Issuu on Google+

NO. 02 - NOVEMBER 2013

www.dlajah.com


NO. 02 - NOVEMBER 2013

T N E T N O C CHIEF EDITOR HIM

DEWAN PENASEHAT

PENGEMBANGAN BISNIS

AKHMAD HADIAN LUKITA DION LUTVAN PRAMUDYO

anggun nugraha SUNARYO KUSUMO

KEMITRAAN

TATA LETAK & DESIGN

MIKHAEL SEBAYANG

abdul aris mustaqin WINDYASARI

SOCIAL MEDIA

FOTOGRAFER

EKO JUSMAR

MOwELBLACKPACKER

04 Angklung Pride 2013

WEBSITE MASTER RIZKI RUSDIWIJAYA NUR KHAFIDL

The Illuminator Artwork Tema Lain dari Sebuah Seni Subkultur

PENULIS ROSALINA WATI NENI IRYANI

08

andi abdul muhaimin

10

ADMINISTRASI DAN KEUANGAN ida siti nuraida

Dlajah

@dlajahmagz

@Dlajah

REDAKSI DAN KEMITRAAN JL. KYAI GEDE UTAMA NO. 12 BANDUNG 40132 PHONE. +62.22.2501925 - FAX. +62.22.2516752 www.dlajah.com

Bandung Drums Day 03


Bandung Drums Day Eksistensi Bandung Sebagai Kota Musik Teks : Rosalina Wati Foto: Aris Bronson

04


K

ota Bandung sudah lama dikenal sebagai kota kreatif dalam berbagai bidang dan salah satunya adalah seni musik. Konsistensi Bandung dalam dunia musik Tanah Air masih terus berdenyut seirama dengan terus lahirnya karya dan talenta muda muda musisi dari kota ini. Oleh karena itu, tidak heran apabila Bandung disebut-sebut sebagai barometer musik di Indonesia. Hal ini juga didukung kreativitas masyarakatnya terhadap perkembangan dan ragam aliran musik yang cukup tinggi. Dapat dikatakan Bandung adalah kota yang mengapresiasi musik baik dari pelaku musik itu sendiri maupun penikmatnya. Berkaca pada fakta tersebut, Bandung Drums Day yang merupakan salah satu event musik besar di Bandung. Acara ini meskipun baru beberapa kali digelar namun berhasil menunjukkan gaungnya sebagai salah satu event musik besar tidak hanya di Bandung namun juga di Indonesia. Dengan mengangkat tema “Drums Fourever� acara ini seakan menjadi bentuk loyalitas terhadap alat musik drum, loyal terhadap musik itu sendiri, dan loyal mengetengahkan sajian masif berkualitas demi meneguhkan Bandung sebagai kota musik kreatif.

05


Acara ini sukses menghadirkan drummer-drummer handal dari band dalam dan luar negeri. BDD menyajikan pertunjukkan megah dan kolaborasi hebat namun intim antardrummer dari beberapa gendre musik. BDD pun menjadi surga bagi peggila hentakan stroke dari puluhan drummer hebat. Seperti tahun-tahun sebelumnya, BDD masih mempertahankan sesi perang drum metal versus punk. Sebanyak empat drummer beradu kebolehan, yaitu Vijesh dan Kudut dari Malaysia dengan Ikis drummer band punk Tjukimay, serta Raiden Soedjono drummer Roxx. Empat basis juga bersanding dengan para drummer. Adapun drummer Jimmy Manopo sepanggung bersama anaknya, Marsya Manopo. Penggebuk drum lainnya, yaitu Edi Khemod dari band Seringai, Rere (Grass Rock), serta drummer muda JP Millenix. Sepanjang perhelatannya, Bandung Drums Day tidak pernah sepi penonton. Antusias anak muda selalu besar menyambut event ini seolah menjadi bukti perkembangan musik di Kota Kembang Bandung. Karena selain menampilkan drummer hebat di panggung utama, BDD juga merupakan media bagi drummer muda atau yang belum dikenal untuk menunjukkan kehebatan mereka menggebuk drum. Sebut saja Agung Munthe yang berhasil menyisihkan ratusan drummer lainnya dalam kontes yang diadakan di Youtube.

