Page 1


Media Televisi

MEDIATELEVISI • Pengetahuan Dasar Media Televisi dan Teknik Penulisan Naskah

Robinson Situmorang

i


Media Televisi

TIM PENGEMBANG Pengarah Ir. Lilik Gani H. A., M.Sc., Ph.D, Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Penanggungjawab Program Ir. Suheriyanto, M.Si, Kepala Bagian Tata Usaha Penanggungjawab Materi/Substansi - Dr. Purwanto, Kepala Bidang Teknologi Pembelajaran - Drs. Rusjdy S. Arifin, M.Sc, Kepala Bidang Teknologi Informasi - Hardjito, S.IP., M.Si., Plt. Kepala Bidang Teknologi Komunikasi Penanggungjawab Kegiatan - Drs. Bambang Warsito Penulis - Drs. Robinson Situmorang, M.Pd Editor - Dr. Purwanto, M.Pd Design Cover & Layout - Rusno Prihardoyo

Seri Pustaka Teknologi Pendidikan, judul “MEDIA TELEVISI�, Pengetahuan Dasar Televisi dan Teknik Penulisan Naskah. Hak Cipta@2006 pada Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (PUSTEKKOM) Depdiknas Jl. Cenderawasih, Ciputat Km. 15,5 Ciputat 15411-Jakarta e-mail: pustekkom.go.id

ii


Media Televisi

Kata Pengantar B

erdasarkan pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2005, tentang

Organisasi dan Tata Kerja Pusat-Pusat di Lingkungan Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekkom) mempunyai tugas mengembangkan, membina dan mengevaluasi kegiatan di bidang teknologi pendidikan dan pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan. Pustekkom menyelenggarakan fungsi: 1) merumuskan kebijakan teknis di bidang teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan; 2) mengembangkan model dan media pembelajaran berbasis teknologi informasi dan teknologi komunikasi serta teknologi pembelajaran; dan 3) mengembangkan sumber daya manusia di bidang teknologi pendidikan, teknologi informasi serta teknologi komunikasi untuk pendidikan. iii


Media Televisi

Dalam melaksanakan salah satu tugas dan fungsi tersebut, Pustekkom mengembangkan buku Seri Pustaka Teknologi Pendidikan. Pada seri ini berjudul “Media Televisi, Pengetahuan Dasar Televisi dan Teknik Penulisan Naskahâ€?. Mengingat dalam pencapaian kompetensi atau tujuan pembelajaran, salah satu komponen pembelajaran yang turut menentukan ĂĄdalah media pembelajaran. Dari berbagai jenis dan bentuk media pembelajaran yang ada, media televisi merupakan satu diantaranya yang mempunyai potensi tinggi dalam menyampaikan pesan pendidikan/pembelajaran maupun kemampuannya dalam menarik minat dan perhatian peserta didik. Media televisi telah terbukti memiliki kemampuan yang efektif (penetrasi lebih dari 70%) untuk menyampaikan informasi, hiburan dan pendidikan. Selain itu sesuai dengan tuntutan kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh para pengembang media televisi, yaitu pengetahuan tentang media televisi, teknik penulisan naskah, dan teknis produksi. Sedangkan bagi para penulis naskah pengetahuan tentang media televisi dan teknik penulisan naskah merupakan dua pengetahuan yang harus dikuasainya. Oleh karena itu buku ini menyajikan suatu proses yang sistematis dalam menulis naskah program televisi pembelajaran.

iv


Media Televisi

Buku ini khususnya ditujukan bagi para calon penulis naskah program televisi pembelajaran. Buku ini dimaksudkan untuk memperkaya referensi di bidang media televisi. Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada penulis dan semua pihak yang telah berperanserta dalam penerbitan buku ini. Demi kesempurnaan buku ini kami mengharapkan saran, kritik, dan masukan dari berbagai pihak. Semoga kehadiran buku ini dapat bermanfaat. Jakarta, Desember 2006 Kepala Pustekkom Depdiknas

Ir. Lilik Gani HA, M.Sc., Ph.D NIP. 680001660

v


Media Televisi

vi


Media Televisi

DAFTAR ISI Kata Pengantar •i Daftar Isi •ii Pendahuluan •iii BAB 1 : Apa Itu Media •1 BAB 2 : Mengenal Media Televisi •10 - Media Televisi •11 - Sistem Pengiriman Pesan •18 BAB 3 : Media Televisi Dalam Pembelajaran •26 BAB 4 : Karakteristik Media Televisi •40 - Karakteristik Televisi sebagai Media Masa •42 - Karakteristik Teknis Media Televisi •43 BAB 5 : Struktur Sebuah Film •54 BAB 6 : Bahasa Televisi •59 1. Bahasa Shot •61 2. Bahasa Pergerakan Kamera •69 BAB 7 : Kontinuitas Dalam Sebuah Film •83 - Kontinuitas Arah •84 - Penggabungan Shot •92 - Perpindahan Shot •98 BAB 8 : Penulisan Naskah Televisi •104 - Format Program Televisi •105 - Langkah-langkah Penulisan Naskah Program Televisi •110 Daftar Kepustakaan •154

vii


Media Televisi

viii


Media Televisi

Pendahuluan A

nda tentu masih ingat, bahwa dalam kegiatan pembelajaran, media adalah salah satu

komponen pembelajaran yang turut menentukan tercapaianya suatu tujuan pembelajaran dari mata pelajaran tertentu. Dari sekian banyak jenis media pembelajaran yang ada, media televisi merupakan satu diantaranya yang mempunyai kelebihan dibanding media lainnya. Baik itu dari segi penyampaian pesan maupun segi kemampuan menarik minat para penontonnya. ix


Media Televisi

Dari segi pengadaan, media televisi membutuhkan serangkaian pengetahuan untuk menghasilkan media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Pengetahuan tersebut meliputi pengetahuan tentang media televisi itu sendiri, pengetahuan tentang teknik penulisan naskah, dan pengetahuan tentang teknis produksi. Bagi para pengembang media televisi, ketiga pengetahuan tersebut merupakan kompetensi dasar yang harus dimilikinya, sedangkan bagi para penulis naskah pengetahuan tentang media televisi dan teknik penulisan naskah adalah dua pengetahuan yang harus dikuasainya. Buku ini, merupakan buku satu dari dua buku yang membahas tentang pengembangan media televisi. Buku ini khusus ditujukan bagi para calon penulis naskah program televisi pembelajaran. Buku ini menyajikan suatu proses yang sistematis dalam menulis naskah program televisi. Secara keseluruhan buku ini terdiri dari delapan bab. Bab 1, adalah bab yang memperkenalkan media secara umum. Melalui bab ini para pembaca diharapkan memperoleh suatu pengertian media yang berlaku dalam bidang pembelajaran. Bab 2, mengajak para pembaca mengenal media televisi lebih dalam lagi. Berbagai sistem pengiriman gambar/ pesan dibahas di dalamnya. Dengan demikian pembaca x


Media Televisi

dapat memahami bagaimana suatu pesan dapat sampai kepada penerima. Bab 3, adalah bab yang secara khusus membahas penggunaan media televisi dalam kegiatan pembelajaran. Bebagai ilustrasi cara penggunaan sengaja disajikan untuk memicu ide-ide kreatif bagi guru dalam memanfaatkan media televisi dalam kegiatan mengajarnya. Bab 4, mengulas karakteristik media televisi dari sudut media masa dan dari sudut teknis media televisi. Dari karakteristik ini, seorang penulis naskah dan pelaksana produksi akan mengetahui, apa yng boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan untuk menghasilkan program televisi yang layak siar. Bab 5, menjelaskan struktur sebuah film. Kajian ini merupakan kajian sinamatografis. Ini penting karena pada hakikatnya tayangan televisi dibagun dengan menggunakan kaidah-kaidah sinematografi, yaitu, bagaimana shot demi shot digabungkan hingga menjadi totonan yang logis di benak penontonnya. Bab 6, merupakan bagian penting dalam penulisan naskah. Pada bab ini dibahas berbagai istilah yang digunakan dalam penulisan naskah. Tanpa istilah-istilah yang ada pada bab ini, maka akan sangat sulit untuk menhasilkan sebuah naskah instruksional yang baik. Istilah-istilah xi


Media Televisi

tersebutlah yang dimaksud dengan bahasa televisi, yang meliputi bahasa shot dan bahasa pergerakan kamera. Bab 7, menyajikan konsep, bagaimana membangun kontinuitas sebuah film. Tanpa kontinuitas yang benar, penonton akan mengalami kebingungan dalam menyaksikan tayangan televisi. Bab ini mengajarkan kepada penulis, bagaimana membangun sebuah film yang bertutur menggunakan logika penonton. Bab 8, merupakan bab terakhir dari buku pertama ini yang menuntun Anda dalam penulisan naskah program televisi, khususnya untuk pembelajaran. Melalui berbagai contoh teknik penulisan diharapkan Anda akan sampai ke tujuan buku ini, yaitu menjadikan Anda sebagai penulis naskah yang benar.

xii


Media Televisi

Bab 1 Apa itu MEDIA?

B

anyak pengertian yang diberikan untuk kata media, sehingga batasan antara pengertian

satu dengan pengertian lainnya menjadi kabur, khususnya untuk kata media pembelajaran dengan media pengajaran. Untuk memahami perbedaan ke dua pengertian media di atas, maka ada baiknya terlebih dahulu diuraikan beberapa pengertian media yang ada. 1


Media Televisi

Kata media sendiri berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Dari pengertian ini tidaklah berlebihan, bila kata media juga digunakan dalam berbagai bidang keilmuan. Misalnya dalam bidang pertanian kata media digunakan untuk menjelaskan media tanam atau media tumbuh, yaitu dapat berupa tanah, humus, air, dan sebagainya. Dalam bidang meta-fisika kita mengenal istilah mediator, yaitu orang yang menjadi perantara dalam kegiatan sepritual. Sedangkan dalam bidang pendidikan kita mengenal media pengajaran dan media pembelajaran. Khusus dalam bidang pendidikan, Association for Educational Communications and Technology (AECT, 1977), yaitu suatu asosiasi yang bergerak dalam bidang teknologi komunikasi dan pendidikan, mendefinisikan media adalah segala bentuk yang digunakan untuk menya-lurkan informasi. Pengertian media yang diberikan AECT ini adalah pengertian yang sangat umum. Kata segala bentuk memberi makna bahwa yang disebut media tidak terbatas pada jenis media tertentu. Jadi apapun bentuk-nya bila dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dapat disebut sebagai media. Sangat menarik, bila kita menyimak lebih dalam makna yang terkandung dalam pengertian media di atas. 2


Media Televisi

Sebab pengertian tersebut juga memberikan gambaran betapa banyaknya media yang dapat kita gunakan dalam kegiatan pembelajaran. Sekali lagi!!!, kata segala bentuk mengisyaratkan bahwa yang dimaksud dengan media tidak hanya terbatas pada media-media yang dirancang secara khusus untuk mencapai tujuan tertentu, akan tetapi juga yang keberadaannya dapat dimanfaatkan untuk memperjelas atau mempermudah pemahaman siswa terhadap materi atau pesan tertentu. Lingkungan sekolah yang ditanami berbagai jenis tanaman hias misalnya, sebenarnya dirancang untuk keindahan sekolah. Akan tetapi bila diperlukan untuk memperjelas pembahasan mengenai topik tertentu yang berhubungan dengan keanekaragaman jenis tanaman hias, maka keberadaannya dapat dimanfaatkan sebagai media. Demikian juga halnya dengan batu-batuan atau kekayaan alam lain, bila digunakan untuk memperjelas atau mempermudah siawa dalam pencapaian tujuan pembelajaran tertentu, dapat disebut sebagai media. Anderson (1987) dalam bukunya yang diberi judul Pemilihan dan Pengembangan Media untuk pembelajaran, membagi media menjadi dua katagori, yaitu alat bantu pembelajaran (instructional aids) dan media pembelajaran (instructional media). Untuk alat bantu pembelajaran didefinisikan sebagai perlengkapan atau alat untuk membantu guru (pengajar) memperjelas materi (pesan) 3


Media Televisi

yang akan disampaikan. Oleh karena itu alat bantu pembelajaran disebut juga alat bantu mengajar (teaching aids). Dari pengertian di atas, maka yang termasuk alat bantu antara lain: OHP/OHT, film bingkai (slide), foto, peta, poster, grafik, flip-chart, model, benda sebenarnya, sampai kepada lingkungan belajar yang dimanfaatkan untuk memperjelas materi pembelajaran. Sedangkan untuk media pembelajaran Anderson menyebutnya sebagai media yang memungkinkan terjadinya interaksi antara karya seorang pengembang mata pelajaran (program pembelajaran) dengan siswa atau sasaran. Adapun yang dimaksud dengan kata interaksi pada pengertian di atas adalah terjadinya suatu proses belajar dalam diri siswa pada saat menggunakan media. Misalnya, pada saat siswa menyaksikan suatu program televisi pembelajaran, film pendidikan, mendengarkan program audio, menggunakan program CAI, atau pada saat membaca modul, dan sebagainya. Oleh karena itu media-media tersebut digolongkan ke dalam media pem-belajaran (instructional media). Berikut ini adalah ilustrasi penggolangan media yang membedakan antara media pembelajaran dengan alat bantu pembelajaran menurut Anderson (Gambar 1).

4


Media Televisi

Gambar 1. Bagan Penggolongan Media

Heinich & Molenda (1996) yang sering disebut sebagai tokoh atau pakar dalam bidang media pada dekade terakhir ini, mengemukakan bahwa secara umum media di artikan sebagai alat komunikasi yang membawa pesan dari sumber ke penerima. Pengertian yang dibe-rikan oleh Molenda ini lebih mengarah pada pengertian media yang lebih khusus. Pengertian ini juga membatasi bahwa yang dimaksud dengan media adalah alat komu-nikasi yang bermuatan pesan, yang memung-kinkan orang dapat berinteraksi dengan pesan secara langsung. Atau lebih tepatnya media yang dimaksud adalah media yang dirancang untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.; seperti film, program televisi, kaset audio, Computer Assisted Instruction (CAI), slide seri, modul, dan sebagainya. 5


Media Televisi

Pengertian yang diberikan Molenda, tidak jauh berbeda dengan pengertian yang diberikan oleh Bertz (1986), yang mengatakan media adalah suatu perantara yang terletak di antara pengirim dan penerima pesan. Sebagai perantara, berarti media yang dimaksud adalah media yang dirancang untuk mencapai tujuan tertentu. Beberapa pengertian media di atas mewakili dari banyak pengertian yang diberikan untuk kata media. Satu hal yang mengkaitkan pengertian satu dengan lainnya, yaitu adanya kesamaan fungsi agar pesan yang disampaikan mudah dimengerti oleh siswa (sasaran). Untuk memudahkan kita membedakan antara alat bantu pembelajaran (instructional aids) dengan media pembelajaran (instructional media) dapat kita lihat melalui keberadaan pesan yang akan disampaikan.

Gambar 2. Pesan pada alat bantu pembelajaran

Gambar di atas memperlihatkan bahwa pada alat bantu pembelajaran, keberadaan pesan yang akan disampaikan kepada siswa (sasaran) tidak sepenuhnya termuat di dalam 6


Media Televisi

medianya. Media OHT misalnya, meskipun setiap lembar transparansi telah berisi pesan yang akan disampaikan, dalam penggunaanya masih harus dije-laskan oleh sumber (penyaji) untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Demikian juga dengan slide, meskipun gambar (visual) yang terdapat dalam setiap frame (bingkai) telah mewakili objek aslinya dan mampu mem-berikan informasi tertentu, namun untuk melengkapi pesannya masih diperlukan penjelasan dari sumber (pada batas-batas tertentu). Oleh karena itu keefektifan alat bantu selain ada pada medianya, juga sangat di-tentukan oleh kemampuan penyaji untuk menjelaskan pesan (informasi) yang terkandung dalam media. Bagaimana dengan media pembelajaran? Coba perhatikan ilustrasi berikut ini.

Gambar 3. Pesan pada media pembelajaran

Berbeda halnya dengan alat bantu, pesan pada media pembelajaran dikemas di dalam media yang digunakan. Atau dengan kata lain pesan yang akan disampaikan dirancang secara khusus ke dalam media tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Oleh 7


Media Televisi

karena itu keefektifan suatu media pembelajaran sangat ditentukan oleh sedikitnya tiga faktor, yaitu: ketepatan dalam memilih media yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, kesesuaian media dengan sasaran serta ketepatan cara menggunakannya. Dengan memperhatikan ketiga faktor tesebut, diharapkan suatu media pembelajaran akan mampu membelajarkan siswa secara efektif. Media televisi misalnya, karena programnya dirancang secara khusus untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu, maka meskipun tanpa ada penjelasan tambahan dari guru pada saat penggunaannya, siswa dapat memahami pesan yang dilihatnya. Akan tetapi tidak berarti guru menjadi pasif dengan kehadiran media tersebut, melainkan ia mempunyai peran yang lain yaitu merencanakan tindak lanjut yang harus dilakukan setelah menggunakan media. Demikian juga halnya dengan modul yang diran-cang untuk kegiatan belajar mandiri. Meskipun tanpa bantuan dosen atau pengajar, para mahasiswa dapat mencapai tujuan pembelajaran dari mata kuliah yang dipelajarinya dengan cara belajar sendiri. Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa secara umum yang dimaksud dengan media adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memperjelas materi atau mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Sedangkan secara 8


Media Televisi

khusus, media tersebut dibedakan antara alat bantu pembelajaran (instructional aids) dengan media pembelajaran (instructional media). Alat bantu pembelajaran disebut juga alat bantu mengajar. Ini berarti efektifitas alat bantu tersebut terletak pada kemampuan guru dalam menggunakannya (khususnya kemampuan menjelaskan). Sedangkan media pembelajaran adalah suatu media yang bermuatan pesan-pesan tertentu, yang dirancang untuk mencapai tujuan tertentu pula. Oleh karena itu media pembelajaran disebut sebagai perantara pesan (medium).

