__MAIN_TEXT__

Page 1

MENOLAK

ATURAN

JAM MALAM

Hal. 5

Tidak Ada Reduksi UKT di atas Semester VIII

Hal. 14

Kata Mereka Soal Pembatasan Aktivitas Malam


2

DAPUR REDAKSI

www.

washilah.com

Edisi 111| Rabiul Awal 1441 Hijriyah | November 2019 Masehi

Tajuk

Selamat Menua

B

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

erkat rahmat dan hidayah Allah SWT, akhirnya tabloid edisi 111 hadir di tangan anda saat ini. Kami selalu berusaha menyajikan serangkaian berita faktual, aktual serta menarik bagi anda terkhusus civitas akademika UIN Alauddin Makassar. Kehadiran tabloid ini telah melalui proses jurnalisme yang sangat panjang. Mulai dari kajian isu, rapat proyeksi, dilanjutkan para reporter yang bertugas melakukan peliputan hingga data mentah tersebut memasuki tahap editing dan layouting perwajahan tabloid. Belum berakhir sampai di situ, naskah yang tadinya sudah dilayout harus melalui cetak putih sebagai proses akhir (finishing) sebelum akhirnya diterbitkan. Cukup menguras tenaga bukan? Selanjutnya, kami segenap wartawan kampus mengucapkan selamat milad ke 54 tahun UIN Alauddin Makassar. 34 tahun Washilah hadir dan mengawal dinamika kampus peradaban hingga kita berada di era disrupsi teknologi atau revolusi industri keempat. Banyak lompatan-lompatan besar di sektor pendidikan

hingga melahirkan model baru berbasis digital. Untuk itu, melalui euforia momentum ulang tahun ini tidak hanya disambut dengan rasa syukur bagi pemimpin UIN Alauddin Makassar, para pimpinan harus mampu untuk memenuhi kebutuhan stakeholder dari sektor manajemen yang semakin baik, layanan yang semakin beragam, bahkan tidak hanya berkaitan ketika perkuliahan, tetapi juga sebelum dan sesudah mahasiswa tersebut menempuh pendidikan di kampus peradaban. Diusia 54 tahun, Washilah ingin tetap hadir mengawal demokrasi dan kebijakan para birokrat kampus. Hal itu kami wujudkan dalam tabloid edisi 111 di tangan pembaca saat ini. Dalam topik utama kami menyampaikan perihal surat edaran rektor tentang pembatasan jam malam menuai kontra dari Lembaga Kemahasiswaan (LK), pasalnya kebijakan ini dinilai akan mengekang kreativitas mahasiswa. Dalam tabloid ini kami juga menyajikan informasi terkait penurunan UKT untuk mahasiswa di atas semester VIII,

akankah ada kebijakan dari birokrasi? Anda dapat membacanya di rubrik akademika. Selain itu, di rubrik sorot kami mengangkat perihal anggaran LK yang dinilai minim. Khususnya anggaran untuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Dalam rubrik ini kami juga menghimpun data anggaran per periode dari enam UKM dan tanggapan dari birokrasi. Eks Dewan Mahasiswa Universitas (Dema-U) Askar Nur juga turut berkomentar menanggapi surat edaran rektor perihal pembatasan jam malam di rubrik opini. Sementara di rubrik sastra kami menyuguhkan cerita pendek yang mengisahkan persahabatan dua insan dan puisi perjuangan dari mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Kami juga menghadirkan rubrik khusus spesial milad UIN Alauddin Makassar ke-54. Pada rubrik ini, ada tiga berita yang kami tuliskan merangkum rangkaian kegiatan milad UIN tahun ini. Terakhir, yang paling penting kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang berpartisipasi dalam proses pembuatan tabloid ini. Selamat membaca!.

Melawan Tirani Mahasiswa sedang resah dengan aturan jam malam yang diedarkan rektor UIN Alauddin Makassar. Aktivitas kampus yang biasanya hingga pukul 22.00 WITA kini harus dihentikan sebelum kegelapan menyapa kampus dengan penerangan minim karena listrik yang mungkin harus dihemat. Kebijakan mengenai jam malam memang sudah terbit sejak 2017 hanya saja kala itu Prof Siti Aisyah selaku Wakil Rektor (WR) III memberikan kebijakan dengan syarat harus ada pembina atau pejabat yang siap mendampingi. Regulasi yang diterapkan kembali baru-baru ini, tentu saja membuat mahasiswa bingung, apa gerangan Lembaga Kemahasiswaan (LK) dibatasi melakukan aktivitas di malam hari. Bukan lagi pukul 22.00 WITA tapi seluruh aktivitas yang tidak melalui persuratan tidak akan menikmati fasilitas di atas pukul 17.30 WITA. Menurut birokrat, pelarangan ini kembali diberlakukan karena laporan tentang kegiatan

tidak bermoral dilakukan mahasiswa. Padahal, itu bukan alasan. Apa guna Satuan Pengamanan (Satpam) dan Komisi Disiplin (Komdis)? Keputusan ini seolah sewenang-wenang karena dilakukan secara sepihak tanpa melibatkan mahasiswa yang secara tidak langsung menjadi korban. Hal ini tentu saja membuat mahasiswa merasa terkekang karena waktu yang harusnya digunakan untuk mengasah kreativitas dan menyiapkan segala acara kelembagaan, harus dipaksakan berhenti karena batasan berkegiatan malam. Juga, mahasiswa menganggap bahwa pelarangan yang dilakukan oleh birokrat seolah membungkam nalar kreativitas mahasiswa. Karena faktanya, kegiatan malam yang aktif kemarin mampu membawa UIN meraih akreditasi A. Jangan sampai, pelarangan berkegiatan malam bukan hanya sekedar kegiatan negatif yang ditakutkan. Tapi, nalar kritis mahasiswa yang semakin terbentuk menjadi ketakutan birokrat. Sehingga larangan berkegiatan malam ini menjadi alat untuk membungkam mahasiswa secara pelan-pelan. Dekret dari rektor ini pun sangat berdampak bagi lembaga terutama jurusan yang menyiapkan ajang kreativitas disebut inaugurasi. Kini, di perumahan atau lahan kosong sekitaran kampus seolah menjadi pasar yang dipenuhi mahasiswa untuk latihan. Ini tentu harus tetap menjadi pertimbangan para petinggi kampus, karena kegiatan malam yang bersifat positif, harus menjadi korban hanya karena kegiatan amoral yang dilakukan beberapa oknum yang harusnya bisa ditindaki.

Pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Informasi Mahasiswa Alauddin (LIMA) Periode 2019/2020

Ilustrasi: Viviana Basri


TOPIK UTAMA

www.

washilah.com

Edisi 111| Rabiul Awal 1441 Hijriyah | November 2019 Masehi

MENOLAK ATURAN JAM MALAM

3

Aksi - Masa aksi menyampaikan aspirasi di depan gedung Rektorat, Senin (11/11/2019), Foto: Muh. Ilham Noer Hamsah (Magang)

Washilah – Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis mengeluarkan Surat Edaran terkait pembatasan aktivitas malam. Hal ini menuai kritik dan penolakan dari Lembaga Kemahasiswaan (LK). Pasalnya, surat yang bernomor B/8/0/Un.06.I/ PP.00.9/10/2019 dianggap mengekang kreativitas dan produktivitas mahasiswa.

K

etua Dewan Mahasiswa Universitas (Dema-U) menilai pemberlakuan jam malam membuat LK terbatas melakukan kegiatan di dalam kampus. “Kalaupun nanti ada hal-hal yang sifatnya negatif saya harap silahkan pimpinan protes dengan oknum, jangan disamaratakan,” jelasnya saat dialog di ruang rapat Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan. Diketahui pembatasan jam malam ini mulai berlaku sejak tanggal 31 Oktober lalu, efek dari edaran ini mengharuskan mahasiswa terpaksa berkegiatan di luar kampus, pada malam hari. Kondisi tersebut diakui salah satu Mahasiswa Teknik Arsitektur, Jawariah, selama ini dia mesti melatih pengisi acara festival jurusanya di lahan parkir kantor Pemasaran Perumahan Royal Spring, Jalan Tun Abdul Razak, Kecamatan Somba Opu, Gowa. “Pernah latihan di pelataran auditorium, tapi sebelum magrib sudah disuruh bergeser oleh Satuan Pengaman (Satpam),” akunya, Jumat (8/11/2019). Selain itu, Ia mengkhawatirkan aktivitas latihan mereka mengganggu ketenteraman warga sekitar. Meski begitu pihaknya masih bertahan di lokasi tersebut, mengingat waktu festival yang direncanakan digelar Desember mendatang. Terlebih kampus hanya memfasilitasi mahasiswa pada siang hari. “Sementara di siang hari, adik-adik yang ikut latihan kan kuliah sampai jam empat, yah mau tidak mau di malam hariji kita punya waktu untuk latihan, itupun harus atur jadwal dengan jurusan lain karena banyaknya jurusan yang gunakan pelataran (lahan parkir) Perumahan Royal Spring,” terangnya. Kesulitan juga dialami salah satu Panitia Inagurasi Jurusan Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) bernama Wahyu Suci Ramadan. Dia menuturkan lantaran pembatasan jam malam tersebut pihaknya harus mencari lokasi lain untuk digunakan sebagai tempat latihan yang hingga kini belum ditemukannya.”Iye, susah dapat tempat latihannya karna kalau keluar dari kampus nanti memicu keributan semisal latihan perkusi,” ungkap tutur mahasiswa semes-

ter tiga ini. Lebih jauh Wahyu berharap agar pimpinan universitas utamanya rektor bisa memberikan toleransi waktu bagi teman-temannya berlatih di dalam kampus “Kalau di luar kampus sendiri temanteman susah untuk di kumpulkan, jadi memang tepatnya harus di kampus agar teman-teman yang lain tidak terlalu jauh untuk latihan,” pintanya. Hal serupa dialami ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Tapak suci, Ismail yang mengaku tidak pernah lagi menikmati matras latihan atau rapat saat malam hari di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa, padahal september nanti akan mengikuti kejuaraan nasional di Universitas Muhammadyah Makassar. “Kita ingin mengikuti kejuaraan tentunya kita harus memilih latihan tambahan dan diambil jam malam,” terang Mahasiswa Manajemen Dakwah FDK. Mail berpendapat pembatasan aktivitas mahasiswa pada malam hari membuat produktivitas anggotanya menurun. Padahal pimpinan universitas dahulunya memberikan batas kegiatan LK sampai pukul 22.00 WITA.”Kalau sekarang, kadang kita menyurat belum tentu kami diizinkan,” pungkasnya. Kebijakan pembatasan LK hingga pukul 22.00 WITA dibenarkan Wakil Rektor (WR) bidang kemahasiswaan dan alumni periode 2015-2019, Prof Siti Aisyah. Dia menerangkan kebijakan mengenai pembatasan jam malam sudah ada sejak tahun 2017, namun kala itu LK meminta agar diberi dispensasi waktu menikmati fasilitas kampus hingga pukul 22.00 WITA. “Ada permintaan mahasiswa karena itu namanya kebijakan. Boleh, tapi kan ada persyaratan misalnya harus ada dosen atau pejabat yang siap mendampingi dan seterusnya,” ungkapnya. Berbeda dengan sekarang, penetapan waktu berkegiatan LK hanya sampai pukul 17.30 WITA diikuti dengan reaksi para pimpinan dan Satpam universitas yang melakukan penertiban terhadap mahasiswa jika melebihi batas jam berkegiatan yang telah ditetapkan. Keputusan Sepihak Menanggapi hal itu, Dosen Hukum Ad-

ministrasi Negara UIN Alauddin Makassar Dr Andi Safriani SH MH mengatakan penyusunan agenda kebijakan seyogianya dilakukan berdasarkan tingkat urgensi dan esensinya serta melibatkan stakeholder. Contohnya LK, pakar, pimpinan universitas sejajaran. “Dalam asas-asas umum pemerintahan yang baik itu ada asas partisipasi dan hal itu tidak boleh dikesampingkan. Karena

Tidak ada pelarangan jam malam, namun setiap LK wajib bersurat membuat perizinan saat hendak berkegiatan pada malam hari Prof. DarussalamSyamsuddin Wakil Rektor III asas itu dasar dari sebuah norma atau aturan, harus ada keterlibatan semua stakeholder,” jelasnya. Sementara itu, Ketua Senat Mahasiswa (Sema) Universitas Ahmad Nur Ansari menyayangkan langkah pihak birokrasi yang mengambil sikap secara sepihak, ia mengakui LK tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan pembatasan aktivitas mahasiswa di malam hari. “Jika ingin membuat aturan atau kebijakan yang menyangkut tentang mahasiswa tolong libatkan kami sebagai mahasiswa jika memang tidak bisa melibatkan secara keseluruhan, cukup libatkan organisasi kemahasiswaan yang ada di tingkat universitas maupun fakultas,” pungkasnya. Intervensi Aktivitas LK WR III Prof Darussalam berdalih surat edaran rektor ditengarai karena banyaknya laporan dari pihak keamanan ke bidang kemahasiswaan yang menyebut pada

jam malam mahasiswa diduga kerap bertindak amoral. “Seperti pesta minuman keras, tawuran, bahkan tindakan asusila,” tukasnya Bahkan Darussalam mengaku keluarnya surat edaran ini sudah sesuai prosedur, serta telah melibatkan stakeholder di dalam kampus. Hal tersebut dikemukakan saat melakukan audience bersama LK beberapa waktu lalu. ”Jadi saya katakan dalam kaitannya dengan edaran itu kalau semua yang anda maksudkan itu tidak ada perlibatan warga kampus, anda keliru,” pungkasnya. Junaedi menyebutkan birokrasi kampus selalu hadir dan menancapkan otoritas serta kontrol lewat aturan. Hal itu dilihat lewat kebijakan yang dapat membunuh kreativitas mahasiswa, keluarnya surat edaran rektor itu sama saja mengintervensi kegiatan LK. “Kalaupun waktu sabtu dan minggu itu dipakai untuk berkreasi, saya rasa itu tidak cukup walaupun dengan dalih bahwa jangan sampai terjadi hal-hal amoral dan sebagainya,” tambahnya. Ketua UKM Kopma, Safri menilai aktivitas malam memberi manfaat positif bagi kampus, ditunjang dengan sejumlah prestasi yang telah diraih LK karena aktivitas latihan yang intens di malam hari. Prestasi tersebut juga dapat membantu dalam proses akreditasi institusi. Maka dari itu, Safri menyayangkan birokrasi seolah menggeneralkan kegiatan mahasiswa sebagai sesuatu yang amoral. Padahal tindak amoral yang dimaksud mungkin saja dilakukan oknum yang tak bertanggung jawab. “Jangan membuat kami juga terlibat di dalamnya yang kemudian fokus untuk beraktivitas positif. Begitu prof,” tegasnya. Namun Darussalam menyangkal membatasi ruang gerak mahasiswa, ia berdalih berusaha mengontrol aktivitas kemahasiswaan saat malam hari lewat regulasi perizinan setiap LK, sehingga kemahasiswaan beserta keamanan mampu mengawal setiap kegiatan yang berlangsung pada malam hari. “Tidak ada pelarangan jam malam, namun setiap LK wajib bersurat membuat perizinan saat hendak berkegiatan pada malam hari,” terangnya. Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) Abrisal angkat bicara perihal setiap aktivitas malam yang harus memperoleh izin secara tertulis dari pimpinan. Ia menilai hal itu justru me-