06


Drummer asal Medan tersebut tampil memainkan corak musik rhythm and blues di panggung utama. Tidak hanya itu, mereka yang menyebut diri sebagai drummer mendapat kesempatan bermain di On the

Spot Drumming Contest.

Lebih dari sekedar pertunjukkan drummer-drummer handal, BDD juga tempat bagi distributor dan tenant memamerkan produk drum mereka lewat Drums Exhibition. Bahkan di event ini, mereka yang memiliki masalah dengan gear dapat berkonsultasi langsung mengenai masalahnya Dr. Drums. SPD (Spesialis Penyakit Drums). BDD sukse dikemas seluruhnya tidak hanya satu jenis musik tetapi berbagai genre musik. BDD ingin meneguhkan diri sebagai event musik yang merangsang dan memperkaya referensi pertunjukkan musik di Tanah Air sekaligus sekali lagi menyatakan eksistensi Bandung dalam dunia musik.

07


ANGKLUNG PRIDE 2013 Bangga Sebagai Bangsa Indonesia dan Orang Sunda Teks : Rosalina Wati Foto: Sunaryo Kusumo

t

epat tiga tahun setelah Angklung diresmikan sebagai warisan budaya dunia tak benda asli Indonesia oleh UNESCO berikutnya demi mengukuhkannya maka dirayakan Peringatan Hari Angklung di tahun ketiganya. Acara ini dihelat oleh Saung Angklung Udjo bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat. Festival bertajuk Angklung PRIDE 2013 berlangsung pada 16 November 2013 di Saung Angklung Udjo, Jalan Padasuka, Kota Bandung.

08

Rangkaian acara festival dimulai sejak pagi hari dengan menampilkan perlombaan pentas angklung antarpelajar SMP dan SMA. Terbilang delapan sekolah dari berbagai daerah di Jawa Barat turut serta dalam perlombaan angklung tersebut. Sekolah yang mengirimkan wakilnya adalah: SMPN Unggulan Kabupaten Indramayu, SMP Baitul Hikmah Kabupaten Garut, MTS Persis 37 Sumedang, SMPN 18 Kota Bekasi, SMAN Budi Mulia Kota Bogor, SMAN 8 Kota Cirebon,

SMAN 1 Banjaran Kabupaten Bandung, dan SMAN 1 Kota Bandung. Acara perlombaan sendiri dimulai pukul 09.00 pagi hingga pukul 14.00 WIB. Selain perlombaan, tampil juga beberapa jenis angklung buhun di Jawa Barat dalam pentas yang khas dan menghibur. Special Bamboo Afternoon Show melengkapi rangkaian acara dengan penampilan upacara helaran, tarian tradisional Sunda dan pertunjungan angklung.


Angklung PRIDE sendiri merupakan agenda tahunan yang diadakan oleh Saung Angklung Udjo untuk mengingat sejarah dan perjuangan hingga angklung diakui oleh UNESCO. Kata “pride” yang berarti kebanggaan memiliki dua arti, yaitu bangga

sebagai bangsa Indonesia dan bangga sebagai orang Sunda yang memiliki warisan budaya angklung.

Adalah Udjo Nalagena (alm) adalah orang yang berjasa mengembangkan angklung dengan memodifikasi suara angklung menjadi diatonis (do re me fa so la ti). Berikutnya Daeng Soetigna pada 1938 kemudian mendirikan rumah budaya untuk pementasan dan pelatihan angklung hingga berkembang menjadi Saung Angklung Udjo: Sundanese Art & Bamboo Craft Center seperti sekarang ini. Saung Angklung Udjo selain menjadi sanggar pertunjukkan seni dan budaya juga sekaligus menjadi tujuan wisata budaya favorit khas Jawa Barat yang banyak dikunjungi wisatawan.

