__MAIN_TEXT__
feature-image

Page 1

Edisi Spe sial Magang

Hal Dema-U Butuh 05 Berbenah Hal 15

Cleaning Service Mengamuk Tolak PT Arco

Pedagang Buntung, P2B Untung


2

DAPUR REDAKSI

www.

washilah.com

Edisi 112| Jumadil Akhir 1441 Hijriyah | Februari 2020 Masehi

TAJUK

Energi Baru

Mahasiswa Tercekik

UKM LIMA - Foto bersama Keluarga Kecil Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Informasi Mahasiswa Alauddin (LIMA) usai melaksanakan Musyawarah Anggota (Musa) XXX di Rumah Adat Sanrobone, Kabupaten Takalar, Senin (27/01/2019.

U

sai merekrut anggota baru Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Informasi Mahasiswa Alauddin (LIMA) melalui In House Trainig Jurnalistik (IHTJ) 2019 silam, berasal dari latar belakang jurusan yang berbeda-beda, melangkah dengan niat, lalu berproses selama sembilan bulan, tibalah saatnya mereka melahirkan karya pertamanya. Tabloid yang ada ditangan pembaca ini merupakan karya terakhir Pengurus 2019/2020, sekaligus awal bagi anggota magang yang status keanggotaannya telah dinaikkan menjadi anggota biasa. Bukan perkara mudah untuk menyelesaikan tabloid ini, banyak tantangan dan hambatan yang harus

dilalui, namun semua itu bukanlah sebuah penghalang bagi kami untuk meyelesaikan tabloid ini. Disinilah kami ditempa untuk mengasah kemampuan-kemampuan yang telah diberikan selama ini. Awal pemangangan yang diikuti oleh 34 orang dan berakhir dengan menyisakan 21 orang inilah yang kita harapkan dapat menjadi energi baru demi kemajuan lembaga. Bibit baru tersebut sudah menjalani proses yang panjang dan tentu telah menjadi generasi penerus UKM LIMA. Tak hanya itu, energi baru juga hadir setelah dilakukan Musyawarah Anggota dengan terpilihnya Pimpinan Umum baru. Dengan semangat itu, Tabloid

Washilah pun hadir untuk menyalurkan kemampuan angggota UKM LIMA dengan menyalurkan aspirasi masyarakat UIN melalui berbait-bait tulisan. Terus berbenah, Washilah ingin menampilkan kualitas terbaik, dari segi pemberitaan maupun penyajian. Pada edisi kali ini, kami hadir menyuguhkan kepada pembaca setia berita tentang kenaikan tarif kantin UIN Alauddin Makassar. Tak hanya itu, kami juga menyoroti kinerja Dewan Eksekutif Masiswa Universitas (Dema-U) di bawah kemudi Junaedi. Selain itu, pada rubrik Liputan Khusus kami menyajikan keamanan kampus. Di rubrik lifestyle kami menyajikan

maraknya trend expo di kampus eks IAIN Alauddin Makassar ini. Pada rubrik lensa kami menghadirkan coretan vandalisme. Sementara dua halaman lainnya kami menyajikan kesan dan pesan kader selama menjadi anggota magang. Tentunya, tabloid ini masih jauh dari kata sempurna. Kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk bekerja secara profesional maka dari itu kami pun tiada henti untuk meminta saran dan masukan yang membangun dari pembaca. Akhir kata, kami mengucapkan Selamat membaca.

Nama yang tertera di bawah ini sudah dipecat sebagai anggota UKM LIMA Washilah

Muh Reza Alif

Dyan Eka Haerani

Ahmad Alqadri AS

Indah Kurnia Sari

Gufron

Jamaluddin

Bukan hanya mahasiswa kampus peradaban, mahasiswa kampus lain yang bertandang ke UIN Alauddin kaget mendengar harga makanan yang sangat pas di kantong. Harga sewa kantin sebelumnya tercatat pada angka Rp 6.500.000 dan kini akan menembus angka Rp 15.000.000. Fantastis! seharaga sebuah motor baru yang bisa digunakan 5-10 tahun ke depan. Namun, sepertinya itu hanya akan menjadi cerita bahwa eks IAIN Alauddin Makassar pernah memiliki makanan dengan harga murah yang mampu menyelamatkan mahasiswa agar tak terus menerus mengonsumsi mi instan. Tarif sewa kantin naik hampir dua kali lipat dari harga sebelumnya, tentu akan memiliki dampak pada mahasiswa. Padahal selama ini kantin lah yang selalu menjadi penyelamat kantong. UIN Alauddin Makassar yang tidak lagi memberikan harga bersahabat membuat beberapa kantin kebingungan. Jika tak mengikuti aturan mereka terpaksa harus mencari sumber pemasukan lain alias keluar dari tempat mencari nafkah selama beberapa tahun belakangan ini. Jika pasrah pada tarif, tapi mereka harus tercekik. Demonstrasi akan kenaikan tarif juga tidak berujung pada kejelasan, pimpinan kampus saling melempar, seakan hanya ingin bungkam hingga akhir katanya keputusan rektor yang jadi ketetapan. Tujuan kenaikan tarif yang tidak jelas untuk apa serta tidak adanya transparansi sehingga menimbulkan tanda tanya lebih banyak. Tidak heran, banyak mahasiswa yang berfikiran bahwa kampus putar haluan menjadi lahan bisnis, bukan lagi lahan pencetak manusia dengan skill yang bisa memiliki daya saing di luar sana. Jika sewa tarif dinaikkan maka tidak lama lagi kantin UIN bukan lagi milik semua kalangan terutama bagi seluruh mahasiswa tapi hanya milik sebagian saja. Bisa jadi tidak akan ada lagi segorombolan mahasiswa yang duduk berdiskusi sambil minum kopi harga 5000 karena kantin bukan lagi milik para idealis tapi milik kapitalis.

Dinar

*Ilustrasi: Viviana Basri *Layout: Ridah A. Hamzah, Sigit, Irmayanti


TOPIK UTAMA

www.

washilah.com

Edisi 112| Jumadil Akhir 1441 Hijriyah | Februari 2020 Masehi

CAFETARIA - Tampak Cafetaria depan Perpustakaan Syech Yusuf UIN Alauddin Makassar sedang sepi pengunjung, Selasa (03/02/2019). (Foto: Aulya Febrianti).

Pedagang Buntung, P2B Untung

Washilah - Rencana kenaikan tarif sewa lapak kantin Kampus II UIN Alauddin Makassar oleh Pusat Pengembangan Bisnis (P2B) menjadi momok menakutkan bagi pelaku usaha di lingkungan kampus peradaban.

D

i kampus yang berlokasi di Jalan HM Yasin Limpo, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa ini terdapat puluhan lapak kantin yang dinamai Cafetaria. Ada empat Cafetaria tersebar di sekitar kampus yang disewa puluhan pedagang. Para pedagang yang notabene masyarakat sekitar mulai was-was dengan ancaman kenaikan tarif sewa lapak cafetaria dari Rp 6.5 menjadi Rp 15 Juta pertahunnya. Pemilik Kantin Bunda Adab, Hasni Daeng Kebo mengatakan harga sewa belasan juta itu lebih tinggi dibanding beberapa Universitas negeri maupun swasta yang ada di Kota Makassar yang memasang tarif tidak sampai Rp 10 Juta. Seperti Universitas Hasanuddin dan Universitas Negeri Makassar sama-sama memasang tarif Rp 6 Juta pertahunnya. Lalu kampus swasta Universitas Muhammadiyah (Unismuh) tarifnya Rp 7 juta, Universitas Muslim Indonesia Rp 5 juta. ”Kalo sampai ke titik 15 juta mungkin UIN paling tinggi,” ungkap Hasni ditemui di Cafetaria depan Perpustakaan Syekh Yusuf, belum lama ini. Ibu dua anak ini mengaku sudah tujuh tahun berjualan di Cafetaria depan Perpustakaan Syekh Yusuf UIN Alauddin. Selama itu dia merasa fasilitas yang didapatkan tidak sebanding dengan harga sewa yang diterapkan. ”Sedangkan Rp 6,5 Juta berat mi apalagi kalau naik Rp 15 Juta. Itu lagi fasilitasnya tidak sebanding. Kursi sama meja makan itu rusakrusak mi, air juga sudah hampir satu

bulan tidak mengalir, sekarang itu kita cuci piring pakai air galon,” imbuh Hasni. Kesengsaraan itu menurut Hasni bertambah dengan aturan terkait bahan baku yang harus dibeli di kantor P2B persis di belakang Rektorat dengan harga lebih tinggi dari pengecer pada umumnya. ”Semuanya pembelian itu satu pintu di P2B saja. Baru mahal. Kayak galon itu Rp 5000, kalau di luar (kampus) itu Rp 4000 ji. Sama juga Pop Ice, Kopi, Nutri Sari (Minuman kemasan) beda seribu rupiah di grosir-grosir,” tuturnya. Hasni bilang seharusnya kebijakan kenaikan tarif itu harus dipertimbangkan ulang P2B sebagai pemangku kebijakan bisnis di UIN Alauddin. Pasalnya dalam menjalankan usaha para pemilik kantin juga harus membayar beberapa karyawan, belum lagi durasi berjualannya hanya terhitung selama tujuh bulan, sementara lima bulan itu masa libur civitas akademika. Dalam seminggu, kata Hasni, hanya menjual selama lima hari mulai Senin hingga Jumat. Dia merincikan dalam sehari keuntungan yang didapatkankan itu hanya Rp 200.000. ”Keuntungan tujuh bulan sebenarnya bukan setahun itu Rp 28 Juta. Dikurang biaya sewa Rp 6,5 Juta. Gaji karyawan ku itu dua orang masing-masing Rp 50.000 sehari kali tujuh bulan Rp 14 Juta memang. Belum bahan baku. Keuntungan ku itu yah Rp 7,4 Juta mami,” paparnya. Keresahan Hasni dan 84 pelaku usaha lainnya direspon oleh

Mahasiswa yang tergabung dalam aliansi menolak Kenaikan tarif kantin UIN Alauddin. Hasni bersama puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas itu melakukan aksi pada Selasa (21/1/2020) di depan Rektorat. Massa tersebut dipimpin langsung oleh Hasni yang menyuarakan haknya sebagai pelaku usaha mewakili teman-temannya. ”Salah satu UIN Alauddin berada di Samata itu mensejahterakan masyarakat sekitar, tapi yang terjadi malah menyengsarakan. Kedepan diharapkan harga sewanya itu tetap, Kita sudah jualan selama tujuh tahun disini, Kalau misalkan jadi naik, maka banyak yang keluar, saya juga menyerah,” tegasnya. Tak hanya dari pedagang protes kabar kenaikan tarif harga sewa cafetaria juga datang mahasiswa. Salah satunya, Feo. Dia mengungkapkan sejak isu kenaikan tarif kantin tersiar, banyak pedagang terganggu secara psikologis lantaran memikirkan sewa kantin yang begitu tinggi. ”Bulan Desember awal isu ini muncul, sudah ada pihak kantin bercerita kepada mahasiswa bahwa mereka terganggu psikologisnya memikirkan tarif sewa kantin dan relokasi ke kantin 100 unit yang akan dibangun tersebut,” ungkapnya. Lebih lanjut, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum ini menjelaskan banyak dari pemilik kantin merasa dirugikan kebijakan yang dikeluarkan, karena saat menemui para penyewa kantin, pihak dari P2B tidak menuliskan nominal pasti harga sewa kantin yang baru.

Alhasil kondisi tersebut memicu perdebatan antara pihak P2B dengan penyewa kantin. Terlebih lagi kabar relokasi pedagang guna proses renovasi cafetaria turut menambah beban psikologis. “Pedagang mengatakan merasa dirugikan, pertama mereka akan kehilangan pelanggan yang telah menjadi langganannya. Kedua, merasa dirugikan karena dengan kebijakan tersebut seakan-akan memulai dari baru lagi. Pada Bulan Januari juga pihak dari P2B datang menagih perpanjangan kontrak, mereka sempat cekcok dengan pemilik kantin karena kontrak yang diajukan tidak ada nominal harga yang dicantumkan,” jelas mahasiswa semester 10 ini. Feo melanjutkan, kebijakan itu nantinya bakal berimbas pada mahasiswa. Sebab harga makanan akan naik merujuk pada harga sewa yang mencapai Rp 15 Juta. Angka itu kata Feo tidak rasional untuk dibebankan kepada penyewa kantin. Lantaran modal yang dikelurkan dengan keuntungan yang didapatkan tidak sebanding. “Kita anggap Rp 15 juta tidak rasional diterapkan, beberapa universitas tidak ada kontrak kantin di atas 8 juta. Jika ini dinaikkan hingga Rp 15 juta secara tidak langsung membuat ibu kantin menjerit dengan tarif yang tidak masuk akal itu” ujarnya kepada Washilah. ”Kami sempat mendata pendapatan ibu kantin yang sehari mendapat 200 ribu sedangkan pengeluarannya 400 ribu, secara tidak langsung kita sebagai mahasiswa juga tercekik karena kita

3 sebagai konsumen akan mendapat imbasnya karena penaikan harga makanan dan minuman,” tegasnya melanjutkan. Feo menambahkan kampus saat ini mulai menggunakan pemikiranpemikiran kapital dikarenakan kampus sudah menjadi lahan bisnis yang dalam pembentukan kebijakannya selalu berorientasi kepada keuntungan semata. “Saya lihat kampus hari ini menggunakan logika kapitalisme. Kenapa demikian? karena orientasi di kampus hanya satu yaitu keuntungan. Sehingga untuk mendapatkan profit itu ada yang harus dikapitalisasi dan diekspolitasi sebagai alur untuk mendapatkan keuntungannya. Kita harus membangun kesadaran melihat kerja-kerja kampus hari ini itu tidak rasional jika kita ingin lihat dari historis kehadiran pendidikan,” pungkasnya. Ketua P2B, Dr H A Achruh yang dikonfirmasi membenarkan isu kenaikan tarif tersebut. Bahkan sudah terealisasi sejak akhir tahun 2019 lalu. Namun dia enggan berspekulasi lebih jauh terkait kebijakan tersebut. Achruh bilang agar keputusan itu ditanyakan langsung ke Rektor UIN Alauddin Prof Hamdan Juhannis selaku pengambil keputusan tertinggi Universitas beralmamater hijau ini. ”Kenaikan tarif ini bukan lagi wacana melainkan telah terealisasikan tahun lalu namun hanya dikonteks pihak pertama dan pihak kedua, disisi lain P2B sebenarnya bermaksud untuk menghapuskan kerjasama seperti itu karna dianggap menyalahi aturan yang sudah ada,” tandasnya ditemui di kantornya Rabu (29/1/2020). “Saya tidak mau bicara, jika ingin menanyakan masalah itu langsung saya ke pimpinan (Rektor) sebab segala keputusan dia yang memiliki kewenangan,” dalihnya lagi. Ditemui diwaktu yang sama, Kepala Bagian Umum Drs Fatahuddin berdalih kebijakan kenaikan tarif itu sudah dikaji dan dibahas bersama di Rapat pimpinan (Rapim). Keputusan itu kata Fatahuddin bertujuan untuk mengembangkan pendapatan yang nantinya akan dikelola P2B. “Sebenarnya maksud dari P2B ini ingin mengembangkan pendapatan yang P2B akan kelola dan ini sudah dikaji dan dibicarakan pada Rapim sebab melihat statistik dari tahun 2016, 2017, 2018 dan 2019 tingkat penghasilan yang dikelola oleh P2B stagnan. Jadi P2B mengambil keputusan agar merealisasikan kenaikan tarif sewa kantin yang sebenarnya sudah berjalan beberapa tahun lalu dan menghapuskan kerjasama antara pihak kedua dan pihak pertama yang dinilai merugikan P2B,” jelasnya Namun fakta berbeda diutarakan Wakil Rektor II Bidang Adminitrasi Umum Perencanaan dan Keuangan, Dr Wahyudin Naro. Dia mengaku tidak tahu menahu terkait kenaikan tarif sewa kantin yang jadi sorotan saat ini. “Saya tidak tahu menahu persoalan tersebut, dan juga itu bukan wewenang saya sebab semua keputusan akan dikembalikan ke Rektor selaku ketua BLU (Badan Layanan Umum) UIN Alauddin Makassar,” tukasnya. Dia mengaku, persoalan kenaikan tarif sewa cafetaria belum dipertegas dan diperjelas di Rapim. Wahyudin menyebut aturan itu merupakan wewenang penuh P2B. *Penulis: Ardiansyah Safnas, Arya Nur Prianugraha, Aulya Febrianti *Editor: Muhammad Aswan Syahrin


