Issuu on Google+


Seri Teknologi Pembelajaran

Pengembangan

Modul

Penulis: Dr. Purwanto, M.Pd, Drs. Aristo Rahadi, Drs. Suharto Lasmono, M.Pd,

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PUSAT TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI PENDIDIKAN JAKARTA 2007 1

1


TIM PENGEMBANG: Pengarah • Ir. Lilik Gani, HA., M.Sc., Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Penanggungjawab Program • Ir. Suheriyanto, M.Si., Kepala Bagian Tata Usaha Penanggungjawab Materi/Substansi • Dr. Purwanto, M.Pd., Kepala Bidang Teknologi Pembelajaran • Drs. Rusjdy S. Arifin, M.Sc., Kepala Bidang Teknologi Informasi • Hardjito, S.IP., M.Si., Kepala Bidang Teknologi Komunikasi Penaggungjawab Kegiatan • Sunarti, SE Penulis • Dr. Purwanto, M.Pd • Drs. Aristo Rahadi • Drs. Suharto Lasmono, M.Pd Editor • Dr. Purwanto, M.Pd Design Cover & Layout • Rusno Prihardoyo • Erdiyansyah Alim

Katalog Dalam Terbitan (KDT): Seri Teknologi Pembelajaran, judul “PENGEMBANGAN MODUL”, Hak Cipta@2007 pada Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (PUSTEKKOM) Depdiknas Jl. Cenderawasih, Ciputat Km. 15,5 Ciputat 15411-Jakarta e-mail: pustekkom.go.id

ISBN: 978-979-3322-40-4-7 2


Daf tar Isi: Daft

Daftar Isi: •••• 3 Kata Sambutan •••• 4 Kata Pengantar •••• 5 Bab I

: PROSEDUR PENGEMBANGAN MODUL •••• 7

Bab 2

: PENYUSUNAN GARIS BESAR ISI MODUL (GBIM) DAN PERUMUSAN TUJUAN •••• 43

Bab 3

: TEKNIK PENULISAN MODUL •••• 81

Bab 4

: ILUSTRASI DAN BAHASA •••• 107

Bab 5

: PENYUNTINGAN DAN REVISI •••• 151

Bab 6

: EVALUASI MODUL •••• 163

3


K at a Sambut an ata Sambutan Sesuai misinya, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom) terus melakukan berbagai upaya dalam hal pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan. Diantara program yang digarap Pustekkom adalah pengembangan sistem pendidikan jarak jauh (PJJ) dengan memanfaatkan berbagai media pembelajaran. Salah satu komponen penting dalam sistem pendidikan jarak jauh adalah bahan belajar, yang antara lain berupa bahan belajar cetak (modul). Karena sistem PJJ memiliki ciri khas tertentu, maka bahan belajar yang digunakan dalam sistem PJJ juga perlu didesain secara khusus pula sehingga sesuai dengan karakteristik sistem PJJ tersebut. Di lain fihak, hingga saat ini SDM yang berkompeten dalam pengembangan bahan belajar masih sangat kurang. Bahkan buku-buku sumber dalam bidang ini juga masih sulit ditemukan. Kehadiran buku ini diharapkan dapat mengisi kekurangan tersebut. Buku ini merupakan salah satu judul dalam buku serial Teknologi Pendidikan yang diterbitkan oleh Pustekkom secara berkala. Terbitnya buku-buku serial Teknologi Pendidikan tersebut diharapkan dapat melengkapi buku buku sejenis yang telah ada, terutama buku-buku praktis yang membahas penerapan teknologi pendidikan secara praktis. Semoga kehadirannya dapat bermanfaat bagi para pembaca, dan dunia pendidikan pada umumnya. Kepala Pustekkom,

Ir. Lilik Gani, HA., M.Sc., Ph.D. NIP 680001660 4


K at a P eng ant ar ata Peng engant antar Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas tersusunnya buku Pengembangan Bahan Belajar Mandiri (Modul) ini. Saat ini sistem pembelajaran mandiri telah banyak diterapkan di Indonesia, seiring dengan makin berkembangnya lembaga pendidikan yang menyelenggarakan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh, baik pada jalur pendidikan formal maupun non formal termasuk lembaga Diklat kedinasan. Sistem pembelajaran mandiri memang menuntut para peserta didiknya untuk dapat melakukan kegiatan belajar secara mandiri. Hal ini sebagai konsekwensi adanya ciri keterpisahan antara pengajar dengan peserta belajar dalam sistem pendidikan jarak jauh, serta adanya ciri keterbukaan/keluwesan dalam sistem pendidikan terbuka. Dalam perkembangannya, bahkan, sistem pembelajaran mandiri saat ini bukan hanya diterapkan di kalangan lembaga pendidikan terbuka dan jarak jauh, melainkan juga diterapkan pada sistem pendidikan regular. Dalam sistem pendidikan yang menerapkan konsep pembelajaran mandiri, sangat diperlukan bahan-bahan belajar yang dirancang khusus untuk dapat dipelajari oleh peserta didik secara mandiri, karena itu diperlukan para tenaga profesional yang mampu mengembangkan bahan belajar mandiri. Di fihak lain, sumber-sumber referensi tentang pengembangan bahan belajar mandiri sampai saat ini masih sangat terbatas, apalagi sumber pustaka lokal. Terbitnya buku ini diharapkan dapat turut mengatasi terbatasnya referensi tersebut. Buku ini dimaksudkan untuk membantu para pembaca yang berminat untuk mengembangkan bahan belajar mandiri ( modul). Sistematika dan sajian dalam buku ini diupayakan sedemikian rupa agar menjadi semacam paduan yang sederhana, praktis dan dapat dipelajari secara mandiri oleh pembaca sehingga bisa langsung 5


diaplikasikan dalam kegiatan pengembangan bahan belajar mandiri. Meskipun demikian, penulis menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna. Berbagai keterbatasan yang ada, menyebabkan kekurangsempurnaan buku ini. Oleh karenaya, kritik dan saran perbaikan sangat kami harapkan dari pembaca. Tak lupa penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua fihak yang telah ikut berperan membantu terbitnya buku ini. Semoga buku sederhana ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

Tim penulis

6


1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212

123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121

Bab I PROSEDUR PEN GEMB AN GAN PENGEMB GEMBAN ANG MODUL

Pendahuluan

S

aya yakin bahwa anda telah memiliki pengalaman dalam tulis menulis, apakah itu menulis surat, menulis materi untuk diklat atau mungkin menulis buku maupun tulisan lainnya. Namun demikian mungkin Anda belum memiliki pengalaman khusus dalam menulis modul. Karena modul ini diharapkan membekali Anda pengetahuan dasar tentang proses pengembangan modul diklat. Modul ini isinya menjelaskan tentang Prosedur Pengembangan Modul. Isi utama Modul ini adalah langkah-langkah penulisan modul. Namun demikian sebelum uarian tentang penulisan modul, dijelaskan pula tentang konsep dasar modul dan berbagai cara pengembangannya. Dalam prosedur pengembangan modul langkah-langkahnya adalah perencanaan, penulisan, review dan revisi serta finalisasi. Tujuan modul ini adalah untuk membimbing Anda secara umum dalam merencanakan dan mengembangkan modul. Karena itu isi modul ini lebih bersifat praktis dan lebih banyak berisi tentang hal-hal atau rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam menulis modul. Kompetensi yang Anda kuasai setelah mempelajari modul ini adalah sebagai berikut.

7


KOMPETENSI Mampu menerapkan prosedur pengembangan modul

PENGALAMAN BELAJAR Pembaca memperoleh pengetahuan tentang prosedur pengembangan modul

INDIKATOR 1. Mampu menjelaskan pengertian modul, dan fungsinya. 2. Mampu menjelaskan berbagai cara pengembangan modul seperti; adaptasi, kompilasi, dan menulis 3. Mampu menerapkan langkah-langkah penulisan modul

Modul ini berisi dua kegiatan belajar atau dua penggalan. Kegiatan belajar 1 membahas tentang konsep dasar modul dan berbagai cara pengembangan modul, dan kegiatan belajar 2 tentang langkah-langkah penulisan modul. Penjelasan kegiatan 2 meliputi uraian tentang pra penulisan, penulisan, pengkajian/ review, uji coba dan revisi, serta finalisasi dan pencetakan. Tiaptiap kegiatan belajar terkait erat secara berurutan. Karena itu sebaiknya Anda mengikuti petunjuk belajar berikut ini: • Bacalah setiap penjelasan yang diberikan dengan cermat langkah demi langkah dan jangan tergesa-gesa. • Kemudian kerjakan soal-soal atau latihan yang Anda temui dan cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawaban dihalaman belakang modul ini, • Pelajari sekali lagi uraiannya, terutama bagian yang kurang Anda pahami, • Praktekkanlah kegiatan-kegiatan yang baru anda pelajari dengan menggunakan bahan-bahan yang tersedia sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam modul ini. Maksudnya, jika anda diminta untuk menuliskan, cobalah anda menulis sesuai dengan bidang yang anda kuasai. SELAMAT MEMBACA ! 8


1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567

Kegiatan Belajar 1

MODUL D AN DAN PEN GEMB AN GANNY A PENGEMB GEMBAN ANG ANNYA Tujuan Setelah membaca kegiatan belajar 1 ini anda diharapkan dapat: • Menjelaskan konsep dasar modul, • Menjelaskan berbagai cara pengembangan modul, • Menjelaskan langkah-langkah penulisan modul.

Uraian Setiap kegiatan pembelajaran pastilah membutuhkan bahan belajar. Bahan belajar yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran bentuknya bermacam-macam. Ada bahan belajar yang dikemas dalam bentuk tercetak, dan non cetak. Satu kesatuan modul sering di sebut sebagai modul.

A. PENGERTIAN MODUL

1. Modul Modul ialah bahan belajar yang dirancang secara sistematis b e r d a s a r k a n kurikulum tertentu dan dikemas dalam bentuk satuan pembelajaran terkecil dan memungkinkan dipelajari secara mandiri dalam satuan waktu tertentu. Dalam buku ini yang disebut sebagai modul dibatasi pada “Bahan Belajar Tercetak”. 9


Tujuan disusunnya modul ialah agar peserta dapat menguasai kompetensi yang diajarkan dalam diklat atau kegiatan pembelajaran dengan sebaik-baiknya. Bagi widiaiswara atau guru, modul juga menjadi acuan dalam menyajikan dan memberikan materi selama diklat atau kegiatan pembelajaran berlangsung. 2. Fungsi Modul Fungsi modul ialah sebagai bahan belajar yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran peserta didik. Dengan modul peserta didik dapat belajar lebih terarah dan sistematis. Peserta didik diharapkan dapat menguasai kompetesi yang dituntut oleh kegiatan pembelajaran yang diikutinya. Modul juga daharapkan memberikan petunjuk belajar bagi peserta selama mengikuti diklat.

B. BERBAGAI CARA PENGEMBANGAN MODUL

Modul dapat dikembangkan dengan berbagai cara antara lain melalui adaptasi, kompilasi dan menulis sendiri. Sebagai bekal pengetahuan bagi Anda, maka dalam modul ini akan dibahas tentang cara pengembangan melalui adaptasi dan kompilasi. Namun demikian pada modulmodul berikutnya akan lebih banyak dibahas tentang cara pengembangan modul dengan “menulis sendiri�. 1. Adaptasi Modul adaptasi ialah bahan belajar yang dikembangkan atas dasar buku yang ada di pasaran. Sebelum pembelajaran berlangsung, guru, dosen, atau widiaiswara mengidentifikasi buku-buku yang ada (di toko buku atau perpustakaan) yang isinya relevan dengan materi yang akan diajarkan. Setelah itu guru, dosen atau widyaiswara memilih salah satu buku 10


tersebut sebagai bahan belajar yang digunakan untuk satu mata pelajaran/diklat. Buku tersebut digunakan dalam kegiatan pembelajaran secara utuh atau sebagian dengan dilengkapi panduan belajar. Pengembangan panduan belajar bersifat melengkapi buku tersebut dengan semacam petunjuk mempelajarinya. Panduan belajar untuk melengkapi buku antara lain berisi: 1. Overview dan rangkuman dari topik-topik yang wajib dipelajari peserta didik; 2. Peta atau diagram yang menggambarkan keterkaitan topik-topik yang akan dipelajari peserta didik; 3. Rumusan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang harus dikuasai peserta didik; 4. Daftar Pustaka yang relevan 5. Petunjuk bagi peserta didik tentang topik mana yang harus dipelajari dan topik mana yang tidak perlu dipelajari 6. Penjelasan tambahan (tertulis atau lisan yang direkam) untuk menjelaskan topik-topik yang dianggap salah, bias, kadaluarsa, serta membingungkan peserta didik. 2. Kompilasi Modul kompilasi ialah bahan belajar yang dikembangkan atas dasar buku-buku yang ada di pasaran, artikel jurnal ilmiah dan modul yang sudah ada sebelumnya. Kompilasi di lakukan oleh guru, dosen atau widiaiswara dengan menggunakan garis-garis besar program pembelajaran/pelatihan (GBPP) atau silabi yang disusun sebelumnya.

11


Prosedur Kompilasi Kompilasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Kumpulkan seluruh buku, artikel jurnal ilmiah, modul dan sumber acuan lain yang digunakan dalam mata diklat seperti tercantum dalam Daftar Pustaka di GBPP 2. Tentukan bagian-bagian buku, artikel jurnal ilmiah, modul dan bagian dari sumber acuan lain yang digunakan per Pokok Bahasan sesuai dengan GBPP 3. Fotocopy seluruh bagian dari sumber yang digunakan per Pokok Bahasan sesuai dengan GBPP 4. Pilihlah hasil fotocopy tersebut berdasarkan Pokok Bahasan sesuai dengan GBPP 5. Buatlah/tulislah halaman penyekat bahan untuk setiap Pokok Bahasan 6. Bahan-bahan yang sudah dilengkapi dengan halaman penyekat untuk setiap Pokok Bahasan kemudian dijilid rapi (selanjutnya dicopy untuk dibagikan kepada peserta didik) Ada satu hal penting yang harus diperhatikan oleh guru, dosen atau widiaiswara dalam melakukan kompilasi, yaitu harus memperhatikan masalah hak cipta. Untuk buku-buku atau bahan lain yang dilindungi hak cipta maka penggunaan atau pengkopiannya wajib memperoleh ijin dari pemegang hak cipta. 3. Menulis Menulis adalah cara pengembangan modul yang paling ideal. Bagi guru, dosen atau widiaiswara menulis sendiri modul yang dipergunakan dalam pembelajaran adalah membuktikan dirinya sebagai seorang yang professional. Bagi guru, dosen, terutama widiaiswara menulis modul merupakan tugas pokok yang dihargai sebagai kegiatan pengumpuan angka kredit. Angka kredit yang diperoleh guru, dosen atau widiswara dari 12


kegiatan menulis modul ini sangat tinggi nilainya, sehingga akan mengantarkan seorang mencapai jabatan tertinggi. Hal tersebut sesuai dengan tingkat kesulitan dalam mengerjakannya. Menulis modul memiliki tingkat kesulitan tertinggi dibanding dengan kedua cara lain yang telah diuraikan terdahulu. Ada beberapa syarat atau asumsi yang harus dipenuhi dalam penulisan modul. Asumsi-asumsi tersebut adalah: 1. guru, dosen atau widiaiswara adalah pakar bidang ilmu tertentu atau menguasai dengan baik dalam bidangnya 2. guru, dosen atau widiaiswara mempunyai kemampuan menulis 3. guru, dosen atau widiaiswara mengerti kebutuhan peserta didik dalam Ilmu atau mata pelajaran tersebut Ada beberapa acuan yang harus digunakan oleh penulis dalam penulisan modul. Modul ditulis berdasarkan: 1) Kurikulum , 2) Satuan acara pembelajaran atau SAP, dan 3) garis-garis besar isi modul (GBIM). Penulisan modul sebaiknya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut; 1) perencanaan, 2) penulisan, 3) review, ujicoba dan revisi, 4) finalisasi dan pencetakan. Sampai di sini Anda telah menyelesaikan Kegiatan Belajar 1 dari modul 1. Sebelum berlanjut pada Kegiatan Belajar 2, kerjakanlah Tugas berikut ini.

• Tugas 1

1. Jelaskan tentang cara-cara pengembangan modul! 2. Sebutkan syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam penulisan modul! 13


1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567

Kegiatan Belajar 2

L AN GKAH-L AN GKAH ANGKAH-L ANGKAH PEN GEMB AN GAN MODUL PENGEMB GEMBAN ANG Tujuan Setelah membaca penggalan ini anda diharapkan dapat: • Menjelaskan pentingnya perencanaan dalam proses pengembangan modul, • Menjelaskan faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam merencanakan modul, • Menuliskan tujuan pembelajaran atau kompetensi, • Menentukan isi dan urutan materi pelajaran sehingga sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus, • Menjelaskan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam tahap penulisan • Menjelaskan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam tahap review, revisi dan uji coba • Menjelaskan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam tahap finalisasi

14


Uraian Sebelum Anda membaca uraian berikut ini, perhatikan skema di bawah ini: Langkah-langkah Pengembanan Modul TAHAP PERENCANAAN

TAHAP PENULISAN

TAHAP REVIEW UJI COBA DAN REVISI

TAHAP FINALISASI DAN PENCETAKAN

Penyusunan Garis Besar Isi Modul (GBIM)

- Persiapan Outline/ rancangan modul - Menulis draft I - Melengkapi draft I menjadi draft II

- Review ahli dan teman sejawat - Uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan

- Pembuatan Naskah Modul - Pencetakan

A. TAHAP PERENCANAAN

Setiap kegiatan umumnya dimulai dengan tahap perencanaan. Demikian pula halnya dengan pengembangan modul. Bila suatu lembaga atau institusi akan mengembangkan suatu paket modul, dalam tahap perencanaan biasanya dilibatkan para ahli. Para ahli itu umumnya meliputi ahli materi yaitu orang yang menguasai suatu bidang ilmu atau materi pelajaran, ahli kurikulum dan pembelajaran yaitu orang memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang metodologi pengajaran dan juga kurikulumnya, ahli media yaitu orang yang memahami tentang karakteristik, keunggulan dan kelemahan berbagai media dalam hal ini terutama media cetak dan orang yang ahli menulis yaitu penulis. Tahap perencanaan ini sangat penting dalam proses Pengembangan Modul, agar bahan belajar yang kita kembangkan dapat membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Selain itu bila dilakukan perencanaan yang baik bahan belajar yang dihasilkan memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi dan tingkat kedalaman materi yang sesuai dengan tingkat kemampuan sasaran didik. 15


Penulis hendaknya terlibat sejak dalam tahap perencanaan sehingga ia benar-benar mengetahui tentang tujuan yang ingin dicapai dan materi yang harus disajikan. Para ahli dan penulis ini berkumpul bersama untuk menyusun GarisGaris Besar Isi Modul (GBIM) atau Garis-Garis Isi Pembelajaran/Pelatihan (GPPP) yang akan dijadikan pedoman dalam penyusunan modul. GBIM merupakan cetak biru (blueprint) bagi modul yang akan ditulis dan biasanya dituangkan dalam suatu format matrik yang memuat berbagai aspek terutama menyangkut kompetensi, dan cakupan materi. (matrik GBIPM akan anda baca pada bagian berikutnya). Berikut ini adalah faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan GBIM modul: - Siapakah peserta diklat yang akan memanfaatkan bahan belajar tersebut? - Apakah kompetensi atau tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus yang ingin dicapai? - Materi/isi pelajaran apa yang akan disajikan? - Bagaimanakah urutan penyajian materi pelajaran tersebut? - Metode mengajar dan media apa yang akan digunakan? - Bila akan digunakan media cetak, media apakah yang merupakan pendukung media cetak tersebut? - Bagaimanakah penilaian yang akan dilakukan terhadap peserta diklat? - Bagaimanakah alokasi waktu untuk setiap materi pelajaran atau setiap mata diklat? - Bagaimanakah bahan belajar akan dinilai dan direvisi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk diperhatikan agar modul yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan peserta didik, memiliki kebenaran materi, dan tersaji secara baik dan sistematis. 16


Berikut akan diuraikan satu persatu jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. • Peserta diklat Sebelum Anda menulis bahan belajar berupa modul, sebaiknya terlebih dahulu memiliki informasi yang jelas untuk siapakah anda menulis atau siapakah yang akan membaca tulisan Anda? Jika anda akan menulis modul untuk peserta diklat atau orang yang sering berhubungan dengan Anda, tentu anda telah banyak tahu tentang mereka. Tetapi jika Anda akan menulis untuk peserta diklat yang baru bagi Anda dan Anda belum mengenalnya secara dekat, mungkin sebaiknya Anda menyisihkan waktu untuk mencari informasi tentang mereka. Informasi apakah yang perlu Anda ketahui dan relevan untuk pengembangan modul? Ada 4 tipe informasi yang sebaiknya Anda ketahui tentang keadaan peserta didik Anda, yaitu: a. faktor demografi: Berapa jumlah mereka? Berapa umurnya? Jenis kelaminnya? Status perkawinan? Pekerjaan? Bagaimana adat istiadat mereka? Bagaimana lingkungan sosial budaya di wilayahnya? dan lain-lain, b. faktor motivasi: Mengapa mereka mengikuti diklat atau kegiatan belajar ini? Bagaimana hubungan diklat atau kegiatan belajar dengan pekerjaan mereka? Mengapa mereka memilih ikut diklat ini? Apa yang mereka inginkan dari diklat ini? Dan lain-lainnya, 17


c. faktor belajar: Bagaimana intelegensi dan kapasitas mereka? Apakah mereka memiliki pengalaman sebelumnya tentang diklat sejenis? Apakah mereka memiliki waktu dan fasilitas yang memadai untuk belajar? Dan lain-lain, d. latar belakang bidang studi: Pengetahuan, keterampilan dan sikap apa yang telah mereka kuasai sehubungan dengan bidang yang akan diajarkan? Apakah mereka memiliki ‘‘personal interest’’ dan pengalaman yang relevan? (informasiinformasi ini sangat penting bagi Anda untuk penyajian bahan belajar, pemberian anekdot, contoh dan analogi). •

Tujuan Pembelajaran Umum (Kompetensi Dasar) dan Tujuan Pembelajaran Khusus (Indikator) Istilah tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus sering pula diartikan sebagai kompetensi dasar dan indikator. Bila tujuan pembelajaran umum (Kompetensi Dasar) dan tujuan pembelajaran khusus (Indikator) telah dipertimbangkan dan dipikirkan sejak awal proses pengembangan modul, hal ini akan sangat bermanfaat untuk menghasilkan bahan belajar yang berkualitas. Mengapa demikian? Terlebih dahulu akan dijelaskan tentang perbedaan tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus, walaupun mungkin kedua istilah ini tidak asing bagi Anda: • Tujuan pembelajaran umum (Kompetensi Dasar): suatu pernyataan umum tentang apa yang Anda harapkan dapat dikuasai oleh peserta diklat setelah ia menyelesaikan suatu bahan belajar. Tujuan pembelajaran umum ini juga menggambarkan tentang bahan belajar apa yang ingin disampaikan oleh guru kepada peserta diklat. 18


• Tujuan pembelajaran khusus (Indikator): adalah terjemahan dari specific instructional objective. Literatur asing menyebutkan pula sebagai objective atau enabling objective, untuk membedakannya dari general instructional objective/goal, atau terminal objective, yang berarti Tujuan Instruksional Umum (TIU) atau Tujuan Instruksional Akhir. Dalam literatur asing tentang penulisan modul menyebutkan sebagai behavioural objective yang berarti suatu pernyataan yang dapat menginformasikan kepada kita apa yang harus dapat dicapai peserta didik setelah menyelesaikan suatu kegiatan pembelajaran, dan dinyatakan dalam kata kerja yang dapat diukur. Tujuan pembelajaran khusus berisi kecakapan-kecakapan khusus berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap. Apakah nilai atau kegunaan tujuan pembelajaran khusus dalam pengembangan modul? a. Komunikatif: tujuan pembelajaran khusus dapat membantu memperjelas arah dan tekanan kegiatan pembelajaran baik bagi Anda sebagai penulis, teman atau ahli yang akan mengkaji tulisan Anda dan terlebih penting bagi peserta diklat. b. Isi dan urutan materi: dengan adanya tujuan pembelajaran khusus yang jelas akan membantu Anda dalam menentukan materi penting yang akan disampaikan dan materi pendukungnya, serta mengidentifikasikan bagaimana cara mengurutkan materi tersebut. c. Media dan metode: bila Anda telah memastikan tujuan pembelajaran khusus yang akan dicapai, tentunya Anda dapat dengan mudah menentukan media pembelajaran dan aktivitas belajar apa yang paling tepat. 19


d. Penilaian: tujuan pembelajaran khusus dapat membantu Anda menentukan alat dan metode penilaian terhadap peserta diklat, selain itu dapat pula dijadikan dasar penilaian untuk mengukur efektivitas bahan belajar. Berikutnya saya akan mengajak Anda untuk berdiskusi tentang bagaimana merumuskan tujuan pembelajaran. Jika Anda seorang pengajar tentu Anda tidak asing lagi dengan istilah atau singkatan A B C D dalam perumusan tujuan pembelajaran. A berarti Audience. B berarti Behavior. C berarti Condition dan D berarti Degree. Audience adalah peserta diklat yang akan belajar. Dalam tujuan pembelajaran harus dijelaskan siapa peserta diklat yang akan mengikuti pelajaran itu peserta diklat yang mana? Misalnya peserta diklatpim IV, peserta diklat komputer tingkat dasar. Keterangan peserta diklat yang akan belajar tersebut diusahakan spesifik mungkin, agar sejak permulaan orang-orang yang tidak termasuk dalam batasan tersebut sadar bahwa tujuan diklat tersebut belum tentu sesuai bagi mereka. Mungkin bahan terlalu mudah, terlalu sulit atau tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan perumusan tujuan pembelajaran kita tentu berharap tujuan pembelajaran tersebut dapat membantu penulis dan peserta diklat. Oleh karena itu pertama kita harus memikirkannya secara hati-hati kemudian merumuskannya dalam kata-kata yang jelas dan sesuai, atau kata-kata yang mudah diukur (measurable) dan mencerminkan tingkah laku. Dengan demikian tampak jelas tingkah laku apa yang kita harapkan ditampilkan peserta diklat setelah mempelajari modul. Ini berdasarkan prinsip kedua yaitu tujuan 20


pembelajaran hendaknya menggambarkan perilaku atau behavior yang dapat diamati atau observable. Beberapa kata yang sering digunakan dalam perumusan tujuan pembelajaran antara lain; • menyebutkan, • menjelaskan, • mengidentfikasikan, • menyusun, • menuliskan, • membandingkan Condition berarti Anda harus secara spesifik menentukan dalam kondisi yang bagaimana peserta diklat mendemonstrasikan hasil belajarnya. Dalam hal ini Anda dapat menggunakan kata-kata misalnya; • diberikan catatan tentang ..., • diberikan kasus ...., • diberikan seperangkat peralatan ..., • tanpa alat dan referensi ... Degree berarti Anda dan peserta diklat perlu menetapkan standar pencapaian dalam waktu dan keadaan tertentu. Sebagai contoh pemberian batas waktu atau time limit. “Peserta diklat harus dapat menyelesaikannya dalam waktu lima belas menit”. Atau dapat pula diberi batasan julah jawaban minimum, misalnya; “Peserta diklat harus dapat menjawab benar minimal 7 dari 10 soal yang diberikan”. Sekarang coba Anda merumuskan beberapa tujuan pembelajaran dengan kriteria yang telah dijelaskan di atas. Anda dapat mengambil permasalahan dari bidang yang Anda kuasai. Setelah itu susunlah urutan tujuan pembelajaran tersebut untuk menggambarkan urutan mencapainya. 21


Pembelajaran lebih lanjut tentang perumusan tujuan pembelajaran ini dapat Anda pelajari pada bagian berikut: • Penentuan Isi dan Urutan Materi Pembelajaran Setelah tujuan pembelajaran dirumuskan (meliputi tujuan pembelajarn umum dan tujuan pembelajaran khusus) dan disusun urutannya, langkah berikutnya dalam tahap perencanaan adalah menentukan isi pelajaran dan urutannya. Pada langkah ini perlu diidentifikasi topik utama, konsep-konsep, prinsipprinsip dan teori-teori yang akan dimuat dalam bahan belajar. Pada tahap ini juga dilakukan rincian pokok bahasan menjadi sub pokok bahasan. Ada beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan: - Apakah materi cukup relevan dengan tujuan pembelajaran? - Apakah realistik untuk dapat dipelajari pada waktu yang telah ditetapkan? Jika tidak mana yang harus dihilangkan? - Apakah materi yang diajarkan mencakup semua yang diperlukan peserta diklat untuk mencapai tujuan? - Apakah materi itu sudah benar, sesuai dengan tingkat perkembangan peserta diklat dan up to date? - Apakah masih terdapat materi yang kurang sesuai dan tidak diperlukan? - Setelah Anda mengidentifikasikan materi, apakah perlu ada penambahan tujuan pembelajaran? - Apakah masih terdapat materi yang perlu diuraikan lagi menjadi sub materi yang lebih kecil? - Apakah ada hubungan yang jelas, kesinambungan (continuity) antara materi sebelumnya, materi sekarang, dan materi yang akan datang? - Apakah uraian materi sudah tepat? - Apakah sudah diperhitungkan awal dan akhir dari pokok materi, sehingga tampak materi tersebut merupakan satu kesatuan? 22


• Pemilihan Media Walaupun y a n g dibicarakan dalam modul ini terutama adalah media cetak, namun mengingat setiap media memiliki kelebihan dan kekurangan maka perlu dipertimbangkan pula perpaduan media cetak dengan media lain. Bila kita merencanakan media cetak akan sangat baik bila kita berfikir tentang media lain yang dapat mendukungnya misalnya kaset audio, film, atau program video. Khusus untuk diklat tertentu (misalnya diklat Bahasa Inggris) media cetak dilengkapi dengan program audio sebagai pelengkap. Selain itu media cetak dapat diperkuat pula dengan praktek. Praktek ini dapat dilakukan dengan membekali peserta diklat seperangkat peralatan praktek atau menganjurkan mereka menggunakan laboratorium. Mereka dapat melakukan praktek secara individu atau kelompok dengan bimbingan fasilitator. Dalam perencanaan modul khusus untuk diklat jarak jauh perlu dipertimbangkan pula adanya pertemuan reguler antara peserta diklat dengan tutor atau antar peserta diklat. Pertemuan tatap muka ini merupakan sarana penting bagi peserta diklat dalam sistem belajar jarak jauh untuk saling bertukar pikiran, berdiskusi, atau untuk mengekspresikan dirinya. 23


Ada beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media: • Apakah tujuan yang akan dicapai memang tepat dengan menggunakan media cetak? • Perlukah ada media lain seperti video, audio, atau peralatan praktek sebagai media pendamping? • Apakah sarana dan prasarana yang tersedia dalam diklat memungkinkan untuk menggunakan suatu media terutama media elektronik? Berikut ini adalah aturan umum yang perlu diperhatikan dalam pemilihan media. • Sebagian besar media dapat digunakan untuk mengajarkan bidang studi. (Namun demikian dalam pemanfaatannya, media tertentu akan lebih efektif untuk materi tertentu dibandingkan dengan media lainnya). • Media yang memiliki daya kontrol tinggi; memungkinkan untuk terjadinya interaksi, memungkinkan adanya tes dan pemberian penguatan terhadap aktivitas belajar peserta diklat jelas menguntungkan. • Beberapa peserta diklat akan menyukai media tertentu dari pada yang lain, dan tentunya antara peserta diklat yang satudengan yang lain berbedabeda tergantung pada kapasitas belajar mereka dari media tertentu. • Pemilihan media hendaknya memperhitungan atau disesuaikan dengan sumber, bahan dan biaya yang tersedia.

