Issuu on Google+

oleh: Roni Kurniawan Nursyekhudin Cahyo Ardi Diani Ayu Ria Agustina

e-book by Bengkel Sastra team for www.bengkelsastra.net


Berangkat dari teori struktural ganetik tersebut, kami tertarik untuk mengkaji naskash drama “bom waktu” karya N.Riantiarno. Ada hal menarik yang kami lihat dari naskah ini kerena naskah ini berlatar kehidupan di lokalisasi prostitusi dan temanya yang sarat kritik sosial. Melihat latar belakang pengarang yang lahir di daerah pesisir yang mayoritas masyarakat miskin tentulah ada hal menarik dari terciptanya naskah ini. Pandangan dunia pengarang yang tertuang dalam naskah ini patut untuk diketahui, sejauh mana gambarannya. Di samping itu, faktor sosial budaya dan latar belakang (genetika) apakah yang membuat pengarang melahirkan naskah ini. Hal ini perlu diketahui karena bagaimanapun pengarang pasti punya landasan kuat dan argumen dalam kapasitasnya sebagai salah satu individu kolektif yang merasakan dan mengetahui problem-problem yang dialami oleh kaum miskin. Naskah drama “bom waktu” merupakan jenis naskah tragedi komedi karena dilihat dari prinsip-prinsipnya yaitu konyolnya tokoh utama dalam naskah ini (Julini) namun lemah, ceritanya konyol dan menghibur namun sarat krtitik sosial. Naskah ini masyarakat kecil yang tersingkir, hidup seperti belatung di comberan bau bacin. Mereka yang hanya bisa menatap bulan, memandang kenewahan dari balik etalase tokoh. Mereka yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Suatu karya sastra tercipta tidak dalam kekosongan sosial budaya, artinya, pengarang tidak dengan tiba-tiba mendapat berkah misterius, kemudian dengan elegannya mencipta suatu karya sastra. Suatu karya sastra tercipta lebih merupakan hasil pengalaman, pemikiran, refleksi, dan rekaman budaya pengarang terhadap sesuatu hal yang terjadi dalam dirinya sendiri, dan masyarakat

dianggap najis, sumber maksiat, dan tanpa moral. Mereka yang selalu dilukai dan tak sanggup membalas, apalagi melukai. 1.3 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Bagaimanakah struktur intrinsik naskah “bom waktu”? 2. Bagaimana genetika naskah “bom waktu” (sejauh mana latar belakang pengarang dan struktur sosial budaya masyarakat yang

Strukturalisme genetik (genetic structuralism) adalah cabang

diceritakan dapat mempengaruhi penciptaan naskah “bom

penelitian sastra secara struktural yang tak murni. Ini merupakan

waktu”)?

bentuk penggabungan antara struktural dengan metode penelitian sebelumnya. Konvergensi (keadaan menuju satu titik pertemuan) penelitian struktural dengan penelitian yang memperhatikan aspekaspek eksternal sastra, dimungkinkan lebih demokrat (Endraswara Suwardi, Metodologi Penelitian Sastra, Yogyakarta, 2003 : 55).

3. Bagaimana pandangan dunia pengarang dan subjek kolektifnya yang terdapat dalam naskah “bom waktu”? 4. Bagaimana teknik pemanggungan yang sesuai dengan naskah “bom waktu’?

Secara definitif Goldmann (1977:25) menjelaskan pandangan dunia sebagai ekspresi psike melalui hubungan dialektis, kolektifitas

1.4 Tujuan kajian

tertentu dengan lingkungan sosial dan fisik, dan terjadi dalam periode bersejarah yang panjang. Pandangan dunia dipermasalahkan dalam berbagai disiplin, dan dengan sendirinya dengan definisi yang berbeda-beda. Pandangan dunia sebagaimana dimaksudkan dalam karya satra, khusunya menurut visi

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Mendeskripsikan struktur intrinsik naskah “bom waktu”.

strukturalisme genetik, berfungsi untuk menunjukkan

2. Mendeskripsikan genetika “bom waktu”.

kecenderungan kolektifitas tertentu.

3. Mendeskripsikan pandangan dunia pengarang dan subjek

Drama, yang dalam hal ini adalah salah satu genre dari karya sastra, juga merupakan refleksi pemikiran menyangkut masalah sosial, budaya, politik, dan agama dari pengarang yang dikemas dengan artistik dan metaforis. Drama yang sebenarnya faktor sosial apa yang menjadikan naskah drama tersebut dibuat.

e-book by Bengkel Sastra team for www.bengkelsastra.net

kolektifnya. 4. Mendeskripsikan teknik pemanggungan.


BAB II

tersebut dapat dikonkretkan (Endraswara Suwardi, Metodologi

PEMBAHASAN

Penelitian Sastra, Yogyakarta, 2003 : 57).

(Teori dan Kajian Strukturalisme Genetik) B. Teori Strukturalisme Genetik A. Sejarah dan Prinsip Dasar Strukturalisme Genetik Strukturalisme Genetik memiliki implikasi yang lebih luas dalam Strukturalisme genetik (genetic structuralism) adalah cabang

kaitannya dengan perkembangan ilmu-ulmu kemanusiaan pada

penelitian sastra secara struktural yang tak murni. Ini merupakan

umumnya. Secara definisi Strukturalisme Genetik adalah analisis

bentuk penggabungan antara structural dengan metode penelitian

struktur dengan memberikan perhatian terhadap asal-usul karya.

sebelumnya. Konvergensi penelitian struktural dengan penelitian

Secara ringkas berarti bahwa strukturalisme genetik sekaligus

yang memperhatikan aspek-aspek eksternal sastra, dimungkinkan

memberikan perhatian terhadap analisis intrinsik dan ekstrinsik.

lebih demokrat (Endraswara Suwardi, Metodologi Penelitian Sastra,

Pandangan dunia merupakan masalah pokok dalam strukturalisme

Yogyakarta, 2003 : 55).

genetik.

Orang yang dianggap sebagai peletak dasar mahzab genetik adalah

Secara definitig Goldmann (1977:25) menjelaskan pandangan dunia

Hippolyte Taine (1766-1817), seorang kritikus dan sejarawan

sebagai ekspresi psike melalui hubungan dialektis, kolektifitas

Perancis (Zainuddin Fananie, Telaah Sastra, UMS, 2001 : 116).

tertentu dengan lingkungan sosial dan fisik, dan terjadi dalam

Penelitian strukturalisme genetik semula dikembangkan di Perancia

periode bersejarah yang panjang. Pandangan dunia

atas jasa Lucien Goldmann. Bagi Goldmann, studi strukturalisme

dipermasalahkan dalam berbagai disiplin, dan dengan sendirinya

genetik memiliki dua kerangka besar. Pertama, hubungan antar

dengan definisi yang berbeda-beda. Pandangan dunia sebagaimana

makna suatu unsur dengan unsur lainnya dalam suatu karya sastra

dimaksudkan dalam karya satra, khusunya menurut visi

yang sama. Kedua, hubungan tersebut membentuk suatu jaringan

strukturalisme genetic, berfungsi untuk menunjukkan

yang saling mengikat.

kecenderungan kolektifitas tertentu.