4

INSPIRASI

Edisi 112| Jumadil Akhir 1441 Hijriyah | Februari 2020 Masehi

”Mi instan” tentunya tidak asing lagi di kalangan mahasiswa, makanan yang mudah dan praktis ini kerap kali menjadi pilihan saat lapar. Pun, harganya sangat terjangkau bagi kantung pelajar. Meski menjadi makanan favorit, nyatanya mi instan kurang baik bagi kesehatan. Beberapa penelitian mengatakan bahwa makan mi instan terlalu banyak dapat berisiko. Hal ini disebabkan karena mi instan mengandung banyak garam yang berujung pada masalah kesehatan. Seperti yang diungkapkan dalam penelitian di Journal of Nutrition menyebut bahwa orang yang mengonsumsi mi instan dalam jumlah banyak memiliki risiko sindrom metabolik lebih tinggi. Sejumlah gejala yang mungkin muncul adalah tekanan darah yang meningkat, menurunnya tingkat kolesterol baik, serta tingginya risiko terkena penyakit jantung, diabetes, dan stroke. Peduli dengan hal tersebut, Ruhul Fadillah, seorang Mahasiswi Jurusan Farmasi UIN Alauddin Makassar berinisiatif mencoba membuat mi instan yang dapat bermanfaat untuk kesehatan. Hal tersebut berawal saat memasuki semester VI, ia mendapatkan tugas kuliah

Muh Fachrur Hasman

R

www.

uangan sederhana yang didominasi warna cokelat dilengkapi kipas angin serta dihiasi sejumlah tipografi yang indah, membuat suasana terasa sejuk dan nyaman. Tempatnya terletak di Jalan M H Yasin Limpo tidak jauh dari kampus peradaban. Dibalik berdirinya warkop sederhana itu, ada sosok mahasiswa tangguh bernama Muh Fachrur Hasman. Setelah menunggu sejenak, pria yang akrab disapa Allu, pemilik Wheels Coffee, datang dan langsung menyapa dengan ramah. Obrolan ringan pun berlangsung. Hingga kemudian, dia bercerita soal pengalamannya mendirikan cafe Pemuda kelahiran Makassar, 31 Maret 1996 tersebut mengungkapkan,

washilah.com

Mi Instan Ramah Diabetes

untuk membuat makanan yang memiliki manfaat kesehatan. ”Pada saat semester VI saya diberi tugas kuliah buat makanan yang punya manfaat kesehatan. Hari itu saya buat kukis dan biskuit,” kata Ruhul. Setelah membuat kukis, Ruhul kemudian iseng mencoba membuat makanan lain yang lebih populer namun tetap memiliki manfaat bagi kesehatan. ”Karena sudah buat tugas, jadi saya iseng buat produk makanan lain, bikin mi tapi bahannya dari buah labu,” ujarnya. Ia kemudian mendiskusikan idenya kepada tiga orang temannya dan salah satu dosennya. Setelah menyepakati ide Ruhul. Mereka mulai mencari bahan makanan yang bisa membantu mengontrol gula darah. Mereka menemukan air putih, buah labu serta sedikit terigu sebagai bahan dasar pembuatan mi. Sedangkan bumbunya menggunakan bawang putih, merica, dan ketumbar. Bahan-bahan tersebut menurut mereka mengandung antioksidan, flavonoid, dan alisin. Komposisi tersebut kalau dikonsumsi dapat membantu pankreas memproduksi insulin. ”Dirubah menjadi energi, jadi mengurangi kadar gluko sa di tubuh,” jelas Indah Nur Pratiwi, teman Ruhul.

Nur Rezky, teman Ruhul inovasi lainnya dari berbagai ”Sekarang ini ada investor lainnya, mengatakan pemilihan negara yang dipamerkan di SIIF. sedang menjalin komunikasi bahan-bahan itu sudah melalui Sekitar 40.000 pengunjung dengan kami mengenai riset dan terbukti mampu pameran tersebut memberikan ketertarikan mereka. Tapi mengurangi gula darah respon positif kepada produk produk ini masih sedang kami seseorang dari 180 menjadi 120. nochip buatan Ruhul bersama sempurnakan. Semoga produk ”Kami riset kepada 10 orang, rekannya yang mereka nochip ini dapat dikonsumsi mereka yang mengonsumsi 300 pamerkan. masyarakat Indonesia terutama gram nochip setiap hari, mampu Mereka pun mendapatkan penderita diabetes dan besar mengurangi gula darah beberapa penghargaan mulai harapan kami ada investor dari seseorang, dari 180 menjadi dari awards, The Best Woman Indonesia yang mengajak untuk 120,” terangnya. Inventor, dan medali perak, menjalin kerja sama,” tutup Lebih lanjut, Nur Rezky sebagai juara 2 SIIF 2019 di Ruhul. menjelaskan produk ini lebih COEX, Seoul, Korea Selatan. tepat dikonsumsi untuk Tak hanya penghargaan, *Penulis: Nur Apiah B, penderita Diabetes Miletus produk nochip pun juga Reza Nur Syarika (DM) tipe II. mengundang ketertarikan *Editor: Nurul Wahda ”DM kan ada II tipe, tipe sejumlah investor di SIIF. Marang pertama, yaitu tubuhnya Mereka ingin menjalin memang sudah tidak mampu kerja sama. memproduksi insulin. Kalau tipe kedua, tubuhnya masih bisa produksi insulin, tapi sedikit,” jelasnya. Berawal dari isengiseng, mengantarkan Ruhul bersama dosennya Muh Ikhlas Arsul dan tiga temannya Indah Nur Pratiwi, Nur Rezky Rutami Amir dan Fitril Imani ke negeri ginseng. Ruhul tak pernah menduga, karena keisengannya, membuat dirinya diundang ke Seoul International Invention Fair (SIIF). Kegiatan yang dilaksanakan pada 27-30 Ruhul Fadillah (21), Nur Rezky Rutami Amir (20), Indah Nur Pratiwi (21), dan Fitril Imani (21) Farmasi semester November 2019 lalu. tujuh, Muh. Ikhlas Arsul, S.Farm., M.Farm., Apt. (Pembimbing) Produk mereka pun menjadi salah satu produk

dia mulai merintis Wheels Coffee dengan modal murni hasil dari pinjaman tanpa membebani orang tuanya Sebelumnya, ia memulai karir dengan menjual minuman botol berukuran mini di Gedung Islamic Center IMMIM yang dijualnya pada saat bulan puasa tahun 2016 lalu. Setiap hari sepulang kuliah ia langsung menuju lokasi penjualan, selama bulan ramadhan di tahun 2016 rutinasnya hanya jualan minuman botol berukuran mini. Sebulan berlalu, banyak kerugian yang dia dapat dari jualan botol mininya. Tetapi dibalik itu dia mendapat bekal pengalaman berjualan dan akhirnya, Allu memutuskan untuk merubah konsep jualan botol mini menjadi berjualan menggunakan sebuah gerobak. Nah, di sanalah awal dari Wheels Coffee. Ia menghabisakan dana kurang lebih 4 juta untuk membuat sebuah gerobak. Untuk melengkapi gerobak dengan dekorasidekorasi sederhana ia merogeh kocek kurang lebih 6 juta. Belum lagi dana untuk alat dan bahan ia habiskan kisaran 10 juta. Tetapi modal yang dia keluarkan di sini murni dari hasil meminjam. Untuk memenuhi semua itu selama 2 bulan ia menghemat uang untuk membeli alat coffee dan lainnya. Dengan bermodalkan tekad, ia menekuni pekerjaannya. Sepulang dari kuliah dia mengeluarkan gerobak dari rumah dan mendorongnya ke Syekh Yusuf bersama dua rekan kerjanya yaitu Ridwan dan Fatur. Anak sulung dari pasangan suami istri H. Hasman Hajasi dan HJ. Nurrahmah yang sekarang tinggal di Polewali Mandar ini, mengungkapkan

alasan mengapa ia ingin membangun usaha sendiri. ”Problem yang saya dapat pertama dari tekanan orang tua, apa yang mesti saya hasilkan di usia saya saat ini. Lalu saya berpikir membangun usaha tetapi orang tua juga tidak mau memberikan modal, mereka takut kuliah saya akan terbengkalai,” ungkapanya, Kamis (23/01/2020). Allu juga membeberkan inspirasinya hingga ia ingin membuka warkop. Ia mengaku mulanya tertarik dengan boomingnya warkop di kalangan mahasiswa. Didukung dengan kepribadiannya yang suka bergaul, pergi nongkrong, dan main game. ”Terus saya berpikir kenapa tidak untuk membuat wadah kumpul buat teman- teman. selain saya dikunjungi saya juga dapat feedback dari itu. Manfaat yang saya peroleh selain dari materi, saya bisa mendapat banyak teman dan hubungan ke teman-teman semakin harmonis dan lebih akrab,” jelasnya. Setelah melewati berbagai rintangan, selang setahun lebih ia melunasi hutangnya dan mengumpulkan keuntungan sedikit demi sedikit hingga akhirnya ia mengontrak sebuah ruko. ”Awal merintis dengan menjual cup botol mini, menggunakan gerobak, banyak kerugian yang saya peroleh kurang lebih sekitar Rp 3.000.000.00. Modalnya pinjam sana-sini, hutang yang lalu saya lunasi dan mencoba lagi inovasi baru, modal yang saya pakai dari pinjam sana sini,” bebernya. Dengan keberhasilannya membangun warkop (mengontrak ruko), tentunya tidak lepas dari doa kedua orang tua yang telah melahirkan dan membesarkannya sampai usianya saat ini. Walaupun pada awalnya mereka tidak merespon dengan baik, ia tetap meminta doa restu kepada kedua orang tuanya. ”Pak, mak, saya ada kontrakan di

Roda Perjalanan Wheels Coffee

sini. Mintaka do’a restu ta’, saya mau buat kedai coffee dengan konsep warkop bukan pakai gerobak lagi, dan akhirnya mereka meresponnya dengan baik,” tukasnya. Dalam membangun usaha tentunya banyak rintangan yang akan menghadang. Risiko besar siap menanti di depan mata. Tapi itu tidak menyurutkan langkahnya untuk terus berusaha. Karena tekad yang dimilikinya begitu kuat, ia tetap menempuh berbagai macam cara agar mampu membangun usahanya sedikit demi sedikit. ”Saya memiliki motivasi yakni ”mengapa orang lain bisa lalu saya tidak?” bebernya. ”Saya berani mengambil risiko besar ini karena saya yakin apa yang dikerjakan dengan tulus dan tekun Insya Allah bisa,” tambahnya. Pada awalnya Wheels Coffee tidaklah seperti yang saat ini, peralatan yang belum lengkap seperti meja, kursi, lampu, kipas angin dan lain-lain. Berjalan satu tahun ia bangun sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan. Ia juga menceritakan betapa sulitnya di tahap awal merintis sebuah usaha. Bahkan ia pernah hanya segelas yang terjual dan itu sempat membuatnya down. Adapun kendala yang sering ia alami diantaranya target yang tidak terpenuhi, ekspestasi dan realita tidak sebanding. Meski demikian ia tetap semangat untuk bisa berkembang. Ia bisa melalui semua itu berkat kerja kerasnya selama ini. ”Di fase awal sempat mengalami titik jenuh, tapi disitulah kita melihat komitmen untuk menghadapi masalah tersebut. Saya menghadapi kejenuhan tersebut dengan melihat kembali usaha-usaha saya selama ini, lalu saya berpikir masa saya harus menyerah di tengah jalan,” katanya. Mahasiswa yang saat ini tengah menginjak semester dua belas ini mengatakan, warkop yang telah

didirikannya itu diberi nama Wheels Coffee. Tetapi di balik nama wheels itu sendiri tersimpan pula cerita hangat yang penuh dengan makna. Wheels berasal dari bahasa inggris yang artinya roda. ”Wheels dalam bahasa Indonesia yaitu berarti roda, kebetulan yang kami gunakan untuk menjual pada waktu itu ialah gerobak yang mempunyai roda,” jelasnya. Roda sendiri memberikan makna tersendiri bahwa hidup tidak selamanya di atas atau di bawah, tapi berputar. Begitu pula dengan berwirausaha tidak selamanya di atas, tapi berputar. Untuk kata coffee sendiri, juga diambil dari bahasa inggris ”coffee” yang berarti kopi, sesuai produk yang dipasarkan. Dibanding dengan warkop yang saat ini menjamur di kalangan kawula muda, Wheel Coffee punya khasnya sendiri. Terinspirasi dari warkop temannya yang ada di Polewali, Allu membuat inovasi baru di warkopnya dengan membebaskan setiap pengunjung membayar berapa pun setiap makanan dan minuman khusus Hari Jumat. Ia mengaku melakukan ini untuk berbagi rezeki sesama manusia. ”Hal ini juga sebagai bentuk untuk berbagi dengan sesama, karna kalau niatnya baik pasti akan selalu ada jalan,” paparnya. Untuk melangsungkan usahanya, Allu berharap dapat membuka cabang di tempat lain. ”Saya berharap punya cabang bukan cuma di Samata saja tetapi insyallah bakalan di tengah kota dan semoga di kota-kota lain juga, biar teman semakin bertambah dan pengalaman bekarja semakin bertambah juga,” pungkasnya.] *Penulis: Nur Apiah B, Lismardiana *Editor: Nurul Wahda


SOROT

www.

washilah.com

Edisi 112| Jumadil Akhir 1441 Hijriyah | Februari 2020 Masehi

Dema-U Butuh Berbenah

Washilah - Kinerja Dewan Mahasiswa Universitas (Dema-U) UIN Alauddin Makassar di bawah nakhoda Junaedi tuai kritikan. Pasalnya, fungsi lembaga yang dipimpinya sudah terpapar jelas dalam buku saku tentang Pedoman Dasar Organisasi Kemahasiswaan Bab V Pasal 6 ayat 4 tidak di jalakan maksimal.