nyulitkan mahasiswa, terlebih jika pejabat yang dimintai tanda tangan tidak berada di tempat, atau berbagai hal yang akan menghambat kinerja LK. “Deh formalitas sekali, pun sistem pelayanan UIN Alauddin yang sering menyulitkan. Aturan-aturan seperti inilah yang mencederai common sense publik,” tegasnya. Aturan Prematur Dalam buku saku UIN Alauddin Makassar berdasarkan Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Islam Nomor 4961 Tahun 2016 tentang organisasi kemahasiswaan, fungsi LK sebagai perwakilan mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) untuk menampung dan menyalurkan aspirasi mahasiswa, wahana komunikasi antar civitas akademika, dan pengembangan potensi. Dr Andi Safriani MH menjelaskan bahwa surat edaran bukan bagian dari peraturan per undang-undangan karena tidak ada dalam hierarki, edaran dibuat hanya sebagai pelaksana teknis dari sebuah peraturan per Undang-Undangan Perguruan Tinggi (UU PT) karena penyelenggaraan pendidikan tinggi idealnya mengacu pada UU PT No.12 tahun 2012. “Pertanyaanya kemudian adalah apakah surat edaran tersebut bertentangan dengan pasal dalam UU PT no 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi,” sebutnya. Ia menyarankan sebaiknya LK meminta rektor untuk dikaji kembali dengan mencoba melihat pasal 4 UU PT yang berbunyi fungsi pendidikan tinggi untuk mengembangkan sivitas akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif melalui pelaksanaan tridarma. “Caranya melayangkan surat keberatan ditujukan kepada rektor sebagai pembuat kebijakan,” ungkapnya. Lebih lanjut, edaran rektor bisa dicabut atau dibatalkan jika dalam surat keputusan Rektor UIN Alauddin Makassar nomor : 174 tahun 2017 bertentangan dengan pasal 4 UU PT tahun 2012. “Prosedurnya mengajukan gugatan ke PTUN. Tapi langkah ini sebenarnya langkah akhir kalau tidak bisa lagi diselesaikan secara internal,” jelasnya. *Penulis: Viviana Basri *Editor: Muhammad Aswan Syahrin


4

SPESIAL MILAD

www.

Edisi 111| Rabiul Awal 1441 Hijriyah | November 2019 Masehi

washilah.com

Porseni Milad Hanya Milik Dosen dan Pegawai

P

Ia menuturkan kekecewaannya terhadap keputusan birokrasi yang tak melibatkan mahasiswa berpartisipasi dalam Porseni tahun ini. “Rugi dong kita yang atlet. Mau ikut event di luar, pengalaman main kurang. Bagaimana bisa keluar kalau nda bagus mental di rumah sendiri,” curhat atlet volley ini. Menanggapi hal tersebut, Alwan Suban mengatakan, ini bukan tanpa alasan. Semua telah dipertimbangkan hingga melahirkan keputusan ini. “Ini kan pimpinan masih transisi, dan kondisinya sekarang kita di pertengahan tahun jadi berkaitan dengan efisiensi dan efektif, itu yang menjadi dasar kita,” lugasnya. “Awal tahun depan, kita punya event regional yaitu Poros Intim di Kendari. Mahasiswa harus dilibatkan, kemudian dua tahun akan datang juga ada Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR). Jadi saya katakan pada pimpinan setiap kali ada event, mahasiswa harus dilibatkan karena kita cari bibit untuk persiapan event yang lebih besar lagi,” tambah Alwan. Tapi, bagi Aswar hal ini bukan persoalan masalah politik yang mau dibahas tapi bagaimana masa transisi itu kemudian bisa menjadi sebuah wadah ataupun ruang silaturahmi dengan pimpinan baru, bukan seakan-akan ingin membatasi. “Justru fase transisi yang sepatutnya menjadi penguatan sinergitas antara semua elemen kampus,” tegasnya. Hal tersebut juga diamini oleh Amrullah, baginya alasan birokrasi tidak mengikutsertakan mahasiswa tidaklah masuk akal. Seharusnya, masa transisi menjadi ruang silaturahmi mahasiswa dengan penentu kebijakan yang baru. “Tidak masuk akal, justru karena masa transisi maka seharusnya komunikasi ataupun pelibatan mahasiswa dalam segala hal harus lebih diperkuat,” tandasnya. *Penulis : Suhairah Amaliyah

Washilah – Sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dibawah naungan Kementerian Agama (Kemenag), UIN Alauddin Makassar turut berpartisipasi dalam menangkal paham radikalisme. Salah satu wujud kontribusinya tertuang pada Milad UIN Alauddin Makassar yang ke-54 dengan mengusung tema “Memperkuat Sintesa Keilmuan dan Memupuk Moderasi Keberagaman untuk Mewujudkan UIN Alauddin yang Maju”. Ketua Panitia Alwan Suban mengatakan, tema lomba seni pada Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) sebagai rangkaian kegiatan milad UIN Alauddin Makassar ke-54 bertemakan “Moderasi Beragama”. “Lomba pidato dan puisi dengan tema moderasi agama, keberagaman,” tuturnya. “Tema ini hadir karena UIN Alauddin punya pemikiran, punya perhatian dalam rangka menangkal radikalisme. Konsepnya sama, jadi nilai-nilai moderasi agama itu diutamakan,” tambahnya lagi. Terkait surat edaran Kemenag, UIN Alauddin Makassar telah membicarakan soal pembangunan rumah moderasi. Terlebih memang moderasi beragama ini adalah salah satu isi dalam Pancacita Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Hamdan Juhannis Ph D di bidang akademik. “Sudah dirapimkan, rencana akan dibentuk tim, dan memang pancacita pak rektor yang kedua adalah moderasi beragama. Tinggal yang ditunggu ini action dan anggaran,” beber Wakil Rektor (WR) I Prof Mardan saat ditemui di ruang ker-

janya, Rabu (06/11/2019). UIN Hadapi Radikalisme Saat penyambutan Mahasiswa Baru (Maba) pada tanggal 2 September lalu, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis Ph D meminta agar mahasiswa tidak mudah terpapar oleh radikalisme. “Di sinilah tempatnya untuk belajar Islam dengan tepat, benar dan proporsional dengan watak moderasi beragama,” ujarnya, dilansir website uin/alauddin. ac.id, Senin (02/09/2019). Sebagai representasi negara, lingkungan kampus UIN Alauddin Makassar menurut Hamdan harus bebas dari gerakan-gerakan Islam ektsrim dan radikal. “Kita akan memberikan sanksi yang sangat tegas karena itu bertentangan dengan visi Kementrian Agama dan juga visi kepemimpinan rektor dan itu sama sekali tidak dibenarkan,” dilansir dari wesite uin/alauddin.ac.id (03/09/2019). Olehya itu, untuk mencegah mahasiswa baru masuk dalam gerakan-gerakan islam ekstrim dan radikal, pihak kampus akan menguatkan fungsi dan peran penasehat akademik. “Kita menguatkan peran fungsi penasehat akademik untuk menjaga mereka, kemudian pembelajaran di dalam kelas kita pastikan bahwa yang mereka pelajari adalah nilai-nilai moderasi yang membuat mereka bisa menjaga nilai rahmatan lilalamin dalam menjaga agama kita, “ ungkapnya. Bagi WR I Prof Mardan, menangkal paham radikalisme juga ia galakkan di bidang akademik, dan bukan hanya pada ta-

Gerak Jalan Santai - Ratusan sivitas akademika UIN Alauddin Makassar mengikuti gerak jalan santai sebagai rangkaian acara milad UIN Alauddin Makassar ke-54, Sabtu (9/11/2019).

Foto: Humas UIN

Milad UIN ke-54 Usung Tema Moderasi Keberagaman

Foto: Isna (Magang)

erayaan milad tahun ini hanya dirasakan oleh segelintir masyarakat kampus. Pasalnya, mahasiswa tidak ikut berpartisipasi pada kegiatan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) sebagai salah satu rangkaian kegiatan milad. “Iya, pegawai saja. Jadi pegawai dan dosen. Bukan mahasiswa,” terang Ketua Panitia Alwan Suban saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (04/11/2019). Sekretaris Jenderal (Sekjen) Aswar Asmar berpendapat, keputusan ini malah hanya akan memundurkan rasa sinergitas antara civitas akademika UIN Alauddin Makassar. Dimana, pada tahun sebelumnya semua elemen kampus ikut menyemarakkan dan menyambut milad UIN dengan penuh rasa semangat. Menurutnya, tahun ini menjadi sebuah kemunduran. “Seakan-akan cuman segelintir orang yang merasakan padahal kita ini satu naungan di kampus peradaban,” tuturnya. Selaras dengan Aswar, Mahasiswa Jurusan Ekonomi Islam Amrullah mengatakan, ketidakterlibatan mahasiswa dalam Porseni merupakan sesuatu hal yang sangat tidak wajar, mengingat mahasiswa adalah bagian terpenting dari kehidupan kampus. “Sangat tidak wajar, rektor saat ini terlalu banyak kebijakan yang dikeluarkan dan tidak berpihak pada mahasiswa,” geramnya. Hal serupa juga dirasakan oleh Novita Sari, Mahasiswa Jurusan Manajemen dan Haji. Ia mengaku kecewa dengan kampus karena tidak melibatkan mahasiswa. “Sebenarnya mahasiswa harus terlibat karena biar bagaimana pun inikan milad kampus, bukan milad dosen dan pastinya banyak juga mahasiswa yang bertanyatanya dalam rangka apa ini lomba-lomba yang diadakan di kampus. Karena banyak mahasiswa tidak tahu kalo ini lomba ternyata dalam rangka milad kampus,” akunya. Begitupun yang dialami oleh Mahasiswa Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Jumriah Fiati.

UPACARA PEMBUKAAN - Milad UIN Alauddin Makassar ke-54 dibuka secara resmi oleh rektor Prof. Hamdan Juhannis ditandai dengan pemukulan gendang, Jumat (01/11/2019).

taran mahasiswa tetapi juga pada pegawai dan dosen. “Di bidang pendidikan pengajaran harus diterapkan bahwa dosen juga harus diawasi jangan sampai mahasiswa diawasi lalu dosen tidak bisa diawasi,” terangnya. Menurutnya, bisa jadi ada dosen ikut terlibat. Bahkan Badan Intelijen Negara (BIN) mengindikasi ada dua orang yang dicurigai. Juga salah satu langkah UIN Alauddin Makassar menangkal radikalisme dengan tidak memberikan jabatan kepada dosen yang sudah terindikasi. “Badan Intelijen Negara (BIN) kesini untuk menyampaikan bahwa tolong yang terlibat langsung dengan kerjasama dengan Syiah dan Ahmadiyah jangan beri jabatan,” kata Mardan. Dari tataran mahasiswa sendiri, kampus mengeluarkan kebijakan berupa surat edaran pembatasan berkegiatan malam. Kebijakan ini menurut Mardan merupakan salah satu langkah kampus menangkal radikalisme di kalangan mahasiswa. “Sekarang ini semua kegiatan mahasiswa harus dipantau, silahkan berkegiatan untuk mengembangkan softskillnya tapi tetap para Wakil Dekan III mengikuti dan memantau, jangan sampai ada doktrin-doktrin paham radikalisme,” terangnya. “Seluruh kegiatan kemahasiswaan itu harus terjadwal terlapor di masing-masing WD III fakultas,” tambahnya lagi. *Penulis : Suhairah Amaliyah

JK Isi Orasi Ilmiah di Puncak Milad UIN Washilah – Sejak tanggal 1 November lalu, kegiatan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) resmi dibuka oleh Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Hamdan Juhannis Ph D di lapangan upacara kampus II. Selebrasi yang mengusung tema “Memperkuat Sintesa Keilmuan dan Memupuk Moderasi Keberagaman untuk Mewujudkan UIN Alauddin yang Maju” ini akan menghadirkan eks orang kedua di Indonesia Jusuf Kalla sebagai pembicara orasi ilmiah pada puncak acara tanggal 13 November 2019 mendatang. “Tanggal 1 kemarin pembukaan dan puncaknya nanti tanggal 13 pas ada pak Jusuf Kalla (JK),” beber Ketua Panitia Milad Alwan Suban. Kegiatan ini berlangsung selama 13 hari dan pada tanggal 9 November dilaksanakan jalan santai seperti tahun-tahun sebelumnya. “Insya Allah tanggal 9 kita gerak jalan santai secara massal, diikuti semua keluarga besar, seperti tahun lalu,” kata Alwan, Senin (04/11/2019). “Diberikan baju seragam. Jadi startnya

dari kampus, kalau tahun lalu rutenya sampai di Royal Spring. Nah tahun ini rutenya kami persingkat, hanya sampai depannya Masjid Cheng Ho. Putar kembali, masuk dalam kampus. Setelah keliling, finalnya di basement auditorium. Disitulah pimpinan istirahat sambil menunggu pencabutan doorprize,” tambahnya lagi. Alwan juga menyampaikan, kegiatan Porseni hanya berlangsung dari tanggal 1 hingga 10 November dan dua hari sebelum puncak kegiatan untuk mempersiapkan kedatangan Jusuf Kalla. “Tanggal 11, 12 itu persiapan kita menghadapi puncak acaranya,” katanya lagi. Adapun cabang olahraga dan seni yang dipertandingkan adalah, di cabang olahraga diantaranya tarik tambang, lari karung, bulutangkis, futsal dan tenis meja. Untuk di cabang seni diantaranya lomba lagu solo, pidato, puisi dan tadarus. *Penulis : Suhairah Amaliyah


5

AKADEMIKA

www.

washilah.com

Edisi 111| Rabiul Awal 1441 Hijriyah | November 2019 Masehi

Tidak Ada Reduksi UKT di atas Semester VIII bahwa sejak awal mahasiswa masuk UIN, tidak pernah bagian akademik mengkaji atau membicarakan perihal adanya penurunan UKT setelah mahasiswa memasuki semester IX. Bahkan sebenarnya mahasiswa semester IX harus membayar lebih tinggi dari UKT sebelumnya. Karena menurut Irwan, tuntutan UKT harus selesai tepat waktu yakni sampai semester VIII. Jika tidak, maka harus membayar lebih dari itu. Karena UKT dibayar berdasarkan subsidi dari mahasiswa terkait dari pembayarannya. “Mahasiswa selama semester IVIII berkewajiban membayar sesuai dengan UKT yang disepakati di awal, dan untuk UKT semester IX, apabila mahasiswa tidak dapat menyelesaikan dengan tepat waktu, menurut aturan yang sebenarnya adalah diharuskan membayar lebih tinggi dari nominal UKT sebelumnya,” jelasnya. “Ketika dia di semester IX. Misal, mau Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau berkegiatan maka harus membayar karena dia tidak memakai lagi UKT dari semester I-VIII yang ditanggung oleh universitas,” lanjut Irwan. Bukan tanpa alasan, kebijakan kampus menurut Irwan mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan

UKT sudah ditetapkan bahwa pembayaran paling minimal VIII semester dan itu tidak akan berubah sampai mahasiswanya selesai. Jadi tidak ada istilah penambahan atau pengurangan. Karena itulah kontrak mahasiswa dengan perguruan tinggi selama dalam proses perkuliahan Wakil Rektor I Bidang Akademik Prof Mardan

Dok. Pribadi Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas sains dan Teknologi (FST) tahun 2018

Washilah – Meski penggunaan fasilitas kampus dan jumlah Satuan Kredit Semester (SKS) bagi mahasiswa di atas semester VIII berkurang, tak lantas menjadi pertimbangan untuk mengurangi jumlah Uang Kuliah Tunggal (UKT) mereka.