Penelitian strukturalisme genetik, memandang karya sastra dari dua

Secara metodologis, dalam strukturalisme genetik Goldmann

sudut yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Studi diawali dari kajian unsur

menyarankan untuk menganalisis karya satra yang besar, bahkan

intrinsik (kesatuan dan koherensinya) sebagai data dasarnya.

supra karya. Semata-mata dalam karya yang besar peneliti secara

Selanjutnya, penelitian akan menghubungkan berbagai unsur

bebas memasuki wilayah kehidupan, ruang-ruang kosong

dengan realitas masyarakat. Karya dipandang sebagai sebuah

sebagaimana disajikan oleh pengarangnya.

refleksi zaman, yang dapat mengungkapkan aspek sosial, budaya, politik, ekonomi, dsb. Peristiwa-peristiwa penting dari zamannya

Secara definitif strukturalisme genetik Parus menjelaskan struktur

akan dihubungkan langsung dengan unsur-unsur intrinsik karya

dan asal-usul struktur itu sendiri, dengan memperhatikan relevansi

sastra (Endraswara Suwardi, Metodologi Penelitian Sastra,

konsep homologi, kelas sosial, subjektransindividual, dan

Yogyakarta, 2003 : 55).

pandangan dunia. Dalam penelitian, langkah-langkah yang dilakukan, diantaranya:

Strukturalisme genetik adalah sebuah pendekatan di dalam penelitian sastra yang lahir sebagai reaksi pendekatan strukturalisme murni yang anti historis dan kausal. Pendekatan strukturalisme juga dinamakan sebagai pendekatan objektif. Menyikapi yang demikian, Iswanto pernah mengutip pendapat Juhl (2001: 62) penafsiran terhadap karya sastra yang menafikan pengarang sebagai pemberi makna sangat berbahaya pemberian makna, karena penafsiran tersebut akan mengorbankan ciri khas , kepribadian, cita-cita dan juga norma-norma yang dianut oleh pengarang. Secara gradual dapat dikatakan bahwa jika penafsiran itu menghilangkan pengarang dengan segala eksistensinya di dalam jajaran signifikan penafsiran. Objektifitas penafsiran sebuah karya sastra akan diragukan lagi karena memberi kemungkinan lebih besar terhadap campur tangan pembaca di dalam penafsiran karya sastra. Goldmann memberikan rumusan penelitian strukturalisme genetik ke dalam tiga hal, yaitu (1) penelitian terhadap karya sastra seharusnya dilihat sebagai kesatuan, (2) karya sastra yang diteliti semestinya karya yang bernilai sastra yaitu karya yang mengadung tegangan (tension) antara keragaman dan kesatuan dalam suatu keseluruhan, (3) jika kesatuan telah ditemukan, kemudian dianalisis dalam hubungannya dengan latar belakang sosial. Sifat hubungan tersebut : (a) yang berhubungan latar belakang sosial adalah unsur kesatuan, (b) latar belakang yang dimaksud adalah pandangan dunia suatu kelompok sosial yang dilahirkan oleh pengarang sehingga hal

e-book by Bengkel Sastra team for www.bengkelsastra.net

a. meneliti unsur-unsur karya sastra b. hubungan unsur-unsur karya sastra dengan totalitas karya sastra c. meneliti unsur-unsur masyarakat yang berfungsi sebagai genesis karya sastra d. hubungan unsur-unsur masyarakat deengan totalitas masyarakat e. hubungan karya sastra secara keseluruhan dengan masyarakat secara keseluruhan.

C. Teknik Analisis dan Langkah-Langkah Strukturalisme Genetik Teknik analisis yang digunakan dalam strukturalisme genetik adalah model dialek. Model ini mengutamakan makna koheren (saling berhubungan). Prinsip dasar teknik analisis model dialek adalah adanya pengetahuan mengenai fakta-fakta kemanusiaan akan tetap abstrak apabila tidak dibuat konkret dengan mengintegrasikan di dalam totalitas (Endraswara Suwardi, Metodologi Penelitian Sastra, Yogyakarta, 2003 : 61). Secara sederhana Suwardi Endraswara dalam Metodologi Penelitian Sastra, Yogyakarta, 2003 : 62, kerja penelitian strukturalisme genetik dapat diformulasikan ke dalam tiga langkah, dan satu langkah adalah makna totalitas yaitu:


1. penelitian bermula dari kajian unsur intrinsik,

dilakukan oleh pejabat atau aparat, dalam hal ini sering dilakukan

2. mengkaji kehidupan sosial budaya pengarang, karena ia

oleh Kumis dan Pak Camat. Penyalahgunaan kekuasaan Kumis

merupakan bagian komunitas tertentu, dan

sebagai komandan hansip salah satunya adalah sering “memakai”

3. mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang turut

Tarsih (Wanita Tuna Susila) dengan tidak membayarnya. Ini terlihat

mengkondisikan karya sastra saat diciptakan oleh pengarang.

dalam dialog (hal. 57):

4. Dan setelah kita menelaah karya sastra dari ketiga langkah ini, maka akan didapat benang merah yaitu makna totalitas. Makna

TARSIH: Janji melulu, janji melulu. Apa kamu piker aku bisa hidup

totalitas, merupakan sebuah harapan maksud yang ingin

hanya

disampaikan oleh pengarang.

dari Janji-janji? KUMIS: Cuma malam ini, besok kalau aku datang lagi, aku kasih

Analisis/Kajian Strukturalisme Genetik

kamu

Naskah Drama Bom Waktu (Trilogi Opera Kecoa)

empat kali lipat. Sekarang aku tidak bawa uang.

Karya Norbertus Riantiarno  Tema tentang pelanggaran norma. Pelanggaran norma yang Dalam naskah drama Norbertus Riantiarno yang berjudul Bom

terjadi dalam naskah drama Bom Waktu dilakukan oleh tokoh Julini.

Waktu (Trilogi Opera Kecoa) kami mengkaji dengan pendekatan

Julini yang berkelamin laki-laki dan memiliki kepribadian wanita

Struktural Genetik. Kerja penelitian strukturalisme genetik dapat

ingin menikah dengan Roima, pria yang dicintainya. Ini terlihat dari

diformulasikan ke dalam tiga langkah dan satu langkah adalah

dialog antara Turkana dengan Jumini (hal.40)

makna totalitas yaitu: TURKANA:….Aku tidak mau kamu seperti Julini yang mimpi ingin jadi 1. Kajian Unsur Intrinsik/Bedah Struktur Naskah

wanita. Aku ingin kamu lihat kenyataan…….

a. Tema

JUMINI (DIAM SEPERTI PATUNG)

Pengertian tema sebagai salah satu unsur karya sastra maupun

 Tema tentang bentrok antar kepentingan. Bentrok

untuk mendeskripsinya pernyataan tema yang dikandung dan

antarkepentingan yang terjadi dalam naskah drama Bom Waktu

ditawarkan oleh sebuah cerita karya sastra. Tema menurut Stanton

dilakukan oleh tokoh Tumunah dan Tibal dengan Kumis. Tuminah

(1965:20) dan Kenny (1966:88), adalah makna yang dikandung oleh

yang rela menyerahkan kesuciannya kepada Kumis demi ladang

sebuah cerita.

kakanya Tibal tidak dibongkar dengan aparat yang melakukan peenertiban karma Gubernur akan datang meninjau, demi iming-

Tema yang diangkat dalam naskah drama yang kami kaji adalah

iming bahwa ladang kakanya tidak akan dibongkar Tuminah percaya

berdasarkan penggolongan tema dari tingkat keutamaannya, dalam

saja, namun saat waktu pembongkaran datang, Tuminah dan Tibal

Teori Pengkajian Fiksi, Burhan Nurgiantoro:82, ada 2 macam, yaitu:

tidak bisa berbuat banyak, dan Kumis pun mengingkari janji kepada

• Tema Mayor adalah makna pokok cerita yang menjadi dasar atau

Tuminah. Ini terlihat dalam dialog (hal.133):

gagasan dasar umum karya itu. Menurut kami tema yang diangkat dalam naskah drama “Bom Waktu” adalah kemunafikan.

TUMINAH (KAGET, BERTERIAK): Loh? Gubukku kok dibongkar juga?

• Tema Minor adalah makna yang hanya terdapat pada bagian-

Apa-apaan ini? Tunggu!

bagian tertentu cerita dapat diidentifikasikan sebagai makna bagian,

BLEKI : Komandan bagaimana ini? Dibongkar,

makna tambahan. Yang termasuk tema minor dalam naskah drama

Jangan?