K

etua Senat Mahasiswa Universitas (Sema U) Ahmad Nur ansari beranggapan, selama masa periode Junaedi, pihak Dema-U belum melaporkan kepada Sema-U terkait kegiatan yang akan dilaksanakan. “Dema-U tidak pernah melaporkan kegiatan yang akan dilaksanakan, kegiatan yang telah dilaksanakan dan laporan pertanggungjawaban. Sehingga kita tidak tau apa saja Program Kerja (Proker) yang terlaksana. Kan kita yang sahkan program kerjanya harusnya kita tau,” terangnya. Ahmad juga menambahkan, ia sebenarnya tidak mengatakan bahwa kesalahan pengurus sebelumnya adalah sepenuhnya kesalahan Dema-U tapi bagi Ahmad ada yang rancu dalam proses berlembaga di UIN Alauddin Makassar. Sedangkan menurut Askar, hal yang menjadi keharusan organ internal adalah mengawal dan menindaklanjuti aspirasi mahasiswa yang berada di bawah garis kepemimpinannya dan dari sanalah ditarik menjadi Proker. ”Proker dalam lembaga lahir dari rumusan atau akar masalah,” tuturnya, Minggu (05/01/2020). Hal itu juga diamini oleh Ketua Dema Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI), Zulfikar yang menyayangkan kinerja Dema-U periode 2019 kurang transparan. ”Hari ini saya anggap Dema-U masih kurang transparan kepada seluruh Mahasiswa UIN Alauddin Makassar,” ucapnya, Rabu (25/12/2019). Ketua bidang organisasi pimpinan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) cabang Gowa, Muhammad Taufiqur Rahman, juga turut menyayangkan kepemimpinan Junaedi yang seharusnya mampu bersentuhan langsung dengan masyarakat kampus. “Presma sebagai seorang pimpinan dia seharusnya mampu membaca gerakan di bawah. Lebih mampu bersentuhan langsung dengan masyarakat kampus, civitas akademik ataupun juga mahasiswa. Itu yang kita tidak lihat dari cerminan kepemimpinan Presma sekarang,” pungkasnya, Senin (16/12/2019). Berbeda, Ketua Dema Fakultas Dakwah (FDK) dan Komunikasi justru memberikan apresiasi terhadap kinerja Dema-U yang sudah sangat maksimal dalam mengawal masalah dalam kampus hingga skala nasional. ”Bisa kita lihat beberapa penyampaian aspirasi mulai dari SK skorsing, pelarangan jam malam, serta aspirasi penolakan terhadap RUU yang kemarin sempat diaksikan di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat (DPR),” akunya. Saat dikonfirmasi, Ketua Dema-U periode 2019 Junaedi, menyangkal beberapa kritikan dari LK. Dirinya mengaku banyak mengadvokasi

kebijakan yang dikeluarkan pimpinan. ”Melalui diskusi langsung bersama pimpinan atau audience dan diperkuat dengan aksi yang dilakukan mahasiswa, hanya saja keputusan tetap ada pada pimpinan,” sangkal mahasiswa dari FDK ini. Menyoal UKT, menurutnya sudah tuntas, begitupun dengan isu yang lain. Bagi Junaedi, pihaknya telah melakukan usaha yang maksimal. ”UKT/BKT kan sudah tuntas yah di wilayah revisi kategori, tinggal pengawalan revisi selanjutnya lagi. Soal skorsing segala upaya sudah ditempuh tapi pimpinan bersih keras juga menolak, pelarangan jam malam saya pikir kita juga melakukan pengadvokasian. Solusinya dari pimpinan jam malam tidak dilarang jika ada izin dan pimpinan jaminkan selama itu kegiatan yang produktif untuk kampus pasti diberi izin,” tukasnya. Selain bidang advokasi, Dema-U periode 2019 juga mengadakan berbagai kegiatan. Diantaranya dialog interaktif, seminar keperempuanan, hingga kegiatan besar yang diberi nama Alauddin Fair. Menurut Junaedi kinerja realisasi Proker di periodenya hingga di penghujung periode saat

Aspirasi

ini telah melebihi 50%. ”Jika dipersentasekan, bisa dibilang sudah sampai 70%,” tegasnya. Hal ini juga dibenarkan oleh kader dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Muhammad Syauqi Mezal, bahwa realisasi Proker dari Dema-U periode 2019 telah mencapai persentase hingga 80%. ”Menurutku ada, pastilah ada (kinerja Dema-U), 80% lah berhasil”, tutur mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah ini. Kritik juga dilontarkan oleh salah satu Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Syariah dan Hukum, Safali. Menurutnya, Dema-U gagal mengadvokasi beberapa kasus yang terjadi di UIN Alauddin Makassar. “Kepengurusan Dema-U kurang mengakomodasi aksinya kawan-kawan, juga gagal mengadvokasi beberapa kasus. Contohnya kasus skorsing, pelarangan aktivitas malam, rekatorigasi UKT/BKT,” katanya. Mahasiswa Hukum Keluarga Islam ini juga menekankan bahwa keberadaan Dema-U tidak diperlukan jika tidak mampu mengakomodasi keresahan mahasiswa. “Tidak perlu kalau tidak mengakomodasi keresahan ribuan mahasiswa, bikin habis uang negara saja,” paparnya. PR Untuk Yoyo Ahmad Aidil Fahri Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum ditetapkan sebagai Ketua Dema-U terpilih. Ia mengalahkan tujuh rivalnya dengan perolehan suara

sebanyak 14 orang. Pria yang akrab disapa Yoyo ini memperoleh suara terbanyak d yaitu sebanyak 14 suara. Menjadi Ketua Dema-U terpilih, Yoyo akan diperhadapkan dengan banyak pekerjaan rumah, termasuk melanjutkan program manifesto tujuh tuntutan yang digagas oleh Dema-U periode 2018. ”Manifesto tujuh tuntutan yang pernah ada dikepengurusan saya, tetap dilanjutkan oleh kepengurusan ini,” terang Demisioner Dema-U 2018, Askar Nur. Hal itu dipertegas Ketua Senat Mahasiswa Universitas (Sema-U) Ahmad Nur Ansari. Menurutnya, ada banyak kekeliruan yang dilakukan Dema-U periode 2019. Oleh karena itu, menjadi tugas besar bagi pengurus Dema U selanjutnya.. ”Bahan evaluasi dari kinerja Dema- U periode 2019, mungkin belum bisa merangkul semua fakultas dan juga Lembaga Kemahasiswaan (LK) di tingkat Universitas serta masih ada beberapa program yang tidak terlaksana seperti manifesto tujuh tuntutan,” bebernya. Ahmad menambahkan bahwa besar harapannya kepada Dema-U terpilih agar lebih vokal mengawal isu dalam kampus. ”Saya berharap Dema-U terpilih mampu bersinergi dengan seluruh LK intra kampus yang ada di UIN Alauddin Makassar, khususnya Sema-U serta pro aktif dalam mengawal isu-isu kampus,” sambatnya. Setelah dikonfirmasi kepada Yoyo, ia mengaku sadar akan

5

tanggung jawab yang akan dilakukan selama satu tahun ke depan. ”Kita kembali ke garis perjuangan dan mengawal semua isu-isu yang ada baik isu kampus maupun isu di luar kampus,” jelasnya. ”Menyatukan LK yang ada di UIN dengan adanya sebuah wadah diskusi,” tambah Mahasiswa Jurusan Perbandingan Mazhab Hukum. Sedang menurut Wakil Rektor (Warek) III Prof Darussalam, kedepan Dema-U dan Sema-U harus paham tugas dan fungsinya masing-masing dan semua LK harus saling bersinergi. ”Kita berharap masing-masing paham bahwa wilayahnya Dema-U adalah bidang eksekutif, wilayahnya Sema-U adalah bidang legislatif. Dengan begitu, nanti kita berharap dua lembaga ini bersinergi,” harapnya. Prof Darussalam mengaku hanya mengawal setengah perjalanan kepemimpinan Junaedi. Akan tetapi, menurutnya, program Dema-U periode 2019 telah berjalan sesuai Prokernya. ”Saya lihat jalan, beberapa kegiatannya sudah berjalan. Jadi, saya tidak banyak mengikuti dari awal karena memang kan cuma beberapa bulan saya ketemu,” terangnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (03/02/2020). *Penulis: Nur Isna, Arya Nur Prianugraha, Agil Asrifalgi *Editor: Suhairah Amaliyah


6

LIFESTYLE

www.

washilah.com

Edisi 112| Jumadil Akhir 1441 Hijriyah | Februari 2020 Masehi

EXPO: Tampak seorang perempuan bercadar sedang melihat karya yang dipamerkan Texture di depan PKM, Selasa (3/12/2019)

Trend Expo di Kalangan Mahasiswa

W

orld expo (pameran dunia) berasal dari tradisi pameran nasional Prancis, oleh Afid Firdaus adalah sebuah tradisi yang mencapai puncaknya dengan Pameran Industrial Prancis 1844, diselenggarakan di Kota Paris. Pameran ini diikuti oleh negara lainnya di Eropa Daratan dan Britania Raya. World expo pertama yang paling terkenal diadakan di The Crystal Palace Hyde Park, Kota London, Britania Raya pada tahun 1851, dengan judul Pameran Besar Karya Industri Segala Bangsa. World expo, adalah gagasan dari Pangeran Albert, suami Ratu Victoria, dan biasanya dianggap sebagai pameran produk manufaktur internasional pertama. Pameran ini mempengaruhi perkembangan beberapa aspek masyarakat, termasuk pendidikan seni, desain, perdagangan, hubungan internasional, dan pariwisata. Acara ini telah membuahkan bentuk riwayat kehidupan Pangeran Albert yang terus tercermin dalam arsitektur London, termasuk dalam Albert Memorial yang didirikan kemudian. Pameran ini adalah preseden paling jelas bagi banyak pameran-pameran internasional, yang kemudian dinamakan "Pameran Dunia", yang terus diselenggarakan hingga saat ini. Sejak awal berdirinya pada tahun 1851, karakter pameran dunia telah berevolusi. Hal ini bisa dibedakan dalam tiga era industrialisasi, era pertukaran budaya, dan era nation branding. Di Indonesia sendiri expo

pertama diadakan pada masa prakemerdekaan tepatnya pada tahun 1778 dengan didirikannya Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Perkumpulan Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia). Sebuah lembaga kebudayaan yang didirikan di Batavia pada tahun 1778. Semenjak tahun 1910 lembaga ini dikenal dengan nama Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Kesenian dan Ilmu Kerajaan di Batavia). Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG) merupakan lembaga independen yang didirikan untuk tujuan memajukan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dalam ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusastraan, etnologi dan sejarah, BG menerbitkan hasil penelitian. Lembaga ini mempunyai semboyan “Ten Nutte van het Algemeen” (Untuk Kepentingan Masyarakat Umum). Lembaga ini adalah pelopor Museum Gajah dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang sekarang kedua-duanya berada di Jakarta. Memasuki era 4.O, expo tidak hanya pada tataran museum tapi merambah di wilayah kampus. Kampus merupakan miniatur negara, tentunya dalam pelaksanaannya ada kemiripan di dalamnya, misalkan expo pada umumnya kegiatan untuk memperkenalkan suatu bentuk institusi kepada khalayak. Namun seiring perkembangan waktu expo

dijadikan sebagai ladang meraup keutungan bagi lembaga kemahasiswaan. Hal ini dirasakan melalui kreativitas dan inovasi mahasiswa kampus yang berjuluk Kampus Peradaban UIN Alauddin. Trend expo berubah menjadi budaya baru di kalangan mahasiswa, tak heran seiring berjalannya waktu, para HMJ berlomba-lomba mengadakan acara besar dengan open tenant agar acara tersebut lebih meriah. Kehadiran tenant sekaligus menjadi lahan galang dana bagi HMJ yang mengadakan expo. Panitia pelaksana akan memberikan peluang bagi para distributor untuk memasarkan jualannya di tenant yang telah disediakan. Jika kita melihat satu tahun ke belakang mereka mengadakan kegiatan dengan bermacam item acara, tak hanya pertunjukan seni tapi mereka menyelipkan berbagai kegiatan bermanfaat seperti workshop atau kegiatan literasi yang tentunya hal ini merupakan kegiatan positif yang bermanfaat dan menjadi wadah bagi mahasiswa dalam meningkatkan kreativitasnya. Salah satu jurusan di Fakultas Ilmu Kesehatan dan Kedokteran (FKIK) yakni Kesehatan Masyarakat (Kesmas) melaksanakan dua program kerja dengan konsep trend expo yaitu inaugurasi dan winslow. Untuk inaugurasi di FKIK yang pertama kali mengadakan inaugurasi yakni dari Jurusan Kesmas, ketika ditanya mengenai terinovasi dari mana, dari pengurus HMJ khususnya Bidang Minat dan Bakat mengatakan bahwa inaugurasi sebagai wadah untuk menyalurkan

kreativitas dan bakat bagi para mahasiswa Jurusan Kesmas. Fakultas Dakwah dan Komunikasi pun terhitung sering mengadakan kegiatan trend expo. Pekan Raya Jurnalistik (PRJ) merupakan kegiatan trend expo yang diadakan Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang sudah berlangsung sejak tahun 2017. Gufran selaku ketua HMJ dari Jurusan Jurnalistik mengungkapkan bahwa kegiatan besar ini merupakan kegiatan pameran hasil karya dari mahasiswa jurnalistik, seperti pameran foto. "PRJ ini merupakan kegiatan wajib sekaligus juga ajang eksistensi HMJ Jurnalistik di tingkat fakultas maupun jurusan. dikemas dengan konsep yang menarik dan berbeda setiap tahunnya,” Kata Gufran. Sedangkan Jurusan Peternakan Fakultas Teknik dan Sains, yang baru pertama kali mengadakan expo tahun ini bertajuk Peternakan Fest mengaku melakukan kegiatan tersebut karna termotivasi dari jurusan lain di UIN Alauddin Makassar yang terlebih dahulu melakukan festival semacam ini. Sayyidul Istigfar selaku ketua HMJ dari Jurusan Peternakan mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi ajang untuk menyalurkan ekspresi bagi HMJ, selain itu ajang ini juga bertujuan memperkenalkan jurusannya kepada mahasiswa yang lain. “Kegiatan kami kemarin yang merupakan kegiatan pertama di jurusan, selain menunjukkan eksistensi, tapi kita juga mencoba

membuat sesuatu yang berbeda ketimbang periode-periode kepengurusan sebelumnya di HMJ Peternakan. Peternakan Fest sekaligus juga menjadi kegiatan akhir periode di HMJ,” tuturnya. Sehubungan dengan trend expo yang berkembang di kalangan mahasiswa, Wakil Rektor III Prof Darussalam mengungkapkan pendapatnya terkait kegiatankegiatan HMJ yang mengambil konsep expo, dia memberikan dukungan agar kreativitas mahasiswa tetap ditingkatkan, selain itu dia juga berharap kegiatan yang sehubungan dengan konsep expo itu bisa go international. “Sepanjang itu kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan prodi-prodi mereka, kegiatan tersebut sebagai ajang ekspresi yang sesuai dengan spesialisasi prodi masing-masing jurusan,” tuturnya. Tapi menurutnya, expo yang diadakan HMJ bukan hanya menjadi tren ikut-ikutan antar sesama HMJ, tetapi memiliki dampak bagi mahasiswa sesuai dengan jurusannya. Sehingga kesan yang timbul bukan hanya pasang-pasang tenant kemudian menjajakan jualannya, tetapi HMJ bisa mengadakan kegiatan itu karena orientasinya sesuai dengan bidangnya. *Penulis: Iva Anugrahwati, Hikma Aulia Ramadhani *Editor : Nurul Wahda Marang


www.

washilah.com

Pengabdian 45 Hari Tak Efektif

KKN - Kerja bakti Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) angkatan 61 UIN Alauddin Makassar di Desa Pattallikang Kec. Manuju Kabupaten Gowa, (7/12/2019).