9


Media Televisi

Bab 2 Mengenal MEDIA TELEVISI

M

edia televisi atau lebih populer disebut televisi, adalah media yang sangat akrab dengan

penonton atau pemirsanya. Dikatakan demikian karena media ini hadir bagaikan sahabat dikala kita susah, sebagai guru dikala kita membutuhkan pengetahuan, dan sebagai pembimbing dikala kita butuh informasi. 10


Media Televisi

Selain itu televisi dapat dikatakan bukan lagi barang mewah, sebab hampir setiap penduduk khu-susnya di perkotaan telah memilikinya, meski peman-faatannya lebih banyak untuk hiburan dan informasi. Bagaimana dengan keperluan pendidikan, khususnya untuk kegiatan pembelajaran? Jawabnya, belum diman-faatkan secara optimal. Tentu banyak penyebab, mengapa televisi belum dimanfaatkan sebagai media pendidikan atau media pembelajaran. Namun dari sekian banyak penyebab, tiga di antaranya adalah kurangnya pemahaman tentang televisi sebagai media pembelajaran, kurangnya wawasan guru tentang cara pemanfataan media televisi dalam pembelajaran dan terbatasnya kemampuan untuk memproduksi program yang dibutuhkan. Tiga hal tersebut akan dibahas dalam buku ini. Hal pertama dan kedua dibahas dalam bagian dua ini, dan hal ketiga akan dibahas pada bagian berikutnya.

Mengenal Media Televisi Media televisi adalah media elektronik yang memanfaatkan kekuatan gambar dan suara dalam mempengaruhi penontonnya. Gambar adalah kekuatan utama dan suara sebagai pelengkap atau penguat gambar yang ada. Dengan kedua kekuatan tersebut media televisi mampu mempengaruhi emosi setiap penontonnya. 11


Media Televisi

Anda tentu masih ingat dengan tayangan serial televisi yang diperankan oleh Ibu Subangun. Gambar (acting) dan suara (kata-kata) Ibu Subangun yang tampil sebagai tokoh yang suka usil dan cerewet sangat mempengaruhi emosi para penontonnya. Emosi (reaksi) penonton terhadap karakter Ibu Subangun menimbulkan kesan yang begitu mendalam, sehingga konon pada suatu ketika ia pernah dicacimaki bahkan di tampar oleh penontonnya. Atau mungkin Anda pernah menyaksikan adegan orang menagis sambil meratap, kemudian tampa sadar kita terhanyut dalam adegan tersebut, dan akhirnya kita merasa iba dan turut menangis. Atau mungkin Anda pernah menjadi hakim dari suatu adegan tertentu yang Anda lihat di layar televisi. Anda begitu emosional untuk memutuskan siapa salah dan siapa yang benar. Ilustrasi di atas sekedar ingin melukiskan, bagai-mana gambar dan suara mampu mempengaruhi emosi penonton. Nah, andaikata keterlibatan secara emosional ini muncul dalam konteks pembelajaran, tentu dapat kita bayangkan betapa berkesannya materi yang dipelajari dalam diri siswa. Sebab keterlibatan emosional dalam mempelajari sesuatu adalah hal yang positip. Keterlibatan emosional akan memberi kesan mendalam terhadap sesuatu yang dipelajari dan akhirnya akan memberikan dampak jangka panjang. Kemampuan seperti ini tentunya sangat sulit diperoleh melalui media lain. 12


Media Televisi

Media televisi adalah media yang dapat menayangkan gambar sesuai dengan objek aslinya. Anda tentu pernah melihat artis kesayangan Anda di alam nyata (tidak di layar televisi), kemudian Anda juga melihatnya di layar televisi. Apa kesimpulan Anda tentang artis tersebut? Apakah ia berbeda atau sama saja? Tentu sama saja. Karena media terlevisi adalah media yang tidak terlibat kolusi yang dapat membuat bayangan objek berbeda dengan objek aslinya. Media televisi adalah media yang mengahsilkan gambar sesuai dengan aslinya. Ini berarti media televisi mampu pula menghadirkan berbagai peristiwa ke hadapan penonton sama seperti kejadian yang sesungguhnya. Pada saat kematian Putri Diana, kita dapat menyaksikan peristiwa pemakamannya di Indonesia melalui media televisi. Apa yang kita saksikan di televisi sama seperti kejadian di Inggris, dan pada saat yang sama pula. Selain kemampuan memindahkan bayangan objek sesuai dengan aslinya, media televisi memungkinkan penonton menyaksikan berbagai fenomena alam yang sulit diamati, baik itu karena jaraknya sangat jauh, peristiwanya sudah lampau, atau kejadiannya memiliki risiko tinggi bila dilihat dari dekat. Tentu Anda masih ingat peristiwa gerhana matahari total beberapa tahun lalu, kemudian peristiwa pendaratan manusia di bulan, peristiwa perang dunia ke dua, peristiwa meletusnya gunung merapi, dan lain sebagainya. Semuanya dapat kita saksikan melalui layar televisi. 13


Media Televisi

Baiklah, dari ilustrasi di atas, apa yang bisa kita manfaatkan untuk kegiatan pembelajaran di kelas? Apakah Anda masih mengatakan bahwa media televisi belum waktunya digunakan sebagai media pembelajaran? Secara jujur, kita tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada perkembangan pengetahuan siswa kita bila tidak ada media telivisi. Siswa kita akan ketinggalan kereta pengetahuan. Sebagai media visual media televisi dengan teknik pengambilan close-up mampu melakukan pembesaran objek ribuan kali dari ojek aslinya. Kemampuan ini tentunya suatu kelebihan yang tidak dimilkiki media lain; dan dengan kemampuan ini pula media televisi sangat efektif bila digunakan untuk mengajarkan berbagai pengetahuan yang sulit dilihat dengan mata telanjang, karena objeknya terlalu kecil. Seperti pengamatan terhadap semut, nyamuk, bahkan sampai kapada bakteri atau yang lainnya. Bagi dunia kedoteran, penggunaan media televisi merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Dikatakan demikian, karena hampir sebagian besar perkembangan teknologi kedokteran menyertakan peranan televisi di dalam kegiatannya. Seperti untuk mengamati bagaianbagian tertentu dalam tubuh manusia; untuk mengajarkan berbagai materi yang sulit dilihat mata telanjang, seperti 14


Media Televisi

perkembang biakan sel, virus, bakteri, dan lain sebagainya. Nah, kalau dunia kedokteran sudah menggunakannya untuk berbagai kegiatan pembelajaran, mengapa dunia persekolahan belum menggunakannya? Tentu jawabannya ada pada Anda sebagai guru, dosen, maupun instruktur, khususnya yang mengelolah bidang ilmu Biologi, Fisika, dan Kimia. Media televisi adalah media visual gerak (motion pictures) yang dapat diatur percepatan gerakannya (gerak dipercapat atau diperlambat). Hal ini memungkinkan media televisi efektif bila digunakan untuk mengajarkan pegetahuan yang berhubungan dengan unsur gerak (motion). Gerak diperlambat misalnya, akan efektif bila digunakan untuk mengamati posisi-posisi sulit dalam bidang olahraga. Misalnya posisi seorang pelompat gala pada saat berada di atas mistar; posisi pelari pada saat menyelesaikan finish apabila terjadi bersamaan; atau untuk mengamati berbagai gerakan lainnya. Unsur gerak ini tentunya tidak terbatas pada bidang olahraga saja. Pada mata pelajaran fisika misalnya, dapat digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan gerak; seperti, gerak jatuh suatu benda, gerak peluru, dan sebagainya. Media televisi media yang memiliki kemampuan memanipulasi pesan sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu media televisi efektif bila digunakan untuk 15


Media Televisi

mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan sikap (attitude). Dunia anak-anak sebagai fase pembentukan sikap sangatlah efektif bila menggunakan media televisi. Melalui program-program yang dirancang sesuai dengan fase perkembangan anak misalnya, anak-anak tentu akan tertarik untuk menontonnya. Dari ketertarikan ini selanjutnya mereka mulai meniru hal-hal yang dilihatnya. Oleh karena itu program yang akan disajikan kepada anak-anak harus melalui seleksi yang sangat ketat, khususnya untuk kebenaran pesannya. Kemampuan memanipulasi pesan ini, bukan saja efektif untuk sasaran persekolahan, namun dapat pula digunakan dalam berbagai pelatihan. Pelatihan dalam bidang perbankan misalnya, media televisi dapat digunakan untuk mengajarkan materi tertentu dengan benar, menarik dan konsisten. Misalnya untuk mengajarkan cara-cara pelayanan yang baik kepada nasabah, dan sebagainya. Media televisi adalah media yang dapat menyederhanakan pesan yang komplek. Dengan kekuatan gambar (visual) yang dimilikinya, media ini sangat efektif untuk menyederhanakan pesan yang kompleks. Hal ini sesuai dengan pendapat yang mengatakan bahwa satu gambar dapat becerita seribu kata. Ini artinya bahwa pesan yang secara verbal dituturkan dengan seribu kata dapat diwakili hanya dengan satu gambar saja. Bukan main !!! 16


Media Televisi

Media televisi mampu mengkonkritkan pesan yang abstrak. Ini berarti media televisi dapat menjembatani berbagai pesan yang sulit bila dijelaskan hanya dengan kata-kata. Konsep-konsep matematika misalnya dapat dikonkritkan dengan media ini, sehingga mempelajari matematika menjadi sesuatu yang menyenangkan, khususnya untuk jenjang pendidikan dasar sampai dengan menengah. Media televisi adalah media yang dapat menya-makan persepsi. Hal ini dimungkinkan karena media televisi merupakan media visual yang dapat menghasilkan gambar sesuai dengan aslinya. Sehingga dengan kemampuan tersebut, media televisi sangat efektif untuk menghilangkan interpretasi ganda dari pesan tertentu. Mungkin Anda bisa membayangkan apa jadinya bila guru mengajarkan secara verbal tentang alat transportasi (kereta api), kepada siswanya yang belum pernah melihat transportasi tersebut baik langsung atau melalui gambarnya. Mungkin, apabila ada sepuluh anak yang mendengarkan, jangan terkejut bila terdapat sepuluh persepsi tentang kereta api. Hal ini terjadi karena setiap siswa mempunyai interpretasi yang berbeda terhadap pesan yang disampaikan. Hal ini tentu tidak akan terjadi bila guru tersebut menggunakan media visual. Dari uraian di atas, sekarang Anda tentunya lebih mengenal, apa itu media televisi?. 17


Media Televisi

Suatu fakta memperlihatkan bahwa media televisi merupakan media audio visual yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan jenis media visual lainnya. Nah, mengapa sampai saat ini media televisi belum dimanfaatkan secara optimal, khususnya dalam kegiatan pembelajaran di sekolah?. Hal ini akan kita bahas pada sajian berikut. Namun sebelum itu kita akan membicarakan terlebih dahulu tentang sistem pengiriman pesan pada media televisi.

Sistem Pengiriman Pesan Untuk sistem pangiriman pesannya, media televisi menggunakan dua cara yaitu, melalui sistem pemancar (broadcast system) dan sistem kabel (cable system). Melalui sistem pemancar (broadcast system), gambar dan suara dikirim ke penonton melalui udara dengan menggunakan sistem transmisi satelit, sehingga daya jangkaunya menjadi sangat luas, meliputi seluruh nusantara, bahkan sampai ke negara lain. Hasil dari sistem broadcast ini adalah siaran televisi yang kita tonton di rumah mulai dari pagi sampai malam hari. Secara teknis proses pengiriman pesan tersebut dapat digam-barkan sebagai berikut.

18


Media Televisi

Gambar 4: Sistem Penyampaian melalui stasiun pemancar

Melalui sistem kabel (cable system) adalah sistem pengiriman pesan dengan menggunakan kabel. Secara teknis sistem ini meliputi: sistem video (video system), Close Circuit Television (CCTV), dan TV kabel (cable television). Adapun yang membedakan satu dengan lainnya adalah daya jangkaunya, sedangakan untuk pro-gram yang digunakan pada dasarnya sama.

19


Media Televisi

Sistem Video, sitem ini dikenal juga dengan sistem playback. Hal ini sesuai dengan fungsinya yaitu untuk melihat ulang hasil suatu rekaman (program) tertentu. Karena daya jangkaunya sangat terbatas, sehingga sitem ini sangat tepat bila digunakan untuk keperluan pembelajaran dikelas, di rumah, di kantor atau di lembaga pendidikan lainnya. Disamping biaya pengadaannya tidak terlalu mahal, cara menggunakannya juga sangat mudah. Mulai dari guru sampai kepada siswa dapat mengoperasikannya. Mungkin satu-satunya kendala untuk menggunakan sistem ini dalam kegiatan pembelajaran adalah belum adanya kemauan untuk men-cobanya. Nah, apabila Anda ingin mewujudkan sistem ini di sekolah yang Anda kelola, sesungguhnya tidaklah terlalu sulit dan tidak pula terlalu mahal? Untuk itu cukup diperlukan halhal sebagai berikut: 1. Untuk satu sekolah cukup memiliki satu Video Tape Recorder (VTR) dan satu televisi berwarna ukuran 20".

Gambar 6: Rangkaian Sistem Video

20


Media Televisi

2. Satu ruangan khusus yang disebut ruang Audio-Visual. Disebut ruang Audio-Visual, karena ruang ini selain untuk keperluan pembelajaran melalui televisi, dapat pula dikembangkan untuk keperluan media AudioVisual lainnya, seperti penayangan program slide suara, pembelajaran melalui komputer, dan sebagainya. Dengan demikian pemanfaatan ruangan akan sangat efektif. Untuk membuat ruang audio visual pada dasarnya tidaklah sulit. Sebab ruangan tersebut tidak perlu menggunakan meja dan kursi, sebagai gantinya cukup menggunakan karpet.

Gambar 6: Ruang Audio-Visual (playback)

21


Media Televisi

Selain memberi kesan khusus juga akan membuat siswa lebih rileks pada saat menyaksikan program-program yang disajikan, atau pada saat mendis-kusikan bagianbagian tertentu dari program yang baru dilihatnya. 3. Berbagai jenis program dari berbagai jenis mata pelajaran. Untuk program pembelajaran bisa memanfaatkan program yang pernah dikembangkan oleh Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), program produksi luar negeri atau yang dibuat sendiri oleh guru sesuai dengan kebutuhan tujuan yang akan dicapai. 4. Jadwal secara terpadu untuk mata pelajaran yang akan menggunakan program televisi. Selanjutnya berdasarkan jadwal tersebut guru beserta siswanya bergiliran menggunakan ruang Audio-Visual, sehingga dengan demikian pemanfaatan fasilitas yang tersedia akan menjadi efektif. Close Circuit Television (CCTV), adalah suatu sistem distribusi gambar dan suara yang menggunakan rangkaian tertutup dan terbatas dalam satu area (lokasi) tertentu saja. Sistem ini dalam pengoperasiannya didukung oleh satu unit studio mini, dan sejumlah TV monitor yang ditempatkan di beberapa ruangan. Melalui studio mini pesan didistribusikan melalui kabel kesetiap ruangan yang telah dilengkapi dengan TV monitor. Semakin banyak TV 22


Media Televisi

monitor yang digunakan, maka semakin besar jumlah sasaran yang dapat dilayani. Oleh karena itu secara teknis penggunaan CCTV sangat efektif untuk mengatasi kurangnya tenaga pengajar profesional, dan mengatasi jumlah peserta yang cukup besar, serta menyamakan kualitas “output� pembelajaran tertentu yang biasanya diajarkan oleh banyak pengajar.

Gambar 7: Sistem Jaringan CCTV

23


Media Televisi

Adapun yang menjadi kelemahan sistem ini adalah proses penyampaian pesan cenderung satu arah serta pemberian umpan balik yang sifatnya tidak langsung (indirect feedback). Sehingga ada kecenderungan pada saat umpan balik diberikan terasa tidak relevan lagi. Selain itu umpan balik yang diberikan tidak mewakili kebutuhan banyak peserta. TV Cable adalah satu sistem siaran yang menggunakan sambungan telepon atau melalui satlit, sehingga hanya pelanggan saja yang dapat mengakses program yang ditawarkan. Sistem ini sama seperti ketika RCTI mulai siaran, dimana hanya mereka yang berlangganan yang dapat menonton siaran RCTI, yaitu melalui fasilitas “decoder� yang dipasang pada pesawat televisi. Di Filipina, sistem ini digunakan untuk pembelajaran jarak jauh (distance learning). Dengan berlangga-nan para pelanggan dapat mengakses program pembelajaran yang diinginkan (sesuai dengan kurikulum yang ditawarkan). Di Indonesia sistem ini pernah dilakukan oleh DIKTI untuk tutorial jarak jauh yang waktu itu diberi nama SISDIKSAT (sistem pendidikan melalui satelit). Namun karena biaya operasional yang cukup tinggi, pelaksanaannya tidak diteruskan.