“Bom Waktu” yaitu:

KUMIS : Bongkar! TUMINAH : Kok dibongkar juga? Bagaimana

 Tema tentang ketidakadilan. Ketidakadilan dalam naskah drama

janjimu? Aku sudah kasih apa yang

Bom Waktu terlihat antara golongan kaya atau yang berkuasa

kamu ingin, masa tetap kamu bongkar

dengan orang-orang yang bermukim di sekitar tempat pelacuran di

juga?

bawah Tanggul sungai (golongan miskin). Ini bisa dibuktikan dalam dialog antara Kumis dengan Tuminah

KUMIS : Aku tidak janji apa-apa. Bongkar! b. Tokoh dan Penokohan

(hal.133): TUMINAH (KAGET, BERTERIAK): Loh? Gubukku kok dibongkar juga? Apa-apaan ini? Tunggu! BLEKI : Komandan bagaimana ini? Dibongkar, Jangan? KUMIS : Bongkar! TUMINAH :Kok dibongkar juga? Bagaimana janjimu? Aku sudah kasih apa yang kamu ingin, masa tetap kamu bongkar juga? KUMIS : Aku tidak janji apa-apa. Bongkar!  Tema tentang penyalahgunaan kekuasaan. Penyalahgunaan kekuasaan yang terjadi dalam naskah drama Bom Waktu sering e-book by Bengkel Sastra team for www.bengkelsastra.net

Peran tokoh 1. Protagonis : tokoh yang sring muncul 2. Antagonis : tokoh berperan jahat 3. Deutragonis : tokoh yang berpihak pada protagonist 4. Foil : tokoh yang berpihak pada antagonis 5. Tritagonis : tokoh pelerai konflik antara protagonist dengan antagonis 6. Utility : tokoh yang tidak berpihak pada siapun 7. Raisoneur : tokoh yang mewakili sang penulis tetapi kehadirannya tidak diperlukan.


Karakter

JULINI: Bulan sepotong di langit, tergantung tersenyum, seperti

 Bentuk:

menyaksikan

1. Flat → datar

dan menyetujui cinta kita yang barusan dipertemukan.

2. Round → melingkar (adanya perubahan)

TIBAL: Romantis amat.

3. Karikatur → karakter yang dilebih-lebihkan (untuk menyindir)

JULINI: Tak ada awan, Cuma bintang-bintang……

4. Teatrikal → fungsinya untuk mewakili tokoh yang menyedihkan 2. ROIMA  Jenis:

Peran tokoh yang dimainkan Roima termasuk ke dalam tokoh

1. Fisiologis → fisik

deutragonis, mempunyai karakterter berbentuk flat (datar) karena

2. Psikologis → penokohan

dalam naskah drama Bom Waktu (bagian pertama Trilogi Opera

Analisis Tokoh dan Penokohan Naskah Drama “Bom Waktu”:

Kecoa) karena ia di dalam cerita dari awal sampai akhir cerita tidak mengalami perubahan yang signifikan, dalam hal ini adalah Roima

1. JULINI

selalu bersikap kasar dan galak terhadap apa dan siapa yang tidak

Peran tokoh yang dimainkan Julini termasuk ke dalam tokoh

sesuai dengan keinginannya. Fisiologis tokoh Roima berjenis

protagonis, mempunyai karakterter berbentuk flat (datar) karena

karakter: berkelamin laki-laki berusia 30-an tahun yang maco hingga

dalam naskah drama Bom Waktu (bagian pertama Trilogi Opera

Julini tergila-gila padanya. Sedangkan psikologisnya berkarakter

Kecoa) memiliki cerita yang masih menggantung (bersambung) yaitu

seorang pria yang kasar dan cemburuan. Ini tersurat dalam dialog

Julini dan Roima pergi dan berpisah dari tempat pelacuran sewaktu

dalam naskah drama Bom Waktu hal.24:

sedang diadakan pembongkaran pada tempat prostitusi itu. Fisiologis : tokoh Julini berjenis karakter: berkelamin laki-laki yang berusia sekitar 25-an tahun. Sedangkan psikologisnya berkarakter seorang pria yang mempunyai kepribadian seperti wanita dan memiliki penyimpangan sexual (berhubungan dengan Roima), ia memdambakan hubungannya dengan Roima dilegalkan melalui ikatan pernikahan. Ia juga memliki hubungan terlarang dengan Tibal walaupun hanya beberapa jam. Ia adalah seorang yang suka merayu, romantis, dan puitis. Ini terlihat dalam dialoh antara Julini dan Tibal (hal.83):

e-book by Bengkel Sastra team for www.bengkelsastra.net

KASIJAH: Apa Roima begitu istimewa….. JULINI : Tak ada lelaki yang mampu mengalahkan cangkulnya. Dia kasar tapi Lembut. Dia memaksa tapi memberi. …………….ibarat kayu, ia jati nomor satu. Ibarat buah dia terong. Pendeknya Roima segalagalanya. Aiiih…jadi kangen…….Oh Roima, ibarat neriam itu dia meriam 12,7! (TERBIRIT-BIRIT PERGI) KASIJAH: Dia gila. TARSIH: Dia jatuh cinta.


sekitar 30-an tahun, berkulit hitam, ini dirujuk dari nama 3. JUMINI

panggilannya dari Kumis. Sedangkan psikologisnya berkarakter

Peran tokoh yang dimainkan Jumini termasuk ke dalam tokoh

seorang laki-laki yang menjadi bawahan Kumis, yang selalu manut

deutragonis, mempunyai karakterter berbentuk flat (datar) karena

apa yang dikatakan Kumis.

dalam naskah drama Bom Waktu (bagian pertama Trilogi Opera Kecoa) karena ia di dalam cerita dari awal hingga akhir lebih

6. ABUNG

dominan selalu menghayal dan berbicara kepada bulan, berharap

Peran tokoh yang dimainkan Abung termasuk ke dalam tokoh

Sueb (suami) dan anaknya masih hidup dan menjemputnya.

Raisoneur, mempunyai karakterter berbentuk round (bundar)

Fisiologis tokoh Jumini berjenis karakter: berkelamin wanita yang

karena dalam naskah drama Bom Waktu (bagian pertama Trilogi

berusia sekitar 30-an tahun. Sedangkan psikologisnya berkarakter

Opera Kecoa) karena ia di dalam cerita tokoh Abung hanya

seorang wanita yang “stress”, yang menipu perasaannya sendiri

bermonolog sindiran. Ini tersurat dalam naskah drama Bom Waktu

(“berpacaran” dengan bulan), seorang yang tidak menerima

halaman 93:

kenyataan bahwa suami dan anaknya telah meninggal. Ini tersurat dalam dialog hal.39:

(ABUNG NONGKRONG DI POHON. BICARA SENDIRIAN DENGAN LANGIT)

TURKANA: Mengingat-ingat yang sudah tidak ada, kerja sia-sia.

ABUNG: Aku ada dimana-mana, hadir dalam setiap peristiwa. Tapi

Kamu sendiri

apa peranan yang sekarang sedang ku mainkan? Apakah aku

bilang, mengkayal itu nyandu. Bisa jadi penyakit. Tapi apa yang

pemeran utama, atau Cuma embel-embel pelengkap penderita?

kamu lakukan setiap hari?

Aku tahu apa yang sedang terjadi, tapi Cuma itu. Aku kan tidak

JUMINI : Aku menunggu Sueb dan anakku pulang, menjemputku.

boleh berbuat apa-apa, sebab memang tidak ada di dalam

TURKANA: Jumini, Sueb dan anakmu sudah mati. Kapalnya

rancangan. Lagi pula aku selalu merasa ada di luar peristiwa. Lama-

tenggelam…….

lama tidak enak juga jadi penonton.

JUMINI : Banyak yang mati, tapi aku tidak melihat gambar Sueb dan

(KEPADA LANGIT)

Tole

Kemana aku harus pergi dan bertanya .kemana, katakana. Kemana?

mati…

Brengsek. Brengseeek….