Washilah – Tiga angkatan sudah pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Alauddin Makassar berlangsung selama 45 hari. Dari sebelumnya dilaksanaan selama dua bulan atau 60 hari. Perubahan durasi pengabdian 15 hari menuai polemik di kalangan mahasiswa karena dianggap tidak maksimal.

M

ahasiswi KKN Angkatan 59, Reza Putri Anugrah berpendapat durasi 45 hari mengabdi di desa binaan dianggap tidak maksimal untuk menyelesaikan program kerja yang dicanangkan.”Jangka waktu yang hanya 45 hari saya rasa belum maksimal, menurut saya terlalu singkat untuk bisa melaksanakan proker yang sudah direncanakan, tetapi dengan memanfaatkan waktu dengan baik, Alhamdulillah semua proker bisa berjalan dengan lancar dan selesai tepat waktu,” kata Mahasiswi Jurusan Kesejahteraan Sosial Fakutas Dakwah dan Komunakasi (FDK).

7

AKADEMIKA

Edisi 112| Jumadil Akhir 1441 Hijriyah | Februari 2020 Masehi

Komentar penolakan juga datang dari salah satu Mahasiswa KKN Angkatan 56 yang melaksanakan pengabdian selama 60 hari yakni Nawir. Menurutnya, masa KKN seharusnya tidak dikurangi, kebijakan tersebut bisa mempengaruhi efektifitas kerja mahasiswa. “Program KKN adalah salah satu implementasi dari Tri Dharma perguruan tinggi, yang semestinya jangka waktu bukan dikurangi tetapi ditambah, agar pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat lebih maksimal,” tegas Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik

angkatan 2013 itu. Kepala Lembaga Pengabdian Masyarakat (LP2M), Muhammad Suhufi M Ag mengaku pengurangan terkait waktu KKN dilakukan agar mahasiswa dapat menyelesaikan studinya dengan waktu yang sudah ditetapkan pihak kampus yakni empat tahun. “Yah jadi sebelumnya itu masa KKN dilaksanakan selama dua bulan, kemudian kita kurangi menjadi 45 hari untuk menyesuaikan dengan kurikulum yang ada di UIN Alauddin Makassar. Memang mahasiswa di lokasi 45 hari, tetapi sebelumnya turun lapangan didahului pembekalan selama lima

hari, kemudian dilakukan pelaporan tujuh hari setelah penarikan dari lokasi, hal itu juga kami ambil agar mahasiswa kami dapat menyelesaikan program studi dengan tepat waktu,” terangnya. Padahal beberapa masyarakat mengaku program KKN khususnya mahasiswa UIN Alauddin Makassar banyak memberi dampak positif, (postifnya apa?) di kalangan masyarakat dan di jajaran pemerintahan yang mereka tempati selama proses pengabdian. Karena dampak baik yang di rasakan, Kepala Desa Kanreapia H rusli Yusuf mengapresiasi kinerja para mahasiswa yang melaksankan KKN. Dia menganggap mahasiswa sebagai komponen yang membantu pihak pemerintah untuk memajukan desa dan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). ”Para mahasiswa KKN UIN Alauddin Makassar yang sering ditempatkan di desa kami sangat membantu untuk memajukan desa, dan meningkatan kualitas SDM desa kami, sosialisasi terkait pendidikan yang sering dilakukan masyarakat dapat lebih jauh mengenal terkait pendidikan” ujar Rusli Senada dengan itu masyarakat Desa Kanreapia Dg Aso Aziz juga merasa mahasiswa KKN UIN Alauddin Makassar di kampungnya banyak membantu, dengan penyuluhan atau sosialisasi yang sering dilakukan, dengan adanya para mahasiswa itu, ia melihat pemuda termotivasi untuk serius melanjutkan pendidikannya. “Para mahasiswa KKN UIN Alauddin Makassar sangat berpartisipasi dalam pembangunan di desa Kanreapia, perannya terhadap masyarakat sangat bermanfaat dengan seringnya digelar sosialisasi tentang pertanian maupun terkait pendidikan, juga hal-hal lain terkait kesejahteraan masyarakat, harapan kami masyarakat di Desa Kanreapia semoga para mahasiswa KKN terus berpartisipasi di desa kami, karena adanya mahasiswa KKN manfaatnya untuk masyarakat

dan desa sangat banyak, juga dapat menjadi motivasi pemuda untuk selalu melanjutkan pendidikannya,” ungkapnya. Selain Desa Kanreapia, Desa Bontonompo juga merupakan salah satu lokasi yang sering ditempati mahasiswa KKN UIN Alauddin Makassar, Kepala Desa Bontonompo Hamzah, Mahasiswa KKN ikut berpartisipasi membangun desa, program-program yang dilakukan sesuai dengan masyarakat harapkan. “Dampak positifnya yang pertama itu masalah keaktifan mahasiswa yang KKN di sini sosialisasinya ke masyarakat, yang kedua itu mereka mengajar di TKTPA, dengan membantu guru TKTPA, membagi ilmu kepada anak-anak santri, yang ketiga itu program penghijauan yang dilakukan mahasiswa KKN, yang juga menjadi program yang selalu di butuhkan dan diusulkan masyarakat kepada mahasiswa yang melakukan KKN di sini,” ungkapnya. Tidak sedikit pemerintah dan masyarakat berharap setiap angkatan pelaksanaan KKN mahasiswa di tempatkan di desanya, karena banyak mendapatakan hal positif selama proses pelaksanaan pengabdian, Proses penempatan mahasiswa KKN dilakukan kerjasama dengan pemerintah kota atau kabupaten. Kemudian dilakukan survey ke lokasi, mengonfirmasi camat, dan lurah atau kadesnya untuk mendapatkan persetujuan. “Penentuan lokasi berdasarkan Standar Operasional (SOP) dengan menghubungi Kantor Bupati untuk mendapatkan rekomendasi lokasi, setelah dapat lokasi, dilakukan survey ke lokasi tersebut, camat dan lurah atau kadesnya untuk penempatan mahasiswa yang bersyarat KKN,” ungkapnya. *Penulis: Pelita Nur, Hendra J. *Editor: Suhairah Amaliyah

UIN Alauddin Akan Terima 5498 Maba Washilah - UIN Alauddin Makassar menyediakan kuota mahasiswa baru tahun akademik 2020-2021 sebanyak 5498 orang. Jumlah ini merupakan gabungan kuota dari lima jalur masuk di UIN Alauddin. Lima jalur masuk tersebut yakni Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPN), Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN), Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) dan Ujian Masuk Mandiri (UMM). Pada jalur SNMPTN dan SBMPTN, UIN Alauddin hanya menyediakan 16 jurusan pilihan. Untuk jalur SPAN-PTKIN dan UM-PTKIN menyediakan 37 jurusan pilihan. Sementara pada

jalur UMM semua jurusan di UIN Alauddin dapat dipilih. Berdasarkan data yang diperoleh dari bagian akademik UIN Alauddin Makassar, untuk kuota setiap jalur masuk di UIN Alauddin berbeda beda. Pada jalur SNMPTN memiliki kuota sebanyak 319 orang, SBMPTN 639 orang, SPAN PTKIN 780 orang, UM-PTKIN 1560 orang, dan UMM memiliki kuota 1649 orang. Kepala bagian akademik UIN Alauddin Makassar Harianto mengatakan, tahun ini UIN Alauddin tidak lagi membuka jalur ujian Masuk Khusus (UMK) seperti pada penerimaan tahun akademik 2019 lalu. Lantaran lima jalur masuk yang ada saat ini dianggap cukup untuk memenuhi jumlah kuota mahasiswa baru UIN Alauddin Makassar.

PBAK - Sejumlah Maba Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam sedang mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK), berlangsung di pelataran Fakultas, Selasa (3/09/2019).


8

TESTIMONI

www.

washilah.com

Edisi 112| Jumadil Akhir 1441 Hijriyah | Februari 2020 Masehi

21 Wajah Baru Seiring berjalannya waktu generasi demi generasi terus hadir di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Informasi Mahasiswa Alauddin (LIMA) UIN Alauddin Makassar. Warna baru pun saling bergantian datang mengisi. Hingga kini generasi kulit tinta Washilah terus ada. Sebanyak 21 orang awak baru UKM LIMA akan meneruskan

M. Shoalihin Washilah adalah Lembaga Pers Mahasiswa UIN Alauddin Makassar. Satu prestasi yang besar bagi saya, karena telah resmi dikukuhkan menjadi Reporter di media mitra kritis kampus ini, sebab secara eksistensialisnya nampak jelas sebagai jalan perlawanan terhadap hal-hal yang tak sejalan dengan paham kemanusiaan yang ada di kampus tercinta. Jika ditanya mengapa ber Washilah, tidak banyak yang bisa diungkapkan selain berorientasi pada penyadaran individu dan penyadaran kolektif lalu akan sampai pada satu kesimpulan bahwa Washilah adalah jalan sunyi untuk berbicara tapi tidak dengan mulut melainkan karya. Sebab semua manusia pasti lelah berada di bawah cengkeraman keterbatasan maka pilihan terbaik adalah belajar lalu bangkit berbicara. Terima kasih Washilah telah menjadi keluarga kecil yang membahagiakan di tanah perjuangan.

Ardiansyah Semua materi kajian dan belajar hanya fokus pada materi tentang Jurnalistik sehingga saya sempat merasa “sepertinya saya salah memasuki UKM�. Namun lambat laun saya mulai merasa sedikit nyaman akan itu, turun kelapangan dan membaca masalah yang terjadi, menemui narasumber untuk dimintai keterangan terkait isu-isu hangat seputar kampus dan mengemasnya menjadi sebuah tulisan yang menarik untuk dibaca membuat saya merasa senang. Akhirnya dari rasa ketidak nyamanan itu berubah menjadi rasa suka terhadap apa yang digeluti oleh UKM LIMA ini.

Pelita Nur Setelah sekian waktu berjalan dengan sistem kerja redaksi di Washilah barulah saya menyadari bahwa menjadi jurnalis tak cukup hanya bermodal kemampuan teknis saja tapi juga harus memiliki jiwa idealisme, sikap kritis serta diimbangi wawasan yang luas. Dan kesempatan saya untuk bertemu dengan orang-orang penting dengan segudang ilmu penting yang tidak saya dapatkan dari bangku perkuliahan. Sehingga wawasan saya bertambah dan mendapat kesempatan langka yang belum tentu semua mahasiswa bisa mendapatkannya.

Arya Nur Prianugraha Masih teringat jelas sebuah artikel berjudul ’Gara Gara Pram’ yang saya tulis hampir sehari semalam untuk tiket screening di UKM LIMA Washilah, artikel itu berisi alasan saya untuk berwasilah, secara keseluruhan artikel itu menyiratkan quote dari pram �menulis adalah jalan menuju keabadian. Berangkat pada alasan saya berwasilah yang saya tuliskan pada sebuah artikel berjudul ’Gara Gara Pram’ akhirnya setelah magang 9 bulan hari ini saya sadar �Semua orang bisa menulis, tapi tidak semuanya dikenang.�

Nur Apiah B. Bagi saya Washilah itu lebih dari sekedar organisasi. Salah satu alasan yang membuat saya betah di sini yaitu senior-senior dan teman-teman yang baik, kritis, lucu dan tak memandang perbedaan walaupun berada di jurusan yang berbeda sehingga menjadi tempat yang nyaman untuk belajar, melepas lelah bahkan bermain. Disini kita bisa belajar banyak hal, bukan hanya belajar keorganisasian, kekeluargaan, tapi kita juga bisa belajar tentang dunia pers. Gabung di Washilah itu baik daripada keluyuran nggak jelas.

perjalanan lembaga ini. Usai belajar sebagai anggota magang selama sembilan bulan dan berkutat dengan persaingan demi menjadi pengolah, mereka kini menjadi warna baru. Mereka siap mengemban amanah besar untuk sivitas eks IAIN Alauddin. Tak lain ialah memberikan informasi seputar UIN Alauddin kepada sivitas.

Lismardiana Reski Washilah bukan sekadar organisasi oahasiswa. Ini adalah lembaga yang menjadi wadah untuk mahasiswa-mahasiswa pilihan yang dididik untuk menjadi insan pers yang profesional dan siap memegang tanggung jawab dalam dunia pers. Washilah menjadi wadah untuk mengembangkan minat dan bakat serta menaungi kreativitas mahasiswa-mahasiswa UIN Alauddin Makassar. Hanya di Washilah saya bisa menjadi apa saja, karena saya punya peluang untuk bertemu siapa saja dari kalangan manapun dan profesi apapun itu. Tidak semua mahasiswa bisa merasakan itu.

Irmayanti Di Washilah kita belajar hal hal dari nol sampai bisa, yang menyenangkan saat dijalani meskipun yah tulisanku tidak sebagus teman teman. Washilah membentuk manusia yang berkualitas, bukan hanya berlembaga saja, inilah nilai plus yang saya suka. Semoga kedepannya karya saya bisa lebih banyak lagi.đ&#x;™?

Iva Anugrah selama masuk Washilah apa yang aku pikirkan ternyata berbalik 180 derajat guys. Ya emang aku engga pernah punya pengalaman ikut berorganisasi juga. tapi selama saya magang di Washilah memberikan dampak yang sangat besar buat aku pribadi. dan Washilah aku bisa berkomunikasi dengan banyak orang.

Henra J Magang di Washilah dengan jangka waktu sembilan bulan, menurut saya proses ini merupakan penyeleksian untuk mendapatkan kualitas SDM yang nantinya akan melanjutkan roda Organisasi kedepan, tentunya waktu sembilan bulan bukan hal yang cepat, dengan waktu yang cukup panjang sudah banyak momen yang telah di lewati juga pembelajaran, yang sangat bermanfaat untuk kedepannya. WASHILAH KEREN !!!

