Page 1

Galang Kangin Mencerahkan. Menggerakkan

Edisi Maret | Tahun 2011

Edisi 03 Rp. 6.000,-

Luar Bali Tambah Ongkos Kirim

Http://galangkangin.kharismamadani.com ; E-mail:kharismamadani@gmail.com

Faktor internal dan eksternal pelaku UMKM di daerah Bali

Peluang Koperasi

Tujuan pengembangan UM­KM (usaha mikro,kecil dan menengah) baik yang dilakukan di In­do­ ne­sia adalah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ma­­­syarakat atau mengurangi ting­ Selanjutnya hal 3 kat kemiskinan........

Eksistensi koperasi di negara kita boleh dikatakan sudah cukup tua, karena sejak tgl. 12 Juli 1947 diakui sebagai hari kelahiran Koperasi.....................

dalam Era Perdagangan Bebas

Selanjutnya hal 4

Dalam Sepi MENUJU KESADARAN YANG TERTINGGI hal 5

Pentingnya Media untuk publikasi Mem­publikasikan atau meng­­umumkan kegiatan yang dilakukan oleh Badan Ke­swa­da­yaan Ma­sya­ rakat atau BKM adalah upaya yang paling efektif dalam sosialisasi, .............

Selanjutnya hal 13

Menggali Potensi Memberi Solusi

Salah satu penunjang pariwisata Bali adalah keberadaan adat yang masih dipegang dan dijalankan oleh orang Bali. .............

Selanjutnya hal 15

SOLUSI PERMODALAN KOPERASI

MELALUI LPDB-KUMKM S

ebagaimana diatur dalam un­dang-undang, disamping permodalan koperasi bersumber dari simpanan pokok, wajib, sim­ panan sukarela dan simpanan berjangka, permodalan koperasi juga dapat diupayakan melalui

hibah, modal penyertaan dan atau pinjaman pada pihak ketiga. Salah satu upaya pemerintah un­ tuk memberdayakan kegiatan usaha dibidang perkoperasian, usaha mikro, kecil dan menengah khusus untuk solusi permodalan telah dibentuk Lembaga Penge­ lo­laan Dana Bergulir (LPDB) Ko­ perasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah melalui Ke­ putusan Menteri Keuangan Nomor : Kep-292/MK.5/2006 dengan penanggung jawab dise­rahkan kepada Kementrian

Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Tujuan utama LPDB untuk membantu perkuatan modal usaha guna pengembangan koperasi, usaha mikro, kecil, menengah, dan usaha lainnya dalam upaya penanggulangan kemiskinan, pengangguran dan pengembangan ekonomi nasional dengan dana yang dialokasikan oleh Kementerian Koperasi dan UKM. Visi LPDB adalah Lem­ baga yang dapat diandalkan da­ lam memberikan layanan pem­ biayaan kepada KUMKM, serta mam­pu menjadi integrator dan

pemercepat pengembangan in­ dustri keuangan mikro di daerah MISI LPDB • Mewujudkan kualitas layanan LPDB-KUMKM yang andal, akuntabel, transparan, tepat waktu, dan berkelanjutan, serta mudah diakses oleh KUMKM. • Mengelola dan mengem­bang­ kan dana bergulir KUMKM se­ cara profesional, akuntabel dan berkelanjutan. • Melaksanakan pembiayaan usa­ha dalam rangka pemberdayaan KUMKM. bersambung ke hal 14

OGOH-OGOH SEBAGAI ASET BUDAYA BALI Ogoh-ogoh merupakan seni budaya Bali yang baru berkembang dalam tiga dekade terakhir ini . Perkembangannya yang relatif baru telah menimbulkan berbagai persepsi di tengah masyarakat. Bahkan diberbagai kalangan muncul wacana yang sangat dinamis, yang menilai kehadiran ogoh-ogoh ini dari sudut pandangnya masing-masing. Artinya kehadiran ogoh-ogoh ini tidak dilihat menyeluruh dan terpadu.

S

ehari sebelum hari raya Nyepi sebagai peringatan Tahun Baru Saka oleh umat Hindu, di Bali diadakan ucapara Tawur Kesanga. Prosesi upacara terdiri dari rangkaian pecaruan di masing-masing pewidangan (Banjar/Desa Pekraman). Yang waktunya dapat dilaksanakan pada siang hari sampai sandyakala yaitu saat perpaduan antara hari sore dengan hari malam. Pecaruan/ Tawur Kesanga bertujuan untuk me­lakukan penyomian para bhuta

Edisi 3/Maret 2011

(ke­gelapan) menjadi dewa (si­ nar suci). Pada sandyakala atau sering disebut sandikala se­ ba­gai batas akhir pelaksanaan pe­caruan, yang dirangkaikan deng­an pelaksanaan kegiatan Mea­bu-abu yaitu kegiatan yang diyakini sebagai puncak ke­ber­ hasilan dalam prosesi pe­nyo­ miyan. Karenanya pada saat itu dilaksanakan upakara ngaturang bersambung ke hal 11


Galang Kangin

2

dari REDAKSI

Apalah Arti Sebuah Nama WD. Mahendra

U

ngkapan yang dipopulerkan oleh sastrawan besar dari Inggris tersebut masih sering terdengar hingga kini. William Shakespeare memunculkan kalimat “apalah arti sebuah nama” itu dalam kisah Romeo dan Juliet. Kutipannya kurang lebih ditulis What’s a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet. Sekuntum mawar tetaplah sekuntum bunga yang indah, walaupun ada yang memberiny nama rose, mawar atau kembang berduri. Bunga itu tetaplah bunga yang indah, apapun namanya, dan harumnya semerbak. Sama seperti sebongkah emas, dia tidak dipengaruhi oleh nama yang diberikan, tetapi lebih kepada nilainya sendiri.

Pun tabloid Kharisma Madhani, mengalami pergantian nama dalam perjalannya menjadi suara koperasi dan umkm. Awalnya, tim redaksi memilih nama Kharisma Madhani dengan pertimbangan ide lahirnya tabloid hingga proses cetak yang pertama memang terjadi di satu ruangan milik koperasi Kharisma Madhani. Saat itu pengaruh besar W. Shaskepeare sangat terasa, apapun namanya, sepanjang tabloid ini bisa memberi letupan-letupan rangsangan berpikir yang kreatif dan konstruktif dalam semangat spiritual, tidak jadi masalah. Apalagi nama Kharisma Madani mengandung makna pancaran semangat yang menjaga keselarasan hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan horisontal dengan masyarakat, tentu nama Kharisma Madani sudah cukup mewakili tabloid dengan tag line sebagai media bisnis dan spiritual. Pikiran awal yang sederhana tersebut, rupanya harus diperbincangkan kembali oleh awak redaksi. Sambutan dari koperasi-koperasi dan masyarakat

umum yang sangat antusias membaca tabloid edisi perdana, dalam catatatan redaksi lima ribu eksemplar cetakan perdana habis beredar, sepertinya nama Kharisma Madani harus diganti. Ibarat baju, dia telah menjadi sempit. Kharisma Madani memang telah lekat dengan nama satu koperasi. Dan ketika tabloid ini diterima oleh koperasi dan masyarakat umum sebagai sebuah media untuk mencerahkan dan menggerakan koperasi untuk lebih bertumbuh dalam semangat profesionalisme dalam pengelolaannya dan tetap dalam semangat spiritualitas yang semakin tinggi dalam etikanya, awak redaksi dengan pertimbangan memcarikan nama yang lebih luas dan netral dalam pemaknaannya, memilih nama Khama (kama=keinginan). Keinginan untuk menjadi wadah bersama koperasi seluruh Bali. Keinginan untuk samasama tumbuh dan berkembang secara sehat. Keinginan untuk menggerakan pola pikir masyarakat Bali dalam pola pola modern dan tetap dalam semangat tradisi yang

telah ada. Dan keinginan-keinginan yang lainnya. Perubahan nama yang cukup natural, bisa memberi pemaknaan yang lebih luas dan bersifat netral. Rasanya sudah pas nama khama, edisi dua pun dicetak dengan permakluman akan ada pergantian nama untuk edisi berikutnya. Awak redaksi dalam pertemuan-pertemuannya dengan beberapa tokoh masyarakat yang memiliki perhatian lebih untuk perkembangan koperasi tetap membuka ruang guna mendapatkan nama yang lebih tepat. Sebuah usulan menyeruak, untuk memakai nama Galang Kangin. Galang Kangin sendiri adalah halaman khusus yang membahas spiritualitas Bali yang bisa diimplementasikan dalam kegiatan bisnis modern. Terdapat di dalam tabloid ini. Semangat mengangkat bisnis dengan spiritualitas Bali yang tinggi rasanya lebih pas diwakilkan oleh Galang Kangin. Sepertinya Galang Kangin lebih tepat. Ibarat jabang bayi, Galang Kangin memang telah ada dalam kandungan Kharisma

Madani. Hanya masalah waktu kapan dan bagaimana dia akan lahir saja. Akhirnya keputusan telah diambil, Galang Kangin dipilih sebagai nama tabloid dengan tag line mencerahkan dan menggerakkan. Ibarat Matahari, begitulah nama Galang Kangin. Secara natural aktifitas kehidupan akan mulai bergerak ketika langit di ufuk timur telah cerah. Pikiran yang mulai tercerahkan akan bisa menggerakan tubuh untuk bertindak. Begitulah metamorfosa yang terjadi dalam perubahan nama yang dialami oleh tabloid ini. Rupanya alam membuat kami kembali ke tradisi leluhur. Nama adalah pilihan yang merupakan harapan. Dan dalam upacara tiga bulanan sang bayi, beberapa pilihan nama diserahkan kepada sang hyang agni untuk dipilih. Galang Kangin telah dipilih, semoga Sang Hyang Agni memberikan kekuatan untuk menjadi pelita dan umur yang panjang.

“SPIRIT GO GREEN”

Mewarnai HUT Kota Denpasar Menjelang perayaan hari jadi kota Denpasar yang ke – 19, Pemkot menyelenggarakan berbagai kegiatan, salah satunya, lomba Lelakut dan Pindekan. Menurut Pak Wayan Jelantik selaku Ketua Paguyuban Pekaseh kota Denpasar, bahwa pemilihan tema lelakut dan pindekan bertujuan melestarikan budaya Penangluk Merana yang hampir terpinggirkan oleh pengaruh zaman. Kegiatan lomba ini digelar di Subak Umalayu, Kelurahan Penatih, dan dihadiri langsung oleh Bapak Walikota, didampingi Bapak Sekretaris kota, Kadis Tanaman Pangan

dan Hortikultura, dan undangan lainnya. Peserta lomba berasal dari subak se-kota Denpasar, yang merupakan duta dari masingmasing kecamatan. Di mana setiap kecamatan mengirimkan empat buah lelakut dan dua buah pindekan. Adapun kriteria penilaian terdiri dari bahan pembuatan lelakut, pindekan, kerja sama pembuatannya, kreatifitas dan kelengkapan upacaranya. Pada lomba kali ini, ada 16 buah lelakut dan 8 buah pindekan yang dinilai. Sementara rombongan pak Wali berkeliling, para juri sibuk mengamati lelakut dengan kelengkapan upacaranya. Sebanyak 4 orang juri menilai kreatifitas para peserta, di mana mereka berasal dari fakultas Pertanian Universitas Udayana,

Dinas Kebudayaan Propinsi Bali, kantor Kementrian Agama kota Denpasar, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura kota Denpasar. Dalam kenyataannya, pemasangan lelakut dan pindekan dalam beberapa tahun terakhir ini hampir jarang ditemui di hamparan sawah di Bali. Yang marak saat ini justru bentangan tali yang diisi dengan tas plastik. Dulu, di tengah pematang sawah dibuat rangon (rumah panggung sederhana) yang berfungsi untuk menghalau burung-burung yang berseliweran mencari makan. Dari rangon tersebut dibentangkan tali ke berbagai arah, sehingga efektif untuk mengawasi bentangan sawah yang lebih luas. bersambung ke hal 12

Team Redaksi Galang Kangin

Galang Kangin

Diterbitkan oleh: KSU Kharisma Madani Badan Hukum No.36/BH/DISKOP.PKM/IV/2006 - Pembina : Prof. DR. I Ketut Rahyuda, SE, MSIE. - Pemimpin Umum : Putu Sumedana Wahyu - Pimpinan Redaksi : I Gede Sumartana - Redaktur Pelaksana : Dudik Mahendra - Team Redaksi : Kecuk Priambada, I Nyoman Gede Arimbawa, Dudik Mahendra, Nyoman Sarna, SE, I Gede Sumartana, Wayan Budiarta - Tata Letak : Kadek Suta Giri, Eka Yudi - Photografi & dokumentasi : I Nyoman Sudarma, SE, Ir. I Made Sukarta, Wayan Budiarta - Administrasi Umum : Putu Sri Mulyani, SE - Sirkulasi & Distribusi : I Made Agus Antara, I Kadek Joni Artha, SE, I Gede Ardhi Saputra, SE, I Made Surya Dharma, Agus Gita Saputra - Administrasi Sirkulasi : Agus Gita Saputra - Teknologi informasi : I Gede Dedy Wijaya, ST, Eka Yudi Periklanan : KSU Kharisma Madani KCP Pakerisan Alamat Redaksi: Jln. Bedugul No.1XX Sidakarya - Denpasar Selatan Telp:(0361) 727734 Email: kharismamadani@gmail.com

Kritik dan Saran yang bersifat membangun bisa dilayangkan ke alamat email kami Edisi 3/Maret 2011


Galang Kangin

3

Faktor internal dan eksternal pelaku UMKM di daerah Bali Prof. DR. I Ketut Rahyuda, SE, MSIE

1 Permasalahan Umum UMKM Tujuan pengembangan UM­KM (usaha mikro,kecil dan menengah) baik yang dilakukan di Indonesia adalah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ma­­­ syarakat atau mengurangi ting­ kat kemiskinan. Melalui kebi­ja­ kan pengembangan UMKM di Indonesia, termasuk di daerah Bali dirasakan kurang optimal karena terdapat dugaan bahwa ketepatan kualitas kebijakan pe­ me­rintah dengan kebutuhan UM­KM di daerah, khususnya Bali adalah kurang memadai. Oleh karena itu pemerintah (pe­me­ rintah daerah dan pelaku UMKM) membutuhkan cara baru sebagai upaya meningkatkan kualitas UM­KM, secara bersama-sama guna me­nyusun strategi kebijakan yang terintegrasi. Inti atas kebijakan yang ter­ intergratif adalah semua kebijakan pengembangan UMKM sebaiknya ber­dasarkan protret nyata para pelaku dan pasar yang dihadapi oleh UMKM. Intinya konsep ke­ bi­­jakan tersebut semestinya me­ng­gambarkan kegiatan eko­ nomi dan struktur mata pen­ ca­harian (usaha) mayoritas penduduk yang bergerak usaha UMKM. Sehingga kebijakan yang terbentuk akan menjadi pedoman yang mampu memberi solusi terhadap permasalahan UMKM secara nyata.Sampai dengan saat in (2011),sesungguhnya permasalahan UMKM adalah sangat banyak. Tapi bila diungkapkan secara spesifik