4. KUMIS

Fisiologis tokoh Abung berjenis karakter: berkelamin laki-laki

Peran tokoh yang dimainkan Kumis termasuk ke dalam tokoh

berusia sekitar 30-an tahun, rambutnya berantakan, penampilannya

antagonis, mempunyai karakterter berbentuk flat (datar) karena

dekil, penulis mengambarkan seperti ini karena tokoh Abung di

dalam naskah drama Bom Waktu (bagian pertama Trilogi Opera

dalam cerita merupkan orang “stress”. Sedangkan psikologisnya

Kecoa) karena ia di dalam cerita ia selalu menindas dan

berkarakter seorang laki-laki yang stress, yang suka berbicara

memperlakukan sewenang-wenang terhadap “orang kecil”.

sendiri, tetapi kalau ada tokoh lain yang berdialog, tokoh Abung

Fisiologis tokoh Kumis berjenis karakter: berkelamin laki-laki berusia

menyahut dengan sindiran-sindiran politik atau keadaan

sekitar 35-40 tahun, berkumis, tinggi besar. Sedangkan

perekonomian yang sedang terjadi.

psikologisnya berkarakter seorang laki-laki/bagian aparat hokum yang suka menindas, memperlakukan tidak adil terhadap orang

7. TARSIH

miskin yang bermukim di daerah sekita Tanggul sungai. Ini terlihat

Peran tokoh yang dimainkan Tarsih termasuk ke dalam tokoh

dari dialog halamam 131-135 dalam naskah drama Bom Waktu

deutragonis, mempunyai karakterter berbentuk round (bundar)

bagian pertama Trilogi Opera Kecoa. Ia juga seorang yang licik dan

karena dalam naskah drama Bom Waktu (bagian pertama Trilogi

tidak bertanggungjawab, ini tersurat dalam dialog halaman 88:

Opera Kecoa) karena ia di dalam cerita merupakan seorang pelacur yang kemudian berubah nasib menjadi istri muda Camat yang

TARSIH : Aku tak butuh uang haram.

hidupnya sudah bergelimang harta, tetapi kemudian ia kembali

KUMIS : Menghina, dari mana kamu tahu uangkku uang haram?

menjadi pelacur lagi karena dilabrak istri tua Camat. Ini terlihat

TARSIH : Hasil keringat orang lain, uangmu itu. Seharusnya kamu

dalam naskah drama Bom Waktu halaman 127:

tidak berhak…..

KASIJAH: Kenapa: TARSIH : Waktu isteri tua Camat itu datang bersama dengan dua

5. BLEKI

orang tentara

Peran tokoh yang dimainkan Bleki termasuk ke dalam tokoh foil,

aku didepaknya. Dia kuasai semua yang ku peroleh dari Pak Camat.

mempunyai karakterter berbentuk flat (datar) karena dalam naskah

Lalu aku diperlakukan seperti pengemis…

drama Bom Waktu (bagian pertama Trilogi Opera Kecoa) karena ia

(BERTERIAK MENYANYI)

di dalam cerita selalu mengikuti perintah Kumis. Ini tersurat pada

Luka, tapi adakah daya

dialog halaman 25:

Luka, itulah bagian kita Luka, luka dan luka….

KUMIS (MENYERET BLEKI): Tele-tele, tanyakan Tarsih tolol. Cepat. Buangbuang waktu ngoceh tidak keruan. BLEKI : Ya, komandan. Siap. (MENGHAMPIRI KASIJAH) Fisiologis tokoh Bleki berjenis karakter: berkelamin laki-laki berusia e-book by Bengkel Sastra team for www.bengkelsastra.net

Fisiologis tokoh Tarsih berjenis karakter: berkelamin wanita berusia sekitar 23 tahun , cantik karena ia menjadi kembang di tempat pelacuran. Sedangkan psikologisnya berkarakter seorang wanita yang mendambakan kebahagiaan dan kehidupan yang lebih baik. ini


tersurat dalam naskah drama Bom Waktu halaman 127:

ceritanya berwatak sabar terhadap aparat (Kumis), tetapi kemudian ia berubah menjadi seorang pemberontak. Ini tersurat dalam dilog

KASIJAH : Tarsih, Tarsih. Kenapa….

halaman 134-135.

TARSIH : Tak ada tempat istirahat untuk orang-orang seperti kita. Tadinya aku

TIBAL (MELEDAK): Ladangku di gusur juga. Lalu apa gunanya

kira biba bahagia. Punya rumah, tunjangan tiap bulan. Tapi

Tuminah tidur

sekarang semuanya bukan milikku lagi.

sama kamu setiap kali kamu ingin? Berapa kali? Anjing, bangsat…..jahanam kamu.

8. KASIJAH

(CAMAT DAN SEKRETARIS DAN BEBERAPA PENGAWAL DATANG.

Peran tokoh yang dimainkan Tarsih termasuk ke dalam tokoh utility,

TIBAL YANG MENGAMUK SEGERA DIRINGKUS. PENYANYI DI

mempunyai karakterter berbentuk flat (datar) karena dalam naskah

JENDELA HOTEL MENYEANYI MEMEKAKKAN TELINGA)

drama Bom Waktu (bagian pertama Trilogi Opera Kecoa) karena

CAMAT: Pemberontakan? Ringkus! Bawa laki-laki gila ini ke kantor

awal sampai akhir cerita ia selalu berpihak kepada Julini dan Tarsih

polisi.

dan ia tidak menyukai aparat (Kumis) dan pejabat (Camat). Fisiologis tokoh Kasijah berjenis karakter: berkelamin wanita berusia sekitar

Jangan biarkan dia menyebar bibit kekacauan! (TIBAL YANG DIRINGKUS MENATAP MEREKA DENGAN DENDAM.

40-an tahun dan bekerja sebagai pelacur di tempat yang sama

TUMINAH MENAGIS)

dengan Julini dan Tarsih bekerja. Sedangkan psikologisnya berkarakter seorang wanita yang pesimis dan pasrah dalam

Fisiologis tokoh Tibal berjenis karakter: berkelamin pria berusia

menjalani kehidupan sebagai Wanita Tuna Susila (WTS). Ini tersurat

sekitar 25 tahun yang datang dari desa (udik) yang berpenampilan

dalam naskah drama Bom Waktu halaman 62:

seperti orang desa yang dapat dideskripsikan memakai baju putih, membawa buntelan sarung. Sedangkan psikologisnya berkarakter

TARSIH : Kehormatan . kalau seumur hidup Cuma berkubang di

seorang pria yang penyayang dan selalu melindungi adiknya. Ini

comberan,

tersurat dalam dialog dalam naskah drama Bom Waktu halaman

mana bisa punya kehormatan.Makin lama kita hanya akan makin

112:

jadi sisa

TIBAL (MELEDAK): Dia minta kamu, keperawananmu,

KASIJAH : Semua orang ingin senang, bahagisa, aku tahu. Semua

kehormatanmu sebagai

orang ingin

imbalan. Bagaimana bisa kuat aku mendengarnya.

Hidup layak, aku tahu. Siapa yang ingin jadi seperti kta, tak

Bagaimana aku tidak marah. Kalau saja aku sendirian tadi,

ada,kalau

aku sudah adu nyawa. Ini penghinaan.

tidak lantaran kepepet.Tapi semua orang juga tahu, kita ini memang

TUMINAH (TERMENUNG): Jadi itu yang dia minta. Kita dikasih waktu

bagian dari yang maksiat. Mengubah keadaan,Hanya omong

tiga

kosong.Kecuali kalau ada mukjizat.

hari untuk berpikir, tadi aku dengar Kumis bilang

Selain itu Psikologi Kasijah digambarkan sebagai wanita yang

begitu.

berbicara ceplas-ceplos dan perhatian terhadap temantemannya(Tarsih dan Julini).

11. TUMINAH Peran tokoh yang dimainkan Tuminah termasuk ke dalam tokoh

9. TURKANA

Utility, mempunyai karakterter berbentuk flat (datar). Fisiologis

Peran tokoh yang dimainkan Turkana termasuk ke dalam tokoh

tokoh Tuminah berjenis karakter: berkelamin wanita berusia sekitar

utility, mempunyai karakterter berbentuk flat (datar) karena dalam

17 tahun yang datang dari desa (udik) yang berpenampilan seperti

naskah drama Bom Waktu (bagian pertama Trilogi Opera Kecoa) ia

orang desa yang dapat dideskripsikan rambut disanggul dan

tidak mengalami perubahan yang menonjol. Fisiologis tokoh

berparas cantik. Sedangkan psikologisnya berkarakter seorang

Turkana berjenis karakter: berkelamin pria berusia sekitar 30-an

wanita yang penurut kepada Tibal (kakaknya), rela berkorban dan

tahun. Sedangkan psikologisnya berkarakter seorang pria yang sabar

polos. Ini tersurat dalam dialog dalam naskah drama Bom Waktu

dan penyayang serta sangat mencintai Jumini. Ini tersurat dalam

halaman 117:

dialog dalam naskah drama Bom Waktu halaman 124: TUMINAH: Tum baru datang dari kantor Kumis. TURKANA (LEMBUT) : Membentur persoalan yang buntu, orang

TIBAL : Jadi kamu….Tuminah, jadi kamu…

kadang

TUMINAH: Ya, dan kita tidak akan digusur. Sehabis peninjauan

kehilangan kesabaran. Aku sudah janji, mau mengikuti kemana pun

Bapak

kamu pergi. Teruskan saja. Apa yang ingin kamu lakukan, lakukan.