24


• Penilaian Mungkin terlalu dini untuk membicarakan masalah penilaian dalam tahap perencanaan. Namun demikian sejak dalam tahap perencanaan perlu diperhatikan strategi penilaian hasil belajar peserta diklat. • Siapa yang akan menilai? • Kapan penilaian dilakukan? • Mengapa mereka perlu dinilai? • Bagaimana cara penilaiannya? Informasi tentang strategi penilian ini harus secara jelas dirancang terlebih dahulu dalam perencanaan suatu modul. Dengan demikian sejak awal telah terlihat tujuan yang akan dicapai dan alat penilaian untuk mengukur pencapaian tujuan tersebut. Apa yang telah dijelaskan di atas dapat dilihat dalam bagan berikut ini.

B. TAHAP PENULISAN

Seperti telah dijelaskan dalam bagian terdahulu, bahwa dari tahap perencanaan diharapkan dapat dihasilkan suatu rencana modul yang dituangkan dalam Garis-Garis Besar Isi Modul (GBIM). GBIM ini berisi tentang sasaran atau peserta diklat, tujuan umum dan tujuan khusus, materi atau isi pelajaran, media yang digunakan dan strategi penilaian. Anda sebagai penulis, sebaiknya menggunakan GBIM secara cermat, untuk kemudian melakukan langkah berikutnya yaitu: 1. persiapan outline, 2. penulisan.

25


1. Persiapan Outline/Rancangan a. Menentukan topik yang akan dimuat Setelah anda menganalisis GBIM, tugas Anda berikutnya adalah membuat catatan tentang topiktopik yang akan dimuat dalam bahan belajar. Dalam hal ini anda harus memilih dan menilai topik-topik tersebut sehingga sesuai dengan keadaan peserta diklat. Untuk melakukan ini ada dua hal yang perlu diingat: • Pertama, daftar tentang tujuan pembelajaran khusus dan kebutuhan peserta diklat. Yakinkan bahwa topik-topik yang akan anda masukkan terkait erat dengan tujuan khusus dan kebutuhan peserta diklat, • Kedua, tentang belajar aktif. Agar dapat mengembangkan belajar aktif dalam modul Anda, sebaiknya Anda membangun materi pelajaran bersamaan dengan pengembangan bahan belajar aktif daripada memikirkan aktivitas belajar setelah materi diuraikan. Agar dapat melakukan ini Anda perlu mengetahui materimateri/topik-topik apa yang akan anda masukkan. b. Mengatur urutan topik-topik sesuai dengan urutan tujuan pembelajaran Langkah berikutnya adalah mengatur topik dalam urutan yang logis. Maksudnya, urutan diatur sedemikian rupa sehingga membantu peserta diklat dalam menyerap materi pelajaran. Gunakan apa yang telah diketahui peserta diklat peserta diklat sebagai “starting pointâ€?. Ini berarti segala sesuatu harus berdasarkan pada kebutuhan peserta diklat bukan pada ide Anda. 26


Dari langkah awal ini, kemudian materi pelajaran bergerak selangkah demi selangkah. Sebaiknya setiap penggalan materi berikan aktivitas peserta diklat sebelum ia melangkah pada proses materi berikutnya. Usahakan bila akan mendiskusikan topik baru beri pengantar terlebih dahulu, jelaskan, beri kesempatan mereka mempraktekkannya sebelum melangkah pada tahap berikuntnya. Sebaiknya Anda juga memberikan pengulangan dari waktu ke waktu dan berusaha menghubungkan apa yang telah diketahui peserta diklat dengan materi yang akan dibahas. Akhirnya Anda juga perlu mempertimbangkan kemungkinan penggunaan media lain. Sebagai contoh, jika setiap akhir unit Anda mengharapkan peserta diklat mendengarkan kaset audio, janganlah Anda mengulang materi cetak ke dalam kaset audio. Urikan materi tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Bila Anda mengurutkan topik-topik, jangan lupa untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut; • Apakah tingkat kesulitan sesuai dengan kemampuan peserta diklat? • Apakah topik-topik yang baru telah diantarkan secara cermat dan hati-hati? • Apakah pekerjaan yang harus dilakukan peserta diklat sudah jelas? • Apakah penggunaan media lain sebagai media pendukung sudah tepat?

27


c. Mempersiapkan outline Berikut ini adalah contoh rancangan atau outline sebuah modul. Pendahuluan Kegiatan Belajar 1 ‌ (judul) Sub-sub judul, uraian, contoh-contoh, ilustrasi atau diagram, latihan Kegiatan Belajar 2 ‌ (judul) Sub-sub judul, uraian, contoh-contoh, ilustrasi atau diagram, latihan Penutup Dari bagan di atas tampak bahwa modul terdiri atas: • Pendahuluan; bagian ini berisi tentang uraian singkat mengenai materi yang akan dijelaskan dalam modul, hubungan dengan materi sebelumnya, tujuan, peralatan dan waktu yang diperlukan dalam mempelajari modul, dorongan belajar dan lain-lain. • Bagian utama; bagian utama ini berisi uraian, contoh-contoh, ilustrasi atau diagram, latihan, umpan balik. • Bagian penutup: berisi rangkuman atau kesimpulan, penjelasan tentang hubungan dengan materi berikutnya, dan dorongan kepada peserta diklat karena telah berhasil menyelesaikan modul dan diminta untuk mengikuti tes. Rancangan di atas sekedar contoh. Anda dapat membuat rancangan yang berbeda dengan contoh di atas, misalnya Anda membuat yang lebih rinci lagi. 28


Dari contoh tersebut tampak bahwa modul tersebut diawali dengan pendahuluan. Kemudian dilanjutkan dengan penggalan satu, dua dan tiga dan diakhiri dengan penutup atau tes. Setiap penggalan umumnya berisi uraian, contoh, aktivitas/latihan dan umpan balik. Anda dapat membuat outline tersebut secara lebih rinci lagi dengan memperhatikan pertanyaan sebagaiberikut. • Uraiannya tentang apa? (tuliskan dalam rancangan modul Anda) • Contohnya apa? Ilustrasinya apa? • Umpan baliknya bagaimana? Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh sebuah rancangan modul diklat penyusunan laporan berikut ini. Contoh: RANCANGAN MODUL Mata Diklat : Penyusunan Laporan PENDAHULUAN • Kaitan dengan modul sebelumnya tentang “Penyusunan Laporan” • Tujuan: Peserta diklat dapat menjelaskan penyusunan laporan, syarat-syarat dan bahanbahan untuk penyusunan laporan, serta kegunaannya dalam tugas sehari-hari. • Kegiatan 1 : bahan-bahan untuk penyusunan laporan • Kegiatan 2 : langkah-langlah penyusunan laporan • Penjelasan umum tentang bahan-bahan untuk penyusunan laporan dan lain-lain. 29


• Informasikan akan ada contoh dan latihan/ praktek menyusun laporan. • Waktu 4 jam pelajaran. KEGIATAN 1 Bahan-bahan untuk Penyusunan Laporan • Tujuan : menjelaskan bahan-bahan untuk penyusunan laporan. • Pokok Materi : Data dan informasi Catatan Bukti-bukti fisik • Uraian materi: 1. Data dan informasi • Jenis data • Peserta diklat diminta mengidentifikasi jenis data • Peserta diklat diminta menjawab pertanyaan berkaitan dengan data dan informasi. • Disajikan kesimpulan dari pembahasan tentang data dan informasi. • Dst KEGIATAN 2 Langkah-langlah Penyusunan Laporan Dst. PENUTUP Uraian singkat penyimpulan tentang Penyusunan Laporan. Peserta diklat diminta kembali untuk melakukan latihan/praktek. Peserta diklat diminta untuk mencocokkan hasil tugasnya dengan kunci tugas. Bila belum mencapai penguasaan 65 prosen diminta kembali mempelajari modul. 30


2. Penulisan a. Menulis draft 1 Setelah Anda mempersiapkan outline,langkah berikutnya adalah mencoba menulis draft 1. Ada beberapa pertanyaan yang perlu dipertimbangkan dalam menulis draft . • Apakah Anda telah menulis dalam bahasa yang umum dipakai, dan menggunakan bahasa yang akrab seperti menyapa peserta diklat dengan sapaan “Anda”, dan saya bagi penulis? • Apakah Anda telah menggunakan pertanyaan retorik secara tepat misalnya pada awal uraian diberikan pertanyaan retorik kemudian Anda menjawabnya dalam uraian berikutnya? • Apakah Anda telah menghindari penggunaan sebuah kata yang terlalu sering, sementara Anda dapat menggantinya dengan kata lain? • Apakah Anda telah menggunakan bahasa preciese atau jelas daripada bahasa yang abstrak dan tidak jelas? • Apakah Anda telah berusaha menggunakan bahasa/kalimat aktif dari kalimat pasif? • Apakah Anda telah menggunakan kalimat yang cukup jelas, pendek dan sederhana? • Apakah Anda telah menggunakan paragraf secara tepat? • Apakah telah jelas point pembelajaran dalam setiap paragraf? • Apakah Anda telah menghindari lebih dari satu point pembelajaran dalam setiap paragraf? • Apakah Anda telah memberikan aktivitas dan feedback secara tepat? • Apakah Anda telah memberikan contoh secara tepat? • Apakah Anda telah menampilkan gambar dan diagram secara tepat? 31


Cobalah Anda menulis draft 1 kemudian mereview tulisan Anda sendiri berdasarkan pertanyaanpertanyaan di atas. b. Melengkapi draft 1 menjadi draft 2 Setelah Anda selesai menulis draft 1 dan coba mereview berdasarkan pertanyaan di atas, tugas berikutnya adalah melengkapidraft 1 menjadi draft 2. Sekarang Anda telah memahami apa kekurangan dan kelebihan dari tulisan Anda. Ada beberapa pertanyaan dalam menilai draft 2 • Sudahkah Anda membuat tulisan Anda jelas bagi peserta diklat tentang apa yang mereka harapkan dari tulisan Anda? • Sudahkan Anda menghindari bahasa yang membingungkan? • Apakah semua uraian cukup jelas bagi peserta diklat? • Apakah tata letak, contoh, gambar-gambar dibuat dalam efek yang menarik? • Apakah peserta diklat sudah diarahkan bila mereka harus mendengarkan radio, menonton program video, atau melakukan praktek? • Apakah Anda telah membuat tes mandiri “self assessment” dengan frekuensi yang cukup dan relevan terhadap tujuan belajar? • Apakah feedback/umpan balik yang Anda berikan cukup membantu peserta diklat dalam mencocokkan jawaban mereka? • Apakah Anda telah menetapkan waktu yang realistis bagi peserta diklat dalam melakukan suatu aktivitas?

32


c. Menulis tes/penilaian hasil belajar peserta diklat Pengembangan bahan tes atau penilaian pada dasarnya tidak terlepas dari pengembangan bahan belajar itu sendiri. Penulis hendaknya mampu memilih metode, teknik dan alat penilaian yang tepat, sehingga dapat mengukur pencapaian tujuan secara tepat. Pada dasarnya ada dua penggunaan hasil penilaian dalam proses belajar mandiri, yaitu: • Untuk membantu peserta diklat dalam memperbaiki kegiatan belajar mereka. • Untuk memberikan laporan tentang apa yang telah mereka pelajari. Penggunaan hasil penilaian yang pertama sering disebut tes formatif karena dimaksudkan untuk membantu peserta diklat belajar. Yang kedua disebut tes sumatif karena untuk menginformasikan tentang pencapaian hasil belajar.

• LATIHAN

1. Jelaskan langkah-langkah dalam mempersiapkan outline sebuah modul! 2. Jelaskan langkah-langkah dalam menulis modul! 3. Faktor-faktor apakah yang perlu diperhatikan jika Anda menulis modul?

33


C. TAHAP REVIEW, UJI COBA DAN REVISI

1. Review Dalam kegiatan ini anda meminta beberapa orang untuk membaca draft Anda secara cermat dan mintalah kritik dari mereka, biarkan mereka memberikan komentar yang konstruktif. Siapa sajakah yang dapat Anda harapkan menjadi reviewer? Ada tiga kelompok reviewer, yaitu : • Ahli materi/ahli bidang studi, • Ahli media/ahli instruksional, • Teman sejawat/tutor yang sering berhubungan dengan peserta diklat. Jika Anda bekerja dalam satu tim, penting sekali agar ahli materi dan ahli media membaca tulisan Anda secara cermat. Selain itu usahakan minimal satu kali teman sejawat Anda diminta untuk memberikan komentar terhadap tulisan Anda atau pembicaraan tatap muka secara pribadi atau dalam pertemuan tim. Kegiatan diskusi tim ini sangat penting, agar setiap penulis mendapat masukan dari ahli materi dan ahli media, serta dapat memberikan masukan sesama penulis dalam hubungan yang simpatik dan saling mendukung. Bidang yang dikomentari pada dasarnya ada dua, yaitu: • isi/bidang studi, dan • penyajian atau efektivitas pengajaran Pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut isi/bidang studi antara lain : • Apakah tujuan umum dan tujuan khusus telah tergambar secara jelas ? • Apakah tujuan-tujuan tersebut relevan dengan kebutuhan nyata peserta diklat ? 34


• Apakah tujuan-tujuan khusus merupakan penjabaran dan mendukung tujuan umum? • Apakah ada tambahan tujuan umum dan tujuan khusus yang perlu dimasukkan? • Apakah materi sudah memadai untuk mencapai tujuan? • Apakah faktor-faktor yang disajikan sudah benar dan tepat? • Apakah materinya up to-date? • Apakah antar materi saling terkait secara logis? • Apakah uraian materi sudah didukung dengan contoh, analogi, ilustrasi dan cara studi? Pertanyaan-pertanyaan di atas terutama menjadi tanggung jawab ahli materi. Dapat pula teman sejawat menyoroti masalah ini atau memberikan masukan tentang hal-hal yang menyangkut penyajia/efektivitas antara lain: • Apakah peserta diklat akan memahami apa yang harus mereka kerjakan? (Apakah sudah ada petunjuk belajar yang memadai)? • Apakah menurut Anda peserta diklat akan mengalami kesulitan mencapai tujuan-tujuan yang telah tertulis? • Apakah materi memiliki tingkat kesukaran yang sesuai dengan kemampuan peserta diklat? • Apakah contoh, analogi, ilustrasi dan studi kasus (case study) yang diberikan tampaknya sesuai dengan minat dan keadaan peserta diklat? • Apakah istilah-istilah baru telah dijelaskan secara baik? • Apakah aktivitas-aktivitasnya berguna dan dapat dipraktekkan? • Apakah tugas-tugas saling terkait dengan aktivitas? • Dapatkah Anda memberikan saran untuk contoh, analogi, ilustrasi, case study, aktivitas, tugas-tugas dan test untuk perbaikan bahan belajar tersebut? 35


Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih merupakan tanggung jawab pengkaji media. 2. Uji Coba a. Uji coba tatap muka dalam kelompok kecil Untuk uji coba ini Anda membutuhkan dua atau tiga peserta diklat sebagai sampel. Sampel hendaknya dari peserta diklat yang akan mempelajari bahan belajar ini. Peserta diklat tersebut diminta untuk mengerjakan/mempelajari draft modul yang telah diperbaiki berdasarkan hasil review ahli materi, ahli media dan teman sejawat. Bagaimana memulai uji coba ? Duduklah bersama peserta diklat anda dalam tempat yang tidak terlalu jauh sehingga anda dapat mengamatinya selama satu atau dua jam. Teliti jika perlu melalui test bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memulai pelajaran. Selain itu teliti pula apakah peserta diklat memiliki pengetahuan awal yang disyaratkan untuk mempelajari modul Anda. (Cara ini dapat ditempuh dengan meminta peserta diklat membaca modul sebelumnya, yang materinya terkait erat dengan modul yang akan dipelajari). Jelaskan kepada peserta diklat bahwa tujuan Anda adalah menguji coba modul bukan menguji peserta diklat. Mintalah mereka untuk mengerjakannya secara santai/rilex dan dalam keadaan wajar-wajar saja. Kemudian mintalah peserta diklat untuk memulai. Amati bagaimana mereka mempelajari modul Anda. Dari manakah peserta diklat memulai/apa yang dijadikan ‘‘starting point’’ ? Bagaimana reaksi mereka terhadap aktivitas dalam modul ? apakah ada hal-hal yang membuat peserta diklat Anda 36


bosan, jenuh atau mengalami kesulitan? Jika peserta diklat anda telah selesai, berikan test untuk mengetahui apakah peserta diklat anda telah belajar? Informasi yang diperoleh dari hasil uji coba ini, hendaknya dijadikan dasar untuk perbaikan modul Anda. Apabila uji coba yang telah Anda lakukan sejauh ini belum memberikan semua informasi yang Anda butuhkan, Anda memerlukan suatu uji coba yang lebih ‘‘realistic’’ yang disebut uji coba lapangan “field trials’’. b. Uji coba lapangan Dalam uji coba ini anda membutuhkan sampel peserta diklat lebih banyak, katakan 20 – 30 orang. Anda dapat melakukan hal-hal sebagai berikut. • Mintalah peserta diklat untuk menyelesaikan test dalam pelajaran tersebut, baik sebelum atau sesudah membaca modul Anda. Koreksilah hasil mereka. • Mintalah mereka untuk mengisi “kuesioner/ daftar pertanyaan yang meminta komentar mereka tentang: - Berapa waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan bahan belajar tersebut? - Bagaimana mengenai kemudahan/ keterkaitan dan kegunaan bahan belajar tersebut? - Bagaimana yang mereka sukai dan tidak mereka sukai? • Interview beberapa peserta diklat dan amati bagaimana tanggapan umum mereka terhadap bahan belajar dan bagaimana saran mereka untuk perbaikan bahan belajar tersebut. 37


3. Revisi Tujuan diadakannya review dan uji coba adalah untuk perbaikan bahan belajar. Bila semua informasi atau komentar yang didapatkan dari ahli materi, ahli media dan teman sejawat dipakai untuk memperbaiki bahan belajar, sebenarnya kita telah mendapatkan bahan belajar yang cukup baik. Apalagi bila hasil uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan dijadikan dasar untuk perbaikan modul, maka kita telah mendapatkan modul yang lebih baik lagi. Dengan demikian modul tersebut telah siap untuk masuk dalam tahap berikutnya yaitu tahap “finalisasi” atau penyelesaian.

D. FINALISASI DAN PENCETAKAN Uraian

Setelah modul direview, diuji coba dan direvisi maka langkah berikutnya adalah finalisasi dan pencetakan. Finalisasi berarti kita melihat kembali kebenaran text dan kelengkapan modul sebelum modul siap untuk dicetak. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tahap finalisasi. • Apakah text telah sempurna (tidak salah ketik)? • Apakah ilustrasi yang diminta telah lengkap? • Apakah catatan kaki dan daftar pustaka telah lengkap? • Apakah penomeran halaman sudah benar? Dalam pencetakan modul yang penting untuk diperhatikan adalah: • typografi/tata huruf • heading • penomeran halaman dan catatan kaki • layout • ilustrasi • penggunaan warna 38


Dengan memperhatikan masalah tersebut diharapkan hasil pencetakan dapat dibaca dengan baik, enak dibaca, memiliki daya pikat terhadap pembaca, jelas batas uraian dan pemenggalan bahasanya, dan tata letak sesuai dengan umur dan tingkat kemampuan pembaca. Dalam pencetakan modul lembaga pembuat modul dapat menempuh 2 cara : 1. pencetakan diserahkan ke percetakan, 2. pencetakan dilakukan di kantor sendiri, dengan menggunakan Desktop Publishing. Desktop Publishing adalah suatu sistem pencetakan dengan memanfaatkan komputer yang mampu untuk mengatur text dan grafik dengan memanipulasi gambar yang tampak dilayar. Komputer yang dapat digunakan adalah Macintosh dan IBM PC, serta jenis komputer lain yang memungkinkan untuk itu. Kelebihan Desktop Publishing dibandingkan dengan pencetakan konvensional adalah : • pengontrolan lebih baik pada pasca produksi • lebih cepat • lebih mudah dan lebih cepat untuk diedit • revisi dapat dilakukan dari terbitan terbaru • relatif lebih murah, jika dihitung pencetakan perlembar Kelemahannya adalah : • butuh pelatihan khusus • butuh dukungan teknik yang memadai

39


• TUGAS 1

1. Mengapa dalam pengembangan modul perlu perencanaan yang matang? 2. Faktor-faktor apakah yang perlu diperhatikan dalam merencanakan modul? 3. Faktor-faktor apakah yang perlu diketahui tentang peserta diklat dalam rangka perencanaan modul? 4. Apakah perbedaan antara tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus? 5. Faktor-faktor apakah yang perlu diperhatikan dalam penentuan isi dan urutan materi? 6. Faktor-faktor apakah yang perlu diperhatikan dalam rangkan pemilihan media? 7. Mengapa penilaian perlu dibicarakan sejak tahap perencanaan?

40


Penutup Modul ini telah menjelaskan tentang Prosedur Pengembangan Modul. Isi utama modul ini adalah langkah-langkah penulisan modul. Dalam prosedur pengembangan modul langkahlangkahnya adalah perencanaan, penulisan, review dan revisi serta finalisasi. Saya yakin bahwa anda telah memiliki cukup bekal dalam tulis menulis modul. Namun demikian mungkin Anda sebagai widiaiswara perlu berlatih terus dan memperbanyak pengalaman khusus dalam menulis modul diklat. Kompetensi yang telah Anda kuasai setelah mempelajari modul ini, adalah mampu menerapkan prosedur pengembangan modul. Materi pokok yang ada dalam modul ini adalah; 1. Pengertian modul, dan fungsinya dalam diklat. 2. Cara pengembangan modul seperti; adaptasi, kompilasi, dan menulis, 3. Langkah-langkah penulisan modul. Sebagai tindak lanjut dalam mempelajari modul ini diharapkan Anda mau mempelajari modul-modul berikutnya yang lebih teknis. Setelah itu mempraktekkan materi yang anda pelajari dengan menggunakan bahan-bahan yang tersedia sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam modul ini. Semoga sukses sebagai penulis modul.

41


Daftar Istilah -

Daftar Pustaka Anonim, 1991. Writing for Distance Education, Samples, International Extension College, Cambridge. Arief, S. Sadiman, dkk. 1986. Media Pendidikan, CV Rajawali, Jakarta. Gachuchi, D. 1989. Handbook for Designing and Writing Distance Education Materials, DSE, Bonn. Jenkins, Janet. 1987. Course Development, A manual for Editors of Distance Teaching Materials, London: IEC Lewis, Roger, and Paine, Nigel, 1985. How to Communicate with the Learner (open Learning Guide 6), Council for Educational Technology, London. Pat Heim, Ph.D, Elwood, N, Chapman. Learning to Lead, An Action Plan for Succes, (A Self-Improvement Program for Manager) Rowntree, Derek. 1990. Teaching Through Self-Instruction, Kogan Page, London. Rowntree, Derek, 1981. Developing Courses for Students, McGraw-Hill.

oooOooo

42


1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212

Bab 2

123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121

PENYUSUN AN G ARIS PENYUSUNAN GARIS BES AR ISI MODUL BESAR AN (GBIM) D DAN PER UMUS AN TUJU AN UMUSAN TUJUAN PERUMUS Pendahuluan

B

ab ini merupakan bagian yang khusus membahas mengenai pengembangan modul pembelajaran (bahan belajar). Kalau Anda seorang widiaiswara, pelatih, instruktur, guru, dosen atau orang yang bekerja di bidang pendidikan dan pelatihan, Bab ini sangat bermanfaat bagi Anda sebab sangat erat dengan pekerjaan Anda sehari-hari. Bab ini dibagi menjadi dua Sub Bab, yaitu: • 1 : Penyusunan garis-garis besar isi modul (GBIM) • 2 : Perumusan Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini Anda diharapkan dapat menyusun garis-garis besar isi modul/GBIM dan tujuan pembelajaran dengan benar. Pada akhir setiap sub bab disediakan soal-soal latihan atau tugas yang perlu Anda kerjakan. Di bagian belakang bab ini disediakan kunci jawaban tugas. Setelah selesai mengerjakan soal atau tugas itu cocokkan jawaban Anda dengan kuncinya. Dengan mengerjakan soal atau tugas itu Anda dapat menilai kemajuan belajar Anda sendiri. Seyogyanya Anda tidak melihat kunci jawaban sebelum mengerjakan soalnya. Sebab kalau hal itu Anda lakukan, Anda kehilangan kesempatan untuk menilai kemajuan belajar Anda sendiri. 43


Pelajarilah bab ini secara berurutan. Mulailah dengan sub bab 1 hingga isiya Anda kuasai dengan baik. Untuk mengetahui apakah Anda telah menguasai isi pelajaran pada suatu sub bab, kerjakan tugas yang disediakan pada akhir sub bab itu dan kemudian cocokkan jawaban Anda dengan kunci jawabannya. Bila masih ada pertanyaan yang belum dapat Anda jawab dengan benar, itu berarti ada bagian yang belum Anda pahami benar. Pelajarilah kembali bagian itu. Setelah Anda yakin bahwa Anda telah menguasai semua isi pelajaran pada sub bab itu, barulah Anda melanjutkan ke sub bab berikutnya. Anda memerlukan waktu kurang lebih empat jam untuk mempelajari bab ini. Selamat belajar.

44


123456789012345678901234567890121234567890123456 123456789012345678901234567890121234567890123456 123456789012345678901234567890121234567890123456 123456789012345678901234567890121234567890123456

Kegiatan Belajar 1

PENYUSUNAN GBIM Tujuan Kegiatan Belajar 1 ini akan membicarakan apa yang dimaksudkan dengan “Garis-garis Besar Isi Modul (GBIM)”, dan “Kedudukan Serta Pentingnya GBIM dalam Pengembangan Pembelajaran”. Setelah selesai mempelajari materi Kegiatan Belajar 1 ini, diharapkan Anda akan dapat menjelaskan pengertian, kedudukan dan pentingnya GBIM serta fungsinya dalam pengembangan pembelajaran. Agar mengarah pada pemahaman yang sama, perlu terlebih dahulu dipahami istilah yang sering digunakan yaitu Garisgaris Besar Isi Program Media (GBIPM). Kata “media” di dalam GBIPM ini dapat saja berupa media cetak, seperti modul atau media non cetak yang berupa kaset, video atau media elektronik. Dengan demikian, istilah GBIM atau Garis-garis Besar Isi Modul, hakekat dan fungsinya sama saja dengan GBIPM. Perbedaannya adalah bahwa pada GBIPM jenis media yang akan dicakup itu lebih dari satu. Sedangkan pada GBIM, jenis media yang akan dikembangkan atau dicakup hanya satu, yaitu media cetak modul. Istilah lainnya yang perlu juga dipahami adalah Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) atau yang lazim disebut juga sebagai kurikulum sekalipun memang masih ada komponen lain di dalam kurikulum. 45


GBPP inilah yang dijadikan sebagai pegangan atau pedoman oleh para guru (di samping buku paket atau buku teks) di dalam membelajarkan para peserta didiknya. GBPP ini pula yang digunakan sebagai pegangan atau pedoman di dalam menulis buku paket atau buku teks oleh para penulis buku. GBPP ini juga yang dijadikan sebagai acuan di dalam pengembangan butir-butir tes untuk menilai tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pembelajaran yang diterima peserta didik selama kurun waktu tertentu. Pada umumnya, istilah GBPP digunakan dalam pendidikan sistem persekolahan. Selanjutnya, apabila sekarang kita bandingkan GBPP dengan GBIPM atau GBIM, maka yang sama di antara ketiganya adalah yang menyangkut fungsinya. Ketiganya berfungsi sebagai guidance bagi guru, dosen, instruktur, widiaiswara atau pengembang pembelajaran lainnya dalam melakukan pekerjaannya lebih lanjut. GBIPM berfungsi sebagai pedoman/landasan untuk mengembangkan bahan belajar media dan butir-butir tes untuk penilaian kemampuan peserta didik terhadap materi bahan belajar media. Demikian juga halnya dengan GBIM, yaitu sebagai acuan atau pedoman untuk mengembangkan bahan belajar modul dan butir-butir tes tentang penguasaan peserta didik terhadap materi modul. Secara singkat dapat dikatakan bahwa GBPP adalah pedoman/landasan yang digunakan guru/dosen untuk mengelola kegiatan pembelajaran bagi para siswa atau mahasiswanya. Sedangkan GBIPM, adalah pedoman/ landasan yang digunakan untuk mengembangkan program media pembelajaran, baik yang akan digunakan di lingkungan sekolah maupun luar sekolah. GBIM lebih khusus lagi, yaitu 46


pedoman/landasan yang digunakan untuk mengembangkan satu jenis program media pembelajaran saja, yaitu modul. Sekarang, cobalah Anda jelaskan secara singkat menggunakan kata-kata sendiri sehingga jelas perbedaan atau kesamaan antara GBPP, GBIPM dan GBIM? (10 Menit) Dalam pengembangan pembelajaran (instructional development), langkah pertama yang harus dilakukan adalah pengembangan rancangan pembelajaran (inctructional design). Untuk menghasilkan rancangan pembelajaran, perlu dilakukan serangkaian kegiatan dan salah satu di antaranya adalah penyusunan atau pengembangan Garis-garis Besar Isi Program Media (GBIPM). Dalam uraian lebih lanjut, istilah yang akan digunakan sebagai fokus pembahasan kita adalah GBIM. Mengapa? Sebab hanya satu jenis media pembelajaran yang akan kita kemas, yaitu media cetak yang disebut modul.

Uraian Ada 2 kegiatan besar yang perlu dilakukan untuk dapat menghasilkan GBIM, yaitu: a. Mengidentifikasi, mengumpulkan dan menganalisis berbagai informasi atau dokumen yang tersedia tentang sasaran program; dan b. Melakukan analisis kebutuhan belajar sasaran program. Data dan informasi yang dihasilkan dari kedua kegiatan inilah yang menjadi dasar/pijakan di dalam menyusun GBIM.

47


• Apakah yang dimaksud dengan Garis-garis Besar Isi Modul (GBIM)? Garis-garis Besar Isi Modul adalah suatu matriks yang berfungsi sebagai alat pemetaan materi pembelajaran yang akan dikemas menjadi modul. GBIM ini dapat juga disebut sebagai patron atau pola yang akan menjadi landasan pengembangan/pengemasan materi pembelajaran modul. Di dalam GBIM ini dirumuskan apa yang menjadi judul/ topik materi yang akan dikemas, pokok bahasan/sub pokok bahasan yang akan menjadi fokus uraian materi, acuan/referensi yang digunakan atau yang disarankan digunakan lebih lanjut dalam pengembangan materi pembelajaran. Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan diuraikan komponenkomponen yang terdapat di dalam format/matriks GBIM sebagaimana yang disajikan pada Lampiran. Tidak ada keharusan bahwa matriks yang terdapat pada Lampiran yang harus Anda gunakan. Juga tidak harus berupa matriks. Anda dapat melakukan penyempurnaan sesuai dengan tuntutan kebutuhan yang ada. Sekalipun memang tidak harus dalam bentuk matriks, tetapi penggunaan matriks akan membantu mempermudah Anda untuk melihat secara cepat dan menyeluruh materi modul yang akan dikemas. Justru yang lebih dipentingkan adalah bahwa di dalam GBIM ini harus dicakup setidak-tidaknya komponenkomponen berikut. a. Judul atau topik materi pembelajaran, b. Pokok bahasan/sub pokok bahasan, 48


c. Tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus, d. Pokok-pokok materi pembelajaran, e. Butir-butir penilaian, f. Acuan atau literatur yang digunakan menyusun GBIM dan yang disarankan untuk digunakan dalam pengembangan lebih lanjut materi pembelajaran. Mengapa GBIM itu penting disusun apabila akan mengembangkan modul sebagai media pembelajaran? Penyusunan atau pengembangan GBIM merupakan langkah awal yang harus dilakukan setelah analisis kebutuhan belajar apabila kita akan mengembangkan modul. Kekurangcermatan di dalam mengembangkan GBIM akan mempengaruhi langkah-langkah berikutnya, misalnya saja tentang kedalaman atau keluasan materi pembelajaran yang akan dicakup. GBIM sebagai suatu matriks dijadikan sebagai pegangan/ pedoman oleh para penulis materi pembelajaran dan juga bagi pengkaji materi pembelajaran. Tidak hanya pegangan atau pedoman bagi kedua jenis tenaga spesialisasi ini, tetapi juga menjadi pegangan/pedoman di dalam pengembangan butir-butir penilaian penguasaan peserta terhadap materi pembelajaran. Mengapa? Sebab kejelasan perumusan GBIM akan memberikan kejelasan pula bagi tenaga “evaluator� untuk mengembangkan butir-butir penilaian. Tenaga berkompeten yang seharusnya diikutsertakan setidak-tidaknya adalah: a. Tenaga yang berkompeten di bidang materi/subtansi yang akan dikembangkan (ahli materi/content specialist). Tenaga spesialis inilah yang benar-benar menguasai materi yang akan dikembangkan. 49


b. Tenaga yang berkompeten di bidang media (media specialist) khususnya media cetak. Tenaga spesialis yang demikian ini bertanggungjawab di bidang penentuan materi yang sesuai dan tepat untuk dikembangkan ke dalam media cetak. Dengan preferensi keilmuannya, ahli media akan dapat memilah-milah dan menentukan materi pembelajaran yang diidentifikasi ahli materi yang sesuai dengan karakteristik media cetak.