24


Media Televisi

Gambar 8 : Sistem jaringan TV Cable

Melihat sistem pengiriman pesan yang digunakan media televisi, kemudian kita berpikir sejenak, sistem mana yang tepat kita gunakan untuk kegiatan pembelajaran di sekolah? Dari semua sistem yang ada, sampai saat ini yang paling mungkin untuk digunakan untuk pembelajaran di sekolah (di kelas), yaitu sistem video. Selain pengoperasiannya yang mudah juga biaya pengadaannya relatif murah. Selanjutnya yang perlu dipikirkan adalah, bagaimana cara menggunakan media ini dalam kegiatan pem-belajaran di kelas? 25


Media Televisi

Bab 3 Media TELEVISI Dalam Pembelajaran

U

ntuk memberikan gambaran yang utuh tentang cara menggunakan media televisi dalam

pembelajaran, berikut ini akan disajikan berbagai ilustrasi penggunaan media televisi dalam kegiatan pembelajaran untuk beberapa mata pelajaran. 26


Media Televisi

Ibu Cempaka, adalah seorang guru biologi di salah satu SMU yang terletak di jantung kota Jakarta. Keberadaan sekolah yang terletak di jantung kota ini, sering kali menyulitkan baginya untuk memberikan pengalaman nyata kepada siswanya mengenai materi yang disampaikannya. Contonya pada saat ia akan menjelaskan sumber makanan baru sebagai alternatif pemenuhun protein bagi manusia. Ia ingin menjelaskan salah satu pemenuhan protein didapatkan dari Bekicot sejenis keong. Mungkin bagi siswa yang tinggal di desa, bekicot bukanlah binatang yang aneh karena mereka sering bertemu dengan binatang ini. Tetapi bagi mereka yang tinggal di antara hutan beton kota Jakarta, binatang ini keberadaannya sangat langka, bahkan mungkin di antara mereka ada yang belum pernah melihatnya secara langsung. Nah, apa yang dilakukan Ibu Cempaka untuk mengatasi masalah ini? Dengan memberanikan diri ia mencoba meminjam copy pro-gram televisi “Sumber Makanan Baru� yang pernah ditayangkan oleh Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Selanjutnya dengan meminjam Video Tape dan memanfaatkan pesawat televisi milik sekolah, Bu Cempaka dan siswanya dapat menyaksikan tayangan program televisi “Sumber Makanan Baru�. Pada awalnya, tayangan program tersebut terasa aneh bagi siswa, ada yang berkomentar tidak menarik, ada yang mengatakan lebih bagus kalau yang ditayangkan film cerita, dan sebagainya. Tetapi setelah mereka diminta mendiskusikan beberapa hal dari tayangan tersebut, barulah mereka menya-dari bahwa yang 27


Media Televisi

mereka saksikan adalah materi pelajaran. Akhirnya mereka meminta untuk ditayangkan sekali lagi. Apa yang harus didiskusikan siswa? Hal inilah yang harus dirancang oleh guru sebelum ia menggunakannya di dalam kelas. Oleh karena itu suatu keharusan bagi seorang guru melihat terlebih dahulu program yang akan digunakannya. Apa yang diminta Bu Cempaka untuk didiskusikan siswanya dari tayangan program “Sumber Makanan Baruâ€? tersebut? Tentu banyak, di antaranya mengenai besarnya kandungan protein yang terdapat pada Bekicot, kemungkinan budi daya bekicot, Bekicot sebagai sumber makanan baru ditinjau dari sudut agama, dsb. Untuk hasil diskusi, kepada setiap kelompok diminta untuk membuat laporan tertulis, yang selanjutnya dipresentasikan di depan kelas dan dibahas bersama-sama. Dari ilustrasi di atas, apa yang dapat kita simpulkan dari penggunaan media televisi yang dilakukan oleh Bu Cempaka? • Media televisi dapat menjembatani keterbatasan pengalaman siswa terhadap objek yang langkah. • Media televisi mampu memberikan pengalaman nyata kepada siswa. 28


Media Televisi

• Media televisi memicu keterlibatan siswa secara aktif dalam pembelajaran (melalui kegiatan diskusi yang dirancang oleh guru). • Media televisi mendorong muculnya pola pebelajaran yang bervariasi (seperti diskusi, melakukan kajian pustaka, melakukan penelitian lapangan, membuat laporan ilmiah, presentasi, dan sebagainya). • Media televisi membuat pesan yang disampaikan sulit dilupakan oleh siswa. Melihat manfaat yang diberikan media televisi, tentu Anda tertarik untuk mencobanya. Selain itu ternyata cara menggunakan media televisi dalam pembelajaran tidak sesulit yang kita bayangkan. Coba kita lihat apa yang dilakukan oleh Bu Cempaka. • Mengidentifikasi materi dan kebutuhan medianya. • Menjajaki media yang dibutuhkan, dalam hal ini program (software) dan peralatan (hardware). • Menonton terlebih dahulu program yang akan digunakan. • Merancang topik-topik yang akan didiskusikan. • Menyusun rancangan kegiatan sebagai tindak lanjut dari penggunaan media televisi, seperti menentukan format diskusi, melakukan kajian pustaka, penelitian lapangan, menentukan format laporan, mengatur teknik presentasi, dan sebagainya).

29


Media Televisi

Program televisi pada dasarnya tidak terbatas pada program yang diproduksi dengan biaya yang mahal atau dengan peralatan produksi yang lengkap dan mahal. Program televisi bisa saja dikembangkan secara sederhana dengan biaya murah dan peralatan yang sangat terbatas. Yang penting, program tersebut harus bermuatan pesan pembelajaran dan dapat digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Mari kita simak ilustrasi berikut ini. Pak Martono adalah seorang guru Geografi yang penuh dengan kreatifitas. Meski mata pelajaran yang diasuhnya tidak termasuk matapelajaran yang bergengsi seperti mate-matika, fisika, kimia, dan biologi; tetapi siswanya selalu menanti kehadirannya di dalam kelas. Bukan karena paksaan, tetapi lebih disebabkan ketertarikan mereka pada cara mengajar pak Martono. Penuh semangat, kreatif, dan selalu menyajikan hal-hal yang baru bagi siswa. Selain sering memanfaatkan program televisi yang sudah ada, ia juga membuat sendiri pro-gram video untuk kebutuhan mengajarnya. Dengan menggunakan kamera video milik sekolah, Pak Martono merekam berbagai macam informasi, mulai dari pemandangan alam, kehidupan para nelayan, hutan gudul, hutan terbakar, banjir, sampai kepada hal-hal yang kejadiaanya sangat jarang seperti gerhana matahari, gerhana bulan dan sebagainya. Meskipun gambar yang dihasilkan dari segi kualitas kurang memadai, namun dari aktualitas pesan mampu menarik perhatian siswa. Suatu ketika ia membuat rekaman tanah gersang seluas mata memandang. Ketika kamera diarahkan pada tahah yang retak-retak karena kekeringan, sementara narasinya 30


Media Televisi

berkomentar, sampai berapa lamakah ini akan terjadi? Mengapa harus ada kemarau panjang ini? Apakah ini murka Tuhan, atau hukum alam yang harus terjadi? Meskipun dari segi gambar cukup sederhana dan dari segi narasi cukup pendek, namun hasil rekaman Pak Martono mampu mengundang diskusi yang mendalam dan mendorong kepedulian para siswanya untuk berbuat sesuatu. Bagaimana? Tentu Anda juga dapat menjadi Pak MartonoMartono lain, yang selalu menyajikan materi pelajarannya secara menarik, bermakna, dan akhirnya menimbulkan sikap yang positip. Pelajaran Geografi tidak lagi sebagai pelajaran hafalan akan tetapi lebih menitik beratkan pada bekal untuk kehidupan, karena pengetahuan tentang Geografi termasuk belajar bagaimana kita harus menyikapi kehendak alam. Dari pengalaman pak Martono, apa yang dapat diberikan media televisi untuk tujuan pembelajaran?. • Media televisi mampu mengadirkan berbagai peristiwa alam ke dalam kelas. • Media televisi mampu mengatulisasikan pesan. • Media televisi mampu menarik perhatian siswa dan mendorong terciptanya diskusi yang mendalam. • Media televisi mampu mendorong perubahan sikap yang positip. 31


Media Televisi

Dari kedua ilustrasi di atas, kita dapat melihat bagaimana media televisi digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Baik itu dengan memanfaatkan program yang sudah ada maupun program yang dibuat sendiri dengan cara yang sangat sederhana. Nah, tentu selain itu masih ada cara yang lain, yaitu seperti yang dilakukan Ibu Tuti berikut ini. Bu Tuti, adalah seorang guru Bahasa Inggris. Secara teknis ia tidak banyak mengalami kesulitan untuk mendapatkan programprogram yang mendukung pembelajarannya. Baik itu program audio maupun program televisi yang siap pakai. Namun demikian ia selalu ingin menampilkan sesuatu yang baru di depan siswanya. Suatu ketika ia ingin mengajarkan cara menggunakan kalimat pada kondisi-kondisi tertentu, sehingga tercipta suatu kesesuaian kalimat dengan ekspresi wajah maupun gerak tubuh. Apa yang dilakukan Bu Tuti? Ia merekam cuplikan adeganadegan film tertentu dari siaran televisi. Setiap adengan tidak lebih dari tiga menit. Kemudian dengan menggunakan rekaman cuplikan berbagai adegan itulah Bu Tuti mengajar siswanya. Apa yang terjadi? Luar biasa, siswanya sangat antusias. Sesungguhnya apa yang dilakukan Bu Tuti bukan hal sulit. Dengan sedikit kemauan ia dapat menciptakan suasana yang berbeda dalam cara mengajarnya. Berbeda dalam strategi mengajar dan berbeda pula dalam hasil yang dicapai siswanya. 32


Media Televisi

Jadi apa yang telah dilakukan Bu Tuti, sesungguhnya adalah adanya kesadaran yang mendalam mengenai peranan visual yang tidak dapat digantikan dengan kata-kata. Lain halnya Bu Cempaka, Pak Martono, dan Bu Tuti, maka lain pula dengan Pak Nyoman. Pak Nyoman, sebagai seorang instruktur di suatu bank, sangat menyadari bahwa mutu pelayanan bank yang baik dapat meningkatkan jumlah nasabah, yang berarti akan meningkatkan keuntungan bank. Berangkat dari kepercayaan ini, ia selalu berusaha agar setiap teller (sebagai orang yang berhadapan langsung dengan nasabah) harus mampu memberikan pelayanan yang terbaik. Apa yang dilakukannya pada saat memberikan pelatihan pada para calon teller?. Pertama, ia menyadari pelatihan para calon teller sangat berhubungan dengan masalah sikap, dimana seorang teller harus menjadikan dirinya selain mampu bekerja secara cepat dan akurat juga bertindak sebagai pelayan yang ramah, tulus, mudah senyum, responsip dan berpenampilan menarik. Kedua, untuk mendapatkan hasil pelatihan yang baik, maka kepada perserta selain diberi teori perlu adanya satu model pelayanan yang baku (standard) yang dapat dijadikan contoh atau acuan oleh para peserta pelatihan (teller). 33


Media Televisi

Dari kedua hal di atas, Pak Nyoman memutuskan untuk memperlihatkan model pelayanan yang baik kepada peserta pelatihan. Namun ada beberapa alternatif yang perlu dipertimbangkan: • mengajak peserta pelatihan berkunjug ke salah satu bank yang pelayanannya dianggap baik; • memodelkan (simulasi) cara pelayanan yang baik di dalam kelas; dan • memperlihatkan model-model pelayanan yang baik melalui media televisi (program video). Ketiga alternatif di atas dianalisis satu persatu untuk mendapatkan alternatif yang terbaik. Kunjungan sesungguhnya merupakan suatu pendekatan yang baik, dimana peserta dapat melihat secara langsung bagaimana seorang teller melayani nasabah. Namun disisi lain kunjungan mempunyai kekurangan. Kunjungan akan memakan waktu yang banyak sebab harus meninggalkan kelas. Selain itu kunjungan tidak mungkin dilakukan secara bergerombol sebab akan mengganggu aktivitas bank yang dikunjungi. Simulasi dapat dilakukan di dalam kelas dan hampir semua harapan yang ingin dicapai dapat diwujudkan dengan simulasi. Namun sama halnya dengan kunjungan simulasi jugan memiliki kelemahan yaitu ketepatan (kualitas) simulasi sangat tergantung pada kondisi yang memerankan. Artinya, bila yang memerankan perasaannya lagi senang, maka hasilnya akan baik; tapi bila perasaannya lagi kacau, hasilnya mungkin tidak sebaik yang 34


Media Televisi

diharapkan. Dengan demikian peserta sulit untuk mendapatkan satu model pelayanan yang akan ditirunya. Bagaimana dengan media televisi? Media televisi, tampaknya adalah pilihan terakhir Pak Nyoman. Setelah dianalisis media televisi: • dapat dirancang sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat menyajikan model-model pelayanan yang baik (standard). • dapat pula menggambarkan setting (situasi bank) yang sesungguhnya. • tidak terpengaruh oleh keadaan atau emosi pengajar (tidak bersemangat, kesal, kurang percaya diri, dsb), sehingga mampu memberikan contoh yang akurat meskipun ditampilkan berulang kali. • dapat diperbanyak, sehingga memungkinkan peserta menyaksikannya dimana saja dan kapan saja. Dari analisis terhadap ketiga alternatif yang ada, pak Nyoman memutuskan untuk menggunakan media televisi (program video) tentang “Pelayanan Prima”. Selanjutnya, apa yang dilakukan pak Nyoman dengan media televisi tersebut? Di awal pertemuan kepada peserta dijelaskan pentingnya suatu pelayanan yang baik dalam upaya menarik minat nasabah. Suatu penjelasan yang didasari oleh teori-teori psikologi, komunikasi, dan hasil-hasil penelitian mengenai pengaruh dari suatu pelayanan yang baik terhadap citra suatu bank. Setelah itu, barulah dijelaskan ciri-ciri pelayanan yang baik. 35


Media Televisi

STOP Coba Anda bayangkan sejenak, apa yang terjadi bila cara pelayanan yang baik dijelaskan secara verbal saja.

Ternyata, Pak Nyoman melakukannya dengan baik dan sangat tepat. Penjelasan untuk cara-cara pelayanan yang baik dilakukannya dengan menayangkan program video yang berjudul “Pelayanan Prima�. Sampai di sini peserta telah mendapat gambaran atau bentuk suatu pelayanan yang baik. Semua peserta mempunyai satu konsep, selanjutnya peserta diminta untuk mempraktekkannya dan mendiskusikan secara bersama-sama untuk menyempurnakan hasil yang telah dicapai peserta. Apa yang dilakukan pak Nyoman hanyalah seba-gian kecil dari sekian banyak permasalahan SDM yang harus disampaikannya. Media televisi ternyata banyak membantu dalam tugas-tugasnya. Perkembangan media televisi ternyata dapat pula memberikan alternatif lain dalam bidang keilmuan yang menuntut kegiatan praktikum. Misalnya dalam kegiatan praktikum kimia. Dengan mengembangkan programprogram berupa petunjuk kerja laboratorium, maka diharapkan proses pembimbingan siswa untuk kegiatan 36


Media Televisi

praktikum, sebagaian dapat dilakukan dengan berbantuan media televisi. Ini berarti kegiatan praktikum dapat dilakukan secara mandiri oleh siswa (tanpa bimbingan guru laboratorium). Selain itu dengan tersedianya berbagai program petunjuk kerja laboratorium dapat pula memberi alternatif dalam sistem pengelolaan laboratorium yang sekarang ini. Misalnya dengan tersedianya program-progran yang berisi petunjuk untuk melakukan percobaan akan memberi kemungkinan bagi siswa untuk melakukan praktikum kapan saja. Pendekatan ini diharapkan membuat lab. sebagai sarana penelitian yang sangat produktif. Mungkin ini tampaknya suatu hal yang sangat baru dalam sistem pengelolaan lab. Namun melihat kemampuan media televisi yang dapat memindahkan berbagai peristiwa nyata kedalam layar kaca sacara akurat, maka tidak mustahil pula bila penjelasan guru lab. tentang bagaimana melakukan praktikum dapat pula dipindahkan kedalam layar kaca. Hal yang sama juga, sesungguhnya sudah diterapkan dalam bidang kedokteran, politeknik, dan bidang-bidang lain dengan hasil sangat memuaskan. Bagaimana prosedur penerapannya?. Coba kita simak apa yang dilakukan siswa berikut ini. Lia seorang siswa dari Sekolah Analis Kimia yang akan melakukan praktikum. Setelah mendapat teori tentang Asam 37


Media Televisi

dan Basah, Lia ingin membuktikan kebenaran teori tersebut. Sehabis pulang sekolah Lia pergi ke laboratorium sekolahnya yang buka sampai jam 20.00. Sesampai di lab. Lia melapor ke petugas lab. dan mengisi lembar permohonan praktikum. Setelah itu ia pergi keruang play-back dan mengambil program televisi tentang petunjuk kerja laboratorium yang berjudul Asam dan Basah. Dengan mengopearasikan sendiri video player yang ada Lia mengamati secara cermat mengenai prosedur melakukan percobaan. Apabila ada yang kurang jelas Lia mengulang kembali disamping membuat catatan kecil. Setelah merasa yakin dapat melakukan percobaan, ia mengajukan permintaan bahan-bahan praktikum kepada petugas sesuai dengan percobaan yang akan dilakukan. Dengan adanya penjelasan secara visual yang baru dilihatnya Lia dapat melakukan percobaan tanpa bimbingan guru lab. Setelah Lia selesai melakukan percobaan Lia melapor kembali ke petugas lab. untuk meminta penilaian terhadap hasil percobaannya. Dari beberapa ilustrasi pemanfaatan media televisi dalam pembelajaran, khususnya di kelas; tentu telah menambah pemahaman kita tentang kemampuan media televisi dalam menyampaikan pesan, meperjelas materi, menyederhanakan pesan yang kompleks, mengkonkritkan konsep-konsep yang abstrak, membimbing belajar mandiri, dan mempermudah mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. 38


Media Televisi

39


Media Televisi

Bab 4

Karakteristik Media TELEVISI

P

ada bagian ketiga ini, Anda akan diajak untuk

memahami lebih jauh tentang media televisi, baik itu melalui karakteristik televisi sebagai media masa maupun karakteristik teknis dari televisi itu sendiri sebagai media elektronik serta sebagai media visual gerak. 40


Media Televisi

Pemahaman tentang karakteristik ini dianggap penting, karena dalam karakteristik ini akan dibahas hal-hal yang harus diperhatikan oleh para pengembang program televisi, baik itu sebagai penulis naskah maupun pelaksana produksi. Bagi penulis naskah program televisi, ia akan dapat memilih materi yang cocok untuk ditelevisikan dan memaksimalkan potensi televisi sebagai media. Sedangkan bagi pelaksana produksi ia dapat mengatisipasi halhal yang menjadi keterbatasan televisi sebagai media, khususnya keterbatasan dari segi teknis. Oleh karena itu sekali lagi, dengan mengenal secara baik karakteristik media televisi akan membantu dalam mewujudkan suatu program televisi yang bermutu. Sama halnya dengan seorang tukang perahu, bagaimana mungkin ia bisa membuat perahu yang baik apabila ia sendiri tidak tahu tentang jenis kayu yang baik, dan perhitungan tentang keseimbangan dalam membuat perahu. Atau seorang pembuat bonsai, dimana ia harus mengetahui terlebih dahulu jenis tanaman yang baik untuk dijadikan bonsai, dan ia harus menguasai pula tentang peralatan yang digunakan. Demikian juga halnya bagi seorang pengembang media televisi hampir dapat dipastikan betapa sulitnya membuat program televisi yang baik tanpa mengenal lebih dahulu karakteristik media televisi, baik itu karak-teristiknya sebagai media massa maupun karakteristik teknis yang dimilikinya sebagai media elektronik maupun sebagai media visual gerak. 41


Media Televisi

Untuk lebih jelasnya berikut ini akan dijelaskan satu persatu.