Gubernur, kita akan tetap tinggal di sini. Mendirikan gubuk dan

Aku tak akan ganggu-ganggu lagi.

berladang. Itu janji Mas Kumis tadi.

JUMINI (MASUK KE GUBUK)

TIBAL : Kamu…kamu…

Jum, Jum….

(BERTERIAK)

(IKUT MASUK GUBUK TUMBEN JUMINI MEMBIARKANNYA)

Anjing, jadi untuk apa semua jerih payahku selama ini. Untuk apa, Untuk siapa.

10. TIBAL Peran tokoh yang dimainkan Abung termasuk ke dalam tokoh Utility, mempunyai karakterter berbentuk round (bundar) karena dalam naskah drama Bom Waktu ia seotang tokoh yang awal e-book by Bengkel Sastra team for www.bengkelsastra.net

TUMINAH: Tidak apa-apa Kang, aku tiak merasa sakit kok. Yang penting Akang bisa tenang bekerja. Dan kita tidak bakal digusur.


12. SAWIL

dengan memperistri Tarssih sebagai istri mudanya.

Peran tokoh yang dimainkan Sawil termasuk ke dalam tokoh Utility, mempunyai karakterter berbentuk flat (datar). Fisiologis tokoh Sawil berjenis karakter berkelamin pria berusia sekitar 25 tahun.

KASIJAH: Kenapa: TARSIH : Waktu isteri tua Camat itu datang bersama dengan dua

Sedangkan psikologisnya berkarakter seorang pria yang tidak waras,

orang tentara

karena setiap hari hanya menghitung keuntungan berdagang di atas

aku didepaknya. Dia kuasai semua yang ku peroleh dari Pak Camat.

tanah bersama Bilun .

Lalu aku diperlakukan seperti pengemis‌

13. BILUN

15. PENYANYI

Peran tokoh yang dimainkan Bilunl termasuk ke dalam tokoh Utility,

Peran tokoh yang dimainkan penyanyi termasuk ke dalam tokoh

mempunyai karakterter berbentuk flat (datar). Fisiologis tokoh Bilun

Utility karena ia tidak berpihak kepada kepada tokoh protagonist

berjenis karakter berkelamin pria berusia sekitar 25 tahun.

ataupun tidak memihak kepada tokoh antagonis. Mempunyai

Sedangkan psikologisnya berkarakter seorang pria yang tidak waras,

karakterter berbentuk teatrikal. Fisiologis tokoh penyanyi berjenis

karena setiap hari hanya menghitung keuntungan berdagang di atas

karakter berkelamin wanita. Sedangkan psikologisnya berkarakter

tanah bersama Sawil.

suka menyanyi seriosa.

14. CAMAT/ORANG KE-2

16. PELACUR-1

Peran tokoh yang dimainkan Tuminah termasuk ke dalam tokoh

Peran tokoh yang dimainkan pelacur-1 termasuk ke dalam tokoh

Utility karena ia tidak berpihak kepada warganya (orang miskin)

utility, mempunyai karakterter berbentuk mempunyai karakterter

yang berada di tempat pelacuran dan tidak memihak pada pejabat

berbentuk karikatural. Fisiologis tokoh pelacur-1 berjenis karakter

atasannya yaitu ia menikahi Tarsih dengan menjadikan Tarsih

bertubuh molek. Sedangkan psikologisnya berkarakter suka

sebagai istri muda, mempunyai karakterter berbentuk round

berbicara ceplas-ceplos terhadap tokoh-tokoh pelacur atau tokoh

(bundar) karena pada awal cerita ia membela warganya, namun di

lalin yang berada dalam naskah drama Bom Waktu. Ini tersurat

akhir cerita dalam naskah Bom Waktu, ia mengikuti perintah

dalam dialog nakah drama Bom Waktu halaman 74:

Gubernur dan Bupati untuk membongkar dan membersihkan tempat prostitusi itu. Fisiologis tokoh Camat berjenis karakter berkelamin pria, ia memakai seragam kedinasan, berperut buncit. Sedangkan psikologisnya berkarakter seorang pria yang tidak teguh

CAMAT: Sudah berapa lama mangkal disini? KASIJAH: Baru datang dari udik, Pak, baru tiga bulan. PELACUR-1: Hahaaaaa‌‌.., dia kecebong paling tua disini.

pada pendiriannya karena pada awal cerita ia membela warganya, namun di akhir cerita dalam naskah Bom Waktu, ia mengikuti

17. PELACUR-2

perintah Gubernur dan Bupati untuk membongkar dan

Peran tokoh yang dimainkan pelacur-1 termasuk ke dalam tokoh

membersihkan tempat prostitusi itu, ia menyelewengkan

utility, mempunyai karakterter berbentuk mempunyai karakterter

kekuasaanya karena sebagai pejabat pemerintahan ia melanggar

berbentuk flat (datar). Fisiologis tokoh pelacur-1 berjenis karakter bertubuh molek. Sedangkan psikologisnya berkarakter suka

e-book by Bengkel Sastra team for www.bengkelsastra.net


berbicara ceplas-ceplos terhadap tokoh-tokoh pelacur atau tokoh

‘perkawinan’ , tokoh Jumini yang selalu berharap agar sueb (suami )

lalin yang berada dalam naskah drama Bom Waktu.

dan anaknya segera pulang juga masalah-masalah penindasan yang dilakukan tokoh Kumis terhadap Tarsih, Tibal dan Tuminah.

18. HANSIP Peran tokoh yang dimainkan Hansip termasuk ke dalam tokoh Foil,

d. Setting atau Latar naskah drama Bom Waktu

mempunyai karakterter berbentuk karikatural. Fisiologis tokoh

Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas tumpu,

Hansip berjenis karakter: berkelamin pria, membawa pentungan,

menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan

priwitan, memakai seragam hansip. Sedangkan psikologisnya

lingkungan sosial tempat terjadi peristiwa-peristiwa yang

berkarakter sebagai bawahan Kumis, ia menurut akan perintah

diceritakan (Abrams, 1981:175).

Kumis. ADEGAN PEMBUKAAN 19. SEKRETARIS CAMAT/ORANG-1

Tahun 1982 di sudut bawah jembatan kota Jakarta, hidup dan

Peran tokoh yang dimainkan Sekretaris Camat/Orang-1 termasuk ke

bermukim masyarakat kelah mengeah kebawah sampai masyarakat

dalam tokoh Foil, mempunyai karakterter berbentuk teatrikal.

yang benar-benar miskin. Di sana terdapat lokalisasi pelacuran yang

Fisiologis tokoh berjenis karakter: berkelamin pria. Sedangkan

di huni oleh beberapa wanita tuna susila (WTS) yang terdiri dari

psikologisnya berkarakter sebagai bawahan Camat, ia seorang yang

banci dan wanita tulen, juga terdapat lelaki yang tinggal dan hidup

peka apa yang diminta Camat. Ini tersurat dalam dialog nakah

di sana. Dengan peristiwa-peristiwa yang sedih dan senang terjadi di

drama Bom Waktu halaman 13:

sana.

CAMAT: Catat. Dalam tempo pendek, daerah ini harus sudah bersih.

ADEGAN 1

Semua hal

Di atas tanggul sungai terdapat tempat pelacuran. Di suatu malam

yang jorok dan menjijikan harus disapu sampai bersih. Kita akan

nampak seorang guru bahasa Inggris sedang mengajari para pelacur.

bongkar semuanya, iya kita akan bongkar semuanya. Cari waktu

Pada saat berjalannya pembelajaran ada seorang murid (pelacur)

baik untuk kita menghadap Gubernur.

yang bernyanyi dan menyebabkan guru menjadi pusing. Tiba-tiba

SEKCAM: Siap, Pak. Sudah dicatat semuanya.