• Komponen-komponen GBIM

Marilah kita lanjutkan pembahasan tentang materi apa saja yang tercakup dalam GBIM, atau tentang komponenkomponen GBIM. Komponen-komponen yang akan dikemukakan ini tidaklah harus sepenuhnya demikian tetapi dapat disesuaikan dengan perkembangan kondisi yang dihadapi. Memang akan lebih baik jadinya apabila komponen-komponen tersebut dapat dipenuhi. Setelah mempelajari materi bagian ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan masing-masing komponen GBIM. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, GBIM merupakan suatu matriks atau uraian naratif yang berfungsi sebagai suatu pola yang di dalamnya terdapat beberapa komponen. • Komponen-komponen GBIM tersebut adalah sebagai berikut: a) Judul Yang dimaksudkan dengan “Judul atau Topik” dalam hal ini adalah judul program media pembelajaran yang akan dikembangkan. “Judul” hendaknya dirumuskan secara singkat tetapi menarik. 50


“Judul” yang dipilih hendaknya dapat dengan mudah dan cepat mencerminkan materi yang akan digunakan. Perumusannya dapat saja berupa pernyataan atau pertanyaan. Yang juga tidak kalah pentingnya adalah apabila kita mampu merumuskan “Judul” yang dapat menggugah rasa ingin tahu seseorang. Perumusan “Judul” ini dapat saja lebih luas/besar, atau sama dengan atau bahkan juga lebih sempit/kecil daripada pokok bahasan/sub pokok bahasan yang akan menjadi fokus pembahasan. Berikut ini disajikan beberapa contoh judul media pembelajaran di bidang pendidikan terbuka: “Potensi Pendidikan Terbuka”, “Apa Pendidikan Terbuka Itu?”, “Hakekat Pendidikan Terbuka”, “Pendidikan Terbuka: Murah Atau Mahal?”. Cobalah Anda rumuskan di lembar kertas lain beberapa contoh “Judul” lainnya. Dapat saja Anda mengacu pada referensi yang Anda miliki/pelajari atau berdasarkan apa yang Anda dengarkan/ pahami sejauh ini. (10 Menit) b) Pokok Bahasan atau Sub Pokok Bahasan Untuk peserta didik yang berada dalam lingkungan jalur pendidikan sekolah, perumusan pokok-pokok atau sub pokok bahasan yang akan menjadi media pembelajaran tidaklah terlalu menjadi masalah. Mengapa? Kurikulum sebagai peta kebutuhan belajar telah ada. Di dalam kurikulum telah dirumuskan apa yang menjadi pokok atau sub pokok bahasan. Dengan demikian, ahli materi yang berasal dari lapangan 51


(guru materi pelajaran) tinggal mengidentifikasi mana-mana dari pokok atau sub pokok bahasan tersebut yang perlu dikemas ke dalam modul dan media pembelajaran lainnya. Bagaimana merumuskan pokok atau sub pokok bahasan untuk sasaran yang berada pada jalur pendidikan luar sekolah? Hasil analisis kebutuhan belajar dan berbagai dokumen penunjang lainnya kita petakan. Dengan menggunakan peta ini akan mempermudah kita untuk merumuskan pokok atau sub pokok bahasan dari materi pembelajaran yang akan kita kembangkan. Pokok atau sub pokok bahasan yang menjadi fokus materi pembelajaran haruslah dirumuskan secara singkat dan jelas serta mencerminkan materi yang akan dikemas. Untuk suatu topik atau judul satuan bahan pembelajaran dapat saja mencakup satu atau lebih pokok atau sub pokok bahasan. Tidak ada patokan yang kaku. Perumusan ini dapat bersifat tematik atau frasa. Contoh pokok bahasan atau sub pokok bahasan dari judul atau topik “Penyusunan/pengembangan GBIM� adalah “GBIM�. Judul atau topik dapat dirumuskan dalam bentuk frasa, sedangkan pokok atau sub pokok bahasan dirumuskan secara tematik. c) Tujuan Pembelajaran Setiap topik materi/bahan pembelajaran yang kita kembangkan haruslah mempunyai tujuan pembelajaran. Mengapa harus demikian? 52


Tujuan pembelajaran yang dirumuskan secara jelas yaitu suatu pernyataan yang menjelaskan tentang tingkat atau perubahan tingkah laku peserta belajar yang diharapkan setelah selesai mempelajari modul atau bahan belajar tertentu lainnya. Tujuan pembelajaran inilah yang akan menjadi arah yang sekaligus juga sebagai acuan untuk mengembangkan butir-butir penilaian tentang sejauh mana kemajuan belajar yang telah Anda capai. Dengan dirumuskannya tujuan pembelajaran ini akan dapat diketahui apakah Anda telah berhasil di dalam kegiatan belajar Anda atau belum. Atau dengan kata lain, apakah Anda telah sepenuhnya dapat mencapai tujuan pembelajaran yang dirumuskan atau belum. Jika belum, sejauh mana tujuan pembelajaran tersebut telah dapat Anda capai? Jika belum, kegiatan apakah selanjutnya yang harus Anda lakukan? Tujuan pembelajaran ini menjadi pedoman atau arah bagi penulis bahan belajar modul. Tujuan pembelajaran dapat dibagi menjadi : 1) tujuan pembelajaran umum, dan 2) tujuan pembelajaran khusus. Untuk mengetahui lebih jauh tentang tujuan pembelajaran ini, Anda dapat mempelajari modul khusus tentang tujuan pembelajaran. Berdasarkan tujuan pembelajaran yang ada, penulis modul akan dapat mempertimbangkan seberapa dalam dan seberapa luas materi pembelajaran yang akan diuraikan di dalam modul yang akan ditulisnya.

53


Dengan adanya tujuan pembelajaran yang jelas akan membantu penulis modul untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk visualisasi yang diharapkan akan mempermudah peserta didik (pembaca modul) memahami materi modul. Atau dengan kata lain, jika demikian halnya, berarti membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran yang telah diharapkan. Cobalah rumuskan alasan Anda mengapa kita perlu merumuskan tujuan pembelajaran pada setiap topik bahan pembelajaran? (5 Menit) d) Pokok-pokok Materi Pokok-pokok materi yang dirumuskan di dalam GBIM akan digunakan penulis modul sebagai landasan untuk menjabarkan materi modul secara rinci. Sehubungan dengan hal ini, sebaiknya perumusan pokok-pokok materi modul di dalam GBIM dilakukan dengan menggunakan pendekatan pada tujuan pembelajaran khusus yang telah ditetapkan. Artinya, setiap pembelajaran khusus yang ada, dimulai dari tujuan khusus yang pertama diidentifikasi dulu secara tuntas apa yang menjadi pokok-pokok materinya. Selesai mengidentifikasi pokok-pokok materi untuk tujuan pembelajaran khusus yang pertama, barulah dilanjutkan dengan mengidentifikasi pokok-pokok materi tujuan pembelajaran khusus yang kedua. Dan demikian seterusnya. Mengapa perlu kita rumuskan pokok-pokok materi modul di dalam GBIM ini? Apakah tidak cukup 54


apabila telah kita rumuskan tujuan pembelajaran umum dan khusus untuk setiap topik bahan pembelajaran? Memang, dengan adanya tujuan pembelajaran umum dan khusus, kita dapat mengembangkan materi modul. Namun akan lebih terarah lagi pengembangan/penulisan materi modul apabila kita dahului dengan kegiatan mengidentifikasi atau merumuskan pokok-pokok materi untuk setiap tujuan pembelajaran khusus. Dengan merumuskan pokok-pokok materi berarti kita telah memberikan rambu-rambu kepada penulis modul tentang seberapa jauh materi modul perlu dikembangkan. Lebih jauh lagi berarti bahwa penulis modul tidak lagi menulis modul menurut interpretasinya sendiri terhadap tujuan pembelajaran khusus yang telah diterapkan. Di dalam pokok-pokok materi disarankan agar dicantumkan juga contoh yang akan membantu peserta belajar memahami uraian materi. Penulis modul akan memperbanyak contoh dalam mengembangkan uraian materi. Cobalah Anda jelaskan secara singkat mengapa pokok-pokok materi pembelajaran perlu kita cantumkan/masukkan ke dalam GBIM? e) Penilaian Informasi yang dicantumkan dalam penilaian akan memberikan gambaran pada penulis modul tentang bentuk dan butir-butir penilaian yang perlu dikembangkan penulis. Misalkan saja untuk mempelajari modul A, peserta belajar harus 55


mengerjakan tugas-tugas dan mengerjakan tes. Untuk ini, penulis juga harus menyiapkan kunci tugas dan kunci tes. Bentuk-bentuk tugas dapat berupa merumuskan pokok-pokok pikiran terhadap masalah, melengkapi, atau menjawab pertanyaan yang jawabannya dapat dituliskan pada lembar kertas tertentu/buku tugas. Atau, bisa juga tes berupa essay atau pilihan ganda, pilihan salah atau benar, menjodohkan atau bentuk tes lainnya. Perlu juga diinformasikan apakah keseluruhan materi modul itu akan dicakup di dalam tes atau hanya sebagian besar saja. Apakah ada penekanan tentang materi modul yang perlu mendapatkan porsi lebih besar di dalam penilaian, ataukah merata porsinya untuk masing-masing pokok materi? Semakin lengkap informasi yang diberikan (tidak harus terlalu rinci) tentang penilaian akan semakin jelas bagi penulis modul untuk mengembangkan butir-butir tes penilaian dan pemberian tugas. f) Kepustakaan Untuk menghasilkan GBIM tentu menuntut kita mencari bahan-bahan kepustakaan yang relevan dan subtansi yang akan dikembangkan. Bahanbahan kepustakaan ini berfungsi sebagai acuan kita. Tidak hanya bahan-bahan kepustakaan yang kita gunakan menyusun GBIM saja yang perlu dicantumkan atau dituliskan tetapi juga termasuk bahan-bahan kepustakaan yang menurut kita perlu dipelajari oleh penulis modul dan media lain atau oleh pengembang butir-butir tes penilaian. 56


Dalam menuliskan bahan-bahan kepustakaan ini, setidak-tidaknya harus jelas judul buku, nama pengarang, edisi, tempat dan tahun penerbitan. Bila memungkinkan, dapat juga dicantumkan tempat di mana bahan kepustakaan tersebut dapat diperoleh. Cara penulisannya dapat mengikuti cara yang biasa digunakan untuk penulisan bahan kepustakaan. Bahan kepustakaan ini tidak terbatas hanya bahan cetak saja tetapi dapat juga yang berupa media non cetak. Dalam kaitan ini perlu disebutkan judul program, institusi yang memproduksi, lama putar, dan harganya serta tempat di mana media non cetak ini dapat dengan mudah diperoleh. GBIM dapat dikembangkan dalam bentuk matriks atau naratif. Format manapun yang akan dipilih tidak menjadi masalah. Yang justru lebih penting adalah komponen-komponen yang perlu dicakup di dalam GBIM. Pada bagian terdahulu telah diuraikan tentang pengertian GBIM. Pentingnya GBIM disusun apabila kita akan mengembangkan bahan belajar modul. Selanjutnya, pada bagian ini yang akan dibicarakan adalah langkah-langkah penyusunan GBIM. Setelah selesai mempelajari materi bagian ini, Anda diharapkan mampu menjelaskan langkah-langkah penyusunan GBIM. -

Penyusunan GBIM pada dasarnya adalah pekerjaan sebuah tim yang terdiri dari berbagai jenis keahlian atau latar belakang. Tentunya Anda masih ingat bukan sewaktu kita membahas 57


materi sebelumnya, di sana kita menjelaskan siapa saja yang berperan di dalam penyusunan GBIM. -

Cobalah sekarang Anda tuliskan di lembar kertas lain atau di buku latihan Anda tentang siapa saja yang setidak-tidaknya perlu diikutsertakan di dalam penyusunan GBIM? (10 Menit)

-

Baiklah. Apabila Anda telah selesai mengerjakan tugas tersebut, cobalah bandingkan jawaban Anda dengan materi yang diuraikan pada bagian sebelumnya.

-

Bagus sekali jika jawaban Anda sepenuhnya telah sesuai. Namun Anda dapat saja mempelajari ulang materi yang dimaksud apabila Anda masih memandang perlu.

-

Selanjutnya, dalam penyusunan GBIM ini, memerlukan beberapa jenis tenaga dengan latar belakang atau keahlian tertentu yang perlu diikutsertakan.

Perhatikanlah contoh format GBIM berikut ini. Mata Perlajaran/Diklat Kelas/ Jenjang Judul/ nomor modul (1)

Kompetensi dasar/Tujuan pembelajaran Umum (2)

: :

Indikator/ Pokok tujuan pembelajaran Bahasan/ Pokok- materi khusus (3)

(4)

58

Rincian materi/ Sub-sub pokok bahasan (5)

umber Penilian S pu sta ka


1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567

Kegiatan Belajar 2

TUJU AN TUJUAN PEMBEL AJ ARAN PEMBELAJ AJARAN Tujuan Bagian modul ini membicarakan tujuan pembelajaran, termasuk pengertian tujuan, berbagai pendapat mengenai tujuan, dan pentingnya tujuan baik bagi peserta diklat maupun bagi widiaiswara/pelatih. Setelah selesai mempelajari bagian modul ini Anda diharapkan dapat menyusun tujuan pembelajaran yang megandung kompetensi.

Uraian a. Pengertian Tujuan

Ditinjau dari lingkup permasalahannya, tujuan pendidikan dapat dibagi dalam beberapa tingkatan, yaitu tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional. Tujuan pendidikan nasional merupakan rumusan umum tentang pola perilaku dan pola kemampuan yang harus dimiliki sebagai hasil pendidikan nasional. Tujuan Institusional

Tujuan Pembelajaran

Tujuan Nasional

Tujuan Kurikuler

Gambar Jenjang Tujuan Pendidikan 59


Tujuan institusional ditentukan oleh tugas dan fungsi yang dipikul oleh lembaga pendidikan bersangkutan dalam rangka menghasilkan lulusan dengan kemampuan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Institusi diklat juga memiliki tujuan institusional yaitu menyiapkan dan meningkatkan kompetensi sumber daya aparatur. Tujuan kurikuler adalah rumusan umum tentang macammacam kemampuan yang terdapat dalam masing-masing bidang studi. Sedangkan tujuan pembelajaran (instructional objectives) memberikan pernyataan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap tertentu yang diharapkan akan dimiliki oleh siswa atau peserta pelatihan pada akhir kegiatan pembelajaran tertentu. Mengenai tujuan pembelajaran ini ada beberapa definisi yang diberikan oleh para ahli. Ely (1971) mendefinisikan tujuan pembelajaran sebagai suatu deskripsi perubahan perilaku atau hasil perbuatan yang memberi petunjuk bahwa proses belajar telah berlangsung. Briggs (1977) mengatakan bahwa tujuan pembelajaran ialah suatu pernyataan tentang perilaku yang harus dapat dilakukan oleh siswa/peserta diklat setelah selesai mengikuti kegiatan pembelajaran. Dengan perkataan lain tujuan itu ialah perilaku yang diharapkan dimiliki siswa/peserta diklat setelah menyelesaikan program pembelajaran atau pelatihan tertentu. Secara lebih nyata (konkrit) dapat dikatakan bahwa tujuan pembelajaran ialah pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang diharapkan dimiliki oleh siswa atau peserta diklat setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran.

60


b. Pro dan Kontra mengenai Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran (instructional objectives) mulai diperkenalkan oleh Mager pada tahun 1962. Sejak itu di Amerika Serikat banyak diselenggarakan lokakarya penyusunan tujuan pembelajaran yang melibatkan guruguru. Sesungguhnya perdebatan banyak terjadi mengenai tujuan pembelajaran/diklat dan bagaimana cara merumuskannya itu. Banyak orang yang kurang menyetujui perumusan tujuan yang berorientasi pada perilaku, tetapi masih lebih banyak orang yang menganggap bahwa tujuan yang berorientasi pada perilaku itu penting. Good dan Brophy (1990) menyatakan bahwa perumusan tujuan berdasarkan perilaku itu telah diasosiasikan dengan pendekatan tertentu dalam perencanaan dan pengawasan pelaksanaan kurikulum. Dalam bentuk ekstrimnya, secara keseluruhan kurikulum dikembangkan dengan menyusun tujuan-tujuan pembelajaran berdasarkan perilaku, lalu mengurutkan tujuan-tujuan itu dalam susunan yang masuk akal, dan menjabarkan isi dan strategi pembelajaran serta menyusun alat evaluasi untuk setiap tujuan pembelajaran itu. Akibatnya guru dihadapkan pada beratus-ratus tujuan yang harus diajarkan dalam urutan tertentu dengan menggunakan isi pelajaran yang sesuai dengan tujuan tersebut dan menggunakan cara-cara yang telah ditentukan. Dalam versi lain, guru masih diijinkan menggunakan kurikulum lama yang telah biasa mereka gunakan, tetapi mereka diwajibkan menyusun tujuan-tujuan pembelajaran berdasarkan perilaku untuk kurikulum tersebut. Kemudian guru wajib menyesuaikan pelaksanaan kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan-tujuan itu. Akibatnya, guru harus berusaha keras untuk menyusun tujuan-tujuan yang sesuai dengan kurikulum yang digunakannya. Bahkan tujuan kurikulum yang sesungguhnya lebih bersifat afektif 61


dan kognitifpun diusahakan supaya dapat dirumuskan dalam bentuk tujuan berdasarkan perilaku. Kalau guru menjumpai isi kurikulum yang sukar dirumuskan tujuan pembelajarannya seringkali bagian itu ditinggalkan atau diabaikan oleh guru. Karena akibat negatif di atas, Good dan Brophy (1990) menyarankan untuk tidak menggunakan istilah “tujuan pembelajaran berdasarkan perilaku� (instructional behavioral objectives) tetapi “tujuan pembelajaran� (instructional objectives) saja. Menurut Popham (dalam Haryono, 1988) dan Sukamto (1996) ada beberapa alasan yang diajukan oleh orang yang tidak menyukai tujuan yang tidak berorientasi kepada perilaku. Contoh : (a) Tujuan yang telah ditentukan secara spesifik sebelumnya, akan menghalangi guru untuk memanfaatkan hal-hal yang tidak terduga yang berkembang dalam proses pembelajaran dalam kelas, (b) siswa hanya mempelajari hal-hal yang tersurat dalam tujuan pembelajarannya, tidak berusaha untuk belajar lebih lanjut, (c) banyak tujuan pembelajaran yang sulit dirumuskan dalam bentuk yang dapat diamati atau diukur, dan (d) perumusan tujuan itu sukar sehingga tidak realistik kalau kita menuntut guru-guru untuk merumuskannya setiap kali akan mengajar. Pendapat di atas dibantah oleh orang-orang yang berpendapat bahwa tujuan pembelajaran itu penting. Popham (dalam Haryono, 1988) yang termasuk orang yang menganggap bahwa tujuan yang berorientasi kepada perilaku itu penting, mengatakan bahwa alasan yang diberikan oleh mereka yang anti tujuan itu kurang tepat. Menurut mereka yang menyetujuinya, tujuan yang berorientasi pada perilaku yang dirumuskan secara spesifik akan menguntungkan siswa atau peserta pelatihan, sebab 62


mereka akan mengetahui kemampuan yang diharapkan dapat mereka lakukan pada akhir kegiatan belajar. Tujuan seperti itu juga akan menguntungkan orang yang membimbing proses belajar karena tujuan itu akan memberi pedoman dalam memilih isi pelajaran atau isi pelatihan. Bagi evaluator tujuan itu juga sangat penting, karena tujuan yang telah dirumuskan secara spesifik itu dapat memberi petunjuk mengenai kemampuan siswa atau peserta pelatihan yang akan diukur. Briggs (1977) menggambarkan pentingnya tujuan pembelajaran dengan mengatakan bahwa: Bila tujuan pembelajaran dapat dirumuskan dengan spesifik, tujuan itu akan memberi petunjuk kepada siswa/peserta pelatihan mengenai kemana mereka harus pergi, bagaimana cara mereka harus pergi ke sana, dan bagaimana mengetahui apakah mereka sudah sampai di sana atau belum�.

c. Pentingnya Tujuan Pembelajaran

Seperti diuraikan di atas tujuan pembelajaran itu bermanfaat bagi siswa/peserta, guru/instruktur, dan penilai (evaluator). Sukamto (1996) menyimpulkan bahwa bagi siswa atau peserta pelatihan tujuan itu berguna karena : (1) dapat memberi arah belajarnya. Dengan memperhatikan tujuannya siswa/peserta mengetahui kemampuan yang diharapkan akan dimiliki pada akhir kegiatan pembelajaran. Karena itu peserta diklat akan belajar ke arah itu. Dengan mengetahui tujuannya peserta diklat tahu ke mana mereka akan pergi; (2) dengan memperhatikan tujuan yang ingin dicapai peserta diklat dapat memilih bahan belajar yang tepat untuk dipelajarinya. Fungsi tujuan bagi peserta diklat adalah menjadi petunjuk bagaimana mereka akan pergi ke tempat yang dituju, (3) dapat mengukur sejauh mana peserta diklat telah mencapai tujuan yang 63


diinginkan. Tujuan yang baik akan menyatakan dengan jelas tingkat keberhasilan yang diharapkan. Karena itu waktu belajar peserta selalu dapat menguji dirinya apakah dia sudah mencapai tujuannya, mencapai separo, atau bahkan kurang dari itu. Dengan membandingkan hasil yang telah dicapai dan tujuan yang harus diselesaikan peserta diklat akan mengetahui kemajuan belajarnya, (4) motivasi belajar peserta diklat akan meningkat karena peserta diklat mengetahui kemajuan belajarnya. Bagi guru atau widiaiswara, tujuan pembelajaran yang berorientasi kepada perilaku juga berguna untuk beberapa kepentingan, diantaranya; (1) membantu guru atau widiaiswara dalam memilih isi materi, strategi pembelajaran, dan sumber belajar yang sesuai untuk dipergunakan peserta diklat dalam belajarnya, (2) memudahkan guru atau widiaiswara dalam mengukur dan mengevaluasi keberhasilan tugas mengajarnya. Selanjutnya apabila disimpulkan tujuan berguna untuk mengarahkan agar proses pembelajaran berlangsung efektif. Bagaimana pembelajaran bisa lebih efektif dengan adanya tujuan pembelajaran berikut ini penjelasannya lebih rinci. Tujuan memberikan rambu-rambu dan petunjuk bagi siswa. Tujuan mengingatkan siswa agar memiliki target yang jelas dalam belajarnya. Tujuan juga menjadi dasar bagi guru dalam pemilihan media dan bahan belajar serta prosedur atau srtategi pembelajaran. Tujuan yang jelas memungkinkan berlangusung proses pemberian fasilitasi yang jelas pula. Tujuan berfungsi memandu prioses evaluasi yang dilakukan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Evaluasi pembelajaran harus selalu berdasarkan tujuan pembelajaran. Tujuan yang baik akan membantu proses menentukan teknik dan penyusunan alat evaluasi. 64


RANGKUMAN

Tujuan ialah pernyataan mengenai kemampuan (pengetahuan, keterampilan dan sikap) yang diharapkan dimiliki peserta diklat setelah selesai mengikuti proses pembelajaran tertentu. Tujuan penting bagi peserta diklat dan widiaiswara serta evaluator diklat.

• Perumusan Tujuan

Bagian ini menguraikan cara merumuskan tujuan, pemilihan kata kerja dan penentuan tingkat kopetensi yang dituntut dalam tujuan. Setelah selesai mempelajarinya diharapkan Anda dapat merumuskan tujuan pembelajaran yang baik. Berikut ini dijelaskan beberapa hal yang dapat Anda jadikan pedoman dalam menyusun tujuan pembelajaran. a. Unsur-unsur Tujuan Pembelajaran Setiap tujuan pembelajaran minimal terdiri atas kata kerja dan obyek. Contoh; mampu menyusun laporan keuangan. Mampu menyusun adalah kata kerja dan laporan keuangan adalah obyek. b. Tujuan pembelajaran itu harus spesifik dan jelas Tujuan yang spesifik itu cakupannya tidak terlalu luas dan tidak mengandung tafsiran ganda. Perhatikan contoh berikut: 1) Tujuan yang kurang spesifik Peserta pelatihan diharapkan dapat menyelesaikan tugasnya dengan menggunakan mesin. Tujuan di atas kurang spesifik karena tidak jelas yang dimaksud dengan menyelesaikan tugasnya. Dari pernyataan itu kita tidak mengetahui tugas apa yang dimaksudkan. Tujuan ini juga tidak 65


memberikan kejelasan mengenai apa yang dimaksud dengan mesin. Dari pernyataan itu tidak jelas bagi kita mesin apa yang boleh digunakan untuk menyelesaikan tugasnya. Apakah mesin hitung, mesin bubut, mesin tik? Ketidakjelasan itu menimbulkan banyak tafsiran. 2) Tujuan yang lebih spesifik Peserta pelatihan diharapkan dapat menghitung koefisien korelasi dengan menggunakan SPSS versi 11. Tujuan ini lebih spesifik sebab; (a) kemampuan yang diharapkan dapat dilakukan dinyatakan dengan jelas yaitu dapat menghitung koefisien korelasi; dan (b) alat yang digunakan untuk menyelesaikan tugas juga jelas yaitu SPSS versi 11. Tujuan yang spesifik itu mempunyai satu tafsiran saja. Karena itu dapat memberi petunjuk yang lang jelas bagi widiaiswara dan peserta diklat mengenai kemampuan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) yang diharapkan dimiliki oleh peserta diklat. c. Tujuan pembelajaran harus berorientasi kepada siswa/peserta pelatihan Dalam menyusun tujuan pembelajaran yang terpenting bukan apa yang harus dilakukan oleh guru/WI dalam proses belajar mengajar, melainkan perilaku yang diharapkan dapat dilakukan oleh siswa/peserta diklat setelah selasi mengikuti kegiatan pembelajaran.

66


Bandingkan dua tujuan berikut ini: 1) Guru/widiaiswara mengajarkan cara menggunakan komputer untuk mengolah data statistik. 2) Siswa/peserta pelatihan dapat mengolah data staitistik dengan menggunakan komputer. Tujuan pada contoh pertama itu berorientasi kepada guru/pelatih/WI. Kalau kita mengacu pada tujuan itu kita dapat mengatakan bahwa tujuan telah tercapai setelah guru/pelatih/WI selesai mengajar atau melatih. Dalam hal ini tidak dipersoalkan apakah siswa/peserta diklat itu telah menguasai pengetahuan, keterampilan, atau sikap yang diinginkan atau belum. Yang penting guru/WI telah melaksanakan tugas mengajarnya. Tujuan pada contoh kedua itu berorientasi kepada siswa pelatihan. Kalau kita mengacu kepada tujuan umum itu, kita baru dapat mengatakan bahwa tujuan telah tercapai kalau siswa pelatihan telah menguasai pengetahuan/keterampilan, dan sikap yang diinginkan. Dalam hal ini yaitu mengolah data statistik dengan menggunakan komputer. Tujuan pada contoh kedua itu lebih baik daripada tujuan pada contoh pertama, sebab tujuan pada contoh kedua itu lebih mengutamakan perubahan perilaku siswa pelatihan. d. Tujuan pembelajaran menggunakan kata kerja yang menunjukkan perilaku yang dapat diamati atau hasilnya dapat diukur (kata kerja operasional) Gagne (1977) mengatakan bahwa proses belajar baru benar benar terjadi kalau pada diri siswa pelatihan telah terjadi perubahan perilaku dan perubahan keterampilan intelektualnya sesuai dengan tujuan 67


yang telah ditentukan. Bila siswa bertambah pengetahuan dan keterampilannya, atau berubah sikapnya, dapat dikatakan bahwa pada diri siswa telah terjadi perubahan perilaku. Dengan demikian siswa itu telah mengalami proses belajar. Supaya hasil belajar atau perubahan perilaku itu dapat dinilai (dievaluasi) tujuan pembelajaran itu harus dirumuskan dengan menggunakan kata kerja yang operasional, yaitu kata kerja yang menunjukkan perilaku yang dapat diamati atau yang dapat diukur hasilnya. Contoh : 1) Peserta pelatihan dapat mengemudikan traktor (mengemudikan adalah perilaku yang dapat diamati). 2) Peserta pelatihan sekretaris dapat menterjemahkan sebuah surat dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris (hasilnya dapat dinilai atau diukur). Kalau isi suratnya tidak berubah dan bahasa Inggrisnya benar berarti peserta telah menterjemahkan dengan benar. 3) Siswa Sekolah Menengah Olah Raga kelas III dapat memukul bola tenis dengan posisi kaki dan tangan yang betul (memukul bola dengan posisi kaki dan tangan yang betul dapat diamati). 4) Siswa SLTP kelas II dapat mencari harga X dalam persamaan 10 + 2 = x +5 (hasilnya dapat diukur atau dinilai). Kalau x = 7 berarti siswa telah menghitung dengan benar.

68


Tabel 1 : Daftar Kata Kerja Operasional Pengetahuan (Knowledge): Mengingat informasi

Pemahaman (Comprehension): Menafsirkan informasi dalam satu kata

menyusun mendefinisikan menggandakan melabel mendaftar menjodohkan mengingat menamai mengurut mengenali menghubungkan mengulang mereproduksi

mengklasifikasi mendiskripsikan mendiskusikan menjelaskan mengekspresikan mengidentifikasi melaporkan menyatakan memilih memilah menceritakan menterjemahkan

Analysis: (Menguraikan pengetahuan dalam bagian-bagian dan menghubung-kan antar bagian itu)

Synthesis: (Menyatukan bagian-bagian menjadi kesatuan yang utuh dan menghubungkanny a dalam situasi baru)

menganalisa menghitung mengkategorikan membandingkan membedakan menginventaris menanyakan

menyusun menghimpun mengarang menciptakan membangun mengkomposisikan merancang merumuskan mengatur mengelola merencanakan mengusulkan mensintesa menulis

Penerapan (Application): Menggunakan pengetahuan atau generalisasi dalam situasi baru menerapkan meimilih mendemonstrasikan mendramakan menggambarkan menafsirkan mengoperasikan menyiapkan mempraktekkan menjadwalkan memecahkan menggunakan Evaluation: Membuat keputusan berdasarkan kriteria tertentu.

menyampaikan memilih membandingkan memperkirakan mengevaluasi memprediksi menskor menyeleksi menilai

Supaya Anda dapat memilih kata kerja yang tepat, Anda harus dapat membedakan kata kerja operasional dari kata kerja yang tidak operasional. 69


Pada tabel berikut ini Anda dapat melihat beda antara kata kerja operasional (dapat diamati atau dapat diukur) dari kata kerja yang kurang operasional. Tabel 1 : Daftar Kata Kerja Operasional dan Kata Kerja yang Kurang Operasional Kata Kerja operasional

Kata Kerja yang kurang operasional

Membedakan Mengidentifikasikan Menuliskan Membandingkan Mengoperasikan Mengemudikan Menguraikan Menyusun Menilai Memecahkan (soal) Menjelaskan Dsb.