Edisi 3/Maret 2011

maka permasalahan utama UMKM pada umumnya adalah berkaitan dengan permodalan, pasar, desain, dan teknologi. Untuk mendapatkan kebijakan dan program peningkatan UMKM yang berpijak pada pemecahan permasalahan yang mendasar maka dibutuhkan pendekatan strategis. Seperti mampu mempetakan potensi, permasalahan, peluang dan tantangan yang dihadapi UMKM. Pendekatan strategis itu biasanya dilakukan dengan analisis SWOT(strength, weakness,opportunity and threat) : potensi kekuatan (S), kelemahan(W), kesempatan(O) dan tantangan/hambatan(T). Analisis SWOT ini biasanya digunakan merancang strategi guna tujuan usaha UMKM dapat terwujud. Pada uraian berikut hanya dijabarkan hasil analisis SWOT secara umum. Dengan maksud agar suatu saat, setiap usaha maupun korporasi, sebelum menyusun strategi selalu memanalisis SWOT terlebih dahulu. 2 Analisis SWOT Pengembangan UMKM dengan analisis SWOT adalah mermaksud untuk, menggambarkan kekuatan, kelemahan, peluang. Secara teknis Analisis SWOT terfokus terhadap faktor-faktor internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan serta analisis terhadap faktorfaktor eksternal yang menjadi peluang dan ancaman. Kondisi organisasidibagi menjadi faktor internal dan faktor eksternal, digunakan menggambarkan potensi serta permasalahan yang dihadapi. Sedangkan setiap potensi dan permasalahan UMKM dijabarkan dalam beberapa variabel seperti berikut yaitu: Informasi Umum, Aspek Inovasi & Pemanfaatan Teknologi Informatika, Aspek Bahan Baku, Aspek Peralatan Produksi, Aspek

SDM, Aspek Rancangan Ke Depan, Aspek Persiapan Mengahadapi Tantangan, Aspek Pemasaran, Aspek Pendanaan, dan aspek lainnya. Semua aspek yg telah diuraikan itumerupakan potensi dan permasalahan UMKM di daerah Bali. Agar penjelasan potensi dan permasalahan terpetakan secara sistemik maka fator-faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman pengembangan UMKM dapat diuraikan sebagai berikut: 3 Kekuatan Internal Output UMKM Secara spesifik ternyata manusia Bali, mempunyai kemampuan kreativitas yang relatih tinggi dibandingkan manusia bukan Bali.Banyak sekali hasil produksi rumah tangga diciptakan oleh manusia Bali, yang ditiru dan dicuri sebagai produk manusia bukan Bali. Kekhasan, keunikan dan keunggulan produk yang dihasilkan menjadi ciri khas produksi Bali, Keunggulan yang dimaksud adalah keunggulan daya cipta dan inovasi. Sesungguhnya, bila pemerintah paham dan perhatian tentang keunggulan ini, maka pemerintah bersama pelaku dan masyarakat, akan melakukan tidakan preventif/ penjagaan kompetensi tersebut secara ketat. Terutama terhadap produk kerajinan, kesenian, tekstil, maupun makanan. Sayang pemerintah tuna rungu dalam menjaga potensi yang dimiliki oleh manusia Bali sehingga sebagian kesempatan menjadi hilang (baca; lost of opportunity income) turutama kesempatan mendapatkan penghasilan terhadap hilangnya /dicurinya potensi manusia Bali oleh manusia bukan Bali Usaha utama perusahaanperusahaan UMKM di daerah Bali adalah sebagai besar menjadi produsen (47%), yang kegiatannya memproduksi

produk berupa kerajinan, usaha meubel, pakaian jadi, makanan dan minuman olahan. Hasil produksi pengusaha UMKM di Bali mempunyai kualitas dan keunggulan desain dibandingkan produk yang serupa di Indonesia, terutama untuk kerajinan/barang seni/cinderamata yang bahan dasarnya adalah berasal dari kayu, aneka rajutan, dan pakaian jadi. Produk-produk yang telah diuraikan diatas mengalami peningkatan omzet penjualan yang relatif besar dan telah menjangkau pasar internasional. Disamping itu produk yang dihasilkan oleh manusia Bali memiliki beberapa keunggulan dibandingkan produk sejenis yang ada di pasaran yaitu : • Menggunakan alat yang lebih bagus dan selalu menggunakan alat alat yang konvensional dengan mempertahankan penggunaan alat tradisional dan penggunaan bahan kain yang lebih awet. • Penggunaan bahan baku yang terdiri atas bahan natural/murni dan digabung

• •

dengan kualitas bahan yang memadai, sehingga produk akhir kelihatan lebih fresh, segar dan menarik Ketepatan waktu menjadi stándar dalam melayani pelanggan baik grosir maupun retail dalam penyelesaian barang dan pesanan. Produk yang berkualitas selalu dijaga tanpa menggunakan pengawet. Berdasarkan selera konsumen ternyata produk yang dihasilkan oleh produsen Lebih memuaskan dibandingkan produk lain yang serupa yang dihasilkan oleh produsen bukan dari daerah Bali . Penetapan harga sangat berkompetisi dan tentu lebih murahserta proses layanan lebih cepat. Desain dan kontrol warna lebih baik, serta menjaga kualitas desain sesuai permintaan.

(Bersambung edisi berikutnya)

UD. DEWI SAMUDRA SEJAHTERA (DSS) Jalan Gunung Kerinci No 11, Br. Gelogor Tegal Denpasar-Bali Telpon/Fax: 0361-486768 / 0361-7488112 / Hp 081 855 8112 Website: www.superbionik.com E-mail: darmadk@yahoo.co.id


Galang Kangin

4 Analisis Koperasi & UMKM

Peluang Koperasi

dalam Era Perdagangan Bebas Oleh Prof. Dr. IB Raka Suardaa, SE.,MM *)

E

*) Prof. Dr. IB Raka Suardana, SE.,MM adalah Sekretaris Ikatan sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Bali 2010-2013, Guru Besar Ilmu Manajemen Undiknas University, yang saat ini menjabat juga Dekan Fak. Ekonomi & Bisnis (FEB) dan Ketua program Studi Magister manajemen (MM) Undiknas University.

sensi perdagangan bebas yang sedang diciptakan oleh ba­nyak negara yang ingin lebih maju ekonominya adalah meng­­ hilangkan sebanyak mungkin hambatan perdagangan inter­ nasional (international trade barriers). Berdasarkan hal itu, maka untuk melihat dampak­ nya terhadap perkembangan koperasi di tanah air, dapat dilakukan dengan dengan cara mengelompokkan koperasi ke dalam ketiga kelompok atas dasar jenis. Pengelompokan itu meliputi pembedaan atas dasar: (i) koperasi produsen atau koperasi yang bergerak di bidang produksi, (ii) koperasi konsumen atau koperasi kon­ sumsi, dan (iii) koperasi kredit dan jasa keuangan (koperasi simpan pinjam / KSP). Dengan cara ini akan lebih mudah mengenali keuntungan yang bakal diperoleh oleh koperasi di indonesia dari adanya perdagangan bebas tersebut.. Koperasi produsen, ter­utama koperasi pertanian memang meru­pa­kan koperasi yang paling sangat terkena pengaruh per­dagangan bebas dan berbagai liberalisasi. Ko­ pe­rasi pertanian di hampir seluruh belahan dunia ini selama ini menikmati proteksi (perlindungan) dan berbagai bentuk sub­sidi serta dukungan pemerintah. Dengan dia­da­ kannya pengaturan mengenai subsidi, tarif, dan akses pasar, maka produksi barang yang di­ hasilkan oleh ang­gota koperasi tidak lagi dapat menikmati perlindungan seper­ti semula, dan harus dibuka untuk pa­ saran impor dari ne­gara lain yang lebih efisien. Untuk koperasi-kope­ rasi yang menangani komoditi sebagai pengganti impor atau ditutup dari persaingan impor. Jelas hal ini merupakan pukulan be­rat dan akan menurunkan perannya di dalam percaturan pa­sar, kecuali ada rasionalisasi produksi. Sementara untuk ko­perasi yang menghasilkan barang pertanian untuk ekspor seperti minyak sawit, kopi, dan rempah serta produksi

per­tanian dan perikanan mau­ pun peternakan lainnya, jelas perdagangan bebas meru­ pakan peluang emas, karena berbagai kebebasan tersebut ber­arti membuka peluang pasar yang baru. Dengan de­ mi­kian, akan memperluas pa­sar yang pada gilirannya akan merupakan peluang un­ tuk pening­katan produksi dan usaha bagi koperasi yang bersangkutan. Dalam konteks ini koperasi yang menangani produksi per­tanian, yang selama ini mendapat ke­mu­ da­han dan per­lin­dungan pe­ me­rintah melalui proteksi har­ga dan pasar akan meng­ ha­dapi masa-masa sulit. Ka­ re­na itu koperasi produksi ha­rus mengubah strategi ke­ gi­a­tannya. Bahkan mungkin harus me­reorganisasi kembali supaya kompatibel dengan tantangan yang dihadapi. Untuk koperasi produksi di luar pertanian memang cu­ kup sulit untuk dilihat arah peng­aruh dari liberalisasi per­dagangan terha­dapnya. Karena segala sesuatunya akan sangat tergan­tung di po­ sisi segmen mana kegiatan koperasi dibedakan dari para ang­gotanya. Industri kecil misalnya sebenarnya pada saat ini relatif berhadapan dengan pasar yang lebih terbuka. Ar­ tinya mereka terbiasa dengan persaingan dengan dunia luar untuk memenuhi pemintaan ekspor maupun berhadapan dengan ba­rang pengganti

yang diimpor. Namun caraca­ra koperasi juga dapat dikerjakan oleh perusahaan bukan koperasi. Secara umum koperasi di dunia akan menikmati man­faat be­sar dari adanya perdagangan bebas, karena pada dasarnya per­dagangan bebas itu akan selalu mem­ bawa pada persaingan yang lebih baik dan membawa pada tingkat keseimbangan har­ ga yang wajar serta efisien. Peniadaan hambatan per­da­ gangan akan memperlancar arus perdagangan dan ter­ bu­kanya pilih­an barang dari seluruh pelosok penjuru dunia secara be­bas. Dengan demikian konsumen akan menikmati kebebasan un­tuk memenuhi hasrat konsumsinya secara optimal. Meluas­nya kon­sumsi masyarakat dunia akan mendorong meluas dan mening­katnya usaha koperasi yang bergerak di bidang konsumsi. Selain itu dengan peniadaan hambatan perdagangan oleh pe­merintah melalui peniada­an non-tariff barrier dan penurunan ta­rif akan menyerahkan mekanisme seleksi sepenuhnya kepada ma­ syarakat. Koperasi sebenarnya menjadi wahana masyarakat un­tuk melindungi diri dari kemungkinan kerugian yang timbul aki­bat perdagangan bebas . Kegiatan koperasi kre­ dit, baik secara teoritis mau­ pun em­pi­ris, terbukti mem­-

punyai kemampuan untuk mem­bangun seg­men­tasi pa­ sar yang kuat sebagai akibat struk­tur pasar keuang­an yang sangat tidak sempurna, ter­utama jika menyangkut masa­lah informasi. Bagi koperasi kredit keterbukaan perda­gangan dan aliran modal yang keluar masuk akan meru­pakan kehadiran pesaing baru terhadap pa­ sar keuangan yang ada, mes­kipun agak mustahil dapat menjangkau para ang­gota koperasi di tingkat pedesaan. Demikian juga jika koperasi kredit mempunyai jaringan yang luas dan me­ nu­tup usahanya hanya untuk pelayanan anggota saja, maka seg­mentasi ini akan sulit untuk ditembus pesaing baru. Bagi koperasi-kope­ rasi kredit di negara ber­ kembang, dengan ada­nya globalisasi ekonomi dunia tentunya akan merupakan peluang untuk menga­ dakan kerjasama dengan koperasi kredit dari negara maju dalam membangun sistem per­kreditan, paling tidak dapat mengadopsi kemajuan teknologi manajemennya. Sehingga dengan demikian, koperasi kredit di masa men­datang tampaknya bisa menjadi pilar kekuatan koperasi yang perlu didukung oleh pemerintah dan semua stakeholders lainnya.

Edisi 3/Maret 2011


Galang Kangin

5

Dalam Sepi

MENUJU KESADARAN YANG TERTINGGI B

aru saja kita melewati pergantian tahun Masehi dari tahun 2010 menjadi tahun 2011. Suasana hingar bingar yang menyertai perayaan pergantian tahun tersebut sepertinya masih terngiang sampai sekarang. Setelah itu, pada bulan Februari, disusul dengan pergantian tahun baru Imlek 2562, dari tahun macan berganti menjadi tahun kelici. Kurang lebih nuansa perayaan yang sama menyertai pergantian tahun tersebut. Dan pada bulan Maret ini, tepatnya tanggal 5, masyarakat Bali akan menyambut pergantian tahun Saka, dari tahun Saka 1932 menjadi tahun Saka 1933. Ada perbedaan dari cara masyarakat Bali dalam merayakan dan memaknai pergantian tahun Saka. Dari sekian banyak perayaan pergantian tahun yang ada, mungkin hanya di Balilah yang melaksanakan pergantian tahunnya dengan menghentikan kegiatan kehidupan selama satu hari. Satu hal yang unik. Bahkan cara perayaan tahun baru ini tidak dilakukan di negeri asalnya yaitu India. Perayaan pergantian tahun tersebut dikenal dengan nama hari Nyepi. Proses pergantian tahun Saka yang diperingati dengan cara Sipeng/Nyepi dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian. Bisa juga dimaknai dengan saat dimana kita mengembalikan alam ke kondisi alaminya. Kondisi alami ini digambarkan dengan masuk ke dalam alam kegelapan atau alam Edisi 3/Maret 2011

tidur lelap(Susupta). Proses ini kurang lebih bisa disamakan dengan kehidupan keseharian kita dimana setelah satu hari bekerja, kita mulai dengan sadar masuk ke dalam kegelapan, dimana segala sesuatu bergerak secara alami. Seperti halnya saat kita tertidur, mekanisme tubuh bekerja secara alami tanpa ada intervensi dari ego yang mengganggu. Disinilah tubuh kembali mencari bentuk utuhnya secara alami, setelah sehari melayani ego manusia dalam menjalankan aktivitasnya. Untuk bisa masuk ke dalam alam tidur lelap (susupta), tentu harus ada keiklasan untuk melepas hal-hal yang masih mengganjal dan belum terselesaikan pada hari itu. Jika tidak, maka proses perpindahan dari alam sadar (jagra), akan terhenti sampai alam mimpi (swapena). Hal ini akan menghambat proses berpisahnya tubuh dari pikiran. Keberadaan pikiran akan menghambat tubuh masuk ke dalam alam susupta. Ini tidak akan memberikan ruang kepada tubuh untuk kembali ke bentuk alaminya. Itulah yang menyebabkan orang yang tidurnya diganggu mimpi, tidak bisa merasa segar pada saat bangun pagi. Adanya keiklasan untuk melepaskan segala sesuatu baik yang terselesaikan maupun yang belum pada satu hari itu, akan memberikan ruang kepada sang tubuh sebagai wujud dari alam semesta untuk masuk ke alam tidur lelap (susupta), sementara sang diri masuk kedalam alam kesadaran murni (turyapada).