Julini datang dengan raut wajah nampak kesal. Karena Julini datang dengan suasana yang ribet, maka bermunculan para pelacur dari

c. Plot

bawah tanggul. Julini bercerita tentang apa yang baru saja terjadi

Pada naskah drama Bom Waktu, menggunakan plot progresif

pada dirinya dan Roima kepada Tarsih dan Kasijah. Di saat mereka

(maju). Terlihat dari:

sedang berceita muncul Kumis dan Bleki.

 Pembedaan plot berdasarkan kriteria kepadatan

ADEGAN 2

Di dalam cerita Bom Waktu menggunakan plot padat berdasarkan

• Di dalam gubuk Julini pagi hari yang bersuasana tegang karena

kriteria jumlah. Peristiwa-peristiwa dikisahkan susul-menyusul

pertengkaran Roima dan Julini

secara cepat. Di samping cerita disajikan secara cepat, peristiwa-

• Di depan rumah lokalisasi pelacuran bersuasana riang dan ramai

peristiwa fungsional terjadi susul-menyusul dengan cepat.

saat para pelacur mengikuti kursus bahasa Inggris pada seorang

Hubungan antar peristiwa juga terjalin secara erat. Antara peristiwa

guru

yang satu dengan peristiwa yang lain tidak dapat dipisahkan atau

• Di depan gubuk Julini saat melihat Sawil dan Bilun bersuasana

dihilangkan salah satunya. Setiap peristiwa yang ditampilkan terasa

haru karena keadaan Sawil dan Bilun yang menjadi korban

penting dan berperan menentukan dalam rangakaian cerita itu.

kemiskinan, tetapi mereka berusaha mencari keuntungan dengan suatu usaha. Namun, mereka tidak mempunyai modal untuk

 Pembedaan plot berdasarkan kriteria jumlaah

menjalankan sebuah usaha.

Naskah Bom Waktu menggunakan plot sub-plot berdasarkan kriteria

• Di atas kursi/pohon pagi hari yang terang menyoroti pohon dan

jumlah. Ini terlihat dari cerita dalam naskah itu memiliki lebih dari

Abung memanjat pohon-pohon tersebut yang berada di depan

satu alur cerita yang dikisahkan, atau terdapat lebih dari seorang

gubuk-gubuk pinggiran sungai.

tokoh yang dikisahkan perjalanan hidup, permasalahan, dan konflik yang dihadapinya. Struktur plot sub-plot berupa adanya sebuah plot

ADEGAN 3

utama (main plot) dan plot-plot tambahan(sub-subplot). Secara

Di dalam gubuk pemukiman milik Jumini dan Jumini berada di dekat

keseluruhan plot utama lebih berperan dan penting daripada sub-

jendela sambil menatap bulan. Suasana awalnya meluapkan amarah

subplot itu. Sub-plot, hanya hanya merupakan bagian dari plot

antara Jumini dan Turkana, namun akhirnya amarah itu reda.

utama. Ia berisi cerita “kedua” yang ditambahkan yang bersifat memperjelas dan memperluas pandangan kita terhadap plot utama

ADEGAN 4

dan mendukung efek keseluruhan cerita (Abrams, 1981: 138)

Di dalam pos hansip terdapat dua hansip dan dua orang yang sedang diinterogasi. Namun, mendengar suara bising nyanyian dari

 Pembedaan plot berdasarkan kriteria isi

hotel yang berdekatan dengan pos hansip dan menjadikan suasana

Naskah Bom Waktu menggunakan plot pemikiran berdasarkan

mendi ricuh karena hansip merasa terganggu suara bising dari hotel

kriteria isi.Naskah ini mengungkapkan sesuatu yang menjadi bahan

tersebut.

pemikiran, keinginan, perasaan ,berbagai macam obsesi, dan lainlain hal yang menjadi masalah hidup dalam kehidupan manusia.Ini

ADEGAN 5

terlihat dari tokoh Julini yang memopunyai keinginan untuk

Di pelataran gubuk-gubuk di bantaran sungai dan di dalam salah

mewujudkan masa depan lebih baik, lewat lembaga yang bernama e-book by Bengkel Sastra team for www.bengkelsastra.net


satu gubuk dengan suasana tegang karena pertengkaran Julini dan Roima .

ADEGAN 11 Di lokalisasi pelacuran, suatu malam. Kumis dan Bleki mendatangi

ADEGAN 6

Tarsih dan Kasijah. Dengan biasanya, Kumis selalu mengejar-ngejar

Malam di lokalisasi, para pelacur sedang belajar oleh seorang guru

Tarsih yang menjadi kembang pelacur di lokalisasi tersebut.

bahasa inggris. Terdengar TARSIH sedang bertengkar dengan

Terjadilah perbincangan antara Tarsih dan Kumis. Karena selama ini

KUMIS, pertengkaran dari balik tanggul berjalan terus, TARSIH

Kumis hanya berjanji untuk membayar lebih atas “pelayanan” yang

merasa selama ini telah dibohongi oleh Kumis karena Kumis tidak

diberikan Tarsih, ia menolak untuk “melayani” Kumis. Tiba-tiba

membayar saat “memakai” Tarsih. Terdengar barang pecah, Kumis

datang Pak Camat dan Sekretarisnya yang menyaruh dengan

naik tanggul, berjalan tergopoh-gopoh hanya menggunakan kolor,

menggunakan kerudung. Karena Kumis tidak mengenalinya, ia

dan ia lari masuk ke gang. Di sisi lain Julini sedang bermain-main

mengusir dua sosok berkerudung itu. Lalu Pak Camat mengangkat

dengan boneka, ia bernyanyi dan menarikan tari perpisahan dengan

sedikit kerudungnya, dan betapa kagetnya Kumis setelah

boneka itu. Tarsih dan Kasijah merasa putus asa dengan semua yang

mengetahui bahwa orang tersebut ternyata Pak Camat. Akhirnya

terjadi pada mereka, semua tidak akan berubah kecuali datang

Kumis pergi bersama Bleki sambil memarahi Bleki karena Bleki tidak

mukjizat! Itu kata mereka.

mengenali sosok yang berkerudung.

ADEGAN 7

ADEGAN 12

Malam, di tempat pelacuran, di Gubuk Jumini dan Turkana

Suatu malam, di atas jembatan yang menjadi lokalisasi pelacuran,

bertengkar. Sementara Sawil dan Bilun maaih menghitunghitung

Kumis selalu menggerutu terhadap Bleki, tetapi Bleki belum

keuntungan yang akan didapatnya kala berjualan makanan kelak.

mengetahui sosok ahli yang mendatangi Tarsih dan membuat Kumis

Turkana mengajak Tarsih untuk pulang ke kampong untuk merubah

takut setengah mati. Dengan kekesalannya itu, Kumis mengatakan

nasib mereka. Tarsih seperti biasa kembali “berpacaran” dengan

bahwa sosok berjilbab yang mendatangi Tarsih tadi adalah Pak

bulan.

Camat. Bleki langsung kaget dan merka langsung pergi.

ADEGAN 8

ADEGAN 13

Malam, di sudut lain dari gubuk Jumini, Julini sedang mengurut Tibal

Di atas pepohonan, suatu malam yang diterangi cahaya langit,

dan Tuminah berada di samping Tibal. Setelah beberapa menit Julini

terdapat sosok Abung sedang nongkrong di atas pohon sambil

mengurut, Tibal menyuruh Tuminah untuk tidut, ia nurut perkataan

berbicara sendiri dengan langit. Sebenarnya dialog yang diucapkan

kakaknya itu. Julini dengan rayuannya mengajak Tibal ke suatu

tokoh Abung merupakan suatu sindiran kepada pejabat-pejabat

tempat untuk bercinta. Mereka pergi diam-diam, Tuminah

pemerintah yang hanya mementingkan pembangunan di kota

mengintip, ia terkejut melihat Roima muncul yang menanyakan

Jakarta tanpa memperhatikan rakyat kecil.

Julini kepadanya. Tuminah hanya menunjukkan arah Julini dan Tibal pergi tanpa berkata apa-apa.

ADEGAN 14 Malam di Kantor Camat Kumis dan Bleki sedang menghadap Camat.