Mengerti Mengetahui Menghargai Menyukai Mengapresiasi Menghayati Menyadari Memahami Menyadari Merasakan Mencintai Dsb.

Menggunakan kata kerja yang tidak operasional dalam merumuskan tujuan pembelajaran itu tidak tepat (Mager, 1962, Gagne, Briggs 1974). Hal tersebut akan menyebabkan tujuan yang disusun menjadi tidak spesifik atau mempunyai tafsiran ganda. Dengan perkataan lain, tujuan yang tidak menggunakan kata kerja operasional mudah disalahtafsiran. Contoh; Siswa Akademi Senirupa/peserta diklat seni mengerti kombinasi warna yang bagus. 70


Tujuan di atas kurang baik karena menggunakan kata kerja yang tidak operasional, yaitu “mengerti�. Kata mengerti itu memberikan tafsiran ganda, misalnya: 1. Bila peserta dapat menjelaskan susunan warna yang kombinasinya baik, dapat dikatakan bahwa siswa itu telah mengerti; 2. Bila siswa dapat memakai baju-baju yang kombinasinya baik dapat dikatakan bahwa dia telah mengerti; dan 3. Bila siswa dapat membedakan kombinasikombinasi warna yang baik dari kombinasikombinasi warna yang tidak baik, dapat juga dikatakan bahwa dia telah mengerti. Di atas telah Anda pelajari bahwa kata kerja yang tidak operasional menyebabkan tujuan tidak spesifik. Karena itu perlu digunakan kata kerja yang operasional. Namun demikian dalam hal ini Anda harus berhati-hati, sebab menggunakan kata kerja operasional tidak dengan sendirinya menyebabkan tujuan yang Anda susun menjadi spesifik. Meskipun kata kerjanya operasional, kalau cakupannya terlalu luas tujuan itu tentu kurang spesifik. Contoh: 1. Siswa kelas lima SD dapat mengerjakan soal hitungan tanpa kesalahan. 2. Peserta diklat sekretaris dapat menulis surat. Tujuan pembelajaran nomor 1 (satu) di atas menggunakan kata kerja operasional. Namun tidak jelas soal hitungan apa yang dikerjakan. Apakah segala jenis hitungan, atau soal-soal pecahan. Apakah soal-soal dengan bilangan tidak diketahui 71


atau soal lainnya. Karena cakupannya terlalu luas tujuan di atas menjadi tidak spesifik dan emmpunyai banyak tafsiran. Jadi agar tujuan bersifat spesifik gunakan kata kerja yang operasional yang cakupannya tidak terlalu luas. Tujuan pembelajaran nomor 2 juga menggunakan kata kerja operasional, namun tidak jelas surat apa yang ditulis. Apakah segala jenis dan bentuk surat atau surat lamaran, surat dinas, surat penawaran dsb. Meskipun menggunakan kata kerja operasional, tetapi karena cakupannya terlalu luas menjadi kurang spesifik. Dalam pembelajaran di suatu diklat widiaiswara sealu mengharapkan agar peserta diklat mengerti apa yang diajarkannya. Tetapi mengerti adalah perilaku tertutup, yaitu perilaku mental yang tidak mudah diamati dan tidak mudah diukur. Agar dapat diukur perilaku mengerti tersebut harus dicari buktinya yang dapat diamati atau diukur, atau dicari perilaku penggantinya yang menandakan seseorang mengerti. Untuk dapat diterima sebagai perilaku pengganti harus dipenuhi dua syarat yaitu sahih dan sesuai. Dengan kata lain, perilaku pengganti ini harus benar-benar mewakili perilaku tertutup tadi. e. Kata kerja yang digunakan dalam tujuan pembelajaran harus menunjukkan tingkat penguasaan yang diinginkan. Hasil belajar itu mempunyai tingkat yang berbedabeda. Apabila setelah mempelajari sesuatu, siswa hanya mampu menyebutkan kembali pelajaran yang telah dibaca atau didengar dari guru, maka tingkat kemampuan yang diperoleh siswa sangat rendah. Pengetahuannya bersifat hafalan dan mudah 72


dilupakan. Apabila setelah mempelajari sesuatu siswa dapat menjelaskan atau menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri, hasil belajarnya sedikit lebih tinggi. Kemampuan menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri hanya dapat dilakukan siswa yang benar-benar telah memahami isi pelajaran. Apabila setelah mempelajari sesuatu siswa dapat menggunakan atau menerapkan yang dipelajarinya untuk menghadapi situasi yang baru, maka bisa disimpulkan bahwa hasil belajarnya lebih tinggi lagi. Tingkat penguasaan hasil belajar seperti dijelaskan di atas telah diklasifikasikan secar sistematis menjadi beberapa kategori. Klasifikasi tujuan pembelajaran yang banyak dikenal adalah taksonomi dari Benyamin S. Bloom dan taksonomi dari Gagne. Menurut teori, peserta diklat harus mempelajari sesuatu dari tingkat yang rendah dahulu baru kemudian menuju tingkat yang lebih tinggi. pada saat menguji atau mengevaluasi kemampuan peserta diklat kita juga harus mendasarkannya pada klasifikasi tersebut. Kalau kita ingin mengevaluasi tingkat kemampuan menerapkan, tingkat sebelumnya yaitu menjelaskan dan memahami juga dievaluasi atau terevaluasi. Taksonomi tujuan pembelajaran menurut Gagne adalah sbb: • informasi verbal • keterampilan intelektual • strategi kognitif • keterampilan motorik • sikap 73


Taksonomi tujuan pembelajaran dalam ranah kognitif menurut Bloom dapat digambarkan sebagai berikut; Taksonomi Tujuan Pembelajaran Sintesis Menggabungkan Analisis bagian-bagian Penerapan Memecahkan Menggunakan konsep-konsep menjadi satu konsep dan menjadi bagian kesatuan Pemahaman Pengetahuan Menterjemahkan prosedur untuk Mencari Mengingat memecahkan hubungan antar Menafsirkan Menghafal masalah bagian Menyimpulkan

Evaluasi Membandingkan nilai-nilai, ide-ide dsb. dengan standar

• Rumusan Tujuan Pembelajaran Yang Lengkap Bagian modul ini membicarakan susunan tujuan pembelajaran yang lengkap, yaitu tujuan yang mempunyai empat unsur: A, B, C, dan D. Bagian modul ini juga membahas pengertian masing-masing unsur tujuan ini. Setelah mempelajari bagian ini Anda diharapkan dapat menyusun tujuan yang unsurunsurnya lengkap. Seperti yang telah Anda pelajari di bagian sebelumnya, sebuah tujuan sedikitnya harus mempunyai “subyek” dan “kata kerja beserta dengan obyeknya” Tujuan yang mempunyai dua unsur seperti itu merupakan tujuan pembelajaran yang susunannya kurang lengkap. Tujuan pembelajaran yang lengkap itu terdiri dari empat unsur, yaitu A, B, C, dan D. Arti untuk masingmasing unsur itu dapat Anda pelajari dari uraian berikut ini.

74


Perhatikan tujuan pembelajaran berikut ini dan carilah unsur-unsurnya. Diberikan seperangkat peralatan operasi, siswa Sekolah Perawat tingkat akhir dapat menyebutkan nama dan fungsi tiap alat operasi itu tanpa satu kesalahan pun. Tujuan pembelajaran di atas mempunyai empat buah unsur, yaitu : AUDIENCE (biasa disingkat dengan huruf A) yaitu orang yang mengikuti pelajaran atau pelatihan. Jadi orang yang diharapkan akan dapat melakukan pekerjaan seperti yang disebutkan oleh kata kerja dalam tujuan itu. Dalam kalimat pernyataan suatu rumusan tujuan pemmbelajaran, audience ini selalu menjadi subyek atau pokok kalimat. Pada contoh tujuan di atas audience-nya adalah “siswa Sekolah Perawat tingkat akhir”. Bila Anda menyusun tujuan pembelajaran seyogyanya audience-nya dinyatakan secara spesifik. Artinya jelas dan tidak mudah disalahtafsirkan. Pada contoh di atas audience-nya telah disebutkan dengan spesifik. Dalam tujuan itu audience tidak hanya disebutkan siswa saja, tetapi siswa Sekolah Perawat. Bahkan bukan sembarang siswa Sekolah Perawat, tetapi siswa Sekolah Perawat tingkat akhir. Suatu tujuan pembelajaran yang baik akan menyebutkan audience-nya dengan jelas dan spesifik. BEHAVIOR atau PERILAKU (yang biasa disebut dengan singkatan B), merupakan “kata kerja” atau “predikat” dalam kalimat pernyataan suatu rumusan tujuan. Pada contoh tujuan di atas predikatnya atau behavior-nya adalah “dapat menyebutkan nama dan fungsi tiap alat operasi”. 75


Seperti telah dibicarakan di bagian sebelumnya kata kerja yang digunakan sebagai predikat atau kata kerja yang menyatakan behavior itu seyogyanya kata kerja yang operasional. Jadi kata kerja yang dipilih adalah kata kerja yang menunjukkan perilaku yang dapat diamati atau yang hasilnya dapat diukur. Kecuali itu kata kerja itu harus menunjukkan tingkat penguasaan yang dikehendaki. Pada contoh di atas kata kerja yang digunakan adalah “menyebutkanâ€?, jadi penguasaan yang dituntut hanya kemampuan mengingat. Andaikan audiencenya adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Spesialis Bedah, kata kerja yang digunakan seyogyanya kata “menggunakanâ€?. Karena seorang dokter spesialis bedah dituntut untuk dapat menggunakan peralatan operasi itu, bukan hanya sekedar menyebutkan nama dan fungsinya. • Rumusan Tujuan Pembelajaran Yang Minimal Dalam prakteknya seringkali rumusan tujuan pembelajaran yang dibuat tidak selengkap kriteria ABCD di atas. Atas dasar pertimbangan tentang audience yang telah jelas atau telah dimaklumi bersama maka seringkali audience tidak disebutkan, maka rumusan tujuan pembelajaran yang dibuat tidak menyebutkan siapa audiencenya, sehingga komposisi hanya terdiri dari BCD. Juga atas dasar pertimbangan untuk memberikan keleluasaan dalam implementasinya di kelas seringkali rumusan tujuan pembelajaran tidak menyertakan condition, sehingga komposisinya terdiri atas ABD. Dalam kondisi tertentu susunan tujuan pembelajaran seringkali menghilangkan unsur degree, sehingga komposisinya menjadi BC atau AB. Bahkan ada yang merumuskan tujuan pembelajaran secara minimal, yakni hanya terdiri atas behavior saja. Rumusan tujuan yang terdiri hanya behavior tersebut 76


contohnya “dapat menghitung korelasi”. Rumusan tujuan seperti itu biasanya dianggap cukup, meskipun minimal. Apabila kita analisis rumusan tersebut terdiri dari dua hal yaitu adanya “kata kerja” dan “obyek”. Menghitung adalah kata kerja, dan korelasi adalah obyek atau kata benda. Rumusan minimal tersebut dianggap cukup apabila di dalamnya mengandung kompetensi yang memadai untuk menyelesaikan tuntutan kurikulum. Pada prinsipnya hal terpenting dalam rumusan tujuan pembelajaran adalah adanya kompetensi yang hendak dicapai oleh pebelajar (learner). Rumusan kompetensi umumnya terdiri atas kata kerja dan kata kerja tersebut mengandung sesuatu kemampuan, yang diikuti dengan keterangan tentang obyek yang menyertai kemampuan tersebut. Berdasarkan batasan mengenai kompetensi tersebut dapat diberikan contoh rumusan kompetensi; “mengukur luas segitiga”, “menulis cerpen”.

77


Penutup Selamat Anda telah selesai mempelajari modul tentang penyusunan GBIM dan tujuan pembelajaran Bagaimana setelah beberapa jam menekuni modul ini? Penulis mengucapkan terima kasih atas jerih payahnya. Tugas-tugas yang telah Anda kerjakan dengan sungguh-sungguh, menjadi bukti atas keberhasilan Anda. Tetapi, bila Anda rasakan masih juga ingin membaca kembali, tentu saja tidak dihalangi. Mungkin untuk mengingat kembali yang Anda anggap penting untuk segera diterapkan dalam kegiatan menulis modul. Dengan demikian kini Anda mampu menyusun GBIM dan merumuskan tujuan pembelajaran dalam modul yang akan Anda tulis. Sebaiknya Anda segera menindaklanjuti belajar Anda dengan segera menerapkannya dalam situasi yang nyata. Ingatlah bahwa apabila pengetahuan Anda tidak segera diterapkan maka pengetahuan yang telah dengan susah payah Anda kumpulkan tersebut akan musnah ditelan masa. Mudahmudahan apa yang telah Anda pelajari tersebut dapat segera Anda terapkan dan bermanfaat. Selamat berkarya.

78


Daftar Istilah Instruksional; pembelajaran Audience; peserta didik Behavior; perilaku Condition; situasi dan kondisi belajar Degree; tingkatan hasil belajar, tingkat keberhasilan

79


Daftar Pustaka AECT Task Force. 1977. The Definition of Educational Technology, Washington DC: AECT Arief, S. Sadiman, dkk. 1986. Media Pendidikan, CV Rajawali, Jakarta. Gachuchi, D. 1989. Handbook for Designing and Writing Distance Education Materials, DSE, Bonn. Gagne, Robert M. 1977. The Condition of Learning. New York: Holt, Rinehart and Wilson Haryono, A. 1988. Model Pengembangan Program Pembelajaran. Jakarta: PAU PPAI Lewis, Roger, and Paine, Nigel, 1985. How to Communicate with the Learner (open Learning Guide 6), Council for Educational Technology, London. Mager, R.F. 1962. Preparing Instructional Objectives. Belmont, Cal:Fearon Publisher. Pat Heim, Ph.D, Elwood, N, Chapman. Learning to Lead, An Action Plan for Succes, (A Self-Improvement Program for Manager) PAU PPAI UT, 1996 Mengajar di Perguruan Tinggi, AA. Jakarta: PAU PPAI Rowntree, Derek. 1990. Teaching Through Self-Instruction, Kogan Page, London. Rowntree, Derek, 1981. Developing Courses for Students, McGraw-Hill. oooOooo

80


1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212

123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121

Bab 3 TEKNIK PENULIS AN MODUL PENULISAN

Pendahuluan

M

odul ini isinya menjelaskan tentang teknik penulisan bagian-bagian modul secara utuh. Isi utama modul ini adalah cara penulisan modul meliputi cara penulisan pendahuluan, uraian, latihan dan penutup. Namun demikian setelah uraian tentang penulisan modul, dijelaskan pula tentang penulisan petunjuk instruktur/tutor dan penulisan soal evaluasi. Modul ini diharapkan membekali Anda pengetahuan dasar tentang cara-cara penulisan setiap komponen modul diklat. Tujuan modul ini adalah untuk membimbing Anda berlatih dan praktek menulis modul. Karena itu isi modul ini lebih bersifat praktis dan lebih banyak berisi tentang cara-cara yang perlu diterapkan dalam menulis modul. Kompetensi yang Anda kuasai setelah mempelajari modul ini adalah sebagai berikut. KOMPETENSI Mampu menerapkan berbagai teknik penulisan bagian-bagian modul secara utuh

PENGALAMAN BELAJAR Peserta diklat berlatih dan praktek menulis bagian-bagian modul

81

INDIKATOR 1. Mampu menulis modul peserta diklat. (menulis pendahuluan, penutup, uraian, dan latihan) 2. Mampu menulis petunjuk instruktur/tutor 3. Mampu menulis soal evaluasi


Modul ini berisi dua kegiatan belajar atau dua penggalan. Kegiatan belajar 1 membahas tentang penulisan modul siswa dan kegiatan belajar 2 tentang penulisan petunjuk instruktur dan soal evaluasi. Tiap-tiap kegiatan belajar terkait erat secara berurutan. Karena itu sebaiknya Anda mengikuti petunjuk belajar berikut ini: • cermati uraiannya, terutama contoh-contohnya, • Praktekkanlah kegiatan-kegiatan yang baru anda pelajari. Cobalah anda menulis sesuai dengan bidang yang anda kuasai. SELAMAT BELAJAR !

82


1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567

Kegiatan Belajar 1

PENULIS AN MODUL SIS WA PENULISAN SISW (PESER TA DIKL AT) (PESERT DIKLA Tujuan Setelah membaca kegiatan belajar 1 ini anda diharapkan dapat: • Menerapkan cara menulis pendahuluan modul, • Menerapkan cara menulis uraian, • Menerapkan cara menulis penutup dan rangkuman.

Uraian A. PENULISAN BAGIAN PENDAHULUAN MODUL Bagaimana menulis bagian pendahuluan modul? Pendahuluan suatu modul merupakan pembukaan pembelajaran. Sebagai pembukaan, bagian ini harus mampu menarik perhatian peserta diklat. Selain itu bagian ini harus mampu memberikan petunjuk dan memotivasi peserta diklat. Karena itu dalam pendahuluan seyogyanya memuat hal-hal sebagai berikut. • Tujuan Instruksional Khusus sebagai sasaran belajar yang ingin dicapai melalui sajian materi dan kegiatan modul. • Deskripsi perilaku awal (entry behaviour) yang memuat pengetahuan dan keterampilan apa yang sebelumnya sudah diperoleh atau seyogyanya sudah dimiliki sebagai pijakan (anchoring) dari pembahasan modul itu.

83


• Keterkaitan pembahasan materi dan kegiatan dalam modul itu dengan materi dan kegiatan dalam modul lain dalam sutu mata kuliah atau dalam mata kuliah (cross reference). • Pentingnya mempelajarai modul itu dalam pengembangan dan pelaksanaan tugas guru secara profesional. • Urutan butir sajian modul secara logis. • Petunjuk belajar berisi panduan teknis mempelajari modul itu agar berhasil dikuasai dengan baik. Prinsip Dan Prosedur Penulisan Pendahuluan a. Prinsip Pendahuluan harus memenuhi syarat-syarat: · Menarik dan merangsang rasa ingin tahu · Urutan sajian yang logis · Mudah dicerna dan enak dibaca b. Prosedur urutan penyajian semua unsur tersebut diatur sendiri oleh penulis, sesuai dengan prinsip. Cara penyajian bersifat personal dengan menggunakan kata Anda sebagai sapaan penulis terhadap pembaca. Contoh 1 PENDAHULUAN Modul ini kelanjutan dari modul pertama. Tentu Anda masih ingat, dari modul pertama Anda telah memperoleh pengertian tentang apa pembelajaran kelas rangkap (PKR), mengapa dan untuk apa PKR, dan apa saja yang menjadi prinsip PKR. Selain itu Anda telah mengenal praktek PKR yang terjadi saat ini sebagaimana adanya. Dengan cara membandingkan prinsip dan kenyataan PKR serta pembelajaran di SD pada umumnya, tentu Anda sudah dapat menjelaskan perbedaannya. 84


Dalam modul ini Anda akan mempelajari aneka model pengelolaan PKR dan metode pembelajaran dalam PKR. Dari situ Anda diharapkan memiliki kemampuan sebagai berikut. 1. Dapat menjelaskan prinsip-prinsip pengelolaan PKR. 2. Dapat menerapkan aneka modul pengelolaan PKR di SD. 3. Dapat menjelaskan prinsip-prinsip didaktikmetodik PKR. 4. Dapat menerapkan prosedur dasar PKR. 5. Dapat menerapkan aneka modul interksi kelas dalam PKR. Kemampuan tersebut sangat penting bagi semua guru kelas, baik yang selalu bertugas mengajar kelas rangkap di SD kecil maupun yang sewaktu-waktu harus mengajar kelas rangkap karena guru lain terpaksa tidak hadir mengajar. Anda akan tampil lebih percaya diri dan mantap, murid Anda pun akan merasa lebih puas dapat belajar dari Anda. Lebih dari itu, suasana kelas Anda akan lebih menarik, menantang dan menyenangkan. Untuk membantu Anda mendapatkan semua hal tersebut diatas, dalam modul ini akan disajikan pembahasan dan latihan dalam butir uraian sebagai berikut. 1. Prinsip dan Model pengelolaan PKR. 2. Prinsip didaktik-metodik dan prosedur dasar PKR. 3. Aneka model interaksi kelas dalam PKR. Agar Anda berhasil dengan baik mempelajari modul ini, ikuti petunjuk belajar sebagai berikut. 85


1. Bacalah dengan cermat bagian pendahuluan modul ini sampai Anda memahami betul apa, untuk apa, dan bagaimana mempelajari modul ini. 2. Baca sepintas bagian demi bagian dan temukan kata-kata kunci dan kata-kata yang Anda anggap baru. Carilah dan baca pengertian katakata kunci dalam daftar kata-kata sulit modul ini atau dalam kamus yang ada. 3. Tangkaplah pengertian demi pengertian dari isi modul ini melalui pemahaman sendiri dan tukar pikiran dengan mahasiswa atau guru lain dan dengan tutor Anda. 4. Terapkan prinsip, prosedur, dan model PKR secara imajiner (dalam pikiran) dan dalam situasi terbatas melalui simulasi sejawat (peer-group simulation) pada saat tutorial. 5. Mantapkan pemahaman Anda melalui diskusi mengenai pengalaman simulasi dalam kelompok kecil atau klasikal pada saat tutorial. Contoh 2 Pendahuluan Salah satu tugas tersulit yang dihadapi manajer atau pengelola dalam mengelola diklat adalah merencanakan anggaran. Menyusun anggaran menjadi tugas penting bagi manajer diklat sebab semua kegiatan ditentukan oleh tersedianya anggaran, yang pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan pemanfaatannya. Modul berjudul Perencanaan Anggaran Diklat ini membahas tentang pengertian, jenis dan komponen 86


biaya dalam diklat, identifikasi jenis, komponen dan jumlah kebutuhan biaya untuk suatu program diklat dan cara menghitung satuan biaya program diklat, serta penyusunan sebuah rencana anggaran diklat. Modul ini dikemas dalm dua kegiatan belajar dan seluruhnya diberi alokasi waktu delapan jamlat. Dua kegiatan belajar tersebut disusun dengan urutan sebagai berikut: • Kegiatan Belajar 1: Pengertian dan Identifikasi Jenis Biaya dalam Diklat • Kegiatan Belajar 2: Menghitung Satuan Biaya dan Menyusun Anggaran Diklat Setelah mempelajari modul ini Anda peserta diklat MOT akan dapat; 1) menjelaskan pengertian dan jenis biaya dalam diklat, 2) memperkirakan berbagai jenis dan jumlah kebutuhan biaya untuk suatu diklat, 3) menghitung satuan biaya per peserta untuk suatu diklat, dan 4) menyusun sebuah rencana anggaran diklat. Kompetensi-kompetensi tersebut di atas sangat diperlukan bagi Anda yang bekerja sebagai perancang atau perencana program diklat. Suatu perencanaan anggaran diklat yang baik akan menjamin terselenggaranya diklat dengan baik pula. Oleh karena itu tersusunnya rencana anggaran diklat mutlak dierlukan sebelum diputuskan bahwa diklat dilaksanakan. Perlu Anda ingat, bahwa perencanaan anggaran diklat tersebut memerlukan kemampuan memahami berbagai jenis kegiatan diklat yang harus didanai, serta kemampuan menghitung secara cermat. Dengan wawasan dan kemampuan tersebut Anda bisa menyusun sendiri anggaran diklat 87


yang paling sesuai bagi diklat yang akan Anda laksanakan. Proses pembelajaran untuk materi perencanan anggaran diklat TNA yang sedang Anda ikuti sekarang ini, dapat berjalan dengan lebih lancar bila Anda mengikuti langkah-langkah belajar sebagai berikut : 1) Pahami dulu mengenai berbagai kegiatan penting dalam diklat mulai tahap awal sampai akhir. 2) Lakukan kajian terhadap anggaran diklat yang telah ada dan yang telah dilakukan di tempat kerja Anda, sebagai contoh atau acuan. 3) Pelajari terlebih dahulu Kegiatan Belajar 1 dan lakukan latihan menyusun anggaran diklat dengan mengambil suatu contoh diklat. 4) Keberhasilan proses pembelajaran Anda dalam mata diklat ini sangat tergantung kepada kesungguhan Anda dalam mengerjakan latihan. Untuk itu, berlatihlah secara mandiri atau berkelompok dengan teman sejawat. 5) Bila Anda menemui kesulitan, silakan hubungi instruktur/widiaiswara pembimbing atau fasilitator yang mengajar mata diklat ini. Baiklah saudara perserta diklat manajemen of training (MOT), selamat belajar, semoga Anda sukses memahami pengetahuan yang diuraikan dalam mata diklat ini untuk bekal bertugas mengelola diklat dengan baik.

88


B. PENULISAN URAIAN

Bagaimana menyajikan uraian? Uraian adalah paparan materi berupa fakta/data, konsep, prinsip, beneralisasi/dalil, teori, nilai, prosedur/metode, keterampilan, hukum, dan masalah yang disajikan secara naratif atau piktorial yang berfungsi untuk merangsang dan mengkondisikan tumbunya pengalaman belajar (learning experience). Pengalaman belajar di upayakan menampilkan variasi proses yang memungkinkan para mahasiswa memperoleh pengalaman konkrit, observasi reflektif, konseptualisasi, abstrak, dan eksperimen aktif. Jenis pengalaman pelajaran disesuaikan dengan kekhususan setiap mata kuliah misalnya untuk mata kuliah yang bersifat keterampilan berbeda dengan yang bersifat pengetahuan. Prinsip Dan Prosedur Penulisan Uraian a. Prinsip Uraian harus memenuhi syarat-syarat: 1) Materi harus relevan esensi TIU dan TIK, 2) Materi berada dalam cakupan topik inti, 3) Penyajiannya bersifat logis dan sistematis, 4) Penyajiannya komunikatif/interaktif dan tidak kaku, 5) Memperhatikan latar (setting) a.l. kondisi, mahasiswa, 6) Menggunakan teknik, metode penyajian yang menarik dan menantang. b. Prosedur Penulisan uraian seyogyanya mengikuti langkahlangkah sebagai berikut. - Rumuskan pokok uraian (pokok-pokok bahasan). - Buat pemetaan konsep pokok uraian tersebut sesuai dengan GBPP. 89


-

Tentukan urutan penyajian setiap pokok bahasan. Tulis uraian secara deduktif/induktif dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sediakan bahan pendukung, gambar, diagram dan lain-lain.

Contoh Uraian 1 Biaya investasi (investment cost) adalah biaya yang dikeluarkan untuk pengembangan diklat dan kegiatan pembangunan system diklat secara keseluruhan. Di dalamnya termasuk biaya pembangunan sarana-prasarana, dan pengembangan sistem diklat, dan penyiapan tenaga serta pemasangan peralatan. Biaya operasional (running cost) adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendanai penyelenggaraan diklat setelah sistemnya siap. Biaya operasional ini termasuk biaya-biaya yang diperlukan untuk bahanbahan habis pakai. Contoh Uraian 2: Dari berbagai jenis biaya diklat sebagaimana diuraikan di atas, menurut sifatnya dapat pula dikelompokkan menjadi dua jenis biaya, yaitu biaya langsung dan biaya tak langsung. Agar lebih jelas bagi Anda ikutilah uraian tentang biaya langsung dan biaya tak langsung berikut ini. Biaya langsung. Biaya langsung adalah biaya-biaya yang diperlukan untuk mendanai seluruh kegiatan pelaksanaan diklat. Jenis-jenis pengeluaran untuk 90


biaya langsung terdiri atas pengeluaran untuk staf dan non staf. Pengeluaran untuk staf meliputi; gaji upah, biaya konsultan dan biaya lainnya seperti asuransi, kesehatan, keamanan, sosial dan sebagainya. Sedangkan pengeluaran untuk non staf meliputi; sewa, pengadaan peralatan seperti komputer dan ATK, telepon, surat menyurat, percetakan dan penggandaan termasuk pengetikan dan fotokopi, serta biaya perjalanan termasuk lumpsum, transport lokal dan tiket yang diperlukan untuk instruktur, panitia dan peserta. Biaya tak langsung. Biaya tak langsung adalah biaya yang diperlukan untuk menunjang kegiatan diklat, tetapi tidak termasuk dalam biaya langsung di atas. Biaya ini terkait dengan pemanfaatan segala sarana prasarana dan sumber yang tersedia dan dapat digunakan dalam pelaksanaan kegiatan diklat. Pemanfaatan sarana prasarana dan sumber yang ada harus diperhitungkan sebagai biaya penyusutan atau perawatan. Biaya tak langsung ini biasanya dihitung dalam prosentase dari total biaya langsung, misalnya disepakati 20% dari biaya langsung.

Biaya Diklat

Biaya langsung

Biaya staf Biaya non staf

Biaya tak langsung

Gaji upah Kesehatan, Asuransi dll. Sewa ATK Perjalanan Ketik, cetak, copy Telepon & pos

Gambar: Jenis-jenis Biaya Diklat 91


C. CARA MENYAJIKAN CONTOH DAN NON CONTOH

Bagaimana menyajikan contoh dan non contoh? • Contoh adalah benda, ilustrasi, angka, gambar, dan lain-lain yang mewakili konsep untuk memantapkan pemahaman pembaca tentang fakta/data, konsep, prinsip, generalisasi/dalil, hukum, teori, nilai, prosedur/ metode, keterampilan dan masalah. • Non contoh dapat berupa benda, ilustrasi, angka, gambar, dan lain-lain yang tidak mendukung konsep yang disajikan dan berfungsi memantapkan pemahaman pembaca tentang fakta/data, konsep, prinsip, generalisasi/dalil, hukum, teori, prosedur/ metode, keterampilan dan masalah.

Prinsip Dan Prosedur Menyajikan Contoh dan Non Contoh a. Prinsip Contoh hendaknya: • Relevan dengan isi uraian, • Konsisten (ada konsisten istilah, konsep, dalil, peran) • Jumlah dan jenisnya memadai, sehingga memberikan kejelasan tentang suatu konsep, teori, dalil, dan seterusnya, • Logis (masuk akal) • Sesuai dengan realita, dan • Bermakna b. Prosedur Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menyajikan contoh dan non contoh adalah sebagai berikut. • Pilihlah konsep, teori, dalil yang perlu dijelaskan melalui contoh. • Identifikasi kemungkinan-kemungkinan contoh. 92


• Pilih contoh yang tepat dan benar. • Sajikan contoh yang tepat (ilustrasi, piktorial, numerik) Contoh: Biaya investasi diklat contohnya adalah; biaya pembangunan gedung dan pengadaan prasarana, pengembangan bahan belajar dan media, biaya pengadaan sarana praktek, laboratoium, dan biaya untuk menyiapkan tenaga.

D. CARA MENYAJIKAN LATIHAN

Bagaimana menyajikan latihan? Latihan adalah berbagai bentuk kegiatan belajar yang harus dilakukan oleh mahasiswa, untuk memantapkan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap tentang fakta/ data, konsep, prinsip, generalisasi/dalil, teori, prosedur dan metode. Latihan disajikan secara kreatif sesuai dengan karakteristik setiap mata kuliah. Prinsip Dan Prosedur Menyajikan Latihan a. Prinsip Latihan hendaknya: • Relevan dengan materi yang disajikan, • Sesuai dengan kemampuan mahasiswa, • Bentuknya bervariasi, misalnya tes, tugas, eksperimen, dan sebagainya. • Bermakna (bermanfaat), serta • Menantang mahasiswa untuk berpikir dan bersikap kritis, • Bervariasi: dalam penyajiannya sesuai dengan karateristik setiap mata kuliah 93


b. Prosedur Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menyajikan latihan adalah sebagai berikut. • Tentukan konsep, teori, dalil dan seterusnya yang memerlukan latihan • Cari berbagai bentuk latihan yang sesuai. • Pilih bentuk latihan yang paling tepat • Tentukan teknik latihan yang akan digunakan • Tentukan bentuk latihan yang akan dilaksanakan • Tentukan sasaran (individu, kelompok) • Rumuskan bentuk latihan itu • Buat rambu-rambu kunci jawaban latihan Contoh latihan: Agar Anda memiliki pemahaman yang lebih utuh, sebaiknya lakukanlah latihan menghitung biaya per unit cost untuk sebuah diklat. Carilah data tentang biaya-biaya yang dikeluarkan untuk seluruh kegiatan diklat, kemudian jumlahkan dan bagilah dengan banyaknya peserta yang dilayani, maka Anda akan memproleh sebuah contoh perhitungan satuan biaya per peserta.