M

ahasiswa Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Syamsul Arif Putra saat ditanya perihal penurunan jumlah UKT bagi mahasiswa semester lanjut, ia beranggapan bahwa sebenarnya hal tersebut bersifat fleksibel, tergantung dari sasarannya siapa. Menurut Syamsul, untuk dirinya yang berasal dari keluarga berekonomi rendah, harusnya jadi pertimbangan agar mendapatkan penurunan UKT, berbeda jika memang mahasiswa terkait dari keluarga dengan ekonomi tinggi. Baginya itu sah-sah saja. “Sebenarnya tergantung sasarannya siapa, tapi masalahnya di kampus ta dari awal memang penerapan kategorinya tidak tepat sasaran,” terang mahasiswa semester IX itu. Lebih lanjut, Syamsul menyampaikan keluhannya terhadap kebijakan kampus. Sebagai mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi, ia beranggapan penerapan kategori UKT tidak tepat sasaran. “Penerima bidikmisi itu, pasti paham maki miskin ki, tapi kategori yang kudapat paling tinggi, rasional tidak?,” keluhnya. Eks Dewan Mahasiswa Universitas (Dema-U), Askar Nur juga mengeluhkan dan merasa tertekan dengan jumlah UKT yang ia dapatkan. Ia beranggapan, hal tersebut merupakan kebijakan yang tidak adil. “Semester IX kebanyakan tidak lagi menikmati fasilitas perkuliahan, kalaupun ada itu hanya regular, juga tidak akan regular 20 SKS, harusnya dihitung berdasarkan kebutuhan SKS atau kebutuhan

mahasiswa di dalam universitas,” terang mahasiswa semester XI itu. Meski demikian, Wakil Rektor I Bidang Akademik Prof Mardan menegaskan bahwa tidak ada dispensasi berupa pengurangan jumlah UKT untuk mahasiswa semester lanjut. Menurut Mardan perihal tersebut telah diatur dan ditetapkan. “UKT sudah ditetapkan bahwa pembayaran paling minimal VIII semester dan itu tidak akan berubah sampai mahasiswanya selesai. Jadi tidak ada istilah penambahan atau pengurangan. Karena itulah kontrak mahasiswa dengan perguruan tinggi selama dalam proses perkuliahan,” tegasnya. Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala Biro Anggaran Umum Kepegawaian dan Keuangan (AUPK) Alwan Suban bahwa tidak ada pengurangan anggaran untuk mahasiswa di atas semester VIII. “Tidak, tidak dikurangi, kan anggaran tadi sudah dihitung sesuai dengan jumlah semester yang dilalui. Delapan semester itu sudah dihitung, tapi kalau lebih dari itu tidak lagi ditanggung oleh negara,” katanya. Mahasiswa di atas Semester VIII Tetap pada UKT Sebelumnya Kepala Sub bagian Penyusunan Evaluasi, Pelaporan Program dan Anggaran Bagian Perencanaan Biro (AUPK) Jufriadi. Ia mengungkapkan, selama belum ada aturan resmi maka mahasiswa semester IX masih tetap mengikuti pembayaran pada semester sebelumnya. “Mahasiswa yang belum selesai

hingga semester VIII, masih tetap mengikuti pembayaran pada semester sebelumnya. Di Pendidikan Tinggi (Dikti) pun tidak ada aturan yang mengatakan bahwa di semester IX pembayarannya rendah, dan untuk keringanan nominal UKT dari kampus itu belum ada,” tuturnya. Ia juga menambahkan, terkait keringanan UKT di semester IX, bidang perencanaan hanya bertugas untuk mengkompilasi, sehingga belum memikirkan hal tersebut. Tapi, mereka tidak bisa menutup kemungkinan, jangan sampai hal itu sudah ada di kepala pimpinan tapi belum di eksekusi. Lebih lanjut Jufriadi menegaskan bahwa tidak ada aturan untuk mengganti sistem UKT menjadi sistem SKS di semester IX. Sehingga menurutnya selama menjadi mahasiswa maka akan tetap masuk dalam sistem UKT. “Saya belum pernah melihat aturan untuk itu, tapi anda bisa cari informasinya, siapa tahu ada, yang mungkin bisa jadi rujukan untuk kita membuat regulasi itu,” ujarnya. Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan dan Kerjasama (AAKK) Yuspiani juga mengatakan hal serupa bahwa pembayaran semester IX tetap pada UKT yang sebelumnya. “Untuk semester IX tetap membayar UKT sampai selesai dan penentuan jumlah nominal UKT semester IX sama dari awal semester,” ungkapnya. Senada dengan Jufriadi dan Yuspiani, Kepala Bagian (Kabag) Akademik Drs Irwanuddin menjelaskan

Budaya (Permendikbud) No 55 tahun 2013, yang mengubah sistem Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) menjadi sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT). Maka penetapan dan perancangan Biaya Kuliah Tunggal (BKT) hanya mengatur mahasiswa membayar mulai semester I-VIII untuk strata satu dan semester I-VI untuk diploma. Aturan tersebut diperkuat dalam pedoman penyusunan Standar Satuan Biaya Operasional Perguruan Tinggi Negeri (SSBOPTN) yang dikeluarkan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), dimana telah diatur perhitungan paket BPOTN dibagi dengan angka delapan untuk jenjang sarjana dan enam untuk jenjang diploma. Ia juga menambahkan bahwa peraturan perihal pembayaran UKT lebih tinggi di semester IX belum direalisasikan karena belum adanya regulasi yang disepakati oleh seluruh dekan terkait hal tersebut. Sehingga pembayaran mahasiswa semester IX masih mengikuti jumlah UKT semester sebelumnya, dan untuk batasan dari aturan yang hanya sampai semester VIII bukan hanya di UIN Alauddin Makassar tetapi keseluruhan. Lebih lanjut Irwan menyampaikan bahwa belum ada pembicaraan tentang adanya penurunan pembayaran untuk mahasiswa semester IX. UIN masih tetap mengacu pada regulasi yang ada, kecuali jika ada masukan dari Lembaga Kemahasiswaan seperti Dema-U, dengan duduk bersama membicarakan dan menyampaikan terkait alasannya, maka dari akademik siap memfasilitasi. “Kami siap memfasilitasi,” bebernya. Pengurangan UKT Bersifat Individu UKT kembali diperjelas pada Permesristekdikti Nomor 39 Tahun 2016 tentang Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal pada Perguruan Tinggi Negeri di Lingkungan Kemenristekdikti. Dalam pasal 1

(6) bahwa Uang Kuliah Tunggal yang selanjutnya disingkat UKT adalah sebagian BKT yang ditanggung setiap mahasiswa berdasarkan kemampuan ekonominya. Kemudian diperjelas lagi dalam pasal 3 (1) bahwa UKT terdiri atas beberapa kelompok yang ditentukan berdasarkan kemampuan ekonomi mahasiswa, orang tua mahasiswa, atau pihak lain yang membiayainya. Karena UKT mengacu pada kondisi perekonomian yang artinya fluktuatif, maka konsekuensi logisnya adalah UKT dapat berubah pula sesuai kondisi kemampuan perekonomian. Meski UKT di semester IX tetap pada UKT sebelumnya, pihak kampus memberikan keringanan perihal penurunan UKT bagi mahasiswa bukan hanya untuk semester di atas VIII tetapi berlaku untuk semua yang terdaftar sebagai mahasiswa. Pengurangan nominal UKT pada mahasiswa hanya berlaku dan dapat ditanggapi oleh pihak universitas apabila mahasiswa yang bersangkutan melakukan penyampaian secara tertulis kepada pihak birokrasi, sehingga pengurangan nominal UKT ini tidak menyeluruh hanya bersifat individual. Kepala Biro AAKK Yuspiani menerangkan bahwa untuk meminta pengurangan UKT baik semester I-VIII maupun semester akhir dapat dilakukan dengan menyurat secara resmi. “Untuk meminta pengurangan jumlah nominal UKT itu menyurat saja secara resmi, karena disistem kita tidak bisa membedakan yang mana pelayanannya kurang yang mana tidak sesuai standar jadi perlu menyurat,” jelasnya. Lanjut, ia menyampaikan syarat untuk mendapatkan dispensasi penurunan UKT berlaku apabila pekerjaan orang tua mahasiswa kurang bagus, atau pekerjaan orang tuanya berubah, ada keluarga yang membiayai meninggal, atau terdapat masalah keuangan di internal keluarga. Semua boleh disampaikan tetapi secara tertulis agar hal itu bisa dianalisis permasalahannya dan dianggap krusial untuk dilakukan penurunan. “Setiap tahun kita evaluasi permintaan-permintaan seperti itu,” bebernya. Adapun untuk jalur administrasinya, Prof Mardan mengatakan surat tersebut merupakan rekomendasi dari masing-masing dekan. “Mengusulkan ke dekan, kemudian dekan yang beri rekomendasi ke rektor,” terangnya. Berbeda dengan Askar Nur, ia mengungkapkan ketidaksetujuannya perihal masalah keuangan atau variabel dari mahasiswa semester IX. Menurut Mardan, persoalannya berbeda dengan semester I-VIII. “Persoalannya disini adalah variabel dari semester IX ke atas itu berbeda dengan persoalan semester 1-VIII. Orang tua meninggal atau ekonomi keluarga berubah, saya rasa bukan itu persoalannya. Berbeda dengan semester 1-VIII yang apabila keluarganya tiba tiba bangkrut, hal itu jelas dipengaruhi ekonominya karena masuk dalam ranah UKT. UKT itu didasarkan oleh kemampuan ekonomi, sedangkan mahasiswa semester IX ke atas itu jelas beda variabelnya,”ujarnya. Askar Nur melanjutkan, bahwa semester IX tidak lagi melihat pertimbangan apakah ada bencana yang menyangkut ekonominya atau tidak. Terlebih yang diwadahi oleh UKT itu hanya semester I-VIII selebihnya lepas dari UKT. “Jadi yang diwadahi oleh UKT itu hanya semester I-VIII, selebihnya itu lepas dari UKT. Berarti ketika lepas dari UKT maka harus membayar sesuai kebutuhannya, apa yang diambil, itu yang di bayar,” tandasnya. *Penulis: Tri Susanti, Nur Qalbina Razak *Editor: Suhairah Amaliyah


6

LIFESTYLE

www.

washilah.com

Edisi 111| Rabiul Awal 1441 Hijriyah | November 2019 Masehi

Ekspresikan Kebahagiaan Lewat Buket I

bunga saat ini tidak hanya menggunakan bunga asli atau imitasi, namun kerap di kreasikan dengan baju, kerudung, snack hingga uang yang dirangkai sedemikian rupa sampai terlihat seperti sebuah buket bunga. Di Indonesia sendiri, sudah begitu banyak dijumpai berbagai kalangan yang menghadiri sebuah acara dengan membawa sebuah buket. Tidak terkecuali, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar. Tidak hanya menghadiri acara wisuda atau pernikahan, acara yudisium hingga seminar proposal saja sudah sangat sering dijumpai seorang mahasiswa membawa buket sebagai ungkapan selamat kepada temannya. Nurfadillah Zalzman misalnya, Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini mengaku bahwa selain sebagai bentuk penghargaan kepada teman, alasan lain yang membuat dirinya merasa wajib harus membawa sebuah buket atau parcel saat acara wisuda, yakni perasaan tidak enak atau malu jika hanya datang dengan tangan kosong. “Kan tidak enak kalau yang lain datang bawa parcel dan kita sendiri datang dengan tangan kosong,” akunya. Jadi selain dari bentuk rasa penghargaan, tradisi membawa sebuah buket atau parcel juga lahir dari rasa tidak enak atau merasa malu jika menghadiri sebuah acara tapi datang dengan tangan hampa. Senada dengan Nurfadillah Zalzman, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Jurusan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora, Karina Yunita Utari turut

berkomentar terkait dengan tren buket saat ini. Selain dari ungkapan selamat dan sebagai kenang-kenangan, sebenarnya didasari juga dengan rasa tidak enak. Tapi tergantung sejauh apa hubungan orang yang akan dibawakan. “Kalau cuman kenalan biasa ya tidak masalah tidak bawa apa-apa, tapi kalau teman dekat kan tidak enak kalau datang hanya dengan tangan kosong,”. Yah, hubungan emosional juga menjadi faktor penting dalam hal ini, semakin dekat seseorang rasa sungkan itu juga akan makin tinggi. Selain teman sekelas, jurusan, teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) juga menjadi sasaran kebiasaan ini. KKN angkatan 60 Desa Tambangan misalnya, mereka menjaga silaturahmi dengan saling mengunjungi dan momen ujian proposal, hasil hingga yudisium menjadi ruang bagi mereka saling bersua. “Iya, wajib di teman poskoku bawa hadiah, gunanya yah, supaya ngumpul teruski, dan kelak selalu diingat teman posko,” kekeh salah satu anggota posko Desa Tambangan, Mega Hardiyanti Rauf. Alih-alih merasa terbebani, mereka malah menikmati dan merasa bersyukur “Bersyukur banget dong,” akunya. Dosen Psikologi Pendidikan, Eva Meizara Puspita melihat kebiasaan yang membudaya ini menilai, tren ini adalah sebuah fenomena yang bisa dimaknai dengan beberapa pandangan. Untuk fenomena ini bisa juga menjadi bagian dari ekspresi turut berbahagia karena telah melewati