Reza Nur Syarika Sembilan bulan masa magang di Washilah banyak suka dan dukanya. Dukanya selama proses pemagangan saya banyak diantaranya saat mencari narsum, menunggu narsum, ditolak narsum tapi ditiap duka selalu terselip suka, sukanya selama menjadi anggota magang saya memiliki banyak teman dan senior bahkan di semua fakultas dan itu menjadi kebanggaan tersendiri, selama proses pemagangan pun saya banyak mendapatkan ilmu yang tidak akan saya dapatkan di ruang kelas. Saya sangat bersyukur ada dan berproses di washilah.


www.

washilah.com

9

TESTIMONI

Edisi 112| Jumadil Akhir 1441 Hijriyah | Februari 2020 Masehi

Hikma Aulia Ramadhani Salam manis dari perempuan manis asal Kota Watansoppeng, daerah penuh perempuan bugis yang malebbi. Sembilan bulan pemangangan membuatku membuka mata dan telingaku bahwa sebuah pencapaian yang bagus akan dilalui dengan proses yang keras dan butuh tenaga yang banyak, itulah yang sampai saat ini saya sesalkan mengapa sistem di washilah dalam proses kaderisasi tidak hanya menumbuhkan rasa cinta kita terhadap lembaga tapi ingin menunjukkan eksistensi kita sebagai lembaga pers yang sudah seharusnya meneruskan jejak langkah senior yang sudah membangun washilah sesukses sekarang.

Nur Isna Mulyani Rasya Dari sini saya memahami bahwa kekuatan informasi sangat penting, apalagi dimasa teknologi sedang berkembang pesatnya, dibutuhkan pengendali sehingga yang sampai di masyarakat itu informasi yang valid, bukan sekedar clickbait, dan saya belajar banyak di Washilah bagaimana mengumpulkan data, dll.Selain dunia pemberitaan, di Washilah juga saya dapatkan kelembagaan sekaligus kekeluargaan. Disini semua kebaperan saya perlahan dikikis, senioritas tetap berlaku tanpa menghilangkan rasa saudara.

Ulfa Rizkia Saya merasakan adanya rasa kekeluargaan yang kuat selama saya magang di UKM LIMA Washilah, bukan cuma rasa kekeluargaannya tapi saya juga mendapatkan banyak ilmu selama sembilan bulan magang tapi jujur saya pernah merasakan jenuh dalam proses pemagangan, saya juga pernah punya niat untuk keluar dari washilah tapi karena rasa cinta saya kepada washilah begitu besar sehinggah saya masih bertahan sampai sekarang.

Ardiansyah Safnas Waktu yang tak sebentar, semua penuh dinamika yang rumit, susah senang dan beberapa drama-drama yang terkadang muncul begitu saja, sebelumnya saya sendiri diangkatan ada 34 orang, namun seleksi alamlah yang membuat kami tersingkir satu persatu dan sampai saatnya kami di kukuhkan hanya 21 orang, hanya itulah yang tersisa. Saya harap kedepannya orang-orang tangguh inilah yang akan membawa Washilah menjadi Pers kampus yang terdepan se-Sulawesi maupun hingga menembus Nasional dan tidak menutup kemungkinan hingga skala Internasional.

Ilham Hamsah *Jembatan* Mungkin jika disebut testimoni, cerita saya ini selama di washilah layak untuk saya masukan kedalam catatan sejarah hidup saya, awal memutuskan untuk menjadi bagian dari washilah saya merasa ambigu, karena memang basic utama saya sebenarnya ditempat berbeda, tapi seiring waktu washilah membentuk pribadi saya menjadi lebih baik, mungkin tidak sempurna tapi setidaknya membuat pola pikir saya sedikit berubah menjadi lebih skeptis lagi untuk melihat suatu permasalahan, walaupun kadang diri masih sering dikontrol tingginya ego dan sempat ingin memutuskan berhenti, tapi saya akhirnya bisa sampai di titik sekarang ini.

Mutmainnah S Sabrah Saya selama berwashilah, merasakan pembelajaran dan pengalaman yang sangat luar biasa dan I’m very proud and valuable to be here, hopefully forever.

Agil Asrifalgi Aulya Febrianti Bermula ketika magang di washilah merupakan tantangan besar bagi saya pribadi sebab bukan hal mudah ketika kita berproses di dalam suatu ruang kemudian dibatasi oleh waktu dan tugas agar bisa menjadi anggota biasa. Washilah tempat dimana saya belajar sabar, kuat, dan tekun dalam berproses sampai tiba saya dan teman teman dikukuhkan kami merasa bangga dengan masuknya kami dikelurga kecil UKM LIMA Washilah.

Sigit Sedikit bercerita tentang masa magang saya di Washilah, selama masa magang suka dan duka berbanding sama rasanya. Misalnya, saya tidak suka ketika sementara ada urusan penting yang saya kerjakan, tiba-tiba diminta untuk meliput atau kerja tugas peminatan. Tapi senangnya ketika saya mengerjakan itu saya bisa menghasilkan sebuah karya lagi, tapi selalu saya maklumi ketika berada di rujab, karena berhubung kita yang paling muda. Pasti kerja-kerja kacung selalu mengarah kepada saya, sebenarnya saya tidak masalah jika tidak ada yang dikerjakan. Masalahnya kakak-kakak tercinta sudah lihat kita kerja sesuatu, tetap saja menyuruh.

Waktu begitu cukup lama untuk menjalani fase pemagangan di salah satu lembaga informasi atau sering di sebut washilah, sembilan bulan lamanya tentu menciptakan banyak dinamika yang terjadi di lembaga yang saya ikuti, dengan dalih agar bisa tetap berproses saya terus berusaha untuk bisa bertahan, walaupun saya sendiri terkadang malas untuk turun liputan, dan ternyata kemalasan diciptakan dari rasa nyaman sebuah zona, katakan saja zona rebahan.

Ridah Amaliah Hamzah Setelah menjalani proses pemagangan selama sembilan bulan, saya belajar banyak tentang lembaga dan kekeluargaan. Suka duka saat menjadi panitia dalam beberapa kegiatan UKM LIMA juga membuat saya semakin mengenal teman seperjuangan. Terima kasih Washilah.

Alam Karpiadi Sembilan bulan magang, sempat ingin keluar, berulang-ulang kali rasa ingin berhenti itu muncul, karena disana dengan semboyang yang entah siapa dan muncul kapan mengatakan bahwa ”Di Washilah itu tidak ada pengkaderan, tapi setiap hari kalian dikader”. Tapi lagi-lagi rasa untuk bertahan tak mau kalah, mengaung dan memberontak, dan akhirnya saya Dikukuhkan, tapi bukan hanya sampai disini, ada pangkaderan selanjutnya yang harus diselesaikan. Dan sayapun yakin, ini bukan sesuatu yang buruk, cuman jalannya saja yang tak mulus, saya pun teringat dengan kalimat dari senior ”Ini untuk kita yang ingin maju, yang ingin lebih cepat satu langkah” katanya.


10

E

OPINI

www.

Edisi 112| Jumadil Akhir 1441 Hijriyah | Februari 2020 Masehi

Demokrasi Kampus, Mati di Tangan Rektor Hamdan

mpat bulan lalu, tanggal 27 Juli 2019 pemilihan Rektor Uin Alauddin Makassar, menuai hasil dan Prof Hamdan Juhannis keluar sebagai kandidat terpilih yang ditunjuk langsung oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Penunjukan rektor dan syarat pencalonan sesuai yang diatur dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 68 tahun 2015. Dua bulan usai dilantik di Jakarta, Selasa 23 Juli 2019 lalu. Rektor Hamdan Juhannis, mengeluarkan surat Edaran terkait pelarangan aktivitas malam di kampus dengan No.B/8/0/Un.06.I/PP.009/10/2019. Edaran tersebut menuai respon penolakan berbagai pihak, dan mahasiswa yang tergabung dalam “Aliansi Mahasiswa UINAM Melawan Takdir” rutin melakukan aksi dengan berbagai bentuk, seperti demonstrasi, kampanye, dan panggung bebas ekspresi serta berbagai upaya lainnya, agar tidak tinggal diam atas kebijakan rektor

yang dikeluarkan secara sewenangwenang. Pelarangan aktivitas malam, sangat kontradiksi terhadap apa yang diatur dalam UU No.12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi pasal 4 (b) dan pasal 14 ayat 1, begitupula dengan Statuta UIN Alauddin Makassar pasal 66 (b) dan pasal 68. Empat pasal dari kedua aturan tersebut saling mendukung satu sama lain dan secara tersirat tidak mendukung pelarangan aktivitas malam sebagai ruang pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler. Maka hal tersebut melegitimasi kegiatan yang dilakukan oleh lembaga intra maupun lembaga ekstra kampus sebagai bentuk pendidikan. Namun, pelarangan aktivitas jam malam yang dikeluarkan oleh rektor tidak memperhatikan hal tersebut dan melihat kondisi mahasiswa yang tinggal dalam asrama kampus. Selain pelarangan aktivitas malam oleh kebijakan rektor Hamdan. Atas nama kampus asri, sejumlah bale-bale

mahasiswa dibongkar. Bale-bale yang dibongkar pada saat itu, HPMT Kabupaten jeneponto, IPMIL, HIPMA Gowa, Mahasiswa Fakultas Teknik, MAPALASTA, KPMPM Mandar, KMP Pinrang, IMPS Soppeng. Mereka membangun bale-bale berdasarkan inisiatif dan kebutuhan mahasiswa sebagai ruang pengembangan intelektual mahasiswa seperti kajian, rapat dan sejumlah kegiatan lainnya yang bersifat ekstrakulikuler di kampus. Mal-administrasi atas penunjukan pejabat kampus pun ikut serta dalam semrawutnya kebijakan rektor, seperti memilih Dekan Fakultas, Ketua Jurusan, dan Sekretaris Jurusan yang bertentangan dengan PMA No. 68 tahun 2015, pasal 28 f dan g serta pasal 43 bagian A, Sedangkan rektor terpilih karena peraturan tersebut, namun setelah terpilih, dia tidak menggunakannya lagi. Kerisauan civitas akademika di UIN Alauddin Makassar dengan berbagai kebijakan rektor yang jauh

Oleh: Surahman Tiro dari kata “Demokratis” merupakan matinya demokrasi di kampus, sebab tidak terpenuhinya pemenuhan prinsip paling dasar dalam demokrasi, seperti penghormatan atas hukum, kebebasan berkumpul dan berserikat. Iklim kampus yang dipenuhi khasanah intelektual seperti diskusi-diskusi kecil di bale-bale dimana gagasan diadu dan terus dikembangkan. Dalam perspektif konstruktivisme, proses tranksaksi ide-ide perubahan dan gagasan yang

washilah.com

revolusioner dari mahasiswa terbentuk dari interaksinya dari semua elemen dalam kampus. Alhasil kampus menjadi lahan bisnis yang sangat subur dan mapannya relasi kekuasaan atas kelompok tertentu. Berubalah kampus yang seharusnya lebih dominan melakukan aktivitas untuk menunjang kualitas intelektual, menjadi tempat diterapkannya serangkaian kebijakan seperti privatisasi dan komersialisasi ruang-ruang pendidikan. Pembangunan dilakukan lebih dominan untuk wilayah fisik seperti pembanguan WC, Perbaikan AC dll, yang semuanya harus sesuai standar internasional agar kampus bisa terakreditasi sebagai world Class University (Baca: A. Mario Hikmat.A, Merebut hak atas kampus, 2016). Matinya demokrasi kampus di UIN Alauddin Makassar dengan berbagai macam kebijakan rektornya, kritisisme dan perlawanan dalam kampus memiliki posisi penting, untuk tetap digulirkan hingga mengubahnya. *Penulis merupakan AlumnusFakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Cinta, Kewarasan, Hingga Kekerasan Seksual

Oleh: Ach Faras Bukhari Jangan pernah bertanya “kenapa?” kepada orang yang jiwanya sesak dipenuhi cinta, tak terkecuali yang mencintai diri dan egonya sendiri

C

inta benar-benar memabukkan, membuat seorang yang mengaku paling waras terlihat seperti orang gila. Membuat seorang yang begitu cerdas terlihat sangat tolol. Semua orang punya keahlian, tapi dihadapan cinta, semua orang adalah pemula. Di hadapan cinta kau sulit menjelaskan kenapa kau rela menghabiskan waktu untuk sekedar menunggu ucapan “selamat pagi” dari seorang yang begitu kau kasihi, atau mungkin menjelaskan kenapa kau tak bisa berhenti tersenyum saat membaca pesan “makan dulu, biar gak sakit” dari orang yang bahkan bukan siapa-siapamu. Ada begitu banyak kisah cinta yang melegenda, mulai dari Qays si “Majnun” yang meninggal di tepi kuburan Laila, perempuan yang membuatnya jatuh hati, meski tak pernah sempat ia miliki, kisah cinta Romeo Juliet yang abadi dalam kematian sebab hidup di tengah konflik keluarga besar Capulets dan Mountage, sampai kisah

pengorbanan Raja Shah Jahan membangun Taj Mahal dalam kurun waktu 11 tahun untuk membuktikan cintanya kepada mendiang istrinya, Mumtaz Mahal yang meninggal setelah melahirkan anak ke-XIV-nya. Tentu tak perlu menjadi salah seorang di antara ketiganya, cinta punya ribuan bentuk lain. Seorang Ayah yang memeras keringat demi semangkuk sup hangat di musim dingin untuk keluarganya, seorang pejuang yang berjudi dengan kematian demi kibaran bendera negara yang kelak menginjak leher cucunya, atau kisah seorang Rabiah Al-Adawiyah yang justru memilih sendiri sampai akhir hayatnya demi cinta kepada pencipta-Nya. Ya, cinta begitu abstrak, begitu kaya akan tafsir, rahim yang melahirkan segala bentuk sikap dan perbuatan. Sebab itu pula, ada orang yang rela membakar hutan, mengeruk gunung, menimbun laut demi cintanya kepada uang, membantai jutaan manusia demi kekuasaan, membuang malu demi ketenaran, atau bunuh diri demi cintanya pada keheningan. Cinta mempunyai banyak wajah, dan yang terburuk adalah kekerasan. Kita bisa menemukan ada sangat banyak kekerasan yang dilakukan di atas panji demi agama, demi suku, demi rakyat atau yang paling dekat adalah demi hubungan yang awet ke lawan jenis. Korbannya bisa orang tua, anak-anak, laki-laki, dan perempuan, baik yang sudah menikah maupun yang masih dalam status komitmen hubungan serius alias pacaran. Perempuan adalah orang yang paling rawan mendapatkan kekerasan, menurut data yang dikeluarkan WHO, 35% perempuan-perempuan di seluruh dunia mengalami kekerasan fisik

maupun kekerasan seksual, baik dari pasangannya ataupun dari orang lain. Secara global, 38% wanita telah tewas dibunuh oleh pasangannya. Sementara menurut UN Woman 70% perempuan mengalami kekerasan fisik dari pasangan hidup mereka. Di Indonesia sendiri menurut data Catatan Tahunan (Catahu) Komnas Perempuan yang dikeluarkan pada 8 Maret 2016 lalu, jumlah kekerasan terhadap istri di tahun 2015 mencapai 6.725 kasus, kekerasan dalam pacaran mencapai 2.734 kasus dan kekerasan terhadap anak perempuan mencapai 930 kasus. Sementara kasus perkosaan mencapai 2.399 kasus, pencabulan 601 kasus, dan pelecehan seksual 166 kasus. Selanjutnya masih dari Catahu Komnas Perempuan, laporan mengenai kekerasan terhadap perempuan setiap tahun meningkat. Rilis terbaru yang dikeluarkan tahun 2019, kekerasan terhadap perempuan di tahun 2018 meningkat sampai 14% dari tahun sebelumnya. Ada sangat banyak perempuan yang tidak menyadari bahwa ia terjebak dalam toxic relationship. Alih-alih menumbuhkan kasih sayang, empati, saling support, dan senantiasa saling memupuk welas asih dalam hubungan yang sehat. Malah sebaliknya dalam hubungan semacam ini, seseorang cenderung merasakan emosi negatif, dan konflik batin yang mendalam pada dirinya. Hubungan beracun menyebabkan tumbuhnya amarah, depresi, kecemasan hingga berujung pada praktik kekerasan satu sama lain kepada pasangan. Celakanya, atas nama cinta itu sendiri, korban kekerasan terkadang bersikap mewajarkan, bahkan justru menyalahkan dirinya. Dalam sejumlah kasus,