E. CARA MENULIS PENUTUP DAN RANGKUMAN

Bagaiman cara menulis penutup dan rangkuman? Penutup adalah bagian modul yang menegaskan sekali lagi apa yang telah dipelajari oleh peserta diklat meliputi materi dan komptensinya. Di dalam penutup ada rangkuman tentang pokok-pokok isi modul. Rangkuman adalah sari pati dari uraian materi yang disajikan pada kegiatan belajar dari suatu modul yang 94


berfungsi menyimpulkan dan menegaskan pengalaman belajar (isi dan proses) yang dapat mengkondisikan tumbuhnya konsep atau skemata baru dalam pikiran pembaca. Prinsip Dan Prosedur Menulis Penutup dan Rangkuman a. Prinsip Penutup dan Rangkuman hendaknya memenuhi ketentuan: • Berisi ide pokok yang telah disajikan • Disajikan secara berurutan • Disajikan secara ringkas • Bersifat menyimpulkan • Dapat dipahami dengan mudah (komunikatif) • Memantapkan pemahaman pembaca • Rangkuman diletakkan sebelum soal evaluasi pada setiap kegiatan belajar, dan • Menggunakan bahasa Indonesia yang baku dan tidak menggunakan kata-kata yang sulit dipahami. b. Prosedur Penulisan rangkuman seyogyanya mengikuti langkahlangkah: • Identifikasi ide-ide pokok dari uraian materi, • Urutkan ide-ide pokok tersebut secara logis dan sistematis, dan • Tuliskan beberapa kesimpulan berdasarkan ide pokok dalam uraian materi. • Tuliskan tindak lanjut yang harus dilakukan oleh peserta diklat setelah menyelesaikan modul.

95


Contoh Penutup dan Rangkuman: Selamat, Anda telah menyelesaikan modul tentang Perencanaan Angaran Diklat. Dengan demikian Anda yang bertugas sebagai pengelola diklat telah menguasai kompetensi sebagai penyusun anggaran. Hal-hal penting yang telah Anda pelajari dalam modul Perencanaan Anggaran Diklat ini adalah sebagai berikut. • Menurut jenisnya biaya diklat juga bisa dikategorikan menjadi biaya investasi dan biaya operasional, sedangkan menurut sifatnya dapat pula dikelompokkan menjadi dua jenis biaya, yaitu biaya langsung dan biaya tak langsung. • Jenis-jenis biaya yang diperlukan dalam implementasi diklat dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok biaya yaitu; Biaya Persiapan, Biaya Pelaksanaan dan Biaya Administrasi. • Biaya diklat meliputi biaya yang diperlukan untuk kegiatan analisis, perancangan, pengembangan, pelaksanaan dan evaluasi diklat. Anggaran diklat biasanya disusun untuk satu tahun anggaran selama 12 bulan. • Perhitungan biaya diklat juga bisa dihitung per peserta atau unit cost per peserta. Selanjutnya Anda diharapkan dapat menerapkan keterampilan menyusun anggaran diklat ini dalam tugas Anda di lembaga diklat.

96


F. CARA MENYUSUN DAFTAR ISTILAH ATAU KATA-KATA SULIT

Bagaimana menyusun daftar istilah atau kata-kata sulit? Kata sulit ialah kata yang dianggap sukar dimengerti oleh pembaca, sehingga perlu diberikan penjelasan tambahan.

Kata-kata sulit meliputi: 1) Istilah teknis bidang studi ilmu tertentu, contoh: suku bangsa (IPS), basa (IPA), jeda (Bahasa), start-finish (Olahraga), sinus (Matematika), hal asas (PPKn), perilaku awal (Pendidikan). 2) Kata-kata serapan baik dari bahasa asing maupun dari bahasa daerah, contoh: tes, essay, spesies, paruh waktu, penggal waktu. 3) Kata-kata lama yang dipakai kembali, contoh: mantan, tuna grahita, tuna daksa. 4) Kata-kata yang sering dipakai oleh media massa, tetapi kurang diketahui oleh awam, contoh: manajemen, infrastruktural, inflasi, kliring. Daftar kata-kata sulit adalah kumpulan kata-kata sulit berserta penjelasannya yang disusun secara alfabetis. Prinsip Dan Prosedur Menyusun Daftar Katakata Sulit a. Prinsip Daftar kata sulit harus memenuhi kriteria berikut. • Disusun secara alfabetis • Penjelasan diberikan sesuai dengan konteks pemakaian dalam bacaan/modul • Ditempatkan pada awal setiap buku pokok (setelah daftar isi)

97


b. Prosedur Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menyusun daftar kata-kata sulit adalah: • Identifikasi kata-kata sulit yang perlu diberi penjelasan, • Urutkan kata-kata tersebut dalam alfabetis, serta • Buat penjelasan setiap kata dengan menggunakan berbagai sumber.

G. CARA MENULIS KUTIPAN DAN DAFTAR KEPUSTAKAAN

Bagaimana menulis kutipan dan daftar kepustakaan? Kutipan dapat berupa kata, ungkapan, bagian kalimat, paragraf, gambar, ilustrasi, peta, yang diambil dari sumber lain (orang, buku, dokumen, media massa, media elektronik, dan sebagainya) yang diambil langsung atau disadur. Daftar kepustakaan adalah kumpulan sumber-sumber informasi yang digunakan dalam penulisan yang disusun secara alfabetis. Prinsip Dan Prosedur Penulisan Daftar Kepustakaan 1. Kutipan a. Syarat-syarat kutipan: • Bersifat menegaskan suatu ide yang disajikan, • Berkaitan dengan ide tersebut, • Berasal dari sumber yang mutakhir, • Sahih (valid), • Diusahakan berasal dari sumber pertama, serta • Panjang kutipan tidak lebih ½ halaman. Bila lebih dari ½ halaman, harus diberi kalimat penyela.

98


b. Prosedur Mengutip Dalam mengutip hendaknya mengikuti langkahlangkah berikut. • Tentukan uraian dalam sumber yang berisikan ide yang sahih yang dapat mendukung, menegaskan, berkaitan, dan relevan dengan ide yang disajikan. • Tentukan inti (saripati) ide yang dikemukakan sumber. • Usahakan menyajikan ide yang dikutip dengan bahasa sendiri yang memenuhi aturan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan komunikatif. • Pakailah aturan-aturan baku dalam penulisan kutipan (lihat lampiran). 2. Daftar Kepustakaan a. Syarat-syarat penulisan daftar kepustakaan: • Sesuai dengan sumber yang dikutip dalam uraian dan yang mendukung atau dipakai sebagai acuan, • Informasi tentang sumber yang digunakan ditulis secara benar dan lengkap, serta • Gunakan aturan baku penulisan daftar kepustakaan (lihat lampiran) b. Prosedur penulisan daftar kepustakaan Daftar kepustakaan hendaknya ditulis dengan mengikuti langkah-langkah berikut. • Kumpulkan semua sumber yang digunakan dalam penulisan • Tuliskan identitas setiap sumber sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan • Urutkan sumber secara alfabetis menurut nama penulis/institusi 99


12345678901234567890123456789012123456789012345 12345678901234567890123456789012123456789012345 12345678901234567890123456789012123456789012345 12345678901234567890123456789012123456789012345

Kegiatan Belajar 2

PENULIS AN PENULISAN PETUNJUK TUTOR DAN SO AL EV AL UASI SOAL EVAL ALU Tujuan Setelah membaca kegiatan belajar 2 ini anda diharapkan dapat: • Menerapkan cara menulis petunjuk instruktur/tutor, • Menerapkan cara menulis soal evaluasi.

Uraian A. CARA MENULIS PETUNJUK INSTRUKTUR/ TUTOR

• Bagaimana cara menulis petunjuk tutor? Apa saja isi petunjuk tutor? Petunjuk tutor isinya antara lain adalah; hal-hal yang harus dilakukan tutor dalam pemanfaatan modul, materi pengayaan, dan soal evaluasi. Petunjuk tutor ini merupakan dokumen terpisah dari modul yang diperuntukkan bagi peserta diklat. Petunjuk WI disusun sebagai pedoman bagi tutor lain yang melaksanakan kegiatan pembelajaran. Hal-hal yang berkaitan dengan skenario pembelajaran, meliputi; metode, dan media serta pengaturan waktu penyelenggaraan proses pembelajaran untuk menyelesaikan suatu diklat perlu disusun dalam suatu pedoman yang jelas, dan itu dituangkan dalam suatu dokumen yang disebut petunjuk tutor atau petunjuk instruktur.

100


• Penulisan petunjuk ini sebaiknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut; - Proses pembelajaran yang dikembangkan dalam petunjuk hendaknya menerapkan proses pembelajaran orang dewasa (andragogi) - Metode pembelajaran dipilih yang memungkinkan peserta diklat lebih aktif dan partisipatif - Metode dan media yang digunakan hendaknya dibuat bervariasi - Petunjuk memberikan alternatif, tidak kaku dan memberikan peluang bagi tutor untuk berimprovisasi. • Penulisan petunjuk ini sebaiknya mengikuti prosedur sebagai berikut; - Buatlah kerangka isi yang mencakup; 1) penjelasan tentang mata diklat, kompetensi dan karakteristik pesertanya, 2) skenario pembelajaran, metode yang digunakan, 3) media yang dimanfaatkan dalam pembelajaran, 4) materi pengayaan, 5) soal evaluasi. - Tulislah bagian demi bagian sesuai dengan kerangka di atas - Pada bagai skenario pembelajaran tulislah dahulu aktivitas yang harus dilakukan peserta diklat selama menyelesaikan kegiatan pembelajaran suatu mata diklat, baru aktivitas yang dilakukan oleh tutor. - Jelaskan Aktivitas tutor mulai dari kegiatan membuka, mengisi atau inti, dan menutup pembelajaran. - Jelaskan media yang harus dipergunakan, atau harus dikembangkan oleh tutor. - Tulislah seluruh materi pengayaan yang bisa menambah pengetahuan tutor, terutama dengan contoh-contoh yang lebih kaya. - Tulislah soal-soal evaluasi yang praktis tetapi benarbenar efektif untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran. 101


B. CARA MENULIS SOAL EVALUASI

Dalam suatu petunjuk instruktur biasanya terdapat soalsoal evaluasi yang dipergunakan untuk mengukur penguasaan kompetensi peserta diklat. • Bagaimana menulis soal evaluasi? Soal evaluasi adalah tes yang diberikan untuk mengukur penguasaan mahasiswa setelah suatu pokok bahasan selesai dipaparkan dalam satu kegiatan belajar berakhir. Soal evaluasi bertujuan untuk mengukur tingkat penguasaan mahasiswa terhadap materi sesuai dengan TIK yang telah ditetapkan. Hasil soal evaluasi digunakan sebagai dasar untuk melanjutkan ke pokok bahasan selanjutnya. • Prinsip Dan Prosedur Menulis Soal Evaluasi a. Prinsip Soal evaluasi hendaknya memenuhi syarat-syarat: • Mengukur kompetensi atau tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan, • Materi tes benar dan logis, baik dari segi pokok masalah yang dikemukakan, maupun dari pilihan jawaban yang ditawarkan, • Pokok masalah yang ditanyakan cukup penting, • Butir tes harus memenuhi syarat-syarat penulisan butir soal, • Jika soal evaluasi ditulis dalam bentuk tes objektif, tes tersebut harus dibuat dalam bentuk pilihan ganda, • Soal evaluasi yang dibuat dalam bentuk pilihan ganda, minimal berjumlah 10 butir soal, serta • Soal evaluasi yang dibuat dalam bentuk isian singkat minimal berjumlah 10 butir soal. 102


b. Prosedur Penulisan butir-butir soal evaluasi hendaknya mengikuti langkah-langkah berikut. • Cermati kompetensi atau tujuan pembelajaran (TIK) yang akan diukur pencapaiannya • Buat kisi-kisi tes • Tulislah berdasarkan kisi-kisi tes tersebut • Buat kunci jawaban (hendaknya disertai alasannya)

103


Penutup Selamat Anda telah menyelesaikan modul tentang Penulisan Modul. Isi pokok modul ini adalah teknik penulisan bagianbagian modul. Telah Anda pelajari teknik menulis modul siswa, mulai dari menulis pendahuluan, menulis uraian dan menulis penutup. Saya yakin bahwa anda telah memiliki cukup bekal dalam tulis menulis modul. Kompetensi yang telah Anda kuasai setelah mempelajari modul ini, adalah mampu menerapkan berbagai teknik menulis bagian-bagian modul. Materi pokok yang telah Anda pelajari dalam modul ini adalah; 1. Penulisan modul siswa; pendahuluan, uraian, penutup. 2. Penulisan petunjuk tutor dan penulisan soal evaluasi. Sebagai tindak lanjut dalam mempelajari modul ini diharapkan Anda mau terus memperbanyak praktek atau mendalami pekerjaan menulis modul. Sebaiknya Anda berdiskusi dengan teman sejawat mengenai cara menulis, dan bertukar pengalaman Semoga sukses sebagai penulis modul.

104


Daftar Pustaka Anonim, 1991. Writing for Distance Education, Samples, International Extension College, Cambridge. Arief, S. Sadiman, dkk. 1986. Media Pendidikan, CV Rajawali, Jakarta. Rowntree, Derek. 1990. Teaching Through Self-Instruction, Kogan Page, London. Rowntree, Derek, 1981. Developing Courses for Students, McGraw-Hill. Gachuchi, D. 1989. Handbook for Designing and Writing Distance Education Materials, DSE, Bonn. Lewis, Roger, and Paine, Nigel, 1985. How to Communicate with the Learner (open Learning Guide 6), Council for Educational Technology, London. Pat Heim, Ph.D, Elwood, N, Chapman. Learning to Lead, An Action Plan for Succes, (A Self-Improvement Program for Manager)

oooOooo

105


106


1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212

123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121

Bab 4 IL US TRASI ILUS USTRASI DAN B AHAS A BAHAS AHASA

Pendahuluan

M

odul ini ditujukan bagi Anda yang sedang mempelajari cara menulis modul atau bahan belajar. Modul ini merupakan bagian dari paket modul yang menguraikan berbagai aspek penting dalam teknik penulisan bahan belajar. Cakupan modul berjudul Ilustrasi dan Bahasa Modul ini meliputi pengetahuan dan keterampilan, oleh karena itu di samping diuraikan konsep-konsep, diberikan pula contohcontoh serta latihan. Topik yang dibahas antara lain tentang peran visual dalam proses belajar, tujuan penggunaan ilustrasi, macam-macam ilustrasi, langkah-langkah perancangan ilustrasi, petunjuk praktis penggunaan ilustrasi, gaya bahasa, tata bahasa dan penyusunan paragraf. Pembahasan modul ini difokuskan pada peran penulis dalam tahap pengembangan naskah, khususnya pada tahap proses penulisan dan penuangan gagasan atau ide. Uraian yang diberikan akan membimbing Anda penulis atau calon penulis modul agar mampu menggunakan ilustrasi yang tepat dan bahasa yang baik dalam modul yang akan atau sedang ditulis. Mempelajari modul ini akan lebih mudah apabila Anda mau menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan bersedia berlatih. Apabila Anda mengalami kesulitan jangan ragu untuk menanyakannya kepada teman sejawat. Pengalaman berlatih akan membimbing Anda untuk mampu menghasilkan modul dengan

107


ilustrasi yang tepat dan menarik, serta disajikan dengan bahasa yang komunikatif. Selamat belajar.

108


1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567

Kegiatan Belajar 1

IL US TRASI D AL AM ILUS USTRASI DAL ALAM MODUL Tujuan Setelah Anda mempelajari Kegiatan 1 ini diharapkan dapat menerapkan penggunaan ilustrasi dalam menulis modul diklat.

Uraian • Peran Visual dalam Proses Belajar

Dalam kehidupan sehari-hari kita berkomunikasi dengan orang lain menggunakan kata-kata (verbal), gerak mimik, pantomimik serta dengan simbol. Sayangnya tidak semua pesan atau informasi dapat kita sampaikan secara mudah kepada orang lain dengan hanya menggunakan sarana tersebut di atas. Gagasan atau ide adalah salah satu contohnya, terkadang sangat abstrak dan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Untuk menyampaikan ide yang belum pernah terwujud atau belum pernah ada sebelumnya pada pikiran seseorang seringkali memerlukan waktu. Visualisasi sangatlah membantu terciptanya ‘pengetahuan’ pada seseorang secara lebih mudah dan cepat. Berikut ini adalah salah satu contohnya. Pada zaman lampau jauh sebelum diciptakannya pesawat terbang, ide tentang ‘kendaraan di udara’ telah ada dalam benak sebagian orang dan telah menjadi bahan pembicaraan. Untuk menjelaskan idenya kepada orang lain Leonardo da Vinci melukiskan bentuk ‘kendaraan di udara’ tersebut dalam coretan gambarnya. Dengan mengamati 109


gambar tersebut orang menjadi tahu seperti apa pesawat terbang yang ada dalam pikiran Leonardo da Vinci. Kini di zaman dimana orang dituntut untuk ‘tahu’ lebih banyak tentang segala sesuatu, orang berusaha mengumpulkan informasi dan pengetahuan melalui seluruh potensi inderawinya. Melalui membaca, mendengar, merasa dan mengamati manusia memperoleh informasi atau pengetahuan, dan nampaknya peran indera penglihatan cukup menonjol dalam membantu manusia untuk belajar. Visualisasi memiliki peran yang penting dan menentukan bagi pencapaian tingkat keberhasilan proses belajar. Hal ini sudah dibuktikan oleh berbagai penelitian antara lain yang telah dilakukan oleh Wilbur Schramm, Dwyer, dan Peoples. Sementara itu, pada sebagian masyarakat tertentu ada kebiasaan yang menunjukkan adanya kecenderungan untuk lebih menyukai salah satu cara memperoleh informasi, misalnya mengamati saja, atau lebih suka mendengar. Masyarakat kita misalnya dinilai belum memiliki budaya baca yang tinggi, umumnya budaya mendengar masih lebih menonjol. Selain itu, pada anak-anak cenderung lebih mudah memahami atau lebih suka mengamati gambar/visualisasi daripada memahami simbol huruf dan kata-kata. Pada awal perkembangannya anak-anak lebih mudah memahami bahasa visual daripada bahasa verbal. Oleh karena itulah maka penggunaan visualisasi merupakan hal penting dalam penyampaian pesan bagi orang yang sedang belajar dan berusaha mencapai pengetahuan. Penyampaian pesan, gagasan atau ide 110


tertentu lewat visualisasi dapat memperjelas, memperlancar proses sehingga komunikasi berlangsung secara efektif dan efisien. Salah satu bentuk visualisasi yang lazim digunakan ialah ilustrasi dalam berbagai ragam bentuknya. Dalam pembahasan selanjutnya pada modul ini akan difokuskan pada ilustrasi karena berkaitan dengan media pembelajaran yang digunakan adalah modul.

• Tugas

• Cobalah adakan percobaan kecil-kecilan tentang peran visual. Caranya tentukan tiga kelompok peserta diklat yang relatif homogen, kemudian berikanlah penjelasan tentang sesuatu konsep yang sama dalam bentuk tertulis. Masing-masing kelompok menerima uraian verbal (kata-kata) saja, kelompok kedua visual saja, dan kelompok ketiga verbal dan visual. Bandingkanlah hasilnya! • Tunjukkanlah kepada masing-masing kelompok peserta diklat tersebut beberapa gambar yang mewakili pesan tertentu dan mintalah penjelasan arti. • Carilah informasi lebih lanjut tentang berbagai hasil penelitian yang menunjukkan pentingnya peran visualisasi dalam proses belajar.

• Tujuan Penggunaan Ilustrasi

Berikut ini secara berturut-turut akan diuraikan tentang alasan penggunaan ilustrasi dan fungsi ilustrasi. Setelah mempelajarinya Anda diharapkan akan dapat menyebutkan berbagai tujuan penggunaan ilustrasi visual dalam modul atau bahan belajar.

• Alasan Penggunaan Ilustrasi

Ilustrasi digunakan dalam modul agar pesan atau informasi yang disampaikan menjadi lebih jelas. Selain itu ilustrasi memberikan variasi pada modul atau bahan belajar 111


sehingga menjadi lebih menarik dan mampu memotivasi pembacanya, menjadi lebih komunikatif serta memudahkan siswa memahami pesan. Ilustrasi juga dapat membantu retensi, maksudnya memudahkan pembaca untuk mengingat konsep atau gagasan yang disampaikan. Ilustrasi dapat menghemat penyajian uraian, sebab dengan ilustrasi suatu konsep yang rumit dan luas yang biasanya memerlukan uraian yang panjang lebar dapat disajikan hanya dalam satu gambar. Ilustrasi juga dapat menampilkan sesuatu yang susah dijelaskan dengan katakata, misalnya deskripsi benda konkrit yang rumit dan konsep yang abstrak, konsep spasial, hubungan dan gerakan antar bagian pada mesin, serta perbandingan benda atau konsep, dan sebagainya.

• Fungsi Ilustrasi

Ditinjau dari fungsinya, maka ilustrasi yang digunakan dalam bahan belajar mempunyai empat fungsi sebagai berikut. a. Fungsi Deskriptif Ilustrasi berfungsi deskriptif, yaitu menggantikan uraian. Seringkali untuk mendeskripsikan sesuatu secara verbal dan naratif tersebut sangat tidak efisien karena membutuhkan ruang atau halaman yang cukup banyak dan kurang efektif karena menyita perhatian pembaca hanya pada bagian itu saja. Tidak jarang, deskripsi verbal dan naratif yang panjang dapat menimbulkan salah persepsi dari pembaca. Ilustrasi dapat dimanfaatkan untuk melukiskan sesuatu sehingga lebih cepat dan lebih mudah dipahami. Namun perlu disadari bahwa tidak semua uraian verbal dan naratif dapat digantikan dengan ilustrasi. Pada 112


uraian tentang konsep tertentu yang sangat abstrak sulit dibuat ilustrasinya. Ilustrasi terutama dapat menunjukkan atau mendiskripsikan rupa atau wujud dari suatu benda secara konkrit sesuai aslinya, misalnya dengan foto atau lukisan. Contohnya untuk mendiskripsikan rupa binatang (langka/telah punah) seperti panda, marmut, atau cendrawasih digunakan ilustrasi gambar. b. Fungsi Ekspresif Ilustrasi dapat memperlihatkan atau menyatakan suatu ide, gagasan, maksud, perasaan, situasi, atau konsep yang abstrak. Sesuatu ide yang sangat abstrak dapat diilustrasikan secara nyata, tepat dan mengena sehingga mudah ditafsirkan dan dipahami. Suasana hati, proses emosi, dan mimik seseorang dapat diperlihatkan melalui ilustrasi. Contohnya ilustrasi untuk menggambarkan orang kesal, sedih atau kecewa dan sebaliknya. Ilustrasi dapat pula digunakan untuk mendramatisir sesuatu. Peristiwa atau unsur yang sangat sederhana atau kurang menarik dapat diekspresikan secara atraktif sehingga lebih menarik perhatian. c. Fungsi Analisis atau Struktural Ilustrasi dapat menunjukkan rincian bagian demi bagian dari suatu benda atau sistem atau pun proses secara detil sehingga lebih mudah dipahami. Tahaptahapan dalam suatu proses yang kompleks dapat lebih jelas diperlihatkan melalui ilustrasi misalnya berupa bagan. Dengan ilustrasi dapat pula dijelaskan suatu elaborasi suatu konsep sehingga lebih jelas. Contohnya adalah ilustrasi tentang rincian bagian-bagian dari paru-paru manusia yang memberikan rincian sampai detil yang terkecil. 113


d. Fungsi Kuantitatif. Ilustrasi dapat menunjukkan jumlah bilangan dan menjelaskan hubungan antara dua atau lebih variabel angka dalam suatu hitungan. Konsep-konsep kualitatif dapat diperjelas dengan ilustrasi kuantitatif untuk memudahkan dipelajari serta diingat. Contoh fungsi ini ada pada ilustrasi berupa grafik yang menunjukkan trend kenaikan nilai kurs mata uang pada periode waktu tertentu.

• Tugas

a) Ambilah sebuah buku apa saja kemudian perhatikanlah jenis ilustrasi apa saja yang digunakan untuk setiap bagiannya, kemudian buatlah daftarnya. b) Periksalah setiap ilustrasi tersebut kemudian jelaskan fungsinya. c) Tulislah dua naskah tentang hal yang sama dengan proporsi antara teks dan ilustrasi yang berbeda kemudian tentukan manakah yang terbaik (yang lebih mudah dipahami) menurut Anda.

• Macam-Macam Ilustrasi

Setelah mempelajari bagian ini Anda diharapkan akan dapat menentukan jenis ilustrasi visual sesuai dengan materi yang disampaikan dalam modul atau bahan belajar yang ditulis. Ilustrasi yang biasa dipergunakan dalam modul atau bahan belajar antara lain daftar/tabel, diagram dan skema, grafik, foto, gambar dan sketsa, simbol dan kartun. Sebenarnya ada banyak sekali jenis ilustrasi lainnya, namun dalam modul ini hanya dibahas yang penting-penting sebagaimana tersebut di atas. Masing-masing jenis ilustrasi akan diberikan batasannya dan contohnya.

114


• DAFTAR/TABEL Daftar atau tabel Kompetensi Indikator/ adalah catatab ringkas Judul/ dasar/Tujuan tujuan nomor yang memuat pembelajaran pembelajaran modul Umum khusus informasi mengenai (1) (2) (3) sesuatu hal. Daftar/ tabel tersebut disajikan .... .... .... dengan huruf dan .... .... .... angka-angka, kadang.... .... .... kadang disertai tandatanda. Daftar harga kebutuhan pokok, daftar jadwal penerbangan, daftar nilai kurs mata uang dll. adalah merupakan contoh dari daftar. • DIAGRAM DAN 90 SKEMA 80 70 Diagram adalah 60 SD 50 rincian mengenai SMP 40 sesuatu hal yang SMA 30 20 ditampilkan secara 10 visual. Ada berbagai 0 1st Qtr 2nd Qtr 3rd Qtr 4th Qtr bentuk diagram yang biasa digunakan sebagai ilustrasi bahan belajar, seperti diagram alur, diagram pohon, dll. Adapula diagram kata yang dipergunakan untuk mendiskripsikan atau merinci sesuatu. Sedangkan skema adalah suatu gambaran kasar dan sederhana tentang suatu rangkaian obyek. Melalui skema obyek atau sesuatu yang rumit dalam kenyataannya bisa digambarkan secara sederhana sehingga lebih mudah untuk dipahami. Untuk menerangkan suatu rangkaian peralatan yang menggunakan mesin misalnya, maka dibuat skema tentang peralatan tersebut. Skema sering digunakan dalam mata pelajaran IPA. 115


• GRAFIK 100 Grafik adalah suatu 90 80 informasi yang 70 SD 60 disajikan dalam 50 SMP 40 SMA bentuk gambar 30 sederhana yang 20 10 menggunakan titik0 1st Qtr 2nd Qtr 3rd Qtr 4th Qtr titik, garis atau bentuk, dan kadangkadang dilengkapi pula dengan lambang-lambang. Grafik berfungsi untuk menyajikan data kuantitatif, menerangkan perkembangan atau perbandingan suatu obyek atau peristiwa yang saling berhubungan secara ringkas jelas dan teliti. Ada beberapa macam grafik, antara lain grafik garis, grafik batang, grafik gambar sederhana dll. Grafik ini seringkali digunakan dalam bahan belajar, karena sangat cocok untuk menunjukkan trend (arah perkembangan), fluktuasi, atau perbandingan antar kuantitas. • FOTO Foto adalah gambar hasil rekaman kamera tentang sesuatu obyek benda. Gambaran visual tentang obyek dalam foto lebih otentik dibanding jenis gambar yang lain. Foto merupakan ilustrasi yang baik untuk bahan ajar, terutama untuk menunjukkan realita dan wujud suatu obyek misalnya tumbuhan, binatang dan benda lainnya. Meskipun demikian masih diperlukan kehati-hatian dalam penggunaannya. 116


• GAMBAR DAN SKETSA Gambar adalah suatu visualisasi obyek yang dituangkan dalam medium dua dimensi (kertas atau kanvas, dll.) Ada berbagai jenis gambar mulai dari yang paling realistis dan otentik sampai dengan yang paling sederhana. Gambar yang baik bersifat otentik, sederhana, artistik, ukurannya tepat dan mengandung gerak atau perbuatan. Sketsa adalah gambar yang menggunakan garis-garis sederhana untuk menggambarkan bagian-bagian pokok atau obyek tanpa diserta detil. Meskipun sangat sederhana sketsa tetap dapat dipergunakan untuk memperjelas informasi dan menghindari verbalisme, serta dapat menarik perhatian. • SIMBOL Simbol adalah bentuk sajian grafis yang menonjolkan ide, atau konsep tertentu. Simbol diciptakan untuk mewakili suatu pesan agar dapat ditangkap dan dimengerti secara cepat dan tepat. Simbol yang baik dapat dengan tepat dimengerti oleh audien meskipun tanpa disertai deskripsi verbal. Pada umumnya setiap bidang ilmu mempunyai simbol-simbol khas yang telah disepakati oleh para ahli bidang tersebut. 117


Selain itu ada pula simbol-simbol khusus untuk bahan belajar. Simbol-simbol tersebut diciptakan dan digunakan untuk membantu proses belajar. • KARTUN Kartun adalah gambar interpretatif yang simbolis mengenai sikap orang, situasi, atau kejadian tertentu. Kartun mempunyai ciri-ciri; bersifat humor, menonjolkan karakter yang mudah dikenal dan dimengerti, menonjolkan isi pesan, atraktif dan mengabaikan detil atau sederhana. Kartun dapat menyampaikan pesan secara ringkas dan cepat, mampu menarik perhatian dan mempengaruhi sikap atau perilaku. Kartun yang baik dan mengena akan berkesan dalam ingatan dalam jangka waktu yang lama.

118


• Menentukan Ilustrasi

Setelah Anda mengenal berbagai jenis ilustrasi yang dapat digunakan dalam menulis modul atau bahan belajar maka Anda harus menentukan kebutuhan ilustrasi dalam modul yang Anda tulis. Berbagai pertanyaan yang perlu Anda jawab adalah; Ilustrasi apa cocok untuk uraian yang mana? Berapa banyak ilustrasi diperlukan? Bagaimana dengan ukuran dan penempatannya? Dari mana diperoleh? Dan masih banyak pertanyaan teknis lainnya yang berkaitan dengan pemilihan ilustrasi. Dasar pertimbangan utama dalam menentukan ilustrasi adalah kembali kepada fugsinya, terutama untuk memperjelas pesan.

• Tugas

• Tulislah dua naskah tentang hal yang sama dengan proporsi antara teks dan ilustrasi yang berbeda kemudian tentukan manakah yang terbaik menurut Anda. • Ilustrasi jenis apa (sebutkan 2 saja) yang paling sering digunakan oleh penulis?