Dalam konteks buana agung, proses ini digambarkan dalam prosesi pergantian tahun Saka yang dilaksanakan dengan nyepi atau sipeng selama 24 jam, dimana segala kegiatan dihentikan dengan melakoni Catur Brata Penyepian. Karena manusia yang lebih banyak digerakan oleh pikirannya, maka manusialah yang kemudian diwajibkan melaksanakan Catur Brata Penyepian. Jeda satu hari inilah yang akan memberikan ruang kepada buana agung untuk kembali ke kondisi alamiahnya. Untuk terlepas selama satu hari dari pergerakan yang dipengaruhi oleh ego manusia. Kondisi alami inilah yang kemudian memberi manusia petunjuk kearah mana seyogyanya alam bergerak. Seperti halnya saat manusia terbangun dari tidur dan mulai berkehendak (ngembak geni). Pemaknaan upacara Nyepi. Melasti atau mekiyis dilakukan beberapa hari menjelang nyepi. Prosesi yang dilakukan dengan mengusung sesuhunan menuju sumber air untuk disucikan. Dalam konteks buana agung, bisa dimaknai dengan pembersihan alam semesta. Sedangkan dalam konteks buana alit, maka prosesi ini bisa dimaknai dengan membersihkan tubuh atau raga kita. Sang raga sebagai perwujudan alam semesta yang merupakan sesuhunan kita. Sang raga yang merupakan perwujudan dari kemulan, yang membawa dan memberi tiga aspek kepada manusia, yaitu Ang, Ung dan

Mang (pikiran, emosi dan ambisi/ nafsu). Setelah satu hari melayani sang diri, tiba saat dimana sang raga disucikan kembali. Hal sederhana yang bisa dilakukan adalah memandikan sang raga/ tubuh dengan air bersih. Setelah pelaksanaan Melasti, dilanjutkan dengan menghaturkan bakti di Bale Agung atau Pura Desa. Prosesi ini dalam konteks buana alit bisa diartikan dengan mulai melepaskan pusaran pikiran. Bale Agung atau Pura Desa merupakan penggambaran aspek Ang dengan dewanya Brahma. Dalam diri manusia posisinya di rongga kepala. Juga mewakili alam sadar (Jagra). Dalam menjalankan aktifitasnya sehari-hari di alam Jagra, manusia manusia banyak digerakan oleh pikirannya (pepineh). Untuk bisa masuk ke alam Susupta, perlu adanya kesadaran untuk menghentikan pusaran pikiran. Segala pekerjaan yang masih melekat dipikiran mulai dilepaskan/dilupakan. Sedangkan dalam konteks buana agung, adanya kesepakatan kolektif (menyatukan pepineh) untuk menghentikan kegiatan di alam Jagra yang banyak dikendalikan oleh pikiran manusia. Untuk mempersiapkan alam masuk ke dalam alam Susupta. Proses ini bisa diartikan menetralisir aspek negatif dari pikiran. Prosesi berikutnya adalah menghaturkan Tawur Agung. Dalam pergerakan alam yang banyak dipengaruhi ego manusia, kemungkinan ada ego yang

belum terpenuhi. Atau banyak target-target yang merupakan bagian dari ambisi manusia tidak terpenuhi. Ini menimbulkan ketidak-seimbangan secara emosional di alam semesta. Untuk menyeimbangkan(meredam) ego ini, kemudian dilaksanakan Pecaruan/Tawur Agung. Sedangkan dalam konteks buana alit, dalam melaksanakan aktifitas, sering ego manusia menguras energinya tanpa memperhatikan kondisi tubuh. Kemungkinan ada banyak hal yang belum terselesaikan karena terbatasnya waktu. Ini bisa memunculkan gejolak emosi. Dalam hal ini hal yang paling mungkin adalah mengembalikan kondisi fisik dengan memberikan asupan makanan dan minuman. Dengan terpenuhinya kebutuhan makan dan minum sebagai tawur, diharapkan kondisi emosional akan menjadi stabil. Emosi merupakan aspek Ung dalam diri manusia. Posisinya ada dalam rongga dada. Prosesi ini bisa dimaknai dengan menetralisir aspek negatif dari emosi dalam diri manusia. Lalu dilanjutkan dengan prosesi Ngerupuk, yang umumnya diartikan sebagai menghalau Bhutakala. Dalam konteks buana alit, tubuh manusia secara alamiah membawa aspek-aspek badaniah yang sering mewujud menjadi nafsu-nafsu badaniah (Bhutakala). Agar tidak mengganggu, pada saat ngerupuk ini, aspek-aspek badaniah diekspresikan dengan teriakan dan memukul tabuh-tabuhan (Katarsis). bersambung ke hal 12


6

Galang Kangin

SELAYANG PANDANG TAHUN SAKA 5

Maret 2011, ma­sya­ ra­kat Bali merayakan per­gantian tahun Saka, tang­gal. Dari tahun Sa­ka 1932 menjadi ta­hun Saka ­­1933. Ada yang berbeda dalam tata cara merayakan pergantian tahun yang dilaksanakan oleh o­rang Bali. Perayaan per­gantian tahun pada umumnya identik deng­an suasana meriah pes­ta. Suasana glamour deng­an suara petasan dan kembang api. Di Bali justru yang terjadi ada­ lah kebalikannya. Orang Bali merayakan pergantian tahun Saka dengan menghentikan pu­ taran kehidupan seje­nak. Jauh dari nuansa ke­riuhan suasana pesta. Suasana yang mengajak setiap orang untuk kem­bali ke titik nol. Kembali kekosongan. Melakukan tapa brata yoga semadi. Merenungkan apa yang telah lewat dan ber­usaha memetik pel­a­ja­ran untuk membuat re­solusi-resolusi baru un­tuk menyongsong ta­ hun yang akan datang. Terlepas dari pro­­sesi perayaan yang berbeda, yang me­ru­pa­kan keunikan tersendiri, ada hal lain yang menarik dari per­gantian tahun tersebut. Per­gantian ta­hun merupakan per­al­ihan dari akhir tahun menuju ke awal tahun berikutnya. Jika di­cermati, pergantian tahun Saka justru terjadi pada penghujung sasih

ke sanga (bulan ke sembilan) dan awal sasih ke dasa (awal bulan ke sepuluh). Bukannya pada saat akhir sasih ke Sada (bulan dua belas) menuju sasih ka Sa (bulan ke satu). Tim redaksi mencoba menelaah mengapa hal ini terjadi. Kami mencoba bermain-main deng­an alur logika. Memang harus diakui ini hanyalah sebuah opini. Berbicara tahun Saka, kita ti­dak bisa lepas dari pergolakan yang terjadi di India saat ter­ jadinya peperangan antar suku. Pe­perangan antar suku ini se­ per­tinya merupakan warisan dari kegagalan Alexander yang agung dalam menaklukan India. Karena gagal menaklukan India, Alexander lalu memutuskan un­ tuk menarik pasukannya kem­bali. Namun dalam perjalan kem­bali, Alexander jatuh sakit dan akhir­ nya meninggal di Mesir. Tempat wafatnya Alexander kemudian dikenal dengan nama Alexandria. Sepeninggal Alexander da­ri India, menyisakan beberapa pa­ su­kannya di India. Tidak adanya ke­kuatan menyebabkan terjadi per­golakan dan pemberontakan dari suku-suku yang ada. Sisa dari pasukan Alexander ini yang kemudian dikenal sebagai suku Saka. Perebutan kekuasaan terjadi antara suku diantaranya suku Saka sendiri, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya. Pergolakan ini baru bisa diakhiri ketika suku

Saka berhasil merebut tampuk kekuasaan. Kemudian pada ta­ hun 78 Masehi, Raja Kaniskha I dinobatkan sebagai raja. Sebagaimana peradaban bangsa-bangsa, maka Raja Ka­ niskha I pun ingin memulai per­ adaban baru dengan mene­tap­ kan perhitungan tahun Saka sebagai penetapan penulisan sejarah. Karena suku Saka sen­ diri merupakan turunan dari bang­sa Yunani yang menganut ajaran pagan, maka tidak heran penetapan tarikh Saka pun mengacu pada ajaran Pagan. Aja­ran Pagan menetapkan bu­ lan Maret sebagai awal tahun (pe­mujaan kepada planet Mars sebagai planet Merah dan penghormatan Dewa Aries sebagai dewa perang). Ini bisa dilihat dari penetapan zodiak yang menetapkan Aries sebagai awal zodiak dan Pises sebagai akhir zodiak. Perubahan Januari menjadi awal tahun terjadi pada tahun 153 SM. September yang berasal dari kata Septem yang artinya tu­juh, bergeser menjadi bulan ke sembilan. Sedangkan Oktober, yang berasal dari kata Octo yang artinya delapan berubah menjadi bulan kesepuluh. Demikian ju­ga Desember (Deca - sepuluh). Dan bukan hal yang aneh bulan Februari berjumlah tidak lengkap. Mungkin

ini sebagai penutupan tahun dimana pemaksaan terhadap kelengkapan biasanya terjadi. Dan sepertinya inilah se­babnya pergantian tahun Saka, yang di Bali menjadi Hari Raya Nyepi selalu jatuh pada bulan Maret. Ketika du­nia mulai me­ ma­suki era per­dagangan an­ tar bangsa, bang­sa Saka ini pun me­la­kukan eks­pan­sinya. Sa­lah sa­tu yang men­jadi tujuan da­ gang adalah pulai Jawa. Lalu terjadi kontak antara suku Saka dengan masyarakat pribumi. Dalam kontak budaya ini, bangsa Saka berhasil

memperkenalkan dan menerapkan tariks Saka ke­pada masyarakat setempat. Hal ini bisa dilihat dari cerita masyarakat tentang legenda Aji Saka. Legenda Aji Saka Pada jaman dahulu, di Pulau Majethi hidup seorang satria tam­pan bernama Aji Sa­ka. Selain tampan, Aji Sa­ka juga berilmu ting­gi dan sakti man­draguna. Sang satria mem­punyai dua orang pung­gawa, Dora dan Sem­bada. Kedua pung­gawa itu sangat setia ke­pada pe­ m i m ­p i n n y a , sama sekali tidak pernah mengabaikan p e ­r i n ­t a h ­ nya. Pada s u a t u hari, Aji Saka ber­ keinginan p e r g i

Ogoh-ogohku…..

ai lop yu pull….!!! Perkataan seorang teman suatu hari, mendorong saya untuk membuat sedikit ulasan sederhana, karena apa yang dikatakan adalah fenomena kehidupan seharihari yang terjadi pada setiap orang dan sering berpotensi menghambat pertumbuhan seseorang dalam upayanya untuk meningkatkan kwalitas hidup. Demikian perkataan yang luar biasa ini…. janganlah engkau tercegah dari melakukan perbuatan baik, hanya karena belum lengkap pengetahuanmu akan hal itu. Karena dalam melakukan engkau akan dibuat mengetahui Suatu kejadian yang pernah saya alami dan terlibat

langsung didalamnya yang menunjukan kebenaran perkataan tersebut, yaitu tentang seorang teman seniman di Bali yang saat ini masih tinggal dekat dengan saya, namun belakangan ini sangat jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Ceritanya saat menyambut hari raya Nyepi, masyarakat di Bali menyambutnya dengan pawai ogoh-ogoh, boneka besar berbentuk mahluk menyeramkan, yang ( di masa itu ) terbuat dari rangka bambu dan ditutupi kertas bekas pembungkus semen lalu dihiasi dengan kertas emas berukir, kain, ijuk dll, sesuai dengan bentuk dan kreativitas pembuatnya. Melalui perantaraan seorang sahabat lainnya, saya mendapat order untuk membuat ogoh-ogoh dari sebuah pusat perbelanjaan, padahal pengalaman

saya tentang hal ini sangat minim sekali. Karena itu saya mengajak teman yang seniman ini untuk bersama-sama mengerjakannya, dan merekrut beberapa anak-anak sekolah sebagai assisten. Setelah beberapa kali pendekatan, hal tersulit dari membuat ogoh-ogoh ini ternyata bukan saat konstruksi atau dekorasinya, tetapi justru saat mengajak si seniman ini untuk bergabung. Dengan alasan belum pernah, dia berusaha menolak ajakan kerja sama dari saya. Setelah usaha yang cukup ribet, akhirnya dia bergabung dengan tugas membuat rancangan dan detail dekorasinya….gila…!!!! padahal bagian tersulit justru konstruksinya. Tapi waktu terus berjalan, dan sedikit bantuan darinya sudah menjadi vitamin yang membangkitkan semangat anggota team yang lain yaitu

para assisten yang justru adalah anak-anak muda tanpa latar belakang pengetahuan seni dan konstruksi mendatangi saya dan menyanggupi untuk mengerjakan hal penting ini. Motivasinya sederhana, mereka ingin melakukan hal baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya ….  Singkatnya, proyek ini selesai tepat waktu dan memuaskan semua pihak….dan yang paling puas adalah kami semua yang menyelesaikannya tanpa bekal pengetahuan dan pengalaman yang memadai di bidang ini…. Dengan melakukan, pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan sudah menjadi kepastian…!!!