tidak sedikit korban yang terjebak pada toxic relationship yang enggan mengakhiri hubungannya meski sudah tidak layak lagi dipertahankan. Perasaan takut mendapat intimidasi, malu, atau yang paling naïf adalah karena percaya pada “harapan” bahwa pasangannya akan berubah menjadi lebih baik setelah mengemis dan berlutut di kakinya. Kekerasan kerap terjadi akibat adanya ketimpangan relasi kuasa (Dosen ke mahasiswi, atasan ke bawahan), relasi gender atau budaya patriarki yang acap kali menjadikan perempuan sebagai pihak yang ter-subordinasi. Selain itu, tekanan dari lingkungan sosial dan infrastruktur hukum yang belum mampu melindungi hak korban kekerasan juga menjadi faktor yang membuat para korban memilih bungkam. Misalnya saja dalam kasus perselingkuhan, perempuan (sebagai orang ketiga) selalu diposisikan sebagai penyebab tunggal rusaknya sebuah hubungan, sedangkan ketika orang ketiga adalah laki-laki, perempuan yang berselingkuhlah yang akan tetap dianggap sebagai perempuan yang “tidak baik” “nakal” atau “genit”. Dalam kasus hamil diluar nikah juga kurang lebih sama, perempuan selalu menjadi objek hujatan yang cenderung mendapat sanksi sosial berlebihan, dianggap “hina”, “pendosa”, dan “tidak suci”. Ketimbang menawarkan jalan keluar, dan memberikan dukungan secara psikologis, lingkungan sosial cenderung menjadi hakim moral yang menyebabkan perempuan kian merasakan beban sosial yang begitu berat. Padahal dukungan psikis dan moril dari lingkaran sosial terdekat korban, seperti teman, guru/dosen, keluarga sangat penting untuk membantu

menguatkan perempuan keluar dari tekanan berat ini. Sepertinya lebay?. Tapi itu bisa menjadi sebab kenapa beberapa memilih menggugurkan kandungannya (aborsi) dibanding memelihara dengan alasan calon bayi itu berhak hidup sebagai buah cinta kedua orang tuanya. Di tengah kondisi masyarakat seperti ini, menciptakan ruang yang adil dan ramah terhadap perempuan tentulah masih butuh perjuangan extra keras. Upayaupaya meninggalkan budaya patriarki butuh dukungan dari semua pihak. Ini tidak bisa lagi dilihat sebagai masalah individu, tetapi ini adalah masalah sosial yang tidak bisa didiamkan. Untuk menyelesaikannya, tidak hanya kesadaran masyarakat, lebih jauh, harus ada infrastruktur hukum yang dirakit negara sebagai payung yang dapat melindungi dan mencegah wabah kekerasan seksual yang punya dampak begitu luas, mulai dari perceraian, trauma pada korban, depresi, sampai pada kematian. Tentu tak ada yang salah dalam hal mencintai, tapi segala yang berlebihan kerap berbanding terbalik dengan tingkat kewarasan. Dalam mencintai kita butuh aktivitas berpikir untuk menjaga kewarasan, untuk terhindar dari kekerasan, atas nama apapun. Bumi tidak berputar untuk dirimu sendiri, untuk sukumu sendiri, untuk rasmu sendiri, untuk kaum dan golonganmu sendiri, pun untuk agamamu sendiri. Di atas cinta terhadap apapun, ada cinta pada kemanusiaan yang menjembatani segala kepercayaan menuju Tuhan yang menghendaki perbedaan. *Penulis merupakan Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam


www.

washilah.com

LENSA

Edisi 112| Jumadil Akhir 1441 Hijriyah | Februari 2020 Masehi

Jejak Vandalisme Mahasiswa 1.

Saat suara mahasiswa dibungkam, salah satu alternatif yang mereka lakukan adalah vandalisme. Fotografer Washilah berhasil menghimpun karya vandalisme mahasiswa di beberapa gedung seperti di eks Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), belakang Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), Ruang kelas Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) dan Kantin Kafetaria Kampus II UIN Alauddin Makassar. Berikut jepretan fotografer Washilah mengabadikan karya vandalisme mahasiswa di Kampus II UIN Alauddin Makassar, Kamis (26/12/2019). 1. Vandalisme berupa coretan dengan tulisan ”Tolak Skorsing” di halaman depan gedung LPM. 2. Vandalisme berupa grafiti, menggambarkan sosok malaikat maut meninggalkan kuburan penegak hukum dan sosok laki-laki tak berkaki

3.

yang digambarkan sebagai kondisi demokrasi saat ini. Bertempat di depan gedung tempat penyimpanan air. 3. Vandalisme berupa coretan dengan cat semprot berwarna merah di belakang gedung Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) bertuliskan ”Kampus Penindasan”. 4. Vandalisme berupa coretan berwarna hitam bertuliskan ”Anti Presma Anti Birokrasi, Oposisi Mahasiswa” di tangga kantin kafetaria. 5. Vandalisme berupa coretan berwarna hitam di tembok kelas Ruang 404 Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) bertuliskan ”Kami butuh Ac Bukan Janji”.

2.

*Foto dan Teks: Aulya Febrianti, Mutmainnah S. Sabrah *Editor: Wahdah Marang

4.

5.

11


12

T

anganku berusaha menggapai udara, tapi sia-sia. Air lebih dulu mampu menelanku bulat-bulat. Samar-samar dengan mata yang hampir terpejam, seseorang datang menyelam ke arahku. Ketika terbangun dengan kepala pening, tau-tau aku sudah berada di sebuah rumah, tepatnya sebuah gubuk. Seorang wanita berdiri di sisi kanan tubuhku. Usianya mungkin 19 tahun, sebaya denganku. Tapi, ada hal yang membuatku gugup, selain karena kecantikan yang terpancar dari wanita itu, kebaya merah transparan yang ia kenakan memperlihatkan dengan samar buah dadanya. “Iga Asengmu? ” Tanyanya, ketika menanyakan namaku. “Ambo Lalo.” Jawabku singkat. Ada kegetiran yang mencekik saat menyebutkan sebuah nama yang selalu menjadi bahan olok-olokan oleh orang-orang di sekitarku. Memakai nama seperti itu di zaman sekarang memang terlalu kuno. Aku kembali menatap wanita itu, sesekali mencuri pandang melihat payudaranya. Ia tertegun, sesuatu seperti merasukinya, tubuhnya menegang dan sebutir air mata jatuh ke pipinya. Ia menghambur ke arahku, mendekapku erat sambil terus mengucurkan air mata. Ia mengulang-ulang memanggil namaku. “oh…Ambo, ambo…ana’ku!” Aku belum sempat mencerna apa yang terjadi, ketika seorang pria, dari arah pintu, dengan hanya mengenakan sarung di pinggang seperti yang dipakai wanita yang mendekapku ini, tampak kebingungan. Wanita itu menjelaskan kepadanya bahwa aku adalah Ambo, anak mereka. Tahulah aku saat itu bahwa mereka adalah sepasang suami istri. Pria itu sudah cukup tua. Ia lebih pantas menjadi ayah untuk wanita itu, pikirku. Tubuhnya kekar dan legam, tapi di luar itu semua, ia tampak sebagai ayah yang penuh kasih, terbukti dengan pertanyaanpertanyaan lembut dan peduli yang sering ia lontarkan padaku. Kepalaku masih belum pulih betul ketika ia bersama istrinya menjelaskan bahwa mereka sebenarnya telah meninggal, Niladung1, diikat melingkar dengan istrinya pada sebuah batu besar, lalu dibuang hidup-hidup dari atas tebing yang di dasarnya terbentang sebuah sungai. Ia mengatakan ini terjadi karena perbuatan salimarak2. Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi suatu saat, setelah kembali, aku tahu sungai tempat mereka di tenggelamkan itu bernama Bantimurungna Gallang3. Para warga khawatir bila perbuatan Salimarak ini terus dibiarkan, maka nasib sial akan menimpa kampung mereka. Padi yang mereka tanam akan rusak, ikan menghilang di kali, ternak mati, dan warga akan terjangkit penyakit. “Apa maksudmu?” “Aku tak pernah tahu bahwa mantan istriku sedang mengandung, ketika kami bercerai. Bertahuntahun kami tak pernah saling berhubungan. Sampai suatu ketika aku mendengar kabar bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Hanya berbekal sisa kenangan, aku mendatangi kediaman orang tuanya. Hanya tinggal tiga orang perempuan di rumah itu, ayah mantan istriku sudah meninggal bertahun-tahun

SASTRA

www.

Edisi 112| Jumadil Akhir 1441 Hijriyah | Februari 2020 Masehi

washilah.com

Sebuah Pengakuan Oleh : Danil D. Putra

lalu, dan kini hanya tersisa seorang nenek tua pikun, mantan mertuaku yang sudah tak mampu berbuat banyak. Seseorang gadis jelita membukakanku pintu. Kau akan mengerti setelah kesepian selama bertahun-tahun, dan tiba-tiba datang seorang wanita, dengan tulus mengulurkan tangan, tanpa pikir panjang kau akan menyambutnya. “Inilah anakmu! Tenri Uleng, jagalah ia baik-baik” kata istriku di penghujung napas terakhirnya. “Istriku meninggal ketika Tenri Uleng berumur tiga belas tahun,” sambungnya sambil memalingkan wajah ke arah istrinya. “Aku tidak mengerti.” Kataku lagi, masih mencerna perkataannya. “Uleng awalnya adalah anak kandungku” ia mengambil napas sebentar “Mungkin kau heran kenapa aku menyampaikan ini. Tenang saja kami sudah meninggal dan tak perlu ada lagi yang disembunyikan. Biar kulanjutkan. Setelah istriku meninggal akhirnya hak asuh anak, beralih kepadaku”. “Tunggu-tunggu! Jadi maksudmu, kau menikahi anakmu sendiri?” “Kau tidak mengerti nak, biar kuperjelas…” ~~~ “Masuklah nak! Ini rumahmu.” Dialah Tenri Uleng, anakku. Gadis berumur 13 tahun yang baru kutemui beberapa hari yang lalu. Tubuhnya ramping dengan kulit sepucat melati. mata yang selalu ragu melihatku. Apa yang dipikirkannya? Tak pernah terjangkau tanganku. Jarang aku berpikir bahwa ia jelmaan dari mantan istriku. Entah kenapa, buatku ia adalah sesuatu yang di luar kemampuanku melihat bahwa ia adalah bagian dari darah dagingku. Setiap waktu aku sedapat mungkin mendekatkan diri kepadanya. Ia selalu terlihat kesepian, barangkali ini akibat kematian ibunya. Suatu malam ia terisak, tentu itu memberiku jalan untuk menunjukkan jiwa kebapakanku. Aku merengkuh tubuh mungilnya, kubiarkan ia terisak sampai terlelap di dadaku. Ada kehangatan yang menyeruak dari dalam diriku, bagai mata air yang tiba-tiba menyembur di sebuah lahan tandus yang sudah bertahuntahun dehidrasi, kekurangan air. Aku tahu ini bukanlah perasaan yang biasa dimiliki ayah kepada anaknya. Di kedalaman jiwaku sesosok iblis meraung, ingin melepaskan rantai yang membelenggu dirinya. Hubungan kami semakin akrab.

Ilustrasi: Ardiansyah Safnas Aku sadar rantai yang membelenggu iblis di dalam diriku, kian hari kian melonggar, tapi aku membiarkannya saja. Aku tidak lagi bertindak sebagai dua sosok, ayah dan ibu. Tenri uleng, tidak seperti yang kubayangkan mampu mengisi kekosongan di dalam hatiku. Ia begitu lihai bagai wanita dewasa mengatur segala keperluan di gubuk ini. Seolah untuk sementara kemiskinan tidak menjadi hambatan bagi kehidupan kami. Ibunya telah mendidiknya dengan baik. Ia tak pernah rewel untuk anak seusianya, tapi selalu manja ketika berada di dalam pelukanku. Inilah yang kadang membuatku gila, tapi aku menyukainya. Sampai suatu ketika iblis yang terbelenggu di dalam diriku itu terlepas juga. Suatu malam seperti biasa, Tenri Uleng, anakku berada dalam dekapanku, dan sedang lelap tertidur. Aku menciumi keningnya, semakin erat dekapannku, kuelus lembut rambut sampai punggungnya berulang kali. Ia mengerang, menekan jari-jari kukunya ke lenganku. Tanganku semakin berani merayapi daerah terlarang kewanitaannya. Sesuatu yang tak terhindarkan akhirnya terjadi, Tenri Uleng hamil beberapa bulan kemudian. Kami bahagia juga sekaligus takut, di saat itulah, sebelum lahir kami memutuskan untuk memberi nama anak kami ‘Ambo Lalo’ jika suatu saat ia berjenis kelamin laki-laki, nama yang kami berikan sebagai doa agar segala rintangan dalam hidup dapat ia lalui dengan mudah nantinya atau ‘Tenri Abeng’ jika ia nanti berjenis kelamin wanita. tapi sayang kecurigaan warga dengan cepat menyebar, perut istriku perlahan membesar. Apa yang kami takutkan terjadi juga, kami ketahuan. Meski dengan keterpurukan kami selalu berharap, suatu saat nanti kami akan bertemu dengan anak kami di masa depan, meski jazad kami telah tiada, cinta selalu membuat kami lebih kuat. ~~~

“Jadi kalian memiliki anak?” “Aku sedang mengandung, sewaktu kami diceburkan ke sungai. Kami tak bisa menghindar dari hukum adat…tapi sekarang kami senang karena kau telah kembali, kau juga sudah dewasa.” “Aku bukan anakmu!” “Tenanglah nak” kata si pria padaku “ Kau hanya butuh istirahat, untuk bisa mengerti ini semua”. Aku menghela napas. Kubiarkan diriku agak tenang. Aku menatap ngeri kedua orang ini, apa yang baru saja kudengar, sungguh di luar dugaanku. Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru gubuk. Tempat ini sungguh kecil, hanya ada dua ruangan, tapi entahlah, sepertinya semua ruangan di gubuk ini berfungsi sama. Banyak benda-benda kuno terselip di dinding bambu dan tergeletak di lantai tanah yang aku tak tahu namanya, semua yang ada di sekitarku terasa asing. Aku bangkit dengan sedikit agak goyah, berbalik ke arah pintu, lalu menghambur keluar. Cahaya menyergapku. Aku benar-benar di tempat yang asing, di jalan setapak aku berbalik melihat gubuk itu. Rumput liar bergayut di sela-sela atap, pagar bambu yang sudah rubuh, dan daun-daun kering berserakan dimana-mana. Aku baru sadar gubuk itu memang terlihat sudah tak dipakai selama bertahuntahun. Kulihat dua orang itu keluar dan memanggil-manggil namaku. Mereka berusaha mengejarku. Aku kembali berbalik dan berlari sekuat tenaga. Sebuah perkampungan dengan rumah-rumah panggung tampak di sela-sela rerimbun pepohonan. Keringat mengucur di seluruh tubuhku, kakiku berderak cepat, sambil berteriak-teriak meminta tolong. Aku menghampiri salah seorang warga. Ia tak mendengarku, ku tarik lengannya, tapi tanganku tak mampu menyentuhnya. Kemudian Ia berbelok menghampiriku. Seperti ada kekuatan gaib, aku tertegun, diriku lebur kedalam tubuhnya, dan tembus sampai kedua punggung kami saling berhadapan-hadapan. Apa aku sudah mati? “Ambo!” teriak seseorang di belakangku. Mereka masih mengejarku. Aku kembali berlari lintang pukang ke arah hutan. Aku sama sekali tak mengenal orangorang yang berpakaian kuno itu, ataupun tempat dimana aku sekarang berada. Aku juga tak yakin masa ini adalah masa sekarang. Aku seperti kembali ke masa lalu. Semua sangat asing di mataku. Keretak dedaunan kering berhamburan, akibat pijakan kakiku yang terus berlari tak tentu arah.

