFORMASI SEPUTAR UIN ALAUDDIN MAKASSAR

pada 27 Agustus 2016. Rapat yang dihadiri oleh seluruh Dekan Fakultas tersebut merupakan keputusan akhir yang tidak dapat diubah, hingga mahasiswa yang terlambat mendaftar tidak akan ditoleransi. Tak menemui titik terang, Kamis (1/09) para mahasiswa kembali melakukan aksi demonstrasi di depan Gedung Rektorat untuk menuntut hal serupa. Bersama Rektor Prof Musafir Pababbari, jajaran Wakil Rektor serta Dekan Fakultas, akhirnya memberi klarifikasi. “Di pengumuman sudah jelas baik UMM, UM-PTKIN, maupun UMK semua ada penetapan tanggal,” ujar Musafir Pababbari. Terkait isi map yang berbeda dari hasil Rapim, Musafir berdalih jika map tersebut belum ditandatangani dan keputusan asli sudah diumumkan di website resmi UIN Alauddin. Tak terima dengan alasan tersebut, salah seorang mahasiswa menolak dengan tegas jika tak semua mahasiswa memiliki

kesempatan untuk mengakses website. Tak ingin memperpanjang aksi protes, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof St Aisyah akhirnya menuturkan permohonan maaf jika perbedaan tersebut karena kesalahan saat pengetikan, sementara keputusan tetap pada hasil Rapim awal. “Kita akui itu kesalahan ketik, tetapi sumber informasi itu bukan hanya satu, ada di website, brosur dan lain-lain,” terang Prof St Aisyah. Mediasi berakhir dengan isak tangis seorang calon mahasiswi di ruangan itu, mendengar tak ada perpanjangan dan tak ada lagi kesempatan, dia hanya bisa berteriak lantang saat jajaran pimpinan mulai melangkah meninggalkan ruangan. “Kita cuma mau berpendidikan, kita cuma mau selesai tepat waktu, kita sudah buang-buang uang,” teriaknya sembari mengusap air mata. *Fadhilah Azis/Nurjannah/ Rosida Ibrahim

washilah.com


14

CIVITAS

Edisi 98 | Dzulhijjah 1437 Hijriyah | September 2016 Masehi

www.

washilah .com

UIN Alauddin Ajak Orang Tua Maba Kenali Kampus

Washilah—Pendekatan demi pola didik yang maksimal nampaknya tak ingin dilakukan pihak kampus melalui mahasiswa saja. Dengan mengadakan silaturahmi antara pimpinan kampus dan orang tua Mahasiswa Baru (Maba), UIN Alauddin Makassar berharap besar agar kerjasama yang baik terjalin dalam melakukan pengawasan berdasar kode etik yang berlaku, kegiatan ini berlangsung di Gedung Kampus II UIN Alauddin Samata, Gowa. Senin (29/08) Pertemuan yang membahas perihal aturan dan kebijakan yang berlaku di UIN Alauddin ini dihadiri jajaran pimpinan mulai dari Rektor UIN Alauddin Prof Musafir Pababbari, Wakil Bidang Akademik Prof Mardan, Wakil Bidang Perencanaan dan Keuangan Prof Lomba Sultan, Wakil Bidang Kemahasiswaan Prof St Aisyah, Biro Akademik dan Kemahasiswaan Dra Nuaraeni Gani serta Kepala Biro Administrasi Mukhlis Latif, serta sejumlah pimpinan di tiap fakultas. Sebagaimana yang disampaikan St Aisyah yang sekaligus merupakan panitia pelaksana, bahwa pertemuan tersebut dapat dijadikan sebagai wadah berkomunikasi yang baik antara pimpinan dan fakultas. Dalam hal ini orang tua juga dinggap wajib nuntuk mengetahui aturan