Nym. Bruno Edisi 3/Maret 2011


Galang Kangin berkelanan me­ninggalkan Pulau Majethi. Ke­pergiannya ditemani oleh pung­­gawanya yang bernama Do­ra, sementara Sembada tetap ting­gal di pulau Pulo Majethi, di­perintahkan menjaga pusaka an­dalannya. Ajisaka berpesan bah­wa Sembada tidak boleh me­ nyerahkan pusaka tersebut ke­ pa­da siapapun kecuali kepada Aji Saka sendiri. Sembada me­ nyang­gupi akan melaksanakan pe­rintahnya. Ganti cerita, pada masa itu di tanah Jawa terdapat kerajaan ber­nama Medhangkamulan. Ra­­ja­nya bernama Prabu Dewa­ ta­cengkar, seorang raja yang digambarkan berwujud raksasa, yang gemar makan daging ma­ nusia. Kegemaran sang raja inilah yang menyebabkan kerajaan Me­ dhang­kamulan menjadi sepi dan angker, karena rakyatnya pergi me­­nyelamatkan diri. Pada saat itulah Aji Saka ber­sama punggawanya, Dora, tiba di Medhangkamulan. Heranlah sang satria melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. Setelah mendapat keterangan meng­enai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan, Aji Saka lalu menghadap  raja, menyatakan ke­sanggupannya untuk menjadi santapan  Prabu Dewatacengkar.  Aji Saka  mengatakan bahwa ia rela dijadikan santapan sang Prabu asalakan ia dihadiahi ta­ nah seluas ikat kepala yang di­ ke­nakannya. Di samping itu, ha­rus Sang Prabu sendiri yang meng­ukur wilayah yang akan di­ ha­diahkan tersebut. Sang Prabu menyanggupi permintaannya. Aji Saka kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat ke­pala itu lalu mengembang seakan tak ada habisnya. Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa se­makin mundur dan semakin mundur, sehingga akhirnya tiba ditepi laut selatan. Ikat kepala ter­sebut kemudian dikibaskan oleh Aji Saka sehingga Sang Prabu terlempar jatuh  ke laut. Aji Saka kemudian menjadi raja di Me­ dhang­kamulan.  Setelah dinobatkan men­ ja­­di raja Medhangkamulan,

Aji Saka mengutus  Dora pergi kem­bali ke  Pulo Majethi meng­ ambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setibanya di  Pulo Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia di­ pe­rintahkan untuk mengambil pusaka  Ajisaka. Sembada ti­ dak mau memberikan pusaka tersebut karena ia berpegang pada perintah  Aji Saka ketika meninggalkan  Majethi. Sembada yang juga melaksanakan perintah  Sang Prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya. Akhirnya kedua pung­gawa itu bertempur. Karena ke­duanya sama-sama sakti, pe­pe­ rangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai keduanya sama-sama tewas.  Kabar mengenai tewasnya Dora dan Sembada terdengar oleh Sang Prabu Aji Saka. Ia sangat menyesal mengingat kesetiaan kedua punggawa kesayangannya itu. Kesedihannya mendorongnya untuk menciptakan aksara untuk mengabadikan kedua orang yang dikasihinya itu, yang bunyinya ada­lah sebagai berikut: hana caraka, data sawala, pada jayanya, maga bathanga. Memaknai Legenda Aji Saka Di­lihat dari kisah tersebut, ada pesan yang coba disampaikan oleh siapapun penggugah kisah tersebut. Penyebutan Aji Saka sen­diri sepertinya merupakan peng­hormatan terhadap ka­um Saka, yang banyak mem­per­ kenalkan ajaran-ajaran ke­pada masyarakat pribumi. Se­dang­ kan Dewatacengkar yang ber­ wujud raksasa sepertinya meng­ gambarkan masyarakat pribumi yang pada waktu itu menganut aliran Bhairawa (Raksas = na­ tive; pribumi). Kaum Saka ber­ usa­ha melakukan perluasan teri­tori dengan melakukan ne­ gosiasi-negosiasi dengan ma­ sya­rakat pribumi pada waktu itu. Sepertinya ekspansi kaum Sa­ka tersebut cukup berhasil dengan makin tergesernya ma­ syarakat pribumi ke arah ping­ gi­ran (ikat kepala yang makin membesar dan menggeser Prabu Dewatacengkar). Selain berhasil melakukan ekspansinya secara

teritori, kaum Saka berhasil pula menerapkan pola budaya dan ajaran mereka terhadap kaum pribumi. Ini tersirat dengan di­ angkatnya Aji Saka menjadi raja di Medhangkamulan. Ini bisa dilihat kemudian diterapkannya tariks Saka di tanah Jawa. Yang menarik adalah lanjutan cerita tersebut. Sepertinya me­ ru­­pakan tempelan dari kisah sebelumnya yang yang mencoba menyampaikan pesan lain. Dikisahkan tewasnya Dora dan Sem­bada, menyebabkan Aji Saka lalu mengabadikan riwayat mereka dalam bentuk huruf Jawa dengan bunyi sebagai berikut: hana caraka: ada utusan data sawala: membawa surat pada jayanya: sama-sama sakti maga bathanga: sama-sama menjadi mayat Secara sederhana diartikan sebagai berikut: Ada seorang utusan yang datang membawa surat. Mereka lalu berselisih paham dan bertempur. Mereka sama-sama sakti dan akhirnya mereka berdua tewas. Namun kami mencoba memaknai dengan cara yang berbeda; hana caraka: ada kafilah yang datang dari negeri seberang. data sawala: mereka datang dengan membawa ajaran-ajaran baru. pada jayanya: ajaran yang mereka bawa, sama hebatnya dengan ajaran yang sudah ada di tanah Jawa. maga bathanga: sehebat apapun sebuah ajaran, hanyalah benda mati jika tidak dipraktekan. Atau bisa diartikan sebagai berikut: Para bijak pada waktu itu sudah cukup jauh memahami ajaran lokal yang mereka warisi dari leluhur. Namun kedatangan kaum Saka mencoba memperkenalkan ajaran mereka (digambarkan dengan kembalinya Dora ke pulau Pulo Majeti dan bertempur denga Sembada). Terjadi proses adaptasi dengan ajaran setempat. Namun para bijak sangat menyadari bahwa setinggi apapun sebuah

Jl. Nusa Kambangan 42, Denpasar, Bali Edisi 3/Maret 2011

7

ajaran, nilai luhurnya terletak bagaimana ajaran itu dijalankan dalam kehidupan dan memberi kesejahteraan kepada m­a­sya­ra­kat. Apa yang kami paparkan ha­nya­ lah perluasan-perluasan mak­ na. Mengenai kebenaran se­ jarah, tentu perlu dibuktikan

lagi. Tapi paling tidak, kita bisa mengambil pembelajaran dari pesan yang coba di sampaikan. Selebihnya kami persilahkan sidang pembaca yang menilai.


Galang Kangin

8

MENGENAL PERWATAKAN DIRI

Pancawara MELALUI KEARIFAN lOKAL (3)

Pada edisi ketiga ini, akan dijabarkan mengenali perwatakan diri dari sudut pandang Panca wara. Adalah penting mengenali perwatakan diri yang terbawa pada hari kelahiran. Selanjutnya hari kelahiran ini diperingati secara berkala setiap 210 hari sekali sebagai hari pawetonan (otonan). Vibrasi murni dari para Dewa (Div, sinar) bergerak dari Alam Langit (Alam Swah)

menuju ke Alam Bhawana (Alam Bhur), dengan melintasi Bhuwana (Alam Bwah, Embang). Nah, pada saat melintas di Bhuwana, vibrasi para dewa ini berbaur dengan power alam raya, di antaranya dengan energi radikal yang melayang bebas dalam dimensi rupa warna: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Jadi, keberadaan rupa warna ini selalu memenuhi Bhuwana, dan sudah pasti terjadi pembauran. Berarti, terjadi perubahan atas kemurnian dari sifat-sifat para Dewa, yakni dari Dewa (div) menjadi Dewata, atau disebut juga Bhatara (Bhat-ar-a). Maksudnya, kemurnian vibrasi sinar suci yang semula satwika (transparan, tidak tampak secara kasat mata), kini berubah diselimuti rupa

warna yang selalu melayang bebas. Akibatnya berdampak pada meredupnya ke-satwikaan vibrasi sinar itu. Selanjutnya, secara nyata terlihat bak rupa warna yang mendominasi Alam Tengah, dan diberi tanda nama Panca Dewata. Dari Bhuwana, sinar Panca Dewata ini bervibrasi turun melintasi ketujuh lapisan Embang (Sapta loka, 7 lapisan atmosfer) menuju ke Bhawana. Pada Bhawana vibrasi sinar ini akan terbilah dua: ada yang terbias ke bumi, serta ada yang terpantul kembali menuju Bhuwana. Begitu seterusnya, terjadi secara kodrati alam. Yang terpantul dari Bhawana menuju Bhuwana ini membawa unsur-unsur yang berasal dari bumi (akibat penguapan oleh sinar matahari). Siklus perputaran kodrati ini

menyebabkan terjadinya perubahan sifat terhadap Panca Dewata/Panca wara yang ada di Bhuwana Agung dan mempengaruhi kehidupan, khususnya watak panca wara manusianya. Perubahan ini diberi kode (signans) Panca Gati. Bacaan bekal hidup yang telah dituangkan ke dalam wariga, dan digubah dari bahasa hakekat antara lain berisi pengaruh sasih, wuku, wewaran, dina, ingkel, parerasan dan panca suda, lintang, pratiti samutpada dan ekajalaresi, dan lainnya. Perwatakan diri (mikrokosmos) ini merupakan penyesuaian yang diadopsi oleh para Maha Rsi dari keberadaan ruang dan waktu Alam Bali (makrokosmos).

Panca wara. Istilah Wariga berasal dari bahasa Bali Kuna yang artinya Bintang. Dan makna Bintang yang dimaksud dalam konteks ini adalah Bintang Lima, yang terdiri dari: 1. Bintang Kartika dan 2. Bintang Uluku yang pada masa itu dipakai acuan sebagai Te n g e r a n Sasih. 3. Bintang Siang yang saat ini dinamakan Bintang Timur, sebagai pertanda hari menjelang pagi. 4. Bintang Erangerang sebagai pertanda hari menjelang malam. 5. Bintang Timbang dipakai sebagai tanda penunjuk arah Selatan, juga sebagai cermin untuk mengetahui Sang Waktu. Sejak dulu, Bintang ini dikatakan sebagai salah satu sumber kehidupan di Alam Langit yang memberi pengaruh ambek kepada manusia. Bintang pada waktu malam hari menciptakan kelembaban hawa (udara) yang berbedabeda. Dan dengan intensitas kelembaban udara yang berbeda-beda inilah menjadi penyebab timbulnya pusaran angin. Atas dasar itu Panca Wara disebut juga

Uriping Angin. Dikatakan, bahwa Panca wara sebagai kelanjutan dari Tri wara yang bersumber dari Cahaya, di mana cahaya tersebut berpangkal pada Siwa Amretha, dan dari sudut pandang rupa warna pelangi yang terpilih hanya 5 warna utama saja. Seperti telah dinyatakan bahwa Wara artinya yang terpilih, utama, dianggap sebagai sumber yang penting, termasuk pengakuan terhadap Panca Dewa. Sebab, setelah Panca Dewa ini masuk ke dalam kemasan rupa warna akan berubah namanya menjadi Panca Dewata (Panca wara). Selanjutnya, Panca wara berbaur dengan aura (hawa) kehidupan nyata yang berasal dari energi yang terlepas dari segala kehidupan di Bumi. Akibatnya, menurun lagi kemurnian dari Panca wara, dan akhirnya menjadi Panca Gati. Lalu, Panca Gati ini masuk ke dalam tubuh si jabang bayi saat proses kelahiran terjadi, membentuk watak sesuai dengan salah satu wara dari Panca wara tersebut. Proses ini erat hubungannya dengan Tri wara, sehingga dikatakan seseorang terlahir pada Kajeng Umanis, Kajeng Pahing, Kajeng Pwon, Kajeng Wage, dan terutama Kajeng Kliwon. Dalam kaitannya dengan kelahiran, Tri wara ini merupakan inti power/energi dari ketiga Alam, sedangkan Panca wara merupakan inti sifat dan fungsi dari Panca Dewata. Dari Bhuwana, sinar Panca Dewata ini bervibrasi

turun melintasi ketujuh lapisan Embang (Sapta loka, 7 lapisan atmosfer) menuju ke Bhawana. Pada Bhawana vibrasi sinar ini akan terbilah dua: ada yang terbias ke bumi, serta ada yang terpantul kembali menuju Bhuwana. Begitu seterusnya, terjadi secara kodrati alam. Yang terpantul dari bhawana menuju bhuwana ini membawa unsurunsur yang berasal dari bumi (akibat penguapan oleh sinar matahari). Siklus perputaran kodrati ini menyebabkan terjadinya perubahan sifat terhadap Panca Dewata/Panca wara yang ada di Bhuwana Agung dan mempengaruhi kehidupan, khususnya watak panca wara manusianya. Perubahan ini diberi kode (signans) Panca Gati, dengan penjelasan: 1. Perubahan dari Umanis menjadi Sang Shrigati, di mana Shri yang artinya keinginan, dan Gati artinya instan. Maksudnya, suatu keinginan yang bersifat instan. Jelasnya, keinginan yang muncul dan berasal dari pikiran umumnya bersifat revolusi – ingin selalu cepat (instan). Akibatnya, seseorang sering mengalami ketidakselarasan antara pola pikir dengan ucapan, mau pun perilaku. 2. Perubahan dari Paing menjadi Asuajag, merupakan keinginan yang selalu bersifat dinamis. 3. Perubahan dari Pwon menjadi Sang Empas, merupakan

keinginan namun bersifat evolusi. Jadi, tidak seperti sifat Asuajag. 4. Perubahan dari Wage menjadi Sang Gumarang, artinya sifat membutuhkan, namun perubahannya tepat waktu sesuai dengan ukuran standar waktunya. Contoh, seorang petani akan menunggu hasil panennya sesuai dengan jenis yang ditanam, yang waktu panennya mutlak berbedabeda. 5. Perubahan dari Keliwon menjadi Kala Kutila, adalah suatu keinginan untuk mendahului evolusi daripada alam. Misalnya mengakali dengan daya cipta yang tidak alami untuk memperdayakan menjadi sesuatu yang instan (teknologi canggih). Dari salah satu sumber dikatakan bahwa Wariga-Bintang yang mengadakan Panca Wara di Bhuwana Agung, terdiri dari : Umanis, urip-nya 5, sebagai penggerak semesta, diayomi Sanghyang Iswara ; Paing, uripnya 9, sebagai pencipta semesta, diayomi Sanghyang Brahma ; Pwon, urip-nya 7, sebagai penguasa semesta, diayomi Sanghyang Mahadewa ; Wage, urip-nya 4, sebagai pemelihara, diayomi oleh Sanghyang Wisnu ; Keliwon, urip-nya 8, sebagai pelebur (perubah), diayomi oleh Sanghyang Siwa. Selanjutnya, vibrasi Panca Wara di Bhuwana Agung ini akan turun ke Bhawana dan memasuki segala kehidupan yang ada di muka Bumi, serta mengarah kepada yang lebih baik dan benar. Nah, khusus pengaruhnya setelah masuk ke dalam tubuh manusia (Bhuwana Alit), maka keberadaannya menjadi sebagai berikut: Pengaruh Umanis ada pada sinar mata (soca), sebagai penglihatan; Pengaruh Paing ada pada mulut, khususnya kepada inti (guna dari ucapan); Pengaruh Pwon ada pada daya serap telinga, sebagai pendengaran; Pengaruh Wage ada pada guna hidung, penciuman (penikmat bau); Pengaruh Keliwon ada pada daya guna olahan lidah (pengatur ucapan). Panca wara di Bhuwana alit terletak di rongga dada, yakni: Umanis, terletak di pepusuh, terkait dengan tingkat kemampuan; Paing, terletak di Hati, sebagai tempat cipta; Pwon, terletak di Ginjal, terkait dengan tingkat idealisme; Wage, terletak di Ampru ( nyali ) sebagai katalisator/penetralisir; Keliwon, terletak di Tungtunging hati, rumah dari sang buddhi luhur. Panca Wara adalah suatu metoda pengenalan kasih dari alam yang diperpanjang oleh Sang waktu. Dan welas asih Tuhan ini bukan hanya untuk umat manusia saja, melainkan diberkatkan juga kepada semua kehidupan, yang disalurkan lewat dualitas sifat dengan ungkapan ala ayuning dina. Maksudnya, Edisi 3/Maret 2011


Galang Kangin

2.

setelah gelombang inti kehidupan bergerak memenuhi cakrawala, terjadilah proses kodrati alam yang menghasilkan dualitas sifat. Di dalam pandangan para Rsi Agung terdahulu dikatakan bahwa proses pembauran di Embang tersebut merupakan perubahan panca wara menjadi panca gati, yang menghasilkan ala dan ayu. Kedudukan Panca Gati ini menentukan turunnya Amretha Bhuwana yang memasuki Bhawana, khususnya mental manusia. Dikatakan lebih lanjut, bahwa naik-turunnya Amretha beserta sifat hidupnya diungkap dengan metoda Laku. Pengertian laku merupakan cerminan dari watak yang terbawa lahir sebagai bekal karma wasana dalam melakoni hidup. Itulah sejatinya keadilan serta kejujuran alam terhadap keberadaan kejiwaan manusia itu sendiri, untuk selanjutnya dipakai dasar menjalani kodrat hidup. Jika terlahir pada saat Sang Shrigati turun ke Bumi, akan berpengaruh kepada kejiwaannya, serta punya watak kasih terhadap sesamanya. Berikut penjelasannya : 1. Sang Shrigati artinya santapan semua mahluk hidup. Khususnya pada manusia adalah santapan

Edisi 3/Maret 2011

2.