Karakteristik Televisi sebagai Media Massa Berbeda dengan penonton film, penonton televisi mempunyai karakteristik yang agak unik, karena masingmasing mempunyai kebutuhan yang berbeda satu sama lain. Selain itu penonton televisi (broadcast) tersebar dimana-mana. Walaupun waktuk menontonnya sama tetapi mereka tidak dapat berkomunikasi sata sama lain. Penonton televisi boleh dikatan bebas, artinya ia menonton televisi bukan karena paksaan tetapi karena tertarik. Mungkin program yang ditayangkan sesuai dengan kebutuhannya, mungkin juga karena tidak ada hiburan lain. Namun demikian sebagai seorang (calon) pengembang program televisi, Anda harus menyadari sepenuhnya keaneka ragaman jenis dan sifat penonton ini, karena tidak mungkin kita dapat membuat program yang meme-nuhi kebutuhan semua halayak ramai. Untuk mengatasi keaneka ragaman tersebut, maka sebaiknya tentukanlah satu kelompok sasaran yang memiliki sifat, karakter, dan latar belakang yang sama. Bila Anda sudah menentukan sasaran yang jelas usahakanlah meraih perhatian mereka semaksimal mungkin melalui setiap gambar yang terlihat dan setiap suara yang terdengar. Atau dengan kata lain setiap gambar, setiap kata dan setiap bunyi yang kita bangun harus ada maksudnya dan mampu menarik perhatian penonton. 42


Media Televisi

Karakteristik Teknis Media Televisi Dalam mengembangkan program televisi baik itu penulis naskah maupun pelaksanan produksi tidak cukup hanya mengetahui ide yang bagus dan bagaimana cara memvisualisasikannya. Tetapi lebih dari itu ia harus pula mengetahui karakteristik teknis (kelebihan dan keterbatasan) yang dimiliki pesawat televisi. Sebab tanpa mengetahui karaktersitik tersebut besar kemungkinan banyak rambu-rambu penulisan dan ketentuan-ketentuan teknis yang terabaikan begitu saja. Adapun karakteristik yang dimaksud adalah:

1. Fine Detail Media televisi kurang mampu menampilkan detail (seluk-beluk) suatu objek dengan sempurna seperti yang dimiliki media film. Meskipun perkembangan teknologi pesawat televisi sudah maju pesat, seperti munculnya pesawat-pesawat televisi yang menggunakan tabung datar dan berresolusi tinggi, namun secara teknis belum mampu menyamai kualitas gambar yang dihasilkan melalui film. Keterbatasan inilah yang perlu disadari oleh para pengembang program televisi pada saat menulis naskah, sehingga ia dapat menentukan batasannya, mana yang efektif untuk ditelevisikan dan mana yang tidak (harus menggunakan media lain).

43


Media Televisi

2. Area Lost Gambar yang terlihat pada layar televisi adalah kirakira 80% dari gambar yang diambil kamera karena lebih kurang 20 % dari area (daerah) yang terlihat kamera hilang oleh proses elektronik.

Gambar 9: Area lost layar televisi

Meskipun perkembangan teknologi peralatan produksi sudah dapat merperkecil area lost ini, mamun tetap area (daerah) yang hilang ini harus dipertimbangkan sewaktu pengambilan gambar oleh juru kamera atau pengarah acara, juga harus dimaklumi oleh penulis naskah.

3. Size Information Media televisi adalah media yang menggunakan layar kaca untuk menampilkan gambarnya. Secara teknis layar sebuah pesawat televisi memiliki keterbatasan, khususnya untuk ukuran yang dimilikinya. Oleh karena itu media televisi tidak dapat menampilkan gambar suatu objek dengan ukuran yang sebenarnya. Jika Anda 44


Media Televisi

ingin memperkenalkan sesuatu (khususnya objek yang belum dikenal), maka perlihatkanlah objek pembandingnya (yaitu objek yang dikenal secara umum) agar informasi yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penontonnya. Misalnya untuk memperkenalkan seekor binatang yang mirip Cicak dapat menggunakan tangan sebagai pembandingnya. Berikut ini ilustrasi yang memperlihatkan besarnya seekor binatang yang mirip dengan Cicak.

Gambar 10: Cara membandingkan objek yang belum dikenal

Selain itu gambar yang terlihat di layar televisi juga sangat dipengaruhi oleh teknik pengambilannya, sehing-ga sebuah gambar yang terlihat tidak mewakili ukuran yang sebenarnya. Misalnya sebutir telur yang diambil secara “close-up� akan terlihat sebesar layar televisi. Nah, apabila hal ini tidak cermat dalam teknik 45


Media Televisi

memvisualisasikannya, maka besar kemungkinan akan mem-berikan interpretasi yang berbeda-beda pada diri setiap penonton.

4. Third Dimension Layar pesawat televisi pada hakekatnya adalah dua dimensi (panjang x lebar). Ini berarti gambar yang dihasilkan memiliki kecenderungan kesan dua dimensi pula, yaitu dimensi panjang dan lebar saja. Untuk menghasilkan suatu tayangan yang baik, seorang pengembang program televisi harus berupaya mengatasi kesan dua demensi tersebut. Baik dengan memperha-tikan pemilihan pesan (pesan yang banyak menuntut unsur gerak), teknik pengambilan gambar, penyusunan propertis, maupun pengaturan tata cahaya yang digu-nakan. Dengan demikian kesan yang terlihat adalah kesan tiga dimensi.

5. Distraction Distraction adalah istilah teknis yang digunakan untuk menggambarkan ketidak sesuaian bentuk antara objek dengan hasil tayangan di pesawat televisi karena adanya gangguan teknis pada pesawat. Misalnya sebuah ling-karan yang seharusnya 360 derajat menjadi bentuk elips atau bentuk oval.

46


Media Televisi

Gambar 11: Distraction pada pesawat televisi

Sebagai

penulis

naskah

Anda

harus

mempertimbangkan akibat ketidak sesuaian bentuk tersebut, yaitu dengan memilih secara cermat konsep tentang bentuk yang akan ditayangkan. Atau memberi penjelasan tambahan pada setiap bentuk yang ditayangkan.

6. Opposition Opposition adalah effek psikologis sebagai akibat dari pengambilan gambar yang kurang teliti. Misalnya penonton menjadi ragu terhadap apa yang dilihatnya di layar televisi. Atau istilah teknisnya ada kesan jumping yang mengakibatkan timbulnya pertentangan dalam diri penonton. Misalnya kesalahan menempatkan kamera yang melampaui garis imajiner dalam pengambilan dua orang yang sedang berdialog, mengakibatkan penonton ragu untuk menentukan siapa yang menjadi lawan bicara, karena kedua-duanya 47


Media Televisi

mempunyai arah pandang yang sama. Untuk itu seorang pengembang program, baik penulis naskah maupun pelaksana produksi harus hati-hati melakukan tugasnya. Penulis naskah harus jelas menentukan apa sebenarnya yang harus diperlihatkan kepada penonton, dan pelaksana produksi harus tepat dalam menggunakan teknik-teknik produksinya.

7. Tins Warna pada pesawat televisi dapat berubah-ubah, sehingga sulit untuk menentukan warna aslinya. Kadangkadang hal ini dapat mengarahkan penonton kepada konsepsi warna yang salah, terlebih lagi pada pesawat televisi yang masih hitam putih. Misalnya Anda akan memperlihatkan perbedaan asam dengan basah menggunakan lakmus, maka warna yang timbul adalah merah biru. Akan tetapi pada TV hitam putih warna tersebut tidak terlihat perbedaannya karena intensitasnya relatif sama. Oleh karena itu apabila Anda ingin menyajikan informasi yang berhubungan dengan warna (terlebih lagi yang menuntut akurasi yang tinggi) sebaiknya harus dilakukan dengan hati-hati, bila perlu Anda dapat meng-gunakan audio atau tulisan untuk mengatasinya. Atau menyarankannya untuk menggunakan media film, karena warna pada film lebih akurat dan bersifat permanen (tetap).

48


Media Televisi

8. Setting Setting adalah latar atau tempat dimana suatu peristiwa atau kejadian terjadi. Setting mempunyai peranan yang sangat penting untuk memperjelas suatu informasi. Misalnya Anda ingin menjelaskan kegiatan seorang sekretaris dengan latar sebuah dapur, apa kira-kira yang terekam di benak penonton? Atau Anda ingin menjelaskan cara kerja piston sebuah mobil, tetapi dengan latar bengkel sepeda. Apa yang terjadi terhadap pesan yang akan disampaikan. Meskipun kita dapat mengatakan hal itu boleh-boleh saja, namun akan lebih bermakna bila Anda memilih latar yang sesuai dengan pesan yang akan disampaikan. Menjelaskan kegiatan seorang sekretaris dengan sebuah ruangan kantor yang dilengkapi dengan pesawat telepon dan propertis lainnya yang lazim digunakan seorang sekretaris. Sedangkan bila hendak menjelaskan cara kerja piston sebuah, maka ada baiknya latar yang Anda gunakan adalah mesin sebuah mobil yang sedang diperbaiki. Untuk memudahkan mengingat kriteria di atas dapat Anda gunakan jembatan keledai FASTDOTS seperti di bawah ini. F : Fine details A : Area lost S : Size information T

: Third demension 49


Media Televisi

D : Distraction O : Opposition T : Tins S : Setting

9. Format Layar Televisi Format layar televisi pada umumnya memiliki perbandingan 3 : 4 . Dikatakan pada umumnya, karena dalam perkembangan teknologi pesawat televisi akhir-akhir ini telah muncul pesawat televisi dengan format layar 2 : 3 (sama seperti format film). Meskipun demikian pada liputan kamera masih tetap menggunakan format 2 : 3. Bagi seorang pengembang program televisi, mengetahui format layar televisi adalah suatu keharusan. Hal ini berkaitan degan ketepatan dalam penataan setting dan pembuatan grafis pada televisi. Tanpa mengetahui format layar televisi ada kemungkinan setting yang kita buat terlalu rendah, sehingga timbul kesulitan pada saat pengambilan gambar.

Gambar 12 : Format layar televisi

50


Media Televisi

Demikian juga halnya dalam pembuatan grafis, ada kecenderungan banyak ruang yang kosong, karena grafis yang dibuat bukan untuk format layar televisi melainkan untuk format film.

10. Media Televisi Adalah Medium Size Meskipun saat ini layar televisi sudah ada yang berukuran di atas 60 “, akan tetap terasa kurang efektif jika dalam tayangannya terlalu banyak memperlihatkan “wide shot� atau shot-shot yang bersifat kolosal. Sesuai dengan karakteristik fisiknya, memperbanyak penyajian gambar dalam ukuran Medium Close-Up (MCU), akan lebih baik dibandingkan dengan penyajian yang bersifat kolosal. Oleh karena itu pula media televisi disebut media yang akrab dengan penontonnya. Sebab sajian gambar dalam bentuk MCU membuat seakanakan penonton berdialog dengan gambar yang dilihatnya. Selain itu, hal ini juga dimaksudkan untuk mengatasi keterbatasan layar televisi yang berukuran kecil.

11. Layar Televisi Bukan Pentas Drama Berbeda dengan mempergelarkan acara dipentas, suasana yang dihadirkan pada layar televisi harus mencerminkan suasana yang diharapkan oleh sebagian besar penonton. Oleh karena itu seorang penulis naskah harus mampu membaca selera sebagian besar penontonnya. 51


Media Televisi

Maksudnya begini !!! Apabila kita menonton acara di pentas, kita akan melihat penampilan seluruh pemain yang hadir di pentas saat itu. Selanjutnya apabila kita tertarik pada salah seorang pemain, secara sepontan perhatian kita pusatkan pada pemain tersebut, dan mengabaikan pemain yang lain. Artinya ketertarikan penonton pada salah seorang pemain ditentukan oleh penonton itu sendiri. Bukan penata lakunya. Berbeda halnya dengan tayangan di televisi, ketertarikan penonton pada seorang pemain ditentukan oleh penulis naskah atau sutradara yang memproduksinya. Contohnya, meskipun sebagian besar penonton tertarik pada penampilan si A, kita tidak bisa berharap bahwa pada shot berikutnya si A yang tampil dalam bentuk CU. Bisa saja yang di CU adalah wajah si B atau si C. Nah, apabila hal ini terjadi, maka hilanglah minat penonton pada program yang kita buat. Oleh karena itulah dianjurkan agar seorang penulis atau sutradara harus mampu membaca selera sebagian besar penontonnya.

13. Bahasa Visual Media televisi adalah media yang mengutamakan unsur visual dalam menyajikan informasi. Ini artinya penggunaan bahasa visual lebih dominan dibandingkan dengan penggunaan bahasa verbal. Oleh karena itu seorang pe-nulis naskah televisi harus menyadari hal 52


Media Televisi

ini, dan menjadikannya sebagai prinsip dalam penulisan naskah. Dengan demikian penggunaan bahasa vebal (narasi) diperlukan hanya untuk memperjelas bagian-bagian yang tidak dapat diungkapkan secara visual atau melengkapi visualisasi yang ada. Bukan sebaliknya. Misalnya, Anda memvisualkan sebuah mangga, maka secara fisik terlihat bentuknya, besarnya, dan warnanya, atau mungkin ciri-ciri fisik yang lain. Akan tetapi dari tayangan tersebut tidak diketahui bagaimana rasanya. Nah, untuk melengkapi kekurangan inilah perlu ditambahkan unsur narasi, dengan tujuan lebih memperjelas atau melengkapi materi yang akan disampaikan.

53


Media Televisi

Struktur Sebuah Film

B

Bab 5

ercerita dengan kamera adalah judul yang dibuat untuk menjelaskan kepada pembaca

bahwa pembuatan sebuah film atau program televisi pada hakekatnya suatu kegiatan memindahkan objek ke dalam dimensi ruang yang terbatas, yaitu layar televisi yang memiliki format 3 berbanding 4 dengan menggunakan kamera. 54


Media Televisi

Proses pemindahan objek tersebut selain harus memenuhi struktur sebuah film atau program televisi, juga harus menggunakan bahasa televisi yang melipti bahasa shot, bahasa pergerakan kamera, serta memperhatikan masalah kontinuitas. Baik kontinuitas gambar maupun kontinuitas suara.

Struktur Sebuah Film Menyusun sebuah film atau program televisi tidak berbeda dengan menyusun sebuah buku. Bila seorang penulis buku membangun ceritanya dari kumpulan kata-kata menjadi kalimat. Kalimat dihimpun mejadi bab, kemudian babdemi bab disusun menjadi satu kesatuan yang menghasilkan satu cerita yang utuh. Demikian pula halnya dengan sebuah film atau program televisi. Bila kita melihat sebuah film atau program televisi sebenarnya kita melihat suatu kesatuan gambar yang dibangun melalui kumpulan dari shot-shot, scene, sekwens menjadi totalitas yaitu sebuah cerita yang utuh. Selanjutnya kumpulan shot-shot, scene, sekwens dan totalitas inilah yang disebut struktur sebuah fim. Nah, untuk lebih jelasnya bagaimana sebuah film atau program televisi dibangun, maka ada baiknya bila kita mengenal lebih dulu apa yang disebut shot, scene, sekwens dan totalitas tesebut. 55


Media Televisi

SHOT Shot adalah suatu peristiwa yang direkam oleh kamera tanpa intrupsi, dimulai dari tombol kamera ditekan sampai pada saat tombol kamera dilepas kembali. Ini berarti panjang suatu shot tergantung pada lamanya tombol kamera ditekan. Namun demikian ada baiknya bila satu shot dibuat tidak terlalu pendek (singkat) dan tidak pula terlalu panjang (lama). Hal ini untuk menghindari munculnya kendala teknis pada saat melakukan editing. Selain itu juga untuk memenuhi kriteria sebuah film, yaitu sebagai kumpulan dari shot-shot, scene, sekwens yang membentuk totalitas. SCENE Scene adalah gabungan dari beberapa shot yang menimbulkan satu pengertian yang utuh. Pengertian tersebut bisa sempit dan bisa luas. Hal ini tergantung dari banyaknya shot dalam satu scene. Bila dilihat dari keseluruhan cerita (totalitas), scene merupakan bagian terkecil dari sebuah cerita/film atau program televisi. Namun karena harus mengandung satu pengertian yang utuh, maka membangun satu scene sama seperti membangun sebuah kalimat yang terdiri dari awal, pengembangan atau pemaknaan, dan akhir atau bagian penutup.

56


Media Televisi

SEKWENS Bila sebuah scene dibangun dari shot-shot, maka sebuah sekwens dibangun dari beberapa scene secara logis dan memiliki arti sesuai tuntutan cerita. Seperti pada scene sekwens juga terdiri dari awal, pemaknaan, dan akhir. Adapun yang membedakan antara scene dengan sekwens adalah cakupan pengertian yang dimiliki. Sekwens mengandung pengertian yang lebih luas dari scene. Ibarat sebuah buku sekwens sama dengan bab, sedangkan scene adalah bagian-bagian dari bab. Atau dengan kata lain scene disebut premis minor sedangkan sekwens disebut premis mayor.

TOTALITAS Totalitas adalah gabungan dari beberapa sekwens yang meghasilkan satu cerita yang utuh; dan selanjutnya disebut sebuah film atau program televisi. Secara keseluruhan sebuah film atau program televisi dapat dikatakan sebagai rangkaian panjang suatu proses yang dimulai dari membuat shot-shot yang bermakna, kemudian menggabungkan shot-shot tersebut menjadi satu pegertian yang utuh yang disebut scene. Scene demi scene digabungkan dan menghasilkan sekwens yaitu satu pengertian yang lebih luas dari scene. Selanjutnya sekwens demi sekwens digabungkan dan menghasilkan yang disebut totalitas, yaitu sebuh cerita film atau program televisi yang utuh. 57


Media Televisi

Berikut ini adalah gambar struktur dari sebuah film atau program televisi yang terdiri dari shot-shot, scene, sekwens dan totalitas.