Dok pribadi : Rahmania

kebana merupakan sebuah seni merangkai bunga yang berasal dari negara Jepang. Dalam catatan sejarah, buku tertua yang berisi tentang seni rangkaian bunga yang pernah ditemukan berasal dari Jepang sekitar tahun 1445. Ternyata kebiasaan membuat rangkaian buket bunga ini sudah lama dilakukan secara turun menurun di berbagai belahan dunia. Telah banyak ditemukan bukti-bukti peninggalan bersejarah berupa barang-barang kuno seperti vas bunga atau gambar simbol vas bunga dari zaman Mesir kuno. Seperti di Eropa salah satunya, rangkaian bunga sudah menjadi seni formal yang bahkan bisa menjadi sebuah sekolah tersendiri dan menjadi pekerjaan profesional. Di Belanda pada abad ke-18, dekorasi rumah para keluarga bangsawan seakan wajib harus ada karangan bunga. Namun seiring berkembangnya zaman, saat ini tren ungkapan perasan atau ucapan bisa dinyatakan dengan produk bunga palsu alias imitasi. Mengikuti tren di masyarakat yang lagi berkembang, berbagai inovasi terbaru telah banyak bermunculan. Saat inipun, buket bunga tidak hanya menjadi sebuah dekorasi rumah atau sebatas pajangan, buket bunga kini tengah menjelma menjadi salah satu barang yang wajib dibawa saat menghadiri berbagai acara-acara kelulusan hingga pernikahan. Hal tersebut perlahan menjadi sebuah tradisi di kalangan anak muda, terkhususnya mahasiswa. Mulai dari inovasi perpaduan antara buket bunga dengan boneka, bunga dengan berbagai kartu ucapan, bahkan buket

INOVASI BUKET - Buket berupa snack adalah salah satu inovasi karangan bunga yang saat ini marak dan menjadi solusi banyak mahasiswa sebagai wujud kebahagiaan dan ucapan selamat kepada teman seperjuangan.

beberapa fase hingga sampai pada titik pencapaian tersebut. “Ini bagian ekspresi kebahagiaan menyelesaikan serangkaian perjuangan yang cukup berat,” katanya. Tapi menurutnya, jika berlebihan, ini bisa menunjukkan bahwa orientasi mahasiswa tersebut masih berkutat pada hasil atau pujian semata. Ia beranggapan, mahasiswa belum terlalu luas pandangannya bahwa kehidupan ke depan masih panjang

dan mungkin saja lebih berat lagi. Tidak mengikuti tren bukan berarti tidak bahagia, setiap individu punya cara sendiri dalam berekspresi. “Tidak ikut merayakan euforia bukan berarti tidak bahagia, hanya saja setiap orang mungkin punya cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikannya, “jelasnya. *Penulis: Sri Resky Laura *Editor: Suhairah Amaliyah


washilah.com

7

SOROT

www.

Edisi 111| Rabiul Awal 1441 Hijriyah | November 2019 Masehi

Anggaran UKM Minim Pada tahun 2017 Anggaran Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) mengalami perubahan dari suntikan dana sebelumnya 10.juta menjadi 15 juta. Tapi penambahan ini dinilai masih kurang. Dari data yang berhasil Litbang Washilah kumpulkan, anggaran UKM dalam satu periode di atas angka 15 juta. Washilah - Dalam tatanan Lembaga Kemahasiswaan (LK) UIN Alauddin Makassar, jika hanya mengacu kepada anggaran dari kampus, dianggap akan membuat LK keteteran menjalankan Program Kerja (Proker). UKM misalnya, hanya mendapatkan anggaran sebesar 15 juta dalam satu periode. Dari 12 UKM, Litbang Washilah hanya mendapatkan enam data anggaran UKM dalam satu periode. Yakni, UKM LDK Al-Jami mencatatkan anggaran belanja sebesar Rp 44.400.000, UKM Taekwondo sebesar Rp 37.000.000, UKM Korps Sukarela (KSR) sebesar Rp 30.900.000, UKM Resimen Mahasiswa (Menwa) sebesar 20.700.000, disusul UKM Blackpanther sebesar Rp 20.000.000 dan UKM Lembaga Informasi Mahasiswa Alauddin (LIMA) yang memiliki anggaran belanja mencapai Rp 46.200.000 dalam satu periode. Anggaran ini menjadi keluhan yang dialami pengurus-pengurus UKM. Seperti halnya Ketua Umum Menwa, Baso Nasrullah yang menilai pihak kampus tidak serius dalam peningkatan kualitas mahasiswa. Hal ini terlihat dari alokasi anggaran kampus untuk LK yang terlalu minim, sehingga menghambat dalam segi peningkatan kualitas. “Dana dari setiap UKM bisa dikatakan nihil untuk melaksanakan beberapa kegiatan, utamanya melaksanakan program kerja unggulan, karena dana yang

disiapkan itu habis di kegiatan-kegiatan rutinitas dari setiap UKM, meskipun sekiranya dana yang ada dialokasikan kesetiap program kerja,” keluhnya. Senada dengan Baso, Ketua Umum Lembaga Dakwah Kampus (LDK) AlJami merasa bingung dalam menyediakan anggaran untuk anggotanya berpartisipasi di ajang perlombaan. Karena kucuran dana dari birokrasi habis untuk kelangsungan lembaga. “Biasanya juga kita mau biayai kader untuk ikut lomba dan lain-lain, cuman kita terkendala di biaya karena biayanya masuk di kegiatan-kegiatan besarnya LDK. Jadi, untuk menutupi semua, kita usaha sendiri penggalangan dana,” ungkapnya. Bendahara UKM LIMA, Andi Rini Sulestiani, mengungkapkan bahwa anggaran dari pihak kampus tidaklah cukup untuk menjalankan segala kebutuhan proker dalam satu periode, “Washilah bukan hanya lembaga tapi juga merupakan media, maka biaya operasional juga tidak sedikit, kalau dana dari kampus sendiri, untuk biaya cetak selama satu periode saja itu tidaklah cukup karena anggaran dari kampus hanya mampu menutupi maksimal tiga kali cetak, sedang kami sendiri di setiap kepengurusan minimal harus bisa enam kali cetak, jelas eks Bendahara Umum HMJ Kesehatan Masyarakat periode 2018 itu. Jika dibandingkan dengan LK dari luar UIN Alauddin Makassar, seperti Lembaga

Pers Mahasiswa (LPM) Ukhuwah dari UIN Raden Fatah Palembang. Anggaran UIN Alauddin Makassar sangat minim karena anggaran untuk LPM Ukhuwah dalam satu periode, sebanyak 10 juta, diluar anggaran cetak tabloid, sedangkan anggaran cetaknya sebanyak Rp 30 juta.

Sebenarnya untuk menaikkan anggaran LK tersebut yaitu melalui Rapim. WD III bersama WR III dan juga Rektor duduk bersama membicarakan anggaran untuk lembaga. Namun, lagi-lagi apabila LK menginginkan anggaran tersebut dinaikkan maka anggaran pendidikan (UKT) juga harus ikut dinaikkan

Alwan Suban Kabiro AUPK

“Anggaran dari kampus itu, 10 juta, beda lagi kalau untuk cetak majalah, ada lagi, 30 juta dalam satu kali cetak,” jelas Pimpinan Usaha LPM Ukhuwah UIN Raden Fatah Palembang, Monalia. Menanggapi kampus lain yang memiliki anggaran lebih tinggi, Kepala Biro (Kabiro) Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan (AUPK) Alwan Suban menjelaskan, masalah minimnya anggaran LK di UIN karena di antara semua kampus, UIN Alauddin yang memiliki Uang Kuliah Tunggal (UKT) paling rendah. “Sumber dana UKM berasal dari

*Infografis: Viviana Basri Badan Layanan Umum (BLU). Sebenarnya kita mau dana LK lebih dari itu. Hanya saja, dari beberapa survey ke kampus lain bersama pengurus LK, keliling UIN yang ada di pulau jawa, UKT kita yang paling rendah,” tuturnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (04/11/2019). Dia juga menambahkan bahwa menaikkan anggaran LK itu bisa saja dibahas melalui Rapat Pimpinan (Rapim) tapi solusinya UKT juga harus ikut naik. “Sebenarnya untuk menaikkan anggaran LK tersebut yaitu melalui Rapim. Wakil Dekan (WD) Bidang Kemahasiswaan bersama WR Bidang Kemahasiswaan dan juga Rektor duduk bersama membicarakan anggaran untuk lembaga. Namun, lagi-lagi apabila LK menginginkan anggaran tersebut dinaikkan maka anggaran

pendidikan (UKT) juga harus ikut dinaikkan,” tandasnya. Prof Darrussalam Syamsuddin selaku WR III juga menegaskan bahwa tolak ukur pemberian dana LK berdasarkan rapat di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memiliki beberapa ketentuan, misalnya jumlah anggota dan proker yang akan dilaksankan. “Pembagian dana kelembagaan itu harus berdasarkan rapat PTKIN, hanya saja untuk saat ini UIN Alauddin mengacu pada pedoman dan pemerataan anggaran untuk LK khususnya UKM kita masih samaratakan saja dulu yaitu Rp 15 juta,” pungkasnya. *Penulis: Junedi, Ramalia, Hikmah *Editor: Suhairah Amaliyah

*Penulis: Gufran *Desain: Ridah Amalia Hamzah (Magang) *Sumber: BMKG Sulawesi Selatan, kompas.com, dan Lifebuoy.id


washilah.com

Edisi 111| Rabiul Awal 1441 Hijriyah | November 2019 Masehi

Dari Hobi Jadi Bisnis

Nurhidayah Wardana Jurusan Jurnalistik Semester V

G

uratan senja mulai terlihat di ufuk peraduannya, matahari siap terbenam digantikan gelap sang rembulan. Bunyi klakson ribut memenuhi jalan, salip menyalip antar kendaraan pun tak terelakkan. Beberapa pemuda terlihat menepi dengan kendaraannya di depan sebuah warung kopi dengan plank besar bertuliskan Wardah Leaker. Sekonyong-konyong, seorang pria memanggil wanita bergamis ungu dengan jilbab yang senada pula, berdiri di balik meja dengan susunan gelas di depannya. Rupanya pria tersebut ingin memesan segelas kopi hitam tanpa gula. Dengan senyum tulus, lamat-lamat wanita bergamis itu mendengar pesanan pria tersebut. Tak lama ia berjalan menuju tempatnya berdiri tadi, berbicara sebentar

9

INSPIRASI

www.

dengan seoarang pria lain di sampingnya. Beberapa menit kemudian, pria tersebut membawa segelas kopi hitam lengkap dengan alasnya. Wanita bergamis inipun menerima dan membawanya menuju tuan pelanggan. Nurhidayah Wardana, akrab disapa warda, empat bulan terakhir tengah sibuk mengurus warkop yang didirikannya tepat pada tanggal 27 Juli 2019. Sebelum sampai ke titik tersebut ada banyak cerita yang telah terangkai dalam perjalanan warda. “Kiblat saya berbisnis adalah cacian orang lain terhadap orang tua saya. Mereka selalu memandang sinis ketika ayah mama memulai usahanya, namun mereka tetap berusaha dan tutup telinga atas cacian orang lain,” kenangnya. Sejak kecil Warda sudah berdagang, awalnya ia menjual alat tulis dan ikan hias. Setiap hari, saat diantar sang ayah, selain membawa tas sekolahnya, tak lupa ia juga membawa barang dagangannya untuk dijual. Bukan hanya menjual alat tulis dan ikan hias, ia juga menjual minyak tanah di depan rumahnya. “Pagi-pagi setelah sarapan, saya bergegas menuju sekolah. Menenteng tas, sambil membawa barang dagangan.” Saat itu, usahanya terbilang berhasil, apalagi usaha menjual minyak. Tahun tersebut, listrik di kampung Wardah belum sepenuhnya masuk. Begitupun dengan gas elpiji, tak banyak warga yang punya dikarenakan warga masih sangat

membutuhkan minyak tanah sebagai bahan bakar untuk lampu tradisional dan kompor hot. Gadis kelahiran Bone ini sama sekali tak merasa malu, bahkan hebatnya lagi ia merasa bangga, bisa membantu mengurangi beban orang tuanya. “Saat kecil, orang tua masih merintis usaha. Saya merasa punya tanggung jawab untuk mencari uang agar tak membebani mereka,” Melanjutkan Pendidikan di pesantren mengaharuskan Wardah vakum karena tak punya waktu dan ruang untuk berjualan. Barulah ketika duduk di bangku kelas tiga SMA, ia kembali menekuni hobinya tersebut dengan membuka online shop pribadi. Bisnisnya itu ia tekuni hingga memasuki bangku perkuliahan. Satu tahun ia menjajaki kehidupan kampus, ia kemudian memperlebar sayap usahanya dengan berjualan pulsa. “Melihat perkembangan pulsa yang bagus, akhirnya saya membuka ruko dari hasil menabung dari penjualan online shop dan pulsa. Namun, saya sulit dalam manajemen waktu, akhirnya ditahun yang sama, saya memutuskan berhenti di online shop,” beber Mahasiswa Jurnalistik itu. Keputusannya tersebut bukan tanpa alasan, Warda ingin fokus mengembangkan usaha pulsanya. Dengan ikhtiar dan melewati beberapa rintangan, 27 November 2018 lalu, ia berhasil membuka counter pulsanya sendiri di depan kampus II UIN Alauddin Makassar.

