Issuu on Google+

ULASAN PERTUNJUKAN “KEN O KEN” Posted on Desember 15, 2013by foltrus666

ebook by @dwsproject for www.bengkelsastra.net


Siapa yang bisa mengalahkan cinta? Banyak orang yang seringkali luput dari dasar logikanya ketika menemukan sebuah cinta. Itu pula yang dihadapi oleh Ken Arok, seorang rampok yang jatuh cinta kepada istri dari Tunggulametung; Ken Dedes namanya. Karena cinta pulalah Ken Arok dengan sadar menghabisi nyawa raja itu.

--Apa yang ditemukan Afri Roysadi sebagai penulis naskah tentu tak seterang itu, pikirannya berkecamuk melihat bagaimana peristiwa ‘cinta’ ini begitu sangat kompleks. Alhasil ia menuangkan kegelisahnnya lewat lakon Ken O

Ken yang sekaligus ia sutradarai sendiri. Bermodalkan kematangan dalam hal diskursus dan dramaturg Afri Rosyadi lewat Teater Matahari Bersinar Terang mencoba

1


menerjemahkan

dengan kematangan

keterbacaan teksini ke dalam panggung.

konsep dimana Afri berhasil menawarkan pecahanpecahan adegan yang pararel.

Ia menyematkan konsep pertunjukannya dengan jelas pada booklet pertunjukan dimana sang Sutradara terinspirasi oleh Topeng Cirebon dan berusaha meleburkan inspirasi ini ke dalam satu pertunjukan yang modern dan bersifat present! Hal ini tentu tidak berdiri sendiri, Afri menyematkan kembali konsep bermain monoplay masih di dalam kolom penjelasan tersebut. Aktifasi monoplay dari Teater Matahari Bersinar Terang ini sudah muncul sejak penonton masuk ke dalam gedung. Dimana ada seorang sosok (Budi Kardi) yang berpose diam, hingga akhirnya ketika ruang pertunjukan gelap, ia mulai memakai topengnya dan bergerak. Keberadaan Budi sebagai pembuka disini menjadi semacam jembatan dari konsep menuju ke pertunjukan itu sediri. Bobi bergerak dengan lawas, akan tetapi tampak sekali wajah lelah yang sering muncul dan tenggelam, belum lagi keterbatasan fisiologisnya terhadap stigma estetik seorang manusia pada jamannya. Akan tetapi hal ini bisa diimbangi

Teater Matahari Bersinar Terang menawarkan sebuah densitas cerita yang memiliki keterakitan lewat dimensi waktu dan narasi yang berbeda. Memudakan kembali unsur tradisi menjadi sebuah pemandangan segar di Festival Teater Jakarta. Afri Rosyadi sebagai penulis tampaknya paham benar tujuan yang akan ia capai baik secara estetik ataupun dramatik. Dalam mempresentasikan capaiannya Teater Matahari Bersinar Terang menawarkan musik yang kental dengan lokalitas naratif Ken Arok; Jawa. Penggunaan wayang dan tawaran posisi tunggu pemain, juga latar dengan ambience signifikasi warna yang pekat dan dinamis berhasil menawarkan daya pukaunya sendiri. Pertunjukan yang sangat diperhitungkan oleh sang sutradara ini mampu membawa sebuah tawaran estetik yang canggung namun intim, sebuah kepenasaran yang besar yang disajikan lewat bentukbentuk dinamis. Akan tetapi bukan berarti pertunjukan ini tidak memiliki kekurangan, konsep yang matang di dalam kepala sutradara dan berhasil ditelurkan dengan apik ke dalam tawaran akting pemain ini memiliki beberapa celah kritis.

2


Afri banyak menawarkan spektakelspe ktakel semiotik yang hambar dan jelas. Dimana signifikasi tanda bisa langsung dilesapkan kedalam konteks makna. Penawaran ini jelas banyak dilakukan lewat perilaku gestural dan pengucapan yang seolah dikoorkan secara dingin dan teknikal sehingga meninggalkan kekuatan yang dibangun aktor sebelumnya. Penawaran aksi laku yang dipresentasikan oleh Liz Besoes patut diberikan tabik, ia berhasil mewacanakan ‘perempuan’ dalam memandang stigma kultural patriarkis. Sebuah teks kritis yang hanya bisa lahir dari kecermatan melihat kebiasaankebiasaan sterotype. Pertunjukan ini tentu saja dapat bingar akibat kematangan dari dua belah pihak; sutradara yang paham betul atas konsep frakturalnya dan aktor yang bisa

sang anak membuat adegan klise ini menjadi semacam tragedi yang harus ditertawakan. Kepiawaian aktor dalam penawaran warna dialog adalah ujung tombak keberhasilan pertunjukan ini. Sayangnya kepiawaian aktor dalam membentuk teks tidak diimbangi dengan pendalaman jangkauan pikir mengenai kompleksitas Ken Arok sendiri, entah apakah Ken Arok disini diarahkan menjadi acuan narasi dirinya sendiri, atau sebagai indikator refleksi naratif perempuan dalam menyikapi stigma kultural patriarki? []

menerjemahkan teks ke sebuah bentuk representatif. Adegan stigmatis perceraian yang dimainkan dengan baik oleh aktor Mac Milan Amalo dan Liz Besoes ditambah capaian dialogdialog reduktif

3


Ulasan pertunjukan