akademik dan kode etik yang berlaku di kampus, serta diharapkan mampu bekerjasama dan terlibat untuk menjadikan mahasiswa berkualitas dan berintegritas. Penetapan Kategori UKT Dalam sesi dialog interaktif, sejumlah orang tua juga mengkritik beberapa sistem yang diterapkan terkait perubahan penentuan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Hal tersebut disampaikan Amirullah, salah satu orang tua Mahasasiswa Baru (Maba) bahwa di tahun sebelumnya penentuan kategori UKT berdasarkan hasil wawancara bersama orang tua, sementara tahun ini tak lagi diberlakukan. Prof Mardan pun menjelaskan, jika penentuan UKT tidak dapat diulang kembali dan baru akan mengadakan Rapat Pimpinan (Rapim) guna membahas hal serupa untuk tahun berikutnya. Sementara untuk tahun ini kata Musafir Pabbbari, penetapan kategori tidak bisa diganggu gugat karena telah dilaporkan kepada Menteri Agama dan Menteri Keuangan. Adapun mengenai ketidaksesuaian yang ditemukan berarti proses memasukan data yang salah. “Tahun ini sistemnya online, jadi bapak-ibu silahkan diisi. Hasil pemasukannya akan diproses sesuai dengan data yang dimasukkan,” jelasnya.

Sayangkan Akreditas C Di sisi lain Mulyati, orang tua mahasiswa Jurusan Fisika malah menyayangkan akreditasi jurusan yang masih C. Hal ini tentu dianggapnya akan sulit bagi pihak mahasiswa dalam mencari pekerjaan nantinya. Sementara pihak kampus menyatakan tetap berkomitmen untuk terus berupaya agar semua jurusan nantinya bisa terakreditas A. Akreditasi sejumlah prodi di UIN Alauddin memang masih disayangkan sejumlah pihak. Tercatat pada Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT), sebanyak 16 Prodi terakreditasi C, 33 terakreditas B, sementara akreditas A hanya dipegang oleh tiga prodi yakni Sejarah Kebudayaan Islam, Manajemen Dakwah serta Bahasa dan Satra Arab. Pindah Jurusan Tak Selamanya Berlaku Pindah jurusan bagi mahasiswa memang telah lama diberlakukan di UIN Alauddin. Keinginan inilah yang disampaikan Abdul Karim, yang berharap anaknya ke depan bisa pindah di jurusan lain. Pernyataan tersebut ditanggapi Nuraeni Gani bahwa kesempatan berpindah jurusan hanya saat semester tiga dengan syarat tertentu hingga 1 September 2016. “Untuk tahun depan, mahasiswa yang kuliah di

UIN Alauddin tidak boleh lagi ada yang pindah jurusan,” tegasnya. Terlepas dari keluhan-keluhan orang tua mahasiswa, St Aisyah tetap menghimbau agar ke depannya para orang tua memantau perkembangan anaknya selama kuliah di UIN Alauddin. Pun aturan-aturam yang berlaku dalam buku saku wajib diketahui dan dibaca oleh para orang tua. “Pastikan IP harus melewati 2,0 karena kalau tidak akan diberhentikan secara otomatis,” tandasnya. Besarnya harapan agar pertemuan ini menjadi pendorong para pimpinan dan orangtua mahasiswa membentuk pengurus paguyuban atau komite orangtua mahasiswa. Senada dengan hal itu, Prof Musafir menuturkan dengan diundangnya orangtua merupakan implementasi dari statuta UIN Alauddin pasal 70 dimungkinkan kita membentuk persatuan orangtua mahasiswa. Setelah berembuk, ditetapkanlah pengurus paguyuban yang diketuai oleh Drs Abdul Gani. Para orangtua pun bertekad untuk bekerjasama dengan baik kedepannya dan siap meluangkan waktu untuk membahas kepentingan-kepentingan anak-anak mereka selama kuliah di UIN Alauddin Makassar. *Nur Isna