“Ceritanya panjang, saya bahkan harus ditipu lebih dulu sebelum bisa membangun counter tersebut. Namun saya percaya, ketika kita berniat maka Allah akan membukakan jalan,” terangnya. Modal awal yang ia butuhkan untuk membuka counter tersebut, tak kurang dari Rp. 20.000,000,00. Saat itu, uang yang yang dimilikinya dari hasil menabung keuntungan dari online shop dan penjualan pulsa, hanya sekitar Rp.6.000,000,00. Ia kekurangan banyak modal. Akhirnya ia memberanikan diri menceritakan niatnya kepada sang ayah. Sejak kecil orang tuanya selalu mendukung keputusannya, kali inipun seperti itu. Meminjam uang dari orang tuanya, sebanyak Rp. 10.000,000,00. Sisanya diberikan sang tante. Namun saat itu, Wardah tak menyadari bahwa rintangan berat menantinya di depan mata. “Dari kecil saya selalu percaya bahwa uang yang diberikan mama dan ayah adalah bentuk pinjaman dan saya harus mengembalikannya. Namun, bukan pinjaman kepada ayah dan mama yang menjadi rintangan saya, tapi pinjaman orang lain,” tuturnya. Ketika akan membuka counternya, warda kembali kekurangan dana. Setelah membayar sewa ruko, ia butuh uang tambahan untuk modal membeli perabotan penjualan. Selain itu, ia juga harus membeli kartu data internet agar counternya ramai. Gayung pun bersambut, teman lama menawarinya uang sebanyak Rp. 18.000,000,00. Namun, uang tersebut hasil pinjaman dari koperasi guru milik orang tua temannya tersebut. Tanpa berpikir panjang, Warda menerima tawaran tersebut. Untuk sesaat, sebelas bulan

Biayai Kuliah Lewat Jualan

K

ampus terasa sesak dengan manusia pagi ini. Tak ada kicauan burung pagi, seperti apa yang ia sering dengar saat merajut mimpinya di pulau. Terik sang surya menemani langkahnya, sambil menenteng wadah berisi kue, ia berjalan santai sambil menebar senyum termanisnya. Lambaian tangan seseorang menghentikan langkahnya, segera ia memacu kaki, menghampiri asal suara itu datang. Dengan sigap, ia mengambil kantong kresek berwarna putih, memasukkan beberapa kue dan dibalas dengan beberapa lembar uang. Lagi lagi ia tersenyum manis diikuti ucapan terima kasih. Itu adalah pelanggan pertamanya pagi ini. Sumardi, mahasiwa semester akhir yang tengah menyusun skripsi ini juga seorang penjual kue keliling. Tak hanya itu ia juga tercatat sebagai karyawan tetap disalah satu toko. Lahir di daerah kepulauan tak membuat anak dari pasangan suami istri Abd Hamid dan Kuha patah semangat untuk melanjutkan Pendidikan. Letak kampungnya yang jauh dari perkotaan, membuat Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat belum ada. Hal ini jugalah yang menjadi salah satu faktor kebanyakan anak-anak di Pulau Karampuang terputus jenjang sekolahnya dan lebih memilih pergi melaut atau bekerja. Sejak SMA Sumardi memilih untuk merantau ke kota Mamuju, sejak itu pula ia bertekad takkan menyusahkan orang tua apalagi persoalan biaya. Ia sadar bahwa membebani orang tuanya perihal biaya bukan hal yang tepat. “Kondisi mama yang harus beristirahat di rumah setelah menjalani operasi sesar saat saya duduk di kelas tiga MTs, maka tak ada alasan untuk membebani mereka dengan biaya sekolah,” kenangnya. Setelah lulus dari SMA, Sumardi kembali mengambil keputusan besar dalam hidupnya, kali ini tanpa restu dari orang tua. Awalnya, Wirajuddin, teman kelas yang mengajaknya untuk mendaftar kuliah di UIN Alauddin Makassar jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UMPTKIN), tapi karena telah nyaman dengan pekerjaannya, Sumardi menolak. Namun ia tak dapat berbohong, ia ingin melanjutkan pendidikan. “Malam itu, Wirajuddin mengantarkan kartu peserta bertuliskan nama saya. Saya kaget bukan main, tak ada pembicaraan sebelumnya dengan Wirajuddin, tiba-tiba saya telah terdaftar sebagai salah satu peserta tes UMPTKIN. Kembali saya per-

caya kejadian ini adalah jalan untuk terus mengejar impian saya karna akan selalu ada jalan, entah dari mana atau dari siapa,” terangnya penuh semangat. Sebulan setelah mengikuti tes di kampus satu UIN Alauddin Makassar. Sumardi dinyatakan lulus. Masalah baru datang lagi, Sumardi butuh dana untuk biaya registrasi dan tentunya biaya hidup selama di Samata. Waktu registrasi yang berlangsung selama seminggu, membuatnya bingung harus mengambil dana dari mana. “Meminta kepada orang tua, tentu bukan solusi yang tepat. Akhirnya dua hari sebelum registrasi ditutup, saya ke Warung Internet (Warnet) untuk mengecek seluruh kantor pemerintah yang bisa dimasukkan proposal untuk membantu biaya kuliah,” jelasnya. Kemauan tinggi dan tekad yang kuat pun membuahkan hasil, Kementerian Pendidikan Kota Mamuju memberikan bantuan dana bagi Sumardi sebanyak Rp.1,900,000,00. Bermodalkan dana tersebut ia berangkat menuju samata untuk kedua kalinya. Sumardi bertekad akan terus berjalan kedepan. Mengikut kemana arah pandang kaki melangkah, sambil terus mengukir mimpi. Dengan keyakinan yang pasti bahwa semua pasti bisa dilalui. Tiba di Samata, Sumardi segera membereskan seluruh urusan registrasi. Tak lama, ia kemudian mendapat tawaran untuk tinggal sebagai marbut di masjid di Perumahan Villa Samata. Sebulan tinggal di masjid, momen paling berat baginya. Makan hanya sekali, bahkan kadang tidak sama sekali. Kadang ia akan menemukan makanan di kamarnya, terkadang pula seorang teman memberikan makanan sebelum ke kampus. Meski demikian semangatnya tak pernah pudar. Motivasinya sederhana, janji yang pernah ia utarakan kepada orang tuanya. “Jika saya bisa melewati satu tahun di Samata dengan biaya sendiri maka orang tua tidak akan memanggil saya untuk pulang lagi, kecuali karna kemauan sendiri,” terangnya. Hal inilah yang memotivasi Sumardi untuk bekerja keras dari yang awalnya hanya untuk sesuap nasi kini bisa membiayai hidupnya. Sumardi tidak mengeluh, apalagi mengadu. Ia memutar otak mencari jalan untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Sejak saat itu ia mulai menjual dari satu gedung menuju gedung lainnya di kampus peradaban. Awalnya, saat semester satu ia menjual barang campuran seperti pulpen, kanebo, masker. Namun karna pertimban-

gan penggunaan barang-barang seperti itu tidak digunakan setiap hari oleh mahasiswa, Sumardi akhirnya berhenti. Ide baru muncul yaitu menjual makanan. “Hanya modal keberanian. Saya ke rumah tante teman dengan perjanjian saya akan ambil kuenya, menjualnya, kemudian membayar sesuai dengan jumlah kue yang habis. Namun ia meno lak dan membuat kesepakatan bahwa setiap kue yang saya ambil harus dibayar, laku atau tidak,” jelas anak kedua dari enam bersaudara ini. Sejak saat itu hingga hari ini Sumardi berjualan kue, tanpa rasa malu ataupun gengsi. Tak hanya berjualan kue, ia juga diterima bekerja di sebuah toko depan kampus, sebagai karyawan lapangan. Karena kesibukan di kampus dan pekerjaannya, mengharuskan ia akhirnya tak bisa memenuhi tanggung jawab secara penuh sebagai marbut. Sadar akan kelalaiannya, ia pun memilih berhenti dan menyewa kamar indekosnya sendiri.Meski terikat kontrak bekerja, tak menghalanginya belajar, menuntut ilmu tetap menjadi prioritasnya. Waktu subuh ia gunakan untuk bercengkerama dengan ilmu. Bagi Sumardi, Hidup memang tak semanis madu yang sering orang bicarakan. Tak senikmat jajanan di pinggir jalanan. Tak semulus kain sutra kerajinan. Apa lagi senikmat khayalan.

Tapi jangan pernah kalah dengan keadaan, jika satu diantara seribu mimpi terwujud maka bermimpilah lebih banyak lagi dan jangan pernah takut untuk melangkah lebih jauh, sebab tidak ada impian yang sulit, hanya niat yang terlalu rendah untuk melangkah. *Penulis : Nurul Wahda Marang Editor : Suhairah Amaliyah

berjalannya usaha tersebut, tak kurang dari 20 juta telah ia keluarkan untuk memenuhi permintaan temannya. Warda rugi, disisi lain ia juga masih punya kewajiban melunasi pinjaman koperasi selama empat tahun kedepan. Ia merasa masalah begitu berat. Ia pun memberanikan diri menceritakan masalah tersebut kepada sang mama. Dewi Fortuna berpihak kepada Warda, masalah tersebut bisa diselesaikan dengan pembicaraan antara orang tuanya dan keluarga dari teman Wardah tersebut. “Saya banyak belajar setelah kejadian tersebut, bisnis adalah bisnis, tak bisa dicampur adukkan dengan masalah pribadi, termasuk dengan teman,” ketusnya. Sekarang, usaha Wardah semakin meluas, empat bulan lalu adalah lounching perdana Warda Lekker miliknya. Terinspirasi dari usaha sejenis milik omnya, ia memberanikan diri membuka warkop. Berbekal hasil tabungan sendiri ia kembali memperlebar sayapnya di dunia bisnis. “ Ada banyak cerita yang terangkai sampai dititik ini, semuanya adalah pemanis bagi saya. Bermimpi dan berikhtiar, maka akan selalu ada jalan untuk menggapainya,” katanya dengan tenang. Membuka toko penjualan minyak dikampung halamannya, adalah mimpi selanjutnya yang ingin Wardah gapai. Alasannya sederhana, ia ingin kembali menekuni usaha pertamanya saat duduk di sekolah dasar. Selain karena keuntungan yang menjanjikan, usaha tersebut juga bentuk nostalgia baginya di dunia bisnis. *Penulis : Nurul Wahda Marang

Editor : Suhairah Amaliyah


10

OPINI

www.

Edisi 111| Rabiul Awal 1441 Hijriyah | November 2019 Masehi

washilah.com

Larangan Aktivitas Malam, Mahasiswa Melawan Takdir

D

i era demokratis ini segala bentuk kegiatan yang memberikan dampak positif diperbolehkan dan dilindungi oleh Undang-Undang. Dalam lingkup kampus, segala bentuk aktivitas baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler adalah suatu bentuk kegiatan untuk menumbuhkembangkan khazanah ilmu pengetahuan dan kreativitas dari mahasiswa. Oleh karenanya pihak kampus dalam hal ini pimpinan memfasilitasi ruang yang dapat memantik perkembangan potensi mahasiswa khususnya di UIN Alauddin Makassar. Bukan justru sebaliknya, pihak kampus mengeluarkan surat edaran perihal larangan aktivitas yang mengganggu proses pengolahan potensi mahasiswa, yakni pelarangan aktivitas malam. Kendati demikian, larangan aktivitas malam sebenarnya masih dapat dilakukan dengan seizin pimpinan melalui mekanisme persuratan namun hal demikian, bukanlah menjadi solusi yang bijak karena aktivitas malam tidak hanya dilakukan oleh Lembaga Kemahasiswaan (LK) melainkan seluruh mahasiswa. Mungkinkah jika beberapa lembaga atau mahasiswa menyurat untuk beraktivitas malam mampu diakomodir? Tentu tidak. Kampus sebagai wadah pengolahan potensi mahasiswa melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler sebagai penyokong pendidikan tentunya persoalan larangan aktivitas malam merupakan ihwal yang tidak sinkron dengan cita-cita pendidikan itu sendiri. Antara intrakurikuler dan ekstrakurikuler adalah hal yang telah menjadi keharusan untuk diindahkan. Kita ketahui, intrakurikuler dilaksanakan pada pagi-sore hari (masa perkuliahan) sementara pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler yang di luar dari pada kurikulum hanya mampu dilaksanakan pada malam hari. Keduanya harus terlaksana beriringan. Jika kebijakan pelarangan aktivitas malam di kampus dikeluarkan maka secara otomatis satu dari dua kegiatan pendukung proses pendidikan tidak terealisasi dengan

baik. Hal demikian tentu kontradiksi terhadap apa yang diatur dalam UU No.12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi pasal 4 (b) dan pasal 14 ayat 1, begitupula dengan Statuta UIN Alauddin Makassar pasal 66 (b) dan pasal 68. Empat pasal dari kedua aturan tersebut saling mendukung satu sama lain dan secara tersirat tidak mendukung pelarangan aktivitas malam sebagai ruang pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler. Maka hal tersebut melegitimasi kegiatan yang dilakukan oleh lembaga intra maupun ekstra kampus, sebagai bentuk pendidikan karena sejatinya yang berhimpun dalam lembaga tersebut adalah mahasiswa UIN Alauddin Makassar. Namun, pelarangan aktivitas jam malam yang dikeluarkan oleh rektor tidak memperhatikan hal tersebut dan melihat kondisi mahasiswa yang tinggal dalam asrama kampus. Pimpinan UIN Alauddin Makassar telah mengeluarkan Surat Instruksi dan Surat Edaran terkait pelarangan aktivitas malam. Dari Surat Edaran B/8/0/Un.06.I/PP.009/10/2019, Statuta menjadi salah satu dasar kebijakan pada konsideran mengingat sementara di atas telah dijelaskan dua pasal dalam statuta tidak mengindahkan pelarangan aktivitas malam. Artinya, dari segi aturan pelarangan aktivitas malam kontradiksi dengan beberapa aturan perundang-undangan. Selain itu, kehadiran kelengkapan lembaga non struktural dalam hal ini LK tentu memiliki andil terhadap stabilitas dan pengelolaan pendidikan di perguruan tinggi. Oleh karena itu, kita ketehui bersama bahwa UIN Alauddin Makassar memiliki lembaga non struktural seperti Sema, Dema dan HMJ maka sebuah keharusan tentunya LK tersebut turut dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan ataupun kebijakan yang hendak diberlakukan. LK adalah lembaga yang menjadi perwakilan mahasiswa dan ruang penyaluran aspirasi namun pada kenyataannya

sering (kalaupun kurang elegan dikatakan ‘selalu’) LK tidak terlibat langsung dalam penetapan sebuah kebijakan yang menjadikan mahasiswa sebagai objek dari aturan tersebut. August Boef dan Kees Snoek dalam wawancaranya bersama Pramoedya Ananta Toer yang dimuat dalam buku “Saya Ingin Melihat Semua Ini Berakhir� mengutarakan bahwa manusia hidup di bumi ini untuk sebuah sistem atau sistem untuk manusia? Pertanyaan tersebut bukanlah hal yang harus dijawab melainkan dipikirkan secara bersama. Sejatinya, jika manusia untuk sistem maka manusia yang akan tercipta adalah manusia yang kehilangan dirinya sendiri sedangkan sistem untuk manusia merupakan ihwal yang seharusnya terjadi agar manusia sebagai objek sebuah aturan tidak sengsara. Kelahiran sistem atau aturan dapat terjadi jika manusia menerimanya karena sistem hadir lewat kehadiran manusia. Sistem harus menyesuaikan dengan keinginan manusia namun jika sebaliknya terjadi maka sistem lahir hanya untuk menciptakan dehumanisasi karena manusia di dalamnya tidak merasa nyaman dengan kehadiran aturan atau sistem tersendiri. Sistem dalam bentuk kebijakan dalam kampus tercipta untuk memanusiakan manusia di dalamnya bukan malah dehumanisasi yang terjadi. Penerbitan surat edaran tersebut dapat mematikan minat dan bakat serta nalar kritis dari mahasiswa, dikarenakan tidak dapat lagi melakukan aktivitas pada malam hari di dalam kampus, yang bertagline sebagai Kampus Peradaban. Yang namanya peradaban tentu akan jumud jika di dalamnya terdapat pembungkaman kreativitas. Di sisi lain, kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler mahasiswa tentu menjadi salah satu indikator dalam mencapai atau mempertahankan mutu pendidikan dalam

perguruan tinggi. Oleh karena itu, salah satu bagian ultim pendidikan adalah pengembangan kreativitas, maka perlu adanya kegiatan pada malam hari untuk membangun kreativitas tersebut sekaligus ruang implementasi kegiatan ekstrakurikuler. Selain itu, pengambilan kebijakan pelarangan aktivitas malam dinilai tidak demokratis karena LK ataupun mahasiswa tidak dilibatkan. Dari hasil pertimbangan itu, sebuah keharu-

san tentunya bagi mahasiswa UIN Alauddin Makassar untuk menyatukan simpul juang dan bergerak bersama dalam mengawal dan menolak pelarangan aktivitas malam di kampus. Aturan yang bengkok harus diluruskan. Sejatinya, sebuah aturan bukanlah takdir yang tidak dapat diubah. Mahasiswa adalah manusia yang diciptakan di bumi ini sebagai bentuk manifestasi Tuhan. Nilai-nilai ketuhanan dalam dirinya tidak menganjurkannya untuk hidup berpangku tangan tanpa ikhtiar terhadap sesuatu. Khususnya, pada sebuah kebijakan yang tidak diinginkan bersama maka dari itu sudah saatnya mahasiswa utamanya yang berproses di UIN Alauddin Makassar untuk Melawan Takdir dalam bentuk penolakan terhadap kebijakan pelarangan aktivitas malam yang tidak dikehendaki bersama.