ADEGAN 9

Camat memerintahkan 1 Maret daerah prostitusi akan diperiksa

Malam, di atas Tanggul sungai tempat pelacuran Camat, Sekcam,

oleh Gubernur yang dikawal oleh Bupati. Kumis diperintahkan untuk

Kumis, dan Bleki sedang meninjau daerah itu, seperti hari-hari biasa

membersihkan angunan-bangunan liar dan tempat pelacuran itu.

para pelacur tampak mejeng. Camat ingin bertanya kepada salah satu pelacur yang berada di sana. Kumis memanggil Tarsih. Setelah

ADEGAN 15

Camat mewawancarai Tarsih sebentar, ia dan para pengawalnya

Malam di Rumah Roima Julini dan Roima baru berbicara embali

pergi. Muncul orang-1 (Sekcam) berkerudung menghampiri Kasijah

setelah seminggu mereka “perang dingin”. Roima bertanya apa yang

menayakan apa Tarsih sedang “kosong”. Muncul orang-2 (Camat)

diinignkan Julini, semula Julini sangat meragukan apa permintaan ia

mem-booking Tarsih. Kasijah mengetahui ketika orang-1 itu adalah

akan dikabulkan Roima, ternya permintaannya untuk dinikahi oleh

Sekcam, dan Kasijah berpikir bahwa yang berada di dalam bersama

Roima disetujui oleh Roima. Julini senang, ia mengekspresikan

Tarsih berarti Camat.

kegembiraannya sampai membangunkan selur penghuni di kolong jembatan, tempat pelacuran itu.

ADEGAN 10 Suatu malam, di sudut dekat bantaran sungai yang hanya diterangi

Saat itu pula orang-orang bersiap membantu terselenggaranya

cahaya bulan dan bintang, Julini dan Tibal saling bercinta dan

pesta pernikaha Julini dan Roima. Julini didandani ala pengatin

berkasih-kasihan. Julini selalu mengucapkan kata-kata romantis

wanita adapt Betawi, begitu pula dengan Roima sebagai pengantin

kepada Tibal. Ketika Julini sedang mengucapkan kata-kata

pria yang didandani ala Betawi. Tarsih maju ke atas pentas untuk

romantisnya, datanglah Roima dengan raut wajah kesal dan

bernyanyi dalam pesta pernikahan sahabatnya itu. Tiba-tiba muncul

langsung menyuruh Julini untuk pulang, tetapi Julini tidak mau

Kumis dan Bleki yang langsung memberhentikan jalannya acara

pulang, karena takut dimarahi dan dipukul oleh Roima. Karena tidak

pesta. Kumis meminta pesta tersebut dibubarkan karena tidak

mau pulang, Roima membujuk Julini agar mau pulang. Julini mau

mungkin laki-laki menikah dengan laki-laki. Seseorang berusaha

pulang, dengan memberikan persyaratan, asal Roima tidak

menyogok Kumis namun tidak berhasil. Semua orang dan pesta itu

memukul Tibal dan mau menikahi Julini dan meresmikan hubungan

akhirnya dibubarkan Kumis dan Bleki.

mereka berdua. Setelah Roima membujuk Julini agar pulang, terjadi adu mulut antara Roima dan Tibal. Karena adu mulut tersebut, akhirnya Julini mau pulang bersama Roima. e-book by Bengkel Sastra team for www.bengkelsastra.net

e. Amanat


Dalam Trilogi Opera Kecoa dengan naskah Bom Waktu karya N.

negara hokum yang telah menjalankan pesta demokrasi dengan

Riantriano mengandung amanat tersirat, yatu amanat yang

sangat sukses‌luber dan jurdil‌�

disampaikan kepada golongan atas ( para pejabat pemerintahan) agar tidak memperlakukan rakyat miskin secara sewenang-wenang.

Kritik yang disampaikan pengarang yaitu Pemerintah yang dengan

Selain itu terdapat amanat yang tersirat pula, yaitu agar para

cara apapun (termasuk menghancurkan lokalisasi) ingin

pejabat (kecil maupun besar) tidak menyalahgunakan jabatan dan

menimbulkan citra yang baik dimasyarakat Internasional,bahwa

kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan untuk menindas rakyat

Indonesia adalah negara yang tertib-damai-saling menghormati,

miskin. Amanat yang disampaikan penulis (N.Riantriano) nampak

tanpa melihat nasib masyarakat yang sebenarnya karena pada

menonjolkan untuk segi ekonomi, sosial budaya, dan politik.

tahun 1982 Indonesia sedang melaksanakan Pemilu. Selain itu

Dari segi ekonomi, kami menyimpulkan bahwa amanat yang ingin

pengarang juga mengkritik tentang bagaimana aparat keamanan

disampaikan penulis yaitu adanya ketimpangan antara golongan

dan pemerintahan yang menggunakan kekuasaannya untuk

atas dengan rakyat miskin yang dikisahkan dengan masyarakat kecil

kepentingan pribadi. Dalam naskah ini hal itu digambarkan melalui

yang sangat sulit mencukupi kehidupannya, sehingga bekerja

tokoh Kumis, Bleki dan Pak Camat. Itulah sebuah kritik yang

sebagai pekerja seks komersil, tetapi golongan atas tidak

disampaikan pengarang dalam naskah Bom Waktu yang merupakan

memperdulikan hal tersebut, bahkan menindas rakyat miskain

amanat pengarang kepada pembaca.

dengan menggunakan kekuasaannya. f. Gaya bahasa Dari segi sosial budaya, amanat yang ingin disampaikan penulis

Gaya bahasa yang digunakan N. Riantiarni dalam naskah drama Bom

yaitu agar jangan menganggap para pekerja seks komersil seperti

Waktu memakai gaya bahasa sehari-hari yang diperankan oleh

sampah, tetapi kita harus melihat dan berpikir apa yang

setiap tokohnya. Namun ada beberapa bahasa serapan Inggris dan

melatarbelakangi mereka bekerja sebagai pekerja seks komersil,

bahasa Belanda yang digunakan pada peristiwa-peristiwa tertentu,

dan bagaimana kita menyikapi penyimpangan norma adat, hukum,

seperti kata stone yang dikatakan Bleki saat Kumis pingsan. Kata

dan agama yang digambarkan penulis dengan tokoh banci yang

ben je gek (halaman 47) dalam bahasa Belanda dan Inggris yang

diperankan oleh Julini, dengan sikap positif yang memerlukan

berarti Komandan gila! yang dikatakan oleh penyanyi saat Kumis

pendekatan dalam menyikapinya dan bukan menganggap mereka

memaki nyanyian penyanyi itu.

bagai sampah yang kemudian menjadi “penyakit masyarakat�. Selain itu ada juga makna yang ingin disampaikan penulis dari segi

g. Pusat pengisahan

politik yang tersirat dengan pengarang ingin mengkritik pemerintah.

Pusat pengisahan yang terjadi dalam naskah drama “Bom Waktu�

Hal ini bisa dilihat dari petikan dalam naskah. “Terima kasih sebesar-

adalah suatu tempat prostitusi di Tanggul atau di kolong Jembatan

besarnya kepada mereka yang telah memungkinkan

kota Jakarta.

terselenggaranya pemilihan umum ini. Dengan berakhirnya pemilu yang telah berjalan dalam keadaan tertib-aman-damai-saling menghormati, dunia luar akan tahu bahwa negara kita adalah e-book by Bengkel Sastra team for www.bengkelsastra.net

2. Hubungan karya sastra dengan kondisi sosial


Sastra sebagai cermin masyarakat yaitu sejauh mana sastra dianggap sebagai mencerminkan keadaan masyarakatnya. Kata

• Segi politik

“cermin” di sini dapat menimbulkan gambaran yang kabur, dan oleh

Pengarang ingin mengkritik pemerintah. Hal ini bisa dilihat dari

karenanya sering disalahartikan dan disalahgunakan. Dalam

petikan dalam naskah. “Terima kasih sebesar-besarnya kepada

hubungan ini, terutama harus mendapatkan perhatian adalah.

mereka yang telah memungkinkan terselenggaranya pemilihan umum ini. Dengan berakhirnya pemilu yang telah berjalan dalam

1) Sastra mungkin dapat dikatakan mencerminkan masyarakat pada

keadaan tertib-aman-damai-saling menghormati, dunia luar akan

waktu ia ditulis, sebab banyak ciri masyarakat yang ditampilkan

tahu bahwa negara kita adalah negara hokum yang telah

dalam karya sastra itu sudah tidak berlaku lagi pada waktu ia ditulis.

menjalankan pesta demokrasi dengan sangat sukses…luber dan

2) Sifat “lain dari yang lain” seorang sastrawan sering

jurdil…”

mempengaruhi pemilihan dan penampilan fakta-fakta sosial dalam karyanya.