Adapun yang perlu diperhatikan dalam membangun sebuah cerita film atau program televisi adalah jumlah atau banyaknya shot, scene, dan sekwens harus proporsional, yaitu jumlah shot lebih banyak dari scene, jumlah scene lebih banyak dari sekwens. Khusus untuk sekwens harus lebih dari satu. 58


Media Televisi

Bab 6 Bahasa Televisi

A

pabila Anda seorang Pengarah Acara atau sutradara mempergunakan bahasa sehari-hari dalam

memproduksi suatu program televisi, maka dapat dibayangkan betapa panjang dan beragam kalimat yang Anda gunakan untuk memberi perintah kepada crew (kerabat produksi) yang bekerja pada saat itu. 59


Media Televisi

Bukan hanya itu, betapa panjang pula waktu yang Anda habiskan untuk menyelesaikan satu program, karena waktu Anda habis untuk menjelaskan kembali setiap perintah yang Anda berikan. Tentu Anda tidak setuju dengan hal-hal tersebut bahkan tidak menginginkan hal itu terjadi dalam pekerjaan Anda. Nah, agar hal itu tidak tejadi, Anda membutuhkan satu cara yang efisien dan efektif dalam memberi perintah dan dilaksanakan tanpa interpretasi ganda. Cara tersebut dapat Anda lakukan dengan menggunakan bahasa televisi. Yaitu bahasa yang secara universal diketahui oleh seluruh kerabat kerja produksi. Baik itu di dalam maupun di luar negeri. Adapun bahasa televisi yang dimaksud meliputi bahasa shot, bahasa pergerakan kamera, dan bahasa penyutradaraan. Namun untuk memudahkan Anda memahami berbagai bahasa tersebut, Anda terlebih dahulu harus mengetahui: 1. Nama-nama perlatan yang dipergunakan dalam kegiatan produksi, seperti: video tape recorder (VTR), kamera, monitor, lighting, tripot, microphone, adaptor dan sebagainya. 2. Nama-nama dari shot, pergerakan kamera, unsur tata cahaya, suara, dan sebagainya. 3. Komando atau perintah yang dipergunakan untuk mengarahkan acara, dan 4. Cara-cara menuliskan berbagai petunjuk teknis pada naskah televisi. 60


Media Televisi

1. Bahasa Shot Kebanyakan gambar pada televisi adalah shot dari orang, dan tidak mengherankan apabila ukuran dasar dari shot-shot yang sering dipergunakan adalah ukuran tubuh manusia. Sebuah acara televisi akan berjalan lancar bila shot-shot yang Anda inginkan dibuat semacam kode tersendiri. Selanjutnya dengan menggunakan kode tersebut komunikasi disampaikan kepada kerabat kerja produksi. Apabila semua kerabat kerja produksi dapat bekerja dengan kode tersebut, maka Anda akan bekerja dengan efisiensi yang tinggi. Nah, dalam istilah pertelevisian kode shot tersebut dinamakan basic shots. Meskipun sesungguhnya istilah-istilah tersebut berasal dari dunia sinematografi. Basic shot adalah shot dasar yang dibangun untuk menampilkan seseorang (subjek) pada ukuran-ukuran (size) tertentu. Dimana setiap ukuran memiliki karakteristik tersendiri. Berikut ini adalah penjabaran dari dari basic shot tersebut.

61


Media Televisi

Gambar 14: Pembagian Shot (basic shot)

Berikut ini adalah bentuk-bentuk tampilan dari setiap shot yang terlihat pada layar televisi. Close Up (CU) Sebuah shot yang memperlihatkan wajah seseorang dalam ukuran penuh. Satu hal yang harus diingat pengambilan dalam bentuk CU memerlukan ketenangan untuk menghindarkan kesan gerak berlebihan. 62


Media Televisi

Medium Close UP (MCU) Shot ini dilakukan apabila Anda ingin menampilkan seseorang dengan ukuran dari dada ke atas. Oleh sebab itu shot ini disebut juga Bust Shot (BS).

Medium Shot (MS) Medium Shot adalah satu bentuk penyajian untuk memperlihatkan seseorang dari batas pinggang ke atas. Satu hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan bentuk MS ini adalah jangan melakukan pemotongan pada bagian-bagian yang dirasakan kurang etis. Misalnya tepat pada pusar. Untuk itu ada baiknya Anda melakukan pemotongan di atas atau di bawah pusar.

Medium Long Shot (MLS) Bila

Anda

mengingikan

penampilan seseorang tampak dengan ukuran sedikit di atas lutut atau di bawah lutut, Anda dapat melakukannya dengan pengambilan yang disebut Medium Long Shot (MLS). 63


Media Televisi

Long Shot (LS) Adalah suatu shot yang bertujuan untuk memperlihatkan penampilan seseorang secara utuh mulai dari kepala hingga kaki. LS sering pula diartikan sama dengan Full Shot (FS), meski sedikit berbeda. Dalam penerapannya di lapangan basic shot di atas mengalami pengembangan sesuai dengan tuntutan kebutuhan, sehingga selain keempat size shot tersebut masih ada size shot lainnya, yaitu Big Close Up (BCU), Extrim Close Up (ECU), Very Long Shot (ELS), dan Extrim Long Shot (ELS). Shot-shot tersebut secara visual dapat digambarkan sebagai berikut:

Big Close Up (BCU) Shot ini merupakan bagian dari CU (Close Up), oleh karena itu ukuran-nya lebih kecil dari CU itu sendiri. Batasan yang pasti tidak ada, akan tetapi diperkirakan mulai dari leher sampai rambut. Satu hal yang perlu diperhatikan, dalam pengambilannya memerlukan ketenangan. 64


Media Televisi

Extrim Close Up (ECU) Tidaklah berlebihan bila shot ini disebut Extrim Close Up, karena gambar yang dihasil-kan pada kenyataannya memang sangat extrime karena terfokus hanya pada bagian tertentu saja. Penyajian visual dengan ECU ini harus dilakukan secara hati-hati dengan memperhatikan prinsip-prinsip visual, khususnya tentang kontinuitas gambar. Sebab bila tidak hati-hati dapat menimbulkan salah persepsi. Misalnya kita ingin menggabungkan dua shot yang berbeda dari seseorang. Shot pertama MCU dan shot ke dua ECU pada mata. Dapat Anda bayangkan apa yang terjadi. Mungkin sebagian penonton mengatakan bahwa mata tersebut milik orang lain. Hal ini terjadi karena dalam penggabungan shot kurang memperhatikan kontinuitas gambar.

Very Long Shot (VLS) VLS adalah suatu shot apabila kita ingin menampilkan seseorang dalam ukuran di atas pengambilan LS. Dengan demikian latar subjek akan terlihat lebih dominan dari subjek itu sendiri.

65


Media Televisi

Extrim Long Shot (ELS) Pada hakekatnya pengambilan dengan Extrime Long Shot tidak lagi menonjolkan siapa subjeknya. Penekanannya lebih pada latar (setting) di mana subjek itu berada, sehingga tidak jarang ELS digunakan untuk establishing shot (shot pembuka). Secara keseluruhan shot-shot yang telah diuraikan di atas dapat kita susun dalam urut-urutan yang baku, mulai dari Extrim Close Up sampai kepada Extrim Long Shot, dan susunan urut-urutan tersebut adalah sbb.

Extrim Close Up Big Close Up

= ECU = BCU

Close Up Medium Close Up

= CU = MCU

Medium Shot Medium Long Shot

= MS (Mid Shot) = MLS

Long Shot Very Long Shot

= LS = VLS

Extrim Long Shot

= ELS

Gambar 15: Jenis-jenis shot dan susunannya

66


Media Televisi

Untuk melengkapi pengetahuan Anda mengenai bahasa shot, selain ukuran (size) shot perlu pula Anda ketahui tentang orientasi ketinggian kamera (sudut pengambilan kamera). Sebab sudut (angle) kamera akan memberikan efek tertentu pada gambar yang dihasilkan. Secara teknis ada tiga sudut pengambilan yang sering digunakan, yaitu low angle, eye level dan high angle. Untuk lebih jelasnya coba Anda perhatikan efek dari ketiga sudut pengambilan tersebut.

Low Angle Shot Adalah sudut pengambilan dengan menempatkan kamera lebih rendah dari subjek. Besar sudut yang dianjurkan tidak melebihi 45째 agar tidak menimbulkan efek yang berlebihan. Sedangkan untuk mendapatkan efek subjek yang berkesan anggun idealnya besar sudut pebagambilan antara 10-30째.

Gambar 16: Posisi Kamera dan Hasilnya

67


Media Televisi

Eye Level Shot Shot ini disebut juga shot yang demokratis, karena posisi kamera ditempatkan sejajar dengan mata subjek (eye level). Dengan posisi yang demikian gambar yang dihasilkan sangat alami (natural). Berikut ini adalah gambar posisi kamera dan hasilnya.

Gambar 17: Posisi Low Angle dan Hasilnya

High Angle Shot Suatu teknik pengambilan gambar dengan menempatkan posisikamera lebih tinggidari subjek.

Gambar 17: Posisi High Angle Shot dan Hasilnya

68


Media Televisi

Sama halnya dengan low angle,besar sudut yang dianjurkan tidak melebihi 45째 agar tidak menimbul-kan efek berlebihan (subjek terkesan kerdil). Sedang besar sudut yang ideal antara 5 - 25째.

2. Bahasa Pergerakan Kamera Bahasa pergerakan kamera adalah bahasa yang digunakan untuk memberi komando kepada kameramen (juru kamera). Namun demikian, bukan berarti hanya kameramen yang perlu memahaminya. Para pengembang program, baik penulis naskah maupun pelaksana produksi (seluruh kerabat kerja produksi) harus memahami bahasa pergerakan kamera ini. Bagi para penulis naskah dengan mengetahui bahasa pergerakan kamera, mereka dapat mengembangkan naskah yang berorientasi lapangan, yaitu naskah yang secara teknis dapat diproduksi. Selain itu para penulis naskah dapat pula berperan sebagai nara sumber, baik dari segi materi maupun dari segi teknis. Bagi para pelaksana produksi, khususnya juru kamera, ia akan bekerja secara efisien, karena perintah yang 69


Media Televisi

diterima tidak memiliki interpretasi ganda. Sedangkan bagi kerabat kerja lainnya dapat memberikan kontribusi yang tepat. Dengan demikian sistem produksi menjadi efisien dan efektif. Bagaimana melakukan peregarkan kamera dan bagaimana pula cara memberikan perintahnya? Untuk melakukan pergerakan dengan baik diperlukan peralatan pendukung yaitu pedestal atau tripod dan dolly. Meskipun kedua jenis peralatan pedestal dan tripod memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai penyangga kamera, namun secara teknis kedua peralatan tersebut berbeda. Pedestal dilengkapi sistem pengatur elektronik dan hidrolik, sehingga mudah dioperasikan. Apabila digunakan untuk melakukan gerakan kamera (camera movement), maka gerakan yang dihasilkan sangat halus (mulus). Hal ini disebabkan unsur hidrolik yang dimilikinya. Namun karena bentuknya yang besar dan membutuhkan tempat yang datar, pedestal hanya digunakan di stodio (lihat peralatan studio).

70


Media Televisi

Gambar 19 : Pedestal

Tripod adalah penyangga kamera dengan sistem manual, karena itu dalam pengoperasiannya harus dilakukan secara hati-hati, khususnya untuk melakukan pergerakan kamera. Bentuknya yang kecil bila dibandingkan dengan pedestal, membuat tripot sangat praktis untuk pengambilan gambar di luar studio (out door); sedangkan untuk penggunaan di studio dapat dikombinasikan dengan dolly, terutama bila ingin melakukan gerakan kamera. 71


Media Televisi

Gambar 20 : Tripod dan dolly

Untuk memudahkan sistem produksi, setiap per-gerakan kamera mempunyai nama yang dikenal secara universal. Adapun nama-nama pergerakan kamera ter-sebut adalah sebagai berikut:

PAN Menggerakkan kamera yang ditempatkan di atas tripod atau pedestal secara horizontal (mendatar). Gerakkan tersebut dapat dilakukan ke arah kanan atau kiri. Untuk itu komando yang diberikan untuk melakukan-nya adalah Pan right atau Pan left.

Gambar 21: Posisi kamera dalam melakukan PAN

72


Media Televisi

Pan right, kamera digerakan ke arah kanan secara perlahan-lahan atau sesuai dengan kebutuhan. Pan right dalam bahasa Indonesia sering dikomandokan dengan PAN-KANAN, sedangkan Pan left menjadi PAN-KIRI. TILT Menggerakkan kepala kamera yang berada di atas tripod atau pedestal dengan gerakan ke atas atau ke bawah. Untuk melakukan gerakan tersebut, komando yang diberikan adalah Tilt-Up untuk gerakan ke atas, dan TiltDown untuk gerakan ke bawah.

Gambar 22: Posisi kamera untuk Tilt-Up dan Tilt Down

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan gerakan tersebut adalah: 1. Jarak antara kamera dengan objek jangan terlalu dekat, terutama untuk objek yang tinggi. Sebab bila terlalu dekat akan menimbulkan distorsi (efek) yang terlalu menyimpang, misalnya bagian bawah objek membesar sedangkan bagian atas mengecil. 73


Media Televisi

2. Diperlukan kehati-hatian dalam melakukan Tilt-Up, terutama bila dilakukan di dalam studio. Sebab besar kemungkinan sinar lampu masuk ke lensa kamera, atau terjadi kebocoran pada bagian atas setting atau dekorasi yang ada.

DOLLY / TRACK Dolly adalah roda yang dipasangkan pada kaki tripod, sehingga kamera dapat didorong mendekati atau menjauhi objek. Gerak kamera mendekati objek (kamera maju) disebut dolly in, sedangkan gerak kamera men-jauhi objek (kamera mundur) disebut dolly out. Istilah lain dari gerakan kamera (dolly) ini adalah TRACK. Track In untuk gerak kamera mendekati objek dan Track Out untuk gerak kamera menjauhi objek. Adapun gambar yang dihasilkan dari gerakan ini adalah suatu perubahan tampilan yang berlangsung secara alami.

Gambar 23 : Gerak kamera menggunakan dolly

74


Media Televisi

Dolly in misalnya, secara perlahan objek terasa mendekat, sedangkan dengan dolly out objek terasa menjauh. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, pada saat melakukan pergerakan kamera dengan dolly, yaitu: • Pada saat kamera bergerak (mendekat atau menjauh), harus di ikuti dengan pengaturan fokus (follow focus). • Bila menggunakan lensa sudut lebar (wide lens) pada saat melakukan gerak mendekat (dolly in) yang terlalu ekstrem, maka bagian-bagian objek yang lebih menonjol ke depan akan menghasilkan efek perbesaran yang ekstrem pula. • Apabila pengambilan gambar dilakukan dengan lensa yang mempunyai sudut kurang dari 20 derajad, harus dilakukan secara hati-hati agar gambar yang dihasilkan tidak goyang.

CRAB atau ARC Istilah ini mungkin sengaja di ambil dari hasil pengamatan terhadap prilaku kepeting yang sedang berjalan, yang jalannya tidak lurus ke depan melainkan bergerak ke samping.

Gambar 24 : Gerak kamera Crab dan Truck

75


Media Televisi

Jadi crab adalah pergerakan kamera yang meniru gerakan kepeting, yaitu menggerakkan kamera menyamping ke kiri atau ke kanan. Untuk itu komando yang diberikan untuk melakukan gerakan tersebut adalah Crab right atau

Crab left. Crab right menggerakkan kamera menyamping ke kanan dengan sedikit melingkar, sedangkan crab left menggerakkan kamera menyamping ke kiri dengan sedikit melingkar. Gerakan tersebut bila diteruskan akan membentuk setengah lingkaran. Istilah lain dari Crab ini adalah ARC, sehingga adakalanya komando yang diberikan berbunyi Arc right atau Arc left. Crab atau Arc ini menpunyai kemiripan dengan TRUCK. Bedanya bila crab atau arc bergerak membentuk setengah ligkaran (lengkungan), sedangkan Truck bergerak membentuk garis lurus.

SWING Swing, intinya adalah melakukan perpindahan gambar dari latar yang satu ke latar lain dalam lokasi yang sama dan ukuran (size) shot yang sama dengan cara menggerakkan (mengayun) kamera secara cepat. Adapun hasil yang diperoleh dari pergerakan kamera dengan teknik swing adalah perpidahan gambar dengan efek garis-garis yang dinamis. 76


Media Televisi

Gambar 25: Posisi kamera untuk swing

Bertambah cepat pergerakan yang dilakukan, maka bertambah dinamis kesan yang ditimbulkan. Agar pergerakan kamera dapat berlangsung dengan baik, gerakan harus dilakukan dengan menggunakan tripot.

PEDESTAL Pedestal sendiri sesungguhnya adalah sebuah alat penyangga kamera yang dilengkapi sistem hidrolik dan dikendalikan secara elektrik. Sebagai penyangga kamera, pedestal bisa ditinggikan (dinaikkan) dan bisa direndahkan (diturunkan). Sehingga dengan kemampuan yang demikian, sangat efektif bila digunakan untuk pengambilan gambar yang menuntut perubahan posisi kamera dari rendah (low) ke tingggi (high) atau sebaliknya. Penggunaan pedestal sendiri, secara murni hanya mengatur tinggi rendahnya kamera dengan sudut 180째 atau mendatar. Namun karena dalam pengambilan gambar 77


Media Televisi

kepala kamera selalu diarahkan kepada pusat perhatian (center of interes), mengakibatkan penggunaan pedestal juga diartikan untuk keperluan pengaturan sudut kamera, yaitu HIGH ANGLA, LOW ANGLE, dan EYE LEVEL. Adapun perintah atau komando yang diberikan untuk melakukannya adalah PEDESTAL UP, PEDESTAL DOWN. Pedestal Up, ini berarti secara perlahan-lahan kamera ditinggikan, sementara pusat perhatian (center of focus) tetap dipertahankan. Pedestal Down, kamera diturunkan secara perlahanlahan dengan tetap memper-tahankan “center of focus� nya.

Gambar 26 : Pedestal yang dilengkapi sistem hidrolik.

Di atas telah disinggung sedikit mengenai sudut kamera yaitu: high angle, low angle, dan eye level. Juga telah diuraikan sedikit keterkaitannya dengan penggunaan pedestal. 78


Media Televisi

Untuk itu ada baiknya bila kita juga melihat lebih jauh mengenai sudut kamera tersebut serta efek-efek yang ditimbulkannya. Sudut kamera pada intinya adalah pengaturan posisi kamera terhadap tinggi subjek (orang). Dengan memperhatikan tinggi subjek (orang) tersebut ditentukan tiga posisi (high angle, low angle, dan eye level) yang secara teknis setiap posisi akan menampilkan efek yang berbeda satu dengan lainnya. Adanya perbedaan efek tersebut patut kita antisipasi agar pesan yang kita sampaikan tidak keluar dari tujuannya.

Gambar 27 : Sudut kamera terhadap subjek.

Sudut kamera yang baik adalah sudut kamera yang menghasilkan gambar yang wajar (hasilnya tidak menimbulkan distorsi atau efek yang berlebihan). Besar sudut 79


Media Televisi

tersebut berkisar antara 30-45°. Apabila sudut kamera lebih besar dari 45°, maka akan dihasilkan efek gambar yang tidak wajar. Berikut ini adalah ilustrasi hasil yang ditimbulkan oleh sudut kamera yang melebihi 45°.

Low Angle Untuk pengambilan low angle dengan sudut kamera 45° maka gambar yang dihasilkan akan terlihat kurang wajar, misalnya terkesan horor, angkuh dan sebagainya (negative expression).