Pergerakan Mahasiswa

D

Ahmad Al-Faruq Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) FDK Periode 2019

alam coretan sejarah dari pergerakan mahasiswa masa kemasa memiliki lembaran dan ciri khas yang berbeda. Pada arah perjuanganya dipengaruhi oleh berbagai ideologi yang ada, ideologi barat dan ideologi timur. Menerawang sepak terjang mahasiswa baik pra hingga paska kemerdekaan maka di temukan dominasi kekuatan yang tinggi dalam meningkatkan nalar intelektual semata tujuan pengabdian terhadap agama dan bangsa Indonesia agar keluar dari paradoks yang merongrong negeri pada kekacauan dan penindasan. Dunia pembelajaran pada kampus-kampus, dalam negeri hingga menyeberang ke luar nusantara adalah sebuah bentuk kegelisahan untuk mendapatkan ilmu yang dengannya bisa membawa Indonesia ke masa depan yang maju dan berdaulat. Di ruang lainya terjadi perdebatanperdebatan sengit antar berbagai aktivis mahasiswa, menyoal arah pembangunan dan memetakan kedaulatan negeri terhindar dari berbagai intervensi yang melilit terutama dari negeri asing. Kekhawatiran atas keserakahan dalam membangun Indonesia juga merupakan bagian dari ketakutan dan disusul penalaran solusi yang mendalam oleh berbagai pergerakan mahasiswa. Dari setiap kebijakan yang di keluarkan rezim orde baru sampai saat sekarang ini berbagai kritikan yang membara yang di lahirkan oleh berbagai pergerakan mahasiswa, dari setiap rezim yang memimpin adalah gelagat yang tidak terelakan oleh mahasiswa. Dentuman keperkasaan yang ditopang intelektual yang matang mampu memukul mundur rezim yang semena-mena dalam menahkodai pangku kekuasaan. Bukan euforia ataupun dorongan pragmatis, namun pergerakan yang dibangun semata karena fitrah kesadaran atas polemik besar yang menimpa bangsa ini. Fakta yang terjadi, tahun 1966 Soekarno

dilengserkan dari kursi kepresidenan karena dinilai eksistensinya sangat mengancam pembangunan bangsa Indonesia. Periode selanjutnya tahun 1998, mahasiswa merobohkan panggung kekuasaan Soeharto yang disebabkan pemahaman masyarakat dan mahasiswa saat itu bahwa Soeharto telah melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme. Pergolakan rezim paska tahun 98 yang bermuara pada nuansa reformasi yang kemudian sangat mempengaruhi napak tilas pergerakan mahasiswa. Berbagai masalah yang menerpa negeri dan kian menggunung, pergerakan mahasiwa redup bak hanyut oleh arus air terjun yang sangat deras. Kekuatan intelektual yang dimiliki tidak lagi menjadi oposisi melawan kezaliman yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Arahnya ditujukan pada kepentingan menata individu semata tanpa lagi memperhatikan rakyat kecil yang tertindas ataupun orang-orang yang disekitarnya yang meratapi nasib akibat kemelaratan yang menghimpit. Fenomena ini telah menjadi pemikiran umum masyarakat era ini. Bagaimana tidak berbagai kebijakan yang tidak pro rakyat merajalela, semisal konflik yang ada di Indonesia bagian timur, naiknya harga iuran BPJS, Revisi UU KPK dan begitu banyak problem-problem lainnya yang ada di negeri ini, tidak ditemukan reaksi keras dan sungguh-sungguh oleh pergerakan mahasiswa dalam melawan kebijakan yang menindas tersebut. Kendati ada, namun hanya sebatas formalitas semata yang diikuti solusi pragmatis yang pada akhirnya berujung pada fatalis terhadap nuansa kezaliman rezim yang sangat zalim. Demonstrasi mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di Indonesia ini yang berjilid-jilid dan memakan korban jiwa yang pada akhirnya tidak ada solusi dan penyelesaian, malahan menimbulkan tanda tanya besar bagi kalangan masyarakat. Kesakitan lainya yang sangat menyedi-

hkan, adanya beberapa aktivis mahasiswa yang menjadi jongos atas rezim ataupun mafia-mafia jahat. Mereka berkompromi dalam menguliiti rakyat dan kekayaan alam negeri ini dengan sadis secara gesit dan gradual. Demi mendapatkan tahta dan jabatan, mereka berani menjual idealismenya sebagai mahasiswa. Menyadari persoalan ini adalah sebuah keharusan di tengah kondisi bangsa yang semakin rapuh dan melemah tajam. Sebab ditangan mahasiswa tersimpan arah pembangunan suatu bangsa, maju atau semakin terjatuh ke dalam jurang kehancuran yang paling dalam. Mendialogkan berbagai polemik negeri ini yang kian meruncing, baik dari segi konsep sistem bernegara maupun karakter tangguh dan ideal dari seorang pemimpin masa depan bangsa. Islam adalah pemikiran sempurna lagi paripurna yang dapat membangkitkan manusia dari kehinaan yang sangat rendah menuju kedudukan yang mulia dan tinggi. Sudah selayaknya mahasiswa mempelajari Islam secara ideologis dan menjadikannya letupan dalam setiap sepak terjang pergerakan yang dibangun sebagaimana para pahlawan Negeri ini. Djokroaminoto, Muhammad Natsir, H. Agusalim dan tokoh kebangkitan lainya. Dengan pemikiran Islam akan menjadikan muara mahasiswa dan Negeri ini ke arah kebangkitan yang maju, sejahtera, dan diberkahi Allah SWT. Sebab Islam adalah wahyu Allah Swt yang dijamin membawa kedamaian dan kemakmuran, dengan catatan dijalankan dengan sebenar-benarnya diatas rel Al-Quran dan Hadist. Fenomena demikian telah terbukti dalam sejarah, saat pertama Islam dijalankan dengan murni mengatur sistem kenegaraan di Madinah yang di pimpin langsung oleh Rasulullah Saw. Dan mengantarkan pada kebangkitan jazirah arab dan menjadi Imperium adidaya dunia selama 13 abad.


LENSA

www.

washilah.com

Edisi 111| Rabiul Awal 1441 Hijriyah | November 2019 Masehi

Fasilitas Kampus I Terabaikan?

11 Washilah – Sebagian kondisi bangunan dan fasilitas yang ada di kampus I UIN Alauddin Makassar. Tepatnya, di Jl. Sultan Alauddin No 63 Kota Makassar seolah diabaikan dan tak lagi tersentuh perawatan. Terhitung, sejak dibangunnya kampus II pada tahun 2010 silam, segala pusat perkuliahan dan administrasi dipindahkan, perlahan-lahan penghuni kampus I dipindahkan ke kampus II yang terletak di Jl Haji M Yasin Limpo, Romang Polong Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Hingga kini, hanya Jurusan Ilmu Kedokteran yang menjadi penghuni tetap kampus I serta beberapa gedung kelas dan laboratorium yang tetap digunakan. Banyaknya gedung yang diabaikan menjadikan sebagian ruang dalam kampus yang terletak di pusat kota ini nampak tak berpenghuni, terlihat dari beberapa bangunan yang tidak terurus. Padahal, kampus II yang berada di Kabupaten Gowa tersebut terkadang dikeluhkan oleh mahasiswa karena ruang kelas yang tidak cukup, serta beberapa jurusan yang minta dijadikan fakultas seperi Jurusan Ilmu Politik yang menuntut untuk menjadi fakultas sendiri. Berikut beberapa dokumentasi yang sempat diabadikan oleh fotografer Washilah menghimpun kondisi fasilitas kampus I yang mulai dianak tirikan.

Foto: Ardi Teks: Rini Sulestiani KURSI RUSAK - Tumpukan kursi rusak yang berada di antara gedung kelas serta coretan-coretan di dinding di kampus I UIN Alauddin Makassar, Rabu (30/10/2019).

GEDUNG KELAS - Kondisi luar gedung kelas di kampus I UIN Alauddin Makassar. Cat terkelupas, lantai berdebu seolah tak pernah disentuh petugas kebersihan, Rabu (30/10/2019).

GAZEBO - Gazebo yang terletak di kampus I UIN Alauddin Makassar. Tak terurus, dengan tiang yang sudah lapuk serta atap yang setengah roboh, Rabu (30/10/2019).

RUANGAN LKBH - Ruangan Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Fakultas Syariah dan Hukum, terkunci rapat, meski kadang digunakan. Meski demikian, ruangan ini nampak agak tidak terawat, Rabu (30/10/2019).

RUANG KELAS - Kondisi ruang kelas yang berada di kampus I UIN Alauddin Makassar. Nampak seperti Gudang berisi papan tulis rusak serta kursi dan meja yang penuh debu, Rabu (30/10/2019).


12

SASTRA

www.

Edisi 111| Rabiul Awal 1441 Hijriyah | November 2019 Masehi

Puisi

Cerpen

washilah.com

Di Tepi Pelabuhan Digul

Muhammad Laits Meilano Mustari Jurusan Komunikasi & Penyiaran Islam Semester VII

Surat Untuk Negara yang Merdeka Dirgahayu Indonesia... Sekilas tak ada yang berubah, kata merdeka hanya membangkitkan sensasi kemenangan, kebanggaan dalam bentuk perayaan, menyamarkan substansi dan esensi dari perlawanan dan perjuangan yang mestinya lebih dihidupkan Merdeka cuma sekedar frasa yang hanya mampu menggetarkan pita suara, keluar dari mulut yang menganga, memudar di udara. Merah dan putih hanyalah warna tak bermakna. sekedar pelengkap estetika, hiasan pusat sampai pinggiran kota, di desa-desa... di trotoar jalan raya. Aku... kembali teringat masamasa sekolah. Sang garuda terpampang gagah di atas kepala Meski wajah di kiri dan kanannya selalu berubah Ia tetap tak tergantikan, setia berada di tengah Di dadanya terpatri lima sila yang mulia Cakarnya kuat menggenggam sebuah pita Bertuliskan Bhineka Tunggal Ika Falsafah bangsa dari Sumatera hingga Papua Kini sang garuda nampak kehilangan ruhnya, Ia mulai goyah, cengkeramannya kian lemah Menjaga dan merawatnya tidaklah salah, mengultuskannyalah yang salah kaprah Lihatlah! Demi menjaga marwah sang garuda “katanya” Kebhinekaan kadang menjadi tumbal “nyatanya” Hanya karena tak mampu melawan trauma Buku disita di mana-mana Bagaimana bisa memandang lepas dunia, jika jendela tak kau biarkan terbuka? Terkungkung dalam ruang pengap fanatisme buta Dipasung egoisme yang tak kunjung patah Menganggap diri sakral, yang lain adalah radikal Hah.. otakmu saja yang bebal, semoga tak jadi kekal

Ilustrasi: Ardiansyah Safnas

I

ni pekan ke dua, setelah Ikal pindah ke Wamena. Sore mulai meredup, kubuka kembali kenangan bersamanya demi mengisap stok semangat. “Aku tak boleh gagal,” kata Ikal. Gagal dalam menuntaskan janji. Masih kuingat janji itu di tepi pelabuhan ini untuk menjadi manusia yang tahu arah hidupnya. Ikal bagiku sudah seperti saudara. Meski terbilang baru ia pindah ke tempat ini. Ibu kami sama-sama berdarah bugis, dan Ayah kami pun pemuda Jawa yang tengah merantau di pedalaman Papua, memboyong istri dan anak. Bedanya, Ikal tidak lahir di tempat perantauan, sementara aku lahir dan dibesarkan di tempat ini. Dengan persamaan nasib, mudah saja menumbuhkan rasa kekeluargaan, Namun bukan itu yang membuatku betah bersamanya, melainkan keistimewaannya. Menjalani hari-hari dengan Ikal, membuatku kagum pada prinsip hidup yang ia pegang dan merasa berhasil mengeja kehidupan ini pelan-pelan. Teringat saat Ikal pertama kali menjadi siswa baru di SMP kami. Ada banyak hal yang menarik perhatian. Seperti celana sekolahnya yang panjang hingga menutupi mata kaki. Teman-teman kelas heran dengan ketegasan Ikal untuk melawan arus, meski sekolah mengharuskan celana pendek dan tidak ada penutup kepala bagi perempuan, Ikal tetap tak bergeming. Ceramahnya pertama kali di tempat mengaji Ustaz Mukid menjadi alasan sikap tegasnya. “Laki-laki harus memiliki malu dengan cara tidak memakai celana di atas lutut. Perempuan juga harus memiliki malu dengan menutupi kepala dan tubuhnya baikbaik. Itu ajaran agama kita,” tegas Ikal. Sejak itu aku mendekat padanya dengan maksud belajar banyak. Teman-teman pun merasa beruntung kedatangan teman pintar. Ia benar-benar berani mengkritik apa saja yang dianggap tak sesuai. Ikal bukan