3. 4.

5.

mata dan pikiran – Panca Karmendrya dan Panca Budindrya yang menikmati berkah Dewa Iswara. Sang Asuajag adalah santapan perut, keinginan untuk menyantap makhluk yang berdarah untuk diolah menjadi tenaga. Sang Empas adalah fisik – kesehatan, ingin santapan, ingin istirahat/tidur. Sang Kala Gumarang, santapan untuk batin/ jiwa, seperti kenyaman, kedamaian. Sang Kala Kutila, rasa yang dikecap lidah yang memerlukan santapan. Kalau di dalam adalah Panca Bhudindrya yang menikmati.

Pengaruh Panca wara dan panca gati terhadap watak kelahiran dapat dipelajari, seperti penjabaran singkat berikut ini: 1. Terlahir pada dina Umanis, ketika Sang Shrigati turun memasuki Bumi, memiliki watak penuh kasih sayang dengan lingkungannya. Sebaliknya, kalau kedudukan Sang Shrigati munggah berada di Bhuwana, cenderung berwatak tidak peduli kasih sayang, egois,

3.

4.

5.

serta mengutamakan kepentingan pribadi, dan suka menceriterakan atau mencari-cari kesalahan orang lain. Terlahir pada dina Paing, ketika Sang Asuajag turun berada di Bumi, cenderung suka membuat sakit hati orang lain, sering ditakuti di lingkungannya. Sedangkan kalau Sang Asuajag munggah berada di Bhuwana, dampaknya sering dicurigai atau kena fitnah, walaupun dia sesungguhnya dalam kondisi yang santun. Terlahir dina Pwon, saat Sang Empas turun berada di Bumi, umumnya menunjukkan sikap tidak senang atau kurang ramah, berwatak pendiam (bodri, bahasa Bali). Sebaliknya, bila Sang Empas munggah berada di Bhuwana, tabiatnya akan senang berceloteh, sering menjadi pemicu kemarahan orang lain, suka memfitnah. Suka iseng atau jahil agar temannya menjadi susah, padahal hal tujuannya sekedar bercanda. Terlahir dina Wage, dan Sang Kala Gumarang turun berada di Bumi, tabiatnya suka merusak yang sudah baik dan benar, dan paling suka bikin onar. Sebaliknya, kalau Sang Kala Gumarang munggah berada di Bhuwana, orangnya berkharisma dan disegani orang lain, karena suka melindungi sesamanya. Terlahir dina Keliwon dan Sang Kala Kutila turun berada di Bumi, karakternya senang mempelajari ilmu hitam, cenderung banyak berbuat

dosa. Sebaliknya, jika Sang Kala Kutila munggah ada di Bhuwana, cenderung punya rasa dendam, namun sesungguhnya orang tersebut suka dengan kebaikan dan kebenaran. Panca wara merupakan anugerah Dewata kepada kehidupan, khususnya manusia yang diberkahi unsur-unsur kesucian serta diberikan mandat berupa hak dan wewenang mengelola alam. Nah, akibat kesalahan di dalam m e m p e r ta n g g u n g j a w a b ka n mandat sebagai manusia, maka ia terlahir kembali. Terlahir pada dina: 1. Umanis, dinaungi Dewa Iswara, Rsi Kursika, Bhagawan Tetulak. Sesungguhnya, pada dina Umanis para Dewa telah secara adil memvibrasikan anugerah berupa daya guna (kemampuan) kepada manusia. Nah, justru karena anugerah tersebut tidak diberdayakan secara baik dan benar pada kehidupan yang lalu, maka dia terlahir kembali pada hari Umanis. Pembawaan watak Umanis di antaranya, sebagai tenaga penggerak (mobilisator), suka memberi nasehat, namun jarang mampu menyadarkan orang lain. 2. Paing, diayomi Dewa Brahma, Rsi Gharga, Bhagawan Mercukunda. Dewa Brahma menganugerahkan Cipta kepada manusia. Seseorang yang terlahir pada waktu paing, jelas menandakan pada kehidupan yang lalu dia salah dalam menggunakan ciptanya,

9 sehingga dia terbebani oleh ciptanya sendiri. Wataknya tidak pandang bulu, mudah dihasut dan diadu domba. Pembawaannya sering asal bunyi, tanpa mengetahui ujung pangkal permasalahannya. 3. Pwon, diayomi Dewa Mahadewa, Rsi Maitri, Bhagawan Wrhaspati. Seseorang yang dilahirkan dina pwon, akibat pada kehidupan terdahulu dia bergulat dengan keimanannya, seperti ucapannya sering tidak selaras dengan kata hatinya. Wataknya kaku, kukuh dengan pendapatnya sendiri, meskipun sahabatnya salah, tetap akan dibelanya. Suka membuat susah sendiri dan boros. Pendengarannya sensitif, mudah tersulut emosinya. Kelakuannya kadang sulit diterka. 4. Wage, dinaungi Dewa Wisnu, Rsi Kurusya, Bhagawan Penyarikan. Kelahiran pada dina wage karena di masa lalu banyak keliru di dalam menempatkan kasihnya. Ibarat pohon kelapa yang ditanam di pekarangan sendiri, namun tumbuhnya miring, sehingga buahnya jatuh di tetangga. Terlahir dina wage, umumnya murah rejeki, namun tetap susah karena tidak bisa mengelolanya. Suka berulah dihadapan orang banyak, apalagi untuk menjatuhkan orang yang tidak disukainya. Sensitif dengan penciuman. 5. Kliwon, dinaungi Dewa Siwa, Rsi Prtanjala, Bersambung ke hal. 14


10

Galang Kangin Seri Membangun Diri

Mengenal Diri Fisik

untuk Mendasari Tindakan ( Kayika ). Nym. Bruno Untuk dapat memahami dengan baik yang dimaksud dengan Tri Kaya Parisudha, beberapa hal mendasar yang menjadi pengetahuan awal sebagai modal haruslah dikuasai dengan baik. Yaitu pengetahuan tentang fisik, psikis dan hubungannya dengan kesemestaan. Marilah kita sekarang melakukan observasi atas diri fisik kita masing-masing dalam pengertian substansi agar dapat menggunakan tubuh fisik dengan optimal dalam tindakan dengan cara sebagai berikut : 1. Posisikan diri didepan se­ buah cermin yang dapat memantulkan bayangan diri kita secara jelas dan,

sebaiknya utuh atau me­ nye­luruh. 2. Mulailah mengamati se­ ti­ap bagian dari tubuh fisik mulai dari kepala hingga kaki. Lakukan beberapa kali, setelah itu lanjutkan dengan pengamatan yang lebih mendetail atas setiap bagian tubuh yang mengelompok, mi­ salnya pada saat meng­ amati wilayah kepala, a­mati dengan seksama ram­but, wajah dan per­ lengkapannya seperti alis, bulu mata, kelopak mata dan sebagainya. La­kukan perlahan dan leng­kap juga pada kelompok bagian tubuh lainnya. 3. Temukanlah bahwa kita secara secara essensial telah memiliki seluruh peralatan berkehidupan

ra kwalitas asumtif ter­dapat kekurangan di­sana-sini, seperti ku­ lit yang berwarna ge­ lap, bentuk tubuh yang kurang ideal dan sebagainya. 4. Katakan dalam hati “ Saya sempurna “ be­be­ rapa kali hingga pe­ra­ sa­an terasa lega. Rasa lega yang timbul adalah awal dari tumbuhnya ke­percayaan diri, se­lan­ jutnya tinggal dikuatkan dengan melakukan teh­ nik sederhana ini se­ se­ring mungkin setiap harinya hingga dirasakan cukup. Langkah sederhana be­ ri­kut bermanfaat un­tuk memelihara dan meng­ uatkan kepercayaan diri . 1. Sesering mungkin ber­ bicara dengan diri sendiri

tentang kesempurnaan yang dimiliki. 2. Tuliskan kalimat “ Sa­ya Sempurna “ dan tem­ pelkan ditempat pribadi yang mudah dan sering terlihat dan terbaca deng­an jelas. 3. Tuliskan juga kalimat ter­ sebut sebagai welcome screen computer atau hand­phone, sehingga se­tiap kali peralatan ter­ sebut digunakan maka kalimat tersebut akan terbaca. Percaya diri adalah modal utama untuk menjalani kehi­ dupan. Begitu pentingnya me­miliki kepribadian yang penuh keyakinan dan keprcayaan diri akan me­mu­ dah­kan pencapaian banyak hal dalam banyak aspek ke­hi­ dupan. Seseorang yang per­ caya diri akan lebih mudah

membuka hubungan baru yang pada akhirnya akan memberi pengetahuan dan peluang-peluang ba­ru untuk memperbaiki kwa­ litas kehidupannya.Deng­ an menguatkan rasa per­ caya diri dengan tehnik se­ derhana diatas, dalam per­ jalanan selanjutnya semesta akan membimbing kita un­tuk menemukan tehnik dan pengetahuan yang le­ bih sesuai dengan nilai ke­ pri­badian masing-masing un­tuk tercapai kondisi per­ ca­ya diri yang optimum. Ha­rap diingat, perilaku atau mempraktekan sebuah peng­etahuan adalah Doa yang lebih cepat direspond dan dikabulkan oleh se­ mesta….!!! Bersambung…. Mengenal Diri Psikis untuk meng­en­ da­li­kan Ucapan (wacika ).

Omed-omedan, mencium peluang memeluk tradisi Omed-omedan, sebuah bu­da­ya asli milik komunitas Banjar Kaja Sesetan ini dapat di­nikmati setiap tahun. Se­ ha­ri setelah pelaksanaan ca­tur brata penyepian. Te­ patnya di hari ngembak gni. Mengambil tempat di Jalan Raya Sesetan, sisi utara, te­ patnya di depan Balai Banjar Kaja Sesetan. Tradisi yang sering di­sebut sebagai festival ciu­­man oleh wisatawan asing yang menyaksikan, merupakan warisan tradisi warga Banjar Kaja Sesetan yang telah berumur ratusan tahun. Tradisi ini tetap ter­ jaga dan terlaksana hingga kini, tentunya karena ada man­faat dan keyakinan yang dirasakan warga banjar kaja. Pelaksanaan omed-o­ med pun mengalami fase per­ubahan, dari sebuah kegiatan yang lebih terlihat sebagai kegiatan bersenangsenang menjadi kegiatan bu­ daya, bahkan telah menjadi

salah satu ikon dari desa Sesetan dan masuk dalam kalender pariwisata Bali. Omed-omedan sendiri adalah sebuah kegiatan yang dipercaya oleh war­ ga Banjar Kaja sebagai ca­ ra untuk menambah ke­ ak­raban diantara sesama muda-mudi warga. Tradisi peluk cium ini tentu terasa ganjil dimata masyarakat umum, apalagi dipentaskan dalam balutan tradisi Bali yang sangat religius. Tetapi itulah faktanya. Tradisi ini dari awal su­dah berbalut nuasa re­ li­gius, dipercaya sebagai salah satu sarana yang bila tidak dilaksanakan akan me­nimbulkan bencana. Ka­ lau ingin mendengarkan ke­saksian dari sakralnya ke­ gi­atan ini, bisa ditanyakan secara acak pada warga asli banjar Kaja, pasti akan di­ dapat informasi yang sama, tentu dalam balutan bahasa yang menyesuaikan dengan

tingkat intelektual warga yang ditanya. Mencium Peluang Yang menarik, sejak tiga ta­hun lalu, tepatnya saat pelaksanaan omed-omedan tahun 2009, kegiatan bu­ da­ya ini dikemas dengan lebih akbar dan profesional. Beberapa tokoh Banjar Kaja, melihat sebuah peluang yang bisa memberi manfaat ekonomi, tidak hanya bagi warga banjar tetapi juga bagi Sesetan sebagai sebuah desa, melalui pementasan

tradisi ini. Istilahnya mereka mu­lai mencium peluang bisnis yang ada dengan tetap memeluk tradisi yang telah tumbuh dan ajeg dalam ma­syarakatnya. Jadilah simbiosis yang dipercaya akan membuat tradisi ini bisa langgeng, tidak ha­nya karena cerita mistis di­ dalamnya tetapi lebih karena asas manfaat yang bisa diberikan. Dikemas dalam balutan Se­setan Heritage Festival, menjadikan Omed-omedan

sebagai puncak acara. Pe­ men­tasan omed-omedan yang awalnya hanya seba­ tas hiburan bagi warga se­ ki­tar dan wisatawan yang ke­betulan lewat, menjadi sebuah acara yang sangat lengkap, mulai pasar rakyat, hiburan musik dan kegiatan budaya lainnya. Dalam Sesetan He­ri­ta­ ge Festival, begitu banyak ke­giatan tradisi yang mam­pu dihidupkan lewat lomba-lomba antar banjar di Sesetan. Bahkan pasar murah yang digelar sehari penuh saat hari H, telah mampu menambah geliat ekonomi kerakyatan. Kini omed-omedan yang menjadi acara puncak dari Sesetan Heritage fes­ tival, sudah bukan mo­no­poli warga banjar Kaja Se­setan atau Masyarakat Sesetan saja, tradisi ini telah menjadi milik dan ke­banggaan bersama warga kota Denpasar. Kota yang berwawasan Budaya. Edisi 3/Maret 2011