Memahami Realitas Praktik dan Teori Akuntansi Dengan Multiparadigma Akuntansi yang erat kaitannya antara teori dan praktek, tentu akan bermanfaat di berbagai bidang. Hal ini dikarenakan output dari akuntansi yakni, laporan keuangan yang digunakan sebagai penentu dalam pengambilan keputusan. Untuk menghasilkan kualitas yang baik serta melaksanakan suatu praktik yang baik, tidak cukup hanya mempelajari akuntansi secara praktik. Hal ini dikarenakan dibalik praktik akuntansi terdapat berbagai gagasan, asumsi dasar, konsep, penjelas yang semuanya terangkum dalam teori akuntansi. Adanya perbedaan cara

pandang terhadap ilmu tersebut yang melahirkan ilmu pengetahuan yang berbasis multiparadigma. Ketua Jurusan Akuntansi, Jamaluddin SE MSi juga menuturkan bahwa untuk dapat memahami realitas praktik akuntansi, kita dapat memandang dari berbagai sudut pandang atau multiparadigma. Sehingga, segala masalah yang terdapat dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dapat diselesaikan dengan berbagai pandangan, tidak hanya cukup dengan satu pandangan. Selain itu, dengan adanya ilmu pengetahuan yang berbasis multiparadigma maka ilmu pengetahuan yang ada dapat berkembang lebih luas. Tidak hanya terpaku atau berpatokan pada satu pandangan. Tetapi juga, pengembangan ilmu pengetahuan tersebut yang dipandang dari beberapa paradigma. Selain itu, ia mengatakan bahwa paradigma yang tertanam dianggap Jamaluddin SE MSi dapat memecahkan KETUA JURUSAN AKUNTANSI semua masalah dengan

menggunakan berbagai paradigma untuk menghasilkan pemecahan masalah. Karena akuntansi bukan hanya sekadar pencatatan maupun pembuatan laporan keuangan namun akuntansi dapat berkembang. Lanjutnya, perkembangan ilmu akuntansi bukan hanya sebatas financial accounting atau yang berbasiskan pada angka. Akan tetapi terdapat aspek-aspek lain diluar angka yang dapat mempengaruhi perkembangan praktek akuntansi tersebut misalnya psikologi, sosiologi, politik, budaya dan lainnya. Sehingga bisa menjadi dasar pertimbangan dari berbagai kalangan terhadap ilmu pengetahuan tersebut dalam hal ini perkembangan akuntansi. Tambahnya, “Orang-orang yang tidak belajar akuntansi secara menyeluruh pasti akan mengira ilmu ini adalah ilmu yang membosankan. Namun kita, sebagai akademisi, harus bisa menunjukkan bahwa kenali akuntansi secara menyeluruh, tidak dari kulitnya saja.” *ADVETORIAL


www.

washilah .com

AKADEMIKA

Edisi 98 | Dzulhijjah 1437 Hijriyah | September 2016 Masehi

15

Pengenalan Pengenalan Lembaga Kemahasiswaan. Syamsuriadi Said, Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) berdiri dihadapan 5.641 mahasiswa baru saat proses pengenalan lembaga kemahasiswaan. Sementara Muh Abrar, Ketua Dema Fakultas Adab dan Humaniora menyayangkan tidak adanya Dema Universitas saat proses pengenalan lembaga kemahasiswaan. Kamis (01/09). Washilah/Asrullah

KKN 2016

Tak Penuhi Kuota, UIN Rombak Standar SKS Washilah - Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Alauddin sejauh ini telah mengalami beberapa perubahan aturan melalui Rapat Pimpinan (Rapim). Sejumlah persyaratan yang diberlakukan menjadi upaya penyelamatan bagi mahasiswa angkatan 2012 dan sebelumnya dari sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang mulai diterapkan pada November untuk angkatan 2013. Sebagaimana yang disampaikan Staf Ahli Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Drs Ibrahim, bahwa terdapat enam daerah yang tersebar sebagai pos KKN di Sulawesi Selatan yaitu Sidrap, Pinrang, Pangkep, Gowa, Takalar, dan Jeneponto. Sedangkan dua lokasi lain yakni Bulukumba dan Bantaeng tidak dipilih karena telah digunakan pada Februari yang lalu. Dalam Hasil Rapat Bidang I dan Bidang II tanggal 20 Juli 2016 lalu, ditetapkan persyaratan KKN yakni telah memenuhi 120 Satuan Kredit Semester (SKS) bagi mahasiswa. Maka angkatan 2012, 2011, dan 2010 bisa mengikuti KKN di bulan September dengan agenda pendaftaran pada bulan Agustus.