High Angle Demikian juga halnya dengan pengambilan high angle, bila sudut kamera yang digunakan > 45°, maka gambar yang dihasilkan akan menimbulkan efek tertentu, misalnya orang tampak terkesan kerdil dan sebagainya. Adapun perintah atau komando yang digunakan untuk melakukannya adalah kamera “high” atau kamera “low”. Kamera high, berarti posisi kamera ditinggikan melebihi ketinggian subjek; sedangkan kamera low, berarti kamera 80


Media Televisi

diturunkan lebih rendah dari subjek. Satu hal yang membedakan “sudut kamera” dengan “pedestal” adalah pengaturan sudut kamera dilakukan dalam posisi kamera OFF, sedangkan perubahan ketinggian kamera dengan pedestal dilakukan dalam posisi kamera ON.

ZOOM Zoom adalah proses pengubahan besar sudut lensa yang mengakibatkan perubahan pada ukuran (size) shot sesuai dengan karakteristik sudut yang diinginkan (zoom in atau zoom out), tampa melakukan pergerakan fisik kamera. Zoom in, adalah perubahan besar sudut kamera dari normal (45°) ke sudut yang lebih kecil dari 45°. Sebagai akibatnya subjek terasa semakin mendekat atau bertambah besar dari ukuran semula. Sedangkan zoom out perubahan besar sudut kamera dari normal (45°) menjadi lebih besar dari (45°), dan sebagai akibatnya subjek terlihat bertambah jauh atau bertambah kecil dari ukuran semula. Jadi zoom in dan zoom out adalah perubahan besar sudut kamera dari nomal menjadi lebih kecil atau lebih besar. Zoom sesungguhnya bukan pergerakan kamera, sebab secara fisik kamera tidak bergerak. Dalam hal ini yang berubah adalah susunan struktur lensa dari normal ke tele, atau dari normal ke wide. Namun karena secara teknis memang terjadi perubahan tampilan gambar, maka zoom 81


Media Televisi

sering dimasukkan ke dalam pergerakan kamera. Adapun komando atau perintah untuk melakukannya, yaitu ZOOM-IN atau ZOOM-OUT. Zoom in berarti sudut kamera menyempit atau mengecil; sedangkan zoom out berarti sudut kamera melebar atau bertambah besar. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam penggu-naan zoom adalah perubahan latar belakang subjek yang kurang alami (terasa dipaksakan). Berikut ini adalah ilustrasi efek yang ditimbulkan Zoom bila dibandingkan dengan Dolly atau Track.

Gambar 30 : Perbedaan efek dolly atau track dengan zoom.

Dari ilustrasi di atas terlihat, meskipun subjek (hasil liputan) terlihat sama; namun latar belakangnya berbeda. Latar belakang yang dihasilkan oleh zoom lebih luas dibandingkan hasil yang dilakukan melalui track atau dolly. Perbedaan tersebut akan terlihat lebih ekstrem lagi bila sudut lensa diperbesar (bertambah besar sudut lensa bertambah ekstrem perbedaan yang dihasilkan). 82


Media Televisi

Bab 7

Kontinuitas Dalam Sebuah Film

P

ada bab sebelumnya telah dibahas mengenai

struktur sebuah film dan bahasa televisi yang terdiri dari bahasa shot dan bahasa pergerakan kamera. Dari ke dua hal tersebut kita telah mengetahui. bagaimana sebuah film atau program televisi dibangun dan bagaimana perintah atau komando diberikan pada saat melakukan produksi. 83


Media Televisi

Berikut ini untuk melengkapi kedua hal tersebut akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan kontinuitas sebuah film atau program televisi. Baik itu kontinuitas gambar maupun kontinuitas melalui suara. Kontinuitas adalah kesinambungan pesan yang dibangun melalui kaidah-kaidah sebuah film atau program televisi, sehingga pemaparannya menjadi logis. Kaidah-kaidah tersebut meliputi kontinuitas gambar yang terdiri dari: kontinuitas arah, penggabungan shot-shot dan perpindahan shot; sedangkan kontinuitas suara melipiti: penggunaan vokal (prolog, dialog, dan naratif), penggunaan musik dan penggunaan sound effect.

KONTINUITAS GAMBAR 1. Kontinuitas Arah Pengambilan sebuah shot selain memperhatikan size shot yang di inginkan juga harus memperhatikan kemungkinan shot-shot tersebut dapat digabungkan dengan shot-shot lainnya. Untuk itu masalah kontinuitas arah menjadi penting untuk diperhatikan. Kontinuitas arah pada hakekatnya untuk menjaga agar penggabungan antara shot yang satu dengan shot lainnya memberikan makna yang jelas bagi penonton (tidak membingungkan). 84


Media Televisi

Dapat Anda bayangkan, apa yang terjadi bila dua shot orang yang sedang berdialog terlihat dengan arah pandang yang sama. Atau penggabungan beberapa shot orang yang sedang menuju ke suatu tempat bukan mem-beri arah yang sama (kontinum), melainkan meberi kesan seperti orang yang kebingungan karena terkesan bolak-balik, dan sebagainya. Persoalan di atas sesungguhnya adalah persoalan teknis dalam pengambilan gambar yang mengakibatkan shotshot yang dibuat tidak dapat digabungkan satu sama lainnya. Dalam pengambilan gambar ada yang disebut garis imaginasi, yaitu garis yang berfungsi untuk memberikan batasan dalam melakukan penempatan kamera dan menentukan koninuitas gambar. Garis tersebut membentuk garis lurus searah dengan arah pandang subjek.

Gambar 31: Garis imaginasi untuk pengambilan seseorang

85


Media Televisi

Dengan demikian posisi atau letak garis tersebut dapat berubah-ubah sesuai dengan perubahan posisi dan arah pandang subjek. Bagaimana dengan orang yang sedang berdialog (two shot). Untuk orang yang sedang berdialog garis imaginasi ditentukan sesuai dengan arah pandang kedua orang tersebut (arah pandang komunikasi dua arah). Perhatikan gambar berikut ini.

Gambar 32: Garis imaginasi untuk 2 orang yang berdialog

Bagaimana menentukan garis imaginasi, bila ada sekelompok orang yang sedang berdialog. Misalnya tiga orang atau dalam suasana kelas. Perhatikan gambar berikut ini.

86


Media Televisi

Gambar 33: Garis imaginasi untuk three shot

Gambar 34: Garis imaginasi untuk situasi kelas

Cara menentukan garis imaginasinya, pada prinsipnya sama dengan menentukan garis imaginasi orang berdialog (berkomunikasi). Untuk tiga orang misalnya, garis imaginasi bisa berada pada A dan B; B dan C; atau A dan C. Sedangkan untuk situasi kelas bisa ditentukan antara pengajar dan kelompok belajar. 87


Media Televisi

Baiklah, kita telah membicarakan “apa itu garis imaginasi� dan “bagaimana cara menentukannya dalam berbagai situasi�. Selanjutnya dengan bantuan garis imaginasi kita akan menetukan posisi kamera. Coba perhati-kan gambar berikut ini.

Gambar 35: Penempatan kamera dan hasil yang ditimbulkan

Posisi kamera adalah posisi dimana kita menempatkan kamera pada saat pemgambilan gambar. Posisi tersebut harus ditentukan setelah kita menentukan garis imaginasi subjek . Penempatan kamera harus mengambil salah satu sisi dari garis imaginasi dan dilakukan secara konsisten. Sedangkan untuk pergerakan kamera tidak boleh lebih dari 180( atau 88


Media Televisi

melewati garis imaginasi. Apabila ketentuan ini dilanggar, maka hilanglah kontinuitas gambar yang diinginkan. Perhatikan gambar berikut ini.

Gambar 36: Efek penempatan kamera yang melewati garis imaginasi

Perhatikan hasil liputan kamera 1 pada B dan kamera 2 pada A. Hasilnya A dan B tampak berhadap-hadapan (berdialog). Sedangkan hasil liputan kamera 3 terhadap B yang ditempatkan melewati garis imaginasi, meghasilkan gambar yang searah dengan hasil liputan kamera 1 terhadap A (tidak berdialog). Bagi para pelaksana produksi pemula, menentukan garis imaginasi perlu kehati-hatian, sebab apabila terjadi kesalahan maka hasil liputan yang dilakukan tidak bisa 89


Media Televisi

di edit (digabungkan). Untuk membantu menentu-kan garis imaginasi dan posisi kamera dapat menggunakan cara-cara yang sederhana. Misalnya pada saat awal pengambilan gambar seseorang, perhatikan telinga mana yang tampak dari posisi kamera tersebut. Apabila yang tampak adalah telinga kiri, maka posisi kamera selanjutnya tetap memperlihatkan telinga kiri orang tersebut, seperti pada saat awal pengambilan gambar. Menentukan garis imaginasi tidak saja berlaku pada manusia, tetapi juga untuk menciptakan kontinuitas arah pada objek.

Gambar 37: Penempatan kamera yang melanggar garis imaginasi

Misalnya, liputan untuk kegiatan balap mobil, balap sepeda, lari maraton, pacuan kuda, pertandingan sepak bola, gerak jalan, atau kegiatan lain yang menuntut kejelasan arah gerakan. Coba Anda perhatikan gambar berikut ini. 90


Media Televisi

Gambar 38: Hasil penempatan kamera yang salah

Gambar di atas memperlihatkan penempatan posisi kamera yang salah (melewati garis imaginasi), dan hasil liputannya akan memperlihatkan gambar sebagai berikut. Seharusnya, bila garis lengkung A dan B kita tentukan sebagai garis imaginasi; dan posisi kamera 1 sebagai shot awal; maka untuk menghasilkan kontinuitas arah, posisi kamera 2 seharusnya berada pada sisi yang sama pula. Dengan demikian gambar yang dihasilnya akan tampak sebagai berikut.

Gambar 39: Hasil penempatan kamera yang benar

91


Media Televisi

Bagaimana halnya dengan pertandingan sepak bola?. Berikut ini adalah gambar penempatan posisi kamera dalam peliputan pertandingan sepak bola.

Gambar 40 : Posisi kamera dalam peliputan sepak bola

Garis imaginasi dibuat dari gawang yang satu ke gawang lainnya. Selanjutnya semua kamera yang dipergunakan (kamera 1, 2, 3, dan 4) ditempatkan pada salah satu sisi garis imaginasi. Sebab bila tidak demikian, penonton akan kebingungan melihatnya, karena setiap pemain tanpak seakan-akan berusaha memasukkan bola ke gawangnya sendiri.

2. Penggabungan Shot Membuat sebuah film atau program televisi pada dasarnya adalah kegiatan menggabungkan shot-shot yang yang ada. Namun demikian, bukan berarti bahwa setiap shot yang digabungkan dapat disebut sebuah film. 92


Media Televisi

Agar penggabungan setiap shot menghasilkan kontinuitas yang baik dari sebuah film atau program televisi; maka penggabungan tersebut harus memperhatikan hal-hal berikut:

1) Size Shot Memperhatikan size shot merupakan salah satu faktor yang menentukan untuk menghasilkan sebuah film atau program televisi yang baik. Sebagaimana diuraikan di atas (lihat basic shot), size shot merupakan bentukbentuk tampilan subjek, dimana setiap tampilan memiliki ukuran (size) yang berbeda satu dengan lainnya. Coba Anda perhatikan sekali lagi gambar berikut ini.

Gambar 41: Pembagian shot (basic shot)

93


Media Televisi

Long Shot (LS) misalnya, menampilkan subjek dengan ukuran menyeluruh dari kepala sampai kaki, sedangkan Close Up (CU) dari kepala sampai ke dada, dan seterusnya. Sesungguhnya ukuran-ukuran shot tersebut telah tersusun secara sistematis, mulai dari Close Up (CU) sampai Long Shot (LS), bahkan dengan pengembang-annya mulai dari Ekstrim Close Up (ECU) sampai dengan Ekstrim Long Shot (ELS). Atau dengan kata lain mulai dari ukuran yang sangat luas sampai kepada yang sangat sempit; sehingga besar kemugkinan bila kedua shot tersebut bila digabungkan dengan tidak hati-hati akan memberikan persepsi yang salah atau terasa ada pelompatan (jumping) bagi yang melihatnya. Adanya perbedaan yang demikian inilah yang memerlukan perhatian yang serius dalam menggabungkan setiap size shot yang ada. Setelah Anda perhatikan gambar di atas, coba Anda bayangkan. Andaikata ada dua shot dari orang yang berbeda (satu shot diambil dalam bentuk BCU dan satu shot lagi dalam bentuk LS), mungkinkah kedua shot tersebut dapat di gabungkan? Untuk mendapatkan jawabannya coba perhatikan ke dua shot yang berbeda ukuran dari dua orang yang berbeda berikut ini. 94


Media Televisi

Gambar 42: Dua shot yang berbeda ukuran dari dua orang yang berbeda

Secara teknis kedua shot tersebut dapat saja digabungkan, karena penonton pada umumnya tidak akan mengenali apakah wajah yang ada pada BCU adalah wajah orang ada pada LS. Hal ini karena secara teknis detail wajah pada pengambilan LS tidak telihat secra jelas sementara pada pengambilan BCU detail wajah tampak berlebihan, sehingga bila kedua wajah shot tersebut di gabungkan dalam tempok yang pendek tidak akan terlihat secara jelas, apakah kedua shot tersebut terdiri dari orang yang sama. Penggabungan dua shot yang berbeda secara ekstrem cenderung menimbulkan kerancuan terhadap kontinuitas gambar. Oleh karena itu perlu ketelitian pada saat melakukan penggabungan shot-shot yang ada. Agar kontinuitas gambar tampak alami, pengga-bungan setiap size shot (yang ada dalam basic shot) haruslah memperhatikan kaidah yang berlaku serta dapat diterima 95


Media Televisi

oleh logika sipenonton. Untuk itu sebaiknya penggabungan shot dianjurkan tidak melompati lebih dari tiga size shot. Misalnya dari BCU tidak melebihi MS. Selanjutnya apabila kita mengingingkan perpindahan dari BCU ke LS gunakanlah size transisi yaitu BCU ke MS, kemudian dari MS ke LS. Atau Anda bisa bisa melakukan teknik zoom out, yaitu dari BCU zoom out ke MS kemudian Cut ke LS. Dengan cara demikian kontinuitas gambar akan tampak wajar dan logis. Coba Anda perhatikan ketiga gambar berikut ini secara cermat.

Gambar 43: Menciptakan transisi agar perpindahan dari BCU ke LS tidak lompat (jumping)

Selanjutnya, bagaimana bila penggabungan dilakukan untuk shot-shot yang bukan termasuk dalam kategori basic shot. Apakah kaidah di atas dapat diterapkan? Pada prinsipnya menggabungkan dua shot yang bukan kategori basic shot adalah sama, namun ada hal lain yang perlu diperhatikan yaitu kedudukan objek pada secreen direction untuk menjaga kesinambungan gambar. Dengan 96


Media Televisi

demikian secreen direction dari masing-masing objek, akan berfungsi sebagai penghubung shot pertama dengan shot kedua.

Gambar 44: Menciptakan transisi agar perpindahan dari BCU ke LS tidak lompat (jumping)

Bila kedua gambar di atas adalah dua gambar yang akan digabungkan, maka gambar yang terdapat dalam kotak garis putus-putus merupakan secreen direction dari masing-masing gambar, dan salah satunya dapat dijadikan petunjuk (indikator) untuk menggabungkan kedua gambar tersebut agar tidak jumping. Perhatikan gambar berikut ini.

Gambar 45: Hasil penggabungan dua shot dengan memperhatikan secreen direction

97


Media Televisi

3. Perpindahan Shot Perpindahan shot pada dasarnya adalah perpindahan dari satu shot ke shot lainnya, dari satu scene ke scene lainya, dan dari satu sekuens ke sekuens lainya dengan memperhatikan kotinuitas tertentu. Secara teknis perpindahan-perpindahan tersebut dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik tertentu, dimana setiap teknik secara harfiah meberikan makna yang berbeda satu dengan lainnya. Untuk lebih jelasnya mengenai teknik-teknik perpidahan tersebut, berikut ini akan dibahas satu persatu.

CUT Apabila Anda melakukan perpindahan gambar dari satu gambar ke gambar lain tanpa instruksi berarti Anda melakukan sebuah CUT. CUT dalam suatu rangkaian shot akan menghasil-kan kesan yang dinamis dan cepat. Oleh karena itu CUT banyak digunakan untuk perpidahan dari satu shot ke shot lainnya dalam satu scene untuk menghasilkan suatu pengertian yang utuh. Secara teknis perpidahan gambar dengan teknik CUT to CUT dapat digambarkan sebagai berikut.

98


Media Televisi

Gambar 46: Perpindahan dengan Teknik CUT to CUT

DISSOLVE Dissolve pada intinya adalah perpindahan gambar yang dilakukan secara lambat dan berhimpitan. Karena mempunyai kesan yang agak lambat, dissolve biasanya digunakan untuk menyatakan suatu perbedaan waktu; atau untuk perpindahan dari satu scene ke scene lainnya. Secara teknis perpindahan gambar menggunakan teknik DISSOLVE dapat digambar sebagai berikut.

Gambar 47: Perpindhan gambar dengan teknik DISSOLVE

Dari gambar di atas memperlihatkan, pada saat scene satu mulai menghilang, pada saat itu pula awal scene dua mulai muncul; sehingga sesaat tampah dua gambar saling berhimpitan (double image). 99


Media Televisi

Secara teknis apabila fase berhimpitan (double image) tersebut dilakukan secara perlahan, maka proses perpindahan gambar terasa lambat pula. Dengan kata lain cepat atau lambatnya perpindahan gambar sangat ditentukan oleh waktu pengoperasiannya.