hanya istimewa dari segi agama, namun cerdas dari segi keilmuan. Buku yang banyak dibawa ke sekolah, dibagikan kepada teman-teman yang tidak pernah sekalipun membaca, diajarkan pula. Wajar, di pedalaman ini tak pernah ada toko buku, akses transportasi laut dan udara hanya dipenuhi papan dan sandang, tidak untuk urusan pendidikan. Sekolah saja tak memiliki perpustakaan. Kurang miskin apa lagi kita. Hingga suatu sore di pelabuhan ini, Ikal kembali memaksaku berjanji. “Kau ingin menjadi manusia yang benar kan?” Kata-katanya yang kadang tak mampu kucerna, membuatku merasa bodoh, seolah belibis yang melintas menertawaiku berkali-kali. Namun Ikal tetap menunggu jawabanku dengan sabar. Anggukan polosku saat itu membuatnya lega. “Nah, perbanyaklah ilmu. Buku ini, salah satu sumber ilmu. Tetapi, Al quran yang sering kita baca di Pengajian Ustaz Mukid adalah sebaik-baik sumber ilmu. Bacalah, pelajari. Nanti kau tahu manusia itu seharusnya bagaimana. Janjilah kawan, pendalaman primitif ini tak boleh membuat kita menjadi manusia primitif.” Seolah Ikal tahu, bahwa betapa sulit hidup sebagai minoritas di tengah gempuran kebiasaan yang tak sesuai ajaran agama, dan dilingkupi kemiskinan untuk menjadi orang pandai. Sejak itu, aku menghabiskan waktu dengannya, belajar, mengkaji, bercerita dan jalan-jalan. Sialnya, kini semua tinggal kenangan. Teman langka dan hebat telah pergi. Parahnya aku tak tahu apakah di sana keadannya baik-baik saja? Akhir tahun ini, bukankah hawa-hawa kerusuhan menjalari Wamena? aku tak tahan mendengar cerita Wamena berdarah beberapa tahun silam di pos ronda beberapa kali. Angin berhembus, perahu kecil bergoyang lembut di tepi pelabuhan, kurapatkan

jaket dan kembali berjalan menuju masjid saat suara gemanya melantun indah. Kuseka air mata sebelum sampai ke sana, kepedihan makin bertambah mengingat di tempat ini pula kulepas kepergiannya. Padahal, belum sempat ku berterima kasih, dan mengabari kesiapan ayah ibu membawaku pindah sekolah ke Sulawesi, demi berkembangnya diriku menjadi manusia dengan ilmu pengetahuan dan agama. Namun, Ikal terburu-buru. Kabar mendadak tersampaikan lewat surat melalui teman kelas. Membuatku mengayuh sepeda dengan cepat ke pelabuhan seketika saat itu. Terlambat, Ikal sudah duduk di atas Twin Otter. Ayah juga gagal menyaksikan temannya pergi. Mereka siap terbang menuju Wamena, dengan menjajaki Merauke, dan mengunjungi Jayapura terlebih dahulu. Itulah yang aku khawatirkan saat Ikal pernah mengakui bahwa ia datang bersama ayahnya ke tempat primitif ini sebab ingin menjenguk Indonesia bagian timur secara nyata, bukan lagi lewat bola dunia yang dijajaki dengan telunjuknya. Itu artinya Ikal tak pernah benar-benar berniat tinggal. Apakah Ayahnya juga sebenarnya bukan datang untuk merantau cari kerja? Entahlah. Tiba-tiba riuh orang dewasa termasuk ayahku memenuhi lapangan masjid magrib ini. Ada yang histeris menangis, dan terduduk seketika. Pekikan takbir menyayat hati. “Saudara kita, saudara kita.” Rupanya, berita telah sampai. Duka itu akhirnya benar. Hawa genosida kembali hadir. Pembantaian pada orang-orang pendatang kembali terjadi, dan mayoritasnya muslim. Dibakar hidup-hidup, diteror dengan sejumlah senjata tajam. Kericuhan ini, apa yang melatar belakangi? Andai kutau ada cerita Wamena berdarah, sudah tentu kutanyakan cikal bakalnya pada Ikal genius itu. Kalaupun Ikal akan pergi,

Arinda Nurul Widyaningrum Anggota Forum Lingkar Pena Ranting UINAM Mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Tarbiah dan Keguruan (FTK) Semester IX mengapa harus ke Wamena?

Apa jayawijayanya dan hawa dingin khas eropanya mengalahkan ketakutannya pada kondisi tidak aman? Apa tindakan pemerintah? Ayah menggelengkan kepala. Kupandang raut wajahnya yang sudah yakin akan kepindahan kami ke Sulawesi sebentar lagi. Tidak aman lagi bumi pertiwi tuk mencari pundi-pundi rezeki. Suasana kampung ini makin mencekam. Saat akhirnya handphone Ustaz Mukid berhasil menembus jaringan, mencari tahu orang-orang yang dikenal menjadi korban di Wamena. demi tak ingin mendengar nama Ikal disebutnya, aku berlari menuju masjid dengan perasaan gundah. Ayah dan ibu pulang berkemas barang dan mengecek penerbangan seketika. Bila terus seperti ini, apakah Papua yang indah ini akan mendapatkan kemajuan dan keberkahan?


washilah.com

13

WANSUS

www.

Edisi 111| Rabiul Awal 1441 Hijriyah | November 2019 Masehi

Predestinasi Mahasiswa di Tangan Darussalam Washilah - Setelah resmi dilantik pada 14 Agustus lalu, ada dua hal yang menjadi program utama dari Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Periode 2019/2023 Prof Darussalam, yakni meminimalisir Drop Out (DO) dini dan mengembalikan fungsi serta peran dosen Pembimbing Akademik (PA). Ditangan eks Dekan Fakultas Syahriah dan Hukum tersebut masa depan mahasiswa UIN Alauddin Makassar akan bergantung pada kebijakannya. “Ketika di fakultas saya bisa mengatur mahasiswa tapi ketika di universitas saya harus menyadari bahwa anak saya sudah bertambah, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) saya sekian jadi harus punya kepedulian,� katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (22/08/2019). Namun, selain DO dini dan peran dosen PA, ada hal lain yang juga menjadi keresahan bersama yaitu bentrokan antar mahasiswa. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi Guru Besar Bidang Politik Islam yang harus ia tuntaskan. Bagaimana kemudian strategi ayah lima anak ini dalam melakukan penanganan kasus bentrok, minimalisir DO dini, dan mengembalikan fungsi serta peran dosen PA?. Berikut petikan wawancara reporter Washilah, saat ditemui di ruang kerjanya Lantai III Gedung Rektorat, Kampus II, Selasa (15/10/2019).

Bagaimana pandangan bapak mengenai bentrok antar mahasiswa yang kerap kali terjadi? Terkadang persoalannya sepele sekali, itulah yang selalu kita cari penyebabnya. Mahasiswa kita itu perlu membangun kebersamaan dan rasa memiliki, Jauhkan egoisme fakultas, kelompok. Maka dari itu kita selalu mengupayakan untuk meminimalisir dengan upaya, tidak menganjurkan kegiatan yang memperhadapkan antar fakultas-fakultas. Sebaiknya hal seperti itu dihindari. Menurut Anda, apa yang menjadi pemicu terjadinya bentrok? Tidak adanya rasa kebersamaan yang terjalin antar mahasiswa, mudah terprovokasi dan ada saja memang oknum yang tidak suka dengan suasana kondusif di kampus. Maka dari itu sebagai warga kampus kita harusnya merasa kebersamaan itu menyatu agar tidak mudah terprovokasi, harus cerdas menilai dan menakar hal yang dapat menjadi pemicu terjadinya bentrok. Apa startegi Anda untuk meminimalisir terjadinya bentrokan mahasiswa? Pertama bahwa sudah ada tim investigasi yang kami bentuk. Selanjutnya, saya akan mengundang seluruh organisasi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) melakukan sosialisasi untuk menyampaikan pelarangan kegiatan organisasi di kampus selain UKM. Suatu saat juga tidak akan dibenarkan kegiatan malam hari. Kecuali kegiatan akademik harus memiliki izin dari fakultas. Misalnya kegiatan di laboratorium. Selebihnya, seharusnya sudah tidak ada. Perlu diketahui bahwa sebenarnya sejak lama aturan itu ada, dari dulu edaran ada bahkan buku saku mengatakan tidak ada aktivitas di malam hari kecuali ada izin. Tim investigasi seperti apa yang Anda bentuk? Tim investigasi ini akan mengecek laporan. Diambil dari semua wakil dekan (WD) III ditambah dengan pihak keamaanan kampus kemudian pihak jurusan. Ada yang dari jurusan, kemungkinan besar kita anggap bisa, karena tim investigasi itu tidak permanen hanya dilihat saja dari sisi keperluannya. Selain pembentukan tim investigasi dan pembatasan berkegiatan malam, apa langkah Anda selanjutnya? Itu yang saya tekankan, supaya mahasiswa seluruhnya 24.000 itu merasa memiliki UIN jadi bukan menonjol untuk ke fakultas, jurusan, bukan itu yang harus menonjol, tapi UIN yang harus menonjol. Makanya, dalam kaitannya dengan yang saya katakan sebelumnya, sekarang kita usahakan tidak ada aktivitas yang memperhadapkan antar fakultas, jangan ada arogansi fakultas ,arogansi jurusan. Kita mau kebersamaan dan itu yang kurang saat ini. Pembatasan berkegiatan malam akan mengikis kreativitas mahasiswa, bagaimana Anda menanggapi hal tersebut? Kenapa dilarang berkreativitas? cuma diatur. Pada dasarnya kreativitas tidak dilarang cuman diatur. Intinya, sebenarnya kita ingin menjaga.

Apakah ada sanksi akademik bagi pelaku bentrok? Ada, sesuai dengan buku saku, aturan akademik yang ada dan sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. Ranah pidana tentu kita tidak akan campur tangan, ranah kampus sudah ada sanksi tersendiri berdasarkan kode etik yang ada. Kemudian, bagaimana dengan isu sanksi ganda bagi mahasiswa? Ya‌ jangan salah, yang di proses hukum itu tentu wilayah polisi, hukum pidana. Beda lagi dengan pelanggaran akademik. Tidak ada istilah sanksi dua kali. Karena pelanggarannya memang dua. Dia melanggar pidana dan melanggar kode etik. Pertama, pelanggaran pidana kedua pelanggaran akademik. Tentu ranahnya berbeda, sesuai peraturan yang ada. Jika terbukti ada oknum pegawai yang terlibat memprovokasi sehingga terjadi bentrok. Apakah sanksi juga berlaku? Tentu, itulah fungsinya Komisi Penegakan Kode Etik (KPKE). Kampus bukan hanya menginvestigasi mahasiswa, tapi juga berlaku kepada dosen dan pegawai yang terbukti salah dan akan diberi sanksi. Sanksi seperti apa yang akan Anda berikan? Sesuai prosedur, ada kode etik pegawai dan dosen. Dalam hal ini mulai dari peringatan, kemudian, boleh jadi kalau dipegawaian diturunkan pangkatnya dan sampai kepada pemecatan. Untuk meminimalisir Drop Out (DO) dini, apa langkah Anda ? Sekarang sudah mulai melihat, menata. Untuk yang pertama sesuai aturan akademik, tidak ada lagi Drop Out (DO) dini. Tidak lagi di DO pada semester II, namun pada semester IV. Nanti kita lihat, jika semester IV nilainya tidak sampai pada 2,00 berarti memang tidak serius berkuliah. Namun, saya tidak mengatakan zero DO, namun meminimalisir DO dini. Bagaimana pula peran Pembimbing Akademik (PA) mengawal mahasiswa? Harusnya menjadi orang tua kedua bukan sekedar tanda tangan Kartu Rencana Studi (KRS). Memang itu harus diatur ulang, apa yang menjadi kewajiban dosen PA. Jadi fungsi PA sebenarnya, jangan sampai ada mahasiswa DO gara-gara lewat masa studinya. Tapi dia harus memantau perjalanan studi mahasiswanya. Dosen PA Menjadi orang tua kedua yang Anda maksud, seperti apa? Dia harus mengikuti perkembangan akademik mahasiswanya dari semester ke semester. Bahkan jika ada yang perlu ditangani secara khusus, dia harus dipantau dari hari ke hari. Malah kalau perlu dia yang menelepon, berkomunikasi secara rutin dan mengetahui alamat dan latar belakang mahasiswa yang dibimbing. Jumlah dosen kita saat ini 1000 dan mahasiswa 24000. Kalau bisa dimaksimalkan, satu dosen menangani 24 mahasiswa untuk dibimbing. 24 mahasiswa masa dia tidak bisa sarjanakan . Namun, hal itu masih belum terlaksana. Ini memang sudah menjadi rencana saya, mengoptimalkan peran dosen PA.

*Penulis: Airin Mutmainnah, Ahmad Alqadri / *Editor: Suhairah Amaliyah

BIODATA Nama : Prof Dr Darussalam Syamsuddin, M Ag TTL : Makassar, 16 Oktober 1962 Riwayat Pendidikan : Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN), PGAN, Sarjana (S1) Jurusan Tafsir Hadis di FSH (1987), Program Magister (S2) Konsentrasi Hukum Islam di IAIN Alauddin Makassar (2000), Doktor dalam bidang pemikiran Islam (2008), Guru Besar UIN Alauddin Makassar dalam bidang Politik islam (April 2010). Jabatan : Ketua bidang Hukum dan Perundang-undangan MUI (Majelis Ulama Indonesia) Sulawesi Selatan (2018-2023), aktif di Asosiasim Professor Indonesia (API) dan Sekertaris Dewan Pakar ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) Orwil Sulawesi Selatan. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar Periode 2015-2019, kini sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UIN Alauddin Makassar .


14

PERSEPSI

www.

washilah.com

Edisi 111| Rabiul Awal 1441 Hijriyah | November 2019 Masehi

Kata Mereka Soal Pembatasan Aktivitas Malam Washilah – Terkait surat edaran nomor B/8/0/Un.06.I/PP.009/10/2019 yang ditanda tangani oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof Darussalam, tentang waktu dan pemanfaatan fasilitas kampus menuai pro dan kontra dari civitas akademika. Berikut hasil wawancara Reporter Washilah bersama civitas akademika UIN Alauddin Makassar.

Ketua Dewan Mahasiswa Universitas (Dema-U) UIN Alauddin Makassar Junaedi

Saya melihat aturan penerapan jam malam ini sebenarnya ada semacam pembatasan berkreasi di dalam kampus, khususnya Lembaga Kemahasiswaan (LK). Sedang kita ketahui bersama bahwa kampus itu adalah laboratorium ilmu pengetahuan dan rumah mahasiswa yang tidak seharusnya tempat mereka mengasa skill dan pengembangan potensi. Lantas jika dibatasi jam kerjanya, maka daya kreativitas untuk berinovasi itu kurang dan akhirnya tidak menuai prestasi. Langkah yang seharusnya dilakukan pimpinan bukan melarang mahasiswa beraktivitas malam tetapi melakukan peningkatan kualitas fasilitas LK agar tingkat prestasi dan daya saingnya itu meningkat bukan malah dibatasi.

Ketua Dewan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Sulfikar

Perlu dipertanyakan latar belakang dari surat edaran yang mengatur tentang pelarangan aktivitas malam. Kebijakan tersebut telah mematikan kreativitas mahasiswa dalam menunjang dan mengoptimalkan kemampuan lewat LK. Terlebih, aktivitas LK menjadi salah satu penunjang kampus peradaban ini bisa meraih akreditasi A. Namun kebijakan yang hadir hari ini tidak memperlihatkan apresiasi pimpinan kampus terhadap LK yang hari ini resah dengan kebijakan larangan aktivitas malam.