119


• Langkah-Langkah Perancangan Penggunaan Ilustrasi

Setelah mempelajari bagian ini Anda diharapkan akan dapat menerapkan langkah-langkah perancangan dan penggunaan ilustrasi visual dalam modul atau bahan belajar. Sebelum melakukan langkah-langkah perancangan ilustrasi perlu Anda ketahui terlebih dahulu tentang cara-cara memperoleh ilustrasi. • Cara Memperoleh Ilustrasi a. Mengambil (adopsi). Mengambil atau mengadopsi adalah cara paling praktis dalam memperoleh ilustrasi. Caranya dengan mengambil ilustrasi yang telah ada atau milik orang lain untuk bahan belajar yang kita tulis. Pengambilan ini dapat dilakukan dengan cara mengkopi atau cara lain, dengan ijin dan tanpa ijin tergantung kepada status hak ciptanya. b. Mengadaptasi (adapt) atau Modifikasi. Caranya dengan mengambil ilustrasi orang lain disesuaikan dengan kebutuhan kita. Penyesuaian tersebut ditempuh dengan cara merubah, menambah atau mengurangi unsur-unsurnya. c. Membuat ilustrasi diperoleh dari hasil membuat, mengadakan sendiri atau dengan bantuan ilustrator. Langkah perancangan ilustrasi apa pun cara yang Anda tempuh untuk memperoleh ilustrasi bahan belajar Anda hendaknya menempuh langkahlangkah sistematis sebagai berikut. Pada dasarnya perancangan ilustrasi dalam penulisan bahan belajar dimulai dengan tahap identifikasi kebutuhan ilustrasi, kemudian tahap disain dan pengembangan dan terakhir tahap penyuntingan. 120


• Identifikasi 1. Pemilihan pesan. Anda harus menentukan bagianbagian penyajian bahan belajar yang membutuhkan ilustrasi. Pesan-pesan pokok yang memerlukan ilustrasi dan akan diilustrasikan ditulis. Berikanlah nomor sehingga Anda mengetahui jumlah ilustrasi yang dibutuhkan. 2. Penentuan jenis. Anda harus menentukan jenis-jenis ilustrasi yang dibutuhkan pada setiap bagian yang telah Anda tentukan pada langkah pertama, misalnya ilustrasi nomor 1 adalah tabel, nomor 2 grafik dan seterusnya. 3. Penentuan penempatan. Selanjutnya Anda menentukan letak ilustrasi dalam bagian uraian bahan belajar, misalnya ilustrasi nomor 1 ditempatkan pada uraian pada halaman 2, ilustrasi nomor 2 halaman 8, ilustrasi 3 halaman 12, dan seterusnya. 4. Penentuan ukuran. Langkah selanjutnya Anda menentukan ukuran untuk masing-masing ilustrasi. Ukuran dapat dinyatakan dengan ukuran halaman misalnya 1 halaman, setengah halaman atau seperempat halaman dan seterusnya, atau dapat pula dengan ukuran kolom, ukuran sentimeter (cm), skala perbandingan dan sebagainya. 5. Penentuan sumber. Anda harus menentukan sumber ilustrasi Anda misalnya ilustrasi nomor sekian dibuat sendiri, dan ilustrasi nomor sekian dibuat oleh ilustrator, sedangkan ilustrasi nomor sekian diambil dari sumber pustaka yaitu Buku A dan seterusnya. 6. Perancangan keterangan. Akhirnya masih pada tahap identifikasi ini Anda harus menentukan setiap keterangan, kata-kata atau kalimat yang diperlukan pada setiap ilustrasi. 121


• Disain dan Pengembangan 7. Pembuatan ilustrasi. Anda atau ilustrator mewujudkan ilustrasi sesuai dengan hasil identifikasi yang telah dilakukan. Pembuatan ilustrasi ini harus sesuai dengan isi pesan dan sesuai dengan daftar yang telah dibuat. 8. Pemilihan dan seleksi. Dalam hal ilustrasi diperoleh dari sumber lain, maka Anda harus memilih dan menyeleksi ilustrasi tersebut sesuai dengan kebutuhan. Anda harus melihat satu-persatu secara cermat jangan lupa membubuhkan sumbernya bilamana diperlukan. 9. Modifikasi. Selanjutnya apabila diperlukan Anda membuat berbagai penyesuaian atas ilustrasi yang terpilih agar sesuai dengan isi pesan yang akan Anda sampaikan. 10. Pemberian keterangan. Langkah berikutnya adalah membubuhkan keterangan (kata-kata atau kalimat yang berfungsi memperjelas) pada setiap ilustrasi 11. Penyusunan tata letak. Anda sebagai penulis diminta memberikan saran bagi perancang tata letak perwajahan tentang penempatan ilustrasi yang sebaik-baiknya. Apabila ada pesan-pesan khusus tentang penempatan ini sebaiknya Anda berikan. • Pengembangan 12. Penilaian. Sebagai penulis Anda sebaiknya menilai ketepatan ilustrasi dengan isi pesan. Kegiatan ini Anda lakukan setelah semua ilustrasi ditempatkan sebagai bagian dari penyajian suatu bahan belajar atau modul. 13. Revisi. Akhirnya Anda harus memperbaiki dan merevisi kesalahan-kesalahan atau kekurangan yang ada pada ilustrasi.

122


• Penentuan Keterangan (caption) dalam Ilustrasi Yang dimaksud dengan keterangan atau “captionâ€? di sini adalah judul, nama, penomoran, dan teks tambahan sebagai bahan tak terpisahkan dari ilustrasi yang berfungsi memperjelas atau melengkapi ilustrasi. Lazimnya suatu ilustrasi diberi judul atau nama serta penomoran yang sistematis. Nama atau judul ini biasanya diberikan menurut jenis ilustrasinya. Kemudian diikuti nomor yang diberikan secara berurutan misalnya Gambar 1. Badak Sumatra. Tabel 1.1. Trend Kenaikan Kurs Dolar. Sketsa 2. Metamorfosa, dsb. Penempatan judul dan nomor tersebut ada yang di atas, di bawah, atau di samping ilustrasi, demikian pula penempatan teks keterangan. • Evaluasi Ilustrasi Evaluasi ilustrasi pada dasrnya berkaitan dengan aspekaspek pokok yaitu kesesuaian dengan kebutuhan, isi pesan atau informasi, kejelasannya, kemenarikannya dan kemanfaatannya. Jadi penilaian ilustrasi modul lebih didasarkan pada fungsinya daripada baik buruknya ilustrasi dari segi artistiknya. Berikut ini pedoman yang dapat Anda gunakan untuk menilai penggunaan ilustrsai pada modul yang Anda tulis sendiri. Dengan menjawab pertanyaanpertanyaan berikut ini Anda akan bisa mengetahui seberapa banyak usaha yang telah dilakukan untuk memanfaatkan ilustrasi. Tentu saja pertanyaanpertanyaan tersebut dapat Anda modifikasi untuk dipertanyakan kepada orang lain apabila Anda ingin menilainya. 1. Apakah Anda membuat ilustrasi sendiri? Bila ya, apakah Anda merasa berhasil? 2. Apakah Anda telahberusaha maksimal untuk mencari dan menemukan ilustrasi yang sesuai? 123


3. Apakah Anda telah menggunakan ilustrasi berangkaian atau berkaitan satu sama lain? 4. Secara umum tujuan apakah yang hendak Anda capai dengan ilustrasi yang Anda gunakan? 5. Apakah Anda memodifikasi ilustrasi sehingga sesuai dengan kebutuhan pembaca? 6. Apakah setiap ilustrasi yang Anda gunakan telah Anda anggap jelas bagi siswa? 7. Apakah Anda telah menyederhanakan ilustrasi yang kompleks sehingga nampak jelas fokusnya? 8. Apakah hal-hal yang detil jelas terlihat dalam ilustrasi yang Anda gunakan? 9. Apakah Anda telah menggunakan petunjuk atau tanda khusu (pointers) untuk menarik perhatian siswa? 10. Apakah Anda telah membubuhkan keterangan atau “caption� pada setiap ilustrasi? Apakah Anda memberikan penomoran? 11. Apakah Anda menggunakan kata-kata secara selektif? 12. Apakah Anda mengujicobakan ilustrasi tersebut? Kepada siapa saja? 13. Apakah Anda merevisi ilustrasi? Atas dasar apa revisi tersebut dilakukan? 14. Apakah Anda menggunakan ilustrasi dari sumber pustaka? Khusus ilustrasi yang dilindungi hak cipta apakah Anda meminta ijin? Anda mencantumkan sumbernya? 15. Apakah dalam uraian materi Anda secara eksplisit ada yang mengacu kepada ilsutasi? 16. Apakah Anda memperhatikan konsistensi penempatan da penomoran ilustrasi maupun keterangan?

124


• Tugas

Jelaskanlah secara singkat dengan kalimat Anda sendiri langkah-langkah mengadakan ilustrasi dari sumber pustaka!

125


1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567

Kegiatan Belajar 2

BAHAS A MODUL AHASA Tujuan Setelah Anda mempelajari Kegiatan 2 ini diharapkan dapat menerapkan penggunaan bahasa yang komunikatif dalam menulis modul diklat.

Uraian • Gaya Bahasa Percakapan

Aspek ketiga dari keterbacaan sebuah modul adalah penggunaan bahasa. Ada tiga topik penting yang akan di ulas. Topik pertama diuraikan adalah penggunaan bahasa percakapan pada modul. Topik kedua tentang penggunaan tata bahasa secara sederhana. Sedang topik ketiga adalah mengenai penyusunan paragraf.

Setelah mempelajari topik pertama, Anda diharapkan akan mampu menggunakan kata ganti orang, menggugah rasa ingin tahu, menggunakan kalimat retorik memberi selingan humor dengan gaya bahasa percakapan pada modul. Topik ini cukup singkat sehingga dalam waktu 50 menit saja sudah dapat Anda selesaikan. Mau mencoba? Silahkan ikuti dengan cermat. Jangan lupa mengerjakan tugas yang disediakan untuk Anda. Gaya bahasa percakapan artinya, gaya bahasa yang dipergunakan dalam menulis modul seperti gaya seseorang sedang bercakap-cakap dengan orang lain yang belum 126


saling mengenal dengan baik. Anda seakan-akan berhadapan dengan pembaca modul pada saat Anda menulis bahan sajian. Cara ini akan menimbulkan suasana akrab, dan terkesan tidak formal. Gaya percakapan bahasa ini tidak akan Anda temui pada buku-buku teks. Pada buku teks tersebut bahan yang disampaikan bersifat searah. Tidak ada kesempatan bagi pembaca untuk saling berkomunikasi. Tidak terjadi komunikasi dua arah. Misalkan Anda sedang mempelajari diktat sejarah. Isinya kebanyakan menguraikan berbagai peristiwa sejarah secara berurutan tanpa ada kesempatan bagi pembaca untuk berpikir sejenak pun. Buku diktat demikian akan sangat membosankan, tidak akrab dengan pembaca. Alangkah baiknya bila sekali-kali ada kalimat seperti ini: “Bagaimana, Anda merasa tercekam mengikuti peristiwa itu?” Hanya dengan kalimat pendek tersebut pembaca sudah merasa diajak serta mengikuti peristiwa yang dimaksud. Pembaca merasa disentuh rasa partisipasinya dan menjadi ikut aktif. Penulis menggunakan kalimat tanya yang perlu dijawab oleh pembaca walaupun jawaban itu hanya dalam hatinya. Dalam hal demikian penulis telah menggunakan sedikit bahasa percakapan. Gaya bahasa percakapan ini tidak mengurangi keseriusan Anda menulis modul. Pada waktu Anda bercakap-cakap dengan orang lain, seringkali menggunakan kata “kamu”, “engkau”, “anda”, “aku”, “saya”, “dia”, “mereka”, “kami”, “kita”. Kata-kata tersebut disebut kata ganti orang. Dalam menulis modul pun disarankan sering-sering menggunakan kata ganti orang. Penggunaan kata-kata tersebut terkesan akrab, bersahabat, mendekatkan penulis modul dengan pembacanya. Penulis modul dapat menggunakan kata ganti orang pertama (aku atau saya), sedangkan untuk pembacanya dipergunakan kata ganti orang kedua (kamu, engkau, Anda atau saudara). 127


Contoh: Pada kegiatan belajar 1 telah kamu pelajari perubahan kekuasaan yang terjadi. Perang salib telah berakhir...... dan seterusnya. Anda sebagai pendidik tentu sudah biasa bercakap-cakap dengan siswa di depan kelas. Nah, dalam menulis modul suasana seperti itu juga yang perlu Anda terapkan. Pernah menggunakan komputer? Bahasa yang dipakai untuk memberi petunjuk-petunjuk adalah bahasa percakapan. Anda seakan-akan diajak bercakap-cakap dengan pembuat programnya. Luwes sekali. Tidak membosankan. Bagi yang sudah jatuh cinta pada komputer, bisa berjam-jam “berdialog” di depan layar monitor. Malah banyak sekali simbol-simbol yang mudah dipahami penggunaannya. Kalau modul yang Anda tulis seperti itu, tentu pembaca akan mencintai modul itu. Ada lagi satu aspek yang menyebabkan siswa Anda terpikat dengan bahan pelajaran yang Anda tuangkan dalam modul, yaitu “rasa ingin tahu”. Seperti kalau kita menonton film detektif, kita benar-benar diarahkan untuk selalu ingin tahu adegan apa kiranya yang akan terjadi berikutnya. Dalam benak kita selalu ada tanda tanya: “Bagaimana sih selanjutnya?” Dengan demikian penonton akan terpikat oleh adegan yang memikat itu. Begitu pula halnya bila Anda menulis modul. Menggugah rasa ingin tahu (curiosity) pembaca perlu dibangun dalam tulisan. Ini juga bisa diutarakan melalui bahasa percakapan. Contoh: “.... Begitulah kisah suami istri yang malang itu terjadi. Kisah mereka akan terus berlanjut. Bila Anda ingin tahu, jangan melepas modul ini dulu. Ikuti terus....” Gaya bahasa percakapan yang dituangkan dalam bahasa tertulis dapat menggunakan kalimat tanya retorik. Kalimat 128


tanya ini tidak perlu dijawab langsung setelah diungkapkan oleh penanya. Bila Anda menggunakan kalimat retorik, Anda bertanya kepada pembaca. Tetapi, sebelum dia menjawab Anda sendiri langsung memberikan jawabannya. Fungsinya hanya sebagai pemicu (trigger) daya persepsi pembaca mengenai jawaban atas pertanyaan itu. Bila persepsinya benar, maka pembaca akan merasa bangga bahwa apa yang ia tapsirkan sebagai jawabannya ternyata tepat. Rasa bangga itu akan selalu teringat olehnya, sehingga dia terdorong untuk lebih percaya diri pada kemampuannya. Sebaliknya, bila persepsinya salah, dia juga akan selalu ingat akan kesalahan serta perbaikan atas kesalahan itu. Contoh: Pertanyaan retorik: “Bukankah peristiwa kematian kedua orangtuanya sangat memukulnya?” Baru saja pertanyaan itu selesai dibaca dalam hati pembaca, lalu Anda menjawabnya sendiri dengan menulis: “Memang demikianlah. Takdir telah menjemput mereka begitu mendadak.” Jadi pertanyaan yang Anda lontarkan itu Anda jawab sendiri. Pada saat pertanyaan itu dibaca oleh pembaca Anda, dalam benaknya telah tergambar suatu jawaban. Pada saat pembaca Anda memikirkan apa kira-kira jawabannya, tahu-tahu jawaban itu sudah Anda ungkapkan. Jadi, pertanyaan Anda berfungsi sebagai pelatuk/pemicu, pemancing antisipasi gambaran pembaca. Namun perlu diingat jangan setiap paragraf memuat satu pertanyaan menarik. Jangan terlalu sering membuat pertanyaan retorik. Nanti latah, malah membosankan. Cukup sekedar memberi stimulasi kepada pembaca. Anda bisa menempatkan pertanyaan retorik itu di bagian “mana saja” dari uraian bahan pelajaran; boleh bagian awal, 129


tengah, atau akhir uraian. Adakalanya pertanyaan retorik tersebut Anda letakkan pada permulaan paragraf pada awal suatu uraian, lau jawabannya baru ditemukan pada paragraf berikutnya. Coba Anda rubah pertanyaan berikut ke dalam bentuk yang mengandung pertanyaan retorik. “Agar Anda dapat membedakan kalimat tunggal dengan kalimat majemuk, perlu dicari terlebih dahulu induk kalimatnya. Sesudah ditemukan, lalu cari mana anak kalimatnya.” Bagaimana? Bisa merubahnya? Kalau belum, berikut ini saya berikan perubahannya. “Bagaimana cara membedakan kalimat tunggal dengan kalimat majemuk? Pertama-tama, kenali terlebih dahulu induk kalimatnya. Kemudian, cari anak kalimatnya.” Jelas ya? Kalimat retorik akan memberi suasana lebih akrab, merangsang daya pikir untuk mencari jawaban. Begitulah salah satu cara menulis dengan gaya bahasa percakapan. Dalam bercakap-cakap kadang-kadang seseorang nyeletuk dengan gaya bahasa yang cukup membuat orang tersenyum. Lucu. Dalam menulis modul pun Anda bisa melakukannya. Buatlah selingan dengan bahasa yang “gerger-sang”. Segar dan merangsang. Siswa Anda juga bisa tersenyum simpul bila sangat lucu.....bisa juga membuat mereka lebih gerrr!!

130


Misalkan Anda menulis begini: Air yang sehat, tidak berwarna dan tidak berbau. Betul? Belum tentu. Hukum itu sudah tidak berlaku sekarang. Kemarin saya membeli minuman dalam kaleng berwarna merah, baunya menyengat. Enak sekali. Badan saya tetap sehat. Selingan bahasa yang lucu tercetus dari karakter penulis yang humoris juga. Banyak orang mengatakan soal bakat. Tetapi, dengan latihan yang sering penulis yang tidak berbakat pun mampu melakukannya. Termasuk Anda sendiri. Cara terbaik untuk lebih dekat dengan pembaca dalam menulis modul ialah modul Anda harus bersahabat, tidak terkesan menggurui dan tidak formal. Namun itu tidak berarti Anda boleh mengurangi bobot atau kualitas bahan yang disajikan. Penyajiannya hendaknya menggunakan bahasa percakapan. • Kata ganti orang seperti “aku”, “saya”, “kamu”, “anda”, “engkau”, “mereka”, “dia” sangat baik digunakan untuk membangun suasana bersahabat. • Penulisan dengan gaya bahasa percakapan mengesankan seolah-olah Anda berhadapan langsung dengan pembaca. • Dengan menggugah rasa ingin tahu pembaca, modul yang ditulis akan memikat, sehingga pembaca menjadi terpikat. Bahasa percakapan yang Anda gunakan langsung menyentuh “sudut kemanusiaan” pembacanya.

131


• Bahasa percakapan dapat dituangkan dengan menggunakan kalimat tanya retorik. • Kalimat-kalimat lucu yang berkaitan langsung dengan bahan pelajaran dapat berfungsi memudahkan mengingat materi pelajaran dan sekaligus sebagai selingan.

• TUGAS

• Petunjuk mengerjakan: Berikut ini adalah bagian dari uraian bahan pelajaran pada modul. Panjang uraiannya kurang dari satu paragraf. Ubahlah uraian tersebut dengan mencantumkan sebuah kalimat retorik di dalamnya dan gunakan kata ganti orang tertentu pada kalimat ketiga. 1. Ada tujuh unsur penting penyebab seorang remaja terlibat dalam narkotika. Ketujuh-tujuhnya meliputi, 1) Keretakan dalam rumah tangga, 2) Paksaan, 3) Coba-coba, 4) Stres, 5) Pelarian, 6) Penonjolan harga diri, dan, 7) Pergaulan. Bila keluarga kurang waspada, ada kemungkinan anggotanya akan terjerumus. 2. Ada lima faktor yang sangat berkaitan erat dengan penulisan modul menggunakan bahasa percakapan. Coba kenali, dan tulis semuanya. • Penerapan Tata Bahasa Secara Sederhana Dua bagian berikut, akan diuraikan tentang penggunaan tata bahasa dalam modul. Tata bahasa tidak disajikan secara ilmiah seperti menentukan subjek, predikat, imbuhan, awalan ber- per- dan seterusnya. Kegiatan ini akan menerapkan ilmu-ilmu bahasa sederhana saja. Mula-mula akan diuraikan penggunaan struktur kalimat, kemudian dituntun bagaimana cara 132


menggunakan kalimat sederhana, memilih kata-kata sampai mengenai fungsi tanda-tanda baca yang sering digunakan pada waktu menulis modul. Semua masalah itu disajikan kepada Anda selaku peserta pelatihan. Mengapa? Agar nanti, setelah mempelajari atau memahami isi modul ini, Anda mampu menulis modul dengan menerapkan tata bahasa secara sederhana. Anda bacalah dengan teliti dan cermat setiap topik pada uraian kegiatannya. Paling lama akan dapat diselesaikan dalam waktu, yaaa, katakanlah 40 menit. Pasti mampu, kan? • Penggunaan Stuktur Kalimat Mendengar frase “struktur kalimatâ€? Anda pasti membayangkan subjek, predikat, objek dan keterangan. Untuk menulis modul hilangkan bayangan tersebut untuk sementara. Cukup diingat bahwa modul perlu ditulis dengan kalimat sederhana. Pakailah kalimat tunggal; tidak beranak, tidak bercucu. Pendek-pendek saja. Makin panjang sebuah kalimat makin sukar memahami isinya. Pernah membaca buku GBHN? Banyak sekali ditulis dengan kalimat yan panjangpanjang. Barangkali karena bahasa yang dipergunakan di sana adalah bahasa hukum, bukan bahasa modul. Pembaca menjadi teler alias pusing memahaminya. Coba baca ini: Dalam rangka makin memeratakan pembangunan ke seluruh wilayah Indonesia, maka perlu dilanjutkan dan ditingkatkan pembangunan daerah dan pembangunan pedesaan yang lebih diarahkan kepada perluasan kesempatan kerja, pembinaan dan pengembangan lingkungan pemukiman pedesaan 133


dan perkotaan yang sehat serta peningkatan kemampuan penduduk untuk memanfaatkan sumbersumber kekayaan alam dan menanggulangi alam dan menaggulangi masalah-masalah yang mendesak. (GBHN Tap. MPR-RI No.IV/MPR/1978) Kalau kalimat itu dijadikan kalimat dalam bahasa modul, perlu dipotong-potong menjadi beberapa kalimat tunggal. Untuk memotongnya perhatikan kata hubung atau koma yang terdapat pada kalimat tersebut. Barangkali bisa dipotong pada “dan”, “yang”, “serta” atau anak kalimat dipisah dengan induknya. Disederhanakan, tetapi tanpa mengurangi maknanya. Kalimat yang panjang itu dipadati oleh setumpuk pokok pikiran (ide). Menulis dengan kalimat pendek cukup diisi dengan satu gagasan saja. Contoh: Darah beredar ke seluruh tubuh. Darah bersih di pompa oleh jantung, sedangkan yang kotor dikembalikan lagi ke jantung. Begitu terus sepanjang hayat. Bila darah berhenti mengalir, kehidupan berakhir, mati. Kalimat-kalimat yang pendek itu memberi tekanan pada satu ide yang sangat dominan. Kata “Mati” misalnya, memberi kesan peristiwa yang terjadi sangat mendadak. Hanya terjadi sekejap saja. Jadi kata “Mati” disitu sejalan dengan peristiwa kematian sendiri yang sering datang mendadak. Uraian diatas bukan berarti melarang Anda menggunakan kalimat-kalimat panjang. Dalam konteks tertentu kalimat “agak” panjang terkadang diperlukan. Kalimat panjang yang terletak di tengah-tengah sebuah paragraf lebih mudah dicerna daripada di awal 134


paragraf. Kalimat terpanjang yang dapat digunakan tidak lebih dari 50 kata. Kalimat yang baik adalah kalimat yang dirakit secara logis dan teratur. Susunan kalimat yang teratur mencerminkan pikiran dan cara berpikir penyusun kalimat itu teratur pula. Coba perbaiki kesalahan struktur kalimat berikut ini. - Di Jakarta akan mengadakan pameran pembangunan. - Pada bacaan anak-anak harus memberikan teladan yang baik. Perbaikan yang dianjurkan adalah, - Jakarta akan mengadakan pameran pembangunan. - Bacaan anak-anak harus memberikan teladan yang baik. Singkatnya, sebuah kalimat hendaklah berisikan suatu gagasan atau ide. Agar gagasan atau ide dalam sebuah kalimat mudah dipahami pembaca, fungsi bagian kalimat yang meliputi subjek, predikat, objek dan keterangan harus tampak dengan jelas (eksplisit). Ada masalah lain mengenai struktur kalimat yaitu penggunaan kalimat negatif. Coba baca kedua kalimat berikut. - Kalau lampu tidak hijau, jangan menyeberang, kecuali bila tidak banyak kendaraan lewat. - Bukannya tidak mungkin bahwa dia tidak menerima surat undangan itu. Kedua kalimat negatif tersebut lebih sukar dipahami dibandingkan dengan kalimat positifnya berikut ini, - Menyeberanglah pada waktu lampu hijau menyala. - Mungkin dia tidak menerima surat undangan itu. 135


Dari contoh kedua kalimat negatif diatas Anda hendaknya mengusahakan untuk menggunakan kalimat positif lebih banyak dalam penulisan modul. Kalimat negatif, apalagi bentuk negatif rangkap,cenderung sulit dipahami. Pembaca membutuhkan waktu tambahan untuk mengira-ngira apa maksud yang dikandung kalimat tersebut. Masih ada satu hal lagi yang perlu kita bicarakan dalam menerapkan bahasa yang sederhana terutama menyangkut struktur kalimat. Kita kenal dengan tipe kalimat tak lengkap. Ketidak-lengkapannya mungkin disebabkan kalimat tersebut tidak berpredikat, kekurangan kata hubung seperti jika, apabila, setelah, sesudah, ketika, karena dan seterusnya. Perhatikan contoh berikut, - Bandar udara Soekarno-Hatta yang dibangun - Membaca surat Anda, saya terkejut Kalimat pertama merupakan tipe kalimat tak berpredikat. Mengapa? Penulisnya lupa, padahal kata yang dicantumkan disitu mengharuskan hadirnya sebuah predikat. Kata yang pada kalimat tersebut harus diikuti predikat. Misalnya, Bandar udara Soekarno-Hatta yang dibangun dengan menggunakan teknik cakar ayam. Pada kalimat kedua, seakan-akan sudah dianggap benar. Padahal kalau diubah menjadi: Setelah membaca surat Anda, saya terkejut, kalimat itu menjadi lengkap. Uraian diatas memberi peringatan kepada Anda untuk menggunakan struktur kalimat yang benar dalam menulis modul.

136


• Penggunaan kalimat sederhana Jika Anda seorang guru Bahasa Indonesia, tentu Anda mengerti apa yang dimaksud dengan kalimat sederhana. Kalimat sederhana merupakan aturan atau paparan yang paling dasar. Kalimat sederhana adalah dasar dari semua macam ragam kalimat yang lain. Secara alamiah kita telah dilatih sejak kecil menggunakannya. Tiap kali kita berbicara, kalimat sederhanalah yang seringkali kita ucapkan. Dan tiap kali kita mendengar orang berbicara, jenis kalimat itu juga yang sampai ke telinga kita. Oleh karena itu kalimat sederhana paling populer dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Paling banyak dipahami dan disenangi orang. Contoh kalimat sederhana, - Mata saya mengantuk - Malam sudah larut - Udara mulai terasa dingin Jadi sebuah kalimat sederhana itu memang sederhana, baik bentuk maupun isinya. Dari segi bentuk, unsur kata-katanya tidak banyak. Sedangkan dari segi isinya, ia hanya memberikan satu informasi, satu gagasan atau ide. Hal itu sudah sering kita singgung pada uraian terdahulu. Oleh sebab itu, memahaminya sangat mudah dan bentuk ini lebih disenangi oleh pembaca. Dianjurkan agar Anda lebih sering menampilkan kalimat sederhana dalam modul yang Anda tulis. • Pemilihan kata-kata Berbagai ragam kata dapat Anda pilih untuk menyusun suatu kalimat. Secara umum, disarankan menghindari pemilihan kata yang bermakna luas (umum), abstrak atau kabur. Sebab kata-kata demikian sering menimbulkan berbagai interpretasi. 137


Contoh: Sudah lama disadari bahwa model demikian sudah tidak cocok. Pemilihan kata “disadariâ€? terkesan bermakna luas. Siapa yang menyadari? Masyarakat? Tidak jelas. Subjeknya tidak jelas. Sebuah kata dasar kadangkala mendapat imbuhan: Awalan, sisipan atau akhiran. Anda jangan sampai menghilangkan awalan ber pada kata yang dicetak tebal berikut ini. - Sampai jumpa lagi di Ibukota tercinta - Ketika saya datang, mereka sudah kumpul di rumah - Silakan saudara bicara terus terang Ketiga kalimat tersebut hanya sekedar contoh agar Anda memilih kata yang benar untuk menyusun kalimat. Sebuah modul akan sulit dipahami apabila Anda memilih kata-kata dan istilah yang tidak umum dipergunakan seperti kata-kata asing serta istilah teknis. Bila Anda terpaksa menggunakannya, sebaiknya diberi penjelasan artinya. Mungkin juga Anda keliru memilih kata yang umum dipakai oleh masyarakat, padahal kata itu salah. Misalnya kata kita dalam kalimat: “Kita setuju saja pada usulmu itu.â€? Yang dimaksud kita disini adalah saya atau aku atau kami. Penggunaan struktur kalimat dan pemilihan kata yang tepat untuk ditempatkan pada waktu menyusun kalimat, sangat membantu mempermudah memahami isi pelajaran pada modul yang Anda tulis. • Penggunaan Tanda Baca Penggunaan tanda baca yang tepat sesuai kaidah bahasa seringkali dikesampingkan. Padahal, tandatanda baca seperti koma, titik koma, tanda kutip, tanda 138


tanya, tanda seru dan lain-lain, mengandung makna tertentu bila dipergunakan dalam kalimat. Tanda baca yang Anda gunakan membantu memudahkan siswa menangkap makna (meaning) kalimat bersangkutan. Anda mungkin sudah mengetahui kapan tanda baca tersebut digunakan. Hanya, kadang-kadang karena curahan pikiran Anda begitu lancar, tanda-tanda itu terlupakan. Berikut ini beberapa persyaratan penggunaan tanda baca yang sederhana. - KOMA, memberi peluang kepada pembaca untuk beristirahat sejenak. - Bila hendak memberi komentar tambahan yang agak menyimpang dari topik, gunakan tanda KURUNG BUKA dan KURUNG TUTUP. Cara lainnya dengan menggunakan, GARIS HUBUNG PANJANG (DASH). - TITIK KOMA, menghubungkan dua kalimat setara; memberi peluang istirahat lebih lama daripada KOMA, tetapi lebih singkat daripada TITIK. - Untuk memberi penekanan atau perhatian, beri tanda GARIS BAWAH atau dengan huruf KAPITAL. Kadang-kadang digunakan juga CETAK TEBAL (BOLD). - Kalau menyuruh seseorang, beri TANDA SERU pada akhir kalimat. - TANDA SERU juga digunakan untuk menekankan pengertian. - TANDA ASTERISKN didepan setiap pernyataan seperti yang digunakan disini, memberi penjelasan kepada pembaca bahwa pernyataan yang satu saling berkaitan dengan pernyataan berikutnya. - Disusun secara berurutan sebagai pengganti nomor urut. 139


Bila Anda ingin memperdalam fungsi dari setiap tanda baca yang hanya sepintas lintas diuraikan pada modul ini, silakan mempelajari ilmu Bahasa Indonesia dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Ini contohnya: Tanda Titik (.) Tanda titik tidak dipakai dibelakang angka suatu bagan atau ikhtisar jika angka itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka itu. Misalnya begini: 1. Kalimat 1.1 Kalimat berita 1.2 Kalimat Tanya 1.3 Kalimat Perintah 1.3. 1 Kalimat Larangan 1.3. 2 Kalimat Seruan Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukan jumlah. Misalnya: NIP 130121597 bukan: N.I.P. 130121597 Telepon nomor 7863149 bukan: 7.863.149 Masih ada lagi. Tanda titik tidak dipakai diakhir judul. Misalnya: Bentuk dan Kedaulatan Acara Kunjungan Presiden Siti Nurbaya Tanda titik tidak dipakai dibelakang alamat surat. Misalnya: Yth. Adinda Rusdiyono Jalan Raya Darmo 98 Surabaya

140


Demikian beberapa peraturan mengenai fungsi tanda titik dalam Tata Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Silakan menerapkan dalam modul Anda nanti.