Galang Kangin Sambungan dari hal. 1 OGOH-OGOH

PROFILE

blabaran atau segehan pada sanggah cucuk di masing-masing pelebuhan. Puncak dari prosesi ngaturang blabaran ini adalah dengan membunyikan berbagai suara yang menimbulkan suara kegaduhan (dengan memukul kentongan, kaleng, ember, dll), disertai api obor dengan berkeliling pekarangan rumah atau desa. Tujuannya adalah agar para bhuta tidak lagi kembali ke lingkungan pedesaan. Adanya prinsip Desa (tempat), Kala (waktu) dan Patra (keadaan), menyebabkan prosesi pecaruan dilaksanakan sesuai desa mawa cara (sesuai dengat adat istiadat di desa masingmasing). Sepert halnya di Desa Sesetan, Desa Pedungan dan Desa Sidakrya Denpasar SelatanBali, biasanya upacara Me-ubuubu dilanjutkan dengan tradisi arak-arakan obor keliling desa. Arak-arakan biasanya diramaikan dengan berbagai variasi tetabuhan kentongan dan gong sampai pagi. Demikian juga di desa-desa lain di Bali memvisualisasikan berbagai kegiatan yang berkonotasi sama yaitu dalam rangka penyomiaan kalangan bhuta. Seluruh rangkaian kegiatan keramaian sebagai bagian upakara Meubu-ubu itu telah menggelitik inspirasi beberapa kreator di Bali, yaitu untuk menjadikannya ranah penuangan berbagai kreasi yang mempertajam pemaknaan dari berbagai kegiatan dan keramain yang di lakukan oleh masyarakat. Maka lahirlah kemudian kemeriahan thematis yang diwujudkan dalam berbagai bentuk kreatfitas seperti bebarongan, rangkaian pelaksanaan panca yadnya, pewayangan, dan lain-lain. Kemeriahan kreasi tahunan inilah kemudian oleh para tokoh masyarakat dan seniman dijadikan momentum berkreasi. Yaitu bagaimana meramu berbagai unsur kegiatan ini agar tidak menjadi liar atau tanpa arah. Munculah kemudian berbagai kreasi berupa karya seni

tiga dimensi, dengan berbagai bentuk patung, binatang, bebuthan, tokoh pewayangan, dan lain-lain. Kreasi ini selanjutnya dikenal dengan sebutan OGOHOGOH. Sekalipun ogoh-ogoh telah bermetafosis sejak lama, tetapi keberadaannya mulai marak sejak tahun 1990, yaitu ketika kegiatan PKB (Pesta Kesenian Bali) melombakan parade ogohogoh dari perwakilan kabupaten/ kota se Bali. Sejak itu taksu ogohogoh tumbuh dan berkembang sedemikian dasyatnya yang ditunjukkan oleh kerinduan masyarakat akan kehadirannya. Taksu ogoh-ogoh yang sedemikian besar juga membawa ekses, yaitu munculnya wacana pro-kontra tentang keberadaan ogoh-ogoh. Di satu sisi memandang ogoh-ogoh sebagai bagian dari perkembangan kreatif yang tumbuh dari realitas budaya dan intuisi keseniman masyarakat Bali. Disisi lain memandang keberadaan ogoh-ogos sebagai salah satu sumber konflik sehingga kurang tepat diadakan pada saat pengerupukan. PENGERTIAN SINGKAT TENTANG OGOH-OGOH Sesuai dengan Paruman Bendesa Adat se Kota Denpasar tahun 2004/2005 menyatakan bahwa ogoh-ogoh tidak terkait dengan kegiatan agama/ pengerupukan. Apalagi ogohogoh itu di arak setelah upakara Me abu-abu. Maka logikanya

tentu tidak ada kaitan dengan upaya penyomiyan bhuta. Persepsi yang yang sama juga pernah terjadi terhadap kemunculan kesenian bebarongan pada jaman Dalem Waturenggong. Bebarongan sama sekali tidak dianggap berhubungan dengan sastra agama. Anggapan semacam itu juga menimbulkan pro-kontra tentang penyembahan terhadap Barong (bentuk binatang) atau Rangda (bentuk kejahatan). Pada saat itu para tokoh menjelaskan pengertian bebarongan secara etimologi, Kata BARONG berasal dari barung—> bareng-bareng -beriringan. Implementasinya kemudian adalah Barong menjadi sarana tari, Bebarungan pada gamelan, Bareng-bareng dalam kebersamaan, beriringan, saling mengikuti sesuai urutan. Rangkaian semua ini menjadi simbol persatuan yang menyemaikan kekuatan gaib yang di sebut TAKSU. Taksu merupakan kekuatan yang tumbuh secara gaib yang secara mendasar memberi kekuatan magis terhadap berbagai hal yang diyakini mampu mempersatukan semua komponen massa. Jadi Taksu yang berlandaskan kreasi seni diyakini secara pasti akan kembali kepada keselamatan. Sedangkan Taksu yang berlandasakan bhuta dipastikan akan kembali ke kehancuran. Logikanya adalah konsep berkesenian pada dasarnya selalu berorientasi untuk membuat orang senang. Karena itu bisa di katakan bahwa Barong dan OgohOgoh tumbuh karena Taksu dan keduanya sama-sama produk seni. Yang membedakan kalau Barong di sakralkan dan di sungsung secara permanen sebagai saras. Sedangkan Ogoh-Ogoh adalah seni rupa yang berbentuk tiga dimensi yang diusung beramairamai dan ditarikan secara ogah-

11

ogah (digoyang-goyangkan) yang sifatnya tidak permanen. OGOH-OGOH SEBAGAI PERKEMBANGAN SENI BUDAYA BALI Perkembangan ogohogoh pada acara pengrupukan di Bali tidak lepas dari perkembangan suatu kesenian yang sarat dengan Taksu, yang bertujuan untuk mengungkapkan rasa seni. Kreasinya berkembang sedemikian rupa dan beragam. Kreasi ogoh-ogoh berusaha divisualiasikan dalam berbagai bentuk , seperti bentuk Kala Bang, Kala Ireng dan bebuthan lainnya dan bentuk yang lebih kekinian seperti ogoh-ogoh pemabuk, cewek kafe genit,dll yang disimbulkan sebagai penggoda bagi mereka yang sedang melaksanakan Catur Brata Penyepian. Dalam perkembangan yang begitu semarak akhir-akhir ini, sangatlah tepat apabila ogohogoh itu diterima apa adanya sebagai sebuah Asset Budaya Bali. Adalah tidak adil apabila kehadiran ogoh-ogoh dipandang sebagai ancaman terhadap keamanan dan kenyamanan hidup. Ogoh-ogoh tumbuh berkembang dari dalam diri masyarakat Bali itu sendiri yang sejak lahir sudah memiliki darah daging berkesenian. Sebagai asset budaya ogoh-ogoh itu harus dikelola secara maksimal sehingga memberi nilai tambah terhadap perkembangan maupun pelestarian seni budaya itu sendiri. Salah satu contoh upaya memaksimalkan keberadaan ogoh-ogoh adalah dalam bentuk dilombakan, dengan menetapkan kriteria tertentu yang benar dan jelas, niscaya akan didapatkan manfaat yang luar biasa, khususnya dibidang kreatif dalam rangka persatuan. Kriteria yang disarankan adalah : 1. Penampilan ogoh-ogoh harus mewakili tema yang ditetapkan.  2. Ada keserasian antara bentuk ogoh-ogoh, cerita, tari dan tabuhnya.  3. sebelum di usung, ogohogoh harus dibuatkan prosesi upacara, seperti prayascita

4. 5.

6.

7.

8.

atau pemlaspas dalam artian pembersihan ogoh-ogoh dari pengaruh negatif.  Pengusung harus melakukan persembahyangan untuk keselamatan semua.  Diberikan pengarahan dan pengawasan oleh para menggala atau tetua setempat agar menjaga ketertiban, tidak mabuk, tidak membunyikan petasan yang bukan tradisi Bali, dan tidak melakukan hal-hal yang dapat memancing keributan. Koordinasikan dengan pecalang desa pekraman maupun pihak keamanan (kepolisian) untuk menjaga keamanan dan ketertiban.  Ogoh-ogoh yang telah selesai diarak, harus dipralina (dileburkan) untuk menghilangkan hal-hal yang tidak diinginkan. Sebelum prosesi pralina terhadap ogoh-ogoh agar dihaturkan sesajen berupa soda dan segehan manca warna serta segehan poleng yang diakhiri dengan memukul ogoh-ogoh itu sebanyak tiga kali agar swala mala yang masih melekat segera pergi ke tempatnya masingmasing. Pemrelinaan I ni dapat dilakukan dengan memercikkan tirtha suci yang dimohonkan di Pura masingmasing untuk selanjutnya di bakar. Pemrelina dapat juga dilakukan dengan melarung ke laut atau sungai, namun dalam rangka kebersihan lingkungan maka sebaiknya dibakar saja untuk kemudian abunya dilarung ke laut atau sungai. Mengingat ogoh-ogoh lahir sebagai bagian dari darah daging masyarakat Bali serta dianugrahi Taksu, maka keberadaanya sudah semestinya dipertahankan dan dilestarikan. Dan untuk para tokoh, pemimpin masyarakat Bali, baik formal maupun non formal agar tetap menjaga, mengarahkan dan mengawasi perkembangan selebrasi ogoh-ogoh manakala dipawaikan.

Demikian sekilas tentang ogohogoh, semoga ada manfaatnya.

Nama : Drs. I Wayan (Mangku) Candra. Tempat/Tanggal lahir : Sesetan 5 Juli 1955 Pendidikan Terakhir : S1 (Sarjana senirupa PSSRD Udayana) Alamat Rumah : Jln. Raya Sesetan 213 Denpasar-Bali Telp : (0361) 231890 hp : 08123976102 Penghargaan : Juara I Lomba Ogoh-Ogoh PKB 1990 dengan judul Dwara Pala Mengikuti Pentas seni di TMII dalam bentuk Ogoh-Ogoh  Bawi Srawadan menjadi Koleksi TMII Tahun 1995 Juara I Lomba Ogoh-Ogoh Kota Denpasar 1995 dengan Judul Rwa Bhineda Memecahkan Rekor Muri Pembuatan Patung SBY tahun 2008 Dll. Dengan mendirikan Sanggar Gases Bali  : mengerjakan berbagai macam karya seni baik seni rupa tradisi sampai modern, seperti lukisan, patung, sarana pengabenan, ogoh-ogoh, srana upakara (banten), dekorasi dan lain-lain

Edisi 3/Maret 2011


12 Sambungan dari hal. 5 Dalam Sepi..............

Diharapkan dengan diberi ruang mengekspresikan dirinya, aspekaspek badaniah (Bhutakala) tidak akan mengganggu pada saat manusia melakukan Tapa Brata Yoga Samadhi. Demikian juga pada konteks buana agung. Pada saat ngerupuk ini masyarakat Bali mengekpresikan dirinya, sehingga segala gejolak nafsu bisa diredam pada saat hari Nyepi. Aspek badaniah yang membawa segala bentuk nafsu badaniah (Bhutakala) merupakan perwujudan aspek Mang/tubuh dalam diri manusia. Posisinya dalam tubuh manusia ada pada rongga perut. Proses ngerupuk bisa dimaknai menetralisir aspek negatif dari nafsu dan ambisi. Sedangkan pada Nyepi itu sendiri, orang Bali melaksanakan Catur Brata Penyepian yaitu Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, Amati Lelanguan. Nyepi sendiri sebagai simbol kegelapan. Kegelapan alam semesta maupun kegelapan diri manusia. Dalam melaksanakan tapa brata penyepian, umat manusia berusaha menembus kegelapan dalam dirinya. Kegelapan yang paling gelap, untuk mencapai kesadaran diri yang tertinggi. Kesadaran yang melampaui ruang dan waktu (OM). Kesadaran diri tertinggi yang melampaui OM, yaitu kesadaran TAT. Dari keempat brata penyepian, kami mencoba memaknai satu persatu, dimulai dari Amati Lelanguan. Sering

Galang Kangin diartikan untuk tidak bersenangsenang. Amati lelanguan menggambarkan pengendalian diri dari aspek badaniah yang bersifat instingtif (kesenangankesenangan badaniah). Dalam proses pengerupukan, dimana aspek badaniah diberi ruang untuk berekspresi, diharapkan pada saat melakukan tapa brata, aspek ini sudah memdapat pemenuhannya dan tidak mengganggu. Dalam Amati Lelanguan, bisa dimaknai dengan upaya mencapai kesadaran akan keberadaan aspek ragawi/ Mang dalam diri. Serta mampu mengendalikan aspek negatif yang menyertainya. Brata yang kedua yaitu Amati Lelungan. Sering diartikan dengan tidak bepergian. Pergi atau lunga merupakan sebuah pergerakan/dinamika. Sehingga bisa juga dimaknai sebagai penghentian dinamika. Yang dinamis dalam diri manusia adalah emosi. Dalam proses tawur agung, diharapkan gejolak emosi bisa dihentikan. Dan dalam Amati Lelungan, bisa dimaknai dengan adanya kesadaran untuk menghentikan atau mengendalikan gejolak emosi, yang merupakan perwujudan Ung dalam diri. Brata yang ketiga, yaitu Amati Karya. Pada umumnya dimaknai dengan tidak melakukan pekerjaan. Esensi dari pekerjaan adalah penciptaan. Penciptaan bersumber dari bekerjanya pikiran dalam diri manusia. Amati karya bisa dimaknai dengan menghentikan kerja yang merupakan kelanjutan dari proses penciptaan yang

bersumber dari pikiran. Dengan kata lain, menghentikan kerja pikiran yang digambarkan dengan mebakti di Bale Agung/Pura Desa. Dalam Amati Karya, bisa dimaknai dengan kesadaran menghentikan kerja pikiran, yang merupakan wujud Ang dalam diri. Brata keempat yaitu Amati Geni. Sering diartikan dengan tidak menyalakan api. Dalam konteks buana alit, api yang dimaksud tentu bukanlah api fisik, melainkan daya kehendak aktif (active will). Manusia yang bergerak dengan kehendak aktif (active will) dalam dirinya merupakan perwujudan alam semesta (OM). OM yang bergerak merupakan aspek pradana dari alam semesta. OM sebagai ambang ruang waktu. Pada saat melakukan brata Amati Geni, diharapkan manusia menyadari keberadaan dirinya sebagai perwujudan alam semesta yang digerakan oleh daya kehendak aktif (Geni). Dengan menyadari keberadaan Geni dalam diri ini, kesadaran akan bergerak lebih jauh menuju pada tingkat kesadaran TAT (daya kehendak pasif/Pasive will). Kesadaran yang tidak bergerak dan dalam posisi diam. Kesadaran Purusa dari alam semesta. Kesadaran yang satu, yang tidak terpecahkan dan tidak terdefinisikan. Ini merupakan kesadaran tertinggi yang bisa dicapai. Karena diatas TAT, yang ada adalah kekosongan atau kesunyataan. Atau disebut SAT. Dimana pada tatanan SAT, tidak ada apa-apa. Bahkan kesadaran pun tidak ada (OM - TAT - SAT).