Ketua Senat Mahasiswa Ushuluddin Filsafat dan Politik Riswanto Kampus mestinya menjadi wadah pengembangan potensi mahasiswa, baik akademik maupun non akademik. Kegiatan akademik dilakukan pada jam kuliah sementara non akademik dilakukan di luar jam kuliah. Oleh karena itu kampus mestinya membuka ruang sebesar-besarnya untuk mengembangkan potensi mahasiswanya. Kalaupun alasannya ditemukan mahasiswa yang bertindak buruk, mestinya yang ditindak lanjuti juga mahasiswa yang bersangkutan, tidak digeneralisir karena akan merugikan semua mahasiswa.

Ketua Senat Mahasiswa Universitas Ahmad Nur Ansari

Adanya aturan larangan aktivitas malam di kampus menunjukkan sikap arogansi pimpinan kampus dalam membuat aturan, padahal dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) nomor 20 tahun 2014 tentang statuta UIN Alauddin Makassar bab IV bagian kesebelas tentang mahasiswa pasal 66 ayat 1 menjelaskan bahwa sedikitnya ada empat hak mahasiswa yang harus dipenuhi oleh universitas : Pertama, memperoleh pendidikan yang berkualitas. Kedua, memanfaatkan sarana dan prasarana pendidikan untuk kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler. Ketiga, membentuk organisai kemahasiswaan dan mendapatkan dukungan sarana dan prasarana serta dana untuk mendukung kegiatan organisasi kemahasiswaan dan keempat mendapatkan beasiswa dan bantuan biaya Pendidikan.

Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Gufran

Merasa sangat dibatasi dengan peraturan ini. Di sisi lain ingin menertibkan kampus agar terhindar dari perbuatan yang amoral, di sisi lainnya justru menjadikan mahasiswa seperti kami menjadi korban. Kampus tidak ramah mahasiswa, kampus harusnya menjadi tempat nyaman bagi mahasiswa justru dibuat angker dan ‘anti’ mahasiswa oleh pemiliknya sendiri. Harusnya kampus tetap memberikan kebebasan beraktivitas malam kepada mahasiswa dan melakukan pemantauan. Dengan begitu kampus terhindar, terjaga nama baiknya dari perbuatan amoral dan mahasiswa tetap bisa beraktivitas hingga malam hari.

Ketua UKK KSR PMI Elfina Justi

Kami sebagai lembaga internal kampus sangat merasakan dampak dari surat edaran tersebut. Karena waktu yang biasa kami gunakan untuk beraktivitas kini dikungkung oleh aturan yang dikeluarkan oleh rektor. Dibalik kebijakan itu tentunya ada alasan (sebab) sehingga aturan ini diperketat. Meski hanya satu oknum atau kelompok yang melakukan kesalahan tetapi semua lembaga merasakan imbasnya. Artinya, ada ketidakadilan. Kesamaan dalam bertindak, tetap kompak dalam kebaikan.

Ketua PMII Komisariat UIN Alauddin Cabang Gowa Muhammad Jusran

Pelarangan kegiatan malam itu tidak mendasar, ketika dikatakan ada perbuatan-perbuatan yang melanggar norma menurut saya itu hanya oknum. Apa guna Satuan Pengamanan (Satpam) dan Komisi Disiplin (Komdis) ketika ada mahasiswa yang ditemukan melanggar aturan. Karena, dengan batasan kegiatan malam ini seolah menghilangkan kreativitas mahasiswa.

Ketua HMI Komisariat FKIK Cabang Gowa Raya Rahmat Saleh

Surat Keputusan (SK) rektor yang membatasi kegiatan mahasiswa hanya sampai pukul 17.30 menghadirkan perspektif negatif dan positif. Hanya saja realitasnya, dengan hadirnya batasan ini menjadikan babak baru, di mana masyarakat UIN dilarang untuk berserikat, berkumpul dan menyampaikan pendapat bahwa ini adalah intrik atau skema kampus untuk membatasi ruang-ruang diskusi alternatif kawan-kawan, sehingga nalar kritis dibungkam.

Dosen Syariah dan Hukum (FSH) Dr Andi Safriani SH MH

Menyayangkan juga, harusnya dikaji ulang dengan melibatkan suara dan partisipasi mahasiswa. Sebuah kebijakan harus dikeluarkan dengan bijak, jangan sampai melukai rasa keadilan masyarakat dalam hal ini mahasiswa sebagai bagian dari civitas akademika mungkin merasa hak-haknya untuk bisa berkreasi dan berinovasi menjadi terbatas atau terkekang. Tapi kalau pihak birokrasi menganggap bahwa pembatasan tersebut lebih banyak manfaatnya bagi ketertiban dan kebaikan kampus kita bersama, yah harus didukung.

*Penulis: Rini Sulestiani, Ulfa Riskia Apriliyani (Magang) *Editor: Suhairah Amaliyah

Ibu kantin Daeng Senga

Saya senang kalau ada pelarangan jam malam karena kampus bisa jadi bersih, tapi harus ada batasan waktunya sampai pukul 24.00 WITA, bukan sampai pukul 18.00 WITA seperti dalam surat edaran. Karena kalau kami pulang malam pasti sudah dikunci, terutama mahasiswa yang berkegiatan malam pasti sangat terganggu jika ada peraturan seperti itu.


washilah.com

Edisi 111| Rabiul Awal 1441 Hijriyah | November 2019 Masehi

Mahasiswa Pemasang Kamera di Toilet FSH Diberi Sanksi DO

Amrul Amri, pelaku kasus kamera Go Pro Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar , Foto: Istimewa,-

Washilah - Setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh polsek Somba Opu, mahasiswa pemasangan kamera mengintai toilet wanita Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar kini diberi sanksi Droup out (DO) oleh pimpinan Universitas. Dekan FSH UIN Alauddin Makas-

15

CIVITAS

www.

sar Muammar mengatakan segera memproses Amrul Amri melalui Komisi Penegakan Kode Etik. Pihak kampus juga akan memastikan kejadian serupa tidak terulang. “Telah disepakati bahwa sanksi terberat akan diberikan kepada bersangkutan. Sanksi yang terberat sesuai

dengan kode etik yakni pemecatan tanpa hormat,” ujar , Muammar Muhammad Bakry kepada wartawan di Samata, Gowa, Senin (11/11/2019). Muammar juga berupaya melakukan pembinaan yang baik serta pembenahan fasilitas fakutas. “Tentu upaya sebagai pembenahan dan pembinaan lebih intens dan massif lagi, pembinaan yang baik, perbaikan sistem dan sarana dan prasarana fakultas,” sambungnya. Kasubag Humas Polres Gowa, AKP M. Mangatas Tambunan mengatakan motif pelaku berulah di toilet kampus, untuk kepuasan seks pribadi. “Hasil rekaman kamera dan handphone tersebut ia nikmati secara pribadi,” ucapnya. AA dijerat polisi dengan Pasal 29 jo Pasal 4 Ayat 1 huruf D dan atau Pasal 35 jo Pasal 9 UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dengan ancaman hukuman paling lama 12 tahun penjara. Amrul Amri (19) pemasang kamera mini dan handphone di toilet Fakultas Hukum dan Syariah UIN Alauddin Makassar, Sulsel, dipecat dari kampus. Amrul dinilai membuat malu institusi kampus. *Penulis: Arya Nugraha *Editor: Suhairah Amaliyah

Milad ke-34, UKM LIMA Usung Tema

Kepala Biro AAKK Tanggapi Surat Edaran Pendaftaran Wisuda

Kepala Biro AAKK UIN Alauddin Makassar

Washilah - Dinilai sangat singkat, Kepala Biro (Karo) Administrasi Akademik, Kemahasiswaan dan Kerjasama ( AAKK) memberikan penjelasan mengenai batas waktu pendaftaran wisuda angkatan 85, di ruangan Kepala Biro AAKK lantai II Rektorat. Rabu (6/11/2019). Keluarnya surat edaran pendaftaran wisuda mahasiswa angkatan 85 pada beberapa hari yang lalu, memunculkan banyak keluhan dikalangan mahasiswa. Karena dinilai batas waktu yang tercantum pada surat edaran tersebut sangatlah singkat. Menanggapi hal tersebut, Yuspiani selaku Kepala Biro AAKK menjelaskan alasan mengenai waktu pendaftaran yang diberikan berķaitan dengan sistem baru yang diberlakukan oleh pihak kampus. “Untuk wisuda kali ini, kita mem-

Awards Washilah - Genap memasuki usia ke34 tahun, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Informasi Mahasiswa Alauddin (LIMA) Washilah berinisiatif memberikan penghargaan kepada segenap civitas akademik UIN Alauddin Makassar dengan mengusung tema “Awards: Inovasi Tanpa Batas.” Pada kegiatan ini akan diberikan apresiasi dengan beberapa kategori, diantaranya: dosen terproduktif, jurusan terfavorit, mahasiswa berprestasi, fakultas terinovatif, dan duta literasi. Ketua umum UKM LIMA, Fahrul Iras mengatakan pada peringatan milad ini Washilah akan memberikan apresiasi kepada nominator yang berprestasi dan telah berkontribusi dalam kegiatan ini. “Pada peringatan yang 34, kita ingin memberi apresiasi kepada lima nominator yang menurut kami telah banyak berkontribusi, menyumbangkan tenaga dan kerja keras pada nominasi di Washilah Awards yang kami dan panitia buat, jadi poinnya para nominator ini paling tidak bisa lebih diperhatikan dan harus di support sama pimpinan,” ujarnya saat ditemui Jumat (1/11/2019). Sementara itu, Ketua panitia milad ke-34 Washilah, Agus Nyomba mengatakan dalam perayaan milad ini akan diadakan awards yang bertujuan untuk mengapresiasi atas pencapaian prestasi baik mahasiswa, dosen hingga birokrasi kampus. “Kita ingin lebih dekat dengan audiensi Washilah yakni seluruh civitas akademik di UIN, bukan hanya mem-

berlakukan sistem yang baru kalau kemarin waktu wisuda kan yang di bagi cuman fotocopy ijazah. Sekarang kita mau, begitu wisuda mahasiswa langsung dapat ijazah asli. Nah, untuk pemberian ijazah itu kan ada SOP nya, harus bebas pustaka dan itu semua harus diselesaikan. Jadi, kenapa kita tutup pendaftaran agak lebih ke depan, supaya proses untuk penyelesaian SOP penyerahan ijazah itu, bisa kita lewati. Jadi begitu wisuda, langsung kita serahkan ijazahnya, jadi tidak ada lagi masalah,” jelasnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan sedikit mengeluh mengenai mahasiswa yang belum mendapatkan ijazahnya padahal sudah satu bulan berlalu sejak mahasiswa tersebut diwisuda. Maka dari itu, aturan baru yang berlaku untuk batas pendaftaran wisuda angkatan 85 dipercepat agar penyerahan ijazah bisa dilakukan secepat mungkin. “Mahasiswa kita kan terkadang sudah satu bulan wisuda ijazahnya belum didapat. Nah sekarang kita permudah, tapi itukan ada prosesnya yang mau kita lalui. Itulah sebabnya dipercepat penutupan pendaftaran supaya kita lalui lagi satu proses SOP penyerahan ijazah jadi itu keuntungannya, ijazahnya lebih cepat diterima,” ujarnya. Secara jelas, ia menegaskan semua ketetapan yang dikeluarkan tersebut sudah berdasarkan hasil Rapat Pimpinan (Rapim) dan merupakan usulan dari semua pimpinan. “Semua yang kita lakukan ini sudah hasil dari Rapim, jadi semua pimpinan mengusulkan ketika wisuda itu mahasiswa langsung terima ijazahnya,” tegasnya. Rencananya wisuda mahasiswa angkatan 85 akan dilaksanakan sesuai dengan kelender akademik yang berlaku. *Penulis: Ardiansyah (Magang) *Editor: Dwinta Novelia

Mahasiswa Ilmu Ekonomi melakukan kunjungan ke kantor Badan Perencanaan Provinsi Sulawesi Selatan. Selasa (12/11/2019)

Perkaya Wawasan, Mahasiswa Ilmu Ekonomi Kunjungi Bappeda Sul-sel

beritakan, tapi kita juga memberikan apresiasi kepada capaian prestasi mereka, baik mahasiswa, dosen hingga birokrasi kampus,” ungkapnya. Dia juga mengharapkan agar kegiatan ini dapat memotivasi civitas akademik untuk terus memacu diri. “Kehadiran awards ini diharapkan bisa memotivasi para civitas aka-

demik untuk terus memacu diri agar bisa melahirkan prestasi, program dan inovasi untuk memajukan kampus,” tutupnya. *Penulis: Nur Apiah B & Lismardiana (Magang) *Editor: Dwinta Novelia

Washilah - Mahasiswa Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI) UIN Alauddin Makassar memperkaya wawasan dengan mengunjungi Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulawesi Selatan, Selasa (12/11/2019). Dosen ekonomi perencanaan dan pembangunan Baso Iwang Ph D mengatakan, kunjungan ilmiah ini guna memperkaya wawasan dan pengalaman mahasiswa tentang konsep ekonomi perencanaan dan pembangunan serta mengetahui peran Bappeda dalam mengontrol dan mendampingi perencanaan pembangunan di daerah Sulawesi Selatan. “Tujuannya dari kegiatan ini, memberikan gambaran secara langsung kepada mahasiswa mengenai proses perencanaan pembangunan daerah juga memberi pengetahuan mengenai bentuk-bentuk dokumen perencanaan pembangunan,” ujarnya. Selain itu, kegiatan ini salah satu wujud

implementasi dari mata kuliah ekonomi perencanaan dan pembangunan yang selama ini di programkan bagi mahasiswa Ilmu Ekonomi selama dua semester. Agar mahasiswa bisa membandingkan antara teori & ilmu yg selama ini diperoleh dlm perkuliahan. Salah seorang mahasiswi Ilmu Ekonomi Utari Pratiwi angkatan 17 mengatakan ini merupakan kali pertama melakukan kunjungan. “Kayak bagaimana di’, suasana baru, karena kan kemarin-kemarin dikelas terus ilmu ekonomi itu barusan keluar begini yang sebelum dikelas-kelas terusji,”ungkapnya. un “Semoga kelas-kelas lain juga bisa keluar seperti ini karena ini cuman satu kelas, karena yang diajar pak baso iwang hanya kelas kami” *Penulis : Alam Karpiadi (Magang) *Editor : Suhairah Amaliyah


Profile for Tabloid Mahasiswa Washilah

Tabloid edisi 111  

Tabloid edisi 111  

Advertisement