Angklung merupakan salah satu instrumen tradisional asal Jawa Barat. Angklung sebenarnya merupakan pengembangan dari alat musik calung, yaitu tabung bambu yang dipukul. Angklung sendiri merupakan tabung bambu yang digoyang sehingga menghasilkan hanya satu nada untuk setiap instrumennya. Alat musik ini terbuat dari potongan bambu meliputi 2-4 tabung bambu yang dirangkai menjadi satu dengan tali rotan. Tabung bambu tersebut dibuat oleh seniman sekaligus pengrajin angklung sehingga mampu menghasilkan nada tertentu ketika bingkai bambunya digoyang. Angklung awalnya hanya bernada pentatonis (da mi na ti la). Dibutuhkan puluhan orang untuk memainkan angklung agar terdengar harmonis. Kini dengan teknik tertentu bisa dimainkan oleh beberapa orang saja untuk menghasilkan melodi yang indah.

Kata angklung berasal dari bahasa Sunda, ‘angkleung-angkleungan’, yaitu gerakan pemain angklung, serta dari suara ‘klung’ yang dihasilkan instrument bambu tersebut.

09


>> The Illuminator Artwork Tema Lain dari Sebuah Seni Subkultur Teks : Rosalina Wati Foto: Aris Bronson

K

reativitas atau daya cipta merupakan proses mental yang melibatkan munculnya gagasan atau anggitan (concept) baru. Dari sudut pandang keilmuan, kreativitas adalah hasil pemikiran berdaya cipta (creative thinking) dan dianggap memiliki keaslian serta kepantasan. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, pola kreativitas ikut pula berkembang, bahkan melampaui batas dan melewati jalur kepantasan. Hal itu terjadi karena daya cipta dipengaruhi berbagai faktor sehingga bisa berbentuk apa saja selama daya cipta tersebut merupakan hasil dari pemunculan gagasan dan pemikiran.

10

Apabila dilihat dari segi kepantasan atau kewajaran maka mungkin bagi sebagian kalangan, jenis kreativtas bertema sadisme dan ketelanjangan akan dianggap aneh dan mungkin tidak bisa diterima. Baru-baru ini sebuah pameran seni rupa bertajuk The Illuminator Artwork Exhibition hadir di Gedung Indonesia Menggugat, Kota Bandung.


Pameran ini menghadirkan gerakan kolektif para artworker dengan karya berupa metafora yang dieksplorasi secara detail melalui tubuh dan aneka mahluk yang sengaja diciptakan. Warna darah, aneka bentuk organ tubuh, ekspresi wajah dibekukan ke dalam frame dan dapat dinikmati setiap detailnya. Setiap ‘rasa’ yang terkandung di dalamnya adalah ruh yang juga menyertai setiap proses dalam menciptakan karya dan mempunyai makna sangat personal. Pameran kretifitas seni rupa The Illuminator sebenarnya sudah tercetus sejak Juli 2009. Awalnya adalah hasil pemikiran kreatif dari Dinan Art, Ken Terror, dan Gencuy Brutal Art di Common Room Bandung. Kreativitas seni rupa yang mereka hasilkan rupanya telah menjadi sebuah produk ‘seni pakai’ dalam produk baju dan pernik merchandise lainnya sesuai keinginan para ‘pemesan’. Sejauh ini, karya-karya kreatif yang tidak biasa tersebut banyak disukai di kalangan musisi lokal maupun mancanegara beraliran tertentu.

11


The Illuminator Artwork Exhibition berhasil menjadi wadah bagi seniman kreatif untuk menunjukan dan terus menghasilkan seni rupa bertema kesadisan, ketelanjangan dan kengerian. The Illuminator juga menjadi rumah bagi para artworker untuk berteduh dan saling berbagi dengan sesama anggotanya. Beberapa seniman yang ikut bergabung The Illuminator diantaranya adalah: Gustav In Suffer, Wibowo Yudo Baskoro, Jonrinz, Ilham Tks Lowskill, Ilham Rusnovelli, Candra MFA, Rudi Gorginsuicide, Yusep Morterm Art, dan masih banyak lagi lainnya. Melalui The Illuminator Artwork Exhibition diharapkan masyarakat luas dapat melihat karya yang dipamerkan sebagai seni atau sub-culture art. Karena selama ini, karya seni beraliran The Illuminator dianggap seni subkultur yang dituding lebih banyak mengundang rasa ngeri ketimbang decak kagum. Pada akhirnya perlu digaris bawahi bahwa tidak ada batasan dalam berkarya bagi seniman.

12



DLAJAH PINTUTEATER #02