• Rangkuman

Modul hendaknya ditulis dengan menggunakan kalimatkalimat pendek. Pada setiap kalimat memuat gagasan atau ide. Bila Anda secara tidak sadar membuat kalimat yang panjang, usahakan memenggal kalimat tersebut menjadi dua atau lebih kalimat. Biasanya, kalimat terpanjang sebaiknya terdiri kurang dari 50 kata. Untuk memenggalnya, dapat dilakukan pada kata-kata hubung, seperti “dan”, “yang”, “kemudian” dan sebagainya. Kalimat yang mudah dipahami adalah kalimat yang dirakit secara logis dan teratur. Kalimat negatif cenderung untuk lebih sulit dipahami daripada kalimat positif. Oleh karena itu hindari menulis modul dengan menggunakan kalimat negatif yang berlebihan. Kalimat lengkap adalah kalimat yang memiliki subjek, predikat, objek dan keterangan. Kadangkala Anda menulis modul, disana-sini terdapat kalimat tak lengkap. Usahakan memperbaiki kalimat tersebut bila terasa janggal. Kalimat sederhana seperti “Mata saya mengantuk”, dilihat bentuk maupun isinya memang sederhana. Bentuk kalimat sederhana disenangi pembaca dan mudah memahami isinya. Modul akan relatif sulit dipahami bila mengandung katakata asing, istilah teknis yang tidak umum digunakan. Bila kata-kata demikian terpaksa harus digunakan, berilah penjelasan artinya. 141


Dalam menulis modul, tidak pernah lepas dari penggunaan tanda baca. Usahakan menggunakan tanda baca dengan fungsi yang benar

• Tugas

• Petunjuk mengerjakan: a. Berikut ini ada sebuah kalimat yang tidak terlalu mudah dipahami untuk dapat dipahami. Coba sederhanakan kalimat tersebut. Sementara pendapat menyatakan bahwa kepemimpinan itu adalah sesuatu yang melekat pada diri si pemimpin, dan oleh karenanya, kepemimpinan itu lalu dikaitkan dengan sifat pembawaan (traits), kepribadian (personality), kemampuan (capability) dan kesanggupan (ability) yang kesemuanya itu mengarah pada ciri-ciri atau sifat tertentu. b. Perbaiki struktur kalimat berikut. 1) Bagi warga DKI yang akan mendirikan bangunan wajib memiliki IMB. 2) Dengan membangun PLTU Kasmojang akan memperluas pemakaian listrik di Jawa Barat. c. Dimanakah letak kesalahan penulisan alamat surat berikut? Coba Anda perbaiki. a. P.T. ASRI JAYA Jln. Tanah Datar 5 – Ciledug Tangerang – Jawa Barat P.O..Box 519/K.B.Y. Tlp. 5.864.238

142


• Penyusunan Paragraf Tidak banyak yang perlu diuraikan tentang bagaimana menyusun paragraf. Hal-hal penting adalah menyangkut panjang, kandungan isi, format atau bentuk sebuah paragraf dan kaitan antara paragraf sebelum serta sesudahnya. Semua itu akan dipaparkan dalam uraian. Tujuannya adalah agar Anda, setelah selesai mempelajari bagian ini, mampu menyusun paragrafparagraf yang benar pada modul yang akan ditulis. Karena uraiannya relatif singkat, Anda akan dapat menyelesaikan selama 30 menit saja, termasuk mengerjakan tugasnya. Sebuah paragraf merupakan kumpulan dari beberapa kalimat yang disusun secara teratur dan logis sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh. Perlu diingat bahwa paragraf yang Anda tulis mengarah kepada satu uraian yang menuju pada pokok pikiran yang dikandung oleh kalimat utama. Yang dimaksud kalimat utama adalah kalimat inti (kunci) pada suatu paragraf. Kalimat tersebut mengandung kunci gagasan (ide) dari suatu paragraf. Untuk dapat memahami kunci gagasan dengan jelas, kalimat-kalimat yang dibuat juga harus jelas, padat dan biasanya pendek. Kalimat-kalimat pada paragraf cenderung akan mengaburkan pokok pikiran yang dikandung oleh paragraf bersangkutan. Contoh: Tanda baca pada sebuah kalimat berfungsi untuk membantu pembaca memahami makna kalimatnya. Tanda koma (,), misalnya, memberi kesempatan kepada pembacanya untuk beristirahat sejenak. Tanda seru (!), dapat dipakai untuk menekankan pokok dari kalimatnya. Karena itu, Anda hendaknya memakai tanda baca sesuai dengan fungsinya. 143


Setelah membaca paragraf diatas, Anda dapat mengenali bahwa kalimat-kalimatnya cukup pendek. Pokok pikiran dari paragraf tersebut terdapat pada paragraf pertama. Apa kira-kira pokok pikirannya? Kalimat yang mengandung pokok pikiran dari sebuah paragraf boleh ditempatkan pada awal, bagian tengah atau pada akhir paragraf bersangkutan. Penempatannya tergantung pada selera penulis dan gaya penulisannya serta bobot atau urgensi permasalahannya. Kalimat kunci diletakkan pada awal paragraf akan memberi informasi dini yang kemudian diikuti oleh uraian penjelasan mengenai ide yang dibicarakan. Bila kalimat kunci Anda letakkan pada akhir paragraf, itu menandakan bahwa Anda menyimpulkan ide yang diuraikan pada keseluruhan paragraf. Sedangkan posisi kalimat kunci di tengah paragraf, memberi kesan bahwa pokok idenya bersifat netral, artinya tidak membutuhkan penekanan khusus. Ada berbagai macam format atau bentuk paragraf. Sebenarnya, tidak ada satu aturan khusus yang mengatur bagaimana sebuah paragraf itu seharusnya dibentuk. Berikut ini diperkenalkan tiga macam bentuk. 1) Bentuk rata pada bagian kiri sebuah paragraf. Di antara tiap paragraf diberi spasi. Biasanya antara satu setengah sampai dua spasi. Kadang-kadang ada juga yang membuat lebih, 2) Paragraf ditulis atau diketik dengan cetak tebal. Kadangkala satu atau dua paragraf dicetak tebal, karena paragraf tersebut membutuhkan perhatian lebih khusus dibandingkan dengan paragrafparagraf lainnya. Tentu saja tidak semua paragraf pada satu uraian kegiatan belajar harus diketik dengan cetak tebal. 144


3) Paragraf tertentu diketik dengan cetak miring atau diberi garis bawah. Maksudnya adalah untuk memberi informasi khusus mengenai paragraf bersangkutan. Seperti pada modul ini, semua paragraf berupa contoh diketik dengan cetak miring. Dengan demikian, pembaca akan tahu bahwa kalau ada paragraf bercetak miring, hal itu menandakan sebuah contoh. Yang penting perlu Anda perhatikan lagi adalah transisi antara satu paragraf yang mendahului dengan paragraf berikutnya. Pokok pikiran dari setiap paragraf pada suatu uraian, selalu saling berkaitan dan saling menunjang. Semua pokok pikiran tersebut diikat oleh topik uraian. Agar topik yang diuraikan lancar, maka transisi dari satu paragraf ke paragraf berikutnya harus lancar juga. Dengan kata lain, topik atau judul uraian hendaknya selalu menjadi pegangan arah dalam menuangkan ide ke dalam tiap paragraf. Dengan demikian pertautan antara satu dan lain paragraf dibangun mulus dan lancar. Bagaimana membuat pertautan itu menjadi mulus? Salah satu diantaranya adalah dengan mengulangi pokok pikiran yang terletak pada akhir paragraf sebelumnya. Contoh: Tingkat keterbacaan modul juga diungkapkan oleh Robert Gunning dengan mengembangkan suatu cara yang dia sebut Fog Index. Fog Index berkaitan dengan panjangpendeknya suatu kalimat yang dipergunakan dalam penulisan modul.

145


Pada contoh di atas, frase “tingkat keterbacaan” merupakan pokok pikiran yang terdapat pada akhir paragraf pertama. Pokok pikiran tersebut dikutip kembali dan diletakkan pada awal paragraf kedua. Spasi yang ada di sela-sela paragraf berguna untuk “berpikir sejenak” untuk memberi kesempatan kepada Anda menduga-duga apa kira-kira ide yang dikandung pada paragraf berikutnya. Kalau Anda mampu membuat paragraf seperti diuraikan diatas, modul Anda menjadi lebih mudah dipahami.

• Rangkuman

Uraian kegiatan 5 ini dapat dirangkum sebagai berikut: - Paragraf adalah kumpulan kalimat-kalimat yang disusun dengan sistematik dan logis sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh. - Anda diharapkan membuat kalimat-kalimat pendek (tidak lebih dari 50 kata) pada suatu paragraf agar dapat dipahami isinya dengan mudah. - Setiap paragraf satu kalimat kunci dan setiap kalimat kunci mengandung satu pokok pikiran (ide) yang menjadi inti dari paragraf bersangkutan. - Anda dapat membuat berbagai bentuk paragraf sesuai dengan selera atau penekanan informasi yang disampaikan. - Antara satu paragraf dengan paragraf lain harus terhubung dengan mulus dan lancar.

146


• Tugas

• Petunjuk mengerjakan: a. Sebutkan 3 bentuk pembuatan paragraf agar mudah dipahami pembacanya. b. Coba identifikasi di kalimat manakah letak inti pemikiran (gagasan) yang dikandung oleh paragraf berikut. Seringkali pembaca modul menggerutu pada dirinya sendiri: “Mengapa saya begini bodoh. Tidak mampu menyerap isi modul!” Padahal bukan dirinya yang bodoh, tetapi modul yang dibaca tidak sesuai dengan kemampuan pembaca dalam menyerap isinya. Maka modul yang demikianlah yang dikatakan “sukar”.

147


Penutup Bagaimana? Sudah cukup capek sekarang, setelah beberapa jam menekuni modul ini? Penulis mengucapkan terima kasih atas jerih payah Anda. Tugas-tugas yang telah Anda kerjakan dengan sungguh-sungguh, menjadi bukti atas keberhasilan Anda. Tetapi, bila Anda rasakan masih juga ingin membaca kembali, tentu saja tidak dihalangi. Mungkin untuk mengingat kembali yang Anda anggap penting untuk segera diterapkan dalam kegiatan menulis modul. Sekali lagi, terima kasih dan silakan membaca modul berikutnya.

148


Daftar Istilah retorik : tidak membutuhkan jawaban atas sesuatu yang ditanyakan.

Daftar Pustaka Anonim, 1991. Writing for Distance Education, Samples, International Extension College, Cambridge. Arief, S. Sadiman, dkk. 1986. Media Pendidikan, CV Rajawali, Jakarta. Gachuchi, D. 1989. Handbook for Designing and Writing Distance Education Materials, DSE, Bonn. Jenkins, Janet. 1987. Course Development, A manual for Editors of Distance Teaching Materials, London: IEC Lewis, Roger, and Paine, Nigel, 1985. How to Communicate with the Learner (open Learning Guide 6), Council for Educational Technology, London. Pat Heim, Ph.D, Elwood, N, Chapman. Learning to Lead, An Action Plan for Succes, (A Self-Improvement Program for Manager) Rowntree, Derek. 1990. Teaching Through Self-Instruction, Kogan Page, London. Rowntree, Derek, 1981. Developing Courses for Students, McGraw-Hill. oooOooo

149


150


1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212

Bab 5

123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121

PENYUNTIN GAN PENYUNTING DAN REVISI Pendahuluan

M

odul ini ditujukan bagi Anda yang sedang mempelajari cara menyunting dan merevisi modul atau bahan belajar diklat. Modul ini merupakan bagian dari paket modul pelatihan di bidang penulisan modul. Cakupan isi modul ini meliputi cara menyunting modul dan diberikan pula cara memperbaiki bagian modul lainnya. Setelah mempelajari modul ini Anda akan dapat menyunting dan meningkatkan kesempurnaan modul yang sedang dikembangkan. Mempelajari modul ini akan lebih mudah apabila Anda mau berlatih. Apabila Anda mengalami kesulitan jangan ragu untuk menanyakannya kepada teman sejawat. Pengalaman berlatih akan membimbing Anda menjadi orang yang mampu menilai modul secara cermat dan profesional. Selamat belajar.

151


123456789012345678901234567890121234567890123456 123456789012345678901234567890121234567890123456 123456789012345678901234567890121234567890123456 123456789012345678901234567890121234567890123456

Kegiatan Belajar 1

PENYUNTINGAN MODUL Tujuan Setelah membaca kegiatan belajar 1 ini anda diharapkan dapat: • Menerapkan cara menyunting modul.

Uraian CARA MENYUNTING MODUL • Bagaimana menyunting modul?

Menyunting merupakan terjemahan dari kata “to edit” yang berarti membenahi atau memperbaiki naskah dalam berbagai aspek, sehingga menjadi naskah yang siap cetak. Sejalan dengan pengertian ini, maka menyunting modul berarti membenahi atau memperbaiki berbagai aspek modul, sampai menjadi modul yang siap untuk dicetak. Ada tiga aspek yang perlu diberi perhatian modul yaitu: media atau format, materi, dan bahasa. Oleh karena itu, penyuntingan modul meliputi tiga aspek, yaitu penyuntingan media/format, penyuntingan materi, dan penyuntingan bahasa. 152


Penyuntingan modul dilakukan untuk meyakinkan bahwa media & format yang digunakan, materi yang disajikan, dan bahasa yang digunakan sudah sesuai dengan kriteria modul yang baik, sehingga layak untuk disebarkan dan digunakan.

• Prinsip Dan Prosedur Menyunting Modul

Agar penyuntingan dapat berlangsung secara sistematis, langkah kegiatan berikut perlu diikuti. - Baca/pahami modul dengan cermat - Fokuskan perhatian Anda pada aspek tertentu dan carilah rujukan yang relevan dengan aspek yang disunting (misalnya aspek media/format, aspek bahasa, atau aspek materi). - Gunakan daftar isian yang sesuai dengan aspek yang relevan untuk merekam hasil pemahaman Anda. (lampiran) - Isi daftar isian tersebut sesuai dengan hasil penilaian Anda terhadap aspek yang Anda sunting. - Perbaiki bagian-bagian sesuai dengan keputusan yang Anda cantumkan dalam daftar isian penyuntingan yang tersaji dalam bahan ini. - Setelah membuat perbaikan, periksa kembali hasil perbaikan tersebut, apakah sudah sesuai dengan saran yang Anda tulis dalam format. Dalam rangka menyunting modul Anda bisa meminta beberapa orang untuk membaca draft Anda secara cermat dan mintalah kritik dari mereka, biarkan mereka memberikan komentar yang konstruktif. Apa sajakah dan siapa saja yang dapat Anda harapkan menjadi penyunting, yaitu :

153


Ada tiga kelompok reviewer, yaitu : • Ahli materi/ahli bidang studi, • Ahli media/ahli instruksional, • Teman sejawat/tutor yang sering berhubungan dengan peserta diklat. Penyuntingan harus difokuskan kepada salah satu aspek berikut. Bidang yang menjadi fokus penyuntingan pada dasarnya ada tiga, yaitu : • Kebenaran, kecukupan isi materi, dan • penyajian atau efektivitas pengajaran, • kejelasan bahasa yang digunakan Penyuntingan diarahkan untuk menjawab pertanyaanpertanyaan yang menyangkut kecukupan isi materi antara lain: • Apakah materi sudah cukup memadai untuk mencapai tujuan ? • Apakah faktor-faktor yang disajikan sudah benar tepat cakupan dan urutannya? • Apakah materinya up to – date dan berguna? • Apakah antar materi saling terkait secara logis ? • Apakah uraian materi sudah didukung dengan contoh, analogi, ilustrasi dan cara studi ? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi tanggung jawab ahli penyunting materi. Penyuntingan yang menyangkut penyajian / efektivitas antara lain : • Apakah peserta diklat-peserta diklat akan memahami apa yang harus mereka kerjakan ? (Apakah sudah ada petunjuk belajar yang memadai) ? 154


• Apakah menurut Anda peserta diklat akan mengalami kesulitan mencapai tujuan-tujuan yang telah tertulis ? • Apakah materi memiliki tingkat kesukaran yang sesuai dengan kemampuan peserta diklat ? • Apakah contoh, analogi, ilustrasi dan studi kasus (case study) yang diberikan tampaknya sesuai dengan minat dan keadaan peserta diklat ? • Apakah istilah-istilah baru telah dijelaskan secara baik? • Apakah aktivitas-aktivitasnya berguna dan dapat dipraktekkan ? • Apakah tugas-tugas saling terkait dengan aktivitas? • Dapatkah Anda memberikan saran untuk contoh, analogi, ilustrasi, case study, aktivitas, tugas-tugas dan test untuk perbaikan bahan belajar tersebut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih merupakan tanggung jawab penyunting media. Penyuntingan yang menyangkut penggunaan bahasa antara lain terfokus kepada : • Apakah bahasa modul cukup komunikatif? • Apakah terdapat kata-kata dan kalimat yang terlalu sulit difahami? • Apakah bahasanya enak dibaca?

• Penyuntingan dapat dilakukan melalui ujicoba.

Untuk uji coba ini Anda membutuhkan dua atau tiga peserta diklat sebagai sampel. Sampel hendaknya dari peserta diklat yang akan mempelajari bahan belajar ini. Peserta diklat tersebut diminta untuk mengerjakan/ mempelajari draft modul yang telah diperbaiki berdasarkan hasil review ahli materi, ahli media dan teman sejawat. Bagaimana memulai uji coba ? Duduklah bersama peserta diklat anda dalam tempat yang tidak terlalu jauh sehingga 155


anda dapat mengamatinya selama satu atau dua jam. Teliti jika perlu melalui test bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memulai pelajaran. Selain itu teliti pula apakah peserta diklat memiliki pengetahuan awal yang disyaratkan untuk mempelajari modul Anda ? (Cara ini dapat ditempuh dangan meminta peserta diklat membaca modul sebelumnya, yang materinya terkait erat dengan modul yang akan dipelajari). Jelaskan kepada peserta diklat bahwa tujuan Anda adalah menguji coba modul bukan menguji peserta diklat. Mintalah mereka untuk mengerjakannya secara santai/rilex dan dalam keadaan wajar-wajar saja. Kemudian mintalah peserta diklat untuk memulai. Amati bagaimana mereka mempelajari modul Anda. Dari manakah peserta diklat memulai/apa yang dijadikan ‘‘starting point’’ ? Bagaimana reaksi mereka terhadap aktivitas dalam modul ? apakah ada hal-hal yang membuat peserta diklat Anda bosan, jenuh atau mengalami kesulitan ? Jika peserta diklat anda telah selesai, berikan test untuk mengaktifitaskan apakah peserta diklat anda telah belajar ? Informasi yang diperoleh dari hasil uji coba ini, hendaknya dijadikan dasar untuk perbaikan modul Anda. Apabila uji coba yang telah Anda lakukan sejauh ini belum memberikan semua informasi yang Anda butuhkan, Anda memerlukan suatu uji coba yang lebih ‘‘realistic’’ yang disebut uji coba lapangan “field trials’’.

• Uji coba bisa dilakukan di lapangan

Dalam uji coba ini anda membutuhkan sampel peserta diklat lebih banyak, katakan 20 – 30 orang. Anda dapat melakukan hal-hal sebagai berikut. Mintalah peserta diklat untuk menyelesaikan test dalam pelajaran tersebut, baik sebelum atau sesudah membaca modul Anda. Koreksilah hasil mereka. Mintalah mereka untuk mengisi “kuesioner”/ 156


daftar pertanyaan yang meminta komentar mereka tentang: Berapa waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan bahan belajar tersebut ? Bagaimana mengenai kemudahan / keterkaitan dan kegunaan bahan belajar tersebut ? Bagaimana yang mereka sukai dan tidak mereka sukai ? Interview beberapa peserta diklat dan amati bagaimana tanggapan umum mereka terhadap bahan belajar dan bagaimana saran mereka untuk perbaikan bahan belajar tersebut. Tujuan diadakannya penyuntingan adalah untuk perbaikan modul. Bila semua informasi atau komentar yang didapatkan dari penyuntingan dipakai untuk memperbaiki bahan belajar, sebenarnya kita telah mendapatkan bahan belajar yang cukup baik. Dengan telah melakukan penyuntingan maka diharapkan kita telah mendapatkan modul yang lebih baik lagi. Dengan demikian modul tersebut telah siap untuk masuk dalam tahap berikutnya yaitu tahap “finalisasi� atau penyelesaian. Sebagai akibat dari penyuntingan biasanya diikuti dengan upaya menyempurnakan modul. Penyempurnaan modul antara lain dengan membuat kelengkapan modul. Kelengkapan modul yang harus diperhatikan oleh penyunting antara lain adalah berkaitan dengan daftar istilah, dan daftar pustaka. Berikut ini diuraikan cara menyusunnya.

157


CARA MENYUSUN DAFTAR KATA-KATA SULIT • Bagaimana menyusun daftar kata-kata sulit? Kata sulit ialah kata yang dianggap sukar dimengerti oleh pembaca, sehingga perlu diberikan penjelasan tambahan. Kata-kata sulit meliputi: 1) Istilah teknis bidang studi ilmu tertentu, contoh: suku bangsa (IPS), basa (IPA), jeda (Bahasa), start-finish (Olahraga), sinus (Matematika), hal asas (PPKn), perilaku awal (Pendidikan). 2) Kata-kata serapan baik dari bahasa asing maupun dari bahasa daerah, contoh: tes, essay, spesies, paruh waktu, penggal waktu. 3) Kata-kata lama yang dipakai kembali, contoh: mantan, tuna grahita, tuna daksa. 4) Kata-kata yang sering dipakai oleh media massa, tetapi kurang diketahui oleh awam, contoh: manajemen, infrastruktural, inflasi, kliring. Daftar kata-kata sulit adalah kumpulan kata-kata sulit berserta penjelasannya yang disusun secara alfabetis. Prinsip Dan Prosedur Menyusun Daftar Kata-kata Sulit a. Prinsip Daftar kata sulit harus memenuhi kriteria berikut. • Disusun secara alfabetis • Penjelasan diberikan sesuai dengan konteks pemakaian dalam bacaan/modul • Ditempatkan pada awal setiap buku pokok (setelah daftar isi)

158


b. Prosedur Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menyusun daftar kata-kata sulit adalah: • Identifikasi kata-kata sulit yang perlu diberi penjelasan, • Urutkan kata-kata tersebut dalam alfabetis, serta • Buat penjelasan setiap kata dengan menggunakan berbagai sumber.

CARA MENULIS KUTIPAN DAN DAFTAR KEPUSTAKAAN • Bagaimana menulis kutipan dan daftar kepustakaan?

Kutipan dapat berupa kata, ungkapan, bagian kalimat, paragraf, gambar, ilustrasi, peta, yang diambil dari sumber lain (orang, buku, dokumen, media massa, media elektronik, dan sebagainya) yang diambil langsung atau disadur. Daftar kepustakaan adalah kumpulan sumber-sumber informasi yang digunakan dalam penulisan yang disusun secara alfabetis.

• Prinsip Dan Prosedur Penulisan Daftar Kepustakaan

1) Kutipan a. Syarat-syarat kutipan: • Bersifat menegaskan suatu ide yang disajikan, • Berkaitan dengan ide tersebut, • Berasal dari sumber yang mutakhir, • Sahih (valid), • Diusahakan berasal dari sumber pertama, serta • Panjang kutipan tidak lebih ½ halaman. Bila lebih dari ½ halaman, harus diberi kalimat penyela. 159


b. Prosedur Mengutip Dalam mengutip hendaknya mengikuti langkahlangkah berikut. • Tentukan uraian dalam sumber yang berisikan ide yang sahih yang dapat mendukung, menegaskan, berkaitan, dan relevan dengan ide yang disajikan. • Tentukan inti (saripati) ide yang dikemukakan sumber. • Usahakan menyajikan ide yang dikutip dengan bahasa sendiri yang memenuhi aturan bahasa Indonesia yang baik, benar, dan komunikatif. · Pakailah aturan-aturan baku dalam penulisan kutipan (lihat lampiran). 2. Daftar Kepustakaan a. Syarat-syarat penulisan daftar kepustakaan: • Sesuai dengan sumber yang dikutip dalam uraian dan yang mendukung atau dipakai sebagai acuan, • Informasi tentang sumber yang digunakan ditulis secara benar dan lengkap, serta • Gunakan aturan baku penulisan daftar kepustakaan (lihat lampiran) b. Prosedur penulisan daftar kepustakaan Daftar kepustakaan hendaknya ditulis dengan mengikuti langkah-langkah berikut. • Kumpulkan semua sumber yang digunakan dalam penulisan • Tuliskan identitas setiap sumber sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan • Urutkan sumber secara alfabetis menurut nama penulis/institusi

160


• Tugas

1. Cobalah lakukan penyuntingan terhadap modul yang sedang Anda susun. 2. Apakah Anda menemukan hal-hal yang perlu revisi? Apa saja?

Penutup Selamat Anda telah selesai mempelajari modul tentang penyuntingan modul. Dengan demikian kini Anda mampu menyunting modul yang sedang Anda tulis atau ditulis oleh sejawat. Sebaiknya Anda segera menindaklanjuti belajar Anda dengan segera menerapkannya dalam situasi yang nyata. Ingatlah bahwa apabila pengetahuan Anda tidak segera diterapkan maka pengetahuan yang telah dengan susah payah Anda kumpulkan tersebut akan musnah ditelan masa. Mudahmudahan apa yang telah Anda pelajari tersebut dapat segera Anda terapkan dan bermanfaat. Selamat berkarya.

161


Daftar Istilah retorik : tidak membutuhkan jawaban atas sesuatu yang ditanyakan.

Daftar Pustaka Anonim, 1991. Writing for Distance Education, Samples, International Extension College, Cambridge. Arief, S. Sadiman, dkk. 1986. Media Pendidikan, CV Rajawali, Jakarta. Gachuchi, D. 1989. Handbook for Designing and Writing Distance Education Materials, DSE, Bonn. Jenkins, Janet. 1987. Course Development, A manual for Editors of Distance Teaching Materials, London: IEC Lewis, Roger, and Paine, Nigel, 1985. How to Communicate with the Learner (open Learning Guide 6), Council for Educational Technology, London. Pat Heim, Ph.D, Elwood, N, Chapman. Learning to Lead, An Action Plan for Succes, (A Self-Improvement Program for Manager) Rowntree, Derek. 1990. Teaching Through Self-Instruction, Kogan Page, London. Rowntree, Derek, 1981. Developing Courses for Students, McGraw-Hill.

oooOooo

162


1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212 1234567890123456789012345678901212

Bab 6

123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121 123456789012345678901234567890121

EV AL UASI EVAL ALU MODUL Pendahuluan

M

odul ini ditujukan bagi Anda yang sedang mempelajari cara menilai modul atau bahan belajar diklat. Modul ini merupakan bagian dari paket modul pelatihan di bidang penulisan modul. Cakupan isi modul ini meliputi uraian konseptual tentang penilaian modul dan diberikan pula contoh-contoh praktis serta latihan. Topik yang dibahas antara lain tentang tujuan menilai modul, menilai modul secara formatif, dan menilai modul secara sumatif. Setelah mempelajari modul ini Anda akan dapat menilai kesempurnaan modul yang sedang dikembangkan, dan menilai kualitas modul yang ada, sehingga Anda mampu memberikan masukan untuk pembuatan keputusan apakah modul tersebut layak digunakan atau tidak. Mempelajari modul ini akan lebih mudah apabila Anda mau menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dan bersedia berlatih. Apabila Anda mengalami kesulitan jangan ragu untuk menanyakannya kepada teman sejawat. Pengalaman berlatih akan membimbing Anda menjadi orang yang mampu menilai modul secara cermat dan profesional. Selamat belajar.

163


1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567 1234567890123456789012345678901212345678901234567

Kegiatan Belajar 1

TUJU AN TUJUAN MENIL AI MODUL MENILAI Tujuan Setelah membaca kegiatan belajar 1 ini anda diharapkan dapat: • menjelaskan tujuan menilai modul.

Uraian • Apakah tujuan dari penilaian modul itu?

Modul adalah bahan belajar cetak yang disusun untuk memudahkan orang dalam mencapai suatu kompetensi atau tujuan instruksional yang telah ditentukan. Modul tersebut biasanya ditulis untuk membelajarkan orang secara efektif dan efisien sehingga seseorang menguasai kompetensi atau mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Modul ditulis oleh orang yang berpengalaman mengajar, dengan memperhatikan prinsip-prinsip belajar mandiri dan dengan mempertimbangkan karakteristik pembacanya yang sudah ditentukan. Modul isinya dikembangkan berdasarkan kurikulum. Jadi modul diklat isinya harus sesuai dengan kurikulum diklat. Modul yang baik harus memenuhi berbagai syarat dan kriteria tertentu. Menilai modul dilakukan dengan dua tujuan. Pertama menilai modul dengan tujuan untuk menemukan berbagai kelemahan dan kekurangan yang ada, sehingga dapat dilakukan perbaikan dan penyempurnaan seperlunya. Menilai modul semacam ini merupakan bagian dari proses pengembangan modul dan dilakukan ketika modul masih berupa draft atau naskah yang belum final. Contoh; 164


kegiatan menilai modul oleh seorang ahli dari luar (instansi) yang diminta memberikan masukan untuk menyempurnakan draft modul pada sebuah lembaga diklat. Kedua, menilai modul dengan tujuan untuk menentukan kualitas modul sehingga dapat ditentukan kelayakannya untuk digunakan. Menilai modul semacam ini seringkali dilakukan oleh pihak ketiga, atau pihak yang berkepentingan dengan modul tersebut. Contoh; Lembaga Administrasi Negara (LAN) menilai modul-modul yang dikembangkan oleh berbagai lembaga diklat untuk menentukan layak tidaknya modul tersebut dipergunakan pada suatu diklat.

• Apanya yang dinilai?

Modul disusun dengan beberapa tujuan sebagai berikut. Pertama, modul disusun untuk memudahkan orang (peserta diklat) dalam mempelajari bahan belajar sehingga mencapai tujuan instruksional atau sampai menguasai pengetahuan atau keterampilan atau kompetensi tertentu. Kedua, modul isinya disajikan untuk siswa/peserta diklat atau audience tertentu dengan asumsi mereka dapat mempelajarinya secara individu atau secara mandiri. Ketiga, modul ditulis untuk membimbing dan mengarahkan proses belajar, termasuk proses diklat. Selain itu, yang keempat, modul disusun agar dapat meningkatkan kesiapan (readiness) orang yang belajar (peserta diklat) agar mereka dapat belajar secara lebih terarah, dan terprogram, sehingga proses belajar (proses diklat) menjadi lebih efektif dan efisien.

• Kecukupan Isi Modul.