Kedua orang itu masih mengejar sambil berteriak-teriak iba memanggil namaku. Aku tiba-tiba berhenti di sebuah undakan. Jurang membentang di hadapanku. Kulihat di dasar ceruk itu ada sebuah sungai yang memanjang dari arah pegunungan yang berada di sisi kiri tebing. Aku mengenali tempat ini, kecuali tanpa air terjunnya. Aku ingat semuanya. Temantemanku, Afia, kekasihku. Aku cuma bermimpi…tapi kenapa semua ini terasa nyata. Kembali kulihat ceruk itu. Lumayan dalam, tapi aneh, tak seperti biasa saat berada di sebuah ketinggian, aku tak merasa takut sedikitpun. Aku ingat hari itu, menjelang sore. Fahri, temanku sudah mengingatkanku, tapi aku tetap nekat untuk melompat ke sungai. Tahu-tahu kekuatan aneh telah membuatku goyah, aku meluncur bebas ke dasar sungai, tepat saat itu kudengar seseorang meneriakkan namaku. Selamat tinggal. Tubuhku berdebam menghantam permukaan sungai. Sekilas gambaran samar, kulihat orang-orang berteriak murka, dari atas sebuah tebing. “Dasar pezinah!” Kedua orang itu sudah lunglai, babak belur, seperti sudah dihajar massa. Bilur-bilur di sekujur tubuh, seolah menegaskan kekuatan cinta mereka. Aku mengenalnya dan entah kenapa aku merasa iba. Wanita itu hamil dan sempat menatap sedih perutnya yang buncit, sementara si pria, wajahnya sudah penyot, tak lagi jelas bentuknya. Ia hanya terus mengerang menahan rasa sakit. “Tak ada tempat bagi para pendosa seperti kalian!” “Lebih baik kalian mati!” Riuh suara warga terus memaki kedua orang yang sudah tak berdaya itu. Keduanya dihempaskan ke ceruk jurang. Sebelum menyentuh permukaan air, sesuatu yang aneh terjadi. Kedua sosok mereka lebur menjadi beribu kupu-kupu putih, menyisahkan batu yang meluncur bebas ke dasar sungai. Dari atas tebing, para warga terperangah. Air tiba-tiba menggenangi kaki mereka, air itu terus meluap dari pori-pori tanah, memanjang dari arah belakang lereng perbukitan, terus mengalir membentuk tiga mata air yang terjun bebas ke bawah ceruk. Dua mata air itu memiliki debit air yang sama besar, sedangkan yang satu lebih kecil mengalir lebih lambat menjalar rapat ke tubuh tebing. Suatu saat, juga akan memancur seperti dua air terjun lainnya. Beribuan kupu-kupu yang mengambang di tengah tebing itu lebur bersatu deng Kendati masih menjadi tanda tanya besar di benak setiap warga. Mereka selalu berusaha untuk menafikan apa yang sudah mereka lihat. Tak ada yang berani bertanya, satu sama lain. meski mereka selalu mencoba menafsir dalam pikiran masing-masing, tapi ujungujungnya pikiran itu segera dienyahkan. Mereka tahu pikiran itu akan selalu kembali, dan terus menghantui benak mereka. ~~~ Samar-samar dengan mata yang hampir terpejam, seseorang datang menyelam kearahku. Tegopoh-gopoh aku dibawa oleh teman-temanku. Membaringkanku di tempat terbuka. Naura, tersedu-sedu memelukku. Setelah siuman, beberapa hari kemudian aku menceritakan kisah ini kepada mereka, meski tidak ada yang percaya, menganggap aku hanya berkhayal belaka, dan hanya mengumpati kebodohanku, tapi bagaimana denganmu? Kuharap kau percaya dengan kisah yang baru saja kuceritakan, sebab ini benar-benar nyata.


13

WAWANCARA KHUSUS

www.

washilah.com

Edisi 112| Jumadil Akhir 1441 Hijriyah | Februari 2020 Masehi

Dr Wasilah, Preseden Dosen Masa Kini Washilah - Mengemban tugas sebagai dosen tentu bukan perkara yang mudah, bukan hanya sekadar memberi kuliah dan tugas, tapi seorang dosen berperan penting bagi masa depan seseorang. Begitulah Dr Wasilah memaknai tugasnya yang kini menjadi dosen di Jurusan Arsitektur Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Alauddin Makassar. Tahun 2015, anak dari almukaram Prof Dr KH Sahabuddin ini mendapatkan penghargaan bergengsi sebagai dosen teladan nasional. Bukan hanya itu, masih banyak prestasi lain yang pernah ia capai, apa saja prestasinya? Bagaimana ia bisa mencapainya? Seperti apakah ia dididik dalam keluarganya? Apa saja pesan Wasilah untuk generasi milenial?. Berikut petikan wawancara Reporter Washilah dengan eks Wakil Dekan I Bidang Akademik FST, Dr Wasilah ST MT. Menurut Anda, Dosen itu seperti apa? Guru/Dosen/Ustazah/ Ustaz, merupakan profesi yang menurut saya paling mulia, karena nasib generasi berikutnya adalah tanggung jawab mereka. Tahun 2015, Anda dinobatkan sebagai dosen teladan nasional, apakah sebelumnya Anda pernah memikirkan hal tersebut? Saya dinobatkan menjadi dosen teladan itu bukanlah hal yang sudah direncanakan. Segala kegiatan yang saya lakukan intinya bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan, berangkat dari motivasi komitmen serta dedikasi kami dalam peningkatan proses pembelajaran. Penghargaan apa saja yang Anda dapatkan selain sebagai dosen teladan nasional? Penghargaan yang pernah saya raih yaitu tahun 2014 sebagai best presentation dalam Short Course di UWS Australia, tahun 2016 sebagai best paper di Conference ISAIA Japan, tahun 2017sebagai grand postdoc ke Unversity of East London, dan masih banyak lagi penghargaan yang pernah saya raih. Bagaimana cara Anda bisa meraih banyak penghargaan? Kemampuan meraih penghargaan itu tidak terlepas dari pengembangan Tridarma Perguruan Tinggi yang selalu diwujudkan dalam proses pembelajaran di dalam dan luar lingkungan kampus. Mengembangkan kualitas diri para dosen adalah yang mutlak kita lakukan, dalam rangka bagaimana melakukan transfer ilmu pengetahuan kepada mahasiswa secara maksimal,

termasuk dengan melakukan lokakarya kurikulum Jurusan Teknik Arsitektur. Apakah sejak dulu Anda suka mengikuti kompetisi? Iya, saya sangat suka mengikuti kompetisi sejak duduk dibangku kuliah S1 dan saya melanjutkan kompetisi-kompetisi itu sampai saya S3. Bagaimana Anda dididik dalam keluarga hingga Anda bisa

mencapai titik seperti sekarang ini? Pola didik dalam keluarga saya itu sangat sederhana, pola didik yang dilakukan oleh seorang ayah yang merupakan seorang kyai yaitu dengan berusaha dan berdoa. Sehingga saya bisa menjadi seperti sekarang ini. Pola didik itu selalu saya terapkan sampai sekarang. Bagaimana suka duka Anda selama menempuh pendidikan dari Sekolah Dasar (SD) sampai mendapatkan gelar Prof? Sukanya adalah ketika kita mendapat penghargaan yang luar biasa dari hasil kerja keras dan usaha yang maksimal. Dukanya adalah ketika memohon beasiswa terus ditolak, submit jurnal terus di reject. Apa keinginan Anda, setiap kali mengikuti kegiatankegiatan itu? Keinginan saya adalah

dapat mewujudkan budaya tradisional indonesia, mengharumkan nama indonesia dan tentunya ingin menambah wawasan saya. Apa tips Anda untuk generasi milenial? Jangan berhenti berkarya, karena setiap saat, kita akan merasa kekurangan dan haus akan ilmu. Ketertarikan dan niat yang tulus adalah cara terbaik untuk menjadi seorang yang sukses, dan untuk meningkatkan pendidikan harus diwujudkan dengan melakukan kegiatan. Pernahkah seseorang menyangkutpautkan prestasi yang Anda capai dengan latar belakang Anda sebagai anak seorang kiai masyhur? Selama ini sih belum,

karena beliau wafat 15 tahun yang lalu, saya menjadi PNS 17 tahun lalu, jadi saya masuk di UIN waktu masih Institut Agama Islam Negeri (IAIN), saya tidak tahu apakah prestasi saya dikaitkaitkan atau memang titisan dari bapak saya. Sosok bapak bagi Anda, seperti apa? Beliau adalah figur yang paling saya idolakan, setelah Nabi Muhammad SAW. Ingin sekali seperti beliau, mengikuti jejaknya, mengikuti ibadah-ibadah yang sudah diajarkan, seperti apa yang saya lakukan terhadap apa yang menjadi sunah rasul.

*Penulis : Ulfa Rizkia *Editor : Suhairah Amaliyah

Nama: Dr Wasilah ST MT. Pendidikan: 1995 Program D3 Unhas Teknik Arsitektur 1998 Sarjana (S1) UGM Teknik Arsitektur 2009 Magister (S2) UNHAS Teknik Arsitektur 2015 Doktor (S3) ITS Teknik Arsitektur ALAMAT RUMAH: Jalan Landak Baru VI, Perumahan Pesona Landak Indah Blok C/4


14

PERSEPSI

Edisi 112| Jumadil Akhir 1441 Hijriyah | Februari 2020 Masehi

www.

washilah.com

100 Hari Kerja Rektor Prof Hamdan Juhannis, pelanjut singgasana kampus peradaban yang dilantik pada

31/07/2019 lalu, menggantikan pemegang singgasana sebelumnya Prof Musafir Pababari. Dikutip dari website UIN Alauddin, lelaki kelahiran Bone ini menjanjikan akan menjalankan program kerja kampus bebas sampah dalam 100 hari kerjanya. Menurutnya, akademisi harus memiliki tradisi kebersihan. Kini, 100 hari kerja rektor telah berlalu. Bagaimana pendapat civitas akademika terhadap kinerja Prof Hamdan selama menjabat sebagai Rektor UIN Alauddin Makassar?. Berikut kutipan wawancara dengan Reporter Washilah.

Eks Dewan Mahasiswa Universitas (Dema-U)

Junaedi Salah satu progam andalan rektor yaitu menjaga kebersihan kampus dimana akhir akhir ini tingkat kebersihan dalam kampus meningkat. Lalu berbicara mengenai bapak rektor ini, Pak Hamdan Juhannis Layak. Kalau tidak layak kan tidak mungkin dipilih oleh menteri agama. Kita tidak boleh menilai secara keseluruhan karena pimpinan bekerja step by step, kerja satu per satu apa yang menjadi misi pimpinan saat ini.

Eks Ketua UKM LDK AL JAMI

Haidir Menurut saya hal itu sedikit demi sedikit sudah mulai terlihat dalam ruang lingkup dunia kampus, sudah ada beberapa tempat sampah yang terlihat di berbagai titik di kawasan kampus UIN Alauddin Makassar. Perbaikan taman dan fasilitas umum juga dibenahi, walaupun belum merata di seluruh wilayah kampus. Seperti jalanan umum yang rusak dan belum mendapat perbaikan. Tapi, sejauh ini progam kerja rektor terlaksana meski masih banyak yang perlu dibenahi kedepannya

Eks Ketua HMJ BSI

Mery Anggara Putri Program rektor yang paling menonjol adalah kebersihan dan pembangunan di dalam lingkup UIN Alauddin makassar. Adapun salah satu tujuan yang ingin dicapai oleh rektor adalah menghasilkan luaran dengan keberagamaan yang moderat sehingga mampu menjadi contoh untuk etos kerja kolaboratif. Namun, di dalam progressnya, UIN kurang melibatkan mahasiswa jurusan dalam membangun.

Dosen FTK Dr Andi Maulana M Si

Program menyangkut bank sampah tidak terealisasi, itupun bisa dilihat tidak ada yang luar biasa, malah ada kecenderungan staknya dari sisi administrasi, tidak ada kemajuan sama sekali. Pemotongan pohon ditaman kampus mestinya harus ada standar operasional semacam prinsip-prinsip, selama ini tidak ada aturan yang jelas tentang itu di UIN. Tidak ada aturan tentang tata wilayah kampus tentang yang mana area taman dan mana area gedung. Semua tiba masa tiba akal, kalau ada anggaran ya sudah langsung kerja. Masih banyak program kerja yang belum terlaksana atau belum tuntas bahkan ada ruangan-ruangan yang tak terurus, tidak terpantau mestinya semua harus dia perhatikan. Belum ada yang bisa kita lihat dari 100 hari itu, membangun komunikasi saja belum nampak. Jadi kalau mau menilai hasil kerja atau apa yang perlu dikerja perlu dilakukan klasifikasi, misal menyangkut ketertiban, kebersihan dll.

Ketua perpustakaan

Hildawati Almah S Ag S S MA

Adapun program Rektor Pancacita yakni program dibidang akademik dan non akademik. Program akademik seperti prodi yang handal dan integritas sedangkan non akademik yakni program kampus asri yang sudah mulai diterapkan diberbagai lokasi yang dianggap semrawut. Contohnya, sekitar lingkungan fakultas sains dan teknologi.

Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Dr. Hasyim Haddade, S.Ag, M.Ag

Kepala Satuan Pengaman Syarifuddin

Kebersihan dan keamanan kampus dalam 100 hari kerja ini sudah hampir 90%, kampus ini sudah punya aura menuju kampus peradaban, mengingat dari tahun-tahun sebelumnya sampah masih berkeliaran di mana-mana dan sekarang semenjak kepemimpinan beliau, sampah sudah hampir punah/jarang diliat dalam wilayah kampus.