Manusia yang telah mencapai kesadaran Tat akan mampu mempengaruhi pergerakan dunia. Kesadaran TAT merupakan kesadaran diri sejati. Selanjutnya keesokan harinya dilanjutkan dengan upacara Ngembak Geni. Setelah manusia melakukan tapa brata yoga semadi pada saat nyepi, dimana kesadaran akan sang diri sejati yang melampaui ruang dan waktu telah dicapai. Kesadaran diri sejati yang adalah kesadaran universal (TAT). Atau kesadaran alam semesta. Maka pada hari berikutnya setelah

geni dipadamkan saat melakukan brata Amati Geni, manusia mulai menyalakan api dalam dirinya. Yang berbeda adalah penyalaan api dalam diri ini dilakukan dalam kesadaran penuh. Adanya kesadaran untuk turun dari kesadaran TAT, memasuki ruang dan waktu ketatanan kesadaran OM (active will). Dan seyogyanya manusia dalam menjalani kehidupan menjaga kesadarannya pada tatanan kesadaran OM. (SAT - TAT - OM).

Sambungan dari hal. 2

Spirit Go Green

Selain lelakut dan pin­ dekan, yang perlu dibangkitkan la­gi yakni sekaa manyi. Dari wa­wancara dengan beberapa petani dikatakan bahwa sangat sulit untuk menghidupkan la­ gi sekaa manyi tersebut. Du­ lunya memang ada, tapi me­ reka kemudian lebih memilih un­­tuk bekerja sebagai tu­kang bangunan. Selain itu, kerjanya lamban, dan ong­kosnya mahal. Dengan di­datangkannya kelompok pe­ma­nen dari luar Bali petani me­rasakan perbedaan secara nya­ta. Kelompok mereka su­dah dilengkapi dengan mesin do­ros, tenaga yang cukup, dan

biayanya murah. Nah, bagaimana caranya agar sekaa manyi itu bisa difungsikan lagi. Itulah yang perlu dipikirkan bersama. Kalau diamati, apa yang dila­ kukan petani kurang sebanding dengan hasil yang diharapkan. Se­bab, para petani mengurusi sa­ wah dari saat pengolahan tanah, menanam, menjaga irigasi secara bergilir, memelihara dengan ber­ bagai kendala seperti cuaca dan hama. Tetapi mereka tidak ber­daya saat para pengijon datang me­naksir tanaman padinya. Itulah dilema yang di­ha­dapi oleh sebagian besar pe­tani. Untuk hal itu, mohon agar dicarikan solusinya.

Bukan Warisan melainkan Titipan yang akan kita kembalikan Galang Kangin Team

Edisi 3/Maret 2011


Galang Kangin

13

Pentingnya Media

Untuk Publikasi Terakhir, Pembahuran itu bukan tanggung jawab segelintir orang namun menjadi langkah nyata semua komponen masyarakat, sebab penikmat dari hasil pembangunan meliputi semua lapisan; Dengan demikian perlu adanya kesadaran kritis dalam menumbuhkembangkan partisipatif warga. Sungguh tak mungkin hanya dengan ± 9-40 orang relawan mampu mensosialisasikan gerakan pembaharuan ini dengan cepat bila tak menggunakan MEDIA BANTU ini

Salam Peduli Mem­publikasikan atau meng­­ umumkan kegiatan yang dilakukan oleh Badan Ke­swa­ da­yaan Masyarakat atau BKM adalah upaya yang paling efektif dalam sosialisasi, advokasi dan edukasi sebuah program pem­ ber­dayaan masyarakat. Jadi pu­ b­li­kasi itu bukan mau mencari po­pularitas, tetapi lebih kepada sebuah tanggung jawab. Ada beberapa media yang bisa digunakan untuk mem­ publikasikan kegiatan ataupun rencana kegiatan yang akan dilakukan oleh BKM dalam menjalankan program PNPM perkotaan. Jenisnya ada poster, buletin, brosur, span­duk atau banner dan papan peng­u­mu­man. Kegiatan publikasi ini per­lu dilakukan dan tetap harus di­lakukan oleh para relawan ka­ re­na didalam publikasi ini ada Edisi 3/Maret 2011

trans­paransi dan akurasi dari proyek yang dikerjakan. Jadi sia­papun bisa melihat dan juga me­nilai sebuah proyek yang di­ ker­jakan oleh para relawan ini. Disinilah proses sosialisasi akan terukur dengan baik. Melalui media publikasi ini, masyarakat kurang mampu. Mereka yang sering sangat sulit mengakses atau sekedar men­dapatkan info, cara-cara mem­peroleh bantuan untuk menjadi mandiri dan sejahtera, bisa terfasilitasi. Tentu mereka diharapkan pada akhirnya bisa aktif dalam memperjuangkan nasib mereka sendiri, tentunya dia­ wal tetap akan dibantu oleh para fasilitator yang telah disiapkan oleh pemerintah ber­sama-sama para relawan yang ada di masing-masing desa. Jadi advokasi bagi kelompok marginal yang sering terpinggirkan bisa berjalan dengan efektif dan efesien dalam segala bidang, yang targetnya bantuan menjadi tepat sasaran dan tepat guna. Dengan adanya pub­ likasi melalui berbagai media yang disebutkan diatas, sangat diharapkan kemudian akan me­munculkan empati dan du­ kung­an nyata bagi gerakan peng­entasan kemiskinan atau lebih tepatnya pemberdayaan masyarakat menuju masyarakat yang mandiri dan berdikari.

Sehingga proses edukasi yang menjadi target program ini bisa terwujud. Perlu diingat kembali bahwa PNPM MANDIRI PER­ KOTAAN digagas untuk me­la­ kukan gerakan kepedulian un­ tuk mengikis kemiskinan yang berbasis pemberdayaan & keswakelolaan masyarakat, ma­ ka bila tak ada partisipasi ma­ syarakat langsung program ini akan mengalami kemandulan ser­ta instant kajiannya. Sehingga peranan me­ dia menjadi sangat diperlukan untuk mempercepat sekaligus alat kontrol dari pelaksanan program ini. Sebagai upaya pemupukan gerakan kepedulian ini sangat efektif manakala para relawan/BKM mampu mem­ buat MEDIA WARGA yang

proporsional dengan kondisi masing-masing wilayah. Dan usaha yang di­be­ rikan oleh Tim redaksi Tabloid Galang Kangin ini merupakan sa­lah satu bentuk empati ba­ gi gerakan pemberdayaan ma­ syarakat. Besar harapan kami bahwa melalui kerjasama yang baik, gaung PNPM semakin menggema dan kesenjangan antar desa yang masih terjadi sat ini bisa terjembatani. Artinya, desa yang ma­ sih tertinggal dalam pe­lak­sanaan proyek-proyek PNPM ataupun proses yang belum ber­jalan sesuai harapan bi­sa meniru desa yang telah mam­pu meraih predikat terbaik dan mendapatkan bantuan da­na untuk meningkatkan pe­lak­ sa­naan proyek PNPM di desanya ma­sing-masing.


14 Sambungan dari hal. 1

SOLUSI PERMODALAN KOPERASI

• Mewujudkan program pemerintah di bidang pembiayaan usaha KUMKM dalam upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi rakyat, serta menciptakan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan. • Mengembangkan industri keuangan mikro yang efisien, dan efektif dalam rangka mendukung pengembangan usaha mikro dan kecil. • Mengintegrasikan pengelolaan dana bergulir KUMKM lintas instansi untuk meningkatkan efektivitas dan akuntabilitas pemberdayaan KUMKM. Dalam Tahun 2011 LPDB mengalokasikan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 1 Trilun untuk disalurkan kepada koperasi, usaha mikro, kecil, menengah dan lembaga keuangan bukan bank di seluruh Indonesia. Perkuatan modal kerja LPDM juga diupayakan melalui Program Kemitraan BUMN dan sumber dana dari Luar Negeri. Program pembiayaan LPDB diantaranya dalam bentuk Rencana Pembiayaan Pasar melalui Program upgrating Pasar/ modernisasi pasar tradisional, Mengembangkan skema pembiayaan pola kemitraan franchising dalam mendukung

Sambungan dari hal. 9

Mengenal Perwatakan Diri

Bhagawan Krtanjala. Seseorang yang terlahir dina kliwon menandakan di kehidupan terdahulu sering menyalahgunakan kebenaran budhinya, suka pilih kasih, atau kurang berlaku adil. Kekeliruan itulah yang menjadi pemicu terlahir kembali. Berwatak di antaranya suka penasaran, namun menjadi pembosan dan pemalas bila telah berhasil memenuhi rasa penasaran tersebut. Untuk mengetahui watak kelahiran seseorang adalah dengan mempertemukan ketiga wara, yakni Tri wara dan Panca wara ditambah lagi dengan Sad wara, sehingga rumusannya menjadi : urip tri wara + urip panca wara + urip sad wara. Pengenalan watak kelahiran karena pengaruh Tri wara, Panca wara dan Sad wara. Jika terlahir pada: 1. Kajeng Umanis Mahulu disebut Shrigati Turun, wataknya tegas dan suka disiplin ; kemampuannya mudah membiak/ menularkan ilmu pengetahuan pada orang lain asalkan tidak terganggu kenyamanannya, sebab mudah tersinggung. Ada orang-orang yang

Galang Kangin program pengembangan wirausaha baru, untuk tahap awal melibatkan ± 2.000 orang lulusan SLTA/sederajat, Pinjaman/ Pembiayaan kepada KUMKM di daerah perbatasan, Pinjaman/ Pembiayaan kepada Koperasi di daerah tertinggal, pasca bencana dan pasaca kerusuhan/konflik. Dalam petunjuk teknis sesuai Peraturan Direksi Nomor: 36/PER/LPDB/2010 BAB III, pasal 4, ayat 1 mengatakan bahwa Lembaga Perantara yang dapat bertindak seagai Pelaksana (executing) dan atau Penyalur (channeling) adalah KSP/USP/ PJKS/UJKS/-Koperasi Sekunder dengan persyaratan sebagai berikut ; Telah berbadan hukum, memiliki ijin usaha simpan pinjam, berpengalaman menjalankan usaha simpan pinjam atau jasa keuangan sekurang-kurangnya dua tahun, memiliki kinerja baik selama 2 (dua) tahun terakhir ditunjukan dengan memperoleh SHU positif, untuk seluruh pinjaman/pembiayaan di atas Rp. 1.000.000.000,- wajib melenggkapi laporan keuangan audited minimal satu tahun terakhir dengan opini minimal wajar dengan pengecualian, memiliki NPWP, memiliki kantor dengan status yang jelas. Dalam Bab IV pasal 6, ayat 1 dikatakan bahwa Ketentuan pinjaman/pembiayaan kepada lembaga perantara sebagai

pelaksana pengguliran dana (executing) sebagai berikut: • P i n j a m a n / p e m b i a y a a n diberikan atas dasar analisis kelayakan usaha, • P i n j a m a n / p e m b i a y a a n digunakan untuk modal kerja, • Jumlah maksimum pinjaman/ pembiayaan berdasarkan analisis kelayakan usaha, • Jangka waktu pinjaman/ pembiayaan termasuk masa tenggang sesuai jenis dan kelayakan usaha maksimal 5 tahun, • Tingkat suku bunga pinjaman sesuai dengan tarif yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, • Periode pengembalian bunga dan pokok pinjaman sesuai dengan kelayakan usaha, • Perjanjian pinjaman/ pembiayaan dan jaminan dibuat secara notariil, • Lembaga perantara wajib menyalurkan pinjaman/ pembiayaan kepada KUMKM paling lambat 60 hari kalender sejak dana pinjaman/ pembiayaan diterima pada rekening lembaga perantara, • Apabila ada perubahan daftar nominaf KUMKM penerima maka lembaga perantara memberitahukan perubahan daftar nominatif yang baru kepada LPDB-KUMKM. Selanjutnya dalam Bab IV pasal 6, ayat 2 dikatakan bahwa

Ketentuan pinjaman/pembiayaan kepada KSP/USP-Koperasi Primer atau KUMKM strategis melalui lembaga perantara sebagai penyalur dana (channeling) : • P i n j a m a n / p e m b i a y a a n diberikan atas dasar analisis kelayakan usaha, • P i n j a m a n / p e m b i a y a a n digunakan untuk modal kerja dan/atau investasi KUMKM, • Jumlah maksimum pinjaman/ pembiayaan berdasarkan analisis kelayakan usaha, • Jangka waktu pinjaman/ pembiayaan termasuk masa tenggang sesuai jenis dan kelayakan usaha dengan ketentuan untuk modal kerja maksimal 5 tahun dan investasi maksimal 10 tahun • Tingkat suku bunga pinjaman sesuai dengan tarif yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, • Periode pengembalian bunga dan pokok pinjaman sesuai dengan kelayakan usaha, • Pinjaman/pembiayaan yang diterima oleh KSP/USP-Koperasi Primer atau KUMKM strategis harus disalurkan /direalisasikan dalam jangka waktu maksimal 60 hari kalender terhitung sejak diterimanya dana bergulir dari LPDB-KUMKM pada rekening KSP/USPKoperasi Primer atau KUMKM strategis yang dibuktikan dengan laporan tertulis tentang

penyaluran /realisasi pinjaman /pembiayaan. • Perjanjian pinjaman/ pembiayaan dibuat secara notariil atau dibawah tangan. Oleh KSP/USP-Koperasi Primer atau KUMKM strategis dalam mengajukan permohonan pinjaman/pembiayaan LPDBKUMKM sekurang-kurang melampirkan kelengkapan dokumen berupa ; Profil Badan Usaha, Proposal pinjaman sekurang-kurangnya memuat antara lain aspek usaha, aspek kelembagaan, aspek permodalan, rencana penarikan, penyaluran dan pengembalian pinjaman/pembiayaan, Kelengkapan legalitas, KTP Pengurus/Pengawas, Daftar nominatif KUMKM calon penerima pinjaman/pembiayaan, Laporan RAT dua tahun terakhir. Permohonan disampaikan langsung ke Direktur LPDBKUMKM, Gedung SMESCO UKM Lantai 11, Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 94 Jakarta 12780, Kotak Pos 4370, Telp. 021-7901440, 7990756, Fax. 021-7971238, Website: www.danabergulir.com, E-mail : info@danabergulir.com

sensitifitasnya tinggi, mudah sekali tersinggung dan amarahnya meledak. Itulah watak seseorang yang terlahir pada wara Mahulu dan bertepatan dengan hari-hari yang memiliki urip 13, seperti: Saniscara Wage – Saniscara Wage Mahulu; Soma Pahing – Soma Pahing Mahulu; Sukra Pwon – Sukra Pwon Mahulu; Wraspati Umanis – Wraspati Pwon Mahulu. Selain itu, jika tersinggung cenderung menutup diri – dibawa ke dalam dirinya, menghindar dari masalah, dan tidak suka bertengkar. Jika Shrigati Turun nemu urip 14, disebut Laku Bulan. Maksudnya, sering terjadi konflik di dalam dirinya, sebab sebagian ingin ada kedamaian dan sebagian lagi ada amarah yang membara. Akhirnya ibarat api dalam sekam. Bahayanya kalau diprovokasi lagi, akan menjadi gelap pikiran. Itulah negatifnya. Selain itu, terlihat kurang ramah, karena pemalu – dalam bahasa Bali disebut kumbi – malas bertegur sapa. Pengaruh umanis sesungguhnya mampu mengendalikan diri, namun sering didahului oleh rasa malas mengulang pendekatan pada orang lain yang tidak cocok karena berat hati, sebab power-nya masih ada pada Bhawana