Kritik yang ingin disampaikan pengrang yaitu Pemerintah yang

3) Genre sastra sering merupakan sikap sosial suatu kelompok

dengan cara apapun (termasuk menghancurkan lokalisasi) ingin

tertentu, dan bukan sikap sosial seluruh masyarakat.

menimbulkan citra yang baik dimasyarakat Internasional,bahwa

4) Sastra yang berusaha menampilkan keadaan masyarakat yang

Indonesia adalah negara yang tertib-damai-saling menghormati,

secermat-cermatnya mungkin saja tidak bisa dipercaya atau

tanpa melihat nasib masyarakat yang sebenarnya karena pada

diterima sebagai cermin masyarakat. Demikian juga sebaliknya,

tahun 1982 Indonesia sedang melaksanakan Pemilu. Selain itu

karya sastra yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk

pengarang juga mengkritik tentang bagaimana aparat keamanan

menggambarkan keadaan masyarakat secara teliti barangkali masih

dan pemerintahan yang menggunakan kekuasaannya untuk

dapat dipercaya sebagai bahan untuk mengetahui keadaan

kepentingan pribadi. Dalam naskah ini hal itu digambarkan melalui

masyarakat. Pandangan sosial sastrawan harus diperhatikan apabila

tokoh Kumis, Bleki dan Pak Camat.

sastra akan dinilai sebagai cermin masyarakat (Damono, 1979: 4). 5) Merujuk pada teori tersebut, naskah “bom waktu” dapat dikaji

3. Hubungan karya sastra dengan pandangan pengarang

hubungan karya sastra dengan kondisi masyarakat. Beberapa aspek yang dapat di tinjau adalah ekonomi, sosial, budaya, dan politik.

a. Biografi Pengarang Norbertus Riantiarno (lahir di Cirebon, Jawa Barat, 6 Juni 1949;

• Segi ekonomi

umur 60 tahun), atau biasa dipanggil Nano, adalah seorang aktor,

Naskah ini mengangkat kisah tentang masyarakat yang ekonominya

penulis, sutradara dan tokoh teater Indonesia, pendiri Teater Koma

menengah kebawa (miskin). Hal ini tergambar jelas dari setting

(1977). Dia adalah suami dari aktris Ratna Riantiarno. Nano telah

cerita yang mengangkat kehidupan sekelompok masyarakat yang

berteater sejak 1965, di kota kelahirannya, Cirebon. Setamatnya

tinggal di daerah lokalisasi, bagaimana masyarakat kecil yang sangat

dari SMA pada 1967, ia melanjutkan kuliah di Akademi Teater

sulit mencukupi kehidupan sehingga bekerja sebagai pekerja seks

Nasional Indonesia, ATNI, Jakarta, kemudian pada 1971 masuk ke

komersil.Jika ditinjau dari segi ekonomi, pada saat naskah ini terbit

Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta. Ia bergabung dengan

pertama kali (1982), Indonesia pada saat itu sedang mengalami

Teguh Karya, salah seorang dramawan terkemuka Indonesia dan

krisis ekonomi. Hal ini bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi tahun

ikut mendirikan Teater populer pada 1968.

1982 hanya 2,7 % bahkan pada tahun 1983 hanya 1,9 %. Jelas jika dilihat dari kondisi tersebut masyarakat yang ekonominya

Pada 1 Maret 1977 ia mendirikan Teater Koma, salah satu kelompok

menengah kebawah akan mengalami dampak langsung. Dari data

teater yang paling produktif di Indonesia saat ini. Hingga 2006,

tersebut maka ada kaitan antara isi cerita dengan keadaan ekonomi

kelompok ini telah menggelar sekitar 111 produksi panggung dan

Indonesia pada saat itu.

televisi. Nano ikut mendirikan majalah Zaman, 1979, dan bekerja sebagai redaktur (1979-1985). Ia ikut pula mendirikan majalah

• Segi sosial budaya

Matra, 1986, dan bekerja sebagai Pemimpin Redaksi. Pada tahun

Kondisi sosial masyarakat yang digambarkan dalam naskah ini

2001, pensiun sebagai wartawan. Kini berkiprah hanya sebagai

adalah gambaran dari kondisi masyarakat daerah kumuh di Jakarta

seniman dan pekerja teater, serta pengajar di program pasca-

jika dikaitkan pada saat itu (bahkan sampai sekarang). Jika ditinjau

sarjana pada Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) di Surakarta.

dari segi budaya kita pada saat itu sampai sekarang, keberadaan para pekerja seks komersil dan waria dianggap sebagai “penyakit

b. Hubungan Pengarang dengan Karya Sastra

masayarakat”. Ditinjau dari segi sosial, sebenarnya naskah Bom

Jika dikaitkan hubungan pengarang (Norbertus Riantiarno) dengan

Waktu menggambarkan suatu kritikan terhadap petinggi dan para

karyanya (Bom Waktu) ada keterkaitan. Hal ini bisa dilihat dari latar

pejabat pemerintahan yang kurang memperhatikan kehidupan

belakang pengarang yang berasal dari keluarga yang tinggal di

rakyat, khususnya rakyat kelas bawah. Dilihat dari segi sosial,

Pesisir yang umumnya perekonomiannya menengah kebawah. Jika

tentunya terdapat keterkaitan dengan segi budaya. Hal ini dapat

di lihat dari latar belakang ini, tentulah pengarang tahu betul

terlihat dari nakah Bom Waktu yang menggambarkan kehidupan

bagaimana keadaan atau kondisi yang di alami oleh masyarakat

para Pekerja Seks Komersial (PSK) yang menjalani kehidupan selalu

ekonomi menengah kebawah(miskin), tak terkecuali masyarakat

bergantung dengan penghasilannya sebagai Wanita Tuna Susila dan

miskin di Ibu Kota Jakarta yang dalam naskah ini yaitu masyarakat

juga menggambarkan kehidupan Waria yang menjalin kasih dengan

yang tinggal di daerah lokalisasi.

laki-laki, yang tentunya merupakan pelanggaran dari norma agama, hukum, dan berbenturan dengan budaya Timur yang dianut oleh

Selain itu latar belakang pengarang yang dahulu juga pernah

Indonesia.

menjadi seorang wartawan, tentulah pengarang pada saat itu (saat menjadi wartawan) memiliki informasi yang lengkap tentang kondisi

e-book by Bengkel Sastra team for www.bengkelsastra.net


negara ini, baik ekonomi, sosial, budaya, politik, dan lain-lain. Karena pada masa itu (ORDE BARU) begitu ketatnya pengawasan terhadap media masa oleh pemerintah, maka pengarang yang memang memiliki latar belakang utamanya seorang sastrawan (penulis, aktor, Sutradara) mencoba mengkritik pemerintah dengan cara menuliskannya dalam bentuk naskah drama. Walaupun pada akhirnya naskah ini batal dipentaskan di beberapa tempat karena masalah perizinan. BAB III KESIMPULAN Naskah “bom waktu� karya N.Riantiarno merupakan naskah ya berkisah tentang masyarakat kelas bawah yang selalu tertindas dan ditindas yang hidup di gorong-gorong, di kolong jembatan, di kawasan kumuh yang jorok dan gelap dan selalu tersingkir. Jika dikaji melalui pendekatan struktural genetik naskah ini bisa mewakilkan keadaan social masyarakat kecil di Jakarta khususnya dan di Indonesia pada umumnya yang pada naskah ini diwakilkan oleh para pelacur dan waria. Dalam naskah ini pengarang yang memiliki latar belakang social sebagai kaum pesisir yang umumnya miskin benar-benar bisa menggambarkan bagaimana nasib rakyat kecil. Naskah ini sarat dengan kritik-kritik social, dan pengarang juga mengkritik pemerintah orde baru (kebijakan, aparat keamanan dan pejabat pemerintah) yang pada saat itu banyak merugikan rakyat kecil.

e-book by Bengkel Sastra team for www.bengkelsastra.net


Analisis naska bom waktu