Pertanyaan pokok dalam menilai modul adalah apakah modul telah berfungsi memudahkan orang yang belajar dalam mencapai kompetensi atau tujuan instruksional yang telah ditetapkan? Jadi kecukupan isi tersebut standarnya 165


adalah kompetensi atau tujuan instruksional. Kecukupan isi ini biasanya dicapai dengan cara menguraikan dan penyajian yang dilengkapi dengan contoh-contoh serta ilustrasi, maka materi pelajaran dapat dipelajari dengan lebih mudah. Selanjutnya karena sajian yang lebih ‘konkrit’, maka proses belajar akan lebih mudah, lebih menarik. Kecukupan isi modul juga dapat dicapai oleh karena adanya pengulangan atau kesempatan mengulang untuk bagianbagian tertentu yang diperlukan, yang memungkinkan siswa mempelajarinya sampai tuntas. Oleh karena bertujuan memudahkan orang yang belajar tersebut maka bisa saja atau dimungkinkan isi modul memuat sebagian dari materi media lain (program siaran, bila ada). Bila hal ini ditempuh maka yang perlu diingat bahwa materi yang disajikan dalam modul tersebut merupakan penegasan dari apa yang telah dicantumkan dalam media lain. Jangan sampai terjadi isi modul terlalu merinci materi program lain atau pengulangan secara bulat-bulat isi program media lain tersebut. Isi Modul harus cukup lengkap. Isi modul juga dituntut bersifat self contained, artinya memuat secara lengkap segala sesuatu yang diperlukan untuk membantu pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional yang telah ditentukan. Hal-hal yang merupakan bahan belajar yang penting, tetapi karena sulit untuk disajikan melalui program siaran, biasanya disajikan sebagai suplemen atau lampiran dalam modul. Contoh isi modul yang bersifat melengkapi ini antara lain berupa; tabel, data, gambar, dan rumus-rumus. Materi modul yang bersifat melengkapi tersebut bisa berasal atau diambil dari buku-buku sumber atau modul, materi siaran, atau bacaan lainnya atau kombinasi dari sumber-sumber tersebut, tetapi sudah dirancang menjadi suatu keutuhan dengan media yang lainnya. Jadi modul harus lengkap isinya sehingga dalam 166


mempelajarinya, audience tidak tergantung kepada sumber lain. Perlu diingat bahwa modul isinya harus bisa berdiri sendiri atau dapat dipelajari begitu saja tanpa mengikuti program media yang lainnya. Mempelajari modul akan memungkinkan seseorang mampu mencapai kompetensi atau tujuan instruksional dengan bantuan seminimal mungkin dari orang lain. Modul merupakan bagian utama atau yang terlengkap dari suatu paket instruksional yang dilaksanakan secara jarak jauh, karena itu isinya pastilah paling komprehensif jika dibandingkan dengan media lainnya. Secara mendasar modul mengambil peran dan fungsi yang paling dominan dibanding program media yang lainnya. Modul sebagai materi pokok, isinya harus benar-benar memperjelas, mempermudah audien/siswa dalam belajar. Modul memberikan uraian informasi yang lebih detil, lebih rinci dan lebih lengkap. Fungsi ini ditunjukkan melalui pemberian penjelasan lebih lanjut, baik berupa gambar maupun katakata, pemberian latihan, tugas-tugas, contoh-contoh, serta non contoh dan sebagainya. Menilai kecukupan isi ini harus mempergunakan expert judgement, artinya harus didasarkan kepada pengetahuan dan keahlian seorang profesional di bidangnya atau ahli bidang studi (subject matter expert).

• Ketepatan Isi Modul

Mempelajari modul memerlukan keterampilan membaca (reading skill) dan kesanggupan intelektual (intellectual effort) yang memadai. Oleh karena itu perlu dipertanyakan apakah modul dinilai telah disusun sesuai dengan tingkat kemampuan membaca penggunanya atau peserta diklat? Apakah modul menciptakan kondisi yang kondusif untuk belajar atau proses diklat? Apakah pemilihan kata, pemilihan konteksnya tepat dengan tingkat kemampuan pembacanya? 167


Modul berfungsi membimbing dan mengarahkan proses belajar. Dengan membaca modul maka siswa/audience akan memperoleh petunjuk belajar, terutama mengenai apa yang dipelajari, mengapa sesuatu topik itu dipelajari, dan bagaimana ia harus mempelajarinya, serta tindak lanjut apa yang harus dilakukan untuk memantapkan hasil belajar. Modul sebagai “guide� juga memandu belajar audien atau peserta dalam mempelajari materi belajar yang ada dalam program media dan sumber belajar lainnya. Dalam modul ada bagian yang berfungsi membimbing peserta atau siswa melakukan kegiatan atau aktivitas yang dipersyaratkan atau dituntut oleh program diklat atau program belajar jarak jauh. Modul memiliki fungsi sebagai sumber belajar dan memberi bimbingan bagi peserta/audien dalam mempelajari isi program diklat atau program belajar jarak jauh. Fungsi ini dilakukan dengan dituliskannya keterangan-keterangan tentang hal-hal yang harus dilakukan (aktivitas) oleh audience agar dapat menguasai kompetensi yang diberikan. Modul berfungsi sebagai tutor yang memberikan bimbingan dan arahan dalam melakukan banyak hal. Modul juga memberikan sentuhan humanis yang dapat mengisi aspek afektif emosional yang kurang dimiliki oleh program media lain, caranya dengan memberikan respons tertulis berupa pujian atau sapaan. Modul berfungsi meningkatkan kesiapan peserta dalam mengikuti diklat atau melakukan kegiatan belajar mandiri, termasuk kesiapan untuk mengikuti program siaran. Dengan membaca modul sebelum mengikuti diklat, melakukan kegiatan belajar mandiri atau mengikuti program siaran, maka peserta/audien tersebut telah siap secara mental untuk menerima, memahami dan berusaha mencapai kompetensi atau tujuan instruksional dari program diklat atau siaran yang bersangkutan. Membangun kesiapan peserta ini merupakan syarat untuk terjadinya proses belajar (terutama belajar mandiri) yang optimal. 168


Modul juga memberikan petunjuk yang bersifat praktis. Dalam modul tergambar alur proses atau kegiatan yang harus diikuti oleh peserta diklat dalam melaksanakan proses belajar termasuk belajar mandiri, sejak dari persiapan, selama pelaksanaan sampai tindak lanjutnya. Dengan demikian peserta diklat sudah mengetahui apa saja yang harus disiapkannya, dan siap dalam menyelesaikan tugas belajarnya secara mandiri. Kesiapan ini juga dimungkinkan, oleh karena dalam modul ditunjukkan tentang posisi materi yang akan dipelajari dalam kaitannya dengan materi sebelumnya atau yang mendasari, serta materi berikutnya yang menjadi kelanjutannya. Dalam modul juga diingatkan kembali hal-hal yang merupakan pengetahuan prasyarat (pre-requisite) yang mutlak dikuasai sebelum memulai mempelajari modul berikutnya.

• Kemenarikan Isi Modul

Menilai daya tarik modul ini standarnya adalah kualitas fisik penyajian modul dan isi yang memenuhi minat siswa. Secara fisik modul harus menarik bagi siswa, isinya harus berkaitan dengan bidang interest. Dalam menilai kemenarikan isi ini pertanyaan pokoknya adalah apakah modul tersebut isinya mampu menarik perhatian dan minat siswa untuk mempelajarinya?

169


Secara ringkas hal-hal yang berkaitan dengan penilaian modul dapat Anda lihat pada tabel berikut. ASPEK YANG DINILAI -

Kecukupan Isi

-

Ketepatan Isi

-

Kemenarikan Isi

-

Kualitas Keseluruhan

PERTANYAANNYA 1. Apakah modul telah berfungsi memudahkan orang (peserta diklat) mencapai kompetensi atau tujuan instruksional? 2. Apakah uraian disertai contoh, dan ilustrasi? 3. Sudahkah ada pengulangan untuk materi esensial dan sulit dan penegasan lebih rinci, detil, lengkap, serta pemberian latihan & tugas? 1. Apakah modul telah disusun sesuai dengan tingkat kemampuan membaca penggunanya (peserta diklat)? 2. Apakah modul menciptakan kondisi yang kondusif untuk belajar? 3. Apakah pemilihan kata, konteksnya tepat dengan tingkat kemampuan pembacanya? 1. Apakah modul isinya mampu menarik perhatian dan minat peserta diklat/siswa untuk mempelajarinya? 2. Apakah isi modul menarik karena mutakhir? 1. Apakah modul sesuai dengan peserta diklat/siswa yang dituju? 2. Apakah modul sesuai dengan kompetensi atau tujuan instruksional? 3. Apakah modul telah ditulis dan disajikan dengan baik?

170


• Tugas -

Cobalah adakan pengamatan terhadap berbagai macam jenis modul yang ada. Bandingkanlah kesamaan dan perbedaan diantara modul tersebut! Jelaskan apa kelemahan/kekurangan dan kelebihan dari modul-modul tersebut?

171


123456789012345678901234567890121234567890123456 123456789012345678901234567890121234567890123456 123456789012345678901234567890121234567890123456 123456789012345678901234567890121234567890123456

Kegiatan Belajar 2

MENIL AI MODUL MENILAI SEC ARA F ORMA TIF SECARA FORMA ORMATIF Tujuan Setelah membaca kegiatan belajar 1 ini anda diharapkan dapat: • menjelaskan prosedur menilai modul secara formatif.

Uraian Ada berbagai hal yang perlu Anda perhatikan sebelum Anda menilai modul yang sedang dikembangkan. Berikut ini akan diuraikan tentang beberapa prinsip penilaian modul secara formatif.

• Prinsip Penilaian Modul secara Formatif

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa modul ditulis agar pesan atau informasi dapat dipelajari secara efektif dan efisien sehingga mencapai tujuan instruksional. Selain itu modul harus memberikan bimbingan dan bantuan agar proses belajar mandiri menjadi lebih menarik dan mampu memotivasi siswa untuk memahami pesan. Oleh karena itu ada beberapa prinsip dalam penilaian modul secara formatif yang dijelaskan dalam uraian berikut ini.

• Penilaian dilakukan Tim Pengembang Modul

Orang yang pertama kali menilai modul adalah pengembang modul itu sendiri, yaitu orang yang menulis dan mereka yang bertindak sebagai pengkaji atau reviewer. Merekalah yang dianggap paling tahu mengenai kekuatan dan kelemahan dari modul yang mereka kembangkan. 172


• Penilaian Bersifat Korektif atau Menyempurnakan

Menilai modul secara formatif bersifat korektif, artinya berusaha menemukan berbagai kesalahan, kelemahan dan kekurangan yang ada untuk segera diadakan penyempurnaan, koreksi dan perbaikan.

• Penilaian dilakukan Selama Tahap Pengembangan

Menilai modul secara formatif dilakukan ketika modul masih dalam tahap pengembangan. Penilaian modul secara formatif dilakukan ketika modul masih belum diterbitkan.

• Prosedur Penilaian Modul secara Formatif

Penilaian modul untuk tujuan formatif dapat dilakukan melalui berbagai cara. Prosedur yang ditempuh dalam penilaian formatif tersebut adalah: 1. Pengkajian oleh Ahli Pengkajian dilakukan oleh ahli yang memiliki kompetensi di bidang substansi isi (ahli bidang studi), maupun di bidang media pendidikan (ahli media). Berikut ini contoh seperangkat pertanyaan-pertanyaan untuk mengkaji modul yang biasa digunakan oleh para ahli dbidang studi maupun ahli media. 1) Apakah tujuan-tujuan khusus merupakan penjabaran dan mendukung pencapaian tujuan umum? 2) Apakah tujuan (TPK) menyebutkan sasaran? 3) Apakah tujuan (TPK) menggunakan kata kerja operasional? 4) Apakah jumlah TPK memadai untuk satu unit pembahasan BP? 5) Apakah ada TPK yang perlu dikurangi atau ditambah? 173


6) Apakah TPK disusun urutannya? 7) Apakah telah digambarkan kedudukan antar TPK (peta konsepnya? 8) Apakah dalam petunjuk belajar telah memuat: - Pokok materi yang akan dibahas? - Perilaku masukan (entry behavior/pre-requisite)? - Kaitan dengan materi sebelumnya? - Manfaat mempelajari materi tersebut bagi audien? - Aktivitas yang harus dilakukan oleh audien/ peserta? (percobaan, pengamatan, latihan dsb.) 9) Apakah petunjuk belajar secara umum telah jelas bagi audience? 10) Apakah dalam uraian materi telah ada pemberian tanda (signposting) untuk mengacu kepada program siaran, atau hal-hal lain? 11 Apakah uarian materi yang disajikan sudah benar, tepat dan “up todate�? 12) Apakah modul telah menggunakan petunjuk atau tanda khusus (pointers) untuk menarik perhatian siswa? 13) Apakah uraian materi telah didukung dengan contoh, analogi dan ilustrasi yang tepat? 14) Apakah telah dibubuhkan keterangan atau “caption� pada setiap ilustrasi? Apakah Anda memberikan penomoran? 15) Apakah telah digunakan kalimat sederhana, mudah difahami dan komunikatif? 16) Apakah urutan penyajian dan kaitan antar materi telah tersusun secara logis? 17) Apakah uraian materi telah dilengkapi dengan latihan? 18) Apakah materi telah cukup memadai untuk mencapai tujuan? 19) Apakah sudah tertulis petunjuk penyelesaian soal tes? 174


20) Apakah soal tes mengukur TPK yang akan dicapai? 21) Apakah soal tes telah mengukur tujuan yang seharusnya diukur? 22) Apakah ada kunci tes? 23) Apakah kunci tes telah sesuai dengan soal? 2. Pengkajian oleh Sejawat Pengkajian atau penilaian ini dilakukan oleh sesama penulis atau orang yang memiliki kesamaan kompetensi dalam substansi isi. Sejawat dianggap memiliki pengalaman yang berguna untuk menyempurnakan dan menambah lengkapnya modul. Pengkajian oleh sejawat ini bertujuan memperoleh kritik, masukan dan saran-saran yang dapat digunakan sebagai bahan untuk penyempurnaan. Saran dalam Pengkajian Modul Sejawat Apabila Anda berperan sebagai pengkaji atas modul yang ditulis oleh teman sejawat, sebaiknya Anda berpedoman kepada hal-hal sebagai berikut. a. Lihatlah secara cermat. Adakan pengamatan terhadap modul yang ada untuk mengetahui kekutan dan kelemahannya. Setelah itu catatlah halhal yang menjadi kekuatan tersebut. Kemudian jangan lupa berikan saran pemecahan untuk menyempurnakan kelemahan yang masih ada. b. Berpikirlah positif. Maksudnya Anda harus berusaha memberikan sumbangan pemikiran yang positif dan konstruktif untuk menyempurnakan modul tersebut, bukan mencari kesalahan dan kelemahannya. c. Kemukakanlah pikiran Anda secara lugas. Gunakanlah kata-kata yang tepat sehingga kritik dan saran Anda dapat diterima oleh penulis modul yang bersangkutan. 175


3. Penilaian melalui Ujicoba Terbatas Untuk mengetahui kelemahan dan kekurangan yang ada pada modul, dapat dilakukan ujicoba secara terbatas untuk memperoleh masukan dari calon pengguna. Modul perlu diujicobakan, yaitu digunakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dan digunakan oleh siswa untuk belajar. Selama modul tersebut digunakan pengembang modul dapat melakukan pengamatan untuk mengetahui efektivitas modul tersebut. Melalui ujicoba pengembang dapat memperoleh masukan dari guru dan siswa tentang tingkat kesulitan, kejelasan, ketepatan, kemenarikan modul dan sebagainya. Semua informasi tersebut sangat berguna bagi pengembang dalam tahap penyempurnaan modul. Ujicoba modul secara terbatas ini, dapat dilakukan melalui ujicoba secara individual, dalam kelompok kecil atau dapat situasi nyata di lapangan. Hasil akhir dari Penilaian Modul secara Formatif Penilaian modul untuk tujuan formatif hasil akhirnya adalah: 1) Informasi berupa temuan-temuan tentang kekurangan dan kelemahan yang ada pada modul, 2) Daftar kesalahan yang ada pada modul, baik kesalahan konsep atau kesalahan cetak dan lain lain disertai pembetulannya, dan 3) Saran-saran perbaikan yang dapat dilakukan untuk me-nyempurnakan modul tersebut.

176


• Tugas

a) Ambilah sebuah modul apa saja kemudian perhatikanlah format yang digunakan, kemudian buatlah daftar kelemahannya, serta berikan saran perbaikannya! b) Cobalah lakukanlah suatu ujicoba modul kepada siswa dan rumuskan hasilnya! c) Menurut Anda bagian mana yang paling penting diperhatikan dalam menilai modul secara formatif?

177


123456789012345678901234567890121234567890123456 123456789012345678901234567890121234567890123456 123456789012345678901234567890121234567890123456 123456789012345678901234567890121234567890123456

Kegiatan Belajar 3

MENIL AI MODUL MENILAI SEC ARA SUMA TIF SECARA SUMATIF Tujuan Setelah membaca kegiatan belajar 1 ini anda diharapkan dapat: • melaksanakan evaluasi sumatif modul, • menjelaskan pertanyaan pokok dalam menilai modul.

Uraian • Bagaimana Cara Mengevaluasi Sumatif Modul?

Evaluasi sumatif modul berbeda dengan evaluasi formatif, terutama berbeda dalam tujuannya, yaitu untukmembuat keputusan yang berkaitan dengan modul tersebut. Meskipun aspek yang dinilai dan cara menilai modul bisa sama antara evaluasi formatif dan evaluasi sumatif, namun hasil akhir yang diperoleh atau informasi yang diperoleh berbeda dalam pemanfaatannya. • Penilaian tentang Kecukupan Materi/Isi Modul Sebenarnya ketika seseorang sedang menulis modul, segala sesuatu yang berkaitan dengan pokok-pokok isinya sudah ada dan sudah ditetapkan dalam garisgaris besar program pendidikan/pelatihan atau GBPP. Tetapi pokok-pokok isi tersebut biasanya belum dijabarkan dan belum memberikan arahan bagi penulis modul tentang penekanan isi materi yang memerlukan elaborasi, contoh, non contoh dan aktivitas yang diperlukan. Oleh karena itu dalam menilai kecukupan isi materi modul tersebut Anda harus mempertanyakan; 178


Apakah elaborasi dan perincian penjelasan atas konsepkonsep tertentu telah cukup rinci? Apakah contohcontoh diberikan dan cukup membantu menjelaskan konsep yang bersangkutan? Apakah telah digunakan pula non contoh? • Penilaian mengenai Kecukupan Uraian, Contoh, dan Latihan Pada bagian uraian materi modul, apakah isinya telah secara tepat mencakup seluruh tujuan instruksional yang hendak dicapai, dan apakah diberikan contohcontoh untuk memperjelas uraian, dan sudahkah dibuatkan latihannya. Apakah untuk materi yang tergolong sulit telah dijelaskan dengan contoh-contoh yang gamblang. Apakah latihan mengenai materimateri yang esensial dan penting telah diberikan. Jadi menilai kecukupan isi modul dimulai dengan membandingkan bagian uraian dengan tujuan instruksional dan GBPP, kemudian dengan mengukur kecukupan dan kejelasannya bagi siswa yang akan mempelajarinya. • Apa Saja yang Perlu Diperhatikan dalam Menilai Sumatif Modul? Sebelum memulai menilai modul perlu Anda ketahui terlebih dahulu tentang prinsip-prinsip penilaian modul yang baik dan benar. Ada beberapa prinsip penilaian yang harus diperhatikan, yaitu - Penilaian modul harus menggunakan standar penilaian yang jelas, telah disepakati bersama. - Penilaian modul harus dilakukan mengikuti prosedur yang benar. - Penilaian modul harus dilaksanakan dengan berdasarkan tujuan yang jelas. - Penilaian modul harus dilaksanakan secara obyektif. 179


Implikasi dari penerapan prinsip-prinsip tersebut di atas maka penilaian modul akan menghasilkan modul yang memiliki kelebihan-kelebihan sebagai berikut. - Cocok dengan tujuan instruksional - lebih menarik perhatian audien - lebih simpel dan enak dipelajari - kaya dengan variasi penyajian - mudah diikuti dan dikenali identitasnya • Menilai Modul dengan Perasaan Empati kepada Calon Pemakainya Dalam menilai modul pada dasarnya Anda harus memiliki empati kepada calon pemakai modul tersebut. Ketika Anda membaca modul yang Anda nilai, Anda harus membayangkan audien yang akan mempelajari modul tersebut. Pertanyaan yang harus Anda ajukan adalah; Apakah penyajian telah diurut secara sistematis, dan disajikan langkah demi langkah? Apakah modul telah diuraikan mulai dari hal-hal yang mudah menuju yang lebih sulit, dari yang sederhana menuju yang kompleks?

• Menilai Bahasa dalam Modul

Penggunaan bahasa dalam modul harus memperhatikan kaidah-kaidah ejaan yang baik dan benar. Meskipun demikian untuk memudahkan komunikasi hendaknya digunakan bahasa yang tidak terlalu formal. Apakah modul telah menggunakan dialog sehingga terjadi komunikasi yang baik? Apakah seolah-olah terjadi kotak personal antara penulis modul dengan audien/ pembacanya? Apakah dengan modul tersebut proses belajar menjadi lebih menarik dan menyenangkan, sehingga materi yang disampaikan lebih mudah dipelajari? 180


Apakah bahasa yang digunakan dalam modul telah disesuaikan dengan siswa atau audience, terutama mengenai tingkat kesulitannya? Apakah selalu digunakan bahasa yang sederhana, jelas dan komunikatif? Apakah kalimat yang terlalu panjang yang beranak dan bercucu telah dihindari? Apakah komunikasi telah dapat ditingkatkan melalui adanya interaksi timbal balik antara penulis modul dengan audien karena telah memanfaatkan bahasa yang tidak terlalu formal? Apakah bahasa simbol telah pula digunakan untuk menghemat halaman yang digunakan dan menghemat waktu untuk memahaminya?

• Menilai Ilustrasi dalam Modul

Berbagai pertanyaan yang perlu dijawab dalam menilai modul adalah; Apakah Ilustrasi yang digunakan cocok untuk uraiannya? Apakah banyaknya ilustrasi cukup memadai? Apakah ukuran dan penempatannya tepat? Apakah ilustrasi fungsinya tepat, terutama untuk memperjelas pesan?

• Kriteria Menilai Modul

Apa saja Kriteria yang Dipergunakan untuk Menilai BaikBuruknya Modul? Ada tujuh kategori kriteria untuk menilai modul yang telah dicetak dan dipublikasikan. Pertama, dan yang utama adalah Kriteria Isi. Dalam menilai isi modul ada enam pertanyaan pokok yaitu 1) Apakah isi modul secara jelas berhubungan dengan tujuan 181


instruksional?, 2) Apakah isi modul akurat?, 3) Apakah isi modul up to date atau tidak ketinggalan jaman?, 4) Apakah cakupan isinya cukup komprehensif?, 5) Apakah telah ada keseimbangan perlakuan mengenai jenis kelamin, ras, dan agama?, 6) Apakah isinya telah dilengkapi dengan daftar pustaka, daftar istilah dan hal-hal lain untuk memperjelas penggunaan? Kedua, Kriteria Penyajian. Penilaian modul atas dasar kriteria ini peduli akan cara penyajian informasi. Pertanyaan pokoknya adalah; 1) Apakah penyajiannya (kaver, judul, dan ilustrasi) menarik dan mengundang perhatian? 2) Apakah susunan teksnya sistematis? Disajikan dari yang sederhana menuju yang kompleks atau menggunakan urutan logis atau urutan kronologis, secara spatial atau geografis? 3) Apakah diberikan kunci-kunci untuk pemahaman secara komprehensif, meliputi tujuantujuan, contoh-contoh, ilustrasi, judul dan catatan kaki? 4) Apakah dibuat acuan untuk penggunaan bahan belajar audio atau visual? 5) Apakah pembaca telah diundang untuk merespons pertanyaan, melihat jawaban, atau aktivitas lain? Adakah arahan untuk mengkaji teks lain berdasarkan minat pembaca? 6) Apakah pembaca tergiring untuk berkonsentrasi dan tekun? 7) Apakah telah digunakan ruang kosong, ukuran, warna, garis dan tandatanda lain untuk memusatkan perhatian? 8) Apakah pilihan kata, tata bahasa dan gaya penulisannya sesuai dengan tingkat kemampuan siswanya? Ketiga, Kriteria Ilustrasi. Hal-hal yang dipertanyakan berkaitan dengan penggunaan peta, grafik, gambar dan lain-lain, adalah; 1) Apakah ilustrasinya cocok dengan isinya? 2) Seberapa bagus ilustrasi telah memperjelas atau melengkapi isi teks? 3) Apakah secara visual tampaknya telah ada keseimbangan mengenai garis, warna, proporsi? 182


Keempat, Kriteria Bahan Pelengkap. Pertanyaannya berkaitan dengan 1) Apakah dalam modul telah ada bimbingan belajar? 2) Apakah pertanyaan yang diberikan mencerminkan kedalaman keluasan cakupannya? 3) Apakah ada penguatan diberikan? Kelima, Kriteria Kualitas Teknis. Kriteria ini untuk menilai apakah secara teknis modul telah memenuhi syaratsyarat sebagai berikut; 1) Apakah ukuran dan kualitas cetakan bagus dan mudah dibaca? 2) Apakah kualitas kertas cukup bagus? 3) Apakah penjilidannya bagus? Keenam, Kriteria Efektivitas. Pertanyaan-pertanyaan pokoknya adalah; 1) Untuk maksud apa teks telah menarik minat siswa? 2) Seberapa baik siswa telah belajar apa yang seharusnya dipelajari? 3) Apakah siswa responsif? Ketujuh, Kriteria Daya Tarik Secara Menyeluruh. Pertanyaannya adalah apakah secara keseluruhan modul cukup berbobot dan kerkualitas? Berilah kesempatan kepada penilai untuk mengekspresikan penilaiannya secara menyeluruh dalam bentuk opini, komentar secara bebas dan terbuka mengenai kesannya tentang modul tersebut. Selanjutnya dalam pelaksanaannya, seluruh kriteria penilaian formatif modul tersebut di atas dituangkan dalam bentuk instrumen yang dapat diisi dengan mudah dan cepat. Instrumen format evaluasi modul tersebut diperlukan terutama karena alasan praktis.

183


Berikut ini sebuah format evaluasi sumatif modul. Judul Modul: Penerbit: Harga: Sekolah: Tujuan: Kriteria Penilaian

Penulis: Tahun terbit: Bidang studi: Kelas: Prasyarat:

Skor Rating Komentar (1=rendah s.d. 10=tinggi)

1. Kualitas Isi a. Kesesuaian isi dengan tujuan –––––– ––––––––– b. Ketepatan isi (accuracy) dg. Siswa –––––– ––––––––– c. Kemutakhiran isi –––––– ––––––––– d. Kecukupan cakupan (sufficiency) –––––– ––––––––– 2. Kualitas Metode Penyajian a. Penggunaan contoh –––––– ––––––––– b. Sistematika –––––– ––––––––– c. Strategi pembelajaran –––––– ––––––––– d. Integrasi –––––– ––––––––– e. Interaktivitas –––––– ––––––––– f. Motivasi –––––– ––––––––– 3. Penggunaan Bahasa a. Kesulitan –––––– ––––––––– b. Kaitannya dengan teks –––––– ––––––––– c. Keterbacaan –––––– ––––––––– 4. Penggunaan Ilustrasi a. Ketepatan jenis ilustrasi –––––– ––––––––– c. Kaitannya dengan teks –––––– ––––––––– d. Penempatan –––––– ––––––––– e. Pemberian keterangan/caption –––––– ––––––––– f. Kualitas teknis grafika –––––– ––––––––– g. Keindahan –––––– ––––––––– 5. Kualitas Kelengkapan/Bahan Penunjang a. Petunjuk guru –––––– ––––––––– b. Tes akhir modul –––––– ––––––––– c. Pemanfaatan & kaitan dg. Media lain –––––– ––––––––– 6. Kualitas Fisik Modul a. Kejelasan cetakan –––––– ––––––––– b. Kualitas kertas –––––– ––––––––– c. Penjilidan –––––– ––––––––– 7. Efektivitas Penggunaannya a. Minat Siswa terhadap Modul –––––– ––––––––– b. Hasil Belajar Siswa dengan Modul –––––– ––––––––– c. Penilaian Siswa terhadap Modul –––––– ––––––––– 8. Kualitas Modul Secara Keseluruhan –––––– ––––––––– –––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––– –––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––– –––––––––––––���–––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––––– * Format ini disusun berdasarkan atas berbagai format penilain modul dari berbagai sumber 184


• Hasil akhir dari Penilaian Modul secara Sumatif

Penilaian modul untuk tujuan evaluasi sumatif hasil akhirnya adalah berupa nilai tentang kualitas modul dan rekomendasi bagi pembuat keputusan untuk menentukan kelayakan, atau pemilihan, pembelian dan lain-lain keputusan tentang modul tersebut. Apabila dalam melakukan penilaian sumatif modul Anda menggunakan format seperti dicontohkan di atas untuk menilia beberapa buah modul yang berbeda-beda, maka hasil akhir yang diperoleh adalah daftar rating beberapa modul. Kemudian berdasarkan rating modul tersebut dapat dijadikan dasar untuk pembuatan keputusan, misalnya untuk menetapkan modul yang akan dibeli atau dipilih untuk dipergunakan.

• Tugas -

Jelaskanlah secara singkat dengan kalimat Anda sendiri langkah-langkah menilai modul. Ambilah dua naskah modul tentang hal yang sama. Modul 1 ditulis dengan kalimat yang ringkas dengan ilustrasi. Modul 2 ditulis dengan sedikit ilustrasi dan kalimat yang lebih panjang. Kemudian tentukan modul manakah yang terbaik menurut Anda.

185


Penutup Selamat Anda telah selesai mempelajari modul tentang evaluasi atau penilaian modul. Hal-hal penting yang telah Anda pelajari adalah: • Menilai modul memiliki dua tujuan yaitu; 1) untuk menemukan kekurangan-kekurangan dari modul tersebut untuk kemudian dijadikan dasar untuk melakukan penyempurnaan, dan 2) untuk membuat keputusan tentang kualitas modul; misalnya menentukan modul yang baik dan yang buruk atau untuk memilih modul yang baik. • Menilai modul secara formatif berbeda tujuannya dengan menilai modul secara sumatif. • Penilaian modul secara sumatif harus didasarkan pada kriteria-kriteria yang jelas. Ada tujuh kategori kriteria untuk menilai modul yang telah dicetak dan dipublikasikan, yaitu; Kualitas Isi, Kualitas Metode Penyajian, Penggunaan Bahasa, Penggunaan Ilustrasi, Kualitas Kelengkapan/ Bahan Penunjang, Kualitas Fisik Modul, dan Efektivitas Penggunaannya. • Penilaian modul dapat dilakukan oleh seorang ahli dan bisa juga oleh teman sejawat. Dengan demikian kini Anda mampu: menilai modul sesuai dengan prosedur dan kriteria yang ditetapkan. Sebaiknya Anda segera menindaklanjuti belajar Anda dengan segera menerapkannya dalam situasi yang nyata. Ingatlah bahwa apabila pengetahuan Anda tidak segera diterapkan maka pengetahuan yang telah dengan susah payah Anda kumpulkan tersebut akan musnah ditelan masa. Mudahmudahan apa yang telah Anda pelajari tersebut dapat segera Anda terapkan dan bermanfaat. Selamat berkarya.

186


Daftar Istilah Evaluasi formatif modul; penilaian yang dilakukan selama proses pengembangan modul Evaluasi sumatif modul; penilaian yang dilakukan pada akhir proses pengembangan modul atau penilaian terhadap modul yang sudah ada untuk menentukan kelayakan atau kualitas modul yang bersangkutan untuk diputuskan digunakan atau tidak, diputuskan dipilih atau tidak, dibeli atau tidak. Pengkajian modul oleh sejawat; penilaian modul yang dilakukan oleh teman sesama penulis, untuk mendapatkan kritik, masukan dan saran penyempurnaan. Self contained; isinya serba lengkap tanpa harus mengandalkan sumber lain Accuracy; ketepatan isinya Adequacy; kecukupan isinya

187


Daftar Pustaka Arief, S. Sadiman, dkk. 1986. Media Pendidikan, CV Rajawali, Jakarta. Rowntree, Derek. 1990. Teaching Through Self-Instruction, Kogan Page, London. Rowntree, Derek, 1981. Developing Courses for Students, McGraw-Hill. Gachuchi, D. 1989. Handbook for Designing and Writing Distance Education Materials, DSE, Bonn. Lewis, Roger, and Paine, Nigel, 1985. How to Communicate with the Learner (open Learning Guide 6), Council for Educational Technology, London. Anonim, 1991. Writing for Distance Education, Samples, International Extension College, Cambridge. Pat Heim, Ph.D, Elwood, N, Chapman. Learning to Lead, An Action Plan for Succes, (A Self-Improvement Program for Manager) oooOooo

188


Pengembangan Modul