Hari pertama kepempinannya itu mengajak seluruh pimpinan fakultas - fakultas untuk bersih – bersih, dan alhamdulillah sekarang wujudnya sudah bisa dilihat dari setiap fakultas. Sudah tampak kebersihannya. Meskipun masih ada space yang belum tampak. Tetapi secara keseluruhan lingkup UIN Alauddin sudah terlihat keasriannya mulai dari pintu gerbang, jogging track yang dibuat dan menarik perhatian, kita juga bisa melihat lapangan sudah terurus. Sebuah prestasi yang luar biasa dicapai, tentu bukan beliau sendiri tapi kerjasama dan sinergitas diantara para wakilnya.


washilah.com

15

LIPSUS

www.

Edisi 112| Jumadil Akhir 1441 Hijriyah | Februari 2020 Masehi

Informasi Publik Minim Sosialisasi Washilah – UIN Alauddin Makassar dianggap kurang maksimal dalam proses penyebaran informasi publik, akibatnya mahasiswa kerapkali dirugikan, sehingga transparansi di kampus peradaban pun dipertanyakan.

C

uti akademik misalnya, merupakan satu dari beberapa permasalahan yang menambah buruk persoalan transparansi informasi di UIN Alauddin Makassar. Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Muh Syukur Yusuf yang sebelumnya diketahui pernah mengambil cuti akademik akibat terlambat membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) semester tiga, sempat mengeluhkan kurangnya informasi yang diberikan pihak birokrasi, sehingga dia menuding permasalahan tersebut akibat sistem yang tidak praktis. ”Tidak ada informasi yang dikasi, sistem ribet, yang harusnya online-nya saja, terlambat bayar cuti akademik saja otomatis kenapa harus melakukan banyak pengurusan lagi,” keluh saat ditemui reporter Washilah di gedung terpadu C. Dia menjelaskan bahwa selama mengurus surat cuti, dirinya kerap kali diperlakukan secara tidak nyaman oleh pihak birokrasi. Dia terpaksa harus kesana-kemari tanpa arah yang jelas akibat tidak adanya sistematika pengurusan cuti. ”Dulu kayak dioper-operka, harus bolak-balik karena tidak ada sistematika langkah pengurusan cuti yang jelas, jadi pusing mau mengurus kemana, dari mana kemudian kemana,” kata Yusuf. Hal ini kemudian membuat pengurusan yang seharusnya bisa

berlangsung cepat oleh Yusuf terpaksa harus ia selesaikan selama berhari-hari lamanya. ”Seharusnya dapat diselesaikan dalam satu hari (cuti), terpaksa saya selesaikan beberapa hari,” katanya. Cuti akademik diketahui memiliki prosedural tertentu yang perlu ditempuh oleh mahasiswa agar dapat diterima. Kepala Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan dan Kerjasama (AAKK) Yuspiani, menjelaskan bahwa prosedural itu terlebih dahulu melalui pertimbangan jurusan dan Penasehat Akademik (PA), kemudian ke dekan lalu ke rektorat. ”Mahasiswa mengajukan ke dekan, setelah ada pertimbangan dari PA dengan ketua jurusan ataukah prodi setelah dari dekan baru ke rektorat, jadi jangan langsung ke rektorat karena di rektorat tidak ada mahasiswa,” katanya. Selain itu, dia menjelaskan sosialisasi oleh pihaknya sebelumnya telah dilakukan, dimana mahasiswa seharusnya berkonsultasi dengan PA masing-masing terkait mekanisme cuti yang dimaksud. ”Sosialisasi pada saat PBAK sudah disampaikan proses cutinya seperti ini, setelah kamu ke PA harusnya PA-mu yang sampaikan bagaimana proses cuti itu, baca pedoman edukasi,” jelasnya, Senin (03/02/2020). Dalam Pedoman Edukasi UIN Alauddin Makassar tahun 2016 pasal 51 dituliskan dengan rinci proses cuti akademik. Hanya saja, informasi tersebut dinilai mahasiswa masih tidak tersampaikan dengan baik sehingga

masih banyak dari mahasiswa tersebut yang kurang mengerti. Selain itu, diketahui beberapa prosedural yang bisa membuat mahasiswa cuti selain dapat diurus sendiri, mahasiswa juga otomatis cuti jika adanya keterlambatan dalam membayarkan UKT. Selain cuti, permasalahan lain yang banyak dikeluhkan mahasiswa adalah pendaftaran beasiswa yang dinilai juga masih kurang sosialisasi. Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) FDK, Yaumil Khairiyyah juga mengeluhkan minimnya sosialisasi kampus terkait beasiswa yang tersedia bagi mahasiswa. Diketahui, Kumi sapaan akrab Yaumil Khairiyyah, merupakan mahasiswa penerima beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA), dia mengaku tidak mendapatkan sosialisasi sama sekali perihal beasiswa tersebut, dirinya hanya sekadar tahu bahwa di kampus tengah membuka beasiswa PPA itu. “Tidak dijelaskan, tidak ada sosialisasi, sekadar tahu ji kalau kampus yang adakan,” ungkapnya. Mahasiswa lain dari Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) Nia, juga ikut mengeluhkan hal ini, dirinya merupakan mahasiswa penerima bidikmisi, selama memasuki kampus dia mengaku tidak mendapatkan sosialisasi terkait langkah prosedural yang ditempuh para penerima beasiswa bidikmisi, sehingga hal ini cukup menyulitkan mereka di awal-

Keterbukaan Informasi Publik

*Ilustrasi: Ardiansyah Safnas

awal perkuliahan. “Sosialisasi tidak pernah kudapat, waktu Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) juga tidak ada, jadi waktu awal-awal mengurus berkas agak kesulitan ka. Apalagi bagi orang yang awam pasti tidak tahu dan pusing,” keluh mahasiswa asal Luwu ini. Kendati banyak dikeluhkan mahasiswa, Kepala Biro AAKK Yuspiani menampik kurangnya sosialisasi tersebut. Menurutnya, pihak kampus telah melakukan berbagai upaya agar informasi tersebut bisa sampai ke publik. ”Itu diumumkan, ini kan sementara baru ada surat yang kemarin, itu kemudian kita tindak lanjuti ke fakultas,”

katanya. Selain itu, dia juga cukup yakin pihak UIN Alauddin Makassar telah menyebarkan informasi perihal beasiswa tersebut ke Website atau Portal Resmi UIN Alauddin Makassar, dan dia mengklaim, semua pihak tahu hal tersebut. ”Kan di portal ada, di webnya kampus ada, kecuali kalau kamu tidak mau buka, semua tahu itu (beasiswa),” jelas Yuspiani. *Penulis: Alam Karpiadi, Mujahidah, Ardiansyah *Editor: Suhairah Amaliyah

Cleaning Service Ngamuk Tolak PT Arco Washilah - Puluhan Cleaning Service (CS) UIN Alauddin Makassar menyampaikan penolakan terhadap PT Abadi Raya Commerce (Arco) di Halaman Gedung Rektorat, Senin (03/02/2019).

P

enolakan tersebut, dikarenakan masuknya PT Arco yang mengakibatkan terancam pada hilangnya pekerjaan puluhan Cleaning Service yang telah bertahun-tahun mengabdikan dirinya di UIN Alauddin. Karena kecewa terkait adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak yang dilakukan PT Arco, puluhan CS tersebut meluapkan kekecewaannya dengan melakukan aksi di depan gedung rektorat selama tiga hari berturut-turut. Tidak hanya melakukan aksi, puluhan CS tersebut juga menyebarkan sampah di sepanjang jalan dan memblokade beberapa jalan yang ada di kampus dengan batang kayu. Koordinator petugas kebersihan UIN Alauddin Makassar Abdul Wahid Daeng Tompo mengungkapkan kekecewaannya dan tak terima banyak dari petugas CS

yang di PHK akibat hadirnya PT. Arco. “Dari 150 orang petugas cleaning service, kurang lebih 70 orang yang di PHK. Datanya semua itu sudah ada pada PT. Arco,” ucapnya. Daeng Tompo sapaannya juga menambahkan hampir semua yang di PHK adalah mereka yang mata pencahariannya semata-mata sebagai CS. “Jadi kalau mereka dipecat tidak adami kerjanya, jadi kita berkumpul disini untuk menolak PT. Arco karena tidak sesuai dengan kemauannya cleaning service,” kata dia. Menanggapi hal itu, Managing Director PT. Arco Rahmat Hidayat saat melakukan audiensi dengan Rektor, menanggapi isu yang tengah berkembang tentang adanya PHK bagi petugas CS lama. Menurutnya, PT Arco akan tetap mengakomodir petugaspetugas yang telah ada selama memenuhi

AKSI - Puluhan Cleaning Service (CS) menggelar aksi demonstrasi menolak PT Abadi Raya Commerce (Arco) di Halaman Gedung Rektorat UIN Alauddin Makassar, Senin (03/02/2020). Foto: Aulya Febrianti

”Kami tetap akan mengakomodir petugaspetugas yang telah ada (existing) selama memenuhi standar kualifikasi yang dimiliki perusahaan,” Managing Director PT. Arco Rahmat Hidayat

standar kualifikasi. ”Kami tetap akan mengakomodir petugas-petugas yang telah ada (existing) selama memenuhi standar kualifikasi yang dimiliki perusahaan,” katanya. Senada dengan itu, Prof Hamdan juga meminta PT. Arco agar memberi peluang seluas-luasnya kepada masyarakat sekitar yang sebelumnya telah bekerja untuk kampus, dan menyerahkan proses rekrutmen profesional kepada manajemen PT. Arco sebagai pihak yang telah diserahi tanggungjawab penuh untuk menangani kebersihan kampus.

“Semoga dengan kehadiran PT. Arco ini, kita tidak lagi disibukkan dengan urusan kebersihan yang tak pernah usai,” kata Prof Hamdan. Diketahui, data yang dihimpun Reporter, PT. Arco bukan pemenang tender. Tapi yang masuk empat besar PT. Baniara Novita, PT. Aristek, PT. Riztechindo, dan yang terakhir PT. Dinar Mutiara Sakti. Penulis: Arya Nur Prianugraha, M Shoalihin Editor: Muhammad Aswan Syahrin


16

PRESTASI

www.

washilah.com

Edisi 112| Jumadil Akhir 1441 Hijriyah | Februari 2020 Masehi

PRESTASI - A. Ummu Fauziyyah Syafruddin, saat menerima tropi Duta Pendidikan Indonesia.

A Ummu Fauziyyah, Juara I Duta Pendidikan Indonesia Tingkat Provinsi

PRESTASI - Redaktur Pelaksana PK Identitas Universitas Hasanuddin Wandi Janwar (Kanan) mewakili Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Informasi Alauddin UIN Alauddin Makassar menerima penghargaan Bronze Winner dalam kategori The Best of Sulawesi Non Magazine, di Hotel Mercure Banjarmasin, Jumat (07/02/2020) malam.

UKM LIMA UIN Alauddin Sabet Penghargaan ISPRIMA Washilah - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Informasi Mahasiswa Alauddin (LIMA) Washilah UIN Alauddin Makassar menyabet penghargaan di ajang Indonesia Student Print Media Award (ISPRIMA).

P

ada kesempatan kali ini, Tabloid Washilah edisi 108 yang bertemakan “Pilrek Rawan Kolusi dan Nepotisme” berhasil mendapat penghargaan Bronze Winner dalam kategori The Best of Sulawesi Non Magazine. Penghargaan diserahkan kepada Redaktur Pelaksana PK Identitas Wandi Janwar sebagai perwakilan pada malam puncak penghargaan IPMA/IYRA/ InMA/ISPRIMA dan IMRAS 2020 di Hotel Mercure Banjarmasin, Jumat (07/02/2020) malam. Pimpinan umum UKM LIMA Muhammad Fahrul Iras mengungkapkan penghargaan  Bronze Winner dalam kategori The Best of Sulawesi Non Magazine pertama kalinya di raih oleh media Washilah.

Lanjut, ia mengatakan penghargaan cover media cetak tahun ini merupakan sebuah suntikan spirit untuk terus meningkatkan kualitas para kru agar kembali mempersiapkan sebuah karya terbaik di tahun-tahun mendatang. ”Penghargaan kategori non majalah pertama kali diraih Washilah. Kita harap penghargaan ini menjadi penyemangat untuk kru Washilah agar kiat lagi memperbaiki kualitas terbitan. Semoga kedepan prestasi ini kembali didapatkan, harus kita tingkatkan, dan ikut berkompetisi pada kategori majalah Presma ” katanya. Terakhir, ia membeberkan pihaknya tidak ada yang berangkat ke Banjarmasin untuk menerima penghargaan karena terkendala biaya. ”Kami terkendala biaya untuk

berangkat ke Banjarmasin, kami sudah meminta ke Rektorat tapi tidak ada respon. Makanya, kami hanya memberi mandat ke Redaktur Pelaksana PK Identitas Unhas Wandi Janwar,” terangnya. Untuk diketahui, ISPRIMA merupakan ajang pemberian apresiasi bagi sampul muka (cover) pers mahasiswa terbaik se-Indonesia. Penghargaan (awarding) ini diberikan kepada penerbit pers mahasiswa di seluruh Indonesia, sebagai upaya untuk mendorong pengembangan kualitas desain maupun konten yang diwujudkan dari tampilan cover pers mahasiswa di Tanah Air. *Penulis: Muhammad Aswan Syahrin

Washilah – Salah satu mahasiswi UIN Alauddin Makassar raih prestasi di ajang pemilihan Duta Pendidikan Indonesia Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

K

egiatan yang diadakan Ikatan Dara dan Daeng Sulsel kerja sama dengan tiga dinas ini berlangsung di Baruga Karaeng Pattingngalloang Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Sabtu (1/2/2019) malam. Ia adalah A Ummu Fauziyyah Syafruddin delegasi Kabupaten Bulukumba meraih juara I pada ajang tersebut. Mahasiswi Semester VII jurusan Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) terpilih setelah melewati tahapan seleksi mulai dari tes tertulis, wawancara, pertujukan bakat, penyaringan menjadi top 15, pemberian materi, deep interview atau wawancara mendalam. Selain itu, ia juga harus mengadakan penyuluhan pada hari Kusta sedunia atau world leprosy day, kemudian tahapan terakhir yaitu malam Grand Final. Wanita yang akrab disapa ummu ini mengungkapkan motivasi mengikuti

kegiatan tersebut, karena ingin menyukseskan program pendidikan di Sulsel. “Ingin ikut menyukseskan program pendidikan sulsel sebagai bentuk kontribusi sebagai pemuda,” ungkapnya. Ia menambahkan kesan dan pesan setelah terpilih menjadi Puteri pendidikan Sulsel 2020, “Kesannya ialah, Dunia pendidikan butuh pemuda untuk bisa membantu dalam pencapaian mutu lebih baik dan pesannya, semoga seluruh pemuda tergerak hatinya untuk ikut bekerjasama dan berkontribusi demi Indonesia yang lebih baik,” jelasnya. Mengenai hal itu, Ummu juga berharap dapat membawa perubahan yang berguna untuk pendidikan kedepannya.“Semoga saya bisa membawa sedikit perubahan dan berguna untuk peningkatan pendidikan kedepannya,” tutupnya. *Penulis: Mutmainnah S. Sabrah Editor: Rahma Indah

Profile for Tabloid Mahasiswa Washilah

Tabloid Magang edisi 112  

Tabloid edisi magang

Tabloid Magang edisi 112  

Tabloid edisi magang

Advertisement

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded