Page 11

DUMAI METROPOLIS

Dumai Pos Kamis, 2 Juli 2009

11

Lia Evanty Andriany

Berbakat Mengenal Kepribadian

LIA EVANTY ANDRIANY

„ Sekolahku SMPN 2 DUMAI

Sepuluh Pelajar Lolos SMA Plus KOTA — Suatu kebanggaan lagi ditorehkan SMP Negeri 2 Dumai sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Pasalnya, sekolah ini berhasil menembus sepuluh pelajar ke SMA Plus Pekanbaru dan merupakan peserta terbanyak lolos dari SMP lain di Kota Dumai. Hal ini disampaikan Kepala SMPN 2 Dumai, Dra Hj Rosmawati MPd kepada Dumai Pos Rabu (1/7) kemarin. ‘’Selain lulus seratus persen, tahun ini sepuluh anak kita berhasil masuk SMA Plus Pekanbaru sebagai peserta terbanyak. Jika dibandingkan tahun lalu dan tahun ini pelajar SMPN 2 terbilang berjumlah banyak berhasil lolos,’’ ujarnya. Rosmawati mengaku gembira, sebab sebagian besar dari pelajar yang masuk tersebut berasal dari kelas akselerasi atau percepatan. Bahkan kelas yang dipadatkan menjadi dua tahun belajar ini mampu unggul dari kelas lainnya, termasuk menjuarai rangking kelas dan juara umum sekolah tahun ini. Bukan hanya itu, ternyata alumni kelas akselerasi SMPN 2 juga mampu meraih juara umum di SMA Plus Pekanbaru yang merupakan tamatan tahun lalu. Tahun ini, sekolah kembali membuka kelas akselerasi itu namun masih memperhatikan hasil perangkingan yang dilakukan panitia PSB. ‘’Seleksinya sangat ketat, dan bila memang ada yang terbaik setelah dirangking maka sekolah menawarkan kelas akselerasi pada orangtua dan si anak,’’ kata kasek kelahiran Bagan Siapi-api ini. Istri HM Nizam ini menyebutkan sekolah akan menerima sebanyak 20 anak sebagaimana tahun sebelumnya. Tahun ini, pendaftaran PSB ada 600 pelamar namun yang diterima masuk ke SMPN 2 hanya 125 anak. Pelajar yang diterima itu akan mengikuti tes psikologi untuk penjaringan kelas akselerasi. Kelas percepatan ini justeru mampu mengalahkan kualitas anak yang menempuh belajar selama tiga tahun. ‘’Sistem belajarnya memang berbeda, karena dipadatkan kurikulum itu dengan penerimaan rapor empat bulan sekali. Padat dalam artian belajar yang dilalui tiga tahun itu harus bisa mereka lewati dalam dua tahun, nah rupanya anak kita bisa dan memang pulang sekolahnya agak lambat dari anak lain dengan guru yang juga pilihan,’’ terang Rosmawati.(des)

SMP PURNAMA

Bebaskan Uang Pembangunan KOTA— Bagi calon siswa baru tahun ajaran 2009/2010 ini ada fasilitas yang cukup menggiurkan ditawarkan SMP Purnama. Sekolah yang terletak di Jalan Prof M Amin tersebut mengeluarkan kebijakan dengan membebaskan siswa dari uang pembangunan. ‘’Ya, ini khusus bagi siswa baru yang mendaftarkan diri ke SMP Purnama. Pada intinya sekolah tidak akan membebani siswa dengan pungutan uang pembangunan, karena itulah uang pembangunan sekolah dibebaskan,’’ ujar Kepala SMP Purnama, M Ikhsan SAg menjawab Dumai Pos Rabu (1/7) di ruang kerjanya. Ikhsan menjelaskan terkait pembebasan uang pembangunan, karena saat ini dari segi fasilitas SMP Purnama cukup lengkap. Diantaranya labor, ruang kelas serta mushola sehingga tidak perlu dilakukan pembangunan lagi. Jikapun ada, sekolah berupaya maksimal tidak akan membebani siswa. Meskipun sekolah swasta, namun mutu di SMP Purnama tetap dipertahankan dan terus meningkat. Ini diwujudkan dalam penerimaan siswa yang hanya menerima untuk 2 lokal saja, dimana satu lokal maksimal akan diisi 34 siswa. SMP Purnama akan menutup proses penerimaan siswa baru hingga 11 Juli mendatang. Adapun syarat siswa yang ingin mendaftar di SMP Purnama ini cukup membawa SKHU asli dan fotocopi yang dilegalisir sebanyak 2 lembar, pas foto 3X4, 4 lembar dan untuk siswa asal luar daerah disertai surat pindah rayon. ‘’Saat ini sekolah sedang melakukan penerimaan siswa baru dan sudah ada beberapa siswa yang mendaftar. Untuk PSB sendiri akan tutup tanggal 11 Juli mendatang,’’ sebu Ikhsan.(rka)

MASIH terbilang belia. Namun, Lia Evanty Andriany yang baru menjadi alumni murid SDS 01 YKPP ini sudah serius memikirkan cita-cita. Remaja yang akrab disapa Eva ini tengah menunggu tahun ajaran baru dimulai. Dia sudah tercatat sebagai pelajar di SMPN 2 yang berkeinginan menjadi psikolog. ‘’Saya ingin sekali nantinya bisa menjadi seorang psikolog. Ya, rasanya enak bisa mengerti dan mendalami karakter seseorang. Hal itu adalah hal yang menyenangkan,’’ ujarnya malu.

Eva yang lahir di Sungai Pakning, 14 Mei 1997 silam ini sangat respek mendengar curahan hati temantemannya. Entah itu masalah pribadi maupun masalah yang terjadi di sekolah. Mungkin rasa sensitif yang dimilikinya itu membuat Eva lebih peduli terhadap masalah orang lain. Namun demikian, impian menjadi seorang psikolog tak semudah yang dipikirkan. Eva tak ingin kelak menjadi psikolog yang cepat menilai seseorang hanya melihat dari penampilannya saja. Apalagi Eva percaya, dengan bertemu, kenalan dan ngobrol baru dapat menilai kepribadian seseorang. ‘’Saya bukan tipe orang yang cepat menilai, apalagi menilai orang dari fisik saja. Pada intinya saya percaya

menilai seseorang itu baru bisa dilakukan apabila kita telah mengenal dan berbicara lama dengan orang tersebut,’’ ungkap bungsu dari pasangan Cholik dan Lina ini senyum. Meski hendak menjadi seorang psikolog tidak lantas membuat Eva mulai menjaga imej. Eva tetaplah Eva yang dulu, ini bisa dilihat saat pengumuman kelulusan UASBN beberapa waktu lalu. Reaksi pertama yang Eva lakukan saat mengetahui dirinya lulus adalah teriak dan loncat. ‘’Soal cita-cita saya boleh saja jadi psikolog tapi soal kepribadian, saya tetap Eva yang tidak bisa diam dan selalu ceria,’’ sebutnya yang suka mata pelajaran bahasa Inggris ini ramah.(rka)

Ijazah TK Bukan Syarat Mutlak Laporan FITRIANI, Dumai ANGGAPAN ijazah Taman KanakKanak (TK) atau sederajat menjadi persyaratan utama dalam penjaringan murid SD sangat keliru. Namun, menjadi persyaratan utama harus melampirkan akta kelahiran atau surat bidan guna melihat patokan umur anak. Kepala SDN Binsus 004 Teluk Binjai, Suhaimi SPd ketika dikonfirmasi

Dumai Pos, kemarin mengatakan penyeleksian diprioritaskan bagi anak berusia tujuh tahun, kecuali idiot atau cacat. “Kalau umur mencapai 7 tahun diutamakan. Karena, berkaitan dengan program wajib belajar sembilan tahun. Kalau pun nilai test tertulis tidak mendukung,” ujarnya. Suhaimi mengatakan

B Alwi Saputra

banyak pertimbangan dalam penyeleksian penjaringan siswa, karena kuota tersedia sangat terbatas yakni 90 orang atau 3 kelas. Selain melihat jarak tempuh antara sekolah terhadap pemukiman termasuk tes keberanian, kemampuan beradaptasi, komunikasi serta mengumpulkan huruf.

“Kalau semua tes lolos, namun usia anak belum mencukupi 7 tahun tetap diterima. Namun, merangking usia 7 tahun, karena ini berkaitan wajib belajar,” ucapnya. Ia mengatakan tahun ini kuota yang disediakan sama dengan tahun sebelumnya 3 lokal, namun pendaftaran lebih banyak tahun lalu mencapai 395 dibandingkan tahun ini hanya 251. “Ya, kita tidak ingin masyarakat beranggapan sekolah A bagus dibandingkan sekolah B. Karena, program peningka-

tan mutu itu sama semua tanpa ada pembedaan. Kita tidak ingin ada anggapan masyarakat sekolah Ajadi alternatif,” paparnya. Secara terpisah, penanggung jawab Penerimaan Siswa Baru (PSB) tahun 2009 B Alwi Saputra SIp MPd menegaskan ijazah TK bukan persyaratan mutlak. “Kita prioritaskan anak usia 7 tahun. Namun, jika umurnya kurang dari 7 tahun lalu lulus dalam penjaringan maka bisa diterima di sekolah tempat dia mendaftar,” rincinya.(des)

72 Peserta Tidak Ikut Ujian Paket

F: MISWANTO

BELAJAR : Siswa SMA YKPP menikmati suasana belajar di luar kelas, terlihat antusias guru geografi Yessi Hayati S menyampaikan materi pembelajaran.

„ SMA YKPP Dumai Belajar di Luar Kelas

Bahas Lumpur Lapindo dan Situ Gintung Belajar menambah ilmu dan wawasan tidak hanya bisa didapat dari bangku sekolah saja, namun banyak sarana untuk mendapatkan pengetahuan tambahan dalam menunjang pelajaran yang ada di sekolah. Laporan : Miswanto, Dumai SEPERTI dilakukan guru SMA YKPP Dumai, dengan mengadakan kegiatan diluar kelas melibatkan 700 orang siswa lebih dari kelas I dan kelas II. Untuk mendiskusikan masalah yang tengah hangat dibicarakan yaitu soal lumpur lapindo dan bencana Situ Gintung. Kegiatan tersebut dilakukan pada saat kelas I dan kelas II liburan sekolah, dan murid kelas III melaksanakan Ujian Nasional (UN) beberapa waktu lalu. Dibawah bimbingan Kepala sekolah Gunawan Harahap SPd dan sejumlah guru SMA YKPP berinisiatif mengadakan belajar diluar kelas dengan membahas topik lumpur lapindo dan bencana Situ Gintung berkaitan dengan mata pelajaran geografi. Dibawah bimbingan Yessi Hayati SSos, guru bidang studi geografi dan sejumlah guru lainya Ernawati, Fatma Rika, Feny Trisnawati, Juwairiah, Muchtasar, Dorina, Tiur Minar, Teti, Ilvia, Fitria Hasian dan Sunaida. Ratusan murid dikumpulkan untuk mencari bahan masalah lapindo dan Situ Gintung dari berbagai sumber

seperti media masa, media elektronik dan internet. Dengan inisiatif tersebut, alhasil sejumlah siswa yang mendapat tugas mencari bahan dipersilakan memaparkan tugas tersebut. Tepatnya pada tanggal 30 Mei lalu kelas X1.15 mendapat tugas memaparkan soal bencana Situ Gintung dihadapan ratusan rekannya. Zunifa, Ricky Wahyudi dan Vivi k dari kelas XI IPS III mendapatkan tugas tampil perdana memaparkan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber soal bencana Situ Gintung. Usai membeberkan hasil tugas, ratusan murid dipersilakan mengajukan tiga pertanyaan. Begitu juga denganAri Dwi Prasetiyo kelas X1,AsriAdelina, FitriAl Meri, dan juga Desvery Budi Yanda Kelas X7 yang memenangkan olimpiade geografi soal ilmu kebumian juara III seKota Dumai bulan lalu, dibawah bimbingan gurunya Yessi Hayati mendapat giliran kedua membeberkan hasil tugas pada 6 Juni lalu. Setelah pemaparan dan pertanyaan dilontarkan murid penyaji, kemudian sejumlah guru memberikan penambahan informasi yang dianggap penting dan kemudian menyimpulkan hasil kegiatan tersebut. Zunifa murid kelas XI IS III SMA YKPP ini kepada Dumai Pos menjelaskan, bejalar diluar kelas dan mendapat tugas untuk mencari bahan dari berbagai sumber merupakan suatu tantangan.

“Awalnya sih agak grogi, tapi setelah berjalan ternyata belajar diluar kelas dengan topik umum sangat asik. Bahkan kami bisa mengkaitkan antara mata pelajaran dengan kejadian yang ada di alam,” tuturnya. Bagi Yessi Hayati, guru geografi SMAYKPP Dumai ini, melihat belajar diluar kelas dengan memanfaatkan masa liburan anak, diperlukan bimbingan dan pengarahan yang serius sehingga murid mau untuk belajar bersama. “Dengan metode pembelajaran seperti ini jelas akan banyak menambah wawasan bagi murid, selain melatih mereka untuk tampil dimuka umum, siswa juga mencari bahan sendiri dari berbagai sumber, ini akan menambah wawasan bagi siswa yang tidak hanya terfokus pada materi yang ada di buku saja,” ungkapnya. Gunawan Harahap SPd, selaku kepala sekolah mengucapkan terimakasih kepada semua pihak baik guru, murid dan wali murid serta semua yang terlibat dalam pendidikan di SMA YKPP. Karena siswanya pada tahun 2009 ini secara keseluruhan lulus 100 persen dalam Ujian Nasional (UN). “Soal belajar di luar kelas dengan tema yang hangat dibicarakan, berkenaan dengan mata pelajaran, saya sangat mendukung kegiatan itu demi untuk menambah wawasan. Dengan cara seperti ini murid juga tidak bosan harus belajar di dalam kelas saja,’’ imbuhnya.***

Aset Hotel Patra Bakal Dijual Sambungan dari hal ................................9 ih,” kata Kuasa Hukum Pekerja, Rudi Bambang SS kepada Dumai Pos, Rabu (1/7) didampingi beberapa tim audit dan pekerja Hotel Patra Listi, Edizal, dan beberapa karyawan lainnya. Selanjutnya, tim itu juga akan melakukan penagihan terhadap relasi Hotel Patra yang melaksanaan berbagai kegiatan dan sewa kamar yang belum dibayar niainya mencapai Rp540 juta. “Untuk bisa membayar hak-hak dari karyawan tersebut dia meminta kepada pihak-pihak yang memiliki hutang di Hotel Patra agar dapat segera melakukan pembayaran,” kata Rudi yang menyebut ini merupakan imbauan hati. Lebih lanjut dikatakannya, untuk aset fisik milik Hotel Patra, daripada beberapa karyawan ada yang bersedia mengambil barang-barang tersebut, pembayaran dilakukan dengan memotong hak-hak nya yang

bakal diterima. Untuk aset tak bergerak tersebut tak ada masalah, yang perlu dilakukan saat ini menagih seluruh piutang yang terdapat dibeberapa instansi pemerintah dan vertikal di Kota Dumai. “Saya minta kepada pihak-pihak yang belum membayar ketika menggunakan fasilitas Hotel Patra untuk segera membayar. Supaya hak-hak karyawan dapat segera dibayarkan,” harap Rudi lagi. Berapa persen hasil yang dicapai dari penarikan piutang tersebut hasilnya akan dievaluasi pekan depan. Diperkirakan Selasa (7/7) akan kembali digelar pertemuan dengan pihak Direksi untuk mencari solusi dalam proses pembayaran hak-hak karyawan tersebut. “Kita minta hak mereka segera dibayarkan, karena waktunya sudah berlarut-larut dan untuk memenuhi kebutuhan hidup daripada mereka ada yang nekad mengutang. Dengan berjanji membayar setelah hak nya dibayarkan oleh manajemen Hotel Patra,” kata Rudi menambahkan.