(berat hati). 2. Kajeng Umanis Wrukung disebut Shrigati munggah, kemampuannya lebih cepat sadar kalau disinggung oleh orang lain. Negatifnya, mudah putus asa karena kurang fleksibel, tetapi ramah dengan lingkungannya. Watak kerasnya hanya di depan umum saja, namun pada akhirnya akan menjadi damai, karena sama-sama mencari solusi yang saling menguntungkan. Sebab, kecerdasannya ada pada kejiwaannya. Karakter negatif lainnya, agak kaku dengan pendapatnya sendiri, tidak suka mengalah, mudah patah semangat karena kebenarannya tidak diterima sahabatnya. Dalam keadaan demikian maka alternatif ada dua, yakni menjadi damai atau pasrah. 3. Kajeng Paing Mahulu disebut Asuajag Turun, tampangnya ditakuti orang karena punya karisma kelahiran, bicaranya tegas dan lugas, tidak suka basa-basi, serta lebih mengarah pada hal-hal yang serius – sangat membedakan bahasa kelakar dengan yang serius. Amarahnya muncul secara spontan, dan tidak main-main. Istilah Asuajag yang merupakan suatu metoda untuk menggantikan sifat-sifat makhluk yang bermoncong – sebangsa

kucing, artinya bersifat keras. Namun bila mendapat arahan yang baik, maka pengaruh kelahirannya akan menjadi perkasa bagaikan Harimau yang sedang memburu mangsanya. Artinya, sangat fokus pada sasaran yang dibidiknya. Selain itu, semangat serta siap mengerahkan jiwa raganya. 4. Kajeng Pahing Wrukung disebut Asuajag Munggah. Laku-nya banyak basabasi dan suka berdebat yang positif. Lebih banyak seriusnya, namun suka berkelakar walaupun dengan bahasa sejelek apapun tidak menjadikannya masalah. Mempunyai sifat terbuka, dan wataknya seorang pemberani di segala bidang. Negatifnya, lebih mementingkan diri sendiri, pelit/kikir, kurang sosial pada orang-orang rendahan. 5. Kajeng Mahulu Wage artinya Sang Empas turun. Laku-nya laksana Empas, artinya cara hidupnya tertutup, pendiam, kurang bisa berkelakar. Bahkan, bahasa kelakar seringkali ditanggapi secara serius. Tidak bisa menerima ejekan, sebab akan menjadi marah, sehingga tingkah lakunya lebih banyak secara sembunyi-sembunyi. Sangat keberatan bila aktifitasnya disebarluaskan.

6. Kajeng Wrukung Wage artinya Sang Empas munggah. Orang-orang kelahiran wara ini tidak bisa menerima ejekan, cemoohan, yang menyebabkan dirinya sangat kesal. Namun, kalau yang bersifat gurauan/kelakar malah menjadi senang, karena merasa terhibur. Orangnya tidak mau diremehkan. 7. Kajeng Mahulu Kliwon artinya Sang Kutila turun. Sang Kutila adalah laksana Ular. Pengaruh dari kelahiran Sang Kutila turun antara lain orangnya mempunyai ucapan dan sorot matanya sangat tajam. Ketika ia marah akan menjadi pedas ditelinga orang yang mendengarnya. Tutur katanya diplomatis atau pintar bicara, cenderung berbahasa politis. Walaupun bahasanya politis, namun tidak senang berbohong, dan setia pada ucapannya. 8. Kajeng Kliwon Wrukung artinya Sang Kutila munggah. Tabiatnya berani berbohong demi kepentingan sendiri. Orang yang demikian itu biasa dikatakan liep-liep lipi gadang. Artinya, sekali waktu akan mematuk juga sasarannya, baik orang lain mau pun teman dekatnya. Perilakunya licik, dan sorot matanya mematikan.

Edisi 3/Maret 2011


Galang Kangin

15

KSU. Santhayana

Menggali Potensi Memberi Solusi

Fasilitas krematorium untuk prosesi upacara. Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi KSU. Santhayana atau Sekretariat Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Resi. Jl. Cekomaria 777 Peninjoan, Peguyangan Kangin Denpasar. Telp. (0361) 467761, Fax. (0361) 467762.

Pengurus KSU. Santhayana

S

alah satu penunjang pariwisata Bali adalah keberadaan adat yang masih dipegang dan dijalankan oleh orang Bali. Laju pariwisata memberikan peluang kepada orang Bali untuk berinteraksi dengan dunia luar. Disamping juga semakin memperkenalkan adat istiadat sebagai wujud budaya Bali kepada dunia luar. Keberadaan adat ini pulalah yang mampu mempertahankan jati diri orang Bali dalam terjangan globalisasi. Sehingga orang Bali menjadi sangat identik dengan adat istiadatnya. Namun derasnya era globalisasi, sikap profesional sangat menjadi tuntutan. Dimana tenggat waktu dan penyelesaian tugas menjadi tolok ukur Edisi 3/Maret 2011

prestasi. Membuat orang Bali yang menekuni dunia profesional dan sekaligus sebagai pelaku adat menjadi terjebak pada posisi sulit. Dimana adat dan profesi menuntut keberadaan dari si pelaku. Sayangnya ketaatan orang Bali sebagai pelaku adat yang menunjang pariwisata, tidak mendapat kompensasi dari para pelaku bisnis. Ketaatan orang Bali kepada adat tidak lepas dari keterikatan mereka terhadap Kahyangan Tiga dan Setra. Ini berkaitan dengan keyakinan dan penghormatan orang Bali kepada para leluhurnya. Inilah yang sering dimanfaatkan oleh segelintir oknum ketika terjadi konflik internal di dalam komunitas adat. Dijadikan senjata untuk mempersulit bahkan menyerang

orang Bali sendiri. Dimana adat tiba-tiba menjadi sebuah momok yang begitu menakutkan bagi orang Bali. Munculnya beberapa kasus adat dengan motif yang sama, mendorong pengurus Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Resi untuk melakukan terobosan. Salah satu terobosan yang dilakukan adalah dengan munculnya gagasan untuk membangun krematorium. Gagasan yang diprakarsai oleh pengurus Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Resi ini pun mendapat persetujuan dari anggota Maha Gotra Pasek Sanak Sapte Resi se-Bali. Maka dicari lokasi yang menunjang dan sesuai dengan akidah adat istiadat orang Bali dalam melaksanakan upacara

pengabenan yaitu adanya Setra, Pura Mrajapati dan Pura Dalem. Gayung pun bersambut. Salah satu warga, Jro Mangku Alit, yang kebetulan memiliki Setra dan Pura Dalem pribadi, bersedia dan mengijinkan penggunaan Setra, Pura Mrapajapati dan Pura Dalemnya. Dengan dana yang digalang oleh pengurus Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Resi, maka krematorium yang sesuai dengan akidah adat istiadat dan budaya Bali pun berhasil diwujudkan pada tahun 2009. Berlokasi di Jalan Jayasakti, Br. Kedue, Peguyangan Kangin, Denpasar. Setelah berdiri, pengelolaan krematorium tersebut kemudian ditangani oleh manajemen KSU Santayana. KSU

Santayanasendirimerupakanbadan usaha yang juga beranggotakan warga Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Resi. Karena respon positif dari masyarakat dalam menggunakan jasa krematorium tersebut, maka pihak manajemen KSU Santayana memandang perlu dibentuk panitya tersendiri. Dengan dibentuknya panitya ini, KSU Santayana kemudian lebih memfokuskan usahanya di bidang simpan pinjam. Demikian seperti yang diutarakan Ir. I Made Sutadarma, selaku manager KSU Santayana. Selain dilengkapi dengan Pura Mrajapati dan Pura Dalem, crematorium juga dilengkapi dengan rumah duka bagi masyarakat yang perlu mekingsan (menyemayamkan jenazah). Dengan fasilitas yang ada, prosesi upacara yang bisa dilaksanakan antara lain Mekingsan di geni, ngaben, nyekah dan ngerorasin. Pihak pengelola juga menyediakan sarana upacara, upakara dan sarana pendukung lainnya seperti sekehe Angklung bahkan mobil jenazah jika diperlukan. Mengenai biaya yang dikenakan bervariasi tergantung dari prosesi upacara yag akan diambil. Untuk upacara ngaben sampai Nganyut dibutuhkan biaya kurang lebih 11 juta rupiah, dimana sudah termasuk biaya mobil jenazah, pembakaran, banten dan sesari. Sedangkan jika sampai upacara Nyekah, total biaya kurang lebih 19 juta rupiah. Karena adanya perbedaan Sulinggih dalam proses muput upacara, maka dikembalikan pada pihak yang berkepentingan. Namun untuk prosesi upacara sudah menggunakan standar yang ditetapkan oleh PHDI selaku pengayom umat. Dari semenjak berdiri tahun 2009 hingga tahun 2011, kurang lebih sudah 200 sawe yang dikremasi. Tidak hanya dari kalangan Maha Gotra Sanak Sapta Resi saja, namun banyak juga dari kalangan orang Bali umum. Keberadaan krematorium ini mungkin bisa menjadi salah satu solusi dalam arti yang positif. Aktivitas di era globalosasi ini dimana interaksi yang terjadi bukan hanya antara sesama orang Bali saja, namun juga melibatkan pihak luar Bali dengan adat dan tradisi yang berbeda. Bahkan menjangkau ruang yang juga tidak terbatas. Sehingga waktu menjadi sangat terbatas. Dan keterbatasan waktu inilah yang bisa dipecahkan oleh keberadaan krematorium ini.


Galang Kangin

16

TAHAPAN BUDIDAYA PADI DENGAN PENERAPAN TEKNOLOGI PUPUK AGRODYKE ( PERLAKUAN UNTUK LUASAN SAWAH PER 10 ARE )

P

ada edisi ketiga ini, akan diberikan tahapan budidaya khususnya pada tanaman padi dengan menggunakan pupuk Agrodyke. Sebagai pupuk dasar masih memakai pupuk urea, hal ini sesuai dengan kebiasaan petani yang belum bisa sepenuhnya beralih ke pupuk organik. Namun demikian, pupuk Agrodyke dapat dikombinasikan dengan pupuk kimia atau organik lainnya. Untuk diketahui, bahwa tanaman padi bukanlah tanaman air (An Aquatic Plant), tetapi tanaman ini dapat beradaptasi hidup di air dengan konsekwensi pertumbuhan tidak sesubur jika ditanam pada lahan sawah yang sering kering atau selalu tergenang.

1. PERSEMAIAN • Lakukan penyemprotan ke lahan persemaian dengan Agrodyke pada hari ke-10 dengan dosis 3 sendok (60 gram) untuk 15 liter air (1 tangki). 2. PENGOLAHAN TANAH • PENGOLAHAN TANAH TAHAP I Gunakan bajak singkal untuk membongkar lapisan permukaan tanah dan sekaligus membaliknya untuk mematikan gulma yang ada (sampai kedalaman 60 cm). Kemudian lakukan penyemprotan Agrodyke dengan dosis 100 gram/ tangki (15 liter air) ; 10 tangki/Ha.

PENGOLAHAN TANAH TAHAP II Gunakan bajak rotary untuk menghancurkan bongkahanbongkahan tanah yang terbentuk pada pengolahan tanah Tahap-I, lalu gunakan bajak sisir untuk membentuk struktur lumpur yang sempurna, membersihkan sisa-sisa gulma yang terapung, sekaligus meratakan tanah, membuat puritan melingkar dan legokan baru. Setelah itu, lakukan penyemprotan Agrodyke dengan dosis 100 gram/tangki (15 liter air) ; 10 tangki/Ha. STERILISASI LAHAN Untuk mensterilkan tanah, lakukan penyemprotan pada tanah dengan Agrodyke dengan dosis 5 sendok makan (100 gram) per 15 liter air. Tujuannya, untuk menetralisir residu pupuk anorganik yang diberlakukan pada masa tanam sebelumnya, sehingga mengembalikan pH tanah dan menghalau jasad renik yang dapat merugikan tanaman padi.

2.

3.

4.

3. PEMELIHARAAN Kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan dalam pengembangan tanaman padi : P E L A K S A N A A N PEMUPUKAN\ 1. Penaburan pada tanaman berumur 7-10 Hari Setelah Tanam (HST). Sebelum pemupukan dilaksanakan, tinggi genangan •

5.

air di petakan sawah terlebih dahulu dikurangi sampai berada dalam kondisi macakmacak, tujuannya untuk mengefektifkan fungsi pupuk Agrodyke terhadap tanaman. Lakukan penaburan yang pertama dengan takaran : 10 sendok pupuk Agrodyke dicampur dengan 10–12,5 Kg pupuk urea. Caranya, campurkan terlebih dahulu hingga merata, setelah itu baru ditaburkan. Penyemprotan pada tanaman berumur 15 HST. Lakukan penyemprotan pertama dengan takaran : 5 sendok pupuk Agrodyke dicampur dengan 15 liter air bersih. Semprotkan dengan perlahan agar merata, dari bagian daun hingga pangkal tanaman. Penyemprotan pada tanaman berumur 30 HST, dengan takaran : 5 sendok pupuk Agrodyke dicampur dengan 15 liter air bersih. Ingat, semprot hingga merata. Penaburan pada tanaman berumur 35-40 HST, dengan takaran : 5 sendok pupuk Agrodyke dicampur dengan 5–7,5 Kg pupuk urea. Dosisnya setengah dari takaran yang pertama. Penyemprotan pada tanaman berumur 45

HST, dengan takaran 5 sendok pupuk Agrodyke + 15 liter air bersih. Sebaiknya ujung nozzle sprayer dibuat kabut air output-nya, dan penyemprotan dilakukan dari bawah ke atas daun padi. 6. Penyemprotan pada tanaman berumur 60 HST, dengan takaran 5 sendok pupuk Agrodyke + 15 liter air bersih. Sebaiknya ujung nozzle sprayer dibuat kabut air output-nya, dan penyemprotan dilakukan dari bawah ke atas daun padi.

penyemprotan apabila terlihat adanya gejala serangan hama, dengan takaran 5 sendok pupuk Agrodyke per 1 tangki. Bila sudah terkena serangan, campurkan 2,5 kg pupuk Agrodyke dengan pestisida nabati (setengah dari takaran pemakaian biasa) ke dalam 15 liter air (1 tangki). Semprot dengan merata. Penyemprotan berikutnya, tergantung kepada keadaan tanaman padi itu sendiri. Namun dapat dilakukan seminggu sekali, sampai maksimum tiga kali.

PENYIANGAN Penyiangan hanya 2 kali dilaksanakan, yakni pada saat tanaman padi rata-rata berumur 15 HST dan 21 HST.

Demikian penerapan pupuk Agrodyke pada tanaman padi untuk luasan per sepuluh are. Untuk informarsi lebih lanjut, dapat menghubungi Priambada, 0361 – 8213224, 087860915842. Selamat mencoba.

4. PENGENDALIAN HAMA Segera lakukan

Edisi 3/Maret 2011

Galang Kangin  
Galang Kangin  

mencerahkan menggerakan

Advertisement