FADE IN - FADE OUT Fade in biasanya digunakan untuk mengawali sebuah program, sedangkan fade out digunakan untuk mengakhirinya. Namun selain itu Fade in-Fade out juga digunakan untuk melakukan transisi dari satu sekwen ke sekwen lainnya. Perbedaannya dengan dissolve adalah perpindahannya memiliki interval lebih panjang dan ada fase blank (kosong) sesaat diantara fade out dan fade in. Secara teknis perpindahan gambar dengan teknik fade out fade in dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 48. Perpindahan dengan teknik Fade out - Fade in

Dalam melakukan fade out-fade in panjang pendek interval sangat tergantung pada waktu yang dibutuhkan. Namun 100


Media Televisi

untuk mendapatkan hasil baik interval tidak terlalu panjang atau telalu pendek. Selain itu fase blank tidak terlalu lama (cukup satu frame saja). Fade in-fade out juga digunakan untuk mebuka (mengawali) dan menutup (mengakhiri) suatu program, sehingga suatu program tampak lebih alami. Ibarat matahari terbit dan terbenam (muncul dari kegelapan dan terbenam dalam kegelapan. Secara teknis fade in-fade out dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 49: Fade in di awal program dan Fade out di akhir program

Secara konseptual perpindahan gambar dilakukan dengan tiga teknik di atas CUT, DISSOLVE, dan FADE OUT - FADE IN. Namun di dalam perkembangannya perpindahan gambar di atas berkembang sesuai dengan tuntutan, terutama dari segi artistiknya. Sehingga dalam dunia sinematek perpidahan gambar tersebut divariasikan dengan berbagai teknik WIPE dan KEY EFFEECT. Dari kedua teknik tersebut ternyata dapat dihasilkan ribuan variasi perpindahan gambar yang siap Anda gunakan sesuai dengan kebutuhan. 101


Media Televisi

WIPE Wipe yang berarti menghapus ternyata telah memberikan inspirasi yang begitu luar biasa dalam dunia pertelevisian. Coba Anda bayangkan bagaimana wiper sebuah mobil menghapus kaca pada saat hujan. Dari suasana rintik-rintik berganti menjadi suasana bening dan dari bening kembali rintik-rintik dan seterusnya. Secara teknis perpindahan gambar dengan teknik wipe ini seperti kita menggeser halaman demi halaman dari setumpuk gambar. Sedangkan pergeserannya dapat dilakukan ke beberapa arah, seperti ke sampimg kiri atau kanan, ke atas atau ke bawah dan, diagonal ke segala arah (empat sudut). Untuk lebih jelasnya coba Anda perhatikan gambar berikut ini.

Gambar 50. Perpindahan gambar dengan teknik wipe.

KEY EFFECT Sama dengan wipe, key effectc pada dasarnya digunakan untuk memberi variasi dalam perpindahan gambar untuk meningkatkan daya tarik program. Oleh karena itu penggunaannya lebih banyak pada bagian-bagian 102


Media Televisi

tertentu, seperti di pembukaan program (opening program), penutup program (closing program), dan pada programprogram yang bukan film. Beberapa contoh yang termasuk key effect ini antara lain: efek album dibuka, efek tulisan yang melayang-layang, efek mosaig, efek kertas digulung, dan efek lainnya yang mencapai ribuan variasi jumlahnya.

103


Media Televisi

Bab 8

Penulisan Naskah Televisi

B

ab ini merupakan salah satu bentuk penerapan

dari pengetahuan yang telah dibahas pada babbab sebelumnya. Dikatakan demikian, kerena sebagian besar konsep dan istilah-istilah yang dipaparkan pada bab sebelumnya akan digunakan dalam penulisan naskah program televisi yang akan dibahas dalam bab ini. 104


Media Televisi

Secara keseluruhan isi bab ini akan meliputi: format program televisi, langkah-langkah penulisan naskah televisi, dan teknik penulisan naskah televisi.

Format Program Televisi Sebuah program televisi dapat menarik perhatian penonton apabila dia merasa, apa yang disaksikannya dapat memenuhi kebutuhannya (menghibur, memperoleh informasi, memberikan kejelasan tentang sesuatu, atau mungkin juga memancing emosi, dan lain sebagainya). Namun tidak jarang pula penonton segera mematikan televisinya, tatkala suatu program baru saja ditayangkan. Dalam hal ini penonton tidak dapat disalahkan, namun yang pasti sebagai penyebabnya adalah program tersebut tidak menarik perhatiannya. Banyak faktor yang menyebabkan sebuah program televisi tidak mampu menarik perhatian penontonnya. Salah satunya yang akan dibahas dalam bab ini adalah ketidak sesuaian format program dengan materi sajian. Oleh karena itu pemilihan format program yang sesuai dengan materi sajian menjadi bagian yang penting dalam menentukan keberhasilan suatu tayangan televisi. Format program tersebut akan tercermin dalam sebuah naskah program televisi. Sebuah program televisi diproduksi berdasarkan naskah yang dikembangkan oleh penulis naskah. Penulis naskah 105


Media Televisi

yang banyak memberikan warna terhadap sebuah program televisi. Penulis naskah jugalah yang memilih format program, sesuai dengan materi sajian. Jadi, dengan kata lain seorang penulis naskah adalah seorang profesional yang memilih dan menentukan format sebuah program televisi, sehingga sesuai dengan materi sajian dan kebutuhan para penontonnya. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan format program televisi? Secara umum yang dimaksud dengan format program televisi adalah “bentuk penyajian materi atau pesan�. Adapun format atau bentuk-bentuk penyajian tersebut, antara lain: format drama, talk-show, berita, demosntrasi, dan sebagainya. Dimana masing-masing format sesuai dengan karateristiknya memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai bentuk penyampaian pesan. Oleh karena itu pemilihan format yang sesuai dengan pesan atau materi sajian menjadi sangat penting artinya. Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing format yang ada.

Drama Format drama adalah format sajian dalam bentuk dramatisasi pesan yang menggunakan alur cerita sebagai dasar penyajiannya. 106


Media Televisi

Format ini mempunyai kekuatan, karena penuturannya menggunakan logika formal yang mudah ditangkap oleh penonton. Hukum sebab-akibat biasanya banyak mewarnai dalam pengembangan ceritanya. Sedangkan kelemahannya adalah, bila penyajiannya terlalu didramatisisir, sering kali menimbulkan pertentangan psikologis dalam diri penonton.

Talk-Show Format yang menggunakan pola berbincang-bincang dalam cara penyampaian pesannya. Sehingga banyak sekali ragam informasi yang dapat dikemas di dalamnya. Karena sifatnya obrolan, kekuatan format ini terletak pada ketepatan dalam memilih tokoh pembicaranya dan aktualitas materi yang sedang diperbincangkan. Sedangkan kelemahannya adalah terkesan verbalistis, meskipun sudah ada upaya menyisipkan visualisasi di dalam perbincangannya.

Berita (News) Format penyajian yang bersifat informatif. Dikatakan demikian, karena format ini diperuntukkan guna menyampaikan informasi secara cepat dan akurat. Secara umum format berita dibagi dalam dua bentuk format sajian, yaitu: sajian langsung dan sajian tunda. Sajian langsung, sajian yang dipancarkan langsung dari tempat kejadian (peristiwa). Sehingga penonton dapat 107


Media Televisi

menyaksikan suatu peristiwa dengan waktu yang bersamaan dengan kejadiannya. Inilah salah satu kekuatan dari sajian langsung ini. Sajian tunda, adalah sajian peristiwa yang peliputannya telah dilakukan sebelumnya. Meskipun demikian, sajian ini tetap menarik karena biasanya telah dilengkapi dengan visualisasi pendukung informasi. Namun demikian harus tetap diperhatikan, agar penundaan tidak dilakukan terlalu lama.

Demonstrasi Format demonstrasi banyak digunakan untuk menyampaikan materi/pesan yang berhubungan dengan aspek keterampilan atau suatu prosedur tertentu. Misalnya, mendemostrasikan cara membuat kerajianan tertentu; atau menunjukkan suatu prosedur melakukan kegiatan tertentu. Kekuatan format ini adalah adanya tuntunan yang sistematis bagi penonton untuk melakukan suatu kegiatan tertentu, sehingga yang berminat dapat melakukannya segera setelah menyasikan suatu program. Berikut ini adalah tabel acuan pemilihan format program sesuai dengan tujuan dan jenis materi/pesan.

108


Media Televisi

No. FORM

TUJUA JENIS

1 Drama

Kogni Konse sikap, 2 Tabel: Pemilihan format program sesuai dengan Tujuan dan Jenis Materi/Pesan

Tabel di atas merupakan acuan untuk menentukan format program sesuai dengan tujuan dan jenis materi/pesan. Namun demikian penggunaan tabel tersebut tidaklah sebagai acuan mutlak. Sebab pada dasarnya masih banyak pertimbangan-pertimbangan lain yang dapat digunakan untuk menentukan format program televisi. Selain itu, format di atas juga barulah sebagian dari format program televisi. Sebab dari setiap format yang di sebutkan di atas, masih dapat dibagi ke dalam format lainnya. Format drama misalnya, masih dibagi menjadi drama klasik, drama komedi, dan lain sebagainya. 109

Takl-S Kogni

Inform motiva 3 Berita

Kogni Inform

4 Demo

Psikom Keter sikap,


Media Televisi

Langkah-Langkah Penulisan Naskah Program Televisi Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa suatu program televisi diproduksi sesuai dengan naskah yang ditulis oleh penulis naskah. Atau dengan kata lain, naskah adalah embrio dari suatu program televisi. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana sebuah naskah program televisi dihasilkan? Untuk menghasilkan naskah program televisi, baik itu untuk kebutuhan pembelajaran, hiburan, maupun informasi lainnya; seorang penulis harus melakukannya dengan langkah-langkah berikut:

Bagan: Langkah-langkah penulisan naskah

1. Mengidentifikasis kebutuhan 2. Merumuskan tujuan 3. Memilih format penyajian 4. Menulis treatments atau garis besar cerita 5. Menemtukan format naskah 6. Menulis naskah 110


Media Televisi

1. Mengidentifikasi Kebutuhan Tahap ini merupakan tahap awal dalam proses penulisan naskah program televisi juga sebagai tahapan yang sangat menentukan, apakah program tersebut akan menjawab kebutuhan penonton atau tidak. Mengidentifikasi kebutuhan berarti melakukan penelusuran terhadap kebutuhan penonton atau target dari program yang akan dikembangkan. Untuk itu ada beberapa pendekatan yang dapat ditempuh, antara lain: penelitian terhadap kebutuhan penonton (bila program yang akan dikembangkan bersifat umum), dan mengidentifikasi kebutuhan kurikulum (bila program yang akan dikembangkan bersifat pembelajaran). Penelitian untuk mengetahui kebutuhan penonton dapat saja dilakukan dengan jajak pendapat. Misalnya, kita ingin mengangkat tema tentang upaya-upaya dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kepada pemirsa ditawarkan tiga pilihan (1) perubahan kurikulum, (2) perubahan strategi pembelajaran, dan (3) perbaikan kualitas SDM (guru dan dosen). Bila dari hasil jajak pendapat, misalnya diperoleh data, bahwa sebagaian besar pemirsa menginginkan perbaikan kualitas SDM sebagai perioritas utama dalam upaya perbaikan mutu pendidikan; maka fokus pengembangan program di arahkan ke “tema� 111


Media Televisi

peningkatan kualitas guru dan dosen. Sehingga semua program yang akan dikembangkan untuk periode waktu tertentu (misalnya selama tiga bulan), akan mengulas tentang upaya-upaya peningkatan kualitas SDM (guru dan dosen). Cara lain untuk menentukan kebutuhan program televisi, dapat pula menggunakan hasil-hasil penelitian yang ada atau berdasarkan rencana yang telah disusun oleh lembaga, baik itu lembaga pemerintah, swasta atau lembaga-lembaga lainnya. Mengindentifikasi kurikulum adalah cara yang khusus digunakan untuk mengetahui kebutuhan program televisi dalam suatu kurikulum. Dari kegiatan identifikasi ini akan diketahui materi mana yang membutuhkan program televisi dan materi mana yang membutuhkan program lain untuk mencapai kompetensinya. Dengan demikian tidak lagi terjadi kesalahan dalam pemilihan media yang sesuai dengan kebutuhan materi pembelajaran tertentu. Kebutuhan program televisi untuk mencapai tujuan atau kompetensi tertentu, mungkin saja terjadi untuk satu lingkup materi yang cukup besar, satu pokok bahasan misalnya; atau hanya bagian kecil dari pokok bahasan, yaitu satu atau dua sub pokok bahasan saja. Sebab pada dasarnya pencapaian satu pokok bahasan 112


Media Televisi

dilakukan dengan menggunakan berbagai metode dan media secara terpadu. Misalnya, ada sub-pokok bahasan yang efektif dicapai dengan media audio, sedangkan sub-pokok bahasan lain-nya menggunakan media televisi atau video, atau menggunakan jenis media lainnya.

Gambar 51: Keragaman Media Dalam Satu Pokok Bahasan

Satu hal yang harus diingat, tidak semua materi tepat atau cocok untuk program televisi. Materi-materi yang perlu dipertimbangkan untuk suatu program televisi adalah materi yang berhubungan dengan proses, prosedural, sikap, faktual, materi yang sifatnya langka, materi yang memiliki risiko tinggi bila siswa berhadapan langsung dan materi yang membutuhkan aspek visual (sangat tergantung) dalam pencapaian kompetensi atau tujuannya. 113


Media Televisi

2. Merumuskan Tujuan Program Apabila kebutuhan suatu program televisi sudah di tetapkan, maka langkah selanjutnya adalah merumuskan tujuan yang akan dicapai dari program yang akan dikembangkan. Merumuskan tujuan, agar target yang akan dicapai siswa setelah menonton tayangan program dapat terukur dan perubahan tingkah laku yang diharapkan, nantinya harus dapat diamati, bila siswa menerapkan apa yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Merumuskan tujuan program televisi sama halnya dengan merumuskan tujuan instruksional khusus (TIK) dalam kegiatan pembelajaran. Perumusan tujuan haris mengandung unsur A, B, C. D di dalamnya. (A) adalah audience atau siswa yang akan menggunakan program; (B) adalah behaviour atau perubahan tingkah laku yang diharap-kan setelah siswa menonton program; (C) adalah condition yaitu kondisi yang diperlukan dalam pengukuran hasil belajar siswa, dan (D) adalah degree atau tingkat keberhasilan siswa yang diharapkan. Dari ke empat unsur yang ada, dua diantaranya (A) dan (B) adalah dua unsur yang mutlak harus ada, sedangkan (C) dan (D) adakalanya dapat diabaikan. Berikut ini adalah contoh perumusan tujuan program televisi. 114


Media Televisi

Mata Pelajaran Sasaran

: Biologi : Siswa SMP Kelas I / Semester 1

Judul Program Tujuan Program

: Budidaya Bekicot :

Setelah menyaksikan tayangan Program yang berjudul Budidaya Bekicot, siswa SMP Kelas I/semester 1 dapat menerapkan perisip-prinsip budidaya bekicot bila diberi kesempatan berpraktek di sekolah dengan benar. Selanjutnya tujuan program inilah yang menjadi acuan dalam pengembangan naskah program televisi. Mulai dari memilih format penyajian, menulis treatments atau garis besar cerita, menentukan format naskah (penulisan), sampai kepada kegiatan menulis naskah.

3. Memilih Format Penyajian Format penyajian adalah bentuk penyajian pesan yang dipilih oleh penulis naskah (pengembang program) berdasarkan kesesuaian materi dengan tujuan, karakteristik sasaran, dan biaya yang tersedia. Meski masih ada pertimbangan lain, namun yang utama adalah ketiga hal yang disebutkan di atas. Tujuan program menjadi dasar pertama dalam memilih format penyajian. Target yang akan dicapai yang tercermin dalam kata kerja yang digunakan merupakan salah satu indikator untuk menentukan format penyajian yang akan digunakan. Format untuk tujuan “dapat menjelaskan� tentu akan beda bila tujuannya 115


Media Televisi

menuntut kemampuan “dapat menerapkan”. Untuk tujuan pertama (dapat menjelaskan), format sajian berupa “Talk Show” mungkin sudah cukup untuk digunakan. Akan tetapi untuk tujuan yang kedua (dapat menerapkan), format sajian berupa “Talk Show” tidak akan dapat mecapai target tersebut. Format yang cocok misalnya format “Demonstrasi” atau format cerita yang memaparkan proses atau prosedur untuk melakukan sesuatu. Sasaran program atau audience yang menjadi target program juga akan menjadi pertimbangan dalam memilih format penyajian. Bagi audience yang tingkat kemampuannya relatif tinggi, format penyajian bukanlah hal yang utama bagi mereka. Mereka lebih tertarik kepada aktualitas materi ketimbang format penyajiannya. Dengan kata lain “isi lebih utama dari kemasannya”. Ini artinya, format penyajian apapun yang digunakan selalu cocok bagi mereka. Lain halnya dengan audience yang kemampuannya relatif rendah. Motivasi belajar rendah dan kurang tertarik dengan proses belajar yang terlalu serius. Bagi mereka yang berada dalam kelompok ini, memilih format penyajian program menjadi sangat penting. Sebab, bila tidak menarik jangan berharap mereka akan bertahan untuk menonton program sampai habis. Atau mereka menganggap program yang sedang dilihatnya 116


Media Televisi

adalah sesuatu yang membosankan yang tidak perlu disimak atau ditanggapi secara serius. Bila sudah demikian, maka tidak ada arti dari program yang dikembangkan. Dari hasil pengamatan di lapangan, bagi mereka yang memiliki kemampuan rata-rata ke bawah, format penyajian yang relatif sesuai adalah format drama. Atau format-format penyajian yang bertutur dengan logika formal, atau yang menggunakan hukum sebab-akibat. Misalnya, mengapa hujan turun? Hal ini harus dijelaskan dengan logika sederhana yang bisa diterima oleh akal pikiran mereka. Biaya produksi juga akan menjadi pertimbangan yang ketiga. Meskipun kurang lazim, namun kerapkali naskah yang begitu bagus harus berhenti sampai di naskah saja. Tidak pernah terwujud menjadi sebuah program televisi. Bila sudah demikian, semuanya menjadi sia-sia. Seperti kata pepatah “arang habis besi binasa�. Semuanya disebabkan karena besarnya biaya produksi, dibandingkan dampak yang akan ditimbulkannya. Oleh karena itu, bagi para penulis naskah harus dapat memperkirakan, apakah naskah yang ditulisnya dapat diproduksi dengan standar biaya tertentu, atau tidak? Bila tidak, maka sudah sepatutnya perlu mempertimbangkan format penyajian yang lain. 117


Media Televisi

Untuk judul program “Budidaya Bekicot”, dengan kolompok sasaran siswa Kelas I SMP semester satu, maka format program televisi yang relatif sesuai adalah fomat cerita.