Tuntutan mantan karyawan kepada manajemen PT GRN gaji karyawan bulan Maret 2009 sebesar Rp53.277,200. Uang pesangon sebesar Rp335.546,400, jumlah uang jasa sebesar Rp143.491,600 dengan total keseluruhan mencapai Rp550.893,700. Tidak ada alasan lagi, pihak manajemen PT GRN untuk lari dari kewajibannya. “Kita minta pesangon, uang jasa dan gaji dibayarkan setelah seluruh aset dijual dan piutang dari para pengguna jasa Hotel Patra membayar,” kata Rudi. (wan)

KOTA— Hari pertama pelaksanaan Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan (UNPK) paket B (setara SMP) dan paket A (Setara SD) berjalan lancar. Peserta paket B mengikuti ujian bidang studi pendidikan kewarganegaraan dan matematika untuk paket B. Sedangkan peserta paket A pendidikan Kamsaid kewarganegaraan dan IPA. Tercatat sebanyak 72 peserta tidak hadir dalam pelaksanaan UNPK tersebut. Demikian dikatakan Ketua Panitia UNPK, Dra Nurbaiti melalui Sekretaris UNPK, Kamsaid kepada Dumai Pos, Rabu (1/7) disela-sela pelaksanaan ujian. ‘’Saat mendaftar kita sudah menghimbau sekolah agar menyuruh anak yang gagal UN ataupun peserta reguler hadir. Ya, bisa dilihat saat UNPK berlangsung dan masih banyak peserta tidak hadir namun panitia tidak bisa memberi toleransi,’’ujarnya. Adapun rincian dari 72 peserta yang tidak hadir tersebut adalah 47 peserta dari 545 peserta yang berasal dari siswa gagal UN. Ditambah dengan 24 peserta dari 119 orang peserta reguler dari paket B, sementara paket A hanya 1 peserta dari 7 orang. Panitia menyediakan 33 ruangan untuk peserta paket B dan satu ruangan bagi peserta paket A. ‘’Banyaknya peserta dan keterbatasan ruangan ada peserta yang terpaksa mengerjakan soal diruangan namun duduk di lantai. Meskipun begitu, kondisi ini tidak menghalangi proses pelaksanaan ujian,’’ tukas Kamsaid. Sementara itu, Bayu salah seorang peserta mengakui soal ujian paket B ternyata cukup sulit karena dibuat pihak pusat. ‘’Saya kira ujian paket ini soalnya lebih mudah dari UN. Ya, ternyata sama sulitnya dan mudahmudahan saja lulus.Apalagi kata panitia peserta ujian paket juga tidak dijamin lulus,’’ katanya seraya beranjak pergi.(rka)

KNPI Minta Segera Dibenahi Sambungan dari hal ................................9 Malaysia, hingga kini belum ada gambaran yang jelas. Ditambah lagi, dengan sarana penunjang seperti insfrastruktur akses yang memadai. “Kita bisa lihat saat ini sarana prasarana yang belum tuntas, dimana pembangunan disisi darat pelabuhan yakni terminal, jalan masuk yang masih jalan tanah atau pengerasan. Bahkan, kantor petugas yang semi permanen sehingga bisa membuat aib bagi daerah ini dan perlu segera dibenahi,” jelas Ketua KNPI Kota Dumai, Rizki Kurniawan kepada Dumai Pos, Rabu (1/7). Riki juga berharap, pembangunan RoRo segera dibenahi, mulai dari fasilitas yang saat ini masih bersemak belukar maupun sistem sehingga kondisi tersebut tidak menjadi bomerang bagi masyarakat Dumai. Bagaimana langkah menghilangkan imeg tersebut, mantan aktivis mahasiswa Jakarta ini meminta agar Pemko Dumai segera membenahi pembangunan pagar RoRo yang hingga kini masih belum jelas. ‘’Serta fasilitas lainnya karena bila RoRo beroperasi selain dapat merekrut tenaga kerja, juga bisa menambah pertumbuhan pembangunan Dumai kedepan,’’ sebutnya. (anw)

Kabut Asap Kembali Selimuti Bukitkapur Sambungan dari hal ................................9 Kelurahan Gurun Panjang berbatasan dengan Bukit Kerikil,” imbuh Fauzi. Meski demikian, menurut Mantan Sekcam Dumai Timur ini tetap meminta masyarakat di

87 RT se Kecamatan Bukit Kapur agar tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan. Dampak negatif dari pembakaran yang dilakukan seperti terganggunya transportasi baik darat, udara dan laut serta penyakit yang ditimbulkan seperti sesak napas dan batuk. (anw)

Dumai Pos 2 Juli 2009  

Semangat Riau Pesisir

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you