Tak Memenuhi Kuota Berdasarkan laporan Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat Drs Gazali Suyuti, KKN angkatan ke 52 KKN ditargetkan sebanyak 500 orang. Namun, hingga pertengahan Agustus jumlah pendaftar hanya sebanyak 45 orang. Ditemui di ruangannya, Wakil Rektor Bidang Akademik Prof Mardan menuturkan bahwa pendaftar KKN periode September jauh dari kuota yang ditentukan disebabkan banyaknya mahasiswa yang belum memenuhi persyaratan SKS. “Karena persoalan 120 SKS yang kebanyakan tidak mampu dipenuhi mahasiswa angkatan 2009 hingga 2012,” ujarnya. Langkah lebih lanjut diambil Mardan ialah dengan mengumpulkan jajaran Wakil Dekan Bidang Akademik di delapan fakultas dalam rapat, untuk mengurangi persyaratan SKS dalam KKN. Mengingat saat ini merupakan masa transisi regular ke UKT-BKT, yang mengharuskan angkatan 2012 ke bawah sesegera mungkin menjalani program KKN di bulan September, tepat dua bulan sebelum UKT-BKT diterapkan. “Langkah ini adalah tindakan penyelamatan terhadap mahasiswa

angkatan 2012 ke bawah karena November mendatang KKN yang berlaku sudah menerapkan sistem UKT-BKT,” tegasnya. Dalam putusan hasil rapat dinyatakan, angkatan 2010 harus memenuhi 100 SKS, angkatan 2011 dengan 90 SKS, dan angkatan 2012 dengan 80 SKS sebagai persyaratan pendaftaran KKN. Kepastian Angkatan 2013 Mengikuti program KKN di akhir tahun 2016, sudah menjadi target bagi sebagian besar mahasiswa angkatan 2013, utamanya yang telah mengikuti Praktek Pengenalan Lapangan (PPL). “Kami sudah membayar uang SPP, mata kuliah kami juga sudah habis, jika tidak ada KKN bulan November sama halnya kami menganggur untuk menunggu program KKN 2017, dan kami tetap harus membayar SPP lagi tahun depan,” ujar salah seorang mahasiswa angkatan 2013. Meski angkatan 2013 dipastikan ikut pada program KKN di bulan November berdasar UKT BKT, namun standar SKS masih akan dibicirakan ulang. “SKS untuk angkatan 2013 belum dirapatkan,

masih ada perbincangan kembali,” ujar Gazali Suyuti. Pola Pembekalan Pola pembekalan KKN, menjadi hal lain yang dikritisi sejumlah mahasiswa. Pembekalan yang berlangsung hanya selama tiga hari dengan pembagian jadwal yakni pagi dan siang dianggap tidak efektif. “Pola pembekalan KKN UIN sangat tidak efektif memberi simulasi pengenalan daerah dan masyarakat pada mahasiswa, semua bersifat umum hanya sebatas materi dan sosialisasi,” beber Hermawan Mappewali mahasiswa angkatan 2012 yang telah menyelesaikan KKN pada bulan Mei lalu. Dia pun berharap, agar data-data KKN di tiap daerah dari tahun ke tahun bisa dijadikan referensi pembekalan, agar mahasiswa sedikit banyak memahami pola kegiatan di pos masing-masing. Menanggapi hal serupa, Gazali Suyuti justru menegaskan sengaja tidak menyajikan data KKN tahun sebelumnya. Alasannya, mahasiswa harus dituntut berpikir cerdas dan bertindak sesuai medan masing-masing. *Epi Aresih/Erlangga Rokadi


Tabloid Mahasiswa Washilah Edisi 98 September 2016  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you