4. Menulis Treatments (Garis Besar Cerita) Banyak cara yang dapat dipilih untuk memulai suatu cerita, khususnya yang berkaitan dengan materi pelajaran. Sama halnya dengan memulai suatu pelajaran, banyak cara yang dapat digunakan guru untuk memulai pengajarannya, maka demikian juga halnya dengan cara bercerita. Suatu cerita bisa dimulai dari masalah dan berakhir dengan penyelesaian masalah. Atau dimulai dari temuan dan diakhiri dengan mengurai temuan tersebut (induktif ke deduktif) atau sebaliknya. Bila cara bercerita sudah ditetapkan, apakah akan dimulai dari masalah dan berakhir dengan penyelesaian masalah; atau dimulai dari temuan dan diakhiri dengan mengurai temuan tersebut atau sebaliknya, maka langkah selanjutnya adalah menulis “treatment” atau garis besar cerita yang akan dikembangkan naskahnya. Hal ini dilakukan agar penulis tidak kehilangan arah pada saat menulis naskah nanti. Berikut adalah cara penyajian yang dipilih untuk judul program “Budidaya Bekicot”. Program “Budidaya Bekicot’ ini dimulai dari upaya satu 118


Media Televisi

keluarga warga yang ingin meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Di tengah kebingungan ingin membuka usaha apa yang tepat, keluarga tersebut bertemu dengan tiga orang siswa yang sedang berbicang-bincang dekat pohon pisang. Setelah melakukan tegur sapa, kemudian mereka terlibat dalam pembicaraan yang serius sekitar budidaya bekicot yang baru mereka pelajari di sekolah. Namun karena tidak ada titik temu pembicaraannya, merka memutuskan untuk bertanya kepada Pak Biola, guru Biologi mereka. Dari Pak Biola mereka mendapat penjelasan yang rinci tentang cara-cara budidaya bekicot. Bukan hanya itu. Mereka juga mendapat penjelasan tentang kadungan protein yang terdapat pada daging bekicot, serta kegunaan lainnya terhadap kesehatan bagi yang mengkonsumsinya. Program ini di akhiri dengan kerja bakti warga membuat tempat budidaya bekicot yang dipimpin langsung oleh Pak Biola. Uraian singkat mengenai bentuk penyajian program inilah yang disebut “treatment� atau garis besar cerita. Dari treatment ini, meskipun singkat para penulis naskah dapat menterjemahkannya ke dalam naskah televisi.

5. Menentukan Format Penulisan Naskah Banyak format penulisan naskah yang dapat dipilih, namun ada tiga yang sering digunakan yaitu: format instruksional, format multi kamera (studio) , dan format cerita. Masing-masing format mempunyai tampilan yang berbeda satu dengan lainnya. Berikut ini adalah uraian dari masing-masing format. 119


Media Televisi

Format Naskah Instruksional Dikatakan format instruksional karena kelaziman penggunaannya dalam penulisan naskah yang berkaitan dengan materi pembelajaran, sehingga format ini disebut format naskah instruksional. Jadi secara teoritis tidak ada sebutan format naskah instruksional. Ini berarti format naskah instruksional bisa saja digunakan untuk jenis pesan lainnya. Ciri-ciri yang khas dari format instruksional ini adalah pencantuman ukuran (size) dari setiap shot yang dikembankan. Hal ini dilakukan untuk menjamin kebenaran materi yang disampaikan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Misalnya, dikatakan FS (Full Shot) benda (A) dari depan. Mengapa? Karena yang ingin dijelaskan adalah tampak depan benda (A), bukan sisi lainnya. Jadi bila diambil dari sisi lain, maka tujuan yang diharapkan tidak tercapai. Ciri lain dari format naskah instruksional adalah memiliki dua kolom, yaitu kolom data visual dan kolom data audio. Kolom data visual memuat data atau keterangan mengenai size shot subjek dan objek, serta teknis pengambilan gambar. Sedangkan kolom data audio memuat data-data teknis penggunaan musik dan sound effect , serta narasi atau dialog para pemain yang berkaitan dengan materi atau pesan akan disampaikan. 120


Media Televisi

121


Media Televisi

122


Media Televisi

Format Naskah Multi Kamera (studio) Format Naskah Multi Kamera (studio) secara fisik tampilannya tidak berbeda dengan naskah instruksional. Hanya saja untuk data teknis mencantumkan nomor kamera dari setiap shotnya.

123


Media Televisi

124


Media Televisi

Format Naskah Cerita Format Naskah Cerita adalah format naskah yang digunakan untuk penulisan naskah secara umum. Format ini banyak dipakai karena kelenturan dalam teknik penulisannya. Tidak terlalu banyak memaparkan data teknis, karena data teknis nantinya akan dikembangkan oleh tim produksi. Kekuatan dari naskah cerita ini adalah pemaparan data visual yang sangat rinci, sehingga mampu memberikan gambaran visual yang begitu akurat dengan kejadian yang diharapkan. Berikut ini adalah contoh dari format naskah cerita atau sering pula disebut format naskah film cerita.

Format Naskah Film Cerita Judul: Budidaya Bekicot Masa putar 20 menit, bersuara, berwarna. Penulis Naskah: ........................

FADE IN 1. EXT. TEMPAT BUDIDAYA BEKICOT. Pemandangan sebuah desa yang bersih dan sejuk. Di sebuah kebun tampak tanaman pohon pisang yang disekelilingnya di pagari dengan plastik. Di dalam pagar terlihat tumpukan batang pisang yang membusuk dan dipenuhi dengan binatang Bekicot dengan berbagai ukuran. Dari tumpukan bekicot keluar tulisan Budidaya Bekicot. Kemudian di ikuti tulisan penulis naskah dan diakhir dengan bekicot sedang kawin.

125


Media Televisi

2. EXT. TERAS SEBUAH RUMAH SORE HARI. Tampak dua orang (Bapak dan Ibu). Usia mereka kira-kira 40 tahunan, dengan penampilan layaknya orang desa. Mereka ter-lihat sedang terlibat dalam pembicaraan yang serius. Hal itu tampak dari perubahan raut wajah kadang tegang dan kadang tersenyum. BAPAK Bu, usaha kita pada akhir-akhir ini menurun drastis. Bapak khawatir bila tidak ada usaha lain, ..... si Tole bisa- bisa tidak sekolah lagi.

IBU Apa pak? ....... Si Tole tidak bisa sekolah lagi? Bapak ini, bagaimana sih.

BAPAK Bu, bukan itu maksudnya. Kita perlu usaha lain agar sekolahnya Tole bisa terus sampai perguruan tinggi. Bukan Tole tidak sekolah lagi, BU.

IBU Oh, itu toh maksudnya. Ibu setuju saja, tapi usaha apa kira-kira yang cocok, ya pak?

BAPAK TAMPAK BERDIRI DARI TEMPAT DUDUKNYA Itulah Bu yang sedang ku pikirkan. Tapi belun ketemu jawabannya. Mungkin ibu punya saran?

.... dan seterusnya

126


Media Televisi

Dari ketiga format penulisan naskah yang telah di tampilkan, tentu masih banyak bentuk format penulisan lainnya. Sebab pada dasarnya naskah adalah acuan bagi pelaksana produksi untuk mewujudkannya menjadi sebuah tontonan televisi. Oleh karena itu ada kalanya sebuah naskah hanya berupa garis besar dari suatu cerita, sedangkan detailnya ada pada sutradara, dan akan muncul kepermukaan pada saat pelaksanaan produksi. Meskipun cara ini memiliki risiko yang tinggi dalam sistem produksi, namun banyak kalangan yang menggunakannya. Disamping murah juga sangat fleksibel. Tetapi bila Anda tidak terbiasa, jangan sekali-kali mencobanya. Satu hal yang selalu di ingat adalah, bahwa media televisi adalah media visual. Dengan kata lain kekuatan pesan utamanya adalah pada visualisasi yang ditampilkannya. Alur visualisasi (cerita), ketepatan visual dengan pesan; kualitas gambar dalam hal ini fokus, warna, dan sudut pengambilan adalah faktor-faktor yang harus dipertimbangkan saat pemilihan format penulisan naskah program televisi. Untuk menambah hasana pengetahuan Anda tentang bentuk-bentuk format penulisan naskah televisi lainnya, berikut ini ditampilkan contoh sebuah naskah multi kamera yang menggunakan paparan visual melalui story board. 127


Media Televisi

128


Media Televisi

129


Media Televisi

130


Media Televisi

131


Media Televisi

132


Media Televisi

133


Media Televisi

134


Media Televisi

135


Media Televisi

136


Media Televisi

137


Media Televisi

6. Menulis Naskah Televisi Menulis naskah dapat dikatakan sebagai proses penuangan ide-ide kreatif seorang penulis sesuai dengan garis besar cerita yang dikembangkan sebelumnya. Oleh karenanya, bagi sebagian penulis, kegiatan menulis naskah hanyalah bagian kecil dari satu rangkaian panjang yang harus dilalui. Namun demikian, kegiatan ini perlu mendapat perhatian yang serius terutama dalam memberi sentuhan agar program yang dikembangkan mampu memancing imaginasi penonton. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah kelengkapan sumber pustaka dan aktualitas materi yang akan disampaikan. Terutama bila naskah yang Anda tulis berkaitan dengan kegiatan pembelajaran. Bagaimana bila yang ditulis berupa cerita? Apakah sumber pustaka dan aktulitas materi tetap menjadi perhatian. Jawabnya “ya�. Karena media televisi secara umum adalah media pembelajaran. Suka atau tidak tayangannya akan mempengaruhi sikap dan prilaku penontonnya. Oleh karena itu kebenaran pesan akan selalu menjadi barometer dalam setiap tayangan televisi. Semuanya itu sangat ditentukan oleh naskah yang ditulis oleh seorang penulis. Jadi dapat dikatakan “Kode Etik�, baik atau tidaknya suatu tayangan atau tontonan televisi juga sangat ditentukan oleh seorang penulis naskah (selama naskah masih jadi acuan dalam sistem produksi). 138


Media Televisi

Review Naskah Sebuah naskah dikatakan sebagai naskah final (siap untuk diproduksi) adalah naskah yang telah mengalami pembahasan oleh berbagai ahli yang dianggap kompeten di bidangnya. Khususnya untuk naskah yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin ketercapaian program dengan tujuan yang akan dicapai. Adapun yang perlu diperhatikan dalam review naskah pembelajaran adalah kebenaran materi dan ketepatan dari sudut penyajian pesannya (media). Oleh karena itu diperlukan dua orang ahli untuk mengkaji ulang sebuah naskah sebelum naskah tersebut siap diproduksi. Kedua orang ahli tersebut adalah ahli materi dan ahli media.

Kajian Ahli Materi Seorang ahli materi (bidang studi) akan melakukan kajian terhadap: • Ketercapaian materi dengan tujuan program • Kebenaran materi dari segi konsep dan teori • Aktualitas materi dengan kondisi sasaran • Ketepatan contoh dengan materi dan kondisi sasaran • Sistematika penyajian (penyampaian pesan), dan • Tata bahasa dalam penyampaian.

139


Media Televisi

Ketercapaian materi dengan tujuan program, adalah kegiatan mengkaji materi yang ada, apakah telah memadai untuk mencapai tujuan yang diharapkan? Apakah terlalu tinggi atau terlalu rendah? Misalnya, tujuan program dapat menerapkan tujuh prinsip budi daya bekicot. Dari segi materi tujuan program akan tercapai, bila di dalam naskah ada tujuh prinsip budidaya bekicot yang dipaparkan, baik secara konseptual maupun bentukbentuk penerapannya. Kebenaran materi dari segi konsep dan teori. Kajian ini ditujukan untuk melihat kebenaran konsep dan teori yang digunakan. Misalnya, apakah ada pustaka yang mendukungnya? Apakah konsep dan teorinya masih relevan dengan kondisi sekarang? Aktualitas materi dengan kondisi sasaran. Sering kali kita hanya berbicara tentang kebenaran materi saja. Tetapi kita lupa melihat, apakah materi tersebut masih relevan dengan kondisi sekarang atau tidak. Harapannya, jangan sampai program yang ditayangkan tidak bermakna bagi kehidupan siswa saat ini. Ketepatan contoh dengan materi dan kondisi sasaran. Inti yang akan dilihat adalah, bagaimana contoh-contoh dalam naskah disajikan. Apakah memperhatikan kemampuan 140


Media Televisi

sasaran atau tidak? Apakah contoh-cotohnya ada di lingkungan kehidupan siswa? Apakan hanya rekayasa semata? Pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk memastikan kalau naskah yang sedang di kaji benar-benar memperhatikan kebutuhan siswa. Sistematika penyajian (penyampaian pesan). Pengkaji materi adalah mereka yang mempunyai pengalaman empirik dalam hal metodologi pengajaran. Jadi mereka sangat profesional dalam menditeksi sistematika penyampaian suatu materi. Oleh karena itu, dalam mengkaji sistematika penyajian materi program televisi, ahli materi adalah orang yang paling tepat. Mereka akan melihat, apakah materi sajian bersifat hierarki, prosedural, atau pengelompokan. Tata bahasa dalam penyampaian. Bila ingin mengahsilkan naskah yang bermutu, sudah selayaknya tata bahasa yang digunakan dalam penyampain pesan mendapat perhatian juga. Sebab dengan menggunakan tata bahasa yang baik, berarti kita telah membelajarkan penonton (khususnya siswa) dalam budaya yang sopan dan santun dalam bertutur kata. Meskipun sebagian orang beranggapan, bahwa urusan tata bahasa adalah tanggung jawab mereka yang ahli dalam segi bahasa; ini tidak berarti naskah harus dikaji oleh orang bahasa. Ahli materi akan lebih memahami esensi bahasa yang digunakan untuk setiap disiplin ilmu. 141


Media Televisi

Kajian Ahli Media Apa yang harus dikaji oleh ahli media pada saat meriview naskah televisi? • Kesesuaian media dengan tujuan yang akan dicapai • Kesesuaian visual dengan materi • Kesesuaian visual dengan kelompok sasaran, dan • Kesesuaian caption dengan materi sajian. Kesesuaian media dengan tujuan yang akan dicapai. Sama halnya dengan ahli materi, ahli media juga berkepentingan untuk melihat kesesuaian media dengan materi yang akan disampaikan. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya pemaksaan suatu media untuk tujuan tertentu. Sebab tidak semua materi cocok dengan media televisi. Kesesuaian visual dengan materi. Kajian ini dilakukan untuk melihat satu persatu visualisasi yang digunakan dalam mejelaskan materi pembelajaran. Apakah sudah sesuai atau masih perlu penambahan atau pengurangan. Kesesuaian visual dengan kelompok sasaran. Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya. Ini juga yang terjadi dengan sebuah program televisi. Lain kelompok sasarannya, lain pula cara penyajiannya dan visualisasi yang digunakan.

142


Media Televisi

Oleh karena itu, pengkaji media harus mecermati vsual yang ada dari sudut kelompok sasarannya. Misalnya, visualisasi benda sebenarnya akan jauh lebih menarik bagi kelompok tertentu, tetapi tidak bagi kelompok lainnya. Kesesuaian caption dengan materi sajian. Program televisi pembelajaran biasanya tidak lepas dari penggunaan caption atau tulisan. Oleh karena itu, dalam mengkaji naskah televisi dari sudut media perlu kiranya memperhatikan setiap caption atau tulisan yang digunakan. Hai ini untuk memastikan, apakah setiap caption atau tulisan sudah sesuai dengan materi yang akan disampaikan? Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa sebuah nakah televisi dikatakan sebagai naskah yang baik dan final apabila dalam proses pengembangannya melalui tahapan-tahapan yang dimulai dari meng-identifikasi kebutuhan, merumuskan tujuan, memilih format penyajian, menulis treatments atau garis besar cerita, menentukan format naskah, menulis naskah dan melakukan review naskah.

143


Media Televisi

Contoh Naskah NASKAH VIDEO

: PEMBELAJARAN

MATA PELAJARAN : PENGANTAR PENDIDIKAN LUAR BIASA PELENGKAP

: MODUL 6

JUDUL

: PERHATIKAN KAMI

Ditulis Oleh: Budi Hermaini

144


Media Televisi

145


Media Televisi

146


Media Televisi

147


Media Televisi

148


Media Televisi

149


Media Televisi

150


Media Televisi

151


Media Televisi

152


Media Televisi

153


Media Televisi

Daftar Kepustakaan Anderson, Ronald H., Pemilihan dan Pengembangan Media Untuk Pembelajaran, terjemahan Yusufhadi Miarso, dkk.. Jakarta: PAU-UT, 1987. Association for Educational Communications and Technology, Defenition and Glossary of Term, Vol. 1. New York: AECT, 1977. Ayan, Jordan E., Bengkel Kreatifitas. Bandung: Kaifa, 2003. Barbara, Seels B. and Rita, Richey C., Teknologi Pembelajaran. Jakarta: UNJ, 1994. Baker, Dan & Bill Weisgerber, Television Production, New Jersey: Prentice-Hall, Inc., 1990. Bloom, Benyamis S. , Taxonomy of Education Objectives. Handbook I: Cognitive Domain. New York: Longman, Inc., 1956. Cole, Kris, Crystal Clear Communication, Alih Bahasa: Sindhi Diah Savira. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 1997.

154


Media Televisi

Combes, Peter and John Tiffin, Television Production for Education, London: Focal Press, 1988. David R. Krathwohl, Benyamis S. Bloom, and Bertram B. Masia, Taxonomy of Education Objectives: The Classification of Educational Goals, Handbook II: Affective Domain. New York: Longman Inc., 1964. De Porter, Bobbi and Hernacki, Mike, Quantum Learning. Bandung: Penerbit Kaifa, 2000. Depdiknas, Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Puskur-Badan Litbang, 2001. Dick, Walter and Carey, Lou, The Systematic Desing of Instruction (3rd). Glenview, Illinois: Scoot, Foresman and Company, 1990. Dryden, Gordon and Vos, Jeannette, The Learning Revolution. New Zealand: The Learning Web., 1999. Gordon, George N., Classroom Television, New York: Hasting House, Publisher, 1980. Gredler, Margaret E. Bell, Learning and Instruction. New York: Macmillan Publshing Company, 1995.

155


Media Televisi

Heinch, Robert, Molenda, Michael and Russell, James D., Instructional Media. New York: Macmillan Publishing Company, 1995. Kemp, Jerrold E., Instructional Design: A Plan for Unit and Cuorce. Belmon: Fearon, 1995. Kindem, Gorhan, The Moving Image, London: Foresman and Company, 1987. Roy dan Eduards, Mary, Membantu Anak Memahami Matematika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993. Sadiman, Arief, dkk., Media Pendidikan. Jakarta: CV. Rajawali, 1990. Schramm, Wilbur, Big Media Little Media. Beverly Hill: Sage, 1977. Suparman, Atwi, Desain Instruksional. Jakarta: PAU-UT, 1997.

156

MEDIA TELEVISI - Pengetahuan Dasar Media Televisi dan Teknik Penulisan Naskah  

Silahkan download, klik link "More Info" di bawah ini

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you